Tidak ada yang spesial malam itu kecuali semangkuk rendang tanpa tutup yang dibawa dari rumah Musa ke rumah Lukman. Melenggang kakinya tanpa hasrat, tanpa tujuan jelas, serta gairah hidup yang seolah stuck di angka empat.
Benar, jika kehidupan memiliki hasrat yang bisa direpresentasikan dalam angka, maka, Aceng mengkategorikan hasrat hidupnya ada di bawah KKM. Itu adalah standarnya sendiri meski diam-diam mengklasifikasikan tiap orang yang ditemui dengan angka. Dan Lukman ada di angka tiga. Lelaki itu menyedihkan meski kaya raya. Namun Aceng tidak akan mengungkapkannya. Lukman lebih sinting dari perkiraan.
Musa ada di angka sembilan sementara Valery sembilan koma lima.
Orang-orang dengan gairah hidup tinggi selalu saja memiliki cara unik untuk bahagia. Seolah kehidupan mereka ada untuk kemenangan atas apapun di muka bumi. Pantas bahagia. Juga, diam-diam Aceng menilai Musa dan Valery sebagai Alpha. Sementara ia adalah Beta yang berada di tengah-tengah antara si terkuat dan terlemah. Nanti jika mati, Aceng juga yakin tidak akan masuk surga, tapi bukankah Tuhan berlebihan jika ia menjadi penghuni neraka? Maka, pilihannya ada di tengah-tengah.
Netral adalah cara aman untuk hidup.
Namun masuk dalam golongan munafik jika menyangkut agama. Ia tidak ingin terlibat masalah, tidak juga berani mengambil keputusan gegabah. Sudah saja dua orang tuanya menganggap bahwa ia adalah si durhaka yang tak akan masuk surga. Jika nanti kesulitan, mereka (kedua orang tua) bersumpah tidak akan membantunya. Tapi persetan, yang diingatnya selama ini hanya menjadi tulang punggung tanpa kehidupan layak dan nyaman. Jika hanya boleh menyebut satu saja perumpamaan, Aceng tau dirinya hanya mirip sapi perah.
Kenapa mudah sekali melabeli durhaka? Padahal orang tua yang gagal menjalankan perannya adalah bentuk kedurhakaan yang sejati.
Pintu terbuka, memperlihatkan tubuh besar berbalut singlet dan bokser kekecilan. Lukman menyambutnya dengan acungan jari tengah. Ditengah pikiran yang memang selalu kemana-mana, Aceng masih menyempatkan mengulas senyum meski tidak sampai mata.
“Kata seseorang, lu adalah orang yang gemar sendirian. Lu selalu butuh ruang buat menjadi diri sendiri. Tapi udah pindah, lu tetap mider-mider kek gak ada arah” itu balasan Lukman lagi atas utas senyum yang tak layak. Sambil melangkah ke dalam—meminta Aceng menutup pintu dengan bahasa isyarat.
Aceng meletakkan mangkuk berisi rendang di atas meja ruang tamu, lalu mengambil selembar tisu dan menutupnya agar tak dikerubuti hewan apapun.
“Mau nginep?” tanya Lukman lagi, pria itu membawa sesuatu di tangannya, sebelum ikut Aceng duduk di sofa.
“Nggak tau. Pikiran gua kemana-mana kalau sendirian” Aceng menghela napas. Punggungnya merebah di belakang sofa. Meregangkan urat-urat yang entah mengapa selalu saja terasa kaku.
“Minum?” ternyata alkohol. Lukman menawarinya minuman keras. Aceng menggeleng.
“Haram” jawabnya. Seolah dosa-dosanya telah lunas, dan menolak alkohol adalah benteng terakhir yang menjaga tiketnya menuju surga.
“Yang haram itu cuma babi. Lu aja nggak nolak Valery cium pipi lu”
“Eh? Lu tau?” Aceng terbelalak.
“Tau, orang dia cerita ke lakinya di depan gua”
Aceng menghela napas “kalau cerita ke Musa emang iya, sama gua juga. Tapi kaget aja sampe lu tau juga”
“Apa spesialnya? Hidup lu stress banget karena kurang duit aja atau ada yang lain?” matanya mulai merah meski Lukman tak benar-benar mabuk. Atau hampir.
“Apa aja gua mah, semuanya gua stress-in”
Lukman mengangguk-angguk. “Udah gede ya, kita? Kenapa hidup isinya cuma begini-begini aja? Mau punya duit atau enggak, kalau basic-nya udah kesepian, haus kasih sayang, dan nakal yang telat, juga dadakan. Kek bangsat banget” tangannya mengusap wajah kasar, lantas menguap “padahal deketin Valery itu…” Lukman menggeser posisi duduknya agar lebih nyaman “cuma biar hidup gua lebih berwarna. Gua main dukun dan beneran lakuin apa yang disyaratin Pakle gua. Sumpah.. Ah.. berapa kali gua kudu bersumpah kalau gua nggak percaya? Tapi ternyata setan itu beneran. Mungkin lu nggak akan nalar karena gua juga gak masuk logika. Rasanya lebih intens dari minum alkohol. Mungkin lebih parah dari narkoba”
Matanya menatap lurus pada dinding berwarna ivory yang tampak hangat disinari cahaya neon dari bawah.
“Setan itu ngambil alih diri gua. Dia kerja di sistem saraf kah? Gua gak nalar Ceng, sumpah. Mau gua sambungin ke sains pun, tetep nggak masuk. Gila sih.. Itu pengalaman gua yang amazing banget. Tapi bikin gua trauma”
Aceng terkekeh di sampingnya.
“Stress lu mah, edan” katanya. Mereaksi pendek dan melanjutkan tawa hingga matanya hilang dan lesung pipi yang dangkal tercetak. “Emang lu pikir, lu bakal bahagia kalau Valery mau sama lu beneran? Pokoknya beneran suka sama lu, tulus?”
Tidak ada jawaban. Lukman kembali meneguk alkohol dari bibir botolnya langsung.
“Gua nggak suka gadis-gadis muda. Gua maunya yang seumuran atau di atas gua dua tiga tahun” jawaban menyusul di luar konteks. Aceng melihatnya dari samping.
“Ketara banget piatu, menyedihkan”
“Sama aja ege. Keluarga lu disfungsi” kali ini Lukman yang tertawa. “Nyanyi Ceng, apa tah apa tah” pria itu bangkit dan mengambil sound system sebesar meja. Tak lupa mikrofon berwarna merah terang dengan sparkel mirip butiran serbuk peri.
Sibuk Lukman memasang kabel pada terminal kontak.
“Menurut lu, lu dulu apa gua dulu yang menikah?” itu pertanyaan dari Aceng, membuat Lukman yang mulai melihat kabel membayang karena mulai mabuk, menatapnya sekilas.
“Gak tau, sok aja gua mah” ringkas, tapi belum selesai. Saat Sound system terpasang, Lukman juga menyambungkan kabel mikrofon. “Tes! Tes! Tes! Satu dua tiga geleng-geleng kepala” katanya, sambil mengetuk kepala mic berulang “gimana kalau gini aja” suaranya terang pada mikrofon meski aman tak sampai luar “ayo deketin gadis yang namanya Hera. Kalau dia mau sama lu, gua bakal kasih lu seratus juta cash tanpa pajak. Kalau dia mau sama gua, lu nyanyi di rumah gua selama dua tahun full, nyanyi yang gua minta”
“Itu kriminal, brengsek”
“Ceng, yang haram cuma babi. Ayo bersenang-senang. Peraturannya adalah jangan lecehkan dia kecuali dia yang tawarin diri. Kalau misal ketahuan, tawarin nikah. Paham ga?”
“Ketahuan apa?”
“Ketahuan kita taruhan”
“Gua yakin itu pasti nyakitin dia banget”
“Dia punya cowok” kata Lukman “kalau dia punya cowok dan mau sama kita, siapa nyakitin siapa? Atau gini aja, kalau dia mau sama lu, biaya pernikahan gua yang tanggung”
“Lu kenapa sih?” Aceng menganga. Sungguh tidak mengerti dengan isi kepala Lukman yang luar biasa sinting.