PISODE 87 (SINU LOGAN KRISTAL)

Gadis itu menyepak bokong Daniel berulang-ulang saat mereka turun dari mobil di depan. Sudah makan meski itu sempurna ide Daniel agar gadis itu memiliki energi untuk memarahi. Sungguh, si bungsu lebih baik mendengar Kristal marah–mengoceh panjang lebar ketimbang diam dengan wajah pucat dan lemas. Dan benar saja. Setelah isi daya, gadis itu merocos seperti petasan—merepet.

Di marahi, jangan berharap banyak untuk di dengarkan. Pria bertubuh besar itu malah menghitung tiap per kata yang dilontarkan Kristal. Menghitung berapa kali kaki gadis itu mendarat di bokongnya. Atau berapa kali ia di cubit di lengan. Serius, Daniel menghitungnya meski tak yakin akan akurat.

“Lu udah ngoceh 15 ribu kata. Itu cukup untuk jadi cerpen” Daniel berhenti tepat di ruang tamu “lu nyepak pantat gua 20 kali, nyubit 8 kali dan jambak rambut gua 2 kali” jari-jarinya terangkat—khas orang menghitung “sekarang kiss” katanya, ia nyengir lebar jelas tak ada rasa sesal di wajah itu.

Kristal mengeluarkan pedang lipatnya tatkala kejengkelan sampai ubun-ubun. Ia acungkan benda itu tinggi-tinggi.

“Woy!! Oke.. oke… maaf yang mulia.. Ampun.. Lagi malas ke tempat Samuel walau gua masih ada kontrak kerja sampe masuk sekolah biar dibeliin Ducati. Mau bobo-an aja.. Jangan tebas. Mending tebas pacar lu noh, dia bisa ganti kepala”  Daniel membekukan pedang, lalu mengangkat Kristal dalam gendongan. Ia terpingkal-pingkal saat tubuh digendongannya menggeliat meminta turun.

“Beneran gua belah pala anak ini, anak setan!! Brengsek!!” dada Daniel dipukul meski Kristal seperti memukuli dinding—dimana tangannya sendiri yang sakit.

Lalu gadis itu diturunkan di anak tangga pertama. Es membekukan kaki tiba-tiba sementara Daniel lari terbirit-birit masuk ke kamarnya dengan tawa yang membahana.

Kristal bersumpah akan menebas kepala pria itu jika tertangkap. 

Bersamaan dengan menghilangnya eksistensi si bungsu, dari atas, Sinu turun dengan wajah lega. Sungguh, seperti bisul pecah yang membuatnya tak enak—serba salah, kini lega.

Senyumnya sampai mata. Air mengaliri kaki dan beku itu mencair dengan hangat tanpa meninggalkan basah. Pria itu tiba-tiba mengajaknya bersalaman.

“Terima kasih” katanya pelan. Ia juga hampir menepuk pundak gadis  itu sebelum bunyi gaduh menyusul dari atas.

Seharusnya Jake pergi kerja.

Tapi pria itu malah sibuk berlari tunggang langgang sementara kepingan es membentuk runcing tipis melayang mengikuti geraknya yang secepat kilat. Baru kembali dan mengatakan tentang istirahat, nyatanya, Daniel sudah kembali keluar hanya mengenakan bokser pendek.

JLEB!!! 

Satu es runcing menembus paha Jake. Lalu disusul serangan yang lain. Pria itu tumbang ke lantai dengan darah merah berceceran. Daniel terbahak-bahak—mulai memasukkan ular yang entah di dapat dari mana ke dalam celana kakaknya. Pemandangan seperti itu adalah hal lumrah. Sinu menanggung semua biaya perbaikan jika ada yang rusak.

“Gua kudu istirahat, kepala gua sakit” mata gadis itu berpindah-pindah dari Jake ke Daniel–begitu berulang-ulang. Lalu Kristal memijat dahinya. 

Agak lama, kepalanya terasa berat khas seperti gejala biasa. Lalu,  tanpa aba-aba, gadis itu jatuh tersungkur dekat Jake begitu saja.

Ketiga pria itu kaget, saling pandang. Si gadis  baru saja tersadar kurang dari enam jam dan sekarang sudah kembali tidur. Makin lama, Kristal akan semakin menghilang.

Sinu buru-buru menelepon Logan. Sepertinya tidak ada perbedaan untuk menunda sampai malam jika Kristal tertidur dari sekarang.

“Dia kecapean itu, stress juga mikirin Daniel” Jake masih sempat berkomentar meski ular membelit penisnya di dalam celana. Pria itu meringis.

“Jangan bawa-bawa gua, nanti si jablay denger. Anak itu psikopat”

Mereka masih berseteru sementara Sinu membawa gadis itu ke kamarnya setelah menelpon Logan—dan Logan tidak menjawab banyak kecuali ‘hem’ satu kali lalu mematikan panggilan.

“Jangan kasih tahu Edgar. Nanti pasti marah-marah” Sinu mengatakan hal sama dengan si bungsu. Lalu menghilang ditelan anak tangga.

Darah Kristal di hisap, tangannya sendiri digigit—menyatukan tangan dengan Kakaknya lalu diikat kencang menggunakan dasi. Si gadis terbaring ditengah dengan damai semetara di atas perutnya dua tangan yang saling menjabat dibebat dengan kencang. Tidak akan lepas.

Dalam kurun setengah menit, mata pria itu bergejolak kehijauan. Masuk ia tersedot dalam ruang yang terdistorsi. Dilahap—tersedot dan…berganti ruang.

“Waktu kita cuma satu jam, setelah itu bakal balik otomatis” Logan berbisik pada Kakaknya. Sinu tak menjawab. Si sulung sibuk mengedarkan pandangan pada dunia yang baru ia lihat pertama kali meski rasanya tidak asing. Namun matanya tak pernah melihat yang seperti ini.

Bukan kastil seperti kemarin bersama Edgar. Juga bukan bukit dan lembah macam ia pertama kali datang. Tanah yang di pijaki adalah hamparan padang rumput yang luas. Warnanya hijau menyejukkan mata dengan angin kencang yang bertiup dari barat daya—membuat rambut naik—memperlihatkan dahi.

Mereka berdiri di bawah pohon Ek dengan cabang melebar dan akar yang tak kalah besar dengan pohon itu sendiri. Berdiri di bawahnya sungguh sejuk. Merebah sedikit saja, Logan yakin akan tertidur. Meski sejak tadi ada yang mengganggu pemandangan itu. Sangat tinggi dan abnormal.

Tentu saja ide bagus sebelum mereka melangkah sedikit lagi. Agak menurun. Apa yang sejak tadi mengganggu pemandangan, akhirnya terlihat sempurna.

Di sana, sosok yang di cari berdiri menggunakan gaun hitam. Tak lupa pedang dengan bilah yang berkilau—menampakkan ketajaman yang keji. Berdiri ia menghadap satu makhluk besar dengan jenis yang tidak diketahui baik oleh Sinu maupun Logan. 

Makhluk itu mungkin saja binatang. Bentuknya reptil raksasa—sangat besar mirip dinosaurus yang terpapar radiasi nuklir. Memiliki napas atom biru dan sangat tinggi, setara gedung pencakar langit di Jakarta. 

Logan mendelik, Sinu berdehem. 

“Kita liat aja sampe lima belas menit. Syukur-syukur makhluk itu bisa matiin Kristal” ujar Sinu enteng. Sementara Logan mendelik.

“Kalau Kristal yang lu lihat sekarang mati, gua jamin abis ini…” Logan menarik napas “semua dataran ini bakal jadi lautan darah vampir, siluman, manusia serigala, manusia, dan semua entitas yang tinggal” tak dapat membayangkan sekacau apa tanah ini jika gadis yang memegang pedang itu kalah.

“Bukan urusan kita. Tujuan gua kesini matiin Dewi itu, terus pulang dan melanjutkan hidup” itu terdengar nirempati, kejam, dan tidak berhati. Namun barangkali Logan memang baru agak dekat dengan Kakaknya belakang ini berkat Kristal. Mempelajari sedikit-sedikit tabiat pria itu meski meraba-raba.

Sinu adalah makhluk yang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Apalagi menyangkut kepentingan banyak pihak alias keluarganya, hidupnya, serta rasa aman dan kenyamanan. Maka, jika satu tujuan garis lurus memiliki dua benang, maka hanya perlu memutus satu benang yang mengganggu tanpa peduli dampak dari putusan itu sendiri. Sinu seperti itu.

Namun tunggu sebentar.

Di belakang makhluk besar itu, ada seorang anak laki-laki membawa keranjang berisi kain tenun yang akan dibawa ke Pasar. Seorang anak berusia delapan tahun dengan luka kecil-kecil di wajah dan kaki. Tangannya nyaris putus dan ia duduk diam tanpa isak, namun matanya berair memandangi pertempuran di depannya.

Sungguh, baik Sinu maupun Logan dapat mendengar suara anak itu bergumam.

“Demi nyawaku, demi ibuku, demi adik-adikku.. Mohon pada Dewa dan Dewi dari langit dan bumi, dari Tuhan semesta alam. Musnahkanlah pengkhianat, selamatkanlah Dewi.. lindungilah.. Lindungilah, musnahlah yang jahat, matilah yang kejam.. Damailah daratan.. Terberkatilah Dewi-ku..”

Pria itu tertegun.

Ada sekelebat ingatan menjengkelkan saat ia melihat bocah itu. Seakan merefleksikan diri pada sosok kecil yang terkulai tanpa berani mengatakan takut, tanpa bisa bilang tidak, dan tanpa diberi kesempatan untuk menangis keras. Seolah apapun yang terjadi, semuanya harus bisa ditaklukan.

Perhatian keduanya teralihkan dari bocah itu, pada makhluk besar yang tiba-tiba meraung.

Makhluk itu meraung.

Suara raungannya menyapu seluruh padang rumput hingga kawanan burung beterbangan panik dari hutan-hutan jauh. Energi biru yang asing mulai menyala di sela-sela duri punggungnya, membakar udara di sekitarnya.

Meraung sekali lagi, namun kali ini dibarengi—menembakkan semburan energi biru yang membelah dataran. Sang Dewi langsung menerjang lurus ke depan. Energi ilahi meledak dari tubuhnya, membentuk lapisan cahaya gelap di sekelilingnya saat ia menahan hantaman itu sambil terus berlari.

Tanah di bawah kakinya hancur.

Sesaat kemudian, ia melompat tinggi dan menebaskan pedangnya tepat ke leher makhluk itu. Dentuman keras menggema ketika sisik hitam raksasa itu terbelah sebagian. Darah panas menyembur ke padang rumput.

Namun makhluk itu membalas.

Ekor raksasanya menghantam tubuh Dewi hingga terpental jauh menembus bukit batu. Tulang rusuknya patah seketika. Darah mengalir dari sudut bibirnya, tetapi tubuhnya mulai beregenerasi perlahan, menyatukan tulang dan daging yang rusak.

Lalu bangkit lagi dengan cara yang lebih lincah.

Pertarungan berubah brutal.

Dewi itu bergerak cepat seperti bayangan hitam di antara ledakan dan reruntuhan tanah. Pedangnya menebas berkali-kali, menghancurkan sisik demi sisik, sementara kekuatan ilahinya menghantam tubuh makhluk itu dengan ledakan cahaya yang memekakkan telinga.

Tetapi ia juga terus terluka.

Cakar raksasa merobek bahunya hingga dagingnya terbuka lebar. Semburan energi membakar sisi tubuhnya sampai hangus. Sekali hantaman hampir membuat lengannya putus. Regenerasinya bekerja keras menutup luka-luka itu, tetapi tubuhnya mulai melemah.

Makhluk itu pun sama hancurnya.

Raungannya terdengar lebih berat. Cahaya biru di tubuhnya mulai berkedip tidak stabil. Namun monster itu tetap menyerang membabi buta, mencoba menghancurkan Dewi bersama seluruh padang rumput.

Sang Dewi meludah darah ke tanah lalu menggenggam pedangnya lebih erat.

Energi hitam-keemasan mulai menyelimuti bilah pedangnya. Angin di seluruh dataran berputar liar mengelilinginya. Untuk pertama kalinya, wajah makhluk itu tampak goyah.

Lalu Dewi itu menyerbu.

Ia menerobos semburan energi terakhir makhluk itu meski kulitnya terbakar dan tubuhnya nyaris hancur. Dalam satu gerakan cepat, ia melompat tinggi lalu menurunkan pedangnya dengan seluruh kekuatan ilahi yang tersisa.

Pedang itu menembus dada makhluk tersebut.

Ledakan besar mengguncang padang rumput. Cahaya biru pecah ke segala arah sebelum tubuh raksasa itu akhirnya roboh perlahan ke tanah dibarengi debam keras.

Hening.

Sunyi.

Hanya suara angin yang tersisa.

Sementara di tengah rumput yang hangus, sang Dewi berdiri sempoyongan dengan tubuh penuh luka dan darah hitam-keemasan menetes dari tangannya. Pedangnya masih tergenggam erat.

Ia menang.

Tetapi sedikit lagi, perang itu akan membunuhnya juga. Kekuatannya menjadi tak maksimal setelah pertempurannya yang terakhir dengan pengkhianat dari kalangannya sendiri. Belum lagi mimpi aneh dan jam tidurnya yang benar-benar tidak bisa diprediksi. Namun ia tak sudi pergi ke tabib di khayangan. Sedikit saja berita tentangnya yang terluka dan mengalami penurunan kekuatan pasca koma tersebar, maka, para pengkhianat akan mengatur strategi dengan menyatukan kekuatan dari segala penjuru negeri untuk membunuhnya. 

Itu terburuk. Dunia itu akan hancur.

“Kau baik-baik saja?” tanya sang Dewi. luka-luka menutup namun lambat. Ia duduk di hadapan bocah itu, lalu mengusap tangan bocah yang terluka sambil memejamkan mata—membaca mantra. Tangan si bocah sembuh dengan luka yang menutup perlahan, sepelan lukanya sendiri yang berusaha semaksimalnya.

“Mau kuantar ke pasar? Maaf datang terlambat” Dewi itu mengusap kepala si bocah. Lalu dengan mendadak, anak itu memeluknya. Mendusal ia pada dekapan sambil menangis tersedu-sedu.


“Kumohon, berumur panjanglah.. Aku akan memberikan jiwaku pada sang Dewi yang agung pelindung tanah ini.. Kumohon tetaplah hidup..” isak itu memilukan. Namun sang Dewi tersenyum dengan wajah yang perlahan kembali tanpa luka.

“Aku akan berumur panjang untuk melihatmu tumbuh dan menjadi vampir keren yang juga bisa melindungi keluargamu, serta tanah ini. Berjanjilah kau akan jadi pria kuat yang tak akan tumbang hanya karena gigitan serangga. Aku melihat potensimu, sungguh”

Lalu anak itu memberikan kain tenun.

“Untukmu”

“Aku tidak membawa uang” kata sang Dewi.

“Aku memberimu, aku akan bekerja keras mencari tambahan untuk menutupi pembayaran kain ini pada ibuku”

Sang Dewi menerimanya dengan sukacita. “Aku berjanji bila kita bertemu lagi, aku akan membayarmu.”

“Akan lebih senang saat kita bertemu lagi, kau menggunakan kain itu”

Sang Dewi tersenyum, lalu membantu anak itu berdiri. Sementara Logan dan Sinu sejak tadi menyimak hanya menggaruk pelipis berbarengan.

“Emang kalau Dewi gitu, boleh ngutang, ya?” Logan berbisik pada Kakaknya “Dewi kalau mau perang misal lagi rebahan, buru-buru pake baju nggak bawa uang?” pria itu tertawa. Sinu berdehem dan memberi isyarat agar adiknya diam.

Masih menyaksikan hingga si bocah pergi. Dua pria itu akhirnya mendekati satu-satunya gadis dengan pendar redup yang merubungi tubuhnya. Kendati begitu, pancaran keilahilan malah semakin menyala-nyala. Aura yang dibawa begitu aman dan damai.

Nyaris.

Pedang itu nyaris menebas kepala dan kedua pemuda itu sigap menyingkir.

“Kau lagi?” sang Dewi berbalik dengan pedang teracung. Matanya menatap Logan. “Aku tidak akan menyerahkan nyawaku cuma-cuma jadi berhenti datang dan meminta hal gila. Pergilah, atau aku akan menyeretmu ke penjara”

Namun tanpa aba-aba, Sinu membuat pusaran air maha dahsyat yang berisi runcing-runcing tajam—kemudian menyerang sang Dewi tanpa tedeng aling-aling. Itu juga membuat Logan kaget luar biasa.

Serangan dadakan itu ditepis mudah menggunakan pedang. Vampir tertua terus menyerang, ia melangkah cepat mendekati sang Dewi sementara yang di serang, mundur menangkis.

Logan menelan ludah susah payah.

Kakaknya memang luar biasa. 

“Kau bukan pengkhianat, tapi karena kau menyerangku, aku akan balik menyerangmu” kata perempuan itu. Air tiba-tiba berbalik menyerang dan Sinu terpental hingga nyaris lima ratus meter ke belakang. Disusul desau angin tajam yang sengaja diserang pada lengan pria itu. Sinu terluka serius di bagian sepanjang lengan. Darahnya berwarna putih menetes-netes “pengendali seluruh cairan” sang Dewi bergumam, lantas ia menyerang seperti angin, mengambil darah Sinu dan menelannya cepat-cepat.

Setelah itu, seluruh tubuh pria itu di bawah kendali sang Dewi.

“Bagaimana?” kata wajah Kristal—mendekat, mengacungkan pedang pada pria yang terduduk di atas rumput dengan dua tangan menyangga tubuh. “Aku bisa membunuhmu jika aku meremas jantungmu sekarang. Darahmu ada di bawah kendaliku dan kau tidak mampu beregenerasi” kata-kata itu telak. Namun bukan Sinu namanya jika tak punya solusi.

Pria itu lalu tergeletak.

“Bunuh aku sekarang”

Benar, yang ia butuhkan adalah darah sang Dewi, maka, setelah itu mereka bisa imbang–meski mustahil imbang. Kekuatan sang Dewi bukan sembarangan. Apalagi yang diciptakan memang untuk menumpas kejahatan. 

Sang Dewi mendekat. Ia acungkan pedang tepat di jantung pria itu. Namun dari belakang, Logan memecahkan kepala sang Dewi dengan kekuatan dalam.

Tidak pecah, namun membuat sakit kepala dahsyat hingga perempuan itu terhuyung. Ia tak jadi membunuh Sinu melanikan doyong. Dan kesempatan itu dimanfaatkan Sinu untuk menusuk sang Dewi untuk ia ambil darah.

Pedang teracung tinggi. Sedikit lagi.

Hampir melukai.

Namun tiba-tiba pandangannya kabur. Sinu mengucek mata.

Ia melihat seluruh padang rumput menjadi sesuatu yang mengambang—mengapung nyaris seperti mimpi.

Logan menjadi transparan kecuali sang Dewi yang tetap utuh. Dunia yang ia lihat menjadi ruang yang aneh, seperti berada dalam plastik bening raksasa tak jelas.

Sang Dewi yang telah pulih, kemudian kembali memegang pedang dan memutus benang yang menghubungkan tangan Logan dan Sinu. Lalu keduanya terputus. Logan kembali ke dunia manusia dan Sinu tinggal.

Lalu semuanya gelap. Sinu pingsan.

Sementara di dunia yang lain.

Lyn terkekeh setelah melepas dasi dan ikatan tangan Logan dan Sinu dari atas tubuh Kristal. Gadis itu lari keluar dan kembali ke kamar sementara Logan membuka mata.

Ia panik melihat tangannya terlepas dan alasan ia kembali sementara Kakaknya  tertinggal dengan bentuk yang semakin kabur dan aneh.

“Sial!!! Kek mana abang gua!!!!” Logan bangkit dan berjalan mondar-mandir karena panik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *