Semua tulisan dari citruslemon97@gmail.com

HEAVY RAIN

HEAVY RAIN

Seperti bunyi kelenting sendok beradu dengan piring di meja makan. Pelayan beralalu lalang membawa sarapan di pagi sibuk tepat pukul enam tiga puluh.

Ken menyuap potongan dada ayam setelah ia celupkan pada saus krim, sesaat matanya awas menatap layar tablet menelisik data rumit dengan tabel dan kolom berisi angka dan produk.

“Jangan ada susu di sarapan Monika nanti” Lontaran tidak signifikan―entah pada siapa, Ken menatap tiga pelayan yang langsung di reaksi anggukan sambil menunduk. Istrinya kurang cocok dengan laktosa sementara para pelayan baru terus menyediakan cairan putih itu ke atas meja.

“Aku minum jus aja”

Suara lembut berhasil membuat semua orang serentak menoleh. Ken tersenyum, memundurkan kursi sedikit meminta wanita itu terduduk di pangkuannya.

“Aku mau duduk di kursi”

Terlambat, pria itu lebih dulu menariknya. Membuat Monika jejak duduk di atas pangkuan lalu Ken menyuapi sedikit-sedikit.

“Kenapa udah bangun, sweetheart? Masih terlalu pagi, apa ada jadwal?”

Ken menyibak rambut istrinya ke arah berlawanan. Melontarkan kata-kata tepat di belakang daun telinga.

“Aku mau siaran langsung di akun sosial media untuk promosi barang, tapi khusus untuk reseller. Cuma sebentar, setelah itu free”

“Mau kencan setelahnya?”

“Kamu nggak sibuk?”

“Aku fleksibel untuk kamu. Aku bisa kerja sembari tidur”

Monika terkekeh. Pria itu kembali menyuap makanan dan tetap menahan tubuh istrinya meski Monika ingin pindah ke kursi.

Sejak kejadian terakhir, saat Monika menangis karna Ken pergi ke Sulawesi tanpa berkabar. Sejak saat itu hubungan mereka makin merekat. Ini terlalu cepat dan Monika menyadari, ia menyukai suaminya―lebih dari itu barangkali.

Sudah berapa lama? Namun Monika tetap mantap mengatakan untuk menunggu sebentar lagi ketika suaminya menggila di atas ranjang. Pria itu menurut seperti anjing. Namun terus mengoceh jika bisa saja satu malam ia hilang kendali lalu melalukan hal-hal mengerikan. Ancaman itu tidak menakuti Monika. Wanita itu hanya tertawa lalu melendot.

Jus yang tidak di sebutkan nama buahnya. Pelayan membawakan minuman berwarna merah setelah berhasil menghaluskan semangka.

“Oh! Siapa nama kamu? Aku suka inisiatifmu. Lain kaki, tanyakan dulu jenis buah yang aku inginkan. Oke?”

Monika menatap dengan binar ramah. Hari ini perasaannya sedang bagus, mendapati pelayan seenaknya, tidak terlalu memicu jengkel.

“Jadi, ke mana kita akan kencan hari ini Mr. Kellen?” Monika melirik ke belakang dan langsung di sambar ciuman sekilas pada bibirnya.

“Aku akan mengandalkan sopir. Aku tidak berbakat mencari tempat romantis. Dan ku pikir, di mana pun akan romantis asal bersamamu”

“Yeah. Aku setuju”

Monika meneguk jusnya sedikit. “Kamu akan terlambat Ken. Cepat berangkat” Bangkitnya paksa setelah melihat piring suaminya kosong. Monika lalu membenarkan dasi yang sudah rapi, menyibak beberapa debu pada pundak suaminya sementara pria itu pelan-pelan bangkit, membuat Monika harus berjinjit untuk bisa menepuk dua pundak suaminya.

Ken menilik arloji sekilas.

Masih tersisa sepuluh menit sebelum jadwal berangkat seperti biasa. Pria itu lalu mengangkat istrinya, mendudukan Monika di atas meja, bersebelahan dengan hidangan yang masih hangat. Membuat tiga pelayan kontan bergegas pergi.

“Aku akan merindukanmu, sweetheart” Ken memeluknya sayang. Menenggelamkan wajah padda ceruk istrinya.

“Aku juga”

“Aku mencintaimu” Ken menatapnya. Menyelusupkan dua tangan di bawah telinga.

“Aku juga” Monika tersenyum tepat saat mereka beradu pandang. Ken berdebar dengan gemuruh asing yang menyelubungi diri. Melihat Monika, pria itu bukan hanya berhasrat untuk mencumbui atau sejenis. Namun keinginan untuk merengkuh dan melindungi. Menjaga serta mengayomi. Dan dari semua hal, menelan Monika adalah keinginan terbesarnya.

“Juga apa?”

“Juga mencintaimu”

Pria itu memperlihatkan deretan gigi rapi. Senyum malu-malu khas milik Ken adalah kesukaan Monika.

Dan tentu saja, ciuman panas terjadi saat itu.

“Jangan menggigit bibirku” Monika mengerang di tengah ciuman. Pria itu selalu saja begitu.

“Aku gemas, ah Monika” Ken terkekeh. Memeluk istrinya setelah ciuman di lepas paksa. “Beri aku ciuman sekali lagi dan aku akan pergi bekerja”

“Nggak mau”

“Monika”

“Menolak”

“Aku akan menggendongmu ke ranjang dan melakukan sesuatu yang menyenangkan” Ancamnya serius.

“Kamu harus bekerja. Aku ingin suami kaya raya”

Lalu Ken memberi jarak. Melihat wajah istrinya sekali lagi.

“Apa aku kurang kaya? Kamu mau apa, sweetheart? Aku akan memberimu segala hal, aku akan bekerja keras dan mencurahkan segala tenaga dan otakku untuk mencari uang agar―”

Belum selesai Ken dengan kalimatnya, Monika lebih dulu membungkamnya dengan ciuman. Memimpin permainan di sana, berlagak seperti seorang ahli meski selalu Ken yang berakhir mendominasi.

Monika memiringkan kepala, mengalungkan tangan pada leher suaminya dan sesekali menyisir rambut dengan jari-jari. Menjambaknya, lalu melenguh pelan. Surai yang tertata tampan itu di acak seiring ciuman mereka yang kian memanas.

Tangan besar turun ke dada. Meraba tubuh Monika lembut tanpa perlawanan.

Dan ini adalah bagian berbahaya. Pria itu tidak bisa menahan diri jika Monika tidak mendorongnya lagi. Libidonya meningkat seperti akan menghancurkan kepala. Menyesakkan sesuatu yang besar di bawah sana.

“Kamu harus kerja”

“Aku akan”

Monika terengah sambil memeluk suaminya setelah melontarkan kalimat terakhir.

“Aku mohon, jangan terlalu lama sweetheart. Aku seperti akan gila” Ken berbisik lirih. Hampir dua bulan mereka menikah dan Monika masih memberi sekat. Membuatnya seperti akan gila sungguhan.

“Aku berjanji di kencan kita hari ini” Wanita itu tertawa kecil. Berhasil membuat Ken melebarkan pupil meski tetap gagal membuat matanya membesar.

“Aku harus cepat pergi bekerja” Ken menciumnya sekilas sebelum meraih tas lalu berjalan terburu-buru pergi. Ia harus segera bekerja dan pulang saat Monika selesai dengan pekerjaannya. Monika berjanji, dan pria itu menjadi tidak sabaran.

“Aku akan memperkosamu jika kamu berbohong”

Ken berlalu setelah lontaran terakhir. Monika tertawa lalu mulai sarapan dengan hati berbunga-bunga.

────୨ৎ────

Monika hanya diam ketika penata rias meletakkan berbagai macam tetek bengek ke wajahnya. Para kru dan asisten yang berlalu lalang menyiapkan perlengkapan untuk acara siaran langsung sebagai promosi untuk seller yang mulai membludak. Acara akan di mulai setengah jam lagi, sementara seluruh persiapan sudah matang.

Tempatnya di studio. Ruang dengan lebar delapan kali empat yang di sulap menjadi tempatnya mengambil gambar, syuting dan berbagai iklan produk dengan tata latar belakang yang di dekorasi berubah-ubah sesuai kebutuhan.

Harinya sibuk. Namun senyum tak lekang hingga viberasi itu menulari orang-orang di sekitarnya. Monika sedang bahagia.

Sedang bahagia. Itu perlu di garis bawahi.

Tentu saja sebelum denting notifikasi masuk. Dengan cepat tangannya bergulir masuk ke email.

Itu pesan anonim, masuk melalui email. Sangat jarang kecuali spam atau ketika tim administrasi membagikan promo yang di sinkronkan pada akun sosial media.

Monika menggigit ujung ibu jari sambil menekan pesan masuk.

Dan hari bahagianya berhenti sampai di sana.

Dua pupilnya terbelalak lebar, jantungnya bergemuruh tidak karu-karuan. Berpacu lebih kencang dari sekedar kuda yang lepas pengekang. Monika sesak di waktu bersamaan. Tepat ketika video berdurasi sekitar sepuluh menit terputar memperlihatkan wajah suaminya sedang menggagahi wanita lain dengan suara berat dan seksi.

Monika meluruh. Kakinya tak kuat untuk berpijak dan pertahanannya doyong. Namun tampaknya, pesan itu belum berencana berhenti. Monika masih di suguhkan lembar-lembar data mengenai fakta-fakta tentang suaminya yang benar-benar menguras kewarasan. Riasan yang belum rampung sepenuhnya ia seka paksa sebelum jejaknya cepat. Wanita itu meninggalkan lokasi begitu saja tanpa kata-kata, membuat karyawannya menganga.

Monika bergegas pergi ke bar. Meski suaminya pamit ke kantor, namun saat ia menelepon sopir yang membawa Ken, sopir itu mengatakan suaminya ada di club-nya.

Ken berbohong. Dan entah apa lagi yang di sembunyikan pria itu darinya.

Monika hanya menangis di sepanjang perjalanan. Dadanya sesak hingga bernapas pun rasanya sulit. Dan sebelum pergi, Monika sempat meneruskan pesan itu pada suaminya.

────୨ৎ────

Monika berusaha menahan napas. Pintu terbuka yang memvisualkan empat dimensi paling epik sedunia berhasil meluruhkan segala dinding penyangga hidupnya. Cagaknya nyaris doyong, dadanya sesak hingga mual dan kepalanya pening. Air mata selalu saja gagal lolos di situasi ini. Kesulitan bernapas lebih mendominasi ketimbang air mata—otaknya denial.

Ini adalah validasi paling sempurna.

Setelah otaknya gagal mencerna bagaimana suaminya berlakon bak pemain film porno profesional lewat file yang di kirim melalui email dan terasa benar-benar kolot. Di perparah dengan bukti konkret antar sang suami dan ayahnya melakukan ‘bisnis’ yang terasa seperti jual beli. Bedanya, sang ayah menyerahkannya pada Ken agar pria itu mau membantu perusahaan yang nyaris roboh. Ken menikahinya jelas karna ayah Monika meminta dan memohon, Monika bahkan menemukan surat perjanjian yang benar-benar mengoyak hati. Ini tentang bagaimana ayahnya memohon pada pria itu dan rela menukar apa pun. Mirip memohon pada setan.

Monika di hadapkan kenyataan—lebih dari kenyataan—ini karna tertangkap langsung oleh retina.

Lauren buru-buru turun dari pangkuan setelah Ken mendorongnya paksa. Tersenyum tipis sangat cantik dengan lipstik merah menyala. Menyisakan Monika yang memegang dada menjauhi tempat itu dengan kaki yang berubah menjadi permen jeli.

Pernikahannya baik-baik saja.

Mereka masih tertawa bersama bahkan berciuman di meja makan dan berjanji akan kencan setelah pekerjaannya selesai, sebelum pria itu pamit pergi bekerja.

Atau mereka yang bercumbu semalaman sementara Monika memang mengakui menolak ketika pria itu mulai merambat lebih dalam.

Ken memperlakukannya bak ratu—mirip porselen mewah yang rentan pecah. Selalu khawatir dan mengutarakan cinta setiap hari.

Di perlakukan begitu luar biasa hingga membuatnya meluruh dalam waktu singkat. Berapa lama? Ken memujanya sambil menangis seolah diri adalah dewi yang memberi kehidupan.

Dan kenyataannya, hal-hal semacam itu di dasari sesuatu yang menyedihkan. Kini Monika hanya merasa hina.  Tunggu, apa benar pria itu mencintainya? Seperti ocehannya selama ini?

Langkahnya tak secepat pria yang mengejarnya di belakang. Dalam hitungan menit, Ken sudah menggendongnya untuk kembali ke ruangan pribadi. Kesalahpahaman ini harus segera di luruskan agar tidak berlarut. Monika jelas berpikir sesuai intuisi pada visual yang di tangkapnya secara spontan.

“Keparat! Bajingan! Ken, kamu benar-benar menjijikan. Aku ingin pergi, ayo bercerai dan bawa semua hartamu dari ayahku, aku membencimu hingga ingin mati!” Monika berbisik. Suaranya benar-benar lirih namun tegas. Baru ketika pria itu ada dan menggendongnya, air mata itu turun seperti alami saja.

“Kamu salah paham”

“Aku bahkan sedang tidak ingin berbicara”

“Maka kamu hanya akan berspekulasi sendiri”

“Apa yang lebih jujur dari segala indra yang menangkap realita? Apa kamu akan mengatakan jika aku sedang berhalusinasi? Aku pengidap penyakit mental?”

“Tidak, kamu tidak Monika. Tapi kamu sedang salah paham”

Ken membawanya ke ranjang. Baik Lauren mau pun dua pria prangko sudah tidak ada di sana. Monika bahkan baru tahu ada ruangan semacam itu dalam club ini, ruangan pribadi mewah dan benar-benar keren. Dan tentu saja ini bukan waktunya terkagum pada ruang strategis bernuansa putih bersih dengan ranjang berukuran terbesar di kelasnya.

Monika di rebahkan setelah pintu berhasil di kunci.

“Tarik napas dulu, dengarkan aku. Kamu hanya butuh penjelasanku, setelah itu aku akan mendengar keputusan akhir darimu” Ken terlihat tenang. Bahkan di kondisi paling menyakitkan bagi Monika, ketenangan itu terlihat tidak terganggu.

Monika sekali lagi menyeka wajah. Terduduk berhadapan di atas ranjang mirip orang akan berunding tentang film apa yang akan mereka tonton akhir pekan. Menatap suaminya dengan sklera merah dan isak yang sialnya tak kunjung berhenti.

“Bagian mana yang menyakitimu?” Pertanyaan Ken kembali memvalidasi jika ia memang melakukan banyak hal. Sekali lagi, BANYAK HAL yang menyakitkan. Monika tertawa di antara isak menjengkelkan.

“Yang menurutku menyakitkan?”

Pria itu terlihat berpikir meski tetap tak memberi mimik signifikan. “Aku dan Lauren” Pria itu berdehem sebelum legamnya terpaut dengan iris cokelat sang istri “Kami adalah mantan kekasih. Aku memutuskannya hampir enam bulan yang lalu karna dia berselingkuh dengan Andreas” Lagi, Ken menjeda. Matanya menyorot penuh misteri “Video yang kamu kirimkan kepadaku adalah sewaktu kami masih bersama. Lalu, apa di sana yang menyakitimu, sweetheart?”

“Kamu serius bertanya begitu, Ken? Kamu bahkan berhubungan seksual sebelum menikah! Itu menjijikan” Monika menampilkan gestur bergidik benar-benar seperti orang sedang jijik akan suatu hal.

“Apanya? Berhubungan seksual sebelum menikah itu wajar, Monika. Ini Jakarta dan aku sudah di usia legal untuk melakukan itu”

Monika tidak habis pikir dengan jawabannya. Dan ini juga bagian yang baru saja ia ketahui dari suaminya. Padahal, sejauh ini Ken bersikap begitu bijaksana, mirip seseorang yang sudah menelan pahit manisnya kehidupan dalam waktu lama. Hingga selalu penuh perhitungan dalam tiap kata. Namun, apa yang bari saja ia dengar?

“Apa kamu berhubungan seksual dengan pelacur itu sementara tidak melakukannya padaku? Berlagak seperti pria baik-baik yang menunggu istrinya mendatangi lebih dulu. Padahal, di luar kamu bersenang-senang dengan pelacur” Monika mengatakan dengan lantang sambil menangis. Ken bahkan tidak bisa melihat matanya karna air mencurah banyak di sana. Untuk memeluk pun—Monika jelas menolak.

“Aku tidak, Monika. Aku bersumpah demi nama Tuhan” Mencoba memegang dua tangan yang ikut bergetar, Monika tentu saja menepis kasar “Aku bersumpah, aku mencintaimu Monika. Aku mencintaimu sampai mau gila. Aku tidak pernah menyentuh wanita mana pun setelah menikah denganmu, aku bersumpah atas nama Tuhan”

“Lalu bagaimana dengan uang yang kamu berikan pada ayahku? Perjanjian jika dua orang tuaku tidak boleh ikut campur lagi terhadapku, tidak lagi melihatku tanpa seizinmu dan untuk bertemu, mami dan daddy harus menghubungimu dulu. Dan nenek, kamu bahkan dalang di balik sakitnya nenek. Kamu monster mengerikan, Ken. Aku merinding”

“Kata-katamu benar-benar mengundang perspektif mengerikan, sweetheart. Aku tidak seperti itu”

Monika lalu menunjukkan ponsel. Memberikan foto yang di kirim secara anonim pada gmail-nya berisi segala hal yang di lakukan sang suami. Ken bahkan melihatnya terlalu jauh sebelum mereka menikah. Itu membuat Monika banyak mengubah sudut pandangnya terhadap pria yang ia cintai terlalu cepat.

“Aku menyukaimu, sejak lama. Dan ku pikir puncak dari menyukai seseorang adalah dengan menikahi. Menggaulinya dengan cara yang di benarkan oleh agama dan negara. Aku juga tidak mendatangi ayahmu, tapi ayahmu sendiri yang memintaku” Ken masih berusaha mengusap surai  istrinya yang tersedu-sedu. Tidak mengerti bagian mana yang menyakiti istrinya setelah memperlakukannya dengan penuh cinta dan tulus. Ken tulus dari hatinya, tidak sedikit pun ia berencana mencurangi gadis yang ia puja seumur hidup. Dan Monika salah paham terlalu banyak.

“Ayo bercerai. Aku akan bekerja keras untuk mengembalikan uangmu, uang yang daddy pakai. Aku bersumpah akan mengembalikannya cepat” LANJUTKAN MEMBACA

TEH, ADA POP ICE?

TEH, ADA POP ICE?

Sedan mewah membelah para pengantar. Pun bunga yang sesekali masih di taburkan. Bendera dengan tulisan ‘Just married’ berkibar kencang seiring angin yang menghantam dari arah berlawanan. Hanif duduk di kursi kemudi bersama istrinya yang masih mengenakan gaun kelewat cantik, tersenyum lebar diiring lambaian tangan dari keluarga dan kerabat dekat. Hiruk pikuk pelan-pelan mengecil sebelum menghilang sepenuhnya ketika kendaraan berlalu menjauh. Keduanya masih menaikkan pipi, hingga gigi terasa kering. Bahagia tidak bisa dielakkan, air muka terlihat bersinar—selain karena riasan. Roma bahagia gagal di sembunyikan dan keduanya tidak berencana menahan diri. 

“Nyanyi neng” Hanif mencolek dagu istrinya jahil. Keduanya sepakat menuju hotel untuk acara bulan madu singkat, sisanya, Hanif mengajak Silly untuk tinggal di apartemen, meski sang ibu masih tidak rela dan memaksa keduanya tinggal di rumah.

“Menolak”

“Nyanyi sih, dikit aja. Selama ini gua nggak pernah denger lu nyanyi”

Lalu Silly menatapnya serius “Lu berekspektasi apa sama suara gua? Suara gua mengerikan”

“Coba”

“Malas, gua lagi banyak pikiran”

Hanif mengernyit, menatap sekilas sebelum kembali fokus pada jalanan. “Baru nikah ya Allah, padahal masih nyengir sampe gusi garing. Mikirin apa coba? Rumah gua sediain, kendaraan ada, uang banyak. Lu mikirin apa, sayang? Lu menikah sama pria mapan dan bertanggung jawab. Gua ngomong gini biar lu tenang, dan itu fakta”

“Gua takut malam pertama anjeeeng, sumpah. Padahal udah lupa tadi” Silly menangkup wajah dengan dua tangan. Sangat memalukan namun nekat ia ceritakan isi hatinya. Hanif bukan orang asing, sudah agak lama ia mempercayai pria itu tanpa menganggapnya ancaman atau seseorang yang berpotensi akan menyakiti, meski semua orang memiliki potensi semacam itu.

Kegundahan sang istri di reaksi kekehan kuat. Hanif terbahak-bahak hampir menangis. Padahal, Silly terlihat seperti seseorang yang siap setelah segala ocehan binal dan lagaknya yang–mengaku seorang pro palsu. 

“Apa gua terlihat seperti akan menyakiti istri? Gua akan sabar dan kalau lu udah siap, gua akan melakukannya hati-hati, gua nggak kasar, gua nggak mukul, gua nggak jahat, neng. Gua sayang banget sama lu. Rasanya, dunia dan seisinya bakal gua kasih asal lu bahagia dan nyaman. Tolong percaya ocehan laki lu”  Ada kesungguhan pada lontaran bekas tawa. Hanif serius. Pria itu tidak sedikit pun pernah kedapati bertingkah kasar kecuali saat terakhir kasus dengan mantan kekasihnya.

Hanya sesaat kenyamanan mendesir. Mirip ombak yang menyapu pantai, kehangatan merajai sepersekian detik sebelum kembali menggigit ujung kuku. Memikirkan bagaimana pria itu sangat mudah terangsang, ia khawatir ketika libido sudah naik hingga ubun-ubun, maka suaminya akan menjadi tidak sabaran lalu memukulnya. Padahal mustahil, ia tahu Hanif tidak seperti itu, ini adalah efek kelelahan dan lapar.

Silly lalu mematung menatap jalanan lengang. Tubuhnya memang lemas sejak beberapa jam lalu. Itu pula karna ia tidak mengisi perut. Pikirannya menjadi sinting.

“Neng”

“Hmm”

“Jangan tegang dong. Ini akan terdengar mesum, tapi dengerin aja biar jadi sugesti” Hanif berdehem “Mungkin awalnya nggak nyaman dan bikin khawatir, tapi hal-hal semacam itu bisa di asosiasi dengan segala kegiatan yang kita kerjain di kehidupan sehari-hari. Atau kasarnya ngomong butuh adaptasi. Misal kaya hari pertama kerja, semuanya nggak langsung nyaman. Kita akan menyesuaikan dengan tempat baru, kultur, perangai orang-orang sekitar, atau kadang dapet first impression yang kurang menyenangkan. Anggap aja hal itu sama kaya pertama kali kita berhubungan intim. Awalnya nggak nyaman atau bahkan cenderung sakit. Tapi percaya deh, setelah adaptasi, lu akan nyaman dan merasakan gimana cinta yang saling berkesinambungan dan tubuh kita jadi rileks. Itu cinta, gua suami lu. Bukan kurir atau laki yang maksa cipokan buat buka puasa”

Dan Silly menatapnya tajam. Ada keheningan beberapa saat diantara tatapan yang seakan menusuk. Hanif kebingungan sesaat. Padahal, pria itu merasa ocehannya keren. Namun alih-alih istrinya bisa ikut tersugesti atau minimal mengerti cara kerjanya, Silly malah memperlihatkan manik seperti akan membunuh. Mirip ketika ia melakukan dosa besar setara bersekutu pada Tuhan.

“Udah paling pro sih, salut. Jelasin lagi di telinga kiri gua coba. Telinga kanan rada budeg. Kek mana tadi sistem kerjanya? Hanif proplayer?”

Hanif mengusap wajahnya kasar. Silly jelas bukan sedang dalam kondisi ramah. Ini tidak bisa dijawab karena akan mendatangkan petaka. Pun jika berdusta, Silly jelas tak akan percaya. Jalan satu-satunya adalah membiarkan istrinya memberikan tatapan mematikan serta wajah paling tidak enak sedunia meski kecantikan tidak luntur dari sana.

“Eh, btw riasannya cantik banget, ya? Nggak sia-sia si mbaknya datang jauh-jauh dari Bugis”

“Orang Cilacap”

“Ah, iya. Cilacap” 

“Jadi, berapa banyak gadis perawan yang lu tidurin?”

Lagi, Hanif menggaruk tengkuk dengan dahi mengkerut banyak. Tampaknya memang Silly dalam suasana hati yang buruk–ketika sejak tadi teorinya di salah pahami.

“Gua sumpah nggak pernah tidur sama perawan. Gua modal denger, menonton, jam terbang dan teman-teman tongkrongan di kebon sawit. Gua laki dewasa yang fasih teori begituan hanya lewat ceritaan orang. Bukannya lebih aneh lagi kalo gua nggak paham sama sekali sama perkara semacam itu? Sumpah neng, mantan gua nggak perawan semua”

Diam beberapa detik, Silly menghela napas gusar. Lama-kelamaan kepalanya benar-benar pusing. Gaun berat, riasan kepala yang seakan menekan membuat pening bersama perut keroncongan. Mengapa setelah semua hal, sinyal itu baru diberikan? 

Hingga entah berapa lama. Perjalanan menuju hotel yang sudah direncanakan sekitar setengah jam lagi. lima belas menit setelah ocehan terakhir sang suami, akhirnya wanita itu menutup mata, tertidur. Hanif melihat roma kelelahan meski riasan tetap terpatri tak menggeser barang seinci atas kecantikan yang makin meluap-luap. Sangat menggemaskan. Tangannya sempat membenarkan posisi agar rebah sang istri lebih nyaman, sementara di luar langit mulai menggelap dengan semburat jingga yang bergaris banyak. Malam yang indah untuk pertama kalinya dengan status baru bersama istri tercinta meski harus berjuang melewati hari-hari berat tanpa bertemu dengan dalih ‘pingit’ yang ia sendiri tak mengerti budaya semacam itu berasal dari mana.

Tak pula banyak yang bisa dilakukan selain menggendong tubuh dengan bobot yang lumayan menyita tenaga. Beruntungnya pemesanan kamar sudah dilakukan kemarin, hanya perlu mengambil kunci dari resepsionis lalu mulai melangkah lagi dengan beban—lumayan namun tak membuatnya keberatan. Ia tahu Silly terjaga, wanita itu pura-pura tidur meski sadar mendapati suaminya terengah membawanya dalam gendongan depan, khas pengantin baru.

“Satu, dua, tiga” Menghitung langkah. Lift terbuka bersama desah napas terengah yang khas. Silly nyaris ingin tertawa meski ia tahan “Sampe ranjang, bakal gua telanjangin” Bisik pria itu pelan. Ditatap lagi wajah yang masih bertahan meski gurat pipi naik sedikit gagal di sembunyikan. Hingga tepat ketika lift terbuka dan kamarnya semakin mendekat. Hanya perlu beberapa langkah lagi dan Silly membuka mata.

“Mau turun” Cicitnya serak, sambil menenggelamkan wajah pada ketiak suaminya karena malu.

“Telat”

“Mau turun, gua mau mandi, koper masih di mobil, kan? Ambil sana. Gua mau makan juga, tapi mau makan di kamar”

“Bentar, gua mau rebahan sebentar aja. Pegel neng”

“Ya makannya turunin, tau pegel”

Terlambat. Pintu sudah terbuka lebar dan Hanif buru-buru menurunkan istrinya untuk merebah di ranjang. Sangat hati-hati, seolah tubuh itu adalah porselen berharga yang akan rusak jika terbanting sedikit saja.

Lalu keduanya merebah sejajar. Menatap plafon putih dengan chandelier yang menggantung cantik mirip susunan berlian—berkilauan begitu indah. Beberapa detik, tidak ada yang membuka percakapan dan keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sudut yang sangat sempurna dari atas, pasangan pengantin baru dengan gaunnya. 

“Capek” Silly berbisik lirih. Tangannya naik menekan-nekan dahi berulang berharap dapat mengurai sakit kepala yang sejak beberapa saat lalu terasa. Ia terlambat makan. Di perparah kurang istirahat. Sejak siang tak berselera, nafsu makannya tergerus rasa bahagia—dan perasaan ambigu lainnya, hingga ketika ditawari menyantap, Silly terus-terusan menolak.

“Buka gaun, rambutnya di urai dulu itu yang kaku-kaku. Abis itu mandi air anget dan gua cari makan, oke?” Tawaran menggiurkan. Silly masih tak bergeming meski isi kepala–membayangkan sudah melakukannya meski yang dilakukan adalah menutup mata.

“Neng”

“Gendong a, kepala gua rasanya mau pecah. Ish gila, sakit kepala”

“Gua buka dulu gaunnya pelan-pelan, ya” Silly mengangguk. Semua hal terasa berat ketika kepalanya pusing. Gaun dengan bobot lumayan, riasan rambut yang membebani. Di perparah dengan perut lapar. Ini sempurna.

Hanif melepas gaun penuh kehati-hatian. Geraknya begitu lembut dan telaten. Meski hasil akhir harus menarik gaun dari bawah sekuat tenaga agar terlepas. Silly menatap sekilas pada erangan suaminya yang berusaha membuka gaun–kesulitan.

“Edan, ini gaun di paku kah, kenceng banget anjir” Hanif menarik napas dalam sebelum keduanya cekikikan. Silly bangkit sedikit melihat suaminya bersusah payah karna bagian dada yang ketat seperti tersangkut meski semuanya terlihat mudah.

“Tiduran aja, katanya pening. Gua bisa begini doang mah” Meyakinkan pada wanita yang kini ikut menurunkan gaun dengan dada terbuka tanpa kancing atau tali. Ocehan suaminya bertolak belakang dengan usahanya yang seperti akan mengeluarkan bayi. Pula entah bagaimana cara tata busana memakaikan gaun itu karna seingat Silly—mereka begitu mudah saat memasangnya. 

“Kok bisa nggak ada kancing atau pengait coba? Ajaib sekali” Silly berkomentar ketika melihat bagian dadanya. 

“Tiduran lagi neng, biar gua tarik sekuat tenaga. Kalo masih nggak bisa, biar gua gunting sekalian”

Silly terkekeh. Namun menuruti perintah suaminya. Lalu, dengan kekuatan maksimal yang dilayangkan dari bawah sambil berjongkok, urat-urat pada tangannya menonjol kentara, Hanif menghitungnya sampai tiga sebelum gaun itu merosot ikut terbawa tubuh yang nyaris terjengkang ke belakang. Pria itu tertawa sendirian.

“Edan, gaun macam apa ini. Cakep sih, tapi setengah mati anjir. Gua yakin dia ada cara buka yang baik dan benar. Tapi terlanjur nggak sabaran gua” Hanif menggulung gaun itu menjadi lebih kecil meski asal-asalan. Lalu meletakkannya di atas sofa. Kembali mendekat pada istrinya yang masih merebah tanpa membuka mata. 

“Ya Allah.. Ya Allah..” Ungkapan untuk pemandangan yang tersaji. Pria itu mengendurkan dasi yang melekat di leher. Lalu membuka jasnya sebelum dilempar dekat gaun istrinya sembarangan.

Dada istrinya terekspos sempurna. Silly membiarkannya terpampang jelas begitu bulat dan kencang. Ujungnya tidak besar, bahkan kelewat kecil dengan warna merah tua kecoklatan. Sementara celana pendek menyelubungi diri. Hanif yang mendekat menelan ludahnya susah payah. 

“Pengen ngenyot, ya Allah, neng, edan lu ya, cantik banget gila” Hanif duduk di sisi. Maju mundur ingin menjamah bagian yang baru ia lihat pertama kali. Meski saat istrinya memperbaiki riasan di rumah–Hanif sempat memegangnya, namun tidak sesempurna saat ini. Pemandangan yang benar-benar memanjakan mata.

“Duduk dulu coba, nanti gua kenyot paksa, marah. Sini gua urai rambutnya pakai minyak” Pelan-pelan membangunkan istrinya dengan mengangkat hati-hati. Masih dengan tatapan tak lengser sebelum istrinya bangkit membuka mata. Hanya begitu saja cukup membuat sesuatu di dalam sana membesar tidak sopan.

“Woylah! Nen gua nggak pake kutang. Ambil koper dulu sana, gua malu” Kesadarannya terlambat meski rasa malu tak begitu kentara. Pasalnya, ketika bangkit, Hanif tidak menatapnya cabul seperti beberapa detik lalu. Berlagak tidak peduli meski payudara besar terpampang jelas. Atau ia melewatkan? Tidak tahu, Silly menggulung selimut sebelum menyelubungkan kain besar dan tebal itu pada tubuhnya. Hanif kemudian turun mengambil seluruh barangnya.

Meninggalkan wanita dengan status baru itu melamun sebentar. Sakit kepalanya masih bertahan di sana. Memutuskan kembali merebah lalu menutup mata meski bulu mata lumayan mengganggu. Menunggu suaminya mengurusi, rasanya benar-benar pusing.

Sekitar lima belas menit, pria itu sudah kembali dengan koper—pun setelah memesan makanan. Dilihatnya sang istri yang sudah bergumul dengan selimut sementara riasan, rambut kaku dan dada telanjang yang kini sudah tertutup membuatnya risi sendiri. Silly pasti tidak nyaman merebah dalam kondisi seperti itu.

“Neng, rambutnya gua bersihin, ya? Sama make up juga. Lu merem aja” Mengacak-acak koper istrinya sebelum menemukan kotak perawatan wajah serta perlengkapan kewanitaan yang begitu banyak hingga membingungkan. Silly tak banyak membawa pakaian. Yang memenuhi isi kopernya adalah botol-botol serta tetek bengek berisi cairan perawatan wajah yang tak terlalu ia mengerti.

Baby oil dan make up remover masih mampu ia baca meski untuk menemukannya harus menyelam di antara sekian banyak cairan di sana. Kapas berada di tutup koper, pria itu langsung menghampiri istrinya.

“Gua akan menghapus make up dengan kekuatan 10 tangan” Lengang tak ada jawaban. Silly bahkan tak memiliki energi untuk mengomentari sang suami yang kelewat aktif. LANJUTKAN MEMBACA

STICK-STUCK

STICK-STUCK

Malam datang lagi.

Dingin, gelap, pengap, pula bau apek yang merangsek dalam pernafasan. Amber menggigil sembari memeluk diri, pakaian kurang bahan tentu saja gagal melindunginya dari paparan suhu rendah. 

Dadanya perih, keringat dingin bercucuran bersama rasa lapar yang merongrong. Matanya juga gagal menangkap cahaya, yang terekam hanya siluet pria bertubuh gemuk, hitam legam, dan bau keringat serta tetek bengek bercampur aduk – tak sedap menguar. Penisnya menggantung di antara selangkangan sembari merangkak ke atas kasur–mendekat–berliur dan menjijikan.

“Jangan mendekat! Jangan mendekat atau aku akan bunuh diri! Jangan mendekat…” Amber menangis. Namun bayangan itu malah semakin membesar terus menghampiri.

Hingga

ZRRASSHHH

Satu sayatan kembali menggores dada. Amber kembali menyakiti diri – sebagai bentuk pertahanan dan pemberontakan ekstrem. Rasanya perih. Darah segar mengalir meski semuanya gelap. Lalu cutter itu ia goreskan pada bayangan yang tidak padat. Amber menghalau udara berkali-kali, berharap sosok itu ikut tersayat dan sakit.

Tapi, bukannya berhasil menyayat bayangan besar, Amber malah di datangi wanita yang membawa balok besar, lalu tubuhnya dipukuli hingga lumpuh, hingga tak bisa bergerak. Seakan semua saraf sensorik dan motoriknya mati rasa. Pukulan demi pukulan, seperti membunuhnya.

Lagi

Tubuhnya lebam di sana sini.

Dadanya mengalir darah

Perutnya lapar

Keringat dingin bercucuran.

Hanya menangis menjerit-jerit memanggil nama kakaknya meminta pertolongan sembari memohon–pengampunan.

“Amber! Amber! Sayang, sayang” seseorang memeluknya, menciumi pucuk kepala–juga melayangkan kata-kata jika semua hal baik-baik saja. “Gua disini, gua disini, Lev di sini, oke… gua disini.. Sayang” deru nafas kencang, tangis besar dan jeritan keras. Amber tidak tahu itu mimpi atau nyata. Rasanya sama. Sakitnya sama dan ketakutannya persis, tidak ada yang berubah meski itu terjadi di hari kemarin. Sudah lewat.

────୨ৎ────

Tidak ada yang istimewa. Selesai acara ijab kabul, Lev hanya menyiapkan beberapa nasi kotak yang ia pesan dari–dapur langganan dekat toserba yang di bagikan pada ketua RT dan beberapa saksi. Sementara paman Amber langsung pamit pergi dengan pola resah yang tidak berubah sejak pertama kali datang. Pun kepergiannya tidak bisa di negosiasi. Lev tidak akan mencegah karena memang perannya sudah berakhir.

Tidak ada dekorasi, tidak ada riasan dan benar-benar seadanya. Pula, Amber yang hanya diam melamun meski tidak lagi menunjukkan gejala panik atau ketakutan. Terang saja, wanita itu hanya bersembunyi di kamar, menunggu acara selesai. Menunggu Lev selesai ijab kabul. Siang itu masih ramai orang-orang mengobrol. Gadis yang baru saja mengganti statusnya sebagai istri itu tidak banyak bicara. Hanya bangkit dan duduk di sofa sembari memperhatikan sekitar.

“Tidur siang aja, sayang. Nanti gua ke kamar, mau ngobrol dulu sama yang lain” Lev mendekat, mencium kepala istrinya sekilas–membuat Amber tersenyum. “Apa mau sesuatu?”

Menggeleng, Amber mendekap suaminya–membuat Lev jatuh ke sofa. “Bulan depan mau masuk kuliah. Tiba-tiba gua kepikiran mau kuliah” katanya lagi, Amber nyengir meski tidak benar-benar tersenyum.

“Eh, udah nggak papa banget ini? Masih ada yang mengganjal, nggak? Gua cuma khawatir” kemampuan sosial yang buruk. Terakhir, bahkan Amber masih jatuh dengan panik saat Selamet datang bertamu.

Amber menggeleng lagi “Mau kuliah, mau tidur sama Lev” Katanya lagi, wanita itu terlihat agak pucat sebab riasan yang sudah bercampur air mata bersama pewarna bibir yang diseka paksa–menghilangkan–perona, menyisakan alas bedak saja ketika ijab kabul. Amber merias wajahnya sendiri dan makin terlihat cantik meski tak mengubah aura anak baru gede.

Lev bersumpah akan mendaftarkan pernikahan mereka jika usia Amber sudah legal. Dan rencananya, pria itu juga akan menyewa penata rias dan fotografer untuk memotret pernikahan mereka nanti. Nanti, ketika Amber benar-benar sehat dan siap. Kali ini, biarkan istrinya merasa aman dulu, merasa nyaman dan tidak ketakutan akan hal-hal yang sudah lewat. Membiarkan Amber lelap tanpa ketakutan dalam peluknya. Seperti biasa.

Amber melangkah ke kamar, sekali lagi di palingkan wajah ke belakang, menengok suaminya yang masih mengobrol dengan tetangga dan ketua RT entah membicarakan apa.

Plafon putih usang dengan garis-garis abstrak penanda akan terjadi kebocoran–membentang vertikal dari ujung ke ujung. Amber menatapnya lagi. Tubuhnya lurus dengan tangan sejajar terasa kaku. Matanya ikut tegak searah penglihatan, hanya melamun untuk beberapa saat. Kepalanya kosong namun ada yang tidak nyaman dalam hati. Selalu begitu.

Sudah berapa lama sejak insiden mengerikan? Yang membuatnya harus sibuk bolak-balik ke terapis hanya untuk kegiatan normal seperti sebelumnya. Dadanya di ukir indah berpola mawar merah dan seekor naga yang melingkar. Sementara selangkangannya membentuk kucing tanpa mulut atau Lev mengatakan jika itu adalah tokoh kartun favoritnya meski hanya mirip sedikit saja.

Sembari bersugesti dalam hati jika semua baik-baik saja. Tantenya  dikabarkan tewas tersengat listrik meski penyebab pasti masih simpang siur, ada yang mengatakan wanita itu tidak sengaja tersetrum dalam penjara ketika akan menghidupkan kipas, namun ada yang mengatakan jika seseorang datang dan membunuh dengan metode setrum, Amber tak terlalu yakin. Namun, bagaimana pun akhir dari penjahat–nyatanya tidak langsung membuatnya hidup tenang seperti semula.

Mimpi buruk datang begitu rutin. Pola yang hampir sama dan benar-benar terasa nyata. Meski tentu saja tidak separah hari kemarin. Dokter bilang, kondisinya membaik,  tentu saja, sudah berapa lama? Hampir enam bulan, Amber hanya perlu aktivitas seperti biasa dan menjadi produktif.

Menjadi produktif

Menjadi produktif

Menjadi produktif

Seperti selama ini yang ia kerjakan bersama Lev, menjadi produktif.

Apa tidak apa-apa kembali membuka akun sosial media lalu membuat video cara memecahkan soal matematika? Seperti yang biasa dilakukan. Itu juga sudah sangat lama.

Apa orang-orang di luar sana masih ingat? Bahwa dirinya adalah korban penyekapan, pengancaman, serta penganiayaan karena menolak menjual diri kepala pria-pria mengerikan–berkulit legam dekil dan bau. Mereka juga bergigi kuning serta aroma keringat yang busuk menusuk penciuman.

Saat mengingatnya, dada Amber berdebar tidak nyaman. Meski tidak parah. Rasanya hanya tidak nyaman dengan perasaan yang lagi-lagi gagal ia gambarkan bersama nafas yang tak stabil.

Apa orang-orang tau? Apa wajahnya terpajang di seluruh berita di media sosial? Sudah berapa lama Amber tak membuka ponsel karena takut. Namun memutuskan untuk berkuliah karena ingin. Dan benar, berdiam diri di rumah hanya akan membuatnya makin stres.

Diliriknya sekali lagi. Lev membelikan ponsel baru. Ponsel keluaran terdepan dengan desain paling cantik. Jika dulu, pasti ia akan senang luar biasa. Dulu, Amber merindukan hal-hal kecil akan dirinya sendiri. Amber yang kejam, Lev kerap membuat lontaran semacam itu meski itu terdengar berlebihan.

Apa harus membukanya? Mendaftarkan diri dengan akun baru? Memulai semuanya dari nol? Atau tetap melanjutkan dengan yang sudah ada? Begitu banyak pertanyaan hingga Amber memutuskan menutup mata, alih-alih mencoba. Perasaannya masih takut. Padahal, dokter sudah mengatakan jika memang ada yang mendapat sanksi sosial, itu adalah pelaku. Namun Amber malu, rasanya malu dan aib.

“Hey, make up nya belum di hapus itu, nanti jerawatan” suara khas kakak–suaminya masuk begitu terang dalam pendengaran, Amber kontan membuka mata.

“Udah pada pulang?”

“Belum, tapi gua mau liat lu. Jangan tidur sebelum hapus riasan. Lu benci itu, nanti jerawatan, sayang” Lev hanya mengintip dari pintu tanpa memperlihatkan seluruh tubuhnya. Senyum itu naik membuat dada menghangat, Amber merasa hidup saat melihat wajah itu meski berkali-kali hasrat ingin mengakhiri ketakutan terasa makin kuat.

“Hp baru, kenapa nggak di buka. Bikin konten eh, nanti gua jadi muridnya, jadi murid Amber yang nggak ngerti matematika”

“Muridnya kayak bapak-bapak”

“Emang, udah menikah berarti kayak bapak-bapak, kalau lu akan selamanya kayak anak-anak. Selamanya, sampe umur 70 tahun”

“Cih, udah sana obrolin lagi, nanti temenin buka hp”

“Oke” pria itu menghilang lagi. Kembali membuat Amber menatap plafon. Namun kali ini pikiran buruk sedang menepi. Wanita itu memutuskan bangkit dan berencana menghapus riasan.

“Ah! Iya, makasih pak RT, pak ustadz, makasih, makasih, makasih” Lev menyalami orang-orang. Menunduk sesekali dan senyumnya naik tinggi mengiringi kepergian orang-orang yang menjadi saksi akan keabsahan statusnya kini yang menjadi suami. Meski siri, namun keduanya halal dimata agama–dengan wali sah dari –adik ayah Amber yang awalnya enggan.

Saat pintu tertutup, ada kelegaan. Seharusnya, sejak awal begini. Amber tidak pernah pergi dan mereka menikah. Seperti keinginan adiknya itu. Kenapa tertipu oleh iming-iming dusta dengan data palsu dan polisi gadungan yang di bawa-bawa? Lev banyak menyesal, namun menyalahkan diri sendiri sudah ia lakukan hingga hampir gila. Sekarang, yang terpenting adalah Amber sehat dan kembali seperti biasa, serta rencana menjalani masa kuliah meski ragu mengingat kemampuan bersosialisasi Amber masih benar-benar buruk. Istrinya belum bisa bertemu dengan orang asing yang membawa dejavu pada kejadian itu. Dan tiap sekelebat bayangan aneh terlintas, Amber akan mengalami serangan panik hingga sesak nafas. Atau pingsan. 

“Udah hapus make up, sayang?” Kembali masuk ke kamar kecil dengan nuansa gadis yang begitu kental, Lev tersenyum saat melihat Amber sibuk memasang banyak perlengkapan untuk membuat konten. Kegiatan yang banyak tertanggal karena warisan bodong dan pengobatan psikis. Melihat adiknya kembali sibuk setelah melewati masa sulit membuat Lev senang.

“Gua mau bikin konten” Amber memberi senyum sekilas “Lu kalau mau ke toko, gua nggak papa di rumah sendirian. Nanti gua telpon kalau menemukan perasaan gua nggak enak”

“Ini hari pernikahan, katakanlah ini hari pengantin. Jadi, gua mau temenin lu. Besok aja kerjanya”

“Sana ke toko, Lev”

“Bikin konten aja bikin konten”

“Ish” Amber mendengus. Lalu kembali sibuk, sementara Lev membuka ponsel baru “Mbak-mbak yang di toko itu namanya siapa? Gua cemburu, tapi baru sempat bilang” menatap suaminya lagi, Amber penasaran.

“Ah, itu namanya mbak Mina,  lu udah tanya hampir 10 kali. Dia umurnya 35 dan dia udah punya suami dan anak. Dia yang menghandle toko. Kakaknya temen gua”

“Lu suka?”

“Hah?” Lev lagi-lagi di buat nyengir terperangah. Amber sudah bertanya itu juga, namun tampaknya akan terus bertanya hingga telinganya meledak dengan jawaban.

“Lu suka, sama mbak  Mina?”

“Yang bener aja”

“Gua pikir lu lebih suka sama yang usianya di atas lu. Gua nggak peduli lu menikah sama gua karena kasihan atau karena lu cinta beneran. Yang penting, lu punya gua, gua istri lu, nggak mau ada orang lain” suaranya serius, khas abege, dan Lev tertawa.

“Kan gua udah punya istri. Sibuk gua. Satu aja kayaknya rewel dan cerewet. Nggak bisa bayangin kalau ngurus dua perempuan”

“Iya, lu kudu fokus di gua aja. Selain kerja, lu kudu perhatian sama gua, full banget, sampe gua muak”

“Lu ada rencana muak?”

“Nggak sih, gua cinta Lev, cinta sekali, cinta mati. Gua mending mati dari pada hidup tanpa Lev”

“Jangan membicarakan kematian. Gua benci dengernya”

Amber mengangguk. Semua alat terpasang sempurna. Hanya menunggu ponsel yang kini di tangan, mendaftarkannya pelan-pelan.

“Lev”

“Iya sayang”

“Kalau pengantin baru itu…” Amber menatap layar ponsel, lalu bergantian pada suaminya.

“Apa?”

“Bercinta, ya?”

“Bercinta apa?’

“Itu..”

“Apa?”

“Ish!”Amber memukul lengan besar. Wajah Lev jelas meledek. “Kiss, terus buka semua baju. Pokoknya menyatukan kelamin” Katanya lagi. Amber sangat transparan meski bahasa yang digunakan kelewat kaku.

“Iya, suami istri kayak gitu. Tapi gua nggak akan melakukannya sampai lu siap”

Amber menunduk. Pikirannya hanya bingung. Ia merasa Lev adalah tempat teraman, tempat nyaman dan tidak berbahaya. Mereka juga tidur bersama selama ini, dan Amber tidak takut. Justru sebaliknya. Rasanya ingin terus menempel dan tidak sudi berpisah – terus meminta pelukan dan takut di tinggalkan.

“Jangan memikirkan yang menyakitkan, gua ada disini, jangan takut dan sedih”

Amber mengangguk lagi. Meski tidak tahu apa yang di angguki. Ini hanya  hangat dan menyenangkan. Lev adalah dunianya, Lev terbaik dan Amber mencintainya sampai mau gila.

“Gua tau lu masih trauma” Kemudian mencium pucuk kepala istrinya”

“Gua trauma? Gua nggak tau, tapi nggak saat sama lu, Lev” Ambar meletakkan ponsel yang sedang berjalan, mencari dekapan yang paling bisa membuatnya merasa aman “Gua kayak mau sinting, gua ketakutan setengah mati, gua masih mimpi buruk. Tapi gua merasa aman sama lu” sekali lagi Amber menegaskan perasaannya. “Dari semua hal, asal sama Lev, nggak papa”

Pria itu tidak langsung menjawab. Hanya mengusap-usap kepala istrinya sayang. Rasa bersalah itu menyusup lagi tanpa permisi.

“Mau cemilan gak?”

“Ada cemilan apa?”

“Gua punya sesuatu”

“Apa?”

“Merem geh”

Amber duduk tegak, lalu mulai menutup mata. Sementara Lev menciumi wajahnya. Semuanya, tanpa terkecuali. Seperti kecupan-kecupan ringan namun berharga, sebelum memegang dua rahang istrinya, lalu mengecup bibir itu lembut. “Apa gua nakutin?” saat Lev bertanya, Amber menggeleng pelan. Ketika mendapat izin, pria itu kembali melanjutkan. Geraknya sangat lembut dan hati-hati. Pelan-pelan lidahnya menyelinap, lalu kembali menyecap bibir hingga basah. Hanya sekilas.

“I love you, Amber. Gua sayang banget, jangan takut dan jangan merasa sendirian. Gua ada di sini walau hujan petir badai halilintar. Nggak akan pergi, nggak akan kemana-mana. Jadi abang, suami dan temen lu. Jangan takut lagi, huh?”

Amber membuka mata, melihat manik tulus dari suaminya bersama berbibir basah. Lengkung bibir ke bawah membawa haru penanda wanita itu akan menangis.

“Loh, kok malah mau nangis lagi?” Lev kembali memeluknya “Kudu berapa maaf lagi, ya? Rasanya, tiap kesakitan yang lu rasain, itu adalah bagian dari ketidakbecusan gua sebagai abang”

Amber bangkit, lalu duduk dipangkuan suaminya, lagi-lagi memeluk Lev kelewat kencang. “Nggak ada, sekarang gua punya harta yang lebih berharga dari dunia dan seisinya dan dada yang lebar buat numpahin segala rasa takut. Gua baik-baik aja” ada kelegaan. Tubuh kurus itu terasa habis dalam pangkuan sementara dekapan tetap gagal membereskan sesuatu yang kacau di dalamnya.

“Mau bikin konten, apa gua gendong sambil makan cemilan?” Lev mencoba mengalihkan.

“Bikin konten, gua bilang, nggak papa kalau lu mau pergi, asal balik sebelum sore”

“Nggak mau, mau sama istri” 

Amber terkekeh. Rasanya menyenangkan sekaligus lega. Tidak apa-apa jika nanti malam atau beberapa saat kemudian mimpi itu datang dan membuatnya menangis lagi. Yang terpenting, saat ini perasaannya aman dan nyaman. LANJUTKAN MEMBACA

LITTLE GIRL

Acara meriah itu ditutup oleh kepergian sedan mini mewah dengan hiasan bunga tepat di atas kap mesin. Mawar semerah darah dirangkai membentuk setengah lingkaran, diikat dengan pita satin berwarna champagne yang melambai-lambai tertiup angin.

Rencana mereka tidak berubah; Labuan Bajo dan akan melakukan bulan madu di atas kapal Arunika Phinsi.

Perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta, tapi waktu terasa berjalan lambat, seakan memberi ruang untuk mencerna bahwa mereka kini adalah suami istri. Meski tidak banyak yang berubah selain hati yang berbunga-bunga. Siapa saja akan menangkap gurat itu, kebahagiaan yang tertuang dalam senyum khas. Keduanya banyak menampakkan gigi hingga rasanya kering.

Setibanya di bandara, mereka langsung diarahkan ke jalur prioritas. Tas kecil, koper ringan, dan mata yang saling memandang dengan antusias.

Dua setengah jam di udara, lalu pesawat mendarat mulus di Labuan Bajo. Angin laut menyapa begitu mereka keluar dari terminal kecil itu—hangat, asin, dan membebaskan. Seorang kru kapal sudah menunggu dengan papan bertuliskan nama mereka. Tanpa banyak bicara, mereka dibawa ke dermaga kecil yang tenang.

Di sana, kapal Arunika Phinisi menunggu. Tubuh kayunya kokoh dan anggun, seperti istana terapung yang disiapkan khusus untuk mereka. Layar putihnya masih terlipat, namun terasa hidup—siap mengembang dan membawa mereka jauh dari segalanya.

Begitu kaki menjejak dek, angin laut menyapu wajah. Di buritan kapal, meja makan kecil sudah ditata, dua kursi rotan saling berhadapan, diterangi lampu gantung dari anyaman bambu.

Jangkar diangkat. Layar dibentangkan. Dan perlahan, kapal mulai bergerak, membelah laut tenang menuju cakrawala. Hari mulai meremang. Laut memantulkan warna oranye langit. Mereka duduk berdampingan di geladak, sambil mengulum senyum dan menyadari, jika dunia benar-benar terasa milik berdua. 

Tapi, bukan itu bagian pentingnya sekarang. Bukan bulan madu mereka yang manis, bukan cinta yang berhamburan terinterpretasi dari tiap lengkung senyum dan gestur. Melainkan hawa pening yang pelan-pelan merangsek seiring kapal yang mulai menjauh dari dermaga.

Randi tidak yakin. Tapi tubuhnya seperti diguncang perlahan namun merata dari ujung kaki hingga kepala. Perutnya seakan dikocok dalam ritme rendah lalu ombang-ambing — mendayu mengantar kontraksi perut yang merayap makin parah. Pria itu mual.

Barang-barang dibereskan oleh asisten, menyisakan dua sejoli yang duduk di dek kapal dengan jamuan romantis di antara meja kayu sederhana dan angin besar serta pemandangan matahari terbenam yang di tunggu-tunggu. Medie banyak tersenyum, wanita itu mengoceh banyak hal entah membicarakan apa, Randi tak terlalu menyimak ketika rasa perutnya benar-benar tidak enak.

“Hoeekk” ujung dari kontraksi tidak nyaman bercampur pening, pria itu berlari ke dalam kapal, bersusah payah mencari kamar mandi. Isi perutnya benar-benar akan tumpah dan tidak tertahankan. Medie yang melihat—langsung ikut berjalan cepat membuntuti suaminya.

Tidak ada yang keluar.

Hanya kepalanya pening khas orang mabuk karena memang nyata mabuk laut. Sedikit-sedikit kapal bergoyang–seirama dengan perutnya yang kembali mual dan pening, Randi nyaris teler di mulut kloset dengan wajah pucat pasi.

“Yang? Sakit? Astaga” Medie ikut panik. Tubuhnya lalu menghilang di balik pintu—mencari dokter sementara yang ditinggalkan benar-benar menyedihkan. Duduk salah, berdiri salah, terbaring apalagi. Ingin menangis saja rasanya.

Bukan dokter yang memindahkan tubuh berotot dengan bobot hampir 70 kg. Melainkan para koki, pelayan dan pengawal yang membawanya ke ranjang utama–kamar pengantin mereka yang terletak di tengah dalam kapal alias bagian yang paling stabil.

Randi masih memejamkan mata. Tubuhnya dingin sementara wajah pucat tidak berdaya membuat Medie khawatir.

“Kamu kenapa nggak bilang mabuk laut, astaga” Medie duduk mengusap-usap kepala suaminya. Sesekali menciumi kening yang berkeringat. Dokter kembali datang membawa air hangat dan obat.

“Bisa bangun sebentar, pak. Menelan dimenhidrinat bisa mengurangi mabuk laut secara signifikan meski efek setelah minum akan mengantuk, tapi setelah bangun, anda akan lebih baik”

Suara dokter berhasil membuat pria yang menutup mata tak berdaya itu pelan-pelan bangkit. Rasanya seperti semua hal berputar—bergoyang aneh. 

Medie yang memegang obat dan air, lalu di sodorkan–di telan hati-hati.

Dokter membuka jendela lebar yang memperlihatkan hamparan lautan luas berwarna biru tua. Ombak menggulung–merayap menghantam awak kapal

“Coba pelan-pelan pandang ke garis cakrawala. Pandang lurus dan amati. Ini bisa bantu otak menyesuaikan antara sinyal dari mata dan telinga bagian dalam” kata dokter meyakinkan. Randi lalu menatap garis batas antara langit dan bumi—bagian yang paling jauh dimana langit ‘bertemu’ dengan laut.

Pria itu melamun, namun tidak mual meski obat belum bekerja. Dokter juga menyodorkan teh tawar hangat dan meminta Medie memberikannya.

Hanya melamun dengan rambut berantakan, wajah pucat serta keringat dingin tidak nyaman. Terjadi begitu mendadak dalam rentang kelewat singkat. Pria itu lalu menggeleng kuat berharap mabuknya dapat berkurang atau obat yang ditelan cepat bekerja.

“Medie… kepala aku sakit” keluhnya lirih, dua tangan mengusap wajah sembari menunduk, mencari sisa-sisa normal dan berharap rasa seperti itu lekas menjauh dan ia bisa memeluk istrinya sayang. Ini menjengkelkan.

“Aku ngerti..” Medie mendekat, tubuh kecilnya merengkuh–mengusap kepala seperti menenangkan anak kecil. “Seharusnya nggak kesini, tapi terlanjur, kan? Apa mau mendarat di salah satu pulau yang ada penginapannya?” tawar Medie jelas. Pria itu kontan menggeleng.

“Coba tanya dokter, butuh berapa lama aku adaptasi? Masa mau begini terus, nggak mungkin kan?” lalu melepas rengkuhan istrinya dan merebah. Satu bantal mengalasi kepala dan dua yang lain di peluk, pria itu menguap lalu memejamkan mata “aku merem dulu ya, sayang. Nanti aku cium kalau udah mendingan”

Medie tidak menjawab, hanya mengelusi kepala dari belakang sembari menatap hamparan laut luas dari kaca besar. Anginnya seakan menghantam sampai ke dalam meski tidak. Bau asin tertanggal di langit-langit hidung membawa rasa nyaman yang dibalut cinta besar.

Di lirik sekali lagi, pria besar berwajah tampan yang menggulung diri nyaman. Kelopaknya bergerak-gerak resah tanda ia masih terjaga dan berusaha hilang kesadaran. 

Medie menatapnya bergantian. 

Pola sang suami yang mencari kenyamanan dan langit yang pelan-pelan menggelap diluar–mengabaikan keinginannya untuk melihat matahari tenggelam. Bukan, mereka bahkan belum makan malam, wanita itu hanya akan menunggu suaminya sambil ikut merebah–memeluk seperti anak kucing yang mencari kehangatan, di punggung suaminya.

Senja membuntuti tubuh lelah yang kembali diisi daya. Istirahat setelah hari panjang dan melelahkan, setelah rentetan acara meski belum makan malam. Kini, keduanya benar-benar terlelap ditemani hamparan laut yang kian pekat seiring tenggelamnya sang surya. 

Malam pengantin yang romantis. Medie merasa ini adalah malam impiannya, malam impian para gadis perawan setelah menikah. Tidak ada kecanggungan, tidak ada ragu. Dan semua hal tidak mesti berjalan sesuai harapan. Beberapa hal yang terjadi di luar rencana, buktinya mampu menciptakan perjalanan yang tidak monoton. LANJUTKAN MEMBACA

CARA MELANJUTKAN MEMBACA⁀➴

UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA ESPRESSO, KAMUN HARUS PAYMENT DULU.

Berisi 26K kata, cerita ini memuat adegan dewasa yang eksplisit serta emosional. Untuk melanjutkan membaca Espresso, silakan melakukan pembayaran sebesar 35.000 ke sini ↓

Dana : 089528855607
Shopee pay : 089528855607
Rekening Seabank an Nopi Yanti : 901956159510
Gopay : 089528855607

KIRIM BUKTI PEMBAYARAN DISINI UNTUK MENDAPAT AKSES➯ CITRUSLEMON

UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA “TEH, ADA POP ICE” KAMUN HARUS PAYMENT DULU.

Berisi 38K kata, cerita ini memuat adegan dewasa yang eksplisit dengan genre komedi romantis. Untuk melanjutkan membaca silakan melakukan pembayaran sebesar 35.000 ke sini ↓

Dana : 089528855607
Shopee pay : 089528855607
Rekening Seabank an Nopi Yanti : 901956159510
Gopay : 089528855607

KIRIM BUKTI PEMBAYARAN DISINI UNTUK MENDAPAT AKSES➯ CITRUSLEMON

UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA “ANOMALI” KAMUN HARUS PAYMENT DULU.

Berisi 15K kata, cerita ini memuat adegan dewasa yang eksplisit dengan genre petualangan romantis. Untuk melanjutkan membaca silakan melakukan pembayaran sebesar 15.000 ke sini ↓

Dana : 089528855607
Shopee pay : 089528855607
Rekening Seabank an Nopi Yanti : 901956159510
Gopay : 089528855607

KIRIM BUKTI PEMBAYARAN DISINI UNTUK MENDAPAT AKSES➯ CITRUSLEMON

UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA “STICK-STUCK” KAMUN HARUS PAYMENT DULU.

Berisi 30K kata, cerita ini memuat adegan dewasa yang eksplisit dengan genre petualangan cinta antara adik tiri dan kakak tiri. Keduanya di tinggal mati orang tua mereka. Untuk melanjutkan membaca silakan melakukan pembayaran sebesar 30.000 ke sini ↓

Dana : 089528855607
Shopee pay : 089528855607
Rekening Seabank an Nopi Yanti : 901956159510
Gopay : 089528855607

KIRIM BUKTI PEMBAYARAN DISINI UNTUK MENDAPAT AKSES➯ CITRUSLEMON

UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA “HEAVY RAIN” KAMUN HARUS PAYMENT DULU.

Berisi 25K kata, cerita ini memuat adegan dewasa yang eksplisit dengan genre Thriller berdarah. Untuk melanjutkan membaca silakan melakukan pembayaran sebesar 25.000 ke sini ↓

Dana : 0089528855607
Shopee pay : 089528855607
Rekening Seabank an Nopi Yanti : 901956159510
Gopay : 089528855607

KIRIM BUKTI PEMBAYARAN DISINI UNTUK MENDAPAT AKSES➯ CITRUSLEMON

UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA “LITTLE GIRL” KAMUN HARUS PAYMENT DULU.

ESPRESSO

Tubuhnya menggeliat sambil menguap besar. Kelopak itu terbuka pelan-pelan lalu mengerjap berusaha mengembalikan kesadaran. Pemandangan yang sama setiap hari, barangkali baru akan terasa bosan jika sudah ratusan juta kali. Dan kini hanya rasa hangat dan bahagia yang menyelubungi.

Zain membelai pipi, merasakan kulit halus menyentuh jemarinya. Deru napas teratur pelan menyapu wajah ketika jarak mereka nyaris tandas.

Bulu mata kelewat panjang yang natural terlihat cantik meski tanpa riasan. Berkali-kali mengamati, tak sekali pun menemukan celah buruk pada paras ayu. Sejak kapan menjadi secantik ini? Pria itu benar-benar berpikir. Lantas seleranya beberapa bulan belakangan memang mengalami kemerosotan, atau matanya yang mulai tak wajar. Masih segar di ingatan bagaimana gadis itu pertama kali datang. Mirip kera.

Kebiasaan dan kebutuhan adalah dua komponen sempurna untuk membentuk ilusi kenyamanan yang akrab di sapa cinta. Atau persetan apalah. Entah retina yang membias mengalami kerusakan, barang kali usia menggerogot minta di beri asupan rengkuhan. Yang pasti, kini tidurnya normal, moodnya terkendali sementara hatinya menghangat setiap hari. Itu adalah cinta dalam kewarasan.

“Jam berapa ini? Kamu nggak kerja kah?” Mengusap kepala yang mendekap sembari mendusal pada dada erat, Ratu hanya mengusap surainya sayang sembari melontarkan pertanyaan.

“Aku nggak mau kerja lagi. Rasanya mau di sayang aja setiap hari”

“Oke”

Tak berencana menyanggah, setiap hari yang di katakan hanya malas kerja. Namun beberapa saat kemudian bangkit untuk mandi, tiba-tiba sibuk dan pergi. Baru akan kembali setelah hampir tengah malam.

“Hari ini aku ke Solo”

“Hmm” Zain mengecek arloji, menyipitkan mata sebelum kembali merebahkan kepala. “Bilang sama pakde-mu mau mahar berapa.” Ada kekehan di antara pertanyaan. “Tiap aku tanya dia bungkam, nanti aku bawain sapi seribu biji kaget”

Sangat memuakkan tiap datang. Pria berusia akhir lima puluh itu selalu saja petantang-petenteng sambil mengatakan bahwa dulu ia adalah kesatria dengan sabuk hitam. Mengusai berbagai bela diri dan mampu menumbangkan banyak lawan. Rasanya sangat lucu hingga menggelitik. Ketika izin pada gadisnya untuk menghajar sekali dan tertolak, pria itu memutuskan untuk diam saja.

“Aku marah kalo kamu kedapatan ngobrol sama marimas”

“Aku nggak”

“Nggak apa?”

“Nggak ngobrol sama mas Aji”

“Jangan sebut namanya, kamu selingkuh ya?”

Ratu menatapnya tajam, melepas rengkuhan paksa lalu bergerak membelakangi.

“Aku nggak suka di punggungin, Queen..”

Mengusap bokong itu berulang lalu memukulnya sesekali, Ratu hanya menepis namun tak berkomentar.

“Aku mau bercinta di depan ibu bapakmu” Ocehan itu di ikuti kekehan. Sudah berapa lama? Hingga kini gadis itu selalu menolak ajakan bercinta dan mengoceh tentang pernikahan. Khas gadis desa yang menjaga harga diri dan martabat. Padahal yang di lakukan setiap malam adalah tidur bersama sambil menyusui. Tak jarang pria itu memintanya mengoral penisnya hingga puncak, Namun kukuhnya kuat tak mau di sentuh. Hanya itu saja permintaannya sejauh harga untuk menidurkan setiap malam.

“Aku pukul mulut kamu ya?” Membalik tubuh lalu mulai mengangkat tangan berencana menghantam, pria itu hanya cengengesan.

“Queen …..”

“Kamu beneran nggak kerja”

Gelengannya kelewat pelan. Padahal sudah mengatur waktu untuk mandi satu jam lagi. “Jangan ikut ke Solo, nyusul aja nanti” Zain kontan mendelik, dahinya berkerut banyak dengan roma curiga

“Udah aku duga kamu mau selingkuh. Ku bantai semua orang di rumah kamu kalo sampe tau kamu sama Ajinomoto” ocehannya agak serius, namun di iringi senyum.

“Bantai, patiin semua. Emang payah kalo mafia” gadis itu bangkit pelan-pelan. Piyama putih kebesaran dengan kancing berantakan ia benarkan sekenanya. Sementara dadanya terekspos sembarangan bekas pria itu menyusu. Persis seperti ibu menyusui, setiap malam dadanya mirip figura yang terpampang. Zain adalah bayinya.

“Queen, sejak kapan ya kamu jadi galak dan aku takut? Rasanya aku mau sekarat tiap kamu ngomel” suaranya di sedih-sedihkan. “Ah.. jantungku sakit– tidak… uhuukkhh–” pura-pura kesakitan. Ratu sudah tak lagi merasa aneh. Bagian tak masuk akal ketika ia juga mencintai pria itu. Menerima segala kelakuan aneh dan random. Zain sudah tak pernah memukul, meninggikan suara atas sejenis kekerasan lainnya sejak kejadian terakhir. Pria itu banyak berubah meski hingga hari ini tak tahu pekerjaan asli prianya. Ratu hanya menyebutnya mafia.

Benar, rasa cinta datang karna terbiasa. Lalu di perlakukan bak permaisuri serta intensitas kontak dan segala hal yang berhubungan. Siapa pula tak terpukau pada wajah kelewat tampan? Meski awalnya momok dan monster, kini di matanya, Zain hanyalah pria sakit yang butuh pertolongan. Sejauh ini.

Aji tersingkir perlahan, di matanya kini hanya ada pria tinggi besar dan tampan mirip bayi yang senang merengek. Sepertinya kata tersingkir pula menjadi alternatif karna tak ada pilihan.

“Nggak nginep ya? Kita mau menikah sebentar lagi Queen!”

Bangkit dan melangkah terburu-buru mengikuti gadis yang sedang buang air  kecil, pria itu membuntut lalu berjongkok di depan manusia yang terduduk di kloset.

“Aku lagi pipis, kamu ngapain?” Hanya menggeleng, Zain menatapnya aneh.

“Aku mau melamar, Aku nyusul nanti ya? Sewa orang biar bisa pura-pura jadi orang tua aku. Orang tua kamu sensi banget sama silsilah.” Menatap penuh kelembutan tak enyah dari posisi, pria itu selalu saja memiliki cara untuk di marahi.

“Bohong hanya akan menyelesaikan masalah hari ini dan kekacauan di hari esok”

“Tapi aku udah terlanjur bohong”

“Kamu bisa jujur ke mereka di pertemuan yang akan datang”

Pria itu berpikir banyak. Sial. Bagian mana yang jujur, mengingat dua orang tuanya saja ia tak mampu.

“Aku nggak tau. Aku lahir dari batu, Queen. Aku nggak ingat”

Gadis itu menatapnya lekat. Apa yang di harapkan dari pasien dokter jiwa yang menjalani terapi dan obat-psikotropika selama dua tahun? Orang gila mana pun tahu hal-hal semacam itu mengikis memori, namun sialnya tak berhasil memangkas trauma.

“Langkah pertama, kamu bangun dan keluar, aku mau mandi”

“Nggak mau”

“Zain..”

“Iya sayang”

Gadis itu melotot, dua pupilnya membesar berusaha menakuti. Zain terkekeh sekali lagi. Baru berapa bulan dari perjumpaan pertama mereka? Mengapa kondisinya sangat jauh terbalik? Gadis itu lucu dan menakutkan sekarang. Mengapa dulu ia sangat berani menyakiti? Manusia segemas itu seharusnya memang ia sekap di ketiak.

“Let me make you get cum”

“Fuck off”

Pria itu mendengus, bangkit malas namun patuh berjalan keluar.

Perkara semacam itu yang membuat Ratu jatuh cinta. Mata sayu penuh pemujaan serta segala kepatuhan. Zain menjadi budak sekaligus tuannya. Tak pernah memarahi dan benar-benar mengalami perubahan besar-besaran. Pun tiap mood memburuk perangainya tak jauh berbeda, pria itu masih saja memukuli pelayan dan membanting banyak barang. Namun tak berani marah padanya.

────୨ৎ────

Tubuhnya merapat pada dinding tatkala intimidasi berhasil menyeretnya dalam rengkuhan tanpa bisa menolak apalagi melawan. Tak ada jarak antara keduanya ketika bibir menaut sementara cecapan kelewat panas. Sopir sudah menunggu dan keberangkatan pesawat tak akan lama. Zain masih mengapitnya di antara diri dan dinding sembari menginvasi seluruh rongga gadisnya.

“A—ku telat” suaranya tercekat tatkala tak di beri ruang untuk bersuara. Pria itu kelewat liar pun tak sabaran, gaya berciumannya mirip orang akan menelan bulat-bulat. “Jangan nakal, aku punya banyak mata, satu aja ada laporan aneh, aku akan jadi Megatron” menjilat bibir ranum yang masih basah sekali lagi “Aku serius sayang” dan lidahnya kembali menyatroni seisi mulut meski tak lama. Ratu diam saja hingga pria itu selesai dengan acara perpisahan yang bahkan hanya beberapa jam. Pria itu mengoceh akan menyusul dan melamar nanti malam.

Masih saja cemburu pada mantan kekasihnya.

Ratu tak ada rencana kembali pada pria baik-baik itu. Rasanya sudah tak pantas dan memalukan. Aji adalah gambaran pangeran yang nyaris tak ia dapati selanya. Hanya pria keren dengan tutur kata lembut dan mudah merona. Persetanlah, kini pun hidupnya tak ada harapan untuk memikirkan pria lain apalagi berencana mencari tipe ideal. Hak kebebasan memilih-pun ia tak punya.

Penerbangan memakan waktu satu jam lebih sedikit. Mendarat lalu kembali di bawa oleh sopir pribadi untuk sampai di kediaman orang tuanya. Gelagatnya mirip istri pejabat penting yang di kawal beberapa orang, Zain lumayan sinting untuk hal-hal semacam itu, pun Ratu sudah tak pusing dan terbiasa dengan tingkah dan perilakunya.

Baru kembali sekitar seminggu yang lalu. Kini intensitasnya bertemu orang tua makin sering dan Zain tak heboh meski di buntut pengawal dan pria itu akan menyusul. Terpenting kehidupannya jauh lebih baik berkali lipat.

Di perlakukan bak ratu sungguhan, siapa tak suka?

Tak lama dan tak terasa. Merasa hidupnya menjadi jauh lebih baik dan manusiawi. Benar, hanya ikuti takdir maka di sela tangis, akan selalu ada hari cerah penuh tawa.

Bahkan langkahnya tepat sampai di depan rumah. Akhir-akhir ini pikirannya banyak terdistraksi beberapa hal, seperti memikirkan pria yang merengek meminta di beri puting.

Sial. Itu bahkan cabul yang menyenangkan.

“Nduk.. nggak sama temanmu?” datang di sambut ibunya, gadis itu masuk sembari melendoti tangan. “Itu pacar aku buk” Mereka menuju dapur dan wanita berusia pertengahan lima puluh itu berencana memberi anaknya makan. Sudah berkabar sejak semalam jika akan datang, namun Ratu tak mengatakan rencana Zain untuk melamar, biar terjadi dadakan karna sedang tak ingin mendengar ibunya membandingkan antara kekasihnya dan Aji.

“Ibu sukanya Aji. Baik, sopan, ramah. Yang pasti satu suku dan nggak urakan. Ibu khawatir Zain galak atau suka selingkuh, orang kota biasanya pada nakal” kekhawatiran klise dan lumrah. Namun roma cemas itu terang-terangan di berikan seolah mengetahui banyak hal. Bagian mana yang masuk akal ketika anak gadisnya hilang selama satu bulan lebih lalu tiba-tiba datang bersama pria. Meski Ratu sudah memvalidasi jika hal buruk sudah tak berlaku lagi, kekasihnya sudah menjadi pria keren dan baik hati, pun di lontarkan pada dua orang tuanya dengan terus membangga-banggakan kekasihnya, nyatanya tidak mengubah pikiran buruk orang tuanya.

“Aku sukanya mas Zain buk” hanya menatap sekilas saat mendengar jawaban putrinya. “Aji pernah cerita di pukulin laki-laki yang kamu anggap pacar itu” Ada rasa tak nyaman saat mengatakan, air muka itu bahkan tidak bersahabat. “Terus kamu di injak dan di sikut.” Jedanya sebentar tatkala mengambil nasi untuk mengisi piring “Ya.. ibu nggak tahu bener atau enggak, yang pasti waktu kamu menghilang selama ini, ibu benar-benar khawatir dan kepikiran. Apalagi dengar aduan dari Aji”

Ratu tak lagi menanggapi ketika semua lontaran adalah fakta. Lagi pula tak ada celah pergi, kabur atau sejenisnya. Bagian paling mengejutkan adalah tumbuh rasa secepat itu dalam hatinya. Zain adalah villain yang rela mati untuk gadisnya. Dewasa ini, ia banyak berpikir tentang bedanya pahlawan dan villain, ini adalah gambaran umum tentang dirinya sendiri, buka kebutuhan khalayak. Zain rela menghabisi banyak nyawa, mengeluarkan banyak uang dan bertaruh hidup untuknya. Di mata umum, perilaku semacam itu adalah gambaran sempurna dari tokoh jahat dalam sebuah fiksi. Namun jika di telaah dari sudut pandang lebih sempit, seperti di mata seseorang yang berusaha di lindungi oleh si jahat, itu adalah sebuah perjuangan dan keindahan cinta. Hanya saja dunia selalu tak  berpihak pada minoritas.

Namun kadang helaan napas itu kelewat berat. Bukan, sial. Ini adalah bentuk pertahanan diri agar ia tak kalut dan goyah. Zain harga mati karna tak ada pilihan. Segala yang ia tanamkan di kepala adalah bentuk pertahanan diri.

“Nduk mau menikah buk—“ ada keraguan dalam tiap kata sebelum memandang ibunya salah tingkah. “Mas Zain mau melamar” Bukan kalimat penolakan atau keritik yang ingin di dengar, Ratu hanya ingin di restui dan semua hal akan berjalan lancar. Bukan, ketakutannya lebih pada penolakan dua orang tua lalu hubungannya dengan sang kekasih memburuk. Zain bukan seseorang yang bisa di tolak.

Ibunya terdiam lama. Hanya ikut terduduk setelah menyodorkan makanan favorit putrinya lalu menatap lekat dua manik cokelat milik anak kesayangan. Ratu bahkan tak dapat membaca air muka ibunya.

“Kamu udah mantap ya nduk?” wanita itu berdehem sebentar “Di mata ibu—mas Zain mu itu—nggak bagus” Netranya menyisir wajah buah hatinya, berharap menemukan sesuatu yang meragukan atas keputusan di sana. Tidak, yang di temukan hanya wanita beranjak dewasa. Kini gadis itu bukan lagi anak-anak yang bisa di atur, bukan anak kecil yang mau jika di minta ini dan itu. Sejak kuliah, Ratu selalu kukuh dengan pendirian. Keinginannya sangat sulit di negosiasi.

Anggukan itu menjadi jawaban atas segala hal. Pun mau di larang bagaimana, jika sudah mau tidak dapat nanti. Hanya belum mengatakan pada ayahnya.

“Ibu, Ada tamu di depan” Satu asisten rumah tangga datang dari depan, menggunakan pakaian sopan serba panjang dengan senyum semringah. Tiba-tiba teringat semua teman-teman pelayan di rumah yang tiba-tiba menghilang dan di gantikan dengan orang-orang baru. Sangat aneh, namun Zain tak berencana memberitahu ke mana mereka pergi.

“Nduk, ada mas Aji di depan. Katanya mau ketemu” Sang asisten ikut mengabrkan, sementara gadis itu diam sebentar setelah sesaat mengangguk pada asisten rumah tangga namun tak berencana beranjak.

Namun tentu saja banyak hal berjalan tak sesuai harapan. Pria tampan berusia dua puluh delapan itu masuk dengan sopan. Kacamata masih bertengger dengan tas penuh.

Senyumnya jelas naik tinggi. Ada gurat campur aduk pada air muka

“Nduk.. kamu udah bebas kan? Mas sempat kaget pas kamu bawa dia ke rumah kemarin-kemarin” Ada kelegaan di antara senyumnya. “Maaf mas nggak bisa apa-apa waktu itu” Meriah jemari cantik yang selesai dengan makanan. “Kamu pasti ketakutan, maaf” Penyesalan pada paras itu kini mendominasi, membentuk kerutan sedikit pada sudut mata dengan netra turun menunjukkan penyesalan yang tulus. Ratu tak mengerti. Wajah yang dulu amat ia rindukan ketika baru beberapa minggu menjadi sandera, kini berpegang tangan dengannya-pun terasa biasa saja. Zain benar-benar banyak menginvasi hati hingga mampu menggeser posisi pria yang sejak dulu sangat ia cintai. Atau ketakutan? Kini membedakan saja ia kesulitan

Menarik tangannya pelan, gadis itu tersenyum canggung maju mundur untuk menolak. Namun mengingat pengawal yang entah ada di mana—yang artinya—bisa saja melihat kegiatan mereka, tak ada alasan untuk terduduk bersama lebih lama. Hanya mengandung sara.

“Aku mencintai mas Zain. Kami akan menikah”

Lontaran itu mirip beberapa cuplikan pada adegan dalam film lokal. Sesaat Ratu agak menyesal mengatakan bait se-klise itu. Maksudnya, barangkali ia bisa mengatakan jika—ia baik-baik saja dan semua hal terjadi tak seperti penglihatannya terakhir kali. Kadung terucap, biarlah angin di luar yang bertiup dari arah jendela dapur menyapu, ikut menerbangkan kalimat anehnya pergi.

Namun tidak. Bagi yang di ajak bicara, kalimat itu tak hanya hilang di bawa angin yang lolos dari sela jendela yang tertutup gorden tipis, yang bahkan meliuk tak terarah tatkala pawana membawanya ke sana ke mari. Lontaran itu mirip petir yang menghantam di siang bolong. Senyumnya turun di gantikan tatapan tak percaya setengah meneliti tak terima. Itu menyakitkan ternyata.

“Kamu di guna-guna ya, nduk? Kenapa? Mas masih ingat pas kamu di injak. Itu bukan perilaku yang normal yang di lakukan laki-laki terhadap perempuan.” suaranya melemah, berharap dapat menyadarkan gadis yang di pikirannya tengah di guna-guna.

Ratu diam tak berencana menjawab. Langkahnya besar menuju wastafel lalu mencuci satu piring. Rencananya pulang karna ingin mengobrol dengan ibunya dan berguling-guling di kamar lalu bermain di kebun teh milik ayahnya. Berbicara agak lama dengan pria yang sudah mendapatkan peringatan sebelumnya, hanya akan membuat dirinya dalam bahaya.

“Nduk ..”

“Mas bisa pergi aja nggak? Aku mau sendirian”

Dua netranya menatap lekat. Setengah tak percaya perangai kekasihnya menjadi dingin dan aneh. Gadis itu bahkan mengoceh tentang pernikahan dengan monster yang ia lihat sendiri bagaimana bengis dan gilanya. Namun tak pula  berencana membujuk apa lagi mengemis. Pria itu bangkit dengan kepingan hati yang luka. Empat tahun mereka menjalin hubungan sambil terpisah jarak. Lepas lulus kuliah Ratu ngotot tak mau pulang dan memilih membuka kopi shop yang berujung nestapa setelah bertemu Zain.

Rasanya ia tetap berdiri di sendirian dengan rasa tak kalah sepi. Mirip jatuh cinta sendirian. Padahal gadis itu dulu juga memuja dan mencintai. Hal-hal tak terduga banyak terjadi dan tak dapat di tolak. Orang-orang akrab menamainya takdir. Aji berlalu dengan rencana lain, bagian mana ia bisa menerima segala hal sementara gadisnya jelas tidak baik-baik saja. LANJUTKAN MEMBACA…