EPISODE 78 VAMPIR LOGAN ISABELLA

Pria itu mengingat malam apakah ini, atau diluar apakah sedang turun hujan—mungkin juga bulan masuk ke dalam bayangan bumi sehingga cahaya matahari yang bisanya menerangi bulan terhalang. Bisa juga karena gugus bintang yang sengaja berkumpul bukan karena terikat gravitasi—melainkan turut bahagia atas apa yang ia rasakan sekarang.

Tidak, sebenarnya Logan tidak benar-benar memikirkan semua itu. Hanya tiba-tiba terlintas saat ia kelewat senang–pun dalam kondisi dimana kekuatannya benar-benar tumpul selaras dengan isi kepala. Sejujurnya, waktu jatuh cinta adalah momen paling bodoh seumur hidupnya. Masih dengan satu gadis yang itu-itu saja. Padahal Logan sudah bersumpah untuk tidak impulsif, apapun kondisinya.

Isabella menggigit-gigit ibu jari. Ibu jari Logan.

Mereka merebah bersama, lengan atas pria itu menjadi tumpuan si gadis sementara tangan yang satu lagi ditarik paksa oleh Isa untuk ia genggam dan… ya, di gigit, kadang di kulum ujungnya. Sambil menonton, gadis itu seperti kebiasaan. Pada orang-orang terdekat termasuk Lyn, juga Kristal.

Namun bedanya, Logan merasakan hal aneh. Bukan hanya senang yang berlegayut. Namun rongga hangat milik si gadis, sentuhan lidah lembut di ujung ibu jarinya tentu saja memantik hal lain—hal yang sebenarnya ada sejak Edgar memutar video porno. Tidak,  bahkan belum sempat benar-benar padam sementara stimulasi seakan bertambah-tambah.

“Menurut Kak Logan, lebih serem hantu yang cewek apa yang anak kecil?” Isabella mendongak sedikit, persis saat Logan tentu saja menatapnya–sejak tadi.

Pria itu tidak menonton, tidak menyimak layar. Sibuknya menatap Isabella dari posisinya tanpa bosan. Maka, saat ditanya, Logan langsung menatap lurus ke layar.

“Anak kecil” jawabnya asal. Bahkan ia tidak tahu mana yang hantu. Semuanya terlihat sama kecuali musik dan latar belakang yang di gelapkan tiap ada sosok muncul. Hal-hal sejenis itu tetap tidak membuat vampir itu mengerti—di mana bagian seram atau kenapa orang-orang tertarik melihat hal-hal sejenis. Baginya, yang menakutkan adalah berpisah dengan orang terkasih atau di telantarkan. Tentu saja pikiran primitif itu tidak akan ia utarakan pada siapapun. Daniel bilang, tidak suka pada hal yang kebanyakan orang suka artinya primitif. Sungguh sulit menjadi manusia. Apalagi manusia yang modern dan kontemporer.

“Kata aku nggak serem semua. Aku sampe bosan banget, aku pengen berburu hantu lagi kayak dulu. Kangen Kristal, kangen Lyn. Kangen pas kita petualangan ke sana ke mari cuma buat nyari hantu dan terus haus sama hal-hal mistis. Kata Kristal, sekarang dia udah dapetin semua itu, jadi dia kayaknya bakal pensiun. Sama kayak Lyn. Sementara aku… aku masih suka..”

Logan menyimak kelewat baik ujaran yang lebih terdengar seperti keluhan manja anak-anak. Lalu berusaha mencari kata-kata yang pas untuk menanggapi tanpa membuat gadis itu merasa keinginannya memang sudah tidak relevan—juga yang paling penting, Logan ingin menarik tangannya—agar gadis itu berhenti memasukkan jeriji miliknya ke dalam mulut. Sungguh akibatnya adalah menggagalkan fokus kronis.

“Kamu mau lihat hantu? Aku bisa minta Jake berubah jadi hantu paling serem” mungkin saja berhasil, meski melihat dari rekasi si gadis saat Logan memberi ide, Isa terlihat tidak setuju.

“Nggak kayak gitu konsepnya, masa gitu aja nggak paham. Males ih”

Isa mencebik, lantas memunggugi pria itu. 

Logan bernapas lega. Rasanya seperti baru saja dilepaskan dari belenggu tak kasat mata yang terus mencekik diri sampai buah zakar. Sialan. Kendati, tak lantas segera menysutkan ereksi. Pria itu ingin memukul penisnya sendiri.

“Tapi Kak Logan janji bakal main ke rumah hantu sama aku, ya? Ke bangunan yang aku kirim gambarnya itu, ya?” si gadis kembali berbalik. Bukan menatap wajah, perhatian Logan jelas langsung turun ke belahan payudara yang terlihat sekal dan padat. Tidak besar, tapi tidak kecil juga. Semua yanga ada pada gadis itu ideal di mata Logan.

“Ya” jawabnya singkat, pria itu lantas kembali melihat ke layar.

“Kak”

“Hm”

“Lihat aku”

“Apa?” pria itu melihat si gadis lagi. Namun kali ini, Isabella melayangkan ciuman sekilas pada bibir pria itu. Hanya sekilas, pun benar-benar singkat.

“Aku suka banget sama Kak Logan. Sukaaaa banget… kenapa dulu aku takut banget ya? Padahal gemes, imut, dewasa, tipe aku banget. Dulu liat Daniel, Edgar, dan Jake sering muntah paku, rasanya mengerikan. Sekarang malah games”

Logan tak segera menjawab kecuali mengulum senyum. Jika saja suasana tidak temaram dan hanya mengandalkan cahaya dari layar, tentulah Isabella dapat melihat rona pria itu.

“Kamu mau menikah sama aku, Isa?” 

Pertanyaan itu sungguh terlalu jauh. Terlalu aneh untuk konteks ini. Namun Isabella paham jika pria dewasa tidak akan jauh-jauh dari ajakan sejenis ini. Beberapa kali dekat dengan pria meski tidak benar-benar pacaran, Isa akan kabur dan sawan saat pria mengajaknya menikah. Tentu saja karena ia masih kecil. Sebenarnya hanya persaannya saja. Katanya, usia 23 tahun sudah cukup dewasa untuk berpacaran serius. Padahal Isa tidak pernah serius–maksudnya, ia tetap merasa seperti anak kecil. Mana bisa anak kecil menikah.

“Kak Logan agamanya apa? Kalau menikah gimana?” lagi, pertanyaan itu membuat Logan berpikir lagi.

“Nggak yakin, tapi dari dulu banget, aku cuma tau yang menikahkan itu pastor walau aku bukan pemeluk katolik. Aku nggak punya agama dan merasa netral alias bisa menyesuaikan dengan pasangan aku”

Isabella mengangguk.

“Jangan menikah dulu gaksih? Masih lama, masih panjang, kita bisa terus pacaran dan melakukan kegiatan menyenangkan bareng-bareng. Nggak jauh beda juga kan?”

Hanya helaan napas Logan, pria itu tidak menjawab lagi. Paham akan reaksi Logan, Isabella kembali memeluknya.

“Aku kira vampir nggak akan sibuk ngajak nikah, ternyata sama aja. Nggak tau, tapi pernikahan terlalu jauh dan aku beneran nggak pernah memikirkan apapun tentang itu.. Aku cuma.. Mau main dan belajar cari uang dulu.. Maksud aku, kita jalanin aja dulu, masih terlalu dini, kan?”

Pria itu akhirnya mengangguk. Lalu diam-diam memikirkan apa yang dikatakan Isabella bahwa pernikahan barangkali memang tidak lagi bergitu kerusial.

Seperti malam ini. Ia bisa memeluk gadis itu bebas, tanpa perlu ikatan rumit yang mungkin saja telah lama di tinggalkan semua kalangan.

Isabella merangkak naik ke atas tubuh Logan.

Membuat pria itu kaget sambil menahan napas. Lalu si gadis mendaratkan bokong di perut bawah pria itu.

“Dua mata saya, hidung saya satu, dua kuping saya yang kiri dan kanan” Isabella memegang dua tangan Logan lalu mempraktikan gerakkan—memegang bagian tubuh yang dinyanyikan seperti anak kecil. Gadis itu tergelak kemudian. Tubuhnya terguncang di atas Logan.

“Kak Logan mukanya lucu banget kayak bayi” lantas dua tangannya mencubit pipi pria itu.

“Isa… kamu sadar nggak.. Ah.. sialan..” pria itu melepaskan tangannya lalu mengusap wajahnya kasar. Seluruh tubuhnya memanas. Celana pendek dan tanktop gadis itu seakan terbakar dan kulit mereka saling bersentuhan dengan cara paling erotis. Tentu saja hanya isi kepala Logan, pria itu kepayahan mengatur diri.

“Aku bukan makhluk beragama, aku bukan makhluk baik yang punya peraturan, aku juga hidup sesuai insting” pria itu bergumam, lalu matanya menatap eksistensi di atasnya yang masih nyengir seolah aksinya tidak berbahaya.

“Aku juga.. Aku suka Kak Logan, aku dewasa unuk berpacaran”

“Ya, ya, benar, kan? Sekarang, maukah kamu membuka atasan untukku?  Biarkan aku meraba tubuhmu, biarkan tanganku merasakan hangatnya kulitmu” pria itu meremas tangannya sendiri. Lalu mulai begerak menyentuh paha Isabella dengan ragu-ragu.

“Mau, tapi.. Aku mau Kak Logan yang bukain”

Itu juga baru. Bukan, maksudnya, setidaknya ada tiga hal yang terjadi sekarang—membuat Logan seperti mengambang.

Yang pertama karena ia masih ereksi lepas menonton video porno. Yang kedua karena Isabella tiba-tiba menduduki tubuhnya. Yang ketiga karena gadis itu meminta ia membukakkan atasan. Jika siapa saja bersedia menjelaskan situasinya secara jelas, barangkali ia tidak akan beringsut duduk, lantas membelai wajah gadis itu sembari menurunkan tali tanktop yang menyelubungi bagian atas tubuh indah itu.

Tali merosot satu, pria itu kembali membuka tali yang satu lagi. 

Dan kini, dua gundukkan yang sebelumnya hanya ia lihat dari video, terpampang jelas di depan mata. Matanya terlalu fokus hingga baru seperti ditarik sadar saat Isa mengusap rambutnya lembut.

“Kak Logan, aku nggak pernah kayak gini.. Tapi..” Isabella menggigit bibir bawahnya “aku… aku penasaran juga..”

Logan menatapnya, mata mereka bertemu dalam posisi itu.

“Kamu percaya sama aku?” seolah mencari kesungguhan. Jakun pria itu bergerak resah. Isabella mengangguk pelan “biarkan aku menyentuhmu.. Aku bisa berhenti saat kamu ingin berhenti atau merasa nggak nyaman, hm?” si gadis mengangguk lagi.

Rasa penasaran yang membumbung tinggi akan mengalahkan banyak hal. Baik si gadis, mau pun pemuda itu. Tidak ada yang salah dari dua insan yang di mabuk cinta, yang salah adalah aturan.

Logan menyentuh wajah si gadis, membelainya lembut persis seperti yang ia lihat di video beberapa saat lalu. 

Tangannya bergerak mulus melewati rahang-leher dan mendarat di tulang selangka. Sampai sana, kepalanya miring sebelum tangan besarnya mendarat pada satu gundukkan sekal dengan ujung kecil, namun mekar. 

Isabella terus menggigit bibir bawahnya—merasakan gelenyar yang terus membuntut di sepanjang jejak telapak hangat yang mengelusi kulitnya.

“Boleh aku… cium?” Logan kembali mendongak saat meminta izin, Isabella tampaknya akan kehilangan akal sehat dan ia sudah mempertimbangkan semua hal sejak memutuskan mengajak pria itu singgah tengah malam. Gadis itu mengangguk.

Logan lantas menabrak dengan ciuman.

Ciuman rindu, ciuman hasrat, ciuman dalam.

Kapan terkahir mereka berciuman? Bayangan di kastil tentu saja memenuhi–pun, itu adalah akal-akalannya agar portal terbuka. Namun setelah kejadian memalukan, Logan memutuskan untuk lebih tenang dan ‘waras’ meski detik ini, jelas kewarasannya menghilang dibawa gelegar suara musik latar belakang film horror yang sejak awal memang tidak ia indahkan.

Isabella meremas rambutnya.

Puting gadis itu makin besar meski maksimalnya tak akan lebih besar dari biji kacang tanah. Ia membusung naik turun seiring ciuman yang semakin panas. 

Lidah pria itu membelit-belit, liur mereka bertabrakan begitu serakah dan liar. Suara tegukan bagai pelepasan dahaga yang telah lama ditahan, pria itu nyaris seperti kesetanan.

“K-kak… hmph.. Kak..” Isabella mendorongnya pelan saat napas pun sulit. Pria itu memakannya hingga menyumpal lubang udara.

Dengan hati-hati, pria itu menarik keluar lidahnya, liur ikut jatuh saat ciuman terlepas.

Tanpa menunggu apapun, Logan langsung mencium leher. Isabella kontan mendongak.

Lidah pria itu menyapu di sana, meninggalkan jejak-jejak liar yang terus bertambah pada tiap jilatan. Si gadis menutup mata, lalu membukanya lagi. Erangan pelan keluar begitu mulus membuat Logan berhenti. 

Pria itu berhenti.

Bukan, Logan hanya memastikan apa yang ia tonton ternyata benar adanya. Benar, kan? Gadis yang mengeluarkan suara indah itu bukan sedang kesakitan. Atau jika kata Daniel mirip suara kuda meski Isabella tidak bersuara seperti kuda. Pria itu hanya memastikan–pula yang dikatakan Edgar bahwa si gadis justru merasa nikmat saat bersuara seperti itu. Maka, Logan berhenti untuk merayakan keberhasilannya—mengulum senyum dan kembali menciumi rahang ke leher. Terus begerak liar hingga turun ke tulang selangka dan berakhir mendarat—mengulum puting.

Isabella bersuara lebih keras.

Pucuk itu terasa kenyal dalam mulutnya. Saat ia hisap kuat-kuat, tangan si gadis makin kuat juga menarik rambutnya. Isabella mengerang.

Logan menarik puting itu dengan ujung bibirnya. Bentuk bulat yang basah kian membesar dan becek. Matanya kembali bertemu dengan milik si gadis.

“Enak?” tanyanya, tak ada lagi wajah menggemaskan di sana. Matanya seolah akan menerkam dengan kilat aneh di sebelah kanan. Isabella memperhatikan tiap detail sambil mengangguk seperti jalang gila yang haus akan sentuhan.

Logan merebahkan si gadis. Ia buka pelan-pelan celana pendek—satu-satunya yang menghijab. Isabella hanya menggigit ujung ibu jarinya dengan keraguan yang nyaris tak tersisa.

Terkadang, masih terlintas pikiran bahwa malam ini ia mengalami gejala sinting–di mana ia berhalusinasi akibat menonton film porno. Seluruh tubuh Isabella terlihat nyata di depan mata, namun juga tidak. Barangkali efek lampu yang di matikan. Maka, pria itu masih sempat menyalakan lampu dan mematikan film yang terputar—membuat suasana makin hening selain berisik oleh napas mereka berdua.

Tubuh itu makin jelas.

Tiap lekuk makin jelas.

Logan menelan liur. Dirinya masih utuh. Jaket yang belum di lepas meski cuaca mendadak panas, lalu celana yang mulai sesak di bagian pangkal paha meski tak lagi membuatnya resah—justru menyenangkan.

“Aku malu.. Astaga” gadis itu merapatkan kakinya saat terang lampu jelas menyorot sampai ke pori. Namun Logan bukan sedang ingin mendengarkan siapapun dalam kondisi itu selain birahi dan otaknya.

Ia merangkak ke bawah, turun tepat bawah si gadis, lalu membuka paha itu pelan-pelan.

“Buka lebih lebar” pintanya, ia memiringkan kepala hingga tatapannya bertemu. Isabella hanya mengangguk, lantas dua pahanya terbuka.

Dan Logan kembali melihat hal serupa meski tidak. Video itu.

Bedanya, milik Isabella di penuhi rambut-rambut halus yang jarang-jarang. Kulitnya bersih dan lembut. Pria itu kembali menelan liur.

“Jangan dilihatin, malu..” Isabella memaksa merapatkan paha meski Logan langsung melebarkannya kembali. Pria itu menunduk ke bawah sebelum kepalanya turun makin dalam dan lidahnya mendarat di bagian berlendir yang kelewat lembut.

Jilatan di lakukan konstan, repetitif dan terukur. Dalam naik turun yang ritmis, reaksi yang di dapat adalah erangan yang makin membuatnya ereksi dan semangat.

Isabella nyaris kehilangan suara aslinya yang lumayan cempreng, di gantikan desah-desah yang bejubel di telinga. 

Dua tangan Logan mengelusi masing-masing paha si gadis yang sejak tadi berusaha kembali di rapatkan karena tidak tahan dengan stimulasi yang diberikan.

“K-kak… Ah! Kak!” 

Hanya panggilan kosong. Nama Logan diucap keras-keras dalam tiap isapan pada kelentit yang makin membengkak dan basah. Lidah itu naik turun ke atas ke bawah, kadang mengetuk-ngetuk liang kemaluan dan memaksa masuk dengan membelah labia.

Isabella seperti akan dibawa terbang jauh daripada plafon putih yang monoton. Ia melintasi gugus bintang dan kepalanya seakan berkunang-kunang melawan gravitasi.

Saat klentitnya kembali di hisap, gadis itu pecah dan sampai puncaknya. Tubuhnya bergetar halus, dua ujung kakinya menekuk dengan jeritan makin keras. Dua tangannya menggenggam sisi bantal dan muntah.

Air keluar sangat deras dari vaginanya, memancar bagai mata air membasahi wajah Logan yang sempat kebingungan. Pria itu memang melihat bagian di mana wanita mengeluarkan cairan, namun ia melongo saat wajahnya basah total hingga sebagian tertelan. Isabella sendiri jatuh terengah-engah. Napasnya ngos-ngosan dan ia ambruk tak berdaya.

Namun Logan hanya mengikuti seperti apa yang ia pelajari kendati kelewat cepat dalam praktik. Namun jangan ditanya setajam apa ingatannya pada banyak hal.

Ia melucuti seluruh pakaiannya. Tidak berencana menunggu Isabella membuka mata atau bernapas teratur. Dalam video, ia melihat si pria memasukkan penisnya dalam vagina, dan Logan tau di mana lubang itu berada.

Dua paha kembali terbuka lebar. Si gadis masih memejamkan mata–mengatur napas. Dan tanpa aba-aba, ia mengarahkan batang itu ke bibir vagina, menggeseknya sekali dua kali, sebelum hati-hati memasukkan dengan dorongan terukur.

Tidak, sebenarnya tidak ada yang diukur dalam insting hewan.

Pria itu mendorong keras-keras. Sangat keras, seperti menusuk paksa dengan gerak sangat kuat.

Tanpa tendeng aling-aling, si gadis menjerit tak karuan. Rasanya begitu panas dan perih, juga sakit luar biasa.

Dan yang membuat kaget, gadis itu berdarah.

Logan mendelik ketakutan setelah aksinya yang gesit.

Isabella menangis.

Gadis itu menangis kuat-kuat seperti anak kecil yang memang kesakitan. Vaginanya penuh hingga aneh, rasa sakitnya seolah naik hingga ke kepala, lalu kulitnya seakan robek dan ngilu.

“S-sakit… huaaa… Mama… sakit.. Ini sakit banget… Mama” ia menyeka air matanya dengan tangan asal. Vaginanya terasa berdenyut-denyut dan Logan juga merasakannya.

Pria itu ikut panik. Saat hendak mencabut miliknya yang memang tak manusiawi, milik Isabella seakan meremasnya di dalam—begitu sulit ditarik. Maka, pria itu memutuskan diam di tempat sebelum turun dan meminta maaf.

Ia mencium wajah gadis itu berulang sambil terus berujar maaf meski tak mengurangi rasa perih dan tangisan yang terisak-isak menyedihkan sambil memanggil nama Mama.

“Aku minta maaf… Isa…” pria itu sungguhan menyesal. Dalam video, si gadis tidak menangis, tidak kesakitan. Semuanya terasa menyenangkan–juga tidak berdarah, namun apa yang terjadi pada Isabella? Gadis itu bahkan mengluarkan darah “ayo kita hentikan, lagipula kamu berdarah..” bisik pria itu.

Isabella tak menjawab. Namun Logan tak lekas mencabutnya. Pria itu justru ikut diam sambil mengelusi Isabella yang perlahan menghentikan tangisnya.

“Kak… ini perih banget, nanti kalau aku hamil gimana? Aku nggak mau punya anak.. Ini sakit… hua… sakit..”

Logan juga tidak bisa menjawab yang ini. Pria itu menggaruk tengkuk.

Agak lama mereka diam seperti itu.

Isak kembali mengecil. Namun Isabella mudah sekali kembali menangis meski sudah berhenti. Maka, pria itu tidak akan bertanya atau mengatakan sesuatu hingga remasan pada penisnya mengendur. Isabella pelan-pelan lebih rileks. Saat ototnya tidak tegang, vaginanya juga ikut melentur dan cengkraman mulai memberi napas.

Logan seperti mendapat celah.

Tepat saat ia merasa bisa, pria itu mengeluarkan penisnya sedikit, lalu di dorong masuk perlahan.

Satu kali gerakkan, ia menunggu reaksi Isabella. Dan gadis itu menjerit keras, namun otot vaginanya tidak kembali kencang. Tampaknya gadis itu tidak memiliki energi.

Maka, Logan mengulangnya lagi.

Sekali

Dua kali

Tiga kali

Sepuluh kali hentak.

Dan saat sodokan ke lima belas, ringisan Isabella berubah antara desah dan rintih. 

Penisnya masih setengah keluar masuk, tak berani ia hujam keras-keras. Sambil menunggu gadis itu mengganti seluruh rintihannya menjadi desah nikmat.

Tubuhnya terguncang pelan.

Jejak air mata membentuk vertikal pada dua pipi, Logan mengusapnya sayang sambil bergerak dengan tempo lambat, pelan, dan teratur.

Wajah pria itu memantul di mata si gadis, mata elang yang lapar, yang kini mendapatkan bagian nikmat pada lubang kecil yang ia lahap paksa. Batangnya kelewat besar untuk ukuran manusia, apalagi gadis muda. Isabella merengek-rengek dalam guncangan yang membuat buah dadanya terpantul-pantul. 

“Isa… aku… aku mau terbang..” pria itu meringis, ia rasakan seluruh darahnya mengalir cepat dari otak ke batang penisnya, lalu bertumpu di sana bersama stimulasi yang di ulang-ulang.

“Jangan di dalam… cabut! Kak~”

Siapa yang akan mendengarkan? Lagipula apa yang harus dicabut saat kenikmatan berada di ubun-ubun? Logan klimaks, penisnya membesar berkedut-kedut di dalam dan cairan muntah–tumpah ruah dalam liang dan menembak jauh ke rahim.

Keduanya terengah-engah.

Pria itu ambruk dan memeluk Isabella. Pengalaman seks pertamanya yang gila. Rasanya seribu kali lebih nikmat di banding hanya membayangkan. Meski sempat ragu karena Isabella terus menangis.

“Kak… aku nggak mau hamil… aku nggak siap punya anak..” gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, lalu memukuli pundak pria yang menindihnya.

Logan tidak tahu, pria itu tidak mengerti. Namun saat Isabella mengatakan hamil dan anak, yang dia tahu hanya bertanggung jawab, selesai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *