OT 7 DI PUNCAK PART 3

Masih terlalu dini untuk bergumul dalam selimut. Setelah menyusun rencana yang tetap tak menemukan titik tengah, mereka akhirnya membubarkan diri ke tenda masing-masing meski Joon memberi isyarat untuk kembali berkumpul tengah malam.

Jung memandang kosong pada kegelapan. Ia duduk di depan tenda menghadap alam bebas ditemani gadis yang juga melakukan hal sama—sembari melendot.

“Kalau satu sakit, kita semua ikut sakit” Jung berbisik lirih. Lantas ia melirik pada gadis yang bergeming “kalau lu sakit, gua juga sedih, walau kita cuma temenan yang baru ketemu kurang dari dua bulan, tapi gua suka sama lu” tangannya menyambut punggung, membuat Olivia makin merekat.

“Gua iri sama keluarga lu, kalian kenapa keren sekali? Apa ini yang namanya pelangi setelah hujan? Atau gua terlalu cepat menyimpulkan?” kakinya bergerak–diselonjorkan ke depan karena pegal “tiba-tiba ada yang biayain gua sekolah, ada cowok yang peduli, ada Mona dan Cia, ada semuanya, kenapa gua bisa di sini?” 

“Coba berhenti berpikir begitu, coba hanya kerjakan apa yang kiranya bikin lu bahagia. Kalau memang mau ngekos, pastiin dulu benar-benar mateng, sebenarnya gua gak rela, tapi kalau lu ngotot, gua bisa apa?”

“Gua mau cari kerja sampingan dulu sebelum ngekos, sementara, tolong tampung gua sebagai beban”

Jung mengangguk “pacaran sama gua”

“Apa sih? Ngotot banget minta pacaran, padahal, nggak ada bedanya pacaran atau enggak”

Sibuk mengobrol, Jung mendengar suara bergumam, lantas matanya melihat Irish keluar. Gadis itu menatap ponselnya fokus, sembari berjalan menjauh dari tenda.

Olivia ikut melihatnya.

“Kayaknya mau cari sinyal di pos bawah” Jung berkomentar. Saat Irish menghilang di balik gelap, Jimin keluar, pria itu berlari menuju tenda kekasihnya, buru-buru. Jung menghela nafas.

“Ada-ada aja kehidupan orang dewasa” ia menggeleng-geleng dan kembali menatap galap. Masih pukul 10, kepalanya sibuk menyusun rencana untuk nanti tengah malam.

“Kamu curang ya?” Yoon menatap Mona curiga. Mereka bermain ular tangga dan beberapa kali ia kalah.  Gadis itu menipu dengan terus mengatakan hal tak berguna yang mendistraksi fokusnya.

“Nggak, kan diliatin dari tadi, curang gimana sih?” Mona menggaruk ujung hidungnya, lantas menahan tawa saat Yoon memicingkan mata menatap kertas ular tangga.

“Saya nggak memaafkan pelaku curang” ia mengocok dadunya. Sementara Mona terus menatapnya tanpa berkedip sambil menumpu dagu dengan satu tangan “jangan lihat saya kayak gitu” Yoon salah tingkah.

Mona menggaruk telinga “kalau saya menang, om Yoon joget ya? Atau saya bebat bedong kayak bayi, oke?”

“Kalau kamu kalah?”

Gadis itu terlihat berpikir. “Kalau saya kalah… em.. Saya traktir makan siang kalau udah pulang”

“Nggak tertarik”

“Kalahin aja dulu, orang tua ini.. Abis ini beboreh balsem” gadis itu terkekeh. Baru saja Mona akan kembali mengocok dadu, tiba-tiba seseorang masuk ke tendanya paksa—membuka resleting seperti orang kesetanan. Jimin di sana. Mereka bertiga saling pandang sepersekian detik, sebelum Jimin menubruk gadisnya impulsif. 

Ia memeluk kekasihnya, menciumi pundak sang gadis, pelukannya begitu erat hingga keduanya jatuh dan merebah. Yoon mengalihkan pandangan sembari menghela nafas, pria itu keluar.

“Hey! Hey! Tarik nafas, tarik nafas…” Mona mengusap punggung Jimin berulang. “Kek mana si? Lu kenapa deh?”

“Irish lagi keluar telponan, sebentar aja ya Allah… sebentar, gua kayak sakau” Jimin membuka syal yang di pakai Mona, lalu menghirup aroma khas gadis kesayangannya.

Itu seperti obat.

“Gua nggak akan kiss karena ini akan menjijikan buat lu” pria itu berbisik, ia masih menghirup sedalam pernafasan seperti aroma itu adalah media kewarasan saat ia hampir gila. Hanya menciumi wajah, Mona mengendus aroma vanilla begitu pekat hingga membuatnya mual.

“Vanilla?” Jimin mendongak ketika Mona menutup hidung.

“Hm”

Lantas pria itu bangkit “maafin gua, ya.. Maaf ya.. Sayang, tunggu sebentar lagi” ia memegang tangan kecil kekasihnya, menciumi berulang-ulang “gua akan balik, gua pergi dulu” mengecup wajah lagi, pria itu keluar lagi—berlari sekuat tenaga. Ia kembali ke tenda sebelum Irish kembali.

Yoon menatap punggung adiknya yang menjauh dan menghilang. Lalu melihat ke dalam tepat saat Mona mual. 

Hoek!!!

Lantas ia membuka jaket dan baju sembarangan, menyisakan bra sambil mengacak isi ransel. Yoon tak jadi masuk.

“Setan, anjing, babi! Badan gua bau vanilla, bangsaaaaat!!!!” ia mengerang jengkel, kepalanya pusing dan ini benar-benar menjengkelkan. Setelah berganti atasan, gadis itu lantas menyemprotkan parfum ke segala sudut tenda, pun membungkus baju yang sebelumnya beraroma mengerikan itu ke dalam kantong kresek.

Melihat sudah berpakaian, Yoon kembali masuk.

“Di kurangin ngumpatnya. Kebiasaan” ocehan pria itu jelas tak di dengar, Mona bahkan menyemprotkan parfum pada Yoon.

“Pusing banget bau si bangsat, najis” 

“Kenapa saya juga di semprot?”

“Ah, sorry-sorry”

Yoon membereskan ular tangga, membenarkan tempat sprei dan rencananya akan tidur.

“Om mau tidur?”

“Hm” pria itu lantas merebah dan memunggungi.

“Ah.. oke” Mona menarik nafas dan mengendus tubuhnya sendiri, memastikan tidak lagi ada aroma menjijikan yang tertinggal.

“Om, mau main lagi nggak? Saya belum bisa tidur, baru aja bangun” ia bersedekap, kakinya  bersila menatap punggung Yoon.

“Tidur, besok pulang”

“Mana bisa, gimana bisa tidur” ia celingukan mencari sesuatu “oke deh, selamat tidur. Saya mau merokok dulu di luar” berhasil mengantongi kotak rokok dan pemantik, gadis itu gagal bangkit ketika Yoon berbalik dan memegang tangannya.

“Mau main apa? Jangan merokok”

Mona tersenyum.

“Catur” 

Sementara di tenda lain. Agak jauh dari perapian yang memang hampir padam—kecuali menyisakan bara yang masih merambat—menghanguskan  tiap angin menerjang dari arah berlawanan. 

Jin menciumnya. Cia berada di bawah kukungan, tangannya melingkar di leher sang pria sementara bibir mereka menaut begitu intens dan dalam. Tangan besar menyusup di antara satu buah dada yang tidak cukup dalam genggaman. Menggesek dan meremas begitu sensual. 

Desah merdu tertahan di langit-langit mulut, gadis itu tidak lagi menolak banyak.

“Pak Jin”

“Hm?” pria itu berhenti, lantas menatap wajah ayu yang terengah, di bawah temaram dalam tenda, Cia terlihat begitu sensual dan menggairahkan, Jin bersumpah akan menghabisinya jika gadis itu tidak menangis.

“Ini bukan waktunya ciuman, seharusnya kita mikirin Jimin” 

“Saya lagi mikir” ia kembali akan mencium sebelum Cia mendorong dadanya pelan.

“Mikir apa? Aneh, semua orang lagi nyusun rencana”

“Saya juga, saya kalau pusing horni”

“Ish! Saya mau ke tenda Mona” ia berusaha bangkit. Namun terkukung, Cia tau ia bisa saja menyepak pria itu dan lari, namun mustahil dilakukan “pak, setidaknya pakai status kalau cium terus. Dari pertama datang, kita udah ciuman 32 kali dan bapak mentil, ya Allah..”

“Kamu calon istri saya, masih kurang apalagi sih? Terus aja kamu itu, nggak usah ngide lari, nggak akan saya kasih sertifikat rumah sebelum kamu izinin saya pergi ke rumahmu buat bilang sama bapak, saya akan nikahin kamu setelah lulus”

Jantungnya berdegup, gadis itu berdehem lalu mengalihkan pandangan sambil terseyum.

“Balikin, terserah bapak mau ke rumah atau enggak, mau apa kek, surat tanah itu udah hak orang”

“Hak orang?” Jin mengernyit sementara Cia menutup mulut.

“Kamu pinjam uang ke siapa?”

“Seseorang”

“Siapa?”

“Ada lah, nggak usah tau, nggak usah kepo, yang penting lunas bawa sini sertifikat rumah saya”

“Nggak akan saya kasih biar kamu di datengin orang”

“Bangsat pake keceplosan” Cia mengerang frustasi “pak.. Ya Allah”

Jin kembali menciumnya, tanpa penolakan, lebih dalam, lebih intens, tangan sang gadis itu tuntun untuk memegang penisnya yang sesak sejak satu jam lalu.

“Kenapa si.. Uang saya banyak, kamu cuma perlu abisin uang saya, kenapa bebal sekali, huh? Rasakan, seberapa keras saya menginginkan kamu, saya akan menikahi kamu”

Perdebatan tidak penting di tutup oleh cecapan cabul dan erangan lembut, keduanya berkubang dalam nafsu di bawah parasut dengan LED kecil yang menggantung—resah saat mereka bergerak. Seirama dan panas.

Lain hal dalam tenda Judy dan Tae. gadis itu sudah tidur setengah jam yang lalu, menyisakan kembaran Jimin yang menatapnya tanpa berkedip meski gadis itu terlentang dengan mulut terbuka dan berliur serta mendengkur sedikit. Satu kaki menumpang pada perutnya. Tae sesekali membubuhkan bubuk kopi ke lubang hidung dan Judy akan bersin lalu kembali tidur.

“Jud, Jud.. you know Jud, Jud adalah kependekan kanjud” Tae terkekeh sendirian, lalu ia memotret sang kekasih. 

Sesekali memasukkan kapas pada dua lubang hidung dan menyelimutinya hingga pangkal leher. Membuat meme kematian. Pria itu cekikikan sendirian.

Atau melihat ke tenda Hobi.

Ini juga pertama kalinya mereka tidur bersama. Trisha hanya diam mematung salah tingkah. Gadis itu tidak pernah banyak bicara. Perangainya tenang, atau memang sedang dalam kondisi bagus.

“Kamu mikirin apa?” pria itu sudah bertanya untuk  kedua kalinya meski jawabannya tetap sama. Hanya menggelengkan kepala. Pun saat di pemakaman, gadis itu tak menangis, hanya membekap mulut terkejut, tapi setelahnya tenang lagi. Seperti tak memiliki emosi signifikan dan sibuk dengan dunianya sendiri.

“Trisha”

“Hm?”

Ia menatap paras tampan yang berbaring miring menatapnya lurus. Gadis itu malu.

“Aku suka di sini, hening” katanya ramah, ia melirik pada Hobi sekilas lalu kembali mengalihkan pandangan.

“Trisha, kalau aku bilang aku nggak suka sama kakak sulung kamu, gimana? Kekanakan, ya? Tapi dia menyakiti adik aku” ujarnya ramah, Hobi berusaha terlihat tidak kekanakan agar diterima oleh telinga gadis itu.

“Aku juga, dari semua orang, aku paling benci Irish, Marcel juga, setelah dia jadi kasar dan menyimpang” lalu memberanikan diri melihat lagi manik sang pria “aku paling suka sama kamu” katanya lagi.

“Kenapa? Kenapa nggak suka Irish?”

“Dia selalu bilang aku anak sial, aku beban dan dia terus-menerus berusaha nyetir papa walau  gagal. Aku yakin, sekarang, dia lagi berusaha alih semua aset papa atas namanya” suaranya pelan. Dikatakan setenang mungkin tanpa emosi. “Sebenarnya, dia itu tipe manusia yang nggak bisa kalah. Dia benci aku dan Marcel. Menganggap kami saingan. Dia bukan cuma kasih uang rutin dan membiayai Marcel tapi juga menyokong narkoba dan memberi dukungan penuh saat tau Marcel menyimpang. Dari luar, dia akan terlihat tenang dan bijak. Kayak aku, aku pikir ini emang kepribadian yang keluarga kami miliki kecuali Marcel yang memang sudah rusak karena narkoba. Tapi di balik itu, aku pribadi mengalami fase mania dan depresi, sementara Irish, aku nggak ngerti, tapi dia maunya semua-semua harus punya dia, dia nomor 1, dia yang paling tinggi. Atau ini hanya perspektif ku sebagai adik. Aku nggak tau, tapi, kami memang nggak akur sejak SMP”

Hobi mengangguk-angguk tapi khawatir. Jimin benar-benar sial menemukan wanita itu.

“Pasti berat” pria itu mengelus pipi, Trisha salah tingkah. Gadis berusia 25 tahun yang sepanjang hidupnya hanya digunakan untuk bangkit dari sakit untuk hidup yang lebih berkualitas. Degup jantungnya berdebar, ini adalah momen terbaik dalam hidupnya. Sejak pertama ia melihat Hobi yang berkeliaran di rumahnya. Ini adalah cinta pertama.

Malam semakin pekat. Awan gelap menyelimuti gugus bintang dan benda langit yang sebelumnya bercahaya. Hingga kegelapan benar-benar membutakan. 

Hampir semua orang meringkuk saling bergumul selimut dalam tenda. Kecuali beberapa orang.

Seperti Joon yang berkeliaran di sekitar tenda. Hanya mondar-mandir resah.

Atau Tae yang ikut keluar saat matanya tetap tak bisa menanggalkan kesadaran.

Sementara dua sejoli termuda, mereka melamun sambil merebah dalam tenda karena benar-benar sulit memejamkan mata. Keduanya membicarakan semua hal, apapun. Olivia yang tidur sepanjang siang dan Jung yang memikirkan kakaknya. Itu kombinasi yang sempurna untuk insomnia.

“Jadi, apa rencana lu?” obrolan mereka sudah sampai batas maksimal. Semua hal sudah dibicarakan hingga kembali pada inti rencana.

“Lu bisa bunuh orang nggak? Kita underage, nggak akan di penjara. Gua banyak baca cara membunuh orang tanpa jejak” Jung mengusap wajahnya tidak yakin.

“Gua aja, lu masih punya keluarga” Olivia berkata yakin.

“Apa lu? Ngoceh apa?” lantas gadis itu mendekat dan berbisik “gua membunuh bapak gua, percaya sama gua”

“Kan, kata gua lu kudu berobat”

“Terusin, kita pisah aja nggak sih?” Olivia mencebik”

“Lu kudu dewasa Liv”

“Oke, jadi siapa yang akan membunuh?”

“Lu”

“Ah, bajingan ini” Olivia menggigit ujung ibu jari sambil tersenyum “gua nggak ada ide sebenarnya. Gua juga gampang ketrigger sama kekerasan. Bisa aja gua jadi sableng saat ada pemicu sejenis” lalu ia menatap Jung, menyelami mata pria itu dengan seringai mirip setan. “Racun tumbuhan itu terdengar lebih efektif kalau pakai dosis tinggi dan terlambat penanganan, mumpung kita di puncak” lalu tertawa, Olivia terkekeh pelan “keracunan tumbuhan, siapa yang akan curiga? Ayo racunin dan jangan ditangani sampe rusak”

Jung menglum ujung piercing sambil menahan senyum. Ia lantas mengusap kepala Olivia “pinter banget astaga, bentar” pria itu bangkit “gua akan cari kecubung sama dosen”

“Hm, ayo kita rusak”

“Lu ke tenda Mona dulu, gua mungkin akan lama”

“Gua yang akan kerja, gua adalah gadis yang menyandang penyakit mental. Gua punya rekam medis, gua underage, gua kebal hukum” Olivia berujar lagi ketika melihat Jung sudah akan pergi, pria itu berbalik menatapnya. Lalu mengangguk sebelum berlalu.

Melihat dua kakaknya duduk di luar tenda, Jung langsung tersenyum sumringah menghampiri. Sangat pas, pukul sepuluh malam bersama langit mendung dan dingin yang seakan menusuk hingga sum-sum tulang. Si termuda menceritakan semua rencana Olivia pada kakaknya dan menyerahkan sisanya pada sang gadis.

Tidak sampai 10 menit memaparkan ide, ketiganya menelusuri hutan. Hanya bermodal cahaya dari senter ponsel, Jung, Joon dan Tae berjalan menjauh dari tenda mencari tanaman racun yang paling mereka hafal.

Sementara Olivia pergi ke tenda Mona. kekasih Jimin belum tidur. Gadis itu sibuk mencoret-coret wajah tertua kedua dengan gincu saat mereka bermain catur. Yoon selalu kalah karena memang tidak bisa. Ia baru belajar malam ini dengan status Mona sebagai guru dan sudah harus melawan gadis itu. Sangat mustahil untuk menang, namun ia tidak berencana berhenti meski wajahnya lebih mirip dinding kamar mandi umum yang penuh coretan.

Kedatangannya membuat Yoon kaget. Pria itu kontan mencari tisu dan menyeka wajahnya.

“Mon, dandanin gua biar mirip setan” tiba-tiba, gadis itu duduk bersila di antara keduanya setelah berhasil menyingkirkan papan catur sembarangan “kasih gua lipstik merah menyala, tegasin mata gua, kata orang-orang gua antagonis sejati” gadis itu terlihat bersahaja.

“Lu manis dan centil, gua suka banget. Muka lu nggak antagonis, tapi gemes, Irish yang antagonis” Mona membela, lalu ia mengambil ransel dan mencari alat riasnya.

“Udah malam bukannya tidur malah..” Yoon menatapnya tidak ramah. Pria itu lantas membereskan catur yang berantakan.

“Om Yoon suka sama Mona?” tembak Olivia langsung “hm hm, no no, nggak boleh”  Olivia menggeleng dengan telunjuk yang bergerak ke kanan kiri “Mona pacar saya, pacar Cia dan Jumaw. Yang mulutnya busuk nggak di ajak. Saya sayang Mona banget, kita akan jadi keluarga besar” gadis itu memeluk Mona yang masih mengacak ranselnya.

Yoon mendecih.

“Sok cool banget, heran” si termuda masih menanggapi.

“Sekolah sana, dasar tunawisma” Yoon mengabaikannya kemudian.

“Oke, kita tunawisma” Mona yang menyahut “tos Liv, hidup tunawisma” gadis itu menatap Yoon yang enggan melihat balik.

“Lagian bapak-bapak tengah malem di puncak nyuruhin sekolah. Aneh kata gua mah. Gua juga yakin nggak akan ada cewek yang mau ama kelabang” 

“Kelabang-kelabang, saya lempar kamu keluar”

“Shhhhhttt berisik-berisik” Mona menatap pria itu jengkel, Yoon kontan diam. 

Mona kembali mengaplikasikan riasan sesuai permintaan “mau apa deh makeup malem-malem. Mau ngonten?” suaranya setengah berbisik, ia mengusap alis Olivia pelan untuk merapikan bagian ekor.

“Rahasia”

“Hm, mau nakutin Jung?”

“Rahasia, pokoknya rahasia, Mon. lu harus hidup bahagia, gua berdoa untuk orang-orang yang baik sama gua semoga kalian semua dalam lindungan tuhan dan terus diberi kemudahan hidup kecuali kelabang yang hatinya busuk dan gelap sepekat malam” Olivia kembali menyenggolnya.

“Saya udah diem padahal” Yoon memojok  namun tak berencana keluar.

“Abis ini, semoga lu bisa bebas sama Jimin, hidup tenang, hanya ketawa. Bahagia, bahagia, bahagia. Nangis sesekali nggak papa, tapi harus banyak bahagianya, karena gua tau hidup nggak ada yang ideal” Olivia mengoceh sembari memejamkan mata saat Mona membubuhkan  eyeshadow pada kelopaknya.

“Apa sih, gua nangis nih, baper banget sama si bungsu ini” Mona mencubit pipinya.

“Jangan cubit pipi, gua lebih gede dari lu Mon, maaf buat impresi awal gua yang terus bilang nggak suka sama lu, gua cuma merasa gua lebih gede” ia tertawa “gua juga gak bisa membenci orang tanpa alasan” lalu menatap Mona “semoga kita bisa bareng-bareng dalam waktu yang lama dan akur, gua akan melakukan banyak hal untuk itu, gua akan” ia berlontar yakin.

Mona mengangguk-angguk “gua suka banget sama Olivia” pipinya naik — tersenyum “ayo kita berteman yang lama, yang lama banget sampe nenek-nenek. Ayo kita jadi ipar, lu harus jodoh sama Jung”

“Lu juga”

“Nggak yakin sih, tapi semoga aja yakan” Mona mengucek mata, sesekali aroma vanilla yang masih terlintas membuatnya membenci banyak hal.

Riasan selesai, gadis itu pamit.

“Gua mau ganti baju dulu, nanti ke sini, oke?” imbuhnya dusta, Olivia mencubit bahu Yoon sebelum benar-benar menghilang.

Sementara jauh dalam hutan.

Mereka sudah berjalan entah berapa lama. Binatang kecil-kecil bersahut-sahutan. Tak ada angin malam, daun seakan diam hening membuat tiap pijakan kaki yang menekan ranting–menggema. Ketiganya berjalan hati-hati sembari menyibak belukar yang menghalangi langkah. Pandangan mereka mengedar sambil berharap menemukan apa yang di cari.

Tae sesekali memukul betisnya yang hanya mengenakan kolor pendek. Nyamuk menyergap mirip kawanan — menjadikan ketiganya makan malam meski kelewat  larut.

“Gua nggak bisa tidur” Tae memecah hening. Gua bukan takut sama setan, bahkan sekarang, gua mikirin Jumaw” ia kembali menyorot senternya setelah menggaruk bokong. 

Jung di depan, ia di tengah sementara Joon paling belakang. 

“Gua kangen Siri tiba-tiba, ini kondisi yang sempurna untuk muncul hantu” Jung ikut menyahut. Meski awalnya dingin, berjalan sejauh kurang lebih 2 kilometer lumayan membuatnya berkeringat. Lantas tangannya menyeka dahi dan leher. Belum sempat keringatnya kering di seka, Jung di kagetkan oleh suara Tae yang bersorak menunjuk tanaman yang rimbun di tengah semak-semak. Pria itu lantas mendekat dan berisik saking senangnya.

────୨ৎ────

Pukul 00:31

Ketiganya sudah kembali. Tapi eksistensi mereka ada di pinggir sungai. Tae yang meracik semuanya. Ia menakar hanya bermodal  perasaan, tanpa timbangan, tanpa aturan, hanya perkiraan untuk melumpuhkan otak. Itu saja. Ini bukan kali pertama ketika ia pernah meracun Joon dan mengubah sang kayak menjadi pintu. Itu lucu, tapi tidak juga, akhirnya ia takut kakaknya menjadi gila tanpa bisa kembali. Itu saja dengan perhitungan ketat dalam dosis paling rendah. Kali ini, ia tidak lagi menggunakan hitungan, hanya bermodal insting membunuh.

Sementara di sekitar tenda. 

Olivia menggunakan baju Jung yang serba kebesaran dan basah. Kaus putih yang menenggelamkan, celana trening  berat karena air yang menyerap. Itu setelan si bungsu tadi sore ketika mandi di sungai.

Gadis itu bertelanjang kaki. Mengitari tenda Jimin tanpa bersuara. Hanya mengitari saja dengan pikiran kosong dan pandangan yang sayu. Ia tau penghuni di dalam belum tidur, Olivia mendengar Irish mendesah, wanita di dalam sana terus mengerang menjijikan. 

Dan apa kata Jin kemarin?

Irish tidak terkalahkan? Irish memiliki kekuatan besar? Lantas keluarga yang harmonis ini menjadi was-was dan sedih hanya karena satu wanita yang tidak begitu cantik juga? Gadis itu menyeka hidungnya yang mulai tersumbat karena dingin. Kepalanya mengingat bagaimana pria tinggi besar yang seharusnya menjadi labuhan cinta pertama, tempat pulang paling aman sedunia dan menjadi pengayom keluarga namun malah berperilaku sebaliknya.

Ayahnya. Pria itu juga memiliki kekuatan besar, tidak terkalahkan dan membuat ia dan ibunya was-was sepanjang waktu. Mengapa? Bahkan ketika ia sudah tak bertemu dengan manusia durjana itu lagi, namun masih dihadapkan  sosok serupa meski tak seiras? Jin menampungnya, Jung menyayanginya, ini bukan untuk Mona atau persetan Jimin yang ia sendiri bahkan tak pernah bertegur sapa dengan benar, namun untuk dirinya sendiri. Untuk kenyamanannya tinggal bersama keluarga keren ini.

Saat sisa orang terlelap.

Jin yang jatuh pada pelukan gadisnya sambil menyusu seperti bayi. Hobi yang saling berpegangan tangan dengan Trisha setelah banyak bertukar cerita hingga mengantuk dan Yoon yang mengangkat kepala Mona untuk berpindah pada lengannya sebelum mengusap rambut gadis itu berulang dan tertidur.

Malam yang pekat. Dingin dan hening.

Jung kembali bersama dua kakaknya. Olivia yang melihat dari jauh lantas melangkah mendekat. Mereka kembali berunding di tempat batu-batu berjajar yang menghadap langsung ke sungai. Tempat itu merupakan spot bagus untuk bersantai saat siang.

“Kalian masuk aja ke tenda masing-masing. Jangan keluar, jangan lihat, jangan bersuara, jangan ngintip, ya?” gadis itu tampak menyeramkan. Tae bergidik menatap Olivia yang meraih racun dari tangannya. Matanya tegas dan tajam. Bibirnya merah tua dan rambutnya panjang menjuntai di atas dada.

“Nggak bisa” Jung keberatan.

“Oke, kalau nggak bisa, lu aja” Olivia menyodorkan racun tumbuhan yang sudah di ikat mirip es lilin.

“Olivia udah punya rencana, tinggal kita ikutin, kalau gagal, kita lempar aja nenek sihir itu ke sungai, atau kita tindih batu badannya, biar tenggelam” Joon menyahut. Jung menarik nafas dan akhirnya melangkah menuju tenda. Disusul Tae dan Joon yang ikut pergi ke tenda masing-masing.

Sepi, sepi lagi

Hanya dirinya dan plastik berisi cairan hijau dan erangan Irish yang tetap menjijikan.

Ia kembali mengitari tenda Jimin.

Kali ini bersuara.

“Jimin… main yuk” suara Olivia membuat erangan Irish berhenti. Gadis itu kembali  mengitari tenda, tapi kali ini tangannya menyentuh dinding parasut hingga Jimin maupun Irish dapat melihat siluet tangan yang mengitari tendanya.

“Jim.. ayo main..” lalu gadis itu menangis “Jim.. lu janji sama gua, lu cinta sama gua doang, kan? Kenapa? Kita akan bersama di kehidupan ini, nggak mau di kehidupan lain.. Ayo keluar dan main… gua nggak akan curang. Kita akan bersama” lantas di sambung tawa, itu tidak murni, Olivia membuat-buat. Tapi ia tak punya ketakutan, jadi suaranya makin menyeramkan.

“Jimin… gua tau lu dengar gua, ini akan terdengar aneh, tapi.. Ini gua..” sebenarnya, Olivia tidak tau harus berkata apa “Jim, kalau nggak keluar, gua bakar tendanya, ayo kita mati bersama” Lantas gadis itu menyalakan korek yang langsung membuat Irish keluar hanya berbalut selimut, wanita itu bertelanjang di dalamnya.

“Apa? Kamu sinting ya?” Irish melotot galak. Olivia langsung Mengangguk refleks.

“Kata dokter, aku nggak sehat” lalu menarik ingus “tapi menurutku, itu akal-akalan dokter aja biar dapat uang, aku sehat” Olivia berkata lugas “ayo main, tante mau main sama aku?”

“Orang gila, saya nggak percaya hantu, nggak percaya kesurupan dan hal idiot, jadi berhenti menakuti karena kamu mirip orang sinting di mata saya” wanita itu menatap jengkel. Yang dipandang hanya menyeringai, gigi rapi Olivia tersusun sempurna—ditarik naik kelewat tinggi hingga aneh. Irish mendecih sebelum  kembali akan masuk, namun Olivia menjambak rambutnya dari belakang. Geraknya gesit, dan cepat, gadis itu menyeret Irish sekuat tenaga hingga tubuh yang lebih besar darinya jatuh terjerembab ke tanah, selimut mencuat, memperlihatkan tubuh tanpa busana.

Dalam posisi itu, Olivia menindih nya duduk di perut Irish.

Satu batu segenggaman diraih dari tanah lalu hantamkan ke kepala secara impulsif mirip orang kesetanan. Seketika, gadis itu menjerit bersama  darah merembes keluar.

Dua kali hantaman, tiga, empat, lima. Irish tak pingsan, tapi darah yang mencuat melumuri wajah hingga baju putih kebesaran membuat Olivia mendongak ke langit sambil menghirup nafas dalam. Tangannya masih menggenggam batu yang lengket oleh cairan merah, mengalir segar. Irish masih di sana, meski wajahnya mirip kaca yang dijatuhkan dari ketinggian—hancur. Di posisi itu, Olivia membuka plastik berisi racun lalu menegakkan paksa ke mulut Irish.

“Minum ya,  abis ini bobo cantik, minum dulu minum, oh haus, kamu harus minum”  cairan tandas tanpa sisa, setelah memastikan racikan racun tertelan tandas,Olivia kembali melayangkan hantaman penutup. Irish pingsan. 

Pemandangan paling epik.

Olivia tidak tahu jika aroma darah segar yang banyak akan mirip dengan besi pula berkombinasi  bau getir dari racun. Itu membuatnya sakit kepala dan melayang. Tidak, maksudnya, Olivia seperti tidak menempel pada kenyataan.

Saat ia mendongak, ada Trisha di depan mata. Trisha membekap mulutnya sendiri ketakutan. Gadis itu terbangun karena mendengar jeritan Irish yang menggema–di susul suara pukulan yang mengaung dengan cairan yang muncrat. Itu tervisualisasi sempurna di hadapannya sekarang. Tapi hanya sebentar, Trisha mencari oksigen dan berusaha mengatur nafas, ia berusaha bersikap tenang.

Olivia bangkit. Ia menatap sekeliling yang sepi, lalu berlabuh pada Trisha.

“Bukan aku” gadis itu menggaruk kepala dengan tangan yang berlumuran darah. Batu yang digenggam dilempar begitu saja  “kamu… kamu yang mukul Irish?” Olivia celingukan lagi “kamu gak papa?” Gadis itu mendekat pada Trisha, bertanya dengan wajah bingung. “Kamu nangis? Bilangin sama kakak kamu, aku benci sama dia, aku benci di pukulin dan mau di perkosa, jadi.. Aku..” ia menggigit ujung ibu jari dan mengulum darah sebelum meludah, tiba-tiba tubuhnya menggigil tidak jelas, Olivia bergetar hebat.

Ia terbata-bata. Suaranya tercekat dan tiba-tiba semua sesak. Olivia bingung, tidak lama, sesaat kemudian gadis itu ikut pingsan.

Menyisakan  hening.. damai dan tenang. Trisha masih melotot melihat apa saja yang ada di depan mata. Irish yang terkapar mengerikan dan Olivia yang juga tak kalah menakutkan.

Hingga Jung dan yang lain datang.

Malam itu terasa sangat panjang hingga angin yang membawa dingin terasa sejuk di tengkuk.

────୨ৎ────

Tiga hari setelah kejadian

Wajah Irish masih nyaris tak bisa dikenali. Balutan menutupi sebagian besar, menyisakan celah di sekitar mata dan bibir. Di balik perban, warna memar berlapis seperti cat kusam yang menumpuk; ungu yang berangsur ke hijau dan kuning.

Hidungnya disangga alat, tak lagi lurus seperti semula. Dahi mengembung dengan garis jahitan yang kaku. Mata kiri tertutup bengkak, sedang mata kanan terbuka aneh—putihnya penuh bercak darah, pupilnya terlalu besar seakan menolak cahaya.

Mulut kering, bibir pecah, suara yang keluar terdengar serak dan terputus. Rahangnya tidak patah namun ucapannya kabur, seperti pecahan kalimat yang tidak lengkap. Tangannya gemetar ringan, gerak tubuhnya tersendat, seperti mesin yang kehilangan kendali.

Racun tumbuhan yang masuk ke tubuh Irish dibiarkan terlalu lama. Empat jam tanpa pertolongan membuat zat itu meresap penuh ke darah dan menyerang sarafnya. Akibatnya, efek yang tersisa tidak hanya ke tubuh, tapi juga pada kesadarannya.

Mulutnya kering seperti tanah retak di musim kemarau; lidahnya menempel ke langit-langit, membuat setiap kata terdengar serak dan patah. Bibirnya pecah-pecah, menolak kelembaban meski cairan infus terus mengalir.

Matanya menunjukkan jejak yang khas. Pupil melebar, hitamnya mendominasi, lamban merespons cahaya. Pandangan tidak fokus, sering bergeser ke arah yang tidak jelas, seakan matanya bekerja lebih cepat daripada pikirannya.

Sistem sarafnya masih bergetar di bawah kulit. Tangan tidak pernah benar-benar tenang, resah dan selalu ada getar halus yang muncul bahkan saat ia diam. Gerakannya tersendat, otot-otot seperti tidak lagi patuh pada perintah.

Lebih berat lagi ada pada kesadarannya. Irish sering kehilangan orientasi, lupa di mana ia berada, dan kadang tidak mengenali orang yang berdiri di depannya. Sesekali ia berbicara sendiri, mencatat sesuatu yang hanya ada di dalam kepalanya. Pada momen lain, ia tiba-tiba tertawa singkat atau menangis sebentar, tanpa kaitan dengan keadaan sekitar.

Efek ini tidak sepenuhnya hilang meski obat penawar sudah diberikan. Racun itu meninggalkan residu, seperti kabut tipis yang tetap menempel di otaknya, membuat Irish seakan hidup setengah di dunia nyata, setengah di ruang halusinasi yang sulit dijangkau siapa pun.

Di sudut ruang.

Polisi mencatat kondisi korban begitu melihatnya di ruang rawat.

Korban masih dapat mengeluarkan suara, namun komunikasi tidak lancar. Kata-kata tidak utuh, sering kali tidak sesuai konteks. Gerakan tangan tremor halus, tubuh tampak lemah. Sesekali korban tertawa singkat atau menangis tanpa sebab jelas.

Keterangan medis menyebutkan racun daun kecubung masuk dalam dosis tinggi, dengan penanganan terlambat empat jam. Efek masih tersisa: disorientasi, halusinasi ringan, dan labil emosi. Kondisi fisik stabil, namun kesadaran tidak penuh.

Sang polisi membuat catatan: Korban selamat, tetapi belum dapat dimintai keterangan secara jelas.

Kondisi itu sampai ke telinga keluarga Tersangka.

Tidak lama, hanya berselang setengah jam ketika Olivia keluar dari rumah sakit setelah 3 hari dirawat karena mengalami shock dan flu berat, gadis itu  langsung digelandang ke ruang interogasi.

Tidak ada saksi yang mengaku melihat kejadian. Jung menjelaskan saat pertama membawa Irish, jika semua orang tertidur dan baru sadar sekitar pukul empat pagi dan mendapati Irish tak sadarkan diri dalam kondisi mengenaskan. 

Dibenarkan oleh Trisha yang tak lain adalah adik kandung korban sementara Olivia berada di samping korban dalam kondisi yang berantakan dan pingsan juga. Kurang lebih, seperti itu keterangan saksi.

Ruang interogasi itu dingin, nyaris steril.

Di meja logam  yang selaras dengan suhu, segelas air putih nyaris tak tersentuh. Olivia duduk dengan punggung tegak, meski sesekali bahunya tersentak kecil karena batuk. Wajahnya masih pucat, memberitakan tubuh yang belum benar-benar pulih dari flu dan kelelahan. Bekas lemah pasca pingsan masih tampak dalam geraknya yang sedikit lambat, namun sorot matanya justru tidak selaras dengan tubuhnya—dingin, terkontrol. Gadis itu bertingkah seperti ia sedang menunggu dokter memberi pertanyaan seputar isi kepalanya belakangan ini, ketimbang penyidik yang akan menginterogasi setelah ia hampir membunuh orang.

Map cokelat tebal itu diletakkan di atas meja interogasi, sudut-sudutnya sudah agak lusuh karena berkali-kali dibuka. Polisi yang duduk berhadapan dengan Olivia menarik napas dalam, lalu membuka halaman pertama rekam medis yang sudah dikumpulkan dari psikiater tempat gadis itu menjalani pengobatan.

Di lembar teratas, tercatat dengan huruf-huruf rapi: 

Nama pasien: Olivia Aberda

Usia: 16 tahun.

Riwayat penyakit: gangguan stres pasca trauma, depresi berat, indikasi disosiatif, serta periode halusinasi dan delusi yang berulang.

Polisi menelusuri catatan itu perlahan. Ada keterangan bahwa sejak kecil, Olivia menyaksikan kekerasan domestik—ayah yang sering menggila, pukulan yang tak terhitung, hingga sang ayah yang bercinta dengan anak di bawah umur di depan matanya — yang meninggalkan luka dalam. Dokter menulis, “Pasien kerap menunjukkan perilaku disosiatif: terputus dari kenyataan, hilang ingatan sementara, dan keyakinan bahwa ia melakukan sesuatu yang sebenarnya hanya imajinasi.”

Halaman berikutnya berisi laporan perawatan: beberapa kali Olivia mengalami  serangan panik disertai halusinasi visual. Ia pernah mengaku melihat darah di tangannya, meski secara nyata tak ada apa-apa. Ia juga sering berulang kali berkata “aku membunuh” padahal tidak ada bukti kejadian. Dokter menandainya sebagai delusi rasa bersalah.

Polisi menghentikan bacaannya sejenak, melirik ke arah gadis itu. Olivia hanya duduk diam, tangannya melipat di dada dengan mata besar yang lurus pada polisi di hadapan. 

Semua keterangan itu tersusun bak mosaik, membentuk gambaran yang lebih jelas—seorang remaja dengan jiwa yang retak, terhimpit trauma, namun juga menyimpan kemampuan untuk menyusun strategi.

Polisi menutup map itu perlahan, lalu menatap Olivia sekali lagi.

“Olivia, sudah tiga hari sejak peristiwa itu. Kondisimu sudah cukup baik untuk menjawab. Mari kita mulai dari awal” polisi menarik nafas, meski ia tak yakin–bertanya pada gadis belia yang mengalami banyak rekam gangguan kesehatan mental “apa yang kamu lakukan malam itu?”

Olivia menatap lagi pada pupil penyidik, bibirnya terkatup, lantas ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Tangannya diangkat untuk menggaruk hidung sebelum akhirnya ia membuka suara “Aku nggak tau.”

Polisi itu menahan helaan napas. Tiga hari gadis ini dirawat; pertama karena pingsan, kemudian demam tinggi akibat flu.

“Olivia,” nada suara penyidik lebih tegas, “kamu ditemukan di lokasi, tak sadarkan diri, tepat di samping korban. Itu fakta. Bagaimana kamu bisa mengatakan tidak tahu?”

Olivia berkedip sekali, lalu menunduk sebentar, seperti sedang berpikir. Namun, ketika ia kembali mengangkat kepala, gadis itu memasang mimik kebingungan “pak polisi, aku nggak ingat, aku nggak tau. Tapi kalau mau di penjara, di penjara aja. Aku sering bunuh orang. Aku membunuh papa, aku akan menjual ginjalnya untuk beli rumah yang jauh, aku mau jemput mama”

Kalimat itu saja sudah cukup membuktikan jika gadis di depannya memang tidak waras. Rekaman medis yang tak dapat di negosiasi.

Penyidik menatapnya, mencoba membaca lebih jauh. Dari luar, Olivia tampak sangat muda. Tapi seperti dunianya aneh dan memang tidak wajar.

“Olivia,” penyidik mencoba sekali lagi, nada suara menurun, “kami tahu kamu punya riwayat medis. Ada banyak catatan bahwa kamu pernah mengalami banyak sekali gangguan di kepala. Tapi sedang benar-benar butuh keterangan. Kami butuh kebenaran.”

Olivia mengangkat bahu tipis, gerakan singkat yang nyaris seperti ejekan. Lalu, dengan suara yang tenang, ia mengulang, “Aku nggak tau loh, kenapa maksa, si? Aku kan udah bilang, kalau mau di tangkap, tangkap aja, tapi aku beneran nggak  tahu. Aku lupa.”

Bagi polisi, itulah yang membuat sulit. Orang dengan gangguan jiwa dan dimintai keterangan. Polisi hanya menghela nafas lalu berhenti.

────୨ৎ────

Tidak melelahkan bagi Olivia. Sehari setelah masuk ruang interogasi, Olivia dan Jin kembali menghadiri rapat kecil di kantor polisi. Kali ini untuk menentukan akhir nasib gadis yang berhasil membuat wanita kaya raya itu terbaring dengan wajah hampir tak berbentuk manusia.

Ruang rapat kecil di kantor kepolisian pagi itu dipenuhi suasana tegang. Di meja kayu panjang, duduk perwakilan polisi, seorang psikiater, Jin dan Olivia, mereka hanya berdua. Map rekam medis terbuka di atas meja, halaman terakhirnya bertuliskan hasil pemeriksaan psikiatri: “Pasien mengalami episode psikotik akut. Tidak mampu membedakan realitas saat kejadian. Tindakan dilakukan dalam kondisi tidak waras.”

Polisi menarik napas panjang, lalu menutup map itu dengan suara berat. “Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, kami tidak bisa membawa Olivia ke jalur pemidanaan. Sesuai rekomendasi medis, ia seharusnya menjalani rehabilitasi rawat inap di rumah sakit jiwa forensik, dengan pengawasan penuh.”

Jin yang duduk di seberang, kontan mencondongkan tubuh ke depan

“Tidak. Saya  tidak setuju Olivia dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Dia sudah cukup menderita. Saya  ingin dia dirawat jalan saja. Saya selaku keluarga akan mengawasi setiap harinya. Obat-obatan bisa di konsumsi di rumah. Saya  jamin dia tidak akan dibiarkan sendirian.”

Psikiater menatap pria tampan itu lama, sebelum menjawab pelan, “Risikonya besar. Kondisi Olivia tidak stabil. Ada kemungkinan ia kembali mengalami delusi atau perilaku berbahaya. Rawat inap dipilih bukan untuk menghukumnya, melainkan untuk menjaganya dan juga orang lain.”

Namun, si sulung bersikeras. “Saya nggak rela nama Olivia tercatat sebagai pasien di rumah sakit jiwa forensik. Tidak rela adik saya  menjalani hari-hari di balik pagar institusi, saya nggak bisa” putusnya mantap, seperti akhir yang tak dapat diganggu gugat.

Polisi akhirnya saling pandang, sadar posisi mereka terbatas. “Baik,” ujar penyidik, “secara hukum, karena Olivia di bawah umur dan dinyatakan tidak waras saat kejadian, jalur rehabilitasi memang wajib. Jika keluarga menolak rawat inap, maka opsi rawat jalan bisa dipertimbangkan. Namun, kami harus mencatat penolakan ini dalam berkas perkara, dan pengawasan tetap wajib dilakukan secara ketat. Bila dalam prosesnya Olivia membahayakan orang lain, kami tidak segan membawa kasus ini kembali ke meja hakim.”

Di samping Jin, Olivia  duduk diam. Matanya sayu, tapi bibirnya terangkat samar, nyaris seperti senyum yang tak pada tempatnya—antara polos dan angkuh, seperti seseorang yang tidak benar-benar memahami betapa besar konsekuensi yang sedang diperdebatkan atas dirinya.

One Comment
  1. Yuka

    Kereen sprti biasaaanyaa.. rugi gak gabung VIp sih..

Tinggalkan Balasan ke Yuka Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *