
“Halo” katanya ramah. Gadis itu terlihat cantik. Sungguh—maksudnya normal seperti Isabella, Lyn, atau Kristal. Cantik. Daniel mengkategorikannya begitu. Dan diam-diam pria itu membuat hierarki kecantikan di kepalanya, lalu mengurutkannya secara suka-suka.
Namanya Izi. Tingginya hanya sedada. Rambutnya dicepol ke belakang terlihat rapi. Paling penting, wangi. Deret gigi rapi putih bersih dan cara bicaranya sangat lembut, pelan, dan sopan. Daniel paling suka yang seperti itu meski Kristal masih menduduki peringkat pertama; wanita yang akan ia nikahi jika Edgar menjadi gay atau mati.
“Adiknya Pak Samuel? Kata beliau, yang mau bantu-bantu angkat kakek-kakek yang susah masuk. Mau minum kopi dulu?” tawarnya sopan. Daniel menggeleng dengan senyum naik tinggi. Matanya tak lepas dari manik Izi yang berbinar.
“Gawat… gua jatuh cinta sama gadis ini..” itu gumaman yang sebetulnya terjadi tiap ia melihat gadis cantik. Siapa saja. Bahkan orang random di jalan. Daniel mudah jatuh cinta pada yang indah-indah. “Kamu udah punya pacar belum?” si bungsu memasukkan dua tangan ke dalam saku belakang dengan mata yang jelas menggoda. Sementara reaksi si gadis adalah menukik dua alis.
“Ah! Itu, Kakek-kakek itu mau masuk tapi sulit. Dia kesini sama anak perempuannya” mengalihkan, Izi menunjuk satu pasien dengan nomor urut yang tertera “tolong angkatin masuk, biar cepet gantian sama yang lain”
Daniel membalik tubuh. Kakek-kakek menggunakan kursi roda. Rambutnya putih nyaris menyeluruh dengan kerutan di dahi yang berlipat-lipat.
“Oke” katanya. Pria itu lantas mendekat pada pasien. Ia berjongkok di hadapan lalu tersenyum “Kakek usianya berapa?” tanyanya, basa-basi yang benar-benar tidak perlu. Si Kakek menjawab dengan jari.
Menunjukkan 7 jari.
“Nggak bisa ngomong emang?”
Si Kakek menggeleng.
“Coba teriak, kontooooooool gitu.. Coba dulu.. Ikhtiar..” ocehan pria itu mendapat atensi serius dari semua pasien. Dasarnya kondisi hening yang hanya suara batuk dan dehem mendominasi ruang. Diperparah wajah satpam yang galak. Maka, suara Daniel benar-benar terdengar semua orang.
Benar, wajah satpam itu galak. Ia mendelik pada Daniel dengan cara paling menyeramkan. Lebih seram dari Logan atau Kristal ketika jengkel. Maka, ia berdehem dan langsung menggendong si Kakek masuk ke ruangan Kakaknya.

Si Kakek di geletakkan asal saja di ubin. Daniel mendekat pada Kakaknya yang duduk di balik meja bersama lebaran kertas yang terlihat berserakan. Si bungsu mendekat.
“Nulis apa lu? Gambar kemaluan?” ia menarik kertas di bawah tangan Kakaknya. Sementara satu Kakek yang direbahkan begitu saja—melambai-lambaikan tangan mengemis perhatian.
“Angkat dulu Kakek itu ke kursi” pinta Samuel.
“Kursi mana?”
“Tuuuu” Samuel menunjuknya dengan moncong yang di manyunkan. Daniel menurunkan kertas yang isinya bacaan yang gagal dimengerti, lalu kembali mengangkat si Kakek sebelum merebahkannya pada kursi pasien gigi.
Lalu ia mendekat pada pasiennya. Berdiri di sisi dengan senyum cerah dan lesung pipi dangkal. Rambutnya yang plontos membuat pria itu terlihat mirip orang cerdas.
“Apa yang sakit?” tanyanya. Masih ramah.
Kakek itu menunjuk tenggorokkan lalu membuat isyarat bahwa ia tidak bisa bicara. “Ah.. nggak bisa ngomong, ya?” kata Samuel manja. Lalu ia mencolek pipi si Kakek sekilas—sebelum mengusap tenggorokan itu pelan. Dalam kurun waktu kurang dari satu menit, si Kakek sudah bisa berdehem.
“Coba bicara” kata Samuel.
“Tes, tes, tes” matanya mendelik kaget “wah! Wah! Ajaib!” si Kakek berseru girang, lalu ia menatap Samuel dengan binar yang takjub “kalau saya minta sembuhin kaki juga, bisa nggak?”
“Bisa, bisa banget. Sembuhin bicara dan kaki harganya 2 miliar” angka itu berhasil membungkam si Kakek. Ia mendelik.
“Ah… nanti lagi, saya kumpulin uang lagi, nanti baru balik ke sini”
“Bisa tebus obat di bagian resepsionis ya, Kek” lalu Samuel meminta adiknya kembali mengangkat si Kakek keluar.
“Obatnya isi apa lu?” Daniel kembali melongok di depan pintu sebelum akan menggendong pasien yang lain.
“Cucian beras campur pewarna makanan”
Begitu juga dengan biaya. Samuel akan mematok tarif sesuai suasana hati dan angka yang terlintas di kepala. Maka, di banding siapapun, dari keenam saudaranya, Samuel adalah orang yang paling banyak uang. Dan pria itu meminta Kristal untuk mengajari cara mengatur uang.
🐾🐾🐾🐾
Jauh bersama pikiran stress yang mengganggunya. Bedanya, Kristal mengalami tidur di waktu yang bisa dikatakan normal meski tidak normal. Sudah tiga hari ia terlelap pukul enam sore, lalu terbangun tepat pukul enam pagi. Bedanya, kali ini tanpa mimpi. Sejak Logan mengatakan ia datang berkunjung, Kristal tak lagi mengalami mimpi. Ia hanya tidur. Tidur seperti orang mati.
Itu alasan Logan tak kembali–yang sebelumnya terus di ocehakan—turut akan mengajak Edgar.
Sekarang, gadis itu sibuk.
Bukan, namun kewalahan.
Dua sulur ungu memenjara tangannya—menempel pada belakang sofa. Dua pahanya terbuka lebar—mengangkang. Kepala Edgar ada di bawah—diantara selangkangannya yang terpampang jelas.
Stimulasi yang diberikan berulang-ulang. Gadis itu mengerang keras-keras. Dadanya naik turun, ujung kakinya menegang dengan kepalanya yang menengadah ke atas–menatap plafon kamar yang itu-itu saja.
“Y-yang.. Hngghh!!! Jangan di situ.. Gua mau pipis..” ingin menggeliat, namun sulur itu mengukungnya kokoh. Gadis itu hanya bisa berpasrah dengan rintihan putus-putus ketika kekasihnya di bawah sana terus mengulum kelentit lalu bergerak naik turun. Sesekali ujung lidahnya mengetuk-ngetuk lubang di bawah. Kristal meminta berhenti meski jelas tak akan didengar. Sudah dua kali ia orgasme, namun Edgar tak kunjung melepaskan lidahnya dari vaginanya.
“Yang.. gua capek..” itu juga sudah di katakan berkali-kali. Namun satu hisapan lagi, gadis itu mendelik dengan kejang kecil-kecil yang menyusul. Rasanya seperti dunia berputar-putar sementara ia terbang di antara bintang-bintang. Lalu mengapung dengan cara paling menyenangkan.
Baru Edgar berhenti.
“Capek?” tanyanya. Padahal terlambat. Kristal menutup matanya. Peluh menetes turun sampai dada yang masih tertutup blouse. Pria itu akhirnya melepaskan sulur dan tubuh Kristal ambruk.
Ia mengangkat tubuh itu kembali ke pangkuan. Mengecupi wajah yang terkulai lemah.
“Jangan tidur, please jangan tidur..” masih, Edgar menciumi masih di tempat yang itu-itu lagi. Kepala Kristal seperti akan jatuh, matanya terbuka.
“Kaki gua lemes, gua gak bisa jalan” katanya serak. Edgar Tertawa.
“Masukin titit gua, ya? Gua janji nggak akan dua jam”
Si gadis menggeleng keras–keras “tunggu gua lebih kuat sedikit lagi. Nanti, pas umur gua dua lima, empat bulan lagi. Kalau dua empat itu masih kecil, dua lima dewasa” gadis itu terkekeh dengan ocehannya sendiri.
“Ngoceh apa si..” Edgar mendusal pada ceruk, menghirup aroma gadis itu dalam-dalam “sayang banget gua.. Cinta banget.. Gimana gua bisa menggambarkan ini? Gimana gua meyakinkan seluruh dunia bahwa gua mencintai lu. Gua memikirkan banyak hal tentang sesuatu di lapisan dunia lain”
“Kayak apa?” Kristal mendongak saat lehernya kembali di jilati.
“Kayaknya gua akan mengawaini Dewi atau setan apapun itu asal itu elu. Asal ada lu nya”
“Tadi lu bilang nggak mau, pusing pala gua”
“Kapan gua bilang nggak mau?” tangannya naik ke dada, meremas gundukkan di sana perlahan “tapi sebenarnya kalau gua pikir-pikir lagi, sama aja kali. Asal muka lu. Paling gua cuma effort ngejar kalau lu nggak suka gua”
“Bayangin kalau gua suka sama hantu di sana. Atau entitas lain sementara kekuatan kita timpang gedean gua, mampus”
“Gua matiin semua rival. Terserah itu setan atau bajingan siapapun. Gua akan memohon dengan cara paling menyedihkan sambil menebar pesona. Lu tetap lu. Yakin” terdengar nada kepercayaan diri yang utuh. Kalimat-kalimat sejenis yang membuat gadis itu merasa lega. Sungguh. Karena sejatinya tubuhnya memang harusnya sudah mati. Kristal bersyukur pada tiap tarikan napas. Pada matanya yang masih segar, pada tubuhnya yang sehat. Meski intensitas tidurnya semakin meningkat.
Tangan pria itu turun, kembali meraba pada daging lembut yang sejak satu jam lalu habis ia lumat.
“Udahan geh.. Mau sampe mana.. Capek gua..” gadis itu meringis. Ujung jari pria itu bergerak naik turun. Perlahan.. Lembut, pelan.
“Sebentar lagi.. Gua suka” pria itu mendongak, menjilati telinga lalu tangannya di bawah menekan-nekan pada permukaan labia. Satu dua tiga.
Kristal meremas rambut belakang pria itu. Satu jari tengah tenggelam sampai pangkal.
“Anget banget.. Sial” Edgar bergumam, ia memagut bibir gadisnya buru-buru. Melumatnya seperti ia melumat bawah yang becek sebelumnya. Jarinya keluar masuk perlahan, lembut, teratur dan terukur. Si gadis merengek dalam ciuman sementara lubangnya semakin basah.
“Lu mau kerja.. Udahan please…” kata-kata itu tertahan di langit-langit mulut. Di antara sela yang di curi-curi. Pada cecapan yang semakin dalam, makin gusar dan resah. Edgar lantas mengeluarkan jarinya, dikulum jari yang basah buru-buru hingga habis dalam mulutnya. Pria itu lalu mengeluarkan penisnya–hanya membuka resleting.
Ia memposisikan Kristal dengan membalik si gadis agar duduk di pangkuan—membelakangi. Dua pahanya membelah—mengangkangi paha pria itu. Edgar menggesek penisnya tepat di bawah bibir becek yang merekah.
Menggesek. Lalu paha Kristal dirapatkan hingga menjepit penisnya.
Dilumasi cairan vagina, diapit dua paha. Pria itu mendesah di belakang. Penisnya naik turun.
“Yang… sial, enak banget.. Bangsat..” pria itu seperti akan hilang akal. Ia hentak pinggulnya kuat-kuat. Kristal dapat merasakan batang pria itu sangat keras di antara jepitan pahanya. Maju mundur, terlihat menyembul dengan ujung lubang kencing yang merekah juga. Suara Edgar di belakang membuatnya merinding. Pria itu menggeram seperti binatang buas.
Dua jam.
Pria itu sempat mengoceh tentang dua jam karena pengalaman oral seksual dengan waktu diantara itu. Namun tidak menduga jika jepitan paha kecil Kristal–kemudian diberi pelumas alami dari vagina si gadis—mampu membuatnya ejakulasi puluhan kali lebih cepat. Namun pada dasarnya pria itu telah ereksi dalam waktu panjang.
Batang itu berkedut-kedut di kulit. Geraman makin besar, napas Edgar memburu di belakang. Dua tangan pria itu memegang pinggul Kristal kuat, seirama dengan penisnya yang semakin cepat.
Dalam interval kurang dari sepuluh menit, ujung itu menyemburkan cairan klimaks yang tumpah ke paha dan mengotori perut si gadis. Berkedut-kedut sambil memuntahkan cairan panas yang meleleh. Kristal menyekanya perlahan sementara Edgar menyandarkan punggung ke belakang sofa.
“Sini peluk, sayang” Edgar menarik gadisnya, mereka menempel lebih intim. Sambil menciumi seluruh wajah “gua bersumpah, seseorang dengan wajah ini akan masukin penis gua duluan”
Kristal tertawa “gua akan.. Gua akan, gua bersumpah..”
🐾🐾🐾🐾
Katanya jam makan siang. Meski Daniel tidak tahu apa yang harus di makan. Makannya sehari sekali dan ia tidak akan lapar dalam 48 jam. Maka, saat semua orang makan, pria itu keluar dari klinik. Hanya mondar-mandir di depan tanpa tujuan. Matahari menyengat panas, namun tampaknya tak berpengaruh.
Pedagang kaki lima berjajar. Menawarkan berbagai minuman yang terlihat menggugah selera. Sambil merogoh saku, si bungsu mendekat pada salah satunya—rencananya ingin membelikan Izi es, lalu mengajak gadis itu berkencan tanpa basa-basi.
Ia menyeberang.
Sebenarnya menyeberang bukan hal sulit. Tapi anehnya, Daniel selalu saja di hadapkan kebetulan bajingan—dimana selalu ada kendaraan yang melaju kencang. Padahal, matanya sudah memastikan tak ada lagi yang akan lewat dalam kurun sepuluh detik, namun secara ajaib mereka datang dengan kecepatan yang—mestinya bisa dikategorikan kriminal.
Sedan mewah nyaris menabraknya.
Bunyi rem diinjak keras mendecit—menyita perhatian seluruh pasang mata di bawah terik matahari tengah hari. Lalu disusul klakson.
Hampir saja.
Bagian depan mobil menyentuh baggy jeans milik Daniel. Hanya perlu sedikit lagi untuk membuat tubuhnya terpental, atau kemungkinan terburuk—terlindas hingga gepeng. Namun setelah kesialan, orang-orang masih menyebutnya ‘untung’ meski tidak tahu bagian mana yang untung.
Benar, Daniel mendengar hela napas lega dari orang-orang di seberang lalu kata ‘untung’ yang diulang-ulang.
Seseorang menyembul dari kaca mobil. Matanya mendelik—sepertinya.
“Lu mau mati, ya? Nyebrang pake mata, tolol! Stress lu ya?” seorang gadis. Matanya sipit seperti milik Logan. Rambutnya hitam legam dengan poni yang terpisah saat tertiup angin. Kalungnya menggantung berwarna perak—berkilau di bawah sinar matahari. Daniel menatapnya agak lama.
Tidak, sebenarnya ia sedang mengklasifikasikan—pada hierarki yang sudah ada dalam daftar terpisah berbentuk file dalam otaknya.
Cantik.
TIN!!! TINNN!!!!
“Woy! Minggir! Orgil” Daniel kaget. Ia kembali ditarik pada kenyataan bahwa siang itu panas, ia menggunakan pakaian serba panjang dan sekarang badannya bermandikan keringat. Maka, pria itu mendekat pada kaca mobil—tempat si gadis meneriakinya.
“Gua hampir ketabrak tau, kalau gua terluka, lu gua bekuin sampe tulang” Daniel bersedekap. Ia memandangi mobil itu, sebelum tatapannya berlabuh pada manik si gadis. Dan ternyata, di dalam mobil itu—gadis itu tidak sendirian. Ada dua temannya yang lain “oh.. Para gadis, ya? Boleh ikut, nggak?”
Tidak dijawab, mobil hanya kembali melaju dengan cara paling angkuh dan tidak bersahabat. Daniel mendecih. Rencananya utama kembali; membeli es untuk Izi
Sambil meringis menahan sengatan matahari, Daniel mengeluarkan lembar dua puluh ribu.
“Mang, es tebu satu” matanya menyipit. Tak ada tempat berteduh kecuali payung si penjual.
“Hati-hati kalau menyeberang, Mas. Tadi hampir aja” kata si penjual. Namun Daniel tak mendengarkan. “Itu di klinik itu, dokternya pake sihir, ya? Soalnya penyembuhannya cuma di usap aja. Mana sembuh betulan. Tinggal tunggu di azabnya aja tuh, si dukun. Hari gini masih ada yang bersekutu sama setan. Mana bayarannya gak masuk akal. Nyari duit jalur instan”
“Bukan Dukun, Mang. Dukun mah di kafe kopi. Dia tabib betulan” Daniel mengoreksi.
“Kemaren ada yang ngeluh bayar lima ratus juta. Emang dia lumpuh udah tiga tahun sembuh. Tapi rumahnya di gadai ke bank. Engap-engapan sekarang bayar”
“Bodo amat mang, nggak urus” kata Daniel lagi “buruan sih, panas.. Itu tangan dekil amat buset.. Ngarat gitu irengnya”
“Namanya pekerja keras, Mas” lalu es tebu disodorkan. “Kembaliannya” penjual menyodorkan uang 13 ribu.
“Nggak usah, buat beli bedak keli sana”