Semua tulisan dari citruslemon97@gmail.com

EPISODE 92 (WE)

Duduk ia di pojokkan sembari memperhatikan pelanggan yang datang, lalu para karyawan berlalu lalang membawakan pesanan. Logan sudah memikirkan tentang toko emas Kakaknya. Rencananya, akan ia buka toko itu sementara kafe biarkan sisa karyawannya yang mengelola.

Masih tidak tahu kapan Sinu kembali. Atau kapan Kristal bisa membuka jalan dengan darah. 

Pikirannya penuh. Entah kabar bagus atau tidak, namun ia tak lagi memikirkan Isabella. Gadis itu lenyap begitu saja dari ingatan saat seluruh fokus tersorot pada Kakaknya. Lalu sisa adiknya, serta terlalu banyak rencana hingga bejubel, menggedor-gedor pikiran.

Logan sudah bulat akan kembali ke hutan jika Sinu pulang. Mengakhiri segala keingintahuan, rasa cinta, serta hal-hal menyakitkan tentang perpisahan. Biar ia habiskan sisa hidupnya bersama tumbuhan dan hewan yang akan dijadikan mangsa. Jika nanti ada kesempatan bertemu jodoh, maka Logan akan membawanya ke kastil. Jika tidak, tidak apa-apa. Sendirian juga dunia tetap berjalan.

“Auuuuuuu… auuuuuu…. Guuuug guuggg auuuuu” lamunannya buyar tepat saat adik bungsunya datang. Ia bersama Jake entah dari mana. Mengeluarkan suara gonggongan dan auman serigala.

Langit memang mulai gelap. Hampir maghrib.

Dan sekarang, setidaknya ada tiga alasan mengapa Logan memijat dahi dengan kepala pening dadakan:

Yang pertama, Daniel salto hingga mengagetkan pelanggan. Yang kedua, pria itu meminum es kopi milik pelanggan di sebelah lalu muntah darah karena perutnya tidak tawar. Yang ketiga, Jake tertawa terbahak-bahak hingga moncongnya berubah jadi moncong anjing tanpa sengaja. Kondisi kafe jadi keos seketika. Sungguh, hanya butuh waktu kurang dari dua menit, kedatangan dua bungsu itu membuat suasana yang tadinya hangat, ceria, kini jadi ricuh.

Karena sebagian besar ketakutan pada Jake yang seperti siluman, para pelanggan kabur. 

Hanya beberapa orang. Sisanya menonton dengan tenang.

Keduanya mendekat pada Logan.

“Buah sukun dimakan Isa. Hai Dukun, lagi apa?” Daniel ikut duduk di pojokan dengan kakaknya. Darah bekas muntah masih terlihat di ujung bibir.

“Buah Sukun dimakan Isa. Dukun keliatannya lagi bahagia” Jake ikut berpantun, duduk ia di pangkuan Daniel sambil mengusap wajah yang beberapa menit lalu memanjang.

“Pada ngapain sih? Bukan pulang sana” Logan mendengus. Jengkel sekali rasanya. Jika tidak mengingat tempat ramai yang berisi manusia seluruhnya, ia bersumpah akan mencekik dua pemuda yang cengengesan tanpa konteks jelas itu.

“Gak tau, gua juga gak tau kenapa gua kesini. Rasanya kayak pulang sekarang  adalah ke tempat lu” jawab si bungsu “Opung nggak ada, Kristal tidur. Kita harus kemana?” sambungnya. Di angguki Jake.

Lalu Logan tak berkomentar lagi. Ia pandangi dua adiknya lekat-lekat.

“Apa sih? Liat apa? Suka-suka gua lah mau ke mana. Kaki-kaki gua” Daniel masih defensif.

“Kalau Sinu bangun, ayo pulang ke kastil” kata si kakak kemudian. Kata-kata itu membuat Daniel diam. Jake menghela napas. Keduanya lesu. “Tempat kita bukan di sini. Kalau kalian sesekali datang, main ke pemukiman manusia, itu nggak papa. Asal jangan jadi tempat tinggal. Cari perempuan, cari istri. Ayo kita panjangin garis keturunan. Kita lanjutin peradaban yang udah hampir punah”

“Gua mau sekolah…” si bungsu memilin-milin ujung bajunya sendiri. Sambil menunduk ia lesu sementara Jake menatap ke sembarangan dengan wajah tak kalah menyedihkan.

“Sekolah apa? Apa yang mau lu kejar? Kita keluar dari kastil aja cukup, bebas dari portal. Lu bisa main di hutan sama monyet. Eksplor banyak hal. Mainan sama landak atau pukang. Mereka juga seru” kata Logan lagi.

“Walau Nining mirip trenggiling, tapi gua lebih senang ejek dia ketimbang monyet atau hewan apapun. Gua terlanjur suka disini” Daniel mendongak—menatap Kakaknya “nggak bisa lu aja yang balik sama sisa orang yang mau? Gua bisa pulang saat mau, saat bosan atau gua rindu kampung halaman. Tapi untuk balik total, gua nggak bisa” Daniel menggeleng sedih.

“Gua juga” Jake ikut. Logan menghela napas.

Logan Mengangguk. Sebanarnya ia paham. Namun kekhawatirannya jauh lebih besar. Isi kepalanya lebih condong pada kemungkinan terburuk ketimbang baik. Memikirkan bagaimana seandainya Sinu tidak pernah kembali? Kristal Mati? Lalu apa? Ia tak bisa menjaga semua adiknya yang berpencar. Mengurusi mereka satu persatu agar tidak membuat keributan atau paling parah adalah di tangkap petugas karena diketahui memiliki kekuatan abnormal. Pikiran semacam itu begitu kuat hingga membuatnya sulit tidur.

Ia keleteki kulit jeriji dengan mata turun menatap. 

“Opung bakal bangun” kata-kata Jake membuatnya kembali mendongak. Hanya melihat mata adiknya yang selalu saja memiliki energi lebih untuk hidup. Sementara ia, bernapas pun malas. Rasanya semua memuakkan. Ia hanya ingin tidur dalam pikiran tenang tanpa rasa tidak nyaman di hati.

Tanpa memikirkan Sinu, memikirkan kekasihnya yang lama tak berkabar sejak pergi. Sedih sekali. Hatinya sedih. Sebenarnya sejak awal kelahirannya, Logan memang merasa tak lagi memiliki sparkel. Tak ada cahaya. Kecuali saat bertemu dengan tiga gadis yang datang ke kastilnya lalu jatuh cinta dengan salah satunya. Itu satu-satunya hal terindah dalam hidup selama hampir seribu tahun ia hidup.

“Sinu bakal balik” pria itu mengulang kata-kata adiknya—meski lebih pada meyakinkan diri sendiri.

“Ehey… ayolah.. Gua cuma takut lu akan balik kayak dulu. Ngurung diri di kastil, di kamar lu. Keluar cuma tiap sepuluh tahun sekali. Makan ngundang hewan ke kamar. Nggak bicara sama siapapun kayak Sinu juga. Ayo kita lebih bahagia walau sama hal-hal kecil. Walau nggak ada Isa. Coba belajar bahagia atas hidup sendiri. Lakukan hal-hal kecil yang menyenangkan. Yang bikin lu semangat. Hidup nggak akan berhenti di satu titik saat lu terluka atau jatuh” itu Jake. pria itu tiba-tiba merangkul Logan dari samping “gua juga suka banget sama Kristal sampe sedih, sampe mohon ke dia. Gua duluan yang suka, sejak mereka datang, cahaya dia udah adem di hati gua. Tapi apa gua stress saat dia milih sama si Jablay pecandu? Nggak, gua yakin kebahagiaan nggak cuma di dia. Gua yakin masih ada hal besar. Kalau usia gua masih panjang, gua akan lebih banyak menemukan hal-hal indah ketimbang cuma Kristal. Gua bisa ketemu Kristal-Kristal yang lain. Gua akan happy. Gua akan merayakan setiap detik hidup gua dengan kelap-kelip di kepala. Gua adalah pemeran utama di hidup gua. Vampir semantep gua kudu bahagia”

Jake mengoceh pada Logan dengan semangat mirip Prabowo pidato. Suaranya berapi-api membara.

“Setuju, gua juga bahagia walau tiap hari misuh-misuh gara-gara jilbab Nining bau pesing” Daniel ikut merangkul Logan. Mereka mengapit pria putih itu berbarengan.

Logan menahan senyum, ia menunduk gengsi untuk mengakui bahwa dua adiknya jauh lebih keren darinya. Pemikiran Jake yang begitu lapang membuatnya malu. Kendati tak mengubah rasa sedih yang memang valid di hati.

“Lu liat, betapa banyak gadis-gadis. Gua bukannya sombong, tiap hari ada aja yang nge-chat ngajak kencan. Ngajak kenalan. Apalagi pas gua aktif di sosial media. Beuh.. jan di tanya. Nanti, gua bakal kencan sama salah satu. Abis itu kita pacaran, abis pacaran ribut, putus, sakit hati. Terus pacaran lagi sama yang lain. Gitu terus mirip siklus. Ini namanya hidup. Sakit, terluka, nangis, ketawa. Ini loh..” Jake menepuk dadanya hingga berbunyi nyaring “ini adalah kehidupan sesungguhnya. Bukan ngurung diri di kamar karena takut luka. Uget dikit kepikiran, ngomong dikit takut gini takut gitu. Kita hidup untuk bahagia dan terluka. Semua makhluk pasti punya trauma.  Gimana cara menjalani hidup, kita yang tentukan. Kalau lu pilih diem sambil nangis berkepanjangan, itu kan pilihan lu. Padahal ada opsi ngenyot darah sapi sambil cengengesan tanpa konteks” lalu ia melakukan tos dengan Daniel.

“Padahal gua nggak ngapa-ngapain. Emang gua kudu apa?” tanya Logan.

“Senyum! Jan prengat-prengut aja mulut lu. Udah bibir secuil, mata minimalis. Kulit kek dinding. Apa kek.. Jelek banget lu mah” Daniel yang berkomentar “coba aktif kek si Racun, kek Tabib. Ekspresikan diri”

Lalu ia mendongak. Melihat Daniel dan Jake dengan senyum segaris yang sebenarnya tak layak di sebut senyuman.

“Ikut gua ke klinik Tabib mau gak lu?” tanya si bungsu lagi, meski ia meringis melihat senyum Logan yang mengerikan.

“Ngapain?”

“Bantu angkat Kakek-Kakek, Nenek-Nenek. Apa aja. Di sana bisa ngesot, ubinnya alus bener kek di mansion Kristal. Cuma bedanya tempat Tabib lebih seru karena ada satpam yang megang pentungan. Berisik dikit di pendelikin sampe matanya mau keluar” Daniel mengatakannya serius, lalu menatap Jake. “iya Rose, sumpah. Gua kan teriak-teriak tuh, mata si satpam segede jengkol. Itu yang bikin seru dan menjadi pembeda antara ubin rumah Kristal dan Klinik. Tempat Kristal nggak seru karena nggak ada yang marah”

“Kesenangan kalian adalah liat orang emosi” utas Logan.

“Sepakat” kata keduanya hampir berbarengan.

“Kayak idiot”

“Ye.. inilah.. Ciri-ciri vampir yang matinya di kamar karena kepikiran sendalnya kotor abis nginjek tai”

🐾🐾🐾🐾

“Kau tidur lebih lama dari biasanya”

Suara itu lagi. Si perempuan melihat dengan sudut matanya. Sinu berdiri mengintip seperti biasa.

“Tolong singkirka sulur-sulur ini Yang Maha Agung” katanya, terdengar agak memohon.

“Untuk apa?” suara si perempuan tak kalah serak.

“Untuk apa lagi? Beri aku pelukan”

Terdengar suara ‘cih’ dari sang Dewi. Namun Sinu sibuk melihat sulur-sulur yang perlahan memudar sebelum benar-benar raib. Setelah hilang sepenuhnya, baru pria itu mendekat.

Tidak, pria itu naik ke ranjang, lalu merangkul tubuh indah dengan berani. 

Mirip anak tikus yang mencari perlindungan dari kejaran kucing, Sinu menyelindung di bawah ketiak.

“Apa yang kau lakukan, pria kecil?”

“Aku bukan pria kecil”

“Enyahkan tubuhmu dariku atau aku akan membuatmu terlempar jatuh ke luar jendela”

“Lempar saja. Aku tidak apa-apa. Yang terpenting, beri aku izin memelukmu sebentar lagi” terdengar hela napas pasrah. Sinu tersenyum senang. Ia lantas mendongak, tatapan mereka beradu.

Mata sang Dewi yang cerah, sangat putih bersih dengan manik hitam legam yang terkadang bergejolak tidak wajar. Saat tangan Sinu menyentuh kulitnya, ia seakan menyentuh awan. Begitu lembut dan kenyal. Sungguh, tak pernah ia dapati sesuatu seindah itu.

Lengan. Hanya lengan

Pria itu menciumnya. Menghirup aroma bumi dari kulit sang Dewi. menghirup dalam-dalam. Aroma itu begitu menenangkan, juga membawa kilas kenangan yang selalu gagal ia terjemahkan.

“Apa yang kau lakukan?” suara berat dan kaku, Sinu mendongak lagi.

“Aku menyukaimu.. Boleh aku mencium ini? Ini seperti psikotropika. Sungguh.. Aku tidak seperti apa yang kau pikirkan” jawab pria itu defensif. Namun tak lekas melepaskan tangan sang Dewi. ia malah merapatkan diri, lalu kembali menghirupnya mirip pecandu gila.

“Memangnya, kau tau apa yang ku pikirkan? Menyingkir atau aku benar-benar tidak akan mentoleransi lagi”

Pria itu bergeming. Malah, ia julurkan lidah untuk merasa-rasa.

“Ini gila” katanya, setengah berbisik. “Kenapa kau manis sekali? Maksudku, kulitmu. Rasanya manis di ujung lidahku. Apa aku boleh menci—”

BRUK! AAAAAAAA!!!!!

Pria itu jatuh keluar dari jendela.

DEBAM!!

Kepalanya pecah. Namun ia tidak mati. Juga tidak sakit.

Kesadarannya hilang.

Hanya sebentar.

Sungguh, seperti hanya berkedip sekali.

Pria itu kembali membuka mata dan bukan pemandangan luar, melainkan kamarnya sendiri.

Dunia mimpi yang begitu indah. Ia bahkan tak merasa sakit saat jatuh. Namun merasa bahagia dengan degup jantung yang berpacu menyenangkan—mendebarkan. Ia jatuh cinta.

“Sudah bangun?”

Suara itu membuatnya celingukan. Sang Dewi berdiri di depan jendela dengan jubah putih. Aromanya jauh lebih pekat dan wangi.

“Rupanya aku tidak mati. Rasanya seperti mimpi di dalam mimpi” pria itu tertawa “apa aku seperti orang gila?”

“Hm, kau pria gila”

“Sudah kuduga” lalu ia beringsut duduk “omong-omong… em…” Sinu menggaruk tengkuknya, lalu naik ke pelipis. Sebenarnya ia baru saja memikirkan tentang ‘tidak sakit’ saat jatuh meski tahu kepalanya pecah. Tubuhnya seperti mengapung. Seluruh bagian memang aneh, semua hal terasa kelewat ringan.

Pria itu menyimpulkan terlalu cepat dengan resiko yang tak di perhitungkan. 

Sinu turun, lalu memeluk sang Dewi dari belakang.

Biar jika ia harus kembali jatuh, kepalanya pecah, atau dibunuh. Memangnya Dewi itu benar-benar bisa membunuhnya?

Ia peluk, sungguhan. 

“Sinu.. kau melewati batas”

“Apa kau akan membunuhku?”

Nyaris tak ada jawaban. Sungguh, Sinu bersumpah sangat menyukai perempuan ini. Ia peluk erat-erat tubuh yang jauh lebih kecil darinya, namun aura kuat begitu terasa.

“Terima kasih karena sudah ada. Aku mendapatkan semua hal yang aku impikan dalam hidup, disini, bersamamu. Tinggal dalam kastil bersama seorang wanita keren. Juga dengan perasaan senang dan bahagia. Tanpa mimpi buruk, tanpa beban, tanpa ketakutan dan kekhawatiran. Kau adalah bentuk dari seluruh keinginanku. Aku mencintaimu” katanya, tanda tedeng aling-aling. Semuanya keluar begitu saja dari dalam hati tanpa ada yang tertutup.

Ada jeda. Sang Dewi tak menjawab, namun tidak menepis juga.

“Jadi, apa kau sudah memutuskan akan pulang. Atau tetap bersamaku disini?” perempuan itu masih bergeming. Matanya lurus pada jendela—halaman luas.

“Biarkan aku disini, sedikit lagi”

Lalu ia mencium punggung yang terbebat pakaian mewah. Wangi kulitnya memabukkan.

“Aku harus pergi, sebentar lagi” jawab si perempuan.

“Bisakah kau, memelukku sekali? Dalam perasaan sadar dan mengasihi aku dalam Rahmat keilahian”

Jeda lagi. Seakan tiap detik yang terlewat dalam hening, merupakan jendela untuk meloncat dari satu ruang ke ruang yang lain. Jantung Sinu berdebar tak karu-karuan. Barangkali sang Dewi juga merasakan seperti apa pacu jantungnya yang memalukan.

“Terlalu cepat..” bisik sang Dewi. Sinu meneleng. “Pacu jantungmu.. Tidak normal”

“Kata seseorang dengan wajah yang sama persis denganmu, ini adalah pertanda jatuh cinta. Aku jatuh cinta, dan aku bahagia dengan perasaan ini. Denganmu” katanya, tanpa basa-basi. Jujur, dan polos.

Sang Dewi terkekeh pelan. Suaranya sangat lembut masuk ke rungu.

“Aku akan memulangkanmu, pergilah.. Jika yang kau inginkan awalnya adalah kematianku. Maka aku akan mati karena waktunya. Jika apa yang kau bicarakan tentang berbgai jiwa, maka biarlah aku berbagi jiwa dengan seseorang di alam lain. Jika aku kalah, aku akan kalah. Jika aku mendominasi, itu suratan takdir. Berjalanlah di garis lurus tanpa keegoisan. Tanpa melukai siapapun yang tidak bersalah hanya agar keinginanmu terpenuhi. Hidup dalam hati yang lapang serta berbahagialah. Sinu.. aku tidak bisa memberkatimu, tapi, aku bisa membuatmu kembali pada keluargamu dengan utuh”

Pria itu menggeleng di belakang.

“Tolong biarkan aku sebentar lagi… ku mohon.. Aku masih ingin di sini. Menjadi seseorang yang apa adanya dan polos. Menjadi makhluk yang tak memiliki beban. Sebentar lagi, ku mohon..”

Lalu sang Dewi berbalik. Ia peluk pria itu.

Sinu harus menunduk banyak agar tubuh mereka selaras. Dekapan hangat itu kembali membawa ingatan pada hari-hari menyakitkan. Benar, Sinu merasa terluka. Tiba-tiba kata-kata ayahnya, perlakuan Jonathan, serta Logan yang mendiamkannya tanpa alasan menyerbu begitu saja. Hatinya sakit sekali, seolah itu baru saja terjadi dan ia tengah menikmati luka.

Pria itu menangis. Tergugu ia di pelukan.

“Ya, menangislah, dan sembuhlah.. Aku akan menyembuhkan lukamu, dalam hatimu. Hiduplah dengan hati yang bersih. Tanpa dendam, tanpa kesakitan.

Tangannya mengelusi punggung naik turun. Dan saat tangan lembut itu menyentuh punggungnya, rasa sakit hati, rasa sedih, dan seluruh hal-hal yang merangsek masuk menusuk-nusuk hatinya, perlahan menghilang. 

“Pria kecil… kau harus berbahagia.. Jalani sisa hidup dengan yang bahagia-bahagia saja. Lalu kembalilah pada keluargamu”

“Ku mohon jangan minta aku kembali. Aku masih ingin di sini sedikit lagi. Sebentar lagi…”

Itu tidak mendapat jawaban.

Pelukannya mengendur.

“Tidak… tidak… jangan lepaskan pelukannya.. Sebentar lagi.. Ku mohon sebentar lagi..”

“Aku harus pergi” lalu sang Dewi pergi membawa eksistensinya menghilang dalam pelukan. Sinu melihat kilasan itu melewati lubang angin jendela—seprti bulatan cahaya yang menjauh membentuk bola tak sempurna.

“Aku akan menunggumu kembali, tolong beri aku pelukan sedikit lagi.” Sinu berbicara pada udara.

Apa ayahnya dulu seperti ini? Terlena oleh sang Dewi karena daya pikat itu? Karena pikirannya menjadi polos? Tidak, pria itu menggeleng. Ayahnya hidup. Jiwa dan raga menyatu. Pria itu melakukannya tanpa ada ruang yang terdistorsi serta lapisan dimensi lain yang menyebrang. Jonathan melakukan perselingkuhan dalam kondisi sadar. Hanya karena ingin dan nafsunya yang meluap-luap. Sementara Sinu menyeberang. 

EPISODE  90 (talk to you)

Ia dekap tubuh besar yang merebah damai di sebelah. Air matanya sejak setengah jam lalu tak kunjung berhenti. Hatinya sakit. Rasa kehilangan membumbung menakutkan. Hanya butuh satu minggu untuk menyadari bahwa ia mencintai pria itu.

Sungguh. 

Ingatannya tentang rasa sakit yang mengerikan memang tak sepenuhnya hilang. Sesekali, ia akan bermimpi buruk. Namun tidak begitu parah lagi. Tergerus rasa nyaman dan senang. Benar, Lyn senang saat pria itu mendatanginya dengan wajah polos tentang cinta. Tentang kedekatan mereka, tentang perasaan menyenangkan yang terlihat dari wajah gagah yang tersenyum malu-malu.

Nyatanya, setelah di kastil, setelah mereka semua bebas, Sinu memang bukan orang yang seperti itu—meski menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, dan dalam gagasan lain, itu bukan kriminal meski kriminal. 

Membayangkan kembali berapa kali pria itu mengangkat tangan saat tidur hanya untuk mengelusi wajahnya yang terlelap namun tidak jadi hanya karena takut mengganggu.

Atau saat ia membuka mata. Pria itu sedang memperhatikannya tanpa berkedip. Hanya melihat lama, tanpa mengatakan apapun.

Dan suaranya yang paling diingat. Yang paling sering diucapkan:

“Apa aku bisa mendapatkan satu ciuman?” atau “apa yang harus kulakukan agar mendapat satu ciuman?”

Sinu selalu seperti itu. Lama kelamaan, Lyn gemas sendiri. Tanpa meminta atau diminta, ia menciumi pria itu dengan gemas. Wajah Sinu akan memerah tiap ia melakukannya.

Begitu, selalu begitu.

Tangisnya makin besar, makin kencang. Kemeja pria itu basah oleh air matanya yang tumpah di atas dada yang terlelap.

“Apa aku bisa mendapatkan satu pelukan?”

Itu pertanyaan yang sama kelima kalinya. Apel dalam keranjang penuh. Berdua duduk di bawah pohon Ek besar sambil menikmati pemandangan hutan bersama cuaca mendung. Suara apel di kunyah tak kalah renyahnya dengan gesekkan dedaunan, riuh angin, serta gelak tawa anak-anak yang terdengar lumayan jauh.

Sang Dewi tak menggubrisnya. Perempuan itu hanya diam kecuali mengunyah. Lamunan itu membawanya pada dunia di kepalanya sendiri.

“Boleh aku memberimu nama?” Tanya Sinu. sang Dewi masih kukuh diam. “Aku akan memberimu nama My Sin”

Mendengar yang terakhir, Sang Dewi baru memberinya atensi.

“My Sin? Dosaku? Apa maksudmu?”

Sinu mengedikkan bahu “aku menyukaimu. Setelah aku mengakui bahwa aku menyukaimu, kau pasti akan mengatakan hal-hal yang bersangkutan dengan dosa. Atau menyandingkannya setara dengan dosa-dosa mengerikan yang tak pernah kulakukan. Analogimu membuat merinding, tapi aku selalu suka dengan gaya bicaramu yang apa adanya”

Sang Dewi masih menatapnya—menunggu kejelasan yang lain.

“Kan? Aku menyukaimu.. My Sin..”

“Memalukan” kata Sang Dewi “aku akan membuatmu tidak bisa bicara”

Tangan Sang Dewi terangkat dengan sulur berwarna keperakan yang mengikuti arah jemari 

“T-tunggu… tunggu.. Aku minta maaf yang Mulia Agung.. Aku tidak.. Maaf..” pria itu kemudian merangkak mundur dengan kepala tertunduk. 

Tangan itu berhenti di udara saat Sinu menghindar.

“Kau ini kenapa banyak bicara sekali? Apa mulutmu tidak pegal?” lalu sulur menghilang, perempuan itu tertawa. Melihat Sang Dewi tertawa pelan, Sinu lega. Jika dibuat benar-benar tak dapat bicara, maka hidupnya yang tak ada masalah dan pikiran tenang ini akan kembali rumit. “Kemarilah, letakkan kepalamu di sini” perempuan itu menepuk pahanya sekali. Sinu langsung mendekat kegirangan.

Aroma sang Dewi menyesaki pernapasannya.

Jika harus menggambarkan, Sinu menangkapnya seperti hujan pertama di malam musim dingin–dingin, suci, dan memabukkan. Wangi melati putih, lotus, dan dupa tipis melekat lembut di kulitnya. Seolah tubuh itu sendiri diciptakan dari doa-doa kuno dan cahaya bulan. Tak pernah ia dapati aroma seperti itu seumur hidupnya. Bahkan saat ia pernah melawan Dewi lain–yang justru busuk di hidungnya.

Wajah Kristal dari bawah. Ia memandangi dagu yang kecil dengan kulit halus tanpa pori. Semuanya sempurna, pahatan maha indah Tuhan.

“Kau pria kecil yang cerewet, apa kau selalu seperti ini?” sang Dewi menatapnya dari atas. Demi Tuhan, Sinu berharap perempuan itu mau mengelus kepalanya, sekali saja.

“Tidak” jawab Sinu praktis.

“Tidak?”

“Hm, tidak. Aku bukan vampir yang cerewet, aku juga tidak pernah mengajak siapapun bicara lebih dulu jika bukan karena kepentingan yang amat krusial. Aku memiliki pribadi yang… kaku. Aku terbentuk seperti itu. Aku terlatih diam meski sekarat. Aku tidak boleh bersuara atau aku akan dipukul. Vampir keluarga Jonathan harus bisa beregenerasi. Jika tidak, aku gagal. Dan aku adalah kegagalan pertama yang paling memalukan bagi Ayahku. Aku berusaha untuk tidak terlihat, sekaligus berusaha untuk berguna agar tidak di buang. Jika ku rangkum, aku bukan orang yang bisa berbicara fasih dengan makhluk lain. Hidupku diliputi kekhawatiran dan rasa rendah diri yang mengerikan. Rasanya, apapun yang kulakukan tak akan berarti. Aku payah dan menyedihkan..”

Jeda. Keheningan merajai kecuali gesekan daun dan suara anak-anak yang jauh tadi.

“Aku juga tidak tahu mengapa aku begitu nyaman di sini. Aku merasa tenang. Pikiranku damai. Aku merasa seperti istirahat setelah mendaki jutaan kilometer pegunungan tak berujung. Aku bernapas disini. Seperti aku diberikan kebebasan untuk mengungkapkan apapun yang kurasa. Boleh menangis saat sedih, dan berbicara semaunya. Aku terkadang mengevaluasi diri tiap akan tidur. Seperti… apa yang terjadi padaku? Apa sesuatu terjadi sehingga perasaan tenang ini mirip saat aku pernah sekali menghirup cannabis sativa yang membuatku rileks namun berkepanjangan?” Sinu menatap Sang Dewi dengan wajah penasaran.

Sang Dewi menggeleng tanpa menunduk. Tahu dari intonasi dan nada bicara. Sinu berpikir ia terlibat atas pikiran tenangnya.

“Aku tidak membuatmu menjadi apapun jika kau berpikir itu ulahku” katanya, memangkas prasangka.  “Aku tidak diberikan kemampuan memanipulasi otak dan  pikiran, tidak juga bisa meramal. Jika bisa, aku tentu tidak akan susah payah menggunakan pedang dan kekuatan. Aku hanya perlu memanipulasi seluruh isi otak makhluk di dunia ini agar menjadi baik. Dan dunia akan menjadi seperti yang ku inginkan. Tentram” ada hela napas lembut. Bahkan napas perempuan itu begitu wangi. “Kau tidak nyata, kau yang di sebelahku merupakan dirimu yang sesungguhnya. Jati dirimu tanpa kontaminasi trauma, tanpa terpapar lingkungan dan tekanan hidup. Jika kau besar dengan pola didik dan peran orang tua yang sehat, seperti inilah gambaran dirimu. Cerewet, selalu banyak bertanya, aktif, serta pandai menggoda. Ragamu yang busuk membawa luka yang tak pernah kering. Kau… kau disini tak terluka. Kecuali aku akan memukulmu jika kau berulah”

Lalu Sinu tertawa.

“Aku akan mengembalikanmu ke duniamu. Asal jangan pernah kembali apalagi bersama dua temanmu untuk membunuhku. Kau tau, bahkan seekor semut akan menggigit jika terancam. Apalagi aku?”

“Aku belum mau kembali” kata pria itu yakin “aku masih mau di sini sebentar lagi. Kau bilang sedang menghukumku? Tepatilah, aku suka hukumanmu. Membersihkan kastil menjadi hobiku sekarang. Lagi pula, kau belum mengembalikan kekuatanku”

“Kekuatanmu akan kembali saat kau kembali ke duniamu”

“Benarkah?”

“Hm”

“Biarkan aku di sini sebentar lagi” Sinu menutup mata “seandainya seseorang mau memegang kepalaku, lalu mengelusnya sedikit saja. Aku akan berlari sampai ujung dunia”

“Itu kebohongan yang mengerikan. Kau bisa menggoda siapapun kecuali aku”

“Benarkah, kenapa?”

“Karena aku tidak akan tergoda oleh siapapun. Aku merindukan kematian yang damai setelah ada yang menggantikanku”

“Kau terlalu percaya diri” Sinu tertawa.

“Kau pasti memiliki kekasih di duniamu. Kau pikir saja, dasar pria kecil”

“Aku bukan pria kecil”

“Ya, ya, terserah”

Lalu kepalanya kembali mengingat Lyn.

Tidak, ia tidak lupa pada gadis itu. Tidak juga pada adik-adiknya. Namun Sinu paham tentang perbedaan dimensi waktu yang sempat dijelaskan Kristal—jika berbulan-bulan disini hanya akan sebentar di sana. Sungguh, ia hanya ingin bernapas sedikit lagi. Ingin merasakan kebebasan dari trauma, serta lepas dari mimpi buruk yang terus berulang membuat tidurnya tak pernah layak. Juga dari beban pada pundak yang menggelayut. Rasa tenang begitu mahal sehingga untuk pertama kalinya Sinu merasakan, maka begitu sulit untuk ia kembali. 

“Apakah aku egois jika aku ingin bertahan sedikit lagi, My Sin?”

Jeda. sang Dewi tak segera menjawab.

“My Sin?”

“Terserah padamu. Itu hidupmu, keputusanmu. Hanya jangan mencoba untuk membunuhku atau aku yang lebih dulu membunuhmu”

“Aku suka sekali padamu”

Tidak ada jawaban.

Sinu tidak yakin. Namun rasa kagum serta ketertarikannya pada sosok agung yang kini bersedia berbagi paha untuk alas kepalanya, lebih dari rasa ia menyukai Lyn. Itu bukan kabar bagus. Namun ia tahu ini hanya mimpi dan begitu kembali, barangkali semuanya akan juga kembali seperti semula.

“Aku memiliki seorang gadis. Aku tidak tahu apa ini masuk dalam kategori kekasih ketika dia terus menolak untuk kunikahi. Dia juga tidak menjawab saat aku berusaha mengesahkan hubungan kami. Dia hanya gadis yang ingin terus dirayu dan suka menciumku. Dia menyukaiku, aku menyukainya”

“Itu terdengar romantis. Kau harus pulang untuk kekasihmu, adik-adikmu”

“Aku masih ingin disini”

“Itu pengkhianatan. Kau menyukaiku, kau memiliki kekasih. Aku benci sekali makhluk sepertimu”

“Menyukai seorang Dewi yang tidak akan tergoda oleh siapapun. Aku melihatmu tanpa rencana apapun. Apa kau mulai berpikir untuk berkencan dengan seorang vampir?”

“Kau mau mati?”

“Aku ingin hidup yang lebih panjang bersamamu di sini”

“Pikirkan keluarga dan kekasihmu”

“Aku mungkin akan kembali. Tapi tidak akan sebahagia disini. Makannya sejak tadi kutanya. Apa aku egois jika tidak kembali? Kupikir sudah cukup hidup seperti itu, dibebani banyak hal. Adik-adikku sudah besar dan sampai kapan aku akan terus bertanggung jawab terhadap mereka?” pria itu tertawa “aku mengatakan ini karena ini mimpi. Aku bebas mengutarakan isi hatiku, isi pikiranku, bahkan menangis. Aku menyukaimu, Kristal. Wajah itu. Kau perempuan terbaik setelah ibuku. Aku bahkan tak menemukan itu pada Lyn yang juga kusiksa untuk membuka portal. Tidak ada yang sehalus hatimu yang mudah memaafkan, menjaga adik–adikku dengan telaten dan kesabaran. Jika ada yang bisa kunikahi, itu adalah kau. Aku bisa mencintai gadis yang juga mencintai keluargaku. Merangkul seluruh kurang-kurangku dan tidak keberatan atas eksistensi enam saudaraku, justru senang. Namun dia sudah bersama Edgar. Aku mendukungnya. Dan aku bertahan dengan Lyn. Lalu mulai melanjutkan hidup yang berat itu. Sungguh, aku juga ingin mati seperti Sang Dewi ingin mati. Dengan damai”

Angin berhembus lembut. Menerbangkan sura-surai halus sang Dewi yang mengeluarkan aroma apel. Sungguh segar.

“Jadi, gadis mana yang kau cintai?” tanya Sang Dewi kemudian.

“Kau”

Perempuan itu hampir ingin memukulnya sebelum Sinu menutup wajah “aku menemukan Kristal di wajahmu dan ketenangan saat berada di dekatmu. Minusnya, aku tidak bertemu dengan adikku. Selalu ada yang kurang. Tak ada kesempurnaan. Bahkan My Sin juga mengaku memiliki kekurangan. Apalagi aku”

“Seru sekali. Hidup penuh romansa. Tidak pusing memikirkan kedamaian dunia” Sang Dewi mendongak. Semilir angin terasa menyapu wajahnya. “Bisa ceritakan bagaimana akhirnya? Maksudku, apa kau akan merebut Kristal dari adikmu?”

“Kecuali aku gila”

“Oh.. itu terdengar bijak”

“Makannya aku ingin menikahimu”

“Kau makin kurang ajar, ya?”

Pria itu menutup wajah. Lalu tersenyum.

“Bisakah aku menikah denganmu, lalu membawa seluruh adikku ke mari? Tidak hanya jiwa, melainkan utuh dengan raga?”

“Tidak  bisa”

EPISODE 89 (SINU & SANG DEWI)

Malam datang membawa hawa dingin yang merangsek ke dalam sumsum tulang. Kastil besar tanpa selimut membuat tubuh tanpa kekuatan itu gagal tawar pada cuaca dibawah rata-rata.

Ia menggulung diri mirip trenggiling. Berharap suhu tubuhnya yang saling menyatu dapat memberikan suhu lebih tinggi—agar lelapnya utuh. Kendati, tak berhasil. Sinu kembali bangkit dengan rambut tubuh yang berdiri. Tiap membuka mulut, uap dingin keluar—seakan membekukan.

Bibirnya bergetar membiru. Tidak, tubuhnya juga. Ia sudah mengecek isi lemari dan di dalamnya hanya deret buku-buku kuno yang ia sendiri gagal menerjemahkan.

Tidak ada kain. Ia berusaha menarik gorden besar, namun justru tangannya yang terluka. Di tempat ini, tak ada sesuatu apapun yang bisa digunakan untuk menyelimuti tubuh. Pria itu berakhir—berdiri di depan pintu kamar sang Dewi sembari mengetuknya dengan gemetar.

“Kau menggangguku, Sinu” suara berat itu terdengar. Namun Sinu tahu perempuan itu belum tidur. Lampu dalam kamar sang Dewi masih menyala. Pun, jika sudah tidur, akan terlihat sulur-sulur yang membumbung hingga langit-langit dan lantai—keluar dari bawah pintu sebagai penjaga—Maha Agung terlelap.  

“Boleh aku meminta selimut?” tanyanya, suaranya tak bisa stabil.

“Tentu saja” jawaban itu membuat Sinu lega. Ia berdiri dengan memeluk diri sendiri, menunggu derap mendekat setelah decit kursi terseret pada ubin.

Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Sosok itu berdiri dengan aura gelap. Seluruh pakaiannya hitam. Rambutnya lurus panjang tergerai di atas dada dengan pewarna bibir berwarna merah darah yang seakan menyala. Sinu menunduk sedikit, lalu celingukan—mencari apapun tentang ‘tentu saja’ yang ia harapkan.

Lalu tangannya keluar, menyodorkan kain tenun.

Sinu diam sebentar.

“Kain tenun milik bocah itu?” tanyanya, setelah jeda beberapa saat. Sang Dewi mengangguk pelan.

“Tidurlah, istirahat, kau akan kelelahan jika tidak cukup tidur. Besok, kau harus membersihkan seluruh ruangan ini” ada senyum di antara kata-kata.

“Terima kasih” jawab Sinu. Ia mengambil kain itu, lalu menunduk dan akan kembali ke kamarnya. Namun hanya beberapa langkah, pria itu kembali berbalik.

“Ya?” Tanya sang Dewi.

“Kenapa kau memakai pakaian seperti itu?” tanya pria itu polos.

“Kenapa?” perempuan itu bertanya balik “kenapa harus ada alasan tentang pakaianku?”

Sinu menggaruk tengkuk, lalu menatap mata itu sebentar sebelum dialihkan ke sembarangan.

“Kau lebih cantik menggunakan gaun putih. Yang sekarang… kau terlihat seperti penyihir”

“Terima kasih atas pendapatmu, Sinu” nadanya ramah. Selalu “omong-omong, berapa usiamu?”

“Aku… 4025 tahun”

Ia melihat perempuan itu mengangguk-angguk “harusnya kekuatanmu memang sudah level lanjutan meski tak akan bisa membunuhku. Kau cukup lama hidup. Untuk ukuran persilangan, kau keren. Tapi tidak lagi, sekarang, kau hanya vampir tanpa kekuatan”

“Terima kasih karena sudah membiarkan aku hidup.” kata-kata Sinu seharusnya memutus pertemuan mereka malam itu. Bukan malah semakin mendekat dengan berani. “Tapi.. bolehkah aku tidur denganmu malam ini? Kau bisa mengikatku dengan sulur, membebatku dengan apapun. Asal.. biarkan aku di dekatmu.. Aku merasa seakan kedamaian dan tenang bermuara pada tubuhmu”

“Kau terlalu berani. Apa aku terlihat begitu mudah bagimu?” matanya menyala. Bibir merahnya seolah berapi-api.

“Tidak, kau tidak. Kau sangat tinggi sementara aku hanya anak ayam yang tersesat. Aku hanya kedinginan dan kain tenun ini… tidak akan hangat sama sekali. Kau boleh memarahiku. Aku akan menangis sambil tertidur di sampingmu”

Jeda.

Agak lama..

“Kemarilah” ajakan itu membuat Sinu tersenyum cerah. Pria itu mendekat buru-buru. Lalu begitu berhadapan, Sang Dewi menyapukan tangannya ke udara tepat di hadapan Sinu, lalu tanpa tedeng aling-aling, pria itu terlelap—jatuh bagai orang mati.

“Aku tidak tahu, sungguh. Aku bahkan gagal menerjemahkanmu. Kau tidak nyata, tapi ada. Dan seluruh cerita yang kau paparkan, tidak lebih dari dongeng nenek moyang. Aku seperti ini karena memang sakit, aku sekarat. Tidak ada jiwa yang terbagi, tidak ada reinkarnasi selama aku masih hidup. Maka, satu-satunya alasan aku masih mempertahankanmu adalah rasa penasaran yang menggelegak. Kau satu-satunya makhluk yang bahkan tau bahwa aku dalam level terendahku. Maka, kau hanya akan seperti itu. Tanpa kekuatan, tanpa bisa berdusta. Semua yang keluar dari mulutmu adalah murni dari hatimu. Aku menghendaki”

Tangannya menaburi sparkle kelap-kelip berwarna emas dan perak. Lalu kain tenun itu menyelimuti tubuh Sinu. Setelah itu, sang Dewi kembali masuk.

🐾🐾🐾🐾

Bunyi renyah suara apel di kunyah. Satu keranjang terlihat menumpuk isinya dengan berbagai jenis buah. Warna-warna mereka begitu memikat—menggiurkan. Kendati tak membuat satu-satunya makhluk lain di sana ingin.

Sang Dewi terduduk di sisi jendela. Rambut panjangnya menjuntai indah berkilau. Hari ini ia mengenakan gaun putih tanpa lengan. Tangannya memegang satu buah apel yang sudah habis sebagian. Matanya menyorot keluar—memperhatikan lingkungan  di luar kastil yang ramai—warga yang berlalu lalang.

Begitu indah seandainya saja dunia berjalan tanpa kejahatan. Semua orang mati hanya karena tua, hanya karena usia yang sampai batasnya. Tak ada pembunuhan, tak ada peremapasan hak orang lain, juga tak ada penindasan. Semua berjalan di garis lurus tanpa menyalahi aturan.

Kelebat pikiran semacam itu tak bosan-bosan hinggap di kepala selama ribuan tahun. Kendati, selepas khayalan itu, ia harus kembali mengacungkan pedangnya untuk membunuh sang angkara murka.

Isi pikirannya buyar, ia ditarik pada kenyataan bahwa dunia yang imbang tidak akan pernah ada. Lalu eksistensi seseorang memenuhi isi sofa di seberang.

Sinu duduk dengan senyum. Rambutnya basah bekas disugar ke belakang—memperlihatkan dahi dan garis alis yang rapi.

“Tugasku sudah selesai” katanya, berbangga diri. Ia juga memperlihatkan telapak tangan yang merah bekas menggosok semua hal dengan keras.

Sang Dewi hanya melihatnya sekilas, lalu mengabaikan. Matanya kembali memindai lingkungan favoritnya.

“Kau cantik sekali” kata Sinu lagi. Namun kali ini, Sang Dewi tak menanggapi. Tak melirik sama sekali “aku suka sekali melihatmu. Bahkan jika seumur hidupku hanya kuhabiskan untuk memandangimu sampai mati, aku tidak keberatan” sambungnya. Senyum itu masih terulas disana.

“Merayu seorang Dewi, dosanya setara dengan membunuh orang tuamu sendiri” kata-kata itu telak—mengagetkan. Sinu mendelik.

“Aku baru mendengar yang seperti itu, benarkah?” 

Tentu saja bohong. 

“Ya”

“Wah.. kebetulan dua orang tuaku sudah mati. Jadi tidak masalah, bukan? Sejak awal aku bukan vampir yang suci. Jika memuji kecantikan seorang Dewi menjadikanku seorang kriminal, maka aku tidak masalah dengan itu”

“Kau sungguh luar biasa. Kau pasti begitu gemar menggunakan kekuatanmu untuk merayu gadis yang lebih lemah darimu”

“Itu fitnah keji. Seorang Dewi apa boleh mengatakan hal buruk tanpa data seperti itu?”

“Boleh, aku bahkan ada untuk menjadi pembunuh. Jika hanya mengucapkan kata-kata buruk, hanya seperti bulu anak angsa bagiku”

Sinu mengangguk-angguk.

“Kau, dari keluarga siapa? Maksudku, apa aku mengenal kakekmu? Kakek dari kakekmu?” tanya sang Dewi lagi.

“Jonathan, aku keluarga Jonathan”

Kening Sang Dewi mengernyit. Ada jeda dalam mengingat.

“Si ahli regenerasi itu, ya? Aku mencium bau pengkhianat darinya, namun belum akurat”

“Kau tau ayahku?”

“Apa ayahmu? Namanya Mike Jonathan”

Sinu menggeleng. “Ayahku sangat mirip” pria itu memegang wajahnya sendiri “denganku” ada nada tidak rela disana.

“Berarti bukan ayahmu. Jika ada kesempatan akan aku tunjukkan”

Lalu ia kembali mengunyah apel–melempar tatapan ke jendela lagi.

“Yang Mulia Agung, berapa usiamu?” Tanya Sinu. 

“Sembilan ribu” jawabnya lembut, tanpa menoleh.

“Waw..”

“Apa arti ‘waw’ dalam ucapanmu?”

“Entah.. Kau cantik, lalu sangat berpengalaman hidup. Itu keren”

“Ya, karena aku seorang Dewi, meski tak sesempurna Tuhan, namun aku memiliki keilahian”

“Aku dengar, seorang Dewi juga bisa menikah” kata-kata itu diucapkan mirip bisikan. Namun mampu membuat sang Dewi kembali melihatnya.

“Menikah dengan sesama Dewa-Dewi itu lumrah meski kami tidak akan memiliki keturunan. Kami bukan Tuhan”

Sinu Mengangguk. Sebenarnya, sejak tadi ia memikirkan bagaimana ayahnya jatuh cinta pada sosok Dewi dan mencampakkan ibunya begitu saja. Lalu melihat bagaimana keilahian begitu indah, kecantikan memancar tanpa celah, dengan sifat seperti ayahnya pasti sudah jelas tergoda.

Sepertinya sekarang.

Saat ini.

Wajah Kristal begitu agung. Tiap menatap, seluruh ketenangan bermuara di sana. Seolah seluruh dunia akan baik-baik saja meski Sinu hanya melihatnya pada wajah ini, bukan pada Dewi yang pernah ia kalahkan dengan kebencian yang bejubel.

“Menikah dengan entitas lain” pria itu menambahkan setelah pikirannya yang jauh.

“Itu mengerikan. Kau menggodaku lagi, pria kecil?”

“Aku bukan pria kecil”

Sang Dewi terkekeh.

Apel habis dalam genggaman. Ia kembali melirik keranjang lalu memindai–memilah.

“Aku akan menguapskan mangga untukmu” kata Sinu cepat.

“Aku tidak sedang ingin memakan mangga”

“Sepertinya stroberi enak”

“Terlalu asam” sang Dewi menggeleng.

“Ceri?”

Menggeleng

“Alpukat?”

Menggeleng

Sinu menyerah. Lalu sang Dewi mengambil stroberi.

“Aku mau yang ini” katanya enteng. Sinu hanya menatapnya lama tanpa berkedip. 

Cukup lama.

Mata pria pria itu terkadang berkedip sebelah tanpa disengaja “Hey vampir! Kenapa menatapku seperti itu, heh? Kau mau dilempar jadi pakan serigala?” sang Dewi menatap galak. Sinu kontan berdehem dan mengalihkan pandangan. Perempuan itu tertawa pelan “lucu sekali, aku punya teman sekarang” ucapnya sambil menggigit stroberi.

“Apa aku dianggap teman sekarang?”

“Ya, kau temanku, vampir”

Sinu melakukan gerakan ‘yes’ dengan memukul tangan ke udara.

“Apa itu? Apa maksud dari gerakkan itu?”

“Aku senang. Aku memiliki teman Dewi yang agung”

Perempuan itu tak menjawab, ia menatap ke jendela lagi.

🐾🐾🐾🐾

Suara langkah besar menggema di ruangan. Tangannya mencangking tas besar.

Ibu Kristal.

Sudah berapa hari anaknya tak pulang. Ponselnya mati, dan tidak ada kabar.

Ia memindai mansion dan tak menemukan siapapun karena semua orang berada di kamar masing-masing. Lepas kepergian Sinu dan Kristal yang semakin mengkhawatirkan, kondisi para vampir seolah seperti  ditelan bumi. Mereka tidak banyak keluar kecuali makan.

