Semua tulisan dari citruslemon97@gmail.com
BAB 15. FREE
BAB 6. APA ADA BAGIAN YANG TIDAK SAKIT?
BAB 4. KERACUNAN
BAB 3. TOTALITAS

Yoon seharusnya mengantisipasi hal ini. Atau tau jika kemungkinan-kemungkinan krusial seperti babi yang dihalalkan bagi kaum nasrani dan sang kekasih mengkonsumsinya adalah hal paling mungkin dan pasti datang—maksudnya, akan datang hari seperti itu. Dan diri yang sangat menyukai ciuman, bibir lembut yang di balut pewarna merah muda tidak terlalu mencolok, pria itu masih saja tak menduga jika di dalamnya, Margareth bekas mengunyah babi. Seharusnya tidak seperti ini. Yoon seperti akan gila.
Ia semakin menggila setelah kesadarannya kembali pasca meneguk cairan setan yang menjadikannya benar-benar mirip penghuni neraka pada kerak paling dasar. Begitu matanya terbuka dengan sisa pengar yang baru pertama kali di alami, Yoon menangis di kamarnya.
Semua berputar begitu jelas.
Susu kotak dalam pendingin supermarket, sedotan yang di tancapkan, minuman soda kaleng dan botol minuman keras yang ia sendiri bahkan tidak tahu jika itu adalah minuman keras.
Lalu ingatannya merambat seperti api yang menggulung kayu kering dan lapuk. Begitu terang bagaimana ia muntah setelah turun dari mobil, memasuki halaman belakang lalu…
Yoon membelalakan mata dengan kelopak menyedihkan.
Dari semua hal, dari serangkaian perkara yang akan membawanya ke bumbung kobaran api neraka, Yoon masih tidak percaya dengan ingatannya yang itu.
Mencium Mona, merasakan bagaimana bibir lembut gadis itu begitu kaget menerima miliknya. Rasa manis dari tar pada tembakau seakan masih menempel pada dinding langit-langit mulutnya. Deru nafas pelan dan aroma. Yoon mengingatnya dengan baik dan sialnya, itu bukan berita baik.
Pria itu memeluk lutut–menenggelamkan wajah disana. Kepalanya masih pusing. Tapi hatinya sakit dan tidak karu-karuan. Sebenarnya, kenapa ia mengambil jalan ini? Kenapa begitu ceroboh dan bersikap urakan hanya karena wanita? Bahkan, Mona yang bertato terlihat lebih indah ketimbang Margareth yang penuh keistimewaan namun tak bisa ia gandeng berjalan setujuan.
Tangisnya terdistraksi saat denting notifikasi pesan masuk membuatnya menoleh ke samping. Matanya bergulir di antara abjad yang tersusun, nama gadis kesayangannya terpampang di sana. Lantas, Yoon segera mengusap matanya demi membaca serentetan pesan yang terlihat banyak, padahal tidak.

Bukan pergi mandi seperti pesannya pada gadis itu, Yoon pergi ke dapur untuk mencari air hangat demi membasuh tenggorokannya yang penuh dosa. Apa pun, apa saja yang bisa membuat pengarnya hilang. Syukur-syukur kakak pertama membuat makanan berkuah, itu akan sangat membantu.
Rumahnya sepi. Seperti semua orang sudah pergi pada kesibukannya masing-masing. Ia sendiri sangat jarang berada di rumah pada jam ini.
Langit cerah tampak mencolok dari kaca jendela, langkahnya lunglai menuju dapur meniti tangga.
Namun lagi-lagi, semua hal tampak makin menyebalkan saat matanya menangkap sesuatu yang—Yoon tidak bisa mengatakannya, ia hanya bingung, salah tingkah, merasa bersalah dan yang pasti malu besar. Mona duduk di kursi makan, tangannya sibuk dengan laptop, gadis itu sendirian, hanya fokus sementara potongan buah terlihat memadati piring besar yang di tabur mayones.
Jika saja ada opsi lain untuk meredakan pengar tanpa harus menelan apa pun atau mengganjal perutnya yang lapar, ia tidak sudi berpapasan dengan gadis itu. Bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa atau pura-pura tidak ingat adalah satu-satunya jalan. Lagi pula, mau apa?
Mona hanya melirik sekilas, tak begitu peduli.
Yoon membuka tudung saji, melihat kakak pertama hanya menggoreng lele dengan sambal dan entah apa, mirip tumis bayam tapi bukan. Matanya mengedar, melihat kompor lalu pendingin. Ia memutuskan membuat apa pun, makanan berkuah.
“Kalau pengar, minum yang banyak. Minum air kelapa bisa bantu, atau jahe anget” Mona mengatakan tanpa melihat saat Yoon masih berdiri di depan pendingin yang kosong. Hanya ada telur serta makanan sampah milik yang lain. “Bikin sup”
“Nggak minta saran” pria itu mendengus sebal. Suaranya begitu dingin. Mona tidak menjawab lagi. Lalu pria itu mual lagi, seperti semua isi perutnya akan keluar, padahal, saat di muntahkan, kosong, perutnya kosong. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya, kecuali memang masuk angin akut. Jadi terasa agak menyebalkan hingga ia mengomel dalam gumamannya sendiri.
Pria itu menyerah, bahkan setelah melihat bumbu dapur habis, semua habis. Ini benar-benar menjengkelkan. Ia kembali membuka pendingin meski tau isinya itu-itu saja, tidak berubah.
“Ini pasti karena rumah kebanyakan nampung tuna wisma, semua abis” ia mengomel lagi. Seperti kata-kata pedas itu memang sengaja ditujukan untuk seseorang yang duduk santai sembari menikmati buah tanpa dosa. Yoon hanya mencari samsak untuk disalahkan atas dirinya, atas perasaannya yang jengkel luar biasa.
Mona tidak mengindahkan.
Tidak mendapati apapun, pria itu memutuskan meneguk air hangat, lalu mengambil piring untuk makan. Ia tidak sanggup menelan lele karena mual. Duduknya berseberangan dengan gadis yang seakan tuli.
Hanya hening selain bunyi khas keyboard yang beradu dengan jemari kecil milik gadis yang seperti tak terganggu dengan eksistensinya. Yoon memperhatikan pada tiap suapan yang masuk dalam mulut—seperti tato yang menjalar di tangan, baju kebesaran milik Jimin yang selalu dipakai, rambut yang di ikat asal dan anak poni yang menjuntai sembarangan. Yoon tidak bisa menggambarkan apa-apa selain kenyataan bahwa gadis itu adalah wanita yang jelas bukan tipe idealnya. Sangat jauh. Wanita urakan semacam ini benar-benar membuat matanya sakit tatkala memandang. Tidak ada keanggunan, yang tercium dari jarak dekat adalah perpaduan parfum dan tembakau yang menyengat. Itu menjijikan.
HOEK!
Mual lagi.
Seperti tiap suapan yang susah payah ia jejal akan kembali keluar.
Bukan, ia bukan sedang membayangkan Mona dengan aroma tembakau dan parfum yang menyengat, melainkan ingatan tentang ciumannya dengan Margareth sementara kekasihnya itu lepas mengkonsumsi babi. Mual.
Mona mendongak, menatap pria itu dengan menaikkan satu alis. Yoon berlari ke kamar mandi di dekat ruang mencuci, memuntahkan seluruh isi perutnya dengan suara nyaring dan keras.
Sial. ini menjijikkan.
Bagaimana bisa wanita cantik itu dengan enteng mengatakan jika ia lepas makan babi? Rasanya terngiang-ngiang seperti makanan najis itu terus berputar di tenggorokan—menggelitik, meledek dengan menari-nari enggan larut meski berbagai minuman telah di telan.
Muntah lagi.
Kali ini lebih banyak. Perutnya yang baru terisi kontan kembali kosong. Mual lagi, muntah lagi. Begitu terus mirip siklus hingga hanya tersisa cairan kuning dan ia lemas luar biasa.
Ini bukan hanya soal pengar lepas mabuk. Tapi bayangan babi guling yang terus menempel di ingatan enggan pergi. Bagaimana caranya ia akan kembali bertemu dengan kekasihnya? Lalu melihatnya sembari membayangkan Margareth makan babi mentah yang bermain lumpur kotorannya sendiri. Yoon berpikir seperti itu, lantas ia mual lagi.
Lemas sekali. Pria itu menunduk di depan kloset.
“Om” suara di belakang membuatnya menoleh, wajah pucatnya menyedihkan. Pria itu menyibak rambut ke belakang, warna kulit pucat pasi mirip mayat “minum ini nih, saya bikin jahe gula aren, kali aja enakan. Abis itu kerokan, makan sayur bening, saya bikin noh, pake bumbu instan isinya bayam layu. Tapi lumayan dari pada perut kosong dan masuk angin parah”
Mona membawa gelas besar berisi jahe geprek yang sudah dipanggang dan di campur gula aren.
“Taro dulu, sini, pegang tangan saya, saya mau bangun susah, lemes banget”
Mona meletakkan minuman di atas meja, lalu datang pada pria yang masih duduk di lantai kamar mandi. Gadis itu berjongkok membawa tangan melingkar pada pundak dan mengangkatnya pelan-pelan.
“Nggak bisa mabok, lain kali kalau ke bar bawa teh jus dari rumah” Mona mengomentari saat berhasil membawa pria itu duduk di kursi. Yoon belum menjawab, namun pelan-pelan lekas meneguk minuman yang di buat gadis itu.
Perutnya seketika menghangat.
Ia bernafas. Bahkan aroma jahe yang keluar dari dalam gelas membuat mualnya berangsur-angsur pergi.
Matanya melihat Mona yang berjalan ke kompor, satu tangan memegang pinggang sementara tangan yang lain mencicipi kuah dari spatula. Gadis itu mengangguk sebelum mengambil mangkuk besar.

“Makan” Mona menghidangkannya tepat di depan mata. Gadis itu lantas kembali pada kegiatannya semula. Memegang keyboard dan menatap layar monitor. Mulutnya komat-kamit mengulang apa yang sebelumnya ia ketik. Satu tangan mengambil garpu dimana mangga tertancap sebelum masuk ke mulut. Yoon memperhatikan tanpa berkedip.
Jahe hangat habis, pria itu mulai mengambil sup dan memakannya pelan-pelan. Ia tidak akan membayangkan berciuman dengan Margareth lagi—meski ingatan itu sangat sulit dihilangkan.
Jadi, sembari makan, pria itu melihat bibir Mona.
Bentuknya tidak setipis milik Margareth. Bibir atas terlihat memiliki lekukan halus di bagian tengah, sedangkan bagian bawah lebih tebal dan buat. Warna bibirnya tampak merona dengan gradasi natural. Yoon tidak yakin, padahal, gadis itu perokok aktif, tapi bibirnya cantik dan sehat.

Menyuap lagi, matanya kembali lagi. Ingatan tentang Margareth makan babi pelan-pelan tergantikan. Kepalanya memutar bagaimana bagian lembut itu terjamah miliknya semalam.
Manis.
Mualnya hilang dengan membayangkan itu.
Lantas Mona mendongak lagi, mengangkat alis memperhatikan mata pria yang seperti akan melubangi bibirnya.
“Om Yoon, kalau ngasih ucapan terima kasih di akhir bab skripsi buat teman atau support sistem itu ngaruh nggak si? Maksudnya, bakal di permasalahin nggak? Saya mau naro nama si Jumaw brengsek di akhir, support sistem yang paling tampan dan kurang ajar. Ah.. sial, dia tidur sama wanita lain saat bersamaku.. Ah.. aku terluka” Mona mulai mengoceh tak jelas, lalu nyengir menunggu pria itu menjawab.
“Idih, alay” Yoon bangkit mencuci piring.
“Iya juga ya, alay sih” lalu tertawa sendiri. Lalu ia menghapus satu paragraf ucapan terima kasih untuk kekasihnya. Digantikan dengan ibu dan ayah.
Tidak ada yang bicara lagi. Jam menunjuk pukul sebelas siang. Margareth jelas menunggunya di toko, namun ia tak yakin untuk tidak muntah saat melihat gadis itu. Perutnya baru saja benar-benar membaik.
“Neng”
Panggilan itu membuat Mona melirik ke belakang sekilas. Yoon berdiri di belakangnya.
“Kalau udah enakan dan takut kumat, beli obat mual aja di apotek, atau obat pengar”
“Bukan”
Mona lantas membalik kursinya. Sebenarnya, ia tidak pernah benar-benar pernah berbincang dengan 3 tertua di rumah ini. Mendengar mereka mengajak bicara lumayan membuat Mona canggung. Gadis itu sama sekali tak mempermasalahkan ciuman keduanya yang di ambil. Ia sangat faham perangai orang mabuk hingga hafal. Tidak sekali dua kali eksistensinya di meja bar demi menemani bosnya dulu—Marcel. Jadi, begitu banyak tau orang-orang teler dengan berbagai gaya.
“Mau ciuman sekali lagi sama saya?”
Mona terbelalak lagi. Tapi tidak lama. Gadis itu lantas tertawa.
“Ada-ada aja orang tua ini. Dimata saya, dulu om Yoon ini mengerikan, tapi udah gede, liatnya malah lucu dan gemes”
Yoon tidak menjawab, tapi masih berdiri di belakang Mona.
“Saya serius” kepalanya menunduk–mencium ujung surai yang beraroma mawar milik Mona “sudut pandang saya terlalu sempit” lalu berdehem “kamu mau nggak, nikah saya saya?”
“Buset, masih mabok kayaknya” Mona merinding, ia lantas menelepon Jimin dengan panggilan video. Tidak memakan tiga detik, pria di seberang segera mengangkat.
“Kenapa sayang? Gua mau ambil foto, lagi di make up, nggak usah ngerengek minta kerja, gua pulangnya agak siangan kok, nanti gua ajak main, yang penting kerjain skripsi dulu, chill dulu. Ntar selesai wisuda gua ajak kerja” Jimin mengoceh, namun saat kamera di arahkan ke atas sedikit, dimana wajah Yoon terlihat datar sembari melipat dada di tangan, Jimin langsung melotot.
“KELABANG ANJENG! NGAPAIN? JANGAN PEGANG MONA GUA” Jimin berteriak lantang–jengkel. Pria itu bahkan bangkit.
“Gua di ajak ciuman lagi sama abang lu, menurut lu gimana sat? Gua pengen cobain kiss sama orang lain, boleh ya?” Mona terpingkal-pingkal “Jumaw asu, lu pikir gua nggak tau tiga hari terakhir tiap pulang agak malem, lu dimana? Lu tidur sama direktur lu. Ini bukan balas dendam, gua bahkan pamit, gua boleh kiss sama om Yoon nggak?”
“Oke, gua pulang” Jimin mematikan panggilan video sementara Mona masih tertawa.
“Ah.. lucu banget dia ini, cuma.. Yah.. saya nggak punya ekspektasi tinggi sama Jimin. Dia cinta beneran kah? Atau saya cuma masuk jadi bagian dari masa lalu yang hanya nostalgia. Dia masih aja bisa bercinta sama orang lain dan malamnya tidur sama saya” ada miris di antara suara. “Ini nggak terlalu menakutkan ketimbang suara teriakkan keras atau benda tajam yang di gedorkan di daun pintu. Jimin baik, lebih baik dari Marcel” ia mengoceh yang entah akan di dengar atau tidak oleh Yoon.
“Beloon” Yoon berdecak.
“Emang”
Pria itu lantas naik, tidak lagi tertarik mengajaknya berciuman meski jika bayangan tentang daging babi, ia akan meminta lagi pada gadis itu.
Mona menyeka air matanya di ujung kelopak karena tawa yang berlebihan meski konteksnya tidak selucu itu. Tidak tahu, sebenarnya, ia tidak pernah menceritakan apa yang ia rasakan pada siapapun. Seperti tingkah Marcel dulu. Baru-baru ini saja ketika didesak Jimin, tapi, lebih tepatnya karena ia tidak memiliki teman. Yang bisa dilakukan hanya diam dan tertawa, lalu bertingkah seperti semuanya tidak terjadi apa-apa, sambil menyusun rencana kedepan.
Sekarang, biar seperti ini dulu.
Ya, seperti pria yang memberinya uang besar, menyatakan cinta setiap malam dan menangis meminta maaf untuk hal-hal yang telah lalu. Jimin memperlakukannya seperti ia adalah seorang yang berharga. Takut kehilangan, cinta mati dan sialan omong kosong lainnya. Tapi, ia tahu, sudah 3 hari terakhir, Jimin kembali dengan aroma vanila yang terus membayang—berputar-putar di kepala dan menempel pada pakaian, leher hingga dada dan penis. Mona tahu pria itu bahkan menyemprotkan parfum atau bahkan mandi.
Ia tidak yakin, penciumannya yang tajam menurutnya bukanlah sebuah anugrah, melainkan kutukan. Seharusnya ia memang tidak tahu saja dan terus tertawa sambil merasakan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Menutup mata dan melahap apa yang di hidangkan. Tidak perlu lagi melamun menatap punggung pria itu yang pergi ke kamar mandi meninggalkan aroma vanilla menjijikan saat pulang kerja. Ia tidak bisa menangis, yang dilakukan adalah tertawa.
Jimin menelepon lagi.
“Yang..” wajahnya sayu, pria itu berada di tempat sepi.
“Apa?” Mona nyengir sambil memamerkan potongan buah
“Jangan selingkuhin gua please.. Ntar gua bantai abang gua, gua gak bisa pulang tapi gua janji nggak sampe magrib gua di rumah, sumpah. Pokoknya, begitu pulang, gua bawa lu ke apartemen, gak usah tinggal di situ”
“Ya”
“Ya apa?”
“Serah lu”
“Kan.. masih marah? Lu kenapa sih?”
“Apa? Siapa yang marah? Mana ada gua marah, gua lagi ngerjain skripsi. Om Yoon udah pergi, ngeledek aja dia tuh”
“Tapi gua cemburu”
“Hm, gua juga. Kayaknya direktur lu lagi musim kawin. Pulang telat gak papa, bentar lagi Olivia pulang, gua akan ngobrol dan main, Cia juga bentar lagi” Mona menatap arloji, tersisa 3 jam lagi sebelum teman barunya kembali.
“Tukan. Gua nggak tidur sama Irish lagi, sumpah ya Allah”
“Gua tutup”
“Nggak mau, bilang dulu lu sayang gua, nggak akan selingkuh”
“Ya” Mona berdehem “padahal, gua baru punya temen ini, Cia, Olivia, mereka menyenangkan. Ada Jung juga. Tapi, lu mau bawa gua ke apartemen” ia mendesah lesu “tapi gak papa, makasih sayang, lu terbaik” Mona tertawa.
“Gua bakal balik bentar lagi, tunggu ya, cantik”
“Ya”
“Fly kiss”
“Malas, mulut lu bau vanilla”
“Ya Alla—” belum selesai Jimin dengan ocehannya, Mona lebih dulu mematikan telepon. Lalu menyeka air mata lagi. Pendingin membuat matanya kering. Gadis itu lantas menutup laptop dan berencana mandi.
Dalam ruangan lain, Yoon sibuk mengoleskan pasta gigi pada sikat lalu mulai menggosok giginya pelan-pelan. Tidak tahu, tidak pernah seperti itu dan tentu saja menyebalkan. Ia kembali teringat bagaimana aroma mulut Margareth yang sudah terkontaminasi dengan pikiran tambahan seperti kotoran babi, babi hutan hutan dengan moncong menjijikan, muntah babi yang kembali di makan, cacing pita pada babi, babi panggang yang dimasak kurang sempurna. Lalu serat-serat daging yang menempel di sela gigi gadis itu serta remahan karang gigi bekas babi, Yoon menyesapnya, menelan saliva ekstrak babi. Pikirannya berkelana kelewat jauh, tapi begitu sulit dihindari. Kenyataannya tidak seburuk itu, kepalanya sendiri yang merancang agar perutnya kembali kontraksi. Yoon muntah lagi.
Suara muntahnya begitu keras. Bayam dan air jahe yang ia konsumsi keluar lagi. Ia lemas lagi.
“YA ALLAH!!! UDAH DI APPROVED NERAKA BANGET KAYAKNYA GUA, YA ALLAH..” pria itu menangis lagi di kamar mandi. Rasanya jijik dan jengkel.

Ia melempar ponselnya ke samping. Tubuhnya lemas terkulai lesu di atas kasur. Pria itu bahkan hanya berbalut handuk tanpa kuat bangkit memakai baju.
Mabuk sialan, babi sialan, atau apapun, ia meriang. Tak pernah konsumsi alkohol dan setelah ia cek kadar minuman keras yang di teguk semalam — pertama kali seumur hidup, minuman setan itu memiliki kadar alkohol 40 persen. Yoon mengerang putus asa. Perutnya lapar sekaligus mual. Juga berhasil memesan makanan dan obat sambil menunggu sopir mengantarkan pesanannya.
Saat bunyi bel pintu depan terdengar nyaring hingga ke kamar, pria itu pelan-pelan membenarkan handuk lalu turun. Tidak ada siapapun kecuali paket, pengantar makanan, serta tamu asing yang akan memencet bel, mengetuk pintu depan. Sisanya, orang-orang akan masuk dari parkiran pintu belakang yang jarang sekali di kunci.
Saat ia turun, makanan berkantong-kantong berikut obat, sudah ada di meja makan. Lagi-lagi gadis itu sudah duduk disana. Sudah berganti pakaian, kali ini rambutnya di urai panjang, mengenakan atasan kaos ketat dan celana longgar kebesaran.
“Tadi ada gojek antar ini, saya bukain pintu” Mona langsung menyambar meski matanya masih fokus pada tugas akhir masa kuliah. Rasanya, ia akan seperti itu hingga seminggu atau entah. Malam nanti, Mona berencana merayu Joon untuk kembali melihat hasil kerja kerasnya siang malam.
Yoon melihat jam dinding. Sudah jam 1 siang. Ia tidak berencana kemana-mana bahkan konter, tubuhnya lemas. Juga bertemu Margareth sebelum bayangan sial itu enyah dari kepalanya.
Tangannya membongkar makanan. Ia membeli sup ayam, bandrek, makanan manis, serta sayur dan daging dari warung nasi padang. Begitu banyak. Ada obat juga.
Matanya naik turun melihat tubuhnya sendiri tanpa atasan.
Sebenarnya, ada apa dengannya? Ia tidak pernah bertingkah ceroboh dan aneh. Apalagi tidak berpakaian. Margareth yang ia puja saja belum pernah melihat tubuhnya, namun ia lemas dan malas untuk sekedar kembali naik–memakai baju. Maka, ia mengambil piring.
“Neng makan dulu” menawarkan dengan suara paling malas dan datar, Yoon bahkan hanya terdengar seperti orang bergumam.
“Emang beli apa om?” Mona melirik sekilas.
“Banyak, ambil nasi gih, makan. Bentar lagi ade pulang sama tunawisma yang lain, sisain aja buat mereka. Banyak juga ini” tangannya menarik kursi di samping Mona. ia mengambilkan piring dan nasi juga untuk gadis itu.
“Wah!! Makasi makasi. Nasinya kebanyakan tapi, saya makannya dikit” Mona lantas menyendok nasi dan di pindahkan ke piring pria itu.
“Pantes badannya kayak kucing. Makan yang banyak biar gede”
“Udah mentok ini. Saya kalau gede, pasti udah jadi model”
“Dari kecil di kasih makan nasi garem doang tah?”
“Nggak separah itu, tapi saya nggak stunting kok”
“Ah, itu pasti buat penyemangat” Yoon terkekeh meski wajahnya pucat. Ia masih sempat memijat dahi setelah makanannya terhidang. Bau ayam potong pada sup membuatnya mual lagi. Lantas, ia meneguk bandrek cepat-cepat. Bandrek yang sudah tidak terlalu hangat.
Bandrek yang tak seenak buatan gadis di sampingnya yang sibuk menyuap makanan sembari memutar tutorial membuat alis untuk wajah tidak simteris.
Padahal sangat sederhana. Bedanya, bandrek yang di pesan diberi susu, ia mual lagi.
Menyadari Yoon yang hanya diam menutup mulut, Mona kembali menatap ke samping.
“Masih mual?”
Pria itu mengangguk.
“Diminum aja anti mualnya, abis itu baru makan”
Yoon lantas mengambil obat yang sebenarnya memang dikonsumsi sebelum makan.
“Kamu banyak ngerti beginian, pasti hidup kamu menyedihkan”
Mona nyengir, ia tidak berencana membalas ocehan pria itu. Sejak semua orang tau parut yang diukir menjadi tato, siapa yang akan melihatnya keren? Ia hanya gadis menyedihkan yang bodoh dan naif. Tapi Mona tidak akan pusing dengan pandangan orang lain. Yang terpenting, selesai kuliah dulu, lepas itu, ia bisa terbang jauh dan tinggi, mengobati lukanya dan hidup lebih layak tanpa kesakitan baik fisik, mental, hati atau apapun. Tidak ada yang berhak menyakitinya lagi. Hanya satu, selesaikan kuliah dulu.
Sementara pria itu menunggu obat bekerja. Tangannya melipat di dada melamun. Sup sudah ditutup ketika aromanya mengingatkan pada daging babi.
Kurang dari 3 menit, Mona selesai dengan makan siangnya. Nasi yang hanya tiga sendok, daging dua iris dan tumis kangkung milik Jin, gadis itu mencuci piring sebelum kembali mengambil sisa potongan buah yang beberapa waktu lalu menemani.
“Cepet banget buset, kamu mending makan pur babi aja, pantesan Jimin mau miara, makannya gak banyak”
“Tapi gaya hidup saya lumayan om Yoon. Saya suka sekali barang branded dan perhiasan”
“Keliatan aura miskin tapi flexing kamu, nguar banget”
“Itu juga fakta” Mona nyengir. Mulutnya penuh dengan semangka “si teteh nggak pernah di ajak main lagi, padahal mau kenalan”
“Nggak usah, nggak level”
Mona mengangguk-angguk lagi.
“Mona”
“Ya”
“Kamu kok mau sama Jimin? Aneh, eh, tapi Jimin ding ya mauan sama kamu, kalian berdua sama-sama menyedihkan”
“Nah itu, jawabannya sederhana, karena kami sama-sama menyedihkan”
“Coba saya liat gigi kamu” Yoon total menatap ke samping, berhadapan langsung dengan gadis itu yang masih bingung. Dahinya mengerut.
“Kenapa?”
“Liat aja”
“Nggak mau”
“Banyak jigong ya? Pasti karangnya sampe tumpah”
Mona menggeleng lagi untuk reaksi yang itu.
“Saya liat sebentar aja, buka mulut kamu”
“Konteks? Nanti di hina? Kenapa sih?” Mona mulai merasa ada yang tidak beres dengan pria dewasa yang hanya berbalut handuk tanpa atasan di depannya. Putingnya merah menyala.
“Cepet liat, nanti saya panggil dinas kebersihan kalau menjijikan”
Ia tidak mengerti, namun mulutnya di buka lebar. Gadis itu menunjukkan deret gigi rapi yang tersusun rata meski ada gingsul tidak jadi di pinggir. Namun sisanya aman. Bagian dalam terlihat bersih klinis tanpa bekas sisa makanan apa lagi flak.
“Gimana?” Mona menutup mulutnya lagi. Ia kembali menyuap semangka.
“Bagus” pria itu menarik hidungnya, sambil merasa-rasa apakah masih mual atau tidak.
Mona tidak peduli lagi setelah itu. Sibuknya kembali masuk pada rentet abjad yang mulai membuatnya muak. Mulutnya terus menerus di sumpal buah dengan kandungan air yang tinggi, membuatnya kerap buang air kecil dengan frekuensi rendah.
Yoon masih melipat tangan di dada. Pandangannya masih pada gadis yang penuh tato. Gadis yang di matanya adalah bocah bodoh dan aneh. Perempuan seharusnya tidak seperti itu. Benar-benar tidak ada martabat.
Tapi lain pikiran, lain tindakan. Saat merasa obatnya tak kunjung bekerja, perutnya lapar dan bayangan daging babi terus mengeksploitasi otaknya, Yoon nekat menarik kursi yang diduduki Mona hingga membuat mereka berhadapan.
“Saya mual terus ya Allah.. nyiksa banget”
Itu kata-kata terakhir sebelum ia menangkup wajah kecil yang habis dalam dua genggaman tangan. Mona bahkan masih mengunyah semangka saat ciuman itu melayang di bibirnya.
Ini bukan mabuk.
Ini bukan efek alkohol. Tapi Mona tau jika pria itu melakukannya hanya sebatas ‘ingin’ pun ia tak menolak. Tidak tahu, sebenarnya, ia bukan orang yang mudah seperti ini, tapi jauh di dalam hatinya, di kepala dan indra penciuman, aroma vanilla terus berputar-putar.
Dan ia terus bersugesti agar rasa bersalahnya enyah. Tidak apa-apa. Asal tidak lebih dari ini, toh, nanti malam Jimin akan membawanya pergi. Ia mungkin saja tidak akan melihat penghuni rumah ini sering-sering jika tidak dengan janji. Belum lagi rencananya untuk pergi setelah selesai kuliah.
Tidak apa-apa. Hidupnya sudah kotor sejak awal. Tidak ada laki-laki yang benar-benar memperlakukannya dengan ‘benar’
Tapi ini tetap menjijikan.
Mona mendorongnya kuat saat pria itu mulai memasukkan lidahnya. Tapi, seharusnya Cia membawanya ke tempat gym lebih cepat atau bela diri. Saat mendorong, tenaganya hanya mirip semut yang mengetuk bongkahan batu besar.
Yoon mengunyah semangka dari mulut gadis itu. Menelan saliva milik Mona rakus mirip orang kelaparan.
Kepalanya miring, ciuman semakin dalam meski sang gadis hanya diam pasif.
Begitu intens. Lidah lembutnya menari-nari di dalam, menyentuh apapun dalam rongga sebelum membelit milik Mona lembut. Namun tetap tak berhasil membuat gadis itu bereaksi. Mona seperti patung yang tak bernyawa.
Begitu juga Jimin ketika menciumnya dengan aroma vanilla.
Pelan-pelan, Yoon menarik lidahnya. Ciuman mereka berakhir, namun pria itu tidak lekas menjauhkan wajah, ia menatap Mona dari jarak itu, tetap dalam posisi. Begitu dekat. Lalu lidahnya menjilat permukaan bibir Mona yang masih mengkilap belas ludahnya sendiri.
“Kamu manis” pria itu mencium pipi, begitu lembut. Pelan-pelan Mona mendongak, menatap manik kecil dengan kelopak minimalis tak seberapa. Bukan hitam pekat seperti milik kekasihnya seperti biasa. Tatapan lembut dan penuh perhitungan, Yoon di sana, masih saling bertaut netra dengannya
Saat keheningan merajai canggung, gadis itu lantas bangkit―berdiri, ia balik menangkup dua rahang milik pria berkulit kelewat cerah sebelum mendaratkan ciuman balasan.
Yoon kaget. Bukan, maksudnya, ia tidak tahu jika ada wanita yang bisa menciumnya lebih dulu. Margareth selalu bersikap malu-malu, membalas ciuman dengan sungkan dan terkesan pasif seperti Mona sebelum ini. Ia pikir, semua gadis sama. Hanya diam menerima.
Tapi Mona menginvasinya.
Gadis itu berdiri, lidahnya melesak masuk balik mengacak milik pria yang duduk dengan wajah kaget.
Sangat lihai, gesit dan cekatan. Tiap indra perasa menekan miliknya didalam, ia merasa ada yang bergerak resah dari jantung hingga penis.
Polanya teratur, sensual, manis dan menagih. Mona menjambak rambut belakang yang masih basah untuk memperdalam ciuman mereka.
Hanya sebentar, sebelum gadis itu menarik kepala. Lalu mengusap bibirnya kasar dengan lengan baju.
“Gitu, kan? Saya peniru andal. Tapi ciuman om Yoon masih kureng ketimbang Jumaw. TMI, saya selalu meniru pasangan saya”
Mona mengatakan enteng seperti gadis itu adalah seorang pro. Padahal, Jimin satu-satunya pria yang menjerumuskannya pada kenikmatan berciuman. Pria itu masih belum berhasil menggagahi sejak terakhir di Bali.
Yoon kaget lagi. Seperti pria itu mudah kaget.
Setelah itu, Mona bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa. Tangannya meraih kotak rokok lalu mengapit lintingan filter di antara sela jari sambil menghidupkan pemantik.
Matanya fokus pada layar.
Yoon masih menatapnya tidak percaya. Jika itu Margareth, ia akan salah tingkah lalu bersemu saat dipandang lama. Tapi gadis ini…
Saat ia masih di posisi, suara dari pintu belakang menggema. Itu Cia, datang sambil bersorak seperti di kebun binatang. Yoon lantas buru-buru naik ke atas untuk berpakaian sebelum tentu saja makan.
Melihat Yoon pergi, Cia mendecih, ia lantas memeluk Mona dari belakang.
“Padahal, lu bilang lagi berantem sama om Jin” Mona mendongak saat Cia terus memegang pundaknya. Satu kaki diangkat naik ke kursi sementara asap membumbung tinggi. Padahal tidak boleh merokok di dalam.
“Nggak ada urusan. Ngambek, terus gua kudu apa? Bisa gua patahin, gua patahin tulangnya. Brengsek” Cia ikut duduk di samping, ia melihat makanan banyak “eh, lu berdua aja sama si kelabang? Di hina nggak? Kalau gua mending di kamar” gadis itu berbisik. Mona lantas nyengir.
“Apa, dia itu gemes dan amatir”
BAB 1. NGGAK PAPA, ADA GUA
BAB 1. AKU BAHAGIA
BAB 5. VANILA?
BAB 14. APA SEMUANYA SELESAI?
BAB 4. SIDANG

BAB 4. SIDANG
Gedung Pengadilan Negeri Bandung siang itu tampak dingin meski matahari menyorot cahaya terang dari balik jendela besar. Bangunan tua berlantai marmer itu dipenuhi langkah tergesa, suara sepatu beradu dengan lantai, serta aroma kertas tua bercampur dengan kopi yang dibawa wartawan. Tidak ada spanduk, tidak ada kerumunan, hanya wartawan dan keluarga yang duduk menunggu putusan yang akan menentukan hidup seseorang.
Jimin duduk di kursi terdakwa. Tubuhnya tegap, sorot matanya jernih, dan ada keheningan ganjil pada wajahnya—bukan wajah seorang lelaki yang gentar, melainkan yang bangga dengan apa yang ia lakukan. Ia yakin apa yang dikerjakan adalah benar, tahu tulang Marcel retak karena pukulannya. Namun tidak ada sesal, hanya kepuasan. Setidaknya, malam itu ia membalas sedikit kekerasan yang sudah terlalu lama dibiarkan. Gadisnya.
Di belakang, enam saudaranya duduk berjajar. Jin, sang sulung, duduk paling ujung dengan tubuh tegap dan wajah tegas, nyaris tak bergerak. Tidak ada air mata dalam keluarga itu. Mereka bukan orang yang terbiasa menunjukkan kesedihan. Yang ada hanya tekad untuk membawa adik mereka pulang.
Marcel tidak hadir—ia masih terbaring di rumah sakit, wajahnya rusak, karirnya kabur. Namun keluarganya hadir penuh, berjas rapi, membawa pengacara kenamaan dari Jakarta. Mereka menatap tajam, seakan mengingatkan hakim bahwa mereka bukan orang sembarangan.
Mona dipanggil duduk di kursi saksi. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya pucat, bekas-bekas luka masih tertanggal di sana seolah mempertegas apa yang terjadi atau katakan alasan mengapa ia ada di ruangan ini pagi-pagi. Mimiknya datar, tidak ada ketakutan, gadis itu pandai menekan rasa semacam itu.
Ketika hakim memintanya menjelaskan, ia menghela napas panjang lalu berkata, “Saya bekerja enam bulan bersama Marcel. Semua jadwal, semua tawaran kerja, saya yang urus. Di balik itu, setiap perasaannya sedang kalut, memburuk, saya dipukul, dibakar rokok, di tempeli besi panas, dipaksa bertahan. Tubuh saya penuh luka.”
Ruangan bergemuruh. Jaksa memintanya membuktikan. Mona berdiri, membuka kancing bajunya hingga memperlihatkan bagian bahu, punggung, tengkuk. Dari balik kain tipis, tampak tato naga besar yang indah. Namun di sela-sela warnanya, samar terlihat parut-parut lama. “Saya menato tubuh saya bukan untuk gaya,” katanya lirih, “tapi untuk menutup bekas.”
Pengacara Jimin berdiri “Yang Mulia, ini bukan hanya perkara amarah seorang pria. Ini perkara seorang perempuan yang tubuhnya jadi ladang penyiksaan. Malam itu, Jimin melihat Marcel menyeret Mona, memukul hingga wajahnya seperti itu. Dan ia menghentikannya. Apakah terlalu keras? Ya. Tetapi tanpa itu, mungkin kita tidak melihat Mona duduk di sini hari ini.”
Sang pengacara membuka mapnya, dan mengangkat selembar hasil laboratorium. “Yang Mulia, kami tidak menutup-nutupi bahwa Jimin memukul Marcel. Tetapi kami meminta majelis melihat lebih dalam siapa Marcel itu sebenarnya. Bukti ini hasil tes darah saat korban pertama kali dibawa ke rumah sakit.” Ia berhenti sejenak, menatap hakim. “Marcel positif menggunakan narkoba jenis morfin.”
Ruangan lebih bergemuruh lagi. Bisikan berlarian di antara kursi.
“Ketergantungan inilah yang menjelaskan mengapa Marcel kerap berperilaku brutal terhadap Mona. Mengapa ia bisa berhari-hari kalap, memukul, membakar, dan mengurung asistennya. Ketika malam kejadian, Marcel mendatangi rumah Jimin, dimana Mona melarikan diri. Marcel datang dalam keadaan mabuk obat. Ia menyeret Mona, hendak melampiaskan amarah. Jimin keluar untuk menghentikannya. Ia memang terlalu keras, tetapi kerasnya menyelamatkan nyawa. Saya juga ada bukti Marcel mengirimkan pesan pada Jimin”
Keluarga Marcel tidak terima. Pengacaranya, pria paruh baya dengan suara serak tapi penuh wibawa, menambahkan, “Majelis Hakim, mari kita letakkan masalah di garis jelas. Mona mungkin pernah diperlakukan kasar, tetapi itu tidak bisa jadi dalih bagi terdakwa menghajar klien kami sedemikian rupa. Hukum tidak boleh memberi izin siapa pun menjadi algojo jalanan.”
Pengacara Jimin masih dengan suaranya yang tenang tapi tajam. “Jika klien saya berniat membunuh, tentu Marcel sudah kita kubur hari ini. Faktanya, ia masih hidup. Luka parah memang, tapi terjadi dalam kondisi Marcel sedang berada di bawah pengaruh narkoba. Tes darah rumah sakit jelas menyebut positif morfin. Bagaimana bisa Anda abaikan fakta itu?”
Pengacara Marcel menepuk meja, suaranya meninggi. “Narkoba atau tidak, korban tetap korban! Posisi tubuh Marcel saat ditemukan jelas sudah jatuh, namun terdakwa tetap menghajar. Itu bukan pembelaan, itu niat menghancurkan!” pria yang awalnya berusaha tenang itu akhirnya jengkel juga “Yang Mulia, kami tidak menampik hasil tes laboratorium yang menyatakan klien kami positif narkoba. Namun perlu digarisbawahi, pemakaian narkoba tidak otomatis menghapus hak hukum seorang korban. Klien kami tetap korban penganiayaan. Luka-luka yang dialami akibat pemukulan terdakwa—itulah fakta yang tak terbantahkan.”
Ia berjalan pelan ke depan meja hakim, membuka beberapa lembar dokumen.
“Apakah kita akan membiarkan sebuah masyarakat di mana siapa pun bisa main hakim sendiri? Katakan seseorang mengetahui tetangganya pengguna narkoba, lalu ia menghajar hingga koma—apakah itu bisa kita benarkan? Tidak. Hukum ada untuk mengatur, bukan dendam pribadi.”
Pengacara Jimin langsung menyela, “Tapi Yang Mulia, ini bukan sekadar dendam pribadi. Selama enam bulan—”
Namun pengacara Marcel tak memberi ruang.
“—Selama enam bulan saksi tinggal bersama klien kami secara sukarela! Ia tidak pernah melapor ke polisi. Tidak ada visum, tidak ada rekam medis, tidak ada laporan resmi yang mendukung klaim penyiksaan yang katanya dialami. Bagaimana kita bisa memverifikasi cerita itu sekarang, setelah semua luka ditutupi oleh tato?”
Ruang sidang mendesah pelan. Beberapa kepala mengangguk, sebagian lain menatap Mona dengan iba.
“Yang Mulia,” lanjutnya, “kesaksian saksi penuh bias emosional. Ia datang dengan dendam, lalu menyudutkan klien kami di saat ia sendiri punya alasan ingin melepaskan diri. Ini bukan testimoni netral, ini pembenaran tindakan brutal terdakwa.”
Pengacara Jimin keberatan “Yang Mulia, izinkan saya menjawab argumen rekan saya. Tadi dikatakan bahwa Mona tinggal secara sukarela bersama klien mereka. Bahwa tidak ada laporan resmi, tidak ada visum, tidak ada catatan medis. Seolah-olah itu membatalkan penderitaan yang nyata.”
Ia berhenti sejenak, lalu mengangkat selembar foto—tampak punggung Mona yang penuh bekas luka lama yang kini tertutup tato.
“Bekas ini nyata, Yang Mulia. Luka lama yang tidak mungkin dibuat sehari dua hari. Kalau bukan karena kekerasan sistematis, darimana asalnya? Kita semua tahu, korban kekerasan sering kali tidak bisa melapor karena teror psikologis. Bukankah itu yang disebut coercive control? Klien lawan kami kaya raya, berkuasa, punya jaringan, punya ancaman. Korban tak melapor bukan karena rela, tapi karena takut. Itu bedanya, Yang Mulia.”
Ia melangkah pelan ke arah meja hakim, nadanya semakin menusuk.
“Dan tentang narkoba—fakta tes positif adalah bukti jelas gaya hidup klien mereka yang merusak. Bagaimana seorang pecandu, dalam kondisi tertekan dan teler, bisa dianggap korban murni? Bukankah tindakannya sendiri yang memantik tragedi ini? Malam itu, ia datang ke rumah keluarga Jimin, menyeret Mona keluar, memukulinya lebih dulu, dan menantang pertarungan. Jika tidak ada provokasi, tidak akan ada pemukulan. Itu fakta, Yang Mulia.”
Ruangan hening. Beberapa wartawan sibuk mencatat cepat.
“Rekan saya tadi bicara soal hukum, soal barbarisme. Izinkan saya balik bertanya: apa hukum akan membiarkan seorang perempuan terus menjadi boneka samsak pemukulan? Apa hukum akan menutup mata pada ancaman, pada jeratan psikis, pada ketidakmampuan korban untuk keluar dari penjara domestik? Kalau begitu, hukum bukan lagi pelindung rakyat, tapi tameng bagi penindas.”
Pengacara Jimin menghela napas, lalu suaranya turun, lebih dalam.
“Terdakwa kami, Jimin, memang memukul. Ia tidak menolak. Tapi ia memukul dalam situasi terdesak, melihat korban ditarik paksa, diperlakukan brutal di depan matanya. Itu reaksi manusiawi, bukan niat kriminal. Hukum mengenal pembelaan darurat, dan itulah yang terjadi.”
Ia meletakkan dokumen terakhir di meja hakim.
“Dan terakhir, Yang Mulia… Jimin bukan pria tak dikenal. Ia model, figur publik, hidupnya di bawah sorotan. Mengapa ia harus mempertaruhkan karier dan nama bersihnya, jika bukan karena kebenaran di depan matanya sendiri? Seseorang yang hanya haus kekerasan tidak akan menyerahkan diri ke polisi setelah kejadian. Tapi Jimin—ia menyerah, ia duduk di kursi terdakwa ini, dan ia berkata ‘ya, saya memukul.’ Itu keberanian, bukan kebrutalan.”
Ruangan semakin panas. Palu hakim kembali diketuk.
“Cukup! Majelis sudah mendengar kedua belah pihak. Sidang ditunda satu jam sebelum masuk ke pembacaan tuntutan.”
────୨ৎ────
Waktu terasa berjalan lambat. Di luar jendela, Bandung sore itu mulai digelayuti cahaya keemasan, sementara di ruang sidang orang-orang hanya menunggu, dengan nafas tertahan.
Ketika hakim kembali masuk, suasana berubah mencekam.
Ruang sidang dipenuhi udara pekat. Semua mata tertuju pada kursi majelis hakim. Palu diketuk tiga kali, mengaung bagai petir yang menandai akhir sebuah peperangan panjang.
Hakim ketua menunduk, membaca berkas tebal yang sudah terisi penuh catatan. Suaranya tenang, namun seperti setiap kata terasa bilah pisau yang memisahkan kebenaran dari kabut kebohongan.
“Setelah mendengar keterangan saksi, memeriksa barang bukti, dan mempertimbangkan pembelaan kedua belah pihak, majelis berpendapat perkara ini telah cukup jelas. Maka, hari ini kami bacakan putusan.”
Semua orang menahan napas.
Hakim melanjutkan:
“Pertama, mengenai terdakwa Jimin. Benar bahwa ia memukul Marcel hingga menyebabkan luka berat. Namun majelis melihat fakta yang mengiringi tindakan itu. Saksi Mona telah memberi kesaksian konsisten tentang kekerasan fisik dan psikologis yang dialaminya selama enam bulan. Kesaksian tersebut diperkuat oleh bukti bekas luka lama, kesesuaian pola manipulasi, serta keterangan lingkungan yang pernah melihat Mona dalam kondisi tertekan.”
Hakim berhenti sejenak, menatap pengacara keluarga Marcel yang masih tegak dengan wajah tegang.
“Majelis juga menimbang hasil laboratorium yang menyatakan Marcel positif menggunakan narkotika. Hal ini menunjukkan kondisi psikologis dan emosional yang labil, serta relevan dengan perilaku agresif yang dilaporkan. Malam kejadian, Marcel mendatangi rumah keluarga Jimin dalam keadaan mabuk narkoba, lalu menyeret Mona secara paksa. Ini adalah bentuk penganiayaan nyata dan tidak dapat dibantah.”
Bisik-bisik kecil terdengar di bangku pengunjung. Hakim menatap tajam, lalu palu diketuk sekali.
“Majelis berkesimpulan bahwa tindakan Jimin memang berlebihan dalam kadar pukulannya. Namun, itu dilakukan dalam situasi noodweer—pembelaan darurat untuk melindungi saksi dari ancaman langsung. Oleh karena itu, ia tidak dapat dipidana sebagai pelaku penganiayaan murni.”
Hakim menutup berkas, lalu membuka lembar putusan terakhir.
“Dengan demikian, majelis memutuskan: Terdakwa Jimin dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan penganiayaan berat yang disengaja. Namun untuk menjaga tertib hukum dan sebagai pelajaran, terdakwa dijatuhi hukuman tiga tahun masa percobaan. Jika dalam masa itu terdakwa melakukan tindak pidana kembali, maka hukuman penjara akan dijalankan penuh.”
Suasana meletup—sebagian lega, sebagian murka.
Hakim lalu melanjutkan, suara tetap keras:
“Sedangkan mengenai Marcel, meskipun ia saat ini dalam kondisi kritis di rumah sakit, perbuatan yang dilakukannya telah jelas: penggunaan narkoba, kekerasan berulang terhadap asisten pribadi, ancaman pembunuhan, dan pemaksaan. Semua ini adalah tindak pidana yang tidak dapat dihapus hanya karena pelaku mengalami luka akibat tindakannya sendiri. Keadilan tidak boleh tunduk pada status kesehatan.”
Ia mengetukkan palu terakhir, menutup sidang dengan kalimat yang berat tapi pasti:
“Sidang selesai. Putusan sudah dibacakan. Hukum telah bicara.”
Jimin mengusap hidungnya menahan senyum. Jin tertawa keras bersama Hobi yang ikut nyengir. Jung disana memijat punggung Tae setelah menahan nafas seperti akan meledak.
“Jumaw gua!!!!!” si bungsu lari menghambur—memeluk kakaknya dari belakang dan menciumi telinga Jimin. Di sebelah Yoon, ada Joon yang hanya melamun, pria itu mencerna situasi meski isi kepalanya berat. Ia hanya mengernyit. Sesekali bersin, tapi tidak banyak mengatakan apa-apa.
Semua orang mendekat pada pria yang mengenakan baju orange. Merayakan kemenangan setelah berjabat dengan pengacara andalan.
“Siapa yang berani lawan gua?” Jin berdiri angkuh, dua tangannya melipat di dada pongah. Di sampingnya ada Cia yang nyengir salah tingkah. Takut tiba-tiba pria itu mengajaknya duduk sebagai terdakwa di ruang ini.
“Lu bayar hakim emang?” Tae memeluk Jin dari belakang.
“Enggak lah, gua cuma sewa detektif swasta buat nyari saksi sampe lubang tikus, nyewa pengacara bagus sampe 5 miliar. Belum lagi rekam CCTV di dekat apartemen Marcel dan depan rumah. Untung inisiatif masang walau nggak pernah gua tengok. Di depan doang sama pintu dapur”
“Abis ini, ayo makan-makan” Hobi berteriak kencang.
Di balik punggung Jimin, gadis itu menatap ragu. Tidak tahu, hatinya senang, namun tidak terlalu. Seperti ada yang mengganjal. Jimin lantas memeluknya ke depan. Luka di wajahnya lumayan berkurang meski jelas meninggalkan bekas. Tubuh gadis itu sudah seperti kanvas yang dipenuhi coretan menyakitkan. Cia yang melihat Mona, spontan mendekat. Ia merangkul gadis Jimin seperti seorang kakak pada adiknya.
“Ah… teh Mon…” Cia menjadi emosional. Ini berawal saat ia melihat tato bunga di tengkuk, bekas jahitan yang tidak normal. Ternyata bukan hanya disana. Ini mengerikan.
────୨ৎ────

“Menikah kata gua, kasian si neng, duh elah” Yoon memeluk bantal, mereka dalam formasi sempurna di ruang TV. Sementara Mona entah sedang apa dengan Cia. Keduanya ada di kamar Jimin.
“Mona mau nyelesain kuliah dulu, kukuh dia. Takut emaknya stroke kalau menikah sebelum lulus” Jimin mendusal pada Joon yang masih konsisten menjadi pendiam pasca kepulangannya dari rumah sakit. “Lu sendiri? Nggak nikah sama teteh cantik?”
Yoon mendesah, ia mengusap wajahnya “gua aja yang nikahin neng Mona”
Semua orang kaget, lalu menatap pada tertua kedua dengan wajah tak percaya.
“Lu mau gua pukul kek Marcel?” Jimin melotot, Yoon terkekeh.
“Gua kudu open minded kayaknya” lalu mendesah “gila, gua bakal jadi sableng, gua cinta banget sama Mar sampe akal gua sengkleh. Gua mau udahan”
“Emang udah berapa lama si?” Jin menatapnya perhatian.
“Hampir 3 bulan, gua sering main ke rumah, kita kiss, cuddle dan yaa… gitu, tapi nggak seks. Dia juga sayang sama gua” Yoon tertawa “menurut lu, gua kudu apa coba? Gua mau menikah, gua birahi mulu ini, sialan”
“Kasih aja Jum, Mona. lu sama nenek Irish” Jung menyepak kaki kakkanya.
“Ah! Kelabang suruh sama nenek Irish aja, baru 30 tahun elah” Tae bersorak gembira.
“Gua maunya sama yang perawan” Yoon mengatakan mantap.
“Mona mana ada masih perawan”
“Cia masih perawan noh” Jin tiba-tiba menyela.
“Cia bukan tipe gua”