
Kristal tertidur di ranjang Logan sejak satu jam yang lalu. Saat pria itu memutuskan memindahkan masuk tatkala tubuh itu terbaring sembarangan di ruang tamu, sementara tidak ada orang di rumah selain pelayan yang sibuk entah melakukan apa.
Blazer hitamnya masih melekat rapi di tubuhnya, hanya sedikit kusut di bagian belakang karena tertindih tubuhnya sendiri. Kancing paling atas kemejanya terbuka satu. Riasan di wajahnya masih utuh, meski bagian bawah matanya sedikit pudar.
Lampu kamar Logan tidak terlalu terang.
Hanya ada cahaya redup dari lampu meja di dekat sofa dan pantulan lampu kota dari balik jendela besar. Warna kamar itu didominasi abu gelap dan hitam; sederhana, rapi dan tenang. Tidak ada aroma parfum menyengat kecuali aroma kopi mahal atau lilin aromaterapi, juga bau samar kayu furnitur, udara dingin AC, dan jaket Logan yang tergeletak sembarangan di kursi.
Pria itu berdiri di samping ranjang cukup lama tanpa bicara. Dua tangannya masuk dalam saku. Tatapannya jatuh ke wajah Kristal yang tertidur terlalu dalam.
Aneh sebenarnya.
Manusia biasanya bergerak sedikit saat tidur. Napas berubah. Kelopak mata bergetar. Tetapi Kristal sering terlihat seperti benar-benar menghilang saat memasuki mimpinya.
Seolah tubuhnya hanya tertinggal di sini.
Logan tahu alasannya. Untuk sesuatu yang tidak banyak di mengerti. Hal-hal yang hanya terjadi bagai dongeng bagi normalnya manusia.
Ia duduk perlahan di tepi ranjang. Matras turun sedikit di bawah berat tubuhnya, tapi Kristal tidak terbangun. Gadis itu hanya menghela napas pelan, masih tenggelam jauh di dalam tidurnya. Lalu Logan meraih tangan Kristal yang berada di dekat bantal.
Dingin.
Tiap terlelap, hidupnya kembali pada lapisan yang lain. Darah Kristal selalu saja dingin. Napasnya melambat—pelan.
Jemarinya membalik pelan tangan Kristal hingga bagian pergelangannya terlihat jelas di bawah cahaya lampu redup. Nadinya berdetak pelan, kelewat pelan. Logan menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menunduk.
Ujung taringnya menyentuh kulit Kristal terlebih dahulu dan gadis itu sedikit mengernyit dalam tidurnya. Lalu Logan menggigitnya.
Pelan.
Tidak kasar. Tidak terburu-buru. Sebuah tekanan kecil hingga kulit itu terbuka dan darah hangat mulai mengalir ke mulutnya. Dan tepat saat darah Kristal menyentuh lidahnya—tubuh Logan langsung menegang. Mata kanannya bergetar kecil. Lantas ia menutup matanya sebentar khas—menahan sesuatu, tetapi itu tidak membantu. Sensasi itu datang terlalu cepat. Penglihatannya mulai dipenuhi kilasan. Cepat. Tidak beraturan.
Lorong panjang.
Langit gelap.
Suara seseorang memanggil nama Kristal dari tempat yang jauh. Lalu mata kanan pria itu perlahan berubah warna. Pupil merahnya perlahan berubah jadi kehijauan—menyempit tajam sebelum akhirnya bergerak tidak stabil, seperti ada sesuatu yang hidup di dalam sana. Urat samar muncul di sudut matanya.
Lalu sebuah ruang di depan ranjang mulai melengkung pelan. Garis lemari terlihat bergeser tidak wajar. Sudut meja memanjang sesaat lalu kembali normal. Cahaya lampu kamar ikut bergetar seperti bayangan yang ditarik ke satu titik.
Distorsi itu awalnya kecil. Hanya seukuran telapak tangan. Tetapi semakin banyak darah Kristal yang mengalir ke tubuhnya, ruang itu semakin rusak. Udara tampak retak. Lalu bagian tengah distorsi itu perlahan membesar—menghitam–mendekat padanya. Portal itu semakin besar sampai hampir memenuhi seluruh mata kanannya. lalu semuanya gelap. Ia tertidur sambil menggenggam tangan gadis itu.
Lalu menarik napas pelan.
Logan kembali menelan sisa darah di tenggorokan, dan kali ini penglihatannya benar-benar pecah. Tubuhnya tidak lagi berada di kamar.
Ini, ruang itu. Ruang di mana dunia seakan terbelah jadi dua lapis.
Ia melihat hutan—familiar.
Kabut.
Pohon-pohon tinggi yang berdiri rapat dalam gelap. Udara kamar jelas telah berubah. Suara AC perlahan menghilang dari pendengarannya. Digantikan suara angin. Daun bergesekan. Tanah basah setelah hujan. Dan Logan tahu— ia sudah menemukannya.
Dunia mimpi Kristal.

Hutan membentang di bawah cahaya bulan—mirip katedral kuno yang ditelan kegelapan.
Pepohonan tinggi menjulang dalam diam, batang-batang hitamnya berdiri tanpa ujung di antara kabut biru yang dingin. Ranting-rantingnya saling melilit seperti jemari kerangka, menenun bayangan begitu rapat hingga cahaya bulan nyaris tidak mampu menembusnya.
Kabut pucat melayang rendah di permukaan tanah. Pelan. Gelisah.
Kabut itu melingkari akar-akar dan batu-batu tua seperti arwah tersesat yang tidak lagi memiliki tempat untuk pulang. Jalan sempit yang membelah hutan tampak lembab di bawah cahaya keperakan malam, memantulkan bayangan gelap dalam pecahan-pecahan samar. Setiap langkah menuju ke dalamnya terasa ganjil.
Tidak ada suara serangga. Tidak ada suara burung.
Hanya desir pelan dedaunan yang saling bergesekan di antara pepohonan. Titik-titik cahaya kecil melayang jauh di dalam hutan, berkelip redup seperti bintang-bintang sekarat yang terperangkap di bawah langit malam. Mereka bergerak tanpa arah, muncul lalu menghilang di balik kabut sebelum mata sempat mengikuti mereka sepenuhnya.
Pepohonannya berdiri terlalu rapat. Bayangannya bertahan terlalu lama. Bahkan udara di sana membawa sesuatu yang tua di dalamnya—sesuatu yang begitu berat hingga bernapas pun terasa asing.
Tapi bagi Logan itu bukan napas yang asing. Tempat itu memang terasa seperti dunia yang belum tersentuh, masih terkubur jauh di bawah kenyataan, menunggu dengan sabar seseorang yang cukup bodoh untuk melangkah terlalu jauh ke dalamnya:
Kristal.
Atau dirinya?
Logan melangkah. Matanya terlalu awas dan terang untuk tempat semacam ini. Ia tidak mengerti dengan getaran yang diciptakan hutan ini. Sebagian dirinya merasa sangat familiar—seakan hafal seluruh seluk beluk hingga sudut hutan meski baru menapaki tanah itu, dan jelas hanya perasaannya saja. Lalu sebagian yang lain merasa aneh dan asing. Tempat yang familiar sekaligus asing dalam satu rasa. Itu membuatnya harus menerka-nerka bagian mana yang paling dominan.
Kakinya melangkah seolah tau ke mana harus pergi. Matanya berkilat-kilat di antara gelap. Disini, seluruh indranya menajam, seluruh tubuhnya seperti di bawa kembali ke habitat asli—tempat di mana kekuatannya akan maksimal.
Logan hanya berjalan. Derapnya kelewat cepat meski ia bersumpah tidak berlari. Tiap langkah—seolah tak menapak tanah saking cepatnya. Maka, dalam interval singkat, eksistensinya sampai pada tempat di mana seseorang yang kini terbaring bersamanya—di dunia nyata—berada.
Eksistensi di lapisan lain.
Seorang perempuan berdiri di atas bukit bersama pedangnya yang bersimbah darah. Di lembah, para pengkhianat tumbang. Mereka dari berbagai kalangan. Logan melihat ada manusia serigala, ada vampir, ada siluman, juga ada dari kalangan manusia biasa. Mereka semua sebagian menjadi abu, sebagian hanya mati tergeletak sementara burung gagak bersahut-sahutan terbang di atasnya.
Perempuan itu hanya berdiri memandangi kumpulan mayat.
Berjarak sekitar kurang dari lima ratus meter, Logan langsung mengenali wajah itu, wajah familiar. Hingga dalam hitungan detik—tepat saat pandangannya beralih, mereka bertatapan.
Kristal.
Atau bukan.
Perawakan mereka sama. Nyaris tak ada yang berbeda kecuali ekspresi perempuan di hadapannya kini—lebih tajam dengan sorot mata menusuk. Wajahnya dingin. Logan bahkan hampir lupa pada Kristal yang ceria dan kerap mengecupi adiknya di sembarang tempat dengan cara paling manja. Yang di tatapnya kini sangat jauh. Sungguh, jauh sekali. Seolah, apa yang bisa di lakukan makhluk di depannya ini hanya membunuh dengan cara paling dingin tanpa ampun.
Perempuan itu kembali mengalihkan tatapan—pada mayat—memutus kontak mata dengan Logan.
Lalu perlahan ia terbang. Tubuhnya melayang semaki tinggi, lalu menghilang di balik gelapnya langit.
Logan cepat-cepat membuntut. Tidak bisa terbang, namun ia memiliki mata yang tajam. Tubuh itu masih terlihat dari radarnya. Maka, ia mengikuti dengan berlari.

SRATTTTT!!!
Kepala pria itu menggelinding. Dengan sebatan laksana pedang tanpa Tuan. Logan benar-benar gagal membaca saat ia hanya fokus membuntuti perempuan itu. Namun malang tanpa peringatan, kepalanya putus dan tubuhnya ambruk sesaat.
Hanya sesaat. Pria itu beregenerasi kelewat cepat. Kepala sebelumnya berubah menjadi abu–digantikan kepala baru. Logan kembali berdiri dengan gestur tenang, sementara perempuan itu turun. Ia menapaki tanah. Gaunnya berwarna putih terlihat banyak noda darah.
Ia memperhatikan ujung gaunnya lalu mendengus. Sebelum mendongak menatap Logan dengan dua alis menaut.
“Regenerasi..” bisiknya. Wajahnya masih sama, tanpa ekspresi “manusia setengah vampir, kemampuan mata kanan.. Kau bukan dari sini” katanya. Logan menyimak kelewat baik “apa tujuanmu kemari?”
“Mengambil kembali hak seorang gadis yang di tarik paksa. Kau harusnya sudah mati” kata-kata Logan terdengar aneh di telinga perempuan itu.
Hening.
Saat melihat Logan, perempuan itu banyak meneliti.
Wajah yang tidak asing, namun tetap gagal—mengingat pernah bertemu.
“Aku tidak tahu maksdumu. Tapi aku tidak mencium bau pengkhianatan” jawabnya, matanya masih naik turun memperhatikan Logan “pulanglah, aku tidak akan membunuh warga sembarangan” perempuan itu kembali memasukkan pedangnya.
“Siapa namamu?” tanya Logan. Ia begitu percaya diri setelah perempuan itu mau diajak bicara.
“Kau tidak tahu?” pertanyaan di balas pertanyaan. Logan menggeleng. “Tampaknya aku menjadi kurang populer setelah sekarat dan terlalu sering ja..” itu terdengar seperti gumaman. Lalu kembali menatap Logan “kabarkan kepada siapapun yang kau temui bahwa Dewi Kedamaian telah pulih. Aku akan mendatangi semua tempat dan membunuh siapa saja yang berusaha memecah, mengadu domba, serta menjadi pengkhianat”
Dan Logan benar-benar menemukan benang mereka—benang antara Kristal dan perempuan di depannya:
Sekarat.
Keduanya sama-sama pernah sekarat sebelum saling bertukar lapisan hidup.
“Apa Dewi kedamaian tidak bernama?” tanya Logan lagi.
“Aku tidak bernama” lalu perempuan itu kembali naik, kakinya tak lagi menapak dan ia terbang dengan kecepatan penuh.
Logan lagi-lagi berusaha mengimbangi. Namun sang Dewi tampaknya tak lagi berencana peduli setelah tahu bahwa pria itu bukan ancaman apalagi musuh. Tujuan hidupnya adalah untuk dunia yang lebih damai, saling menyayangi, dan rukun.
Hingga terlalu jauh kakinya mengikuti eksistensi di udara. Maka, sampailah ia pada bangunan yang paling ia kenal. Bangunan yang selama nyaris seribu tahun mengurungnya.
Itu adalah rumahnya. Kastilnya.
Dewi itu masuk ke sana dan menghilang dengan pintu tertutup rapat bersama segel yang langsung menyelubungi–kontan membuat Logan tak dapat masuk.
Itu rumahnya, ia bersumpah. Meski bangunan ini terlihat lebih indah. Warna bangunannya putih bersih bak istana dengan singgasana megah. Dari luar, pilar menjulang—meraksasa. Lampu-lampu gantung dari api dalam kaca menggantung pada tiap sudut–menjadikan bangunan itu terlihat hangat. Logan sangat rindu, namun ia tak dapat masuk.
Saat melangkah lebih dekat, tubuhnya akan terpental.
Cukup lama ia mencoba. Namun tubuhnya tetap jatuh terpental. Keringatnya banyak becucuran. Matanya terus memandangi bangunan itu tanpa bosan.
Rumahnya. Kastilnya. Telah lama tak bersua meski kini dalam bentuk lebih mewah.
Tunggu… apa ini masa depan? Atau masa lalu? Namun dirunut dari penglihatannya sepanjang jalan, Logan menyimpulkan bahwa tanah ini bukan di era mendatang—yang di mana seluruh entitas nyaris punah.
Apa ini masa lalu?
Lalu sesuatu terasa aneh di mata kanannya.
Ia mengingat apa yang salah. Namun mata kanannya berair tanpa ia tahu sebabnya.
Pria itu menguceknya pelan hingga memerah.
Terus menerus, lama-kelamaan terasa begitu pedih.
Saat ia mengangkat kepala dengan mata merah yang mulai kehijauan, distorsi ruang kembali terjadi—memenuhi mata kanannya. Tiba-tiba semua tampak gelap dan ia seperti tersedot kembali–masuk–terjatuh.
Napasnya tersengal-sengal.
Tik, tik, tik, tik..
“AAAAAARRRGHHHH!!!! DUKUN BANGSAT!!! AAARRRGGGHHH HUAAAAAA… EDGAR GUA MANAA!!!” suara itu membuatnya terlonjak kaget.
Logan melihat pada sekitar.
Kamarnya.
Ia telah kembali.
Saat matanya menangkap jarum jam, ia baru pergi selama satu jam. Namun yang terjadi di dunia sana rasanya sangat lama. Lalu pandangannya kembali pada gadis yang berteriak histeris.
“Kamu kenapa teriak?” tanya Logan tenang. Matanya menatap Kristal yang normal. Maksdunya, Kristal biasanya. Bukan seseorang tanpa nama yang menggunakan gaun putih penuh bercak darah.
“Kaget anjeeeng, gua ngapain di sini? Lu apain gua? Lu jadi edan gara-gara di tinggal Isa, kan?”
Pria itu menghela napas. Lalu mengusap wajahnya kasar.
“Benar, kan.. Aku terlihat menyedihkan” suara helaan itu membuat Kristal tiba-tiba merasa tidak enak.
“Bukan… gua kaget.. Asli.. gua..” gadis itu menggaruk kepala.
“Apa kamu nggak lihat aku di mimpi?”
“Mimpi?” Kristal mengingat-ingat. Gadis itu melamun lama. Lalu menggeleng “aku nggak mimpi” katanya lagi.
“Nggak mimpi kamu bilang?”
Gadis itu mengangguk sistematis. Ia kembali mengingat, namun tetap yakin jika tidak bermimpi.
“Berapa lama gua tidur?”
“Hampir delapan jam. Kamu membunuh banyak—” Logan tidak melanjutkan kalimatnya. Pria itu lalu meraih tangan si gadis—melihat bekas gigitannya.
Masih di sana. Dua taring yang sempat menancap. Logan dapat melihat cahaya kehitaman yang menguar dari sana. Itu adalah portalnya—tempat ia bisa kembali masuk ke mimpi si gadis.
“Kalian sama-sama lepas sekarat. Lalu menarik satu sama lain. Dia adalah Dewi Kedamaian.. Aku akan kembali. Tolong tetap di sini saat tidur. Aku akan membawamu kembali ke dunia ini sebelum dia yang mengambil alih jiwamu seutuhnya”
“Ha?” Kristal mendelik dengan mata berkedip-kedip “apa nih.. Apa hayo… ngarang nggak?”
“Tukan..” Logan kembali melepaskan tangannya, lalu mendengus.
“Coba jelasin pelan-pelan biar gua paham. Pokoknya pakai bahasa bayi supaya gua ngerti” pinta gadis itu. Ia kembali mendengar Logan menarik napas.
“Jadi, saat kamu kecelakaan kemarin, jiwamu retak. Di lain dimensi, seseorang atau katakan itu adalah kamu di masa lalu, juga sedang sekarat. Maka, jiwa kalian saling terhubung–tarik menarik. Saling ingin kembali satu sama lain. Barangkali campur tangan Samuel yang paling berkemungkinan membuat semua ini terjadi. Karena sebenarnya, Kristal yang harusnya mati. Kamu harusnya benar-benar tidak selamat dengan kerusakan seserius itu. Tapi Samuel memaksa dan menarik jiwa lain agar kamu tetap ada. Maka, terjadilah saling tarik menarik antar jiwa. Atau dengan bahasa paling mudah adalah kalian berebut jiwa”
Kata-kata Logan membuat Kristal termenung lama.
Semua dokter tercengang, semua keajaiban ini sangat sulit di terima dunia medis. Namun Samuel melakukannya. Pria itu memaksanya tetap ada dengan menarik jiwa lain.
“T-tapi… kalau jiwa gua lain, kenapa gua tetap Kristal? Gua tetap tau siapa gua, dunia gua..” gadis itu kebingungan. “Tolong terangin lagi.. Tolong kasih gua paham sedikit lagi”
“Samuel cuma ambil setitik jiwa. Bukan komponen otak, bukan identitas.” jawaban itu cukup ketus. Khas Logan.
“Tapi berarti… gua yang mencuri jiwa si Dewi itu? Bukan dia?”
Logan mengangguk. Kontras dengan kata-katanya pada sang Dewi saat ia berada di mimpi.
“Awalnya, aku mengira, dia yang mencuri jiwamu. Tapi untuk ukuran seorang Dewi, dia tidak akan melakukan itu. Dia akan mati jika waktunya mati. Dia hanya sempat sekarat, namun Dewi memiliki kemampuan regenerasi yang jauh lebih dahsyat di bandingkan entitas di bawahnya. Barangkali dia sempat sekarat karena melawan pengkhianat dari kalangannya sendiri. Lalu hampir gagal beregenerasi saat Samuel dengan ngotot merebut separuh jiwanya. Mungkin aja Samuel pun nggak tau tentang ini. Anak itu mana tau” terang Logan. Itu yang paling di mengerti.
Namun hal itu justru bagai semburan api panas bagi Kristal. Itu artinya, jika ada yang harus tahu diri, itu adalah dirinya.
Kristal melamun.
Melamun agak lama.
Lalu menatap Logan.
“Dewi itu… makhluk baik, ya?” tanyanya, polos.
“Hm, baik sekali. Dia yang menjaga seluruh negeri dari kerusakan, dari pertengkaran, dari kejahatan dan pengkhianatan. Dia adalah lambang dari kedamaian dunia itu. Dia sangat baik pada warga biasa”
Kristal menelan liurnya susah payah.
“Terus… gua gimana, Duk?”
Itu belum ada jawaban. Logan tak segera menjawab karena ia juga bingung. Jika ia memaksa mengambil alih jiwa sang Dewi, itu sangat berisiko, belum tentu juga ia bisa menang melawan keilahian sang perempuan. Juga, selain karena Kristal yang sejatinya adalah si pencuri yang kebetulan adalah orang yang ia anggap keluarga, tak ada alasan untuk membunuh. Dewi itu bukan untuk di bunuh, justru harusnya di junjung tinggi. Logan tiba-tiba meringis memikirkannya.
“Aku memikirkan tentang…” Logan menarik napas, seperti kalimat selanjutnya memerlukan kekuatan mental yang cukup “aku memikirkan tentang menarik Dewi itu ke dunia ini dan menjadi satu denganmu. Jadi, mungkin kamu akan punya dua kepribadian. Atau.. atau.. Kamu yang akan tertarik ke sana, lalu Dewi itu yang memiliki dua kepribadian sementara kamu akan tertidur selamanya di dunia ini. Barangkali koma berkepanjangan jika orang tua kamu kaya dan akan menggunakan alat penunjang hidup sampai mereka lelah. Pilihannya hanya itu. Aku akan meminta bantuan Sinu alih-alih Edgar”
“Tolong bawa Edgar ke mimpi gua, kenalin ke Dewi itu… please.. Biar gua ngalah mati di sini..”
“Kristal, kamu mau tak hih?”Logan meremas tangannya sendiri. Gadis itu begitu impuls mengambil keputusan seolah itu bukan hal besar.
“Gua pencurinya. Lu bilang, intensitas tidur gua akan semakin banyak, lebih panjang, itu artinya siapa aja tau siapa yang akan menang. Gua harusnya memang udah mati. Jiwa ini bukan punya gua sepenuhnya” gadis itu memilin-milin jarinya. Mungkin percakapannya dengan Logan terasa tidak masuk akal bagi orang luar yang mendengar. Tapi bagi Kristal yang mengalami tidur di waktu-waktu tidak normal dalam rentang yang sama tidak normalnya, semua ini masuk akal.
Pria itu memandangnnya lama.
Sangat lama.
“Kamu mau meninggalkan kami semua di sini dan hanya akan bawa Edgar?” mata kanannya berkilat-kita “Kristal… aku dan Sinu sempat berunding, jika tanpa kamu, kami semua memutuskan untuk kembali ke kastil. Ini demi eksistensi kami, demi diri kami. Kami butuh arahan dalam waktu panjang, kami masih sulit mengontrol diri. Sejatinya, kami masih sangat sulit berbaur dengan manusia. Jika kamu pergi, maka, aku dan Sinu akan kembali ke kastil dan membuat peradaban di sana. Mudah saja jika kami sudah melek teknologi untuk sesekali datang ke dunia manusia untuk bersenang-senang”
“Ya, itu bagus. Lagipula umur gua nggak akan sepanjang kalian. Kalau gua jadi satu sama Dewi, gua akan berumur panjang, kita akan bertemu lebih lama”
Percakapan mereka di putus oleh eksistensi lain. Edgar datang tergopoh-gopoh sambil mencangking ransel yang terlihat berat. Pria itu menabrak Kristal seperti kesetanan.
“Jangan nangis, gua baik-baik aja” Kristal mengelusi punggung kekasihnya.
“Apa yang baik-baik aja? Apa?” lalu menatap kakaknya “apa yang lu liat di mimpi? Ceritain ke gua?”
Logan menggaruk tengkuk.
“Nggak tau. Tanya aja Kristal” katanya enteng, pria itu kemudian mencangking ransel dan melangkah keluar meski langit sudah gelap.
“Yang, dengerin gua..” Kristal menangkup dua pipi pria itu “kita akan menikah dan hidup bahagia dalam waktu yang lama. Percaya sama gua”