Lalu ibu Kristal menuju kamar Edgar. Ruang yang sudah ia paham serta bersumpah jika menemukan anaknya di sana, akan ia pukuli pria brengsek itu dengan tasnya yang berisi batu.

BRAK!! Pintu terbuka lebar.

Matanya menangkap sang anak yang sedang bercumbu. Gadis itu sudah bangun satu jam yang lalu, kini ia duduk di pangkuan Edgar yang sedang menyusu pada payudaranya.

Jangan tanya bagaimana keduanya seperti orang gila yang gelagapan. Ibu Kristal melongo dengan wajah paling kaget sedunia.

“Ma.. aku bisa jelasin..” kata si anak, ia membenarkan bajunya yang menyingkap. “Ma… Edgar.. Itu… Edgar butuh susu” katanya kehabisan ide untuk jadi alasan.

Lalu sang ibu menghajar Edgar dengan tas setelah lebih dulu mengunci pintu. Kondisinya keos dan runyam.

EPISODE 88 (SINU HILANG)

Tidak ada yang bekerja hari ini. Tepatnya tak ada yang pergi. Johan izin–mengatakan keluarganya sakit dan ia tak enak badan. Maka, semua orang berkumpul berikut Lyn yang terlihat paling cemas di sana.

Kamar Logan.

Sinu terbaring dengan tangan bekas darah kering milik Logan yang tergeletak di atas perut Kristal. Keduanya sangat pulas hingga nyaris seperti dua orang mati. Bedanya masih bernapas. Tak ada gerakan sama sekali. Napas mereka kecil, darah keduanya dingin seakan membeku.

Sudah sejak kemarin tertidur. Dan hari ini, pukul sebelas siang, baik Sinu maupun Kristal, tak ada tanda-tanda akan bangkit.

Kamar itu penuh. Edgar duduk di sisi si gadis sambil merebahkan kepala di tangan Kristal yang ia pegangi. Sesekali mengecupi, beberapa kali mengocehkan banyak hal dan tertawa sendiri. Barangkali pria itu sudah mulai terbiasa dengan kondisi itu sehingga tak ada tangis. Namun siapa saja yang melihatnya akan prihatin.

“Yang, biasanya 12 jam, makin lama aja buset” pria itu melihatnya dari samping. Mengelusi pipi perempuan yang khidmat di alam bawah sadar.

Daniel di pojokkan tak berani mendekat. Tak ada rasa bersalah karena memang ia tak bersalah. Namun juga tak berani mendekat—takut di bakar.

“Ini terus gimana?” Lyn memecah sunyi. Suara adu napas para vampir seakan mencekiknya. Padahal, gadis itu paling merasa bersalah dan panik. Namun ia tekan. Jika salah satu dari mereka tau, maka, habislah. Melarikan diri pun, pikirannya tak tenang. Ia khawatir pada Sinu.

Pertanyaannya tak mendapat jawaban. Semua orang masih diam. Kecuali suara kecil Jimin yang berusaha mengajak kekasihnya bicara.

Dan saat gerak kecil terasa, barulah pria itu bangkit dan duduk tegap. Rambut pirangnya yang mulai memanjang ikut meliuk searah kepala bangkit.

Kristal Bergerak.

Lalu perlahan membuka mata.

Berat. Pencahayaan yang remang lumayan membantu matanya cepat beradaptasi. Semua orang yang sejak tadi memperhatikan, kontan mendekat. Ia dikerubungi dengan mata–mata penuh kekhawatiran.

“Yang” lalu suara kekasihnya. Kristal tersenyum saat pandangannya berlabuh pada Edgar.

Logan memberi isyarat pada semua orang untuk tidak langsung mengajukan pertanyaan. Agar si gadis mengembalikan seluruh kesadaran dan utuh.

Lalu ia menguap. Matanya melihat tangan Sinu yang tergeletak di atas tubuhnya. Lantas ia langsung menghadap ke sisi yang lain.

Ia melihat Sinu terbaring dengan damai. 

“Loh?” Kristal Duduk. Beringsut ia kembali mengucek mata sementara tangan Sinu terjatuh begitu saja. “Opung kenapa?” ia bertanya pada siapa saja di sana. Namun pertanyaan itu seakan mengapung di udara tanpa siapapun menangkap.

“Dia ke mimpi lu, mau bunuh Dewi, tapi seseorang yang gila, edan, alias nggak waras, lepasin jabat tangan. Terus gua di tuduh.” si bungsu yang menjawab. Pria itu jelas masih kesal. Lalu semua orang melirik menatap Daniel yang duduk di pojokkan seperti adik tiri.

Lalu kembali pada Kristal.

Mata-mata itu jelas penasaran. Namun tak ada pertanyaan yang lolos karena titah Logan sesaat sebelum gadis itu benar-benar sadar.

“Sinu di dunia mimpi sekarang? Gua sejak Logan pertama kali masuk itu, udah nggak mimpi sama sekali. Gua tidur gitu aja, kosong dan ya… tidur aja” si gadis berusaha menjelaskan karena memang itu yang dirasakan. Juga menyumpali wajah-wajah dengan sejuta penasaran.

Helaan napas berat terdengar dari semua orang. Tangannya masih dipegang Edgar dan pria itu kembali mengecupi. Ada lega yang belum selesai.

“Keputus, bahkan tubuh kamu nggak bisa berdarah” itu Logan, ia  bertolak pinggang dengan mata yang menatap mata Kristal.

“Ha?” ia menarik tangan yang dipegang Edgar “nggak bisa berdarah? Coba gigit” ia menyodorkan lagi pada kekasihnya “masa nggak bisa, coba gigit yang keras sampe luka”

Edgar melakukan apa yang diminta. Namun sekuat ia menggigit seperti anjing, tubuh gadis itu mirip karet. Lalu ia menyalakan api. Matanya kembali pada si gadis—meminta izin.

“Bakar coba, masa gak bisa”

Lalu api menyambar tangan Kristal, api kembali berbalik tak sudi menjilat barang sedikit.

“Lah?” Edgar Mendelik.

“Coba dibikin muntah paku dulu” itu suara Johan, lalu semua mata meminta persetujuan dari empunya. Kristal lagi-lagi mengangguk.

Maka, setelah itu, semua vampir menyerang Kristal dengan kekuatan mereka. Namun tidak ada satupun yang berhasil menyakitinya. Tidak dengan kekuatan dalam Logan, tidak juga dengan racun, api, es, dipukul King-kong raksasa atau ditanami tumbuhan beracun dalam tubuh. Semuanya berbalik.

“Gua kenapa, guys?” Kristal memegangi seluruh tubuhnya yang kencang dan keras, khas seperti atlet yang aktif. Tubuhnya benar lebih bugar, seperti stamina yang melonjak tanpa tahu darimana. Padahal perutnya lapar.

“Kalau prediksiku benar, kamu akan jadi setengah Dewi dan kelamaan akan ketarik ke sana tanpa bisa balik”

Kata-kata itu mendapat reaksi keras dari Edgar. Pria itu mendelik dengan mata tak seberapa. Namun mengeluarkan percikan api yang mengenai rambut Logan. Semua orang juga bergumam keberatan dengan ocehan yang terdengar asal, namun sebenarnya Logan serius. Hanya penyampaiannya saja yang asal.

“Udah berapa lama Sinu tidur?” Kristal yang bertanya. Namun matanya menatap lurus pada satu gadis yang berdiri dengan wajah pucat dan takut. Lyn di sana, di belakang semua orang yang masih mengerubutinya.

“Dari jam 9 malem kemaren” Logan lagi yang menjawab. 

Terdengar hela napas lagi. Seperti semua orang kelelahan dan bingung.

“Oke, jadi gini aja..” Kristal memindai mata semua orang “gua akan infus Sinu pakai darah biar dia tetap sehat sembari kita pikirin caranya bisa bawa dia balik. Kalian jangan terlalu panik. Panik nggak mengubah apapun. Tenang, oke? Yakin bahwa Opung bakal balik. Gua yakin kita bisa. Sekarang gua akan panggil tenaga medis sambil tanyain tentang badan gua yang nggak bisa luka. Please… jangan gelisah, oke? Kalian udah makan? Makan dulu, abis itu rehat”

Selalu seperti itu. Siapa yang tak suka pada gadis itu. Logan paham barangkali dunia mimpi si gadis adalah masalalu—bahwa Krisal adalah Dewi kedamaian yang berinkarnasi menjadi gadis biasa dari kalangan kaya raya dan orang tua yang keren. Gadis itu selalu diliputi kebijaksanaan kecuali saat bersama Edgar.

“Gua suapin” kata Edgar, semua orang perlahan membubarkan diri “gua gendong ke kamar gua. Biar Logan yang ngangkat Opung buat pindah”

Nyaris semua keluar, kecuali Lyn yang terus mematung hingga tubuh Sinu di gendong Logan pergi ke kamarnya sendiri.

🐾🐾🐾🐾

Sang Dewi tertidur di kamar khusus. Kamar indah dengan portal berisi mantra dan sulur yang menyelubung. Tidak ada siapapun dapat masuk–melewati garis. Sebelumnya, perempuan itu berkata pada Sinu yang sudah tenang bersama seekor domba yang akan dijadikan makan malam–bahwa ia mengantuk meski hanya gumaman. 

Sinu selesai dengan makan. Tangisnya telah reda. Perasaannya membaik dan melihat sang Dewi membuatnya merasa jauh lebih baik. Kini, pria itu hanya berdiri di depan pintu yang tak terkunci. Sementara Kristal–Dewi merebah di atas ranjang dengan cahaya keperakan yang menyelubung.

Tidak tahu. Rasanya lega, aman, nyaman. Ia lagi-lagi tak mampu menemukan kata yang pas untuk menggambarkan suasana hatinya sejak ia membuka mata pertama kali. Rasanya, semua hal yang ada disini merupakan tempat paling aman dari ngerinya seluruh ketakutan, trauma, serta tanggung jawab yang tak ada habisnya.

Di tempat besar yang mengukungnya kini, Sinu merasa bebas.

Sungguh. Bebannya lepas seperti tertinggal jauh bersama urin yang hanyut di kloset cantik di pojok ruang. Persis seperti tata letak di kastilnya.

Pundaknya ringan dan kini, ia tersenyum meski hanya menatap gadis ayu dengan seluruh keagungan serta keindahan yang mengerubuti.

Rasanya tak mau kembali. Ia tak ingin kembali kemana pun.

Entah bagaimana, perasaannya jauh lebih baik disini ketimbang di manapun seumur hidupnya. Baik di kastilnya, di rumah Kristal, atau di masa lalu. Semuanya bagai terkubur hilang. 

Dan… bagaimana jika ia tak kembali? Bagaimana adiknya? Namun sungguh, Sinu tidak khawatir. Ia tidak lagi pusing memikirkan adiknya, tidak lagi ingin tahu bagaimana kabar mereka. Yang ia rasakan hanya nyaman. Kenyamanan yang didapat tanpa perlu bekerja keras mencari emas, mencari uang, atau harus bersikap begini dan begitu agar diterima. Tidak tahu, Sinu merasa ini adalah tempatnya. Tempat ia ingin menghabiskan waktu sampai mati.

Barangkali terlalu cepat. 

Tempat, lalu Sang Dewi. semuanya terasa seperti hipnotis yang mereset pikirannya menjadi nol dan murni. Meninggalkan jejak luka yang ditorehkan ayahnya, ekspektasi, serta tanggung jawab yang tak berkesudahan.

Ia menjadi lebih ekspresif.

Kendati kekuatannya hilang tersegel. Namun setelah menangis lama hingga memalukan, Sinu tak lagi pusing. Perutnya kenyang dan ia melihat Sang Dewi, itu cukup. Sungguh. Seolah hidupnya cukup dengan itu. Untuk sekarang dan sampai mati.

“Kalau dia tidur.. Artinya Kristal bangun..”

Pria itu bergumam di ambang pintu. Bahkan jika kakinya melangkah sedikit, maka ia akan terpental jauh dan terluka. Maka pria itu memutuskan keluar. 

Tidak keluar. Ia tidak bisa keluar jika bukan Sang Dewi yang mengajaknya keluar, ia hanya berdiri di jendela besar—melihat pemandangan indah. Lebih indah dari jendela di langit Jakarta, juga dari kastil nya. 

Dari tempatnya berdiri, Sinu dapat melihat berbagai entitas berlalu lalang riang gembira. Mereka membawa peralatan berburu, membawa dagangan, serta anak-anak bermain dengan suka cita.

Ini adalah hidup.

Hidup dimana tidak ada rasa takut, tanpa rasa bersalah, tanpa rasa kalah dan takut ditelantarkan. Hatinya lapang dan penuh, untuk alasan yang tidak ia mengerti. Padahal, ia tak melakukan apa-apa. Pun sang Dewi, mereka belum banyak interaksi–kecuali menangis,  namun ia merasa memiliki kemelekatan dengan kastil, juga pada seluruh dunia yang ia pijaki saat ini.

Jika aku terus berada disini karena ingin, karena hatiku menginginkannya, karena aku merasa lega sekaligus merasa ‘hidup’ setelah ribuan tahun terkukung dalam rasa takut, was-was, dan buruk, apakah aku egois?

Atau haruskah kembali dan membimbing serta bertanggung jawab terhadap adik-adikku seperti sebelumnya hingga mereka semua menemukan kebahagiaannya?

Tapi sampai kapan? Apa definisi bahagia itu sendiri? Bagiku? Bagi mereka?

Atau seperti apa kehidupan yang ideal itu? Kehidupan yang seharusnya seorang kakak lakukan terhadap adik-adiknya. 

Dan, sampai batas mana harus ditunaikan? Sungguh, aku sungguh sangat lelah. Bahkan tidur pun sulit, rasanya semua begitu menyakitkan. Ketakutan itu tidak hilang, aku hanya menekannya. Berusaha berhenti memikirkan kemungkinan terburuk. Lalu mimpi buruk tentang masa kecil yang seakan tak ada habisnya.

Tapi di tempat ini. Semuanya berhenti.

Seolah kepalaku kembali murni. Seluruh beban hilang.

Rasa nyaman dan aman ini… apakah sebuah keegoisan? Apakah aku egois? Tidak bertanggung jawab?

Atau katakan aku akan kembali nanti, meski entah bagaimana caranya. Tapi tolong biarkan aku bertahan sedikit lagi di tempat ini. Ketenangan ini adalah ujung dari empat ribu tahun yang kulalui dengan luka yang tak pernah benar-benar kering. Yang kugendong sambil mengangkat sisa adikku yang sangat aktif dan menggemaskan.

Sebentar saja… ku mohon, biarkan aku disini sebentar saja dengan perasaan tenang ini..

Pria itu memejamkan mata. Angin yang berhembus dari jendela besar membawa aroma alam yang menyejukkan. Gesek dedaunan, suara burung bersahut-sahutan lalu gelak tawa anak-anak. 

Ini adalah dunianya.

Bukan bising jalanan macet ibu kota. Bukan juga darah hewan yang dimasukkan dalam botol setelah masuk alat aneh. Atau seorang gadis yang….

Sinu tiba-tiba teringat pada Lyn.

Dan perasaannya saat ini seperti bulu. Sangat ringan. Tanpa rindu, tanpa cinta yang menggebu, tanpa hasrat apapun. Maka, saat gadis itu terlintas di kepalanya, Sinu hanya mengingat sebagai gadis lucu yang berani. Pun, Lyn tak cukup menjadi alasannya untuk meninggalkan tempat ini. Jangankan hanya seorang gadis, keenam adiknya pun ingin ia tinggalkan demi kehidupan yang seperti bayangan.

Sinu sadar tempatnya sekarang hanya mimpi. Hanya fatamorgana. Dan kenyataan pahitnya adalah, hatinya baru benar-benar merasa tenang di dunia yang seperti ini. Sungguh ironis.

Pria itu lalu berbalik, rencananya akan kembali tidur. Tidur dengan tenang, bersama perasaan nyaman.

Namun kaget saat melihat Kristal, maksudnya Sang Dewi yang telah menggunakan gaun hitam dengan pedang yang menyelip di belakang tubuh. Gadis itu sudah bersiap-siap. Mata mereka bertabrakan sebelum Sinu menunduk.

“Aku harus pergi” katanya. Hanya itu. Lalu sosoknya menghilang begitu saja dari pandangan. Pria itu bahkan kembali melihat keluar jendela—berharap masih melihat bayangannya. Namun nihil.

🐾🐾🐾🐾

Kristal kembali tidur.

Padahal Edgar bersumpah baru selesai menyuapi. Piring  baru saja ia letakkan di atas nakas dan akan mengambil minum. Namun gadis itu sudah kembali terbaring dengan lelap.

“YA ALLAH YANG!! YA ALLAHU RABBI YA KARIM!!!” pria itu bangkit lalu berteriak sekuat tenaga. Rasa jengkelnya naik sampai ubun-ubun. Amarah seolah langsung membumbung tinggi—terbakar membara.

Lyn datang—lari tergopoh mendengar Edgar meraung seperti binatang.

Gadis itu hanya berdiri di ambang pintu. Ia menggigit ujung ibu jari dengan perasaan bersalah, lalu menyesal. Namun tak berani diutarakan.

Isabella pergi. Kini Kristal ikut sulit. Eksistensinya makin jarang. Juga Sinu. pria itu sudah tidur 24 jam. Kristal sudah memasang infus pada tangan si sulung. Kehidupan pria itu tidak akan berakhir, kecuali jika mati di dunia mimpi. Maka, Sinu akan mati juga.

Kondisi sisa orang sangat sulit. Melanjutkan hidup sulit. Rasanya seperti kehilangan orang tua dan dipaksa melanjutkan hidup tanpa pegangan, tanpa arah dan tanpa komando.

“Gua kata, kita balik aja ke hutan. Nanti pas Kristal bangun, kita minta dia buat suruh orang lain antar kita sampe Ternate” itu putusan Logan. Ia berbicara pada Johan dan Samuel “kita nggak punya tempat di sini. Salah dikit, atau aneh dikit, kita bakal ditangkap dan…” Logan menghela napas “ini bukan dunia kita, sejak awal kita salah karena nekat ikut. Padahal, kita baru aja bebas, kita bisa eksplor hutan. Kita bisa sesekali ke dunia manusia kalau bosan. Kita bisa, tapi nggak buat tinggal”

Johan menggeleng, begitu juga Samuel. Keduanya serempak menggeleng.

“Sinu akan balik, Kristal akan baik-baik aja. Kita akan melanjutkan hidup dengan modern. Gua nggak bisa balik” Johan meyakinkan. Begitu juga Samuel.

“Kalian pikir, sampai kapan kita akan minum darah lewat tumbler? Sampai kapan orang-orang nggak curiga sama pola kita yang nggak pernah makan? Nggak pernah minum?” Kakak kedua masih kukuh.

“Gua akan bertahan sampai batas maksimal” jawab Johan lagi “kalau ada yang sampe liat gua minum darah, gua hanya perlu menghilang selama beberapa saat dan minta Kristal buat identitas baru. Gua akan jadi orang baru” ia yakin dengan rencana yang telah ia pikirkan sejak lama juga. Johan mantap dengan itu. Samuel sejak tadi hanya mengangguk-angguk saja sementara Logan memijat pangkal hidung.

“Kristal nggak akan selamat, percaya sama gua” kata-kata itu sungguh menyakitkan saat diucapkan. Logan bisa mengatakannya karena ia tahu bahwa—dengan kekuatan normal saja, Sinu akan kesulitan mengalahkan Sang Dewi agung yang diciptakan Tuhan memang untuk memerangi kejahatan. Bayangkan sekuat apa makhluk itu. Seluruh elemen dikuasai. Meski sempat sekarat, Sinu tidak akan bisa mengimbangi. Logan terlalu gegabah–berpikir bahwa Kakaknya serba bisa. Padahal, jika ia biarkan saja Kristal mati, Sinu tidak akan terjebak di sana. Ia hanya memikirkan kakaknya. Jika saja bisa diubah. Biar ia yang pergi. Sudah cukup pria tertua itu mengakali semua hal, mengorbankan ini dan itu. Sekarang, harus kembali terjebak di masa lalu tanpa tahu cara keluar.

“Abang gua..” katanya patah-patah.. Logan tidak tahu mengapa ia menjadi emosional. Padahal, ia tak seakrab itu dengan kakaknya.

“Emang, kalau kita pindah ke hutan, bakal bikin Sinu balik, gua tanya?” Johan masih ngotot. Logan Menggeleng.

“Gua cuma takut kehilangan. Gua nggak mau kehilangan kalian” suara itu terdengar mencicit–bisikkan yang hanya bagai desau angin. Namun dua adiknya mendengar, jelas. “Ini bukan dunia yang gua kuasain, kalau salah satu dari kalian hilang, kena masalah serius? Gua nggak sekeren Sinu” katanya lagi. Bahkan di hari pertama tanpa kakaknya, pria itu sadar jika selama ini ia bergantung pada Sinu. Pria tertua itu yang menghadapi semuanya. Menjadi garda terdepan.

Sejak dulu, sejak baru mereka berdua. Sejak kecil.

Tanpa ada sehari pun ia menegur Sinu saat pria itu dipukuli ayahnya. Perasaan itu menyeruak membuatnya ingin menangis. Kerenggangan yang tercipta akibat rasa bersalah. Rasanya begitu menyesakkan.

Lalu, bagaimana jika Sinu tidak ada? Bagaimana ini? Logan benar-benar mengusap matanya. Bulir air mata jatuh tanpa ia tahu bagaimana menjelaskannya.

PISODE 87 (SINU LOGAN KRISTAL)

Gadis itu menyepak bokong Daniel berulang-ulang saat mereka turun dari mobil di depan. Sudah makan meski itu sempurna ide Daniel agar gadis itu memiliki energi untuk memarahi. Sungguh, si bungsu lebih baik mendengar Kristal marah–mengoceh panjang lebar ketimbang diam dengan wajah pucat dan lemas. Dan benar saja. Setelah isi daya, gadis itu merocos seperti petasan—merepet.

Di marahi, jangan berharap banyak untuk di dengarkan. Pria bertubuh besar itu malah menghitung tiap per kata yang dilontarkan Kristal. Menghitung berapa kali kaki gadis itu mendarat di bokongnya. Atau berapa kali ia di cubit di lengan. Serius, Daniel menghitungnya meski tak yakin akan akurat.

“Lu udah ngoceh 15 ribu kata. Itu cukup untuk jadi cerpen” Daniel berhenti tepat di ruang tamu “lu nyepak pantat gua 20 kali, nyubit 8 kali dan jambak rambut gua 2 kali” jari-jarinya terangkat—khas orang menghitung “sekarang kiss” katanya, ia nyengir lebar jelas tak ada rasa sesal di wajah itu.

Kristal mengeluarkan pedang lipatnya tatkala kejengkelan sampai ubun-ubun. Ia acungkan benda itu tinggi-tinggi.

“Woy!! Oke.. oke… maaf yang mulia.. Ampun.. Lagi malas ke tempat Samuel walau gua masih ada kontrak kerja sampe masuk sekolah biar dibeliin Ducati. Mau bobo-an aja.. Jangan tebas. Mending tebas pacar lu noh, dia bisa ganti kepala”  Daniel membekukan pedang, lalu mengangkat Kristal dalam gendongan. Ia terpingkal-pingkal saat tubuh digendongannya menggeliat meminta turun.

“Beneran gua belah pala anak ini, anak setan!! Brengsek!!” dada Daniel dipukul meski Kristal seperti memukuli dinding—dimana tangannya sendiri yang sakit.

Lalu gadis itu diturunkan di anak tangga pertama. Es membekukan kaki tiba-tiba sementara Daniel lari terbirit-birit masuk ke kamarnya dengan tawa yang membahana.

Kristal bersumpah akan menebas kepala pria itu jika tertangkap. 

Bersamaan dengan menghilangnya eksistensi si bungsu, dari atas, Sinu turun dengan wajah lega. Sungguh, seperti bisul pecah yang membuatnya tak enak—serba salah, kini lega.

