
Makin kuat.
Sang Dewi semakin kuat. Ia tak lagi tertidur lama, tidak lagi cepat-cepat membuat sulur untuk lelap yang dadakan. Meski sesekali saat duduk tak sengaja hilang kesadaran. Namun hanya sebentar, sebentar sekali. Persis lupa dan langsung bangkit ketika menemukan suara atau sentuhan ringan.
Sementara Kristal, gadis itu tak lagi bangun. Baik sang Dewi terjaga maupun tidur, Kristal tetap tidak bisa bangun. Jiwa itu hanya perlu sedikit lagi untuk kembali pada tempat semula, pada sang pemilik.
Mereka duduk berdua di depan jendela. Matahari sore menyorot keemasan—menyeruak menyilaukan. Sinu menggenggam tangan sang Dewi. Mereka lepas bercinta berkali-kali hingga lelah, hingga perempuan itu meminta istirahat. Sementara Sinu terus membuntut seperti anjing.
“Aku mencintaimu.. Her Divine Grace..”
🍒🍒🍒🍒
Malam membawa kastil dalam kesunyian yang menyesakkan.
Hujan turun pelan di luar jendela-jendela tinggi berbingkai emas. Kilat samar sesekali memantulkan cahaya ke dinding marmer putih dan langit-langit berukir yang menjulang megah di atas kamar sang Dewi. Tirai beludru panjang bergerak perlahan tertiup angin malam, sementara ratusan lilin kecil menyala redup di berbagai sudut ruangan, membuat seluruh kamar tampak hangat… dan menyedihkan.
Di tengah ruangan berdiri ranjang besar berkanopi putih keperakan. Ruang yang sebulan terakhir menjadi tempat mereka memadu cinta—menghabiskan waktu dalam balutan birahi dan senggama. Juga, disanalah Sang Dewi tertidur.
Gaun tipis berwarna pucat menjuntai lembut dari tubuhnya. Rambut panjangnya menyebar di atas bantal sutra seperti aliran cahaya bulan. Wajahnya terlihat begitu damai sampai sulit dipercaya bahwa keberadaan makhluk itu perlahan sedang menelan jiwa Kristal sedikit demi sedikit.
Sinu berdiri beberapa langkah dari ranjang.
Diam.
Tatapannya tidak sanggup lepas dari perempuan yang paling ia cintai itu. Selama beberapa detik—atau mungkin menit—ia hanya berdiri mematung sambil menggenggam napasnya sendiri. Dadanya terasa sesak sampai menyakitkan.
Matanya nyalang. Sambil berpikir bahwa semuanya akan berakhir. Sudah selesai. Tidak akan ada lagi suara lembut yang memanggil namanya, yang mengobati luka hati, yang membawa kedamaian jiwa dan raga. Yang meringankan bebannya tanpa usaha.
Tidak ada lagi tangan dingin yang menggenggam jemarinya. Tidak ada lagi tatapan mata itu. Dan justru karena itulah Sinu hampir tidak sanggup melakukannya.
Pelan-pelan ia berjalan mendekati ranjang.
Lantai marmer memantulkan bayangannya yang nyaris gemetar. Jubah hitam panjang yang ia kenakan malam ini, menyapu lantai saat ia duduk di sisi ranjang, begitu dekat sampai ia bisa mendengar napas pelan Sang Dewi.
Sinu mengangkat tangan dengan hati-hati.
Jemarinya menyentuh rambut Sang Dewi yang masih sedikit basah setelah mandi malam tadi. Air tipis di helaian rambut itu bergerak mengikuti kehendaknya, melayang perlahan di udara seperti benang-benang kristal.
Kekuatan airnya mulai bekerja.
Sangat lembut.
Perlahan.
Tidak, ia tidak menyerang tubuh Sang Dewi. Tapi menahan aliran kehidupan di dalamnya. Seperti seseorang yang membendung sungai raksasa dengan tangan telanjang yang membuat udara di kamar itu seketika berubah dingin. Juga lilin-lilin kecil bergetar, air di vas bunga melayang pelan. Hujan di luar kastil terdengar semakin deras.
Tubuh Sang Dewi bergerak samar di atas ranjang. Alisnya sedikit berkerut, seolah tubuh ilahinya menyadari ada sesuatu yang salah.
Sinu menunduk cepat, memejamkan mata sesaat. Air mata jatuh mengenai sprei putih.
“Maafkan aku…” bisiknya lirih. “Aku benar-benar mencintaimu.” Di sisi ranjang, pedang Sang Dewi bersandar. Pedang panjang berukir perak itu tampak indah sekaligus mengerikan di bawah cahaya lilin. Senjata itu telah menemani Sang Dewi selama ribuan tahun. Menyerap kekuatannya. Menjadi bagian dari dirinya. Dan satu-satunya benda di dunia yang mampu mengakhiri hidupnya. Sinu mempelajari itu dari sang Dewi yang nyaris mengatakan segala hal yang semestinya tidak dikatakan.
Benar, bahwa makhluk itu juga tidak sempurna. Cinta membawanya pada sikap impuls dan terbuka. Kendati, Sinu benar-benar mencintainya, setulus hati, sepenuh jiwa. Tak ada keraguan, tak ada niat seperti ini kecuali saat ia sadar bahwa enam saudaranya sedang dalam kondisi kacau.
Sinu meraihnya perlahan. Begitu telapak tangannya menyentuh gagang pedang itu, rasa dingin luar biasa menjalar sampai ke tulang. Tangannya langsung gemetar. Ia masih bisa berhenti. Melongo beberapa saat. Masih ada waktu untuk membuang pedang itu dan memilih tetap tinggal bersama Sang Dewi sampai Kristal benar-benar lenyap. Namun bayangan wajah adik-adiknya muncul lagi di kepalanya.
Kristal yang semakin hilang.
Dunia yang perlahan berubah kacau hanya karena satu makhluk terlalu agung untuk berebut jiwa yang memang semestinya miliknya.
Sinu menggertakkan rahangnya keras. Lalu perlahan ia mengangkat pedang itu ke atas dada Sang Dewi.
Tubuhnya gemetar hebat.
Napasnya mulai memburu dan air matanya turun. Ia terguncang sekeras mungkin menahan tangis agar tak meledak.
Bagaimana ia bisa membunuh perempuan yang ia cintai?
Dan saat pedang itu akhirnya turun—cahaya putih langsung memenuhi seluruh kamar. Tidak ada darah merah. Yang keluar dari tubuh Sang Dewi adalah cahaya keemasan cair yang melayang di udara seperti bintang-bintang pecah. Seluruh kastil bergetar pelan. Jendela-jendela tinggi retak satu demi satu. Air dari hujan di luar mendadak melayang memasuki kamar seperti tertarik oleh sesuatu.
Sang Dewi terbangun.
Matanya terbuka perlahan.
Dan hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Sinu yang hancur oleh tangis.
“…Sinu?” Suara itu begitu pelan. Namun terarah, tak ada keterkejutan–seolah tau bahwa malam-malam seperti ini akan terjadi. Tidak ada kemarahan di sana.
“Aku tau saat-saat seperti ini akan datang” katanya lagi. “Aku terlihat konyol, kan? Aku mencintaimu dengan tulus seperti kau yang selalu mengatakan hal serupa. Aku sengaja menceritakan bagaimana aku bisa mati dan betapa pedang itu sangat berharga. Aku juga ingin mati dengan damai. Jika ini jalannya, maka, aku akan menganggapnya takdirku” napasnya mulai tersengal “jika aku mati, aku akan mengisi jiwa gadis yang kau sebut bernama Kristal itu. Maka, ayo bertemu di kehidupan yang lain. Tolong katakan cinta sekali lagi saat kita bertemu di lain ruang dan waktu..”
Sinu menggigit bibirnya keras sampai darah mengalir dari sudut mulutnya sendiri. Tangannya tetap menekan pedang itu sambil menggunakan kekuatannya untuk menahan tubuh ilahi Sang Dewi agar tidak beregenerasi. Itu terasa seperti sedang membunuh jantungnya sendiri. Tangan Sang Dewi bergerak lemah menyentuh pipi Sinu. “aku mencintaimu, Sinu.. tolong hidup dengan damai dan bahagia, jangan menggendong luka lagi, tidur lah dengan tenang tanpa mimpi..”
Dingin.
Lembut.
“Aku…” napasnya bergetar pelan. “Aku membuatmu menangis… pria kecilku..” Tubuhnya mulai retak perlahan seperti porselen bercahaya. Serpihan cahaya rontok dari kulitnya sedikit demi sedikit, memenuhi kamar megah itu dengan kilauan putih yang indah dan menyedihkan sekaligus.
Sinu menjerit. Hatinya sakit sekali. Ia langsung memeluk tubuhnya erat.
“Jangan bicara…” suaranya pecah. “Tolong jangan bicara… aku mencintaimu.. My Sin.. aku akan selalu mencintaimu.. Aku mencintaimu sampai gila.. Tolong jangan bicara lagi.. Aku tidak akan berjodoh dengan siapapun selain Engkau.. Jadi kumohon jangan katakan apa-apa lagi karena kita sama-sama hancur.. Aku minta maaf” pria itu tergugu dengan serak yang bergetar. Sungguh sakit sekali.
Bagaimana hidupnya setelah ini? Bagaimana tanpa sang kekasih? Namun Sang Dewi hanya tersenyum kecil di pelukannya. Senyum yang sangat manusiawi. Sangat rapuh. “Kau pria kecil yang keren…” bisiknya lirih di dekat telinga Sinu, “aku akan menerimanya. Ayo bertemu lagi di kehidupan… entah yang mana. Namun jika Tuhan merestui, berjanjilah untuk mengatakan cinta sekali lagi padaku” Dan untuk pertama kalinya sejak ribuan tahun hidupnya—Sang Dewi menangis. Air mata bening jatuh dari matanya tepat sebelum tubuhnya hancur menjadi serpihan cahaya di dalam pelukan pria yang paling ia cintai.
Jatuh cinta untuk pertama kalinya, menyerahkan seluruh hal yang paling berharga. Betapa ia mencintai pria itu hingga konyol. Padahal tau jika akhirnya akan seperti ini. Namun sang Dewi lebih memilih menganggap bahwa ini suratan. Lagipula sudah cukup sembilan ribu tahun. Ia ingin mati dengan damai kendati di tangan pria kesayangan. Sungguh… sungguh.. Sinu menangis dengan suara besar hingga mengalahkan hujan di luar. Hancur sekali, hatinya hancur sekali.
Ia bahkan tidak berani membayangkan akan seperti apa kehidupannya setelah ini.
Retakan pertama muncul di ujung jemari Sang Dewi. Sangat kecil—juga samar seperti garis tipis pada porselen putih. Namun detik berikutnya, cahaya lembut mulai keluar dari sela-sela retakan itu—keemasan, hangat, dan menyilaukan—membuat seluruh kamar dipenuhi kilau yang hampir menyakitkan mata.
Sinu langsung membeku.
Tangannya refleks menggenggam tubuh Sang Dewi lebih erat seolah ia bisa menahan tubuh itu agar tidak hancur.
“Tidak…” suaranya serak. “Tidak, jangan…” Sinu menggeleng keras. Namun retakan-retakan baru mulai muncul perlahan di kulit Sang Dewi. Dari jemari. Pergelangan tangan. Naik ke lengan putihnya yang dingin. Setiap retakan memancarkan cahaya seperti langit malam yang pecah dan memperlihatkan matahari di baliknya.
Indah, sekaligus mengerikan.
Tubuh Sang Dewi mulai terasa semakin ringan di pelukan Sinu. Seolah tubuh itu perlahan berubah menjadi debu cahaya. Sinu menatap wajahnya dengan napas gemetar. Rambut panjang Sang Dewi mulai buyar menjadi serpihan-serpihan putih bercahaya yang melayang pelan di udara. Helaian demi helaian menghilang seperti sutra yang disentuh api tak kasatmata.
Namun wajahnya masih utuh.
Masih cantik.
Masih menatap Sinu dengan tatapan yang sama lembutnya. Selembut dekapan ibunya. Seeagung penyembuhan serta sentuhan indah yang menenangkan. Itulah yang paling menghancurkan.
Karena Sang Dewi tidak terlihat marah. Ia terlihat sedih… hanya karena Sinu menangis.
“Sinu… ambil cincinku, simpan untukku, hm?” Suaranya mulai bergema aneh, seperti datang dari tempat yang sangat jauh. Tangan Sang Dewi terangkat perlahan menyentuh pipi pria itu. Namun sebelum benar-benar menyentuh kulitnya, sebagian jemarinya lebih dulu pecah menjadi cahaya.
Sinu langsung menggenggam tangan itu cepat—mengambil cincin yang terbuat dari bunga liar yang terselubung sulur. Atau mencoba menggenggamnya. Karena serpihan-serpihan kecil terus lolos dari sela jemarinya seperti pasir bercahaya.
“Jangan hilang…” bisiknya panik. “Tolong… jangan… ku mohon jangan hilang.. Tolong.. Aku menyesal, tolong kembali.. A-aku.. Aku akan meninggalkan adik-adikku, aku akan bersamamu.. Tolong jangan pergi.. Kumohon… sekali ini saja.. Aku menarik tindakanku..” lalu tangisnya makin menjadi-jadi, lebih besar, lebih keras.
Retakan kini menjalar ke leher Sang Dewi.
Turun ke bahu.
Menyebar ke dadanya tempat pedang itu tertancap.
Dari dalam tubuhnya, cahaya ilahi keluar semakin banyak sampai gaun putih yang dikenakannya ikut berubah menjadi ribuan serpihan kecil berkilauan. Seluruh kamar tampak seperti dipenuhi bintang. Langit-langit kastil mulai runtuh perlahan. Marmer retak. Lilin padam satu per satu. Tirai putih beterbangan diterpa kekuatan yang keluar dari tubuh Sang Dewi.
Di tengah semua kehancuran itu— Sang Dewi hanya terus menatap Sinu. Mata indahnya mulai dipenuhi cahaya putih terang. Bola matanya perlahan menghilang, berubah menjadi sinar lembut seperti bulan yang hancur. Dan saat itulah air mata jatuh semakin banyak dari mata Sang Dewi.
Air mata terakhirnya.
Butiran bening itu turun melewati pipinya… lalu berubah menjadi serpihan cahaya sebelum sempat mencapai dagunya.
Tubuh Sinu langsung bergetar hebat—menyadari bahkan air mata Sang Dewi pun tidak bisa tetap tinggal di dunia ini.
“Sinu…”
Suara itu mulai terputus-putus.
Tubuh bagian bawah Sang Dewi sudah sepenuhnya lenyap sekarang. Yang tersisa hanya bagian atas tubuhnya di pelukan Sinu, sementara serpihan-serpihan bercahaya terus beterbangan memenuhi udara seperti salju surgawi.
Sinu memeluk sisa tubuh itu erat-erat. Kelewat erat. Jelas ia takut bahkan cahaya terakhir Sang Dewi akan direbut darinya.
“Aku di sini…” bisiknya sambil menangis kacau. “Aku di sini…”
Sang Dewi tersenyum kecil. Lalu retakan terakhir muncul tepat di wajahnya.
Perlahan. Membelah pipi putihnya seperti kaca tipis. Cahaya keluar semakin terang dari dalam tubuhnya sampai bentuk fisiknya mulai sulit terlihat. Dan untuk beberapa detik terakhir— Sang Dewi tampak bukan seperti makhluk hidup. Melainkan gugusan cahaya suci yang sedang runtuh perlahan di dalam pelukan orang yang dicintainya.
Wajahnya mulai pecah menjadi serpihan-serpihan kecil. Bibirnya. Pipinya. Bulu matanya. Satu per satu berubah menjadi cahaya yang melayang pergi. Sinu langsung memejamkan mata sambil memeluknya lebih erat, seolah ia tidak sanggup melihat detik terakhir itu.
Namun justru itulah yang paling menyakitkan. Karena perlahan— pelukannya mulai kosong. Tubuh yang tadi ada di sana menghilang sedikit demi sedikit sampai akhirnya yang tersisa hanyalah cahaya putih lembut berputar di sekitar tubuh Sinu.
Dan ketika serpihan terakhir Sang Dewi melayang pergi dari ujung jemarinya—seluruh kamar kerajaan mendadak sunyi.
Sinu pingsan.
🍒🍒🍒🍒
“Aku memberkatimu.. Aku memberkatimu” sang Dewi tersenyum. Wajahnya bersemu ia malu-malu sambil mengelusi kepala Sinu.
“Memangnya, kau bisa memberkati?” tanya Sinu. alisnya terangkat sebelah.
“Tidak”
Pria itu mengangguk-angguk sambil menahan tawa “lucu sekali, aku ingin menggigit pipimu”
“Tidak boleh”
“Aku bahkan menggigit seluruh tubuhmu”
“Ya, ya..” lalu tangan sang Dewi turun mengelusi punggung Sinu. naik-turun, berulang-ulang “jangan sakit, sembuhlah.”
“Aku tidak sakit lagi. Aku tidak mimpi buruk lagi. Berkat kau.. Terima kasih, My Sin..”
“Panggilan itu masih asing dan aneh. Tapi aku akan mencoba menerimanya”
Sinu tertawa lebih keras “aku mencintaimu, sungguh. Ayo menikah”
“Bagaimana caranya menikah?” Tanya sang Dewi.
“Begini..” Sinu membuat cincin dari bunga liar di antara rerumputan.

“Aku.. Han Sinu, menjadikan Engkau wahai Her Divine Grace sebagai istriku. Aku akan menerima seluruh kurang dan lebihmu, akan bersumpah setia bersamamu sampai mati dan menjagamu sampai akhir hayatku. Atas nama Tuhan, atas nama seluruh kerajaan alam semesta. Aku bersumpah akan mencintaimu sampai mati. Kini, Engkau telah sah menjadi istriku” Sinu memasangkan cincin itu, lalu mencium kening sang Dewi. “ucapkan kata yang sama padaku, maka, kita resmi sebagai suami istri” kata pria itu lagi. Maka, sang Dewi mengikuti persis seperti apa yang diucapkan Sinu.
“Kita resmi menjadi sepasang suami istri sekarang” mereka berpelukan dalam posisi duduk.
“Aku sudah menikah sekarang?” tanya perempuan itu.
“Tentu, kau istriku sekarang. Kau bukan perempuan lajang. Aku suamimu” kata Sinu.
Perempuan itu tertawa “lucu sekali. Aku tiba-tiba punya suami” katanya. Ia pandangi cincin itu “aku akan menyimpan ini dan membuatnya agar tak layu” lantas sang Dewi menyelubungi cincin itu dengan sulur keemasan hingga terlindung. “Juga, akan kuberi tahu rahasiaku hanya pada suamiku”
“Rahasia?”
“Hm, rahasia. Bahwa aku..” sang Dewi menarik napas “bahwa aku bisa mati jika seseorang berhasil menusuk dadaku dengan pedangku”
“Kau tidak akan membiarkan siapapun memegang pedangmu” ujar Sinu cepat.
“Ya, kau benar. Aku hanya menghendaki” kata-kata itu membuat Sinu melamun lama.
“Mengapa memberitahuku soal ini?”
Sang Dewi tersenyum, lalu menggeleng “katakan padaku sekali lagi, Sinu, bahwa kau mencintaiku”
“Aku mencintaimu, My Sin.. aku suamimu..” perempuan itu tertawa senang.
“Aku juga, aku mencintaimu, Sinu..”
🍒🍒🍒🍒
Cincin itu ia genggam dalam pelukan.
Sinu membuka mata saat cahaya matahari seperti akan memanggangnya. Jendela tak di tutup. Kastil begitu lengang, bahkan suara angin, gemerisik pepohonan seolah lenyap. Tak ada suara anak-anak, tak ada suara apapun. Semuanya mendadak hening.
Sinu membuka mata.
Ia masih berada di kamar sang Dewi. Hanya bedanya, perempuan itu telah pergi, hilang.
Saat semua kejadian terputar ulang di kepalanya, pria itu kembali menangis tergugu.
Cincin.
Barangkali itu satu-satunya hal yang ia miliki tentang perempuan itu sekarang. Sebelum semuanya lenyap.
Sudah lenyap.
Dari keheningan itu. Perlahan suara berisik terdengar dari dekat lemari. Sinu yang tengah meringkuk di lantai melirik dengan air mata yang tumpah ruah.
Logan dan lima adiknya datang.
Mereka menatap Sinu serempak.
Ada jeda yang tak bisa dijelaskan.
Beberapa saat.
Hening lagi.
“Opung.. Lu nggak papa?” itu Daniel, si bungsu langsung menyambar pelukan—memeluk Kakaknya sambil merebah.
Sinu makin terisak-isak. Semuanya bingung, lalu dalam kondisi tidak tahu, sisa adiknya ikut memeluk Kakak pertama mereka.
“Istri.. Istri gua.. Istri gua…” Sinu terisak-isak. Hatinya sakit sekali, sungguh. Dibandingkan perlakuan ayahnya, atau apapun yang menyakitkan dalam hidupnya, Sinu merasa ini lebih menyakitkan dari apapun.
Entah bagaimana ia hidup setelah ini. Ia tak sanggup membayangkan. Trauma baru yang kembali diukir saat ia membunuh istrinya sendiri. Sinu tidak bisa, lantas, ia pingsan lagi.
🍒🍒🍒🍒
Lagi, ia membuka mata lagi.
Namun kali ini berbeda. Sinu bukan lagi di kastil. Matanya terus berusaha menyesuaikan cahaya temaram di ruangan itu.
Langit-langit berwarna beige, chandelier yang tak semegah di kastil. Dinding berwarna senada, serta suasana yang jauh lebih hangat.
Tangannya masih menggenggam cincin. Ia terus menggenggamnya saat matanya berhasil memastikan bahwa benda itu aman. Lalu suara lain menyusul membuat ia beringsut duduk.
Ternyata enam adiknya ada di bawah. Membuat lingkaran dengan satu gadis di tengah.
Sinu sadar bahwa ia kembali ke dunianya. Bukan lagi dunia mimpi meski rasa sakit dan sesak ia bawa turut serta.
Saat enam adiknya melihat ke ranjang, mereka semua menyerbu Sinu dengan pelukan, persis seperti yang dilakukan beberapa saat lalu. Saat di kastil. Sungguh. Rasanya seperti baru saja terjadi.
Semuanya menangis.
Namun mata Sinu fokus pada satu gadis yang juga ikut membuka mata. Kristal di bawah sana dengan gaun putih bersama tangan yang penuh bercak darah bekas Daniel menyayat—mencari sumber untuk pergi ke dunia mimpi. Gadis itu meringis.
Wajah istrinya.
Sang Dewi.
Kristal melihat seluruh ruang dengan awas. Tatapan asing, bingung, serta waspada.
“Dimana aku?” tanya gadis itu, sisa orang yang menangis kontan mengalihkan atensi. Edgar yang melihat kekasihnya bangkit—kontan turun dan memeluk Kristal, namun kekuatan spontan membuat vampir api itu terpental. Edgar jatuh.
Tatapan Kristal menjadi lebih aneh. Seperti manusia yang terlahir kembali.
Sebelum ia melabuhkan mata pada Sinu.
Mereka bertatapan lama.
Sangat lama.