
Rambut pirangnya bergerak saat larinya makin kencang. Pria itu tergopoh dengan napas ngos-ngosan. Dengan tidak sopan, ia membuka pintu kamar Kakak kedua dengan ujung kaki—hingga daun pintu menabrak keras dinding di belakangnya.
Di ruangan itu, Logan persis merebah mendengarkan musik. Satu tangan menjadi tumpuan kepala sembari merajut kepingan-kepingan luka—buah dari cinta kelewat singkat yang kini hanya tinggal nama. Sensorik nya bagus. Namun motoriknya telah terlatih untuk tidak bereaksi berlebihan.
Hanya mata sipitnya yang memicing–memperhatikan adiknya bersama satu gadis dalam gendongan.
“Tidur dari jam lima. Jam lima, Duk.. ya Allah… makin edan gua lama-lama” Edgar merebahkan kekasihnya tepat di samping Logan. Kristal terkulai bak orang mati—bedanya belum kaku saja. Logan cepat-cepat bergeser. “Ajakin gua masuk, please.. Mau gua patiin itu si Dewi. Bodo amat yang maling pacar gua atau siapapun. Yang penting hidup Kristal normal” lalu tas selempang dilempar asal hingga suara nyaring terbentur ubin. Edgar tidak peduli.
Logan melepas headphone, mematikan ponsel dan meletakkannya di atas nakas. Pria itu mengusap wajahnya kasar, lalu menatap adiknya beberapa detik—bergantian pada tubuh terkulai tenang di atas ranjangnya.
Ia belum mengatakan apapun. Hanya diam sambil merangkak naik. Lantas ia pegang lagi tangan si gadis bekas lubang gigitan tempo hari.
“Rebahan di samping. Kristal di tengah” kata Logan, matanya tak melihat Edgar, namun menatap bekas gigitan. Si adik patuh, ia ikut naik dan merebah di samping.
Pertama, Logan lebih dulu menggigit tangannya sendiri, lalu mengajak Edgar bersalaman.
“Jangan lepas, jangan sampe lepas. Iket pake apapun. Pake kain, pake dasi atau dilakban” perintah Logan. Maka, Edgar membuka dasi lalu membebat tangannya yang bersalaman. Setelah itu, Logan baru kembali menancapkan taringnya pada tangan Kristal, meneguk darah dengan mata kanan mendelik—membesar—sementara warnanya perlahan berubah. Hanya pria itu yang melihat portal, melihat bentuk tak normal dari ruang yang terdistorsi.
Namun kesadaran keduanya tersedot seperti putaran air di palung terdalam.
Kembali pada titik-titik asing yang tak asing.
Bukan hutan seperti saat Logan pertama kali datang. Tempat ini sungguh familiar, sangat.
Kastil.
Kastilnya menjulang dengan warna. Lampu neon membuat bangunan yang biasanya terlihat dingin dan suram, kini tampak hangat dengan balutan ivory yang lembut.
Berdua juga melihat makhluk-makhluk lain berlalu lalang membawa keranjang, pedang, tongkat serta tombak. Mereka warga biasa dari berbagai entitas yang sibuk menjalani rutinitas hari. Itu pemandangan baru bagi Edgar.
“Duk, ini rumah kita? Itu orang-orang?” kepala si pirang berputar memperhatikan bangunan, lalu jalan setapak yang ramai di lewati. Matanya kembali berlabuh pada Logan. Sang Kakak mengedikkan bahu. Ia juga tak yakin.
“Ini bukan era kita. Prediksi gua, ini masa lalu. Kita nggak tau sejarah kastil kita gimana. Karena mustahil ini masa depan. Hutan dan semua makhluk di dalamnya udah hampir punah” Logan menghela napas. Ia sudah memikirkan ini sejak pertama kali datang. Lalu manggut-manggut seolah sedang meyakinkan sesuatu dalam dirinya “ya, ini jelas masa lalu. Bisa aja orang tua kita juga belum lahir” tambahnya lagi. Namun matanya melirik arloji di pergelangan tangannya. Jam itu mati “kita cuma punya waktu satu jam. Setelah satu jam, gua akan otomatis di tarik pulang ke semula”
“Terus, Kristal di mana?” Edgar kembali celingukan. Logan menunjuk kastil di depannya.
“Dia tinggal di sini. Tapi kemaren, gua nggak bisa nembus portal ini. Nggak tau kalau lu. Atau kita coba satukan kekuatan dan—” Logan menggantung kalimatnya saat melihat jendela yang dibuka. Seseorang berdiri di sana. Rambut panjangnya jatuh terkena angin. Pakaiannya berwarna putih bersih–selaras dengan tubuh dan cahaya yang memancar, gadis atau Dewi atau apapun. Sangat cantik sehingga tidak manusiawi—karena memang bukan manusia. Ia lebih cantik dari Kristal di rumah. Mungkin karena sparkle yang seolah mengerubuti di sekitarnya. Persis peri di dunia dongeng manusia.
Baik Logan maupun Edgar. Keduanya melongo.
“Anjing… itu… itu… Kristal gua?” si pirang menganga tanpa berkedip. Dalam jarak itu saja, kecantikan sang Dewi begitu memukau.
“Sshhhht!! Mana ada, dia bukan Kristal. Gua nggak tau karena belum kenal. Tapi terakhir percakapan gua sama dia, kayaknya dia ramah ke warga sipil. Tapi jangan gegabah. Jaga cara bicara, jaga sopan santun walau gua masih nggak tau gimana cara masuk atau ajak dia ngobrol lagi.”
“Gila, gila..” Edgar menggeleng-geleng “gimana caranya gua nggak jatuh cinta.. Ini langsung jatuh cinta buset.. Itu Kristal gua Duk.. sumpah.. Itu Kristal versi peri”
Lalu yang dibicarakan melabuhkan pandangan pada keduanya. Edgar langsung melambaikan tangan sok akrab. Logan memukul bahunya cepat-cepat agar adiknya diam.
“Halo! Hai! Hai! Hai! Hai cantik, kiw! Kiw!” mulut Edgar tak bisa diam. Lalu gadis di jendela memiringkan kepala. Edgar makin kesenangan “bisa kita bicara? Yang mulia? Sang Hyang Widi? Dewi Kwan-In? Dewa-Dewi?” lagi, Logan memukul kepalanya kali ini.
“Lu bilang di kamar mau bunuh Dewi itu, monyet. Gak sesuai” Logan menunduk pada perempuan itu—sebagai tanda penghormatan.
Sungguh, tak ada yang berani kurang ajar, tak ada yang berani berbicara sembarangan pada Dewi, pun warga sangat menjunjung tinggi entitas keilahian. Juga—lebih tepat, tak ada warga—vampir, siluman, atau entitas apapun yang bisa melihat kastil itu. Namun keduanya—Logan dan Edgar bisa, karena mereka bukan dari dunia itu. Mereka dari masa depan melintasi dimensi ruang dan waktu. Maka, itu pula yang menarik perhatian sang Dewi. Sesaat setelah Edgar berhenti bertingkah urakan, pintu jendela tertutup rapat bersama gorden tebal.
“Yah.. di tutup” Edgar menyayangkan sambil merasa bersalah telah bertingkah murahan.
“Gua bilang apa”
“Di Pikiran gua, itu Kristal. Si Itil yang bakal tergila-gila ke gua tanpa gua kudu effort”
“Iris peler Daniel kalau makhluk dengan muka Kristal di dalem, bakal sama kek Kristal kita di rumah” kata ‘kita’ lumayan tidak akur di telinga Edgar. Logan menghela napas lagi. Sambil memikirkan cara masuk ke dalam kastil tanpa membuat kegaduhan. Atau katakan ingin bertemu dengan sang Dewi dan… mungkin membunuhnya jika bisa.
“Kalau rencana awal kita mau bunuh doi biar Kristal menguasai jiwa seutuhnya, gua pikir gua harus bawa Opung. Dia yang pernah menang lawan Dewi dan kekuatan dia memang memadai. Gua sama lu di satuin pun—” Logan menggaruk pelipis “nggak akan ada setengah dari kekuatan Sinu”
“Dia keluar! Dia keluar” Edgar memukul tangan Kakaknya pelan. Ia mendekat pada portal—masih memberi jarak karena tau sulur transparan itu akan membuatnya terpental jika nekat menyentuh. Sulur itu juga yang membuat semua entitas tak dapat melihat kastil itu. Kecuali berdua, Edgar dan Logan.
Benar, sang Dewi mendekat.
Harum aroma tubuhnya menyeruak menyesaki pernapasan. Bagai di guyur gelombang keterpanaan, keduanya tak berkedip dan menahan napas. Logan bersumpah perempuan itu jutaan lebih cantik ketimbang saat terakhir mereka bertemu dengan pedang dan gaun putih yang kotor.
Portal tersingkap kecil. Wajah itu memenuhi mata dua pria yang menatapnya penuh takjub.
“Kau.. datang lagi..” katanya, matanya lurus pada Logan. Yang diajak bicara menunduk penuh hormat. Edgar kontan mengikuti kakaknya.
“Jika sekiranya kau bersedia membuang waktumu, aku sangat ingin mendiskusikan sesuatu. Bahkan jika kau enggan, aku akan datang setiap hari, menunggumu disini” kata-kata Logan diangguki Edgar. Lalu kembali menatap yang indah di depan.
Seperti setiap hela napas Dewi itu begitu wangi. Angin yang membawa aroma rambut dan tubuh. Dua lelaki itu bersumpah tak pernah mendapati keindahan semacam itu meski Logan masih tak menyangka dapat melihat dua sisi sang Dewi saat di lapangan dan di kastil.
“Kau bisa katakan sekarang. Dan setelah ini, pulanglah. Kau bukan dari sini. Kembalilah pada keluargamu. Aku akan memberimu anak sapi” lalu secara ajaib—dan entah bagaimana, sapi mendekat dari jauh. Hewan itu berdiri di belakang sang Dewi dengan patuh.
Dewi kedamaian.
Seluruh aura yang ditampilkan begitu indah. Nyaris tak ada celah. Wajah Kristal begitu lembut, sangat lembut dan sejuk. Ada kedamaian pada tiap inci kulitnya. Berbeda jauh saat memegang pedang dengan mata menyala dan garis rahang yang kaku.
Tak ada yang benar-benar fokus untuk beberapa saat. Apalagi Edgar. Juga, bagaimana caranya tidak jatuh cinta pada mahakarya kelewat luar biasa di depan mata?
“Apa kau.. Sering bermimpi panjang? Mimpi tentang dunia yang berbeda. Dunia aneh yang… benar-benar sangat baru” pertanyaan Logan berhasil membawa mimik sang Dewi berubah. Wajah yang awalnya ramah dan berseri-seri, kini terkatup. Rahangnya rapat.
“Kau…. apa matamu dapat menembus sejauh itu?” ia meneliti mata kanan Logan yang masih berwarna kehijauan, mencari apapun di sana yang bisa terbaca.
Logan menggeleng “aku berasal dari dunia yang kau lihat di mimpi. Dan dirimu yang ada di sana.. Di mimpimu. Itu bukan kau, itu orang lain, dia ada. Hidup. Dia adalah keluarga kami” mata Logan beradu lama dengan binar bening milik sang Dewi, seolah—perempuan itu masih mencari-cari apapun dari balik kehijauan di sana.
Ia diam. Menunggu Logan melanjutkan apapun.
“Menurutmu, jika hanya ada satu jiwa yang saling tarik menarik berebut, siapakah pemenangnya?” pertanyaan itu sebenarnya tak butuh jawaban karena siapa saja tau. Namun Logan berharap kemurahan hati wanita indah di depannya untuk… mungkin saja bersedia mati begitu saja untuk kemudian digantikan Kristal secara utuh. Mustahil.
“Apa maksudmu? Kau meminta kematian ku?” telak. Logan menunduk lagi.
“Lalu, apa kau akan membiarkan seorang gadis mati?” itu Edgar. Meskipun kecantikan dan indah di depannya begitu mempesona, ia tidak akan goyah pada gadis kesayangannya di rumah. Entah jika apa yang di gembor-gemborkan Kristal menjadi kenyataan.
“Apa aku harus mati demi seorang gadis antah berantah yang tak ada korelasinya dengan kedamaian di duniaku? Merelakan nyawaku cuma-cuma untuk entitas yang aku sendiri tidak tahu?” Dewi itu berkedip pelan “kalian.. Pulanglah..”
Edgar menghela napas. Begitu juga Logan.
Keduanya terasa begitu kecil, aneh, tidak jelas, dan mirip dua anak kecil yang bicara omong kosong pada orang besar yang mau-mau saja membuang waktu untuk meladeni. Memang. Juga tidak tahu diri.
Dilihat dari bagian manapun, perempuan itu begitu agung.
Bagaimana cara membunuhnya?
Menyentuh saja rasanya begitu sulit.
“Kalau begitu, aku akan membunuhmu” celetukan Edgar kembali membuat Logan membungkuk. Rasanya begitu aneh. Semuanya tidak selaras dan tidak imbang. Ancaman membunuh pada makhluk di depannya ini di sertai bungkuk hormat.
“Apa kalian sudah makan?” ancaman Edgar bagai angin lalu. Portal terbuka lebih lebar, anak sapi itu keluar dan menyeruduk Edgar “makan lah, lalu kembali pada keluarga kalian. Jangan bertemu lagi. Ayo berdamai dan katakan hal-hal yang baik-baik saja. Biar suratan takdir yang telah ditulis yang bergerak” kemudian portal itu tertutup rapat. Lebih rapat lagi. Bahkan kastil tak terlihat oleh dua mata pemuda itu.
Hanya menyisakan sapi yang menatap mereka secara menyedihkan.
“Gua tanya, gimana cara kita kalahin dia?” Logan menggaruk tengkuk. Edgar ikut bingung,
“Bawa Opung lah”
“Bukan masalah itu..” si tertua kedua lagi-lagi menghela napas “dia itu bukan makhluk jahat. Dia bahkan ada dan dibutuhkan semua makhluk sebagai pahlawan yang menjaga seluruh wilayah ini dari kejahatan. Kalau kita bunuh dia, artinya kita penjahat”
“Kristal gua mati?”
“Itu juga jangan”
Lalu keduanya duduk di dekat sapi yang ikut merebah.
“Minta saran ke Sinu aja. Biar dia yang mikir selanjutnya. Mustahil kita ngalahin Dewi, juga membiarkan Kristal mati”
🐾🐾🐾🐾
Sementara Sinu kebakaran jenggot karena sampai tengah malam, Daniel belum pulang.
Adik bungsunya itu pamitan akan main, dan mengirimi pesan akan kembali dalam waktu singkat. Namun Sinu yang kepalang bercumbu dengan Lyn di atas ranjang hingga lupa waktu. Saat ia keluar tengah malam, satu-satunya kamar kosong setelah Johan—yang memang jarang pulang, kamar bungsu pun turut hanya diisi suara AC dan desis PC yang halus.
Terang saja si sulung kebingungan.
Melihat kamar Logan yang berisi tiga orang berikut dengan Kristal.
Kristal. Gadis itu tidur. Lalu bagaimana nasib adiknya. Saat di telepon, nomor Daniel tidak aktif. Itu memperparah kekhawatirannya.
“Dicek lokasi aja” Lyn menyarankan. Namun ponsel si bungsu memang tidak aktif. Sulit melacak apalagi jika tidak memiliki kemampuan di bidang itu.
“Aku akan cari dengan cara ngendus bau dia” kata Sinu.
“Kaya anjing aja. Biarin aja sih, udah gede, nanti juga pulang”
Si pria menggeleng. Ia mondar-mandir sambil memegang ponsel khawatir. Jelas takut kejadian seperti awal-awal mereka pindah akan terulang. Adiknya dipukuli karena meminum darah kambing.
Lantas ia mengumpulkan sisa orang yang masih sadar dan akan mencari Daniel malam itu juga.
“Ini kalau Kristal tau, pasti ngamuk” padahal sudah pernah. Tapi Sinu tetap ngotot mencari sendiri.
“Dia akan bangun besok pagi. Adik saya gimana kalau sampe nunggu besok” pria itu mengajak pergi Jake dan Samuel yang terkantuk-kantuk. Bertiga meninggalkan rumah.
“Dahlah, ngamuk Kristal, jelas”
Tepat saat ketiganya pergi. Logan dan Edgar kembali dari mimpi. Namun tidak dengan Kristal. Keduanya tersadar seperti hanya hilang kesadaran ringan–membuka mata tanpa berat. Semuanya masih sama, hanya satu jam berlalu.
Edgar membuka ikatan tangan, lalu memeluk kekasihnya.
Tiba-tiba hatinya mencelos. Ada ketakutan yang menyebar bagai akar yang merambat. Ia peluk tubuh itu. Hampir mengatakan sesuatu sebelum pintu dibuka lebar.
BRAK!
Lyn di depan pintu.
“Daniel ilang”