Semua tulisan dari citruslemon97@gmail.com

EPISODE 79

“Nggak! Mending Mama cekek si Edgar-Edgar itu, kurang ajar. Pikirin kondisi kamu, Kristal! Jangan mikirin laki-laki aja. Anak kok.. Bikin Mamanya ngomel terus”

Ibunya mendelik dengan bola mata yang seakan keluar dari tempatnya. Wanita itu selesai menyuapi si bungsu dan memberikan obat. Kristal sempat tidur setelah mandi dan kini, merasa segar sedikit, gadis itu merengek ingin pergi ke mansion dengan segala alasan. Terang saja ibunya kontan menyimpulkan jika anaknya ingin bertemu dengan pria itu.

“Edgar lagi kerja, Ma… aku bukan mau ketemu dia… dia chat aku mau rekaman dan sibuk mau keluarin single” si anak merengek. Kristal kukuh. Gadis itu ingin bertemu dua temannya meski yang menjadi alasan utama adalah rasa rindunya pada semua vampir. Belum lagi kabar Isabella yang lumayan menyita perhatian.

“Mama nggak suka sama Edgar”

“Mama baru kemarin bilang suka sama Edgar”

“Kapan? Itu gara-gara dia mukanya kasihan. Terus suaranya lumayan pas nyanyi gubuk derita, sisanya, BIG NO”

“Halah, gak jelas. Kok bisa Papa setia sama Mama, aneh. Selingkuh dong, biar rame.. Aku nggak masalah loh punya Mama tir—” Kristal diam saat sang Ibu menatapnya dengan mata makin tajam. Pandangan itu seakan bisa membunuh tujuh ribu pasukan gajah. Kristal berdehem. “Please.. Aku mau ke mansion.. Please… inget kata Dokter, Ma. Aku nggak boleh stress. Mama maunya aku tidur aja di rumah sampe meninggal? Please…” gadis itu menggulung diri dengan selimut, lalu kakinya naik ke dinding, berputar-putar tidak sesuai dengan kelakuan orang kurang sehat.

“Nggak”

Jeda beberapa saat. Gadis itu memutar otak. Lantas ia meraih ponsel—menelepon Ayahnya.

“Halo, Pa”

Suara ayahnya terdengar menyahut diseberang. Latar belakang bising, pria itu sedang di luar.

“Aku mau mati muda aja, mau minum obat sebotol, berendem di bathub sampe tenggelam, mau berakhir, aku capek banget.. Aku nggak mau makan lagi, aku kenapa…” Kristal mulai akting. Mamanya menatap dengan mata paling tidak percaya sedunia “kenapa aku dilahirkan dari keluarga ini? Memangnya salah mencintai seorang pria? Apa aku harus jadi LGBT? Apa aku—”

“Kasih hp nya ke Mama” kata Ayahnya memotong ocehan sang anak. Kristal menahan tawa sekuat tenaga.

Ia mendengar ayahnya marah-marah. Mengatakan ini dan itu. Ibunya masih menatapnya jelas seperti akan mencekik.

“Kasih aja dia biar nggak stress, nanti si Edgar itu kita kirim ke Bangladesh kalau ngawur. Gak usah ketat-ketat, Ma. Inget kata Dokter, nggak boleh stress”

Kristal bangkit dan melompat-lompat. Baru merasa lebih baik. Kepalanya baru tidak pening dua hari terakhir, bisa berjalan meski hanya di dalam rumah. Namun di hari ketiga, gadis itu sudah sikap lilin.

“Udah dibacain ayat kursi anak ini kerasukan setan dari Ternate” wanita itu menghela napas “terus mau pergi sama Pak sopir atau gimana?”

“Di jemput ayang.. Hehehe”

“Tukan, kek gitu bilangnya Edgar lagi rekaman, bikin single. Halah”

“Yakan emang lagi proses. Suruh jemput dulu, bentar” gadis itu mengambil ponselnya lagi, lalu menelepon Edgar. “Tapi Edgar nggak bisa bawa mobil sih.. Tapikan yang penting dia kesini,  terus berangkatnya barengan” gadis itu terkekeh lagi.

“Halo cintaku..” sapaan baru itu akhir-akhir ini mengganggu Kristal “gimana? Mau apa nih, seisi dunia gua kas—”

“Gosah gitu-gitu, jijik. Datang ke rumah sini, jemput. Gua mau ke mansion”

“Otw.  Gosah jijik-jijik. Lu nggak inget kah pas sakit? Lu konfes ke emak bapak lu kalau lu cinta mati ke gua. Lu sayang gua, pokoknya cinta lu yang penuh itu bakal dibagi ke gua yang kosong. Gila, gua makin edan cinta sama lu” tawa Edgar menggelegar, Kristal mendecih.

“Nggak ada begitu-begitu, najis”

“I love you. Mama lagi apa?”

“Ada ni di samping”

“Mama! I love you, mau request lagu apa Ma? Kicau mania mau?” Edgar berteriak, speaker pada ponsel sengaja dikeraskan.

“Awas kamu jadi bencong, saya robek anus kamu”

🐾🐾🐾🐾

Setelah melewati Ibu Kristal yang lumayan unik, berdua akhirnya bisa keluar—kini duduk di belakang sopir sambil menggenggam tangan satu sama lain.

“Masih pucet banget..” Edgar menciumi telapak tangan gadis itu berulang-ulang “gosah ngide mau mikirin jalan tengah perkara Dukun sama Isa. mereka itu dua orang dewasa yang bisa bertanggung jawab sama apa yang mereka kerjain. Cuma karena emang pertama kali aja makannya pada ribut. Jangan stress. Gua rusak bumi, gua hancurkan siapa aja yang bikin lu stress” kata-katanya ditekan-tekan seolah apa yang disampaikan memang bukan sekedar omong kosong. Melihat Kristal sekarat tidak akan pernah bisa membuatnya mentoleransi apapun.

“Cie.. cinta sama gua cie…” gadis itu membelakangi Edgar dan berencana menjilat kaca mobil.

“Terusin! Anak ini baru mending” Edgar membalik si gadis, lalu menyeka mulut Kristal.

“Gua bukan anak kecil! Paham gua” tidak terima, Kristal menoyor bisep kekasihnya.

“Sengaja kan, biar gua giniin?” pria itu lantas mencium bibirnya.

“Emang, emang sengaja. Kenapa? Nggak seneng?”  namun ia menunduk saat bibir itu terus mematuk wajahnya seperti burung “hentikan! Geli”

“Pas masih tidur mulu, lu nangis-nangis pengen gua peluk” kata Edgar.

“Ngimpi badai” kepalanya menggeleng keras–tidak setuju.

“Ngeyel, tanya Mama lu, Papa sama abang lu juga ada. Lu cium gua di ranjang dan peluk gua sampe kepala gua di gebug tongkat bisbol”

“Nggak mungkin”

“Dih, bodo amat”

Lalu jeda. Kristal menggenggam tangan pria itu lembut. Di usap-usap dengan ibu jarinya.

“Gua mimpi, selama tidur gua mimpi. Mimpinya panjaaaaang.. Banget, panjang pokoknya, mau danger gak?”

“Mau, cerita, ceritain ke gua semuanya, gua akan dengerin walau sampe kuping gua keluar lahar”

Ada jeda setelah itu. Kening si gadis mengerut-ngerut. Ia menghela napas mencoba merunut yang paling membekas hingga beberapa hari—karena itu adalah mimpi paling aneh sepanjang hidupnya. Atau katakan bukan mimpi, melainkan masa koma dengan alam bawah sadar yang rumit. Ia tidak tahu, namun itu jelas mimpi meski kelewat nyata.

“Gua mimpi…” ada ujung panjang yang ditarik. Sudut bibir gadis itu berkedut “gua adalah Dewi.. gua Dewi di khayangan. Hidup gua di negeri dongeng yang jauh dari imajinasi yang disuguhkan tontonan selama ini. Jauh dari film. Khayangan itu cuma berupa bangunan tua di atas langit dan gua bisa melayang dengan ajaib” Edgar menyimaknya, serius.

“Di dunia mimpi gua, semuanya hidup rukun. Ada Vampir, ada manusia serigala, ada siluman. Pokoknya banyak entitas fantasi yang nggak masuk akal. Tapi kita semua hidup berdampingan dengan damai di bawah satu pimpinan seorang raja dari kalangan Dewa yang menikah sama Vampir wanita” Kristal menatap mata Edgar yang menyimak “di sana ada lu.. Lu bukan Dewa tapi, lu vampir, kayak lu sekarang gini, vampir aja. Gua juga liat Jake. Tapi ngga lihat yang lain.. Kita ketemu di jalanan setapak dan gua turun dari dahan pohon secara ajaib”

Kristal sebenarnya menunggu Edgar berekasi. Apa saja. Bahkan tidak apa-apa jika menertawakan mimpinya yang seperti mengada-ada. Namun  gadis itu berani bersumpah demi nyawanya. Mimpi itu terus mengusik hingga menempel secara aneh. Mimpi sejatinya hanya akan bertahan paling lama barangkali itungan hari, itu pun kabur, tak jelas. Namun apa yang ia impikan tampak seperti memori yang memang sudah ada di hidupnya. Tanpa mengabur.

“Unik ya? Gua melayang, gua punya kekuatan ilahi. Abis itu gua merasa bisa liat hantu. Gua berburu para pengkhianat dari semua kalangan yang berencana mengadu domba satu entitas sama entitas yang lain. Gua disana, sendirian. Gua berdiri sendiri dalam kastil kuno, tanpa Mama, Papa, Abang, atau siapapun. Gua pegang pedang. Berat pedangnya hampir sama kayak berat badan gua. Tapi anehnya itu mudah bagi gua, gua lebih mahir dari siapapun yang pernah gua liat. Juga, pakaian gua nggak kayak Dewi dalam gambaran gua pas kecil. Gua pakai pakaian manusia untuk berburu. Gua adalah Dewi kedamaian”

Lagi, Kristal menunggu Edgar tertawa. Ia menunggu pria itu mengolok-olok mimpinya. Atau apapun tentang hal lucu itu.

“Yang… Dewi kedamaian itu ada, tapi udah jadi abu, dia yang kalah karena melawan semua pengkhianat. Tapi dari situ, semua entitas yang lu sebutin itu pelan-pelan punah karena eksistensi manusia yang mengeksploitasi hutan. Ini kata Samuel. Dia baca banyak buku sejarah kuno. Kalau mau lebih jelas, lu bisa tanya Sinu, gua yakin sebelum portal ketutup, Sinu tau lebih banyak tentang banyak entitas di hutan”

Kristal kembali mengerutkan dahi. Matanya ikut mengecil seolah dapat kembali ke mimpinya saat melakukan itu.

“Jadi, menurut lu, mimpi gua nggak aneh?”

“Nggak sama sekali. Mimpi lu bukan fantasi remaja. Gua hidup di dunia yang lu gambarkan” 

Jeda lagi. Kristal melihat keluar. Bangunan dan rumah-rumah bergerak menjauh, kaca berembun kena napas, gadis itu sebenarnya tau—terkadang kesadarannya seakan mengambang. Rasanya seperti hidup di dua dunia—di mana ia sadar akan kedua situasi itu—meski menjadi Dewi seperti yang ia ceritakan pada Edgar benar-benar ia anggap bunga tidur saat ia sadar. Namun saat tidur, otaknya berpikir sebaliknya. Efek kecelakaan barangkali memang seperti itu.

🐾🐾🐾🐾

Sangat pas untuk brunch.

Pukul 10:30. Saat kakinya kembali menapaki mansion setelah satu bulan lebih tiga minggu ia menjalani perawatan serta masa pemulihan. Tidak ada yang berubah, hanya rasa rindunya saja yang membengkak. Sudah ia tanyakan pada kekasihnya—bagaimana mereka makan selama ia tidak ada. Dan jawaban Edgar membuatnya lega.

Lyn menyisir rambut Isabella. Gadis itu menyuap buah yang dipotong-potong dalam boks. Ternyata tidak menangis setelah mengirimkan pesan suara berisi isak sambil mengatakan banyak hal tentang penyesalan, takut hamil, sampai mati.

Berdua berbinar-binar saat melihat satu temannya berwajah pucat mendekat. Edgar berdiri di sampingnya bagai pengawal yang galak.

“Jangan dekat! Jangan dekat-dekat Kristal, kalian bawa penyakit” kelakar pria itu menirukan suara Mama si gadis, persis. Kristal sampai meliriknya dan tertawa.

“Cukup satu aja yang begitu di rumah, buset..” katanya sambil terkekeh. Namun Isa lebih dulu menabraknya dengan pelukan. “Ini cewek gua, kata Mama gua, gua ngelesby sama ni bocah. Tapi dia malah begituan sama Dukun duluan, terluka gua” tangannya mengelusi punggung Isa “gimana perasaan? Udah enakan?”

Isabella menggeleng.

“Halah gaya, nanti malem di terjang lagi sama Dukun, caya sama gua” Edgar menyahut. Kristal menyikutnya keras.

“Beli lateks! Beli kondom! Hey! Gua kudu beliin semua orang kondom dan lu bakal jadi contoh penggunaan!” Kristal mengatakannya serius, Edgar mendelik.

“Ya gua nggak masalah asal praktek juga. Praktek kek Dukun ke Isa” itu protes, sungguh.

“Sini gua jenggut jabang lu”

Satu temannya lagi mendekat. Lyn ikut memeluk Kristal “rasanya serba salah. Ketawa salah, makan enak salah, apalagi senang. Jangan sakit lagi.. Gua nggak sesabar lu ngadepin semua makhluk ini.. Dengar Isa begituan aja, gua pen neluh si Dukun” Lyn mengelusi rambut belakang Kristal.

“Gimana semuanya? Gua kudu periksa Daniel, Jake, Samuel, Johan.. Kalau Dukun dan Sinu, gua pikir mereka udah bisa mengatasi masalah sendiri” kata Kristal. Pelukan mereka mengurai saat Edgar memisahkan paksa.

“Mengatasi masalah sendiri kok pusing. Mana tembak dalem, goblok bener. Minimal tanya-tanya. Ada teknologi namanya HP. Emang jengkelin banget, serius. Gua sebal banget sama Dukun”

“Temen lu sama abang gua sama-sama goblok. Kenapa cuma nyalahin abang gua? Vampir loh, mana tau lateks, yang ngerti kan jelas manusia. Ada teknologi namanya kontrasepsi. Di pikir vampir bujangan yang terisolasi di kastil ngarti begituan? Gua aja tau karena Kristal yang ngedukasi. Abang gua mana paham. Kayak Isa juga. Dia kan bukan underage, harusnya ngerti kalau efek bercinta tanpa alat kontrasepsi itu adalah kehamilan. Nggak mungkin kawin terus keluar air zam-zam” Edgar mengomel karena tidak suka sejak tadi Kakaknya terus di salahkan. Kecuali dirinya dan sisa saudaranya yang lain, tidak boleh ada yang menghina Logan.

“Tapi keluar air kok” Isabella membela diri.

“Cengoh lu mah, tipe nya Dukun yang cengoh gini emang” Edgar masih menimpali sementara Kristal mulai membekap mulut pemuda itu. 

“Berisik”

“Ya lu bayangin aja. Katanya sakit, tapi di genjot malah diem aja”

“Gua nangis hey!” Isabella mendelik menatap Edgar.

“Nangis tapi enak, lanjut part sekian” masih, pria itu masih. Kristal akhirnya menyepaknya keras meski tak terasa sama sekali.

“Berisik Jablay! Sana balik kerja, males gua. Ini obrolan gadis” kata Kristal jengkel.

“Males, gua udah kadung pamitan nenek gua di ICU” pria itu mendekat, lalu memeluk Kristal dari belakang “gua akan jadi bodyguard lu, yakin. Gua takut lu luka”

“Lu kudu cari uang karena gua butuh laki yang beruang” Kristal menyikut perutnya.

“Dahlah” kecupan terakhir berhasil membuat pria itu balik arah lalu pergi—meninggalkan tiga gadis yang akan memulai cerita entah dari mana.

🐾🐾🐾🐾

“Jadi gini teman-teman” Kristal kembali memulai kelas setelah sekian lama. Tanpa dihadiri Isabella dan Lyn karena permintaan pria yang bersedia dijadikan contoh, Edgar berdiri di depan enam pria tanpa busana sementara Kristal tanpa risi membuka lateks untuk kemudian ia pakaikan pada penis pria itu.

“Jadi caranya, ini kan ngaret nih, ujungnya ada sisa, nah, sisa ujungnya ini nanti bakalnya buat sperma. Buat yang durasi bercintanya agak panjang, lateks ini bisa aja dipake pas mau klimaks doang. Nanti kan terasa tuh, cepet-cepet cabut dan pake ini. Ya sebenarnya kalau lebih aman di pake dari awal” Kristal mendekat, lalu jongkok di bawah Edgar, ia memasangkan benda itu dengan kikuk dan bingung. Sebenarnya, ini juga pertama kali ia melihat isi kontrasepsi itu. Bermodal video  tutorial menggunakan lateks di  sosial media, gadis itu berhasil memakaikan dengan benar dan pas sesuai ukuran milik kekasihnya.

XL.

Semua yang ada di sana mengangguk-angguk.

“Ngerti sekarang? Ada yang perlu ditanyain? Segini gua kasih tutor ke tujuh laki yang umurnya sama kek Nabi Idris buset” gadis itu memijat dahi, kepalanya mulai pening.

“Itu terus di apain?” Daniel angkat tangan “itu si Jablay, kan ngaceng itu”

“Gua suruh nebang pohon rambutan abis ini, di halaman belakang” kata Kristal enteng. Gadis itu kemudian berjalan dengan kepala yang terasa sangat berat—seakan pucuk kepalanya diganduli sekarung pasir basah. Pun matanya berkunang-kunang—sambil terhuyung ia berjalan ke arah sofa—berusaha istirahat, namun belum sempat sampai, tubuhnya ambruk begitu saja. Benar-benar ambruk dan tertidur.

Semua orang bangkit—panik,  dan buru-buru membantu gadis itu untuk merebah.

Wajahnya yang sudah pucat, kini berkali lipat lebih pucat lagi. 

Buru-buru Samuel memeriksa. Namun tidak ada sakit atau penyakit yang terdeteksi.

“Dia masih sering begini kah?” Samuel mendongak pada Edgar yang baru akan duduk di lantai. Tangannya mulai mengelusi wajah sampai rambut Kristal. Pria itu mengangguk.

“Tadi pagi dia cerita.. Cerita tentang mimpi dia selama koma. Terus dia bilang, tiap sadar, mimpi itu.. Ya kayak mimpi, tapi pas tidur kayak gini, hidup nyata dia kayak mimpi..” lalu Edgar mengulang cerita Kristal saat mereka bersama dalam mobil. 

Menceritakan tanpa ditambah tanpa di kurang. Dan yang mendelik adalah si tertua.

“Dewi kedamaian?” ulang Sinu, kembali memastikan.

“Hm.. kedamaian. Dia ceritanya sambil ketawa, tapi gua menganggap itu beneran, dan mungkin aja sekarang dia ada di sana. Gimana menurut lu, Pung?” Edgar menatap Kakaknya.

Sinu melamun lama. 

Cukup lama hingga memorinya ribuan tahun seakan dipaksa diputar ulang, dirunut balik untuk menemukan bagian di mana para Dewa Dewi yang ia ketahui.

“Mereka memang bisa mati, dan mereka bereinkarnasi” jawaban Sinu cukup. Pria itu lantas menatap adik kedua yang terlihat paling bimbang meski ia tahu isi pikiran pria itu tidak di sini. Melainkan pada keluhan Isa yang terus membuatnya pusing. “Lu ada bisa liat sesuatu? Kali aja pas lu pegang tangannya ada sekelebat penglihatan atau ingatan” Sinu jelas bicara pada Logan. Pria itu mendongak.

Lalu menggeleng “gua lagi stress. Kekuatan gua gak maksimal” 

Semua orang mencebik. Lalu, tanpa aba-aba, tanpa konteks, Samuel tiba-tiba mencium gadis itu tepat di bibir. Edgar—yang jelas duduk memandori sambil mengelus-elus kekasihnya sayang kontan kaget dengan mulut menganga.

“Luar biasa, Dewi kedamaian” kata Samuel. “Dia memang Dewi kedama—” 

BLARRR!!! 

Api meledak tepat di wajah, Samuel terbakar dengan intensitas panas yang nyari seribu derajat. Wajahnya meleleh ke marmer. Sisa orang menghela napas sementara Edgar kembali menyerang Kakaknya hingga Samuel gosong dan ambruk menjadi cairan.

“Anjing, babi, setan AAARRRRGRGGHHHHH” Edgar mengamuk.

EPISODE 78 VAMPIR LOGAN ISABELLA

Pria itu mengingat malam apakah ini, atau diluar apakah sedang turun hujan—mungkin juga bulan masuk ke dalam bayangan bumi sehingga cahaya matahari yang bisanya menerangi bulan terhalang. Bisa juga karena gugus bintang yang sengaja berkumpul bukan karena terikat gravitasi—melainkan turut bahagia atas apa yang ia rasakan sekarang.

Tidak, sebenarnya Logan tidak benar-benar memikirkan semua itu. Hanya tiba-tiba terlintas saat ia kelewat senang–pun dalam kondisi dimana kekuatannya benar-benar tumpul selaras dengan isi kepala. Sejujurnya, waktu jatuh cinta adalah momen paling bodoh seumur hidupnya. Masih dengan satu gadis yang itu-itu saja. Padahal Logan sudah bersumpah untuk tidak impulsif, apapun kondisinya.

Isabella menggigit-gigit ibu jari. Ibu jari Logan.

Mereka merebah bersama, lengan atas pria itu menjadi tumpuan si gadis sementara tangan yang satu lagi ditarik paksa oleh Isa untuk ia genggam dan… ya, di gigit, kadang di kulum ujungnya. Sambil menonton, gadis itu seperti kebiasaan. Pada orang-orang terdekat termasuk Lyn, juga Kristal.

Namun bedanya, Logan merasakan hal aneh. Bukan hanya senang yang berlegayut. Namun rongga hangat milik si gadis, sentuhan lidah lembut di ujung ibu jarinya tentu saja memantik hal lain—hal yang sebenarnya ada sejak Edgar memutar video porno. Tidak,  bahkan belum sempat benar-benar padam sementara stimulasi seakan bertambah-tambah.

“Menurut Kak Logan, lebih serem hantu yang cewek apa yang anak kecil?” Isabella mendongak sedikit, persis saat Logan tentu saja menatapnya–sejak tadi.

Pria itu tidak menonton, tidak menyimak layar. Sibuknya menatap Isabella dari posisinya tanpa bosan. Maka, saat ditanya, Logan langsung menatap lurus ke layar.

“Anak kecil” jawabnya asal. Bahkan ia tidak tahu mana yang hantu. Semuanya terlihat sama kecuali musik dan latar belakang yang di gelapkan tiap ada sosok muncul. Hal-hal sejenis itu tetap tidak membuat vampir itu mengerti—di mana bagian seram atau kenapa orang-orang tertarik melihat hal-hal sejenis. Baginya, yang menakutkan adalah berpisah dengan orang terkasih atau di telantarkan. Tentu saja pikiran primitif itu tidak akan ia utarakan pada siapapun. Daniel bilang, tidak suka pada hal yang kebanyakan orang suka artinya primitif. Sungguh sulit menjadi manusia. Apalagi manusia yang modern dan kontemporer.

“Kata aku nggak serem semua. Aku sampe bosan banget, aku pengen berburu hantu lagi kayak dulu. Kangen Kristal, kangen Lyn. Kangen pas kita petualangan ke sana ke mari cuma buat nyari hantu dan terus haus sama hal-hal mistis. Kata Kristal, sekarang dia udah dapetin semua itu, jadi dia kayaknya bakal pensiun. Sama kayak Lyn. Sementara aku… aku masih suka..”

Logan menyimak kelewat baik ujaran yang lebih terdengar seperti keluhan manja anak-anak. Lalu berusaha mencari kata-kata yang pas untuk menanggapi tanpa membuat gadis itu merasa keinginannya memang sudah tidak relevan—juga yang paling penting, Logan ingin menarik tangannya—agar gadis itu berhenti memasukkan jeriji miliknya ke dalam mulut. Sungguh akibatnya adalah menggagalkan fokus kronis.

“Kamu mau lihat hantu? Aku bisa minta Jake berubah jadi hantu paling serem” mungkin saja berhasil, meski melihat dari rekasi si gadis saat Logan memberi ide, Isa terlihat tidak setuju.

“Nggak kayak gitu konsepnya, masa gitu aja nggak paham. Males ih”

Isa mencebik, lantas memunggugi pria itu. 

Logan bernapas lega. Rasanya seperti baru saja dilepaskan dari belenggu tak kasat mata yang terus mencekik diri sampai buah zakar. Sialan. Kendati, tak lantas segera menysutkan ereksi. Pria itu ingin memukul penisnya sendiri.

“Tapi Kak Logan janji bakal main ke rumah hantu sama aku, ya? Ke bangunan yang aku kirim gambarnya itu, ya?” si gadis kembali berbalik. Bukan menatap wajah, perhatian Logan jelas langsung turun ke belahan payudara yang terlihat sekal dan padat. Tidak besar, tapi tidak kecil juga. Semua yanga ada pada gadis itu ideal di mata Logan.

“Ya” jawabnya singkat, pria itu lantas kembali melihat ke layar.

“Kak”

“Hm”

“Lihat aku”

“Apa?” pria itu melihat si gadis lagi. Namun kali ini, Isabella melayangkan ciuman sekilas pada bibir pria itu. Hanya sekilas, pun benar-benar singkat.

“Aku suka banget sama Kak Logan. Sukaaaa banget… kenapa dulu aku takut banget ya? Padahal gemes, imut, dewasa, tipe aku banget. Dulu liat Daniel, Edgar, dan Jake sering muntah paku, rasanya mengerikan. Sekarang malah games”

Logan tak segera menjawab kecuali mengulum senyum. Jika saja suasana tidak temaram dan hanya mengandalkan cahaya dari layar, tentulah Isabella dapat melihat rona pria itu.

“Kamu mau menikah sama aku, Isa?” 

Pertanyaan itu sungguh terlalu jauh. Terlalu aneh untuk konteks ini. Namun Isabella paham jika pria dewasa tidak akan jauh-jauh dari ajakan sejenis ini. Beberapa kali dekat dengan pria meski tidak benar-benar pacaran, Isa akan kabur dan sawan saat pria mengajaknya menikah. Tentu saja karena ia masih kecil. Sebenarnya hanya persaannya saja. Katanya, usia 23 tahun sudah cukup dewasa untuk berpacaran serius. Padahal Isa tidak pernah serius–maksudnya, ia tetap merasa seperti anak kecil. Mana bisa anak kecil menikah.

“Kak Logan agamanya apa? Kalau menikah gimana?” lagi, pertanyaan itu membuat Logan berpikir lagi.

“Nggak yakin, tapi dari dulu banget, aku cuma tau yang menikahkan itu pastor walau aku bukan pemeluk katolik. Aku nggak punya agama dan merasa netral alias bisa menyesuaikan dengan pasangan aku”

Isabella mengangguk.

“Jangan menikah dulu gaksih? Masih lama, masih panjang, kita bisa terus pacaran dan melakukan kegiatan menyenangkan bareng-bareng. Nggak jauh beda juga kan?”

Hanya helaan napas Logan, pria itu tidak menjawab lagi. Paham akan reaksi Logan, Isabella kembali memeluknya.

“Aku kira vampir nggak akan sibuk ngajak nikah, ternyata sama aja. Nggak tau, tapi pernikahan terlalu jauh dan aku beneran nggak pernah memikirkan apapun tentang itu.. Aku cuma.. Mau main dan belajar cari uang dulu.. Maksud aku, kita jalanin aja dulu, masih terlalu dini, kan?”

Pria itu akhirnya mengangguk. Lalu diam-diam memikirkan apa yang dikatakan Isabella bahwa pernikahan barangkali memang tidak lagi bergitu kerusial.

Seperti malam ini. Ia bisa memeluk gadis itu bebas, tanpa perlu ikatan rumit yang mungkin saja telah lama di tinggalkan semua kalangan.

Isabella merangkak naik ke atas tubuh Logan.

Membuat pria itu kaget sambil menahan napas. Lalu si gadis mendaratkan bokong di perut bawah pria itu.

“Dua mata saya, hidung saya satu, dua kuping saya yang kiri dan kanan” Isabella memegang dua tangan Logan lalu mempraktikan gerakkan—memegang bagian tubuh yang dinyanyikan seperti anak kecil. Gadis itu tergelak kemudian. Tubuhnya terguncang di atas Logan.

“Kak Logan mukanya lucu banget kayak bayi” lantas dua tangannya mencubit pipi pria itu.

“Isa… kamu sadar nggak.. Ah.. sialan..” pria itu melepaskan tangannya lalu mengusap wajahnya kasar. Seluruh tubuhnya memanas. Celana pendek dan tanktop gadis itu seakan terbakar dan kulit mereka saling bersentuhan dengan cara paling erotis. Tentu saja hanya isi kepala Logan, pria itu kepayahan mengatur diri.

“Aku bukan makhluk beragama, aku bukan makhluk baik yang punya peraturan, aku juga hidup sesuai insting” pria itu bergumam, lalu matanya menatap eksistensi di atasnya yang masih nyengir seolah aksinya tidak berbahaya.

“Aku juga.. Aku suka Kak Logan, aku dewasa unuk berpacaran”

“Ya, ya, benar, kan? Sekarang, maukah kamu membuka atasan untukku?  Biarkan aku meraba tubuhmu, biarkan tanganku merasakan hangatnya kulitmu” pria itu meremas tangannya sendiri. Lalu mulai begerak menyentuh paha Isabella dengan ragu-ragu.

“Mau, tapi.. Aku mau Kak Logan yang bukain”

Itu juga baru. Bukan, maksudnya, setidaknya ada tiga hal yang terjadi sekarang—membuat Logan seperti mengambang.

Yang pertama karena ia masih ereksi lepas menonton video porno. Yang kedua karena Isabella tiba-tiba menduduki tubuhnya. Yang ketiga karena gadis itu meminta ia membukakkan atasan. Jika siapa saja bersedia menjelaskan situasinya secara jelas, barangkali ia tidak akan beringsut duduk, lantas membelai wajah gadis itu sembari menurunkan tali tanktop yang menyelubungi bagian atas tubuh indah itu.

Tali merosot satu, pria itu kembali membuka tali yang satu lagi. 

Dan kini, dua gundukkan yang sebelumnya hanya ia lihat dari video, terpampang jelas di depan mata. Matanya terlalu fokus hingga baru seperti ditarik sadar saat Isa mengusap rambutnya lembut.

“Kak Logan, aku nggak pernah kayak gini.. Tapi..” Isabella menggigit bibir bawahnya “aku… aku penasaran juga..”

Logan menatapnya, mata mereka bertemu dalam posisi itu.

“Kamu percaya sama aku?” seolah mencari kesungguhan. Jakun pria itu bergerak resah. Isabella mengangguk pelan “biarkan aku menyentuhmu.. Aku bisa berhenti saat kamu ingin berhenti atau merasa nggak nyaman, hm?” si gadis mengangguk lagi.

Rasa penasaran yang membumbung tinggi akan mengalahkan banyak hal. Baik si gadis, mau pun pemuda itu. Tidak ada yang salah dari dua insan yang di mabuk cinta, yang salah adalah aturan.

Logan menyentuh wajah si gadis, membelainya lembut persis seperti yang ia lihat di video beberapa saat lalu. 

Tangannya bergerak mulus melewati rahang-leher dan mendarat di tulang selangka. Sampai sana, kepalanya miring sebelum tangan besarnya mendarat pada satu gundukkan sekal dengan ujung kecil, namun mekar. 

Isabella terus menggigit bibir bawahnya—merasakan gelenyar yang terus membuntut di sepanjang jejak telapak hangat yang mengelusi kulitnya.

“Boleh aku… cium?” Logan kembali mendongak saat meminta izin, Isabella tampaknya akan kehilangan akal sehat dan ia sudah mempertimbangkan semua hal sejak memutuskan mengajak pria itu singgah tengah malam. Gadis itu mengangguk.

Logan lantas menabrak dengan ciuman.

Ciuman rindu, ciuman hasrat, ciuman dalam.

Kapan terkahir mereka berciuman? Bayangan di kastil tentu saja memenuhi–pun, itu adalah akal-akalannya agar portal terbuka. Namun setelah kejadian memalukan, Logan memutuskan untuk lebih tenang dan ‘waras’ meski detik ini, jelas kewarasannya menghilang dibawa gelegar suara musik latar belakang film horror yang sejak awal memang tidak ia indahkan.

Isabella meremas rambutnya.

Puting gadis itu makin besar meski maksimalnya tak akan lebih besar dari biji kacang tanah. Ia membusung naik turun seiring ciuman yang semakin panas. 

Lidah pria itu membelit-belit, liur mereka bertabrakan begitu serakah dan liar. Suara tegukan bagai pelepasan dahaga yang telah lama ditahan, pria itu nyaris seperti kesetanan.

“K-kak… hmph.. Kak..” Isabella mendorongnya pelan saat napas pun sulit. Pria itu memakannya hingga menyumpal lubang udara.

Dengan hati-hati, pria itu menarik keluar lidahnya, liur ikut jatuh saat ciuman terlepas.

Tanpa menunggu apapun, Logan langsung mencium leher. Isabella kontan mendongak.

Lidah pria itu menyapu di sana, meninggalkan jejak-jejak liar yang terus bertambah pada tiap jilatan. Si gadis menutup mata, lalu membukanya lagi. Erangan pelan keluar begitu mulus membuat Logan berhenti. 

Pria itu berhenti.

Bukan, Logan hanya memastikan apa yang ia tonton ternyata benar adanya. Benar, kan? Gadis yang mengeluarkan suara indah itu bukan sedang kesakitan. Atau jika kata Daniel mirip suara kuda meski Isabella tidak bersuara seperti kuda. Pria itu hanya memastikan–pula yang dikatakan Edgar bahwa si gadis justru merasa nikmat saat bersuara seperti itu. Maka, Logan berhenti untuk merayakan keberhasilannya—mengulum senyum dan kembali menciumi rahang ke leher. Terus begerak liar hingga turun ke tulang selangka dan berakhir mendarat—mengulum puting.

Isabella bersuara lebih keras.

Pucuk itu terasa kenyal dalam mulutnya. Saat ia hisap kuat-kuat, tangan si gadis makin kuat juga menarik rambutnya. Isabella mengerang.

Logan menarik puting itu dengan ujung bibirnya. Bentuk bulat yang basah kian membesar dan becek. Matanya kembali bertemu dengan milik si gadis.

“Enak?” tanyanya, tak ada lagi wajah menggemaskan di sana. Matanya seolah akan menerkam dengan kilat aneh di sebelah kanan. Isabella memperhatikan tiap detail sambil mengangguk seperti jalang gila yang haus akan sentuhan.

Logan merebahkan si gadis. Ia buka pelan-pelan celana pendek—satu-satunya yang menghijab. Isabella hanya menggigit ujung ibu jarinya dengan keraguan yang nyaris tak tersisa.

Terkadang, masih terlintas pikiran bahwa malam ini ia mengalami gejala sinting–di mana ia berhalusinasi akibat menonton film porno. Seluruh tubuh Isabella terlihat nyata di depan mata, namun juga tidak. Barangkali efek lampu yang di matikan. Maka, pria itu masih sempat menyalakan lampu dan mematikan film yang terputar—membuat suasana makin hening selain berisik oleh napas mereka berdua.

Tubuh itu makin jelas.

Tiap lekuk makin jelas.

Logan menelan liur. Dirinya masih utuh. Jaket yang belum di lepas meski cuaca mendadak panas, lalu celana yang mulai sesak di bagian pangkal paha meski tak lagi membuatnya resah—justru menyenangkan.

“Aku malu.. Astaga” gadis itu merapatkan kakinya saat terang lampu jelas menyorot sampai ke pori. Namun Logan bukan sedang ingin mendengarkan siapapun dalam kondisi itu selain birahi dan otaknya.

Ia merangkak ke bawah, turun tepat bawah si gadis, lalu membuka paha itu pelan-pelan.

“Buka lebih lebar” pintanya, ia memiringkan kepala hingga tatapannya bertemu. Isabella hanya mengangguk, lantas dua pahanya terbuka.

Dan Logan kembali melihat hal serupa meski tidak. Video itu.

Bedanya, milik Isabella di penuhi rambut-rambut halus yang jarang-jarang. Kulitnya bersih dan lembut. Pria itu kembali menelan liur.

“Jangan dilihatin, malu..” Isabella memaksa merapatkan paha meski Logan langsung melebarkannya kembali. Pria itu menunduk ke bawah sebelum kepalanya turun makin dalam dan lidahnya mendarat di bagian berlendir yang kelewat lembut.

Jilatan di lakukan konstan, repetitif dan terukur. Dalam naik turun yang ritmis, reaksi yang di dapat adalah erangan yang makin membuatnya ereksi dan semangat.

Isabella nyaris kehilangan suara aslinya yang lumayan cempreng, di gantikan desah-desah yang bejubel di telinga. 

Dua tangan Logan mengelusi masing-masing paha si gadis yang sejak tadi berusaha kembali di rapatkan karena tidak tahan dengan stimulasi yang diberikan.

“K-kak… Ah! Kak!” 

Hanya panggilan kosong. Nama Logan diucap keras-keras dalam tiap isapan pada kelentit yang makin membengkak dan basah. Lidah itu naik turun ke atas ke bawah, kadang mengetuk-ngetuk liang kemaluan dan memaksa masuk dengan membelah labia.

Isabella seperti akan dibawa terbang jauh daripada plafon putih yang monoton. Ia melintasi gugus bintang dan kepalanya seakan berkunang-kunang melawan gravitasi.

Saat klentitnya kembali di hisap, gadis itu pecah dan sampai puncaknya. Tubuhnya bergetar halus, dua ujung kakinya menekuk dengan jeritan makin keras. Dua tangannya menggenggam sisi bantal dan muntah.

Air keluar sangat deras dari vaginanya, memancar bagai mata air membasahi wajah Logan yang sempat kebingungan. Pria itu memang melihat bagian di mana wanita mengeluarkan cairan, namun ia melongo saat wajahnya basah total hingga sebagian tertelan. Isabella sendiri jatuh terengah-engah. Napasnya ngos-ngosan dan ia ambruk tak berdaya.

Namun Logan hanya mengikuti seperti apa yang ia pelajari kendati kelewat cepat dalam praktik. Namun jangan ditanya setajam apa ingatannya pada banyak hal.

Ia melucuti seluruh pakaiannya. Tidak berencana menunggu Isabella membuka mata atau bernapas teratur. Dalam video, ia melihat si pria memasukkan penisnya dalam vagina, dan Logan tau di mana lubang itu berada.

Dua paha kembali terbuka lebar. Si gadis masih memejamkan mata–mengatur napas. Dan tanpa aba-aba, ia mengarahkan batang itu ke bibir vagina, menggeseknya sekali dua kali, sebelum hati-hati memasukkan dengan dorongan terukur.

Tidak, sebenarnya tidak ada yang diukur dalam insting hewan.

Pria itu mendorong keras-keras. Sangat keras, seperti menusuk paksa dengan gerak sangat kuat.

Tanpa tendeng aling-aling, si gadis menjerit tak karuan. Rasanya begitu panas dan perih, juga sakit luar biasa.

Dan yang membuat kaget, gadis itu berdarah.

Logan mendelik ketakutan setelah aksinya yang gesit.

Isabella menangis.

Gadis itu menangis kuat-kuat seperti anak kecil yang memang kesakitan. Vaginanya penuh hingga aneh, rasa sakitnya seolah naik hingga ke kepala, lalu kulitnya seakan robek dan ngilu.

“S-sakit… huaaa… Mama… sakit.. Ini sakit banget… Mama” ia menyeka air matanya dengan tangan asal. Vaginanya terasa berdenyut-denyut dan Logan juga merasakannya.

Pria itu ikut panik. Saat hendak mencabut miliknya yang memang tak manusiawi, milik Isabella seakan meremasnya di dalam—begitu sulit ditarik. Maka, pria itu memutuskan diam di tempat sebelum turun dan meminta maaf.

Ia mencium wajah gadis itu berulang sambil terus berujar maaf meski tak mengurangi rasa perih dan tangisan yang terisak-isak menyedihkan sambil memanggil nama Mama.

“Aku minta maaf… Isa…” pria itu sungguhan menyesal. Dalam video, si gadis tidak menangis, tidak kesakitan. Semuanya terasa menyenangkan–juga tidak berdarah, namun apa yang terjadi pada Isabella? Gadis itu bahkan mengluarkan darah “ayo kita hentikan, lagipula kamu berdarah..” bisik pria itu.

Isabella tak menjawab. Namun Logan tak lekas mencabutnya. Pria itu justru ikut diam sambil mengelusi Isabella yang perlahan menghentikan tangisnya.

“Kak… ini perih banget, nanti kalau aku hamil gimana? Aku nggak mau punya anak.. Ini sakit… hua… sakit..”

Logan juga tidak bisa menjawab yang ini. Pria itu menggaruk tengkuk.

Agak lama mereka diam seperti itu.

Isak kembali mengecil. Namun Isabella mudah sekali kembali menangis meski sudah berhenti. Maka, pria itu tidak akan bertanya atau mengatakan sesuatu hingga remasan pada penisnya mengendur. Isabella pelan-pelan lebih rileks. Saat ototnya tidak tegang, vaginanya juga ikut melentur dan cengkraman mulai memberi napas.

Logan seperti mendapat celah.

Tepat saat ia merasa bisa, pria itu mengeluarkan penisnya sedikit, lalu di dorong masuk perlahan.

Satu kali gerakkan, ia menunggu reaksi Isabella. Dan gadis itu menjerit keras, namun otot vaginanya tidak kembali kencang. Tampaknya gadis itu tidak memiliki energi.

Maka, Logan mengulangnya lagi.

Sekali

Dua kali

Tiga kali

Sepuluh kali hentak.

Dan saat sodokan ke lima belas, ringisan Isabella berubah antara desah dan rintih. 

Penisnya masih setengah keluar masuk, tak berani ia hujam keras-keras. Sambil menunggu gadis itu mengganti seluruh rintihannya menjadi desah nikmat.

Tubuhnya terguncang pelan.

Jejak air mata membentuk vertikal pada dua pipi, Logan mengusapnya sayang sambil bergerak dengan tempo lambat, pelan, dan teratur.

Wajah pria itu memantul di mata si gadis, mata elang yang lapar, yang kini mendapatkan bagian nikmat pada lubang kecil yang ia lahap paksa. Batangnya kelewat besar untuk ukuran manusia, apalagi gadis muda. Isabella merengek-rengek dalam guncangan yang membuat buah dadanya terpantul-pantul. 

“Isa… aku… aku mau terbang..” pria itu meringis, ia rasakan seluruh darahnya mengalir cepat dari otak ke batang penisnya, lalu bertumpu di sana bersama stimulasi yang di ulang-ulang.

“Jangan di dalam… cabut! Kak~”

Siapa yang akan mendengarkan? Lagipula apa yang harus dicabut saat kenikmatan berada di ubun-ubun? Logan klimaks, penisnya membesar berkedut-kedut di dalam dan cairan muntah–tumpah ruah dalam liang dan menembak jauh ke rahim.

Keduanya terengah-engah.

Pria itu ambruk dan memeluk Isabella. Pengalaman seks pertamanya yang gila. Rasanya seribu kali lebih nikmat di banding hanya membayangkan. Meski sempat ragu karena Isabella terus menangis.

“Kak… aku nggak mau hamil… aku nggak siap punya anak..” gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, lalu memukuli pundak pria yang menindihnya.

Logan tidak tahu, pria itu tidak mengerti. Namun saat Isabella mengatakan hamil dan anak, yang dia tahu hanya bertanggung jawab, selesai.

EPISODE 78

Pria itu mengingat malam apakah ini, atau diluar apakah sedang turun hujan—mungkin juga bulan masuk ke dalam bayangan bumi sehingga cahaya matahari yang bisanya menerangi bulan terhalang. Bisa juga karena gugus bintang yang sengaja berkumpul bukan karena terikat gravitasi—melainkan turut bahagia atas apa yang ia rasakan sekarang.

Tidak, sebenarnya Logan tidak benar-benar memikirkan semua itu. Hanya tiba-tiba terlintas saat ia kelewat senang–pun dalam kondisi dimana kekuatannya benar-benar tumpul selaras dengan isi kepala. Sejujurnya, waktu jatuh cinta adalah momen paling bodoh seumur hidupnya. Masih dengan satu gadis yang itu-itu saja. Padahal Logan sudah bersumpah untuk tidak impulsif, apapun kondisinya.

Isabella menggigit-gigit ibu jari. Ibu jari Logan.

Mereka merebah bersama, lengan atas pria itu menjadi tumpuan si gadis sementara tangan yang satu lagi ditarik paksa oleh Isa untuk ia genggam dan… ya, di gigit, kadang di kulum ujungnya. Sambil menonton, gadis itu seperti kebiasaan. Pada orang-orang terdekat termasuk Lyn, juga Kristal.

Namun bedanya, Logan merasakan hal aneh. Bukan hanya senang yang berlegayut. Namun rongga hangat milik si gadis, sentuhan lidah lembut di ujung ibu jarinya tentu saja memantik hal lain—hal yang sebenarnya ada sejak Edgar memutar video porno. Tidak,  bahkan belum sempat benar-benar padam sementara stimulasi seakan bertambah-tambah.

“Menurut Kak Logan, lebih serem hantu yang cewek apa yang anak kecil?” Isabella mendongak sedikit, persis saat Logan tentu saja menatapnya–sejak tadi.

Pria itu tidak menonton, tidak menyimak layar. Sibuknya menatap Isabella dari posisinya tanpa bosan. Maka, saat ditanya, Logan langsung menatap lurus ke layar.

“Anak kecil” jawabnya asal. Bahkan ia tidak tahu mana yang hantu. Semuanya terlihat sama kecuali musik dan latar belakang yang di gelapkan tiap ada sosok muncul. Hal-hal sejenis itu tetap tidak membuat vampir itu mengerti—di mana bagian seram atau kenapa orang-orang tertarik melihat hal-hal sejenis. Baginya, yang menakutkan adalah berpisah dengan orang terkasih atau di telantarkan. Tentu saja pikiran primitif itu tidak akan ia utarakan pada siapapun. Daniel bilang, tidak suka pada hal yang kebanyakan orang suka artinya primitif. Sungguh sulit menjadi manusia. Apalagi manusia yang modern dan kontemporer.

“Kata aku nggak serem semua. Aku sampe bosan banget, aku pengen berburu hantu lagi kayak dulu. Kangen Kristal, kangen Lyn. Kangen pas kita petualangan ke sana ke mari cuma buat nyari hantu dan terus haus sama hal-hal mistis. Kata Kristal, sekarang dia udah dapetin semua itu, jadi dia kayaknya bakal pensiun. Sama kayak Lyn. Sementara aku… aku masih suka..”

Logan menyimak kelewat baik ujaran yang lebih terdengar seperti keluhan manja anak-anak. Lalu berusaha mencari kata-kata yang pas untuk menanggapi tanpa membuat gadis itu merasa keinginannya memang sudah tidak relevan—juga yang paling penting, Logan ingin menarik tangannya—agar gadis itu berhenti memasukkan jeriji miliknya ke dalam mulut. Sungguh akibatnya adalah menggagalkan fokus kronis.

“Kamu mau lihat hantu? Aku bisa minta Jake berubah jadi hantu paling serem” mungkin saja berhasil, meski melihat dari rekasi si gadis saat Logan memberi ide, Isa terlihat tidak setuju.

“Nggak kayak gitu konsepnya, masa gitu aja nggak paham. Males ih”

Isa mencebik, lantas memunggugi pria itu. 

Logan bernapas lega. Rasanya seperti baru saja dilepaskan dari belenggu tak kasat mata yang terus mencekik diri sampai buah zakar. Sialan. Kendati, tak lantas segera menysutkan ereksi. Pria itu ingin memukul penisnya sendiri.

“Tapi Kak Logan janji bakal main ke rumah hantu sama aku, ya? Ke bangunan yang aku kirim gambarnya itu, ya?” si gadis kembali berbalik. Bukan menatap wajah, perhatian Logan jelas langsung turun ke belahan payudara yang terlihat sekal dan padat. Tidak besar, tapi tidak kecil juga. Semua yanga ada pada gadis itu ideal di mata Logan.

“Ya” jawabnya singkat, pria itu lantas kembali melihat ke layar.

“Kak”

“Hm”

“Lihat aku”

“Apa?” pria itu melihat si gadis lagi. Namun kali ini, Isabella melayangkan ciuman sekilas pada bibir pria itu. Hanya sekilas, pun benar-benar singkat.

“Aku suka banget sama Kak Logan. Sukaaaa banget… kenapa dulu aku takut banget ya? Padahal gemes, imut, dewasa, tipe aku banget. Dulu liat Daniel, Edgar, dan Jake sering muntah paku, rasanya mengerikan. Sekarang malah games”

Logan tak segera menjawab kecuali mengulum senyum. Jika saja suasana tidak temaram dan hanya mengandalkan cahaya dari layar, tentulah Isabella dapat melihat rona pria itu.

“Kamu mau menikah sama aku, Isa?” 

Pertanyaan itu sungguh terlalu jauh. Terlalu aneh untuk konteks ini. Namun Isabella paham jika pria dewasa tidak akan jauh-jauh dari ajakan sejenis ini. Beberapa kali dekat dengan pria meski tidak benar-benar pacaran, Isa akan kabur dan sawan saat pria mengajaknya menikah. Tentu saja karena ia masih kecil. Sebenarnya hanya persaannya saja. Katanya, usia 23 tahun sudah cukup dewasa untuk berpacaran serius. Padahal Isa tidak pernah serius–maksudnya, ia tetap merasa seperti anak kecil. Mana bisa anak kecil menikah.

“Kak Logan agamanya apa? Kalau menikah gimana?” lagi, pertanyaan itu membuat Logan berpikir lagi.

“Nggak yakin, tapi dari dulu banget, aku cuma tau yang menikahkan itu pastor walau aku bukan pemeluk katolik. Aku nggak punya agama dan merasa netral alias bisa menyesuaikan dengan pasangan aku”

Isabella mengangguk.

“Jangan menikah dulu gaksih? Masih lama, masih panjang, kita bisa terus pacaran dan melakukan kegiatan menyenangkan bareng-bareng. Nggak jauh beda juga kan?”

Hanya helaan napas Logan, pria itu tidak menjawab lagi. Paham akan reaksi Logan, Isabella kembali memeluknya.

“Aku kira vampir nggak akan sibuk ngajak nikah, ternyata sama aja. Nggak tau, tapi pernikahan terlalu jauh dan aku beneran nggak pernah memikirkan apapun tentang itu.. Aku cuma.. Mau main dan belajar cari uang dulu.. Maksud aku, kita jalanin aja dulu, masih terlalu dini, kan?”

Pria itu akhirnya mengangguk. Lalu diam-diam memikirkan apa yang dikatakan Isabella bahwa pernikahan barangkali memang tidak lagi bergitu kerusial.

Seperti malam ini. Ia bisa memeluk gadis itu bebas, tanpa perlu ikatan rumit yang mungkin saja telah lama di tinggalkan semua kalangan.

Isabella merangkak naik ke atas tubuh Logan.

Membuat pria itu kaget sambil menahan napas. Lalu si gadis mendaratkan bokong di perut bawah pria itu.

“Dua mata saya, hidung saya satu, dua kuping saya yang kiri dan kanan” Isabella memegang dua tangan Logan lalu mempraktikan gerakkan—memegang bagian tubuh yang dinyanyikan seperti anak kecil. Gadis itu tergelak kemudian. Tubuhnya terguncang di atas Logan.

“Kak Logan mukanya lucu banget kayak bayi” lantas dua tangannya mencubit pipi pria itu.

“Isa… kamu sadar nggak.. Ah.. sialan..” pria itu melepaskan tangannya lalu mengusap wajahnya kasar. Seluruh tubuhnya memanas. Celana pendek dan tanktop gadis itu seakan terbakar dan kulit mereka saling bersentuhan dengan cara paling erotis. Tentu saja hanya isi kepala Logan, pria itu kepayahan mengatur diri.

“Aku bukan makhluk beragama, aku bukan makhluk baik yang punya peraturan, aku juga hidup sesuai insting” pria itu bergumam, lalu matanya menatap eksistensi di atasnya yang masih nyengir seolah aksinya tidak berbahaya.

“Aku juga.. Aku suka Kak Logan, aku dewasa unuk berpacaran”

“Ya, ya, benar, kan? Sekarang, maukah kamu membuka atasan untukku?  Biarkan aku meraba tubuhmu, biarkan tanganku merasakan hangatnya kulitmu” pria itu meremas tangannya sendiri. Lalu mulai begerak menyentuh paha Isabella dengan ragu-ragu.

“Mau, tapi.. Aku mau Kak Logan yang bukain”

Itu juga baru. Bukan, maksudnya, setidaknya ada tiga hal yang terjadi sekarang—membuat Logan seperti mengambang.

Yang pertama karena ia masih ereksi lepas menonton video porno. Yang kedua karena Isabella tiba-tiba menduduki tubuhnya. Yang ketiga karena gadis itu meminta ia membukakkan atasan. Jika siapa saja bersedia menjelaskan situasinya secara jelas, barangkali ia tidak akan beringsut duduk, lantas membelai wajah gadis itu sembari menurunkan tali tanktop yang menyelubungi bagian atas tubuh indah itu.

Tali merosot satu, pria itu kembali membuka tali yang satu lagi. 

Dan kini, dua gundukkan yang sebelumnya hanya ia lihat dari video, terpampang jelas di depan mata. Matanya terlalu fokus hingga baru seperti ditarik sadar saat Isa mengusap rambutnya lembut.

GUYS INI ADA LANJUTANNYA DI VIP.

Halo guys… jadi aku buka vip untuk kelanjutkan vampir sampe ending. kalian bisa join untuk ikut terus on going karena aku akan up tiap hari (kecuali hari libur) narasi dan memuat tulisan porno serta nganu…

Sekali bayar aja guys sampe ending. Nanti aku kasih link telegram dan cerita akan di muat dalam web kayak biasa. Gak perlu pakai email ya, karena aku up nya di telegram

Aku nggak nulis gratis lagi hehew, ayo ikut ke room vip buat dapet semua benefitnya.

CARA JOIN

UNTUK BERGABUNG VIP, KAMU HARUS BAYAR 50RIBU. SEKALI BAYAR AJA GUYS,


Shopee pay : 089528855607
Rekening Seabank an Nopi Yanti : 901956159510
BCA DIGITAL BLU : 0074 3470 7318

KIRIM BUKTI PEMBAYARAN KE SINI WhatsApp atau Telegram

EPISODE 77

Daniel mengunci kamar. Sepakat ketujuhnya untuk berkumpul setelah ide dadakan muncul lepas mereka makan malam dengan menghisap langsung sapi yang dibelikan Isa.

Lyn belum datang, katanya akan terlambat. Isa sudah pergi sejak satu jam yang lalu—mengatakan ada acara keluarga atau sejenis itu.

Tiga orang merebah di ranjang. Sisanya duduk di karpet bawah sementara film mulai diputar.

Ya, seperti rencana Edgar yang awalnya iseng, namun serius di realisasi—ketujuh vampir itu menonton film porno. Awalnya beberapa menolak seperti Logan dan Johan. Namun saat Edgar meyakinkan, di perkuat Jake, Samuel dan Daniel, akhirnya dua orang itu setuju. 

Maka, diputarlah film hasil Edgar mendownload dari salah sosial media.

Suasana menjadi hening kecuali suara dari film. Pun, bukan bunyi yang bagus untuk di dengar dalam kondisi tertentu–pasalnya, baru muncul, suara ciuman seakan memenuhi rungu.

Seluruh pasang mata nyaris tak berkedip—menyaksikan bagaimana sepasang sejoli dengan rambut sama-sama pirang sedang beradu saliva. 

Ketujuhnya menyaksikan lidah mereka saling membelit, lalu tangan pria mulai menggerayangi rahang, turun ke leher dan berlabuh ke payudara. 

Si gadis duduk di atas meja rias dengan dua kaki mengangkangi si pria. Suara ciuman lagi-lagi terdengar kelewat nyaring.

Sinu berdehem. Ia perhatikan seluruh adiknya menelan ludah tanpa berkedip. Dari awal, sudah tidak beres. Penisnya ereksi dan ini memalukan—maksudnya, menonton film seperti ini ramai-ramai.

Saat dada si gadis di buka perlahan, Daniel mulai menggaruk matanya, Jake mulai nyengir dan Edgar mengulum senyum. 

Logan di pojokkan menggigit ujung jempol sementara Samuel menyimak dengan baik—seolah jika tidak memalukan, ia akan mencatat tiap detail yang terputar. Sementara Johan meringis.

“Nenen” kata Daniel pelan. Tepat saat video memperlihatkan si pria mengulum ujung puting. Lalu si gadis mendongak dengan desah pelan.

“Seger banget kayaknya, bangke, titit gua sesak” Edgar menumpu tubuh  dengan dua tangan ke belakang. Pangkal pahanya penuh dan sesak, penisnya membesar.

“Bisa di cepetin bagian berantemnya aja, nggak?” kata Daniel pada Edgar.

“Nggak ada adegan berantem” sahut Edgar menahan tawa. Si bungsu tidak nyaman meski tidak juga berencana berhenti melihat.

Lalu kembali hening saat layar memperlihatkan kemaluan si gadis. Dua paha wanita itu mengangkang lebar, dari perut sampai ke liang vagina terpampang besar—memantul dari mata mereka. Pria itu berjongkok, lalu mulai menjilati bagian yang itu—kontan saja membuat si gadis mendesah keras-keras. Reaksi dari si gadis yang membuat tujuh pria itu makin panas.

“Itu kesakitan atau apa? Kenapa dia bersuara kaya kuda?” tanya Daniel lagi “tapi gua suka suaranya. Itu sakit? Itunya di gigit rsama yang laki? Dimakan? Yang laki vampir?”

“Ssshhhttt… berisik, tonton aja, nggak kesakitan itu, enak” lagi-lagi Edgar yang menanggapi.

Lalu melompat pada adegan di mana penis mulai di masukkan dalam liang, semua orang seakan menahan napas.

Dan dalam gerakkan pelan, pria dalam video mulai memompanya perlahan-lahan. Gerakkan konstan yang pelan dan lembut itu seolah adalah puncaknya. Puncak dimana ketujuh pemuda itu merasa kepanasan meski pendingin dinyalakan dengan suhu paling rendah.

“Aku akan hati-hati” Daniel membaca terjemahan apa yang diucapkan pria terhadap wanita itu “apa sakit?” lalu si gadis menggeleng.

“Siapapun pegang titit gua please…” Daniel mulai frustrasi, ia merasa tidak cocok, maka, si bungsu membuka baju saking panasnya.

“Yang buka baju gua strum” itu Logan, ia bersuara dari pojok paling gelap.

“Nggak ada urusan” Daniel mengabaikan.

“Kita bertujuh laki-laki dan lihat adegan mengerikan yang dilakukan antar pasangan. Kalau ada yang buka baju mending gua strum bangsat, merusak suasana” namun tak ada yang benar-benar mendengarkan.

Video berdurasi 10 menit itu terasa sangat panjang, intens dan cukup membuat tujuh pemuda itu paham—jika nanti mereka memiliki pasangan.

“Ternyata lubangnya di bawah. Gua kira cewek itu lubangnya di bawah puser” Jake terpingkal-pingkal sambil memukul Edgar.

PIP EPISODE 35

“Tuhan tolong… tolong aku.. Jatuh cinta pada adik si Axel bangsat…” bukan berhenti, Pip makin sengaja. Ia melangkah lebih cepat hingga langkahnya menyetarai Diza.

“Sini pala lu gua gonjreng” Diza merangkul tubuh yang jauh lebih tinggi darinya. Juga ia berjinjit sementara Pip menunduk. Axel memperhatikan dari belakang.

LANJUTKAN MEMBACA

HANTU PENUNGGU

Seperti gadis bangsawan yang anggun dan kemayu. Atau berjalan di zona aman tanpa melewati garis. Kecantikan tanpa celah, menurut ibuku merupakan cara paling aman bagi wanita untuk bertahan hidup. Garis yang di maksud adalah bekerja dengan gaji yang cukup hanya untuk mengisi perut tanpa ambisi berlebih—tanpa khayalan tentang liburan, makan enak, atau membeli barang lucu. Atau paling tidak, hunian layak—tidak.

Kemudian menikahi laki-laki biasa-biasa saja, lalu hamil dan menjadi ibu. Kebahagiaan memang tidak menjamin, namun setidaknya, aku akan memiliki rumah untuk kembali—hidupkku akan sedikit lebih aman.

Masa kecilku penuh doktrin seperti itu. Oleh ibuku sendiri.

Maka dari itu, ada tiga alasan mengapa perutku terasa kencang sekarang.

Lantunan doa menyelip di sela-sela pundak para pelayat yang bejubel di pemakaman umum. Suasana khidmat bertambah sekian kali lipat oleh tangis anak kecil yang dibawa salah seorang pelayat yang rela ujung gaun hitam panjangnya kotor oleh debu dan tanah lempung demi menghadiri pemakaman, sementara tangannya menggendong bayi berusia dua tahun yang sejak tadi menangis.

Desir lembut rerumputan pendek di bawah sepatu-sepatu mengkilap menghantarkan bau segar. Bau basah tanah ikut terendus—agak janggal mengingat ini adalah musim panas.

Sama janggalnya dengan orang-orang yang tengah menunduk, mengelilingi gundukan tanah di hadapaku yang dihias batu nisan putih.

Orang-orang yang nyaris tak kukenal itu berkabung di selimuti pakaian mewah. Dari bibir mereka terucap bela sungkawa. Rendah dan patah-patah. Bagaimana jika acara yang seharusnya penuh duka, justru menjadi ajang untuk saling unjuk sandiwara? Aku tidak mengenal mereka, tapi tepat dua hari yang lalu ibuku menelepon sambil menangis dan mengatakan jika para tetangganya—yang kini turut melantunkan doa-doa dan ucapan berkabung–juga sama menggunakan mulut mereka untuk mencemooh ibuku. Sosok yang tengah terkubur jauh di dalam tanah.

“Natalia yang malang, seandainya kami lebih perhatian, kau tidak akan mati sendirian di atas kursi secara menyedihkan”

“Dia jarang sekali keluar, dia juga jarang berinteraksi dengan tetangga. Aku pun heran, darimana dia mendapatkan uang. Namun mengingat era digital yang kelewat canggih, orang-orang bisa menjadi kaya raya hanya dengan bermain ponsel”

“Tapi aku sering melihat dia memasukkan lelaki dalam rumahnya tengah malam”

Mereka menggumamkan itu di antara doa-doa. Entah tidak tahu atau memang sengaja agar aku—gadis yang berjongkok di depan pusara—merupakan anak gadis semata wayangnya mendengarnya.

Di seberang, aku melihat pemuka agama mengatakan sesuatu. Doa-doa agar yang terkubur diberkati dan diterima disisi-Nya. Ketulusan adalah nomor dua di pemakaman ini.

Punggungku tegak membelakangi kepalsuan itu, pipiku kering, tidak ada isak bahkan tidak ada kesedihan. Kendati demikian, aku berani jamin bahwa aku adalah ketulusan nomor satu di pemakaman ini.

Alasan yang kedua; kenyataan bahwa aku tidak akrab dengan ibuku.

Doktrin-doktrin sejak aku kecil, lalu kalimat-kalimat sama yang dikatakan berulang-ulang bahwa eksistensiku merupakan penghambat jalannya. Ibuku belum siap memiliki anak, atau dia memang tidak pernah siap. Aku tidak dibesarkan, melainkan dibiarkan tumbuh sendirian. Dia selalu sibuk, entah apa yang dilakukan diluar sana. Sementara jika ada waktu untuk bicara denganku, ibuku hanya akan memberiku doktrin-doktrin seperti di awal. Lalu mulai kembali sibuk dengan dunianya seolah aku hanya figura atau upik abu yang ditugaskan untuk mengisi selokinya yang kosong.

Dan Ayahku.. 

Aku tidak tahu sampai aku berusia 16 tahun—jika untuk memiliki anak, wanita setidaknya butuh dibuahi dan aku tidak tahu siapa yang membuahi ibuku. Tidak ada yang bercerita, ibuku tidak pernah membahasnya dan aku juga sudah tidak tertarik. Karena  tiap kulontarkan pertanyaan seputar itu dan yang kuterima adalah caci maki lalu ibu memintaku untuk diam. Anak kecil tidak perlu tahu urusan orang dewasa, begitu katanya.

Dan aku berpisah dengannya sejak lulus SMA. Aku memutuskan untuk hidup serabutan. Kuliah sambil kerja meski tubuhku kurus ceking saking kurang makan. Dan tahun-tahun berlalu saat aku lulus kuliah dan mulai bekerja full meski gaji tetap tak bisa membuatku kaya, namun setidaknya aku makan dengan layak dan ibuku kembali menghubungiku. Dia tidak meminta uang seperti kebanyakan orang tua disfungsi lain yang meminta imbalan atas jasa melahirkan—meski tidak ada yang meminta dilahirkan. Ibuku hanya sering mengajakku bercerita tentang hobi barunya bercocok tanam di halaman belakang. Atau sesekali menangis saat ada yang menggunjingnya. Setelah sekian lama.. Dan dia benar-benar tidak bertanya tentang kabarku. 

Aku hanya mendengarkan.

Lalu alasan yang terakhir adalah aku masih di sini—setia berjongkok di depan gundukan tanah tepat di samping nisan ibuku. Memandangi tiap huruf yang tertera di sana.

Ibuku, Natalia. Telah wafat.

🐾🐾🐾🐾

Dua tahun berlalu.

Kepalaku berputar memperhatikan sekitar. Setidaknya, perumahan ini masih berdiri meski dinding depannya berjamur sebagian. Kacanya kusam dengan debu tebal. Fasad terlihat begitu suram meski tumbuhan liar tak benar-benar mendominasi

Aku tidak melihat kehidupan seperti dulu. Atau tetangga yang pernah berkabung dipusara Ibu saat pemakaman. Tempat ini sangat sepi, hening. 

Kupegang erat tali tas sambil melangkah untuk membuka pintu.

Barang-barangku menyusul di belakang. Aku menarik napas sebelum benar-benar masuk.

Aku tidak memikirkan. Juga tidak membayangkan dan berekspektasi apapun tentang apa yang akan menyambutku dibalik pintu dengan engsel berkarat yang menimbulkan derit keras itu. Namun rumah lawas datang dengan perabotan lawas, berlapis aroma lapuk yang menyesaki udara, sudah seharusnya seperti itu.

Namun, rupanya ada kejutan lain yang datang bersama rumah warisan ibu. Selain gumpalan debu dan kerak air pada jendela, rumah ini turut ditumpangi sesuatu; jiwa yang luntang-lantung.

Di balik pintu belakang–dapur pertama kali aku melihatnya. Sesosok pria dengan mata sayu. Kantung matanya melorot, hampir sewarna dengan rambutnya yang gelap. Tubuh besar dan tato disepanjang tangan kanan terlipat dengan cara yang mustahil–keluar dari balik pintu. Kepalanya miring-miring dan seluruh tubuhnya transparan. Seolah terbuat dari plastik berisi air rawa yang keruh.

Matanya seperti ikan di pasar. Kusam dan mati.

Aku hanya melihatnya beberapa detik sebelum akhirnya pintu tersebut kubanting menutup.

Sambil terengah, jantungku berpacu, mulutku terkatup rapat.

Aku mencoba mengingat. Mencoba merunut peristiwa demi peristiwa yang terjadi hari ini. Seperti, apakah ada makanan basi yang kutelan? Apa roti yang kupanggang saat sarapan telah berjamur sehingga menciptakan halusinasi? Namun semuanya baik-baik saja dan aku juga tidak menghirup aroma-aroma yang memungkinkan sistem sarafku terganggu atau mataku kabur karena gila.

Berkutat dalam visual mengerikan sambil terus memikirkannya. Aku mengunci pintu kamar dengan kardus-kardus yang masih berserakan. Orang-orang menurunkan barang-barangku di luar dan mungkin saja akan langsung pulang—mengingat aku telah membayar mereka dimuka. Ini pertama kalinya aku datang–masuk dan rupanya eksistensiku di sambut oleh hal tidak masuk akal. Bahkan tak kuhiraukan kasur dengan sprei dekil menjadi alas punggungku yang terkejut sekarang.

Cukup lama aku seperti itu. Hingga bayangan hantu yang baru pertama kali kulihat tadi tidak separah yang kurasakan di menit-menit sebelumnya.

Kuputuskan untuk berani. Ku palingkan wajah lagi pada kardus-kardus yang memanggil–meminta diurai. Sambil  meyakinkan diri bahwa hantu tidak menyeramkan. Memutuskan pindah ke rumah ibuku setelah notaris datang dan aku mengatakan bahwa aku menjadi satu-satunya ahli waris atau tanah ini akan diambil pemerintah, aku bersumpah hantu tidak lebih seram dibandingkan kebijakan—hak yang direbut. Lagi pula, aku tidak punya apa-apa. Ini menjadi satu-satunya hal yang kupunya sekarang.

Menyalakan ponsel dan memutar musik kencang-kencang, aku mulai bangkit dan bergerak—membereskan segalanya.

Debu-debu beterbangan, seluruh jendela terbuka dan cahaya matahari masuk membuat rumah makin terang. 

Udara berganti. 

Kardus-kardus berkurang. Seluruh barangku telah turun sejak aku memutuskan berdiam diri dalam kamar demi menghalau bayangan hantu. Dan kini, sambil membongkar parabotan memasak, aku kembali ke dapur–pada pintu itu. Sementara asap tipis yang membentuk tubuh manusia itu masih disana. Warnanya lebih transparan dari pertama aku melihatnya.

Aku mengabaikan. 

Asap itu terus menatapku. Kali ini aku tidak perhatian apa matanya masih seperti ikan mati, atau lebih hidup. Aku bernyanyi mengikuti musik yang terputar  kencang.

Seluruh debu kuseka berkali-kali, menyusul bersin yang lebih banyak dari usapan kemoceng pada seluruh permukaan kabinet. Kuganti peralatan masak—memasukkan milik ibuku dalam dus dan menata milikku meski tak semua. Peralatan masak Ibu sangat banyak, aku tak berencana memilih-milih sekarang, mungkin nanti.

Barangku tidak terlalu banyak. Masih bersyukur seluruh peralatan elektronik masih berfungsi dengan baik. Air mengalir lancar dan setelah kubersihkan seluruhnya, rumah ini menjadi jauh lebih cantik, meski memerlukan waktu berhari-hari untuk menggosok bagian yang berkarat. Akan kulakukan nanti.

Sekarang, sudah empat jam berlalu sementara perutku lapar.

🐾🐾🐾🐾

Bagaimana caraku menggambarkan hantu itu, ya? Dia terus menatapku seperti pria menyedihkan yang memiliki sejuta kisah pilu. Aku berhasil mengabaikannya, sukses menganggapnya tidak ada. Dan ketimbang hantu, aku mulai memikirkan bagaimana ibuku hidup selama ini.

Bertahun-tahun putus hubungan, kukira kehidupan ibuku baik-baik saja. Kupikir dia akan menikah dan membangun keluarga baru, memiliki anak dari hasil pernikahan barunya lalu melupakanku–anak haram yang eksistensinya menghambat jalan. Sebenarnya, perkataan itu terus menempel di kepalaku tanpa benar-benar tau cara melepasnya. Mirip stampel.

Tidak ada pemeriksaan lanjutan saat ibuku dinyatakan serangan jantung dan mati sambil duduk di kursi yang kini sudah kubakar. Jika merunut pada komentar para tetangga, aku menyimpulkan satu hal bahwa ibuku agak tertutup dan mengisolasi diri dari sosial sekitar. Kendati, aku masih tidak mengerti. Rumah lawas dengan interior sederhana era delapan puluhan ini, tidak benar-benar memiliki tetangga dekat kecuali satu rumah yang berada persis di samping. Sisanya berjarak sekitar seratus sampai lebih dari itu. Karena aku terbiasa hidup sendiri tanpa bertetangga, sangat aneh jika mengatakan ibuku mengisolasi. Apa kegiatan saling menyapa—berbasa-basi dan duduk-duduk sembari membicarakan satu sama lain merupakan standar normal di daerah ini? Sudah sangat lama, rumah dan lingkungan ini merupakan periode hidup saat aku masih anak-anak—dan aku dulu tidak mengerti aturan hidup yang tidak tertulis untuk hidup bertetangga.

Dan jujur saja, segala sesuatu tentang rumah ini hanya menyakitkanku. Akan tetapi, hanya menunggu waktu hingga jejak-jejak Ibu di rumah ini tergantikkan oleh jejakku.

Namun senyumku naik diujung sudut tatkala kutemukan pigura mungil tersimpan penuh debu di sudut meja. Berisi seorang gadis cantik yang tersenyum tipis. Itu adalah aku. 

Dan ibuku ternyata tidak benar-benar melupakanku. Meski aku tidak yakin apakah sesekali dalam kesibukannya sepanjang hidup dia menatap gambar itu. Namun hatiku menghangat.

Usai memikirkan ibuku beserta ingatan tentang pola asuhnya serta kata-kata yang kebanyakan menyakitiku, aku beranjak memeriksa ruang demi ruang yang telah kubersihkan seadanya, kendati, debu-debu masih tetap disana. Seolah aku hanya mengusapnya lembut dengan tangan.

Kuseret kakiku di atas tegel. Menyusuri koleksi alat dapur Ibu yang tidak sepenuhnya kubereskan digantikan milikku karena miliknya yang memang terlalu banyak. Sekiranya bisa mendukung hobiku memasak dan menunjang kebutuhan gizi yang terus menerus ku usahakan meski gajiku pas-pasan. Aku selalu merasa kurang makan. Kadang, aku menyalahkan kurangnya asupan layak ketika hidupku menyedihkan.

Di kabinet terakhir yang berada di samping wastafel, aku sudah menebak akan bertemu dengan satu set alat pembersih. Yakan? Alat pembersih. Siapa sangka aku akan bertemu dengan pemandangan seperti itu.

Bahkan setelah membereskan baju, setelah melamun agak lama di kamar dan setelah membersihkan rumah seadanya hingga bersin-bersin. Aku masih bisa membayangkan seperti apa rupanya. Bagaimana ia tertekuk secara mengerikan di balik pintu dan bagaimana tatapannya yang mati seolah menembus jiwaku.

Ditengah lamunan itu, aku tersadarkan bahwa ketika langkahku tidak menggilas lantai dan gesekan kain tidak lagi terdengar; rumah Ibu sunyi. Sangat sunyi. Maka, terdengar suara-suara yang seharusnya tidak ada. Suara yang merayap di telinga dan dingin mulai menggerogoti tengkukku.

🐾🐾🐾🐾

Sudah malam ketiga.

Rumah ibu atau sekarang adalah rumahku terlihat lebih manusiawi. Lebih bersih, lebih nyaman dan aku sudah tidak bersin-bersin saat berkali-kali kuulang menyeka debu pada tiap celah. Aku banyak membuang hal-hal tidak penting milik ibu. Seperti koleksi buku, pernak-pernik lawas dan beberapa keramik yang—mungkin fungsinya sebagai keestetikan saja meski di mataku tidak. Namun mengingat hampir tidak ada fungsinya, aku membuang semua hal yang seperti itu.

Akan tetapi, kendati rumah tersebut kini memiliki suasana baru, ada hal yang tetap berdiam di dalamnya. Melayang-layang dari tembok ke tembok, mengikuti langkahku yang mondar-mandir membawa pisau dan bahan makanan.

Pada dasaranya dia memang ada. Tetap ada, hendak berapa kalipun aku mensugestikan diri bahwa makhluk itu hanya ada dalam halusinasiku atau ada sesuatu yang kumakan mengandung jamur memabukkan hingga penglihatanku bermasalah. Atau sialan apalah itu yang pada akhirnya berarti arwah penasaran yang terperangkap di dunia.

Sosok besar itu akan berdiri di sudut ruangan, dengan wajah menyeramkan. Terkadang ia muncul tiba-tiba di hadapanku ketika sedang memasak atau saat aku sedang bersantai. Apa saja jika ada kesempatan.  Wajahnya meleleh, mulutnya terbuka seperti akan menyentuh dada dan tangannya menjulur ke depan seperti pada film vampir kuno yang kutonton saat kecil. Satu kali jariku teriris pisau dan aku berusaha bersikap seakan hal itu adalah kecelakaan yang wajar. Itu karena aku teledor dan tidak hati-hati, bukan karena terkejut.

Aku tidak ingat sejak kapan aku mempercayai hal ini–serta dari mana sumbernya, bahwa katanya, hantu akan senang apabila manusia memberikan perhatian. Maka, aku melakukan hal sebaliknya. Aku bersikap seolah hanya aku penghuni rumah tua ini. Ketika ujung mataku menangkap sosok keruh itu, maka, aku akan menoleh sembarangan. Atau jika ia tiba-tiba muncul di hadapanku maka, aku akan buru-buru melihat pada tindiknya di sudut bibirnya. Oh sialan, dia bahkan memakai pierching. Kupikir benda itu sungguh padat. Atau hanya ilusi optik. Entahlah, apapun, selain wajahnya yang menyeramkan itu. Atau bola matanya yang terkadang menggantung keluar dari rongga.

Sungguh, aku sempat berpikir bahwa hidupku akan dipenuhi teror seperti sentuhan-sentuhan es di tengkuk dan jantung yang tak pernah tenang. Namun setelah tiga hari menempati rumah, rasa takut yang menjalar itu mulai padam. Aku beradaptasi kelewat cepat. Namun mungkin, kata padam terasa kurang tepat, lebih pada tegeser. Rasa takutku tergeser oleh amarah yang meledak-ledak.

Jadi, sebelum aku pindah kemari, aku lebih dulu mencari pekerjaan. Dan sampailah aku pada satu lowongan yang terasa paling masuk akal dari banyaknya iklan yang memberikan persyaratan tidak manusiawi kendati hanya menjadi penunggu toko bangunan dekat pasar.

Aku bekerja sebagai juru masak di salah satu rumah sosialita. Rumah lantai dua yang kelewat lebar hingga aku menerka-nerka luasnya setara dengan tiga kali lapangan sepak bola. Tentu saja ini hanya dugaan—saking lebarnya. Mataku tak sanggup menjangkau seluruhnya.

Begini, orang yang mempekerjakanku bukan pribadi yang menyenangkan. Dia adalah wanita necis dengan rambut cetar badai. Perhiasannya  bergemerincing setiap melangkah. Aku pernah mendengar beberapa orang mengatainya wanita jahilliyah meski kontras dengan pendidikannya yang unggulan. Juga beberapa melabelinya mirip sapi perah.

Gincu merah mengcover bibir yang setiap bicara pasti akan berhasil membakar hati siapa saja. Gajinya juga lebih rendah dari tempat lain. Namun hanya wanita itu yang menerimaku paling cepat saat itu. Aku butuh pekerjaan, aku butuh uang.

Apa yang paling didamba setelah seharian berurusan dengan orang seperti itu? Tidur, istirahat, rebahan sembari menarik selimut dan membuka video pendek dalam ponsel untuk sekedar melihat kucing lucu yang sudah lama ingin ku adopsi tapi tidak pernah terealisasi karena aku miskin. Aku seharusnya mendapatkannya, mendapat istirahatku yang berharga, jika bukan karena ulah hantu sialan bermata sendu.

Ketika dirasa mengangguku siang hari tidak cukup efektif, ia mulai menyalakan keran sesaat setelah kepalaku bersandar di atas bantal. Terkadang, ia memainkan knop pintu, atau memukul-mukul tralis jendela. Hal paling menyebalkan adalah ketika hantu itu memainkan lampu kamar. Mati, hidup, mati, hidup, aku seolah tidur di club malam.

Hari sabtu adalah hari paling sibuk dan panjang. 

Di hari sabtu, tugasku akan dua kali lebih berat. Wanita itu akan berkumpul dengan teman-temannya di rumah. Dan aku ditugaskan memasak hidangan lebih banyak. Drama hari ini adalah kesalahan membeli jenis daging, mencari saus mustard premium sampai memutari seluruh supermarket ketika bahan itu kosong di manapun dan aku hampir di tugaskan keluar kota jika saja salah satu teman bosku tidak merekomendasikan saus jenis lain sebagai cocol.

Aku sangat lelah, sungguh. Aku ingin istirahat tanpa gangguan, tanpa suara repetitif yang menjengkelkan. Namun hantu edan itu berhasil membuatku naik pitam hingga ke titik atas.

“Keluar bangsat!!!! Keluar hantu sialan!” telingaku menangkap suaraku sendiri yang melengking dan keras.

Dan hening, setelah aku berteriak, mendadak seluruh gangguan  itu hilang secara tiba-tiba. Semuanya kembali sunyi kecuali amarahku yang kian melambung.

“Lu pikir gua takut, hah? Gua panggil dukun baru paham lu, sialan! Hantu edan, bajingan! Brengsek!!!” aku terus mengumpat, dadaku naik turun saking kesalnya. Lalu dari celah pintu, hantu itu seakan keluar dari lubang kunci membentuk asap yang mengepul—lantas memadat. Ia berdiri di sisi ranjang.

“Emangnya, kamu punya uang buat sewa dukun?” suaranya terdengar dingin, namun sarat akan ejekan. Aku bangkit duduk—kaget. Ini pertama kalinya aku berbicara dengan hantu. Meski masih tembus pandang, namun kali ini, hantu itu tidak tampil menyeramkan.

Hidungnya mancung, rambutnya bergaya two-block haircut dengan sentuhan messy–klimis seperti orang baru selesai mandi. Matanya masih sayu. Ujung bibirnya ditindik dan ternyata tato sampai atas dada. Hantu itu nyengir–jelas mengejek. Semua terbingkai rapi dalam garis rahang yang tegas.

Di sisi ranjangku, ia berdiri. Melipat tangan di dada yang terbalut kaos dan jaket kulit. Jeans belelnya jatuh sampai mata kaki. Sepasang sneakers menjadi alas kaki

Sosoknya persis manusia–hanya saja transparan dan mengambang.

Terbiasa melihat rupanya yang seolah keluar dari film horror, aku tergagap. “P-punya! Gua punya uang! Uang gua banyak!” jawabku. Dengan ludah yang muncrat.

“Ah.. yang bener..” katanya. Benar-benar terdengar mengejek. Cengirannya makin lebar. Ia mengubah posisi dengan melayang di udara—melayang tepat di atasku sambil menumpu dagu–dengan tangan, tubuhnya miring begitu santai “dukun mahal tau, apalagi dukun gadungan, banyak. Bayangin duit kamu yang nggak seberapa itu dipakai buat bayar dukun tukang tipu”

Tidak, sebenarnya aku hanya mengancamnya. Aku bukan orang gila yang akan memanggil dukun untuk mengusir hantu, jika ingin, mungkin sudah kulakukan dihari pertama. Pun, aku lebih memilih tinggal bersama hantu ketimbang menghamburkan seperak rupiah untuk membayar dukun. Aku begitu perhitungan karena gajiku yang menyedihkan.

Tapi ayo cari akal! Aku harus bisa mengancam hantu itu agar takut dan berhenti menggangguku. Aku memutar otak mencari ide.

“Ya udah, gua tinggal cuekin lu dan anggap lu nggak ada. Terserah lu mau mati idupin lampu, mau mecahin kaca atau mukul tralis, bodo amat, gua gak urus. Gua mau beli penutup mata dan telinga!”

Mendengar ancamanku, sosok itu berkedip beberapa kali sebelum tawanya menggelegar. Ia terpingak-pingkal bergulung-gulung memegang perut. Memangnya hantu bisa sakit perut?

Setelah tawanya mulai mereda, ia melempar senyum padaku. 

“Itu baru bikin aku tersiksa” akhirnya ia memvalidasi tentang berita yang tak tahu darimana sumbernya—jika hantu tidak suka di abaikan atau katakan mereka haus atensi. Ia memiringkan kepala, berusaha menatapku lebih intens dari posisinya yang sedikit berubah, hantu itu agak turun ke samping meski masih melayang di udara. “Oke, maaf-maaf deh, aku nggak akan ganggu aneh-aneh lagi. Jadi jangan cuekin aku, ya?”

Aku mengerutkan dahi berusaha mencerna–bahwa baru saja seonggok hantu meminta maaf. Atau tidak, lebih tepatnya aku mengobrol dengan hantu. Aku bahkan tidak bisa memutuskan mana yang lebih mengejutkan.

Belum selesai dengan isi pikiranku, sosok itu kembali melayang melintas lembut di hadapanku. Sesaat sebelum menembus pintu, mulutnya bergerak-gera membisikkan sesuatu diiringi cengiran lebar yang menjengkelkan.

“Selamat istirahat”

🐾🐾🐾🐾

Namanya Gu. Tidak ada kepanjangan, Gu tidak ingat nama panjangnya. Meski aku memperkirakan itu adalah separuh nama awal atau akhir, ia hanya memperkenalkan diri sebagai Gu, titik. 

Sama seperti ia lupa pada alasan mengapa wujudnya berubah menjadi demikian. Melayang-layang tanpa kepastian, menembus ruangan demi ruangan. Terikat di bumi kendati ia bukan lagi manusia. Dari kondisi unik tersebut, Gu hanya yakin satu hal; bahwa kematiannya tidak wajar hingga ia menjadi arwah penasaran.

“Bikin apa astaga…” aku bergumam. tanganku sibuk mengetuk-ngetuk pena di atas kertas memikirkan menu untuk acara senin di rumah majikanku. Wanita itu meminta di buatkan menu spesial karena akan ada tamu atau acara sialan–entah.

Di minggu sore yang mendung ini, Gu berbaring di atas meja dapur tepat di hadapanku. Kakinya lurus dan kedua tangannya melipat di atas dada. Posisinya seperti mayat di atas meja otopsi jika saja tak disertai cengiran menyebalkan.

“Kamu mikirin apa sih?” ia bertanya sambil mengubah posisi menjadi miring. Dua tangannya di tumpuk dan pipinya menumpu di sana.

“Menu buat besok, bakal ada tamu katanya. Mending kalau nggak ribet. Dia itu, nggak kasih bilang maunya di masakin apa. Tapi akan marah kalau nggak sesuai ekspektasinya. Perempuan edan emang” aku mencaci lagi. Padahal beberapa jam terakhir aku berjanji untuk tidak meludah di sumurku sendiri. Meski wanita itu gendut dan kata-katanya selalu menyakiti, juga jika menggunakan lipstik selalu merah ngejreng, namun dia yang memberiku pekerjaan dan menggaji meski tak seberapa.

“Bikinin orek tempe aja sama sayur asem. Kalau nggak sesuai mending masak mie goreng” jawaban Gu yang spontan membuatku tertawa. 

“Sempet kepikiran bikin itu, tapi kayaknya bakal di buang depan muka gua. Dia itu OKB, ngerti nggak? Kalau bukan menu mahal, kayaknya dia merasa turun level” aku mencoret-coret kertas saat tanpa sadar kutulis ‘sayur asem’

“Menu mahal apaan? Daging? Jamur?” Gu balik bertanya. Aku mengangguk dan tanganku menggores lagi. Gu memperhatikan.

Pindang tongkol

Opor daging

Ayam pedes manis

Perkedel.

Gu mendikte apa yang kutulis.

“Itu makanan orang kaya?” lalu ia bertanya setelah melihat menu yang kutulis “kamu orang kaya bukan? Kalau setahuku, makanan kayak gini banyak di warteg” perkataan Gu kembali membawaku menatap tulisan. Menu-menu yang kutulis adalah makanan normal dan umum untuk rakyat jelata, menengah dan hampir tiap kalangan dan jajarannya. Sambil berpikir apakah hidangan sejenis itu akan pantas berada di meja mewah jamuan orang kaya.

Aku lantas kembali mencoret-coretnya.

“Aku bantu cari rekomendasi mau nggak? Tapi syaratnya, kamu bantu aku juga” perkataan Gu membuatku menatapnya sekali. Mata yang biasanya sayu, kini berbinar—seolah ada secercah cahaya di maniknya yang kuyu.

Lagipula, apa yang diinginkan hantu, sih? Paling-paling hal yang tidak lagi berurusan dengan uang. Jika bukan soal uang, aku masih bisa membantunya.

“Deal” jawabku tanpa pikir panjang. Setelah itu, aku melihat Gu berpikir meski hanya sebentar.

“Kamu tau  Bruschetta? Makanan pembuka khas Italia. Itu loh, roti yang dipanggang atau dibakar terus di kasih topping di atasnya. Ada variasi yang paling klasik ya cuma roti panggang, bisa di gosok bawang putih, kasih tomat cincang seger atau di kasih minyak zaitun dan sedikit garam. Nah, kalau buat orang kaya, pakai salmon asap tambah krim keju. Pakai jamur tumis, pakai keju daging asap atau kalau mau yang manis kasih buah”

Aku mengangguk-angguk sambil mencatatnya.

“Terus, salad Caesar campur ayam panggang dan udang. Sup krim labu atau sup krim jamur” Gu mengatakannya lancar. Hantu itu ikut melihat saat aku menulis. Sutas senyum terukir di wajah tampannya yang transparan.

“Hidangan utama kasih daging sapi panggang sama kentang tumbuk dan sayuran panggang. Terus yang lain, masak salmon panggang sama saus mentega lemon. Dan terakhir ayam cordon bleu sama saus kirim”

Semua dikatakan pelan-pelan mengikuti tanganku yang sibuk mencatat.

“Untuk hidangan pendamping, kasih kentang goreng, truffle fries, sayuran tumis mentega isinya wortel, buncis dan asparagus. Yang terakhir pasta ringan aglio olio atau carbonara”

Aku mengangguk sumringah. Semua yang dikatakan Gu benar-benar pas dan sesuai. 

“Hidangan penutup bikin cheesecake atau tiramisu atau panna cotta. Tambahan banget buah segar pilihan yang  premium kayak stroberi Korea, kiwi dan anggur”

Aku selesai mencatatnya dan bertepuk tangan.

“Wah! Gu! Makasih banyak! Gua hanya perlu cari tutor buat cara masaknya” aku benar-benar puas. Meski tidak pernah memasak makanan seperti yang disebutkan Gu di rumah karena keterbatasan bahan dan uang, namun aku percaya diri bisa mengolahnya.

“Nah, sekarang giliran kamu bantu aku” kedua alisnya bergerak-gerak jenaka. Kurasa keahlian Gu adalah merusak suasana. Kendati demikian, masih terbawa rasa lega, aku tidak berhenti tersenyum menanggapi caranya meminta bantuan.

“Ya ya, terus gua kudu apa nih?”

Pria itu diam sebentar. Ekspresinya yang tengil mendadak berubah serius hingga sukses membuyarkan senyum “bantu aku cari jasadku”

🐾🐾🐾🐾

Aku belanja pagi-pagi buta.

Dekil oleh becek tanah ban mobil tuaku. Aku bahkan tidak ingat kapan hujan turun sehingga menciptakan genangan air berlumpur di sepanjang jalan dari rumah menuju supermarket. 

Kini, tepat pukul tujuh pagi, aku berhasil kembali ke rumah majikanku dengan belanjaan yang bejubal dalam bagasi.

Dengan satu tangan, aku meraup beberapa kantong plastik berisi bahan makanan dari bagasi mobil. Beberapa menggantung di lengan, yang lebih ringan menggantung di keempat jemari–trik sejuta umat agar tidak perlu bolak-balik. Sementara itu tanganku yang lain membanting turun bagasi. Alarm mobil menyala singkat kemudian. Pertanda pintu sudah kembali terkunci.

Sambil kembali membenarkan bawaan di tanganku, aku berjalan tertatih kearah teras dapur.

“Butuh bantuan?”

Suara berat di belakang membuatku yang kepayahan mau repot-repot berbalik. Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Namun disini, di halaman belakang rumah majikanku, aku tidak melihat siapapun yang berpontesi mengajakku bicara. Tidak tukang kebun, tidak satpam di depan, apalagi majikan lelaki—suami wanita bergincu merah. Tidak, namun memang bukan seluruh kandidat yang kupikirkan tadi. Ini wajah asing.

“Tidak perl—” aku menjawabnya sambil terus melangkah sebelum ucapanku selesai karena aku terpeleset. Plastik-plastik buyar, isinya mencuat berhamburan. Namun bagian melegakan, aku tidak jatuh. Seseorang—tadi menangkap tubuhku dengan cara mirip dalam drama murahan. Tubuhku di tahan dan kami bertatapan agak lama dalam posisi itu, sungguh adegan klise dan monoton.

Satu, dua, tiga.

Tujuh detik aku baru berdiri. 

Mata pria itu begitu teduh, senyumnya seulas membentuk kotak pandora yang isinya barangkali deret bersih yang dibingkai indah oleh bibir tipis yang merah alami. Tangan kekar tadi yang menahan tubuhku masih memperlihatkan urat-urat yang menonjol. Aku memperhatikannya beberapa saat sebelum sadar jika belanjaanku berserakan—akan bahaya jika majikanku melihat.  

“Kamu nggak papa?” suaranya rendah dan berat. Aku yang sudah berjongkok memunguti barang belanjaan kembali mendongak–pun mataku mengikuti dia yang tiba-tiba ikut berjongkok membantuku memasukkan isi yang buyar kembali ke plastik.

“Aku nggak papa, makasih” kataku singkat. Tidak ada waktu untuk berbincang karena aku harus cepat-cepat masak. Sebenarnya, jika saja pria itu tidak menahan tubuhku, barangkali aku sudah terbanting dan jangankan memasak, sesuatu yang buruk bisa saja terjadi pada kepala belakang atau sejenis. Maka, setelah semua belanjaan kembali masuk dalam kantong dan kembali kujinjing susah payah, aku kembali berterima kasih padanya. 

“Aku minta maaf  mengagetkanmu tadi, kamu jatuh karena kaget, kan?” dia berusaha meminta kantong belanjaanku untuk dibawakan.

“Nggak, aku kepelset karena ini” aku menunjukkan sandalku yang basah dan terisi air “licin, becek” kataku dengan senyum. Meski ada beberapa telur yang pecah, namun kupikir itu bukan sesuatu yang serius. Lagi pula, aku sudah terbiasa membawa belanjaan sebanyak ini, bukan masalah besar bagiku—juga, kenapa pria yang memiliki senyum kotak itu meminta maaf sambil memberikan tatapan bersalah?

“Jangan minta maaf, kamu juga udah bantuin aku mungutin belanjaan, aku terima kasih” kataku meyakinkan.

Ternyata dia tidak disana tanpa alasan.

Pria itu memperkenalkan diri sebagai Kim. Datangnya membawa pesanan daging  dan pekerjaannya sebagai distributor daging premium, juga menerima pesanan segala jenis daging.

Maka dari itu, Kim ngotot ingin membawakan belanjaanku ke dapur karena kita satu tujuan.

Sambil masuk dan berbincang, dia bertanya dimana rumahku. Saat aku menjelaskan tempat tinggal baruku–di rumah mendiang Ibuku sekarang, Kim tiba-tiba mendelik dengan ekspresi kaget setengah tidak percaya. Pria itu hampir menjatuhkan daging yang dicangking—yang kuperkirakan seberat dua puluh kilogram dan aku harus mengolah itu semua dengan menu yang sudah ku pelajari semalam hasil rekomendasi Gu.

“Rumahku tepat di sampingmu!” ujarnya semangat “astaga, aku bahkan tidak perhatian pada tetangga baruku karena sibuk mengurusi daging” kebetulan yang ajaib. Aku mengerjap-erjap dan Kim paling bersemangat.

Aku pun sama kagetnya. Namun bagian penting bahwa, Kim tetanggaku, tetangga ibuku. Mungkin saja aku bisa bertanya sedikit tentang kehidupan ibuku sebelum meninggal. Maka, kami bertukar kontak dan dia bertanya apakah aku mengizinkannya untuk bertamu. Aku tentu mengiyakan. Lalu Kim berpamitan setelah meletakkan daging di atas pantry.

🐾🐾🐾🐾

“Jadi, kamu tinggal sendirian?” tanyanya sembari mendaratkan bokong, tatapannya berkeliling.

Tidak juga. Ada hantu gentayangan yang sedari siang mengoceh tentang jasadnya yang malang, mencoba membuatku merasa bersalah karena belum berusaha apa-apa untuk mencarinya.

Tidak ingin terdengar seperti orang gila, aku mengangguk. Secangkir teh celup kuletakkan di hadapannya. Kami duduk di dapur, di depan–bawah mejaku perkakas, sementara kabinet di bagian kanan.

“Awas panas, hati-hati” kataku. Kim menggumamkan terima kasih. Sendok yang beradu dengan keramik untuk mencairkan gula di dalamnya memecah kecanggungan dalam hening.

“Jarang loh, yang mau pindah kesini” Kim tersenyum lagi, senyum andalannya yang berhasil membuatku menatapnya lebih dari tiga detik secara tidak sopan. Hari ini, ia memakai setelan kemeja dengan kancing yang seakan meronta–dipaksa bertahan pada tubuh kelewat besar. “Perumahan tua, tapi harganya mahal, makannya sepi”

“Oh, ini rumah mendiang ibuku”

“Ah..” bulu matanya berayun. Kecanggungan tertera jelas pada sudut bibirnya yang bergerak kaku “aku nggak tahu, sorry” katanya.

“Ya, malah aneh nggak sih, kalau kamu tahu?” aku tertawa “kamu sendiri? Kenapa tinggal di perumahan tua yang sepi dan mahal?”

Aku jadi teringat para tetangga yang datang ke pemakaman Ibu. Kini, dalam rentang dua tahun, aku tidak melihat satu pun dari mereka meski bolak-balik melewati rumah-rumah di depan. Seolah, semua orang telah pergi dan pindah. Seluruh penghuni di daerah ini, aku hampir tak mengenali mereka satu pun.

“Karena sepi” jawabnya praktis. Aku menonton dalam diam ketika Kim mengangkat cangkir menemui bibir. Penampilannya yang trendi bahkan dalam balutan kemeja lagi-lagi mencuri perhatianku—pun karena kekecilan di tubuh sebesar itu. Namun secara keseluruhan, Kim adalah pria tampan. 

Kendati, aku masih mencerna pemilihan kata ‘sepi’ sebagai alasan ia tinggal di perumahan tua ini. Nada yang dibiarkan menggantung seperti perangkap yang akan memakanku hidup-hidup jika aku bertanya lebih lanjut.

Tapi aku merasa Kim ingin aku bertanya lebih lanjut. Sorot matanya lurus dan terasa menusuk menatapku. Tiba-tiba saja atmosfir aneh menguasai ruangan, atau diriku sendiri? Aku paranoid, aku sadar. Namun bukan jenis suasana dimana akan muncul hantu karena aku sudah terbiasa dengan hantu. Kim membawa aura yang berbeda. Pandangan teduh yang kulihat tadi pagi berubah menjadi…. Aku tidak yakin bagaimana menggambarkannya, namun itu mengusikku, sungguh.

“Jadi gimana? Betah tinggal disini?” tanyanya lagi. Sementara sambil menatapnya sekilas, aku mengusap tengkuk dan lenganku untuk meluruskan bulu-bulu yang berdiri karena merinding.

“Sejauh ini aku belum.. Ngerasa nggak betah atau gimana sih” kataku mulai merasa tidak nyaman. Kim menyadari jawabanku penuh kewaspadaan. 

“Kenapa? Nggak kedengeran, suara kamu kecil” pria itu menggeleng lalu bertanya hal lain. “Nggak tinggal sama ayah kamu?”

“Ayahku lagi dinas di luar kota”

Aku tidak tahu siapa ayahku dan dinas di luar kota merupakan opsi paling klise namun selalu natural. 

“Oh..” intonasinya janggal, tanganku berhenti bergerak. Alih-alih terkejut, pria itu seakan sedang bergembira. Seolah dia baru saja menemukan celah. Begitu sadar, jantungku seakan mau copot “tadi katanya tinggal sendirian”

Di depan kotak perkakas berisi gunting pohon dan peralatan berkebun milik Ibu. aku menelan ludah. Bagimana cara membuka pengaitnya tanpa menimbulkan suara? Ujung jemariku menarik perlahan ujung kaitan plastik sambil menahan napas. Samar-samar, dari  kejauhan, terdengar deru rendah mobil yang perlahan mendekat. Sedikit lagi, aku menghitung mundur.

Kursi di belakang tiba-tiba saja mendecit. Kaki besinya yang tak lagi dialasi karet menggesek lantai diiringi debam lembut sandal. Keringat mulai membanjiri pelipis tanpa bisa kutahan. Akan terlalu mencurigakan jika tanganku ditarik sekarang, namun jika kubiarkan saja menggantung di atas kotak perkakas–aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan.

“Jadi benar-benar sendirian, ya?” senyumnya naik lagi, kali ini benar-benar lebih aneh dan aku merinding lagi. Aku mengurungkan niat untuk bertanya mengenai ibuku lebih lanjut. Kim memandangiku lagi-lagi dengan cara paling aneh dan membuatku risi.

“Aku udah 1,5 tahun disini, tempat ini selalu sepi dan hampir nggak ada yang datang kecuali petugas kebersihan yang nggak rutin juga. Katanya, ada kasus pembunuhan disini. Orang-orang juga pada takut hantu. Makannya disini sepi, tapi anehnya masih mahal. Dan pas pertama kali datang, aku ngerayain gitu, buat party sama teman-teman. Buat keributan kecil. Tapi aman, gak ada yang datang, nggak ada siapapun yang menegur. Disini menyenangkan”

Kim mengatakan tentang 1,5 tahun, berarti memang pria di depanku ini tidak tahu menahu tentang Ibu. percuma aku membukakan pintu saat ia bertamu, dan kini, aku ingin ia segera pulang karena tiba-tiba perasaanku tidak enak.

Dan siapapun yang kuberi tahu, barangkali tidak akan ada yang percaya jika aku mampu merasakan gestur janggal dari cara orang berbicara dan menatap. Aku kembali teringat pada wanita bergincu merah yang menjadi majikanku. Kendati perangainya menyebalkan dan caranya hidup benar-benar jauh dari kata mahal meski dia orang kaya, namun wanita itu jujur apa adanya. Meski kejujurannya justru yang menjadi bagian paling menjengkelkan darinya.

Pun, aku mendadak teringat sederet nama pria di internet yang berada di bawah judul “pembunuh berantai tertampan dalam sejarah” aku menyimpulkan bahwa orang itu adalah Kim.

“Kamu lagi nyari sesuatu?” kehangatan dalam suaranya kini terasa palsu. Kepeduliannya tidak diarahkan pada apapun yang tengah kulakukan “mau aku bant—”

Kim tidak sempat menawarkan bantuan, suara gonggongan anjing menggema, seolah ingin memporak-porandakan kusen rumah tua. Tidak hanya sekali. Empat kali, serak dan semakin agresif. Kami berdua termenung. Kim menoleh ke luar dapur. Memanfaatkan momentum, aku segera bangkit sembari menendang pintu kabinet.

“Kamu punya anjing?” bahkan Kim kebingungan.

Aku pun harus mengakui bahwa salakan barusan terlampau aneh untuk keluar dari moncong anjing. Di saat bersamaan tidak terpikir lagi, hewan macam apa yang mampu meraung sedemikian rupa.

“Iya, punya, satu” tanganku terpaut ke belakang, saling memilin “udah tua, galak. Punya separation axiety. Dia nggak suka.. Orang baru. Waktu itu temenku pernah digigit. Sampe hampir meninggal. Kasihan banget si Natalia”

Natalia ibuku. Kasihan sekali, aku mengarangnya.

Seharusnya aku juga menambahkan jika anjingku juga rabies. Lalu gonggongan meledak lagi. Kali ini Kim kaget, kepalanya berputar mencari sumber suara yang terasa sangat dekat namun tidak ada di dapur itu.

“Maaf, Kim. Kita ngobrolnya lain kali lagi, nggak papa kan? Aku mau nenangin anjingku”

Kim tidak menjawab. Ia hanya menatapku dari ujung kaki ke ujung kepala lalu menggumamkan “oke” penuh keraguan. Lalu melesat keluar. Sepanjang jalan dari dapur hingga pintu utama tertutup, kepalanya tak berhenti menengok ke sana ke mari.

Baru setelah Kim benar-benar pergi, kepalaku mendongak ke atas. Dan benar saja. Melayang-layang dua puluh senti dari plafon adalah Gu yang sedang cemberut.

“Suara anjing, lu?”

“Tua dan galak? Separation anxiety? Serius?” tubuh Gu turun perlahan. Ia bersila di udara tepat di sampingku. Kami sama-sama menatap pintu utama. “Aku nggak bermaksud ikut campur, tapi perasaanku nggak enak, dia kayak orang jahat, mukanya cabul dan dia…. Aneh”

“Sama, gua juga ngerasa gitu” aku menatap Gu dari samping, tadinya, aku ingin melakukan tos karena kita memiliki perasaan yang sama terkait Kim. Namun kuurungkan mengingat Gu transparan.

Aku lantas beranjak ke pintu utama dan memutar kuncinya sebelum kembali ke dapur, duduk sambil bertopang dagu.

“Tapi, aku nggak tau apa yang mencurigakan. Cuma perasaan aja” kata Gu, ia ikut duduk di atas meja meski kali ini duduk normal.

Kami terdiam agak lama dengan spekulasi masing-masing.

“Menurut gua sih, karena dia kepo ke hal yang nggak penting. Dia terus mastiin berulang-ulang kalau gua cuma sendirian di rumah ini”

Jujur saja, ketika Kim berkali-kali menyebut kondisi perumahan yang senyap dan lingkungannya yang acuh, aku merasa bahwa informasi tersebut bukan sesuatu yang dilemparnya sambil lalu. Sama seperti kekhawatirannya, cara berbicaranya yang santai saat itu terdengar terlalu dibuat-buat. Seakan ia ingin memperingatkanku.

Gu beralih melayang duduk di kursi yang sebelumnya di duduki Kim. tatapannya lurus mengarah pada cangkir, isinya hanya berkurang sedikit. Ada sekelebat raut asing yang sirna begitu saja saat aku mendekat.

“Gu?”

Pria itu menoleh. Bola mata kosong dan alisnya menyatu ditengah lenyap dalam sekejap. Ia menyambutku dengan wajah tengilnya. Seperti biasa.

“Kalau kamu perhatian, tapi enggak sih” Gua mengoceh sendiri “aku perhatiin dia selalu liatin kamu tanpa kedip, tanpa jeda, seakan, kamu bakal pergi kalau dia ngedip sekali aja. Aneh, kan?”

Perkataan Gu yang spekulatif lagi entah mengapa berhasil membuat tengkuku merinding. Aku merapatkan kardigan yang ku kenakan sambil memeluk perutku sendiri.

“Apa jangan-jangan, dia beneran pembunuh berantai?” semburku asal.

Kami saling melirik. Kombinasi mata sayu milik Gu yang terbelalak, lalu mulutnya membulat dan pipinya yang mengembung berusaha menahan tawa, namun tetap gagal dan hantu itu menyembur—tertawa terpingkal-pingkal. Aku menahan diri agar tidak tertular.

“Lucu banget ini, sialan, jangan waras dulu. Seru banget ceritanya, nggak kek sinetron” tawanya masih menggema, sambil memukul-mukul dengkul “nggak masuk akal.”

Aku jengkel sekali. Padahal aku serius dan merasa Kim memang aneh dan spekulasi yang kuutarakan pada Gu benar-benar kurasakan. Namun sialan hantu itu.. Dan aku akhrinya ikut tertawa “lu pikir ngobrol sama setan begini, masuk akal?!”

“Kamu jangan liatin aku terus, nanti aku nggak bisa berhenti ketawa” hantu itu masih memegangi perut, seolah ada yang bisa sakit setelah kematian. “Ini kita bercandain Kim sebagai pembunuh berantai gini, taunya dia beneran pembunuh berantai, dan plot twist nya, dia juga yang ngebunuh aku, wah… masuk akal sih”

Aku menarik napas dalam berusaha menyudahi tawa “iya ya? Taunya suara-suara aneh tiap malem itu bukan dari lu, tapi dari si Kim”

Gu tiba–tiba diam, terpaku ia beberapa saat “suara apa?” tanyanya kemudian.

“Suara… suara aja” dahiku mengernyit “kadang kayak suara besi, kadang suara kayu yang di pukul….  Gu.. muka lu kenapa begitu?”

Ekspresi Gu benar-benar membuatku tidak nyaman. Melalui otot-otot wajahnya yang tegang, ia menularkan kegelisahannya. Hidungnya mengkerut dan bibirnya setengah terbuka. Ia begitu ketakutan, seolah baru saja melihat penampakan–dirinya sendiri.

“Habis kamu ngancem mau sewa dukun, aku nggak pernah ngisengin kamu lagi”

🐾🐾🐾🐾

Setelah Senin sibuk oleh para tamu dan aku diwajibkan membuat hidangan yang untungnya sesuai seleranya—hasil rekomendasi Gu. kini, Nyonya gincu merah yang memiliki rumah seluas tiga kali lapangan sepak bola pergi plesiran. Ia membawa hampir seluruh bajunya dalam lemari, membawa aksesoris bahkan hal-hal tidak masuk akal seperti lima anjing berikut dengan kandang mereka.

Tapi masa bodo. Liburan sang Nyonya artinya liburanku juga. Ia mengatakan akan pergi selama dua minggu, dan selama itu juga aku berlibur.

Waktu luang yang kosong biasanya kuhabiskan dengan mengulik resep baru. Menonton video memasak hidangan yang belum pernah ku masak dan mempraktikannya untuk kumakan sendiri. Tentu saja dengan bahan-bahan yang paling murah.

Dan pagi ini, aku melamun lagi di dapur, bingung mau masak apa sementara aku belum belanja.

Gu melayang di belakang, ia menempel sebentar sebelum ikut duduk. Aku memperhatikannya sambil menguap. Rambutku berantakan dan aku tidak berencana merapikan apapun karena malas.

“Ngelamun lagi” katanya, ia duduk persis di depanku. Lidahnya memainkan tindik diujung bibir dan tangannya mengikuti tanganku yang terpaut di atas meja.

“Nggak tau, lemes” kataku ogah-ogahan.

“Itu karena kamu belum sarapan. Coba sarapan dulu” katanya, sok perhatian.

“Aku nggak punya apa-apa buat diolah, aku belum belanja dan aku malas” lalu kusandarkan punggung ke belakang kursi, lagi, aku menguap lagi. Sementara Gu melayang. Ia terbang mendekat pada kulkas, lantas menyusup masuk tanpa membukanya.

“Ada telor, ada daun bawang… ada… ew.. Tomat busuk” pria itu mengoceh dari dalam kulkas “ada sosis, kamu bisa buat nasi goreng” tubuh bagian atasnya masuk sementara sisanya di luar. Aku hampir tertawa melihat pola hantu itu.

“Kamu harus sarapan, nanti bantu aku cari jasadku” katanya. Permintaan itu sudah dilayangkan sejak aku belum bangun tidur. Jika dikalkulasi, Gu sudah lima kali meminta.

“Berisik! Lu ngoceh sekali lagi, gua setelin ayat kursi biar kepanasan” ancamku serius. Gu menggaruk dahinya yang–jika kulihat tidak kena. Ia transparan dan tidak—sungguh aku tidak mengerti bagaimana sistem hidup hantu. Bahkan kata ‘hidup’ bagi hantu saja salah.

“Masak nasi gore—” Gu masih saja merekomendasikan sarapan sementara aku marah-marah.

“Berisik Gu! Pala gua pusing”

“Ya pusing karena lu belum nyarap. Coba sarapan dulu”

Aku merebahkan kepala diatas meja kaca, memperhatikan Gu yang sibuk mengeluarkan bahan-bahan nasi goreng. Lantas setelah semua keluar, hantu itu melihat ke arahku. Namun kali ini bukan dengan wajah tampan seperti biasa, melainkan wajah hantu seram seperti yang kulihat saat pertama datang. Aku kaget dan duduk tegak.

Gu tertawa terpingkal-pingkal “cie.. Kaget ya… hahahahah…” lalu ia berubah normal. Sudah melihatnya berkali-kali, aku tetap kaget saat sosok itu berubah menyeramkan tiba-tiba. Hanya kaget, tidak takut.

Harus aku akui, kehadiran Gu seperti perasan jeruk lemon di atas karaage yang baru matang. Aneh, namun menyegarkan. Memberi warna yang tidak terduga. Tapi pas.

Selalu ada yang berbeda setiap harinya. Kemarin Gu tiba-tiba saja bertanya soal Ibu. Terbiasa dengan pertanyaan yang sama sejak dulu, aku memberinya jawaban templat. Bahwa Ibu meninggalkanku dan hidup sebatang kara karena, rupanya, menjadi ibu terlalu mengekang jiwanya.

Sebagian orang akan merasa kasihan denganku. Sebagian lainnya tidak tahu harus bereaksi apa pada jawabanku yang terlalu gamblang. Katanya, terlalu menjelekkan orang tua—jika Ibu masih bisa disebut demikian. Tapi, Gu berbeda. Mengambang lima senti dari lantai, wajahnya berkerut jijik.

Awalnya aku mengira ia tidak suka denganku yang menyandang status yatim piatu dan durhaka. Pemikiran tersebut sirna seketika saat Gu berkeliling kamar, berkoar-koar penuh amarah. Setidaknya lima paragraf menjelek-jelekkan ibuku tumpah-ruah dari mulutnya saat itu juga. Umpatan yang tidak cocok dengan wajahnya membuatku terbelalak, kemudian menangis.

Banyak orang yang marah padaku, tapi tidak pernah ada yang marah untukku.

“Heh! Malah ngelamun lagi” sentakkan Gu membuyarkan lamumanku, “ayo masak, kalau kamu nggak masak, nanti kelaparan, kalau kelaparan terus, nanti kamu mati. Yang boleh jadi hanti di sini cuma aku”

“Mana ada orang mati karena nggak makan sekali?” meski menggerutu, aku tetap bangkit dan menyambar gagang wajan.

“Nggak sampai mati, sih. Tapi nanti kamu lemes. Kita punya agenda hari ini”

Tanganku menggantung di udara. Aku melirik Gu yang tengah melipat tangan di depan dada. Kedua alisnya naik turun penuh makna. Saat itu juga, aku langsung teringat pembicaraan kami tempo hari.

Benar. Hari ini aku sudah berjanji dengan Gu untuk bermain peran sebagai detektif.

🐾🐾🐾🐾

Sebenarnya, sudah beberapa hari terakhir aku menyelidiki Kim. dari mengintip rumahnya, mengawasi pergerakkan—kapan pria itu pergi dan kapan kembali. Aku mencatatnya detail dan berencana akan masuk diam-diam jika bisa—saat pria itu tak ada di rumah. Juga, tentang bunyi gedebag-gedebug tiap malam, aku juga mencatat pola yang itu. Bahkan ritmenya.

Kadang, tengah malam, aku mendengar suara televisi dinyalakan dengan suara kelewat kencang. Rumah yang dindingnya menempel dengan bagian samping rumahku itu jelas memperdengarkan segala suara yang ada. Dan di antara saura televisi, sayup-sayup aku mendegarnya, suara itu.. Mirip.. Seseorang memukul tumpukkan kain basah. Ya, seperti itu, berulang-ulang.

Gu kadang masih berpikir baik seperti.. Mungkin saja Kim tengah latihan tinju menggunakan samsak. Kepalaku nyaris mengangguk, sayup-sayup, di sela pukulan itu, seseorang merintih. Suaranya merambat tidak lebih dari setengah detik di udara. Tapi, berani sumpah, yang barusan itu rintihan yang diputus paksa.

Dan setiap  repetisinya, bulu kudukku meremang.

Lagi, kami berkesimpulan lagi bahwa Kim merupakan kandidat pembunuh bayaran.

Kini, aku dan Gu membentuk satuan tim yang akan memecahkan kasus kematian timku sendiri; Gu. Dan terduga yang sedang menjadi sasaran intaian; Kim. Si pria tampan pembunuh—menurut spekulasiku dan Gu—meski kami akan tertawa tiap mengatakannya karena lucu. Kata Gu, mirip di sinetron.

“Oke, karena rumah ini cluster, seharusnya denahnya sama” aku membuka rapat sesegera mungkin setelah meletakkan piring kotor di dalam wastafel. Pandanganku berkeliling, dapur adalah ruangan paling belakang dan pintunya berbatasan langsung dengan halaman belakang. Masuk ke pekarangan bukan lah hal sulit. Aku cukup melompati pagar pemisah rumah kami. Yang jadi masalah adalah bagaimana aku bisa masuk ke rumahnya.

“Masa iya lu nggak bisa nyongkel kunci?” aku bertanya sambil melipat tangan di dada–menatap Gu yang juga duduk di hadapanku—bergestur nyaris serupa.

“Masalahnya bukan itu” hantu itu menggaruk pelipis yang sebenarnya mengambang, setelah sekian lama, aku tetap masih tidak mengerti sistem hantu yang bisa memegang benda padat, namun tidak bisa memegang diri sendiri alias transparan. “Masalahnya, aku nggak bisa ngelewatin dinding rumah ini” 

Pernyataannya barusan mematahkan ribuan rencanaku untuk membobol pintu rumah Kim. Aku mendongak dan lagi-lagi menangkap eksistensi hantu yang kini sedang memilin-milin jerijinya canggung,

“Maksdunya?”

Gu membasahi bibirnya. Pandangannya diarahkan sembarangan–jelas sekali menghindariku. “Aku nggak bisa keluar dari rumah ini” terangnya sekali lagi. Dan hantu sialan itu baru mengatakannya sekarang? Mendadak, perutku terasa melilit bukan main. Membayangkan aku harus melakukan tindak kriminal sendirian dalam rumah pembunuh berantai. 

Tidak. Sebenarnya, sejak awal ini hanya spekulasi saja. Bagaimana jika sebenarnya Kim adalah warga biasa? Bagaimana jika pria itu hanya orang dengan hobi meninju samsak tengah malam sambil menonton film aneh—dengan suara gadis yang merintih? Kemungkinan seperti itu tidak bisa diabaikan dibanding terus berpikir buruk dan menyimpulkan secara liar.

Kemungkinan terakhir meningkatkan kecemasanku hingga ke ubun-ubun. Sebab, ada satu pernyataan yang paling mengerikan dan baru bisa terjawab apabila aku meyakini yang merintih di rumah Kim bukanlah samsak. Bagimana jika aku terperangkap di dalam rumah itu dan menjadi korban selanjutnya?

Sentuhan dingin mendarat pada pundak kiriku. Aku menoleh dan mendapati Gu dengan dua mata sayunya berkilat prihatin. Melalui kolam gulita itu, aku justru lebih fokus pada pantulan seorang wanita. Wajahnya mengingatkanku pada anak kecil di rumah ini belasan tahun silam, yang hanya memalingkan wajah ketika melihat ibunya mabuk tengah malam sambil membawa laki-laki masuk ke kamar. Yang berpikir bahwa itu bukan urusannya.

Yang pengecut—dan sangat aku benci.

Aku benci anak itu. Aku benci diriku. Bertahun-tahun kuhabiskan untuk menyesali keputusanku kala itu. Mungkin—dan hanya mungkin—jika aku berani sekadar menangis untuk mengalihkan perhatian Ibu, Ibu mungkin akan marah, tapi setidaknya aku tidak akan mendengar suaranya mendesah dengan cara paling menjijikan.

Kini, aku kembali dihadapkan pada pilihan serupa; bertindak berani atau menyesal seumur hidup karena lagi-lagi bersikap seperti pengecut.

Suara rintihan kala itu terngiang di telinga.

“Aku mungkin nggak akan bisa nemenin kamu ke sana” Gu melayang membawa palu–mendekat padaku “tapi, aku bisa awasin kamu dari sini, dan akan menggonggong tiap ada bahaya”

🐾🐾🐾🐾

Pintunya tidak dikunci.

Padahal aku sudah memegang palu berencana memecahkan kaca untuk membuka grendelnya dari dalam. Namun ternyata rumah ini tidak di kunci. Kim sudah meninggalkan rumah dua puluh menit yang lalu, jika merunut seperti kebiasaannya, maka, pria itu akan kembali nanti sore sekitar pukul lima atau setengah enam.

Mudah, ini terlalu mudah, membuka pintu kelewat mulus. Yang sulit adalah masuk lebih dalam ke rumah Kim. aku benar-benar harus menarik napas dalam-dalam demi mengumpulkan keberanian untuk masuk ke kediaman orang lain tanpa izin–membawa palu dan persis seperti kriminal yang akan mencuri.

Sesuai dugaanku, denah rumahnya benar-benar serupa. Aku hampir mengira sedang berada dalam rumahku sendiri dengan versi yang lebih epik dan estetik. Seluruh peralatannya serba modern, tertata rapi dan nyaris presisi. Aku berpikir jika Kim mengidap gangguan OCD dan yang paling penting, rumah ini tidak berhantu.

Masih berdiri dua langkah di abang pintu, aku lagi-lagi menarik napas dalam-dalam. Bayangkan, jika aku adalah seorang kriminal dan ingin menyembunyikan calon mayat. Kira-kira, dimana tempat cocok? Di ruang tamu jelas tidak mungkin, namun tidak menutup kemungkinan. Kamar mandi? Aku sering melihat dokumentar krimial membunuh korbannya di dalam kamar mandi agar mudah dibersihkan.

Aku melangkah perlahan. Meski sudah memakai sandal, rasanya, lantai rumah Kim terasa begitu dingin. Dinginnya hingga naik ke tengkuk dan membuatku merinding. Kepalaku menoleh ke segala arah. Jika siapa saja melihatku sekarang, maka sempurna sudah—aku akan terlihat seperti maling.

Dari dapur, aku berbelok ke kiri, ke arah deretan pintu. Rumah ini memiliki dua kamar mandi. Satu di dalam kamar utama, satunya lagi diapit oleh dua pintu kamar lainnya yang lebih kecil. Setelah menimbang sesaat, aku memutuskan memeriksa kamar mandi yang terpisah—jikalau Kim tiba-tiba pulang, aku bisa menyelinap keluar lebih cepat.

Di atas knop yang disepuh emas itu, jemariku bergetar hebat. Kepalaku memutar berbagai gambaran apa yang sekiranya menantiku di balik pintu. Gambaran bagaimana nasib korban.

Tidak. Hentikan. Aku tidak punya banyak waktu. Meski aku sudah yakin jadwalnya akan kembali nanti sore—seperti kebiasaannya selama kuawasi, namun Kim bisa kembali kapan saja—ia bisa menangkapku kapan saja.

Dalam satu tarikan napas, aku mendorong pintu tersebut. Engselnya kurang diminyaki. Suara decitan samar mengisi ruangan itu.

Kelopakku mengerjap cepat. Bau darah, seonggok tubuh yang terikat, dan rintihan—semuanya hanya ada di benakku. Di balik pintu hanya kamar mandi kosong. Terang. Cahaya matahari merayap dari jendela kecil. Kering. Seolah tidak pernah dipakai. Kamar mandi tersebut normal, sama seperti kamar mandi di rumahku. Benar-benar tidak ada yang janggal meski mataku sudah perih karena memeriksa sudut-sudutnya tanpa berkedip.

Aku segera menggeleng. Mungkin bukan di sini. Mungkin di kamar utama—

PRANG!

Ada keheningan mencekam usai suara tersebut mengisi kamar mandi, memantul dengan bengis dari ubin putih ke dinding. Keberanianku turut pecah bersamaan dengan botol kaca bekas reed diffuser. Benda sialan itu meluncur ke lantai, tersenggol oleh siku.

“Sial…” bisikku, hampir menangis. Ada jejakku di rumah ini. Kim akan tahu aku menyelinap ke rumahnya. Aku akan tamat. “Sial. Sial. Anjing. Fuck.”

Tanpa pikir panjang, aku segera berjongkok, hendak memunguti pecahan botol. Napasku memburu. Jantungku bertalu-talu. Kombinasinya memenuhi telingaku bersama dengan suara rintihan samar.

Tunggu. Rintihan? 

Aku hanya panik, bukan aku yang merintih.

Seluruh sendiku berhenti bergerak. Senyap mengambil alih. Ketika aku berpikir bahwa yang barusan sekadar imajinasiku, rintihan lainnya menggaung lemah. Terdengar dekat, namun bukan dari ruangan ini.

Bulu kudukku meremang. Seketika aku memiliki dugaan dari mana suara tersebut berasal. Sembari tersengal, telingaku ditempelkan pada lantai.

“Tolong…”

Gelombang cemas menghantamku saat itu juga. Aku bergeming, meminimalisir suara-suara tambahan. Di antara rintihan tersebut, aku bisa menangkap suara lain yang membuat perutku kencang. Rantai yang beradu dengan besi. Tangisan. Semuanya berada di bawah lantai kamar mandi.

Memangnya rumah ini punya rubanah? Sejak kapan? Dahiku mengernyit. Salah satu dari pintu di rumah ini mengarah ke ruangan yang luput dari perhatian.

Sementara otakku berputar, pandanganku jatuh pada salah satu pintu. Terletak tepat di depan kamar paling ujung. Di rumahku, ruangan tersebut digunakan sebagai gudang dan ruang cuci.

Ludah meluncur membasahi tenggorokan. Apakah fungsinya sama di rumah ini? Darahku mengalir sekian kali lipat lebih deras, menderu-deru di bawah kulit. Digerakkan oleh adrenalin belaka, tungkaiku berayun cepat menerobos pintu tersebut. Benar saja. Di dalam ruangan berukuran 2×2 meter tersebut, ada pintu lain. Mungkin karena aku merasa di atas angin perkara dugaanku dan Gu bisa saja benar. Mungkin juga aku hanya senang karena semua kegilaan ini akan segera berakhir. Namun, aku tidak bisa mengingat bagaimana aku membuka pintu tersebut atau terbuat dari apa tangga yang kujejaki.

Aku baru sadar ketika alas sandalku mendarat pada lapisan beton. Bau amis menggulung-gulung di bawah sana, bersama dengan aroma tidak sedap lainnya. Bukan itu yang menggangguku.

Di ujung ruangan, meringkuk hampir seperti buntelan karung, seorang wanita dengan tangan dan kaki terikat mengangkat wajahnya. Dua buah tripod diletakkan membelakangiku. Darah dan lebam mewarnai tubuh pucatnya. Bibirnya yang nyaris seperti bunga kering bergerak.


“Tolong…” 

🐾🐾🐾🐾

Akhirnya datang hari di mana kompleks ini terasa lebih hidup. Meski dengan alasan ironis ketika seorang wanita di temukķan dalam keadaan nyaris mati di dalam rubanah. 

Beberapa orang yang tidak pernah kulihat sebelumnya berkumpul di seberang jalan, berdiri dalam jarak yang canggung karena tidak terlalu saling mengenal. Sederet mobil polisi dan sebuah ambulans terparkir tepat di sebelah rumahku. Petugas-petugas berseragam sedari tadi sibuk mondar-mandir dengan wajah serius. Sesekali, beberapa di antara mereka melirikku yang terduduk di tangga teras.

Seorang petugas baru saja selesai menanyaiku. Ia sepertinya puas dengan alasan perilaku kurang menyenangkan dan suara janggal—cukup untuk tidak mempermasalahkanku yang masuk ke rumah orang tanpa izin. Aku tahu ia hendak membawaku ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Akan tetapi, wajahku yang kuyu membuatnya mengurungkan niat. Pria berkumis tipis itu hanya memberikanku kartu nama dan menyuruhku menghubungi nomor yang tertera begitu kondisiku sudah lebih stabil.

Aku memberikan anggukan sebagai jawaban dan meminta izin untuk menenangkan diri sendirian di dalam rumah. Pria itu menunduk maklum, membiarkan punggungku ditelan pintu utama.

Di ruang tamu, kegaduhan sedikit tersamarkan. Aku masih bisa mendengar desau percakapan di depan teras, namun, setidaknya, aku tidak lagi merasakan tatapan orang-orang.

Tubuhku ambruk di atas salah satu sofa yang membelakangi jendela. Partikel debu menari-nari di dalam pilar cahaya yang menyelinap dari balik tirai. Rak di hadapanku berisi deretan buku Ensiklopedia Britannica peninggalan Ibuku yang sayang untuk dibuang. Pandanganku dilabuhkan pada buku-buku yang—mungkin saja tidak akan pernah kubaca itu, demi menghindari gumpalan ungu di sudut ruangan.

“Aku nguping obrolan polisi di luar.” Setelah kuacuhkan, Gu merasa harus memecah sunyi. “Kim langsung diringkus dan, katanya, ini bukan korban pertama. Korban-korban sebelumnya cewek semua.”

Dari sudut mata, gumpalan ungu tersebut melayang mendekat. Aku tetap bergeming, meneliti huruf demi huruf pada punggung buku.

“Jadi, bukan Kim pelakunya. Bukan Kim yang ngebunuh aku,” ucapnya. “Sumpah, aku udah ngira kamu bakal ketemu jasadku di rumah dia.”

“GU! Bukan salah gua lu mati, bukan tanggung jawab gua juga untuk nemuin mayat lu!!” kami berdua terkejut dengan suara yang keluar dari tenggorokanku. Tidak bisa dipungkiri, amarah dan lelah adalah kombinasi mematikan “lu paham nggak sih, apa yang baru aja gua alamin di rumah Kim? Lu mikir gaksi?”

Rahang Gu terkatup rapat. Ia tidak menjawab. Tentu saja, mana mungkin hantu itu mengerti bagaimana jantungku hampir meledak di setiap langkah. Dia tidak akan tahu bagaimana sendi-sendiku sekarang seakan berubah menjadi jelly.

“Gua bisa aja ketangkep Kim. Jadi korban selanjutnya, mati mengenaskan dan ketakutan. Bayangin kalau Kim tiba-tiba pulang?”

“Kan aku udah janj—”

“Gimana kalau gua nggak dengar?! Keburu modar gua dibunuh” seluruh emosi yang tertahan tumpah ruah “gua abis liat orang hampir mati, Gu. Gua mempertaruhkan nyawa gua buat ngeliat orang yang hampir mati”

“Kamu nyelametin dia”

“Persetan! Terus kalau udah kayak gini, siapa yang nyelametin gua?” aku baru sadar jika aku mengatakan seluruh emosiku sambil menangis. “Lu ada mikirin gua nggak sih, Gu? Sedikit aja”

Gu makin tampak kabur. Entah sosoknya yang memang menipis atau pandanganku yang terhalang air mata. Tapi jelas sekali, aku tidak melihat rasa bersalah di bawah kedua alisnya itu. Sosok yang berambut klimis itu justru kebingungan. Seolah aku baru saja bertanya dengan bahasa alien.

Aku mendongak, menarik napas dalam-dalam, lalu menjatuhkan kepala ke dalam telapak tangan. “Gua udah bantuin lu sekali. Dan kalo gua harus ngulangin apa yang gua alamin hari ini, mending gua yang minggat.” Udara yang masuk seolah diisi jarum-jarum kecil. “Lagian, awalnya ini juga bukan rumah gua.”

Tanpa menoleh sedikitpun, aku menyeret langkah ke dalam kamar. Begitu pintu terbanting, baru akhirnya aku bisa memutus semuanya; sirine polisi, percakapan dalam nada rendah, dan Gu. Yang tersisa hanya kekacauan di dalam diriku

Di atas sprei kasur yang warnanya belel. Aku merenung ke dalam bantal di temani bayang-bayang suara korban dan bau busuk rubanah.

🐾🐾🐾🐾

Gu tidak pernah muncul lagi–setidaknya di hadapanku.

Aku masih sesekali melihatnya di  sudut tergelap. Menyaru seperti bayang-bayang perabotan. Melayang dengan canggung, seolah tidak ingin terlihat.

Gestur pihak sebelah yang seakan enggan membahas kejadian beberapa hari lalu kusambut dengan baik. Maksudku, aku paling jago dalam hal memendam perasaan hingga akhirnya terkubur sendiri. Jadi, aku mengikuti keinginannya dengan tidak memperhatikan hantu itu sama sekali. Keseharianku diisi dengan kesibukan yang monoton—dan kadang terasa terlalu dibuat-buat.

Kendati demikian, tak terelakkan, kecanggungan membebani dadaku dua puluh empat jam dalam seminggu.

Aku melirik koper yang tergeletak berantakan di tepi ranjang. Di dalamnya baru ada baju dalam dan peralatan mandi. Pekerjaanku hari ini terlalu padat dan aku menyerah berpura-pura tubuhku tidak remuk. Padahal, beberapa saat lalu, aku girang bukan main membayangkan liburan sederhana di hotel.

Mungkin, menjauh sejenak dari rumah ini adalah rencana terbaik—untukku dan Gu. Meski hanya dua malam, setidaknya aku tidak perlu bersikap seolah aku tinggal sendiri atau memalingkan wajah setiap kali rumah Kim berada di dalam jarak pandangku.

Namun, rupanya hanya aku yang merasa senang.

Sebenarnya, aku tidak ingat kapan aku terlelap. Akan tetapi, tidurku yang—kurasa—singkat itu tiba-tiba saja diinterupsi oleh sensasi aneh di perut. Pinggangku seperti dibebat oleh sesuatu—seperti memakai korset yang terlalu ketat. Kemudian, belitan yang erat itu naik dan terus naik hingga dada.

Kini, rasanya seperti dililit piton. Menyadari kemungkinan tersebut, mataku otomatis terbuka. Di detik itu lah, aku berpikir bahwa bertemu ular piton raksasa bukan skenario terburuk.

Di dalam temaram kamar, aku menatap ngeri sosok hitam di ujung ranjang. Ia berdiri dengan punggung membungkuk. Rambutnya masih sama klimisnya. Yang aneh adalah saat rambut itu tiba-tiba memanjang. Menyelimuti tubuhku. Membelitku.

Jika saja wajahnya tertutup sempurna, aku mungkin akan menjerit. Namun, di antara helaiannya yang awut-awutan, sepasang iris gelap dengan kantong mata menatapku. Hidungnya bangir. Kulitnya pucat, kontras sekali dengan rambut hitamnya.

Dalam suara yang terlalu familiar, ia berbisik lirih, “kamu mau pergi?”

Tidak ada yang bisa keluar dari tenggorokanku kecuali huruf yang terbata-bata—bahkan tidak ada yang dapat digolongkan sebagai kata. Hanya sekumpulan alfabet yang mengambang.

Gu tidak senang, sama seperti ia tidak senang pada koper di lantai. Gemerisik sekumpulan rambut bergesekan dengan sprei, bergerak maju. Bak dua tali hitam, masing-masing melilit pahaku. Bola mataku bergulir pada sosok tersebut, meminta kejelasan.

Aku mendapat jawabannya sedetik kemudian, ketika lilitan rambut tersebut menarik kedua pahaku ke arah berlawanan. Gu merangkak di atas kasur. Wajahnya berada di antara kangkangan kaki.

Hidungnya tepat berhadapan dengan kemaluanku yang masih terbalut kain.

“Gu…” akhirnya aku berhasil menyebut namanya “nggak, jangan lakuin ini..”

“Apa? Aku nggak mau kamu pergi, aku nggak mau di tinggal” katanya memelas, namun kontras dengan prilakunya pada tubuhku.

Aku menggeleng kuat “gua cuma mau pergi sebentar, mau ngademin pikiran, cuma dua hari.. Cuma dua hari.. Serius..”

Namun tampaknya, Gu memang tidak ingin aku pergi, tidak juga dengan liburan atau apapun yang berhubungan dengan pergi.

Dan hantu itu juga serius melakukan hal—yang… aku tidak tahu. Aku seperti manusia gila saat tubuh Gu terus menggerayangiku.

Sial sial sial.

Aku tidak berkutik.

🐾🐾🐾🐾

Ada beberapa hal yang aku pikirkan ketika menyeduh kopi di pagi hari. Biasanya tentang sisa hutang dan apakah aku akan masak mi instan atau beli lauk siap makan di minimarket. Semenjak tinggal di rumah ini, terselip satu beban pikiran yang topiknya selalu berubah setiap hari, namun subjeknya selalu sama; Gu.

Kejadian kemarin—dan beberapa hari sebelumnya—tidak membuatku membuang kebiasaan tersebut. Yah, aku ingin, awalnya. Akan tetapi, begitu air panas menyentuh bubuk kopi murah di dalam cangkir, aku langsung teringat pada iris hantu gentayangan tersebut. Hangat dan berkilat. Aku benci mengakuinya, tapi Gu seringkali tampak lebih hidup ketimbang aku.

Pantulan di kaca jendela kusam balik menyorot prihatin. Kini kantung mataku hampir mirip dengan Gu. Jemariku menyapu ringan bekas kemerahan di leher.

Bohong jika aku tidak kalut. Terlalu banyak bukti yang menunjukkan bahwa kejadian semalam nyata adanya. Sekeras mungkin aku menyangkal, sosok itu benar-benar Gu.

Bagaimanapun, hantu tetaplah hantu. Jahat dan mengerikan. Aku tertegun pada pemikiran tersebut. Nyeri yang berpusat di dada menyebar hingga tenggorokanku menyempit.

Aroma kopi merayap cepat di hidung. Dadaku menggembung beberapa detik, kemudian mengempis perlahan. Tatapanku dialihkan pada pusaran gelap di tengah cangkir. Bayanganku terdistorsi. Sama seperti pikiranku.

Kalut memang ada. Namun, tidak bisa dipungkiri, rasa penasaran turut membayangi. Akan lebih mudah apabila Gu bersikap seperti monster hingga akhir. Akan tetapi, makhluk sialan itu harus menutup aksinya dengan sesuatu yang menyayat hati sekaligus menimbulkan teka-teki yang mengusikku sepanjang malam.

“Hai.”

Suara berat itu. Apakah halusinasi?

Kepalaku berputar. Berdiri di celah sempit antara kulkas dan dinding, Gu buru-buru menunduk ketika tatapan kami bertabrakan. Punggungnya melengkung. Ia seolah ingin terlihat kecil.

Aku membalikkan badan sembari melipat tangan di depan dada. “Hai?”

“Aku…” hening. Gu menggigiti bibirnya. Bola matanya bergerak panik ke kiri dan ke kanan, namun tidak pernah menemuiku. Alisnya berkerut-kerut. “Aku… maaf. Nggak. Maaf nggak bisa ngebenerin perbuatanku semalen. Tapi, aku minta maaf. Aku nggak tahu kenapa aku bisa begitu lagi. Biasanya—biasanya aku cuma begitu kalau nggak ada kamu. Dan… dan… biasanya bisa aku kendaliin. Tapi—aku… aku nggak tahu…”

Seluruh kalimatnya tumpang tindih. Semuanya diucapkan dalam suara tercekik, seolah pria itu baru saja menelan tikus mainan. Menggelikan, namun menyesakkan. Dari kejauhan, aku bahkan bisa melihat air yang membanjiri pipinya, jatuh bergantian namun tidak pernah sampai ke lantai.

“Lu nggak tahu kenapa lu bisa berubah jadi…” aku melipat bibir sejenak, “monster?

Gu memeras mata pada pilihan kataku. Alisnya menyatu di atas. Pilu pada raut wajahnya semakin kental.

“Maksudku, aku kadang emang begitu kalau lagi nggak… stabil,” ucapnya. “Tapi nggak pernah lama. Dan, bisa aku kendaliin.” Sendu membumbui jeda di antara kalimat Gu “Mungkin… mungkin karena aku udah kelamaan jadi hantu…”

Oh, aku pernah mendengar teori itu. Tentang hantu yang berubah jahat seiring berjalannya waktu. Sejatinya memang mereka tidak boleh berlama-lama terikat di dunia. Dari kegugupan Gu, aku ragu ia mengadopsi teori tersebut hanya untuk berbohong.

“Lu selalu… menyetubuhi orang? Tiap berubah gitu?”

“Nggak. Nggak pernah, malah. Biasanya aku cuma berubah… bentuk.” Gu melirikku singkat dan aku teringat pada wujudnya semalam. “Tapi, nggak tahu kenapa, kemarin kayak ada dorongan aneh begitu liat koper kamu. Kayak… apa, ya. Aku ngerasa kayak anjing yang dilatih untuk begitu setiap dikasih pemicu, walaupun aku nggak mau.”

Anjing? Pemicu? Guratan di dahiku semakin dalam. Gelenyar aneh merayap di sepanjang lenganku di pagi yang cerah itu.

Siapa yang melatihnya?

Gu kini berjongkok, semakin membola di celah sempit itu.

Lebih dari itu: apa yang terjadi di rumah ini sebelum kedatanganku?

Tidak. Tunggu. Sebentar. Aku mengerang lantang sembari menepuk dahi. Petunjuknya sudah ada sejak sebelum aku menerobos rumah Kim! Petunjuk besar yang sepertinya terlewat karena agendaku saat itu terlalu menguras nyali.

“Bego. Aduh, bego banget.” Umpatan-umpatan tersebut meluncur tanpa jeda dari balik senyumku.

Gu sepertinya khawatir. Ia membubarkan sesi mengasihani-diri-sendiri dan melayang perlahan mendekatiku. Kebingungan tergambar jelas pada rautnya. Siapapun akan bingung melihat aku tertawa sendiri sembari mengumpat, kurasa.

“K-kamu nggak apa-apa—”

“Gimana bisa kelewat, ya? Lu bilang, lunggak bisa keluar dari rumah ini? Terus? Lu beneran nggak ada yang bisa diinget? Sama sekali?” pertanyaanku dijawab gelengan lemah. Aku mengerang frustasi dan menyambar cangkir kopi. Masih panas, namun aku butuh kafein sesegera mungkin untuk meredakan pening. “Gua cuma butuh petunjuk lain untuk tahu di mana—Gu?”

Sosok itu mematung. Kedua matanya yang kelam menatap lurus pada tanganku, tanpa berkedip sedikit pun. Bibirnya membelah dan bergetar halus.

“Cangkir,” bisiknya.

Aku melirik cangkir bercorak biru di genggaman. Cangkir yang kebetulan sama dengan yang kugunakan untuk menjamu Kim. Satu dari tiga cangkir yang tidak kubuang karena kondisinya masih bagus.

“Cangkir?”

“Cangkir.” Gu melotot. Kedua tangannya mencengkeram kepala. Ia merosot di atas lantai. “Cangkir! Pantesan waktu itu aku ngerasa—aku inget! Aku ngeliat pantulanku di cangkir itu!”

“Oke! Oke, oke! Cangkir!” tanpa sadar, aku berjingkrak ringan. Seperti seseorang yang tengah menyemangati tim favoritnya. “Terus? Apa lagi?”

“Cangkir… bayangan…” Bibir Gu yang manyun bergerak ke kiri dan ke kanan. Otaknya seolah sedang memeras sesuatu. Matanya dipejamkan kuat-kuat. “Gelap. Lantai… beton?”

“Lantai beton?” sunyi mengiringi desisanku.

Lompatan semangatku terhenti begitu saja. Dalam detik-detik yang menggigit, irama lompatan tersebut beralih ke jantungku, menggedor-gedor sama paniknya. Udara yang kuhirup tidak pernah ada yang berhasil mencapai paru-paru. Seketika, tubuhku limbung ke belakang, menabrak meja dapur. Barisan rapi tegel di bawah telapak kakiku berayun ke kiri dan kanan, mengejekku. Mencemooh kebodohanku.

Aku pernah melihat lantai beton. Di rumah yang berbeda dengan denah serupa.

Ujung jemariku membeku di dalam kepalan. Entah apa yang Gu lihat di wajahku saat itu, akan tetapi, dari ekspresinya, bukan sesuatu yang menyenangkan. Hantu malang itu tampak seperti anjing yang ketakutan.

Di detik selanjutnya, aku mengulang adegan beberapa hari yang lalu. Tubuhku terasa ringan, berderap di atas lantai yang dingin. Kali ini, aku bisa merasakan semuanya. Adrenalin yang terpacu hingga puncak, knop yang dingin berputar rapuh di dalam rengkuhan tangan, dan aroma tajam dari karbol yang tidak sengaja tumpah ketika pintu ruangan itu dibanting ke dalam.

Aku mematung di ambang pintu. Ukurannya sama. Fungsinya hampir sama. Bola mataku terpaku pada satu titik, tempat rak kayu besar menjulang hingga hampir menyentuh plafon.

Fungsinya bisa jadi benar-benar sama.

Hawa dingin mendarat lembut di pundak kiriku. Tanpa menoleh, dengan suara bergetar, aku segera mengomando, “Gu, ambilin palu. Sama linggis.”

Sejengkal dariku, hanya ada kegelapan absolut. Lampu bohlam kuning hanya mampu menerangi tiga anak tangga paling atas. Sisanya seolah berada di dalam mulut monster.

Aku meneguk ludah. Monster yang sesungguhnya.

Gu berdiri di sisiku. Sama kakunya. Setelah berhasil mendorong lemari dan menghajar gembok karatan hingga lepas, tidak ada dari kami yang bersedia melangkah lebih dulu—dengan alasan yang jelas berbeda.

“Aku nggak siap.” jemari Gu menyelinap di antara celah jemariku. Sentuhan pertama kami sejak kejadian semalam. Rasanya benar-benar berbeda. Seperti menggenggam angin dingin, namun padat di saat yang bersamaan. “Aku takut.”

“Sama.” Bibir bawahku linu di bawah gigitan. Masih jelas di ingatan kondisi wanita telanjang tempo hari.

“Bareng?”

Aku memberinya anggukan kecil. Genggamannya semakin erat. Aku hanya bisa meremas senter di tanganku sebagai dukungan.

Satu tarikan napas dalam bertindak sebagai aba-aba. Pada hembusan tajam sepersekian detik kemudian, kaki kami berayun maju ke depan. Bersisian, menempel seperti anak ayam. Bulatan pucat dari senter menerangi satu per satu anak tangga hingga akhirnya aku mendarat pada lantai beton yang lembab.

Dinding rubanah menggemakan kembali getaran pada napasku, beradu dengan ritme teratur tetesan air.

Masih dengan kepala tertunduk, aku melirik ke samping. Tidak ada kaki Gu di sisiku. Bocah sialan itu meninggalkanku sendiri.

“Gu!” pekikku. Lututku tiba-tiba lemas. “Si anjing malah ninggalin!”

Panik, senterku menyapu setiap sudut ruangan. Rubanah ini tampak sedikit berbeda. Ada ruang persegi di salah satu sudut dengan material berbeda—jelas hasil renovasi. Kemudian, hanya bergeser beberapa senti dari ruangan kecil tersebut, aku melihat kaki ranjang besi.

Dan di atas ranjang dengan sprei dekil itu, seorang pria kurus kering menatapku melalui iris hitamnya yang familiar, namun juga terasa asing. Rambut hitam lepek terurai berantakan, menempel pada cekungan pipi. Gemerincing lemah memutus hening kala tangannya yang terbelenggu rantai menjulur ke depan. Dia tidak bernapas.

Beberapa detik lalu, sosok transparan Gu menghilang. Kini, aku menemukannya kembali dalam bentuk yang lebih padat dan mengenaskan.

Semuanya terekam jelas. Bau antiseptik. Gema obrolan rendah. Derak tirai. Troli yang diseret tergesa. Desah napas teratur.

Di luar jendela, biru membentang tak berujung. Yang sesekali melintas hanya sekelompok burung gereja. Cerahnya luar biasa, berpendar jumawa seakan hendak membutakanku.

Seluruh teka-teki yang mengusikku mencapai garis tamat melalui satu dobrakan pintu dan sorotan senter. Lucu sekali bagaimana ternyata selama ini jawabannya bersembunyi di bawah tapak-tapak kaki kami. Bersemayam di bawah gulita rubanah, tepat beberapa meter di bawah tempatku bercengkerama, melempar diskusi setengah serius di pagi hari dan lelucon garing di malam hari.

Hanya perlu satu dobrakan pintu. Aku terkekeh pada kalimat tersebut. Hanya butuh satu aksi bersenjata palu untuk menyingkap tabir yang menyelimuti sosok hantu gentayangan bersorot ramah tersebut. Sayangnya, aku tidak siap dengan kenyataan lain yang dibawanya, bahwa pusat dari kekusutan

 ini adalah nama dari seseorang yang begitu familiar bagiku.

Dahulu, kubaca nama itu dalam emosi yang berubah tiap tahunnya. Dimulai dari kekaguman, kerinduan, hingga kebencian. Nama yang tercantum pada akta kelahiranku, yang menyiksaku dan menanamkan emosi yang tidak seharusnya dimiliki seorang anak kecil. Nama yang merupakan wujud dari kebencian yang mampu menembus segalanya, bahkan liang lahat.

Natalia.

Ketika mendengarnya, aku ingin tertawa. Sepertinya, mewariskan trauma adalah hobi Ibu.

Diiringi satu tarikan napas berat, Gu melanjutkan kisahnya. Tentang profesinya sebagai tukang kebun di rumah Ibu dan tatapan ganjil dari si tuan rumah. Waktu istirahatnya mulai diinterupsi oleh obrolan basa-basi—yang semuanya dilontarkan bersama gestur menggoda. Gu bukan pria yang tumpul. Ia jelas tahu apa yang diinginkan wanita itu.

Dan aku nanggepin obrolan dia.” Gu memamerkan senyum pahit. “Nggak seharusnya begitu. Aku tahu. Tapi, dia selalu ngasih bonus tiap mood-nya bagus. Dan aku butuh uang. Siapa yang nggak butuh uang?

Aku, tanpa sadar, mengangguk maklum.

Setelah menyambut undangan Ibu, pekerjaan Gu bertambah. Tidak hanya sebagai tukang kebun, di sela-sela waktunya ia harus menjadi penghibur sang janda. Semata untuk menambah pundi-pundi tabungan agar hidupnya menjadi sedikit lebih nyaman.

Di bulan ke sekian—Gu tidak ingat tepatnya kapan—sikap Ibu mulai berubah. Wanita itu menjadi lebih menuntut. Lebih rakus. Ibu akan menyuruh pria itu untuk singgah melebih jam kerja. Obrolan yang menggoda kini diselipi oleh pertanyaan satu arah, mengulik topik-topik pribadi. Setiap gerak-geriknya, bahkan setelah melangkah keluar dari pagar rumah, diawasi dengan ketat. Tidak menunggu waktu lama, pertanyaan Ibu berubah menjadi tuduhan yang seharusnya tidak perlu dijawab oleh Gu.

“Di mana aku. Siapa yang lagi bareng sama aku. Lagi teleponan sama siapa.” Kepala pria itu menggantung lemah. Bibirnya bergetar. “Suatu hari dia nyuruh aku untuk temenin dia minum teh di dapur. Aku nerima tanpa curiga. Kenapa aku nerima tanpa curiga?”

Jeda beberapa saat. Gu sedang mencari jawaban untuk pertanyaannya sendiri dan aku sedang berusaha mati-matian agar menjadi satu-satunya di bilik itu yang tidak menangis. Mungkin di saat seperti ini, kalimat seperti “bukan salahmu” adalah respon yang tepat. Akan tetapi, apakah aku berhak mengatakannya? Ketika aku pun mengutuk diriku selama bertahun-tahun atas kesalahan yang bukan milikku?

Setelah itu, aku nggak inget apa-apa. Yang aku tahu cuma… hidupku habis itu berpusat di ruangan itu. Di atas kasur.

Tanpa bisa ditahan lagi, tubuh Gu bergetar. Tangannya yang transparan bergerak rapuh menyeka air mata yang tidak kunjung berhenti. Aku tidak bisa melakukan apapun. Ada dosa yang bukan milikku, namun sama membebaninya dengan dosaku sendiri. Kepalaku menunduk dengan kedua tangan mengepal erat di atas lutut, bak penjahat dalam pengadilan.

Butuh beberapa saat bagi Gu untuk menghentikan tangisannya. Terlalu mendadak dan terpaksa. Aku pribadi tidak keberatan apabila ia butuh seharian—atau bahkan seminggu—untuk menenangkan diri. Pemikiran yang sungguh bodoh.

Aku nggak tahu udah berapa lama di bawah sana. Pagi, siang, malem—semuanya sama. Cuma diisi sama nafsu dia. Di satu titik, aku akhirnya nyerah. Aku nggak lagi nyoba kabur, atau nebak-nebak ini jam berapa. Atau berusaha tetep waras sepanjang dia ngelatih aku sesuai keinginan dia.” Gu menarik ingus. “Tapi, tiba-tiba, dia hilang. Nggak pernah muncul lagi dan… dan aku… aku ditinggal. Sendirian. Di bawah sana.

Di waktu-waktu pertama, Gu bertahan hidup dari makanan kaleng dan berbungkus-bungkus camilan yang sengaja disediakan Ibu. Setelah bahan makanan tersebut habis, ia hanya bisa mengandalkan air kamar mandi yang keruh.

“Dia nggak pernah muncul lagi karena ternyata dia mati! Oh, enak banget dia bisa mati kayak gitu! Wanita sialan itu—” Bibir Gu mengatup mendadak. Bola matanya bergulir takut-takut padaku. “Maaf, aku…

Nggak.” Tanganku meraih lengan Gu. Dinginnya menjalar hingga tulang. Aku membandingkan dengan tangan yang kugenggam beberapa hari lalu dan, karenanya, sesal semakin rakus menggerogoti. “Gue yang minta maaf. Semua ini… salah gue. Gue nggak tahu kalau—

Gu mendengus jengkel. Begitu yakin perhatianku sudah kembali padanya, ia menyunggingkan senyum yang membuat tenggorokanku semakin tercekat. Sesekali apa yang aku pikirkan: bahwa Gu lebih layak hidup dibandingku. Senyumnya, meski sendu, nyatanya jauh lebih cerah dari langit di belakang kepalanya.

Dan itu juga menjadi hari terakhir aku berbincang dengan Gu. Semuanya telah kembali pada tempat yang semestinya. Sudah seharusnya.

Meski duka tidak pernah pergi. Ia menumpuk, menjelma menjadi sesuatu yang lain.

Hari ini, di depan gundukan tanah basah, ia menjelma menjadi rasa syukur.

JOSEPHINE

Josephine duduk anggun di sofa. Lingerie satin berwarna marun terlihat tanpa celah—membentuk dada tanpa bra—kontras dengan kulitnya yang seputih salju. Warna serupa ikut menyampul bibirnya yang erotis dan cantik. Duduk ia sambil menyilangkan kaki—menunggu suaminya pulang.

Wajahanya memang cantik, sangat.

Kendati kabar yang dibawa pengawalnya begitu memuakkan, namun wajah itu tetap tenang. Wajah cantik yang seakan sudah di desain untuk satu ekspresi tiap otaknya memerintah siaga—bertahan.

Katanya, suaminya sedang bercinta di kantor dengan seorang client dari luar negeri. Kabar semacam itu bukan hal besar, bukan hal baru. Pun, tidak terlalu membuat kaget. Tentu saja karena sudah terlalu sering terjadi.

Josephine tetap duduk tenang. Tubuhnya seharum mawar yang baru mekar. Kulitnya sehalus awan. Tidak ada yang salah, Josephine tahu tidak ada yang salah dengan dirinya hingga harus memperbaiki diri demi keparat yang memang bertabiat setan.

Sebenarnya memang seperti itu jauh sebelum mereka menikah dan sialnya Josephine tidak tahu. Pria itu membungkus diri kelewat indah seperti Dewa tanpa celah.

Dan jika ia membuka suara, jika Josephine protes, hasil akhir adalah ia akan di pukuli sampai sekarat, atau di bunuh. Bukan sekali dua kali ia nyaris meregang nyawa ketika tak terima dengan segala sikap suaminya. Maka, yang bisa dilakukan hanya bertahan sambil mencari akal untuk keluar.

🐾🐾🐾🐾

Lima tahun yang lalu, saat Josephine berusia 22 tahun, Josephine berhasil membawa pulang piala oskar dalam kategori gadis muda cantik dan berbakat serta menginspirasi para perempuan-perempuan di luar sana karena berhasil menggabungkan bisnis dan gerakkan sosial, menciptakan lapangan kerja aman bagi perempuan korban kekerasan.

Josephine mendirikan perusahaan brand fashion yang semua pekerjanya merupakan korban kekerasan seksual, perempuan terlantar atau perempuan yang tidak memiliki akses bekerja. Josephine tidak hanya memberikan pekerjaan, melainkan mengarjakan skill, memberi tempat tinggal sementara, juga membantu para perempuan untuk memiliki identitas dan kehidupan layak.

Begitu banyak yang mencintainya. Wajah cantik itu diimbangi budi pekerti tinggi. 

Tentu saja kegiatannya sukses berkat dukungan orang tua—lebih tepat ayahnya, orang tua satu–satunya setelah ibunya meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu akibat serangan jantung. Pun satu laki-laki turut menjadi penyokong besar; suaminya sekarang.

Pria kaya raya. Josephine awalnya tidak tahu bagaimana semua ini dimulai. Maksudnya, Andreas.

Pria itu terlalu dekat dengan ayahnya, terlalu akrab hingga jauh lebih akrab ketimbang diri sendiri dengan sang ayah. Jika saja bukan karena teh hijau yang gagal di bawakan pelayan ke kamar ayahnya karena pelayan menerima panggilan dan Josephine yang menggantikan—ia tak akan tahu–bahkan Andreas menginap di kamar ayahnya sembari membicarakan bisnis berikut tetek bengek yang enggan ia pelajari.

Itu terlalu janggal untuk ukuran rekan bisnis.

Andreas merupakan pria kaya raya. Naik ia sebagai pemilik perusahaan besar setelah ayahnya pensiun dini akibat stroke. Entah bagaimana awal mula ia mengenal ayah Josephine dan menjadi rekan yang pelan-pelan berubah menjadi kekeluargaan. Mereka saling bahu membahu, begitu erat, hingga tak terpisahkan.

Bukan, Josephine bukannya bodoh atau tidak peka terhadap situasi. Ia tahu Andreas menyukainya. Pria tampan itu tidak terang-terangan mendekatinya, tapi tidak juga membuat risi. Caranya mendekat sangat halus dan begitu keren.

Andreas tidak melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan pria jatuh cinta. Tidak membuat Josephine risi, tidak melakukan hal-hal klise. Pria itu hanya membantu, ikut menyokong kegiatan Josephine serta mendukungnya lewat sponsor. Segala hal yang menyangkut Josephine, pria itu ada di baliknya. Dengan senyum sempurna dan pembawaannya yang gagah. Siapa yang tak akan jatuh cinta pada billionaire muda itu?

Semuanya terjadi begitu saja bagai air mengalir. 

Bukan, ayahnya tidak memintanya untuk menikah dengan Andreas atau sejenis hubungan perjodohan yang biasa dilakukan orang-orang kaya untuk menyambung bisnis mereka. Tidak seperti itu, namun Josephine sendiri yang perlahan mulai jatuh cinta pada pria itu. Pada karismanya yang memukau, pada cara pria itu menyelesaikan masalah, pada caranya berbicara dan pada tenang si pria yang memeluknya tatkala pelik merubungi. 

Andreas ada sebagai bentuk pria idaman yang seolah keluar dari karakter fiksi. 

Pria yang baik hati, bertutur lembut, pintar, kata-katanya selalu membuat siapa saja terpesona. Juga uangnya yang tak terhingga. Pria itu digandrungi banyak gadis-gadis. Menjadi ikon yang lumayan populer dari beberapa kandidat di atasnya sebagai pengusaha muda yang tampan dan baik hati.

Siapa saja akan  setuju bahwa Andreas dan Josephine merupakan perpaduan sempurna. Satu gadis dengan kecantikan luar biasa, berwawasan luas, kaya raya, juga turut sebagai simbol perempuan kuat yang memberikan banyak harapan untuk para perempuan malang. Sementara Andreas merupakan pria baik hati yang membangun yayasan anak yatim serta panti jompo secara gratis untuk kalangan menengah sampai menengah ke bawah.

Terlalu sempurna.

Hingga dua tahun hubungan mereka berjalan tanpa benar-benar melabeli ikatan mereka sebagai pasangan kekasih. Baik Andreas atau Josephine. Keduanya hanya berjalan di garis lurus. Kegiatan mereka lebih banyak dihabiskan untuk saling bertukar pikiran. Menyambangi banyak tempat untuk donasi dan kegiatan amal. Tidak benar-benar ada bagian di mana mereka makan malam romantis berdua. Apalagi kegiatan fisik yang normal di lakukan muda mudi yang sama-sama jatuh cinta.

Hingga datanglah hari dimana Andreas melamarnya.

Wajah gugup. Senyumnya malu-malu dan salah tingkah, Andreas melamarnya di hadapan banyak anak-anak yatim piatu. Pria itu memberikan seikat bunga lily dari taman yang diikat dengan serabut tumbuhan lain—hasil meminta bantuan anak-anak. Acara melamar yang romantis dan sederhana. Josephine tidak memiliki alasan menolak, tidak ada. Pria itu adalah tipenya. Seluruh gambaran pria impian ada pada Andreas. Pria itu sempurna.

Lalu acara pernikahan mereka di gelar begitu mewah, begitu glamor dan megah. 

Tamu undangan nyaris mencapai empat ribu. Acara diadalakan hampir satu bulan penuh. Barangkali, Josephine bisa mengkategorikan acara itu sebagai pengalaman paling konyol sepanjang hidupnya.

Bayangkan.

Setelah pernikahan yang memakan biaya hampir setara dengan membangun satu kompleks perumahan, di tambah bulan madu mereka yang juga merogoh kantong tak sedikit, Josephine harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ternyata, Andreas memiliki kekasih lain yang di simpan rapat-rapat dalam rumah sederhana di tempat paling sudut di kota itu.

Siapa yang mengira?

Semua terbongkar setelah tak sengaja pada tengah malam, Josephine terbangun dari tidur dan menemukan ponsel suaminya terus berbunyi tanda pesan masuk. Lalu ia membaca semua hal—yang seharusnya tidak pernah ia baca. Meski setelah itu, semuanya makin gila.

Seorang perempuan berusia 16 tahun. Perempuan cantik jelita. 

Josephine tak langsung menodong Andreas dengan segudang pertanyaan atau meledak-ledak–tidak. Josephine tidak seperti itu. Ia justru meminta salah satu pengawalnya untuk mencari tahu tentang wanita simpanan suaminya.

Sakit, alangkah bohongnya jika ia tidak terluka.

Josephine stress. Ia tidak bisa tidur dengan layak. Tiap suaminya meminta berhubungan, ia terus menolak dengan berbagai alasan–pun Andreas tak pernah memaksa. Karena Josephine tau, tidak terlalu penting hubungan seksual dengannya saat pria itu sendiri memiliki wanita lain di luar. Ia merasa jijik.

Yang menjadi masalah adalah seluruh aset kekayaan ayahnya, jatuh ke tangan Andreas. Josephine benar-benar tidak mengerti kesepakatan apa yang telah mereka lakukan. Pun, ayahnya tidak pernah membicarakan apapun tentang harta pada satu-satunya anak—Josephine. Jika ia mengajak diskusi, ayahnya akan mengatakan bahwa Andreas akan mengurus semuanya dan ia hanya perlu duduk manis dan hidup sejahtera tanpa sibuk bekerja dan memikirkan harta. Bahwa, Andreas akan menjamin semuanya sampai ia mati.

Hidupnya diserahkan pada Anderas. Bahkan perusaah fashion yang ia bangun–meski modal dari sang ayah—entah bagaimana caranya, kini menjadi hak milik Andreas. Semuanya. Josephine tidak memiliki apapun selain uluran tangan dari suaminya–bahkan atas harta ayahnya. Itu adalah hal tergila. Paling konyol setelah pernikahan edan yang habis-habisan.

Maka, di tahun pertama pernikahan mereka, Josephine baru merasakan bagaimana rasanya hampir mati diinjak-injak. Diinjak secara hafiah—dimana ia jatuh terjerembab akibat dorongan keras, lalu kaki Andreas naik menginjak tubuhnya. Juga  dihina, dicaci maki dan segala hal gila yang tak pernah ia dapatkan seumur hidupnya. Tentu saja setelah ia protes akan perselingkuhan yang tak hanya dilakukan sekali dua kali. Melainkan terlalu sering. Ditambah lagi cara pria itu meminta berhubungan seksual yang menolak menggunakan pengaman setelah mencelupkan penisnya ke sana ke sini. Josephine hanya takut terkena penyakit menular seksual.

Namun saat menyuarakan itu, yang di dapat adalah pukulan tanpa diukur. Ditendang, pernah beberapa kali ia dikurung dalam kamar tanpa diberi makan berhari-hari. Josephine hanya mengandalkan air dalam kamar mandi untuk hidup.

Jangan tanya ayahnya. Sebelum mati, tentu saja pria itu masih ada, masih hidup. Namun semenjak pernikahannya dengan Andreas, sang ayah seperti tidak lagi peduli pada anak perempuannya. Seolah, bersama Andreas artinya tak ada lagi urusannya ikut campur apapun yang terjadi. Pula tak bertahan lama, bertepatan usia pernikahan ke delapan bulan, ayahnya mati kecelakaan. Tidak ada penyelidikan lanjutan, semuanya seperti hilang begitu saja. Dan kini, hidup Josephine benar-benar kacau. Ia hanya bisa menuruti kemauan Andreas sambil terus memutar otak agar bisa keluar karena pria itu tak mau menceraikannya dengan alasan yang rumit—barangkali ini ada hubungannya dengan seluruh harta yang dikeruk secara serakah. Josephine tidak mengerti. Tiap mengajak cerai, Andreas akan mengamuk—seperti biasa.

Ia juga pernah merundingkan secara halus, baik-baik dan menggunakan bahasa sesantun mungkin dengan pria itu–bahwa ia tidak akan menggugat harta sepeser pun asal mereka bercerai. Josephine hanya ingin bebas dari rumah itu, juga karena geraknya yang serba terbatas mirip tahanan.  Bersumpah-sumpah ia tak akan meminta uang,  tak akan menyebarkan apapun yang terjadi pada dirinya di rumah itu. Bahkan Josephine tidak masalah jika harus pergi ke luar negeri dan tidak pernah kembali. Asal Andreas mau melepaskannya, namun pria itu kukuh.

Ia ingin Josephine bersujud di kakinya, merendahkan diri, menganggapnya Dewa serta selalu tampil cantik untuk kemudian menyembahnya seperti tuhan. Sejauh ini, itu yang ada di kepala Josephine. Andreas hanya pria sinting yang gemar memperlakukan wanita seperti budak sahaya. Meski ia masih bersyukur pria itu masih memberinya hak sebagai Nyonya di rumah.

Katanya, wanita  hanya makhluk rendahan yang tak boleh bersuara. Wanita cukup di ranjang saja, bersolek dengan cantik sambil menyambut suaminya pulang. Wanita tidak boleh bekerja apalagi sukses dan mandiri karena hanya akan membuat kerusakan dan kesuksesan bukanlah jalan untuk perempuan.

Padahal, awal pendekatan mereka, Andreas begitu mendukungnya. Banyak mengatakan hal-hal keren hingga memotivasi Josephine. Tak tau isi hati manusia. Hingga puncak dimana ia benar-benar melihat Andreas sebagai sosok gila yang tak tertebak isi kepalanya. Atau beberapa orang yang mengenalnya menyebut pria itu sebagai misoginis. Andreas adalah patriarkal berkombinasi dengan misoginis. Itu terlalu sempurna.

🐾🐾🐾🐾

Sang pengawal masih berdiri di hadapan. Kepalanya tertunduk sementara dua tangannya terpaut ke belakang. Lepas ia memberikan informasi yang diminta sang majikan, Josephine tak segera memerintahnya untuk keluar.

“Dia benar-benar akan pulang, kan? Atau pergi ke tempat gadis lain? Aku lelah sekali, pinggangku sakit” Josephine menarik napas. Postur tubuh yang tegap dan selalu anggun selalu saja berhasil membuat punggungnya yang banyak memar makin pegal dan tidak nyaman. Sang pengawal mengangkat wajah sedikit sebelum menjawab.

“Tuan bilang, dia akan pulang setelah selesai” jawabnya tegas. Josephine mengangguk-angguk. Jika mengatakan akan pulang setelah beberapa hari tak pulang, maka, Josephine harus menyambutnya, harus berdandan cantik dan wangi. Tidak peduli pria itu lepas bercinta dengan monyet atau setan di luar sana. Jika Andreas melihatnya dalam kondisi santai dan berantakan, maka, memar yang kemarin belum hilang, akan bertambah jumlahnya. Atau barangkali makin parah karena pukulan yang diulang pada tempat yang sama.

Josephine mengangguk.

Tidak ada rahasia antara dirinya dan satu pengawal yang seperti anjing penurut. Bedanya, tentu saja semua orang di rumah ini berpihak pada Andreas. Andreas tau bahwa Sam, pengawal yang kini berdiri di depan Josephine—sering membuntuti dan mencari tahu tentangnya. Kendati, tak akan berpengaruh meski sang pengawal mengadu. Josephine tidak akan mendebat apalagi protes. Tidak ada yang bisa membangkang. Semua yang ada dalam genggaman pria itu artinya berada di bawah kontrolnya.

Lalu pelayan tergopoh-gopoh datang—memberitakan bahwa Tuan mereka sudah sampai—setelah selesai bekerja keras—juga bercinta dengan siapa saja yang bisa di ajak bercinta.

Menjijikan.

Sungguh. Josephine sangat jijik hingga tidak tahu lagi harus dengan apa menggambarkan kebenciannya. Dan bagian paling sulit adalah peran. Perannya yang harus selalu bersikap lemah lembut, tersenyum manis, harus selalu memuja pria itu, harus merangkak di bawah kaki dan terus bersikap seperti anjing. Pun, sudah bersikap begitu, belum tentu akan diterima dan tidak di pukuli.

Tidak tahu. Entah sejak kapan. Semuanya semakin terasa menjijikan.

Pengawal mundur sebelum benar-benar keluar.

Tubuh Andreas menjulang nyaris memadati kusen pintu. Dasinya terlihat longgar dengan rambut agak berantakan. Naik turun matanya menatap istrinya yang kini perlahan bangkit mendekat.

Satin marun begitu cantik. Kulit putih Josephine berkilau di bawah lampu—seolah memancarkan sparkle begitu indah. Aroma mawar menyesaki pernapasan, wanita itu begitu ayu. Senyumnya naik tinggi—menampilkan deret gigi rapi yang begitu bersih. Semua yang ada pada pada Josephine begitu memikat.

“Akhirnya pulang” wanita itu menunduk, lalu mendongak “boleh aku bantu lepas dasi? Kau pasti lelah, kau sudah bekerja dengan sangat keras” katanya lagi. Andreas tidak menjawab dan Josephine mengartikannya sebagai persetujuan.

Mata pria itu turun menatap wajah, bibir, dan hidung cantik istrinya. Josepine sedang melepas dasi.

“Berapa hari? Aku selalu saja merasa khawatir saat kau tidak di rumah. Anehnya, aku merasa aman dan lega saat kau ada di sini meski tidak benar-benar bersamaku. Seperti aku benar-benar bergantung hingga mungkin akan menyusahkanmu” suaranya begitu lembut dan stabil. Andreas tersenyum.

“Kau tahu apa yang baru saja aku kerjakan sebelum benar-benar pulang” kata pria itu, berusaha membuat Josephine tak lagi berpura-pura manis. Meski sang istri sudah jauh berubah—maksudnya, setahun terakhir tepat di tahun ke tiga pernikahan mereka. Josephine tidak pernah lagi marah. Wanita itu tidak pernah protes, tidak menyangkal, tidak melawan dan cenderung penurut serta selalu menyesaki egonya yang tinggi. Josephine sangat manis hingga kerap membuat Andreas bingung. 

Terakhir ia memukuli Josephine adalah empat hari yang lalu. Tepat saat wanita itu terlambat datang saat punggungnya gatal minta digaruk. Josephine sedang buang air kecil dan tidak mungkin menunda air seni yang keluar untuk memenuhi panggilan pria itu. Maka, Andreas memukulinya brutal hingga seluruh tubuh wanita itu memar bahkan sulit bangun.

Setelah itu, Andreas pergi dan baru kembali malam ini. Kendati, Josephine tidak pernah marah—karena tidak boleh marah atau ia akan mati. Josephine menerima pria itu dengan sangat cantik seperti malam ini.

“Aku tau, tapi aku senang karena tetap menjadi rumah. Urusanmu di luar, itu adalah urusanmu. Aku hanya akan melayanimu dengan sepenuh hatiku saat kau ada di rumah” jawab sang istri—masih begitu lembut dan manis. Andreas lantas tertawa. Tawanya membahana dan meledak-ledak. Lantas, ia kecup pucuk kepala Josephine.

“Aku suka sekali denganmu. Kau adalah istri idaman. Aku akan menua bersamamu, kau…” Andreas menatap dalam ke mata “teruslah seperti ini, aku suka sekali” katanya lagi. Ia masih tertawa.

Si wanita ikut tersenyum “mau makan? Atau sudah?”

“Aku sudah makan, hanya ingin mandi, tolong pijat tengkukku sambil mandi” pria itu menghilang di balik pintu toilet. Josephine mengembuskan napas lega.

Tiap berhadapan dengan Andreas, ia seperti menahan napas hingga eksistensi itu kembali menghilang. Salah bicara sedikit saja, maka tamatlah sudah.

Josephine baru saja menggulung rambutnya naik sebelum akan menyusul masuk, namun suara pecahan kaca terdengar nyaring—mengangetkan begitu keras. Wanita itu masuk buru-buru.

Ia tidak bertanya. Tidak akan ia mengeluarkan suara sedikit pun. Josephine segera merangkak—masuk seperti anjing. Tak berani ia mendongak. Andreas sudah berendam dalam bathtub sementara kaca yang berjarak hampir tiga meter di dinding—pecah berkeping-keping. Serpihannya mirip berlian yang berserakan di atas ubin.

“Jose… aku menemukan rambut pendek dalam bak mandi… bukankah kau tidur dan mandi bersama laki-laki lain selama aku pergi, huh?” suaranya tidak tinggi. Tidak berteriak atau membentak. Josephine masih duduk di lantai sambil tertunduk.

“Jose.. katakan padaku, dengan siapa kau bercinta..”

“Aku tidak bercinta dengan siapapun, An.. aku memiliki rambut bayi di bawah poni. Aku memakai penyubur ram—”

PRANG! 

Suara keras memotong penjelasan Josephine.

“Kemarilah..”

Baru wanita itu mendongak.

“Kemari, kubilang kemari jalang sialan!!!”

Josephine mendekat. Ia berjongkok di sisi bathub sementara Andreas sekonyong-konyong menjambak rambutnya keras hingga wanita itu mendongak. Tangan besar pria itu juga menyibak kasar rambut bagian depan untuk memeriksa anak rambut. 

Andreas memang menemukan apa yang dikatakan istrinya. Saat ia mencocokkan rambut yang ada di genggaman—setelah ia temukan dalam bak dengan bayi rambut milik Josephine, mereka cocok.

“Kau berselingkuh dengan Sam, kan?” terlanjur jengkel meski tidak menemukan celah pada istrinya, pria itu mengarang narasi lain “wanita memang sampah, kau menghabiskan uangku untuk bercinta dengan pria lain, lalu menggunakan kamar kita untuk menuntaskan birahi kotormu! Aku akan membunuh Sam, Josephine.. Kau milikku. Sudah kukatakan beberapa kali meski kau bertingkah sinting, aku tidak akan menceraikanmu, aku akan menghukummu dan membunuh Sam”

Wanita itu tidak mengelak. Ia tidak lagi memohon agar Andreas tidak melakukan ini dan itu meski tahu jika pria itu hanya sedang dalam mood yang–tidak tahu, Andreas selalu saja susah ditebak. Juga, ia sudah tak menangis meski kepalanya panas saat rambutnya di tarik keras-keras.

Andreas melepskan cengkraman tangannya pada rambut panjang, lalu kembali berendam. Josephine bangkit pelan-pelan, tangannya perlahan menyentuh tengkuk suaminya lalu memijatnya lembut.

“Kau pasti lelah.. Seandainya aku bisa melakukan sesuatu untuk membuat perasaanmu membaik..” kata wanita itu, lembut. Seolah tidak pernah terjadi apapun.

“Kau jalang gila. Kau hanya sampah jika bukan aku  yang memberimu tempat tinggal. Wanita di manapun adalah sampah. Sialan Josephine…” pria itu memejamkan mata—merasakan pijatan yang begitu nikmat dari istrinya.

“Kau boleh bercerita apapun. Apa gadismu hari ini kurang ajar?” tanyanya kemudian. Josephine tahu ini berisiko, jika tidak di jawab, paling-paling ia akan di tampar hingga pingsan.

Namun Andreas terkekeh. Setelah mengamuk dan mengatakan omong kosong dengan memfitnah istrinya, pria itu tertawa.

“Kau tau.. Dia sangat pemalu hingga mengangkang saja mesti kuminta dua kali. Bodoh, kurasa kepalanya rusak”

Josephine mengangguk-angguk seolah memahami apa yang dirasakan suaminya.

“Pasti menjengkelkan”

“Ya, menjengkelkan”

🐾🐾🐾🐾

Pria itu tidak main-main.

Sam benar-benar tewas dipukuli oleh kedua tangannya sendiri. Aksi itu disaksikan Josephine dan di lakukan di halaman belakang sesaat setelah mereka minum teh berdua.

Sam dipukuli tanpa ampun. Sambil mengoceh, Andreas mengatakan bahwa ia tak segan-segan membunuh siapapun yang tidak patuh. Kekuasaan ada ditangannya dan semua orang tidak boleh protes atau menyelisihi. Josephine duduk sambil menggenggam mok berisi teh hijau yang sudah dingin. Ia genggang erat-erat mok yang isinya bergetar.

“Setelah ini, hukumanmu akan menyusul, Jose. Kau tidak boleh berselingkuh.. Wanita berselingkuh pantas dibunuh, tapi aku masih memerlukanmu, maka… bersyukurlah dan tahu dirilah sedikit..” tangannya penuh darah, wajahnya juga—terciprat darah Sam.

Josephine tidak menjawab, wanita itu kemudian menunduk—memandang teh hijau yang memantulkan gambar wajahnya sendiri—penuh ketakutan yang sekuat tenaga ia tekan. Menunjukkan ketakutan hanya akan membuat Andreas makin marah, namun terlalu berani akan melukai harga diri pria yang merasa bisa menguasai dunia itu.

Josephine masih melihat bagaimana mayat Sam di angkut dengan brankar khusus. Matanya sempat mengikuti kemana tubuh tak bernyawa itu di bawa.

Jelas di kubur sembarangan, kan? Seperti mengubur kucing.

Bagi Josephine, daripada misoginis, patriarki atau ungkapan sejenis,  Andreas lebih mirip orang gila dengan jenis komplikasi mental yang mengerikan.

Acara minum teh malam adalah paling mengerikan ketimbang ia harus dihukum ini dan itu karena, pasti ada nyawa melayang. Pasti ada yang menjadi korban atas hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan–melainkan untuk menyesaki kegilaan pria itu saja.

Pria baik hati yang dulu selalu mendukungnya, selalu memberikan pelukan hangat, selalu mengatakan banyak hal baik dan memberi motivasi. Tidak tahu apa yang salah, namun sifat dan sikap asli Andreas bukan jenis perilaku yang bisa dikategorikan waras dan mengerucut menjadi patriarki atau misoginis. Andreas lebih dari itu.

Selesai dengan satu mayat, satu nyawa yang melayang sia-sia tanpa dosa yang sejak tadi didikte oleh pelaku, kini, pelaku kembali menjambak rambut istrinya dengan cara menyakitkan—menyeret Josephine secara paksa masuk ke kamar. Lalu mengurung wanita itu entah sampai kapan.

🐾🐾🐾🐾

“Tuan! Astaga”

Lari ia tergopoh-gopoh di padang rumput yang luasnya membentang sejauh mata memandang. Ujung gaunnya basah terkena embun. Sol sepatunya dekil saat menginjak tanah lempung. Namun tak dihiraukan. Yang terpenting adalah sampai.

Napasnya ngos-ngosan. Dadanya naik turun dengan keringat bercucuran banyak. Wanita itu membawa tas berisi begitu banyak berkas–mendekat pada satu pria yang sibuk mencangkul tanah gembur untuk di tanami sawi.

“Awas! Jangan berdiri di sana, itu tanamanku! Ish kau ini!” sang Tuan mencebik lalu menghampiri Lilian yang tak tau jika yang ada di bawah kakinya adalah tanaman.

“Tuan… kau harus pulang, ada client penting yang terus mendesak meminta diskusi mengenai proyek baru. Calon investor!” kata Lilian dengan napas tersengal-sengal.

“Itu kan tugasmu, aku membayarmu mahal untuk itu, kenapa menggangguku terus, sih? Memangnya kau tidak becus kerja?” Sean bertolak pinggang “jangan berdiri di sana, itu tanamanku. Kau ini mau kupakai menggantikan kerbau membajak, heh? Dasar” Lilian bergeser lagi saat Sean kembali protes. Ternyata semua yang ada di kakinya adalah tanaman.

“Tapi calon investor ini sangat aneh. Dia meminta banyak hal ini dan itu membuatku bingung dan terlalu pintar beretorika. Dia akan menyuntikkan dana sekian lalu meminta benefit yang tak masuk akal. Saat kutolak, dia terus memaksa. Lalu datang lagi, datang lagi. Aku bahkan seperti di hipnotis” Lilian berusaha meyakinkan bosnya—bahwa apa yang sedang di hadapi benar-benar sulit.

“Tolak saja, pulang sana” kata Sean, jelas tidak peduli.

“Ini sulit”

“Sulit apanya?”

Lilian menghela napas dalam. Di lihatnya lekat-lekat sang bos. Pria bertato di sepanjang lengan kanan—menggunakan baju serba panjang yang digulung setengah siku khas petani berikut topi koboi—yang ini kontras meski tetap membuatnya tampan.

“Sampai kapan kau akan terus seperti ini? Astaga..” si wanita berjongkok. Dua tangannya memegangi lutut, napasnya sudah tidak terlalu terengah-engah.

Bukan apa-apa. Pria kaya raya pemilik perusahaan tiga besar di seluruh negeri lalu menaungi beberapa anak perusahaan—harusnya sibuk berkutat dengan pekerjaan di balik meja kerja. Bukan menjadi petani lalu menanam sawi sementara semua tugasnya diembankan pada orang-orang kepercayaan yang jumlahnya tak kalah banyak. Lilian salah satunya. Juga satu-satunya yang paling dekat dengan Sean karena sudah bekerja sejak ayah Sean masih memimpin.

Bayangkan saja, sebelum menjadi petani, Sean sempat menjadi tukang tambal ban di kota lain. Lalu enam bulan kemudian berganti profesi menjadi sopir taksi, lalu sempat juga menjadi satpam di salah satu bank konvensional. Banyak, sangat banyak. Pria itu bahkan pernah menjadi pengemis dan pengamen. Lilian bersumpah tidak tahu apa maksud dan tujuan. Jika ditanya, Sean hanya akan mengatakan untuk bersenang-senang agar hidupnya tidak monoton dan bosan.

Katanya, berkutat dengan pekerjaan kantor, mengurus ini dan itu, pergi pagi pulang petang hanya akan membuatnya mati muda. Maka, Sean mencoba segala hal dan bersenang-senang dengan itu. Tak ada yang tau kecuali Lilian. Orang-orang hanya menganggap Sean yang sulit sekali ditemui sebagai orang penting yang kelewat sibuk. Saking sibuknya hingga benar-benar harus membawa berita mendesak dan genting. Baru pria itu mau menemui siapapun.

Kedua orang tuanya sudah pensiun dan memilih tinggal di Eropa. Sean anak tunggal dengan ratusan orang kepercayaan yang membantunya di perusahaan. Namun ayahnya jelas masih ada di belakang layar. Pun, sang ayah tak pusing dengan pola anaknya meski sudah tau.

“Menurutmu, sampai kapan? Usiaku 29 tahun. Aku harus bersenang-senang” jawab pria itu seenaknya, ia kembali mencangkul.

“Usiaku 39, aku terus bekerja seperti orang gila sementara bosku bertani, tidak masuk akal” Lilian tak mau kalah. Lalu Sean berhenti, keringat terlihat menetes dari pelipis ke pipi–ia seka kasar dengan lengan baju.

“Kau akan jadi nenek-nenek sebentar lagi, Li, apa kau tidak akan menikah? Kasihan sekali” pria itu tertawa tanpa dosa.

“Jika saja bosku bertanggung jawab atas tugasnya, aku pasti sedang berada di rumah sejuk minimalis sambil membuat jus untuk keluargaku. Bukan lari-lari di tengah padang rumput memohon pada pria 29 tahun kaya raya namun sibuk menanam sawi”

“Seleramu saja begitu menyedihkan”

“Sean.. kumohon, pulang sebentar dan atasi orang ini, aku benar-benar putus asa”

Wanita itu lelah, lantas ia terduduk di tanah dan Sean kembali akan protes saat sawinya di duduki.

“Aku akan membuatmu membayar sawiku, Lilian..”

🐾🐾🐾🐾

Tidak, sebenarnya, Sean pulang bukan untuk menemui calon investor. Ia sudah mengirim orang lain untuk menangani itu. Pria itu kembali ke rumah karena memang sudah bosan menjadi petani. Sambil memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. 

Apapun, apa saja. Asal tidak duduk diam di kantor sambil mengurusi ini dan itu. Ia malas.

Lilian bungkam. Calon investor telah ditolak dan semuanya beres hanya dalam sekali penolakan meski agak kasar. Sean sengaja meminta pada salah satu orang kepercayaannya yang paling garang.

Kini, pria itu merebah di sofa–bermalas-malasan. 

Satu tangan memegang apel, satunya lagi memegang ponsel. Matanya bergerak cepat melihat lowongan pekerjaan pada satu aplikasi langganannya. Di sana, Sean mendapat banyak pekerjaan unik. 

Pernah satu kali ia diterima menjadi tukang cuci, pernah juga menjadi penggembala sapi. Bahkan, pria kaya raya itu pernah menjadi kuli bangunan–membangun gedung yang ternyata adalah gedung miliknya di salah satu kota—cukup jauh dari perusahaan utama. Sambil mengaduk pasir, Sean mendengarkan semua hal dari kalangan bawah sampai para mandor  dan bos-bos di atas mandor. Tentu saja tak akan ada yang mengenalinya. Tubuhnya yang besar dan kekar, terbentuk dari olahraga dan kerja kasar. Pun, kulitnya terbakar matahari. Pria itu memiliki banyak sekali pengalaman.

Sean menghentikan laju layar saat matanya menangkap satu lowongan pekerjaan yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

Menjadi pengawal atau ajudan di rumah keluarga Andreas.

Dahinya berkerut-kerut. Nama itu seolah baru saja familiar meski Sean tetap tak menemukan pernah mendengarnya di mana.

Matanya membaca tiap abjad. Persyaratan, dan gaji. Lalu ia duduk serius, apel digigit dan dua tangannya berada di permukaan layar.

Gajinya lumayan besar—maksudnya tak sekecil harga seikat sawi,  dengan persyaratan memiliki kemampuan bela diri, tubuh kekar, postur tegap, dan patuh hanya pada satu Tuan.

Sean kembali memegang apel.

Akan ia coba meski dari penggambaran, tugas ini lebih mirip seperti orang mencari anjing penjaga ketimbang manusia.

“Halo” suara Lilian terdengar dari seberang. Pukul satu malam, serak itu tak membuat Sean merasa bersalah.

“Besok aku akan mendapatkan pekerjaan baru” panggilan mati. Sean memutusnya sepihak tanpa menunggu Lilian menjawab. Pria itu dapat membayangkan wajah kesal Lilian. Juga, dengan percaya diri akan diterima menjadi pengawal di rumah Andreas.

🐾🐾🐾🐾

Berdiri ia berjajar dengan setidaknya lima kandidat. 

Mereka semua nyaris mirip-mirip. Tubuhnya tinggi besar, kekar, postur tegap dan berwajah tegas. Sean berdiri paling kanan dari semua orang. Tangannya terpaut di belakang serempak. Mereka menunggu calon majikan yang akan mewawancarai untuk pekerjaan itu.

Halaman belakang selalu saja paling sejuk. 

Ditanami bunga-bunga cantik, kursi taman, air mancur serta sofa-sofa yang dijajar rapi dan bersih. Mereka hampir menunggu satu jam—sebelum calon Tuan datang.

Andreas datang.

Pria itu menggunakan kaos oblong dan celana pendek. Rambutnya disisir ke belakang begitu rapi. Ketampanannya barangkali akan menyilaukan meski Sean yakin dirinya lebih tampan. Hanya kulitnya saja gelap sisa terbakar matahari menjadi petani—juga kurang perawatan karena malas.

“Selamat siang” katanya ramah. Senyumnya naik tinggi. Binar matanya begitu teduh meski jika menelisik sedikit saja, kelamnya seperti akan menyesatkan.

Lima orang berdiri tegak–serempak mengucapkan selamat siang, lalu kembali menautkan tangan mereka ke belakang. Sean tidak tahu mengapa dirinya dan empat orang lain bisa sekompak itu. Padahal tidak ada persiapan. Hanya spontanitas.

Andreas menatap lima orang naik turun—jelas meneliti. Tiap satu orang—setidaknya pria itu melihat selama sepuluh detik naik turun. Mereka–lima orang hanya diam seakan turut menahan napas, kecuali Sean.

“Bisa pukul orang?” tanya Andreas kepala kandidat paling kiri. Pria yang ditanya langsung mengangguk “punya istri?” sang kandidat mengangguk. Andreas ikut mengangguk. Lalu ia bertanya tentang keluarga, jumlah keluarga serta hal-hal yang menyangkut keluarga pada calon ajudannya. Semua orang nyaris serempak menjawab hal yang sama atau mirip-mirip kecuali Sean yang mengaku bujangan dan hidup sebatang kara di gubuk derita.

Tidak selama saat  menunggu pria itu datang, Andreas langsung memutuskan.

“Kau, kau terpilih, mulai hari ini, jadi pengawal istriku” katanya, yakin. Sambil menunjuk Sean. Yang dipilih begitu senang kegirangan. Dari dalam, seorang wanita keluar.

Tubuhnya kurus, namun kecantikannya tidak akan tergeser oleh berat badan yang menurun signifikan. Wajah ayu dengan proporsi sempurna, membuat wanita itu tampak begitu memikat. Sungguh, kecantikannya sulit diabaikan. Siapa saja yang melihat, akan bertahan beberapa detik untuk menikmati wajah indah milik Josephine.

“Jose, ini pengawal barumu” kata Andreas pada istrinya, tepat saat Josephine mendekat. Pria itu langsung merangkul pinggang secara intim, sementara Josephine terseyum ramah pada Sean. Mereka berkenalan, berjabat tangan. Lalu Andreas mulai memaparkan syarat dan ketentuan. Mereka berbicang bertiga di sofa dengan serius.

Dan bagian paling serius selain kecantikan Josephine yang sejak tadi mengganggu fokus Sean adalah tentang peraturan yang dibuat Andreas.

Andreas meminta agar ajudannya berpihak padanya apapun yang terjadi. Semua itu dikatakan di depan istrinya–seolah-olah mereka akan menjadi musuh sewaktu-waktu. Seakan, Josephine adalah seseorang yang berpotensi untuk menyerang. Andreas juga mengatakan untuk ini dan itu, lalu konsekuensinya adalah kematian.

Jika ditelaah, Sean jadi mengerti alasan ia yang terpilih dari pada empat orang yang sebenarnya berpotensi besar. Andreas jelas mencari pria tanpa keluarga yang sebatang kara untuk… mungkin—jelas, untuk merealisasi ancaman pembunuhan jika terjadi pengkhianatan. Meski terdengar seperti tidak serius—saat Andreas mengatakannya sambil tertawa, namun Sean yakin itu serius. Bertemu dengan banyak orang membuat Sean banyak mengerti perangai orang.

“Mohon kerjasamanya untuk menjaga istriku. Aku sungguh sibuk. Perusahaan dengan segudang pekerjaan, pertemuan sana sini serta banyak hal lain membuatku kesulitan menjaga istriku yang cantik. Dia tidak pernah banyak berpergian jika tidak krusial, tapi aku sangat mencintainya hingga takut terjadi sesuatu. Maka, aku mengandalkanmu, Sean” kata Andreas sambil menjabat tangan Sean.

Sean mengangguk-angguk, menatap Andreas yang berwajah cerah, lalu gantian pada Josephine yang tersenyum tak sampai mata.

🐾🐾🐾🐾

Hari pertama bekerja sungguh-sungguh membosankan.

Sean hanya berdiri di depan pintu kamar Josephine seharian. Benar, seharian. Sejak pagi hingga pukul delapan malam, ia hanya berdiri hingga kakinya kebas dan kesemutan. Ada jam istirahat untuk makan sebentar, lalu ia kembali berdiri di sana tanpa tahu harus melakukan apa. Kata pelayan yang lain, pekerjaannya memang hanya berdiri saja. Jika Josephine keluar, baru ia akan keluar. Atau saat si Nyonya memberinya titah untuk ini dan itu. Pun, Andreas sudah lebih dulu memintanya untuk melaporkan apapun yang dilakukan istrinya. Meski hanya laporan dengan apa wanita itu makan siang. Sean wajib melapor segalanya.

Lalu, tepat pukul sembilan malam kurang sedikit saat jam kerjanya akan berakhir tiga jam lagi, tiba-tiba Josephine menelepon dan memintanya masuk ke kamar.

Ini pertama kalinya, hari pertama. Tentu saja ia bingung—juga canggung. Namun Sean memenuhi panggilan. Berdiri ia di depan wanita yang duduk di sofa. Dua kakinya menyilang. Kali ini, Josephine mengenakan satin berwarna hitam begitu ketat dan membentuk lekuk tubuh. Kulit terangnya seakan membias cahaya membentuk sparkel yang berkelap-kelip.

Namun daripada keindahan serta kemolekan tubuh yang benar-benar indah, Sean lebih fokus pada memar-memar yang nyaris rata.

Benar, memar itu merata dari tulang selangka, atas dada, lalu ke lengan atas hingga bahu dan pundak. Memar ungu begitu terang–kontras dengan kulitnya yang begitu putih. Wajahnya terlihat tenang meski manik itu jelas menginterpretasikan rasa lelah dan putus asa. Apa yang seseorang lakukan pada wanita itu? Sean merasa ngilu. 

“Apa dia pulang malam ini?” tanya Josephine hampir menyerupai bisikan. Yang ditanya baru meneleng—ditarik sadar dari lamunan.

“Maaf, Nyonya, bisa diulangi? Aku tidak mendengar suaramu” kata Sean sambil nyengir, ia lantas mengorek telinganya. Takut ada yang salah dengan pendengaran, atau memang Josephine yang bersuara kelewat kecil.

“Apa Andreas akan pulang malam ini?” Josephine mengulang pertanyaan. Suaranya lebih besar–meski masih lembut. Bukan lembut, lebih tepatnya lelah. Josephine mirip orang terlalu lelah.

“Ah.. Tuan bilang, baru bisa kembali dua atau tiga hari lagi. Apa ingin aku cek lagi jadwal Tuan Andreas untuk Nyonya?” 

Josephine menggeleng “tidak perlu” ada segurat rasa lega memenuhi wajah itu. Sean terus memperhatikan–bahkan detail terkecil. “Kau boleh istirahat, Sean” kata wanita itu lagi.

“Masih tersisa tiga jam untukku. Aku akan pergi setelah tengah malam dan Nyonya bisa melibatkanku untuk perkara apapun meski sudah lewat tengah malam” Sean melihat Josephine diam beberapa detik, sebelum matanya kembali berlabuh.

“Akan sangat senang jika kau pergi dari rumah ini, lalu mencari pekerjaan lain. Kau harusnya pergi, tempat ini mengerikan” kata-kata Josephine membuat Sean mengernyit sebentar. Ada keraguan di wajah ayu itu sebelum tubuhnya bangkit dari sofa “aku ingin kau mencaritahu dengan siapa Andreas bercinta selama pergi. Aku harus mengantisipasi penyakit menular seksual meski dia nyaris tak pernah menyentuhku hampir 2 tahun”

Itu juga aneh dan jelas hal tabu. Sean tidak mengira bahwa ia akan mendengar kata-kata itu dilontarkan kelewat tenang dan enteng.

Bercinta dengan siapa?

Ketakutan penyakit seksual menular?

Tidak menyentuh hampir 2 tahun?

Bukankah kata-kata itu terlalu privasi? Juga, bagian Andreas yang tidur dengan siapa adalah paling mengusik. Sean lalu merangkumnya menjadi sesuatu yang liar di kepala bahwa; Andreas adalah tukang selingkuh dan rumah tangga mereka jelas tidak harmonis. Sean si bujangan yang nyaris tak pernah berkencan setelah hubungannya kandas dengan yang terakhir—tiba-tiba mengurusi rumah tangga orang meski hanya di kepala, dengan spekulasi liar.

“Jadi maksud Nyonya, sekarang aku harus membuntuti Tuan?” tanya Sean memastikan. Josephine sudah naik ke ranjangnya, wanita itu lebih dulu menggunakan baju panjang di depan Sean tanpa sekat meski tetap menggunakan satin yang sebelumnya. Josephine mengangguk.

“Cari tahu, dengan siapa saja dia tidur dan laporkan padaku” katanya, seolah mengakhiri semua “tolong matikan lampu saat keluar, Sean” 

Pria itu keluar sambil mematikan lampu. Langkahnya cepat dan buru-buru. 

Dan benar. 

Sean menemukan Andreas pergi ke club malam, lalu bercumbu dengan seorang gadis antah berantah. Posisi mereka bahkan masih saling begulat di atas sofa. Berciuman intens, sentuhan-sentuhan erotis—juga segala hal yang tentu saja siapapun tahu kemana akhirnya.

Sean sempat bertanya pada orang-orang sekitar tentang identitas sang gadis yang tengah bercumbu dengan Tuannya. Lalu satu orang memberitahu. Secepat berita Sean mengabarkan pada Josephine melalui pesan teks.

Sean memasukkan ponsel dalam saku sebelum benar-benar pergi. Pun, ia juga melapor pada Andreas jika hari ini, Josephine memintanya membuntut—meski Andreas tentu sedang sibuk—tak akan membaca laporannya cepat-cepat.

Tugasnya hari ini selesai meski benar-benar jauh dari ekspektasi. Awalnya, Sean mengira bahwa ia akan menjadi pengawal mafia yang menaungi gerbong narkoba besar atau sejenis kriminalitas yang akan membuat jantungnya berpacu seru. Namun yang didapat malah menunggu seorang wanita tanpa gairah hidup yang diselingkuhi suaminya dan… tidak yakin. Sean terlalu banyak menyimpulkan dan isinya tidak jauh-jauh dari skandal brengsek pria kaya yang terus menyakiti istrinya. Jelas, ini adalah spekulasi awal. Perilaku Andreas barangkali memiliki alasan. Bisa saja, ternyata Josephine adalah wanita mengerikan hingga membuat suaminya menggila di luar. Baru satu hari, menyimpulkan terlalu dini hanya akan membuatnya membias secara tidak adil.

Ia kembali.

Andreas memberinya tempat tidur dalam ruangan yang telah disediakan. Ruangan berukuran empat kali lima meter dengan satu kasur tipis dan toilet. Isinya ada sekitar delapan pengawal lain berikut dengan dirinya–bejubel dalam satu ruangan dengan satu kasur. Meski tidak masuk akal, namun Sean tetap terbaring di pojokkan–tepat di depan kamar mandi, berusaha tidur. Tanpa alas.

Jika Lilian tahu, wanita itu pasti akan menganggapnya gila. Seperti biasa.

🐾🐾🐾🐾

BUGH!!

PLAK!!!

Bunyi pukulan, lalu disusul tamparan keras. Setelah itu, rambutnya diseret hingga tubuh itu menyapu lantai—naik sampai lantai atas. Sean kaget bukan kepalang menyaksikan sendiri bagaimana Josephine mendapat perlakuan kelewat kasar hanya karena masalah sepele.

Sean bersumpah, ia berdiri dua meter sambil menautkan tangan ke belakang—menunggu suami istri itu makan malam. 

Awalnya, Andreas bertanya apakah Josephine senang dengan hadiah yang dibawakan. Pria itu memberikan istrinya sepasang anting-anting. Lalu, dengan nada lemah lembut dan sangat santun, Josephine mengatakan bahawa ia alergi terhadap anting apalagi jenis perak. Jika dipakai, maka telinganya akan bernanah seperti jerawat yang begitu menyakitkan. Sama saja bagi wanita itu, mengatakan sejak awal jika ia tidak bisa memakai anting, atau nantinya hadiah itu tidak dipakai, Andreas akan sama-sama menggila. Pun, di pakai paksa hanya akan membuat telinganya berkoreng hingga berminggu-minggu. Maka, ia lebih memilih sakit di awal.

Sejak mendapat jawaban itu, Andreas menggila. Ia memukuli Josephine dengan brutal. Lalu berakhir menyeret istrinya ke atas dengan rambut yang menjadi pegangan.

Namun ajaibnya, Josephine, tangisnya tak bersuara, wanita itu juga tidak menjerit meski wajahnya merah padam campur air mata. Seperti rambut itu akan terlepas dari kepala.

Sean mengeratkan kepalan sambil membuntut keduanya naik ke kamar. Baru satu minggu ia bekerja untuk Josephine meski semua hal yang wanita itu katakan, akan kembali diadukan pada Andreas, ia juga sedikit-sedikit tahu perangai Josephine yang memang sangat lembut dan pemaaf. Atau hanya memang bentuk pertahanan diri saja. Sisanya, Sean mengkategorikan Josephine merupakan wanita naif dan agak bodoh.

“Jalang sialan!!! Jadi kau tidak terima hadiah yang diberikan suamimu, hah? Kau pikir perutmu kenyang karena siapa? Kau pikir baju yang kau kenakan, siapa yang berikan? Aku!! Aku!! Kau tidak bisa hidup tanpa aku, sialan… kurang ajar, kau tidak menghargai pemberianku. Rasakan ini, anjing betina”

Sesaat ketika sampai depan pintu, Andreas menyepak wajahnya hingga sudut bibir Josephine robek, pelipis nya baret juga terkena bagian sandal entah yang mana. Darah berceceran keluar dari mulut.

Setelah itu, Andreas menerima panggilan. Suaranya berubah total—yang awalnya keras, kasar, dan penuh amarah, kini tiba-tiba melembut serta bersahaja.

“Ah! Iya, benar sekali, Pak. Kita bisa bertemu sambil main golf, awalnya kupikir kita bisa sambil..  hm… kau tau..” lalu tertawa renyah “baiklah, aku segera ke sana. Malam-malam di lapangan golf.. wah.. kau sangat jenius” kata pria itu kemudian.

Josephine bernapas putus-putus di bawah kaki Andreas. Matanya tidak tertutup—justru mirip hantu saat rambut tersibak ke depan bersama darah yang berlumuran.

Andreas menendangnya sekali lagi.

“Sean, urus istriku, oke? Aku akan pergi mungkin satu minggu. Pastikan saat aku kembali, tak ada luka” wajahnya telah berubah sumringah, ia menepuk pundak Sean akrab lalu melenggang pergi.

Sean cepat-cepat mengangkat tubuh lunglai itu masuk dalam kamar.

Josephine meringkuk—meringis menahan sakit. Sean pergi keluar mencari obat-obatan. 

Dadanya sesak, darah tak mau berhenti mengalir meski sudah ia tahan dengan selimut yang kini memerah. Tendangan itu tepat di dada dan rasa sesak benar-benar tidak nyaman. Ia  perlu kembali berpamitan jika ingin menemui dokter, dan menghubingi Andreas bukanlah ide bagus, atau abaikan saja meski serius? Tidak tahu, rasanya sakit. Wanita itu batuk-batuk bersamaan dengan eksistensi lain yang masuk secara terburu-buru. Sean di sana bersama kotak obat.

“Nyonya, bisakah kita hanya pergi ke Dokter? Lukamu serius. Apa dadamu sesak?”

Josephine mendongak saat Sean tahu apa yang dirasakan.

“Tendangan itu menjurus ke dada, aku tahu. Kau perlu penanganan dokter, kita tidak tahu apa itu serius. Aku akan menghubungi Tuan” kata Sean, ia merogoh ponsel.

“Tidak usah.. Lagipula aku tidak berencana panjang umur. Biarkan saja, Sean, hanya tolong hentikan darah di mulutku, rasanya tidak enak”

Sean bingung. Ia tatap wanita kecil yang tergolek lemah. Lalu pada ponsel yang tertera nama Andreas. Sean akhirnya menghela napas. Duduk ia meletakkan kotak obat di atas kasur tepat di sisi Josephine.

“Bisakah kau duduk? Aku akan mengobati lukamu” Sean membantu Josephine duduk. Susah payah tubuh itu bangkit lalu terbatuk lagi–berharap dapat mengurai sesak meski tidak.

Luka dibersihkan, lalu di bebat plester meski bagian yang robek hanya sedikit sekali, namun pendarahan kelewat banyak.

Hening.

Josephine memeras matanya saat alkohol menempel pada luka. Rasanya sangat perih. Kendati, ia tak bersuara, hanya meringis pelan.

“Apa sakit?” tanya Sean lembut. Josephine membuka mata lalu menggeleng.

“Hanya teruskan, Sean.. aku baik-baik saja” jawabnya pelan, wanita itu kembali menutup mata.

“Kenapa kau bertahan? Kenapa mau dipukuli, sih? Memangnya kau ini samsak tinju?” pertanyaan itu nyelonong keluar tanpa penyaring. Saat Sean sadar posisinya, ia berdehem tidak enak “maaf atas pertanyaan kurang ajarku, Nyonya” katanya buru-buru. Josephine kembali membuka mata. Jarak mereka begitu dekat sehingga ia dapat merasakan napas Sean menyapu keningnya lembut.

“Kenapa kau masih di rumah ini, Sean? Aku berkali-kali memintamu pergi. Ini bukan tempat yang cocok. Carilah uang di tempat lain” kata Josephine, seperti serangan balik.

“Kau memecatku?”

“Aku tidak memiliki kuasa memecat siapapun”

“Baiklah, aku lega. Aku akan disini hingga bosan dan akan mencari pekerjaan baru, yang terpenting, aku akan menyembuhkan lukamu dulu” luka pelipis tertutup rapi. Pria itu tersenyum “tubuhmu penuh memar” kata yang terakhir diucapkan begitu pelan. “Tapi, Nyonya. Aku sungguh penasaran alasanmu bertahan setelah semua hal..”

Rasa penasaran Sean selalu lebih tinggi dari langit. Ia tahu jika Josephine tidak bisa memecatnya kecuali Andreas, maka, tidak apa-apa melontarkan pertanyaan semacam itu. Tidak dijawab pun, tidak apa-apa.

“Kau bilang bisa keluar jika bosan?” pertanyaan di balas pertanyaan. Josephine tersenyum kecil meski setelah itu kembali meringis saat sudut bibir yang baru di plester terasa tertarik. “Sean… kau tidak akan bisa keluar hanya karena kau bosan. Aku memintamu pergi bukan untuk berpamitan secara baik-baik. Tapi kabur, pergi yang jauh karena Andreas tidak pernah memecat pengawalnya. Mereka akan bekerja disini seumur hidup tanpa gaji yang layak. Kalian hanya akan diberi makan dan uang yang sedikit sekali. Aku mengatakan ini supaya kau kabur, cari kehidupan yang layak di luar. Kau baru bisa pergi dari sini secara terbuka jika mati. Andreas seperti itu”

Pernyataan itu membuat Sean mendelik. Ia menatap Josephine naik turun—meneliti seluruh wajah cantik yang babak beluar.

“Ah benar! Aku akan mengompres bagian tubuh yang memar” kata pria itu kemudian, setelah melamun beberapa detik lepas perkataan Josephine. Dan Josephine hanya mengerutkan dahi. Tampaknya memang Sean lebih percaya pada Andreas. Dan jika Sean mengadukan apa yang baru saja ia katakan, maka, mungkin saja jika tidak lupa, Andreas akan membunuhnya saat pulang.

“Kau tidak mendengarkanku, ya?” ia menyandarkan tubuh di kepala dipan saat Sean kembali dengan air es dan kain. Pria itu kembali duduk di sisi, lantas mengompres bagian bahu dan lengan atas yang memerah.

“Aku mendengarmu, semuanya” jawab Sean, sambil menempelkan kain dingin pada permukaan yang membutuhkan. “Tapi aku masih mau disini” lalu mata mereka bertemu “nanti, jika aku bosan, aku akan kabur seperti perintahmu”

Entah mengapa kata-kata itu membuat Josephine lega. Wanita itu merasa lega saat pengawalnya tidak terbunuh sia-sia–meski selama ini tidak ada yang selamat dari Andreas. Padahal, mereka semua orang-orang ‘normal dan sehat’ namun dasarnya Andreas orang gila maka, tidak ada yang tahu sampai kapan mereka akan hidup.

“Akan sangat berterima kasih jika kau tidak mengadukan pecakapan kita barusan” Josephine tidak berencana menanggapi pertanyaan Sean, ia meringis saat dingin itu menyentuh permukaan pundaknya yang memar.

“Aku tidak akan mengadu, asal kau jawab pertanyaanku, kenapa kau bertahan disini, dipukuli?”

Sebelah alis Josephine naik. Agak lama wanita itu memandangi Sean—seolah seperti meneliti untuk impresi awal meski pria itu telah bekerja sepekan.

“Kau mengancamku, Sean? Bicaramu juga lumayan berani” wanita itu menghela napas.

“Maaf karena tidak sopan, Nyoya” Sean mengoreksi.

“Tidak, tidak. Tidak apa-apa. Sesukamu saja. Tapi, Sean, apa ini bagian dari perintah Andreas? Apa dia menyuruhmu?”

“Bagian yang mana?” sekarang gantian satu alis Sean yang terangkat.

“Memintaku menjawab pertanyaanmu, mengapa aku masih ada di sini. Apa itu bagian dari perintah Andreas juga?”

Sean menggeleng “sebenarnya, dia tidak memintaku melakukan apa-apa. Bahkan saat aku memberikan seluruh laporan yang dia minta mengenai dirimu, dia jarang membukanya. Kupikir dia hanya… kurang waras” kata-kata Sean terakhir dilontarkan sambil berbisik. Pria itu tertawa kemudian. Joesephine mau tak mau ikut tersenyum meski hanya menaikkan sudut bibir. Namun senyum itu membuat wajah yang memang cantik, menjadi jutaan kali lebih memikat.

Sean berhenti tertawa hanya untuk melihat Josephine tersenyum.  Agak lama, seolah waktu ikut terhenti saat wanita itu tersenyum.

Oh.. betapa indahnya wajah itu. Mengapa ciptaan seindah itu harus dilukai? Gila. 

Sean terpaku agak lama. Gemuruh aneh menyesaki dadanya.

Hingga Josephine berdehem dan memalingkan wajah “kupikir ini sudah tidak dingin, Sean” ia melirik pada pundak yang masih ditempel kain yang sudah tidak dingin. Sean ikut berdehem dan mengatupkan rahang yang terus nyengir tanpa ia sadari.

“Ah.. benar” Sean lantas kembali mencelupkan kain pada wadah berisi air dan es “kau belum menjawab pertanyaanku, Nyonya” lalu menempelkan pada tulang selangka yang terlihat paling parah di antara semua memar yang ada di sana. “Kenapa kau bertahan di rumah ini?”

Jeda. Josephine menarik napas lagi.

“Sangat panjang. Aku akan menjawabnya saat kau berhasil kabur dari sini dalam kondisi hidup. Jika kau berhasil, aku akan menjawab pertanyaanmu, sungguh”

“Kenapa aku harus mati, sih? Dari kata-katamu, seolah semua pengawalmu mati”

“Ya, semuanya mati”

Kata-kata itu kembali membuat Sean mengangkat sebelah alis “semuanya mati? Apa sebabnya?”

“Andreas membunuh para pengawal tergantung suasana hati, tanpa konteks dan tanpa alasan. Yang jelas, bagaimana suasana hatinya saja. Maka, selagi bisa pergi, pergilah. Kau harus berumur panjang dan hidup bahagia”

Sean manggut-manggut seolah informasi yang  didapat barusan tidak berhubungan dengannya. Padahal, itu adalah peringatan besar. Namun bagi Sean, dunia dan seisinya bisa ia akali guna menyokong apa kemauannya. Maka, tidak ada ancaman baginya. Baik Andreas atau siapapun kecuali Tuhan.

Josephine menatapnya lama. Sudah puluhan pengawal dan semuanya jelas berpihak pada Andreas, meski Josephine sudah sangat dekat dengan mereka. Josephine tidak memiliki teman. Andreas melarangnya berteman dengan sesama wanita, namun akan cemburu jika ia berteman dengan pria. Maka, di carilah pengawal pribadi sebagai teman, juga sebagai kaki tangan Andreas untuk melaporkan apa saja yang diperbuat Josephin dalam rumah. Namun ada hari dimana Andreas akan cemburu pada pengawal istrinya karena terlalu akrab dan banyak berinteraksi meski sang pengawal jelas berpihak padanya. Lalu mati dipukuli.

Begitu terus, bagai siklus.

Awalnya memang terlalu menyakitkan saat melihat pengawalnya mati konyol tanpa kesalahan. Seperti melihat teman yang dibunuh di depan mata. Hal seperti itu sudah terjadi berulang-ulang. Kendati sudah bukan hal baru, namun tetap menyakitkan saat kematian terus menerus ia saksikan.

“Nyonya Josephine.. Percayalah, aku ada dipihakmu”

Kata-kata itu meluncur begitu saja setelah keheningan agak lama merajai mereka. Sejak jawaban terakhir dari Josephine yang menjanjikan akan menjawab pertanyaan Sean jika pria itu berhasil lolos dari rumah ini dan hidup. Mereka terdiam agak lama—berkutat dengan isi kepala masing-masing. Lalu tiba-tiba, Sean berkata ada dipihaknya.

“Kau menantang maut, Sean..” Josephine menatap Sean nanar. Mata elang pria itu begitu cemerlang dan cerah. Seakan, Josephine dapat berkaca disana. Mata yang memantulkan gambar seorang wanita malang yang menyedihkan “jangan katakan hal-hal yang akan menyulitkanmu, juga aku. Berbaktilah pada Andreas. Turuti apa katanya. Laporkan apa yang bisa kau laporkan. Berumur panjanglah.. Barangkali dunia di luar lebih cerah. Dunia luar memiliki banyak warna dan hangat” mata kuyu milik Josephine seolah menusuk bagian terdalam hatinya.

Ada celah yang tak begitu Sean mengerti. Namun hatinya sakit sekali melihat—mendengar, serta merasakan apa yang dialami wanita itu–kendati Josephine tidak pernah benar-benar menceritakan apa yang terjadi. Ini bukan hanya soal iba, bukan tentang kecantikan yang menyetarai Dewi. Melainkan gejolak lain yang asing, lalu berpadu dengan segala rasa yang tak dapat dibendung. Sean memeras matanya dan menunduk saat bulir itu jatuh.

Seperti apa Josephine jika bebas?

🐾🐾🐾🐾

“Katanya, Tuan pergi ke Asia timur selama satu bulan untuk bisnis. Dia tidak menyebutkan bisnis jenis apa, hanya memintaku untuk mengabarkan pada Nyonya”

Sean berdiri di ambang pintu sementara Josephine sedang mengupas apel. Pagi yang cerah karena kabar itu. Josephine mengulum senyum—yang ia tahan-tahan agar tidak terlihat oleh Sean. biasanya, para pengawal juga akan memperhatikan ekspresinya lalu mengadukan pada Andreas. Kendati sudah berpengalaman, namun Josephine sangat sulit menyembunyikan rasa senangnya.

Setidaknya, selama sebulan ini tubuhnya tidak akan sakit.

“Tersenyumlah yang lebar, Josephine..” 

Kata-kata itu membuat Josephine kaget. Sean baru saja menyebut namanya secara tidak sopan. Juga dibarengi senyum tengil dan mengdipkan sebelah mata. Pria itu jelas meledeknya.

“Apa kau mau mati?” tanya Josephine galak. Mata mendelik yang dipaksa terbuka lebar itu bukannya menakuti Sean, melainkan membuat gemas “kau pasti akan mengadu pada Andreas”

“Mengadu apa?”

“Mengadu karena aku senang saat dia pergi. Tapi akan berpura-pura bahagia saat dia kembali. Kau tau, kau melihat semuanya, Sean”

“Itu cara bertahan hidup yang bagus, Jose”

Lagi, panggilan aneh yang dilayangkan membuat Josephine harus mendongak lagi untuk bertatapan dengan Sean.

“Jangan memanggilku seperti itu, itu adalah panggilan dari Andreas”

“Ah.. baiklah, kalau begitu, aku akan memanggilmu Phina” Sean mengedipkan satu mata lagi “selamat pagi, Phina. Semoga harimu menyenangkan. Maukah kau keluar denganku sebentar?” 

“Kau mau mati?”

“Kenapa kau gemar sekali bertanya hal semacam itu? Aku akan berumur panjang dan hidup bahagia, Phina.”

Josephine tertawa. Sudut bibirnya sudah sembuh, sudah satu bulan berlalu dan Andreas tidak banyak menyakiti–karena pria itu semakin sibuk dan jarang pulang. Hanya Sean yang mengirimkan laporan secara berkala meski jarang sekali dibuka.

“Aku melihat tanah kosong di sebelah utara halaman belakang. Bagaimana dengan menanam sawi?” ajak Sean tiba-tiba “aku tau akan sulit keluar karena di rumah ini semuanya akan mengadukanmu pada Andreas. Makannya aku memberi ide untuk memutus kebosananmu, ayo berkebun denganku. Aku bisa menanam sawi” kata Sean semangat. Josephine terlihat berpikir sebentar. Dua alisnya menaut sementara apel kembali ia letakkan pada keranjang buah.

“Kurang terkena sinar matahari akan membuatmu mudah depresi. Aku tidak akan meminta majikanku untuk bekerja keras. Kau duduklah di tempat yang telah kusiapkan, hanya perhatikan aku menanam sawi dan kau memandori sambil memakan apel. Akan kukupaskan untukmu” rayunya lagi. Sean mendekat—mengambil keranjang buah “ayolah, ini akan menyenangkan. Ayo berjemur di bawah matahari pagi”

Jeda, Josephine berpikir sebentar.

“Sebentar, aku harus mengganti gaun tidurku”

Ungkapan itu membuat Sean mengepalkan tangan lalu menyeru ‘yes’ tanpa suara. Ia kegirangan sambil memperhatikan Josephine yang memakai gaun.

“Sean, bisa tolong naikkan resleting ke atas”

Permintaan Josephine membuat pria itu kembali meletakkan keranjang buah, lalu mendekat untuk menaikkan resleting bagian belakang gaun.

Punggung putih mulus itu ada di depan matanya. Kulitnya sangat putih tanpa noda. Wangi mawar seolah berputar-putar menyesaki penciuman. Sean menelan ludah meski tidak ingin kurang ajar berkelanjutan.

Resleting terpasang.

“Sean, ambilkan aku sepatu yang itu” Josephine menunjuk deret sepatu dalam lemari yang kelewat banyak.

“Yang mana, Phina?”

“Yang warna putih, tidak tinggi. Aku sedang tidak ingin pegal atau melukai kakiku”

Sean langsung mengerti. Lantas, setelah diambil, pria itu berjongkok memakaikan sepatu Josephine.

Kakinya pun begitu cantik. Tumitnya merah saking putihnya. Nyaris tak ada celah jika saja Josephine tidak memar-memar karena dipukuli. Semuanya sangat indah—wanita itu, sangat sulit diabaikan.

Josephine menganga. Ia melihat tanaman selada, lanjaran yang rapi serta tanaman-tanaman yang baru pertama kali ia lihat. Padahal, halaman belakang ini tidak terlalu jauh meski tidak dekat juga. Butuh waktu setidaknya sepuluh menit berjalan kaki—meski kawasan ini masih dalam lingkup istana milik Andreas.

“Aku juga sudah melaprokan pada Andreas jika kau akan berkebun” kata-kata Sean berhasil mengalihkan perhatian Josephine.

“Apa dia mengatakan sesuatu yang lain?”

Sean menggeleng.

“Apa kau yang menanam semua ini?”

Sean mengangguk.

“Sejak kapan? Ah, tidak, maksudku, kapan kau ada waktu kemari dan mengerjakan ini?”

“Setiap subuh, aku bangun tidur pukul empat pagi dan membuat lanjaran sebelum menanam. Aku sudah mendapat izin dari Andreas dan semua pelayan. Itu karena kubilang aku mengerjakannya karena hobi. Hasilnya tetap akan kuberikan pada pengurus dapur”

Josephine mengangguk-angguk.

“Nah, sekarang, duduklah disana” Sean menunjuk satu kursi yang telah disediakan, lengkap dengan payung besar yang akan menghalau sinar matahari menyentuh siapa saja yang duduk di bawahnya. Satu meja bundar tepat berada di sisi. Saat Josephine duduk, Sean ikut berjongkok di sebelah, lalu mengupaskan apel dan beberapa buah-buahan.

“Aku akan mengupaskan apel. Kau bisa menontonku berkebun di sini. Atau mau kubawakan buku?”

“Tidak, aku ingin melihatmu bercocok tanam”

“Bagus. Kupikir tanamanku akan cepat tumbuh saat wanita cantik turut serta dalam proses”

“Aku hanya melihatnya, Sean. Aku tidak melakukan apapun”

“Dilihat olehmu akan membuat tanaman subur, percaya padaku” pria itu mengoceh sambil mengupas buah sementara Josephine terus tersenyum. 

Sean berbeda dari pengawal yang lain. Setidaknya—meski Josephine tidak percaya saat Sean mengatakan bahwa ia tidak berada di pihak Andreas, namun pengawal itu benar-benar tidak mengadukan apapun yang ia katakan, apa yang ia lakukan pada suaminya. Sean memaksanya banyak bercerita, lalu terus mengatakan banyak hal tentang berbagi luka dan berusaha mencari solusi meski hingga hari ini–Sean tak lagi memaksanya menjawab pertanyaannya tentang alasan Josephine tidak kabur dari rumah.

Sean meletakkan potongan apel ke atas piring. Lalu menyodorkan satu potong ke mulut Josephine.

“Apa manis?” Sean mengangkat alis setelah melemparkan pertanyaan sementara Josephine mengurtkan dahi “ini apel jenis ambrosia”

“Ah..” Josephine mengangguk-angguk.. “Ya, ini manis dan segar” ia mengunyah apel itu hati-hati “tapi, Sean, apakah kau akan berkebun menggunakan jas?”

Jeda. Sean melihat pada pakaiannya sendiri.

“Kau benar. Aku bahkan hanya memiliki satu jas. Apa kau ada ide?”

“Mau pakai baju tukang kebun?” tawar Josephine.

“Kau tahu tubuh tukang kebun bahkan lebih kecil darimu. Bagimana aku bisa menggunakan bajunya?’

Benar juga. Namun Josephine malah tertawa “bahkan kau lebih besar dari Andreas, dari semua pengawal di rumah ini. Mau memakai gaun besarku?” Josephine menutup mulutnya dengan punggung tangan, tertawanya lebar dan ia malu.

Sean menarik tangan itu. Sambil berjongkok dan tubuh mereka sejajar.

“Jangan ditutupi, aku ingin melihat senyummu. Tolong jangan ditutupi” kata-kata itu justru membuat Josephine berhenti tertawa. Wanita itu berdehem lalu kembali mengambil potongan apel “huh, malah berhenti, padahal aku mau lihat sedikit lagi” Sean berdecak, pria itu bangkit, lalu tanpa aba-aba membuka kemejanya.

“Sean! Apa yang kau lakukan? Apa kau sinting? Kenapa membuka baju?”

“Kubilang aku hanya punya satu jas. Aku akan megenakan kaos dalam dan celana pendek. Apa ini melanggar peraturan?” pria itu melepas jas dan celana. Juga sepatu pantofel. 

Joesephine dapat melihat tubuh besar dengan otot-otot menyembul dari bisep ke tulang dada—juga torso yang tercetak jelas oleh singlet yang membentuk badan.

Tato padat di sepanjang lengan kanan sampai dada atas. 

Sangat besar. Pria itu mirip payung yang menaunginya dari sinar matahari. Siluetnya menutup penuh tubuh Josephine yang seperti anak marmut. 

Josephine kemudian menunduk setelah mirip wanita murahan yang memandangi tubuh pria lain di depannya—saat ia memiliki suami—yang gemar bercinta dengan gadis jenis apapun—mungkin saja anjing betina di jalan juga.

Sean mulai menanam sawi. 

Matahari pagi menyapu seluruh tubuhnya yang hanya terbalut singlet dan  celana pendek. Perlahan, keringatnya mulai keluar. Ia berjongkok, bangun, sesekali melubangi tanah dengan jari tengah dan telunjuk, lalu pindah lagi. Josephine memperhatikan seksama sembari memakan buah.

“Sean!”

“Ya?”

“Boleh aku ikut menanam?”

Pria itu bangkit.  Matanya menyipit agar sinar matahari tak masuk seleuruhnya dalam mata—melihat pada Josephine yang telah bangkit dari duduk, lalu susah payah mengangkat gaun dan melepas sepatu.

“Aku akan memayungimu” kata Sean akhirnya. Wanita itu kesenangan.

Namun ternyata payung yang ditanam tidak bisa dicabut. Sean akhirnya berdiri di belakang Josephine sebagai payung agar wanita itu tidak kepanasan.

“Apa benar seperti ini, Sean?” wanita itu melirik ke belakang. Tubuh besar itu melindunginya dari paparan sinar matahari. Sawi terlihat di tanam dengan jarak begitu dekat.

“Seharusnya jarak antar tanaman sekitar 10-15 cm. Milikmu terlalu dekat, Phina”

“Ah.. benarkah?” lalu wanita itu mencabut yang satu, lalu memberi jarak “begini?”

“Ya, pintar” Sean mengusap kepala wanita itu seperti anak kecil “Phine..”

“Ya”

“Berapa usiamu?”

“27”

“Ah..”

“Kau?”

“Aku 29” jawab Sean.

Lalu Josephine kembali menanam. Sean tetap setia di belakangnya seperti bayangan besar. 

Bolak-balik bertanya, lalu Sean menjelaskan, memberitahu dan membenarkan apa yang salah.

Cukup lama mereka seperti itu, hingga perlahan, langit menggelap. Tubuh besarnya tak lagi menampilkan bayangan. Suasana menjadi teduh dan matahari seolah ditelan awan gelap. 

Sean ikut berjongkok di samping Josephine membantu.

“Sepertinya akan turun hujan, mau masuk sekarang?” tawa Sean tanpa melihat pada majikannya. Josephine yang memandang langit.

“Biarkan sebentar lagi. Ternyata aku suka tanaman. Aku akan sering datang kemari mulai hari ini” katanya bersemangat. Meski lahan ini jarang sekali di datangi. Tak ada pelayan, pun, tukang kebun yang hanya datang sepekan sekali untuk membersihkan. Di sana, ada sebuah gazebo kecil nyaris hanya cukup untuk dua orang duduk berdampingan. Bangunannya agak tertutup, sehingga dari kejauhan sekilas menyerupai kamar mandi.

Mendengar jawaban itu, Sean mengangguk kecil. 

Namun ia bersumpah bahkan kepalanya baru selesai mengangguk sebelum hujan deras tiba-tiba datang. Curahnya begitu besar, tiap tetesnya besar-besar dan menyakiti kepala. 

“Wah… padahal aku baru saja menyukai sesuatu” teriak Josephine sambil tertawa, berbeda dengan Sean yang kalang kabut mengambil jas, lalu meletakkannya di gazebo sebelum kembali menghampiri Josephine lalu mengangkat wanita itu sambil berlari–juga menuju gazebo.

“Jadi, kau lebih khawatir jas mu basah ketimbang majikanmu yang basah?” pertanyaan itu meluncur tepat saat Sean berhasil mendudukkan Josephine pada gazebo. Hujan turun sangat lebat. Bahkan membuat jarak pandang dekat tertutup oleh air yang jatuh deras.

“Aku tidak bisa menyelamatkan apelmu” kata pria itu terengah pelan. Tubuhnya basah, begitu juga Josephine. Mereka kini duduk berdua dalam ruang sempit itu. Bunyi hujan begitu keras menghantam atap.

Tangan dekil, wajah ikut terkena tanah, gaun benar-benar tidak bisa di selamatkan saking kotornya. Ujung-ujungnya kotor oleh tanah basah. Kakinya juga dekil.

“Sini, kemari, cuci tangamu di air hujan” Sean membawa Josephine mendekat pada air yang jatuh dari tetesan genting. Wanita itu mencuci tangan, lalu Sean tiba-tiba mencipratkan air ke wajah wanita itu.

“Sean!”

“Apa?”

“Jangan main air”

“Kenapa? Kau sudah basah, aku tadinya mau mengajakmu bermain hujan, tapi takut ada yang melihat lalu mengadu pada suamimu”

Perkataan Sean membuat Josephine diam. Setelah tangannya bersih dari tanah, wanita itu kembali duduk. Sean ikut duduk di sampingnya. Mereka berdampingan sangat dekat hingga bahu satu sama lain saling bersentuhan.

Sepertinya Sean berhasil membuat mood wanita itu memburuk karena membahas Andreas.

“Sean..”

“Ya?”

“Bukankah ini waktu yang tepat kau pergi? Maksudku.. Kabur. Andreas sedang tidak ada di rumah. Kau bisa pergi dengan memanjat tembok itu” Josephine menunjuk tembok setinggi empat meter yang mengukung istana hingga ke belakang menyeluruh.

Sean diam sebentar. Ia perhatikan wajah ayu tanpa riasan dengan rambut panjang yang basah.

“Apa kau mau pergi denganku? Bukankah daripada aku, kau yang sangat ingin pergi dari rumah ini?” pertanyaan itu tepat sasaran. Josephine balik membalas tatapan Sean.

“Kau mau mati? Aku tidak akan mengambil risiko itu. Andreas akan menemukan kita cepat atau lambat. Orang-orangnya sangat banyak dan kuat. Dia akan membunuh.. Dia itu… pembunuh..”

“Benarkah? Apa Andreas sekaya itu? Aku bahkan baru mendengar namanya. Yang kutahu, pria muda kaya raya adalah Robinson Alexander, lalu William Juan, ada satu lagi yang paling terkenal Sean Benjamin. Kau pernah dengar mereka? Mereka adalah orang kaya raya”

Josephine menggeleng “mungkin nama-nama yang kau sebutkan adalah orang kaya, tapi Andreas adalah seorang kaya raya juga”

Sean mengangguk-angguk.

“Aku mengerti perasaanmu” kata pria itu akhirnya, meski ia tidak mengerti. “Aku tidak akan kabur sebelum kau bersedia kabur denganku, Josephine” kata-kata itu dilontarkan lembut. Sean mengusap kepala wanita itu dari belakang. Josephine melihat ke samping lagi dan mereka berhadapan.

Curah hujan bukannya reda malah makin menggila. Di tengah gerusan suara yang seakan mendominasi segala hal. Dua makhluk itu saling pandang dengan isi pikiran masing-masing. Mereka terlalu dekat, terlalu pas untuk menulari suhu tubuh satu sama lain. Hingga agak lama saat Sean terus memperhatikan mata, lalu turun ke bibir secara bergantian. Begitu terus, jakunnya naik turun. Bibir merah alami Josephine basah, mata sayunya begitu cantik dan… panas. Ia tidak tahu, namun wanita itu benar-benar cantik jelita hingga ia rela menukar hartanya agar bisa menatap wajah itu lebih lama.

Josephine berdehem lagi, baru saja ia akan mengalihkan pandangan sebelum Sean mencegahnya. Pria itu dengan berani memegang rahang majikannya—agar Josephine tidak mengalihkan wajah dari tatapannya.

“Sean.. apa yang kau lakukan..” bisiknya lembut, matanya berkedip-kedip menatap Sean sendu.

“Bolehkah aku melihatmu sedikit lagi? Sebentar saja..” katanya, juga ikut berbisik. Josephine tidak menjawab, namun tidak menolak. Ia akhirnya kembali menatap mata Sean—diam seperti manekin sangat indah.

Mereka bertatapan lagi.

Lantas suara guntur—tidak besar ikut memeriahkan hujan yang membabi buta. 

Barangkali Sean memang gila. Pria yang hidup sesukanya, yang gemar sekali mencari hal-hal menyenangkan anti mainstream, pria kaya raya yang terus melakukan banyak hal random. Pria yang kini menempelkan bibirnya pada bibir sang majikan. Pria yang memegang dua rahang Josephine, lalu mengulum bibir wanita itu lembut. Matanya tertutup dan geraknya sangat perlahan–seolah tiap sentuhan akan menyakiti sang wanita.

Josephine kaget. Namun anehnya, ia tidak ingin mundur atau menolak. Tidak tahu. Baru sekali ini saja setelah sekian lama Josephine merasakan jantungnya bertalu-talu tidak normal. Rasanya sama persis saat ia jatuh cinta pada Andreas dulu ketika mereka masih pendekatan.

Bedanya, Sean sangat lembut. Geraknya terukur dan begitu hati-hati. 

Salivanya di sesap bagai menyesap kopi nikmat dipagi hari. Pria itu meraup bibirnya dengan kelembutan dan kasih sayang. Dua rahangnya di usap tak kalah lembut. Josephine bersumpah kembali merasakan pacu aneh dalam darahnya. Perutnya melilit dengan sensasi menyenangkan yang tak pernah ia bayangkan akan kembali ia rasakan setelah terjebak dalam pernikahan mengerikan.

Mengtuk-ngetuk lidah pria itu meminta diizinkan masuk. Begitu sopan hingga Josephine tidak tahu jika ciuman saja bisa selembut ini. Biasanya, Andreas akan meludahi mulutnya, matanya dan apapun saat mereka bercinta. Namun Sean… ini membuatnya gila.

Aliran darahnya kelewat kencang, perlakuan lambat dan perlahan itu seperti akan membuatnya meledak saking senang. 

Dan lidah pria itu menyelinap ke dalam setelah ia membuka mulutnya sedikit. Ada rasa manis dari ujung milik Sean yang kini menekan-nekan apapun di dalam rongga.

Josephine melenguh pelan. Ia memegang ujung singlet milik Sean–matanya terpejam rapat–menyisakan bulu mata lentik yang begitu memikat. Mendengar suara itu, Sean makin melesakkan dalam-dalam, membelit lidahnya pada lidah wanita itu. Ciuman mereka semakin panas sebelum petir bersama guntur menyusul menggelegar—mengagetkan.

Josephine mendorong Sean cepat-cepat, wajahnya memerah dan ia kontan  memunggungi pria itu buru-buru.

Napas keduanya masih terengah-engah. Sean memandangi punggung yang naik turun.

“Phina–”

“Sean, antar aku pulang, aku harus mandi” potong wanita itu secepatnya.

🐾🐾🐾🐾

Setelah ciuman hari itu, Josephine berusaha menghindari Sean. 

Kendati tak munafik ia menyukai pria itu, namun perselingkuhan tidak akan dibenarkan dalam situasi apapun—meski suaminya melakukan hal semacam itu jutaan kali tanpa merasa berdosa. 

Meski sebenarnya, bukan bagian itu yang menjadi kekahwatirannya. Melainkan nyawa Sean, jika ia terlalu menyukai pengawalnya, atau jatuh cinta, bagaimana nanti saat pria itu mati di tangan Andreas? Beban kehidupan sudah sangat berat, mencintai orang lain saat masih memiliki suami tak kalah sinting dan akan semakin membuatnya gila. Jika saja Andreas mau langsung membunuhnya ketimbang terus menyiksa hingga ia tak lagi memiliki cahaya untuk sekedar berjalan di atas marmer hangat. Hidupnya redup, bahkan gelap. Namun sejak kehadiran Sean, warnanya seakan kembali. Mata kelabunya perlahan memiliki warna.

Dan pria itu berdiri di luar seperti biasa. Menunggu Josephine di dalam sambil menunggu instruksi. 

Sean tentu saja sesekali masuk membawa kabar seperti biasa. Dan Josephine bertingkah sangat formal hingga benar-benar membuat Sean bingung. Memang apa yang mereka lakukan tak bisa dibenarkan, namun sikap Josephine benar-benar membuatnya sedih. Ia merindukan wanita itu.

Sudah satu bulan dan malam ini, Andreas kembali. Selama satu bulan pasca kejadian di halaman belakang itu, Josephine tidak lagi banyak keluar, juga tidak banyak interaksi dengan Sean kecuali saat genting mengenai Andreas.

Keduanya sama-sama rindu seperti idiot gila yang ingin bersua kendati hanya tersekat dinding dan pintu.

Sean membukakan pintu saat Andreas pulang. Josephine telah menunggunya mengenakan satin coklat sangat cantik.

Pria itu tersenyum melihat istrinya sangat cantik. Di matanya, Josephine berkali lipat lebih cantik dari terakhir saat ia tinggalkan—pun karena suasana hatinya sedang bagus.

“Aku senang kau pulang” Josephine tersenyum anggun seperti biasa. Ia menyambut pelukan suaminya seperti istri yang mencintai pasangannya tanpa rasa jijik. Pun, pria itu mencium pipi lalu ke leher istrinya. Semua itu di saksikan Sean yang berdiri di ambang pintu yang tidak di tutup.

“Aku senang. Sean juga memberikan kabar-kabar baik mengenai dirimu. Apa kau berhasil berkebun, Jose?”

“Ya.. maksudku.. tidak. Aku tidak berbakat dan tidak melanjutkan” katanya ragu-ragu. “Kau terlihat lebih cerah dari biasanya, An. kuharap kebaikan selalu menyertaimu” di katakan sambil menahan rasa ingin muntah, Josephine sesekali mencuri pandang ke arah pintu—tempat di mana Sean berdiri dengan tangan terkepal—juga rahangnya mengeras.

Andreas melanjutkan sesi melebur rindu dengan merebahkan istrinya lalu mencumbui wanita itu dengan liar. Leher Josephine digigit kecil-kecil, tangannya membelai payudara yang masih terhijab satin halus.

Tidak lama, Andreas belum sampai membuat jejak merah di permukaan kulit–ponselnya berdering mengagetkan. Pria itu lantas berhenti.

“Bangsat” katanya kasar. Ia menjauh duduk di sisi ranjang sambil mengangkat panggilan.

“Aku hamil” kata suara di seberang tanpa basa–basi. Suara itu jelas di dengar oleh Josephine yang duduk tepat di sebelah. Andreas menatap istrinya sebentar, lalu memilih bangkit dan menjauh.

“Aku akan membunuhmu, jalang sialan. Anjing” kata Andreas pada wanita di seberang. Ia melangkah keluar melewati Sean. lalu menutup panggilan. “Aku akan keluar, jaga istriku” katanya pada Sean, lalu langkahnya lebar melenggang pergi. Sean menatap punggung itu hingga tubuh Andreas menghilang. 

Berdiri agak lama hingga terdengar suara mobil pergi ke melewati gerbang.

Sean lantas meneleng ke dalam. Josephine telah mengubur  diri dengan selimut—memunggungi pintu.

Dan tanpa perintah, ia masuk ke dalam, lalu menutup pintu. Tangannya meraih tisu basah di atas nakas sebelum ia merangkak naik ke ranjang.

“Sean! Ku gila? Mau mati hah?” Josephine kaget saat pria itu tiba-tiba menyibak selimutnya. Duduk ia di sisi sambil menarik tubuh Josephine. Selimut dilempar sembarangan dan dengan gerak hati-hati, Sean memeluk wanita itu.

“Maaf, aku hanya merindukanmu seperti orang gila, Phina.. aku hampir meledak melihat Andreas mencumbumu” katanya sedih. Nadanya begitu tersiksa. Lantas ia urai dekapan, lalu mulai menyeka leher sampai ke dada Josephine menggunakan tisu basah.

“Aku cemburu seperti orang gila.. aku tidak bisa menahannya lagi” dikatakan sambil terus menyeka permukaan kulit yang sempat disentuh Andreas, seakan tisu basah itu bisa menghilangkan jejak menjijikan.

Josephine mendorong nya keras. Kendati tak berpengaruh pada tubuh kelewat besar milik Sean.

“Keluar! Kubilang keluar Sean! Aku majikanmu dan sedang memerintahmu. Kau gila? Mau mati?!”

“Aku tidak akan mati, Josephine.. aku tidak akan..” katanya, meyakinkan “aku akan bertanya padamu. Maukah kau pergi bersama denganku? Aku akan mengurus semuanya, mengurus perceraian mu dengan Andreas. Lalu kita bisa bersama.

PLAK!

Josephine menampar nya kuat. Meski hanya terasa seperti pukulan ringan.

“Pergi kubilang!” Tegas Josephine sekali lagi. Namun bukan Sean namanya jika apa yang diinginkan tak lekas tercapai. Telah lama ia mati rasa, sudah lama ia tidak merasakan kembali jatuh cinta setelah kekasihnya yang terakhir meninggal karena sakit keras. Sejak itu, Sean tak lagi tertarik pada wanita manapun—sebelum ia bertemu dengan Josephine, lalu terpana atas impresi awal mereka. Katakan omong kosongnya adalah jatuh cinta pandang pertama—meski dengan tidak tahu diri ia akan berstatus sebagai perebut istri orang.

Namun melihat apa yang terjadi, bagaimana perilaku Andreas. Sean justru merasa pantas untuk merebut Josephine. Wanita itu di penjara. Juga mendapat perilaku abusive, dikhianati secara terang-terangan serta perlakuan-perlakuan mengerikan lainnya. Mereka tak hanya pantas bercerai, namun juga melibatkan polisi atas tuduhan kekerasan serta penyiksaan.

“Josephine! Dengarkan aku.. bagaimana jika aku bisa membawamu keluar untuk bercerai? Bagaimana jika aku bisa membawa Andreas masuk penjara, huh? Maukah kau bersamaku?” Kata-kata itu dilontarkan serius. Tidak ada nada jenaka, Sean menatapnya serius.

“Ceritakan padaku, apa yang terjadi. Maksudku, kenapa kau masih bertahan di rumah ini. Hidupmu sangat berharga, Phina.. kau berhak hidup dengan layak dan dicintai dengan normal..” Sean memeluknya lagi. Memeluk paksa. Mendekap wanita itu erat sambil mengusap sambutnya sayang berulang-ulang.

Agak lama mereka seperti itu. Pun, Josephine tak lagi memberontak karena kehabisan tenaga. Tubuh Sean seperti tembok beton raksasa yang mustahil ia dorong.

“Tolong ceritakan padaku..” bisik Sean lagi. Ia mengecup pucuk kepala Josephine.

Lalu, Josephine mulai bersuara. Pelan-pelan ia menceritakan asal-usulnya dengan suara mencicit mirip bisikan.

Ia bercerita bahwa dulu sempat mendapatkan penghargaan sebagai gadis muda berpengaruh. Memiliki perusahaan kecil-kecilan untuk mempekerjakan seluruh wanita korban kekerasan, wanita yang tak memiliki tempat tinggal dan wanita-wanita yang ditelantarkan.

Mengalir cerita itu dengan jujur. Ia juga mengatakan bahwa memang sempat jatuh cinta pada Andreas karena tingkah manis pria itu. Andreas bukan hanya manis, melainkan seperti malaikat, sebelum—entah sejak kapan dimulai, semuanya terasa begitu mengerikan. Makin parah setelah ayahnya meninggal.

Pria itu seperti orang lain. Tiap marah perilakunya mirip setan. Andreas tidak hanya memukul, namun membunuh orang.

Josephine menceritakannya tanpa celah sampai pada bagian seluruh kekayaannya jatuh atas nama Andreas tanpa menyisakan secuil pun harta. Andreas terus menganggapnya menumpang hidup—bergantung padanya—bahwa tanpa Andreas, Josephine hanya sampah. Padahal, sebelum menikah dengan pria itu, Josephine sangat sejahtera. Juga diidolakan banyak orang. Bukan hanya wajahnya yang kelewat cantik, melainkan karena kedermawanan serta kebaikan hati yang membuat orang-orang begitu menyukainya.

Dan sejak pernikahannya dengan Andreas, semuanya berubah jadi neraka.

Lalu ia mendongak pada Sean, mata mereka beradu.

“Aku.. aku tidak lagi percaya laki-laki. Baik ayahku, Andreas, atau kau, Sean. Tingkahmu baik, kau memiliki kepribadian yang menyenangkan, serta sisi maskulin yang tak haus pengakuan. Andreas dulu lebih baik darimu. Dia bahkan jemaat gereja yang taat. Dia mendirikan yayasan untuk panti asuhan dan panti jompo agar aku terkesan. Dia mendukungku penuh, seolah dunia akan baik-baik saja asal bersamanya. Dia menawarkan semua kehangatan dan cinta. Dia memberiku segalanya” wanita itu menunduk. “Dan kini, aku sudah tidak sakit hati atas apapun yang Andreas lakukan. Baik perselingkuhan, atau dia memiliki anak dari wanita lain. Aku sudah mati rasa.. pada Andreas, juga pada lelaki manapun..”

Itu bohong. Ia jatuh cinta lagi pada pria yang kini mengukungnya meski bersumpah meski harus mati, tak akan mengakui.

Cukup satu kali pengalaman cinta pertamanya. Labuhan yang ia kira bisa menjadi rumah, justru neraka dunia. Itu adalah cinta penuh kekaguman atas perilaku dan cara Andreas memperlakukan. Jika dibandingkan, Sean jelas tidak ada apa-apanya.

Andreas dulu tidak menyentuhnya. Katanya, Josephine sangat berharga dan baru mau bersentuhan saat mereka sudah menikah. Narasi itu juga membuat Josephine makin jatuh cinta. Tidak tahu jika di belakang, Andreas bercinta dengan ribuan gadis yang ganti-ganti tiap malam.

Sementara Sean, pria itu lebih apa adanya. Sean kebanyakan meledeknya, mengajak bercanda, mengerjai, mengajaknya bermain dan terus mengoceh membicarakan banyak hal-hal lucu. Dan Sean, terang-terangan mengatakan suka, lalu tak segan menyentuhnya seperti saat di halaman belakang dan sekarang.

“Aku hanya akan menawarkan cinta dan kebebasan. Barangkali, jika aku menjanjikan ini dan itu, kau tidak akan percaya, Phina. Maka, aku memintamu untuk mencoba” suara Sean begitu lembut masuk ke telinga. Josephine Menggeleng.

“Aku tidak bisa, Sean. Pergilah.. kabur dari sini sebelum Andreas membunuhmu..”

“Sudah kubilang, Phina, aku tidak akan mati. Aku lebih kuat dari Andreas” jawab pria itu yakin.

“Andreas memiliki laras panjang, dia punya banyak senjata yang bisa dipakai untuk membunuh. Kau mungkin lebih kuat, Sean. Tapi tidak ada manusia yang anti peluru. Kumohon dengarkan aku.. pergilah.. aku tidak tahu bagaimana aku jika kau mati di tangannya..”

Pernyataan itu membuat Sean tersenyum. Ia mengecup pipi wanita itu sekali.

“Kau mencintaiku kan, Phina? Kau takut aku mati? Bagaimana jika aku yang menang bahkan melawan laras panjang? Aku memintamu berandai-andai jika aku bisa mengalahkan Andreas, lalu mengirimnya ke neraka. Apa kau mau denganku?”

Josephine menggeleng “mustahil kau bisa mengalahkan Andreas” jawabnya lemah.

“Ehey.. kau terlalu mendewakan si Andreas-Andreas itu hingga lupa bahwa pria gila itu juga manusia. Lagipula, ada banyak orang yang lebih kaya darinya. Lebih kuat. Kau menganggap seolah Andreas adalah Tuhan” Sean tertawa kecil sambil menghirup aroma rambut “aku.. aku bisa mengalahkan Andreas. Percaya padaku, my lady

“Dan aku.. tidak percaya..”

“Itu karena kau dikurung. Kau tidak tahu jika Andreas itu.. mungkin saja hanya pengecut sakit jiwa yang tidak ada apa-apanya dibanding banyak orang di luar. Bayangkan..” Sean mendongakkan Josephine “bayangkan jika aku adalah jawaban dari doa-doamu dalam keputusasaan. Aku adalah apa yang senantiasa kau panjatkan pada Tuhan di malam-malam menyakitkan. Di antara tulang-tulangmu yang ngilu, di antara memar dan sakit tubuhmu atas perilakunya. Tidak kah kau melihat itu, Phina?”

Mata mereka bertemu. Ada jeda panjang disana, juga keraguan yang lebih besar dari apapun. Josephine berkedip-kedip. Tatapan teduh juga hangat dari Sean seakan memberinya kekuatan.

“Apa yang akan kau lakukan untuk membebaskanku? Juga menjamin bahwa aku akan bercerai dengan Andreas serta keyakinan bahwa pria itu tidak akan mengejarku lagi?”

“Mencintaiku” jawab Sean, terdengar seperti main-main.

“Sudah kuduga. Kau hanya bicara omong kosong” Josephine kembali berusaha melepas dekapan pria itu. Namun Sean malah semakin mempereratnya.

“Katakan padaku, Phina bahwa kau mencintaiku karena akupun demikian. Aku tidak akan menjanjikan kehidupan yang bahagia karena kebahagiaan tumbuh dari hatimu. Aku hanya bisa menjanjikan bahwa saat kau memilih bebas bersamaku, aku akan membuatmu kembali seperti Josephine 22 tahun yang cantik dan bersinar. Bahwa aku akan mengembalikan hidupmu. Aku bersumpah demi nyawaku” lalu Sean berdecak, lalu mendengus “pasti kau tidak percaya. Aku juga tidak suka berjanji. Aku lebih suka aksi” sambungnya kemudian.

“Andreas akan membunuhku, membunuhmu juga jika dia tahu” tiba-tiba Josephine kembali merenung. Mata sayunya makin kuyu.

“Dan aku tidak mudah mati, Phina. Harus berapa kali aku mengatakan, huh? Kau ini, kenapa memuja Andreas sekali, sih?”

“Aku tidak memuja setan” 

Jawaban itu berhasil membuat Sean tertawa keras. Tubuhnya ikut mengguncang milik Josephine.

“Kau lucu dan menggemaskan. Hanya orang gila yang menyakiti wanita sepertimu. Josephine, aku akan menciummu”

“Kau mau mati? Lepaskan! Sean! Keluar dari kamarku sekarang”

“Phina.. bukankah percakapan kita barusan adalah pengesahan perasaan? Aku adalah pria yang mencintaimu, yang akan menja—” Sean tak sempat melanjutkan kalimatnya. Josephine mengecup pipinya sekilas. Hanya sekilas.

Kecupan sekilas itu masih terasa di permukaan kulitnya. Masih hangat. Meski sekilas, rasanya begitu indah. Sean mematung sementara pelukan terurai dan Josephine segera kembali mengambil selimut yang jatuh di lantai lalu mengubur diri hingga kepala.

Jantung keduanya bertalu-talu tak terkendali. Begitu aneh, begitu menyenangkan.

“Josephine.. bagaimana kau mengubur diri di sana setelah mengobrak-abrik jantungku…” Sean mengerang keras. Namun pria itu bangkit kesenangan sambil menghentakkan kaki di lantai seperti anak kecil yang  gembira setelah dibelikan mainan oleh ibunya.

🐾🐾🐾🐾

“Dia bilang tidak akan pulang sampai beberapa hari ke depan karena sibuk mengurusi simpanannya yang hamil”

“Apa dia sungguh mengatakannya begitu?”

“Tidak, aku mengarang” Sean tertawa. Mereka duduk berdua—kembali ke halaman belakang tempat sawi tumbuh subur. Josephine meminta Sean membawanya kemari namun bukan untuk menanam, melainkan duduk di bawah sinar matahari pagi ditemani sepotong croissant dan kopi panas.

Duduk wanita itu di bawah payung besar, sementara Sean berdiri tiga meter di sampingnya sambil menautkan tangan ke belakang.

“Phine.. dari belakang, kau mirip kera” kata pria itu kemudian. Josephine lantas menengok.

“Apa kau bilang? Apa kau mau kupukul? Aku majikanmu, kau yang mirip kera”

Lontaran itu membuat Sean kembali terpingkal-pingkal. Josephine ternyata tidak pendiam. Dia bukan perempuan anggun yang duduk diam dengan senyum memesona. Dia adalah perempuan ceria yang mudah emosi saat diledek. Juga pukulannya seperti marmut membuat Sean senang sekali menjahili.

“Hey majikan. Maukah kau menikah denganku?”

“Tidak”

“Waw.. sayangnya hari ini adalah hari kebalikan. Jika kau mengatakan tidak, itu artinya iya. Jika kau mengatakan iya, artinya tidak”

“Dasar idiot”

“Karena ini hari kebalikan. Maka idiot artinya si jenius. Aku memang jenius, tampan, dan menawan”

“Karena ini kebalikan, artinya kau mirip kera dan tidak menarik” jawab Josephine tak mau kalah.

“Phine.. kau ini tidak dewasa sekali. Mana ada hari kebalikan. Seperti anak kecil saja. Berperilakulah sesuai usiamu” Sean berkata setengah berbisik. Jelas dalam konteks meledek.

Lantas perempuan itu benar-benar menatap Sean penuh. Lalu mengacungkan jari tengah.

“Phine.. kau tidak sopan. Wanita anggun tidak boleh seperti itu. Turunkan tanganmu atau aku akan berbuat sesuatu yang melibatkan jari tengah” kata-kata itu tidak membuat Josephine patuh. Ia malah menjulurkan lidah meledek.

“Lucu sekali astaga. Ingin ku makan rasanya” Sean menahan diri untuk tidak menabrak perempuan itu—mengingat ada tukang kebun yang sedang memotong rumput berjarak 50 meter dari tempat mereka bercengkrama.

“Sean, maukah kau mencoba menanam pohon tebu? Aku ingin sekali tebu. Aku melihatnya pada video pendek. Tapi tak berani meminta pada pelayan atau Andreas. Padahal, jika aku mengatakannya baik-baik, mungkin saja dia akan bermurah hati” 

“Aku akan memberikan serubu liter perasan tebu asal kau mau kabur bersamaku hari ini” lontaran kelewat enteng. Josephine mendengus.

“Kau tidak takut apapun, ya?”

“Nyaris. Mungkin aku takut pada tuhan”

“Mungkin? Kau memang luar biasa pemberani. Kau hanya belum tau bagaimana jika Andreas mengamuk”

“Andreas lagi” Sean mendecih “Aku jadi tidak sabar untuk melihatnya mengamuk dan melawanku. Bukan memukuli perempuan lemah yang tak berdaya. Itu sama sekali tidak keren, Phina.. Memukuli wanita tidak hebat, itu pecundang”

Wanita itu mengangguk, ia kembali mengangkat mok lalu menyesap kopi pelan-pelan.

“Mau kopi?” tawarnya ramah.

“Apa seorang majikan boleh menawarkan kopi yang sedang di minum?” Sean balik bertanya.

“Entah.. Rasanya, kopi ini sangat enak dan aku ingin berbagi dengan temanku satu-satunya” jawab Josephine.

“Teman? Aku bukan temanmu, siapa juga yang mau jadi temanmu. Huh? Aku kekasihmu, Phina.. Perlu kutekan agar kau tidak lupa”

Lalu suara keras mengalihkan obrolan mereka berdua—suara itu terdengar dari jarak lima puluh meter dari tempat tukang kebun yang membawa troli berisi rumput dan gunting besar. Ia melenggang pergi setelah menunduk dan melempar senyum jauh pada Josephine dan berbalik—menghilang di balik pagar tinggi dengan pintu gerbang yang menderit keras karena engsel yang berkarat.

“Apa pekerjaannya selesai? Awalnya, aku sempat berpikir untuk jadi tukang kebun” bisik pria itu tanpa disimak dengan benar oleh Josephine. “Berarti hanya ada kita berdua, ya?” lalu ia melirik si perempuan yang sibuk menyesap kopi “Phina..”

“Ya?”

“Aku mau kopi”

Sean mendekat, berdiri ia di belakang Josephine yang sedang minum kopi. Lalu, dengan tidak sopan Sean mendongakkan sang majikan sebelum melumat bibir Josephine rakus.

Pria itu menyesap seluruh kopi yang belum sempat ditelan dari rongga mulut wanita itu. Seperti akan memakan Josephine hidup-hidup.

“S-sean.. Ahng… hm..” tangan Josephine berusaha mendorong kepala pria itu meski tentu saja mustahil Sean akan bergerak atau menjauh. Ciuman mereka malah semakin intens, makin dalam dan makin berwarna.  Sean mengelus leher depan Josephine, lidahnya menari-nari di dalam, mengacak-acak, lalu kembali melumat bibir, kembali membelitkan lidah. Josephine susah payah mengimbangi ciuman pria itu.

Dua tangan Josephine meremas gaun paginya yang cantik jelita. Tangan besar pria itu masih mengelusi leher depan tanpa berani bertindak lebh jauh.

Lalu ciuman berakhir dengan kecupan ringan pada pipi si wanita dengan lembut.

“Aku mencintaimu, Josephine, sungguh.. Aku tidak mau kau terluka lagi.. Pergilah bersamaku dan mulai hidup baru tanpa luka”

Josephine belum sempat menjawab kata-kata pria di belakangnya, ponsel Sean lebih dulu berdering. Cekatan Sean mengangkatnya.

“Ya, Lilian?” katanya, suaranya tenang. 

“Kau… ah sialan… bos, paduka, yang terhoror, yang ter-ter-ter, apa kau serius dengan apa yang akan kau lakukan, Pak Sean Benjamin? Apa kau tidak waras?” suara Lilian melengking di balik telepon. Josephine bahkan mendengar suara wanita itu.

“Apa seperti itu caramu bicara padaku, Nona Lilian..? Aku terharu” jawab Sean sambil terpingkal-pingkal.

“Bukan waktunya tertawa, Sean.. coba pikirkan apa yang baru saja kau ajukan, apa yang baru saja kau kerjakan. Perusahaan itu yang susah payah kutolak karena terus memaksa dengan kinerja menyedihkan. Jika bukan bermodal saudaranya yang telah meninggal, aku yakin perusahaan itu sudah amblas. Makannya dia ngotot ingin menjadi investormu dan sekarang… ah gila.. Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi, tim sudah bergerak. Akupun telah mengirimkan orang-orang yang kauminta ke alamat yang juga kau minta. Sebenarnya, ada apa? Kenapa dadakan, huh? Dewan Direksi tak berkomentar dan hanya meminta semua orang menurutimu” lalu terdengar helaan napas lelah dari sang asisten. “Sean kau… kau benar-benar.. Sekarang kau dimana?”

“Aku sedang berkencan, Lilian. Aku memiliki kekasih” Sean mengatakannya bangga sambil mengelus kepala Josephine dari belakang “kau akan jadi nenek-nenek yang keriput sambil memarahiku–membawa map. Sementara aku bercinta dengan istriku” katanya, enteng. Lalu terdengar suara hardikan di seberang.

“Lilian, kau sangat kasar. Aku harus mulai mendisiplinkanmu..” lalu panggilan terputus sepihak oleh Lilian. Sean makin terpingkal-pingkal. “Astaga.. Lucu sekali Lilian..”

“Lilian siapa? Kekasihmu?” Josephine mendongak.

“Kekasih apa, kekasihku sedang duduk minum kopi. Dia asistenku” katanya jujur.

“Seorang pengawal memiliki asisten. Itu tidak wajar”

🐾🐾🐾🐾

Dan siapa saja tahu bahwa Andreas bukan orang waras yang akan terus dalam suasana hati yang bagus sepanjang tahun. Josephine paham, namun tetap gagal menjaga hatinya untuk tidak takut. Tiap Andreas mengamuk, ia akan bersikap tenang, kendati di pukul, di jambak atau segala jenis penyiksaan lainnya, Josephine hanya akan diam tanpa tangis normal–seorang wanita yang kesakitan. Namun diam bukan berarti berani, bukan berarti tidak takut. Ia hanya terlatih untuk seperti itu.

Seperti malam ini.

Pria itu tiba-tiba datang dengan rahang mengeras. Sorot matanya jelas menginterpretasikan akan kemana tangan itu melayang, atau kaki itu menendang.

Andreas berdiri di depan pintu setelah melihat Sean yang menunduk hormat. Pintu kamar terbuka lebar—membentur dinding hingga seperti akan menjungkirbalikan engsel.

Sementara Josephine gugup meski sudah berusaha berwajah tenang—kendati tetap gagal membuat kaki dan tangannya berhenti bergetar halus. Kali ini, entah apa lagi yang bisa dijadikan bahan pria itu mengamuk. Bisa saja warna baju yang Josephine gunakan malam ini. Atau pengharum ruangan. Atau bisa jadi karena lantai yang mengkilap serta dinding yang berwarna putih. Apa saja, meski tidak masuk akal, namun apa saja bisa memicu emosi pria itu lalu memukulinya tanpa ampun.

Namun rupanya, Andreas tidak langsung tumpah ruah seperti biasa. Pria itu tidak mendatangi Josephine lalu membantainya dengan pukulan. Pria itu mendelik sementara istrinya tidak balas menatap, namun menunduk sedikit.

“Ikut aku ke halaman belakang, Jose. Ayo minum teh”

Ayo minum teh

Ayo minum teh

Ayo minum teh.

Kata-kata itu terus berputar-putar di kepala. Minum teh malam-malam di halaman belakang—artinya adalah membunuh pengawalnya. Josephine menggeleng. Ia melirik ke luar—di mana Sean berdiri masih mengaitkan tangan ke belakang seperti pengawal professional.

“Kau menggeleng, Josephine?” tanya Andreas. Bola matanya seperti akan menggelinding keluar dari rongga. Wanita itu gantian menggeleng lagi. Ia bangkit cepat-cepat sambil bersusah payah menelan ludah. Andreas keluar lebih dulu.

“Sean, ayo minum teh” katanya ramah, pada satu pengawal yang berwajah tak kalah keras.

Josephine ketakutan. Pacu jantungnya kelewat besar seakan ingin keluar paksa dari dalam. Ia menatap Sean beberapa detik sebelum membuntut suaminya. Sean hanya menikkan sebelah alis sambil melempar ciuman udara dengan tengil. Pria itu tidak tahu jika apa yang akan dilakukan Andreas mungkin saja akan menjadikan tingkah tengil itu adalah pola terakhir yang Josephine lihat sebelum Sean mati.

Sean mati. Sial. Membayangkannya saja Josephine tidak sanggup. Namun di antara seluruh kepanikan dan ketakutan, ia jelas tidak bisa merengek–memohon pada Andreas untuk melepaskan Sean. Tidak, itu mustahil. Dan malam ini, sepertinya akan menjadi malam paling menyedihkan. Bahkan, Josephine sudah berpikir untuk bunuh diri. 

Sebenarnya pikiran bunuh diri selalu datang setiap hari, namun wanita itu bahkan tak memiliki keberanian untuk mati. Sungguh pecundang.

Teh tersedia dalam mok.

Hibiscus Tea. 

Warnanya merah cantik. Rasanya mirip rosella sedikit manis alami dan segar. Josephine memandangi isi mok dengan perasaan takut yang membuncah, wajahnya ikut memucat.

Sean duduk di antara mereka berdua karena perintah Andreas.

“Sean, bukankah teh ini warnanya cantik?” tanya Andreas berbasa-basi. Josephine mendongak, ia tahu Andreas bukan orang yang gemar berbasa-basi. Lalu pandangannya pindah pada Sean yang tak mencicip–enggan, bahkan menyentuh mok pun tidak.

“Tidak tahu, aku tidak suka teh” kata Sean enteng, tanpa embel-embel dengan panggilan Pak atau sejenis.

“Tapi kau suka perempuan cantik, kan?”

“Semua lelaki suka perempuan cantik. Hanya orang gila yang mau dengan orang jelek, itu alamiah” jawab Sean lagi, masih konsisten tidak sopan. Josephine ingin sekali mencubit bibir pria itu. Sungguh, rasanya seperti ingin menangis—membayangkan Sean terkulai lemas dengan darah yang berceceran membuatnya seperti linglung.

“Wah… aku memang tidak salah menerimamu. Kau sungguh luar biasa, Sean!” Andreas tepuk tangan tiba-tiba. Pria itu tertawa sendirian seolah ada yang lucu di sana. “Kau mencumbu istriku di halaman belakang. Lalu memeluknya dalam kamarku sendiri. Kau mencuri-curi pandang dan terus menggodanya. Wah.. kau unik sekali..” kata Andreas lagi, lagi-lagi tertawa hingga keluar air mata.

Josephine mulai bergetar. Matanya mendelik sementara kepalanya makin tertunduk. Air matanya berjatuhan dari sudut kelopak tanpa ada keberanian untuk mendongak. Bahkan meja ikut bergetar karena tubuh Josephine.

“Kau ketakutan, Jose?” tanya Andreas. Josephine akhirnya  mendongak.

“Bunuh saja aku.. Andreas.. Aku yang menggodanya, aku pelacur gila yang mendatangi Sean duluan, aku yang merayunya.. Aku.. aku yang gila.. Bunuh aku saja..” katanya berdusta. Sungguh, ia tidak mau melihat Sean mati di depannya. Tidak, tidak ingin lagi.

Mendengar jawaban istrinya, Andreas tertawa makin terpingkal-pingkal.

“Jose…. Kau lucu sekali.. Ah.. perutku sakit.. Wah.. seberapa besar rasa cintamu pada pengawal rendahan ini, hum? Seleramu menurun, ya? Aku mengerti kondisimu karena kau jarang sekali ku sentuh. Sudah berapa lama? Setahun? Dua tahun? Aku lupa. Aku enggan menyentuhmu karena kau kaku, kau memang cantik, tapi gayamu tidak lebih dari pelapah pisang atau mayat. Kau sangat monoton. Tapi aku masih membutuhkanmu karena… kau tau.. Aku butuh ahli waris ayahmu untuk terus menyambung perusahaan. Josephine sayang.. Oh…” Andreas mengusap wajahnya kasar “tapi aku tidak suka di khianati.. Kau pasti mengerti. Harusnya kau paham walau vaginamu kelewat gatal, setelah ini, aku akan memasukkan besi panas dalam liang hina mu itu, oke?”

Hening.

Di sebelah, Sean mengulum lidahnya dengan rahang mengeras dan urat-urat yang menonjol–bukan, sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak gegabah.

Juga, ini pertama kalinya Andreas tidak marah yang menggebu-gebu. Padahal, ini adalah kesalahan fatal. Josephine yakin, setelah ini, ia akan di kurung di kandang anjing dan dipaksa mengunyah kotoran hewan itu.

“Sekarang Josephine, lihatlah apa akibat yang kau dapat setelah mengobral birahi dan liangmu yang menjijikan itu. Aku akan membuat kau menyaksikan kekasihmu membusuk di kandang anjing. Lalu kau menyaksikannya perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit hingga tubuhnya meleleh di makan belatung” ancaman itu berhasil membuat Josephine sesak. Sampai akhirnya wanita itu menangis. Ia tergugu menatap Sean.

“PERGILAH BAJINGAN!! CEPAT KABUR!! KUBILANG KAU HARUS SEGERA LARI SELAGI ADA KESEMPATAN! KENAPA KAU DIAM SAJA HAH? AKU MARAH PADAMU, SUNGGUH!!! KAU HARUS HIDUP DAN KELUAR. KAU HARUS BAHAG–”

BUGH!! 

Pukulan itu tepat mengenai rahang Josephine yang sedang berteriak pada Sean, wanita itu kontan jatuh pingsan.

“Wah… lihatlah.. Baru sekali ini saja aku melihatnya membela lelaki. Dia biasanya hanya diam tertunduk tapi kali ini… wah” Andreas tepuk tangan sementara Sean mendelik. Ia ingin membantu Josephine, namun tau jika pukulan Andreas tidak sekeras itu untuk ukuran mencederai. Josephine hanya pingsan biasa.

“Kalian pasangan yang cocok. Maka, sehidup semati di kandang anjing, bukankah ide bagus?” tanyanya lagi “berdirilah Sean, aku akan memanggilkan ajudan yang lain untuk memukulimu jika kau melawanku, paham?” 

“Paham, Pak!” kata pria itu dengan gaya profesional seolah menghormati Andreas.

Andreas mendekat, lalu melayangkan pukulan pertama—yang harusnya tepat mengenai rahang, namun Sean menghindari dengan bergerak sedikit tanpa mengubah posisi—membuat Andreas seperti memukul udara.

“Kubilang diam, setan! Kau mau mati, hah?” wajah Andreas memerah karena jengkel. Rasanya seperti di permainkan meski baru sekali memukul dan tidak kena. Rupanya harga dirinya terluka.

Lalu ia merogoh ponsel—menelepon semua ajudannya. Namun aneh, saat semua nomor yang dihubungi tidak aktif.

“Sial” katanya. Tanpa merasa ada yang janggal. Ia malah kembali fokus akan memukul Sean.

Lagi, satu pukulan yang harusnya mengenai tepat pada dahi, kini melayang begitu saja tanpa arah. Sean terkekeh melihat reaksi Andreas yang makin kesetanan. Pria itu justru buru-buru menggendong Josephine dan merebahkan tubuh itu di atas sofa–melepas jaket dan menyelimuti wajah kuyu kesayangannya.

Andreas datang dari belakang dengan balok besar yang entah di dapat dari mana. Rencananya akan memukul kepala belakang Sean—namun berhasil di halau dengan tendangan pada alat vital sekuat tenaga.

Andreas jatuh mundur terpelanting. Balok melayang entah kemana sementara buah zakarnya seperti akan pecah. Pria itu meronta-ronta di atas rerumputan.

Sean berjalan mendekat. “Andreas…. Andreas…” Sean bergumam sambil menggaruk kepala. “Kau si pecundang gila yang menyiksa istrimu, orang edan” kata pria itu “ayo buat k kesepakatan denganku” langkahnya makin mendekat. Sean menginjak paha pria itu dan Andreas menjerit keras. Tangan Sean merogoh ponsel, lalu menelepon seseorang.

Dalam waktu kurang dari dua menit, seorang pengawal yang tidak dikenal Andreas mendekat. Pengawal itu bukan orang-orangnya, wajahnya asing. Ia mendekat lalu membawa map yang kontan di serahkan pada Sean.

“Kau bekerja keras hari ini, Alan” kata Sean pada pengawalnya, sang pengawal tersenyum, berdiri ia di samping bosnya yang sedang menginjak Andreas. “Ini akta cerai. Kau tanda tangan disini, atau mati di tanganku” Sean berujar ramah. Ia menydorkan kertas pada Andreas yang langsung di ambil lalu di sobek-sobek.

“Aku tidak akan menceraikan Josephine, sampai mati” kata pria itu yakin—meski posisinya di bawah dan rentan.

Surat yang sobek di abaikan. Pengawalnya kembali membawakan kertas yang baru sementara Sean naik menginjak kemaluan Andreas dengan pantofel keras.

“Ambilkan laras” kata Sean. kata-kata itu membuat Andreas ketakutan.

“Hey! Hey! J-jangan main-main dengan senjata api! Negara ini punya hukum! Kau mau masuk penjara?” ujar Andreas ketakutan. Tapi, yang paling sesak adalah penisnya yang terjepit membuatnya seperti akan mati.

Namun siapa yang akan mendengar. Sean meraih senapan dari pengawalnya, juga surat cerai baru.

DOR!

Kaki Andreas berlubang. Lubang menganga dengan peluru tembus ke tanah. Andreas memekik–menjerit ia sekuat tenaga lalu meraung-raung.

DOR!

Sean kembali menembak paha atas.

Pria itu meminta ampun.

“Kubilang tanda tangan, kenapa susah sekali sih?” Sean kembali mengangkat senapan dan di arahkan ke paha atas yang masuh utuh.

“A-ampun! Ampun, aku akan tanda tangan.. Tolong.. Tolong ampuni aku.. Bawa aku ke rumah sakit… tolong..” suaranya tersendat-sendat. Dengan gemetar dan air mata yang keluar banyak, pria itu akhirnya menandatangi sekitar lima kertas dengan materai yang ia sendiri tidak tahu apa-apa saja isinya selain surat cerai.

“Nah.. begini kan enak, kenapa di persulit, sih? Kau ini memang keparat dungu” Sean lantas meminta pengawalnya untuk membawa Josephine ke rumah sakit. Ia harus mengurus beberapa hal dengan Andreas.

Sementara tubuh Josephine menghilang di bawa pengawal, Sean masih berdiri sambil menginjak luka bolong karena peluru di paha Andreas—yang semakin memancarkan darah makin banyak.

“Kau baru saja menandatangini surat penyerahan seluruh kekayaan dan aset pada Josephine. Seluruhnya, semuanya. Ini memang harta Phina, kan? Kau ini pencuri tolol yang hanya berani memukul perempuan. Kau yang seperti itu, aku yang malu, dasar tolol kau” Sean lalu merogoh kantong berisi jeruk limau yang ia temukan di halaman belakang beberapa hari lalu. Sudah beberapa hari juga buah itu ada dalam kantongnya. 

Ia lantas menggigit buah itu lalu di peras tepat di atas luka menganga. Andreas menjerit sekuat tenaga, suaranya besar, melengking begitu menyakiti telinga.

“Bersiki hey! Aku jadi tidak fokus membacakan surat” lalu laras panjang itu–moncongnya masuk ke dalam mulut Andreas yang kontan membuat pria itu diam. Pria itu diam dengan air mata yang mengalir deras.

“Lalu, kau bercerai dengan Josephine karena mengaku berselingkuh, menyiksanya di rumah, dan memperdaya mendiang mertuamu dengan curang hingga mengalihkan seluruh harta ke tanganmu. Itu sudah kembali ke tempat seharusnya.” Sean mengangguk-angguk sambil memindahkan kertas yang di belakang ke depan.

“Aku juga membuat kebohongan atas kau, Andreas. Aku membuatmu seolah-olah kau bunuh diri. Aku akan membuat kecelakaan palsu yang mengatasnamakan dirimu atau gantung diri? Yang mana yang paling epik dan natural? Ada ide?” Sean terlihat berpikir.

“Sudahlah, apa saja. Pokoknya asal aku bisa tenang mengurusmu di kandang anjing, oke?” Sean mengangguk lagi atas surat dan celotehnya yang ia baca sendiri.

“Lalu…. Em…. sudah.. Sisanya malas kubacakan. Intinya, kau sekarang adalah gelandangan tanpa harta, semua hartamu kembali ke tangan Josephine dan kau mati bunuh diri padahal ada di kandang anjing. Aku tidak akan memberimu makan karena kau akan makan tai anjing” Sean terbahak-bahak mengatakannya. “Dan rumah ini… sekarang milik Josephine. Terserah akan di apakan aku tidak akan ikut campur. Aku hanya akan menikahinya dan bersenang-senang, lalu mengajaknya pergi ke banyak tempat menyenangkan. Dan kau.. Kau bisa mengawini anjing jika penismu masih bisa ereksi, oke?”

🐾🐾🐾🐾

Delapan  bulan berlalu.

Rasanya semua hal bagai kedipan mata.

Josephine akhirnya menerima lamaran Sean setelah hampir setiap hari pria besar itu merengek minta diterima. Padahal ia sudah mengatakan untuk memulihkan trauma dulu akibat pernikahan sebelumnya, namun tampaknya, Sean bukan orang yang akan bersabar sampai hari itu–hari yang tidak tahu sampai kapan. Pria itu bahkan mengancam akan memakan kembang api.

Josephine kembali.

Wanita itu menceritakan pada dunia apa yang dihadapinya saat menjadi istri Andreas. Ia bahkan datang ke banyak acara-acara tivi besar setelah seluruh bukti dan saksi bermunculan dan semua orang menatap ke arahnya. Nama Josephine kembali melambung setelah ia membongkar aksi busuk mantan suaminya yang telah mati—padahal belum.

Pelan-pelan, semuanya kembali pada tempat semestinya. 

Josephine akhirnya kembali membuka lapangan pekerjaan di perusaahan yang ditinggalkan Andreas untuk para wanita yang bernasib sama sepertinya dan para korban pelecehan, juga wanita yang terlantar. Tentu saja atas dukungan suaminya yang baik hati sekaligus nakal luar biasa. Nakal dalam kategori lain, kategori menyenangkan dan lucu.

Semuanya kembali. Kebaikan datang, doa-doa dijawab dan hidupnya berubah. 

Sean.

Benar, pria itu adalah jawaban dari doa-doa di antara keputusasaannya. 

Sementara Andreas.

Pria itu masih tinggal di kandang anjing. Dua kakinya lumpuh, ia tak pernah keluar. Kandang anjing memiliki sirkulasi udara yang bagus, sinar matahari masuk dengan baik. Kini tampilan Andreas tidak lebih bagus dari anjing, jika sedang berbaik hati, Josephine akan memberinya makanan layak, lalu minuman bersih. Juga multivitamin. Jika sedang malas, Andreas benar-benar memakan kotoran anjing.

Juga, leher Andreas yang di ikat rantai. Belenggu keras, lehernya tercekik namun tidak sampai pengap. Pria itu sudah tidak bisa bicara. Tubuhnya sangat kurus hanya tulang berbalut kulit. Matanya cekung dan aromanya seperti kotoran anjing.

Setiap hari, ia memohon untuk mati. Seperti Josephine dulu.

Wanita itu tak peduli jika ia lebih jahat dari perilaku Andreas selama ini. Pun, beberapa kali ia meminta pada Sean agar membuang Andreas ke laut, suaminya itu masih bermalas-malasan dan memilih menjadi tukang kebun di perumahan orang kaya yang kikir.

🐾🐾🐾🐾

Atau malam indah di bawah cahaya bulan. Tepatnya di sofa halaman belakang. Sean sudah meminta semua pelayannya pergi dan akan menggunakan ruang terbuka itu untuk berbuat mesum.

Tubuh Josephine naik turun. Dadanya ikut bergerak liar. Sean berada di atasnya, menghentakkan penisnya kuat-kuat, dalam-dalam dan keras. Josephine menjerit sambil meminta ampun, meminta suaminya memelankan tempo, namun siapa yang akan mendengarkan?

Sejak awal menikah, milik Josephine terlalu rapat untuk ukuran janda. Andreas sialan itu memang benar-benar tidak menggauli istrinya karena Josephine malu-malu. Wanita itu pemalu berat dan memilih dipukuli ketimbang bercinta dengan gaya. Bersama Andreas, wanita itu bahkan tidak berekspresi, veginanya kering dan lama-kelamaan Andreas tidak berselera.

Sekarang, saat bersama Sean, pria itu memintanya begini dan begitu, Josephine akan menggeleng. Maka, Sean yang membolak-balik paksa, juga mengangkat tubuh itu untuk naik ke atas tubuhnya dan meminta Josephine menari di atas. Begitu terus, hingga terbiasa.

Sean sangat ekspresif. Dan ia sangat suka saat Josephine malu-malu, tapi mau juga.

Mereka masih beradu peluh. Erangan bersahut-sahutan sebelum panggilan pada ponselnya ikut mengganggu. 

Dari posisinya menindih Josephine, Sean masih bisa melihat pesan masuk dari Lilian.

EPISODE 73

“Kek mana cara kita makan? Stok darah habis. Dimana Kristal biasa beli darah? Hewan?” Samuel mondar-mandir. Di sofa, semua orang kumpul. Sudah bertanya pada Lyn dan Isa, namun dua gadis itu bahkan tidak tahu dari mana Kristal mendapat pasokan darah atau hewan hidup. Tampaknya, kekasih Edgar itu memang memiliki koneksi khusus yang sangat rahasia.

“Udah gua bilang kita balik ke hutan” Logan mengangkat tangan. Semua orang menatapnya dengan ekspresi berbeda-beda. Meski kebanyakan tidak setuju. 

Sinu masih diam. Masih tenang dengan meyilangkan kaki. Tatapannya lurus pada dinding putih tanpa apapun yang bisa dijadikan atensi di sana.

“Ayolah, pasti ada ide sembari nunggu si neng bangun” Samuel masih bersuara. Dari semua orang, pria itu yang paling ngotot tak ingin kembali ke hutan. Rasanya, di dunia manusia ini—merupakan tempat paling idela untuk hidup.

“Gua beliin hewan idup aja buat sementara.  Tapi ya gitu, kalian kenyot sendiri. Gua nggak perhatian, juga nggak tanya Kristal gimana cara dia nyedot darah sapi dan di wadah-wadahin ke tumbler atau alat apapun itu. Gua bisa beliin hewan idup..” Lyn menggigit ujung jempolnya ragu.

“Ya, memang ada pilihan?  Ketimbang nggak makan” Jake ikut bersuara, matanya mengantuk. 

“Tapi, Kristal bakal beneran bangun kan? Gua yakin Opung bakal boyong kita semua ke hutan kalau Kristal nggak balik” nadanya sedih, ia mendusal pada ketiak Edgar, si bungsu tidak bersemangat jika sudah membahas perkara ini. Rasanya, ia tidak mau lagi kembali ke kastil yang sepi dan membosankan. Meski sejak portal terbuka, ia belum sepenuhnya menyambangi isi hutan. Pun, Sinu beberapa kali mengatakan omong kosong tentang hutan yang tidak seburuk itu saat portal terbuka. Lalu menjanjikan akan membuat peradaban serta kehidupan yang layak. Lagipula, mereka sudah tidak terkukung—dan bisa saja keluar untuk berbaur dengan manusia meski butuh waktu untuk berjalan jauh ke pemukiman manusia.

“Malas gua liat muka abangnya Dukun. Dia itu cinta hutan, jadi beruk kek” sambung Daniel. Tampaknya pemuda itu akan frustrasi jika Sinu mengiyakan kekahwatirannya. “Keluar yuk” ia membelai jabang rambut Edgar yang sedang melamun “jangan nangis aja lu tuh, bosan gua”

“Nggak ngerasain lu. Bayangin… dahlah, sesak dada gua. Berapa lama?” Edgar menatap ponselnya, lalu ponsel Kristal yang sejak awal  berhasil ia selamatkan entah bagaimana caranya.

“Lay, ke RS yuk” Jake bangkit, ia menyepak kepala Edgar dengan ujung kaki. Yang di sepak hanya menengok.

“Bisa akalin masuk? Pengawalnya ketat banget anjing. Parah” ia menghela napas, sudah berapa kali? Semuanya tidak berjalan mulus.

“Gua beli baju perawat, nyamar jadi perawat” Jake meyakinkan saudaranya.

“Ikut” si bungsu angkat tangan.

“Terusin.. Kan, males gua” Jake tak jadi bangkit.

“Gua aja, mau gua usap lagi. Dia itu udah pulih, udah bagus, nggak ada yang rusak lagi. Cuma ya emang masih lemes. Jelas. Barangkali butuh satu sampe dua bulan buat sehat total” Samuel akhirnya duduk setelah sejak tadi mondar-mandir mirip setrika.

🐾🐾🐾🐾

“Kamu siapa?” tanya wanita itu ketus. Johan mengenakan setelan mahal yang necis. Warnanya begitu pas dan jelas gayanya seperti orang kaya baru namun tidak norak. 

“Saya temen bisnisnya, Tante..” kata pria itu. Senyumnya naik tinggi begitu sopan dan ramah. Ibu Kristal yang berwajah suram sama sekali tidak membalas senyum. Matanya masih naik turun meneliti pria itu.

Sebenarnya, ada beberapa pria yang datang. Mereka semua membawa alasan yang mirip-mirip seperti rekan bisnis, teman kampus, teman lama, atau—entah. Ada saja—juga ganti-ganti. Dan tidak satupun di izinkan masuk termasuk dua teman perempuan Isa dan Lyn.

“Ini rumah sakit, bukan tempat main. Nanti kalau anak saya udah sembuh, baru bisa ngobrol. Sekarang jangankan ngobrol, yang ada kamu bawa penyakit buat anak saya” kata-kata itu khas seperti ibu kaya raya yang galak dan terlalu ketat pada anaknya di sinetron. Johan pernah melihatnya di tivi.

“Saya pacarnya, Tante.. Kali aja kalau saya sambangin, Kristal bisa cepat seger” tidak tahu, pria itu tidak tahu kenapa mulut sialannya malah mengoceh seperti itu. Semalam, Samuel berhasil masuk dan kembali mengusap gadis itu. Seharusnya, Kristal sudah bisa diajak bicara. Tapi karena ibu-ibu galak di depannya ini, sangat sulit untuk bertemu sementara semua orang jelas bergantung pada satu eksistensi yang sangat berharga di dalam sana.

“Kamu pacarnya, serius?” ibu Kristal mengganti mimik wajah meski Johan tetap gagal menerjemahkan.

“Serius.. Saya.. pacarnya..” lalu mencicit. Yang terakhir malah memperkuat keraguan.

“Ada tujuh laki-laki datang dan semuanya ngaku pacar setelah mereka mengaku teman dan rekan bisnis”

Sial

Dari dalam, suara lemas itu membuat sang ibu cepat-cepat masuk–juga menutup pintu keras—membuat Johan kaget. Rasanya, ingin sekali ia racun ibu Kristal.

“Iya nak, iya sayang… Mama disini” Kristal membuka mata. Ibunya langsung menghujaninya dengan kecupan-kecupan di sepanjang wajah dan rambut. Sebenarnya, sudah sejak tiga hari lalu gadis itu bisa diajak bicara meski sedikit sekali. Kristal lebih banyak tidur. Dan sejak pagi, gadis itu sudah bisa makan. Itu juga kemajuan pesat.

“Ma.. Edgar mana?” ia celingukan. Sejak membuka mata pertama kali, setelah menangis  mencari ayahnya, kakaknya, ibunya, lalu yang terakhir, Kristal menangisi Edgar. Namun ia tidak tahu siapa Edgar selain artis pendatang baru yang–juga membawa anaknya ke rumah sakit.  Sang ibu tidak benar-benar mendatangkan pria itu karena takut membawa penyakit.

“Papa aja, ya? Papa sama abang. Mama telpon ya?”

“Nggak mau.. Mau Edgar, Edgar mana..” gadis itu mulai menangis. Wajahnya pucat meski bibirnya tidak kering karena cairan infus yang menghidrasi.

Namun bukan Edgar, ibunya benar-benar menelepon suami dan anak sulungnya.

Johan masih menunggu di luar. Sepatu merah muda dengan merek ternama dunia itu mengetuk-ngetuk ubin rumah sakit. Dua tangannya masuk dalam saku seolah sedang menunggu sesuatu—apapun. Berharap wanita galak tadi mau mempersilahkannya masuk dan berbaik hati juga memperbolehkan enam keluarganya yang lain untuk datang.

Tentu saja mustahil. Kendati ia mendengar sayup-sayup suara tangis khas yang paling ia kenal, namun siapapun tak ada yang keluar.

Hingga setengah jam kemudian.

Dua pria berjas mahal mendekat. Pantofel mengkilap membawa suara ritmis yang konstan—serta potongannya khas orang kaya raya–membuka pintu dengan tergesa-gesa. Siapa saja harusnya tahu siapa pria berpostur tegap dengan uban yang nyaris rata.

Johan menahan pintu hanya agar bisa mengintip apa yang terjadi di dalam. Tidak masalah jika terlihat dan diusir, bahkan sejak kedatagannya memang sudah terusir.

“Mana anak gadis… astaga… nggak perhatian banget Papanya ya Allah.. Anak kesayanganku… gimana aku bisa hidup, bernapas, dan pergi saat anaknya kayak gini”

Ayah Kristal mendekat, lalu memeluk anaknya sambil menangis. Kristal sedang di suapi sup yang tidak lagi hangat. Sementara yang dipeluk hanya mencebik, ia enggan mendongak saat ayahnya menciumi kening.

“Kenapa ini? Ngambek kah?” ia bertanya pada istrinya “pengen apa ini? Pulau mau pulau? Nanti cari hantu. Papa beli pulau setan aja gimana?”

“Pulau itu loh Pa, pulau Epstein” kakaknya menyelutuk, ia mengusap kepala adiknya yang masih dalam dekapan sang ayah.

“Punya pacar dia, namanya Edgar, jelek mah. Mana rambutnya pirang kayak anak punk” jawab ibunya asal–sambil menyuapi makan.

“Mama! terusin..” gadis itu kembali merengek “kemarin aku berhari-hari di kapal, abang nggak datang, aku mau mati dari Ternate ke Jakarta”

“Itu lagi di bahas, menyesal gua astaga…” Kakaknya duduk di sisi ranjang sambil mendengus. Sejak awal Kristal masuk rumah sakit, tiga orang itu tidak percaya bahwa si bungsu akan sehat kembali. Juga, dokter selalu mengatakan hal-hal mengerikan juga tidak masuk akal. Maka, mereka berjanji akan lebih perhatian. Ayahnya yang sibuk luar biasa bahkan tidak lagi peduli pada pekerjaan. Baru tadi pagi saja pergi ketika berhari-hari ia menemani anaknya dan langsung datang saat istrinya menelepon.

“Mana pacar? Yang mana? Kenalin ke Papa, kalau jelek kita operasi, kalau miskin kita suruh kerja, nanti Papa kasih kerjaan” ia mengecupi kepala anaknya.

“Edgar loh, abang suruh cari Edgar di youtube yang malam apa itu tampil di GBK. Dia pacar aku.. Ganteng banget” kata si bungsu menggebu-gebu. “Cepetan buka hp” ia mendorong ayahnya agar mau membuka ponsel. Ayahnya patuh saja.

“Yang mana si… dia nyanyi lagu judulnya apa?” ayahnya menyerahkan ponsel pada sang anak “coba kamu cari, nanti Papa liat” Kristal buru-buru mengetik keyword dan sekali tekan, wajah Edgar memenuhi layar pencarian.

“Tuh, tonton Pa” ponsel kembali diberikan pada ayahnya. Pria itu menonton dengan istri dan anak sulungnya.

“Kurus amat nak, nggak cari yang kekar, yang bisa jagain kamu. Ini bukan ganteng, cantik ini..” ayahnya berkomentar kemudian.

“Mama malah awalnya ngira dia cewek” Ibunya menyusul berkomentar.

“Ini kayaknya nggak bisa ereksi” dan komentar terakhir sang Kakak membuat ayah dan ibunya mendelik.

“Terusin!!!!” Kristal merengek lagi. Tiga orang itu tertawa. Johan yang mengintip ikut tertawa.

Lalu setelah ada tawa asing selain keluarga, Ibu Kristal melihat ke pintu. Johan kontan diam—mengatupkan rahang. Pelan-pelan ia menutup pintu.

“Itu siapa?” tanya ayahnya.

“Sales asuransi” jawab ibunya.

“JOHAN!!! WOY!! GUA RINDU” teriak Kristal kemudian—yang membuat pria yang nyaris tak terlihat karena pintu yang tertutup, kontan kembali membuka. Senyum lebar itu kembali.

“Jangan teriak-teriak, nanti kamu merem lagi, ya Allah..” ayahnya mengusap wajah anak gadisnya. Tangan Kristal melambai memberi isyarat agar Johan masuk. Pria itu akhirnya mendekat dengan canggung dan kikuk.

“Ini kakaknya Edgar. Ganteng kan? Semua keluarganya ganteng” kata si gadis membanggakan.

“Jadi, di mansion itu isinya sekeluarga? Mereka bayar nggak sih? Jangan-jangan…” wajah kakaknya menganga–berspekulasi liar, Kristal mendelik.

“Ada data, ada harga, ada transaksi, gua nggak goblok kasih orang nginep gratisan!” wajah gadis itu jengkel.

“Shhhtt… baru bisa bicara keras hari ini mending simpen energi” ayahnya melerai. “Jadi, kamu kakaknya Edgar pacarnya Kristal?” pria itu masih meneliti Johan dari kepala sampai kaki. Yang ditanya mengangguk antusias. “Mana Edgar? Pirang? Badannya kayak perempuan”

“Dia nggak kayak perempuan, dia lelaki sejati” ralat Johan.

Kakak Kristal tertawa. “Padahal cakepan itu.. Siapa yang ada tato di tangan. Badannya gede banget”

“Itu Daniel. Umurnya baru 18” kata Johan. Pernyataan itu membuat Kristal tersenyum.

“Bibit unggulan itu, Pa. Nanti kalau udah lulus kuliah suruh jadi kuli panggul” 

🐾🐾🐾🐾

Kabar bahwa Krsital sudah bisa makan dan mengoceh panjang tersebar seantreo mansion. Edgar yang seperti kebakaran jenggot namun tetap tak diperbolehkan datang ke rumah sakit kecuali menunggu siapa saja menelepon dan memintanya datang. Itu kata Johan. Juga kata Ibu Kristal.

Maka, semua orang menghela napas—seolah-oleh selama ini mereka menahan napas.

“Gua bakal datangin nanti malam” Edgar bersumpah. Bahkan saat ini, semua serba salah. Duduk salah, berdiri salah, berbaring apalagi. Ia tak sabar.

“Udah dibeliin sapi sama Lyn. kayaknya kita bakal ngenyot sapi di bawah tanah” Johan melirik pada  gadis yang sedang berpelukan. Mereka merayakan kabar yang dibawa.

Sinu melangkah lebih dulu.

“Opung mau kemana?” Daniel dan Jake nyaris bertanya barengan. Si sulung berbalik.

“Mau makan. Hampir 30 jam kita nggak makan” katanya. Tapi matanya lurus pada gadis yang juga melihatnya. 

“Ikut, mau liat kalian makan” Isa yang bersuara. Sementara Logan yang masih duduk menggeleng.

“Nanti lu ilfil..” ada tawa di sela-sela, Daniel melirik kakak kedua “Dukun kalau ngenyot sapi, taringnya kadang kena balung, abis itu nancep lagi di tempat lain, balung lagi, abis itu giginya patah, terus tumbuh lagi, terus kena lemak. Dia paling susah. Katanya sih faktor dosa dan umur juga”

“Nggak ada kek gitu-gitu..” Logan berkomentar “padahal Sinu lebih tua, gua terus yang dibuli”

“IK sama 4K itu tuaan 1K” pernyataan tidak masuk akal dari si bungsu tak mendapat atensi saat semua orang bangkit mengikuti Kakak pertama.

Sinu hanya menggigitnya kecil. Saat darah binatang itu menempel di kulitnya, ia tak perlu terus menancapkan taring untuk menyesap. Hanya perlu mundur, lalu darah itu akan tertarik melalui sulur dan masuk lewat ujung telunjuk melalui pori-pori. Dari semua vampir, hanya Sinu yang anggun. Sisa orang menghisap secara harfiah.

Hampir semuanya kecuali Logan yang sejak tadi berdiri di samping si sulung. Maju mundur hendak mendekat pada binatang yang telah sekarat. Matanya bolak-balik melirik pada Isa yang sibuk memperhatikan sisa adiknya menyesap darah. 

Logan malu. Rasanya gengsi.

Tapi lapar.

Ia menggaruk tengkuk sejak tadi.

“Dukun gak mau makan, biarin aja, ntar ngunyah cicak” Samuel yang bicara, ia melirik Kakak kedua yang sejak tadi menelan liur. Sementara Sinu di sampingnya sudah selesai. Semua tentang pria itu selalu gesit dan tepat. Logan meringis melihat Sinu kembali naik.

“Kak Logan nggak makan?” Isan mendekat, ia menatap pria itu dari samping. Logan berdehem.

“Kamu bisa tolong beliin tisu basah ke Bekasi? Sebentar aja” pinta pria itu, ia memberikan kekasihnya uang dua juta “susuknya buat kamu beli es krim, sana”

“Jauh amat ke Bekasi, buset. Mana udah malem”

“Iya ya? Jauh ya? Ke itu aja kalau nggak, ke Tangerang”

Isa menggaruk pelipis yang tidak gatal.

“Kak Logan mau makan malu ya? Padahal gak papa, aku nggak akan ilfil, kenyot aja.. Jangan nyuruh ke Tangerang, males”

“Malu, kamu naik sana. Atau nanti aku antar pulang, tunggu di gerbang” Logan menarik napas. Ia nyengir tidak natural.

“Darahnya abis! Kosong, udah gak nyisa” Jake bangkit. Mulutnya berlumuran darah diseka asal dengan lengan baju. Logan melongo, perutnya lapar luar biasa.

VAMPIR EPISODE 71

Sore tetap berjalan seperti biasa di luar sana. Semuanya tetap berputar pada tempat seharusnya, semuanya tidak menahan napas seperti Edgar yang menahan napas—pun sekuat tenaga menusuk-nusuk tangannya sendiri dengan kuku demi menghalau rasa takut dan sakit hati atas pemandangan di depannya.

Namun setelah Samuel melepaskan tangannya. Setelah ia bergulat dengan nyawa yang hampir  terlepas dari tubuh dan kini bergerak lagi, pria itu terjungkal di atas ubin dan ambruk tak sadarkan diri. Hidungnya berdarah, Samuel mimisan banyak dan Edgar menangis keras. Baru menangis keras.  Ia tidak tahu harus apa, harus bagaimana.

LANJUTKAN MEMBACA

EPISODE 69

Kursi berderet sepanjang hampir seratus meter dengan jumlah hampir dua ratus kursi.

Pundak-pundak lunglai. Ada yang meringis, mengaduh, tertidur sambil mendongak dengan mulut terbuka, ada juga yang hanya diam dengan wajah pucat dan bibir kering mirip retakan tanah di padang tandus. 

Semuanya mengantri tertib.

Dua satpam bertubuh besar berjaga membawa pentungan sebesar lengan. Juga bukan tanpa alasan dua pria berotot itu berjaga di sepanjang antrian.

Kemarin, ada yang berkelahi karena menyelak antrian. Tidak hanya bersitegang adu mulut dan menimbulkan kericuhan serta menyebar hingga kondisi keos, mereka juga membawa senjata tajam yang entah dipakai untuk apa saat kedatangannya untuk berobat.

Dan hari ini semuanya tenang. Hanya desau napas lelah karena penyakit atau sejenis itu. Sesekali batuk, atau bersin. Mereka bahkan tidak mengobrol karena biasanya, satpam akan mendelik tiap mendengar suara keras. 

“Nomor 178” suara seorang gadis menggema sambil mengangkat nomor. Samuel mempekerjakannya di hari kelima ia membuka klinik itu. Namanya Izi. Gadis yang baru saja lulus kuliah dan luntang-lantung mencari pekerjaan. Samuel menemukannya di dekat terminal bus. Gadis itu membawa map coklat berisi lembara CV–melamar pekerjaan di perusahaan dan tidak berhasil.

Tiap bicara, gigi ginsulnya akan terlihat, lalu lesung pipi dangkal tercetak sangat manis. Pembawaannya yang ramah menjadi satu-satunya alasan Samuel mempekerjakannya. Karena pendidikan, pengalaman kerja, serta tetek bengek—yang biasanya menjadi syarat diterima kerja, vampir itu tidak paham.

Maka, menjeritlah si gadis saat Samuel menawarkan gaji 15 juta per satu bulan. Alangkah senangnya hingga ia bercerita bahwa ibunya membuatkan nasi kuning untuk di bagi-bagikan pada tetangga atas–pekerjaan itu.

Seorang Kakek-Kakek renta bangkit. Tubuhnya bungkuk—tangannya menggenggam nomor antrian, di dampingi satpam yang tidak ramah, namun tetap menemani dan menuntun sampai masuk.

“Sendirian ya, Pak” sapa Izi ramah, ia mengetikkan sesuatu di monitor sebelum membukakkan pintu. Kakek itu tidak menjawab, telinganya tidak lagi berfungsi maksimal. Ia tak akan bangun kalau bukan satpam yang memeriksa nomornya.

Tidak mendapat jawaban, si gadis dan satpam mundur saat Kakek itu sudah masuk ke ruangan.

Sama seperti tempat praktik sederhana lainnya. Ruangan Samuel tidak begitu mewah. Hanya satu set meja kursi. Lalu di atas meja terdapat kalender dengan gambar hutan serta alat timbangan bayi—meski tidak yakin kenapa benda itu ada di sana. Namun Samuel menginginkannya dan Kristal yang membelikan.

Di seberang, tempat periksa pasien. Samuel meminta pada Kristal untuk membeli dental Chair. Maka, untuk segala jenis penyakit kecuali kematian, para pasien akan direbahkan pada kursi itu. Ada alat-alat menempel–lampu, selang, dll. Meski Samuel tidak tahu apa fungsi mereka semua. Ia hanya melihat dan suka, maka, memilih itu untuk tempat pasiennya—meski Kristal berkali-kali mengatakan bahwa itu untuk pasien gigi. Namun Samuel kukuh.

“Tolong merebah di sana, Kek” kata Samuel ramah. Ia hanya duduk, moncongnya saja yang bergerak—menunjuk dental chair sebagai tempat pasien. Namun dasarnya si Kakek tidak mendengar, maka Kakek itu hanya berdiri di depan Samuel kebingungan.

“Duduk di sono noh, hey, kulit ngondoy, do you hear me.. Hey hey..” Samuel masih menunjuk dengan bibirnya yang di majukan. Si Kakek menatapnya bingung.

“Umurnya berapa sih?”

“78”

“Lah, itu dengar. Saya bilang, duduk di sana, di kursi pasien.. Payah nih Sammy Simorangkir” Samuel menunjuk kursi “duduk disana atau gua setrika kulitnya biar nggak lecek?”

Kakek itu tetap diam.

“Sepi amat kuping, buset”

Akhirnya Samuel bangkit. Namun belum sempat ia menuntun si Kakek, pintu terbuka. 

“Maaf, Dok, saya habis beli makan, dari pagi belum makan kirain giliran Kakek saya masih lama” seorang gadis tanggung datang ngos-ngosan. Tubuhnya cungkring mirip anak SMP.

Sebenarnya, ujaran Dokter atau Dok, begitu asing di telinga Samuel. Namun beberapa kali diingatkan–meski ia mengatakannya pada Izi—agar pasien yang datang untuk tidak memanggilnya seperti itu, namun tak ada yang benar-benar mendengarkan.

“Ya ya, suruh Kakekmu rebahan, dari tadi saya ngomong diem aja” kata Samuel. Si gadis menuntun Kakek itu untuk merebah. Samuel membuntut. 

Tadinya, Kristal memintanya untuk membeli stetoskop agar meyakinkan, namun Samuel menolak. Katanya tidak keren, lebih keren menggunakan APD. Kristal tentu saja menolak.

“Jadi, keluhannya apa, dik?” ia bertanya pada satu-satunya orang yang bisa mendengar disana. Gadis itu mendongak, menatap Samuel.

“Gejala Demensia, Dok. Sama telinganya mampet total. Udah berobat pake alat bantu dengar, tapi malah gak mau pake” 

Samuel mengangguk-angguk. 

Lantas ia pegang dahi Kakek itu. Memegangnya cukup lama hingga kerusakan teraba.

“Penurunan fungsi otak.. Sel-sel saraf mengalami kerusakan, kematian, memori, orientasi, serta kemampuan kognitif menurun..” pria itu bergumam, matanya terpejam. “Intervensi… tidak lagi bersifat kuartif.. Kerusakan… oh”

Lalu ia membuka mata.

“Kakek kamu nggak akan mengalami perburukan lebih lanjut, tapi nggak akan mengembalikan memori yan udah hilang. Untuk telinganya… sebentar”

Ia mengusap telinga Kakek itu pelan-pelan. Jempolnya menekan lembut nyaris mengambang.

“Udah, sembuh! Kakek, do you hear me?” tanya Samuel dengan tawa renyah.

“I’m fine thank you, and you?” jawab si Kakek, si gadis tertawa, Samuel tertawa dan mereka bertiga tertawa.

Tertawa sebelum lanjut ke ruang administrasi.

“90 juta?”

“Iya”

🐾🐾🐾🐾

“Pak, makan Pak” Izi menawarkan, satu porsi nasi padang lengkap dengan lauk dan tetek bengek tergeletak di atas meja. Daun pisang dan kertas nasi terlihat tidak sanggup menampung segala isi di atasnya. 

“Kamu kok makannya kayak hewan ya, dari pertama saya mau ngomong, takut kamu tersinggung” jawab Samuel. Mereka berada di ruang istirahat meski Samuel hanya menyibak tirai tanpa alasan.

“Hewan apa makan nasi padang?” Izi tidak tersinggung. Tidak akan. Meski Samuel membentaknya atau memintanya mencari minuman dingin ke pulau Sulawesi–meski seumur ia di sana—tidak pernah melihat bosnya makan atau minum, namun Izi bersedia. Gaji besar dan pekerjaan yang kelewat mudah, itu adalah keberuntungan yang tidak semua orang dapat.

“Kayak ayam, kayak anjing juga”

“Waw..”

“Waw” Samuel mengulang.

“Bapak kenapa nggak pernah makan siang? Nggak pernah aku liat minum, gak pernah ada tumbler, gak ada dispenser, nggak ngopi juga. Aneh, puasa kah? Atau itu rahasianya jadi dokter sakti?”

Pertanyaan itu mendapat reaksi tautan alis. Lalu Samuel menggaruk pelipisnya.

“Makan itu hal sakral. Saya hanya makan di depan orang-orang terdekat” jawabnya. Kendati, tak mengubah keanehan.

“Ya, semacam ritual gitu gaksi?”

“Ritual apa? Saya bukan penganut ajaran sesat, saya hanya makhluk biasa saja yang hidup kelewat lama”

“Waw”

Lagi, Samuel lantas menutup tirai, membiarkan gadis itu makan. 

Di depan, antrian masih panjang. Namun tiap pukul dua belas siang, ia memutuskan untuk mengambil istirahat selama satu jam–meski isinya hanya bermain ponsel sambil meneguk darah dalam tumbler diam-diam. Atau berbalas-balas pesan dalam grup yang tak pernah sepi.

Baru akan merebahkan bokong di kursi, pintu ruangannya terbuka lebar. Bukan Izi, namun wajah paling di kenal.

Daniel membawa Jake dalam gendongan mirip karung beras. Tergopoh-gopoh ia berlari. Keringat membanjiri.

“Apa?” Samuel mengangkat sebelah alis.

“Si Rose di serang Logan karena cium Isa” kata si bungsu ngos-ngosan “sebenernya, gua yang cium Isa, tapi Jake melindungi gua, kita berkongsi sesuatu. Tapi sekarang si Rose ini lagi sekarat” lantas Daniel melempar tubuh kakaknya sembarangan ke atas ubin. Jake terlempar begitu saja. Mulutnya berlumur darah dan ia tak sadarkan diri.

Samuel mendekat, di usap perut si adik dengan kakinya tanpa harga diri. Hanya dalam satu usapan, Jake membuka mata. Ia batuk sekali, lalu duduk sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Dimana aku?” katanya, pertama kali. Daniel memukul kepalanya keras.

“Ayo pulang, kita bawa kabur Isa” Daniel kembali menggendong kakaknya. Mereka akan seperti itu. Datang pada Samuel tiga atau empat kali dalam kondisi yang mengenaskan—pula berganti-gantian. Kadang Daniel yang sekarat, kadang Jake. Kerjaan mereka usil pada kakak kedua yang bengis.

Samuel hanya menggelengkan kepala.

“Anak-anak”

🐾🐾🐾🐾

“Lu bilang, nggak boleh pakai kekuatan di dunia manusia. Tapi si Dukun? Lu pilih kasih, Til. Lu cinta sama Dukun? Ngaku? Kalian cinta segitiga? Dukun spesial? Kalian main belakang?” Daniel bertanya beruntun, ia membuntut Kristal yang sibuk menempelkan riasan mata di kamar. Rencananya akan pergi bekerja.

“Dukun cuma pakai kekuatan merusak buat anak-anak nakal, jadi wajar” jawab si gadis.

“Gua nggak nakal. Kenapa gua nakal?” pria itu mencebik. Dua tangannya memainkan rambut Kristal, sesekali menghirup aromanya dalam-dalam.

“Gua mau pergi, jangan nakal di rumah, oke? Gua titip ke Dukun. Laki gua juga kerja, Sinu kerja. Cuma Dukun yang belum pergi”

“Ikut”

“Terusin”

“Janji nggak nakal, ikut please… Lyn kemana? Gua mau ikut Lyn”

“Lyn di rumahnya, tunggu rumah aja bentar. Tungguin, si Jablay punya stalker, gua takut dia–si stalker dateng. Kalau dia beneran dateng, lu mainan sama dia tuh. Bebas asal jangan di bunuh”

Si bungsu melongo saja. Lantas membuka ponsel mencari tahu arti stalker. Sementara Kristal pergi.

Sambil berjalan dengan layar ponsel menguasai fokus, Daniel mendengar suara Isa yang sedang berbincang dengan Logan. Mereka baru bisa bicara normal setelah sejak tadi—Isa—di gendong oleh Daniel dan Jake secara bergantian—tanpa konteks—kecuali memang untuk menyulut emosi kakak kedua mereka.

“Malam ini?” tanya Logan lembut. Daniel selalu merinding tiap mendengar pria bengis itu bertutur sopan. Tidak ada jawaban, namun Isa mengangguk.

“Jam berapa?” tanya Logan lagi.

“Ya abis maghrib itu, ya? Mau ya?” rengek si gadis. Ada kernyitan banyak di dahi si pria.

“Kenapa si… kenapa mesti nyari yang begitu-begitu?”

“Ya karena aku sukanya yang begitu. Nggak papa kalau Kak Logan nggak mau, aku akan ajak Danei–”

“Oke” kata pria itu kemudian, memotong perkataan Isa yang tak sempat rampung.

“Apa sih? Mau apa sayang? Gua datang karena Isa menyebut nama gua, terpanggil” Daniel mendekat pada keduanya.

“Aku mau cari hantu alias berburu hantu sama Kak Logan” jawab Isa semangat, wajahnya berbinar-binar sementara Logan nyengir terpaksa.

“Hantu?” Daniel ikut heran. Isa mengangguk sistematis “hantu yang mana sih? Dia ini..” si bungsu menunjuk Logan secara kurang ajar “dia Iblis. Dia raja setan. Kenapa nyari setan saat di depan muka lu setan segede alaihim. Logan itu jelmaan setan yang terkut–”

Hoek!! 

Daniel muntah air.

“Ngoceh mulu, mending ngadon sum-sum”

“Dimsum” Isa mengoreksi kekasihnya “jadi abis maghrib ya, Kak?” 

“Iya, atur-aturlah” Logan menggaruk tengkuk, lalu nyengir saat Isa melendot pada lengannya. Gadis itu juga akan mengabarkan pada dua temannya yang memutuskan untuk pensiun–berburu hantu meski Kristal tampaknya masih sedikit tertarik kecuali Lyn yang benar-benar tak mau lagi berurusan dengan hal-hal sejenis.

“Kemana emang?” pria itu maju mundur ingin mengelus kepala Isa.

“Rumah sakit terbengkalai? Kuburan di hutan, atau bekas pembunuhan berantai. Aku punya banyak list. List ini tadinya mau aku realisasi bareng Kristal dan Lyn setelah pulang dari Ternate, tapi malah… ya.. Gini” 

“Memang apa yang kamu cari dengan berburu hantu? Berharap hantu tertangkap dan apa?” tanya Logan penasaran. Pria itu sendiri tidak tahu jika di bumi ini ada entitas lain bernama hantu atau sebut saja orang yang sudah meninggal tapi terjebak di bumi. Terombang-ambing tidak jelas. Dari ceritanya, bagi Logan, mereka bahkan tidak menyeramkan, melainkan menyedihkan. Sama sepertinya dan enam saudaranya yang lain. Tapi siapa yang bisa menolak gadis lucu yang kini mengoceh–menceritakan betapa menyenangkannya berpacu dengan adrenalin tatkala hawa aneh merangsek? Gadis itu berkata seolah segala rasa menyenangkan akan di dapat saat berhasil mendapat atmosfir sejenis; hantu.

“Aku menyukaimu” jawab Logan saat Isa selesai bercerita. Ia berdehem dengan suara mencicit. Si gadis mendongak.

“Aku juga, ayo kita berburu hantu nanti malam” ia mengecup pipi pria itu dan Logan lagi-lagi mengulum senyum. Ia menyepak Daniel yang sibuk berjongkok karena sejak tadi mulutnya keluar air untuk alasan yang tidak dimengerti—kecuali sumbernya.