Senyumnya sampai mata. Air mengaliri kaki dan beku itu mencair dengan hangat tanpa meninggalkan basah. Pria itu tiba-tiba mengajaknya bersalaman.

“Terima kasih” katanya pelan. Ia juga hampir menepuk pundak gadis  itu sebelum bunyi gaduh menyusul dari atas.

Seharusnya Jake pergi kerja.

Tapi pria itu malah sibuk berlari tunggang langgang sementara kepingan es membentuk runcing tipis melayang mengikuti geraknya yang secepat kilat. Baru kembali dan mengatakan tentang istirahat, nyatanya, Daniel sudah kembali keluar hanya mengenakan bokser pendek.

JLEB!!! 

Satu es runcing menembus paha Jake. Lalu disusul serangan yang lain. Pria itu tumbang ke lantai dengan darah merah berceceran. Daniel terbahak-bahak—mulai memasukkan ular yang entah di dapat dari mana ke dalam celana kakaknya. Pemandangan seperti itu adalah hal lumrah. Sinu menanggung semua biaya perbaikan jika ada yang rusak.

“Gua kudu istirahat, kepala gua sakit” mata gadis itu berpindah-pindah dari Jake ke Daniel–begitu berulang-ulang. Lalu Kristal memijat dahinya. 

Agak lama, kepalanya terasa berat khas seperti gejala biasa. Lalu,  tanpa aba-aba, gadis itu jatuh tersungkur dekat Jake begitu saja.

Ketiga pria itu kaget, saling pandang. Si gadis  baru saja tersadar kurang dari enam jam dan sekarang sudah kembali tidur. Makin lama, Kristal akan semakin menghilang.

Sinu buru-buru menelepon Logan. Sepertinya tidak ada perbedaan untuk menunda sampai malam jika Kristal tertidur dari sekarang.

“Dia kecapean itu, stress juga mikirin Daniel” Jake masih sempat berkomentar meski ular membelit penisnya di dalam celana. Pria itu meringis.

“Jangan bawa-bawa gua, nanti si jablay denger. Anak itu psikopat”

Mereka masih berseteru sementara Sinu membawa gadis itu ke kamarnya setelah menelpon Logan—dan Logan tidak menjawab banyak kecuali ‘hem’ satu kali lalu mematikan panggilan.

“Jangan kasih tahu Edgar. Nanti pasti marah-marah” Sinu mengatakan hal sama dengan si bungsu. Lalu menghilang ditelan anak tangga.

Darah Kristal di hisap, tangannya sendiri digigit—menyatukan tangan dengan Kakaknya lalu diikat kencang menggunakan dasi. Si gadis terbaring ditengah dengan damai semetara di atas perutnya dua tangan yang saling menjabat dibebat dengan kencang. Tidak akan lepas.

Dalam kurun setengah menit, mata pria itu bergejolak kehijauan. Masuk ia tersedot dalam ruang yang terdistorsi. Dilahap—tersedot dan…berganti ruang.

“Waktu kita cuma satu jam, setelah itu bakal balik otomatis” Logan berbisik pada Kakaknya. Sinu tak menjawab. Si sulung sibuk mengedarkan pandangan pada dunia yang baru ia lihat pertama kali meski rasanya tidak asing. Namun matanya tak pernah melihat yang seperti ini.

Bukan kastil seperti kemarin bersama Edgar. Juga bukan bukit dan lembah macam ia pertama kali datang. Tanah yang di pijaki adalah hamparan padang rumput yang luas. Warnanya hijau menyejukkan mata dengan angin kencang yang bertiup dari barat daya—membuat rambut naik—memperlihatkan dahi.

Mereka berdiri di bawah pohon Ek dengan cabang melebar dan akar yang tak kalah besar dengan pohon itu sendiri. Berdiri di bawahnya sungguh sejuk. Merebah sedikit saja, Logan yakin akan tertidur. Meski sejak tadi ada yang mengganggu pemandangan itu. Sangat tinggi dan abnormal.

Tentu saja ide bagus sebelum mereka melangkah sedikit lagi. Agak menurun. Apa yang sejak tadi mengganggu pemandangan, akhirnya terlihat sempurna.

Di sana, sosok yang di cari berdiri menggunakan gaun hitam. Tak lupa pedang dengan bilah yang berkilau—menampakkan ketajaman yang keji. Berdiri ia menghadap satu makhluk besar dengan jenis yang tidak diketahui baik oleh Sinu maupun Logan. 

Makhluk itu mungkin saja binatang. Bentuknya reptil raksasa—sangat besar mirip dinosaurus yang terpapar radiasi nuklir. Memiliki napas atom biru dan sangat tinggi, setara gedung pencakar langit di Jakarta. 

Logan mendelik, Sinu berdehem. 

“Kita liat aja sampe lima belas menit. Syukur-syukur makhluk itu bisa matiin Kristal” ujar Sinu enteng. Sementara Logan mendelik.

“Kalau Kristal yang lu lihat sekarang mati, gua jamin abis ini…” Logan menarik napas “semua dataran ini bakal jadi lautan darah vampir, siluman, manusia serigala, manusia, dan semua entitas yang tinggal” tak dapat membayangkan sekacau apa tanah ini jika gadis yang memegang pedang itu kalah.

“Bukan urusan kita. Tujuan gua kesini matiin Dewi itu, terus pulang dan melanjutkan hidup” itu terdengar nirempati, kejam, dan tidak berhati. Namun barangkali Logan memang baru agak dekat dengan Kakaknya belakang ini berkat Kristal. Mempelajari sedikit-sedikit tabiat pria itu meski meraba-raba.

Sinu adalah makhluk yang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Apalagi menyangkut kepentingan banyak pihak alias keluarganya, hidupnya, serta rasa aman dan kenyamanan. Maka, jika satu tujuan garis lurus memiliki dua benang, maka hanya perlu memutus satu benang yang mengganggu tanpa peduli dampak dari putusan itu sendiri. Sinu seperti itu.

Namun tunggu sebentar.

Di belakang makhluk besar itu, ada seorang anak laki-laki membawa keranjang berisi kain tenun yang akan dibawa ke Pasar. Seorang anak berusia delapan tahun dengan luka kecil-kecil di wajah dan kaki. Tangannya nyaris putus dan ia duduk diam tanpa isak, namun matanya berair memandangi pertempuran di depannya.

Sungguh, baik Sinu maupun Logan dapat mendengar suara anak itu bergumam.

“Demi nyawaku, demi ibuku, demi adik-adikku.. Mohon pada Dewa dan Dewi dari langit dan bumi, dari Tuhan semesta alam. Musnahkanlah pengkhianat, selamatkanlah Dewi.. lindungilah.. Lindungilah, musnahlah yang jahat, matilah yang kejam.. Damailah daratan.. Terberkatilah Dewi-ku..”

Pria itu tertegun.

Ada sekelebat ingatan menjengkelkan saat ia melihat bocah itu. Seakan merefleksikan diri pada sosok kecil yang terkulai tanpa berani mengatakan takut, tanpa bisa bilang tidak, dan tanpa diberi kesempatan untuk menangis keras. Seolah apapun yang terjadi, semuanya harus bisa ditaklukan.

Perhatian keduanya teralihkan dari bocah itu, pada makhluk besar yang tiba-tiba meraung.

Makhluk itu meraung.

Suara raungannya menyapu seluruh padang rumput hingga kawanan burung beterbangan panik dari hutan-hutan jauh. Energi biru yang asing mulai menyala di sela-sela duri punggungnya, membakar udara di sekitarnya.

Meraung sekali lagi, namun kali ini dibarengi—menembakkan semburan energi biru yang membelah dataran. Sang Dewi langsung menerjang lurus ke depan. Energi ilahi meledak dari tubuhnya, membentuk lapisan cahaya gelap di sekelilingnya saat ia menahan hantaman itu sambil terus berlari.

Tanah di bawah kakinya hancur.

Sesaat kemudian, ia melompat tinggi dan menebaskan pedangnya tepat ke leher makhluk itu. Dentuman keras menggema ketika sisik hitam raksasa itu terbelah sebagian. Darah panas menyembur ke padang rumput.

Namun makhluk itu membalas.

Ekor raksasanya menghantam tubuh Dewi hingga terpental jauh menembus bukit batu. Tulang rusuknya patah seketika. Darah mengalir dari sudut bibirnya, tetapi tubuhnya mulai beregenerasi perlahan, menyatukan tulang dan daging yang rusak.

Lalu bangkit lagi dengan cara yang lebih lincah.

Pertarungan berubah brutal.

Dewi itu bergerak cepat seperti bayangan hitam di antara ledakan dan reruntuhan tanah. Pedangnya menebas berkali-kali, menghancurkan sisik demi sisik, sementara kekuatan ilahinya menghantam tubuh makhluk itu dengan ledakan cahaya yang memekakkan telinga.

Tetapi ia juga terus terluka.

Cakar raksasa merobek bahunya hingga dagingnya terbuka lebar. Semburan energi membakar sisi tubuhnya sampai hangus. Sekali hantaman hampir membuat lengannya putus. Regenerasinya bekerja keras menutup luka-luka itu, tetapi tubuhnya mulai melemah.

Makhluk itu pun sama hancurnya.

Raungannya terdengar lebih berat. Cahaya biru di tubuhnya mulai berkedip tidak stabil. Namun monster itu tetap menyerang membabi buta, mencoba menghancurkan Dewi bersama seluruh padang rumput.

Sang Dewi meludah darah ke tanah lalu menggenggam pedangnya lebih erat.

Energi hitam-keemasan mulai menyelimuti bilah pedangnya. Angin di seluruh dataran berputar liar mengelilinginya. Untuk pertama kalinya, wajah makhluk itu tampak goyah.

Lalu Dewi itu menyerbu.

Ia menerobos semburan energi terakhir makhluk itu meski kulitnya terbakar dan tubuhnya nyaris hancur. Dalam satu gerakan cepat, ia melompat tinggi lalu menurunkan pedangnya dengan seluruh kekuatan ilahi yang tersisa.

Pedang itu menembus dada makhluk tersebut.

Ledakan besar mengguncang padang rumput. Cahaya biru pecah ke segala arah sebelum tubuh raksasa itu akhirnya roboh perlahan ke tanah dibarengi debam keras.

Hening.

Sunyi.

Hanya suara angin yang tersisa.

Sementara di tengah rumput yang hangus, sang Dewi berdiri sempoyongan dengan tubuh penuh luka dan darah hitam-keemasan menetes dari tangannya. Pedangnya masih tergenggam erat.

Ia menang.

Tetapi sedikit lagi, perang itu akan membunuhnya juga. Kekuatannya menjadi tak maksimal setelah pertempurannya yang terakhir dengan pengkhianat dari kalangannya sendiri. Belum lagi mimpi aneh dan jam tidurnya yang benar-benar tidak bisa diprediksi. Namun ia tak sudi pergi ke tabib di khayangan. Sedikit saja berita tentangnya yang terluka dan mengalami penurunan kekuatan pasca koma tersebar, maka, para pengkhianat akan mengatur strategi dengan menyatukan kekuatan dari segala penjuru negeri untuk membunuhnya. 

Itu terburuk. Dunia itu akan hancur.

“Kau baik-baik saja?” tanya sang Dewi. luka-luka menutup namun lambat. Ia duduk di hadapan bocah itu, lalu mengusap tangan bocah yang terluka sambil memejamkan mata—membaca mantra. Tangan si bocah sembuh dengan luka yang menutup perlahan, sepelan lukanya sendiri yang berusaha semaksimalnya.

“Mau kuantar ke pasar? Maaf datang terlambat” Dewi itu mengusap kepala si bocah. Lalu dengan mendadak, anak itu memeluknya. Mendusal ia pada dekapan sambil menangis tersedu-sedu.


“Kumohon, berumur panjanglah.. Aku akan memberikan jiwaku pada sang Dewi yang agung pelindung tanah ini.. Kumohon tetaplah hidup..” isak itu memilukan. Namun sang Dewi tersenyum dengan wajah yang perlahan kembali tanpa luka.

“Aku akan berumur panjang untuk melihatmu tumbuh dan menjadi vampir keren yang juga bisa melindungi keluargamu, serta tanah ini. Berjanjilah kau akan jadi pria kuat yang tak akan tumbang hanya karena gigitan serangga. Aku melihat potensimu, sungguh”

Lalu anak itu memberikan kain tenun.

“Untukmu”

“Aku tidak membawa uang” kata sang Dewi.

“Aku memberimu, aku akan bekerja keras mencari tambahan untuk menutupi pembayaran kain ini pada ibuku”

Sang Dewi menerimanya dengan sukacita. “Aku berjanji bila kita bertemu lagi, aku akan membayarmu.”

“Akan lebih senang saat kita bertemu lagi, kau menggunakan kain itu”

Sang Dewi tersenyum, lalu membantu anak itu berdiri. Sementara Logan dan Sinu sejak tadi menyimak hanya menggaruk pelipis berbarengan.

“Emang kalau Dewi gitu, boleh ngutang, ya?” Logan berbisik pada Kakaknya “Dewi kalau mau perang misal lagi rebahan, buru-buru pake baju nggak bawa uang?” pria itu tertawa. Sinu berdehem dan memberi isyarat agar adiknya diam.

Masih menyaksikan hingga si bocah pergi. Dua pria itu akhirnya mendekati satu-satunya gadis dengan pendar redup yang merubungi tubuhnya. Kendati begitu, pancaran keilahilan malah semakin menyala-nyala. Aura yang dibawa begitu aman dan damai.

Nyaris.

Pedang itu nyaris menebas kepala dan kedua pemuda itu sigap menyingkir.

“Kau lagi?” sang Dewi berbalik dengan pedang teracung. Matanya menatap Logan. “Aku tidak akan menyerahkan nyawaku cuma-cuma jadi berhenti datang dan meminta hal gila. Pergilah, atau aku akan menyeretmu ke penjara”

Namun tanpa aba-aba, Sinu membuat pusaran air maha dahsyat yang berisi runcing-runcing tajam—kemudian menyerang sang Dewi tanpa tedeng aling-aling. Itu juga membuat Logan kaget luar biasa.

Serangan dadakan itu ditepis mudah menggunakan pedang. Vampir tertua terus menyerang, ia melangkah cepat mendekati sang Dewi sementara yang di serang, mundur menangkis.

Logan menelan ludah susah payah.

Kakaknya memang luar biasa. 

“Kau bukan pengkhianat, tapi karena kau menyerangku, aku akan balik menyerangmu” kata perempuan itu. Air tiba-tiba berbalik menyerang dan Sinu terpental hingga nyaris lima ratus meter ke belakang. Disusul desau angin tajam yang sengaja diserang pada lengan pria itu. Sinu terluka serius di bagian sepanjang lengan. Darahnya berwarna putih menetes-netes “pengendali seluruh cairan” sang Dewi bergumam, lantas ia menyerang seperti angin, mengambil darah Sinu dan menelannya cepat-cepat.

Setelah itu, seluruh tubuh pria itu di bawah kendali sang Dewi.

“Bagaimana?” kata wajah Kristal—mendekat, mengacungkan pedang pada pria yang terduduk di atas rumput dengan dua tangan menyangga tubuh. “Aku bisa membunuhmu jika aku meremas jantungmu sekarang. Darahmu ada di bawah kendaliku dan kau tidak mampu beregenerasi” kata-kata itu telak. Namun bukan Sinu namanya jika tak punya solusi.

Pria itu lalu tergeletak.

“Bunuh aku sekarang”

Benar, yang ia butuhkan adalah darah sang Dewi, maka, setelah itu mereka bisa imbang–meski mustahil imbang. Kekuatan sang Dewi bukan sembarangan. Apalagi yang diciptakan memang untuk menumpas kejahatan. 

Sang Dewi mendekat. Ia acungkan pedang tepat di jantung pria itu. Namun dari belakang, Logan memecahkan kepala sang Dewi dengan kekuatan dalam.

Tidak pecah, namun membuat sakit kepala dahsyat hingga perempuan itu terhuyung. Ia tak jadi membunuh Sinu melanikan doyong. Dan kesempatan itu dimanfaatkan Sinu untuk menusuk sang Dewi untuk ia ambil darah.

Pedang teracung tinggi. Sedikit lagi.

Hampir melukai.

Namun tiba-tiba pandangannya kabur. Sinu mengucek mata.

Ia melihat seluruh padang rumput menjadi sesuatu yang mengambang—mengapung nyaris seperti mimpi.

Logan menjadi transparan kecuali sang Dewi yang tetap utuh. Dunia yang ia lihat menjadi ruang yang aneh, seperti berada dalam plastik bening raksasa tak jelas.

Sang Dewi yang telah pulih, kemudian kembali memegang pedang dan memutus benang yang menghubungkan tangan Logan dan Sinu. Lalu keduanya terputus. Logan kembali ke dunia manusia dan Sinu tinggal.

Lalu semuanya gelap. Sinu pingsan.

Sementara di dunia yang lain.

Lyn terkekeh setelah melepas dasi dan ikatan tangan Logan dan Sinu dari atas tubuh Kristal. Gadis itu lari keluar dan kembali ke kamar sementara Logan membuka mata.

Ia panik melihat tangannya terlepas dan alasan ia kembali sementara Kakaknya  tertinggal dengan bentuk yang semakin kabur dan aneh.

“Sial!!! Kek mana abang gua!!!!” Logan bangkit dan berjalan mondar-mandir karena panik.

EPISODE 85 (BERTMU DENGANMU)

Rambut pirangnya bergerak saat larinya makin kencang. Pria itu tergopoh dengan napas ngos-ngosan. Dengan tidak sopan, ia membuka pintu kamar Kakak kedua dengan ujung kaki—hingga daun pintu menabrak keras dinding di belakangnya. 

Di ruangan itu, Logan persis merebah mendengarkan musik. Satu tangan menjadi tumpuan kepala sembari merajut kepingan-kepingan luka—buah dari cinta kelewat singkat yang kini hanya tinggal nama. Sensorik nya bagus. Namun motoriknya telah terlatih untuk tidak bereaksi berlebihan.

Hanya mata sipitnya yang memicing–memperhatikan adiknya bersama satu gadis dalam gendongan.

“Tidur dari jam lima. Jam lima, Duk.. ya Allah… makin edan gua lama-lama” Edgar merebahkan kekasihnya tepat di samping Logan. Kristal terkulai bak orang mati—bedanya belum kaku saja. Logan cepat-cepat bergeser. “Ajakin gua masuk, please.. Mau gua patiin itu si Dewi. Bodo amat yang maling pacar gua atau siapapun. Yang penting hidup Kristal normal”  lalu tas selempang dilempar asal hingga suara nyaring terbentur ubin. Edgar tidak peduli.

Logan melepas headphone, mematikan ponsel dan meletakkannya di atas nakas. Pria itu mengusap wajahnya kasar, lalu menatap adiknya beberapa detik—bergantian pada tubuh terkulai tenang di atas ranjangnya.

Ia belum mengatakan apapun. Hanya diam sambil merangkak naik. Lantas ia pegang lagi tangan si gadis bekas lubang gigitan tempo hari.

“Rebahan di samping. Kristal di tengah” kata Logan, matanya tak melihat Edgar, namun menatap bekas gigitan. Si adik patuh, ia ikut naik dan merebah di samping.

Pertama, Logan lebih dulu menggigit tangannya sendiri, lalu mengajak Edgar bersalaman.

“Jangan lepas, jangan sampe lepas. Iket pake apapun. Pake kain, pake dasi atau dilakban” perintah Logan. Maka, Edgar membuka dasi lalu membebat tangannya yang bersalaman. Setelah itu, Logan baru kembali menancapkan taringnya pada tangan Kristal, meneguk darah dengan mata kanan mendelik—membesar—sementara warnanya perlahan berubah. Hanya pria itu yang melihat portal, melihat bentuk tak normal dari ruang yang terdistorsi.

Namun kesadaran keduanya tersedot seperti putaran air di palung terdalam.

Kembali pada titik-titik asing yang tak asing. 

Bukan hutan seperti saat Logan pertama kali datang. Tempat ini sungguh familiar, sangat.

Kastil.

Kastilnya menjulang dengan warna. Lampu neon membuat bangunan yang biasanya terlihat dingin dan suram, kini tampak hangat dengan balutan ivory yang lembut.

Berdua juga melihat makhluk-makhluk lain berlalu lalang membawa keranjang, pedang, tongkat serta tombak. Mereka warga biasa dari berbagai entitas yang sibuk menjalani rutinitas hari. Itu pemandangan baru bagi Edgar.

“Duk, ini rumah kita? Itu orang-orang?” kepala si pirang berputar memperhatikan bangunan, lalu jalan setapak yang ramai di lewati. Matanya kembali berlabuh pada Logan. Sang Kakak mengedikkan bahu. Ia juga tak yakin.

“Ini bukan era kita. Prediksi gua, ini masa lalu. Kita nggak tau sejarah kastil kita gimana. Karena mustahil ini masa depan. Hutan dan semua makhluk di dalamnya udah hampir punah” Logan menghela napas. Ia sudah memikirkan ini sejak pertama kali datang. Lalu manggut-manggut seolah sedang meyakinkan sesuatu dalam dirinya “ya, ini jelas masa lalu. Bisa aja orang tua kita juga belum lahir” tambahnya lagi. Namun matanya melirik arloji di pergelangan tangannya. Jam itu mati “kita cuma punya waktu satu jam. Setelah satu jam, gua akan otomatis di tarik pulang ke semula”

“Terus, Kristal di mana?” Edgar kembali celingukan. Logan menunjuk kastil di depannya.

“Dia tinggal di sini. Tapi kemaren, gua nggak bisa nembus portal ini. Nggak tau kalau lu. Atau kita coba satukan kekuatan dan—” Logan menggantung kalimatnya saat melihat jendela yang dibuka. Seseorang berdiri di sana. Rambut panjangnya jatuh terkena angin. Pakaiannya berwarna putih bersih–selaras dengan tubuh dan cahaya yang memancar, gadis atau Dewi atau apapun. Sangat cantik sehingga tidak manusiawi—karena memang bukan manusia. Ia lebih cantik dari Kristal di rumah. Mungkin karena sparkle yang seolah mengerubuti di sekitarnya. Persis peri di dunia dongeng manusia.

Baik Logan maupun Edgar. Keduanya melongo.

“Anjing… itu… itu… Kristal gua?” si pirang menganga tanpa berkedip. Dalam jarak itu saja, kecantikan sang Dewi begitu memukau. 

“Sshhhht!! Mana ada, dia bukan Kristal. Gua nggak tau karena belum kenal. Tapi terakhir percakapan gua sama dia, kayaknya dia ramah ke warga sipil. Tapi jangan gegabah. Jaga cara bicara, jaga sopan santun walau gua masih nggak tau gimana cara masuk atau ajak dia ngobrol lagi.”

“Gila, gila..” Edgar menggeleng-geleng “gimana caranya gua nggak jatuh cinta.. Ini langsung jatuh cinta buset.. Itu Kristal gua Duk.. sumpah.. Itu Kristal versi peri”

Lalu yang dibicarakan melabuhkan pandangan pada keduanya. Edgar langsung melambaikan tangan sok akrab. Logan memukul bahunya cepat-cepat agar adiknya diam.

“Halo! Hai! Hai! Hai! Hai cantik, kiw! Kiw!” mulut Edgar tak bisa diam. Lalu gadis di jendela memiringkan kepala. Edgar makin kesenangan “bisa kita bicara? Yang mulia? Sang Hyang Widi? Dewi Kwan-In? Dewa-Dewi?” lagi, Logan memukul kepalanya kali ini.

“Lu bilang di kamar mau bunuh Dewi itu, monyet. Gak sesuai” Logan menunduk pada perempuan itu—sebagai tanda penghormatan.

Sungguh, tak ada yang berani kurang ajar, tak ada yang berani berbicara sembarangan pada Dewi, pun warga sangat menjunjung tinggi entitas keilahian. Juga—lebih  tepat, tak ada warga—vampir, siluman, atau entitas apapun yang bisa melihat kastil itu. Namun keduanya—Logan dan Edgar bisa, karena mereka bukan dari dunia itu. Mereka dari masa depan melintasi dimensi ruang dan waktu. Maka, itu pula yang menarik perhatian sang Dewi. Sesaat setelah Edgar berhenti bertingkah urakan, pintu jendela tertutup rapat bersama gorden tebal.

“Yah.. di tutup” Edgar menyayangkan sambil merasa bersalah telah bertingkah murahan. 

“Gua bilang apa”

“Di Pikiran gua, itu Kristal. Si Itil yang bakal tergila-gila ke gua tanpa gua kudu effort”

“Iris peler Daniel kalau makhluk dengan muka Kristal di dalem, bakal sama kek Kristal kita di rumah” kata ‘kita’ lumayan tidak akur di telinga Edgar. Logan menghela napas lagi. Sambil memikirkan cara masuk ke dalam kastil tanpa membuat kegaduhan. Atau katakan ingin bertemu dengan sang Dewi dan… mungkin membunuhnya jika bisa.

“Kalau rencana awal kita mau bunuh doi biar Kristal menguasai jiwa seutuhnya, gua pikir gua harus bawa Opung. Dia yang pernah menang lawan Dewi dan kekuatan dia memang memadai. Gua sama lu di satuin pun—” Logan menggaruk pelipis “nggak akan ada setengah dari kekuatan Sinu”

“Dia keluar! Dia keluar” Edgar memukul tangan Kakaknya pelan. Ia mendekat pada portal—masih memberi jarak karena tau sulur transparan itu akan membuatnya terpental jika nekat menyentuh. Sulur itu juga yang membuat semua entitas tak dapat melihat kastil itu. Kecuali berdua, Edgar dan Logan.

Benar, sang Dewi mendekat.

Harum aroma tubuhnya menyeruak menyesaki pernapasan. Bagai di guyur gelombang keterpanaan, keduanya tak berkedip dan menahan napas. Logan bersumpah perempuan itu jutaan lebih cantik ketimbang saat terakhir mereka bertemu dengan pedang dan gaun putih yang kotor.

Portal tersingkap kecil. Wajah itu memenuhi mata dua pria yang menatapnya penuh takjub.

“Kau.. datang lagi..” katanya, matanya lurus pada Logan. Yang diajak bicara menunduk penuh hormat. Edgar kontan mengikuti kakaknya.

“Jika sekiranya kau bersedia membuang waktumu, aku sangat ingin mendiskusikan sesuatu. Bahkan jika kau enggan, aku akan datang setiap hari, menunggumu disini” kata-kata Logan diangguki Edgar. Lalu kembali menatap yang indah di depan.

Seperti setiap hela napas Dewi itu begitu wangi. Angin yang membawa aroma rambut dan tubuh. Dua lelaki itu bersumpah tak pernah mendapati keindahan semacam itu meski Logan masih tak menyangka dapat melihat dua sisi sang Dewi saat di lapangan dan di kastil.

“Kau bisa katakan sekarang. Dan setelah ini, pulanglah. Kau bukan dari sini. Kembalilah pada keluargamu. Aku akan memberimu anak sapi” lalu secara ajaib—dan entah bagaimana, sapi mendekat dari jauh. Hewan itu berdiri di belakang sang Dewi dengan patuh.

Dewi kedamaian.

Seluruh aura yang ditampilkan begitu indah. Nyaris tak ada celah. Wajah Kristal begitu lembut, sangat lembut dan sejuk. Ada kedamaian pada tiap inci kulitnya. Berbeda jauh saat memegang pedang dengan mata menyala dan garis rahang yang kaku.

Tak ada yang benar-benar fokus untuk beberapa saat. Apalagi Edgar. Juga, bagaimana caranya tidak jatuh cinta pada mahakarya kelewat luar biasa di depan mata?

“Apa kau.. Sering bermimpi panjang? Mimpi tentang dunia yang berbeda. Dunia aneh yang… benar-benar sangat baru” pertanyaan Logan berhasil membawa mimik sang Dewi berubah. Wajah yang awalnya ramah dan berseri-seri, kini terkatup. Rahangnya rapat.

“Kau…. apa matamu dapat menembus sejauh itu?” ia meneliti mata kanan Logan yang masih berwarna kehijauan, mencari apapun di sana yang bisa terbaca.

Logan menggeleng “aku berasal dari dunia yang kau lihat di mimpi. Dan dirimu yang ada di sana.. Di mimpimu. Itu bukan kau, itu orang lain, dia ada. Hidup. Dia adalah keluarga kami” mata Logan beradu lama dengan binar bening milik sang Dewi, seolah—perempuan itu masih mencari-cari apapun dari balik kehijauan di sana.

Ia diam. Menunggu Logan melanjutkan apapun.

“Menurutmu, jika hanya ada satu jiwa yang saling tarik menarik berebut, siapakah pemenangnya?” pertanyaan itu sebenarnya tak butuh jawaban karena siapa saja tau. Namun Logan berharap kemurahan hati wanita indah di depannya untuk… mungkin saja bersedia mati begitu saja untuk kemudian digantikan Kristal secara utuh. Mustahil. 

“Apa maksudmu? Kau meminta kematian ku?” telak. Logan menunduk lagi.

“Lalu, apa kau akan membiarkan seorang gadis mati?” itu Edgar. Meskipun kecantikan dan indah di depannya begitu mempesona, ia tidak akan goyah pada gadis kesayangannya di rumah. Entah jika apa yang di gembor-gemborkan Kristal menjadi kenyataan.

“Apa aku harus mati demi seorang gadis antah berantah yang tak ada korelasinya dengan kedamaian di duniaku? Merelakan nyawaku cuma-cuma untuk entitas yang aku sendiri tidak tahu?” Dewi itu berkedip pelan “kalian.. Pulanglah..”

Edgar menghela napas. Begitu juga Logan.

Keduanya terasa begitu kecil, aneh, tidak jelas, dan mirip dua anak kecil yang bicara omong kosong pada orang besar yang mau-mau saja membuang waktu untuk meladeni. Memang. Juga tidak tahu diri.

Dilihat dari bagian manapun, perempuan itu begitu agung.

Bagaimana cara membunuhnya?

Menyentuh saja rasanya begitu sulit.

“Kalau begitu, aku akan membunuhmu” celetukan Edgar kembali membuat Logan membungkuk. Rasanya begitu aneh. Semuanya tidak selaras dan tidak imbang. Ancaman membunuh pada makhluk di depannya ini di sertai bungkuk hormat.

“Apa kalian sudah makan?” ancaman Edgar bagai angin lalu. Portal terbuka lebih lebar, anak sapi itu keluar dan menyeruduk Edgar “makan lah, lalu kembali pada keluarga kalian. Jangan bertemu lagi. Ayo berdamai dan katakan hal-hal yang baik-baik saja. Biar suratan takdir yang telah ditulis yang bergerak” kemudian portal itu tertutup rapat. Lebih rapat lagi. Bahkan kastil tak terlihat oleh dua mata pemuda itu.

Hanya menyisakan sapi yang menatap mereka secara menyedihkan.

“Gua tanya, gimana cara kita kalahin dia?” Logan menggaruk tengkuk. Edgar ikut bingung,

“Bawa Opung lah”

“Bukan masalah itu..” si tertua kedua lagi-lagi menghela napas “dia itu bukan makhluk jahat. Dia bahkan ada dan dibutuhkan semua makhluk sebagai pahlawan yang menjaga seluruh wilayah ini dari kejahatan. Kalau kita bunuh dia, artinya kita penjahat”

“Kristal gua mati?”

“Itu juga jangan”

Lalu keduanya duduk di dekat sapi yang ikut merebah.

“Minta saran ke Sinu aja. Biar dia yang mikir selanjutnya. Mustahil kita ngalahin Dewi, juga membiarkan Kristal mati”

🐾🐾🐾🐾

Sementara Sinu kebakaran jenggot karena sampai tengah malam, Daniel belum pulang. 

Adik bungsunya itu pamitan akan main, dan mengirimi pesan akan kembali dalam waktu singkat. Namun Sinu yang kepalang bercumbu dengan Lyn di atas ranjang hingga lupa waktu. Saat ia keluar tengah malam, satu-satunya kamar kosong setelah Johan—yang memang jarang pulang, kamar bungsu pun turut hanya diisi suara AC dan desis PC yang halus.

Terang saja si sulung kebingungan.

Melihat kamar Logan yang berisi tiga orang berikut dengan Kristal.

Kristal. Gadis itu tidur. Lalu bagaimana nasib adiknya. Saat di telepon, nomor Daniel tidak aktif. Itu memperparah kekhawatirannya.

“Dicek lokasi aja” Lyn menyarankan. Namun ponsel si bungsu memang tidak aktif. Sulit melacak apalagi jika tidak memiliki kemampuan di bidang itu.

“Aku akan cari dengan cara ngendus bau dia” kata Sinu.

“Kaya anjing aja. Biarin aja sih, udah gede, nanti juga pulang”

Si pria menggeleng. Ia mondar-mandir sambil memegang ponsel khawatir. Jelas takut kejadian seperti awal-awal mereka pindah akan terulang. Adiknya dipukuli karena meminum darah kambing.

Lantas ia mengumpulkan sisa orang yang masih sadar dan akan mencari Daniel malam itu juga.

“Ini kalau Kristal tau, pasti ngamuk” padahal sudah pernah. Tapi Sinu tetap ngotot mencari sendiri.

“Dia akan bangun besok pagi. Adik saya gimana kalau sampe nunggu besok” pria itu mengajak pergi Jake dan Samuel yang terkantuk-kantuk. Bertiga meninggalkan rumah.

“Dahlah, ngamuk Kristal, jelas”

Tepat saat ketiganya pergi. Logan dan Edgar kembali dari mimpi. Namun tidak dengan Kristal. Keduanya tersadar seperti hanya hilang kesadaran ringan–membuka mata tanpa berat. Semuanya masih sama, hanya satu jam berlalu.

Edgar membuka ikatan tangan, lalu memeluk kekasihnya.

Tiba-tiba hatinya mencelos. Ada ketakutan yang menyebar bagai akar yang merambat. Ia peluk tubuh itu. Hampir mengatakan sesuatu sebelum pintu dibuka lebar.

BRAK!

Lyn di depan pintu.

“Daniel ilang”

EPISODE 84 (DANIEL, EDGAR, SAMUEL)

“Halo” katanya ramah. Gadis itu terlihat cantik. Sungguh—maksudnya normal seperti Isabella, Lyn, atau Kristal. Cantik. Daniel mengkategorikannya begitu. Dan diam-diam pria itu membuat hierarki kecantikan di kepalanya, lalu mengurutkannya secara suka-suka. 

Namanya Izi. Tingginya hanya sedada. Rambutnya dicepol ke belakang terlihat rapi. Paling penting, wangi. Deret gigi rapi putih bersih dan cara bicaranya sangat lembut, pelan, dan sopan. Daniel paling suka yang seperti itu meski Kristal masih menduduki peringkat pertama; wanita yang akan ia nikahi jika Edgar menjadi gay atau mati.

“Adiknya Pak Samuel? Kata beliau, yang mau bantu-bantu angkat kakek-kakek yang susah masuk. Mau minum kopi dulu?” tawarnya sopan. Daniel menggeleng dengan senyum naik tinggi. Matanya tak lepas dari manik Izi yang berbinar.

“Gawat… gua jatuh cinta sama gadis ini..” itu gumaman yang sebetulnya terjadi tiap ia melihat gadis cantik. Siapa saja. Bahkan orang random di jalan. Daniel mudah jatuh cinta pada yang indah-indah. “Kamu udah punya pacar belum?” si bungsu memasukkan dua tangan ke dalam saku belakang dengan mata yang jelas menggoda. Sementara reaksi si gadis adalah menukik dua alis.

“Ah! Itu, Kakek-kakek itu mau masuk tapi sulit. Dia kesini sama anak perempuannya”  mengalihkan, Izi menunjuk satu pasien  dengan nomor urut yang tertera “tolong angkatin masuk, biar cepet gantian sama yang lain”

Daniel membalik tubuh. Kakek-kakek menggunakan kursi roda. Rambutnya putih nyaris menyeluruh dengan kerutan di dahi yang berlipat-lipat.

“Oke” katanya. Pria itu lantas mendekat pada pasien. Ia berjongkok di hadapan lalu tersenyum “Kakek usianya berapa?” tanyanya, basa-basi yang benar-benar tidak perlu. Si Kakek menjawab dengan jari.

Menunjukkan 7 jari.

“Nggak bisa ngomong emang?”

Si Kakek menggeleng.

“Coba teriak, kontooooooool gitu.. Coba dulu.. Ikhtiar..” ocehan pria itu mendapat atensi serius dari semua pasien. Dasarnya kondisi hening yang hanya suara batuk dan dehem mendominasi ruang. Diperparah wajah satpam yang galak. Maka, suara Daniel benar-benar terdengar semua orang.

Benar, wajah satpam itu galak. Ia mendelik pada Daniel dengan cara paling menyeramkan. Lebih seram dari Logan atau Kristal ketika jengkel. Maka, ia berdehem dan langsung menggendong si Kakek masuk ke ruangan Kakaknya.

Si Kakek di geletakkan asal saja di ubin. Daniel mendekat pada Kakaknya yang duduk di balik meja bersama lebaran kertas yang terlihat berserakan. Si bungsu mendekat.

“Nulis apa  lu? Gambar kemaluan?” ia menarik kertas di bawah tangan Kakaknya. Sementara satu Kakek yang direbahkan begitu saja—melambai-lambaikan tangan mengemis perhatian.

“Angkat dulu Kakek itu ke kursi” pinta Samuel.

“Kursi mana?” 

“Tuuuu” Samuel menunjuknya dengan moncong yang di manyunkan. Daniel menurunkan kertas yang isinya bacaan yang gagal dimengerti, lalu kembali mengangkat si Kakek sebelum merebahkannya pada kursi pasien gigi.

Lalu ia mendekat pada pasiennya. Berdiri di sisi dengan senyum cerah dan lesung pipi dangkal. Rambutnya yang plontos membuat pria itu terlihat mirip orang cerdas.

“Apa yang sakit?” tanyanya. Masih ramah.

Kakek itu menunjuk tenggorokkan lalu membuat isyarat bahwa ia tidak bisa bicara. “Ah.. nggak bisa ngomong, ya?” kata Samuel manja. Lalu ia mencolek pipi si Kakek sekilas—sebelum mengusap tenggorokan itu pelan. Dalam kurun waktu kurang dari satu menit, si Kakek sudah bisa berdehem.

“Coba bicara” kata Samuel.

“Tes, tes, tes” matanya mendelik kaget “wah! Wah! Ajaib!” si Kakek berseru girang, lalu ia menatap Samuel dengan binar yang takjub “kalau saya minta sembuhin kaki juga, bisa nggak?”

“Bisa, bisa banget. Sembuhin bicara dan kaki harganya 2 miliar” angka itu berhasil membungkam si Kakek. Ia mendelik.

“Ah… nanti lagi, saya kumpulin uang lagi, nanti baru balik ke sini”

“Bisa tebus obat di bagian resepsionis ya, Kek” lalu Samuel meminta adiknya kembali mengangkat si Kakek keluar.

“Obatnya isi apa lu?” Daniel kembali melongok di depan pintu sebelum akan menggendong pasien yang lain.

“Cucian beras campur pewarna makanan”

Begitu juga dengan biaya. Samuel akan mematok tarif sesuai suasana hati dan angka yang terlintas di kepala. Maka, di banding siapapun, dari keenam saudaranya, Samuel adalah orang yang paling banyak uang. Dan pria itu meminta Kristal untuk mengajari cara mengatur uang.

🐾🐾🐾🐾

Jauh bersama pikiran stress yang mengganggunya. Bedanya, Kristal mengalami tidur di waktu yang bisa dikatakan normal meski tidak normal. Sudah tiga hari ia terlelap pukul enam sore, lalu terbangun tepat pukul enam pagi. Bedanya, kali ini tanpa mimpi. Sejak Logan mengatakan ia datang berkunjung, Kristal tak lagi mengalami mimpi. Ia hanya tidur. Tidur seperti orang mati.

Itu alasan Logan tak kembali–yang sebelumnya terus di ocehakan—turut akan mengajak Edgar.

Sekarang, gadis itu sibuk.

Bukan, namun kewalahan.

Dua sulur ungu memenjara tangannya—menempel pada belakang sofa. Dua pahanya terbuka lebar—mengangkang. Kepala Edgar ada di bawah—diantara selangkangannya yang terpampang jelas.

Stimulasi yang diberikan berulang-ulang. Gadis itu mengerang keras-keras. Dadanya naik turun, ujung kakinya menegang dengan kepalanya yang menengadah ke atas–menatap plafon kamar yang itu-itu saja.

“Y-yang.. Hngghh!!! Jangan di situ.. Gua mau pipis..” ingin menggeliat, namun sulur itu mengukungnya kokoh. Gadis itu hanya bisa berpasrah dengan rintihan putus-putus ketika kekasihnya di bawah sana terus mengulum kelentit lalu bergerak naik turun. Sesekali ujung lidahnya mengetuk-ngetuk lubang di bawah. Kristal meminta berhenti meski jelas tak akan didengar. Sudah dua kali ia orgasme, namun Edgar tak kunjung melepaskan lidahnya dari vaginanya.

“Yang.. gua capek..” itu juga sudah di katakan berkali-kali. Namun satu hisapan lagi, gadis itu mendelik dengan kejang kecil-kecil yang menyusul. Rasanya seperti dunia berputar-putar sementara ia terbang di antara bintang-bintang. Lalu mengapung dengan cara paling menyenangkan.

Baru Edgar berhenti.

“Capek?” tanyanya. Padahal terlambat. Kristal menutup matanya. Peluh menetes turun sampai dada yang masih tertutup blouse. Pria itu akhirnya melepaskan sulur dan tubuh Kristal ambruk.

Ia mengangkat tubuh itu kembali ke pangkuan. Mengecupi wajah yang terkulai lemah.

“Jangan tidur, please jangan tidur..” masih, Edgar menciumi masih di tempat yang itu-itu lagi. Kepala Kristal seperti akan jatuh, matanya terbuka.

“Kaki gua lemes, gua gak bisa jalan” katanya serak. Edgar Tertawa.

“Masukin titit gua, ya? Gua janji nggak akan dua jam”

Si gadis menggeleng keras–keras “tunggu gua lebih kuat sedikit lagi. Nanti, pas umur gua dua lima, empat bulan lagi. Kalau dua empat itu masih kecil, dua lima dewasa” gadis itu terkekeh dengan ocehannya sendiri.

“Ngoceh apa si..” Edgar mendusal pada ceruk, menghirup aroma gadis itu dalam-dalam “sayang banget gua.. Cinta banget.. Gimana gua bisa menggambarkan ini? Gimana gua meyakinkan seluruh dunia bahwa gua mencintai lu. Gua memikirkan banyak hal tentang sesuatu di lapisan dunia lain”

“Kayak apa?” Kristal mendongak saat lehernya kembali di jilati.

“Kayaknya gua akan mengawaini Dewi atau setan apapun itu asal itu elu. Asal ada lu nya” 

“Tadi lu bilang nggak mau, pusing pala gua”

“Kapan gua bilang nggak mau?” tangannya naik ke dada, meremas gundukkan di sana perlahan “tapi sebenarnya kalau gua pikir-pikir lagi, sama aja kali. Asal muka lu. Paling gua cuma effort ngejar kalau lu nggak suka gua”

“Bayangin kalau gua suka sama hantu di sana. Atau entitas lain sementara kekuatan kita timpang gedean gua, mampus”

“Gua matiin semua rival. Terserah itu setan atau bajingan siapapun. Gua akan memohon dengan cara paling menyedihkan sambil menebar pesona. Lu tetap lu. Yakin” terdengar nada kepercayaan diri yang utuh. Kalimat-kalimat sejenis yang membuat gadis itu merasa lega. Sungguh. Karena sejatinya tubuhnya memang harusnya sudah mati. Kristal bersyukur pada tiap tarikan napas. Pada matanya yang masih segar, pada tubuhnya yang sehat. Meski intensitas tidurnya semakin meningkat.

Tangan pria itu turun, kembali meraba pada daging lembut yang sejak satu jam lalu habis ia lumat.

“Udahan geh.. Mau sampe mana.. Capek gua..” gadis itu meringis. Ujung jari pria itu bergerak naik turun. Perlahan.. Lembut, pelan.

“Sebentar lagi.. Gua suka” pria itu mendongak, menjilati telinga lalu tangannya di bawah menekan-nekan pada permukaan labia. Satu dua tiga.

Kristal meremas rambut belakang pria itu. Satu jari tengah tenggelam sampai pangkal. 

“Anget banget.. Sial” Edgar bergumam, ia memagut bibir gadisnya buru-buru. Melumatnya seperti ia melumat bawah yang becek sebelumnya. Jarinya keluar masuk perlahan, lembut, teratur dan terukur. Si gadis merengek dalam ciuman sementara lubangnya semakin basah.

“Lu mau kerja.. Udahan please…” kata-kata itu tertahan di langit-langit mulut. Di antara sela yang di curi-curi. Pada cecapan yang semakin dalam, makin gusar dan resah. Edgar lantas mengeluarkan jarinya, dikulum jari yang basah buru-buru hingga habis dalam mulutnya. Pria itu lalu mengeluarkan penisnya–hanya membuka resleting.

Ia memposisikan Kristal dengan membalik si gadis agar duduk di pangkuan—membelakangi. Dua pahanya membelah—mengangkangi paha pria itu. Edgar menggesek penisnya tepat di bawah bibir becek yang merekah.

Menggesek. Lalu paha Kristal dirapatkan hingga menjepit penisnya.

Dilumasi cairan vagina, diapit dua paha. Pria itu mendesah di belakang. Penisnya naik turun.

“Yang… sial, enak banget.. Bangsat..” pria itu seperti akan hilang akal. Ia hentak pinggulnya kuat-kuat. Kristal dapat merasakan batang pria itu sangat keras di antara jepitan pahanya. Maju mundur, terlihat menyembul dengan ujung lubang kencing yang merekah juga. Suara Edgar di belakang membuatnya merinding. Pria itu menggeram seperti binatang buas.

Dua jam.

Pria itu sempat mengoceh tentang dua jam karena pengalaman oral seksual dengan waktu diantara itu. Namun tidak menduga jika jepitan paha kecil Kristal–kemudian diberi pelumas alami dari vagina si gadis—mampu membuatnya ejakulasi puluhan kali lebih cepat. Namun pada dasarnya pria itu telah ereksi dalam waktu panjang.

Batang itu berkedut-kedut di kulit. Geraman makin besar, napas Edgar memburu di belakang. Dua tangan pria itu memegang pinggul Kristal kuat, seirama dengan penisnya yang semakin cepat.

Dalam interval kurang dari sepuluh menit, ujung itu menyemburkan cairan klimaks yang tumpah ke paha dan mengotori perut si gadis. Berkedut-kedut sambil memuntahkan cairan panas yang meleleh. Kristal menyekanya perlahan sementara Edgar menyandarkan punggung ke belakang sofa.

“Sini peluk, sayang” Edgar menarik gadisnya, mereka menempel lebih intim. Sambil menciumi seluruh wajah “gua bersumpah, seseorang dengan wajah ini akan masukin penis gua duluan”

Kristal tertawa “gua akan.. Gua akan, gua bersumpah..”

🐾🐾🐾🐾

Katanya jam makan siang. Meski Daniel tidak tahu apa yang harus di makan. Makannya sehari sekali dan ia tidak akan lapar dalam 48 jam. Maka, saat semua orang makan, pria itu keluar dari klinik. Hanya mondar-mandir di depan tanpa tujuan. Matahari menyengat panas, namun tampaknya tak berpengaruh.

Pedagang kaki lima berjajar. Menawarkan berbagai minuman yang terlihat menggugah selera. Sambil merogoh saku, si bungsu mendekat pada salah satunya—rencananya ingin membelikan Izi es, lalu mengajak gadis itu berkencan tanpa basa-basi.

Ia menyeberang.

Sebenarnya menyeberang bukan hal sulit. Tapi anehnya, Daniel selalu saja di hadapkan kebetulan bajingan—dimana selalu ada kendaraan yang melaju kencang. Padahal, matanya sudah memastikan tak ada lagi yang akan lewat dalam kurun sepuluh detik, namun secara ajaib mereka datang dengan kecepatan yang—mestinya bisa dikategorikan kriminal.

Sedan mewah nyaris menabraknya.

Bunyi rem diinjak keras mendecit—menyita perhatian seluruh pasang mata di bawah terik matahari tengah hari. Lalu disusul klakson. 

Hampir saja.

Bagian depan mobil menyentuh baggy jeans milik Daniel. Hanya perlu sedikit lagi untuk membuat tubuhnya terpental, atau kemungkinan terburuk—terlindas hingga gepeng. Namun setelah kesialan, orang-orang masih menyebutnya ‘untung’ meski tidak tahu bagian mana yang untung.

Benar, Daniel mendengar hela napas lega dari orang-orang di seberang lalu kata ‘untung’ yang diulang-ulang.

Seseorang menyembul dari kaca mobil. Matanya mendelik—sepertinya.

“Lu mau mati, ya? Nyebrang pake mata, tolol! Stress lu ya?” seorang gadis. Matanya sipit seperti milik Logan. Rambutnya hitam legam dengan poni yang terpisah saat tertiup angin. Kalungnya menggantung berwarna perak—berkilau di bawah sinar matahari. Daniel menatapnya agak lama.

Tidak, sebenarnya ia sedang mengklasifikasikan—pada hierarki yang sudah ada dalam daftar terpisah berbentuk file dalam otaknya.

Cantik.

TIN!!! TINNN!!!!

“Woy! Minggir! Orgil” Daniel kaget. Ia kembali ditarik pada kenyataan bahwa siang itu panas, ia menggunakan pakaian serba panjang dan sekarang badannya bermandikan keringat. Maka, pria itu mendekat pada kaca mobil—tempat si gadis meneriakinya.

“Gua hampir ketabrak tau, kalau gua terluka, lu gua bekuin sampe tulang” Daniel bersedekap. Ia memandangi mobil itu, sebelum tatapannya berlabuh pada manik si gadis. Dan ternyata, di dalam mobil itu—gadis itu tidak sendirian. Ada dua temannya yang lain “oh.. Para gadis, ya? Boleh ikut, nggak?”

Tidak dijawab, mobil hanya kembali melaju dengan cara paling angkuh dan tidak bersahabat. Daniel mendecih. Rencananya utama kembali; membeli es untuk Izi

Sambil meringis menahan sengatan matahari, Daniel mengeluarkan lembar dua puluh ribu.

“Mang, es tebu satu” matanya menyipit. Tak ada tempat berteduh kecuali payung si penjual.

“Hati-hati kalau menyeberang, Mas. Tadi hampir aja” kata si penjual. Namun Daniel tak mendengarkan. “Itu di klinik itu, dokternya pake sihir, ya? Soalnya penyembuhannya cuma di usap aja. Mana sembuh betulan. Tinggal tunggu di azabnya aja tuh, si dukun. Hari gini masih ada yang bersekutu sama setan. Mana bayarannya gak masuk akal. Nyari duit jalur instan”

“Bukan Dukun, Mang. Dukun mah di kafe kopi. Dia tabib betulan” Daniel mengoreksi.

“Kemaren ada yang ngeluh bayar lima ratus juta. Emang dia lumpuh udah tiga tahun sembuh. Tapi rumahnya di gadai ke bank. Engap-engapan sekarang bayar”

“Bodo amat mang, nggak urus” kata Daniel lagi “buruan sih, panas.. Itu tangan dekil amat buset.. Ngarat gitu irengnya”

“Namanya pekerja keras, Mas” lalu es tebu disodorkan. “Kembaliannya” penjual menyodorkan uang 13 ribu.

“Nggak usah, buat beli bedak keli sana”

EPISODE 83 (SAAT KAMU TERTIDUR)

Kristal tertidur di ranjang Logan sejak satu jam yang lalu. Saat pria itu memutuskan memindahkan masuk tatkala tubuh itu terbaring sembarangan di ruang tamu, sementara tidak ada orang di rumah selain pelayan yang sibuk entah melakukan apa.

Blazer hitamnya masih melekat rapi di tubuhnya, hanya sedikit kusut di bagian belakang karena tertindih tubuhnya sendiri. Kancing paling atas kemejanya terbuka satu. Riasan di wajahnya masih utuh, meski bagian bawah matanya sedikit pudar.

Lampu kamar Logan tidak terlalu terang.

Hanya ada cahaya redup dari lampu meja di dekat sofa dan pantulan lampu kota dari balik jendela besar. Warna kamar itu didominasi abu gelap dan hitam; sederhana, rapi dan tenang. Tidak ada aroma parfum menyengat kecuali aroma kopi mahal atau lilin aromaterapi, juga bau samar kayu furnitur, udara dingin AC, dan jaket Logan yang tergeletak sembarangan di kursi.

Pria itu berdiri di samping ranjang cukup lama tanpa bicara. Dua tangannya masuk dalam saku. Tatapannya jatuh ke wajah Kristal yang tertidur terlalu dalam.

Aneh sebenarnya.

Manusia biasanya bergerak sedikit saat tidur. Napas berubah. Kelopak mata bergetar. Tetapi Kristal sering terlihat seperti benar-benar menghilang saat memasuki mimpinya.

Seolah tubuhnya hanya tertinggal di sini.

Logan  tahu alasannya. Untuk sesuatu yang tidak banyak di mengerti. Hal-hal yang hanya terjadi bagai dongeng bagi normalnya manusia.

Ia duduk perlahan di tepi ranjang. Matras turun sedikit di bawah berat tubuhnya, tapi Kristal tidak terbangun. Gadis itu hanya menghela napas pelan, masih tenggelam jauh di dalam tidurnya. Lalu Logan meraih tangan Kristal yang berada di dekat bantal.

Dingin.

Tiap terlelap, hidupnya kembali pada lapisan yang lain. Darah Kristal selalu saja dingin. Napasnya melambat—pelan.

Jemarinya membalik pelan tangan Kristal hingga bagian pergelangannya terlihat jelas di bawah cahaya lampu redup. Nadinya berdetak pelan, kelewat pelan. Logan menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menunduk.

Ujung taringnya menyentuh kulit Kristal terlebih dahulu dan gadis itu sedikit mengernyit dalam tidurnya. Lalu Logan menggigitnya.

Pelan.

Tidak kasar. Tidak terburu-buru. Sebuah tekanan kecil hingga kulit itu terbuka dan darah hangat mulai mengalir ke mulutnya. Dan tepat saat darah Kristal menyentuh lidahnya—tubuh Logan langsung menegang. Mata kanannya bergetar kecil. Lantas ia menutup matanya sebentar khas—menahan sesuatu, tetapi itu tidak membantu. Sensasi itu datang terlalu cepat. Penglihatannya mulai dipenuhi kilasan. Cepat. Tidak beraturan.

Lorong panjang.

Langit gelap.

Suara seseorang memanggil nama Kristal dari tempat yang jauh. Lalu mata kanan pria itu perlahan berubah warna. Pupil merahnya perlahan berubah jadi kehijauan—menyempit tajam sebelum akhirnya bergerak tidak stabil, seperti ada sesuatu yang hidup di dalam sana. Urat samar muncul di sudut matanya.

Lalu sebuah ruang di depan ranjang mulai melengkung pelan. Garis lemari terlihat bergeser tidak wajar. Sudut meja memanjang sesaat lalu kembali normal. Cahaya lampu kamar ikut bergetar seperti bayangan yang ditarik ke satu titik.

Distorsi itu awalnya kecil. Hanya seukuran telapak tangan. Tetapi semakin banyak darah Kristal yang mengalir ke tubuhnya, ruang itu semakin rusak. Udara tampak retak. Lalu bagian tengah distorsi itu perlahan membesar—menghitam–mendekat padanya. Portal itu semakin besar sampai hampir memenuhi seluruh mata kanannya. lalu semuanya gelap. Ia tertidur sambil menggenggam tangan gadis itu. 

Lalu  menarik napas pelan.

Logan kembali menelan sisa darah di tenggorokan, dan kali ini penglihatannya benar-benar pecah. Tubuhnya tidak lagi berada di kamar.

Ini, ruang itu. Ruang di mana dunia seakan terbelah jadi dua lapis.

Ia melihat hutan—familiar.

Kabut.

Pohon-pohon tinggi yang berdiri rapat dalam gelap. Udara kamar jelas telah berubah. Suara AC perlahan menghilang dari pendengarannya. Digantikan suara angin. Daun bergesekan. Tanah basah setelah hujan. Dan Logan tahu— ia sudah menemukannya.

Dunia mimpi Kristal.

Hutan membentang di bawah cahaya bulan—mirip katedral kuno yang ditelan kegelapan.

Pepohonan tinggi menjulang dalam diam, batang-batang hitamnya berdiri tanpa ujung di antara kabut biru yang dingin. Ranting-rantingnya saling melilit seperti jemari kerangka, menenun bayangan begitu rapat hingga cahaya bulan nyaris tidak mampu menembusnya.

Kabut pucat melayang rendah di permukaan tanah. Pelan. Gelisah.

Kabut itu melingkari akar-akar dan batu-batu tua seperti arwah tersesat yang tidak lagi memiliki tempat untuk pulang. Jalan sempit yang membelah hutan tampak lembab di bawah cahaya keperakan malam, memantulkan bayangan gelap dalam pecahan-pecahan samar. Setiap langkah menuju ke dalamnya terasa ganjil.

Tidak ada suara serangga. Tidak ada suara burung.

Hanya desir pelan dedaunan yang saling bergesekan di antara pepohonan. Titik-titik cahaya kecil melayang jauh di dalam hutan, berkelip redup seperti bintang-bintang sekarat yang terperangkap di bawah langit malam. Mereka bergerak tanpa arah, muncul lalu menghilang di balik kabut sebelum mata sempat mengikuti mereka sepenuhnya.

Pepohonannya berdiri terlalu rapat. Bayangannya bertahan terlalu lama. Bahkan udara di sana membawa sesuatu yang tua di dalamnya—sesuatu yang begitu berat hingga bernapas pun terasa asing.

Tapi bagi Logan itu bukan napas yang asing. Tempat itu memang terasa seperti dunia yang belum tersentuh, masih terkubur jauh di bawah kenyataan, menunggu dengan sabar seseorang yang cukup bodoh untuk melangkah terlalu jauh ke dalamnya:

Kristal.

Atau dirinya?

Logan melangkah. Matanya terlalu awas dan terang untuk tempat semacam ini. Ia tidak mengerti dengan getaran yang diciptakan hutan ini. Sebagian dirinya merasa sangat familiar—seakan hafal seluruh seluk beluk hingga sudut hutan meski baru menapaki tanah itu, dan jelas hanya perasaannya saja. Lalu sebagian yang lain merasa aneh dan asing.  Tempat yang familiar sekaligus asing dalam satu rasa. Itu membuatnya harus menerka-nerka bagian mana yang paling dominan.

Kakinya melangkah seolah tau ke mana harus pergi. Matanya berkilat-kilat di antara gelap. Disini, seluruh indranya menajam, seluruh tubuhnya seperti di bawa kembali ke habitat asli—tempat di mana kekuatannya akan maksimal.

Logan hanya berjalan. Derapnya  kelewat cepat meski ia bersumpah tidak berlari. Tiap langkah—seolah tak menapak tanah saking cepatnya. Maka, dalam interval singkat, eksistensinya sampai pada tempat di mana seseorang yang kini terbaring bersamanya—di dunia nyata—berada.

Eksistensi di lapisan lain.

Seorang perempuan berdiri di atas bukit bersama pedangnya yang bersimbah darah. Di lembah, para pengkhianat tumbang. Mereka dari berbagai kalangan. Logan melihat ada manusia serigala, ada vampir, ada siluman, juga ada dari kalangan manusia biasa. Mereka semua sebagian menjadi abu, sebagian hanya mati tergeletak sementara burung gagak bersahut-sahutan terbang di atasnya.

Perempuan itu hanya berdiri memandangi kumpulan mayat.

Berjarak sekitar kurang dari lima ratus meter, Logan langsung mengenali wajah itu, wajah familiar. Hingga dalam hitungan detik—tepat saat pandangannya beralih, mereka bertatapan.

Kristal.

Atau bukan.

Perawakan mereka sama. Nyaris tak ada yang berbeda kecuali ekspresi perempuan di hadapannya kini—lebih tajam dengan sorot mata menusuk. Wajahnya dingin. Logan bahkan hampir lupa pada Kristal yang ceria dan kerap mengecupi adiknya di sembarang tempat dengan cara paling manja. Yang di tatapnya kini sangat jauh. Sungguh, jauh sekali. Seolah, apa yang bisa di lakukan makhluk di depannya ini hanya membunuh dengan cara paling dingin tanpa ampun.

Perempuan itu kembali mengalihkan tatapan—pada mayat—memutus kontak mata dengan Logan.

Lalu perlahan ia terbang. Tubuhnya melayang semaki  tinggi, lalu menghilang di balik gelapnya langit.

Logan cepat-cepat membuntut. Tidak bisa terbang, namun ia memiliki mata yang tajam. Tubuh itu masih terlihat dari radarnya. Maka, ia mengikuti dengan berlari.

SRATTTTT!!!

Kepala pria itu menggelinding. Dengan sebatan laksana pedang tanpa Tuan. Logan benar-benar gagal membaca saat ia hanya fokus membuntuti perempuan itu. Namun malang tanpa peringatan, kepalanya putus dan tubuhnya ambruk sesaat.

Hanya sesaat. Pria itu beregenerasi kelewat cepat. Kepala sebelumnya berubah menjadi abu–digantikan kepala baru. Logan kembali berdiri dengan gestur tenang, sementara perempuan itu turun. Ia menapaki tanah. Gaunnya berwarna putih terlihat banyak noda darah.

Ia memperhatikan ujung gaunnya lalu mendengus. Sebelum mendongak menatap Logan dengan dua alis menaut.

“Regenerasi..” bisiknya. Wajahnya masih sama, tanpa ekspresi “manusia setengah vampir, kemampuan mata kanan.. Kau bukan dari sini” katanya. Logan menyimak kelewat baik “apa tujuanmu kemari?”

“Mengambil kembali hak seorang gadis yang di tarik paksa. Kau harusnya sudah mati” kata-kata Logan terdengar aneh di telinga perempuan itu.

Hening. 

Saat melihat Logan, perempuan itu banyak meneliti.

Wajah yang tidak asing, namun tetap gagal—mengingat pernah bertemu.

“Aku tidak tahu maksdumu. Tapi aku tidak mencium bau pengkhianatan” jawabnya, matanya masih naik turun memperhatikan Logan “pulanglah, aku tidak akan membunuh warga sembarangan” perempuan itu kembali memasukkan pedangnya.

“Siapa namamu?” tanya Logan. Ia begitu percaya diri setelah perempuan itu mau diajak bicara.

“Kau tidak tahu?” pertanyaan di balas pertanyaan. Logan menggeleng. “Tampaknya aku menjadi kurang populer setelah sekarat dan terlalu sering ja..” itu terdengar seperti gumaman. Lalu kembali menatap Logan “kabarkan kepada siapapun yang kau temui bahwa Dewi Kedamaian telah pulih. Aku akan mendatangi semua tempat dan membunuh siapa saja yang berusaha memecah, mengadu domba, serta menjadi pengkhianat”

Dan Logan benar-benar menemukan benang mereka—benang antara Kristal dan perempuan di depannya:

Sekarat.

Keduanya sama-sama pernah sekarat sebelum saling bertukar lapisan hidup.

“Apa Dewi kedamaian tidak bernama?” tanya Logan lagi.

“Aku tidak bernama” lalu perempuan itu kembali naik, kakinya tak lagi menapak dan ia terbang dengan kecepatan penuh.

Logan lagi-lagi berusaha mengimbangi. Namun sang Dewi tampaknya tak lagi berencana peduli setelah tahu bahwa pria itu bukan ancaman apalagi musuh. Tujuan hidupnya adalah untuk dunia yang lebih damai, saling menyayangi, dan rukun.

Hingga terlalu jauh kakinya mengikuti eksistensi di udara. Maka, sampailah ia pada bangunan yang paling ia kenal. Bangunan yang selama nyaris seribu tahun mengurungnya.

Itu adalah rumahnya. Kastilnya.

Dewi itu masuk ke sana dan menghilang dengan pintu tertutup rapat bersama segel yang langsung menyelubungi–kontan membuat Logan tak dapat masuk.

Itu rumahnya, ia bersumpah. Meski bangunan ini terlihat lebih indah. Warna bangunannya putih bersih bak istana dengan singgasana megah. Dari luar, pilar menjulang—meraksasa. Lampu-lampu gantung dari api dalam kaca menggantung pada tiap sudut–menjadikan bangunan itu terlihat hangat. Logan sangat rindu, namun ia tak dapat masuk.

Saat melangkah lebih dekat, tubuhnya akan terpental.

Cukup lama ia mencoba. Namun tubuhnya tetap jatuh terpental. Keringatnya banyak becucuran. Matanya terus memandangi bangunan itu tanpa bosan.

Rumahnya. Kastilnya. Telah lama tak bersua meski kini dalam bentuk lebih mewah.

Tunggu… apa ini masa depan? Atau masa lalu? Namun dirunut dari penglihatannya sepanjang jalan, Logan menyimpulkan bahwa tanah ini bukan di era mendatang—yang di mana seluruh entitas nyaris punah.

Apa ini masa lalu?

Lalu sesuatu terasa aneh di mata kanannya.

Ia mengingat apa yang salah. Namun mata kanannya berair tanpa ia tahu sebabnya. 

Pria itu menguceknya pelan hingga memerah.

Terus menerus, lama-kelamaan terasa begitu pedih.

Saat ia mengangkat kepala dengan mata merah yang mulai kehijauan, distorsi ruang kembali terjadi—memenuhi mata kanannya. Tiba-tiba semua tampak gelap dan ia seperti tersedot kembali–masuk–terjatuh.

Napasnya tersengal-sengal.

Tik, tik, tik, tik..

“AAAAAARRRGHHHH!!!! DUKUN BANGSAT!!! AAARRRGGGHHH HUAAAAAA… EDGAR GUA MANAA!!!” suara itu membuatnya terlonjak kaget.

Logan melihat pada sekitar. 

Kamarnya.

Ia telah kembali.

Saat matanya menangkap jarum jam, ia baru pergi selama satu jam. Namun yang terjadi di dunia sana rasanya sangat lama. Lalu pandangannya kembali pada gadis yang berteriak histeris.

“Kamu kenapa teriak?” tanya Logan tenang. Matanya menatap Kristal yang normal. Maksdunya, Kristal biasanya. Bukan seseorang tanpa nama yang menggunakan gaun putih penuh bercak darah.

“Kaget anjeeeng, gua ngapain di sini? Lu apain gua? Lu jadi edan gara-gara di tinggal Isa, kan?”

Pria itu menghela napas. Lalu mengusap wajahnya kasar.

“Benar, kan.. Aku terlihat menyedihkan” suara helaan itu membuat Kristal tiba-tiba merasa tidak enak.

“Bukan… gua kaget.. Asli.. gua..” gadis itu menggaruk kepala.

“Apa kamu nggak lihat aku di mimpi?”

“Mimpi?” Kristal mengingat-ingat. Gadis itu melamun lama. Lalu menggeleng “aku nggak mimpi” katanya lagi.

“Nggak mimpi kamu bilang?”

Gadis itu mengangguk sistematis. Ia kembali mengingat, namun tetap yakin jika tidak bermimpi.

“Berapa lama gua tidur?”

“Hampir delapan jam. Kamu membunuh banyak—” Logan tidak melanjutkan kalimatnya. Pria itu lalu meraih tangan si gadis—melihat bekas gigitannya.

Masih di sana. Dua taring yang sempat menancap. Logan dapat melihat cahaya kehitaman yang menguar dari sana. Itu adalah portalnya—tempat ia bisa kembali masuk ke mimpi si gadis.

“Kalian sama-sama lepas sekarat. Lalu menarik satu sama lain. Dia adalah Dewi Kedamaian.. Aku akan kembali. Tolong tetap di sini saat tidur. Aku akan membawamu kembali ke dunia ini sebelum dia yang mengambil alih jiwamu seutuhnya”

“Ha?” Kristal mendelik dengan mata berkedip-kedip “apa nih.. Apa hayo… ngarang nggak?”

“Tukan..” Logan kembali melepaskan tangannya, lalu mendengus.

“Coba jelasin pelan-pelan biar gua paham. Pokoknya pakai bahasa bayi supaya gua ngerti” pinta gadis itu. Ia kembali mendengar Logan menarik napas.

“Jadi, saat kamu kecelakaan kemarin, jiwamu retak. Di lain dimensi, seseorang atau katakan itu adalah kamu di masa lalu, juga sedang sekarat. Maka, jiwa kalian saling terhubung–tarik menarik. Saling ingin kembali satu sama lain. Barangkali campur tangan Samuel yang paling berkemungkinan membuat semua ini terjadi. Karena sebenarnya, Kristal yang harusnya mati. Kamu harusnya benar-benar tidak selamat dengan  kerusakan seserius itu. Tapi Samuel memaksa dan menarik jiwa lain agar kamu tetap ada. Maka, terjadilah saling tarik menarik antar jiwa. Atau dengan bahasa paling mudah adalah kalian berebut jiwa”

Kata-kata Logan membuat Kristal termenung lama.

Semua dokter tercengang, semua keajaiban ini sangat sulit di terima dunia medis. Namun Samuel melakukannya. Pria itu memaksanya tetap ada dengan menarik jiwa lain.

“T-tapi… kalau jiwa gua lain, kenapa gua tetap Kristal? Gua tetap tau siapa gua, dunia gua..” gadis itu kebingungan. “Tolong terangin lagi.. Tolong kasih gua paham sedikit lagi”

“Samuel cuma ambil setitik jiwa. Bukan komponen otak, bukan identitas.” jawaban itu cukup ketus. Khas Logan.

“Tapi berarti… gua yang mencuri jiwa si Dewi itu? Bukan dia?”

Logan mengangguk. Kontras dengan kata-katanya pada sang Dewi saat ia berada di mimpi.

“Awalnya, aku mengira, dia yang mencuri jiwamu. Tapi untuk ukuran seorang Dewi, dia tidak akan melakukan itu. Dia akan mati jika waktunya mati. Dia hanya sempat sekarat, namun Dewi memiliki kemampuan regenerasi yang jauh lebih dahsyat di bandingkan entitas di bawahnya. Barangkali dia sempat sekarat karena melawan pengkhianat dari kalangannya sendiri. Lalu hampir gagal beregenerasi saat Samuel dengan ngotot merebut separuh jiwanya. Mungkin aja Samuel pun nggak tau tentang ini. Anak itu mana tau” terang Logan. Itu yang paling di mengerti.

Namun hal itu justru bagai semburan api panas bagi Kristal. Itu artinya, jika ada yang harus tahu diri, itu adalah dirinya.

Kristal melamun. 

Melamun agak lama.

Lalu menatap Logan.

“Dewi itu… makhluk baik, ya?” tanyanya, polos.

“Hm, baik sekali. Dia yang menjaga seluruh negeri dari kerusakan, dari pertengkaran, dari kejahatan dan pengkhianatan. Dia adalah lambang dari kedamaian dunia itu. Dia sangat baik pada warga biasa”

Kristal menelan liurnya susah payah.

“Terus… gua gimana, Duk?”

Itu belum ada jawaban. Logan tak segera menjawab karena ia juga bingung. Jika ia memaksa mengambil alih jiwa sang Dewi, itu sangat berisiko, belum tentu juga ia bisa menang melawan keilahian sang perempuan. Juga, selain karena Kristal yang sejatinya adalah si pencuri yang kebetulan adalah orang yang ia anggap keluarga, tak ada alasan untuk membunuh. Dewi itu bukan untuk di bunuh, justru harusnya di junjung tinggi. Logan tiba-tiba meringis memikirkannya.

“Aku memikirkan tentang…” Logan menarik napas, seperti kalimat selanjutnya memerlukan kekuatan mental yang cukup “aku memikirkan tentang menarik Dewi itu ke dunia ini dan menjadi satu denganmu. Jadi, mungkin kamu akan punya dua kepribadian. Atau.. atau.. Kamu yang akan tertarik ke sana, lalu Dewi itu yang memiliki dua kepribadian sementara kamu akan tertidur selamanya di dunia ini. Barangkali koma berkepanjangan jika orang tua kamu kaya dan akan menggunakan alat penunjang hidup sampai mereka lelah. Pilihannya hanya itu. Aku akan meminta bantuan Sinu alih-alih Edgar”

“Tolong bawa Edgar ke mimpi gua, kenalin ke Dewi itu… please..  Biar gua ngalah mati di sini..”

“Kristal, kamu mau tak hih?”Logan meremas tangannya sendiri. Gadis itu begitu impuls mengambil keputusan seolah itu bukan hal besar.

“Gua pencurinya. Lu bilang, intensitas tidur gua akan semakin banyak, lebih panjang, itu artinya siapa aja tau siapa yang akan menang. Gua harusnya memang udah mati. Jiwa ini bukan punya gua sepenuhnya” gadis itu memilin-milin jarinya. Mungkin percakapannya dengan Logan terasa tidak masuk akal bagi orang luar yang mendengar. Tapi bagi Kristal yang mengalami tidur di waktu-waktu tidak normal dalam rentang yang sama tidak normalnya, semua ini masuk akal.

Pria itu memandangnnya lama.

Sangat lama.

“Kamu mau meninggalkan kami semua di sini dan hanya akan bawa Edgar?” mata kanannya berkilat-kita “Kristal… aku dan Sinu sempat berunding, jika tanpa kamu, kami semua memutuskan untuk kembali ke kastil. Ini demi eksistensi kami, demi diri kami. Kami butuh arahan dalam waktu panjang, kami masih sulit mengontrol diri. Sejatinya, kami masih sangat sulit berbaur dengan manusia. Jika kamu pergi, maka, aku dan Sinu akan kembali ke kastil dan membuat peradaban di sana. Mudah saja jika kami sudah melek teknologi untuk sesekali datang ke dunia manusia untuk bersenang-senang”

“Ya, itu bagus. Lagipula umur gua nggak akan sepanjang kalian. Kalau gua jadi satu sama Dewi, gua akan berumur panjang, kita akan bertemu lebih lama”

Percakapan mereka di putus oleh eksistensi lain. Edgar datang tergopoh-gopoh sambil mencangking ransel yang terlihat berat. Pria itu menabrak Kristal seperti kesetanan.

“Jangan nangis, gua baik-baik aja” Kristal mengelusi punggung kekasihnya.

“Apa yang baik-baik aja? Apa?” lalu menatap kakaknya “apa yang lu liat di mimpi? Ceritain ke gua?”

Logan menggaruk tengkuk.

“Nggak tau. Tanya aja Kristal” katanya enteng, pria itu kemudian mencangking ransel dan melangkah keluar meski langit sudah gelap.

“Yang, dengerin gua..” Kristal menangkup dua pipi pria itu “kita akan menikah dan hidup bahagia dalam waktu yang lama. Percaya sama gua”

EPISODE 80

“Kalau gua pribadi gampang aja atur pernikahan. Tapi  itu juga kan mesti atas kesepakatan keluarga Isa. Yang jadi pertanyaan gua, Mama sama Papanya Isa ini udah kasih restu belum? Kalian udah dapet izin belum? Ketimbang membicarakan pernikahan ke gua, better ke ortu Isa dulu. Dia masih ada Papa Mama. Kalau udah fix boleh, gua gass. Nanti kita lamaran” Kristal mengelusi tumitnya yang pegal karena sepatu yang di pakai entah bagaimana caranya terasa menyempit. Pandangannya sesekali pada Logan dan Isabella yang duduk berdampingan.

“Iya sih.. Gua bahkan belum bilang gua punya pacar..” Isabella mencicit.

“Ya, kata gua itu, bilang dulu, pengenalan dulu. Kita nggak bisa tiba-tiba menikah. Lu masih ada wali Mek, lu ada orang tua. Kita punya agama, punya tradisi” jawab Kristal lagi. “Sekarang mending berdua ke rumahnya Isa. Rundingan sama keluarga. Bicara gini gitu..”

“Sama lu ya? Please.. Gua nggak tau cara ngomong ke Mama gua sementara di mata mereka gua masih kecil” Isabella memelas—menatap Kristal penuh harap.

“Isa.. lu mau menikah, itu artinya, lu udah gede. Lu udah melakukan hal-hal dewasa. Yang begini kudu lu hadapi sendiri. Juga, keputusan yang lu ambil ini terlalu gegabah menurut gua. Tapi gua nggak punya hak buat larang lu, nasehatin, apalagi ngatur. Coba dipikir lagi, dengan pola lu yang kayak gini, apa lu bisa jadi istri? Gua nggak minta lu untuk jangan nikah—pun, nggak menormalisasi perzinahan tapi nggak akan melarang juga, karena gua sendiri zina mulut zina mata. Tapi please.. Menikah itu bukan kayak lu milih menu makan malem yang bisa di buang pas ternyata nggak sesuai.. Pikirin lagi..”

Tatapan Logan menajam pada gadis itu. “Kamu kalau kasih masukan yang waras. Dia udah serius mau menikah. Kalau dia masih kekanakan, biar aku yang bimbing.” ungkapannya seolah Kristal telah mendoktrin Isabella untuk tidak menikah. Padahal bukan seperti itu.

“Iya, gua tau. Paham gua, Duk. Tapi di dunia ini, di sini, tempat yang sekarang lu pijak. Lu bukan di posisi bisa membimbing. Lu aja masih buta, lu sendiri banyak belum paham. Siapa membimbing siapa? Gua di sini cuma mau sedikit… aja kasih tau temen gua bahwa keputusan yang dia ambil ini resikonya seumur hidup. Gua tau lu vampir baik. Tapi di dunia ini, kita punya peraturan. Kita ada tuhan dan kita punya agama. Kalian mungkin gak butuh masukan dari gua kecuali bantuan, tapi ketimbang langsung menikah,mending pendekatan diri ke Tuhan biar nggak pada buta. Kenalan ke ortu, punya tujuan, punya gambaran ke depan. Atur planning” Kristal menarik napas.  Ada jeda beberapa saat setelah ocehan panjangnya hingga tidak ada yang bersuara lagi. Kristal akhirnya menatap dua sejoli itu.

“Gua berharap kalian akan bahagia terus. Gua minta maaf karena banyak bacot” katanya, akhirnya.

“Nggak gitu Til. Gua ngandelin lu selama ini, sejak kita ke Ternate, hubungan kita juga makin dekat dan tanpa sadar, lu dan Lyn adalah orang-orang yang gua andalkan. Gua takut hamil setelah berhubungan seksual. Gua takut Mama gua tau walau dia nggak akan usir atau sejenis, tapi gua pasti ngecewain dia..” Isabella hampir terisak. Logan mengelusi rambutnya sementara Kristal memijat dahi. Dari belakang, Edgar berlari tergopoh-gopoh.

“No no no!!! Jangan stress, tidaaaak jangan pijet dahi…” pria itu memeluk Kristal. Ketakutan si gadis tiba-tiba tidur.

“Ini kenapa lagi sih? Bukannya dari tadi udah pamit kerja? Masih di sini aja si bangsat! Kudu gua gaplok pake sendal!” Kristal meraih sepatunya dan akan dipukulkan pada sang kekasih. Edgar tidak peduli.

“Gosah minta bantuan! Gosah minta saran. Nikah-nikah lah sana. Lu kan masih punya ortu, Isa. Kalian tau pacar gua gampang tidur kalau capek atau stress. Semua-semua dia yang tanggung jawab, sampe lu berdua yang bercinta aja pacar gua yang pening. Mikir lu tuh” Edgar mengomel, tak dihiraukan sepatu yang menghantam tangannya pelan. “Nanti abis nikah punya anak, masih aja pacar gua yang kudu gini gitu. Abis itu pasti ada lagi ada lagi. Bergantung. Makannya belajar! Baca, baca apa tah apa tah. Hp ada”

Masih, pria itu masih mengomel.

“Edgar ini kayaknya benci banget sama gua” Isabella menahan tangis karena suara Edgar yang seperti membentak.

“Nangis… nangis lagi… nangis terus… abis ini gua dibikin muntah paku sama laki lu. Padahal gua sama kek Dukun, gua cuma berusaha lindungin pacar gua, bedanya gua cuma ngomel, nggak anarkis. Nggak jual air mata juga” Kristal lalu membekap mulut kekasihnya.

“Lu kerja atau gua telpon Mama gua dan bilang lu jobless?” ancaman itu membuat Edgar berdehem. Kristal sudah memegang ponsel dan akan menelepon Ibunya.

“Ya ini mau kerja..” suaranya mengecil “kudu banget gua menjaga kepercayaa si Mariam Belina walau doi udah ilfil parah ke gua” lalu kembali menatap Logan dan Isa “pokoknya kalau pacar gua pingsan atau tidur lagi, lu bisa bikin gua muntah paku dan gua akan matengin daleman lu” itu bukan ancaman, itu kepastian. Edgar masih sempat mencium pipi gadisnya sebelum lari.

Saat Edgar benar-benar pergi, Isabella kembali menatap Kristal.

“Please.. Please ikut gua ke rumah dan yakinin Mama gua kalau Kak Logan ini cowok baik-baik dan mapan, ya? Lu pinter retorika, Til. Please sekali ini aja” Isabella serius memohon.

Dan Kristal menatapnya lama. Tampaknya memang masukkannya tidak berguna. Orang yang sedang jatuh cinta memang mustahil di nasehati. Kristal paham seperti perasaannya dulu pada Edgar hingga patah hati seperti gadis gila.

🐾🐾🐾🐾

“Jadi dia sepupu jauh kamu, Nak?” Ibu Isabella memastikan sekali lagi—tatkala ketiganya benar-benar datang. Bertanya pada Kristal setelah gadis itu mengenalkan Logan sebagai saudaranya.

“Iya, Ma. Dia anak dari adiknya Mama aku. Baru pulang aja dari Singapura dan nerusin kerjaan Papanya dari sana. Datang ke sini cuma mau liburan. Malah ketemu Isabella dan jatuh cinta” sempurna. Kebohongan Kristal tak bercelah dan nyaris sempurna.

“Papa kamu bergerak di bidang apa?” Ibu Isabella mengajukan pertanyaan pada Logan. Yang ditanya jelas tidak tahu dan kebingungan.

“Mengelola batu bara mentah mah.. Ada tambangnya di Ternate, tapi perusahaan intinya ada di Singapura. Ke sini sekalian mau liat tempat tambang baru” lagi-lagi Kristal yang menjawab “dia kaya raya, Ma. tenang aja” Ibu Isabella tertawa.

“Bukan gitu.. Isabella ini masih terlalu muda. Jadi agak susah terima kalau dia punya pacar dan kamu malah bilang mereka mau serius dan menikah. Rasanya masih kecil banget anak Mama”

Wanita yang jarang di rumah karena sibuk bekerja. Juga ayahnya. Anak semata wayang itu ikut sibuk menuruti hobinya berburu hantu. Apalagi setelah lulus kuliah. Isabella begitu bersemangat dengan petualangan meski tidak bohong jika dirinya kesepian di rumah.

“Jadi, kedatangan saya ke sini, Ma.. mau melamar Isabella” itu diluar perencanaan Kristal. Maksud gadis itu, dua sejoli di anjurkan untuk saling lebih dulu melakukan pendekatan pada keluarga. Namun tampaknya Logan tidak sabar. Ibu Isabella tentu saja kaget.

“Loh?” ia menatap anaknya, lalu bergantian pada Kristal dan terakhir berlabuh pada Logan.

“Iya, Ma.. aku suka banget sama Kak Logan dan mau menikah aja secepatnya..” ada kebimbangan di suara gadis itu.

“Isabella… kita harus bicara” kata ibunya. Setelah itu, Kristal dan Logan di minta untuk pulang.

“Gua tu selalu segan mau bicara sama lu, sama Opung juga” kecanggungan dan sunyi itu dipecah oleh Kristal. Selain bunyi deru mesin mobil atau klakson sesekali, tidak ada yang bersuara. Sopir di depan mirip patung begitu juga Logan.

“Gua khawatir harga diri lu terluka. Nggak berani menasehati” gadis itu menghela napas.

“Padahal kamu beberapa kali pukul aku dan Sinu” jawaban Logan membuat Kristal mengangguk.

“Beda, bukan–maksud gua, ini menyangkut kehidupan  pribadi kalian. Gua nggak akan canggung ngomel atau pukul kalian dalam konteks isi kelas, belajar, atau hal-hal yang nggak personal gini. Rasanya gua ini cuma bocil sok tau dan sok pinter”

“Kamu memang pintar” kata pria itu lagi. Masih dengan ekspresi yang sama tanpa melihat Kristal.

“Gua akan bertanya mungkin beberapa hal. Lu bisa diem aja saat pertanyaan gua melukai harga diri lu atau menyinggung” Kristal merogoh isi tas, Logan melirik sekilas dan gadis itu mengambil botol obat—persis saat alarm pada ponselnya menyala—masuk waktu minum obat. Logan kembali melihat ke jendela sementara Kristal mendorong pil dengan air dalam kemasan botol.

“Lu sesuka itu sama Isa? Siap banget sama pernikahan? Atau bahkan kehamilan dia dan anak?”

“Ya” jawabnya singkat. Kristal mengangguk.

“Gua tu sering berpikir gini, misal kayak Edgar, pacar gua. Gua akui waktu di kastil itu memang gua kecintaan sampe plenger banget ke dia. Awalnya main-main buat ngisi waktu bosan. Nggak taunya gua kecintaan beneran” Logan masih menyimak hingga gadis itu sampai pada maksud dari pembicaraaannya “tapi setelah gua pikir, kalian itu hanya 7 vampir yang kesepian walau bersama. Kalian haus cinta dan sosial. Kalian persis liar sekaligus kebingungan saat tiba-tiba bebas dan ikut ke sini. Maka, kalian terikat sama hal-hal familiar aja. Dari situ gua mulai berpikir bahwa, gua harus melepaskan Edgar. Bukan karena gua nggak cinta, tapi gua cuma mau dia liat dunia luar lebih luas. Bahwa, masih banyak gadis yang lebih dari gua. Di luar ini indah. Eksplor semua hal, teknologi, peradaban, kultur. Semua hal baru bagi kalian, kan? Kalian harusnya sibuk di sana. Berkutat dengan dunia yang hingar bingar. Bukan terjebak pada rasa ketakutan akan kesepian lagi lalu impuls dengan keputusan-keputusan yang sejatinya dari nafsu sesaat”

Jeda. Kristal menghadap ke samping memperhatikan ekspresi pria itu. Logan masih diam.

“Isa itu… masih belum mateng.. Gua mengatakan ini bukan mau bikin lu nggak menikah bukan. Coba lu telaah lagi polanya. Lu lia—”

“Kalau dia hamil gimana? Kamu mau aku lari dari tanggung jawab?” potong Logan cepat-cepat.

Kristal diam sebentar. Ia menelan air lagi.

“Gua bilang gini karena masih berpikir bahwa untuk hamil nggak akan semudah itu walau kemungkinan jelas ada. Bisa di bilang 50:50. Gua tadinya mau bilang misal Isa masih menstruasi bulan depan, kalian bisa tunda pernikahan sampe benar-benar matang”

Hening setelah itu.

Panjang.

Sangat panjang.

Dan Kristal sudah enggan mencairakan kecanggungan di antara mereka.

Sementara Logan berpikir keras. Memikirkan apa yang di bicarakan Kristal sejak tadi tentang ketakutannya akan kesepian, akan ditelantarkan. Lalu bertanya balik pada diri sendiri.

Apakah ia mencintai Isabella sedalam itu?

Atau benar apa yang dipaparkan Kristal?

“Apa aku terlihat bodoh lagi?” pria itu yang mengajukan pertanyaan setelah kecanggungan panjang. Kristal menggeleng.

“Itu normal. Semua hal yang kalian kerjakan normal di mata gua walau kadang bikin khawatir. Sekali lagi sorry kalau gua sok menggurui. Percaya sama gua, gua cuma mau kalian happy dan menikmati tiap detik dari esensi kebebasan itu sendiri tanpa terikat sama apapun yang membebani”

Logan menatap Kristal lama. Cukup lama hingga gadis itu risi sendiri.

“Ayo bertemu di mimpi” kata pria itu kemudian.

🐾🐾🐾🐾

Sinu duduk canggung di meja makan.

Sungguh, siapa yang akan menduga jika kedatangannya akan di sambut dengan cara yang tidak pernah ia duga. Bahkan Lyn tidak mengatakan apa-apa. Tidak mengabarinya ini dan itu.

Gadis itu duduk cantik di seberang–tepat di samping adik perempuannya yang berusia dua puluh tahun. Cantik, keduanya terlihat mirip meski sang adik lebih feminin dan bermimik lembut.

Tidak ada Ayah. Sinu ingat bahwa Lyn pernah bercerita jika ayahnya menikah lagi dan… tidak tahu. Hanya sebatas itu.

Namun yang mengusiknya adalah hidangan di atas meja yang  begitu banyak. Sinu pernah melihat hidangan sebanyak ini di rumah makan saat beberapa waktu lalu mengantar Lyn. Seperti hidangan untuk acara. Masalahnya, Kristal selalu mengajarkan untuk menghargai juga agar tidak tampak mencurigakan—atau singkatnya, ia harus makan paling tidak sedikit.

“Mama masak sendiri, Nak. Mama suka banget masak. Ayo di makan” Ibu Lyn mengambilkan nasi, lauk pauk. Mata Sinu ke sana ke mari bergantian melihat tangan Ibu Lyn mengambil apapun yang di tumpuk di atas piringnya.

Saat pandangannya bertemu dengan Lyn, gadis itu menjulurkan lidah lalu mengatakan ‘mampus’ dalam bahasa isyarat. Tak lupa jari tengah di acungkan meski sampai hari ini, Sinu tetap gagal menerjemahkan artinya.

Adik Lyn menyikut Kakaknya.

“Ganteng banget gila… kayak seleb” bisiknya, matanya sejak tadi curi-curi pandang pada yang datang mengaku sebagai pacar Kakaknya. Sinu mengukir senyum tiap matanya bertabrakan dengan adik Lyn.

Di awali dengan berdehem, lalu pria itu menyuap nasi dan irisan daging dengan cabai hijau.

Nasi hangat itu terasa aneh di lidahnya—kering, padat, dan hambar seperti kunyahan kapas basah. Sinu berusaha mempertahankan ekspresi tenang ketika irisan daging dan cabai hijau masuk ke mulutnya, tetapi setiap serat daging terasa terlalu kasar untuk ditelan.

Aroma rempah yang menusuk justru membuat penciumannya yang tajam terasa tersiksa. Cabai hijau meninggalkan sensasi panas yang tidak familiar, membakar tenggorokan hingga matanya nyaris berair.

Ia mengunyah perlahan, terlalu lama untuk ukuran manusia biasa, sebab tubuhnya tidak tahu bagaimana cara memproses makanan selain darah. Ketika suapan itu akhirnya turun ke kerongkongan, dadanya langsung terasa berat. Perutnya seperti menolak isi piring itu mentah-mentah.

Namun di hadapan Ibu Lyn, Sinu hanya tersenyum tipis dan kembali mengambil sendok, meski setiap suapan terasa seperti hukuman kecil yang harus ia tahan.

Lyn memperhatikannya sejak tadi. Wajah Sinu jelas memerah sampe telinga ke leher. Begitu terang karena kontras dengan kulitnya yang putih bersih.

“Kak Sinu kenapa merah semua? Alergi kah?” adik Lyn yang bertanya. Lalu sang Ibu melihat dan kaget.

“Kamu punya alergi daging, Nak?” tanya Ibu Lyn. Sinu juga tidak tahu apa itu alergi.

“Iya, dia ada alergi nasi, alergi daging. Dia itu makannya cuma protein tumbuhan dan ikan air tawar” Lyn mencari jalan aman saat malam ini, ibunya tidak ada memasak dua kandidat yang disebutkan.

“Loh, kenapa nggak bilang. Mukanya merah semua. Bawa ke dokter aja, Kak. Takutnya parah sampe kejang dan demam” mimik itu khawatir. Ibu Lyn bahkan mendekat dan mengecek suhu tubuh pria itu. Sinu seperti menahan napas saat perutnya juga mual.

Tidak lama, ia muntah-muntah.

Pria itu menolak saat diminta istirahat di kamar. Menolak saat Ibu Lyn menawarkan obat, juga dipanggilkan dokter. Sinu hanya meminta merebah di sofa.

Ibu Lyn awalnya begitu panik. Sinu mendapat kompresan, di pijati, lalu di beri minuman hangat meski ia berkali-kali mengatakan tidak apa-apa.

Lalu berganti Lyn sementara Ibunya naik ke kamar setelah kondisi pria itu membaik.

Lyn memasukkan satu tangan ke dalam kemasan makanan ringan, mulutnya mengunyah dengan santai sementara ia berdiri tepat di sisi Sinu yang merebah di sofa—menatapnya naik turun.

“Enak?” tanyanya ketus. Tak ada empati di wajah ayu yang garang.

“Kamu nirempati” jawab Sinu, ia mengusap tenggorokannya seperti orang trauma.

“Nirempati? Hello!!! Liat siapa yang bilang nirempati! Gua yang mau mati bunuh diri di kastil karena rasa sakit yang gila! Gua yang mohon-mohon sampe menghinakan diri, gua yang meminta kematian siang dan malam karena gak kuat. Badan gua hancur, remuk, jantung gua setiap hari kek mau meledak. Dan sekarang lu bilang gua nirmepati setelah lu kunyah sendiri makanan di meja?” Lyn menggeleng-geleng. Pria di depannya sungguh luar biasa.

“Itu lagi, itu lagi yang di bahas. Selalu di bahas tiap setidaknya satu pekan sakali” Sinu membalik tubuh, membelakangi si gadis “aku udah minta maaf, udah nggak diulangi karena nggak ada alasan menyakiti kamu. Tapi tetap jadi penjahat di matamu.. Apa bikin bocor rumah aja ya…”

“Hah?”

“Apa?” Sinu berbalik.

“Tadi lu bilang apa? Apa yang bocor?”

“Itu.. atap, kok nggak bocor lagi” suaranya lembut. Pria itu tertawa.

“Pulang sana, udah malem, udahan ngapel-ngapelannya. Trauma kan lu. Kalau ngapel sekali lagi, gua paksa lu makan bayem”

“Itu terlalu kejam..” lalu Sinu mual lagi. Ia batuk-batuk hingga terduduk. Seperti serat daging masih tertinggal di tenggorokan dan pedasnya cabai melukai seluruh jeroan. Perutnya kontraksi hebat. Ia muntah namun tak ada yang keluar.

Wajahnya kembali memerah. Urat-urat di leher dan pelipis kembali tercetak. Lyn kembali khawatir. Ia lantas meletakkan makanan ringan dan berjalan ke dapur.

Gadis itu mengiris telapak tangannya hingga mengeluarkan darah, berlari terburu-buru mendekat pada Sinu.

“Nih, kenyot ini. Walau kata lu rasanya mirip besi, tapi lebih baik ketimbang tenggorokan lu seret dan gak bisa minum air bening juga. Yang penting ada yang ngalir ke tenggorokan”

Sinu masih sempat menatap mata Lyn, sebelum akhirnya meraih tangan gadis itu, lalu menancapkan taring di sana. 

Lyn meringis.

Ia mendengar suara tegukan dari tenggorokan pria itu. Rasa panas dan perih menyengat di telapaknya.

Sekitar enam tegukan. Sinu melepaskan tangan Lyn, lalu membebat luka gadis itu dengan ujung kaosnya yang ia robek spontan. Darah tertinggal sedikit diujung bibirnya, Lyn mengusapnya lembut dengan tangan yang lain.

Rasanya sangat lega. Perutnya menghangat dan terasa begitu nyaman. Tenggorokannya pun sudah tak lagi serat dan rasa makanan sebelumnya benar-benar hilang—digantikan darah Lyn yang memang sedikit beraroma besi dengan sentuhan manis di akhir.

