
Ada yang bergerak dari dalam—di luar kehendak—perlahan, seperti kumpulan dosa sejak lahir lalu bersatu menagih jalan pulang. Dari dasar perutnya, Edgar familiar atas rasa yang naik, berat dan dingin, menekan tiap inci tubuhnya.
Tenggorokannya menjadi lorong sempit yang menolak sekaligus dipaksa menerima. Sensasi getir merayap persis logam yang larut dalam luka, menyisakan pahit yang tak bisa ditelan kembali. Setiap dorongan terasa seperti gumaman kasar yang menggesek dari dalam—kasar, rusak.
Napasnya terpecah-pecah, tercekat oleh sesuatu yang tak memiliki denyut namun terasa hidup. Edgar ingin berhenti, ingin menahan, tapi tubuhnya tak lagi berpihak padanya—seakan ada tangan tak kasatmata yang menggiring semuanya menuju satu arah yang tak bisa ia tolak.
Dan di antara gelombang rasa itu, Kristal menjadi panik dan kontan memberikan pertolongan pertama meski yang di lakukan hanya menadah muntahan pria itu pada dua tangannya yang disatukan.
“Allahuakbar!!” si gadis memekik. Ia menatap ke sekeliling namun gagal menemukan apapun yang menjadi pemicu. Tidak ada Logan dimana pun–disejauh mata memandang dalam ruang itu. Namun Edgar tidak berhenti muntah.
“Lu kenapa sih? Ya Allah..” gadis itu panik sendiri. Lantas ia memapah pria itu ke kamar mandi. Edgar duduk seraya memeluk kloset sementara dari dalam perutnya keluar benda-benda asing, dingin—khas.
“S-suruh Logan berhent—Hoek!!!”
Kristal yang panik cepat-cepat menelepon Logan meski masih tidak mengerti dengan cara kerjanya—maksudnya, memangnya bisa membuat muntah dari jarak nyaris lima kilo?
“Bisa” suara di seberang terdengar tenang. Kontras dengan Edgar yang masih kontraksi. Perutnya seakan diremas-remas dan jalan ke atas dari lambung hingga keluar, semuanya tergores paku. Pria itu terluka parah.
“Lu serius giniin adik lu? Padahal gua chat cuma mau tanya cara lepas sulur dan becandain tentang jodoh. Pantesan si Isa sawan sama lu. Parah lu mah. Udahahan nggak!?”
“Oke” jawabnya singkat. Lalu Kristal menatap Edgar yang berhenti muntah. “Sudah, kan? Aku sedang bekerja. Sibuk. Jangan kirimi aku gambar wanita yang berjoget terus. Aku tidak suka”
“Itu gua yang joget”
“Bukan”
“Iya, gua tutup mukanya”
“Enggak, wanita yang kamu kirim rata-rata berdada besar dan bokongnya seperti bebek. Sementara kamu tidak”
“Ha?” seketika Kristal tertawa, sementara Edgar sedang beregenerasi dengan kecepatan stabil. Pria itu membaik kelewat cepat. Berbeda dengan Daniel dan jajaran vampir yang tak bisa beregenerasi—yang memerlukan bantuan Samuel untu pulih.
“Yaudah gua patiin”
“Bentar” jawab Logan. Lalu hening sesaat. Kristal keluar dari kamar mandi dengan ponsel yang masih menempel di telinga “Kristal?”
“Ya?”
“Mau kopi?”
“Enggak, baru aja minum kopi ”
“Siapa yang buat?”
“Mbak”
“Sudah lima kali datang, ya? Dengan Lyn dan Isa juga? Aku sibuk. Karyawanku bilang”
“Ya, Lyn enggak, sama Isa aja. Lagian kalau sibuk, balik kerja sana. Gua mau main sama Edgar”
“Katanya dia mau cium”
“Enggak—atau iya, nggak sih. Nggak juga. Kita baik-baik aja. Jangan main kasar kayak tadi. Ngeri”
“Hm”
“Gua tutup, semangat!”
“Tunggu sebentar”
“Kenapa?” gadis itu berjalan terus keluar mengambil makanannya yang sempat jatuh saat Edgar menggendong.
“Sinu membuat desain cincin sangat cantik. Kamu suka cincin? Mau cincin?”
Jeda sebentar. Kristal sedang memasukkan sambal yang jatuh dari kresek.
“Hah? Ngomong apa?”
“Cincin” jawab Logan, mengulang.
“Cincin apa?”
“Sinu bikin cincin bagus. Kamu mau?”
“Kenapa gua? Emang kita jodoh? Lu suka sama gua Duk?” Hening lagi. Kristal menggigit ayam goreng sampai ke dapur. “Duk?”
“Ya?”
“Kalau suka sama gua, gua kirimin video gua joget, gua juga mau nyanyi dan foto gua 1000 biji. Mau ga?”
“Boleh”
“Idih beneran hahahahaha” Kristal terpingkal-pingkal.
“Memangnya lucu?”
“Lucu lah. Gua nggak suka sama lu, jadi gosah ngide ah, ntar lu menyedihkan lagi kayak waktu di tolak Isa. Malu, Duk” hening lagi. Logan selalu seperti itu. Pria itu tidak gentar menunjukkan ketertarikan dan terang-terangan tanpa aling-aling. Sementara Kristal tidak begitu yakin. Tidak juga terlalu memperhatikan. Lagipula, akhir-akhir ini, Isa mendekati pria itu lagi. Katanya aneh saat biasanya Logan menatapnya lembut, kini begitu tajam dan kering.
“Pelan-pelan aja… aku juga tidak buru-buru” katanya ambigu “sudah kubilang aku belajar banyak hal sebelum ini. Senyamanmu saja. Aku juga tidak menggebu-gebu”
“Gua patiin ya?”
“Hm”
Panggilan terputus dan matanya terpaut dengan Edgar yang sudah mandi dan berganti baju. Pria itu ikut duduk di samping Kristal sambil memegang sebotol darah berukuran dua liter.
“Cepet banget mandi, gak sabunan lu ya?” Kristal menuduh, pria itu hampir menggetok kepalanya dengan botol.
“Cium nih, ketek gua wangi, seger”
“Gimana kerjaan hari ini?”
“Gua udah cerita di chat, masih aja tanya. Gua mau manggung nanti di mall. Kalau gua bosen sama kerjaan ini, kayaknya gua mau jualan makanan aja kayak Daniel” sudah ia pikirkan. Pekerjaan yang baru kemarin ia geluti, tiba-tiba membuatnya malas “hp gua banyak yang chat, banyak cewek-cewek ngajak kawin. Kawinnya itu beneran Til, ngirim gambar memek anjir” Edgar lalu menunjukkan chat para gadis-gadis mengerikan.
Kristal melihat semuanya. Gadis itu mengernyit, kemudian tertawa.
Tertawa terpingkal-pingkal.
“Kan, males gua. Padahal ini bikin gua mual”
“Ya wajar tau… wajar banget ini tuh” Kristal menepuk–nepuk kepala pria itu pelan “biasanya bukan cuma cewek. Tapi cowok juga. Nanti mereka bakal nguntit, tau alamat rumah lu, tau siapa aja keluarga lu, tau semua kehidupan lu. Itu wajar. Lu belum keren dan mumpuni kalau belum punya fans yang sinting. Wajar itu mah”
“Kalau mereka sampe nguntit, gua bakar”
“Terus, terusin aja bakar. Bakar semua” gadis itu mendelik dengan mulut penuh.
“Kok bisa ya, gua dengan percaya diri waktu itu bilang mau sama cewek anggun. Padahal lu asik banget”
Lalu gadis itu membusungkan dada dengan angkuh “gua kok di jadiin opsi, sorry, nggak main”
“Balikan kek”
Gadis itu menggeleng “cari pacar sana. Kencan aja dulu cobain”
“Nggak mau, mereka bau. Yang cakep-cakep juga bekasan orang-orang”
“Banyak mau lu mah”
“Balikan si… please… gua kudu gimana coba?”
“Nggak mau”
“Api, api mau api? Nanti gua kasih api. Lu bilang mau ngenalin gua ke keluarga lu”
“Lu inget gak, beberapa kali bilang mau cari cewek anggun. Sana cari. Gua nggak anggun, gua jogetan anaknya, lengah dikit joget, pusing dikit joget. Nggak anggun”
Mereka masih sibuk bernegosiasi—bersamaan dengan eksistensi lain datang—kelewat semangat.

“Guys!!! Tadi di depan Studio gua, ada massa, ada orang rame-rame pake baju mirip-mirip arak-arakan. Gua hanpir mau ikut tapi nggak jadi” Jake baru datang membawa berita dengan begitu semangat. Ia lantas merebut botol milik Edgar dan meneguknya kasar.
“Gosah ikut-ikut begituan. Tapi kalau mau banget gasss. Yang penting inget, gak ada tunjuk kekuatan, gosah ngide berubah jadi kingkong atau apapun” Kristal berkomentar. Jake hanya menatapnya tanpa berkedip. Suara meneguk darah terdengar nyaring.
“Sama lu mau gak? Kapan-kapan liat festival. Tadi gua dengar orang-orang membicarakan festival, please ajakin gua kesana” ia kembali menyerahkan botol dan dengan wajah memelas—menatap Kristal.
“Oke, nanti ajakin Daniel juga” jawab si gadis.
“Gua! Gua gak di ajak” Edgar mendengus.
“Udah pada tua, kakek-kakek ini, gemes banget” Kristal menepuk pundak Edgar dan Jake bergantian “gua mandi dulu, oke? Abis ini kita ke alun-alun” dua pemuda itu mengangguk.
Meninggalkan ayam yang ludes masuk ke kotak sampah. Jake menyandar pada bahu saudaranya.
“Kenapa dia nggak mau sama gua, sih?” gumaman yang akan terdengar jelas oleh pria yang di lendoti.
“Tau, menyesal gua. Coba cari gadis di luar” saran Edgar terdengar klise. Sudah berapa kali Sinu menyuruh semuanya untuk berkencan dengan gadis. Namun kebanyakan mereka terus-menerus menempel pada Kristal. Hanya Johan dan Samuel yang tidak meminta hubungan dengan si gadis. Mulai dari tertua kedua sampai bungsu, semuanya seperti antri.
“Apa yang spesial?” Edgar bertanya pelan.
“Cantik, pinter” Jake berbisik “dia itu bersinar sejak pertama datang. Sayang aja nggak mau sama gua”
“Gua akan coba pacaran sama manusia lain deh, gua akan coba buka hati dan coba melihat yang lain” pernyataan itu membuat Jake mendengus.
“Nggak ada yang spesial dari hidup lama yang membosankan. Coba aja berhubungan seksual. Gua juga penasaran” Jake menepuk pundak saudaranya. Ia lantas melangkah ke kamar.
Jangan seks bebas Jake, Edgar.. Nanti candu dan berakhir seperti Jumaw di kisah sebelah eh malah ketemu tante girang yg gila 🤧