HANTU PENUNGGU

Seperti gadis bangsawan yang anggun dan kemayu. Atau berjalan di zona aman tanpa melewati garis. Kecantikan tanpa celah, menurut ibuku merupakan cara paling aman bagi wanita untuk bertahan hidup. Garis yang di maksud adalah bekerja dengan gaji yang cukup hanya untuk mengisi perut tanpa ambisi berlebih—tanpa khayalan tentang liburan, makan enak, atau membeli barang lucu. Atau paling tidak, hunian layak—tidak.

Kemudian menikahi laki-laki biasa-biasa saja, lalu hamil dan menjadi ibu. Kebahagiaan memang tidak menjamin, namun setidaknya, aku akan memiliki rumah untuk kembali—hidupkku akan sedikit lebih aman.

Masa kecilku penuh doktrin seperti itu. Oleh ibuku sendiri.

Maka dari itu, ada tiga alasan mengapa perutku terasa kencang sekarang.

Lantunan doa menyelip di sela-sela pundak para pelayat yang bejubel di pemakaman umum. Suasana khidmat bertambah sekian kali lipat oleh tangis anak kecil yang dibawa salah seorang pelayat yang rela ujung gaun hitam panjangnya kotor oleh debu dan tanah lempung demi menghadiri pemakaman, sementara tangannya menggendong bayi berusia dua tahun yang sejak tadi menangis.

Desir lembut rerumputan pendek di bawah sepatu-sepatu mengkilap menghantarkan bau segar. Bau basah tanah ikut terendus—agak janggal mengingat ini adalah musim panas.

Sama janggalnya dengan orang-orang yang tengah menunduk, mengelilingi gundukan tanah di hadapaku yang dihias batu nisan putih.

Orang-orang yang nyaris tak kukenal itu berkabung di selimuti pakaian mewah. Dari bibir mereka terucap bela sungkawa. Rendah dan patah-patah. Bagaimana jika acara yang seharusnya penuh duka, justru menjadi ajang untuk saling unjuk sandiwara? Aku tidak mengenal mereka, tapi tepat dua hari yang lalu ibuku menelepon sambil menangis dan mengatakan jika para tetangganya—yang kini turut melantunkan doa-doa dan ucapan berkabung–juga sama menggunakan mulut mereka untuk mencemooh ibuku. Sosok yang tengah terkubur jauh di dalam tanah.

“Natalia yang malang, seandainya kami lebih perhatian, kau tidak akan mati sendirian di atas kursi secara menyedihkan”

“Dia jarang sekali keluar, dia juga jarang berinteraksi dengan tetangga. Aku pun heran, darimana dia mendapatkan uang. Namun mengingat era digital yang kelewat canggih, orang-orang bisa menjadi kaya raya hanya dengan bermain ponsel”

“Tapi aku sering melihat dia memasukkan lelaki dalam rumahnya tengah malam”

Mereka menggumamkan itu di antara doa-doa. Entah tidak tahu atau memang sengaja agar aku—gadis yang berjongkok di depan pusara—merupakan anak gadis semata wayangnya mendengarnya.

Di seberang, aku melihat pemuka agama mengatakan sesuatu. Doa-doa agar yang terkubur diberkati dan diterima disisi-Nya. Ketulusan adalah nomor dua di pemakaman ini.

Punggungku tegak membelakangi kepalsuan itu, pipiku kering, tidak ada isak bahkan tidak ada kesedihan. Kendati demikian, aku berani jamin bahwa aku adalah ketulusan nomor satu di pemakaman ini.

Alasan yang kedua; kenyataan bahwa aku tidak akrab dengan ibuku.

Doktrin-doktrin sejak aku kecil, lalu kalimat-kalimat sama yang dikatakan berulang-ulang bahwa eksistensiku merupakan penghambat jalannya. Ibuku belum siap memiliki anak, atau dia memang tidak pernah siap. Aku tidak dibesarkan, melainkan dibiarkan tumbuh sendirian. Dia selalu sibuk, entah apa yang dilakukan diluar sana. Sementara jika ada waktu untuk bicara denganku, ibuku hanya akan memberiku doktrin-doktrin seperti di awal. Lalu mulai kembali sibuk dengan dunianya seolah aku hanya figura atau upik abu yang ditugaskan untuk mengisi selokinya yang kosong.

Dan Ayahku.. 

Aku tidak tahu sampai aku berusia 16 tahun—jika untuk memiliki anak, wanita setidaknya butuh dibuahi dan aku tidak tahu siapa yang membuahi ibuku. Tidak ada yang bercerita, ibuku tidak pernah membahasnya dan aku juga sudah tidak tertarik. Karena  tiap kulontarkan pertanyaan seputar itu dan yang kuterima adalah caci maki lalu ibu memintaku untuk diam. Anak kecil tidak perlu tahu urusan orang dewasa, begitu katanya.

Dan aku berpisah dengannya sejak lulus SMA. Aku memutuskan untuk hidup serabutan. Kuliah sambil kerja meski tubuhku kurus ceking saking kurang makan. Dan tahun-tahun berlalu saat aku lulus kuliah dan mulai bekerja full meski gaji tetap tak bisa membuatku kaya, namun setidaknya aku makan dengan layak dan ibuku kembali menghubungiku. Dia tidak meminta uang seperti kebanyakan orang tua disfungsi lain yang meminta imbalan atas jasa melahirkan—meski tidak ada yang meminta dilahirkan. Ibuku hanya sering mengajakku bercerita tentang hobi barunya bercocok tanam di halaman belakang. Atau sesekali menangis saat ada yang menggunjingnya. Setelah sekian lama.. Dan dia benar-benar tidak bertanya tentang kabarku. 

Aku hanya mendengarkan.

Lalu alasan yang terakhir adalah aku masih di sini—setia berjongkok di depan gundukan tanah tepat di samping nisan ibuku. Memandangi tiap huruf yang tertera di sana.

Ibuku, Natalia. Telah wafat.

🐾🐾🐾🐾

Dua tahun berlalu.

Kepalaku berputar memperhatikan sekitar. Setidaknya, perumahan ini masih berdiri meski dinding depannya berjamur sebagian. Kacanya kusam dengan debu tebal. Fasad terlihat begitu suram meski tumbuhan liar tak benar-benar mendominasi

Aku tidak melihat kehidupan seperti dulu. Atau tetangga yang pernah berkabung dipusara Ibu saat pemakaman. Tempat ini sangat sepi, hening. 

Kupegang erat tali tas sambil melangkah untuk membuka pintu.

Barang-barangku menyusul di belakang. Aku menarik napas sebelum benar-benar masuk.

Aku tidak memikirkan. Juga tidak membayangkan dan berekspektasi apapun tentang apa yang akan menyambutku dibalik pintu dengan engsel berkarat yang menimbulkan derit keras itu. Namun rumah lawas datang dengan perabotan lawas, berlapis aroma lapuk yang menyesaki udara, sudah seharusnya seperti itu.

Namun, rupanya ada kejutan lain yang datang bersama rumah warisan ibu. Selain gumpalan debu dan kerak air pada jendela, rumah ini turut ditumpangi sesuatu; jiwa yang luntang-lantung.

Di balik pintu belakang–dapur pertama kali aku melihatnya. Sesosok pria dengan mata sayu. Kantung matanya melorot, hampir sewarna dengan rambutnya yang gelap. Tubuh besar dan tato disepanjang tangan kanan terlipat dengan cara yang mustahil–keluar dari balik pintu. Kepalanya miring-miring dan seluruh tubuhnya transparan. Seolah terbuat dari plastik berisi air rawa yang keruh.

Matanya seperti ikan di pasar. Kusam dan mati.

Aku hanya melihatnya beberapa detik sebelum akhirnya pintu tersebut kubanting menutup.

Sambil terengah, jantungku berpacu, mulutku terkatup rapat.

Aku mencoba mengingat. Mencoba merunut peristiwa demi peristiwa yang terjadi hari ini. Seperti, apakah ada makanan basi yang kutelan? Apa roti yang kupanggang saat sarapan telah berjamur sehingga menciptakan halusinasi? Namun semuanya baik-baik saja dan aku juga tidak menghirup aroma-aroma yang memungkinkan sistem sarafku terganggu atau mataku kabur karena gila.

Berkutat dalam visual mengerikan sambil terus memikirkannya. Aku mengunci pintu kamar dengan kardus-kardus yang masih berserakan. Orang-orang menurunkan barang-barangku di luar dan mungkin saja akan langsung pulang—mengingat aku telah membayar mereka dimuka. Ini pertama kalinya aku datang–masuk dan rupanya eksistensiku di sambut oleh hal tidak masuk akal. Bahkan tak kuhiraukan kasur dengan sprei dekil menjadi alas punggungku yang terkejut sekarang.

Cukup lama aku seperti itu. Hingga bayangan hantu yang baru pertama kali kulihat tadi tidak separah yang kurasakan di menit-menit sebelumnya.

Kuputuskan untuk berani. Ku palingkan wajah lagi pada kardus-kardus yang memanggil–meminta diurai. Sambil  meyakinkan diri bahwa hantu tidak menyeramkan. Memutuskan pindah ke rumah ibuku setelah notaris datang dan aku mengatakan bahwa aku menjadi satu-satunya ahli waris atau tanah ini akan diambil pemerintah, aku bersumpah hantu tidak lebih seram dibandingkan kebijakan—hak yang direbut. Lagi pula, aku tidak punya apa-apa. Ini menjadi satu-satunya hal yang kupunya sekarang.

Menyalakan ponsel dan memutar musik kencang-kencang, aku mulai bangkit dan bergerak—membereskan segalanya.

Debu-debu beterbangan, seluruh jendela terbuka dan cahaya matahari masuk membuat rumah makin terang. 

Udara berganti. 

Kardus-kardus berkurang. Seluruh barangku telah turun sejak aku memutuskan berdiam diri dalam kamar demi menghalau bayangan hantu. Dan kini, sambil membongkar parabotan memasak, aku kembali ke dapur–pada pintu itu. Sementara asap tipis yang membentuk tubuh manusia itu masih disana. Warnanya lebih transparan dari pertama aku melihatnya.

Aku mengabaikan. 

Asap itu terus menatapku. Kali ini aku tidak perhatian apa matanya masih seperti ikan mati, atau lebih hidup. Aku bernyanyi mengikuti musik yang terputar  kencang.

Seluruh debu kuseka berkali-kali, menyusul bersin yang lebih banyak dari usapan kemoceng pada seluruh permukaan kabinet. Kuganti peralatan masak—memasukkan milik ibuku dalam dus dan menata milikku meski tak semua. Peralatan masak Ibu sangat banyak, aku tak berencana memilih-milih sekarang, mungkin nanti.

Barangku tidak terlalu banyak. Masih bersyukur seluruh peralatan elektronik masih berfungsi dengan baik. Air mengalir lancar dan setelah kubersihkan seluruhnya, rumah ini menjadi jauh lebih cantik, meski memerlukan waktu berhari-hari untuk menggosok bagian yang berkarat. Akan kulakukan nanti.

Sekarang, sudah empat jam berlalu sementara perutku lapar.

🐾🐾🐾🐾

Bagaimana caraku menggambarkan hantu itu, ya? Dia terus menatapku seperti pria menyedihkan yang memiliki sejuta kisah pilu. Aku berhasil mengabaikannya, sukses menganggapnya tidak ada. Dan ketimbang hantu, aku mulai memikirkan bagaimana ibuku hidup selama ini.

Bertahun-tahun putus hubungan, kukira kehidupan ibuku baik-baik saja. Kupikir dia akan menikah dan membangun keluarga baru, memiliki anak dari hasil pernikahan barunya lalu melupakanku–anak haram yang eksistensinya menghambat jalan. Sebenarnya, perkataan itu terus menempel di kepalaku tanpa benar-benar tau cara melepasnya. Mirip stampel.

Tidak ada pemeriksaan lanjutan saat ibuku dinyatakan serangan jantung dan mati sambil duduk di kursi yang kini sudah kubakar. Jika merunut pada komentar para tetangga, aku menyimpulkan satu hal bahwa ibuku agak tertutup dan mengisolasi diri dari sosial sekitar. Kendati, aku masih tidak mengerti. Rumah lawas dengan interior sederhana era delapan puluhan ini, tidak benar-benar memiliki tetangga dekat kecuali satu rumah yang berada persis di samping. Sisanya berjarak sekitar seratus sampai lebih dari itu. Karena aku terbiasa hidup sendiri tanpa bertetangga, sangat aneh jika mengatakan ibuku mengisolasi. Apa kegiatan saling menyapa—berbasa-basi dan duduk-duduk sembari membicarakan satu sama lain merupakan standar normal di daerah ini? Sudah sangat lama, rumah dan lingkungan ini merupakan periode hidup saat aku masih anak-anak—dan aku dulu tidak mengerti aturan hidup yang tidak tertulis untuk hidup bertetangga.

Dan jujur saja, segala sesuatu tentang rumah ini hanya menyakitkanku. Akan tetapi, hanya menunggu waktu hingga jejak-jejak Ibu di rumah ini tergantikkan oleh jejakku.

Namun senyumku naik diujung sudut tatkala kutemukan pigura mungil tersimpan penuh debu di sudut meja. Berisi seorang gadis cantik yang tersenyum tipis. Itu adalah aku. 

Dan ibuku ternyata tidak benar-benar melupakanku. Meski aku tidak yakin apakah sesekali dalam kesibukannya sepanjang hidup dia menatap gambar itu. Namun hatiku menghangat.

Usai memikirkan ibuku beserta ingatan tentang pola asuhnya serta kata-kata yang kebanyakan menyakitiku, aku beranjak memeriksa ruang demi ruang yang telah kubersihkan seadanya, kendati, debu-debu masih tetap disana. Seolah aku hanya mengusapnya lembut dengan tangan.

Kuseret kakiku di atas tegel. Menyusuri koleksi alat dapur Ibu yang tidak sepenuhnya kubereskan digantikan milikku karena miliknya yang memang terlalu banyak. Sekiranya bisa mendukung hobiku memasak dan menunjang kebutuhan gizi yang terus menerus ku usahakan meski gajiku pas-pasan. Aku selalu merasa kurang makan. Kadang, aku menyalahkan kurangnya asupan layak ketika hidupku menyedihkan.

Di kabinet terakhir yang berada di samping wastafel, aku sudah menebak akan bertemu dengan satu set alat pembersih. Yakan? Alat pembersih. Siapa sangka aku akan bertemu dengan pemandangan seperti itu.

Bahkan setelah membereskan baju, setelah melamun agak lama di kamar dan setelah membersihkan rumah seadanya hingga bersin-bersin. Aku masih bisa membayangkan seperti apa rupanya. Bagaimana ia tertekuk secara mengerikan di balik pintu dan bagaimana tatapannya yang mati seolah menembus jiwaku.

Ditengah lamunan itu, aku tersadarkan bahwa ketika langkahku tidak menggilas lantai dan gesekan kain tidak lagi terdengar; rumah Ibu sunyi. Sangat sunyi. Maka, terdengar suara-suara yang seharusnya tidak ada. Suara yang merayap di telinga dan dingin mulai menggerogoti tengkukku.

🐾🐾🐾🐾

Sudah malam ketiga.

Rumah ibu atau sekarang adalah rumahku terlihat lebih manusiawi. Lebih bersih, lebih nyaman dan aku sudah tidak bersin-bersin saat berkali-kali kuulang menyeka debu pada tiap celah. Aku banyak membuang hal-hal tidak penting milik ibu. Seperti koleksi buku, pernak-pernik lawas dan beberapa keramik yang—mungkin fungsinya sebagai keestetikan saja meski di mataku tidak. Namun mengingat hampir tidak ada fungsinya, aku membuang semua hal yang seperti itu.

Akan tetapi, kendati rumah tersebut kini memiliki suasana baru, ada hal yang tetap berdiam di dalamnya. Melayang-layang dari tembok ke tembok, mengikuti langkahku yang mondar-mandir membawa pisau dan bahan makanan.

Pada dasaranya dia memang ada. Tetap ada, hendak berapa kalipun aku mensugestikan diri bahwa makhluk itu hanya ada dalam halusinasiku atau ada sesuatu yang kumakan mengandung jamur memabukkan hingga penglihatanku bermasalah. Atau sialan apalah itu yang pada akhirnya berarti arwah penasaran yang terperangkap di dunia.

Sosok besar itu akan berdiri di sudut ruangan, dengan wajah menyeramkan. Terkadang ia muncul tiba-tiba di hadapanku ketika sedang memasak atau saat aku sedang bersantai. Apa saja jika ada kesempatan.  Wajahnya meleleh, mulutnya terbuka seperti akan menyentuh dada dan tangannya menjulur ke depan seperti pada film vampir kuno yang kutonton saat kecil. Satu kali jariku teriris pisau dan aku berusaha bersikap seakan hal itu adalah kecelakaan yang wajar. Itu karena aku teledor dan tidak hati-hati, bukan karena terkejut.

Aku tidak ingat sejak kapan aku mempercayai hal ini–serta dari mana sumbernya, bahwa katanya, hantu akan senang apabila manusia memberikan perhatian. Maka, aku melakukan hal sebaliknya. Aku bersikap seolah hanya aku penghuni rumah tua ini. Ketika ujung mataku menangkap sosok keruh itu, maka, aku akan menoleh sembarangan. Atau jika ia tiba-tiba muncul di hadapanku maka, aku akan buru-buru melihat pada tindiknya di sudut bibirnya. Oh sialan, dia bahkan memakai pierching. Kupikir benda itu sungguh padat. Atau hanya ilusi optik. Entahlah, apapun, selain wajahnya yang menyeramkan itu. Atau bola matanya yang terkadang menggantung keluar dari rongga.

Sungguh, aku sempat berpikir bahwa hidupku akan dipenuhi teror seperti sentuhan-sentuhan es di tengkuk dan jantung yang tak pernah tenang. Namun setelah tiga hari menempati rumah, rasa takut yang menjalar itu mulai padam. Aku beradaptasi kelewat cepat. Namun mungkin, kata padam terasa kurang tepat, lebih pada tegeser. Rasa takutku tergeser oleh amarah yang meledak-ledak.

Jadi, sebelum aku pindah kemari, aku lebih dulu mencari pekerjaan. Dan sampailah aku pada satu lowongan yang terasa paling masuk akal dari banyaknya iklan yang memberikan persyaratan tidak manusiawi kendati hanya menjadi penunggu toko bangunan dekat pasar.

Aku bekerja sebagai juru masak di salah satu rumah sosialita. Rumah lantai dua yang kelewat lebar hingga aku menerka-nerka luasnya setara dengan tiga kali lapangan sepak bola. Tentu saja ini hanya dugaan—saking lebarnya. Mataku tak sanggup menjangkau seluruhnya.

Begini, orang yang mempekerjakanku bukan pribadi yang menyenangkan. Dia adalah wanita necis dengan rambut cetar badai. Perhiasannya  bergemerincing setiap melangkah. Aku pernah mendengar beberapa orang mengatainya wanita jahilliyah meski kontras dengan pendidikannya yang unggulan. Juga beberapa melabelinya mirip sapi perah.

Gincu merah mengcover bibir yang setiap bicara pasti akan berhasil membakar hati siapa saja. Gajinya juga lebih rendah dari tempat lain. Namun hanya wanita itu yang menerimaku paling cepat saat itu. Aku butuh pekerjaan, aku butuh uang.

Apa yang paling didamba setelah seharian berurusan dengan orang seperti itu? Tidur, istirahat, rebahan sembari menarik selimut dan membuka video pendek dalam ponsel untuk sekedar melihat kucing lucu yang sudah lama ingin ku adopsi tapi tidak pernah terealisasi karena aku miskin. Aku seharusnya mendapatkannya, mendapat istirahatku yang berharga, jika bukan karena ulah hantu sialan bermata sendu.

Ketika dirasa mengangguku siang hari tidak cukup efektif, ia mulai menyalakan keran sesaat setelah kepalaku bersandar di atas bantal. Terkadang, ia memainkan knop pintu, atau memukul-mukul tralis jendela. Hal paling menyebalkan adalah ketika hantu itu memainkan lampu kamar. Mati, hidup, mati, hidup, aku seolah tidur di club malam.

Hari sabtu adalah hari paling sibuk dan panjang. 

Di hari sabtu, tugasku akan dua kali lebih berat. Wanita itu akan berkumpul dengan teman-temannya di rumah. Dan aku ditugaskan memasak hidangan lebih banyak. Drama hari ini adalah kesalahan membeli jenis daging, mencari saus mustard premium sampai memutari seluruh supermarket ketika bahan itu kosong di manapun dan aku hampir di tugaskan keluar kota jika saja salah satu teman bosku tidak merekomendasikan saus jenis lain sebagai cocol.

Aku sangat lelah, sungguh. Aku ingin istirahat tanpa gangguan, tanpa suara repetitif yang menjengkelkan. Namun hantu edan itu berhasil membuatku naik pitam hingga ke titik atas.

“Keluar bangsat!!!! Keluar hantu sialan!” telingaku menangkap suaraku sendiri yang melengking dan keras.

Dan hening, setelah aku berteriak, mendadak seluruh gangguan  itu hilang secara tiba-tiba. Semuanya kembali sunyi kecuali amarahku yang kian melambung.

“Lu pikir gua takut, hah? Gua panggil dukun baru paham lu, sialan! Hantu edan, bajingan! Brengsek!!!” aku terus mengumpat, dadaku naik turun saking kesalnya. Lalu dari celah pintu, hantu itu seakan keluar dari lubang kunci membentuk asap yang mengepul—lantas memadat. Ia berdiri di sisi ranjang.

“Emangnya, kamu punya uang buat sewa dukun?” suaranya terdengar dingin, namun sarat akan ejekan. Aku bangkit duduk—kaget. Ini pertama kalinya aku berbicara dengan hantu. Meski masih tembus pandang, namun kali ini, hantu itu tidak tampil menyeramkan.

Hidungnya mancung, rambutnya bergaya two-block haircut dengan sentuhan messy–klimis seperti orang baru selesai mandi. Matanya masih sayu. Ujung bibirnya ditindik dan ternyata tato sampai atas dada. Hantu itu nyengir–jelas mengejek. Semua terbingkai rapi dalam garis rahang yang tegas.

Di sisi ranjangku, ia berdiri. Melipat tangan di dada yang terbalut kaos dan jaket kulit. Jeans belelnya jatuh sampai mata kaki. Sepasang sneakers menjadi alas kaki

Sosoknya persis manusia–hanya saja transparan dan mengambang.

Terbiasa melihat rupanya yang seolah keluar dari film horror, aku tergagap. “P-punya! Gua punya uang! Uang gua banyak!” jawabku. Dengan ludah yang muncrat.

“Ah.. yang bener..” katanya. Benar-benar terdengar mengejek. Cengirannya makin lebar. Ia mengubah posisi dengan melayang di udara—melayang tepat di atasku sambil menumpu dagu–dengan tangan, tubuhnya miring begitu santai “dukun mahal tau, apalagi dukun gadungan, banyak. Bayangin duit kamu yang nggak seberapa itu dipakai buat bayar dukun tukang tipu”

Tidak, sebenarnya aku hanya mengancamnya. Aku bukan orang gila yang akan memanggil dukun untuk mengusir hantu, jika ingin, mungkin sudah kulakukan dihari pertama. Pun, aku lebih memilih tinggal bersama hantu ketimbang menghamburkan seperak rupiah untuk membayar dukun. Aku begitu perhitungan karena gajiku yang menyedihkan.

Tapi ayo cari akal! Aku harus bisa mengancam hantu itu agar takut dan berhenti menggangguku. Aku memutar otak mencari ide.

“Ya udah, gua tinggal cuekin lu dan anggap lu nggak ada. Terserah lu mau mati idupin lampu, mau mecahin kaca atau mukul tralis, bodo amat, gua gak urus. Gua mau beli penutup mata dan telinga!”

Mendengar ancamanku, sosok itu berkedip beberapa kali sebelum tawanya menggelegar. Ia terpingak-pingkal bergulung-gulung memegang perut. Memangnya hantu bisa sakit perut?

Setelah tawanya mulai mereda, ia melempar senyum padaku. 

“Itu baru bikin aku tersiksa” akhirnya ia memvalidasi tentang berita yang tak tahu darimana sumbernya—jika hantu tidak suka di abaikan atau katakan mereka haus atensi. Ia memiringkan kepala, berusaha menatapku lebih intens dari posisinya yang sedikit berubah, hantu itu agak turun ke samping meski masih melayang di udara. “Oke, maaf-maaf deh, aku nggak akan ganggu aneh-aneh lagi. Jadi jangan cuekin aku, ya?”

Aku mengerutkan dahi berusaha mencerna–bahwa baru saja seonggok hantu meminta maaf. Atau tidak, lebih tepatnya aku mengobrol dengan hantu. Aku bahkan tidak bisa memutuskan mana yang lebih mengejutkan.

Belum selesai dengan isi pikiranku, sosok itu kembali melayang melintas lembut di hadapanku. Sesaat sebelum menembus pintu, mulutnya bergerak-gera membisikkan sesuatu diiringi cengiran lebar yang menjengkelkan.

“Selamat istirahat”

🐾🐾🐾🐾

Namanya Gu. Tidak ada kepanjangan, Gu tidak ingat nama panjangnya. Meski aku memperkirakan itu adalah separuh nama awal atau akhir, ia hanya memperkenalkan diri sebagai Gu, titik. 

Sama seperti ia lupa pada alasan mengapa wujudnya berubah menjadi demikian. Melayang-layang tanpa kepastian, menembus ruangan demi ruangan. Terikat di bumi kendati ia bukan lagi manusia. Dari kondisi unik tersebut, Gu hanya yakin satu hal; bahwa kematiannya tidak wajar hingga ia menjadi arwah penasaran.

“Bikin apa astaga…” aku bergumam. tanganku sibuk mengetuk-ngetuk pena di atas kertas memikirkan menu untuk acara senin di rumah majikanku. Wanita itu meminta di buatkan menu spesial karena akan ada tamu atau acara sialan–entah.

Di minggu sore yang mendung ini, Gu berbaring di atas meja dapur tepat di hadapanku. Kakinya lurus dan kedua tangannya melipat di atas dada. Posisinya seperti mayat di atas meja otopsi jika saja tak disertai cengiran menyebalkan.

“Kamu mikirin apa sih?” ia bertanya sambil mengubah posisi menjadi miring. Dua tangannya di tumpuk dan pipinya menumpu di sana.

“Menu buat besok, bakal ada tamu katanya. Mending kalau nggak ribet. Dia itu, nggak kasih bilang maunya di masakin apa. Tapi akan marah kalau nggak sesuai ekspektasinya. Perempuan edan emang” aku mencaci lagi. Padahal beberapa jam terakhir aku berjanji untuk tidak meludah di sumurku sendiri. Meski wanita itu gendut dan kata-katanya selalu menyakiti, juga jika menggunakan lipstik selalu merah ngejreng, namun dia yang memberiku pekerjaan dan menggaji meski tak seberapa.

“Bikinin orek tempe aja sama sayur asem. Kalau nggak sesuai mending masak mie goreng” jawaban Gu yang spontan membuatku tertawa. 

“Sempet kepikiran bikin itu, tapi kayaknya bakal di buang depan muka gua. Dia itu OKB, ngerti nggak? Kalau bukan menu mahal, kayaknya dia merasa turun level” aku mencoret-coret kertas saat tanpa sadar kutulis ‘sayur asem’

“Menu mahal apaan? Daging? Jamur?” Gu balik bertanya. Aku mengangguk dan tanganku menggores lagi. Gu memperhatikan.

Pindang tongkol

Opor daging

Ayam pedes manis

Perkedel.

Gu mendikte apa yang kutulis.

“Itu makanan orang kaya?” lalu ia bertanya setelah melihat menu yang kutulis “kamu orang kaya bukan? Kalau setahuku, makanan kayak gini banyak di warteg” perkataan Gu kembali membawaku menatap tulisan. Menu-menu yang kutulis adalah makanan normal dan umum untuk rakyat jelata, menengah dan hampir tiap kalangan dan jajarannya. Sambil berpikir apakah hidangan sejenis itu akan pantas berada di meja mewah jamuan orang kaya.

Aku lantas kembali mencoret-coretnya.

“Aku bantu cari rekomendasi mau nggak? Tapi syaratnya, kamu bantu aku juga” perkataan Gu membuatku menatapnya sekali. Mata yang biasanya sayu, kini berbinar—seolah ada secercah cahaya di maniknya yang kuyu.

Lagipula, apa yang diinginkan hantu, sih? Paling-paling hal yang tidak lagi berurusan dengan uang. Jika bukan soal uang, aku masih bisa membantunya.

“Deal” jawabku tanpa pikir panjang. Setelah itu, aku melihat Gu berpikir meski hanya sebentar.

“Kamu tau  Bruschetta? Makanan pembuka khas Italia. Itu loh, roti yang dipanggang atau dibakar terus di kasih topping di atasnya. Ada variasi yang paling klasik ya cuma roti panggang, bisa di gosok bawang putih, kasih tomat cincang seger atau di kasih minyak zaitun dan sedikit garam. Nah, kalau buat orang kaya, pakai salmon asap tambah krim keju. Pakai jamur tumis, pakai keju daging asap atau kalau mau yang manis kasih buah”

Aku mengangguk-angguk sambil mencatatnya.

“Terus, salad Caesar campur ayam panggang dan udang. Sup krim labu atau sup krim jamur” Gu mengatakannya lancar. Hantu itu ikut melihat saat aku menulis. Sutas senyum terukir di wajah tampannya yang transparan.

“Hidangan utama kasih daging sapi panggang sama kentang tumbuk dan sayuran panggang. Terus yang lain, masak salmon panggang sama saus mentega lemon. Dan terakhir ayam cordon bleu sama saus kirim”

Semua dikatakan pelan-pelan mengikuti tanganku yang sibuk mencatat.

“Untuk hidangan pendamping, kasih kentang goreng, truffle fries, sayuran tumis mentega isinya wortel, buncis dan asparagus. Yang terakhir pasta ringan aglio olio atau carbonara”

Aku mengangguk sumringah. Semua yang dikatakan Gu benar-benar pas dan sesuai. 

“Hidangan penutup bikin cheesecake atau tiramisu atau panna cotta. Tambahan banget buah segar pilihan yang  premium kayak stroberi Korea, kiwi dan anggur”

Aku selesai mencatatnya dan bertepuk tangan.

“Wah! Gu! Makasih banyak! Gua hanya perlu cari tutor buat cara masaknya” aku benar-benar puas. Meski tidak pernah memasak makanan seperti yang disebutkan Gu di rumah karena keterbatasan bahan dan uang, namun aku percaya diri bisa mengolahnya.

“Nah, sekarang giliran kamu bantu aku” kedua alisnya bergerak-gerak jenaka. Kurasa keahlian Gu adalah merusak suasana. Kendati demikian, masih terbawa rasa lega, aku tidak berhenti tersenyum menanggapi caranya meminta bantuan.

“Ya ya, terus gua kudu apa nih?”

Pria itu diam sebentar. Ekspresinya yang tengil mendadak berubah serius hingga sukses membuyarkan senyum “bantu aku cari jasadku”

🐾🐾🐾🐾

Aku belanja pagi-pagi buta.

Dekil oleh becek tanah ban mobil tuaku. Aku bahkan tidak ingat kapan hujan turun sehingga menciptakan genangan air berlumpur di sepanjang jalan dari rumah menuju supermarket. 

Kini, tepat pukul tujuh pagi, aku berhasil kembali ke rumah majikanku dengan belanjaan yang bejubal dalam bagasi.

Dengan satu tangan, aku meraup beberapa kantong plastik berisi bahan makanan dari bagasi mobil. Beberapa menggantung di lengan, yang lebih ringan menggantung di keempat jemari–trik sejuta umat agar tidak perlu bolak-balik. Sementara itu tanganku yang lain membanting turun bagasi. Alarm mobil menyala singkat kemudian. Pertanda pintu sudah kembali terkunci.

Sambil kembali membenarkan bawaan di tanganku, aku berjalan tertatih kearah teras dapur.

“Butuh bantuan?”

Suara berat di belakang membuatku yang kepayahan mau repot-repot berbalik. Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Namun disini, di halaman belakang rumah majikanku, aku tidak melihat siapapun yang berpontesi mengajakku bicara. Tidak tukang kebun, tidak satpam di depan, apalagi majikan lelaki—suami wanita bergincu merah. Tidak, namun memang bukan seluruh kandidat yang kupikirkan tadi. Ini wajah asing.

“Tidak perl—” aku menjawabnya sambil terus melangkah sebelum ucapanku selesai karena aku terpeleset. Plastik-plastik buyar, isinya mencuat berhamburan. Namun bagian melegakan, aku tidak jatuh. Seseorang—tadi menangkap tubuhku dengan cara mirip dalam drama murahan. Tubuhku di tahan dan kami bertatapan agak lama dalam posisi itu, sungguh adegan klise dan monoton.

Satu, dua, tiga.

Tujuh detik aku baru berdiri. 

Mata pria itu begitu teduh, senyumnya seulas membentuk kotak pandora yang isinya barangkali deret bersih yang dibingkai indah oleh bibir tipis yang merah alami. Tangan kekar tadi yang menahan tubuhku masih memperlihatkan urat-urat yang menonjol. Aku memperhatikannya beberapa saat sebelum sadar jika belanjaanku berserakan—akan bahaya jika majikanku melihat.  

“Kamu nggak papa?” suaranya rendah dan berat. Aku yang sudah berjongkok memunguti barang belanjaan kembali mendongak–pun mataku mengikuti dia yang tiba-tiba ikut berjongkok membantuku memasukkan isi yang buyar kembali ke plastik.

“Aku nggak papa, makasih” kataku singkat. Tidak ada waktu untuk berbincang karena aku harus cepat-cepat masak. Sebenarnya, jika saja pria itu tidak menahan tubuhku, barangkali aku sudah terbanting dan jangankan memasak, sesuatu yang buruk bisa saja terjadi pada kepala belakang atau sejenis. Maka, setelah semua belanjaan kembali masuk dalam kantong dan kembali kujinjing susah payah, aku kembali berterima kasih padanya. 

“Aku minta maaf  mengagetkanmu tadi, kamu jatuh karena kaget, kan?” dia berusaha meminta kantong belanjaanku untuk dibawakan.

“Nggak, aku kepelset karena ini” aku menunjukkan sandalku yang basah dan terisi air “licin, becek” kataku dengan senyum. Meski ada beberapa telur yang pecah, namun kupikir itu bukan sesuatu yang serius. Lagi pula, aku sudah terbiasa membawa belanjaan sebanyak ini, bukan masalah besar bagiku—juga, kenapa pria yang memiliki senyum kotak itu meminta maaf sambil memberikan tatapan bersalah?

“Jangan minta maaf, kamu juga udah bantuin aku mungutin belanjaan, aku terima kasih” kataku meyakinkan.

Ternyata dia tidak disana tanpa alasan.

Pria itu memperkenalkan diri sebagai Kim. Datangnya membawa pesanan daging  dan pekerjaannya sebagai distributor daging premium, juga menerima pesanan segala jenis daging.

Maka dari itu, Kim ngotot ingin membawakan belanjaanku ke dapur karena kita satu tujuan.

Sambil masuk dan berbincang, dia bertanya dimana rumahku. Saat aku menjelaskan tempat tinggal baruku–di rumah mendiang Ibuku sekarang, Kim tiba-tiba mendelik dengan ekspresi kaget setengah tidak percaya. Pria itu hampir menjatuhkan daging yang dicangking—yang kuperkirakan seberat dua puluh kilogram dan aku harus mengolah itu semua dengan menu yang sudah ku pelajari semalam hasil rekomendasi Gu.

“Rumahku tepat di sampingmu!” ujarnya semangat “astaga, aku bahkan tidak perhatian pada tetangga baruku karena sibuk mengurusi daging” kebetulan yang ajaib. Aku mengerjap-erjap dan Kim paling bersemangat.

Aku pun sama kagetnya. Namun bagian penting bahwa, Kim tetanggaku, tetangga ibuku. Mungkin saja aku bisa bertanya sedikit tentang kehidupan ibuku sebelum meninggal. Maka, kami bertukar kontak dan dia bertanya apakah aku mengizinkannya untuk bertamu. Aku tentu mengiyakan. Lalu Kim berpamitan setelah meletakkan daging di atas pantry.

🐾🐾🐾🐾

“Jadi, kamu tinggal sendirian?” tanyanya sembari mendaratkan bokong, tatapannya berkeliling.

Tidak juga. Ada hantu gentayangan yang sedari siang mengoceh tentang jasadnya yang malang, mencoba membuatku merasa bersalah karena belum berusaha apa-apa untuk mencarinya.

Tidak ingin terdengar seperti orang gila, aku mengangguk. Secangkir teh celup kuletakkan di hadapannya. Kami duduk di dapur, di depan–bawah mejaku perkakas, sementara kabinet di bagian kanan.

“Awas panas, hati-hati” kataku. Kim menggumamkan terima kasih. Sendok yang beradu dengan keramik untuk mencairkan gula di dalamnya memecah kecanggungan dalam hening.

“Jarang loh, yang mau pindah kesini” Kim tersenyum lagi, senyum andalannya yang berhasil membuatku menatapnya lebih dari tiga detik secara tidak sopan. Hari ini, ia memakai setelan kemeja dengan kancing yang seakan meronta–dipaksa bertahan pada tubuh kelewat besar. “Perumahan tua, tapi harganya mahal, makannya sepi”

“Oh, ini rumah mendiang ibuku”

“Ah..” bulu matanya berayun. Kecanggungan tertera jelas pada sudut bibirnya yang bergerak kaku “aku nggak tahu, sorry” katanya.

“Ya, malah aneh nggak sih, kalau kamu tahu?” aku tertawa “kamu sendiri? Kenapa tinggal di perumahan tua yang sepi dan mahal?”

Aku jadi teringat para tetangga yang datang ke pemakaman Ibu. Kini, dalam rentang dua tahun, aku tidak melihat satu pun dari mereka meski bolak-balik melewati rumah-rumah di depan. Seolah, semua orang telah pergi dan pindah. Seluruh penghuni di daerah ini, aku hampir tak mengenali mereka satu pun.

“Karena sepi” jawabnya praktis. Aku menonton dalam diam ketika Kim mengangkat cangkir menemui bibir. Penampilannya yang trendi bahkan dalam balutan kemeja lagi-lagi mencuri perhatianku—pun karena kekecilan di tubuh sebesar itu. Namun secara keseluruhan, Kim adalah pria tampan. 

Kendati, aku masih mencerna pemilihan kata ‘sepi’ sebagai alasan ia tinggal di perumahan tua ini. Nada yang dibiarkan menggantung seperti perangkap yang akan memakanku hidup-hidup jika aku bertanya lebih lanjut.

Tapi aku merasa Kim ingin aku bertanya lebih lanjut. Sorot matanya lurus dan terasa menusuk menatapku. Tiba-tiba saja atmosfir aneh menguasai ruangan, atau diriku sendiri? Aku paranoid, aku sadar. Namun bukan jenis suasana dimana akan muncul hantu karena aku sudah terbiasa dengan hantu. Kim membawa aura yang berbeda. Pandangan teduh yang kulihat tadi pagi berubah menjadi…. Aku tidak yakin bagaimana menggambarkannya, namun itu mengusikku, sungguh.

“Jadi gimana? Betah tinggal disini?” tanyanya lagi. Sementara sambil menatapnya sekilas, aku mengusap tengkuk dan lenganku untuk meluruskan bulu-bulu yang berdiri karena merinding.

“Sejauh ini aku belum.. Ngerasa nggak betah atau gimana sih” kataku mulai merasa tidak nyaman. Kim menyadari jawabanku penuh kewaspadaan. 

“Kenapa? Nggak kedengeran, suara kamu kecil” pria itu menggeleng lalu bertanya hal lain. “Nggak tinggal sama ayah kamu?”

“Ayahku lagi dinas di luar kota”

Aku tidak tahu siapa ayahku dan dinas di luar kota merupakan opsi paling klise namun selalu natural. 

“Oh..” intonasinya janggal, tanganku berhenti bergerak. Alih-alih terkejut, pria itu seakan sedang bergembira. Seolah dia baru saja menemukan celah. Begitu sadar, jantungku seakan mau copot “tadi katanya tinggal sendirian”

Di depan kotak perkakas berisi gunting pohon dan peralatan berkebun milik Ibu. aku menelan ludah. Bagimana cara membuka pengaitnya tanpa menimbulkan suara? Ujung jemariku menarik perlahan ujung kaitan plastik sambil menahan napas. Samar-samar, dari  kejauhan, terdengar deru rendah mobil yang perlahan mendekat. Sedikit lagi, aku menghitung mundur.

Kursi di belakang tiba-tiba saja mendecit. Kaki besinya yang tak lagi dialasi karet menggesek lantai diiringi debam lembut sandal. Keringat mulai membanjiri pelipis tanpa bisa kutahan. Akan terlalu mencurigakan jika tanganku ditarik sekarang, namun jika kubiarkan saja menggantung di atas kotak perkakas–aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan.

“Jadi benar-benar sendirian, ya?” senyumnya naik lagi, kali ini benar-benar lebih aneh dan aku merinding lagi. Aku mengurungkan niat untuk bertanya mengenai ibuku lebih lanjut. Kim memandangiku lagi-lagi dengan cara paling aneh dan membuatku risi.

“Aku udah 1,5 tahun disini, tempat ini selalu sepi dan hampir nggak ada yang datang kecuali petugas kebersihan yang nggak rutin juga. Katanya, ada kasus pembunuhan disini. Orang-orang juga pada takut hantu. Makannya disini sepi, tapi anehnya masih mahal. Dan pas pertama kali datang, aku ngerayain gitu, buat party sama teman-teman. Buat keributan kecil. Tapi aman, gak ada yang datang, nggak ada siapapun yang menegur. Disini menyenangkan”

Kim mengatakan tentang 1,5 tahun, berarti memang pria di depanku ini tidak tahu menahu tentang Ibu. percuma aku membukakan pintu saat ia bertamu, dan kini, aku ingin ia segera pulang karena tiba-tiba perasaanku tidak enak.

Dan siapapun yang kuberi tahu, barangkali tidak akan ada yang percaya jika aku mampu merasakan gestur janggal dari cara orang berbicara dan menatap. Aku kembali teringat pada wanita bergincu merah yang menjadi majikanku. Kendati perangainya menyebalkan dan caranya hidup benar-benar jauh dari kata mahal meski dia orang kaya, namun wanita itu jujur apa adanya. Meski kejujurannya justru yang menjadi bagian paling menjengkelkan darinya.

Pun, aku mendadak teringat sederet nama pria di internet yang berada di bawah judul “pembunuh berantai tertampan dalam sejarah” aku menyimpulkan bahwa orang itu adalah Kim.

“Kamu lagi nyari sesuatu?” kehangatan dalam suaranya kini terasa palsu. Kepeduliannya tidak diarahkan pada apapun yang tengah kulakukan “mau aku bant—”

Kim tidak sempat menawarkan bantuan, suara gonggongan anjing menggema, seolah ingin memporak-porandakan kusen rumah tua. Tidak hanya sekali. Empat kali, serak dan semakin agresif. Kami berdua termenung. Kim menoleh ke luar dapur. Memanfaatkan momentum, aku segera bangkit sembari menendang pintu kabinet.

“Kamu punya anjing?” bahkan Kim kebingungan.

Aku pun harus mengakui bahwa salakan barusan terlampau aneh untuk keluar dari moncong anjing. Di saat bersamaan tidak terpikir lagi, hewan macam apa yang mampu meraung sedemikian rupa.

“Iya, punya, satu” tanganku terpaut ke belakang, saling memilin “udah tua, galak. Punya separation axiety. Dia nggak suka.. Orang baru. Waktu itu temenku pernah digigit. Sampe hampir meninggal. Kasihan banget si Natalia”

Natalia ibuku. Kasihan sekali, aku mengarangnya.

Seharusnya aku juga menambahkan jika anjingku juga rabies. Lalu gonggongan meledak lagi. Kali ini Kim kaget, kepalanya berputar mencari sumber suara yang terasa sangat dekat namun tidak ada di dapur itu.

“Maaf, Kim. Kita ngobrolnya lain kali lagi, nggak papa kan? Aku mau nenangin anjingku”

Kim tidak menjawab. Ia hanya menatapku dari ujung kaki ke ujung kepala lalu menggumamkan “oke” penuh keraguan. Lalu melesat keluar. Sepanjang jalan dari dapur hingga pintu utama tertutup, kepalanya tak berhenti menengok ke sana ke mari.

Baru setelah Kim benar-benar pergi, kepalaku mendongak ke atas. Dan benar saja. Melayang-layang dua puluh senti dari plafon adalah Gu yang sedang cemberut.

“Suara anjing, lu?”

“Tua dan galak? Separation anxiety? Serius?” tubuh Gu turun perlahan. Ia bersila di udara tepat di sampingku. Kami sama-sama menatap pintu utama. “Aku nggak bermaksud ikut campur, tapi perasaanku nggak enak, dia kayak orang jahat, mukanya cabul dan dia…. Aneh”

“Sama, gua juga ngerasa gitu” aku menatap Gu dari samping, tadinya, aku ingin melakukan tos karena kita memiliki perasaan yang sama terkait Kim. Namun kuurungkan mengingat Gu transparan.

Aku lantas beranjak ke pintu utama dan memutar kuncinya sebelum kembali ke dapur, duduk sambil bertopang dagu.

“Tapi, aku nggak tau apa yang mencurigakan. Cuma perasaan aja” kata Gu, ia ikut duduk di atas meja meski kali ini duduk normal.

Kami terdiam agak lama dengan spekulasi masing-masing.

“Menurut gua sih, karena dia kepo ke hal yang nggak penting. Dia terus mastiin berulang-ulang kalau gua cuma sendirian di rumah ini”

Jujur saja, ketika Kim berkali-kali menyebut kondisi perumahan yang senyap dan lingkungannya yang acuh, aku merasa bahwa informasi tersebut bukan sesuatu yang dilemparnya sambil lalu. Sama seperti kekhawatirannya, cara berbicaranya yang santai saat itu terdengar terlalu dibuat-buat. Seakan ia ingin memperingatkanku.

Gu beralih melayang duduk di kursi yang sebelumnya di duduki Kim. tatapannya lurus mengarah pada cangkir, isinya hanya berkurang sedikit. Ada sekelebat raut asing yang sirna begitu saja saat aku mendekat.

“Gu?”

Pria itu menoleh. Bola mata kosong dan alisnya menyatu ditengah lenyap dalam sekejap. Ia menyambutku dengan wajah tengilnya. Seperti biasa.

“Kalau kamu perhatian, tapi enggak sih” Gua mengoceh sendiri “aku perhatiin dia selalu liatin kamu tanpa kedip, tanpa jeda, seakan, kamu bakal pergi kalau dia ngedip sekali aja. Aneh, kan?”

Perkataan Gu yang spekulatif lagi entah mengapa berhasil membuat tengkuku merinding. Aku merapatkan kardigan yang ku kenakan sambil memeluk perutku sendiri.

“Apa jangan-jangan, dia beneran pembunuh berantai?” semburku asal.

Kami saling melirik. Kombinasi mata sayu milik Gu yang terbelalak, lalu mulutnya membulat dan pipinya yang mengembung berusaha menahan tawa, namun tetap gagal dan hantu itu menyembur—tertawa terpingkal-pingkal. Aku menahan diri agar tidak tertular.

“Lucu banget ini, sialan, jangan waras dulu. Seru banget ceritanya, nggak kek sinetron” tawanya masih menggema, sambil memukul-mukul dengkul “nggak masuk akal.”

Aku jengkel sekali. Padahal aku serius dan merasa Kim memang aneh dan spekulasi yang kuutarakan pada Gu benar-benar kurasakan. Namun sialan hantu itu.. Dan aku akhrinya ikut tertawa “lu pikir ngobrol sama setan begini, masuk akal?!”

“Kamu jangan liatin aku terus, nanti aku nggak bisa berhenti ketawa” hantu itu masih memegangi perut, seolah ada yang bisa sakit setelah kematian. “Ini kita bercandain Kim sebagai pembunuh berantai gini, taunya dia beneran pembunuh berantai, dan plot twist nya, dia juga yang ngebunuh aku, wah… masuk akal sih”

Aku menarik napas dalam berusaha menyudahi tawa “iya ya? Taunya suara-suara aneh tiap malem itu bukan dari lu, tapi dari si Kim”

Gu tiba–tiba diam, terpaku ia beberapa saat “suara apa?” tanyanya kemudian.

“Suara… suara aja” dahiku mengernyit “kadang kayak suara besi, kadang suara kayu yang di pukul….  Gu.. muka lu kenapa begitu?”

Ekspresi Gu benar-benar membuatku tidak nyaman. Melalui otot-otot wajahnya yang tegang, ia menularkan kegelisahannya. Hidungnya mengkerut dan bibirnya setengah terbuka. Ia begitu ketakutan, seolah baru saja melihat penampakan–dirinya sendiri.

“Habis kamu ngancem mau sewa dukun, aku nggak pernah ngisengin kamu lagi”

🐾🐾🐾🐾

Setelah Senin sibuk oleh para tamu dan aku diwajibkan membuat hidangan yang untungnya sesuai seleranya—hasil rekomendasi Gu. kini, Nyonya gincu merah yang memiliki rumah seluas tiga kali lapangan sepak bola pergi plesiran. Ia membawa hampir seluruh bajunya dalam lemari, membawa aksesoris bahkan hal-hal tidak masuk akal seperti lima anjing berikut dengan kandang mereka.

Tapi masa bodo. Liburan sang Nyonya artinya liburanku juga. Ia mengatakan akan pergi selama dua minggu, dan selama itu juga aku berlibur.

Waktu luang yang kosong biasanya kuhabiskan dengan mengulik resep baru. Menonton video memasak hidangan yang belum pernah ku masak dan mempraktikannya untuk kumakan sendiri. Tentu saja dengan bahan-bahan yang paling murah.

Dan pagi ini, aku melamun lagi di dapur, bingung mau masak apa sementara aku belum belanja.

Gu melayang di belakang, ia menempel sebentar sebelum ikut duduk. Aku memperhatikannya sambil menguap. Rambutku berantakan dan aku tidak berencana merapikan apapun karena malas.

“Ngelamun lagi” katanya, ia duduk persis di depanku. Lidahnya memainkan tindik diujung bibir dan tangannya mengikuti tanganku yang terpaut di atas meja.

“Nggak tau, lemes” kataku ogah-ogahan.

“Itu karena kamu belum sarapan. Coba sarapan dulu” katanya, sok perhatian.

“Aku nggak punya apa-apa buat diolah, aku belum belanja dan aku malas” lalu kusandarkan punggung ke belakang kursi, lagi, aku menguap lagi. Sementara Gu melayang. Ia terbang mendekat pada kulkas, lantas menyusup masuk tanpa membukanya.

“Ada telor, ada daun bawang… ada… ew.. Tomat busuk” pria itu mengoceh dari dalam kulkas “ada sosis, kamu bisa buat nasi goreng” tubuh bagian atasnya masuk sementara sisanya di luar. Aku hampir tertawa melihat pola hantu itu.

“Kamu harus sarapan, nanti bantu aku cari jasadku” katanya. Permintaan itu sudah dilayangkan sejak aku belum bangun tidur. Jika dikalkulasi, Gu sudah lima kali meminta.

“Berisik! Lu ngoceh sekali lagi, gua setelin ayat kursi biar kepanasan” ancamku serius. Gu menggaruk dahinya yang–jika kulihat tidak kena. Ia transparan dan tidak—sungguh aku tidak mengerti bagaimana sistem hidup hantu. Bahkan kata ‘hidup’ bagi hantu saja salah.

“Masak nasi gore—” Gu masih saja merekomendasikan sarapan sementara aku marah-marah.

“Berisik Gu! Pala gua pusing”

“Ya pusing karena lu belum nyarap. Coba sarapan dulu”

Aku merebahkan kepala diatas meja kaca, memperhatikan Gu yang sibuk mengeluarkan bahan-bahan nasi goreng. Lantas setelah semua keluar, hantu itu melihat ke arahku. Namun kali ini bukan dengan wajah tampan seperti biasa, melainkan wajah hantu seram seperti yang kulihat saat pertama datang. Aku kaget dan duduk tegak.

Gu tertawa terpingkal-pingkal “cie.. Kaget ya… hahahahah…” lalu ia berubah normal. Sudah melihatnya berkali-kali, aku tetap kaget saat sosok itu berubah menyeramkan tiba-tiba. Hanya kaget, tidak takut.

Harus aku akui, kehadiran Gu seperti perasan jeruk lemon di atas karaage yang baru matang. Aneh, namun menyegarkan. Memberi warna yang tidak terduga. Tapi pas.

Selalu ada yang berbeda setiap harinya. Kemarin Gu tiba-tiba saja bertanya soal Ibu. Terbiasa dengan pertanyaan yang sama sejak dulu, aku memberinya jawaban templat. Bahwa Ibu meninggalkanku dan hidup sebatang kara karena, rupanya, menjadi ibu terlalu mengekang jiwanya.

Sebagian orang akan merasa kasihan denganku. Sebagian lainnya tidak tahu harus bereaksi apa pada jawabanku yang terlalu gamblang. Katanya, terlalu menjelekkan orang tua—jika Ibu masih bisa disebut demikian. Tapi, Gu berbeda. Mengambang lima senti dari lantai, wajahnya berkerut jijik.

Awalnya aku mengira ia tidak suka denganku yang menyandang status yatim piatu dan durhaka. Pemikiran tersebut sirna seketika saat Gu berkeliling kamar, berkoar-koar penuh amarah. Setidaknya lima paragraf menjelek-jelekkan ibuku tumpah-ruah dari mulutnya saat itu juga. Umpatan yang tidak cocok dengan wajahnya membuatku terbelalak, kemudian menangis.

Banyak orang yang marah padaku, tapi tidak pernah ada yang marah untukku.

“Heh! Malah ngelamun lagi” sentakkan Gu membuyarkan lamumanku, “ayo masak, kalau kamu nggak masak, nanti kelaparan, kalau kelaparan terus, nanti kamu mati. Yang boleh jadi hanti di sini cuma aku”

“Mana ada orang mati karena nggak makan sekali?” meski menggerutu, aku tetap bangkit dan menyambar gagang wajan.

“Nggak sampai mati, sih. Tapi nanti kamu lemes. Kita punya agenda hari ini”

Tanganku menggantung di udara. Aku melirik Gu yang tengah melipat tangan di depan dada. Kedua alisnya naik turun penuh makna. Saat itu juga, aku langsung teringat pembicaraan kami tempo hari.

Benar. Hari ini aku sudah berjanji dengan Gu untuk bermain peran sebagai detektif.

🐾🐾🐾🐾

Sebenarnya, sudah beberapa hari terakhir aku menyelidiki Kim. dari mengintip rumahnya, mengawasi pergerakkan—kapan pria itu pergi dan kapan kembali. Aku mencatatnya detail dan berencana akan masuk diam-diam jika bisa—saat pria itu tak ada di rumah. Juga, tentang bunyi gedebag-gedebug tiap malam, aku juga mencatat pola yang itu. Bahkan ritmenya.

Kadang, tengah malam, aku mendengar suara televisi dinyalakan dengan suara kelewat kencang. Rumah yang dindingnya menempel dengan bagian samping rumahku itu jelas memperdengarkan segala suara yang ada. Dan di antara saura televisi, sayup-sayup aku mendegarnya, suara itu.. Mirip.. Seseorang memukul tumpukkan kain basah. Ya, seperti itu, berulang-ulang.

Gu kadang masih berpikir baik seperti.. Mungkin saja Kim tengah latihan tinju menggunakan samsak. Kepalaku nyaris mengangguk, sayup-sayup, di sela pukulan itu, seseorang merintih. Suaranya merambat tidak lebih dari setengah detik di udara. Tapi, berani sumpah, yang barusan itu rintihan yang diputus paksa.

Dan setiap  repetisinya, bulu kudukku meremang.

Lagi, kami berkesimpulan lagi bahwa Kim merupakan kandidat pembunuh bayaran.

Kini, aku dan Gu membentuk satuan tim yang akan memecahkan kasus kematian timku sendiri; Gu. Dan terduga yang sedang menjadi sasaran intaian; Kim. Si pria tampan pembunuh—menurut spekulasiku dan Gu—meski kami akan tertawa tiap mengatakannya karena lucu. Kata Gu, mirip di sinetron.

“Oke, karena rumah ini cluster, seharusnya denahnya sama” aku membuka rapat sesegera mungkin setelah meletakkan piring kotor di dalam wastafel. Pandanganku berkeliling, dapur adalah ruangan paling belakang dan pintunya berbatasan langsung dengan halaman belakang. Masuk ke pekarangan bukan lah hal sulit. Aku cukup melompati pagar pemisah rumah kami. Yang jadi masalah adalah bagaimana aku bisa masuk ke rumahnya.

“Masa iya lu nggak bisa nyongkel kunci?” aku bertanya sambil melipat tangan di dada–menatap Gu yang juga duduk di hadapanku—bergestur nyaris serupa.

“Masalahnya bukan itu” hantu itu menggaruk pelipis yang sebenarnya mengambang, setelah sekian lama, aku tetap masih tidak mengerti sistem hantu yang bisa memegang benda padat, namun tidak bisa memegang diri sendiri alias transparan. “Masalahnya, aku nggak bisa ngelewatin dinding rumah ini” 

Pernyataannya barusan mematahkan ribuan rencanaku untuk membobol pintu rumah Kim. Aku mendongak dan lagi-lagi menangkap eksistensi hantu yang kini sedang memilin-milin jerijinya canggung,

“Maksdunya?”

Gu membasahi bibirnya. Pandangannya diarahkan sembarangan–jelas sekali menghindariku. “Aku nggak bisa keluar dari rumah ini” terangnya sekali lagi. Dan hantu sialan itu baru mengatakannya sekarang? Mendadak, perutku terasa melilit bukan main. Membayangkan aku harus melakukan tindak kriminal sendirian dalam rumah pembunuh berantai. 

Tidak. Sebenarnya, sejak awal ini hanya spekulasi saja. Bagaimana jika sebenarnya Kim adalah warga biasa? Bagaimana jika pria itu hanya orang dengan hobi meninju samsak tengah malam sambil menonton film aneh—dengan suara gadis yang merintih? Kemungkinan seperti itu tidak bisa diabaikan dibanding terus berpikir buruk dan menyimpulkan secara liar.

Kemungkinan terakhir meningkatkan kecemasanku hingga ke ubun-ubun. Sebab, ada satu pernyataan yang paling mengerikan dan baru bisa terjawab apabila aku meyakini yang merintih di rumah Kim bukanlah samsak. Bagimana jika aku terperangkap di dalam rumah itu dan menjadi korban selanjutnya?

Sentuhan dingin mendarat pada pundak kiriku. Aku menoleh dan mendapati Gu dengan dua mata sayunya berkilat prihatin. Melalui kolam gulita itu, aku justru lebih fokus pada pantulan seorang wanita. Wajahnya mengingatkanku pada anak kecil di rumah ini belasan tahun silam, yang hanya memalingkan wajah ketika melihat ibunya mabuk tengah malam sambil membawa laki-laki masuk ke kamar. Yang berpikir bahwa itu bukan urusannya.

Yang pengecut—dan sangat aku benci.

Aku benci anak itu. Aku benci diriku. Bertahun-tahun kuhabiskan untuk menyesali keputusanku kala itu. Mungkin—dan hanya mungkin—jika aku berani sekadar menangis untuk mengalihkan perhatian Ibu, Ibu mungkin akan marah, tapi setidaknya aku tidak akan mendengar suaranya mendesah dengan cara paling menjijikan.

Kini, aku kembali dihadapkan pada pilihan serupa; bertindak berani atau menyesal seumur hidup karena lagi-lagi bersikap seperti pengecut.

Suara rintihan kala itu terngiang di telinga.

“Aku mungkin nggak akan bisa nemenin kamu ke sana” Gu melayang membawa palu–mendekat padaku “tapi, aku bisa awasin kamu dari sini, dan akan menggonggong tiap ada bahaya”

🐾🐾🐾🐾

Pintunya tidak dikunci.

Padahal aku sudah memegang palu berencana memecahkan kaca untuk membuka grendelnya dari dalam. Namun ternyata rumah ini tidak di kunci. Kim sudah meninggalkan rumah dua puluh menit yang lalu, jika merunut seperti kebiasaannya, maka, pria itu akan kembali nanti sore sekitar pukul lima atau setengah enam.

Mudah, ini terlalu mudah, membuka pintu kelewat mulus. Yang sulit adalah masuk lebih dalam ke rumah Kim. aku benar-benar harus menarik napas dalam-dalam demi mengumpulkan keberanian untuk masuk ke kediaman orang lain tanpa izin–membawa palu dan persis seperti kriminal yang akan mencuri.

Sesuai dugaanku, denah rumahnya benar-benar serupa. Aku hampir mengira sedang berada dalam rumahku sendiri dengan versi yang lebih epik dan estetik. Seluruh peralatannya serba modern, tertata rapi dan nyaris presisi. Aku berpikir jika Kim mengidap gangguan OCD dan yang paling penting, rumah ini tidak berhantu.

Masih berdiri dua langkah di abang pintu, aku lagi-lagi menarik napas dalam-dalam. Bayangkan, jika aku adalah seorang kriminal dan ingin menyembunyikan calon mayat. Kira-kira, dimana tempat cocok? Di ruang tamu jelas tidak mungkin, namun tidak menutup kemungkinan. Kamar mandi? Aku sering melihat dokumentar krimial membunuh korbannya di dalam kamar mandi agar mudah dibersihkan.

Aku melangkah perlahan. Meski sudah memakai sandal, rasanya, lantai rumah Kim terasa begitu dingin. Dinginnya hingga naik ke tengkuk dan membuatku merinding. Kepalaku menoleh ke segala arah. Jika siapa saja melihatku sekarang, maka sempurna sudah—aku akan terlihat seperti maling.

Dari dapur, aku berbelok ke kiri, ke arah deretan pintu. Rumah ini memiliki dua kamar mandi. Satu di dalam kamar utama, satunya lagi diapit oleh dua pintu kamar lainnya yang lebih kecil. Setelah menimbang sesaat, aku memutuskan memeriksa kamar mandi yang terpisah—jikalau Kim tiba-tiba pulang, aku bisa menyelinap keluar lebih cepat.

Di atas knop yang disepuh emas itu, jemariku bergetar hebat. Kepalaku memutar berbagai gambaran apa yang sekiranya menantiku di balik pintu. Gambaran bagaimana nasib korban.

Tidak. Hentikan. Aku tidak punya banyak waktu. Meski aku sudah yakin jadwalnya akan kembali nanti sore—seperti kebiasaannya selama kuawasi, namun Kim bisa kembali kapan saja—ia bisa menangkapku kapan saja.

Dalam satu tarikan napas, aku mendorong pintu tersebut. Engselnya kurang diminyaki. Suara decitan samar mengisi ruangan itu.

Kelopakku mengerjap cepat. Bau darah, seonggok tubuh yang terikat, dan rintihan—semuanya hanya ada di benakku. Di balik pintu hanya kamar mandi kosong. Terang. Cahaya matahari merayap dari jendela kecil. Kering. Seolah tidak pernah dipakai. Kamar mandi tersebut normal, sama seperti kamar mandi di rumahku. Benar-benar tidak ada yang janggal meski mataku sudah perih karena memeriksa sudut-sudutnya tanpa berkedip.

Aku segera menggeleng. Mungkin bukan di sini. Mungkin di kamar utama—

PRANG!

Ada keheningan mencekam usai suara tersebut mengisi kamar mandi, memantul dengan bengis dari ubin putih ke dinding. Keberanianku turut pecah bersamaan dengan botol kaca bekas reed diffuser. Benda sialan itu meluncur ke lantai, tersenggol oleh siku.

“Sial…” bisikku, hampir menangis. Ada jejakku di rumah ini. Kim akan tahu aku menyelinap ke rumahnya. Aku akan tamat. “Sial. Sial. Anjing. Fuck.”

Tanpa pikir panjang, aku segera berjongkok, hendak memunguti pecahan botol. Napasku memburu. Jantungku bertalu-talu. Kombinasinya memenuhi telingaku bersama dengan suara rintihan samar.

Tunggu. Rintihan? 

Aku hanya panik, bukan aku yang merintih.

Seluruh sendiku berhenti bergerak. Senyap mengambil alih. Ketika aku berpikir bahwa yang barusan sekadar imajinasiku, rintihan lainnya menggaung lemah. Terdengar dekat, namun bukan dari ruangan ini.

Bulu kudukku meremang. Seketika aku memiliki dugaan dari mana suara tersebut berasal. Sembari tersengal, telingaku ditempelkan pada lantai.

“Tolong…”

Gelombang cemas menghantamku saat itu juga. Aku bergeming, meminimalisir suara-suara tambahan. Di antara rintihan tersebut, aku bisa menangkap suara lain yang membuat perutku kencang. Rantai yang beradu dengan besi. Tangisan. Semuanya berada di bawah lantai kamar mandi.

Memangnya rumah ini punya rubanah? Sejak kapan? Dahiku mengernyit. Salah satu dari pintu di rumah ini mengarah ke ruangan yang luput dari perhatian.

Sementara otakku berputar, pandanganku jatuh pada salah satu pintu. Terletak tepat di depan kamar paling ujung. Di rumahku, ruangan tersebut digunakan sebagai gudang dan ruang cuci.

Ludah meluncur membasahi tenggorokan. Apakah fungsinya sama di rumah ini? Darahku mengalir sekian kali lipat lebih deras, menderu-deru di bawah kulit. Digerakkan oleh adrenalin belaka, tungkaiku berayun cepat menerobos pintu tersebut. Benar saja. Di dalam ruangan berukuran 2×2 meter tersebut, ada pintu lain. Mungkin karena aku merasa di atas angin perkara dugaanku dan Gu bisa saja benar. Mungkin juga aku hanya senang karena semua kegilaan ini akan segera berakhir. Namun, aku tidak bisa mengingat bagaimana aku membuka pintu tersebut atau terbuat dari apa tangga yang kujejaki.

Aku baru sadar ketika alas sandalku mendarat pada lapisan beton. Bau amis menggulung-gulung di bawah sana, bersama dengan aroma tidak sedap lainnya. Bukan itu yang menggangguku.

Di ujung ruangan, meringkuk hampir seperti buntelan karung, seorang wanita dengan tangan dan kaki terikat mengangkat wajahnya. Dua buah tripod diletakkan membelakangiku. Darah dan lebam mewarnai tubuh pucatnya. Bibirnya yang nyaris seperti bunga kering bergerak.


“Tolong…” 

🐾🐾🐾🐾

Akhirnya datang hari di mana kompleks ini terasa lebih hidup. Meski dengan alasan ironis ketika seorang wanita di temukķan dalam keadaan nyaris mati di dalam rubanah. 

Beberapa orang yang tidak pernah kulihat sebelumnya berkumpul di seberang jalan, berdiri dalam jarak yang canggung karena tidak terlalu saling mengenal. Sederet mobil polisi dan sebuah ambulans terparkir tepat di sebelah rumahku. Petugas-petugas berseragam sedari tadi sibuk mondar-mandir dengan wajah serius. Sesekali, beberapa di antara mereka melirikku yang terduduk di tangga teras.

Seorang petugas baru saja selesai menanyaiku. Ia sepertinya puas dengan alasan perilaku kurang menyenangkan dan suara janggal—cukup untuk tidak mempermasalahkanku yang masuk ke rumah orang tanpa izin. Aku tahu ia hendak membawaku ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Akan tetapi, wajahku yang kuyu membuatnya mengurungkan niat. Pria berkumis tipis itu hanya memberikanku kartu nama dan menyuruhku menghubungi nomor yang tertera begitu kondisiku sudah lebih stabil.

Aku memberikan anggukan sebagai jawaban dan meminta izin untuk menenangkan diri sendirian di dalam rumah. Pria itu menunduk maklum, membiarkan punggungku ditelan pintu utama.

Di ruang tamu, kegaduhan sedikit tersamarkan. Aku masih bisa mendengar desau percakapan di depan teras, namun, setidaknya, aku tidak lagi merasakan tatapan orang-orang.

Tubuhku ambruk di atas salah satu sofa yang membelakangi jendela. Partikel debu menari-nari di dalam pilar cahaya yang menyelinap dari balik tirai. Rak di hadapanku berisi deretan buku Ensiklopedia Britannica peninggalan Ibuku yang sayang untuk dibuang. Pandanganku dilabuhkan pada buku-buku yang—mungkin saja tidak akan pernah kubaca itu, demi menghindari gumpalan ungu di sudut ruangan.

“Aku nguping obrolan polisi di luar.” Setelah kuacuhkan, Gu merasa harus memecah sunyi. “Kim langsung diringkus dan, katanya, ini bukan korban pertama. Korban-korban sebelumnya cewek semua.”

Dari sudut mata, gumpalan ungu tersebut melayang mendekat. Aku tetap bergeming, meneliti huruf demi huruf pada punggung buku.

“Jadi, bukan Kim pelakunya. Bukan Kim yang ngebunuh aku,” ucapnya. “Sumpah, aku udah ngira kamu bakal ketemu jasadku di rumah dia.”

“GU! Bukan salah gua lu mati, bukan tanggung jawab gua juga untuk nemuin mayat lu!!” kami berdua terkejut dengan suara yang keluar dari tenggorokanku. Tidak bisa dipungkiri, amarah dan lelah adalah kombinasi mematikan “lu paham nggak sih, apa yang baru aja gua alamin di rumah Kim? Lu mikir gaksi?”

Rahang Gu terkatup rapat. Ia tidak menjawab. Tentu saja, mana mungkin hantu itu mengerti bagaimana jantungku hampir meledak di setiap langkah. Dia tidak akan tahu bagaimana sendi-sendiku sekarang seakan berubah menjadi jelly.

“Gua bisa aja ketangkep Kim. Jadi korban selanjutnya, mati mengenaskan dan ketakutan. Bayangin kalau Kim tiba-tiba pulang?”

“Kan aku udah janj—”

“Gimana kalau gua nggak dengar?! Keburu modar gua dibunuh” seluruh emosi yang tertahan tumpah ruah “gua abis liat orang hampir mati, Gu. Gua mempertaruhkan nyawa gua buat ngeliat orang yang hampir mati”

“Kamu nyelametin dia”

“Persetan! Terus kalau udah kayak gini, siapa yang nyelametin gua?” aku baru sadar jika aku mengatakan seluruh emosiku sambil menangis. “Lu ada mikirin gua nggak sih, Gu? Sedikit aja”

Gu makin tampak kabur. Entah sosoknya yang memang menipis atau pandanganku yang terhalang air mata. Tapi jelas sekali, aku tidak melihat rasa bersalah di bawah kedua alisnya itu. Sosok yang berambut klimis itu justru kebingungan. Seolah aku baru saja bertanya dengan bahasa alien.

Aku mendongak, menarik napas dalam-dalam, lalu menjatuhkan kepala ke dalam telapak tangan. “Gua udah bantuin lu sekali. Dan kalo gua harus ngulangin apa yang gua alamin hari ini, mending gua yang minggat.” Udara yang masuk seolah diisi jarum-jarum kecil. “Lagian, awalnya ini juga bukan rumah gua.”

Tanpa menoleh sedikitpun, aku menyeret langkah ke dalam kamar. Begitu pintu terbanting, baru akhirnya aku bisa memutus semuanya; sirine polisi, percakapan dalam nada rendah, dan Gu. Yang tersisa hanya kekacauan di dalam diriku

Di atas sprei kasur yang warnanya belel. Aku merenung ke dalam bantal di temani bayang-bayang suara korban dan bau busuk rubanah.

🐾🐾🐾🐾

Gu tidak pernah muncul lagi–setidaknya di hadapanku.

Aku masih sesekali melihatnya di  sudut tergelap. Menyaru seperti bayang-bayang perabotan. Melayang dengan canggung, seolah tidak ingin terlihat.

Gestur pihak sebelah yang seakan enggan membahas kejadian beberapa hari lalu kusambut dengan baik. Maksudku, aku paling jago dalam hal memendam perasaan hingga akhirnya terkubur sendiri. Jadi, aku mengikuti keinginannya dengan tidak memperhatikan hantu itu sama sekali. Keseharianku diisi dengan kesibukan yang monoton—dan kadang terasa terlalu dibuat-buat.

Kendati demikian, tak terelakkan, kecanggungan membebani dadaku dua puluh empat jam dalam seminggu.

Aku melirik koper yang tergeletak berantakan di tepi ranjang. Di dalamnya baru ada baju dalam dan peralatan mandi. Pekerjaanku hari ini terlalu padat dan aku menyerah berpura-pura tubuhku tidak remuk. Padahal, beberapa saat lalu, aku girang bukan main membayangkan liburan sederhana di hotel.

Mungkin, menjauh sejenak dari rumah ini adalah rencana terbaik—untukku dan Gu. Meski hanya dua malam, setidaknya aku tidak perlu bersikap seolah aku tinggal sendiri atau memalingkan wajah setiap kali rumah Kim berada di dalam jarak pandangku.

Namun, rupanya hanya aku yang merasa senang.

Sebenarnya, aku tidak ingat kapan aku terlelap. Akan tetapi, tidurku yang—kurasa—singkat itu tiba-tiba saja diinterupsi oleh sensasi aneh di perut. Pinggangku seperti dibebat oleh sesuatu—seperti memakai korset yang terlalu ketat. Kemudian, belitan yang erat itu naik dan terus naik hingga dada.

Kini, rasanya seperti dililit piton. Menyadari kemungkinan tersebut, mataku otomatis terbuka. Di detik itu lah, aku berpikir bahwa bertemu ular piton raksasa bukan skenario terburuk.

Di dalam temaram kamar, aku menatap ngeri sosok hitam di ujung ranjang. Ia berdiri dengan punggung membungkuk. Rambutnya masih sama klimisnya. Yang aneh adalah saat rambut itu tiba-tiba memanjang. Menyelimuti tubuhku. Membelitku.

Jika saja wajahnya tertutup sempurna, aku mungkin akan menjerit. Namun, di antara helaiannya yang awut-awutan, sepasang iris gelap dengan kantong mata menatapku. Hidungnya bangir. Kulitnya pucat, kontras sekali dengan rambut hitamnya.

Dalam suara yang terlalu familiar, ia berbisik lirih, “kamu mau pergi?”

Tidak ada yang bisa keluar dari tenggorokanku kecuali huruf yang terbata-bata—bahkan tidak ada yang dapat digolongkan sebagai kata. Hanya sekumpulan alfabet yang mengambang.

Gu tidak senang, sama seperti ia tidak senang pada koper di lantai. Gemerisik sekumpulan rambut bergesekan dengan sprei, bergerak maju. Bak dua tali hitam, masing-masing melilit pahaku. Bola mataku bergulir pada sosok tersebut, meminta kejelasan.

Aku mendapat jawabannya sedetik kemudian, ketika lilitan rambut tersebut menarik kedua pahaku ke arah berlawanan. Gu merangkak di atas kasur. Wajahnya berada di antara kangkangan kaki.

Hidungnya tepat berhadapan dengan kemaluanku yang masih terbalut kain.

“Gu…” akhirnya aku berhasil menyebut namanya “nggak, jangan lakuin ini..”

“Apa? Aku nggak mau kamu pergi, aku nggak mau di tinggal” katanya memelas, namun kontras dengan prilakunya pada tubuhku.

Aku menggeleng kuat “gua cuma mau pergi sebentar, mau ngademin pikiran, cuma dua hari.. Cuma dua hari.. Serius..”

Namun tampaknya, Gu memang tidak ingin aku pergi, tidak juga dengan liburan atau apapun yang berhubungan dengan pergi.

Dan hantu itu juga serius melakukan hal—yang… aku tidak tahu. Aku seperti manusia gila saat tubuh Gu terus menggerayangiku.

Sial sial sial.

Aku tidak berkutik.

🐾🐾🐾🐾

Ada beberapa hal yang aku pikirkan ketika menyeduh kopi di pagi hari. Biasanya tentang sisa hutang dan apakah aku akan masak mi instan atau beli lauk siap makan di minimarket. Semenjak tinggal di rumah ini, terselip satu beban pikiran yang topiknya selalu berubah setiap hari, namun subjeknya selalu sama; Gu.

Kejadian kemarin—dan beberapa hari sebelumnya—tidak membuatku membuang kebiasaan tersebut. Yah, aku ingin, awalnya. Akan tetapi, begitu air panas menyentuh bubuk kopi murah di dalam cangkir, aku langsung teringat pada iris hantu gentayangan tersebut. Hangat dan berkilat. Aku benci mengakuinya, tapi Gu seringkali tampak lebih hidup ketimbang aku.

Pantulan di kaca jendela kusam balik menyorot prihatin. Kini kantung mataku hampir mirip dengan Gu. Jemariku menyapu ringan bekas kemerahan di leher.

Bohong jika aku tidak kalut. Terlalu banyak bukti yang menunjukkan bahwa kejadian semalam nyata adanya. Sekeras mungkin aku menyangkal, sosok itu benar-benar Gu.

Bagaimanapun, hantu tetaplah hantu. Jahat dan mengerikan. Aku tertegun pada pemikiran tersebut. Nyeri yang berpusat di dada menyebar hingga tenggorokanku menyempit.

Aroma kopi merayap cepat di hidung. Dadaku menggembung beberapa detik, kemudian mengempis perlahan. Tatapanku dialihkan pada pusaran gelap di tengah cangkir. Bayanganku terdistorsi. Sama seperti pikiranku.

Kalut memang ada. Namun, tidak bisa dipungkiri, rasa penasaran turut membayangi. Akan lebih mudah apabila Gu bersikap seperti monster hingga akhir. Akan tetapi, makhluk sialan itu harus menutup aksinya dengan sesuatu yang menyayat hati sekaligus menimbulkan teka-teki yang mengusikku sepanjang malam.

“Hai.”

Suara berat itu. Apakah halusinasi?

Kepalaku berputar. Berdiri di celah sempit antara kulkas dan dinding, Gu buru-buru menunduk ketika tatapan kami bertabrakan. Punggungnya melengkung. Ia seolah ingin terlihat kecil.

Aku membalikkan badan sembari melipat tangan di depan dada. “Hai?”

“Aku…” hening. Gu menggigiti bibirnya. Bola matanya bergerak panik ke kiri dan ke kanan, namun tidak pernah menemuiku. Alisnya berkerut-kerut. “Aku… maaf. Nggak. Maaf nggak bisa ngebenerin perbuatanku semalen. Tapi, aku minta maaf. Aku nggak tahu kenapa aku bisa begitu lagi. Biasanya—biasanya aku cuma begitu kalau nggak ada kamu. Dan… dan… biasanya bisa aku kendaliin. Tapi—aku… aku nggak tahu…”

Seluruh kalimatnya tumpang tindih. Semuanya diucapkan dalam suara tercekik, seolah pria itu baru saja menelan tikus mainan. Menggelikan, namun menyesakkan. Dari kejauhan, aku bahkan bisa melihat air yang membanjiri pipinya, jatuh bergantian namun tidak pernah sampai ke lantai.

“Lu nggak tahu kenapa lu bisa berubah jadi…” aku melipat bibir sejenak, “monster?

Gu memeras mata pada pilihan kataku. Alisnya menyatu di atas. Pilu pada raut wajahnya semakin kental.

“Maksudku, aku kadang emang begitu kalau lagi nggak… stabil,” ucapnya. “Tapi nggak pernah lama. Dan, bisa aku kendaliin.” Sendu membumbui jeda di antara kalimat Gu “Mungkin… mungkin karena aku udah kelamaan jadi hantu…”

Oh, aku pernah mendengar teori itu. Tentang hantu yang berubah jahat seiring berjalannya waktu. Sejatinya memang mereka tidak boleh berlama-lama terikat di dunia. Dari kegugupan Gu, aku ragu ia mengadopsi teori tersebut hanya untuk berbohong.

“Lu selalu… menyetubuhi orang? Tiap berubah gitu?”

“Nggak. Nggak pernah, malah. Biasanya aku cuma berubah… bentuk.” Gu melirikku singkat dan aku teringat pada wujudnya semalam. “Tapi, nggak tahu kenapa, kemarin kayak ada dorongan aneh begitu liat koper kamu. Kayak… apa, ya. Aku ngerasa kayak anjing yang dilatih untuk begitu setiap dikasih pemicu, walaupun aku nggak mau.”

Anjing? Pemicu? Guratan di dahiku semakin dalam. Gelenyar aneh merayap di sepanjang lenganku di pagi yang cerah itu.

Siapa yang melatihnya?

Gu kini berjongkok, semakin membola di celah sempit itu.

Lebih dari itu: apa yang terjadi di rumah ini sebelum kedatanganku?

Tidak. Tunggu. Sebentar. Aku mengerang lantang sembari menepuk dahi. Petunjuknya sudah ada sejak sebelum aku menerobos rumah Kim! Petunjuk besar yang sepertinya terlewat karena agendaku saat itu terlalu menguras nyali.

“Bego. Aduh, bego banget.” Umpatan-umpatan tersebut meluncur tanpa jeda dari balik senyumku.

Gu sepertinya khawatir. Ia membubarkan sesi mengasihani-diri-sendiri dan melayang perlahan mendekatiku. Kebingungan tergambar jelas pada rautnya. Siapapun akan bingung melihat aku tertawa sendiri sembari mengumpat, kurasa.

“K-kamu nggak apa-apa—”

“Gimana bisa kelewat, ya? Lu bilang, lunggak bisa keluar dari rumah ini? Terus? Lu beneran nggak ada yang bisa diinget? Sama sekali?” pertanyaanku dijawab gelengan lemah. Aku mengerang frustasi dan menyambar cangkir kopi. Masih panas, namun aku butuh kafein sesegera mungkin untuk meredakan pening. “Gua cuma butuh petunjuk lain untuk tahu di mana—Gu?”

Sosok itu mematung. Kedua matanya yang kelam menatap lurus pada tanganku, tanpa berkedip sedikit pun. Bibirnya membelah dan bergetar halus.

“Cangkir,” bisiknya.

Aku melirik cangkir bercorak biru di genggaman. Cangkir yang kebetulan sama dengan yang kugunakan untuk menjamu Kim. Satu dari tiga cangkir yang tidak kubuang karena kondisinya masih bagus.

“Cangkir?”

“Cangkir.” Gu melotot. Kedua tangannya mencengkeram kepala. Ia merosot di atas lantai. “Cangkir! Pantesan waktu itu aku ngerasa—aku inget! Aku ngeliat pantulanku di cangkir itu!”

“Oke! Oke, oke! Cangkir!” tanpa sadar, aku berjingkrak ringan. Seperti seseorang yang tengah menyemangati tim favoritnya. “Terus? Apa lagi?”

“Cangkir… bayangan…” Bibir Gu yang manyun bergerak ke kiri dan ke kanan. Otaknya seolah sedang memeras sesuatu. Matanya dipejamkan kuat-kuat. “Gelap. Lantai… beton?”

“Lantai beton?” sunyi mengiringi desisanku.

Lompatan semangatku terhenti begitu saja. Dalam detik-detik yang menggigit, irama lompatan tersebut beralih ke jantungku, menggedor-gedor sama paniknya. Udara yang kuhirup tidak pernah ada yang berhasil mencapai paru-paru. Seketika, tubuhku limbung ke belakang, menabrak meja dapur. Barisan rapi tegel di bawah telapak kakiku berayun ke kiri dan kanan, mengejekku. Mencemooh kebodohanku.

Aku pernah melihat lantai beton. Di rumah yang berbeda dengan denah serupa.

Ujung jemariku membeku di dalam kepalan. Entah apa yang Gu lihat di wajahku saat itu, akan tetapi, dari ekspresinya, bukan sesuatu yang menyenangkan. Hantu malang itu tampak seperti anjing yang ketakutan.

Di detik selanjutnya, aku mengulang adegan beberapa hari yang lalu. Tubuhku terasa ringan, berderap di atas lantai yang dingin. Kali ini, aku bisa merasakan semuanya. Adrenalin yang terpacu hingga puncak, knop yang dingin berputar rapuh di dalam rengkuhan tangan, dan aroma tajam dari karbol yang tidak sengaja tumpah ketika pintu ruangan itu dibanting ke dalam.

Aku mematung di ambang pintu. Ukurannya sama. Fungsinya hampir sama. Bola mataku terpaku pada satu titik, tempat rak kayu besar menjulang hingga hampir menyentuh plafon.

Fungsinya bisa jadi benar-benar sama.

Hawa dingin mendarat lembut di pundak kiriku. Tanpa menoleh, dengan suara bergetar, aku segera mengomando, “Gu, ambilin palu. Sama linggis.”

Sejengkal dariku, hanya ada kegelapan absolut. Lampu bohlam kuning hanya mampu menerangi tiga anak tangga paling atas. Sisanya seolah berada di dalam mulut monster.

Aku meneguk ludah. Monster yang sesungguhnya.

Gu berdiri di sisiku. Sama kakunya. Setelah berhasil mendorong lemari dan menghajar gembok karatan hingga lepas, tidak ada dari kami yang bersedia melangkah lebih dulu—dengan alasan yang jelas berbeda.

“Aku nggak siap.” jemari Gu menyelinap di antara celah jemariku. Sentuhan pertama kami sejak kejadian semalam. Rasanya benar-benar berbeda. Seperti menggenggam angin dingin, namun padat di saat yang bersamaan. “Aku takut.”

“Sama.” Bibir bawahku linu di bawah gigitan. Masih jelas di ingatan kondisi wanita telanjang tempo hari.

“Bareng?”

Aku memberinya anggukan kecil. Genggamannya semakin erat. Aku hanya bisa meremas senter di tanganku sebagai dukungan.

Satu tarikan napas dalam bertindak sebagai aba-aba. Pada hembusan tajam sepersekian detik kemudian, kaki kami berayun maju ke depan. Bersisian, menempel seperti anak ayam. Bulatan pucat dari senter menerangi satu per satu anak tangga hingga akhirnya aku mendarat pada lantai beton yang lembab.

Dinding rubanah menggemakan kembali getaran pada napasku, beradu dengan ritme teratur tetesan air.

Masih dengan kepala tertunduk, aku melirik ke samping. Tidak ada kaki Gu di sisiku. Bocah sialan itu meninggalkanku sendiri.

“Gu!” pekikku. Lututku tiba-tiba lemas. “Si anjing malah ninggalin!”

Panik, senterku menyapu setiap sudut ruangan. Rubanah ini tampak sedikit berbeda. Ada ruang persegi di salah satu sudut dengan material berbeda—jelas hasil renovasi. Kemudian, hanya bergeser beberapa senti dari ruangan kecil tersebut, aku melihat kaki ranjang besi.

Dan di atas ranjang dengan sprei dekil itu, seorang pria kurus kering menatapku melalui iris hitamnya yang familiar, namun juga terasa asing. Rambut hitam lepek terurai berantakan, menempel pada cekungan pipi. Gemerincing lemah memutus hening kala tangannya yang terbelenggu rantai menjulur ke depan. Dia tidak bernapas.

Beberapa detik lalu, sosok transparan Gu menghilang. Kini, aku menemukannya kembali dalam bentuk yang lebih padat dan mengenaskan.

Semuanya terekam jelas. Bau antiseptik. Gema obrolan rendah. Derak tirai. Troli yang diseret tergesa. Desah napas teratur.

Di luar jendela, biru membentang tak berujung. Yang sesekali melintas hanya sekelompok burung gereja. Cerahnya luar biasa, berpendar jumawa seakan hendak membutakanku.

Seluruh teka-teki yang mengusikku mencapai garis tamat melalui satu dobrakan pintu dan sorotan senter. Lucu sekali bagaimana ternyata selama ini jawabannya bersembunyi di bawah tapak-tapak kaki kami. Bersemayam di bawah gulita rubanah, tepat beberapa meter di bawah tempatku bercengkerama, melempar diskusi setengah serius di pagi hari dan lelucon garing di malam hari.

Hanya perlu satu dobrakan pintu. Aku terkekeh pada kalimat tersebut. Hanya butuh satu aksi bersenjata palu untuk menyingkap tabir yang menyelimuti sosok hantu gentayangan bersorot ramah tersebut. Sayangnya, aku tidak siap dengan kenyataan lain yang dibawanya, bahwa pusat dari kekusutan

 ini adalah nama dari seseorang yang begitu familiar bagiku.

Dahulu, kubaca nama itu dalam emosi yang berubah tiap tahunnya. Dimulai dari kekaguman, kerinduan, hingga kebencian. Nama yang tercantum pada akta kelahiranku, yang menyiksaku dan menanamkan emosi yang tidak seharusnya dimiliki seorang anak kecil. Nama yang merupakan wujud dari kebencian yang mampu menembus segalanya, bahkan liang lahat.

Natalia.

Ketika mendengarnya, aku ingin tertawa. Sepertinya, mewariskan trauma adalah hobi Ibu.

Diiringi satu tarikan napas berat, Gu melanjutkan kisahnya. Tentang profesinya sebagai tukang kebun di rumah Ibu dan tatapan ganjil dari si tuan rumah. Waktu istirahatnya mulai diinterupsi oleh obrolan basa-basi—yang semuanya dilontarkan bersama gestur menggoda. Gu bukan pria yang tumpul. Ia jelas tahu apa yang diinginkan wanita itu.

Dan aku nanggepin obrolan dia.” Gu memamerkan senyum pahit. “Nggak seharusnya begitu. Aku tahu. Tapi, dia selalu ngasih bonus tiap mood-nya bagus. Dan aku butuh uang. Siapa yang nggak butuh uang?

Aku, tanpa sadar, mengangguk maklum.

Setelah menyambut undangan Ibu, pekerjaan Gu bertambah. Tidak hanya sebagai tukang kebun, di sela-sela waktunya ia harus menjadi penghibur sang janda. Semata untuk menambah pundi-pundi tabungan agar hidupnya menjadi sedikit lebih nyaman.

Di bulan ke sekian—Gu tidak ingat tepatnya kapan—sikap Ibu mulai berubah. Wanita itu menjadi lebih menuntut. Lebih rakus. Ibu akan menyuruh pria itu untuk singgah melebih jam kerja. Obrolan yang menggoda kini diselipi oleh pertanyaan satu arah, mengulik topik-topik pribadi. Setiap gerak-geriknya, bahkan setelah melangkah keluar dari pagar rumah, diawasi dengan ketat. Tidak menunggu waktu lama, pertanyaan Ibu berubah menjadi tuduhan yang seharusnya tidak perlu dijawab oleh Gu.

“Di mana aku. Siapa yang lagi bareng sama aku. Lagi teleponan sama siapa.” Kepala pria itu menggantung lemah. Bibirnya bergetar. “Suatu hari dia nyuruh aku untuk temenin dia minum teh di dapur. Aku nerima tanpa curiga. Kenapa aku nerima tanpa curiga?”

Jeda beberapa saat. Gu sedang mencari jawaban untuk pertanyaannya sendiri dan aku sedang berusaha mati-matian agar menjadi satu-satunya di bilik itu yang tidak menangis. Mungkin di saat seperti ini, kalimat seperti “bukan salahmu” adalah respon yang tepat. Akan tetapi, apakah aku berhak mengatakannya? Ketika aku pun mengutuk diriku selama bertahun-tahun atas kesalahan yang bukan milikku?

Setelah itu, aku nggak inget apa-apa. Yang aku tahu cuma… hidupku habis itu berpusat di ruangan itu. Di atas kasur.

Tanpa bisa ditahan lagi, tubuh Gu bergetar. Tangannya yang transparan bergerak rapuh menyeka air mata yang tidak kunjung berhenti. Aku tidak bisa melakukan apapun. Ada dosa yang bukan milikku, namun sama membebaninya dengan dosaku sendiri. Kepalaku menunduk dengan kedua tangan mengepal erat di atas lutut, bak penjahat dalam pengadilan.

Butuh beberapa saat bagi Gu untuk menghentikan tangisannya. Terlalu mendadak dan terpaksa. Aku pribadi tidak keberatan apabila ia butuh seharian—atau bahkan seminggu—untuk menenangkan diri. Pemikiran yang sungguh bodoh.

Aku nggak tahu udah berapa lama di bawah sana. Pagi, siang, malem—semuanya sama. Cuma diisi sama nafsu dia. Di satu titik, aku akhirnya nyerah. Aku nggak lagi nyoba kabur, atau nebak-nebak ini jam berapa. Atau berusaha tetep waras sepanjang dia ngelatih aku sesuai keinginan dia.” Gu menarik ingus. “Tapi, tiba-tiba, dia hilang. Nggak pernah muncul lagi dan… dan aku… aku ditinggal. Sendirian. Di bawah sana.

Di waktu-waktu pertama, Gu bertahan hidup dari makanan kaleng dan berbungkus-bungkus camilan yang sengaja disediakan Ibu. Setelah bahan makanan tersebut habis, ia hanya bisa mengandalkan air kamar mandi yang keruh.

“Dia nggak pernah muncul lagi karena ternyata dia mati! Oh, enak banget dia bisa mati kayak gitu! Wanita sialan itu—” Bibir Gu mengatup mendadak. Bola matanya bergulir takut-takut padaku. “Maaf, aku…

Nggak.” Tanganku meraih lengan Gu. Dinginnya menjalar hingga tulang. Aku membandingkan dengan tangan yang kugenggam beberapa hari lalu dan, karenanya, sesal semakin rakus menggerogoti. “Gue yang minta maaf. Semua ini… salah gue. Gue nggak tahu kalau—

Gu mendengus jengkel. Begitu yakin perhatianku sudah kembali padanya, ia menyunggingkan senyum yang membuat tenggorokanku semakin tercekat. Sesekali apa yang aku pikirkan: bahwa Gu lebih layak hidup dibandingku. Senyumnya, meski sendu, nyatanya jauh lebih cerah dari langit di belakang kepalanya.

Dan itu juga menjadi hari terakhir aku berbincang dengan Gu. Semuanya telah kembali pada tempat yang semestinya. Sudah seharusnya.

Meski duka tidak pernah pergi. Ia menumpuk, menjelma menjadi sesuatu yang lain.

Hari ini, di depan gundukan tanah basah, ia menjelma menjadi rasa syukur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *