“Boleh cium ya? Dikit aja.. Gua pamitan bukan buat minta izin atau persetujuan, tapi biar lu berhenti ngancam gua karena abang lu teler di sofa. Percuma”
Hening, Pip melihat wajah si gadis merona dan salah tingkah.
“T-tapi, jangan pegang dada, ya?”
“Iya.. nggak janji, nggak tau, kadang tangan gua suka nggeremet dan gerak sendiri, di luar kontrol itu mah. Gimana dong?”
“Lu sinting ya?”
“Kok tau?”
“Gua masih kecil, gak mau di uwek-uwek, nggak mau”
“Nggak papa, sama gua nggak papa. Kita kan mau menikah”
“Nggak mau, itu biasanya ocehan buaya darat, bajingan yang bakal ninggalin kalau si perempuan hamil” Diza menggeleng.
Dalam dunia jurnalis, membuat laporan mengenai pemerintah—menyerang dengan bukti yang aktual serta sumber yang kuat, sama dengan bunuh diri. Para jurnalis boleh menulis artikel apapun, mencari bukti hingga melanggar privasi suatu tokoh atau publik figur—guna mendapat fakta demi berita menarik–meski tak bermutu—yang akan diminati masyarakat pada timeline sosial media, maupun telivisi swasta di rumah.
Asal jangan pemerintah, pejabat, dan seluruh jajarannya.
Itu pula alasan Luna berdiri tepat di hadapan atasannya yang berwajah murka. Jika ini adalah dunia kartun, pasti Luna akan melihat asap mengepul–keluar dari telinga atasannya sekarang.
Tidak ada bentakan, tidak ada kertas yang di banting di atas meja. Pria berperut buncit yang kini menatapnya seperti akan melahap hidup-hidup itu cukup diam dengan wajah seperti itu saja—maka sama dengan molotov dalam botol kecil yang di lempar tepat di bawah kaki.
“Kau sungguh bebal, ya?” itu kata pertama kali setelah sejak tadi mereka perang atmosfer. Diam, namun sarat akan kemarahan. Luna tertunduk tapi tidak menyesal. Ia bahkan tidak meminta maaf.
“Kau memiliki opsi lain, banyak. Kau bisa membawa berita influencer yang sedang ramai di perbincangkan karena terlibat kasus kekerasan seksual. Atau menguliti atlet yang terciduk menggunakan doping sebelum masuk arena. Banyak, sangat banyak. Dari sekian banyak, kenapa harus melulu itu itu saja? Kenapa harus terlibat dengan pejabat? Kau tau, aku di ancam dan kantor ini akan di tutup paksa jika sekali lagi saja artikel tentang orang atas keluar. Kenapa sibuk mengurusi hal-hal yang bukan ranahmu? Itu pekerjaan polisi”
Tidak, Luna bersumpah suara bosnya tidak tinggi. Kata-katanya cenderung tenang–stabil, namun begitu menekan-nekan. Tiap perkata seolah adalah bongkahan batu yang ditekan ke dadanya.
Lalu hening agak lama.
Setelah mengatakan ini dan itu yang jika dirangkum adalah titah untuk mencari informasi paling tidak berguna sedunia—mengenai influencer atau sialan sejenis, Luna akhirnya membernikan diri mendongak. Matanya beradu dengan milik sang atasan.
“Sekarang aku memberimu pilihan” matanya lurus, perut buncitnya terasa begah di mata Luna “mengundurkan diri dari sini, atau ambil satu proyek yang sudah lama mangkrak. Aku akan mengirimu email dan pilihannya ada di tanganmu” tidak tahu. Rasanya seperti habis menelan sari gula yang manisnya hingga pahit di tenggorokan, Luna menelan liur susah payah. Lantas menunduk mundur sebelum keluar.
Sepanjang jalan menuju meja, Luna mengedarkan pandangan. Seluruh mata seolah tersedot padanya dalam arti yang sulit sekali untuk tidak menuduh bahwa mereka membicarakan nasibnya. Semua orang dalam kantor tahu bahwa ia adalah sumber kekacauan yang terjadi karena artikel yang dirilis mengenai pejabat yang memiliki bisnis ilegal dengan mengeksploitasi pertambangan emas di timur beserta bukti konkret hasil jerih payahnya ke sana ke mari.
Tidak ada penangkapan, tidak ada tindak lanjut. Kasus besar yang ia tulis di hapus paksa dan setelah itu terkubur seakan tidak pernah ada sebelum masyarakat benar-benar membaca dan melihat fakta yang telah ia kumpulkan berbulan-bulan. Lalu nasib pekerjaannya kini tergantung pada isi email—proyek yang menjadi syarat agar ia tidak di pecat. Luna tidak yakin akan mudah, namun menjadi pengangguran di ekonomi ini pun, sama sulitnya. Itu juga alasan beberapa orang menyayangkan kenekatannya akan hal-hal yang jelas dapat menjerumuskannya dalam masalah. Masih baik di pecat atau di beri tugas sulit, beberapa kasus bahkan balik di polisikan dan rumit. Luna tidak tahu harus bersyukur atau mengumpat. Yang jelas, ia benci sekali pada siapa saja yang tutup mata–atau bahkan jadi bagian dari kecurangan pemerintah.
Notifikasi muncul di sudut kanan layar monitor. Email masuk.
Jarinya menggerakkan kursor gesit dan dalam waktu kurang dari dua detik, email terbuka.
Matanya memindai cepat. Mulutnya tidak bergerak namun ia membaca hati-hati dan teliti. Tidak ada satupun kata yang terlewat.
Isi proyek : Mencaritahu fakta tentang suku di pedalaman hutan di Papua yang terkenal akan tradisi unik namun mengisolasi diri. Hutan yang terkenal akan kekayaan hasil bumi dan daratan yang indah. Namun begitu sulit dimasuki karena beberapa sumber menyebutkan–terdapat penjagaan ketat dari suku pedalaman tersebut. Hanya orang-orang tertentu dan tidak bisa diprediksi siapa saja yang boleh dan tidak boleh masuk. Namun mereka bukan kanibal. Hanya tradisi aneh seperti menyembah kepala suku hingga menuhankan sesama manusia.
Dahi Luna mengernyit banyak.
Itu bukan pilihan. Namun ia mutlak di pecat. Memintanya untuk mencaritahu suku pedalaman adalah satu-satunya cara menyingkirkan bukan hanya dipecat, namun diminta hilang dan mati. Luna memijat pangkal hidungnya. Ia tidak pening, namun bingung harus membayar cicilan dengan apa jika ia tidak segera mendapat pekerjaan baru setelah keluar dari kantor itu. Dan mendapat pekerjaan baru lebih sulit ketimbang masuk ke pedalaman Papua. Itu asumsi.
Lalu notifikasi lain muncul. Kali ini dengan suara dan itu ponselnya.
Luna meletakkan ponselnya lagi, lalu melanjutkan memijat pangkal hidung yang sebanarnya baik-baik saja. Sebelum ia bergerak untuk bersandar pada belakang kursi. Matanya menyipit menatap tampilan layar monitor bergambar pemandangan indah kota Swiss.
Tidak Swiss, tidak juga—bahkan alun-alun. Ia harus berhemat dan hanya makan sehari sekali jika dipecat.
Sialan.
𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼
Dan tidak memiliki pekerjaan tampaknya mengalahkan ketakutan akan dibunuh, hilang, atau kemungkinan mengerikan lainnya yang bisa saja terjadi di dalam suku pedalaman. Juga kabar bahwa suku disana tidak kanibal, siapa yang bisa menjaminnya? Kebanyakan mereka tidak peduli daging jenis apa yang dikonsumsi, atau semenjijikan apa melahap sesama. Mereka hanya tahu lapar-makan-kenyang.
Tentu saja itu spekulasi. Luna pribadi benar-benar tidak pernah terbesit sedikitpun untuk mencari tahu tentang mereka. Yang menarik bagi gadis itu adalah membongkar kebusukan oknum pemerintah karena begitu menarik dengan pola unik serta nyentrik.
Ada hari dimana ia menemukan pejabat yang membiayai pelacurnya menggunakan anggaran negara. Mereka berjalan-jalan ke sana ke mari, menyewa hotel lalu membeli barang-barang mewah. Yang seperti itu membuat gemas, sekaligus seru. Sayangnya, itu juga alasan yang membuatnya kini berdiri di ruang atasannya—membawa kamera dengan lensa besar, tas besar, serta beberapa perlengkapan yang telah ia siapkan dengan matang sejak dua hari yang lalu.
Luna berdiri tegap, seakan tiap tindakannya–sudah ia perhitungkan berikut segala konskuensinya. Padahal, ia hanya melakukan apa yang ingin dilakukan sambil bersenang-senang saat bekerja. Dan tentu saja berbeda dengan tugas kali ini.
Bukan lagi tentang harga diri yang telah ia pangkas sejak atasannya memintanya mengundurkan diri atau merealisasi proyek yang sebetulnya hanya akal-akalan orang gila. Tidak ada siapapun yang akan menyelesaikan tugas ini kecuali mereka yang putus asa atau berada di ambang simalakama. Namun kabar menyusul yang membuatnya semakin tidak punya pilihan. Sang atasan mengatakan jika ia hanya mengundurkan diri tanpa pergi menunaikan tugas ini, maka, namanya akan di lebeli sebagai penyebar berita palsu alias, Lina tidak akan bisa bekerja dibidang itu lagi. Namanya di blacklist. Namun masih rencana, ada orang atas yang ingin membantunya—yang begitu senang terhadap hal-hal tentang pedalaman dan tradisi unik yang mengisolasi diri, lalu memberikan penawaran gila ini.
Sebenarnya jika dirunut dari tugas, ini benar-benar tidak layak disebut bantuan.
Tidak mau pusing.
Maka, datanglah ia kemari dengan persiapan penuh. Tidak banyak bicara kecuali hatinya yang banyak mengumpat dan berisi kata-kata kotor yang tak pantas di dengar telinga manapun. Luna bersumpah membenci siapa saja yang ada di balik ini semua.
“Kau akan pergi dengan anak magang” katanya, padahal Luna sudah tahu karena pria itu mengirimkan pesan dua kali—mengatakan perihal sama. Luna lagi-lagi hanya mengangguk sebelum eksistensi lain ikut memenuhi ruang lebar yang terasa sempit oleh banyaknya buku, majalah dan sejenis—yang Luna sendiri tak yakin akan dibaca oleh atasannya itu.
Pria itu memperkenalkan diri dengan ramah. Mengaku berusia tiga tahun lebih muda dari Luna meski gadis itu tidak percaya, namun tak berkomentar. Luna hanya mengangguk—tersenyum tak sampai mata, tidak banyak bicara dan tidak juga bertanya-tanya.
“Kalian harus kompak dan bekerja sama dengan baik. Aku menunggu kalian pulang” kata sang atasan lagi. Tampaknya, dirunut dari kalimat barusan, Luna menyimpulkan bahwa kata ‘pulang’ merupakan hal lebih penting daripada hasil. Ia masih menggenggam itu di ujung putus asa bahwa masih ada orang yang akan menunggunya pulang.
Maka, pergilah mereka berdua menggunakan mobil kantor. Adam yang menyetir dan nyaris sepanjang jalan—hampir dua kilometer, Luna tidak mengeluarkan sepatah katapun. Saat Adam bertanya, gadis itu hanya mengangguk–menggeleng, mengedikkan bahu dan tingkah-tingkah tidak ramah lainnya.
“Kita akan naik pesawat dan mobil ini akan di bawa orang lain untuk kembali ke kantor. Kita akan sepenuhnya mengandalkan transportasi umum atau menyewa kendaraan warga jika membutuhkan” kata Adam, lagi-lagi berusaha memecah canggung. Namun percuma, Luna hanya membuka segel air dan menelan isinya kasar. Suara tegukan itu seakan menjadi jawaban atas ocehan Adam yang berusaha mendekati senior yang tak mudah.
𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼
Desa itu dikelilingi hutan. Terlalu lebat untuk ditembus sehingga warganya seolah hidup dalam gelembung mereka sendiri. Katanya enggan mengisolasi diri, namun enggan bersentuhan lebih jauh dengan apa yang ada di balik pepohonan yang mencakar langit. Jika kebutuhan tercukupi, mereka akan puas dengan itu.
Dan Luna masih mendengarkan juru hutan bicara.
Tidak jauh berbeda dengan spekulasi—kecuali bagian kanibal. Ia masih menyimak, begitu juga Adam di sampingnya, pria itu mencatat tiap bagian penting yang dikatakan sang juru kunci–seolah dengan itu, bisa menjadi penuntun jalan mereka di dalam hutan sana.
Katanya, warga di sini tidak terlalu suka dengan perubahan. Menurut mereka, jika segala sesuatunya masih berjalan dengan baik, tidak perlu ada yang diubah. Contohnya saja rumah-rumah disana. Masih menggunakan rangka dari kayu pohon Arkhava dan atap dari daun pohon serupa yang di keringkan. Dengan pekarangan luas tempat ternak berkeliaran. Seolah semua yang ada disini terjebak di jaman purba.
Namun, kata sang juru kunci. Tidak separah itu. Di dalam sana ada pasar yang menjual bahan pokok makanan dengan sistem tukar barang. Tidak ada mata uang, yang ada hanya tukar barang atau jasa. Dan hukum rimba—juga hierarki masih terlalu kental. Itu juga yang menjadi alasan tempat ini bukan ranah yang bagus untuk siapapun kecuali putus asa.
Bedanya, mereka menggunakan baju. Pakaian mereka dari flax (rami) yang diproses jadi benang dan ditenun menjadi kain linen. Tanpa pewarna, seluruhnya tentu saja organik. Maka, nyaris seluruh pakaian mereka satu warna. Kecuali pakaian kepala suku atau orang-orang hebat yang memegang kekuatan terbesar di antara mereka. Katanya, sangat sulit mendapatkan pewarna kain.
Dan ocehan cukup panjang lain tentang larangan ini dan itu. Semuanya nyaris mirip template yang ditambah bumbu-bumbu mistis guna menakuti. Kendati, Adam tetap mencatat semua hal, kecuali Luna yang hanya diam menyimak dengan isi kepala yang terfokus menjadi dua. Satu terhadap kemunginkan apa yang akan terjadi di dalam hutan–suku pedalaman. Yang kedua, bagaimana jika ia periode. Sial, Luna lupa kapan terakhir menstruasi.
“Tidak semua diizinkan masuk. Mereka seperti memiliki aturan ketat tanpa kategori yang bisa diprediksi” itu kata-kata terkhir yang dilontarkan sang juru kunci meski boots Luna telah memecah genangan air bekas hujan di jalan setapak tanah lempung yang becek. Adam menyusul di belakang setengah berlari.
Sungguh, gadis itu tidak percaya pada juru kunci.
𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼
Hutan adalah hutan.
Saat menempuh perjalanan hampir dua kilometer, pohon-pohon menjulang menjadi kanopi nyaris rapat hingga matahari gagal menembus ke tanah. Bau apek–lembab, suasana yang gelap–temaram serta bunyi-bunyi binatang kecil sebagai latar syahdu. Adam terus berusaha memecah suasana yang lama kelamaan menjadi semakin kelabu dengan mengajak Luna mengobrol. Namun wanita itu terus saja sibuk dengan isi kepala—nyaris seperti hidup dalam dunianya sendiri.
Saat keduanya memutuskan berhenti untuk beristirahat di bawah pohon beringin dengan akar yang besarnya nyaris sama dengan batang, Luna melihat semak yang membentuk lorong panjang dan gelap. Seperti ada kehidupan di ujung lorong itu.
Sebenarnya, sejak masuk lima ratus meter ke dalam hutan, Luna sudah tahu jika perjalanan mereka di buntuti, di mata-matai dan ada orang lain yang mengintai mereka di balik pohon, semak, atau bahkan di atas pohon. Namun Luna terus mengabaikan seolah tuli dan tidak peduli. Ia juga tak berencana memberi tahu Adam. Namun tampaknya, ia tidak bisa terus menerus semaunya sendiri. Ia tak bisa terus diam dan berkutat dengan isi kepala sembari memikirkan cara bertahan hidup di sini. Ada Adam yang juga bagian dari misinya.
Katakan ia juga bertanggung jawab pada anak magang yang malang. Jika dia jadi Adam, Luna bersumpah tidak akan masuk ke dunia jurnalis. Untuk apa? Negera demokrasi namun suara di bungkam.
Lebih baik menjadi penulis novel romansa.
“Aku akan masuk ke lorong itu” Luna hanya menunjuk Lorong dengan bibirnya. Adam mengikuti arah bibir si gadis. Ia menelan air sambil meneliti.
“Ya, menurut informasi, mereka ada di ujung lorong itu” kata Adam enteng.
“Jadi kau tahu?”
Adam mengangguk pelan.
“Kenapa diam saja?”
“Siapa yang diam saja? Sejak keluar dari kantor dan belasan jam berlalu hingga kita sampai sini. Aku terus mengajakmu bicara. Namun kau hanya diam seperti masalah hidupmu sangat berat tanpa solusi. Aku mengajakmu bicara sepanjang waktu”
Luna tidak menjawab, ia bangkit dan kembali menggendong ranselnya.
“Beritahu aku apapun yang kau ketahui. Kita adalah tim” lontaran Luna membuat Adam mendengus. Namun pria itu tidak protes lagi. Ia mengikuti jejak si gadis dengan tangan menggenggam botol air mineral yang tinggal setengah.
Dan jika boleh jujur. Semak yang melingkup nyaris persis seperti terowongan ini benar-benar tidak terlihat natural. Maksudnya, ia tidak melihat ujung semak, semuanya terpotong rapi nyaris presisi. Seperti di potong menggunakan mesin pemotong rumput atau seseorang rajin yang memangkas dengan gunting besar. Benar, Luna bahkan melihat ujung semak yang di pangkas.
Semakin masuk, semakin gelap. Dunia terasa di putus. Di dalam sana dingin dan bau rumput menyesaki pernapasan. Luna meraih senter dari tas kecil. Hanya khawatir binatang melata atau predator. Alih-alih hantu, pikirannya adalah ular berbisa yang ganas atau macan tertidur.
“Apa kau juga tahu berapa panjang terowongan alami ini?” tanya Luna nyaris seperti bisikan. Juga kata alami yang terdengar kurang tepat.
“Tidak yakin, namun beberapa sumber menyebutkan hampir tiga ratus meter”
Luna mengangguk meski tak terlihat. Langkahnya cepat, namun terukur.
“Berapa banyak informasi yang kau tau?” senter di arahkan ke rumput yang seolah membentuk dinding. Sesuatu terdengar, namun jauh. Luna menangkap suara berisik “sebentar” katanya. Langkahnya terhenti dan Adam nyaris menabraknya.
Benar, suara berisik mirip kerumunan orang. Atau katakan kehidupan.
“Lanjut, jawab pertanyaanku” langkah kembali di angkat. Sol pada sepatunya akan meninggalkan jejak tanah basah pada tiap langkah. Ransel di belakang seakan menjadi sekat antara langkahnya dengan milik Adam.
“Aku hanya mencari tahu dari saudaraku yang pernah bekerja di pertambangan Papua. Hutan ini sangat terkenal, barangkali kau tidak tahu karena sibuk mengurusi pemerintah” ucapan itu agak rancu, namun Luna tidak sedang ingin berbalik atau menuntut penjelasan dari magang–yang notabene adalah junior—seharusnya memiliki sedikit penyaring dalam rongga mulutnya sebelum mengatakan apapun. Kata ‘mengurusi pemerintah’ membuatnya tersentil.
“Wah, kau pasti anak orang kaya, ya? Dan bekerja di kantor media hanya untuk hobi, kan? Mulutmu benar-benar luar biasa. Aku bangga” kata Luna serak, ia berdehem agar bisa tertawa luwes dalam konteks menyindir.
“Kau sangat terkenal. Tulisanmu tajam dan sarat akan penyerangan. Terlalu pedas untuk ukuran gadis yang butuh pekerjaan itu. Kau seperti menggali kuburanmu sendiri, kau tau? Kau terlihat pintar, tiap kata yang kau tulis di artikel terasa seperti berbobot dan disusun oleh manusia yang berwawasan luas. Kau pandai beretorika. Dan kupikir, kau lebih cocok menjadi dukun”
Luna benar-benar menghentikan langkah. Adam menabrak ransel gendut yang digendong si gadis. Lalu berbalik, senter tersorot tepat di wajah Adam–membuat pria itu mengalihkan pandangan karena cahaya yang masuk menyakiti matanya.
“Katakan itu sekali lagi”
“Ha?” pria itu mendelik. Dahinya mengerut.
“Katakan sekali lagi dan kau pergi dari sini”
Ada hela napas meski pendek, Adam terseyum setelah itu “aku minta maaf, Kak. Boleh aku memanggilmu kakak?”
“Tidak”
“Baiklah”
Luna juga menghela napas. Lebih besar dari Adam. Ia lantas melanjutkan langkahnya tanpa ingin berbicara lagi. Namun bukan Adam namanya jika tidak gigih. Setelah mengatakan maaf dan meminta panggilan akrab, pria itu menawarkan makanan meski sama sekali tak digubris, tak di dengar.
Mereka keluar dari lorong setelah langkah yang terasa lebih panjang dari tiga ratus meter.
Begitu keluar, Luna disuguhkan pemandangan yang sangat jauh berbeda dengan spekulasinya, dengan apa yang di gambarkan juru kunci–juga dengan berita yang menyebar di internet—yang memang kebanyakan adalah karangan untuk meningkatkan jumlah pengunjung situs.
Matanya disuguhkan peradaban yang tidak modern, namun bukan jenis ketertinggalan yang primitif.
Di sini, manusia menggunakan pakaian dari linen dengan warna-warna berbeda. Beragam dan penuh warna. Mereka tidak bertelanjang dada seperti dalam pikiran Luna selama ini. Tidak juga berwajah galak dan menenteng tombak atau perisai. Dan yang paling penting, mereka tidak langsung menyerang atau menangkap lalu di ikat untuk kemudian di serahkan pada kepala suku di tengah api unggun–khas film yang pernah ia tonton dulu. Jelas kontras, semuanya benar-benar diluar dugaan. Jauh.
Baju, rok, celana, tas, sepatu. Semua dibuat dari hasil hutan–yang Luna sendiri tidak tahu bagaimana mereka dapat membuat itu tanpa keluar dari hutan. Atau seseorang keluar untuk keperluan lalu transaksi jual beli. Itu yang harus ia cari tahu.
Jika rumah-rumah memang tepat seperti gambaran juru kunci. Terbuat dari kayu dengan atap dari daun kering yang ia sendiri baru melihatnya hari ini. Rumahnya membentuk jamur. Lantainya tanah lempung yang di keraskan.
Tempat yang baru saja di masuki merupakan sebuah plaza, dimana menjadi titik yang menghubungkan semuanya. Warga menyapa, bercengkrama, dan bertengkar. Beberapa dari mereka masih menggunakan bahasa daerah khas, bahasa Dani. Itu yang di paparkan Adam beberapa waktu lalu—yang tidak ia simak seksama namun terbesit saat memandangi orang-orang disana.
Kepala Luna nyaris berputar melihat pemandangan itu.
Karena eksistensinya dengan Adam jelas berbeda dan mencuri perhatian, seseorang yang sejak tadi memandangi mereka dari jauh akhirnya mendekat. Seseorang dengan baju linen yang terlihat begitu rapi. Warnanya hitam pekat–sekilas mirip setelan jas yang kurang rapi.
“Ada yang bisa dibantu? Saya adalah pemandu turis yang akan membawa kalian berjalan-jalan di tempat ini. Masih ada ribuan hektar di belakang, berisi pemandangan bagus dan menjadi spot wisata yang keren” ujarnya ramah. Nadanya template khas sales. Luna juga heran dengan yang ini.
“Bukankah ini bukan tempat wisata? Apa kita memasuki hutan yang salah?” Luna menatap Adam bingung. Ini tidak benar, bukan pedalaman yang dimaksud ketika semuanya mirip settingan. Semuanya terlalu aneh dan modern, namun tidak modern. Luna memang mendengar beberapa dari mereka bercakap-cakap dengan bahasa daerah yang tidak dimengrti, namun bagian yang aneh adalah seorang tour guide yang datang menawarkan diri.
Sungguh, jika juru kunci berdusta, Luna benar-benar harus tahu alasannya. Kalau hanya karena spekulasi pribadi yang dangkal, itu keterlaluan.
“Namaku Hasan” kata pria itu tanpa ditanya. Senyumnya naik tinggi seolah seluruh keheranan sang tamu, dapat meresap melalui celah giginya yang rapi.
“Akan sangat sulit mendapat tempat penginapan jika mencari sendiri. Mereka tidak mudah percaya pada orang baru” sergahnya lagi, kali ini dibarengi gerakkan menyugar rambut. Rambutnya yang kelewat kelimis hingga Luna berpikir itu adalah minyak sawit yang di tuang ke kepala.
“Tunggu—yang pertama, apakah aku boleh memotret?” tanya Luna, ia menatap Hasan, lalu melirik ke belakang pada Adam yang sibuk mencatat. Luna heran hingga berpikir jika—apa yang ditulis Adam hanya lirik lagu atau mencatat perubahan cuaca. Adam sibuk.
“Sure, kau boleh memotret. Aku mengatakan ini karena aku tau seluruh tempat ini” mata Hasan gantian memperhatikan Adam meski hanya beberapa detik sebelum kembali fokus pada Luna “aku akan menawarkan keuntungan padamu. Aku tau, kau wartawan, kan?”
“Jurnalis” jawab Luna cepat.
“Ah, ya, ya.. Kupikir mereka sama” ia mengangguk-angguk. Padahal Luna bersumpah pria itu tidak peduli “jadi, keuntungan yang pertama, aku menguasai bahasa mereka dan bisa menerjemahkannya untukmu. Lalu aku kenal kepala suku dan cukup dekat dengan jajarannya, sehingga memprmudah kau untuk banyak meliput dan bertanya-tanya sebagai sumber berita atau tulisan yang akan kau unggah menjadi artikel” yang terakhir terdengar tidak meyakinkan. Pria itu menggaruk tengkuknya, lalu berdehem meski suaranya baik-baik saja “aku juga akan membawamu ke kediaman warga yang paling nyaman. Setidaknya tidak kumuh dan tidak ada binatang”
“Tunggu, tidak ada penginapan?” Luna mengeryit.
“Apa yang kau harapkan?” Hasan balik bertanya.
“Tadi kau mengatakan tentang penginapan”
“Itu hanya bahasa. Tapi tidak benar-benar ada penginapan. Yang ada hanya rumah warga yang bisa di tumpangi dengan memberikan mereka beberapa hal yang berguna untuk hidup. Atau..” Hasan menggantung kalimatnya. Matanya lagi-lagi melirik ke belakang Luna—melihat Adam yang lagi-lagi entah melakukan apa. Luna tidak sudi berbalik—malas.
“Atau kau bisa tidur di gereja. Itu buruk, maksudku, di sana, di gereja kami, tempat pastor mengusir roh jahat, membai’at para ksatria atau orang-orang yang memiliki kemampuan Dewa” kali ini angin menyapu rambutnya yang lepek. Saat angin datang, rambutnya bergerak dalam posisi kaku. Luna meringis saat membayangkan aroma rambut pria itu “akan berisik dan penuh jeritan, itu jika sedang ada kerasukan”
Luna tidak tahu harus menanggapi ocehan pria di depannya dengan apa. Namun mengingat tempat yang baru saja sekali ini ia kunjungi, rasanya tidak ada pilihan selain membuntut pria berambut lepek yang jelas tercium mata duitan.
“Berapa? Aku tidak sedang ingin basa-basi jadi katakan saja berapa yang harus kubayar. Lalu dengan apa aku harus membayar warga jika mata uang tidak berlaku?” itu bagus, Luna memang bukan orang yang akan ramah dan berbasa-basi.
“Ehey… walau warga disini tidak tahu uang, aku tahu. Berikan saja uangnya padaku dan kau hanya tau tinggal tanpa perlu repot memikirkan biaya. Aku mengatur semuanya”
Sudah terduga.
“100 Juta untuk satu minggu”
Angka itu membuat Lina yang sedang susah payah merogoh ransel besar untuk mencari uang tunai kembali mendongak. Matanya berkedip-kedip bertabrakan dengan milik Hasan yang jenaka. Pria itu selalu tertawa. Bicaranya selalu campur tawa meski tidak ada yang lucu.
“Orang gila. Aku lebih baik tidur di kamarku dan keluar dari kantor sialan sambil mencari pekerjaan jika tabunganku 100 juta. Bahkan atasannya hanya membekali 20 juta. Bajingan” gadis itu mengumpat. Ia kembali menutup resleting ransel dan benar-benar terlihat seperti akan memukul siapa saja yang ada di sana.
Saat sentuhan pada pundaknya mengalihkan, si gadis menengok ke belakang. Adam dengan senyum ramah—mirip pria dewasa yang bersedia menjadi tempat nyaman untuk mengumpat.
“Aku yang akan membayar. Kita hanya perlu mencari berita saja” katanya ramah. Setelah kata-kata itu, Luna semakin paham mengapa pria itu bisa mengatainya ini dan itu di sepanjang jalan—mengomentari pekerjaannya. Orang kaya selalu saja memiliki cara hidup yang berwarna. Contoh sederhana adalah pergi ke Papua—pedalaman untuk mencari berita dan segala hal. Itu sungguh kurang kerjaan. Jika Luna punya banyak uang, ia hanya ingin tidur dan makan. Sementara biarkan uang yang bekerja.
𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼
Malam datang saat Luna dan Adam di antarkan ke salah satu huniah yang akan menjadi tempat mereka tinggal selama di sana.
Hunian dengan halaman rumah serta lingkungan yang akan membawanya mengingat film Tinker bell dari disney classic. Tidak salah jika tempat ini begitu terisolasi. Rasanya sangat disayangkan jika pemandangan seindah ini akan terjamah jaman, di otak-atik mesin dan dipapari polusi serta radiasi.
Pohon-pohon rindang. Anggrek menempel disana sini dengan berbagai warna, ukuran, aroma. Semuanya beragam meski masih dalam satu keluarga; anggrek. Seperti hutan itu adalah hutan anggrek. Dan rumah yang ditempati Luna seperti di sekat berbagai tumbuhan besar yang di tumpangi anggrek–memadat hingga menutupi seluruh batang. Dan itu banyak sekali. Aromanya begitu memikat.
Rumah yang hanya ditinggali satu gadis.
Gadis berusia 17 tahun yang baru saja kehilangan neneknya seminggu yang lalu.
Ia menyambut Luna dan Adam begitu ramah. Seolah, keduanya merupakan cahaya setelah gelap dan sepi pasca kepergian keluarga satu-satunya. Tentu saja ini spekulasi mengingat si gadis yang menyambutnya antusias.
Lentera tergantung di tiap sudut. Dipan yang terbuat dari kayu, sementara kasurnya kapuk yang di jejal masuk dalam kain linen dengan jahitan rapi. Setidaknya benar, tempat ini lebih dari layak. Rumah ini begitu hangat, meski jika di kalkulasi, seluruh ruangan hanya delapan belas meter persegi.
Yaitu dua ranjang yang tersekat nakas yang di atasnya terdapat tanaman serai yang berfungsi sebagai anti nyamuk.
Di samping, lemari terbuat dari potongan kayu yang di rekatkan dan membentuk storage. Luna dapat melihat tumpukkan kain linen meski tak banyak.
Hasan juga sudah menjelaskan letak jamban. Tepat di bagian belakang rumah ini—berjarak sekitar sepuluh meter. Hanya WC cemplung dan jika ingin mandi, warga harus pergi ke sungai. Makanya, mandi tidak wajib di tempat ini. Begitu kata Hasan menjelaskan.
Tiap rumah memiliki khas masing-masing.
Ada yang di sekitarnya di penuhi kandang hewan peliharaan. Ada yang berisi tanaman bunga, ada yang polos saja. Semua beragam. Hanya bedanya dengan lingkungan biasa di luar, tempat ini adalah hutan. Ya, hutan yang di bangun rumah tanpa banyak menebang pohon. Mereka lebih memilih mencari spot kosong untuk membangun hunian. Jika membutuhkan kayu, mereka juga sudah memiliki tempat penebangan khusus tanpa banyak merusak apalagi terlihat terang saat pohon habis tumbang, tidak ada.
Dan malam itu sekitar pukul sepuluh saat Luna telah bersiap untuk tidur.
Adam tidak mengajaknya bicara meski Luna tau pria itu belum tidur dan si gadis muda bernama Dey, lebih dulu menutup mata sejak satu jam yang lalu.
Di luar, suara warga menggunakan bahasa Papua Melayu yang–setidaknya masih bisa dimengerti—terdengar lantang. Mereka berteriak persis meneriaki maling. Namun jelas itu hanya spekulasi Luna karena bahasa yang campur-campur terlambat ia proses. Kebanyakan ia tidak mengerti apa yang mereka katakan. Hanya bermodal menguping tanpa tahu apa yang terjadi.
Namun rasa penasarannya selalu lebih besar.
Gadis itu akhirnya keluar membawa kamera besar, membawa perekam suara dan ponsel. Ponsel yang ia yakin akan tetap hidup hingga sebulan kedepan—lantaran apa yang ada dalam ranselnya bukanlah pakaian banyak atau alat perawatan tubuh, melainkan power bank yang berjejal menyesaki tiap celah tas besar itu.
“Zoe” seseorang berbisik.
Seperti wabah menular, semua orang mulai menggumamkan satu nama dalam volume yang sama rendahnya. Luna keluar meski ia tidak tahu apa-apa. Hanya ikut bergerombol dengan warga. Saat ia menemukan wajah Hasan, gadis itu lantas mendekat. Juga tidak tahu sejak kapan Adam bergabung di dekatnya.
Seiring nama itu bergulir di bawah napas, mata semua orang ikut menggelinding—memeriksa sang pemuda berkulit putih, mencermati dari kaki hingga kepala.
Bajunya bersih. Namun bukan linen, melainkan wol hangat yang terlihat sangat rapi. Kontras dengan milik semua orang yang hadir mengerubuti malam itu. Pria itu terlihat seperti baru saja keluar rumah. Tetapi, semua orang di sini—kecuali Luna yang baru tahu, tahu bahwa pria itu telah menghilang bak digusur angin belasan minggu lalu. Penampilannya yang terlalu sempurna, justru memancing asumsi liar. Hasan membisikkan pada Luna seolah itu adalah berita sangat penting.
Dan Adam seperti biasa. Mencatat.
“Kau… kau benar Zoe?” seorang warga lain, yang memiliki kumis tipis memutuskan untuk bersikap lebih berani dari yang lain. Satu kakinya melangkah maju dan badannya condong ke depan. “Tidak, kau pasti Zoe, kan?”
Pria berkulit putih itu hanya berkedip pelan. Seolah baru saja bangun dari tidur panjang. Ia menelengkan kepala ke samping. Cahaya dari obor membuat matanya memantulkan kobaran api, lalu bergumam “mungkin. Ya, mungin aku.. Zoe?”
“Apa maksudnya? Kau ingat denganku, kan?” pria berkumis tipis tadi menunjuk dirinya. Kedua bahunya turun ketika yang di tanya hanya menggeleng samar.
Ditengah bisikkan yang kembali berkumandang, tiba-tiba saja seorang pria bertubuh tegap dan gagah sibuk menerobos kerumunan. Ujung mantel hitamnya kotor terseret-seret di atas jalanan berbatu yang basah. Ia berdiri tiga langkah di depan warga. Tangannya membentang ke kedua sisi secara dramatis. Lagi, pakaiannya bukan linen. Terlalu mewah meski Luna tidak yakin jenisnya.
“Mukjizat!” satu kata itu mampu membungak semua yang hadir. Desa beberapa saat menjadi benar-benar senyap, menunggu pria itu menjelaskan lebih lanjut. “Dia adalah mukjizat! Tidak ada manusia yang bisa kembali dalam keadaan sempurna setelah hilang selama berbulan-bulan. Kau!” telunjuk rampingnyanya diarahkkan pada sang pria berkulit putih “adalah bukti mukjizat!”
Seketika itu juga diikuti anggukan kepala. Beberapa dari gerombolan itu mulai menggumamkan sesuatu dengan nada yang lebih antusias. Mulut-mulut mereka menyuarakan setuju. Sementara yang lainnya berkerut-kerut penuh keraguan.
Luna yang menonton dari barisan paling belakang memutar bola mata. Dengusan jengahnya cukup keras untuk memantik perhatian Adam yang berdiri di sampingnya. Rambut hitamnya yang cepak, mantelnya terlihat mahal, tangannya berlapis sarung tangan yang benangnya terlihat mencuat di pinggiran. Catatan setia di tangannya seolah seluruh hidup dan matinya dijejalkan ke dalam sana.
“Mukjizat bokongmu” sembur Luna di barengi senyum mengejek “mana ada orang yang kemunculannya aneh begitu disebut mukjizat. Sumpah, pastor gadungan itu”
Derap warga perlahan menjauh dari tititk mereka berdiri—menyerbu Zoe dengan mata berbinar. Tidak bereaksi apapun ketika tangan-tangan kotor itu mengelus pipinya. Zoe tampak seperti boneka–dan itu bukan karena penampilannya yang memang siapa saja mengakui; tampan. Sorotnya hampa seolah tidak ada kehidupan di dalamnya.
Lalu sang pastor mulai mengoceh, berteriak-teruak tentang keajaiban dan bagaimana Zoe akan membawa kemakmuran bagi desa ini. Orasi yang menggebu-gebu tersebut diiringi dengan suara ‘amin’ dan puja-puji lainnya.
“Aku berani bertaruh” tangan Luna melipat di dada, bibirnya lagi-lagi menunjuk arah Zoe dan Adam menyimak gadis itu “Dia kembali ke desa ini karena terlilit pinjol atau dikejar-kejar rentenir di luar sana” Luna melanjutkan sesi bergunjing “meski ini spekulasi tanpa dasar, tapi aku merasa pria itu seperti orang sakit jiwa”
“Dia mukjizat” ralat Adam yakin.
“Kau tipe orang yang percaya seperti itu?” dahi Luna mengerut, kini tatapannya fokus pada rekannya.
“Tidak juga, aku hanya mengulang kata-kata pastor” jawabnya apatis.
Fokus keduanya kembali ke depan saat sang pastor mengatakan tentang rencananya membawa Zoe untuk menemui sang kepala suku untuk memintanya menerima sebagai orang penting—menjadi jajaran atas. Zoe di anggap hebat dan penting hanya karena ia pergi dari Desa selama berminggu-minggu, lalu kembali mengenakan pakaian wol dengan tatapan seperti tanpa nyawa. Luna benar-benar geleng-geleng kepala tidak percaya.
Semudah ia mengamati. Warga akan mudah percaya pada ocehan pastor—manusia yang dipercaya menyampaikan wahyu tuhan melalui keilahian yang di turunkan dari mimbar gereja.
Bukan Adam, seseorang menoel-noel pundaknya berulang. Luna harus memutar tubuh untuk melihat.