“Terima kasih” katanya. Bebatan menghentikan darah dengan sempurna. Lyn mengangguk.

“Udah malem, pulang sana”

“Kita kembali ke tempat yang sama” jawab Sinu.

“Gua nyusul agak maleman deh”

“Aku akan tunggu”

“Ish.. bebal”

Lyn duduk sambil memandangi tangannya yang dibebat. Melamun gadis itu cukup lama.

“Kita mampir ke tempat Samuel. Tangan kamu harus mendapat perawatan” Sinu maju mundur ingin menepuk si gadis. Padahal, tiap malam, gadis itu memeluknya. Itu pun atas hasil paksaan saat mereka baru pertama datang. Lalu seiring berjalannya waktu—meski Sinu tidak dapat memastikan kapan tepatnya, ia mulai bertingkah lembut pada Lyn. Tidak lagi pernah memaksa, tidak mengancam, apalagi menakuti. Malahan, akhir-akhir ini gadis itu yang sering marah-marah dan berwajah galak. Sinu tidak lagi memintanya untuk memeluk atau memijat, namun karena sudah kebiasaan, Lyn menganggapnya menjadi satu kewajiban. 

Katanya, gadis itu sudah menerima takdirnya. Meski Sinu sendiri tidak tahu takdir yang mana.

“Mau balik sekarang kah? Tadinya gua mau nginep di sini” ia tersenyum menatap Sinu “ya? Semalem aja. Ini kan udah ngapel, jadi bisa dong, free semalem doang”

Tidak menjawab, Sinu hanya diam menatapnya—menatap lurus pada mata si gadis tanpa mengatakan apapun. Tidak melarang, tidak juga mengiyakan. 

Agak lama.

Hingga helaan napas Lyn terdengar lebih keras dari detik jarum jam di dinding.

Dan Sinu masih menatapnya.

“Jangan liatin terus. Nggak jadi nginep kok”

Pria itu mengulum senyum.

“Lyn..”

“Hm”

“Boleh aku dapat kecupan?”

Kali ini gantian Lyn yang menatapnya. Dahinya mengerut-ngerut “konteks?”

Sinu menggeleng “nggak ada konteks. Orang pacaran ada yang udah berhubungan seksual, ada yang ciuman, ada yang main aja sambil pukul-pukulan” pria itu sedang membicarakan saudaranya. Lalu melihat Lyn  dengan mata yang berkilat berwarna biru pekat yang hanya terlihat beberapa detik. Itu bukan pantulan lampu, Lyn bersumpah bukan. Juga terlalu indah untuk diabaikan. Seperti gulungan ombak di laut lepas yang dahsyat.

“Sebentar, Pak Sinu. sebenarnya ada yang mesti diluruskan dari hubungan kita..” 

“Aku mencintaimu”

Jawab Sinu tanpa basa-basi. Kata-kata itu membuat Lyn mendelik.

“Ehey… hati-hati dengan kalimat itu. Kalimat itu nggak sesimpel pas diucap”

“Bisa beri aku kecupan?” tanya pria itu lagi. Seolah kata-kata Lyn sejak tadi adalah angin lalu.

“Dengar ya, Pak Vam–”

Tidak, tidak selesai. Sinu lebih dulu mencium pipinya. Hanya kecupan ringan dan sekilas. Namun berhasil membuat gadis itu diam seribu bahasa sambil menelan ludahnya yang tiba-tiba sulit.

Lyn akhirnya berdehem. Ia mengipas wajahnya dengan dua tangan sembari menghindari tatapan—membelakangi Sinu.

“Kita sebaiknya cepat balik ke man—” berbalik sedikit dan akan mengatakan untuk kembali pulang. Kata-kata Lyn lagi-lagi tak selesai saat Sinu kembali mengecup pipinya yang sebelah.

Gadis itu bangkit dari sofa. Ia menangkup wajahnya dengan dua tangan karena salah tingkah. Lalu mondari-mandir seperti setrika.

“Jangan mondar-mandir, Lyn. kamu bikin aku sakit kepala” kata Sinu. gadis itu akhirnya diam.

“Gini aja deh, sekalian”

Lyn akhirnya menabrak pria itu, ia mencium bibir Sinu dengan buru-buru—menjepitnya di antara bibir lalu mengulumnya lembut.

Kali ini gantian Sinu yang mendelik dan membeku. Ia diam seperti patung sementara Lyn menciumnya sambil menarik kerah baju.

Tidak lama. Hanya lima belas detik. Setelah itu, Lyn lari terbirit-birit.

“GUA NGGAK IKUT LU BALIK! MAU NGINEP DI SINI MALAM INI” lalu ia menghilang di balik anak tangga. Sinu masih melongo.

EPSISODE 79

Gadis itu tidur mendusal seperti kucing dipelukannya. Berunding tentang hal yang sebenarnya Logan sadar jika gadis itu memang di usia labil. Keputusannya berubah-ubah, moodnya naik turun dan polanya masih tidak konsisten. Barangkali mirip-mirip dengan Daniel. Pun, ia sudah menyiapkan hati untuk tidak terlalu yakin akan keputusan dadakan.

Bagian menyebalkan adalah ingatan kemarin malam berputar-putar. Bukan, pria itu serius tidak ingin memikirkan, namun pikiran itu menyelusup tanpa tedeng aling-aling. Juga, makin di tolak, makin merangsek semuanya.

Tubuhnya masih sama. Hangatnya terasa seolah mengaliri sengatan listrik yang menyenangkan. Pria itu ereksi lagi oleh pikiran yang ia sendiri membencinya.

Isabella tidak bergerak dipeluknya. Napas gadis itu lembut menyapu lehernya. Kelelahan setelah pikiran panjang yang sebenarnya masih bisa dipersempit.

Dari posisinya, Logan tau jika di balik pintu ada yang sedang mengintip—tidak, bahkan pintu terbuka sedikit. Suara bisik-bisik bagai kawanan lebah yang gagal mencapai mufakat. Saling sikut, saling berebut. Suara Daniel dan Jake,  jelas.

“Nggak, nggak bercinta, mereka tidur biasa kek Opung ke Lyn” Daniel memberi informasi setelah satu matanya menangkap apa yang dicari. Tentu saja posisi Logan yang merebah sambil memeluk Isa.

“Jangan liat kepalanya oon, liat titit sama lubang, nyatu nggak” Jake memukul kepala adiknya. Daniel mengaduh namun kembali memasang mata.

“Ketutup selimut lah, nggak keliatan” si bungsu memastikan lagi. Namun keduanya berpakaian lengkap. Serius tak seperti dugaannya. “Mereka tidur doang, kapan nyatuin kelaminnya. Gak asik”

“Tunggu bentar lagi” Jake meyakinkan.

“Mereka udahan kali. Tapi siapa yang tau kalau titit Dukun di cepit ke dipan” Daniel masih terus memperhatikan dengan pandangan terbatas.

“Apa kau pindah ke kamar Opung?”

“Nggak ada, mereka pasti lagi ngomongin emas dan belajar. Opung itu yang dibicarain perekonomian dunia walau Lyn males jawab” akhirnya si bungsu bangkit. Saat hendak berbalik, ia bertemu Edgar yang jalan mondar-mandir “ngapain Lay?”

“Gua mau ke rumah Kristal tapi emaknya lagi ngembek ke gua” sudah hampir tiga jam Edgar seperti itu–mirip setrika. Kejadian memalukan beberapa jam lalu saat ia tak sempat memakai baju tatkala si gadis pingsan—lalu ia berjongkok mengelusi, sementara lateks masih terpasang pada penisnya yang menggantung. Ibu Kristal datang dan menjerit keras. Tentu saja adegan selanjutnya adalah yang paling mengerikan saat ia di kejar dengan sandal dalam kondisi begitu.

“Kata Tabib, Kristal bukan kena penyakit, tapi emang mimpi dia aneh dan dia hidup di dua dunia” Jake berusaha menenangkan.

“Itu kata gua, kata Tabib dari Hongkong” Edgar mendecih “gua mau masuk ke dunia mimpi”

“Minta tolong Dukun lah, dia yang pakar begituan” Si bungsu menjawab, namun kembali berjongkok membuka pintu kamar sedikit. Logan sudah menutup mata dan adegan tak senonoh yang mereka harapkan tampaknya tidak akan terjadi.

“Dukun sibuk ngurusin itil. Bucin sama gadis cengoh. Dikit-dikit nangis, di kawinin nangis, inget hamil nangis, inget mati nangis. Nanti nggak lama..” Edgar menirukan Isa dengan menaikkan kelingking lalu menyibak rambut panjang yang tidak ada ‘Kak Logaaaan…’ terus mereka pelukan, terus pas pegang susu ditanya sama Dukun, ‘boleh pegang ini nggak?’ Isa jawab ‘boleh’ terus pas di pegang nangis ‘aw! Aku nggak suci lagi. Nenenku isinya urang aring gara-gara dikenyot paksa.. Aw.. aku harus apa? Chat Kristal bikin dia stress’” Edgar mengakhiri cerita sambil memicingkan mata. “Gua gak suka siapapun yang bikin pacar gua stress”

“Emaknya, yakin gua. Kristal stress gara-gara punya emak modelan Yuyun Sarah” Jake menambahkan.

“Yuli” Daniel mengoreksi.

“Yohan” Edgar lalu merangkul pundak dua saudaranya “main aja kita”

“Ke mana?” Jake dan Daniel menjawab serentak.

“Ke rumah Kristal. Si bangsat ini kan bisa berubah jadi apa aja” tangan Edgar mengelusi rambut Jake “akalain lah biar kita naik lewat jendela. Lu bikin es balok biar kita bisa naik”  lalu mengelusi Daniel.

“Terus benefit yang gua dapet apa main ke rumah Kristal? Kalau lu bersedia bercinta dan gua tonton berdua sama si Rose, nggak masalah, ya kan, Rozie?”

Jake menggeleng “gua nggak setuju, biar gimana pun, gua masih cinta sama Krstal. Hanya dia.. Hanya dia dia dia dia dia… nggak sanggup liat dia nangis di rudapaksa, najis.. Nggak nggak, gua berharap ada waktu di mana si jablay ini selingkuh dan mereka pegat. Terus gua maju, Kristal mau sama gua… oh.. Dewa.. semoga datang hari itu”

“Ehey… ayolah..” Edgar tersenyum seperti bapak-bapak, sambil mengelusi kepala belakang Jake “sebaik-baiknya keluarga. Itu adalah mereka yang nggak merebut pasangan satu sama lain”

“Gua nggak merebut, gua berharap lu pindah lain hati” Jake menepis tangan saudaranya.

“Mending sama Nining” Daniel memberi ide “gimana kalau kita main ke rumah Nining?”

Ketiganya lalu menjauh. Suara mereka semakin mengecil dari kamar Logan. Pria itu lantas mendekat pada pintu, lalu menguncinya—juga mematikan lampu.

Saat ia kembali merebah, matanya bertemu dengan milik Isabella yang kembali terbuka.

“Kebangun?” pria itu kembali merebah, lalu memeluk si gadis pada posisi semula. Isabella hanya mengangguk, kembali mendusal.

“Berisik banget orang-orang” katanya, suaranya serak. Ia mendekap sang kekasih lebih erat “kayaknya aku kecanduan”

“Kencanduan apa? Segala apa diomong” Logan ikut mengeratkan dekapan. Mereka bisa mendengar detak jantung satu sama lain.

“Kecanduan Kak Logan. Aku suka banget.. Suka aroma Kak Logan, suka tekstur kulit yang halus. Pokoknya suka semuanya” tangan kecilnya kembali bergerak di dada pria itu. Naik sedikit, Isa memegangi jakun yang bergerak saat ia sentuh “ini paling lucu” ia tertawa kecil. Kamar temaram gagal membuat Logan dapat menangkap wajah kekasihnya. Namun ia sangat hafal. Begitu hafal hingga apapun yang dikatakan Isabella, Logan dapat membayangkan seperti apa ekspresinya.

Cup!

Kembali, gadis itu menciumnya lagi.

“Isa.. hentikan..” kepalanya agak mundur. Padahal sudah menduga jika gadis itu memang tidak terduga. Bahkan, Logan tidak akan kaget jika tiba-tiba Isabella membatalkan rencana mereka untuk menikah. Ia mempelajari gadis itu, sedikit demi sedikit.

“Kak Logan…” gadis itu malah menciumi leher, pipi, telinga. Kontan saja Logan menghindar lebih jauh.

“Isa… kamu ngerti nggak…”

“Ngerti.. Kan Kristal udah kasih lateks, ayo pakai. Katanya, yang selanjutnya nggak sakit”

“Tau dari mana yang selanjutnya nggak sakit? Aku nggak mau. Tidur.. Tidur” kata pria itu. Namun Isabella jelas tak mendengarkannya.

“Ayo ulangi… please… ayo ulangi ulangi ulangi…”

Jeda. Logan diam seribu bahasa sementara gadis itu kembali naik ke atas perutnya. Isabella mulai menciumi leher dari posisinya yang baru. Namun kali ini, ia duduk tepat di atas penis.

Terang saja gumpalan daging itu mengeras dengan sistematis—meski sejak tadi Logan berusaha keras untuk menghindari pikiran kotor tentang kegiatan mereka kemarin. Ini bukan pikirannya, namun aksi nyata. Isabella bergerak resah di atas tubuhnya hingga menggesek bagian bawah. Benar-benar menyenangkan. Gadis nakal itu jelas tidak akan berhenti dalam waktu dekat meski ia memintanya.

“Kristal bilang, hubungan seksual yang selanjutnya nggak akan sakit. Dia bilang gitu ke aku sambil nenangin.. Ayo buktikan..” Isabella berbisik seiring miliknya yang mulai becek. Sementara Logan malah memikirkan Kristal.

Gadis itu seakan mengetahui semua hal. Apa teknologi semengerikan itu—sehingga seorang gadis yang berperawakan nyaris sama dengan kekasihnya hampir tahu banyak hal tentang hidup? Kristal terlalu buram, terlalu kabur. Meski dua gadis yang lain serupa, namun Kristal pekat beraroma kastil dan… Logan tak mampu menggambarkan.

Fokusnya kembali saat Isabella mencium bibirnya. Gadis itu memagutnya lembut. Lidah halusnya menyapu bibirnya berulang-ulang.

“Isa… kamu…” pria itu tak melanjutkan kalimatnya saat Isabella memasukkan lidahnya ke dalam rongga. Bergerak ia seperti Logan menciumnya. Bawahnya masih bergerak tak teratur dan pria itu tak akan menahan diri meski Isabella akan kembali menangis.

“Aku ambil lateks sebentar, sebentar aja” pria itu melerai ciuman saat Isabella memberi jeda. Si gadis mengangguk lantas turun. Ia memperhatikan punggung yang mendekat pada nakas, lalu membuka seluruh pakaiannya.

“Pakainya pas mau klimaks atau dari awal?” tanya pria itu. Yang ditanya berpikir sebentar.

“Pake pas mau klimaks aja. Atau di awal? Yang mana aja”

🐾🐾🐾🐾

Ketiga berhasil masuk ke dalam kamar Kristal saat Jake yang pertama kali sukses dan langsung memberi akses meski lewat jendela. 

Daniel juga berperan besar dalam membuat pijakan hingga mencapai tujuan. Pukul satu dini hari, ketiga pemuda itu menyusup ke kamar seorang gadis yang sedang terlelap. Untungnya, tidak ada Ibu Kristal, tidak ada penjaga atau suster seperti ketika gadis itu baru kembali dari rumah sakit.

Kamarnya bersih, terlalu bersih.

Lampu yang sudah di matikan. Langkah yang mengendap-endap. Daniel duduk di sofa sambil menggaruk tumitnya yang gatal. Jake melihat-lihat meski penglihatannya terbatas karena redup sementara Edgar merangkak ke atas tempat tidur, lalu memeluk gadis itu dari samping.

“Lu tidur dari pingsan itu kah? Belum bangun kah? Lu dalam mimpi itu? Lu jadi Dewi? Please ajakin gua.. Ajakin gua ke mimpi lu” Edgar berbisik tepat di telinga.

PLAK!

“Ludah lu muncrat kampret!” Kristal memukul lengan Edgar, juga menyepak kekasihnya. Gadis itu lantas beringsut duduk sambil mengucek mata. Satu tangannya merayap ke atas nakas untuk mengambil ponsel. Hanya satu kali menekan pengaturan, lampu kamar menyala terang benderang.

“Ngapain coba bertiga?” matanya memindai Jake yang tersenyum padanya, lalu Daniel yang hanya duduk sambil mengunyah entah apa. Lalu Edgar yang kembali naik ke ranjang. Kristal menggaruk kepala “ah.. Gua emang sibuk pulihin diri sampe nggak perhatian ke kalian. Terus mau pada apa nih? Mau cerita? Mau tanya-tanya, atau mau apa nih. Dari pagi gua ke mansion sibuk juga nenangin Isa”

“Ganti karyawan” Daniel angkat tangan. Kristal menggeleng cepat “ish.. Gua kayaknya bakal mati muda terus-terusan sanding sama Nining”

“Gua mau pacaran sama lu” Jake ikut angkat tangan. Itu juga di reaksi gelengan oleh si gadis. “Padahal gak papa punya cowok dua. Yakan Lay? Berbagi kita ya? Gua janji bakal jadi pacar yang baik” Kristal tetap menggeleng.

“Gua mau ciuman dahsyat sampe di pisahin pemda… ya Allah.. Pengen cipokan.. Pengen cipokan.. Pengen cipokan..” Edgar berguling-guling di atas ranjang seperti anak kecil dan Kristal mengabaikan pria itu.

“Mau jalan-jalan malem sama gua? Ayo jalan kaki di luar” gadis itu memberi ide. Tiga pemuda itu mengangguk setuju meski mereka tentu saja keluar lewat jendela seperti tiga pria itu melakukannya.

“Jawab pertanyaan gua kayak tes kita biasanya. Yang bisa jawab, gua kabulin satu permintaan masing-masing tapi yang masuk akal” Kristal berjalan mundur sambil menatap satu persatu tiga pemuda itu. “Cerdas cermat dan siapa yang paling cepat, oke?” tiga pria itu mengangguk. Sambil memikirkan apa yang diinginkan.

“Kasih gua lima contoh cara bersosialisasi yang benar. Yang bagus, nggak jawab asal dan tepat” gadis itu mengangkat tangan sambil menunggu tiga pemuda itu ikut mengangkat tangan. Daniel menatap dua Kakaknya bingung, sementara Edgar dan Jake bersitatap. Akhirnya Jake mengangkat tangan.

“Em….. satu,” pria itu menggaruk pelipis dengan dahi mengerut “nggak menyerang… dua, nggak bertingkah aneh. Tiga, nggak makan darah di depan orang. Empat jangan berubah bentuk. Lima, nggak ngamuk”

Kristal menggeleng “itu peraturan dari gua buat kalian sebagai vampir yang hidup di dunia manusia, gua minta contoh cara bersosialisasi”

Edgar angkat tangan.

“Ya, silahkan jawab Picollo” kata si gadis.

“Picollo siapa anjir”

“Musuh Goku” 

Edgar tidak akan membahas panggilan barunya dulu dari sang kekasih. “Contoh bersosialisasi dengan benar yang pertama, dengerin saat orang lain ngomong. Dua, mengucapkan kata tolong, maaf, dan terima kasih. Tiga, bercinta sama pacar. Empat, cipokan sama Kristal. Lima, merebut hati Yuni Sarah” pria itu salto di depan kekasihnya sambil berbangga diri.

“Udah bener yang awal, lu mah edan jing” Kristal menggeleng. Lalu matanya berlabuh pada satu-satunya kandidat yang tersisa.

Daniel berdehem “yang pertama, menjaga sikap dan perkataan biar nggak menyakiti perasaan orang lain.. Wah, gua banget nih..” pria itu nyengir “kedua, nggak mengejek, membuli, menghina. Ketiga, menjaga kebersihan, ketertiban lingkungan biar nyaman buat semua orang. Keempat,  mau bekerja sama dalam kelompok atau kegiatan bersama. Kelima, membantu yang membutuhkan”

Jawaban Daniel mendapat tepuk tangan meriah dari Kristal. Si bungsu membusungkan dada dengan jumawa. Ia mendecih pada dua Kakaknya seolah lepas mendapatkan medali emas.

“Apa kabar Nining yang sesehari berasa uji mental” Jake menggeleng “munafik banget lu, dasar perundung”

“Hati-hati moncongmu, Rose. Nining itu kudu bersyukur karena mungkin aja dalam hidup dia, cuma gua yang bisa nasehatin penampilan dan cara dia mandi. Lu kudu nyoba seharian duduk berdua sama Nining. Keringetaaaaaan terus.. Abis itu mukanya luntur putih kayak berudul gitu. Komedonya segede-gede kebo. Tiap panas pada keluar. Abis itu jilbabnya ya Allah… kadang itu lecek banget, kadang bau pesing. Kadang bau keringet aneh. Sesekali bau baju yang dijemur nggak garing” 

“Terdengar mengerikan” Edgar menatapnya iba.

“Oke, kesampingkan Nining” Kristal kembali ke barisan “jadi spill, lu pengen apa?”

“Pengen sekolah… gua pengen jadi anak SMA.. bisa nggak? Gua senang liat anak sekolah pas pada balik gerombolan dan nyerbu dimsum. Gua pengen punya banyak teman kayak gitu..” permintaan Daniel membuat gadis itu menjeda. Kristal terlihat berpikir.

“Jangan mikir keras, please jangan pusing… no no.. nggak boleh pusing..” Edgar langsung memeluknya. Jika sudah melihat dahi Kristal mengerut, apalagi memijat dahi, tandanya gadis itu akan kembali tidur. Pun yang paling berpengaruh adalah stress.

“Akan gua pikirkan. Tapi mungkin masuk ajaran baru tahun ini sekitar dua atau tiga bulan lagi. Lu akan gua masukin sekolah negeri yang peraturannya gak ketat asal bisa gua sogok uang tanpa banyak komen tentang data palsu yang akan gua bikin” Kristal akhirnya mengangguk–ia setuju dengan idenya sendiri “lagi pula buat jadi ajang lu belajar dan berteman sama manusia. Cuma ingat pesan gua, apalagi lu berteman sama bocah. Kudu hati-hati banget. Lu paham lah, gua nggak akan ceramah berulang-ulang. Gua percaya sama lu” gadis itu melepas rangkulan Edgar lalu menepuk pundak si bungsu “akan gua usahakan, gua janji”

Daniel lompat kegirangan. Ia memukul-mukul udara ke atas sambil bersuara keras saking senangnya. Kebahagiaannya menulari.

Kemudian mereka berlari. Daniel menggendong Jake di depan. Edgar dan Kristal menggunakan traffic cone seperti dua orang buta yang saling menguatkan.

“Yang kalah harus nyium jilbab Nining besok!!”

Kata-katanya sendiri membuat langkahnya makin lebar. Jake terkekeh di gendongan sementara Edgar berjongkok dan meminta gadis itu untuk naik ke punggungnya.

“Naik yang, buru!!! Buruan si itil kelamaan! Kita nggak boleh cium jilbab Nining, cepetan!!!!” 

Kristal terbahak-bahak dalam gendongan. Di depan, Daniel menyandung batu dan keduanya terpental sampai masuk got. Edgar tidak kuat karena tertawa. Pria itu akhirnya menurunkan Kristal untuk terbahak-bahak memegangi perut. Pun, Kristal sampai mengeluarkan air mata karena tawa.

Jake bangun duluan. Dari kepala sampai kakinya hitam. Aromanya sangat bau menyengat. Saat nyengir, hanya giginya saja yang terlihat. Lalu Daniel menyusul di belakang. Mereka berdua sama-sama nyengir. Kristal dan Edgar tertawa hingga hampir meninggal.

Tidak terima ditertawakan, dua pemuda itu berlari akan mengejar Edgar dan Kristal. 

Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang…

Di hutan nggak senang, di Jakarta senang, di mansion Kristal aku paling senang..

Lalalalalallalal lalalallalalal lalalalalalalal

Ke empatnya bernyanyi sambil berdansa menuju jalan pulang dalam kondisi bau, kotor dan menjijikan.