
“Kek mana cara kita makan? Stok darah habis. Dimana Kristal biasa beli darah? Hewan?” Samuel mondar-mandir. Di sofa, semua orang kumpul. Sudah bertanya pada Lyn dan Isa, namun dua gadis itu bahkan tidak tahu dari mana Kristal mendapat pasokan darah atau hewan hidup. Tampaknya, kekasih Edgar itu memang memiliki koneksi khusus yang sangat rahasia.
“Udah gua bilang kita balik ke hutan” Logan mengangkat tangan. Semua orang menatapnya dengan ekspresi berbeda-beda. Meski kebanyakan tidak setuju.
Sinu masih diam. Masih tenang dengan meyilangkan kaki. Tatapannya lurus pada dinding putih tanpa apapun yang bisa dijadikan atensi di sana.
“Ayolah, pasti ada ide sembari nunggu si neng bangun” Samuel masih bersuara. Dari semua orang, pria itu yang paling ngotot tak ingin kembali ke hutan. Rasanya, di dunia manusia ini—merupakan tempat paling idela untuk hidup.
“Gua beliin hewan idup aja buat sementara. Tapi ya gitu, kalian kenyot sendiri. Gua nggak perhatian, juga nggak tanya Kristal gimana cara dia nyedot darah sapi dan di wadah-wadahin ke tumbler atau alat apapun itu. Gua bisa beliin hewan idup..” Lyn menggigit ujung jempolnya ragu.
“Ya, memang ada pilihan? Ketimbang nggak makan” Jake ikut bersuara, matanya mengantuk.
“Tapi, Kristal bakal beneran bangun kan? Gua yakin Opung bakal boyong kita semua ke hutan kalau Kristal nggak balik” nadanya sedih, ia mendusal pada ketiak Edgar, si bungsu tidak bersemangat jika sudah membahas perkara ini. Rasanya, ia tidak mau lagi kembali ke kastil yang sepi dan membosankan. Meski sejak portal terbuka, ia belum sepenuhnya menyambangi isi hutan. Pun, Sinu beberapa kali mengatakan omong kosong tentang hutan yang tidak seburuk itu saat portal terbuka. Lalu menjanjikan akan membuat peradaban serta kehidupan yang layak. Lagipula, mereka sudah tidak terkukung—dan bisa saja keluar untuk berbaur dengan manusia meski butuh waktu untuk berjalan jauh ke pemukiman manusia.
“Malas gua liat muka abangnya Dukun. Dia itu cinta hutan, jadi beruk kek” sambung Daniel. Tampaknya pemuda itu akan frustrasi jika Sinu mengiyakan kekahwatirannya. “Keluar yuk” ia membelai jabang rambut Edgar yang sedang melamun “jangan nangis aja lu tuh, bosan gua”
“Nggak ngerasain lu. Bayangin… dahlah, sesak dada gua. Berapa lama?” Edgar menatap ponselnya, lalu ponsel Kristal yang sejak awal berhasil ia selamatkan entah bagaimana caranya.
“Lay, ke RS yuk” Jake bangkit, ia menyepak kepala Edgar dengan ujung kaki. Yang di sepak hanya menengok.
“Bisa akalin masuk? Pengawalnya ketat banget anjing. Parah” ia menghela napas, sudah berapa kali? Semuanya tidak berjalan mulus.
“Gua beli baju perawat, nyamar jadi perawat” Jake meyakinkan saudaranya.
“Ikut” si bungsu angkat tangan.
“Terusin.. Kan, males gua” Jake tak jadi bangkit.
“Gua aja, mau gua usap lagi. Dia itu udah pulih, udah bagus, nggak ada yang rusak lagi. Cuma ya emang masih lemes. Jelas. Barangkali butuh satu sampe dua bulan buat sehat total” Samuel akhirnya duduk setelah sejak tadi mondar-mandir mirip setrika.
🐾🐾🐾🐾
“Kamu siapa?” tanya wanita itu ketus. Johan mengenakan setelan mahal yang necis. Warnanya begitu pas dan jelas gayanya seperti orang kaya baru namun tidak norak.
“Saya temen bisnisnya, Tante..” kata pria itu. Senyumnya naik tinggi begitu sopan dan ramah. Ibu Kristal yang berwajah suram sama sekali tidak membalas senyum. Matanya masih naik turun meneliti pria itu.
Sebenarnya, ada beberapa pria yang datang. Mereka semua membawa alasan yang mirip-mirip seperti rekan bisnis, teman kampus, teman lama, atau—entah. Ada saja—juga ganti-ganti. Dan tidak satupun di izinkan masuk termasuk dua teman perempuan Isa dan Lyn.
“Ini rumah sakit, bukan tempat main. Nanti kalau anak saya udah sembuh, baru bisa ngobrol. Sekarang jangankan ngobrol, yang ada kamu bawa penyakit buat anak saya” kata-kata itu khas seperti ibu kaya raya yang galak dan terlalu ketat pada anaknya di sinetron. Johan pernah melihatnya di tivi.
“Saya pacarnya, Tante.. Kali aja kalau saya sambangin, Kristal bisa cepat seger” tidak tahu, pria itu tidak tahu kenapa mulut sialannya malah mengoceh seperti itu. Semalam, Samuel berhasil masuk dan kembali mengusap gadis itu. Seharusnya, Kristal sudah bisa diajak bicara. Tapi karena ibu-ibu galak di depannya ini, sangat sulit untuk bertemu sementara semua orang jelas bergantung pada satu eksistensi yang sangat berharga di dalam sana.
“Kamu pacarnya, serius?” ibu Kristal mengganti mimik wajah meski Johan tetap gagal menerjemahkan.
“Serius.. Saya.. pacarnya..” lalu mencicit. Yang terakhir malah memperkuat keraguan.
“Ada tujuh laki-laki datang dan semuanya ngaku pacar setelah mereka mengaku teman dan rekan bisnis”
Sial
Dari dalam, suara lemas itu membuat sang ibu cepat-cepat masuk–juga menutup pintu keras—membuat Johan kaget. Rasanya, ingin sekali ia racun ibu Kristal.
“Iya nak, iya sayang… Mama disini” Kristal membuka mata. Ibunya langsung menghujaninya dengan kecupan-kecupan di sepanjang wajah dan rambut. Sebenarnya, sudah sejak tiga hari lalu gadis itu bisa diajak bicara meski sedikit sekali. Kristal lebih banyak tidur. Dan sejak pagi, gadis itu sudah bisa makan. Itu juga kemajuan pesat.
“Ma.. Edgar mana?” ia celingukan. Sejak membuka mata pertama kali, setelah menangis mencari ayahnya, kakaknya, ibunya, lalu yang terakhir, Kristal menangisi Edgar. Namun ia tidak tahu siapa Edgar selain artis pendatang baru yang–juga membawa anaknya ke rumah sakit. Sang ibu tidak benar-benar mendatangkan pria itu karena takut membawa penyakit.
“Papa aja, ya? Papa sama abang. Mama telpon ya?”
“Nggak mau.. Mau Edgar, Edgar mana..” gadis itu mulai menangis. Wajahnya pucat meski bibirnya tidak kering karena cairan infus yang menghidrasi.
Namun bukan Edgar, ibunya benar-benar menelepon suami dan anak sulungnya.
Johan masih menunggu di luar. Sepatu merah muda dengan merek ternama dunia itu mengetuk-ngetuk ubin rumah sakit. Dua tangannya masuk dalam saku seolah sedang menunggu sesuatu—apapun. Berharap wanita galak tadi mau mempersilahkannya masuk dan berbaik hati juga memperbolehkan enam keluarganya yang lain untuk datang.
Tentu saja mustahil. Kendati ia mendengar sayup-sayup suara tangis khas yang paling ia kenal, namun siapapun tak ada yang keluar.
Hingga setengah jam kemudian.
Dua pria berjas mahal mendekat. Pantofel mengkilap membawa suara ritmis yang konstan—serta potongannya khas orang kaya raya–membuka pintu dengan tergesa-gesa. Siapa saja harusnya tahu siapa pria berpostur tegap dengan uban yang nyaris rata.
Johan menahan pintu hanya agar bisa mengintip apa yang terjadi di dalam. Tidak masalah jika terlihat dan diusir, bahkan sejak kedatagannya memang sudah terusir.
“Mana anak gadis… astaga… nggak perhatian banget Papanya ya Allah.. Anak kesayanganku… gimana aku bisa hidup, bernapas, dan pergi saat anaknya kayak gini”
Ayah Kristal mendekat, lalu memeluk anaknya sambil menangis. Kristal sedang di suapi sup yang tidak lagi hangat. Sementara yang dipeluk hanya mencebik, ia enggan mendongak saat ayahnya menciumi kening.
“Kenapa ini? Ngambek kah?” ia bertanya pada istrinya “pengen apa ini? Pulau mau pulau? Nanti cari hantu. Papa beli pulau setan aja gimana?”
“Pulau itu loh Pa, pulau Epstein” kakaknya menyelutuk, ia mengusap kepala adiknya yang masih dalam dekapan sang ayah.
“Punya pacar dia, namanya Edgar, jelek mah. Mana rambutnya pirang kayak anak punk” jawab ibunya asal–sambil menyuapi makan.
“Mama! terusin..” gadis itu kembali merengek “kemarin aku berhari-hari di kapal, abang nggak datang, aku mau mati dari Ternate ke Jakarta”
“Itu lagi di bahas, menyesal gua astaga…” Kakaknya duduk di sisi ranjang sambil mendengus. Sejak awal Kristal masuk rumah sakit, tiga orang itu tidak percaya bahwa si bungsu akan sehat kembali. Juga, dokter selalu mengatakan hal-hal mengerikan juga tidak masuk akal. Maka, mereka berjanji akan lebih perhatian. Ayahnya yang sibuk luar biasa bahkan tidak lagi peduli pada pekerjaan. Baru tadi pagi saja pergi ketika berhari-hari ia menemani anaknya dan langsung datang saat istrinya menelepon.
“Mana pacar? Yang mana? Kenalin ke Papa, kalau jelek kita operasi, kalau miskin kita suruh kerja, nanti Papa kasih kerjaan” ia mengecupi kepala anaknya.
“Edgar loh, abang suruh cari Edgar di youtube yang malam apa itu tampil di GBK. Dia pacar aku.. Ganteng banget” kata si bungsu menggebu-gebu. “Cepetan buka hp” ia mendorong ayahnya agar mau membuka ponsel. Ayahnya patuh saja.
“Yang mana si… dia nyanyi lagu judulnya apa?” ayahnya menyerahkan ponsel pada sang anak “coba kamu cari, nanti Papa liat” Kristal buru-buru mengetik keyword dan sekali tekan, wajah Edgar memenuhi layar pencarian.
“Tuh, tonton Pa” ponsel kembali diberikan pada ayahnya. Pria itu menonton dengan istri dan anak sulungnya.
“Kurus amat nak, nggak cari yang kekar, yang bisa jagain kamu. Ini bukan ganteng, cantik ini..” ayahnya berkomentar kemudian.
“Mama malah awalnya ngira dia cewek” Ibunya menyusul berkomentar.
“Ini kayaknya nggak bisa ereksi” dan komentar terakhir sang Kakak membuat ayah dan ibunya mendelik.
“Terusin!!!!” Kristal merengek lagi. Tiga orang itu tertawa. Johan yang mengintip ikut tertawa.
Lalu setelah ada tawa asing selain keluarga, Ibu Kristal melihat ke pintu. Johan kontan diam—mengatupkan rahang. Pelan-pelan ia menutup pintu.
“Itu siapa?” tanya ayahnya.
“Sales asuransi” jawab ibunya.
“JOHAN!!! WOY!! GUA RINDU” teriak Kristal kemudian—yang membuat pria yang nyaris tak terlihat karena pintu yang tertutup, kontan kembali membuka. Senyum lebar itu kembali.
“Jangan teriak-teriak, nanti kamu merem lagi, ya Allah..” ayahnya mengusap wajah anak gadisnya. Tangan Kristal melambai memberi isyarat agar Johan masuk. Pria itu akhirnya mendekat dengan canggung dan kikuk.
“Ini kakaknya Edgar. Ganteng kan? Semua keluarganya ganteng” kata si gadis membanggakan.
“Jadi, di mansion itu isinya sekeluarga? Mereka bayar nggak sih? Jangan-jangan…” wajah kakaknya menganga–berspekulasi liar, Kristal mendelik.
“Ada data, ada harga, ada transaksi, gua nggak goblok kasih orang nginep gratisan!” wajah gadis itu jengkel.
“Shhhtt… baru bisa bicara keras hari ini mending simpen energi” ayahnya melerai. “Jadi, kamu kakaknya Edgar pacarnya Kristal?” pria itu masih meneliti Johan dari kepala sampai kaki. Yang ditanya mengangguk antusias. “Mana Edgar? Pirang? Badannya kayak perempuan”
“Dia nggak kayak perempuan, dia lelaki sejati” ralat Johan.
Kakak Kristal tertawa. “Padahal cakepan itu.. Siapa yang ada tato di tangan. Badannya gede banget”
“Itu Daniel. Umurnya baru 18” kata Johan. Pernyataan itu membuat Kristal tersenyum.
“Bibit unggulan itu, Pa. Nanti kalau udah lulus kuliah suruh jadi kuli panggul”
🐾🐾🐾🐾
Kabar bahwa Krsital sudah bisa makan dan mengoceh panjang tersebar seantreo mansion. Edgar yang seperti kebakaran jenggot namun tetap tak diperbolehkan datang ke rumah sakit kecuali menunggu siapa saja menelepon dan memintanya datang. Itu kata Johan. Juga kata Ibu Kristal.
Maka, semua orang menghela napas—seolah-oleh selama ini mereka menahan napas.
“Gua bakal datangin nanti malam” Edgar bersumpah. Bahkan saat ini, semua serba salah. Duduk salah, berdiri salah, berbaring apalagi. Ia tak sabar.
“Udah dibeliin sapi sama Lyn. kayaknya kita bakal ngenyot sapi di bawah tanah” Johan melirik pada gadis yang sedang berpelukan. Mereka merayakan kabar yang dibawa.
Sinu melangkah lebih dulu.
“Opung mau kemana?” Daniel dan Jake nyaris bertanya barengan. Si sulung berbalik.
“Mau makan. Hampir 30 jam kita nggak makan” katanya. Tapi matanya lurus pada gadis yang juga melihatnya.
“Ikut, mau liat kalian makan” Isa yang bersuara. Sementara Logan yang masih duduk menggeleng.
“Nanti lu ilfil..” ada tawa di sela-sela, Daniel melirik kakak kedua “Dukun kalau ngenyot sapi, taringnya kadang kena balung, abis itu nancep lagi di tempat lain, balung lagi, abis itu giginya patah, terus tumbuh lagi, terus kena lemak. Dia paling susah. Katanya sih faktor dosa dan umur juga”
“Nggak ada kek gitu-gitu..” Logan berkomentar “padahal Sinu lebih tua, gua terus yang dibuli”
“IK sama 4K itu tuaan 1K” pernyataan tidak masuk akal dari si bungsu tak mendapat atensi saat semua orang bangkit mengikuti Kakak pertama.

Sinu hanya menggigitnya kecil. Saat darah binatang itu menempel di kulitnya, ia tak perlu terus menancapkan taring untuk menyesap. Hanya perlu mundur, lalu darah itu akan tertarik melalui sulur dan masuk lewat ujung telunjuk melalui pori-pori. Dari semua vampir, hanya Sinu yang anggun. Sisa orang menghisap secara harfiah.
Hampir semuanya kecuali Logan yang sejak tadi berdiri di samping si sulung. Maju mundur hendak mendekat pada binatang yang telah sekarat. Matanya bolak-balik melirik pada Isa yang sibuk memperhatikan sisa adiknya menyesap darah.
Logan malu. Rasanya gengsi.
Tapi lapar.
Ia menggaruk tengkuk sejak tadi.
“Dukun gak mau makan, biarin aja, ntar ngunyah cicak” Samuel yang bicara, ia melirik Kakak kedua yang sejak tadi menelan liur. Sementara Sinu di sampingnya sudah selesai. Semua tentang pria itu selalu gesit dan tepat. Logan meringis melihat Sinu kembali naik.
“Kak Logan nggak makan?” Isan mendekat, ia menatap pria itu dari samping. Logan berdehem.
“Kamu bisa tolong beliin tisu basah ke Bekasi? Sebentar aja” pinta pria itu, ia memberikan kekasihnya uang dua juta “susuknya buat kamu beli es krim, sana”
“Jauh amat ke Bekasi, buset. Mana udah malem”
“Iya ya? Jauh ya? Ke itu aja kalau nggak, ke Tangerang”
Isa menggaruk pelipis yang tidak gatal.
“Kak Logan mau makan malu ya? Padahal gak papa, aku nggak akan ilfil, kenyot aja.. Jangan nyuruh ke Tangerang, males”
“Malu, kamu naik sana. Atau nanti aku antar pulang, tunggu di gerbang” Logan menarik napas. Ia nyengir tidak natural.
“Darahnya abis! Kosong, udah gak nyisa” Jake bangkit. Mulutnya berlumuran darah diseka asal dengan lengan baju. Logan melongo, perutnya lapar luar biasa.
Ya allah kasian dukun gua makan gengsi 🤣🤣