
Josephine duduk anggun di sofa. Lingerie satin berwarna marun terlihat tanpa celah—membentuk dada tanpa bra—kontras dengan kulitnya yang seputih salju. Warna serupa ikut menyampul bibirnya yang erotis dan cantik. Duduk ia sambil menyilangkan kaki—menunggu suaminya pulang.
Wajahanya memang cantik, sangat.
Kendati kabar yang dibawa pengawalnya begitu memuakkan, namun wajah itu tetap tenang. Wajah cantik yang seakan sudah di desain untuk satu ekspresi tiap otaknya memerintah siaga—bertahan.
Katanya, suaminya sedang bercinta di kantor dengan seorang client dari luar negeri. Kabar semacam itu bukan hal besar, bukan hal baru. Pun, tidak terlalu membuat kaget. Tentu saja karena sudah terlalu sering terjadi.
Josephine tetap duduk tenang. Tubuhnya seharum mawar yang baru mekar. Kulitnya sehalus awan. Tidak ada yang salah, Josephine tahu tidak ada yang salah dengan dirinya hingga harus memperbaiki diri demi keparat yang memang bertabiat setan.
Sebenarnya memang seperti itu jauh sebelum mereka menikah dan sialnya Josephine tidak tahu. Pria itu membungkus diri kelewat indah seperti Dewa tanpa celah.
Dan jika ia membuka suara, jika Josephine protes, hasil akhir adalah ia akan di pukuli sampai sekarat, atau di bunuh. Bukan sekali dua kali ia nyaris meregang nyawa ketika tak terima dengan segala sikap suaminya. Maka, yang bisa dilakukan hanya bertahan sambil mencari akal untuk keluar.
🐾🐾🐾🐾
Lima tahun yang lalu, saat Josephine berusia 22 tahun, Josephine berhasil membawa pulang piala oskar dalam kategori gadis muda cantik dan berbakat serta menginspirasi para perempuan-perempuan di luar sana karena berhasil menggabungkan bisnis dan gerakkan sosial, menciptakan lapangan kerja aman bagi perempuan korban kekerasan.
Josephine mendirikan perusahaan brand fashion yang semua pekerjanya merupakan korban kekerasan seksual, perempuan terlantar atau perempuan yang tidak memiliki akses bekerja. Josephine tidak hanya memberikan pekerjaan, melainkan mengarjakan skill, memberi tempat tinggal sementara, juga membantu para perempuan untuk memiliki identitas dan kehidupan layak.
Begitu banyak yang mencintainya. Wajah cantik itu diimbangi budi pekerti tinggi.
Tentu saja kegiatannya sukses berkat dukungan orang tua—lebih tepat ayahnya, orang tua satu–satunya setelah ibunya meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu akibat serangan jantung. Pun satu laki-laki turut menjadi penyokong besar; suaminya sekarang.
Pria kaya raya. Josephine awalnya tidak tahu bagaimana semua ini dimulai. Maksudnya, Andreas.
Pria itu terlalu dekat dengan ayahnya, terlalu akrab hingga jauh lebih akrab ketimbang diri sendiri dengan sang ayah. Jika saja bukan karena teh hijau yang gagal di bawakan pelayan ke kamar ayahnya karena pelayan menerima panggilan dan Josephine yang menggantikan—ia tak akan tahu–bahkan Andreas menginap di kamar ayahnya sembari membicarakan bisnis berikut tetek bengek yang enggan ia pelajari.
Itu terlalu janggal untuk ukuran rekan bisnis.
Andreas merupakan pria kaya raya. Naik ia sebagai pemilik perusahaan besar setelah ayahnya pensiun dini akibat stroke. Entah bagaimana awal mula ia mengenal ayah Josephine dan menjadi rekan yang pelan-pelan berubah menjadi kekeluargaan. Mereka saling bahu membahu, begitu erat, hingga tak terpisahkan.
Bukan, Josephine bukannya bodoh atau tidak peka terhadap situasi. Ia tahu Andreas menyukainya. Pria tampan itu tidak terang-terangan mendekatinya, tapi tidak juga membuat risi. Caranya mendekat sangat halus dan begitu keren.
Andreas tidak melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan pria jatuh cinta. Tidak membuat Josephine risi, tidak melakukan hal-hal klise. Pria itu hanya membantu, ikut menyokong kegiatan Josephine serta mendukungnya lewat sponsor. Segala hal yang menyangkut Josephine, pria itu ada di baliknya. Dengan senyum sempurna dan pembawaannya yang gagah. Siapa yang tak akan jatuh cinta pada billionaire muda itu?
Semuanya terjadi begitu saja bagai air mengalir.
Bukan, ayahnya tidak memintanya untuk menikah dengan Andreas atau sejenis hubungan perjodohan yang biasa dilakukan orang-orang kaya untuk menyambung bisnis mereka. Tidak seperti itu, namun Josephine sendiri yang perlahan mulai jatuh cinta pada pria itu. Pada karismanya yang memukau, pada cara pria itu menyelesaikan masalah, pada caranya berbicara dan pada tenang si pria yang memeluknya tatkala pelik merubungi.
Andreas ada sebagai bentuk pria idaman yang seolah keluar dari karakter fiksi.
Pria yang baik hati, bertutur lembut, pintar, kata-katanya selalu membuat siapa saja terpesona. Juga uangnya yang tak terhingga. Pria itu digandrungi banyak gadis-gadis. Menjadi ikon yang lumayan populer dari beberapa kandidat di atasnya sebagai pengusaha muda yang tampan dan baik hati.
Siapa saja akan setuju bahwa Andreas dan Josephine merupakan perpaduan sempurna. Satu gadis dengan kecantikan luar biasa, berwawasan luas, kaya raya, juga turut sebagai simbol perempuan kuat yang memberikan banyak harapan untuk para perempuan malang. Sementara Andreas merupakan pria baik hati yang membangun yayasan anak yatim serta panti jompo secara gratis untuk kalangan menengah sampai menengah ke bawah.
Terlalu sempurna.
Hingga dua tahun hubungan mereka berjalan tanpa benar-benar melabeli ikatan mereka sebagai pasangan kekasih. Baik Andreas atau Josephine. Keduanya hanya berjalan di garis lurus. Kegiatan mereka lebih banyak dihabiskan untuk saling bertukar pikiran. Menyambangi banyak tempat untuk donasi dan kegiatan amal. Tidak benar-benar ada bagian di mana mereka makan malam romantis berdua. Apalagi kegiatan fisik yang normal di lakukan muda mudi yang sama-sama jatuh cinta.
Hingga datanglah hari dimana Andreas melamarnya.
Wajah gugup. Senyumnya malu-malu dan salah tingkah, Andreas melamarnya di hadapan banyak anak-anak yatim piatu. Pria itu memberikan seikat bunga lily dari taman yang diikat dengan serabut tumbuhan lain—hasil meminta bantuan anak-anak. Acara melamar yang romantis dan sederhana. Josephine tidak memiliki alasan menolak, tidak ada. Pria itu adalah tipenya. Seluruh gambaran pria impian ada pada Andreas. Pria itu sempurna.
Lalu acara pernikahan mereka di gelar begitu mewah, begitu glamor dan megah.
Tamu undangan nyaris mencapai empat ribu. Acara diadalakan hampir satu bulan penuh. Barangkali, Josephine bisa mengkategorikan acara itu sebagai pengalaman paling konyol sepanjang hidupnya.
Bayangkan.
Setelah pernikahan yang memakan biaya hampir setara dengan membangun satu kompleks perumahan, di tambah bulan madu mereka yang juga merogoh kantong tak sedikit, Josephine harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ternyata, Andreas memiliki kekasih lain yang di simpan rapat-rapat dalam rumah sederhana di tempat paling sudut di kota itu.
Siapa yang mengira?
Semua terbongkar setelah tak sengaja pada tengah malam, Josephine terbangun dari tidur dan menemukan ponsel suaminya terus berbunyi tanda pesan masuk. Lalu ia membaca semua hal—yang seharusnya tidak pernah ia baca. Meski setelah itu, semuanya makin gila.
Seorang perempuan berusia 16 tahun. Perempuan cantik jelita.
Josephine tak langsung menodong Andreas dengan segudang pertanyaan atau meledak-ledak–tidak. Josephine tidak seperti itu. Ia justru meminta salah satu pengawalnya untuk mencari tahu tentang wanita simpanan suaminya.
Sakit, alangkah bohongnya jika ia tidak terluka.
Josephine stress. Ia tidak bisa tidur dengan layak. Tiap suaminya meminta berhubungan, ia terus menolak dengan berbagai alasan–pun Andreas tak pernah memaksa. Karena Josephine tau, tidak terlalu penting hubungan seksual dengannya saat pria itu sendiri memiliki wanita lain di luar. Ia merasa jijik.
Yang menjadi masalah adalah seluruh aset kekayaan ayahnya, jatuh ke tangan Andreas. Josephine benar-benar tidak mengerti kesepakatan apa yang telah mereka lakukan. Pun, ayahnya tidak pernah membicarakan apapun tentang harta pada satu-satunya anak—Josephine. Jika ia mengajak diskusi, ayahnya akan mengatakan bahwa Andreas akan mengurus semuanya dan ia hanya perlu duduk manis dan hidup sejahtera tanpa sibuk bekerja dan memikirkan harta. Bahwa, Andreas akan menjamin semuanya sampai ia mati.
Hidupnya diserahkan pada Anderas. Bahkan perusaah fashion yang ia bangun–meski modal dari sang ayah—entah bagaimana caranya, kini menjadi hak milik Andreas. Semuanya. Josephine tidak memiliki apapun selain uluran tangan dari suaminya–bahkan atas harta ayahnya. Itu adalah hal tergila. Paling konyol setelah pernikahan edan yang habis-habisan.
Maka, di tahun pertama pernikahan mereka, Josephine baru merasakan bagaimana rasanya hampir mati diinjak-injak. Diinjak secara hafiah—dimana ia jatuh terjerembab akibat dorongan keras, lalu kaki Andreas naik menginjak tubuhnya. Juga dihina, dicaci maki dan segala hal gila yang tak pernah ia dapatkan seumur hidupnya. Tentu saja setelah ia protes akan perselingkuhan yang tak hanya dilakukan sekali dua kali. Melainkan terlalu sering. Ditambah lagi cara pria itu meminta berhubungan seksual yang menolak menggunakan pengaman setelah mencelupkan penisnya ke sana ke sini. Josephine hanya takut terkena penyakit menular seksual.
Namun saat menyuarakan itu, yang di dapat adalah pukulan tanpa diukur. Ditendang, pernah beberapa kali ia dikurung dalam kamar tanpa diberi makan berhari-hari. Josephine hanya mengandalkan air dalam kamar mandi untuk hidup.
Jangan tanya ayahnya. Sebelum mati, tentu saja pria itu masih ada, masih hidup. Namun semenjak pernikahannya dengan Andreas, sang ayah seperti tidak lagi peduli pada anak perempuannya. Seolah, bersama Andreas artinya tak ada lagi urusannya ikut campur apapun yang terjadi. Pula tak bertahan lama, bertepatan usia pernikahan ke delapan bulan, ayahnya mati kecelakaan. Tidak ada penyelidikan lanjutan, semuanya seperti hilang begitu saja. Dan kini, hidup Josephine benar-benar kacau. Ia hanya bisa menuruti kemauan Andreas sambil terus memutar otak agar bisa keluar karena pria itu tak mau menceraikannya dengan alasan yang rumit—barangkali ini ada hubungannya dengan seluruh harta yang dikeruk secara serakah. Josephine tidak mengerti. Tiap mengajak cerai, Andreas akan mengamuk—seperti biasa.
Ia juga pernah merundingkan secara halus, baik-baik dan menggunakan bahasa sesantun mungkin dengan pria itu–bahwa ia tidak akan menggugat harta sepeser pun asal mereka bercerai. Josephine hanya ingin bebas dari rumah itu, juga karena geraknya yang serba terbatas mirip tahanan. Bersumpah-sumpah ia tak akan meminta uang, tak akan menyebarkan apapun yang terjadi pada dirinya di rumah itu. Bahkan Josephine tidak masalah jika harus pergi ke luar negeri dan tidak pernah kembali. Asal Andreas mau melepaskannya, namun pria itu kukuh.
Ia ingin Josephine bersujud di kakinya, merendahkan diri, menganggapnya Dewa serta selalu tampil cantik untuk kemudian menyembahnya seperti tuhan. Sejauh ini, itu yang ada di kepala Josephine. Andreas hanya pria sinting yang gemar memperlakukan wanita seperti budak sahaya. Meski ia masih bersyukur pria itu masih memberinya hak sebagai Nyonya di rumah.
Katanya, wanita hanya makhluk rendahan yang tak boleh bersuara. Wanita cukup di ranjang saja, bersolek dengan cantik sambil menyambut suaminya pulang. Wanita tidak boleh bekerja apalagi sukses dan mandiri karena hanya akan membuat kerusakan dan kesuksesan bukanlah jalan untuk perempuan.
Padahal, awal pendekatan mereka, Andreas begitu mendukungnya. Banyak mengatakan hal-hal keren hingga memotivasi Josephine. Tak tau isi hati manusia. Hingga puncak dimana ia benar-benar melihat Andreas sebagai sosok gila yang tak tertebak isi kepalanya. Atau beberapa orang yang mengenalnya menyebut pria itu sebagai misoginis. Andreas adalah patriarkal berkombinasi dengan misoginis. Itu terlalu sempurna.
🐾🐾🐾🐾
Sang pengawal masih berdiri di hadapan. Kepalanya tertunduk sementara dua tangannya terpaut ke belakang. Lepas ia memberikan informasi yang diminta sang majikan, Josephine tak segera memerintahnya untuk keluar.
“Dia benar-benar akan pulang, kan? Atau pergi ke tempat gadis lain? Aku lelah sekali, pinggangku sakit” Josephine menarik napas. Postur tubuh yang tegap dan selalu anggun selalu saja berhasil membuat punggungnya yang banyak memar makin pegal dan tidak nyaman. Sang pengawal mengangkat wajah sedikit sebelum menjawab.
“Tuan bilang, dia akan pulang setelah selesai” jawabnya tegas. Josephine mengangguk-angguk. Jika mengatakan akan pulang setelah beberapa hari tak pulang, maka, Josephine harus menyambutnya, harus berdandan cantik dan wangi. Tidak peduli pria itu lepas bercinta dengan monyet atau setan di luar sana. Jika Andreas melihatnya dalam kondisi santai dan berantakan, maka, memar yang kemarin belum hilang, akan bertambah jumlahnya. Atau barangkali makin parah karena pukulan yang diulang pada tempat yang sama.
Josephine mengangguk.
Tidak ada rahasia antara dirinya dan satu pengawal yang seperti anjing penurut. Bedanya, tentu saja semua orang di rumah ini berpihak pada Andreas. Andreas tau bahwa Sam, pengawal yang kini berdiri di depan Josephine—sering membuntuti dan mencari tahu tentangnya. Kendati, tak akan berpengaruh meski sang pengawal mengadu. Josephine tidak akan mendebat apalagi protes. Tidak ada yang bisa membangkang. Semua yang ada dalam genggaman pria itu artinya berada di bawah kontrolnya.
Lalu pelayan tergopoh-gopoh datang—memberitakan bahwa Tuan mereka sudah sampai—setelah selesai bekerja keras—juga bercinta dengan siapa saja yang bisa di ajak bercinta.
Menjijikan.
Sungguh. Josephine sangat jijik hingga tidak tahu lagi harus dengan apa menggambarkan kebenciannya. Dan bagian paling sulit adalah peran. Perannya yang harus selalu bersikap lemah lembut, tersenyum manis, harus selalu memuja pria itu, harus merangkak di bawah kaki dan terus bersikap seperti anjing. Pun, sudah bersikap begitu, belum tentu akan diterima dan tidak di pukuli.
Tidak tahu. Entah sejak kapan. Semuanya semakin terasa menjijikan.
Pengawal mundur sebelum benar-benar keluar.
Tubuh Andreas menjulang nyaris memadati kusen pintu. Dasinya terlihat longgar dengan rambut agak berantakan. Naik turun matanya menatap istrinya yang kini perlahan bangkit mendekat.
Satin marun begitu cantik. Kulit putih Josephine berkilau di bawah lampu—seolah memancarkan sparkle begitu indah. Aroma mawar menyesaki pernapasan, wanita itu begitu ayu. Senyumnya naik tinggi—menampilkan deret gigi rapi yang begitu bersih. Semua yang ada pada pada Josephine begitu memikat.
“Akhirnya pulang” wanita itu menunduk, lalu mendongak “boleh aku bantu lepas dasi? Kau pasti lelah, kau sudah bekerja dengan sangat keras” katanya lagi. Andreas tidak menjawab dan Josephine mengartikannya sebagai persetujuan.
Mata pria itu turun menatap wajah, bibir, dan hidung cantik istrinya. Josepine sedang melepas dasi.
“Berapa hari? Aku selalu saja merasa khawatir saat kau tidak di rumah. Anehnya, aku merasa aman dan lega saat kau ada di sini meski tidak benar-benar bersamaku. Seperti aku benar-benar bergantung hingga mungkin akan menyusahkanmu” suaranya begitu lembut dan stabil. Andreas tersenyum.
“Kau tahu apa yang baru saja aku kerjakan sebelum benar-benar pulang” kata pria itu, berusaha membuat Josephine tak lagi berpura-pura manis. Meski sang istri sudah jauh berubah—maksudnya, setahun terakhir tepat di tahun ke tiga pernikahan mereka. Josephine tidak pernah lagi marah. Wanita itu tidak pernah protes, tidak menyangkal, tidak melawan dan cenderung penurut serta selalu menyesaki egonya yang tinggi. Josephine sangat manis hingga kerap membuat Andreas bingung.
Terakhir ia memukuli Josephine adalah empat hari yang lalu. Tepat saat wanita itu terlambat datang saat punggungnya gatal minta digaruk. Josephine sedang buang air kecil dan tidak mungkin menunda air seni yang keluar untuk memenuhi panggilan pria itu. Maka, Andreas memukulinya brutal hingga seluruh tubuh wanita itu memar bahkan sulit bangun.
Setelah itu, Andreas pergi dan baru kembali malam ini. Kendati, Josephine tidak pernah marah—karena tidak boleh marah atau ia akan mati. Josephine menerima pria itu dengan sangat cantik seperti malam ini.
“Aku tau, tapi aku senang karena tetap menjadi rumah. Urusanmu di luar, itu adalah urusanmu. Aku hanya akan melayanimu dengan sepenuh hatiku saat kau ada di rumah” jawab sang istri—masih begitu lembut dan manis. Andreas lantas tertawa. Tawanya membahana dan meledak-ledak. Lantas, ia kecup pucuk kepala Josephine.
“Aku suka sekali denganmu. Kau adalah istri idaman. Aku akan menua bersamamu, kau…” Andreas menatap dalam ke mata “teruslah seperti ini, aku suka sekali” katanya lagi. Ia masih tertawa.
Si wanita ikut tersenyum “mau makan? Atau sudah?”
“Aku sudah makan, hanya ingin mandi, tolong pijat tengkukku sambil mandi” pria itu menghilang di balik pintu toilet. Josephine mengembuskan napas lega.
Tiap berhadapan dengan Andreas, ia seperti menahan napas hingga eksistensi itu kembali menghilang. Salah bicara sedikit saja, maka tamatlah sudah.
Josephine baru saja menggulung rambutnya naik sebelum akan menyusul masuk, namun suara pecahan kaca terdengar nyaring—mengangetkan begitu keras. Wanita itu masuk buru-buru.
Ia tidak bertanya. Tidak akan ia mengeluarkan suara sedikit pun. Josephine segera merangkak—masuk seperti anjing. Tak berani ia mendongak. Andreas sudah berendam dalam bathtub sementara kaca yang berjarak hampir tiga meter di dinding—pecah berkeping-keping. Serpihannya mirip berlian yang berserakan di atas ubin.
“Jose… aku menemukan rambut pendek dalam bak mandi… bukankah kau tidur dan mandi bersama laki-laki lain selama aku pergi, huh?” suaranya tidak tinggi. Tidak berteriak atau membentak. Josephine masih duduk di lantai sambil tertunduk.
“Jose.. katakan padaku, dengan siapa kau bercinta..”
“Aku tidak bercinta dengan siapapun, An.. aku memiliki rambut bayi di bawah poni. Aku memakai penyubur ram—”
PRANG!
Suara keras memotong penjelasan Josephine.
“Kemarilah..”
Baru wanita itu mendongak.
“Kemari, kubilang kemari jalang sialan!!!”
Josephine mendekat. Ia berjongkok di sisi bathub sementara Andreas sekonyong-konyong menjambak rambutnya keras hingga wanita itu mendongak. Tangan besar pria itu juga menyibak kasar rambut bagian depan untuk memeriksa anak rambut.
Andreas memang menemukan apa yang dikatakan istrinya. Saat ia mencocokkan rambut yang ada di genggaman—setelah ia temukan dalam bak dengan bayi rambut milik Josephine, mereka cocok.
“Kau berselingkuh dengan Sam, kan?” terlanjur jengkel meski tidak menemukan celah pada istrinya, pria itu mengarang narasi lain “wanita memang sampah, kau menghabiskan uangku untuk bercinta dengan pria lain, lalu menggunakan kamar kita untuk menuntaskan birahi kotormu! Aku akan membunuh Sam, Josephine.. Kau milikku. Sudah kukatakan beberapa kali meski kau bertingkah sinting, aku tidak akan menceraikanmu, aku akan menghukummu dan membunuh Sam”
Wanita itu tidak mengelak. Ia tidak lagi memohon agar Andreas tidak melakukan ini dan itu meski tahu jika pria itu hanya sedang dalam mood yang–tidak tahu, Andreas selalu saja susah ditebak. Juga, ia sudah tak menangis meski kepalanya panas saat rambutnya di tarik keras-keras.
Andreas melepskan cengkraman tangannya pada rambut panjang, lalu kembali berendam. Josephine bangkit pelan-pelan, tangannya perlahan menyentuh tengkuk suaminya lalu memijatnya lembut.
“Kau pasti lelah.. Seandainya aku bisa melakukan sesuatu untuk membuat perasaanmu membaik..” kata wanita itu, lembut. Seolah tidak pernah terjadi apapun.
“Kau jalang gila. Kau hanya sampah jika bukan aku yang memberimu tempat tinggal. Wanita di manapun adalah sampah. Sialan Josephine…” pria itu memejamkan mata—merasakan pijatan yang begitu nikmat dari istrinya.
“Kau boleh bercerita apapun. Apa gadismu hari ini kurang ajar?” tanyanya kemudian. Josephine tahu ini berisiko, jika tidak di jawab, paling-paling ia akan di tampar hingga pingsan.
Namun Andreas terkekeh. Setelah mengamuk dan mengatakan omong kosong dengan memfitnah istrinya, pria itu tertawa.
“Kau tau.. Dia sangat pemalu hingga mengangkang saja mesti kuminta dua kali. Bodoh, kurasa kepalanya rusak”
Josephine mengangguk-angguk seolah memahami apa yang dirasakan suaminya.
“Pasti menjengkelkan”
“Ya, menjengkelkan”
🐾🐾🐾🐾
Pria itu tidak main-main.
Sam benar-benar tewas dipukuli oleh kedua tangannya sendiri. Aksi itu disaksikan Josephine dan di lakukan di halaman belakang sesaat setelah mereka minum teh berdua.
Sam dipukuli tanpa ampun. Sambil mengoceh, Andreas mengatakan bahwa ia tak segan-segan membunuh siapapun yang tidak patuh. Kekuasaan ada ditangannya dan semua orang tidak boleh protes atau menyelisihi. Josephine duduk sambil menggenggam mok berisi teh hijau yang sudah dingin. Ia genggang erat-erat mok yang isinya bergetar.
“Setelah ini, hukumanmu akan menyusul, Jose. Kau tidak boleh berselingkuh.. Wanita berselingkuh pantas dibunuh, tapi aku masih memerlukanmu, maka… bersyukurlah dan tahu dirilah sedikit..” tangannya penuh darah, wajahnya juga—terciprat darah Sam.
Josephine tidak menjawab, wanita itu kemudian menunduk—memandang teh hijau yang memantulkan gambar wajahnya sendiri—penuh ketakutan yang sekuat tenaga ia tekan. Menunjukkan ketakutan hanya akan membuat Andreas makin marah, namun terlalu berani akan melukai harga diri pria yang merasa bisa menguasai dunia itu.
Josephine masih melihat bagaimana mayat Sam di angkut dengan brankar khusus. Matanya sempat mengikuti kemana tubuh tak bernyawa itu di bawa.
Jelas di kubur sembarangan, kan? Seperti mengubur kucing.
Bagi Josephine, daripada misoginis, patriarki atau ungkapan sejenis, Andreas lebih mirip orang gila dengan jenis komplikasi mental yang mengerikan.
Acara minum teh malam adalah paling mengerikan ketimbang ia harus dihukum ini dan itu karena, pasti ada nyawa melayang. Pasti ada yang menjadi korban atas hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan–melainkan untuk menyesaki kegilaan pria itu saja.
Pria baik hati yang dulu selalu mendukungnya, selalu memberikan pelukan hangat, selalu mengatakan banyak hal baik dan memberi motivasi. Tidak tahu apa yang salah, namun sifat dan sikap asli Andreas bukan jenis perilaku yang bisa dikategorikan waras dan mengerucut menjadi patriarki atau misoginis. Andreas lebih dari itu.
Selesai dengan satu mayat, satu nyawa yang melayang sia-sia tanpa dosa yang sejak tadi didikte oleh pelaku, kini, pelaku kembali menjambak rambut istrinya dengan cara menyakitkan—menyeret Josephine secara paksa masuk ke kamar. Lalu mengurung wanita itu entah sampai kapan.
🐾🐾🐾🐾
“Tuan! Astaga”
Lari ia tergopoh-gopoh di padang rumput yang luasnya membentang sejauh mata memandang. Ujung gaunnya basah terkena embun. Sol sepatunya dekil saat menginjak tanah lempung. Namun tak dihiraukan. Yang terpenting adalah sampai.
Napasnya ngos-ngosan. Dadanya naik turun dengan keringat bercucuran banyak. Wanita itu membawa tas berisi begitu banyak berkas–mendekat pada satu pria yang sibuk mencangkul tanah gembur untuk di tanami sawi.
“Awas! Jangan berdiri di sana, itu tanamanku! Ish kau ini!” sang Tuan mencebik lalu menghampiri Lilian yang tak tau jika yang ada di bawah kakinya adalah tanaman.
“Tuan… kau harus pulang, ada client penting yang terus mendesak meminta diskusi mengenai proyek baru. Calon investor!” kata Lilian dengan napas tersengal-sengal.
“Itu kan tugasmu, aku membayarmu mahal untuk itu, kenapa menggangguku terus, sih? Memangnya kau tidak becus kerja?” Sean bertolak pinggang “jangan berdiri di sana, itu tanamanku. Kau ini mau kupakai menggantikan kerbau membajak, heh? Dasar” Lilian bergeser lagi saat Sean kembali protes. Ternyata semua yang ada di kakinya adalah tanaman.
“Tapi calon investor ini sangat aneh. Dia meminta banyak hal ini dan itu membuatku bingung dan terlalu pintar beretorika. Dia akan menyuntikkan dana sekian lalu meminta benefit yang tak masuk akal. Saat kutolak, dia terus memaksa. Lalu datang lagi, datang lagi. Aku bahkan seperti di hipnotis” Lilian berusaha meyakinkan bosnya—bahwa apa yang sedang di hadapi benar-benar sulit.
“Tolak saja, pulang sana” kata Sean, jelas tidak peduli.
“Ini sulit”
“Sulit apanya?”
Lilian menghela napas dalam. Di lihatnya lekat-lekat sang bos. Pria bertato di sepanjang lengan kanan—menggunakan baju serba panjang yang digulung setengah siku khas petani berikut topi koboi—yang ini kontras meski tetap membuatnya tampan.
“Sampai kapan kau akan terus seperti ini? Astaga..” si wanita berjongkok. Dua tangannya memegangi lutut, napasnya sudah tidak terlalu terengah-engah.
Bukan apa-apa. Pria kaya raya pemilik perusahaan tiga besar di seluruh negeri lalu menaungi beberapa anak perusahaan—harusnya sibuk berkutat dengan pekerjaan di balik meja kerja. Bukan menjadi petani lalu menanam sawi sementara semua tugasnya diembankan pada orang-orang kepercayaan yang jumlahnya tak kalah banyak. Lilian salah satunya. Juga satu-satunya yang paling dekat dengan Sean karena sudah bekerja sejak ayah Sean masih memimpin.
Bayangkan saja, sebelum menjadi petani, Sean sempat menjadi tukang tambal ban di kota lain. Lalu enam bulan kemudian berganti profesi menjadi sopir taksi, lalu sempat juga menjadi satpam di salah satu bank konvensional. Banyak, sangat banyak. Pria itu bahkan pernah menjadi pengemis dan pengamen. Lilian bersumpah tidak tahu apa maksud dan tujuan. Jika ditanya, Sean hanya akan mengatakan untuk bersenang-senang agar hidupnya tidak monoton dan bosan.
Katanya, berkutat dengan pekerjaan kantor, mengurus ini dan itu, pergi pagi pulang petang hanya akan membuatnya mati muda. Maka, Sean mencoba segala hal dan bersenang-senang dengan itu. Tak ada yang tau kecuali Lilian. Orang-orang hanya menganggap Sean yang sulit sekali ditemui sebagai orang penting yang kelewat sibuk. Saking sibuknya hingga benar-benar harus membawa berita mendesak dan genting. Baru pria itu mau menemui siapapun.
Kedua orang tuanya sudah pensiun dan memilih tinggal di Eropa. Sean anak tunggal dengan ratusan orang kepercayaan yang membantunya di perusahaan. Namun ayahnya jelas masih ada di belakang layar. Pun, sang ayah tak pusing dengan pola anaknya meski sudah tau.
“Menurutmu, sampai kapan? Usiaku 29 tahun. Aku harus bersenang-senang” jawab pria itu seenaknya, ia kembali mencangkul.
“Usiaku 39, aku terus bekerja seperti orang gila sementara bosku bertani, tidak masuk akal” Lilian tak mau kalah. Lalu Sean berhenti, keringat terlihat menetes dari pelipis ke pipi–ia seka kasar dengan lengan baju.
“Kau akan jadi nenek-nenek sebentar lagi, Li, apa kau tidak akan menikah? Kasihan sekali” pria itu tertawa tanpa dosa.
“Jika saja bosku bertanggung jawab atas tugasnya, aku pasti sedang berada di rumah sejuk minimalis sambil membuat jus untuk keluargaku. Bukan lari-lari di tengah padang rumput memohon pada pria 29 tahun kaya raya namun sibuk menanam sawi”
“Seleramu saja begitu menyedihkan”
“Sean.. kumohon, pulang sebentar dan atasi orang ini, aku benar-benar putus asa”
Wanita itu lelah, lantas ia terduduk di tanah dan Sean kembali akan protes saat sawinya di duduki.
“Aku akan membuatmu membayar sawiku, Lilian..”
🐾🐾🐾🐾
Tidak, sebenarnya, Sean pulang bukan untuk menemui calon investor. Ia sudah mengirim orang lain untuk menangani itu. Pria itu kembali ke rumah karena memang sudah bosan menjadi petani. Sambil memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Apapun, apa saja. Asal tidak duduk diam di kantor sambil mengurusi ini dan itu. Ia malas.
Lilian bungkam. Calon investor telah ditolak dan semuanya beres hanya dalam sekali penolakan meski agak kasar. Sean sengaja meminta pada salah satu orang kepercayaannya yang paling garang.
Kini, pria itu merebah di sofa–bermalas-malasan.
Satu tangan memegang apel, satunya lagi memegang ponsel. Matanya bergerak cepat melihat lowongan pekerjaan pada satu aplikasi langganannya. Di sana, Sean mendapat banyak pekerjaan unik.
Pernah satu kali ia diterima menjadi tukang cuci, pernah juga menjadi penggembala sapi. Bahkan, pria kaya raya itu pernah menjadi kuli bangunan–membangun gedung yang ternyata adalah gedung miliknya di salah satu kota—cukup jauh dari perusahaan utama. Sambil mengaduk pasir, Sean mendengarkan semua hal dari kalangan bawah sampai para mandor dan bos-bos di atas mandor. Tentu saja tak akan ada yang mengenalinya. Tubuhnya yang besar dan kekar, terbentuk dari olahraga dan kerja kasar. Pun, kulitnya terbakar matahari. Pria itu memiliki banyak sekali pengalaman.
Sean menghentikan laju layar saat matanya menangkap satu lowongan pekerjaan yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Menjadi pengawal atau ajudan di rumah keluarga Andreas.
Dahinya berkerut-kerut. Nama itu seolah baru saja familiar meski Sean tetap tak menemukan pernah mendengarnya di mana.
Matanya membaca tiap abjad. Persyaratan, dan gaji. Lalu ia duduk serius, apel digigit dan dua tangannya berada di permukaan layar.
Gajinya lumayan besar—maksudnya tak sekecil harga seikat sawi, dengan persyaratan memiliki kemampuan bela diri, tubuh kekar, postur tegap, dan patuh hanya pada satu Tuan.
Sean kembali memegang apel.
Akan ia coba meski dari penggambaran, tugas ini lebih mirip seperti orang mencari anjing penjaga ketimbang manusia.
“Halo” suara Lilian terdengar dari seberang. Pukul satu malam, serak itu tak membuat Sean merasa bersalah.
“Besok aku akan mendapatkan pekerjaan baru” panggilan mati. Sean memutusnya sepihak tanpa menunggu Lilian menjawab. Pria itu dapat membayangkan wajah kesal Lilian. Juga, dengan percaya diri akan diterima menjadi pengawal di rumah Andreas.
🐾🐾🐾🐾
Berdiri ia berjajar dengan setidaknya lima kandidat.
Mereka semua nyaris mirip-mirip. Tubuhnya tinggi besar, kekar, postur tegap dan berwajah tegas. Sean berdiri paling kanan dari semua orang. Tangannya terpaut di belakang serempak. Mereka menunggu calon majikan yang akan mewawancarai untuk pekerjaan itu.
Halaman belakang selalu saja paling sejuk.
Ditanami bunga-bunga cantik, kursi taman, air mancur serta sofa-sofa yang dijajar rapi dan bersih. Mereka hampir menunggu satu jam—sebelum calon Tuan datang.
Andreas datang.
Pria itu menggunakan kaos oblong dan celana pendek. Rambutnya disisir ke belakang begitu rapi. Ketampanannya barangkali akan menyilaukan meski Sean yakin dirinya lebih tampan. Hanya kulitnya saja gelap sisa terbakar matahari menjadi petani—juga kurang perawatan karena malas.
“Selamat siang” katanya ramah. Senyumnya naik tinggi. Binar matanya begitu teduh meski jika menelisik sedikit saja, kelamnya seperti akan menyesatkan.
Lima orang berdiri tegak–serempak mengucapkan selamat siang, lalu kembali menautkan tangan mereka ke belakang. Sean tidak tahu mengapa dirinya dan empat orang lain bisa sekompak itu. Padahal tidak ada persiapan. Hanya spontanitas.
Andreas menatap lima orang naik turun—jelas meneliti. Tiap satu orang—setidaknya pria itu melihat selama sepuluh detik naik turun. Mereka–lima orang hanya diam seakan turut menahan napas, kecuali Sean.
“Bisa pukul orang?” tanya Andreas kepala kandidat paling kiri. Pria yang ditanya langsung mengangguk “punya istri?” sang kandidat mengangguk. Andreas ikut mengangguk. Lalu ia bertanya tentang keluarga, jumlah keluarga serta hal-hal yang menyangkut keluarga pada calon ajudannya. Semua orang nyaris serempak menjawab hal yang sama atau mirip-mirip kecuali Sean yang mengaku bujangan dan hidup sebatang kara di gubuk derita.
Tidak selama saat menunggu pria itu datang, Andreas langsung memutuskan.
“Kau, kau terpilih, mulai hari ini, jadi pengawal istriku” katanya, yakin. Sambil menunjuk Sean. Yang dipilih begitu senang kegirangan. Dari dalam, seorang wanita keluar.
Tubuhnya kurus, namun kecantikannya tidak akan tergeser oleh berat badan yang menurun signifikan. Wajah ayu dengan proporsi sempurna, membuat wanita itu tampak begitu memikat. Sungguh, kecantikannya sulit diabaikan. Siapa saja yang melihat, akan bertahan beberapa detik untuk menikmati wajah indah milik Josephine.
“Jose, ini pengawal barumu” kata Andreas pada istrinya, tepat saat Josephine mendekat. Pria itu langsung merangkul pinggang secara intim, sementara Josephine terseyum ramah pada Sean. Mereka berkenalan, berjabat tangan. Lalu Andreas mulai memaparkan syarat dan ketentuan. Mereka berbicang bertiga di sofa dengan serius.
Dan bagian paling serius selain kecantikan Josephine yang sejak tadi mengganggu fokus Sean adalah tentang peraturan yang dibuat Andreas.
Andreas meminta agar ajudannya berpihak padanya apapun yang terjadi. Semua itu dikatakan di depan istrinya–seolah-olah mereka akan menjadi musuh sewaktu-waktu. Seakan, Josephine adalah seseorang yang berpotensi untuk menyerang. Andreas juga mengatakan untuk ini dan itu, lalu konsekuensinya adalah kematian.
Jika ditelaah, Sean jadi mengerti alasan ia yang terpilih dari pada empat orang yang sebenarnya berpotensi besar. Andreas jelas mencari pria tanpa keluarga yang sebatang kara untuk… mungkin—jelas, untuk merealisasi ancaman pembunuhan jika terjadi pengkhianatan. Meski terdengar seperti tidak serius—saat Andreas mengatakannya sambil tertawa, namun Sean yakin itu serius. Bertemu dengan banyak orang membuat Sean banyak mengerti perangai orang.
“Mohon kerjasamanya untuk menjaga istriku. Aku sungguh sibuk. Perusahaan dengan segudang pekerjaan, pertemuan sana sini serta banyak hal lain membuatku kesulitan menjaga istriku yang cantik. Dia tidak pernah banyak berpergian jika tidak krusial, tapi aku sangat mencintainya hingga takut terjadi sesuatu. Maka, aku mengandalkanmu, Sean” kata Andreas sambil menjabat tangan Sean.
Sean mengangguk-angguk, menatap Andreas yang berwajah cerah, lalu gantian pada Josephine yang tersenyum tak sampai mata.
🐾🐾🐾🐾
Hari pertama bekerja sungguh-sungguh membosankan.
Sean hanya berdiri di depan pintu kamar Josephine seharian. Benar, seharian. Sejak pagi hingga pukul delapan malam, ia hanya berdiri hingga kakinya kebas dan kesemutan. Ada jam istirahat untuk makan sebentar, lalu ia kembali berdiri di sana tanpa tahu harus melakukan apa. Kata pelayan yang lain, pekerjaannya memang hanya berdiri saja. Jika Josephine keluar, baru ia akan keluar. Atau saat si Nyonya memberinya titah untuk ini dan itu. Pun, Andreas sudah lebih dulu memintanya untuk melaporkan apapun yang dilakukan istrinya. Meski hanya laporan dengan apa wanita itu makan siang. Sean wajib melapor segalanya.
Lalu, tepat pukul sembilan malam kurang sedikit saat jam kerjanya akan berakhir tiga jam lagi, tiba-tiba Josephine menelepon dan memintanya masuk ke kamar.
Ini pertama kalinya, hari pertama. Tentu saja ia bingung—juga canggung. Namun Sean memenuhi panggilan. Berdiri ia di depan wanita yang duduk di sofa. Dua kakinya menyilang. Kali ini, Josephine mengenakan satin berwarna hitam begitu ketat dan membentuk lekuk tubuh. Kulit terangnya seakan membias cahaya membentuk sparkel yang berkelap-kelip.
Namun daripada keindahan serta kemolekan tubuh yang benar-benar indah, Sean lebih fokus pada memar-memar yang nyaris rata.
Benar, memar itu merata dari tulang selangka, atas dada, lalu ke lengan atas hingga bahu dan pundak. Memar ungu begitu terang–kontras dengan kulitnya yang begitu putih. Wajahnya terlihat tenang meski manik itu jelas menginterpretasikan rasa lelah dan putus asa. Apa yang seseorang lakukan pada wanita itu? Sean merasa ngilu.
“Apa dia pulang malam ini?” tanya Josephine hampir menyerupai bisikan. Yang ditanya baru meneleng—ditarik sadar dari lamunan.
“Maaf, Nyonya, bisa diulangi? Aku tidak mendengar suaramu” kata Sean sambil nyengir, ia lantas mengorek telinganya. Takut ada yang salah dengan pendengaran, atau memang Josephine yang bersuara kelewat kecil.
“Apa Andreas akan pulang malam ini?” Josephine mengulang pertanyaan. Suaranya lebih besar–meski masih lembut. Bukan lembut, lebih tepatnya lelah. Josephine mirip orang terlalu lelah.
“Ah.. Tuan bilang, baru bisa kembali dua atau tiga hari lagi. Apa ingin aku cek lagi jadwal Tuan Andreas untuk Nyonya?”
Josephine menggeleng “tidak perlu” ada segurat rasa lega memenuhi wajah itu. Sean terus memperhatikan–bahkan detail terkecil. “Kau boleh istirahat, Sean” kata wanita itu lagi.
“Masih tersisa tiga jam untukku. Aku akan pergi setelah tengah malam dan Nyonya bisa melibatkanku untuk perkara apapun meski sudah lewat tengah malam” Sean melihat Josephine diam beberapa detik, sebelum matanya kembali berlabuh.
“Akan sangat senang jika kau pergi dari rumah ini, lalu mencari pekerjaan lain. Kau harusnya pergi, tempat ini mengerikan” kata-kata Josephine membuat Sean mengernyit sebentar. Ada keraguan di wajah ayu itu sebelum tubuhnya bangkit dari sofa “aku ingin kau mencaritahu dengan siapa Andreas bercinta selama pergi. Aku harus mengantisipasi penyakit menular seksual meski dia nyaris tak pernah menyentuhku hampir 2 tahun”
Itu juga aneh dan jelas hal tabu. Sean tidak mengira bahwa ia akan mendengar kata-kata itu dilontarkan kelewat tenang dan enteng.
Bercinta dengan siapa?
Ketakutan penyakit seksual menular?
Tidak menyentuh hampir 2 tahun?
Bukankah kata-kata itu terlalu privasi? Juga, bagian Andreas yang tidur dengan siapa adalah paling mengusik. Sean lalu merangkumnya menjadi sesuatu yang liar di kepala bahwa; Andreas adalah tukang selingkuh dan rumah tangga mereka jelas tidak harmonis. Sean si bujangan yang nyaris tak pernah berkencan setelah hubungannya kandas dengan yang terakhir—tiba-tiba mengurusi rumah tangga orang meski hanya di kepala, dengan spekulasi liar.
“Jadi maksud Nyonya, sekarang aku harus membuntuti Tuan?” tanya Sean memastikan. Josephine sudah naik ke ranjangnya, wanita itu lebih dulu menggunakan baju panjang di depan Sean tanpa sekat meski tetap menggunakan satin yang sebelumnya. Josephine mengangguk.
“Cari tahu, dengan siapa saja dia tidur dan laporkan padaku” katanya, seolah mengakhiri semua “tolong matikan lampu saat keluar, Sean”
Pria itu keluar sambil mematikan lampu. Langkahnya cepat dan buru-buru.

Dan benar.
Sean menemukan Andreas pergi ke club malam, lalu bercumbu dengan seorang gadis antah berantah. Posisi mereka bahkan masih saling begulat di atas sofa. Berciuman intens, sentuhan-sentuhan erotis—juga segala hal yang tentu saja siapapun tahu kemana akhirnya.
Sean sempat bertanya pada orang-orang sekitar tentang identitas sang gadis yang tengah bercumbu dengan Tuannya. Lalu satu orang memberitahu. Secepat berita Sean mengabarkan pada Josephine melalui pesan teks.

Sean memasukkan ponsel dalam saku sebelum benar-benar pergi. Pun, ia juga melapor pada Andreas jika hari ini, Josephine memintanya membuntut—meski Andreas tentu sedang sibuk—tak akan membaca laporannya cepat-cepat.
Tugasnya hari ini selesai meski benar-benar jauh dari ekspektasi. Awalnya, Sean mengira bahwa ia akan menjadi pengawal mafia yang menaungi gerbong narkoba besar atau sejenis kriminalitas yang akan membuat jantungnya berpacu seru. Namun yang didapat malah menunggu seorang wanita tanpa gairah hidup yang diselingkuhi suaminya dan… tidak yakin. Sean terlalu banyak menyimpulkan dan isinya tidak jauh-jauh dari skandal brengsek pria kaya yang terus menyakiti istrinya. Jelas, ini adalah spekulasi awal. Perilaku Andreas barangkali memiliki alasan. Bisa saja, ternyata Josephine adalah wanita mengerikan hingga membuat suaminya menggila di luar. Baru satu hari, menyimpulkan terlalu dini hanya akan membuatnya membias secara tidak adil.
Ia kembali.
Andreas memberinya tempat tidur dalam ruangan yang telah disediakan. Ruangan berukuran empat kali lima meter dengan satu kasur tipis dan toilet. Isinya ada sekitar delapan pengawal lain berikut dengan dirinya–bejubel dalam satu ruangan dengan satu kasur. Meski tidak masuk akal, namun Sean tetap terbaring di pojokkan–tepat di depan kamar mandi, berusaha tidur. Tanpa alas.
Jika Lilian tahu, wanita itu pasti akan menganggapnya gila. Seperti biasa.
🐾🐾🐾🐾
BUGH!!
PLAK!!!
Bunyi pukulan, lalu disusul tamparan keras. Setelah itu, rambutnya diseret hingga tubuh itu menyapu lantai—naik sampai lantai atas. Sean kaget bukan kepalang menyaksikan sendiri bagaimana Josephine mendapat perlakuan kelewat kasar hanya karena masalah sepele.
Sean bersumpah, ia berdiri dua meter sambil menautkan tangan ke belakang—menunggu suami istri itu makan malam.
Awalnya, Andreas bertanya apakah Josephine senang dengan hadiah yang dibawakan. Pria itu memberikan istrinya sepasang anting-anting. Lalu, dengan nada lemah lembut dan sangat santun, Josephine mengatakan bahawa ia alergi terhadap anting apalagi jenis perak. Jika dipakai, maka telinganya akan bernanah seperti jerawat yang begitu menyakitkan. Sama saja bagi wanita itu, mengatakan sejak awal jika ia tidak bisa memakai anting, atau nantinya hadiah itu tidak dipakai, Andreas akan sama-sama menggila. Pun, di pakai paksa hanya akan membuat telinganya berkoreng hingga berminggu-minggu. Maka, ia lebih memilih sakit di awal.
Sejak mendapat jawaban itu, Andreas menggila. Ia memukuli Josephine dengan brutal. Lalu berakhir menyeret istrinya ke atas dengan rambut yang menjadi pegangan.
Namun ajaibnya, Josephine, tangisnya tak bersuara, wanita itu juga tidak menjerit meski wajahnya merah padam campur air mata. Seperti rambut itu akan terlepas dari kepala.
Sean mengeratkan kepalan sambil membuntut keduanya naik ke kamar. Baru satu minggu ia bekerja untuk Josephine meski semua hal yang wanita itu katakan, akan kembali diadukan pada Andreas, ia juga sedikit-sedikit tahu perangai Josephine yang memang sangat lembut dan pemaaf. Atau hanya memang bentuk pertahanan diri saja. Sisanya, Sean mengkategorikan Josephine merupakan wanita naif dan agak bodoh.
“Jalang sialan!!! Jadi kau tidak terima hadiah yang diberikan suamimu, hah? Kau pikir perutmu kenyang karena siapa? Kau pikir baju yang kau kenakan, siapa yang berikan? Aku!! Aku!! Kau tidak bisa hidup tanpa aku, sialan… kurang ajar, kau tidak menghargai pemberianku. Rasakan ini, anjing betina”
Sesaat ketika sampai depan pintu, Andreas menyepak wajahnya hingga sudut bibir Josephine robek, pelipis nya baret juga terkena bagian sandal entah yang mana. Darah berceceran keluar dari mulut.
Setelah itu, Andreas menerima panggilan. Suaranya berubah total—yang awalnya keras, kasar, dan penuh amarah, kini tiba-tiba melembut serta bersahaja.
“Ah! Iya, benar sekali, Pak. Kita bisa bertemu sambil main golf, awalnya kupikir kita bisa sambil.. hm… kau tau..” lalu tertawa renyah “baiklah, aku segera ke sana. Malam-malam di lapangan golf.. wah.. kau sangat jenius” kata pria itu kemudian.
Josephine bernapas putus-putus di bawah kaki Andreas. Matanya tidak tertutup—justru mirip hantu saat rambut tersibak ke depan bersama darah yang berlumuran.
Andreas menendangnya sekali lagi.
“Sean, urus istriku, oke? Aku akan pergi mungkin satu minggu. Pastikan saat aku kembali, tak ada luka” wajahnya telah berubah sumringah, ia menepuk pundak Sean akrab lalu melenggang pergi.
Sean cepat-cepat mengangkat tubuh lunglai itu masuk dalam kamar.

Josephine meringkuk—meringis menahan sakit. Sean pergi keluar mencari obat-obatan.
Dadanya sesak, darah tak mau berhenti mengalir meski sudah ia tahan dengan selimut yang kini memerah. Tendangan itu tepat di dada dan rasa sesak benar-benar tidak nyaman. Ia perlu kembali berpamitan jika ingin menemui dokter, dan menghubingi Andreas bukanlah ide bagus, atau abaikan saja meski serius? Tidak tahu, rasanya sakit. Wanita itu batuk-batuk bersamaan dengan eksistensi lain yang masuk secara terburu-buru. Sean di sana bersama kotak obat.
“Nyonya, bisakah kita hanya pergi ke Dokter? Lukamu serius. Apa dadamu sesak?”
Josephine mendongak saat Sean tahu apa yang dirasakan.
“Tendangan itu menjurus ke dada, aku tahu. Kau perlu penanganan dokter, kita tidak tahu apa itu serius. Aku akan menghubungi Tuan” kata Sean, ia merogoh ponsel.
“Tidak usah.. Lagipula aku tidak berencana panjang umur. Biarkan saja, Sean, hanya tolong hentikan darah di mulutku, rasanya tidak enak”
Sean bingung. Ia tatap wanita kecil yang tergolek lemah. Lalu pada ponsel yang tertera nama Andreas. Sean akhirnya menghela napas. Duduk ia meletakkan kotak obat di atas kasur tepat di sisi Josephine.
“Bisakah kau duduk? Aku akan mengobati lukamu” Sean membantu Josephine duduk. Susah payah tubuh itu bangkit lalu terbatuk lagi–berharap dapat mengurai sesak meski tidak.
Luka dibersihkan, lalu di bebat plester meski bagian yang robek hanya sedikit sekali, namun pendarahan kelewat banyak.
Hening.
Josephine memeras matanya saat alkohol menempel pada luka. Rasanya sangat perih. Kendati, ia tak bersuara, hanya meringis pelan.
“Apa sakit?” tanya Sean lembut. Josephine membuka mata lalu menggeleng.
“Hanya teruskan, Sean.. aku baik-baik saja” jawabnya pelan, wanita itu kembali menutup mata.
“Kenapa kau bertahan? Kenapa mau dipukuli, sih? Memangnya kau ini samsak tinju?” pertanyaan itu nyelonong keluar tanpa penyaring. Saat Sean sadar posisinya, ia berdehem tidak enak “maaf atas pertanyaan kurang ajarku, Nyonya” katanya buru-buru. Josephine kembali membuka mata. Jarak mereka begitu dekat sehingga ia dapat merasakan napas Sean menyapu keningnya lembut.
“Kenapa kau masih di rumah ini, Sean? Aku berkali-kali memintamu pergi. Ini bukan tempat yang cocok. Carilah uang di tempat lain” kata Josephine, seperti serangan balik.
“Kau memecatku?”
“Aku tidak memiliki kuasa memecat siapapun”
“Baiklah, aku lega. Aku akan disini hingga bosan dan akan mencari pekerjaan baru, yang terpenting, aku akan menyembuhkan lukamu dulu” luka pelipis tertutup rapi. Pria itu tersenyum “tubuhmu penuh memar” kata yang terakhir diucapkan begitu pelan. “Tapi, Nyonya. Aku sungguh penasaran alasanmu bertahan setelah semua hal..”
Rasa penasaran Sean selalu lebih tinggi dari langit. Ia tahu jika Josephine tidak bisa memecatnya kecuali Andreas, maka, tidak apa-apa melontarkan pertanyaan semacam itu. Tidak dijawab pun, tidak apa-apa.
“Kau bilang bisa keluar jika bosan?” pertanyaan di balas pertanyaan. Josephine tersenyum kecil meski setelah itu kembali meringis saat sudut bibir yang baru di plester terasa tertarik. “Sean… kau tidak akan bisa keluar hanya karena kau bosan. Aku memintamu pergi bukan untuk berpamitan secara baik-baik. Tapi kabur, pergi yang jauh karena Andreas tidak pernah memecat pengawalnya. Mereka akan bekerja disini seumur hidup tanpa gaji yang layak. Kalian hanya akan diberi makan dan uang yang sedikit sekali. Aku mengatakan ini supaya kau kabur, cari kehidupan yang layak di luar. Kau baru bisa pergi dari sini secara terbuka jika mati. Andreas seperti itu”
Pernyataan itu membuat Sean mendelik. Ia menatap Josephine naik turun—meneliti seluruh wajah cantik yang babak beluar.
“Ah benar! Aku akan mengompres bagian tubuh yang memar” kata pria itu kemudian, setelah melamun beberapa detik lepas perkataan Josephine. Dan Josephine hanya mengerutkan dahi. Tampaknya memang Sean lebih percaya pada Andreas. Dan jika Sean mengadukan apa yang baru saja ia katakan, maka, mungkin saja jika tidak lupa, Andreas akan membunuhnya saat pulang.
“Kau tidak mendengarkanku, ya?” ia menyandarkan tubuh di kepala dipan saat Sean kembali dengan air es dan kain. Pria itu kembali duduk di sisi, lantas mengompres bagian bahu dan lengan atas yang memerah.
“Aku mendengarmu, semuanya” jawab Sean, sambil menempelkan kain dingin pada permukaan yang membutuhkan. “Tapi aku masih mau disini” lalu mata mereka bertemu “nanti, jika aku bosan, aku akan kabur seperti perintahmu”
Entah mengapa kata-kata itu membuat Josephine lega. Wanita itu merasa lega saat pengawalnya tidak terbunuh sia-sia–meski selama ini tidak ada yang selamat dari Andreas. Padahal, mereka semua orang-orang ‘normal dan sehat’ namun dasarnya Andreas orang gila maka, tidak ada yang tahu sampai kapan mereka akan hidup.
“Akan sangat berterima kasih jika kau tidak mengadukan pecakapan kita barusan” Josephine tidak berencana menanggapi pertanyaan Sean, ia meringis saat dingin itu menyentuh permukaan pundaknya yang memar.
“Aku tidak akan mengadu, asal kau jawab pertanyaanku, kenapa kau bertahan disini, dipukuli?”
Sebelah alis Josephine naik. Agak lama wanita itu memandangi Sean—seolah seperti meneliti untuk impresi awal meski pria itu telah bekerja sepekan.
“Kau mengancamku, Sean? Bicaramu juga lumayan berani” wanita itu menghela napas.
“Maaf karena tidak sopan, Nyoya” Sean mengoreksi.
“Tidak, tidak. Tidak apa-apa. Sesukamu saja. Tapi, Sean, apa ini bagian dari perintah Andreas? Apa dia menyuruhmu?”
“Bagian yang mana?” sekarang gantian satu alis Sean yang terangkat.
“Memintaku menjawab pertanyaanmu, mengapa aku masih ada di sini. Apa itu bagian dari perintah Andreas juga?”
Sean menggeleng “sebenarnya, dia tidak memintaku melakukan apa-apa. Bahkan saat aku memberikan seluruh laporan yang dia minta mengenai dirimu, dia jarang membukanya. Kupikir dia hanya… kurang waras” kata-kata Sean terakhir dilontarkan sambil berbisik. Pria itu tertawa kemudian. Joesephine mau tak mau ikut tersenyum meski hanya menaikkan sudut bibir. Namun senyum itu membuat wajah yang memang cantik, menjadi jutaan kali lebih memikat.
Sean berhenti tertawa hanya untuk melihat Josephine tersenyum. Agak lama, seolah waktu ikut terhenti saat wanita itu tersenyum.
Oh.. betapa indahnya wajah itu. Mengapa ciptaan seindah itu harus dilukai? Gila.
Sean terpaku agak lama. Gemuruh aneh menyesaki dadanya.
Hingga Josephine berdehem dan memalingkan wajah “kupikir ini sudah tidak dingin, Sean” ia melirik pada pundak yang masih ditempel kain yang sudah tidak dingin. Sean ikut berdehem dan mengatupkan rahang yang terus nyengir tanpa ia sadari.
“Ah.. benar” Sean lantas kembali mencelupkan kain pada wadah berisi air dan es “kau belum menjawab pertanyaanku, Nyonya” lalu menempelkan pada tulang selangka yang terlihat paling parah di antara semua memar yang ada di sana. “Kenapa kau bertahan di rumah ini?”
Jeda. Josephine menarik napas lagi.
“Sangat panjang. Aku akan menjawabnya saat kau berhasil kabur dari sini dalam kondisi hidup. Jika kau berhasil, aku akan menjawab pertanyaanmu, sungguh”
“Kenapa aku harus mati, sih? Dari kata-katamu, seolah semua pengawalmu mati”
“Ya, semuanya mati”
Kata-kata itu kembali membuat Sean mengangkat sebelah alis “semuanya mati? Apa sebabnya?”
“Andreas membunuh para pengawal tergantung suasana hati, tanpa konteks dan tanpa alasan. Yang jelas, bagaimana suasana hatinya saja. Maka, selagi bisa pergi, pergilah. Kau harus berumur panjang dan hidup bahagia”
Sean manggut-manggut seolah informasi yang didapat barusan tidak berhubungan dengannya. Padahal, itu adalah peringatan besar. Namun bagi Sean, dunia dan seisinya bisa ia akali guna menyokong apa kemauannya. Maka, tidak ada ancaman baginya. Baik Andreas atau siapapun kecuali Tuhan.
Josephine menatapnya lama. Sudah puluhan pengawal dan semuanya jelas berpihak pada Andreas, meski Josephine sudah sangat dekat dengan mereka. Josephine tidak memiliki teman. Andreas melarangnya berteman dengan sesama wanita, namun akan cemburu jika ia berteman dengan pria. Maka, di carilah pengawal pribadi sebagai teman, juga sebagai kaki tangan Andreas untuk melaporkan apa saja yang diperbuat Josephin dalam rumah. Namun ada hari dimana Andreas akan cemburu pada pengawal istrinya karena terlalu akrab dan banyak berinteraksi meski sang pengawal jelas berpihak padanya. Lalu mati dipukuli.
Begitu terus, bagai siklus.
Awalnya memang terlalu menyakitkan saat melihat pengawalnya mati konyol tanpa kesalahan. Seperti melihat teman yang dibunuh di depan mata. Hal seperti itu sudah terjadi berulang-ulang. Kendati sudah bukan hal baru, namun tetap menyakitkan saat kematian terus menerus ia saksikan.
“Nyonya Josephine.. Percayalah, aku ada dipihakmu”
Kata-kata itu meluncur begitu saja setelah keheningan agak lama merajai mereka. Sejak jawaban terakhir dari Josephine yang menjanjikan akan menjawab pertanyaan Sean jika pria itu berhasil lolos dari rumah ini dan hidup. Mereka terdiam agak lama—berkutat dengan isi kepala masing-masing. Lalu tiba-tiba, Sean berkata ada dipihaknya.
“Kau menantang maut, Sean..” Josephine menatap Sean nanar. Mata elang pria itu begitu cemerlang dan cerah. Seakan, Josephine dapat berkaca disana. Mata yang memantulkan gambar seorang wanita malang yang menyedihkan “jangan katakan hal-hal yang akan menyulitkanmu, juga aku. Berbaktilah pada Andreas. Turuti apa katanya. Laporkan apa yang bisa kau laporkan. Berumur panjanglah.. Barangkali dunia di luar lebih cerah. Dunia luar memiliki banyak warna dan hangat” mata kuyu milik Josephine seolah menusuk bagian terdalam hatinya.
Ada celah yang tak begitu Sean mengerti. Namun hatinya sakit sekali melihat—mendengar, serta merasakan apa yang dialami wanita itu–kendati Josephine tidak pernah benar-benar menceritakan apa yang terjadi. Ini bukan hanya soal iba, bukan tentang kecantikan yang menyetarai Dewi. Melainkan gejolak lain yang asing, lalu berpadu dengan segala rasa yang tak dapat dibendung. Sean memeras matanya dan menunduk saat bulir itu jatuh.
Seperti apa Josephine jika bebas?
🐾🐾🐾🐾
“Katanya, Tuan pergi ke Asia timur selama satu bulan untuk bisnis. Dia tidak menyebutkan bisnis jenis apa, hanya memintaku untuk mengabarkan pada Nyonya”
Sean berdiri di ambang pintu sementara Josephine sedang mengupas apel. Pagi yang cerah karena kabar itu. Josephine mengulum senyum—yang ia tahan-tahan agar tidak terlihat oleh Sean. biasanya, para pengawal juga akan memperhatikan ekspresinya lalu mengadukan pada Andreas. Kendati sudah berpengalaman, namun Josephine sangat sulit menyembunyikan rasa senangnya.
Setidaknya, selama sebulan ini tubuhnya tidak akan sakit.
“Tersenyumlah yang lebar, Josephine..”
Kata-kata itu membuat Josephine kaget. Sean baru saja menyebut namanya secara tidak sopan. Juga dibarengi senyum tengil dan mengdipkan sebelah mata. Pria itu jelas meledeknya.
“Apa kau mau mati?” tanya Josephine galak. Mata mendelik yang dipaksa terbuka lebar itu bukannya menakuti Sean, melainkan membuat gemas “kau pasti akan mengadu pada Andreas”
“Mengadu apa?”
“Mengadu karena aku senang saat dia pergi. Tapi akan berpura-pura bahagia saat dia kembali. Kau tau, kau melihat semuanya, Sean”
“Itu cara bertahan hidup yang bagus, Jose”
Lagi, panggilan aneh yang dilayangkan membuat Josephine harus mendongak lagi untuk bertatapan dengan Sean.
“Jangan memanggilku seperti itu, itu adalah panggilan dari Andreas”
“Ah.. baiklah, kalau begitu, aku akan memanggilmu Phina” Sean mengedipkan satu mata lagi “selamat pagi, Phina. Semoga harimu menyenangkan. Maukah kau keluar denganku sebentar?”
“Kau mau mati?”
“Kenapa kau gemar sekali bertanya hal semacam itu? Aku akan berumur panjang dan hidup bahagia, Phina.”
Josephine tertawa. Sudut bibirnya sudah sembuh, sudah satu bulan berlalu dan Andreas tidak banyak menyakiti–karena pria itu semakin sibuk dan jarang pulang. Hanya Sean yang mengirimkan laporan secara berkala meski jarang sekali dibuka.
“Aku melihat tanah kosong di sebelah utara halaman belakang. Bagaimana dengan menanam sawi?” ajak Sean tiba-tiba “aku tau akan sulit keluar karena di rumah ini semuanya akan mengadukanmu pada Andreas. Makannya aku memberi ide untuk memutus kebosananmu, ayo berkebun denganku. Aku bisa menanam sawi” kata Sean semangat. Josephine terlihat berpikir sebentar. Dua alisnya menaut sementara apel kembali ia letakkan pada keranjang buah.
“Kurang terkena sinar matahari akan membuatmu mudah depresi. Aku tidak akan meminta majikanku untuk bekerja keras. Kau duduklah di tempat yang telah kusiapkan, hanya perhatikan aku menanam sawi dan kau memandori sambil memakan apel. Akan kukupaskan untukmu” rayunya lagi. Sean mendekat—mengambil keranjang buah “ayolah, ini akan menyenangkan. Ayo berjemur di bawah matahari pagi”
Jeda, Josephine berpikir sebentar.
“Sebentar, aku harus mengganti gaun tidurku”
Ungkapan itu membuat Sean mengepalkan tangan lalu menyeru ‘yes’ tanpa suara. Ia kegirangan sambil memperhatikan Josephine yang memakai gaun.
“Sean, bisa tolong naikkan resleting ke atas”
Permintaan Josephine membuat pria itu kembali meletakkan keranjang buah, lalu mendekat untuk menaikkan resleting bagian belakang gaun.
Punggung putih mulus itu ada di depan matanya. Kulitnya sangat putih tanpa noda. Wangi mawar seolah berputar-putar menyesaki penciuman. Sean menelan ludah meski tidak ingin kurang ajar berkelanjutan.
Resleting terpasang.
“Sean, ambilkan aku sepatu yang itu” Josephine menunjuk deret sepatu dalam lemari yang kelewat banyak.
“Yang mana, Phina?”
“Yang warna putih, tidak tinggi. Aku sedang tidak ingin pegal atau melukai kakiku”
Sean langsung mengerti. Lantas, setelah diambil, pria itu berjongkok memakaikan sepatu Josephine.
Kakinya pun begitu cantik. Tumitnya merah saking putihnya. Nyaris tak ada celah jika saja Josephine tidak memar-memar karena dipukuli. Semuanya sangat indah—wanita itu, sangat sulit diabaikan.

Josephine menganga. Ia melihat tanaman selada, lanjaran yang rapi serta tanaman-tanaman yang baru pertama kali ia lihat. Padahal, halaman belakang ini tidak terlalu jauh meski tidak dekat juga. Butuh waktu setidaknya sepuluh menit berjalan kaki—meski kawasan ini masih dalam lingkup istana milik Andreas.
“Aku juga sudah melaprokan pada Andreas jika kau akan berkebun” kata-kata Sean berhasil mengalihkan perhatian Josephine.
“Apa dia mengatakan sesuatu yang lain?”
Sean menggeleng.
“Apa kau yang menanam semua ini?”
Sean mengangguk.
“Sejak kapan? Ah, tidak, maksudku, kapan kau ada waktu kemari dan mengerjakan ini?”
“Setiap subuh, aku bangun tidur pukul empat pagi dan membuat lanjaran sebelum menanam. Aku sudah mendapat izin dari Andreas dan semua pelayan. Itu karena kubilang aku mengerjakannya karena hobi. Hasilnya tetap akan kuberikan pada pengurus dapur”
Josephine mengangguk-angguk.
“Nah, sekarang, duduklah disana” Sean menunjuk satu kursi yang telah disediakan, lengkap dengan payung besar yang akan menghalau sinar matahari menyentuh siapa saja yang duduk di bawahnya. Satu meja bundar tepat berada di sisi. Saat Josephine duduk, Sean ikut berjongkok di sebelah, lalu mengupaskan apel dan beberapa buah-buahan.
“Aku akan mengupaskan apel. Kau bisa menontonku berkebun di sini. Atau mau kubawakan buku?”
“Tidak, aku ingin melihatmu bercocok tanam”
“Bagus. Kupikir tanamanku akan cepat tumbuh saat wanita cantik turut serta dalam proses”
“Aku hanya melihatnya, Sean. Aku tidak melakukan apapun”
“Dilihat olehmu akan membuat tanaman subur, percaya padaku” pria itu mengoceh sambil mengupas buah sementara Josephine terus tersenyum.
Sean berbeda dari pengawal yang lain. Setidaknya—meski Josephine tidak percaya saat Sean mengatakan bahwa ia tidak berada di pihak Andreas, namun pengawal itu benar-benar tidak mengadukan apapun yang ia katakan, apa yang ia lakukan pada suaminya. Sean memaksanya banyak bercerita, lalu terus mengatakan banyak hal tentang berbagi luka dan berusaha mencari solusi meski hingga hari ini–Sean tak lagi memaksanya menjawab pertanyaannya tentang alasan Josephine tidak kabur dari rumah.
Sean meletakkan potongan apel ke atas piring. Lalu menyodorkan satu potong ke mulut Josephine.
“Apa manis?” Sean mengangkat alis setelah melemparkan pertanyaan sementara Josephine mengurtkan dahi “ini apel jenis ambrosia”
“Ah..” Josephine mengangguk-angguk.. “Ya, ini manis dan segar” ia mengunyah apel itu hati-hati “tapi, Sean, apakah kau akan berkebun menggunakan jas?”
Jeda. Sean melihat pada pakaiannya sendiri.
“Kau benar. Aku bahkan hanya memiliki satu jas. Apa kau ada ide?”
“Mau pakai baju tukang kebun?” tawar Josephine.
“Kau tahu tubuh tukang kebun bahkan lebih kecil darimu. Bagimana aku bisa menggunakan bajunya?’
Benar juga. Namun Josephine malah tertawa “bahkan kau lebih besar dari Andreas, dari semua pengawal di rumah ini. Mau memakai gaun besarku?” Josephine menutup mulutnya dengan punggung tangan, tertawanya lebar dan ia malu.
Sean menarik tangan itu. Sambil berjongkok dan tubuh mereka sejajar.
“Jangan ditutupi, aku ingin melihat senyummu. Tolong jangan ditutupi” kata-kata itu justru membuat Josephine berhenti tertawa. Wanita itu berdehem lalu kembali mengambil potongan apel “huh, malah berhenti, padahal aku mau lihat sedikit lagi” Sean berdecak, pria itu bangkit, lalu tanpa aba-aba membuka kemejanya.
“Sean! Apa yang kau lakukan? Apa kau sinting? Kenapa membuka baju?”
“Kubilang aku hanya punya satu jas. Aku akan megenakan kaos dalam dan celana pendek. Apa ini melanggar peraturan?” pria itu melepas jas dan celana. Juga sepatu pantofel.
Joesephine dapat melihat tubuh besar dengan otot-otot menyembul dari bisep ke tulang dada—juga torso yang tercetak jelas oleh singlet yang membentuk badan.
Tato padat di sepanjang lengan kanan sampai dada atas.
Sangat besar. Pria itu mirip payung yang menaunginya dari sinar matahari. Siluetnya menutup penuh tubuh Josephine yang seperti anak marmut.
Josephine kemudian menunduk setelah mirip wanita murahan yang memandangi tubuh pria lain di depannya—saat ia memiliki suami—yang gemar bercinta dengan gadis jenis apapun—mungkin saja anjing betina di jalan juga.
Sean mulai menanam sawi.
Matahari pagi menyapu seluruh tubuhnya yang hanya terbalut singlet dan celana pendek. Perlahan, keringatnya mulai keluar. Ia berjongkok, bangun, sesekali melubangi tanah dengan jari tengah dan telunjuk, lalu pindah lagi. Josephine memperhatikan seksama sembari memakan buah.
“Sean!”
“Ya?”
“Boleh aku ikut menanam?”
Pria itu bangkit. Matanya menyipit agar sinar matahari tak masuk seleuruhnya dalam mata—melihat pada Josephine yang telah bangkit dari duduk, lalu susah payah mengangkat gaun dan melepas sepatu.
“Aku akan memayungimu” kata Sean akhirnya. Wanita itu kesenangan.
Namun ternyata payung yang ditanam tidak bisa dicabut. Sean akhirnya berdiri di belakang Josephine sebagai payung agar wanita itu tidak kepanasan.
“Apa benar seperti ini, Sean?” wanita itu melirik ke belakang. Tubuh besar itu melindunginya dari paparan sinar matahari. Sawi terlihat di tanam dengan jarak begitu dekat.
“Seharusnya jarak antar tanaman sekitar 10-15 cm. Milikmu terlalu dekat, Phina”
“Ah.. benarkah?” lalu wanita itu mencabut yang satu, lalu memberi jarak “begini?”
“Ya, pintar” Sean mengusap kepala wanita itu seperti anak kecil “Phine..”
“Ya”
“Berapa usiamu?”
“27”
“Ah..”
“Kau?”
“Aku 29” jawab Sean.
Lalu Josephine kembali menanam. Sean tetap setia di belakangnya seperti bayangan besar.
Bolak-balik bertanya, lalu Sean menjelaskan, memberitahu dan membenarkan apa yang salah.
Cukup lama mereka seperti itu, hingga perlahan, langit menggelap. Tubuh besarnya tak lagi menampilkan bayangan. Suasana menjadi teduh dan matahari seolah ditelan awan gelap.
Sean ikut berjongkok di samping Josephine membantu.
“Sepertinya akan turun hujan, mau masuk sekarang?” tawa Sean tanpa melihat pada majikannya. Josephine yang memandang langit.
“Biarkan sebentar lagi. Ternyata aku suka tanaman. Aku akan sering datang kemari mulai hari ini” katanya bersemangat. Meski lahan ini jarang sekali di datangi. Tak ada pelayan, pun, tukang kebun yang hanya datang sepekan sekali untuk membersihkan. Di sana, ada sebuah gazebo kecil nyaris hanya cukup untuk dua orang duduk berdampingan. Bangunannya agak tertutup, sehingga dari kejauhan sekilas menyerupai kamar mandi.
Mendengar jawaban itu, Sean mengangguk kecil.
Namun ia bersumpah bahkan kepalanya baru selesai mengangguk sebelum hujan deras tiba-tiba datang. Curahnya begitu besar, tiap tetesnya besar-besar dan menyakiti kepala.
“Wah… padahal aku baru saja menyukai sesuatu” teriak Josephine sambil tertawa, berbeda dengan Sean yang kalang kabut mengambil jas, lalu meletakkannya di gazebo sebelum kembali menghampiri Josephine lalu mengangkat wanita itu sambil berlari–juga menuju gazebo.
“Jadi, kau lebih khawatir jas mu basah ketimbang majikanmu yang basah?” pertanyaan itu meluncur tepat saat Sean berhasil mendudukkan Josephine pada gazebo. Hujan turun sangat lebat. Bahkan membuat jarak pandang dekat tertutup oleh air yang jatuh deras.
“Aku tidak bisa menyelamatkan apelmu” kata pria itu terengah pelan. Tubuhnya basah, begitu juga Josephine. Mereka kini duduk berdua dalam ruang sempit itu. Bunyi hujan begitu keras menghantam atap.
Tangan dekil, wajah ikut terkena tanah, gaun benar-benar tidak bisa di selamatkan saking kotornya. Ujung-ujungnya kotor oleh tanah basah. Kakinya juga dekil.
“Sini, kemari, cuci tangamu di air hujan” Sean membawa Josephine mendekat pada air yang jatuh dari tetesan genting. Wanita itu mencuci tangan, lalu Sean tiba-tiba mencipratkan air ke wajah wanita itu.
“Sean!”
“Apa?”
“Jangan main air”
“Kenapa? Kau sudah basah, aku tadinya mau mengajakmu bermain hujan, tapi takut ada yang melihat lalu mengadu pada suamimu”
Perkataan Sean membuat Josephine diam. Setelah tangannya bersih dari tanah, wanita itu kembali duduk. Sean ikut duduk di sampingnya. Mereka berdampingan sangat dekat hingga bahu satu sama lain saling bersentuhan.
Sepertinya Sean berhasil membuat mood wanita itu memburuk karena membahas Andreas.
“Sean..”
“Ya?”
“Bukankah ini waktu yang tepat kau pergi? Maksudku.. Kabur. Andreas sedang tidak ada di rumah. Kau bisa pergi dengan memanjat tembok itu” Josephine menunjuk tembok setinggi empat meter yang mengukung istana hingga ke belakang menyeluruh.
Sean diam sebentar. Ia perhatikan wajah ayu tanpa riasan dengan rambut panjang yang basah.
“Apa kau mau pergi denganku? Bukankah daripada aku, kau yang sangat ingin pergi dari rumah ini?” pertanyaan itu tepat sasaran. Josephine balik membalas tatapan Sean.
“Kau mau mati? Aku tidak akan mengambil risiko itu. Andreas akan menemukan kita cepat atau lambat. Orang-orangnya sangat banyak dan kuat. Dia akan membunuh.. Dia itu… pembunuh..”
“Benarkah? Apa Andreas sekaya itu? Aku bahkan baru mendengar namanya. Yang kutahu, pria muda kaya raya adalah Robinson Alexander, lalu William Juan, ada satu lagi yang paling terkenal Sean Benjamin. Kau pernah dengar mereka? Mereka adalah orang kaya raya”
Josephine menggeleng “mungkin nama-nama yang kau sebutkan adalah orang kaya, tapi Andreas adalah seorang kaya raya juga”
Sean mengangguk-angguk.
“Aku mengerti perasaanmu” kata pria itu akhirnya, meski ia tidak mengerti. “Aku tidak akan kabur sebelum kau bersedia kabur denganku, Josephine” kata-kata itu dilontarkan lembut. Sean mengusap kepala wanita itu dari belakang. Josephine melihat ke samping lagi dan mereka berhadapan.
Curah hujan bukannya reda malah makin menggila. Di tengah gerusan suara yang seakan mendominasi segala hal. Dua makhluk itu saling pandang dengan isi pikiran masing-masing. Mereka terlalu dekat, terlalu pas untuk menulari suhu tubuh satu sama lain. Hingga agak lama saat Sean terus memperhatikan mata, lalu turun ke bibir secara bergantian. Begitu terus, jakunnya naik turun. Bibir merah alami Josephine basah, mata sayunya begitu cantik dan… panas. Ia tidak tahu, namun wanita itu benar-benar cantik jelita hingga ia rela menukar hartanya agar bisa menatap wajah itu lebih lama.
Josephine berdehem lagi, baru saja ia akan mengalihkan pandangan sebelum Sean mencegahnya. Pria itu dengan berani memegang rahang majikannya—agar Josephine tidak mengalihkan wajah dari tatapannya.
“Sean.. apa yang kau lakukan..” bisiknya lembut, matanya berkedip-kedip menatap Sean sendu.
“Bolehkah aku melihatmu sedikit lagi? Sebentar saja..” katanya, juga ikut berbisik. Josephine tidak menjawab, namun tidak menolak. Ia akhirnya kembali menatap mata Sean—diam seperti manekin sangat indah.
Mereka bertatapan lagi.
Lantas suara guntur—tidak besar ikut memeriahkan hujan yang membabi buta.
Barangkali Sean memang gila. Pria yang hidup sesukanya, yang gemar sekali mencari hal-hal menyenangkan anti mainstream, pria kaya raya yang terus melakukan banyak hal random. Pria yang kini menempelkan bibirnya pada bibir sang majikan. Pria yang memegang dua rahang Josephine, lalu mengulum bibir wanita itu lembut. Matanya tertutup dan geraknya sangat perlahan–seolah tiap sentuhan akan menyakiti sang wanita.
Josephine kaget. Namun anehnya, ia tidak ingin mundur atau menolak. Tidak tahu. Baru sekali ini saja setelah sekian lama Josephine merasakan jantungnya bertalu-talu tidak normal. Rasanya sama persis saat ia jatuh cinta pada Andreas dulu ketika mereka masih pendekatan.
Bedanya, Sean sangat lembut. Geraknya terukur dan begitu hati-hati.
Salivanya di sesap bagai menyesap kopi nikmat dipagi hari. Pria itu meraup bibirnya dengan kelembutan dan kasih sayang. Dua rahangnya di usap tak kalah lembut. Josephine bersumpah kembali merasakan pacu aneh dalam darahnya. Perutnya melilit dengan sensasi menyenangkan yang tak pernah ia bayangkan akan kembali ia rasakan setelah terjebak dalam pernikahan mengerikan.
Mengtuk-ngetuk lidah pria itu meminta diizinkan masuk. Begitu sopan hingga Josephine tidak tahu jika ciuman saja bisa selembut ini. Biasanya, Andreas akan meludahi mulutnya, matanya dan apapun saat mereka bercinta. Namun Sean… ini membuatnya gila.
Aliran darahnya kelewat kencang, perlakuan lambat dan perlahan itu seperti akan membuatnya meledak saking senang.
Dan lidah pria itu menyelinap ke dalam setelah ia membuka mulutnya sedikit. Ada rasa manis dari ujung milik Sean yang kini menekan-nekan apapun di dalam rongga.
Josephine melenguh pelan. Ia memegang ujung singlet milik Sean–matanya terpejam rapat–menyisakan bulu mata lentik yang begitu memikat. Mendengar suara itu, Sean makin melesakkan dalam-dalam, membelit lidahnya pada lidah wanita itu. Ciuman mereka semakin panas sebelum petir bersama guntur menyusul menggelegar—mengagetkan.
Josephine mendorong Sean cepat-cepat, wajahnya memerah dan ia kontan memunggungi pria itu buru-buru.
Napas keduanya masih terengah-engah. Sean memandangi punggung yang naik turun.
“Phina–”
“Sean, antar aku pulang, aku harus mandi” potong wanita itu secepatnya.
🐾🐾🐾🐾
Setelah ciuman hari itu, Josephine berusaha menghindari Sean.
Kendati tak munafik ia menyukai pria itu, namun perselingkuhan tidak akan dibenarkan dalam situasi apapun—meski suaminya melakukan hal semacam itu jutaan kali tanpa merasa berdosa.
Meski sebenarnya, bukan bagian itu yang menjadi kekahwatirannya. Melainkan nyawa Sean, jika ia terlalu menyukai pengawalnya, atau jatuh cinta, bagaimana nanti saat pria itu mati di tangan Andreas? Beban kehidupan sudah sangat berat, mencintai orang lain saat masih memiliki suami tak kalah sinting dan akan semakin membuatnya gila. Jika saja Andreas mau langsung membunuhnya ketimbang terus menyiksa hingga ia tak lagi memiliki cahaya untuk sekedar berjalan di atas marmer hangat. Hidupnya redup, bahkan gelap. Namun sejak kehadiran Sean, warnanya seakan kembali. Mata kelabunya perlahan memiliki warna.
Dan pria itu berdiri di luar seperti biasa. Menunggu Josephine di dalam sambil menunggu instruksi.
Sean tentu saja sesekali masuk membawa kabar seperti biasa. Dan Josephine bertingkah sangat formal hingga benar-benar membuat Sean bingung. Memang apa yang mereka lakukan tak bisa dibenarkan, namun sikap Josephine benar-benar membuatnya sedih. Ia merindukan wanita itu.
Sudah satu bulan dan malam ini, Andreas kembali. Selama satu bulan pasca kejadian di halaman belakang itu, Josephine tidak lagi banyak keluar, juga tidak banyak interaksi dengan Sean kecuali saat genting mengenai Andreas.
Keduanya sama-sama rindu seperti idiot gila yang ingin bersua kendati hanya tersekat dinding dan pintu.
Sean membukakan pintu saat Andreas pulang. Josephine telah menunggunya mengenakan satin coklat sangat cantik.
Pria itu tersenyum melihat istrinya sangat cantik. Di matanya, Josephine berkali lipat lebih cantik dari terakhir saat ia tinggalkan—pun karena suasana hatinya sedang bagus.
“Aku senang kau pulang” Josephine tersenyum anggun seperti biasa. Ia menyambut pelukan suaminya seperti istri yang mencintai pasangannya tanpa rasa jijik. Pun, pria itu mencium pipi lalu ke leher istrinya. Semua itu di saksikan Sean yang berdiri di ambang pintu yang tidak di tutup.
“Aku senang. Sean juga memberikan kabar-kabar baik mengenai dirimu. Apa kau berhasil berkebun, Jose?”
“Ya.. maksudku.. tidak. Aku tidak berbakat dan tidak melanjutkan” katanya ragu-ragu. “Kau terlihat lebih cerah dari biasanya, An. kuharap kebaikan selalu menyertaimu” di katakan sambil menahan rasa ingin muntah, Josephine sesekali mencuri pandang ke arah pintu—tempat di mana Sean berdiri dengan tangan terkepal—juga rahangnya mengeras.
Andreas melanjutkan sesi melebur rindu dengan merebahkan istrinya lalu mencumbui wanita itu dengan liar. Leher Josephine digigit kecil-kecil, tangannya membelai payudara yang masih terhijab satin halus.
Tidak lama, Andreas belum sampai membuat jejak merah di permukaan kulit–ponselnya berdering mengagetkan. Pria itu lantas berhenti.
“Bangsat” katanya kasar. Ia menjauh duduk di sisi ranjang sambil mengangkat panggilan.
“Aku hamil” kata suara di seberang tanpa basa–basi. Suara itu jelas di dengar oleh Josephine yang duduk tepat di sebelah. Andreas menatap istrinya sebentar, lalu memilih bangkit dan menjauh.
“Aku akan membunuhmu, jalang sialan. Anjing” kata Andreas pada wanita di seberang. Ia melangkah keluar melewati Sean. lalu menutup panggilan. “Aku akan keluar, jaga istriku” katanya pada Sean, lalu langkahnya lebar melenggang pergi. Sean menatap punggung itu hingga tubuh Andreas menghilang.
Berdiri agak lama hingga terdengar suara mobil pergi ke melewati gerbang.
Sean lantas meneleng ke dalam. Josephine telah mengubur diri dengan selimut—memunggungi pintu.
Dan tanpa perintah, ia masuk ke dalam, lalu menutup pintu. Tangannya meraih tisu basah di atas nakas sebelum ia merangkak naik ke ranjang.
“Sean! Ku gila? Mau mati hah?” Josephine kaget saat pria itu tiba-tiba menyibak selimutnya. Duduk ia di sisi sambil menarik tubuh Josephine. Selimut dilempar sembarangan dan dengan gerak hati-hati, Sean memeluk wanita itu.
“Maaf, aku hanya merindukanmu seperti orang gila, Phina.. aku hampir meledak melihat Andreas mencumbumu” katanya sedih. Nadanya begitu tersiksa. Lantas ia urai dekapan, lalu mulai menyeka leher sampai ke dada Josephine menggunakan tisu basah.
“Aku cemburu seperti orang gila.. aku tidak bisa menahannya lagi” dikatakan sambil terus menyeka permukaan kulit yang sempat disentuh Andreas, seakan tisu basah itu bisa menghilangkan jejak menjijikan.
Josephine mendorong nya keras. Kendati tak berpengaruh pada tubuh kelewat besar milik Sean.
“Keluar! Kubilang keluar Sean! Aku majikanmu dan sedang memerintahmu. Kau gila? Mau mati?!”
“Aku tidak akan mati, Josephine.. aku tidak akan..” katanya, meyakinkan “aku akan bertanya padamu. Maukah kau pergi bersama denganku? Aku akan mengurus semuanya, mengurus perceraian mu dengan Andreas. Lalu kita bisa bersama.
PLAK!
Josephine menampar nya kuat. Meski hanya terasa seperti pukulan ringan.
“Pergi kubilang!” Tegas Josephine sekali lagi. Namun bukan Sean namanya jika apa yang diinginkan tak lekas tercapai. Telah lama ia mati rasa, sudah lama ia tidak merasakan kembali jatuh cinta setelah kekasihnya yang terakhir meninggal karena sakit keras. Sejak itu, Sean tak lagi tertarik pada wanita manapun—sebelum ia bertemu dengan Josephine, lalu terpana atas impresi awal mereka. Katakan omong kosongnya adalah jatuh cinta pandang pertama—meski dengan tidak tahu diri ia akan berstatus sebagai perebut istri orang.
Namun melihat apa yang terjadi, bagaimana perilaku Andreas. Sean justru merasa pantas untuk merebut Josephine. Wanita itu di penjara. Juga mendapat perilaku abusive, dikhianati secara terang-terangan serta perlakuan-perlakuan mengerikan lainnya. Mereka tak hanya pantas bercerai, namun juga melibatkan polisi atas tuduhan kekerasan serta penyiksaan.
“Josephine! Dengarkan aku.. bagaimana jika aku bisa membawamu keluar untuk bercerai? Bagaimana jika aku bisa membawa Andreas masuk penjara, huh? Maukah kau bersamaku?” Kata-kata itu dilontarkan serius. Tidak ada nada jenaka, Sean menatapnya serius.
“Ceritakan padaku, apa yang terjadi. Maksudku, kenapa kau masih bertahan di rumah ini. Hidupmu sangat berharga, Phina.. kau berhak hidup dengan layak dan dicintai dengan normal..” Sean memeluknya lagi. Memeluk paksa. Mendekap wanita itu erat sambil mengusap sambutnya sayang berulang-ulang.
Agak lama mereka seperti itu. Pun, Josephine tak lagi memberontak karena kehabisan tenaga. Tubuh Sean seperti tembok beton raksasa yang mustahil ia dorong.
“Tolong ceritakan padaku..” bisik Sean lagi. Ia mengecup pucuk kepala Josephine.
Lalu, Josephine mulai bersuara. Pelan-pelan ia menceritakan asal-usulnya dengan suara mencicit mirip bisikan.
Ia bercerita bahwa dulu sempat mendapatkan penghargaan sebagai gadis muda berpengaruh. Memiliki perusahaan kecil-kecilan untuk mempekerjakan seluruh wanita korban kekerasan, wanita yang tak memiliki tempat tinggal dan wanita-wanita yang ditelantarkan.
Mengalir cerita itu dengan jujur. Ia juga mengatakan bahwa memang sempat jatuh cinta pada Andreas karena tingkah manis pria itu. Andreas bukan hanya manis, melainkan seperti malaikat, sebelum—entah sejak kapan dimulai, semuanya terasa begitu mengerikan. Makin parah setelah ayahnya meninggal.
Pria itu seperti orang lain. Tiap marah perilakunya mirip setan. Andreas tidak hanya memukul, namun membunuh orang.
Josephine menceritakannya tanpa celah sampai pada bagian seluruh kekayaannya jatuh atas nama Andreas tanpa menyisakan secuil pun harta. Andreas terus menganggapnya menumpang hidup—bergantung padanya—bahwa tanpa Andreas, Josephine hanya sampah. Padahal, sebelum menikah dengan pria itu, Josephine sangat sejahtera. Juga diidolakan banyak orang. Bukan hanya wajahnya yang kelewat cantik, melainkan karena kedermawanan serta kebaikan hati yang membuat orang-orang begitu menyukainya.
Dan sejak pernikahannya dengan Andreas, semuanya berubah jadi neraka.
Lalu ia mendongak pada Sean, mata mereka beradu.
“Aku.. aku tidak lagi percaya laki-laki. Baik ayahku, Andreas, atau kau, Sean. Tingkahmu baik, kau memiliki kepribadian yang menyenangkan, serta sisi maskulin yang tak haus pengakuan. Andreas dulu lebih baik darimu. Dia bahkan jemaat gereja yang taat. Dia mendirikan yayasan untuk panti asuhan dan panti jompo agar aku terkesan. Dia mendukungku penuh, seolah dunia akan baik-baik saja asal bersamanya. Dia menawarkan semua kehangatan dan cinta. Dia memberiku segalanya” wanita itu menunduk. “Dan kini, aku sudah tidak sakit hati atas apapun yang Andreas lakukan. Baik perselingkuhan, atau dia memiliki anak dari wanita lain. Aku sudah mati rasa.. pada Andreas, juga pada lelaki manapun..”
Itu bohong. Ia jatuh cinta lagi pada pria yang kini mengukungnya meski bersumpah meski harus mati, tak akan mengakui.
Cukup satu kali pengalaman cinta pertamanya. Labuhan yang ia kira bisa menjadi rumah, justru neraka dunia. Itu adalah cinta penuh kekaguman atas perilaku dan cara Andreas memperlakukan. Jika dibandingkan, Sean jelas tidak ada apa-apanya.
Andreas dulu tidak menyentuhnya. Katanya, Josephine sangat berharga dan baru mau bersentuhan saat mereka sudah menikah. Narasi itu juga membuat Josephine makin jatuh cinta. Tidak tahu jika di belakang, Andreas bercinta dengan ribuan gadis yang ganti-ganti tiap malam.
Sementara Sean, pria itu lebih apa adanya. Sean kebanyakan meledeknya, mengajak bercanda, mengerjai, mengajaknya bermain dan terus mengoceh membicarakan banyak hal-hal lucu. Dan Sean, terang-terangan mengatakan suka, lalu tak segan menyentuhnya seperti saat di halaman belakang dan sekarang.
“Aku hanya akan menawarkan cinta dan kebebasan. Barangkali, jika aku menjanjikan ini dan itu, kau tidak akan percaya, Phina. Maka, aku memintamu untuk mencoba” suara Sean begitu lembut masuk ke telinga. Josephine Menggeleng.
“Aku tidak bisa, Sean. Pergilah.. kabur dari sini sebelum Andreas membunuhmu..”
“Sudah kubilang, Phina, aku tidak akan mati. Aku lebih kuat dari Andreas” jawab pria itu yakin.
“Andreas memiliki laras panjang, dia punya banyak senjata yang bisa dipakai untuk membunuh. Kau mungkin lebih kuat, Sean. Tapi tidak ada manusia yang anti peluru. Kumohon dengarkan aku.. pergilah.. aku tidak tahu bagaimana aku jika kau mati di tangannya..”
Pernyataan itu membuat Sean tersenyum. Ia mengecup pipi wanita itu sekali.
“Kau mencintaiku kan, Phina? Kau takut aku mati? Bagaimana jika aku yang menang bahkan melawan laras panjang? Aku memintamu berandai-andai jika aku bisa mengalahkan Andreas, lalu mengirimnya ke neraka. Apa kau mau denganku?”
Josephine menggeleng “mustahil kau bisa mengalahkan Andreas” jawabnya lemah.
“Ehey.. kau terlalu mendewakan si Andreas-Andreas itu hingga lupa bahwa pria gila itu juga manusia. Lagipula, ada banyak orang yang lebih kaya darinya. Lebih kuat. Kau menganggap seolah Andreas adalah Tuhan” Sean tertawa kecil sambil menghirup aroma rambut “aku.. aku bisa mengalahkan Andreas. Percaya padaku, my lady”
“Dan aku.. tidak percaya..”
“Itu karena kau dikurung. Kau tidak tahu jika Andreas itu.. mungkin saja hanya pengecut sakit jiwa yang tidak ada apa-apanya dibanding banyak orang di luar. Bayangkan..” Sean mendongakkan Josephine “bayangkan jika aku adalah jawaban dari doa-doamu dalam keputusasaan. Aku adalah apa yang senantiasa kau panjatkan pada Tuhan di malam-malam menyakitkan. Di antara tulang-tulangmu yang ngilu, di antara memar dan sakit tubuhmu atas perilakunya. Tidak kah kau melihat itu, Phina?”
Mata mereka bertemu. Ada jeda panjang disana, juga keraguan yang lebih besar dari apapun. Josephine berkedip-kedip. Tatapan teduh juga hangat dari Sean seakan memberinya kekuatan.
“Apa yang akan kau lakukan untuk membebaskanku? Juga menjamin bahwa aku akan bercerai dengan Andreas serta keyakinan bahwa pria itu tidak akan mengejarku lagi?”
“Mencintaiku” jawab Sean, terdengar seperti main-main.
“Sudah kuduga. Kau hanya bicara omong kosong” Josephine kembali berusaha melepas dekapan pria itu. Namun Sean malah semakin mempereratnya.
“Katakan padaku, Phina bahwa kau mencintaiku karena akupun demikian. Aku tidak akan menjanjikan kehidupan yang bahagia karena kebahagiaan tumbuh dari hatimu. Aku hanya bisa menjanjikan bahwa saat kau memilih bebas bersamaku, aku akan membuatmu kembali seperti Josephine 22 tahun yang cantik dan bersinar. Bahwa aku akan mengembalikan hidupmu. Aku bersumpah demi nyawaku” lalu Sean berdecak, lalu mendengus “pasti kau tidak percaya. Aku juga tidak suka berjanji. Aku lebih suka aksi” sambungnya kemudian.
“Andreas akan membunuhku, membunuhmu juga jika dia tahu” tiba-tiba Josephine kembali merenung. Mata sayunya makin kuyu.
“Dan aku tidak mudah mati, Phina. Harus berapa kali aku mengatakan, huh? Kau ini, kenapa memuja Andreas sekali, sih?”
“Aku tidak memuja setan”
Jawaban itu berhasil membuat Sean tertawa keras. Tubuhnya ikut mengguncang milik Josephine.
“Kau lucu dan menggemaskan. Hanya orang gila yang menyakiti wanita sepertimu. Josephine, aku akan menciummu”
“Kau mau mati? Lepaskan! Sean! Keluar dari kamarku sekarang”
“Phina.. bukankah percakapan kita barusan adalah pengesahan perasaan? Aku adalah pria yang mencintaimu, yang akan menja—” Sean tak sempat melanjutkan kalimatnya. Josephine mengecup pipinya sekilas. Hanya sekilas.
Kecupan sekilas itu masih terasa di permukaan kulitnya. Masih hangat. Meski sekilas, rasanya begitu indah. Sean mematung sementara pelukan terurai dan Josephine segera kembali mengambil selimut yang jatuh di lantai lalu mengubur diri hingga kepala.
Jantung keduanya bertalu-talu tak terkendali. Begitu aneh, begitu menyenangkan.
“Josephine.. bagaimana kau mengubur diri di sana setelah mengobrak-abrik jantungku…” Sean mengerang keras. Namun pria itu bangkit kesenangan sambil menghentakkan kaki di lantai seperti anak kecil yang gembira setelah dibelikan mainan oleh ibunya.
🐾🐾🐾🐾
“Dia bilang tidak akan pulang sampai beberapa hari ke depan karena sibuk mengurusi simpanannya yang hamil”
“Apa dia sungguh mengatakannya begitu?”
“Tidak, aku mengarang” Sean tertawa. Mereka duduk berdua—kembali ke halaman belakang tempat sawi tumbuh subur. Josephine meminta Sean membawanya kemari namun bukan untuk menanam, melainkan duduk di bawah sinar matahari pagi ditemani sepotong croissant dan kopi panas.
Duduk wanita itu di bawah payung besar, sementara Sean berdiri tiga meter di sampingnya sambil menautkan tangan ke belakang.
“Phine.. dari belakang, kau mirip kera” kata pria itu kemudian. Josephine lantas menengok.
“Apa kau bilang? Apa kau mau kupukul? Aku majikanmu, kau yang mirip kera”
Lontaran itu membuat Sean kembali terpingkal-pingkal. Josephine ternyata tidak pendiam. Dia bukan perempuan anggun yang duduk diam dengan senyum memesona. Dia adalah perempuan ceria yang mudah emosi saat diledek. Juga pukulannya seperti marmut membuat Sean senang sekali menjahili.
“Hey majikan. Maukah kau menikah denganku?”
“Tidak”
“Waw.. sayangnya hari ini adalah hari kebalikan. Jika kau mengatakan tidak, itu artinya iya. Jika kau mengatakan iya, artinya tidak”
“Dasar idiot”
“Karena ini hari kebalikan. Maka idiot artinya si jenius. Aku memang jenius, tampan, dan menawan”
“Karena ini kebalikan, artinya kau mirip kera dan tidak menarik” jawab Josephine tak mau kalah.
“Phine.. kau ini tidak dewasa sekali. Mana ada hari kebalikan. Seperti anak kecil saja. Berperilakulah sesuai usiamu” Sean berkata setengah berbisik. Jelas dalam konteks meledek.
Lantas perempuan itu benar-benar menatap Sean penuh. Lalu mengacungkan jari tengah.
“Phine.. kau tidak sopan. Wanita anggun tidak boleh seperti itu. Turunkan tanganmu atau aku akan berbuat sesuatu yang melibatkan jari tengah” kata-kata itu tidak membuat Josephine patuh. Ia malah menjulurkan lidah meledek.
“Lucu sekali astaga. Ingin ku makan rasanya” Sean menahan diri untuk tidak menabrak perempuan itu—mengingat ada tukang kebun yang sedang memotong rumput berjarak 50 meter dari tempat mereka bercengkrama.
“Sean, maukah kau mencoba menanam pohon tebu? Aku ingin sekali tebu. Aku melihatnya pada video pendek. Tapi tak berani meminta pada pelayan atau Andreas. Padahal, jika aku mengatakannya baik-baik, mungkin saja dia akan bermurah hati”
“Aku akan memberikan serubu liter perasan tebu asal kau mau kabur bersamaku hari ini” lontaran kelewat enteng. Josephine mendengus.
“Kau tidak takut apapun, ya?”
“Nyaris. Mungkin aku takut pada tuhan”
“Mungkin? Kau memang luar biasa pemberani. Kau hanya belum tau bagaimana jika Andreas mengamuk”
“Andreas lagi” Sean mendecih “Aku jadi tidak sabar untuk melihatnya mengamuk dan melawanku. Bukan memukuli perempuan lemah yang tak berdaya. Itu sama sekali tidak keren, Phina.. Memukuli wanita tidak hebat, itu pecundang”
Wanita itu mengangguk, ia kembali mengangkat mok lalu menyesap kopi pelan-pelan.
“Mau kopi?” tawarnya ramah.
“Apa seorang majikan boleh menawarkan kopi yang sedang di minum?” Sean balik bertanya.
“Entah.. Rasanya, kopi ini sangat enak dan aku ingin berbagi dengan temanku satu-satunya” jawab Josephine.
“Teman? Aku bukan temanmu, siapa juga yang mau jadi temanmu. Huh? Aku kekasihmu, Phina.. Perlu kutekan agar kau tidak lupa”
Lalu suara keras mengalihkan obrolan mereka berdua—suara itu terdengar dari jarak lima puluh meter dari tempat tukang kebun yang membawa troli berisi rumput dan gunting besar. Ia melenggang pergi setelah menunduk dan melempar senyum jauh pada Josephine dan berbalik—menghilang di balik pagar tinggi dengan pintu gerbang yang menderit keras karena engsel yang berkarat.
“Apa pekerjaannya selesai? Awalnya, aku sempat berpikir untuk jadi tukang kebun” bisik pria itu tanpa disimak dengan benar oleh Josephine. “Berarti hanya ada kita berdua, ya?” lalu ia melirik si perempuan yang sibuk menyesap kopi “Phina..”
“Ya?”
“Aku mau kopi”
Sean mendekat, berdiri ia di belakang Josephine yang sedang minum kopi. Lalu, dengan tidak sopan Sean mendongakkan sang majikan sebelum melumat bibir Josephine rakus.
Pria itu menyesap seluruh kopi yang belum sempat ditelan dari rongga mulut wanita itu. Seperti akan memakan Josephine hidup-hidup.
“S-sean.. Ahng… hm..” tangan Josephine berusaha mendorong kepala pria itu meski tentu saja mustahil Sean akan bergerak atau menjauh. Ciuman mereka malah semakin intens, makin dalam dan makin berwarna. Sean mengelus leher depan Josephine, lidahnya menari-nari di dalam, mengacak-acak, lalu kembali melumat bibir, kembali membelitkan lidah. Josephine susah payah mengimbangi ciuman pria itu.
Dua tangan Josephine meremas gaun paginya yang cantik jelita. Tangan besar pria itu masih mengelusi leher depan tanpa berani bertindak lebh jauh.
Lalu ciuman berakhir dengan kecupan ringan pada pipi si wanita dengan lembut.
“Aku mencintaimu, Josephine, sungguh.. Aku tidak mau kau terluka lagi.. Pergilah bersamaku dan mulai hidup baru tanpa luka”
Josephine belum sempat menjawab kata-kata pria di belakangnya, ponsel Sean lebih dulu berdering. Cekatan Sean mengangkatnya.
“Ya, Lilian?” katanya, suaranya tenang.
“Kau… ah sialan… bos, paduka, yang terhoror, yang ter-ter-ter, apa kau serius dengan apa yang akan kau lakukan, Pak Sean Benjamin? Apa kau tidak waras?” suara Lilian melengking di balik telepon. Josephine bahkan mendengar suara wanita itu.
“Apa seperti itu caramu bicara padaku, Nona Lilian..? Aku terharu” jawab Sean sambil terpingkal-pingkal.
“Bukan waktunya tertawa, Sean.. coba pikirkan apa yang baru saja kau ajukan, apa yang baru saja kau kerjakan. Perusahaan itu yang susah payah kutolak karena terus memaksa dengan kinerja menyedihkan. Jika bukan bermodal saudaranya yang telah meninggal, aku yakin perusahaan itu sudah amblas. Makannya dia ngotot ingin menjadi investormu dan sekarang… ah gila.. Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi, tim sudah bergerak. Akupun telah mengirimkan orang-orang yang kauminta ke alamat yang juga kau minta. Sebenarnya, ada apa? Kenapa dadakan, huh? Dewan Direksi tak berkomentar dan hanya meminta semua orang menurutimu” lalu terdengar helaan napas lelah dari sang asisten. “Sean kau… kau benar-benar.. Sekarang kau dimana?”
“Aku sedang berkencan, Lilian. Aku memiliki kekasih” Sean mengatakannya bangga sambil mengelus kepala Josephine dari belakang “kau akan jadi nenek-nenek yang keriput sambil memarahiku–membawa map. Sementara aku bercinta dengan istriku” katanya, enteng. Lalu terdengar suara hardikan di seberang.
“Lilian, kau sangat kasar. Aku harus mulai mendisiplinkanmu..” lalu panggilan terputus sepihak oleh Lilian. Sean makin terpingkal-pingkal. “Astaga.. Lucu sekali Lilian..”
“Lilian siapa? Kekasihmu?” Josephine mendongak.
“Kekasih apa, kekasihku sedang duduk minum kopi. Dia asistenku” katanya jujur.
“Seorang pengawal memiliki asisten. Itu tidak wajar”
🐾🐾🐾🐾
Dan siapa saja tahu bahwa Andreas bukan orang waras yang akan terus dalam suasana hati yang bagus sepanjang tahun. Josephine paham, namun tetap gagal menjaga hatinya untuk tidak takut. Tiap Andreas mengamuk, ia akan bersikap tenang, kendati di pukul, di jambak atau segala jenis penyiksaan lainnya, Josephine hanya akan diam tanpa tangis normal–seorang wanita yang kesakitan. Namun diam bukan berarti berani, bukan berarti tidak takut. Ia hanya terlatih untuk seperti itu.
Seperti malam ini.
Pria itu tiba-tiba datang dengan rahang mengeras. Sorot matanya jelas menginterpretasikan akan kemana tangan itu melayang, atau kaki itu menendang.
Andreas berdiri di depan pintu setelah melihat Sean yang menunduk hormat. Pintu kamar terbuka lebar—membentur dinding hingga seperti akan menjungkirbalikan engsel.
Sementara Josephine gugup meski sudah berusaha berwajah tenang—kendati tetap gagal membuat kaki dan tangannya berhenti bergetar halus. Kali ini, entah apa lagi yang bisa dijadikan bahan pria itu mengamuk. Bisa saja warna baju yang Josephine gunakan malam ini. Atau pengharum ruangan. Atau bisa jadi karena lantai yang mengkilap serta dinding yang berwarna putih. Apa saja, meski tidak masuk akal, namun apa saja bisa memicu emosi pria itu lalu memukulinya tanpa ampun.
Namun rupanya, Andreas tidak langsung tumpah ruah seperti biasa. Pria itu tidak mendatangi Josephine lalu membantainya dengan pukulan. Pria itu mendelik sementara istrinya tidak balas menatap, namun menunduk sedikit.
“Ikut aku ke halaman belakang, Jose. Ayo minum teh”
Ayo minum teh
Ayo minum teh
Ayo minum teh.
Kata-kata itu terus berputar-putar di kepala. Minum teh malam-malam di halaman belakang—artinya adalah membunuh pengawalnya. Josephine menggeleng. Ia melirik ke luar—di mana Sean berdiri masih mengaitkan tangan ke belakang seperti pengawal professional.
“Kau menggeleng, Josephine?” tanya Andreas. Bola matanya seperti akan menggelinding keluar dari rongga. Wanita itu gantian menggeleng lagi. Ia bangkit cepat-cepat sambil bersusah payah menelan ludah. Andreas keluar lebih dulu.
“Sean, ayo minum teh” katanya ramah, pada satu pengawal yang berwajah tak kalah keras.
Josephine ketakutan. Pacu jantungnya kelewat besar seakan ingin keluar paksa dari dalam. Ia menatap Sean beberapa detik sebelum membuntut suaminya. Sean hanya menikkan sebelah alis sambil melempar ciuman udara dengan tengil. Pria itu tidak tahu jika apa yang akan dilakukan Andreas mungkin saja akan menjadikan tingkah tengil itu adalah pola terakhir yang Josephine lihat sebelum Sean mati.
Sean mati. Sial. Membayangkannya saja Josephine tidak sanggup. Namun di antara seluruh kepanikan dan ketakutan, ia jelas tidak bisa merengek–memohon pada Andreas untuk melepaskan Sean. Tidak, itu mustahil. Dan malam ini, sepertinya akan menjadi malam paling menyedihkan. Bahkan, Josephine sudah berpikir untuk bunuh diri.
Sebenarnya pikiran bunuh diri selalu datang setiap hari, namun wanita itu bahkan tak memiliki keberanian untuk mati. Sungguh pecundang.
Teh tersedia dalam mok.
Hibiscus Tea.
Warnanya merah cantik. Rasanya mirip rosella sedikit manis alami dan segar. Josephine memandangi isi mok dengan perasaan takut yang membuncah, wajahnya ikut memucat.
Sean duduk di antara mereka berdua karena perintah Andreas.
“Sean, bukankah teh ini warnanya cantik?” tanya Andreas berbasa-basi. Josephine mendongak, ia tahu Andreas bukan orang yang gemar berbasa-basi. Lalu pandangannya pindah pada Sean yang tak mencicip–enggan, bahkan menyentuh mok pun tidak.
“Tidak tahu, aku tidak suka teh” kata Sean enteng, tanpa embel-embel dengan panggilan Pak atau sejenis.
“Tapi kau suka perempuan cantik, kan?”
“Semua lelaki suka perempuan cantik. Hanya orang gila yang mau dengan orang jelek, itu alamiah” jawab Sean lagi, masih konsisten tidak sopan. Josephine ingin sekali mencubit bibir pria itu. Sungguh, rasanya seperti ingin menangis—membayangkan Sean terkulai lemas dengan darah yang berceceran membuatnya seperti linglung.
“Wah… aku memang tidak salah menerimamu. Kau sungguh luar biasa, Sean!” Andreas tepuk tangan tiba-tiba. Pria itu tertawa sendirian seolah ada yang lucu di sana. “Kau mencumbu istriku di halaman belakang. Lalu memeluknya dalam kamarku sendiri. Kau mencuri-curi pandang dan terus menggodanya. Wah.. kau unik sekali..” kata Andreas lagi, lagi-lagi tertawa hingga keluar air mata.
Josephine mulai bergetar. Matanya mendelik sementara kepalanya makin tertunduk. Air matanya berjatuhan dari sudut kelopak tanpa ada keberanian untuk mendongak. Bahkan meja ikut bergetar karena tubuh Josephine.
“Kau ketakutan, Jose?” tanya Andreas. Josephine akhirnya mendongak.
“Bunuh saja aku.. Andreas.. Aku yang menggodanya, aku pelacur gila yang mendatangi Sean duluan, aku yang merayunya.. Aku.. aku yang gila.. Bunuh aku saja..” katanya berdusta. Sungguh, ia tidak mau melihat Sean mati di depannya. Tidak, tidak ingin lagi.
Mendengar jawaban istrinya, Andreas tertawa makin terpingkal-pingkal.
“Jose…. Kau lucu sekali.. Ah.. perutku sakit.. Wah.. seberapa besar rasa cintamu pada pengawal rendahan ini, hum? Seleramu menurun, ya? Aku mengerti kondisimu karena kau jarang sekali ku sentuh. Sudah berapa lama? Setahun? Dua tahun? Aku lupa. Aku enggan menyentuhmu karena kau kaku, kau memang cantik, tapi gayamu tidak lebih dari pelapah pisang atau mayat. Kau sangat monoton. Tapi aku masih membutuhkanmu karena… kau tau.. Aku butuh ahli waris ayahmu untuk terus menyambung perusahaan. Josephine sayang.. Oh…” Andreas mengusap wajahnya kasar “tapi aku tidak suka di khianati.. Kau pasti mengerti. Harusnya kau paham walau vaginamu kelewat gatal, setelah ini, aku akan memasukkan besi panas dalam liang hina mu itu, oke?”
Hening.
Di sebelah, Sean mengulum lidahnya dengan rahang mengeras dan urat-urat yang menonjol–bukan, sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak gegabah.
Juga, ini pertama kalinya Andreas tidak marah yang menggebu-gebu. Padahal, ini adalah kesalahan fatal. Josephine yakin, setelah ini, ia akan di kurung di kandang anjing dan dipaksa mengunyah kotoran hewan itu.
“Sekarang Josephine, lihatlah apa akibat yang kau dapat setelah mengobral birahi dan liangmu yang menjijikan itu. Aku akan membuat kau menyaksikan kekasihmu membusuk di kandang anjing. Lalu kau menyaksikannya perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit hingga tubuhnya meleleh di makan belatung” ancaman itu berhasil membuat Josephine sesak. Sampai akhirnya wanita itu menangis. Ia tergugu menatap Sean.
“PERGILAH BAJINGAN!! CEPAT KABUR!! KUBILANG KAU HARUS SEGERA LARI SELAGI ADA KESEMPATAN! KENAPA KAU DIAM SAJA HAH? AKU MARAH PADAMU, SUNGGUH!!! KAU HARUS HIDUP DAN KELUAR. KAU HARUS BAHAG–”
BUGH!!
Pukulan itu tepat mengenai rahang Josephine yang sedang berteriak pada Sean, wanita itu kontan jatuh pingsan.
“Wah… lihatlah.. Baru sekali ini saja aku melihatnya membela lelaki. Dia biasanya hanya diam tertunduk tapi kali ini… wah” Andreas tepuk tangan sementara Sean mendelik. Ia ingin membantu Josephine, namun tau jika pukulan Andreas tidak sekeras itu untuk ukuran mencederai. Josephine hanya pingsan biasa.
“Kalian pasangan yang cocok. Maka, sehidup semati di kandang anjing, bukankah ide bagus?” tanyanya lagi “berdirilah Sean, aku akan memanggilkan ajudan yang lain untuk memukulimu jika kau melawanku, paham?”
“Paham, Pak!” kata pria itu dengan gaya profesional seolah menghormati Andreas.
Andreas mendekat, lalu melayangkan pukulan pertama—yang harusnya tepat mengenai rahang, namun Sean menghindari dengan bergerak sedikit tanpa mengubah posisi—membuat Andreas seperti memukul udara.
“Kubilang diam, setan! Kau mau mati, hah?” wajah Andreas memerah karena jengkel. Rasanya seperti di permainkan meski baru sekali memukul dan tidak kena. Rupanya harga dirinya terluka.
Lalu ia merogoh ponsel—menelepon semua ajudannya. Namun aneh, saat semua nomor yang dihubungi tidak aktif.
“Sial” katanya. Tanpa merasa ada yang janggal. Ia malah kembali fokus akan memukul Sean.
Lagi, satu pukulan yang harusnya mengenai tepat pada dahi, kini melayang begitu saja tanpa arah. Sean terkekeh melihat reaksi Andreas yang makin kesetanan. Pria itu justru buru-buru menggendong Josephine dan merebahkan tubuh itu di atas sofa–melepas jaket dan menyelimuti wajah kuyu kesayangannya.
Andreas datang dari belakang dengan balok besar yang entah di dapat dari mana. Rencananya akan memukul kepala belakang Sean—namun berhasil di halau dengan tendangan pada alat vital sekuat tenaga.
Andreas jatuh mundur terpelanting. Balok melayang entah kemana sementara buah zakarnya seperti akan pecah. Pria itu meronta-ronta di atas rerumputan.
Sean berjalan mendekat. “Andreas…. Andreas…” Sean bergumam sambil menggaruk kepala. “Kau si pecundang gila yang menyiksa istrimu, orang edan” kata pria itu “ayo buat k kesepakatan denganku” langkahnya makin mendekat. Sean menginjak paha pria itu dan Andreas menjerit keras. Tangan Sean merogoh ponsel, lalu menelepon seseorang.
Dalam waktu kurang dari dua menit, seorang pengawal yang tidak dikenal Andreas mendekat. Pengawal itu bukan orang-orangnya, wajahnya asing. Ia mendekat lalu membawa map yang kontan di serahkan pada Sean.
“Kau bekerja keras hari ini, Alan” kata Sean pada pengawalnya, sang pengawal tersenyum, berdiri ia di samping bosnya yang sedang menginjak Andreas. “Ini akta cerai. Kau tanda tangan disini, atau mati di tanganku” Sean berujar ramah. Ia menydorkan kertas pada Andreas yang langsung di ambil lalu di sobek-sobek.
“Aku tidak akan menceraikan Josephine, sampai mati” kata pria itu yakin—meski posisinya di bawah dan rentan.
Surat yang sobek di abaikan. Pengawalnya kembali membawakan kertas yang baru sementara Sean naik menginjak kemaluan Andreas dengan pantofel keras.
“Ambilkan laras” kata Sean. kata-kata itu membuat Andreas ketakutan.
“Hey! Hey! J-jangan main-main dengan senjata api! Negara ini punya hukum! Kau mau masuk penjara?” ujar Andreas ketakutan. Tapi, yang paling sesak adalah penisnya yang terjepit membuatnya seperti akan mati.
Namun siapa yang akan mendengar. Sean meraih senapan dari pengawalnya, juga surat cerai baru.
DOR!
Kaki Andreas berlubang. Lubang menganga dengan peluru tembus ke tanah. Andreas memekik–menjerit ia sekuat tenaga lalu meraung-raung.
DOR!
Sean kembali menembak paha atas.
Pria itu meminta ampun.
“Kubilang tanda tangan, kenapa susah sekali sih?” Sean kembali mengangkat senapan dan di arahkan ke paha atas yang masuh utuh.
“A-ampun! Ampun, aku akan tanda tangan.. Tolong.. Tolong ampuni aku.. Bawa aku ke rumah sakit… tolong..” suaranya tersendat-sendat. Dengan gemetar dan air mata yang keluar banyak, pria itu akhirnya menandatangi sekitar lima kertas dengan materai yang ia sendiri tidak tahu apa-apa saja isinya selain surat cerai.
“Nah.. begini kan enak, kenapa di persulit, sih? Kau ini memang keparat dungu” Sean lantas meminta pengawalnya untuk membawa Josephine ke rumah sakit. Ia harus mengurus beberapa hal dengan Andreas.
Sementara tubuh Josephine menghilang di bawa pengawal, Sean masih berdiri sambil menginjak luka bolong karena peluru di paha Andreas—yang semakin memancarkan darah makin banyak.
“Kau baru saja menandatangini surat penyerahan seluruh kekayaan dan aset pada Josephine. Seluruhnya, semuanya. Ini memang harta Phina, kan? Kau ini pencuri tolol yang hanya berani memukul perempuan. Kau yang seperti itu, aku yang malu, dasar tolol kau” Sean lalu merogoh kantong berisi jeruk limau yang ia temukan di halaman belakang beberapa hari lalu. Sudah beberapa hari juga buah itu ada dalam kantongnya.
Ia lantas menggigit buah itu lalu di peras tepat di atas luka menganga. Andreas menjerit sekuat tenaga, suaranya besar, melengking begitu menyakiti telinga.
“Bersiki hey! Aku jadi tidak fokus membacakan surat” lalu laras panjang itu–moncongnya masuk ke dalam mulut Andreas yang kontan membuat pria itu diam. Pria itu diam dengan air mata yang mengalir deras.
“Lalu, kau bercerai dengan Josephine karena mengaku berselingkuh, menyiksanya di rumah, dan memperdaya mendiang mertuamu dengan curang hingga mengalihkan seluruh harta ke tanganmu. Itu sudah kembali ke tempat seharusnya.” Sean mengangguk-angguk sambil memindahkan kertas yang di belakang ke depan.
“Aku juga membuat kebohongan atas kau, Andreas. Aku membuatmu seolah-olah kau bunuh diri. Aku akan membuat kecelakaan palsu yang mengatasnamakan dirimu atau gantung diri? Yang mana yang paling epik dan natural? Ada ide?” Sean terlihat berpikir.
“Sudahlah, apa saja. Pokoknya asal aku bisa tenang mengurusmu di kandang anjing, oke?” Sean mengangguk lagi atas surat dan celotehnya yang ia baca sendiri.
“Lalu…. Em…. sudah.. Sisanya malas kubacakan. Intinya, kau sekarang adalah gelandangan tanpa harta, semua hartamu kembali ke tangan Josephine dan kau mati bunuh diri padahal ada di kandang anjing. Aku tidak akan memberimu makan karena kau akan makan tai anjing” Sean terbahak-bahak mengatakannya. “Dan rumah ini… sekarang milik Josephine. Terserah akan di apakan aku tidak akan ikut campur. Aku hanya akan menikahinya dan bersenang-senang, lalu mengajaknya pergi ke banyak tempat menyenangkan. Dan kau.. Kau bisa mengawini anjing jika penismu masih bisa ereksi, oke?”
🐾🐾🐾🐾
Delapan bulan berlalu.
Rasanya semua hal bagai kedipan mata.
Josephine akhirnya menerima lamaran Sean setelah hampir setiap hari pria besar itu merengek minta diterima. Padahal ia sudah mengatakan untuk memulihkan trauma dulu akibat pernikahan sebelumnya, namun tampaknya, Sean bukan orang yang akan bersabar sampai hari itu–hari yang tidak tahu sampai kapan. Pria itu bahkan mengancam akan memakan kembang api.
Josephine kembali.
Wanita itu menceritakan pada dunia apa yang dihadapinya saat menjadi istri Andreas. Ia bahkan datang ke banyak acara-acara tivi besar setelah seluruh bukti dan saksi bermunculan dan semua orang menatap ke arahnya. Nama Josephine kembali melambung setelah ia membongkar aksi busuk mantan suaminya yang telah mati—padahal belum.
Pelan-pelan, semuanya kembali pada tempat semestinya.
Josephine akhirnya kembali membuka lapangan pekerjaan di perusaahan yang ditinggalkan Andreas untuk para wanita yang bernasib sama sepertinya dan para korban pelecehan, juga wanita yang terlantar. Tentu saja atas dukungan suaminya yang baik hati sekaligus nakal luar biasa. Nakal dalam kategori lain, kategori menyenangkan dan lucu.
Semuanya kembali. Kebaikan datang, doa-doa dijawab dan hidupnya berubah.
Sean.
Benar, pria itu adalah jawaban dari doa-doa di antara keputusasaannya.
Sementara Andreas.
Pria itu masih tinggal di kandang anjing. Dua kakinya lumpuh, ia tak pernah keluar. Kandang anjing memiliki sirkulasi udara yang bagus, sinar matahari masuk dengan baik. Kini tampilan Andreas tidak lebih bagus dari anjing, jika sedang berbaik hati, Josephine akan memberinya makanan layak, lalu minuman bersih. Juga multivitamin. Jika sedang malas, Andreas benar-benar memakan kotoran anjing.
Juga, leher Andreas yang di ikat rantai. Belenggu keras, lehernya tercekik namun tidak sampai pengap. Pria itu sudah tidak bisa bicara. Tubuhnya sangat kurus hanya tulang berbalut kulit. Matanya cekung dan aromanya seperti kotoran anjing.
Setiap hari, ia memohon untuk mati. Seperti Josephine dulu.
Wanita itu tak peduli jika ia lebih jahat dari perilaku Andreas selama ini. Pun, beberapa kali ia meminta pada Sean agar membuang Andreas ke laut, suaminya itu masih bermalas-malasan dan memilih menjadi tukang kebun di perumahan orang kaya yang kikir.
🐾🐾🐾🐾
Atau malam indah di bawah cahaya bulan. Tepatnya di sofa halaman belakang. Sean sudah meminta semua pelayannya pergi dan akan menggunakan ruang terbuka itu untuk berbuat mesum.
Tubuh Josephine naik turun. Dadanya ikut bergerak liar. Sean berada di atasnya, menghentakkan penisnya kuat-kuat, dalam-dalam dan keras. Josephine menjerit sambil meminta ampun, meminta suaminya memelankan tempo, namun siapa yang akan mendengarkan?
Sejak awal menikah, milik Josephine terlalu rapat untuk ukuran janda. Andreas sialan itu memang benar-benar tidak menggauli istrinya karena Josephine malu-malu. Wanita itu pemalu berat dan memilih dipukuli ketimbang bercinta dengan gaya. Bersama Andreas, wanita itu bahkan tidak berekspresi, veginanya kering dan lama-kelamaan Andreas tidak berselera.
Sekarang, saat bersama Sean, pria itu memintanya begini dan begitu, Josephine akan menggeleng. Maka, Sean yang membolak-balik paksa, juga mengangkat tubuh itu untuk naik ke atas tubuhnya dan meminta Josephine menari di atas. Begitu terus, hingga terbiasa.
Sean sangat ekspresif. Dan ia sangat suka saat Josephine malu-malu, tapi mau juga.
Mereka masih beradu peluh. Erangan bersahut-sahutan sebelum panggilan pada ponselnya ikut mengganggu.
Dari posisinya menindih Josephine, Sean masih bisa melihat pesan masuk dari Lilian.
