ORKESTRASI KEBODOHAN

Dalam dunia jurnalis, membuat laporan mengenai pemerintah—menyerang dengan bukti yang aktual serta sumber yang kuat, sama dengan bunuh diri. Para jurnalis boleh menulis artikel apapun, mencari bukti hingga melanggar privasi suatu tokoh atau publik figur—guna mendapat fakta demi berita menarik–meski tak bermutu—yang akan diminati masyarakat pada timeline sosial media, maupun telivisi swasta di rumah.

Asal jangan pemerintah, pejabat, dan seluruh jajarannya.

Itu pula alasan Luna berdiri tepat di hadapan atasannya yang berwajah murka. Jika ini adalah dunia kartun, pasti Luna akan melihat asap mengepul–keluar dari telinga atasannya sekarang.

Tidak ada bentakan, tidak ada kertas yang di banting di atas meja. Pria berperut buncit yang kini menatapnya seperti akan melahap hidup-hidup itu cukup diam dengan wajah seperti itu saja—maka sama dengan molotov dalam botol kecil yang di lempar tepat di bawah kaki.

“Kau sungguh bebal, ya?” itu kata pertama kali setelah sejak tadi mereka perang atmosfer. Diam, namun sarat akan kemarahan. Luna tertunduk tapi tidak menyesal. Ia bahkan tidak meminta maaf.

“Kau memiliki opsi lain, banyak. Kau bisa membawa berita influencer yang sedang ramai di perbincangkan karena terlibat kasus kekerasan seksual. Atau menguliti atlet yang terciduk menggunakan doping sebelum masuk arena. Banyak, sangat banyak. Dari sekian banyak, kenapa harus melulu itu itu saja? Kenapa harus terlibat dengan pejabat? Kau tau, aku di ancam dan kantor ini akan di tutup paksa jika sekali lagi saja artikel tentang orang atas keluar. Kenapa sibuk mengurusi hal-hal yang bukan ranahmu? Itu pekerjaan polisi”

Tidak, Luna bersumpah suara bosnya tidak tinggi.  Kata-katanya cenderung tenang–stabil, namun begitu menekan-nekan. Tiap perkata seolah adalah bongkahan batu yang ditekan ke dadanya.

Lalu hening agak lama.

Setelah mengatakan ini dan itu yang jika dirangkum adalah titah untuk mencari informasi paling tidak berguna sedunia—mengenai influencer atau sialan sejenis, Luna akhirnya membernikan diri mendongak. Matanya beradu dengan milik sang atasan.

“Sekarang aku memberimu pilihan” matanya lurus, perut buncitnya terasa begah di mata Luna “mengundurkan diri dari sini, atau ambil satu proyek yang sudah lama mangkrak. Aku akan mengirimu email dan pilihannya ada di tanganmu” tidak tahu. Rasanya seperti habis menelan sari gula yang manisnya hingga pahit di tenggorokan, Luna menelan liur susah payah. Lantas menunduk mundur sebelum keluar.

Sepanjang jalan menuju meja, Luna mengedarkan pandangan. Seluruh mata seolah tersedot padanya dalam arti yang sulit sekali untuk tidak menuduh bahwa mereka membicarakan nasibnya. Semua orang dalam kantor tahu bahwa ia adalah sumber kekacauan yang terjadi karena artikel yang dirilis mengenai pejabat yang memiliki bisnis ilegal dengan mengeksploitasi pertambangan emas di timur beserta bukti konkret hasil jerih payahnya ke sana ke mari.

Tidak ada penangkapan, tidak ada tindak lanjut. Kasus besar yang ia tulis di hapus paksa dan setelah itu terkubur seakan tidak pernah ada sebelum masyarakat benar-benar membaca dan melihat fakta yang telah ia kumpulkan berbulan-bulan. Lalu nasib pekerjaannya kini tergantung pada isi email—proyek yang menjadi syarat agar ia tidak di pecat. Luna tidak yakin akan mudah, namun menjadi pengangguran di ekonomi ini pun, sama sulitnya. Itu juga alasan beberapa orang menyayangkan kenekatannya akan hal-hal yang jelas dapat menjerumuskannya dalam masalah. Masih baik di pecat atau di beri tugas sulit, beberapa kasus bahkan balik di polisikan dan rumit. Luna tidak tahu harus bersyukur atau mengumpat. Yang jelas, ia benci sekali pada siapa saja yang tutup mata–atau bahkan jadi bagian dari kecurangan pemerintah.

Notifikasi muncul di sudut kanan layar monitor. Email masuk.

Jarinya menggerakkan kursor gesit dan dalam waktu kurang dari dua detik, email terbuka.

Matanya memindai cepat. Mulutnya tidak bergerak namun ia membaca hati-hati dan teliti. Tidak ada satupun kata yang terlewat.

Isi proyek : Mencaritahu fakta tentang suku di pedalaman hutan di Papua yang terkenal akan tradisi unik namun mengisolasi diri. Hutan yang terkenal akan kekayaan hasil bumi dan daratan yang indah. Namun begitu sulit dimasuki karena beberapa sumber menyebutkan–terdapat penjagaan ketat dari suku pedalaman tersebut. Hanya orang-orang tertentu dan tidak bisa diprediksi siapa saja yang boleh dan tidak boleh masuk. Namun mereka bukan kanibal. Hanya tradisi aneh seperti menyembah kepala suku hingga menuhankan sesama manusia.

Dahi Luna mengernyit banyak.

Itu bukan pilihan. Namun ia mutlak di pecat. Memintanya untuk mencaritahu suku pedalaman adalah satu-satunya cara menyingkirkan bukan hanya dipecat, namun diminta hilang dan mati. Luna memijat pangkal hidungnya. Ia tidak pening, namun bingung harus membayar cicilan dengan apa jika ia tidak segera mendapat pekerjaan baru setelah keluar dari kantor itu. Dan mendapat pekerjaan baru lebih sulit ketimbang masuk ke pedalaman Papua. Itu asumsi.

Lalu notifikasi lain muncul. Kali ini dengan suara dan itu ponselnya.

Luna meletakkan ponselnya lagi, lalu melanjutkan memijat pangkal hidung yang sebanarnya baik-baik saja. Sebelum ia bergerak untuk bersandar pada belakang kursi. Matanya menyipit menatap tampilan layar monitor bergambar  pemandangan indah kota Swiss.

Tidak Swiss, tidak juga—bahkan alun-alun. Ia harus berhemat dan hanya makan sehari sekali jika dipecat.

Sialan.

𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼

Dan tidak memiliki pekerjaan tampaknya mengalahkan ketakutan akan dibunuh, hilang, atau kemungkinan mengerikan lainnya yang bisa saja terjadi di dalam suku pedalaman. Juga kabar bahwa suku disana tidak kanibal, siapa yang bisa menjaminnya? Kebanyakan mereka tidak peduli daging jenis apa yang dikonsumsi, atau semenjijikan apa melahap sesama. Mereka hanya tahu lapar-makan-kenyang.

Tentu saja itu spekulasi. Luna pribadi benar-benar tidak pernah terbesit sedikitpun untuk mencari tahu tentang mereka. Yang menarik bagi gadis itu adalah membongkar kebusukan oknum pemerintah karena begitu menarik dengan pola unik serta nyentrik.

Ada hari dimana ia menemukan pejabat yang membiayai pelacurnya menggunakan anggaran negara. Mereka berjalan-jalan ke sana ke mari, menyewa hotel lalu membeli barang-barang mewah. Yang seperti itu membuat gemas, sekaligus seru. Sayangnya, itu juga alasan yang membuatnya kini berdiri di ruang atasannya—membawa kamera dengan lensa besar, tas besar, serta beberapa perlengkapan yang telah ia siapkan dengan matang sejak dua hari yang lalu.

Luna berdiri tegap, seakan tiap tindakannya–sudah ia perhitungkan berikut segala konskuensinya. Padahal, ia hanya melakukan apa yang ingin dilakukan sambil bersenang-senang saat bekerja. Dan tentu saja berbeda dengan tugas kali ini. 

Bukan lagi tentang harga diri yang telah ia pangkas sejak atasannya memintanya mengundurkan diri atau merealisasi proyek yang sebetulnya hanya akal-akalan orang gila. Tidak ada siapapun yang akan menyelesaikan tugas ini kecuali mereka yang putus asa atau berada di ambang simalakama. Namun kabar menyusul yang membuatnya semakin tidak punya pilihan. Sang atasan mengatakan jika ia hanya mengundurkan diri tanpa pergi menunaikan tugas ini, maka, namanya akan di lebeli sebagai penyebar berita palsu alias, Lina tidak akan bisa bekerja dibidang itu lagi. Namanya di blacklist. Namun masih rencana, ada orang atas yang ingin membantunya—yang begitu senang terhadap hal-hal tentang pedalaman dan tradisi unik  yang mengisolasi diri, lalu memberikan penawaran gila ini.

Sebenarnya jika dirunut dari tugas, ini benar-benar tidak layak disebut bantuan.

Tidak mau pusing.

Maka, datanglah ia kemari dengan persiapan penuh. Tidak banyak bicara kecuali hatinya yang banyak mengumpat dan berisi kata-kata kotor yang tak pantas di dengar telinga manapun. Luna bersumpah membenci siapa saja yang ada di balik ini semua.

“Kau akan pergi dengan anak magang” katanya, padahal Luna sudah tahu karena pria itu mengirimkan pesan dua kali—mengatakan perihal sama. Luna lagi-lagi hanya mengangguk sebelum eksistensi lain ikut memenuhi ruang lebar yang terasa sempit oleh banyaknya buku, majalah dan sejenis—yang Luna sendiri tak yakin akan dibaca oleh atasannya itu.

Pria itu memperkenalkan diri dengan ramah. Mengaku berusia tiga tahun lebih muda dari Luna meski gadis itu tidak percaya, namun tak berkomentar. Luna hanya mengangguk—tersenyum tak sampai mata, tidak banyak bicara dan tidak juga bertanya-tanya.

“Kalian harus kompak dan bekerja sama dengan baik. Aku menunggu kalian pulang” kata sang atasan lagi. Tampaknya, dirunut dari kalimat barusan, Luna menyimpulkan bahwa  kata ‘pulang’ merupakan hal lebih penting daripada hasil. Ia masih menggenggam itu di ujung putus asa bahwa masih ada orang yang akan menunggunya pulang.

Maka, pergilah mereka berdua menggunakan mobil kantor. Adam yang menyetir dan nyaris sepanjang jalan—hampir dua kilometer, Luna tidak mengeluarkan sepatah katapun. Saat Adam bertanya, gadis itu hanya mengangguk–menggeleng, mengedikkan bahu dan tingkah-tingkah tidak ramah lainnya.

“Kita akan naik pesawat dan mobil ini akan di bawa orang lain untuk kembali ke kantor. Kita akan sepenuhnya mengandalkan transportasi umum atau menyewa kendaraan warga jika membutuhkan” kata  Adam, lagi-lagi berusaha memecah canggung. Namun percuma, Luna hanya membuka segel air dan menelan isinya kasar. Suara tegukan itu seakan menjadi jawaban atas ocehan Adam yang berusaha mendekati senior yang tak mudah.

𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼

Desa itu dikelilingi hutan. Terlalu lebat untuk ditembus sehingga warganya seolah hidup dalam gelembung mereka sendiri. Katanya enggan mengisolasi diri, namun enggan bersentuhan lebih jauh dengan apa yang ada di balik pepohonan yang mencakar langit. Jika kebutuhan tercukupi, mereka akan puas dengan itu.

Dan Luna masih mendengarkan juru hutan bicara. 

Tidak jauh berbeda dengan spekulasi—kecuali bagian kanibal. Ia masih menyimak, begitu juga Adam di sampingnya, pria itu mencatat tiap bagian penting yang dikatakan sang juru kunci–seolah dengan itu, bisa menjadi penuntun jalan mereka di dalam hutan sana.

Katanya, warga di sini tidak terlalu suka dengan perubahan. Menurut mereka, jika segala sesuatunya masih berjalan dengan baik, tidak perlu ada yang diubah. Contohnya saja rumah-rumah disana. Masih menggunakan rangka dari kayu pohon  Arkhava dan atap dari daun pohon serupa yang di keringkan. Dengan pekarangan luas tempat ternak berkeliaran. Seolah semua yang ada disini terjebak di jaman purba.

Namun, kata sang juru kunci. Tidak separah itu. Di dalam sana ada pasar yang menjual bahan pokok makanan dengan sistem tukar barang. Tidak ada mata uang, yang ada hanya tukar barang atau jasa. Dan hukum rimba—juga hierarki masih terlalu kental. Itu juga yang menjadi alasan tempat ini bukan ranah yang bagus untuk siapapun kecuali putus asa.

Bedanya, mereka menggunakan baju. Pakaian mereka dari  flax (rami) yang diproses jadi benang dan ditenun menjadi kain linen. Tanpa pewarna, seluruhnya tentu saja organik. Maka, nyaris seluruh pakaian mereka satu warna. Kecuali pakaian kepala suku atau orang-orang hebat yang memegang kekuatan terbesar di antara mereka. Katanya, sangat sulit mendapatkan pewarna kain.

Dan ocehan cukup panjang lain tentang larangan ini dan itu. Semuanya nyaris mirip template yang ditambah bumbu-bumbu mistis guna menakuti. Kendati, Adam tetap mencatat semua hal, kecuali Luna yang hanya diam menyimak dengan isi kepala yang terfokus menjadi dua. Satu terhadap kemunginkan apa yang akan terjadi di dalam hutan–suku pedalaman. Yang kedua, bagaimana jika ia periode. Sial, Luna lupa kapan terakhir menstruasi.

“Tidak semua diizinkan masuk. Mereka seperti memiliki aturan ketat tanpa kategori yang bisa diprediksi” itu kata-kata terkhir yang dilontarkan sang juru kunci meski boots Luna telah memecah genangan air bekas hujan di jalan setapak tanah lempung yang becek. Adam menyusul di belakang setengah berlari.

Sungguh, gadis itu tidak percaya pada juru kunci.

𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼

Hutan adalah hutan.

Saat menempuh perjalanan hampir dua kilometer, pohon-pohon menjulang menjadi kanopi nyaris rapat hingga matahari gagal menembus ke tanah. Bau apek–lembab, suasana yang gelap–temaram serta bunyi-bunyi binatang kecil sebagai latar syahdu. Adam terus berusaha memecah suasana yang lama kelamaan menjadi semakin kelabu dengan mengajak Luna mengobrol. Namun wanita itu terus saja sibuk dengan isi kepala—nyaris seperti hidup dalam dunianya sendiri.

Saat keduanya memutuskan berhenti untuk beristirahat di bawah pohon beringin dengan akar yang besarnya nyaris sama dengan batang, Luna melihat semak yang membentuk lorong panjang dan gelap. Seperti ada kehidupan di ujung lorong itu.

Sebenarnya, sejak masuk lima ratus meter ke dalam hutan, Luna sudah tahu jika perjalanan mereka di buntuti, di mata-matai dan ada orang lain yang mengintai mereka di balik pohon, semak, atau bahkan di atas pohon. Namun Luna terus mengabaikan seolah tuli dan tidak peduli. Ia juga tak berencana memberi tahu Adam. Namun tampaknya, ia tidak bisa terus menerus semaunya sendiri. Ia tak bisa terus diam dan berkutat dengan isi kepala sembari memikirkan cara bertahan hidup di sini. Ada Adam yang juga bagian dari misinya.

Katakan ia juga bertanggung jawab pada anak magang yang malang. Jika dia jadi Adam, Luna bersumpah tidak akan masuk ke dunia jurnalis. Untuk apa? Negera demokrasi namun suara di bungkam.

Lebih baik menjadi penulis novel romansa.

“Aku akan masuk ke lorong itu” Luna hanya menunjuk Lorong dengan bibirnya. Adam mengikuti arah bibir si gadis. Ia menelan air sambil meneliti.

“Ya, menurut informasi, mereka ada di ujung lorong itu” kata Adam enteng.

“Jadi kau tahu?”

Adam mengangguk pelan.

“Kenapa diam saja?”

“Siapa yang diam saja? Sejak keluar dari kantor dan belasan jam berlalu hingga kita sampai sini. Aku terus mengajakmu bicara. Namun kau hanya diam seperti masalah hidupmu sangat berat tanpa solusi. Aku mengajakmu bicara sepanjang waktu”

Luna tidak menjawab, ia bangkit dan kembali menggendong ranselnya.

“Beritahu aku apapun yang kau ketahui. Kita adalah tim” lontaran Luna membuat Adam mendengus. Namun pria itu tidak protes lagi. Ia mengikuti jejak si gadis dengan tangan menggenggam botol air mineral yang tinggal setengah.

Dan jika boleh jujur. Semak yang melingkup nyaris persis seperti terowongan ini benar-benar tidak terlihat natural. Maksudnya, ia tidak melihat ujung semak, semuanya terpotong rapi nyaris presisi. Seperti di potong menggunakan mesin pemotong rumput atau seseorang rajin yang memangkas dengan gunting besar. Benar, Luna bahkan melihat ujung semak yang di pangkas.

Semakin masuk, semakin gelap. Dunia terasa di putus. Di dalam sana dingin dan bau rumput menyesaki pernapasan. Luna meraih senter dari tas kecil. Hanya khawatir binatang melata atau predator. Alih-alih hantu, pikirannya adalah ular berbisa yang ganas atau macan tertidur.

“Apa kau juga tahu berapa panjang terowongan alami ini?” tanya Luna nyaris seperti bisikan. Juga kata alami yang terdengar kurang tepat.

“Tidak yakin, namun beberapa sumber menyebutkan hampir tiga ratus meter”

Luna mengangguk meski tak terlihat. Langkahnya cepat, namun terukur.

“Berapa banyak informasi yang kau tau?” senter di arahkan ke rumput yang seolah membentuk dinding. Sesuatu terdengar, namun jauh. Luna menangkap suara berisik “sebentar” katanya. Langkahnya terhenti dan Adam nyaris menabraknya.

Benar, suara berisik mirip kerumunan orang. Atau katakan kehidupan.

“Lanjut, jawab pertanyaanku” langkah kembali di angkat. Sol pada sepatunya akan meninggalkan jejak tanah basah pada tiap langkah. Ransel di belakang seakan menjadi sekat antara langkahnya dengan milik Adam.

“Aku hanya mencari tahu dari saudaraku yang pernah bekerja di pertambangan Papua. Hutan ini sangat terkenal, barangkali kau tidak tahu karena sibuk mengurusi pemerintah” ucapan itu agak rancu, namun Luna tidak sedang ingin berbalik atau menuntut penjelasan dari magang–yang notabene adalah junior—seharusnya memiliki sedikit penyaring dalam rongga mulutnya sebelum mengatakan apapun. Kata ‘mengurusi pemerintah’ membuatnya tersentil.

“Wah, kau pasti anak orang kaya, ya? Dan bekerja di kantor media hanya untuk hobi, kan? Mulutmu benar-benar luar biasa. Aku bangga” kata Luna serak, ia berdehem agar bisa tertawa luwes dalam konteks menyindir.

“Kau sangat terkenal. Tulisanmu tajam dan sarat akan penyerangan. Terlalu pedas untuk ukuran gadis yang butuh pekerjaan itu. Kau seperti menggali kuburanmu sendiri, kau tau? Kau terlihat pintar, tiap kata yang kau tulis di artikel terasa seperti berbobot dan disusun oleh manusia yang berwawasan luas. Kau pandai beretorika. Dan kupikir, kau lebih cocok menjadi dukun”

Luna benar-benar menghentikan langkah. Adam menabrak ransel gendut yang digendong si gadis. Lalu berbalik, senter tersorot tepat di wajah Adam–membuat pria itu mengalihkan pandangan karena cahaya yang masuk menyakiti matanya.

“Katakan itu sekali lagi”

“Ha?” pria itu mendelik. Dahinya mengerut.

“Katakan sekali lagi dan kau pergi dari sini”

Ada hela napas meski pendek, Adam terseyum setelah itu “aku minta maaf, Kak. Boleh aku memanggilmu kakak?”

“Tidak”

“Baiklah”

Luna juga menghela napas. Lebih besar dari Adam. Ia lantas melanjutkan langkahnya tanpa ingin berbicara lagi. Namun bukan Adam namanya jika tidak gigih. Setelah mengatakan maaf dan meminta panggilan akrab, pria itu menawarkan makanan meski sama sekali tak digubris, tak di dengar.

Mereka keluar dari lorong setelah langkah yang terasa lebih panjang dari tiga ratus meter. 

Begitu keluar, Luna disuguhkan pemandangan yang sangat jauh berbeda dengan spekulasinya, dengan apa yang di gambarkan juru kunci–juga dengan berita yang menyebar di internet—yang memang kebanyakan adalah karangan untuk meningkatkan jumlah pengunjung situs.

Matanya disuguhkan peradaban yang tidak modern, namun bukan jenis ketertinggalan yang primitif.

Di sini, manusia menggunakan pakaian dari linen dengan warna-warna berbeda. Beragam dan penuh warna. Mereka tidak bertelanjang dada seperti dalam pikiran Luna selama ini. Tidak juga berwajah galak dan menenteng tombak atau perisai. Dan yang paling penting, mereka tidak langsung menyerang atau menangkap lalu di ikat untuk kemudian di serahkan pada kepala suku di tengah api unggun–khas film yang pernah ia tonton dulu. Jelas kontras, semuanya benar-benar diluar dugaan. Jauh. 

Baju, rok, celana, tas, sepatu. Semua dibuat dari hasil hutan–yang Luna sendiri tidak tahu bagaimana mereka dapat membuat itu tanpa keluar dari hutan. Atau seseorang keluar untuk keperluan lalu transaksi jual beli. Itu yang harus ia cari tahu.

Jika rumah-rumah memang tepat seperti gambaran juru kunci. Terbuat dari kayu dengan atap dari daun kering yang ia sendiri baru melihatnya hari ini. Rumahnya membentuk jamur. Lantainya tanah lempung yang di keraskan.

Tempat yang baru saja di masuki merupakan sebuah plaza, dimana menjadi titik yang menghubungkan semuanya. Warga menyapa, bercengkrama, dan bertengkar. Beberapa dari  mereka masih menggunakan bahasa daerah khas, bahasa  Dani. Itu yang di paparkan Adam beberapa waktu lalu—yang tidak ia simak seksama namun terbesit saat memandangi orang-orang disana.

Kepala Luna nyaris berputar melihat pemandangan itu.

Karena eksistensinya dengan Adam jelas berbeda dan mencuri perhatian, seseorang yang sejak tadi memandangi mereka dari jauh akhirnya mendekat. Seseorang dengan baju linen yang terlihat begitu rapi. Warnanya hitam pekat–sekilas mirip setelan jas yang kurang rapi.

“Ada yang bisa dibantu? Saya adalah pemandu turis yang akan membawa kalian berjalan-jalan di tempat ini. Masih ada ribuan hektar di belakang, berisi pemandangan bagus dan menjadi spot wisata yang keren” ujarnya ramah. Nadanya template khas sales. Luna juga heran dengan yang ini.

“Bukankah ini bukan tempat wisata? Apa kita memasuki hutan yang salah?” Luna menatap Adam bingung. Ini  tidak benar, bukan pedalaman yang dimaksud ketika semuanya mirip settingan. Semuanya terlalu aneh dan modern, namun tidak modern. Luna  memang mendengar beberapa dari mereka bercakap-cakap dengan bahasa daerah yang tidak dimengrti, namun bagian yang aneh adalah seorang tour guide yang datang menawarkan diri.

Sungguh, jika juru kunci berdusta, Luna benar-benar harus tahu alasannya. Kalau hanya karena spekulasi pribadi yang dangkal, itu keterlaluan.

“Namaku Hasan” kata pria itu tanpa ditanya. Senyumnya naik tinggi seolah seluruh keheranan sang tamu, dapat meresap melalui celah giginya yang rapi.

“Akan sangat sulit mendapat tempat penginapan jika mencari sendiri. Mereka tidak mudah percaya pada orang baru” sergahnya lagi, kali ini dibarengi gerakkan menyugar rambut. Rambutnya yang kelewat kelimis hingga Luna berpikir itu adalah minyak sawit yang di tuang ke kepala. 

“Tunggu—yang pertama, apakah aku boleh memotret?” tanya Luna, ia menatap Hasan, lalu melirik ke belakang pada Adam yang sibuk mencatat. Luna heran hingga berpikir jika—apa yang ditulis Adam hanya lirik lagu atau mencatat perubahan cuaca. Adam sibuk.

“Sure, kau boleh memotret. Aku mengatakan ini karena aku tau seluruh tempat ini” mata Hasan gantian memperhatikan Adam meski hanya beberapa detik sebelum kembali fokus pada Luna “aku akan menawarkan keuntungan padamu. Aku tau, kau wartawan, kan?”

“Jurnalis” jawab Luna cepat.

“Ah, ya, ya.. Kupikir mereka sama” ia mengangguk-angguk. Padahal Luna bersumpah pria itu tidak peduli “jadi, keuntungan yang pertama, aku menguasai bahasa mereka dan bisa menerjemahkannya untukmu. Lalu aku kenal kepala suku dan cukup dekat dengan jajarannya, sehingga memprmudah kau untuk banyak meliput dan bertanya-tanya sebagai sumber berita atau tulisan yang akan kau unggah menjadi artikel” yang terakhir terdengar tidak meyakinkan. Pria itu menggaruk tengkuknya, lalu berdehem meski suaranya baik-baik saja “aku juga akan membawamu ke kediaman warga yang paling nyaman. Setidaknya tidak kumuh dan tidak ada binatang”

“Tunggu, tidak ada penginapan?” Luna mengeryit.

“Apa yang kau harapkan?” Hasan balik bertanya.

“Tadi kau mengatakan tentang penginapan”

“Itu hanya bahasa. Tapi tidak benar-benar ada penginapan. Yang ada hanya rumah warga yang bisa di tumpangi dengan memberikan mereka beberapa hal yang berguna untuk hidup. Atau..” Hasan menggantung kalimatnya. Matanya lagi-lagi melirik ke belakang Luna—melihat Adam yang lagi-lagi entah melakukan apa. Luna tidak sudi berbalik—malas.

“Atau kau bisa tidur di gereja. Itu buruk, maksudku, di sana, di gereja kami, tempat pastor mengusir roh jahat, membai’at para ksatria atau orang-orang yang memiliki kemampuan Dewa” kali ini angin menyapu rambutnya yang lepek. Saat angin datang, rambutnya bergerak dalam posisi kaku. Luna meringis saat membayangkan aroma rambut pria itu “akan berisik dan penuh jeritan, itu jika sedang ada kerasukan”

Luna tidak tahu harus menanggapi ocehan pria di depannya dengan apa. Namun mengingat tempat yang baru saja sekali ini ia kunjungi, rasanya tidak ada pilihan selain membuntut pria berambut lepek yang jelas tercium mata duitan.

“Berapa? Aku tidak sedang ingin basa-basi jadi katakan saja berapa yang harus kubayar. Lalu dengan apa aku harus membayar warga jika mata uang tidak berlaku?” itu bagus, Luna memang bukan orang yang akan ramah dan berbasa-basi.

“Ehey… walau warga disini tidak tahu uang, aku tahu. Berikan saja uangnya padaku dan kau hanya tau tinggal tanpa perlu repot memikirkan biaya. Aku mengatur semuanya”

Sudah terduga.

“100 Juta untuk satu minggu”

Angka itu membuat Lina yang sedang susah payah merogoh ransel besar untuk mencari uang tunai kembali mendongak. Matanya berkedip-kedip bertabrakan dengan milik Hasan yang jenaka. Pria itu selalu tertawa. Bicaranya selalu campur tawa meski tidak ada yang lucu.

“Orang gila. Aku lebih baik tidur di kamarku dan keluar dari kantor sialan sambil mencari pekerjaan jika tabunganku 100 juta. Bahkan atasannya hanya membekali 20 juta. Bajingan” gadis itu mengumpat. Ia kembali menutup resleting ransel dan benar-benar terlihat seperti akan memukul siapa saja yang ada di sana.

Saat sentuhan pada pundaknya mengalihkan, si gadis menengok ke belakang. Adam dengan senyum ramah—mirip pria dewasa yang bersedia menjadi tempat nyaman untuk mengumpat.

“Aku yang akan membayar. Kita hanya perlu mencari berita saja” katanya ramah. Setelah kata-kata itu, Luna semakin paham mengapa pria itu bisa mengatainya ini dan itu di sepanjang jalan—mengomentari pekerjaannya. Orang kaya selalu saja memiliki cara hidup yang berwarna. Contoh sederhana adalah pergi ke Papua—pedalaman untuk mencari berita dan segala hal. Itu sungguh kurang kerjaan. Jika Luna punya banyak uang, ia hanya ingin tidur dan makan. Sementara biarkan uang yang bekerja.

𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼

Malam datang saat Luna dan Adam di antarkan ke salah satu huniah yang akan menjadi tempat mereka tinggal selama di sana.

Hunian dengan halaman rumah serta lingkungan yang akan membawanya mengingat film Tinker bell dari disney classic. Tidak salah jika tempat ini begitu terisolasi. Rasanya sangat disayangkan jika pemandangan seindah ini akan terjamah jaman, di otak-atik mesin dan dipapari polusi serta radiasi.

Pohon-pohon rindang. Anggrek menempel disana sini dengan berbagai warna, ukuran, aroma. Semuanya beragam meski masih dalam satu keluarga; anggrek. Seperti hutan itu adalah hutan anggrek. Dan rumah yang ditempati Luna seperti di sekat berbagai tumbuhan besar yang di tumpangi anggrek–memadat hingga menutupi seluruh batang. Dan itu banyak sekali. Aromanya begitu memikat.

Rumah yang hanya ditinggali satu gadis.

Gadis berusia 17 tahun yang baru saja kehilangan neneknya seminggu yang lalu. 

Ia menyambut Luna dan Adam begitu ramah. Seolah, keduanya merupakan cahaya setelah gelap dan sepi pasca kepergian keluarga satu-satunya. Tentu saja ini spekulasi mengingat si gadis yang menyambutnya antusias.

Lentera tergantung di tiap sudut. Dipan yang terbuat dari kayu, sementara kasurnya kapuk yang di jejal masuk dalam kain linen dengan jahitan rapi. Setidaknya benar, tempat ini lebih dari layak. Rumah ini begitu hangat, meski jika di kalkulasi, seluruh ruangan hanya delapan belas meter persegi.

Yaitu dua ranjang yang tersekat nakas yang di atasnya terdapat tanaman serai yang berfungsi sebagai anti nyamuk. 

Di samping, lemari terbuat dari potongan kayu yang di rekatkan dan membentuk storage. Luna dapat melihat tumpukkan kain linen meski tak banyak.

Hasan juga sudah menjelaskan letak jamban. Tepat di bagian belakang rumah ini—berjarak sekitar sepuluh meter. Hanya WC cemplung dan jika ingin mandi, warga harus pergi ke sungai. Makanya, mandi tidak wajib di tempat ini. Begitu kata Hasan menjelaskan.

Tiap rumah memiliki khas masing-masing. 

Ada yang di sekitarnya di penuhi kandang hewan peliharaan. Ada yang berisi tanaman bunga, ada yang polos saja. Semua beragam. Hanya bedanya dengan lingkungan biasa di luar, tempat ini adalah hutan. Ya, hutan yang di  bangun rumah tanpa banyak menebang pohon. Mereka lebih memilih mencari spot kosong untuk membangun hunian. Jika membutuhkan kayu, mereka juga sudah memiliki tempat penebangan khusus tanpa banyak merusak apalagi terlihat terang saat pohon habis tumbang, tidak ada.

Dan malam itu sekitar pukul sepuluh saat Luna telah bersiap untuk tidur. 

Adam tidak mengajaknya bicara meski Luna tau pria itu belum tidur dan si gadis muda bernama Dey, lebih dulu menutup mata sejak satu jam yang lalu.

Di luar, suara warga menggunakan bahasa Papua Melayu yang–setidaknya masih bisa  dimengerti—terdengar lantang. Mereka berteriak persis meneriaki maling. Namun jelas itu hanya spekulasi Luna karena bahasa yang campur-campur terlambat ia proses. Kebanyakan  ia tidak mengerti apa yang mereka katakan. Hanya bermodal menguping tanpa tahu apa yang terjadi.

Namun rasa penasarannya selalu lebih besar.

Gadis itu akhirnya keluar membawa kamera besar, membawa perekam suara dan ponsel. Ponsel yang ia yakin akan tetap hidup hingga sebulan kedepan—lantaran apa yang ada dalam ranselnya bukanlah pakaian banyak atau alat perawatan tubuh, melainkan power bank yang berjejal menyesaki tiap celah tas besar itu.

“Zoe” seseorang berbisik.

Seperti wabah menular, semua orang mulai menggumamkan satu nama dalam volume yang sama rendahnya. Luna keluar meski ia tidak tahu apa-apa. Hanya ikut bergerombol dengan warga. Saat ia menemukan wajah Hasan, gadis itu lantas mendekat. Juga tidak tahu sejak kapan Adam bergabung di dekatnya.

Seiring nama itu bergulir di bawah napas, mata semua orang  ikut menggelinding—memeriksa sang pemuda berkulit putih, mencermati dari kaki hingga kepala.

Bajunya bersih. Namun bukan linen, melainkan wol hangat yang terlihat sangat rapi. Kontras dengan milik semua orang yang hadir mengerubuti malam itu. Pria itu terlihat seperti baru saja keluar rumah. Tetapi, semua orang di sini—kecuali Luna yang baru tahu, tahu bahwa pria itu telah menghilang bak digusur angin belasan minggu lalu. Penampilannya yang terlalu sempurna, justru memancing asumsi liar. Hasan membisikkan pada Luna seolah itu adalah berita sangat penting.

Dan Adam seperti biasa. Mencatat.

“Kau… kau benar Zoe?” seorang warga lain, yang memiliki kumis tipis memutuskan untuk bersikap lebih berani dari yang lain. Satu kakinya melangkah maju dan badannya condong ke depan. “Tidak, kau pasti Zoe, kan?”

Pria berkulit putih itu hanya berkedip pelan. Seolah baru saja bangun dari tidur panjang. Ia menelengkan kepala ke samping. Cahaya dari obor membuat matanya memantulkan kobaran api, lalu bergumam “mungkin. Ya, mungin aku.. Zoe?”

“Apa maksudnya? Kau ingat denganku, kan?” pria berkumis tipis tadi menunjuk dirinya. Kedua bahunya turun ketika yang di tanya hanya menggeleng samar.

Ditengah bisikkan yang kembali berkumandang, tiba-tiba saja seorang pria bertubuh tegap dan gagah sibuk menerobos kerumunan. Ujung mantel hitamnya kotor terseret-seret di atas jalanan berbatu yang basah. Ia berdiri tiga langkah di depan warga. Tangannya membentang ke kedua sisi secara dramatis. Lagi, pakaiannya bukan linen. Terlalu mewah meski Luna tidak yakin jenisnya.

“Mukjizat!” satu kata itu mampu membungak semua yang hadir. Desa beberapa saat  menjadi benar-benar senyap, menunggu pria itu menjelaskan lebih lanjut. “Dia adalah mukjizat! Tidak ada manusia yang bisa kembali dalam keadaan sempurna setelah hilang selama berbulan-bulan. Kau!”  telunjuk rampingnyanya diarahkkan pada sang pria berkulit putih “adalah bukti mukjizat!”

Seketika itu juga diikuti anggukan kepala. Beberapa dari gerombolan  itu mulai menggumamkan sesuatu dengan nada yang lebih antusias. Mulut-mulut mereka menyuarakan setuju. Sementara yang lainnya berkerut-kerut penuh keraguan.

Luna yang menonton dari barisan paling belakang memutar bola mata. Dengusan jengahnya cukup keras untuk memantik perhatian Adam yang berdiri di sampingnya. Rambut hitamnya yang cepak, mantelnya terlihat mahal, tangannya berlapis sarung tangan yang benangnya terlihat mencuat di pinggiran. Catatan setia di tangannya seolah seluruh hidup dan matinya dijejalkan ke dalam sana.

“Mukjizat bokongmu” sembur Luna di barengi senyum mengejek “mana ada orang yang kemunculannya aneh begitu disebut mukjizat. Sumpah, pastor gadungan itu”

Derap warga perlahan menjauh dari tititk mereka berdiri—menyerbu Zoe dengan mata berbinar. Tidak bereaksi apapun ketika tangan-tangan kotor itu mengelus pipinya. Zoe tampak seperti boneka–dan itu bukan karena penampilannya yang memang siapa saja mengakui; tampan. Sorotnya hampa seolah tidak ada kehidupan di dalamnya.

Lalu sang pastor mulai mengoceh, berteriak-teruak tentang keajaiban dan bagaimana Zoe akan membawa kemakmuran bagi desa ini. Orasi yang menggebu-gebu tersebut diiringi dengan suara ‘amin’ dan puja-puji lainnya.

“Aku berani bertaruh” tangan Luna melipat di dada, bibirnya lagi-lagi menunjuk arah Zoe dan Adam menyimak gadis itu “Dia kembali ke desa ini karena terlilit pinjol atau dikejar-kejar rentenir di luar sana” Luna melanjutkan sesi bergunjing “meski ini spekulasi tanpa dasar, tapi aku merasa pria itu seperti orang sakit jiwa” 

“Dia mukjizat” ralat Adam yakin.

“Kau tipe orang yang percaya seperti itu?” dahi Luna mengerut, kini tatapannya fokus pada rekannya.

“Tidak juga, aku hanya mengulang kata-kata pastor” jawabnya apatis.

Fokus keduanya kembali ke depan saat sang pastor mengatakan tentang rencananya membawa Zoe untuk menemui sang kepala suku untuk memintanya menerima sebagai orang penting—menjadi jajaran atas. Zoe di anggap hebat dan penting hanya karena ia pergi dari Desa selama berminggu-minggu, lalu kembali mengenakan pakaian wol dengan tatapan seperti tanpa nyawa. Luna benar-benar geleng-geleng kepala tidak percaya.

Semudah ia mengamati. Warga akan mudah percaya pada ocehan pastor—manusia yang dipercaya menyampaikan wahyu tuhan melalui keilahian yang di turunkan dari mimbar gereja.

Bukan Adam, seseorang menoel-noel pundaknya berulang. Luna harus memutar tubuh untuk melihat.

Itu Hasan. Gadis itu nyaris lupa eksistensi si pemilik gigi rapi. Pria itu mendekatkan diri hingga menyentuh rambut panjang Luna. wajahnya condong dan ia berbisik.

“Zoe bukan di anggap mukjizat hanya karena dia pergi keluar desa berminggu-minggu lalu pulang. Tapi dia sering dirasuki Dewa. Dia adalah wadah Dewa berbicara. Kadang, jika sedang kerasukan, Zoe akan bersuara lain, bukan suaranya. Lebih rendah dan berat. Dia juga bisa menyembuhkan banyak penyakit dan memakmurkan desa ini. Kemampuannya nyaris setara dengan kepala suku, namun kepala suku tidak bisa kerasukan”

Kebodohan yang lain.

Namun Luna tidak akan repot-repot mengatai siapapun dungu, bodoh atau sejenis lainnya di tempat ini. Di terima tanpa diacungkan tombak saja sudah bersyukur. Ia hanya mengangguk meski tak akan menunjukkan gestur antusias.

“Lalu, kenapa dia tidak jadi kepala suku? Itu artinya, kepala suku memiliki mukjizat yang lebih hebat?” akhirnya ia bertanya setelah sekuat tenaga tidak membantah atas mukjizat sialan atau apapun yang jelas tidak akan terhubung dengan pola pikirnya yang realistis.

“Kepala suku lebih hebat. Dia bisa menyuburkan tanaman yang hampir mati. Beberapa bulan yang lalu, tanaman Arkhava di hutan ini nyaris gundul karena pepohonan yang mati serempak secara misterius. Para warga menyebutnya kutukan karena terlambat memberi sesaji pada penguasa hutan. Namun saat Dia datang, Dia yang memulihkan segalanya. Dan setelah ia menjabat resmi menjadi kepala suku, desa ini benar-benar makmur”

“Oh.. waw… aku ingin sekali bertemu dengan kepala suku” bisik Luna serius. Ia melirik adam yang kembali fokus pada rombongan yang perlahan bergerak—membawa Zoe ke kediaman kepala suku.

“Tidak mudah, namun bukan berarti mustahil” kata Hasan. Malam itu cukup sampai disana karena Luna benar-benar butuh istirahat.

𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼

Pagi menyambut dengan suara kayu di gedor-gedor. Aroma anggrek pertama kali merangsek saat kesadarannya kembali. Luna menggeliat, menumpu pipi kirinya ke bantal kapuk namun tidak menemukan Dey. gadis muda itu sudah bangun lebih dulu. Sementara saat matanya menyeberang ke sebelah, Adam masih tidur. Mulutnya terbuka dengan kertas catatan di atas perut.

Beringsut derapnya pelan membuka pintu yang membuatnya lebih dulu harus membungkuk. Matanya menemukan jawaban—suara di gedor berulang. 

Bukan gedoran, melainkan Dey yang sibuk merencah daging kelinci. Kapak tanggung menghantam daging—juga mengenai balok yang menjadi talenan. Kulit kelinci tergeletak tiga buah. Warnanya putih, abu-abu dan coklat. Luna mendekat–menjarak sekitar dua meter.

“Kau melakukannya sendiri?” tanya Luna basa-basi. Dey menjawab yang itu dengan anggukan cepat.

“Aku akan membuatkan kelinci bumbu kuning untukmu dan kakak yang satu lagi” jawabnya, tanpa mengalihkan perhatian.

“Berapa Hasan membayarmu?” Luna benar-benar penasaran. Yang ada dikepalanya sekarang, tidak jauh-jauh dari kebusukan—seperti Hasan yang korupsi dan memberikan nominal yang tak layak untuk si gadis pemilik rumah tempatnya menginap. Belum lagi diberi makan. Rasanya sangat mahal, Luna bersumpah ini lebih mahal daripada hotel eksklusif di Jakarta. Siapa yang akan menampung orang luar dalam suku pedalaman seramah ini?

Atau selama ini hanya asumsi liar yang diperkuat orang-orang tentang hutan ini? Juru kunci, artikel di internet dan lain sebagainya. Nyatanya, tempat ini sangat jauh berbeda dengan yang ada di kepalanya. Menganut kepercayaan aneh dan bodoh seperti kejadian tadi malam—bukan sesuatu yang bisa di publikasikan lalu di besar-besarkan untuk menjadi berita heboh. Jika dirangkum, seluruh hal yang ada di sini lebih layak, lebih manusiawi dan lebih maju dari dugaan. Mempercayai mistis itu ciri khas orang jaman dulu. Luna paham meski tetap kebodohan di matanya.

Atau hanya kesimpulan yang di ambil terlalu cepat? Luna belum genap sehari berada disini. Ia bahkan belum berinteraksi dengan warga lain. Juga keinginannya untuk bertemu kepala suku. Meminta wawancara meski ia harus memutar otak—dengan apa ia menukar waktu orang nomor satu di desa ini.

“Hasan memberiku air selama satu bulan penuh. Akan ada orang yang membawakan air tiap pagi dan sore masing masing 76 liter untuk pagi dan 76 liter untuk sore. Itu sangat membantuku meski hanya sebulan” lantas Dey berhenti, kelinci sudah selesai di rencah “kau sendiri, berapa lama akan menginap disini dengan suamimu?”

“Dia bukan suamiku” ralat Luna cepat “aku juga tidak yakin. Mungkin paling lambat seminggu, kuharap bisa kurang dari itu. Maaf merepotkanmu”

Dey menggeleng. Ujung linennya kotor kena darah. Saat berbicara, Luna memperhatikan giginya yang  tidak kuning meski tidak tahu dengan apa mereka menyikat gigi.

“Aku senang kalian disini. Malamku tidak sepi. Ada napas di sampingku” lantas ia bangkit. Luna tidak mengikutinya, namun memandang hingga Dey menghilang ke belakang untuk memasak.

Kata Dey, jarak antara rumah dan sungai sekitar satu kilometer. Maka, Luna memutuskan untuk tahu diri tanpa menggunakan banyak air yang diantar lebih dari tiga liter.

Ia mandi, sikat gigi, dan segala hal yang melibatkan air dengan sangat minimalis. Yang paling penting ketiak dan selangkangannya dibersihkan. Kendati, Luna tetap mandi dengan sisa sabun yang diseka paksa dengan handuk saat tak tuntas di siram.

Begitu juga Adam, berdua sepakat. 

Dan setelah sarapan, Luna dan Adam memutuskan untuk pergi berjalan-jalan mengelilingi hutan–rumah-rumah atau apapun. Gadis itu membawa kamera besar, perekam suara, dan segala alat yang paling dibutuhkan untuk pekerjaannya. Sementara Adam seperti biasa; buku catatan.

Luna sesekali ikut bergabung dengan warga yang duduk-duduk di bawah pohon rindang. Namun anehnya sangat sepi. Kebanyakan hanya ibu-ibu yang sedang hamil atau ibu menyusui dan memiliki bayi sepanjang jalan yang mereka temui. Maka,  sesekali bertanya ini dan itu, meski tak ada satupun dari mereka yang sudi menjawab. Tidak ada, benar-benar nihil. Begitu juga Adam. 

Mereka hanya melihat—memperhatikan dari ujung kaki ke ujung kepala. Lalu saling pandang dengan teman-temannya. Sesekali berbisik dan benar-benar tidak bisa diterjemahkan saking pelannya.

Adam berinisiatif memberikan snack pada anak kecil. Namun belum sempat di terima, ibunya sudah menjerit dan memarahi anaknya keras. Katanya tidak boleh menerima makanan dari orang asing karena mereka bisa saja membawa sial.

Mereka; Luna dan Adam.

Tidak lagi menggunakan metode itu, akhirnya Adam dan Luna hanya berjalan-jalan. Memotret, menikmati alam yang tak bisa di lewatkan begitu saja.

Kaki mereka melangkah tanpa tahu arah tujuan. Yang paling penting, Adam mengingat rute pulang dengan menyebar anggrek sepanjang mereka jalan.

Hingga derap keduanya sampai di bangunan paling modern dari semua hunian—sepanjang mereka berjalan. Bangunan yang melibatkan beton atau matrial modern dengan tanda salib yang berdiri kokoh mencuri perhatian.

Gereja. 

“Bangunan baru? Betonnya seperti masih basah” gumam Luna menyindir meski entah untuk siapa. Adam mengurtkan dahi.

Namun belum sempat mendekat. Ia mendengar suara gaungan aneh dari sana. Dan setelah jarak mereka hanya 10 meter, barulah terlihat jika di sana padat. Maksudnya, di dalam. Warga mungkin sedang melaksanakan ibadah—atau entah. Luna sendiri atheis. Saat ia berpandangan dengan Adam, ia juga tidak menemukan apa-apa. Mungkin saja Luna mendapat jawaban atas rasa penasarannya mengapa sepanjang perjalanan mereka hanya menemukan wanita dan bayi. Sisanya berjubal di dalam gereja.

“Apa agamamu?” tanya Luna.

“Tidak yakin. Aku bisa menyembah apa saja tergantung kebutuhan” jawab pria itu praktis.

“Bagus, ayo ibadah” Luna menyeret tangannya untuk masuk ke dalam.

Tentu saja tidak ada sendal. Dari pintu masuk, Luna dapat melihat orang-orang sibuk menonton alih-alih menggaungkan puja-puji terhadap Tuhan. Tangan mereka menaut ke belakang, kepala celingukan–mencari celah untuk menonton di antara kepala-kepala dalam keramaian.

Adam membawa Luna menerobos paksa untuk melihat apa yang terjadi. Meski lumayan mendapat tatapan melotot dan bentakan dengan bahasa yang tak dimengerti, namun Adam berhasil membawa Luna berdiri di depan.

Bukan sedang kebaktian.

Bukan juga kotbah atau acara khusus di tanggal–tanggal  merah yang melibatkan agama itu untuk ke gereja. Melainkan seorang pastor yang sedang menangani orang kesurupan.

Luna masih ingat wajah itu.

Pastor dengan jubah hitam dan seseorang yang dianggap mukjizat karena tidak pulang berminggu-minggu.

Namun bagian yang membuat rahang nyaris turun ke lantai adalah, pemuda bernama Zoe itu merayap di dinding. Pencahayaan sangat redup nyaris gelap dan pria itu merangkak—menempel di plafon. Tubuhnya menempel dengan posisi yang tidak wajar. Rambutnya menjuntai–menutupi sebagaian wajahnya.

Suasana hening.

Sang pastor melangkah tenang. Seakan sudah menunggu momen ini. Ia menundukkan kepala sejenak, lalu berbicara dengan suara lebih rendah serta penuh hormat.

“Jika benar Engkau yang datang.. Tunjukkanlah kepada kami” jelas, titah itu jelas di tujukkan untuk makhluk yang sedang menempel di plafon. Namun tatapan Luna teralihkan pada satu pria paling tampan disana. Pria yang duduk dikursi khusus—menggunakan jubah merah dengan bordiran benang emas terbuat dari sutra. Matanya bergerak menuju sang pastor dan bergantian pada Zoe yang mulai menggeram di atas.

“Itu kepala suku” Luna kaget karena seseorang tiba-tiba berbisik tepat di belakangnya. Itu adalah Hasan.

“Kau memang selalu datang tiba-tiba seperti ini?” tanya si gadis, sama berbisik. Pria itu menggeleng.

“Aku sejak pagi buta disini. Kau baru datang dan aku mendekat. Tapi tampaknya kau sangat fokus” kata Hasan “dan itu adalah kepala suku yang meminta pembuktian bahwa Zoe merupakan wadah dewa” Luna mengangguk-angguk paham.

“Apa Zoe pendatang baru juga?” tanya si gadis lagi. Hasan menggeleng.

“Dia warga lokal asli. Tapi sejak dulu, dia terkenal sangat bandel. Zoe begitu gemar berpetualang hingga keluar dari desa. Tiap pulang, ia akan mendapat hal baru. Dan pola pikirnya tidak sekuno warga lokal karena ia sering kabur keluar. Tapi setelah ia sering kerasukan Dewa, warga mulai percaya jika Zoe adalah manusia pilihan. Dan hari ini, sang kepala suku yang akan menentukan itu, menentukan apakah Zoe layak berada di barisan atas untuk menjadi penasehat”

Luna mengangguk-angguk. Lantas ia membidikkan kamera. 

Saat lensa menangkap gambar, ia menyadari jika sang kepala suku melihatnya. Dengan gestur canggung, ia kembali menurunkan kamera, lalu mulai memperhatikan Zoe yang masih setia menempel pada plafon.

“Kalian… akhirnya mendengar..” suara itu keluar. Suara rendah, mirip orang menggeram namun tidak. Suara khas seperti di film horror ketika kesurupan. Luna hafal karena jika sedang stress, Luna melampiaskannya dengan menonton film horror. Adegan semacam ini cukup familiar.

Saat sang pastor berlutut, para jemaat secara praktis ikut berlutut. Ada juga yang menangis haru. 

Pastor mengangkat wajahnya, menatap ke arah Zoe dengan ekspresi takzim yang dibuat-buat.

“Kami telah menunggu, selama ini” katanya. “Kami memohon petunjuk-Mu”

Zoe memiringkan kepalanya, gerakkan patah-patah “petujuk…” gumamnya, seolah mencicipi kata itu. Lalu tubuhnya merayap sedikit di sepanjang plafon, membuat bayangan bergeser di dinding.

“Bukannya aku.. Mulai di lupakan?”

Pastor langsung menoleh ke jemaat “kalian dengar?” suaranya meninggi sedikit “kita telah lalai”

Beberapa orang mulai terisak. Dan saat semua orang nyaris sujud atau paling tidak berlutut, hanya Luna yang berdiri. Maka, Adam menarik tangannya keras untuk pura-pura patuh.

“Kalian meminta kemakmuran?”

“Ya,” jawab sang pastor cepat, hampir memotong. “Kami meminta berkat. Untuk desa ini” lalu jeda, seperti Dewa di atas plafon itu sedang mempertimbangkan. Lalu—

“Patuhlah kepada pemimpin kalian. Dia adalah titisanku, dia mewarisi kekuatanku, dia yang mampu membuat kalian sejahtera. Aku ada disini karena dia, aku mengimaminya, aku mendampingi. Sujudlah pada pemimpin kalian”

Mendengar itu, sang pastor kembali mengangkat kepala, lantas berpindah haluan–berjusud pada sang kepala suku yang hanya diam dengan senyum yang ditahan, namun tetap terlihat berwibawa. Para jemaat kontan mengikuti pastor.

“Jika kalian tidak patuh pada pemimpin kalian, berkhianat, tidak percaya dan ragu, maka, binasalah kalian dengan bencana kelaparan dan kekeringan”

Seorang wanita langsung menangis dan bersujud lebih dalam, yang lain makin khidmat–menunduk. 

“Kami akan patuh” kata pastor dengan keyakinan penuh.

Setelah itu, Zoe pelan-pelan turun. Saat menyentuh ubin, tubuhnya tiba-tiba pingsan dan beberapa orang dari dalam langsung lari tergopoh-gopoh mengangkat tubuhnya masuk ke dalam ruang lain—di belakang dalam gereja. 

Dan bagian lain—yang membuat Luna mual adalah, satu persatu warga bergerak perlahan—merangkak dengan dua lutut dan dua tangan mereka untuk bergantian mencium kaki sang kepala suku. Antrian itu panjang dan Luna bersumpah tidak sudi melakukannya. Lantas ia mencubit lengan Adam.

“Aku tidak akan melakukannya” bisik Luna.

“Aku juga, apa kau ada ide?” tanyanya kemudian, si gadis diam—mencari akal.

“Aku akan pura-pura sakit perut atau sialan apapun asal jangan mencium kakinya. Seperti orang sinting” Adam hanya mengangguk-angguk saja tanpa arti.

Lalu demi harga diri, demi sisa kewarasan dan akal sehat, Luna ikut merangkak, namun keluar dari kerumunan, melewati orang-orang yang menurutnya tidak  berakal. Adam membuntut di belakang sementara aksinya jelas diperhatikan oleh sosok yang di anggap paling agung disana.

𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼

Bukan kembali ke rumah Dey.

Ada Hasan yang membawanya ke bagian hutan paling utara. Disana, ia ingin menunjukkan pada Luna dan juga Adam tentang pohon yang sangat sakral. Pohon yang tumbuh tidak di lahan sembarangan. Hanya tempat-tempat tertentu dan masih ada yang belum memprediksi tanah atau daratan macam apa yang bisa menjadikan pohon itu hidup–selain lahan seluas lima ratus hektar persegi di kawasan itu. Ya, hanya di dataran itu. Karena setiap warga mencabut yang kecil lalu di pindahkan, pohon itu akan mati. Selalu seperti itu berulang-ulang. Hanya hidup jika tumbuh sendiri. Tidak bisa dibudidayakan. Setidaknya, begitu menurut warga.

Pohon itu menjadi sangat penting karena sejak zaman nenek moyang mereka, pohon dengan nama Arkhava merupakan pohon yang batangnya  menjadi rangka rumah. Keras, tapi ringan. Kulitnya bisa dikupas tipis jadi kain kasar. Namun sangat jarang orang menggunakan pakaian dari kain ini karena hanya boleh di pakai oleh kesatria yang akan berperang dengan musuh.

Daunnya lebar mampu menjadi atap jika dikeringkan, meski paling banyak di gunakan untuk wadah air. 

Getahnya menjadi obat luka, dan jika berlebihan akan menjadi racun untuk dioleskan pada panah atau tombak. Dan akarnya menyimpan sumber cadangan air saat musim kemarau.

Suku di sini menganggap Arkhava sebagai ‘ibu yang diam’ tidak boleh menebang sembarangan—harus lewat ritual dan digunakan untu keperluan krusial.

Lalu tibalah hari-hari dimana hampir tujuh puluh persen pohon disana daunnya menguning. Tangkainya membusuk dan pohonnya seperti akan mati. Itu terjadi serempak—nyaris menyeluruh. Para warga geger dan ketakutan. Mereka menganggapnya ada peringatan bahaya. Desa mereka di kutuk serta Dewa sedang murka. 

Segala spekulasi berjubal bagai gonggongan anjing yang bersahut-sahutan. Kendati, tak ada yang benar-benar bisa memulihkan situasi itu meski mereka sudah menebar sesaji. Sudah bersujud lama di dekat goa besar yang dipercaya tempat para Dewa lewat menuju khayangan. Namun nihil. Ratusan pohon mulai tumbang dan mati.

Hasan memegang salah satu pohon yang tingginya seperti akan menyentuh langit.

“Lalu, Kepala suku datang. Dia yang membuat pepohonan kembali subur hanya dalam waktu kurang dari satu bulan. Seluruh tumbuhan sehat, hijau dan segar lagi. Sang kepala suku pula lah yang memberikan warga bibit buah-buahan serta pipa untuk menyalurkan air dari sungai ke rumah-rumah warga. Meski harganya sangat mahal. Tapi itu merupakan mukjizat”

Mendengar itu, Luna memutar bola mata jengah. 

“Padahal, jika desa ini masuk ke catatan pemerintah dan mendapat naungan di bawahnya. Mungkin saja listrik serta teknologi akan masuk. Dan mungkin saja pemerintah akan di sebut Tuhan”  komentar gadis itu asal “berusaha mengisolasi diri. Tapi menerima saat ada orang asing masuk dan mengaku bisa menyuburkan pohon dan menyalurkan air. Aku bersumpah aku juga bisa”

“Tidak sesederhana itu, Nona. Seluruh komponen yang ada disini, tidak sesederhana kacamatamu yang dangkal dan kelewat rasional. Sungguh” 

“Ya, karena ini adalah orkestrasi kebodohan” si gadis mendekat pada salah satu pohon “aku bersumpah batang ini baik-baik jika bukan ulah orang yang ingin mencari keuntungan” Luna lurus menatap Hasan “lalu, apa imbalan yang diminta kepala suku pada seluruh warga?”

Hasan terlihat berpikir meski sebenarnya jawaban itu tidak perlu pikiran, hanya berikan fakta.

“Warga biasanya akan memberikan anak gadis mereka yang paling cantik. Itu pun, kepala suku masih pilih-pilih dan kebanyakan tidak mau. Dia bilang, dia tidak suka gadis kulit gelap dan bau. Lalu kami semua memberi upeti. Setiap bulan, setidaknya kami—para warga bergantian mencari emas dan membuka pertambangan di bagian selatan lalu memberikan paling rendah satu kilogram murni pada kepala suku”

Luna menganga—terbelalak matanya dengan rahang terbuka—seakan jatuh ke tanah.

“Satu kilogram emas murni setiap bulan?” ulang gadis itu, masih tidak percaya. Hasan mengangguk yakin. Luna lantas menatap Adam, tapi pria itu terlihat biasa saja dan malah sibuk memegang batang pohon.

“Satu kilogram  itu paling rendah. Warga biasanya rata-rata memberikan lebih banyak emas murni. Pohon ini lebih berharga dari emas” kata Hasan lagi. Luna menggeleng-geleng.

“Orang gila” 

𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼

Luna sudah banyak menulis pada laptopnya. Ia juga merekam banyak suara yang akan ia susun ulang menjadi tulisan menarik dan segala hal yang berkaitan dengan tugas dan hutan ini. Di tambah foto yang berhasil di dapat. Yang paling penting adalah catatan upeti kepala suku yang tidak masuk akal.

Dan malam ini, ia duduk bersama Adam persis dua puluh meter dari rumah Dey. sambil membakar sisa daun kering serta jagung tua pemberian Dey—yang jika dikunyah membuat rahang pegal.

 Kendati tetap nikmat saat dimakan malam-malam setengah lapar.

“Boleh aku melihat catatanmu?” Luna menatap ke samping. Tempat Adam melamun—menatap kobaran api. Kayu kecil menjulur dengan jagung menancap diujungnya. Api menjilat-jilat hingga matang.

Pria itu menggeleng.

“Kenapa?” tanya Luna lagi.

“Aku tidak punya alasan untuk memberikannya padamu. Tugasku disini hanya menemanimu. Sedangkan tugas untuk mencari tahu banyak hal tentang hutan ini berikut warga serta isinya adalah tugasmu. Jika aku ingin memberikan catatanku padamu, aku memilih untuk menjualnya dengan harga yang tak akan pernah mampu kau bayar”

Luna menganga tidak percaya. 

Kertas catatan seukuran saku yang sudah seperti nyawanya sendiri. Luna bersumpah bergidik aneh.

“Persetan dengan catatanmu yang tak seberapa itu” kata si gadis akhirnya.

“Bagus, jangan tertarik”

Dan Luna kembali bersepkulasi jika isinya adalah lirik lagu yang sedang ramai di sosial media. Dimatanya,  Adam terlihat tidak waras juga. Dimulai saat pria itu mau-mau saja ikut mengemban tugas tidak masuk akal, lalu membayar Hasan. Semuanya aneh meski Luna sedang tidak ingin terlalu banyak berpikir.

Bertepatan dengan api yang semakin membumbung tinggi. Tiba-tiba dari balik semak dan pepohohan, beberapa orang keluar membawa–mungkin saja tombak, mungkin juga bambu biasa. Yang jelas bentuknya mirip-mirip dengan itu. Mereka tiba-tiba mengacungkan benda itu.

“Kalian mau membakar hutan, heh? Kalian para pendatang adalah sumber bencana yang akan merusak dan menyebarkan paham sesat. Kalian pergi atau kami bunuh” malam itu, masih begitu jelas dalam ingatan serta hitungan akurat. Lima orang, benar. Mereka menggunakan linen crop dan celana selutut. Hidung mereka besar dan kulit gelapnya seakan menyatu dengan malam.

Luna kontan lari tunggang langgang. 

Larinya sembarangan menerabas apapun. Gadis itu tak lagi menghiraukan temannya.

Karena memang dikejar. Mereka mengacungkan tombak. Satu dua melesat dan menancap dipohon. Sisanya sama, tidak kena. Ia berlari dengan insting bertahan hidup kelewat darurat. Rasanya seperti kakinya tak lagi menginjak tanah. Betisnya sesekali tertusuk dahan tak lagi terasa.

Ia tak melihat Adam. Tidak, tidak peduli. Langkahnya besar, ia menerobos malam yang pekat. Tak ada lampu, tak ada obor seperti tempo malam saat kehadiran Zoe dan pastor. Semuanya gelap gulita sangat pekat.

Juga tidak ingat berapa lama ia lari

Terseok-seok langkahnya. Saat pertahanannya sampai ambang batas dan sesekali ia jatuh tersandung akar pohon dan mata kakinya tertusuk ranting kayu. Adam masih tidak ada, pria itu tidak ikut lari bersamanya atau lari juga, namun berlawanan arah—bisa juga pulang ke rumah Dey lalu mengunci pintu.

Tidak tahu. Luna tidak bisa berpikir jernih. 

Namun kakinya di seret susah payah memasuki bangunan bagian belakang yang kosong. Ia tidak tahu bangunan apa. Namun temboknya dari beton. Ia masuk setelah membuka gerendel yang ternyata tidak di kunci.

Terlalu gelap. Terlalu pekat. Matanya tidak menangkap cahaya apapun bagai buta.

Ia cukup yakin jika sedang bersembunyi di bangunan milik warga. Meski jika dipikir ulang, hampir dua hari berada disini, Luna tidak menemukan bangunan beton kecuali gereja. Ia juga belum sempat pergi ke kediaman kepala suku.

Cukup lama ia meringkuk di sana. Hingga suara lain terdengar begitu jelas meski tidak terlalu dekat. Sunyi yang mencekik menjadikan bunyi apapun terasa nyaring. Gadis itu menajamkan rungu untuk menyimak siapa saja yang bicara.

“Kita harus kembali menyuntikkan racun ke pohon itu. Tekan para warga untuk menaikkan jumlah upeti dengan alasan Dewa ingin emas lebih banyak. Tambang sekaya itu, mengapa mereka tidak giat? Jika perlu, seluruh warga desa ikut terjun mencari emas, laki-laki, perempuan, atau anak-anak sekalipun.” Luna familiar dengan suara itu, ia mencoba mengingat.

“Kalau begitu, iman warga kepadaku akan memudar. Mereka akan berpikir jika aku gagal dan tidak mampu lagi menjaga desa ini” sergah suara lain. Yang ini, Luna baru mendengarnya.

“Katakan pada mereka bahwa kau bicara dengan Dewa dan Dewa yang menghendaki”

“Urusan Dewa erat dengan pastor, bukankah akan tidak natural jika aku memegang seluruhnya?” jawab suara yang tak dikenal itu.

“Seluruh warga disini sangat bodoh. Tidak natural apanya. Mereka saja percaya jika Zoe kerasukan Dewa”

Lalu suara lain tertawa.

“Aku hampir ketahuan saat merangkak di palfon. Salah tumpu sedikit saja, kakiku akan amblas” pria itu tertawa lagi. Tawa yang terdengar tanpa humor “harness dan tali tipis akan terlihat saat pencahayaan terlalu terang. Tapi aku gagal meraba kerangka kayu pada plafon saat terlalu gelap. Sialan, kenapa tugasku paling sulit?”

Lalu suara pukulan ringan menyusul. Pria yang mengeluh itu mengaduh pelan.

“Lalu, apa rencana kita agar bisa menekan warga supaya mau memberikan emas lebih besar. Ada ide?”

Luna masih menyimak. Tidak, ia bahkan merekam menggunakan pena.

“Sementara jangan gegabah untuk kembali merusak pohon. Lebih baik andalkan Zoe untuk kerasukan yang lebih meyakinkan” jeda sebentar “kau harus terlihat lebih bersinar, Zoe. Seperti peri dengan taburan sparkle. Lalu minta warga untuk memberikan hasil bumi yang lain. Berhenti menyodorkan gadis-gadis bau kepadaku. Aku hanya butuh emas”

Sisa orang tertawa.

Lalu Luna mendengar suara langkah tergopoh-gopoh. Tidak ada suara lain selain itu.

“Ah.. kau anaknya Darmaja, ya?” kata salah seorang lagi. Belum ada suara asing yang menyahut kecuali tiga suara yang sejak tadi di dengarkan oleh Luna.

“Bagaimana dengan gadis itu?”

“Jurnalis, ya? Tidak kusangka dia cantik sekali”

“Kau bilang, dia jurnalis yang tahu banyak hal tentang bisnis ini. Dia lebih cocok menjadi istriku. Lagi pula, kenapa perempuan harus repot-repot mengurusi pemerintah dan membongkar pertambangan ilegal? Sialan” 

“Kau bisa mengawininya jika mau”

“Tidak sesederhana itu, namun bisa saja. Tapi yang paling penting adalah menyingkirkannya”

Luna membekap mulutnya sendiri. Tiba-tiba sekujur tubuhnya merinding. Degup jantungnya berpacu kelewat kencang hingga terdengar nyaring menggedor-gedor gendang telinga. Dari nama Darmaja saja, ia sudah memprediksi kemana semua ini terhubung.

“Aku berencana membunuhnya tadi. Tapi dia berhasil kabur. Dia sangat keras dan realistis. Dia juga pintar. Instingnya kuat dan dia selalu membaca situasi dengan baik kecuali menyangkut uang karena miskin” dan dari semua hal, Luna lebih kaget dengan suara itu. Jantungnya seakan  berhenti pada detik suara itu keluar.

Suara Adam.

“Dia juga begitu kompeten dan benar-benar jadi momok bagi… yah, kau tahu. Ayahku kerepotan karena satu gadis yang begitu gigih membongkar bisnis ini. Aku baru saja nyaris membunuhnya. Tapi sete;ah dia kabur, aku mengurungkan niat karena kupikir dia akan berguna bagi kita. Jika dia dipihak kita, mungkin saja dia memiliki lebih banyak ide untuk menguras seluruh emas di tanah ini. Seperti meyakinkan para warga untuk memasukkan para penambang dari luar dengan alat tanpa membuat warga takut atau menentang”

Jeda, semua orang jelas sedang menyimak Adam bicara. “Jadi, akan lebih baik jik—”

Adam tidak melanjutkan kalimatnya tepat saat suara jeritan terdengar dari arah belakang—gudang. 

Luna menjerit tatkala sesuatu menyentuh pergelangan kakinya. Sesuatu yang dingin, tipis, dan bergerak tanpa suara; ular. Benar, itu ular. Bahkan ketika refleks tangannya membuang makhluk itu, Luna meraba bentuknya dan gadis itu menjerit sekuat tenaga, membuat siapa saja di tempat itu mendengar.

Sial.

𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼

Kepalanya pusing.

Suara orang mengobrol terasa sangat dekat. Aroma rokok merangsek memenuhi paru dan yang paling berat adalah tengkuknya—seakan kesemutan.


Luna membuka mata tanpa tau bagaimana caranya. Sakit kepala membuat pundaknya seakan dibebani karung berisi pasir basah. Tapi mau tidak mau ia mendongak dan hal pertama yang ia lihat adalah dipan.

Kamar. Setidaknya ada kasur dan dipan serta nakas berikut lemari. Meski ia di kamar—mungkin, namun ruangan ini lebih mirip penjara karena jeruji besi terkunci menjadi satu-satunya jalan keluar. 

Tubuhnya duduk di kursi kayu tunggal. Dua tangannya di ikat ke belakang dan sejak tadi, Luna duduk—menunduk pingsan.

Matanya buru-buru memindai apapun. Mencari siapapun yang ada di balik ruang ini. 

Kamar temaram dengan penerangan dari lubang angin yang membawa sorot matahari masuk meski tak seberapa. Luna sadar jika malam sudah berlalu dan ia pingsan dalam waktu panjang hingga matahari telah menyorot.

Diperhatikannya lubang angin saat matahari membentuk garis memanjang ke lantai–sementara debu-debu berterbangan campur asap–mungkin rokok tadi, terlihat begitu banyak

“Halo? Ada orang?” akhirnya ia memangkas ketakutan. Tidak tahu apa yang diharapkan setelah terbangun dalam posisi ini. Luna tidak punya ide. 

Suaranya menggema mungkin sampai luar. Ia tidak bisa melihat kejauhan karena dari jaraknya memandang, diluar terlihat gelap. Namun tidak lama setelah suaranya seperti baru saja mengudara, derap kaki mendekat menyusul setelahnya. Luna menajamkan rungu. Sebenarnya, kepalanya gatal dan begitu pegal. Bokongnya panas.

“Sudah bangun?” Luna spontan melihat ke balik jeruji besi. Tak ada bayangan dikepalanya meski saat matanya bertemu dengan pria tampan berpakaian mahal, ingatan tentang tadi malam berputar otomatis dan membawanya pada ingatan sebelum ia terbangun di tempat ini.

Kepala suku.

Rambutnya rapi di sugar dengan pomade—mengkilap ke belakang—menampilkan  dahi yang seakan bersinar meski tanpa lampu tambahan. Senyumnya terlihat sekilas meski setelah itu lenyap di bawa gerombolan debu yang di terjang oleh mantel mahalnya.

Luna memperhatikan naik turun sebelum menyerah dan memilih melihat debu. Bunyi kerincing kunci dari sakunya mengalihkan.

“Luna, benar?” tanyanya. Suaranya pelan dan dalam. Si gadis belum menjawab dan memililih beradu legam dengan mendongak “aku Nic. Kepala Suku di desa ini”

Luna tidak tahu apa perkenalan semacam ini penting. Namun yang jelas, ia ingin menggaruk kepala dan bangkit karena bokongnya panas.

“Kau menguping obrolan kami di gudang gereja, benar?”

Pertanyaan itu juga Luna tidak yakin mampu menjawabnya. Karena jika ia mengatakan tidak sengaja, apakah pria di depannya akan percaya dan bersedia melepaskannya begitu saja? Sepertinya tidak, dan Luna memilih menggeleng meski reaksi itu juga memerlukan penjelasan.

“Aku tidak akan memarahimu, tahu? Karena sudah terlanjur begini, maka, bergabunglah denganku. Kau tidak punya pilihan”

Ujarnya lagi. Itu keputusan sepihak yang mutlak–Luna dan membacanya meski dengan kepala yang seakan di gerayangi ribuan semut yang berbondong-bondong menggaruk kulit kepalanya.

“Aku tidak punya pilihan” akhirnya ia bersuara. Matanya memindai legam milik pria itu lagi, berharap menemukan jalan pulang dari sana. Dan Nic mengangguk pelan.

“Sebenarnya, apa tujuan kalian…” Luna tidak segera melanjutkan. Tiba-tiba sosok Adam muncul dikepalanya sebagai pengkhianat sejati “kenapa aku harus terlibat? Aku bukan orang yang bisa terlibat seperti ini” Luna memutar otak, ia mencari cara supaya bisa lepas tanpa menyinggung perasaan dan memperburuk situasi “kau tau? Aku tidak memiliki apapun. Melepaskanku dari sini, aku akan bersumpah tak akan buka mulut atas apapun. Aku akan mengisolasi diri di rumahku. Aku tidak akan bicara. Jadi kumohon, hm? Bisa lepaskan saja aku?”

“Kau mengatakan itu setelah membuat artikel serta laporan mengenai pertambangan ilegal yang menyeret nama pejabat dan tempat ini. Kau sudah terlibat terlalu jauh dan sekarang kau bertanya kenapa kau harus terlibat dan akan mengisolasi diri di rumah? Itu bagus! Maka, bergabunglah disini, kau akan terisolasi juga. Sama saja, kan?” kata Nic bersemangat.

“Kau tidak mati menuju jalan kemari. Kau harus bersyukur untuk yang itu. Adam berbaik hati padamu, jadi, tahu dirilah sedikit. Jika kau tidak berguna, maka, rencana awal akan dilakukan” sambungnya lagi. Luna memproses semua yang dikatakan pria itu. Dan lagi-lagi obrolan mereka di gereja semalam kembali  terhubung bagai benang yang saling berkaitan. 

Tidak sampai disana. Luna juga ingat tentang artikel terakhir yang ia rilis serta penyerahan laporan kepala pihak berwajib yang malah membuatnya menjadi tersangka kejahatan—alih-alih tepuk tangan atau ungkapan terima kasih karena sudah mengungkap penjahat dengan bukti kelewat akurat. Ia membongkar bisnis ilegal seorang pejabat yang mengeksploitasi tanah air Papua. Namun bodohnya, Luna tidak mencari tahu tentang desa–suku pedalaman ini—jika tempat pertambangan itu justru berada tepat di dalam desa ini. Lagi pula tawaran untuk ke tempat ini begitu dadakan tanpa obervasi lanjutan. Dan Luna merutuki semuanya.

Merutuki kecerobohannya, juga rasa putus asanya terhadap sumber penghasilan.

“Sekarang jujurlah padaku. Kenapa manusia mau repot-repot membongkar kejahatan yang dimana dia tahu bahwa apa yang dilakukan akan membawa dampak tidak bagus baginya? Bagi pekerjaannya alias sumber pendapatan, juga bagi perusahaannya? Apa yang dicari? Validasi? Atensi? Atau apa?” mata Nic masuk lebih dalam–seolah menekan agar gadis itu memilih salah satu dari beberapa kemungkinan yang dipaparkan.

“Tentu saja karena kau iri” pria itu menjawab sendiri pertanyannya “kau iri karena kau miskin sementara oknum lain hidup bergelimbang harta dari jalur yang menurutmu kriminal. Kau iri dan kau berbuat susuatu untuk menuntaskan dengki di hatimu. Sejujurnya, kau juga mau, kau butuh uang. Kau hidup pas-pasan dan selalu mengumpati hari-harimu yang menyedihkan, kan? Kau sama dengan kami, dengan pejabat yang susah payah kau cari tahu cela nya. Bedanya, tidak ada yang mengajakmu, tidak ada yang memberimu kesempatan. Kita semua sama jika dihadapkan situasi itu, situasi sulit dan kesempatan besar untuk mendapat uang untuk hidup yang lebih layak”

Luna diam membisu.

Itu menyentil harga dirinya. Itu melukainya karena apa yang dikatakan Nic adalah benar. Selama ini hidupnya begitu sulit. Pendapatan dan cicilan begitu timpang. Sehari-harinya begitu sulit. Luna kadang hanya makan sehari  dua kali, itu pun tanpa lauk, tanpa protein. Hampir tujuh puluh persen uangnya harus  ia kirimkan pada ibunya yang sakit keras dan adiknya yang masih duduk di bangku SMP. Sementara ayahnya sudah lama meninggal. Luna mencukupi kebutuhan mereka dan menyambung hidup dengan pinjaman online karena jelas kurang. Untuk membayar kos kurang, untuk hidup layak kurang. Hidupnya mengerikan.  Ia terus mencari-cari. Entah, mencari tambahan uang atau sialan lainnya utnuk menyambung hidup. Maka, sebenarnya apa yang dipaparkan Nic adalah benar. Dan sana letak menjengkelkannya.

Ia membenci kenyataan bahwa para oknum pejabat dengan perut buncit terus mengisi perut mereka sementara ia kelaparan hanya menontondengan perut yang menyusut saking kosongnya. Apa yang dikatakan Nic benar, jika saja mereka memberi bagian padanya sedikit saja, maka, Luna tidak akan mengadukan mereka. Tidak juga menghabiskan banyak waktu untuk mengungkap hal-hal yang sepenuhnya ia tahu hanya akan merugikan diri sendiri.

Mata mereka bertemu lagi. Luna menelan liur susah payah.

“Aku ikut denganmu” putusan Luna kemudian. Nic tersenyum dan setelah itu, semuanya jauh lebih mudah.

𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼

Tubuhnya memantul-mantul. Dadanya naik turun begitu keras. Derit dipan bagai dikoyak makhluk besar yang mengamuk. Suara cabul menggema dalam kamar itu.

Nic berkeringat banyak, namun batangnya masih gagah menyodok-nyodok liang yang meregang paksa setelah penisnya merangsek. Gadis itu bukan perawan, namun entah apa yang membuat vaginanya terasa begitu sesak–menjepit batangnya begitu kuat.

“Dengar, aku mendengarkan usulanmu, huh? Sayang” suara Nic berat, ia mengubah posisi, membalik tubuh Luna dan membuat si gadis menungging sebelum ia menusuknya keras-keras tanpa ampun.

“HNGGHH!!! OHH!!!” Luna memekik keras “t-tolong… ah! Ah! Pelan-pelan!! Nic!! Please… oh!!” 

“Kau bilang akan mendoktrin warga agar mau menerima para pekerja tambang dan memasukkan alat berat tanpa membuat mereka merasa terancam, huh? Aku setuju” napasnya tersengal, penisnya sangat nyaman di dalam. Pria itu mendongak merasakan batangnya berdenyut-denyut seolah di remas dinding hangat.

“A-aku akan!! Tapi please… t-tolong pelan-pelan” Luna memelas. Ia benar-benar tak berdaya. Rasa nikmat menjalari seluruh tubuh dan sudah dua kali sejak orgasme pertama saat Nic menjilati kelentitnya seperti pria gila.

Juga Luna yang sudah sangat lama sejak ia menjalin hubungan romantis dengan seorang pria. Sudah sangat lama dan ia lupa. Hidup yang berat membuatnya tak ingat jika ada kegiatan badan yang begitu nikmat. Luna terlalu larut dalam masalah keuangan. Ia tidak pernah benar-benar hidup dengan normal.

Dan malam ini, vaginanya penuh sesak oleh penis gemuk yang terus memberinya kenikmatan yang telah lama ia lupakan. Kenikmatan yang membuatnya seperti jalang gila karena minta lebih. Memohon agar Nic terus mengisinya—menyesaki liangnya yang sudah sangat lama haus belaian.

“OH!!! SIALAN!! Vaginamu terlalu sempit… ah!.. Ini nyaman sekali.. Gila” Nic terus meracau. Tubuh Luna terhentak-hentak tidak lagi memiliki ritme, tidak beraturan. Ia  gagal mendeskripsikan nikmat karena benar-benar dibuat seperti akan melayang.

Dari pintu, sang pastor berdiri melipat tangan di dada melihat kegiatan dua manusia birahi yang memadu cinta. Sudah setengah jam kegiatan itu berlangsung dan sangat mengganggu. Suara mereka mengganggu.

“Sepertinya mereka akan menghancurkan ranjang” ujarnya saat kembali menutup pintu. Bicara pada pria yang sibuk membaca buku. Itu Adam, sementara di sebelahnya, Zoe tertidur dengan khidmat tanpa terganggu oleh suara kecipak dua paha beradu cabul dan desahan bagai suara kambing musim kawin.

Adam tidak menjawab. Ia hanya menurunkan kacamata untuk melihat pastor gadungan itu.

“Sepertinya mereka juga sudah memiliki rencana bagus” katanya lagi, meski tidak mendapat jawaban. 

“Apa tidak ada tempat lain? Aku tidak bisa membaca” kata Adam akhirnya. Ia kembali menutup buku. Mereka semua berada di kediaman kepala suku—yang jika dibandingkan, bangunan itu hanya mirip rumah sederhana dengan dinding permanen mirip gereja. Namun bagi warga, bangunan permanen adalah hal mewah yang menandai hierarki antara warga biasa dan para kalangan atas.

“Aku merekomendasikan Nic agar bercinta di plaza” ucap Aksa sembarangan. Adam mendengus. “Kita tunggu saja sampai selesai, setelah itu, mereka akan bicara”

“Kau tau” kata Adam lagi “sejujurnya, penisku juga ereksi dan ini menjijikan. Suara-suara itu membuatku gila” ia menyugar rambutnya ke belakang. “Aku belum pernah mencoba vagina gadis miskin”

“Apa ada bedanya?” tanya Aksa.

“Beda–mungkin. Katanya, vagina gadis miskin bentuknya horizontal”

Hening lagi, kecuali suara Luna dan hentakkan Nic yang menggila.

“Aku akan meminta bergantian setelah ini. Mau coba bertiga?” tanya Adam. Sang pastor menggeleng.

“Aku tidak berzina, itu dosa besar”

“Tapi kau penipu”

“Dosa penipu kecil. Bisa kutebus dengan gandum”

𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼𓇼

“Apa kau gila? Wah…” Aksa memutari tubuh Luna sambil bertolak pinggang. Wanita yang menggunakan pakaian bagus bak putri raja itu baru saja memberi ide tentang cara mengeruk kekayaan di desa tanpa rumit.

“Ya, aku hanya perlu menulis artikel bahwa desa ini begitu damai dan memang tak membuka pintu untuk orang asing karena menjaga keasrian tempat” jawab Luna yakin.

“Dengan meracuni seluruh warga?” tanya Zoe, pria itu jelas tidak setuju. Ini kampung halamannya, meski kedua orang tuanya telah meninggal karena wabah penyakit kusta. Namun membunuh seluruh orang-orang yang ada bersama pertumbuhannya benar-benar kelewatan “jika kau kukuh dengan rencana itu, maka, kubur dulu bangkaiku. Aku tidak sudi kalian meracuni semua warga disini”

“Aku juga tidak setuju, terlalu jahat” sanggah Aksa.

Adam dan Nic masih diam sementara Luna menunggu dua pria itu bereaksi. Namun tetap tidak ada meski sudah lama keheningan setelah tak ada lagi yang berkomentar.

Luna akhirnya menghela napas. Gadis itu pergi ke dapur.

“Aku akan membuatkan teh” katanya akhirnya. Ia tahu idenya yang sangat ekstrem tidak akan diterima. 

“Kupikir gadis itu gadis baik ketika kau mengatakan jika dia menjadi batu penghalang ayahmu” komentar sang pastor, wajahnya mengeras. Lalu suara kekehan Nic yang menjawab sebelum pria itu bicara.

“Sudah kubilang. Orang miskin yang usil adalah mereka yang iri karena tidak mendapat bagian. Dan lihatlah saat dia masuk ke lingkaran yang pernah dibencinya. Orang-orang seperti itu akan lebih gila. Pemimpin rusak lahir dari rakyat yang rusak. Ketimbang pusing mengkritik pemerintah, atau membuang waktu untuk hal-hal sejenis, lebih baik jual diri dan hasilkan uang” Nic terekekeh “tapi vaginanya benar-benar sempit, sialan. Aku akan bercinta dengannya hingga bosan. Setelah itu terserah. Jika menyusahkan, kita jual saja”

Kata-kata Nic terdengar begitu terang. Sangat. 

Luna yang membuat teh menggelengkan kepala sambil tersenyum jenaka.

Sudah lima hari sejak ia sadar dari pingsan di dalam penjara bawah tanah rumah ini. Dan meski sama-sama suka, tapi Nic mencabulinya hampir sehari delapan sampai sepuluh kali. Ia benar-benar bagai pelacur.  

Tangannya sibuk mencangking nampan. Teh kamomil terlihat bergetar dalam moksaat diletakkan di atas meja.

“Teh kamomil untuk meredakan stress. Kalian jangan terlalu tegang, kita bisa mencari cara lain” kata Luna lembut. Ia duduk di dekat pastor yang sibuk membaca alkitab.

“Kau cantik dan sangat pengertian” kata Nic memuji. Pria itu mengambil mok, menyesap teh. Lalu di ikuti adam dan dua lainnya. 

“Ah, aku juga punya kudapan yang kubuat tadi pagi, sebentar” Luna bangkit lagi. Ujung roknya menyapu kaki Nic.

Saat si gadis tak lagi terlihat, Aksa menyikut Zoe.

“Padahal cantik, tapi jika dijual akan sangat murah. Bagaimana dengan organ dan mata?” suaranya berbisik yang didengar semua orang. Termasuk Luna di dalam.

Adam memandang Aksa, lalu mereka semua saling pandang untuk isyarat yang tak dimengerti.

“Aku mengandalkanmu” jawab Nic akhirnya “kau pastor paling disukai Tuhan. Kita akan melakukan pengakuan dosa setelah semuanya”

Dan mereka tertawa bersama meski hanya sebentar. Sementara Luna tak kunjung keluar hingga sepuluh menit berlalu

Cangkir-cangkir  kosong hampir bersamaan. Chamomile yang mereka minum masih meninggalkan rasa hangat di lidah. Zoe bahkan sempat menyandarkan tubuhnya ke kursi setelah tertawa. Ia  menghela napas panjang,  “sebenarnya, untuk apa uang? Aku tidak berencana pergi dari desa ini. Tapi aku patuh pada kalian seperti orang bodoh” katanya. Lalu ia terdiam.

Tidak ada yang menajwab ocehannya, hingga beberapa menit. Zoe mengerutkan kening, tangannya refleks menyentuh perut. Hangat dalam perutnya tidak berhenti. Justru semakin panas. Ia menegakkan tubuh, napasnya tertahan sesaat.

“Ada yang aneh…” gumamnya.

Di seberangnya, Nic sudah lebih dulu merasakan perubahan itu. Ia tidak bicara—hanya menatap cangkirnya dengan curiga. Jari-jarinya bergetar halus saat ia mencoba menggenggamnya lagi.

“Tenggorokanku…” suaranya pelan, serak. “Seperti  dilapisi sesuatu.” 

Aksa ikut memperhatikan dua orang sebelum tubuhnya juga bereaksi. Ia tiba-tiba batuk, keras. Satu tangan mencengkeram dada. “Sial… panas sekali…” Wajahnya berubah, dari santai menjadi tegang. Napasnya memburu, seperti habis berlari jauh.

Sementara Adam belum bicara sejak tadi. Tapi sekarang, ia berdiri perlahan—atau mencoba. Kursinya bergeser kasar saat tubuhnya oleng. “Kenapa lantainya…” gumamnya bingung. Pandangannya tidak fokus, seperti ruangan di sekelilingnya bergeser beberapa derajat dari tempat seharusnya.

Zoe mulai panik. Panas di dalam tubuhnya menjalar ke dada, lalu ke leher. Ia menelan ludah, tapi tenggorokannya terasa licin dan asing. Seakan ada sesuatu yang menempel di dalamnya.

“Ini kenapa sih?” bisiknya.

Nic mengangkat tangannya, memperhatikan ujung jari yang mulai memucat. “Kesemutan…” katanya pendek. “Sial, ini tidak normal.”

Aksa kini sudah tidak bisa berdiri tegak. Ia membungkuk, kedua tangannya menekan perut. “Aku mau muntah…” napasnya tersengal. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

Adam terhuyung satu langkah—lalu berhenti. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Ia bisa merasakannya di telinga, di leher, di seluruh tubuhnya. Tapi anehnya, tubuhnya justru terasa semakin lemah.

“Jangan… minum lagi…” katanya lirih, meski cangkir itu sudah lama kosong.

Zoe mencoba berdiri, tapi lututnya tidak kuat. Ia jatuh kembali ke kursi, tangannya gemetar hebat sekarang. Dunia di sekitarnya mulai kabur di bagian pinggir, seperti ditelan bayangan perlahan.

Nic menggigit bibirnya, berusaha tetap sadar. Tapi napasnya mulai pendek.

Aksa tiba-tiba terbatuk keras, tubuhnya bergetar. “Sial… ini racun…” suaranya pecah.

Adam menyandarkan diri ke meja, berusaha menahan tubuhnya yang semakin tidak patuh. Ia melihat ke tiga temannya—satu per satu.

Zoe yang gemetar.

Nix yang berusaha tetap tenang tapi pucat.

Aksa yang sudah hampir ambruk.

Dan ia sendiri… yang perlahan kehilangan kendali.

Detik demi detik, tubuh mereka seperti diambil alih sesuatu yang tak terlihat.

Panas berubah jadi nyeri.

Kesemutan berubah jadi mati rasa.

Dan kesadaran… mulai terkikis, pelan tapi pasti.

Tidak ada lagi keraguan sekarang.

Teh itu—

tidak pernah dimaksudkan untuk menenangkan mereka.

Luna di dalam masih menunggu.

Menit demi menit berganti. Dan ketika rungunya tak lagi menangkap suara, gadis itu keluar.

Tubuh mereka bertebaran tidak teratur. Senyum cantik terukir.

“Racun dari getah Arkhava ternyata memang sekeren ini” katanya, tawanya pecah.

Langkah pertama yang dilakukan si gadis adalah menyeret ke empat mayat itu satu persatu ke ruang bawah tanah, lalu mengunci mereka di sana.

Luna lantas merampok semua hal yang bisa ia ambil untuk bertahan hidup.

Di kolong dipan kamar Nic, uang tunai dan bongkahan emas yang telah di pahat tersusun rapi dalam koper. Maka, gadis itu membawanya pergi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *