FAITHFUL TO THE VOID

Sepuluh menit sebelum pasien dengan  nomor antrian ke 19 memasuki ruang praktik, Noah masih menyempatkan diri menerima panggilan mendesak dari seseorang—dari rumah. Wanita itu menelepon di jam tidak normal—membuat Noah khawatir.

Telinganya seperti dibagi dua. Hiruk pikuk di koridor tempat perawat berlalu lalang dan ocehan wanita di balik telepon. Hingga pijatan pada dahi mereaksi per kata meski tak terlihat. Noah tak menyela, tidak mendengus, tidak menyanggah atau berusaha berbicara menyelisihi. Pria itu hanya diam dan iya-iya saja ketika rentetan persuasi mirip kaset yang di putar-putar repetitif pada proyektor di setiap sudut ruangan. Sebenarnya, itu juga membuatnya sakit kepala.

Tidak ada yang berubah selama 10 menit yang berlangsung atau ketika makan malamnya penuh dengan drama—wanita itu merengek. Detik ini, pada pukul 2 siang, saat pasien mengantri sambil membawa sakit dan keluhan, ia juga masih harus mendengar hal serupa di balik telepon. Meminta agar ia segera menikah.

Suara batuk, serak yang di buat-buat, ocehan tentang, tua, kematian dan entah lah, ia tidak yakin. Yang pasti, Noah ingin sekali menjambak rambut perawat laki-laki yang baru bekerja selama dua hari yang terus berlalu lalang di depannya bermimik meledek, padahal tidak. Atau adakah seseorang yang memandangnya memelas karena mendapat ocehan pagi-pagi untuk segera menikah? Karena tahu ia tidak akan sampai hati melawan, menyela,  dan segala kegiatan yang berpotensi melukai hati wanita itu, maka, Noah lagi-lagi hanya diam dan iya; seperti biasa. 

Panggilan diakhiri ketika Noah mengatakan mau atau bersedia datang ke acara perjamuan makan malam alias bertemu dengan gadis yang sudah tentukan—perjodohan, yang penting wanita itu diam dan berhenti mengatakan akan memesan peti mati berikut gaun untuk pemakaman hanya karena ia terus mengulur waktu untuk menikah. Padahal, gadis idaman sudah ditandai, anak sahabat ibunya.

Noah menyusupkan ponselnya ke dalam saku — jas putih yang terkena noda mustard saat makan siang dengan ikan asap. Sudah diseka dengan tisu basah, tapi ujung jasnya tetap kuning menjengkelkan. Saat ia kembali, di depan pintu, asistennya mengatakan pasien sudah menunggu di ruangannya.

Seorang wanita muda berambut panjang, tubuhnya pendek dan langsing dengan pakaian santai—terbuka, seperti ia baru saja bangun dari tidur dan langsung ke rumah sakit. Parasnya  cantik. Hidungnya yang tinggi serta wajah kecil mirip boneka hidup, ia bersedekap dengan wajah malas–agak mengantuk.

Noah melipat tangan di atas meja, tersenyum ramah sebelum menanyakan keluhan. Belum sempat, gadis itu menghirup nafas panjang seperti ruangan itu akan membuatnya sesak.

“Dokter, aku seorang gadis berusia 28 tahun tanpa keluhan nyeri” lalu mengatur nafas lagi, Noah menyimaknya dengan teliti “sejak aku pubertas, sekitar 15 tahun yang lalu, aku memang memiliki siklus menstruasi yang tidak normal” matanya kini beradu dengan legam milik Noah yang mendengarkan serius. Tidak lama, sang gadis lantas menunduk—memperhatikan jari-jarinya sendiri yang di cat dengan kuku palsu berwarna merah marun.

“Aku tidak pernah ambil pusing dengan itu, bahkan 5 tahun terakhir, aku hanya menstruasi persetahun 3-4 kali saja. Karena aku tidak merasa sakit atau keluhan yang berhubungan, aku pikir itu tidak apa-apa, aku juga tidak menceritakan ini pada siapapun kecuali sahabatku, dia terus memintaku untuk periksa dan aku kukuh menolak. Pun aku yang tidak pernah berhubungan seksual, tidak pernah keputihan, tidak pernah nyeri haid dan tidak pernah mengalami ovulasi seperti temanku yang lain” sang gadis memaparkan seperti ia bercerita pada teman, gestur nya sangat nyaman, lantas ia mendongak lagi “tapi, aku akan dijodohkan oleh mama, dok, dan ini tentang kesuburan karena calon mertuaku” gadis itu menunduk “mama yang bilang jika calon mertuaku begitu bersemangat tentang bayi, selalu mengatakan cucu, seperti pernikahan itu memang tujuannya adalah anak. Aku tidak mau, tapi mama ku malah memanggil pendeta dari tempat jauh lalu melakukan pengusiran roh di kamarku. Dia terus mengatakan jika jodohku sudah datang dan kalimat menjengkelkan lainnya” ia menghela nafas. Padahal, sudah bersumpah untuk tidak menceritakan bagian yang itu pada dokter. Namun jika membuka mulut, selalu saja di luar kontrol.

Noah mengangguk-angguk, jemarinya mengetuk meja dengan ujung pena setelah mencatat keluhan pasien di depannya. Lalu  meremas tangannya sambil menghela napas dan menahan senyum.

Pria itu berdehem sebelum menjelaskan “jadi begini, ya.. Nona…”

“Aku Hera”

“Ah baik, jadi begini Nona Hera, dari cerita kamu tadi, menstruasi yang jarang sejak awal puber, sampai hanya 3-4 kali setahun, itu menunjukkan ada kemungkinan gangguan pada keseimbangan hormon” Noah menatapnya lurus, Hera mengangguk meski tidak perhatian. Kata-kata dokter yang barusan itu, sudah ia terima dari internet dan AI di ponsel. Jika dokter di depannya hanya akan mengocehkan tentang hormon dan pola hidup, Hera bersumpah akan pulang dan melanjutkan ritual pengusiran roh karena ia akan kukuh menolak perjodohan alias menikah. Gadis itu tak akan menikah, ia bersumpah.

“Kalau merunut dari pola yang kamu ceritakan, kemungkinan kamu mengalami sesuatu yang disebut PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome, tapi” dokter seperti menggarisbawahi kata itu, menatap Hera lebih intens “ini baru dugaan awal, belum bisa dipastikan tanpa pemeriksaan lanjutan” Noah memutar kursinya sedikit, mengambil selembar kertas, lalu menuliskan sesuatu “biasanya untuk memastikan, kita perlu USG transabdominal untuk melihat kondisi ovarium, juga tes darah untuk memeriksa kadar hormon. Dari situ baru kita tahu pasti”

Hera berpikir sejenak, “jadi gimana dok? Apa aku akan mati?”

“Nggak mati, sih” Noah mengernyit

“Mati sajalah dok, capek banget akutu” lalu ia menunduk “aku seharusnya ada di meja psikolog ketimbang dokter obgyn, muak sekali” mendongak lagi “hidupku  nggak buruk-buruk sekali dok, aku adalah pegawai bank swasta, gajiku  cukup untuk hidupku sendiri dan anjingku. Aku  tidak ada masalah, tapi mama selalu mengatakan tentang pernikahan. Aku nggak mau menikah, orang-orang tidak mati saat tidak memilih lelaki, tapi kebanyakan perempuan mati karena salah memilih laki-laki. Kenapa harus menikah? Pernikahan itu.. Kenapa ada, sih? Semoga orang yang menggagaskan pernikahan pertama kali, dipecut dalam neraka.  Bagaimana caranya aku bisa hidup dengan satu orang dalam interval panjang? Ketemu pagi, siang, sore, malam. Memikirkannya saja muak banget. Saat aku memaparkan isi kepala, mama malah menuduhku penyuka sesama jenis lah, ditempeli roh jahat lah, mengikuti agama baru dan sesat,   sampai kamarku penuh air suci dan salib yang ditempelkan memadati dinding. Ah… lelah sekali”

Hening menggantung setelah Hera lagi-lagi menceritakan hal yang tidak seharusnya. Saat terdengar helaan nafas dari sang dokter, gadis itu mendongak dan menatapnya “maaf dok, over sharing” kemudian berdehem “jadi, gimana dok, apa aku tidak bisa punya anak? Bilang saja aku mandul, dok, akan kubingkai hasil diagnosis  dan  ku gantung di gedung paling tinggi di Indonesia agar seluruh dunia tahu kalau aku tidak bisa punya keturunan. Aku tidak tertarik pada hal-hal berbau pernikahan, seksual dan anak. Aku akan memelihara anjing sampai mati”

Noah Mengabaikan bagian yang terakhir.

“Tahun ini, kapan kamu terakhir menstruasi?”

“Sekitar 4 bulan yang lalu, dok”

“Kira-kira, kapan akan kembali menstruasi, dekat-dekat ini?” Hera berpikir lagi, ia mengingat-ingat hal yang memang sangat jarang “mungkin akhir bulan ini, atau… tidak tahu, aku nggak yakin”

“Kamu aktif berhubungan seksual?”

Hera menggeleng “at all. Ini stigma buruk di masyarakat, apalagi aku perempuan berusia 28 tahun, bagi mereka, perawan di usia ini lebih menjijikan daripada berzina dengan suami orang. Dan sekedar informasi, dokter. Aku dan seluruh keluargaku tidak pernah sakit. Entah flu, batuk, atau apapun. Aku tidak mengerti, tapi ini pertama kalinya aku ke rumah sakit tanpa keluhan pula”

Noah mengangguk-angguk. Matanya menyipit dan tersenyum atas penuturan itu “Karena kamu belum aktif secara seksual, saya tidak bisa menggunakan USG transvaginal, harus dengan transabdominal” Noah menatap kalender “USG paling tepat dilakukan saat kamu menstruasi, jadi, kita akan kembali melakukan pemeriksaan setelah kamu periode”

“Jadi udah ini? Segini aja? Nunggu saya menstruasi baru balik lagi?”

Noah mengangguk pasti.

“Tapi dokter..” Hera menghela nafas “tidak bisa hanya memberiku surat keterangan mandul saja?”

“Tidak bisa, itu melanggar pedoman dokter”

“Ah..” lantas hera bangkit “baiklah, aku akan kembali jika sedang periode, kalau tidak lupa” gadis itu mengucapkan terima kasih dengan suara pelan sebelum benar-benar meninggalkan ruangan.

────୨ৎ────

Bukan restoran Jepang atau makan malam mewah di hotel seperti kebanyakan orang melakukan pertemuan untuk acara perkenalan—perjodohan. Melainkan, rumah bergaya eropa klasik yang berdiri anggun di tengah halaman luas yang ditumbuhi pohon maple dan mawar berduri.

Dinding luarnya dari batu kapur berwarna krem tampak kokoh. Pilar-pilar tinggi menjulang di depan beranda–dihiasi ukiran lembut berbentuk dedaunan dan bunga. Di atasnya, atap curam bergaya mansard dilapisi genting abu tua dengan cerobong batu.

Itu adalah rumah gadis yang akan menjadi jodohnya karena dijodohkan dan jika berjodoh. Noah tidak berencana berkomentar atau wanita yang kini mengenakan satin marun — lembut berbalut sutera itu akan pura-pura pingsan dan mengatakan tentang tua, kremasi atas mayatnya sendiri.

Asisten menyambutnya. Seorang wanita tua dengan keriput di sudut mata menggunakan kebaya seperti orang-orang jaman dulu. Begitu masuk, matanya beredar pada jendela-jendela besar berbingkai kayu mahoni yang berderet simetris. Kacanya gelap karena memang malam–di lapisi tirai renda putih. 

Ada tangga yang melingkar dari sisi kanan menjulang ke atas dengan pegangan berukir halus. Noah masih akan meneliti tiap sudut sebelum wanita itu menarik — mencubit lengannya untuk ikut membuntut pada asisten yang membawa mereka ke ruang perjamuan. Tuan rumah sudah menunggu di sana.

Koki masih hilir mudik, begitu juga pelayan. Si pemilik hunian duduk berjajar dikepalai satu pria tua berperawakan gemuk menggunakan pakaian rapi. Di kursi sebelah kiri diisi dua laki-laki berusia sekitar akhir 30 atau kurang dari itu. Di sebelah kanan, wanita yang terlihat seusia ibu Noah mengumbar senyum paling lebar—seperti hari ini adalah hari paling bahagia sedunia. Terlebih saat matanya bertemu dengan eksistensi yang di tunggu-tunggu.

Mereka berpelukan—dua wanita yang seperti akan menangis, seakan, mereka tidak bertemu puluhan tahun. Padahal, Noah bersumpah, mereka baru saja mengadakan arisan di rumah sambil membahas hal-hal yang tentu saja tidak penting, termasuk dirinya yang menjadi topik hangat. Noah tersenyum getir sembari mengikuti pelayan yang memberikan kursi yang ditarik pelan—setelah ujung besi beradu dengan ubin karena gesekkan.

“Datang sungguhan!! Ah! Aku tidak berekspektasi banyak, tapi tuhan menjawab doa-doaku” si ibu pemilik rumah terdengar tulus meski kalimatnya berlebihan. Mereka masih berpelukan dan Noah masih konsisten meneliti ruang, ia tidak mendapati gadis, wanita, atau siapa pun yang akan menjadi calon istrinya. Atau belum, ia hanya tersenyum pada semua orang seperti hanya itu satu-satunya yang ia miliki.

Si ibu pemilik rumah memperkenalkan semua orang di meja itu. Dua pria yang berusia akhir 30 merupakan adik  kakak. Mereka sudah berkeluarga meski istri-istri mereka tak bisa datang. Pria tua berperawakan besar adalah kepala rumah tangga alias pemilik rumah dan si ibu juga mengatakan anak bungsu perempuan yang masih berdandan. Dalam cerita, seakan anak yang masih di dalam sana begitu bersemangat dan antusias akan perjodohan ini. Lagi-lagi Noah mereaksi perkalimat menggebu itu dengan senyum canggung. Menatap kepala keluarga, lalu menunduk saat pandangan mereka bertemu.

Hampir setengah jam, makan malam bahkan sudah dimulai. Si kepala rumah tangga berbasa-basi menanyakan tentang pekerjaan. Noah menjawabnya seramah dan setenang mungkin, seperti semua orang menyimak tiap-tiap kata yang keluar dari mulutnya. Hanya perkenalan klise tentang menjadi dokter kandungan yang menangani banyak pasien dengan berbagai keluhan dan seputar rumah sakit yang formal. Mereka mengangguk dan mengatakan tentang dokter dengan pekerjaan mulia dan tetek bengek sejenis.

Daging di panggang sempurna seperti meleleh dalam mulut. Saus mustard yang terlihat menyebalkan tetap menjadi campuran yang sempurna, Noah menyuap, tak lagi banyak bicara saat tak ada yang bertanya.

Hingga eksistensi lain kembali membuat seluruh penghuni meja lagi-lagi memusatkan perhatiannya, termasuk Noah.

Noah menganga, ibunya juga.

“Lagi?” salah satu pria yang dikenalkan sebagai Sam—satu di antara dua pria berusia akhir 30 tadi mendengus setelah bertanya. Lantas wanita yang berdandan mirip tokoh seri kartun itu mengatakan sesuatu menggunakan bahasa Jepang yang sama sekali tidak di mengerti. Seperti bahasa asal-asalan menggunakan logat Jepang.

“Selamat malam semuanya, saya adalah anak bungsu, calon pengantin” katanya, ia membentuk hati dengan dua tangan di atas kepala. Ibu Noah lantas tertawa.

Ia menatap sekeliling lalu mendelik saat matanya berlabuh pada pria yang menggunakan kemeja putih—terlihat tenang. “Oh” gadis itu menunjuk, sebelum ibunya menarik lengan agar ia duduk.

“Air sucinya harus direndam selama dua hari dan halangi dia untuk bertemu khalayak. Dia harus minum air rendaman tubuhnya sendiri” salah satu kakak nya berkomentar lagi.

“Hentikan, Sam. aku melihatmu mencabuli suster di gereja”

“Hera!” Ibunya mencubit 

“Aku melihatnya berciuman, aku bersumpah”

“Itu Irine! Iparmu, bodoh! Kamu terus menyesaki kepalamu dengan gambar kotor, kamu harus dibaptis ulang” Sam ngotot “kamu masuk agama baru, kan?”

“Idiot! Lagi pula, kenapa Irene menggunakan seragam Nun? Kamu pendusta”

Si ibu menjadi tidak enak, lantas ia mencubit putrinya.

“Maaf ya, bahasa cinta mereka memang seperti ini, sejatinya, mereka saling menyanyangi, Hera menangis saat kakaknya menikah”

“Kapan? Aku tidak, aku berharap Sam mati saat menggunakan kamarku sebagai kamar pengantin. Itu menjijikan. Jadi, hentikan ma, keluarga kita sudah rusak sejak awal” ia dicubit lagi “ahk! Banyak sekali jaringan bawah kulitku yang pecah, aku akan mati sebentar lagi” gadis itu membenarkan kostumnya santai, rambut palsu yang mencuat keluar dari jepitan dan menutupi mata, serta entah lotion jenis apa yang digunakan sehingga kulitnya menjadi abu-abu monyet.

“Jadi, perkenalkan, ini Hera, anak bungsu kami yang akan menjadi calon pengantin” si ibu terlihat bangga saat mengenalkannya. Seperti penampilan itu bukan hal baru dan seluruh penghuni rumah memakluminya. Ibu Noah lantas mengulurkan tangan—meminta Hera memegang tangannya.

“Kamu manis sekali, astaga, berapa usiamu?”

“28, tante”

“Wah, itu sangat pas” ibu Noah meremas tangannya lembut. Hangat, dan penuh cinta. Ia lalu memberi instruksi pada Noah untuk bersalaman.

“Dunia sangat sempit ya, dokter” Hera tersenyum, rambut palsu merah muda terlihat sesekali menutupi mata lagi, meski sudah di jepit ke belakang. Sebenarnya ia kaget saat melihat dokter itu, tapi tidak lama. Lagi pula, perjodohan ini akan berakhir. Malah, fakta bagus mengetahui jika pria itu adalah dokter yang mendiagnosa sakitnya. Pria itu jelas akan menolak dan mengatakan jika ia mandul. Ini bahkan lebih mudah ketimbang rencana awal untuk kabur ke luar kota—demi menghindari perjodohan brengsek ini.

“Kalian sudah saling mengenal?” ibu Noah penasaran, ia menatap putranya dan Hera secara bergantian.

“Hm, dia datang sekali karena mengeluh nyeri mens” ujar Noah dusta. Hera lantas mengernyit namun tak berkomentar.

“Nyeri mens pada anak gadis adalah hal lumrah” ibu Noah lantas tertawa “ibu senang mendengar kalian sudah saling mengenal, setelah makan malam, kalian harus mengobrol untuk pengenalan lebih dalam” ia menatap Hera, lalu pada temannya yang tertawa. Makan malam di lanjutkan khidmat kecuali si ayah yang mengatakan ada urusan dan dua kakaknya yang entah menghilang ke mana.

────୨ৎ────

“Kenapa harus di kamar? Mama sengaja membuatku malu. Kamarku mirip kandang babi, begitu banyak botol-botol berisi air suci dan salib dengan kuantitas tak wajar yang menggantung” Hera menatap Noah yang berjalan di belakang. Mereka naik tangga, kedua ibu mereka meminta agar  mereka mengobrol di kamar. Tidak masuk akal. Hera bahkan tidak pernah memasukkan makhluk apapun ke kamar. Kecuali anjingnya–Roger yang kini meringkuk di pojok ruang, dalam kandang. Susah payah berdandan seperti orang gila, berharap mereka tidak sudi dan malu, namun tampaknya ibu dari pria yang kini ikut ke kamarnya benar-benar putus asa. Sehingga senang saja melihat calon menantu yang ‘aneh’

“Dokter, ada kesalahpahaman disini, kamu mengerti maksudku” Hera melepas wig ketika mereka sampai depan pintu. Satu tangan menggaruk kepala hingga ketombenya rontok. “Aku mandul, aku tidak menstruasi dengan normal, aku mengidap PCOS dan sebentar lagi akan mati” lalu menghela nafas “Tapi, ayo kita coba bernegosiasi di kamar, tolong abaikan apapun yang anda lihat di kamarku” Hera menarik nafas lebih dalam sebelum membuka kamarnya.

Kamar itu benar-benar gambaran pada film bagaimana pendeta melakukan pengusiran roh jahat. Noah meneliti kamar yang temaram. Air suci dalam botol kaca berjejer di setiap sudut, salib menempel memadati dinding, alkitab yang terbuka. Pria itu mengernyit.

“Ya Tuhan Yesus Kristus, kami datang dalam nama-Mu. Hadirlah di tengah kami dan tunjukkan kuasa-Mu atas setiap roh yang bukan berasal dari-Mu, Amen” Hera mengepal dua tangan menghadap kitab suci dan salib paling tinggi dan besar di pojok ruang.

“Tenang, aku sudah berteman dengan roh jahat. Ini secara irasional. Aku berdoa agar dokter tidak takut” Hera tersenyum “sebenarnya, aku tidak percaya tuhan. Tapi ayahku pendeta. Aku tidak yakin apa kepercayaan ini mewajibkan menikah atau memang akal-akalan mama ku saja” gadis itu menghela napas “sejak dulu, mereka menganggapku aneh ketika aku memiliki tanda lahir. Tanda lahir angka 19 pada tulang belikat, kecil, tapi jelas. Dan air suci dan segala jajaran sialan yang memadati kamarku, selain kata mama untuk membuatku mudah bertemu jodoh, ini juga melindungiku dari bahaya, entah bahaya macam apa, justru seluruh komponen yang memenuhi kamar ini yang akan membunuhku” ia menghadap Noah yang sudah memandangnya dengan mata kecil yang tajam, seperti orang lepas mendapat berita tentang temuan alien “dokter, kita bertemu bukan hanya kebetulan, ini adalah petunjuk”

“Petunjuk apa? Sekedar informasi,” Noah meringis sebelum melanjutkan kalimatnya, matanya kembali menatap seluruh ruang “PCOS tidak akan membuatmu mati kecuali berkombinasi dengan gagal jantung. Dan aku tidak  berencana bernegosiasi apapun”

Hera bertolak pinggang “maksudnya bagaimana? Apa dokter akan menerima perjodohan ini?” Hera makin tak percaya. Namun Noah mengangguk.

“Dokter, saya mandul, ibu anda begitu menginginkan bayi. Sebenarnya, saya tidak tahu PCOS itu apa, tapi tampaknya saya tidak memiliki rahim, bukan? ” Hera lantas tertawa tidak percaya “dokter, hey! Lihat ke sini” tangan nya melambai-lambai saat Noah  malah sibuk memegang air suci dari lantai. Pria itu mendongak.

“Aku sudah bersumpah pada Mare” Noah menjeda “maksudnya, ibuku, untuk menerima perjodohan ini, bahkan jika ibuku membawaku ke kandang kambing” pria itu bergeming, tangannya mengangkat botol kaca. Ia meringis sedikit.

“Wah… wah..” Hera mendelik tak percaya “oke, aku akan mengatakan pada ibu dokter jika aku mandul”

“Hm, katakanlah” Noah lantas bangkit, kepalanya seakan berputar meneliti ruang “aku sibuk, tapi ibuku selalu mengatakan kalimat dan rencana tak masuk akal hanya karena aku tidak berkencan dengan siapa pun dan tak memiliki rencana tentang itu. Aku sudah dijodohkan seperti ini lebih dari 18 kali, aku menyerah” pria itu bersedekap. Tiap kata yang keluar, Hera menginterpretasikannya sebagai keputusasaan. Seperti dokter itu lebih menyedihkan darinya.

“Seperti keluhan kita sama. Tapi dokter, apa dokter penyuka sesama jenis?”

“Aku suka wanita”

“Ah..” Hera mengangguk-angguk “tapi dokter, pekerjaanmu membuatmu sering berinteraksi dengan vagina. Tidakkah kamu berpikir untuk membuahi salah satu pasienmu dengan vagina paling cantik. Dengan begitu, pasien mu akan hamil, lalu, mau tidak mau kalian menikah”

Noah menatapnya nanar. Seperti ia menemukan alasan mengapa gadis itu belum menikah, mengapa banyak air suci di kamar ini dan alasan harus dilakukan pengusiran roh. 

“Kamu terburuk di antara 18 orang”

“Aku tahu” Hera tidak akan menyangkal “maka, ayo kita batalkan perjodohan ini. Aku tidak bagus, maksudku, aku tidak akan menikah. Aku menunggu anjingku reinkarnasi menjadi manusia, mungkin aku akan menikahi anjing” Hera lantas duduk di sisi ranjang. Sebenarnya, kamarnya tidak terlalu buruk, tapi air suci yang memadati sudut membuat kamar ini benar-benar terlihat mirip sarang hantu. Pun didukung oleh lampu temaram.

“Tapi terserah. Aku tidak peduli meski kamu akan menikahi anjing, memakan kotoran anjing atau roh jahat. Setelah menikah, ayo tinggal di apartemen dengan kamar terpisah. Ayo buat perjanjian setelah ini. Kita akan hidup bersama namun menjalani rutinitas masing-masing. Aku akan membuat garis” Noah berjalan ke arah foto Hera kecil bersama anjing lalu menatapnya “ini formalitas”

“Setuju” 

“Semudah itu?”

“Itu terdengar lebih masuk akal ketimbang aku melarikan diri. Dokter, ayo bercerai dalam satu atau dua tahun. Dengan status janda, aku makin memiliki alasan kuat untuk tidak terlibat lagi dengan pernikahan” Hera tersenyum cerah. Benar, pertemuan ini bukan hanya kebetulan. Dokter kandungan itu adalah petunjuk dari Tuhan agar ia keluar dari tekanan ibunya.

────୨ৎ────

Satu hari sebelum menikah.

Pagi ini, ada sesuatu yang lengket—melekat pada celana dalam. Hera tidak sedang bermimpi ingin buang air, lantas menemukan toilet umum dan menuntaskannya di sana, melainkan cairan itu keluar merembes tidak terkontrol. Maka, saat ia membuka mata, kata-kata yang pertama kali keluar dari mulutnya untuk mengawali hari yang tidak terlalu cerah ini adalah; sialan.  

Sprei berwarna putih gading itu kotor—membentuk lingkaran tak sempurna. Darah kering, sisa di celana dalam masih basah dan kadang-kadang seperti gumpalan menjijikan. 

Selalu begitu.

Kadang bentuknya tak normal hingga mirip segumpal daging mirip agar-agar. Dan itu tidak sedikit. Menstruasi yang hanya terjadi setahun 3 atau 4 kali, namun sekali datang, mereka seperti menyerang dalam intensitas tak wajar. Sejak awal, itu memang tidak wajar.

Ibunya sedang sibuk di bawah ketika ia membawa sprei dan selimut tebal ke ruang cuci. Mereka, ibu dan istri-istri kakaknya, begitu heboh. Dress-dress cantik, sepatu indah, tas-tas keren serta perhiasan yang dijajarkan hasil belanja kemarin dan hari ini—tampak berkilau saat tersorot lampu ruang yang seharusnya sudah di matikan. Masih terlalu pagi, dan mereka sudah  melakukan hal tidak berguna alias menghambur-hamburkan uang. Hera bersumpah tubuh mereka mirip babi, hendak di pakaikan apa pun, tidak akan ada yang berubah. 

“Hera! Kami memilihkan sepatu untukmu, kamu harus mencobanya!” istri Sam berteriak saat melihat iparnya lewat membawa cucian kotor.

“Ya” Hera menjawab sambil berlalu.

“Kenapa di cuci? Kamu hanya akan mencuci sprei saat kain itu berbau setan, apa karena akan menikah? Tapi ibu Noah bilang, kalian akan langsung tinggal di apartemen. Apa tidak jadi?” ibunya membuntut di belakang, melihat putrinya memasukkan kain itu ke dalam mesin cuci.

“Aku menstruasi”

Ibunya menghela nafas “ya ya, menstruasi sehari sebelum menikah, mama harap Noah akan pengertian dan kamu segera  mendapati masa subur saat berhenti dan kalian cepat memiliki anak”

“Bosan sekali, kenapa tidak Irine sialan atau Caya saja yang punya anak? Kenapa mereka mandul? Atau bukan mereka, melainkan Sam dan Joan. Anak mama semuanya mandul”

“Hera, aku akan memukul mulutmu. Aku memiliki 3 anak, bagaimana mungkin anak-anakku mandul. Mustahil”

“Makannya bawa ke dokter, jangan terus menerus mendatangkan pendeta sialan dan percaya pada mereka tentang ini dan itu”

Ibunya menghela nafas. Pertengkaran seperti ini bukan sekali dua kali. Sang ibu yang sangat taat dan anak bungsunya yang seperti domba tersesat “aku membesarkanmu karena kebaikan kristus jadi—”

“Aku besar karena makan. Bu, berhenti pergi ke gereja aneh dengan membawa sesaji. Yang seharusnya dibaptis ulang adalah ibu dan ayah serta Sam”

“Aku tidak akan memarahimu karena besok kamu menikah. Jadiah dewasa, kamu tidak bisa berkata kasar pada suamimu seperti ini”

Hera tak menjawab lagi. Namun, satu hal yang harus dilakukannya hari ini, bukan mencoba sepatu untuk pernikahan besok, melainkan pergi ke dokter kandungan.

Wajahnya  pucat. 

Pewarna bibir serta riasan tipis tetap gagal menutupi roma tak bergairah, lemas, sakit pinggang serta rasa tidak nyaman saat darah keluar kelewat banyak. Alasan utama Hera bersyukur ketika menstruasinya tidak normal—ia membenci datang bulan dan hal-hal bodoh yang melingkup seperti; ingin menangis untuk alasan yang tidak dimengerti.

Nomor antrian pendek, namanya akan dipanggil setelah pasien di dalam keluar.

Moodnya buruk. Ia tidak berpikir banyak jika esok adalah hari pernikahan. Surat undangan sudah disebar sehari yang lalu, sahabatnya yang berada di luar kota menangis—mengatakan tentang kebohongan dan prank. Katanya, mustahil ia menikah. Hera lantas menceritakan plot yang tidak terlalu bagus itu. Di mulai saat ia periksa tentang kesuburan hingga negosiasinya di kamar dengan Noah. 

Sejak awal, ia menganggap dirinya adalah NPC. 

Hanya hidup saja. Bangun tidur, makan, bekerja. Begitu terus mirip siklus. Ia tak berharap mendapat plot maupun alur yang menyenangkan dalam hidup. Tidak juga mendambakan percintaan indah yang membuat kupu-kupu dan muntah bunga. Tidak ambisius, tidak ngotot untuk ini dan itu. Yang penting hidup saja, hidupnya baik-baik saja dan tenang. Asal ada secangkir kopi, buku thriller favoritnya, tontonan dengan genre yang serupa, serta Roger. Itu cukup. Tidak ingin aneh. Hera tahu benar, jika ia mendapatkan sesuatu, maka ia akan kehilangan sesuatu juga. Hidup ini sudah komplit dan pas, itu rumus alam. Tentu saja itu adalah ideologinya sendiri. Gadis itu merasa hidupnya memang harus monoton dan lurus. Kecuali saat melihat ibunya terus pergi ke tempat aneh di hari kamis sore sambil membawa sesuatu yang aneh, mirip orang akan melakukan ritual. Itu pun berusaha ia abaikan, meski jika sedang kedapatan, Hera akan mencaci maki mereka. Sejak awal, ibunya memperlakukannya berbeda dari dua kakaknya. Hera kadang curiga jika apa yang dikatakan Sam tentang ia adalah anak setan ternyata benar. Dan semua kakak selalu mengatakan hal serupa pada adiknya.

Hera sedang menguap saat namanya dipanggil perawat. Ia lantas mendongak lalu menaikkan tasnya ke bahu sebelum melangkah lunglai memasuki ruang praktek dokter kandungan. Anggap saja calon suaminya.

Noah menaikkan satu alis saat melihatnya. Padahal, ia sudah tahu nama yang dipanggil. Gadis itu terlihat senyum meski tak sampai hati, duduk berhadapan dengan mimik canggung walau sejatinya, itu adalah interpretasi atas ketidaknyamanan dirinya sendiri.

“Dokter, aku menstruasi” cicitnya pelan, lantas mendongak. Netra mereka beradu sepersekian detik bersama hening yang menggantung sekilas. Noah lantas mengangguk-angguk. Sudah satu minggu sejak kedatangannya pertama kali untuk memeriksa keluhan dan enam hari sejak mereka bertemu di rumah sang gadis. Keduanya tidak melakukan pertemuan lagi, sama sekali. Noah menyanggupi perjodohan dan akan menikah sesuai rencana sang ibu. Syaratnya hanya jangan ganggu, pria itu mengatakan tentang—keinginannya menikmati waktu lajang di detik-detik akhir tanpa gangguan. Hera sendiri tak ambil pusing, tidak peduli, dan tidak ada urusan. Mereka bahkan belum berkenalan dengan layak, tidak bertukar kontak dan benar-benar tidak berkabar lagi kecuali dua orang tua mereka yang sibuk siang dan malam.

Noah memeriksa catatan tentang pasien di depannya “Karena kamu belum pernah aktif secara seksual, kita akan menggunakan  USG transabdominal. Pemeriksaannya melalui perut bawah” Noah lantas mendongak “di rumah sudah minum?”

“Kenapa tanya minum?”

“Kandung kemihnya harus agak penuh biar hasil gambar lebih jelas”

“Aku belum minum. Terakhir minum 3 jam yang lalu”

Noah mengangguk lagi, ia lantas mengambil air mineral dalam botol dari pendingin di dekatnya, sebelum di sodorkan “minum dulu sebentar” Hera menerima dan lekas meneguknya cepat.

“Dokter”

“Hm”

“Aku skeptis, ah bukan, maksudnya, khawatir, aku juga bergidik di waktu bersamaan” Hera menghela nafas, lantas ia kembali meneguk air mineral sampai tandas “setiap datang bulan, darah-darah menjijikan itu berbentuk gumpalan-gumpalan mirip agar-agar, sangat banyak, seperti aku sedang mengeluarkan daging, ah potongan daging. Kadang, aku berpikir jika aku sedang keguguran dan mengeluarkan bayi yang hancur dan mati dari rahimku karena aku sering berlari, loncat, berputar di halaman rumah dan memakai korset. Jangan-jangan, aku keguguran tiap 4 bulan sekali” Hera menatap Noah serius, wajahnya pias dan letih, gadis itu anemia.

Noah menutup mulut dengan kepalan tangan menahan tawa. Hanya sebentar.

“Biar saya jelaskan sedikit” Noah berdehem, Hera menyimaknya seksama. Tidak ada bagian dimana ia merasa pria itu adalah mempelai pria yang esok akan menjadi suaminya. Bahasa yang sopan dan baku membuatnya sama sekali tidak canggung. Sudah benar, tuhan mengirim pria itu untuk merealisasi rencana awal kehidupannya yang lebih datar.

“Jadi, ketika kamu jarang menstruasi, artinya lapisan dinding rahim yang seharusnya meluruh setiap bulan, menjadi tidak dibuang secara teratur. Lapisan itu terus menebal selama tidak ada ovulasi. Saat akhirnya tubuhmu memutuskan melepasnya, darah yang keluar menjadi sangat banyak, dan bisa berbentuk gumpalan karena volume darah yang besar. Kesimpulannya, itu normal dan wajar, kamu tidak sedang mengandung lalu keguguran karena berlari dan menggunakan korset”

“Ah..”

“Kalau sudah, silahkan berbaring”

Hera menuruti instruksi. Noah mengangkat bagian bawah blusnya sedikit, hingga perutnya terbuka. Lantas mengoleskan gel bening yang terasa dingin saat berkontak langsung dengan kulit sebelum menempelkan alat pemindai dan menggerakkannya perlahan.

Di layar monitor, tampak bayangan abu-abu yang bergerak lambat. Noah memperhatikan dengan cermat, kadang menyesuaikan posisi alat lalu mengetik sesuatu di komputer.

“Ini rahim kamu” ujar Noah, menunjuk salah satu area pada layar “bentuknya normal, ukurannya juga baik” Hera masih menatap  monitor meski tidak mengerti “kalau kamu lihat di sini” Noah menunjuk bayangan tipis di bagian lain “ini lapisan dalam rahim kamu, namanya endometrium. Sekarang sedang luruh, jadi kelihatan tidak rata” Hera lagi-lagi mengernyit mencoba memahami bentuk abu-abu yang bergeser perlahan “darah yang kamu keluarkan saat haid berasal dari sini, lapisan ini yang menebal setiap siklus karena pengaruh hormon. Kalau tidak ada ovulasi, lapisan itu tidak luruh seperti biasanya, jadi, makin menumpuk. Nah, ketika akhirnya luruh, darah yang keluar jadi banyak dan sering menggumpal”

Hera tidak menjawab kecuali anggukan yang sebenarnya tidak terlalu ia mengerti.

Noah kemudian menggeser alat ke sisi kanan dan kiri perut “nah, ini ovarium kanan dan kiri. Saya melihat ada cukup banyak folikel kecil di dalamnya. Tapi belum tentu ini PCOS, tapi kita perlu melihat hasil tes darah untuk memastikan. Folikel seperti ini juga bisa muncul pada siklus normal”

“Jadi, kenapa saya di USG dan nunggu menstruasi kalau hasilnya hanya akan ditentukan tes darah?”

“Pertanyaan bagus, Nona” dokter menyudahi pemindai pada perut bawah, lalu menyeka milik Hera dengan tisu. Itu tidak pernah ia lakukan pada pasien umumnya. “Tes darah dan USG sebenarnya saling melengkapi, bukan menggantikan” lalu mengambil selembar kertas bergambar anatomi rahim, menunjuk bagian yang disebut ovarium yang baru saja mereka lihat milik Hera.

“Tes darah memberitahu kita apa yang terjadi di tingkat hormon, apakah kadar hormon seperti LH, FSH, dan testosteron seimbang atau tidak. Sedangkan USG, saya bisa melihat apakah ada banyak folikel kecil di ovarium, apakah bentuknya khas seperti PCOS, dan bagaimana keadaan rahimnya”

“Kenapa dilakukan ketika haid?”

“Karena pada masa haid, lapisan dinding rahim sedang luruh dan folikel ovarium berada di tahap awal pertumbuhan. Itu waktu yang paling netral untuk menilai struktur aslinya, belum terlalu dipengaruhi hormon tengah siklus. Jadi, gambaran kiat dapat lebih akurat. Dengan kata lain, USG menunjukkan bentuknya, dan tes darah menunjukkan sebabnya. Dua-duanya penting supaya kita tidak salah menilai”

“Ah.. i see” gadis itu tampak puas dengan jawaban dokter, lantas, ia kembali duduk di kursi

“Tubuhmu tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu hasil saja, kita lihat semuanya secara menyeluruh supaya kamu dapat penanganan yang tepat”

Hera menunduk sejenak, seperti orang kurang darah yang berpikir.

“Kalau tes darahnya sendiri, kapan keluar, Dok?”

Noah membuka berkas yang ada di mejanya, memeriksa selembar formulir laboratorium

“Untuk pemeriksaan hormon seperti ini, biasanya membutuhkan tiga sampai lima hari kerja”

“Nggak bisa hari ini aja, Dok? Besok saya mau menikah” mendengar penuturan itu, Noah lantas mendongak—matanya lurus lagi-lagi menyelami iris gelap milik calon istrinya di depan.

Hanya menatap, tanpa mengatakan atau menjawab pernyataan yang terakhir.

“Nanti, bagian resepsionis akan bantu jadwalkan kontrol ulang. Kamu bisa datang sekitar empat hari lagi, hasilnya sudah lengkap”

Hera menghela nafas dalam, ia lantas bangkit.

“Pulang deh” gumamnya pelan, gadis itu kembali memakai tas selempang sebelum melangkah.

“Kamu pasien terakhir, ada keluhan lain atau suatu hal? Saya memiliki waktu luang” Dokter melepas kacamata, mengusap lensa itu dengan sapu tangan  hati-hati. Hera lantas menghentikan langkahnya, berbalik, melihat pria itu.

Ada kilat jengkel. Hera yakin ini pasti ulah hormon sialan yang membuat mood nya seperti setan atau kepalanya pening dan lemas. Ia menghela nafas lelah, seperti dunia ini memang melelahkan dan isinya tidak jauh-jauh dari tekanan “Bisakah kita segera menikah lalu bercerai? Aku bahkan tidak memiliki tenaga memakai gaun. Mendengarnya saja membuat jengkel” Hera mengatakan pelan, tapi berhasil membuat Noah menghentikan sapu tangan yang mengusap kacamatanya berulang.

“Hari-hari tidak menyenangkan tetap harus dilalui agar berlalu. Istirahatlah, aku akan meminta perawat memberimu tablet tambah darah dan multivitamin. Sampai bertemu besok”

Hera bergeming beberapa saat. 

Seharusnya, seharusnya pria itu menolak. Mengatakan pada ibunya jika calon istrinya memiliki masalah pada rahim, ovarium atau sialan sejenis. Seharusnya ia berani membuka suara atau apapun. Hera menghela napas lagi. Seperti itu satu-satunya hal yang bisa dilakukan untuk menginterpretasikan rasa kesal.

Gaun berat yang dipilihkan ibunya. Sepatu berwarna senada yang disodorkan ipar-iparnya. Nasehat pernikahan yang di ulang-ulang saat makan malam. Tiba-tiba semua hal menjadi begitu memuakkan. Semua diperparah saat ini, saat ia menatap wajah calon suaminya yang sejak tadi mengoceh tentang isi rahim dan tetek bengek. Hera tau, seharusnya ia pulang setelah pemeriksaannya selesai, setelah Noah mengatakan untuk kembali empat hari ke depan. Bukan malah mendekat pada si pria lalu… ah.. Hera seharusnya bisa mengendalikan diri.

Hera duduk di kursi yang sebelumnya sudah ia tinggalkan. Hangat lepas ia merebah beberapa menit lalu masih terasa. Lantas gadis itu menangis. Awalnya hanya isak kecil, ia tergugu sembari menceritakan rasa jengkelnya. Mencurahkan kekesalannya pada Sam yang terus menambah air suci dalam kamarnya, ibunya yang terus membicarakan cara melayani suami yang baik, ipar-iparnya yang saling membandingkan diri. Jika sedang stabil, Hera tau itu adalah kegiatan normal yang dilakukan keluarga normal menjelang pernikahan, mungkin. Kecuali air suci. Tapi hatinya sakit. Bahkan saat ia melihat kakek-kakek menarik gerobak susah payah dengan pakaian lusuh di trotoar jalan raya tanpa alas kaki, lantas wajahnya meringis entah menahan lapar atau lelah, gadis itu tergugu. Perkara itu juga ia ceritakan pada Noah yang kini hanya melongo dengan mulut terbuka dan mata yang semakin menyipit. 

“Dokter, bukankah hidup terlalu berat? Bagian mana aku pernah berbuat dosa? Tuhan seperti membenciku. Tidak bisakah hari-hari hanya duduk sambil berleha-leha? Tanpa bekerja, tanpa angsuran paylatter, tanpa suara mama ku yang berseru agar aku berkencan? Dokter, kenapa aku belum diberi modal hidup sementara Sam dan Joan sudah? Aku ingin hidup sendiri, aku ingin menyewa apartemen kecil agar aku bisa bebas. Mama selalu memperlakukanku seperti aku memang lahir untuk menikah dan menunggu jodohku menjemput. Gadis itu seperti akan menangis  “Pun  uang kerjaku hanya cukup untuk foya-foya. Aku akan mati jika membayarkan gaji tak seberapa itu untuk sewa apartemen” Hera menyeka ingus, Noah lantas menyodorkan tisu yang di balas ucapan terima kasih sekilas.

“Aku aslinya tidak seperti ini. Aku mengatakan ini pasti karena gila” ia mendongak, berusaha menghentikan tangisnya yang memalukan “awalnya, aku mengira aku terkena kanker ganas saat kamu mengatakan tentang PCOS. Tapi ternyata tidak” ingus dikeluarkan lagi, kali ini lebih banyak.

Hera berdehem “dokter, menurutmu, apa benar, tindakan yang dilakukan penganut sejati ketika papaku memiliki patung malaikat tanpa wajah dalam kamar? Ada pula di letakkan dalam altar kecil dalam gereja. Mama bilang, itu simbol kerendahan hati. Papa berlutut di depannya dan berdoa dengan bahasa yang sama sekali tak kumengerti” Hera menghabiskan hampir separuh tisu milik Noah.

“Aku tidak perhatian, tapi sejauh sepengetahuanku yang terbatas ini, tidak ada alkitab mengajarkan..” Hera menggaruk tengkuk yang tak gatal “ah.. Aku berpikir terlalu banyak hingga merinding. Botol kaca berisi air baptis yang menghitam. Katanya, air baptisan lama yang ‘disucikan’ ulang. Tapi di dalamnya seperti ada serpihan abu atau serpihan kertas doa yang terbakar. Aku menemukan itu di kamar Sam. Aku ketakutan untuk beberapa saat, lalu lupa saat ada notifikasi, notifikasi jatuh tempo dari salah satu e-commerce. Notifikasi itu lebih menakutkan dari air baptis yang menghitam” 

Cukup, ini memalukan. Saat kewarasannya datang, alias air matanya keluar banyak dan hatinya lega. Hera menghentikan ceritanya begitu saja. Ia lantas menatap Noah yang tak berkedip memperhatikannya. Pria itu tak berkomentar, tidak menyela, tidak tertawa dan tidak bereaksi apa pun. Tapi  bernapas, mengidentifikasi jika ia masih bernyawa.

Hera lalu bangkit. “Terima kasih tisunya, dokter” lantas menghilang terburu-buru di balik pintu.

────୨ৎ────

Asap dupa berputar lembut di udara, seakan melukis garis tipis antara bumi dan langit. Di bawah salib raksasa yang menjulang dalam keheningan sakral, Hera dan Noah berlutut — bagai dua jiwa yang menyerahkan seluruh hidupnya kepada takdir ilahi. Gaun putih terurai panjang, menelan cahaya lilin yang bergetar di altar, sementara dinding-dinding  tua menyimpan gema doa yang dalam.

Di ruangan yang dipenuhi wangi bunga dan bayangan cahaya keemasan, tak selaras dengan hati yang tak mengerti arah dan tujuan. Hanya bisikan iman dan dentum lembut langkah para rohaniwan yang menjadi saksi — bahwa dusta pun, pada akhirnya, harus bersujud di hadapan keabadian.

Keduanya lantas berdiri saat pendeta tegak di balik podium. Senyumnya memancar begitu lembut seperti merangkul jiwa-jiwa yang hilang arah.

Kekhawatiran menyusup. Bukan tentang kegiatan sakral yang sedang berlangsung, melainkan periode hari kedua — berharap tak separah hari kemarin. Hera berdoa untuk pembalut dengan panjang yang nyaris ke punggung itu tidak akan mengkhianatinya dengan mengotori gaun putih mewah. Ini adalah pikiran paling  tak masuk akal, dari semua hal.

Pendeta membacakan sumpah yang tak terlalu ia simak. Hera hanya mengikuti apa yang dibicarakan, mengulang. Begitu juga Noah. padahal, suasana sedang khidmat dan tegang. Wajah-wajah para orang tua yang haru dan penuh kebahagiaan.

“Elias Amandus Noah, maukah engkau menerima Hera Gisamaria sebagai istrimu yang sah, untuk mengasihinya, menghormatinya, dan menuntunnya dalam terang Tuhan sampai maut memisahkan?”

Noah mengangkat wajah, suaranya nyaris seperti doa.

“Aku mau, demi perjanjian hidup dan roh”

Pendeta beralih pada Hera.

“Hera Gisamaria, maukah engkau menerima Elias Amandus Noah sebagai suamimu yang sah, untuk mengasihinya, menghormatinya, dan hidup bersamanya dalam damai Tuhan sampai maut memisahkan?”

Hera menghembuskan napas pelan

“Aku mau, dan tiada maut yang akan memisahkan.”

Cincin sederhana disematkan, dan suara pendeta kembali mengalun, “Apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia. Sekarang, engkau boleh mencium mempelaimu” kata-kata itu yang tertinggal sedikit sebelum sentuhan tiba-tiba dari Noah membuat Hera seperti ditarik pada kenyataan.

Lembut dan hangat. 

Bibir itu menyelami miliknya seperti permen kapas yang meleleh. Hera membeku bersama degup jantung yang terpacu abnormal, ini adalah ciuman pertamanya, bersama pria yang kemarin memeriksa rahim dan kini sah menjadi suaminya. Hera  gugup hingga mirip patung hidup yang mendelik. Bahkan setelah Noah melepas pagutan itu pelan.

Urutannya selalu sama; tepuk tangan dan sorak meriah dari tamu undangan, recessional, sesi foto, resepsi, potong kue, ucapan terima kasih dan perpisahan. Hera sudah hafal siklus itu. Dua kali menyaksikan dua kakaknya menikah, teman kerja, tetangga, dan masih banyak lagi — tatkala ibunya menyeret—membawanya pada acara pernikahan saudara ini dan itu. Kendati, ia melewatinya dengan sudut bibir yang naik sempurna. Ini adalah kesesatan, lebih sesat dari air baptis hitam yang disucikan ulang, atau patung aneh. Ia berdusta pada tuhan. 

Ibunya menangis, begitu juga ibu Noah. Hera juga tidak tahu sejak kapan mereka berteman—yang pasti, ibu Noah terlihat sejuta kali lebih cantik, kecuali garis dan kerutan di wajah.

Di momen ini, Hera tidak mengerti, namun tak berencana memarahi ibunya untuk tangis yang tak ia tahu alasannya. Ia sudah menikah, seharusnya ibunya tertawa bahagia—setidaknya, ia akan melepas label  perawan tua, meski tidak yakin. Namun satu hal, Hera berciuman, ciuman pertama. Ini adalah pengalaman jika suatu saat nanti ia bertemu dengan anjing lucu (setelah menunggu anjingnya mati) akan ia ceritakan hangatnya ciuman pertama. Atau saat ia menahan napas demi ciuman yang sempurna. 

Bokongnya merebah di kursi depan—disamping suaminya, setelah gaun pengantin panjang yang membuatnya harus menggulung-gulung potongan tulle yang seakan membelit kakinya sendiri. Hera menghela napas lega.

“Harusnya, kamu mengganti gaunmu dengan kaos oblong” Noah berlontar enteng. Tangannya ikut membenahi gaun yang awut-awutan.

“Mama akan menodongku dengan pistol, ini untuk estetika dan simbol pernikahan” Hera mendengus “padahal, aku selalu memimpikan pernikahan mirip Taylor Swift”

Noah tak menjawab, mobil melaju pelan bersama teriakkan orang-orang di belakang. Bahkan satu dua serpihan kelopak mawar tersangkut di kepala Hera, begitu juga Noah.

Hari yang panjang, mungkin. Hera menjalaninya seperti hari-hari biasa—seperti ketika ia ikut memeriahkan ulang tahun salah satu staf di kantor dan ikut memberi selamat meski mereka tidak akrab. Bedanya, kali ini, ia adalah bintang utamanya.

────୨ৎ────

Dari tempat Hera berdiri, iris nya dapat melihat seluruh isi ruangan. Meja makan bundar diujung—mungkin tempat Noah sering menghabiskan waktu dengan laptop atau sekedar menyesap kopi panas sambil berpura-pura tidak memperhatikan waktu. Dapur kecil di sampingnya masih berbau kopi dalam gelas yang belum di cuci.

Noah bilang, kamar Hera di sebelah kiri. Dia tidak mengatakan apapun selain ujaran singkat dengan kalimat hemat “kamarmu sebelah kiri” 

Lantas setelah perjalanan dari gedung pernikahan yang memakan waktu hampir satu jam, Hera membuka kamar itu dan langsung merebah.

Sprei putih, dinding pucat dan kursi kecil di pojok dekat jendela. Semua tampak rapi. Hera tidak yakin, namun ia melihat beberapa barangnya ada di sini—sepatu, potongan baju dan.. Hal-hal familiar. Bisa saja ibunya yang mengatur dan Noah hanya iya-iya saja. Hera sedang enggan memikirkan, maka, yang sekarang dilakukan adalah, berbaring dulu. Ia merindukan anjingnya.

Plafon putih bersih, ada lampu gantung bulat mirip kristal yang dipadatkan menjadi satu. Setidaknya, kamar ini tak sesuram biliknya di rumah. Pun jaraknya yang hanya setengah jam dari tempat kerja. Anggap saja tempat kabur paling ‘mending’ selain rencana awalnya untuk pergi ke luar kota dengan sisa tabungan yang hanya cukup untuk membeli pakan anjing selama lima bulan.

Hera berjanji akan menabung. Lalu setelah kembali membuat kesepakatan dengan Noah, ia akan pergi untuk mencari tempat kos yang agak layak. Yang penting terbebas dari air suci dan segala hal yang lebih condong terhadap perdukunan ketimbang mendekat pada tuhan.

Hera tersentak dalam pikiran dengan menguap yang tak jadi tatkala Noah menyembulkan kepala dari pintu. Pria itu meminta maaf ketika melihat reaksinya lalu kembali menutup pintu dan mengetuk.

“Masuk” Hera mendumal. Sudah terlanjur seperti itu, kenapa harus di ulang dengan mengetuk pintu?

“Kupikir kamu akan kesulitan membuka gaun, aku akan membantumu sebelum pergi” pria itu berdiri di ambang pintu. Rambutnya setengah basah dengan pakaian khas—kemeja dan celana dasar yang di setrika kelewat licin. Satu tangannya menenteng jas putih. Seperti mandi terburu-buru, bahkan tak tuntas mengeringkan rambut. Jika saja Noah adalah ‘suami sungguhan’ Hera bersumpah akan menyumpahinya dengan sumpah serapah paling mengerikan sedunia. Bagaimana bisa dia meninggalkan pengantinnya setelah menikah beberapa saat? Itu keterlaluan.

Tapi yang dilakukan Hera adalah menatapnya beberapa saat, lalu melihat kancing kecil-kecil yang merekatkan dua belah gaun di punggungnya. Ya, gaun ini tidak akan bisa ia lepas sendiri. Di bagian itu, Hera bersyukur Noah perhatian. Jika tidak, mungkin saja Hera akan keluar dan mengetuk pintu tetangga untuk dimintai tolong. Pakaian itu saja sudah tak nyaman.

Maka, eksistensi Noah kini duduk di belakang istrinya. Ia meletakkan tas dan jas di sebelah, lalu mulai membuka kancing itu pelan-pelan dan telaten.

“Aku harus pergi, mungkin kembali tengah malam, atau keesokkan harinya. Malam ini, aku harus membantu operasi sekitar 3 ibu hamil dan sisanya janji konsultasi”

“Di hari pernikahanmu? Kamu menyetujui janji konsultasi di hari pernikahanmu? Itu terdengar keren. Mungkin jika itu keperluan urgent, seperti operasi, wajar. Tapi konsultasi?” Hera menggeleng-gelengkan kepala “mungkin, wanita yang suatu saat nanti menjadi istrimu sungguhan akan memberimu trophy. Itu keren” Hera tertawa.

“Aku beruntung karena wanita itu tidak memberiku trophy, melainkan tawa” tinggal lima kancing, Noah masih berusaha—mengingat lubang yang kecil dan mata kancing yang besar. Bulat-bulat. “Semua keperluanmu ada di lemari, aku juga mengisi banyak makanan dalam pendingin, meletakkan kartu berisi uang ‘belanja’ di atas bufet, pesanlah makanan, apapun. Hubungi aku jika mendapati sesuatu yang membuatmu tidak nyaman atau menginginkan hal lain” selesai.

“Mandilah, kamar mandi hanya ada satu, kita harus berbagi” Noah bangkit, ia kembali mengambil tas dan jas “tapi Hera” matanya menangkap manik sang istri “aku tidak suka rumahku dimasuki orang asing. Kuharap kamu bijak dengan tidak memasukkan siapa pun ke mari. Termasuk anjing”

“Anjing? Oh? Apa kamu baru saja mengatakan anjing? Lalu bagaimana nasib anjingku?”

“Kecuali anjingmu” Noah menghela napas. Melihat Hera memelotot pun membuatnya bimbang.

Dan Hera balik yang menghela napas, saat pintu ditutup dari luar sementara gaunnya tertanggal. Rasanya seperti keluar dari portable sauna yang membuatnya berkeringat banyak.

────୨ৎ────

Bukan anjing jenis Pomeranian yang memiliki bulu super lebat dan tebal serta wajah yang menggemaskan. Bukan pula Tibetan Spaniel yang memiliki lebat di sekitar leher mirip surai singa mini. Namun Doberman Pinscher. Anjing yang  memiliki bentuk tubuh tegap dan berotot. Tubuhnya bahkan nyaris sama besarnya dengan Hera. pun anjing itu terkenal galak dan tidak bersahabat, apalagi dengan orang baru.

Noah menelan ludah susah payah ketika pagi-pagi—sepulang bekerja, matanya menemukan eksistensi entitas itu tengah duduk di atas keset tepat di depan kamar mandi. Ia menggonggong dengan kasar saat mata mereka bertemu.

“Roger!! No! Jangan menggonggong! Mami bilang, kamu ikut tapi tidak berperilaku seperti binatang” Hera berteriak dari dalam kamar mandi “jika kamu tidak menurut, tinggal dengan Sam! Kamu akan diberi bangkai tikus setiap hari”

Anjing itu kontan diam, ia duduk setengah. Kaki depannya turun sementara bokongnya naik. Ekornya bergerak gelisah.

Noah menggeleng—merinding. 

Ada yang tidak benar. Maksudnya, Roger. Nama anjing itu Roger. Dan bagaimana cara Roger agar tidak bersikap seperti binatang? Noah tidak berani melangkah, ia takut di gigit.

Lantas ia duduk di kursi meja bundar. Meletakkan tas dan jas lalu membuka kopi saset. Matanya tak lepas dari Roger, pun anjing itu ikut menatapnya. 

Hera hampir menyandung tubuh Roger ketika ia baru saja keluar dari kamar mandi dan anjing itu tak bergerak seinci pun. Matanya konsisten mengawasi Noah yang berdiri di ujung jendela dapur.

“Oh, kamu sudah pulang?” Hera tersenyum padanya. Wanita itu berjalan mendekat pada Noah, duduk di kursi—diikuti Roger. “Mama mengantarkan Roger pagi-pagi sekali, dia tampak stres setelah semalam saja ditinggalkan” pria itu menatapnya lalu mengangguk, namun Hera tetap melihat mata awas dan waspada.

“Roger, perkenalkan, itu Noah, dia ayahmu mulai hari ini. Panggil dia, Papi”

Noah Kaget. Lebih kaget daripada ketika Hera mengatakan pada anjingnya untuk tidak bersikap seperti binatang. 

“Sebentar saja, boy. Ini hanya sebentar” Hera mengusap kepala anjingnya, binatang itu lantas berbaring di lantai bersikap manja.

“Hasil tes darahmu keluar hari ini. Datanglah bersamaku, aku akan pergi lagi pukul 10” Noah lantas berjalan—ikut duduk di seberang—tersekat meja bundar, ia skeptis dengan kelunakan Roger yang seperti pura-pura.

“Kamu pergi lagi, Noah?”

“Hm” pria itu menjawab dengan bibir yang sibuk dijejal pinggiran mok.

“Tidak tidur?”

“Aku tidur di ruanganku, akan sangat repot jika harus pulang untuk terlelap hanya dua sampai tiga jam” lantas ia meletakkan gelasnya, menatap sang istri “ada sesuatu?” Hera menggeleng.

“Aku mengambil cuti pernikahan seminggu. Kupikir itu waktu yang cukup untuk memikirkan semua hal”

“Semua hal?” Noah mengangkat sebelah alis.

“Pernikahan ini” Hera menghela napas “kapan akan berakhir?”

Hening menggantung. Suara geraman Roger mendominasi. Noah menatap binatang itu lagi.

“Bisakah kita membicarakan itu nanti?” sang suami lantas membawa mok ke tempat cuci piring, mencucinya lalu pergi ke kamar setelah kembali membawa jas dan tas. Hera menatap punggungnya yang perlahan menghilang di balik pintu.

Atau memang seharusnya ia tidak langsung menyambar dengan pertanyaan itu ketika seseorang baru saja pulang kerja? Tiba-tiba ia merasa tidak enak.

Bukan bagian itu. Namun pagi-pagi sekali setelah ibunya mengantarkan Roger. Hera sempat berjalan-jalan sebentar, sebenarnya bukan untuk mengajak anjingnya bermain, melainkan mengecek isi rekening yang diberikan suaminya.

200 juta.

Hera menelan ludah.

Seumur hidup hanya memiliki tabungan kurang dari 20 juta rupiah, tidak pernah bertambah lebih dari 10 persen, malah berkurang. Lalu tiba-tiba diberi uang dengan nominal yang ia sendiri tak pernah memiliki. Hera menganga untuk beberapa saat di depan mesin ATM sebelum ibu-ibu mengetuk kaca agar lekas bergantian.

Mengapa pria itu terlalu percaya memberikan banyak uang pada orang asing? Maksudnya, istri pura-pura. Itu terlalu gegabah. Jadi, sepanjang pagi yang cerah (padahal mendung) Hera tersenyum dengan gigi berderet rapi hingga kering. Ia membelikan Roger makanan enak berkualitas tinggi, sarung tangan anjing, hingga kalung lucu meski anjing itu laki-laki.

Maka setelah itu, ia memikirkan untuk bercerai besok, lantas uang itu menjadi miliknya. Masalah selesai.

Namun Noah tidak berpikir seperti itu. Setidaknya, mana mungkin ada orang memberi cuma-cuma.

Tunggu…

Apa mereka akan berhubungan seksual?

Kenapa ini baru terpikir? Jika mendapatkan suatu hal, maka ia akan kehilangan hal lain. Itu mutlak.

Ah tidak, Noah si dokter kandungan itu jelas tak berselera padanya. Ia pasti melihat ribuan vagina dan miliknya pasti bukan tipe idealnya. Sudah jelas, Hera yakin. Noah melakukan ini agar ibunya juga berhenti mengancam mati. Uang 200 juta barangkali hanya angka kecil dibanding kebahagiaan ibunya.

────୨ৎ────

Hera membuka lembaran dalam map. Matanya bergerak lincah menyisir baris demi baris tiap angka yang tersusun. Dahinya sesekali mengernyit, saat kertas di turunkan, ia menatap wajah suaminya yang juga menatapnya.

“Bisakah kamu jelaskan saja? Aku tidak sebodoh itu, tapi aku hanya ingin ini semua dirangkum dalam satu diagnosa”

Noah mengusap ujung hidung sebelum meminta alih lembaran hasil darah. Matanya sama menyorot. Melihat dengan teliti dan seksama. Tidak lama, hanya beberapa saat sebelum ia kembali meletakkan kertas itu dan memasukkannya ke dalam map. “Aku sudah periksa semuanya dengan teliti. Hasilnya bagus, Hera. Semua hormon utama—FSH, LH, dan prolaktin—berada dalam rentang normal. Begitu juga kadar gula, fungsi tiroid, dan hormon lainnya. Tidak ada tanda-tanda kelainan yang perlu dikhawatirkan.”

Lantas menatap mata Istrinya, jauh menjelajah pada iris gelap wanita itu.

“Hanya ada satu hal kecil yang sedikit di bawah batas rata-rata,” ujarnya perlahan. “Kadar estrogennya sedikit lebih rendah. Tapi ini bukan sesuatu yang serius. Biasanya, kondisi ini muncul karena kelelahan, stres, atau perubahan berat badan. Tubuh kamu hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Dengan istirahat yang cukup dan pola hidup yang seimbang, semuanya bisa kembali normal.”

Hera menatapnya lekat-lekat. “Jadi, aku tidak mengidap PCOS, Noah? Eh, Dok?”

Pria itu melipat tangan didada “Tidak, Hera. Kamu tidak mengidap PCOS. Semua hasil menunjukkan keadaan yang normal. Hanya sedikit penurunan estrogen, dan itu bisa pulih tanpa pengobatan berat.”

Sebenarnya, tidak ada perubahan—maksudnya, apapun hasilnya, itu tidak berpengaruh apapun. Ia tak yakin setelah kesepakatannya dengan pria yang memaparkan hasil. Mereka tidak perlu berkembang biak, kan? Semua ini tidak begitu penting ketika statusnya hanya istri pura-pura.

“Tubuh kamu baik.  Kadang, tubuh cuma butuh didengarkan, beri dia waktu, beri dia istirahat.”

Senyum kecil merekah di wajah Hera. Ia mengangguk pelan lantas menjawab “itu berlaku untuk laki-laki juga, Noah, dengarkan tubuhmu, cuti sesekali dan jalan-jalan. Kamu pasti kelelahan. Sesekali nikmati kopi instan tanpa terburu-buru” wanita itu bangkit sambil memeluk map dalam dada “aku akan menunggumu pulang. Ayo minum kopi dengan damai sambil melihat bintang malam, itupun jika bisa” dan berlalu menghilang di balik pintu. Berganti dengan pasien lainnya yang sudah mengantre.

────୨ৎ────

Hera melupakan apa yang dikatakannya tadi siang. Tepat pukul sepuluh malam, setelah Roger terlelap dalam kandang dan ia sudah membersihkan diri, tubuhnya kini meringkuk bersama selimut yang membebat total.

Lain hal dengan Noah yang pulang terburu-buru. Ia menolak permintaan rekannya untuk menangani pasien keguguran dan harus melakukan kuret demi bisa minum kopi dengan damai sambil menatap bintang dengan istrinya di rumah.

Bukan, ini bukan soal menaruh perasaan pada wanita antah berantah yang baru sehari menjadi istrinya. Noah hanya dibebankan rasa bersalah setelah Hera melontarkan sarkasme saat ia melepass kancing gaun  kemarin.  Mungkin. 

Seharusnya tidak seperti itu, kan? Seharusnya ia libur meski hanya duduk dengan Hera sekedar bertanya berapa usia Roger atau berapa lama siklus menstruasinya tiap datang. Atau membicarakan perceraian. Noah menghela napas, mobilnya masuk ke parkiran dan ia segera naik lift.

Sebenarnya, ia tidak ingin bercerai. Atau belum. Yang penting wanita di rumah tidak mencecarnya setiap hari, tidak ada sindiran serta drama tiap ia datang  atau paling parah ancaman bunuh diri, wanita berwajah tua kesayangannya. Tidak masalah jika harus menghidupi Hera. Istrinya hanya cukup hidup dan ada. Maka semua akan berjalan, hidup tenang dan masing-masing. Noah paham keinginannya mustahil, maka dari itu, sangat banyak hal yang mesti dibahas. Peraturan, penuturan keinginan satu sama lain serta perjanjian ini dan itu. Tapi, belum apa-apa Hera sudah bertanya tentang perpisahan, sementara ia sibuk bekerja bahkan di hari pernikahan.

Saat memasuki rumah, semuanya sudah gelap. Noah tak melihat tanda-tanda kehidupan namun tau jika Hera ada di kamar setelah kamar wanita itu terkunci dari dalam.

Ia menghela napas. 

Apa terlalu malam? Melirik arloji, pukul sepuluh lewat enam belas. Tepat ketika Noah akan membuka pintu kamarnya, Hera keluar dari bilik—mengusap wajah bantal dan menguap.

“Oh? Sudah pulang? Jam berapa ini? Apa sudah pagi?” Hera celingukan, namun tak menemukan jam dinding.

“Jam 10 lewat sedikit” Noah masih berdiri menatap Hera. Mereka berpandangan dengan canggung.

“Ah, masih sore, mau kubuatkan kopi?”

“Aku pulang cepat untuk itu”

Hera mengangguk-angguk “tunggu sebentar, aku ingin buang air kecil”

Hera menguap lagi, cuaca dingin malam hari hasil terpaan angin tak lantas membuat berganti pakaian yang serba pendek. Duduknya di kursi nyaman–balkon yang menawarkan pemandangan langit langsung. Meski harus masuk ke kamar Noah dulu untuk menjamah tempat ini.

Pria itu pamit mandi, mengatakan akan bergabung beberapa saat lagi. Aroma kopi merupakan salah satu hal menarik setelah gugus bintang dan benda langit yang memadati angkasa. Hera menyesapnya pelan, lantas mendongak dan tersenyum. Hidupnya baik setelah rekeningnya terisi cukup untuk makannya sampai setahun. Cukup di garis bawahi hanya makan tidak membeli hal-hal lucu yang membuatnya miskin tanpa mengenyangkan.

Noah bergabung, rambutnya masih basah.

“Bagaimana hari ini?” tanyanya pertama kali. Hera menatapnya.

“Nyaris sempurna. Aku lebih banyak tertawa hari ini, lalu memarahi Roger yang buang air di lantai, lalu aku memesan makanan favoritku, itu menyenangkan”

Noah mengangguk ikut senang.

“Bagaimana denganmu, Noah?”

“Aku? Aku seperti biasa”

Hera ikut mengangguk meski tidak yakin dengan kata ‘seperti biasa’

“Hera”

“Ya?”

“Apa kamu memiliki kekasih? Atau seseorang yang kamu suka?”

“Tiba-tiba?”

“Hanya penasaran” pria itu berdehem “maksudku, dengar, mungkin ini akan membingungkan, tapi ibuku sangat terobsesi untuk memiliki menantu dan… cucu” pria itu menjeda “jika tak bisa aku kabulkan semua, setidaknya salah satu. Aku tidak akan meminta apapun padamu, aku juga jarang di rumah” Noah menatapnya lekat “maukah kamu bertahan sedikit lagi di rumah ini? Atau saat kita bertemu ibuku maka kamu bersikap selayaknya istriku yang sungguhan? Setidaknya sampai kamu menemukan pasanganmu sendiri. Aku sudah sakit kepala dengan semua rengekannya. Jika sudah menikah begini, bukannya tinggal di jalani saja? Maaf jika kata-kataku tak konsisten dengan perjanjian awal kita. Tapi aku akan meminta pertimbanganmu. Aku akan berada di garis, akan memberimu uang selayaknya suami istri. Kamu hanya perlu..” Noah menggantung sesaat “ada”

Hera menelan saliva.

Ini impiannya..

Terlepas dari rasa bencinya pada pernikahan, hubungan jangka panjang dengan aturan ketat serta bertemu dengan satu pria yang sama di pagi, siang, sore malam. Namun mengingat apa yang diberikan Noah, Hera begitu mudah mengubah perspektifnya tentang janji sakral ini.

Hera bahkan sedang memikirkan untuk berhenti bekerja dan mulai menjadi pengangguran yang makan tidur sambil menunggu suami pura-puranya pulang. Lalu mereka berpelukan formal sebelum berpisah di kamar masing-masing.

Oh, betapa tuhan menjawab doa-doanya. Mata wanita itu berbinar, memikirkannya saja sudah membahagiakan.

“Aku mau!” katanya girang. Sebenarnya, ia sudah ingin berhenti bekerja dan mulai memikirkan untuk membuka jasa pacar pura-pura. Tentu saja itu omong kosong.

“Wah, tak kusangka secepat itu” Noah menyesap kopi sambil terkekeh “aku masih mengingat tiap detail kata-katamu di ruang konsultasi saat pertama datang, kamu begitu.. skeptis”

Hera ikut tertawa.

“Manusia dinamis, aku fleksibel”

Noah mengangguk, senyumnya ringan meski tak penuh “Bagaimana jika kita membahas garis?”

“Aku mulai memikirkan garis” Hera meletakkan mok ke atas tatakan “tunggu, apa yang diinginkan, maksudku, benefit lain dari memberi uang dan tempat tinggal untukku dan anakku. Apa kamu butuh seksual juga?”

Pertanyaan Hera membuat Noah tersedak ludahnya sendiri. Hera menepuk punggungnya pelan–berharap bisa meredakan batuk.

“Aku tidak memikirkan itu” nadanya terdengar melankolis.

“Apa kamu gay? Kamu bisa jujur padaku, aku istrimu, aku pintar menjaga rahasia”

Noah menggeleng “aku pria normal dan sehat” ia tersenyum sedikit. Dimata Hera, Noah seperti perjaka yang pemalu namun misterius sekaligus, mungkin saja karena pendiam. Pula ia yang beberapa kali memanggil ibunya dengan sebutan nama saja, Noah bilang, itu kebiasaan ketika mereka di Swedia dulu, saat ia berkuliah

Dan semua jawaban itu malah makin membuat Hera merasa aneh “baik, pria dewasa yang normal dan sehat memiliki istri pura-pura dan tidak tertarik secara seksual, aku suka kejujuran, kita akan bahas ini sampai mendetail”

“Apa kamu ingin berhubungan seksual denganku?” pertanyaan Noah tiba-tiba membuat Hera berjengit. Lalu batuk.

“Aku… jujur saja, aku tidak siap”

“Baiklah, lalu, apa masalahnya?”

“Aku membicarakan hari-hari yang akan datang”

“Jika hari-hari yang akan datang berkemungkinan, kupastikan di antara kita tidak ada yang di rugikan”

Hera mengangguk-angguk. Mereka mengobrol banyak. Noah merealisasi daftar niat untuk mempertanyakan semua hal hingga titik paling remeh seperti jam berapa Roger bangun dan kapan anjing itu ke dokter hewan.

Ternyata, Hera memiliki pribadi yang terbuka dan menyenangkan, berbincang dengannya membuat Noah merasa lebih rileks, seperti teman.

────୨ৎ────

Satu minggu berlalu setelah obrolan mereka di balkon bersama dua cangkir kopi saset ditemani angin besar dan bintang-bintang di langit. Noah menjadi lebih sering meluangkan waktu pulang, mengganti minuman mereka dengan kopi organik dan membeli beberapa jenis teh hijau.

Makin akrab. Mungkin, suara gonggongan Roger kerap membuatnya merasa ‘hidup’ atau ketika mendapati anjing itu buang air disembarang tempat. Hera sangat bertanggung jawab, namun ia masih terus beradaptasi—dengan riwayat tak pernah memelihara entitas apapun seumur hidup di apartemen ini.

Hera menyenangkan. Jika mengobrol, ia tidak memotong pembicaraan dan menjadi pendengar yang baik serta mudah tertawa. Seperti selera humornya terlalu receh, memukul saat terbahak-bahak, mudah jatuh dan—mungkin saja bisa bahasa anjing.

Seperti malam ini.

Ia keluar menggunakan gaun cantik serba panjang. Meski begitu, ia tak pernah melepas kalung rohani yang melingkar—meski tak kontras dengan pakaiannya malam ini. 

Entah, hampir 10 hari menikah, Noah tidak tahu apakah wanita itu pergi ke gereja sebagai jemaat yang taat atau tidak, yang ia tahu, Hera hanya berpamitan kerja. Cutinya berakhir.

Kamu terlihat sangat cantik

Noah tersenyum membukakan pintu seperti suami baik yang mencintai istrinya. Yang terpenting, tidak ada Roger, mungkin saja anjing itu di rantai dalam kandang, ia tidak akan bertanya.

“Apa yang paling disukai ibumu?” Hera menatap suaminya dari samping.

“Menantu perempuan yang cantik”

Hera berdehem, sebenarnya, ia tidak tahu apakah itu pujian atau sarkas. Lantas ia membuka kamera ponsel, memastikan tidak ada keanehan di wajahnya, meski itu sudah dilakukan 1000 kali sejak satu jam yang lalu.

“Jangan terlalu terbebani, aku bahkan bisa memutar balik jika kamu tidak siap. Mare sangat menyukaimu, pasti.”

“Ada jaminan untuk itu? Aku gugup, oh! Padahal ini hanya pura-pura”

“Pura-pura? Tampaknya ada yang mesti diluruskan setelah obrolan panjang kita”

“Aku mengerti, Noah” Hera memasukkan ponsel dalam tas “apa kita akan mesra? Maksudku, di depan ibumu? Siapa saja tahu ini perjodohan, aku pikir akan natural saat kita bertingkah seperti apa adanya”

“Aku tidak memikirkan itu, apa itu mengusikmu?”

“Tidak terlalu, ya.. Mungkin, ya.. Aku memikirkan ini”

“Mau berciuman denganku di meja makan?”

Hera tersedak ludahnya sendiri.

Makan malam ini tidak lebih dari acara anecdot. Hera nyaris mencatat semua apa yang dikatakan ibu mertuanya tentang Noah. Semuanya, sejak pria itu dalam kandungan hingga sebesar ini, hampir saja ia menulis ulang menjadi biografi.

Noah kecil yang cerdas

Noah kecil yang gemar membantu kucing liar melahirkan

Noah kecil yang berempati tinggi

Noah kecil yang pernah membantu proses melahirkan sapi milik tetangga jauh.

Hera banyak menyimpulkan. Meski isi kepalanya lebih busuk dari apapun. Apakah pria itu terobsesi dengan melahirkan? Maksudnya, Hera bergidik. Atau cara penyampaian ibu mertuanya yang aneh? Di matanya, kini, Noah memiliki fetish terhadap hamil dan melahirkan. Itu terlalu jauh, maka Hera meneguk air dingin.

“Hera, mama banyak mendengar ceritamu dari mamamu” wanita  itu menjeda, melihat Hera dengan tatap paling teduh.

Cerita dari mama?

Sepanjang hidupnya, Hera hanya mengeluh, meminta keadilan atas pembagian harta warisan mendiang kakek ketika ibunya adalah anak tunggal. Ia hanya meminta sedikit untuk modal hidup mandiri, tapi ibunya bereaksi seperti ia akan pergi membentuk sekte baru dan menghasut masyarakat untuk melakukan penyerangan terhadap tuhan. 

Atau akhir-akhir ini, saat ia lebih sering mandi air yang sudah disucikan dengan dalih tertempel roh jahat; karena tidak mau menikah dan tidak pernah berpacaran seumur hidup. Ia mengutuk semua orang. 

Lantas, cerita macam apa yang dipaparkan ibunya pada mertuanya ini?

“Mamamu bilang, kamu anak yang penurut”

Itu kebohongan paling fatal.

“Dan manis, kamu sangat menyukai hal-hal yang berseberangan dengan kultur, kamu cerdas dan kritis”

Baiklah, Hera mengkategorikan itu sebagai pembangkangan yang di haluskan.

“Mama berlebihan, ma, sebenarnya aku.. Agak… menyebalkan” Hera tersenyum malu-malu.

“Semua orang memiliki sisi menyebalkan” sang mertua menanggapi lagi.

Jadi, Hera yakin, ia adalah menantu tunggal yang akan terus menjadi terbaik di mata mertuanya. Tidak peduli sifat aslinya mirip roh jahat. Seandainya saja hubungan ini tetap tertutup kabut tebal, tersekat tembok cina dan kamuflase. 

Hera menatap Noah yang sibuk mengunyah, pria itu tidak mengatakan apa-apa sejak tadi. 

Noah.. cepat atau lambat, pria itu lah yang akan tau sifat aslinya. 

Sebenarnya Hera juga merasa dirinya baik dan manis, penurut serta… mungkin kata ‘baik’ melingkup semua hal. Ya, benar, ia adalah wanita baik asal memiliki uang dan tidak ada lagi notifikasi pay letter.

Semua makanan di bereskan, namun bertiga tak enyah darisana. Ibu Noah pergi ke belakang entah mengambil apa, wanita itu mengatakan tentang manisan yang dibuat tadi sore—jika Hera tak salah dengar.

Ia duduk canggung dengan suaminya.

Hera sesekali mencuri pandang.

Tidak, beberapa kali.

“Apa kamu mau?” Noah mengangkat satu alis

“Hum?”

“Sekarang?”

“Apa?”

“Berciuman?”

Apakah ini perlu? Sebenarnya, tidak ada konteks untuk mereka melakukan itu, tapi, tidak ada salahnya mencoba. 

Noah menatapnya naik turun, dari mata turun ke bibir.

Mereka berpandangan lama, seperti memikirkan bagaimana setelah berciuman atau apa.. Tidak tahu, ibunya datang.

“Manisan, mangga.. ini favorit mama” wanita itu duduk dekat menantunya “Hera, makanan favorit kamu apa? Mama sempat bertanya pada mamamu, dan dia bilang, kamu suka apa saja kecuali racun, aku tidak percaya dia mengatakan itu pada anak manis sepertimu”

Ibunya jujur kali ini.

“Ya benar, aku menyukai apa saja” 

────୨ৎ────

Tidak ada ciuman setelah makan malam. Hera mengantuk saat perjalanan sementara Noah melamun, sesekali menatap ke samping—melihat istrinya terlelap.

Perjalanan satu jam, saat mobil terparkir, ia membangunkan istrinya.

Di guncangkah?

Noah menepuk pundak istrinya pelan, memanggil nama wanita itu.

Hera membuka mata. Skleranya merah—khas bangun tidur. Ia melamun—menatap Noah persis kebingungan.

Agak lama.

“Sudah sampai”

“Hum?”

“Masuk dan tidur di ranjang”

Tak ada jawaban, wanita itu nyaris memejamkan mata lagi. Noah mendekat, lalu mencium bibir gadis itu sekilas. 

Seharusnya ia mencium Hera lebih cepat.

Menyentuhnya.. 

Dan melakukan hal yang semestinya.

Sejak di meja makan setelah ia memperhatikan bentuk bibir, naik ke mata. Kalung rohani terpantul cahaya lampu mobil lainnya dari arah berlawanan—silau, Noah mencium lagi.

Hera membeku.

Hera melewati Roger yang terlelap di pojok kamar — berjalan cepat dengan langkah terburu-buru.

Ada yang tidak beres.

Tidak, ada apa dengan pria itu? Mengapa menciumnya?

Ia gugup setengah mati hingga menabrak sudut dinding, ujung ibu jarinya panas luar biasa. Sakit sekali.

Begitu masuk, Hera berguling ke sana ke mari merasakan kakinya yang berdenyut-denyut. Lantas, pintu yang belum sepenuhnya terkunci, di buka sedikit. Kepala Noah menyembul

“Aku mendengar suara kesakitan” katanya, pria itu tidak sopan, kan?

“Aku baik-baik saja” Hera duduk, tersenyum dan sangat canggung.

Seperti itu malam berakhir. Ciuman kedua setelah pengesahan di depan pendeta. Kenapa lebih hangat dari pergantian musim dingin?

────୨ৎ────

Setiap hari seperti kembali pada era awal pubertas.

Hera tidak yakin, tapi perilaku Noah benar-benar berubah sejak makan malam—tepatnya sejak ciuman kedua mereka. Dan sekarang bukan lagi ciuman kedua ketiga. Hera juga tidak yakin kapan benar-benar di mulai. 

Pria itu mulai menciuminya setiap akan pergi bekerja, selepas pulang kerja dan jika mereka berada di dapur bersamaan. Atau ketika tengah malam sambil menatap bintang.

Tak ada obrolan spesifik tentang bagaimana perasaan masing-masing. Tak ada pengutaraan tentang mengapa kita berciuman jika ada kesempatan? Atau kembali membicarakan perjanjian mereka sebelum ini.

Semua berjalan begitu saja seperti air mengalir.

Hanya ciuman.

Hanya ciuman.

Naoh sesekali masuk ke kamarnya. Pukul 2 dini hari atau pagi buta, pria itu selalu datang selepas mandi, mengingat rambutnya yang basah serta handuk yang masih melilit di pinggang. Tidak jarang Roger memergoki dan menggonggong, lantas, dengan percaya diri, ia akan meletakkan telunjuk di antara bibirnya dan mengatakan “shuutt.. Papi tidak akan mencuri mami, ini wajar bagi suami istri, Roger, kamu anak yang keren dan dewasa, kan? Kamu harusnya mengerti” serius, Noah mengatakan itu pada Roger. Dan entah bagaimana anjing itu kembali duduk dan tertidur, sementara Noah mulai mencium Hera, mendusal dan menindih meski tak pernah melewati garis. Pria itu menggerayangi tanpa membuka handuk, itu ajaib.

Hubungan seksual tersekat garis tak kasat mata.

Hera melompat dari tempat tidurnya, kepala Roger berputar melihat ibunya yang berjingkrak kesenangan. Wanita itu membuka pakaiannya, melucutinya perlahan sebelum membalutnya dengan handuk dan menghilang di balik pintu. Mandi. 

Noah akan mencumbui, akan menjilati tengkuk belakang, mencium punggung lalu membuat tanda cinta di leher. Selalu, itu bagian favoritnya, bagian yang di tunggu-tunggu Hera sebulan terakhir ketika Noah rutin melakukannya dan mungkin saja favorit Noah juga. Hera mengaplikasikan banyak pembersih, scrub, body oil dan entah apa lagi. Tubuhnya seperti di amplas dengan wewangian dan pasir kasar.

“Ini terlalu wangi, Roger. Aku merapel mandiku selama seminggu” masih membalurkan krim dan lotion, lalu parfum. Ruangan itu seperti taman bunga yang berkombinasi dengan kuburan baru. Semerbak. Roger menatapnya sambil menumpangkan kepala di lengan, meringuk.

“Kamu tau, aku menunggu suamiku melewati garis” Hera menatap anjingnya yang terlihat malas “aku ingin sekali melihatnya melepas handuk lalu menerjangku dan… kamu terlalu bayi untuk mendengarkan ibumu yang menjijikan ini. Aku perawan yang berpengalaman. Tontonanku adalah edukasi seksual”

Roger menutup mata. Tampaknya dia harus cepat-cepat meninggalkan kesadaran demi kesehatan mentalnya. Hera mulai memikirkan untuk memindahkan Roger ke dapur.

Dan ponselnya kembali berdenting. Ada gambar Noah di bar atas. 

Hera melempar ponsel, lalu berteriak mirip serigala. 

Roger kaget, tapi hanya sebentar, tidak heran. Dan… wanita itu menangis sambil mengubur diri dalam selimut.

Setidaknya tertidur dalam kondisi paling wangi. Hera tidak pernah semaksimal ini dan sekecewa ini terhadap pembatalan.

────୨ৎ────

Pukul sebelas siang.

Hera tidak mengantri karena Noah mengirim pesan tepat saat ia memutuskan untuk mengosongkan waktu hingga selesai makan siang. Maka, wanita itu datang lima belas menit dari rumah dan tepat pukul sebelas siang lewat tiga menit, eksistensinya berada dalam ruangan sang suami. 

Pintu di kunci, gorden di tutup. Ia meminta pada asistennya untuk tidak diganggu sampai jam makan siang selesai.

Pemeriksaan rutin. Noah bilang, hanya evaluasi hormon. Namun, ia sudah mengalami menstruasi bulan lalu dan bulan ini karena pil yang diberikan suaminya itu. Noah juga mengajarkan pola hidup sehat serta apa-apa saja hal-hal yang harus dilakukan untuk merangsang sel telur. Diantaranya dengan tidak stres dan tentu saja gaya hidup. Dalam rentang dua bulan, Hera mengalami menstruasi normal.

“Apa kamu marah?” tanya pria itu lembut, Noah melepas jas, mendekat pada istrinya—ikut duduk di sofa. Hera bergeming namun menggeleng “nggak” katanya pelan, namun wajahnya menginterpretasikan sebaliknya.

“Aku minta maaf. Semalam, ada pendarahan hebat. Hingga… nyaris saja” suaranya terdengar lega sekaligus gelisah.

“Aku tidak apa-apa. Lagi pula sudah mengantuk, kamu mengirim pesan saat aku nyaris saja terlelap, aku bahkan membukanya sambil meregangkan kelopak mataku susah payah” sergahan dusta, gadis itu tersenyum meski tak sampai mata.

Noah mengangguk-angguk, lantas merangkul pundak sang istri. 

“Aku rindu” bisiknya pelan, sepelan sapuan napas di belakang telinga–membuat geli, pria itu beraroma antiseptik dan obat, meski tak menyengat. Parfumnya tertinggal, mendominasi. 

Hera tak menjawab.

Noah menyusuri garis rahang, membuat Hera mau tidak mau melihat pada dua matanya yang tajam.

“Pemeriksaan apa kali ini? Apa aku akan minum pil seumur hidup hanya agar menstruasi?”

Si pria tak mengubah posisi, tak bergerak, tapi sebelah alisnya terangkat “kamu harus hidup bahagia, jangan stress, jangan begadang. Obat-obatan itu membantu setengah, dan setengahnya tergantung gaya hidupmu”

Hera tak menjawab. Pria itu sangat perhatian seperti biasa, melebihi siapapun bahkan ibunya. Setiap pagi jika ada di rumah dan terbangun lebih dulu, Noah selalu saja masuk dalam kamar dan membawakan kopi dan sepotong roti. Itu sangat manis. Seperti gambaran pria dalam mimpi gadis perawan, disokong Hera yang tidak pernah mendapat perlakuan semacam itu, kecuali saat ia sekarat, ibunya baru akan datang menjamunya dengan ini dan itu, berusara ramah. Dan Noah memberikan setiap hari tanpa harus menunggunya sakit. Itu luar biasa hingga mendebarkan.

Ya, mari lupakan.

Lupakan perjanjian konyol tentang pernikahan pura-pura atau sialan apapun. 

Ini adalah hal lumrah bagi suami istri.

Lumrah. Mendekati wajib.

Noah menciumnya. Lidahnya merangsek dan mengacak-acak rongga mulut, dua tangannya memegang rahang dan pelan-pelan turun meremas payudara lembut. 

Hera ikut  meremas genggaman di atas paha. Tidak tahu jika desah dan suara aneh dari mulutnya keluar begitu saja tak terkendali.

Mirip hipnotis, pria itu dengan awal kelemahlembutan serta gerak lambat dan natural—berhasil melucuti atasan Hera hingga menyisakan bra. Tubuhnya merebah di punggung sofa. Pria itu menginvasi penuh.

“Aku merindukanmu, Hera, benar-benar rindu.. Aku terlelap dua jam dan kamu ada disana. Dalam mimpiku” Noah turun dari sofa, berjongkok di bawah lalu membuka celana istrinya hati-hati. Hera yang sudah bertelanjang dada hanya menggigit bibir bawahnya memperhatikan apa yang dikerjakan Noah.

Setelah jeans panjang dilempar sembarangan, lalu celana dalam di hempas asal, Noah menatap bagian itu, jakunnya naik turun dengan tatapan lurus, sesekali bertabrakan dengan Irish istrinya yang sayu.

“Aku agak ragu untuk menunjukkan yang itu. Kamu tahu, kamu melihat berbagai bentuk dan kupikir milikku tak sein—” belum sempat Hera menyelesaikan kalimatnya, Noah lebih dulu bergerak, menyasar selangkangan.

“Ahhh… maksudku, sebentar, akh!” kepalanya berada di antara dua paha, tidak, tapi tenggelam. Ujung lidah Noah menekan-nekan pintu liang disana hingga alat pengecap itu masuk seujung. Ditusuk-tusuk, dilengkungkan lalu keluar menjilat klitoris naik turun, berulang-ulang. Bola mata Hera berputar ke belakang.

Ia merasa gelenyar menyenangkan. Tubuhnya melengkung dengan desah paling merdu.

“Kamu menyukainya?” suara pria itu terdengar di antara rintihan Hera. Napasnya masih membelai vagina yang lembab “jika aku menjilat milikmu seperti ini, apa kamu akan berhenti menekuk wajahmu dan memaafkan aku yang tidak datang semalam?”

Pupil Hera melebar “N-Noah, aku sungguh tidak marahhhhh–” mendesah lagi, pria itu turun lagi. Lalu Noah menghilang—tak menggubris, ia sibuk menjilat vagina. Dada besar mengembang dan mengempis. Hera akan melayang tatkala ujung lidah suaminya lagi-lagi menerobos masuk dan bibir atasnya menggesek kelentit. Kemaluan sepenuhnya lenyap dalam kuluman.

“Apa ovulasi mu masih saja jarang-jarang, sweetheart? Aku harus memeriksanya”

Lenguhan mengudara, telinga Hera terasa panas. Dan akhirnya, tidak banyak yang dilakukan di bawah kendali nafsu kecuali berpasrah. Pinggulnya menghentak-hentak kencang  tanpa disadari, membawa gerak yang paling diinginkan sementara Noah meliuk-liukkan lidahnya seperti ular, menekan titik sensitif di dalam liang dan pucuk vagina secara bersamaan.

“Oh—oh, astaga! Sebentar, aku—hnggghhh” sedetik kemudian, tubuh Hera menjadi kaku, matanya membelalak lebar dengan mulut menganga, melepas desahan lantang tanpa rasa malu, bersamaan dengan semburan cairan pada lubangnya. Suara menyeruput terdengar di antara lenguhan. Noah mengambil cup kecil entah darimana, untuk menampung cairan yang keluar.

“Kamu sangat manis, manis sekali” pria itu memundurkan wajahnya untuk melihat sang istri. Bibir dan dagunya basah.

“Apa kamu meminum air seni? Apa aku kencing?” Hera membelalak  tidak percaya, namun sofa basah hingga menetes ke lantai membuatnya heran. Ini pengalaman pertama dan wanita itu kebingungan. Bukan, ia pernah melihat adegan ini—maksudnya tidak ada dalam bagian dimana wanita buang air kecil dan.. Yah, itu menjijikan.

Noah tertawa, ia kembali duduk setelah meletakkan cup itu dalam laci  dan mengecup kepala istrinya. Pelan-pelan, satu persatu pakaiannya dilucuti hingga lagi-lagi membuat Hera kaget.

Penis.

Penis asli, bukan dua dimensi seperti Hentai atau video porno. Ini asli, wanita itu meneguk ludah susah payah. Matanya tak enyah, tidak lagi berpikir jika Noah mendapatinya menatap panjang itu seperti melihat piring raksasa yang terbang di langit.

“Mau memegang? Apa kamu benar-benar tidak pernah melihat? Wajah kebingunganmu lucu” Noah mengusap wajah, satu tangannya mengocok batang itu lembut. 

Hera menggelengkan kepala sembari membuang pandangan. 

Ini memalukan.

Tidak, sejak awal memang ia tak menduga akan dicabuli di ruang praktik. Ia bahkan hanya mandi tadi malam. Tidak ada persiapan matang, ini memalukan. Dan… fakta mengejutkan lain; Noah meneguk air seni. Pria itu berhutang penjelasan.

Noah mendekat, lalu mengangkat Hera dalam gendongan dan memindahkannya—merebah pada brankar pasien. Pria itu berdiri di ujung ranjang, membuka dua paha istrinya lebar. Satu tangan mengusap tumit Hera, mengelusnya pelan seperti orang menenangkan. 

“Apapun yang terjadi, percayalah, semua akan baik-baik saja” 

Noah mengatakannya pelan sementara Hera tak benar-benar mengerti. Apa itu kalimat penenang untuk aksinya yang akan datang? Hera tidak butuh, ia hanya ingin—tidak kesakitan. Rumor tentang seks pertama yang menyakitkan benar-benar momok dan oh! Benar, Noah menangkan untuk bagian yang itu. Benar sekali, Hera yakin.

“Aku akan mengisimu” keempat jarinya menekan perut bawah Hera “di sini”

Hera menarik napas dalam, menghembuskannya pelan. Ia menatap langit-langit ruangan itu, semua tampak sama, putih. Sebelum Noah meminta untuk menatap matanya.

Pria itu memposisikan ujung penisnya tepat di depan pintu kewanitaan. Perlahan, benda tumpul itu meregangkan lubang, inci demi inci, di temani jerit pelan.

“Relax.. Sweetheart.. Semua akan baik-baik saja” itu kata pengantar yang klise. Entah dimana, tapi Hera bersumpah seperti sering mendengarnya. Oh! Ia harus berhenti menonton video porno yang tak menolongnya sama sekali, bahkan ketika benda tumpul di bawahnya seakan di tancapkan untuk menarik nyawanya.

“AAGGGHH!! Hnnggh… hfff.. Sakit.. Sakit sekali.. Hahh… berhenti…”

Noah mengangkat alis, lantas menggeleng, ia melihat bagaimana lubang itu merekah paksa dan setetes darah jatuh membasahi sprei. Noah tersenyum puas. Lalu semakin memajukan pinggulnya.

Rasa sakit dari selangkangan menguar ke seluruh tubuh, membuat tulang-tulang seakan linu. Seluruh organ rasanya terhimpit. Hera terhentak. Dan Noah berhasil membenamkan seluruh penisnya bersama jeritan  keras sekali, ke udara, ke langit-langit ruang praktek dokter–suaminya, memekakkan telinga, namun indah.

Jeritan itu menjelma menjadi lolongan putus-putus ketika Noah menggoyangkan pinggulnya setelah memberikan kesempatan untuk membiasakan diri setengah menit. Tidak, itu tidak cukup.

Batangnya seperti diremas di dalam sana.

“Aku akan membuahimu.. Saat sel telur banyak dan pembuahan akan terjadi sempurna, aku mencintaimu” Noah berbisik, Hera tak sepenuhnya mendengarkan, rasa sakit membuatnya tak fokus pada apapun.

“Ini.. Ah! Ini.. sakit! Berhenti dulu”

“Kita bisa istirahat ketika aku selesai” pria itu mencengkeram dua kaki istrinya, menghentak keras. 

Saat melihat wajah Hera merah dan tangisnya pecah, pria itu mencoba bermurah hati dengan mengurangi tempo. Memelan, meski tak berhenti.

“Sak–it…. Hahhh.. Noah..” sakit sekali, diam sakit, bernapas pun tetap sakit, berserah diri apalagi. Hera tidak tahu harus apa untuk menghentikan rasa sakit itu.

Noah naik pelan-pelan ke atas brankar tanpa mencabut penisnya, pria itu menindih, mencium bibir Hera seakan dapat membantu mengurangi rasa sakit meski mustahil.

Lagi, perlahan tubuh dalam kukungan bergerak lagi. Kejantanan itu merangsek keluar masuk mengorek bagian dalam. Hera lagi-lagi menjerit, mencakar, memaki, namun tidak ada dari semua itu bisa menggubris Noah.

Berbanding balik dengan harapan untuk berhenti, Noah justru makin bersemangat setelah mendapat reaksi agresif dari istrinya. Pria itu tak mengatakan apa-apa. Satu-satunya yang ia lakukan adalah menghentakkan pinggulnya hingga keseluruhan penisnya lenyap di balik lubang. Lagi, jeritan mengudara. Brankar berdecit, monitor USG serta tiang infus  menjadi saksi bisu bagaimana Hera membelalak hampir menjulurkan lidah kemudian terisak sambil mengeluarkan berbagai kata-kata kasar

“Hahh! D-dalam! Terlalu dalam N-Noah, ini terlalu dalam–ahh!!”

Jemari kaki seakan mengeriting, sementara Hera mencengkram lengannya. Noah membenamkan kepalanya pada ceruk leher, napasnya menggelitik–sedikit demi sedikit merenggut kewarasan. Membiarkan tubuhnya terantuk-antuk di atas penisnya—mengikuti irama.

Berulang-ulang, terus menerus.

Dada istrinya naik turun, ujungnya membengkak besar.

Hera tidak tahu berapa lama kubangan neraka itu berlangsung, tiap Noah menggerakkan pinggul, rasanya seperti satu tulangnya copot. Berkali-kali Noah mengatakan untuk tidak tegang agar vaginanya rileks, berkali-kali juga Hera tak menggubris.

Suara detik jarum jam yang monoton, lenguhan napas berat, peluh yang membanjiri pelipis, semua hal kontras menyebalkan dan sakit. Atau jika ada metode lain meski Hera tidak tahu, apakah berhubungan seksual memang sakit seperti ini? Mengapa banyak sekali pelaku zina? Noah adalah dokter obgyn, ia pikir pria itu lebih paham banyak hal, atau memang ia menggagahi, untuk mengobati? Itu lebih terdengar seperti manusia dengan SDM rendah.

Di saat bersamaan dengan lenguhan panjang, Noah menggeram, kepalanya penuh oleh bintang-bintang ketika spermanya membuncah keluar, mengisi rahim hingga sebagian meluber keluar, menyatu dengan cairan milik Hera.

Akhirnya, ketika tenggorokan wanita itu sudah tidak bisa lagi mengeluarkan jeritan sama sekali, sambil mengatur napas, Noah mencabut penisnya selembut mungkin, ia mengecup Hera dan mengatakan betapa ia mencintai dan meminta maaf. 

“Aku benar-benar mencintaimu, sejak kamu datang ke ruangan ini pertama kali”

Itu juga hal baru, Hera tak terlalu menyimak, namun ia meringis dan Noah membawanya ke dalam pelukan. Mengatakan banyak hal tentang perasaannya yang Hera sendiri tak yakin.

────୨ৎ────

Noah mengantar pulang setelah menyuapi makan siang. Pria itu menjadi lebih baik dan perhatian lagi, berkali-kali lipat dari sebelumnya. Bahkan memperlakukan Hera seperti porselen paling berharga—akan rusak jika digenggam terlalu erat—tak sesuai dengan kelakuannya ketika bercinta.

Roger ada di kandang, setelah sarapan, anjing itu kembali di kurung. Hera seharusnya membawanya jalan-jalan di hari libur seperti ini, namun, yang dilakukan sepulang dari rumah sakit adalah merebah. Seluruh tubuhnya seakan remuk.

Noah sudah kembali ke rumah sakit, tepat pukul 14:29.

Dan Hera terlelap setelah menelan obat yang diberikan Noah. pria itu mengatakan tentang antiinflamasi dan penyubur kandungan. Hera juga tak menyimak dengan teliti, pria itu lebih tau, maka, ia akan menelan meski Noah memberikan obat maag.

────୨ৎ────

3 minggu kemudian

Roger bertambah besar, namun tak sebesar rasa cintanya pada Noah, semakin hari semakin membesar. Hubungannya dengan ibu mertua juga semakin baik dan akrab. Ibu Noah datang beberapa kali—menyapa dengan formal namun hangat. Wanita itu bertambah cantik dari hari ke hari. Kerutan di wajahnya seakan memudar dan seluruh kulitnya kembali kencang. Hera akan bertanya jenis perawatan apa yang dilakukan ibu mertuanya hingga kembali terlihat mirip seusianya. Ini berlebihan tapi Hera tak berbohong.

Dan pandangannya terhadap hubungan seksual yang sakit—berputar penuh. Mungkin menyisakan sedikit celah di waktu-waktu tertentu. Noah pria yang hebat. Ini akan terdengar menjijikan namun ia suka bagaimana pria itu menggagahinya di ranjang.

Kabar baiknya, mereka tidur dalam kamar yang sama.

Pantas banyak orang berzina

Oke, itu mengubah pikirannya yang absurd. Kini, tiap ada kesempatan, Noah akan pulang dan mereka bercinta setidaknya mengulang hingga 3 kali. Itu melelahkan, namun menyenangkan.

Sudah dua jam di luar. Berjalan-jalan dengan Roger seperti gambaran wanita yang hidup kaya raya. Hanya bersenang-senang dan bermain dengan anjing sambil menunggu suami pulang.

Seandainya sejak dulu begini, ini adalah kehidupan impiannya.

Benar, Hera berhenti bekerja dan fokus pada kehidupannya sekarang.

Pukul 16:54

Ia membawa Roger pulang ketika hujan lebat mengguyur. Kepulan asap hitam di langit pecah dan intensitas curah yang besar-besar membuat keduanya basah kuyup sebelum sampai rumah.

Besar sekali.

Hera mengeringkan anjing itu lebih dulu saat sampai. Mengurung Roger dalam kandang setelah diberi makan dan nyaman, baru ia melenggang ke kamar mandi. Malam ini, Noah bilang akan pulang terlambat, jadi setelah berbenah, rencananya Hera hanya akan menyalakan film dan merebah hingga tertidur dan di bangunkan suaminya ketika pria itu datang.

Pagi ini, ibunya menelepon 2 kali. Bertanya hal yang sama dalam rentang singkat dan sering.

Apa kamu sudah hamil?

Beruntung ibu mertuanya tak bertanya transparan meski Hera tahu sangat mungkin—Noah juga di cecar siang dan malam—sepertinya, entahlah. Jujur saja, itu tak membebani Hera. ia benar-benar tak peduli selagi mereka—yang bertanya tidak menyembulkan kepala di pintu kamarnya dan melontarkan pertanyaan repetitif secara rutin, itu pasti akan membuatnya stres.

Film pembunuhan di musim hujan ditemani secangkir coklat panas adalah terbaik. Maka, Hera duduk dengan tubuh yang hanya berbalut handuk, satu tangannya sibuk menenteng mok sementara tangan satu lagi memegang remot. Kepalanya tertutup oleh handuk juga.

Kamar Noah. 

Lebih lebar satu meter dari kamarnya. Seluruh perlengkapan hingga warna sprei seperti mengikuti kepribadian si pria; hitam. Entahlah, Hera menginterpretasikan warna itu sebagai pria yang dingin dan keren. Atau bisa saja kejam dan kegelapan untuk versi fiksi. 

Ia bangkit, menjeda film, meletakkan remot dan mok lalu membuka handuk di kepala untuk mengeringkan rambut. 

Selama ini, Hera hanya mengeringkan rambut di kamarnya, malam ini, biarkan ia menggunakan pengering berwarna hitam yang tersimpan di laci nomor dua. Noah bilang disana, pengeringnya.

Pengering, alat pencukur, catokan, roll rambut, jepit rambut, bando. Semuanya berkumpul jadi satu dan warnanya gelap. Pria itu pasti sangat mencintai warna hitam dan bando itu — jika saja memiliki warna lain, pasti sangat lucu. Noah maskulin, Hera mengedikkan bahu. Pria itu harus membeli satu yang merah muda—untuknya.

Menarik pengering, Hera kembali menarik laci pertama, ketiga dan terakhir.

Tidak ada apa-apa selain laci ke empat. 

Bingkai foto yang diletakkan terbalik bersama salib terbalik dengan lingkaran di tengah. Benda itu berada di atas bingkai.

Mata Hera disipitkan untuk melihat jelas potret hitam putih yang usang.

Satu pria di tengah. Itu wajah Noah, jelas. Dan, 1, 2, 3, 4, …19 wanita di sekitarnya berdiri sejajar tanpa ekspresi. Termasuk wajah ibu mertuanya. Tapi… terlihat jauh lebih muda. Seperti gadis seusianya. Seperti sekarang.

Benar, benar, itu ibu mertuanya.

Apakah ini ayah Noah? Mereka seperti mahasiswa tempo dulu, atau semacam akan melakukan kegiatan–entahlah, sementara pakaian mereka hanya gaun sederhana–serempak dengan pola dan jenis yang sama.

Tulisan tahun di bagian bawah bingkai foto yang hampir pudar membuat Hera lagi-lagi menyipitkan mata untuk memastikan. Tapi hatinya mendadak tidak nyaman. Ada yang tidak biasa.

Di bagian bawah hampir tak terbaca, tertulis angka yang tak masuk akal 1899.

Hanya sebentar, Hera akan bertanya nanti, ia mengeringkan rambut.

၄၃

Pukul 02:00 dinihari.

Hera tentu saja sudah tertidur. Dan apa yang dipikirkannya tentang Noah tidak akan melesat. Pria itu mencumbui punggungnya, menjilat angka 19 pada tulang belikat — menurunkan handuk yang membebat dan terus meninggalkan tanda cinta di setiap inci tubuhnya hingga ia terjaga. Rambut basah, handuk di pinggang; seperti biasa.

Hera melenguh pelan ketika pria itu mulai menjilat ceruk, meremas dada dan terus melakukan stimulasi menyenangkan yang membakar rangsangan—menyulut gelenyar menyenangkan.

Dan melakukannya

Lagi, lagi dan lagi.

Begitu nikmat.

Nasi goreng pukul 04:50 adalah terbaik. 

Setelah permainan panas mereka, Noah membuatkan sarapan dini sebelum ia akan kembali pergi. Pria itu bahkan tak tidur. Pulang hanya untuk menggauli istrinya dan pergi lagi. Namun Hera tidak akan keberatan. Tak akan bertingkah menyedihkan dengan merengeki eksistensi pria itu. Tidak akan. Ia cukup tahu diri dan paham jika dokter adalah makhluk paling sibuk selain pengangguran seperti dirinya.

Begini saja sangat indah. Ada jarak untuk rindu, pun pria itu tetap bertingkah manis dan seksi, memberi uang dan kehidupan yang jauh sangat layak.

“Aku akan pergi setelah ini, telpon aku jika menginginkan sesuatu, oke?” seperti biasa, Hera sampai hafal kata-kata selanjutnya “aku mencintaimu, sungguh” benar. Hera mengangguk tiap Noah mengatakan itu.

“Noah”

“Ya?”

“Tahun berapa ayahmu meninggal?”

Hening menggantung sesaat, pria itu bahkan berhenti mengunyah “tiba-tiba? Adakah sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” Noah menatapnya lurus, berdehem sebentar  “Sebenarnya, aku lupa tahunnya, tapi itu.. Bulan November”

Bulan November, besok bulan November.

“Hera, kamu terlihat terganggu, apa yang terjadi?”

Sebenarnya tidak terlalu penting. Namun tiba-tiba saja angka itu terasa muncul ke permukaan setelah mengendap. 

“Sebenarnya, orang tuamu meninggal tahun berapa?” mengulang, Hera menggigit bibir bawah.

Noah meletakkan sendoknya, menatap Hera lalu tersenyum kecil. Seperti ia baru saja menerima rengekan gadis yang mendapati isi ponsel tengah menyukai gambar gadis lain.

“Oh, sayang” Noah membelai pucuk kepala Hera yang duduk di sampingnya penuh sayang “ada beberapa hal didunia ini yang tidak harus kamu ketahui. Ayahku, misalnya, ia hidup dengan caranya sendiri, di waktu yang ia pilih dan meninggalkan jejak yang tidak perlu di ketahui semua orang. Tapi, apa pentingnya tahun? Bukankah yang terpenting bagaimana mereka tetap hidup dalam kenangan?”

Kalimat Noah terdengar patetik. 

“Kamu terlalu cantik untuk mengusik hal-hal yang tidak perlu, Hera. tidak semua jawaban membawa kebahagiaan. Lebih baik fokus pada kebahagiaanmu, apa Roger sudah ke dokter hewan, apa kamu sudah pergi ke klinik kecantikan? Membelanjakan uang untuk barang-barang lucu. Bukankah kebahagiaanmu yang paling penting?”

Hera berpikir meski ia memang tidak seharusnya ikut campur terlalu banyak. Begini saja hidupnya sudah keren dan luar biasa.

“Aku berjanji akan meluangkan waktu, nanti. Aku tahu kamu bosan, maafkan aku yang tidak perhatian” Noah menatap istrinya, Hera menggeleng keras dan balik meminta maaf.

────୨ৎ────

6 Novembar.

Seminggu berlalu. Foto yang ia temukan di laci menghilang–maksudnya, mungkin saja Noah memindahkan dan Hera menggeledah tiap tempat dalam kamar itu, nihil.

Hera membujuk dirinya untuk melupakan hal remeh seperti tekadnya seminggu terakhir. Ia harus mencari hobi baru yang bisa mendistraksi pada hal-hal tidak penting yang jelas memicu rasa tak nyaman.

Tapi sialan apa yang di lakukannya berbanding balik, ia terus mencari apapun—tentang Noah, atau ayahnya. Sementara untuk bertanya pada ibu mertuanya, Hera tak berani.

Ketemu.

Di lemari paling dalam. Diletakkan di antara tumpukkan baju hitam.

Hera memegang bingkai itu lagi, mengamati, matanya awas dan ia mengusap kaca berharap dapat menjernihkan gambar.

“Sepertinya, kamu memang menyukainya” suara Noah hampir membuat Hera terlonjak. Entah sejak kapan pria itu berdiri di ambang pintu—masih dengan jas putih dan stetoskop yang melingkar di leher—jatuh ke dada.

“Noah, di foto ini, bukan kah ibumu sedang hamil?”

Noah menghela napas, lalu berjalan mendekat pada Hera “ya, dia sedang mengandung sembilan bulan”

Hera ingin bertanya lebih lanjut, apakah itu artinya Noah memiliki saudara kandung. Namun kata-katanya tak keluar ketika Noah menepis jarak, memeluknya dari belakang “Hera, jika kamu terlalu banyak ingin tahu, itu hanya akan membebanimu.. Dan aku tidak ingin kamu terbebani oleh sesuatu yang seharusnya tidak kamu pikirkan” kata-katanya begitu lembut dan ramah. Tapi ada otoritas yang membuat Hera seakan dibungkam tak berdaya “beberapa hal yang memang lebih baik disimpan. Kamu mengerti, kan?”

Ada bagian dari hatinya yang lagi-lagi tak nyaman. 

Sudah berapa lama mereka menikah? Hera selalu menceritakan semua hal secara gamblang dan transparan. Dari ia bayi hingga sebesar ini, dari jaman kekeknya hingga kelakuan keji Sam yang gemar buang angin di depannya.  Namun berbanding balik dengan  Noah yang sama sekali tak pernah bercerita. Pria itu hanya mengatakan jika ibunya sangat cantik namun juga cerewet. Hanya itu.

────୨ৎ────

15 November

Kamar Noah tidak pernah membuat Hera sesesak ini. Makin dipikirkan, rasanya makin tidak nyaman. Hera terlanjur penasaran pada semua hal. Spekulasi demi spekulasi terus berderet tanpa jawaban. Meski berulang kali Hera menggeledah kamar saat ada kesempatan, semua hanya menambah frustasi.

1899. Hamil sembilan bulan.

Siapa yang ada dalam kandungan itu?

Hera memikirkan hingga sakit kepala. Jika ibu Noah mengandung anak lain, berarti, berapa usianya? Usia ibu Noah? Usia ayah Noah, dan bahkan usia Noah sendiri?

Suatu siang, saat Noah sedang tertidur pulas–mengambil cuti dua hari, Hera bangkit dari sisa tenaga lepas mereka bercinta. Tubuhnya lengket dan becek. Dan di depan cermin kamar mandi, ia memperhatikan  pantulan dirinya yang telanjang, saat berbalik, matanya terpaku pada tulang belikat.

Angka 19. Tanda lahirnya sejak kecil yang tadinya hanya sebesar biji jagung, kini membesar seukuran jari. Hera mengucek mata beberapa kali dan berharap itu adalah ilusi. Bahkan usahanya dengan membilas sabun serta scrub sia-sia.

Hera panik tiba-tiba.

Sejak kapan hal ini terjadi?

Hera kembali ke kamar dengan langkah terburu-buru, grasak-grusuk. Membuat Noah terbangun, duduk di ranjang mengucek mata sebelum melihat jam pada ponsel dan berakhir menatap istrinya yang berdiri tanpa sehelai benang pun.

Saat melihat Hera, Noah memuji betapa cantiknya tubuh itu, lalu menggoda dengan ujaran kaku dan aneh. Noah memang selalu begitu. Bedanya, Hera tidak sedang bermain-main.

“Noah, kenapa tanda lahirku membesar? Apa yang kamu lakukan?”

Noah menatap punggung Hera, kemudian mengangkat alis “kenapa kamu mengira itu ulahku?”

“Karena kamu suamiku, aku hanya menghabiskan waktu bersamamu sepanjang hari” Hera mendesah putus asa. “Siapa pun bisakah menjelaskan ini? Dan–oh.. Dan  ibumu pada tahun 1899 sedang mengandung, siapa? Dan terutama ayahmu, siapa dia? Kamu siapa?”

Kalimat itu terlontar buru-buru agak panik. Bersambung dalam konteks yang tidak relevan.  Hera menahan ini selama dua minggu. Seperti ia akan mati penasaran.

Noah meletakkan ponsel di atas laci dan seolah mengikuti alur, ia bangkit dari ranjang dan mendekati Hera dengan ekspresi tak terbaca.

“19 itu adalah urutanmu, dia membesar karena memang sudah waktunya” ujarnya, tanpa beban. “Dan perempuan di foto itu, di tahun 1899, dia adalah istriku, sedang mengandung anakku, sudah puas sekarang?”

Hera menganga

“Urutan apa maksudmu? Apa yang kamu—”

“Hera..” Noah mengangkat tangan, memberi isyarat pada wanita itu supaya diam, seperti kepalanya sakit “aku sudah memberimu kehidupan, uang yang banyak, mengizinkan membawa anjing sialanmu, apa itu kurang, huh? Aku sudah memperingatkanmu” sorot matanya seakan membelah Hera dengan ketenangan yang menakutkan. “Jika kamu terus mendesak seperti ini, aku tidak bisa menjamin kamu akan tetap aman meski sejatinya memang tidak. Jadi, berhentilah hingga waktunya. Semua akan makin buruk dan rumit”

Kata-kata ambigu Noah berhasil membuat Hera merinding untuk alasan yang tak pernah benar-benar ia mengerti. Namun satu hal yang kini merangsek masuk dalam dada; ini tidak benar.

Noah saat ini bukan seperti yang ia kenal biasanya. Siapa yang menyangka jika tanda lahir membesar dan Noah menjadi aneh. Ini benar-benar memusingkan.

Sebelum semua hal semakin runyam, Hera berusaha mengangkat suara “aku.. Aku ingin bercerai” katanya. Lebih terdengar seperti cicitan tikus yang terpojok.

Noah kontan terkekeh. Lalu mencengkram lengan Hera begitu keras hingga kulitnya memerah “kamu sudah menjadi milikku tak ada jalan keluar untukmu” kenyataan dari ancaman seperti jaring yang menjerat. Hera ingin berteriak meminta tolong, tapi ia bahkan tak bisa melakukan apa-apa.

Dan saat itulah, perasaannya pada Noah berubah.

────୨ৎ────

18 November

Seluruh ruang dalam apartemen itu terasa makin memuakkan. Cumbuan Noah di pagi buta seperti biasa menjadi menjijikan, tiap sentuhan pria itu membuat Hera bergidik. Tapi tak ada yang bisa dilakukan, Noah mengunci rumah setelah percakapan terakhir Hera mengenai tanda lahir dan foto, istri serta… Hera bahkan enggan mengingatnya. Itu menakutkan.

Pria itu benar-benar mengurungnya. Hera masih bisa berkontak dengan semua orang. Dengan ibunya, dengan teman, namun jika ia mengadu tentang apa yang dikatakan dan dilakukan Noah, maka, sudah jelas ia yang akan dianggap gila.

1899, mengandung 9 bulan. Jika yang dikatakan Noah benar, dan katakan pria itu berusia 30 tahun saat istrinya hamil, maka 1899 adalah 126 tahun ditambah 30 tahun; 156 tahun.

Ini perkiraan. Lagi-lagi Hera berspekulasi.

Hera terperangah sendiri, berdegup sendiri. Namun, apa yang dilakukannya hingga awet muda? 

Dan tidak, itu tidak masuk akal. Hera terus memeras otaknya untuk sesuatu yang mustahil.

Dan yang dilakukannya saat ini adalah membuka komputer, mengetik keyword dalam kolom pencarian “kekuatan gelap, awet muda dan sekte sesat” namun tak ada  yang memuaskan selain artikel lawas tahun 2013 yang mencuri perhatian.

Sekte Sancta Aeternitas.

Asal:

Dibentuk sekitar tahun 1879 di daerah pegunungan Jawa Tengah, oleh mantan biarawan Pater Elias Amandus Noah, yang pernah belajar di seminari Katolik Roma sebelum keluar karena dianggap sesat.

Matanya mendelik membaca nama itu. Hera mengulanginya berkali-kali hingga gumaman itu mirip lantunan doa.

Ajaran utama:

Mereka percaya keabadian bisa dicapai dengan memperbaharui darah dan iman secara berkala. Menurut mereka, penuaan terjadi karena “roh dan tubuh terpisah terlalu lama dari sumber kehidupan”, dan ritual tertentu bisa “menyatukan” kembali keduanya.

Ritual khas:

Disebut Ritus Renovatio

Dilakukan setiap 7 tahun sekali, pada malam bulan purnama di bulan November.

Melibatkan Calix Vitae (piala perak) yang diisi darah semua anggota dan campuran air suci (orgasme)  dari gadis dengan tanda lahir angka yang sudah ditentukan. Mereka, para gadis itu adalah reinkarnasi dari anak pemimpin sekte yang sudah hidup sejak tahun 1880.

Pemimpin sekte meminum sebagian cairan orgasme yang dicampur darah para anggota itu, lalu memberkati jamaah

Dikatakan setelah ritual, beberapa anggota tampak lebih muda atau sembuh dari penyakit kronis.

Tokoh penting:

Pater Elias Amandus  Noah ; Pendiri. Wajahnya konon tak berubah hingga kini.

Suster Mare istri Noah ; Perempuan misterius yang dikenal memimpin ritual  di samping Elias. Dan sempat menggantikan Elias saat pria itu di penjara.

Markus Adrian ; Jurnalis yang menulis artikel investigasi tentang mereka tahun 1991, lalu ditemukan tewas tenggelam di sumur bekas gereja.

Custos Aeternitatis ; Gelar pemimpin tertinggi sekte, artinya Penjaga Keabadian. Nama aslinya selalu dirahasiakan. Ini adalah raja, mereka juga melabelinya sebagai Lucifer.

Simbol:

Salib terbalik dengan lingkaran di tengah — bukan lambang setan, tapi katanya lambang “pembalikan usia” (waktu yang berputar ke awal).

Kabar terkini :

Beberapa warga setempat percaya bahwa setiap tujuh tahun sekali (terakhir 2019), terdengar nyanyian latin dari gereja tua mereka — padahal bangunannya sudah runtuh sejak lama.

Menurut pakar psikologi dari Universitas Indonesia, keikutsertaan dalam sekte bisa menimbulkan dampak psikologis yang sangat serius. “Sekte seperti ini merusak kemampuan berpikir kritis dengan memanipulasi identitas dan nilai-nilai diri. Ini adalah salah satu bentuk kontrol psikologis yang paling kuat,” ujar Profesor Zain Immanuel, pakar psikologi sosial.

Polisi menghimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap ajaran-ajaran serupa yang menjanjikan kehidupan yang abadi maupun awet muda. (3/11)

Apa ini?

Kepalanya mendadak penuh, dadanya sesak dan apakah semua yang terjadi di antara ia dan Noah merupakan bagian dari sekte ini dan melibatkan dirinya?

Hera mundur, duduk di tepi ranjang menatap Monitor yang masih menyala. Di artikel lain, menampilkan potongan video yang menampakkan pria mirip Noah. Benar, sangat mirip. Perbedaannya hanya rambut pria itu yang panjang sebahu, setengahnya di ikat. Digelandang polisi dalam posisi menunduk. 

Dan seketika, dunianya runtuh saat melihat potret yang tak asing di dinding rumah penggerebekan

Potret Noah dan 18 wanita beserta ibu―atau istri, entahlah. Itu adalah ibu mertuanya dan gadis-gadis. Persis seperti foto yang ia temukan di laci kamar Noah.

Hera kembali mengingat-ingat detail kecil tentang Noah yang memang tak pernah menceritakan orang tua kecuali ibu mertuanya sendiri ― memaparkan semua hal yang terdengar seperti siswi sekolah dasar yang ditugaskan mengarang cerita. Sangat tidak masuk akal.

Lalu Noah yang hampir tak pernah sekalipun terdengar memanggil ibunya dengan sebutan semestinya. Mereka terlalu aneh untuk ukuran ibu dan anak, belum lagi, Noah yang selalu siap cup ketika mereka bercinta―untuk menampung cairan orgasme-nya, lalu menyimpannya. Awalnya, Hera menduga itu digunakan untuk diteliti mengingat ia memiliki gangguan siklus menstruasi. Namun, Noah mengambilnya setiap mereka bercinta, selalu. Iya, benar, tidak pernah absen.

Hera beranjak pergi ke kamar mandi ketika dorongan ingin muntah tak dapat ditahan. Mual.

Entahlah, beberapa saat, Hera merasa begitu menggebu, khawatir dan takut dalam satu waktu. Maka, wanita itu berusaha menenangkan diri dengan meneguk segelas air hangat. Namun yang pasti, ia tidak akan berhenti.

Hera kembali menatap layar monitor, mengabaikan sakit kepala, mual, ketakutan dan rasa tak nyaman, penasarannya membuncah tidak karu-karuan.

Ia bahkan menggunakan VPN untuk mengakses web yang tersembunyi tentang sekte itu, namun tak kunjung mendapat informasi lebih, meski sudah menyelam hingga berjam-jam.

────୨ৎ────

24 November.

Hampir satu minggu Noah tidak pulang. Pria itu bahkan tak mengirimkan pesan atau apapun. Dan pagi ini, eksistensinya begitu tenang di meja dapur—menyesap kopi panas. Pakaiannya rapi dan ia terlihat santai. Saat matanya bertemu dengan milik Hera, ia memberi isyarat untuk mendekat dengan tangan, sangat ramah, seperti biasa, seperti tidak pernah mengatakan hal aneh atau memutar pembahasan mereka sebelumnya. Terlebih foto.

Hera mendekat dengan perasaan yang bercampur aduk. Hubungannya kini bagai badai bayangan yang tak berwujud, tak bisa ditangkap dan penuh kecurigaan menggigit.

“Sudah sarapan, sweet heart?” katanya ramah, seperti biasa. Hera tak menjawab, ia menatap suaminya tanpa berkedip dengan pandangan paling mengintimidasi juga sangat tak ramah.

“Bukan seperti itu cara memperlakukan suami yang memberimu rumah dan uang, tatapan itu bahkan tidak pantas untuk anjing, aku sedih” Noah menatapnya sendu. Namun Hera tau, semuanya hanyalah dusta dan Noah adalah mengerikan Di matanya.

“Aku ingin bercerai, aku juga akan mengembalikan seluruh uang dan apapun yang sempat kamu berikan padaku”

Ujaran itu membuat si pria mengangkat sebelah alis. Ada seringai di antara sela gigi.

“Besok malam, ikut aku ke rumah ibuku, kita akan merayakan anniversary kita yang ke.. Em… ke 2 bulan? Ya, kita akan merayakannya”

“Ayo bercerai”

“Aku mencintaimu, Hera. Aku minta maaf untuk semua omong kosong dan cerita aneh. Kamu tau, kamu berpikir lebih logis dan rasional daripada siapapun di bumi ini. Jadi, berhenti. Aku akan mulai perhatian dan lebih sering pulang, aku berjanji”

Hera lagi-lagi tak menjawab, namun melempar air muka paling jijik saat menatap pria itu.

Sekali ini saja, ia akan mengatakan cerai pada ibu mertuanya. Semua hal membuatnya sakit kepala.

────୨ৎ────

25 November

Langit malam secerah purnama di bulan November, mencuri satu dua waktu di bulan yang memasuki musim hujan. Namun kegelapan di bawah memadati hampir seluruh—sepanjang mata memandang.

Hera lari tergesa-gesa. Napasnya tersengal-sengal, sesekali tersandung ranting pohon lalu terjerembab ke tanah basah. Lututnya terbuka, darah menetes di antara dedaunan yang membusuk. Deru jantung memompa kelewat cepat—seperti napas yang pecah karena tercekik pekatnya malam.

Jaraknya tidak dekat, namun tidak terlalu jauh juga. 

Rumah mertuanya.

Rumah wanita yang wajahnya terlihat muda, terlihat seusianya.

Bagaimana mungkin? Ibu Noah… ia ketakutan setengah mati.

Tangannya menggenggam tanah dingin, menahan tubuhnya agar tak gemetar, mengatur napas agar tak menimbulkan suara lantang. Setiap langkah menjadi lebih berat—menyakitkan dan mustahil. Ranting, dedaunan dan suara binatang malam di hutan itu bergemersik keras, seakan; memang seharusnya ia tak hidup.

Hera hampir putus asa.

Tapi, makin masuk ke hutan, Hera yakin, ia seperti makin dekat dengan kematian. Tidak ada apapun yang bisa di lihat, maka, dengan sisa tenaga dan darah yang terus merembes mengotori gaun putihnya yang cantik untuk makan malam anniversary sialan itu, Hera terduduk di balik pohon, menyeret kakinya yang makin berdarah–bercucuran.

“Hera, kamu dimana? Aku sudah sampai” suaranya terdengar dari jauh, mengalun penuh kelembutan namun terasa mengerikan di telinga Hera.

Hera berjongkok di balik pohon yang juga tertutup semak-semak. Ia membekap mulutnya sendiri, berharap, pria itu menyerah dan pulang—hanya tinggalkan sendirian. Betapa ia ketakutan setengah mati.

“Hera, kamu tau betapa aku mencintaimu, aku tidak bisa kehilanganmu seperti ini, hum? Ayo kita beli apartemen yang lebih mewah, aku akan menambah uang belanjamu, membelikan R0ger perawatan keren”

Hera menangis meski mulutnya di bekap sekuat tenaga. Betapa ia takut, betapa mengerikannya suasana ini. Hanya berharap Noah tak melihat ke arah semak-semak di balik pohon, berharap kehadirannya tidak tercium—tertutup pekatnya malam.

“Sayang, ini benar-benar tidak lucu. Aku bisa menemukanmu dimanapun, dan kamu tahu itu”

Seolah seluruh dedaunan runtuh di atas kepalanya. Hera merasa seluruh alam sedang mencemoohnya.

Hera mengingat-ingat bagaimana Noah membawanya sampai disini—bagaimana Noah mengajaknya menyambangi rumah sang mertua untuk merayakan anniversary ke dua bulan berikut dengan rencananya untuk meminta cerai di depan wanita aneh itu.

Namun tanggapan ibu Noah malam membuatnya ketakutan setengah mati.

Ibu Noah mencimnya—maksudnya, mereka berciuman di depan matanya ; ibu Noah dan Noah. Itu tidak masuk akal. Mereka saling bercumbu lalu mengatakan kalimat-kalimat yang tak Hera mengerti tentang—orgasme, kerutan menghilang dan reinkarnasi anak ke 19. Lalu Hera yang tak tahan mencoba kabur karena kegilaan ini benar-benar di lakukan di depan matanya, tanpa menunggunya pergi ke toilet atau sembunyi-sembunyi. Sungguh menjijikan.

Maka, sampailah Hera di sini, setelah memecahkan kaca depan karena seluruh pintu terkunci. Tangannya berdarah sementara di tengah hutan, kakinya kembali robek karena ranting pepohonan.

“Hera.. aku akan menemukanmu, kita akan memiliki anak, aku sudah mendapatkan obat untuk siklus menstruasi mu yang tidak normal, sayang.. Kembalilah, aku akan mencarimu meski harus ke ujung dunia”

Hera semakin bergidik, kaki dan tangannya berdenyut-denyut, seirama dengan degup jantung yang tak karu-karuan.

Sepi.

Sudah tak terdengar langkah kaki maupun suara Noah. benar-benar senyap dan hening.

Hingga satu menit sebelum Hera membuka bekapan pada mulutnya sendiri. Bernapas lega dan merasa aman. Noah tidak menyadari keberadaannya disini, berhasil.

Ketika ia mengintip dari ujung semak, Hera merasa benar-benar lega. Tidak ada siapapun. Tapi, saat ia menoleh ke arah kiri, keterkejutan hampir membuatnya pingsan.

Noah berdiri tak jauh darinya, bersandar dengan santai di salah satu pohon sambil menatapnya.

“Ketemu” Noah tersenyum mengejek.

Sekonyong-konyong Hera berlari, tapi dengan mudah Noah menangkapnya, menarik pergelangan tangan yang memang sudah terluka.

“Lepaskan, dasar orang edan! Kamu pimpinan sekte sesat, menjijikan” Hera meludahi wajah suaminya “kuharap, kamu akan dihukum berat atas perbuatanmu, membusuk di penjara atau mati dengan rasa sakit yang teramat sangat”

“Hera… kamu tau kamu baru saja mengatakan hal mengerikan. Aku suamimu, aku lelah bekerja sepanjang waktu hanya untuk mendapat ungkapan semacam ini?” wajahnya mengeras, Noah jelas marah besar “kamu tidak berhak membahas soal hukuman, kamu lebih rendah dari pelacur yang menginginkan kebebasan tanpa bersusah payah. Kamu menjadikanku sapi perah dan apa yang kamu bahas saat ini? Seharusnya, kamu hanya menjadi istri yang baik dan penurut. Tidak lancang dengan bertanya macam-macam”

“Dasar setan! Mati saja kamu” bukannya berhenti, Hera makin menjadi-jadi. Sementara Noah memasang wajah kecewa. Lalu mengepalkan tangan dan memukul wajah Hera sekuat tenaga.

Wanita itu tak sadarkan diri.

────୨ৎ────

26 November

Matanya berat. Tidak, semuanya berat, seakan, ia memikul beban aneh yang membuat tubuhnya sulit ubah. Tiap bergerak rasanya ngilu, sebelum Hera menyadari kaki dan tangannya di ikat, pun mulutnya tertutup lakban.

Iris nya beradaptasi dengan cahaya redup saat menyadari Noah berdiri di dekatnya. Tidak ada senyum manis seperti biasa saat pria itu pulang kerja atau berangkat kerja—sembari menciumnya mesra. Sebaliknya, ia menggunakan jubah merah yang menjuntai, rambutnya ditata ke belakang—memperlihatkan dahi paripurna yang tak lagi tampan.

Tak ada lagi pelukan hangat, ciuman intens, bunyi notifikasi uang masuk atau mimik ngeri saat pria itu melihat Roger.

Di sekitarnya dipenuhi lilin-lilin yang menyala, asap dupa mengepul, simbol-simbol yang sama persis dengan apa yang ia temui di laci dan artikel 2013–mengelilinginya seperti garis polisi diranjang. Hingga matanya menangkap berbagai sesaji khas–seperti bunga rupa-rupa, buah-buahan dan entah apa lagi, ruangan ini terasa sesak dan aneh.

Tidak lama, beberapa orang ikut masuk, menggunakan jubah yang sama, ikut mengelilingi Hera sambil berpegangan tangan di dalam garis simbol itu—menatap Hera dengan tatapan kosong dan melingkar penuh mengelilinginya.

“Anakku, sudah bangun” Mare–bukan, maksudnya ibu Noah, ia menyapa dengan ramah yang aneh. Wanita itu menatapnya lama seperti akan mengatakan banyak hal. Lalu berdehem dan benar-benar mengungkapkan 

“Hera, sekte ini bukan hanya tentang awet muda dan keabadian, kami adalah penyatu jiwa yang telah lama lepas dari kehidupan, menjadikan labuhan untuk peraduan atas jiwa-jiwa putus asa, atas kemustahilan.. Kami ada untuk mereka yang mendambakan keadilan dan pengembara mencari cahaya”

Kelakarnya dipenuhi istilah-istilah rumit yang sama sekali tak dimengerti Hera. Mare terus mengoceh tentang reinkarnasi, alkimia, transmutasi hingga kelakuan tak lazim yang bisa melawan hukum alam.

“Hera, dia adalah istriku. Usianya 138 tahun. Kami memiliki 19 anak dan kamu adalah anak terakhir kami. Istriku tidak bisa memiliki anak lagi dikarenakan bayi dalam kandungan terakhir sekaligus rahimnya yang diambil oleh raja, maka, aku akan mengupayakan anakku lahir dari rahimmu yang juga bermasalah itu, aku akan bekerja keras agar kamu hamil dan.. Menjadi keluarga atau lebih tepatnya menyambung ritual ini hingga akhir zaman” Noah mengoceh, tangan pria itu merangkul pundak Mare “istriku yang malang, ia bahkan menjadi tua karena sudah 2 kali tak menghadiri ritual. Tapi, hanya dengan meminum cairan orgasme darimu, Mare menjadi lebih cantik dan kabar buruknya, anak kami sebelum kamu, ia bunuh diri, Mare ku yang malang, tapi beruntung kami menemukanmu lebih cepat”

Susah payah Hera mencerna perkalimat yang keluar dari mulut Noah, ia tak mengerti.

Meminum cairan orgasme?

Menjadi lebih muda?

Siapapun, bisakah jelaskan hal menjijikan yang baru saja dipaparkan pria edan itu? Mereka semua butuh dokter jiwa.

Hera menggeleng-geleng dengan suara tertahan karena mulutnya tertutup rapat oleh lakban.

Noah mulai melantunkan mantra-mantra dengan suara rendah. Setiap kalimat yang digumamakan terdengar asing. Bahasa masa lampau yang benar-benar tak teraba.  Hampir mirip seperti gumaman yang biasa dibaca Sam dan ayahnya, atau berbeda? Hera tidak yakin.

Lalu para jemaat mulai menutupi kepala mereka dengan tudung jubah, mereka mengikuti tiap gerakkan Noah, menyatukan suara dalam simfoni yang menakutkan. Mereka berputar, lalu membungkuk khidmat, seperti sedang menyembah sesuatu yang lebih besar dari kehidupan.

Lilin berkedip-kedip. Cahayanya memantulkan bayangan aneh di tanah dan wajah-wajah yang samar. Dupa melingkar lambat di udara. Di atas pintu—simbol menempel pada dinding, warnanya berkedip-merah redup, merah redup. Seketika, panas menjalar pada tulang belikat milik Hera, tepat di angka 19. Rasanya seperti ada bara api yang di tancapkan ke kulit, rasa sakitnya begitu hebat—menyebar ke saraf mirip sengatan listrik jutaan volt. Hera berteriak nyaring meski suaranya hanya memantul dalam langit-langit mulutnya sendiri, hanya tubuhnya yang bergerak dalam keterbatasan seperti orang kesurupan yang diikat.

Para jemaat malah semakin khusyuk menjalani ritual, mereka menunduk dalam.

Pembacaan mantra selesai.

Rasa sakit yang membakar kulit belakangnya perlahan menghilang. Namun, Noah pelan-pelan melucuti pakaiannya dengan cara di sobek dengan belati usang, mengoyak dan melemparnya sembarangan. Hera bertelanjang sempurna di depan semua manusia sinting di sana.

Ikatan pada kaki di lepas, Noah mengangkat kaki Hera dan entah sejak kapan pria itu membuka resleting. Tanpa menunggu lama, pria itu menancapkan penisnya. Di hadapan para jemaat, di hadapan istrinya sendiri–Mare. Pria itu bergerak lincah–menjijikan, sementara Hera menggeleng sambil menangis putus asa.

Hanya memerlukan waktu 7 menit hingga cairan orgasme kembali di tampung. Kali ini, Mare yang memegang cup. Noah bahkan tak sampai klimaks, pria itu mencabut penisnya ketika Hera sudah orgasme. Karena tujuannya memang cairan itu.

Cairan itu di masukkan ke  dalam mangkuk khusus–Calix Vitae warnanya hitam terbuat dari kayu yang dipahat—penuh dengan simbol-simbol. Lalu, Noah menyayat ujung jarinya, darah mengucur dari sana dan masuk ke dalam mangkuk. Begitu terus, secara bergantian. Hingga semua orang selesai dan mangkuk kembali ke tangan Noah.

Setelah itu, Noah kembali membacakan mantra.

Hanya sebentar, sebelum meneguk cairan itu beberapa kali tegukan lalu di serahkan pada sang istri—yang juga langsung meneguknya. Sebelum dibagikan pada jemaat yang ada disana.

“Kamu tidak akan merasakan sakit lagi, Hera” Noah mendekat, sisa darah dari bibirnya menetes menjijikan. Hera tak menjawab, tentu saja, ia lalu membuka penutup mulut dan Hera langsung berteriak meski tubuhnya menjadi sangat lemah.

“Orang gila… kalian semua tidak waras”

Noah terkekeh “selama kamu terikat denganku, setiap detik yang berlalu, kamu akan semakin melemah, tubuhmu dipenuhi rasa sakit, kamu bahkan tidak bisa mengeluh atau menangis dan kamu akan mulai melihat bagaimana jiwa mudamu mulai terenggut”

Noah Mengelilinginya.

“Ini adalah perjanjian konkrit, kita akan terus terikat hingga saatnya kamu mati, dan ketika itu terjadi, kupastikan kamu sudah memberiku keturunan untuk melanjutkan semuanya. Satu-satunya cara untuk mengakhiri semua ini adalah dengan kematianmu, saat itu kamu akan bebas”

────୨ৎ────

Hari-hari berlalu seperti dalam kubangan neraka yang tak berkesudahan. Tanpa ancaman, tanpa peringatan, Hera tak berani memberitahu siapapun bahkan orang tuanya. Setiap kali ia berusaha mengungkapkan sesuatu, tulangnya seakan-akan patah bergemeletuk menyakitkan.

Dari luar, hidupnya terlihat berjalan seperti biasa.

Roger, apartemen, uang belanja. Noah datang seperti biasa. Mencumbuinya, memberikan obat-obatan entah apa. Meski yang ia lakukan sepanjang hari hanyalah merebah di ranjang tanpa kuat melakukan apapun. Kecuali pergi ke kamar kecil dengan merangkak.

Tubuh Hera pelan-pelan mengalami kemunduran yang tak wajar. Kulitnya mengeriput dan kusam. Berat badannya menyusut drastis, tulang-tulang menonjol seperti gaung kematian yang semakin mendekat.

Namun ajaibnya,

Dua bulan kemudian setelah Hera hanya terlihat mirip tulang berbalut kulit, wanita itu hamil. Benar-benar dinyatakan positif hamil.

Penampilannya tak ubah seperti tengkorak hidup. Giginya terlihat maju. Hanya perutnya yang mengembung besar terasa sangat menyedihkan. Rambutnya rontok dan pelan-pelan menghilang. 

Di bulan-bulan selanjutnya, Hera benar-benar tak lagi bisa merasakan emosi. Semuanya terasa hampa, ia tidak nafsu makan, pendengarannya terganggu bahkan penglihatannya memburam. Selang infus tak pernah turun, berbagai obat serta multivitamin—hanya untuk mempertahankan bayi yang sedang dikandung.

Sementara Noah, tidak ada penyesalan apalagi kasih sayang. Hera hanya media untuk menuntaskan ambisi dan tujuannya. Setiap detik adalah neraka. Sekali lagi, wanita itu terjebak antara siklus hidup atau mati. Terpaksa menghirup napas yang memenjarakan di bawah bayang-bayang. Hingga akhirnya keinginannya untuk mati semakin kuat.

────୨ৎ────

Hera terbaring di ranjang rumah sakit.

Entah bagaimana bisa bayi dalam kandungannya keluar dengan selamat sementara penampilannya sendiri hampir tak menyerupai manusia. Matanya kosong dan cekung–juga sayu—menatap pada langit-langit rumah sakit tanpa kehidupan. Para dokter mengatakan jika bayinya lucu, berjenis kelamin perempuan dan tampak sehat.

Tapi, apa arti semuanya?

Orang tuanya tak tahu ia sakit. Bahkan hampir satu tahun, ibu serta siapapun keluarganya tak ada yang menengok. Juga Noah yang tak mengatakan apapun pada mereka—mungkin. Dan di detik ini, ketika kabar bayinya lahir. Seluruh keluarganya hadir di rumah sakit. Begitu juga Noah, kecuali ibu mertuanya atau istri tua, sialan.

Bayi lucu itu di gendong Noah. bagian paling tak masuk akal adalah, baik ibu, ayah, dan dua orang kakaknya, tidak satu pun dari mereka bertanya kondisinya. Tidak kaget melihatnya, tidak juga khawatir. Hera menatapnya dengan hati yang berdenyut-denyut luar biasa.

“Namanya Asa Marisa, aku menitipkan nya lagi pada kalian. Jangan terlalu jauh karena aku gampang lupa. Akan ku ambil setelah usianya 17 atau 20” Noah mengatakan yakin tapi santai. Itu juga hal baru.

Ibu Hera menggendongnya, mengusap bayi itu sayang sambil menangis.

“Aku akan menjaganya, aku akan, seperti yang sudah-sudah” katanya lirih. Pandangannya kembali beradu dengan Hera yang bahkan tak sanggup membuka mulut.

Apa ini?

“Hera, barangkali kamu penasaran. Ayahmu adalah pemimpin sekte Ordo Vitae Sancta. Dia dan kakakmu menjadi pilar ‘persekutuan kehidupan suci’ sekte yang percaya tubuh suci tak boleh sakit jika iman sempurna. Mereka melakukan berbagai ritual  untuk memurnikan tubuh agar tetap sehat. Mereka percaya bisa mencapai keabadian rohani dalam tubuh jasmani. Itu alasannya mengapa mereka mensucikan ulang air baptis dan memohon pada Custos Aeternitatis — sang dewa maha besar dengan patung malaikat tanpa wajah. Mereka adalah anak-anakku, aku yang mendirikan itu semua 40 tahun yang lalu, itu juga alasan kamu dan seluruh keluargamu tidak pernah sakit. Dan sejatinya,  semua orang akan hidup abadi tanpa kesakitan. Dan air baptis yang disucikan dalam kamarmu dan kamar mereka, serta jimat yang dibakar dan dimasukkan dalam air, itu tak lain agar aku mudah menemukanmu. Itu adalah media penghubung, kita semua dalam berkat ”

Dan Noah mendekat pada Hera, mengecup kening itu sekilas.

“Damailah, Hera.. aku akan meminta orang tua palsumu menyembuhkan meski tidak bisa memulihkan mu seperti semula. Kamu harus hidup hingga anak atau cucuku berusia 20 tahun.”

3 Comments
  1. Ayu

    Ini gila ini gila banget 😭😭
    Cerita detail begini serasa membawaku ke dalam ceritanya
    Beberapa saat aku berfikir membaca novel yg indah tapi bajakan
    Terima kasih karena membuat cerita yg begitu nyata dan plot yg bikin penasaran

  2. Goresan Pena

    Woaahh.. Gak ekspek bgt bakal begini ceritanya, keren sih. Jadi, sampe anaknya usia 20th si hera seperti mayat hidup gt ya

    • SpringDay

      Yas…
      Hidup dalam kesakitan dan siklus ini akan berjalan entah sampai kapan tanpa ada rantai pemutusnya

Tinggalkan Balasan ke Ayu Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *