LAST 100

Pesta pernikahan tidak terlalu ramai seperti dugaan orang-orang saat anak bungsu seorang kaya raya melangsungkan acara di gedung mewah yang nyaris menyerupai istana maharaja.

Dihadiri keluarga dekat, kolega, teman-teman orang tua yang dapat dihitung jari, serta tamu undangan yang tak terlalu banyak, gedung itu terlihat lebih privat dari dugaan.

Acara ijab kabul telah selesai beberapa jam lalu. Sinu banyak mendapat ajaran baru tentang agama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya, apalagi rentet acara yang sebetulnya benar-benar unik dan aneh. Semuanya begitu baru, begitu juga bagi istrinya.

Semua adik-adiknya—kecuali Edgar, masih duduk di tempat semula—tempat mereka pertama datang dan sama sekali belum bergerak kecuali saat mengucapkan selamat.

Di minta untuk menyantap hidangan berkali-kali, kelimanya hanya mesam-mesem sambil saling toyor namun tak ada yang benar-benar bergerak. Begitu juga dengan pengantin.

“Masih berapa lama lagi? Ngantuk banget. Punggung gua pegel” Logan menyandar pada belakang kursi. Kadang sesekali ia menempelkan pipinya ke punggung Johan saking ngantuknya “ini menikah semua kayak gini? Nggak ada jalan pintas kah? Gua jadi nggak minat nikah, capek” sambungnya. Ia menutup mata sambil menguap berkali-kali.

“Anjing, mulut Dukun bau” Daniel menutup mulut dan hidung tepat saat ia melirik, Logan sedang menguap. Lantas ia pukul kepala belakang adiknya keras-keras.

“Pulang duluan lah, biarin si Opung makan rendang” Jake ikut gelisah “gua mau main ke rumah baru si Jablay”

“Nanti bareng-bareng ke sana” Samuel bersuara.

“Menurut lu, istrinya Opung cengoh gak si?” Daniel berbisik pada–entah siapa. Siapa saja yang mendengar di antara Kakaknya.

“Cengoh itu apa?” Tanya Johan.

“Itu loh, yang planga-plongo kek kebanyakan nelen merkuri” Jake yang menjawab “melongo aja, pokoknya diem aja”

“Biasa aja sih. Dia jawab kok kalau di tanya. Dia juga bisa segala hal, cuma emang agak pendiem aja” Samuel memaparkan sudut pandangnya,

“Gak tau, di mata gua plongo. Gua kangen Kristal”

Mereka kompak diam mendadak saat suara musik kembali mengalun. Diam-diam manggut-manggut sambil memukul dengkul masing-masing.

🎀🎀🎀🎀

Beberapa saat yang lalu, Kristal masih ada di sana.

Duduk memangku kepalanya.

Jari-jari lembut itu mengusap rambut pirangnya dengan gerakan yang begitu familiar. Edgar memejamkan mata, menikmati sentuhan yang paling dirindukan. Untuk pertama kalinya sejak kematian itu, dadanya tidak terasa sesak. Tidak ada rasa sakit juga kehilangan. Hanya kehangatan dan kebahagiaan yang membuatnya ingin tinggal di dalam momen itu selamanya.

Agak lama ia berada dalam kubangan euphoria akibat obat-obatan terlarang. Berkutat ia dalam halusinasi  yang terasa begitu indah—menyesaki seluruh rindu dan ketakutan yang sirna.

Namun entah kenapa  semuanya mendadak hilang.

Edgar membuka mata.

Apartemennya kosong. Hening, tidak ada siapa-siapa. Tidak ada suara cempreng yang memanggil namanya. Tidak ada gadis yang menangis ssmbil menonton drama. Juga  tidak ada tangan yang membelai rambutnya. Hanya ruangan gelap dan kesunyian yang menusuk telinga. Ia terdiam beberapa detik, khas—otaknya menolak menerima kenyataan. Matanya bergerak liar ke setiap sudut ruangan, berharap Kristal muncul lagi. Tidak ada.

Napasnya mulai memburu. Seperti mode siaga–menuju siap menyerang yang datang untuk pertama kalinya.

Rasa sakit yang sempat mati rasa mendadak kembali menghantam lebih keras dari sebelumnya. Edgar ingat. Ia teringat hari-hari berat yang mengantarnya hingga ke lantai apartemennya yang dingin, serta obat-obatan yang berserakan di sampingnya. Ia teringat bahwa wanita yang dicintainya tidak ada.

Tangannya mengepal.  Api kecil berkilat di sela-sela jarinya.

Di luar sana, seluruh dunia masih berjalan seperti biasa. Orang-orang masih tertawa. Masih jatuh cinta. Masih merayakan kebahagiaan mereka. Dan saat ini, kakaknya sedang mengadakan pesta pernikahan yang megah bersama wajah itu, wajah yang harusnya miliknya.

Sementara diri sendiri, bahkan tidak mampu mempertahankan satu-satunya eksistensi manusia yang paling dicintai untuk tetap hidup.

Mata pria itu nyalang—juga menyala-nyala. Edgar lantas berdiri. Pikirannya dipenuhi kemarahan yang datang begitu cepat hingga terasa seperti ledakan. Sungguh amarah itu membumbung tinggi kepada dunia  yang terus bergerak seolah tidak pernah merenggut apa pun darinya.

Pikirannya kacau. Ia dikuasai amarah, serta obat-obatan yang seharusnya cukup untuk membunuh manusia karena overdosis. Saat ia keluar dari apartemen, api mulai menari di sepanjang ujung jarinya. Tujuan pasti; gedung pernikahan.

Matanya menyala, namun kosong.  Semakin dekat ia menuju aula pernikahan, semakin besar kobaran itu tumbuh mengikuti emosinya. Musik, tawa, dan cahaya dari gedung itu terdengar sampai ke luar. Semua orang tampak bahagia.

Edgar membenci itu. Rasa yang dikuasai oleh sesuatu di luar kendalinya.

Ia berdiri beberapa meter dari pintu masuk dan menatap bangunan yang dipenuhi bunga serta lampu-lampu keemasan. Dadanya terasa panas seperti tungku yang menyala-nyala.

Wajah itu, wajah kekasihnya. Pernikahan Kakaknya—katanya untuk kehidupan yang lebih baik–bagi sisa adik dan saudaranya yang lain.

Lalu bagaimana dengan dirinya? Berduka sendirian? Menangis sendirian? Mengapa orang-orang di gedung itu tertawa bahagia? Mengapa hanya diri sendiri yang berduka? Dan mengapa narkoba yang ia telan banyak-banyak itu tak membuat Kristal bertahan lebih lama di dekatnya? Sialan, semuanya sialan.

Edgar mengangkat tangannya.

Percikan api pertama melesat ke dekorasi di sisi gedung. Dalam hitungan detik, nyala kecil itu berubah menjadi kobaran besar. Orang-orang mulai berteriak. Sisa saudaranya kaget dan langsung menemukan sumber kekacauan yang datang bagai tornado tiba-tiba.

Para hadirin nyaris semuanya berlari. Mereka panik. Edgar hanya berdiri diam memandangi semuanya. Cahaya api memantul di matanya yang kosong. Untuk sesaat, saat melihat bunga-bunga itu hangus dan lampu-lampu itu meleleh, ia merasa lega. Meneleng ia berpikir bahwa akhirnya ada sesuatu di dunia ini yang ikut terbakar bersamanya.

Namun jeritan memenuhi aula yang terbakar.

Api menjalar di dinding, melahap tirai-tirai putih dan rangkaian bunga yang beberapa jam lalu disusun dengan penuh harapan. Para tamu berlarian mencari jalan keluar, sementara langit-langit mulai runtuh sedikit demi sedikit.

Di tengah kekacauan itu, Edgar berdiri seperti pusat badai. Matanya jelas sejak awal tidak fokus. Tubuhnya bergerak mengikuti amarah yang bahkan tidak bisa ia pahami.

Lalu ia melihatnya.

Kristal.

Tunangannya. 

Masih mengenakan gaun pengantin putih yang kini dipenuhi abu dan percikan api.

Wajah itu terlalu tenang untuk ukuran—manusia yang menghadapi bencana dadakan. Kristal menatapnya dari posisi tanpa berkedip, tanpa panik. Begitu juga dengan Sinu. Semua entitas selain manusia seolah terhipnotis tanpa pegerakan yang pasti. Edgar membawa amarah, rindu, sakit hati, serta seluruh emosi yang kini meluap—meledak-ledak jadi serpihan abu, lantas api yang turut membawa segala rasa hingga membuat menganga.

Ia masih melihat tunangannya. Dan kewarasan terakhir yang tersisa di dalam dirinya runtuh.

Beberapa detik kemudian, Sang Dewi terjatuh ke lantai marmer aula. Tubuhnya melemah, napasnya tersendat-sendat karena Edgar menerjangnya—juga berhasil menggigit leher perempuan itu dan menghisap darah hingga perutnya penuh—bergejolak.

Kemudian semuanya menjadi sunyi. Semua terasa seperti menahan napas.

Seolah kembali pada kenyataaa dengan kesadaran yang melambat, hingga Sinu terus memproses kenyataan tanpa melakukan apapun. Adiknya menggila sedemikian rupa. Kondisi begitu hancur dan keos. 

Api masih menyala. Orang-orang masih berteriak. Kecuali Edgar, dunia seakan berhenti. Diam, hening. 

Dan Saat itulah hal yang lebih tak di mengerti—juga seharusnya tidak pernah terjadi, mulai terjadi.

Cahaya keemasan muncul dari tubuh Kristal yang terkulai di bawah. Awalnya hanya berupa kilatan kecil di bawah kulitnya. Lalu semakin terang—semakin kuat, mirip lingkaran matahari yang terperangkap di dalam dadanya. Tidak seorang pun mengerti apa yang sedang mereka lihat. Bahkan Edgar sendiri tidak mengerti.

Cahaya itu mengalir keluar seperti sungai emas yang pecah dari bendungannya. Urat-urat cahaya memenuhi udara, berputar mengelilingi tubuh Edgar sebelum menghantam dadanya.

Pria itu tersentak.

Seluruh tubuhnya menegang. Rasa panas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya meledak di dalam dirinya. Ini bukan jenis panas yang bisa ia kendalikan. Bukan api, apalagi darah vampir–kekuatannya.

Sungguh lebih matang dan tua dari apapun. Sesuatu yang lebih pekat dan asing. Bagi vampir yang kekuatannya adalah panas, Edgar tidak tahu apa yang terjadi. Panas macam apa yang ada di dalam tubuhnya. Seolah sebuah bintang sedang lahir di dalam jantungnya.

Hingga ia jatuh berlutut.

Retakan-retakan cahaya keemasan muncul di bawah kulitnya. Matanya menyala terang sampai tidak lagi terlihat seperti mata makhluk hidup. Rambutnya diterpa angin yang muncul entah dari mana. Di sekelilingnya, api yang membakar aula mendadak berubah. Kobarannya membesar puluhan kali lipat membentuk pilar-pilar api menjulang ke langit-langit seperti naga yang baru terbangun dari tidur panjang.

Saat itu juga Sinu merasakan hal yang sama. Ia merasakan tekanan, lalu eksistensi kekuatan yang terlalu besar untuk dimiliki seorang vampir.

Tubuh Kristal masih terkulai. Sementara sesuatu yang jauh lebih kuno telah berpindah tempat: Keilahian.

Percikan kekuatan seorang dewi yang selama ini tersembunyi jauh di dalam jiwanya, kini berada di dalam Edgar dan tubuh vampir itu tidak menolaknya. Mau tidak mau, tubuhnya menerima seluruh kekuatan tersebut. Sambil tak memahami apa yang telah terjadi, Edgar perlahan mengangkat kepalanya–berbarengan dengan udara di sekelilingnya yang ikut bergetar.

Lantai marmer mulai retak. Jendela-jendela pecah satu per satu–api jelas tunduk pada kehendaknya. Ketika kakak tertuanya akhirnya mencoba menghentikannya, ekspresi wajah adiknya berubah. Edgar kaget. Sungguh, seperti baru di sadarkan dari lamunan panjang.

Sementara istrinya mati di lantai dan Edgar meraup kekuatan besar itu tanpa tedeng aling-aling, tanpa paham.

Kekacauan tidak berhenti, namun di banding Sinu, Edgar lebih dulu mengangkat tubuh yang sudah tak bernyawa dalam gendongannya, lantas ia terbang jauh—meninggalkan seluruh kekacauan itu—mengecil ke udara, bagai serpihan abu-abu yang kini mendominasi dalam aula yang tak lagi berbentuk

🎀🎀🎀🎀

Jika Kristal mati, maka harus ada kuburannya. Harus ada sesuatu yang bisa ia kunjungi untuk mengantarkan bunga.

Semua orang harus berduka selayaknya makhluk yang ditinggal mati. Kenapa harus diri sendiri? Kenapa raga itu harus dipakai entitas lain untuk hidup sementara ia sekuat tenaga—hingga nyaris gila menahan diri untuk terbiasa? Terbiasa jika wajah itu berciuman dengan Kakaknya dan bercinta, mengapa harus? Jika mati, ya mati saja. Sang Dewi juga telah mati, maka yang normal dilakukan adalah menangis—meratapi kematian, bukan memakai tubuh gadis lain yang telah mati untuk bahagia. Tubuh gadis yang amat di cintainya. Edgar merasa tidak adil jika harus merelakan tubuh Kristal untuk Kakaknya.

Sekuat tenaga ia menjaga gadisnya, tidak ia lecehkan, tidak juga ia paksa-paksa. Edgar merasa tidak adil jika harus merelakan itu.

Maka, hancurlah bersamaan. Mulailah semuanya dari awal. Cari gadis lain yang terselubung benang takdir. Dengan begitu, hatinya lebih tenang.

Tidak lagi ada drama. Toh, gadis itu ada untuk kepentingan bersama. Maka, saat fondasi kehidupa telah ia pelajari dengan matang, asal ada uang, eksistensi Kristal tak lagi begitu krusial.

Ini adil baginya, bagi Kakaknya.

Dan disanalah Edgar, meletakkan gadisnya di kamar jenazah rumah sakit. Ia tidak menangis, tubuhnya bahkan terasa abnormal setelah selubung aneh masuk menyentak-nyentak diri—bertabrakan—juga tak sinkron dengan jantung. Dalam kondisi apapun, kematian tak pernah menakutkan baginya.

“Tidur ya, tidur yang tenang. Gua lebih suka liat lu begitu dari pada hidup dan berkeliaran tapi bukan elu.. Nanti kita ketemu lagi, tolong balik. Gua akan tetap disini, nunggu lu.. Gua janji..”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *