Hera belum menyetujui apa yang ditawarkan Lukman untuk datang tiap malam. 

Memijat katanya, lalu akan diberikan uang sekian-sekian. Masih akan ia cari tahu dulu seperti apa perangai pemuda itu. Tentu saja mencari celahnya. Ini untuk hidupnya yang monoton setelah dikekang bak anjing gila yang dikhawatirkan akan membuat kekacauan di luar. Pun, pemuda itu juga tampaknya  memandang perempuan dari cara berpakaian. Sebuah stereotip yang melahirkan sudut pandang yang sempit.

Bokongnya masih merebah di kursi administrasi setelah menghabiskan hampir setengah jam belajar cara menjadi admin di klinik itu. Seorang perawat berusia pertengahan tiga puluhan yang mengajarinya dengan telaten dan sabar—yang kini sibuk menelepon entah siapa dan berbincang tentang stok obat. 

Kini satu jam berlalu setelah kedatangannya pertama kali.  Sebenarnya, klinik menyatu dengan rumah Lukman. Rumah pemuda itu ada tepat di belakang dengan pintu depan menyamping, namun hingga sekarang Lukman belum kunjung menampakkan diri.

“Permisi, Teh..” suara itu membuat Hera yang sibuk dengan ponsel akhirnya mendongak. Seorang ibu-ibu terlihat memegangi perutnya sambil meringis.

“Selamat pagi Ibu, ada yang bisa dibantu?” senyumnya melengkung cerah, senada dengan pewarna bibir yang terlihat terang. Wajahnya enak dipandang membuat si Ibu yang meringis mau tak mau ikut tersenyum.

“Saya mau berobat, Teh. Perut saya sakit dari jam dua pagi”

“Baik, sudah pernah berobat ke sini sebelumnya?”

“Belum”

“Baik, boleh saya minta KTP atau identitasnya? Sekalian saya data dulu”

Lalu si Ibu memberikan KTP. Hera lantas mengetik cepat pada kibor. Dalam waktu kurang dari satu menit, gadis itu kembali menatap si Ibu dengan senyum yang benar-benar sulit untuk tidak dibalas. Si Ibu senyum lagi setengah meringis.

“Silahkan duduk di ruang tunggu yam Ibu. Nanti kalau dokternya sudah siap, Ibu akan saya panggil”

Hera lantas kembali membuka ponsel, menghubungi Lukman.

Lukman memakai Jasnya lantas buru-buru ke depan. Pengar bekas minuman keras semalam membuatnya lesu pagi-pagi. Kepalanya juga agak pening.

Saat sampai depan, ia mengedipkan sebelah mata pada Hera yang terlihat cantik pagi ini. Hanya sekilas ketika langkahnya terus melaju hingga menghilang di balik pintu ruangannya.

Setelah siap, Hera meminta Ibu itu masuk.

Sambil mengucek mata, Lukman berdehem. Namanya Ibu Ratna, mengeluh sakit perut di sekitar pusar, lalu pindah ke kanan bawah. Ia mengadu pada Lukman dengan suara lirih dan lemah.

“Mual atau muntah?” Tanya Lukman.

“Mual, tadi sempet muntah sekali”

“Demam?”

“Sedikit?”

Lukman Mengangguk. “Ibu tolong berbaring ya, saya mau periksa” katanya ramah. Si Ibu patuh saja. Bahkan tidak ingat lagi berita buruk yang sebelumnya ramai diperbincangkan hingga menjadi topik paling panas di kampung; Lukman main dukun.

Setelah si Ibu berbaring, Lukman mulai memeriksa. Jemarinya menekan beberapa titik di perut.

“Kalau disini?”

“Masih nggak terlalu sakit”

Lalu tangan Lukman bergeser pada perut kanan bawah.

“Yang ini?”

Baru si Ibu meringis. “Iya.. itu sakit, Dok” Lukman menarik tangannya. Lantas Lukman melamun sebentar, hanya sebentar, kurang dari dua puluh detik sebelum ia kembali duduk.

“Baik Bu, dari keluhan dan pemeriksaan sementara, ada kecurigaan ke arah radang usus buntu. Saya nggak bisa memastikan hanya dari pemeriksaan klinik ini. Ibu perlu pemeriksaan lanjutan di rumah sakit. Nanti kan di tes darah, USG, atau CT scan” mata mereka bertatapan. Si Ibu mendelik dengan mata tak percaya.

“Saya cuma sakit perut loh, Dok. ini emang udah lama, tapi parahnya baru jam dua subuh tadi. Masa usus buntu? Yang bener aja, gila kali. Bener yang dibilang orang, klinik ini stress. Dokternya stress.”

Lukman melipat tangan di dada, tak langsung bereaksi. Matanya Mengantuk.

“Mau saya kasih surat rujukan ke RS, gak? Ada BPJS nggak, Ibu?” tanyanya akhirnya, masih ramah.

“Nggak perlu! Saya mau minum milanta aja. Dokter palsu”

Lukman menggosok hidungnya saat Ibu itu beringsut-ingsut bangkit dan akan bergegas pergi.

“Saya ini dulu menangani pasien usus buntu hampir ribuan orang, Bu. semua gejalanya sama, tempatnya sama. Gak cayaan sih..” kata Lukman, jelas tak didengar. Lantas ia terkekeh sendiri saat si Ibu sudah menghilang “gua yakin besok lusa lu rebahan di meja operasi”

Sementara kepala Hera mengikuti langkah si Ibu yang keluar sambil mengomel. Tak sempat ia tanyakan mengapa tak menebus obat, wanita itu membanting pintu depan dengan kasar. 

Tak lama di susul Lukman yang keluar sambil merentangkan tangan ke atas, mulutnya menguap lebar.

“Itu Ibu-Ibu kenapa marah-marah?” tanya Hera bingung.

“Biasa. Ngeyel” jawaban enteng, Lukman mendekat pada Hera “udah makan belum? Gua belum sarapan” Hera belum menjawab ketika seseorang kembali masuk.

“Pak Dokter, saya kencing nanah..” 

.✦ ݁˖.✦ ݁˖.✦ ݁˖

“Lukman? Dia orangnya manja, aleman pol. Tidur aja minta diusap-usap kayak anak kecil” jawab Sugiyah saat Hera tiba-tiba bertanya tentang Lukman. Berdua sedang menggoreng parutan kentang untuk membuat sambal goreng. “Biasa, namanya anak dari kecil gak dapet figur Ibu. Emaknya meninggal pas lahirin dia. Nggak pas abis lahiran banget sih. Pokoknya ada komplikasi apa… gitu, lupa. Si Lukman umur berapa hari, terus ditinggal”

“Ah..” Hera manggut-manggut “Bapaknya calon Bupati ya, Wak?”

“Calon Bupati. Kaya raya juga. Kamu kalau mau sama dia”

“Ish Uwak, apalah. Jangan ngadu ke Mamah aneh-aneh. Nanti Hera suruh pulang”

“Mamah kamu mah kamseupay. Anak dikurung aja, dikira tape di fermentasi. Tenang aja Neng, disini aman sama Uwak. Kalau mau main asal pake waktu”

Hera cengengesan.

“Itu ya Wak, orang kalau dari kecilnya gak ada figur Ibu, sampe umur berapa aja geh, tetep aja caper”

“Mungkin. Kalau konteks kamu Lukman, Uwak bisa bilang iya. Soalnya dia mah sableng-sableng gemesin. Walau udah gini gitu, nggak bisa Uwak marah sama dia. Malah kasian. Anak itu dialusin aja, di pukpuk. Nanti alemannya makin pinajiseun kalau kata Musa” lantas Sugiyah menatap gadis itu lagi “kamu suka?”

“Enggak ih, tanya doang. Namanya sekarang jadi bos. Dia sukanya sama si Teteh”

“Halah bocah edan, si Aceng ikut-ikut. Lagu apa kali”

“Kalau Aceng, Wak?”

“Aceng mah lempeng-lempengnya orang. Aman aja sama dia mah, cuma ya gitu. Penghasilannya belum seberapa”

Hera mengangguk lagi. Idenya sudah bejubel di kepala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *