
“Saat ini tercipta, kau tidak akan berjodoh dengan siapapun kecuali aku” ia memperlihatlah benang merah mereka yang terhubung.
“Benarkah? Aku senang mendengarnya”
Keduanya merebah di bawah pohon apel. Beralaskan rerumputan. Kepala sang Dewi bertumpu pada lengan Sinu. Berdua memandangi langit cerah sore itu.
“Kita takkan berpisah” bisiknya lagi.
“Kita takkan berpisah” Sinu mengulang.
Setelah kalimat itu, sang Dewi tiba-tiba bangkit.
“Ada bahaya di utara” matanya tajam menatap arah yang jauh. Sinu tidak melihat apapun. Sang Dewi lantas mengikat rambutnya “kau pulanglah. Aku akan kembali”
“Aku ikut” Sinu turut bangkit “kau sudah berjanji bahwa kita akan menyelesaikan ini bersama. Ayo hidup bersama dan selesaikan seluruh tugas bersama”
Sang Dewi tersenyum. Lantas ia bawa tangan Sinu—melayang mereka bagai bulu yang di terbangkan angin kencang—menghilang begitu saja.
⚘⚘⚘⚘
Kristal jelas tertidur.
Semua orang masuk ke kamarnya menggunakan masker meski aroma itu terlalu menusuk kecuali Edgar. Logan sengaja mengumpulkan semua adiknya dan mereka sungguh-sungguh harus masuk ke mimpi untuk membawa Sinu pulang—juga membunuh sang Dewi.
“Ya Allah sedapnya” Johan mengendus, namun Edgar langsung menarik kepalanya.
“Udah gua tusuk jarum, udah gua belah pake pedang, udah gua sayat. Tapi tetap nggak bisa” itu Logan, ia menghela napas “kalian ada ide lain ga?”
“Coba jangan lukai pake senjata tajam. Bisa aja Dewi kasih dia perlindungan dengan mengeraskan kulit dari senjata biasa. Misal coba bikin Kristal terluka oleh tubuh dia sendiri” Samuel angkat tangan memberi solusi.
“Kristal gigit lidahnya sendiri” Jake mengangkat tangan.
“Itu bisa dicoba saat dia bangun” kata Samuel.
“Coba tusuk telapak tangannya pake kukunya sendiri” itu ide Edgar.
“Nah, boleh tuh, coba, coba” Samuel bersemangat. Maka, Edgar naik ke ranjang, lalu melakukan hal yang ia pikirkan pertama kali.
Melepas kuku palsu.
Kuku asli Kristal tidak panjang, terawat, bersih dan sehat. Pria itu mencari yang paling panjang, lantas ia tusuk-tusukan, ia gesek keras-keras ke punggung tangan.
Sulit.
“Bentar..” bibir atas Edgar maju begitu tebal dan lucu. Ia terus berusaha. “Susah banget, yang.. Ayo bisa dong..”
Semua orang memperhatikan harap-harap cemas.
Dua menit
Lima menit..
“Coba sini, gregetan amat si” Daniel menyingkirkan Edgar yang duduk. Lantas, ia usap-usap ujung kuku Kristal dua kali sebelum ia goreskan pada punggung tangan gadis itu.
SRETTT!!
Luka pendek terlihat dangkal. Darah merembes keluar.
Semua orang melongo—menahan napas.
“Bisa!!!! Huaaa!!!! Bisa guys!!!! Kristal berdarah! Ayo cepatan, cepet masuk ke mimpi Opung… gua rindu.. Ayo bunuh Dewi!!!” Daniel kelewat bersemangat. Ia mundur dan mendorong Logan mendekat.
“Kurang banyak. Ini siapa aja yang mau ikut?” tanya Kakak kedua. Edgar jelas angkat tangan.
“Gua, ayo bawa gua”
“Kenapa nggak dari dulu ide lu keluar” Johan menyenggol saudaranya. “Tapi kalau boleh jujur, kita harusnya masuk semua buat melawan Dewi. Cuma berdua doang nanti pada sekarat pasti butuh Samuel. Gua juga bisa meracun loh, Daniel bisa membekukan, Jake bisa jadi monster mengerikan. Tapi gak bisa”
Lalu Logan melamun sebentar. Perkataan Johan memang sangat pas. Namun memikirkan bagaimana membawa semua orang, itu yang sulit.
“Darah Kristal bukan cuma kunci yang menghubungkan dunia kita ke mimpi. Dia juga jangkar jiwa. Jadi saat gua masuk ke mimpi, kesadaran gua sebenarnya meninggalkan tubuh sementara dan darah Kristal yang jaga benang jiwa gua supaya bisa kembali. Itu sebabnya nggak boleh diputus. Dan Lyn mutus tangan gua ke Sinu..” cerita itu diungkap lagi meski ia mengatakannya lebih seperti pada diri sendiri.
“Nah, supaya bisa masuk enam orang sekaligus, gimana kalau kita bikin rantai jiwa? Yang jelas kunci pintu, jangan biarkan orang sinting manapun masuk dan iseng?” Jake memberi solusi.
“Spill caranya” Logan menatap adiknya.
“Yang pertama, Krsital di tengah jadi sumber jangkar. Abis itu Dukun megang tangan Kristal. Bule celup megang tangan Dukun yang lain dan seterusnya. Kita buat lingkaran dengan bersalaman isinya darah Kristal” Jake memaparkan.
“Tapi dudukan lebih berisiko lepas gak si?” Johan bertolak pinggang.
“Itu pentingnya tali. Kita bebat tangan kita semua sampe kenceng bangat. Yang paling krusial adalah ‘tidak lepas’ jadi, kita harus iket kenceng-kenceng” Jake bangkit mencari dasi. Dan ia menemukan milik Edgar di dalam laci.
Semua orang mengangguk setuju.
“Kita lakukan sekarang?” Tanya Logan. Semua orang mengangguk sistematis.
Daniel lagi-lagi melukai tangan Kristal dengan kuku gadis itu sendiri.

Logan membawa mereka masuk dalam pusaran dari ruang yang terdistorsi. Johan menjerit sambil memejamkan mata saat silau cahaya aneh menyeruak menyakiti retina. Sisanya hanya saling mengerat, sebelum mereka jauh mengecil dan jatuh ke tempat asing yang tidak asing.
Tempat asing.
Semuanya tampak nyaris oleng. Terhuyung berusaha memijak bumi dengan seimbang dengan kaki mereka sendiri.
Tempat terang. Kontras dengan kamar Kristal yang sengaja dibuat temaram.
Enam vampir itu saling pandang. Angin kencang menampar-nampar membuat surai mereka ke belakang dengan kencang.
“Wah..” Daniel Melongo. Ia berputar untuk meneliti seluruh hal. Mereka berdiri di atas bukit tandus tapi tidak panas. Cuaca mendung, namun bukan jenis awan pekat yang gelap. Hanya teduh dan sejuk. Hampir semuanya melakukan hal sama kecuali Edgar dan Logan.
“Kita di mana? Terus ke mana? Di mana Opung?” pertanyaan si bungsu beruntun. Entah pada siapa. Tak ada seorang pun yang menjawab.
“Kita kemana sekarang, Duk?” rambut Edgar yang paling panjang terus meliuk-liuk terbawa angin. Ia ikat dengan tali yang ditemukan di bawah sepatunya.
“Sebentar.. Shhhhttt..” Logan meletakkan telunjuk di antara bibir. Lalu menajamkan rungu. Selian suara angin yang besar, sayup-sayup ia mendengar suara pertarungan meski sangat jauh. “Dewi lagi bertarung. Ayo cari sumber suara. Ikutin gua dan pakai kekuatan maksimal kalian. Di sini, kekuatan kita normal” instruksi kakak kedua. Semua vampir mengangguk.
Edgar membawa tubuhnya dengan api sebagai bahan bakar, Jake berubah menjadi monster raksasa besar—sebesar bukit yang mereka pijak. Samuel dan Johan naik ke pundak Jake. Daniel membuat jalan es dan ia melesat bagai angin, begitu juga Logan yang menghilang.
Semuanya mengikuti Kakak kedua yang lebih dulu melangkah. Dengan kecepatan yang nyaris setara.
Alam yang indah.
Tempat yang asing–juga tak asing.
“Rasanya kayak pulang ke kampung halaman” Johan berbisik pada Samuel di samping. Mereka duduk mengerat di pundak Jake seperti dua kutu yang menempel.
“Dari pemandangan, vibrasi, suasana, dan kondisi udara aja bikin betah. Apalagi ketempelan makhluk cantik yang wanginya nggak karu-karuan. Fantas saza Kakak fertama kita betahz”
“Bahasa lu najis. Gosah kek gitu-gitu, jijik” Johan mendecih saat Samuel menggunakan kosa kata yang tak jelas. Samuel terkekeh.
Gagal memprediksi jarak. Namun saat tubuh Jake berhenti, artinya mereka telah sampai.
Sebuah lembah.
Lembah yang cukup jauh. Dari jarak mereka, terlihat sang Dewi sibuk menyerang pasukan yang berjumlah kurang lebih dua ratus—tidak akurat, Samuel tak bisa memastikan keakuratan. Hanya sekitar itu. Ia juga melihat Sinu di bagian lain—bertarung dengan kekuatan yang tak pernah ia lihat seumur hidupnya.
Ternyata bukan diri sendiri. Dari Logan hingga Daniel, semuanya terpana pada cara—bagaimana dua kombo itu saling berkolaborasi menciptakan kekuatan yang luar biasa.
Mereka bertarung dengan beragam entitas yang tidak lemah. Mereka semua memiliki kekuatan yang luar biasa.
“Gua mau turun bantuin Opung” kata Daniel pertama kali. Setelah kata-kata itu, Logan mengangguk. Enam vampir itu ikut turun dan turut membantu Kakak pertama mereka menyerang musuh.
Pertarungan tumpah ruah.
Para vampir yang tidak pernah bertarung sungguhan seumur hidupnya, kini berkancah–meledak-ledak bagai kesetanan. Sebagian menjadikan momen ini untuk kesenangan, sebagian yang lain merasa baru dan terus memaksimalkan kekuatan guna cepat mengakhiri segalanya lalu kembali pulang dan tidur.
Sinu tertegun melihat enam adiknya.
Pria itu melamun.
Matanya menatap Logan, Johan, Samuel, Edgar, Jake, dan si bungsu. Ada yang berdenyut di dadanya. Dalam lamunan, ia hanya menyibak tangan dan musuh yang akan menyerangnya terpental tanpa ia beri atensi. Pria itu masih mematung dengan dada bergemuruh. Hatinya tiba-tiba sakit.
Betapa ia rindu keluarganya..
Ternyata ia rindu.
Mereka ada di sini sekarang, bertarung, tanpa tahu apa tujuannya. Asal melihatnya begini dan begitu, mereka pasti ikut.
Enam adiknya yang selalu ikut apa instruksi.
Sinu mengusap matanya.
Bagaimana selama ini ia abai? Lantas egois memilih tinggal demi satu gadis dan menelantarkan enam saudaranya?
Api membumbung besar menghanguskan. Api itu membakar dengan panas nyaris seribu derajat dan mengenai siapa yang dikehendaki.
Semuanya mundur. Edgar keluar dari kobaran api setelah memastikan tak ada satupun yang tersisa dari musuh.
Sang Dewi mendekat pada Sinu yang melamun.
“Kau baik-baik saja, Sinu?” tanya perempuan itu lembut. Sambil ia sentuh pundak pria yang menangis “kau terlihat sedih” katanya lagi. Sementara enam vampir mendekat setelah Samuel mengobati luka saudaranya yang terluka. Mata sang Dewi fokus pada wajah familiar Logan dan Edgar. “Kau lagi..” kata perempuan itu.
“Kami ingin membawa Kakak kami pulang” kata Logan. Terdengar datar.
Sang Dewi tak menjawab. Ia menatap Sinu.
“Pung..” Daniel lari—menabrak kakak pertama. Menangis ia tersedu-sedu di pelukan Sinu. Lalu disusul Jake, Edgar, dan semuanya. Enam vampir itu lari memeluk Kakak mereka sambil menangis. Sinu dikelilingi pelukan. Pria itu ikut menangis.
“Ayo pulang, Kristal bisa berdarah, sekarang kita balik” suara Jake terisak-isak. Daniel menciumi pipi Kakaknya berulang-ulang. Lalu tatapan Sinu jatuh pada perempuan yang berdiri memegang pedang panjang. Sang Dewi hanya memperhatikan dengan wajah yang tidak terbaca. Wajah Kristal, wajah keras dan kokoh.
“Gua akan pulang..” Jawab Sinu. matanya masih lurus pada si perempuan “tapi nanti, sebentar lagi, gua janji. Tolong biarin gua disini sebentar lagi..” katanya, nyaris sendu. “Gua jatuh cinta sama satu gadis—dimana luka gua sembuh, trauma gua hilang. Saat sama dia, gua merasa dunia gua utuh, lapang, dan baik-baik aja.” pria itu menangis lagi, lagi. Ia usap wajahnya kasar “gua mencintai gadis itu.. Gua… gua nggak mau pulang.. Nanti gua nggak bisa tidur lagi, nanti gua sesak lagi” baru pertama kali enam vampir itu mendengar Kakak pertama mereka berbicara banyak tentang apa yang dirasakan. Sinu tidak pernah seperti itu. Sungguh.
Mendengar Kakaknya, sisa enam adiknya ikut menangis makin besar. Tersedu-sedu.
“Sinu.. pulanglah, kembali pada keluargamu” suara itu membuat pelukan pada Sinu mengendur. Sisa enam vampir kontan serempak menatap wajah Kristal yang makin menawan dalam balutan gaun hitam dan pedang panjang. Sangat cantik. Edgar menatapnya tanpa berkedip dengan binar cinta.
Sinu menggeleng.
“Aku merindukan mereka. Aku merasa egois, tapi untuk kembali.. Aku.. aku tidak bisa..” katanya, ia terlihat gundah dengan air mata yang tak berhenti. Itu memalukan—dilihat keluarganya, namun Sinu sungguh tak dapat menanahnnya.
Lalu tanpa aba-aba, tanpa terduga, Edgar menyerang sang Dewi dengan api besar berwarna ungu pekat. Serangan itu kontan membuat semua fokus buyar dan sang Dewi berhasil menangkis dengan mudah. Api teralihkan ke tempat terbuka lain dan Edgar melangkah dengan serangan-serangan yang lain tanpa henti.
“Edgar Berhenti!!” Sinu berteriak. Namun si adik tak mendengarkan. Ia terus menyerang sang Dewi tanpa ampun. Namun jelas itu bukan ide bagus. Perempuan itu bukan lawan yang sepadan.
“Kenapa kau menyerangku, vampir api? Apa yang salah?” kata sang Dewi, terus menangkis—mundur ia menghindar.
“Matilah! Jika kau mati, Kristal ku akan hidup normal” kata pria itu impuls. Serangannya membabi buta.
“Itu di luar kendaliku, aku tidak merebut jiwa siapapun seperti yang pernah Sinu katakan. Aku tidak tahu” katanya, masih meyakinkan pria yang kesetanan. Edgar kesetanan. Rambutnya yang terikat lepas, pria itu terbang bersama api yang siap menyerang lebih kasar.
“Aku tidak ingin melukaimu karena kau adik Sinu. Aku juga tidak menghalangi Sinu pergi. Kenapa kau seperti ini?”
“Mati, kubilang mati! Mati!!!” Edgar Menggila. Namun satu saja serangan balik dengan cahaya perak keemasan, tubuh pria pirang itu terbanting keras ke tanah dengan bunyi debam kuat. Debu tanah menutupi hingga tak terlihat. Sinu kontan lari menedekat pada adiknya.
“Gua bilang jangan serang..” Sinu mengelusi rambut adiknya seperti menenangkan anak kecil yang jengkel lalu berkelahi.
“Jangan serang apa? Lu bisa egois pengen tetap di sini. Gua juga mau egois dengan mempertahankan Kristal untuk tetap hidup, bukan cuma buat diri gua sendiri. Tapi buat sisa keluarga gua yang masih hidup bergantung ke dia. Kalau lu masih mau di sini. Mending patiin gua dan lima adik lu yang lain. Hiduplah kaya ayah hidup. Tanpa peduli keluarga. Ayo patiin gua, patiin semuanya. Hidup bahagia sama Dewi lu. Sesaki nafsu lu dan tinggalin semua keluarga lu”
Edgar membentak-bentak Sinu kasar. Ludahnya muncrat dan tangisnya pecah. Luka di bahu akibat benturan ke tanah sembuh cepat. Ia sudah pulih dan akan kembali menyerang sang Dewi.
“Pilihannya hanya Kristal atau pacar lu yang hidup. Kalau lu belain dia, gua kata mending patiin semua keluarga lu” Edgar mengatakannya sambil terbang tinggi bersama api yang menyelubung. Sinu mengusap wajahnya kasar. Sungguh, pilihan rumit dan sesak.
“Rose, serang dari utara, Daniel dari barat, Dukun dari atas” Edgar memberi instruksi dan semua orang kontan patuh. Sementara wajah Kristal terlihat tenang di tengah, ia menatap Sinu dengan sendu.
“Aku bahkan bisa memutus benang kalian satu sama lain agar kalian terputus dan luntang-lantung disini tanpa kekuatan. Kenapa kalian seperti ini padaku?” lalu ia melihat Sinu “bukan aku yang memulai, bahkan aku tidak tahu salahku. Aku hanya bertahan dari serangan” katanya, meyakinkan kekasihnya bahwa apa yang terjadi atau apa yang akan terjadi, bukan kehendaknya, melainkan cara bertahan hidup dari serangan.
“Please… please pada pulang. Gua akan balik dengan sendirinya, sebentar lagi, gua janji” kata Sinu. Pria gagah itu mendadak jadi lemah dan bimbang.
“Gua nggak cuma mau jemput lu, Pung, tapi bunuh Dia juga” Edgar kukuh.
Mereka serempak menyerang meski dalam sekali kibasan tangan, ke enam vampir berikut dengan Samuel dan Johan yang menyerang dari bawah langsung tumbang–muntah darah. Kendati, mereka cepat pulih dan kembali menyerang. Begitu terus.
Sang Dewi tak sungguh menyerang. Ia hanya bertahan karena memikirkan Sinu. sambil mengulur waktu hingga batas eksistensi mereka di alamnya habis. Sang Dewi terus menghindar.
Lima puluh menit.
Lima puluh lima menit
Satu jam.
CTAK! BLASH!!
Semuanya hanya tiba-tiba kembali di tengah-tengah perempuran. Tanpa aba-aban. Tanpa instruksi.
Logan membuka mata. Di susul lima adiknya.
Mereka kembali ke kamar Kristal bersama dasi yang mengikat tangan mereka satu sama lain. Edgar kontan menangis keras-keras.
“Anjing, bangsat.. Bangsat… sial… sial” ia peluk gadis yang terbaring dengan bekas luka yang banyak akibat Daniel yang terus mencari darah. Samuel cepat-cepat menyembuhkan.
“Gua janji akan bawa lu pulang, gua janji.. Gua bersumpah.. Edgar terisak-isak”