EPISODE 47 VAMPIR MENGERTI

Pintu perut kapal RORO terbuka, mengeluarkan deru logam yang panjang dan berat. Satu per satu kendaraan mulai menyala, lampu-lampu depan menembus sisa gelap subuh yang masih menggantung di langit Bitung.

Udara di pelabuhan jelas berbeda, lebih padat, lebih hangat, dengan aroma solar, laut, dan aktivitas yang baru saja bangkit. Sepuluh kepala ikut mengalir dalam mobil bersama kendaraan lain, turun melalui ramp besi, roda menyentuh daratan Sulawesi. Setelah berjam-jam terombang-ambing di laut, tanah yang diam sekarang terasa asing.

Bitung belum sepenuhnya ramai. Warung-warung kecil mulai membuka pintu, beberapa sopir truk sudah duduk dengan kopi hitam di tangan, berbicara pelan dengan logat yang kental. Mereka berhenti sejenak di pinggir jalan, karena perjalanan panjang jelas meminta jeda pertama.

Langit pelan-pelan memucat. Garis oranye tipis muncul di balik perbukitan.

Mesin kembali dinyalakan.

Dari pelabuhan, mereka mengambil arah keluar kota, menuju jalan yang akan membawa mereka melintasi Sulawesi. Aspal terbentang panjang, membelah perkampungan, lalu perlahan masuk ke jalur yang lebih sepi. Di kiri-kanan, pepohonan berdiri rapat, sesekali terbuka memperlihatkan rumah-rumah panggung dan kebun yang masih basah oleh embun.

Perjalanan darat itu dimulai tanpa banyak drama—hanya suara ban yang bergesekan dengan jalan dan pemandangan yang terus berubah.

Jam demi jam berlalu.

Matahari naik tinggi, panas mulai menekan kaca mobil. Jalanan tak selalu mulus; ada bagian yang berlubang, ada yang menyempit, memaksa mereka melambat dan lebih berhati-hati. Truk-truk besar sesekali melintas dari arah berlawanan, membawa hasil bumi, meninggalkan debu tipis yang menggantung di udara.

Mereka melewati kota-kota kecil yang terasa singkat—papan nama, lampu merah, lalu hilang lagi di belakang. Sesekali berhenti untuk mengisi bensin, makan di warung lesehan, atau sekadar meluruskan kaki. Para vampir hanya ikut-ikut saja kemana Lyn membawa. Saat mereka mengisi perut, atau mampir untuk membeli es. Daniel berkali-kali meneguk liur. Namun saat cairan itu masuk dalam perut, si bungsu muntah-muntah. Stok darah mereka masih banyak. Lebih banyak dari seluruh barang bawaan dalam bagasi.

Mereka duduk sambil berpangku-pangku. Pegal, lelah, lesu, dan bokong yang panas tidak perlu ditanyakan lagi. Namun anehnya, mereka selalu mengoceh, tertawa—terlebih tiga bungsu yang selalu bertanya ini dan itu. Sementara Isa yang menanggapi jika tidak sedang tertidur.

Tiga gadis itu bergantian membawa mobil. Kata Isa, ini adalah perjalanan darat terjauh yang pernah ia lakukan.  Tentu saja, semuanya begitu.

Waktu seperti tidak lagi dihitung dengan jam, tapi dengan jarak yang berhasil dilewati.

Menjelang sore, langit mulai berubah warna lagi. Cahaya keemasan jatuh di atas jalan, membuat bayangan kendaraan memanjang. Rasa lelah bukan lagi merambat, namun menghantam. Tapi perjalanan belum bisa berhenti.

Di depan, jalan masih terus membentang.

Makassar masih jauh.

Dan malam itu, Lyn memutuskan untuk berhenti di penginapan terdekat.

Lyn menimbang jika mereka–bersepuluh akan cukup untuk satu rumah itu. Penginapan yang satu-satunya ia temukan di sepanjang jalan setelah melewati kiri kanan kebun karet atau sawit.

Mobil terparkir di depan. Gadis itu memimpin dan semua orang keluar meski Kristal mengatakan untuk menunggu hingga Lyn memberi aba-aba.

“Rumahnya kayak serem gitu gaksi?” Samuel berkomentar “kayak ada hantunya” sambungnya lagi.

“Iya lagi, jangan-jangan isinya ada kuyang” kata Edgar menambahkan.

“Kalian lebih serem dari hantu, lagian, emang tau kuyang?” tanya Isa aneh. 

“Tau nih” Jake menyikut dada kakaknya pelan “tau lah kuyang. Samuel sering cerita walau kata Sinu itu bohong. Samuel itu pendongeng andal. Dia kerjaannya nakutin kita semua biar anteng. Padahal, kuyang aja takut liat taring dia” Jake menatap kakaknya, mereka bersitatap agak lama.

“Baca buku doang, isinya tuorial berjalan menggunakan sandal. Tau gua” Daniel ikut berkomentar tentang Samuel.

“Buku dia ni ya, kalau lu mau tau, ada kali seribu biji. Katanya dikumpulin dari jaman dia muda banget sampe sekarang. Tapi pas gua buka satu bukunya, isinya cuma gambar. Sumpah” itu Edgar, lagi-lagi nimbrung “iya, isinya gambar kupu-kupu, ayam, itik, rusa. Gambar aja gitu, tanpa teks, apalagi konteks”

“Gua lagi mempelajari anatomi hewan” bela Samuel, ia menatap sisa orang berharap ada yang mau membelanya.

“Nggak ada, lu kadang cuma buka kertas kosong dan berliur di atasnya. Abis itu kan liur lu garing, bikin kertas jadi kuning. Nah itu, gitu doang. Lu bilangnya karya seni” tambah Daniel lagi. Samuel menyerah.

Logan menyandar pada mobil dengan tangan melipat. Bibirnya pucat dan bokongnya panas karena memangku Daniel yang keras dan berat. Sudah berkali-kali menepuk-nepuk bokongnya meski tidak berpengaruh. Rasanya, ia akan merendam bokongnya pada bongkahan es setelah ini.

“Logan diem aja noh, tanyain, sehat nggak? Kemarin di kapal dia muntah” Johan menyikut lengan Samuel. Lantas Samuel mendekat pada kakaknya.

“You okay sweetheart?” sang adik bertanya ramah setelah ikut menyandar persis di samping Logan. Sang kakak menatapnya tidak ramah.

“Gosah gitu-gitu, najis” katanya ketus. Samuel mendengus.

“Gua periksa dikit, takut lu sakit” 

Saat Samuel memegang tangannya, pria itu tidak menolak.

“Ah.. bokong panas ya, pegel.. Bentar, gua sembuhin dulu ya swit hard”

“Hati lu swit hard, keras” Logan masih sempat berkomentar. Bokongnya di usap, cahaya hijau menguar meski tak besar.

“Wah, kekuatan gua kayaknya cuma mampu nyembuhin sakit-sakit sederhana” ia menatap tangannya “aduh.. Guys, please nanti kalian jangan sakit. Atau boleh sakit, tapi yang ringan aja. Flu, batuk, atau jamuran. Kalau yang berat-berat susah ini”

Logan tak lagi pegal, bokongnya tidak panas. Bersamaan dengan Lyn yang kembali sambil membawa kunci. Senyumnya cerah.

“Guys!! Masuk!” katanya riang. Sisa orang membawa barang-barang dan stok makanan mereka—menghambur kesenangan saat bisa istirahat layak setelah perjalanan yang benar-benar melelahkan. Meski untuk sampai tujuan, masih begitu jauh.

“Guys!! Dengarkan!!” mereka baru saja duduk di sofa bersama sisa lelah saat Lyn kembali akan membuat pengumuman.

“Jadi, kamarnya cuma ada lima. Satu kamar diisi dua orang. Ada kamar mandi, kalian harus mandi, gua udah beli perlengkapan mandi di jalan buat semua orang. Please MANDI! INGET MANDI! Kalian bukan di kastil yang dikurung tanpa banyak aktivitas dan nggak keringetan. Sementara kita lepas dari perjalanan jauh dan badan lengket. Jadi harus mandi oke?”

Jake angkat tangan.

“Gua paham mandi, walau di kastil jarang mandi, tapi ngerti. Jangan bertingkah seolah kita udik, kita enggak” katanya, namun saat matanya memindai si bungsu, Daniel sedang menjilati layar tivi “Daniel hentikan” kata sang kakak. Si bungsu berhenti.

“Itu apa?” lalu mundur sambil bertanya entah pada siapa.

“Itu namanya tivi. Mirip hp, tapi lebih gede” jawab Isa. Sementara satu gadis lagi melendot pada Isa dengan mata tertutup. Gadis itu jelas tidak enak badan sejak dalam kapal. Sangat lemas. Edgar ikut mengganduli meski beberapa kali ditepis.

“Mau gua bagi sekarang aja? Abis mandi kita bisa makan. Atau yang mau tidur, tidur. Inget, jangan rusak apapun. Jangan pegang apapun dengan tujuan jahat. Kita semua capek, kan?” Lyn masih berdiri sambil bertolak pinggang. Semua orang mengangguk meski kepala mereka masih berputar—mengamati tiap interior bangunan yang terasa begitu baru dan aneh.

𓍼ོ

Lyn sudah membagi.

Edgar bersama Kristal. 

Isa–Lyn

Daniel—Logan

Jake–Sinu

Samuel—Johan.

Gadis itu sengaja memisahkan Daniel dan Jake lalu memasangkan si bungsu dengan kakak kedua agar tidak terjadi hal-hal yang membuatnya sakit kepala. Setidaknya, mereka harus bertanggung jawab atas adik mereka. Rencananya, besok pagi baru mereka akan melanjutkan perjalanan. Malam ini biar semua orang istirahat. Lyn juga meminta Samuel untuk memeriksa Kristal yang sejak tadi memejamkan mata. Gadis itu demam.

Lantas belum mandi, semua orang masuk ke kamar gadis itu–mengikuti Samuel. Edgar terus memijati kaki dan mengusap apapun. Bingung harus melakukan apa.

“Kenapa semuanya masuk?” tanya Isa, ia menatap tiap mata.

“Dia yang paling bawel, ngomel mulu. Tapi setengah hari ini jadi diem dan tidur terus” jawab Daniel, wajahnya menekuk dan ia ikut duduk di sisi ranjang sambil turut mengusap betis dalam selimut.

Logan juga, namun pria itu hanya diam memperhatikan. Jake ikut memijati.

“Coba minggir dulu, awas, gua obatin” Samuel menepis lengan semua orang. Tangannya bergerak memegang dahi “dia demam” lalu berdiam di sana beberapa saat. 

Lagi, cahaya hijau menguar ke udara meski tak sepekat saat di kastil. Tangan itu menyerap panas dan membuangnya seperti polusi buruk entah kemana. Dalam waktu kurang dari satu menit, sakit kepala, pegal-pegal, bokong panas serta rasa tidak nyaman lainnya sirna. Kristal bergerak lantas membuka selimut.

“Kan, sembuh” kata Samuel bangga “gimana perasaannya, Nona Kristal alias itil?”

“Ngapain kumpul semua? Lu pikir gua mati?” matanya melotot. Setelah melihat Kristal melotot, Daniel menghambur–memeluknya.

“Nah, gua cinta sama yang galak dan melotot gini, jangan sakit. Gua kayak hilang arah kalau lu pendiem” pelukan itu jelas mendapat reaksi anarkis. Kristal memukul lengan besar meski tak berpengaruh. Wajah-wajah lega.

“Bau banget kamar ini” si gadis yang baru sembuh menutup hidung.

“Bau keringet mereka” kata Lyn, menatap semua orang.

Isa juga ikut berpandangan dengan dua temannya.

“Mandi kek, sumpah bau bacin”  Isa mendorong satu persatu dan mereka keluar tanpa perlawanan. “Mandi, ya? Pakai sabun, scrub. Sikat gigi, pakei mouthwash”

Isa setengah berteriak.

“Mouthwash apaan?” Daniel bertanya pada Logan.

“Teknologi untuk mencabut nyawa modern” kata sang kakak enteng. Semua orang membubarkan diri ke ruangan yang telah di tentukan. Daniel masuk ke kamar sambil merangkak—merayap mirip ular. Logan tidak—atau belum marah. Hanya sesekali kakinya menyandung si bungsu. 

Sudah masuk, ia memegang semua hal sementara sang kakak membawa koper. 

Memencet semua tombol remot AC, remot TV. Membaui semua hal, hingga menggoyang-goyang air purifier. 

Logan lebih dulu masuk ke kamar mandi. Meski ia tidak mengerti apapun, Logan bersumpah tidak akan bertanya pada salah satu gadis karena malu.

Di kamar Edgar.

Kristal mengajari pria itu segala hal. Menjelaskan dari kegunaan remot, kegunaan pendingin dan cara kerjanya. Berikut tivi, lalu ke kamar mandi. Gadis itu menjelaskan dengan cara ia biasanya, hingga cara mandi dan menggunakan seluruh media yang ada di sana. Edgar mengerti dan setelah itu Kristal mendorongnya keluar untuk mengajarkan pada semua orang.

Sore itu semua vampir belajar mandi menggunakan sabun dengan busa melimpah. Belajar sikat gigi dan menggunakan sampo serta tetek bengek lain. Edgar juga mengajari menggunakan lotion dan pelembab bibir.

Saat malam datang.

Saat semua vampir masih sibuk di kamar mereka–entah melakukan apa, Lyn keluar bersama Isa, lalu menghampiri Kristal. Ketiganya berencana duduk di luar—memesan makan malam sambil mengobrol.

Tidak ada yang keluar, maksudnya, vampir.

Makanan datang setengah jam setelah dipesan.

“Kalian harus sering datang ke mansion gua. Please bantuin, jangan gua semua” mulutnya penuh daging panggang, matanya menatap Lyn dan Isa “ya?”

“Gua mungkin akan sering nginep di mansion lu” jawaban Lyn membuat Kristal lega. Sementara Isa masih diam.

“Isa..” Kristal menyenggolnya.

“Gua sebisa gua, gua akan sering datang, mungkin. Tapi nggak sesering itu. Gua pikir gua nggak terlalu berguna. Gua gak bisa handle siapapun. Eksistensi gua cuma buat main sama Daniel”

“Beri gua dukungan aja dengan eksistensi” kata Kristal lagi.

“Gua akan” jawab si gadis yakin.

One thought on “EPISODE 47 VAMPIR MENGERTI”

Tinggalkan Balasan ke Goresan Pena Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *