
Langit Jakarta malam berwarna kelabu gelap—mendung yang tak kunjung tumpah, mirip lembar sutra mahal yang ditumpahi tinta monokrom. Tepat di lantai paling atas gedung Legolas Group, kota tampak kecil—lampu-lampunya berpendar dari kejauhan. Butuh agak lama hingga hujan turun tipis di balik dinding kaca setinggi langit, memburamkan jalanan dan deretan gedung pencakar awan di kejauhan.
Di tengah ruangan luas beraroma kayu cedar dan kopi hitam itu, Sagara duduk sendirian. Dalam temaram lampu yang di sengaja, menghadap kaca besar yang langsung menyajikan pemandangan luar. Kilat baru terlihat menyambar-nyambar meski tak ada suara guntur yang menggelegar.
Kantornya terlalu megah untuk dihuni satu orang.
Lantai marmer Italia memantulkan cahaya chandelier kristal yang menggantung tinggi di langit-langit. Rak-rak kayu ek memenuhi sisi ruangan, dipenuhi penghargaan bisnis, dokumen perusahaan, dan lukisan mahal yang nilainya cukup untuk membeli sebuah rumah mewah. Sebuah jam antik berdetak pelan di sudut ruangan, menciptakan gema sunyi yang aneh di antara kemewahan itu.
Di luar, orang-orang mengenalnya sebagai Dokter berikut pewaris tunggal keluarga Legolas—pria muda yang mewarisi hotel, perusahaan properti, rumah sakit swasta, hingga saham bernilai miliaran rupiah. Wajahnya beberapa kali muncul di majalah bisnis.
The Youngest Giant in Asia.
The Golden Heir.
Prince of Modern Investment.
Media menggambarkannya Sagara sebagai lambang kesempurnaan hidup: muda, tampan, cerdas, dan kelewat kaya untuk tau apa itu gagal. Setiap langkahnya diikuti kamera. Setiap keputusan bisnisnya menjadi berita.
Namun tidak ada satu pun yang dekat. Tidak ada yang tahu.
Tidak ada yang melihat bagaimana ia pulang ke rumah seluas ribuan meter itu hanya untuk mendengar kesunyian.
Detik jam yang monoton. Lantai marmer yang dingin, serta suara napasnya sendiri.
Tiga tahun lalu, kedua orang tuanya meninggal dalam rentang waktu yang nyaris berdekatan. Ayahnya terkena serangan jantung. Ibunya menyusul beberapa bulan kemudian. Sejak saat itu, Sagara menjadi satu-satunya penghuni rumah megah yang sunyi.
Rumah yang tak lagi hangat saking besarnya.
Lorong-lorong panjangnya hanya dipenuhi gema langkah kaki pelayan. Lampu-lampu kristal tetap menyala setiap malam, meja makan tetap dipenuhi hidangan mahal, taman tetap dirawat sempurna—namun semuanya terasa seperti panggung kosong yang kehilangan pemeran utamanya.
Kadang-kadang Sagara sengaja menyalakan televisi hanya agar rumah itu memiliki suara.
Kadang ia tertidur di sofa ruang kerja karena malas masuk ke kamar yang terasa terlalu sunyi.
Dan bagian paling mengerikan, ia mulai terbiasa dengan kesepian itu.
Setiap pagi mengenakan jas mahal, menghadiri rapat bernilai miliaran rupiah, menandatangani kontrak bisnis, tersenyum di depan wartawan, lalu ke rumah sakit menjadi Dokter umum sebelum kembali pulang dan menjadi seseorang yang pulang tanpa siapa pun menunggu.
Meski pengusaha muda merupakan branding diri, namun kenyataannya, Sagara lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Atau katakan itu pekerjaan utama ketimbang apapun dari banyaknya rentetan kegiatan yang padat. Kendati, pria itu menjalaninya dengan runut, terukur, dan cenderung perfeksionis.
Sudah tiga tahun kedua orang tuanya pergi.
Namun seumur hidup merupakan waktu yang lama untuk mendoktrin seorang anak untuk menjadi sesuatu—jadi seperti apa yang dikehendaki Ayah dan Ibu.
Sagara sedang memikirkan statusnya yang paling dominan sebagai dokter. Pekerjaan yang dipaksa kedua orang tuanya tanpa bertanya, tanpa persetujuan. Ia dibentuk untuk menjadi dokter sejak kecil, juga mengikuti berbagai kelas tambahan bisnis dan sejenis. Hidupnya terlalu sibuk, kelewat padat hingga waktu berlalu tentu tak dapat menggantikan waktu bermainnya yang hilang digerus buku dan ocehan guru.
Mereka sudah pergi. Seribu hari barangkali cukup untuk membuat keputusan setelah rasa bersalah berusaha ia gerus dengan tekad dan keinginannya sejak kecil untuk jadi pelukis.
Pelukis.
Benar.
Pekerjaan yang kata Ayah dan Ibunya adalah paling tidak berguna sedunia. Paling jauh dari kata sukses—melabeli kesuksesan keluarga yang turun temurun. Jangankan untuk menekuni, menggeluti hobi itu setelah selesai dengan segala tugas yang menumpuk pun tak boleh.
Di belakang meja hitam mengkilap sepanjang dua meter, Sagara Legolas membuka laci. Ia raih bingkai berisi gambar seorang gadis. Ada coretan nama menggunakan huruf tegak bersambung beserta tahun dibuat di sudut.
Arunika Maharani 2011.
Lukisan pertamanya yang rampung—dari sejuta sketsa yang tak pernah berani ia selesaikan. Juga akan dibakar oleh ibunya jika ketahuan.

Cinta pertamanya.
Hubungan mereka tentu saja bagai langit dan bumi. Arunika anak seorang penjahit sementara Sagara anak konglomerat. Terendus sedikit saja ada yang mengganggu konsentrasi anaknya, Ibu Sagara dengan cepat membereskan.
Layaknya drama yang biasa hanya ada dalam layar, kejadian itu sungguhan dirasakan Arunika.
Rumahnya didatangi Ibu Sagara. Perempuan necis itu memberikan sejumlah uang kepada Ibu Arunika yang seorang janda untuk tambahan modal usaha, juga ditawari renovasi rumah yang reot. Ibu Arunika yang tidak mengerti, hanya menerimanya sambil bersujud—berterima kasih, sementara saat mereka berbincang berdua—Ibu Sagara dan Arunika, perempuan itu memaki-maki Arunika dengan sebutan-sebutan paling tidak masuk akal.
Tak lama setelah itu, Arunika pindah sekolah yang dasarnya hanya mengandalkan beasiswa.
Sungguh, sungguhan seperti dalam drama. Kisah cinta tak direstui yang sangat klise sekaligus menyedihkan.
Kini, wanita itu sudah menikah, juga dikaruniai satu anak perempuan yang lucu berusia dua bulan. Arunika berprofesi sebagai penyiar berita setelah lulus menjadi sarjana terbaik Ilmu Komunikasi.
Sagara rutin mengecek unggahannya di sosial media. Kendati hatinya masih saja teriris-iris.
Seandainya saja waktu dapat diulang.
Seandainya ia memilih cintanya ketimbang harta dan kesepian yang menyengsarakan.
Pola pikir yang bodoh kata kebanyakan orang. Namun, apakah seseorang tahu bahwa uang benar-benar gagal membuatnya bahagia? Katanya, semua permasalahan bisa selesai jika punya banyak uang. Nyatanya, apa yang ia rasakan kontras dengan lontaran-lontaran jenis itu.
Jika permasalahan manusia bukan lagi soal uang, maka, sudah dipastikan itu masalah serius.
Penyakit kronis stadium akhir, kesepian akut, depresi berat. Semua itu tidak bisa dibeli dengan uang.
Maka sungguh. Jika Sagara bisa memutar kembali waktu. Ia lebih memilih lari dari rumah untuk melanjutkan hobinya sebagai pelukis, lalu melamar Arunika setelah mereka lulus.
Seakan sederhana, namun teori itu telah ia pikirkan matang-matang sejak Arunika pindah sekolah—sebab dunianya hancur dan tak memiliki apapun lagi yang membuatnya semangat hidup selain karena masih hidup. Sungguh, Sagara hidup karena memang masih hidup. Ayah dan Ibunya kelewat ketat dan perfeksionis hingga membuatnya depresi.
Tak ada pergi ke ahli, tidak ada. Sagara terlihat nyaman dan bahagia dengan hidupnya, dengan kekayaan yang melimpah ruah serta bisa menunjuk siapapun gadis yang ia suka kecuali Arunika.
Kembali ia letakkan bingkai gambar. Matanya menusuk pada kaca yang menampilkan tetes-tetes air yang besar. Kaca yang kokoh kendati guntur menggelegar. Hatinya sakit, sakit sekali.
Entah karena kesepian, atau karena rasa rindu. Sagara tak dapat membedakan.

Pulang.
Sagara berada di jalan pulang meski tidak yakin memiliki ‘rumah’. Rumah megah yang super besar itu sungguh terlalu kosong untuk ukuran tempat kembali, terlalu dingin untuk hunian.
Dalam perjalanan itu, Sagara memutar unggahan Arunika di akun Instagram—menampilkan video berdurasi satu menit—Arunika tengah sibuk memperlihatkan menu ibu menyusui yang terlihat melimpah ruah namun juga mementingkan nilai gizi. Wanita itu berbicara tentang isi dalam mangkok besar serta memaparkan kandungan makanan itu satu per satu. Sagara mengulum senyum sepanjang perjalanan. Video itu terus menerus diputar berulang-ulang. Hanya agar suara Arunika menemani di jalan tengah malam—bersama hujan.
Hujan sejak sore belum tampak akan berhenti.
Langit gelap pekat. Lampu-lampu kendaraan berubah menjadi garis-garis kabur di balik derasnya air yang menghantam kaca depan. Sagara mengemudikan sendiri mobil sport hitam kesayangannya. Mesin bertenaga besar itu melaju mulus di atas aspal basah, sementara wiper bekerja tanpa henti menyapu hujan yang terus menumpuk.
Sudah lewat tengah malam, jalanan jelas lengang–nyaris sunyi. Kecuali dalam kabin yang mewah dan hangat, hanya terdengar suara mesin dan irama hujan yang memukul atap mobil. Juga suara Arunika. Masih seputar bayam, daging, dan teman-temannya dalam mangkok.
Sagara sebenarnya sangat lelah. Namun pria itu tetap fokus. Tidak butuh puluhan kilo untuk sampai rumah. Pun, ia mengemudi dengan santai.
Namun siapa yang menduga? Beberapa ratus meter di depan, sebuah truk besar melaju kelewat kencang, tidak stabil, alias oleng dari arah berlawanan. Sopir truk sudah bekerja hampir dua puluh jam dengan mata yang kelewat berat. Manggut-manggut ia nyaris jatuh ke pegangan kemudi. Lalu terbangun lagi. Terangguk sekali lagi. Dan pada satu momen yang naas, ia menyerah dan tertidur.
Hanya beberapa detik. Sungguh, hanya seperti kaget yang kurang dari sepuluh detik. Namun sepuluh detik itu cukup untuk menghancurkan hidup seseorang setelah truk mulai keluar jalur.
Perlahan.
Lalu semakin jauh.
Sagara yang sedang fokus mengemudi langsung menyadarinya. Alisnya berkerut saat ia lihat lampu truk itu bergerak aneh dengan melaju terlalu ke tengah, juga kelewat dekat.
Jantungnya berdebar.
“Brengsek!! Apa-apaan itu?!” ia mengumpat jengkel. Dalam hitungan detik, seluruh tubuhnya menegang, sebab truk raksasa itu kini sepenuhnya berada di lajurnya. Sagara lekas membanting setir ke kiri. Ban sport mencengkram aspal yang licin—membuat mobilnya tergelincir.
Bagian belakang berayun liar. Sagara terus berusaha mengendalikan kemudi namun hujan kelewat deras dengan aspal terlalu licin, juga truk yang terlalu dekat.
Sopir truk akhirnya terbangun.
Kaget ia. Matanya terbelalak dan kontan membanting setir namun terlambat.
Sungguh terlambat.
BRAAAAAKKKK!!!
Benturan dahsyat mengguncang malam. Bagian depan mobil sport menghantam sudut depan truk dengan kekuatan mengerikan. Suara logam yang hancur terdengar seperti ledakan dengan kap mesin terlipat—disusul kaca depan meledak menjadi ribuan serpihan. Airbag mengembang seketika.
Tubuh Sagara terhempas ke depan lalu tertahan sabuk pengaman dengan keras hingga napasnya nyaris terputus. Mobil berputar. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Kemudian menghantam pembatas jalan.
BRAKKK!
Seluruh sisi kendaraan penyok masuk ke dalam. Rangka mobil melintir. Velg patah. Pintu-pintu terjepit. Mesin terlepas dari dudukannya. Mobil sport hitam yang beberapa menit lalu tampak sempurna kini berubah menjadi tumpukan logam kusut yang hampir tidak bisa dikenali.
Sagara masih sadar, sayangnya. Ia masih sadar.
Karena itu adalah bagian paling mengerikan. Darah hangat mengalir dari pelipisnya. Telinganya berdenging. Pandangannya berputar dan ia mencoba bergerak namun tubuhnya menolak. Rasa sakit menjalar dari dada hingga bahu dengan kesakitan mengerikan yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya. Setiap napas terasa menusuk–semakin berusaha untuk apapun, maka sakit itu merajam makin dahsyat.
Pria itu lantas menoleh ke depan, melalui kaca yang retak dan rangka yang remuk, ia melihat truk itu berhenti miring di tengah jalan bersama sopirnya keluar dengan wajah pucat juga gemetar. Menjerit ia meminta tolong.
Sagara hanya bisa menatap dengan marah, takut, dan putus asa. Seakan baru menyadari bahwa hidupnya mungkin akan berakhir karena seseorang yang tertidur di belakang kemudi. Atau karena kesepian akut? Ketika di detik-detik kematiannya, tak ada yang terlintas di kepala selain istri orang, menyedihkan.
Hujan masuk melalui celah-celah logam yang robek dan air dingin membasahi wajahnya. Lampu mobil berkedip lemah dengan asap tipis keluar dari kap yang hancur. Disusul bau bensin dan logam memenuhi udara. Dan dari kejauhan terdengar suara orang-orang berteriak. Namun suara itu semakin jauh, samar, dan pandangannya mulai menggelap.
🫧🫧🫧🫧
Bunyi berulang.
Terdengar sangat renyah.
Sagara membuka mata. Sayup-sayup gerombolan suara terdengar begitu asing. Suara orang bicara campur-campur mirip kerumunan lebah yang sedang berdiskusi. Kepalanya persis menumpu meja, belum sempat ia mengangkat, Sagara lebih dulu menghapus liurnya di sudut bibir yang jatuh membasahi kertas—memperlihatkan sketsa wajah tokoh kartun yang kini basah sedikit.
“Willy?” ia nyaris terperanjat. Pria itu duduk tegak. Matanya memindai ruang—tempat ia duduk di depan meja bersama tumpukan buku-buku tebal—juga suara kerumunan yang ternyata adalah teman-teman sekelasnya yang sibuk bercengkrama di jam istirahat makan siang.
Suara renyah yang masuk pertama kali dalam rungu di ambang kesadaran adalah Willy, teman sebangkunya yang sibuk mengunyah makanan ringan dalam bungkus besar—yang jelas dibeli dari kantin sekolah.
“Kau tidur hampir setengah jam, baru sekali ini saja, apa kau begadang semalam? Apa kau lolos dari pengawasan Mami mu?” tanyanya ringan, seringan gerusan tiap keping makanan ringan dengan nama kentang sapi panggang yang mentereng besar di kemasan.
Namun yang ditanya justru bertingkah aneh.
Sagara celingukan. Sesekali menampar wajahnya hingga pipi putih bersih itu memerah saking kerasnya. Pria itu juga menggigit tangannya sendiri, lalu bangkit dan menghentak lantai persis orang aneh.
“Apa kau tersengat ngengat akhir-akhir ini? Aku merasa kau butuh konseling. Aku jadi mengingat Shikamaru tanpa konteks” ujar Willy lagi. Pria itu pasti akan terlihat tampan jika saja mau mencukur sedikit bagian jabang dan poni yang terlihat mirip Emo.
“Willy, apa ini nyata?” tanyanya, matanya yang sipit itu dilebarkan seolah seluruh ruang–bahkan alam semesta dapat tersapu ke dalamnya.
“Apa maksudmu?”
“Tahun berapa ini?”
“Kau tidak pernah seperti ini”
“Tahun berapa sekarang? Jawab cepat!” ulang Sagara mendesak.
“2011, 5 Desember. Dan lima belas menit lagi, pelajaran matematika” ujar Willy malas.
Tidak mungkin.
Sagara menggelengkan kepalanya keras-keras. Ia memutar ingatan tentang malam hujan, suara Arunika menyebutkan makanan dalam mangkok, lalu truk yang kemudian bergerak tak stabil menuju mobilnya, dan terakhir mobil besar itu membentur bagian depan… lalu… sakit. Selesai.
Apakah ini akhirat?
Ia merogoh ponsel dalam saku celana

Benar. Apa yang Willy katakan benar, meski Sagara masih tak percaya dengan apa yang terjadi.
Ingatannya masih, ia adalah pria berusia tiga puluh tahunan–seorang dokter yang sedang dalam perjalanan pulang setelah hari panjang yang melelahkan. Kemudian terjadi kecelakaan di tengah jalan. Lalu entah bagaimana caranya, ia malah kembali ke masa lalu–tepat masa SMA.
Pria itu berjalan mondar-mandir kebingungan. Sesekali menengok ke luar jendela—memperhatikan lapangan luas yang sepi karena terik siang itu begitu menyengat. Musim hujan di akhir tahun selalu saja diawali dengan panas, sore sedikit, curah akan mengguyur apapun tanpa ampun.
Kebingungannya jelas. Sagara masih berpikir bahwa ini mimpi. Dan ia memilih untuk menarik napas agar tenang.
Tubuhnya kembali pada saat ia berusia 16 tahun. Kecil, namun kekar berotot. Ia pandangi diri di pantulan kaca jendela yang tak seberapa, lalu kembali memindai teman-temannya satu persatu dengan rasa haru campur rindu.
Mereka ada, mereka bukan hanya cerita masa lalu. Waktu lima belas tahun yang lalu. Kini ada di depan mata.
Lantas ingatannya jelas tertuju pada satu gadis yang harusnya ada di ruang ini juga. Atau sedang keluar mencari makan?
Di mana Arunika?
“Dia pindah” kata Willy, tepat saat Sagara nyaris menggebrak meja–mempertanyakan eksistensi kekasihnya.
Ya, benar. Tahun-tahun ini, Arunika masih berstatus sebagai kekasihnya. Maka, meski ini hanya mimpi, atau meski sebentar lagi ia akan membuka mata dan berada di ruang ICU atau sialan apapun, namun saat berada di sini, maka, jika bisa mengubah, ia akan mengubah apapun.
Seperti mencari Arunika dan lari dari rumah. Persis seperti rencana-rencana yang tak pernah berani ia realisasikan.
Sagara tiba-tiba lari keluar begitu saja. Ia bahkan nyaris bertabrakan dengan guru matematika di koridor. Sesaat, jam selanjutnya baru akan dimulai bersama Sagara yang berhasil melewati gerbang sekolah.
🫧🫧🫧🫧
Bukan, Sagara bukan mencari Arunika. Pria dengan tubuh kecil—ramping namun isi kepalanya adalah lelaki dewasa berusia tiga puluhan itu pulang ke rumah.
Sagara membuka kamar dua orang tuanya.
Di sana, ia membuka brankas tempat penyimpanan uang tunai dan logam mulia, berikut aset-aset yang ia paham fungsinya. Namun ketimbang lebaran kertas yang akan sulit diakses tanpa pengalihan hak, Sagara lebih memilih menguras uang dan emas serta kumpulan berlian berikut segala hal yang bisa kembali dijadikan uang, kembali ia meletakkan lembaran berisi ini dan itu. Terakhir, Pria itu membawa koper besar berisi seluruh kekayaan yang berhasil ia curi—yang jelas isinya hanya seujung kuku dari seluruh kekayaan kedua orang tuanya.
Dan tujuan berikutnya bukanlah mencari Arunika.
Melainkan mencari tempat persembunyian yang aman.
Sagara tak butuh sekolah.
Isi kepalanya bahkan lebih pintar dari pria-pria dewasa seusianya di dunia normal. Ia terlahir cerdas. Bersekolah sekarang hanya akan membuatnya tertangkap orang tua. Maka, di usia 16 tahun ini, Sagara akan lebih fokus mengembangkan uangnya dengan berbisnis. Bisnis apa saja di tempat tersembunyi sambil mencari keberadaan Arunika secara diam-diam.
Terseret-seret roda koper menggores aspal yang mulai dingin ketika langit perlahan meredup. Pria itu lari kencang dan menghentikan taksi yang melintas.
“Mau kemana, Dik?” Tanya sang sopir. Tepat saat bocah itu berhasil menutup pintu setelah menggendong kopernya kepayahan. Keringat bercucuran dengan napas terengah-engah.
“Kita ke Tangerang, Pak” katanya, yakin.
🫧🫧🫧🫧
Sagara membuat identitas baru. Meski namanya tak berubah, namun ia berhasil membuat KTP dan mengaku berusia 20 tahun yang artinya berada di ranah legal dan dapat dipercaya saat menjalankan suatu bisnis.
Berhasil mendapatkan kontrakan yang tidak terlalu kumuh dengan sewa bulanan kelewat murah, Sagara kembali memutar otak—memikirkan bisnis yang bisa meroket di tahun itu.
Ia membeli gawai baru. Bergulir ia pada website berita dan mencari apa yang sedang di gandrungi masyarakat—yang akan membawa pundi-pundi rupiah ke kantongnya.
Sagara duduk di sisi ranjang dan mulai memutuskan untuk membangun kanal Youtube meski masih ia pikirkan tema dan isi—mengingat ia tidak bisa menampilkan wajah. Juga mulai akan berjualan online yang di masa itu masih sangat sedikit dan jarang. Sagara juga akan membeli bitcoin karena tau kapan akan untung meledak.
Tak berencana lekas mendekat pada Arunika karena tau orang tuanya akan mendatangi si gadis. Perkiraan paling ekstrim, Ibunya bisa saja mengintai gadis itu dan mengerahkan seluruh ajudan untuk menyusuri segala tempat untuk menemukannya. Itu pasti, jelas.
Maka, Sagara berencana untuk membangun lebih dulu fondasi finansial. Ia akhirnya memutuskan membeli komputer dan mulai bekerja dari dalam kontrakan tanpa bisa dilacak oleh orang tuanya. Rencana untuk mendatangi Arunika akan ia realisasi dua tahun lagi dengan melihat gadis itu dari jauh
🫧🫧🫧🫧

Dua tahun kemudian.
Sungguh, tak ada lagi lembaran kertas yang di tempel-tempel pada tiang listrik, pada dinding sembarangan, apalagi baliho sebesar lemari empat pintu yang mentereng di sepanjang jalan hingga rapuh dan bolong di hajar angin dan hujan—berisi wajahnya dengan keterangan ‘orang hilang’ dan segala ciri meski foto sudah terpampang kelewat besar.
Namanya mulai dilupakan. Tampaknya polisi dan detektif swasta serta segala jajaran ajudan yang diperintahkan telah lelah mencarinya. Atau dua orang tuanya telah menyerah juga meski Sagara tak yakin karena statusnya sebagai anak tunggal yang paling diandalkan.
Sementara pekerjaannya berjalan kelewat mulus jauh melampaui harapan. Sagara telah pindah ke rumah—membeli rumah luas yang isinya adalah paket-paket yang bejubel. Ia berjualan apa saja yang bisa dijual secara online. Karyawannya tidak terhitung sementara investasinya meledak-ledak dengan keuntungan yang berlimpah ruah. Sagara terus melebarkan sayap tanpa sekalipun menunjukkan identitasnya pada siapapun—bahkan para karyawan hanya mengetahui namanya sebagai Saga.
Dan ia tidak pernah sadar.
Maksudnya mimpi.
Kadang, di malam-malam panjang, pria itu berpikir akan kembali bangkit di bangsal ICU sambil kembali menggendong kesepian dan depresi. Namun sampai hari ini, ia tetap di sini, tetap menjalani hidup—kesempatan kedua yang diberikan Tuhan.
Dan setelah memastikan semuanya reda, tak ada lagi membicarakannya, membicarakan tentang upeti yang akan diberikan kedua orang tuanya pada siapa saja yang menemukannya, tidak lagi menemukan satupun lebaran kertas serta baliho tentangnya, Sagara baru berani unjuk gigi. Baru ia berani keluar tanpa kacamata dan masker.
Tujuannya hanya satu; Arunika.
Tentu saja berani setelah ia merasa mapan di usia delapan belas tahun. Jumlah tabungannya akan membuat siapa saja tak percaya. Namun orang gila manapun akan melakukan hal sama jika jadi dirinya. Tau apa yang sedang diminati masyarakat, tau jenis investasi bagus yang akan membuatnya makin kaya raya.
Maka, setelah pencariannya dengan bermodal rutin mengecek akun facebook milik Arunika, Sagara dengan mudah menemukan di mana gadis itu tinggal, di mana Arunika kuliah dan jurusan apa yang di ambil. Semuanya ada di sana, gadis itu rajin sekali memberi kabar pada dunia.
Pergi ia ke kediaman si gadis setelah bulat tanpa menggunakan atribut apapun guna menutupi wajahnya. Rindu yang membuncah, rasa gugup yang tiba-tiba merangsek sungguh bukan gayanya. Namun gadis itu, gadis itu berhasil membuatnya seperti remaja baru gede yang kembali jatuh cinta.
Entahlah, jika melihat ke cermin, Sagara hanya akan mendapati seorang anak berusia delapan belas tahun yang kabur dari rumah dan memulai bisnis sendiri dengan tujuan ingin menikahi gadis impiannya, serta melanjutkan cita-cita dan hobinya sebagai pelukis.
Benar, rumah sebesar itu, selain diisi paket-paket berisi begitu banyak barang dengan stok yang lebih melimpah lagi, Sagara juga memiliki studio khusus yang berukuran hampir satu rumah minimalis. Isinya adalah kanvas, cat, serta alat-alat penunjang hobinya itu. Sangat lengkap dan berantakan. Juga lukisan-lukisan yang berjajar presisi di dinding yang melimpah nyaris padat.
Apa yang ia inginkan, apa yang ia impikan, semua ia realisasikan tanpa tali kekang dari kedua orang tuanya. Sembari menunggu kabar pencariannya meredup, Sagara sibuk menyesaki inner child-nya yang lapar akan banyaknya hal-hal yang tidak bisa ia lakukan. Kendati agak terlambat karena di usia enam belas ia baru memulai, namun Sagara bersyukur Tuhan masih memberikan kesempatan kedua. Tak akan siapapun temukan kondisi seperti ini. Ini mukjizat.
Tepat pukul 19;45 mobilnya terparkir di depan rumah kecil dengan daun pintu usang nyaris keropos. Halamannya luas, rumput Jepang terlihat rapi—menghampar memadati bagian depan sampai memepet pada teras. Sagara memarkirkan mobilnya agak jauh. Tidak berani ia merusak rumput. Lalu berjalan kaki hingga sampai ke depan pintu.
Diketuknya pelan beriring salam. Tidak lama, terdengar langkah kaki mendekat, lalu grendel pintu yang seperti akan copot dari engsel sebelum pintu benar-benar terbuka.
Itu dia.
Benar, itu gadis impiannya.
Arunika terkejut melihat tamu yang datang. Gadis itu hanya menggunakan baju tidur tipis serba panjang tanpa bra. Maka, alih-alih menyuruh tamunya masuk, Arunika lari terbirit-birit masuk ke dalam untuk mengganti pakaiannya menjadi lebih sopan dan layak.
Sagara menggaruk tengkuk.
Pria itu celingukan untuk beberapa saat.
Apa dia tidak diterima? Apa Arunika—bahkan di kehidupan yang ini tetap tidak bisa bersamanya? Begitu banyak pertanyaan berkecamuk. Matanya teralih pada jam dinding yang terlihat kumuh dengan jarum jam yang seolah begitu berat untuk melangkah naik dan turun. Seperti pikirannya, seperti isi kepalanya dulu—saat masih menjadi Dokter Sagara yang keren dan terpandang. Namun kini, pria itu mencoba mengundi nasib setelah Tuhan bahkan memberikan kesempatan kedua.
Sagara masih berdiri di tempat yang sama. Kakinya tak lengser barang seinci.
Cukup lama, sekitar tujuh menit.
Arunika kembali keluar. Kali ini menggunakan setelan serba panjang berwarna senada. Sagara bahkan melihat gadis itu menambahkan pewarna bibir serta wewangian. Rambut yang awalnya di ikat asal naik, kini terurai lurus panjang. Sangat cantik.
“M-maaf menunggu lama. Aku bahkan belum mempersilahkan duduk” katanya, canggung. Gadis itu menyelipkan rambut ke belakang telinga sambil mempersilahkan Sagara duduk di sofa dengan busa yang mencuat amburadul karena jebol “sebelah sini, duduk di dekatku. Di situ bolong karena dicakar kucing” katanya, ia menepuk-nepuk sofa. Sagara patuh, duduk ia di dekat si gadis, hanya berjarak setengah meter. Sagara dapat mencium aroma cologne yang menyatu dengan aroma alami dari tubuh gadis itu. Favoritnya, parfum serta bau tubuh Arunika tidak pernah berubah, Sagara sangat hafal.
“Bagaimana kabarmu, Aru?” pertanyaan pertama setelah hening nyaris satu menit. Gadis itu melirik malu-malu ke samping, lalu menghela napas.
“Aku baik, kau?”
“Seperti yang kau lihat” Sagara menautkan dua tangan ke depan—menumpu pada pahanya yang dibalut skinny jeans. Sungguh kondisi yang canggung. Padahal, Arunika memiliki sejuta pertanyaan yang benar-benar menggelayut. Namun ia tidak tahu mesti memulai darimana.
Pun, kepergiannya yang mendadak tanpa kabar, rasanya pasti berat bagi pemuda itu, juga bagi dirinya.
“Kau..” kata mereka berbarengan. Sangat pas dan kompak.
“Kau dulu” kata Sagara.
Lalu Arunika kembali berdehem “maaf waktu itu aku pindah sekolah dan meninggalkanmu begitu saja. Itu benar-benar sulit dan memalukan”
“Aku yang minta maaf. Itu ulah Ibuku, kan?”
Arunika tak langsung menjawab. Gadis itu menunduk dengan hela napas yang terasa semakin berat “aku tidak tahu—maksudku, aku tidak mengerti mengapa sehari setelah kepindahanku, aku malah kembali didatangi orang tuamu. Mereka menanyakanmu dan terus mendesakku seolah aku memiliki kapasitas untuk menyembunyikanmu. Para penjaga bahkan berjaga di rumahku berminggu-minggu” Arunika baru menatap pria itu “apa kau kabur dari rumah?”
Sagara menatap si gadis tanpa jawaban.
“Apa yang orang tuamu lakukan sudah benar, Saga. Kau pria bangsawan dengan masa depan cerah. Kau bukan seseorang yang bisa atau pantas menjalin hubungan dengan gadis sepertiku. Ini terdengar melankolis, namun ini realitanya. Aku mengatakan ini karena takut masih menjadi beban dipikiranmu, juga orang tuamu”
Sagara tetap tak menjawab.
“Dan setelah itu. Aku menemukan berita, baliho, serta lembaran kertas pencarian orang hilang dengan wajahmu terpampang besar. Itu juga membuatku kaget dan sedih” gadis itu menyugar rambutnya “apa yang kau lakukan?”
“Mengejar mimpiku” baru pria itu menjawab. “Arunika, terima kasih karena sudah memberikan akses untuk masuk. Terima kasih telah membuka pintu dan tidak mengusirku meski perkiraanku, kau akan melakukannya”
“Aku merindukanmu setengah mati, bagaimana aku… bagaimana aku bisa mengusirmu?” lalu Arunika menutup wajahnya dengan dua tangan “aku khawatir.. Kau bahkan tidak memiliki sosial media. Kau sungguh seperti menghilang. Aku masih bertanya-tanya tentang kabarmu pada teman-teman lain yang berkemungkinan masih terhubung denganmu, namun mereka tetap mengatakan hal yang sama bahwa kau menghilang” gadis itu akhirnya berkaca-kaca.
“Apa orang tuamu tahu? Apa kau sudah pulang?”
Sagara menggeleng.
“Aku tidak bisa bercerita tentang… betapa tidak menyenangkannya hidup dengan orang tuaku di saat kau sendiri membutuhkan uang. Maksudku, akan sangat memalukan jika aku mengatakan bahwa..” Sagara meremas jarinya “meski aku kaya raya, namun aku sangat kesepian dan tertekan. Aku mirip anjing dalam tali kekang yang tak bisa bergerak. Bahkan untuk hobi. Aku tau seperti apa aku di masa depan, seperti apa gambarannya. Maka, aku memutuskan untuk pergi dan mulai berdiri sendiri”
“Itu omong kosong” sanggahan Arunika sangat dimengerti oleh pria itu. Sagara paham.
“Ya, kau bisa mengatakan omong kosong saat kau berpikir bahwa uang bisa menangani semuanya, uang bisa membahagiakan dan uang nyaris mengatasi segala problematika kehidupan. Namun yang aku alami tidak sesederhana itu”
Hening beberapa saat. Sepertinya percakapan mereka akan semakin panas jika membahas soal uang.
“Aku membangun bisnis sendiri. Sekarang, aku bahkan bisa hidup dari tabunganku sampai mati. Aku mendirikan beberapa bisnis di rumah baru. Aku sukses”
Arunika masih tetap diam.
“Aru.. aku minta maaf”
“Minta maaf untuk apa?” kata si gadis.
“Atas orang tuaku, atas kesulitanmu” Sagara berusaha memegang tangan gadis itu, Arunika tidak menolak. Pria itu bahkan berdebar dengan telapak yang dingin saking gugupnya.
Arunika.. Gadis yang biasanya hanya ia lihat dari media sosial yang telah menikah dan melahirkan. Gadis itu masih di sampingnya, mau balik memegang tangannya. Milik si gadis yang hangat menulari miliknya yang dingin.
“Dimana kau tinggal?”
“Aku di Tangerang.”
“Kuliah jurusan apa?”
Sagara diam. Kepalanya berpikir sebentar. Gadis macam Arunika pasti mementingkan pendidikan. Jika ia mengatakan tidak melanjutkan sekolah apalagi kuliah, bisa saja Arunika menganggapnya pembohong.
“Aku kuliah ekonomi di kampus yang tidak terkenal” jawab Sagara sekenanya. “Aku masih bersembunyi dari orang tuaku, maka, aku tidak bisa menonjol”
“Lalu, apa rencanamu kedepannya?” tanya si gadis lagi.
“Aku tidak memiliki banyak rencana selain menjadi kaya raya lalu menikahimu, Aru. aku hanya ingin sejahtera, lalu mempersuntingmu menjadi istri. Aku tidak akan mengajakmu berpacaran karena itu hanya akan buang-buang waktu. Jika kau bersedia menikah denganku sekarang—”
“Tunggu, apa yang kau bicarakan? Apa kau mabuk?”
“Dengarkan aku dulu” Sagara mengelusi punggung tangan si gadis “aku akan membayar semua uang kuliahmu, membawamu pindah dari sini berikut orang tuamu. Aku akan membelikan hunian yang layak, juga alat-alat jahit. Semuanya akan aku ganti dengan yang lebih modern. Aku akan mengiklankan jasa ibumu ke khalayak. Aku memiliki kemampuan promosi yang bagus, seandainya kau tau”
Arunika bergeming. Matanya berkedip-kedip menatap pria di sampingnya bagai berkhayal.
“Apa yang bisa dipercaya dari seluruh ucapanmu, Saga?”
“Maksudnya?”
“Kau kabur dari rumah orang tuamu lalu mengaku memiliki bisnis, kau ingin aku dan ibuku kembali dipermalukan dua orang tuamu?”
“Aku sudah tidak bertemu mereka selama 2 tahun. Aku bisa tunjukkan bukti usaha dan bisnisku padamu. Aku bahkan bisa memberimu uang sekarang jika kau tidak percaya. Aku bukan sedang ingin pamer, tapi aku sedang meyakinkan satu gadis jika aku bisa mensejahterakannya. Aku akan mendukungmu hingga kau menjadi pembawa berita yang keren, kita bisa susun masa depan dengan menunda momongan hingga kau selesai dengan cita-citamu”
Ocehan Sagara bagai iming-iming pada anak perawan baru gede. Namun jujur saja, Arunika begitu menyukai Sagara. Meski logikanya berjalan, namun hatinya tak bisa berbohong.
Hening lagi. Gadis itu banyak berpikir meski tau hatinya condong ke mana.
“Arunika, maukah kau bertunangan denganku? Usia kita belum legal untuk menikah, jadi, aku memutuskan untuk bertunangan hingga kita dewasa. Meski aku memalsukan usiaku jadi lebih tua”
Gadis itu tak menjawab. Namun diam ketika Sagara membawa pundaknya untuk menyandar hingga ia menyelindung pada dada Sagara.
“Aku mencintaimu.. Sungguh.. Berpisah denganmu adalah hal paling buruk dari segala persoalan hidup” kata-kata itu diikuti kecupan ringan pada pucuk kepala si gadis. Arunika mendongak. Gadis itu menangis.
“Aku masih terlalu muda, tapi aku sungguh mencintaimu juga, Sagara. Tolong jangan bohong, apapun.. Aku mempercayaimu meski sulit”
Dan seandainya apa yang ia khawatirkan tentang malam-malam yang akan datang—dimana ia tersadar di atas bangsal ruang ICU, pria itu hanya memohon untuk mati saja. Ketimbang kembali menjalani kehidupan mengerikan—saat kesepian dan kosong merenggut sisa kehidupannya.
Maka, sekali ini saja.
Sagara mendongakkan wajah itu, ia kecup pelan bibir yang basah oleh tangis.
“Jangan menangis, tolong berbahagia denganku. Tolong berjanji padaku bahwa kau hanya akan bersamaku”

Untuk pertama kalinya. Sungguh, ini ciuman pertamanya dengan Arunika.
Ia pagut bibir gadis itu lembut. Ia belai permukaan itu dengan kehati-hatian serta rasa cinta yang membersamai. Bergemuruh hatinya begitu menggebu-gebu. Perutnya seakan-akan diaduk tak karu-karun. Libidonya naik bahkan sebelum sentuhan intens ini berlangsung.
Arunika cenderung pasif. Gadis itu memegang leher Sagara dengan canggung, namun menyambut tiap lidah pria itu merayap lembut dalam miliknya.
Begitu indah, begitu segar.
Cinta masa remaja yang sesungguhnya Sagara sendiri tak yakin—sebab dirinya merasa berusia 30. Namun kegiatan ini benar-benar membuatnya sinting hingga rela menukar jiwanya supaya tak lekas usai.
Arunika melenguh di langit-langit mulutnya. Suaranya yang indah membangkitkan sesuatu yang tak pernah benar-benar muncul dalam hidup Sagara selama ini.
Betul, meski ia tidak memiliki penyimpangan seksual, namun juga hasratnya pada gadis benar-benar redup. Tak ada satupun wanita cantik dari kalangan artis, model, atau anak para petinggi kaya raya yang berhasil mencuri perhatiannya–yang bisa membuatnya jatuh cinta seperti gadis sederhana ini membuatnya tergila-gila.
Ia memundurkan kepala, lalu melahap mulut Arunika besar-besar, membuat gadis itu gelagapan karena kesulitan bernapas.
“S-saga..” erangnya pelan. Napasnya terengah-engah. Gadis itu sangat cantik.
Mereka bersitatap meski Arunika mendadak malu total. Gadis itu bersemu merah–menunduk ia terlihat menggemaskan.
“Apa ibumu ada di rumah?” Tanya Sagara. Si gadis menggeleng pelan.
“Ibuku sedang pergi ke rumah pelanggan, sedang mengukur baju” katanya. Sagara mengangguk-angguk. Lantas ia beri jarak, melepaskan rangkulan tangannya dari pundak si gadis. Arunika langsung duduk normal, bekas hangat lengan pria itu masih menempel di pundaknya. Seperti ada yang hilang saat dilepaskan.
Sagara mengeluarkan dompet. Ia ambil benda yang terlihat sangat gendut hingga nyaris tak bisa dilipat.
Lalu mengeluarkan lembaran uang kertas ratusan ribu.
“Kau belum punya rekening. Aku akan membuatkanmu jika kau sudah di usia legal” lalu memberikan uang pada Arunika “ini enam juta, pakailah untuk keperluanmu sehari-hari. Aku juga akan membayarkan uang kuliahmu” Sagara berdehem “maaf karena aku hilang kendali menciummu. Aku tidak bermaksud kurang ajar” lantas ia lirik arloji, lalu mencocokkan jam dinding yang lambat lima belas menit dari semestinya “apa ibumu masih lama? Aku ingin bertemu dengannya. Tapi aku juga tidak bisa berlama-lama”
“Tidak bisakah kau menginap? Aku bisa memasukkanmu ke kamar, tanpa sepengetahuan ibuku, lalu kau bisa keluar besoknya” kata gadis itu, enteng.
“Arunika?” Sagara mendelik. Tidak menyangka gadis berusia delapan belas tahun lebih itu, bisa mengatakan hal-hal seberani itu. Lalu si gadis memilin-milin tangannya sambil menunduk.
“Aku tidak pernah sejatuh cinta ini pada lelaki, kau cinta pertamaku. Aku sungguh merindukanmu sampai mau gila. Lalu terhalang orang tuamu, belum lagi, kau menghilang selama dua tahun. Tidak bisakah kau tinggal lebih lama? Kau harus pergi ke Tangerang, kan? Itu jauh, kau harus berkendara hingga beberapa jam”
Sagara masih menatapnya. Sorot sosok dewasa yang terbalut di tubuh lelaki seumuran—tetap tak setuju dengan usulan si gadis. Karena Sagara tahu, jika sudah satu ranjang, mustahil mereka tidak melakukannya.
“Aku membawa mobil, bagaimana kita menyembunyikan itu? Aku akan tetap menunggu Ibumu, lalu berpamitan pulang setelahnya. Jangan katakan hal-hal yang menyesatkan, wahai gadis kecil. Aku sudah merasa berdosa karena jatuh cinta padamu sementara isi kepalaku adalah pria dewasa. Aku tidak yakin bisa berhenti jika seranjang denganmu” utas Sagara, tegas.
“Jangan berhenti. Ayo tersesat sama-sama. Aku perawan, kau juga, kan? Aku tidak memiliki pengaman, tapi aku mendengar dari teman-temanku bahwa bisa tidak hamil dengan mencabut penis saat hendak ejakulasi”
“Arunika..”
“Maaf” si gadis memunggungi, ia lalu memukul kepalanya sendiri. Menyesal setengah mati–juga memalukan.
“Aku..” gadis itu berbalik lagi, menatap Sagara “aku malu, tapi mau.. Kau mengerti maksudku. Sekarang, sungguh, aku benar-benar malu. Tapi aku ingin lagi. Kau bisa memarkirkan mobil mu ke jalan luar. Di bawah pohon rambutan. Di sana gelap. Akan aman. Bagaimana?”
“Arunika… astaga”
“Oke, baiklah, aku tidak akan bicara lagi” gadis itu bangkit “aku akan buatkan kopi sambil menunggu ibuku pulang” Arunika bergegas ke dalam dengan langkah kikuk. Rasa malunya menyebar hingga menggemaskan sekaligus lucu.
Sagara lagi-lagi memindai ruang.
Di penghujung 2013, kalender tahun itu masih di tempel di dinding dekat saklar dengan tabel tanggal serta gambar logo iklan perusahaan pupuk. Juga, topik hangat sedang ramai di perbincangkan tentang Paul Walker yang meninggal dunia, lagu-lagu Korea sedang booming, Fatin Shidqia yang sedang populer setelah ajang X Factor. Sementara teknologi, orang-orang sibuk beralih ke Android dan Iphone setelah sebelumnya hanya ada BlackBerry.
Arunika kembali datang setelah labuhan Sagara berakhir pada lemari jati yang besar—yang menyekat antara ruang tamu dan ruang keluarga. Di dalamnya berisi piring-piring serta gelas cantik yang tak dipakai. Sementara kopi yang disuguhkan Arunika—menggunakan gelas yang gagangnya telah sompel.
“Terima kasih” Sagara tersenyum lembut. Aroma kopi saset memenuhi pernapasannya. Lalu Arunika kembali duduk di dekatnya, lebih dekat, meski tidak menempel.
Mereka belum kembali membuka percakapan ketika suara salam terdengar bersama tubuh yang menyembul dari pintu yang setengah tertutup. Ibu Arunika pulang membawa kantong kresek besar berisi jahitan pelanggan yang harus lekas ia kerjakan. Namun pandangannya lebih dulu berlabuh pada wajah asing yang duduk sopan di kursi.
Sagara berdiri. Ia melangkah untuk menyalami Ibu Arunika.
Wanita yang diperkirakan berusia pertengahan empat puluh itu bingung. Wajahnya menagih penjelasan.
“Ibu, saya Sagara” kata pria itu sambil menyodorkan tangan—mengajak bersalaman.
Mendengar nama itu, sang Ibu melirik putrinya yang hanya duduk diam. Gadis itu mendongak sebentar untuk beradu manik dengan sang Ibu, namun hanya sebentar.
“Sagara yang itu?” tanya Ibunya, entah pada siapa. Matanya menatap pria di depannya, lalu bergantian pada sang anak yang terus menghindarinya. Lalu tidak lama, Ibu Arunika meminta putrinya untuk ikut ke belakang, mengabaikan tangan yang meminta dijabat untuk ia cium—salam.
Sagara menghela napas dan kembali duduk. Suara Ibu Arunika mengomeli anaknya terdengar begitu jelas. Wanita itu mengatakan tentang orang kaya raya yang akan mengusir mereka jika Arunika terus berhubungan dengannya. Lalu Arunika menjelaskan begini dan begitu, sesuai dengan apa yang dikatakan Sagara padanya sebelum ini.
“Makannya, Buk. Sagara minta bicara sama Ibu.. please.. Please Buk.. sekali ini aja.. Aku janji akan terus kuliah, akan terus kejar cita-cita aku bareng Sagara, dia pengusaha sukses”
“Aru! Kamu mikir apa sih?” Ibunya hampir menangis. Kondisinya makin rumit sementara Sagara menyesap kopi yang tadi dibuatkan. Tidak ada kecemasan. Baginya, itu masalah normal. Bukan karena ia akan menyombongkan uang, namun uang jelas bekerja di situasi ini. Ibu Arunika hanya perlu diyakinkan jika putrinya akan ia sejahterakan dengan aman dan nyaman tanpa campur tangan kedua orang tuanya. Hanya menunggu waktu ia diberi kesempatan untuk menjelaskan.
Namun setelah perseteruan yang tidak panjang itu, Ibu Arunika kemudian kembali ke ruang tamu. Ia tatap pemuda tampan yang sedang menyesap kopi–kepanasan karena tidak ada gagang dengan bahu yang loyo.
“Nak, kamu pulang aja, ya? Mami kamu nyariin”
🫧🫧🫧🫧
Sudah seminggu berlalu setelah kedatangan Sagara ke rumahnya.
Arunika belum menggunakan uang itu sepeserpun. Ia sayang. Sungguh. Bukan karena takut jumlahnya berkurang, melainkan karena hanya itu yang ditinggalkan Sagara, juga gelas bekas kopi yang hingga hari ini tak dicuci, namun ia bawa ke kamar—diletakkan di atas nakas. Kopi saset dengan warna seperti genangan becek yang tinggal sedikit sekali itu terlihat basi.
Ia tidak bisa menghubungi Sagara karena mereka bahkan tak bertukar kontak. Pria itu tidak memiliki sosial media–maka, setelah satu minggu berlalu, Arunika malah menganggap eksistensi pria itu hanya mimpi alias khayalan anak perawan. Namun ketika ia lihat uang tunai yang banyak, juga gelas bekas kopi, itu menjadi dua alasan Arunika menyanggah jika ia berhalusinasi.
Ia merindukan Sagara, sungguh. Hingga hari-harinya menjadi kelabu.
Apa yang ia posting di akun jejaring sosial facebook berisi puisi-puisi tentang rindu, kata-kata galau, serta air mata yang menetes dari tokoh kartun dengan caption memilukan. Tak ada lagi kabar berita. Arunika menceritakan semua yang ia rasakan. Juga, berusaha meyakinkan Ibunya tentang apa yang dikatakan Sagara padanya. Namun masih maju mundur memberi tahu tentang uang. Ibunya sensitif jika menyangkut itu.

Sementara Sagara sibuk.
Bersama pesanan dari barang-barang yang ia beli dari sumber langsung, pria itu memikirkan untuk membuat skincare dan mulai memasarkan sendiri. Memiliki pengetahuan tentang masa depan, ia tau apa-apa saja yang akan meledak kedepannya, maka, rencana ini telah ia susun bersama orang-orangnya.
Sembari memikirkan uang kecil yang ia berikan pada Arunika. 6 juta pada tahun ini setara dengan 9-10 juta di tahun 2026. Masalahnya karena hanya itu uang cash yang ia miliki sementara Arunika belum memiliki rekening.
Memalukan.
Malam ini, Sagara berencana akan kembali dan memberinya uang lebih layak. Juga membayarkan uang kuliah semester ini.
Ia mengecek laman sosial media. Lantas terkekeh melihat ketikan bocah berusia delapan belas tahun lewat namun belum genap sembilan belas. Kata-kata yang dirangkai hasil mengkopi dari puisi-puisi sastra klasik. Namun begitu sarat akan rindu. Sungguh menggemaskan. Arunika bahkan melampirkan inisial S.L di bawah puisi-puisinya. Bukankah itu untuk Sagara Legolas?
🫧🫧🫧🫧
Tepat pukul tujuh malam. Sagara kembali memarkirkan mobilnya di tempat yang kemarin.
Malam ini, ia mengenakan setelan levis yang sedang tren di kalangan anak muda. Sepatu boots nya naik hingga mengunci ujung celana. Jika gaya seperti ini dipakai tahun-tahun yang akan datang, maka, akan dikatakan tidak trendi—meski ia sendiri merupakan trendsetter di kalangan dokter juga pebisnis. Rambutnya klimis oleh pomade dan di sugar ke belakang rapi. Legolas muda yang tampan dan berkharisma. Kendati tubuhnya berusia sembilan belas tahun, namun sedikit-sedikit ia merasa lucu karena pola pikirnya adalah pria dewasa—kepala tiga. Lalu sedang jatuh cinta pada gadis seusia tubuhnya. Sambil berpikir bahwa ini bukan kejahatan, karena ia sama sekali tidak berencana memanipulasi Arunika. Cintanya tulus, dan akan menerima apapun keputusan gadis itu tanpa memaksa.
Ketukan salam yang pertama.
Sagara lekas mendengar suara langkah kaki yang cenderung buru-buru atau lari.
Saat pintu dibuka, Arunika langsung menyambarnya dengan pelukan.
Sungguh langsung, tanpa tedeng aling-aling. Tanpa basa-basi atau menjawab salam. Gadis itu memeluk Sagara, menghirup aroma musk pada tubuh pria itu—dengan wangi yang sungguh memikat. Sagara sangat wangi, begitu indah, serta pembawaannya yang dewasa membuat tenang. Meski yang dirasakan Arunika adalah rindu yang membuncah-buncah. Padahal, baru sekali bertemu—seminggu yang lalu. Juga ciuman pertama mereka. Bagi anak baru gede yang jatuh cinta, perilaku Sagara benar-benar membuat mabuk kepayang. Gadis itu tak lagi malu-malu.
Ia terisak-isak di pelukan.
“Permisi.. Boleh aku bertamu?” kata Sagara lagi, pria itu terkekeh sambil mengelusi kepala Arunika. Yang ditanya mingsek-mingsek. Ingusya menempel pada jaket levis Sagara. “Apa kedatanganku membawa kesedihan? Mengapa gadis cantik ini malah menangis?”
“Berisik! Kau datang lalu pergi begitu saja tanpa kabar lagi. Seolah, aku sedang berhalusinasi. Kupikir kau tidak akan datang lagi” Arunika mendongak. Air mata menetes-netes. Sagara menyekanya lembut.
“Bagaimana caranya aku tidak kembali lagi? Kau adalah rumahku, kau adalah tujuanku. Bahkan hidupku saat ini, kulakukan karenamu” suaranya lemah lembut, penyayang, serta pelan. Apapun yang ada pada Sagara begitu melelehkan hati, bagai mentega di atas teflon—Arunika memeleleh. Pria itu begitu manis, juga maskulin. “Boleh aku masuk? Tidak enak di lihat orang lewat. Apa Ibumu ada?”
Arunika mengangguk “aku sudah berunding dengan Ibu. Dan katanya, kau bisa berbicara dengannya jika serius. Tapi tidak bisa serta merta memboyong ku pergi. Aku harus menyelesaikan kuliah dulu”
“Terdengar melegakan” pria itu terkekeh pelan. Napasnya wangi. Sementara Arunika hanya mengenakan dress panjang sebetis. Rambutnya diikat asal. Ia bahkan tidak memikirkan untuk menggunakan pewarna bibir saking senangnya. Bukan, ia memang belum mandi.
Benar, setelah itu, Ibu Arunika datang ke ruang tamu. Mereka berbincang serius. Dan layaknya pria dewasa yang ingin serius dengan seorang gadis, Sagara mengatakan seluruh niatnya. Ia juga berjanji akan membayar seluruh uang kuliah Arunika, juga memberikan sejumlah uang kepada calon mertuanya untuk tambahan modal menjahit. Telah ia katakan bahwa penghasilannya tidak lagi bergantung pada orang tua. Sagara berhasil meyakinkan sang Ibu. Dan kini, ia telah mengantongi restu sambil meminta, baik pada Ibu Arunika, mau pun Arunika sendiri, agar tidak memberitahu siapapun mengenai dirinya. Ia pun jujur mengenai kabur dari rumah.
Sagara masih mengobrol sementara Arunika membersihkan diri, ia berdandan layaknya abege baru gede yang kasmaran dengan rasa cinta dan senang yang meledak-ledak.

Datangnya bersama seduhan kopi saset. Namun kali ini warnanya lebih pekat. Di atas nampan, kopi itu tidak sendirian. Ada kue kering dalam toples bening.
Melihat anaknya datang, Ibunya bangkit. Ia lantas berpamitan akan menyelesaikan jahitan di belakang—meninggalkan dua sejoli yang awalnya duduk berjauhan, namun dalam waktu singkat, Arunika memangkas jarak.
“Kau mau menginap?” tanyanya. Ini juga mengagetkan karena pertanyaan yang selalu saja di luar perkiraan.
“Tidak bisa. Bujang tidak bisa menginap sembarangan di rumah yang ada gadisnya” kata Sagara, lembut. Ia tersenyum menatap cemberut gadis itu dari samping.
Arunika mengangguk kemudian “boleh aku meminta nomormu?”
“Tentu”
Sagara menyodorkan ponsel. Arunika bersemu saat melihat wallpaper yang menampilkan potret dirinya. Jelas, itu fotonya di akun facebook yang di crop lalu di jadikan gambar halaman depan.
“Kau tau akun facebook-ku?” saat ingat—yang artinya pria itu tahu akun sosial medianya, Arunika Mendelik. Ia kaget dan salah tingkah.
“Hm. aku bahkan tahu alamat rumahmu dari sana” jawab Sagara enteng. Sementara Arunika menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari bergumam berisi umpatan karena malu. Sungguh, ia sangat malu. Postingannya akhir-akhir ini adalah sajak tentang kerinduan yang sungguh menggelikan. “Aku tidak ingin menasehatimu karena khawatir kau akan marah. Tapi, tolong jangan mengunggah hal-hal yang sangat pribadi seperti alamat atau nomor telepon utama jika bukan untuk kebutuhan mitra bisnis. Itu sangat mudah disalahgunakan oleh oknum yang mungkin saja ada niat jahat”
“Aku akan menghapusnya” kata Arunika cepat. Ia lalu makin memepet pada Sagara “aku akan menghapus itu”
“Menghapus apa?”
“Alamat dan nomor telepon”
“Ya, itu bagus. Kau sangat cantik, aku khawatir ada yang datang dan mengajakmu berkenalan” Sagara mengusap kepala Arunika pelan. Gadis itu seperti akan meleleh sungguhan. Kakinya seperti jeli sekarang,
“Saga, bukankah kita harusnya berciuman sekarang?” pertanyaan itu lagi-lagi membuat Sagara mendelik. Sungguh, Sagara baru tahu sifat yang seperti ini. Gadis di sampingnya begitu merona, namun apa yang keluar dari mulutnya begitu kontras.
Pria itu tidak lekas menjawab. Namun hanya memandangi wajah ayu yang benar-benar memerah sampai telinga dengan mata sipitnya yang diperkecil. Seolah sedang menimbang sesuatu.
“Tidak mau” kata Sagara, meledek. Ia lalu membuka toples dan mengambil satu kue “kau ini masih kecil, mengapa mengajakku menginap? Mengajak berciuman? Nanti kau hamil” kata Sagara, tertawa ia sambil mengunyah kue yang meleleh di atas lidahnya.
“Orang tidak akan hamil hanya dengan berciuman. Apa kau pikir aku bodoh?” kata gadis itu, ketus. Sagara kembali mengingat-ingat bagaimana perangai gadis ini saat mereka baru berpacaran. Padahal, Arunika pendiam, dulu.
Lantas, bagaimana Sagara menangani sifatnya saat baru tahu ternyata Arunika begitu terbuka dan gamblang. Juga, gadis yang sempat menangis tersedu-sedu saat diminta pindah paksa oleh dua orang tua Sagara.
Ya, gadis itu memang pemalu. Namun ia tak segan untuk mengungkapkan apa yang ada di hatinya. Arunika merupakan kembang sekolah di sekolah elite dulu. Bermodal biaya siswa dari SMP karena kecerdasannya—memasukkan pendaftaran sebagai calon penerima beasiswa dengan segudang piagam prestasi, gadis miskin itu berhasil masuk ke sekolah—tempat di mana uang saku teman-temannya merupakan upah dari dua minggu Ibunya bekerja.
Arunika berhasil menolak banyak teman-teman sekolah yang naksir dan menyatakan cinta. Namun langsung menerima saat Sagara yang mengajaknya bertemu di koridor menggunakan surat—secara klise, namun manis. Pria itu menyatakan cinta dengan membuat komik bergambar diri dan si gadis. Begitu romantis–menurut Arunika. Juga karena ia memang menyukai pria itu.
Hubungan mereka berjalan begitu manis.
Tak pernah bertemu khusus untuk mengobrol layaknya pasangan-pasangan romantis yang berkencan di sekolah pada umumnya. Keduanya hanya saling pandang, atau Sagara yang sengaja memegang tangannya saat mereka berpapasan.
Pernah sekali bertemu saat Sagara nekat pergi ke kelas Arunika saat jam olahraga sementara gadis itu terlambat. Mereka hanya saling bertatapan, lalu Sagara menggenggam tangan Arunika, mengelusnya pelan, sebelum kembali ke kelas tanpa bicara banyak, apalagi melakukan hal-hal intim. Tidak. Maka, ia kaget saat kembali bertemu dan Arunika begitu terang-terangan.
Sagara lantas tertawa. Bahunya terguncang pelan. Ia lahap sisa kue di tangan “apa kopinya masih terlalu panas?” tanya Sagara, basa-basi.
“Hm, panas, panas sekali hingga mulutmu akan terbakar dan meleleh” itu juga ketus. Gadis itu bersedekap—menyandar pada belakang sofa. Matanya lurus pada kopi yang masih mengepulkan asap tipis.
“Apa kau sedang marah?”
“Tidak, kenapa aku marah?” lalu Arunika memberi jarak sedikit.
Sagara tidak tahan ingin kembali tertawa, namun jika ia lakukan, mungkin saja Arunika akan merajuk lalu masuk ke kamar. Ia masih merindukan gadis itu.
Lagi pula, siapa yang tak ingin berciuman. Sagara ingin sekali. Namun maju mundur ia khawatir tidak bisa berhenti.
“Sudah makan belum?” tanya Sagara kemudian, berusaha mengalihkan dari topik berciuman.
“Sudah” jawab si gadis, masih sinis.
“Tadinya aku mau mengajakmu keluar untuk membeli makan malam, untuk… membeli jajan? Aku tidak tahu kau suka apa, maka, aku datang dengan tangan kosong secara memalukan” Sagara memperhatikan uap kopi yang semakin tipis. Namun agak lega saat ia berhasil memberi uang pada Ibu Arunika—meski melalui penolakan yang alot, namun berhasil diterima setelah meyakinkan dengan sepenuh jiwa.
“Keluar…” Arunika bergumam. “Tampaknya ide bagus” katanya lagi “ayo habiskan kopimu dan kita keluar jalan-jalan” gadis itu kembali bersemangat.
Sagara baru akan mengangkat gelas yang kini memiliki gagang meski bentuknya berbeda dari minggu kemarin—tiba-tiba listrik padam.
Padam total dan serempak. Disusul bunyi ledakan di gardu depan. Suara ibu Arunika mengeluh terdengar. Gelap seluruhnya.
“Nak, kesini sebentar. Terangi dengan ponselmu. Ibu mau mengambil lilin di dalam bufet. Tidak terlihat” Ibu Arunika memanggil putrinya.
“Ah.. ponselku dalam kamar” gadis itu gelagapan. Lantas Sagara menyodorkan ponselnya.
“Bawalah”
Hanya tersisa dua lilin. Itu pun, yang satu lagi hanya setinggi jari kelingking.
“Di depan tidak usah pakai, Bu. aku akan menggunakan baterai dari ponsel” kata Arunika pada Ibunya. Wanita itu mengangguk. Ia tak bisa melanjutkan menjahit, namun sibuk memotong dan mengukur bagian yang tersisa. Arunika kembali ke depan dengan ponsel.
“Kita beli lilin nanti” kata Arunika, seraya duduk dan meletakkan ponsel secara terbalik agar cahayanya tetap menyorot “tidak apa-apa, ya? Gelap-gelapan. Pasti, kau tidak pernah mengalami ini” kata si gadis, tersenyum canggung.
“Di tempatku sekarang, beberapa kali padam listrik juga. Jadi aku tidak kaget” kata Sagara, kali ini melanjutkan—mengangkat gelas dan menyesap kopi pelan.
“Apa ponselmu ada musik? Bisakah kita menyalakan musik?” gadis itu kembali membuka ponsel Sagara, lalu memutar musik agak keras agar suara mereka mengobrol tidak bisa di dengar Ibunya. Itu tujuan Arunika.
Musik mengalun. Selera musik Sagara merupakan instrumen klasik. Hanya ada beberapa lagu yang sedang tren, itu pun ada di urutan terbawah.
Sesaat tidak ada percakapan. Sagara hanya memandangi Arunika dari posisinya, sambil terus berucap syukur dalam hati. Wanita ini ada di sampingnya. Ada, dan mencintainya. Hatinya menghangat hanya dengan itu.
Arunika balas memandang.
Mereka bertatapan dari posisi itu—berjarak sekitar setengah meter. Lalu Arunika mengalihkan tatapan karena malu.
“Aku tidak tahu jika karakter aslimu juga memang pendiam dan sangat dewasa begini. Aku menyukaimu sejak awal sekolah, sejak masuk” kata Arunika, setelah saling tatap tanpa kata-kata.
“Aku juga tidak tahu jika karakter aslimu sangat ekspresif dan menggemaskan. Aku menyukaimu, sangat” balas Sagara, pria itu lalu menyandar pada belakang sofa secara menyamping. Sambil ia pandangi gadis itu tak henti-hati.
Dan Arunika yang lagi-lagi memangkas jarak di antara mereka. Gadis itu memepet. Lalu menyandarkan diri pada belakang sofa, berhadapan dengan jarak yang kian menyedihkan. Sungguh, ia bisa merasakan napas Sagara menyapu wajahnya. Hangat, dan wangi.
“Mulai sekarang, kabari aku jika sudah pulang, hm? Aku merindukanmu seperti gadis gila” bisiknya, ia tatap mata pria itu di antara cahaya temaram yang cenderung gelap. Ketampanan setia bertengger di sana, tak peduli kurang cahaya.
“Aku akan” ucap Sagara, ia belai wajah si gadis “janji” sambungnya. Arunika memejamkan mata saat tangan kasar itu membelai rahangnya lembut. Sentuhan sederhana itu membawa gejolak dalam perutnya, pada rambut-rambut halus yang kini meremang. Juga hatinya yang berdebar-debar.
Saat ia membuka mata, bibir Sagara telah mendarat pada bibirnya. Pria itu menunduk dengan tangan yang tak pergi dari rahang. Arunika kembali memejamkan mata. Fokus ia merasa-rasa lidah lembut pria itu hangat—beraroma kopi saset—menyapu bibirnya, lalu memagut miliknya pelan-pelan.
Arunika ingin terbang.
Jika boleh meminta pada yang maha kuasa, ia ingin kegiatan ini tidak pernah berhenti. Kini, perutnya melilit, degupnya semakin kencang. Sementara Sagara begitu berhati-hati.
Bibir Arunika begitu kenyal. Ia sesap perlahan. Tangannya mengelus naik turun pada wajah kecil itu. Di remas-remas ujung jaket levisnya oleh si gadis. Lantas, lidahnya pelan-pelan menyelinap ke dalam—membelah rongga, lalu bergerak di dalam secara acak. Sagara dapat mendengar gadis itu mengerang pelan, di antara langit-langit mulut, dan cecapannya yang terukur.
Sagara ingin mundur setelah mendengar Arunika melenguh. Rasanya ada yang tidak rela dalam hati jika ia terus bertindak seperti ini pada gadis kesayangannya. Arunika sangat berharga, sungguh. Sagara begitu mencintainya hingga tiap apa yang ia lakukan, rasanya takut menyakiti dan melecehkan.
Namun ketika ia hendak menarik lidahnya dengan kepala yang mundur. Arunika dengan kasar menarik kepalanya. Gadis itu bahkan bangkit tanpa melepaskan pautan bibir mereka—lalu duduk di pangkuan Sagara dengan mengangkangi pinggul pria itu.
Sagara kaget. Matanya Mendelik.
Penisnya yang telah mengeras sejak pertama Arunika mendekat, kini semakin menjadi-jadi saat gadis itu mendudukinya—persis pada bagian vagina. Si gadis makin mengerang saat ciuman kembali berlanjut meski Sagara masih diam.
“Jangan berhenti.. Please…” Arunika berbisik patah-patah. Gadis itu memeluk Sagara setelah melepaskan ciuman karena pria itu tak lagi bergerak menciumnya.
“Aru.. aku tidak yakin bisa berhenti jika kita melanjutkan ini” Sagara balik berbisik lirih. Ia usap-usap punggung gadis itu lembut. Penisnya yang di duduki benar-benar terasa nyaman.
“Kubilang jangan berhenti, Saga.. jangan berhenti” gadis itu balas merengek. Ia mengalungkan dua tangan ke leher Sagara, memberi jarak. Lalu berpandangan dari posisi itu. Arunika melihat jakun pria itu naik turun, menatap matanya, lalu turun ke bibirnya. Dan helaan napas menyusul.
“Aku takut menyakitimu”
“Kau tidak menyakitiku”
“Aru—”
Gadis itu lebih dulu memotong dengan mencium Sagara. Ia kecup bibir pria itu pelan. Karena tidak bisa berciuman, maka, Arunika hanya mengecupnya dan berharap pria itu mau melanjutkan ciuman mereka.
“Aru, bisakah kau turun?”
“Tidak mau” jawab si gadis.
“Aku janji akan menciummu jika kau turun” iming-iming itu akhirnya membuat Arunika turun, meski gadis itu masih menumpangkan dua kakinya pada paha Sagara secara miring, namun bokongnya telah mendarat pada sofa.
Kini, Sagara menuntunnya untuk menyandar pada dadanya. Kemudian ia dongakkan Arunika, sebelum kembali ia pagut bibir gadis itu dengan lahap.
Ciuman yang awalnya pelan, terukur, tertata, dan sangat lembut, pelan-pelan berubah jadi liar dan rakus.
Sagara melahap bibir gadis itu, lalu lidahnya masuk dan memelintir milik Arunika secara asal, buru-buru, dan tergesa-gesa. Gadis itu melenguh, ia meremas jaket Sagara pada bagian kerah keras-keras.
Cukup lama mereka berciuman, hingga Sagara melepas paksa pautan, lalu turun mencium leher gadis itu. Arunika mendongak dengan sistematis. Dan ia menyandar pada sofa sementara Sagara menginvasi lehernya dengan leluasa.
“S-saga… ah..” desah pertama yang lolos tanpa penghalang. Suara gadis itu masih kalah oleh musik yang terputar. Sagara tak membuat tanda cinta, ia hanya menjilat leher si gadis, sementara tangannya turun—membelai payudara yang sekal dan kencang. Gadis itu makin menjadi-jadi.
“Saga… kumohon jangan berhenti..” gadis itu memohon sambil merintih. Sementara Sagara tidak tahu sampai batas mana ia akan berlanjut saat si gadis terus memintanya untuk tidak berhenti.
Maka, ia memasukkan tangannya kedalam kaos si gadis. Lantas ia remas payudara itu dari dalam sambil pelan-pelan menurunkan cup bra yang masih terpaut kencang.
Arunika menggigit bibir bawahnya. Dadanya membusung saat ibu jari pria itu membelai pucuk yang menegang kecil. Tangannya meremas kain pada pahanya sendiri. Sagara memperhatikan, ia lihat ekspresi tak berdaya—sangat cantik.
“Kau suka?” tanya Sagara, matanya beradu dengan milik Arunika yang sayu. Tangannya masih membelai dada di dalam sana. Arunika mengangguk lemas “kau ingin sampai mana?” tanya pria itu lagi. Arunika menggeleng.
“Aku tidak tahu, tapi, aku tidak mau berhenti. Maukah kau baru berhenti saat aku meminta berhenti? Lakukan apapun, tapi hanya berhenti saat aku meminta” kata gadis itu, setengah mengerang saat Sagara terus menggesek putingnya dengan lembut. Sagara akhirnya mengangguk.
Maka, ia singkap kaos gadis itu, lalu kembali menurunkan cup bra yang kencang secara paksa sebelum menyusu.
Saat dihisap, tubuh Arunika menggelinjang, gadis itu mengerang keras, tangannya menjambak rambut Sagara.
Ia berhenti menyusu.
“Aru..”
“Kubilang jangan berhenti” katanya, protes. Gadis itu membuka pengait bra, lalu menurunkan tali dari lengan dengan mudah. Sagara memperhatikannya.
“Baiklah, tapi jangan bersuara terlalu keras. Aku takut Ibumu mendengar”. Si gadis akhirnya mengangguk. Ia menyodorkan bra. Sagara bingung saat Arunika menyodorkan bra, namun tetap ia terima, lalu ia memasukkan bra itu ke dalam kantong celananya yang dalam.
Sagara kembali menyusu. Kini lebih leluasa, satu tangan yang lain menggesek dada yang menganggur. Arunika menutup mulutnya menahan desah. Paha gadis itu menumpang pada paha yang lain, mengerat ia menahan suara.
Arunika yang sebelum mandi mengenakan terusan, kini mengenakan kaos dan rok di bawah lutut. Maka, Sagara membuka dua paha gadis itu lebar. Tangan yang awalnya digunakan untuk meremas dada, kini beralih pada paha mulus. Maju mundur mengelusi paha sambil menyusu.
Saat memastikan Arunika tak memintanya berhenti, pria itu lalu mengelusi bagian pangkal paha. Gadis itu hanya menggunakan celana dalam tanpa tambahan. Maka, saat pahanya makin di regangkan lebar, Sagara langsung dapat merasakan celana dalam gadis itu telah basah.
Ia berhenti menyusu, lantas di tatap wajah yang sayu.
“Kau basah” kata Sagara. Arunika hanya diam “bolehkah aku bertindak lebih jauh?” tanyanya, terlanjur basah. Tadinya, keteguhannya lumayan kokoh, namun saat Arunika terus meminta begini dan begitu, Sagara tidak kuat.
“Sudah kubilang, lakukan apapun. Aku akan meminta berhenti jika aku mau berhenti” katanya, mencicit. Sagara mengangguk-angguk. Lantas ia kembali mendaratkan ciuman pada bibir gadis itu, menjilat-jilat intim sementara tangannya menyelinap ke dalam celana dalam.
Basah dan lembut.
Arunika mendesah di dalam ciuman saat Sagara menggesek vaginanya yang becek. Gadis itu lagi-lagi menggelinjang. Desahnya meluncur begitu seksi yang terhalang lidah pria itu yang menyesaki isi rongga.
Hingga agak lama sampai Sagara pelan-pelan membuka celana dalam, lalu kembali ia kantongi bersama bra yang tadi.
Pria itu kembali menciumnya, namun kali ini turun ke leher. Ia menjilati bawah rahang, menggigit-gigit kecil bagian itu, sementara jarinya naik turun membelai kelentit.
Arunika sungguhan seperti akan terbang. Dua pahanya mengangkang tertutup rok bersama tangan Sagara di dalam.
Begitu nikmat, sungguh. Sentuhan itu membawanya seperti akan mengudara. Baru sekali ini saja, ia tidak tahu jika disentuh seperti ini bisa membuatnya seakan berputar-putar di antara gugus bintang, lalu melayang secara lambat dengan isi kepala yang dibanjiri oksitosin.
Tubuhnya menegang, rintihannya begitu merdu–pelan, dan memabukkan.
Dan saat ia mengetuk-ngetuk liang dengan jari tengah, Arunika meremas jaket pada pundaknya.
“HNGGH!! AH..” satu jari tengah lolos. Begitu sempit. Sagara diam sebentar meski lidahnya terus menari—yang kini naik ke telinga. Kaki Arunika tak lagi turun, melainkan dua-duanya naik menumpu sofa. Sagara lebih leluasa lagi.
“Aku akan berhenti saat kau meminta, sayang.. Rasakan tanganku di dalam.. Kau hangat sekali..” bisik pria itu di telinga, kini lidahnya merangsek masuk ke lubang rungu sementara jari tengahnya perlahan bergerak—pelan, terukur, maju mundur. Arunika merengek-rengek, rasanya lebih nikmat dari apapun. Cengkraman tangannya pada pundak Sagara mengeras, dua ujung kakinya ditekuk hingga membuat cekungan pada sofa, gadis itu nyaris kejang.
“S-saga.. Aku mau pipis..” katanya, ia rasakan tangan pria itu maju mundur. Nikmat yang pertama kalinya ia dapat, gagal ia gambarkan dalam satu rasa, kecuali rasa ingin buang air kecil.
“Saga.. aku mau buang air kecil. Ah!! Tolong lepaskan sebentar” namun bukannya dilepaskan dan berhenti, Sagara justru turun, lalu berjongkok di bawah, menyibak rok Arunika lantas tanpa basa-basi ia jilat klitoris gadis itu. Ia lahap, ia sesap. Arunika makin merengek, memohon meminta berhenti.
“Buang air kecil dalam mulutku sayang” bisiknya, sangat cabul.
Tentu saja tidak didengarkan permintaan gadis itu. Yang ada, kini Arunika kejang–patah-patah, lantas mengeluarkan cairan bening, sangat banyak. Disusul desah yang berusaha sekuat tenaga ditahan.
Cairan itu sangat banyak, membasahi wajah dan sisanya tertelan oleh pria itu. Ia mendongak, dan Arunika dapat melihat cairan itu menetes di bawah dagu Sagara.
Lepas membuat orgasme, ia menyeka vagina gadis itu dengan celana dalam yang sebelumnya ia kantongi.
“Gadis pintar” bisiknya, pria itu kembali bangkit dan duduk disebelah Arunika, kemudian ia hujani kepala gadis itu dengan kecupan-kecupan. “Mau berhenti sampai di sini, atau mau aku tunjukkan yang lebih?”
Arunika yang awalnya terpejam—membuka mata setelah pertanyaan itu terlontar.
“Kau mau memasukkan penismu, ya?” tanyanya, polos. Sagara terkekeh pelan, lantas, ia kembali menyesap kopi yang mulai dingin.
“Jika kau mau, tidak mau juga tidak apa-apa”
“Mau!” kata Arunika cepat-cepat.
“Mau?” tanya Sagara lagi, memastikan. “Ini akan menyakitimu, aku yakin kau akan menangis”
“Aku tau, tapi aku mau. Dan aku tidak mudah menangis” katanya, kukuh.
Sagara belum menjawab lagi, ia sibuk menghabiskan kopi, lalu menyeka mulutnya dengan tangan baju.
“Aku tidak bisa mengeluarkan penisku di sini, ada-ada saja” katanya, ia menggeleng sambil tertawa.
“Kau bisa”
“Tidak, tuh, nanti Ibumu tahu”
“Tidak, aku yakin dia sudah tidur” Arunika kukuh, lebih kukuh dari siapapun di ruang tamu itu.
Sagara mengangguk. Kemudian celingukan memastikan tak ada orang di luar meski yang terlihat hanya kegelapan tak berujung. Lantas, ia turunkan celana levisnya susah payah. Sungguh, ia bertelanjang bawah. Jika ada yang menggerebek mereka, maka, sudah dipastikan tamat. Habislah.
Arunika melihat batang besar pria itu dengan mata membulat dan mulut menganga. Sagara berdiri dengan penis sebesar lengan si gadis, buah zakarnya bergerak saat pria itu berjalan mendekat.
“Kau takut? Jika takut, tidak usah” kata Sagara, tangannya mengocok penisnya sendiri pelan. Arunika menggeleng. Sagara kembali duduk di samping si gadis. Matanya tak lepas dari batang panjang yang terlihat kelewat besar dan gagah. Gadis itu lantas maju mundur memegang.
Namun, ia memegangnya setelah rasa penasaran yang jauh lebih tinggi ketimbang kekhawatiran.
Permukaannya sangat halus. Ujung kepalanya merah muda dan ke bawah sampai pangkal sangat bersih, seperti warna kulit pria itu di bagian yang lain.
“Bisakah, kau mengulumnya sebentar? Aku butuh pelumas tambahan” kata pria itu, mengelusi kepala belakang Arunika. Si gadis mengangguk patuh. Maka, ia membuka mulutnya lebar sebelum ujung batang itu merangsek masuk ke mulutnya. Hanya ujungnya saja.
Sagara merasakan hangat yang menjalar di ujungnya saat masuk ke dalam rongga si gadis. Ia mendongak, tangannya masih mengusap-usap kepala Arunika yang menjilat miliknya seperti sedang makan es krim, lalu di hisap, lalu di jilat. Gadis itu seperti seorang yang berpengalaman.
“Aru..”
“Ya” si gadis mendongak–tak melepaskan kuluman pada mulutnya setelah menjawab.
“Darimana kau belajar mengulum seperti ini, huh? Kau pernah berhubungan sebelum ini?” tanya Sagara, setengah menuduh.
Arunika menggeleng, ia lepas penis itu dari dalam mulutnya.
“Aku sering menonton video porno” jawabnya enteng “aku tidak pernah mastrubasi, tidak juga pernah berciuman dengan siapapun kecuali kau. Tapi aku senang melihat video porno saat sedang stress”
Jawaban tak terduga lagi. Namun berhasil membuat Sagara lega. Maka, pria itu menggeleng sambil tertawa.
“Gadis kecil yang nakal” katanya, lantas ia minta Arunika untuk merebah di sofa. Gadis itu patuh. Sagara kembali membuka dua paha si gadis lebar-lebar. “Jika kau sering melihat video porno, maka, kau akan tau jika yang pertama mungkin akan sangat menyakitkan. Tolong jangan berteriak, hm?” Arunika Mengangguk.
Sagara memposisikan penisnya tepat di depan liang. Naik turun ujungnya mencari sisa-sisa cairan milik gadisnya.
Pertama kali. Ia dorong batangnya pelan, sambil memperhatikan ekspresi Arunika. Gadis itu hanya diam dengan mata berkedip-kedip. Sambil mengulum ujung ibu jari menunggu sesuatu menerobos masuk ke dalam tubuhnya.
Lalu percobaan kedua, kali ini menggunakan kekuatan yang lumayan, maka, dua kali dorongan berhasil membuat kepala penisnya masuk. Gadis itu memekik—kontan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Dari ujung penisnya, dari cahaya temaram dan suara musik yang terputar, Sagara masih dapat melihat cairan kental keluar. Darah gadis itu jatuh ke sofa yang berwarna cream, menetes sedikit. Lalu ia dorong paksa lebih keras. Wajah Arunika merah padam, urat-urat pada pelipisnya tercetak, juga di leher. Perih yang yang langsung menjalar begitu tidak nyaman. Namun gadis itu konsisten menutup mulutnya–juga menggigit lidahnya sendiri.
“Sakit?” Sagara bertanya. Arunika Mengangguk. Air matanya turun dari sudut, ia seka tanpa suara. Gadis itu kesakitan “mau berhenti saja?” tawar Sagara lagi, namun kali ini Arunika konsisten kukuh–ia menggeleng. “Kalau begitu, tahan sedikit, ya?” Sagara mengelusi wajah itu lembut. Sagara bergerak sedikit lagi hingga seluruh batangnya terbenam habis sampai pangkal. Arunika nyaris berteriak. Liangnya begitu sesak dan penuh, begitu perih, begitu tidak nyaman. Sagara tak lekas bergerak—membiarkan penisnya beradaptasi di dalam sana beberapa saat.
Beberapa saat. Pria itu hanya turun menciumi wajah Arunika secara acak. Ia kecup pipi gadis itu, ia belai rambut dan ia bisikkan kata-kata cinta dan permintaan maaf jika ini semua menyakitnya. Arunika hanya mengangguk-angguk. Ia peluk pria itu masih dalam posisi penis yang tertanam dalam..
Dan ketika tahu Arunika sudah tak lagi tegang, pria itu baru menggerakkan pinggulnya pelan. Sangat lembut, perlahan, dan hati-hati. Milik Arunika sangat sempit. Batangnya seperti diremas-remas di dalam. Ia tidak tahu jika menggauli gadis perawan akan seindah ini. Batangnya keras terjepit di dalam sana, begitu menyedot, begitu hangat.
Geraknya memiliki ritme, tidak menyakiti—sebisanya. Sagara merasa lebih santai saat ia lihat gadis itu hanya meringis. Tubuhnya tersentak-sentak maju mundur.
Cantik sekali.
Sagara kembali menurunkan kepala, ia kecup bibir Arunika.
“Hangat sekali.. Sayang.. Rasakan milikku di dalam tubuhmu, kau sangat berharga, aku mencintaimu” bisik pria itu, ia jilat telinga si gadis lagi. Arunika mengangguk sambil menahan perih–yang perlahan bercampur nikmat yang tak tahu mana paling mendominasi.
Sungguh, barangkali hanya tujuh menit.
Sagara sudah akan mendapatkan klimaksnya.
Rasa cinta, nyaman, serta vagina yang menjepit miliknya begitu ketat. Sagara tidak bisa bertahan lebih lama, apalagi meminta gadis itu begini dan begitu. Sungguh, kelewat hangat, serta meremas-remas, Sagara mendesah, ia panggil nama gadis itu dalam bisik dan suara yang teramat seksi. Maka, penisnya tidak tahan untuk muntah. Batang itu berkedut-kedut di dalam begitu besar, setelah merasa akan tumpah, Sagara mencabutnya cepat-cepat, lalu ia maju—mengocoknya sendiri di wajah si gadis hingga sperma berantakan di muka
Arunika hanya terbaring dengan napas tersengal-sengal. Wajahnya berantakan akibat cairan kental yang berceceran dan sebagian masuk ke mata dan hidung. Sagara ikut ambruk menindih, ia turunkan kaki yang mengangkang—membenarkan rok sebelum mengusap wajah yang kotor akibat cairannya.
“Apa kau baik-baik saja, sayang?” tanya Sagara, khawatir. Arunika mengatur napas.
“Aku baik-baik saja, Saga. Tapi, bisakah kau menginap malam ini?”
Tidak ada jawaban untuk itu. Sagara segera bangkit dan merapikan pakaiannya. Juga memakaikan celana dalam Arunika.
“Aku minta maaf.” kata pria itu. Entah mengapa, setelah kegiatan panas mereka, Sagara merasa bersalah “aku tidak bisa menginap, sayang. Tapi minggu depan, aku akan mengajakmu berkunjung ke rumahku, hm? Aku akan berpamitan pada Ibu agar kau bisa menginap”
Arunika menggeleng. “Satu minggu sangat lama. Aku bahkan sudah merindukanmu sebelum kau pergi” gadis itu merengek manja. Ia medusal pada dada pria itu, tak mau lepas.
🫧🫧🫧🫧

Satu minggu kemudian. Sagara gagal mendapat izin mengajak Arunika menginap. Namun mendapat restu untuk membawa gadis itu berkunjung ke rumahnya dengan syarat akan pulang sebelum jam sepuluh malam. Pergi sejak pukul tujuh pagi, keduanya sarapan lalu mulai berkeliling rumah dan berakhir dalam ruang lukis milik Sagara yang berantakan, namun tidak kotor oleh debu kecuali tinta atau cat.
Gadis takjub melihat lukisan indah yang berjajar. Ia juga melihat ada dirinya dalam lukisan—menggunakan baju tidur panjang dan tipis. Itu adalah kondisinya saat Sagara pertama kali datang berkunjung setelah sekian lama.
“Dari semua hal, kenapa kau melukisku saat aku dalam kondisi paling jelek? Itu pakain yang…” Arunika bertolak pinggang—menatap lukisan besar yang terpampang. Sagara tak menjawab. Namun saat Arunika melihatnya, pria itu mengulum senyum jahil.
“Aku tadinya ingin melukismu pada kondisi terakhir kita bertemu” jawabnya, seulas seringai membingkai–memperlihatkan betapa pria itu juga cabul. Hanya pandai menahan diri saja.
“Harusnya kau melakukan yang terakhir” timpal Arunika, tak mau kalah.
“Seandainya aku memiliki contoh yang lain. Yang lebih terang, bukan di malam temaram dan nyaris gulita” Sagara bangkit dari sofa, lantas ia menuju kanvas besar. Ia pegang kuasnya “aku akan melukis ulang”
Arunika memperhatikan.

Tidak, gadis itu tidak memperhatikan. Melainkan berdiri di belakang Sagara, memeluk pria itu.
“Aku akan melukis”
“Aku tau, kau juga butuh contoh lebih terang” gadis itu tertawa.
“Tidak perlu, aku akan melukismu, menggunakan pakaian menggemaskan ini. Lalu akan ku pajang di kamarku”
“Aku terlihat kekanakan hari ini. Aku mau sesuatu yang lebih dewasa”
“Hentikan, kau memang masih kecil”
“Anak kecil tidak bercinta”
Sagara berbalik. Lantas ia kecup bibir gadis itu sekilas “aku mencintaimu. Aku ingin mengatakan sesuatu”
“Aku mendengarkan” bisik Arunika. Gadis itu mencium telinga Sagara, lalu menjilatnya pelan—persis seperti yang Sagara lakukan ketika mereka bercinta. Gadis itu meniru.
“Aku akan menikahimu. Mungkin secara siri, dan jika usiamu sudah legal, aku akan langsung membuat surat nikah. Bagaimana menurutmu? Tidak apa-apa jika kau tetap di rumah Ibu untuk menyelesaikan kuliah. Kita bisa bertemu sesempatnya. Yang paling penting, aku tidak menidurimu tanpa ikatan. Aku merasa bersalah setelah kegiatan terakhir kita” pria itu memeluknya sayang, sambil ia menghindar dari ciuman yang dilayangkan Arunika pada telinganya.
“Aku mau” kata Arunika. Gadis itu tidak pernah berpikir, tidak pernah menimbang. Gadis baru gede yang sedang jatuh cinta memang luar biasa impulsif.
“Kau harus memikirkannya, Aru. berilah aku syarat, beri aku tantangan”
“Kau mau aku memberimu tantangan?” tanya si gadis. Lalu dahinya mengerut, berpikir. Gadis cerdas itu ternyata hanya cerdas dalam akademik. Menyangkut cinta, Arunika begitu gegabah. Meski Sagara begitu tulus melebihi apapun. “Kalau begitu, aku memberimu tantangan..”
“Apa?” Sagara tidak sabar.
“Buat aku kencing di atas kanvasmu”
Kata-kata cabul, begitu nakal, begitu liar. Sagara menatapnya tidak percaya. Gadis perawan yang baru kehilangan perawannya seminggu yang lalu, dapat berkata begitu mesum.
“Kau sangat cabul, gadis kecil. Astaga..” Sagara menghela napas.
“Ya sudah kalau tidak mau” jawabnya lagi, enteng. Gadis itu melepaskan pelukan, lalu kembali berjalan-jalan–melihat-lihat lukisan. Namun baru beberapa langkah, hingga Sagara menggendongnya dari belakang—lepas pria itu meletakkan kanvas di atas meja bar berisi cat yang telah ia singkirkan. Arunika benar-benar duduk di atas kanvas.
Gadis itu tertawa.
Sementara Sagara mulai mencumbunya. Satu minggu tak bersua, rindu membuncah-buncah. Hasrat dua insan yang saling dimabuk cinta.
Mereka berciuman seperti dua orang lapar yang saling melahap satu sama lain, berharap dapat menuntaskan apapun—dahaga birahi yang mulai terpantik.
Pria itu membuka seluruh pakaian Arunika. Dress sebetis dengan bagian dada agak rendah—kini melayang sembarangan. Tubuh telanjang menyusul begitu mudah setelahnya.
Lebih terang, lebih jelas. Seluruh lekuk tubuh Arunika menjadi lebih jelas.
Sagara mundur untuk menatap tubuh itu secara keseluruhan dengan jarak.
Vaginanya yang dicukur habis, payudara yang menggantung dengan ujung merah tua begitu sekal—khas gadis awal dua puluhan. Rambut lurus halus yang tergerai panjang. Sagara merekamnya baik-baik dalam otak.
Sebelum ia terjang kembali tubuh itu.
Ia berjongkok dengan kaki dilipat di lantai, kepalanya merangsek pada pangkal paha.
Kelentit itu sesap, di kulum, di gesek-gesek lidah. Satu jari tengahnya masuk mengocok isi vagina keluar masuk.
Arunika mengangkang, ia lihat kepala Sagara yang naik turun menjiati miliknya, juga satu jari tengah yang keluar masuk kelewat cepat.
Begitu becek, begitu indah.
Kurang dari tiga menit, Sagara berhasil memenuhi tantangan gadis itu; membuatnya buang air kecil di atas kanvas.
Kanvas nyaris robek. Tubuh itu kejang di atas meja. Dua tangannya menumpu ke belakang. Sagara cepat-cepat memeluk agar gadis itu tidak ambruk.
“Tantangan selesai” ada kekehan puas. Pria itu memeluk kekasihnya sayang “aku akan bicara pada Ibu, jika bisa, kita menikah hari ini, sayang”
Dua tangan Arunika memeluk leher—masih mencari keseimbangan sementara Sagara sudah melepaskan celana nya.
“Aku masuk” izinnya, padahal tidak perlu.
Arunika menunduk, melihat bagaimana benda besar itu kembali meregangkan miliknya yang terlihat sangat kecil. Ia meringis. Sagara langsung menciumnya.
“Lihat aku, jangan lihat ke bawah” katanya, mata mereka bertemu “aku mencintaimu”
Batang besar itu masuk seluruhnya. Arunika menjerit. Kali ini tidak ditahan, tidak lagi di tutupi. Teriakannya sangat indah, Sagara sangat menyukainya. Maka, yang ia lakukan adalah, menghujam liang itu keras-keras. Berdiri ia menggagahi gadis yang duduk mengangkang. Vagina kecil yang membesar saat batang besar menyeruak–menyesaki padat tanpa celah.
Suara dua paha beradu memenuhi ruang, begitu cabul, berisik. Bunyi kecipaknya menambah rangsangan makin menggila.
Arunika merengek seperti menangis. Tubuhnya tersentak lebih heboh dari apapun. Meja yang di duduki, kanvas yang sobek, semuanya begitu indah.
Lantas pria itu menggendong—mengangkat tanpa melepas penisnya di dalam. Ia setubuhi gadis itu dalam posisi berdiri—menggendong. Tubuh Arunika naik turun keras-keras. Otot-otot Sagara tercetak begitu gagah, begitu kuat.
“Aku akan menyetubuhimu seperti ini, lihat mataku, sayang. Aku mencintaimu sampai mau gila. Jangan bersama pria lain.. Jangan punya anak dari orang lain.. Aku sungguh gila jika kau pergi” pria itu meracau ditengah hunusan penisnya yang liar, ia teringat jika di bayangannya dulu, Arunika adalah istri dan ibu dari orang lain. Sungguh, ia tidak sudi.
Arunika tidak menyimak ocehan pria itu. Sibuk ia merasakan vaginanya berdenyut-denyut. Cairan orgasme nya keluar lagi, menetes ke lantai saat Sagara memberi celah penisnya keluar, meski dengan cepat masuk lagi. Bunyi itu makin nyaring saat milik Arunika begitu basah.
“Aku mencintaimu”
🫧🫧🫧🫧
“Menikah?” Tanya Ibu Arunika. Terheran ia saat Sagara kembali pulang membawa putrinya—padahal masih pukul dua siang. Lantas pria itu langsung mengajukan permintaan untuk menikah, lalu mengatakan banyak hal tentang hubungan yang cenderung takut pada fitnah dan perzinahan.
“Saya tidak akan membuat Arunika kesulitan. Saya akan mendukung hingga dia mencapai semua cita-citanya, saya akan membiayainya, saya akan memberikan segalanya, Bu. Tolong beri kami restu. Kami memang masih muda, tapi saya bersumpah akan bertanggung jawab sampai akhir” katanya, meyakinkan. Wajahnya serius sementara Arunika mengangguk.
“Menikah tidak semudah itu, Nak..”
“Saya akan menikahi Arunika secara siri, setelah usianya legal untuk menikah, saya akan langsung membuat surat. Bu, saya yang akan urus semuanya. Ibu hanya perlu memberi izin. Saya bisa melakukannya sekarang dan memanggil tertua di kampung ini”
Lalu Arunika ikut meyakinkan Ibunya. Keputusan dadakan ini sungguh sulit diterima. Namun karena keduanya terus mendesak, lagi pula, Ibu Arunika terus berpikir jika anaknya bisa lebih bahagia dengan pria yang dipilihnya—pun, Sagara jelas mapan. Masa depan anaknya tidak akan suram sepertinya. Lagi, mengadu nasib. Maka, wanita itu akhirnya memberi restu.
Sungguh, semuanya dadakan. Meski Sagara justru telah memikirkan hal itu pada malam-malam saat ia baru kembali lepas menyetubuhi kekasihnya pertama kali.
Maka, siang itu juga, Sagara sendiri yang mendatangi tertua di sana. Ada ketua RT, RW, sampai Lurah. Juga beberapa warga yang jika dikalkulasi berjumlah 50 orang.
Rencananya, setelah ijab kabul, pria itu akan membawa semua orang naik bus untuk pergi makan-makan ke restoran. Tanpa memperumit kondisi. Ia juga memberi upah kepada semua yang datang masing-masing satu juta rupiah.
Ijab kabul dilaksanakan pukul tujuh malam setelah semua benar-benar siap. Dinikahkan oleh seorang ustadz di kampung itu dengan saksi yang cukup. Maka, Arunika yang mengenakan kebaya milik ibunya dulu, tanpa merias diri dengan layak, akhirnya sah secara agama menjadi istri Sagara. Sambil berjanji pria itu, bahwa ia akan kembali menggelar resepsi sesuai keinginan Arunika jika usia mereka sudah legal untuk mendapat surat nikah.
Sesederhana itu. Namun berhasil membuat Sagara merasa aman dan lega. Ia sudah menikahi Arunika. Gadis itu istrinya sekarang, miliknya secara sah dan tidak berzina saat mereka bercinta.
Maka, malam itu, Sagara menginap dalam kamar gadis yang sempit. Ranjang yang hanya muat satu orang, lalu pernak-pernik merah muda—juga seluruh wallpaper dinding yang penuh catatan—coretan. Arunika benar-benar ingin menjadi pembawa berita, ingin berkancah di dunia yang sama dengan ingatannya di masa depan. Sagara akan mendukungnya. Dan jika nanti media sosial makin merebak, ia ingin gadis itu membuat video kegiatan diri yang melibatkan dirinya. Bukan dengan orang lain, dengan bayi lain. Sungguh, Sagara berharap ini bukan mimpi. Bukan kembang tidur. Arunika miliknya, seutuhnya. Betapa ia mencintai gadis itu.
Istrinya.
Namun tiba-tiba saja, saat baru meletakkan jas pada gantungan belakang pintu kamar istrinya, pria itu mendadak pingsan.
Ia terjatuh ke lantai dan masih sempat mendengar suara Arunika berteriak. Setelah itu hilang, gelap.
🫧🫧🫧🫧
Bunyi roda di dorong pelan, namun tetap menggema dalam ruang itu—memantul. Sayup-sayup ia membuka mata—mengerjap untuk mendapatkan keseimbangan saat cahaya dalam ruang itu begitu menyilaukan hingga harus membuatnya mengedip berkali-kali.
“Pak Sagara telah siuman!” teriak salah seorang suster. Bunyi langkah cepat, pintu dibuka. Lalu dokter datang memeriksa.
Matanya di senteri, lalu stetoskop menempel di dada. Bunyi dengung mesin pendingin terdengar sayup, di gantikan panik. Sagara melihat dokter.
Apa ia terbangun di bangsal ICU yang selama ini ditakuti?
Apa sungguh selama dua tahun ini, ia hanya benar-benar mimpi dari koma?
Berapa lama ia sekarat?
Pria itu menangis. Sagara sesenggukan karena belum apa-apa, hatinya sakit. Sungguh, sakit sekali. Ternyata semua yang dialaminya hanya mimpi dari sekarat lepas kecelakaan.
“Pak Sagara, bisa dengar saya? Apa yang Anda rasakan?” kata dokter.
“Berapa lama saya koma, Dok?” tanyanya, ia tak sanggup, air matanya tumpah “bisakah saya hanya mati saja? Saya tidak tahan” ucapnya lagi.
Lalu dari samping, seseorang memukul tangannya keras-keras. Seseorang yang juga ikut menangis. Saat Sagara melirik, ia terkejut. Ada Arunika di sana. Perutnya besar sekali seperti akan meledak, sementara satu anak lagi berusia delapan tahun, berdiri di samping Ibunya. Ibu Sagara, bukan Ibu Arunika. Ibu kandungnya.
Pria itu bingung.
“Kau hanya terserang tifus karena kelelahan bekerja! Kenapa malah minta mati?” Arunika berteriak marah-marah. Air matanya menetes-netes.
“Dia juga bilang koma” kata Ibu Sagara, mengompori “kalau Ibu jadi kau, Ibu akan cabut giginya” lagi, masih memanasi.
Sagara masih bingung.
“Seseorang, bisa jelaskan situasinya?”
Dan Sagara terbangun. Dunia telah berubah.
Ia bangun di masa depan, juga berhasil mengubah masa depan. Kehidupan impiannya jadi kenyataan. Hubungan Sagara dengan kedua orang tuanya berlangsung membaik saat tau anaknya yang kabur ternyata sukses besar sebagai pemilik perusahaan kosmetik dan perawatan kulit lainnya. Sagara juga menciptakan wadah untuk orang-orang berinvestasi. Pria kaya raya itu sangat terkenal, melebihi kehidupannya yang dulu—menjadi dokter.
Hasil karya lukisannya dijual per item bisa menembus angka miliaran. Namanya makin melejit menjadi pria kaya raya yang luar biasa. Istrinya Arunika seorang presenter televisi yang sedang cuti karena kehamilan anak kedua—memasuki trimester akhir, minggu akhir. Anaknya diindetifikasi kembar, sehingga perut Arunika sangat besar seperti akan meletus.
“Papi kemarin makan itu Mi, makan sup kelelawar di Bangkok, aku sebenarnya tidak boleh cerita, tapi cerita saja deh, karena setelah aku tanya AI, kelelawar bisa menjadi penyebab virus tifus” kata pria kecil—anaknya.
“Kau…” Sagara menunjuk anaknya “kau penghianat kecil.. Oh.. padahal aku hampir mati dan hilang ingatan” pria itu pura-pura batuk dan pingsan. Ibu dan anaknya tertawa, Arunika mencubit pipinya jengkel.