
“Kalau gua pribadi gampang aja atur pernikahan. Tapi itu juga kan mesti atas kesepakatan keluarga Isa. Yang jadi pertanyaan gua, Mama sama Papanya Isa ini udah kasih restu belum? Kalian udah dapet izin belum? Ketimbang membicarakan pernikahan ke gua, better ke ortu Isa dulu. Dia masih ada Papa Mama. Kalau udah fix boleh, gua gass. Nanti kita lamaran” Kristal mengelusi tumitnya yang pegal karena sepatu yang di pakai entah bagaimana caranya terasa menyempit. Pandangannya sesekali pada Logan dan Isabella yang duduk berdampingan.
“Iya sih.. Gua bahkan belum bilang gua punya pacar..” Isabella mencicit.
“Ya, kata gua itu, bilang dulu, pengenalan dulu. Kita nggak bisa tiba-tiba menikah. Lu masih ada wali Mek, lu ada orang tua. Kita punya agama, punya tradisi” jawab Kristal lagi. “Sekarang mending berdua ke rumahnya Isa. Rundingan sama keluarga. Bicara gini gitu..”
“Sama lu ya? Please.. Gua nggak tau cara ngomong ke Mama gua sementara di mata mereka gua masih kecil” Isabella memelas—menatap Kristal penuh harap.
“Isa.. lu mau menikah, itu artinya, lu udah gede. Lu udah melakukan hal-hal dewasa. Yang begini kudu lu hadapi sendiri. Juga, keputusan yang lu ambil ini terlalu gegabah menurut gua. Tapi gua nggak punya hak buat larang lu, nasehatin, apalagi ngatur. Coba dipikir lagi, dengan pola lu yang kayak gini, apa lu bisa jadi istri? Gua nggak minta lu untuk jangan nikah—pun, nggak menormalisasi perzinahan tapi nggak akan melarang juga, karena gua sendiri zina mulut zina mata. Tapi please.. Menikah itu bukan kayak lu milih menu makan malem yang bisa di buang pas ternyata nggak sesuai.. Pikirin lagi..”
Tatapan Logan menajam pada gadis itu. “Kamu kalau kasih masukan yang waras. Dia udah serius mau menikah. Kalau dia masih kekanakan, biar aku yang bimbing.” ungkapannya seolah Kristal telah mendoktrin Isabella untuk tidak menikah. Padahal bukan seperti itu.
“Iya, gua tau. Paham gua, Duk. Tapi di dunia ini, di sini, tempat yang sekarang lu pijak. Lu bukan di posisi bisa membimbing. Lu aja masih buta, lu sendiri banyak belum paham. Siapa membimbing siapa? Gua di sini cuma mau sedikit… aja kasih tau temen gua bahwa keputusan yang dia ambil ini resikonya seumur hidup. Gua tau lu vampir baik. Tapi di dunia ini, kita punya peraturan. Kita ada tuhan dan kita punya agama. Kalian mungkin gak butuh masukan dari gua kecuali bantuan, tapi ketimbang langsung menikah,mending pendekatan diri ke Tuhan biar nggak pada buta. Kenalan ke ortu, punya tujuan, punya gambaran ke depan. Atur planning” Kristal menarik napas. Ada jeda beberapa saat setelah ocehan panjangnya hingga tidak ada yang bersuara lagi. Kristal akhirnya menatap dua sejoli itu.
“Gua berharap kalian akan bahagia terus. Gua minta maaf karena banyak bacot” katanya, akhirnya.
“Nggak gitu Til. Gua ngandelin lu selama ini, sejak kita ke Ternate, hubungan kita juga makin dekat dan tanpa sadar, lu dan Lyn adalah orang-orang yang gua andalkan. Gua takut hamil setelah berhubungan seksual. Gua takut Mama gua tau walau dia nggak akan usir atau sejenis, tapi gua pasti ngecewain dia..” Isabella hampir terisak. Logan mengelusi rambutnya sementara Kristal memijat dahi. Dari belakang, Edgar berlari tergopoh-gopoh.
“No no no!!! Jangan stress, tidaaaak jangan pijet dahi…” pria itu memeluk Kristal. Ketakutan si gadis tiba-tiba tidur.
“Ini kenapa lagi sih? Bukannya dari tadi udah pamit kerja? Masih di sini aja si bangsat! Kudu gua gaplok pake sendal!” Kristal meraih sepatunya dan akan dipukulkan pada sang kekasih. Edgar tidak peduli.
“Gosah minta bantuan! Gosah minta saran. Nikah-nikah lah sana. Lu kan masih punya ortu, Isa. Kalian tau pacar gua gampang tidur kalau capek atau stress. Semua-semua dia yang tanggung jawab, sampe lu berdua yang bercinta aja pacar gua yang pening. Mikir lu tuh” Edgar mengomel, tak dihiraukan sepatu yang menghantam tangannya pelan. “Nanti abis nikah punya anak, masih aja pacar gua yang kudu gini gitu. Abis itu pasti ada lagi ada lagi. Bergantung. Makannya belajar! Baca, baca apa tah apa tah. Hp ada”
Masih, pria itu masih mengomel.
“Edgar ini kayaknya benci banget sama gua” Isabella menahan tangis karena suara Edgar yang seperti membentak.
“Nangis… nangis lagi… nangis terus… abis ini gua dibikin muntah paku sama laki lu. Padahal gua sama kek Dukun, gua cuma berusaha lindungin pacar gua, bedanya gua cuma ngomel, nggak anarkis. Nggak jual air mata juga” Kristal lalu membekap mulut kekasihnya.
“Lu kerja atau gua telpon Mama gua dan bilang lu jobless?” ancaman itu membuat Edgar berdehem. Kristal sudah memegang ponsel dan akan menelepon Ibunya.
“Ya ini mau kerja..” suaranya mengecil “kudu banget gua menjaga kepercayaa si Mariam Belina walau doi udah ilfil parah ke gua” lalu kembali menatap Logan dan Isa “pokoknya kalau pacar gua pingsan atau tidur lagi, lu bisa bikin gua muntah paku dan gua akan matengin daleman lu” itu bukan ancaman, itu kepastian. Edgar masih sempat mencium pipi gadisnya sebelum lari.
Saat Edgar benar-benar pergi, Isabella kembali menatap Kristal.
“Please.. Please ikut gua ke rumah dan yakinin Mama gua kalau Kak Logan ini cowok baik-baik dan mapan, ya? Lu pinter retorika, Til. Please sekali ini aja” Isabella serius memohon.
Dan Kristal menatapnya lama. Tampaknya memang masukkannya tidak berguna. Orang yang sedang jatuh cinta memang mustahil di nasehati. Kristal paham seperti perasaannya dulu pada Edgar hingga patah hati seperti gadis gila.
🐾🐾🐾🐾
“Jadi dia sepupu jauh kamu, Nak?” Ibu Isabella memastikan sekali lagi—tatkala ketiganya benar-benar datang. Bertanya pada Kristal setelah gadis itu mengenalkan Logan sebagai saudaranya.
“Iya, Ma. Dia anak dari adiknya Mama aku. Baru pulang aja dari Singapura dan nerusin kerjaan Papanya dari sana. Datang ke sini cuma mau liburan. Malah ketemu Isabella dan jatuh cinta” sempurna. Kebohongan Kristal tak bercelah dan nyaris sempurna.
“Papa kamu bergerak di bidang apa?” Ibu Isabella mengajukan pertanyaan pada Logan. Yang ditanya jelas tidak tahu dan kebingungan.
“Mengelola batu bara mentah mah.. Ada tambangnya di Ternate, tapi perusahaan intinya ada di Singapura. Ke sini sekalian mau liat tempat tambang baru” lagi-lagi Kristal yang menjawab “dia kaya raya, Ma. tenang aja” Ibu Isabella tertawa.
“Bukan gitu.. Isabella ini masih terlalu muda. Jadi agak susah terima kalau dia punya pacar dan kamu malah bilang mereka mau serius dan menikah. Rasanya masih kecil banget anak Mama”
Wanita yang jarang di rumah karena sibuk bekerja. Juga ayahnya. Anak semata wayang itu ikut sibuk menuruti hobinya berburu hantu. Apalagi setelah lulus kuliah. Isabella begitu bersemangat dengan petualangan meski tidak bohong jika dirinya kesepian di rumah.
“Jadi, kedatangan saya ke sini, Ma.. mau melamar Isabella” itu diluar perencanaan Kristal. Maksud gadis itu, dua sejoli di anjurkan untuk saling lebih dulu melakukan pendekatan pada keluarga. Namun tampaknya Logan tidak sabar. Ibu Isabella tentu saja kaget.
“Loh?” ia menatap anaknya, lalu bergantian pada Kristal dan terakhir berlabuh pada Logan.
“Iya, Ma.. aku suka banget sama Kak Logan dan mau menikah aja secepatnya..” ada kebimbangan di suara gadis itu.
“Isabella… kita harus bicara” kata ibunya. Setelah itu, Kristal dan Logan di minta untuk pulang.

“Gua tu selalu segan mau bicara sama lu, sama Opung juga” kecanggungan dan sunyi itu dipecah oleh Kristal. Selain bunyi deru mesin mobil atau klakson sesekali, tidak ada yang bersuara. Sopir di depan mirip patung begitu juga Logan.
“Gua khawatir harga diri lu terluka. Nggak berani menasehati” gadis itu menghela napas.
“Padahal kamu beberapa kali pukul aku dan Sinu” jawaban Logan membuat Kristal mengangguk.
“Beda, bukan–maksud gua, ini menyangkut kehidupan pribadi kalian. Gua nggak akan canggung ngomel atau pukul kalian dalam konteks isi kelas, belajar, atau hal-hal yang nggak personal gini. Rasanya gua ini cuma bocil sok tau dan sok pinter”
“Kamu memang pintar” kata pria itu lagi. Masih dengan ekspresi yang sama tanpa melihat Kristal.
“Gua akan bertanya mungkin beberapa hal. Lu bisa diem aja saat pertanyaan gua melukai harga diri lu atau menyinggung” Kristal merogoh isi tas, Logan melirik sekilas dan gadis itu mengambil botol obat—persis saat alarm pada ponselnya menyala—masuk waktu minum obat. Logan kembali melihat ke jendela sementara Kristal mendorong pil dengan air dalam kemasan botol.
“Lu sesuka itu sama Isa? Siap banget sama pernikahan? Atau bahkan kehamilan dia dan anak?”
“Ya” jawabnya singkat. Kristal mengangguk.
“Gua tu sering berpikir gini, misal kayak Edgar, pacar gua. Gua akui waktu di kastil itu memang gua kecintaan sampe plenger banget ke dia. Awalnya main-main buat ngisi waktu bosan. Nggak taunya gua kecintaan beneran” Logan masih menyimak hingga gadis itu sampai pada maksud dari pembicaraaannya “tapi setelah gua pikir, kalian itu hanya 7 vampir yang kesepian walau bersama. Kalian haus cinta dan sosial. Kalian persis liar sekaligus kebingungan saat tiba-tiba bebas dan ikut ke sini. Maka, kalian terikat sama hal-hal familiar aja. Dari situ gua mulai berpikir bahwa, gua harus melepaskan Edgar. Bukan karena gua nggak cinta, tapi gua cuma mau dia liat dunia luar lebih luas. Bahwa, masih banyak gadis yang lebih dari gua. Di luar ini indah. Eksplor semua hal, teknologi, peradaban, kultur. Semua hal baru bagi kalian, kan? Kalian harusnya sibuk di sana. Berkutat dengan dunia yang hingar bingar. Bukan terjebak pada rasa ketakutan akan kesepian lagi lalu impuls dengan keputusan-keputusan yang sejatinya dari nafsu sesaat”
Jeda. Kristal menghadap ke samping memperhatikan ekspresi pria itu. Logan masih diam.
“Isa itu… masih belum mateng.. Gua mengatakan ini bukan mau bikin lu nggak menikah bukan. Coba lu telaah lagi polanya. Lu lia—”
“Kalau dia hamil gimana? Kamu mau aku lari dari tanggung jawab?” potong Logan cepat-cepat.
Kristal diam sebentar. Ia menelan air lagi.
“Gua bilang gini karena masih berpikir bahwa untuk hamil nggak akan semudah itu walau kemungkinan jelas ada. Bisa di bilang 50:50. Gua tadinya mau bilang misal Isa masih menstruasi bulan depan, kalian bisa tunda pernikahan sampe benar-benar matang”
Hening setelah itu.
Panjang.
Sangat panjang.
Dan Kristal sudah enggan mencairakan kecanggungan di antara mereka.
Sementara Logan berpikir keras. Memikirkan apa yang di bicarakan Kristal sejak tadi tentang ketakutannya akan kesepian, akan ditelantarkan. Lalu bertanya balik pada diri sendiri.
Apakah ia mencintai Isabella sedalam itu?
Atau benar apa yang dipaparkan Kristal?
“Apa aku terlihat bodoh lagi?” pria itu yang mengajukan pertanyaan setelah kecanggungan panjang. Kristal menggeleng.
“Itu normal. Semua hal yang kalian kerjakan normal di mata gua walau kadang bikin khawatir. Sekali lagi sorry kalau gua sok menggurui. Percaya sama gua, gua cuma mau kalian happy dan menikmati tiap detik dari esensi kebebasan itu sendiri tanpa terikat sama apapun yang membebani”
Logan menatap Kristal lama. Cukup lama hingga gadis itu risi sendiri.
“Ayo bertemu di mimpi” kata pria itu kemudian.
🐾🐾🐾🐾
Sinu duduk canggung di meja makan.
Sungguh, siapa yang akan menduga jika kedatangannya akan di sambut dengan cara yang tidak pernah ia duga. Bahkan Lyn tidak mengatakan apa-apa. Tidak mengabarinya ini dan itu.
Gadis itu duduk cantik di seberang–tepat di samping adik perempuannya yang berusia dua puluh tahun. Cantik, keduanya terlihat mirip meski sang adik lebih feminin dan bermimik lembut.
Tidak ada Ayah. Sinu ingat bahwa Lyn pernah bercerita jika ayahnya menikah lagi dan… tidak tahu. Hanya sebatas itu.
Namun yang mengusiknya adalah hidangan di atas meja yang begitu banyak. Sinu pernah melihat hidangan sebanyak ini di rumah makan saat beberapa waktu lalu mengantar Lyn. Seperti hidangan untuk acara. Masalahnya, Kristal selalu mengajarkan untuk menghargai juga agar tidak tampak mencurigakan—atau singkatnya, ia harus makan paling tidak sedikit.
“Mama masak sendiri, Nak. Mama suka banget masak. Ayo di makan” Ibu Lyn mengambilkan nasi, lauk pauk. Mata Sinu ke sana ke mari bergantian melihat tangan Ibu Lyn mengambil apapun yang di tumpuk di atas piringnya.
Saat pandangannya bertemu dengan Lyn, gadis itu menjulurkan lidah lalu mengatakan ‘mampus’ dalam bahasa isyarat. Tak lupa jari tengah di acungkan meski sampai hari ini, Sinu tetap gagal menerjemahkan artinya.
Adik Lyn menyikut Kakaknya.
“Ganteng banget gila… kayak seleb” bisiknya, matanya sejak tadi curi-curi pandang pada yang datang mengaku sebagai pacar Kakaknya. Sinu mengukir senyum tiap matanya bertabrakan dengan adik Lyn.
Di awali dengan berdehem, lalu pria itu menyuap nasi dan irisan daging dengan cabai hijau.
Nasi hangat itu terasa aneh di lidahnya—kering, padat, dan hambar seperti kunyahan kapas basah. Sinu berusaha mempertahankan ekspresi tenang ketika irisan daging dan cabai hijau masuk ke mulutnya, tetapi setiap serat daging terasa terlalu kasar untuk ditelan.
Aroma rempah yang menusuk justru membuat penciumannya yang tajam terasa tersiksa. Cabai hijau meninggalkan sensasi panas yang tidak familiar, membakar tenggorokan hingga matanya nyaris berair.
Ia mengunyah perlahan, terlalu lama untuk ukuran manusia biasa, sebab tubuhnya tidak tahu bagaimana cara memproses makanan selain darah. Ketika suapan itu akhirnya turun ke kerongkongan, dadanya langsung terasa berat. Perutnya seperti menolak isi piring itu mentah-mentah.
Namun di hadapan Ibu Lyn, Sinu hanya tersenyum tipis dan kembali mengambil sendok, meski setiap suapan terasa seperti hukuman kecil yang harus ia tahan.
Lyn memperhatikannya sejak tadi. Wajah Sinu jelas memerah sampe telinga ke leher. Begitu terang karena kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
“Kak Sinu kenapa merah semua? Alergi kah?” adik Lyn yang bertanya. Lalu sang Ibu melihat dan kaget.
“Kamu punya alergi daging, Nak?” tanya Ibu Lyn. Sinu juga tidak tahu apa itu alergi.
“Iya, dia ada alergi nasi, alergi daging. Dia itu makannya cuma protein tumbuhan dan ikan air tawar” Lyn mencari jalan aman saat malam ini, ibunya tidak ada memasak dua kandidat yang disebutkan.
“Loh, kenapa nggak bilang. Mukanya merah semua. Bawa ke dokter aja, Kak. Takutnya parah sampe kejang dan demam” mimik itu khawatir. Ibu Lyn bahkan mendekat dan mengecek suhu tubuh pria itu. Sinu seperti menahan napas saat perutnya juga mual.
Tidak lama, ia muntah-muntah.

Pria itu menolak saat diminta istirahat di kamar. Menolak saat Ibu Lyn menawarkan obat, juga dipanggilkan dokter. Sinu hanya meminta merebah di sofa.
Ibu Lyn awalnya begitu panik. Sinu mendapat kompresan, di pijati, lalu di beri minuman hangat meski ia berkali-kali mengatakan tidak apa-apa.
Lalu berganti Lyn sementara Ibunya naik ke kamar setelah kondisi pria itu membaik.
Lyn memasukkan satu tangan ke dalam kemasan makanan ringan, mulutnya mengunyah dengan santai sementara ia berdiri tepat di sisi Sinu yang merebah di sofa—menatapnya naik turun.
“Enak?” tanyanya ketus. Tak ada empati di wajah ayu yang garang.
“Kamu nirempati” jawab Sinu, ia mengusap tenggorokannya seperti orang trauma.
“Nirempati? Hello!!! Liat siapa yang bilang nirempati! Gua yang mau mati bunuh diri di kastil karena rasa sakit yang gila! Gua yang mohon-mohon sampe menghinakan diri, gua yang meminta kematian siang dan malam karena gak kuat. Badan gua hancur, remuk, jantung gua setiap hari kek mau meledak. Dan sekarang lu bilang gua nirmepati setelah lu kunyah sendiri makanan di meja?” Lyn menggeleng-geleng. Pria di depannya sungguh luar biasa.
“Itu lagi, itu lagi yang di bahas. Selalu di bahas tiap setidaknya satu pekan sakali” Sinu membalik tubuh, membelakangi si gadis “aku udah minta maaf, udah nggak diulangi karena nggak ada alasan menyakiti kamu. Tapi tetap jadi penjahat di matamu.. Apa bikin bocor rumah aja ya…”
“Hah?”
“Apa?” Sinu berbalik.
“Tadi lu bilang apa? Apa yang bocor?”
“Itu.. atap, kok nggak bocor lagi” suaranya lembut. Pria itu tertawa.
“Pulang sana, udah malem, udahan ngapel-ngapelannya. Trauma kan lu. Kalau ngapel sekali lagi, gua paksa lu makan bayem”
“Itu terlalu kejam..” lalu Sinu mual lagi. Ia batuk-batuk hingga terduduk. Seperti serat daging masih tertinggal di tenggorokan dan pedasnya cabai melukai seluruh jeroan. Perutnya kontraksi hebat. Ia muntah namun tak ada yang keluar.
Wajahnya kembali memerah. Urat-urat di leher dan pelipis kembali tercetak. Lyn kembali khawatir. Ia lantas meletakkan makanan ringan dan berjalan ke dapur.
Gadis itu mengiris telapak tangannya hingga mengeluarkan darah, berlari terburu-buru mendekat pada Sinu.
“Nih, kenyot ini. Walau kata lu rasanya mirip besi, tapi lebih baik ketimbang tenggorokan lu seret dan gak bisa minum air bening juga. Yang penting ada yang ngalir ke tenggorokan”
Sinu masih sempat menatap mata Lyn, sebelum akhirnya meraih tangan gadis itu, lalu menancapkan taring di sana.
Lyn meringis.
Ia mendengar suara tegukan dari tenggorokan pria itu. Rasa panas dan perih menyengat di telapaknya.
Sekitar enam tegukan. Sinu melepaskan tangan Lyn, lalu membebat luka gadis itu dengan ujung kaosnya yang ia robek spontan. Darah tertinggal sedikit diujung bibirnya, Lyn mengusapnya lembut dengan tangan yang lain.
Rasanya sangat lega. Perutnya menghangat dan terasa begitu nyaman. Tenggorokannya pun sudah tak lagi serat dan rasa makanan sebelumnya benar-benar hilang—digantikan darah Lyn yang memang sedikit beraroma besi dengan sentuhan manis di akhir.
“Terima kasih” katanya. Bebatan menghentikan darah dengan sempurna. Lyn mengangguk.
“Udah malem, pulang sana”
“Kita kembali ke tempat yang sama” jawab Sinu.
“Gua nyusul agak maleman deh”
“Aku akan tunggu”
“Ish.. bebal”
Lyn duduk sambil memandangi tangannya yang dibebat. Melamun gadis itu cukup lama.
“Kita mampir ke tempat Samuel. Tangan kamu harus mendapat perawatan” Sinu maju mundur ingin menepuk si gadis. Padahal, tiap malam, gadis itu memeluknya. Itu pun atas hasil paksaan saat mereka baru pertama datang. Lalu seiring berjalannya waktu—meski Sinu tidak dapat memastikan kapan tepatnya, ia mulai bertingkah lembut pada Lyn. Tidak lagi pernah memaksa, tidak mengancam, apalagi menakuti. Malahan, akhir-akhir ini gadis itu yang sering marah-marah dan berwajah galak. Sinu tidak lagi memintanya untuk memeluk atau memijat, namun karena sudah kebiasaan, Lyn menganggapnya menjadi satu kewajiban.
Katanya, gadis itu sudah menerima takdirnya. Meski Sinu sendiri tidak tahu takdir yang mana.
“Mau balik sekarang kah? Tadinya gua mau nginep di sini” ia tersenyum menatap Sinu “ya? Semalem aja. Ini kan udah ngapel, jadi bisa dong, free semalem doang”
Tidak menjawab, Sinu hanya diam menatapnya—menatap lurus pada mata si gadis tanpa mengatakan apapun. Tidak melarang, tidak juga mengiyakan.
Agak lama.
Hingga helaan napas Lyn terdengar lebih keras dari detik jarum jam di dinding.
Dan Sinu masih menatapnya.
“Jangan liatin terus. Nggak jadi nginep kok”
Pria itu mengulum senyum.
“Lyn..”
“Hm”
“Boleh aku dapat kecupan?”
Kali ini gantian Lyn yang menatapnya. Dahinya mengerut-ngerut “konteks?”
Sinu menggeleng “nggak ada konteks. Orang pacaran ada yang udah berhubungan seksual, ada yang ciuman, ada yang main aja sambil pukul-pukulan” pria itu sedang membicarakan saudaranya. Lalu melihat Lyn dengan mata yang berkilat berwarna biru pekat yang hanya terlihat beberapa detik. Itu bukan pantulan lampu, Lyn bersumpah bukan. Juga terlalu indah untuk diabaikan. Seperti gulungan ombak di laut lepas yang dahsyat.
“Sebentar, Pak Sinu. sebenarnya ada yang mesti diluruskan dari hubungan kita..”
“Aku mencintaimu”
Jawab Sinu tanpa basa-basi. Kata-kata itu membuat Lyn mendelik.
“Ehey… hati-hati dengan kalimat itu. Kalimat itu nggak sesimpel pas diucap”
“Bisa beri aku kecupan?” tanya pria itu lagi. Seolah kata-kata Lyn sejak tadi adalah angin lalu.
“Dengar ya, Pak Vam–”
Tidak, tidak selesai. Sinu lebih dulu mencium pipinya. Hanya kecupan ringan dan sekilas. Namun berhasil membuat gadis itu diam seribu bahasa sambil menelan ludahnya yang tiba-tiba sulit.
Lyn akhirnya berdehem. Ia mengipas wajahnya dengan dua tangan sembari menghindari tatapan—membelakangi Sinu.
“Kita sebaiknya cepat balik ke man—” berbalik sedikit dan akan mengatakan untuk kembali pulang. Kata-kata Lyn lagi-lagi tak selesai saat Sinu kembali mengecup pipinya yang sebelah.
Gadis itu bangkit dari sofa. Ia menangkup wajahnya dengan dua tangan karena salah tingkah. Lalu mondari-mandir seperti setrika.
“Jangan mondar-mandir, Lyn. kamu bikin aku sakit kepala” kata Sinu. gadis itu akhirnya diam.
“Gini aja deh, sekalian”
Lyn akhirnya menabrak pria itu, ia mencium bibir Sinu dengan buru-buru—menjepitnya di antara bibir lalu mengulumnya lembut.
Kali ini gantian Sinu yang mendelik dan membeku. Ia diam seperti patung sementara Lyn menciumnya sambil menarik kerah baju.
Tidak lama. Hanya lima belas detik. Setelah itu, Lyn lari terbirit-birit.
“GUA NGGAK IKUT LU BALIK! MAU NGINEP DI SINI MALAM INI” lalu ia menghilang di balik anak tangga. Sinu masih melongo.