Sungguh, Hera sungguh naik ke pangkuan Aceng lantas mencium bibir pria itu dengan kikuk tanpa pengalaman–namun terus berupaya terlihat seperti seorang pro yang terbiasa dan tentu saja binal seperti dugaan siapapun diantara mereka yang terus menganggapnya gadis ‘tidak benar’
Semua orang masih kaget. Musa dan Ibunya menahan napas. Valery mendelik girang sementara Lukman membeku. Terlebih Aceng, pria itu merasa seolah waktu berhenti berjalan. Benar-benar kaget.
Hera menempelkan bibirnya dengan bibir pria itu pelan, lambat, dan otaknya terus dipaksa mencari tahu apalagi yang mesti dilakukan setelah menempelkan bibirnya.
Lalu kepalanya memutar ingatan tentang series romansa yang pernah ia lihat dalam drama. Sambil kilas balik, gadis itu mempraktikannya pada Aceng.
Yang pertama ia pagut bibir bawah pria itu lembut, lalu mengulumnya pelan, dengan gerakan paling lambat dan hati-hati, Hera berhasil menekan wajahnya agar terlihat pintar. Padahal hanya mengulum bibir bawah Aceng tanpa tindakan lain yang berarti.
“Kita pacaran, ya?” tak ingin berlama-lama karena takut dicurigai tidak becus mencium, Hera memberi jarak. Tangannya melingkar di leher Aceng dengan intim. “Terus kalau udah pacaran dan kiss gini, gimana 100 juta nya? Jadi?” pertanyaan itu sebenarnya asal dan hanya menduga-duga. Hera tidak dungu dengan buta bahasa isyarat ketika sejak tadi Lukman terus terbahak-bahak dengan nada merendahkan. Sebenarnya pria itu memang gemar sekali merendahkannya.
Aceng tertegun. Susah payah jakunnya naik turun untuk menelan ludah. Bibir gadis di pangkuannya masih membekas terasa kelewat hangat di bibirnya. Namun kini Aceng resah. Ditatapnya Lukman yang justru mengalihkan pandangan. Sementara Hera terus memandangnya—menagih penjelasan yang sebenarnya dikalkulasi dari dugaan.
“100 juta apa?” Valery yang bersuara. Semua orang ikut menunggu jawaban.
Hera mengedikkan bahu. “Kalian taruhan? Bukannya Aceng bakal dapet 100 juta kalau berhasil pacaran sama gua dan kiss?”
Sial.
Lukman mendelik menatap gadis itu.
Ini mustahil. Darimana gadis itu tau? Apa bersekongkol dengan Aceng? Tapi mustahil juga. Aceng tipikal lelaki yang tidak akan menyebarkan kelakar busuknya karena dia mudah sekali merasa bersalah.
“Siapa taruhan? Naruhin apa?” kali ini Ibu Musa yang bersuara. Ditatapnya Aceng dan Lukman secara bergantian. Namun baik Aceng atau Lukman, keduanya bungkam.
Hera turun dari pangkuan, kembali ia merebahkan bokongnya di samping Valery.
“Aceng pacaran sama gua, kan? Terserah taruhan itu. Padahal gua asal nebak aja, gak taunya beneran, sial” si gadis menyeruput es teler. Rasa jengkel pelan-pelan membuncah. Ia meremas gagang gelas hingga buku-buku jarinya memutih menahan kesal. Napasnya mulai memburu. Sungguh, ia benar-benar marah. Kini matanya kembali dialihkan pada Lukman “gua juga bakal nginep di klinik” lalu berlabuh pada Ibu Musa “Wak, mulai malam ini, Hera tidur di klinik”
Wajahnya merah, rahangnya mengeras. Sebenarnya ingin meledak. Namun ditahan sekuat tenaga.
Dua pria itu benar-benar menganggapnya seperti kotoran. Rasanya tidak ada harga diri, dan hatinya benar-benar terluka. Padahal, Hera bersumpah kedatangannya kemari semata-mata ingin kerja dan bebas dari kekangan orang tua. Gayanya yang nyentrik, pakaian yang terbuka, serta ocehannya yang selalu gamblang tanpa saringan, rupanya ditangkap lain oleh Lukman.
Padahal tidak ada setitik pun rasa tertariknya pada Lukman. Tidak ada keinginan untuk menggoda. Saa ditanya begini dan begitu, Hera menjawab dengan mengimbangi karena ia tak ingin dianggap gadis polos yang mudah dimanipulasi. Namun rupanya Lukman menangkap lain dan menganggapnya pelacur murahan.
Aceng juga.
Sebenarnya, apa kesalahannya?
Tapi kurang tepat mempertanyakan hal semacam itu karena orang-orang brengsek tidak perlu alasan untuk melukai orang lain. Mereka biasanya melakukan hal-hal semacam itu untuk bersenang-senang.
“Hera, gua minta maaf” itu suara Aceng. Lontaran itu juga membuat Lukman mendelik. Lukman lantas mengacungkan jari tengah pada temannya dan lagi-lagi menggumamkan bahasa isyarat.
“Sshh jangan katakan apapun” kata Lukman. Tentu saja tidak bersuara. Hanya gerakan mulutnya saja. Namun Hera sedang tidak ingin melihat itu. Jengkel, sebenarnya ia ingin memukuli dua pria itu. Namun tidak enak pada Uwaknya dan Musa.
“Hera gua minta maaf. Tapi gua nggak tau lu bicara apa. Gua beneran tertarik sama lu dan udah merasa gak pantas deketin dan basa-basi. Gua udah 31” lanjut Aceng.
Perkataan itu bukannya membawa rasa lega, namun justru sebaliknya.
Apa katanya? Tertarik beneran?
“Wak, Uwak pernah cerita kalau Aceng punya utang ya? Terus rumah itu juga punya Uwak yang di sawah” Hera baru bersuara, menahan sekuat tenaga agar suaranya tetap stabil. “Seseorang pasti kaya raya banget mau kasih uang 100 juta buat bayar taruhan asal bisa pacaran dan kiss perempuan ‘murahan’” Hera menekan kata ‘murahan’ sambil menatap Lukman yang sejak tadi menjilati bibirnya sendiri berulang-ulang mirip kobra.
Tiba-tiba atmosfer ruangan itu menjadi tidak nyaman. Valery menatap Aceng, lantas bergantian pada Lukman.
“Lu berdua sok ganteng ya? Mau gua pukul?” tanya Valery pada keduanya. Lukman menggeleng, disusul Aceng. Tak puas dengan jawaban keduanya, sementara ia merasa ada dipihak Hera, Valery lantas bangkit dan mengeplak kepala dua temannya itu secara bergantian.
Aceng meringis. Lukman berwajah dibuat-buat seolah akan menangis.
“Gosah sok ganteng, mantep lu berdua? Dimata gua kalian kayak beruk. Gua di pihak Hera. pokoknya kalau ada yang nakalin dia, gua keplak”
Valery merangkul satu-satunya gadis yang terlihat marah. Saat tangan istri Musa menyentuh pundaknya, Hera tersenyum meski tak sampai mata. Tindakan Valery bahkan tidak membuat perasaannya membaik sedikitpun. Marah, jengkel, dan kesal menggumpal menggulung-gulung makin besar. Hera bersumpah akan membuat mereka membayar sakit hatinya.
Hera berdehem, diteguk sekali lagi es teler, berharap dinginnya es batu dapat ikut menetralkan hatinya yang keruh dan panas.
Setelah itu, ia melirik Aceng.
“Kita pacaran, ya? Sorry kalau berspekulasi tanpa dasar” katanya lagi, memaksa senyum manis pada Aceng. Aceng sendiri bergestur gelisah dan kikuk. “Wak, Neng mau beresin baju, mau pindah ke klinik aja” lantas ia bangkit tanpa menunggu persetujuan Ibu Musa. namun tidak akan ada yang mau menghentikan gadis dengan wajah seperti akan membunuh orang. Semua orang diam lagi menatap punggung yang menghilang di balik pintu.
“Berdua taruhan? Taruhan apa?” kali ini Musa yang bertanya. Aceng tentu saja tidak sudi menjawab sementara Lukman pura-pura gila dengan mengulum ujung Ibu jari. Keduanya seperti biasa; terlihat idiot. “Udah tua masih pada nggak mikir. Awas aja kalau sepupu gua kenapa-napa. Gua hajar berdua” ancaman suami Valery juga bagai angin lewat yang tak berarti.
Perhatian semua orang kembali teralihkan pada Ibu Musa yang bangkit dan akan membantu Hera mengemas barang.
≽^• ˕ • ྀི≼
“Biar Emak besok yang ngurus izin tinggal” kata Ibu Musa, sebelum Lukman terus mendorongnya dengan manja agar kembali masuk ke mobil dan pulang. Ada Aceng juga meski pria itu sejak tadi kebanyakan diam.
Musa membawakan semua barang gadis itu menuju klinik Lukman menggunakan mobil. Namun setelah sampai depan, Lukman Meminta Musa dan Ibunya untuk pulang saja meski keduanya memaksa akan membantu membereskan. Bagaimana tidak, Hera tidak akan tidur di klinik, melainkan di rumahnya. Meski Lukman akan mengurusnya pada ketua RT besok pagi bahwa ada gadis yang tidur di depan rumahnya. Tentu saja untuk izin agar tidak terjadi hal-hal seperti penggerebekan.
“Ini serius gak papa di tinggal, Neng?” Musa bertanya pada Hera yang sejak tadi ekspresinya tak berubah. Gadis itu jelas sedang memikirkan sesuatu hingga dahinya mengerut berlipat-lipat.
Hera mendongak lalu mengangguk pada Musa.
Setelah itu Musa dan Ibunya benar-benar pulang.
Aceng membantu membawa koper dan Lukman memandu ke dalam rumahnya. Keheningan merajai. Tak ada percakapan apapun hingga ketiganya masuk dengan seluruh barang menyertai.
Kamarnya berada di depan. Sementara kamar Lukman ada di belakang. Yakin jika ada pasien yang memanggil dengan suara keras, Hera pasti akan mendengar.
“Mau dibantuin beresin barang?” tanya Aceng gugup. Ia berdiri di ambang pintu kamar sementara Hera duduk di sisi ranjang sembari mengamati ruangan. Lukman entah pergi ke mana.
“Boleh” katanya, suaranya pelan. Aceng lantas masuk dan berdiri di antara koper dan tas besar. “Yang ,ana dulu? Yang kiranya nggak ada barang pribadi yang privasi?” mata pria itu bergantian menatap koper dan mata Hera.
“Yang mana aja. Gua nggak punya barang privasi. Kalau yang lu maksud daleman, itu ada jadi satu di tas yang itu” Hera menunjuk ransel besar berwarna merah jambu “sisanya semua aman” nadanya tidak lagi terdengar jengkel seperti beberapa saat lalu. Kendati, Aceng tetap merasa bersalah.
“Ceng” panggilnya lagi.
“Ya?” Aceng mendongak setelah baru saja akan mengangkat koper.
“Gua panggil lu Kak Aceng boleh ga? Umur gua mau 23, dan kita pacaran” Hera lagi-lagi menekan kata ‘pacaran’ untuk meyakinkan status mereka. Aceng awalnya diam dengan mata membulat, namun kemudian tersenyum lagi meski tidak natural.
“Boleh” jawabnya. Kembali ia mengangkat koper dan membuka isinya. “Nama Asli gua Muhammad Ibrahim” kata Aceng tiba-tiba “nama lengkap lu siapa?”
“Halmahera” jawab si gadis.
“Halmahera pulau terbesar di provinsi Maluku Utara. Unik namanya, kayak orangnya” kali ini Aceng tersenyum sungguhan. Lesung pipinya yang dangkal terlihat begitu manis.
“Halmahera banyak gunung berapi” utas si gadis menanggapi tentang pulau Halmahera. “Ada burung cenderawasih, kaya sumber alam mineral terutama nikel. Tapi banyak gunung berapi yang aktif juga. Dibalik keindahan pulau yang punya hutan hujan tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati, dia punya sesuatu yang panas dan mematikan”
Lontaran itu membuat Aceng berdehem. Ia mengangguk kemudian.
Keduanya kembali sibuk membereskan barang. Lukman tidak kembali lagi entah kemana. Keheningan merajai mereka. Lagi dan lagi.
“Kak Ibrahim”
Itu panggilan baru. Sungguh. Seumur hidup hanya orang-orang di kantor yang memanggilnya begitu. Saat Hera memanggilnya, Aceng yang sibuk menata baju di lemari, lantas berbalik menatapnya.
“Ya?”
“Bisa ajarin gua cara ciuman yang benar? Gua baru pertama kali punya cowok”
Meledak nggak tuh ginjal Ibrahim, dia… Aman kan??
Lemon I love you sekebon ❣️
Ya aloh ya alohhhhhh🥹🥹
Lukman sini lu,pen gue Jambak sampe botak 😌😌