Itu Hasan. Gadis itu nyaris lupa eksistensi si pemilik gigi rapi. Pria itu mendekatkan diri hingga menyentuh rambut panjang Luna. wajahnya condong dan ia berbisik.
“Zoe bukan di anggap mukjizat hanya karena dia pergi keluar desa berminggu-minggu lalu pulang. Tapi dia sering dirasuki Dewa. Dia adalah wadah Dewa berbicara. Kadang, jika sedang kerasukan, Zoe akan bersuara lain, bukan suaranya. Lebih rendah dan berat. Dia juga bisa menyembuhkan banyak penyakit dan memakmurkan desa ini. Kemampuannya nyaris setara dengan kepala suku, namun kepala suku tidak bisa kerasukan”
Kebodohan yang lain.
Namun Luna tidak akan repot-repot mengatai siapapun dungu, bodoh atau sejenis lainnya di tempat ini. Di terima tanpa diacungkan tombak saja sudah bersyukur. Ia hanya mengangguk meski tak akan menunjukkan gestur antusias.
“Lalu, kenapa dia tidak jadi kepala suku? Itu artinya, kepala suku memiliki mukjizat yang lebih hebat?” akhirnya ia bertanya setelah sekuat tenaga tidak membantah atas mukjizat sialan atau apapun yang jelas tidak akan terhubung dengan pola pikirnya yang realistis.
“Kepala suku lebih hebat. Dia bisa menyuburkan tanaman yang hampir mati. Beberapa bulan yang lalu, tanaman Arkhava di hutan ini nyaris gundul karena pepohonan yang mati serempak secara misterius. Para warga menyebutnya kutukan karena terlambat memberi sesaji pada penguasa hutan. Namun saat Dia datang, Dia yang memulihkan segalanya. Dan setelah ia menjabat resmi menjadi kepala suku, desa ini benar-benar makmur”
“Oh.. waw… aku ingin sekali bertemu dengan kepala suku” bisik Luna serius. Ia melirik adam yang kembali fokus pada rombongan yang perlahan bergerak—membawa Zoe ke kediaman kepala suku.
“Tidak mudah, namun bukan berarti mustahil” kata Hasan. Malam itu cukup sampai disana karena Luna benar-benar butuh istirahat.
𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼
Pagi menyambut dengan suara kayu di gedor-gedor. Aroma anggrek pertama kali merangsek saat kesadarannya kembali. Luna menggeliat, menumpu pipi kirinya ke bantal kapuk namun tidak menemukan Dey. gadis muda itu sudah bangun lebih dulu. Sementara saat matanya menyeberang ke sebelah, Adam masih tidur. Mulutnya terbuka dengan kertas catatan di atas perut.
Beringsut derapnya pelan membuka pintu yang membuatnya lebih dulu harus membungkuk. Matanya menemukan jawaban—suara di gedor berulang.
Bukan gedoran, melainkan Dey yang sibuk merencah daging kelinci. Kapak tanggung menghantam daging—juga mengenai balok yang menjadi talenan. Kulit kelinci tergeletak tiga buah. Warnanya putih, abu-abu dan coklat. Luna mendekat–menjarak sekitar dua meter.
“Kau melakukannya sendiri?” tanya Luna basa-basi. Dey menjawab yang itu dengan anggukan cepat.
“Aku akan membuatkan kelinci bumbu kuning untukmu dan kakak yang satu lagi” jawabnya, tanpa mengalihkan perhatian.
“Berapa Hasan membayarmu?” Luna benar-benar penasaran. Yang ada dikepalanya sekarang, tidak jauh-jauh dari kebusukan—seperti Hasan yang korupsi dan memberikan nominal yang tak layak untuk si gadis pemilik rumah tempatnya menginap. Belum lagi diberi makan. Rasanya sangat mahal, Luna bersumpah ini lebih mahal daripada hotel eksklusif di Jakarta. Siapa yang akan menampung orang luar dalam suku pedalaman seramah ini?
Atau selama ini hanya asumsi liar yang diperkuat orang-orang tentang hutan ini? Juru kunci, artikel di internet dan lain sebagainya. Nyatanya, tempat ini sangat jauh berbeda dengan yang ada di kepalanya. Menganut kepercayaan aneh dan bodoh seperti kejadian tadi malam—bukan sesuatu yang bisa di publikasikan lalu di besar-besarkan untuk menjadi berita heboh. Jika dirangkum, seluruh hal yang ada di sini lebih layak, lebih manusiawi dan lebih maju dari dugaan. Mempercayai mistis itu ciri khas orang jaman dulu. Luna paham meski tetap kebodohan di matanya.
Atau hanya kesimpulan yang di ambil terlalu cepat? Luna belum genap sehari berada disini. Ia bahkan belum berinteraksi dengan warga lain. Juga keinginannya untuk bertemu kepala suku. Meminta wawancara meski ia harus memutar otak—dengan apa ia menukar waktu orang nomor satu di desa ini.
“Hasan memberiku air selama satu bulan penuh. Akan ada orang yang membawakan air tiap pagi dan sore masing masing 76 liter untuk pagi dan 76 liter untuk sore. Itu sangat membantuku meski hanya sebulan” lantas Dey berhenti, kelinci sudah selesai di rencah “kau sendiri, berapa lama akan menginap disini dengan suamimu?”
“Dia bukan suamiku” ralat Luna cepat “aku juga tidak yakin. Mungkin paling lambat seminggu, kuharap bisa kurang dari itu. Maaf merepotkanmu”
Dey menggeleng. Ujung linennya kotor kena darah. Saat berbicara, Luna memperhatikan giginya yang tidak kuning meski tidak tahu dengan apa mereka menyikat gigi.
“Aku senang kalian disini. Malamku tidak sepi. Ada napas di sampingku” lantas ia bangkit. Luna tidak mengikutinya, namun memandang hingga Dey menghilang ke belakang untuk memasak.
Kata Dey, jarak antara rumah dan sungai sekitar satu kilometer. Maka, Luna memutuskan untuk tahu diri tanpa menggunakan banyak air yang diantar lebih dari tiga liter.
Ia mandi, sikat gigi, dan segala hal yang melibatkan air dengan sangat minimalis. Yang paling penting ketiak dan selangkangannya dibersihkan. Kendati, Luna tetap mandi dengan sisa sabun yang diseka paksa dengan handuk saat tak tuntas di siram.
Begitu juga Adam, berdua sepakat.
Dan setelah sarapan, Luna dan Adam memutuskan untuk pergi berjalan-jalan mengelilingi hutan–rumah-rumah atau apapun. Gadis itu membawa kamera besar, perekam suara, dan segala alat yang paling dibutuhkan untuk pekerjaannya. Sementara Adam seperti biasa; buku catatan.
Luna sesekali ikut bergabung dengan warga yang duduk-duduk di bawah pohon rindang. Namun anehnya sangat sepi. Kebanyakan hanya ibu-ibu yang sedang hamil atau ibu menyusui dan memiliki bayi sepanjang jalan yang mereka temui. Maka, sesekali bertanya ini dan itu, meski tak ada satupun dari mereka yang sudi menjawab. Tidak ada, benar-benar nihil. Begitu juga Adam.
Mereka hanya melihat—memperhatikan dari ujung kaki ke ujung kepala. Lalu saling pandang dengan teman-temannya. Sesekali berbisik dan benar-benar tidak bisa diterjemahkan saking pelannya.
Adam berinisiatif memberikan snack pada anak kecil. Namun belum sempat di terima, ibunya sudah menjerit dan memarahi anaknya keras. Katanya tidak boleh menerima makanan dari orang asing karena mereka bisa saja membawa sial.
Mereka; Luna dan Adam.
Tidak lagi menggunakan metode itu, akhirnya Adam dan Luna hanya berjalan-jalan. Memotret, menikmati alam yang tak bisa di lewatkan begitu saja.
Kaki mereka melangkah tanpa tahu arah tujuan. Yang paling penting, Adam mengingat rute pulang dengan menyebar anggrek sepanjang mereka jalan.
Hingga derap keduanya sampai di bangunan paling modern dari semua hunian—sepanjang mereka berjalan. Bangunan yang melibatkan beton atau matrial modern dengan tanda salib yang berdiri kokoh mencuri perhatian.
Gereja.
“Bangunan baru? Betonnya seperti masih basah” gumam Luna menyindir meski entah untuk siapa. Adam mengurtkan dahi.
Namun belum sempat mendekat. Ia mendengar suara gaungan aneh dari sana. Dan setelah jarak mereka hanya 10 meter, barulah terlihat jika di sana padat. Maksudnya, di dalam. Warga mungkin sedang melaksanakan ibadah—atau entah. Luna sendiri atheis. Saat ia berpandangan dengan Adam, ia juga tidak menemukan apa-apa. Mungkin saja Luna mendapat jawaban atas rasa penasarannya mengapa sepanjang perjalanan mereka hanya menemukan wanita dan bayi. Sisanya berjubal di dalam gereja.
“Apa agamamu?” tanya Luna.
“Tidak yakin. Aku bisa menyembah apa saja tergantung kebutuhan” jawab pria itu praktis.
“Bagus, ayo ibadah” Luna menyeret tangannya untuk masuk ke dalam.
Tentu saja tidak ada sendal. Dari pintu masuk, Luna dapat melihat orang-orang sibuk menonton alih-alih menggaungkan puja-puji terhadap Tuhan. Tangan mereka menaut ke belakang, kepala celingukan–mencari celah untuk menonton di antara kepala-kepala dalam keramaian.
Adam membawa Luna menerobos paksa untuk melihat apa yang terjadi. Meski lumayan mendapat tatapan melotot dan bentakan dengan bahasa yang tak dimengerti, namun Adam berhasil membawa Luna berdiri di depan.
Bukan sedang kebaktian.
Bukan juga kotbah atau acara khusus di tanggal–tanggal merah yang melibatkan agama itu untuk ke gereja. Melainkan seorang pastor yang sedang menangani orang kesurupan.
Luna masih ingat wajah itu.
Pastor dengan jubah hitam dan seseorang yang dianggap mukjizat karena tidak pulang berminggu-minggu.
Namun bagian yang membuat rahang nyaris turun ke lantai adalah, pemuda bernama Zoe itu merayap di dinding. Pencahayaan sangat redup nyaris gelap dan pria itu merangkak—menempel di plafon. Tubuhnya menempel dengan posisi yang tidak wajar. Rambutnya menjuntai–menutupi sebagaian wajahnya.
Suasana hening.
Sang pastor melangkah tenang. Seakan sudah menunggu momen ini. Ia menundukkan kepala sejenak, lalu berbicara dengan suara lebih rendah serta penuh hormat.
“Jika benar Engkau yang datang.. Tunjukkanlah kepada kami” jelas, titah itu jelas di tujukkan untuk makhluk yang sedang menempel di plafon. Namun tatapan Luna teralihkan pada satu pria paling tampan disana. Pria yang duduk dikursi khusus—menggunakan jubah merah dengan bordiran benang emas terbuat dari sutra. Matanya bergerak menuju sang pastor dan bergantian pada Zoe yang mulai menggeram di atas.
“Itu kepala suku” Luna kaget karena seseorang tiba-tiba berbisik tepat di belakangnya. Itu adalah Hasan.
“Kau memang selalu datang tiba-tiba seperti ini?” tanya si gadis, sama berbisik. Pria itu menggeleng.
“Aku sejak pagi buta disini. Kau baru datang dan aku mendekat. Tapi tampaknya kau sangat fokus” kata Hasan “dan itu adalah kepala suku yang meminta pembuktian bahwa Zoe merupakan wadah dewa” Luna mengangguk-angguk paham.
“Apa Zoe pendatang baru juga?” tanya si gadis lagi. Hasan menggeleng.
“Dia warga lokal asli. Tapi sejak dulu, dia terkenal sangat bandel. Zoe begitu gemar berpetualang hingga keluar dari desa. Tiap pulang, ia akan mendapat hal baru. Dan pola pikirnya tidak sekuno warga lokal karena ia sering kabur keluar. Tapi setelah ia sering kerasukan Dewa, warga mulai percaya jika Zoe adalah manusia pilihan. Dan hari ini, sang kepala suku yang akan menentukan itu, menentukan apakah Zoe layak berada di barisan atas untuk menjadi penasehat”
Luna mengangguk-angguk. Lantas ia membidikkan kamera.
Saat lensa menangkap gambar, ia menyadari jika sang kepala suku melihatnya. Dengan gestur canggung, ia kembali menurunkan kamera, lalu mulai memperhatikan Zoe yang masih setia menempel pada plafon.
“Kalian… akhirnya mendengar..” suara itu keluar. Suara rendah, mirip orang menggeram namun tidak. Suara khas seperti di film horror ketika kesurupan. Luna hafal karena jika sedang stress, Luna melampiaskannya dengan menonton film horror. Adegan semacam ini cukup familiar.
Saat sang pastor berlutut, para jemaat secara praktis ikut berlutut. Ada juga yang menangis haru.
Pastor mengangkat wajahnya, menatap ke arah Zoe dengan ekspresi takzim yang dibuat-buat.
“Kami telah menunggu, selama ini” katanya. “Kami memohon petunjuk-Mu”
Zoe memiringkan kepalanya, gerakkan patah-patah “petujuk…” gumamnya, seolah mencicipi kata itu. Lalu tubuhnya merayap sedikit di sepanjang plafon, membuat bayangan bergeser di dinding.
“Bukannya aku.. Mulai di lupakan?”
Pastor langsung menoleh ke jemaat “kalian dengar?” suaranya meninggi sedikit “kita telah lalai”
Beberapa orang mulai terisak. Dan saat semua orang nyaris sujud atau paling tidak berlutut, hanya Luna yang berdiri. Maka, Adam menarik tangannya keras untuk pura-pura patuh.
“Kalian meminta kemakmuran?”
“Ya,” jawab sang pastor cepat, hampir memotong. “Kami meminta berkat. Untuk desa ini” lalu jeda, seperti Dewa di atas plafon itu sedang mempertimbangkan. Lalu—
“Patuhlah kepada pemimpin kalian. Dia adalah titisanku, dia mewarisi kekuatanku, dia yang mampu membuat kalian sejahtera. Aku ada disini karena dia, aku mengimaminya, aku mendampingi. Sujudlah pada pemimpin kalian”
Mendengar itu, sang pastor kembali mengangkat kepala, lantas berpindah haluan–berjusud pada sang kepala suku yang hanya diam dengan senyum yang ditahan, namun tetap terlihat berwibawa. Para jemaat kontan mengikuti pastor.
“Jika kalian tidak patuh pada pemimpin kalian, berkhianat, tidak percaya dan ragu, maka, binasalah kalian dengan bencana kelaparan dan kekeringan”
Seorang wanita langsung menangis dan bersujud lebih dalam, yang lain makin khidmat–menunduk.
“Kami akan patuh” kata pastor dengan keyakinan penuh.
Setelah itu, Zoe pelan-pelan turun. Saat menyentuh ubin, tubuhnya tiba-tiba pingsan dan beberapa orang dari dalam langsung lari tergopoh-gopoh mengangkat tubuhnya masuk ke dalam ruang lain—di belakang dalam gereja.
Dan bagian lain—yang membuat Luna mual adalah, satu persatu warga bergerak perlahan—merangkak dengan dua lutut dan dua tangan mereka untuk bergantian mencium kaki sang kepala suku. Antrian itu panjang dan Luna bersumpah tidak sudi melakukannya. Lantas ia mencubit lengan Adam.
“Aku tidak akan melakukannya” bisik Luna.
“Aku juga, apa kau ada ide?” tanyanya kemudian, si gadis diam—mencari akal.
“Aku akan pura-pura sakit perut atau sialan apapun asal jangan mencium kakinya. Seperti orang sinting” Adam hanya mengangguk-angguk saja tanpa arti.
Lalu demi harga diri, demi sisa kewarasan dan akal sehat, Luna ikut merangkak, namun keluar dari kerumunan, melewati orang-orang yang menurutnya tidak berakal. Adam membuntut di belakang sementara aksinya jelas diperhatikan oleh sosok yang di anggap paling agung disana.
𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼
Bukan kembali ke rumah Dey.
Ada Hasan yang membawanya ke bagian hutan paling utara. Disana, ia ingin menunjukkan pada Luna dan juga Adam tentang pohon yang sangat sakral. Pohon yang tumbuh tidak di lahan sembarangan. Hanya tempat-tempat tertentu dan masih ada yang belum memprediksi tanah atau daratan macam apa yang bisa menjadikan pohon itu hidup–selain lahan seluas lima ratus hektar persegi di kawasan itu. Ya, hanya di dataran itu. Karena setiap warga mencabut yang kecil lalu di pindahkan, pohon itu akan mati. Selalu seperti itu berulang-ulang. Hanya hidup jika tumbuh sendiri. Tidak bisa dibudidayakan. Setidaknya, begitu menurut warga.
Pohon itu menjadi sangat penting karena sejak zaman nenek moyang mereka, pohon dengan nama Arkhava merupakan pohon yang batangnya menjadi rangka rumah. Keras, tapi ringan. Kulitnya bisa dikupas tipis jadi kain kasar. Namun sangat jarang orang menggunakan pakaian dari kain ini karena hanya boleh di pakai oleh kesatria yang akan berperang dengan musuh.
Daunnya lebar mampu menjadi atap jika dikeringkan, meski paling banyak di gunakan untuk wadah air.
Getahnya menjadi obat luka, dan jika berlebihan akan menjadi racun untuk dioleskan pada panah atau tombak. Dan akarnya menyimpan sumber cadangan air saat musim kemarau.
Suku di sini menganggap Arkhava sebagai ‘ibu yang diam’ tidak boleh menebang sembarangan—harus lewat ritual dan digunakan untu keperluan krusial.
Lalu tibalah hari-hari dimana hampir tujuh puluh persen pohon disana daunnya menguning. Tangkainya membusuk dan pohonnya seperti akan mati. Itu terjadi serempak—nyaris menyeluruh. Para warga geger dan ketakutan. Mereka menganggapnya ada peringatan bahaya. Desa mereka di kutuk serta Dewa sedang murka.
Segala spekulasi berjubal bagai gonggongan anjing yang bersahut-sahutan. Kendati, tak ada yang benar-benar bisa memulihkan situasi itu meski mereka sudah menebar sesaji. Sudah bersujud lama di dekat goa besar yang dipercaya tempat para Dewa lewat menuju khayangan. Namun nihil. Ratusan pohon mulai tumbang dan mati.
Hasan memegang salah satu pohon yang tingginya seperti akan menyentuh langit.
“Lalu, Kepala suku datang. Dia yang membuat pepohonan kembali subur hanya dalam waktu kurang dari satu bulan. Seluruh tumbuhan sehat, hijau dan segar lagi. Sang kepala suku pula lah yang memberikan warga bibit buah-buahan serta pipa untuk menyalurkan air dari sungai ke rumah-rumah warga. Meski harganya sangat mahal. Tapi itu merupakan mukjizat”
Mendengar itu, Luna memutar bola mata jengah.
“Padahal, jika desa ini masuk ke catatan pemerintah dan mendapat naungan di bawahnya. Mungkin saja listrik serta teknologi akan masuk. Dan mungkin saja pemerintah akan di sebut Tuhan” komentar gadis itu asal “berusaha mengisolasi diri. Tapi menerima saat ada orang asing masuk dan mengaku bisa menyuburkan pohon dan menyalurkan air. Aku bersumpah aku juga bisa”
“Tidak sesederhana itu, Nona. Seluruh komponen yang ada disini, tidak sesederhana kacamatamu yang dangkal dan kelewat rasional. Sungguh”
“Ya, karena ini adalah orkestrasi kebodohan” si gadis mendekat pada salah satu pohon “aku bersumpah batang ini baik-baik jika bukan ulah orang yang ingin mencari keuntungan” Luna lurus menatap Hasan “lalu, apa imbalan yang diminta kepala suku pada seluruh warga?”
Hasan terlihat berpikir meski sebenarnya jawaban itu tidak perlu pikiran, hanya berikan fakta.
“Warga biasanya akan memberikan anak gadis mereka yang paling cantik. Itu pun, kepala suku masih pilih-pilih dan kebanyakan tidak mau. Dia bilang, dia tidak suka gadis kulit gelap dan bau. Lalu kami semua memberi upeti. Setiap bulan, setidaknya kami—para warga bergantian mencari emas dan membuka pertambangan di bagian selatan lalu memberikan paling rendah satu kilogram murni pada kepala suku”
Luna menganga—terbelalak matanya dengan rahang terbuka—seakan jatuh ke tanah.
“Satu kilogram emas murni setiap bulan?” ulang gadis itu, masih tidak percaya. Hasan mengangguk yakin. Luna lantas menatap Adam, tapi pria itu terlihat biasa saja dan malah sibuk memegang batang pohon.
“Satu kilogram itu paling rendah. Warga biasanya rata-rata memberikan lebih banyak emas murni. Pohon ini lebih berharga dari emas” kata Hasan lagi. Luna menggeleng-geleng.
“Orang gila”
𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼
Luna sudah banyak menulis pada laptopnya. Ia juga merekam banyak suara yang akan ia susun ulang menjadi tulisan menarik dan segala hal yang berkaitan dengan tugas dan hutan ini. Di tambah foto yang berhasil di dapat. Yang paling penting adalah catatan upeti kepala suku yang tidak masuk akal.
Dan malam ini, ia duduk bersama Adam persis dua puluh meter dari rumah Dey. sambil membakar sisa daun kering serta jagung tua pemberian Dey—yang jika dikunyah membuat rahang pegal.
Kendati tetap nikmat saat dimakan malam-malam setengah lapar.
“Boleh aku melihat catatanmu?” Luna menatap ke samping. Tempat Adam melamun—menatap kobaran api. Kayu kecil menjulur dengan jagung menancap diujungnya. Api menjilat-jilat hingga matang.
Pria itu menggeleng.
“Kenapa?” tanya Luna lagi.
“Aku tidak punya alasan untuk memberikannya padamu. Tugasku disini hanya menemanimu. Sedangkan tugas untuk mencari tahu banyak hal tentang hutan ini berikut warga serta isinya adalah tugasmu. Jika aku ingin memberikan catatanku padamu, aku memilih untuk menjualnya dengan harga yang tak akan pernah mampu kau bayar”
Luna menganga tidak percaya.
Kertas catatan seukuran saku yang sudah seperti nyawanya sendiri. Luna bersumpah bergidik aneh.
“Persetan dengan catatanmu yang tak seberapa itu” kata si gadis akhirnya.
“Bagus, jangan tertarik”
Dan Luna kembali bersepkulasi jika isinya adalah lirik lagu yang sedang ramai di sosial media. Dimatanya, Adam terlihat tidak waras juga. Dimulai saat pria itu mau-mau saja ikut mengemban tugas tidak masuk akal, lalu membayar Hasan. Semuanya aneh meski Luna sedang tidak ingin terlalu banyak berpikir.
Bertepatan dengan api yang semakin membumbung tinggi. Tiba-tiba dari balik semak dan pepohohan, beberapa orang keluar membawa–mungkin saja tombak, mungkin juga bambu biasa. Yang jelas bentuknya mirip-mirip dengan itu. Mereka tiba-tiba mengacungkan benda itu.
“Kalian mau membakar hutan, heh? Kalian para pendatang adalah sumber bencana yang akan merusak dan menyebarkan paham sesat. Kalian pergi atau kami bunuh” malam itu, masih begitu jelas dalam ingatan serta hitungan akurat. Lima orang, benar. Mereka menggunakan linen crop dan celana selutut. Hidung mereka besar dan kulit gelapnya seakan menyatu dengan malam.
Luna kontan lari tunggang langgang.
Larinya sembarangan menerabas apapun. Gadis itu tak lagi menghiraukan temannya.
Karena memang dikejar. Mereka mengacungkan tombak. Satu dua melesat dan menancap dipohon. Sisanya sama, tidak kena. Ia berlari dengan insting bertahan hidup kelewat darurat. Rasanya seperti kakinya tak lagi menginjak tanah. Betisnya sesekali tertusuk dahan tak lagi terasa.
Ia tak melihat Adam. Tidak, tidak peduli. Langkahnya besar, ia menerobos malam yang pekat. Tak ada lampu, tak ada obor seperti tempo malam saat kehadiran Zoe dan pastor. Semuanya gelap gulita sangat pekat.
Juga tidak ingat berapa lama ia lari
Terseok-seok langkahnya. Saat pertahanannya sampai ambang batas dan sesekali ia jatuh tersandung akar pohon dan mata kakinya tertusuk ranting kayu. Adam masih tidak ada, pria itu tidak ikut lari bersamanya atau lari juga, namun berlawanan arah—bisa juga pulang ke rumah Dey lalu mengunci pintu.
Tidak tahu. Luna tidak bisa berpikir jernih.
Namun kakinya di seret susah payah memasuki bangunan bagian belakang yang kosong. Ia tidak tahu bangunan apa. Namun temboknya dari beton. Ia masuk setelah membuka gerendel yang ternyata tidak di kunci.
Terlalu gelap. Terlalu pekat. Matanya tidak menangkap cahaya apapun bagai buta.
Ia cukup yakin jika sedang bersembunyi di bangunan milik warga. Meski jika dipikir ulang, hampir dua hari berada disini, Luna tidak menemukan bangunan beton kecuali gereja. Ia juga belum sempat pergi ke kediaman kepala suku.
Cukup lama ia meringkuk di sana. Hingga suara lain terdengar begitu jelas meski tidak terlalu dekat. Sunyi yang mencekik menjadikan bunyi apapun terasa nyaring. Gadis itu menajamkan rungu untuk menyimak siapa saja yang bicara.
“Kita harus kembali menyuntikkan racun ke pohon itu. Tekan para warga untuk menaikkan jumlah upeti dengan alasan Dewa ingin emas lebih banyak. Tambang sekaya itu, mengapa mereka tidak giat? Jika perlu, seluruh warga desa ikut terjun mencari emas, laki-laki, perempuan, atau anak-anak sekalipun.” Luna familiar dengan suara itu, ia mencoba mengingat.
“Kalau begitu, iman warga kepadaku akan memudar. Mereka akan berpikir jika aku gagal dan tidak mampu lagi menjaga desa ini” sergah suara lain. Yang ini, Luna baru mendengarnya.
“Katakan pada mereka bahwa kau bicara dengan Dewa dan Dewa yang menghendaki”
“Urusan Dewa erat dengan pastor, bukankah akan tidak natural jika aku memegang seluruhnya?” jawab suara yang tak dikenal itu.
“Seluruh warga disini sangat bodoh. Tidak natural apanya. Mereka saja percaya jika Zoe kerasukan Dewa”
Lalu suara lain tertawa.
“Aku hampir ketahuan saat merangkak di palfon. Salah tumpu sedikit saja, kakiku akan amblas” pria itu tertawa lagi. Tawa yang terdengar tanpa humor “harness dan tali tipis akan terlihat saat pencahayaan terlalu terang. Tapi aku gagal meraba kerangka kayu pada plafon saat terlalu gelap. Sialan, kenapa tugasku paling sulit?”
Lalu suara pukulan ringan menyusul. Pria yang mengeluh itu mengaduh pelan.
“Lalu, apa rencana kita agar bisa menekan warga supaya mau memberikan emas lebih besar. Ada ide?”
Luna masih menyimak. Tidak, ia bahkan merekam menggunakan pena.
“Sementara jangan gegabah untuk kembali merusak pohon. Lebih baik andalkan Zoe untuk kerasukan yang lebih meyakinkan” jeda sebentar “kau harus terlihat lebih bersinar, Zoe. Seperti peri dengan taburan sparkle. Lalu minta warga untuk memberikan hasil bumi yang lain. Berhenti menyodorkan gadis-gadis bau kepadaku. Aku hanya butuh emas”
Sisa orang tertawa.
Lalu Luna mendengar suara langkah tergopoh-gopoh. Tidak ada suara lain selain itu.
“Ah.. kau anaknya Darmaja, ya?” kata salah seorang lagi. Belum ada suara asing yang menyahut kecuali tiga suara yang sejak tadi di dengarkan oleh Luna.
“Bagaimana dengan gadis itu?”
“Jurnalis, ya? Tidak kusangka dia cantik sekali”
“Kau bilang, dia jurnalis yang tahu banyak hal tentang bisnis ini. Dia lebih cocok menjadi istriku. Lagi pula, kenapa perempuan harus repot-repot mengurusi pemerintah dan membongkar pertambangan ilegal? Sialan”
“Kau bisa mengawininya jika mau”
“Tidak sesederhana itu, namun bisa saja. Tapi yang paling penting adalah menyingkirkannya”
Luna membekap mulutnya sendiri. Tiba-tiba sekujur tubuhnya merinding. Degup jantungnya berpacu kelewat kencang hingga terdengar nyaring menggedor-gedor gendang telinga. Dari nama Darmaja saja, ia sudah memprediksi kemana semua ini terhubung.
“Aku berencana membunuhnya tadi. Tapi dia berhasil kabur. Dia sangat keras dan realistis. Dia juga pintar. Instingnya kuat dan dia selalu membaca situasi dengan baik kecuali menyangkut uang karena miskin” dan dari semua hal, Luna lebih kaget dengan suara itu. Jantungnya seakan berhenti pada detik suara itu keluar.
Suara Adam.
“Dia juga begitu kompeten dan benar-benar jadi momok bagi… yah, kau tahu. Ayahku kerepotan karena satu gadis yang begitu gigih membongkar bisnis ini. Aku baru saja nyaris membunuhnya. Tapi sete;ah dia kabur, aku mengurungkan niat karena kupikir dia akan berguna bagi kita. Jika dia dipihak kita, mungkin saja dia memiliki lebih banyak ide untuk menguras seluruh emas di tanah ini. Seperti meyakinkan para warga untuk memasukkan para penambang dari luar dengan alat tanpa membuat warga takut atau menentang”
Jeda, semua orang jelas sedang menyimak Adam bicara. “Jadi, akan lebih baik jik—”
Adam tidak melanjutkan kalimatnya tepat saat suara jeritan terdengar dari arah belakang—gudang.
Luna menjerit tatkala sesuatu menyentuh pergelangan kakinya. Sesuatu yang dingin, tipis, dan bergerak tanpa suara; ular. Benar, itu ular. Bahkan ketika refleks tangannya membuang makhluk itu, Luna meraba bentuknya dan gadis itu menjerit sekuat tenaga, membuat siapa saja di tempat itu mendengar.
Sial.
𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼
Kepalanya pusing.
Suara orang mengobrol terasa sangat dekat. Aroma rokok merangsek memenuhi paru dan yang paling berat adalah tengkuknya—seakan kesemutan.
Luna membuka mata tanpa tau bagaimana caranya. Sakit kepala membuat pundaknya seakan dibebani karung berisi pasir basah. Tapi mau tidak mau ia mendongak dan hal pertama yang ia lihat adalah dipan.
Kamar. Setidaknya ada kasur dan dipan serta nakas berikut lemari. Meski ia di kamar—mungkin, namun ruangan ini lebih mirip penjara karena jeruji besi terkunci menjadi satu-satunya jalan keluar.
Tubuhnya duduk di kursi kayu tunggal. Dua tangannya di ikat ke belakang dan sejak tadi, Luna duduk—menunduk pingsan.
Matanya buru-buru memindai apapun. Mencari siapapun yang ada di balik ruang ini.
Kamar temaram dengan penerangan dari lubang angin yang membawa sorot matahari masuk meski tak seberapa. Luna sadar jika malam sudah berlalu dan ia pingsan dalam waktu panjang hingga matahari telah menyorot.
Diperhatikannya lubang angin saat matahari membentuk garis memanjang ke lantai–sementara debu-debu berterbangan campur asap–mungkin rokok tadi, terlihat begitu banyak
“Halo? Ada orang?” akhirnya ia memangkas ketakutan. Tidak tahu apa yang diharapkan setelah terbangun dalam posisi ini. Luna tidak punya ide.
Suaranya menggema mungkin sampai luar. Ia tidak bisa melihat kejauhan karena dari jaraknya memandang, diluar terlihat gelap. Namun tidak lama setelah suaranya seperti baru saja mengudara, derap kaki mendekat menyusul setelahnya. Luna menajamkan rungu. Sebenarnya, kepalanya gatal dan begitu pegal. Bokongnya panas.
“Sudah bangun?” Luna spontan melihat ke balik jeruji besi. Tak ada bayangan dikepalanya meski saat matanya bertemu dengan pria tampan berpakaian mahal, ingatan tentang tadi malam berputar otomatis dan membawanya pada ingatan sebelum ia terbangun di tempat ini.
Kepala suku.
Rambutnya rapi di sugar dengan pomade—mengkilap ke belakang—menampilkan dahi yang seakan bersinar meski tanpa lampu tambahan. Senyumnya terlihat sekilas meski setelah itu lenyap di bawa gerombolan debu yang di terjang oleh mantel mahalnya.
Luna memperhatikan naik turun sebelum menyerah dan memilih melihat debu. Bunyi kerincing kunci dari sakunya mengalihkan.
“Luna, benar?” tanyanya. Suaranya pelan dan dalam. Si gadis belum menjawab dan memililih beradu legam dengan mendongak “aku Nic. Kepala Suku di desa ini”
Luna tidak tahu apa perkenalan semacam ini penting. Namun yang jelas, ia ingin menggaruk kepala dan bangkit karena bokongnya panas.
“Kau menguping obrolan kami di gudang gereja, benar?”
Pertanyaan itu juga Luna tidak yakin mampu menjawabnya. Karena jika ia mengatakan tidak sengaja, apakah pria di depannya akan percaya dan bersedia melepaskannya begitu saja? Sepertinya tidak, dan Luna memilih menggeleng meski reaksi itu juga memerlukan penjelasan.
“Aku tidak akan memarahimu, tahu? Karena sudah terlanjur begini, maka, bergabunglah denganku. Kau tidak punya pilihan”
Ujarnya lagi. Itu keputusan sepihak yang mutlak–Luna dan membacanya meski dengan kepala yang seakan di gerayangi ribuan semut yang berbondong-bondong menggaruk kulit kepalanya.
“Aku tidak punya pilihan” akhirnya ia bersuara. Matanya memindai legam milik pria itu lagi, berharap menemukan jalan pulang dari sana. Dan Nic mengangguk pelan.
“Sebenarnya, apa tujuan kalian…” Luna tidak segera melanjutkan. Tiba-tiba sosok Adam muncul dikepalanya sebagai pengkhianat sejati “kenapa aku harus terlibat? Aku bukan orang yang bisa terlibat seperti ini” Luna memutar otak, ia mencari cara supaya bisa lepas tanpa menyinggung perasaan dan memperburuk situasi “kau tau? Aku tidak memiliki apapun. Melepaskanku dari sini, aku akan bersumpah tak akan buka mulut atas apapun. Aku akan mengisolasi diri di rumahku. Aku tidak akan bicara. Jadi kumohon, hm? Bisa lepaskan saja aku?”
“Kau mengatakan itu setelah membuat artikel serta laporan mengenai pertambangan ilegal yang menyeret nama pejabat dan tempat ini. Kau sudah terlibat terlalu jauh dan sekarang kau bertanya kenapa kau harus terlibat dan akan mengisolasi diri di rumah? Itu bagus! Maka, bergabunglah disini, kau akan terisolasi juga. Sama saja, kan?” kata Nic bersemangat.
“Kau tidak mati menuju jalan kemari. Kau harus bersyukur untuk yang itu. Adam berbaik hati padamu, jadi, tahu dirilah sedikit. Jika kau tidak berguna, maka, rencana awal akan dilakukan” sambungnya lagi. Luna memproses semua yang dikatakan pria itu. Dan lagi-lagi obrolan mereka di gereja semalam kembali terhubung bagai benang yang saling berkaitan.
Tidak sampai disana. Luna juga ingat tentang artikel terakhir yang ia rilis serta penyerahan laporan kepala pihak berwajib yang malah membuatnya menjadi tersangka kejahatan—alih-alih tepuk tangan atau ungkapan terima kasih karena sudah mengungkap penjahat dengan bukti kelewat akurat. Ia membongkar bisnis ilegal seorang pejabat yang mengeksploitasi tanah air Papua. Namun bodohnya, Luna tidak mencari tahu tentang desa–suku pedalaman ini—jika tempat pertambangan itu justru berada tepat di dalam desa ini. Lagi pula tawaran untuk ke tempat ini begitu dadakan tanpa obervasi lanjutan. Dan Luna merutuki semuanya.
Merutuki kecerobohannya, juga rasa putus asanya terhadap sumber penghasilan.
“Sekarang jujurlah padaku. Kenapa manusia mau repot-repot membongkar kejahatan yang dimana dia tahu bahwa apa yang dilakukan akan membawa dampak tidak bagus baginya? Bagi pekerjaannya alias sumber pendapatan, juga bagi perusahaannya? Apa yang dicari? Validasi? Atensi? Atau apa?” mata Nic masuk lebih dalam–seolah menekan agar gadis itu memilih salah satu dari beberapa kemungkinan yang dipaparkan.
“Tentu saja karena kau iri” pria itu menjawab sendiri pertanyannya “kau iri karena kau miskin sementara oknum lain hidup bergelimbang harta dari jalur yang menurutmu kriminal. Kau iri dan kau berbuat susuatu untuk menuntaskan dengki di hatimu. Sejujurnya, kau juga mau, kau butuh uang. Kau hidup pas-pasan dan selalu mengumpati hari-harimu yang menyedihkan, kan? Kau sama dengan kami, dengan pejabat yang susah payah kau cari tahu cela nya. Bedanya, tidak ada yang mengajakmu, tidak ada yang memberimu kesempatan. Kita semua sama jika dihadapkan situasi itu, situasi sulit dan kesempatan besar untuk mendapat uang untuk hidup yang lebih layak”
Luna diam membisu.
Itu menyentil harga dirinya. Itu melukainya karena apa yang dikatakan Nic adalah benar. Selama ini hidupnya begitu sulit. Pendapatan dan cicilan begitu timpang. Sehari-harinya begitu sulit. Luna kadang hanya makan sehari dua kali, itu pun tanpa lauk, tanpa protein. Hampir tujuh puluh persen uangnya harus ia kirimkan pada ibunya yang sakit keras dan adiknya yang masih duduk di bangku SMP. Sementara ayahnya sudah lama meninggal. Luna mencukupi kebutuhan mereka dan menyambung hidup dengan pinjaman online karena jelas kurang. Untuk membayar kos kurang, untuk hidup layak kurang. Hidupnya mengerikan. Ia terus mencari-cari. Entah, mencari tambahan uang atau sialan lainnya utnuk menyambung hidup. Maka, sebenarnya apa yang dipaparkan Nic adalah benar. Dan sana letak menjengkelkannya.
Ia membenci kenyataan bahwa para oknum pejabat dengan perut buncit terus mengisi perut mereka sementara ia kelaparan hanya menontondengan perut yang menyusut saking kosongnya. Apa yang dikatakan Nic benar, jika saja mereka memberi bagian padanya sedikit saja, maka, Luna tidak akan mengadukan mereka. Tidak juga menghabiskan banyak waktu untuk mengungkap hal-hal yang sepenuhnya ia tahu hanya akan merugikan diri sendiri.
Mata mereka bertemu lagi. Luna menelan liur susah payah.
“Aku ikut denganmu” putusan Luna kemudian. Nic tersenyum dan setelah itu, semuanya jauh lebih mudah.
𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼
Tubuhnya memantul-mantul. Dadanya naik turun begitu keras. Derit dipan bagai dikoyak makhluk besar yang mengamuk. Suara cabul menggema dalam kamar itu.
Nic berkeringat banyak, namun batangnya masih gagah menyodok-nyodok liang yang meregang paksa setelah penisnya merangsek. Gadis itu bukan perawan, namun entah apa yang membuat vaginanya terasa begitu sesak–menjepit batangnya begitu kuat.
“Dengar, aku mendengarkan usulanmu, huh? Sayang” suara Nic berat, ia mengubah posisi, membalik tubuh Luna dan membuat si gadis menungging sebelum ia menusuknya keras-keras tanpa ampun.
“HNGGHH!!! OHH!!!” Luna memekik keras “t-tolong… ah! Ah! Pelan-pelan!! Nic!! Please… oh!!”
“Kau bilang akan mendoktrin warga agar mau menerima para pekerja tambang dan memasukkan alat berat tanpa membuat mereka merasa terancam, huh? Aku setuju” napasnya tersengal, penisnya sangat nyaman di dalam. Pria itu mendongak merasakan batangnya berdenyut-denyut seolah di remas dinding hangat.
“A-aku akan!! Tapi please… t-tolong pelan-pelan” Luna memelas. Ia benar-benar tak berdaya. Rasa nikmat menjalari seluruh tubuh dan sudah dua kali sejak orgasme pertama saat Nic menjilati kelentitnya seperti pria gila.
Juga Luna yang sudah sangat lama sejak ia menjalin hubungan romantis dengan seorang pria. Sudah sangat lama dan ia lupa. Hidup yang berat membuatnya tak ingat jika ada kegiatan badan yang begitu nikmat. Luna terlalu larut dalam masalah keuangan. Ia tidak pernah benar-benar hidup dengan normal.
Dan malam ini, vaginanya penuh sesak oleh penis gemuk yang terus memberinya kenikmatan yang telah lama ia lupakan. Kenikmatan yang membuatnya seperti jalang gila karena minta lebih. Memohon agar Nic terus mengisinya—menyesaki liangnya yang sudah sangat lama haus belaian.
“OH!!! SIALAN!! Vaginamu terlalu sempit… ah!.. Ini nyaman sekali.. Gila” Nic terus meracau. Tubuh Luna terhentak-hentak tidak lagi memiliki ritme, tidak beraturan. Ia gagal mendeskripsikan nikmat karena benar-benar dibuat seperti akan melayang.
Dari pintu, sang pastor berdiri melipat tangan di dada melihat kegiatan dua manusia birahi yang memadu cinta. Sudah setengah jam kegiatan itu berlangsung dan sangat mengganggu. Suara mereka mengganggu.
“Sepertinya mereka akan menghancurkan ranjang” ujarnya saat kembali menutup pintu. Bicara pada pria yang sibuk membaca buku. Itu Adam, sementara di sebelahnya, Zoe tertidur dengan khidmat tanpa terganggu oleh suara kecipak dua paha beradu cabul dan desahan bagai suara kambing musim kawin.
Adam tidak menjawab. Ia hanya menurunkan kacamata untuk melihat pastor gadungan itu.
“Sepertinya mereka juga sudah memiliki rencana bagus” katanya lagi, meski tidak mendapat jawaban.
“Apa tidak ada tempat lain? Aku tidak bisa membaca” kata Adam akhirnya. Ia kembali menutup buku. Mereka semua berada di kediaman kepala suku—yang jika dibandingkan, bangunan itu hanya mirip rumah sederhana dengan dinding permanen mirip gereja. Namun bagi warga, bangunan permanen adalah hal mewah yang menandai hierarki antara warga biasa dan para kalangan atas.
“Aku merekomendasikan Nic agar bercinta di plaza” ucap Aksa sembarangan. Adam mendengus. “Kita tunggu saja sampai selesai, setelah itu, mereka akan bicara”
“Kau tau” kata Adam lagi “sejujurnya, penisku juga ereksi dan ini menjijikan. Suara-suara itu membuatku gila” ia menyugar rambutnya ke belakang. “Aku belum pernah mencoba vagina gadis miskin”
Hening lagi, kecuali suara Luna dan hentakkan Nic yang menggila.
“Aku akan meminta bergantian setelah ini. Mau coba bertiga?” tanya Adam. Sang pastor menggeleng.
“Aku tidak berzina, itu dosa besar”
“Tapi kau penipu”
“Dosa penipu kecil. Bisa kutebus dengan gandum”
𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼
“Apa kau gila? Wah…” Aksa memutari tubuh Luna sambil bertolak pinggang. Wanita yang menggunakan pakaian bagus bak putri raja itu baru saja memberi ide tentang cara mengeruk kekayaan di desa tanpa rumit.
“Ya, aku hanya perlu menulis artikel bahwa desa ini begitu damai dan memang tak membuka pintu untuk orang asing karena menjaga keasrian tempat” jawab Luna yakin.
“Dengan meracuni seluruh warga?” tanya Zoe, pria itu jelas tidak setuju. Ini kampung halamannya, meski kedua orang tuanya telah meninggal karena wabah penyakit kusta. Namun membunuh seluruh orang-orang yang ada bersama pertumbuhannya benar-benar kelewatan “jika kau kukuh dengan rencana itu, maka, kubur dulu bangkaiku. Aku tidak sudi kalian meracuni semua warga disini”
“Aku juga tidak setuju, terlalu jahat” sanggah Aksa.
Adam dan Nic masih diam sementara Luna menunggu dua pria itu bereaksi. Namun tetap tidak ada meski sudah lama keheningan setelah tak ada lagi yang berkomentar.
Luna akhirnya menghela napas. Gadis itu pergi ke dapur.
“Aku akan membuatkan teh” katanya akhirnya. Ia tahu idenya yang sangat ekstrem tidak akan diterima.
“Kupikir gadis itu gadis baik ketika kau mengatakan jika dia menjadi batu penghalang ayahmu” komentar sang pastor, wajahnya mengeras. Lalu suara kekehan Nic yang menjawab sebelum pria itu bicara.
“Sudah kubilang. Orang miskin yang usil adalah mereka yang iri karena tidak mendapat bagian. Dan lihatlah saat dia masuk ke lingkaran yang pernah dibencinya. Orang-orang seperti itu akan lebih gila. Pemimpin rusak lahir dari rakyat yang rusak. Ketimbang pusing mengkritik pemerintah, atau membuang waktu untuk hal-hal sejenis, lebih baik jual diri dan hasilkan uang” Nic terekekeh “tapi vaginanya benar-benar sempit, sialan. Aku akan bercinta dengannya hingga bosan. Setelah itu terserah. Jika menyusahkan, kita jual saja”
Kata-kata Nic terdengar begitu terang. Sangat.
Luna yang membuat teh menggelengkan kepala sambil tersenyum jenaka.
Sudah lima hari sejak ia sadar dari pingsan di dalam penjara bawah tanah rumah ini. Dan meski sama-sama suka, tapi Nic mencabulinya hampir sehari delapan sampai sepuluh kali. Ia benar-benar bagai pelacur.
Tangannya sibuk mencangking nampan. Teh kamomil terlihat bergetar dalam moksaat diletakkan di atas meja.
“Teh kamomil untuk meredakan stress. Kalian jangan terlalu tegang, kita bisa mencari cara lain” kata Luna lembut. Ia duduk di dekat pastor yang sibuk membaca alkitab.
“Kau cantik dan sangat pengertian” kata Nic memuji. Pria itu mengambil mok, menyesap teh. Lalu di ikuti adam dan dua lainnya.
“Ah, aku juga punya kudapan yang kubuat tadi pagi, sebentar” Luna bangkit lagi. Ujung roknya menyapu kaki Nic.
Saat si gadis tak lagi terlihat, Aksa menyikut Zoe.
“Padahal cantik, tapi jika dijual akan sangat murah. Bagaimana dengan organ dan mata?” suaranya berbisik yang didengar semua orang. Termasuk Luna di dalam.
Adam memandang Aksa, lalu mereka semua saling pandang untuk isyarat yang tak dimengerti.
“Aku mengandalkanmu” jawab Nic akhirnya “kau pastor paling disukai Tuhan. Kita akan melakukan pengakuan dosa setelah semuanya”
Dan mereka tertawa bersama meski hanya sebentar. Sementara Luna tak kunjung keluar hingga sepuluh menit berlalu
Cangkir-cangkir kosong hampir bersamaan. Chamomile yang mereka minum masih meninggalkan rasa hangat di lidah. Zoe bahkan sempat menyandarkan tubuhnya ke kursi setelah tertawa. Ia menghela napas panjang, “sebenarnya, untuk apa uang? Aku tidak berencana pergi dari desa ini. Tapi aku patuh pada kalian seperti orang bodoh” katanya. Lalu ia terdiam.
Tidak ada yang menajwab ocehannya, hingga beberapa menit. Zoe mengerutkan kening, tangannya refleks menyentuh perut. Hangat dalam perutnya tidak berhenti. Justru semakin panas. Ia menegakkan tubuh, napasnya tertahan sesaat.
“Ada yang aneh…” gumamnya.
Di seberangnya, Nic sudah lebih dulu merasakan perubahan itu. Ia tidak bicara—hanya menatap cangkirnya dengan curiga. Jari-jarinya bergetar halus saat ia mencoba menggenggamnya lagi.
Aksa ikut memperhatikan dua orang sebelum tubuhnya juga bereaksi. Ia tiba-tiba batuk, keras. Satu tangan mencengkeram dada. “Sial… panas sekali…” Wajahnya berubah, dari santai menjadi tegang. Napasnya memburu, seperti habis berlari jauh.
Sementara Adam belum bicara sejak tadi. Tapi sekarang, ia berdiri perlahan—atau mencoba. Kursinya bergeser kasar saat tubuhnya oleng. “Kenapa lantainya…” gumamnya bingung. Pandangannya tidak fokus, seperti ruangan di sekelilingnya bergeser beberapa derajat dari tempat seharusnya.
Zoe mulai panik. Panas di dalam tubuhnya menjalar ke dada, lalu ke leher. Ia menelan ludah, tapi tenggorokannya terasa licin dan asing. Seakan ada sesuatu yang menempel di dalamnya.
“Ini kenapa sih?” bisiknya.
Nic mengangkat tangannya, memperhatikan ujung jari yang mulai memucat. “Kesemutan…” katanya pendek. “Sial, ini tidak normal.”
Aksa kini sudah tidak bisa berdiri tegak. Ia membungkuk, kedua tangannya menekan perut. “Aku mau muntah…” napasnya tersengal. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.
Adam terhuyung satu langkah—lalu berhenti. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Ia bisa merasakannya di telinga, di leher, di seluruh tubuhnya. Tapi anehnya, tubuhnya justru terasa semakin lemah.
“Jangan… minum lagi…” katanya lirih, meski cangkir itu sudah lama kosong.
Zoe mencoba berdiri, tapi lututnya tidak kuat. Ia jatuh kembali ke kursi, tangannya gemetar hebat sekarang. Dunia di sekitarnya mulai kabur di bagian pinggir, seperti ditelan bayangan perlahan.
Nic menggigit bibirnya, berusaha tetap sadar. Tapi napasnya mulai pendek.
Edgar mendorong si bungsu dengan api hingga bocah itu terjengkang ke belakang. Tidak kuat, namun berhasil membuat bajunya terbakar. Daniel cepat-cepat membekukan diri.
Setelah itu, mereka saling serang.
Kristal duduk pindah ke pojokkan sambil memijat kepala. Menunggu keduanya selesai. Tidak peduli barang-barang di kamarnya terbakar, beku dan berantakan.
Beberapa saat ketika sudah muak. Dan saat suara hunusan pedang menyusul terdengar keras menghantam ubin. Keduanya berhenti.
Edgar yang setengah membeku dan Daniel yang setengah terbakar.
“Kalau nggak berhenti, gua tebas pala Logan” ancaman itu terdengar tidak berkolerasi, namun jelas berhubungan. Keduanya lantas diam. Edgar memulihkan diri sementara Daniel lari ke kamar Samuel.
“Cantik banget, gua suka sama lu dari dulu, dari lu SMA, tapi gua malu sama temen gua. Gua jatuh cinta. Lu juga, kan? Please menikah sama gua, gua akan jadi suami yang keren”
“Lepasin dulu”
“Nggak mau, kalau dilepasin nanti gua dipukul” kata Pip, ia lagi-lagi menurunkan kepalanya. Jaraknya hanya kurang dari satu telunjuk. Napas Diza terasa berat menampar bawah hidung. Gadis itu bernapas terengah “kenapa napasnya naik turun ngos-ngosan?” aroma mint menyeruak dari mulut pria itu–tepat masuk ke pernapasan.
Kondisinya agak canggung dalam mobil. Baik Isa maupun Logan, belum ada yang benar-benar bersuara.
Beberapa saat hingga mereka sampai lampu merah. Logan sesekali melirik ke samping—masih sama canggungnya.
“Jadi…” Isa berusara, Logan langsung memberi perhatian dengan menyudut ke sisi pintu mobil dan menghadap sepenuhnya pada si gadis. Isa melirik sekali, lalu kembali menatap jalanan.
“Kak Logan nggak suka sama Kristal?”
Sepertinya memang ia perlu meluruskan hal yang memang sudah sengaja ia bengkokkan. “Nggak, tapi bukan nggak suka yang mau mengatai dia murahan atau sejenis seperti saat di kastil. Dia gadis baik dan berhati besar” jawaban itu kelewat panjang. Logan merasa berlebihan saat mengatakan. Apa seharusnya ia tidak memuji gadis lain di depan gadis ini?
“Bisaan, ya? Bertingkah seolah nggak suka sama aku lagi. Aku terus berpikir di malam-malam panjang tentang prilakuku terakhir di kastil saat Kak Logan kehujanan. Aku berpikir banyak dan menyesal. Mungkin waktu di kastil nggak terasa karena masih di kejar. Pas Kak Logan tiba-tiba puter haluan, aku agak mencelos”
Logan tidak menjawab, pria itu melihat ke sembarangan sambil menahan senyum.
“Secuek itu ke aku..” si gadis meringis “tatapan matanya juga dingin dan seakan aku ini hina. Aku sedih banget. Tapi malu. Tapi Kristal bilang, kalau kita ada sesuatu terhadap kalian, kita nggak boleh kode-kode, harus to the point karena kalian itu baru pertama kali keluar dan bersosialisasi. Tingkat kepekaan kalian terhadap apapun masih sangat rendah. Nggak ada gunanya menyimpan perasaan, minta di mengerti. Jadi aku mulai mengatakan jujur kalau aku kehilangan. Aku suka sama Kak Logan setelah hari-hari panjang yang berlalu”
Pria itu lagi-lagi tak menjawab. Wajah sampai telinganya memerah.
“Tapi, Kak.. serius nggak bisa ramal aku? Ramal Kristal atau yang lain?” Isa menatapnya sekali lagi sebelum kembali ke jalananan. Pria itu menggeleng.
“Aku minta maaf buat yang terakhir sembarangan mengatakan tentang ibu kamu”
“Nggak papa, yang penting nggak beneran”
Jeda lagi. Logan sejak tadi memperhatikan dari samping saat si gadis fokus.
“Aku baru lulus kuliah beberapa bulan yang lalu. Usia aku baru 22 tahun paling muda di antara Kristal dan Lyn. Tapi aku merasa dewasa dan aku memang dewasa, kan? Aku bukan anak kecil dan nggak papa pacaran. Ini pertama kali aku bawa laki-laki ke rumah. Aku memang serius waktu di kastil bilang udah di jodohin Papa sama anak temannya. Tapi cuma perjodohan gurauan aja. Aku nolak juga. Dan hari ini, aku bawa laki-laki”
“Aku juga pertama kali” gumam pria itu pelan. Isa melirik lagi.
“Lucu ya? Kak Logan usianya 900 tahun” gadis itu tertawa “nanti kalau aku kenalin ke Mama dan Papa, kan sesuai KTP, gimana kalau mereka tau usia asli”
“Ada istilah pedofil. Tapi aku bukan pedofil… aku masih berusia 30 tahun. Yakini aja seperti itu..” pria itu menarik napas dalam “Isa… sejujurnya aku gugup sekarang. Kamu tiba-tiba ngajak aku pergi ke rumah kamu setelah aku…. Aku selama ini stress. Aku nggak cerita sama siapapun dan ramalanku buram” ungkapan itu mambuat Isa tiba-tiba meminggirkan mobilnya.
Mesin mati, dan si gadis mulai fokus.
“Pasti karena aku, ya? Karena perkara terakhir di kastil, kan?”
Logan tak menjawab, namun tidak menyangkal.
“Aku malu sekali sampe pusing. Aku terus berpikir, berusaha terlihat keren walau makin menyedihkan. Lalu aku memanfaatkan kelapangan hati gadis yang sudah mau menampung kita semua. Aku…” pria itu memilin-milin jarinya “aku… hanya jatuh cinta dan malu..” wajahnya memerah lagi “ini pertama kalinya. Cinta pertama dan memalukan”
Cup!
Isa mengcup pipinya.
“Lucu banget mukanya merah hihi..” si gadis meledek “Kak Logan pasti akan betah di rumah. Aku anak tunggal dan Mama suka sekali anak laki-laki. Makannya waktu Kak Logan bilang aku pacaran sama Daniel aku kaget. Dia nakal banget, takut berak di sofa aku tu kalau Daniel, nanti pasti aku suruh cari laki-laki yang normal”
“Daniel normal, dia hanya… bayi”
“Dia bukan bayi. Sama Kak Logan lebih besar dia”
“Tapi dia termuda dan bayi. Badan dan mental nggak sinkron karena memang usianya masih muda”
Mereka sampai setelah berhasil membicarakan banyak hal. Termasuk jenis hubungan mereka. Isa kukuh mengatakan jika mereka adalah sepasang kekasih meski Logan terus malu-malu dan merasa tidak yakin. Di tolak berkali-kali membuatnya berpikir bahwa Isa tidak serius.
“Berapa usia Mama kamu?”
“49. Dia masih muda dan cantik, dia sehat dan keren. Kak Logan jangan jatuh cinta sama Mama, oke?” pria itu mengerutkan dahi, sebelum tangannya ditarik paksa. Langkahnya riang dan mereka masuk ke dalam.
“Mbak… Mama mana?” saat pertama masuk, asisten rumah tangga yang menyambut mereka.
“Mama lagi itu… senam aerobik, baru aja berangkat” kata si asisten. Tangannya memegang lap dan cairan pembersih. Matanya lurus menatap Logan naik turun—jelas meneliti.
“Kamu lihat apa?” kata Logan dingin. Matanya menajam. Sang asisten menunduk dan berjalan ke belakang.
“Yah… nggak ada, emang dadakan dan belum bikin janji. Maaf ya” kata si gadis, satu tangan bertolak pinggang dan satu tangan yang lain memegang ponsel.
“Aku aja belum mencerna hubungan kita. Walau nggak keberatan untuk kembali harus dihadapkan orang tua kamu. Tapi karena nggak ada, mending kita pendekatan dulu.. Kita… lebih dekat.. Nggak perlu buru-buru”
Isa mengecup pipinya lagi.
“Kak Logan sejak kapan segemas ini?”
“Hentikan.. Isa.. aku benar-benar ingin memelukmu sekarang”
🦖ℝ𝕒𝕨𝕣🦖
Dua hari berlalu saat ia nyaris tiga hari tak pulang ke rumah.
Johan menyilangkan kaki. Tangannya melipat didada sementara wajahnya serius menyimak kata-kata bosnya—meski lebih pas jika disebut omelan. Namun vampir paling beracun itu menyimak—seolah ia adalah bosnya disana.
Atelier itu dipenuhi suara gesekkan kain dan degung mesin jahit yang sepertinya memang tidak pernah berhenti. Johan tidak pernah melihat benda itu berhenti bekerja. Bau kain baru dan uap setrika menggantung di udara.
Di hadapannya, seorang wanita dengan wajah keras berdiri kaku di depan meja potong. Tangannya memegang selembar gaun yang baru saja di angkat dari hanger. Wanita itu menatap sang asisten beberapa detik sebelum bersuara. Baru dua bulan lebih 3 minggu mereka bekerja sama. Namun sang bos masih tidak paham kenapa harus selalu dihadapkan pria dengan wajah angkuh berstatus asisten yang kini duduk menyilangkan kaki setelah melakukan kesalahan. Bukan hanya sekali ini saja. Jika bukan karena desakan dari Kristal dan segala koneksi ajaib dari sultan kaya raya, ia bersumpah ingin mendepak pria tampan yang duduk tanpa rasa bersalah itu.
“Johan, ini apa?” suara itu tidak terlalu keras. Namun berhasil membuat beberapa kepala menoleh. Johan mengangkat sebelah alis tanpa menurunkan tangan didada. Lalu bangkit dan mendekat, matanya jatuh pada gaun yang dipegang—berwarna putih bersih. Rapi dan begitu elegan. Tidak ada kecacatan sedikit pun.
“Gaun untuk fitting klien siang ini yang—”
“Aku tanya, ini warna apa?” kata-kata Johan di potong. Kali ini nadanya lebih tajam meski intonasinya stabil.
Johan menggaruk tengkuk yang tidak gatal—tak langsung menjawab beberapa detik.
“Putih” katanya akhirnya.
Sang bos menghela napas pelan. Namun justru helaan napas itu yang menginterpretasikan kemarahan. Malah terasa lebih bahaya.
“Putih” ulang sang bos, mengulum senyum yang malah terasa menyeramkan. Johan berdehem karena ia membaca situasi pelan-pelan. Cukup lama baginya untuk paham dunia luar, memahami tiap manusia, dan banyak hal, meski baru dua bulan. Semua hal baru. Ia beradaptasi dan seandainya semua orang paham bahwa ia adalah makhluk yang bertahun-tahun terbelenggu dalam satu bangunan tanpa bisa mempelajari hitam putih dunia dengan layak.
Wanita itu mengangkat gaun lebih tinggi “dan aku minta warna apa, Johan?”
Johan nyengir. Cengiran yang benar-benar di benci sang bos “ivory..”
“Jadi kenapa yang datang ke tanganku warna putih?”
Suasana di sekitar jadi ikut menegang. Mesin jahit masih berjalan, namun terasa menjauh, lebih jauh karena suara bosnya.
“Aku kira mereka sama. Memang apa bedanya, dimataku semuanya putih Kak. Lagi pula di katalog—”
“Sama? Ivory dan putih sama?” kali ini suaranya benar-benar naik. Kelopak matanya seakan meregang dan bola mata akan jatuh. Beberapa orang benar-benar berhenti dari kegiatan mereka untuk menyimak. Johan tidak tahu banyak jenis warna selain warna-warna yang seumumnya ia lihat. Pada kelas tambahan yang didatangkan Kristal, ia hanya diajari cara mencocokkan pakaian atau mix and match serta mempelajari jenis-jenis kain. Tapi tidak dengan warna, sama sekali. Ia bahkan tidak tahu ada warna pastel, seperti apa warna bold. Macam-macam warna hijau, biru, merah, dan tiap warna dasar memiliki setidaknya 15 warna sub unit.
Kepalanya pusing.
Bosnya masih banyak bicara dan menerangkan ini dan itu yang sebenarnya makin membuatnya pusing. Lalu Johan menjentikkan telunjuk. Dalam waktu singkat, wanita di depannya tiba-tiba menjatuhkan gaun dan mulai menggaruk tangan.
Secara tiba-tiba.
Ia menjerit tatkala rasa panas, gatal dan ruam merah menyerang secara dadakan. Di sofa, Johan nyengir. Pria itu berhasil memberikan racun daru daun jelatang yang akan membuat wanita di depannya setidaknya akan seperti itu beberapa jam hingga beberapa hari tergantung kulit.
“Saya akan antar ke dokter, Kak” katanya pura-pura panik. Ia belajar hal ini dari beberapa karyawan lain.
Hampir cengengesan seperti orang dengan sumber daya manusia yang rendah, Johan mengalihkannya dengan berdehem. Mereka benar-benar menuju rumah sakit bersama sopir.
🦖ℝ𝕒𝕨𝕣🦖
“Loh, tumben udah di rumah? Biasanya larut atau nginep” suara Kristal memecah, pria itu berbalik dan melihat gadis berambut panjang hanya mengunakan terusan lucu selutut dan sandal kelinci yang mendekat padanya.
“Bos lagi di rawat di RS. Nanti ke sana lagi, aku mau isi tenaga dulu” jawab pria itu sambil tersenyum. Kristal mengangguk-angguk.
“Ada kesulitan? Ada masalah?” kakinya masih tegak berdiri di sana. Johan satu-satunya orang yang jarang di rumah. Kristal juga hampir sulit sekali mengobrol.
“Sebenarnya, aku masih kesulitan mengenali jenis warna. Tapi lagi aku pelajari di hp. Pelan-pelan” katanya lagi “nanti kalau ada kesulitan aku cerita ke kamu”
Si gadis mengangguk-angguk “bicarakan apapun, oke? Gua siap dengerin” si gadis berlalu. Johan masih menatap punggung itu hingga Kristal menghilang lalu menghela napas lega. Jika Kristal tau bahwa alasan bos nya ke rumah sakit karena ia kirimkan racun lewat sela pori, maka, gadis itu pasti akan mengomelinya juga. Johan sakit kepala dan tiba-tiba ia merasa semua wanita selalu mengomel. Padahal Kristal tidak pernah memarahinya. Mendengar gadis itu berani pada Logan dan Sinu, sangat mustahil untuk tidak memarahinya juga dengan mata mendelik menakutkan. Johan berusaha terlihat paling normal di antara semua saudaranya.
Johan berbalik berencana kembali ke kamar. Namun di kagetkan oleh Isa yang menatapnya dengan mata aneh, mulutnya mengunyah sambil mencangking stoples berisi makanan—yang di matanya mirip tahi kucing.
“Halo Kak Johan” sapanya ramah. Rambutnya sama panjang digerai. Gaun yang di pakai berwarna putih kebesarann, ujungnya di seret-seret di atas marmer mengkilap. Mirip hantu.
“Kenapa wanita lama-kelamaan menakutkan sih?” ia bergumam sendiri sebelum benar-benar ke kamar dan akan langsung kembali ke rumah sakit.
Tertunda.
Tepat saat Johan masuk ke kamar si bungsu dan melihat semua keluarganya berkumpul melihat film Upin-Ipin. Yang tadinya akan pergi ke rumah sakit akhirnya tertunda. Bokongnya ikut merebah dan Johan bersumpah akan menonton sepuluh menit saja sebelum pergi.
“Disini ada yang bisa bedain warna maroon sama burgundy? Atau navy vs midnight blue? Atau ada lagi beige vs cream, teal vs turquoise, lilac vs lavender, coral vs salmon, atau charcoal vs dark grey?” pertanyaan itu dilayangkan tepat saat tokoh Upin dan Ipin dalam suasana tegang di kajar hantu—mungkin. Warna layar menggelap dan atmosfirnya jelas menginterpretasikan horror.
“Si Keong Racun kalau berisik aja gua bekuin” ujar Daniel serius. Matanya memantulkan cahaya dari layar televisi yang besar. Sang kakak menghela napas.
“Kan? Manusia normal, vampir normal, sulit membedakan. Lagian apa gunanya bikin warna mirip-mirip dengan nama yang jauh beda. Semoga yang nyiptain nama warna bermacem-macem, dagunya ngondoy sampe ubin”
Samuel menatap saudaranya dengan pandangan yang juga begitu sulit di artikan. “Kata gua mending lu kerja jadi pembunuh bayaran”
“Terus seseorang membenci seorang tabib yang jual kunyit di standing pouch seharga lima ekor sapi” jawabnya tak mau kalah “minta gua untuk membunuh dia. Karena nutup rezeki dokter dan dukun”
“Terus kita duel di alun-alun. Setelah itu Sinu vs Logan, Jake vs Daniel, Edgar membakar kota dan Kristal jadi setan” Johan terbahak-bahak. Lalu Logan melirik ke samping dengan wajah paling rata sedunia. Sorot matanya melebihi setan. Johan diam.
“Upin Ipin ini palanya gede banget anjir, kayak pala tititnya Edgar” Daniel bersuara lagi. Yang di singgung menyipitkan mata meski tidak berpengaruh pada penglihatannya yang memang tak jernih dari jarak jauh.
“Kegedean pala, batangnya segede sumpit dimsum” lanjut sang adik.
“Keluarin punya lu! Buru! Keluarin punya lu, kita duel. Siapa yang segede sumpit dimsum, gua bakar peler nya” tak terima dihina, Edgar menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dengan anggun. Kontras dengan kejantanannya yang sebesar lengan bayi.
“Jangan keluarin titit sembarangan” Sinu berkomentar. Edgar langsung menutup resleting celana. Daniel meledek dengan menjulurkan lidah serta memegarkan lubang hidung.
“Mail mirip Jake nggak sih?” tiba-tiba Logan berkomentar. Jake yang sejak tadi menyimak film dengan serius, menatap ke samping—pada pria yang hanya berujar tanpa berencana bersitatap dengan siapapun.
“Lu mirip Jarjit. Aa uu aa uu, bodoh, gak bisa baca” jawab si adik.
“Padahal konteks gua bilang Mail itu karena dia yang paling ganteng dan polanya paling dewasa dari semua karakter” baru Logan menatap matanya.
“Masa? Gak caya sih. Hati lu jelek dan item. Apal gua” Jake masih gagal berpikir baik tentang pria berkulit putih.
“Emang kalau bangsat ya bangsat aja” itu gumaman Logan.
Pintu terbuka tiba-tiba.
Lyn berdiri di sana. Matanya lurus pada Sinu.
“Gua mau pulang. Gosah nyariin atau ngide nelpon malem-malem minta gua datang. Ya?” bukan hanya Sinu, namun seluruh mata tertuju pada si gadis yang baru datang langsung menguap. Si sulung melirik jam dinding. Pukul sepuluh malam.
Dari sofa dekat Jake, Johan bangkit–lupa harus ke rumah sakit.
“Mau bareng nggak? Aku mau ke rumah sakit, sekalian bareng” kata Johan pada Lyn.
“Bareng disini konteksnya gua yang nganterin elu ya bujang! Nambah-nambah kerjaan aja” Lyn mendecih sementara Johan cengengesan.
“Gua kerja dulu” kata pria itu pamit pada semua orang. Ia membuntut Lyn dengan ramah.
Pintu kembali di tutup. Samuel melirik kakak sulungnya.
“Lu pacaran beneran sama Lyn?” tidak ada yang melirik kecuali Sinu–tentu saja.
“Pacaran itu apa?” pertanyaan di balas pertanyaan. Sinu menaikkan satu alis tidak paham.
“Pacaran itu hubungan dua orang. Gadis dan bujang yang saling menyukai, mencintai, saling menjaga, saling mengerti dan saling terikat walau belum resmi” Edgar yang menjawab “Kristal dulu begitu ke gua”
“Kristal biar sama gua” kata Jake “gua duluan yang suka. Lu mau cari cewek anggun lebih bagus. Biar dia sama gua”
“Coba aja kalau dia mau. Lu nggak inget kata Logan? Mau sama siapapun dia, mau sejauh apapun lari. Dia bakal balik ke gua entah gimana pun caranya” kata Edgar berbangga diri.
“Ya nggak masalah, gua cintai sampe batas maksimal gua, gua hamilin dan kita jadi pasangan. Ntar kalau dia udah dipenghujung maut, gua kasih ke lu” Jake yakin bisa. Tidak apa-apa jika kejadiannya seperti itu.
“Sini gua bakar lak-lakan lu, enak aja” Edgar tak terima. “Biarin aja sekarang dia sok gak mau ke gua, sok cuek. Kalau dia dekat sama laki-laki manusia, tinggal gua bakar peler pacarnya. Mau liat sejauh apa sok jual mahal ke gua”
“Lu yang jual mahal! Dia udah jadi gadis edan ngejar-ngejar lu”
Edgar cekikikan “tapi mending sama gua ketimbang sama Logan. Bayangin dia sama Logan. Kalian gak akan dapet perhatiannya karena si bengis dukun jombang itu serakah”
“Udah bagus Isa sama dukun walau gua masih suka main sama Isa. Jangan Kristal, dia Mama gua, udah paling bener sama lu, Lay. Gak sudi Kristal di stampel hak milik. Emang sok keras banget si dukun gadungan” Daniel meniupkan es ke tengkuk kakak kedua yang sejak tadi diam.
“Gua diem dari tadi si bangsat ini! Terusin.. ntar gua bales, ngadu ke Kristal bikin narasi seolah gua yang paling jahat. Gua yang paling tega dan paling nirempati” Logan melakukan lirikan samping yang cukup untuk membunuh satu ekor badak dewasa.
Dari ujung, suara Sinu tiba-tiba menarik perhatain.
“Halo? Malam ini jangan pulang, nginep” semua orang memperhatikan kakak pertama.
“Nelpon siapa dia?” bisik Jake, entah pada siapa.
“Siapa lagi? Lyn lah. Gua yakin gadis itu baru idupin mesin mobil doang” Edgar tertawa “menyala abang kita… kudu gua sumet geni biar berkobar.. Hamilin kata gua mah”
“Orang sakit mental gak boleh punya anak” itu Samuel, menyahut asal.
“Siapa sakit mental?” Sinu memiringkan kepala. Ponsel masih menempel di telinganya. Matanya lurus pada sang adik.
“Elu” katanya enteng, moncongnya menjurus pada Sinu.
“Sini gua goreng pala lu” kata si kakak. Samuel terpingkal-pingkal.
“Emang, lu bisa liat orang sakit mental?” Daniel menatap Samuel. Yang ditanya mengedikkan bahu.
“Gua cuma baca itu di reels instagram. Katanya kalau sakit mental gak boleh punya anak. Kejahatan katanya. Orang miskin juga” Samuel bahkan menyodorkan ponsel—memperlihatkan seorang gadis cantik memaparkan opininya.
“Kenyang di cekok opini orang. Nggak punya prinsip” Logan mendecih.
Lyn kembali lagi.
Beringsut-ingsut langkahnya di seret sambil mengomel. Ia duduk di dekat Sinu, bibirnya seperti akan menyentuh layar televisi saking mancungnya cemberut.
“Isa mana?” Logan yang bertanya.
“Pulang sama Johan” jawab gadis itu ketus. Sinu berdehem dan menahan senyum di sampingnya. Logan langsung berlari cepat keluar.
“Kok nggak pamit sih?” bagian belakang mobil si gadis terlihat meninggalkan pagar. Logan menatapnya dari pintu.
Ada yang bergerak dari dalam—di luar kehendak—perlahan, seperti kumpulan dosa sejak lahir lalu bersatu menagih jalan pulang. Dari dasar perutnya, Edgar familiar atas rasa yang naik, berat dan dingin, menekan tiap inci tubuhnya.
Tenggorokannya menjadi lorong sempit yang menolak sekaligus dipaksa menerima. Sensasi getir merayap persis logam yang larut dalam luka, menyisakan pahit yang tak bisa ditelan kembali. Setiap dorongan terasa seperti gumaman kasar yang menggesek dari dalam—kasar, rusak.
Napasnya terpecah-pecah, tercekat oleh sesuatu yang tak memiliki denyut namun terasa hidup. Edgar ingin berhenti, ingin menahan, tapi tubuhnya tak lagi berpihak padanya—seakan ada tangan tak kasatmata yang menggiring semuanya menuju satu arah yang tak bisa ia tolak.
Dan di antara gelombang rasa itu, Kristal menjadi panik dan kontan memberikan pertolongan pertama meski yang di lakukan hanya menadah muntahan pria itu pada dua tangannya yang disatukan.
“Allahuakbar!!” si gadis memekik. Ia menatap ke sekeliling namun gagal menemukan apapun yang menjadi pemicu. Tidak ada Logan dimana pun–disejauh mata memandang dalam ruang itu. Namun Edgar tidak berhenti muntah.
“Lu kenapa sih? Ya Allah..” gadis itu panik sendiri. Lantas ia memapah pria itu ke kamar mandi. Edgar duduk seraya memeluk kloset sementara dari dalam perutnya keluar benda-benda asing, dingin—khas.
“S-suruh Logan berhent—Hoek!!!”
Kristal yang panik cepat-cepat menelepon Logan meski masih tidak mengerti dengan cara kerjanya—maksudnya, memangnya bisa membuat muntah dari jarak nyaris lima kilo?
“Bisa” suara di seberang terdengar tenang. Kontras dengan Edgar yang masih kontraksi. Perutnya seakan diremas-remas dan jalan ke atas dari lambung hingga keluar, semuanya tergores paku. Pria itu terluka parah.
“Lu serius giniin adik lu? Padahal gua chat cuma mau tanya cara lepas sulur dan becandain tentang jodoh. Pantesan si Isa sawan sama lu. Parah lu mah. Udahahan nggak!?”
“Oke” jawabnya singkat. Lalu Kristal menatap Edgar yang berhenti muntah. “Sudah, kan? Aku sedang bekerja. Sibuk. Jangan kirimi aku gambar wanita yang berjoget terus. Aku tidak suka”
“Itu gua yang joget”
“Bukan”
“Iya, gua tutup mukanya”
“Enggak, wanita yang kamu kirim rata-rata berdada besar dan bokongnya seperti bebek. Sementara kamu tidak”
“Ha?” seketika Kristal tertawa, sementara Edgar sedang beregenerasi dengan kecepatan stabil. Pria itu membaik kelewat cepat. Berbeda dengan Daniel dan jajaran vampir yang tak bisa beregenerasi—yang memerlukan bantuan Samuel untu pulih.
“Yaudah gua patiin”
“Bentar” jawab Logan. Lalu hening sesaat. Kristal keluar dari kamar mandi dengan ponsel yang masih menempel di telinga “Kristal?”
“Ya?”
“Mau kopi?”
“Enggak, baru aja minum kopi ”
“Siapa yang buat?”
“Mbak”
“Sudah lima kali datang, ya? Dengan Lyn dan Isa juga? Aku sibuk. Karyawanku bilang”
“Ya, Lyn enggak, sama Isa aja. Lagian kalau sibuk, balik kerja sana. Gua mau main sama Edgar”
“Katanya dia mau cium”
“Enggak—atau iya, nggak sih. Nggak juga. Kita baik-baik aja. Jangan main kasar kayak tadi. Ngeri”
“Hm”
“Gua tutup, semangat!”
“Tunggu sebentar”
“Kenapa?” gadis itu berjalan terus keluar mengambil makanannya yang sempat jatuh saat Edgar menggendong.
“Sinu membuat desain cincin sangat cantik. Kamu suka cincin? Mau cincin?”
Jeda sebentar. Kristal sedang memasukkan sambal yang jatuh dari kresek.
“Hah? Ngomong apa?”
“Cincin” jawab Logan, mengulang.
“Cincin apa?”
“Sinu bikin cincin bagus. Kamu mau?”
“Kenapa gua? Emang kita jodoh? Lu suka sama gua Duk?” Hening lagi. Kristal menggigit ayam goreng sampai ke dapur. “Duk?”
“Ya?”
“Kalau suka sama gua, gua kirimin video gua joget, gua juga mau nyanyi dan foto gua 1000 biji. Mau ga?”
“Lucu lah. Gua nggak suka sama lu, jadi gosah ngide ah, ntar lu menyedihkan lagi kayak waktu di tolak Isa. Malu, Duk” hening lagi. Logan selalu seperti itu. Pria itu tidak gentar menunjukkan ketertarikan dan terang-terangan tanpa aling-aling. Sementara Kristal tidak begitu yakin. Tidak juga terlalu memperhatikan. Lagipula, akhir-akhir ini, Isa mendekati pria itu lagi. Katanya aneh saat biasanya Logan menatapnya lembut, kini begitu tajam dan kering.
“Pelan-pelan aja… aku juga tidak buru-buru” katanya ambigu “sudah kubilang aku belajar banyak hal sebelum ini. Senyamanmu saja. Aku juga tidak menggebu-gebu”
“Gua patiin ya?”
“Hm”
Panggilan terputus dan matanya terpaut dengan Edgar yang sudah mandi dan berganti baju. Pria itu ikut duduk di samping Kristal sambil memegang sebotol darah berukuran dua liter.
“Cepet banget mandi, gak sabunan lu ya?” Kristal menuduh, pria itu hampir menggetok kepalanya dengan botol.
“Cium nih, ketek gua wangi, seger”
“Gimana kerjaan hari ini?”
“Gua udah cerita di chat, masih aja tanya. Gua mau manggung nanti di mall. Kalau gua bosen sama kerjaan ini, kayaknya gua mau jualan makanan aja kayak Daniel” sudah ia pikirkan. Pekerjaan yang baru kemarin ia geluti, tiba-tiba membuatnya malas “hp gua banyak yang chat, banyak cewek-cewek ngajak kawin. Kawinnya itu beneran Til, ngirim gambar memek anjir” Edgar lalu menunjukkan chat para gadis-gadis mengerikan.
Kristal melihat semuanya. Gadis itu mengernyit, kemudian tertawa.
Tertawa terpingkal-pingkal.
“Kan, males gua. Padahal ini bikin gua mual”
“Ya wajar tau… wajar banget ini tuh” Kristal menepuk–nepuk kepala pria itu pelan “biasanya bukan cuma cewek. Tapi cowok juga. Nanti mereka bakal nguntit, tau alamat rumah lu, tau siapa aja keluarga lu, tau semua kehidupan lu. Itu wajar. Lu belum keren dan mumpuni kalau belum punya fans yang sinting. Wajar itu mah”
“Kalau mereka sampe nguntit, gua bakar”
“Terus, terusin aja bakar. Bakar semua” gadis itu mendelik dengan mulut penuh.
“Kok bisa ya, gua dengan percaya diri waktu itu bilang mau sama cewek anggun. Padahal lu asik banget”
Lalu gadis itu membusungkan dada dengan angkuh “gua kok di jadiin opsi, sorry, nggak main”
“Balikan kek”
Gadis itu menggeleng “cari pacar sana. Kencan aja dulu cobain”
“Nggak mau, mereka bau. Yang cakep-cakep juga bekasan orang-orang”
“Banyak mau lu mah”
“Balikan si… please… gua kudu gimana coba?”
“Nggak mau”
“Api, api mau api? Nanti gua kasih api. Lu bilang mau ngenalin gua ke keluarga lu”
“Lu inget gak, beberapa kali bilang mau cari cewek anggun. Sana cari. Gua nggak anggun, gua jogetan anaknya, lengah dikit joget, pusing dikit joget. Nggak anggun”
Mereka masih sibuk bernegosiasi—bersamaan dengan eksistensi lain datang—kelewat semangat.
“Guys!!! Tadi di depan Studio gua, ada massa, ada orang rame-rame pake baju mirip-mirip arak-arakan. Gua hanpir mau ikut tapi nggak jadi” Jake baru datang membawa berita dengan begitu semangat. Ia lantas merebut botol milik Edgar dan meneguknya kasar.
“Gosah ikut-ikut begituan. Tapi kalau mau banget gasss. Yang penting inget, gak ada tunjuk kekuatan, gosah ngide berubah jadi kingkong atau apapun” Kristal berkomentar. Jake hanya menatapnya tanpa berkedip. Suara meneguk darah terdengar nyaring.
“Sama lu mau gak? Kapan-kapan liat festival. Tadi gua dengar orang-orang membicarakan festival, please ajakin gua kesana” ia kembali menyerahkan botol dan dengan wajah memelas—menatap Kristal.
“Oke, nanti ajakin Daniel juga” jawab si gadis.
“Gua! Gua gak di ajak” Edgar mendengus.
“Udah pada tua, kakek-kakek ini, gemes banget” Kristal menepuk pundak Edgar dan Jake bergantian “gua mandi dulu, oke? Abis ini kita ke alun-alun” dua pemuda itu mengangguk.
Meninggalkan ayam yang ludes masuk ke kotak sampah. Jake menyandar pada bahu saudaranya.
“Kenapa dia nggak mau sama gua, sih?” gumaman yang akan terdengar jelas oleh pria yang di lendoti.
“Tau, menyesal gua. Coba cari gadis di luar” saran Edgar terdengar klise. Sudah berapa kali Sinu menyuruh semuanya untuk berkencan dengan gadis. Namun kebanyakan mereka terus-menerus menempel pada Kristal. Hanya Johan dan Samuel yang tidak meminta hubungan dengan si gadis. Mulai dari tertua kedua sampai bungsu, semuanya seperti antri.
“Apa yang spesial?” Edgar bertanya pelan.
“Cantik, pinter” Jake berbisik “dia itu bersinar sejak pertama datang. Sayang aja nggak mau sama gua”
“Gua akan coba pacaran sama manusia lain deh, gua akan coba buka hati dan coba melihat yang lain” pernyataan itu membuat Jake mendengus.
“Nggak ada yang spesial dari hidup lama yang membosankan. Coba aja berhubungan seksual. Gua juga penasaran” Jake menepuk pundak saudaranya. Ia lantas melangkah ke kamar.
Tidak, Kristal dan dua pria itu tidak masuk ke kantor DUKCAPIL. Namun hanya menunggu di dalam mobil, sementara lima belas menit kemudian, seseorang datang lalu menyodorkan map dalam paper bag besar berisi seluruh data diri ketujuh vampir–lengkap dengan segala tetek bengek lainnya.
Kristal bahkan sudah membuatkan paspor meski masih dalam proses. Juga SIM mobil dan motor meski entah kapan akan mulai mengajari mereka naik kendaraan. Si gadis juga berhasil membuat ijazah palsu untuk semuanya. Sekarang sempurna sudah ia merasa menjadi kriminal setelah membuat seluruh kepalsuan tanpa rasa bersalah.
“Coba liat gua” Daniel akan menarik paper bag namun Kristal memukul tangannya.
“Gua dulu, bentar gua periksa tahun dan bulan lahirnya” tumpukkan KTP yang diikat karet jadi satu di lepas. Kristal memperhatikannya satu-satu.
“Emang ada yang salah, gua nggak tau kapan gua lahir. Ya Duk, lu tau nggak, gua lahir tahun berapa, bulan apa?” Daniel mencolek kakaknya dari belakang. Logan melirik sekilas.
“Mana gua tau. Ade gua banyak bukan lu doang. Mana inget” katanya ketus.
“Emang ada yang lu inget? Siapa aja? Johan? Lu inget tanggal lahir Johan?” tanya sang adik lagi. Logan lagi-lagi mengabaikan, ia ikut melihat KTP yang dipegang Kristal “meledak kek telinga, najis” jengkel rasanya di abaikan.
“Kamu lagi liat apanya, sih?” saat berbicara pada Kristal, nadanya pelan, suaranya lemah lembut. Daniel ingin sekali menjambaknya dari belakang.
“Lagi nyocokin foto kalian sama tersangka bom Israel” jawab si gadis asal. Logan melirik ke sudut mata Kristal dan menahan diri untuk tidak mendengus.
“Yang paling mirip tersangka bom ya jelas bungsu. Dia kan kriminal-able. Kalau misal disini ada kantor polisi, turunin aja, suruh di kurung. Apa kek, fitnah apa. Nyusahin juga di urusnya” kata-kata Logan hanya gumaman, namun adiknya mendengar.
“Lu! Lu kriminal, dukun gadungan, dukun keparat. Mending lu nyerahin diri ke polsek. Muka lu melanggar hukum” Daniel tidak terima lagi.
“Ssshhhh!!! Jangan berisik” Kristal membuka map yang lain “datanya pas, semuanya akurat. Yesh! Abis ini kalian akan gua bukain usaha kecil-kecilan. Kalau lepasin kalian buat kerja, gua nggak yakin” lantas paper bag di serahkan ke belakang “taro belakang aja, kalau acak-acakan gua amuk lu” ia mengancam Daniel, jelas. Namun si bungsu tidak benar-benar mendengarkan gadis itu.
Mesin kembali hidup. Mobil membelah jalanan kota Jakarta siang itu dengan panas menyengat terlihat dari kaca.
“Gua mau makan siang, kalian ikut, oke? Ada darah di bagasi” keduanya manggut-manggut saja.
𖹭𖹭𖹭𖹭𖹭𖹭𖹭𖹭
Sisa orang dalam mansion tidur.
Edgar terlelap dengan Jake dalam kamarnya. Samuel sibuk meramu obat dari bahan-bahan yang ia dapat dari pelayan di dapur. Johan lagi-lagi mencoba semua baju baru yang kemarin dibeli sambil terus melakukan foto. Pria itu bahkan sudah aktif memposting di akun sosial media.
Isa tidur siang di kamarnya sementara Lyn terus memijat Sinu di kamar pria itu sejak satu jam yang lalu.
“Pegel banget ya Allah.. Lu aneh, di pijet daritadi boro-boro tidur. Mata melotot mantengin hp” protes. Si gadis melemah saat Sinu lagi-lagi terus mengancamnya–membuat sakit dari bekas luka gigitan seperti yang pernah terjadi dalam kastil.
Pria itu tak mendengarkan keluhan yang sudah di layangkan ratusan kali.
“Kenapa gadis-gadis di sosial media terlihat mirip-mirip? Apa mereka nyata?” entah bertanya pada siapa. Namun karena dalam kamar itu hanya ada mereka berdua, Lyn merasa harus menjawab.
“Nyata, yang nggak nyata vampir”
“Vampir is real. Aku vampir, aku ras terkuat” itu gumaman, Sinu mengatakannya sambil menggulirkan jari–menonton video pendek.
“Katanya, tiap menonton satu video pendek, umur orang akan berkurang sehari” Lyn mengatakannya sambil menguap lebar. Matanya mengantuk.
“Bagus. Itu bagus. Sudah lama sekali aku hidup. Di potong lebih bagus”
“Alah matamu lah, ngomong emosi, nggak ngomong ngantuk” dan ia menyerah. Lyn merebah di samping Sinu “gua rebahan, ya? Ngantuk banget”
Tidak di jawab.
“Merem 15 menit aja. Jam dua nanti kita jalan keluar”
“Keluar mana? Kamu bisa handle adikku?” Sinu menjepret dahi si gadis dengan telunjuk. Lyn menggeleng “ya itu. Itu alasan aku mau menikah dengan Kristal. Dia bisa diandalkan”
“Hentikan. Berhenti manfaatin temen gua. Dia kurang baik apa sama keluarga lu yang liar. Masih mau lu manfaatin. Pasti ujungnya bakal lu gigit biar dia putus asa dan gak punya pilihan selain nurut ke lu. Kek gua”
“Pikiranmu busuk semua”
“Nggak ada satu haripun gua berpikir bagus tentang lu atau siapapun dari keluarga lu”
“Ya itu dia.. Membenci dengan hati kotor. Terberkatilah Kristal yang hatinya lapang dan mudah memaafkan” ia melirik pada Lyn yang sudah memejamkan mata. Gadis itu merebah satu bantal dengannya, menempel sambil memegang bisepnya.
“Siapapun akan benci setelah dibuat nyeri yang sakitnya sampe berharap kematian datang. Gua sampe ke psikolog walau bingung harus jelasin dari mana. Lu mana tau, bahkan sampai detik ini, lu masih menekan gua… mati aja gaksi gua” dikatakan sambil memejamkan mata, Lyn benar-benar mengantuk.
“Kamu akan berumur panjang”
Itu tak mendapat jawaban.
Beberapa saat ia mengantuk setelah sejak tadi terus melihat video pendek dengan isi — yang sejujurnnya banyak tidak ia mengerti. Sinu memilih menyimpan ponselnya di bawah bantal sebelum memejamkan mata.
Tak mengubah posisi. Sudah lama tidak tidur dengan gadis itu sejak terakhir dalam kastil.
Perlahan semuanya menjauh.
Ada jeda dimana napas terasa memiliki celah. Lalu jeda yang lain seperti kepalanya terbagi menjadi dua.
Sinu melihat tubuh kecil di dalam cermin. Kastil, lalu suara ibunya yang memanggil seakan menggedor-gedor gendang telinga.
“Sinu! Sinu! Nak, bawa ini ke pasar, jika habis terjual, kita akan membeli baju baru” ia melirik ke belakang tepat saat ibunya menyodorkan satu keranjang aksesoris dan satu keranjang besar kain tenun yang cantik.
“Ibu mengandalkanmu” katanya. Mengusap kepala dengan tubuh hanya setinggi dadanya. Sinu melengkungkan senyum dan berjalan cepat-cepat menuju pangkalan tempatnya biasa berjualan.
Hanya sentuhan sederhana, namun mampu mengubah suasana hatinya.
Lalu semua terasa seperti di acak.
Keranjangnya tumpah di tendang, aksesoris dari emas murni berantakan. Berandalan itu merusaknya.
“Kau anak yang itu, ya?” kata ‘yang itu’ membuat Sinu mengernyit “kata orang, kau dari keluarga Jonathan yang terkenal mampu beregenerasi paling cepat. Tapi kau tidak bisa. Kau anak haram ya?” lalu anak-anak yang lain menyusul tawa.
“Dia bukan anak haram, tapi ibunya manusia cantik. Kata ibuku, ibu Sinu hanya menjual vagina untuk keabadian” sahut anak yang lain, mereka terbahak-bahak serempak. Empat anak, dan semuanya memerah menahan tawa.
“Hentikan” suara Sinu akhirnya keluar. Mereka yang tertawa, diam sebentar. Namun hanya sebentar, lalu kembali tertawa.
“Kau si menyedihkan yang tidak bisa beregenerasi. Kau menyedihkan, menyedihkan, menyedihkan, menyedihkan”
Sinu kecil menekan kekuatan diri. Dahinya mengernyit dengan keringat sebesar biji jagung yang keluar.
Sudah ia tekan, namun tetap saja berhasil membuat empat anak itu muntah. Mereka memuntahkan pisau, parang, aksesoris dan masih banyak lagi. Lama mereka menangis menahan sakit sambil terseok-seok pulang ke rumah.
Lagi, ada suara memanggil namaya lagi.
“Sinu! Kenapa kamu di sana? Itu bukan rumahmu, kau meninggalkan ibumu, heh?” pria itu berbalik dan dunia terasa berbeda. Bukan pasar, melainkan hutan dekat kastilnya dengan kabut tebal.
Itu suara Dewi. Dewi cantik yang bijaksana. Wajahnya mirip wajah ibunya.
“Kau meninggalkan rumahmu, kenapa? Juga ibumu”
Ia membuka mulut, tapi tidak ada yang berhasil keluar dari mulutnya.
“Lihat ke belakang” tunjuk sang Dewi. Lantas saat Sinu melihat ke belakang, ia mendapati Lyn. wajah Lyn lalu berganti menjadi wajah ibunya, lalu berganti menjadi wajah sang Dewi. Begitu terus hingga ia mengucek matanya berulang-ulang.
“Pasti ini mimpi, kan?” Sinu kembali berbalik, namun sang Dewi sudah tak ada lagi. Yang ada hanya wajah Jonathan yang keras. Ia pulang bekerja. Wajahnya kuyu dan rambutnya acak-acakan. Langkahnya semakin mendekat.
“Anak tidak berguna, kerjamu main saja. Tidak usah masuk malam ini, beri tahu ibumu bahwa kau sedang belajar beregenerasi di khayangan atau manapun. Aku muak” suaranya pelan, tapi menusuk hingga seakan membunuhnya. Sinu menatap punggung ayahnya yang mengetuk pintu. Ibunya menyambut antusias dan mereka tertawa bersama bagai pasangan harmonis yang memang harmonis.
Lalu, dimana aku tidur malam ini?
Tidak, pikirannya belum stabil dan kata-kata itu melukainya. Lagi-lagi. Memang apa hebatnya beregenerasi?
Plak!!
Ia di tamapar sekuat tenaga dan ibunya membela. Kali ini berbeda lagi. Ia berada dalam kamarnya dan ayahnya menamparnya keras. Sinu masih belum tahu apa sebabnya. Maka, ia menunggu pria itu bicara.
“Tidak ada, aku hanya sedang jengkel dan mengingat bahwa aku vampir dengan ras terkuat sementara putra sulung ku si tidak berguna”
Hanya itu kata Jonathan. Alasan tengah malam pria itu masuk ke kamar anak sulungnya—hanya untuk menampar karena sedang jengkel atas ingatannya.
Sinu tidak menangis.
Ibunya yang masuk dalam kamar sambil menangis.
“Kau adalah anak hebat. Kau putra sulungku yang paling hebat, kau yang paling ku andalkan dan kau terbaik. Aku berani sumpah jika kau lebih kuat dari vampir manapun di daratan ini”
Pasti berat kan?
Selama ini hidupmu berat, ya? Auramu hitam sekali, seolah isinya hanya keterpurukan dan terjebak di masa lalu yang menyakitkan.
Padahal, kau pantas bahagia. Pantas melepaskan hal-hal yang menyakiti. Tidak apa-apa tidak bisa beregenerasi karena regenerasi tidak berarti bagimu. Kau lebih kuat dari siapapun vampir di daratan ini.
GLEK!
Pria itu membuka mata.
Napasnya terengah dan tangan halus masih membelai wajahnya lembut. Sinu kontan melirik dan ia menemukan Lyn duduk sambil mengusapnya. Mereka bertatapan dalam posisi itu—posisi Lyn yang jauh lebih tinggi nyaris memangku kepalanya di paha, namun tidak, kepalanya masih dibantal. Tangannya mengusap kepalanya berulang.
“Lu selalu mimpi buruk, sepanjang gua kesakitan dan tidur sama lu, lu selalu mimpi buruk” suara Lyn ada di antara napasnya yang ngos-ngosan. “Lu juga selalu memanggil-maggil nama—mungkin mama lu?”
“Lepaskan tanganmu” ucap Sinu dingin, Lyn kontan menghentikan usapan itu.
“Lu juga nangis, dan pas gua usap, lu akan sedikit lebih tenang. Gua gak berencana membunuh lu dalam tidur meski ingin, sungguh”
“Lakukan jika bisa”
“Berobat kata gua mah” sergah Lyn lagi.
“Aku nggak sakit”
“Lu sakit mental, mimpi buruk tiap malem itu sakit jiwa. Emang enak tidur begitu. Bareng gua nanti ke psikolog”
Sinu tidak menjawab.
“Berat, ya? Pasti berat kan? Orang yang hidupnya lurus dan sehat nggak akan betingkah kek lu, nggak akan ngancam orang lain. Ah sialan.. Gua yang sakit jiwa ngadepin elu” Lyn gusar, lantas ia bangkit.
“Mau kemana kamu?”
“Keluar, minum”
“Duduk lagi, coba usap kepalaku lagi”
“Bentar mau minum dulu”
“Duduk, kubilang duduk” Lyn menghela napas dan benar-benar muak. Namun gadis itu kembali duduk. Sinu meletakkan kepalanya—menumpu pada paha si gadis “usap lagi”
Di usap lagi. Persis seperti yang dilakukan sebelum ini.
“Gua benci lu, ingat? Tapi untuk ukuran orang yang ketergantungan dan menyedihkan, gua menyarankan agar lu berobat”
Itu tidak mendapat jawaban.
𖹭𖹭𖹭𖹭𖹭𖹭𖹭𖹭
“Mau coba?” Kristal menyodorkan es krim pada Daniel, pria itu menelan liur sejak tadi namun hanya berhasil menyedot darah dalam tumbler “enak banget asli, enak banget jadi manusia bisa makan es krim, bisa makan dimsum, makan daging, ikan. Kalian kasihan banget nyedot darah doang. Gak variatif” si gadis memanasi.
Lalu tatapannya berlabuh pada Logan.
“Dukun mau? Es krim mau?”
Pria itu menggeleng juga.
“Dengerin gua ya, kalian itu di kasih nikmat apa sama tuhan? Makanan itu itu aja, hidup lama pun membosankan. Terus apa? Apa yang akan bikin kalian bahagia, huh? Kasihan banget nih anak-anak gua”
“Jatuh cinta?” jawab Logan. Sebenarnya makan darah juga menyenangkan. Rasa tiap hewan bervariasi dan akan semakin nikmat saat mendapatkannya langsung dari hutan hasil berburu” katanya lagi.
“Kalau gitu, mending di hutan dong, berburu. Ngapain ikut-ikut kesini” si gadis mencebik.
“Karena di hutan tidak ada gadis. Dan disini ada kamu”
Daniel dan Kristal kompak menatap pria itu.
“Gua masih inget ya anjeeng, lu selalu ngatain gua murahan pas gua ngejar Edgar. Padahal mirip-mirip sama lu pas ngejar Isa. dih”
“Kapan? Nggak pernah tuh, ingatan kamu bermasalah” lagi, pria itu mengelak “aku nggak pernah ngatain kamu. Kalau pun pernah, aku minta maaf, ya?”
Lyn berhasil menelepon kedua orang tuanya—mengatakan memiliki beberapa pekerjaan di rumah Kristal sembari mengirimkan bukti diri yang sibuk berkutat dengan laptop berisi layar yang menunjukkan grafik penjulan milik Kristal. Juga memberitakan kerja sama meski saat ditanya lebih lanjut, ia hanya menyebut ‘rahasia’ tatkala ibunya menuntut penjelasan lebih.
Sebenarnya, Lyn tidak lagi tinggal dengan dua orang tuanya. Namun hampir 10 hari gadis itu tidak pulang dan saat di datangi pun tidak ada di apartemen.
Sementara Isa mirip-mirip. Saat kedua orang tuanya tahu jika ia menginap di kediaman Kristal, semuanya aman, asal Kristal.
Sudah tengah malam.
Mungkin saja semuanya sudah beristirahat, atau masih mengobrol dalam kamar masing-masing. Kristal tak akan repot menengok mereka, tidak lagi. Bilik mereka semua bejejer. Dan Kristal mengancam pada siapapun yang nakal malam ini, bahwa akan ada patroli petugas dari pemerintah yang siap menghancurkan kepala siapa saja yang nekat membuat keributan.
Setidaknya hingga pukul 00:23, suasana kondusif.
Meski ia tidak bisa tidur setelah tak sengaja hilang kesadaran saat dipijat dan memimpikan Edgar. Sialan.
Sudah mandi, sudah mendapat pijatan dari pelayan, sudah makan dan seluruh tubuhnya yang lelah digantikan rasa nyaman dari selimut dan kasur empuk. Namun sialan matanya sulit sekali rapat, kesadarannya bertahan seakan mengoloknya akan penolakan pria yang berhasil membuatnya terluka.
Wajah pria itu muncul di plafon, menggantuk di antara chindelier sambil tertawa menyebalkan. Mungkin saja bentuk rasa malu setelah di campakkan. Wajah Edgar benar-benar menjengkelkan. Lidahnya seakan menjulur lalu mengatakan betapa buruknya diri hingga pria itu saja tidak sudi.
Gadis bar-bar, gadis kasar dan galak.
Seharusnya ia menjadi gadis pendiam yang kemayu dan polos.
Kristal membalik tubuh, mengusap air matanya dengan lengan baju.
Sialan sialan sialan.
Pintu terketuk. Seseorang berdiri di luar ragu-ragu hendak bersuara meski ketukan sudah terlanjur di layangkan.
“Til, gua Daniel, boleh masuk?” suara si bungsu terdengar pelan. Sangat pelan, seolah, petugas akan datang jika ia menaikkan sedikit lagi suaranya.
Kristal duduk—beringsut ia membuka selimut, lantas bangkit–berlajan di seret malas.
Daniel berdiri di sana. Sudah berganti pakaian tidur, rambutnya kering tanpa serum rambut atau pomade. Ia berdiri gelisah sementara dua tangannya terpaut di belakang—memperhatikan Kristal naik turun. Malam ini, gadis itu mengenakan lingerie tipis yang di padu coat panjang tertutup.
“Apa? Kenapa?” tanya si gadis, belum apa-apa sudah galak. Seakan Daniel akan melakukan dosa besar. Jika saja itu Jake lagi, maka akan ia pukul karena bebal.
“Darah masih ada, nggak? Gua lapar. Gua cari-cari tumber di mobil yang tadinya bawa kita ke sini, tapi jangankan mobil, gua malah tersesat dan di bantuin pelayan buat balik ke kamar. Gua dan Jake dan si… itu..” pria itu mengusap tengkuk, maju mundur mengatakan nama Edgar “kita lapar, maaf ganggu, lu pasti capek banget” katanya tidak enak.
Kristal menghela napas. Ia mengusap matanya dari sisa air yang menggenang di pelupuk akibat menguap meski tak mengantuk.
“Sebentar” gadis itu kembali masuk ke kamar, lalu menelepon entah siapa.
Tidak lama, kurang dari dua menit. Kristal kembali keluar.
“Nanti di anter pelayan ke kamar, tungguin aja” katanya lagi, gadis itu hendak menutup pintu, namun Daniel mencegahnya.
“Ke kamar gua kek, ya? Temenin, rasanya kita semakin jauh. Gua mau banyak tanya, gua—kita bertujuh lagi kumpul di kamar gua, semua orang bingung dan… hilang arah. Apalagi saat lu diem aja begini, kita kayak anak ayam yang di silent treatment sama induk sendiri. Semua orang nyalahin Edgar karena ini, dia merasa bersalah tapi bingung”
Wajah memelas—patetik dan gestur yang meminta dengan tulus.
Dasarnya, Kristal belum mengantuk. Maka tidak masalah mengobrol sedikit dengan para vampir sambil menjawab seluruh rasa ingin tahu mereka. Gadis itu menarik napas—berusaha bersikap netral dan tidak kekanakan hanya karena Edgar.
“Gua akan datang, gua mau ganti baju dulu” kata si gadis akhirnya. Daniel mengangkat pipi tinggi begitu senang.
Saat Kristal datang dan duduk, seluruh vampir sudah memegang tumblernya masing-masing. Mereka ada yang terbaring, ada yang duduk, dan paling banyak adalah memperhatikannya dengan wajah semringah. Persis seperti apa yang dikatakan Daniel—anak ayam yang baru saja kedatangan induknya.
“Udah pada makan?” tanyanya ramah. Kacamatanya palsu karena tidak ada kacanya. Hanya hiasan untuk menutupi bengkak akibat—entah kelelahan atau terlalu sering menangis.
Dari kasur, Edgar bangkit, pria itu ikut duduk di sofa. Maju mundur tangannya ingin memegang si gadis. Ingin meminta maaf atau apapun. Namun tampaknya Kristal malah seperti tidak menganggapnya ada di sana.
“Jadi, ada yang mau tanya-tanya, hum? Kita baru sampe beberapa jam, gua bukan mau cuekin kalian, gua capek banget dan mau istirahat. Tapi tampaknya kalian cemas, ya? Biar gua luruskan” kata si gadis, seperti biasa. Edgar menatapnya dari samping—tanpa si gadis merasa terganggu.
“Pertama untuk agenda besok. Gua akan ajak kalian keliling mansion ini, kenalin kalian ke para pelayan, kasih tau cara makan kalian ke depannya. Terus beberapa aturan, dan yang paling krusial adalah kalian nggak boleh ketahuan bahwa kalian vampir. Bersikaplah seperti manusia. Nanti akan terbiasa, pelan-pelan aja. Gua gak akan grasak-grusuk minta kalian ini dan itu. Pokoknya pelan-pelan”
Semua orang menyimak saat Kristal bicara. Semuanya memperhatikan bibir lalu ke mata si gadis.
“Ada pertanyaan? Ada yang bikin kalian merasa nggak nyaman atau perasaan sejenis?”
Mata Kristal memindai satu-persatu. Sinu angkat tangan.
“Aku penasaran walau mungkin akan kamu jelaskan besok atau pelan-pelan itu tadi. Tapi, apa yang bisa kami lakukan untuk hidup? Kami nggak mungkin bergantung sama kamu” pertanyaa itu direaksi anggukan oleh Kristal.
“Pertanyaan bagus walau bisa gua jelasin besok atau pelan-pelan” matanya kembali memindai semua orang “apa yang akan kalian kerjakan selanjutnya untuk menyambung hidup adalah bekerja. Bekerja seperti manusia. Bekerja untuk membeli hewan, untuk makan, untuk gaya hidup, untuk memiliki gadis. Kalian harus banyak uang. Nanti gua minta Isa buat isi kelas lagi. Kalian harus belajar mata uang” Sinu mengangguk-angguk meski pertanyaannya belum terjawab.
“Bekerja disini luas. Nanti bisa kita rundingkan setelah liat keluar. Liat apa yang kiranya cocok. Kalian bisa jadi pedagang, atau kerja lainnya” ada jeda, matanya berlabuh pada Logan.
“Sebenarnya guys, nggak ada yang benar-benar menyenangkan tinggal di sini. Kalian harus bekerja keras untuk hidup. Beda sama di hutan saat kalian hanya tinggal berburu dan makan, terus pulang dan rebahan. Gitu aja sampe wafat. Disini enggak, disini keras. Harga hewan perekor mahal, semua serba mahal. Tapi asal kalian mau bekerja keras dan konsisten, bisa aja sih, sukses disini dan menikmati hidup. Di dunia gua ini, kehidupan nggak monoton. Semi-semi keras” Kristal menunduk menahan tawa atas kalimatnya sendiri. Ia tidak yakin karena di besarkan dengan kekayaaan. Namun beberapa kali turun lapangan mengikuti bakti sosial bersama jam terbangnya yang tinggi selama menjadi mahasiswi. Acara-acara amal dan banyak bertemu orang-orang dari berbagai kalangan ekonomi membuat gadis itu sedikit-sedikit paham meski tidak menggalami.
“Kalau terlalu berat, gua bisa antar kalian pulang. Gua akan bikinin kalian identitas, dan bisa balik naik pesawat tanpa capek berhari-hari di kapal. Gua akan bertaggung jawab sampe akhir. Tapi please.. Minta pengertiannya untuk nggak terlalu bikin gua pusing”
“Gua nggak mau pulang” Daniel angkat tangan. Ia menggeleng keras.
“Nggak ada yang minta lu pulang. Tinggal disini selama yang lu mau asal kita bisa mutualan. Lu harus bayar sewa hunian, cari makan, dan biayai seluruh kebutuhan lu sendiri. Gua bukan penampung gratisan” jawab Kristal sistematis.
Dari belakang, Johan cekikikan. Pria yang tak banyak bicara itu tiba-tiba bersuara.
“Gua gak sabar mau bekerja. Gua mau banting tulang dan melakukan apa aja asal jangan kembali ke kastil yang membosankan. Ayo, kita hidup dengan keras” katanya, penuh semangat, ia menepuk bahu Samuel yang tergeletak menumpu kepala pada paha Jake yang bersedekap lurus menatap Kristal.
“Gua pengen balik Kastil” Logan menguap, ia memijat pangkal hidungnya.
Setelah itu hening beberapa saat.
“Jadi gimana? Masih ada yang mau ditanya? Masih penasaran? Jangan anggap gua mengabaikan, gua memang lagi sedih, tapi gua bilang beberapa kali bahwa gua akan bertanggung jawab sampai akhir” gadis itu mengulang. Ia menatap Logan “butuh setidaknya satu minggu buat bikin identitas dan bisa naik pesawat untuk ke Ternate”
“Ada pertanyaan lagi?” si gadis lagi-lagi menatap semua orang.
Jake angkat tangan “mau jadi pacar gua?”
Kristal menggeleng “nggak ada yang akan jadi pacar gua, siapapun di antara kalian. Nggak tau tapi kalau suatu saat gua sinting” gadis itu mengusap wajah. “Nanti, kalau udah berbaur keluar, udah adaptasi, kalian akan bertemu banyak gadis, akan liat yang lebih cantik walau nggak akan ada yang semantep gua” gadis itu mengatakannya percaya diri. “Kalian kan pria-pria tua yang kesepian, pasti butuh gadis. Makannya penampilan itu perlu. Jangan pakai baju aneh, jangan primitif. Besok hp kalian datang, semua orang akan dapat masing-masing satu”
“Apa korelasinya hp sama semua yang lu ocehin?” Daniel mengangkat sebelah alis.
“Dari hp, lu bisa liat dunia tanpa keluar rumah. Bisa liat pakaian apa yang normal di pake manusia era ini. Apa yang lagi trending, apa yang bisa kalian tambahkan sebagai hobi. Banyak. Gua mengatakan semua hal bukan omong kosong”
Semua orang diam. Aura gadis itu jelas jauh berbeda. Sangat berbeda saat di kastil—tatkala ia kelaparan dan memakan daging ular. Juga saat ia mendekati Edgar seperti gadis gila yang kurang kerjaan. Kini, baru beberapa jam kembali ke istananya sendiri, Kristal menjadi dirinya. Gadis yang tidak mengejar laki-laki meski masih menangis diam-diam karena patah hati akibat hubungan seumur jagung yang kelewat singkat.
“Kegiatan lu apa sih? Lu kerja apa?” kali ini Johan yang bertanya.
“Gua masih kuliah, MBA dan kerjaan gua, gua pemilik pabrik garmen. Sedikit, tapi uangnya cukup buat nafkahin kalian semua” ujarnya enteng. Sudut bibirnya terangkat penuh kebanggaan.
“Gua suka yang songong-songong gitu” jawab Jake sambil tertawa “tapi gua pengennya nafkahi elu” sambung pria itu jenaka “goblok banget si jablay ngoceh sembarangan. Gua denger-denger aja hidup di dunia manusia sulit di bagian kerja dan percintaan. Lah dia, udah di tawarin cinta sama perempuan kaya raya. Malah gesrek”
Edgar di sofa memasang wajah lesu. Sejak malam dimana ia mengatakan kalimat yang ia sesali hingga hari ini, rasanya semakin memburuk tatkala seluruh keluarganya menyayangkan aksinya yang bodoh. Tentu saja menurutnya, itu bukan sepenuhnya menyalahkan atas dasar cinta atau sayang. Namun Kristal sendiri adalah pusat dari eksistensi mereka di dunia manusia.
Bukannya lebih jahat jika memaksa? Wajah Kristal memang cantik, namun Edgar bersumpah jika di rangkum, gadis kasar dan tegas bukanlah tipe nya. Ia menyukai gadis yang kemayu dan malu-malu. Meski Kristal menyebutnya tipes.
“Oke, kalau udah nggak ada yang dibicarakan, gua mau tidur” gadis itu bangkit. Ia menguap lebar.
“Boleh nyalain TV?” Daniel ikut bangkit.
“Boleh” lantas si gadis mengajarkan semua orang menyalakan TV. mengajari mereka dengan telaten bagaimana memindahkan saluran, menonton film, serta tetek bengek lain hingga kembali mematikan. Semua orang menyimak dan Kristal merekomendasikan agar semua orang kembali ke kamar masing-masing untuk menonton sendiri-sendiri.
Mereka berpencar kembali ke kamar masing-masing.
Setelah makan, Daniel merebah di kasur. Separuh tubuhnya tertutup selimut dan matanya memantulkan siaran televisi. Ia begit senang. Meski tidak ada yang lucu, pria itu tertawa kegirangan.
“Oke, gua keluar, selamat istirahat” kata Kristal akhirnya. Gadis itu mematikan lampu kamar Daniel sementara yang menonton tidak peduli.
Belum sempat ia masuk, Jake meminta tolong karena salah pencet. Tidak lama kemudian Samuel yang kesulitan mengganti siaran karena remot yang tidak berfungsi.
Jam menunjuk pukul tiga pagi saat Kristal benar-benar tidak kuat. Ia baru saja akan kembali ke kamarnya saat Logan memanggil di ambang pintu.
“Apa?” gadis itu seperti akan ambruk “dinyalain aja, pencet tombol power dan pilih, ada bacaannya, kan pada bisa baca si?” gadis itu amat lelah.
“Bukan, aku bukan lagi pengen liat tivi. Bisa minta pijet kaya waktu itu? Aku harus apa sebagai imbalannya. Aku masuk angin lagi” katanya tidak enak. Wajahnya pucat dan gesturnya gelisah.
“Nggak mau, aku malu. Kamu satu-satunya orang yang pernah, aku maunya sama kamu”
“Lu stress ya? Lu mau gua mati? Gua gak kuat, ngantuk”
Logan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Maju mundur ia hendak memohon. Perutnya mual sejak tadi, kepalanya juga agak pusing.
“Oke, selamat istirahat” katanya kemudian. Pintu kembali di tutup dan Kristal memandangi daun rapat sambil menguap berkali-kali. Kakinya tidak jadi pergi ke biliknya, melainkan ke kamar Samuel.
“Apa?” Samuel berdiri di depan pintu, wajah berganti saat melihat Kristal “kenapa swit hard? Ada yang perlu di bantu? Ada yang sakit?”
“Logan sakit noh, tengokin kek”
“Kok dia nggak bilang? Bentar” Samuel keluar dan menghampiri kamar kakaknya sementara Kristal kembali ke kamar.
𓍼ོ𓍼ོ𓍼ོ𓍼ོ
Bunyi pedang beradu lantang. Gerak lincah dan cekatan. Satu dua tiga lawan tumbang.
Kristal berada di ruang latihan bersama dua temannya yang duduk dengan secangkir kopi dan kudapan. Mereka sibuk mengobrol, membicarakan para vampir—mengabaikan satu gadis yang seperti kesetanan melawan pelatihnya.
“Kata gua, Sinu kan banyak emasnya, kita manfaatin aja, abis itu kirim mereka pulang” Isa memberi solusi sambil tertawa “ribet tau, gua belum apa-apa stress banget liat 7 laku yang baru belajar hidup. Segitu bisaan Kristal ngajarinnya sabar”
“Kristal tawarin gua upah juga buat bantu urus mereka sampe bisa ini dan itu. Yang di kasih Sinu lebih dari harga sewa setahun dan itu yang dia pake buat bayar gua” Lyn meneguk kopinya lagi.
“Ke gua belum ada omongnya. Dia paham lah, gua nggak bisa ngurus orang, gua kalau malas ya gua tinggal tidur. Kalau main, baru mau” Isa tertawa.
“Main sama Daniel loh, ajakin. Sambil dikenalin” usul Lyn, ia mengikat rambutnya naik.
“Tau sih, gua trauma banget sama Logan. Sejak gua hindarin banget, sejak dia confess dan gua tolak, alhamdulillah sampe sekarang nggak aneh lagi. Serem kata gua mah”
“Lu kudu digigit Sinu” tawa itu menggema–membuat Kristal menengok sebentar. Lyn masih ingat rasa sakitnya dan hingga hari ini, masih begitu jelas “gua mau ke psikolog abis ini. Trauma gua”
“Mereka nggak kuat disini. Mending lu ludahin Sinu” saran itu juga bagus. Lyn memikirkan meski mustahil di realisasi.
Jam 3 sore. Kristal dan dua temannya bangun di jam hampir berbarengan—tepat tengah hari. Sementara para pria entah, hingga kini belum terlihat. Padahal Kristal sudah menyiapkan makan mereka dengan memotong sapi. Juga membekukan darah berkantong-kantong dalam freezer sebagai stok.
Tidak tahu dari mana.
Tahu-tahu, Daniel muncul di arena latihan dan melawan Kristal setelah membuat sang pelatih terpental ke belakang hingga terduduk di sofa. Pria itu sudah mandi, rambutnya masih basah dan ia tampak segar.
“Lawan gua” kata si bungsu. Ia menepis pedang Kristal dengan es. Dalam waktu singkat, arena itu dijatuhi es yang belah-belah. Mata sang pelatih melotot karena kaget akan kekuatan supranatural. Dan di waktu yang sama juga ia kehilangan kesadaran saat tangan Logan bergerak naik—membuat pingsan. Ke enam lain menysul—mendekat.
Melihat kekuatan mereka tidak selemah yang mereka pikirkan, Lyn dan Isa berdehem, lalu saling pandang—bertukar kata dalam hening.
“Udah bangun?” Si gadis yang memegang pedang menyeka keringat. Pedang itu ia lempar sembarangan. Daniel membuntut—memeluk Kristal dari belakang.
“Badan lu gerah dan panas, kan? Gua dinginin” tubuh pria di belakangnya benar-benar jauh lebih dingin dari pendingin—lebih dari kipas angin saat berkeringat banyak. Kristal membiarkan karena membantu.
“Pada makan deh, darah dalam tumbler gua taro di kamar Daniel semua” kata gadis itu pada semua orang.
Sinu akhirnya duduk dekat Isa setelah kepalanya berputar memindai semua hal, kakinya menyilang dan tangannya melipat di dada.
“Belum lapar, aku mau keliling dan berkenalan dengan semua hal yang ada disini” si sulung menjawab. Kristal mengangguk.
“Mek, berdua temenin mereka mansion tour. Gua mau mandi dulu bentar. Abis itu kita rapat lagi semuanya. Hp udah datang dan nanti ngomongin kerjaan” Kristal menepuk pundak temannya “jelasin juga kalau ada yang tanya. Misal jengkelin, tabok palanya” gadis itu memegangkan rotan pada Lyn.
“Pokoknya yang nakal di tabok rotan!!” si gadis berteriak pada semua orang.
Tak ada yang menggubris.
“Yes! Dapet hp!” Daniel berseru senang. Lyn memimpin barisan saat mereka semua bangkit.
“Oke, gua mandi. Kalau kalian bersikap baik, malam ini gua ajak ke mall, kita belanja baju buat semua orang” baru Kristal benar-benar pergi.
Suara kakaknya berdentang seperti lonceng di depan stasiun. Di tengah-tengah orang-orang yang berlalu lalang dan bercakap-cakap menggunakan bahasa campur-campur. Namun mata si bungsu fokus pada pesan ayahnya yang salah kirim; Bunuh Aslan dan jadilah nomor satu.
Anjing, ayahnya meminta sang kakak untuk membunuhnya.
Aslan berlari cepat-cepat seperti kesetanan sesaat setelah ia membuka mata—lepa membaca pesan yang kini telah di hapus meski terlambat. Kakaknya bingung hanya menatap punggung kecil yang menghilang di balik pintu.
Matanya memindai koridor rumahnya yang di desain mirip mansion abad pertengahan Eropa. Bocah berusia sepuluh tahun–yang bahkan tidak sanggup menyakiti semut itu memindai segala hal yang dilalui dengan mata elang. Jejaknya yakin, ia tahu kemana harus pergi. Namun sebelum itu, Aslan, ia pergi ke dapur untuk mengambil pisau daging.
Ia masih ingat bagaimana wajah para pelayan, sorot mata mereka dan yang paling mengusiknya–bagaimana sudut bibir mereka terangkat mencemooh. Entah apa salahnya.
Namun yang jelas, semua berubah di hari yang sama. Di menit yang berganti hanya beberapa saat setelah–seharusnya tak ada kesakitan dan hal-hal mengerikan terjadi.
Jeritan bersahut–sahutan.
Darah berceceran dan sebagian isi perut buyar mengotori ubin. Aslan masih ingat bagaimana degup jantungnya berpacu kelewat kencang. Adrenalin yang berpacu malam itu membawa getaran yang tak akan pernah bisa ia lupakan sampai mati. Justru disana bagian indahnya. Semuanya di mulai dari saudara kandung yang tidak buruk rupa, namun di anggap monster aneh.
Bagaimana rasanya sakit?
Kenapa aku di anggap monster hanya karena aku tidak bisa sakit? Dan sejak lahir, hidupku di buntuti dokter hanya karena mereka takut aku luka?
Lalu, kenapa kau meminta kakakku membunuhku? Dia pria baik yang tak gila jabatan. Kendati aku tak menjadi apapun di rumah ini, aku bersumpah tak akan iri hati. Aku mencintai kakakku, ibuku yang telah kau bunuh dan beberapa teman sekolahku yang mau mengajakku bicara.
Apa salahku?
Revolusi selalu datang dari saudara yang diperlakukan tidak adil. Aku memiliki alasan mengapa aku membunuh ayahku, mengapa aku menjadikan kakakku monster. Aku punya.
Kau bilang Erlan terlalu lemah dalam memimpin sementara aku lebih parah, lebih lemah dan lebih menyedihkan. Lantas kau meminta Erlan untuk membunuhku hanya untuk membuktikan bahwa pria baik hati yang mudah tersentuh dengan rasa cinta yang tinggi terhadapku—mampu untuk menjadi kriminal berat sepertimu.
Ini bukan soal orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti. Namun revolusi. Aku harus mengubah tatanan bobrok menjadi sesuatu yang baru—katakan bobrok lainnya. Aku tak peduli.
Kini, ayahku mati dan aku naik menjadi nomor satu setelah kakakku mau menjadi monster dalam ruang eksperimen. Demi melindungiku.
Aku adalah nomor satu.
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Lampu-lampu putih kebiruan menggantung di langit-langit, berkedip pelan–lambat. Dinding di penuhi layar-layar transparan yang menampilkan grafik tak stabil–garis-garis naik turun.
Aslan berdiri di tengah ruangan. Jas hitamnya di cangking tangan kiri. Kacamatanya sesekali melorot di benarkan agar presisi.
Di ruangan itu berdiri sebuah tabung raksasa. Tabung yang terbuat dari kaca tebal berlapis logam hitam, di penuhi uap tipis yang berputar di dalamnya. Cairan berwarna kehijauan gelap memenuhi hampir seluruh ruang—berkilau samar seperti memiliki kehidupan sendiri.
Di dalamnya terdapat seorang pria.
Tubuhnya melayang tanpa daya. Rambutnya mengapung perlahan mengikuti arus cairan. Kabel-kabel hitam dan perak melilit di sekujur tubuhnya.
Sesekali aliran listrik tipis menjalar melalui kabel-kabel itu. Lalu cahaya biru menyala sekejap, tubunya bereaksi. Jari-jarinya bergerak sedikit, lalu diam lagi.
Di sisi tabung raksasa, beberapa tabung kecil tersusun rapi. Masing-masing berisi zat aneh yang warnanya tidak wajar. Jika melihat nama-nama mereka, Aslan yakin lidahnya akan keseleo. Nama cairan itu lebih cocok di gunakan untuk nama bayi di jaman ini. Nama yang sulit. Konon, makin sulit nama seorang anak, maka akan semakin keren.
Seperti cairan hitam dalam tabung yang bernama Noctyra Serum. Saking pekatnya, cairan itu seperti menelan cahaya di sekitarnya. Lalu ada larutan keemasan berkilau Aureline-X yang berdenyut pelan seperti memiliki detak jantung. Ada lagi zat merah gelap—Vermigon Catalyst, ia mengalir lambat mirip darah pekat. Aslan tidak akan repot bertanya pada dokter apa fungsi dari masing-masing tabung. Tak akan menambah pekerjaan sementara tugasnya kelewat menumpuk.
Sementara selang-selang transparan menghubungkan semua zat itu ke dalam tabung utama. Cairan dipompa masuk pelan-pelan, terukur dan tentu saja penuh perhitungan. Lalu mesin berdengung lebih keras. Grafik di layar melonjak liar dan untuk pertama kalinya, tubuh dalam tabung itu bergerak lebih jelas.
Ya, setelah sekian lama, setelah hampir tujuh tahun tubuh itu berada dalam tabung.
Kini punggungnya menegang, kepalanya sedikit terangkat meski matanya masih tertutup.
Tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah penantian.
“Dokter, ada aktivitas” ujar salah seorang ahli, hampir tak percaya. Cairan kehijauan di dalam tabung berputar lebih cepat, jelas merespons sesuatu dari dalam. Kabel-kabel yang terhubung ke tubuh itu mulai memancarkan cahaya–membaca perubahan yang terjadi. Aktivitas saraf yang melonjak dan sesuatu yang lain. Tentu saja hal-hal yang tidak tercatat dalam tubuh manusia normal.
“Regenerasinya aktif” gumam dokter. Matanya terpaku pada layar “selnya bangkit dan bereaksi”
Zat Aureline-X yang selama ini menjaga stabilitas tubuhnya mulai berdenyut lebih cepat. Seakan cairan itu menyatu dengan aliran darahnya. Lalu Vermigon Catalyst yang dirancang untuk memicu perubahan struktur otot dan kepadatan tulang, juga menunjukkan lonjakan ekstrem. Dan yang paling mengkhawatirkan adalah Noctyra Serum. Zat gelap itu menyebar lebih luas dari perkiraan, persis mengambil alih.
Dan untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun tubuh itu ada di sana, di dalam tabung, mata Erlan tiba-tiba terbuka.
Kosong.
Pupilnya bergetar menyesuaikan dengan dengan dunia yang sudah tujuh tahun tak ia lihat. Tubuhnya langsung bereaksi serta terjadi tarikan napas pertama melalui cairan.
Dada Erlan mengembang paksa lalu menyusut kembali. Refleks tubuhnya kacau.
Lalu alarm berbunyi.
“Dia sadar!” salah seorang berteriak. Tubuh Erlan melengkung kaku. Otot-ototnya menegang secara tidak wajar seperti ditarik ke dalam. Kabel-kabel yang menancap di kulitnya bergetar hebat kesulitan membaca lonjakan sinyal saraf yang melonjak liar.
Di layar, data biologisnya juga melonjak melewati batas manusia. Denyut jantungnya terlalu cepat, tekanan internal meningkat dan struktur jaringan otot mulai berubah menjadi lebih padat, tebal dan kuat.
Tubuh itu mirip sesuatu yang hanya bisa di lihat dalam film, persis. Aslan melihatnya dengan binar penuh haru dan damba. Sesekali menelan liur karena gugup dan sisanya ia bolak-balik melihat kinerja dokter serta makhluk dalam tabung secara bergantian.
Retak halus mulai muncul di permukaan kaca tabung.
Satu, lalu dua. Para dokter mundur perlahan. Tidak ada yang benar-benar siap untuk momen ini meskipun mereka telah menunggunya selama tujuh tahun.
“Bangun, Kak..” suaranya lembut mirip bisikan “aku rindu..” lalu mirip doa yang dipanjatkan diam-diam di tengah malam. Sementara di dalam tabung, Erlan menggerakkan kepalanya perlahan, gerakan sederhana namun terasa berat serta tidak alami. Matanya kini tidak kosong lagi.
Sementara retakan tidak berhenti namun makin bertambah. Satu garis halus di permukaan kaca tabung menjalar seperti urat yang hidup memanjang, bercabang lalu menyebar ke seluruh sisi.
Di dalamnya resah. Tubuhnya bergerak semakin kuat. Tulang rusuknya tampak bergeser di balik kulit, menyesuaikan ruang yang tiba-tiba terasa sempit. Otot-otot masih menegang perlahan membesar seperti dipompa dari dalam oleh kekuatan supranatural.
Bahunya melebar, lengan memanjang dan tinggi tubuhnya perlahan melampaui batas tabung yang selama ini mengurungnya.
“Tidak mungkin.. Ini terlalu cepat” dokter mundur lebih jauh. Beberapa layar mati satu persatu tak lagi mampu membaca perubahan yang terjadi. Ini sudah melampaui sains mereka sendiri. Dengan satu dorongan, Erlan menggerakkan tangannya, kaca tebal itu hancur. Cairan menyembur keluar membanjiri lantai laboratorium. Tubuh Erlan jatuh berlutut di antara pecahan kaca dan kabel-kabel yang putus.
Kulitnya menegang mengikuti struktur tubuh barunya. Otot-otot berbentuk jelas, padat seperti batu hidup. Dan untuk pertama kalinya ia menarik napas di udara. Kali ini benar-benar bernapas. Napas yang terlalu berat dan menggema. Ruangan terasa lebih kecil.
Erlan berdiri. Tubuh menjulang memenuhi ruangan. Sisa cairan eksperimen menetes dari kulitnya jatuh ke lantai dengan ritme lambat.
Semua orang membeku. Tidak ada yang berani bergerak karena tidak ada yang tahu apakah makhluk di hadapan mereka masih manusia atau sesuatu yang akan menghancurkan semuanya.
Namun Erlan tidak melihat mereka, tidak satupun. Matanya langsung tertuju pada satu titik; Aslan. Pria yang tetap kokoh di atas kakinya, tak ubah meski dokter dan semua orang mundur. Aslan masih di tempat yang sama. Mata mereka bertemu.
Aslan.
Gelombang impuls saraf buatan yang selama ini ditanamkan melalui Noctyra Serum dan stimulasi neuro-elektrik mulai aktif sempurna. Jalur memori yang sengaja di perkuat hanya tentang satu hal; melindungi, mencintai, memprioritaskan Aslan.
Lantas pupil Erlan menyempit. Kali ini fokus dan stabil dan untuk pertama kalinya sejak ia bangun; tenang, juga tidak bingung. Tangannya yang besar bergerak perlahan. Para dokter langsung panik.
“Dia menyerang!!!” teriakkan itu menggema, semua orang ketakutan. Namun gerakan Erlan bukan menuju mereka, makhluk itu menurunkan tubuhnya–berjongkok. Gerakkan yang canggung. Tubuh barunya terlalu besar untuk di kendalikan dengan sempurna. Lantai bergetar saat lututnya menyentuh permukaan.
Kini, jarak antara ia dan Aslan hanya beberapa meter. Cukup dekat untuk melihat dengan jelas, sangat akurat untuk memastikan. Lalu Erlan menundukkan kepalanya sedikit. Matanya yang besar menatap Aslan dalam diam.
Itu adalah cara pengenalan Erlan. Meski kelewat instan.
Bibirnya bergerak pelan, persis mencoba bicara untuk pertama kalinya. Dan suara yang keluar berat dan sulit.
“…As…lan…” Ruangan itu seperti kehilangan udara. Pun para dokter saling menatap, tak percaya.
“Itu berhasil…” bisik seseorang gemetar. “Asosiasi memori tunggalnya… berhasil total…”
Aslan tidak mundur. Juga tidak takut. Ia justru melangkah satu langkah ke depan.
Kecil—dibandingkan sosok raksasa di hadapannya. Namun justru itu yang membuat kontrasnya terasa begitu kuat. “Iya, Kak,” jawabnya pelan–lembut. Suaranya tenang. “Aku di sini” dalam sepersekian detik—sesuatu berubah di tubuh Erlan. Otot-ototnya yang tadi tegang perlahan mengendur. Detak jantungnya—yang sempat liar—menjadi lebih stabil. Seakan keberadaan Aslan… adalah satu-satunya “penenang” bagi sistem tubuh barunya. Tangan besar Erlan terangkat perlahan. Semua orang menahan napas. Namun tangan itu tidak menyerang. Ia berhenti… tepat di depan Aslan. Jaraknya hanya beberapa sentimeter. Seolah Erlan— bahkan dengan tubuh sebesar itu–takut menyentuhnya terlalu keras. Naluri yang ditanamkan selama tujuh tahun itu bekerja sempurna: lindungi, bukan hancurkan.
“…jaga…” gumam Erlan lirih, mengulang sesuatu yang tertanam jauh di dalam dirinya.
“…Aslan… jaga…”
Aslan tersenyum puas. Karena di hadapannya sekarang—sesuatu yang telah dibentuk… untuk menjadi miliknya.
“Aku sayang kakak”
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Semua orang menyaksikan dengan jarak. Erlan terlihat paling tenang—menatap adiknya sendu. Dua tangan kecil pria sepuluh tahun itu menggenggam pisau. Tubuhnya bergetar halus. Namun Erlan yakin dengan penglihatannya—jika Aslan tidak merasa bahwa apa yang ia kerjalan merupakan kesalahan. Mungkin telah lama bocah itu menanggung sakit hati akibat kesenjangan perilaku sang ayah. Begitu jomplang.
Lalu Aslan mulai menangis. Pisau masih teracung di depan. Seolah akan menyakiti siapa saja yang memarahinya.
“Aslan… letakkan pisau dan datanglah kemari” dua tangan Erlan terbuka lebar. Dada bidang, kokoh, tinggi juga tegap itu menanti dekap sang adik. Tubuh Erlan adalah tempat paling sempurna untuk melabuhkan pelukan. Jenis pelukan yang tak akan menghakimi–seberat apapun dosa. Dan Aslan tahu. Kakaknya bukan kriminal, bukan gombong kejahatan keji seperti ayahnya. Bukan juga seseorang yang menganggapnya payah karena penyakit aneh. Erlan adalah kakaknya, tempat dimana semua hal dapat diterima.
Aslan menggeleng. Darah melumuri tangan putihnya, juga baju tidur berwarna beige yang kini menjadi merah akibat darah. Ada ketakutan setelah semua hal tercerna.
“Semuanya selesai. Aku tidak akan menghakimimu, tidak ada polisi, tidak ada yang bersalah disini. Aku ada disini, aku tidak akan menyakitimu, sungguh” ucap Erlan sekali lagi, meyakinkan sang adik jika semua telah berakhir dan si sulung sudah memutuskan untuk tidak memperpanjang kasus ini—tentu saja. Serta meminta semua pihak yang menyaksikan untuk tutup mulut.
“Kemarilah.. Kau akan memperlambat proses pemakaman. Kita harus pergi ke pemakaman, kita juga bisa berkunjung ke pusara ibu. Kau perlu mandi” mata seteduh pohon rindang yang ditiup angin. Aslan melempar pisau yang berbunyi nyaring saat terpantul ke marmer. Lalu tubuhnya bersingsut menabrak kakaknya.
Tubuh yang hanya setinggi dada Erlan itu tergugu. Isak tangis makin besar dan semakin pecah. Sementara para pelayan dan pengawal mulai membereskan jenazah ayah mereka dengan hati-hati.
“Pasti berat, hum? Jadikan ini sebagai pelajaran bahwa apapun situasinya, membunuh bukanlah hal yang dibenarkan. Dan aku membenarkanmu sekali ini saja. Oke? Hanya sekali ini saja. Setelah ini, berjanjilah padaku bahwa kau akan menjadi anak baik”
Dan aku tidak pernah mengiyakan kata-kata kakakku. Tapi tidak juga membantahnya. Aku hanya tidak tahu apa yang kurasakan, aku tidak mengerti dengan segala hal yang terasa terlalu berat untuk kuproses.
Pemakaman seorang raja kriminal berlangsung sangat privat. Namun kabar yang menyebar serta hal-hal tidak terduga, tak lagi bisa mengkategorikan pemakan itu menjadi pribadi. Kendati Erlan mengatakan untuk tidak membocorkan apa yang terjadi—alasan seorang raja yang memiliki ribuan anak buah serta hal-hal mengerikan yang tentu saja berbau kejahatan dan kriminal, untuk tidak keluar dari rumah, namun sangat mustahil.
Pemakaman itu dipadati ratusan pria berjas yang nyaris serempak menggunakan setelan serupa—hitam rapi. Benar, jika berkenan untuk melihat ke belakang sedikit, alih-alih terpaku pada gundukan tanah, maka, pemandangan di belakang begitu mengerikan—khas seperti dalam film.
Ajudan, anak buah, atau mungkin saja para sub kriminal yang terbagi-bagi menjadi begitu banyak sub unit. Yang tak dimengerti Erlan apalagi si bungsu Aslan. Yang jelas, raja mereka telah mati.
Kabar siapa yang membunuh, pasti juga telah mereka ketahui.
Maka, pemuda berusia sepuluh tahun yang tidak dapat merasakan sakit itu–jelas membaca situasi. Aslan hanya tidak bisa sakit, bukan hilang insting apalagi kepekaan atas situasi. Ia sensitif, kecuali penyakit langka yang membebani seumur hidupnya.
Erlan merangkulnya. Mengatakan banyak hal tentang—bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa tidak akan ada yang menyakitinya–meski telah membunuh orang paling penting–bagi komplotannya.
“Jangan lihat ke belakang, mereka tidak akan menyakitimu” bisik Erlan tepat di telinga adiknya “aku ada disini, aku yang akan melindungimu. Aku bersumpah” itu juga bagus. Aslan merasa sedikit lega saat kakaknya mengatakan itu.
Namun tidak ada yang berubah dari tatapan semua orang dari balik kacamata hitam.
Seorang dokter muda. Dokter anak yang begitu tampan dan baik hati. Erlan memiliki pembawaan yang hangat mirip malaikat. Jika bicara, seakan seluruh semesta merestui apa yang ia janjikan. Seperti saat ia mengatakan tentang banyak hal–kalimat penenang untuk anak-anak tatkala akan menusukkan jarum suntik.
Begitu juga yang dirasakan Aslan.
Erlan begitu menyayanginya. Begitu menjaganya dan jika sedang bersama, pria itu terlalu sering mengecek kondisi Aslan. Melihat apakah adiknya terluka.
Pernah satu waktu ketika Aslan bayi dan entah bagaimana caranya ia menemukan pisau lalu mengiris-iris tangannya hingga berlumurah darah. Aslan lepas dari pengawasan dan bayi kecil itu hanya senang bermain dengan cairan berwarna merah yang memancar dari tubuhnya sendiri tanpa merasakan sakit. Dan saat Erlan memergoki, pria itu nyaris histeris. Kontan membawa Aslan ke rumah sakit. Dan dari hari ke hari, pengawasan terhadap Aslan semakin ketat. Semua orang–mungkin, kecuali ayahnya atau sialan lain, merasa begitu khawatir. Hanya takut Aslan terluka parah dan mati tanpa tahu dirinya terluka.
“Tidak, tidak akan ada yang menyakitimu. Tidak ada tanpa seizinku” ujar Erlan ia masih merangkul adiknya sebelum meminta sisa pengawal untuk membawa mereka pulang.
Hanya berjalan, mengabaikan ratusan pasang mata yang menatap mereka hingga masuk dalam mobil.
Aslan tau, dan semua orang juga tahu.
“Kak”
“Ya?”
“Bukankah mereka akan membunuhku juga? Aku membunuh raja mereka” Aslan menyumpal pada ketiak kakaknya.
“Sudah kubilang. Tidak akan ada yang bisa menyakitimu, tanpa seizinku. Aku yang akan menjagamu, melindungimu, dengan nyawaku sendiri”
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Hari-hari setelah kematian ayahnya terasa lebih berat. Erlan sudah mengatakan untuk tenang dan meminta sang adik minum multivitamin untuk menjaga kualitas tidur. Namun siapa yang akan mendengarkan? Aslan memilih terus dibuntuti kecemasan. Ia selalu was-was. Seakan tiap geraknya tengah diawasi dan sewaktu-waktu siapa saja anak buah ayahnya akan membunuhnya tanpa ampun.
Ke sekolah, pergi les, pergi ke rumah sakit untuk kontrol dan kemana pun. Paranoidnya makin hari semakin parah.
Maka, di usia itu, saat uang jajan yang ia terima setiap hari dari kakaknya cukup untuk membeli sebuah apartemen mewah, Aslan menggunakannya untuk membayar orang guna membunuh siapa saja yang terlihat mencurigakan dan seperti berkemungkinan akan menyerangnya.
Tindakan itu berjalan lancar. Beberapa nyawa melayang cuma-cuma hanya karena spekulasi seorang bocah sepuluh tahun yang memiliki kecemasan tak berujung.
Semakin banyak yang tumbang.
Desas-desus dan narasi suka-suka yang sebarkan tentang bocah itu pun akhirnya menyebar luas. Para mantan anak buah ayahnya berspekulasi jika Aslan mewarisi jiwa raja mereka. Jika Aslan adalah kandidat nomor satu yang akan maju di banding dokter anak yang terlihat lebih mirip pendeta yang akan mengusir roh jahat alih-alih terjun ke dunia gelap, maka, mereka harus mendekat pada bocah itu untuk menyambung apa yang terputus.
Tidak ada yang tahu penyakit langka Aslan kecuali keluarga dan dokter pribadi. Maka, orang-orang masih bertanya-tanya mengapa raja mereka bersikukuh menunjuk Erlan sebagai penerus alih-alih Aslan yang memiliki kecenderungan dan tanda-tanda. Usia hanya angka. Bukan masalah jika bocah itu masih terlalu belia.
Dan kini, kabar itu sampai ke telinga Zain. Orang kepercayaan ayah Aslan untuk meneruskan bisini gelapnya.
Maka, di detik saat kabar itu sampai, Zain lekas pergi ke kediaman mendiang bosnya–rumah Erlan—Aslan berada.
Hanya bocah kurus yang cantik. Terlalu cantik untuk ukuran laki-laki. Namun terlalu berkilau untuk diabaikan.
Zain duduk di sofa besar ruang tamu. Aslan menghadiri panggilan saat pelayan bersikukuh mengatakan jika itu tamu penting. Bocah itu takut menghadapi kecuali ada sang kakak. Dan siang itu, Erlan sedang bertugas lalu menitah beberapa pengawal untuk menjaganya.
Mereka berhadapan dalam kondisi yang timpang. Maksudnya, Aslan yang duduk kecil disofa yang kelewat besar. Sementara Zain membuat sofa itu terlihat sempit karena tubuhnya yang gempal dan kokoh—besar.
“Hei bocah..” panggilan pertama kali. Zain menatapnya tanpa berkedip sementara Aslan menatap lurus ke jendela tepat di belakang Zain. Pelayan membawakan minuman dan cemilan. Zain tidak mengatakan apa-apa lagi setelah panggilan pertama hingga para pelayan pergi dan menyisakan hening di antara mereka.
“Apa kau tahu?” katanya santai. Baru saat pria itu membuka mulut lagi, Aslan menatap tepat ke matanya. Pandangan berkilat-kilat penuh emosi. Zain suka tatapan itu. Kontras dengan tubuhnya yang kecil serta gelagatnya yang serba resah. Mata Aslan justru menginterpretasikan sebaliknya. Mata berani dan liar.
“Ayahmu mengawetkan sperma dan akan di… apa namanya… pokoknya di jadikan manusia, atau benih itu ditanam ke gadis yang entah bagaimana caranya. Untuk mencapai tujuannya selama ini yaitu memiliki anak lain. Karena apa? Karena Erlan menyedihkan dan kau.. Lebih parah” itu informasi baru dan benar-benar tidak penting. Aslan tak bereaksi, tidak kaget, atau apapun yang di tunggu Zain.
“Tidak terkejut, ya?” pria itu mengangguk-angguk “siapa namamu? Aku lupa”
“Aslan”
“Ah iya Aslan. Aku akan menawarkan bantuan padamu. Hanya padamu”
“Terdengar tidak menarik. Jika seterusnya kau hanya akan mengatakan omong kosong, maka aku sangat sibuk” bocah itu berdiri, baru saja akan melangkah sebelum kata-kata Zain kembali membuatnya urung.
“Aku akan menjagamu, melindungimu dan memastikan bahwa kau menjadi nomor satu tanpa ada yang berani menyentuhmu, bahkan kakakmu sendiri. Seluruh harta ayahmu ada di tanganku. Aku harus memberikannya pada seseorang karena bagiku ini membebani. Aku benci sekali mengurusi banyak hal, orang, hukum. Tidurku saja menyedihkan. Aku tidak pernah tidur—hampir seumur hidupku. Di perparah dengan pekerjaan ini. Kau adalah ahli warisnya”
Aslan berbalik. Matanya bertemu dengan Zain praktis.
“Manusia adalah mahluk serakah. Sangat mustahil orang sepertimu tidak suka uang. Ambilah seluruhnya, aku hanya akan hidup dengan lurus”
“Uangku juga banyak. Aku tidak butuh uang, aku butuh tidur” kata Zain jujur. Sebenarnya, ia ingin segera selesai dan mencari kopi di luar “ayolah, aku bukan orang baik yang bisa bernegosiasi panjang-panjang. Aku tidak ramah. Sungguh, jadi apa sulitnya mengiyakan apa kataku? Aku masih berbicara padamu karena kau adalah anak dari mendiang raja. Biasanya aku tidak bicara dengan mulut. Tanganku bergerak lebih dulu”
Alisnya terangkat sebelah, Aslan mengikuti pola pria di depannya.
“Apa kau semacam sub raja? Yang ditakuti orang-orang juga?” tanya Aslan penasaran. Zain mengangguk.
“Anak pintar, kau membuat perumpaman sub dengan sangat baik. Atau katakanlah aku terkuat di lingkaran ini”
Dahi Aslan makin mengrut. Ada ketidakpercayaan dalam benaknya dan rasa aneh pada wajah tampan yang terlihat urakan dan mirip perundung andal meski pakaiannya rapi.
“Kau hanya mirip pecundang yang merundung anak-anak lemah. Bagaimana orang sepertimu akan melindungiku? Berhenti bicara omong kosong dan bawa seluruh penawaranmu. Aku muak”
Terdengar helaan napas dari Zain. Pria itu memijat pangkal hidungnya. Kepalanya pening karena ia belum minum kopi.
“Tunggu, apa di sini ada espresso? Kepalaku sakit sekali dan aku mendadak jengkel” katanya, masih menunduk. Lalu mendongak berharap melihat pelayan.
“Hanya buktikan apa yang kau ucapkan adalah benar. Kau terkuat, kau akan melindungiku dan memastikan aku akan baik-baik saja serta tetap berada di posisiku nomor satu dan sebutkan apa yang kau butuhkan sebagai imbalan? Katakan hal-hal yang masuk akal karena aku tidak bodoh”
Lalu Zain tertawa. Tertawa sangat keras hingga suaranya menggema di seluruh ruang.
“Wah.. kau memang luar biasa, ya? Pantas saja rumor tentangmu begitu kuat dan gencar. Kau berbeda dengan kakakmu”
Aslan tidak langsung menjawab. Pria itu terus meneliti Zain—memindai seperti takut ada rahasia yang terlewat dari tiap inci wajah tampan yang kelewat santai.
Lalu Zain memukul sofa di sebelahnya.
“Kemarilah, duduk di sampingku. Akan kusampaikan caranya. Aku sedang tidak ingin membuktikan apapun. Aku hanya ingin espresso”
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Dan setelah hari kunjungan pertama Zain, semuanya berubah.
Tiap perkata pria itu begitu perusasif dan sarat akan retorika. Aslan bersedia untuk memegang kendali atas hal-hal yang sebenarnya hanya ia ketahui dari teori begini dan begitu. Ia juga tidak menceritakan pertemuannya dengan Zain pada Erlan. Tidak ada yang tahu, rencananya, hanya menjadi rahasia hingga semua misinya berhasil
Penggambaran yang diberikan Zain membuat pria belia itu kini memiliki tujuan hidup setelah selama ini hanya ingin lurus dan berpasrah–kecuali saat membunuh ayahnya. Yang diinginkan hanya hidup tenang tanpa kecemasan. Kata Zain, untuk mendapatkan ketenangan harus lebih tinggi dari semua orang, harus memukul sbeelum dipukul dan bergerak sebelum orang lain.
Ayahnya sudah mati, Aslan pikir hidupnya akan tenang karena tidak ada lagi yang akan terus menyakiti hatinya, menghina, lalu dijadikan bahan perbandingan. Namun salah. Rasa takut akan dibunuh oleh anak buah ayahnya malah semakin parah ketimbang eksistensi ayahnya—membuatnya kesulitan tidur lebih dari ketika tua bangka itu hidup dan terus membuatnya sedih.
Dan setelah Zain datang, pria tengil itu persis menawarkan kekuasaan, jabatan, uang, serta ketenangan hati. Tidak akan ada yang bisa meremehkannya, merendahkan apalagi berani menyentuhnya. Semua itu baru bisa di dapat setelah menjadi raja dan Zain bersedia untuk membantu hingga akhir.
Dan malam itu, Erlan pulang tepat pukul delapan malam. Setelah selesai mandi, ia langsung mengunjungi kamar adiknya untuk mengajak makan malam meski tau bahwa Aslan pasti sudah makan lebih dulu.
Ketukan pelan disusul grendel pintu terbuka. Aslan memutar kursinya. Komputer masih menyala menampilkan soal-soal matematika bersama kertas yang berjajar tidak rapi di atas meja.
“Kau pasti sudah makan malam” kata Erlan basa-basi. Ia berdiri persis di samping kursi adiknya. Matanya memindai soal-soal.
“Ini paling mudah” kata Erlan menunjuk pada bangun datar teorema pythagoras “apa ada kesulitan?”
Aslan menggeleng. Lalu mendongak menatap wajah tampan.
“Aku sulit tidur, aku juga mengalami cemas. Dokter datang dan aku di diagnosa memiliki gangguan kecemasan” itu bagian dari rencana. Aslan mengatakannya patetik. Ia meremat pena dalam genggaman–seolah ketakutan sungguhan.
Erlan melebarkan pupil. Ia melamun cukup lama seperti terus memproses kata-kata adiknya. Sebelum menarik napas dalam “sebenarnya, apa yang kau takutkan, huh? Ceritakan padaku detailnya. Aku ada disini” kata sang kakak perhatian. Suaranya begitu lembut dan tentu saja akan membuat siapa saja tenang.
“Aku takut… a-aku takut dibunuh, aku takut anak buah ayah dendam padaku. Aku merasa seperti di awasi, terus seperti diamati dan orang-orang mengacungkan senjata dari arah yang tidak benar-benar bisa kulihat. Aku ketakutan seperti itu hingga kesulitan..” Aslan lantas menangis sambil batuk. Dahaknya nyaris muncrat. Erlan memeluk leher adiknya sambil mengusap kepala si bungsu sayang.
“Sudah kubilang tidak ada yang seperti itu. Aku ada disini, aku menyayangimu dan akan selalu menjagamu. Aku bersumpah” air mata tumpah juga ingus. Erlan menyekanya tanpa merasa jijik “seandainya ada yang bisa kulakukan untuk membuatmu tidak lagi cemas. Seandainya ada yang bisa kukerjakan.. Aku akan, aku akan lakukan apapun untuk membuatmu aman. Aku menyayangimu”
“Apapun?”
“Ya, apapun”
“Maukah kau menjadi hulk untukku? Menjagaku dari orang-orang jahat?”
“Jika ada yang seperti itu, akan kulakukan” jawaban Erlan seumumnya jawaban atas rasa cinta tanpa benar-benar nyata–maksudnya ocehan mereka. Erlan hanya menganggapnya metafora.
“Kak, maukah kau berubah sungguhan menjadi hulk untukku?”
Pertanyaan Aslan di reaksi kernyitan.
“Hulk sungguhan.. Hulk yang tercipta dari lab, dari zat-zat aneh. Kau menjadi kuat dan tidak terkalahkan” terang Aslan lagi. Kata-katanya sungguhan.
“Akan kulakukan”
“Aku bersungguh-sungguh!” kata Aslan semangat.
“Ya, aku juga. Aku akan menjadi apapun agar kau tak lagi cemas”
“Bisakah aku memegang ucapanmu? Aku mengatakan ini secara harfiah”
Lalu mereka berpandangan lama.
Cukup lama hingga menciptakan kecanggungan aneh yang tak biasa.
“Akan kulakukan” kata Erlan akhirnya.
Setelah percakapan aneh dan Erlan menyanggupi, Aslan cepat-cepat menelepon Zain meski pria tampan itu tak mengangkat. Sungguh sok sibuk. Ia ingin mengadu jika saingan satu-satunya yang berpotensi merebut kekuasannya telah bersedia untuk menjadi pengawalnya—juga bersedia menjadi ‘hulk’ seperti keinginannya.
Dan hanya seperti itu alasan Erlan berakhir dalam lab selama tujuh tahun untuk memenuhi keinginan adiknya. Untuk menjaga adiknya dan membuat si bungsu tidak lagi ketakutan. Zain akhirnya tau persis alasan rajanya begitu khawatir pada dua anaknya yang menyedihkan. Lalu meminta siapa saja untuk mengawetkan benihnya.
Anak itu harus lahir tepat saat Aslan berusia tujuh belas atau di bawah itu. Ayahnya yakin Aslan tidak akan berumur panjang sementara Erlan akan binasa dengan kenaifannya. Zain di embankan semua tugas yang belum apa-apa membuatnya ingin minum kopi.
Sebenarnya tidak ada yang benar-benar Zain inginkan. Ia hanya bekerja karena bosan jika diam saja. Ia juga tidak gila harta, tidak tertarik menjadi paling kaya. Hanya ingin bisa tidur nyenyak dan sembuh dari mimpi buruk–yang bahkan psikiater saja menyerah. Diperparah dengan sikap tempramental. Zain hanya ingin tidur dan kopi.
Namun, hingga detik ini selain seseorang yang memiliki kepribadian ganda, Zain yakin tidak akan ada yang bisa mengalahkannya.
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Kini ia berada di pertengahan sekolah menegah atas. Namanya benar-benar besar. Zain merealisasi janjinya dan sekarang, Aslan merupakan nomor satu.
Nomor satu; raja utama dari berbagai kepala aliansi yang di pimpin oleh sub unit. Tiap unit memiliki tugas dan pekerjaan masing-masing, dimana mereka akan menyetorkan uang bulanan sejumlah yang telah ditentukan. Pekerjaan mereka jelas bukan hal-hal legal dan baik, meski gedung besar tempat ia bernaung terlihat seperti kantor besar biasa yang menjalankan bisnis terintegrasi, namun sesungguhnya di balik itu merupakan eksplotasi gila-gilaan yang tidak hanya merampas kemanusiaan, tapi juga alam.
Perdagangan manusia—budak. Penyelundupan, pembuatan, serta perdagangan narkoba. Mempekerjakan anak-anak dibawah umur tanpa gaji. Penujualan organ-organ ilegal dari pekerja yang sakit serta mempekerjakan gadis-gadis belia sebagai pekerja seks komersial. Belum lagi kasino dalam perusahaan yang hanya bisa di akses para VIP. Masih banyak, dan nyaris seluruh isinya adalah hal-hal yang tidak memanusiakan manusia. Dan Aslan ada di rantai paling atas. Usianya belum genap 17 tahun. Namun siapa yang tidak tahu dirinya? Kecuali satu anak manusia yang hidup dalam kos yang menyedihkan. Teman sekelasnya yang terus tak ramah meski Aslan suka
Ben.
Sekitar pukul tiga sore, saat pelayan berlari tergopoh-gopoh mengetuk pintu kamarnya. Tepat saat Aslan berdiri di ambang pintu, seorang wanita berusia akhir empat puluh menunduk dalam.
“Tuan.. ada laporan jika Tuan Erlan mengamuk di ruangannya” ruangan yang dimaksud bukanlah di rumah ini, melainkan di kantor utama. Aslan memberikan tempat khusus untuk kakaknya yang kini telah berubah menjadi makhluk yang nyaris mirip dengan ‘hulk’ seperti keinginannya tujuh tahun silam.
Aslan tidak menjawab, ia mengangkat ponsel dan menelepon sesorang, lalu melangkah melewati sang pelayan begitu saja.
Tubuh besar Erlan mengamuk—menggeliat-geliat di atas brankar raksasa sementara tubuh—tangan dan kakinya di ikat kuat. Ia tak bisa keluar kecuali saat dibutuhkan. Namun entah apa yang mengganggu makhluk itu hingga mengamuk dan membuat dokter panik.
Aslan berdiri di samping kakaknya, mengelus kepala besar itu sayang. Lendir kehijauan pekat menempel ditangannya banyak.
“Kak… aku disini… aku ada disini” Aslan memeluknya meski hanya mampu mendekap secuil. Saat mendengar suara adiknya, Erlan langsung tenang. Tubuhnya rileks perlahan dan napasnya ikut menyesuaikan.
“A-pa kau sudah makan? Apa sudah mengerjakan PR?” mata merahnya beradu dengan kecil milik Aslan. Meski telah berganti warna, namun tatapan seteduh pohon rindang di musim panas itu tetap ada disana. Ia tetap Erlan kakaknya meski tubuhnya berubah total.
“Aku sudah.. Aku sudah makan dan juga mengerjakan PR.. tolong jangan buat keributan.. Aku benci keributan..” ucapnya lembut. Aslan mengusap wajah kakaknya sayang.
“A-aku minta maaf.. Tapi ikatan ini sakit sekali, kepalaku sakit, kakiku juga.. Ini menyakitiku..” keluhnya. Aslan melihat kaki dan tangan sang kakak bengkak dan mengelurkan nanah karena ikatan yang terlalu kencang.
Lantas ia memanggil dokter dan para perawat.
“Longgarkan talinya. Kenapa kalian menyiksa kakakku? Kakakku yang berharga..” Aslan menangis, ia mengusap apapun yang bisa terjangkau “maafkan aku, kak.. Aku sungguh minta, maaf jika menyakitmu..” ucapnya tulus. Setulus ia menyayangi Erlan dalam bentuk apapun karena yang dimiliki Aslan hanyalah Erlan. Makhluk mengerikan ini merupakan satu-satunya yang ia miliki. Keluarganya, hidupnya serta cintanya; kakaknya.
“Jangan menangis.. Oh jangan menangis adikku.. Maafkan aku membuatmu menangis.. Aku hanya rindu..” kataya, ikut sedih “aku baik-baik saja setelah melihatmu. Sekarang pergilah, main dengan teman-temanmu dan nikmati akhir pekan dengan nyaman dan bahagia. Aku akan melindungimu dari sini, aku akan datang saat kau takut, aku akan melindungimu..” kata Erlan serak, ia mengusap air mata Aslan dengan ibu jarinya yang bahkan lebih besar dari pada kepala Aslan.
Si bungsu mengangguk-angguk, ia mencium kening kakaknya yang lengket oleh lendir sebelum benar-benar pergi, lantas menitipkan pada para dokter dan mengingatkan lagi untuk tidak mengikat terlalu keras.
Aslan benar-benar pergi.
Meski entah kemanapun ia pergi, rasa kesepian, kering, sepi, dan buram tetap mengikuti. Ia tak memiliki teman, tidak juga gadis. Kehidupan sosialnya menyedihkan. Aslan bahkan tidak tau mengapa tidak ada yang mau berteman dengannya.
Padahal tidak melulu soal kejahatan. Meski ia memperdagangkan organ manusia secara ilegal, mempekerjakan gadis belia sebagai pekerja seks komersial lalu hal-hal yang tidak berperikemanusiaan, namun Aslan tidak akan gila untuk menyakiti temannya—ini opsional. Namun hingga detik ini, tidak ada satupun orang yang mau berteman dengannya secara harfiah. Yang ada hanya tatapan aneh. Seperti tidak ada yang berubah. Orang-orang masih saja melihatnya sebagai orang aneh hanya karena ia tidak bisa merasakan sakit. Atau mungkin saja sesuatu yan lain—yang tidak ia ketahui.
Dan hanya Erlan satu-satunya teman dan keluarga. Meski sang kakak kini begitu mengerikan juga tersiksa. Kata dokter, hampir tiap malam Erlan merintih merasakan sakit. Katanya, seluruh tubuhnya sakit.
Namun Aslan tidak ingin memikirkan itu atau ia akan menjadi gila. Ia terlalu mencintai Erlan hingga tak sanggup membayangkan kesakitan sang kakak. Biarlah hanya cerita dokter, ia tidak ingin tahu. Yang ia tahu adalah kakaknya ada, kakaknya hidup dan akan melindunginya.
Bergantung pada Zain pun bukan ide bagus. Itu lebih buruk dari seluruh hal buruk di muka bumi.
Tujuh tahun berlalu, Zain mengajarinya bela diri. Mengajarinya bagaimana cara bertarung meski kebanyakan, pria itu hanya menjadikannya samsak hingga ia nyaris mati.
Aslan berhenti ketika ia hampir kehilangan nyawa saat Zain terus memberi pelajaran. Dan setelah itu, pria itu tidak datang lagi kecuali di waktu-waktu yang dikehendakinya sendiri. Tidak juga menjawab saat di telepon, tidak datang ketika di undang. Zain hanya hidup semaunya dan tidak suka peraturan. Hal yang diinginkan dari Aslan hanya kebebasan. Zain ingin bebas melakukan apapun dengan kekayaan Aslan sebagai pendukungnya, hanya itu.
Kaya raya, berkuasa, ditakuti banyak orang lantas tidak juga membuat hidupnya tenang. Tidak seperti yang Zain janjikan. Tidak, tidak seperti apa yang ia bayangkan.
Aslan tetap kesepian.
Ada malam dimana ia benar-benar merindukan sosok kakaknya yang normal. Yang datang ke kamarnya lalu mengajaknya mengobrol. Bertanya banyak hal tentang hal-hal remeh dan menawarkan hadiah. Ia rindu Erlan… rindu ibunya, juga rindu hal-hal yang sebenarnya tidak pernah ia dapatkan seperti hangatnya bercengkrama akrab dengan orang lalu bergantung. Sulit sekali.
Kata Zain, Erlan adalah orang yang paling berkemungkinan merebut posisinya. Padahal tidak, pria itu tidak. Kini, nasi telah menjadi bubur. Tubuh yang sudah bertransformasi itu tidak bisa kembali kendati rasa rindunya merongrong menyakitkan.
Aslan persis berdiri di lobi menunggu sopirnya saat pesan itu masuk. Pesan dari salah satu pengawalnya yang mengatakan bahwa Ben memiliki anak. Tentu saja kabar dadakan itu membuat dahinya mengerut lebih banyak. Kenyataan tak terduga dari hal-hal yang sebetulnya aneh. Juga bukan tanpa alasan Aslan meminta pengawal mengawasi pria itu. Ia melihat potensi bagus pada Ben dan akan merekrutnya. Ia juga tahu bahwa Ben adalah orang yang juga pernah di latih Zain. Sudah jelas ada sesuatu di antara mereka meski Zain mustahil akan bercerita. Sementara sisanya hanya ia selidiki dari pengawal.
Aslan hanya melupakan beberapa hal.
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
“Selamat sore” sapanya ramah. Kontradiksi dengan ekspresi sang Tuan rumah yang kaget. Ben menganga. Bukan karena Aslan datang, karena pria itu memang sering datang dan memaksa berteman meski Ben terus menolak. Melainkan hal-hal yang dibawa.
Aslan membawa perlengkapan bayi. Dalam boks kelewat besar, ia membawa susu, peralatan mandi, dipaers, dan segala hal yang berhubungan dengan bayi.
Tidak ada yang tau kecuali Ibrahim dan Sarah. Dua temannya yang mustahil akan bocor. Juga kematian kekasihnya yang di rahasiakan. Bahkan sekolah hanya tahu jika ibu dari anaknya sakit keras dan meninggal dunia. Namun lihatkan pria pirang yang membawa sialan—membuat merinding. Ben hampir saja akan menutup pintu sebelum Aslan meminta maaf dan bersedia menjelaskan.
“Jadi, kau mengenal Zain?” itu adalah negosiasi agar ia tak di usir. Aslan tiba-tiba saja membahas Zain dan Ben tertarik. Padahal, mereka sering bersama namun Aslan tak pernah buka mulut mengenai pria yang seperti terhubung dengan siapa saja.
Aslan jelas mengangguk.
“Aku tinggal hampir tiga tahun bersamanya. Tapi tetap tidak tau siapa dia, apa tujuannya dan kenapa. Tidak mengerti” Ben menggeleng, suara tangis anaknya sudah redam saat Sarah memberikan susu “yang aku tau cuma dia memukulku tiap kumat edan”
Aslan tertawa.
“Ya, Zain memang seperti itu. Dia tidak pernah tidur dan sakit mental”
“Sekitar seminggu yang lalu dia datang dengan alasan mau lihat Chila. Dia melihatnya sekitar tujuh menit. Lalu mengambil rambut bayiku, setelah itu pergi gitu aja”
Pernyataan Ben membuat Aslan mematung.
Mematung agak lama.
Benar-benar lama hingga ocehan Ben terasa semakin jauh dan menghilang. Ia tenggelam dalam lamunan dan spekulasi.
Saat Sarah datang membawakan minum, Aslan baru seperti kembali ditarik pada kenyataan.
“Zain datang, ya? Bawa rambut” ulangnya dengan senyum manis. Ia menyapa Sarah dengan senyum itu. Ben mengangguk-angguk “aku akan sering datang, Ben. Tolong jangan tolak, aku orang baik” kata-kata itu lagi-lagi membuat Ben merinding. Mulai dari tingkah Aslan yang aneh dan terlalu menempel secara tidak natural. Ajakan bertemannya sungguh tidak biasa. Di dekat Aslan, Ben tidak menemukan kehidupan—maksudnya, ia merasa Aslan hanyalah bohong yang kosong juga sulit di terjemahkan. Ia juga tidak tahu apa alasan pikiran semacam itu tertanam. Yang jelas, apapun yang di katakan dan di lakukan Aslan, rasanya selalu seperti di buat-buat.
“Siapa namanya?”
“Chila”
“Ya, Chila. Masih bayi merah dan tidur. Tapi sampaikan, kakaknya datang” lalu pria itu bangkit dan melangah pergi.
Saat Aslan benar-benar menghilang dalam mobil mewahnya, Ibrahim keluar. Pria itu bertolak pinggang mirip bapak-bapak sambil menimbang.
“Itu si Aslan-Aslan temen sekelas mu, Ben? Yang katamu sering datang kesini? Baru kali ini aku melihatnya”
“Hm, sebangku” lantas Ben pergi menemui anaknya di kamar. Ibrahim masih menatap keluar–tempat tak ada lagi jejak. Namun ia yakin, pernah melihat Aslan di suatu tempat.
Tempat yang mungkin saja memang tak ingin ia datangi meski undangan datang berkali-kali.
Aslan memimpin rapat, menyatukan para terkuat yang memegang aliansi. Membuka kebijakan, kadang menambah pekerjaan. Para kalangan sub unit selalu datang, kecuali Ibrahim yang memang telah lama tak sudi lagi berurusan dengan perusahaan setan mengerikan itu.
Dari kekosongan yang ada sejak lahir, di samping Aslan ada dokter yang setia menemaninya sejak beberapa tahun terakhir. Pria yang lebih manusiawi–mungkin. Meski sebenarnya Aslan tidak mengenal baik pria itu, namun Jaka, adalah orang yang banyak menemaninya akhir-akhir ini. Pria itu juga yang sesekali menengok kondisi kakaknya, juga yang memeriksa seluruh tubuhnya yang tak pernah sakit. Meski mereka tidak seakrab itu hingga mampu membaca pria itu, namun Aslan tau jika Jaka memiliki ketertarikan terhadapnya. Bukan jenis tertarik seperti pada pasangan, bukan juga soal uang. Aslan tidak tahu, namun menerima pria itu setelah mendapat laporan jika Jaka adalah satu-satunya rival Zain. Orang yang bisa mengalahkan Zain. maka, ia akan terus dekat pada Jaka–jika saja suatu saat hubungannya dengan Zain memburuk—meski selalu buruk. Atau sebaliknya. Yang mana saja, ia akan menempel pada yang terkuat dan melakukan mutualisme.
Mobilnya tak langsung pulang.
Terparkir di lobi rumah Zain. Pengawalnya turun lebih dulu. Aslan hanya memperhatikan dari dalam. Mereka—para penjaga bercakap-cakap hingga salah satu menelepon entah siapa sebelum pintu benar-benar dibuka dan ia masuk dengan perasaan terluka.
Duduknya seperti anak baik. Rambut pirangnya di sugar ke belakang. Selama lima menit ia duduk dalam posisi itu, bolak-balik membenarkan rambut yang baik-baik saja. Minuman segar terhidang dengan beberapa kudapan yang terlihat menggirukan. Baru setelah ia menguap dua kali, Zain turun dengan wajah malas. Aslan tahu pria itu sulit sekali di jinakkan. Ia juga tak ingin berurusan yang memungkinkan luka atau sialan apapun. Tidak pernah ada yang benar-benar paham bagaimana perangai Zain.
Tangannya menenteng mok berisi espresso. Ia memaksa senyum pada si pirang meski belum mengatakan apa-apa.
“Anak Ben, adikku?” itu bagus. Ia tahu Zain tidak suka basa-basi. Aslan memperhatikan bagaimana ekspresi pria itu berubah hanya dalam waktu kurang dari dua detik.
Zain meletakkan mok di atas meja, duduk dengan menyilangkan kaki lalu ia memandangi cairan hitam di sana beberapa detik sebelum matanya beradu dengan milik Aslan.
“Aku sudah bilang—”
“Itu pengkhianatan” sergah Aslan memotong ucapan Zain “Aku menjadikan kakakku monster karena kau bilang, Erlan berpotensi merebut posisiku. Dan sekarang apa? Kenapa kau lahirkan anak itu? Aku benar-benar merasa di khianati” bocah itu nyaris menangis, air matanya tergenang di pelupuk. Ia menunduk dengan wajah merah. Zain yang berusia 13 tahun lebih tua–sibuk memikirkan alasan yang bagus dan menenangkan bocah di depannya. Meski tidak berbakat.
“Aku menuruti semua yang kau katakan. Aku begini, begitu. Memangkas rasa kemanusiaan. Aku bahkan rindu kakakku dan hatiku terluka tiap melihat bagaimana dia kesakitan karena bentuknya yang sekarang. Aku terus berpegang seperti yang kau katakan bahwa aku akan selalu menjadi nomor satu dan tidak akan ada yang mampu menggeserku. Aku aman, aku terlindungi. Sekarang, apa kau akan menyerangku? Aku akan berperang secara terbuka jika memang harus”
Jeda beberapa detik sebelum tawa Zain pecah.
Pria itu terpingkal-pingkal hingga tubuhnya begetar. Suaranya besar menggelegar, persis menghadapi bocah merajuk yang jelas merasa dikhianati.
“Aku dipihakmu, ingat? Tapi bayi hanya bayi. Butuh waktu puluhan tahun hingga bayi itu bisa menggesermu” Zain berusaha duduk tegak, ia mengucek matanya yang berair karena tawa “kau ingat, kau memiliki penyakit aneh, tidak bisa sakit”
“Dan aku tidak pernah menceritakan itu pada siapapun”
“Benarkah? Tapi semua orang tau, bahkan anjing jalanan”
Aslan menarik napas. Air matanya sudah kering ia seka dengan tisu hati-hati.
“Begini, dengarkan aku bocah” Zain memberi jeda dengan menyesap espresso “keturunan ayahmu harus diteruskan. Aku tidak yakin kau akan berumur panjang sementara kakakmu berubah menjadi monster. Jika bayi itu hidup, dia yang akan menggantikanmu jika kau mati. Kenapa pusing dengan bayi? Aku bahkan tidak yakin kau akan memiliki pasangan lalu meneruskan garis keturunan. Kau bahkan payah dalam semua hal, kau menyedihkan dan bodoh. Kemampuan sosialmu aneh dan mengerikan. Aku tidak bisa berharap apapun selain nirempatimu untuk meneruskan bisnis ini”
Kata-kata itu menyakiti Aslan. Namun ia sadar apa yang dilontarkan Zain adalah benar.
“Sudah bagus, kerjamu sudah berkembang signifikan. Tapi kau tetap bocah menyedihkan. Selain harta peninggalan pria yang kau bunuh, kau hanya anjing tidak berguna yang akan mengorek sampah untuk makan. Jadi. Tetaplah duduk di posisimu sebagai nomor satu. Jangan menggangguku, hm? Aku bukan orang yang bisa di ganggu” terdengar helaan napas dari Zain. Aslan melamun.
“Pulanglah, makan makanan enak, pijat, sesekali bermain dengan gadis jika penismu normal, atau dengan lelaki. Kulihat kau mirip penyandang penyimpangan seksual. Kau terlalu cantik untuk pekerjaan ini” jeda, Zain mengerutkan dahi “tunggu, tadi kau sempat bilang akan perang secara terbuka denganku?”
Pertanyaan itu tak mendapat jawaban. Aslan hanya menatap Zain kosong.
“Apa kau menjilat Jaka? Si kepribadian ganda gila?” pertanyaannya lagi-lagi tak mendapat jawaban. Lalu Zain tertawa lagi “kau berani mengadakan perang terbuka denganku karena kau merasa dekat dengan Jaka? Hahahahahhahahah lucu sekali, sialan” Zain lagi-lagi tergelak, tawanya membahana “oh.. Hari ini mood ku buruk. Tapi kau datang membawa tawa”
Aslan benar-benar diam. Bukan ia tidak sadar jika selama ini segala hal yang ia kerjakan merupakan panduan dari Zain. Pria itu selalu menyebalkan, seenaknya sendiri dan sangat gemar merendahkan. Tidak peduli siapa yang memiliki hierarki tertinggi di mata dunia, Zain akan menghancurkan itu. Yang pria itu tahu adalah keinginannya terpenuhi dan akan membunuh siapa saja yang tak patuh. Zain seperti itu dan Aslan bukan seseorang yang mampu melawan Zain tanpa persiapan matang.
Diam-diam, Aslan merencanakan hal lain, hal yang bisa membuatnya tidak lagi di setir oleh pria edan itu. Meski tidak tahu bagaimana. Berkomplotan dengan Jaka juga terdengar tidak bagus—mengingat bagaimana Zain mengolok-oloknya.
Zain kemudian meninggalkannya begitu saja. Pria itu bernyanyi sambil memegang kopi—menaiki anak tangga sesekali tergelak khas orang gila.
Aslan akhirnya bangkit dan pulang.
Meski tidak tahu adakah tempat yang benar-benar bisa mambawanya pulang.
Tempat yang tidak ada siapapun menyambutnya. Tidak ada Erlan, juga ibunya. Tempat mimpi buruk dan semua hal terjadi. Jika boleh memilih takdir, ia hanya ingin hidup normal tanpa penyakit aneh. Lalu memiliki keluarga sederhana yang tidak gila.
Tentu saja pikirannya itu akan ditertawakan jika keluar. Mengingat bagaimana ia mengikis rasa kemanusiaannya perlahan-lahan hingga tandas. Bisnisnya menggurita. Penghasilannya membumbung dan uangnya tak terhingga.
Aslan terbisa melihat anak-anak saling berebut makanan saat ia lemparkan di dalam pabrik mirip ayam. Atau melihat para gadis pekerja seks komersial di gedung lain yang menderita penyakit keras akibat pekerjaan itu sendiri dan tidak di obati, tidak juga diizinkan keluar. Hanya di kurung dalam kamar tanpa diberi makan hingga tewas.
Atau para pekerja di bidang manapun dalam lingkup wilayahnya yang sakit, maka Aslan akan membedah tubuh mereka lalu mengambil organ penting untuk kembali diperjualbelikan di pasar gelap.
Sungguh memalukan jika ia mengutarakan hal-hal hangat, hal-hal manusiawai sementara ia tahu tidak ada lagi sisi manusia dalam dirinya. Bukan Erlan yang monster, tapi diri sendiri. Kendati perangainya mengerikan, ia benar-benar rindu kehidupan—dimana tidak ada rasa takut, tidak ada cemas. Maka, jika hidupnya penuh ketakutan dan cemas, maka orang lain juga harus hidup seperti itu.
Jika saja..
Jika saja ia hanya memiliki ayah dan ibu orang biasa, juga tanpa penyakit aneh serta kakak sebaik Erlan, maka, ia hanya akan hidup. Menjalani hidup seperti orang-orang biasa tanpa perlu berlatih melepas empatinya. Jika saja ia tidak menjadikan Erlan monster, jika saja ia tidak mendengarkan Zain hari itu. Dan jika saja ia tidak selalu merasa kurang pantas karena ayahnya selalu pilih kasih. Dan jika saja… maka, semua orang di dunia ini berhak bahagia. Tapi kenyataannya tidak. Jika ia menderita, kosong, tidak bahagia, maka, semua orang juga harus demikian.
Pria itu melamun dalam kamar. Menatap ruang yang itu-itu saja sambil memikirkan bagaimana caranya hidup tenang. Atau terlambat? Atau bagaimana cara membuat orang lain di sekitarnya ikut merasakan hal yang sama.
Ada hari-hari ia sadar bahwa Zain bukanlah orang yang bisa dijadikan pegangan, apalagi bersandar. Pria itu jelas tidak waras. Kenapa orang tidak waras memandu orang lain? Zain, pria dewasa itu juga monster. Aslan tahu, bahkan untuk tidur saja sulit. Pasti sangat menderita. Mengingat penderitaan orang lain, Aslan tersenyum.
Lalu pikirannya melompat. Bertanya-tanya pada hampa, mengapa harta dan jabatan tak juga membuatnya bahagia? Sebenarnya, apa yang dicari? Pikiran semacam itu datang dan pergi, tanpa benar-benar mendapat jawaban.
Pintu terketuk dan itu mengingatkannya pada Erlan.
Tak berselang hingga pelayan masuk dan mengabarkan jika Jaka datang. Aslan mengangguk mempersilahkan, dan pria itu datang dengan jasnya sekaligus tas berisi hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan pria itu.
“Sedang banyak pikiran?” wajah tampannya membuat Aslan ingin menatapnya beberapa detik. Jenis ketampanan yang berbeda dengan Zain. Jaka memiliki aura seorang kakak yang kuat. Seolah, pria itu akan melindunginya dari rasa takut. Wajahnya teduh, meski hingga hari ini, tak ada yang bisa menandingi kakaknya—Erlan. Aslan hanya sedang memandingkan Jaka dan si gila Zain. Meski Zain juga mengatakan Jaka adalah gila, namun baginya tidak, atau belum. Tidak tahu. Tidak ada yang benar-benar bisa dipercaya, juga waras dalam industri ini.
Aslan tidak menjawab. Pria yang duduk di sisi ranjangnya memasangkan sphygmomanometer, mulai mengecek tensi, lalu hal-hal lain seperti biasa.
“Apa ada yang mengganggu pikiranmu hari ini, nak?” tanya Jaka lagi, saat ungkapannya yang pertama tak mendapat jawaban.
Aslan masih diam beberapa saat. Hingga Jaka memberitahu jika darahnya normal.
“Apa kau bisa membunuh Zain?”
Pertanyaan di balas pertanyaan. Jaka diam sebentar, matanya beradu dengan milik Aslan.
“Tiba-tiba? Apa dia telah sampai puncak menjengkelkan?” Jaka tertawa, namun jenis tawa yang terkontrol tanpa humor.
“Hm”
Jaka mengangguk-angguk ambigu.
“Sebenarnya aku tidak memiliki kepentingan untuk menghabiskan energi berkelahi dengan setan kecil itu. Tapi jika kau yang meminta, akan kuusahakan”
“Kau berbohong” kata Aslan.
“Apanya?”
“Kalian berteman di belakangku”
“Apa aku ketahuan sekarang?” Jaka tertawa lagi, kali ini agak lama. “Dengar, Nak. Tidak ada yang benar-benar musuh, juga teman. Kau tau, kau sudah berada dalam dunia yang seperti ini cukup lama. Siapa yang paling menguntungkan, dia adalah teman”
“Apa keuntunganmu dekat denganku? Kupikir kau tidak terlalu tertarik dengan uang” Aslan memicing.
“Dekat denganmu, aku memiliki lab dengan fasilitas sangat lengkap. Aku seperti bisa menciptakan manusia baru dengan potongan-potongan tubuh dari manusia lain meski kotras dengan DNA. Lab mu terbaik dan hanya kau yang bisa memberiku itu. Juga, kelegalan yang tak akan mudah di dapat” siapa saja tahu apa maksud Jaka. Pria itu juga yang membedah seluruh tubuh pekerja untuk di ambil organ dan diperjual belikan. Sisanya, Aslan tidak akan peduli apa yang hendak dilakukan pria itu dalam lab.
“Terdengar sangat sederhana untuk ukuran ‘mau melawan Zain’ untukku”
Jaka menghela napas. Lalu memandang Aslan teduh “apa Zain semengerikan itu di matamu, hingga dari caramu membicarakannya seolah dia adalah Dewa yang tak akan terkalahkan? Dimataku, Zain adalah anak-anak. Jadi bukan hal besar jika hanya untuk membunuhnya”
Aslan melamun lagi. Hanya duduk diam dengan mata hampa.
Agak lama ia seperti itu. Pula Jaka yang tak lantas membuka percakapan lagi. Ia sibuk mengecek seluruh tubuh Aslan dengan membuka pakaian pria itu.
“Bersih tak ada luka, tidak ada memar, dan tidak kering. Kau sehat” katanya lagi. Kata-kata mirip template yang diucapkannya seminggu tiga kali.
“Jaka, menurutmu, kepada siapa aku boleh percaya dalam dunia gila ini?” baru kemudian matanya lurus pada Jaka. Agak lama manik mereka beradu.
“Percaya pada detak jantungmu. Percaya pada apa-apa yang kau tanamkan dalam dirimu. Berhenti menjadikan olokan orang lain sebagai standar dirimu, kau tidak buruk. Kau dilahirkan untuk menajalani kehidupan layak dan bahagia”
Aslan mengerutkan dahi. Awalnya, ia mengira Jaka adalah yang paling waras. Namun setelah mendengar pria itu mengatakan hal menjijikan, keyakinannya pecah.
“Aku benar-benar benci kata-kata penyemangat atau motivasi hasil mencomot dari sosial media lalu di lontarkan dari mulut kriminal. Tampaknya jika aku mengenalmu semakin dalam, kau lebih gila”
Jaka terbahak-bahak. Ia menepuk-nepuk pundak Aslan lembut.
“Aku suka sekali padamu, Aslan. Mau minum kopi bersama?” Jaka menenangkan dirinya yang tergelak, lalu kembali mengancingkan pakaian Aslan “aku sudah mengatakan ratusan kali meski mungkin kau tidak akan tertarik konsultasi padaku. Aku adalah seorang psikiater andal”
“Bagaimana caranya orang gila menjadi dokter jiwa?”
“Aku memahami semua orang, aku memahamimu”
“Itu paling mengerikan”
“Ya, kupikir begitu” Jaka selesai dengan semuanya. Lantas pria itu pamit keluar. Sebelum benar-benar pergi, ia berdiri beberapa detik di ambang pintu.
“Tidak ada yang bisa dipercaya. Kau, aku, atau sialan siapapun di luar sana, semuanya berpotensi menjadi pengkhianat. Maka perhatikan siapa yang ada di sebelahmu. Tapi aku, aku menyukaimu, Aslan, sungguh” tertawa lagi, seolah wajahnya di desain dua rupa. Untuk tawa, dan datar yang benar-benar tak terbaca.
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Dua hari yang lalu, ia benar-benar merealisasi ajakan jaka untuk minum kopi. Saat itu, Jaka mengatakan banyak hal tentang Erlan. Dari tempat tinggal, cara perawatan hingga cara menstabilkan mental yang terganggu. Jaka merekomendasikan ‘white room’ sebagai terapi. Karena selama ini Erlan sering berisik dan mengganggu, maka, Jaka mengusulkan cara itu agar monster itu lebih stabil.
Aslan baru mendengar yang itu. Ia juga bertanya apakah ada efek samping pada kakaknya jika menerapkan terapi ‘white room’ namun Jaka mengatakan semuanya baik-baik saja. Maka, hari ini, Erlan di pindahkan ke ruang khusus yang telah disiapkan.
Semuanya berwarna putih.
Lantai, dinding, atap, kusen, ranjang, selimut, sprei, peralatan makan, makanan juga serta minum juga. Semuanya warna putih.
Jaka bilang, itu adalah terapi paling mutakhir untuk menjinakkan monster juga untuk kesetabilan. Aslan patuh saja.
Awalnya semua baik-baik saja.
Hari pertama, hari kedua, hari ketiga.
Baik-baik saja karena Aslan tidak terlalu perhatian. Namun di hari ketujuh, saat ia menengok kakaknya, realitas sang kakak terasa makin kabur. Erlan mulai berhalusinasi dan juga mengalami delusi. Kata perawat, monster itu kerap mengalami kecemasan tinggi, kadang juga mengalami mati rasa total. Memorinya mulai goyah.
Lantas Aslan mendatangi Jaka.
Jaka hanya mengatakan bahwa itu efek awal, perlu beberapa bulan agar terapi mulai sepenuhnya bekerja. Maka, ia meminta bocah itu untuk tidak khawatir.
Dan setelah malam Aslan terus bertanya dan penuh curiga atas pola kakaknya yang semaki aneh, Jaka pergi ke rumah Zain dengan pakaian olahraga. Tangannya menenteng raket berencana mengajak bermain meski Zain tidak pernah sudi memenuhi keinginan pria itu.
Tidak tahu apa yang ia katakan pada pengawal di depan. Jaka telah berada di ruang olahraga. Ruang dimana menjadi tempat berlatih, atau sekedar memukul jika sedang jengkel dan bosan. Dan Zain ada di sana. Berdua dengan samsaknya yang bergerak maju mundur setelah pukulan mematikan dilayangkan.
Keringat bercucuran. Ia melirik pada eksistensi baru. Jaka melepas ransel dan meneguk air, matanya lurus pada Zain yang juga memperhatikannya.
“Bangsat” sapaan yang ramah dari Zain. Jaka tersenyum manis seperti kata-kata itu adalah sambutan selamat datang.
“Aslan memintaku membunuhmu” lalu ia membuka tas raket—melemparnya satu pada Zain yang mau tidak mau ditangkap.
“Waw” jawab Zain asal. Ia melemparkan raket lagi karena tidak sudi bermain “kalau begitu, sampai bertemu di pertempuran, sialan. Kita lanjutkan cerita kita yang tidak selesai”
“Aku akan membunuh Erlan” kata Jaka. Lontaran itu berhasil membuat perhatian Zain tersita. “Kau tau, Erlan sulit ditangani. Bahkan senjata api tidak akan membuatnya mati. Aku akan membunuh Erlan atau membuatnya lemah” pria itu terlihat berpikir “naiklah. Aku butuh lab lebih besar dan para pakar dari luar negeri. Aku ingin bereksperimen dengan potongan tubuh. Aku ingin unlimited. Aku akan menyingkirkan Aslan” terang pria itu tanpa aling-aling.
“Naik sendiri, bodoh. Bekerja di perusahaan hanya membuatku seperti dungu berdasi. Aku tidak sudi. Aku akan kerja jika ingin dan sisanya hanya duduk sampai mati menikmati espresso. Siapa kau berani menyuruhku? Dan kenapa aku harus menurutimu?”
“Karena, kita teman. Aku mencintaimu, Zain, sungguh”
Jaka tertawa terbahak-bahak sementara Zain meludahi meski tak kena.
“Aku sungguh, maksudku, aku akan melemahkan Erlan. Jika kau tidak ingin ikut campur, maka diam lah”
“Kau dungu” kata Zain. “Peralat si pirang bodoh. Dia akan menuruti apapun yang kau inginkan, dia adalah si menyedihkan yang kesepian. Jika memang tidak mempan dengan halus, maka pukul. Dia sudah bagus memimpin meski penuh keraguan. Kepalaku pusing jika terus menghadiri rapat, aku akan pensiun dini. Kau mengerti maksudku. Sudah bagus perusahaan tidak ambruk. Meski menyedihkan dan bodoh, dia bisa kuandalkan”
Ada jeda agak lama. Jaka sepenuhnya paham apa yang disampaikan Zain. akan sulit membuat perusahaan sang raja kosong tanpa pemimpin. Lagipula akan menjadi perdebatan serta keberatan dari banyak pihak jika yang naik bukanlah anak dari raja sebelumnya. Maka, sebelum bayi Ben besar, Aslan berperan penting untuk kestabilan. Meski bohong jika Zain tidak ikut campur.
“Ikutlah denganku, buat semua orang dipihak kita” kata Jaka lagi.
“Sudah ku bilang aku tidak tertarik. Bergeraklah sendiri”
“Aku akan menyerang perusahaan dan melawan seluruh sub unit. Membuat mereka tunduk padaku. Aku butuh bantuanmu sementara untuk menghandle perusahaan. Aku tidak akan membunuh Aslan. Aku hanya akan mengirimnya ke rumah sakit jiwa setelah membunuh kakaknya”
“Kalau begitu tidak perlu menyerang. Katakan saja bahwa kau menjadi kaki tangan Aslan. Dan berhentilah menjadi bodoh untuk menyesaki kegilaanmu” kata Zain apatis.
“Oh.. lihatlah singa kecil ini…” Jaka tertawa “dia mengoceh tentang kegilaan. Siapa yang paling gila di antara kita?”
Zain duduk lalu meneguk air.
“Aku tidak naik bukan karena aku tidak butuh. Aku hanya malas. Tapi perusahaan sangat penting. Aku membesarkan Aslan lalu membuatnya memimpin meski tidak sempurna namun mumpuni. Kenapa aku harus bersusah menuruti kata-katamu yang kontradiksi?”
Jaka memasang sarung tangan dan pelindung lutut seperti orang akan naik sepeda.
“Kau terlalu meremehkan Aslan. Kau tidak tahu bahwa mungkin saja dia telah memiliki rencana lain untuk membunuhmu” lalu ia menatap Zain dengan seringai “berlagaklah menyerang perusahaan, katakan bahwa Aslan gila. Kau adalah orang kepercayaan raja. Mustahil orang-orang tidak percaya. Jika kau tidak mau, aku akan naik, asal berikan aku akses lab lebih luas. Kita kirim Aslan ke rumah sakit jiwa”
“Dan aku sangat senang jika Aslan bisa membunuhku. Mendengarnya saja membuat darahku membara, aku sangat rindu gejolak itu, aku haus pertempuran” kata Zain sambil bangkit. Ia lantas menyerang Jaka dan keduanya berkelahi dengan cara paling mengerikan meski tanpa senjata.
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Enam bulan berlalu.
Erlan menjadi gila. Monster itu terus butuh obat penenang agar tidak menghancurkan segalanya. Kendati, Aslan tidak melepaskan kakaknya dari ruang putih itu. Kehidupan makhluk itu 90 persen adalah tidur. Lalu saat sadar, ia akan menangis dan mencari adiknya. Begitu terus. Namun Aslan sangat jarang mengunjungi mengingat pekerjaannya yang padat.
Juga tidak ada yang benar-benar menyerang.
Perkelahian antara Jaka dan Zain berakhir tanpa makna. Zain tidak akan mendengarkan siapapun kecuali keinginannya sendiri dan Jaka tidak akan ambil resiko dengan membunuh bocah itu meski jelas ia juga akan terluka parah.
Maka, selama enam bulan kehidupan berjalan seperti biasa.
Namun sudah satu minggu yang lalu Ben datang. Pria itu memenuhi panggilan Aslan untuk bergabung dengan serangkaian ancaman kanak-kanak namun berhasil membuat Ben takut. Jenis ancaman tidak serius, namun serius. Aslan mengatakan akan mengambil Chila dan merawatnya sendiri. Ia juga memaparkan jika memiliki hak atas bocah itu dengan segala celoteh panjang namun membawa bukti yang hingga hari ini tak berani di buka.
Bukan, pasalnya, Ibrahim terus mengoceh bahwa Chila bukan anaknya. Lalu Zain tidak mengatakan apa-apa, sementara Aslan lebih parah. Ben pusing. Syarat yang diberikan Aslan hanya menjadi pengawalnya di kantor pusat. Dan sejak bergabung seminggu yang lalu, Ben baru mengerti, manusia jenis apa Aslan si pirang yang terlihat seperti cangkang kosong dan kerap tertawa di waktu yang tidak tepat itu.
Hari ini, Aslan mengajak Ben untuk pemeriksaan rutin. Dalam ruang khusus di kantor. Tidak tahu, Aslan hanya menyukai Ben dan berharap Ben mau berteman dengannya meski tidak. Ben bukan orang yang mudah di ajak berteman. Pria pendiam itu juga kesulitan berteman sementara Aslan haus teman.
Aslan bertelanjang diri. Dokter mulai memeriksa semuanya.
“Mengapa di periksa seperti itu? Apa kau memiliki penyakit kronis?” tanya Ben penasaran. Sejak tadi dokter hanya mencatat lalu melihat, mencatat lagi, lalu melihat. Tidak ada yang benar-benar di lakukan setelah tensi dan pemeriksaan umum lain.
“Tidak juga, aku hanya harus di periksa” kata Aslan ramah. Namun Ben sudah tidak akan tertipu dengan suara lembut dan perangai manis. Aslan adalah monster. Tentu saja setelah ia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk dipamerkan betapa mengerikannya pria nomor satu di sana.
“Mengapa tidak mati saja? Pasti kematianmu adalah hal yang paling ditunggu banyak orang” kata Ben lagi. Kali ini terdengar lebih keji. Aslan tertawa renyah.
“Ben.. oh..” tubuhnya terguncang karena tertawa “jika aku mati, maukah kau menangisiku sebentar saja? Pandangi pusaraku”
“Menjijikan” jawab Ben cepat. Aslan tertawa lagi. Seperti wajah itu diciptakan memang untuk tertawa “kau mengubah kakakmu menjadi monster, kau tidak memberi makan layak pada pekerja anak-anak dibawah umur, kau juga menjual organ manusia secara ilegal. Kau mempekerjakan gadis belia juga tanpa upah. Kau pantas di neraka”
“Aku tau” suara napasnya kali ini lebih dalam. Dokter kembali memakaikan baju. Dan tidak ada Jaka hari ini.
“Tapi, Ben. Uangku banyak. Maukah kau kuberi satu karung uang? Hanya tolong sayangi aku” tidak ada patetik. Pria itu mengatakannya persis bercanda, padahal tidak “bayangkan Chila besar sebagai orang miskin. Dia akan dirundung atau kurang gizi. Tidak ada yang lebih menyedihkan dari hidup miskin. Maka, jangan terlalu kencang. Kadang aku tidak sabaran. Padahal aku serius ingin menjadikanmu teman. Tapi selalu tertolak”
“Tidak akan ada yang mau berteman dengamu kecuali setan”
“Benarkah?” alis Aslan bertaut “Ben, di dunia ini, apa yang paling kau takuti?”
Pertanyaan itu terdengar seperti jebakan. Ben menimbang untuk menjawabnya.
“Tidak ada”
“Lalu, alasanmu bekerja disini?”
Ancaman akan pengambilan Chila atau sialan lainnya.
Namun Ben memilih diam.
“Kita semua punya ketakutan. Dan kita semua berusaha agar ketakutan itu tidak berubah menjadi nyata. Aku, kau dan semua orang, berusaha keras agar tidak ketakutan. Lalu, kenapa hanya aku yang jadi penjahat? Aku memiliki alasan juga, Ben” baru suaranya melemah. Pria itu menunduk “aku bukan sedang meminta dibenarkan. Aku hanya mengajakmu berteman. Tapi sulit, ya?”
“Jika sudah tidak ada urusan, aku akan keluar” ucap Ben cepat, seolah ruangan itu menjadi sangat panas hingga keringat jatuh dari pelipis ke pipi. Ben tidak yakin. Padahal pendingin bekerja dengan baik.
“Aku menggajimu, Ben. Kau tidak berhak. Kau bahkan tidak berhak bernapas jika tidak ku izinkan”
“Orang gila”
“Aku sering mendengarnya. Sudah berapa lama kau disini? Mengumpatiku biasanya akan kuhukum dengan memotong jari. Aku bersabar karena menganggapmu teman”
Ben spontan diam. Ia tidak jadi pergi.
“Kupikir kita memiliki kesamaan. Kau..” Aslan menunjuk Ben “anak yang dibuang oleh keluargamu dan dipungut bajingan yang memaksamu hidup miskin” Ben mencerna kata-kata Aslan namun tetap tidak mengerti maksudnya, tidak juga bertanya. Ia hanya menganggap jika Aslan mengoceh seperti pecandu narkoba.
“Dunia tidak adil, kan? Itu sebabnya aku menyukaimu. Tapi kau memilih hidup lurus dan menjadi manusia utuh. Aku iri. Oh.. hidupku hanya dipenuhi rasa iri. Itu menyiksa”
“Apa aku dipekerjakan hanya untuk mendengar omong kosong penjahat?” Ben benar-benar kesulitan mengontrol ucapannya. Jika saja bisa, ia ingin sekali menebas kepala Aslan dengan parang.
“Ya… maksudku tidak. Aku bisa membayarmu untuk menemaniku menonton film, kita pergi jalan-jalan atau berbelanja. Jangan salah paham, aku bukan tertarik padamu seperti pasangan. Aku hanya butuh teman”
Ben tidak menjawab. Sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak menjawab. Karena jika keluar, itu akan masuk dalam hitungan mencaci maki dan ia sedang tidak ingin mengambil kemungkinan paling buruk jika jerijinya di potong. Meski terdengar bercanda, tidak ada yang benar-benar tau apa yang akan dilakukan pria sinting itu.
Sambil berpikir untuk nekat menemui Zain dan meminta pria itu mengkudeta perusahaan Aslan.
Ya, Ben memikirkan itu sejak seminggu yang lalu. Tidak masalah jika ia datang dan Zain memukulinya sampai mati, yang penting katakan dulu.
“Berpikir mau membunuhku?” ungakapan itu kontan membuat Ben kaget. Ia menatap Aslan yang terpejam santai. Lalu kembali membuka mata “aku tau tatapan itu, begitu banyak yang seperti itu. Satu mata yang memandangku dengan penuh cinta, kini telah berubah. Menyesal pun terdengar begitu menyedihkan. Aku bermimpi bahwa suatu saat akan ada yang menatapku penuh cinta, konyol kan?” Aslan tertawa lagi “bahkan terdengar aneh saat kata ‘cinta’ keluar dari mulutku. Seperti aku ini diciptakan untuk menjadi penjahat. Tapi, tahukah kau? Aku tidak langsung lahir seperti ini”
Ben masih diam, namun menyimak.
“Sungguh, aku tidak tahu bagaimana mengekspresikan cinta. Jika aku takut kehilangan sesuatu, aku berupaya menjadikan seseorang itu abadi atau paling tidak, tidak akan mati sebelum aku. Aku begitu takut kehilangan, aku takut di tinggalkan dan aku benar-benar benci rasa takut dan was-was yang tidak pernah kumengerti” jeda dengan jakun yang naik turun karena liur yang di telan susah.
“Tahukah kau? Aku masuk dalam kegelapan ini saat usiaku 10 tahun. Beberapa orang masuk dan mendukungku, mencekokku dengan berbagai ideologi. Kepalaku tersusun dari isi kepala beberapa orang. Dan jika kau lihat aku tumbuh menjadi penjahat, bukankah keterlaluan jika melimpahkan seluruh kesalahan padaku? Aku benar-benar tidak punya pegangan”
“Lalu, kau berharap orang-orang yang kau siksa ikut menyalahkan pola asuhmu yang keliru? As, aku besar dari tempat sampah, namun aku berusaha untuk tidak menjadi sampah. Sementara kau, kau lahir dari pola asuh kriminal, mengapa tidak memberontak? Bukankah karena itu bakatmu, menjadi kriminal? Kau terus sibuk mencari pembenaran dan menjual cerita sedih agar kelakuanmu bisa di maafkan. Hanya orang gila yang meromantisasi kriminal”
Hening agak lama. Deru mesin pendingin dan detak jantung tiba-tiba terasa lebih nyaring dari apapun.
“Aku harap aku bisa mengulangnya, hari dimana aku menusuk tua bangka sialan itu. Dan hidupku berputar disana sampai aku mati” Aslan memberikan isyarat agar Ben keluar. Sementara ia memejamkan mata.
Tidak akan ada yang mengerti dengan perasaannya kecuali kakaknya yang kini semakin kacau. Rasanya dunia semakin gelap, rumit, dan seperti bukan tempat ideal untuknya tinggal.
Kata Zain, harus memukul dulu agar tidak dipukul.
Mengantisipasi semua hal sebelum ketakutan menyerang. Harus bergerak lebih lebih dulu, harus lebih tinggi, harus lebih dari siapapun. Maka, semuanya akan baik-baik saja. Dunia akan semakin cerah dan hidup akan bahagia. Namun ocehan yang dilontarkan sekitar tujuh tahun yang lalu, masih belum ia temukan—maksudnya, letak kebahagiaan. Sialan Zain, pria itu juga bahkan tidak bahagia. Bisa-bisanya bercermah tentang kebahagiaan pada bocah 10 tahun yang hidup tanpa arah dan perasaan suram. Bocah yang mudah goyah dan butuh sandaran. Pria tidak bahagia yang mengoceh tentang kebahagiaan. Pendongeng andal.
Meski terlambat, Aslan mengerti jika ia adalah korban manipulasi bertahap, dimana Zain membangun kepercayaan dengannya—sejak dulu dengan tujuan mengeksploitasi. Meski kini, Zain melepaskannya tanpa banyak berkomentar untuk jangan ini atau harus itu. Namun kepercayaan yang ditanamkan benar-benar membentuknya menjadi pribadi yang sekarang.
Atau mungkin benar apa yang dikatakan Ben bahwa bibit kriminal sebenarnya telah ada dalam diri. Aslan hanya sibuk mencari kambing hitam yang bisa di salahkan meski sebenarnya, ia ingin sekali mengakhiri semuanya.
Semuanya. Hidupnya, kakaknya, dan mati.
Pikiran itu datang terlalu sering, sesering kecemasan yang tidak pernah benar-benar sembuh meski dengan obat.
Tidak ada yang berubah dari menjadi nomor satu. Tidak ada teman, tidak ada kerabat, juga orang dekat. Hidupnya benar-benar kesepian dan menyedihkan.
Keluar, bertemu orang baru, berkunjung ke tampat bagus, menikamti hidangan terenak, lantas bercinta dengan gadis. Semuanya telah dilakukan, bahkan jika ada usulan untuk ini dan itu dari internet, maka Aslan akan pergi untuk sekedar mencari kesenangan yang sebetulnya tidak pernah benar-benar ia rasakan. Rasanya seperti hanya menempel di permukaan tanpa benar-benar menyerap. Ia tidak tahu bagaimana bahagia, bagaimana rasa sakit dan bagaimana caranya menjadi manusia utuh.
Dan bagian paling menyesakkan adalah saat kembali ke hotel, ke kamar—lepas menghabiskan waktu di luar untuk tujuan senang-senang. Semuanya kosong, hampa, hening. Tidak ada siapapun. Rasanya semakin menyakitkan.
Namun berbeda saat ia mengunjungi tempat dimana orang-orang mengaggapnya seperti dewa–tempat dimana sebutir telur terasa bermakna. Maka, ada sedikit perasaan hangat. Ia merasa bisa menjadi tuhan. Dan dari puncak rantai tertinggi, menjadi Tuhan lah yang paling aman. Tuhan adalah klimaksnya dan Aslan ingin menjadi Tuhan.
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Ungkapan klise tentang hari sial tidak ada dalam kalender benar-benar menjengkelkan jika terjadi sungguhan.
Sejujurnya, Aslan tidak mengerti alasan mengapa semua orang membencinya. Bukan, ia tidak sedang membicarakan para pekerja yang tidak mendapat kehidupan yang layak setelah terperangkap, ini tentang para sub unit. Tentang orang-orang yang andil membesarkannya, ada di belakangnya dan selama ini menjadi alasan mengapa ia sampai di puncak ini.
Kenapa membimbingnya sampai kemari jika untuk dihancurkan?
Pagi itu kondisi perusahaan utama keos. Zain datang bersama para pengkhianat secara tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya—datang memukul siapa saja yang terlihat matanya.
Ada Ben, Ibrahim, dan Jaka.
Zain memukuli semua orang seperti gila yang kalap. Ben dan Ibrahim membantu meski hampir tidak berguna sementara Jaka naik ke ruang dimana satu-satunya monster yang ingin ia lenyapkan masih ada.
Ia menuju ke ruangan Erlan yang tengah terlelap.
Kabar itu langsung di sampaikan pada Aslan. Saat mengetahui perusahaan utama di serang Zain, Aslan hanya diam di rumah. Pria itu mematung—duduk dalam kamar sambil menatap kosong pada jendala. Sebenarnya ia tidak mengerti. Sungguh, ia tidak tahu kenapa.
Jika Zain menginginkan posisinya, pasti dengan sukarela akan ia berikan. Toh, selama ini ia hanya manusia lemah yang takut terluka karena tidak bisa merasakan sakit. Orang yang hidup dalam kekhawatiran dan menutupi seluruh ketakutannya dengan ikut membuat banyak orang takut. Lantas, apa alasan Zain menyerangnya? Apa yang diinginkan? Orang gila itu hanya berbuat sesukanya. Membangun, lalu dihancurkan sendiri. Ia tidak mengerti.
Tapi rasa sesak dalam dada benar-benar mengganggu. Pergi ke perusahaan utama pun, ia tidak berani. Meski berkali-kali berpikir untuk mati, namun di hadapkan pada hal-hal demikian, tetap membuatnya takut. Pada dasarnya, Aslan memang merasa diri adalah pecundang menyedihkan. Sejak dulu, sejak ayahnya memang benar-benar menganggapnya begitu. Bukankah ada alasan untuk semua ungkapan? Pria itu melamun, seperti tubuh dan jiwanya terlepas. Ia tidak tahu, hanya seperti tenggelam dalam air keruh berisi kotoran.
“Tuan,” suara pelayan membawanya kembali naik ke permukaan. Wajah Aslan pucat pasi. Ia melirik ke belakang—tempat pelayan berusia akhir lima puluh menunduk dengan penuh hormat. Sambil bertanya-tanya dalam hati, apakah jika ia memberikan uang lebih banyak, pelayan itu mau menjadi temannya?
“Tuan Erlan terdesak. Ada panggilan darurat. Katanya, sebaiknya anda ke sana untuk memberi titah”
“Sudah ada Kenneth dan Johan. Aku sudah memerintahkan mereka untuk mengerahkan seluruh pasukan. Jika kalah, ya sudah. Hanya orang gila yang bisa melawan Zain. Dia bisa menghabisi ribuan orang sendirian. Lalu, aku harus apa?” putus asa. Suaranya serak. Berkali-kali ia buang pikiran khawatir tentang kakaknya. Sambil ia remas tangannya sendiri lalu bersugesti bahwa Erlan akan baik-baik saja dan melindunginya.
Sang pelayan tidak menjawab, ia undur diri dan Aslan kembali menatap kosong pada pemandangan—hamparan hutan pinus. Hatinya seperti di remas-remas. Bernapas pun salah.
Lantas karena rasa khawatir yang seperti akan membuatnya melompat ke luar, Aslan memilih mengambil obat tidur di atas nakas.
Lebih baik tidur, ia pun sedang tidak ingin menangis meski dadanya penuh dan sakit.
Kenapa hanya bisa sakit hati?
Kenapa tidak sakit saat luka? Kenapa penakut? Kenapa begitu lemah? Pikiran-pikiran berisik saling bersahut-sahutan. Ingin sekali ia lepas kepala itu, lalu hidup dengan dingin. Sejauh ini, selama ini, sekeras ia mencoba untuk sampai di atas, membangun pembawaan mengerikan tanpa hati, hanya agar tidak ada yang meremehkannya. Nyatanya, semua benar-benar tidak berarti.
Suara dikepalanya baru berhenti saat obat bekerja. Semuanya seakan senyap, dingin, hening. Tidak ada kekhawatiran dan takut. Sambil berbisik bahwa hari esok akan lebih cerah dan semuanya baik-baik saja.
Saat cahaya putih masuk dan mimpi indah datang.
Saat semuanya di lepaskan dan hatinya lapang. Tidak ada kekhawatiran lagi, semuanya telah selesai. Aslan memeluk cahaya itu dengan tinggi tubuh hanya sepinggang orang dewasa. Berlari-lari ia ke sana ke mari sambil menjerit memanggil ibunya karena kakaknya menakali—bergurau.
Seandainya begini saja.
Hidup tanpa ketakutan akan ditinggalkan.
Tanpa khawatir di khianati.
Dan memohon pada siapapun untuk jangan membangunkannya dari mimpi.
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Bangun, bangun!
Suara kakaknya berdentang seperti lonceng di depan stasiun. Di tengah-tengah orang-orang yang berlalu lalang dan bercakap-cakap menggunakan bahasa campur-campur.
Matanya terbuka tepat saat seseorang menepuk pundaknya berkali-kali.
Seseorang menangis, tidak tahu menangisi apa.
“Apa?” kata Aslan bingung. Matanya merah dan ia mengusap wajahnya lembut.
“Tolong jangan terlalu hanyut, Tuan” kata pelayan. Tangisnya tidak mengecil.
“Apanya?” ia masih kebingungan. Seperti masih dalam mimpi namun ia sadar bukan.
“Tuan Erlan… m-meninggal” katanya terbata-bata.
Anjing.
Aslan bangkit buru-buru. Otaknya tak sempat memproses apa yang dikatakan sementara tubuhnya bergerak lebih dulu.
Tergopoh-gopoh langkahnya. Kakinya lunglai bagai permen jeli yang siap meleleh.
Di lantai satu, di ruang tamu.
Ia saksikan makhluk besar itu terbaring tak sadarkan diri. Mata merahnya tertutup, kelopak rapat begitu damai. Tidak ada lagi rintihan seperti selama ini, tidak ada lagi amukan dan rasa tidak nyaman. Benar-benar hening, tanpa napas, hanya diam.
Lendirnya masih disana. Hijau, pekat dan bergelambir.
Aslan mendekat. Matanya tak berkedip, apalagi berpaling. Para pengawal yang tersisa menunduk nyaris mengelilingi sang panglima yang gugur di medan tempur.
“Kak…” ia semakin dekat, “kak, sudah pulang?” kini jaraknya terkikis. Lendir menempel di celana dan bajunya “kau boleh menginap disini, malam ini. Di kamarku” air matanya turun dari ujung kelopak.
Lalu melamun agak lama.
Cukup lama.
Tangis hening. Ditatapnya wajah hingga seluruh tubuh itu lamat-lamat. Begitu mendetail hingga matanya perih karena kering.
Tetap sama, tak ada yang bergerak. Tubuh itu terlalu tenang dan damai hingga membuat Aslan takut.
“Kak…. aku sudah mengerjakan PR, aku sudah…” Aslan berjongkok. Lalu ia batuk, air matanya deras, sangat. Rambut pirangnya kini di penuhi lendir.
Kepalanya mendongak, lagi-lagi menatap tubuh besar yang terbujur kaku, lalu pada langit-langit, dinding, chandelier, para pengawal yang masih menunduk, serta kembali pada kelopak kakaknya, bibir pucat serta dingin.
“Kau berbohong. Padahal aku sudah tahu kau akan berbohong, tapi aku selalu percaya padamu… Kak, ayolah..” baru ia tergugu–bersuara, tangisnya tanpa nada.
“Kalau kau pergi, siapa yang akan melindungiku? Aku harus menjadi apalagi?” lantas Aslan memanggil salah satu pengawal—membawanya dalam isyarat.
“Bunuh aku.. Tembuskan peluru ke kepalaku” titahnya campur tangis. Namun sang pengawal menggeleng, tidak ikut menangis, namun menggigit bibir bawahnya untuk meredam pilu.
“Oh… sakit sekali..” ia mengelus dadanya, “hatiku sakit sekali..” napasnya sesak. Aslan jatuh ke lantai tepat di samping kakaknya.
“Bahkan pengawalku tak bersedia melakukan titahku.. Oh..” ia tertawa campur tangis. Kematian Erlan sama menyesakkannya dengan kepergian sang ibu. Saat kehilangan ibunya, Aslan menjadi makin pendiam, kini, ia tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi dunia saat tak ada lagi yang benar-benar bisa ia andalkan dan di jadikan tempat bersandar.
Tangis campur batuk. Lalu tersedak ludahnya sendiri. Aslan baru meraung-raung.
Tertawa, menangis lagi, tertawa lagi, lalu diam, melamun lama. Hingga kembali tak sadarkan diri, pria itu jatuh pingsan dalam posisi memeluk lengan besar kakaknya dari samping. Jejak air matanya bagai sungai dangkal yang kering, tubuhnya penuh lendir. Semuanya hilang dan gelap.
Lalu, harus kemana kubawa diriku?
Pada kubangan anak–anak yang mengais sampah dan mengunyah kulit telur? Atau pada tubuh-tubuh tergeletak kehilangan organ? Atau pada wanita-wanita yang merangkak dengan kemaluan penuh nanah?
Aku monster, kan? Akulah monsternya, aku adalah anak kriminal yang menuruni darah kriminal tanpa si kriminal itu mengakui bahwa dalam tubuhku mengalir darahnya. Tidak, atau mengakui namun terus mencercaku dengan ungapan pengecut?
Sebenarnya apa? Kenapa aku diciptakan? Untuk apa aku disini dan kenapa aku tidak bisa merasakan sakit sementara hanya hatiku yang luka? Kenapa aku penuh ketakutan? Kenapa hidupku di selimuti kekhawatiran yang tidak bertepi?
Dan kenapa aku tidak bahagia? Bahkan setelah semua hal? Kenapa? Apa yang salah? Bagian mana yang keliru?
Aslan bersumpah baru saja menutup mata, kesadarannya hilang dan berharap tidak akan pernah membuka mata. Namun entah bagaimana caranya kelopak itu lagi-lagi terbuka—meski kali ini bukan di samping tubuh kaku yang dingin.
Ia kenal tempat itu, sangat. Dinding skyblue, plafon yang rendah serta suhu yang hangat—kamarnya.
Ia juga melihat tiang infus menggantung dengan cairan yang menetes lambat. Tenggorokannya tidak kering, namun gatal, ia batuk. Mungkin saja suaranya membuat siapa saja datang.
Dan benar, datang.
“Sudah bangun?” pertanyaan tidak perlu. Namun tidak terlalu buruk untuk basa-basi. Aslan mengucek mata “kau sudah tiga hari pingsan, semua orang cemas”
Itu juga aneh. Aslan bersumpah baru terbaring di samping mayat kakaknya. Lalu tiba-tiba semua terasa melompat-lompat tidak jelas.
“Aku merawatmu selama ini.. Aku sangat menyukaimu, aku juga yang memastikan kau tetap hidup saat semua orang meninggalkanmu. Zain mengambil alih semuanya” kata Jaka, nyaris terdengar tanpa cela. Pun, Aslan tidak ingat, dahinya mengerut.
“Zain?” bukan, sebenarnya bukan itu yang ingin ditanyakan Aslan, melainkan sisa ingatannya tentang Jaka. lagi-lagi ia bersumpah bahawa baru saja pingsan karena kakaknya meninggal akibat bertarung entah dengan Zain atau Jaka.
Jaka.
Benar, pria yang berdiri di sisi ranjangnya kini adalah bagian dari sinting yang menyebabkan kakaknya meninggal. Aslan ingat meski hanya sebatas itu.
“Hm, Zain. Bocah itu menggila dan membunuh semua orang. Kau tau, Zain itu tidak sehat alias sakit jiwa” Jaka berdehem. Ia membenarkan laju infus yang baik-baik saja.
“Maaf karena waktu itu aku tidak cepat mendengarkanmu untuk membunuh Zain, lantas membiarkanmu mengalami hal sulit. Aku merasa bersalah hingga sulit tidur” wajahnya patetik dan penuh keyakinan. Ia tidak tahu apakah Jaka orang baik atau tidak. Benar-benar sulit membedakannya saat ini.
“Apa kakaku sudah dimakamkan?”
“Ya, sudah tiga hari yang lalu. Aku merawatmu sejak itu, disini, hanya kita berdua” kata Jaka lagi “bagaimana perasaanmu? Apa masih menyakitkan, maksudku, hatimu?”
Tidak langsung di jawab. Aslan yang awalnya melirik pada Jaka, kini kepalanya kembali lurus menatap plafon. Pun, ia tidak tahu apa yang dirasakan. Seperti datar saja, tidak sedih, tapi tidak bahagia juga. Namun yang pasti, ia melupakan kakaknya. Hatinya tidak sakit lagi, hanya kosong, seperti biasa.
“Aku melewatkan banyak hal, ya? Tiga hari… aku benar-benar tidak sadarkan diri selama itu?” lalu melirik lagi. Jaka mengangguk yakin. “Aku benar-benar tidak ingat” Aslan mengatakannya seperti bisikan. Jaka lantas duduk, mengelusi wajah Aslan pelan–sayang.
“Tidak perlu mengingat hal-hal menyakitkan. Kau aman sekarang. Ada aku disini, semua akan baik-baik saja. Aku ada, dan akan menjadi tempatmu bersandar. Anggap saja aku kakakmu, aku juga akan melindungimu dari bajingan Zain.
Kata-kata itu bagai air yang terjun di tenggorokan kering. Rasanya seluruh dahaga terhempas. Aslan tersenyum kecil, ada bagian hatinya yang menghangat dan Jaka mencatat tiap hal kecil yang dilakukan Aslan—seluruh apa yang tertangkap matanya.
“Kau tau, aku sungguh-sunggu menyukaimu. Aku benar-benar ingin tahu apa ‘tidak bisa sakit’ dapat di jadikan serum dan aku bisa membuatnya dari DNA mu? Atau bisa menjadi alternatif morfin untuk meredakan nyeri dahsyat? Sungguh, aku penasaran. Kau adalah mentahan yang paling berharga, lebih dari Anyelir” Aslan tidak memahami kata-kata yang hanya mirip gumaman tidak jelas. Namun yang pasti, hidungnya menangkap aroma masakan lezat yang tiba-tiba begitu menggugah seleranya.
“Aku membuatkanmu makanan” Jaka melirik pada pelayan “terima kasih karena memberikannya tepat waktu, sudah tidak panas sekarang” katanya lagi. Jaka membantu Aslan duduk dan akan menyuapi pria itu dengan perhatian penuh. Tanpa cela.
Sesaat, hatinya terisi. Eksistensi Jaka entah mengapa membuatnya merasa hidup, seperti Erlan yang kembali dalam bentuk lebih tampan. Saat disuapi, Aslan sesekali mencuri pandang pada manik selegam malam. Namun tahu jika ia tidak akan menemukan mata seteduh milik kakaknya pada siapapun. Milik Jaka terlalu pekat hingga siapa saja yang berlama-lama menatapnya–seperti akan tersedot masuk dan tersesat tanpa bisa keluar. Mirip pusaran dalam palung Mariana.
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Aslan ingat, ia tidak sakit. Setidaknya beberapa waktu–entah kapan terakhir ia diperiksa rutin. Ingatannya berantakan, akhir-akhir ini, memorinya seakan tumpang tindih tidak karu-karuan.
Ada malam dimana ia terbangun dan semuanya terasa aneh. Seperti ia kembali pada hari ia membunuh ayahnya.
Ada malam yang lain saat dimana ia menangisi kakaknya yang terbujur kaku. Lalu paling banyak yang ia ingat adalah Jaka menyuapinya makan, menyentuhnya lembut dan bertutur santun. Kata-katanya mengandung persuasi dengan retorika mengagumkan, seolah dunia bisa ditaklukan dan segala ketakutan akan sirna asal ia bersama Jaka.
Lalu malam ini, seluruh lampu padam.
Padam total hingga ia berasumsi bahwa ia mengalami kebutaan karena tidak ada setitik pun cahaya yang ditangkap retina. Semuanya hitam pekat dan total. Kakinya mati rasa tidak bisa di gunakan. Aslan merintih. Saat suaranya keluar, tiba-tiba ia ingat kakaknya.
Tapi..
Tanggal berapa sekarang? Hari apa? Jam berapa? Ia tidak tahu, tidak ingat. Tiap membuka mata, Aslan merasa seperti berada di dimensi yang berbeda-beda, semuanya terasa aneh–mirip mimpi saat demam.
“Jaka… gelap” suaranya keluar, namun tenggorokannya kelewat kering. Ia bahkan tidak menemukan infus tertancap di tangan, tubuhnya seperti dehidrasi. Tidak ada air, ia haus dan lapar namun kakinya lumpuh total. Tubuhnya pun lunglai tak bertenaga. Kondisinya mirip saat di anestesi.
Kegelapan itu membuatnya frustasi. Namun tidak ada siapapun, apapun. Rasanya, ia seperti harus bersiap untuk kematian yang hening, sepi, lapar dan haus. Mungkin tidak lebih buruk daripada anak-anak dalam pabrik.
Menangispun tidak ada air mata.
Tubuhnya dingin, telapak kakinya seakan membeku, juga tangannya.
Aslan memanggil-manggil nama semua orang yang diingatnya. Sisa ingatan yang acak-acakan. Ia juga memanggil Ben.
Satu jam
Dua jam
Mungkin lebih, ia kembali pingsan.
Sadar, pingsan, sadar, pingsan. Tiap sadar, ia akan terbangun dalam kondisi yang berbeda-beda. Kadang Jaka ada di sampingnya dengan semangkuk sup panas yang lezat, kadang dengan secangkir kopi nikmat. Atau ada saat ketika ia bangun, tubuhnya berada di ruang aneh—ruang mirip lab—eksperimen meski tidak seperti ruang tempat ia membentuk Erlan menjadi monster dulu—berbeda. Namun jelas itu merupakan laboratorium dengan cairan aneh dan begitu banyak jenis pisau dan perlatan medis.
Lalu bangun dalam kamar gelap dalam kondisi haus.
Begitu terus, berganti-ganti tanpa ia mengerti siapa dan kenapa. Aslan merasa kepalanya rusak, ingatannya tak lagi dapat di andalkan.
Dan siang ini ia kembali membuka mata.
Namun bukan lab, bukan kamarnya, bukan juga ruang gelap tanpa cahaya apalagi eksistensi Jaka dengan segala hidangan yang terasa sangat lezat—seperti makanan yang paling enak yang pernah ia kunyah seumur hidupnya. Melainkan di atas bangsal, dalam ruangan sangat asing dan benar-benar baru.
Ruangan itu kelewat rapi untuk disebut kamar pasien.
Dindingnya beige, tanpa noda sedikit pun. Lantainya granite, memantulkan cahaya senja yang masuk dari jendela besar di sisi kanan ruangan. Tirainya tipis, berwarna krem pucat, bergerak pelan setiap kali angin dari ventilasi tersembunyi berhembus.
Jam menunjukkan hampir setengah enam sore.
Cahaya matahari condong masuk dengan sudut miring, membelah ruangan menjadi dua: setengah terang keemasan, setengah lagi mulai tenggelam dalam bayangan lembut. Debu hampir tak terlihat, rasanya seperti ruangan ini begitu steril bahkan untuk partikel sekecil itu.
Tempat tidurnya bukan ranjang rumah sakit biasa. Meski Aslan paham jika apa yang ditangkap kepalanya benar; bangsal.
Meski lebih mirip tempat tidur hotel—lebar, dengan seprai putih bersih yang ditarik rapi tanpa kerutan. Di sampingnya ada meja kecil dari kayu terang, di atasnya hanya ada segelas air dan jam digital tanpa suara. Tidak ada benda tajam. Tidak ada kabel yang menjuntai. Semuanya seperti dikontrol.
Aslan duduk perlahan.
Pakaiannya bukan baju pasien yang longgar dan terbuka di belakang. Ia mengenakan setelan sederhana—kaos katun abu-abu muda dan celana panjang yang lembut, seperti pakaian santai mahal. Bersih. Pas di badan. Terlalu nyaman untuk tempat seperti ini.
Menginterpretasikan seseorang ingin ia merasa “baik-baik saja” Padahal Aslan tidak tahu kenapa ada di sini.
Jendela di depannya besar, dari lantai sampai hampir ke langit-langit. Kaca tebal, sedikit memantulkan bayangannya sendiri. Dari sana, ia bisa melihat halaman di bawah—area terbuka dengan rumput yang dipangkas rapi.
Beberapa orang berjalan di sana.
Pasien-pasien.
Ada yang duduk diam menatap kosong. Ada yang tertawa sendiri. Ada yang berbicara dengan perawat yang berpakaian seragam putih bersih, semua terasa asing, namun hangat. Rasanya seluruh adegan yang ia lihat sudah diatur.
Dari ketinggian lantai atas itu, suara mereka tidak terdengar. Hanya gerakan. Hanya bayangan kehidupan yang terpisah kaca.
Aslan mengedip pelan. Ruangan tempatnya nyaman, pemandangan di depan begitu hangat. Tapi entah bagian mana yang membuatnya terasa salah.
Saat ia melamun lama di depan jendela, pintu kamar terbuka dengan suara derit yang asing. Seorang perawat masuk dengan baju dan celana panjang serba putih. Rambutnya di ikat rapi ke belakang dan tangannya membawa nampan berisi makanan, juga beberapa butir obat.
Saat mata mereka bertemu, sang perawat tersenyum tulus. Senyum yang penuh hingga mata. Aslan hanya diam, pandangannya turun pada nampan, lalu kembali naik menatap wajah gadis itu.
“Makan sore, As” katanya ramah dan akrab, seolah mereka telah kenal lama dan teman dekat. Perawat itu meletakkan makanan di atas nakas, lalu berdiri dekat Aslan yang masih duduk diposisi semula.
“Pemandangan dari sini terbaik, jika disebelah sana cuma jalanan kota dan debu. Tapi malamnya lebih bagus” perawat itu menunjuk gedung di sebelah–tempat yang sama seperti dalam kamar ini “pertama kenalkan, aku Ann” perawat itu menyodorkan tangan “aku yang akan merawatmu mulai sekarang, semoga kita akur dan menjadi tim demi kesehatan jiwa dan ragamu” katanya lagi, Aslan memperhatikannya lama. Memperhatikan bagaimana gadis itu tersenyum dan bicara.
“Mau makan? Hari ini menu spesial untukmu. Seseorang datang membawakan sup hangat dan kopi. Aku sudah mengatakan bahwa kau tidak boleh minum kafein, tapi seseorang itu bilang, kopinya tanpa kafein. Jadi, aku menuangkan sedikit kopimu dalam mok, lalu meminumnya. Maaf jika tidak sopan, aku hanya memastikan. Aku bisa tau dalam kopi itu ada kafein atau tidak karena aku pengidap maag kronis. Perutku akan sakit jika konsumsi kafein dan kopi itu aman”
Lagi, Aslan memperhatikan cara bicara gadis itu. Cara bibir itu bergerak, berkata-kata, sungguh penuh semangat. Ia selalu tersenyum dengan cara yang paling tulus dan natural.
“Siapa namamu tadi?” Aslan bertanya—untuk pertama kalinya. Tapi kali ini, tenggorokannya tidak kering, tidak juga batuk. Semuanya lancar dan tubuhnya terasa lebih bugar—lebih daripada saat ia bangun di atas brankar lab atau ruang gelap maupun kamarnya. Alih-alih bertanya mengapa hidupnya seperti adegan film yang dipotong melompat-lompat, atau dimana ia sekarang, Aslan lebih memilih menjalani apa yang ada di depan mata. Semuanya terasa begitu rusak, dan ia tidak akan repot-repot bertanya untuk tau apa yang terjadi. Tidak, bahkan terserah, ia bahkan tidak peduli jika mati hari ini.
Tidak tahu. Rasanya lelah, lelah yang tidak bisa ia gambarkan. Seolah tubuhnya mirip mesin aus karena terlalu lama dipakai. Tidak sakit, tapi lunglai tak berenergi.
“Ann” ulang gadis itu ceria “aku yang akan menemanimu sampai sembuh. Aku akan ada disini, bersamamu”
“Menginap juga?”
Jeda beberapa saat. Aslan memperhatikan wajah itu dari samping, dan bertahan dalam tatapan serupa saat Ann balik menatapnya.
“Apa perlu? Mungkin aku bisa melakukannya untukmu” jawabnya dibarengi anggukan. Namun kemudian tertawa “tapi bohong” ia tertawa lagi.
“Siapa yang membayarmu?”
“Tentu saja rumah sakit”
“Selain itu”
“Wali mu. Dia bilang, aku ditugaskan untuk menamanimu kapan pun kau butuhkan”
Aslan diam. Bibirnya berkedut tanpa perintah, lantas ia bersin sekali.
“Bisa beri aku sup? Tapi aku ingin di suapi” katanya pelan. Suaranya sangat pelan. Ann langsung bersemangat dan kembali mengambil nampan.
“Aku senang kau tidak murung pendiam. Beberapa pasien benar-benar sulit di ajak berkomunikasi hingga aku harus bekerja keras. Maksudku, aku lebih suka berbicara meski tidak terarah ketimbang merayu orang yang diam saja” ocehan Ann keluar begitu saja. Sibuk tangannya menyodorkan satu sendok sup hangat yang masih mengeluarkan asap.
“Ann” Aslan menerima suapan.
“Ya?”
“Apa aku terlihat seperti orang tidak waras?”
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Tidak ada perubahan lagi. Rasanya bangsal ini adalah terakhir–mungkin. Ini juga spekulasi. Aslan tidak pingsan lagi, atau tertidur—tidak tahu, ia tidak mengerti. Yang jelas, sejak kesadarannya terakhir—berada di rumah sakit jiwa, tiap membuka mata, Aslan berada di tempat yang sama.
Sudah satu minggu.
Tempat ini terasa lebih mudah dan ‘hangat’ ketimbang rumah dan segudang pekerjaan yang tidak ada habisnya. Atau yang paling krusial adalah rasa takut dan cemasnya akan sesuatu yang benar-benar tidak ia mengerti juga.
Di tempat ini, perasaannya tidak terlalu kosong. Setidaknya, tak ada yang menganggapnya aneh. Tidak ada pandangan heran, tidak ada yang menolaknya. Ann ada di sampingnya sepanjang waktu meski gadis itu tidak benar-benar merealisasi keinginan Aslan untuk menginap.
Gadis yang banyak bicara. Satu minggunya diisi terlalu banyak mendengarkan gadis itu berceloteh—mengatakan segala hal—bercerita tanpa beban dan seolah mereka adalah teman dekat yang erat—juga telah membangun hubungan lama. Ya, Aslan memiliki Ann, satu-satunya manusia waras. Bahkan psikiater hanya datang seminggu empat kali, lantas melakukan serangkaian pemeriksaan lalu pergi tanpa benar-benar ada komunikasi intens—khas pasien dan dokter. Kata Ann, dokter sibuk dan pasiennya sangat banyak, jadi tugas perawat untuk menemani mengobrol. Padahal Aslan tidak pernah bertanya tentang perangai dokter—ia tidak peduli, sungguh.
Berdua duduk di kursi taman. Pemandangan yang tidak membosankan—setidaknya bagi Ann. Ia bercerita pada Aslan bahwa pasien rumah sakit jiwa lebih banyak membuatnya tertawa ketimbang orang rumah. Katanya lagi, orang waras belum tentu waras dan begitu sebaliknya meski Aslan tidak mengerti. Kadang, Ann mengoceh terlalu cepat, terlalu bersemangat dan menggebu-gebu. Sementara Aslan terlambat mencerna, hanya diam menyimak, sesekali tersenyum.
Tiap ia tersenyum, Ann akan kegirangan. Perawat itu yang berterima kasih karena ia mau tersenyum. Gadis aneh.
“Ann” Aslan menepuk pundak gadis itu saat Ann membelakangi karena sibuk menertawakan rekannya yang jatuh tergelincir akibat bermain sepak bola dengan pasien. Lantas sang gadis memutar tubuh, menatap Aslan sepenuhnya dengan sisa tawa—pipi terangkat. Lesung pipi dangkal dan gigi ginsul yang bersih membuat gadis itu terlihat natural cantik tanpa benar-benar menggunakan riasan yang niat.
“Ya?”
“Apa aku tidak terlihat aneh?” pertanyaan itu lagi. Ann diam sebentar. Aslan kerap mempertanyakan pertanyaan yang hanya seputar itu-itu saja. Pria itu tidak bertanya siapa yang rajin mengantarkan makanan enak, siapa yang memberinya kopi atau alat cukur dan piyama tidur. Ann tau, namun karena Aslan tidak bertanya, ia hanya mengatakan ‘seseorang’
Dan yang paling sering diajukan adalah seputar itu itu saja.
Apa aku aneh?
Apa aku terlihat tidak waras?
Apa aku jelek?
Apa aku terlihat seperti pecundang?
Berkutat disana.
Sementara Ann telah terlatih untuk memberikan validasi, memberi dukungan mental serta merangkul para pasien.
“Kau kerap memikirkan soal itu, ya? Seperti kau sedang ragu pada dirimu sendiri. Seandainya kau mau menceritakan apa yang membuatmu merasa seperti itu..” Ann lurus menatap mata Aslan “menurutku, kau bukan aneh. Kau berusaha memahami dirimu sendiri dan itu wajar. Banyak orang yang merasakan hal mirip-mirip. Hanya beberapa orang tidak di ungkapkan. Intinya merasa aneh itu wajar.”
Aslan mendengarkan.
“Aku juga kadang merasa aneh. Merasa ada yang tidak bagus dan tidak sempurna adalah bagian dari manusia. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Pandangan orang tidak akan menusukmu hingga mati, percayalah”
Matanya tanpa berkedip, telinganya menyimak dengan baik. Aslan kemudian menunduk sambil mengangguk meski sangat kecil.
“Dan saat kau bertanya apa kau terlihat waras. Kau mungkin bingung atau lelah dengan pikiranmu sendiri. Tapi ketimbang siapapun, kau tetap seseorang yang bisa di ajak bicara, perasa. Itu yang penting. Jangan terlalu keras. Aku disini melihatmu sebagai orang yang sedang berjuang dan butuh tempat aman” Ann mengusap punggung Aslan lembut.
“Yang terakhir,” matanya berbinar berusaha beradu dengan milik si pria “kau tampan. Rambut pirangmu benar-benar pas, kulitmu sangat cantik dan kau terlihat seperti manhwa yang keluar dari layar. Oh.. jika sembuh nanti, kau bisa mendaftar jadi selebriti. Aku akan menjadi orang pertama yang menjadi penggemarmu. Aku akan mendirikan fan base yang mendunia”
Aslan makin tertunduk, ia tersenyum malu-malu.
“Sekarang, maukah kau bermain denganku? Kita bisa sedikit kardio dengan melempar koin ke rumput, lalu siapa yang menemukannya lebih dulu, dia pemenangnya. Jika kau menang, aku akan menuruti keinginanmu, jika aku yang menang, kau harus menuruti keinginanku. Syaratnya adalah tidak melanggar pedoman rumah sakit serta norma-norma hukum. Hanya untuk bersenang-senang, bagaimana?”
Aslan mendongak cepat.
“Setuju”
Koin di lempar jauh sembarangan. Ann dan Aslan berlari cepat-cepat campur tawa. Keduanya bertelanjang kaki—menginjak rumput sambil berjongkok. Mata mereka sibuk mencari koin kecil yang berlabuh di sekitar itu.
“Aku yakin tadi melihatnya jatuh ke sini” bisik Ann, nyaris tak terdengar, namun Aslan mendengar. Pria itu tidak banyak bicara, namun mata kecilnya memindai detail dan teliti. Di banding Ann yang benar-benar berkongkok hampir duduk, Aslan masih agak berdiri.
Ke sana ke mari, kakinya ikut menyakar helai rumput yang rapi.
“Apa aku melemparnya terlalu jauh?” Aslan menggaruk tengkuk. Koin tidak terlihat.
“Tidak, aku yakin kau melemparnya di sini. Ayo cari” jawab Ann, tak menatap Aslan.
Dicari lagi, ke sana ke mari. Aslan mondar mandir. Lantas ia mengucek mata. Akhir-akhir ini matanya sering kabur. Saat fase berubah-ubah ketika ia sering pingsan, matanya akan menyesuaikan di tempat terlalu terang lalu pindah ke tempat paling gelap tanpa cahaya. Atau itu hanya perasaannya saja? Tepat saat kakinya menginjak benda yang terasa lebih dingin di telapak kakinya, Aslan tersenyum penuh kemenangan sementara Ann masih memunggungi—mencari koin seperti mencari lubang semut.
“Aku mendapatkannya!” pekiknya senang. Lontaran itu membuat Ann berbalik. Ann tersenyum hingga naik ke mata, deret giginya terlihat rapi, senyum hangat itu membuat Aslaan tiba-tiba datang dan membuatnya berdiri sebelum memeluk si gadis seperti anak kecil.
“Aku mendapatkannya” ulang Aslan senang.
“Ya, kau mendapatkannya, aku tau” tangannya mengelus punggung pria itu sayang “lalu, apa yang kau inginkan, As? Aku akan mengabulkannya. Asal tidak mengeluarkan uang di atas 500 ribu karena aku sedang berhemat. Tidak juga meminta keluar dari rumah sakit meski hanya kabur sebentar”
“Menginap, tidur bersamaku selama satu minggu” jawab Aslan kemudian. Ia melepaskan dekapan, lalu menatap wajah Ann serius. Mata minimalisnya berkedip-kedip. Ann menghela napas.
“Ah.. baiklah-baiklah.. Itu tidak sulit, sama sekali” ia menepuk lengan si pria akrab “aku akan menginap mulai malam ini. Apa kau suka membaca buku? Bermain catur? Atau makan makanan enak di bawah 500 ribu?”
“Aku ingin dipeluk sepanjang malam”
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Tidak ada permulaan yang bertele-tele. Malam itu, saat Ann mengantarkan obat, Aslan menariknya hingga si gadis jatuh terjerembab di ranjang. Ia kontan memeluknya tanpa permisi, tanpa meminta izin dan mendusal khas perangainya yang menempel.
“Ini sudah malam, Ann. Tepati janjimu” hanya bisikan itu, Ann mengangguk.
“Aku tidak akan ingkar janji, tau?”
“Aku tidak tahu”
Ann mengusap kepala Aslan berulang-ulang “mau kuceritakan sebuah film yang tidak populer yang ku tonton? Atau buku roman picisan yang kubaca saat aku SMA? Itu sangat membekas. Dan, As, berapa usiamu?”
“17”
“17?” Ann mendelik kaget. Aslan ikut mendongak.
“Kenapa?”
“Kau 17 tahun?”
“Ya, kenapa?”
“Tidak, kupikir, kau… lebih dewasa” mereka bertatapan dalam posisi itu “bukan, aku bukan sedang mengatakan bahwa kau terlihat tua. Hanya saja pembawaanmu begitu dewasa dan tenang, kupikir kau berusia setidaknya dua puluh”
Ada jeda. Hening disana tak terlalu mengganggu namun cukup untuk membuat Ann merasa tidak enak.
“Kalau begitu, anggap saja aku dua puluhan. Aku dua puluh lima. Kau?”
“Aku 23, baru saja lulus keperawatan dan bekerja disini sebagai magang”
“Apa aku harus memanggilmu, Kak?” tanya Aslan, itu membuat Ann merasa aneh. Namun tak menemukan alasan untuk menolak.
“Kak terdengar bagus, senyamanmu saja”
Aslan mendusal pada ketiak “aku suka sekali gadis dewasa” katanya, bergumam, Ann tidak terlalu mendengarkan.
“Sekarang tidurlah, aku disini”
“Bisakah ceritakan apapun sambil memelukku seperti ini? Apapun, film tidak populer yang kau tonton, buku roman picisan yang kau baca saat SMA dan sangat membekas atau seperti temanmu yang gemar memarahi kucing kampung saat kucing itu datang mengajak kucing cantiknya berkencan. Itu lucu”
“Bukankah itu sudah kuulang lima kali? Mereka tidak direstui dan sekarang, kucing kampung milik entah siapa menjadi preman di wilayah itu. Wajahnya penuh baret, tubuhnya banyak bekas luka dan ia adalah jagoan. Wilayahnya yang ditandai sangat banyak dan dia akan berkelahi dengan jantan manapun untuk mempertahankan wilayahnya. Dia bisa melakukan banyak hal, kuat, garang, tapi tetap gagal mendapatkan cinta kucing dari kemayu jenis persia milik temanku. Sekarang dia menjadi penguasa kompleks”
Aslan tertawa pelan “padahal, hanya perlu datang diam-diam lewat jendela, lalu mengawini si betina”
“Tidak bisa” Ann menggeleng “temanku sangat ketat”
“Aku ingin mencakar wajahnya. Tidak bisakah biarkan mereka bersama?”
“Tidak selevel”
“Menyedihkan”
Keduanya tertawa.
“As”
“Ya?”
“Aku tidak tahu kau mengidap penyakit mental jenis apa. Bahkan psikiater hanya mengatakan tentang ingatan yang berantakan, namun tidak menyebutkan nama khusus. Kau tidak pernah kumat, maksudku, tidak ada apapun. Kau tidak kesulitan tidur, kau tidak mengamuk, tidak juga terlalu murung. Kau hanya melamun seperti orang biasa yang memiliki masalah. Normal dan wajar. Lalu, apa yang terjadi? Apa yang kau rasakan?”
Ada jeda lagi. Aslan tidak tahu apakah pertanyaan itu memiliki jawaban karena ia pun tidak tahu. Tidak mengerti dan hatinya merasa sedikit lebih hangat ketika ia belajar untuk tidak mencari tahu apapun. Aslan membiarkan semua hal terjadi tanpa berencana melawan dan penasaran. Ia tak memiliki energi. Jika eksistensinya berada di rumah sakit jiwa, artinya memang ia sakit jiwa. Jika berada dalam lab, artinya ada sesuatu yang mengharuskannya disana. Begitu seterusnya. Ia mulai menyerah saat semuanya hilang, saat pengkhianatan tanpa alasan yang dimengerti. Bahkan jika tiba-tiba ia dibunuh. Ia tidak akan bertanya kenapa. Hanya mati saja.
Barangkali obat-obatan yang dikonsumsi. Atau saat psikiater memasuki alam bawah sadar lalu berkomunikasi dengan dirinya yang tidak ia ketahui. Namun saat ini, Aslan serius, hatinya tidak sekosong sebelumnya, tidak merasa cemas, tidak juga takut dibunuh. Hanya lapang dan datar. Mati malam ini, esok atau lusa tidak masalah. Ia lebih tenang dan tentu saja lebih pendiam. Kecuali pada Ann yang terus mengajaknya bicara.
“Ann, aku tidak tahu” katanya praktis, ia mendongak dan mereka bertatapan dalam posisi itu “tapi, Ann. Aku menyukaimu, aku sungguh menyukaimu”
“Aku juga menyukaimu, lekas sehat dan jadilah selebriti jika kau berkenan”
“Aku ingin menjadi temanmu, bukan selebriti”
“Jika kau menjadi selebriti, aku akan menjadi teman selebriti, kau tahu? Itu pasti keren”
“Apa aku tidak keren meski hanya begini?”
“Kau selalu keren”
“Aku mulai tak yakin” Aslan tergelak, ia mengecup pipi Ann sekilas. Gadis itu mematung dengan mata melotot. Mulutnya menganga.
“Kau tidak boleh seperti itu, As. Aku kakakmu”
“Kakakku sudah mati, kau bukan kakakku, tapi temanku. Atau kekasih? Maukah kau jadi kekasihku, Ann?”
Hening. Pertanyaan itu tak mendapat jawaban. Atau belum, Aslan menunggu namun Ann tak kunjung mengatakan apa-apa.
“Ann, kau masih disana? Aku mengerti jika beberapa momen menjadikan jiwa berpisah dengan raga. Aku memikirkan itu saat kau diam”
“As, sebaiknya kau tidur”
Setelah itu, Ann tidak mengatakan apa-apa lagi. Gadis itu pura-pura terpejam dan Aslan ikut diam.
Lama, benar-benar lama hingga entah berapa lama. Aslan mulai bernapas stabil, tubuhnya tidak bergerak dan matanya terpejam rapat. Saat Ann membuka mata, ia melihat jam menunjuk pukul sebelas malam. Gadis itu mencoba melepaskan diri dari dekapan pria muda yang mengoceh—membuat ngeri mengajaknya berkencan. Bukan hubungan jenis itu meski Ann tidak keberatan jika Aslan memeluknya erat atau terus mendusal. Berurusan dengan pengidap penyakit jiwa dalam peran yang selalu ada memang rentan.
Ia melepaskan tubuhnya dari dekap Aslan. Berjalan perlahan keluar tanpa suara–mengendap-endap.
Saat pintu kembali tertutup dan ia keluar, Aslan membuka mata.
Suara bisik-bisik diluar terdengar lebih jelas dari apapun. Aslan diam menyimak, memecah fokusnya antara siapa yang sedang di ajak bicara dan apa yang dikatakan Ann pada orang itu.
“Aku tidak bisa jika dia meminta jadi kekasihku, kau tau? Bahkan tidur sambil memeluk pasien rumah sakit jiwa saja berisiko berat. Bagaimana jika dia membunuhku? Aku akan mati sementara hukum tidak berjalan. Berapapun uang yang kau berikan untukku, tidak akan menggantikan apapun. Aku berhenti” kata Ann, jelas berbisik keberatan.
“Dua hari lagi, oke? Tunggu sampai dia benar-benar mencintaimu. Aku akan memberimu uang banyak. Sungguh, berapapun yang kau inginkan” kata pria itu. Aslan mendengar suaranya, ia familiar dengan itu, namun tetap gagal mengingat siapa yang memiliki suara berat dan tenang.
“Berapapun?”
“Ya berapapun, sekarang, masuklah..”
Di detik selanjutnya, Aslan kembali menutup mata saat pintu kembali terbuka. Pelan-pelan gadis itu kembali naik ke atas ranjang, memberi jarak dengan Aslan, lalu melipat tangan sambil menatap langit-langit ruang. Sebentar, ia melirik ke samping tempat pemuda pirang menutup matanya rapat dan tenang.
“Seandainya aku bisa membantumu…” bisik Ann pelan, ia lantas membelai pipi Aslan lembut “anak pintar, tidur lah”
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Aku tidak tahu, sungguh…
Aku tidak tahu apa yang terjadi, siapa yang melakukan ini dan alasannya.
Aku hanya ingin hidup tanpa kecemasan, tanpa rasa takut, tanpa pandangan aneh, aku ingin hidup normal tanpa perasaan kosong dan takut ditinggalkan serta dapat merasakan sakit seperti orang umumnya.
Bagaimana rasanya sakit?
Yang kutahu hanya luka saat ditinggalkan, saat pengkhianatan serta saat terus dibandingkan dan dibenci semua orang.
Bahkan saat ini, satu-satunya gadis yang kuanggap mengerti, berada di pihakku dan menemaniku sepanjang waktu, tidak benar-benar seperti apa yang kuharapkan. Meski aku tahu profesionalime, tapi aku tidak bisa menanah rasaku, aku hanya menyukainya, apakah itu dosa? Hidupku sudah menyedihkan, jadi tidak apa-apa menambah satu jenis menyedihkan yang lain.
Aku bertanya lagi, bagaimana rasanya sakit selain sakit hati?
Aslan mencium Ann yang tertidur. Mendusal di ketiaknya lalu meraba apapun yang bisa dijangkau.
Waktu menunjuk angka dua pagi, malam begitu hening, namun hangat. Tepat saat Ann membuka mata dan mendapati tubuhnya di dekap erat. Tangan bocah itu berada tepat di atas gundukan payudaranya.
“A…s….” tidak, suaranya tidak keluar. Tubuhnya lumpuh tanpa bisa digerakkan. Namun ia sadar, Ann sadar. Matanya jernih melihat seluruh ruang. Rungunya tajam dan indra penciuman sama bekerja normal. Namun tubuhnya benar-benar memaku. Jika dikatakan mati rasa, tidak tepat. Karena Ann merasakan semuanya, hanya lumpuh yang tak dimengerti. Bergerak pun tidak bisa. Ia tak tahu apa yang dilakukan Aslan pada tubuhnya.
Aslan mendongak saat mendapati gadis itu membuka mulut meski tidak ada apapun yang keluar dari sana.
“Ann, kau sudah bangun? Aku sulit tidur karena aku tidak meminum obatku malam ini..” jelas pria itu tanpa diminta, matanya memindai milik Ann dan mereka bertatapan lama. Aslan merangkak naik ke tubuh si gadis.
“Ann.. kau tidak memahamiku, ya? Kupikir kau yang paling mengerti” suara napasnya berat–menyapu wajah Ann. gadis itu memejamkan mata. Dalam hati merapalkan doa-doa, memohon agar Aslan tidak akan bertindak anarkis atau asusila.
“Aku tidak ingin tahu dengan siapa kau berkongsi, tidak juga ingin tahu alasan aku ada disini dan siapa yang memberiku makanan dan kopi serta tetek bengek lain. Aku hanya ingin hidup, asal ada kau, rasanya semua baik-baik saja. Tapi lagi-lagi aku terlalu melekat, ya? Kau pasti risi”
Kepalanya turun mencium leher. Sisa parfum yang masih menempel sedikit di leher si gadis, cukup membuat pria itu menghirupnya rakus seperti orang gila.
“Ann.. semua yang ada padamu membuatku merasa aman dan nyaman.. Bagaimana rusak kepalaku membuat seluruh ingatanku tak bekerja normal, namun aku masih mengingat rasanya kosong, takut, cemas dan tidak berharga? Kenapa seseorang atau sialan siapapun tidak menghapusnya dari kepalaku? Dan saat aku mulai nyaman denganmu, menerima diriku, lagi-lagi aku dipatahkan ekspektasi. Hidup seberengsek ini, kenapa kau tidak lekas mati?” tangannya menggenggam dada kencang yang terasa begitu pas di genggaman.
“Aku ingat kata seseorang meski tidak ingat siapa. Seseorang yang mengatakan bahwa aku menuruni darah kriminal. Aku meromantisasi kejahatan. Aku tidak begitu, kau tau? Aku tidak begitu, aku hanya takut, aku cemas dan khawatir. Aku memukul lebih dulu sebelum di pukul, aku harus naik ke tempat lebih tinggi agar aman. Aku harus bertindak lebih dulu sebelum orang lain. Aku melakukan segalanya untuk mencapai tenang. Tapi yang kurasakan justru makin kontras. Dan di tempat ini, aku menemukan setitik itu meski kini semua pecah. Aku membenci segala hal yang hanya ada di kepalaku. Seperti menginterpretasikan tingkahmu padaku. Aku membenci hal-hal menyedihkan yang terbentuk di kepalaku”
Pria itu menangis.
Air matanya menetes di dagu Ann.
“Aku benci sekali menjadi lemah, aku benci menjadi jahat dan kaya namun tetap tidak bahagia. Aku benci semua hal yang kulakukan dan aku benci karena aku ada di bumi ini. Aku selalu merasa menjadi korban meski tau jika aku adalah monsternya. Aku sibuk menyalahkan ini dan itu, padahal aku memiliki pilihan untuk tidak seperti itu. Aku tidak meminta pembelaan. Aku hanya ingin uluran tangan yang hangat dan mendekap. Namun begitu sulit, karena jika aku mencintai seseorang, aku ingin dia abadi, aku tidak ingin dia mati. Aku mengerikan dan aku tidak tahu caranya berhenti” suara isaknya besar, pria itu menyeka ingusnya dengan lengan baju.
“Aku juga sama penasarannya denganmu, Ann. Aku juga ingin tahu nama penyakit ini dan berharap menemukan penawarnya. Aku ingin hidup normal lalu membangun hubungan yang normal juga. Aku tersesat dan kehilangan arah. Itu sebabnya aku tak bertanya-tanya apa yang terjadi padaku beberapa bulan terakhir. Aku tidak peduli. Dan sekarang aku lelah. Aku berada dalam batasku, aku ingin mati”
Lalu tubuh yang awalnya merangkak di atas Ann, pelan-pelan mengurai. Aslan bangkit dan lagi-lagi menyeka matanya kasar. Ia sempat berjongkok sebentar—tangannya mengambil sesuatu dari kolong ranjang.
Linggis.
Entah sejak kapan ada disana. Entah dari mana Aslan mendapatkannya. Pengawasan dalam rumah sakit begitu ketat dan pemeriksaan sangat akurat. Tidak mengerti mengapa benda itu ada disana.
Awalnya, Ann berpikir jika Aslan akan membunuhnya.
Tapi tidak,
Pria itu memecahkan jendela besar sekuat tenaga.
Tak langsung pecah. Dari suaranya, Ann menghitung kurang lebih lima belas kali Aslan menghantamkan besi itu sebelum akhirnya kaca menyerah dan pecah.
Setelah itu tidak ada suara lagi.
Hening,
Semuanya hening. Ingin menengok pun tak sanggup.
Tidak ada suara Aslan lagi, hening yang itu menyiksanya.
Lima menit
Sepuluh menit
Tiga puluh menit.
Ann menyerah dan ia menangis.
Aslan bunuh diri.
ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁ꫂ❁
Malam itu tidak pernah kembali sama.
Suara benturan yang memecah udara membuat beberapa orang menoleh bersamaan. Dalam hitungan detik, langkah-langkah terhenti, percakapan terputus, dan perhatian tertarik ke satu titik di bawah bangunan yang menjulang tinggi itu.
Di sana, Aslan terbaring diam.
Tidak ada gerakan. Tidak ada respons. Keheningan yang menyelimutinya berbeda dari sekadar pingsan atau kelelahan—ini adalah keheningan yang final, yang tak memberi ruang bagi harapan atau kemungkinan kedua.
Kecuali darah segar yang merembes keluar dari celan-celah antara tubuh dan tanah. Mengalir perlahan seperti akar yang merayap.
Petugas yang berjaga mulai mendekat, ragu-ragu, seakan ada garis tak kasatmata yang menahan mereka untuk tidak terlalu dekat. Wajah yang tadinya biasa saja kini berubah tegang, pucat, dan dipenuhi tanya yang tak akan pernah benar-benar mendapat jawaban. Kepala petugas mendongak–melihat kaca pecah, lalu turun pada tubuh yang tak lagi bernyawa.
Lalu memanggil bantuan. Beberapa yang pelan-pelan turut mengerubungi hanya berdiri, terpaku, berusaha mencerna kenyataan yang terasa terlalu tiba-tiba. Malam yang beberapa saat lalu dipenuhi rutinitas sederhana kini berubah menjadi saksi bisu dari sesuatu yang tak bisa ditarik kembali.
Lampu-lampu tetap menyala seperti biasa. Angin tetap berhembus pelan di antara bangunan. Dunia tidak berhenti. Dan kejadian ini tetap ada meski pengawasan ketat dan sudah sangat diminimalisir. Namun tak ada yang mustahil bagi seluruh pasien di dalam. Begitu juga satu mayat yang tergeletak tengkurap malam ini.
Namun di titik itu, di atas permukaan keras yang dingin, satu kehidupan telah benar-benar berakhir—tanpa suara, tanpa perpisahan, hanya menyisakan ruang kosong yang perlahan menyebar ke dalam diri setiap orang yang melihatnya.
Bagaimana rasanya sakit?
Bahkan saat kematian datang, tidak ada sakit. Yang ada hanya tubuh yang rusak dan hancur, yang tak mampu lagi bekerja sebagai mana mestinya.
Aslan menyerah malam itu—setelah mengumpulkan segenap keberanian dari sisa kepecundangannya. Ia menyusul ibunya, kakaknya dan bajingan ayahnya. Kini semuanya tidak lagi menyedihkan. Semua telah berakhir dan damai.
Tidak ada yang menangisi, bahkan, kematiannya tak membuat siapapun kehilangan kecuali kegembiraan bagi semua orang yang membencinya.
Tidak satu pun berhenti dari aktivitas hanya untuk menengok kepergiannya. Katanya, penjahat memang pantas untuk itu.
Namun satu orang turun setelah efek obat hilang.
Ann turun—menangis meraung-raung di hadapan mayat yang perlahan di tutup koran. Ia meminta maaf dengan suara serak putus asa. Seandainya tidak begini dan begitu—sambil menyalahkan diri sendiri.
Pria itu putus asa. Ia tahu Aslan sampai batasnya. Pria pendiam yang langsung ceria saat diberi perhatian dan cinta meski secuil. Pria kecil yang hanya ingin memiliki teman dan merasakan hangatnya dunia. Ann tau meski terlambat. Meski entah apa yang membuatnya sesak sekarang. Air matanya kelewat banyak.
Seandainya ia mengiyakan ajakan bocah itu untuk jadi kekasihnya, apa akan ada yang berubah? Apa bisa ia melihat pria itu tertunduk sambil menahan senyum lagi esok hari?
Dari belakang, dan sangat tiba-tiba, Ann tidak yakin, namun seingatnya sebelum ia kehilangan kesadaran, sesuatu menghantam kepala belakangnya kuat, sangat kuat hingga ia pingsan.
Setelah itu semuanya gelap. Ann pingsan dan suara kerumunan makin besar.
“Dia membunuh keponakanku.. Oh… tidak..” itu Jaka. Pria itu menangis meraung-raung di depan jenazah Aslan setelah memukul perawat “aku akan menuntut perawat ini, dia penyebab kematian keponakanku”
Tidak tahu. Malam itu hening tapi tidak hening.
Suara gumaman orang-orang, tangis palsu Jaka dan tubuh Ann yang tergeletak dekat Aslan..
Pintu perut kapal RORO terbuka, mengeluarkan deru logam yang panjang dan berat. Satu per satu kendaraan mulai menyala, lampu-lampu depan menembus sisa gelap subuh yang masih menggantung di langit Bitung.
Udara di pelabuhan jelas berbeda, lebih padat, lebih hangat, dengan aroma solar, laut, dan aktivitas yang baru saja bangkit. Sepuluh kepala ikut mengalir dalam mobil bersama kendaraan lain, turun melalui ramp besi, roda menyentuh daratan Sulawesi. Setelah berjam-jam terombang-ambing di laut, tanah yang diam sekarang terasa asing.
Bitung belum sepenuhnya ramai. Warung-warung kecil mulai membuka pintu, beberapa sopir truk sudah duduk dengan kopi hitam di tangan, berbicara pelan dengan logat yang kental. Mereka berhenti sejenak di pinggir jalan, karena perjalanan panjang jelas meminta jeda pertama.
Langit pelan-pelan memucat. Garis oranye tipis muncul di balik perbukitan.
Mesin kembali dinyalakan.
Dari pelabuhan, mereka mengambil arah keluar kota, menuju jalan yang akan membawa mereka melintasi Sulawesi. Aspal terbentang panjang, membelah perkampungan, lalu perlahan masuk ke jalur yang lebih sepi. Di kiri-kanan, pepohonan berdiri rapat, sesekali terbuka memperlihatkan rumah-rumah panggung dan kebun yang masih basah oleh embun.
Perjalanan darat itu dimulai tanpa banyak drama—hanya suara ban yang bergesekan dengan jalan dan pemandangan yang terus berubah.
Jam demi jam berlalu.
Matahari naik tinggi, panas mulai menekan kaca mobil. Jalanan tak selalu mulus; ada bagian yang berlubang, ada yang menyempit, memaksa mereka melambat dan lebih berhati-hati. Truk-truk besar sesekali melintas dari arah berlawanan, membawa hasil bumi, meninggalkan debu tipis yang menggantung di udara.
Mereka melewati kota-kota kecil yang terasa singkat—papan nama, lampu merah, lalu hilang lagi di belakang. Sesekali berhenti untuk mengisi bensin, makan di warung lesehan, atau sekadar meluruskan kaki. Para vampir hanya ikut-ikut saja kemana Lyn membawa. Saat mereka mengisi perut, atau mampir untuk membeli es. Daniel berkali-kali meneguk liur. Namun saat cairan itu masuk dalam perut, si bungsu muntah-muntah. Stok darah mereka masih banyak. Lebih banyak dari seluruh barang bawaan dalam bagasi.
Mereka duduk sambil berpangku-pangku. Pegal, lelah, lesu, dan bokong yang panas tidak perlu ditanyakan lagi. Namun anehnya, mereka selalu mengoceh, tertawa—terlebih tiga bungsu yang selalu bertanya ini dan itu. Sementara Isa yang menanggapi jika tidak sedang tertidur.
Tiga gadis itu bergantian membawa mobil. Kata Isa, ini adalah perjalanan darat terjauh yang pernah ia lakukan. Tentu saja, semuanya begitu.
Waktu seperti tidak lagi dihitung dengan jam, tapi dengan jarak yang berhasil dilewati.
Menjelang sore, langit mulai berubah warna lagi. Cahaya keemasan jatuh di atas jalan, membuat bayangan kendaraan memanjang. Rasa lelah bukan lagi merambat, namun menghantam. Tapi perjalanan belum bisa berhenti.
Di depan, jalan masih terus membentang.
Makassar masih jauh.
Dan malam itu, Lyn memutuskan untuk berhenti di penginapan terdekat.
Lyn menimbang jika mereka–bersepuluh akan cukup untuk satu rumah itu. Penginapan yang satu-satunya ia temukan di sepanjang jalan setelah melewati kiri kanan kebun karet atau sawit.
Mobil terparkir di depan. Gadis itu memimpin dan semua orang keluar meski Kristal mengatakan untuk menunggu hingga Lyn memberi aba-aba.
“Rumahnya kayak serem gitu gaksi?” Samuel berkomentar “kayak ada hantunya” sambungnya lagi.
“Iya lagi, jangan-jangan isinya ada kuyang” kata Edgar menambahkan.
“Kalian lebih serem dari hantu, lagian, emang tau kuyang?” tanya Isa aneh.
“Tau nih” Jake menyikut dada kakaknya pelan “tau lah kuyang. Samuel sering cerita walau kata Sinu itu bohong. Samuel itu pendongeng andal. Dia kerjaannya nakutin kita semua biar anteng. Padahal, kuyang aja takut liat taring dia” Jake menatap kakaknya, mereka bersitatap agak lama.
“Baca buku doang, isinya tuorial berjalan menggunakan sandal. Tau gua” Daniel ikut berkomentar tentang Samuel.
“Buku dia ni ya, kalau lu mau tau, ada kali seribu biji. Katanya dikumpulin dari jaman dia muda banget sampe sekarang. Tapi pas gua buka satu bukunya, isinya cuma gambar. Sumpah” itu Edgar, lagi-lagi nimbrung “iya, isinya gambar kupu-kupu, ayam, itik, rusa. Gambar aja gitu, tanpa teks, apalagi konteks”
“Gua lagi mempelajari anatomi hewan” bela Samuel, ia menatap sisa orang berharap ada yang mau membelanya.
“Nggak ada, lu kadang cuma buka kertas kosong dan berliur di atasnya. Abis itu kan liur lu garing, bikin kertas jadi kuning. Nah itu, gitu doang. Lu bilangnya karya seni” tambah Daniel lagi. Samuel menyerah.
Logan menyandar pada mobil dengan tangan melipat. Bibirnya pucat dan bokongnya panas karena memangku Daniel yang keras dan berat. Sudah berkali-kali menepuk-nepuk bokongnya meski tidak berpengaruh. Rasanya, ia akan merendam bokongnya pada bongkahan es setelah ini.
“Logan diem aja noh, tanyain, sehat nggak? Kemarin di kapal dia muntah” Johan menyikut lengan Samuel. Lantas Samuel mendekat pada kakaknya.
“You okay sweetheart?” sang adik bertanya ramah setelah ikut menyandar persis di samping Logan. Sang kakak menatapnya tidak ramah.
“Gosah gitu-gitu, najis” katanya ketus. Samuel mendengus.
“Gua periksa dikit, takut lu sakit”
Saat Samuel memegang tangannya, pria itu tidak menolak.
“Ah.. bokong panas ya, pegel.. Bentar, gua sembuhin dulu ya swit hard”
“Hati lu swit hard, keras” Logan masih sempat berkomentar. Bokongnya di usap, cahaya hijau menguar meski tak besar.
“Wah, kekuatan gua kayaknya cuma mampu nyembuhin sakit-sakit sederhana” ia menatap tangannya “aduh.. Guys, please nanti kalian jangan sakit. Atau boleh sakit, tapi yang ringan aja. Flu, batuk, atau jamuran. Kalau yang berat-berat susah ini”
Logan tak lagi pegal, bokongnya tidak panas. Bersamaan dengan Lyn yang kembali sambil membawa kunci. Senyumnya cerah.
“Guys!! Masuk!” katanya riang. Sisa orang membawa barang-barang dan stok makanan mereka—menghambur kesenangan saat bisa istirahat layak setelah perjalanan yang benar-benar melelahkan. Meski untuk sampai tujuan, masih begitu jauh.
“Guys!! Dengarkan!!” mereka baru saja duduk di sofa bersama sisa lelah saat Lyn kembali akan membuat pengumuman.
“Jadi, kamarnya cuma ada lima. Satu kamar diisi dua orang. Ada kamar mandi, kalian harus mandi, gua udah beli perlengkapan mandi di jalan buat semua orang. Please MANDI! INGET MANDI! Kalian bukan di kastil yang dikurung tanpa banyak aktivitas dan nggak keringetan. Sementara kita lepas dari perjalanan jauh dan badan lengket. Jadi harus mandi oke?”
Jake angkat tangan.
“Gua paham mandi, walau di kastil jarang mandi, tapi ngerti. Jangan bertingkah seolah kita udik, kita enggak” katanya, namun saat matanya memindai si bungsu, Daniel sedang menjilati layar tivi “Daniel hentikan” kata sang kakak. Si bungsu berhenti.
“Itu apa?” lalu mundur sambil bertanya entah pada siapa.
“Itu namanya tivi. Mirip hp, tapi lebih gede” jawab Isa. Sementara satu gadis lagi melendot pada Isa dengan mata tertutup. Gadis itu jelas tidak enak badan sejak dalam kapal. Sangat lemas. Edgar ikut mengganduli meski beberapa kali ditepis.
“Mau gua bagi sekarang aja? Abis mandi kita bisa makan. Atau yang mau tidur, tidur. Inget, jangan rusak apapun. Jangan pegang apapun dengan tujuan jahat. Kita semua capek, kan?” Lyn masih berdiri sambil bertolak pinggang. Semua orang mengangguk meski kepala mereka masih berputar—mengamati tiap interior bangunan yang terasa begitu baru dan aneh.
𓍼ོ
Lyn sudah membagi.
Edgar bersama Kristal.
Isa–Lyn
Daniel—Logan
Jake–Sinu
Samuel—Johan.
Gadis itu sengaja memisahkan Daniel dan Jake lalu memasangkan si bungsu dengan kakak kedua agar tidak terjadi hal-hal yang membuatnya sakit kepala. Setidaknya, mereka harus bertanggung jawab atas adik mereka. Rencananya, besok pagi baru mereka akan melanjutkan perjalanan. Malam ini biar semua orang istirahat. Lyn juga meminta Samuel untuk memeriksa Kristal yang sejak tadi memejamkan mata. Gadis itu demam.
Lantas belum mandi, semua orang masuk ke kamar gadis itu–mengikuti Samuel. Edgar terus memijati kaki dan mengusap apapun. Bingung harus melakukan apa.
“Kenapa semuanya masuk?” tanya Isa, ia menatap tiap mata.
“Dia yang paling bawel, ngomel mulu. Tapi setengah hari ini jadi diem dan tidur terus” jawab Daniel, wajahnya menekuk dan ia ikut duduk di sisi ranjang sambil turut mengusap betis dalam selimut.
Logan juga, namun pria itu hanya diam memperhatikan. Jake ikut memijati.
“Coba minggir dulu, awas, gua obatin” Samuel menepis lengan semua orang. Tangannya bergerak memegang dahi “dia demam” lalu berdiam di sana beberapa saat.
Lagi, cahaya hijau menguar ke udara meski tak sepekat saat di kastil. Tangan itu menyerap panas dan membuangnya seperti polusi buruk entah kemana. Dalam waktu kurang dari satu menit, sakit kepala, pegal-pegal, bokong panas serta rasa tidak nyaman lainnya sirna. Kristal bergerak lantas membuka selimut.
“Kan, sembuh” kata Samuel bangga “gimana perasaannya, Nona Kristal alias itil?”
“Ngapain kumpul semua? Lu pikir gua mati?” matanya melotot. Setelah melihat Kristal melotot, Daniel menghambur–memeluknya.
“Nah, gua cinta sama yang galak dan melotot gini, jangan sakit. Gua kayak hilang arah kalau lu pendiem” pelukan itu jelas mendapat reaksi anarkis. Kristal memukul lengan besar meski tak berpengaruh. Wajah-wajah lega.
“Bau banget kamar ini” si gadis yang baru sembuh menutup hidung.
“Bau keringet mereka” kata Lyn, menatap semua orang.
Isa juga ikut berpandangan dengan dua temannya.
“Mandi kek, sumpah bau bacin” Isa mendorong satu persatu dan mereka keluar tanpa perlawanan. “Mandi, ya? Pakai sabun, scrub. Sikat gigi, pakei mouthwash”
Isa setengah berteriak.
“Mouthwash apaan?” Daniel bertanya pada Logan.
“Teknologi untuk mencabut nyawa modern” kata sang kakak enteng. Semua orang membubarkan diri ke ruangan yang telah di tentukan. Daniel masuk ke kamar sambil merangkak—merayap mirip ular. Logan tidak—atau belum marah. Hanya sesekali kakinya menyandung si bungsu.
Sudah masuk, ia memegang semua hal sementara sang kakak membawa koper.
Memencet semua tombol remot AC, remot TV. Membaui semua hal, hingga menggoyang-goyang air purifier.
Logan lebih dulu masuk ke kamar mandi. Meski ia tidak mengerti apapun, Logan bersumpah tidak akan bertanya pada salah satu gadis karena malu.
Di kamar Edgar.
Kristal mengajari pria itu segala hal. Menjelaskan dari kegunaan remot, kegunaan pendingin dan cara kerjanya. Berikut tivi, lalu ke kamar mandi. Gadis itu menjelaskan dengan cara ia biasanya, hingga cara mandi dan menggunakan seluruh media yang ada di sana. Edgar mengerti dan setelah itu Kristal mendorongnya keluar untuk mengajarkan pada semua orang.
Sore itu semua vampir belajar mandi menggunakan sabun dengan busa melimpah. Belajar sikat gigi dan menggunakan sampo serta tetek bengek lain. Edgar juga mengajari menggunakan lotion dan pelembab bibir.
Saat malam datang.
Saat semua vampir masih sibuk di kamar mereka–entah melakukan apa, Lyn keluar bersama Isa, lalu menghampiri Kristal. Ketiganya berencana duduk di luar—memesan makan malam sambil mengobrol.
Tidak ada yang keluar, maksudnya, vampir.
Makanan datang setengah jam setelah dipesan.
“Kalian harus sering datang ke mansion gua. Please bantuin, jangan gua semua” mulutnya penuh daging panggang, matanya menatap Lyn dan Isa “ya?”
“Gua mungkin akan sering nginep di mansion lu” jawaban Lyn membuat Kristal lega. Sementara Isa masih diam.
“Isa..” Kristal menyenggolnya.
“Gua sebisa gua, gua akan sering datang, mungkin. Tapi nggak sesering itu. Gua pikir gua nggak terlalu berguna. Gua gak bisa handle siapapun. Eksistensi gua cuma buat main sama Daniel”
“Beri gua dukungan aja dengan eksistensi” kata Kristal lagi.
“Gua akan” jawab si gadis yakin.
MEMBACA BUKAN HANYA SEKEDAR MELIHAT KATA, NAMUN BERJALAN DI ANTARA BAYANGAN DAN CAHAYA. DI SINI, FIKSI BERNAPAS.