Ia dekap tubuh besar yang merebah damai di sebelah. Air matanya sejak setengah jam lalu tak kunjung berhenti. Hatinya sakit. Rasa kehilangan membumbung menakutkan. Hanya butuh satu minggu untuk menyadari bahwa ia mencintai pria itu.
Sungguh.
Ingatannya tentang rasa sakit yang mengerikan memang tak sepenuhnya hilang. Sesekali, ia akan bermimpi buruk. Namun tidak begitu parah lagi. Tergerus rasa nyaman dan senang. Benar, Lyn senang saat pria itu mendatanginya dengan wajah polos tentang cinta. Tentang kedekatan mereka, tentang perasaan menyenangkan yang terlihat dari wajah gagah yang tersenyum malu-malu.
Nyatanya, setelah di kastil, setelah mereka semua bebas, Sinu memang bukan orang yang seperti itu—meski menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, dan dalam gagasan lain, itu bukan kriminal meski kriminal.
Membayangkan kembali berapa kali pria itu mengangkat tangan saat tidur hanya untuk mengelusi wajahnya yang terlelap namun tidak jadi hanya karena takut mengganggu.
Atau saat ia membuka mata. Pria itu sedang memperhatikannya tanpa berkedip. Hanya melihat lama, tanpa mengatakan apapun.
Dan suaranya yang paling diingat. Yang paling sering diucapkan:
“Apa aku bisa mendapatkan satu ciuman?” atau “apa yang harus kulakukan agar mendapat satu ciuman?”
Sinu selalu seperti itu. Lama kelamaan, Lyn gemas sendiri. Tanpa meminta atau diminta, ia menciumi pria itu dengan gemas. Wajah Sinu akan memerah tiap ia melakukannya.
Begitu, selalu begitu.
Tangisnya makin besar, makin kencang. Kemeja pria itu basah oleh air matanya yang tumpah di atas dada yang terlelap.

“Apa aku bisa mendapatkan satu pelukan?”
Itu pertanyaan yang sama kelima kalinya. Apel dalam keranjang penuh. Berdua duduk di bawah pohon Ek besar sambil menikmati pemandangan hutan bersama cuaca mendung. Suara apel di kunyah tak kalah renyahnya dengan gesekkan dedaunan, riuh angin, serta gelak tawa anak-anak yang terdengar lumayan jauh.
Sang Dewi tak menggubrisnya. Perempuan itu hanya diam kecuali mengunyah. Lamunan itu membawanya pada dunia di kepalanya sendiri.
“Boleh aku memberimu nama?” Tanya Sinu. sang Dewi masih kukuh diam. “Aku akan memberimu nama My Sin”
Mendengar yang terakhir, Sang Dewi baru memberinya atensi.
“My Sin? Dosaku? Apa maksudmu?”
Sinu mengedikkan bahu “aku menyukaimu. Setelah aku mengakui bahwa aku menyukaimu, kau pasti akan mengatakan hal-hal yang bersangkutan dengan dosa. Atau menyandingkannya setara dengan dosa-dosa mengerikan yang tak pernah kulakukan. Analogimu membuat merinding, tapi aku selalu suka dengan gaya bicaramu yang apa adanya”
Sang Dewi masih menatapnya—menunggu kejelasan yang lain.
“Kan? Aku menyukaimu.. My Sin..”
“Memalukan” kata Sang Dewi “aku akan membuatmu tidak bisa bicara”
Tangan Sang Dewi terangkat dengan sulur berwarna keperakan yang mengikuti arah jemari
“T-tunggu… tunggu.. Aku minta maaf yang Mulia Agung.. Aku tidak.. Maaf..” pria itu kemudian merangkak mundur dengan kepala tertunduk.
Tangan itu berhenti di udara saat Sinu menghindar.
“Kau ini kenapa banyak bicara sekali? Apa mulutmu tidak pegal?” lalu sulur menghilang, perempuan itu tertawa. Melihat Sang Dewi tertawa pelan, Sinu lega. Jika dibuat benar-benar tak dapat bicara, maka hidupnya yang tak ada masalah dan pikiran tenang ini akan kembali rumit. “Kemarilah, letakkan kepalamu di sini” perempuan itu menepuk pahanya sekali. Sinu langsung mendekat kegirangan.

Aroma sang Dewi menyesaki pernapasannya.
Jika harus menggambarkan, Sinu menangkapnya seperti hujan pertama di malam musim dingin–dingin, suci, dan memabukkan. Wangi melati putih, lotus, dan dupa tipis melekat lembut di kulitnya. Seolah tubuh itu sendiri diciptakan dari doa-doa kuno dan cahaya bulan. Tak pernah ia dapati aroma seperti itu seumur hidupnya. Bahkan saat ia pernah melawan Dewi lain–yang justru busuk di hidungnya.
Wajah Kristal dari bawah. Ia memandangi dagu yang kecil dengan kulit halus tanpa pori. Semuanya sempurna, pahatan maha indah Tuhan.
“Kau pria kecil yang cerewet, apa kau selalu seperti ini?” sang Dewi menatapnya dari atas. Demi Tuhan, Sinu berharap perempuan itu mau mengelus kepalanya, sekali saja.
“Tidak” jawab Sinu praktis.
“Tidak?”
“Hm, tidak. Aku bukan vampir yang cerewet, aku juga tidak pernah mengajak siapapun bicara lebih dulu jika bukan karena kepentingan yang amat krusial. Aku memiliki pribadi yang… kaku. Aku terbentuk seperti itu. Aku terlatih diam meski sekarat. Aku tidak boleh bersuara atau aku akan dipukul. Vampir keluarga Jonathan harus bisa beregenerasi. Jika tidak, aku gagal. Dan aku adalah kegagalan pertama yang paling memalukan bagi Ayahku. Aku berusaha untuk tidak terlihat, sekaligus berusaha untuk berguna agar tidak di buang. Jika ku rangkum, aku bukan orang yang bisa berbicara fasih dengan makhluk lain. Hidupku diliputi kekhawatiran dan rasa rendah diri yang mengerikan. Rasanya, apapun yang kulakukan tak akan berarti. Aku payah dan menyedihkan..”
Jeda. Keheningan merajai kecuali gesekan daun dan suara anak-anak yang jauh tadi.
“Aku juga tidak tahu mengapa aku begitu nyaman di sini. Aku merasa tenang. Pikiranku damai. Aku merasa seperti istirahat setelah mendaki jutaan kilometer pegunungan tak berujung. Aku bernapas disini. Seperti aku diberikan kebebasan untuk mengungkapkan apapun yang kurasa. Boleh menangis saat sedih, dan berbicara semaunya. Aku terkadang mengevaluasi diri tiap akan tidur. Seperti… apa yang terjadi padaku? Apa sesuatu terjadi sehingga perasaan tenang ini mirip saat aku pernah sekali menghirup cannabis sativa yang membuatku rileks namun berkepanjangan?” Sinu menatap Sang Dewi dengan wajah penasaran.
Sang Dewi menggeleng tanpa menunduk. Tahu dari intonasi dan nada bicara. Sinu berpikir ia terlibat atas pikiran tenangnya.
“Aku tidak membuatmu menjadi apapun jika kau berpikir itu ulahku” katanya, memangkas prasangka. “Aku tidak diberikan kemampuan memanipulasi otak dan pikiran, tidak juga bisa meramal. Jika bisa, aku tentu tidak akan susah payah menggunakan pedang dan kekuatan. Aku hanya perlu memanipulasi seluruh isi otak makhluk di dunia ini agar menjadi baik. Dan dunia akan menjadi seperti yang ku inginkan. Tentram” ada hela napas lembut. Bahkan napas perempuan itu begitu wangi. “Kau tidak nyata, kau yang di sebelahku merupakan dirimu yang sesungguhnya. Jati dirimu tanpa kontaminasi trauma, tanpa terpapar lingkungan dan tekanan hidup. Jika kau besar dengan pola didik dan peran orang tua yang sehat, seperti inilah gambaran dirimu. Cerewet, selalu banyak bertanya, aktif, serta pandai menggoda. Ragamu yang busuk membawa luka yang tak pernah kering. Kau… kau disini tak terluka. Kecuali aku akan memukulmu jika kau berulah”
Lalu Sinu tertawa.
“Aku akan mengembalikanmu ke duniamu. Asal jangan pernah kembali apalagi bersama dua temanmu untuk membunuhku. Kau tau, bahkan seekor semut akan menggigit jika terancam. Apalagi aku?”
“Aku belum mau kembali” kata pria itu yakin “aku masih mau di sini sebentar lagi. Kau bilang sedang menghukumku? Tepatilah, aku suka hukumanmu. Membersihkan kastil menjadi hobiku sekarang. Lagi pula, kau belum mengembalikan kekuatanku”
“Kekuatanmu akan kembali saat kau kembali ke duniamu”
“Benarkah?”
“Hm”
“Biarkan aku di sini sebentar lagi” Sinu menutup mata “seandainya seseorang mau memegang kepalaku, lalu mengelusnya sedikit saja. Aku akan berlari sampai ujung dunia”
“Itu kebohongan yang mengerikan. Kau bisa menggoda siapapun kecuali aku”
“Benarkah, kenapa?”
“Karena aku tidak akan tergoda oleh siapapun. Aku merindukan kematian yang damai setelah ada yang menggantikanku”
“Kau terlalu percaya diri” Sinu tertawa.
“Kau pasti memiliki kekasih di duniamu. Kau pikir saja, dasar pria kecil”
“Aku bukan pria kecil”
“Ya, ya, terserah”
Lalu kepalanya kembali mengingat Lyn.
Tidak, ia tidak lupa pada gadis itu. Tidak juga pada adik-adiknya. Namun Sinu paham tentang perbedaan dimensi waktu yang sempat dijelaskan Kristal—jika berbulan-bulan disini hanya akan sebentar di sana. Sungguh, ia hanya ingin bernapas sedikit lagi. Ingin merasakan kebebasan dari trauma, serta lepas dari mimpi buruk yang terus berulang membuat tidurnya tak pernah layak. Juga dari beban pada pundak yang menggelayut. Rasa tenang begitu mahal sehingga untuk pertama kalinya Sinu merasakan, maka begitu sulit untuk ia kembali.
“Apakah aku egois jika aku ingin bertahan sedikit lagi, My Sin?”
Jeda. sang Dewi tak segera menjawab.
“My Sin?”
“Terserah padamu. Itu hidupmu, keputusanmu. Hanya jangan mencoba untuk membunuhku atau aku yang lebih dulu membunuhmu”
“Aku suka sekali padamu”
Tidak ada jawaban.
Sinu tidak yakin. Namun rasa kagum serta ketertarikannya pada sosok agung yang kini bersedia berbagi paha untuk alas kepalanya, lebih dari rasa ia menyukai Lyn. Itu bukan kabar bagus. Namun ia tahu ini hanya mimpi dan begitu kembali, barangkali semuanya akan juga kembali seperti semula.
“Aku memiliki seorang gadis. Aku tidak tahu apa ini masuk dalam kategori kekasih ketika dia terus menolak untuk kunikahi. Dia juga tidak menjawab saat aku berusaha mengesahkan hubungan kami. Dia hanya gadis yang ingin terus dirayu dan suka menciumku. Dia menyukaiku, aku menyukainya”
“Itu terdengar romantis. Kau harus pulang untuk kekasihmu, adik-adikmu”
“Aku masih ingin disini”
“Itu pengkhianatan. Kau menyukaiku, kau memiliki kekasih. Aku benci sekali makhluk sepertimu”
“Menyukai seorang Dewi yang tidak akan tergoda oleh siapapun. Aku melihatmu tanpa rencana apapun. Apa kau mulai berpikir untuk berkencan dengan seorang vampir?”
“Kau mau mati?”
“Aku ingin hidup yang lebih panjang bersamamu di sini”
“Pikirkan keluarga dan kekasihmu”
“Aku mungkin akan kembali. Tapi tidak akan sebahagia disini. Makannya sejak tadi kutanya. Apa aku egois jika tidak kembali? Kupikir sudah cukup hidup seperti itu, dibebani banyak hal. Adik-adikku sudah besar dan sampai kapan aku akan terus bertanggung jawab terhadap mereka?” pria itu tertawa “aku mengatakan ini karena ini mimpi. Aku bebas mengutarakan isi hatiku, isi pikiranku, bahkan menangis. Aku menyukaimu, Kristal. Wajah itu. Kau perempuan terbaik setelah ibuku. Aku bahkan tak menemukan itu pada Lyn yang juga kusiksa untuk membuka portal. Tidak ada yang sehalus hatimu yang mudah memaafkan, menjaga adik–adikku dengan telaten dan kesabaran. Jika ada yang bisa kunikahi, itu adalah kau. Aku bisa mencintai gadis yang juga mencintai keluargaku. Merangkul seluruh kurang-kurangku dan tidak keberatan atas eksistensi enam saudaraku, justru senang. Namun dia sudah bersama Edgar. Aku mendukungnya. Dan aku bertahan dengan Lyn. Lalu mulai melanjutkan hidup yang berat itu. Sungguh, aku juga ingin mati seperti Sang Dewi ingin mati. Dengan damai”
Angin berhembus lembut. Menerbangkan sura-surai halus sang Dewi yang mengeluarkan aroma apel. Sungguh segar.
“Jadi, gadis mana yang kau cintai?” tanya Sang Dewi kemudian.
“Kau”
Perempuan itu hampir ingin memukulnya sebelum Sinu menutup wajah “aku menemukan Kristal di wajahmu dan ketenangan saat berada di dekatmu. Minusnya, aku tidak bertemu dengan adikku. Selalu ada yang kurang. Tak ada kesempurnaan. Bahkan My Sin juga mengaku memiliki kekurangan. Apalagi aku”
“Seru sekali. Hidup penuh romansa. Tidak pusing memikirkan kedamaian dunia” Sang Dewi mendongak. Semilir angin terasa menyapu wajahnya. “Bisa ceritakan bagaimana akhirnya? Maksudku, apa kau akan merebut Kristal dari adikmu?”
“Kecuali aku gila”
“Oh.. itu terdengar bijak”
“Makannya aku ingin menikahimu”
“Kau makin kurang ajar, ya?”
Pria itu menutup wajah. Lalu tersenyum.
“Bisakah aku menikah denganmu, lalu membawa seluruh adikku ke mari? Tidak hanya jiwa, melainkan utuh dengan raga?”
“Tidak bisa”