
“Kulit Kristal mengandung cannabis sativa, gua bersumpah.. Gua bukan ada mau melecehkan dia. Demi Tuhan, betapa gua menghormati di—”
BLAR!!!
Api membumbung tinggi besar. Tubuh Logan hilang—bukan, pria itu lari kencang meski gagal menghindar. Kakinya meleleh dengan luka hebat hingga belulangnya terlihat putih.
Regenerasi terjadi meski Edgar lebih dulu menyerangnya secara bertubi-tubi.
Serangan dalam hingga kakaknya terkulai tak berdaya.
Jika Edgar menyerangnya terus menerus tanpa jeda, tanpa henti, Logan akan mati sebentar lagi.
Tangan naik tinggi-tinggi. Warna apinya hitam pekat menakutkan. Namun tak sempat di serangkan, seseorang memeluknya dari belakang.
Begitu kecil, tapi kuat dan kokoh. Kristal di sana.
“Hentikan…” suaranya lirih. Begitu lembut masuk ke rungu “biar gua yang balas dia.. Gua jengkel banget, biar gua, please kasih ke gua, gua nggak akan bisa membunuh kalian. Tapi lu bisa, jadi biarkan dia dihukum tangan gua sendiri tanpa ada yang harus terbunuh”
“Tenaga lu kek semut. Mana paten sama bajingan ini” Edgar kukuh meski tangannya masih ditahan.
“Lu mau dia mati? Kalau Logan mati, Sinu akan mati juga, sisa adik lu akan mati semua. Gua juga, gua akan mati dan jiwa gua pergi”
Tak ada jawaban. Namun mata pria itu masih berapi-api. Jengkelnya sampai ubun-ubun. Apalagi saat melihat leher kekasihnya yang padat oleh bekas tanda cinta. Itu sungguh melukai hatinya.
Tangan akan bergerak lagi.
“Kalau lu matiin Dukun, gua akan mati juga. Lu liat gimana gua mati” ungkapan itu bukannya membuat Edgar takut, justru berhasil menyulut kejengkelan lebih tinggi.
“Lu selingkuh sama Dukun di belakang gua? Lu sengaja diem aja pas dia kasih kiss mark? Kalau gitu, biar gua mati berdua sama abang gua”
Edgar menyerang lagi. Logan makin gosong. Proses regenerasinya berjalan lambat dan Kristal menelepon Samuel cepat-cepat.
Mendekat, Logan nyaris tak berbentuk.
“Kalau gua bilang punya gua, ya punya gua. Denger gak si?” kini apinya berwarna putih, membumbung tinggi. Ia yakin, satu serangan itu akan membunuh kakaknya.
Lalu Kristal berlari secara dramatis.
Adegan yang terjadi di halaman belakang itu tak jauh dari adegan film fantasi yang pernah ditonton dalam layar lebar.
Setelah menelepon Samuel. Kristal merentangkan tangan—berdiri di depan Logan yang nyaris tak sadarkan diri.
“Ayo bunuh, bakar. Abis ini bunuh ade lu, bunuh Rose, bunuh Samuel dan Johan juga. Ayo akhiri. Hiduplah sendirian. Hidup sebatang kara”
Kata Kristal. Perempuan itu tak takut meski api menyambar-nyambar.
“Awas.. yang… nanti lu terluka”
“Udahan dulu, udahan please.. Lu bisa mandiin gua, bersihin leher gua pakai detergen. Gua mau having seks, gua janji. Gua kasih perawan gua buat lu, gua janji. Asal berhenti”
Edgar Mendelik. Lalu api padam begitu saja.
“Serius?”
“Apa pernah bohong? Kalau gua bilang gua kasih, gua akan. Semuanya buat lu, gua cinta sama lu. Bahkan di kehidupan mana pun, ayo bertemu dan menikah. Gua sayang lu banget. Kenapa mesti nyakitin abang lu? Padahal gua lebih jengkel dan gua sendiri yang akan nebas pala dia pake pedang. Please.. Marah boleh, gua juga marah. Tapi jangan ada yang mati di antara kita”
Pria itu tersenyum.
Sungguh, sangat mudah membuat suasana hati Edgar berubah. Lantas ia hilangkan semua api meski Logan masih berasap dengan napas putus-putus.
Ia lari memeluk Kristal.
Memeluk gadis itu kelewat erat.
“Jangan bohong, ya? Jangan bilang takut lagi. Ayo gua mandiin, gua akan minta Samuel ilangin tanda ini kalau bisa”
Entah sejak kapan. Namun aroma Kristal memang lebih pekat. Seperti aroma bunga di penciuman kumbang. Edgar tak yakin apakah aroma itu tercium seluruh entitas termasuk manusia biasa. Namun ia tahu alasan Logan bersikap seperti itu—karena memang sangat memikat. Maka, Edgar bersumpah akan lebih ketat lagi. Belum lagi bertemu Daniel dan Jake. ia khawatir.
Mulai sekarang, jangan datang ke mansion dulu. Bau lu bikin horni. Please di rumah aja, ntar gua yang nyamper.
“Iya.. iya sayang iya.. Gua di rumah aja” kata gadis itu, mencium pipi Edgar saat berhasil naik ke gendongan lalu mereka berjalan meninggalkan Logan yang perlahan membaik.
“Kasih seks?” tanyanya sekali lagi.
“Mau kapan?”
“Sekarang”
“Sekarang nggak bisa, bentar lagi gua tidur, ini udah lima setengah jam gua melek. Jangan lakukan saat gua tidur, sedih gua”
Edgar menatapnya lembut, lalu ia cium kening gadis itu “oke, lakukan setelah lu bangun berikutnya. Gua nggak akan mencabuli lu saat tidur, gua janji” katanya, yakin “sekarang gua pandiin, abis itu gua minta Samuel obatin, setelah itu pulang, ya? Kalau lu tidur, gua mau cari cincin sama abang lu. Ayo menikah bulan depan”
“Menikah bulan depan” si gadis mengulang, lalu mendusal.
⚘⚘⚘⚘
Kaget.
Namun Sinu tidak membaca ekspresi itu ketika wajahnya begitu-begitu saja.
Baru sekali ini saja ia diperbolehkan naik ke ranjang ketika tidur. Jadi, sepanjang sang Dewi terlelap, tak ada sulur yang melindungi, tak ada sekat. Perempuan itu menumpu kepalanya di paha si pria yang selama enam jam penuh mengelusi rambut dan wajah.
“Sudah bangun” Sinu tersenyum, ia kecup kening sang Dewi dengan sayang—membuat perempuan itu lagi-lagi merona.
“Kau disini sepanjang aku tidur?”
“Ya”
“Pasti melelahkan. Aku benci sekali berdiam diri terlalu lama tanpa melakukan apapun. Kau tidak perlu seperti ini lagi” kata sang Dewi, ia bergegas duduk namun Sinu menahannya.
“Aku bisa seperti ini meski harus seribu tahun. Aku bisa, sungguh. Untukmu, semua bisa” nadanya sangat yakin, pria itu seperti akan menaklukan banyak hal karena cinta.
Si perempuan menahan senyum, ia alihkan pandangan dengan wajah yang semakin memanas.
“Aku akan mengembalikan kekuatanmu. Jadi, kembalilah ke duniamu, Sinu”
Ada jeda setelah kata-kata sang Dewi. Sinu menautkan alisnya dengan dahi mengerut.
“Aku tidak perlu kekuatanku”
“Kau perlu, kemarikan tanganmu”
Lalu sang Dewi melukai tangan Sinu membentuk vertikal yang tak sempurna, namun bukan mengikuti garis tangan juga. Bentuk yang terlihat seperti asal meski bukan. Ada celah di mana cahaya menyusup kelewat cepat. Hanya sekalebat. Tiba-tiba Sinu menegang dengan tenggorokan panas dan bahu yang kejang sedikit.
“Kenapa?”
Pertanyaan itu di luar prediksi. Sang Dewi menatapnya kali ini. Tatapan Sinu makin tajam, wajahnya mengeras dan ia terlihat jauh lebih segar dan gagah dari beberapa menit lalu. Urat-urat di leher masih tercetak jelas. Kekuatan itu mengalir ke darah—kembali ke tempat semula. Tempat seharusnya yang ditinggalkan sebelumnya.
“Karena kau tidak berbahaya. Pun, jika kau akan membunuhku, bunuhlah… aku akan melawanmu. Ayo kita bertarung sampai salah satu dari kita mati”
“Kau mengatakan itu seolah aku memiliki kekuatan yang setara denganmu, aku tidak, Her Divine Grace..”
“Aku tau, tapi tidak butuh kekuatan lebih besar untuk membunuh. Aku jatuh cinta padamu, itu membunuhku setengah. Kau memiliki cukup kekuatan untuk membunuhku setengahnya lagi”
“Kecuali aku gila. Aku tidak akan, demi nyawaku, demi hidupku” Sinu lagi-lagi mendaratkan ciuman di pipi “bawa aku ke medan perang, aku akan melawan para pengkhianat denganmu. Ayo habiskan waktu bersama dengan menumpas kejahatan dan hidup bahagia sambil berharap pada kedamaian dunia. Aku akan bersamamu, sepanjang waktu”
Sinu merebah sedikit hingga posisi mereka sejajar. Lantas ia kembali mendaratkan ciuman. Memagut sang Dewi dengan cinta, kelembutan, serta rasa sayang yang menggebu-gebu. Dadanya bergemuruh kencang. Aliran darahnya berpacu lagi-lagi tak normal. Dengan kembalinya kekuatan, Sinu merasa bisa melakukan lebih. Seperti menarik perempuan itu untuk naik ke atas tubuhnya. Ia elusi punggung itu dengan leluasa tanpa melepas pagutan.
“Kau harusnya membuat gelombang besar di luar. Mencoba kembali kekuatanmu. Bukan seperti ini” sang Dewi protes saat tubuhnya habis dalam dekapan.
“Jika ada yang harus kucoba, aku akan menjantani seorang Dewi yang Maha Agung. Itu adalah kekuatan yang sangat luar biasa. Dengan cinta, dengan seluruh napasku. Aku sungguh mencintaimu.. My Sin.”
Panggilan itu sungguh asing. Namun anehnya, kini terdengar begitu indah di telinga. Sang Dewi lagi-lagi memerah.
Sinu menurunkannya kembali, lalu memeluknya dari samping saling berhadapan. Aroma wangi yang begitu memukau lagi-lagi memenuhi pernapasannya, ia hirup seluruh yang terjangkau.
Mata mereka bertabrakan dari jarak paling menyedihkan.
“Aku mencintaimu, My Sin..”
Tidak ada jawaban.
Sinu mencium lagi, lagi, lagi. Bahkan saat perempuan itu membuka mata setelah tidur panjangnya kecuali saat pergi menunaikan tugas, Sinu telah menciumnya ribuan kali. Mereka menuruni tangga sambil berciuman dalam gendongan. Keluar untuk memetik buah dan berciuman di bawah pohon. Lalu setiap ada kesempatan. Sinu tidak pernah berhenti hingga perempuan itu yang mengomel.
“Aku tidak kesakitan lagi. Aku tidak memiliki trauma lagi. Bagaimana aku bisa pergi meninggalkan seluruh kenyamanan ini? Terangkan padaku.. Bagaimana aku bisa hidup tanpamu?” suaranya serak. Ia belai pipi si perempuan lembut. Tangannya terus turun hingga leher, lalu menari di tulang selangka sebelum mendarat pada bongkahan payudara.
“Pun jika kau memintaku kembali pada hidupku dan keluargaku, aku tidak mau, aku akan tetap di sini. Jika kau usir, aku akan duduk di depan pintu kastil mu sambil memohon belas asih. Aku akan tetap bersamamu. Tak peduli apapun”
Ia remas pelan.
Dada kencang dan terasa kenyal di tangannya. Tidak besar, tidak kecil juga. Semuanya pas.
Sang Dewi menggigit bibir bawahnya. Wajah sampai telinganya merah padam.
“Katakan sesuatu, sayang.. Aku memujamu seperti pria gila.. Katakan sesuatu asal jangan memintaku pulang”
“Tolong tetap bersamaku..” itu kata pertama setelah sejak tadi Sinu mendominasi “berjanjilah padaku untuk tetap di sini, tak peduli apapun yang terjadi”
“Aku akan. Aku bersumpah..” lalu menurunkan tali lingerie. Sinu langsung di pertontonkan payudara yang indah. Ujungnya merah pucat, kecil, namun cukup untuk menyesaki mulut serta libidonya yang memuncak. Sinu menelan liur susah payah.
“Sinu”
“Ya?” pria itu lalu mendongak.
“Aku jatuh cinta padamu”
Pria itu tersenyum. Lantas ia menurunkan kepala untuk menjilati seluruh permukaan itu tanpa terlewat, tanpa celah. Semuanya basah oleh liur sebelum ia daratkan pada pucuk paling akhir.
Sayup-sayup ia dengan desah dari sang Dewi. Suaranya sangat kecil, sangat menggemaskan. Dari pucuk dada, Sinu baru menyadari jika aroma manis yang pekat berasal dari sana. Bukan hanya aroma, seluruh kulit perempuan itu sangat manis.
Cecapan nyaring. Dalam sekejap, puting membengkak kemerahan. Juga, Sinu banyak membuat tanda cinta pada seluruh gundukan itu.
Perempuan itu telah setengah bertelanjang sementara Sinu seperti kumbang yang terus menghisap sari bunga tanpa jeda. Tubuh di bawahnya terkulai sambil sesekali menjambak rambut pria itu pelan. Kakinya menekuk kembali diluruskan saat Sinu mengukungnya tanpa ampun.
Makin pekat. Wangi sang Dewi makin menjadi-jadi.
Banyak hal yang baru disadari–seperti saat perempuan itu terangsang, maka aromanya menguat, terus menguat.
Bagaimana mungkin ada aroma lebih indah dari kondisi normal sang Dewi? Sinu bersumpah akan memujanya sampai mati.
Kissmark padat, penuh, tanpa celah. Ujung dada keduanya membengkak tiga kali lebih besar dari ukuran aslinya. Pria itu menyusu seperti bayi vampir gila.
Wajah sang Dewi meringis—namun di mata Sinu bagai gadis penggoda tanpa usaha. Hanya perlu diam seperti itu, ia tak ingin perempuan mendominasi saat ini. Biarkan ia menjadi penguasanya, seperti saat ini. Di atas tubuh lunglai yang tak berdaya.
Sinu menarik satu kaki cantik yang terasa sangat kecil di tangannya. Membuat belah paha dan mempertontonkan lekuk mulus tanpa celah. Lalu membuka paha yang satu lagi. Perempuan itu mengangkang.
Bagian paling indah ketika tahu bahwa aroma yang lebih dahsyat ada di bawah sana, ada di antara pangkal paha.
Ia tak akan meminta izin, tidak lagi.
Tubuhnya turun sampai bawah. Sinu merangkak seperti anjing gila, lalu menarik dalaman sutra yang telah basah.
“Kau basah” bisik pria itu, seraya melempar seonggok kain yang menyedihkan.
Nyaris sedikit sekali perempuan itu berkata-kata.
Tiap Sinu mengatakan sesuatu, ia hanya diam dan menimbang, berkomentar jika perlu dan kembali hening.
Kecuali saat Sinu mendaratkan lidahnya pada garis vertikal . lalu menjilatnya dari atas ke bawah. Ia sesap yang basah di sana. Rasanya jauh lebih manis dari seluruh kulit biasa yang sesehari ia jilati.
Lebih, lebih enak dari darah. Pria itu kelaparan. Selalu, rasa lapar seolah tak pernah tandas.
“S-sinu..” panggilan itu parau. Baru sekali ini Sinu tak peduli. Ia mencecap seluruh permukaan di sana. Mencari-cari sari pati seolah dengan itu ia bisa bertahan hidup.
Bunyi nyaring kelentit yang di kulum dan di sedot. Tubuh perempuan itu menggelinjang dahsyat. Sinu memegangi kaki agar gerakan itu tak mengganggunya.
“S-sinu.. Aku.. tidak.. Hentikan… seperti ada yang akan keluar.. Hentikan..” suaranya patah-patah. Memohon ia dalam serak meski pria itu bagai tuli.
Naik turun.
Lidahnya lalu berada di antara lipatan, membelahnya lembut. Lalu kembali mengulum clit.
Sudah diperingatkan, namun pria itu memang tak berencana mendengar siapapun. Hingga tubuh perempuan itu kejang pelan. Rasanya seperti dibawa terbang ke langit.
Tangannya menjambak rambut Sinu kuat, ia mengerang keras-keras bersama cairan yang keluar semakin banyak. Sinu langsung menghisapnya, cepat-cepat, buru-buru. Hingga tandas tak tersisa, kecuali menyisakan jejak-jejak kenikmatan biologis yang baru pertama kali dirasakan.
Pun, pria itu tidak tahu. Ia hanya bergerak sesuai insting. Namun memori tentang video porno yang ia tonton bersama enam adiknya di kamar si bungsu—jujur menjadi satu-satunya pegangan.
Sinu kembali naik. Ia pagut bibir si perempuan. Dalam terengah-engah sang Dewi berusaha menyeimbangan stamina pria yang baru mendapatkan kembali kekuatannya itu, lalu menginvasi tubuhnya tanpa ia berdaya.
“Aku mencintaimu, sayang. Sungguh” Sinu membuka mulut sang Dewi, lalu memasukkan lidahnya dalam-dalam.
Sambil membuka kemejanya, membuka seluruh pakaiannya, menanggalkannya satu persatu secara alami tanpa terburu-buru.
Hingga tubuh telanjang itu sempurna sudah. Sang Dewi menatapnya naik turun sebelum labuhannya pada benda asing—kelamin yang mencuat panjang dan besar. Ia melihatnya tanpa berkedip.
“Ini bukan sesuatu yang harus kau khawatirkan, Her Divine Grace..” Sinu mengusap kemaluannya sendiri. Ia bergerak seperti seseorang yang berpengalaman. Sang Dewi lagi-lagi tak berkomentar.
Kembali memagut bibir, pria itu lagi-lagi membuka dua paha lebar dan bergerak di tengah. Ia gesek-gesek ujung batangnya tepat di pintu vagina.
“Aku..” Sinu mencium daun telinga “aku akan memasukimu.. Tolong jangan tutup matamu, jangan palingkan wajah. Lihat aku.. Betapa aku memujamu, betapa aku menginginkanmu sejak aku datang dan jatuh hati padamu. Aku sungguh mencintaimu hingga rela menukar seluruh hidupku untukmu, yang Maha Agung.. Tolong tetap tatap mataku”
Sang Dewi meringis sekilas dengan mata yang tetap menyatu dengan milik Sinu. beberapa kali percobaan gagal dan melesat, lantas pada i percobaan ke sekian, penis itu berhasil menyeruak—meregangkan vagina yang basah dan wangi semerbak.
Darah segar keluar. Sinu mundur dan melihat apa yang menjepit panjangnya hingga sesak. Wajah sang Dewi tetap tenang meski perih tertinggal. Lantas pria itu meraih sedikit sisa darah yang mengering di permukaan sprei, ia jilat ujung jarinya yang masih sempat basah oleh cairan itu.
Makhluk suci yang tak lagi suci.
Atau apakah kesucian hanya dikerdilkan dari hubungan seksual? Perempuan itu tetap Dewi, tetap menjaga dunia di sana. Hanya saja kini vaginanya sesak dan penuh. Benda itu berusaha keluar masuk secara tidak masuk akal dari lubangnya yang sempit. Sini bergerak dengan tempo dan ritme.
“Jangan tutup matamu, kumohon..” pria itu memohon dengan wajah keras, peluh yang jatuh, serta jakun yang resah. Sang Dewi lagi-lagi melihatnya dengan warna kulit yang nyaris rata kemerahan. Tubuhnya bergerak dari bawah, seiring tubuh Sinu membawanya naik turun.
“Sempit sekali, astaga.. Aku tidak tahu jika akan se–oh.. Ah!!! Aku menjantanimu.. Sayang.. Aku sungguh mencintaimu..” pria itu meracau. Ia terus mengatakan banyak hal yang sebenarnya tidak terlalu banyak di simak oleh perempuan di bawahnya. Sinu terus berkata jujur tentang apa yang ia rasakan. Betapa penisnya menggila di dalam sana.
Mereka menyatu—menciptakan sulur aneh yang menyelubungi keduanya. Kini membentuk ikatan yang memutus tali milik Sinu dengan gadis yang ada di dunia nyata. Sulur merah tipis yang kini benar-benar hilang, digantikan oleh milik sang Dewi.
“Kau dan aku.. Hnggh—k-kau.. Dan aku.. Kita akan berjodoh di kehidupan manapun, aku menghendakinya..” perempuan itu berkata lirih seiring hujaman pada vaginanya mengencang. Sinu berhasil membuat ranjang bergoyang dengan dahsyat. Otot-otot pada tubuhnya tercetak lebih besar. Begitu gagah, begitu kuat.
Lalu Sinu menggeram, sebelum suara besarnya mengaum bagai serigala tidak waras. Pria itu menyemburkan cairan klimaks dalam rahim sang Dewi hingga perempuan itu mengembung mengempis. Lalu meleleh keluar secara lengket dan panas.
Pria itu ambruk memeluk. Ia mengucapkan kata cinta seribu kali. Lalu membawa sang Dewi dalam dekapnya.
“Aku mencintaimu juga, Sinu.. tetaplah bersamaku..”
Ruang berganti, waktu seakan tak akur. Jam berdetak lebih lambat, peluh keluar banyak. Kristal mengejang di pelukan Edgar yang juga tidur di sampingnya. Ada bunyi aneh di telinga, lalu telapak tangannya panas luar biasa.
NGIIIIIINGGGGGGG!!!! SSSSSSHHHHTTT AH!
Kristal terbangun dari tidur. Vaginanya terasa basah, tapi ia tidak bermimpi ngompol. Gadis itu merasakan liangnya berdenyut-denyut perih. Lalu benang merah tersambung begitu panjang entah kemana. Saat ia bangkit dan mengikuti arah benang, benda itu menghilang seperti lenyap di tempat yang tak terlihat.
Edgar belum bangun.
Dan Kristal memeriksa vaginanya.
Tidak basah.
Bukan, ia bersumpah vaginanya basah, seperti orang datang bulan, lalu liang perih berdenyut meski kini tidak lagi. Sementara benang, benda itu masih ada.
“Kenapa, yang?” suara Edgar tiba-tiba, padahal pria itu masih tertidur–perasaannya.
“Gak tau, ada suara aneh di telinga. Terus vagina gua kayak basah padahal enggak, terus sakit, sekarang ada benang..” gadis itu terhuyung, lantas ia kembali pingsan sebelum menyelesaikan kalimatnya.