
SEBELUMNYA
Sinu menabrakkan bibirnya pelan. Sepelan ia menghitung mundur berharap tak ditolak atau terluka meski tau perempuan itu tak akan melukainya.
Hanya sentuhan ringan tanpa berani lebih. Perempuan itu mundur sistematis dengan mata kelabu. Ditatapnya Sinu yang penuh cinta. Alisnya yang bertaut tebal, sepasang mata sendu yang teduh sekaligus patetik, hidungnya yang bangir nyaris sempurna dan terakhir berlabuh pada bongkah bibir yang baru saja bertabrakan dengan miliknya. Sang Dewi berkedip dua kali. Sungguh, hanya dua kali. Setelah itu, ia mendorong keras hingga vampir tanpa kekuatan itu terjerembab jatuh ke lantai.
“Hatiku jadi aneh. Ada desir aneh di sini” kata sang Dewi, ia mengusap atas dadanya berulang dengan tatapan yang ubah jadi menelisik. Berharap perasaan aneh itu menghilang saat Sinu tak lagi menindihnya dengan cara paling intim.
“Kau jatuh cinta padaku” ujar si pria—sembari bangkit—meringis ia saat tulang lututnya beradu dengan marmer keras-keras “aku juga merasakan hal yang sama” lalu mendekat lagi. Kendati kali ini ia tak naik merangkak—sebab bisa saja setelah ini, tubuhnya kembali terjun ke luar. Sinu tak ingin pingsan. Perasaannya saat ini tengah berbunga-bunga. “Coba telaah sedikit saja, bukannya itu menyenangkan? Kau tidak pernah merasakan yang seperti itu, kan?”
Ia duduk memangku tangan. Tersenyum pada sang ayu yang masih berkutat heran pada apa yang dirasakan.
“Aku tidak boleh seperti ini. Aku diciptakan bukan untuk seperti ini..” ujarnya pelan, nyaris berbisik. Lantas ia bangkit dengan buru-buru. Namun Sinu lebih dulu menahan tangannya. Tampaknya, pemuda itu memang tidak takut mati.
“Tunggu sebentar..” sang Dewi kembali duduk. Semilir angin yang menerobos masuk melalui celah jendela berhasil membuat anak rambut menutupi sedikit wajahnya. Sinu menyingkirkan itu dengan hati-hati. “Selama sembilan ribu tahu kau hidup. Kau tidak pernah berpesta, tidak juga berhura–hura. Tidak jatuh cinta, tidak menghabiskan waktu untuk menyalahgunakan kekuatan serta keilahian. Kau menunaikan tugasmu kelewat baik dan sekali lagi, itu seumur hidup. Maka, jatuh cinta sekali seumur hidup juga tidak akan membuatmu lantas jadi pendosa, pembangkang, atau menyalahi tugas. Kau Dewi, bukan Tuhan. Jika bisa jatuh cinta, berarti Tuhan mengizinkan kau untuk merasakan itu selama dalam dalam konteks tak menyakiti siapapun. Tidak merugikan serta merebut hak. Kau berada di zona yang benar. Bahagialah meski hanya sekali. Kau sudah melakukan yang terbaik selama ini, sejauh ini. Biar aku yang memvalidasi seluruh kerja kerasmu yang luar biasa, seperti yang kau lakukan padaku selama ini”
Mereka bertatapan.
Sungguh, Sinu sungguhan jatuh cinta pada perempuan itu. Maka, yang bisa dilakukan adalah meyakinkan sang Dewi bahwa jatuh cinta bukan dosa. Apalagi tak ada latar yang membuat keduanya terikat larangan. Tidak, kendati ia mengingat Lyn, namun gadis itu bukan istrinya. Bukan seseorang yang harus ia bertanggung jawabkan sampai akhir. Lyn adalah manusia dan mereka belum sejauh itu untuk sesuatu yang bisa dilabeli ‘pengkhianatan’ Sinu merasa seperti itu.
“Boleh aku pegang tanganmu?” tanya pria itu lagi.
“Kau bahkan menempelkan bibirmu pada bibirku secara kurang ajar. Kau sungguhan tidak takut, ya? Atau aku yang terlalu lunak padamu?”
Sinu tak segera menjawab. Ia malah menggigit bibir bawahnya lalu mengulum senyum tengil. Tak ada takut—jelas. Yang pria itu rasakan adalah debar menyenangkan. Juga dengan keyakinan penuh bahwa perempuan itu mustahil akan membunuhnya.
Maka, ia pegang tangan yang sehalus bulu.
Ia bawa permukaan lembut itu untuk membelai rahangnya sendiri.
Sinu memejamkan mata. Telapak itu ia bawa ke rahang, pipi kiri, daun telinga, dan leher. Terakhir ia daratkan ke bibirnya bersama kecupan berulang-ulang.
“Apa menyenangkan, melakukan itu? Apa degup aneh seperti ini kau sebut menyenangkan?” satu tangan yang tersisa mengelus dada atasnya lagi. Merasa-rasa sensasi asing yang baru pertama kali dirasakan.
“Menyenangkan. Degup ini menyenangkan” jawab Sinu, membalik punggung tangan sang Dewi lalu mengecupnya lagi “perutku seperti diisi kupu-kupu yang terjebak. Menyengat dari otak sampai ke titik yang paling sensitif. Otakku banyak dipengaruhi dopamin. Fase tergila-gila padamu. Mungkin nanti, aku bisa mencintaimu dengan tenang, jika sudah diterima dan kau mau membuka hati”
Pernyataan itu tak mendapat jawaban. Sang Dewi lagi-lagi memperhatikan Sinu yang terus mengecupi tangan. Lantas pria itu mendongak lagi “mau ciuman yang benar?”
“Apa ada ciuman yang salah?” pertanyaan dijawab pertanyaan. Sinu terkekeh.
“Ada jenis ciuman ringan yang ragu-ragu serta penuh kekhawatiran. Bukan salah, hanya saja tidak layak disebut ciuman” sang Dewi melihat jakun pria itu naik turun memandangi wajah—ke bibirnya “apa kau mau, Her Divine Grace?”
Ada jeda. Mirip perundingan yang bergejolak antara hati dan logika yang menolak. Tinggal berbulan-bulan bersama vampir cerewet dan selalu berpola unik dan membuatnya tidak lagi kesepian, perempuan itu sungguh tidak mengerti dengan perasaannya selain ia—suka—saat-Sinu–melewati—garis dan bertingkah tengil tanpa takut, serta kepercayaan diri yang tinggi. Pria itu sangat menggemaskan sekaligus kuat meski tanpa kekuatan. Auranya dominan dan berani. Itu juga sangat berpengaruh pada pola penilaiannya atas pria yang saat ini kembali merangkak naik ke tubuhnya.
Ia kembali merebah dan Sinu mendominasi diatas, seolah, ia hanya memiliki kekuatan untuk meremas sprei sutra sebagai penguatan.
Napas Sinu terasa panas menampar wajahnya. Tubuh mereka bukan jenis hangat bernadi konstan serta bersuhu layaknya manusia. Namun saat ini, keduanya merasakan kehangatan dari sentuhan kulit masing-masing.
Terus turun hingga sang Dewi merebahkan kepala di kasur. Mata Sinu lagi-lagi bertabrakan dengan kelopak yang berkedip-kedip. bulu mata sang Dewi yang panjang seolah membuat kedipan itu melambat. Bibir yang terbuka sensual selalu basah mengkilap secara natural.
“Apa kau memberiku izin, Yang Maha Agung?” pertanyaan terakhir yang sebetulnya tidak perlu. Karena Sinu tak lagi menunggu jawaban. Bibirnya mendarat di sana, mengulang. Namun kali ini tanpa keraguan, tanpa khawatir. Ia memejamkan mata.
Memagut lembut.
Bibir sang Dewi bagai permen kapas yang meleleh begitu menyentuh saliva. Rasa manisnya tak berlebihan, tak kurang. Sangat pas.
Sinu bersumpah ia berkali-kali berciuman dengan Lyn, dan rasa saliva tidak memiliki rasa tertentu yang membias. Namun perempuan ini… perempuan yang tak menutup mata, sedang menahan napas, serta berwajah bingung—memiliki rasa saliva yang luar biasa.
Barangkali jika vampir itu tau rasa buah, ia akan menggambarkan rasa bibir yang lebih segar dari semangka di musim panas, manisnya seperti buah berry pada kematangan maksimal. Sungguh, lebih manis dari jenis darah manapun yang ramah di bagian apapun pada tenggorokannya.
Pria itu akan gila.
Dua tangan sang Dewi mengerat lebih keras pada sutra halus.
Sinu mendominasi bagai kumbang jantan yang menemukan bunga paling indah dengan sari terdahsyat.
Pria itu mengerang sendiri atas ciuman yang ia ciptakan. Bergumam ia bagai binatang buas yang menggeram. Lalu mencengkram rahang sang Dewi dengan kelembutan yang berkombinasi dengan lapar.
“A-aku akan kehilangan seluruh liurku..” tubuh indah di bawahnya bergerak resah saat berhasil bersuara. Sinu memberinya ruang sedikit sekali untuk mengambil napas. Sisanya, pria itu seakan tuli.
“Sinu… pelan-pelan” suaranya seperti bisikan malam yang suram. Nada gemulai yang anggun serta penuh kepasrahan. Itu memantik sesuatu yang lebih liar lagi dalam dada si pria yang memang sedang menggila.
Pun sang Dewi yang entah mengapa berubah jadi permen jeli yang tak berdaya. Ciuman itu merenggut kewarasannya, kegagahan, serta statusnya sebagai pembunuh dingin.
Kini hilang.
Sungguh.
Vampir tanpa kekuatan di atasnya merenggut semua itu seketika. Menjadikannya bagai wanita rapuh yang mengandalkan belas asih untuk sekedar bernapas normal.
Lidah Sinu masuk. Menyatroni dengan tidak sopan. Mengacak-acak tanpa permisi. Terkadang membelit untuk kemudian menyesap saliva si perempuan hingga tandas. Ada bunyi teguk nyaring yang mendominasi ruang itu selain semilir angin yang menerbangkan gorden cream di balik jendela besar.
Lama.
Lebih lama dari ciuman normal.
Lebih lama.
Hingga tidak ada lagi yang tersisa. Tak ada pikiran tentang apapun. Tidak ada saudaranya, tidak ada gadis lain. Hanya dirinya, dan keajaiban itu.
Penyembuhan, ketenangan, rasa aman, nyaman. Libido yang naik, tubuh indah yang tak berdaya, serta suara indah ikut menyesaki ego serta harapannya. Semuanya sempurna. Sinu memutuskan untuk tidak kembali. Di detik ia telan seluruh liur manis itu, Sinu memutuskan untuk hidup di sini selamanya.
Wajah itu bersemu merah. Lebih merah dari siapapun yang pernah ia lihat saat salah tingkah. Muka lembut, napas terengah yang anggun, gerak gemulai yang terukur. Perempuan ini adalah tipe idealnya.
“Apa aku menyakitimu, Yang Maha Agung? Wajahmu memerah” Sinu meledek tanpa mengubah posisi setelah ciuman panjang mereka.
Perempuan itu menggeleng.
“Lantas?” tanya Sinu lagi.
“Lantas apa? Jika aku jatuh cinta padamu, aku tidak yakin akan mengizinkanmu keluar dari sini untuk kembali pada keluargamu, atau gadis yang pasti akan menangis saat tau apa yang kita lakukan”
“Tidak ada. Aku milikmu. Sungguh” kata Sinu, meyakinkan “aku milikmu, kau milikku. Ayo hidup yang lama dengan cinta dan kedamaian. Aku akan membersamaimu hingga akhir dunia”