Portal hancur. Kepingannya seperti serpihan—pecahan kaca tajam akan menyakiti siapa saja yang berada di dekatnya. Tubuh Lyn terbujur dengan darah bersimbah, gadis itu tidak mati–tidak bisa. Kutukan kastil membuat siapa saja tidak akan bisa mati kecuali sekarat yang berkepanjangan atau tanpa ujung.
Kristal berteriak putus asa di dekat pintu sementara Edgar memeluknya dari belakang—tak mengizinkan gadis itu mendekat pada temannya yang sekarat bersamaan dengan fenomena yang belum pernah siapapun saksikan terjadi di depan mata; portal pecah.
Benar, sebentar lagi mereka akan bebas.
Kata Logan, ada tiga kunci yang dapat membuka portal setelah ia meramal tiga gadis. Lalu mendapatkan jawaban ambugi seperti; cinta, keputusasaan dan menyerah. Baik Logan atau siapapun diatara saudaranya, tak ada yang mengerti siapa mencintai siapa, lalu siapa yang putus asa dan siapa yang menyerah. Kacamata mereka terlalu dangkal untuk menangkap seluruh emosi itu. Makhluk yang sejak kecil tak di latih untuk banyak emosi. Mereka hanya menganga saat melihat portal hancur pelan-pelan dan sebentar lagi akan mengeluarkan mereka dari sana.
Namun sebelum semua mata menyaksikan bagaimana portal terbuka seluruhnya dan memperlihatkan bagaimana udara luar yang begitu mereka damba, sesuatu datang dari atas membawa cahaya yang menyilaukan.
Sinu, pria itu tahu siapa yang datang. Maka, dengan tergesa-gesa, ia angkat tubuh Lyn dari sana—masuk kembali untuk merebahkan gadis itu di atas sofa.
Jika merunut pada cerita Jake saat keluar, Sinu berpikir bahwa ayahnya sudah mati, juga Dewa Dewi. Namun apa yang di lihatnya sekarang, menghancurkan seluruh spekulasinya.
“MUNDUR!! MASUK KE DALAM SEMUA, KUNCI PINTU!!!!” si sulung berteriak pada semua orang. Tentu saja membuat siapa saja bingung “Masuk!!! Gua bilang masuk-masuk!” ia membentak semua orang. Lantas Johan yang menggiring mereka untuk ke dalam kecuali Logan yang tetap berdiri di kakinya, tepat dua langkah di belakang kakaknya.
“Gua bilang masuk” Sinu melirik satu–satunya yang tak mendengarkan. Logan menggeleng.
“Ayo hadapi berdua” katanya tenang. Mengingat Logan juga pernah terlibat dalam pertempuran kelewat singkat yang berhasil memojokkan mereka dan berakhir membuat semua terkunci hingga ribuan tahun, Sinu melunak dan tatapannya kembali fokus pada cahaya yang perlahan memadat menjadi susunan tubuh—khas para Dewa. Sudah sangat lama tak menyakiskan entitas lain. Kecuali manusia yang datang sebagai tiga kunci.
Masih sama. Getaran keilahian.
Bedanya, kini Sinu tak lagi merasa terintimidasi. Wanita itu datang sendirian, tidak dengan bajingan siapapun yang menjadi bagian dari mereka.
“Oh.. sudah sangat lama, ya?” rambutnya ikut turun dalam tempo lambat seolah gravitasi bisa ia kendalikan. Wajahnya tidak berubah, postur tubuh, aroma, serta pakaian. Semua sama, Sinu masih mengingatnya dengan jelas. Bahkan kulit telanjang saat bergelayut pada ayahnya manja. Menjijikan.
Kepalanya lalu meneleng—menatap portal yang hancur seluruhnya. Kini, kastil itu sepenuhnya telah bebas dari kutukan. Siapa saja bisa keluar, serta kematian bisa datang.
Sinu khawatir yang itu. Itu juga alasannya meminta semua orang untuk masuk. Saat portal terbuka, mereka akan kembali normal seperti vampir pada umumnya. Tidak ada lagi kekuatan mendatangkan hewan alias mereka harus berburu sendiri. Entah sisanya, ini juga pertama kalinya untuk Sinu dan yang paling ia ingat adalah kematian yang bisa datang.
“Karena populasi para Dewa benar-benar di ambang kehancuran. Para vampir kebanyakan telah lama mati serta kehidupan untuk makhluk seperti kita tak lagi relevan karena revolusi. Aku tidak akan memperparah segala hal dengan membunuh kalian” kata sang Dewi. Suaranya begitu halus, kontras dengan tingkahnya saat terakhir mereka bertemu.
“Maka, Sinu. Aku akan membawamu ke khayangan. Jadilah suamiku dan kita harus melahirkan banyak anak yang akan meneruskan generasi. Ini momen yang tepat” senyumnya terukir jelas, sangat cantik. Meski di mata Logan, Isa masih jutaan kali lebih cantik.
Jangan tanya bagaimana Sinu mereaksi. Pemuda itu benar-benar ingin mengoyak mulut dan kemaluan Dewi gila itu.
“Aku lebih baik mati ketimbang bersetubuh dengan wanita menjijikan sepertimu. Binasalah, jangan ada keturunan dari rahim kotormu” ucapan Sinu tidak lantang. Tidak sekeras saat ia meminta adik-adiknya masuk. Namun cukup jelas untuk di dengar siapa saja di sana. Sang Dewi menatapnya agak lama. Ekspresi yang sulit dijelaskan, namun Sinu jelas menangkap raut tidak percaya.
Pintu kastil tertutup berat di belakang. Setelah itu tidak ada yang bicara di antara Johan dan adik-adiknya berikut tiga manusia meski satu masih terkapar.
Mereka tahu bahwa pertarungan bukan untuk mereka, ini milik dua orang yang tertinggal di luar.
Dibalik jendela kaca tinggi mereka berdiri sejajar seperti bayangan yang menyaksikan dua kakaknya. Sementara halaman kastil terbuka luas. Langit menggantung rendah seperti menekan ke bawah. Di tengahnya, Sinu berdiri persis berhadapan dengan sang Dewi. Logan berada beberapa lagkah di belakang saat Sinu memintanya untuk diam di tempat.
Sang Dewi bergerak lebih dulu. Cahaya turun mirip keputusan ilahi yang mutlak. Udara bergetar keras saat energi itu menghantam tanah tempat Sinu berdiri. Ledakan cahaya menelan segalanya.
Didalam kastil, tidak ada yang bergerak. Pun mencoba membuka pintu karena Johan melarang siapa saja untuk keluar. Semuanya sepakat hanya melihat.
Agak lama hingga cahaya perlahan mereda. Dan Sinu, masih berdiri meski tubuhnya sedikit condong dan darah mengalir dari pelipisnya. Namun tidak berhasil jatuh, hanya menggantung diam di udara.
Sang Dewi tak memberi jeda. Serangan selanjutnya jauh lebih cepat, menekan. Cahaya muncul dari segala arah, menutup ruang gerak sepenuhnya. Tapi, sesuatu terasa aneh; gerakan cahaya melambat. Seolah kehilangan ketegasan arah. Seakan ruang di sekitar Sinu berubah padat dan sulit dilalui.
Dan si sulung tak menghindar. Kakinya kokoh sambil menarik napas dalam dan itu cukup. Karena ada satu momen saat udara berubah menjadi tidak terlihat namun jelas terasa bahkan dari balik kaca. Permukaan jendela menjadi berembun padahal tidak dingin apalagi hujan. Tidak ada yang menggunakan kekuatan di dalam. Namun butiran halus mulai muncul di sana. Khas–udara yang dipaksa mencair.
Sang Dewi berhenti sepersekian detik. Alisnya menaut sementara kerutan dahi terlihat tipis namun cukup untuk menginterpretasikan keheranan. Tentu ada yang mengusiknya.
Saat Sinu mengangkat tangan, sang Dewi tersentak. Tubuhnya tiba-tiba menegang. Lalu perlahan, cahaya dalam tubuhnya berdenyut lebih kuat mencoba menolak dan memulihkan apa saja yang terjadi pada bagian dalam tubuh. Namun aneh, karena denyut itu menjadi tidak stabil.
Lagi, Sinu melangkah satu kali. Gerakan yang nyaris tak terbaca saking pelannya. Darah di sekitarnya ikut bergerak–mengorbit–mengikuti keberadaannya.
Di dalam kastil, seluruh mata memandang tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Sesuatu yang selama ini tidak pernah mereka saksikan dari kakak sulung mereka. Bahkan sebagian mengatakan bahwa Sinu adalah tidak berguna meski dalam konteks gurauan. Kini terlihat, semuanya terlihat tanpa kecuali.
Fokus mereka kembali pecah pada sang Dewi.
Tangannya mulai terangkat dan cahaya meledak dari dalam tubuhnya. Kali ini bukan serangan namun tentu saja upaya bertahan.
Meski terasa sia-sia karena tubuhnya kembali tersentak lebih keras. Punggungnya melengkung dan napasnya terputus. Seumur hidupnya, ia tidak pernah mendapati kekuatan sebesar ini kecuali dari sesama Dewa. nyaris mustahil seorang vampir memiliki kemampuan manipulasi seluruh cairan bahkan gas dan komponen bukan cair yang dapat diubah menjadi susunan yang dapat di kendalikan pria itu.
Sinu mulai bernapas stabil saat melihat sang Dewi nyaris limbung. Matanya melirik ke belakang tempat dimana Logan masih berdiri menganga. saat fokusnya turun sedikit, saat tekanan di dalam tubuh sang Dewi tak lagi seketat sebelumnya, itu cukup.
Cukup membuat mata sang Dewi terbuka lebar. Cahaya di tubuhnya meledak–menyerang—dalam gerakkan terlalu cepat untuk diantisipasi. Eksistensinya persis di depan Sinu. tangannya menembus dada vampir itu. Cahaya masuk secara brutal. Tubuh Sinu membeku, pupilnya melebar dan untuk pertama kali kendalinya goyah.
Mustahil untuk berhenti setelah semua serangan. Ia mendorong lebih dalam. Cahaya di tangannya menghancurkan dari dalam, membakar jaringan, memutus kendali saraf dan merobek ritme jantung.
“Belum selesai” sang Dewi terkekeh, suaranya serak penuh dendam. Lantas Sinu terangkat seidkit dari tanah, kakinya tak lagi menapak tanah dan darah dari mulutnya mengalir deras. Lalu jatuh.
Logan akan maju, namun Sinu lagi-lagi memberi isyarat untuk mundur. Meski ia tergeletak ditanah bersimbah darah. Kepalanya menggeleng lemah pada adiknya.
Kepalaya meneleng susah payah menatap sang Dewi dengan tangan yang masih tertanam di dadanya. Lalu Sinu tertawa, tawa pelan, serak, mirip orang gila.
“Tertangkap..” bisiknya pada sang Dewi. Siapa yang paham? Sejak tangan itu masuk ke dalam tubuh Sinu, itu membuka sesuatu, bukan hanya luka yang membuatnya seperti tak berdaya, tapi akses. Darah Sinu mengalir ke arahnya—masuk. Dalam satu detik, kendali itu kembali lebih dekat. Sinu tidak menarik tangan itu di dadanya, ia membiarkan.
Tangannya perlahan naik menyentuh pergelangan sang Dewi “sekarang dari dalam” Sinu masih berbisik-bisik seperti obrolan di tengah pertempuran itu merupakan rahasia yang harus di jaga.
Dan kali ini, ia memegang titik paling rentan; jantung, paru, otak, semuanya ditarik sekaligus. Tubuh sang Dewi tersentak keras, cahaya meledak liar tidak terarah, tidak juga terkendali. Tangannya mencoba keluar dari tubuh Sinu, namun terlambat. Karena pertarungan ini bukan pertarungan dua kekutan, tapi satu yang menguasai keduanya. Sinu menatapnya dari jarak paling dekat. Hingga matanya dapat melihat tiap pori dan garis wajah.
Wajah yang membuat ayahnya terlena hingga berselingkuh. Wajah yang membunuh ibunya dengan cara paling keji serta wajah yang membuatnya dan semua adik-adiknya terkurung selama ribuan tahun dalam kastil.
“Ternyata kekuatan ilahi tak semengerikan itu” Sinu menarik ingus yang sebenarnya bukan ingus, melainkan napas yang berembun dalam hidung.
“Untuk pertama kalinya aku menyesal karena terlalu penurut pada ibuku. Seharusnya, aku membunuhmu sejak dulu” lalu Sinu meludahi wajah sang Dewi—yang dimana ludah itu berubah menjadi ribuan jarum tajam yang menancap—memadati wajah ayu. Sang Dewi menjerit. Darah segar keluar dari tiap jarum dan itu kembali di jadikan pecahan kaca runcing yang kembali mengoyak wajahnya.
Jeritan sang Dewi terdengar begitu nyaring hingga mirip tiupan sangkakala. Seluruh hewan tunggang langgang dari sana. Burung-burung yanga awalnya bertengger di dekat, kontan terbang secara serempak.
“Harusnya, kau tetap menyerangku dari jauh” katanya lagi. “Satu kali saja aku menyentuh darahmu, maka, aku bisa mengendalikan dan mengirimkan seluruh rasa sakit yang pernah ada di bumi. Seperti pada seseorang” Sinu melirik ke belakang. Pada Lyn yang tentu saja tidak terlihat “aku akan meminta maaf dan menebusnya entah dengan apa” ia berbisik, kata-katanya tertuju pada Lyn meski jelas tak akan mendengar.
Dan dalam satu momen, semua fungsi dalam tubuh sang Dewi runtuh, cahaya padam total bersama tubuh yang lemas. Tangannya terlepas dari dada Sinu lalu jatuh.
Tubuh sang Dewi menghilang—berubah menjadi cahaya putih yang melebur naik ke langit. Semua orang menyaksikan itu tanpa kata-kata.
Sinu masih berdiri selama beberapa detik. Hanya diam, lalu lututnya menyerah. Tubuhnya doyong dan jatuh ke depan. Darah mengalir bebas tanpa arah dan kendali. Pertarungan berakhir di detik ia hampir kalah.
Tubuhnya bersimbah darah. Darah miliknya sendiri yang sejak tadi berperan besar untuk menghancurkan lawan. Saat melihat tak ada lawan, Samuel keluar lagi tunggang langgang mendekat pada kakaknya. Ia lantas mengobati Sinu—menyentuh seluruh tubuh kakaknya dan memulihkan yang luka.
Dan semua orang pelan-pelan keluar.
Tiga bungsu masih diam dengan wajah pucat. Tidak ada yang bicara di antara mereka.
“Bawa masuk, dia udah nggak luka. Cuma pasti butuh waktu buat isi ulang energinya. Dia masih lemes” kata Samuel entah pada siapa. Namun Daniel berjongkok dan menggendong Sinu di depan. Di buntiti semua orang.
ִֶָ. ..𓂃 ִֶָ🦋་༘࿐
Satu hari berlalu.
Sinu masih di ranjangnya. Terbaring baik-baik saja. Namun tidak banyak bicara dan tidak juga keluar. Sementara sisa adiknya berbaur keluar. Mereka bermain ke hutan, berlari jauh ke sana kemari hingga tersesat.
Tidak ada lagi portal. Mereka semua bebas.
Tiga manusia berencana akan pulang, namun masih menyiapkan bekal dan energi. Meski Daniel akan menangis dan memohon tiap mereka membahas ‘pulang’ serta meminta untuk di ajak serta seperti janji Kristal selama ini.
Lyn sehat. Samuel tentu saja ikut andil besar dalam penyembuhan luka akibat tusukan brutal.
Juga tentu saja setelah Sinu melepaskan kendalinya pada tubuh gadis itu. Tidak ada lagi kesakitan, tidak ada tersiksa, tubuhnya bahkan jauh lebih bugar dari sebelumnya.
Namun satu hal yang jelas, Lyn bukan benar-benar manusia murni lagi meski kini, ia tak lagi meminum darah—namun makanan manusia. Tubuhnya terikat pada satu jaringan yang eksistensinya kini masih dalam kamar. Mereka belum bertemu lagi—meski tidak yakin. Lyn membenci Sinu hingga mati. Seperti itu sugestinya sejak pertama kali pria itu menanamkan rasa sakit. Meski semua itu dilakukan dengan tujuan akhir dan berhasil; portal terbuka.
Namun rasa sakit dan traumanya tidak akan bisa sembuh. Ia membenci Sinu, titik.
“Masih sakit kah?” Logan menyembul dari balik pintu. Hanya kepalanya saja dan tanpa basa-basi, matanya memindai tubuh kakaknya yang terbaring. Terlihat segar dan baik-baik saja.
Sinu menggeleng.
“Gua nggak papa. Manusia udah pulang kah?”
Logan gantian menggeleng.
“Gua mau ketemu Lyn. Tapi bingung mau bicara dari mana” Sinu mengeluh, itu yang sejak kemarin menganggu pikirannya. Kelakarnya sangat mengerikan dan ia tahu tidak akan termaafkan.
“Nggak penting, yang penting portal udah kebuka dan kita bisa rundingan apa yang akan kita lakukan kedepannya. Tapi kalau lu terganggu, minta maaf aja tanpa menurunkan harga diri. Kayak lu biasanya” saran adiknya di reaksi senyum oleh Sinu.
“Gua keluar, kabarin kalau mau bicara dan minta kumpul” Logan menghilang.
Jake, Daniel, Edgar, Samuel dan Johan berjalan-jalan di luar. Bersama tiga gadis, lalu Logan menyusul–membuntut dari belakang.
“Si jablay dari tadi diem aja” Jake terkekeh. Ia mengamati saudaranya yang tiba-tiba menjadi murung setelah portal terbuka dan rencana Lyn dan dua temannya untuk pulang.
Lalu ia mendongak. Matanya lurus pada Kristal.
“Til, lu nggak akan ninggalin gua kan?” tatapannya sayu. Kristal mengedikkan bahu.
“Gak tau ya, gua suka sama lu karena kurang kerjaan. Aslinya laki kek lu banyak di got kalau di dunia manusia mah. Kecil dapet spek modelan lu” sergah Kristal memanasi.
Jauh ribuan tahun lalu. Sebelumnya semuanya terbentuk dan menjadi belenggu. Sebelum pantheon berpencar lantas bersumbunyi masing-masing dalam singgasananya.
Jauh..
Jauh ketika vampir dan seluruh makhluk saling berdampingan. Hidup dalam toleransi bahkan berbisnis lewat jalur perdagangan. Ketika dunia di pimpin oleh raja bijaksana. Sebelum kerusakan dan peperangan datang dan sebelum pengkhianatan serta kesakitan. Semuanya berjalan begitu damai dan indah.
Para dewa, dewi, Vampir, manusia, anthropomorphic, serta komponen-komponen hidup meski tidak bisa bergerak seperti pohon dan tumbuhan lainnya. Semuanya berdampingan, bahagia serta damai.
Siapa saja dapat melihat kawanan burung yang terbang berkelompok, menikmati indahnya pagi dengan secangkir darah segar atau kopi tubruk yang di tumbuk penuh cinta. Bisa saja anggur lezat dalam goblet yang biasa di konsumsi para dewa dan dewi di khayangan.
Hutan rindang serta pemukiman yang berdampingan. Semuanya damai dan sejahtera. Dipimpin oleh satu raja dari kalangan pantheon dan permaisurinya dari Vampir bangsawan. Dunia terasa begitu hijau dan dingin.
Juga tak kalah damai bagi sepasang suami istri yang bertemu dan menikah karena cinta. Tinggal mereka dalam rumah mewah dengan cerobong asap tinggi. Rumah megah dan besar yang memiliki tujuh kamar, satu kamar mandi dan bagian paling lebar adalah ruang bersantai keluarga.
Pasangan yang mendapat nobel karena berhasil menghancurkan peraturan dan membentuk peraturan baru–juga yang di gadang-gadang mempererat ikatan serta hubungan antar manusia dan vampir.
Pada masanya, mereka begitu di tentang karena Joy, merupakan gadis cantik dari kalangan manusia yang di pinang oleh Jonathan, Vampir dari kalangan bangsawan yang juga memiliki paras rupawan serta kekuatan yang di gadang-gadang terkuat di klan nya.
Pertemuan karena cinta.
Bertemu tak sengaja di pesta selendang yang di adakan di istana raja. Pertemuan pertama yang saling tarik menarik. Mirip sulur yang terhubung–keduanya seolah telah di takdirkan dewa untuk bersama.
Pernikahan mereka di karunia satu anak laki-laki. Sangat tampan bahkan kelewat tampan. Ketampanannya mewarisi sang ayah hingga beberapa tetangga dan kerabat menyebutnya duplikat.
Mereka memberi nama Sinu Han.
Anak pertama yang perkasa dan rupawan. Sejak bayi, Sinu nyaris tidak pernah menangis. Bayi itu sudah menunjukkan kekuatannya di usia 3 tahun–bagaimana air dan segala komponen cair dapat di kendalikan.
Awalnya tidak begitu ada yang perhatian. Jonathan hanya tahu jika putranya memiliki kekuatan mengendalikan air—mirip adik sepupunya jauh di sana. Ia tidak perhatian untuk bagian-bagian yang lain. Sibuknya pergi bekerja mencari nafkah–pergi pagi pulang petang. Sementara Joy seorang cantik jelita yang akan membuat para Dewi iri—yang paling paham bagaimana putranya tumbuh dengan segala kemampuan yang ia yakin dapat mengalahkan seluruh vampir terkuat. Bahkan kekuatannya menyetarai Dewa.
Keyakinan tanpa dasar itu ia sampaikan pada suaminya. Jonathan hanya tersenyum lalu menimang Sinu sayang.
“Dia mampu menekan kelembapan. Bisa menciptakan tekanan air setajam parang. Bisa mengendalikan darah dalam tubuh lawan. Membekukan, mengeringkan, menyerap habis darah dan menguasai segala komponen cair. Bahkan bisa mengubah gas, oksigen, dan suhu ruang menjadi cair. Dia bahkan tidak perlu sumber air untuk memaksimalkan kekuatan. Dia mampu memanipulasi air. Itu bukan kekuatan yang dimiliki vampir pada umumnya” Joy bercerita semangat sementara Jonathan lagi-lagi tersenyum “Jon, dia bahkan bisa meningkatkan tekanan di sekitar tubuh lawan mirip di timpa laut dalam dan menghancurkan organ lawan, tulang, dan semuanya tanpa menyentuh”
“Tapi dia tidak bisa berregenerasi, sayang. Vampir terkuat adalah mereka yang mampu menyembuhkan tiap luka pada diri mereka sendiri. Percuma memiliki kekuatan besar jika mendapat luka kecil saja, akan memakan waktu untuk sembuh. Dia akan mati jika bertemu vampir yang bisa beregenerasi cepat meski kekuatannya hanya mampu bicara dengan hewan” ungkapan Jonathan tak menyurutkan antusias Joy pada putra sulungnya.
“Sinu tidak pernah sakit. Dan regenerasi tidak lagi berharga bagi anak sulung kita. Sinu bisa mengganggu distribusi cairan yang membuat regenerasi lawannya gagal untuk mengeringkan luka. Dia bisa bikin lawan sulit meregenerasi karena dia yang mengontrol darah. Sel lawan tidak bisa di perbaiki jika berhadapan dengan Sinu. Artinya, regenerasi tidak berharga bagi putra kita” Joy tetap Joy. Anak sulungya yang masih berusia tiga tahun itu telah menunjukkan segala kekuatan yang membuat ibunya–seorang manusia biasa begitu takjub.
Joy tahu. Ia juga tahu bagaimana dahsyatnya kekuatan para Dewa serta para vampir terkuat. Namun kekuatan bayi Sinu melampaui hal-hal lumrah anak vampir pada umumnya. Apalagi Sinu bukan vampir murni melainkan persilangan antara manusia dan vampir.
Sinu tiga tahun melawan kawanan harimau dengan cara membekukan darah serta menghancurkan organ serta tulang para binatang itu tanpa menyentuh. Lalu anak vampir tetangga yang seusianya datang bermain bersama. Mereka berebut maianan—sang anak tetangga yang memiliki kemampuan beregenerasi, saat di pukul Sinu dan terluka, maka akan cepat pulih dari luka. Namun lama-kelamaan ketika sering bersama, Joy dapat merasakan bahwa regenerasi anak tetangga menjadi begitu lambat dan nyaris seperti vampir yang tak memiliki kemampuan pemulihan cepat, tatkala dihadapkan Sinu. Bayi Sinu menekan darah dan pergantian sel gagal: regenerasi gagal dan Sinu mampu menggagalkan.
Jadi tidak ada yang spesial tentang regenerasi cepat. Karena itu tidak berarti bagi anak sulung Joy.
Namun Jonathan tetap kukuh bahwa kekuatan anak sulungnya lemah dan payah di bandingkan anak-anak vampir lain yang memiliki kekuatan beregenerasi. Sama sepertinya. Jonthan mampu pulih cepat dari luka.
Hingga sekian lama.
Joy yang sudah menjalin ikatan dengan vampir dengan cara pertukaran darah di hadapan dewa, memiliki umur panjang layaknya vampir meski ia tetap manusia. Empat ribu tahun.
Empat ribu tahun saat rata-rata usia vampir sampai sepuluh ribu.. Mereka tak menua, meksi tetap terlihat sebagai vampir dewasa. Kecuali Joy, Joy mulai terlihat tak segar. Ia memang berumur panjang, namun kecantikan manusia-nya, perlahan memudar. Kulitnya memang masih kencang, namun auranya redup, ia kusam tak secantik dulu.
Kendati demikian, Jonathan tetap mencintainya. Mungkin.
Empat ribu tahun interval antara kelahiran Sinu dan kelahiran putra kedua mereka. Sinu sudah besar, tubuhnya jauh melampaui ayahnya. Kekuatannya makin dahsyat dan gila. Sinu di takuti seantreo negeri dan beberapa kali di panggil ke istana untuk memenuhi titah raja: menjadi panglima perang melawan para pemberontak.
Namun Joy menolak putranya untuk pergi. Ia tidak sudi melepaskan anak kesayangannya. Tidak untuk melewan pemberontak dan menghacuran negeri. Joy masih yakin jika Sinu mencakup hal-hal yang ia khawatirkan.
Dan saat Logan lahir, perhatian itu jelas pecah. Perhatian yang awalnya hanya tercurah dan fokus padanya, kini terbagi.
Logan, kini berusia 100 tahun. Logan anak-anak dengan kemampuan regenerasi dan keahliannya menghancurkan dari dalam tanpa menyentuh—dimana kekuatan itu lebih dulu dimiliki Sinu bahkan jauh di bawah Sinu. Logan hanya mampu menghancurkan, membuat lawan memuntahkan apa saja yang ada di sekitar—masuk secara tidak masuk akal ke perut lawan. Dan yang paling menonjol selain kekuatan menghancurkan dari dalam serta memasukkan apa saja ke dalam perut lawan adalah Logan merupakan peramal akurat. Sejak bayi, anak itu telah di karuniai kemampuan membaca hidup orang melalui sentuhan tangan dan garis telapak. Matanya akan berubah warna sebelah. Namanya begitu terkenal sejak tahu jika ia merupakan seorang peramal karena ayahnya yang terus membanggakan dan menceritakan ke sana ke mari. Berbeda dengan Sinu yang tak sekali pun mendapat pujian ayahnya, tidak juga apresiasi. Sama sekali. Sementara Logan adalah kesayangan Jonathan.
Semua makhluk berbondong-bondong pergi ke kastil—kediaman Jonathan untuk meminta di ramal. Jonathan tidak perlu bekerja lagi. Emas, berlian, dan segala logam mulia terkumpul dari siapa saja yang datang saat meminta di ramal. Pria itu menimbunnya di ruang bawah tanah dan menjadikan Logan sebagai sumber pendapatan yang fantastis. Tidak seharipun libur, putra keduanya itu bekerja keras meski anak pertamanya— Sinu tetap pergi berdagang hasil tenunan Joy dan beberapa perhiasan hasil pahatan ayahnya ke pasar besar di pusat kota dekat istana.
Namun perlakuan jelas berbeda. Sinu benar-benar transparan.
Ayahnya selalu mengajak Logan bicara, mengobrol selayaknya anak dan ayah. Meski ia tahu adiknya juga pendiam. Namun perilaku itu benar-benar menciptakan kesenjangan. Sinu dianggap tidak berguna dan terus mendapat sindirian keras karena tidak menghasilkan uang sebanyak Logan.
Begitu terus hidupnya berjalan. Yang membentuk Sinu menjadi lebih pendiam. Ia bahkan nyaris tidak pernah menggunakan kekuatannya, tidak sekalipun. Karena apapun yang ia keluarkan dari tangannya, pasti akan terlihat tak berguna di hadapan ayahnya.
Bahkan hal remeh seperti Logan yang dapat membuat binatang lumpuh, di apresiasi begitu besarnya. Padahal, hal-hal semacam itu sangat kecil bagi Sinu.
Hingga ratusan tahun berlalu bagai kedipan mata.
Joy kembali melahirkan putra-putra tampan.
Dalam waktu kurang dari seribu tahun, Johan, Samuel, Edgar, Jake dan Daniel lahir. Wanita hebat itu melahirkan tujuh pria perkasa. Anak sulungnya Sinu yang memiliki rentang sangat jauh dari sisa saudaranya yang lain.
Dan setelah kelahiran Daniel lah seluruh malapetaka terjadi.
Joy tidak lagi cantik. Wanita itu mulai keriput. Rasanya perjanjian darah memang memiliki rentang dan Joy mungkin sudah sampai batasnya. Namun ia masih menyusui Daniel. Tujuh putra yang memiliki masing-masing kekuatan keren.
Namun siapa yang menyangka jika suaminya—Jonathan malah berselingkuh dengan sorang Dewi.
Ya, Dewi.
Jonathan tidak berubah–maksudnya, parasnya. Pria itu tetap tegap dan gagah, wajahnya nyaris masih sama seperti pertama kali ia bertemu dengan Joy di pesta selendang. Wajahnya adalah gambaran Sinu—persis, meski rambutnya mulai memutih satu dua. Namun kegagahannya tidak hilang.
Dewi Holly.
Perselingkuhan mereka terbongkar saat Sinu tidak sengaja memergoki ayahnya keluar dari khayangan para Dewi dengan pakaian berantakan, sementara sang Dewi menggelayut tanpa busana. Kediaman mereka—para Pantheon ada di awan–antara langit-langit meski tak terlalu tinggi. Sinu ada di sana, di atas pohon untuk mengajak tiga bungsu bermain.
Jangan ditanya bagaimana si sulung mengamuk.
Jonthan benar-benar mati jika saja Dewi Holly tidak ikut menyerangnya. Kekuatan yang tak pernah di asah milik Sinu kalah telak oleh kesucian dan keilahian milik sang Dewi. Pertarungan sengit itu di saksikan dua bungsu yang masih baru belajar mengenal warna sementara Daniel baru belajar jalan.
Sambil menggendong Daniel, Sinu di babat habis oleh wanita itu. Ia terdesak hingga pulang dengan menggendong tiga adiknya untuk meminta bantuan Logan, Samuel serta Johan.
Namun apa yang di lakukan sang Dewi dan ayahnya malah lebih gila dari dugaan.
Dewi itu membunuh Joy. Membunuh ibu mereka.
Kondisi makin keos saat Edgar, Jake dan Daniel menangis sementara Samuel dan Johan mengamankan mereka. Pertumpahan yang memilukan. Sinu menangis seperti gila saat menyaksikan bagaimana ibunya meregang nyawa dengan cara paling mengenaskan. Seluruh tubuhnya koyak dengan jeroan yang hancur keluar dari mulut, berceceran.
Tersisalah Logan dan Sinu yang menghadapi ayah dan Dewi Holly.
Mungkin jika ia mengasah kemampuannya, mungkin saja jika ia belajar bagaimana mengendalikan darah dan oksigen lalu mengubahnya menjadi penghancur, Sinu tidak akan terdesak seperti itu.
Logan sendiri langsung tumbang oleh ayahnya sendiri.
Yang tersisa hanya diri sendiri dengan darah putih yang keluar begitu deras dari mulut, hidung, telinga dan pori-pori. Sinu akan mati sebentar lagi jika Dewi itu mengucap mantra penghancur.
Benar, ia tidak sekuat para Dewa atau Dewi. Jika saja ia tak mendengarkan Joy, maka, Sinu sudah pergi ke medan perang dan mengasah seluruh kekuatannya di alam liar. Agar bisa melindungi semua orang. Melindungi ibunya, melindungi adik-adiknya dan melindungi harga dirinya.
Namun tidak. Ia kalah.
“Aku tidak akan membunuh kalian” sang Dewi berseru, “maka, sebagai gantinya, terkurunglah kalian dalam kastil ini selamanya. Tidak bisa mati, juga tak bisa keluar. Kecuali oleh tiga kunci yang akan menghancurkan segel ini” ucapan itu di ikuti selubung ilahi yang menyebar ke sekeliling kastil. Portal berwarna transparan nyaris tak terlihat menyelimuti dengan jarak dua puluh meter dari kastil.
Ayah dan Dewi itu ada di luar sana, tidak lagi terlihat.
Dan sejak hari itu, mereka terkurung di sana. Hingga hari ini.
Mayat Joy di kuburkan di halaman belakang yang dipenuhi tanaman anggrek. Sejak saat itu, Sinu menjadi lebih pendiam–lebih dari sebelumnya. Tidak ada yang bisa keluar, tidak ada yang bisa menghancurkan portal meski mereka menyatukan kekuatan. Sinu bahkan pernah memaksimalkan kemampuannya untuk menebus portal, namun yang terjdi malah pantulan yang akan menghancurkan kastil.
Sejak saat itu, semuanya semakin jelas.
Ia membesakan tiga adiknya tanpa banyak bicara. Mereka semua benar-benar tidak banyak bicara dan berkata seperlunya. Hingga tiga bungu membesar dan menjadi vampir-vampir paling aktif. Tiga bungsu itu yang membuat suasana kastil setidaknya tidak seperti hunian mati. Mereka bertigalah yang mewarnai.
Dan tidak satu pun dari mereka bisa keluar kecuali Jake dengan batas waktu yang teramat singkat. Jake lebih sering bercerita bagaimana kondisi di luar yang akan di simak semua orang. Sinu sesekali bertanya kondisi di luar–seperti tetangga, raja yang sekarang dan kehidupan para vampir. Namun Jake mengedikkan bahu tidak tahu karena saat ia keluar, yang terlihat hanyalah hutan belantara tanpa ada kehidupan lain. Tidak ada lagi peradaban seperti yang Sinu tanyakan.
Jake tidak menemukan makhluk apapun selain binatang yang menjadi konsumsi mereka sehari-hari.
Dunia luar sudah hancur. Peperangan telah pecah dan semuanya musnah. Kini, hutan bahkan di pegang pemerintah. Tak ada lagi makhluk lain. Manusia mendominasi. Manusia mengalahkan seluruh entitas–kini memegang alih seluruhnya. Yang tersisa hanya kastil tak kasat mata akibat kutukan Dewi Holly. Sinu menceritakan sang Dewi dengan ujaran penyihir. Maka, tiga adiknya percaya bahwa mereka di kurung dan di kutuk oleh penyihir dan ayah mereka juga menjadi penyihir jahat.
Ia bahkan tidak tahu apakah ayahnya dan sang Dewi masih hidup.
“Ini istriku.. Aku punya istri sekarang… aku nggak sendirian lagi, aku nggak kesepian lagi. Nggak sendirian pas hujan, pas padam listrik, waktu hari raya dan di semua waktu” tiba-tiba ia menjadi emosional. Yohan mengucek sudut matanya yang berair. Akhir-akhir ini ia mudah menangis.
“Jangan tolak aku terus, Sum.. aku muak banget di tolak, aku capek banget di tolak. Aku lelah.. Aku mau di terima, aku mau di sambut dan mau di sayang.. Aku mau di sayang juga.. Aku..” Yohan tak menuntaskan kalimatnya sementara Summer yang sejak tadi menyimak tiap bagian detail sampai ritme napas Yohan, kontan menarik suaminya keras hingga pria itu jatuh dan mereka berpelukan dalam posisi itu.
Cara bicaranya melompat-lompat. Matanya kosong. Pria itu bahkan kesulitan mengenali sekitar. Gesturnya selalu gelisah. Kadang tiba-tiba marah, tiba-tiba takut dan sesekali menoleh dan berbicaraa sendiri.
“Toko roti adalah tujuan kami”
Tertawa ringan, air matanya jatuh di pojokan.
“Tidak, seharusnya tidak. Apakah ada jalan kembali?”
Ia mulai mimpi lagi, persis seperti semula. Pil terkumpul di bawah bantal dan semuanya tidak pernah benar-benar hilang.
𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊
Sofa mengerut membentuk cekungan dalam mengikuti massa yang membebani ketika Axel merebahkan bokong di sana. Malam itu formasi sempurna. Tiga pria itu berkumpul di halaman belakang—seperti biasa, seperti kebiasaan mereka. Namun malam ini berbeda setelah kesepakatan yang sebenarnya tidak pernah benar-benar dilakukan.
Ini perkumpulan tidak penting tiga pemuda seumuran—single, yang menjalani hidup umum dan kelewat biasa. Mengisi rutinitas akhir pekan—seperti masuk dalam daftar wajib dilakukan meski isinya hanya omong kosong tidak berguna.
Ketiganya sama-sama lepas menyelesaikan pendidikan terakhir S2 di tiga kampus berbeda. Sama-sama melajang namun memiliki cita-cita serta tujuan yang jelas berbeda. Ketiganya ‘akur’. Berteman sejak masuk sekolah dasar membuat mereka begitu dekat. Dekat, kata teman terlalu dangkal untuk menyebut ikatan mereka.
Malam ini, rumah Axel menjadi tujuan setelah pria itu meminta dua temannya datang, lalu mulai mengatakan hal-hal mengerikan—lebih mengerikan dari gaya bicara yang kontras dengan kelakuan. Axel selalu saja berhasil membuat merinding.
“Lu nggak bisa nyalain kompor, nggak bisa goreng tel0r dan lulusan magister sastra. Lu mikir apa sih?” kening Pip mengerut. Wajahnya nelangsa, pria itu penuh kekhawatiran. Hal pertama yang dikatakan dalam grup chat cukup membuat pemuda itu prihatin atas mental temannya. Pip lebih baik melihat Axel membuka celananya di depan gadis yang ingin di kencani–memperlihatkan dalaman hello kitty ketimbang membicarakan keinginannya yang ini.
“Gua dukung” yang satu lagi mengangkat tangan. Pria dengan jaket kulit mengkilap sementara pierching ikut bersinar terpantul cahaya lampu temaram–tersenyum seperti pemuda baik hati yang akan mendukung temannya hingga sukses. Penggambarannya sangat kontras, Rey adalah yang paling suka sekali kekacauan.
Axel menghela napas seperti hanya sampai malam itu sisa umurnya. Sebenarnya, keputusannya untuk membuka kafe kue sudah ia pikirkan jauh sebelum ia mengenyam pendidikan S2. Ayah dan ibunya tidak mempermasalahkan. Malah cenderung mendukung dan akan menjadi dontur–tentu saja, tentu saja dengan kesepakatan yang tidak dimengerti oleh dua temannya. Yang bagi Pip, itu adalah jenis dukungan yang didasari keputusasaan yang dikemas serapi mungkin. Atau seperti dua orang kaya yang melihat anak disabilitas mereka melakukan hal yang ‘normal’ sebagai pencapaian. Dua orang tua Axel tampaknya sudah menyerah dengan anak bungsu mereka.
“Kata gua, mending lu nulis. Nulis aja nulis. Bikin cerpen, novel, apa kek. Nulis. Yang penting yang berhubungan sama tulisan” itu demi kebaikan temannya. Pip mengatakan tulus, setulus ia memperhatikan Rey yang sejak tadi menahan gelak.
“Lu bayangin. Dia nggak bisa masak, nggak bisa apapun sama hal yang melibatkan masak. Tiba-tiba mau bikin kafe kue” Rey tidak tahan.
“Ya mungkin maksud sobat sastra ini, dia mau bikin kafe kue tapi bukan dia yang masak, yakan?” Pip menepuk pundak Axel. Berusaha berpikir paling logis.
“Gua yang bikin” jawab Axel praktis. Memecah keyakinan Pip. Rey makin terbahak-bahak hingga tubuhnya bergetar.
“Lu tau, masak bukan cuma soal mahir atau enggak, bisa atau enggak atau punya basic atau nggak. Masak juga bisa berarti belajar, belajar melewati hal-hal yang sebelumnya paling dihindari. Kadang, beberapa hal harus melewati zona nyaman untuk mendapat esensi kehidupan. Kita semua berproses dan terus belajar” Axel menjawab dengan filosofis–khas karakternya. Dua temannya itu sudah kebal di nasehati dengan gaya sastra. Kadang, kalimatnya menggunakan majas tinggi serta metafora yang seharusnya tidak digunakan untuk pergaulan bobrok itu.
“Kata gua nulis.. Ya Allah.. Percaya sama gua. Lu kudu jadi penulis ketimbang ngobok-ngobok terigu” Pip mengusap wajah kasar.
Axel menggeleng “nulis bukan basic gua”
“Lu kuliah hampir delapan tahun sampe S2 ngambil jurusan sastra. Dan sekarang lu bilang nulis bukan basic lu?”
Axel menggeleng.
“Kuliah sastra bukan buat nulis dan berhenti nyuruh gua nulis”
“Toko udah siap. Semua udah beres. Gua akan mulai belajar secara langsung di toko, otodidak” ucapan itu membuat dua temannya saling pandang dengan hidung yang di sedot seakan ada ingus padahal tidak. Jeda agak lama, pun kata ‘otodidak’ mengusik keduanya—seperti dua temannya itu mencari akal untuk tidak menyakiti perasaan Axel yang sebenarnya sangat kebal meski jika saat ini keduanya mencaci maki serta meyakinkan jika Axel memang tidak perlu masuk ke dapur demi kesejahteraan bersama, maka pria itu tidak akan sakit hati. Sungguh, keputusan gegabah yang diambil serampangan mirip orang putus asa sebelum mencoba apapun selain itu. Apapun, asal jangan masak.
“Gua akan datang dan beli kue lu” suara Pip akhirnya, ia menghela napas.
“Gua pasti akan senang” Axel tersenyum tulus. Lesung pipi dangkal tercetak. Ia merangsang hanya dengan memikirkan aroma margarin yang meleleh di atas pemanggangan. Sangat menggairahkan.
“Abis itu gua buat lempar anjing” Rey melanjutkan, pria itu cekikikan tak ada basa-basi atau sekedar penyemangat. Tidak, jangan berharap sesuatu seperti penguatan dan manis-manis. Pria itu realistis dan perundung ulung “gua harap, nggak ada pemadam kebakaran, nggak ada keracunan dan nggak ada hal-hal yang melibatkan kerusakan”
“Gua akan membuktikan sama dunia bahwa gua bisa, bahwa gua mampu dan ini adalah jalan menuju kebahagiaan dimana gua mendapat uang dari melakukan hal-hal yang gua suka” pria itu mengubah posisi–membuat sofa membentuk cekungan di tempat lain. Axel terdengar begitu tenang sekaligus antusias.
“Kata gua mah, dari dulu misal lu emang suka sama roti. Hal-hal yang berbau ke sana. Kenapa nggak ambil tata boga aja? Kuliah di luar negeri yang mel—”
“Gua suka sastra Indonesia juga” Axel memotong kata-kata Pip yang kontan membuat pemuda tampan itu diam. Mata mereka bertemu dan sejak saat itu, Pip menyadari jika Axel memang bukan manusia biasa. Dan akan sangat buang-buang energi untuk mendebat pria itu, mengatakan bahwa betapa tidak masuk akalnya pendidikan yang dienyam dengan apa yang akan digeluti. Pip memang tidak mempermaslahkan tentang korelasi keduanya asal itu bukan Axel dan masak. Intinya, Axel dan sesuatu yang berhubungan dengan mengolah makanan adalah yang paling buruk.
“Dan kalian berdua akan jadi karyawan gua”
Baru setelah Axel mengatakan itu, peperangan seperti baru saja di umumkan. Dua pemuda yang sejak tadi masih menganggap bahwa Axel demam atau masih dalam pengaruh anestesi–meski tidak, makin tidak percaya.
“Gua mending nerusin jaga warung kelontong emak bapak gua. Udah berisik aja mereka. Dari awal gua udah bilang mau merantau ke Jepang. Di sini nggak ada harapan” Rey yang menjawab. Pemuda anak pedangan sukses itu berhasil menyelesaikan pendidikan magister Teknologi dan memang tujuannya akan pergi ke Jepang.
“Gua mau kerja kantoran ikut paman gua di Singapura” Pip ikut melontarkan tujuannya meski bukan sekali ini saja mereka membahas apa yang akan dilakukan setelah lulus.
“Gua tau” kata Axel apatis “maksud gua, kan kalian perginya nggak langsung sekarang. Ngurus ini itu, segala hal. Pasti berbulan-bulan. Sebelum kalian pergi.. Ayolah.. Bantu gua dulu”
Itu bukan permintaan. Baik Rey maupun Pip. keduanya paham dan tahu. Itu menjadi titik dimana keduanya ingin sekali memukuli Axel hingga tewas.
𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊
Dan disanalah ketiganya.
Axel tak berbohong jika orang tuanya mendukung bahkan mensponsori. Mereka juga yang belum apa-apa pamer pada seluruh kolega serta kerabat dan teman-teman jika anaknya membuka kafe roti setelah lulus kuliah. Pip tidak tahu apa keluarga Axel memiliki semacam ganggaguan pada kepala atau mereka memang tidak masuk akal seperti itu sejak awal.
Juga Rey. Pria yang paling terlihat garang dengan tubuh besar, tato, pierching sekaligus paling jago masak di antara ketiganya, kini berdiri di depan adonan dengan celemek dan berbagai hal yang berhubungan dengan roti, kue dan sejenis. Rey bersumpah tidak akan terlibat jika bukan ayah dan ibu Axel yang meminta dengan persusi yang andal. Ia dan Pip juga diiming-imingi gaji besar meski Rey bersumpah jika kafe ini akan tutup bahkan tak sampai seminggu. Atau katakan jika mereka mendapat satu saja pelanggan yang waras alias bukan dari siapapun–keluarga Axel, maka, ia akan mencium bokong temannya itu. Ini tidak dilontarkan. Sangat berbahaya.
“Kita punya Rey yang bisa di andalkan” ungkap Axel berbangga saat kedua orang tuanya melihat ke dapur. Kafe belum buka dan ketiga pemuda yang sama sekali tak memiliki pengalaman membuat kue itu tengah berkutat dengan hal itu—membuat kue yang akan dibuka dua jam lagi.
Mendengar Axel menyeret namanya dengan label ‘di andalkan’ pria itu merasa seperti baru saja dibebani tugas negara dimana ia menjadi pimpinan perang di negara berkonflik tanpa pengalaman militer dan penggunaan senjata. Hanya bermodal insting.
“Axel anjing, babi, bangsat” ia mengumpat pelan. Tangannya meremat ayakan terigu. Lantas dua orang tua Axel menatapnya dengan teduh, seperti melihat ksatria dengan pangkat tinggi alias yang paling bisa di andalkan. Rey bersumpah demi mentega dan pengembang kue, ia tidak mengerti.
“Kamu punya pengalaman buat kue apa, nak? Mama bangga sama laki-laki yang pintar masak” kata Mama Axel, khas. Wajahnya mirip pemain sinetron dimana saat tertidur, bangun tidur, mandi, bersantai, bulu mata tebal dan riasan tetap aman tertempel di wajah.
“Pengalaman masak sayur lodeh Ma” jawab Rey jujur. Pip diujung sana yang sedang mengolesi paggangan dengan mentega tertawa terbahak-bahak. Suaranya besar tak lagi peduli pada dua orang tua Axel yang mirip orang tua di film yang tidak masuk akal.
“Kalian bercanda terus. Yang serius. Nanti kalau udah buka, Mama mau ajak teman arisan ke sini” ia berbalik menatap anak bungsunya yang terlihat paling tidak masuk akal dari semua hal tidak masuk akal di dapur itu. Axel sedang mengocok telur dicampur gula. Katanya ingin membuat brownie.
“Ma, ini serius kita dilepas gini aja? Maksudnya, nggak ada sewa chef atau siapapun? Kita kaya hilang arah” Pip bersuara, mengangkat tangan hampir putus asa. Mama Axel menggeleng.
“Ini kemauan Axel, dari nol dan untuk media belajar” katanya. Dan benar, memang semua tidak masuk akal. Keluarga Axel adalah yang paling kaya dari mereka bertiga. Anak bungsu dengan kakak perempuan seorang owner skincare terkenal. Brand besar di tanah air. Sementara dua orang tuanya juga pemilik perusahaan yang diturunkan sejak kakek moyang mereka. Kendati kaya raya, mereka semua tampak tidak masuk akal bagi Rey dan Pip.
Sialnya pertemanan mereka berjalan awet.
Pip berdehem saat tiba-tiba Mama Axel mendekat dan berbisik di telinganya. Pria itu dapat mencium aroma cedar dan citrus yang berpadu dengan minyak angin dari tubuh itu.
“Kamu turutin aja, Mama akan gaji kamu besar. Ini syarat dari Axel biar dia mau masuk ke perusahaan Papanya dan magang jadi CEO. Dia cuma minta buka kafe roti dan mulai semua dari nol. Setelah itu, baru dia mau di ajak kerja yang serius ikut Papa nya” kata-kata Mama Axel baru membuat Pip mengerti—meski tetap tidak normal. Setidaknya, ketidakmasukalan ini berdasar dan pikiran tidak percaya pada keluarga kaya raya yang ia anggap bermasalah dengan isi kepala itu, berkurang sedikit. Setidaknya, dua orang tua Axel jelas putus asa.
“Oke” jawaban itu disertai senyum tak natural. Yang terpenting digaji tinggi meski mereka tidak menyebut nominal. Sembari menunggu berkas-berkasnya di urus sebelum terbang ke Singapura. Tidak masalah bagi Pip.
“Oke, Mama pulang dulu. Tiga jam dari sekarang, Mama akan datang lagi sama teman-teman, oke?” wanita itu mengusap wajah anaknya sayang. Menarik hidung Axel–berharap ingus keluar dari sana—yang benar-benar tak pantas di lakukan pada anak berusia 28 tahun. Sebenarnya, terlalu banyak ketidakmasukakalan keluarga Axel, namun yang paling parah adalah hari ini. Mereka bertiga di lepas dalam dapur untuk membuat kue—yang akan dibuka beberapa jam lagi. Tanpa arahan, tanpa pemandu dan hanya bermodal tutorial youtube. Pun, Axel tak memberi tugas, tak memberi panduan. Pria itu hanya mengatakan untuk membuat apa saja asal jangan racun dan bisa di makan; roti.
“Bikin apa lu?” Axel mengintip adonan Pip. Pria itu sedang mencampurkan tepung dan gula, lalu di tambah margarin dan diuleni sebelum di bentuk bulat-bulat.
“Donat” jawab Pip malas. Ia hanya melihat dari video yang berputar tanpa berharap jadi, tanpa ekspektasi dan tanpa semangat.
“Kayaknya bagus punya lu. Kalau udah jadi, kasih toping coklat” si pemilik masih berkomentar.
“Kalau mau laku, mending topingnya duit. Selain itu, gua gak yakin” tangan besar membentuk bulat-bulat, Pip tidak bisa masak, tidak bisa. Pria itu bersumpah.
Setelah itu, Axel menengok milik Rey. Pria yang paling bisa masak di antara dua yang tidak bisa masak itu terlihat serius dan sibuk.
“Lu bikin apa?” pertanyaan itu membuat Rey melirik sedikit. Ia sedang melelehkan mentega dan coklat. Dalam mangkuk lain, Axel melihat campuran gula dan telur.
“Brownie”
“Kayaknya punya lu bakal best seller” ucapan Axel membuat Rey berhenti mengaduk coklat dan mentega. Ia menatap temannya prihatin.
“Apa yang mendasari lu mengatakan itu?”
“Gua liat, lu punya potensi menjadi seorang chef andal di dapur ini. Gua yakin brownie lu bukan cuma enak dan lezat. Tapi juga punya banyak makna akan arti persahabatan dan cinta. Lelehan coklat yang manis dan jujur” lagi, Axel. Rey bersumpah ingin menuangkan coklat panas ke wajah temannya itu.
“Dengar, dengarkan gua setan,” Rey menghela napas “coklat ini manisnya nggak jujur karena bukan berasal dari coklat asli. Melainkan gula. Coklat asli itu pait”
“Gua tau, itu cuma metafora”
“Please nulis aja nulis… jangan masak..” Rey mengerang frustrasi.
“Gua akan cobain brownie lu untuk pertama kali. Mama gua harus iklanin ini biar viral dan go international”
Tidak ada yang menjawab. Semua orang berharap Axel mengalami benturan hebat dan membuat pria itu berubah pikiran dengan memilih menjadi CEO dengan pekerjaan sampingan sebagai penulis karya sastra dengan majas tinggi. Bukan berkutat dengan terigu, oven, gula dan sialan lainnya.
“Guys, kerasa nggak? Darah gua mengalir kencang saat gua ngaduk terigu.. Ini adalah cinta, ini adalah hasrat dan ini adalah arti kehidupan yang nggak akan gua dapatkan dengan duduk di balik meja kerja. Kalian merasakannnya?” Axel merentangkan tangan. Ia hirup aroma minyak goreng yang mulai panas saat Pip akan menggoreng donat.
Rey berhasil membawa brownie yang paling ‘layak’ di antara semua menu dadakan dan amatir — masuk dalam etalase. Pria itu juga membuat roti-roti yang lain dengan isian keju, selai stroberi lezat dan beberapa pie. Semuanya benar-benar hanya mengandalkan video tutorial tanpa arahan. Sementara donat Pip berada di paling kanan. Donat bulat dengan toping beraneka ragam menggugah selera. Rasanya standar saja, kendati, itu lebih baik ketimbang karya Axel.
Axel membuat bolu.
Ia tidak tahu apa yang salah, apa yang kurang dan apa yang terjadi. Bolu nya sangat keras. Saat di lepas dari cetakan, bolu Axel jatuh ke lantai dan tetap utuh–kokoh. Saat Pip mencoba mengangkatnya, ternyata mirip adukan semen. Pip juga bersumpah jika makanan itu di lempar pada anjing, maka anjing itu akan tewas.
Mereka sempat berpandangan beberapa detik tatkala bolu di angkat. Setelah itu, Axel menenangkan Pip. Seolah-olah bolu itu adalah hasil karya Pip dan Axel memberi semangat untuk tidak menyerah meski gagal. Tidak tahu darimana keoptimisan mengerikan itu di dapat. Pria yang gemar membaca ribuan buku pasti memiliki segudang kutipan untuk dilontarkan pada tiap bagian kehidupan.
Dan dua jam berlalu bagai kedipan mata.
Toko itu sudah di buka setengah jam lalu. Rey masih sibuk di dapur. Pria itu masih mengeksplorasi berbagai macam roti dan kue sementara Axel dan Pip duduk di depan. Pip membereskan menu, Axel sibuk memotret ini dan itu.
“Kata gua mah,” Pip menata donat dan brownie sambil berusaha mengajak temannya yang sibuk memotret untuk berdiskusi “ini saran gua sih. Tapi gua harap lu mempertimbangkan” kata-katanya terpotong dengan dehem dan batuk kering “kata gua mah, mending lu sekarang mabur ke Holland Bakery. Beli apa aja di sana terus hidangin ke Mama lu dan teman-temannya. Percaya sama gua”
Perkataan itu membuat Axel berhenti memotret. Pria itu melirik temannya dengan mata paling tidak percaya sedunia–memicing dan datar, seakan ocehan itu adalah ajakan untuk membubarkan DPR dan membuat rapat darurat dengan majelis permusyawaratan rakyat–guna kembali mengatur tatanan kenegaraan.
“Kata-kata lu melukai harga diri gua, tapi gua maafkan karena lu sahabat gua dan donat lu enak” lantas ia tersenyum ramah. Terlalu ramah hingga kadang-kadang, Pip mengira bahwa Axel adalah pria berkebutuhan khusus yang memiliki gangguan mental tertentu.
“Dengar, nggak akan ada yang langsung bagus dalam sekali percobaan kecuali hoki. Itu pun nggak akan bertahan lama. Sesuatu yang awet, yang langgeng, biasanya harus mengalami yang namanya proses panjang. Luka, kegagalan, dan segala macam hal yang bikin kita down. Gua percaya” Axel menghela napas. “Tapi kalau misal gua bisa suskes dengan cepat dan terkesan instan, gua percaya momentum yang tuhan kasih ke gua”
“Bagus kalau lu percaya. Tapi asal lu tau, lu nggak buat kue hari ini. Sekarang,” Pip menunjuk semua makanan dalam etalase “semua yang ada di sini dan seorang pria bertato, pierching dan besar di dalam sana yang lagi sibuk buat kue. Itu bukan lu. Kita berdua akan pergi dalam kurun tertentu. Jadi pikirin lagi tentang percobaan saat lu bahkan cuma satu kali mencoba dan gagal, terus mengandalkan punya gua dan Rey. Ini bukan hasil tangan lu, tapi gua dan Rey” Pip menekan-nekan tiap kata berharap Axel sadar atau apapun.
“Nah itu, gua punya kalian. Masakan kalian masakan gua juga”
Dan Axel tidak mengerti. Memangnya sejak kapan pria itu mau mengerti?
Hingga bunyi ting-nong terdengar. Axel meniru gaya minimarket saat ada pelanggan masuk dengan alarm khusus. Kedua orang itu kontan mengatupkan rahang sebelum menggantinya menjadi senyum ramah. Mama Axel memenuhi janji—datang bersama tiga temannya dengan gaya yang tak jauh berbeda dengannya. Mereka terlihat galmor, serba mahal dan aroma mereka begitu memikat satu sama lain. Meski kulit leher bergelambir belum kembali di kencangkan.
“Toko roti Axel. Kalian harus cobain menu best seller disini” ucapan Mama Axel pertama kali membuat Pip mengernyit. Bagian ‘best seller’ benar-benar mengganggunya.
“Apa menu best seller disini?” salah seorang teman Mamanya bertanya. Maka, Mama Axel melihat pada anaknya dengan sorot bangga. Seakan bocah berusia dua puluh delapan tahun itu lepas memenangkan medali emas atas olimpiade matematika tingkat internasional.
“Belum ada bestseller tante, kan baru buka. Tapi kami punya menu andalan yang sayang banget kalau di skip alias menu wajib” ujaran Axel membuat Pip makin khawatir. Ia bahkan tidak bisa menduga, temannya itu akan menunjuk apa sebagai ‘best seller’ yang bahkan—hampir semua yang ada di etalase rasanya saja mirip roti seharga dua ribuan di warung madura.
“Kita punya donat begang”
Pip putus asa. Pria itu ingin kabur.
Dari semua donat yang berhasil ia buat. Axel memang hanya bersenda gurau atas segala tingkah dan perbuatan. Bercanda hingga benar-benar tidak lucu. Pria itu mengambil piring dan donat yang dibuat dari sisa adonan—malah di suguhkan sebagai testing.
“Ini menu andalan. Coba aja dulu. Kalau mau beli yang utuh harganya lumayan. Soalnya modalnya juga di impor dari Kanada” itu juga bohong. Pip bersumpah membeli bahan-bahan di warung madura. Juga, Axel sempat mengatakan brownie Rey yang akan menjadi best seller. Benar-benar di luar dugaan. Ia bersumpah akan memberikan jiwanya bagi siapa saja yang bisa menerka isi kepala Axel.
“Oh.. waw” salah satu teman Mamanya memperlihatkan reaksi yang–tentu saja bingung dan aneh. Namun mereka tidak mengatakan apa-apa. Padahal, Pip berharap mereka akan mencaci maki dan membuat mental Axel terluka, lalu Axel akan menyudahi bermain chef–dan toko roti sinting ini.
Donat kurus itu masuk dalam mulut. Mesisnya meleleh di lidah. Rasa donat nya pas.
“Ini enak banget” komentar salah satu lagi. Axel tersenyum bangga—melirik Pip dengan lesung pipi memuakkan. Sementara yang membuat, meringis. Itu jelas kebohongan demi menyenangkan bayi dua puluh delapan tahun yang benar-benar menyedihkan.
“Besok tante ada acara arisan di rumah. Tante mau pesen donat tiga ratus biji ya, Axel? Serius ini enak banget. Tante akan iklanin ke teman-teman yang lain” yang paling kurus dan pendek berkomentar setelah menghabiskan satu buah donat kurus. Matanya berbinar-binar. Liurnya hampir jatuh. Pip terbelalak dan Axel makin membusungkan dada.
“Siap tante, udah aku bilang ini akan best seller”
Di tengah keterkejutan Pip. Disusul Rey yang datang dengan kemeja digulung selengan dan membawa nampan berisi kue—mirip croissant. Pria itu tidak percaya. Namun aroma sesuatu yang dibawa Rey cepat-cepat mengalikan. Wanginya sangat enak.
“Ada pelanggan?” pria bertato itu bertanya, keringatnya banyak dan hidungnya berminyak. Pip bergidik sebentar lalu menunjuk pada perkumpulan ibu-ibu kurang waras dengan bibirnya.
“Kalau itu, nggak gua anggap pelanggan” Rey bertolak pinggang. Aroma musk bercampur keringat membuat pria itu memiliki wangi yang khas “mereka akan bilang enak walau mengerikan”
“Mereka pesen donat gua 300 biji” ungkapan Pip membuat Rey melebarkan pupil.
“Donat lu?”
Pip mengangguk. Jeda beberapa detik, Rey tertawa. Tawa pria itu membuat teman Mama Axel melirik sekilas.
“Dan yang mereka coba itu donat begang, sisa adonan” Pip menghela napas “coba si sat, lu cobain donat gua. Kadang gua merasa…” pria itu tidak menyelesaikan kalimatnya. Sebenarnya ia sedang tidak ingin berpikir. Biar saja jika memang sialan apapun yang ada di etalase ini di sukai wanita-wanita itu. Hendak palsu maupun nyata, ini tidak akan berpengaruh pada hidupnya. Biarkan Axel bermain dengan kegilaan yang didukung oleh keluarganya itu. “ini croissant?” Pip mengalihkan, lantas melihat pada roti panas yang diletakkan dalam nampan stainless di atas etalase.
“Anggap aja begitu, nggak gua coba sama sekali. Serah rasanya. Bodo amat” Rey mengedikkan bahu, pria itu kembali ke dapur setelah mengambil soda dalam lemari pendingin dan meneguknya kasar sambil berlalu. Menghilang di balik pintu.
Rey pergi dan Axel mendekat. Matanya kontan berbinar melihat roti baru di atas etalase.
“Ow.. gua harus kasih bonus buat Rey” ungkapan itu penuh kegembiraan. Axel membaui seperti menghirup narkoba. Rakus dan tergesa-gesa. Uap roti memenuhi pernapasannya.
“Dapet uang dulu, baru mikirin bonus”
Lontaran itu tak di gubris. Axel membawa roti yang masih panas dan sepuluh buah donat serta brownie. Pip membantunya mengantar pada pelanggan yang sebenarnya bukan pelanggan. Sambil melayangkan senyum palsu, Pip berhasil mendapat atensi dari ibu-ibu di sana.
“Ini chef nya?” matanya beradu dengan milik ibu-ibu yang bertanya. Pip sangat ramah.
“Saya buat donat aja Ma, sisanya teman saya di dalam”
“Donat? Jadi kamu yang buat? Bukan Axel?” pertanyaan itu membuat Pip bingung. Ia melirik pada Axel dan bergantian pada si ibu.
“Iya, mereka yang buat. Saya belum coba bikin lagi. Tapi saya bangga punya teman-teman keren yang bisa membuat roti setara sama chef-chef kelas dunia. Mereka ini sangat bisa diandalkan dan begitu cekatan serta mahir. Tiap apa yang mereka olah, akan menjadi maha karya yang nggak hanya mementingkan rasa, tapi juga keestetikan. Dibuat dengan penuh cinta serta simbolis pada tiap rupa yang di bentuk”
Pip menggaruk tengkuk. Omong kosong itu lama kelamaan membuatnya ingin menjadi kriminal.
Hari pertama, pembuatan dadakan dan perdana. Baik Rey maupun Pip, keduanya tidak akan berekspektasi tinggi apalagi berharap mendapat pujian, laku, atau seseorang gila manapun akan mencicip, tidak, ia tidak. Pun, toko roti bisa bertahan satu minggu saja, itu merupakan pencapaian. Maka, Pip yang kini berhadapan langsung dengan pelanggan, menganggap bahwa mereka memang murni mengatakan semua kalimat-kalimat pujian itu sebagai kepalsuan. Bisa saja mereka sudah menyusun skrip dari dalam mobil—yang diketuai oleh Mama Axel sendiri.
“Oh.. croissant” hidangan itu menjadi rebutan. Seakan, para ibu-ibu kaya di sana tidak pernah menemukan olahan terigu yang dicampur pengembang dan gula serta telur—yang dibentuk menjadi tampilan mahal. Pip akan memuji Rey setelah ini.
Tidak tahan. Pip pamit undur diri. Pria itu berjalan ke dapur dan duduk di sofa, memperhatikan Rey yang kembali sibuk menguleni adonan, entah akan membuat apa lagi.
Suara sorak ibu-ibu masih terdengar meski keduanya benar-benar tidak menangkap jelas apa yang mereka bicarakan. Pip memandangi punggung besar. Tangan kekar Rey berurat saat menguleni adonan–seakan adonan itu terbuat dari batu yang di lelehkan.
“Croissant lu laku keras” Pip menghela napas. Ia duduk lelah bersandar pada belakang sofa. Celemeknya kotor serta bau amis bekas telur. Ia tidak menunggu jawaban Rey. Tapi pria itu berbalik.
“Pip, gua tiba-tiba suka kegiatan ini”
Dan itu kabar terburuk setelah semua hal.
-ˋˏ ༻❁✿❀༺ ˎˊ-
Hari kedua setelah pembukaan pertama yang jelas tidak berhasil menarik pelanggan manapun selain Mama Axel dan teman-temannya yang palsu–meski Axel tidak menganggapnya palsu kecuali Pip yang ngotot dan terus mengatakan mereka palsu dan mendesaknya untuk menyerah. Namun, kini dua banding satu. Rey ada di pihaknya. Pengakuan itu berhasil membuat Pip kehilangan suara dan mau tidak mau ikut melanjutkan.
Dan hari ini, bohong jika Axel tidak menduga. Justru, ini adalah bagian dari rencana dimana teman-teman Mamanya serius mempromosikan toko rotinya pada kerabat, dan kenalan mereka. Alhasil, tepat pukul dua siang setelah empat jam toko roti di buka di hari kedua, Axel kembali mendapat pelanggan yang datang secara bergerombol.
Semuanya remaja tanggung. Mereka bermata sipit. Masih mengenakan seragam sekolah menengah pertama. Sopir dan asisten rumah tangga mengikuti mereka. Jumlahnya sekitar empat anak dan semuanya perempuan. Sangat imut dan cantik-cantik.
Bunyi alarm pintu dibuka. Aroma feromon khas anak baru gede yang di padukan dengan parfum mahal membuat mereka begitu kentara berasal dari keluarga kaya raya. Axel menyambut mereka ramah sementara Pip ada di balik meja kasir. Rey seperti biasa, di dapur.
“Om, apa yang best seller disini? Mama bilang toko roti ini terenak di Jakarta dan aku suruh mampir” salah satu anak mendekati Axel, tingginya di bawah dada sedikit. Rambutnya di kepang dua dengan anak poni lucu. Pip yang mendengar langsung menggeleng dengan bola mata berputar.
“Yang paling best seller ada donat begang, donat otoriter, croissant promax, sama brownie simalakama” ocehan Axel kembali membuat Pip mengusap wajah. Ditanya best seller, si ahli sastra itu justru menyebutkan semua menu dengan nama panggilan yang baru saja ia dengar hari ini.
“Oh.. waw.. Terdengar unik. Aku mau coba donat.. Em.. apa tadi? Donat otoriter” lalu bocah itu melihat teman-temannya “kalian pesan apa? Disini nggak ada buku menu. Tampilan toko rotinya aja kayak toko matrial. Kalian pesan lah yang paling terdengar masuk akal. Kalau kita keracunan, yang penting Mama nggak ngomel lagi. Capek banget suruh beli roti”
Lantas gadis kecil itu duduk setelah meminta asistennya menyeka kursi dengan lap. Sisa tiga temannya ikut memilih menu dan mereka duduk berhadap-hadapan. Empat asisten yang kebanyakan adalah ibu-ibu berusia empat puluhan, hanya berdiri di samping majikan mereka. Sopir menunggu di luar.
“Disini nggak beracun anak-anak! Kalian akan merasakan pengalaman keren saat lelehan surgawi ini pecah di mulut kalian” Axel berseru bangga. Ia lantas menuju kasir dan meminta Pip yang mengantarkan.
“Lu bakal di tuntut sat, kalau anak-anak itu keracunan. Mereka orang kaya walau lu kaya juga” Pip berkomentar sembari mengambil pesanan anak-anak.
“Makanan gua nggak beracun. Lu yang buat. Apa lu taro pestisida?” Axel membuka minuman yang sudah dipesan dan memasukkannya dalam gelas tinggi sebelum memberinya es batu.
“Orang kaya nggak akan suka”
“Orang kaya orang kaya mulu ni sobat miskin. Lidah mereka sama aja” si pemilik memberi isyarat dengan mulut “udah buru di anter. Mereka pasti mau pergi les setelah makan”
“Donat otoriter untuk gadis kecil yang cantik. Croissant promax untuk gadis imut, brownie simalakama untuk si paling bersinar. Minumannya lagi dibuat. Tunggu sebentar, oke?” Pip sangat ramah. Wajah tampannya begitu memikat membuat bocah-bocah baru gede itu menganga—memandangi parasnya dengan cara paling tidak biasa. Pip kira, orang-orang kaya tidak akan bertingkah seperti itu.
“Kakak yang buat ini?” di atas dada, ada papan nama. Pip membacanya dan mengetahui jika gadis itu bernama Angela.
“Aku cuma buat donat, Angela. Kalau brownie dan croissant dibuat sama temanku di dalam. Kuharap kamu dan kalian semua suka. Jika menemukan ketidaknyamanan atau rasa yang kurang berkenan, kalian bisa mengirimkan teluh ke pemilik” ucap Pip konsisten. Senyumnya tinggi.
Lantas Axel datang dengan minuman, Pip mundur beberapa langkah.
“Om, aku maunya dilayani kakak yang tadi” ucap Angela. Matanya memindai minuman yang terlihat tidak enak.
“Yang mana? Pip?”
“Namanya Pip?”
“Ya, dia Pip”
“Aku mau sama Kak Pip”
“Kenapa kamu panggil dia kakak sementara aku om? Aku dan Pip seumuran” cela Axel mengernyit. Ia melirik temannya yang berdiri memegang nampan.
“Aku akan datang lagi kalau kakak itu mau duduk disini” sergah Angela–mengabaikan ocehan Axel sebelumnya.
“Hey gadis-gadis kecil. Aku aduin Mama kalian” Axel mengancam.
“Aduin aja, kita pergi. Abis itu kita akan buat postingan di X, Ig, Tiktok dan semua sosial media kalau makanan disini mirip sampah kecuali donat Kak Pip”
Axel menganga tidak percaya. Matanya menatap satu persatu dari mereka yang sibuk memotret makanan di atas meja. Lantas mendarat pada ancaman Angela yang terdengar begitu ngeri.
“Pip, ini tamu VIP. Tolong ajak mereka bicara dan kasih customer service yang keren” Axel langsung tersenyum—memaksa temannya untuk ikut duduk setelah ia mengambil kursi dari sebelah. Pria tampan itu mau tidak mau bergabung dengan bocah-bocah. Tiba-tiba, ia merasa seperti pria sinting yang digandrungi anak di bawah umur. Lalu setelah ini, berita bahwa ia pedofil merebak dan masa depannya hancur. Secepat itu otaknya membuat skenario. Pip berusaha terlihat tenang.
“Oh Kak Pip! Kak Pip umur berapa?”
“Kak Pip, skincare nya apa?”
“Kak Pip udah punya pacar?”
“Kak Pip boleh minta nomor?”
“Kak Pip bisepnya besar banget”
“Kak Pip, bisa liat abs?”
Seluruh pertanyaan itu belum sempat dijawab. Mereka semua terus mengajukan pertanyaan–mengabaikan makanan mereka yang sudah sepenuhnya terhidang.
“Anak-anak, makan kue dulu baru aku jawab” perintah itu berhasil membuat empat anak menyantap makanan mereka. Ada yang mengernyit setelah makanan itu masuk dalam mulut. Ada yang datar saja, ada yang kembali dikeluarkan dan sisa satu orang mengangguk–merasa itu biasa saja alias ‘masih layak’
“Aku nggak bisa makan-makanan kelewat manis. Aku cepet resisten insulin” kata si gadis yang mengeluarkan brownies dari mulut. Ia merasa bersalah pada Pip. Padahal, Pip malah merasa itu wajar dan normal serta menganggap bahwa seperti itulah reaksi seharusnya.
“Jadi, apa Kak Pip punya pacar?” tanya Angela. Gadis itu mengulum croissant dan menelannya susah payah. Namun masih berusaha menghargai. Pip menerka jika anak-anak orang kaya seusia ini memang berada di fase sangat pemilih terhadap makanan. Mungkin, itu juga hanya perkiraan.
“Aku, Axel dan satu lagi temanku di dalam namanya Rey. Kami semua jomblo. Dan akan sangat senang kalau kalian sering datang dan beneran makan jualan kami” kata-kata Pip di reaksi anggukan oleh Axel yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya. Pria itu tersenyum ramah,
“Waw! Aku akan sering datang” sergah Angela semangat “tapi, boleh aku liat perut Kak Pip? Kak Pip aja, yang lain nggak usah” permintaan itu membuat Pip menatap ke samping—tepat dimana Axel berdiri sambil cengengesan. Lantas pria itu mengatakan sesuatu mirip berbisik.
“Babi” Pip menggerutu. Diam-diam ia mengacungkan jari tengah di bawah—pada Axel yang menertawakannya.
“Ayolah, Kak Pip. Abis ini aku akan pamer di akun tiktok ku kalau roti dan kue disini enak banget” itu juga membuat Pip muak.
“Axel aja Axel, ya? Di keren juga”
“Om Axel mah bapak-bapak” si gadis cemberut.
“Aku seumuran sama Pip, dik. Astaga. Kita bertiga seumuran” Axel mengklarifikasi kesalahpahaman dalam menilai dari Angela. Namun siapa yang akan peduli? Setelah itu, Axel membuka atasannya. Ia memperlihatkan tubuh besar dengan otot-otot yang terpahat begitu indah hasil gym dan menjaga pola makan. Namun bukan pujian atau tatapan penuh binar dan kagum. Anak-anak disana malah menjerit menutup mata mereka. Lantas para asisten ikut panik, mereka meminta semua orang untuk keluar. Reaksi mereka seperti melihat orang gila yang memamerkan alat vital.
Melihat reaksi keos, Axel cepat-cepat memakai kembali atasannya. Para pelanggan sudah kabur. Lalu satu asisten kembali lagi untuk membayar tagihan dengan makanan yang tidak benar-benar mereka makan.
Gantian Pip yang terbahak-bahak.
Sungguh, jika ada kegiatan yang ingin dilakukan, itu adalah berjualan kue bersama dua temannya. Jika harus jatuh cinta, Axel akan jatuh cinta pada toko ini dan dua temannya. Penggambaran itu sudah ada sejak lama. Hal-hal yang tidak disetujui semua orang. Nyatanya, Axel tidak benar-benar mencari uang, tentu saja. Ia hanya ingin vibrasi dan kebersamaan sebelum dua temannya pergi dan mereka akan berpisah dengan kehidupan masing-masing. Berbeda negara.
Dan toko roti akan terus berjalan sembari menjadi titik koordinat dimana semua akan kembali di sini.
“Lu bilang pengen jadiin toko roti sebagai pekerjaan utama. Dasar nggak waras” Pip masih tertawa saat temannya itu hanya melongo lepas ditinggal pelanggan palsu bagian dua.
Tidak, sebenarnya, tujuan Axel membuat toko roti berubah-ubah sesuai kebutuhan dan suasana hati. Yang pasti, hanya toko roti.
Ketiganya memutuskan duduk di meja pelanggan ketika sampai pukul sebelas malam, tidak ada sepotong manusia pun datang. Hanya duduk, tanpa ponsel, tanpa distraksi. Mengobrol seperti pria dewasa mengobrol meski tidak yakin dengan isi pembahasan.
“Mau tutup jam berapa bos?” Rey melirik jam dinding sebesar nampan di atas hiasan dinding. Pria itu menguap lebar, rambutnya lepek dan keringat sudah hilang digantikan udara pendingin yang kering. Satu tangan diatas meja sementara tangan yang lain mengusap wajah. Ia menunggu Axel bicara.
“Bentar lagi sih. Siapa tau ada yang lewat”
Kedua temannya mengangguk bersamaan. Pip sudah nyaris jatuh dengan mata tertutup—mengantuk sementara Rey terus mengulang–menguap berkali-kali.
Ting–nong!
Benarkan?
Axel langsung berdiri dan melihat ke arah pelanggan datang. Senyumnya naik tinggi—serta dua temannya yang menyusul dengan pipi naik sangat ramah.
“Kak, bisa bungkusin donat 4 biji? Tetangga kos saya lagi nyidam pengen donat. Tapi toko roti di mana-mana udah tutup, mana udah malem” seorang gadis. Pakaiannya piyama tidur. Rambutnya di cepol acak dengan anak poni jatuh sembarangan. Kulitnya begitu putih tertimpa cahaya dari lampu—memberikan efek sparkle yang tidak dimengerti. Juga sangat wangi “ada kan?”
“Ada, ada ada” Axel mengangguk ramah. Ia langsung pergi ke balik etalase untuk mengambilkan pesanan.
“Toko baru ya Kak?”
“Iya, baru dua hari buka” jawab Axel–konsisten. Lalu si gadis melihat pada Pip dan Rey yang juga menatapnya. Gadis itu tersenyum tak sampai mata.
“Buka loker nggak, Kak?” pertanyaan gadis itu membuat Axel berhenti memasukkan donat dalam kotak sebentar. Matanya lurus menatap sang gadis, sebelah alisnya terangkat.
“Buka”
Jawaban Axel membuat Rey dan Pip mendengus putus asa. Masalahnya, sehari mendapat pelanggan saja merupakan keajaiban. Mengapa mencari masalah dengan menambah karyawan yang tidak perlu. Mereka saja menganggur sejak empat jam yang lalu. Tidak ada yang bisa dikerjakan karena memang tidak ada pekerjaan. Tidak ada pemasukan normal. Axel memang luar biasa.
“Aku bisa daftar jadi penjaga kasir nggak, ya? Aku lagi butuh loker paruh waktu buat nabung. Mau kuliah di luar negeri, dapet beasiswa” lebih mirip cerita yang dikemas sebagai alasan. Tentu saja, tentu saja Axel langsung mengangguk. Pip berpikir–bahkan jika gadis itu adalah anak seorang kriminal yang menuruni darah pembunuh berantai, Axel pasti akan tetap menerimanya.
“Bisa, kerja aja mulai besok. Gaji akan aku kasih setelah satu bulan kerja” lontaran itu membuat Pip ingin menggebrak meja–meski tidak benar-benar dilakukan. Si gadis berterima kasih, lalu mengambil donat dan memberikan uang.
“Besok siang, aku datang ya, Kak? Udah bisa mulai kerja, kan?” matanya berbinar-binar. Axel mengangguk-angguk seperti seorang bijaksana yang baru saja memberi harapan hidup. Tidak lama, gadis itu pergi sambil bersenandung senang.
“Nggak bisa nih gua bisnis begini. Untung posisi gua karyawan. Kalau partner kerjasama, udah gua acak-acak etalase” Rey berkomentar saat Axel kembali duduk.
“Lu nggak mengerti anak muda. Hidup nggak melulu soal uang. Tapi melihat orang lain senang, itu merupakan esensi kehidupan menurut gua. Walau bukan krusial, tapi hal-hal sederhana yang membuat gua bahagia, akan terus gua upayakan” Axel melipat tangannya didada.
“Gua bilang apa, nulis aja nulis” Pip bangkit “gua mau pulang lah, pedih mata gua ngantuk” ia meregangkan tangan sambil menguap “atau besok kalau udah ada anak baru. Gua libur aja, gua useless disini. Gua mau menghabiskan sisa waktu main game dan leha-leha. Lu merusak acara gua”
“Pip, lu nggak akan kemana-mana. Kita mengadakan perjanjian darah di bawah pohon. Sumpah setia persahabatan. Tolong jangan langkahi sumpah itu, demi persahabatan kita. Ingat, sahabat sejati selalu membantu. Bye; kuda poni” ocehan Axel makin membuat Pip sakit kepala. Rey sudah tidak heran meski tetap gagal mengatupkan rahang.
“Gua memikirkan ini dari enam jam yang lalu” Rey meletakkan pipi kanannya di atas meja, matanya menatap Pip dan Axel bergantian “gimana kalau kita jejelin itil kebo mulut Axel?”
“Guys, kita tidur disini malam ini”
Pernyataan Axel membuat Pip berhenti. Ia berbalik dengan tatapan tidak percaya.
“Kan di toko ini udah ada kasur. Gua jejer, masa belum masuk? Ayolah, kita akan disini sampe kalian benar-benar pergi. Gua izinin pulang besok subuh buat packaging barang kalian. Setelah itu kalian adalah milik gua mutlak”
Rey nyengir dan kekehan menyusul sementara Pip mengambil kursi dan dihantamkan pada pundak pria itu. Axel memejamkan mata–menahan panas yang menjalar di sepanjang punggungnya saat Pip memukulnya tanggung. Namun aluminium dari kursi lumayan menyakitinya.
𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊
Pukul delapan pagi. Mama Axel sudah mengirimkan bekal untuk tiga porsi dengan menu yang sama. Sopir yang mengantarkan ke toko sementara semua orang belum bangun setelah semalam begadang–bertiga hampir bertikai hebat. Sebenarnya tidak juga. Namun Pip lumayan sensitif meski akhirnya kalah dan menuruti keinginan Axel yang semakin tak masuk akal. Mereka tinggal dalam toko. Itu terealisasi.
Bekal itu ada di meja pelanggan. Sopir pribadi Mama Axel memiliki kunci cadangan untuk toko itu. Segala jenis kebutuhan dipenuhi. Bahkan Pip dan Rey dibelikan baju dan dalaman baru semalam. Berikut alat mandi dan segala kebutuhan. Sekarang sempurna sudah, mereka benar-benar bisa tinggal disana sungguhan.
Dan Axel yang pertama kali bangun. Pria itu melihat jam dinding dan masih tersisa tiga jam sebelum toko dibuka. Maka, ia membangunkan sisa temannya.
Namun belum sempat ia menjambak Pip atau memasukkan kopi ke dalam mulut Rey, Axel lebih dulu di alihkan pada ketukan pintu. Toko Roti belum dibuka namun seseorang sudah datang. Tak memikirkan banyak kemungkinan selain seseorang datang karena menginginkan rotinya, Axel buru-buru pergi ke depan.
Bukan wajah baru. Namun Axel tidak mengenalnya. Lupa lupa ingat.
“Halo, Kak. Aku nggak jadi datang siang. Soalnya aku lagi nggak ada kelas” gadis itu tersenyum jenaka. Lantas mengulurkan tangan “aku Lina, yang kemarin datang dan minta masuk kerja. Kata Kakak, ada loker jadi kasir” dan Axel ingat pada gadis yang menawarkan diri. Itu juga yang membuat Pip ngotot tidak setuju karena tidak relevan antara pemasukan dan jumlah karyawan. Toko ini bahkan tidak memiliki masa depan—setidaknya bagi Pip. Sementara bagi Axel, toko ini adalah hidupnya.
“Ah.. ya ya. Aku baru ingat” Axel kembali melirik jam dinding, lalu mengusap wajahnya sambil menguap, sesekali menggaruk tengkuknya “yang lain belum bangun. Kamu mau tunggu di dapur atau kamu ada kemampuan bikin kue selain jaga kasir?”
Gadis itu menggeleng “aku cuma jago masak makanan sehari-hari aja, Kak. kalau kue belum pernah. Tapi kalau jadi kasir, aku punya pengalaman lama”
“Oke, masuk. Tunggu disini sebentar. Kami mau siap-siap bikin kue. Toko baru buka tiga jam lagi. Kamu yakin mau tunggu disini tanpa ke dapur? Bikin terigu goreng, kamu gak bisa?”
“Terigu goreng buat apa kak?”
“Itu istilah aja. Maksudnya, buat apapun. Kue atau roti”
Gadis itu bingung sebentar, namun ia kembali mencangking tas dan mengangguk—membuntut langkah Axel ke dapur. Pria itu akan membangunkan dua temannya dan entah–ia tidak tahu akan apa setelah ini. Yang pasti bangun dulu.
“Kamu duduk disini dulu. Gak usah pegang apa-apa kalau emang gak bisa. Aku juga awalnya gak bisa apa-apa dan bingung. Tapi lama-kelamaan akan ini kok, apa namanya… akan… hilang arah” Axel tersenyum. Lantas masuk ke dalam bilik. Lina tersenyum bingung.
Dua temannya masih dibawah alam bawah sadar.
Kaki Axel naik ke pipi Pip.
“Lu gosah ngeyel. Kalau gua bilang gua mampu menggaji, mampu memajukan toko dan mampu jalan, berarti gua mampu. Lu gosah sok nasehati karena ini bukan masalah besar. Gua ini banyak pengalaman dan sangat paham apa yang gua kerjakan” lalu ibu jari kakinya masuk ke lubang hidung temannya. Pip masih tak bergerak. Jika sadar, Axel mustahil akan melakukan hal itu pada Pip yang sangat mudah emosi.
Lalu kakinya pindah mengusap kepala Rey.
“Nah, lu temen sejati gua. Kapan-kapan gua buatin puisi tentang persahabatan dan cinta” dan ia tahu Rey jijik terhadap bait-bait dengan majas tinggi—sejenis yang kerap dilontarkan. Menurut Rey, para ahli sastra itu seperti penyair gila. Axel terkekeh. Lalu ia duduk di sisi pria bertato itu.
“Rey! Shhuuttt!!! Hey kawan bangunlah.. Kita harus memulai semuanya dari bangun pagi. Lihatlah, matahari sudah menyusup dari balik celah-celah tirai. Hari baru saja dimulai dan semuanya kembali repetitif seperti kehidupan biasanya. Bangunlah, tidur tidak akan membuatmu lebih bugar jika sudah lewat gelap”
Sayup-sayup matanya mengerjap. Rey melihat Axel dari posisinya yang tak ubah. Hanya membuka mata.
“Babi, anjing, bangsat” Rey mencerca. Pelan-pelan jari tengahnya naik.
“Sambutan yang indah..” Axel menghirup oksigen mirip orang mencari ketenangan di padang rumput yang sejuk di bawah satu pohon rindang setelah kata-kata Rey. Ia tidak perlu repot-repot membayangkan apa yang akan dilakukan Rey saat tahu sebelum ini, kakinya mengusap kepalanya sayang.
“Ada anak baru”
“Apa lu? Anak baru gila, pikirin pendapatan lu” Rey berusaha untuk tidak menjadi kriminal. Pria itu memilih menggeliat dengan bunyi tulang bergemeletuk.
“Cewek cakep yang kemaren. Cakep, asli”
“Pikirin darimana lu menggaji gua, Pip dan tolol lainnya”
“Dia nggak tolol, dia normal”
“Oke terserah”
“Ayo keluar dan kenalan. Kalau gua bangunin Pip, gua khawatir dia bakal ngamuk dan menghantam gua pake apapun” matanya memindai satu temannya yang masih terbaring memejamkan mata–khidmat. Pip sangat pulas.
“Suruh masuk ke sini aja” Rey terkekeh.
“Kita pria dewasa, di dalam toko bertiga dan sekarang berempat sama satu gadis. Menurut lu gimana?”
“Menurut gua, lu kudu pecat dia sebelum kerja karena pendapatan lu nggak sesuai. Lu belum punya pelanggan yang bahkan setan sialan anjing nggak perlu gua jelasin lu tau kalau toko roti edan ini bakal tutup. Jadi hentikan bawa siapapun cuma karena dia cantik atau apapun”
“Udah gua duga” Axel mengangguk-angguk antusias. Tentu saja tak mengindahkan “ayo kenalan dulu. Abis itu lu bisa menilai gimana. Sisanya gua serahin ke tuhan”
“Apanya yang di serahin ke Tuhan sih? Goblok bener kata gua mah. Dia itu butuh gaji, ada haknya kalau udah mulai kerja. Apanya yang mau lu serahin ke tuhan?”
“Mama gua kaya”
Yes!
Satu kata itu saja mampu membungkam Rey. Pria tampan dengan tindik di sudut bibir itu akhirnya mengatupkan rahang dan bernapas dalam–seolah sedang mengertikan ikan buntal yang berusaha terbang.
“Oke, sejak awal memang begitu” Rey mendecih. Lantas ia bangkit duduk dan menelengkan kepalanya ke kanan kiri—juga menimbulkan gemeretak tulang yang terdengar renyah. Rambutnya ia usap kasar ke belakang, kemudian menguap lagi. Sebelum akhirnya menjengking dan buang angin dengan suara sangat besar. Axel yakin celana Rey sobek dan ia tidak akan repot-repot menutup lubang pernapasan karena kentut Rey tidak pernah bau. Namun tak bisa mencegah ia mengusap hidungnya.
“Gosah sok tutup idung. Gua ngentut segede alaihim gak bakal bau. Beda sama lu yang nggak bersuara tapi bau durjana haram jadah. Cuma kentut lu doang yang sanggup matiin dua gajah dewasa” Rey benar-benar bangkit. Selimut ia lempar ke wajah Pip, namun satu temannya itu masih tidak bergerak juga.
Keduanya keluar.
Hanya perlu membuka pintu untuk melihat si gadis yang duduk canggung di depan meja kompor. Axel tersenyum ramah seperti biasa sementara Rey tak sampai mata.
Agak canggung beberapa detik sebelum Axel memecahnya dengan langsung memperkenalkan keduanya “Hai, kenalin, Lin. Ini Nanang Merkuri” Axel memperkenalkan Rey “ini Lina” lalu ia menunjuk si gadis. Lina lantas menatap Rey juga dengan senyum ramah meski masih kebingungan.
“Jadi karyawan tinggal di sini ya, Kak?” matanya pindah ke Axel, menunggu jawaban.
“Iya, tapi karena kamu gadis, nggak mungkin dong aku suruh nginep. Kamu pulang aja kalau udah jam pulang”
Si gadis mengangguk-angguk. Rey menghela napas.
“Sebentar, biar gua luruskan” ia berdehem “yang pertama, nama gua bukan Nanang Merkuri. Gua Rey. Yang kedua, semua karyawan harus nginep kalau nggak, gua nggak mau juga. Yang ketiga, semua harus bikin kue. Nggak ada alasan nggak bisa karena gua dan Pip juga gak bisa. Nggak usah membias mentang cewek” Lina sepenuhnya menyimak ocehan Rey. matanya seperti memindai pria tampan itu secara menyeluruh mirip CT-scan.
“Tunggu, ini yang bos siapa ya?” gadis itu menatap Rey dan Axel secara bergantian.
Rey angkat tangan dan Axel menghela napas.
“Oke, jadi, Lina. Kamu harus tinggal disini kalau mau bekerja” kepalanya tengleng pada temannya yang mengulum tindik seperti orang kurang makan “dan kami bertiga akan tidur di depan, menggelar kasur. Kamu di dalam. Kami bertiga pria normal tapi punya adab dan agama. Kami bukan kriminal dan kami tidak akan bertindak asusila. Kalau kamu nggak mau, kamu bisa cari pekerjaan lain” ungkapan itu membuat Rey bangga. Ia hampir menepuk pundak temannya meski tidak jadi karena Axel membenarkan celananya yang terjepit di bokong.
“Oke” jawaban si gadis membuat dua pemuda disana saling pandang beberapa saat.
“Ehey… gadis masa gitu” kata Rey sambil tergelak. Sejatinya, usulan agar Axel meminta karyawan gadis untuk menginap adalah agar gadis itu mundur. Axel sangat sinting menerima karyawan baru saat pelanggan saja tidak punya. Pemasukan menyedihkan, sementara modal untuk membuat kue saja begitu banyak. Belum lagi yang gagal dan dibuang cuma-cuma. Jika di kalkulasi, yang berhasil menjadi kue ‘layak’ dan yang berakhir di tong sampah—lebih banyak yang mendarat di sampah. Itu pun kerugian. Namun sialan Axel si anak bungsu kaya raya itu tidak berpikir. Yang ia jalani bukanlah bisnis, namun main-main yang sungguh tidak lucu. Permainan ini menyita waktu Rey dan Pip. Keduanya terlibat dan itu yang menyebalkan.
Sialan yang lain adalah si gadis mau menginap.
“Kita pemuda bertiga dan kamu mau menginap disini?” Rey memicing penuh curiga “kamu paham situasi nggak?”
“Saya ngekos, saya bisa hemat uang kos kalau bisa tinggal disini. Kata Kak Axel, kalian pria baik hati yang nggak akan bertindak asusila. Saya akan berusaha percaya–pun kalau ada hal-hal yang bertentangan atau mengancam keselamatan. Itu resiko saya dan saya akan menegakkan keadilan sebisanya. Intinya, in this economy, apa aja lah Kak. Saya mau kerja yang halal. Minta bantuan dan kerjasamanya aja” senyumnya membawa kepercayaan diri, gadis itu sangat yakin. Maka, Rey menatap temannya lagi. Axel jelas merasa menang.
“Oke, jadi yang pertama harus kamu lakukan adalah, mengayak terigu. Rey akan membuat nastar” kata Axel apatis. Rey membelalak.
“Kita buat 30 kilo adonan nastar. Oke?”
“Gua bilang apa, Axel itu nggak waras”
Rey tidak mengamuk. Tapi Pip.
Axel diam di pojokan sembari menguleni adonan nastar. Rey yang membuat adonan berbekal tutorial di internet. Lina sibuk membola-bola selai nanas yang dibeli jadi dan yang mengamuk yang memanggang.
“Anjing anjing anjing banget! Bangsat! Bajingan” sejak tadi. Pip sejak tadi terus mengumpat sembari membolak-balik nampan oven. Tidak ada yang menjawab kecuali kekehan kecil dari Rey. Toko akan buka sebentar lagi dan mereka tentu saja masih diposisi sama.
“Kupanjatkan namamu dalam doaku” Axel berbisik lirih tiap temannya itu mengumpat.
“Ini nastar mau siapa yang beli brengsek! Ini siapa yang ngide bikin nastar! Anjing! Babi” satu nampan stainless di angkat. Nastar matang.
“Siti Siti Fatimah Ya Allah.. Ka’bah di baitullah…” Axel bersenandung.
“Meledak dubur si brengsek. Emang anjing banget. Gua sumpahin lu hamil tanpa bisa di jelasin medis” masih, Pip masih berlanjut dengan sumpah serapahnya. Kendati, ia tetap bergerak–bekerja sesuai arahan teman yang sejak tadi di caci maki.
“Laki hamil namanya apa sat?” Rey terbahak-bahak sambil memukul adonan.
“Ompreng” jawab Lina. Jawaban gadis itu membuat tiga pria menatapnya serempak.
“Lina… kamu bacain manhwa bokep homo ya?” tanya Axel selidik. Lina mengangguk praktis tanpa ragu.
“Apa itu?” Rey penasaran.
“Jadi ada istilah laki-laki hamil di komik BL. Namanya mpreg. Jadi si laki yang botinya ini hamil” jelasnya singkat. Pip menatapnya tidak percaya dan Lina tidak sedang ingin melihat bagaimana pria itu bereaksi. Sejak tadi, mulut Pip begitu mengerikan dan ia tidak ingin berurusan dengannya.
“Mpreg disingkat jadi ompreng MBG” jelas Lina lagi.
“Lina, lu kalau liat manhwa bl, liat apanya coba? Lu liat lubang silit di tusuk penis? Apa itu menyesaki birahi lu juga? Atau apa? Lu dapat apa? Jujur aja, gua anti boti anti LGBT. Gua tebas siapa aja yang homo” ungkap Pip. Pria itu serius “dan kalau Lina ini LGBT, gua tebas palanya pake ulenan”
“Menurut gua mereka lucu.. Gemes aja gitu. Gua kalau baca nggak eksplisit yang berhubungan seksual lewat anus. Gua cuma suka liat mereka romantisan dan satu mendominasi satu submissive. Kalian kalau ada yang homo gua bakal jadi tim cie-cie” ujaran itu lumayan membuat sisa orang melongo.
“Rusak ni cewek, nggak bener” Rey menggeleng.
“Gua wanita normal. Kecenderungan seksual gua normal. Gua cuma suka yang unusual sebagai bahan hiburan”
“Pick me” jawab Pip sinis.
“Ya terserah gua lah. Hobi hobi gua, gua juga nggak nyampurin urusan lu. Gosah sok keras. Mulut lu jelek banget daritadi” gadis itu mendongak—matanya lurus pada Pip. Mereka berpandangan cukup lama dalam posisi itu. Axel yang melihat kontan menengahi.
“Barangkali disana ada jawabnya, mengapa di toko ku terjadi huru-hara” dan si pemilik bernyanyi.
“Gua nggak suka abang itu” Masih, Lina masih menatap Pip.
“Lu umur berapa gua tanya?” Pip akhirnya menghela napas dan mengajukan pertanyaan. Meski Lina menganggap pria itu hanya akan mencari sela dan akan menyerangnya jika menemukan bagian buruk darinya yang lain. Lalu mengorelasi dengan hobinya.
“23” jawab si gadis cepat, suaranya nyaris mirip bisikan atau berharap pria itu salah dengar—seperti mendengar angka lebih tua–yang akan membuat Pip segan meski mustahil.
“Masih bayi. Kenapa rusak?”
“Gua nggak rusak! Kenapa gua rusak?” Lina melotot “emang kalian umur berapa coba? Ini hari pertama gua masuk dan rencana gua mau sopan santun ke kalian. Pakai bahasa formal dan nggak terlibat percakapan apapun tentang hal-hal diluar pekerjaan” gadis itu ngotot. Nanas yang di bulat-bulatnya tidak lagi sempurna.
“Ya kok ngotot? Gua 28, jarak kita lima tahun. Udah bener lu bicara formal. Abis itu berkhayal laki-laki dan laki-laki saling jilat peler” Pip bertolak pinggang. Keringatnya banyak, di depan oven lumayan panas–juga membuat wajah pria itu berminyak.
“Kawin aja kalian berdua, berisik” itu suara Rey. Urat-urat di lengannya tercetak jelas saat ia mengaduk adonan.
“Lina, jadi menurut kamu. Siapa yang paling tampan di antara kita bertiga?” pertanyaan dari Axel juga tak kalah bodoh. Pip ingin meledakkan tempat ini, sungguh. Pria itu tidak cocok karena menganggap toko roti ini lebih mirip seperti tempat stimulasi untuk menjadi kriminal.
“Ngobrol sama Axel bikin IQ gua turun” bukan Pip, melainkan Rey, lantas pria di depan oven ikut melirik hampir tertawa setelah sejak tadi jengkel.
“Gua bilang apa dari dulu. Dia ini si kaya raya bangke yang bakal menghasut kita untuk jadi kriminal dan bodoh. Dia menyebarkan kebodohan lewat getaran dan sugesti”
“Setetes harapan tumbuh dari bait-bait indah, lahir dari riuhnya diksi yang bergerombol menyesaki paragraf”
Pip melemparnya dengan nastar yang tepat mengenai lengan kiri. Axel diam seketika.
“Serius tanya, disini bosnya siapa?”
Axel dan Rey kompak menunjuk Pip.
“Namanya nastar Firman” kata Axel, memberi nama pada nastar dalam toples yang dipajang oleh Pip dalam etalase.
“Kenapa Firman?”
“Ya karena di buat dari Firman. Keju wisconsin impor dari Amerika” terangnya singkat. Namun Pip malah menatapnya dengan pandangan aneh–seolah, ia terus-menerus berbuat salah dalam hidup. Tindakannya terasa tidak pernah ada yang benar dimata Pip. Kadang, Axel bertanya-tanya, apakah Pip baik-baik saja. Pria itu terlihat selalu tegang urat sejak kerja di toko roti. Padahal, biasanya Pip sangat bersahaja meski tetap kerap melakukan kekerasan saat ia memaksa pria itu menghirup kentutnya dalam selimut.
“Wisman, Wisman, Wisman, Wisman” Pip ingin sekali mengocok nastar dalam toples “Kalau Firman bapak lu noh lagi ngelomoh kelereng sampe tanek. Goblok, dahlah” Pip geleng-geleng kepala, lalu kembali merapikan nastar. Tidak lama, Lina keluar setelah merapikan rambut dan menggunakan celemek bersih.
“Jangan pada berantem. Yang akur yang akur. Katanya mau omprg” gadis itu juga asal bicara saja. Ia kemudian duduk di balik meja kasir—mengeluarkan ponsel dan berkutat disana.
“Lina, menurut kamu diantara kita bertiga, siapa yang paling cocok hamil?” pertanyaan tolol yang sebetulnya tidak perlu ada dibumi. Tentu saja dilontarkan oleh seorang ahli sastra yang terlihat menawan dan begitu kritis dimata orang-orang. Namun benar-benar rusak di dalam. Setidaknya bagi Pip. Dan satu temannya lagi.
Dan Lina, si gadis yang bagi Pip tolol juga–mau repot-repot menjawab.
“Pip” katanya enteng. Setelah menjawab, ia kembali fokus pada layar. Tidak juga mau mendapat masalah dengan beradu pandang pada satu nama yang baru di sebutkan.
Axel tidak tertawa, melainkan menjilat bibir bawah. Lalu sesekali melumasinya dengan liur.
“Apa setan, hentikan!” Pip mundur.
“Gua lelaki perkasa yang akan menghamili lu, Pip. Udah sejak SMA gua suka sama lu, tapi gua tahan karena nggak enak sama Malik”
“Malik siapa?”
“Yang jaga pintu neraka”
PTAK!
Pip memukul kepala Axel dengan toples, berbarengan dengn bunyi alarm otomatis pintu saat dibuka.
“Permisi Kak, disini ada jualan peyek kacang nggak?” seorang remaja laki-laki tanggung. Mungkin masih SMP. Datang menggunakan koko rapi berikut peci hitam. Matanya memindai milik Axel. bergantian pada Pip sebelum meneleng pada Lina yang duduk di balik meja kasir.
“Maaf de, nggak ad—” Pip belum selesai dengan kalimatnya sebelum Axel menyela lebih dulu.
“Ada, peyek kacang ada. Tapi mau tunggu sebentar nggak? Sebentar aja, sekitar 4 jam, mau nggak?” ungkapan Axel lagi-lagi memilukan. Lina yang baru baru bergabung diantara mereka sekitar empat jam cengengesan mendengarkan.
“4 jam banget Kak? Mau di bawa pergi kakak saya ke Singapura nanti sore” kata si bocah, ia meringis.
“Yakan sore. Gini aja” Axel berusaha memberi solusi “kamu ada kartu pelajar gak? Gadai aja disini sebagai jaminan peyek. Nanti sore kamu ambil peyek berikut jaminan”
Lina terpingkal-pingkal sementara Pip menggosok hidung. Sekali lagi, tak akan ada yang bisa memperkirakan isi kepala Axel—yang tiap detail tersusun dari ampas–menurut Pip.
“Nggak jadi deh Kak, saya mau cari di tempat lain aja” kata si bocah memutar haluan.
“De, peyek disini terbuat dari kacang Belgia” ucap Axel berusaha meyakinkan. Pip di belakang Axel menggeleng–meyakinkan si bocah untuk melanjutkan keputusan awal untuk mencari di tempat lain. Saat melihat bocah itu fokus ke belakang, Axel ikut melirik ke belakang dan melihat Pip menggeleng.
“Jangan dengarkan paman ini, dia yatim. Kadang, dia takut angin” Axel kembali melihat si bocah.
“Aku mau cari yang lain” bocah itu kukuh dan akhirnya berjalan cepat menghilang dibalik pintu beralarm yang lama kelamaan enak didengar. Setelah kehilangan satu pelanggan berharga, Axel dengan langkah tegas dan berwibawa berjalan ke dapur. Ia mendongak dengan dada membusung. Pip sebenarnya maju mundur akan protes tentang yatim. Namun tidak jadi.
Dan Rey sudah kembali ke mimpi padahal baru ditinggalkan kurang dari setengah jam. Pria itu bahkan tidak mandi, setelah membuat kue, Rey langsung tidur—melanjutkan tidurnya yang terganggu karena harus membuat adonan nastar.
Axel membuka kulkas. Mengambil jeruk limau, lalu di potong dua sebelum memerasnya tepat di mulut Rey. Rey memang tertidur dengan mulut terbuka sedikit.
Jeruk di peras dengan air banyak mengalir, menetes-netes. Hampir semuanya masuk kecuali sedikit sekali yang keluar.
Tidak lama, pria itu kaget dan meludah cepat-cepat. Matanya merah—khas dan ia meringis. Liurnya sangat banyak.
“Anjing!” umpatnya pertama kali. Lalu dengan kesadaran yang belum stabil, Rey berjalan cepat mengambil air untuk menetralisir rasa asam dimulutnya.
“Rey bikin peyek nak” Axel berdiri di belakangnya dengan dua tangan masuk dalam saku celana. Tidak ada jeruk limau kecuali dalam saku itu. Sementara Rey masih berkumur di wastafel cuci piring setelah minum air banyak tidak mempan.
“Kita kehilangan satu pelanggan karena nggak punya peyek” masih, ia masih mengoceh di belakang Rey “seandainya kita bikin peyek alih-alih nastar. Firman mahal, kita harus punya opsi sejenis peyek yang mudah didapat dan bahannya simpel. Cara masaknya juga mirip bakwan”
BUGHH!!! Axel tumbang dalam satu kali pukulan. Pria itu pingsan tak sadarkan diri. Rey jengkel.
“Itu nggak papa kayak gitu?” Lina bertanya ragu-ragu. Ia berdiri di samping Axel yang merebah pingsan. Rey duduk di pojokan sambil memakan bekal yang dibawakan Mama Axel untuk makan siang tanpa berdosa. Sementara Pip, pria itu bersedekap tanpa banyak reaksi kecuali menjawab pertanyaan Lina si anak baru.
“Udah biasa. Bahasa cinta kami adalah kekerasan dan caci maki. Tapi setelah lulus dan tau kabar tentang gua dan Rey yang akan keluar negeri, tingkah Axel ini makin parah dan menjadi-jadi. Padahal dia pinter banget, pinter di segala bidang. Tapi kalau di depan gua sama Rey, tiba-tiba dia jadi idiot. Mau dibilang caper, caper apaan anjing. Dia keluarga cemara yang banyak duitnya. Nggak ngerti gua” Pip mengedikkan bahu.
“Dia kayak kurang seons gak si” Lina menggigit kuku pada ibu jari.
“Tergantung sama siapa dia bicara dan tempat”
“Jadi penasaran Kak Axel mode normal dan berwibawa serta pinter”
“Nanti, pas dia lagi kumpul sama keluarga besar dan bahas perusahaan. Lu bisa liat dia bicara dan gimana dia mirip lurah pidato” lalu Pip melirik Rey yang juga menghabiskan jatah Axel “abis ini rencana lu apa? Mau balik kah?”
Rey menggeleng.
“Party aja kita malam ini bertiga sampe dia sadar. Toko kita tutup. Pake kartu rekeningnya buat beli miras” Rey meneguk air setelah memaparkan ide. Lina menggeleng tak percaya.
“Guys, itu kriminal! Gimana kalau Mama Axel tau?” ungkapan khawatir personil baru.
“Kalau Mamanya tau, dia bakal kasih kita miras mahal yang usianya udah ratusan tahun. Di import dari Amerika” Rey menjawab asal “kita party malam ini, ayo mabuk”
“Gas”
Pilok dengan tulisan besar mentereng di dapur. Suara musik DJ dari salon memenuhi ruangan. Minuman keras berjajar di meja-meja tamu bersama kue-kue ‘layak’ yang menemani alkohol di samping.
“Nggak akur banget minum wine sama nastar” Pip berkomentar. Satu tangannya masuk dalam saku dan satu tangan yang lain menggenggam gelas berisi wine penuh. Rey dipojokkan merayu Lina agar mau membuka baju.
“Guys, kita joget aja sampe wafat” ia mengangkat gelasnya tinggi. Rey berbalik setelah gagal merayu Lina dan meninggalkan gadis yang sejak tadi mengunyah croissant dan soda dari kulkas. Lina tidak akan mabuk atau tiga–dua pria yang sadar itu akan melakukan hal tercela. Meski Pip terang-terangan mengatakan tidak tertarik dengannya sementara Rey terus merayunya untuk membuka baju tanpa konteks. Katanya, hanya ingin melihat payudara.
Dua tangan Pip memegang pinggang Rey. Dua tangan Ray menyampir pada bahu Pip. Keduanya bergerak maju mundur ke kanan kiri mengikuti alunan musik. Lina memantau dari pojok sambil mengunyah apapun yang ia temukan.
Di tengah dansa yang membuat keduanya seakan hanyut–mengambang, atau terbang ke angkasa melayang-layang di langit-langit malam, sosok lain keluar dengan kepala berdenyut-denyut dan mata panas yang tidak di mengerti.
Butuh waktu untuk mencerna situasi dan Axel melangkah setengah kabur alias sempoyongan. Pip dan Rey menyatukan kening, menyedot wine dalam satu gelas besar lalu cekikikan membicarakan roti dan sialan lainnya.
“Sungguh kalian dalam bencana yang besar karena nggak membangunkan gua” Axel bergabung memeluk dua temannya. Pip yang belum sepenuhnya mabuk kontan menatap eksistensi yang baru bergabung.
“Malam ini, kita akan menjadi bintang, hm? Kita selamanya dan tidak terpisahkan” Axel menyedot wine kuat-kuat hingga tiap tegukan, suaranya seakan mengalahkan musik dari sound system dengan volume maksimal.
“Lina, sini sayang, kita berempat akan menjadi legenda. Kita akan mengenang ini nanti, setelah semua” teriak Axel dan berhasil membuat Lina bangkit. Ia membawa soda dan kue dalam genggaman dan berdiri persis di antara ketiganya sebelum Axel menariknya untuk bergabung. “Kita bersama selamanya”
Lalu mereka pecah dan berjoget seperti orang gila. Rey bernyanyi, Axel bergoyang ke sana ke mari, Pip hanya berdiri meski sudah agak limbung—memegang gelas wine dengan dua sedotan. Matanya merah sementara Lina membuat gerakan zumba di belakang Rey yang bernyanyi. Ke empatnya seperti kesetanan.
Malam itu riuh, malam pertama bagi Lina dan ia langsung suka pada tiga pemuda yang tidak memperkosanya kecuali Rey yang sejak tadi merayu agar ia membuka bra karena ingin melihat payudara.
𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊
Mengambang, semuanya melayang-layang.
Berantakan.
Muntah dimana-mana. Axel bahkan buang air kecil di depan etalase saat mabuk karena mengira kloset. Semuanya mabuk berat. Bahkan Lina yang awalnya konsisten dengan soda–akhirnya terjerumus juga ketika Rey mencekok paksa dan menertawakan si gadis yang sempoyongan.
Pip tidak mengenakan atasan, Rey juga. Axel hanya kaos belel dan celana dalam sementara Lina masih lengkap. Hanya saja gadis itu tidur di kolong meja. Dua pria berpisah dengan jarak—namun masih di atas lantai. Kondisi toko begitu mengerikan. Bau arak dan muntah di tambah pesing. Nastar acak-acakan, roti-roti berhamburan. Etalase kosong melompong.
Pukul sepuluh pagi.
Jangankan buka, sadar saja tidak. Ke empatnya masih bersimbah efek alkohol dan mimpi panjang yang tak benar-benar datang.
Seseorang membuka rolling door depan, melihat kondisi mengerikan itu, lantas mengangkat ponsel ke telinga—menelepon entah siapa sebelum kembali menutupnya rapat dan meninggalkan sisa berantakan yang bau dan lengket.
Dua jam kemudian lima orang datang. Semuanya laki-laki membawa banyak peralatan kebersihan. Mereka menggotong satu persatu manusia disana untuk di pindahkan ke kamar dan menumpuk mereka seperti sampah di atas dua kasur Queen.
Orang suruhan itu bahkan memandikan Axel, menggantikan baju dan menyisiri pria yang setengah sadarkan diri. Namun memang bukan hanya Axel, baik Pip maupun Rey, semuanya dibersihkan kecuali satu gadis. Mereka kembali menelepon entah siapa sebelum seorang wanita kembali datang untuk mengurusi Lina.
Sup ayam terhidang sebagai pereda pengar. Jahe hangat dan obat khusus juga di siapkan. Pukul dua belas setelah toko itu bersih cemerlang meski gagal kembali seperti semula saat seluruh kue nya lenyap, dan Axel serta teman-temannya mulai sadar dan diarahkan untuk makan lalu minum obat oleh orang-orang yang bahkan tak dikenal—namun semua orang patuh.
Tidak ada yang menjelaskan situasinya pada Lina sementara tiga pria itu terlihat santai. Mereka makan tanpa suara kecuali bunyi peralatan makan yang saling beradu. Benar-benar tak ada percakapan. Mereka terlihat lelah dan mengantuk. Mata mereka sebagian belum cerah. Pip bahkan berkali-kali bersendawa. Rey cegukan pelan sementara Axel mirip orang mengantuk. Kendati, semuanya kompak makan dan minum obat.
“Anu… em… gua mau tanya” Lina akhirnya memecah sepi pertama kali. Axel mendongak, mata merahnya beradu “ini siapa yang beres-beres? Apa gua di mandiin? Gua diperkosa?” pertanyaan enteng. Axel menelengkan kepalanya ke kanan kiri demi menghalau sakit kepala sementara obat belum bekerja.
“Ini pelayan yang disewa Mama gua. Gua orang kaya dan semuanya aman. Lu nggak diperkosa” katanya tak jelas. Axel yang biasanya berbicara semi formal, kini sepenuhnya informal.
“Lu orang kaya banget ya, Kak?” pertanyaan kedua, bukan Axel, namun Pip yang berdehem dengan sakit kepala yang lumayan berat.
“Kalau nggak kaya, gua nggak akan sudi ada disini. Kita masih berteman karena dia kaya” ungkapan itu serius, tapi tidak serius juga. Alasannya lebih kompleks. Namun demi tujuan menyakiti hati temannya meski tetap gagal, Pip akan mengatakan apapun.
“Nastar kita abis, croissant juga” Axel mantap menatap Rey yang menunduk. Pria bertato itu sudah menghabiskan tiga mangkuk sup ukuran besar. Sudah meminum jahe hangat dan meneguk obat pengar. Namun kepalanya masih seperti diganduli batu besar. Begitu sulit—bahkan hanya untuk menyeimbangkan diri.
“Kita dagang bebek aja” jawab Rey serampangan.
“Kita gak punya memek” sanggah Axel yakin “yakan? Kita nggak punya, ada punya Lina. Cuma satu. Bayangin kalau satu perempuan punya lima memek” ocehan itu membuat tubuh Lina bereaksi lebih dulu ketimbang otaknya. Si gadis mengeplak kepala bosnya keras—membuat Axel mengaduh.
“Sebagai jomblo dari jaman SMA, juga nggak pernah berhubungan seksual, jujur gua penasaran banget selain di bokep” Rey cengengesan. Semuanya tidak nyambung dan Pip menyimak.
“Jam berapa ini? Kenapa dunia rasanya berputar? Akhir-akhir ini gua sering banget sakit kepala. Gua terlalu sering mimpi sampai rasanya nggak bisa bedain ini mimpi atau nyata” Axel menurunkan pipi ke atas meja. Pelan-pelan, kelopaknya menyipit dan maniknya menghilang.
𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊
Suara langkah terdengar kelewat nyaring hingga memekakkan telinga. Pria itu celingukan dan kembali menangis saat melihat eksistensi lain membawa nampan stainless. Wajahnya ramah, namun baginya, mimik itu begitu aneh dan membawa getaran abnormal.
“Bagaimana perasaanmu hari ini?” Tanya eksistensi itu, tahi lalatnya ikut naik di sebelah bibir saat senyum melambung tinggi.
Tidak ada yang baik-baik saja. Rasanya, makin hari semakin mengerikan. Mimpi itu datang lagi, seperti biasa. Dan di atas nampan, pil putih tetap diberikan.
𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊
Dan hingga malam, toko kue tidak dibuka. Axel tak membukanya karena sepanjang siang itu, mereka bertiga kembali tidur dan bermalas-malasan. Baru setelah pukul sembilan malam, energi mereka pulih. Rasa pusing hilang secara merata. Keempatnya membuka mata. Kini, bukan lagi tentang pria dan wanita karena nyatanya, empat manusia itu merebah di atas kasur yang sama setelah Rey mengeratkan dua kasur satu sama lain sehingga menyatu dan cukup di tiduri semua orang.
Mereka bahkan selimutan berbarengan.
Lina merebah paling pinggir. Tepat di sebelahnya adalah Rey. Setelah Rey ada Pip, baru kemudian Axel.
“Gimana? Udah enakan?” Pertanyaan Axel pertama kali. Lina mengangkat ibu jarinya.
“Gimana kalau buat kue?” Ide itu disambut desah napas malas dari Pip dan Rey.
“Gua minta maaf karena mukul lu hari ini” ungkapan Rey tulus. Suaranya terdengar rendah. Setelah itu, Pip menyusul.
“Gua juga, untuk semua hal” tiba-tiba suasana menjadi aneh.
“Hm hm, no no.. kalian terbaik” ia melirik pada Lina yang melamun—matanya lurus menatap plafon.
“Lina? Kamu masih napas?” Tanya Axel khawatir. Pasalnya, ini pertama kalinya mereka membawa gadis masuk dan mabuk bersama. Axel hanya takut melakukan sesuatu di luar kesadaran dan menyakiti si gadis. Namun geleng kepala dari Lina membuat perasaannya lega.
“Oke, gimana kalau kita keluar makan malam? Gua traktir!” Itu baru membuat Rey semangat. Pria itu duduk dan menepuk bokong Pip sebelum menghadap Lina.
“Ayo makan di luar, gua lapar” lalu menjambak rambut Lina keras.
“Sakit bangsat!!! Babi kau” Lina meringis. Panjangnya ditarik kuat hingga kepalanya menengadah—begitu menyakitkan. Namun si pelaku cengengesan tak bersalah.
“Kita makan steik hari ini. Tapi janji pulang makan, kita bikin kue. Kalian harus isi etalase yang kosong” tak ada jawaban kecuali reaksi Rey dan Pip yang kompak bangkit. Mereka membuka baju untuk berganti disana—mengabaikan satu gadis yang menjerit dan kontan menutup mata.
“Emang anak-anak anjeeeng” semua orang terkekeh kecuali si gadis. Mereka bersemangat meski setelah ini, mereka kembali harus berkutat dengan adonan sialan.
𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊
Sepanjang jalan, ke empatnya berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Hal-hal yang seharusnya tidak di lakukan di jalan raya. Axel mengawali bernyanyi dan semua orang ikut. Malam ini, Pip tidak protes, tidak memasang wajah jengkel dan tidak terlihat keberatan. Pria itu banyak tertawa–membuat Axel lega. Jangan tanya bagaimana Rey, ia selalu saja bersemangat atas semua hal meski itu terbilang tidak normal terlebih yang berbau kericuhan. Hidupnya kurang berwarna, maka, ia suka sekali hal-hal di atas normal meski sesekali ikut keyakinan Pip. Tergantung suasana hatinya.
“Malam ini dingin banget…” jaketnya di rekatkan erat. Setelah itu ia kembali menggandeng tangan Pip.
“Kita mau makan apa Sat? Cuma jalan ini, minimal ke restoran mewah” Pip celingukan. Jalanan sepi, padahal baru pukul sepuluh kurang sedikit. Namun udara di luar begitu dingin hingga aneh.
“Makan soto gimana?” usulan Axel membuat Pip keberatan. Tidak hanya Pip, Rey juga. Keduanya berhenti kecuali Lina yang benar-benar tidak peduli.
“Kita abis makan sup dari pagi sampe sore. Mama lu kirim sup walau beda-beda. Sekarang lu mau traktir soto. Kata gua mah mending di toko aja anjing, terigu di aerin, kasih uyah dikit. Bangsat, makan soto perut gua megung” Pip menepis tangan Axel kasar. Yang di tepis terkekeh.
“Oke oke, gimana kalau uduk?”
Mendengar usulan kedua, Rey yang bereaksi. Pria itu mengeluarkan dompet dan menghitung jumlah uang tunai.
“Ada nih dua ratus mah. Beli ayam bakar aja. Kalau satuannya lima puluh ribu, bisa gua beli empat” dan ajuan Rey melukai harga diri pria paling kaya disana. Axel ikut mengeluarkan dompet dan menghitung uangnya.
“Nggak nggak. Biar ini urusan gua. Jadi mau fix makan ayam nih?”
“Kita bertiga makan ayam. Lu makan soto aja” Pip merangkulnya, Axel menepis.
“Guys, gua pengen makan seblak” Lina akhirnya angkat tangan.
“Seblak itu apa? Makanan apa itu? Kaya cewek kabupaten” Pip berkomentar ketus. Baru sehari semalam, Lina sudah kebal dengan lontaran pedas.
“Pokoknya gua mau makan seblak pedes yang kek setan”
Axel mengangguk-angguk “gua punya ide! Gimana kalau toko roti kita campur dagang seblak?”
Rey menggendong Lina di depan. Bahasa isyarat yang di berikan Pip pada Rey tanpa sepengetahuan Axel membuat pria itu jauh tertinggal saat ketiganya lari—meski Rey menggendong Lina agar langkah mereka cepat.
Lina terbahak-bahak dalam gendongan. Pip terkekeh dan Rey ngos-ngosan. Mereka sampai di warung makan yang menjual berbagai menu makanan yang juga tidak normal–maksudnya, di dalam sana ada ayam, seblak, steik, dan segala macam makanan. Tidak ada pelanggan membuat tempat itu benar-benar sepi. Di tambah penerangan yang menyedihkan.
“Rasanya semua kek ngambang. Apa masih ada efek pengar?” Axel bertanya entah pada siapa. Ketiga temannya sudah masuk lebih dulu, mereka memesan makanan yang diinginkan. Axel menyusul dan ikut memilih menu. Sebentar-sebentar matanya memindai. Benar, semuanya terasa mengawang seperti tidak nyata. Atau ini mimpi? Namun tidak, setelah ia mendengar suara Rey.
“Gua baru tau ada warung kek gini disini” kepala Rey berputar. Matanya memindai dekorasi dan menu yang di pajang besar berikut harga dengan banner.
“Gua juga” Pip memvalidasi.
“Baru ya? Jangan-jangan warung hantu. Gua sejak kuliah pindah ke sini tapi baru liat warung ini” Lina ikut nimbrung dalam obrolan. Bersamaan dengan minuman yang di antar oleh pelayan yang pucat. Seorang bapak-bapak menggunakan blankon dan baju khas jawa coklat bergaris-garis.
“Guys, perasaan gua nggak enak” Rey menatap jus jeruk yang entah di pesan siapa, lalu bergantian menatap teman-temannya.
“Nggak tau sih, tapi makan dulu gak? Gua lapar” Lina yang meneguk jus jeruk “ih, seger banget anjir” si gadis meneguk terus-menerus hingga tandas “enak banget, gua baru sekali ini minum jus jeruk seenak ini”
“Halah lebay” Rey mengambil gelas jus jeruk yang masih tersisa beberapa tetes sisa Lina, dan meneguknya hingga gelas terjengking “eh? Iya anjir, enak. Gua mau pesen lima gelas” pria itu kembali memanggil pemilik dan memesan minuman yang sama.
“Guys, gimana kalau kita jualan jus jeruk?”
Makanan datang dan tidak akan ada yang menanggapi Axel. Ayam bakar, seblak, jus jeruk. Meja mereka padat, belum lagi ditambah menu-menu tambahan seperti dimsum, cilor dan masih banyak lagi.
“Lu mesen kah?” Pip menyenggol pundak Axel. Yang di senggol mengedikkan bahu.
“Gua cuma bilang mau menu yang paling enak dan best seller” namun meja penuh. Pemilik warung seperti aji mumpung. Dan tidak ada yang protes ketika yang membayar jelas Axel, hanya tinggal makan saja.
Dan tiba-tiba semuanya gelap.
Mati lampu.
Hampir semua orang gelagapan kecuali Rey yang tetap makan. Lina sudah siap dengan senter ponsel. Setelah di sorot, ternyata tempat itu tempat kosong. Lina juga menyenteri makanan yang di makan Rey yang ternyata tanah campur pasir.
Axel kaget bukan main.
Hal mistis dan mengerikan sejenis ini, baru pertama kali ini saja ia rasakan–tidak, tapi Rey dan Pip juga. Bahkan Lina. mereka berempat lari tunggang langgang tanpa mengatakan apa-apa lagi. Langkah mereka seperti melayang dan tidak normal. Axel yakin itu adalah efek alkohol tadi siang yang belum sepenuhnya hilang. Mirip mimpi, aneh.
Semakin jauh, rumah makan itu semakin mengecil dan lenyap begitu saja. Ke empatnya lari dengan napas tersengal-sengal. Pip menarik Lina yang terseok-seok, gadis itu tidak menangis namun hampir kehabisan napas.
𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊
Axel membuka mata.
Napasnya tercekat. Keringat dingin membasahi dahi hingga menetes ke leher. Saat kelopaknya terbuka penuh, pria itu melihat plafon kamar dalam tokonya. Lalu wajah tiga sahabatnya menggantikan pemandangan plafon.
“Lu nggak papa?” Rey bertanya khawatir. Pria itu terlihat yang paling menyesal “Axel maafin gua” Rey mengusap matanya, ia jelas menangis.
“Apa? Ada apa?” Axel kebingungan. Seingatnya, mereka masih berlari dari rumah makan hantu. Namun saat membuka mata dan kesadarannya kembali, Axel malah mirip seperti mimpi.
“Lu pingsan pas gua pukul itu” jawab Rey, isaknya kecil namun jelas memilukan.
“Ha?” ia memaksa bangkit duduk. Kepalanya berat dan sakit luar biasa “terus, party?” ia celingukan. Tiga temannya masih sempurna.
“Partya apa? Gua takut Mama lu marah karena lu pingsan nggak sadar-sadar. Gua bahkan gak berani bawa lu ke rumah sakit. Gua minta maaf” Rey menciumi tangan Axel sambil meminta maaf dengan tulus. Rasa bersalahnya jelas.
“Gua nggak papa, kenapa kalian bertingkah seakan gua sekarat? Udah pada makan belum? Jadi, daritadi gua mimipi nih? Sampe mana gua mimpi? Apa kita party? Apa kita makan sup yang dikirim Mama?”
Pip dan Rey saling berpandangan. Mereka bingung.
“Enggak, itu mimpi lu. Kita pulang pas lu pingsan, tapi ternyata sampe malem, mana nggak gua panggil dokter. Gua menyesal, serius. Gua menyesal banget” lagi-lagi Rey.
“Gua nggak papa hey! Ayo makan, abis itu bikin nastar” kepalanya berat. Kakinya limbung, Rey membantu Axel berdiri.
“Lu kudu ke rumah sakit” kata Rey memberi saran. Axel menggeleng
“Gua takut sama rumah sakit”
Mereka semua menuju dapur. Ketika Axel melirik jam dinding, matanya menangkap pukul sepuluh kurang sedikit.
“Ini siang apa malem sih?” tanyanya kemudian. Ia melihat pada Pip.
“Malem lah, gila. Tau, mau bikin nastar berapa lama. Sampe muka gua mateng depan oven”
“Sampe telapak tangan gua berlubang ngondol-ngondol selai nanas”
“Atau sampe urat gua lepas ngaduk adonan” semua berkomentar, namun mereka mulai bekerja. Axel duduk di sofa setelah Rey mengambilkan air hangat.
“Mama gua kirim makan apa? Bukan sup?” pertanyaan Axel mendapat perhatian dari Lina.
“Tadi kita makan daging fillet yang di panggang medium rare dan saus mustard. Enak banget sumpah. Itu pertama kalinya gua makan begituan. Mahal banget pasti” Linta tertawa tak canggung memberitahu betapa ia tak pernah membeli makanan seenak itu. Lalu Pip memberinya ibu jari.
“Lu harus terus gabung sama Axel karena kita gak akan lapar dan kurang uang. Cuma kudu tebel iman aja biar gak jadi kriminal” saran bagus dari Pip di setujui Lina. ia bertekad akan terus menempel pada Axel. Pria kaya raya.
“Jadi, selama gua pingsan, toko gua tutup? Kita nggak dapet pelanggan?” pertanyaan itu membuat Pip dan Rey saling pandang menahan senyum.
“Tutup gua, ngambil barang di rumah” lantas Pip menatap Lina “lu kemana Lin?”
“Gua kuliah lah”
Lantas mata Axel lurus pada Rey
“Gua merasa bersalah sampe ketiduran di rumah” alasan yang bagus. Merasa bersalah sampai tertidur adalah paling ideal Axel tidak berkomentar lagi. Pria itu menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan—khas seorang ayah yang mencoba paham situasi anaknya saat sang anak tak sengaja memecahkan TV.
“Oke, gak papa. Ayo bikin kue. Kalian harus membayarnya dengan kerja keras. Kita nggak akan tidur malam ini”
Ya, malam itu terjadi.
Malam panjang bersama seluruh komponen penyusun kue. Rey sibuk bernyanyi. Tiap mengaduk adonan, maka ia akan menyanyikan lirik dengan nada tinggi. Pip memanggang, saat wajahnya berminyak, ia akan menempelkan pore pack. Dan Lina sibuk membuat selai, gadis itu hanya angguk-angguk geleng-geleng. Sesekali Rey memintanya mendesah, menirukan suara rusa, memohon agar Lina meringkik dan membuat suara desisan–khas seperti ketika mereka mengajak seorang gadis berkencan dan meminta hal-hal abonormal yang menjadi alasan mengapa mereka bertiga masih melajang hingga hari ini. Suasana dapur begitu ramai. Axel sendiri sibuk dengan eksperimennya membuat peyek dengan adonan bakwan.
“Guys diam semuanya!!!!” Axel berseru, dalam hitungan detik, seluruh kegiatan terhenti. Semua mata menatap ke arahnya dengan aktivitas yang seakan dijeda dalam layar.
PPRRRTTTFFFT—CCCSSSSSSHHH…
Itu adalah suara kentut Axel. Satuannya sekitar 60 dB dengan outro makin mengecil. Beberapa detik kemudian, bau busuk menyebar mengalahkan aroma setan. Rey menaikkan kerah baju hingga menutupi hidung, begitu juga dengan Pip. Hanya Lina sendirian yang belum resisten dengan yang itu. Maka, si gadis pergi ke kamar mandi dan muntah-muntah.
Setelah itu, kegiatan yang terjeda kembali seperti semula–seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
“Gua kalau ada lomba kentut terbusuk di dunia, bakal bawa si anjing itu untuk lomba. Pertama gua kasih makan ubi jalar dan telor bebek rebus selama sebulan tanpa serat. Nah, pas mau lomba, gua empanin seblak pedes sama hajar anusnya gua colok microlax. Pas hari H, eksekusi” Rey memaparkan ide. Pip lagi-lagi menyimak ocehan yang sebetulnya hanya cukup menjadi angan-angan saja tanpa perlu di keluarkan meski hanya perumpamanaan.
“Kalau itu kejadian, kentut si bangsat bakal setara sama asep duhkon. Tiap melewati seorang mukmin, pasti mukmin akan tewas” jawab Pip.
“Mukmin doang? Sodara gua ada namanya mukmin. Kecil mah, mana pundungan” Rey malah merambat. Namun semua orang mendengarkan “pernah loh, geger istrinya, lakinya si Mukmin nggak pulang-pulang. Nggak taunya ngambek. Jalan kaki 20km pundung gara-gara istrinya salah ngomong. Pokoknya kalau pundung itu kabur jalan kaki. Walau dia punya mobil dan motornya dua. Atau pundung ringan, doi bakal diem di pinggir rumah sambil ngeruk tanah tanpa konteks. Lucu banget. Soalnya gua pernah bantu nyariin rame-rame”
“Lain kali, kalau sodara lu pundung. Suruh ke sawah aja. Bajak sawah” Axel memberi ide sambil terpingkal-pingkal.
“Gua kadang kalau lagi gabut, nyuruh istrinya sodara gua itu cari gara-gara biar doi pundung. Serunya itu pas geger loh, sampe RT juga turun, terus manggil pemadam kebakaran. Seru pokoknya”
Masih membicarakan hal tidak perlu hingga Lina kembali keluar. Wajah gadis itu basah lepas mencuci muka.
“Lu mandi?” Rey mengangkat sebelah alis. Lina menggeleng.
“Masuk akal gak, kalau gua hamil tapi gak pernah ngeseks, nggak pernah punya pacar. Akhir-akhir ini sering masuk angin” Lina kembali duduk, ia memegang lagi selai itu.
“Periksain aja dulu” Axel yang menjawab “kemaren gua liat berita, ada cewek ngeluh sakit perut bagian bawah mulu. Pas di USG ada stang motor. Ini serius guys. Buka aja tribun news. Beritanya beneran” Axel berusaha meyakinkan siapapun karena ceritanya memang terdengar seperti bercanda padahal sungguhan ada.
“Pertanyaan gua, kenapa setang ada di sana?” Pip lagi-lagi tidak percaya.
“Itunya di colok sendiri, terus copot gak si? Lu bayangin motor lagi parkir di ruang tamu, terus si neng itu horni parah sampe kekelojotan. Pokoknya kalau gak dituntaskan, dia berubah jadi babi. Terus akhirnya lihat stang itu. Ambil kursi kecil, naik, ngangkang, ya gitu deh” Rey mencoba menggambarkan situasi menurut nalarnya yang sebenarnya memang tidak nalar.
“Sulit banget gua bayanginnya” Lina menggeleng “ada kemungkinan lain?” ia menatap Axel dan Pip bergantian.
“Kalau masuk akalnya sih, itu stang memang udah copot dan nganggur” itu pendapat Pip, paling masuk akal.
“Kata gua mah, motornya di rebahin, terus si neng nya naik di atasnya. Terus gak taunya dia masih gress, itunya sempit banget sampe stang ke cabut” pendapat Axel juga sulit di terima.
“Jadi kan ya, stigma janda itu buruk banget karena mereka kan udah biasa ngeseks dan tiba-tiba cerai atau di tinggal mati. Jadilah mereka birahi di waktu-waktu tertentu tanpa ada lawan. Nah, itu buat yang udah pernah menikah. Kalau gadis tapi aktif ngeseks juga, bukannya sama aja? Mereka bakal bringasan juga kalau lagi masa ovulasi dan nggak ada lawan? Jaman sekarang gadis pada sinting-sinting. Tapi lebih gila lagi, stigma itu cuma buat perempuan. Padahal laki lebih gragas dan paling sulit nahan birahi” ungkapan Lina lumayan membuat tiga pemuda itu memusatkan fokus padanya. Ia ditatap sekaligus.
“Gua cuma menyampaikan suara”
Sisa orang mengangguk.
“Tapi, lu bicara kayak gitu gak tepat karena kita bertiga gak peduli. Kita bertiga jomblo dan masih nggak kepikiran buat ngeseks. Ini gua bilang general karena dua teman gua rata-rata sama alasannya” Pip menerangkan “jadi stigma kayak gitu udah ada dari era kolonial Belanda. Bakal payah banget ngilanginnya. Jangan dipikirin, mending bikin selai nanas. Bertahan hidup aja, kalau ada partner dan sama sama suka yang ngeseks. Kalau enggak, ya mending tidur aja si. Gua kalau ngaceng daripada coli mending tidur atau lari sampe Batam”
“Gua nggak pengen ngseks ya babi, gua gadis perawan dari desa yang kuliah di kota” Lina melotot.
“Ow… gadis perawan.. Ada Jamilah… ini cerita tentang seorang perempuan, tinggalkan kampung halaman, ke kota cari kerjaaan” Rey malah bernyanyi.
“Sampai di kota, dia bingung mau kerja apa, dia hanya wanita biasa, si Lina, itu namanya..” Axel melanjutkan.
“Si Lina hey! Nggak pulang-pulang.. Pamitnya, cari kerjaan, tau nya, jadi simpanan, simpanan suami orang…” Pip ikut bergabung. Lina mendengus tidak terima.
“Kata gua, mending lu jadi simpenan bapak gua aja” usul Axel berhasil memecah fokus pada lagu “gua kadang pengen punya mamah muda. Bapak gua itu kelewat setia. Emang sih, Mama gua kek bidadari, tapi kan daun muda banyak. Uang banyak. Selingkuh ege biar gua bisa nyanyi diary depresi sambil petik gitar di jalanan. Ini mah boro-boro. Tiap pulang, gua di sambut hangat dan sayang. Kek mana cara gua meromantiasasi kehidupan. Mana tiap apa yang gua pengen keturutan” Axel mengeluh. Saat ia mendongak, wajahnya di lempar adonan nastar, nastar oven panas dan selai nanas.
“Babi kau, anak anjing” Pip yang marah. Pria itu yatim meski ibunya orang berkecukupan yang hingga hari ini masih bekerja di perusahaan kakeknya. Namun jelas jauh lebih kaya Axel. Jauh, sangat jauh. Apalagi Rey yang hanya anak seorang pedagang.
“Kak Axel mending nikahin gua nggak si?” pertanyaan Lina juga diluar jangkauan “daripada gua jadi Mama muda, kenapa nggak lu nikahi aja?”
“Sudah kubilang…” Axel mendesah. Kacang masuk dalam adonan yang hanya diisi bumbu instan racik bakwan.
“Hapus air mata… cintaku hilang, meninggalkanku.. Kamu tlah berbeda, tergula-gula, hidupmu diabet, resisten insulin..” Rey bernyanyi serampangan. Tangannya gesit kembali meracik adonan.
Mereka terus mengoceh ngalor ngidul entah membicarakan apa saja. Jam terus berputar, semuanya terasa lebih cepat, lebih menyenangkan. Seperti impiannya sejak dulu.
𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊
Plafon putih, langit-langit itu lagi.
Cairan itu lagi, aroma itu lagi
Itu itu lagi, rasanya muak dan lelah.
Ingin keluar.
Rasanya seperti di anestesi namun masih sadar. Hanya tubuh saja yang lumpuh. Terjebak tanpa tahu bagaimana caranya bangun.
Panjang dan lama.
Melelahkan.
𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊
Mereka tertidur pukul empat pagi.
Mirip zombie yang sudah tak lagi peduli untuk membasuh wajah, sikat gigi atau ritual umum sebelum tidur. Ke empatnya merebah malang melintang dengan wajah lelah. Namun terbayar ketika kue mereka jadi sementara Axel harus mengulang adonan beberapa kali saat membuat peyek.
Matahari menyorot tinggi. Alarm sejak tadi mirip kaleng biskuit yang diisi batu lalu di kocok-kocok. Sangat berisik. Kendati, hanya Axel yang berhasil tersadar. Pria satu-satunya yang merebah tak layak. Kepalanya berada di ubin sementara tubuhnya menindih Pip dan Lina.
Kepalanya sakit. Akhir-akhir ini ia sering sakit kepala dan bermimpi aneh. Namun kali ini tak ada mimpi mengerikan kecuali sakit kepala yang terasa di tengkuk sampai ke kepala belakang hingga terlalu berat.
Menekan layar—mematikan alarm. Pria itu menguap lebar. Jam pada ponsel menunju pukul sembilan pagi. Satu jam lagi tokonya akan di buka. Axel sebenarnya ingin kembali tidur dan berencana menyeting alarm empat puluh menit dari sekarang. Namun mengingat mereka berempat harus bergantian menggunakan kamar mandi, belum lagi Rey yang jika buang air besar bisa sampai setengah hari, maka, meski sakit kepala, pria itu bangkit terhuyung pening. Tangannya sesekali menyangga dinding–merambat untuk sampai ke kamar mandi. Lebih baik mendahului ketimbang menunggu sambil mulas.
Tubuhnya dingin.
Air dingin membawa sensasi aneh pada kulitnya. Ia melihat rahangnya memar bekas di pukul Rey kemarin. Namun bukan disana bagian yang sakit dan berdenyut-denyut. Namun di kepala. Sepertinya seruan semua orang untuk periksa mulai ia pertimbangkan. Gejalanya mirip anemia berat. Padahal pola makannya bagus dan terkontrol. Hanya saja, sudah agak lama Axel tidak melakukan medical check up.
Ia bersenandung sambil mengosok kulitnya lembut. Ada sabun cair milik Lina, ada lulur, sampo dan conditioner. Pria itu juga melihat sabun kewanitaan. Maka, dengan rasa penasaran yang menggunung, ia menuangkan sabun itu ke telapak tangannya, lalu menggosokan pada kepala penisnya lembut.
“Ow.. titit gua bau gadis” ia menguceknya bangga. Saat kepalanya meneleng ke balik pintu gantungan, ia menganga melihat bra merah muda yang lucu. Ada gambar hello kitty di tengahnya.
“Haruskah gua coba?” ia menggeleng sendiri “nanti kalau Lina tau, dia ngambek dan resign”
Mulutnya kembali bersenandung. Kulitnya merata penuh busa. Ya, Axel menggunakan sabun Lina, menggunakan lulur dan memakai pencukur milik Pip untuk rambut di sekitar anusnya.
Masih bernyanyi.
Pria itu keluar—juga setelah mengganti baju di dalam. Aroma sabun menguar begitu harum–khas gadis. Saat ia masuk ke kamar, matanya bertemu dengan milik Lina. gadis itu melotot ke arahnya dengan cara paling mengerikan.
“Lu pakai sabun gua?” itu tuduhan dengan bukti kelewat kuat. Aroma itu masih berputar-putar di langit-bersumber dari kamar mandi dan paling banyak dari kulitnya. Axel menelan saliva susah payah. Beralasan pun sulit.
“Lu tau berapa harganya? Lulurnya aja 50 ribu, sabunnya 80 ribu, sampo gua 40 ribu. Gua ngumpulin susah payah dari uang kerja paruh waktu dan kiriman bapak gua dari kampung dan sekarang” Lina menunjuk Axel “pria kaya raya pakai sabun gua? Apa itu masuk akal?” benar, matanya seperti akan copot. Axel ketakutan, maka, pria itu merogoh saku dan mengeluarkan dompet. Ia menghitung uang lima ratus ribu.
“Segini cukup nggak?”
“Oke, cukup”
Masalah selesai.
“Gua tu make punya lu karena penasaran sama barang-barang murah punya perempuan. Ternyata emang wangi banget. Nanti gua akan beli yang serupa”
Lina tak peduli, ia kesenangan. “Kalau nggak, bayarin aja punya gua. Semua itu lu borong dua jutaan” Lina berbinar setelah memasukkan uang lima ratus ribu ke dalam dompet. Kembali menawari Axel dengan cara membodohi. Ia juga celingukan berharap tidak ada Pip yang menengahi atau mengatakan hal-hal tentang pembodohan.
“Nggak ah, gua lagi hemat. Tiga minggu lagi kalian gajian” ternyata tidak seusai harapan. Lina jadi ingat tentang ocehan Pip atau Rey, ia lupa. Yang mengatakan jika Axel ini sebenarnya pintar—meski hingga detik ini, ia tak melihat bagian pintar itu sendiri.
“Mandi sana. Ntar kalau Rey udah masuk, nunggu sampe acak-acakan urin lu di lantai” Axel meninggalkannya kemudian. Ia pergi membuka rolling door depan. Dan seperti biasa, makanan–bekal yang dibuat ibunya sudah ada di salah satu meja pelanggan. Ada lima boks dan Axel memindahkannya pada meja kasir. Ia beres-beres meski sebelum tumbang, semua orang membereskan hingga mengkilap. Kue dan roti-roti masuk dalam etalase berkilau. Peyek jadi meski jika digigit, dapat membunuh nenek-nenek.
Jadi, pria itu hanya membuka saja.
Tepat pukul sepuluh saat pelanggan pertama datang. Seorang ibu-ibu menggunakan kalung sorban dan jilbab bermotif ular.
“Mas, ada kue putri salju nggak?” kepalanya celingukan. Dan Axel lagi-lagi menghela napas. Mengapa orang-orang selalu datang dan bertanya yang tidak ada?
“Ah.. anu… ibu mau tunggu sebentar nggak? Sebentar aja, sekitar lima jam, saya buat dulu” katanya gugup. Si ibu mendecih tidak sudi.
“Aneh-aneh aja nunggu lima jam, keburu modar saya disini” lalu beringsut-ingsut menyeret langkahnya pergi. Axel bersumpah akan meminta Rey membuat putri salju setelah ini. Rasanya, tiap ada yang datang merupakan pelajaran untuk memperlengkap menu.
Sang pelanggan gagal pergi. Pria itu berbalik dan melihat Pip sudah mandi. Rambutnya basah, tetesan air masih jatuh satu dua dari helai rambut. Kendati, pria itu terus menguap.
“Mama lu bawa sarapan apa? Lapar amat pagi-pagi” ia melirik jam lagi, sudah tiga kali melihat jam meski tidak ada yang berubah.
“Belum gua buka, mau makan duluan kah?”
Pip menggeleng.
“Tungguin si Lina aja. Kalau Rey nggak tertolong, jangan dibangunin paksa atau lu di pukul lagi. Gua khawatir. Abis pingsan itu, rasa gua kepala lu lebih bermasalah” nadanya jujur terdengar khawatir. Axel tersenyum seperti anak kurang kasih sayang yang mendapat secuil perhatian.
Lalu perhatian mereka kembali pada alarm pintu. Seorang ibu-ibu lagi. Kali ini rambutnya merah. Membawa tas besar dengan senyum ramah. Giginya penuh karena veneer yang kelewat tebal.
“Mas, ada nastar?” mendengar pertanyaan itu, Axel tersenyum penuh kemenangan. Pria itu mengangguk seperti adegan pada film yang di lambatkan.
“Ada bu, nastar Firman” kata Axel penuh kebahagiaan.
“Berapa satu toples?”
“Satu toples 185 ribu ukuran 500 gram. Mau ambil berapa bu?”
“Saya mau 10 toples ya mas. Tapi bisa di bungkus jadi hampers nggak? Yang cantik”
Axel cepat-cepat mengangguk. Pria itu berlari ke dalam mencari Lina yang sedang sibuk mengaplikasikan pensil alis–menarik si gadis untuk cepat-cepat melayani si ibu untuk membungkus hampers.
“Bu, kalau mau cicip dulu. Nastar kita terbuat dari wisman yang diimport dari Amerika” Pip juga tak kalah ramah. Pria tampan itu terlihat jutaan kali lebih memesona meski sejak tadi menguap.
Si ibu mengambil satu. Merasa-rasa sambil mengangguk-angguk.
“Lembut banget, lumer di mulut. Enak. Bener berarti yang dibilang orang-orang” meski Pip tidak tahu apa yang katakan orang-orang, namun pria itu merasa bangga—mengalahkan rasa putus asa dan jengkel karena keputusan Axel membuka toko roti tanpa arahan, tanpa panduan. Saat melihat semua orang bekerja keras membuat kue, Pip jadi berpikir banyak dan mulai serius meski tidak serius. Lagi pula, ia hanya akan bertahan sebulan atau kurang dari itu. Biarkan menjadi kenang-kenangan dengan Axel sebelum pria itu merekrut anggota lain. Sementara ia dan Rey harus pergi.
“Kue disini viral banget di kalangan ibu-ibu sosialita. Pada posting dan lagi pada menuju kemari buat beli. Untung saya duluan. Mana enak” komentar bagus lagi. Pip tidak tahan untuk tidak tersenyum. Nastar itu buatan Rey, murni. Ia hanya memanggang. Namun rasanya seperti ia yang mengolah sendiri secara otodidak sampai selesai, lalu mendapat apresiasi dari pelanggan jujur. Barangkali rasa senangnya setara dengan jatuh cinta.
Sementara di pojokkan, Lina membungkus hampers cantik dengan kondisi alis miring sebelah. Gadis itu tidak mengomel meski wajahnya belum siap. Namun saat tahu ada yang membeli nastar sepuluh toples, gadis itu sangat bersemangat.
Kurang dari setengah jam, sepuluh hampers jadi. Si ibu membayar di kasir lalu mengucapkan terima kasih sebelum benar-benar pergi. Tiga orang disana tersenyum penuh kebanggaan.
“Makan dulu guys, siapa tau abis ini kita banjir orderan lagi” Axel memberi isyarat dua temannya, membiarkan Rey yang masih terlelap dan menyisakan satu boks.
“Dada ayam pedas, oseng buncis, rendang sapi, bayam tumis. Buset” Lina berkomentar sebentar sebelum melahap makanan. Perutnya benar-benar lapar karena semalam bekerja tanpa makan. Mereka terlelap begitu saja saking kelelahan.
Saat mereka makan, pelanggan satu persatu datang. Dari ibu-ibu, kakek-kakek, remaja, anak-anak.
Tidak tahu angin darimana, namun serius. Mereka bolak-balik menunda makan, bahkan memindahkan kotak makanan mereka ke dalam kamar ketika pelanggan butuh tempat duduk.
Kebanyakan mereka membeli langsung pulang. Namun beberapa duduk di sana menikmati donat atau croissant dan segelas minuman segar.
Benar, ini adalah toko roti. Suara ramai mengobrol dari pelanggan terdengar hidup. Axel tidak bisa tidak tersenyum. Sejak tadi rahangnya seperti akan bergeser saking senangnya. Begitu juga dengan Pip dan Lina.
“Gantian aja makannya guys” Axel memberi ide “Lina makan duluan sana, abis ini gantian Pip dan terakhir gua” kata pria itu bijak. Lina mengangguk dan pergi ke dapur untuk melanjutkan sarapan mereka yang bolak-balik tertunda.
Begitu terus kondisi toko. Pergi satu datang tiga. Satu dua tiga tidak membeli satu. Nastar lima belas toples sudah habis sejak tadi. Kue-kue dan sisanya hanya tinggal beberapa buah lagi, padahal belum tengah hari.
𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊
Kini, mereka sibuk.
Malam hingga subuh membuat kue, roti, peyek dan segala macam. Siangnya juga. Sudah satu minggu kondisi toko begitu penuh. Pip yang sejak awal menentang dan meremehkan, kini akhirnya mengajukan pada Axel untuk menambah karyawan untuk membantu membuat kue. Mereka akan kewalahan jika terus begini dan Axel sudah memikirkan yang itu juga.
Mereka seperti robot bekerja. Candaan hanya sesekali dilayangkan ketika kantuk dan kelelahan menyerang kelewat tidak tertahankan.
“Nyangka nggak lu pada kalau nastar gua best seller?” Rey mengerling bangga. Sisa temannya mengangguk tanpa repot memvalidasi karena mereka mengantuk dan tak berenergi. Berbeda dengan Axel yang jam tidurnya seperti terbalik dan tak ada satupun yang berani membangunkan pria itu.
“Lin, buka-buka baju lu. Biar seger mata. Liat Pip sama Axel, mereka mau tumbang itu” Rey lagi-lagi memberi solusi sambil cekikikan. Tangannya gesit membuat adonan. Kali ini Axel membantu memasukkan nanas ke dalam adonan.
“Lu aja kulum titit lu sendiri” jawab Lina malas. Gadis itu juga jelas mengantuk.
“Beli kratingdeng anjir, ngantuk banget gua, buset” Pip menguap seperti rahangnya akan mencar “omong-omong, paman gua udah nelpn gua, katanya sepuluh hari lagi gua bisa berangkat ke Singapura” lontaran itu membuat Axel yang awalnya mengantuk, menjadi segar. Pupilnya melebar. Lalu fokusnya berganti pada Rey saat pemuda itu juga buka suara.
“Kok sama? Gua juga udah kelar urus-urus, tinggal apanya lagi itu, dikit lagi. Nanti lusa gua mau ngurus visa, paling bareng kita berangkatnya sat” Rey melempar tatap pada Pip yang hanya mengangguk tak begitu peduli.
Namun berbeda dengan Axel, hatinya mencelos. Rasanya benar-benar aneh. Mirip gelenyar api yang merambat dalam hatinya. Ketidakrelaan yang begitu besar. Axel bersumpah ia sedih. Hatinya terluka tidak bercanda. Kehilangan dua temannya seperti hilang arah. Apalagi toko roti yang baru ramai dan laku keras hasil kerja keras Pip dan Rey. Bagimana caranya ditinggalkan?
“Guys, kata gua mah udah si di sini aja. Lu berdua mau gaji berapa coba? Gua kasih. Sumpah, samain aja kek di Jepang dan Singapur, gua jabanin” ungkapan itu tidak main-main. Pria itu menjadi lesu acap kali dua temannya membahas pergi.
“Mana ada, cita-cita gua pergi keluar negeri. Gua pengen hal-hal baru” suara Rey di angguki dan mendapat acungan jempol dari Pip.
“Sesuai perjanjian aja sat. Kita udah sering ngobrolin ini” kata Pip, lagi-lagi sambil menguap. Setelah itu tidak ada percakapan lagi. Mereka berkutat dengan pegal dan mengantuk sambil bergesekan dengan waktu.
Hingga pukul lima dini hari ketika semuanya sudah tidak kuat dan lagi-lagi masuk dalam kamar dalam kondisi malang melintang. Bedanya, Axel tidak ikut. Pria itu duduk melamun di dapur tidak mengantuk.
Perasaannya aneh tiap ingat jika dua temannya akan pergi. Rasa tidak rela seperti penyakit yang menggerogoti.
Pip bilang, ia sangat ingin bekerja dengan gaji besar di luar negeri dan membanggakan ibunya yang janda. Tiap membahas pergi ke luar negeri, Pip akan berseri-seri penuh semangat. Sama dengan Rey yang begitu mencintai animasi Jepang dan bercita-cita pergi ke sana sejak ia sekolah dasar. Ingin bekerja disana, ingin bisa berbahasa negara itu dan ingin mendapat gadis Jepang untuk dijadikan istri.
Lalu diri sendiri. Kedua orang tuanya sudah mematoknya tak dapat kemana-mana. Axel sudah di takdirkan menjadi CEO di perusahaan ayahnya. Ia tidak di beri izin pergi kemana pun, tidak keluar negeri kecuali untuk urusan pekerjaan atau sekedar liburan sebelum ia mantap menjadi pimpinan. Namun entah apa yang salah, ia hanya ingin berkelana bebas menjadi apa saja di manapun. Baik di dalam negeri maupun di luar. Namun tidak bisa. Rasanya, seperti ditinggalkan, hatinya kosong dan aneh.
Pertemanan mereka berjalan hampir seumur hidupnya sejak sekolah dasar. Rey dan Pip seperti hidupnya. Mereka bertiga saling memengaruhi, saling menularkan hal-hal baru yang didapat dari lingkungan selain mereka. Mereka berbagi semua hal. Seperti keluarga. Orang tua mereka pun sudah sangat tahu satu sama lain. Dan benar, mereka adalah keluarga.
Axel tidak memiliki teman selain mereka berdua.
Lalu, jika keduanya pergi, bagaimana? Axel menelengkan kepala ke kanan kiri demi menghalau rasa menyedihkan yang benar-benar tidak dewasa. Demi hidupnya, ia bersumpah jika pola pikirnya sangat aneh, namun juga tak mampu menepis atau bersikap seperti logika. Ia merasa terikat untuk alasan yang benar-benar gagal di terjemahkan.
“AXEL LU KUDU TIDUR” suara Pip serak “lu lagi gampang pusing akhir-akhir ini” Pip lebih mirip sedang mengingau. Namun berhasil membuat Axel tersenyum, pria itu mengusap wajahnya, lalu masuk ke kamar dan memeluk tiga orang itu sayang.
𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊
“Bagaimana perasaanmu?” suara itu lagi. Mungkin untuk yang ke seratus kali. Pria itu memiringkan kepala enggan menatap. Ia tak bersuara, sudah lama. Sejak tubuh dan kesadarannya berada di tempat terpisah.
“Kamu masih menolak bicara, ya? Tapi nggak papa, aku kasih pena dan kertas kecil di atas nakas. Kamu bisa tulis atau menggambar apapun yang kamu mau disana. Nggak maksa, pelan-pelan aja. Kita semua ada disini”
Klise dan repetitif. Membuat muak saja.
𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊
Katakan itu keberhasilan yang kelewat cepat. Dalam kurun tiga minggu, toko kue milik Axel begitu laris. Namanya terkenal di kalangan ibu-ibu kaya raya. Jualannya selalu habis dan setelah perundingan panjang dengan dua temannya, Axel akhirnya merekrut sekitar delapan orang untuk membantu membuat kue.
Pendapatan Axel besar. Untungnya tinggi dan makin lama semakin melambung terkenal. Bahkan, sejak satu jam sebelum di buka, orang-orang mengantre dengan barisan jauh. Itu pencapaian meski kelewat instan.
Rey tetap mengadon.
Pria itu tidur di siang hari dan begadang pada malamnya. Sementara para kasir seperti Pip dan Lina serta bos, hanya membantu sampai tengah malam dan akan tidur setelahnya.
Katanya, tangan Rey adalah tangan dewa, tangan yang membawa toko roti Axel sampai sejauh ini meski terbilang sangat cepat. Justru disana, jelas. Axel merasa tidak ada yang salah dengan keberhasilan instan karena semua sudah ditakdirkan. Bahkan jika komentar para pesaing di kanan kiri mengatakan jika hal-hal instan tidak akan bertahan lama, maka, Axel tidak apa-apa. Toh, ia juga sudah berjanji pada ibunya untuk menjadi CEO. Memiliki toko roti hanya syarat dan ibunya sudah memenuhi itu. Tidak masalah jika sesuatu terjadi dan tokonya harus tutup—meski itu hanya pikiran jauh.
Tapi jauh belum tentu jauh.
Tepat sebulan setelah gajian pertama bagi Pip, Rey dan Lina meski gadis itu tidak penuh, namun Axel tetap memberikan barengan dengan dua temannya—tentu saja tidak sempurna.
Disaat bersamaan, Pip dan Rey berpamitan pada Axel untuk pergi. Mereka akan terbang besok lusa dan berencana tidur di rumah dengan keluarga. Maka, ia berpamitan pada Axel dua malam sebelum keberangkatan.
Malam ini, karena terakhir mereka berada di toko, maka, Axel meminta semua karyawan baru untuk libur. Pria itu ingin menghabiskan waktu bersama dua temannya sebelum keduanya benar-benar pergi.
Dan malam itu mereka kembali berempat. Rey seperti biasa membuat adonan. Pip di depan oven meski sudah lama tidak melakukan. Lina dengan selai nanas sementara Axel dengan adonan peyek. Seperti sebelumnya, seperti awal-awal mereka.
“Lina, gua titip Axel, oke? Kalian menikah aja gaksi? Rasanya tenang ninggalin si brengsek ini kalau sama lu” Pip nyengir saat mengatakannya.
“Axel mana mau, gua sih oke-oke aja” jawab Lina apatis.
Axel hanya berekspresi datar. Matanya sesekali naik menatap dua temannya bergantian. Sejak pagi, matanya panas, rasa sedihnya tak bisa dibendung dan ia cukup dewasa untuk tidak mengatakan omong kosong sebagai pemicu pembulian parah meski sangat ingin.
“Jan diem aja, ntar dubur lu keces gua lempar adonan, serius” Rey mengancam sambil cengengesan.
“Axel kayak mau nangis gitu gaksi?” Lina yang perhatian pada ekspresi pria itu meski Axel sudah berusaha tidak terlihat seperti itu.
“Apa lu? Mana ada gua begitu” si pria mengelak dengan membuang pandangan. Pip terpingkal-pingkal meski hidungnya berminyak.
“Kata gua apa, ikut gua ke Jepang, jablay disana spek dewi harga murah. Itu kata sodara gua, caya deh” Rey kembali mengiming-iming. Axel hanya mendecih. Ia tidak butuh pelacur. Jika ingin, pria itu sangat bisa. Ia hanya ingin terus bersama teman-temannya dalam waktu lama. Bahkan sampai semuanya berkeluarga dan sampai mati.
Mereka seperti biasa, mengobrol malam itu hingga larut. Cekikikan, membiacarakan omong kosong paling tidak berguna sedunia. Lalu diam, kentut, saling melempar adonan. Lina mengepel lalu memukul tiga pria. Mengobrol lagi, membuli Axel. malam itu sangat panjang, Axel berharap pagi tidak pernah datang. Ia ingin kebersamaan seperti ini lebih lama. Atau kebersamaan mereka seperti biasanya, tanpa terputus.
Hanya berkumpul di salah satu rumah. Kembali mengobrol membicarakan apa saja, bertukar isi kepala dan pikiran serta menjadi tempat paling bisa diandalkan saat sedih. Pelan-pelan hubungan mereka seperti rumah. Atau hanya Axel sendiri yang menganggapnya begitu?
Padahal paham polanya tidak dewasa. Namun Axel masih kesulitan.
Tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Juga rasa sedihnya yang membelenggu.
Lama bercengkrama hingga dini hari—pukul empat lewat lima belas menit. Pip pertama kali menyerah ketika matanya merah dan kelopaknya lengket. Pria itu melepas apron dan langsung melempar dirinya ke atas kasur. Di susul Lina yang juga melakukan hal yang sama meski lebih dulu mencuci tangan.
Sisa Rey yang sudah mulai menguap.
“Lu belum ngantuk sat?” matanya bertemu dengan Axel, pria itu menggeleng.
“Lu tidur duluan aja, Rey. Ntar gua yang beresin sisanya”
“Serius?”
“Hm”
Rey tersenyum. Pria itu mencuci tangan, sikat gigi dan cuci muka sebelum benar-benar masuk dalam kamar dan memeluk Pip. sementara Axel masih bertahan. Pria itu masih menggoreng peyek, menatap minyak mendidih yang mengeringkan adonan peyek hingga jadi. Ia melamun lama hingga nyaris satu jam berlalu dan adonan peyek habis.
Namun matanya tetap tidak mengantuk.
Hari ini dua temannya akan pergi.
Hari ini terakhir ia melihat adonan milik Rey. Oven yang di jaga oleh Pip dan nastar, serta semua hal lezat yang membawa tokonya melambung besar.
Lalu, apa jadinya tempat ini tanpa Pip dan Rey? Axel sudah menduga akan gagal dan mau tidak mau ia akan pergi ke kantor memenuhi janjinya. Mengingat hal itu membuatnya emosional, ia tak tahu apa yang salah dalam dirinya, namun rasa tidak nyaman terus menyesaki perasaan. Ingin menangis pun sulit. Ia tidak akan membebani temannya karena memang tidak akan. Mereka hanya akan menganggap perasaannya itu hanya sesaat atau kalimat-kalimat penenang sejenis yang tak berpengaruh pada apapun dalam hatinya.
Masih sibuk dengan pikiran berkecamuk, hidungnya menangkap aroma tidak sedap. Ya, aroma gas seperti akan habis. Aromanya mirip durian kelewat matang, kadang-kadang mirip sesuatu yang aneh—busuk yang belum pernah ia baui sebelumnya.
Axel menoleh ke arah deretan kompor besar di sepanjang meja. Salah satu tabung tidak terpasang dengan benar—mungkin, ia masih ragu. Masih mencoba memastikan apakah itu hanya perasaannya saja.
Di sisi lain dapur, oven besar sudah dalam keadaan mati sejak Pip memutuskan untuk tidur hampir lebih dari 1 jam yang lalu.
Lalu ia memastikan apakah aroma itu berasal dari kompor oven yang paling besar. Atau di bawah yang seperti tidak terpasang dengan benar. Tangannya meraih knop pemantik di bagian depan oven.
Klik.
Percikan kecil muncul di dalam tungku.
Dalam sepersekian detik, udara di ruangan yang sudah dipenuhi gas bereaksi. Bunyi dentuman keras memantul di dinding dapur, membuat rak-rak loyang bergetar. Gelombang panas menyapu cepat, mirip dorongan angin yang kuat, lalu menghilang, meninggalkan kepulan asap tipis di sekitar kompor. Dalam waktu singkat, listrik mengeluarkan percikan yang menyambar-nyambar mengerikan. Axel tersentak mundur dan terjatuh.
Dadanya terasa sesak karena kaget, telinganya berdenging. Api membumbung tinggi dan ledakan lain menyusul. Beberapa loyang jatuh ke lantai dengan suara berisik. Tabung gas di bawah meja terguling pelan, regulatornya longgar.
Dapur yang tadi sunyi berubah kacau hanya dalam satu detik. Axel lari tunggang langgang kedepan—membuka rolling door secepat kilat sebelum ledakan dari tabung lain menysul. Waktunya sangat singkat saat suara dentuman mengerikan itu berhasil membakar dan menghanguskan segala hal.
Semuanya habis. Lenyap, terbakar. Hanya dalam waktu kelewat singkat yang benar-benar singkat. Waktu singkat yang mengubah segalanya.
Hancur, habis.
Axel terjatuh tanpa tangis. Ia menatap api tinggi dengan mata menyala seperti api yang berkobar di depannya.
𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊
Berita itu sangat heboh.
Kebakaran yang menewaskan dua laki-laki dan satu gadis dalam toko roti yang sedang naik daun menjadi spotlight di seluruh saluran stasiun televisi maupun sosial media. Terlebih di kalangan para ibu-ibu sosialita yang menjadi pelanggan tetap sebulan terakhir.
Ibu Pip menangis hingga pingsan. Anak semata wayang yang ia besarkan seorang diri tanpa sosok suami sejak Pip kecil. Ayahnya yang lebih dulu berpulang karena sakit keras, kini, hal itu kembali terjadi pada putranya. Kerja kerasnya sia-sia dan wanita itu terus mengatakan ingin mati sebelum kesadarannya hilang.
Sementara orang tua Rey nyaris serupa meski tidak sehisteris ibu Pip. mereka menangis dan melamun banyak. Entah siapa yang bisa di tuntut ketika Mama Axel mengaku anaknya tidak ada di tempat kejadian saat peristiwa naas itu terjadi.
Orang tua Lina juga datang meski tidak ada yang tersisa. Ketiga tubuh korban hangus. Hanya di temukan tulang belulang yang sudah tak utuh. Semuanya mengerikan.
Sementara Axel, pria itu menyendiri dalam kamar. Tidak satu pun di perbolehkan masuk. Pria itu memeluk lututnya di pojok ruang dalam kondisi gelap. Ia bahkan tak berani menyalakan lampu, tak boleh ada yang datang hingga tubuhnya lemas. Sebelum kedua orang tua Axel memaksa putranya untuk diinfus agar bertenaga.
Tidak ada. Pria itu selalu gemetar, jika ditanya, Axel akan menangis dan mengatakan tidak tahu. Sejak hari itu, mentalnya kacau dan ia menjadi tidak stabil.
𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊
Mimpi itu datang lagi….
Malam dimana kami membuat adonan kue, tertawa bersama, bercengkrama dan saling merundung.
Terus, berulang, berulang. Rasanya seperti terjebak. Tiap menutup mata, bau gas dan percikan api terasa sesak memenuhi pernapasan.
Aku ingin mati saja. Tidak bisakah di antara kalian menyuntikkan vecuronium agar aku mati?
Aku sungguh… aku sangat lelah.
Membuka mata sulit, tidur sulit, hidup sulit. Aku tidak bisa hidup seperti ini.. Aku ingin mati saja, sungguh… aku ingin mati… siapapun biarkan aku mati….
Dokter membacanya. Itu pertama kalinya Axel mau bergerak. Sekedar duduk lalu memegang pena dan menulis walau isinya mengindentifikasi tidak adanya perubahan. Dokter akan meminta Mama Axel untuk menyetujui agar putranya di terapi lanjutan.
𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊
Mimpi itu datang lagi. Namun dalam bentuk yang lain. Meski sakitnya sama.
Setahun yang lalu.
Rey memetik gitar. Bertiga duduk di salah satu kafe milik kerabat Axel–luar ruangan. Perkumpulan rutin yang lagi-lagi tidak bermutu, tidak penting.
“Seluruh kota.. Merupakan tempat bermain yang asyik… oh senangnya.. Aku senang sekali…” pria itu bernyayi, Pip angkat tangan sambil menggoyangkan tubuh meski sambil duduk. Axel bersiap-siap akan melanjutkan lirik.
“Di musim panas… merupakan hari bermain gembira… sang gajah.. Terkena flu.. Pilek tiada henti-hentinya.. Beruang tidur.. Dan tak ada yang berani ganggu dia.. Oh sibuknya.. Aku sibuk sekali…”
Gitar terus di petik hingga kedatangan pelanggan lain dekat mereka duduk. Dua gadis ayu yang memesan matcha.
Kini gantian Pip yang angkat suara
“Kalau begini.. Akupun jadi sibuk.. Berusaha, mengejar-ngejar dia.. Matahari menyinari, semua perasaan cinta, tapi mengapa, hanya aku yang dimarahi?” matanya melirik pada gadis berambut panjang dengan anak poni jarang-jarang. Begitu cantik. Lesung pipi kecil di pipi sebelah kiri terlihat melubang. Deret gigi rapi bersama tahi lalat diatas dab bawah mata kiri. Sejak tadi mencuri-curi pandang. Rey yang menyadari kontan menghentikan petikan gitar.
“Gas nggak? Siapa yang mau maju?” pertanyaan itu barangkali terdengar tanpa konteks. Tapi bagi ketiganya, itu adalah kode untuk mendekati gadis. Mendekat untuk menanyakan kontak atau sekedar mengajak berkenalan.
Pip angkat tangan.
“Kali ini serahin ke gua, gua suka sama yang rambut panjang” suaranya rendah nyaris terdengar mirip bisikan. Meja mereka begitu dekat meski tetap gagal mendengar obrolan satu sama lain.
Axel tepuk tangan, Rey menyemangati.
Pip mendekat, menarik kursi namun tak segera duduk.
“Boleh aku… gabung?” pertanyaan pertama, anak poninya menggantung membentuk koma di dahi. Pria itu tampan paripurna. Siapa yang akan menolaknya kecuali gadis gila atau kelewat waras hingga tahu jika pria tampan tak selamanya ‘benar’
Tentu saja di angguki antusias. Kedua gadis itu bahkan merona tanpa sebab–hanya dengan eksistensi.
“Kenalin, nama aku Pipa” katanya.
“Rucika?” jawab si gadis berambut panjang “nama lengkapnya Pipa Rucika?”
Pip menggeleng ramah “TMI ejekan itu udah basi banget, jadi cari yang lebih fresh. Nama kamu siapa?”
“Utari”
“Ica?”
“Ica darimananya?”
“Utari kan sama kek Utaran, kamu liat film India yang main female nya jelek banget? Yang sama si nanek Tapasya. Itu, Ica. Main Female yang kek beruk”
“Sempak Pip dobrak mbak. Dia nggak pakai CD” Rey berteriak tiba-tiba.
“Pip suka anus mbak!” Axel ikut berteriak.
“Kalau pacaran sama Pip, nanti kamu di nganu sampe ususnya keluar” Rey masih. Mereka bersahut–sahutan. Sementara Pip tersenyum seperti seorang kakak yang baik ketika adiknya terus bertingkah seperti kriminal.
“Kamu mau pacaran sama aku?” tanya Pip. Semudah itu mulutnya berlontar tanpa menghiraukan teriakan mirip satwa liar dari dua temannya di belakang. Si gadis menatap matanya, lalu bergantian pada dua orang yang mulai menirukan suara anjing, serigala, mengeong, meringkik meski tak paham apa konteksnya.
“AUUUUUUU….” Rey bersuara keras.
“Em.. ah.. Em.. ah.. Awok awok” Axel mendesah untuk alasan yang lagi-lagi tidak dimengerti.
“Mau” kata gadis itu cepat. Setelah itu Pip tepuk tangan. Ia menatap ke belakang pada dua orang yang masih bersuara.
“Guys, gua pacaran sama si Ica” jawabnya bangga. Lalu kembali menatap si gadis “jadi gini yang” panggilannya kontan berubah “kalau pacaran sama aku, kudu bisa berbahasa serigala karena aku ini adalah serigala alpha yang kejam dan bengis di takuti seantreo negeri. Mulai sekarang kita mengaum, oke?” sebenarnya, itu alasan utama mengapa tiga pemuda normal itu kesulitan mendapat pacar. Mereka terus bertingkah seperti itu–meminta pacar mereka ini dan itu di atas normal. Dan sayangnya, hingga hari ini, tak ada yang benar-benar sudi.
Si gadis belum menjawab sampai Axel dan Rey mendekat lalu mengangkat Pip ke atas meja dan memperlihatkan lubang telinga Pip dengan menyorotnya menggunakan senter ponsel.
“Liat mbak, telinganya mampet. Kebanyakan cole garing. Lu mau sama dia?” Axel yang memberi tahu, Rey yang memegangi.
Pip tidak melawan meski Rey terus memegangnya. Kondisi ini sering terjadi.
Reaksi para gadis selalu sama; berekspresi aneh, lalu pergi dengan wajah tidak percaya—jika ada orang-orang aneh yang tidak wajar seperti tiga pemuda itu. Setelah dua gadis itu pergi, mereka tertawa tebahak-bahak seperti hal itu adalah lucu. Ya, lucu bagi ketiganya. Selalu seperti itu hingga mereka benar-benar sulit mendapat pasangan.
Mereka kembali duduk ke bangku semula.
“Guys, gua membayangkan punya toko roti” Axel sudah mengatakan itu lebih dari seratus kali dan tidak pernah ada yang benar-benar menanggapi.
“Gua mau ke Singapura tahun depan setelah lulus” itu juga sudah dikatakan berulang-ulang seperti Axel mengatakan tentang toko roti.
“Gua ke Jepang” Rey ikut menjawab.
Axel menghela napas pasrah. Rey kembali memetik gitar.
Kita pernah bersama disini…
Lalui hari pernuh warna-warni..
Meski tak seindah pelangi, tapi kita pernah bermimpi..
Percayalah padaku, meski gelap malam, kamu nggak sendirian..
Dari semua bintang yang kutinggalkan, temani kau sampai akhir malam..
Suara Rey memenuhi rungu. Menggema hingga nyaring ke kalbu.
Pria itu membuka mata lagi. Air matanya mengalir lurus dari masing-masing sudut. Plafon putih itu lagi, suara denging mesin aneh atau pendingin–entah. Namun bunyinya memekakkan telinga. Suara gitar serta lagu merdu sepenuhnya hilang. Tetesan infus bergerak konstan tak kalah menyebalkan. Ia terbangun lagi meski setiap saat berharap mati. Sialan kematian yang tidak datang hanya karena ingin.
“Rey… Pip…” mulutnya bergerak meski suaranya tidak keluar. Air matanya makin deras. Aroma obat dan antiseptik sudah akur dengan penciuman. Pria itu meneleng ke samping saat suara lain tertangkap. Seorang dokter wanita tanpa jas putih. Namun pada kartu pengenal yang menggantung di dada, Axel dapat membaca jelas nama dan siapa wanita itu.
Psikiater.
“Mimpi lagi?” tanyanya ramah. Axel tidak ingin menjawab, tidak, tidak mau. Ia marah, meski sadar tak ada yang salah dengan si dokter. Namun ia hanya ingin marah karena dokter itu tidak mengabulkan permintaanya untuk mati.
“Aku resepin obat buat mimpinya, hm?” itu juga, Axel tidak tahu sejak kapan mereka akrab dengan sebutan informal.
“Dok..” suaranya keluar setelah susah payah “sekarang tanggal berapa?”
Dokter melirik kalender di samping nakas.
“30 desember 2030”
Axel mematung. Angkat 30 di ujung mengusiknya.
Apa yang terjadi diluar? Ia masih bernyanyi dan kebakaran terjadi tahun 2027. Apa yang terjadi tiga tahun belakangan? Mengapa waktu melompat-lompat tanpa ia sadar? Tidak ada yang menjelaskan jika ia terbaring di sana selama tiga tahun dengan mental amburadul. Dokter hanya mengatakan untuk minum obat lalu bertanya tentang perasaannya hari ini dan itu. Hanya itu.
Juga memberitahu pada orang tua Axel kondisi memprihatinkan yang membuat otaknya tidak stabil dan kesulitan membedakan kenyataan dan mimpi khas pengidap skizofrenia akut.
Kepalanya meneleng saat dokter menghalangi pandangan. Axel melihat ke arah pintu saat eksistensi lain tengah melambaikan tangan. Itu adalah Pip dan Rey, keduanya cengengesan khas meledek. Berdiri khas mengintip di ambang pintu.
“Dokter, temen saya suruh masuk” ia mendongak melihat dokter. Sang dokter ikut melihat ke pintu yang kosong. Pintu itu bahkan tertutup rapat.
“Hm, nanti aku suruh temen kamu masuk. Tapi kamu minum obat dulu, oke?”
Axel menggeleng.
“Kalau aku minum obat, aku akan kembali ke sana” Axel tahu. Jika ia menelan apa saja yang diberikan dokter, maka ia akan kembali bermimpi aneh. Mimpi yang memaksanya menghapus seluruh bayangan dua temannya. Maka, selama itu juga Axel tidak pernah benar-benar meneguk obat. Itu alasan ia masih bercengkrama dengan Pip dan Rey dalam mimpi. Meski menyakitkan, namun berhasil mengobati rindunya yang lebih mendera ketimbang kelelahan fisik nyata yang tak ia mengerti apa sebabnya.
Kakinya kaku, tubuhnya lemah. Entah sejak kapan. Selang infus tak pernah absen terpasang. Axel tidak tahu apa yang terjadi. Dunia begitu membingungkan.
Cerita ini bersifat fiksi dan ditulis untuk keperluan naratif, pembaca disarankan membaca tags dengan kewaspadaan dan lebih bijak dalam menyikapi antara fiksi dan fakta. Adapun semua tindakan buruk dan perilaku negatif yang ada di dalamnya tidak bisa membenarkan tindakan dan perilaku serupa di kehidupan nyata. Semoga, pembaca bisa menikmatinya sebagai karya, bukan sebagai dasar atau contoh dalam perilaku di dunia nyata. Maafkan jika menemukan typo. Kepada Allah saya mohon ampun
Ini bukan Prancis era Feodal Klasik di abad ke sebelas atau dua belas. Bukan lagi masa runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat, lalu setelah itu keamanan tercerai-berai. Perampok, perang kecil antar bangsawan dan ancaman luar menjadikan perlindungan lebih berharga daripada kebebasan. Maka, lahirlah ikatan personal yang sakral; Tuan dan Vasal.
Bukan, ini bukan soal hierarki dimana seorang raja memiliki tahta tertinggi serta kuasa mutlak yang secara simbolik pemilik seluruh tanah lalu membagi wilayahnya kepada para bangsawan besar. Tanah yang di sebut Fief. Sebagai gantinya, bangsawan bersumpah setia dan berjanji menyediakan tentara bila raja memanggil.
Di bawah bangsawan, berdiri para kesatria. Mereka adalah lambang kehormatan dan kekerasan yang terdidik. Mereka menerima tanah kecil, cukup untuk membiayai zirah dan kuda perang. Sebagai balasan, mereka siap menumpahkan darah demi tuannya.
Lalu lapisan terbawah, hidup para petani terutama serf. Mereka terikat pada tanah. Mereka adalah manusia yang terikat tak boleh pergi tanpa izin. Mereka membajak, menanam, memanen. Sebagian hasilnya menjadi pajak bagi tuan tanah. Hidup mereka keras, juga seperti konstan yang sistematis yaitu; musim tanam, musim panen, lonceng gereja, dan ketakutan akan paceklik.
Gereja sendiri berdiri sejajar dengan kekuasaan duniawi. Biara dan uskup memiliki tanah luas. Dalam bayangannya, feodalisme memperoleh legitimasi spritual seolah hierarki itu ceminan tatanan ilahi.
Sekali lagi, ini bukan hierarki yang itu, ini adalah hierarki sosial yang membedakan kedudukan DNA–dimana tiap manusia tidak bisa memilih. Orang-orang melabeli hierarki itu dengan sebutan Secondary Gender. Atau Gender kedua yang dimiliki manusia.
Sebagaian dari mereka menganggap ini adalah anugrah dari sang ilahi. Dan sebagian yang lain menjalaninya sebagai kutukan serta kesialan yang dibawa dari lahir sampai mati.
Jika merunut pada sejarah, tidak ada satupun orang-orang terdahulu yang bisa meverifikasi secara pasti dan aktual, kapan gender kedua ini teridentifikasi dan di tetapkan sebagai suatu kebjikan yang mempengaruhi strata sosial kehidupan manusia.
Jika secara umum laki-laki seharusnya hanya menjadi laki-laki dan perempuan diidentifikasi sebagai perempuan saja atau ada beberapa kaum non-binary gender, maka, tidak disini. Tidak di dunia ini.
Di tempat ini, ada laki-laki alpha, laki-laki omega, atau laki-laki beta. Lalu ada perempuan alpha, perempuan omega dan perempuan yang tidak masuk pada keduanya atau di sebut beta.
Sekali lagi, entah sejak kapan sejarah ini dimulai. Yang jelas, sudah seperti itu sejak lama sekali.
Jika mengacu pada sejarahwan di kelas-kelas sejarah, mereka terus mengulang—mengatakan jika mereka yang terlahir sebagai alpha dan omega merupakan ketentuan ilahi–dimana siapapun tidak bisa memilih dan ditakdirkan hidup seperti itu hingga mati. Semua itu dilabeli sebagai takdir.
Seperti strata sosial pada kehidupan saat ini yang diatur oleh hierarki. Dan dalam tingkatan ini, alpha menempati puncak teratas.
Alpha adalah gen superior. Mereka mendominasi dalam semua aspek. Rupawan, kecerdasan jauh di atas rata-rata manusia umum. Sekalipun seorang alpha terlahir miskin, maka dengan mudah bisa mendapatkan hak istimewa di hidupnya. Semua orang akan menempatkan alpha dalam kelas atas, menjunjung tinggi, serta tidak bisa di abaikan dengan berbagai alasan yang sangat masuk akal seperti; wajah yang begitu indah, kemampuan diri di atas normal orang-orang pada umumnya. Yang jelas, alpha memiliki jiwa pemimpin yang memancar dan siapa saja langsung akan mengenali dan sulit menolak karisma indah yang dibawa melalui getaran.
Terlebih secara fisik. Para alpha jelas menonjol. Biasanya mereka memiliki warna rambut yang lebih cantik berkilau dan warna mata yang cemerlang. Semakin dewasa seorang alpha, maka, semakin banyak bakat yang akan menonjol juga. Kebanyakan alpha adalah mereka yang percaya diri, berjiwa kepemimpinan besar serta tidak akan malu-malu apalagi menutup diri dengan melabeli diri dengan kepribadian introvert. Tidak, alpha tidak. Mereka adalah paling bersinar dan pemeran utama.
Kontras dengan omega—yang merupakan kasta terendah dari hierarki itu. Omega merupakan gen yang paling lemah, menyedihkan dan lebih mengenaskan dari pada umum–beta. Omega biasanya lebih sensitif, lebih perasa. Meski secara fisik, omega akan sama dengan beta, sama dengan manusia umum. Namun omega memiliki masa yang dinamakan heat ketika sudah baligh. Masa dimana omega siap menjadi bahan pembuangan sperma bagi laki-laki alpha, dan pemuas alpha perempuan jika seorang omega adalah laki-laki.
Saat masa-masa itu datang, mata omega bisa berubah warna menjadi violet lembut persis dalam masa kawin–heat. Itu yang paling menonjol dan menjadi pembeda yang kentara antara beta dan omega.
Sekali lagi kontras. Jika alpha akan terang-terangan dan tidak malu-malu, tidak menyembunyikan diri, omega cenderung lebih tertutup. Sebagai besar justru tidak mengakui jika diri mereka adalah seorang omega—demi keselamatan dan mempertahankan harga diri. Karena omega dalam masa heat adalah paling buruk. Mereka bisa di manfaatkan oleh para alpha seperti di jadikan pelacur dan diperkosa secara tidak manusiawi.
Tubuh omega dianalogikan sebagai narkoba oleh para alpha. Sekali saja alpha menjamah omega, maka rasa kecanduan akan terus mengalir seperti sakau jika berhenti mendadak.
Namun mirisnya, dikatakan bahwa alpha dan omega adalah pasangan yang saling tarik-menarik—digariskan oleh sang ilahi sejak kelahirannya.
Feromon di tubuh alpha dan omega, biasanya merespon satu sama lain. Berbeda dengan beta yang tidak memiliki dan tidak dapat mencium feromon baik milik alpha atau omega.
Lemah secara fisik, perasaan, dan semua hal.
Heat terjadi ketika omega memasuki masa baligh. Saat masa itu datang, maka seorang omega akan merasa ‘panas’, napas terasa berat, lemas, tidak berdaya dan terangsang hebat hanya dengan pemicu sangat kecil. Benar, heat artinya seorang omega akan melepas aroma feromon yang berlebihan yaitu aroma yang hanya bisa di baui alpha. Aroma yang memberitakan jika seorang omega sedang ‘heat’. Persis seperti aroma yang menarik para alpha mendekat untuk menyetubuhi. Biasanya ditandai dengan tubuhnya lemas, gerah, dan terangsang hebat tanpa konteks. Di sanalah peran alpha jahat yang akan menjadikan momen itu sebagai pelepas birahi. Tidak sedikit para omega perempuan yang hamil entah anak siapa dan di kenai sanksi masyarakat. Dunia memang terlalu kejam bagi kasta terendah.
Mereka kadang dijadikan pelacur, dijadikan budak seks di jalan-jalan. Saat seorang omega tak memiliki uang untuk membeli obat pereda heat sekaligus menutup bau feromon—yang dengan itu bisa menekan gejala dan semua hal yang berhubungan dengan kesialan menjadi kasta terendah, maka, hal-hal mengerikan itu tadi yang akan mereka dapati. Di perkosa, di lecehkan dan hal-hal sial lainnya. Ya, harga obatnya sangat mahal dan tidak semua omega sanggup membeli. Mereka, omega kaya raya, masih bisa mengakali dengan obat, sementara yang miskin, kehidupan bagai neraka.
Obat menekan. Maka, para omega bisa hidup berdampingan dengan alpha dan beta tanpa merasa terancam.
Alpha pula memiliki aroma feromon. Aroma yang wangi meski tidak sesemerbak omega dan tidak sekuat itu.
Sama seperti ketika alpha membaui feromon omega yang sedang heat. Saat omega heat dan ada alpha di sekitarnya, omega juga akan mencium aroma itu, aroma alpha yang semakin membuat terangsang. Dua-duanya adalah takdir tuhan untuk saling mendekap dan saling cinta dalam kasih tuhan. Namun sayangnya, para alpha kebanyakan tidak berminat pada cinta. Sebagian besar mereka hanya akan berhubungan seksual tanpa perlu repot-repot membangun hubungan rumit. Toh, di mata mereka, omega adalah pelacur. Dan jika ingin memiliki pasangan, para alpha berkelas biasanya hanya akan menikah dengan sesama alpha, meski nafsu mereka jauh lebih tinggi terhadap omega.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Hukum itu yang membuat Rin terus menyembunyikan diri. Ia tidak tahu, tidak mengerti, dan sampai detik ini, tak berani bertanya pada siapapun dan memilih menyembunyikan identitasnya serapat mungkin–hingga tidak ada, tidak ada satupun manusia disekitarnya yang tahu. Mungkin saat ini, tidak tahu, Rin berusaha tidak memikirkan hal-hal tidak terduga kedepannya. Meski ia sudah memiliki rencana.
Ayah dan ibunya adalah dua alpha sangat kuat. Mereka juga orang penting di negeri ini. Orang tersohor yang dihormati dan disegani layaknya bangsawan kaya raya. Kekayaan orang tua Rin tidak akan habis meski ia menganut hidup hedonisme ekstrem apalagi hanya biaya remaja berusia dua puluh tiga tahun yang berfoya-foya dengan teman-teman atau wara-wiri ke luar negeri untuk hal-hal tidak perlu alias menghamburkan uang. Tidak, tidak akan habis. Demi obat heat yang di sembunyikan dibalik marmer tepat di bawah tempat tidurnya.
Kakaknya Jay, seorang alpha yang kini menjadi satu-satunya keluarganya yang tersisa. Ya, kedua orang tua Rin telah wafat beberapa tahun yang lalu. Dua alpha terkuat dalam negeri, yang mengayomi serta memberikannya kehidupan mewah dan sangat mencintainya—telah berpulang ke pangkuan ilahi lepas kejadian tidak terduga dan menjadi luka terdalam baik bagi Rin, maupun Jay.
Kejadiannya di Prancis. Kedua orang tua Rin tewas di tembak musuh bebuyutan yang telah lama melakukan gencatan senjata.
Tentu saja masalahnya tidak jauh — berkutat pada persaingan bisnis yang makin panas, bergesekkan hingga percikan api membuat semuanya meledak. Rin tidak terlalu paham, Jay yang tahu semuanya. Dan hingga saat ini, Jay yang meneruskan semuanya. Benar-benar semuanya. Kebencian, musuh, hingga seluruh aspek yang di wariskan.
Jay Alpha tertinggi. Kakaknya, alpha dewasa yang sangat menonjol dengan jiwa kepemimpinan begitu kuat. Dari perusahaan besar yang menggurita raksasa, hingga musuh yang di turunkan dari ayah dan ibunya. Semua jatuh begitu saja ke tangannya tanpa tendeng aling-aling.
Jay dan Rin. Keduanya hidup akur dan harmonis meski kedua orang tua mereka telah pergi. Jay adalah tempat pulang dan bersandar, tempat paling aman dari kenyataan tentang identitasnya yang sebisa mungkin ia tutupi. Benar, Jay merupakan benteng paling aman baginya, bagi Rin. sekaligus menjadi pria yang ia takuti dalam bayangan yang lain.
Jay menjadi malaikat sekaligus monster waktu. Ia tidak tahu bagaimana menggambarkan kakaknya yang begitu besar, kokoh, keras, pintar dan sangat tampan. Sosok alpha sempurna yang jelas mewarisi darah alpha yang kental.
Lalu, kenapa dua pasang alpha itu bisa melahirkan seorang omega cantik sekaligus lemah seperti dirinya?
Rin mencari jawaban dan hanya menemukan kemungkinan paling mengerikan seumur hidupnya. Maka, sejak dua tahun setelah baligh, Rin tidak lagi berusaha mencari tahu alasannya terlahir sebagai omega sementara dua orang tua dan kakaknya adalah alpha kuat yang begitu tangguh dan keren. Dan hingga keduanya tewas, mereka—orang tua Rin tidak tahu, tidak membahas atau bertingkah seakan ada hal-hal yang cenderung aneh pada anak bungsu mereka. Keduanya hanya hidup seperti biasa—dan seperti itu hidup terus berjalan hingga mereka tewas. Rin bersumpah mencintai orang tuanya, sebesar ia mencintai Jay.
Rin tidak pernah hea karena obat tidak pernah terlambat ia konsumsi, tidak pernah sekalipun ketika ia bahkan mencatat setiap dua bulan sekali—dimana tubuhnya akan lemas, gerah, terangsang hebat. Tidak, Rin tidak akan mengambil resiko dengan membiarkan gejala itu menyerang dulu. Maka, ia akan meneguk obat dua minggu sebelum gejala datang. Jika di biarkan terlambat sedikit saja, aroma feromon nya jelas akan terendus hingga seantero mansion. Itu mengerikan.
Jay alpha, itu mutlak. Sementara para pelayan, tukang kebun, pengawal dan semua manusia yang bertugas di mansion adalah beta. Mungkin ada satu dua alpha, namun Rin tidak perhatian.
Ia adalah gadis kemayu. Gadis pemalu yang memiliki wajah secantik boneka. Matanya bulat besar, kulitnya sangat putih mulus, tubuhnya kecil dengan bagian dada dan bokong yang membulat pas. Tidak terlalu besar atau kecil. Tubuh itu kelewat sempurna–didapat dari asupan gizi dan olahraga. Badan ranum khas gadis baru gede. Di perlakukan layaknya putri raja, Rin berhasil tumbuh seperti bidadari yang tak tersentuh. Tiap inci kulitnya seperti porselen berharga, begitu kecil dan rapuh. Jay sangat mencintai adiknya, begitu mencintai makhluk kecil itu. Pun, tidak ada yang tahu jika gadis cantik bagai dewi itu adalah seorang omega.
Rin terlalu cantik untuk menjadi omega. Sangat, kecantikannya khas para alpha. Rambutnya berkilau, matanya hitam cemerlang meski pernah satu kali dan itu dulu sekali saat awal-awal pubertas — ketika gejala heat datang dan ia terlambat meminum obat, Rin melihat matanya berwarna violet lemah. Pangkal dadanya membesar dan vaginanya basah tanpa alasan—selain alasan heat sialan itu tadi. Mungkin tidak akan ada yang menduga, wajah kelewat cantik itu bukanlah ras terkuat.
Tidak akan ada yang curiga meski ia cenderung pemalu, pendiam, begitu mungil dan seperti akan retak jika di genggam.
“Dimana Rin? Kenapa belum turun?” mata tajamnya menyorot pada tiap pasang mata yang tertunduk. Para pelayan yang berbaris di sepanjang meja makan saling pandang. Hingga salah satu dari mereka buka suara.
“Nona Rin sedang tidak enak badan. Dia bilang ingin makan malam dalam kamar” Jay mengerutkan dahi. Tubuh tinggi dan besar itu membuat kursi terlihat menciut. Di susul derit kaki kursi yang beradu dengan marmer, pria itu bangkit dan meninggalkan ruang makan begitu saja. Langkahnya sudah pasti. Ia pergi ke kamar adiknya.
Langkahnya menjauh–menderap meniti anak tangga pertama. Malam ini udara terlalu dingin. Akhir musim gugur membawa angin terasa lebih tajam dan kering. Pohon-pohon hias di luar sudah hampir seluruhnya gundul. Embun bisa membeku saat pagi. Namun salju belum turun. Suhu tidak cukup stabil.
Pertama, ia mengetuk dengan penuh kelembutan. Mengidentifikasi diri pada adik kecilnya di dalam–meski Rin bukan anak kecil lagi.
“Hm, masuklah” sahutan pelan dari dalam sana membuat Jay mendorong pintu tinggi yang menjulang. Kamar itu nyaris tak berubah sejak dulu. Kamar dengan nuansa merah muda yang berkombinasi dengan putih gading. Namun ketimbang meneliti ruang, mata itu langsung mendarat pada rebah nyaman–sang adik di atas sofa. Mok berisi coklat panas dan buku membentang sementara bantal menjadi alas samping rebah. Gadis itu terlihat baik-baik saja.
Jay menyingkirkan bantal di belakang si gadis. Ia merebahkan bokongnya di sana sementara Rin tidak mengubah posisi.
“Pelayan bilang kau sakit” matanya fokus pada dress tule berlapis dengan inner satin berwarna krem lembut. Jenis-jenis pakaian favorit adiknya dan memang sangat sempurna saat di kenakan.
“Aku tidak sakit, Jay. Tapi aku sedang diet” baru setelah itu, Rin menutup bukunya, membenarkan duduknya dan meraih mok lalu menggenggamnya dengan dua tangan. Ia melirik sang kakak dari samping. Hidung tinggi, rahang tegas begitu simetris dengan helaian rambut halus yang ditata sangat pas. Tubuh pria itu menyesaki sofa minimalis. Sangat besar.
Mata Jay turun pada cairan yang mirip genangan lumpur lalu bergantian pada mata si gadis.
“Kau mengatakan diet sembari menggenggam segelas coklat?”
“Ini bukan coklat, ini ramuan”
“Itu coklat dan kau tidak perlu berdiet. Kenapa sibuk menguruskan tubuh? Apa yang paling mengganggu dari lemak yang begitu lucu dari tubuhmu?” kata-kata itu membuat Rin menatap tajam. Matanya memicing beradu dengan legam Jay yang seteduh pepohonan rindang di musim panas.
“Apa yang lucu dari lemak? Apa kau sedang mengolok-olok?” masih, mata mereka masih beradu. Rin mengerutkan dahi.
“Aku tidak, kenapa aku harus mengolok-olok? Kau cantik dan tubuhmu ideal. Berhenti melakukan hal-hal yang menyakiti diri dan sekarang makan malam denganku”
“Tidak mau, aku berdiet dan ini bukan coklat”
Terdengar helaan napas berat dari Jay. Aroma musk berkombinasi entah dengan apa—yang jelas, Jay memiliki wangi khas yang begitu memikat. Rin memperhatikan kakaknya beberapa saat. Wajah tampan itu selalu membuat siapa saja betah berlama-lama memandang.
“Kalau begitu. Aku akan membawa makanan, lalu mengunyah makanan dan memasukkan makanan hasil kunyahanku dalam mulutmu. Rin, aku serius. Bayangkan aku mengunyah telur setengah matang”
“Hentikan. Berhenti mengatakan hal-hal menjijikan”
“Aku serius”
“Aku sudah dewasa, kenapa kamu terus memperlakukanku seperti anak kecil, huh? Aku W-A-N-I-T-A D-E-W-A-S-A. Aku tau kapan aku lapar, kapan aku harus makan karena sensor motorikku masih bekerja sangat bagus. Sinyal otakku sangat fresh. Aku tidak akan mati hanya karena melewatkan makan malam” pupilnya melebar. Manik itu seperti akan mencuat keluar lalu menyadarkan alpha dewasa di depannya—yang ditakuti para pelayan, rivalnya, dan para pesaing kecil-kecil di luar sana jika ia adalah gadis dewasa.
“Apa kau baru saja mengatakan DEWASA?” pertanyaan itu membuat Rin meninju bisep kakaknya keras. Sekeras kepalan tangannya yang mirip tangan kucing. Jay melihat pada kepalan, lalu saat kecil itu menabrak otot bisepnya yang sekeras dinding. Tentu saja meremehkan “lihat, kepalan tanganmu bahkan sangat rapuh. Kau kurang makan, sayang. Ayo makan, setelah ini, aku akan mengajakmu jalan-jalan ke luar. Langit di penghujung musim gugur sangat bagus. Tapi harus hati-hati dengan cuacanya”
“Aku tidak suka langit musim gugur kecuali ada mie instan dalam cup”
“Kau baru saja mengatakan tentang diet. Lalu cup mie? Itu penghinatan, Rin”
“Baik, aku mengantuk”
“Satu cup mie, tidak lebih” keputusan Jay membuat Rin tersenyum lebar, ia meletakkan mok lalu memeluk kakaknya dari samping. Rambut dengan aroma stroberi memenuhi pernapasan. Pita kecil pada dua sisi rambut terlihat turun sedikit. Sangat halus, sangat wangi dan sangat bersih. Rin adalah gadis paling cantik yang pernah ia lihat seumur hidupnya.
Jam terbangnya tinggi. Begitu banyak orang yang ia temui, banyaknya wajah-wajahnya yang singgah. Namun hingga detik ini, Jay tidak pernah benar-benar menemukan jenis kecantikan yang mengalahkan adiknya. Kadang, ada malam-malam dimana kepalanya seperti penderita gila. Ia kerap memikirkan seperti apa nantinya–pria yang akan datang lalu meminta adiknya untuk di peristri. Memikirkannya saja, Jay berhasil membanting vas bunga seharga gaji setahun satu pelayannya di rumah.
Sialan siapa saja yang akan menjadi kekasih adiknya.
“Kau tau, Jay. Aku melakukannya untuk ini. Pelayan terus melarangku makan mie dalam cup. Mereka berkata seolah mereka adalah dokter, bahwa, aku akan mati hanya dengan menikmati satu cup mie dengan rasa mirip surga dunia, memuakkan” keduanya turun setelah Rin sepakat menggunakan baju hangat.
“Aku tau” jawab Jay ringan. Mereka sampai di meja makan dan pria itu mengambil coat lalu mengabarkan bahwa makan malam di tunda. Dan meminta mie cup. Ia juga akan keluar hanya berdua dengan adiknya. Tanpa mobil, tanpa pengawal, tanpa drone. Hanya berjalan-jalan di sepanjang pinggir sungai sembari menikmati malam musim gugur.
“Tapi jika kau menggunakan alasan diet, tidak enak badan, atau sialan apapun lagi untuk mie cup dan melewatkan makan malam, aku bersumpah akan mengunyahkan telur mentah ke mulutmu”
Mereka sampai halaman depan. Udara dingin langsung merangsek. Suhunya ada di sekitar dua belas derajat dengan angin besar yang menerbangkan helaian rambut ke sana sini. Mie cup sudah berada di tangan si gadis. Satu pelayan yang memberikan setelah Jay meminta. Rin memberikan senyum penuh kemenangan pada pelayan tersebut.
“Aku punya banyak ide untuk—tidak menelan menjijikan telur mentah dari mulutmu. Hentikan, Jay, aku sedang makan” keduanya jalan beriiringan. Cup berisi mie dengan aroma memikat membuat Jay menarik napas dalam untuk membaui.
“Apa seenak itu?” pria besar di samping melongok pada isi mie yang terlihat penuh. Uapnya menari-nari begitu menggoda.
“Kau akan kecanduan saat satu suap saja meleleh dalam mulutmu” gadis itu menarik mie panjang yang kontan hilang dalam mulutnya. Suara nikmat itu membuat Jay menelan ludah.
“Apa aku boleh minta?” itu adalah permintaan paling menyedihkan sepanjang hidupnya.
“Ya, tentu saja. Tapi cup nya saja” Rin terbahak-bahak hingga batuk dan nyaris tersedak. Jay yang–entah sejak kapan di tugaskan membawa air mineral dalam botol, kontan membuka dan di sodorkan pada adiknya.
“A-aku uhuk.. A-aku.. Uhuk-uhuk” gadis itu berjongkok, tak sanggup melanjutkan ocehannya sementara Jay memijat tengkuk sang adik pelan.
“Itu karma” kata Jay meledek.
“Dengar, uhuk” Rin berdehem “dengar, Jay. Aku akan mengabarkan pada orang-orang, pada kolegamu, pada pesaingmu, pada orang-orang penting dalam rapat serta gadis-gadis penggemarmu bahwa kau makan mie cup instan. Hey, itu akan jadi berita besar. Nanti akan ada artikel di internet yang menyebutkan ‘Jay, alpha dari perusahaan bla bla bla memakan mie cup dengan merek bla bla bla. Lalu dalam satu malam, penjualan mie membludak dan mengakibatkan perusahaan mie cup sukses besar’ lalu penggemarmu akan memosting foto mie cup yang sama dengan yang kau makan di akun instagram mereka” Rin tertawa.
“Aku tidak tahu jika aku seterkenal itu. Aku memiliki impact begitu besar” pria itu mendengus. Ia kembali mengantongi air mineral dalam coatnya. Turut pula memasukkan dua tangannya ke sana.
“Tentu saja, kau ini bodoh atau bagaimana? Kau adalah pria paling terkenal nomor satu di Madrid, aku tidak akan membahas Felilape VI atau Pedro Sanchez. Dan seharusnya, di malam musim gugur yang indah ini, kau sedang bersama kekasihmu. Minum wine sambil menatap langit hingga buta” Rin berhenti tertawa dan kembali fokus pada perjalanan dan mie. Gadis itu menyeka hidungnya yang tiba-tiba mampet. Namun tubuhnya hangat karena kuah yang hangat.
Jay tidak menjawab kata-kata adiknya. Namun matanya lurus ke samping–tempat dimana hidung tinggi, bulu mata lentik yang terlihat begitu menawan dari samping, tubuh kecil, serta bibir tipis yang selalu basah. Pria itu menelan liur. Entah untuk mie dalam cup, atau hal lain. Ia tidak ingin memperjelas yang abu-abu.
“Jay, astaga. Tiba-tiba aku berpikir bahwa kau…” gadis itu menggantung kalimatnya. Ia berhenti sementara Jay harus berbalik untuk mendengar ocehan adiknya yang tertunda.
“Kau pria berusia 32 tahun yang single. Itu mustahil terjadi pada pria normal. Aku mengatakan ini setelah patah hati karena idola ku–seorang boy band dari Korea ternyata berkencan. Padahal itu normal. Usianya 29 tahun ini. Tapi kau…” matanya penuh selidik “apa kau seorang alpha yang sedang jatuh cinta pada omega? Atau pada omega laki-laki? Sial, itu terburuk. Atau jangan-jangan sesama alpha laki-laki?” ocehan Rin kelewat cepat hingga mirip suara musik yang di cepatkan dua kali. Jay meringis dengan ekspresi paling khas saat mereaksi tiap perkata adiknya yang selalu saja membuatnya berpikir bahwa dunia ini tidak melulu berkutat pada kerja. Bahwa, ada gadis secantik bidadari dengan ocehan yang selalu saja berhasil membuat keningnya mengerut.
“Dengar, Jay. Aku..” Rin menunjuk dirinya sendiri “aku selaku satu-satunya keluargamu, dengan lantang dan dengan kesadaran penuh akan mengizinkanmu berkencan dengan siapapun. Dengan laki-laki, dengan omega atau siapapun asal jangan nenek-nenek, istri orang atau paling buruk anak-anak. Aku satu-satunya keluargamu dengan pikiran terbuka dan modern, akan sangat menerima pasanganmu. Aku ini tipe ipar yang tidak akan menyulitkan. Aku baik hati, percayalah. Jadi, seandainya alasanmu masih melajang di usia ini adalah pasanganmu–berbeda dari standar tinggi yang di tetapkan dalam keluarga kita, maka, aku orang pertama yang akan memutus standar itu”
Jay masih mematung. Memperhatikan bagaimana dua bibir cantik itu berceloteh kelewat enteng. Saat Rin kembali menyesap kuah mie, Jay baru berdehem.
“Aku bangga memiliki adik–yang bisa memutus standar tinggi di keluarga kita. Tapi aku” Jay gantian menunjuk diri sendiri “aku tidak akan sudi memiliki adik ipar seorang omega laki-laki yang lemah. Seorang alpha pengecut kelas rendahan, seorang pria miskin dan tidak berkelas. Aku ingin ipar alpha dari keluarga kaya raya juga. Yang setara denganku. Yang bisa membahagiakan adikku karena adikku memiliki gaya hidup hedonisme ekstrem kecuali mie cup instan”
Kata-kata itu membuat Rin berhenti mengunyah.
Si gadis kontan diam dengan ekspresi yang gagal diterjemahkan. Lalu dengan susah payah, Jay melihat tenggorokan kecil itu menelan. Rin menarik hidung sebelum menunduk. Tiba-tiba saja mimiknya berubah dan Jay tidak tahu apa yang salah.
“Rin, jangan bilang kau sedang menjalin hubungan diam-diam di belakangku dengan kandidat mengerikan yang baru saja kusebutkan” terkaan Jay sangat masuk akal. Namun Rin tidak punya pacar, tidak pernah dan tidak akan. Gadis itu sudah bersumpah tidak ingin menikah dan akan melajang sampai mati. Kabar itu di gembor-gemborkan sejak si gadis menginjak remaja. Tepatnya saat transisi masa pubertas. Entah apa yang menjadi pemicu pernyataan itu dulu keluar dari mulut bocah berusia lima belas tahun.
Jika merunut pada pernikahan kedua orang tua mereka. Ayah dan ibunya sangat harmonis. Tidak ada satu hal pun dari dalam rumah yang bisa menjadi pemicu trauma untuk menjalin hubungan. Namun Rin–entah mendapat ilham darimana langsung dengan tegas menyatakan tidak akan punya pacar, tidak menikah, dan tidak akan menjalani hubungan asmara dengan siapapun pada kedua orang tuanya dan pada Jay.
Gadis itu sibuk jatuh cinta pada laki-laki yang menari dalam layar sambil bernyanyi dan menggunakan riasan. Namun jika di tawarkan untuk di datangkan sang idola oleh Jay, Rin juga akan menolak. Katanya, ia hanya ingin mengagumi dari jauh. Atau entah, kadang, ia tidak mengerti dengan pola adiknya.
Malam di Madrid pada akhir musim gugur. Udara agak lembab–dingin. Di sepanjang Madrid Rio, lampu-lampu taman berpendar kekuningan, memantul di permukaan sungai Manzanares yang tenang. Airnya mengalir perlahan dengan suara gemericik rendah yang hampir menyatu dengan desau angin. Suara gemericik yang berhasil menjadi latar ketika Rin, si gadis cantik jelita dan cerewet itu mendadak diam. Benar-benar diam. Jay sudah bertanya, sudah meminta maaf jika kata-katanya ada yang tidak cocok dan terus mendesak agar si gadis memberitahu alasan kenapa ia menjadi pendiam. Namun Rin hanya menggeleng. Cup mie sudah mendarat sempurna dalam tong sampah. Kini, keduanya hanya berdiri di sisi sungai yang indah tanpa suara, tanpa obrolan. Hening.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Sadar bahwa diri adalah seorang omega–yang mungkin saja akan dibenci jika identitasnya terbongkar. Atau diusir secara menyedihkan dan berakhir di jalananan, Rin sudah mempersiapkan kemungkinan itu–finansial. Ia menabung di berbagai instrumen. Sambil menyisihkan sisa foya-foya untuk kemungkinan paling buruk itu. Meski ia sadar, jika hal itu sampai terungkap, Jay—yang merupakan alpha dewasa paling ganas yang pernah ia kenal seumur hidupnnya—pasti akan mencabik-cabiknya dengan cara lebih brutal daripada predator pada mangsanya. Ia tidak tahu, namun Jay adalah tipe alpha yang benar-benar membenci kaum rendahan.
Jay adalah pria yang berambisi. Bersaing dengannya begitu berat. Kakinya sangat kokoh dan ia akan menggigit lawan tanpa di lepaskan sebelum lawannya mati. Seperti itu orang-orang menggambarkan Jay—yang mau tidak mau, Rin juga harus menerima kenyataan bahwa satu-satunya keluarganya itu—mungkin saja nanti akan berbalik membencinya dengan mata yang sama—ketika Jay melihat musuh atau omega-omega rendahan.
Membayangkannya saja membuat sedih. Maka, itu alasan mengapa Rin kontan menjadi pendiam saat Jay membahas omega lemah, omega rendahan yang menyedihkan. Karena memang begitu menakutkan ketika dua orang tua dan satu saudaranya adalah alpha. Sementara ia, tidak tahu darimana asal muasalnya—menjadi omega. Itu alasan pokok Rin sayang sekaligus takut pada kakaknya. Di perparah oleh kematian pengasuhnya–yang berstatus sebagai omega dan berhasil masuk ke rumah ini setelah rutin mengonsumsi pil heat. Jika mendengar cerita dari para pelayan. Pengasuhnya tewas ketika Jay tau bahwa sang pengasuh adalah omega dari kasta terendah. Tentu saja cerita dari mulut ke mulut yang ia telan mentah-mentah. Rin sendiri tidak berani bertanya pada Jay. Lagi pula bahasan itu kelewat berat, ia takut untuk banyak alasan jika menyangkut tentang hierarki gender.
Mereka dekat, hangat. Justru disana bagian mengerikannya. Rin takut, ketakutan yang tidak akan pernah biasa ia bagi dengan siapapun. Jay merangkulnya, kelewat menyayanginya hingga menganggapnya anak-anak. Padahal sudah tidak relevan. Membayangkan Jay membuangnya dengan cara hina membuat Rin ketakutan.
Dan hari ini setelah malam itu, Rin pergi ke tempat dimana ia biasa mendistraksi diri. Melupakan bagian menyedihkan menjadi seorang omega. Yaitu tempat dimana ia akan merasa beruntung dilahirkan dari keluarga kaya raya–dimana ia bisa dengan mudah membeli obat heat. Dan di tempat ini–tempat penampuangan para omega dari korban kejahatan seksual maupun kejahatan tidak adil lainnya, Rin hadir di tengah mereka meski menggunakan pakaian mirip nenek-nenek dengan masker dan topi. Wajahnya sama sekali tidak terlihat, bahkan kulitnya yang seputih mutiara.
Ruangan itu berada di bawah tanah. Entah siapa yang menemukan pertama kali dan menjadikan tempat itu sebagai penampungan. Eksistensinya nyaris di tengah hutan yang berjarak sekitar 30 kilometer dari mansion mewah orang tuanya.
Rin ada di sana. Membagikan makanan, stok obat heat serta kebutuhan-kebutuhan lainnya. Disana, para omega memanggilnya dengan sebutan Dewi Aphrodite. Meski wajahnya tertutup, namun aura bangsawan serta kecantikan itu tetap memancar. Rin tidak tahu apakah yang mereka bicarakan tentang ‘aura bangsawan’ itu relevan mengingat ia adalah omega. Sama seperti semua penghuni di dalam sini. Rin juga membayangkan jika suatu hari nanti Jay tau jika ia adalah omega, maka, ia akan terbaring di sini. Di alas-alas kasur lembab mencari perlindungan.
Setelah keluar dari sana. Perasaanya agak membaik.
Tidak ada yang mengikuti, tidak ada pengawal, Rin berhasil meyakinkan semua orang jika ia sedang ingin sendiri bersama buku dan cemilan.
Namun saat berhasil keluar, ponselnya berbunyi. Lantas rentetan pesan, panggilan tak terjawab, serta telpon dari kakaknya membuat ponsel itu begitu ramai. Jelas, di bawah sana tidak ada sinyal, tidak terdeteksi map–atau belum. Yang pasti, tempat itu aman untuk beberapa waktu bagi para korban yang sedang dalam masa pemulihan pasca kejadian-kejadian mengerikan.
“Halo” suara Jay terdengar rendah, pelan dan lembut “Rin, kau dimana? Apa masih marah?”
Sesaat Rin tidak langsung menjawab. Ia menaiki taksi. Dan setelah di dalam mobil, gadis itu baru berdehem “aku tidak marah” katanya ringkas.
“Kau tidak marah, tapi aku memikirkanmu sampai tidak bisa tidur. Apa yang harus kulakukan?”
“Apanya? Aku sedang piknik dan menikmati akhir pekan. Kamu berpikir apa? Sudah kubilang aku gadis dewasa. Aku tidak mudah merajuk”
Kata-kata terakhir berhasil membuat Jay tersenyum. Jika sudah mengoceh agak panjang, artinya gadis itu sudah kembali pada setelan awal.
“Mau pergi denganku? Ayo main” tawar sang kakak.
“Kau ini kurang kerjaan kah? Carilah wanita dan pergi kencan. Pria penting di Madrid terus mengajak adiknya bermain. Seperti pria kesepian yang menyedihkan”
“Aku tidak menyedihkan. Aku hanya…” hening sesaat. Jay sedang menyusun kata “aku hanya ingin bermain dengan adikku, apa itu masalah?”
“Tidak, itu tidak masalah. Tapi aku tidak sudi”
Jay tertawa lagi “ehey.. Ayolah.. Begitu banyak penggemarku yang rela antre berminggu-minggu hanya untuk bisa melihatku di bandara. Seperti.. Siapa itu, boyband favoritmu yang menggunakan riasan”
“Kau tidak seterkenal mereka meski kau terkenal. Jadi berhenti maskulinitas hegemonik. Kau ketinggalan zaman sekali. Rasanya seperti aku hidup dengan manusia purba yang gila kerja tanpa tahu perubahan zaman” gelak Jay terdengar lagi. Pria itu sangat mudah tertawa saat bersama Rin. Hanya saat bersama Rin.
“Ya, aku manusia kolot yang gila kerja dan gila pada adikku. Maka, pulanglah dan main bersamaku”
Terdengar erangan kesal dari Rin sementara Jay lagi-lagi hanya terbahak-bahak “bawa wanita atau pria, berkencanlah, dasar Jay sinting!” lantas ia mematikan sambungan di tengah gelak kakaknya yang menggelegar.
Di momen-momen itu, terkadang Rin lupa bahwa Jay memiliki sisi seorang alpha dengan penuh kuasa yang membenci hierarki terendah. Jay seperti–tidak seperti itu. Namun ketakutan, kekhawatiran tetap membelenggu–membuatnya bisa kerap menjadi pendiam, sesekali menjaga jarak. Meski paling banyak adalah berpelukan manja dengan kakaknya sambil bercanda.
Satu jam kemudian, ia masuk ke dalam ruang kerja sang kakak dengan tangan memegang tembakan air. Jay tidak menyadari eksistensi yang mengendap-endap tanpa alas kaki.
Tubuh besar pria itu duduk dan bersandar pada belakang kursi. Dua kakinya naik–menyilang di atas meja sementara tangannya melipat di dada. Matanya tertutup. Pria itu menunggu adiknya pulang di ruang kerja hingga tertidur.
Rin, hanya mengenakan dress krem tipis. Tanpa bra, hanya celana dalam. Kakinya juga bertelanjang, rambutnya panjang menjuntai begitu lembut dan wangi. Tangan kecilnya menggenggam senapan air yang siap di tembakkan.
Dan di tembakkan.
Tepat ke mulut Jay yang setengah terbuka.
Pria itu kaget setengah mati dan bersiap akan mengambil pistol sungguhan dalam laci. Beruntung, matanya langsung menangkap sang adik yang tertawa terbahak-bahak. Rin tampaknya baru selesai mandi. Kaget namun langsung lega.
“Aku sudah memotret caramu tidur. Akan kuunggah di akun instagram dan memberitahu para penggemarmu bahwa pria tampan kaya raya idaman mereka ini tertidur seperti monyet” Rin masih tertawa.
“Asal kau tau, para penggemarku makin mencintai sisiku yang itu”
“Tidak mungkin”
“Coba saja”
Jengkel karena gagal mendapat kartu as yang bisa di gunakan untuk mengancam kakaknya jika ia sedang menginginkan sesuatu, Rin kembali menembakkan air. Kali ini pada dada kakaknya, pada wajah, dahi, lengan dan dimana saja. Dalam waktu singkat, pria itu basah kuyup. Kaos biasa yang basah membuat lekuk tubuhnya tercetak.
Dada bidang dengan perut sempurna hasil pahatan olahraga. Tubuhnya menjulang besar hingga Rin harus mendongak saat melihat kakaknya. Gadis itu akan kabur setelah stok air dalam tembakan sudah habis. Rencananya akan diisi ulang.
Gadis itu berlari mengelilingi meja ruang kerja demi menghindari tangkapan kakaknya. Keduanya tertawa seperti anak kecil—seperti mereka dulu ketika berebut sesuatu. Rin terengah-engah. Ia berdiri berseberangan dengan kakaknya dengan sekat meja kerja yang berantakan. Laptop menyala terguyur air dan semuanya acak-acakan. Tidak, Jay mustahil akan memarahi bocah itu. Ia malah ikut kesenangan dan terus akan mengejar.
“Tunggu!! Tunggu sebentar!” Rin terengah-engah. Napasnya memburu dan keringat membasahi dahi hingga menetes ke leher. Sementara kakaknya terlihat baik-baik saja. Jay lebih mirip pemanasan.
“Bagaimana jika kita berdamai?” tawaran itu di ajukan setelah wilayah lawan porak-poranda. Tentu saja Jay tidak terima. Ia menggeleng–tanda penolakan. “Oh ayolah.. Aku harus mengisi ulang peluru air. Kekuatanku hanya bergantung pada senjata ini” ia mengangkat senjatanya “sekarang kosong. Mustahil aku melawanmu dengan tangan kosong. Aku ini seorang musafir jauh yang hanya butuh perlindungan” kalimatnya menjadi patetik. Gadis itu meringis. Dadanya naik turun. Ujung puting tercetak jelas membuat kakaknya tidak fokus sejak tadi.
Jay berusaha keras untuk tidak melihat ke sana.
“Maka, menyerahlah wahai musafir. Kau harus dihukum karena melukaiku dengan senjata itu dan mengacak-acak wilayah kekuasaanku. Apa adil berdamai denganmu? Apa yang akan kau lakukan setelah kekacauan ini? Harus ada yang bertanggung jawab” Jay bertolak pinggang. Bernegosiasi dengan si gadis, ia tidak memasang wajah pongah seperti Jay biasanya. Jay biasa yang keras, tidak bisa tertolak serta sangat kuat. Tatapannya selalu lembut dan teduh pada gadis ini.
“Aku akan memelukmu. Bagaimana?”
Bibir pria itu terangkat sebelah. Jurus andalan adiknya sejak dulu adalah cium pipi dan pelukan. Hanya seperti itu, Jay akan luluh. Rin tidak perlu usaha terlalu keras untuk membuatnya memberikan apapun. Bahkan dunia.
“Itu sudah tidak lagi relevan. Beri aku upeti” Jay menggeleng.
“Upeti apa? Aku musafir miskin”
“Baik jika masih tidak mampu. Maka, aku akan mengejarmu, menggelitik ketiak dan telapak kakimu hingga kau menangis”
“Kau tidak akan melakukannya”
“Aku akan” Jay serius.
“Kumohon…”
“Jangan memohon, itu tidak mempan” Jay memperhatikan wajah cantik yang memerah, gadis itu menggigit bibir bawahnya khas seperti akan menangis. Begitu menggemaskan dan cantik. Ia selalu saja gagal menerjemahkan kecantikan adiknya. Jenis kecantikan yang tenang sekaligus membakar dari dalam–perlahan, dan yang melihat yang terbakar. Benar, makin dilihat, Rin semakin cantik. Rin memiliki kecantikan semacam itu. Wajah menggemaskan sekaligus ‘panas’ yang tidak bisa ia gambarkan menjadi satu kata–bahkan kalimat. Rin terlalu indah, terlalu bagus. Seluruh tubuhnya memukau indah hingga ia harus menghela napas dan memalingkan mata. Rin dengan cara hidupnya yang umum, namun memang kecantikan di anugrahkan tanpa cacat. Pria itu kadang ingin membenturkan kepalanya sendiri kemanapun. Asal ia tidak melihat adiknya sebagai sosok lain. Sosok yang bisa ia cintai bukan sebagai adik. Seseorang yang bisa ia peluk sepanjang hidupnya tanpa ketakutan akan di ambil orang.
Jay melihat bibir merah, mata besar yang menjadi sayu karena permohonan, pipi yang ikut bersemu, leher cantik begitu putih dan mulus. Lalu turun ke dada. Dua puting itu tercetak sementara celana dalam terlihat menggemaskan dari balik dress tipis. Kaki jenjangnya yang begitu bersih, bening, sementara tumitnya merah. Begitu banyak di luar sana gadis cantik, gadis imut, gadis manis, putih dan segala hal yang mencakup kata ‘cantik’. Namun Jay selalu gagal menemukan yang serupa dengan adiknya. Sekali lagi, kecantikan Rin benar-benar murni mirip Dewi Aphrodite.
Lalu dengan tampilan seperti itu. Sempurna sudah kebuskan pikirannnya selama ini — untuk melihat adiknya sebagai gadis kecil yang menangis saat mainannya ia sembunyikan. Rin menyebarkan vibrasi bertolak belakang dengan status kakak adik yang keluar dari rahim yang sama—mendorong Jay untuk terus menatapnya. Menatap dengan tatapan yang bukan seharusnya di layangkan seorang kakak pada adiknya.
Terkadang, ada malam-malam dimana Jay ingin pergi. Ingin kabur dan meninggalkan Rin sendirian. Bukan karena ia tidak menyayangi gadis itu. Namun perasaan mengerikan yang sudah tumbuh sejak mereka kanak-kanak menjadikan Jay seperti pria gila alias tidak waras. Hubungan sedarah itu adalah hina, paling menjijikan dan tentu saja akan membuat namanya begitu buruk di mata dunia. Namun sesuatu yang tumbuh kelewat subur begitu sulit di cegah. Jika ia nekat pergi, maka, yang tersisa hanya kekhawatiran, ketakutan serta gagal fokus terhhadap semua hal. Rin seperti candu, Jay kecanduan. Ia hanya ingin melihat adiknya, bermain seperti hari ini dan apapun. Apapun hal-hal yang melibatkan Rin. Segalanya.
Itu juga alasannya kesulitan mendapat pasangan. Pria itu bahkan tidak berminat pada siapapun karena sudah memiliki standar dan sejauh ini, belum ada yang bisa melangkahi kecantikan serta keseluruhan apapun yang dimiliki adiknya. Jika di rangkum padat; Jay hanya menginginkan Rin. Selesai. Dan itu mustahil.
Pun ada beberapa hal yang sulit sekali di abaikan. Seperti aroma begitu memikat yang memancar dari tubuh gadis itu. Ia tidak tahu jenis parfum apa, namun aroma itu keluar dari kulitnya, dari por-pori. Jay tahu ketika gadis itu memeluknya. Bau itu tertinggal berhari-hari di bajunya. Dan saat ia bertanya pada semua orang tentang jenis parfum yang tertinggal, tidak ada satu pun yang tahu. Bahkan para ahli parfum yang di datangkan dari banyak penjuru negeri. Itu artinya, Rin pemilik aroma itu, aroma yang keluar dari tubuh secara alami. Begitu memikat.
Kadang, ia berpikir bahwa Rin adalah bidadari yang di turunkan tuhan ke rahim ibunya. Merunut pada kelahiran Rin yang dikabarkan secara mendadak di Rusia. Entah benar dugaannya jika gadis itu adalah roh yang ditiupkan tuhan secara langsung karena memang benar-benar mendadak. Ibunya bilang, ia tidak sadar saat mengandung Rin. Sang ibu terlambat datang bulan selama berbulan-bulan karena saking sibuknya hingga tidak perhatian. Rin akhirnya lahir saat kedua orang tuanya sedang melakukan perjalanan kerja ke Rusia. Begitu pulang, mereka membawa bayi yang begitu cantik. Bayi yang hingga detik ini terlalu cantik untuk ukuran manusia.
Dan seperti itu eksistensi Rin. Yang setengah mati ia pikirkan tentang; bagiamana jika gadis itu berubah pikiran lalu menjalin hubungan dengan pria pada umumnya — seumumnya seorang bujang dan gadis? Jay tidak rela, tidak sudi. Rasanya, sang adik harus berjodoh dengan dewa.
Saat gadis itu tiba-tiba menyemprotkan sisa air dari senjata, Jay seperti kembali ditarik pada kenyataan. Rin tertawa.
“Kau kalah!” wajah yang awalnya hendak menangis itu kembali sumringah. Di detik itu, Jay si alpha–penguasa dengan ribuan pengawal serta ditakuti para musuh dan pesaing—pura-pura tumbang sambil memegang dadanya yang tersemprot air. Rin makin terbahak-bahak.
“Kau melukaiku lagi, musafir” kata Jay. Masih memerankan sandiwara mereka.
“Aku sebenarnya adalah avatar air” ujar Rin enteng. Seenteng ia mengubah tema sandiwara mereka.
“Kau tidak konsisten” sang kakak kembali bangkit “kalau begitu, aku akan mengejarmu”
“Hey…” Rin menghela napas “bagaimana kalau kita sudahan? Aku lapar”
“Setelah kekalahanku? Kau tau, aku tidak suka kalah”
“Aku meminta maaf. Anggap aku yang kalah” ujar Rin meyakinkan sementara Jay menggeleng.
“Tidak seperti itu. Pria tidak suka jenis kemenangan menyedihkan sejenis itu”
“Lalu, mau apa?”
Hening beberapa saat. Rin menggaruk kepala sementara senapan air di cangking asal. Lalu beberapa detik kemudian, tanpa aba-aba, tanpa peringatan, Jay berlari menangkapnya. Rin yang kaget dan tidak sempat lari–gagal memloloskan diri dan akhirnya tertangkap. Gadis itu di angkat paksa dan di dudukkan di atas meja kerja yang sudah basah.
“Serahkan senjatamu” pinta sang kakak. Rin kontan menggeleng.
“Tidak akan”
“Serahkan, aku harus mengisinya dan balik membasahimu”
Rin menggeleng.
“Serahkan”
“Tidak, Jay, tidak”
“Aku akan mengambilnya”
“Ya, ambilah sampai dapat” ia menyembunyikan senapan air ke belakang dengan dua tangan sementara Jay mengukungnya dengan dua tangan yang bertumpu di sisi kanan kiri si gadis.
Dua tangan ke belakang, semakin membuat dada yang tercetak itu makin jelas. Jay bahkan bisa melihat—puting berwarna merah terang menyembul terhalang kain tipis. Ia meneguk liur dan cepat-cepat mengalihkan pandangan ke wajah ayu.
Di sana juga bukan ide bagus. Bibir Rin terbuka basah. Deret gigi bawahnya sangat rapi dan cantik. Mereka berhadapan dengan posisi itu.
“Aku lapar.. Oh.. ayolah, sudahi permainan ini. Setelah makan, ayo kita cari gadis cantik”
“Gadis cantik?” Jay mengangkat sebelah alis.
“Ya, gadis cantik untukmu. Kau harus kencan di akhir pekan supaya berhenti menganggu akhir pekanku yang berharga. Aku akan berkencan dengan buku dan cemilanku. Tapi sepanjang hidup, kau adalah satu-satunya pengganggu tidak dewasa yang terus mengajakku main. Kau sudah tua, Jay. Harusnya kau memiliki anak yang bisa di ajak main seperti ini” napas gadis itu menyapu wajah Jay. sesekali, aroma nikmat–dari tubuh cantik itu menguar dari mulut, leher atau bagian kulit manapun milik si gadis. Jay menghirup napas dalam-dalam supaya aroma itu merangsek sepenuhnya ke dalam paru. Meski tidak, aroma itu seperti datang dan pergi. Ada dan tiada. Namun yang paling jelas, itu membuatnya seperti pecandu yang kembali menemukan kokain setelah tidak pernah benar-benar sembuh dari sakau.
“Aku tidak akan berkencan dengan siapapun. Rencana hidupku baru saja kuubah hari ini. Aku berencana menganggu akhir pekanmu seumur hidupku, seumur hidupmu. Atau katakan sampai mati. Aku akan. Sekarang itu tujuan hidupku” kata sang kakak yakin. Jarak mereka sangat dekat dan Rin juga dapat mengendus aroma maskulin yang begitu pekat. Aroma alpha, khas.
“Itu bagian paling buruk. Sangat mengerikan” Rin tertawa. Lalu dengan jarak itu, ia mencium pipi kakakanya.
Cup!
“Aku sudah memberikan upeti. Sekarang, kumohon bebaskan aku Tuan. Aku berjanji tidak akan nakal atau mengacak-acak wilayahmu lagi”
Jay mematung dengan wajah kaget. Kecupan di pipi, jejak hangat dan basah bibir si gadis masih tertinggal di permukaan kulitnya. Ia menelan liur susah payah sebelum Rin mendorongnya keras. Gadis itu berhasil kabur. Berlari seperti anak kecil sambil terbahak-bahak.
“Kau yakin tidak akan membaginya denganku?”
“Hm”
“Dua cup, dan akan kau habiskan sendiri?” si gadis masih mengangguk.
“Kau ini pemimpin besar. Pria keren, pria kuat dan tangguh. Kau bahkan bisa menumbangkan lima badak dewasa, kenapa makan es krim? Kau lebih pantas mengunyah batu bara” sungut si gadis ringan. Seringan suapan besar yang merangsek ke mulut kecilnya.
Lalu Jay menatapnya memicing. Berdua berada dalam mobil menuju hotel. Jay mengajaknya untuk pertemuan dengan client dari Abu Dhabi. Meski gadis itu biasanya hanya menunggu dalam kamar, lalu mereka akan berjalan-jalan. Seperti itu saja kegiatan akhir pekan yang selama ini, seumur hidup di habiskan berdua.
Jay bukannya tidak pernah memiliki kekasih.
Pernah, namun kurang pas jika menyebutnya kekasih karena biasanya, ia hanya akan dekat dengan sesama alpha yang setara. Tidak banyak yang terjadi. Mereka dekat, sering bertukar pesan, sesekali bercinta lalu setelah itu Jay mengakhirinya begitu saja. Hanya berlalu begitu saja. Tidak pernah ada keseriusan apalagi perasaan yang lebih dari apapun. Ia tahu alasannya dan masih sulit lepas dari itu.
‘Itu’ hal ‘itu’ ada di sampingnya. Menyuap es krim sambil mengoceh ngalor ngidul.
“Apa kemudian seorang pria besar, pemimpin, keren, harus makan batu bara?”
“Hm”
“Alasannya?”
“Karena kau kuat. Gigimu kuat, tulangmu kuat. Jika kau makan es krim, nanti kau loyo”
“Rin…” Jay tergelak “tidak ada korelasinya. Kau ini bodoh atau apa?”
“Dan hanya seorang bodoh sejati yang mengartikan candaan sebagai acuan nyata”
“Benar. Kau selalu saja benar”
“Hm, aku benar dan kau salah. Sudah seperti itu dan semestinya begitu” lalu dengan sisa belas asih yang sebenarnya tidak perlu, Rin menawarkan es krim dalam sendok. Ia menydorkan pada kakaknya di samping “kau sugguh mau? Aku akan membaginya meski berat”
Jay menatap es krim yang disodorkan, lalu bergantian pada mata tidak rela. Pria itu nyengir.
“Jika diberikan dalam kondisi ini, pasti rasanya sangat enak. Aku khawatir tidak akan menemukan lagi es krim dengan rasa ‘tidak rela’ seumur hidupku” Jay terkekeh. Aksi mereka hanya di simak bisu oleh sopir di depan. Lantas, Rin menyodorkan lebih tinggi dan Jay menerima suapan dengan senang hati. Sayangnya, beberapa jatuh mengenai jari-jari panjang pria itu. Rin melotot dan dengan gerakkan spontan, gadis itu meraih tangan Jay, lalu mengulum telunjuk panjang hingga tandas—karena es krim berada di pangkal.
Ia mengulumnya pelan. Matanya mendongak menatap Jay yang kaget. Saat jarinya masuk hingga tandas dalam mulut hangat dan lembut, Rin mual. Jeriji itu menyentuh tenggorokannya.
HOEK!
“Kenapa jarimu panjang sekali?” Rin mual lagi. Sementara Jay mematung dengan tubuh panas. Benar, tubuhnya bereaksi lebih dulu ketimbang apapun. Sesuatu terjadi di bawah sana, sesak dan begitu gerah. Wajahnya merah padam dan napasnya berat. Pria itu tersulut sesuatu yang tidak seharusnya. Sementara si pelaku biasa saja, tidak merasa apapun, tidak. Sama sekali. Semuanya hanya seperti hal normal dan wajar. Meski, ya.. Seharusnya memang normal dan wajar. Jay benar-benar membenci bagian dirinya yang tidak bermoral.
Si gadis dengan mulutnya yang penuh dan mobil mereka terparkir di lobi hotel mewah. Semuanya terlupakan begitu saja–setidaknya bagi si gadis. Lain dengan Jay yang seperti pria gila.
Akhirnya ia berdehem meski tidak tahu apa yang salah dengan tenggorokannya “Nanti, aku akan menyusul ke kamar. Jangan pergi, jangan kemanapun. Aku akan memberi dua pengawal di depan kamarmu” ucapan itu di angguki pelan oleh si gadis. Satu cup es krim habis dan Jay membawakan sisanya untuk mengantar Rin ke kamar. Pertemuannya ada di ruang khusus bagian hotel VIP.
Awan putih membentuk gelombang di atas langit cerah pada akhir musim gugur di kota Madrid. Cahaya bulan masih menyorot meski tertutup gumpalan putih yang membentuk acak. Pendar-pendar lampu kota menjadikan satu alasan besar kota itu terlihat begitu cantik.
Rin berdiri di sisi tralis balkon kamar hotelnya. Jay bilang, pertemuan hanya akan memakan waktu dua jam. Maka, di dalam kamar itu, Rin sudah melakukan hal-hal yang ia list sebagai isi akhir pekan meski tetap gagal menamatkan satu buku dengan lima ratus halaman. Matanya mengantuk dan ia memutuskan mandi.
Setelah mandi. Barulah ia berdiri di sana dengan segelas susu hangat dan cemilan.
Hanya melihat-lihat saja.
Tiap akhir pekan, tepatnya setelah kembali dari rumah penampungan para omega akibat korban pelecehan atau sejenis, Rin selalu berjanji pada diri sendiri untuk tidak berlarut memikirkan nasibnya di masa depan. Ia sudah memiliki jadwal untuk berpikir berlebihan dan jadwal itu bukan berada di akhir pekan.
Maka, ia akan membiarkan angin membelai wajahnya. Menerbangkan helaian rambut indah dan menggesek kulit halusnya. Matanya tertutup merasakan semilir yang begitu sejuk–melepaskan pikiran buruk–melepaskan wajah menyeramkan Jay–juga melepaskan sanksi sosial dan lain-lain. Tidak, tidak hari ini.
Tapi terlalu bohong jika pikiran itu tidak menyusup.
Jay yang begitu hangat dan mencintainya. Sehancur apa dirinya nanti jika pria itu tahu bahwa adiknya adalah seorang omega? Lalu, apakah pria itu akan membunuhnya juga? Seperti saat bibi pengasuh—seorang omega tersingkap? Bulu mata panjang-panjang sangat lentik menyatu tatkala kelopak itu tertutup.
Dan, jangan dipikirkan.
Rin meremas mok berisi susu, tampaknya, ia hanya butuh istirahat. Maka, gadis itu memutuskan untuk tertidur sembari menunggu kakaknya.
Satu jam berikutnya ketika Jay baru saja bisa menjemput adiknya setelah tamu lain datang di luar rencana. Pembahasan tentang pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya meski setidaknya, malam ini hingga fajar nanti, ia bebas untuk Rin, ya, untuk Rin.
Dan helaan napas menyambut ruangan putih dengan interior eropa kontemporer. Pria itu mencangking coat di tangan kanan sementara dua kancing teratas pada kemejanya terbuka. Dasinya tidak tahu dimana.
Jay mendekat. Rin benar-benar tertidur.
Wajah si gadis begitu lelah. Lantas ia melirik susu dalam mok yang masih hangat kuku. Artinya, Rin belum lama terlelap. Saat melirik arloji dan menemukan jam menunjuk pukul sembil malam, pria itu menimbang–untuk membangunkan atau membiarkan.
Benar, tidak ada rencana. Tidak ada kegiatan meski ada. Maksudnya pekerjaan. Tentu saja mencari uang adalah krusial, namun jika bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Rin, maka, ia akan mengesampingkan hal-hal yang masih bisa di handle karyawan atau asistennya.
Dan yang dilakukan setelah berdiri hampir tiga menit menatap adiknya yang terlelap adalah, merangkak naik ke ranjang.
Sepatunya di lepas. Hanya menyisakan kaos kaki. Jay memeluk Rin dari belakang dan berusaha ikut terlelap. Tubuhnya pun lelah.
Dan dalam keheningan panjang sebelum hilang kesadaran menjemput. Suara detak jantung, detik arloji yang lupa di lepas, desah napas lembut serta isi kepala yang riuh, pria itu bersumpah tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika ia kehilangan moral dan melakukan tindakan yang berpotensi menyakiti adiknya. Apapun, seperti menghirup aroma nikmat dari tengkuk atau helaian rambut. Bukan, itu bukan perbuatan yang lumrah dilakukan kakak terhadap adiknya.
Namun apa yang dilakukan Rin selanjutnya benar-benar membuat Jay seperti ingin menggadaikan jiwanya pada iblis, lalu meretas moral serta tak peduli apapun tentang aturan tuhan maupun aturan manusia.
Rin berbalik.
Memeluknya. Mendusal pada ketiak begitu erat dan menganggap tubuh kelewat besar itu adalah guling. Lingerie lucu itu tidak lagi lucu. Bagian dada atas terlalu rendah hingga Jay dapat melihat nyaris hingga ke puting.
Demi tuhan. Demi apapun.
Pria itu mencari akal demi mempertahankan sisi manusia. Benar, hanya binatang yang bernafsu pada adiknya. Dan ia merasa bukan binatang. Maka, yang ia lakukan setelah pertimbangan panjang adalah membebat Rin dengan selimut mirip membedong bayi. Setelah itu, menggeser tubuh sang gadis hingga berjarak beberapa senti.
Baru napasnya teratur.
Kendati, Jay tidak berencana memesan kamar yang lain. Ia tetap ingin tidur dengan adiknya. Seperti dulu, seperti ketika mereka kecil tanpa perasaan aneh. Hanya murni menyayangi sebagai saudara.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Rin bukan orang kurang kerjaan meski uangnya cukup untuk membuatnya menjadi kurang kerjaan.
Yang dilakukan pada hari-hari biasa adalah menjadi pemilik studio desain fashion. Tidak besar, namun lumayan membuat beberapa orang yang bekerja menjadi timnya tidak menjadi pengangguran.
Jay mengatakan jika gadis itu bebas ingin melakukan apa untuk mengisi waktu luang. Bahkan hanya dengan menghambur-hambur uang—Jay bilang dia bersedia mendanai. Sang kakak tentu saja terlalu angkuh. Maksudnya, Jay terus saja menganggap Rin sebagai anak-anak yang tidak bisa bekerja. Seolah, kegiatannya hanya mengoleksi pakaian merah muda serta makan es krim dan menangis jika di jahili. Padahal tidak seperti itu, usianya sudah legal dan ia sudah lulus kuliah. Rin memutuskan sendiri kemana langkahnya dan Jay tidak pernah protes. Hanya menyokong, lalu meledek.
Seperti Senin pagi yang selalu diawali dengan aroma kopi robusta dan suara mesin jahit yang nyaring di seberang. Gadis itu duduk di balik meja memegang tablet. Ia memeriksa hasil kerja timnya. Mengoreksi gambar atau menambah dan mengurang pada sesuatu yang dirasa kurang pas. Baru setelah itu, hasil gambarnya akan di serahkan pada tim pengerjaan.
Menjadi anak konglomerat benar-benar mempermudah hidup. Karyanya banyak dipesan oleh orang-orang yang juga dari kalangan atas. Jay ikut berpartisipasi atas pengiklanan dan lama-kelamaan—meski baru berjalan dua tahun, Rin menjadi dikenal untuk membuat desain pakaian para anak-anak sultan atau artis-artis tersohor di negri itu.
Kesitimewaan yang selalu saja berpihak pada kaya raya dan Alpha. terkadang, ada beberapa momen dimana ia merasa menjadi bagian dari mereka–dari alpha yang keren dan pemberani. Mirip dulusi yang ditanamkan sejak lahir. Kadang, keyakinan itu malah yang paling berhasil membuatnya bersemangat dan meninggalkan rasa takut di belakang. Asal jangan Heat. Benar, asal jangan Heat. Heat sendiri adalah simbol mengerikan di negeri ini. Tentu saja baginya. Mungkin hanya karena ia belum menemukan seorang omega yang bahagia dengan takdirnya, hanya belum. Dan ia harus menemukan seorang omega yang mencintai takdirnya.
Lalu beberapa orang masuk, mengatakan tentang benang yang habis, tinta yang sudah menipis dan keluhan lainnya setelah sepekan terakhir sementara laporan baru di ajukan. Maka, pergilah gadis itu untuk mencari bahan-bahan yang diperlukan tim nya.
Mobil mewah membelah jalanan padat kota. Roda itu melenggang menuju kediaman Pearl, tempat dimana segala kebutuhan kerja ada di sana.
Pearl adalah gadis seusianya. Ayahnya konglomerat kaya raya yang terkenal menjadi rival Jay meski tidak sampai bergesekan. Hanya pesaing yang masih dalam tahap normal dan sehat. Sementara Pearl sendiri adalah si bungsu yang memiliki usaha industri tekstil. Gadis itu memiliki pabrik kecil-kecilan dan semua barangnya dalam kualitas tinggi, pun sangat terkenal. Sangat bagus. Dan dari sana Rin mengambil mentahan.
Tidak lama. Membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai ke pabrik milik Pearl jika jalanan berpihak padanya. Tidak macet, tidak ada insiden apapun.
Ya insiden apapun.
Contohnya seorang nenek-nenek yang awalnya diam di pinggir jalan, lalu entah apa motivasinya tiba-tiba saja menyeberang tatkala mobil Rin akan melintas. Gadis itu sepontan menginjak rem dan tubuhnya terhempas ke depan keras. Beruntung ia tidak terbentur atau luka. Pun sang nenek yang hanya meringis. Ujung bajunya menyentuh bagian depan mobil Rin. Sekali lagi, beruntung tidak ada insiden serius. Tidak ada luka.
Maka, gadis itu keluar untuk memeriksa keadaan.
“Apa kau baik-baik saja?” Rin mendekat dengan mimik jelas khawatir. Sang nenek yang diperkirakan berusia pertengahan delapan puluh itu menatap Rin naik turun. Lalu batuk dengan cara paling aneh.
“Aku baik-baik saja” jawab si nenek bergetar “tapi akan jauh lebih baik, jika kau mau mengantarku pulang. Aku tidak punya ongkos dan ponselku hilang” katanya patetik. Nenek itu celingukan resah.
“Dimana rumahmu?” Rin ikut celingukan meski tidak tahu apa yang sedang dicari. Lalu tangan renta itu menunjuk arah jalan raya di seberang—pertigaan.
“Hanya butuh 15 menit” suara itu kelewat yakin “kakiku sudah tidak kuat dan kadang, pandangan serta pendengaranku tidak normal” tidak perlu percakapan lebih panjang untuk membuat Rin mendudukkan sang nenek di sebelahnya.
Mobil kembali berjalan dan percakapan tersambung.
Ini juga tidak terduga. Rin senang saja mendengar nenek itu berceloteh menceritakan cucu-cucunya yang lucu. Lalu anak laki-lakinya yang sudah lima tahu tidak pulang di Texas, menantunya yang cerewet dan kucingnya yang gendut dan pemalas. Rin menyimak sepanjang perjalanan, hingga rumah yang di maksud sudah terlihat.
Tidak jauh ternyata. Namun tempat itu lumayan sepi. Hanya beberapa rumah berjejer–bergaya retro yang terlihat sangat sepi. Mungkin pengaruh awal minggu yang hectic.
“Rumahku yang nomor dua dari kanan. Sebenarnya, tetangga kanan dan kiri sudah pindah dan hanya rumahku satu-satunya yang berdiri dan berpenghuni” nenek itu kembali memberi informasi tidak perlu. Rin hanya mengangguk dengan senyum seramah mungkin “tolong mampir sebentar, akan kubuatkan kudapan lezat”
“Tidak perlu, nek, aku benar-benar sedang terburu-buru” jawab Rin praktis, gadis itu bahkan tidak turun dari mobil. Si nenek sudah berdiri, namun pintu mobil belum di tutup. Ia menatap Rin dengan cara paling tidak biasa. Kebanyakan orang yang baru bertamu akan mengagumi kecantikannya atau bertanya tentang merek produk kecantikan yang di pakai. Seputar itu. Meski jelas mustahil di tanyakan oleh seorang nenek-nenek. Namun nenek itu membuat Rin tidak nyaman.
“Baumu unik sekali, sangat wangi” itu juga aneh. Rin mengernyit. Tidak tahu apa maksudnya “kau omega, ya?”
BOM!!
Pertanyaan itu membuat pupil si gadis melebar maksimal. Lidahnya kelu serta seluruh tubuhnya menegang. Seumur hidup, setelah mati-matian ia menjaga rahasia paling sakral dalam hidupnya, hanya tiba-tiba saja seorang nenek antah berantah dengan mudah menebak gender secondary miliknya yang telah ia tutupi dengan segenap jiwa dan raga. Itu benar-benar menakutkan dan Rin gagap. Ia tidak menjawab. Mulutnya menganga.
“Kau cantik sekali. Kau omega paling cantik yang pernah kutemui. Kau bukan omega biasa. Aku merasakan keistimewaa. Kau sangat istimewa” Rin juga menyimak yang itu “apa kau mau kubuatkan kudapan supaya aromamu tersamarkan? Aku memiliki yang seperti itu. Aku ini dukun”
Dukun
Bisa menyamarkan aroma omega.
Rin menelan liurnya susah payah sebelum nenek itu kembali bersuara “ikutlah denganku, nak. Aku bisa melindungimu dari para alpha jahat yang hanya menginginkan tubuh. Kau sangat cantik, kau pasti seperti daging segara di antara predator lapar jika baumu terendus mereka” ungkap si nenek penuh keyakinan. Ragu-ragu Rin dengan ucapan itu. Namun, dari semua orang yang pernah ia temui di dunia ini, baru sekali ini saja bisa menebaknya seorang omega dari aroma—yang bahkan ia sendiri tidak tau, tidak menyadari aromanya sendiri.
Nenek itu seorang alpha.
“Anggap saja ungkapan terima kasih. Jika kau menolak, ya sudah. Aku harus memberi makan kucing” lantas pintu di banting keras. Rin kaget sebentar namun masih mematung di tempat bokongnya memaku.
Agak lama ia berpikir. Kepalanya riuh.
Namun akhirnya, ia memutuskan untuk masuk setelah mengetuk. Wajah nenek itu sumringah. Kucing besar yang mendusal di kakinya ikut memperhatikan Rin.
“Aku tau kau akan masuk” ujarnya ramah. Rin di persilakan duduk di meja makan dapur sementara si nenek membuat kudapan. Rin tersenyum canggung.
“Darimana kau tau aku seorang omega? Apa hanya dari aroma? Memangnya, seperti apa aromaku?” pertanyaan itu sejak tadi mengganjal, Rin cepat-cepat menuntaskannya.
“Omega memiliki aura, begitu juga dengan alpha. Kau terlihat sangat kuat untuk ukuran omega. Namun hierarki ada karena perbedaan. Kau pasti mengerti. Kecantikan dan kekayaanmu tidak akan pernah bisa menutupi apa gender keduamu”
Kata-kata itu berhasil membuat Rin tertegun. Meski sudah berusaha terlihat seperti alpha, namun kenyataan tidak akan pernah bisa diubah. Hatinya nyeri.
“Tapi tenang” si nenek membawa nampan. Isinya adalah puding dan roti asin yang ditaburi coklat parut “aku sudah mencampurkan ramuan ke makanan ini. Saat kau memakannya, aroma omega dan hal-hal yang membuatmu terlihat lemah akan tersamarkan. Aku ini mantan dukun paling di cari. Aku bersembuyi karena pelanggan semakin membeludak sementara tubuhku tak lagi kuat melayani”
Rin yang begitu murni dan mudah tersentuh serta naif, mengambil satu potong roti asin. Mata cemerlangnya menatap si nenek ketika makanan itu mendarat di ujung lidah, lalu meleleh terkena liur dan dikunyah lembut.
“Enak?” tanya si nenek. Senyumnya begitu jenaka. Rin mengangguk, ikut tersenyum canggung “ternyata adik Jay adalah seorang omega” si nenek berbisik–berbicara pada diri sendiri.
Namun hanya sayup-sayup. Tatkala makanan masuk ke kerongkongan dan tertelan, dalam waktu yang amat singkat, Rin merasakan pening dahsyat. Kepalanya sakit–sangat berat, seperti di bebankan batu besar. Lalu bunyi dengung menyakitkan menyusul, sesaat kemudian, kepala Rin jatuh ke atas meja, gadis itu tidak sadarkan diri.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Senin malam sepulang bekerja ketika ia sudah mendapat laporan jika Rin tidak kembali ke rumah, pria itu marah-marah.
Seluruh orang dalam mansion tidak ada yang berani mengangkat kepala. Para pengawal yang tertunduk dalam, pelayan yang khidmat menatap lantai, semuanya menunduk serempak.
Suara Jay menggelegar seperti auman singa jantan di tengah hutan. Rahangnya mengeras, urat-urat leher tercetak jelas. Dalam satu titah, seluruh pengawalnya menyebar mencari eksistensi Rin.
Bukan tanpa alasan pria itu mengamuk. Laporan mengatakan jika Rin pergi dari studio sekitar pukul sebelas siang, lantas tidak pernah kembali dan saat dilacak, semuanya tidak terdeteksi. Para karyawan dalam studio hanya mengatakan jika Rin pergi memberi bahan mentah, namun hingga tengah malam–hingga semua orang pulang, gadis itu tidak pernah kambeli. Mereka pikir, Rin kembali ke rumah.
Maka, pria itu panik–nyaris seperti orang kesetanan. Seluruh teman-teman adiknya sudah di datangi, telah di interogasi dan jawaban mereka berbeda-beda. Ada yang mengatakan tidak tahu, ada yang menjelaskan jika Rin sempat mengirimkan pesan tentang model pakaian yang sedang dibuat milik temannya itu. Namun tidak satupun merujuk pada keberadaannya.
Belum genap sehari.
Tapi, Jay sudah menelepon seluruh polisi dalam negeri, menyewa detektif swasta serta mengarahkan apapun yang bisa ia lakukan. Yang penting, adiknya pulang.
Rin tidak pernah seperti ini. Dia selalu mengabari jika pulang terlambat. Memberi tahu lokasi serta tidak keberatan saat Jay mengirimkan pengawal.
Pergi secara mendadak disertai ponsel yang ikut senyap benar-benar baru terjadi sekali ini saja. Itu yang membuat Jay kalap.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Sementara di tempat lain.
Tempat asing dengan aroma aneh menyengat.
Rin batuk. Seperti asap kotor yang menyesaki para-parunya. Belum sempat matanya terbuka lebar, batuk lebih dulu menyerang hingga perutnya tertekan.
Saat suaranya nyaring, langkah seseorang terasa mendekat. Rin membuka kelopaknya sempurna dan melihat ruangan itu lebih mirip laboratorium di sekolah menengah. Tabung-tabung kecil berisi cairan berbagai warna berjajar, tabel periodik, alat pengukur ini dan itu. Rin tidak lagi memperhatikan saat eksistensi lain semakin mendekat dan berdiri tepat di sampingnya. Dan ternyata, ia merebah di brankar.
Apa ini? Apa semacam ruang percobaan?
Seseorang dengan baju serba hitam. Tidak ada jas putih atau stetoskop menggantung yang harusnya selaras dengan apa yang ada di sana. Manusia itu hanya mengenakan baju serba panjang, topi, lalu masker. Semuanya hitam dan Rin bahkan tidak tahu dia laki-laki atau perempuan. Perawakannya tidak terlalu besar, namun tidak kecil juga.
Saat berdiri di sisi kiri Rin–yang masih merebah. Tiba-tiba saja, tanpa aling-aling, tanap aba-aba, orang itu memukul kepala Rin dengan–entah, Rin tidak perhatian. Karena setelah itu, semuanya kembali gelap. Benar-benar gelap, ia tidak sadarkan diri.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
“Kata bos, jangan dibunuh, kita hanya perlu menjadikannya sandra”
“Lalu kenapa kau pukul?”
“Kita harus membuatnya tidak sadarkan diri sampai bos datang. Dia tidak boleh terjaga”
“Kenapa?”
“Mana kutau. Itu kata bos. Jadi, jika nanti dia siuman, aku akan memukul kepalanya lagi”
Suara itu terdengar kelewat jelas meski yang berbicara tidak satu ruangan dengan yang dibicarakan. Rin meringis saat kesadarannya kembali, namun kepalanya pusing luar biasa. Saat tangannya memegang kepala, ia merasakan darah kering di sana–ditempat benda tumpul menghantam tengkoraknya.
“Akh..” gadis itu memekik. Suara bisikan kontan senyap. Gadis itu menyesal. Namun baik kulit kepala, maupun kepalanya, benar-benar sakit luar biasa. Rin lantas menangis.
Namun sesuatu terjadi lebih buruk saat ia menangis. Satu orang kembali masuk. Seseorang yang baru beberapa saat datang dan memukul kepalanya. Orang itu kembali dan kini, Rin bisa melihat jika yang menghantam kepalanya—sebelumnya adalah balok sedang dengan sudut lancip. Pantas kepalanya berdarah.
Orang itu mendekat lagi. Mata Rin mengikuti gerakan orang itu dan lagi-lagi tanpa peringatan, satu pukulan melayang lagi. Gadis itu pingsan lagi.
Hening panjang sebelum yang lain menyusul.
“Dia sangat cantik, astaga. Kupikir kita bisa memotretnya setelah kita telanjangi. Atau mencoba… kau tau.. Gadis cantik kaya raya. Aku selalu penasaran seperti apa rasa vaginanya”
“Dan kau akan dibunuh oleh bos. Dia bilang, gadis ini hanya sandra hingga pihak lawan mau menandatangani surat kerjasama. Aku tidak yakin. Itu itu yang kutangkap dari percakapan bos”
“Lalu kenapa kau pukul? Bagaimana kalau dia mati? Sayang sekali, dia seperti artis. Aku bersumpah dia sangat cantik”
“Bos bilang harus membuatnya terus pingsan”
“Tapi kalau dipukul terus-terusan, dia akan mati”
“Tidak”
“Terserah. Omong-omong, berapa kau beri upah si nenek gila yang membawanya kemari?”
“Aku memberinya bibit kacang polong. Nenek sinting itu sangat terobsesi dengan kacang-kacangan”
Temannya tertawa “orang gila”
“Ya, dia gila”
Mereka berbicang-bincang. Lalu memesan makanan. Tertidur, lantas bergantian berjaga. Jika Rin bangun, gadis itu akan di pukul lagi di kepala. Begitu terus berulang-ulang. Hingga Rin tidak sadarkan diri cukup lama. Atau memang tidak lagi sadar.
Lama. benar, cukup lama dan kelewat lama. Hingga bos mereka datang lantas melihat kondisi Rin yang seperti sekarat. Si bos cepat-cepat menelepon dokter.
“Penjaga tolol! Kubilang hanya awasi. Jika gadis ini mati, maka, Fatah akan membunuhku. Jangankan menandatangi kontrak kerjasama, dia bahkan akan menghancurkan semuanya” si bos berteriak seperti kesetanan. Hal yang dilakukan tanpa perencanaan matang ini terasa makin gegabah. Diperparah, orang yang diculik bukanlah gadis biasa.
Sebenarnya, awalnya tidak serius. Seorang perintis kecil yang terus memohon pada seseorang yang membenci Jay untuk bekerja sama. Namun Fatah, musuh Jay malah memintanya untuk menculik Rin untuk dijadikan sandara. Belum ada instruksi lagi, namun sudah bergerak. Rencananya tidak lama, hingga Jay menyerah. Entah genjatan semacam apa yang terjadi antara Jay dan Fatah. Yang pasti, kini ia terlibat dan sialan, penjaga rendahan itu malah membuat si gadis koma dengan luka dikepala yang serius.
Masalahnya jelas akan semakin rumit dan panjang.
Si pengusaha kecil itu menelepon Fatah dan menceritakan kronologi kejadian. Lalu pria di seberang meminta agar Rin cepat-cepat mendapat perawatan dokter. Tidak boleh mati. Jika mati, mungkin Jay akan menggila. Siapa saja tahu Jay sangat menyayangi adiknya. Keluarga satu-satunya.
Setengah jam kemudian, dokter datang.
Saat memeriksa kondiri Rin, dokter mengatakan jika gadis itu harus mendapatkan perawatan intensif karena kepalanya yang memar parah. Obat biasa dan infus tidak akan bekerja dan kemungkinan gadis itu untuk sadar sangat kecil jika tidak di tangani dengan benar. Maka, dengan cepat, mereka membawa Rin ke rumah sakit.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Dua hari setelah kehilangan Rin.
Jangan tanya bagaimana kondisi Jay. Pria itu seperti orang gila. Kini intensitas marahnya semakin menjadi-jadi. Sudah mengerahkan seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi, menyebarkan pengumuman baik di seluruh stasiun televisi maupun sosial media. Poster-poster berjajar mengumumkan hadiah bagi siapa saja yang bisa menemukan Rin dan membawanya pulang dalam kondisi selamat.
Pun berita itu menyebar kelewat cepat. Pengaruh Jay begitu besar di negeri. Maka, hanya orang sinting yang berani-beraninya menculik sang adik. Jay bersumpah akan membinasakannya.
Di tengah kekalutan, ponselnya bergetar. Nama asistennya terpampang jelas. Dengan gesit pria itu mengangkat panggilan.
“Pak, anda harus mengadakan pertemuan dengan George, dia sudah mendesak untuk bertemu dan membicarakan tentang proyek baru—” tidak sempat asistennya menyelesaikan kalimat. Jay lebih dulu mematikan sambungan. Ia melempar benda pipih itu sembarangan. Menyandarkan punggung pada belakang kursi, lalu memijat dahi. Kepalanya sakit. Ia merindukan Rin seperti orang sinting.
Di tengah kekalutan yang mendera. Jejaknya bangkit. Kaki menuntun pria itu untuk masuk ke kamar orang tua mereka. Maksud Jay hanya ingin mencari berkas-berkas kelahiran Rin di Prancis.
Rumah sakit, bobot gadis itu saat baru lahir, atau apa saja yang bisa ia temukan. Ia hanya kelewat rindu. Sudah dua malam ia terbaring di kamar Rin tanpa benar–benar bisa tidur. Kegiatannya adalah melihat album lama, barang-barang lucu serta aroma Rin yang masih tertinggal di bantal. Maka, ia butuh sesuatu yang lain untuk mencekoki rindunya.
Benar, Jay seperti pecandu gila yang dipaksa berhenti kontan dari narkoba. Tentu saja efek sakau benar-benar menyiksa.
Kamar itu tidak berubah sejak beberapa tahun setelah di tinggal pergi selamanya. Pembersihan dilakukan setiap hari, seperti pada ruangan lain. Tidak ada setitik debu, yang tersisa hanya aroma antiseptik dan pengharum ruangan.
Jay menggeledah lemari utama. Tempat dimana orang tuanya meletakkan seluruh berkas yang sebagian besar telah berpindah ke ruang kerjanya. Berkas-berkas penting perusahaan, harta benda, serta hal-hal sejenis. Semua tak tersisa. Yang ada di sana adalah data dirinya sendiri saat masih kecil. Atau kenang-kenangan ayah dan ibunya ketika masih muda hingga meninggal dunia. Dan disanalah Jay mengorek.
Tumpukan kertas, dokumen, map dan segala macam.
Semua tersusun rapi.
Matanya memindai, berusaha mencari nama Rin di antara seluruh hal yang ada disana.
Namun tidak satu pun kertas berisi nama Rin. Jay menutup lemari utama dan membuka laci paling bawah. Saat kunci itu terbuka, barulah ia tersenyum. Nama Rin terpampang besar di atas map merah muda “Rin Clarion”
Lembar yang pertama adalah akta asli milik Rin.
Jay membacanya hati-hati. Padahal sudah tau tanggal lahir adiknya. Namun disana, ia mengusap kertas itu, seolah Rin ada di sana.
Lalu lembar kedua berisi foto-foto bayi Rin. Itu juga sering ia temui. Bahkan, foto pada akun instagram gadis itu menggunakan foto bayi.
Lembar-lembar itu berisi tumbuh kembang yang dipantau. Tiap tahun, tiap gadis itu baru mulai mengatakan “ma” atau “pa” atau kosa kata lain. Orang tuanya dengan rajin mencatat hingga ke tanggal dan jam. Semuanya begitu rapi. Kapan gadis itu melangkah pertama kali, kapan bisa berlari, hingga Rin besar. Jay membacanya sambil tersenyum membayangkan Rin kecil yang cantik baru belajar jalan.
Ia meletakkan map itu lalu berpindah pada benda yang lain—asing. Mirip peti harta karun dengan gembok dan kunci. Ya, kotak itu di kunci. Jay lantas celingukan mencari gembok.
Ia bengkit. Menggeledah laci, seluruh lemari di sisi kanan kiri.
Di bawah tempat tidur, di segala sudut, namun kunci itu tidak pernah ada. Ia juga sempat menelepon asisten pribadi mendiang ibunya dulu dan sang asisten mengaku tidak tahu menahu soal peti dalam lemar berikut kunci antah berantah.
Seluruh pelayan mansion juga tidak tahu. Sopir-sopir yang bekerja sejak ia kecil.
Tidak ada yang tau.
Maka, Jay meminta orang untuk membukakan kotak itu meski harus menghancurkannya dengan benda tajam atau sejenis.
Tidak jadi.
Ia memukul gembok itu dengan linggis kecil dan dalam lima kali percobaan, gembok hancur.
Jay masih berpikir tentang berkas rahasia atau aset yang belum sempat orang tuanya bagi tahu. Atau isinya adalah tumpukan logam mulia. Mungkin berisi rahasia-rahasia pesaing atau paling sederhana lagi adalah aib keluarga ini. Seperti data korupsi ayahnya, atau bagaimana ibunya mengeksploitasi sumber daya alam. Itu tidak begitu mengejutkan.
Isinya berkas tebal.
Jay membukanya hati-hati. Dan diluar dugaan, bukan semua hal yang ia duga sebelumnya, bukan sesuatu yang bisa menambah kekayaannya, bukan juga hal-hal yang bisa melemahkan saingannya. Melainkan Rin Clarion. Benar, berkas itu berada di antara tumpukkan data milik Rin. Jadi masuk akal jika isinya memang seputar Rin. Namun yang membuat Jay mengernyit adalah keterangan yang ada di dalamnya.
Nama : Rin Clarion
Tanggal lahir : 11 April 2003
Gender : ( Omega ) persilangan Alpha dan non binary–Alpha.
Nama orang tua : Jack Clarion dan Anna Watt.
Catatan: “dia adalah anak pembawa keberuntungan.persilangan antara alpha dan alpha non binary akan melahirkan dewi fortuna. Saat dia masih bersamamu, maka, kekayaan, kekuasaan serta kejayaan akan senantiasa menyertai keluargamu, keturunanmu dan hartamu”
Jay mengulang membaca hingga delapan kali. Benar, delapan kali.
Jack Clarion Anna Watt
Jack Clarion Anna Watt
Jack Clarion Anna Watt
Jack Clarion Anna Watt
Jack Clarion Anna Watt
Jack Clarion Anna Watt
Jack Clarion Anna Watt
Jack Clarion Anna Watt
Gender : ( Omega ) persilangan Alpha dan non binary–Alpha.
Gender : ( Omega ) persilangan Alpha dan non binary–Alpha.
Gender : ( Omega ) persilangan Alpha dan non binary–Alpha.
Gender : ( Omega ) persilangan Alpha dan non binary–Alpha.
Gender : ( Omega ) persilangan Alpha dan non binary–Alpha.
Gender : ( Omega ) persilangan Alpha dan non binary–Alpha.
Gender : ( Omega ) persilangan Alpha dan non binary–Alpha.
Gender : ( Omega ) persilangan Alpha dan non binary–Alpha.
Di bawah berkas—masih di dalam kotak. Jay juga menemukan kantong plastik steril dengan isi hasil tes darah, DNA dan hal-hal medis yang tidak terlalu ia mengerti.
Namun satu hal yang pasti dan jelas.
Gadis itu bukan adik kandungnya. Ayah dan ibu Rin berbeda, bukan ayah dan ibunya. Sejak awal, gadis itu tidak memakai nama belakang ayah Jay dan ia juga tidak perhatian untuk nama.
Jay memutar ingatan kejadian puluhan tahun yang lalu saat ibunya pulang dan membawa bayi secara mengejutkan. Banyak para petinggi–rekan dan orang-orang dekat mengatakan jika Rin adalah anak haram dari ayahnya bersama omega rendahan. Rin terlihat sangat lemah dan rapuh meski fisiknya begitu kental seorang Alpha yang cantik jelita.
Sekali lagi, aura tidak bisa diabaikan.
Dan yang dilakukan orang tua Jay saat itu adalah tidak menggubris. Mereka tetap mencintai Rin. Memperlakukan anak itu seperti anak kandung sendiri tanpa membeda-bedakan. Pun tidak pernah mengklarifikasi pada siapapun. Ia hanya mengatakan pada seluruh penghuni rumah jika Rin adalah gadis alpha–anaknya. Selesai. Dan tidak pernah ada yang berani mendebat. Kecuali mereka yang kurang kerjaan dan mencari masalah.
Jay mematung beberapa saat. Kepalanya mencerna lambat. Benar, ia tercenung sangat lama hingga matanya perih karena kering.
Mengabaikan kotak dan segala hal yang baru saja ia dapatkan, pria itu beringsut–bergegas menuju kamar Rin.
Mencari apa saja. Apapun.
Seluruh dunia tau jika seorang omega akan mengalami masa heat. Maka, Rin sudah pasti mengalami fase itu juga. Namun gadis itu tidak pernah—maksudnya, Jay tidak tahu. Menurut berita yang tidak pernah ia simak dengan serius, saat Heat, omega akan mengeluarkan feromon yang begitu pekat—mengundang para alpha untuk mendekat karena aromanya. Lalu, mereka–para omega akan terangsang hebat.
Rin tidak, Jay bersumpah Rin tidak mengalami itu. Atau ada yang terlewatkan? Hari-hari Rin sibuk di studio. Jika akhir pekan, ia akan mengajak gadis itu ke sana sini agar tidak bosan. Sepanjang hidupnya, Jay tidak pernah menemukan hal-hal yang—tidak tahu. Terlalu banyak kejutan, belum lagi eksistensi gadis itu yang masih dalam pencarian.
Jay terduduk di lantai kamar adiknya. Ia bingung dan segala rasa bercampur aduk tidak karu-karuan.
Seluruh sudut kamar ini telah ia lihat, telah ia periksa. Untuk menyuapi kerinduan pada Rin. Tidak pernah ada apa-apa disini kecuali wangi tubuh Rin yang masih tertinggal.
Tunggu… apa wangi tubuh itu adalah omega? Apa omega selalu beraroma memikat seperti itu?
Tidak.
Ia pernah mendengar dari temannya yang sering menggunakan omega sebagai objek seks—mengatakan jika omega kebanyakan beraroma cairan vagina yang memabukkan. Aroma basah yang sensual.
Namun tidak dengan Rin. Aromanya tidak seperti itu. Ia yakin.
Dan satu-satunya titik yang belum ia geledah adalah bawah ranjang.
Maka, dengan tubuh sebesar itu, ia mengangkat kasur dan dipan yang ternyata kelewat ringan. Dipan yang Rin pun bisa membaliknya.
Maka, matanya nyalang menatap satu marmer yang tidak rekat. Natnya tidak tersambung dan khas tempel. Maka, ia membuka marmer itu hati-hati.
Dan disanalah seluruh jawaban.
Obat heat.
Pria itu terlonjak. Bukan karena obat heat yang ditemukan, melainkan salah satu pelayan yang masuk terburu-buru.
“Maaf mengagetkan, Pak. Tapi, Nona Rin sudah di temukan”
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Seorang perawat yang menangani Rin. Ia melihat pagi dan sore poster sepanjang jalan pergi dan pulang—tentang uang besar yang dijanjikan seorang bangsawan kaya raya jika menemukan adiknya, Rin. Poster itu juga memajang foto–yang membuat sang perawat begitu mengenali tatkala gadis cantik jelita itu di bawa ke rumah sakit.
Ia langsung menelepon nomor yang tertera pada poster. Pasalnya, berita itu memang sedang hangat di perbicangkan dengan hadiah nominal uang yang tidak sedikit. Maka, meski tidak terang-terangan, banyak orang yang diam-diam mencari Rin.
Jay tidak langsung datang. Sang alpha memilih memburu pelaku yang langsung tertangkap saat pengawalnya berhasil membuat dua orang yang mengantar Rin mengaku. Yang datang ke rumah sakit adalah asisten Jay. seorang wanita paruh baya yang memiliki wajah seperti Maria.
Rin baru saja sadar. Dari hasil pemeriksaan fisik dan CT scan yang telah dilakukan sebelumnya, Dokter mengatakan bahawa Rin mengalami trauma tumpul pada kepala akibat benturan keras berulang. Memar luas menyebar di bagian kepala, terutama di area pelipis dan belakang tengkorak, menunjukkan bahwa pukulan yang diterimanya tidak hanya sekali, namun berkali-kali dengan kekuatan yang cukup besar.
Benturan itu menyebabkan gegar otak yang cukup berat, disertai gangguan sementara pada fungsi memori. Berdasarkan respons Rin saat sadar—ketidakmampuannya mengenali dirinya sendiri, lingkungannya, serta hilangnya orientasi terhadap identitas pribadi—dokter menyimpulkan bahwa ia mengalami amnesia pascatrauma, sebuah kondisi yang sering muncul setelah cedera kepala yang kuat.
Dalam kondisi ini, bagian otak yang berperan dalam penyimpanan dan pengambilan memori mengalami gangguan sementara akibat trauma. Ingatan tidak benar-benar hilang, melainkan seperti terkunci atau terputus dari akses kesadaran. Hal itu membuat Rin untuk sementara waktu tidak mampu mengingat identitas dirinya, pengalaman hidupnya, maupun orang-orang yang pernah ia kenal.
Namun dari tanda-tanda neurologis lain, tidak ditemukan kerusakan permanen yang mengkhawatirkan. Refleks dasar, respons pupil, serta aktivitas otak masih berada dalam batas yang stabil. Karena itu dokter memperkirakan bahwa hilangnya ingatan tersebut bersifat sementara.
Dalam banyak kasus seperti ini, memori dapat kembali secara bertahap. Potongan-potongan ingatan sering muncul perlahan, dipicu oleh rangsangan sederhana seperti wajah yang familiar, tempat yang pernah dikenal, suara tertentu, atau pengalaman kecil yang mampu membangkitkan kembali jalur memori di otak.
Proses pemulihan itu tidak selalu terjadi sekaligus. Ingatan biasanya datang dalam fragmen-fragmen kecil terlebih dahulu—perasaan samar, bayangan tempat, atau potongan kejadian—sebelum akhirnya membentuk kembali kesadaran yang lebih utuh tentang masa lalu.
Untuk sementara waktu, Rin kemungkinan akan tetap berada dalam kondisi kebingungan identitas. Ia mungkin tidak mengetahui siapa dirinya, dari mana asalnya, atau apa yang pernah ia alami. Namun selama tidak ada komplikasi lanjutan pada otak, dokter menilai bahwa peluang pemulihan ingatannya masih cukup besar, selama tubuh dan sistem sarafnya diberi waktu untuk pulih dari trauma yang telah dialaminya.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Kabar penculikan Rin, lalu ditemukan—belum benar-benar reda ketika dunia bisnis kembali diguncang oleh berita lain yang jauh lebih mengejutkan.
Pagi itu, layar-layar berita menampilkan satu nama yang selama bertahun-tahun berdiri di puncak dunia industri: Fatah. Pria yang dikenal sebagai pengusaha besar dengan jaringan luas itu dikabarkan meninggal dunia secara mendadak pada malam sebelumnya. Berita itu menyebar seperti api yang menyambar ladang kering, merambat dari satu portal berita ke portal lainnya, dari ruang rapat para investor hingga bisikan para jurnalis yang sibuk menelusuri potongan-potongan kebenaran di baliknya.
Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi. Laporan yang beredar menyebutkan kematian yang misterius, tanpa penjelasan yang gamblang, tanpa saksi yang cukup untuk menjelaskan bagaimana seorang pria sekuat dan seberpengaruh itu dapat berakhir begitu saja dalam satu malam yang sunyi. Hanya sepotong kabar dingin yang tersaji di halaman depan media: seorang raksasa dunia bisnis telah tumbang.
Di tengah kehebohan itu, nama lain ikut beredar di setiap percakapan yang penuh tanda tanya—Jay.
Jay, pengusaha muda yang selama ini dikenal hampir seperti figur publik; wajahnya kerap menghiasi sampul majalah bisnis, wawancaranya ditunggu banyak orang, dan setiap langkahnya di dunia industri selalu menjadi bahan pembicaraan. Kekayaannya menjulang seperti menara kaca yang memantulkan cahaya kekuasaan, terlalu tinggi untuk dijangkau oleh kebanyakan orang.
Beberapa jam sebelumnya, publik masih membicarakan kabar ditemukannya Rin setelah penculikan yang menghebohkan. Peristiwa itu saja sudah cukup membuat dunia gempar. Namun sebelum debu dari berita itu benar-benar turun, kematian Fatah muncul seperti petir yang menyambar langit yang belum sempat tenang.
Kebetulan yang aneh untuk tidak diperhatikan.
Bisik-bisik mulai tumbuh di antara para pengamat bisnis dan orang-orang yang memahami betapa kerasnya dunia kekuasaan. Mereka berbicara dengan suara rendah, seolah-olah dinding pun bisa mendengar. Tidak ada bukti yang dapat menunjuk siapa pun. Tidak ada jejak yang tertinggal di permukaan.
Dan di tengah semua kegaduhan itu, Jay tetap berdiri di tempatnya seperti biasa—tenang, tertata, dan tak tersentuh oleh badai spekulasi yang berputar di sekeliling namanya. Wajahnya muncul di beberapa liputan berita hari itu, dingin dan terkontrol, seperti patung yang diukir dari batu mahal.
Tidak ada yang dapat menuduhnya. Tidak ada tangan yang bisa menunjuknya.
Namun bagi mereka yang cukup jeli membaca alur kekuasaan, ada sesuatu yang terasa seperti bayangan gelap yang melintas di balik semua kejadian itu—sebuah kekuatan sunyi yang bergerak tanpa suara, yang tidak meninggalkan jejak selain hasil akhirnya.
Satu orang telah kembali dari jurang kematian. Dan satu orang lain… tidak pernah melihat matahari pagi lagi.
Seperti itu dunia berjalan di atas sana. Di mana para alpha berkuasa dan saling serang apalagi jika di gigit duluan. Jay, begitu banyak spekulasi yang jelas menyeret namanya. Kendati benar, ia tidak akan pernah tersentuh, tidak akan. Pria itu menduduki puncak hierarki teratas. Bahkan bayangannya tidak akan tersentuh. Dan sial bagi siapa saja yang berani menggigitnya duluan.
Sejak kecil, ia terlatih bukan hanya untuk uang dan bisnis. Namun ia juga dilatih untuk menghadapi pesaing alias lawan.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Hampir satu minggu setelah di rawat di rumah sakit, Rin akhirnya di perbolehkan pulang.
Selama itu juga, Jay adalah orang yang merawat. Jika sedang terpojok pekerjaan, maka, ia akan meminta asistennya untuk mengurus Rin. Gadis itu bagai dokumen negara yang paling berharga sedunia. Jay memperlakukannya lebih dari itu, lebih dari apapun. Bayangannya tentang kebenaran siapa sebenarnya sang adik, bukan membuat Jay benci atau pikiran jauh tentang membuang, mengabaikan apalagi menghinakan meski tau adiknya adalah seorang omega. Jay justru kesenangan karena apa yang ia dambakan, yang ia mohonkan, terkabul dalam bentuk yang paling tidak pernah ia bayangkan.
Rin bukan adiknya, bukan.
Rencananya, jika gadis itu sudah sehat—meski memorinya belum kembali, Jay akan mengumumkan pada dunia, jika Rin memang bukan adiknya. Ia adalah anak adopsi yang di bawa sang ibu dari Rusia atau Prancis? Apapun, ia tidak peduli, yang paling penting, mereka tidak berdosa untuk bersama, tidak mendapat sanksi sosial dan melangkahi kultur normal. Itu adalah poin pentingnya sekarang.
Perban-perban dikepalanya telah di lepas. Masa pemulihan berjalan tenang dan perlahan. Kendati, Rin masih banyak melamun dan masih kesulitan mengenali sekitar, namun kehangatan serta kelembutan Jay membuatnya merasa aman.
Gadis itu bingung, diam, cenderung patuh karena memang tidak ada yang diingat dikepalanya. Dokter mengatakan banyak hal tentang jangan khawatir. Maka, Jay mempercayai itu dan berusaha membawa gadis kesayangannya untuk mengingat sedikit-sedikit.
Kamarnya, studio, candaan mereka, serta barang-barang yang memang milik si gadis. Jay sangat sabar dan penuh pengertian. Kasih sayangnya membuat Rin bergantung dan menjadikan pria itu tempat bersandar. Rin seperti anak kucing yang terus membuntut Jay, menempel, serta tidak bisa ditinggalkan lama.
Ada malam-malam dimana gadis itu menangis berteriak ketakutan, lalu Jay akan datang dan menemaninya tidur. Seperti itu pemulihan berjalan. Tidak ada keterpaksaan, yang ada justru rasa cinta yang semakin besar. Rasa yang menggebu-gebu yang berusaha diredam sekuat tenaga.
Lusa, Jay akan membuat pengumuman tentang adiknya pada dunia. Lantas sesuai tanggal yang sudah ia siapkan, Jay akan menikahi Rin. Tekadnya sudah bulat.
“Mau es krim?” mendengar suara Jay, Rin kontan membalik tubuh. Matanya berbinar saat beradu dengan milik pria yang datang membawa satu cup es krim besar. Ia mengangguk. Jay ikut duduk di samping “ini es krim favoritmu. Kau bisa menghabiskan dua cup besar sekaligus tanpa naik massa. Itu berkah” es krim berpindah. Jay menyibak rambut gadis itu ke belakang lembut.
“Terima kasih, Jay” senyumnya naik. Ia lantas melahap. Matanya menatap si pria dan es krim secara bergantian “aku percaya ini es krim favoritku, ini sangat enak meski aku belum ingat” katanya riang. Hanya butuh waktu hingga ia bisa bicara, gadis itu memang banyak melamun, namun jika bersama Jay dan merasa nyaman, ia akan ceria.
“Rin..” tangannya mengusap kepala si gadis sayang. Rin mendongak.
“Ya?”
“Maukah kau menikah denganku?” pertanyaan itu kelewat ringan di ajukan. Mirip pertanyaan untuk pilihan menu makan siang hari ini. Mata cemerlang itu membulat, dahinya berlipat dan ia melanjutkan menyuap es krim.
“Kau bilang, kita dua orang yang saling menyayangi sebelum ini. Kau juga sangat baik dan mengurusku dengan sabar. Aku tidak ingat, tapi kau sangat telaten” ia menelan es krim dalam mulut sebelum melanjutkan kalimatnya “tentu saja aku mau. Kita pasti sepasang kekasih yang saling mencintai. Aku mencintaimu, dan kamu juga. Kamu sangat baik dan aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpamu. Aku mau, Jay. Ayo kita menikah. Mungkin, aku akan menyusahkanmu hingga ingatanku kembali”
Jay tercenung lama. Matanya terpaku pada manik hitam tak terlalu pekat. Sebenarnya, ia tidak pernah memperkenalkan diri pada Rin sebagai kekasih. Tapi tidak juga sebagai kakak atau keluarga. Saat baru siuman, Jay hanya mengatakan jika ia adalah orang yang mencintai Rin. Orang yang akan selalu ada dan menjaganya seperti hidupnya sendiri. Maka, kepala gadis itu yang menyimpulkan jika hubungan mereka adalah pasangan—kekasih.
Jay tidak akan repot-repot mengatakan apapun tentang status mereka. Karena kenyataannya memang tidak keduanya. Tidak kekasih, tidak keluarga. Yang paling benar adalah orang yang mencintai Rin sejak kecil. Saudara angkat yang tak ada hubungan darah, sama sekali.
“Aku melamarmu, apa kau menginginkan sesuatu sebagai mahar?” pertanyaan itu yang keluar. Jay hanya akan berpikir belakangan jika ingatan Rin kembali. Yang terpenting menikah dulu. Jika gadis itu sudah menjadi miliknya, maka, Rin akan sulit untuk pergi. Pun, jika pergi, gadis itu akan kesulitan lagi. Hidup omega sangat sulit di luar, sangat. Itu mengerikan. Apalagi dengan wajah secantik itu.
“Aku ingin boneka yang sangat besar” lalu gadis itu diam sebentar “ah tidak, maksudku, boneka yang sebesar tubuhku, yang bisa menjadi teman tidurku dan aku tidak akan menangis tengah malam dan merepotkanmu, Jay. Kau pasti sibuk”
“Aku tidak akan sibuk. Jika sudah menikah, aku akan ada di dekatmu, di sampingmu. Boneka hanya akan menjadi musuhku. Aku tidak akan membiarkan apapun memelukmu selain aku” ia mengatakan dengan percaya diri meski jika Rin dalam kondisi normal, ia belum tentu berani. Bukan tidak berani, namun canggung.
Sementara gadis itu mengulum senyum yang di tahan. Es krim meleleh ke bibir bawahnya–jatuh. Jay menyekanya lembut.
“Kau merona” Jay ikut tersenyum.
“Benarkah? Aku tidak tahu, tapi jantung berdegup seperti ini” Rin memegang dadanya lalu memaju-mundurkan kepalan tangan dipermukaan dada “deg deg deg. Aku merasakan ritme yang menyenangkan di perutku. Aku senang” katanya polos. Di gambarkan setransparan mungkin bagaimana suasana hatinya. Jay mengalihkan tatapan karena tidak tahan. Pria itu sangat gemas dan ingin mencium Rin. Sungguh, namun tidak pernah ia lakukan. Ia khawatir Rin takut.
“Mau kuberi tahu apa artinya?” mata pria itu teduh begitu menenangkan. Rin mengangguk antusias “artinya, kau jatuh cinta padaku”
“Aku jatuh cinta padamu? Tentu saja, apa hal-hal seperti itu kurang jelas? Apa sebelum aku lupa semua hal, aku tidak mencintaimu?”
Jay mengedikkan bahu “tidak yakin. Tapi kau… mungkin saja tidak mencintaiku”
“Mustahil”
“Apanya yang mustahil?”
“Mustahil aku tidak mencintaimu. Kau—” Rin menunjuk Jay “kau tampan dan baik, kau sangat.. Uh.. aku bosan mengatakan ini berulang-ulang. Tapi yang pasti, aku jelas bukan orang normal jika tidak menyukaimu”
“Benarkan? Aku tampan dan keren” Jay terbahak-bahak. Seandainya ia bisa merekam kejadian hari ini, lalu di tunjukkan pada Rin di kemudian hari dengan ingatan yang telah kembali. Membayangkannya saja pria itu ingin tertawa hingga jatuh ke lantai.
“Sebentar, aku ingin merekam ini” Jay benar–benar mengeluarkan ponsel, lalu kamera menyorot wajahnya dan wajah cantik si gadis “halo” katanya, lantas Rin ikut mengatakan halo sambil menyendok es krim.
“Aku ingin mengatakan jika siang ini, aku melamar Rin. lihatlah, dia sedang makan es krim. Dan Rin..” Jay menyorot gadis itu secara utuh “Rin, aku melamarmu, maukah kau menjadi istriku? Aku bertanya tanpa paksaan, tanpa tekanan. Aku bahkan tidak masalah jika tertolak meski aku tidak bisa ditolak. Namun aku tidak mungkin memarahimu karena kau menolak lamaranku. Aku sungguh tidak memaksa. Apakah kau mau menikah denganku?”
“Mau, aku mau. Ya, momen ini harus di abadikan. Dengar, aku mau menikah dengan Jay” kamera menyorot hidung gadis itu, lalu ke bibir. Jay tergelak.
“Aku tidak memaksamu, kan? Apa kau sedang dalam kondisi sakit kepala?”
“Tidak” jawab Rin.
“Aku diterima, kan?”
“Tentu saja” kata si gadis lagi. Lantas, Jay mematikan ponsel.
“Aku sudah mendapat bukti. Kita akan menikah dan kau akan jadi istriku selamanya. Aku akan membahagiakanmu, Rin. Aku bersumpah demi hidupku”
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Pengumuman di lakukan tengah malam melalui konfersi pers yang diwakilkan oleh asisten. Pengumuman tiba-tiba itu berhasil menyita perhatian publik. Tentu saja. Belum reda kasus Fatah yang masih dalam penyelidikan, kini, Jay mengumumkan pada dunia bahwa adiknya yang kemarin sempat diculik oleh antah berantah—yang juga sampai hari ini tidak di temukan–tidak juga diperpanjang, ternyata bukan adik kandungnya. Bukan pula anak dari gundik ayahnya.
Sang asisten di atas podium juga memaparkan siapa Rin. Gadis keturunan Rusia—Spanyol dari dua alpha. Berkas-berkas usang di potret sebagai bukti meski tidak sepenuhnya. Lantas, sumber-seumber terpercaya di datangkan dari Rusia, yaitu orang yang ada kaitannya dengan adopsi Rin dan orang tua Jay.
Ya, Jay tentu saja tidak akan jujur untuk bagian gender second milik sang gadis. Dan melalui asistennya juga, Jay mengumumkan pada dunia bahwa ia akan menikahi adiknya. Rin tidak memiliki hak waris, tidak ada apapun atas harta ayah dan ibunya. Maka, publik menyimpulkan jika Jay memang tidak akan membuang sang adik karena khawatir menjadi gila karena tiba-tiba ‘bukan siapa-siapa’ di keluarga bangsawan itu.
Segala spekulasi bermunculan. Banyak akun-akun yang mencari keuntungan dari berita besar–mulai menyebarkan hoax, membuat narasi fiktif dan segala hal yang dilebih-lebihkan. Bahkan beberapa membuat teori konspirasi tentang keluarga Jay. Dan Jay lagi-lagi tidak peduli.
Beberapa petinggi yang dulu meragukan jika anak itu memang bukan anak kandung ayah dan ibu Jay—kini hanya mendecih angkuh karena dulu, tidak ada yang percaya dengan tebakannya.
Sementara Rin, ia tidak membuka berita. Jay belum memberikan ponsel karena menurut anjuran dokter, Rin harus terus melatih memorinya dengan aktif secara nyata. Rin sibuk dengan anjing peliharaan. Terkadang di ajak memetik buah, merangkai bunga, atau menggambar desain pakaian pada kertas menggunakan pensil pewarna. Gadis itu sibuk dengan para pelayan dan tidak ada waktu menyimak kondisi dunia. Bahkan saat namanya ramai di perbincangkan di seluruh negri.
Seluruh penghuni rumah sudah di beri tahu lebih dulu sebelum berita bahwa Jay akan menikah dengan adiknya yang bukan adiknya. Para pelayan sibuk bergunjing ini dan itu. Kondisinya lumayan ramai dan panas. Kendati, Rin hanya hidup dan menikmati masa pemulihannya.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Pernikahan di gelar secara privat. Hanya kolega dan kerabat dekat serta rekan bisnis–baru-baru ini yang diundang. Kegiatan itu dilakukan di gereja megah di kota Madrid.
Pesta yang tidak terlalu besar, namun khidmat. Rin di gandeng oleh salah satu rekan bisnis Jay. Seorang pria berusia akhir lima puluh menggunakan tuxedo hitam dengan bulu wajah yang nyaris menutup hampir seluruh dagunya. Ia mengantar mempelai wanita untuk bertemu dengan calon suaminya. Kondisinya agak mengharukan meski tidak ada yang menangis kecuali para pelayan yang sudah bekerja sejak Rin bayi. Rasanya, sedih dan bahagia sekaligus. Beruntung Jay tidak membuang adiknya atau sejenis meski tidak mungkin. Dan menikahi Rin memang jalan paling tepat.
Suasana menjadi semakin hening tatkala pendeta mulai berusara dengan mikrofon.
Suaranya tenang, ia menatap Jay dan tersenyum ramah “apakah engkau, Jay Adam, bersedia mengambil Rin Clarion menjadi istrimu yang sah, mengasihi dan setia padannya dalam segala keadaan, sampai maut memisahkan?”
“Ya, aku bersedia”
Pertanyaan serupa diajukan pada Rin. Jay melirik ke samping, tempat istrinya berdiri dengan senyum memikat. Gadis itu terlihat berbinar-binar dengan riasan seperti bidadari. Sungguh, kecantikannya seperti akan menghancurkan dunia. Jay bersumpah akan melakukan apapun demi mendapatkan gadis itu meski kini ia sudah mendapatkannya.
Lantas mereka saling tukar cincin.
Tangan cantik itu berada di atas besar miliknya. Jay menyematkan cincin dengan hati yang benar-benar bahagia. Begitu juga dengan Rin. ia mendongak melihat suaminya, lalu tersenyum kecil sangat menggemaskan sebelum memasukkan cincin pada jari manis besar pria itu.
Pandangan mereka terputus saat suara pendeta kembali terdengar–menyatakan bahwa keduanya telah resmi menjadi suami istri.
“Kau boleh mencium pengantinmu”
Kalimat itu menyusul setelah pernyataan sah. Sebenarnya, Jay lupa bagian yang ini. Namun saat pendeta mengatakan, ia menjadi berdebar sendiri.
Mereka selalu dekat selama ini, selalu menempel, akur dan saling menyayangi. Baik saat ingatan gadis itu utuh, atau saat hilang seperti sekarang. Jay tidak pernah melewati batas, tidak pernah. Rin sangat berharga dan ia begitu mencintai gadis itu dengan rasa hormat. Dan ciuman pertama mereka yang akan disaksikan tamu, pelayan dan persis di depan pendeta, Jay menjadi gugup.
Dua tangannya memegang rahang istrinya, Jay memiringkan kepala sedikit lalu benar-benar turun—mendaratkan ciuman.
Bibir yang halus dan kenyal. Permukaannya sangat lembut. Jay tidak berencana membuat ciuman berlebihan. Maka, ia hanya menempelkan bibir mereka sekilas, lalu memilih mencium kening istrinya agak lama “aku mencintaimu, Rin. Sungguh” bisiknya pelan. Rin mendunduk malu. Meski dengan riasan, namun rona itu tetap gagal ditutupi.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
“Apa kau bilang, Nona Rin sedang datang bulan?”
“Ya, semalam aku megantarkan pembalut ke kamarnya”
“Poor Tuan Jay..”
Lalu di susul gelak tawa. Para pelayan sedang mencuci pakaian sambil berbincang santai–membicarakan bahwa Rin memang baru mengalami menstruasi tepat malam sebelum pernikahan.
“Lagi pula, mereka lama hidup sebagai adik kakak. Aku berpikir Tuan Jay menikahinya hanya karena kasihan. Mereka mustahil bercinta. Kau tidak lihat di altar? Tuan Jay bahkan hanya menempelkan bibirnya sekilas dan memilih mencium kening. Cium kening itu bukan jenis ciuman yang normal dalam pernikahan. Aku bisa membayangkan jika Tuan Jay memang hanya menikah karena kasihan”
“Dia tidak malang, kau yang malang. Pelayan mencuci” temannya yang lain menyahut dan kembali tertawa.
“Kadang, aku masih berkhayal jika seorang alpha kaya raya serta tampan rupawan seperti Tuan Jay akan terpikat pada seorang pelayan biasa sepertiku. Seperti dalam film dan novel. Dia menyukaiku dan aku diperlakukan spesial sebelum dia melamarku” seorang gadis berusia 24 tahun yang sibuk memisahkan jenis kain memaparkan khayalannya. Ia tersenyum membayangkan ketampanan Jay akan ia lihat siang dan malam. Lalu berciuman serta pikiran-pikiran kotor lainnya.
“Hentikan hey! Gadis perawan gila! Kau harus berhenti menonton film dan membaca roman picisan. Tidak akan pernah ada Tuan besar menyukai pelayan rendahan kecuali hanya untuk ditiduri dan di tinggalkan dengan hina”
“Aku bahkan mau ditiduri” sisa orang disana menyoraki dan mereka semua tertawa. Mereka tidak sadar jika seseorang berdiri di pintu.
Rin berdiri di sana.
“Oh? Nona, sejak kapan anda berdiri di sana?” semua pelayan mendekat lalu menunduk serempak. Rin hanya menaikkan sebelah alis.
“Sejak seseorang mengatakan ingin ditiduri suamiku” kata Rin enteng. Lalu para pelayan saling senggol menyalahkan satu sama lain dalam bisik yang tidak dimengerti.
“Aku ingin makan sup. Tapi tidak ada satupun koki dan pelayan di dapur. Suamiku langsung pergi bekerja. Aku lapar” ia merengek.
“Aku akan membuatkannya untukmu” satu orang memberanikan diri mendongak, lantas Rin tersenyum cerah padanya.
“Terima kasih. Aku akan menunggumu sambil merajut” Rin kembali ke dapur. Sisa orang seperti baru bisa bernapas.
“Untung dia sangat baik. Bayangkan jika dia adalah nenek sihir. Habislah kita”
“Lagi pula, kenapa mereka tidak berbulan madu? Pasangan normal mana yang langsung bekerja setelah menikah? Sudah kubilang, Tuan Jay menikahinya karena kasihan”
“Tutup mulutmu, jika Nona Rin mendengar lagi, mungkin saja dia tidak sebaik yang tadi”
“Dan kita harus berhenti memanggilnya Nona, dia istri Tuan besar”
Rin membawa alat merajut. Pelayan sedang memasak sup. Ia bersenandung sibuk berkutat dengan benang wol. Baru ketika seseorang tergopoh-gopoh mendekat padanya, Rin mengalihkan pandangan.
“Nona, Tuan menelpon” itu adalah sopir pribadi Jay. Ia menyerahkan ponsel pada Rin.
Saat ia menempelkan benda itu ketelinga, suara Jay memenuhi rungu“Halo”
“Hm, Jay. Aku sedang merajut dan pelayan membuatkanku sup” ia mengapit ponsel di antara telinga dan pundak.
“Rin, maafkan aku, aku akan pulang terlambat dan menyusulmu tidur agak larut. Jangan tunggu aku, ya? Aku berjanji akan mengajakmu bulan madu nanti” suara Jay jelas terdengar menyesal. Urusan pekerjaan yang begitu mendadak hingga ia meninggalkan istrinya yang baru dinikahi tadi pagi. Jay ingin menangis. Rasanya sangat jengkel.
“Ya ya, aku sedang datang bulan. Aku lupa mengabarkan padamu” lontaran itu membuat telepon hening agak lama. Rin sempat berpikir jika Jay mematikan sambungan. Namun ketika ia melihat layar, panggilan itu masih berlangsung.
“Jay? Kau masih disana?”
Suara istrinya seperti baru kembali membawanya sadar. Pria itu berdehem salah tingkah. Sebenarnya, Jay tidak–atau belum ada rencana ke sana. Maka, ia pun menunda bulan madu. Namun secara ajaib tanpa aling-aling, Rin mengatakan tentang kondisinya yang jelas tidak bisa ‘bulan madu’ secara harfiah.
Rin benar-benar berbeda–maksudnya berbeda dengan Rin sebelum hilang ingatan. Rin yang ini berpikir bahwa mereka saling mencintai sejak lama dan tidak beprikir banyak tentang kalimat-kalimat—yang jika itu adalah Rin asli, maka gadis itu akan malu sampai mati.
“Aku mengerti, Rin.. t-tidak apa-apa” kata Jay gugup”
“Aku hanya memberitahu. Jangan khawatir, aku tidak akan menunggu dengan terjaga, aku mencintaimu, Jay” lalu Rin yang mengakhiri panggilan. Pelayan yang sedang memasak sup hanya menyimak. Tidak lama, sup terhidang.
Ia berterima kasih sesaat dan pelayan pergi.
Matanya menatap sup, lalu pada dinding berwarna sky blue yang dikolase dengan lukisan abad Renaisance. Menyendok, menyuap. Saat sedang mengunyah, tiba-tiba saja ingatan aneh muncul.
Rin meremas kepalanya pelan.
Ingatan pendek.
Jay berlari mengejarnya, tembakan air, lalu cup mie. Kepalanya sakit. Rin meringis. Tidak lama, ia melihat dirinya terbaring di tempat tidur lalu meminum obat. Rin hanya berpikir bahwa ia sedang sakit. Ingatan acak itu datang tanpa bisa di kendalikan. Benar-benar random tanpa runut yang bisa di susun.
Ia menyandarkan kepala di belakang kursi. Kuah sup tercium begitu lezat. Maka, ia berencana melanjutkan makan, sebelum potongan itu kembali datang.
“Kau ini kurang kerjaan kah? Carilah wanita dan pergi kencan. Pria penting di Madrid terus mengajak adiknya bermain. Seperti pria kesepian yang menyedihkan”
“Aku tidak menyedihkan. Aku hanya…” hening sesaat. Jay sedang menyusun kata “aku hanya ingin bermain dengan adikku, apa itu masalah?”
Itu adalah percakapannya dengan Jay. Rin melihatnya, mendengar. Sangat jelas. Kepalanya makin pening. Hingga ia benar-benar tidak tahan.
Maka, Rin memutuskan pergi ke kamarnya untuk minum obat dan tidur. Ia meminta pelayan menuntunya, langkahnya bahkan oleng. Kepalanya sakit.
Sebenarnya ingatan itu merangsek kelewat banyak. Seperti tempurung kecil yang di sesaki ingatan banyak sekaligus membuatnya panas. Gadis itu sudah minum obat, namun potongan-potongan itu tetap datang.
Semuanya seperti menyerbu sekaligus. Padahal ia tidak berbuat apa-apa. Maksudnya pemicu. Ia tidak terbentur, tidak melihat hal-hal yang membawa dejavu. Hanya tiba-tiba datang saja.
Ingatan itu merunut sepanjang ingatannya sejak di rumah ini. Datang secara acak dan Rin mencoba menyusunnya menjadi kepingan utuh meski sangat berat. Ia bahkan mual namun tak berencana memanggil pelayan atau menelepon Jay.
Yang paling membuatnya terkejut dari kepingan itu adalah kenyataan bahwa dirinya adalah adik Jay dan seorang omega.
Hanya dua hal itu yang berhasil membuat Rin berlari ke kamar mandi dan muntah. Ia tidak tahu, perutnya kontraksi dan tubuhnya lemas. Setelah itu, ia meringkuk di ranjang sambil menangis hingga lelah.
Ya, sangat lelah hingga terlelap. Tidak juga menghitung berapa interval antara kegilaan antara ingatan dan realita yang tengah dihadapi. Namun tubuhnya sudah tidak tahan dan memilih kehilangan kesadaran.
Jay kembali ke rumah tepat pukul dua dini hari. Ia tidak melihat Rin dalam kamarnya yang artinya gadis itu masih di kamarnya sendiri. Tidak masalah, bahkan sebelum pergi, mereka tidak merundingkan ini. Jay bergegas mandi dan akan menyusul istrinya.
Dan benar, Rin terlelap.
Jay melihat obat dan air di atas nakas. Mengenakan lingerie tidur berbahan satin yang membuat gadis itu terlihat ‘agak’ dewasa, Jay lantas menaikkan selimut dan terbaring di samping.
Tidak, ia tidak akan menciumi wajah itu meski ingin. Ia tidak akan mengganggu. Hanya menatapnya sambil merebah dan berada di ranjang yang sama cukup membuat pria itu bahagia. Meski bergairah, meski ingin, ia tidak. Hingga Rin yang memintanya sendiri, hingga gadis itu yang ingin di sentuh. Jay hanya ingin cinta, memberikan cinta dan mendapatkan cinta. Ingin melakukannya karena cinta dan dalam kesadaran penuh.
Tangannya meraih kepala, lantas mengusapnya pelan.
“Aku mencintaimu, Rin. Sungguh, demi hidupku”
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Begitu membuka mata dan melihat Jay tidur di sampingnya sambil memeluk perutnya erat. Rin menjerit. Gadis itu menjerit keras—meski tidur dengan Jay bukan hal pertama seumur hidupnya. Mereka sering melakukannya dan memang hanya tidur dalam artian harfiah. Tidur. Tidak ada yang lain. Lagipula orang gila mana yang akan ‘aneh’ saat tidur dengan kakaknya?
Jay ikut kaget dan beringsut duduk mengucek matanya. Sementara Rin duduk memojok sambil memegang selimut dan menangis—seolah Jay telah melakukan hal buruk.
“Ada apa? Astaga, jantungku hampir keluar” pria itu menghela napas, ia menguap sambil menggaruk dada.
“Kau? Kenapa dikamarku? Kenapa tidur disini? Kenapa?” tangisnya pecah, bukan karena kaget akan eksistensi Jay di kamarnya, melainkan ingatan yang datang keseluruhan–membawanya ingat akan hari pernikahannya kemarin, statusnya sebagai adik–karena Rin benar-benar tidak melihat berita bahwa dirinya bukan adik kandung Jay. Juga memang tidak ada satu pun yang memberi tahu. Ingatannya hanya; ia menikah dengan Jay, kakaknya. Selesai.
Jay tidak tahu harus bereaksi apa. Ia bingung mesti memulai darimana. Maka, pria itu mendekat pada Rin. Berencana ingin memeluknya dan menerangkan sedikit-sedikit dalam kondisi tenang. Namun gadis itu menolak. Ia menggeleng keras dan makin tenggelam dalam air mata dan isak yang kuat.
“Bagaimana kau menikahiku, sialan? Aku adikmu. Kau gila? Apa otakmu rusak! Jay sialan! Aku tidak mau menikah, dan kenapa aku mau menikah denganmu? Aku adikmu..” ia tergugu, dua tangan menangkup wajah, air matanya sangat banyak dan perutnya mual, ingusnya berantakan.
“Aku tidak pernah manaruh curiga saat kau memang tidak pernah berkencan dengan siapapun, tidak pergi dengan teman atau gadis-gadis cantik penggemarmu di akhir pekan. Kau selalu menggangguku, tapi sialan aku tidak berekspektasi jika kau menyukaiku! Kau ini sungguh bukan manusia! Kau binatang, hanya binatang yang menikahi saudaranya, Jay keparat kau”
“Rin, dengarkan aku dulu” Jay kembali akan mendekat, namun tiap pria itu bergeser, Rin akan menjerit.
“Aku akan mangadukan tingkahmu pada mama, pada papa di pemakaman. Kau mengerikan, Jay. Aku takut padamu, aku bersumpah aku membencimu! Tolong keluar dari kamarku atau aku akan bunuh diri” ancaman itu disertai aksi. Rin memecahkan gelas di atas nakas lalu mengarahkan pecahan tajam itu ke lehernya “kubilang keluar!!!! Aku benci melihatmu!! Aku akan bunuh diri jika kau masih disini”
Jay mengusap wajahnya kasar. Dengan helaan napas berat, pria itu turun dari ranjang.
“Rin.. “ Jay benar-benar tidak tahu harus memulai darimana. Maka, pria itu keluar dari sana. Ia mendengar Rin makin tergugu, sesekali muntah.
Pria itu menelepon asistennya. Lantas memintanya untuk berbicara baik-baik pada Rin apa yang terjadi. Kondisi ini membuatnya sakit kepala.
Gadis itu sudah tenang setelah dokter datang. Entah apa yang dikatakan dokter. Disusul para pelayan yang membawakan aneka makanan favoritnya.
Setelah dimandikan, perutnya kenyang dan perasaannya mulai stabil, asisten Jay baru benar-benar masuk. Tangannya sibuk mencangking map tebal dan tablet di tangan yang lain. Ia berdehem–membuat gadis yang melamun didepan jendela besar kontan menoleh.
“Sudah merasa lebih baik, young lady?” wanita itu selalu saja berhasil membawa getaran positif dengan senyumnya yang ramah dan gesturnya yang tenang. Wajah teduh khas seorang ibu, Rin tiba-tiba rindu ibunya.
Ia tidak menjawab, hanya tersenyum kecil tak sampai mata. Matanya kembali menatap hamparan pemandangan yang itu-itu saja.
Asisten Jay meletakkan map di meja sofa, tangannya bergerak lincah bergulir pada tablet. Kacamatanya terlihat lebih tebal dari biasanya–membingkai pada mata sipit. Rahangnya tidak simetris dan ia memiliki tahi lalat dekat bibir. Konon, tahi lalat disana artinya cerewet. Padahal menurut Rin tidak.
“Ingatanmu sudah kembali utuh, Nona?”
Pertanyaan yang siapa saja tahu jawabannya. Maksudnya, Rin sudah menjelaskan itu pada dokter berulang-ulang. Seharusnya siapa saja tahu. Namun Rin akan menjawabnya meski hanya dengan anggukan.
“Bagus. Kau mengingat dengan baik siapa dirimu. Tapi kau tidak membuka berita dan Tuan,” asisten itu menghela napas “Tuan tidak memberimu ponsel dan tivi. Sebenarnya, bagus jika kegiatanmu tidak melibatkan layar dan produktif. Tapi asal kau tau, Nona. Sesuatu yang besar telah terungkap. Dan itu melibatkan namamu, masa depan, masa lalu dan siapa dirimu”
Kata-kata asisten Jay baru benar-benar membuat Rin tertarik. Ia membalik tubuhnya sepenuhnya hingga menghadap wanita itu.
“Apa maksudmu?” Rin menyiptkan mata penuh selidik.
“Maksudku? Kau ingin tau apa maksudku? Kemarilah, Nona muda. Duduk didekatku. Kita berbincang dengan tenang dan hati lapang. Kau tidak bisa terus menerus memandang jendela sambil membenci pria yang menyelamatkan hidupmu”
“Menyelamatkan hidupku? Tolong bicara yang benar” Rin akhirnya duduk di samping asisten itu.
“Karena kau benar-benar tidak tahu. Maka, yang perlu kau lakukan adalah mendengarkan. Dengarkan dan perhatikan apa yang kuucapkan” lantas sang asisten memutar video dalam tablet—dimana dirinya berada di atas podium sembari memberi pengumuman. Rin menyimaknya hati-hati. Menajamkan rungu dan setiap kata yang keluar dari sana, ia cerna dengan baik.
Durasinya hanya lima menit tiga puluh tujuh detik. Tapi isinya berhasil membuat Rin mengatupkan rahang begitu rapat. Jantungnya berdegup kelewat cepat dan perasaan aneh merambat mirip sel yang bermutasi lantas menciptakan hal-hal mengerikan yang menggerogoti jantung sampai ke hati. Benar, perasaannya mencelos. Berita itu kelewat besar hingga Rin mematung cukup lama.
Agak lama. Asisten Jay memberi waktu untuk gadis itu merenungkan berita besar yang berhasil mengubah tatanan sejarah hidupnya.
“Kau tau…” sang asisten mengeluarkan map. Membuatnya berceceran di atas meja. Itu adalah data diri Lin. Bagaimana ia diadopsi dan siapa orang tua kandungnya. Semuanya lengkap dan valid setelah diverifikasi oleh saksi di Rusia.
“Ini akan membuatmu sulit tidur, mungkin. Tapi sesuatu terjadi dengan alasan. Seperti Tuan yang menikahimu. Dia hanya ingin melindungimu. Dia begitu menyayangimu. Rasanya aku terlalu membias. Namun setelah semua hal yang kau dengar barusan, kuharap kau bisa lebih dewasa dalam menyikapi keputusannya. Kau bahkan tidak punya hal—barang sepeserpun dari kekayaan mendiang Tuan dan Nyonya besar. Dan Tuan Jay hanya ingin kau terus ada disini, menikmati apa yang sebenarnya bukan milikmu. Kau mengerti sistem pembagian warisan di negeri ini. Anak angkat benar-benar tidak memiliki hak. Jika Tuan jahat, dia sudah mengusirmu”
Baik kata-kata sang asisten. Kata-kata dalam video yang rasanya masih berputar-putar di kepala, semua begitu berat. Rin sakit kepala.
“Apa Jay juga tahu jika aku…” Rin menggigit bibir bawahnya. Dan ia tidak melanjutkan kalimatnya. Begitu banyak ketakutan dan bagian paling nyata yang harus ia hadapi saat ini—tidak jauh mengerikan dari Jay membencinya karena alasan bahwa ia bukan anak kandung dari orang tuanya. Juga karena ia adalah seorang omega.
Benar, ia bukan anak dari para alpha keren. Lagipula memang sejak awal tidak masuk akal—pasangan alpha normal memiliki anak omega. Itu kemustahilan. Rin tidak akan repot untuk bertanya ‘kenapa, bagaimana’ atau apapun yang menyangkut tentang ibu dan ayah angkatnya—bukan orang tuanya. Namun kenyataan bahwa Jay, satu-satunya orang yang kini menjadi sandarannya, satu-satunya ahli waris sah sekaligus pemilik semua hal, pria tampan dengan kekuasaan itu sekarang adalah suaminya. Pria yang membenci omega hina, omega pecundang.
Sama saja. Setelah Jay tahu jika ia omega, maka, kenyataannya tidak jauh dari kemungkinan jika Jay jahat saat tahu bahwa ia bukan adik kandungnya.
Rin menangis.
Ia menangis untuk alasan yang itu. Dan sang asisten memeluknya.
“Aku tau ini berat. Tapi, belajarlah menerima kenyataan dan lihat dunia dari sudut pandang lebih luas. Lihat hal-hal yang ada di sekitarmu. Lihat Jay. Lapangkan dadamu dan mulai terima semua hal. Kau tidak bisa mengelak. Hanya, berbahagialah gadis kecil..” usapan di kepala semakin membuat Rin tergugu. Kata-kata sang asisten sangat manis. Namun, tidak ada yang benar-benar mengerti situasinya.
“Hm? Berlemah lembut pada suamimu. Dia sedang melamun di ruang kerjanya seperti pujangga putus cinta. Dia bingung harus menjelaskan mulai dari mana. Dia hanya pintar beretorika pada kolega kerja, saat presentase di kantor menjelaskan pada bawahannya dan pada hal-hal yang melibatkan uang dan perusahaan. Namun jika menyangkut wanita, dia benar-benar payah” sang asisten menangkup wajah Rin dan mendongakkan “kau bisa, kau gadis beruntung. Aku harus pergi”
Sang asisten merasa perusasinya berhasil. Lantas ia keluar dan pergi ke ruang kerja bosnya. Menerangkan ini dan itu meski membuat Jay skeptis.
“Initnya, apa dia bersedia bertemu denganku tanpa ketakutan apalagi mengatakan bahwa dia membenciku?” Jay menikkan satu alis. Wajahnya lesu.
“Aku yakin. Dan jika tidak, berarti Rin cukup bodoh untuk ukuran wajah secantik itu”
Sang asisten berpamitan dan Jay lagi-lagi bingung.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Sudah dua hari mereka tak berusa.
Jay tidak mendatangi kamar Rin dan mustahil gadis itu mendatanginya. Rin lebih banyak menghabiskan waktu dalam kamar. Seorang pelayan meminta ponsel pada Jay atas titah Rin dan pria itu memberikan. Namun keduanya belum ada yang benar-benar bertemu. Alasannya juga tidak bisa dikatakan berat. Hanya bingung. Keduanya tidak tahu harus berkata apa–satu sama lain sementara Rin sudah pusing dengan ketakutannya yang seakan mencekik. Maka, ia memutuskan untuk menyerah dan pasrah dengan apa yang akan terjadi ke depannya. Bahkan jika Jay membuangnya. Ia akan pergi ke tempat penampuangan para omega. Seperti rencananya sejak dulu.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya, pintu kamarnya terketuk dan pelayan mengabarkan bahwa Jay ada di depan pintu lalu pelayan itu meminta izin apakah Tuan mereka boleh masuk.
Sungguh lucu. Rin ingin tertawa beberapa saat. Jay sungguh aneh. Padahal, semua adalah miliknya. Bahkan dirinya, seluruhnya. Meski Rin masih belum terbiasa, tentu saja. Mereka adalah suami istri di mata tuhan, di mata hukum. Namun kehidupan berjalan seperti semua hal tidak pernah terjadi.
Jay masuk setelah Rin memberi izin.
Gesturnya kikuk. Pria itu hanya berdiri di depan pintu kamar setelah daun itu tertutup. Ia menautkan dua tangannya ke belakang. Lalu menggaruk kepala yang tidak gatal. Senyumnya pun sangat canggung. Ia tidak tahu harus memulai dari mana.
“H-hai..” sapa Jay gugup. Kakinya tidak bisa diam. Alpha keren dan perkasa itu mendadak berubah aneh di depan gadis–istrinya. Rin balik menatapnya datar.
“Hai” Rin tersenyum tak sampai mata.
“Apa kabar? Apa masih marah?”
“Aku baik-baik saja dan aku tidak marah” jawab si gadis praktis. Rin sedang membaca buku. Selimut naik sampai lutut saat ia melipat kakinya. Rin lantas menurunkan buku dan matanya fokus.
“Ah.. begitu..” Jay bingung harus apa lagi “apa kau sudah maka—”
“Aku sudah makan” Rin menjawab tanpa menunggu pertanyaan selesai. Pria itu mengangguk-angguk.
“Baik, kalau begitu selamat istirahat” pria itu tersenyum canggung lagi, lalu keluar dari kamar Rin dengan gerakan benar-benar kikuk.
Setelah itu semua berjalan lagi seperti sebelumnya. Tanpa bertemu meski mereka berada dalam mansion yang sama. Rin hanya berpamitan pada pelayan untuk pergi ke studio dan pelayan menelpon Jay. Rin baru pergi setelah Jay mengizinkan.
Begitu terus, berulang-ulang.
Hari berganti hari, minggu berganti dan bulan-bulan berlalu.
Hubungan mereka tidak mengalami perkembangan. Jay masih kikuk dan ia hanya—seperti kemarin-kemarin. Masuk ke kamar Rin dan bertanya sangat klise tentang–sudah makan–sudah ini dan itu. Setelah itu pergi. Begitu terus. Pun, Rin yang tidak memiliki keberanian untuk mengakrabkan diri. Rasanya sangat aneh dan canggung meski ia sudah menerima sepenuhnya jika—tidak ada yang bisa dilakukan selain menerima takdir. Namun jika untuk mendatangi Jay dan bercengkrama seperti dulu lagi, jujur saja, itu sangat sulit. Ia merasa ada sekat yang tidak dimengerti. Padahal, pria itu jelas ingin mengajaknya bermain, ingin kembali seperti dulu.
Namun, status mereka telah berubah. Total. Meski Rin dalam keadaan sadar bahwa ia bukan istri yang benar.
Sampai detik ini, meski dikatakan sudah menerima takdir, namun Rin tidak merasa ada yang harus diperbaiki dari tingkahnya.
Dan ia merasa tidak tahu diri untuk beberapa saat.
Seperti sore ini. Rin sedang sibuk menyirami pohon storberi di halaman belakang bersama beberapa pelayan. Ia tidak menyadari bahwa para pelayan telah mundur dan eskistensi lain yang mendekat.
Saat suara deheman paling familiar berada persis di belakangnya, Rin baru menoleh.
Jay menyodorkan es krim.
“Aku membeli es krim karena ingat kau” kata pria itu ramah. Rin mencuci tangan sebentar sebelum menerima cup.
“Terima kasih” kata gadis itu lembut. Jay tidak langsung pergi. Ia masih berdiri canggung–menggaruk tengkuk “ada sesuatu?” Rin mendongak menatap mata suaminya yang kebingungan.
“T-tidak, tidak ada apapun. Aku hanya memberimu es krim”
“Ah..” Rin mengangguk. Lalu ia berjalan ke sisi, tempat ia melatakkan ponsel, dan minuman serta cemilan. Jay ikut bergabung duduk meski belum berkata apapun.
“Kau pintar merawat stroberi” kata pria itu basa-basi.
“Bukan aku, tapi pelayan. Aku hanya ikut-ikutan” jawab Rin tak kalah basa-basi.
“Tapi kau–” Jay tidak melanjutkan kalimatnya.
“Apa?”
“Tidak. Kau sangat produktif. Jangan terlalu lelah. Aku akan memperketat penjagaanmu di studio. Pergilah bersama pengawal kemanapun. Aku khawatir” kata-kata Jay membuat Rin tersenyum.
“Aku baik-baik saja. Aku sungguh baik-baik saja. Aku hanya canggung dan malu mengobrol denganmu. Aku sungguh tidak dewasa, ya? Aku bahkan tidak meminta maaf atas aksiku terakhir sebelum kita menjadi secanggung ini. Aku tidak tahu harus memulai darimana. Aku sendiri malu dan–tidak tau” Rin menghela napas, ia mengalihkan pandangan pada hamparan pohon storberi sambil menyuap es krim.
“Jay, aku minta maaf” lalu menatap pria itu “tapi aku masih tidak tahu harus apa. Aku bukan adikmu lagi. Aku istrimu” kata-kata terakhir di lontarkan sangat pelan. Hampir mirip bisikan “ada malam dimana aku takut pada semua hal, aku bingung dan hilang arah. Tapi jangan salah paham, ini bukan karena kau menikahiku. Tapi karena aku belum bisa menerima diriku dan kemungkinan-kemungkinan yang–hanya aku dan isi kepalaku yang rumit. Aku tidak tahu. Sungguh, rasanya semua seperti menusuk-nusuk kepalaku”
“Aku mengerti” ucap Jay kemudian “pelan-pelan saja. Kau bisa menganggapku kakakmu seperti biasa. Aku tidak akan membebanimu dengan tugas istri jika kau belum siap. Lagipula, aku tidak tahu tugas istri itu apa. Aku menyayangimu selama ini. Aku juga tidak tahu”Jay menunduk, meremas jari-jarinya.
Rin masih menatapnya dari samping. Jay ikut menatap.
“Terima kasih, Jay. Aku lega”
“Untuk apa?”
“Untuk hari ini. Aku sungguh tidak dewasa. Bahkan setelah percakapan ini, aku tidak tahu harus apa. Aku tidak siap jika harus… kau tau, suami istri”
“Ah… itu.. Tidak tidak, kau tidak perlu memikirkannya. Sudah kubilang aku tidak masalah, bahkan jika kau mau menganggapku kakakmu seperti kita biasanya. Itu terdengar lebih baik”
“Bisakah?”
“Apa?”
“Aku menjadi adikmu seperti biasa?”
“Bisa. Merengek padaku seperti biasa, adukan apapun keluhan tentang hari-harimu, menangis dan minta aku memberimu cup mie dan pura-pura sakit tiap kuajak pergi saat akhir pekan. Atau bermain dalam ruang kerjaku dengan pistol air. Kita bisa melakukannya lagi”
Rin tertawa. Ia terbahak-bahak dan menulari Jay.
“Sungguh, aku muak pura-pura kuat. Aku ingin menangis di pelukan kakakku yang kini menjadi suamiku” Rin meninju bisep Jay “lalu memohon padanya untuk memberiku mie cup”
“Aku akan berterima kasih pada tuhan seandainya Dia mau mengembalikan Rin-ku” Jay ikut tertawa sebelum kembali berdeham. “Dengar, Rin.. aku yang harusnya minta maaf. Aku menikahimu dalam kondisimu yang kurang stabil. Aku mengambil keputusan impulsif setelah semua kebenaran terungkap. Seharusnya aku menunggumu pulih dulu. Seharusnya…” Jay menunduk. Padahal tidak seperti itu. Jay sudah siap dengan konsekuensi–seperti kecanggungan panjang ini. Kecanggungan yang merupakan buah dari keputusannya. Ia sudah memikirkan yang ini juga meski tetap bingung saat dihadapkan pada perubahan sikap Rin yang signifikan. Pada apa yang dinamakan efek samping. Namun persetan, yang terpenting, Rin terikat padanya. Mutlak.
Rin tidak menjawab. Ia hanya memakan es krim. Seperti Rin biasanya—seperti Rin bocah yang gemar merengek dan marah-marah saat di ganggu. Jay melihatnya seperti itu. Rin-nya telah kembali.
“Pergilah bermain denganku akhir pekan ini. Jika kau mau. Kali ini, aku tidak akan memaksa” pria itu mengembalikan fokus pada jari-jarinya yang terpaut.
“Kemana? Sudah ada tujuan?”
“Masih kupikirkan. Tapi tiba-tiba aku ingin memanen stroberi”
“Hentikan!” Rin melotot “stroberi ini baru saja berbuah! Jika kau nekat memanen sebelum waktunya, aku akan menangis sepanjang waktu hingga kepalamu pecah” ancam gadis itu serius.
Jay mendelik. Perasaannya begitu senang saat suara cempreng, ancaman dan mata bulat yang lucu itu kembali. Mulut Rin penuh dengan es krim sambil mengomel.
“Aku ingin mendengar Rin menangis sepanjang waktu, lalu aku akan membuatkan pie stroberi yang lezat. Kau akan berhenti menangis. Aku jamin”
“Tidak akan. Aku akan membunuhmu”
“Terdengar ngeri”
“Ya, aku membesarkan stroberi ini dengan sepenuh hati”
“Kau bilang, pelayan yang mengerjakannya”
“Aku juga ikut andil. Aku orang tua semua stroberi ini. Jadi hentikan rencana busukmu atau aku akan membunuhmu dengan cangkul dan es krim”
“Jika kau orang tua stroberi, maka aku Papa stroberi” Jay pura-pura berpikir “baiklah, aku tidak mungkin menyakiti anakku”
“Itu terdengar bijak”
“Ya, aku bijak” Jay bangkit. Lalu melakukan peregangan.
“Apa kau mau pergi?”
“Hm” pria itu melangkah menuju pohon stroberi. Buahnya kecil-kecil khas baru berbuah. Beberapa ada yang sebesar bola ping-pong meski warnanya masih merah muda keputihan.
Jay bersenandung melewati semua buah. Rin memperhatikan dari sana. Lantas saat gadis itu menyendok es krim, Jay mengambil buah itu cepat-cepat, memetiknya buru-buru dan langsung ia masukkan dalam saku celana. Saat Rin mendongak, ia memergoki aksi kriminal suaminya. Gadis itu naik pitam.
“JAY!!!! KAU MAU MATI YA!!!!” Pria itu berlari sambil menarik stroberi hingga tangkainya patah, kebun itu di acak-acak secara tidak dewasa oleh seorang pria—pemilik seluruh komponen dalam mansion sekaligus alpha keren yang kuat dan gagah.
Namun lihatlah tindakannya sore ini. Pria itu terbahak-bahak melihat Rin berlari mengejarnya dengan langkah kecil. Gadis itu akan menyerangnya dengan kepalan tinju yang hanya mampu melukai semut.
Jay kesenangan. Sudah sangat lama. Ia benar-benar merindukan momen ini.
Lantas ia memelankan langkah hingga Rin berhasil mengejarnya. Pria itu jatuh ke rumput—telentang dan Rin memukulinya—ikut jatuh dan duduk di perut suaminya.
Pukulan itu mendarat berulang-ulang pada dada, perut, lengan atas dan pundak Jay. Pria itu pura-pura memekik kesakitan dan menutup mata berlagak pingsan. Padahal, pukulan gadis itu seperti jentikan anak kucing.
“Kau ayah yang buruk. Kau harus di penjara seumur hidup karena membunuh anakmu sendiri. Kau harus merenungkan kejahatanmu sembari membusuk di penjara” Rin lelah, ia mendongak sambil terengah, namun tidak pindah dari posisi—menduduki perut suaminya.
“Aku sangat menyesal.. Oh.. anak-anakku.. Papa Khilaf.. Oh.. aku menyesal..” Jay mengatakannya sambil meringis dan menutup mata “kuharap, Mama akan melahirkan saudara-saudara yang lain. Yang bisa bicara” ia tertawa. Lalu membuka mata. Saat maniknya beradu dengan milik si gadis. Rin sedang melamun.
“Kau melamun” Jay bersingsut duduk. Ia memeluk Rin sebentar untuk membernarkan posisinya, gadis itu tadinya ingin turun, namun Jay mencegah. Mereka duduk seperti itu di pojok kebun stroberi, di sore yang nyaris bertransisi.
“Aku minta maaf. Setelah ini, aku akan memanggil tukang kebun dan membenarkannya”
“Tidak perlu”
“Kau merajuk”
“Aku tidak”
“Kau iya”
“Ish..”
Jay tertawa, pria itu terbahak-bahak, lalu memeluk Rin “maaf karena aku keterlaluan. Aku hanya sangat rindu hingga tidak berpikir jauh. Aku sungguh menyesal”
“Kau tidak menyesal. Aku lelah sekali.. Rasanya aku ingin menangis..” tanpa menunggu jawaban. Rin menangis. Awalnya hanya isak kecil. Lantas lama-kelamaan menjadi besar dan makin keras. Jay meringis dan salah tingkah. Ia memeluk istrinya, mengusap punggung dan mencium pucuk kepala–khas menenangkan anak kecil.
“Aku menyesal, sungguh.. Aku keterlaluan..”
Rin menangis di pelukan. Jay makin mengeratkan dekapan. “Maaf ya? Maafkan aku..”
Lantas pria itu mendongakkan si gadis, mengusap air mata Rin telaten “aku akan bertanggung jawab. Aku bersumpah, besok saat kau membuka mata. Kau akan melihat kebunmu indah tanpa cela, tanpa rusak”
“Kau yakin bisa?”
“Apa yang tidak aku bisa? Aku bisa melakukan apapun” ucap pria itu percaya diri.
“Apa kau bisa terbang?”
“Tentu saja, aku terbang seminggu kadang dua sampai tiga kali”
“Bukan pesawat, tapi terbang sungguhan”
“Aku bisa”
“Kau berdusta”
Jay tertawa “apa kau ingin aku terbang? Aku akan melakukannya untukmu”
“Tidak, terdengar bodoh”
Pria itu terkekeh lagi. Ia mengusap wajah istrinya secara menyeluruh dengan dua tangan “sungguh buruk pria yang membuatmu menangis..”
“Pria itu tidak buruk. Dia hanya pria dewasa yang tidak dewasa”
“Benarkah? Sungguh tidak dewasa”
“Hm, tidak dewasa”
Wajahnya merah, matanya merah, pipi bersemu dan bibirnya merah merekah tanpa pewarna. Gadis itu masih mendongak saat wajahnya tepat di arahkan ke hadapan. Cukup lama mereka dalam posisi itu. Jay menelan salivanya susah payah. Jakunnya bergerak resah. Pria itu berdehem beberapa kali untuk mengenyahkan hasrat–naluri alami seorang laki-laki.
Cup!
Rin mencium pipi Jay lalu tertawa setelah menangis. Air matanya bahkan baru surut, ingus di seka asal “ayo masuk, aku akan mandi dan bersiap makan malam, perutku lapar” ia lagi-lagi mencoba bangkit dan Jay masih terus menahan. Perilaku Rin membuat Jay berpikir yang lain. Ciuman sekilas pada pipinya, bukan lagi bentuk rayuan seorang adik pada kakaknya. Bukan, Jay tidak mengartikan itu menjadi sederhana seperti sebelumnya. Siapa saja tahu, Rin tahu. Ia sudah dewasa untuk mengerti apalagi status mereka.
Lantas pria itu menundukkan kepalanya cepat. Menempelkan bibirnya pada bibir si gadis. Dua tangannya setia pada rahang–mendongakkan.
Jay menciumnya. Kali ini sungguh.
Ciuman pertama mereka dengan cara paling benar. Bukan seperti di altar.
Ia meyelami bibir, mengulum lembut itu hati-hati, sangat pelan dan terukur. Jakunnya bergerak lagi, ia menelan saliva sebelum seperti orang tidak sabaran.
Sedetik kemudian, bibir Rin habis di lahap. Pria itu mengulumnya lembut–tergesa, lembut lagi. Ia menghisapnya, bermain lidahnya di sana–menari-nari di permukaan bibir.
Sebelum pelan-pelan ia menyelipkan lidahnya di antara celah bibir. Mendobrak ke dalam seperti tamu tak diundang. Di dalam sana, lidahnya menginvasi, menekan, membelit, menyesap dan mengacak isi mulut. Sesaat, Rin mendesah halus, pelan dan nyaris mirip erangan pendek.
Jantung keduanya berdegup kencang, rasanya seperti di gelitik bulu di sepanjang perut. Baik Rin maupun Jay.
Ciuman mereka semakin dalam. Rin menerima pria itu, menerima tiap aksi lidah yang bergerilya dalam mulutnya. Dua tangan Jay tidak lagi di rahang, melainkan menyangga punggung istrinya agar tidak doyong–sambil meremas kulit halus–dengan memasukkan tangan ke dalam blouse.
Gadis itu merintih dalam hisapan, mengerang tertahan di langit-langit mulut. Jay bersumpah seperti akan melompat ke langit.
Gadis cantik kesayangannya mendesah, menahan suara dalam mulutnya, oh sial.. Pria itu semakin bersemangat dan makin gencar. Satu tangan yang awalnya mengelusi punggung, kini berpindah pada belakang kepala. Lidahnya seperti akan masuk ke dalam tenggorokan–menusuk istrinya dengan cinta dan saliva.
Rin kesulitan bernapas, lalu pria itu menarik indra perasanya, memasukkannya lagi, menarik lagi. Lalu mengulum bibir lagi. Gadis itu mendesah agak panjang, Jay bersumpah ingin memasukkan seluruh tubuh istrinya dalam mulut. Mengulumnya dengan cara paling menjijikan, impiannya.
Namun beberapa saat, Rin memundurkan kepalanya. Membuat ludah mereka berdua membentuk benang dari mulut satu sama lain. Jay mengusap bibir basah istrinya lembut. Matanya sayu menatap ayu yang terengah. Begitu seksi sekaligus imut, sial. Jay mengutuk dirinya sendiri jika gadis ini gagal menjadi miliknya.
“Ayo masuk” suara Rin tercekat, gadis itu membenarkan tenggorokan dan mengalihkan pandangan dari mata yang melihatnya jelas seperti singa lapar. Pandangannya kembali turun ke leher–pada jakun yang sejak beberapa saat selalu bergerak. Maka, Rin memegangnya.
“Ini lucu, kenapa bergerak terus?” ia mengusap benda itu “wow, bisa berjalan” katanya enteng. Ia cekikikan.
“Itu bukan mainan”
“Benarkah? Bagus, ini bukan mainan” Rin makin menjadi-jadi saat Jay memperingatkan. Telunjuk kecil itu menekan-nekan jakun yang seakan berjalan. Gadis itu kesenangan.
“Apa menyenangkan?”
“Tidak, hal-hal semacam ini bukan mainanku. Tapi aku akan senang jika membuatmu kesal”
“Oh, oke. Bagus. Kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan karena aku tidak akan kesal. Kau bisa memainkan itu seumur hidupmu”
“Benarkah? Terdengar bagus” Rin terus memecet jakun. Naik–turun, ke kanan-ke kiri. Ia terkekeh sendiri.
“Ayo makan, aku juga lapar. Rasanya, aku akan memakan istriku sendiri” Jay membenarkan rambut Rin, lalu mencium pipi gadis itu sekilas.
“Aku bukan makanan”
“Ya, kau lebih dari itu”
“Hm”
“Ya, bisa kita ulangi?”
“Apa?”
“Ciuman, aku kecanduan, Rin”
Gadis itu bangkit—berlari kabur dengan buru-buru. Langkah kecilnya menjauh membuat Jay tak bisa menahan gelak “aku akan menangkapmu” ancamnya serius. Namun Rin mustahil mendengar.
Foto pernikahan mereka di pajang di ruang tamu dengan ukuran luar biasa tidak normal. Gambar itu setinggi dinding sekitar lima meter persegi.
Rin baru menyadari ketika turun untuk makan malam dan Jay sedang sibuk mengatur itu dengan orang-orang yang juga sibuk menunggu instruksi. Pria itu berdiri sambil bertolak pinggang.
“Rasanya terlalu ke kanan. Bagaimana jika geser sedikit?” Katanya. Lantas sisa orang di sana kembali bergerak memindahkan untuk menyempurnakan spot yang diinginkan.
Lalu Jay melihat istrinya turun. Matanya langsung berbinar. Senyumnya secerah musim panas.
“Aku membuatkan nasi goreng” katanya Jay basa-basi.
“Kau tidak bisa masak”
“Ya, maksudku, aku meminta pelayan membuatkanmu daging cincang” ralat pria itu, masih dengan senyum konsisten.
“Aku akan berterima kasih pada pelayan” Rin berjalan begitu saja. Ia bahkan tidak berkomentar pada foto di dinding. Jay mengikuti istrinya di belakang.
“Rin, menurutmu, apa fotonya bagus?”
“Kurang besar. Aku memimpikan foto sebesar gunung fuji”
“Benarkah?” Jay berpikir banyak.
“Aku bercanda. Tapi aku tidak suka fotoku yang itu, terlihat mirip orang hamil. Aku gendut. Kau pasti sengaja memajang itu untuk mengolok-olokku” sambil mengoceh, tangannya sibuk mengambil makan.
“Aku dalam angel pas dan tampan. Jadi terserah padaku” pria itu terkekeh.
“Kau memang seperti itu. Lebih bagus jika aku bersanding dengan monyet”
“Kau menghinaku”
“Bagian mana?”
“Monyet”
Rin menghela napas “Jay, bolehkan aku makan mie cup setelah ini?”
“Setelah kau mengatakan gendut difoto? Kau menyalahkanku, tapi siapa yang terus merengek minta mie cup?” gadis itu mengedikkan bahu menahan senyum. Sesekali kilasan tentang ciuman pertama mereka berputar. Itu pertama bagi Rin meski bukan bagi Jay. Namun keduanya sama-sama merasakan sensasi menyenangkan.
Wajah gadis itu merona hanya dengan mengingatnya. Sambil mengunyah, Rin mengalihkan pandangan sembarangan. Sesaat, ia merasa seperti orang bodoh yang konyol.
“Mau jalan-jalan setelah ini?” tawaran itu mengembalikan Rin pada kenyataan. Sungguh, ia merasakan duduk di pangkuan suaminya, melihat jakun pria itu dari dekat lantas Jay menginvasi bibir dan rongga mulutnya lagi dengan mulut itu. Mulut dengan rahang tegas dan gagah, tengah mengunyah. Tiap komponen seperti memang diciptakan untuk sempurna.
“Aku akan tidur cepat. Hari ini sangat lelah”
“Kau sudah janji”
“Janji? Aku menjanjikan pergi akhir pekan”
“Benarkah? Apa aku salah dengar?” ia mengangguk-angguk “aku juga punya beberapa pekerjaan” lalu menatap istrinya “kau boleh meneleponku langsung jika butuh apapun. Tidak melalui pelayan atau siapapun. Akan sangat bagus lagi jika kau pergi menemuiku langsung” Rin juga mereaskinya dengan anggukan pelan.
“Aku sungguh senang” Jay terdengar tulus.
“Tentang apa?” Rin mendongak.
“Kau, kau mau akur denganku”
“Kita akur selama ini”
“Ya, maksudku, beberapa hal terjadi dan membuat kita saling menjauh satu sama lain. Kau tau.. Kadang aku menyesal dan sedih”
“Jay..” Rin memangkas omongan pria itu “aku berterima kasih karena kau tidak membenciku, aku bukan adikmu. Aku menumpang hidup mewah di rumah ini dengan tidak tahu diri” gadis itu meremas tangannya sendiri. Setelah sejak tadi bayangan indah tentang ciuman mereka berhasil membuatnya merona dan berbunga-bunga, kini ingatan tentang—kenyataan bahwa ia adalah sorang omega dan Jay membenci omega lemah dan pecundang–kembali merangsek dalam kepala. Gadis itu mengaduk daging dan saos mustard. Perubahan suasana hati semacam itu bukan hal baru bagi Jay. namun tetap membuat pria itu kebingungan tanpa jawaban. Rin selalu seperti itu, sejak dulu.
“Kau melamun lagi” Rin menatapnya sekilas dan kembali mengabaikan “seandainya aku tau apa yang paling mengusikmu”
“Tidak ada. Aku mengantuk”
“Habiskan dulu makananmu”
Rin menyuapnya pelan-pelan. Mereka tidak berbincang lagi setelah itu–setelah Rin diam tanpa mengatakan apa-apa lagi. Bahkan saat Jay bertanya, gadis itu hanya mereaksi dengan angguk atau geleng.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Jay baru saja pulang bekerja pukul delapan malam. Sudah dua hari sejak percakapan pertamanya dengan sang istri lepas kecanggungan panjang mereka selama hampir dua bulan. Hari-harinya kembali ceria, Rin kembali cerewet dan seperti biasa—seperti mereka dulu, meski keduanya sudah berciuman meski hanya sekali di pojok rumah kaca kebun stroberi.
Namun berbeda dengan malam ini. Jay mendapat laporan bahwa hari ini, Rin tidak pergi ke studio, tidak turun untuk makan dan hanya meminta pelayan mengantarkan makanan sampai depan pintu. Nyatanya, sejak pagi hingga malam, makanan itu utuh di depan pintu. Para pelayan sudah berusaha membujuk. Namun Rin hanya menyahut lemah dan mengatakan jika ia baik-baik saja dan akan makan. Bahkan sempat mengaku diet–atauu entah, suaranya mirip gumaman tidak jelas. Yang pasti, gadis itu tidak baik-baik saja.
Jay langsung membuka pintu dengan kunci cadangan buru-buru. Awalnya ia sudah mengetuk, memanggil istrinya lembut, berulang-ulang. Namun tidak ada jawaban yang semakin membuat pria itu panik.
Saat berhasil membuka pintu, Jay mengernyit. Aroma kamar Rin pekat oleh aroma feronom–tercium sangat manis di hidung pria itu. Pekat, sangat pekat, serta membakar gairah. Aromanya jauh lebih indah dari aroma Rin yang samar-samar biasanya. Jay bersumpah, ia akan mabuk hanya dengan membaui aroma itu.
Lantas matanya menangkap sang istri yang bergelung dalam selimut. Mirip kepompong dengan mata terpejam. Wajahnya merah dan tubuhnya bergerak gelisah.
“Rin? Apa kau baik-baik saja?” Jay dua kali lebih lembut dari biasanya. Ia mendekat ke sisi ranjang, tangan besarnya menyibak rambut. Lantas gadis itu membuka mata ketika merasakan sentuhan itu.
“Jay….” matanya sayu berwarna—violet muda. Gadis itu menangis tiba-tiba. Jay yang melihat warna mata Rin, terkesiap. Warna violet lembut seakan membiusnya. Ia ingat tentang teori seorang omega yang akan berubah warna mata jika sedang heat.
Dan ya, istrinya sedang heat. Gadis itu menangis sesenggukan.
“Jay.. aku..” tangisnya makin besar “aku.. Obatku hilang.. Aku..” ia terbata-bata. Rin panik luar biasa saat mengetahui obatnya di kolong ranjang tepat di bawah marmer–hilang. Seseorang mengetahui identitasnya dan diperparah gejala itu muncul. Gadis itu ketakutan, dan Jay kini di depannya, melihat bagaimana gejala itu datang secara menjijikan.
Aroma feronom makin pekat. Jay semakin pusing oleh sensasi ini. Sensasi yang seakan mendorongnya untuk menabrak tubuh terbebat itu.
“Jay… aku, aku omega… kau pasti jijik”
“Kau bicara apa? Kenapa aku harus jijik?” lantas ia memanggil pelayan dan meminta pelayan itu mengambilkan obat dalam ruang kerjanya. Jay membuka selimut yang membebat istrinya hingga gadis itu berkeringat banyak. Pendingin tak di hidupkan. Dan setelah tubuh gadis yang hanya mengenakan lingerie satin tipis itu terbuka dari bebatan, aroma feronom hampir seperti akan meledakkan kewarasannya. Rin sangat wangi, begitu indah dan memikat. Tubuhnya menggeliat di atas ranjang dengan cara paling seksi sedunia.
Pelayan datang dan obat di genggaman.
Rin memohon agar Jay memberikan obat itu. Namun Jay masih diam. Matanya terpaku pada dada busung dengan puting mencuat besar di balik lingerie satin. Benar, gadis itu terangsang luar biasa. Heat artinya, Rin sedang dalam musim kawin. Bahkan, vaginanya basah tanpa pemicu, seluruh tubuhnya menegang, sangat sensual.
Pria itu menarik napas panjang. Namun sial aroma feronom makin menyesaki membuat sesuatu di antara selangkangannya mengeras tidak karu-karuan. Pria itu ikut terangsang oleh aroma dan tampilan Rin yang luar biasa.
Gadis itu merintih dengan suara putus asa. Lalu, ia mengusap air mata dipipinya sendiri, Rin mendesah. Mendesah nikmat atas sentuhannya sendiri. Bahkan hanya menyentuh pipinya sendiri, gadis itu merasakan kenikmatan aneh yang tidak pernah ia rasakan. Ini lebih indah dari ciuman pertamanya dengan sang suami.
Tak kunjung diberi obat dan Jay malah seperti menonotnnya dengan mata memuja, Rin mendongak. Tubuhnya menggeliat, dadanya membusung ia remas sendiri. Ya, Rin meremas dadanya sendiri, lalu mengerang pelan. Rintihannya begitu lembut dan cantik, kakinya rapat di gesek berulang-ulang.
“Jay… kumohon berikan obatnya… kau akan melihatku..” gadis itu menangis sambil memilin putingnya sendiri “kau akan jijik.. Aku ini menjijikan.. Aku omega heat yang menjijikan” ia terisak-isak. Logikanya paham bahwa itu menjijikan—bahwa tiap sentuhan bahkan dari diri sendiri, akan membawanya pada rangsangan luar biasa. Seluruh tubuhnya sensitif.
Air matanya sangat banyak. Ia mengemis obat pada suaminya, namun Jay terus tertegun atas pemandangan maha indah seperti pria bodoh.
Lantas setelah beberapa saat, Jay makin mendekat. Obat telah ia letakkan di atas nakas. Pria itu mengusap air mata istrinya.
“Kau tidak menjijikan, Rin, kau sangat indah” tangan besar itu menyentuh permukaan kulit pipi, Rin mendesah. Tubuhnya menggeliat. Napasnya memburu. Sentuhan pria itu benar-benar membawanya seperti akan melayang.
“Kau membunuh bibi pengasuh karena dia seorang omega.. kau akan membunuhku juga?”
“Bibi pengasuh? Apa yang kau maksud adalah si pengkhianat Rosa? Dia memang omega, namun dia juga yang membocorkan seluruh rahasia perusahaan dengan mencuri berkas penting di kamar Papa. Dia berada di pihak lawan, Rin. Dan aku tidak pernah membunuhnya, dia bunuh diri setelah tertangkap basah dan di sidang”
Pernyataan itu membuat Rin tercenung agak lama.
Cukup lama hingga hening itu membuat atmosfer tidak biasa.
Jay akhirnya ikut merebah di samping, ia lantas membelai pipi istrinya, memeluk gadis itu dan menghirup aroma feromon paling manis seumur hidupnya. Rin seperti cacing gila dalam dekap besar dan keras penuh otot milik suaminya. Sedikit saja kulit mereka bersentuhan, Rin akan mengerang–meminta sentuhan lebih dan berharap pria itu terus menyentuhnya.
“Jay.. kumohon berikan aku obatnya” kendati perkataannya kontras dengan tubuhnya, Rin masih berusaha mempertahankan kewarasannya. Meski tampaknya, Jay tidak.
“Aku suamimu, aku alpha suamimu. Kenapa kau butuh obat jika aku bisa menyentuhmu sebanyak yang kau mau? Aku tau kau omega, aku sudah tau. Lalu apa yang kau kahwatirkan, sayang?” Jay mencium rahang istrinya, gadis itu semakin menjadi-jadi. Rangsangan datang bagai badai hebat. Kepalanya mendongak sementara Jay mulai menginvasi leher dengan aroma feronom paling memikat.
“Kau membenci omega lemah dan pecundang, Jay. Apa setelah ini, aku akan dibuang, di usir?” tangisnya makin pecah. Isak itu bercampur desah. Begitu indah.
“Apa aku pernah mengatakan aku membenci omega? Aku tidak, Rin. Aku hanya mengatakan saat kau masih jadi adikku dan aku tidak sudi jika kau bersanding dengan omega bodoh dan pecundang. Itu karena aku.. Aku menyukaimu. Bahkan alpha keren dan gagah–jika itu bukan aku, maka aku membencinya. Membenci siapapun yang menjadi jodohmu selain aku”
Rin mencerna kata-kata itu dengan sangat baik. Sebaik Jay yang meninggalkan tanda jejak cinta hampir memenuhi seluruh lehernya.
“Kau bersungguh-sungguh? Aku tidak akan dibuang?”
“Kecuali aku gila. Aku mencintaimu, Rin.. demi hidupku. Kenapa aku harus membuang wanita yang paling kucintai seumur hidupku?” Jay mendongak, ia menatap bibir terbuka dan basah milik Rin. Mata si gadis yang masih dalam posisi semula, wajah merah, puting mencuat dan tiap lekuk tubuh mengeluarkan aroma sensual yang sangat memikat.
“Rin”
“Hm?”
“Apa aku boleh menyentuhmu sebagai suami?”
Hening sesaat. Rin mengeratkan cengkeraman tangannya pada bantal, ia mengangguk putus asa.
“Tolong sentuh aku sebanyak-banyaknya.. Please…” ia memohon, Rin tidak lagi menangis dan berhenti berharap jika Jay akan bangkit dan menyodorkan obat heat. Tidak, pria itu tidak akan. Jika memang akan, sudah sejak tadi. Namun pria itu memilih mendaratkan ciuman lembutnya.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Tangannya mengusap rahang berulang. Menenggelamkan lidah dan membelah bibir istrinya pelan-pelan. Gerakkannya sangat lembut penuh kehati-hatian menyisakan kelopak rapat. Rin merasakan hangat sentuhan bagian sensitif pada mulutnya. Jay sangat terukur. Kendati libidio nya setinggi angkasa, namun pria itu penuh perhitungan.
Rin panas. Mulutnya panas–hangat. Tubuhnya lemas dan nyaris tak melawan–juga tak pasif. Sejak tadi, yang mendominasi latar adalah lenguhan paling indah dari omega dengan feronom semanis madu. Jay akan menyesapnya sampai dahaganya tuntas.
Tangan besar itu terus bergerilya–mengeksplorasi tiap inci kulit yang hangat. Tiap sentuah adalah yang paling didambakan cantik di bawah kukungan. Rin sepenuhnya hilang akal sehat. Ia tak lagi ingat ada media bernama obat yang bisa meredakan gejala sinting yang kini menyelubungi otak dan tubuhnya. Hingga telapak besar itu sampai pada satu gundukan sekal.
Rin tidak mengenakan bra.
Payudara itu habis dalam telapak. Meremas pelan–leluasa ketika pagutan pada bibirnya di lepas paksa. Gadis itu terengah sedikit dengan bibir basah dan terbuka, sementara sang suami turun menciumi lehernya. Rin mendongak masih dengan napas memburu—berantakan ketika leher ke rahang di jilati pelan-pelan.
“May I take off all of your clothes?” matanya beradu lagi, sayu itu begitu memikat. Rin mendongak tanpa langsung menjawab. Tubuhnya bergerak sensual saat tangan Jay menggesek putingnya pelan.
“Don’t ask me anything else. Just do whatever you want. I’m yours” suaranya sensual. Rin heat adalah hal paling indah yang pernah Jay temukan. Dan hal terindah itu adalah miliknya.
Lingerie itu terlepas saat Jay mengguntingnya. Ya, pria itu merusak gaun malam karena tidak akan repot meminta istrinya bangkit ketika gadis itu tak berdaya. Dan yang ia dapatkan setelah merusak pakaian adalah dua payudara sekal kencang terpampang nyata. Putingnya berwarna merah tua, kecil menegang sempurna. Pria itu membuang baju tidur entah ke mana sebelum bergerak kembali menyecap telinga istrinya.
Rintihan demi rintihan kembali terlontar. Ketika lidah itu menyapu permukaan telinga, harum manis feromon semakin tebal dan pekat—membawa rangsangan makin membuncah tak karu-karuan. Pelan-pelan kepala itu turun ke rahang sampai leher, membuat tanda cinta sebanyak mungkin sebagai cara klise atas kepemilikan.
Pria itu mendongak. Menatap istrinya sebentar
“You ‘re fucking stunning. Driving me crazy to fuck”
Pria itu menabrak bibir itu lagi karna gemas, karena suka, karena jatuh cinta. Wajah cantik yang membuatnya jatuh cinta setiap hari sejak dulu. Rin tidak terlalu menyimak racauan suaminya. Yang ia tahu hanya tubuhnya di sentuh dengan cara paling indah, paling ia suka.
Kini, ibu jari dan telunjuk memilin puting. Rin menggeliat.
“J…ay…” hanya panggilan lembut, gadis itu tak lagi meremas bantal melainkan menjambak rambut suaminya.
“Kau nakal sekali astaga”
“Aku tidak nakal, hnngghh.. Aku tidak nakal Jay.. aku tidak..” rintihan favoritnya, Jay hanya asal bicara—menggambarkan tubuh dan wajah Rin yang sejak tadi menggodanya meski gadis itu tidak seperti itu saat normal. Dan pria itu akan memberitahu apa yang terjadi jika omega heat jika bergerak resah di depan alpha.
Jay bersumpah akan menyetubuhi istrinya sampai spermanya menetes-netes di lubang senggama.
Pria itu lantas bangkit. Ia beralih membuka satu persatu kancing kemejanya tanpa mengalihkan pandangan laparnya dari tubuh Rin. melihat Jay melepas bajunya satu persatu terasa begitu lama. Vagina gadis itu berdenyut-denyut dan makin basah.
Rin dapat merasakan napasnya makin berat ketika kain terakhir pada tubuh suaminya diturunkan dari pinggangnya. Kepalanya miring sedikit memperhatikan, disanalah matanya terbelalak.
Penis gemuk milik Jay langsung mengacung, bergoyang pelan di udara seolah melambai untuk mengajak Rin berkenalan.
Penis itu cukup panjang dengan diamter yang ia terka lebih dari 2 cm. Urat-urat menyembul karena ereksi. Ujungnya berwarna merah padam dan semakin mendekati pangkal warnanya semakin pudar dengan bulu-bulu pubis yang nampak tercukur rapi. Buah zakarnya bergoyang tiap kali pria itu berjalan mendekat pada lunglai sang istri.
Awalnya, Rin berpikir akan ketakutan melihat penis laki-laki. Karena sebenarnya, Rin tidak pernah, tidak tertarik dan tidak ingin mendekat pada hal-hal yang berbau seksual. Ia sendiri begitu membenci heat. Maka, ini adalah pertama kalinya. Gadis itu murni, bahkan foto atau video pun, ia tidak pernah melihat.
Namun sialan heat yang memang dibencinya seumur hidup dan entah pikiran rusak dari mana, Rin ingin sekali merasakan penis itu. Meski tidak tahu caranya.
Jay kembali naik ke ranjang. Mengambil posisi menunduk di dada sang istri dengan mulut yang mulai mengulum salah satu puting yang masih begitu keras.
Dihisap, diputari oleh lidah pada bagian paling puncak, Jay menggelitik pada ujungnya dengan satu tangan juga mencabuli puting yang lain. Rin lagi-lagi menggeliat. Vaginanya semakin basah dan Jay dapat mencium aroma feromon dari setiap jengkal bagian tubuh cantik itu.
Lagi, ia meninggalkan tanda cinta didada.
Rin terbakar sejak awal. Kini, ia mengerti aroma menenangkan apa yang sering ia temui dari tubuh Jay. Itu bukan parfum, melainkan feromon alpha.
Ciuman Jay mulai turun dari dada ke perut. Tiap yang dilalui, Jay akan meninggalkan tanda. Terus turun, jejak liur pria itu terlihat mengkilap oleh lampu kamar dikulit istrinya.
Hingga akhirnya sampai pada bagain paling inti.
Vagina itu sudah basah oleh cairan itu sendiri. Lembut. Rin malu saat merasakan bahwa Jay seakan mencabuli bagian bawahnya dengan mata. Jari panjang itu perlahan membelah daging labia kemerahan milik Rin. Jay kembali menunduk. Ia menggesekkan hidung mancung dan ujung bibirnya pada klitoris sang istri. Pria itu menghirup aroma feromon yang paling pekat dari vagina tepat di depan wajahnya.
“Eungh! Hmmhh… Jay, ah!” Rin sensitif, jelas sekali. Ini pertama kalinya bagi si gadis—seorang pria melumat bagian klitoris sembari lidahnya menggesek pintu masuk–liang di bawahnya.
Kakinya hampir merapat. Namun Jay dengan cekatan menahannya. Ia terus menghisap bagian yang itu, rasanya candu. Daging basah, lembut, dan berdenyut tiap kali lidahnya menggelitik bagian sempit yang nanti akan dimasuki penisnya. Jay bagai merasakan narkotika jenis baru yang memang khusus di racik untuknya. Ia jelas kecanduan hingga rela diperbudak erotisme akan tubuh Rin.
Rin menangis. Ia tidak tahu kenapa ia menangis. Ia tidak bisa menahan air matanya—mungkin karena rasa nikmat terus menghujamnya tanpa ampun setiap kali Jay mencabuli vaginanya. Membuat cairan di bawah sana terasa deras.
Rematan tangan Jay yang menahan paha Rin untuk tetap terbuka semakin kuat. Lidahnya terus naik turun bergerak liar di tiap kuluman nikmatnya. Sesekali ia mencoba menjilat bagian dalam lubang kemaluan, membuat perut Rin terasa mengencang.
“Jay… Jay!! There is something about to come out! Ahh—” Rin menggelinjang, rasa nikmat yang membuat lututnya melemah seakan menjalar sampai ke seluruh tubuh. Gadis itu akan mencapai orgasme pertama kali karena mulut suaminya.
Tangannya menahan kepala Jay untuk berhenti. Tapi alpha itu bersikeras dan meremas paha istrinya lebih kuat.
“Jay… aku.. Aku tidak ta–ah!!! HAN!!! Oh—” gadis itu memejamkan mata sambil mendongak. Dadanya membusung tinggi. Perut dan kakinya mengejang hingga pinggulnya terangkat naik turun perlahan. Disusul cairan bening yang akhirnya keluar deras. Muncrat membasahi wajah suaminya.
Jay, pria itu menyeringai puas sambil mengusap dan menjilat wajahnya yang basah oleh cairan cinta. Matanya lurus menatap bagaimana Rin berantakan yang mambuat gadis itu terlihat semakin menakjubkan.
Gadis itu masih mengangkang–memperlihatkan vagina merah dan banjir. Tubuhnya masih patah-patah dan napasnya sama berantakan.
Dan Jay kembali merangkak ke atas tubuh istrinya yang masih kembang kempis. Ia mencium leher yang terbuka, menjilatnya lagi dan lagi.
“Rin.. aku kecanduan.. Kau begitu candu.. Ini membuatku gila” pria itu berbisik tepat di telinga, membuat Rin kembali meremang.
Namun kini, bagian bawah pria itu ikut bertindak juga. Penisnya menggesek-gesek belahan labia. Ia menatap istrinya dengan sorot seperti sebelumnya; penuh damba, nafsu liar berkecamuk serta keinginan menguasai si gadis khas seorang alpha kuat pada tingkat piramid teratas. Jay.
“Aku tidak akan berhenti, Rin..” gadis itu diam saja. Artinya, Jay mendapat izin bebas. Kemudian ia bangkit dari atas tubuh istrinya. Kedua kaki Rin di angkat untuk duduk dipangkuannya.
Rin melihat jelas bagaimana Jay mengocok penisnya sendiri yang sudah ereksi maksimal. Tiba-tiba saja Rin bergidik.
“Jay.. aku takut” suaranya mencicit. Jay menangkap kegelisahan akhirnya mengulurkan tangan “lebih dekat sebentar” Jay mengubah posisi dengan membawa Rin merebah–bersandar pada kepala ranjang sementara ia membuka dua paha istrinya lebar dan memeluk Rin dalam posisi itu. Namun bagian lain yang tidak terlihat saat kini hanya wajah Jay yang ada di depannya, Rin merasakan penis mulai mendorong masuk ke dalam miliknya.
Hal pertama yang dirasakan adalah panas dan perih. Tepat saat Rin merasakan Jay terus mendorong penisnya untuk memasuki lubang perawan. Ujung jari kaki si gadis menekuk menahan sensasi itu. Ia juga menggigit bibir bawahnya dengan kelopak rapat. Namun Jay langsung mengusap pipi Rin dengan sayang.
“Rin.. jangan tutup matamu, kumohon.. Aku ingin melihatnya. Aku ingin kau melihatku, please..” pria itu memohon. Dan Rin lekas membuka matanya lagi. Jay meremas payudara cantik itu lagi. Rin bersemu, masih menahan perih sambil meringis.
Melihat bagaimana wajah Jay yang terangsang hebat. Rin mulai menyadari meski entah sejak kapan. Ia jatuh cinta pada Jay.
Dan saat pria itu melihat istrinya lebih rileks, sangat tepat akhirnya Jay mengambil kesempatan itu untuk menghentakkan penisnya langsung ke dalam lubang vagina ketat itu.
Pria itu melenguh, merasakan otot vagina yang tidak main-main kencangnya. Meremas batang penis perkasa itu tanpa ampun.
Rin sempat memekik, tapi Jay dengan cepat meredam tangisan istrinya dengan melumat bibir itu lagi.
Jay bisa merasakan setelah menembus selaput dara. Aroma feromon yang keluar dari tubuh istrinya pun semakin kuat. Membakar libido yang makin membaraa. Namun pria itu tak ingin menyakiti istrinya. Pelan-pelan dalam kondisi tubuh yang sudah menyatu dan kemudian bibir yang kembali bertaut, Jay mulai memosisikan Rin untuk merebah yang benar. Bibirnya beralih mengecup ringan wajah itu berulang-ulang.
Dan Rin mengatur napas. Berusaha setenang mungkin karena penis Jay benar-benar membuatmu sesak. Rin meraba perut bagian bawahnya dan ia merasakan sesuatu menyembul disana. Lantas gadis itu menekannya. Kegiatan itu sontak membuat Jay mengerang.
“Nakal sekali astaga..” Jay menaikkan sebelah alis sementara Rin mengalihkan tatapan malu.
Jay mulai menegakkan tubuhnya. Membuat penis itu lagi-lagi menekan bagian dalam vagina yang masih terasa nyeri. Kapala pria itu menunduk, matanya melihat setetes darah yang mengalir ketika ia menarik penisnya mundur. Jay bersemu; Rin adalah satu-satunya yang benar-benar menjadi miliknya. Dan sekarang, gadis itu secara resmi telah diklaim olehnya.
Awalnya pelan, sesekali Jay memperhatikan reaksi istrinya setelah beberapa kali menghentakkan pinggul maju dan mundur. Tangan pria itu mengusap-usap paha Rin, tujuannya untuk menenangkan tiap ringisan yang masih tampak di wajah istrinya itu.
Hingga pada hujaman berikutnya, ketika remasan vagina Rin mengencang dan kepala penis menyundul satu titik dan lenguhan nikmat keluar dari bibir Rin, di sana Jay menyeringai senang. Rin telah mendapatkan titik nikmatnya setelah sejak tadi hanya menahan perih.
Urat-urat pada batang itu menggesek rahim terasa begitu nyata. Kejantanan itu seakan menggaruk bagian dalam ketika akhirnya lubang perawan di bawah sana menerima sang tuan seutuhnya.
Jay mempercepat tempo.
Pria itu mengerang penuh kenikmatan dengan kepala mendongak dan urat leher yang ikut menyembul kekar.
“Mmmhh—eungghh! Mm… ha—ahhh” Rin menggigit bibir bawahnya saat mendengar Jay mendesah. Lantas, tangan pria itu mencubit klitoris dan berhasil membuat sang istri menjerit. Tubuh Rin terguncang di bawah kendalinya. Payudara bergoyang.
Jay bersuara lebih besar, pinggulnya masih menghentak di bawah sana. Ia menyodokkan peninya lebih kuat sembari mengangkat pinggul istrinya. Tiap kali remasan vagina bertambah kuat, saat itu juga hujaman pada vagina semakin dalam. Rin kembang kempis, kewalahan. Desah tak tertahan kembali menyahuti milik Jay.
“Jay… J-j—ay!! Ah!! AHHH—OUHH—” erangan dari bibir Rin mengeras. Jay hilang akal karena mendengar namanya di sebut penuh damba. Pinggul gadis itu di angkat leih tinggi. Bokong dan payudaranya terpantul-pantul dengan brutal di depan mata. Membuat gemas.
Dan pria itu menggeram seperti singa birahi. Yang jelas, Rin kewalahan dengan stamina suaminya. Rin dapat merasakan kepala batang itu seakan membengkak di dalam. Ia menatap suaminya ragu-ragu. Kejantanan pria itu berdenyut-denyut menggaruk dinding vagina.
Ranjang kokoh itu seakan tidak kuat menahan hentak dan goyang pinggul pria itu di atas tubuhnya. Desah serta erangan penuh gairah bersahut-sahutan. Selangkangan yang basah menciptakan suara cabul antar kulit. Pun aroma feromon keduanya bercampur aduk.
Dalam sodokan yang begitu tajam setelahnya, Jay menggeram, dan Rin memekik keras. Tubuh Jay bergetar di atas tubuhnya
“SAYANG, NGGMMHH!!”
Dalam beberapa detik berikutnya, sperma Jay benar membanjiri lubang vagina yang berkedut-kedut pasca orgasme kedua. Sperma panas terasa begitu pekat dan kental. Membuat Rin seakan tiba-tiba merasa kembung oleh sensasi luar biasa.
Pria itu masih menyodok pelan. Sperma makin tumpah keluar masuk.
“Aku akan menjadi Papa, bukan Papa stroberi” pria itu memeluk Rin dengan penis yang masih tertanam.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Rin belum pernah merasakan tubuhnya selumpuh itu seumur hidupnya. Untuk membuka mata saja rasanya begitu berat.
Namun saat kesadaran kembali, matanya pelan-pelan terbuka, ingatan tentang tadi malam kembali berputar begitu saja tanpa aling-aling.
Tubuhnya masih terbebat selimut seperti saat semalam ia mirip kepompong. Matanya melihat obat heat di atas nakas. Tapi yang ia rasakan adalah tubuhnya tidak lagi panas seperti kemarin. Berhubungan seks dengan Jay ternyata meredakan heat dengan sangat baik.
Namun satu hal yang jelas; Jay tidak ada di kamar. Pria itu sudah keluar lebih dulu. Jay biasanya selalu bangun siang jika tidur dengannya.
Lantas matanya mencari ponsel saat ketukan sekilas pada pintu menyusul eksistensi lain setelahnya. Satu pelayan datang dengan senyum ramah dan begitu sumeh.
“Tadinya kukira Nona belum bangun. Aku datang tiga kali. Tuan memintaku memandikan Nona” pelayan bersiap akan membuka selimutnya.
“Tidak perlu, aku bisa sendiri” kata Rin yakin. Padahal, vaginanya perih, kakinya lemas dan ia–mungkin saja tidak bisa berjalan.
“Tapi ini titah”
“Katakan pada Jay, aku tidak akan mandi jika bukan dia yang memandikannya” penuturan Rin membuat pelayan itu kebingungan. Lantas melangkah mundur dan keluar.
Di luar, ia meminta kepala pelayan untuk menelepon Jay. Pria itu sedang di kantor ketika urusan mendadak membuat esksitensinya sangat dibutuhkan meski lepas pergelutan panjang yang menyenangkan membuatnya ingin mengulang dua tiga kali. Namun tidak bisa. Ia harus bekerja.
Bukan pelayan lagi yang datang, namun ponselnya yang berdering kencang. Nama Jay terpampang disana.
“Ya” Rin bersuara serak.
“Aku akan pulang dan memandikanmu. Pastikan jangan menangis lagi, oke? Aku pulang” kata-kata itu bukan kabar bagus dan Rin menyesal telah mengatakan omong kosong tidak berguna pada pelayan. Jika Jay menyerangnya lagi seperti semalam, Rin yakin kakinya akan disfungsi beberapa hari.
Cuaca malam ini lebih buruk dari kemarin. Hujan angin disertai petir, bahkan satu pohon kelapa menyala–terbakar karena tersambar. Suaranya bagai bom yang diledakkan tepat beberapa ratus meter. Kilat membuat bumi terang hidup sepersekian detik, disusul guntur menggelegar.
Aku meringkuk–membola di atas sofa. Pakaian kerja enggan kutanggalkan, kemeja dan celana dasar yang kebesaran. Kendati, tidak terlalu sesak meski dasi masih melilit dibawah kerah. Kuharap, ia bisa menyesakkan hingga menutup jalan napas. Lalu aku mati tercekik atau karena rusukku remuk akibat membola terlalu lama–terlalu erat. Apapun, aku ingin pergi.
Badai diluar selalu saja membawaku pada ingatan di musim panas. Ingatan yang setengah mati berusaha kulepaskan dari kepala. Ingatan tentang kaki kami yang kotor terkubur pasir, atau saat sesekali ombak pasang menjilat telapak. Ada saat dimana suasana suram seperti ini membawa senyumnya yang menciptakan lubang di pipi, atau surai panjangnya yang bergerak ke kanan kiri. Aku juga mengingat rasa hangat tangannya yang sehalus bulu.
Guntur meledak lagi. Kaca besar di ruanganku tak bergetar–membuktikan betapa rumahku begitu kokoh dengan semua matrial terbaik dan pengerjaan yang epik. Hanya menyajikan pemandangan suram; rinai besar dan langit gelap. Padahal masih pukul lima sore. Terlalu dini untuk kepekatan, matahari bukannya tenggelam, melainkan kalah oleh awan tebal yang menggurita dari utara ke selatan.
Tanganku bergetar. Bibirku begitu dingin—selaras dengan telapak kaki. Aku tak ingat kapan terakhir–sesuatu masuk dalam perutku, kapan aku menghindrasi tubuhku atau kapan aku ingat–bahwa manusia harus makan untuk hidup.
Aku membenci isi kepalaku–membenci bagaimana uang tak mampu menggantikan rindu pada seseorang yang tidak seharusnya kurindukan. Aku benci gagasan bahwa—jika uangku banyak, maka aku bisa membeli rasa. Nyatanya, disinilah aku, di rumah besar–diatas sofa menggulung diri bagai trenggiling di depan kaca besar yang menyuguhkan pemandangan suram–sesuram hidupku.
Bunyi klik di susul gagang pintu terbuka.
Aku mendengar langkah setengah diseret. Kantong belanjaan saling bergesekan—dicangking kepayahan.
Mataku terbuka saat sosok itu melewatiku. Harum aroma floral menyesaki pernapasanku. Mataku menangkap daun bawang segar—mencuat dalam kantong belanjaan. Ia melenggang ke dapur yang berada persis di belakang sofa–dimana aku memeluk diriku sendiri sambil berharap kematian datang.
Roknya berayun. Atasannya sangat cantik selaras dengan parasnya. Ia bersenandung. Kudengar ia membongkar kantong, lalu menunduk saat ada yang jatuh–mungkin bawang bombai.
“Aku akan membuatkan pasta” suaranya nyaris tak terdengar, tapi aku mendengarnya.
“Aku tidak lapar” sementara suaraku berat, aku terduduk setelah kematian tidak datang hanya karena aku ingin. Mataku menatap lurus pada kaca besar. Hujan masih disana, suram dan dingin.
“Aku tau. Tapi, hanya dalam suasana suram kau mau menyantap makanan buatanku. Jadi, aku akan membuatkanmu pasta” kata wanita itu ringan. Seolah, ia terbiasa dan resisten terhadap kelakar busukku. Dia juga kesenangan saat aku memilihkan gaun yang tidak sesuai dengan postur tubuhnya. Kudengar beberapa temannya mencemooh pakaian yang ia kenakan—atas dasar pilihanku. Namun wanita itu tetap memakainya. Aku semakin membenci diriku sendiri.
Aku tidak menjawab lagi–demi kebusukan sikapku agar tidak terlalu busuk. Meski sudah. Lantas kupeluk dua lutut, telingaku menumpu padanya, mataku terpejam dan aku berusaha melupakannya lagi.
“Akmal” saat wanita itu memanggilku, aku mendongak. Kulihat dia sudah berada tepat di hadapanku. Lantas ia belai rambutku dengan tangannya yang begitu lembut. Matanya yang selalu bersemangat dengan binar indah, sore ini terlihat agak lelah “ayo makan”
Tunggu..
Aku tercenung. Mata sayuku bertabrakan dengan miliknya yang ‘hidup’ wanita cantik itu selalu tau cara membujuk pria dewasa yang tidak dewasa dan tidak waras. Baik, aku mengkategorikan diriku seperti itu hanya saat hujan turun setelah musim panas. Di dalam rumahku, di istanaku dimana aku tidak perlu berpura-pura baik-baik saja.
Mataku melirik sembarangan—ke belakang tepat di atas kompor. Tempat dimana aroma pasta menyeruak menggugah selera meski tetap gagal merayu nafsu makanku. Kenapa secepat itu? Maksudku, pasta. Aku baru saja beringsut dari rebah ogah-ogahan. Dalam kurun beberapa menit pasta sudah terhidang. Kerutan di dahiku memicu senyum paksa di wajah cantik itu “kamu melamun terlalu lama” katanya lembut. Wanita itu lantas melangkah lagi, sebelum kembali membawakan nampan berisi pasta panas dan segelas air mineral.
Bertemu dengannya bukanlah takdir. Bukan sesuatu yang akan terjadi seandainya aku tidak membuang-buang waktu berlagak seperti hero dan tetap pada pendirianku untuk mati.
Musim panas, teriknya membuat otakku seakan mendidih. Nyaris tiap malam aku tidak bisa tidur. Kipas angin aus tanpa penutup dan tiap berputar, akan menimbulkan suara gesrek bersama angin tak seberapa. Tapi lebih baik. Ketimbang terbaring di atas kasur kapuk yang tetap lembab dan lapuk di cuaca mengerikan, dengan sarung penuh jamur bekas liur dan lembab–hujan serta atap dari baja ringan yang rendah. Panasnya akan melelehkan tiap akal sehat. Lalu di perparah dengan pikiran tentang utang pinjaman online–offline yang membelit leher dan kini benar-benar akan membunuhku. Itu masalah utamanya.
Aku baru saja lulus kuliah dengan nilai tinggi. Seorang yatim piatu tanpa saudara dan hidup sebatang kara di pulau cantik. Aku lulus dengan nilai terbaik dan itu membanggakan—tentu saja. Namun jika merunut dari mana biaya yang kudapat untuk sampai titik ini, rasanya aku ingin kembali ke tahun-tahun sebelumnya lalu memutuskan untuk tidak pernah menginjakkan kakiku di halaman universitas.
Lulus SMA lalu menjadi driver terdengar lebih menyenangkan. Tanpa hutang, tanpa memikirkan bunga dari bank yang tidak di awasi OJK.
Kumatikan ponsel. Lantas mereka menelepon teman-teman kuliah, dosen, pemilik kos–yang nomornya menjadi alternatif saat milikku tidak aktif. Kepalaku seperti akan pecah tiap siapa saja datang dan mengetuk pintu kamar kos dengan lembut atau keras. Tiba-tiba aku phobia ketukan pintu dan salam.
Hingga malam ini. Aku bersumpah akan mengakhiri hidup. Tidak ada yang bisa diharapkan—aji mumpung tak ada yang mengtuk pintu.
Bukan, bukan bank online yang datang. Mereka tidak akan datang dan hanya mengancam dengan terror. Aku mengakalinya dengan gagal bayar meski BI checking milikku pasti akan menyedihkan. Namun persetan. Jika aku bisa lolos dari hutang pinjam setan ini, aku bersumpah tidak akan terjerumus lagi ke dalamnya, meski harus kelaparan berhari-hari. Aku bersumpah dengan nama tuhan. Tapi tidak seperti itu dunia berjalan—sebab, aku juga meminjam uang pada bank mekar. Mereka datang menagihh setiap hari.
Jika kutotal semuanya, aku mendapat kalkulasi sebesar tiga ratus juta rupiah. Dan aku tidak sanggup membayar. Itu alasanku malam ini–dimusim panas, pergi ke bawah kaki gunung dan berencana menggantung diri di pohon rindang dengan pemandangan pematang sawah.
Ya, aku akan bunuh diri. Di musim panas. Di kota yang cantik ini.
Yang pertama kulakukan adalah melihat tangkai batang yang kiranya paling kokoh. Tambang berada di tanganku, sudah dua minggu terakhir kubeli dan baru malam ini puncak depresiku–merealisasi rencana yang sebelumnya masih ragu-ragu.
Aku melakukanya.
Naik diantara tangkai kokoh, menyimpul tambang khas, lalu kujeratkan pada leher. Jika aku melompat ke bawah, aku akan tercekik dan masalah selesai.
Ya, seharusnya selesai sampai di sana.
Tapi malam itu, aku melihat sesuatu yang ganjil dari atas pohon. Semak-semak bergerak dan erangan tertahan–mirip suara merintih meminta tolong. Lalu ‘gedebuk’ pukulan kuat. Mataku mimicing untuk menajamkan pandangan.
Aku turun.
Jarak tempat itu hanya beberapa puluh meter dari lokasi dimana aku berencana mengakhir hidup. Semak-semak tinggi nan gelap. Kepalaku celingukan mencari apa saja; balok, batu dan aku mendapatkan keduanya meski kini yang kupegang adalah balok besar.
Tidak apa-apa seandainya apa yang kukerjakan sekarang akan membahayakan, justru itu yang kucari. Aku berbisik dalam hati bahwa, dibunuh lebih baik ketimbang bunuh diri. Jadi, katakan itu adalah alternatif lain.
Pelan-pelan. Langkahku tergerus suara angin yang bertiup—membuat rerumputan tinggi saling bergesek. Bunyi rintihan itu makin kecil–putus asa namun ada, masih.
Aku menodongkan balok ke depan dengan kewaspadaan penuh.
Satu, dua, tiga, langkahku takut-takut. Kusibak rumput tinggi, lagi, lagi. Hingga pemandangan yang sempat kulihat dari atas, kini berada tepat di depanku.
Seharusnya aku menyadari cahaya temaram dari semak-semak. Namun jika diingat, tidak akan terlihat jika aku tidak naik ke pohon.
Dua pria berbadan besar. Aku menyebutkan turis–atau orang-orang akrab menyapa mereka dengan sebutan bule? Ya, tubuhnya besar, kulit mereka putih. Aku melihat penis mereka baru saja di keluarkan dari resleting tanpa benar-benar membuka celana. Lalu satu wanita dengan pakaian terkoyak–payudaranya menyembul ditutupi oleh tangan yang penuh memar dan baret. Si wanita masih menggunakan celananya—hampir robek juga. Mungkin saja ini adalah waktu paling akurat. Eksistensiku.
Tanpa aba-aba, kuhantamkan balok secepat kilat–bergantian tepat ke kepala belakang. Aku bersumpah aku tidak memiliki riwayat kekerasan dan dosa ku paling besar adalah berhutang dan tidak sanggup membayar. Namun lihatlah malam ini, malam dimana aku hendak mencatat sejarah dosa terbesar sepanjang hidupku dengan membunuh diriku sendiri, tapi bukan diriku yang tergeletak malam ini, melainkan dua pria bule — tumbang.
Wanita itu cepat-cepat bangkit—mengambil ransel kelewat besar yang kini menempel di punggungnya. Lalu masih memeluk dadanya, berlari menghambur sebelum menangis ketakutan di belakangku. Aku masih ingat bagaimana suara putus asa itu.
≽^• ˕ • ྀི≼
Tentu saja masuk dalam kamar kosku yang menyedihkan. Wanita itu kukuh ingin ikut denganku dan aku batal mati malam ini. Akan memalukan jika aku bunuh diri dan si wanita itu menungguku tergantung di antara tali yang menjerat leher. Katakan ini adalah sisa harga diriku.
Aku memberikannya baju. Kaos milikku kebesaran di tubuhnya meski lebih baik ketimbang bertelanjang dada.
Dan tidak ada apapun. Aku tidak menghidangkan apapun karena aku tak memiliki apapun. Aku bahkan lupa kapan aku makan, yang kulakukan atau alasan aku masih hidup adalah minum air dalam kamar mandi, lalu mengorek sampah di luar—pada malam hari. Aku benar–benar pengangguran–lepas lulus kuliah yang tak berani keluar rumah karena malu dan penagih utang akan membunuhku jika polyvinyl chloride yang dibentuk menjadi pintu itu kubuka. Aku bersumpah, ini tidak mengada-ada.
Sesaat kecanggungan membuat atmosfer tidak normal.
Aku diam saja, tidak berencana bertanya apapun, aku tidak. Tapi tidak keberatan juga jika wanita ini mau menceritakannya. Kami hanya duduk di sisi kasur yang jadi satu dengan kamar mandi. Kutahu kasur dengan bekas liur dan jamur serta bau apek yang khas karena selimut dan sarungnya tidak pernah dicuci.
“Terima kasih”
Si wanita berkata-kata untuk pertama kalinya. Aku melirik ke samping, lalu kualihkan pandangan secepat kilat.
“Dimana rumahmu? Apa kamu seorang dari luar kota? Biar kuantar mencari taksi” kutawarkan seramah mungkin, namun wanita itu menggeleng. Perlahan, ia menunduk dan aku menyadari bahwa ia menangis.
Aku menunggunya menangis hampir dua puluh menit sebelum ia benar-benar selesai dengan menyeka wajahnya menggunakan lengan baju. Kulihat wajahnya putih ayu—tidak, seluruh kulitnya putih bersih, aromanya wangi memikat meski sudah bercampur dengan semak dan tanah. Lalu rambut berantakan—panjang sepunggung masih halus. Sangat cantik, aku memperhatikannya diam-diam, meski langsung mengalihkan tatapan saat ia melirik sekilas.
Kami bahkan tidak berkenalan, tapi dia lebih dulu memperkanalkan diri dan menceritakan apa yang terjadi hingga malam ini–kami bertemu dalam kondisi yang tidak bagus pula tidak terduga.
Namanya Disya Maharani.
Ternyata seorang gadis. Bercerita bahawa ia berkuliah di salah satu universitas ternama di ibu kota dengan mengandalkan beasiswa. Datang kemari karena ajakan teman-temannya untuk berlibur, namun naas, ia malah dijual dan diberikan pada laki-laki bule–dua orang yang kupukul beberapa waktu lalu. Gadis itu menceritakan sambil kembali menangis–terisak-isak penuh kepedihan. Aku menyimak sambil memikirkan harus berekasi seperti apa. Hidupku tidak lebih baik darinya, jadi aku menganggapnya kami senasib meski aku tidak akan menceritakan kisah hidupku.
Ralat.
Aku juga menceritakan kisah hidupku pada Disya setelah hampir dua jam gadis itu mengoceh sambil menangis, lalu berhenti dan bertanya balik tentang hidupku yang tak kalah miris ini. Sebenarnya, Disya hanya menceritakan tentang bule dan teman-temannya. Namun berputar-putar hingga aku hafal. Ia tidak membahas hal lain.
“Bolehku panggil kakak?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk sistematis. Panggilan kakak terdengar paling pas.
“Kak Akmal, bagaimana kalau kita kabur. Aku ada kenalan yang memberitahuku ada indekos di dekat pantai pinggiran agak murah. Memang agak kumuh, tapi setidaknya, kita bisa bersembunyi” kata ‘kita’ terdengar aneh saat dia mengucapkan, namun aku menyimak ajakan gadis itu tanpa berencana mengiyakan. Aku tidak punya uang sepeserpun.
“Aku tidak punya uang, lalu bagaimana kuliahmu?” tanyaku kemudian. Aku benar-benar terlihat menyedihkan–memang begitu.
“Aku akan berhenti kuliah. Aku menyerah, atau mungkin aku akan mencari peruntungan disini. Aku akan menelepon nenek nanti dan mengatakan hal-hal yang—” Disya terlihat mencari akal “yang bisa diterima jika aku tidak pulang untuk mencari uang. Kuliah memang penting dan aku termasuk anak yang pintar. Tapi lingkunganku benar-benar bobrok dan mengerikan. Sejujurnya, aku takut sekarang, aku bahkan bersama pria yang… tidak tahu, aku berusaha berpikir baik terhadapmu, Kak Akmal. Bagaimana jika kita berusaha mencari uang bersama? Namun yang perlu kita lakukan pertama kali adalah, kabur dari tempat ini dan menghindari penagih menyebalkan. Ayo pergi, aku punya uang yang kupikir cukup untuk sewa kos sambil mencari pekerjaan”
Aku melihat begitu banyak keraguan. Tentang caranya menatapku dan segala ocehan tidak masuk akal di tengah malam.
Benar, bagaimana mungkin seorang gadis mengajak pria pergi mencari indekos bersama setelah hampir diperkosa oleh dua pria? Tapi aku juga menangkap ketakutan. Disya bergetar sejak tadi. Kulihat getaran halus tak kunjung usai dari jemari dan geraknya resah. Lantas aku mengartikan bahwa perempuan itu melihatku sebagai tempat aman—atau yah, keputusasaan. Yang jelas aku tidak akan melakukan hal-hal buruk padanya. Aku tidak memiliki energi, bahkan untuk ereksi butuh tenaga dan aku kurang makan.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya aku membawa orang asing masuk–seorang gadis yang tidak risi melihat kondisi kamarku yang–entahlah, aku pribadi benar-benar malu. Dia juga merebah setelah percakapan kami yang seadanya–memakai selimut tanpa jijik dan memunggungiku dengan… tidak tahu, kupikir dia banyak pikiran dan pasti akan sulit tidur. Aku merebah di sampingnya tak kalah kikuk. Hanya begitu malam berlalu dan aku tidak lagi berpikir mati. Setidaknya malam ini.
Hening dan gerah. Kipas angin rusak itu menjadi latar dan berhasil menciptakan bunyi yang membuat kecanggungan tidak membuatku ingin mengelurkan suara beatbox saking canggungnya.
🐈
Kami benar-benar melakukannya.
Kami tidak pergi malam itu, melainkan pagi-pagi buta menaiki angkot yang sudah beroprasi ke pasar. Lalu menyambung pada bus dan terakhir ojek. Jika dihitung, kami pergi sejauh — hampir 5 jam naik turun dan di potong sarapan serta minum kopi saset di jalanan.
Namanya daerah Boleng. Masih di kepulauan Flores. Aku tidak pernah kemari, namun membaca pada plang-plang serta map pada ponsel. Pun Disya, gadis itu tidak ragu atau bingung, ia banyak melamun namun aku berpikir bahwa ia memikirkan tentang hari-hari kemarin ketimbang nasibnya hari ini. Berbeda denganku yang mesti berterima kasih karena mendapat sarapan gratis dan kopi. Aku bahkan tidak perlu ketakutan ketika mendengar suara ketukan pintu berulang. Anggap saja aku bebas, ya, kami berdua banyak berbincang dengan menyebut-nyebut membuka lembaran baru. Terdengar kekanakan, namun aku hidup sebagai pecundang selama ini, kekanakan terdengar tidak terlalu buruk.
Disya mendapat info — dia mengatakan tentang teman dan kenalan yang tidak kusimak dengan seksama tentang tempat ini. Maka, kami berdua melangkah.
Dan benar. Kawasan itu berada di pinggiran yang berjarak hampir setengah kilo dari rumah-rumah tetangga. Indekos yang agak terpencil tapi tidak terlalu buruk ketimbang isi kos—kamarku. Serius, aku malah menganggap ini jauh lebih layak ketimbang tempat tinggalku.
Karena aku tidak punya uang, maka, Disya yang mendatangai pemilik kos. Dan kabar bagusnya, kos ini diperuntukan campur–mengingat lokasinya yang tidak ramai serta pelanggan yang nyaris jarang. Melihat disana, kos dengan dua puluh pintu ini, hanya diisi oleh tiga pasangan. Entah sudah menikah atau belum. Tidak ada yang benar-benar memastikan status para penghuni kos.
Begitu juga dengan kami berdua.
Katanya, kami akan mendapat kasur single dengan fasilitas kipas angin dan toilet dalam kamar. Harga kos delapan ratus ribu perbulan. Berikut dengan kompor gas.
Disya memerkan kunci padaku. Aku mengangkat alis dan menarik napas.
Kami akan tinggal satu kamar, ya? Aku bertanya pada isi tempurungku sendiri. Saat Disya menatapku, aku nyengir. Aku tidak punya uang dan akan benar-benar tidak tahu diri jika bertanya–apakah gadis itu bisa membayar kamar yang lain untukku. Mustahil dan memalukan.
Dan tentang satu kamar single adalah benar. Disya meletakkan tasnya sembarangan sementara aku memutar otak–mencari cara bagaimana bisa tidur berdua di kasur sempit itu.
Baik, aku berpikir keliru. Sebenarnya kami bisa berbagi kasur meski entah bagaimana caranya. Dan soal kumuh, itu terjadi di luar. Tempat ini berjarak sepuluh menit dari pantai. Bukan jenis pantai wisata, melainkan pantai biasa dan tidak terlalu bagus. Pun aku sedang berusaha melupakan tentang tidak bagus dan kumuh atau memikirkan cara tidur. Disya menerima pesan — setelah kami hanya duduk kurang dari delapan menit setelah perjalanan lima jam, gadis itu menyeretku lagi, entah kemana.
≽^• ˕ • ྀི≼
Pertama, Disya memintaku membuat CV, foto, KTP, dan ijazah. Kami mampir ke tempat foto kopi sebelum kembali melanjutkan perjalanan menggunakan ojek.
“Aku punya teman online dari aplikasi telegram. Dia adalah seorang HRD dari PT Sumber Alfateria Trijaya Tbk di daerah sini. Aku mendaftarkan kak Akmal jadi kasir Alfamart” katanya, aku di beritahu saat kita hampir sampai. Gedung itu menjulang wajar di antara jajaran bangunan lainnya. Dengan langkah yakin, kami menuju kesana tanpa persiapan apapun. Bahkan tanpa mandi layak.
Disya mendorongku. Lalu melempar kata-kata tidak jelas yang kupikir adalah bentuk penyemangtan—aku mengartikannya begitu. Kendati, dia begitu baik, ini impresi awal meski disinilah aku duduk dengan tampilan–yang benar-benar menyedihkan.
≽^• ˕ • ྀི≼
Aku diterima.
Jika melihat ijazah terakhirku, harusnya mereka bisa menempatkanku menjadi staf penting di kantor alih-alih kasir biasa. Kendati, aku sangat bersyukur. Masa training tiga bulan mulai akan kujalani di toko terdekat yang berjarak lima ratus meter dari kos. Semuanya terjadi begitu saja, begitu cepat dan singkat. Semua berkat Disya–yang entah apa yang ia lakukan–hingga dengan mudah, aku diterima. Benar, aku mulai bekerja tanpa ada celah menganggur sejak kedatangan kami kemari.
Sementara Disya, ia–entah melakukan apa pada ponsel. Kegiatannya hanya terbaring seharian dalam kamar–atau mungkin pergi saat aku tidak di rumah. Sisanya hanya membeli makanan serta cemilan. Saat aku pulang, dia menungguku layaknya seorang istri bersama makanan yang ia masak sendiri.
Menyebutnya seperti istri membuat sudut bibirku terangkat naik. Kami baru bertemu dan waktu berjalan begitu cepat. Satu bulan atau yah, sekitar itu — kami tidak sempat berkenalan dengan layak dan benar, kecuali malam tangis lepas kejadian yang sama-sama membuat kami putus asa. Setelahnya, kami berdua hanya menjalani hidup layaknya teman di dalam kos itu. Kadang-kadang Disya berceloteh menceritakan tetangga sebelah atau panas terik yang berhasil membuat hidungnya berminyak.
Aku shift siang hari ini . Pukul empat sore, aku sudah berada dalam kos dan Disya seperti biasa–seperti kemarin dan kemarinnya. Menyambutku dengan senyum manis.
“Hari ini aku dapat uang” katanya, mulutnya menyuap mie goreng yang di campur kol dan cabai. Aku memperhatikannya dalam suapan. Meski aku penasaran setengah mati—seperti, darimana ia mendapatkan uang selama ini. Pasalnya, aku benar-benar hidup dari uangnya. Aku baru mendapat upah dari masa percobaan satu bulan diterima. Dan selama itu, penuh—Disya yang membiayai.
Dan aku tidak bertanya. Aku hanya mengangguk dengan senyum tidak sampai mata.
“Kak Akmal”
“Hm”
“Setelah ini, kita pergi beli baju, ya? Kita tidak punya pakaian layak”
Aku mengangguk.
“Nanti kita beli makanan enak sebagai reward. Kak Akmal kemarin gajian, kan? Di tabung aja uangnya, biar ini urusan aku”
Sebenarnya aku terusik dengan yang itu juga. Rasanya, ini terbalik dan tidak benar. Namun Disya serius dengan ungkapannya. Seluruh gajiku kutabung dan dengan tidak tahu malu, aku lagi-lagi hidup dari uangnya.
Sementara tentang tidur kami.
Normal.
Sudah satu bulan lebih. Kami tidak mengalami apapun. Maksudnya, kami hanya hidup berdua, titik. Jika merujuk pada drama atau picisan remaja tentang dua orang yang bertemu dan saling jatuh cinta dalam kurun tertentu saat tinggal bersama, mungkin aku akan percaya dan tidak percaya. Pasalnya, sejauh ini, aku dan Disya benar-benar baik-baik saja. Aku tidak ingin mengkategorikan apapun meski diam-diam, aku melihatnya. Aku mulai melihatnya.
Mungkin saja karena ini adalah pengalaman pertamaku berbaring dengan wanita—seorang gadis. Dan kemungkinan lainnya adalah bahwa aku sendirian yang melihatnya.
Disya tidur meski lebih sering larut dengan ponsel yang seperti akan merekat ke matanya. Sementara aku tidur lebih cepat. Kami tidak banyak mengobrol setelah membicarakan hal-hal penting tidak penting menyangkut pekerjaan atau yah, mungkin cuaca yang super panas, tetangga dan bau pantai yang pekat. Setelah itu, kami diam hingga tertidur. Tidak ada, tidak lebih.
Baik aku akan jujur. Sebenarnya, aku menyukai Disya.
Lagipula pria gila mana yang tidak menyukai gadis cantik luar biasa yang menanggung hidupnya? Aku bergantung padanya, memujanya diam-diam dan berusaha agar tidak terlihat mengaguminya seperti orang gila. Itu sulit. Kadang, ada waktu dimana mataku benar-benar terpaku ke arahnya, begitu indah. Sesekali ia akan menaikkan alis, lalu bertanya dengan nada candaan. Sementara aku malu setengah mati.
Aku benar-benar tidak bertanya meski jutaan pertanyaan menyesaki tempurung. Seperti; dari mana uang yang dia dapat, bagaimana dengan neneknya, bagaimana kuliahnya. Gadis itu tampak terlalu tenang dan damai.
Cerita tentang ia dijual oleh temannya. Itu juga terlupakan begitu saja, seolah bukan sesuatu yang besar—efeknya hanya hari pertama, saat malam itu. Sisanya sama sekali. Gadis itu hidup santai dan menikmati hidupnya.
Dan dari semua hal itu, yang paling membuatku penasaran adalah, Disya sangat mahir membaca map. Ia seperti tau dimana pun tempat, kemana harus pergi dan tidak kebingungan. Mirip orang dewasa yang tau kemana langkahnya.
Jika mengajakku ke suatu tempat, maka ia akan pergi dan membawaku tanpa ragu. Seolah, ia telah mendatangi semua tempat itu sebelum ini. Aku mirip bocah yang hanya membuntut langkahnya, tanpa salah.
Seperti sekarang.
Aku baru saja dibelikan pakaian dan bersumpah melihat Disya membayar dengan harga yang lebih besar dari gajiku pertama kali menjadi kasir. Ia tak perhitungan dan aku benar-benar tidak tahu berapa uangnya dan jika punya uang, kenapa ia tidak kembali ke Jakarta?
Aku berdiri—berjarak sepuluh meter dari tempatnya sekarang. Disya sedang bercengkrama dengan seorang gadis lain–lebih dewasa, mungkin tiga puluh tahun? Aku tidak yakin. Mereka berbicang akrab seperti teman yang lama yang baru bertemu lagi.
Hanya sekitar dua puluh menit, setelah itu Disya kembali padaku dan wanita itu pergi.
Kami melanjutkan perjalanan pulang setelah semua hal yang Disya inginkan ada di tanganku–dalam kantong-kantong yang jika kuprediksi seberat dua belas kilogram.
“Aku suka sekali denganmu” kata-kata itu melayang tepat saat kami masuk dalam kos. Aku meletakkan makanan di dekat kompor sementara pakaian masih ku jejer di bawah lemari plastik yang dibeli saat kami baru pindah dua hari.
Dan aku melirik sekilas. Disya bukan sekali ini saja mengatakan itu, jadi aku mendengarkan, namun tidak akan repot-repot menatap matanya agar dia merasa didengarkan.
“Kamu tidak pernah banyak tanya, tidak pernah cerewet dan selalu iya-iya saja. Aku suka sekali” itu juga. Aku mereaksinya dengan senyum, kali ini, kuperlihatkan deret gigi rapiku padanya.
Lantas, bagian mana aku akan bertanya macam-macam saat hidupku bahkan ditanggung olehnya? Meski sialan apapun yang ia lakukan, aku tidak akan pernah bertanya, tidak juga menduga-duga apalagi berspekulasi buruk. Aku hanya akan percaya dan diam dengan apa yang kulihat dan kujalani—mungkin hingga uangku cukup dan aku akan melamar di perusahaan besar. Saat aku punya uang, aku bersumpah akan bertanya apa yang dilakukan Disya dan memintanya berhenti, apapun itu. Aku bersumpah akan menebus kebaikannya dengan menghidupinya. Nanti, sekali lagi aku bersumpah atas nama tuhan. Meski tidak sekarang.
Aku mendengarnya bersenandung masuk dalam kamar mandi “nanti makan malam bareng, oke? Aku mandi dulu, Kak” setelah itu, bunyi air dari balik kamar mandi memutus senandung. Aku diam saja.
Aku bisa.
Aku bisa hanya duduk menontonnya diam saja sepanjang hari. Atau melihatnya makan dengan cara—normal dan wajar namun kuanggap lucu dan menggemaskan. Aku bisa seperti ini sepanjang waktu asal itu Disya. Di mataku, gadis kurus dan kecil itu lebih dari musim panas setelah hujan badai. Bagiku, dia lebih dari banyaknya hal–karena aku tidak memiliki sesuatu apapun yang berharga dan yah, aku memiliki Disya sekarang. Ini adalah klaim menyedihkan dan aku tidak masalah.
“Apa menyenangkan memperhatikanku seperti itu?” mulutnya penuh dan aku berdehem. Mataku kupalingkan sembarangan meski terlambat dan tentu saja membuatku seperti orang tolol. Aku tidak menjawab.
“Bagaimana menjadi kasir?” pertanyaan itu sebenarnya terlambat–atau tidak. Sudah berminggu-minggu berlalu dan ia baru bertanya.
“Biasa saja, tapi aku bersyukur memiliki pekerjaan dan berhasil kabur dari tanggung jawab yang..” aku menunduk, lalu tersenyum dengan tidak tahu malu “ini memalukan”
“Aku juga sering bertingkah—mengambil tindakan impulsif yang berujung memalukan. Tidak apa-apa. Itu manusiawi. Kamu berhutang untuk kuliah. Jadikan itu alasan untuk berhenti menyalahkan atau merasa bahwa kamu pecundang. Kamu tidak” jawabnya serius. Disya menatapku dari balik anak poni yang menutupi sedikit matanya. Aku gemas ingin menyingkirkan itu.
“Aku harap aku bisa atau tidak seperti itu, sejatinya, aku hanya ingin menjadi manusia normal dan hidup dengan baik. Beberapa hal benar-benar diluar kendali”
Disya mengangguk sistematis.
“Hey, nikmati saja hidup. Kenapa terlalu pusing? Mau kusuapi?”
Aku menggeleng. Dan Disya tertawa lagi untuk alasan yang tidak terlalu kumengerti.
“Kamu keren dan hebat, sungguh”
“Tidak ada konteks yang membahas itu, tapi aku berterima kasih atas pujiannya” kurasakan wajahku memanas sampai telinga. Jika dalam kondisi ini, entah kenapa tenggorokanku ikut aneh. Seperti ada dahak yang terus menyangkut–membuatku berdehem tidak perlu.
“Kuharap musim panas tidak segera berlalu karena aku benci hujan dan becek” ia bangkit membawa sisa makanan untuk masuk dalam pendingin. Aku memperhatikannya hingga kepalaku berputar.
“Kamu? Kamu suka musim apa di negara yang berada tepat di garis katulistiwa? Sungguh tidak seru” suara debam pelan pintu pendingin tertutup menysul, gadis itu melirik ke arahku sekilas.
“Aku tidak suka semuanya. Aku tidak tahu” jawabku skeptis. Kulihat ia mengangguk-angguk setuju dengan komentarku.
“Apa kamu punya teman di minimarket?”
“Hm, ya.. Mungkin karena pekerjaan. Ku kategorikan sebagai diplomatis”
“Oh hey” ia tertawa lagi “kamu sulit berteman, ya? Atau butuh waktu panjang untuk adaptasi? Kamu terlihat mudah tersenyum dan cemberut sekaligus” ia meletakkan meneguk air mineral dan setelah itu duduk di sebelahku lagi “ayo berteman, aku juga tidak pandai berteman”
Aku tidak benci situasinya. Namun tidak tepat juga jika mengatakan aku suka. Atau… ya, aku hanya mencari kata yang pas untuk menggambarkan suasana hatiku tiap Disya terlelap lebih dulu. Baik, kuakui tidur kami memang akur. Dia tidak bergerak dan aku juga seperti bangkai—ini setelah dia tak berkomentar apapun tentang pola tidurku.
Seperti malam ini.
Kipas bergerak konstan. Mulus, tidak berisik seperti dalam kosku. Anginnya yang bisa membuat kami terlelap di bawah musim panas yang tidak berubah. Baik siang atau malam, tetap gerah.
Malam ini wajahnya menghadap padaku. Bulu mata panjang-panjang, napas teratur, bibir merah alami dan aroma tubuhnya yang khas. Aku menyukainya, sungguh.
Dalam kepala seorang pria normal yang sehat. Aku berpikir tentang—bagaimana jika kutempelkan hidungku pada rambutnya? Menghirup aroma tubuh atau sekedar berkontak fisik. Aku menepisnya, memikirkannya lagi, lalu berusaha mendistraksinya dan berakhir terlelap.
Aku bersumpah, aku ingin memeluknya.
≽^• ˕ • ྀི≼
“Ini suamiku, kami baru menikah” tangannya membawa satu boks es krim besar, sementara tangan yang lain menggamit lenganku. Disya mengajakku duduk di depan kos. Bukan di teras, melainkan dibawah pohon beringin besar yang rindang. Ia membawa kursi entah di dapat darimana dan masih sempat menjawab pertanyaan dari tetangga tentang status kami.
Cuaca panas menyengat. Aku shift malam dan siang ini, Disya mengajakku makan es krim di luar. Sambil melihat pemandangan yang tidak bagus–tidak terlalu. Hanya ada pepohonan, gunungan sampah dan aspal panas yang seakan membara di bawah terik. Para pejalan kaki atau anak-anak yang kembali dari laut terlihat gosong. Beberapa membawa layangan, ada yang membawa pancing dan beraneka ragam. Tempat kos kami adalah jalan akses ke laut meski tidak ramai dan jika musim hujan datang, kawasan ini akan sangat lembab dengan bau sampah yang khas. Katanya.
“Komedoku keluar karena kepanasan” ia mengeluh sambil menjilat sendok es krim. Tadinya aku ingin protes karena dia menyuapiku es krim dengan sendok yang sama. Namun protes hanya bentuk–agar tidak kentara jika aku kesenangan.
“Aku benci musim panas. Tapi lebih benci musim hujan” aku ikut berkomentar. Disya mengangguk setuju dan menyerahkan boks es krim ke atas pangkuanku. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celana.
“Dengar..” Disya mengeluarkan kuteks berwarna biru elektrik “ini bisa membantu jarimu lebih segar” dan aku tidak tahu apa maksudnya “kuteks mengandng bahan pelarut dan alkohol, dia akan dingin jika di pakai” aku mengerti.
Sekarang gadis itu memakaikan kuteks pada jerijiku setelah alasan dingin dan semacamnya. Aku diam saja tatkala cairan itu meleleh di atas kukuku–memberi warna baru dipermukaan.
“Oh, tangamu cantik sekali. Aku iri” dia mengatakan itu hanya agar aku tidak protes dan percaya. Aku bersumpah tangannya lebih lentik dan cantik.
“Apa warna kesukaanmu?” ia mendongak, dan aku menaikkan alis. Sialnya aku kesulitan mengontrol senyumku.
“Apa saja, kecuali hitam” jawabku jujur.
“Biasanya pria suka warna hitam. Sudah kuduga kamu tidak biasa. Kamu adalah pria luar biasa”
“Berhenti memuji berlebihan. Aku tidak keberatan dengan cat kuku” kataku berusaha membuatnya berhenti memuji secara tidak natural. Disya tertawa dan tawa itu menulari “bayangkan jika ada petugas yang mempertanyakan surat nikah” ucapanku yang tiba-tiba berhasil membuat Disya berhenti menorehkan cairan dingin itu pada jempolku.
“Kita hanya perlu menikah” katanya enteng. Seperti bukan sesuatu yang besar. Aku batuk tersedak ludahku sendiri “menurutmu, apa yang harus kita makan malam ini?” dan secepat itu dia mengubah topik. Aku berhenti berpikir jauh tentang ucapan spontanitas tanpa diolah dan langsung mencari ide tentang makan malam yang setiap malam selalu kami pikirkan bersama.
“Pizza” ia mendapat jawabannya sendiri. Lalu matanya beradu denganku meminta pendapat. Aku hanya mengangguk seperti biasa karena aku adalah pemakan segalanya. Aku memakan sampah sebelum bertemu Disya dan akan memakan apapun yang bisa dimakan untuk bertahan hidup.
“Pizza dan beer terdengar sinkron. Kamu kuat minum?” itu pertanyaan untukku dan aku mengedikkan bahu tidak yakin.
“Sebenarnya, aku tidak pernah membeli beer” hanya sebatas itu. Aku tidak akan repot-repot mengatakan jika aku lebih memilih membeli sepuluh biji roti seharga seribu rupiah untuk menyambung hidup ketimbang membelanjakan beer. Disya tampaknya muak dengan cerita kemiskinan meski ia tidak mengaku kaya. Jika aku bercerita tentang kesengsaraan ekonomi, dia akan mengangguk setuju, seakan posisi kami sama dan dia pernah merasakkannya juga. Aku tidak percaya.
Dia mengangguk lagi. Selesai dengan kelingkingku yang terakhir, lalu mengambil ponsel untuk memotret hasil karyanya.
“Aku berpikir untuk menjadi nail art, tapi aku bukan orang yang bisa konsisten saat bekerja dan tidak suka jika mendapat pelanggan dengan kuku jorok atau kuning. Aku akan marah dan memintanya pergi merawat kuku” es krim kembali ke pangkuannya setelah semua yang di inginkan abadi dalam ponselnya.
“Tidak usah, carilah pekerjaan yang paling–tidak membuatmu emosi” aku berkomentar seadanya. Lalu di sela oborlan kami yang random, suara gedubrak sepeda jatuh di aspal. Anak kecil yang menggendong anjing jatuh. Sisa orang tak seberapa penghuni kos di samping tergopoh-gopoh menghampiri.
Namun anak itu tertawa terbahak-bahak saat ia berdiri dan wajahnya terkena tahi kerbau yang berceceran di jalan hampir kering. Tidak ada luka, anjingnya duduk di samping. Aku ikut terpingkal-pingkal dan Disya juga.
“Aku tidak tahu kapan kerbau melewati jalan ini, kenapa ada kotorannya di sana? Astaga perutku sakit”
Aspal di jalanan seperti baru saja membaik—sisa hangat setelah matahari menembus lapisan awan tipis. Kini mereka semua lenyap–tenggelam.
Ombak tetap berdebur berulang-ulang seperti kaset rusak. Udaranya tetap asin–agak menyenangkan jika malam karena tidak panas. Aku membayangkan seperti bernapas di dalam kantong plastik jika pergi ke tempat ini siang. Ya, kami tidak akan nekat meski sebosan apapun untuk pergi ke pantai siang hari.
Jika ada hal yang membedakan bagaimana kakiku akan tetap melangkah ditengah terik di siang bolong hingga sol sepatuku melepuh, itu adalah Disya. Bersamanya, tidak masalah jika harus bernapas di dalam kantong plastik, atau kakiku meleleh di atas aspal panas. Terik tidak akan membuatku berhenti mendamba pada seorang gadis yang terbalut dress dengan dada rendah–dipadu kemeja flanel tipis.
Tangannya menggenggam sepotong pizza yang ia beli sore tadi. Rambutnya dikepang dua sementara anak poni berantakan sesuai arah angin. Alih-alih ikut menyuap makanan yang katanya ‘reward’ aku lebih terpikat pada wajah yang kulihat setiap pagi dan malam — tiap bangun dan hendak tidur. Aku bersumpah tidak akan bosan seandainya tuhan mau memberikan ia kepadaku sebagai pasangan hingga mati.
Aku terlalu menyukainya dan Disya terlalu memikat.
“Kak”
Panggilan itu telak membuatku seperti orang sinting yang kedapatan menelisik wajah secara tidak sopan dari samping. Disya menatapku dengan senyum khasnya. Disya, kupikir dia terbiasa dengan tatapanku yang kerap terpaku tanpa sadar.
“Y-ya?” jawabku patah-patah, aku terpaksa mengambil potongan pizza meski perutku tidak lapar. Ya, aku makan dulu saat Disya mandi. Aku baru pulang hampir pukul sepuluh malam dari minimarket.
“Berapa lama lagi sampai musim hujan?” itu pertanyaan baru untukku. Dari seluruh banyaknya kemungkinan bertanya, aku tidak tahu apa ada alasan dibalik pertanyaan itu. Namun yang kulakukan adalah mengingat bulan dan menghitungnya cepat.
“1 bulan” jawabku, lalu aku memutar mata kembali mengingat—jika ada yang terlewat “musim panas di mulai April dan berakhir Okt0ber. Ini awal September” kataku, melihat kalender pada ponsel dan memastikan itu tidak keliru.
Disya mengangguk tidak mengatakan apa-apa lagi tentang musim panas atau seputar itu. Kami berdua duduk di atas batu, menatap ombak dan menghirup bau asin yang menyesaki pernapasan. Di temani sekotak pizza yang sudah berkurang dan kopi dalam tumbler.
“Kak Akmal”
“Ya?”
“Aku ingin mengatakan sesuatu”
“Aku dengarkan”
“Sebenarnya, kita seumuran. Aku bukan mahasiswi dari Jakarta, aku berasal daro sini, pulau Flores dan aku nyaris hafal semua tempat di pulau ini”
Pernyataan itu membuatku tercenung beberapa saat. Seperti biasa—seperti yang ia lakukan tidak normal, maksudnya, seluruh kegiatannya yang memang tidak sesuai dengan ceritanya saat pertama kali kubawa ke kamarku.
Dan aku tidak menjawab, aku tidak bertanya meski banyak sekali pertanyaan. Aku memilih diam dan tetap memandang ke depan.
Disya melirik ke samping. Lalu kuintip dari sudut mataku jika ia tersenyum.
“Kak Akmal, tidak ada pertanyaan?”
Aku menggeleng nyaris presisi. Lalu aku ikut menatapnya. Sejak awal, gadis itu tidak banyak menceritakan tentang dirinya. Entah apa sebabnya tiba-tiba saja ia membuka obrolan seputar itu.
“Tidak akan ada yang berubah siapapun kamu, aku berhutang banyak dan aku akan percaya apapun yang kamu bilang, yang kamu kerjakan. Aku akan selalu memihakmu, Disya” kataku pelan. Suaraku berat dan mungkin saja terdengar mirip ombak. Lalu tanpa aling-aling, gadis itu melendot pada lenganku, kepalanya menumpu pada lengan atas.
Kami memang selalu dekat. Tapi aku tidak pernah melewati garis, begitu juga dia. Kami tidur dengan akur dan tidak ada yang rusuh di antara kami. Kalau dipikir-pikir, semuanya terasa tidak mungkin. Namun kami melakukannya, kami adalah teman–mungkin. Atau mutualan, meski kupikir aku lebih sering menyusahkannya sejak awal ketimbang–dia yang memulai segalanya dan eksistensiku yang terkadang kuanggap sebagai pecundang dan benalu.
“Mau bermain pasir?” tawarnya kemudian. Ia kembali duduk tegak dan menawariku melakukan hal-hal yang tidak pernah kami lakukan. Aku mengangguk pelan dan dia langsung mengambil tanganku dan kami menuruni bebatuan hati-hati.
Tidak banyak yang kulakukan.
Maksudnya, kami berlari. Dia memberikan tawaran hadiah permintaan jika aku berhasil menangkapnya.
Entah sejauh apa aku berlari. Pertama aku mengejarnya, lalu kemudian entah kenapa aku berlari saat dia balik mengejar. Padahal, jika tertangkap, aku akan menang, namun aku reflesk berlari saat Disya mengejarku, pun napasku tidak sanggup mengimbanginya, aku pengap dan berakhir kembali ke sisi batu dimana pizza terakhir kami tinggalkan.
Aku duduk di atas pasir dengan kaki lurus ke depan, tanganku bertumpu ke belakang. Dadaku kembang kempis setelah Disya mengajak bermain kejar-kejaran. Sungguh payah, aku mulai memikirkan gym dan lari pagi setelah kalah mengejar gadis yang jauh lebih kecil dariku.
Lihatlah, sekarang Disya masih aktif berlari ke sana ke mari pura-pura di kejar ombak, sementara aku mulai mengatur napas karena lelah dan pengap.
Angin laut terasa lebih dingin menerjang kaus ku yang tipis. Dadaku sesak oleh udara yang masuk. Namun rasanya seperti tidak pernah cukup.
Di tempat ini kami duduk, dunia seolah terputus dengan sempurna. Di luar garis cahaya yang di cipatakan lampu jalanan, aku dan Disya menciptakan dunia baru—dimana alunan ombak mendayu-dayu dan gugus bintang berkelip hanya untuk dua pasang mata. Dunia hanya berisi aku dan Disya. Gadis itu ikut duduk di sampingku—sejajar. Kakiku di kubur pasir dan kakinya juga.
Dunia yang sempurna.
Malu-malu, tanganku bergeser ke samping, menyentuh jemarinya yang tersimpan rapi di sisi paha. Disya melirikku sekilas, melempar senyum cantik seperti biasa, lalu memberi akses jariku mengisi sela jarinya. Ia mengapitku, begitu erat, begitu hangat.
“Mau hadiah apa?”
Alisku menaut atas pertanyaannya. Aku bahkan tidak menang dan tidak ada yang menang di antara kita. Namun Disya menawarkan. Aku memejamkan mata sembari menahan senyum. Sayang deret gigi rapiku lolos pada akhirnya. Aku tidak bisa menahan tawa.
“Kupikir tidak ada yang serius dengan itu” ucapku kemudian. Aku menarik napas dalam, menyudahi senyumku “tapi kalau ditawari, aku tidak akan menolak.
“Tentu saja” Disya menggeser tubuhnya semakin memepet, kepalanya di istriahatkan lagi pada pundakku “Kamu hampir kehabisan napas tadi, aku ini atlet lari tau, Kamu tidak akan bisa ngimbangi”
“Kalau begitu, aku ingin tau tentangmu” pundak Disya yang bersentuhan dengan lenganku menegang “itu permintaanku”
Untuk sesaat, keheningan mengisi—Disya membiarkan debur ombak, gemerisik pepohonan dari bukit seberang jalanan aspal menguasi. Aku harap, Disya tidak akan sadar betapa basahnya telapak tanganku sekarang. Tadi, aku mengatakan bahwa tidak akan ada yang berubah—siapapun Disya. Namun sekarang, aku secara spontan–akibat hadiah permintaan itu–rasanya seperti refleks. Jika Disya tidak mau memberitahuku tentang dirinya, aku juga tidak apa-apa.
“Harus di mulai dari mana ya…” Disya bergumam pada dirinya sendiri “kisahku cukup klise dan tidak bagus. Aku tidak tau apakah ini bisa menghiburmu atau tidak”
“Aku bertanya bukan untuk mencari hiburan karena hiburan ada di depan mataku” suaraku lembut–lirih “aku hanya ingin tahu tentang orang yang kusuka. Tapi jika kamu keberatan, tidak masalah untuk tidak menjawab” aku mengatakan itu dalam keadaan sadar. Disya yang baru mendengar ungkapan ‘suka’ kontan menoleh padaku. Kurasakan matanya seperti akan melubangi pipi kiriku—aku tidak bernyali untuk menatapnya balik.
“Aku benar-benar tidak tahu harus memulai darimana” ia menegakkan tubuhnya. Ada sedikit rasa kecewa ketika kepalanya tidak lagi bersandar pada bahuku. Gadis itu tampak berpikir sejenak sebelum bangkit — mengambil tas selempang dekat pizza yang kami tinggalkan di atas batu.
Saat kembali, ia menyodorkan sekaleng bir “bagaimana kalau kamu bertanya padaku?”
Aku menerima kaleng bir, mendongak melihatnya yang kembali duduk di sampingku “berapa banyak yang bisa kuajukan?”
Disya menjilat bibir bawahnya “sebanyak yang kamu mau”
Bunyi keletak disusul desisan soda, kaleng bir terbuka. Tapi alih-alih langsung meminumnya, aku hanya menatap cairan kuning transparan yang memenuhi pinggiran kaleng.
“Apa kamu asli Flores?” padahal Disya sudah mengatakannya. Aku memastikan sekali lagi mirip orang memastikan sudah mematikan kompor sebelum pergi.
“Ya.” Disya mengangguk “aku dari Labuan Bajo” sama denganku, namun aku berpikir mengapa kami tidak bertemu sebagai orang ‘normal’ tanpa insiden apapun. Maksduku, bertemu dalam konteks lebih layak.
“Berapa usiamu? Dengan siapa kamu hidup?”
“Aku 25, kita seumuran, aku hidup sendirian. Kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan dan aku tidak memiliki siapapun” gadis itu menyesap bir, matanya lurus pada debur ombak. Sesekali kakinya memainkan pasir. Lalu melihat ke arahku “sekarang aku tinggal dengan seorang pria tampan” katanya sambil terkekeh.
Aku menarik napas—seperti aku tidak akan bertanya lebih lanjut atau–aku khawatir jika Disya akan merasa tidak nyaman.
“Disya, apa kamu menyukaiku?” aku lebih memilih pertanyaan itu ketimbang kehidupan lalu gadis itu. Memberanikan diri dengan gaya pas-pasan dan… tampan? Disya mengatakan tampan dan aku cukup tersipu pada bagian itu.
“Ah, sepertinya, aku tau darimana harus memulai” alih-alih menjawab pertanyaanku, gadis itu justru tersenyum. Dua tangan menangkup kaleng bir di atas pangkuan. Lagi, matanya nyalang menatap ombak yang begitu-begitu saja.
“Sebulan.. Em.. 1,5 bulan yang lalu. Sesuatu terjadi dan aku dihadapkan situasi sulit dimana aku berakhir dengan dua pria besar, bule dan benar-benar akan mati jika seseorang tidak datang. Aku sudah menulis surat wasiat entah untuk siapa dalam tasku di semak-semak. Tapi seseorang datang dan memukul dua pria itu dengan keren. Pria tampan. Bagaimana caranya aku tidak suka? Dia terus mengatakan hutang budi dan seolah aku ini adalah penyelamat. Padahal, kata-kata itu lebih pas untuk dirinya” Disya tersenyum. Satu tangan mengangkat kaleng bir dan ia menyesapnya lagi hingga mendongak tinggi dan kaleng itu nyaris tegak lurus. Kulihat tenggorokannya menelan dengan rakus. Setelah itu, wajahnya memerah, kupikir dia mulai mabuk.
Lalu melirik ke arahku “aku menyukaimu juga” kata-kata itu membuat jantungku seperti akan melompat keluar “kamu tidak pernah bertanya apa, bagaimana, dan yah..” Disya menunduk lalu tertawa “kamu menyukaiku meski itu karena ketergantungan atas kondisi ekonomimu yang menyedihkan aku tidak kebera–”
“Tidak, aku tidak menyukaimu karena itu saja. Terlalu dangkal. Kamu terlalu kompleks untuk dikerucutkan menjadi sesuatu yang kelewat kerdil. Kamu lebih dari itu” aku mengoreksinya cepat-cepat sebelum ia menyelesaikan kalimat yang hanya akan membuatku terlihat tidak tahu diri–meski Disya tidak akan menyinggung itu.
“Apa?” ia memicingkan mata. Tidak, matanya mengecil, melihatku seperti penderita hipermetropi.
“Aku menyukaimu lebih dari apapun. Aku bahkan memikirkan banyak hal terlalu jauh. Aku berjanji akan mengumpulkan uang dan memasukkan lamaran ke perusahaan besar. Aku akan mendapatkan banyak uang dan menghidupimu. Aku akan, itu tujuanku sekarang” sudut bibirnya berkedut. Angin membawa rambutnya meliuk menutupi mata sebagain.
“Aku tidak tahu harus mereaksi apa. Kamu bahkan bisa tidur dengan gadis tanpa menyentuhnya. Kadang ada malam dimana aku benar-benar ingin kamu menyentuhku, melewati garis lalu memelukku. Kamu tidak, tidak pernah. Aku mulai bertanya-tanya, apakah kamu pria normal? Apakah kamu sehat?” lalu kudengar ia terkekeh, Disya jelas mabuk “aku muak sekali dengan pria, tapi kamu tidak. Kamu pengecualian, dan semakin kupikirkan, aku semakin merasa menyedihkan” kata-kata terakhir gagal kucerna. Aku tidak tahu Disya mengatakannya atas dasar apa.
Yang ku lakukan adalah meneguk ludahku. Jakunku bergerak naik turun dan kulihat Disya mengamati bagian itu.
“Dan apa aku harus mengaku seberapa keras aku menahan diri?” pertanyaanku telak membuat Disya memberengut, mata kami bertemu dan aku tidak tahu apa arti tatapan itu. Kadang, aku merasa gadis itu sangat misterius dan cerewet sekaligus.
“Aku dengan kesadaran penuh tahu diri jika posisiku benar-benar menyedihkan. Kecuali aku gila, mungkin aku akan melewati garis. Hanya ini satu-satunya yang kupunya. Tapi mendengar kata-katamu barusan, kupikir aku bisa melakukan hal-hal yang melewati garis dengan dalih tidak sadar”
Ia mengacungkan jari tengah sambil tertawa. Lesung pipinya tercetak. Dan itu tidak lucu, sungguh. Gadis itu tidak lucu sekarang, sekarang, benar. Kemarin lucu, kemarinnya lagi dan kemarin. Gadis itu imut dan menggemaskan. Namun malam ini tidak. Disya sangat panas, yah.. Kurasa ombak berisik, pasir kasar, angin yang semakin membesar—akan setuju tentang apa yang kupikirkan.
Aku hanya menatapnya tanpa mengubah posisi apapun. Bahkan cara ku menatapnya penuh damba. Sebelum kurasakan ia semakin mendekat–memepet padaku. Aroma bir menguar dari mulutnya, kurasakan menyuruak masuk ke penciumanku.
Semakin dekat. Disya mabuk. Kepalanya meneleng ke kanan dan matanya tertutup sempurna. Aku diam seperti pria perjaka yang hampir mati karena kesenangan namun tetap berhasil mengatupkan rahang. Aku hebat, aku akan mengakuinya malam ini.
Bibirnya menabrak milikku.
Kurasakan miliknya dingin, kenyal dan lembut. Napasnya memukul atas bibirku hangat di susul pagutan lembut darinya. Disya meremas kain dress di atas pahanya sendiri sementara aku pelan-pelan mengambil alih.
Aku menyukainya, sungguh.
Aku menyukai sisa bir dalam mulutnya, menyukai cara gadis itu melenguh pelan di dalam rongga mulutku. Atau ketika ia mengulum lidahku lembut—terkadang lidah kami membelit seperti ular musim kawin.
Suara ombak terasa makin besar. Airnya pasang—kini berhasil menjilat dua pasang kaki kami. Dan kami merebah–bukan, maksudnya, aku menindihnya dari atas. Ciuman kami tidak terputus entah sudah berapa lama. Pelan-pelan kutarik dress dengan dada rendah meski tak sampai membuat dua alat vital itu menyembul. Saat kulepaskan pagutan, kepalaku turun menjilati seluruh permukaan kulitnya yang halus dan wangi.
Gadis itu melenguh pasrah. Dua tangannya menjambak rambutku.
“Disya.. Ayo pulang” kataku kemudian. Aku tahu ini akan berakhir kemana.
≽^• ˕ • ྀི≼
“Tunggu seben—Akh!”
Satu kecupan mendarat telak pada pucuk kepalanya. Lalu Disya memukul tanganku yang menumpu di antara tubuhnya. Sudah kuduga bahwa gerak-gerik Disya mirip kucing pemarah. 1,5 bulan tinggal bersamanya membuatku paham meski gadis itu tidak pernah marah–marah secara transparan padaku.
Tapi tolong katakan padaku bagaimana aku bisa berhenti ketika dada gadis itu tengah naik turun dengan cepat, kedua putingnya memerah dan bengkak, juga basah oleh air liurku.
Sisa-sisa akal sehatku digunakan untuk hal yang tidak terlalu sehat; menahan kedua tangan Disya ke atas kepalanya. Sisanya hanya ada insting. Kepalanya dimiringkan ke samping hingga melesak ke dalam bantal, enggan membalas tatapanku. Pipinya bersemu merah.
Jika Disya tidak mau, tidak seharusnya dia memeluk leherku hingga kami berdua terjatuh ke kasur dan dia membimbing kepalaku untuk mencium dadanya. Seharusnya—meskipun mabuk, dia akan masuk ke kamar mandi untuk sikat gigi, lalu mencuci wajah dan tidur meski posisinya malang melintang.
Atau bisa saja dia diam tidak mengatakan apa-apa dan bicara seperlunya seperti kita biasanya. Aku tidak akan kehilangan akal sehat seperti sekarang.
Akan tetapi, Disya yang membuatku merayap menyusup lalu menyentuh seluruh tubuhnya–yang ia buka sendiri hingga bertelanjang.
Begitu sampai di tempat yang didamba-damba, Disya mengeluarkan erangan tertahan bak suara kesetanan. Aku ingin mendengarnya lagi, lagi dan lagi. Tidak sepanjang hari, aku perlu mendengarnya seumur hidup. Jemariku bergerak naik turun, dalam tempo yang menyiksanya–lambat, dan penuh tekanan.
Oh tuhan, bagaimana aku mengabadikannya? Akan kuhujani Disya dengan kasih sayang yang pantas didapatkan, dan Disya akan menghujaniku dengan desahannya yang manis. Pagi, siang, dan malam.
“Akh..” panggilannya tersendat dengan napas berat sukses membuyarkan lamunanku “tatapanmu menyeramkan sekali”
Aku menundukkan kepala, mencium keringat pada dahinya “takut?”
“Sedikit”
“Jangan” fokusku tetap terpaku pada gadis bersurai panjang yang kini berantakan campur keringat, aku menikmati mulutnya yang basah “aku hanya akan menyakitimu di atas ranjang, Disya”
Nanti, setelah ini, setelah semua ini. Disya adalah kemewahan yang akan terus kujaga dengan perhatian ekstra. Eksistensinya akan terus kulindungi meski aku harus memotong dua kaki dan tanganku sendiri. Aku menyerahkan dunia, kepercayaanku, apapun yang tersisa dariku demi melihatnya tersenyum dengan tulus di bawah sinar matahari–tempat yang cocok untuknya.
“Akh…” matanya berkaca-kaca begitu jari tengahku masuk ke dalam liangnya yang sudah basah. Akan tetapi, ketika Disya sedang seperti itu—meronta dan menggeliat di bawah kurungan badanku—itu adalah kode darinya untuk segera diperlakukan seperti pelacur murahan. Seonggok lubang menganga yang hanya cocok dijadikan tempat benihku bersemayam. Seakan-akan, sisi kemanusiaannya lenyap oleh sapuan jemariku di atas kulitnya yang panas.
Disya merentangkan kedua tangannya ke depan, mengalung pada leherku dengan sempurna. Kedua kakinya melingkar pada pinggulku—tampak seperti koala yang menggemaskan jika saja ia tidak mengangkat satu sudut bibirnya.
Mirip iblis penggoda, pikirku.
“Tidak usah terburu-buru, malam masih panjang. Kita punya banyak waktu. Malam ini, besok, besok lagi dan lagi” kataku lembut. Tubuhku bergerak maju dan mundur.
≽^• ˕ • ྀི≼
Cinta musim panas banyak diperdebatkan merupakan cinta yang membara secara singkat. Aku tidak percaya, kendati lagu-lagu yang sedang populer memutar lirik-lirik memvalidasi. Penyair menyedihkan dengan kisah cinta musim panas yang ikut berakhir tatkala penghujan datang seperti menghapus jejak panas pada aspal.
Aku berdiri dibalik meja kasir sambil membuka email dari perusahaan–yang aku sendiri tidak tahu. Belum sempat aku selesai membaca, pesan dari Disya muncul di bar atas. Aku membukanya lebih dulu.
Aku membuka email, lalu kembali membaca pesan Disya bergantian. Yang tertera dalam email adalah aku diterima kerja dengan posisi yang aku sendiri tidak terlalu paham. Namun perusahaan itu memintaku datang esok. Saat kutanya Disya dimana lokasinya, gadis itu mengatakan jika besok ia akan turut serta mengantarku.
Ini ketidakmasukakalan yang lain. Yang pertama pendapatan, yang kedua bagaimana dengan mudah ia memasukkanku menjadi kasir dalam toserba, lalu saat aku mengatakan ingin bekerja di persahaan besar. Tanpa menunggu babibu, aku langsung diterima tanpa pernah menulis CV, tanpa interview dan dalam pesan, secara tidak masuk akal aku benar-benar diminta datang untuk bekerja, sekali lagi, BEKERJA.
Saat jam pulang datang, aku menghambur—berlari sekuat tenaga untuk cepat sampai rumah. Begitu banyak yang ingin kutanyakan, begitu ini membuatku bingung.
Sebenarnya, siapa gadis itu? Kenapa bisa semudah ini? Aku tidak fokus bekerja hari ini. Bahkan, masa training ku di tempat ini belum selesai dan aku harus pergi ke perusahaan—tempat baru tanpa tahu apapun.
Dikota kecil ini, udaranya selalu membakar paru-paru. Musim panas akan berakhir kurang dari sebulan, tapi seperti hari ini adalah puncaknya. Anak-anak kecil yang berjarak lima ratus meter dari indekos hilir mudik dengan jaring penangkap serangga mereka sambil menikmati es. Para tetangga kos sebelah sibuk bercengkerama dengan yang lain di depan rumah sambil menikmati potongan semangka dan kipas tangan. Di malam hari, bau bubuk mesiu dari kembang api dan bau asin tercium pekat.
Diysa melambaikan tangan dengan cup kopi di tangan yang lain. Tubuh kecilnya terbalut tanktop dan celana pendek menyambutku dengan senyuman.
Saat aku sampai, ia menyodorkan es kopi lalu menyeka keringatku yang bercucuran. Bahkan seragam training ku basah oleh keringat. Ya, aku berlari sejauh hampir 2 kilomter di bawa terik tidak masuk akal. Tubuh kurusku gosong dan bau matahari khas menyengat. Sambil tertawa, Disya mendorongku untuk segera mandi setelah mengambil kembali es kopi yang baru kesedot setengah. Dia bahkan tak memberiku waktu untuk bertanya tentang email.
“Pakai bajumu astaga” Disya keberatan saat aku memeluknya dari belakang hanya memakai handuk–meski dadaku tertutup–bukan jenis handuk yang hanya membelit bawahan.
“Aku rindu” kataku, seolah melupakan alasanku berlari sejauh itu di bawah terik–demi membahas email. Namun yang kulakukan setelah mandi adalah memeluk Disya yang sibuk membuat sesuatu di depan meja kompor dengan pakaian menyedihkan seperti saat menyambutku datang.
Tangaku melingkar penuh pada perutnya. Saat Disya melirik ke belakang, kujatuhi bibirnya dengan kecupan berulang-ulang, dia tertawa dengan lesung pipi yang memikat.
“Aku ingin membahas email” dan aku membahasnya. Diysa menjejaliku dengan irisan ayam katsu. Tubuhnya bergerak mengambil piring dan nasi, aku mengikutinya sambil mengunyah–sambil tanpa melepas pelukan sedikit pun.
“Itu perusahaan kenalanku. Kamu bisa bekerja mulai besok, aku akan mengantarmu” katanya praktis.
“Dimana tempatnya?”
“Jakarta, kita akan pergi setelah makan”
“Tiba-tiba?”
“Hm” katanya “tapi setelah ini, aku ingin menemui teman lama, kamu tolong berkemas”
“Aku tidak mau” sergahku membuat Disya berhenti
“Tidak mau? Apa kamu mau mati?” matanya melotot galak, baru sekali itu Disya mendelik marah.
“Aku tidak bisa pergi atau berjarak denganmu, Disya..” aku memelankan suara, lalu helaan napasku membuat rambutnya di belakang telinga bergerak.
“Aku akan ikut ke Jakarta, kenapa kita harus berpisah?” baru setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, aku tersenyum. Deret gigi rapiku terpantul dari kaca kabinet dapur minimalis itu. “Duduklah, aku akan membawakan makanan”
Aku duduk patuh seperti anak anjing. Makan sore kami di lantai yang di alasi permadani murahan—sudah usang dan tipis.
“Disana, ada temanku bernama Adew. Dia adalah seorang staf administrasi. Tanya-tanya saja, tanyakan apapun, dia tahu semua hal, mirip google” kata gadis itu sambil menyuap makanan. Aku mengangguk–melakukan hal serupa.
“Hm, aku akan bertanya, tapi izinkan aku untuk.. Yah, itu.” aku menggaruk tengkuk “Disya, bisakah sebelum makan kita.. Itu, maksudku…” aku tidak mengatakannya, namun tubuhku bangkit–lantas membawanya ke atas kasur dan gadis itu menjerit sambil tertawa. Kami mengulanginya lagi, lagi, lagi. Seperti harapanku, keinginanku. Aku ingin Disya, aku menginginkan gadis itu lebih dari apapun.
≽^• ˕ • ྀི≼
Ya, ada seseorang bernama Adew. Dia adalah pria kemayu yang datang dengan pakaian formal sebagai staf administrasi. Rambutnya mullet dan kukunya panjang-panjang berwarna marun. Jika berjalan, maka bokongnya akan bergerak memantul, begitu montok.
Aku pergi ke Jakarta sendiri saat Disya terus meyakinkanku bahwa dia akan menyusul setelah urusannya dengan seorang teman bisnis selesai. Disya juga yang meminta Adew menyerahkan kunci kos di Jakarta sebagai tempat tinggalku yang baru.
Aku mulai bekerja di hari pertama. Kebingungan khas dan untungnya, ada seseorang yang dengan sabar mengajari–mengarahkan dan memberi komando. Aku diterima sebagai Data Analyst.
Semua terasa baru. Aku besar di Labuan Bajo mungkin sejak lahir. Udara Jakarta jauh lebih panas, lebih membakar paru berkali-kali lipat dari tanah kelahiranku. Musim panas masih merajai diluar dan sekarang, aku duduk di balik meja dengan jas formal dan pendingin yang tidak akan membuatku mengipasi leher dengan tangan.
Aku mengirimi Disya pesan sangat banyak. Bertanya kapan dia akan datang atau kapan urusannya selesai. Aku akan menjemputnya di bandara. Namun tidak ada satu pesan pun yang sampai. Nomornya tidak aktif dan benar-benar sulit di hubungi.
Aku bersabar hingga jam pulang kerja.
Dan bukan.
Bukan sampai jam pulang kerja, melainkan dua hari, tiga, seminggu, dua minggu, sebulan.
Aku meminta cuti dan ditolak karena posisiku adalah anak baru. Sementara rasa rinduku pada Disya berhasil membuatku seperti orang gila. Nomornya tidak pernah aktif lagi setelah itu, ia seperti menghilang begitu saja tanpa kabar, sama sekali.
Aku frustasi, namun tetap tak kutinggalkan pekerjaan. Akhir pekan ini, aku bersumpah akan kembali mendatangi pulau Flores dan mencari Disya.
≽^• ˕ • ྀི≼
Musim hujan datang.
Gerimis kecil, di susul riuh pertama kali mengawali awal penghujan datang.
Sudah dua minggu. Aku mendatangi pulau Flores. Aku mendatangi kos kami dan bertanya pada si pemilik dan ia mengatakan jika Disya pergi di hari kepergianku membawa seluruh barang. Sang pemilik kos tidak tahu menahu tujuan Disya sementara aku makin frustasi. Ku bawa lagi sopir grab untuk menyisiri semua tempat yang—menurutku berkemungkinan Disya ada, namun libur akhir pekan yang hanya dua hari benar-benar tidak cukup untuk mencari Disya. Aku kembali ke Jakarta dengan hasil nihil, perasaan yang makin semerawut dan rindu yang semakin menjadi-jadi.
Ingatan tentang kebersamaan kami menghujam tanpa tendeng aling-aling. Kasur. Pantai, pasir. Semuanya berputar mundur hingga ke adegan pada hari pertama kami berjumpa, aku nyaris ingin kembali pada momen itu meski menyedihkan—keji.
Dan aku kembali.
Hujan di kota Jakarta seperti sialan aneh yang terasa begitu asing sampai ke dada. Aku seperti kehilangan pegangan, hilang arah. Tidak tahu harus apa dan bagaimana, apa harus melapor pada polisi. Atau masih ada tempat yang ku lewatkan?
Langit masih gelap. Guntur masih bersahut-sahutan entah kapan akan berhenti. Sebagian hidupku setelah meninggalkan Labuan Bajo dihabiskan untuk berharap bahwa suatu hari nanti kami akan bertemu kembali. Mungkin besok atau lusa. Mungkin minggu depan, bulan depan, tahun depan. Begitu terus—menumpuk hingga menjadi sepuluh tahun.
Satu dekade aku memikirkan Disya muncul di hadapanku dengan segala kemurahan hatinya. Membebaskanku dari belenggu kutukan rindu yang tidak berujung. Lesung pipinya, kulit putih dan elok. Melalui bibir indahnya akan kucumbui sambil mendengarkan ia mengatakan hal-hal tentang kefanaan.
Aroma pasta memenuhi ruang.
Wanita itu duduk di sampingku. Dalam sepuluh tahun aku hidup di dua dunia. Yang pertama aku hidup dalam kemewahan. Tidak ada lagi hutang, kasur lembab di musim panas, aroma apek selimut dan seprei yang tidak pernah dicuci atau jamur yang dapat menyebabkan penyakit buruk.
Yang kedua aku hidup dalam imajinasiku sendiri. Tempat dimana Disya ada di sana. Kadang di layar saat aku presentasi, kadang di langit-langit lift.
Akan tetapi yang paling menyiksa adalah ketika aku tidur dan kehilangan kesadaran. Kami kembali ke Pulau itu, ke pantai itu, ke rumah petak itu. Aku dan Disya berjalan beriringan di atas pasir atau saling kejar. Kaki kami di jilat ombak atau tertutup pasir. Bersama-sama kami menembus jalanan panas dan mendarat di laut kumuh yang panasnya seperti akan membakar tengkorak.
Aku menatap keju dan daging sapi cincang di atas pasta. Begitu sulit aku kembali dari dunia imajinasi, dunia yang ada Disya disana. Satu-satunya hal nyata adalah dunia normal ini, di mana aku makan di meja marmer mewah dengan seorang wanita yang menyematkan cincin di jari manisya. Cincin berdesain serupa dengan yang ada di jari manisku.
Ini adalah kehidupan yang nyata, ini yang benar dan ini yang tepat.
Tepat, dan normal.
Aku adalah manusia yang berfungsi dengan baik, senormalnya manusia seharusnya. Jabatan yang tinggi di persahaan bergengsi. Istri yang baik hati dan patut di banggakan. Harta yang tak akan habis. Normal, tapi bukan standar, ini adalah kualitas terbaik dari kata ‘normal’
Sudah seharsunya aku bersyukur. Ini adalah kehidupan yang aku dambakan dulu, sejak aku kecil. Aku harusnya bangga dan selesai dengan semuanya. Hanya perlu menikmati hidup lalu mati dan dikubur sambil di tangisi kolega-kolega penting. Aku orang penting yang hidup keren.
“Sudah minum obat? Kamu terlihat pucat” wanita itu memegang leherku dengan tidak sopan. Aku akan mengoreksi kata ‘tidak sopan’ mengingat dia adalah istriku. Tapi aku risi. “Aku tau kamu selalu mengalami gejala cemas dan.. Mmm… kamu harus minum obat” katanya lagi, ia bahkan terlihat baik-baik saja saat aku menepis tangannya kasar dari leherku.
“Aku tidak suka” jawabku ketus.
“Pastanya?”
Aku menghela napas dan kembali berputar dari meja makan menatap jendela lagi “aku tidak suka saat kamu menyentuhku tanpa izin, tidak sopan” nadaku begitu ketus. Pernikahan yang sudah berlangsung 1,5 tahun dan aku hanya menyentuhnya saat mabuk atau gila. Itu pun sambil melihat wajah Disya, bukan wanita ini. Wanita baik hati yang terus bersabar atas tingkahku yang bobrok.
Kurasa dia menunduk “maaf” katanya.
“Aku tidak pernah menyukai ini. Pasta, hujan, kamu dan pernikahan kita” aku masih terus mengoceh sesuai dengan apa yang kupikirkan dan kurasakan.
“Dengar, Akmal, aku tau hujan membawamu pada sensitivitas yang tinggi. Diperparah obat yang mungkin belum kamu minum, tapi—”
“Tapi, apakah kamu tau apa yang menyebabkan itu?!!” aku jelas membentaknya, suaraku besar, nyaring dan membuatnya kaget. Wanita itu kaget hingga tersentak. Ia terdiam dengan rahang terkatup.
Lalu sesaat, ditengah kegilaan yang mengacau di kepalaku, aku menyesal telah membentaknya sekeras itu.
“Maaf, aku–”
“Kamu benar” wanita itu melipat tangan di dada, bahunya bersandar pada belakang sofa, nadanya jengah dan muak “aku tidak tahu penyebabya–tidak sesungguhanya, aku bahkan tidak tahu apapun tentangmu”
Suara hujan masih setia menjadi latar utama, terlebih saat kami diam satu sama lain. Aku akhirnya kembali menatap meja—pada sepiring pasta yang masih hangat.
“Ketika orang tuaku memperkenalkan kita, kupikir kamu adalah pria yang tidak seperti itu. Kamu selalu tenang dan tidak pernah goyah. Tatapanmu lurus tapi kosong. Kupikir kamu adalah pria dengan kepribadian misterius yang akan melunak saat hanya ada kita berdua. Aku tertipu imajinasi bodohku tentang pria pendiam dengan karisma yang memukau. Aku terpaku pada spekulasi gila” wanita itu mengangkat bahunya sambil tertawa sengau “maksudku, kamu memperlakukanku dengan baik hingga aku merasa jahat karena sudah meragukanmu. Aku tidak perlu bekerja, perhatian yang kamu berikan cukup untuk kujadikan bahan pamer di depan teman-temanku dan aku berakhir dengan meletakkan ekspektasi begitu besar padamu, pada pernikahan 1,5 tahun yang manis ini”
Senormalnya pria yang menyadari istrinya menangis. Seharusnya aku mendekat untuk merengkuhnya—menenangkan atau mengatakan maaf karena telah menyakiti perasaannya. Tapi aku mematung dengan mata yang seperti akan menghancurkan pasta di depanku.
“Aku bertahan, Akmal” suaranya bergetar, aku menyimaknya dengan seksama, masih menunduk tanpa berani menatap manik yang berlinang air mata karena prilaku ku yang mirip setan. “Aku bertahan karena terus meyakinkan diri bahwa kamu memang orang yang seperti itu, orang yang pendiam dan formal bahkan pada istrimu, kamu terus menyebut nama orang lain saat mabuk dan bercinta. Aku berusaha mencari tahu dan aku seperti orang gila”
Aku menahan napas dan menghembuskannya pelan-pelan, seolah dengan napasku saja, wanita itu bisa semakin terluka.
“Aku punya kapasitas. Sesabar aku menghadapi tingkahmu yang semakin tidak masuk akal, aku tetap punya kapastias. Aku tidak tahu apa yang salah pada diriku, apa yang kurang, apa yang perlu kuperbaiki. Kamu selalu marah untuk hal yang tidak pernah kamu jelaskan alasannya, tidak juga kumengerti. Wanita itu mulai emosional, bahunya terguncang karena tangis “seandainya kamu memberitahu apa yang terjadi, apa yang salah. Aku.. aku mungkin saja bisa melakukannya, bahkan jika kamu memintaku mundur dan..” ia membiarkan kata-katanya menggantung di udara. Sementara dadaku ikut sesak.
Kenapa aku tidak pernah bisa melupakan Disya? Wanita–istriku di depan mata sangat baik dan cantik. Namun tidak sedikit pun mampu membuat hatiku terbuka. Aku masih berdiri dalam indekos dekat pantai di musim panas, bersama Disya yang sibuk memasak. Aku masih disana. Jiwaku terpasung hingga hari ini. Dan wanita ini datang menawarkan cinta. Aku mencoba keluar dari kukungan–belenggu menyakitkan. Namun saat kucoba, aku malah semakin sakit.
“Aku menyukai wanita lain” kataku akhirnya. Itu juga yang membuat tangis istriku berhenti seketika. Dia mendongak dan mata kami bertemu. Setelah mengatakan itu, ada sedikit kelegaan meski yang mendominasi adalah rasa bersalah. Kendati rasa cintaku sebesar gunung, aku tetap pria normal yang mengerti jika tingkahku menyakiti istriku. Namun tidak bisa benar-benar kukendalikan. Sepuluh tahun terakhir setelah kehilangan Disya, aku didiagnosa mengidap gangguan kecemasan apalagi di musim hujan. Aku benci musim hujan dan terus berharap summer tidak akan pernah berlalu.
“Wanita yang sama sepuluh tahun lalu” aku menunduk, kurasakan segelenyar rasa aneh menangkup dada. Aku selalu menempatkan Disya dalam imajiner dan setelah sekian lama, aku baru membahasnya lagi hari ini. Rasanya aneh saat sesuatu yang biasanya hanya ada dalam tempurung, kini di utarakan keluar.
Istriku tidak menjawab, dia menatapku dengan mata menuntut penjelasan meski rahangnya terkatup rapat.
Lantas aku menceritakan padanya dari hari pertama aku dan Disya bertemu. Semua, detail, lengkap dan untuk pertama kalinya juga aku mengungkapkan perasaanku. Rasa rinduku yang membelenggu, rasa frustasi dan hilang arah hingga hari ini. Aku seperti terkukung–terjebak dalam dunia yang seakan menghalangiku untuk melanjutkan hidup. Disya menghilang begitu saja, sebesar apapun aku mencarinya selama ini. Begitu juga Adew, dia hanya mengatakan tidak tahu dan tidak tahu. Aku gila, kupikir aku gila. Dan aku menangis saat menceritakannya pada istriku. Memperlihatkan betapa menyedihkannya aku. Betapa aku begitu jahat padanya yang setia meski tidak pernah kusentuh kecuali sambil mengingat orang lain. Betapa dia begitu sabar dan telaten atas tingkahku.
Aku menunduk–menangkup wajahku dengan dua tangan. Tubuhku tergugu–terguncang. Kurasakan istriku mendekat. Tangannya naik hendak mengelus punggungku namun tertahan diudara. Mungkin dia ingat akan kata-kataku tentang—aku yang tidak suka dia menyentuhku tanpa izin. Lalu hanya helaan napas lembut setelah tangannya turun.
“Kenapa baru mengatakannya sekarang?” itu pertanyaan tidak terduga. Sebagai istri yang sudah kelewat sabar dan baik, dia seharusnya mengguyurku dengan sepiring pasta atau berlari keluar membanting pintu meski tahu aku tidak akan mengejar. Wanita ini sangat anggun dan elegan, namun benar apa yang dia katakan. Dia punya kapastias dan aku keterlaluan.
“Cari yang benar, kejar cintamu. Jika belum terkubur, kamu harus lebih gigih, bukan meringkuk di atas sofa sambil membola. Menyedihkan menatap hujan, kamu ini memang pecundang. Seperti ceritamu” istriku mengomel, dia benar-benar berhenti menangis. Aku mendongak menatapnya. Wanita itu benar-benar sudah berhenti menangis. Kulihat mata sembabnya kembali tegar. Pandangan kami bertemu.
“Sisir seluruh Jakarta, pulau Flores, kamu harus menemukan cintamu” ulangnya lagi. Lebih mantap.
“Kenapa?” aku melontarkan pertanyaan menyedihkan. Seperti hidupku ini memang menyedihkan.
“Kenapa apanya? Jika kamu memang menyukai dia, pergi dan kejar cintamu. Jangan membuatku seperti orang bodoh yang mencintaimu sendirian”
Aku semakin tidak percaya.
“Kubilang kejar, jangan sampai pengorbananku ini sia-sia. Aku akan mendukungmu” lalu dua sudut bibirnya terangkat, wanita itu tersenyum lalu kembali akan mengangkat tangan untuk mengelus punggungku. Lagi-lagi tidak jadi.
“Di dunia yang hanya sekali, sangat menyedihkan tidak bersama orang yang kita cintai. Maka, tunggu apalagi, apa kamu takut pada hujan alih-alih cintamu tenggelam?” wanita itu menyulutkan api yang sudah lama padam di gerus keputusasaan. Aku menyeka mataku, menatapnya lebih dalam sekali lagi.
“Lekas pergi, temukan Disya, temukan gadismu. Aku juga harus pergi” lalu ia bangkit. Kaki jenjang itu melangkah—menjauh sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.
≽^• ˕ • ྀི≼
Dan tuhan mempertamukanku kembali dengan Adew yang mau membuka mulut setelah sepuluh tahun terakhir bungkam. Dulu, aku mengintrogasinya dengan sopan, kasar, lembut, hingga pernah kupukul dengan keras dan pria itu tetap mengatakan tidak tahu tentang Disya.
Dalam kamar kos kecil. Tubuhnya kurus kering karena penyakit HIV/AIDS. Bola matanya besar seperti itu adalah satu-satunya yang tersisa selain perut yang membusung aneh. Ia menutupi dirinya dengan selimut tipis saat aku duduk di dekat kasur yang mirip dengan kos ku sepuluh tahun yang lalu.
Dia memintaku menutup mulut saat dia batuk. Dia juga mengatakan tidak akan menghidangkan apapun guna mengantisipasi penyakit menyebar atau sialan apapun yang sebenarnya aku tidak peduli. Aku hanya ingin informasi tentang Disya, dengan cepat, dan sekarang.
Lalu ia mulai bercerita. Benar, dia bercerita. Alih-alih memberitahu alamat, keparat itu malah bercerita. Aku bersabar menunggunya berlontar dengan suara lemah itu.
“Disya adalah seorang gundik, kemudian jadi pelacur, gundik lagi. Lalu merambat menjadi penipu. Dia tidur dengan kepala menteri keuangan dan lama menjadi gundik tua bangka itu. Koneksinya luas, dia juga tidur bersama beberapa pria dan begitu terus. Dia sangat laris, semua laki-laki menyukainya. Dari HRD terkenal di perusahaan ritel di pulau Flores. Beritanya sangat heboh karena pria itu memiliki dua istri siri dan satu istri sah, di tambah Disya. Lalu dia juga menggoda komisaris perusahaan I-Tech dan berhasil masuk ke istana megah sebelum kemudian di depak secara tidak terhormat” aku mendengar suaranya sengau, tapi Adew tidak menangis.
“Tiga tahun yang lalu, dia tiba-tiba sakit keras. Aku tidak tahu jenis penyakitnya, kupikir dia terserang virus yang sama denganku sekarang. Tapi setelah aku mencari tahu dengan bertanya pada dokter yang menanganinya, ternyata dia mengidap sakit jantung kronis dan meninggal secara mendadak di rumahnya seorang diri. Dia berada di Jakarta, di dalam apartemen mewah sambil mengintai seseorang”
Ada jeda, kupikir Adew menangis seperti aku. Aku tergugu tak sanggup. Sungguh, hatiku sakit sekali.
“Aku menemukan ratusan fotomu dalam apartemen, dia memotretmu, mengikutimu. Kameranya ada, sebentar” tubuh ringkih itu bangkit susah payah untuk mengambil sebuah kamera dengan lensa besar. Lalu papper bag berisi fotoku tiap tahun. Ya, ada keterangan tahun dan tanggal di tiap lembar
Aku tidak tahu harus mereaksi dengan apa segala informasi dan kamera serta foto, satu hal yang pasti, aku benar-benar ingin mati.
Sepuluh tahun kutanggung kerinduan. Keputusasaan atas pencarian yang tak berujung. Kenapa dia melakukan itu? Kenapa tidak mendatangiku alih-alih mengambil foto. Untuk apa? Sudah kubilang, apapun yang dia lakukan untuk mendapatkan uang. Apapun pekerjaannya, aku mencintainya melintas dari siapa dirinya. Aku bersumpah akan menanggung hidupnya yang berarti dia akan berhenti hidup dalam lembah mengerikan itu.
Aku Lantas sambil tersedu-sedu, aku bertanya letak pemakamannya, Adew memberitahu dan aku lekas pergi mendatanginya.
Bukankah ini lelucon? 10 tahun yang berakhir di pemakaman. Bukannya ini adalah bagian paling epik dalam hidupku? Satu dekade kuhabiskan seperti cangkang kosong—menanti, mencari, berharap. Semua melebur bersama tanah kering dengan nisan seadanya. Kubelai kepalanya dalam hening pada nisan. Masih kuingat tawa lepas dan caranya tersenyum, lesung pipinya yang menggemaskan dan cara matanya terpejam. Aku merekamnya di kepalaku masih sangat jelas.
Aku membaca suratnya yang ditulis tangan dengan pena hitam di atas kertas polio bersama fotoku yang berserakan. Dadaku seperti diremas-remas. Kesakitanku tak berarti dan aku merasa gagal.
Untuk kamu, penyelamatku si pria tampan.
Untukmu,
Aku tidak tahu apakah namaku masih hidup di ingatanmu,
atau telah kau kuburkan seperti musim panas yang lewat tanpa bekas.
Aku tahu kau pernah menoleh ke belakang,
Sekaligus berjalan lurus tanpa sisa.
Yang kurasa
aku tidak pernah benar-benar pergi.
Tujuh tahun adalah jarak yang panjang
untuk menyimpan satu nama
tanpa berani mengucapkannya keras-keras.
Aku mencintaimu.
Kalimat itu sederhana,
namun di tubuhku ia menjelma beban yang tak sanggup kupanggul di hadapanmu.
Kau pernah memandangku seolah aku utuh—
seolah aku perempuan yang layak digenggam di siang hari, di musim panas
bukan hanya disembunyikan oleh malam.
Dan justru karena itulah aku mundur.
Ada jejak pada tubuhku
yang tak sanggup berdiri di samping lelaki sepertimu.
Ada bekas-bekas yang tak bisa kucuci dengan doa mana pun.
Aku terbiasa menjadi ruang yang disinggahi,
bukan rumah yang dibanggakan.
Kau adalah cahaya yang lurus.
Aku terlalu lama hidup sebagai redup.
Selama tujuh tahun ini
aku belajar mencintaimu tanpa menyentuh hidupmu.
Belajar menyebut namamu dalam hati
lalu menelannya kembali sebelum menjadi harapan.
Tidak, perasaanku tidak ia, itu karena ia tumbuh terlalu besar
dan aku takut kau melihatnya.
Jika semesta memberi kita kesempatan lain,
mungkin aku akan tetap melakukan hal yang sama:
mencintaimu dari jarak yang aman,
menjagamu dari kemungkinan bernama diriku sendiri.
Jangan cari aku.
Karena aku tak pernah merasa pantas untuk kembali.
Namun satu hal yang harus kau tahu—
meski dunia tak pernah menyaksikannya,
meski kau tak pernah menyadarinya,
ada seorang perempuan
yang selama tujuh tahun
membawa namamu seperti doa yang tak berani ia aminkan.
— Aku.
Tidak, Disya. Bukan seperti ini akhir yang kuinginkan. Bukan, bukan kematian.. Kumohon bangunlah dan peluk erat tubuh lelahku. Lepas belenggu yang menyesaki dadaku, aku begitu putus asa hingga tidak tahu harus kemana. Bahkan setelah sepuluh tahun lamanya, kenapa tuhan malam membawaku ke pusara alih-alih wajah cerahmu yang penuh semangat dan gairah? Lantas, harus kuapakan lagi rasa dalam dadaku? Kemana lagi harapan kutumpu? Aku tidak hilang akal, tapi aku mati. Lebih mati dari hari kemarin, lebih parah. Mungkin setelah ini, aku baru akan mati sungguhan.
Aku mulai membenci semua hal. Tidak, sebenarnya aku sudah membenci semua hal sejak Disya pergi. Namun hari ini, rasa benciku pada semesta bertambah berkali-kali lipat.
MUSIM PANAS
Cuaca malam ini lebih buruk dari kemarin. Hujan angin disertai petir, bahkan satu pohon kelapa menyala–terbakar karena tersambar. Suaranya bagai bom yang diledakkan tepat beberapa ratus meter. Kilat membuat bumi terang hidup sepersekian detik, disusul guntur menggelegar.
Aku meringkuk–membola di atas sofa. Pakaian kerja enggan kutanggalkan, kemeja dan celana dasar yang kebesaran. Kendati, tidak terlalu sesak meski dasi masih melilit dibawah kerah. Kuharap, ia bisa menyesakkan hingga menutup jalan napas. Lalu aku mati tercekik atau karena rusukku remuk akibat membola terlalu lama–terlalu erat. Apapun, aku ingin pergi.
Badai diluar selalu saja membawaku pada ingatan di musim panas. Ingatan yang setengah mati berusaha kulepaskan dari kepala. Ingatan tentang kaki kami yang kotor terkubur pasir, atau saat sesekali ombak pasang menjilat telapak. Ada saat dimana suasana suram seperti ini membawa senyumnya yang menciptakan lubang di pipi, atau surai panjangnya yang bergerak ke kanan kiri. Aku juga mengingat rasa hangat tangannya yang sehalus bulu.
Guntur meledak lagi. Kaca besar di ruanganku tak bergetar–membuktikan betapa rumahku begitu kokoh dengan semua matrial terbaik dan pengerjaan yang epik. Hanya menyajikan pemandangan suram; rinai besar dan langit gelap. Padahal masih pukul lima sore. Terlalu dini untuk kepekatan, matahari bukannya tenggelam, melainkan kalah oleh awan tebal yang menggurita dari utara ke selatan.
Tanganku bergetar. Bibirku begitu dingin—selaras dengan telapak kaki. Aku tak ingat kapan terakhir–sesuatu masuk dalam perutku, kapan aku menghindrasi tubuhku atau kapan aku ingat–bahwa manusia harus makan untuk hidup.
Aku membenci isi kepalaku–membenci bagaimana uang tak mampu menggantikan rindu pada seseorang yang tidak seharusnya kurindukan. Aku benci gagasan bahwa—jika uangku banyak, maka aku bisa membeli rasa. Nyatanya, disinilah aku, di rumah besar–diatas sofa menggulung diri bagai trenggiling di depan kaca besar yang menyuguhkan pemandangan suram–sesuram hidupku.
Bunyi klik di susul gagang pintu terbuka.
Aku mendengar langkah setengah diseret. Kantong belanjaan saling bergesekan—dicangking kepayahan.
Mataku terbuka saat sosok itu melewatiku. Harum aroma floral menyesaki pernapasanku. Mataku menangkap daun bawang segar—mencuat dalam kantong belanjaan. Ia melenggang ke dapur yang berada persis di belakang sofa–dimana aku memeluk diriku sendiri sambil berharap kematian datang.
Roknya berayun. Atasannya sangat cantik selaras dengan parasnya. Ia bersenandung. Kudengar ia membongkar kantong, lalu menunduk saat ada yang jatuh–mungkin bawang bombai.
“Aku akan membuatkan pasta” suaranya nyaris tak terdengar, tapi aku mendengarnya.
“Aku tidak lapar” sementara suaraku berat, aku terduduk setelah kematian tidak datang hanya karena aku ingin. Mataku menatap lurus pada kaca besar. Hujan masih disana, suram dan dingin.
“Aku tau. Tapi, hanya dalam suasana suram kau mau menyantap makanan buatanku. Jadi, aku akan membuatkanmu pasta” kata wanita itu ringan. Seolah, ia terbiasa dan resisten terhadap kelakar busukku. Dia juga kesenangan saat aku memilihkan gaun yang tidak sesuai dengan postur tubuhnya. Kudengar beberapa temannya mencemooh pakaian yang ia kenakan—atas dasar pilihanku. Namun wanita itu tetap memakainya. Aku semakin membenci diriku sendiri.
Aku tidak menjawab lagi–demi kebusukan sikapku agar tidak terlalu busuk. Meski sudah. Lantas kupeluk dua lutut, telingaku menumpu padanya, mataku terpejam dan aku berusaha melupakannya lagi.
“Akmal” saat wanita itu memanggilku, aku mendongak. Kulihat dia sudah berada tepat di hadapanku. Lantas ia belai rambutku dengan tangannya yang begitu lembut. Matanya yang selalu bersemangat dengan binar indah, sore ini terlihat agak lelah “ayo makan”
Tunggu..
Aku tercenung. Mata sayuku bertabrakan dengan miliknya yang ‘hidup’ wanita cantik itu selalu tau cara membujuk pria dewasa yang tidak dewasa dan tidak waras. Baik, aku mengkategorikan diriku seperti itu hanya saat hujan turun setelah musim panas. Di dalam rumahku, di istanaku dimana aku tidak perlu berpura-pura baik-baik saja.
Mataku melirik sembarangan—ke belakang tepat di atas kompor. Tempat dimana aroma pasta menyeruak menggugah selera meski tetap gagal merayu nafsu makanku. Kenapa secepat itu? Maksudku, pasta. Aku baru saja beringsut dari rebah ogah-ogahan. Dalam kurun beberapa menit pasta sudah terhidang. Kerutan di dahiku memicu senyum paksa di wajah cantik itu “kamu melamun terlalu lama” katanya lembut. Wanita itu lantas melangkah lagi, sebelum kembali membawakan nampan berisi pasta panas dan segelas air mineral.
Bertemu dengannya bukanlah takdir. Bukan sesuatu yang akan terjadi seandainya aku tidak membuang-buang waktu berlagak seperti hero dan tetap pada pendirianku untuk mati.
Musim panas, teriknya membuat otakku seakan mendidih. Nyaris tiap malam aku tidak bisa tidur. Kipas angin aus tanpa penutup dan tiap berputar, akan menimbulkan suara gesrek bersama angin tak seberapa. Tapi lebih baik. Ketimbang terbaring di atas kasur kapuk yang tetap lembab dan lapuk di cuaca mengerikan, dengan sarung penuh jamur bekas liur dan lembab–hujan serta atap dari baja ringan yang rendah. Panasnya akan melelehkan tiap akal sehat. Lalu di perparah dengan pikiran tentang utang pinjaman online–offline yang membelit leher dan kini benar-benar akan membunuhku. Itu masalah utamanya.
Aku baru saja lulus kuliah dengan nilai tinggi. Seorang yatim piatu tanpa saudara dan hidup sebatang kara di pulau cantik. Aku lulus dengan nilai terbaik dan itu membanggakan—tentu saja. Namun jika merunut dari mana biaya yang kudapat untuk sampai titik ini, rasanya aku ingin kembali ke tahun-tahun sebelumnya lalu memutuskan untuk tidak pernah menginjakkan kakiku di halaman universitas.
Lulus SMA lalu menjadi driver terdengar lebih menyenangkan. Tanpa hutang, tanpa memikirkan bunga dari bank yang tidak di awasi OJK.
Kumatikan ponsel. Lantas mereka menelepon teman-teman kuliah, dosen, pemilik kos–yang nomornya menjadi alternatif saat milikku tidak aktif. Kepalaku seperti akan pecah tiap siapa saja datang dan mengetuk pintu kamar kos dengan lembut atau keras. Tiba-tiba aku phobia ketukan pintu dan salam.
Hingga malam ini. Aku bersumpah akan mengakhiri hidup. Tidak ada yang bisa diharapkan—aji mumpung tak ada yang mengtuk pintu.
Bukan, bukan bank online yang datang. Mereka tidak akan datang dan hanya mengancam dengan terror. Aku mengakalinya dengan gagal bayar meski BI checking milikku pasti akan menyedihkan. Namun persetan. Jika aku bisa lolos dari hutang pinjam setan ini, aku bersumpah tidak akan terjerumus lagi ke dalamnya, meski harus kelaparan berhari-hari. Aku bersumpah dengan nama tuhan. Tapi tidak seperti itu dunia berjalan—sebab, aku juga meminjam uang pada bank mekar. Mereka datang menagihh setiap hari.
Jika kutotal semuanya, aku mendapat kalkulasi sebesar tiga ratus juta rupiah. Dan aku tidak sanggup membayar. Itu alasanku malam ini–dimusim panas, pergi ke bawah kaki gunung dan berencana menggantung diri di pohon rindang dengan pemandangan pematang sawah.
Ya, aku akan bunuh diri. Di musim panas. Di kota yang cantik ini.
Yang pertama kulakukan adalah melihat tangkai batang yang kiranya paling kokoh. Tambang berada di tanganku, sudah dua minggu terakhir kubeli dan baru malam ini puncak depresiku–merealisasi rencana yang sebelumnya masih ragu-ragu.
Aku melakukanya.
Naik diantara tangkai kokoh, menyimpul tambang khas, lalu kujeratkan pada leher. Jika aku melompat ke bawah, aku akan tercekik dan masalah selesai.
Ya, seharusnya selesai sampai di sana.
Tapi malam itu, aku melihat sesuatu yang ganjil dari atas pohon. Semak-semak bergerak dan erangan tertahan–mirip suara merintih meminta tolong. Lalu ‘gedebuk’ pukulan kuat. Mataku mimicing untuk menajamkan pandangan.
Aku turun.
Jarak tempat itu hanya beberapa puluh meter dari lokasi dimana aku berencana mengakhir hidup. Semak-semak tinggi nan gelap. Kepalaku celingukan mencari apa saja; balok, batu dan aku mendapatkan keduanya meski kini yang kupegang adalah balok besar.
Tidak apa-apa seandainya apa yang kukerjakan sekarang akan membahayakan, justru itu yang kucari. Aku berbisik dalam hati bahwa, dibunuh lebih baik ketimbang bunuh diri. Jadi, katakan itu adalah alternatif lain.
Pelan-pelan. Langkahku tergerus suara angin yang bertiup—membuat rerumputan tinggi saling bergesek. Bunyi rintihan itu makin kecil–putus asa namun ada, masih.
Aku menodongkan balok ke depan dengan kewaspadaan penuh.
Satu, dua, tiga, langkahku takut-takut. Kusibak rumput tinggi, lagi, lagi. Hingga pemandangan yang sempat kulihat dari atas, kini berada tepat di depanku.
Seharusnya aku menyadari cahaya temaram dari semak-semak. Namun jika diingat, tidak akan terlihat jika aku tidak naik ke pohon.
Dua pria berbadan besar. Aku menyebutkan turis–atau orang-orang akrab menyapa mereka dengan sebutan bule? Ya, tubuhnya besar, kulit mereka putih. Aku melihat penis mereka baru saja di keluarkan dari resleting tanpa benar-benar membuka celana. Lalu satu wanita dengan pakaian terkoyak–payudaranya menyembul ditutupi oleh tangan yang penuh memar dan baret. Si wanita masih menggunakan celananya—hampir robek juga. Mungkin saja ini adalah waktu paling akurat. Eksistensiku.
Tanpa aba-aba, kuhantamkan balok secepat kilat–bergantian tepat ke kepala belakang. Aku bersumpah aku tidak memiliki riwayat kekerasan dan dosa ku paling besar adalah berhutang dan tidak sanggup membayar. Namun lihatlah malam ini, malam dimana aku hendak mencatat sejarah dosa terbesar sepanjang hidupku dengan membunuh diriku sendiri, tapi bukan diriku yang tergeletak malam ini, melainkan dua pria bule — tumbang.
Wanita itu cepat-cepat bangkit—mengambil ransel kelewat besar yang kini menempel di punggungnya. Lalu masih memeluk dadanya, berlari menghambur sebelum menangis ketakutan di belakangku. Aku masih ingat bagaimana suara putus asa itu.
≽^• ˕ • ྀི≼
Tentu saja masuk dalam kamar kosku yang menyedihkan. Wanita itu kukuh ingin ikut denganku dan aku batal mati malam ini. Akan memalukan jika aku bunuh diri dan si wanita itu menungguku tergantung di antara tali yang menjerat leher. Katakan ini adalah sisa harga diriku.
Aku memberikannya baju. Kaos milikku kebesaran di tubuhnya meski lebih baik ketimbang bertelanjang dada.
Dan tidak ada apapun. Aku tidak menghidangkan apapun karena aku tak memiliki apapun. Aku bahkan lupa kapan aku makan, yang kulakukan atau alasan aku masih hidup adalah minum air dalam kamar mandi, lalu mengorek sampah di luar—pada malam hari. Aku benar–benar pengangguran–lepas lulus kuliah yang tak berani keluar rumah karena malu dan penagih utang akan membunuhku jika polyvinyl chloride yang dibentuk menjadi pintu itu kubuka. Aku bersumpah, ini tidak mengada-ada.
Sesaat kecanggungan membuat atmosfer tidak normal.
Aku diam saja, tidak berencana bertanya apapun, aku tidak. Tapi tidak keberatan juga jika wanita ini mau menceritakannya. Kami hanya duduk di sisi kasur yang jadi satu dengan kamar mandi. Kutahu kasur dengan bekas liur dan jamur serta bau apek yang khas karena selimut dan sarungnya tidak pernah dicuci.
“Terima kasih”
Si wanita berkata-kata untuk pertama kalinya. Aku melirik ke samping, lalu kualihkan pandangan secepat kilat.
“Dimana rumahmu? Apa kamu seorang dari luar kota? Biar kuantar mencari taksi” kutawarkan seramah mungkin, namun wanita itu menggeleng. Perlahan, ia menunduk dan aku menyadari bahwa ia menangis.
Aku menunggunya menangis hampir dua puluh menit sebelum ia benar-benar selesai dengan menyeka wajahnya menggunakan lengan baju. Kulihat wajahnya putih ayu—tidak, seluruh kulitnya putih bersih, aromanya wangi memikat meski sudah bercampur dengan semak dan tanah. Lalu rambut berantakan—panjang sepunggung masih halus. Sangat cantik, aku memperhatikannya diam-diam, meski langsung mengalihkan tatapan saat ia melirik sekilas.
Kami bahkan tidak berkenalan, tapi dia lebih dulu memperkanalkan diri dan menceritakan apa yang terjadi hingga malam ini–kami bertemu dalam kondisi yang tidak bagus pula tidak terduga.
Namanya Disya Maharani.
Ternyata seorang gadis. Bercerita bahawa ia berkuliah di salah satu universitas ternama di ibu kota dengan mengandalkan beasiswa. Datang kemari karena ajakan teman-temannya untuk berlibur, namun naas, ia malah dijual dan diberikan pada laki-laki bule–dua orang yang kupukul beberapa waktu lalu. Gadis itu menceritakan sambil kembali menangis–terisak-isak penuh kepedihan. Aku menyimak sambil memikirkan harus berekasi seperti apa. Hidupku tidak lebih baik darinya, jadi aku menganggapnya kami senasib meski aku tidak akan menceritakan kisah hidupku.
Ralat.
Aku juga menceritakan kisah hidupku pada Disya setelah hampir dua jam gadis itu mengoceh sambil menangis, lalu berhenti dan bertanya balik tentang hidupku yang tak kalah miris ini. Sebenarnya, Disya hanya menceritakan tentang bule dan teman-temannya. Namun berputar-putar hingga aku hafal. Ia tidak membahas hal lain.
“Bolehku panggil kakak?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk sistematis. Panggilan kakak terdengar paling pas.
“Kak Akmal, bagaimana kalau kita kabur. Aku ada kenalan yang memberitahuku ada indekos di dekat pantai pinggiran agak murah. Memang agak kumuh, tapi setidaknya, kita bisa bersembunyi” kata ‘kita’ terdengar aneh saat dia mengucapkan, namun aku menyimak ajakan gadis itu tanpa berencana mengiyakan. Aku tidak punya uang sepeserpun.
“Aku tidak punya uang, lalu bagaimana kuliahmu?” tanyaku kemudian. Aku benar-benar terlihat menyedihkan–memang begitu.
“Aku akan berhenti kuliah. Aku menyerah, atau mungkin aku akan mencari peruntungan disini. Aku akan menelepon nenek nanti dan mengatakan hal-hal yang—” Disya terlihat mencari akal “yang bisa diterima jika aku tidak pulang untuk mencari uang. Kuliah memang penting dan aku termasuk anak yang pintar. Tapi lingkunganku benar-benar bobrok dan mengerikan. Sejujurnya, aku takut sekarang, aku bahkan bersama pria yang… tidak tahu, aku berusaha berpikir baik terhadapmu, Kak Akmal. Bagaimana jika kita berusaha mencari uang bersama? Namun yang perlu kita lakukan pertama kali adalah, kabur dari tempat ini dan menghindari penagih menyebalkan. Ayo pergi, aku punya uang yang kupikir cukup untuk sewa kos sambil mencari pekerjaan”
Aku melihat begitu banyak keraguan. Tentang caranya menatapku dan segala ocehan tidak masuk akal di tengah malam.
Benar, bagaimana mungkin seorang gadis mengajak pria pergi mencari indekos bersama setelah hampir diperkosa oleh dua pria? Tapi aku juga menangkap ketakutan. Disya bergetar sejak tadi. Kulihat getaran halus tak kunjung usai dari jemari dan geraknya resah. Lantas aku mengartikan bahwa perempuan itu melihatku sebagai tempat aman—atau yah, keputusasaan. Yang jelas aku tidak akan melakukan hal-hal buruk padanya. Aku tidak memiliki energi, bahkan untuk ereksi butuh tenaga dan aku kurang makan.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya aku membawa orang asing masuk–seorang gadis yang tidak risi melihat kondisi kamarku yang–entahlah, aku pribadi benar-benar malu. Dia juga merebah setelah percakapan kami yang seadanya–memakai selimut tanpa jijik dan memunggungiku dengan… tidak tahu, kupikir dia banyak pikiran dan pasti akan sulit tidur. Aku merebah di sampingnya tak kalah kikuk. Hanya begitu malam berlalu dan aku tidak lagi berpikir mati. Setidaknya malam ini.
Hening dan gerah. Kipas angin rusak itu menjadi latar dan berhasil menciptakan bunyi yang membuat kecanggungan tidak membuatku ingin mengelurkan suara beatbox saking canggungnya.
🐈
Kami benar-benar melakukannya.
Kami tidak pergi malam itu, melainkan pagi-pagi buta menaiki angkot yang sudah beroprasi ke pasar. Lalu menyambung pada bus dan terakhir ojek. Jika dihitung, kami pergi sejauh — hampir 5 jam naik turun dan di potong sarapan serta minum kopi saset di jalanan.
Namanya daerah Boleng. Masih di kepulauan Flores. Aku tidak pernah kemari, namun membaca pada plang-plang serta map pada ponsel. Pun Disya, gadis itu tidak ragu atau bingung, ia banyak melamun namun aku berpikir bahwa ia memikirkan tentang hari-hari kemarin ketimbang nasibnya hari ini. Berbeda denganku yang mesti berterima kasih karena mendapat sarapan gratis dan kopi. Aku bahkan tidak perlu ketakutan ketika mendengar suara ketukan pintu berulang. Anggap saja aku bebas, ya, kami berdua banyak berbincang dengan menyebut-nyebut membuka lembaran baru. Terdengar kekanakan, namun aku hidup sebagai pecundang selama ini, kekanakan terdengar tidak terlalu buruk.
Disya mendapat info — dia mengatakan tentang teman dan kenalan yang tidak kusimak dengan seksama tentang tempat ini. Maka, kami berdua melangkah.
Dan benar. Kawasan itu berada di pinggiran yang berjarak hampir setengah kilo dari rumah-rumah tetangga. Indekos yang agak terpencil tapi tidak terlalu buruk ketimbang isi kos—kamarku. Serius, aku malah menganggap ini jauh lebih layak ketimbang tempat tinggalku.
Karena aku tidak punya uang, maka, Disya yang mendatangai pemilik kos. Dan kabar bagusnya, kos ini diperuntukan campur–mengingat lokasinya yang tidak ramai serta pelanggan yang nyaris jarang. Melihat disana, kos dengan dua puluh pintu ini, hanya diisi oleh tiga pasangan. Entah sudah menikah atau belum. Tidak ada yang benar-benar memastikan status para penghuni kos.
Begitu juga dengan kami berdua.
Katanya, kami akan mendapat kasur single dengan fasilitas kipas angin dan toilet dalam kamar. Harga kos delapan ratus ribu perbulan. Berikut dengan kompor gas.
Disya memerkan kunci padaku. Aku mengangkat alis dan menarik napas.
Kami akan tinggal satu kamar, ya? Aku bertanya pada isi tempurungku sendiri. Saat Disya menatapku, aku nyengir. Aku tidak punya uang dan akan benar-benar tidak tahu diri jika bertanya–apakah gadis itu bisa membayar kamar yang lain untukku. Mustahil dan memalukan.
Dan tentang satu kamar single adalah benar. Disya meletakkan tasnya sembarangan sementara aku memutar otak–mencari cara bagaimana bisa tidur berdua di kasur sempit itu.
Baik, aku berpikir keliru. Sebenarnya kami bisa berbagi kasur meski entah bagaimana caranya. Dan soal kumuh, itu terjadi di luar. Tempat ini berjarak sepuluh menit dari pantai. Bukan jenis pantai wisata, melainkan pantai biasa dan tidak terlalu bagus. Pun aku sedang berusaha melupakan tentang tidak bagus dan kumuh atau memikirkan cara tidur. Disya menerima pesan — setelah kami hanya duduk kurang dari delapan menit setelah perjalanan lima jam, gadis itu menyeretku lagi, entah kemana.
≽^• ˕ • ྀི≼
Pertama, Disya memintaku membuat CV, foto, KTP, dan ijazah. Kami mampir ke tempat foto kopi sebelum kembali melanjutkan perjalanan menggunakan ojek.
“Aku punya teman online dari aplikasi telegram. Dia adalah seorang HRD dari PT Sumber Alfateria Trijaya Tbk di daerah sini. Aku mendaftarkan kak Akmal jadi kasir Alfamart” katanya, aku di beritahu saat kita hampir sampai. Gedung itu menjulang wajar di antara jajaran bangunan lainnya. Dengan langkah yakin, kami menuju kesana tanpa persiapan apapun. Bahkan tanpa mandi layak.
Disya mendorongku. Lalu melempar kata-kata tidak jelas yang kupikir adalah bentuk penyemangtan—aku mengartikannya begitu. Kendati, dia begitu baik, ini impresi awal meski disinilah aku duduk dengan tampilan–yang benar-benar menyedihkan.
≽^• ˕ • ྀི≼
Aku diterima.
Jika melihat ijazah terakhirku, harusnya mereka bisa menempatkanku menjadi staf penting di kantor alih-alih kasir biasa. Kendati, aku sangat bersyukur. Masa training tiga bulan mulai akan kujalani di toko terdekat yang berjarak lima ratus meter dari kos. Semuanya terjadi begitu saja, begitu cepat dan singkat. Semua berkat Disya–yang entah apa yang ia lakukan–hingga dengan mudah, aku diterima. Benar, aku mulai bekerja tanpa ada celah menganggur sejak kedatangan kami kemari.
Sementara Disya, ia–entah melakukan apa pada ponsel. Kegiatannya hanya terbaring seharian dalam kamar–atau mungkin pergi saat aku tidak di rumah. Sisanya hanya membeli makanan serta cemilan. Saat aku pulang, dia menungguku layaknya seorang istri bersama makanan yang ia masak sendiri.
Menyebutnya seperti istri membuat sudut bibirku terangkat naik. Kami baru bertemu dan waktu berjalan begitu cepat. Satu bulan atau yah, sekitar itu — kami tidak sempat berkenalan dengan layak dan benar, kecuali malam tangis lepas kejadian yang sama-sama membuat kami putus asa. Setelahnya, kami berdua hanya menjalani hidup layaknya teman di dalam kos itu. Kadang-kadang Disya berceloteh menceritakan tetangga sebelah atau panas terik yang berhasil membuat hidungnya berminyak.
Aku shift siang hari ini . Pukul empat sore, aku sudah berada dalam kos dan Disya seperti biasa–seperti kemarin dan kemarinnya. Menyambutku dengan senyum manis.
“Hari ini aku dapat uang” katanya, mulutnya menyuap mie goreng yang di campur kol dan cabai. Aku memperhatikannya dalam suapan. Meski aku penasaran setengah mati—seperti, darimana ia mendapatkan uang selama ini. Pasalnya, aku benar-benar hidup dari uangnya. Aku baru mendapat upah dari masa percobaan satu bulan diterima. Dan selama itu, penuh—Disya yang membiayai.
Dan aku tidak bertanya. Aku hanya mengangguk dengan senyum tidak sampai mata.
“Kak Akmal”
“Hm”
“Setelah ini, kita pergi beli baju, ya? Kita tidak punya pakaian layak”
Aku mengangguk.
“Nanti kita beli makanan enak sebagai reward. Kak Akmal kemarin gajian, kan? Di tabung aja uangnya, biar ini urusan aku”
Sebenarnya aku terusik dengan yang itu juga. Rasanya, ini terbalik dan tidak benar. Namun Disya serius dengan ungkapannya. Seluruh gajiku kutabung dan dengan tidak tahu malu, aku lagi-lagi hidup dari uangnya.
Sementara tentang tidur kami.
Normal.
Sudah satu bulan lebih. Kami tidak mengalami apapun. Maksudnya, kami hanya hidup berdua, titik. Jika merujuk pada drama atau picisan remaja tentang dua orang yang bertemu dan saling jatuh cinta dalam kurun tertentu saat tinggal bersama, mungkin aku akan percaya dan tidak percaya. Pasalnya, sejauh ini, aku dan Disya benar-benar baik-baik saja. Aku tidak ingin mengkategorikan apapun meski diam-diam, aku melihatnya. Aku mulai melihatnya.
Mungkin saja karena ini adalah pengalaman pertamaku berbaring dengan wanita—seorang gadis. Dan kemungkinan lainnya adalah bahwa aku sendirian yang melihatnya.
Disya tidur meski lebih sering larut dengan ponsel yang seperti akan merekat ke matanya. Sementara aku tidur lebih cepat. Kami tidak banyak mengobrol setelah membicarakan hal-hal penting tidak penting menyangkut pekerjaan atau yah, mungkin cuaca yang super panas, tetangga dan bau pantai yang pekat. Setelah itu, kami diam hingga tertidur. Tidak ada, tidak lebih.
Baik aku akan jujur. Sebenarnya, aku menyukai Disya.
Lagipula pria gila mana yang tidak menyukai gadis cantik luar biasa yang menanggung hidupnya? Aku bergantung padanya, memujanya diam-diam dan berusaha agar tidak terlihat mengaguminya seperti orang gila. Itu sulit. Kadang, ada waktu dimana mataku benar-benar terpaku ke arahnya, begitu indah. Sesekali ia akan menaikkan alis, lalu bertanya dengan nada candaan. Sementara aku malu setengah mati.
Aku benar-benar tidak bertanya meski jutaan pertanyaan menyesaki tempurung. Seperti; dari mana uang yang dia dapat, bagaimana dengan neneknya, bagaimana kuliahnya. Gadis itu tampak terlalu tenang dan damai.
Cerita tentang ia dijual oleh temannya. Itu juga terlupakan begitu saja, seolah bukan sesuatu yang besar—efeknya hanya hari pertama, saat malam itu. Sisanya sama sekali. Gadis itu hidup santai dan menikmati hidupnya.
Dan dari semua hal itu, yang paling membuatku penasaran adalah, Disya sangat mahir membaca map. Ia seperti tau dimana pun tempat, kemana harus pergi dan tidak kebingungan. Mirip orang dewasa yang tau kemana langkahnya.
Jika mengajakku ke suatu tempat, maka ia akan pergi dan membawaku tanpa ragu. Seolah, ia telah mendatangi semua tempat itu sebelum ini. Aku mirip bocah yang hanya membuntut langkahnya, tanpa salah.
Seperti sekarang.
Aku baru saja dibelikan pakaian dan bersumpah melihat Disya membayar dengan harga yang lebih besar dari gajiku pertama kali menjadi kasir. Ia tak perhitungan dan aku benar-benar tidak tahu berapa uangnya dan jika punya uang, kenapa ia tidak kembali ke Jakarta?
Aku berdiri—berjarak sepuluh meter dari tempatnya sekarang. Disya sedang bercengkrama dengan seorang gadis lain–lebih dewasa, mungkin tiga puluh tahun? Aku tidak yakin. Mereka berbicang akrab seperti teman yang lama yang baru bertemu lagi.
Hanya sekitar dua puluh menit, setelah itu Disya kembali padaku dan wanita itu pergi.
Kami melanjutkan perjalanan pulang setelah semua hal yang Disya inginkan ada di tanganku–dalam kantong-kantong yang jika kuprediksi seberat dua belas kilogram.
“Aku suka sekali denganmu” kata-kata itu melayang tepat saat kami masuk dalam kos. Aku meletakkan makanan di dekat kompor sementara pakaian masih ku jejer di bawah lemari plastik yang dibeli saat kami baru pindah dua hari.
Dan aku melirik sekilas. Disya bukan sekali ini saja mengatakan itu, jadi aku mendengarkan, namun tidak akan repot-repot menatap matanya agar dia merasa didengarkan.
“Kamu tidak pernah banyak tanya, tidak pernah cerewet dan selalu iya-iya saja. Aku suka sekali” itu juga. Aku mereaksinya dengan senyum, kali ini, kuperlihatkan deret gigi rapiku padanya.
Lantas, bagian mana aku akan bertanya macam-macam saat hidupku bahkan ditanggung olehnya? Meski sialan apapun yang ia lakukan, aku tidak akan pernah bertanya, tidak juga menduga-duga apalagi berspekulasi buruk. Aku hanya akan percaya dan diam dengan apa yang kulihat dan kujalani—mungkin hingga uangku cukup dan aku akan melamar di perusahaan besar. Saat aku punya uang, aku bersumpah akan bertanya apa yang dilakukan Disya dan memintanya berhenti, apapun itu. Aku bersumpah akan menebus kebaikannya dengan menghidupinya. Nanti, sekali lagi aku bersumpah atas nama tuhan. Meski tidak sekarang.
Aku mendengarnya bersenandung masuk dalam kamar mandi “nanti makan malam bareng, oke? Aku mandi dulu, Kak” setelah itu, bunyi air dari balik kamar mandi memutus senandung. Aku diam saja.
Aku bisa.
Aku bisa hanya duduk menontonnya diam saja sepanjang hari. Atau melihatnya makan dengan cara—normal dan wajar namun kuanggap lucu dan menggemaskan. Aku bisa seperti ini sepanjang waktu asal itu Disya. Di mataku, gadis kurus dan kecil itu lebih dari musim panas setelah hujan badai. Bagiku, dia lebih dari banyaknya hal–karena aku tidak memiliki sesuatu apapun yang berharga dan yah, aku memiliki Disya sekarang. Ini adalah klaim menyedihkan dan aku tidak masalah.
“Apa menyenangkan memperhatikanku seperti itu?” mulutnya penuh dan aku berdehem. Mataku kupalingkan sembarangan meski terlambat dan tentu saja membuatku seperti orang tolol. Aku tidak menjawab.
“Bagaimana menjadi kasir?” pertanyaan itu sebenarnya terlambat–atau tidak. Sudah berminggu-minggu berlalu dan ia baru bertanya.
“Biasa saja, tapi aku bersyukur memiliki pekerjaan dan berhasil kabur dari tanggung jawab yang..” aku menunduk, lalu tersenyum dengan tidak tahu malu “ini memalukan”
“Aku juga sering bertingkah—mengambil tindakan impulsif yang berujung memalukan. Tidak apa-apa. Itu manusiawi. Kamu berhutang untuk kuliah. Jadikan itu alasan untuk berhenti menyalahkan atau merasa bahwa kamu pecundang. Kamu tidak” jawabnya serius. Disya menatapku dari balik anak poni yang menutupi sedikit matanya. Aku gemas ingin menyingkirkan itu.
“Aku harap aku bisa atau tidak seperti itu, sejatinya, aku hanya ingin menjadi manusia normal dan hidup dengan baik. Beberapa hal benar-benar diluar kendali”
Disya mengangguk sistematis.
“Hey, nikmati saja hidup. Kenapa terlalu pusing? Mau kusuapi?”
Aku menggeleng. Dan Disya tertawa lagi untuk alasan yang tidak terlalu kumengerti.
“Kamu keren dan hebat, sungguh”
“Tidak ada konteks yang membahas itu, tapi aku berterima kasih atas pujiannya” kurasakan wajahku memanas sampai telinga. Jika dalam kondisi ini, entah kenapa tenggorokanku ikut aneh. Seperti ada dahak yang terus menyangkut–membuatku berdehem tidak perlu.
“Kuharap musim panas tidak segera berlalu karena aku benci hujan dan becek” ia bangkit membawa sisa makanan untuk masuk dalam pendingin. Aku memperhatikannya hingga kepalaku berputar.
“Kamu? Kamu suka musim apa di negara yang berada tepat di garis katulistiwa? Sungguh tidak seru” suara debam pelan pintu pendingin tertutup menysul, gadis itu melirik ke arahku sekilas.
“Aku tidak suka semuanya. Aku tidak tahu” jawabku skeptis. Kulihat ia mengangguk-angguk setuju dengan komentarku.
“Apa kamu punya teman di minimarket?”
“Hm, ya.. Mungkin karena pekerjaan. Ku kategorikan sebagai diplomatis”
“Oh hey” ia tertawa lagi “kamu sulit berteman, ya? Atau butuh waktu panjang untuk adaptasi? Kamu terlihat mudah tersenyum dan cemberut sekaligus” ia meletakkan meneguk air mineral dan setelah itu duduk di sebelahku lagi “ayo berteman, aku juga tidak pandai berteman”
Aku tidak benci situasinya. Namun tidak tepat juga jika mengatakan aku suka. Atau… ya, aku hanya mencari kata yang pas untuk menggambarkan suasana hatiku tiap Disya terlelap lebih dulu. Baik, kuakui tidur kami memang akur. Dia tidak bergerak dan aku juga seperti bangkai—ini setelah dia tak berkomentar apapun tentang pola tidurku.
Seperti malam ini.
Kipas bergerak konstan. Mulus, tidak berisik seperti dalam kosku. Anginnya yang bisa membuat kami terlelap di bawah musim panas yang tidak berubah. Baik siang atau malam, tetap gerah.
Malam ini wajahnya menghadap padaku. Bulu mata panjang-panjang, napas teratur, bibir merah alami dan aroma tubuhnya yang khas. Aku menyukainya, sungguh.
Dalam kepala seorang pria normal yang sehat. Aku berpikir tentang—bagaimana jika kutempelkan hidungku pada rambutnya? Menghirup aroma tubuh atau sekedar berkontak fisik. Aku menepisnya, memikirkannya lagi, lalu berusaha mendistraksinya dan berakhir terlelap.
Aku bersumpah, aku ingin memeluknya.
≽^• ˕ • ྀི≼
“Ini suamiku, kami baru menikah” tangannya membawa satu boks es krim besar, sementara tangan yang lain menggamit lenganku. Disya mengajakku duduk di depan kos. Bukan di teras, melainkan dibawah pohon beringin besar yang rindang. Ia membawa kursi entah di dapat darimana dan masih sempat menjawab pertanyaan dari tetangga tentang status kami.
Cuaca panas menyengat. Aku shift malam dan siang ini, Disya mengajakku makan es krim di luar. Sambil melihat pemandangan yang tidak bagus–tidak terlalu. Hanya ada pepohonan, gunungan sampah dan aspal panas yang seakan membara di bawah terik. Para pejalan kaki atau anak-anak yang kembali dari laut terlihat gosong. Beberapa membawa layangan, ada yang membawa pancing dan beraneka ragam. Tempat kos kami adalah jalan akses ke laut meski tidak ramai dan jika musim hujan datang, kawasan ini akan sangat lembab dengan bau sampah yang khas. Katanya.
“Komedoku keluar karena kepanasan” ia mengeluh sambil menjilat sendok es krim. Tadinya aku ingin protes karena dia menyuapiku es krim dengan sendok yang sama. Namun protes hanya bentuk–agar tidak kentara jika aku kesenangan.
“Aku benci musim panas. Tapi lebih benci musim hujan” aku ikut berkomentar. Disya mengangguk setuju dan menyerahkan boks es krim ke atas pangkuanku. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celana.
“Dengar..” Disya mengeluarkan kuteks berwarna biru elektrik “ini bisa membantu jarimu lebih segar” dan aku tidak tahu apa maksudnya “kuteks mengandng bahan pelarut dan alkohol, dia akan dingin jika di pakai” aku mengerti.
Sekarang gadis itu memakaikan kuteks pada jerijiku setelah alasan dingin dan semacamnya. Aku diam saja tatkala cairan itu meleleh di atas kukuku–memberi warna baru dipermukaan.
“Oh, tangamu cantik sekali. Aku iri” dia mengatakan itu hanya agar aku tidak protes dan percaya. Aku bersumpah tangannya lebih lentik dan cantik.
“Apa warna kesukaanmu?” ia mendongak, dan aku menaikkan alis. Sialnya aku kesulitan mengontrol senyumku.
“Apa saja, kecuali hitam” jawabku jujur.
“Biasanya pria suka warna hitam. Sudah kuduga kamu tidak biasa. Kamu adalah pria luar biasa”
“Berhenti memuji berlebihan. Aku tidak keberatan dengan cat kuku” kataku berusaha membuatnya berhenti memuji secara tidak natural. Disya tertawa dan tawa itu menulari “bayangkan jika ada petugas yang mempertanyakan surat nikah” ucapanku yang tiba-tiba berhasil membuat Disya berhenti menorehkan cairan dingin itu pada jempolku.
“Kita hanya perlu menikah” katanya enteng. Seperti bukan sesuatu yang besar. Aku batuk tersedak ludahku sendiri “menurutmu, apa yang harus kita makan malam ini?” dan secepat itu dia mengubah topik. Aku berhenti berpikir jauh tentang ucapan spontanitas tanpa diolah dan langsung mencari ide tentang makan malam yang setiap malam selalu kami pikirkan bersama.
“Pizza” ia mendapat jawabannya sendiri. Lalu matanya beradu denganku meminta pendapat. Aku hanya mengangguk seperti biasa karena aku adalah pemakan segalanya. Aku memakan sampah sebelum bertemu Disya dan akan memakan apapun yang bisa dimakan untuk bertahan hidup.
“Pizza dan beer terdengar sinkron. Kamu kuat minum?” itu pertanyaan untukku dan aku mengedikkan bahu tidak yakin.
“Sebenarnya, aku tidak pernah membeli beer” hanya sebatas itu. Aku tidak akan repot-repot mengatakan jika aku lebih memilih membeli sepuluh biji roti seharga seribu rupiah untuk menyambung hidup ketimbang membelanjakan beer. Disya tampaknya muak dengan cerita kemiskinan meski ia tidak mengaku kaya. Jika aku bercerita tentang kesengsaraan ekonomi, dia akan mengangguk setuju, seakan posisi kami sama dan dia pernah merasakkannya juga. Aku tidak percaya.
Dia mengangguk lagi. Selesai dengan kelingkingku yang terakhir, lalu mengambil ponsel untuk memotret hasil karyanya.
“Aku berpikir untuk menjadi nail art, tapi aku bukan orang yang bisa konsisten saat bekerja dan tidak suka jika mendapat pelanggan dengan kuku jorok atau kuning. Aku akan marah dan memintanya pergi merawat kuku” es krim kembali ke pangkuannya setelah semua yang di inginkan abadi dalam ponselnya.
“Tidak usah, carilah pekerjaan yang paling–tidak membuatmu emosi” aku berkomentar seadanya. Lalu di sela oborlan kami yang random, suara gedubrak sepeda jatuh di aspal. Anak kecil yang menggendong anjing jatuh. Sisa orang tak seberapa penghuni kos di samping tergopoh-gopoh menghampiri.
Namun anak itu tertawa terbahak-bahak saat ia berdiri dan wajahnya terkena tahi kerbau yang berceceran di jalan hampir kering. Tidak ada luka, anjingnya duduk di samping. Aku ikut terpingkal-pingkal dan Disya juga.
“Aku tidak tahu kapan kerbau melewati jalan ini, kenapa ada kotorannya di sana? Astaga perutku sakit”
Aspal di jalanan seperti baru saja membaik—sisa hangat setelah matahari menembus lapisan awan tipis. Kini mereka semua lenyap–tenggelam.
Ombak tetap berdebur berulang-ulang seperti kaset rusak. Udaranya tetap asin–agak menyenangkan jika malam karena tidak panas. Aku membayangkan seperti bernapas di dalam kantong plastik jika pergi ke tempat ini siang. Ya, kami tidak akan nekat meski sebosan apapun untuk pergi ke pantai siang hari.
Jika ada hal yang membedakan bagaimana kakiku akan tetap melangkah ditengah terik di siang bolong hingga sol sepatuku melepuh, itu adalah Disya. Bersamanya, tidak masalah jika harus bernapas di dalam kantong plastik, atau kakiku meleleh di atas aspal panas. Terik tidak akan membuatku berhenti mendamba pada seorang gadis yang terbalut dress dengan dada rendah–dipadu kemeja flanel tipis.
Tangannya menggenggam sepotong pizza yang ia beli sore tadi. Rambutnya dikepang dua sementara anak poni berantakan sesuai arah angin. Alih-alih ikut menyuap makanan yang katanya ‘reward’ aku lebih terpikat pada wajah yang kulihat setiap pagi dan malam — tiap bangun dan hendak tidur. Aku bersumpah tidak akan bosan seandainya tuhan mau memberikan ia kepadaku sebagai pasangan hingga mati.
Aku terlalu menyukainya dan Disya terlalu memikat.
“Kak”
Panggilan itu telak membuatku seperti orang sinting yang kedapatan menelisik wajah secara tidak sopan dari samping. Disya menatapku dengan senyum khasnya. Disya, kupikir dia terbiasa dengan tatapanku yang kerap terpaku tanpa sadar.
“Y-ya?” jawabku patah-patah, aku terpaksa mengambil potongan pizza meski perutku tidak lapar. Ya, aku makan dulu saat Disya mandi. Aku baru pulang hampir pukul sepuluh malam dari minimarket.
“Berapa lama lagi sampai musim hujan?” itu pertanyaan baru untukku. Dari seluruh banyaknya kemungkinan bertanya, aku tidak tahu apa ada alasan dibalik pertanyaan itu. Namun yang kulakukan adalah mengingat bulan dan menghitungnya cepat.
“1 bulan” jawabku, lalu aku memutar mata kembali mengingat—jika ada yang terlewat “musim panas di mulai April dan berakhir Okt0ber. Ini awal September” kataku, melihat kalender pada ponsel dan memastikan itu tidak keliru.
Disya mengangguk tidak mengatakan apa-apa lagi tentang musim panas atau seputar itu. Kami berdua duduk di atas batu, menatap ombak dan menghirup bau asin yang menyesaki pernapasan. Di temani sekotak pizza yang sudah berkurang dan kopi dalam tumbler.
“Kak Akmal”
“Ya?”
“Aku ingin mengatakan sesuatu”
“Aku dengarkan”
“Sebenarnya, kita seumuran. Aku bukan mahasiswi dari Jakarta, aku berasal daro sini, pulau Flores dan aku nyaris hafal semua tempat di pulau ini”
Pernyataan itu membuatku tercenung beberapa saat. Seperti biasa—seperti yang ia lakukan tidak normal, maksudnya, seluruh kegiatannya yang memang tidak sesuai dengan ceritanya saat pertama kali kubawa ke kamarku.
Dan aku tidak menjawab, aku tidak bertanya meski banyak sekali pertanyaan. Aku memilih diam dan tetap memandang ke depan.
Disya melirik ke samping. Lalu kuintip dari sudut mataku jika ia tersenyum.
“Kak Akmal, tidak ada pertanyaan?”
Aku menggeleng nyaris presisi. Lalu aku ikut menatapnya. Sejak awal, gadis itu tidak banyak menceritakan tentang dirinya. Entah apa sebabnya tiba-tiba saja ia membuka obrolan seputar itu.
“Tidak akan ada yang berubah siapapun kamu, aku berhutang banyak dan aku akan percaya apapun yang kamu bilang, yang kamu kerjakan. Aku akan selalu memihakmu, Disya” kataku pelan. Suaraku berat dan mungkin saja terdengar mirip ombak. Lalu tanpa aling-aling, gadis itu melendot pada lenganku, kepalanya menumpu pada lengan atas.
Kami memang selalu dekat. Tapi aku tidak pernah melewati garis, begitu juga dia. Kami tidur dengan akur dan tidak ada yang rusuh di antara kami. Kalau dipikir-pikir, semuanya terasa tidak mungkin. Namun kami melakukannya, kami adalah teman–mungkin. Atau mutualan, meski kupikir aku lebih sering menyusahkannya sejak awal ketimbang–dia yang memulai segalanya dan eksistensiku yang terkadang kuanggap sebagai pecundang dan benalu.
“Mau bermain pasir?” tawarnya kemudian. Ia kembali duduk tegak dan menawariku melakukan hal-hal yang tidak pernah kami lakukan. Aku mengangguk pelan dan dia langsung mengambil tanganku dan kami menuruni bebatuan hati-hati.
Tidak banyak yang kulakukan.
Maksudnya, kami berlari. Dia memberikan tawaran hadiah permintaan jika aku berhasil menangkapnya.
Entah sejauh apa aku berlari. Pertama aku mengejarnya, lalu kemudian entah kenapa aku berlari saat dia balik mengejar. Padahal, jika tertangkap, aku akan menang, namun aku reflesk berlari saat Disya mengejarku, pun napasku tidak sanggup mengimbanginya, aku pengap dan berakhir kembali ke sisi batu dimana pizza terakhir kami tinggalkan.
Aku duduk di atas pasir dengan kaki lurus ke depan, tanganku bertumpu ke belakang. Dadaku kembang kempis setelah Disya mengajak bermain kejar-kejaran. Sungguh payah, aku mulai memikirkan gym dan lari pagi setelah kalah mengejar gadis yang jauh lebih kecil dariku.
Lihatlah, sekarang Disya masih aktif berlari ke sana ke mari pura-pura di kejar ombak, sementara aku mulai mengatur napas karena lelah dan pengap.
Angin laut terasa lebih dingin menerjang kaus ku yang tipis. Dadaku sesak oleh udara yang masuk. Namun rasanya seperti tidak pernah cukup.
Di tempat ini kami duduk, dunia seolah terputus dengan sempurna. Di luar garis cahaya yang di cipatakan lampu jalanan, aku dan Disya menciptakan dunia baru—dimana alunan ombak mendayu-dayu dan gugus bintang berkelip hanya untuk dua pasang mata. Dunia hanya berisi aku dan Disya. Gadis itu ikut duduk di sampingku—sejajar. Kakiku di kubur pasir dan kakinya juga.
Dunia yang sempurna.
Malu-malu, tanganku bergeser ke samping, menyentuh jemarinya yang tersimpan rapi di sisi paha. Disya melirikku sekilas, melempar senyum cantik seperti biasa, lalu memberi akses jariku mengisi sela jarinya. Ia mengapitku, begitu erat, begitu hangat.
“Mau hadiah apa?”
Alisku menaut atas pertanyaannya. Aku bahkan tidak menang dan tidak ada yang menang di antara kita. Namun Disya menawarkan. Aku memejamkan mata sembari menahan senyum. Sayang deret gigi rapiku lolos pada akhirnya. Aku tidak bisa menahan tawa.
“Kupikir tidak ada yang serius dengan itu” ucapku kemudian. Aku menarik napas dalam, menyudahi senyumku “tapi kalau ditawari, aku tidak akan menolak.
“Tentu saja” Disya menggeser tubuhnya semakin memepet, kepalanya di istriahatkan lagi pada pundakku “Kamu hampir kehabisan napas tadi, aku ini atlet lari tau, Kamu tidak akan bisa ngimbangi”
“Kalau begitu, aku ingin tau tentangmu” pundak Disya yang bersentuhan dengan lenganku menegang “itu permintaanku”
Untuk sesaat, keheningan mengisi—Disya membiarkan debur ombak, gemerisik pepohonan dari bukit seberang jalanan aspal menguasi. Aku harap, Disya tidak akan sadar betapa basahnya telapak tanganku sekarang. Tadi, aku mengatakan bahwa tidak akan ada yang berubah—siapapun Disya. Namun sekarang, aku secara spontan–akibat hadiah permintaan itu–rasanya seperti refleks. Jika Disya tidak mau memberitahuku tentang dirinya, aku juga tidak apa-apa.
“Harus di mulai dari mana ya…” Disya bergumam pada dirinya sendiri “kisahku cukup klise dan tidak bagus. Aku tidak tau apakah ini bisa menghiburmu atau tidak”
“Aku bertanya bukan untuk mencari hiburan karena hiburan ada di depan mataku” suaraku lembut–lirih “aku hanya ingin tahu tentang orang yang kusuka. Tapi jika kamu keberatan, tidak masalah untuk tidak menjawab” aku mengatakan itu dalam keadaan sadar. Disya yang baru mendengar ungkapan ‘suka’ kontan menoleh padaku. Kurasakan matanya seperti akan melubangi pipi kiriku—aku tidak bernyali untuk menatapnya balik.
“Aku benar-benar tidak tahu harus memulai darimana” ia menegakkan tubuhnya. Ada sedikit rasa kecewa ketika kepalanya tidak lagi bersandar pada bahuku. Gadis itu tampak berpikir sejenak sebelum bangkit — mengambil tas selempang dekat pizza yang kami tinggalkan di atas batu.
Saat kembali, ia menyodorkan sekaleng bir “bagaimana kalau kamu bertanya padaku?”
Aku menerima kaleng bir, mendongak melihatnya yang kembali duduk di sampingku “berapa banyak yang bisa kuajukan?”
Disya menjilat bibir bawahnya “sebanyak yang kamu mau”
Bunyi keletak disusul desisan soda, kaleng bir terbuka. Tapi alih-alih langsung meminumnya, aku hanya menatap cairan kuning transparan yang memenuhi pinggiran kaleng.
“Apa kamu asli Flores?” padahal Disya sudah mengatakannya. Aku memastikan sekali lagi mirip orang memastikan sudah mematikan kompor sebelum pergi.
“Ya.” Disya mengangguk “aku dari Labuan Bajo” sama denganku, namun aku berpikir mengapa kami tidak bertemu sebagai orang ‘normal’ tanpa insiden apapun. Maksduku, bertemu dalam konteks lebih layak.
“Berapa usiamu? Dengan siapa kamu hidup?”
“Aku 25, kita seumuran, aku hidup sendirian. Kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan dan aku tidak memiliki siapapun” gadis itu menyesap bir, matanya lurus pada debur ombak. Sesekali kakinya memainkan pasir. Lalu melihat ke arahku “sekarang aku tinggal dengan seorang pria tampan” katanya sambil terkekeh.
Aku menarik napas—seperti aku tidak akan bertanya lebih lanjut atau–aku khawatir jika Disya akan merasa tidak nyaman.
“Disya, apa kamu menyukaiku?” aku lebih memilih pertanyaan itu ketimbang kehidupan lalu gadis itu. Memberanikan diri dengan gaya pas-pasan dan… tampan? Disya mengatakan tampan dan aku cukup tersipu pada bagian itu.
“Ah, sepertinya, aku tau darimana harus memulai” alih-alih menjawab pertanyaanku, gadis itu justru tersenyum. Dua tangan menangkup kaleng bir di atas pangkuan. Lagi, matanya nyalang menatap ombak yang begitu-begitu saja.
“Sebulan.. Em.. 1,5 bulan yang lalu. Sesuatu terjadi dan aku dihadapkan situasi sulit dimana aku berakhir dengan dua pria besar, bule dan benar-benar akan mati jika seseorang tidak datang. Aku sudah menulis surat wasiat entah untuk siapa dalam tasku di semak-semak. Tapi seseorang datang dan memukul dua pria itu dengan keren. Pria tampan. Bagaimana caranya aku tidak suka? Dia terus mengatakan hutang budi dan seolah aku ini adalah penyelamat. Padahal, kata-kata itu lebih pas untuk dirinya” Disya tersenyum. Satu tangan mengangkat kaleng bir dan ia menyesapnya lagi hingga mendongak tinggi dan kaleng itu nyaris tegak lurus. Kulihat tenggorokannya menelan dengan rakus. Setelah itu, wajahnya memerah, kupikir dia mulai mabuk.
Lalu melirik ke arahku “aku menyukaimu juga” kata-kata itu membuat jantungku seperti akan melompat keluar “kamu tidak pernah bertanya apa, bagaimana, dan yah..” Disya menunduk lalu tertawa “kamu menyukaiku meski itu karena ketergantungan atas kondisi ekonomimu yang menyedihkan aku tidak kebera–”
“Tidak, aku tidak menyukaimu karena itu saja. Terlalu dangkal. Kamu terlalu kompleks untuk dikerucutkan menjadi sesuatu yang kelewat kerdil. Kamu lebih dari itu” aku mengoreksinya cepat-cepat sebelum ia menyelesaikan kalimat yang hanya akan membuatku terlihat tidak tahu diri–meski Disya tidak akan menyinggung itu.
“Apa?” ia memicingkan mata. Tidak, matanya mengecil, melihatku seperti penderita hipermetropi.
“Aku menyukaimu lebih dari apapun. Aku bahkan memikirkan banyak hal terlalu jauh. Aku berjanji akan mengumpulkan uang dan memasukkan lamaran ke perusahaan besar. Aku akan mendapatkan banyak uang dan menghidupimu. Aku akan, itu tujuanku sekarang” sudut bibirnya berkedut. Angin membawa rambutnya meliuk menutupi mata sebagain.
“Aku tidak tahu harus mereaksi apa. Kamu bahkan bisa tidur dengan gadis tanpa menyentuhnya. Kadang ada malam dimana aku benar-benar ingin kamu menyentuhku, melewati garis lalu memelukku. Kamu tidak, tidak pernah. Aku mulai bertanya-tanya, apakah kamu pria normal? Apakah kamu sehat?” lalu kudengar ia terkekeh, Disya jelas mabuk “aku muak sekali dengan pria, tapi kamu tidak. Kamu pengecualian, dan semakin kupikirkan, aku semakin merasa menyedihkan” kata-kata terakhir gagal kucerna. Aku tidak tahu Disya mengatakannya atas dasar apa.
Yang ku lakukan adalah meneguk ludahku. Jakunku bergerak naik turun dan kulihat Disya mengamati bagian itu.
“Dan apa aku harus mengaku seberapa keras aku menahan diri?” pertanyaanku telak membuat Disya memberengut, mata kami bertemu dan aku tidak tahu apa arti tatapan itu. Kadang, aku merasa gadis itu sangat misterius dan cerewet sekaligus.
“Aku dengan kesadaran penuh tahu diri jika posisiku benar-benar menyedihkan. Kecuali aku gila, mungkin aku akan melewati garis. Hanya ini satu-satunya yang kupunya. Tapi mendengar kata-katamu barusan, kupikir aku bisa melakukan hal-hal yang melewati garis dengan dalih tidak sadar”
Ia mengacungkan jari tengah sambil tertawa. Lesung pipinya tercetak. Dan itu tidak lucu, sungguh. Gadis itu tidak lucu sekarang, sekarang, benar. Kemarin lucu, kemarinnya lagi dan kemarin. Gadis itu imut dan menggemaskan. Namun malam ini tidak. Disya sangat panas, yah.. Kurasa ombak berisik, pasir kasar, angin yang semakin membesar—akan setuju tentang apa yang kupikirkan.
Aku hanya menatapnya tanpa mengubah posisi apapun. Bahkan cara ku menatapnya penuh damba. Sebelum kurasakan ia semakin mendekat–memepet padaku. Aroma bir menguar dari mulutnya, kurasakan menyuruak masuk ke penciumanku.
Semakin dekat. Disya mabuk. Kepalanya meneleng ke kanan dan matanya tertutup sempurna. Aku diam seperti pria perjaka yang hampir mati karena kesenangan namun tetap berhasil mengatupkan rahang. Aku hebat, aku akan mengakuinya malam ini.
Bibirnya menabrak milikku.
Kurasakan miliknya dingin, kenyal dan lembut. Napasnya memukul atas bibirku hangat di susul pagutan lembut darinya. Disya meremas kain dress di atas pahanya sendiri sementara aku pelan-pelan mengambil alih.
Aku menyukainya, sungguh.
Aku menyukai sisa bir dalam mulutnya, menyukai cara gadis itu melenguh pelan di dalam rongga mulutku. Atau ketika ia mengulum lidahku lembut—terkadang lidah kami membelit seperti ular musim kawin.
Suara ombak terasa makin besar. Airnya pasang—kini berhasil menjilat dua pasang kaki kami. Dan kami merebah–bukan, maksudnya, aku menindihnya dari atas. Ciuman kami tidak terputus entah sudah berapa lama. Pelan-pelan kutarik dress dengan dada rendah meski tak sampai membuat dua alat vital itu menyembul. Saat kulepaskan pagutan, kepalaku turun menjilati seluruh permukaan kulitnya yang halus dan wangi.
Gadis itu melenguh pasrah. Dua tangannya menjambak rambutku.
“Disya.. Ayo pulang” kataku kemudian. Aku tahu ini akan berakhir kemana.
≽^• ˕ • ྀི≼
“Tunggu seben—Akh!”
Satu kecupan mendarat telak pada pucuk kepalanya. Lalu Disya memukul tanganku yang menumpu di antara tubuhnya. Sudah kuduga bahwa gerak-gerik Disya mirip kucing pemarah. 1,5 bulan tinggal bersamanya membuatku paham meski gadis itu tidak pernah marah–marah secara transparan padaku.
Tapi tolong katakan padaku bagaimana aku bisa berhenti ketika dada gadis itu tengah naik turun dengan cepat, kedua putingnya memerah dan bengkak, juga basah oleh air liurku.
Sisa-sisa akal sehatku digunakan untuk hal yang tidak terlalu sehat; menahan kedua tangan Disya ke atas kepalanya. Sisanya hanya ada insting. Kepalanya dimiringkan ke samping hingga melesak ke dalam bantal, enggan membalas tatapanku. Pipinya bersemu merah.
Jika Disya tidak mau, tidak seharusnya dia memeluk leherku hingga kami berdua terjatuh ke kasur dan dia membimbing kepalaku untuk mencium dadanya. Seharusnya—meskipun mabuk, dia akan masuk ke kamar mandi untuk sikat gigi, lalu mencuci wajah dan tidur meski posisinya malang melintang.
Atau bisa saja dia diam tidak mengatakan apa-apa dan bicara seperlunya seperti kita biasanya. Aku tidak akan kehilangan akal sehat seperti sekarang.
Akan tetapi, Disya yang membuatku merayap menyusup lalu menyentuh seluruh tubuhnya–yang ia buka sendiri hingga bertelanjang.
Begitu sampai di tempat yang didamba-damba, Disya mengeluarkan erangan tertahan bak suara kesetanan. Aku ingin mendengarnya lagi, lagi dan lagi. Tidak sepanjang hari, aku perlu mendengarnya seumur hidup. Jemariku bergerak naik turun, dalam tempo yang menyiksanya–lambat, dan penuh tekanan.
Oh tuhan, bagaimana aku mengabadikannya? Akan kuhujani Disya dengan kasih sayang yang pantas didapatkan, dan Disya akan menghujaniku dengan desahannya yang manis. Pagi, siang, dan malam.
“Akh..” panggilannya tersendat dengan napas berat sukses membuyarkan lamunanku “tatapanmu menyeramkan sekali”
Aku menundukkan kepala, mencium keringat pada dahinya “takut?”
“Sedikit”
“Jangan” fokusku tetap terpaku pada gadis bersurai panjang yang kini berantakan campur keringat, aku menikmati mulutnya yang basah “aku hanya akan menyakitimu di atas ranjang, Disya”
Nanti, setelah ini, setelah semua ini. Disya adalah kemewahan yang akan terus kujaga dengan perhatian ekstra. Eksistensinya akan terus kulindungi meski aku harus memotong dua kaki dan tanganku sendiri. Aku menyerahkan dunia, kepercayaanku, apapun yang tersisa dariku demi melihatnya tersenyum dengan tulus di bawah sinar matahari–tempat yang cocok untuknya.
“Akh…” matanya berkaca-kaca begitu jari tengahku masuk ke dalam liangnya yang sudah basah. Akan tetapi, ketika Disya sedang seperti itu—meronta dan menggeliat di bawah kurungan badanku—itu adalah kode darinya untuk segera diperlakukan seperti pelacur murahan. Seonggok lubang menganga yang hanya cocok dijadikan tempat benihku bersemayam. Seakan-akan, sisi kemanusiaannya lenyap oleh sapuan jemariku di atas kulitnya yang panas.
Disya merentangkan kedua tangannya ke depan, mengalung pada leherku dengan sempurna. Kedua kakinya melingkar pada pinggulku—tampak seperti koala yang menggemaskan jika saja ia tidak mengangkat satu sudut bibirnya.
Mirip iblis penggoda, pikirku.
“Tidak usah terburu-buru, malam masih panjang. Kita punya banyak waktu. Malam ini, besok, besok lagi dan lagi” kataku lembut. Tubuhku bergerak maju dan mundur.
≽^• ˕ • ྀི≼
Cinta musim panas banyak diperdebatkan merupakan cinta yang membara secara singkat. Aku tidak percaya, kendati lagu-lagu yang sedang populer memutar lirik-lirik memvalidasi. Penyair menyedihkan dengan kisah cinta musim panas yang ikut berakhir tatkala penghujan datang seperti menghapus jejak panas pada aspal.
Aku berdiri dibalik meja kasir sambil membuka email dari perusahaan–yang aku sendiri tidak tahu. Belum sempat aku selesai membaca, pesan dari Disya muncul di bar atas. Aku membukanya lebih dulu.
Aku membuka email, lalu kembali membaca pesan Disya bergantian. Yang tertera dalam email adalah aku diterima kerja dengan posisi yang aku sendiri tidak terlalu paham. Namun perusahaan itu memintaku datang esok. Saat kutanya Disya dimana lokasinya, gadis itu mengatakan jika besok ia akan turut serta mengantarku.
Ini ketidakmasukakalan yang lain. Yang pertama pendapatan, yang kedua bagaimana dengan mudah ia memasukkanku menjadi kasir dalam toserba, lalu saat aku mengatakan ingin bekerja di persahaan besar. Tanpa menunggu babibu, aku langsung diterima tanpa pernah menulis CV, tanpa interview dan dalam pesan, secara tidak masuk akal aku benar-benar diminta datang untuk bekerja, sekali lagi, BEKERJA.
Saat jam pulang datang, aku menghambur—berlari sekuat tenaga untuk cepat sampai rumah. Begitu banyak yang ingin kutanyakan, begitu ini membuatku bingung.
Sebenarnya, siapa gadis itu? Kenapa bisa semudah ini? Aku tidak fokus bekerja hari ini. Bahkan, masa training ku di tempat ini belum selesai dan aku harus pergi ke perusahaan—tempat baru tanpa tahu apapun.
Dikota kecil ini, udaranya selalu membakar paru-paru. Musim panas akan berakhir kurang dari sebulan, tapi seperti hari ini adalah puncaknya. Anak-anak kecil yang berjarak lima ratus meter dari indekos hilir mudik dengan jaring penangkap serangga mereka sambil menikmati es. Para tetangga kos sebelah sibuk bercengkerama dengan yang lain di depan rumah sambil menikmati potongan semangka dan kipas tangan. Di malam hari, bau bubuk mesiu dari kembang api dan bau asin tercium pekat.
Diysa melambaikan tangan dengan cup kopi di tangan yang lain. Tubuh kecilnya terbalut tanktop dan celana pendek menyambutku dengan senyuman.
Saat aku sampai, ia menyodorkan es kopi lalu menyeka keringatku yang bercucuran. Bahkan seragam training ku basah oleh keringat. Ya, aku berlari sejauh hampir 2 kilomter di bawa terik tidak masuk akal. Tubuh kurusku gosong dan bau matahari khas menyengat. Sambil tertawa, Disya mendorongku untuk segera mandi setelah mengambil kembali es kopi yang baru kesedot setengah. Dia bahkan tak memberiku waktu untuk bertanya tentang email.
“Pakai bajumu astaga” Disya keberatan saat aku memeluknya dari belakang hanya memakai handuk–meski dadaku tertutup–bukan jenis handuk yang hanya membelit bawahan.
“Aku rindu” kataku, seolah melupakan alasanku berlari sejauh itu di bawah terik–demi membahas email. Namun yang kulakukan setelah mandi adalah memeluk Disya yang sibuk membuat sesuatu di depan meja kompor dengan pakaian menyedihkan seperti saat menyambutku datang.
Tangaku melingkar penuh pada perutnya. Saat Disya melirik ke belakang, kujatuhi bibirnya dengan kecupan berulang-ulang, dia tertawa dengan lesung pipi yang memikat.
“Aku ingin membahas email” dan aku membahasnya. Diysa menjejaliku dengan irisan ayam katsu. Tubuhnya bergerak mengambil piring dan nasi, aku mengikutinya sambil mengunyah–sambil tanpa melepas pelukan sedikit pun.
“Itu perusahaan kenalanku. Kamu bisa bekerja mulai besok, aku akan mengantarmu” katanya praktis.
“Dimana tempatnya?”
“Jakarta, kita akan pergi setelah makan”
“Tiba-tiba?”
“Hm” katanya “tapi setelah ini, aku ingin menemui teman lama, kamu tolong berkemas”
“Aku tidak mau” sergahku membuat Disya berhenti
“Tidak mau? Apa kamu mau mati?” matanya melotot galak, baru sekali itu Disya mendelik marah.
“Aku tidak bisa pergi atau berjarak denganmu, Disya..” aku memelankan suara, lalu helaan napasku membuat rambutnya di belakang telinga bergerak.
“Aku akan ikut ke Jakarta, kenapa kita harus berpisah?” baru setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, aku tersenyum. Deret gigi rapiku terpantul dari kaca kabinet dapur minimalis itu. “Duduklah, aku akan membawakan makanan”
Aku duduk patuh seperti anak anjing. Makan sore kami di lantai yang di alasi permadani murahan—sudah usang dan tipis.
“Disana, ada temanku bernama Adew. Dia adalah seorang staf administrasi. Tanya-tanya saja, tanyakan apapun, dia tahu semua hal, mirip google” kata gadis itu sambil menyuap makanan. Aku mengangguk–melakukan hal serupa.
“Hm, aku akan bertanya, tapi izinkan aku untuk.. Yah, itu.” aku menggaruk tengkuk “Disya, bisakah sebelum makan kita.. Itu, maksudku…” aku tidak mengatakannya, namun tubuhku bangkit–lantas membawanya ke atas kasur dan gadis itu menjerit sambil tertawa. Kami mengulanginya lagi, lagi, lagi. Seperti harapanku, keinginanku. Aku ingin Disya, aku menginginkan gadis itu lebih dari apapun.
≽^• ˕ • ྀི≼
Ya, ada seseorang bernama Adew. Dia adalah pria kemayu yang datang dengan pakaian formal sebagai staf administrasi. Rambutnya mullet dan kukunya panjang-panjang berwarna marun. Jika berjalan, maka bokongnya akan bergerak memantul, begitu montok.
Aku pergi ke Jakarta sendiri saat Disya terus meyakinkanku bahwa dia akan menyusul setelah urusannya dengan seorang teman bisnis selesai. Disya juga yang meminta Adew menyerahkan kunci kos di Jakarta sebagai tempat tinggalku yang baru.
Aku mulai bekerja di hari pertama. Kebingungan khas dan untungnya, ada seseorang yang dengan sabar mengajari–mengarahkan dan memberi komando. Aku diterima sebagai Data Analyst.
Semua terasa baru. Aku besar di Labuan Bajo mungkin sejak lahir. Udara Jakarta jauh lebih panas, lebih membakar paru berkali-kali lipat dari tanah kelahiranku. Musim panas masih merajai diluar dan sekarang, aku duduk di balik meja dengan jas formal dan pendingin yang tidak akan membuatku mengipasi leher dengan tangan.
Aku mengirimi Disya pesan sangat banyak. Bertanya kapan dia akan datang atau kapan urusannya selesai. Aku akan menjemputnya di bandara. Namun tidak ada satu pesan pun yang sampai. Nomornya tidak aktif dan benar-benar sulit di hubungi.
Aku bersabar hingga jam pulang kerja.
Dan bukan.
Bukan sampai jam pulang kerja, melainkan dua hari, tiga, seminggu, dua minggu, sebulan.
Aku meminta cuti dan ditolak karena posisiku adalah anak baru. Sementara rasa rinduku pada Disya berhasil membuatku seperti orang gila. Nomornya tidak pernah aktif lagi setelah itu, ia seperti menghilang begitu saja tanpa kabar, sama sekali.
Aku frustasi, namun tetap tak kutinggalkan pekerjaan. Akhir pekan ini, aku bersumpah akan kembali mendatangi pulau Flores dan mencari Disya.
≽^• ˕ • ྀི≼
Musim hujan datang.
Gerimis kecil, di susul riuh pertama kali mengawali awal penghujan datang.
Sudah dua minggu. Aku mendatangi pulau Flores. Aku mendatangi kos kami dan bertanya pada si pemilik dan ia mengatakan jika Disya pergi di hari kepergianku membawa seluruh barang. Sang pemilik kos tidak tahu menahu tujuan Disya sementara aku makin frustasi. Ku bawa lagi sopir grab untuk menyisiri semua tempat yang—menurutku berkemungkinan Disya ada, namun libur akhir pekan yang hanya dua hari benar-benar tidak cukup untuk mencari Disya. Aku kembali ke Jakarta dengan hasil nihil, perasaan yang makin semerawut dan rindu yang semakin menjadi-jadi.
Ingatan tentang kebersamaan kami menghujam tanpa tendeng aling-aling. Kasur. Pantai, pasir. Semuanya berputar mundur hingga ke adegan pada hari pertama kami berjumpa, aku nyaris ingin kembali pada momen itu meski menyedihkan—keji.
Dan aku kembali.
Hujan di kota Jakarta seperti sialan aneh yang terasa begitu asing sampai ke dada. Aku seperti kehilangan pegangan, hilang arah. Tidak tahu harus apa dan bagaimana, apa harus melapor pada polisi. Atau masih ada tempat yang ku lewatkan?
Langit masih gelap. Guntur masih bersahut-sahutan entah kapan akan berhenti. Sebagian hidupku setelah meninggalkan Labuan Bajo dihabiskan untuk berharap bahwa suatu hari nanti kami akan bertemu kembali. Mungkin besok atau lusa. Mungkin minggu depan, bulan depan, tahun depan. Begitu terus—menumpuk hingga menjadi sepuluh tahun.
Satu dekade aku memikirkan Disya muncul di hadapanku dengan segala kemurahan hatinya. Membebaskanku dari belenggu kutukan rindu yang tidak berujung. Lesung pipinya, kulit putih dan elok. Melalui bibir indahnya akan kucumbui sambil mendengarkan ia mengatakan hal-hal tentang kefanaan.
Aroma pasta memenuhi ruang.
Wanita itu duduk di sampingku. Dalam sepuluh tahun aku hidup di dua dunia. Yang pertama aku hidup dalam kemewahan. Tidak ada lagi hutang, kasur lembab di musim panas, aroma apek selimut dan seprei yang tidak pernah dicuci atau jamur yang dapat menyebabkan penyakit buruk.
Yang kedua aku hidup dalam imajinasiku sendiri. Tempat dimana Disya ada di sana. Kadang di layar saat aku presentasi, kadang di langit-langit lift.
Akan tetapi yang paling menyiksa adalah ketika aku tidur dan kehilangan kesadaran. Kami kembali ke Pulau itu, ke pantai itu, ke rumah petak itu. Aku dan Disya berjalan beriringan di atas pasir atau saling kejar. Kaki kami di jilat ombak atau tertutup pasir. Bersama-sama kami menembus jalanan panas dan mendarat di laut kumuh yang panasnya seperti akan membakar tengkorak.
Aku menatap keju dan daging sapi cincang di atas pasta. Begitu sulit aku kembali dari dunia imajinasi, dunia yang ada Disya disana. Satu-satunya hal nyata adalah dunia normal ini, di mana aku makan di meja marmer mewah dengan seorang wanita yang menyematkan cincin di jari manisya. Cincin berdesain serupa dengan yang ada di jari manisku.
Ini adalah kehidupan yang nyata, ini yang benar dan ini yang tepat.
Tepat, dan normal.
Aku adalah manusia yang berfungsi dengan baik, senormalnya manusia seharusnya. Jabatan yang tinggi di persahaan bergengsi. Istri yang baik hati dan patut di banggakan. Harta yang tak akan habis. Normal, tapi bukan standar, ini adalah kualitas terbaik dari kata ‘normal’
Sudah seharsunya aku bersyukur. Ini adalah kehidupan yang aku dambakan dulu, sejak aku kecil. Aku harusnya bangga dan selesai dengan semuanya. Hanya perlu menikmati hidup lalu mati dan dikubur sambil di tangisi kolega-kolega penting. Aku orang penting yang hidup keren.
“Sudah minum obat? Kamu terlihat pucat” wanita itu memegang leherku dengan tidak sopan. Aku akan mengoreksi kata ‘tidak sopan’ mengingat dia adalah istriku. Tapi aku risi. “Aku tau kamu selalu mengalami gejala cemas dan.. Mmm… kamu harus minum obat” katanya lagi, ia bahkan terlihat baik-baik saja saat aku menepis tangannya kasar dari leherku.
“Aku tidak suka” jawabku ketus.
“Pastanya?”
Aku menghela napas dan kembali berputar dari meja makan menatap jendela lagi “aku tidak suka saat kamu menyentuhku tanpa izin, tidak sopan” nadaku begitu ketus. Pernikahan yang sudah berlangsung 1,5 tahun dan aku hanya menyentuhnya saat mabuk atau gila. Itu pun sambil melihat wajah Disya, bukan wanita ini. Wanita baik hati yang terus bersabar atas tingkahku yang bobrok.
Kurasa dia menunduk “maaf” katanya.
“Aku tidak pernah menyukai ini. Pasta, hujan, kamu dan pernikahan kita” aku masih terus mengoceh sesuai dengan apa yang kupikirkan dan kurasakan.
“Dengar, Akmal, aku tau hujan membawamu pada sensitivitas yang tinggi. Diperparah obat yang mungkin belum kamu minum, tapi—”
“Tapi, apakah kamu tau apa yang menyebabkan itu?!!” aku jelas membentaknya, suaraku besar, nyaring dan membuatnya kaget. Wanita itu kaget hingga tersentak. Ia terdiam dengan rahang terkatup.
Lalu sesaat, ditengah kegilaan yang mengacau di kepalaku, aku menyesal telah membentaknya sekeras itu.
“Maaf, aku–”
“Kamu benar” wanita itu melipat tangan di dada, bahunya bersandar pada belakang sofa, nadanya jengah dan muak “aku tidak tahu penyebabya–tidak sesungguhanya, aku bahkan tidak tahu apapun tentangmu”
Suara hujan masih setia menjadi latar utama, terlebih saat kami diam satu sama lain. Aku akhirnya kembali menatap meja—pada sepiring pasta yang masih hangat.
“Ketika orang tuaku memperkenalkan kita, kupikir kamu adalah pria yang tidak seperti itu. Kamu selalu tenang dan tidak pernah goyah. Tatapanmu lurus tapi kosong. Kupikir kamu adalah pria dengan kepribadian misterius yang akan melunak saat hanya ada kita berdua. Aku tertipu imajinasi bodohku tentang pria pendiam dengan karisma yang memukau. Aku terpaku pada spekulasi gila” wanita itu mengangkat bahunya sambil tertawa sengau “maksudku, kamu memperlakukanku dengan baik hingga aku merasa jahat karena sudah meragukanmu. Aku tidak perlu bekerja, perhatian yang kamu berikan cukup untuk kujadikan bahan pamer di depan teman-temanku dan aku berakhir dengan meletakkan ekspektasi begitu besar padamu, pada pernikahan 1,5 tahun yang manis ini”
Senormalnya pria yang menyadari istrinya menangis. Seharusnya aku mendekat untuk merengkuhnya—menenangkan atau mengatakan maaf karena telah menyakiti perasaannya. Tapi aku mematung dengan mata yang seperti akan menghancurkan pasta di depanku.
“Aku bertahan, Akmal” suaranya bergetar, aku menyimaknya dengan seksama, masih menunduk tanpa berani menatap manik yang berlinang air mata karena prilaku ku yang mirip setan. “Aku bertahan karena terus meyakinkan diri bahwa kamu memang orang yang seperti itu, orang yang pendiam dan formal bahkan pada istrimu, kamu terus menyebut nama orang lain saat mabuk dan bercinta. Aku berusaha mencari tahu dan aku seperti orang gila”
Aku menahan napas dan menghembuskannya pelan-pelan, seolah dengan napasku saja, wanita itu bisa semakin terluka.
“Aku punya kapasitas. Sesabar aku menghadapi tingkahmu yang semakin tidak masuk akal, aku tetap punya kapastias. Aku tidak tahu apa yang salah pada diriku, apa yang kurang, apa yang perlu kuperbaiki. Kamu selalu marah untuk hal yang tidak pernah kamu jelaskan alasannya, tidak juga kumengerti. Wanita itu mulai emosional, bahunya terguncang karena tangis “seandainya kamu memberitahu apa yang terjadi, apa yang salah. Aku.. aku mungkin saja bisa melakukannya, bahkan jika kamu memintaku mundur dan..” ia membiarkan kata-katanya menggantung di udara. Sementara dadaku ikut sesak.
Kenapa aku tidak pernah bisa melupakan Disya? Wanita–istriku di depan mata sangat baik dan cantik. Namun tidak sedikit pun mampu membuat hatiku terbuka. Aku masih berdiri dalam indekos dekat pantai di musim panas, bersama Disya yang sibuk memasak. Aku masih disana. Jiwaku terpasung hingga hari ini. Dan wanita ini datang menawarkan cinta. Aku mencoba keluar dari kukungan–belenggu menyakitkan. Namun saat kucoba, aku malah semakin sakit.
“Aku menyukai wanita lain” kataku akhirnya. Itu juga yang membuat tangis istriku berhenti seketika. Dia mendongak dan mata kami bertemu. Setelah mengatakan itu, ada sedikit kelegaan meski yang mendominasi adalah rasa bersalah. Kendati rasa cintaku sebesar gunung, aku tetap pria normal yang mengerti jika tingkahku menyakiti istriku. Namun tidak bisa benar-benar kukendalikan. Sepuluh tahun terakhir setelah kehilangan Disya, aku didiagnosa mengidap gangguan kecemasan apalagi di musim hujan. Aku benci musim hujan dan terus berharap summer tidak akan pernah berlalu.
“Wanita yang sama sepuluh tahun lalu” aku menunduk, kurasakan segelenyar rasa aneh menangkup dada. Aku selalu menempatkan Disya dalam imajiner dan setelah sekian lama, aku baru membahasnya lagi hari ini. Rasanya aneh saat sesuatu yang biasanya hanya ada dalam tempurung, kini di utarakan keluar.
Istriku tidak menjawab, dia menatapku dengan mata menuntut penjelasan meski rahangnya terkatup rapat.
Lantas aku menceritakan padanya dari hari pertama aku dan Disya bertemu. Semua, detail, lengkap dan untuk pertama kalinya juga aku mengungkapkan perasaanku. Rasa rinduku yang membelenggu, rasa frustasi dan hilang arah hingga hari ini. Aku seperti terkukung–terjebak dalam dunia yang seakan menghalangiku untuk melanjutkan hidup. Disya menghilang begitu saja, sebesar apapun aku mencarinya selama ini. Begitu juga Adew, dia hanya mengatakan tidak tahu dan tidak tahu. Aku gila, kupikir aku gila. Dan aku menangis saat menceritakannya pada istriku. Memperlihatkan betapa menyedihkannya aku. Betapa aku begitu jahat padanya yang setia meski tidak pernah kusentuh kecuali sambil mengingat orang lain. Betapa dia begitu sabar dan telaten atas tingkahku.
Aku menunduk–menangkup wajahku dengan dua tangan. Tubuhku tergugu–terguncang. Kurasakan istriku mendekat. Tangannya naik hendak mengelus punggungku namun tertahan diudara. Mungkin dia ingat akan kata-kataku tentang—aku yang tidak suka dia menyentuhku tanpa izin. Lalu hanya helaan napas lembut setelah tangannya turun.
“Kenapa baru mengatakannya sekarang?” itu pertanyaan tidak terduga. Sebagai istri yang sudah kelewat sabar dan baik, dia seharusnya mengguyurku dengan sepiring pasta atau berlari keluar membanting pintu meski tahu aku tidak akan mengejar. Wanita ini sangat anggun dan elegan, namun benar apa yang dia katakan. Dia punya kapastias dan aku keterlaluan.
“Cari yang benar, kejar cintamu. Jika belum terkubur, kamu harus lebih gigih, bukan meringkuk di atas sofa sambil membola. Menyedihkan menatap hujan, kamu ini memang pecundang. Seperti ceritamu” istriku mengomel, dia benar-benar berhenti menangis. Aku mendongak menatapnya. Wanita itu benar-benar sudah berhenti menangis. Kulihat mata sembabnya kembali tegar. Pandangan kami bertemu.
“Sisir seluruh Jakarta, pulau Flores, kamu harus menemukan cintamu” ulangnya lagi. Lebih mantap.
“Kenapa?” aku melontarkan pertanyaan menyedihkan. Seperti hidupku ini memang menyedihkan.
“Kenapa apanya? Jika kamu memang menyukai dia, pergi dan kejar cintamu. Jangan membuatku seperti orang bodoh yang mencintaimu sendirian”
Aku semakin tidak percaya.
“Kubilang kejar, jangan sampai pengorbananku ini sia-sia. Aku akan mendukungmu” lalu dua sudut bibirnya terangkat, wanita itu tersenyum lalu kembali akan mengangkat tangan untuk mengelus punggungku. Lagi-lagi tidak jadi.
“Di dunia yang hanya sekali, sangat menyedihkan tidak bersama orang yang kita cintai. Maka, tunggu apalagi, apa kamu takut pada hujan alih-alih cintamu tenggelam?” wanita itu menyulutkan api yang sudah lama padam di gerus keputusasaan. Aku menyeka mataku, menatapnya lebih dalam sekali lagi.
“Lekas pergi, temukan Disya, temukan gadismu. Aku juga harus pergi” lalu ia bangkit. Kaki jenjang itu melangkah—menjauh sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.
≽^• ˕ • ྀི≼
Dan tuhan mempertamukanku kembali dengan Adew yang mau membuka mulut setelah sepuluh tahun terakhir bungkam. Dulu, aku mengintrogasinya dengan sopan, kasar, lembut, hingga pernah kupukul dengan keras dan pria itu tetap mengatakan tidak tahu tentang Disya.
Dalam kamar kos kecil. Tubuhnya kurus kering karena penyakit HIV/AIDS. Bola matanya besar seperti itu adalah satu-satunya yang tersisa selain perut yang membusung aneh. Ia menutupi dirinya dengan selimut tipis saat aku duduk di dekat kasur yang mirip dengan kos ku sepuluh tahun yang lalu.
Dia memintaku menutup mulut saat dia batuk. Dia juga mengatakan tidak akan menghidangkan apapun guna mengantisipasi penyakit menyebar atau sialan apapun yang sebenarnya aku tidak peduli. Aku hanya ingin informasi tentang Disya, dengan cepat, dan sekarang.
Lalu ia mulai bercerita. Benar, dia bercerita. Alih-alih memberitahu alamat, keparat itu malah bercerita. Aku bersabar menunggunya berlontar dengan suara lemah itu.
“Disya adalah seorang gundik, kemudian jadi pelacur, gundik lagi. Lalu merambat menjadi penipu. Dia tidur dengan kepala menteri keuangan dan lama menjadi gundik tua bangka itu. Koneksinya luas, dia juga tidur bersama beberapa pria dan begitu terus. Dia sangat laris, semua laki-laki menyukainya. Dari HRD terkenal di perusahaan ritel di pulau Flores. Beritanya sangat heboh karena pria itu memiliki dua istri siri dan satu istri sah, di tambah Disya. Lalu dia juga menggoda komisaris perusahaan I-Tech dan berhasil masuk ke istana megah sebelum kemudian di depak secara tidak terhormat” aku mendengar suaranya sengau, tapi Adew tidak menangis.
“Tiga tahun yang lalu, dia tiba-tiba sakit keras. Aku tidak tahu jenis penyakitnya, kupikir dia terserang virus yang sama denganku sekarang. Tapi setelah aku mencari tahu dengan bertanya pada dokter yang menanganinya, ternyata dia mengidap sakit jantung kronis dan meninggal secara mendadak di rumahnya seorang diri. Dia berada di Jakarta, di dalam apartemen mewah sambil mengintai seseorang”
Ada jeda, kupikir Adew menangis seperti aku. Aku tergugu tak sanggup. Sungguh, hatiku sakit sekali.
“Aku menemukan ratusan fotomu dalam apartemen, dia memotretmu, mengikutimu. Kameranya ada, sebentar” tubuh ringkih itu bangkit susah payah untuk mengambil sebuah kamera dengan lensa besar. Lalu papper bag berisi fotoku tiap tahun. Ya, ada keterangan tahun dan tanggal di tiap lembar
Aku tidak tahu harus mereaksi dengan apa segala informasi dan kamera serta foto, satu hal yang pasti, aku benar-benar ingin mati.
Sepuluh tahun kutanggung kerinduan. Keputusasaan atas pencarian yang tak berujung. Kenapa dia melakukan itu? Kenapa tidak mendatangiku alih-alih mengambil foto. Untuk apa? Sudah kubilang, apapun yang dia lakukan untuk mendapatkan uang. Apapun pekerjaannya, aku mencintainya melintas dari siapa dirinya. Aku bersumpah akan menanggung hidupnya yang berarti dia akan berhenti hidup dalam lembah mengerikan itu.
Aku Lantas sambil tersedu-sedu, aku bertanya letak pemakamannya, Adew memberitahu dan aku lekas pergi mendatanginya.
Bukankah ini lelucon? 10 tahun yang berakhir di pemakaman. Bukannya ini adalah bagian paling epik dalam hidupku? Satu dekade kuhabiskan seperti cangkang kosong—menanti, mencari, berharap. Semua melebur bersama tanah kering dengan nisan seadanya. Kubelai kepalanya dalam hening pada nisan. Masih kuingat tawa lepas dan caranya tersenyum, lesung pipinya yang menggemaskan dan cara matanya terpejam. Aku merekamnya di kepalaku masih sangat jelas.
Aku membaca suratnya yang ditulis tangan dengan pena hitam di atas kertas polio bersama fotoku yang berserakan. Dadaku seperti diremas-remas. Kesakitanku tak berarti dan aku merasa gagal.
Untuk kamu, penyelamatku si pria tampan.
Untukmu,
Aku tidak tahu apakah namaku masih hidup di ingatanmu,
atau telah kau kuburkan seperti musim panas yang lewat tanpa bekas.
Aku tahu kau pernah menoleh ke belakang,
Sekaligus berjalan lurus tanpa sisa.
Yang kurasa
aku tidak pernah benar-benar pergi.
Tujuh tahun adalah jarak yang panjang
untuk menyimpan satu nama
tanpa berani mengucapkannya keras-keras.
Aku mencintaimu.
Kalimat itu sederhana,
namun di tubuhku ia menjelma beban yang tak sanggup kupanggul di hadapanmu.
Kau pernah memandangku seolah aku utuh—
seolah aku perempuan yang layak digenggam di siang hari, di musim panas
bukan hanya disembunyikan oleh malam.
Dan justru karena itulah aku mundur.
Ada jejak pada tubuhku
yang tak sanggup berdiri di samping lelaki sepertimu.
Ada bekas-bekas yang tak bisa kucuci dengan doa mana pun.
Aku terbiasa menjadi ruang yang disinggahi,
bukan rumah yang dibanggakan.
Kau adalah cahaya yang lurus.
Aku terlalu lama hidup sebagai redup.
Selama tujuh tahun ini
aku belajar mencintaimu tanpa menyentuh hidupmu.
Belajar menyebut namamu dalam hati
lalu menelannya kembali sebelum menjadi harapan.
Tidak, perasaanku tidak ia, itu karena ia tumbuh terlalu besar
dan aku takut kau melihatnya.
Jika semesta memberi kita kesempatan lain,
mungkin aku akan tetap melakukan hal yang sama:
mencintaimu dari jarak yang aman,
menjagamu dari kemungkinan bernama diriku sendiri.
Jangan cari aku.
Karena aku tak pernah merasa pantas untuk kembali.
Namun satu hal yang harus kau tahu—
meski dunia tak pernah menyaksikannya,
meski kau tak pernah menyadarinya,
ada seorang perempuan
yang selama tujuh tahun
membawa namamu seperti doa yang tak berani ia aminkan.
— Aku.
Tidak, Disya. Bukan seperti ini akhir yang kuinginkan. Bukan, bukan kematian.. Kumohon bangunlah dan peluk erat tubuh lelahku. Lepas belenggu yang menyesaki dadaku, aku begitu putus asa hingga tidak tahu harus kemana. Bahkan setelah sepuluh tahun lamanya, kenapa tuhan malah membawaku ke pusara alih-alih wajah cerahmu yang penuh semangat dan gairah? Lantas, harus kuapakan lagi rasa dalam dadaku? Kemana lagi harapan kutumpu? Aku tidak hilang akal, tapi aku mati. Lebih mati dari hari kemarin, lebih parah. Mungkin setelah ini, aku baru akan mati sungguhan.
Aku mulai membenci semua hal. Tidak, sebenarnya aku sudah membenci semua hal sejak Disya pergi. Namun hari ini, rasa benciku pada semesta bertambah berkali-kali lipat.
“Ceramah aja sih, tema nya ‘bujangan 35+ jomblo akut di mata agama’ gua pernah baca jurnal kalau laki-laki dewasa usia 35+ jomblo, itu artinya dia bakal meninggal di usia 36 karena komplikasi yang di sebabkan kesepian akut”
Ocehan Yohan tidak di gubris. Sopian memepet pada Summer, ikut membuka kotak nasi dan di benarkan penutupnya.
“Neng Summer, abis solat tarawih, nanti kita dudukan di teras ya? Saya beli cemilan dan ada film baru Jepang temanya misteri thirller”
Suara klakson bersahut-sahutan memekakkan telinga. Aroma debu jalan, asap kendaraan, bercampur aduk dengan segala bau tubuh manusia menyesaki pernapasan. Segala aroma yang tetap gagal membuat resisten itu–setidaknya berkurang saat kaki menapaki tanah untuk berganti transportasi. Meski jika ia menghirup napas dalam setelah di luar, tidak ada yang berubah, kecuali bau ketiak bertabrakan dengan parfum menyengat di hari penat dan panas.
Arloji menunjuk angka lima lewat seperempat. Namun tidak ada yang berubah. Maksudnya, cuaca masih saja gerah meski matahari tidak lagi menyengat.
Rambutnya lepek, matanya kuyu dengan kantong mata besar—disempurnakan lingkar hitam di bawa kelopak. Ia berjalan gontai menuju stasiun setelah turun dari angkutan umum lain. Kemejanya kusut, dasinya kendur lepas ditarik paksa sementara sol sepatunya tetap terlihat mengkilap. Tas jinjing di dekap erat–di depan pintu kereta. Tubuhnya memaku disana. Pandangannya kosong kontras dengan laju berkecepatan tinggi yang perlahan mengendur.
Saat pemberhentian, ia melangkah masuk–duduk di antara kerumunan yang kembali berdesakan. Semua berjalan wajar, normal dan seperti biasa.
Joni menunduk. Matanya lurus pada pantofel mengkilap—berjajar dengan sepatu-sepatu dari penumpang lain yang turut duduk di sebelahnya. Saat ia mendongak–mengangkat wajah, matanya menangkap satu penumpang wanita berusia sekitar 30 tahunan—yang berdiri sementara tangannya memegang hangrip. Sadar sedang di tatap, wanita itu ikut menurunkan pandangan.
Mata mereka terpaut agak lama. Setelah itu, Joni menunduk lagi.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Hm–hm
I used to float, now I just fall down
I used to know but I’m not sure now
What I was made for
What was I made for?
Takin’ a drive, I was an ideal
Looked so alive, turns out, I’m not real
Just something you paid for
What was I made for?
Hm–hm….
Suara merdu bersenandung lirih.
Ruang itu pengap tanpa sirkulasi udara yang layak. Berukuran empat meter persegi yang diisi brankar besi dan kasur keras. Di sebelah kanan ada nakas yang atasnya bejubal begitu banyak alat dan cairan. Tiang infus berdiri ramping tepat di muka nakas. Sisanya, masih diisi sofa dekil dan satu meja kecil.
Dinding-dinding berjamur. Tempat yang mestinya di bersihkan dan di cat ulang, lalu di letakkan lukisan atau sekedar foto. Namun mustahil terjadi pada ruang itu. Ruang sesak. Dinding dijadikan tempat penyimpanan segala jenis senjata tajam dari berbagai ukuran, jenis, dan bentuk. Begitu bervariasi. Di sudut yang lain, cipratan darah naik tinggi, mengotori tembok yang sudah kotor. Ada yang mengering—tetesannya berhenti tak sampai bawah, ada yang baru—segar. Khas, anyir.
Kadang terdengar suara pisau di asah, kadang suara pisau merencah. Sesekali gergaji memisahkan apa yang ingin dipisahkan.
Tapi malam ini tidak. Kecuali suara senandung merdu. Atau kipas yang begerak konstan. Kadang menimbulkan suara gresek–entah apa, entah bagian mana yang serat. Kendati, masih mampu memberikan kesejukan pada ruang itu.
Keringat menetes di seka. Sebentar-sebentar wajahnya ikut merah oleh darah yang menempel pada sarung tangan lateks. Mulutnya sibuk sesibuk tangan lihai.
Malam ini, tidak ada pisau besar, ia sibuk menguliti.
Bilahnya tidak pernah benar-benar menusuk—merusak daging. Ia meluncur di permukaan, mencari celah yang sebenarnya begitu rumit. Manusia tidak di desain seperti kambing yang memiliki celah untuk dikuliti.
Garis samar antara luar dan dalam. Setiap sentimeter dilewati dengan kehati-hatian, penuh ketelitian dan mata yang jeli. Sedikit saja melenceng, semuanya akan rusak. Kulit mulai mengalah oleh lihai tangan dan pisau.
Ada jeda di setiap tarikan. Ada senyum pada tiap pengelupasan sempurna. Gerakan berhenti sebelum menjadi kasar. Yang terlepas adalah lapisan utuh—terangkat perlahan, seperti orang melepas jaket.
Sudah tak ada lagi darah yang menjadi pusat perhatian. Hanya tersisa proses sunyi: pemisahan, pelepasan, dan keheningan setelahnya. Ketika selesai, yang didapat bukan hanya tubuh yang terbuka, tetapi rasa puas atas kemampuan–teliti serta tangan lihai, bahwa semua penutup, pada akhirnya, memang bisa dilepas—asal tahu di mana batasnya.
Pukul 3 pagi. Waktunya istirahat.
Terbujur tubuh tanpa kulit. Sempurna.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Ini adalah akhir pekan. Joni akan memasak sup lezat dan rencananya akan ia bagi-bagikan pada siapa saja nanti. Meski rencana seperti itu sudah dipikirkan seribu kali, namun saat sup matang, ia tidak pernah benar-benar membagikan. Itu hanya ada dalam kepalanya; bertetangga dan hidup bersosialisasi.
“Jon? Lagi ngapain?” wajah ayu itu menyembul dari balik pintu dapur yang tidak di kunci. Aroma sup daging menguar menyesaki paru-paru, masih kalah oleh pecahan cologne yang menyebar di kulit. Dia adalah Kaca. Ya, namanya Kaca. Seorang gadis penyandang tuna netra setelah kedua bola matanya meleleh akibat sundutan puntung rokok oleh ayah tirinya berulang-ulang saat ia sekolah dasar.
Usianya sama dengan Joni; 27. Mereka adalah teman sejak kecil, mungkin. Selama ini mereka selalu bersama-sama meski Joni adalah pendiam yang kelewatan.
Kaca hidup bersama bibinya 8 tahun terakhir setelah ayah tirinya menghilang dan hingga hari ini tidak pernah di temukan. Sementara ibunya pergi bersama pria antah berantah dan tidak pernah pulang.
Gadis jelita pemilik tubuh wangi dan suara indah itu bekerja sebagai pengisi suara. Uangnya lebih dari cukup untuk hidup berdua. Sementara Joni adalah karyawan kantoran biasa sebagai staff administrasi. Keduanya masih sering duduk bersama, sekedar makan bersama, menjilat es krim atau berceloteh menceritakan kegiatan. Mereka seperti itu sejak kecil. Tidak ada yang berubah. Meski Joni paling banyak hanya jadi pendengar, pria itu sangat pendiam dan biasa mereaksi ocehan Kaca dengan kalimat seadanya, namun pertemanan keduanya bertahan lama. Ya, asal jangan ungkapkan perasaan.
Benar, tidak ada yang berubah.
Sementara Joni sudah kehilangan dua orang tuanya sejak SMP. Ayahnya yang juga seorang karyawan kantoran — suatu hari tiba-tiba di tangkap polisi atas kasus pembunuhan berantai. Ibunya meninggal karena syok atas kenyataan itu. Pasalnya, sang ayah adalah figur ideal untuk keluarga. Mencintai ibunya, mencintainya. Namun sesuatu terjadi bagai bayangan di belakang. Pun tak diberi celah untuk sekedar mengira—mustahil. Pria itu sangat baik dan nyaris sempurna.
Orang-orang mengatakan, ayahnya adalah seorang pembunuh yang… tidak yakin, maksudnya, Joni tidak berani mengingat. Karena itu mengerikan. Ia membunuh banyak sekali orang-orang.. Mungkin random? Polisi tidak menemukan motif pembunuhan jelas — justru cenderung acak meski bukan impulsif juga. Saat ditanya penyidik, ayah Joni hanya mengatakan; “aku membunuh mereka yang ingin mati dan pantas mati. Hukum di negara ini tidak akan bisa melakukannya”
Mutilasi, menguliti, kanibalisme.
Tidak ada yang mengira. Berita itu sangat heboh pada masanya.
Joni tinggal sendirian sejak itu. Ya, sejak semuanya menghilang dan hingga hari ini, Joni tidak tau apakah ayahnya mati di lapas, atau keluar lalu pergi entah kemana.
Namun satu hal yang hingga hari ini, Joni tidak pernah serius mencari tahu meski hal ini amat krusial; kiriman uang yang dikirim orang antah berantah ke rumahnya secara tunai. Ya, sejak dulu, sejak semuanya pergi. Joni masih bisa bersekolah dan mendapat pendidikan hingga jenjang tinggi tanpa kekurangan suatu apapun tidak lain adalah kiriman uang yang terus-menerus. Tidak pernah absen justru semakin bertambah nominalnya.
Tidak ada yang spesial. Mungkin karena terbiasa.
Terkadang dari kurir misterius, terkadang hanya amplop tebal yang tiba-tiba ada dalam kamarnya. Namun hingga sebesar ini, Joni tidak pernah benar-benar tau siapa yang mengirimkan uang. Atau tidak peduli? Meski ia memiliki kandidat kuat dan satu-satunya namun ia memilih untuk tidak peduli, sama sekali. Kendati, ia memakai uang itu untuk keperluan hidup hingga bisa menghidupi diri sendiri dari hasil gaji.
Dan uang itu tetap dikirim.
Hanya orang gila yang protes saat dikirimi uang. Toh, selama ini tidak pernah ada apapun yang membuatnya harus mencari tahu atau mendapati keluhan dari siapapun atas uang itu. Joni memilih tidak peduli.
Tidak, pada siapapun. Hidupnya sudah sulit karena kasus ayah dan kematian ibunya. Hingga dewasa ini, Joni nyaris tak memiliki teman meski sudah tak lagi mendapat sanksi sosial atas hal-hal yang tidak pernah ia kerjakan.
“Aku memasak sup, Kaca. awas ada ember di depanmu” Joni memperingatkan.
“Ya, ya. Kenapa ada ember di jalan?”
“Aku berencana mencuci”
“Sepagi ini? Jam berapa sekarang?” tongkat putih mengarah ke sana ke mari sebelum akhirnya ia merebahkan bokong di kursi makan. Sudah hafal.
“Jam 8” lantas pria itu menyingkirkan ember ke sisi yang lain.
“Aku belum sarapan, Jon”
“Aku tau”
Kaca tertawa. Ia duduk tegak menumpuk tangan di atas meja. Aroma sup begitu menggugah selera. Perpaduan daun bawang dan kuah kaldu pecah sempurna, membuat lapar. Joni pintar sekali memasak.
“Joni”
“Hm”
“Hari ini hari valentine”
Jeda. lalu di susul hening sesaat, pria itu tak menjawab.
“Joni, kamu masih disana?”
“Ya”
“Kamu bahkan tidak menjawab” suara derit kursi, Kaca bangkit. Tongkatnya kembali di arahkan ke depan “aku ingin membantu”
“Sudah selesai. Kembalilah duduk, aku akan memberimu makan” Joni menolak. Pria itu memegang ujung tongkat saat benda itu menusuk betisnya pelan.
“Hari ini hari valentine” ulang Kaca. Senyumnya naik.
“Aku tidak peduli” Joni menjawab seadanya. Tangannya bergerak membuka kabinet untuk mengambil mangkuk.
“Tapi aku peduli” Kaca kembali mengarahkan tongkatnya. Ia berdiri persis di belakang Joni. Pria itu tak menggubris. Lantas, si gadis mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong dress. Sebuah kotak sederhana berbentuk mirip kotak harta karun mini “nah, ambilah. Ini hadiah dariku. Sebagai gantinya, tolong beri aku makan” Kaca menyodorkan sembarangan. Kotak itu berada di sisi kiri Joni. Si pria menahan senyum. Tersipu-sipu dengan pipi merah.
“Terima kasih” jawaban singkat untuk mereaksi kotak “sekarang kembalilah duduk. Aku akan memberimu makan”
“Ya ya ya” gadis itu kembali merambat–jalan dan bunyi derit kursi kembali terdengar. Joni masih mengisi mangkuk dengan sup. Matanya sesekali melirik pada kotan lucu berwarna emas. Tidak tahu apa isinya, namun melihatnya saja membuat gemas.
Bunyi kelotak mangkuk beradu dengan meja kayu. Joni memegangkan sendok pada si gadis, lalu memberitahu jika di sebelah kanan, ia melatakkan air mineral. Setelah itu, Joni mulai menyuap—meski matanya lurus pada sang jelita yang mulai meraba.
“Kamu belum membuka kotaknya?”
“Hm”
“Kenapa?”
“Aku aku sedang makan”
Kaca mendengus, ia menyendok, lalu meniup sup panas “kau terlihat datar bahkan saat menerima hadiah”
“Darimana kamu tau datar? Apa kamu mengintip?”
“Mengintip bokongmu” Kaca mengepalkan tinju yang di arahkan sembarangan sementara Joni menahan tawa “aku bahkan tidak lupa caramu tertawa, caramu merajuk pada ibumu dulu. Kau menggemaskan, Joni”
“Hm”
“Kau juga sangat gentleman. Ibumu adalah orang tua yang keren”
“Berhenti mengoceh dan makan. Kamu bercerita seakan lebih tua dariku” lalu Kaca tertawa.
“Aku menganggur hari ini. Rencananya, aku akan mengajakmu membuat audio stroytelling. Jika kamu tidak keberatan” suapan kelima, sup sangat lezat.
“Aku harus mencuci”
“Ya, mencuci. Itu krusial”
“Hm”
“Ya”
Joni menatapnya, wajah itu agak kecewa. Namun berdua dalam waktu lama bersama Kaca bukanlah hal baik. Joni tidak tahu sampai mana perasaannya bisa meledak–maksudnya, ia sungguh menyukai gadis itu. Dan menjaga jarak batasan adalah hal paling aman. Menurut Joni, interaksi hubungan ini harus dibatasi sehingga tidak terjadi kemelekatan atau kerenggangan.
“Seseorang akan datang ke rumahku. Tadinya, aku ingin mengajakmu sebagai alasan agar seseorang itu tidak datang. Dia sudah mengajakku ratusan kali dan aku selalu menolaknya”
“Siapa?”
“Namanya Felix. Dia begitu gigih ingin menjadi pengisi suara storytelling dalam chanel ku. Aku butuh suara laki-laki. Tapi aku menolak karena tidak nyaman. Sungguh, aku belum memiliki studio untuk pekerjaan yang ini. Jadi, semua kulakukan dalam kamar. Aku tidak bisa membayangkan memasukkan pria dalam kamar”
“Kamu akan memasukkanku. Aku juga laki-laki” Joni mendecih “kamu juga memberitahunya jika butuh pengisi suara laki-laki, kenapa menolak saat dia mendaftarkan diri?”
“Aku tidak memberitahu siapapun. Kecuali temanku yang juga temannya” Kaca menghela napas” aku mengajakmu karena kamu berbeda. Aku nyaman denganmu”
Joni menggaruk telinga yang tidak gatal. Lagi-lagi menahan malu dan salah tingkah.
“Tapi jika kamu tetap tidak bisa, kupikir aku akan mengangkut seluruh kebutuhan chanel ku ke ruang tamu dan aku akan menerima Felix”
“Ya, itu ide bagus”
Kaca menghela napas. Sup sudah habis “aku akan mencuci piring. Kali ini jangan melarangku”
“Aku tidak akan melarang, tapi jika mangkuk ku pecah, aku tidak akan memaafkanmu”
Kaca memasang wajah sebal.
Kaca benar-benar menerima Felix.
Mereka merealisasi rencana di ruang tamu dan Joni melihatnya sendiri saat lewat. Hanya sekilas. Pria itu mengabaikan.
Tidak ada cara tertawa. Mungkin. Kata-kata Kaca berputar sekilas tepat saat bus berhenti di depannya. Yang tersisa kini hanya mata kuyu, rambut yang jarang sekali diperhatikan cenderung panjang hingga sesekali menutupi mata dan telinga. Mungkin saja jika Kaca mampu melihat, ia akan cepat menerima Felix ketimbang lebih dulu menawarinya.
Pun, ia lupa bagaimana caranya tertawa di luar kecuali hanya salah tingkah yang menjijikan di depan Kaca. ia tidak ingat kapan dunia mampu membuatnya tersenyum atau apakah masih ada hari-hari terang di daratan ini?
Joni tidak mengerti dengan dirinya sendiri, tidak mengerti dengan sistem kehidupan, juga pada seluruh umat manusia.
Atau, kenapa ia masih berkutat pada kehampaan? Sementara satu gadis buta yang telah kehilangan dunia dari pandangannya, masih saja mampu berbicara dan berani hidup normal. Apakah hanya diri sendiri saja yang tidak normal? Terpaku pada masa lalu yang tidak pernah benar-benar bisa enyah dari kepalanya.
Ia duduk di kursi bus. Seorang ibu-ibu memangku balita berusia 2 tahun, terlihat kepayahan di sampingnya. Begitu banyak yang dibawa. Di perparah, si bocah yang terus menangis.
Joni tidak lagi memperhatikan.
Hingga agak lama ketika si anak mulai tenang. Mulutnya penuh tersumpal dot susu dan si ibu mulai membuka ponsel.
“Selamat pagi menjelang siang. Kita mulai berita hari ini dengan peristiwa kriminal yang kembali mengguncang kota” Joni turut mendengar saat si ibu membuka berita pada ponsel, menyimak dalam diam dengan mata lurus pada pemandangan kota yang itu-itu saja.
“Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan pada dini hari tadi. Jenazah korban ditemukan di dalam sebuah koper yang dibuang di area pinggir kota.”
“Pihak kepolisian menyatakan bahwa korban mengalami tindakan kekerasan ekstrem. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, tubuh korban ditemukan tanpa lapisan kulit, mengindikasikan adanya pola kejahatan yang terencana dan tidak dilakukan secara spontan.”
“Hingga saat ini, identitas korban masih dalam proses verifikasi. Polisi juga belum mengungkap motif pelaku, namun tidak menutup kemungkinan kasus ini berkaitan dengan rangkaian pembunuhan sebelumnya yang memiliki ciri serupa.”
“Warga diminta untuk tetap waspada, terutama perempuan yang bepergian sendiri. Kepolisian menyatakan penyelidikan tengah difokuskan pada kemungkinan adanya pelaku berantai.”
Belum berakhir. Namun si ibu sudah lebih dulu mematikan ponsel saat anaknya bergerak tidak nyaman. Susunya belum habis, namun sepertinya anak itu memang sedang dalam kondisi tidak bagus.
“Sudah tiga korban dengan yang terakhir. Sebenarnya, ini negara apa? Kenapa pembunuh keji seperti ini belum tertangkap?” si ibu berbicara sendiri. Kembali ia angkat anaknya, lalu bersuara—khas menenangkan bayi. Joni sempat melirik karena ia pikir, ibu itu berbicara padanya. Tapi tidak.
Bus berhenti di terminal, Joni turun dan tidak ada satupun penumpang yang turun di pemberhentian itu. Langkahnya cepat-cepat menuju satu toko langganannya.
Matahari mulai terik. Pria itu berlari kecil hingga jejaknya sampai pada toko besi tua,
Toko itu sudah ia temukan 3 tahun terakhir. Toko yang menjual berbagai senjata tradisional seperti parang, kapak berbagai ukuran, pedang, pisau-pisau dengan banyak varian serta keris. Segala rupa alat tajam ada dalam toko sepi ini. Berikut dengan pembersih pisau yang hanya bisa didapatkan dengan sistem impor. Pemiliknya adalah kakek-kakek tua berusia akhir 70. Jalannya sudah membungkuk, kantong matanya besar sekali dan seluruh rambutnya memutih. Namun daya ingatnya lumayan. Kakek itu mengenali Joni yang sudah bolak-balik ke sana.
“Joni” kata si kakek. Pria itu awalnya sibuk membaca buku. Kacamatanya melorot–sesuai dengan pola membacanya yang menunduk. Melihat Joni datang, reaksinya bagai melihat cucu dari jauh berkunjung “ini valentine, kupikir kamu akan berkencan dengan seorang gadis alih-alih mendatangi kakek tua” pria tua itu terbahak sekilas.
“Aku mencari kapak” Joni celingukan. Sebenarnya, yang di pajang di permukaan hanya yang normal-normal saja. Sementara alat-alat unik tersimpan di dalam. Hanya orang-orang yang ‘sesuai mood’ si kakek yang di perlihatkan bagian rahasia. Termasuk Joni. Ia mendapat hak istimewa setelah kunjungan berkali-kali hingga mereka akrab.
“Kapak? Ini semua kapak” si kakek menunjuk dinding. Ya, dinding itu dipadati kapak yang di tempel. Gergaji dan banyak lainnya.
“Aku ingin kapak jagal. Yang bilahnya sangat tebal dan berat, dibuat khusus untuk tulang besar. Sekali ayun, semua final” Joni mengatakannya dengan tangan mempergakan orang mengapak. Mulutnya bahkan ikut bersuara meniru cara kapak bekerja.
“Kali ini apa? Kemarin kamu mencari gergaji. Sekarang tulang jenis apa?”
“Sapi” Joni berdehem, lalu menarik napas “aku suka sekali sum-sum tulang. Dan kupikir, seseorang yang memberiku hadiah valentine juga menyukainya” ungkapan yang terkahir terdengar seperti bisikan. Hebatnya, si kakek mendengar. Pria tua itu lantas terkekeh campur batuk. Di seret kakinya dengan isyarat agar Joni mengikuti langkahnya ke dalam.
Lagi, Joni melewati begitu banyak senjata keren, unik dan gagah. Pedang-pedang bergelantung, pisau-pisau cantik. Jika tabungannya cukup, Joni berencana membeli semua itu. Ia begitu menyukai hal-hal yang berbau ‘tajam dan perang’ dan hanya-hanya hal sejenis itu yang membuat perasaannya menghangat–selain Kaca.
Senyumnya naik meski tetap gagal memperlihatkan deret gigi. Hingga sang kakek membuka lemari besar berisi koleksi kapak yang begitu memesona.
“Harganya 5 juta” si kakek mengacungkan kapak. Joni langsung terkesiap.
“Kenapa mahal sekali? Tidak bisa kurang?”
“10 juta”
“Ehey.. ayolah..”
Dan si kakek kembali memasukkan kapak dalam lemari setelah mendengar Joni menawar. Joni lantas memegang tangan si kakek “bercanda saja, hehe” ia tersenyum tak sampai mata. Si kakek kembali mengeluarkan kapak dan kesepakatan dimulai.
Hari sudah gelap saat Joni sampai dalam gang menuju rumah. Hari ini ia mampir di banyak tempat hanya untuk melepas penat, dan tangannya menyeret kapak yang di balut kresek hitam. Tubuhnya lelah, ia bersenandung sepanjang jalan.
Hm–hm
I used to float, now I just fall down
I used to know but I’m not sure now
What I was made for
What was I made for?
Takin’ a drive, I was an ideal
Looked so alive, turns out, I’m not real
Just something you paid for
What was I made for?
Hm–hm….
Lalu saat ia sampai di depan rumah Kaca, pintunya terkunci. Namun aktivitas bibinya terlihat dari jendela kaca dengan gorden yang belum tertutup. Joni berdiri agak lama disana. Hanya memperhatikan dengan wajah datar dan tatapan sayu.
Hm–hm
I used to float, now I just fall down
I used to know but I’m not sure now
What I was made for
What was I made for?
Lalu ia kembali melangkah. Kresek yang membalut kapak bergesekan dengan tanah, sesekali menyandung batu. Tidak meninggalkan jejak. Pria itu berlalu sambil bersenandung.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Televisi menyala di ruang makan sejak tadi. Suaranya bercampur dengan bunyi sendok yang menyentuh piring dan desis pemanggang roti. Joni berdiri setengah mengantuk, kemeja kerjanya belum dikancing penuh, matanya sesekali melirik layar sambil menyeruput kopi.
Seorang pembawa berita perempuan muncul di layar. Rambutnya rapi, senyumnya tipis dan Joni lumayan akrab dengan suara itu meski ia sendiri jarang mendengarkan berita. Karena sibuk dengan banyak hal lain yang lebih krusial atau mencari kesenangan tak seberapa. Tidak, ia tidak memperhatikan banyak hal. Pun, kotak yang diberikan Kaca belum dibuka. Joni hanya bingung harus bereaksi apa saat tau isinya.
“Selamat pagi. Kita mulai berita hari ini dengan perkembangan terbaru dari kasus pembunuhan yang menggegerkan warga.”
“Seorang ibu muda dilaporkan meninggal dunia dalam kondisi tidak utuh. Berdasarkan keterangan pihak kepolisian, korban diduga menjadi korban pembunuhan dengan metode mutilasi.”
“Bagian-bagian tubuh korban ditemukan di beberapa lokasi berbeda, baik di dalam kota maupun di area pinggiran. Aparat masih terus melakukan pencarian lanjutan serta mengamankan lokasi-lokasi terkait.”
Joni berhenti mengunyah sebentar. Tangannya yang memegang roti menggantung sebentar di udara. Mata sayunya memicing.
Layar televisi berganti, menampilkan gambar jalan sempit yang dipasangi garis polisi, lalu potongan visual beberapa titik penemuan yang disamarkan.
“Fakta lain yang membuat kasus ini semakin memilukan, korban diketahui meninggalkan seorang anak balita berusia dua tahun.”
“Anak tersebut ditemukan dalam keadaan hidup, seorang diri, di dalam kontrakan tempat mereka tinggal. Diduga, anak itu telah ditinggalkan tanpa pendampingan selama lebih 8 jam.”
“Saat ini, anak korban berada dalam perlindungan pihak berwenang dan akan mendapatkan penanganan khusus. Pihak kepolisian belum mengungkap identitas pelaku dan masih mendalami motif pembunuhan. Warga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di lingkungan tempat tinggal masing-masing.”
Berita berlanjut ke topik lain—lalu lintas pagi, cuaca, harga bahan pokok.
Joni mematikan televisi. Tatapannya datar pada layar gelap. Ruang makan kembali sunyi sebelum ia benar-benar kembali mengunyah.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Gerimis malam itu mengiring saat Joni memasuki gang. Tubuh lelah, mata mengantuk serta kepala yang pening sepulang kerja—gagal membuatnya menghindar dari cercaan air yang menghujam dari atas. Jaket kulitnya menahan air–jatuh bersama tetesan kecil. Hanya langkah di perbesar.
Saat ia mendongak tepat di depan teras rumah, matanya bertemu dengan tongkat putih, rok sebetis yang menggantung serta rebah bokong nyaman tepat di samping pintu–sofa lama yang nyaris tak pernah ia duduki.
Kaca duduk di sana. Tangannya memegang stik es krim, pandangannya lurus. Joni belum melangkah mendekat, namun gadis itu sudah celingukan–menyadari eksistensi lain.
“Joni?” kepalanya celingukan ke sana ke mari. Lantas gadis itu bangkit sambil memegang tongkat.
“Ya, aku pulang. Kenapa duduk sendirian di sini malam-malam?” Joni mendekat. Lantas memegang tangan si gadis. Kaca hanya tersenyum. “Mau minta makan lagi?” gadis itu tertawa.
“Aku mau ngobrol. Bibi lagi berantem sama pacarnya di rumah, kepala aku pusing kalau bertahan di kamar. Makannya aku ke sini” dan Joni membawanya masuk.
Benar, tidak pernah ada lagi yang masuk dalam rumahnya setelah bertahun-tahun kecuali Kaca. Pun gadis itu tak dapat melihat apapun yang ada dalam rumah itu.
Si gadis duduk di kursi makan seperti biasa sementara Joni meletakkan tas sembarangan lalu menyambar pendingin dan meneguk air rakus. Kaca dapat mendengar air melewati tenggorokan pria itu.
“Kamu dengar berita nggak? Pembunuh berantai?” setelah bertanya, Kaca berdehem “maaf, bukan bermaksud. Tapi aku khawatir sama kamu” Kaca menghela napas. Joni tidak menjawab, pria itu menyalakan kompor setelah mengambil ayam marinasi dalam pendingin.
“Khawatir apa? Kamu khawatir bagian yang mana?” suara minyak panas terdengar membesar ketika ayam masuk, melebihi suara gerimisi yang menghantam jendela dapur. Angin kencang membuat gorden tipis itu basah.
“Entah, aku cuma khawatir kamu terluka. Entah perasaan atau fisik. Tolong jangan terluka, Joni. Kamu temanku satu-satunya”
Joni tidak menjawab. Pria itu hanya menatap ayam dalam minyak panas.
“Joni”
“Hm”
“Marah?”
“Marah kenapa? Aku sedang menggoreng ayam, setelah ini kita makan malam dan kamu pulang”
“Boleh aku nginep?”
“Berhenti mengatakan omong kosong”
Kaca tertawa “aku serius. Kalau pacar bibi nginep dalam kondisi abis berantem, mereka biasanya akan bercinta dan suaranya berisik sekali. Aku tidak bisa tidur juga”
Joni diam lagi.
“Rumah kamu ada tiga kamar kan?” gadis itu serius dengan ucapannya “Joni sebenarnya” Kaca berdehem, Joni dapat mendengar gadis itu menarik napas kelewat dalam “sebenarnya, pacar bibi pernah masuk ke kamar aku. Kadang…” Kaca tidak melanjutkan kata-kata. Namun gadis itu meremang—resah dan tidak nyaman, lalu menunduk. Joni yang awalnya fokus pada ayam, langsung melirik. Ia melihat Kaca terisak pelan. Sapu tangan merah muda menutupi wajahnya.
Joni mengangkat ayam lalu meniriskan sebelum mendekat pada Kaca, lantas memeluk gadis itu dari belakang.
Tidak tahu, ini pertama kalinya seumur hidup.
Tubuh Kaca bergetar dan Joni tidak mengatakan apapun, hanya dekapan dari belakang, itu pun tangan yang melingkar pada leher si gadis—berharap dapat mengurai sedikit saja rasa sakit atau sialan apapun pada sang jelita.
Sebentar, lalu pria itu menyiapkan makan malam. Setelah tangis itu, tidak ada lagi obrolan. Keduanya makan dengan khidmat. Joni memperhatikan Kaca menyuap.
“Kamu boleh nginep” kata pertama kali setelah keheningan panjang yang membuat Kaca malu setengah mati. Ia tahu Joni memang pendiam, namun tidak mendapat respons apapun setelah menangis—membuatnya agak malu.
“Tidur di kamarku, biar aku tidur di sofa. Rumah ini hanya punya satu kamar. Kamar yang lain jadi gudang” Kaca tidak menjawab, namun mengangguk. Gadis itu mengangkat piring setelah makanannya kosong dan Joni melarang, pria itu malah meminta si gadis itu pergi ke kamar sementara ia akan mandi.
Tidak, Joni hanya sedang memikirkan bentuk mata Kaca setelah usianya 27 tahun sekarang. Setelah meleleh dan setelah matanya tak lagi mampu menangkap visual dunia. Bola matanya sedikit lebih kecil dari ukuran normal dan terlihat agak cekung di rongganya. Seperti kehilangan tekanan di dalamnya.
Permukaannya tidak lagi bening, melainkan tertutup lapisan keruh berwarna putih keabu-abuan seperti kaca susu yang buram. Tidak ada pantulan cahaya yang jernih di sorot lampu. Bagian iris dan pupil sulit dibedakan karena tertutup jaringan parut dan kekeruhan. Jika masih terlihat, warna samar dan tidak tegas. Seperti bercampur kabut putih di permukaan mata.
Pupilnya tidak menunjukkan reaksi terhadap cahaya. Tatapannya tidak memiliki fokus dan cenderung mengarah lurus tanpa benar-benar menangkap apapun.
Bola matanya mengecil dan mengabur–utuh. Kosong.
Tidak ada yang bagus dari bentuk mata. Tapi anehnya, Joni senang menatap ke sana, pada kekosongan.
Kaca tertidur saat ia masuk dalam kamar itu. Joni hanya mengenakan kolor tanpa atasan. Lalu, entah ide itu muncul dari mana, saat ia ikut naik ke ranjang, hanya merebah di samping Kaca dan sekeras mungkin agar tidak membuat suara.
“Hm, tidur di sini. Di sofa tidak nyaman” Joni terkejut saat Kaca bersuara, namun pria itu tidak kabur.
“Kamu harusnya mengusirku”
“Ini rumahmu, bagaimana caranya aku mengusir pemilik rumah?” kaca membuka kelopaknya meski sama, tak ada yang terlihat. Namun berhasil membuat Joni kembali memperhatikan bentuk kosong itu.
“Bagaimana hidup dengan kekosongan itu?” tiba-tiba tangannya membelai pipi Kaca, naik sedikit, Joni mengelus kelopak.
“Menakutkan” jawab si gadis praktis “tapi tidak menyedihkan, siapa saja tidak boleh mengasihani, Joni boleh”
“Kenapa? Aku tidak kasihan padamu”
Kaca tertawa “aku tau” itu paradoks, si gadis menarik hidungnya sendiri. “Joni, aku ingin mengatakan sesuatu, dan kata-kata ini sudah kupikirkan ribuan kali, berkali-kali bahkan setiap malam” ada jeda, si gadis menahan napas “mungkin saja aku akan menyesal, tapi ini membuatku seperti akan meledak jika kutahan lebih lama lagi” Kaca merasakan napas pria itu menyapu wajahnya. Ia tahu Joni mendekat lebih “aku menyukaimu”
Hening.
Hening lebih lama.
Lebih lama dari kecanggungan di meja makan, dari detik jam yang entah sudah berputar berapa kali. Dari degup jantung yang kelewat kencang hingga terasa memalukan.
Joni lagi-lagi hanya diam. Matanya menatap lurus pada kekosongan favoritnya. Pria itu meneguk ludah, tetap tak berencana menjawab. Ia malah mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir Kaca sekilas.
Cup!
Tetap tak ada jawaban dan Kaca bernapas setelah itu. Di susul senyum kecil dari bibirnya.
“Tolong katakan sesuatu karena aku tidak bisa melihat respons mu”
“Aku harus mengatakan apa?”
“Tidak tahu, katakan apa saja, yang penting mewakili isi hatimu”
“Aku sudah menciummu, apa itu tidak mewakili?”
“Ciumanmu bahkan tidak benar. Apa tidak ada sesuatu yang bisa kamu lakukan dengan maksimal selain keahlian diam?”
Joni diam.
“Diam lagi” Kaca mendengus, ia kemudian berbalik memunggungi pria itu “bertahanlah dengan diam, kamu hanya akan melihat gadis buta menyatakan cinta dan berharap takdir memberi welas asih”
“Aku mencintaimu, Kaca. Aku bukan hanya sekedar menyukaimu” jeda, Joni mengambil napas “apa itu cukup? Aku akan meledak jika kamu menuntut sesuatu yang lain, yang melibatkan suaraku”
Kaca tertawa, ia terkekeh dengan mulut yang di tutup punggung tangan, lalu kembali berbalik–meraba Joni dan memeluk pria itu.
“Terima kasih”
Malam itu agak panjang. Joni menatap wajah di depannya hingga Kaca benar-benar terlelap. Tangannya membelai rambut halus, turun ke pipi, lalu membelai rambut lagi. Begitu terus berulang-ulang hingga gadis itu meninggalkan kesadarannya.
Ia tersenyum tersipu-sipu. Ternyata, selama ini Kaca juga menyukainya.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Hm–hm
I used to float, now I just fall down
I used to know but I’m not sure now
What I was made for
What was I made for?
Takin’ a drive, I was an ideal
Looked so alive, turns out, I’m not real
Just something you paid for
What was I made for?
Hm–hm….
“DUK!!”
“THAK!!” hantaman keras yang agak dalam, lalu suara “KRAAK!” menyusul saat tulang mulai pecah. Tubuh itu telah terbagi menjadi empat bagian. Kapak memotong perut dan membelah menjadi empat. Masing-masing berhasil masuk dalam kantong kresek sampah berwarna hitam. Yang tersisa setelah sayatan dari pisau yang baru saja di bersihkan dalam mangkuk stenlis adalah penis dan testis.
Hujan datang setelah gerimis panjang, suaranya mengalahkan senandung merdu. Tapi hujan di waktu bersenang-senang adalah terbaik. Hujan bagai menghapus jejak, hujan bagai mendukung bahwa; membunuh mereka yang ingin mati dan pantas mati.
Menguliti, memutilasi dan kanibalisme.
Kantong sampah masuk dalam bagasi mobil. Di sebar, menyebar dan berita lagi.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Kaca menggeliat, namun geraknya tidak leluasa. Saat ia membuka mata, Joni mendekapnya dengan pelukan. Cahaya matahari menembus gorden, sinarnya keemasan hampir naik. Meski tak tau jam berapa, namun Kaca buru-buru membangunkan pria itu.
“Joni! Apa kamu tidak bekerja? Kupikir ini sudah pagi” ia mengguncang, yang di bangunkan bergerak–meregangkan tubuh. Saat matanya bertemu dengan matahari yang menerobos dari lubang angin dan gorden, pria itu bangkit–kaget dan buru-buru.
“Gawat, aku bisa ketinggalan bus” pria itu melompat ke kamar mandi meski kesadarannya seperti baru saja kembali.
“Joni, bagaimana dengan mobil? Aku punya tabungan, ayo satukan tabungan kita dan beli mobil untuk berdua” suara Kaca tak lagi terdengar, pria itu menghilang “aku tau kamu selalu kelelahan, kamu tidak banyak mengeluh tapi waktumu habis di jalan. Dalam kendaraan umum dan berdesak-desakan dengan penumpang yang bau badan”
Tentu saja gadis itu mengoceh sendiri. Sambil bangkit dan meraba-raba selimut, tangannya lincah melipat, membenarkan sprei. Sebelum ia melangkah ke dapur untuk—mungkin membuat apa saja yang bisa di makan. Tongkatnya menuntun langkah, gadis itu mencari pemanggang roti.
Tidak tahu bagaimana caranya.
Namun saat Joni keluar dengan pakaian kerja, ia di suguhkan roti panggang dan segelas susu. Kaca duduk di sana dengan senyum cerah. Bibirnya tersungging dengan pipi naik cerah.
“Sarapan dulu, apa sangat terlambat?” ia mencium aroma parfum Joni yang semakin mendekat. Pria itu tak menjawab namun meraih roti dan segelas susu.
“Joni”
“Hm”
“Aku mengatakan tentang mobil. Bagaimana jika kita membeli mobil?”
“Uangku belum cukup, aku tidak mau mencicil”
“Aku punya tabungan”
“Dan aku tidak butuh tabunganmu. Aku belum terlalu membutuhkan mobil”
Kaca mendengus “pembohong” katanya pelan.
“Pulanglah. Kalau kamu menginap terus, nanti kamu menyesal”
“Menyesal kenapa? Kita pasangan sekarang”
Joni tidak menjawab. Kaca mendengar pria itu meneguk susu hangat begitu keras.
“Ayo pulang, aku akan berangkat. Kita bertemu lagi nanti. Tapi malam ini, kamu tidak bisa menginap” Joni menarik tangan si gadis untuk keluar.
“Kenapa aku tidak bisa menginap?”
“Karena aku akan pulang sangat larut. Hari ini, tugasku mirip tumpukkan kertas setinggi gunung fuji. Aku akan lembur, jadi tidur lah di rumahmu, jangan pernah menungguku di depan rumah karena kamu akan lelah”
Kaca diam saja, namun patuh saat Joni membawa tangannya keluar. Jarak antara rumah Joni dan Kaca hanya tersekat sekitar lima rumah. Rumah bibi Kaca ada di depan sementara Joni ke belakang. Untuk sampai jalan raya, mereka harus melewati gang sepi, becek dan gelap jika malam. Hanya beberapa lampu yang masih berfungsi normal. Sisanya hanya mengandalkan insting jika pulang larut malam.
Dan juga, tidak bisa masuk kendaraan roda empat ke dalam gang itu. Gang hanya cukup oleh satu sepeda motor.
“Joni”
“Ya”
“Bisakah kamu menelepon saat sedang istirahat?”
Hening.
“Tolong katakan, iya. Aku juga akan bekerja hari ini, tapi aku akan merindukanmu” gadis itu mengulum senyum malu-malu.
“Aku akan meneleponmu, sekarang masuklah. Kamu harus bersiap-siap untuk bekerja”
Dan mereka berpisah di samping rumah Kaca. Pria itu setengah berlari mengejar keterlambatan sementara Kaca masuk dengan perasaan berbunga-bunga. Bahkan, semalaman tidak pulang, bibinya tidak menelepon. Jika sudah menyangkut kekasihnya, sang bibi akan menjadi begitu dramatis serta emosional. Kendati demikian, ia masih bersyukur karena setidaknya, sang bibi tidak segila ibunya.
Dugaannya salah, sang bibi menunggunya di depan pintu.
“Kaca..” suaranya rapuh “apa kamu melihat Anton? Maksudku, apa Anton menemuimu?”
Si gadis mengerutkan dahi. Hal pertama yang keluar dari mulut bibinya saat semalaman ia tidak pulang–bukanlah pertanyaan menyangkut eksistensinya, namun pria itu.
Lalu dari kata ‘melihat’ saja sudah aneh. Dan apa katanya? Menemui? Apa selama ini bibinya tau jika pria keparat itu kerap mengtuk pintu kamarnya secara tidak sopan dan akan menerobos masuk ketika ia lengah tak mengunci? Sialan.
“Tidak tahu” jawabnya ketus, si bibi mengikuti langkah pelan dengan tongkat itu dari belakang.
“Setelah pertengkaran kita, sejak semalam ia pergi dan nomornya tidak aktif” Kaca jelas menangkap kekahwatiran dari nada bicara bibinya.
“Dan aku tidak tau kemana pacarmu pergi” jawab Kaca praktis. Ia menutup pintu kamarnya keras.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
“Pemirsa, aparat kepolisian tengah menyelidiki rangkaian pembunuhan beruntun yang terjadi dalam kurun waktu satu minggu terakhir, dengan karakter korban dan metode kejahatan yang berbeda-beda.
Kasus pertama terungkap pada awal pekan. Seorang perempuan ditemukan meninggal dunia di lokasi terpisah dari dua kasus berikutnya. Polisi menyatakan korban ditemukan dalam kondisi dikuliti, tanpa tanda-tanda perlawanan yang mencolok. Lokasi penemuan tidak berada di area ramai, dan hingga kini masih dirahasiakan demi kepentingan penyelidikan.
Beberapa hari kemudian, kasus kedua kembali ditemukan. Kali ini, korban juga seorang perempuan, ditemukan dalam kondisi termutilasi dan disimpan di dalam sebuah koper. Koper tersebut ditemukan di pinggiran kota, jauh dari pusat aktivitas warga. Polisi memastikan metode pembunuhan menunjukkan tingkat perencanaan yang tinggi.
Kasus ketiga ditemukan pada akhir pekan lalu dan menjadi perhatian khusus penyidik. Berbeda dari dua korban sebelumnya, korban ketiga adalah seorang laki-laki. Tubuh korban ditemukan terpisah menjadi empat bagian, masing-masing dibungkus menggunakan kantong plastik hitam jenis sampah dan dibuang di beberapa titik berbeda. Polisi juga mengonfirmasi bahwa organ kelamin korban tidak ditemukan di lokasi mana pun.
Hingga kini, kepolisian menyatakan belum menemukan petunjuk kuat yang mengarah pada identitas pelaku. Tidak ada saksi mata, tidak ada rekaman kamera pengawas yang relevan, dan hampir seluruh lokasi penemuan minim jejak forensik.
Penyidik mengungkap bahwa rangkaian kejahatan ini menunjukkan eskalasi kekerasan serta perubahan pola korban. Meski demikian, terdapat kemiripan metode dengan kasus pembunuhan berantai yang terjadi belasan tahun lalu—kasus yang pelakunya saat ini masih menjalani hukuman penjara.
Polisi menegaskan belum ada indikasi keterlibatan langsung dari pelaku lama, namun tidak menutup kemungkinan adanya pihak lain yang memahami pola kejahatan tersebut secara mendalam.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan segera melapor jika menemukan barang mencurigakan atau aktivitas yang tidak biasa. Sementara itu, penyelidikan masih berlangsung dan polisi belum menetapkan tersangka”
Tiga korban.
Dua perempuan, satu laki-laki.
Tiga metode berbeda—dan satu pelaku yang hingga kini tidak meninggalkan jejak.
“Aku yakin, ini anaknya si pembunuh berantai itu” gadis yang memakai kacamata bulat berkata yakin. Duduknya sambil menyilangkan kaki di meja kerjanya. Jam makan siang akan datang sepuluh menit lagi. Satu gadis yang lain di sebelahnya mengedikkan bahu tak peduli.
“Dulu sangat viral. Aku selalu di takut-takuti ibuku jika pulang terlambat” yang lain menyahut dari balik mejanya. Laki-laki berusia 38 tahun menggunakan kawat gigi dan kacamata. Di sisi kanan tersekat dua meja, Joni duduk di sana, berkutat dengan komputer. Pria itu sibuk dengan pekerjaan, kendati, telinganya tetap menangkap apa yang sedang di bahas rekan-rekannya.
“Kenapa tidak di hukum mati saja? Aneh, kenapa membiarkan pembunuh berantai hidup? Walau dia di penjara, aku yakin dia bisa menyebarkan paham-paham sinting alias psikopat. Atau jangan-jangan, dia kongsi dengan anaknya yang masih berbaur dengan masyarakat? Orang-orang sakit yang dilepas hidup normal dalam masyarakat hanya akan menimbulkan kekacauan dan kerusakan. Kuharap mereka–orang gila itu bisa dihukum mati. Baik anaknya maupun ayahnya”
“Itu terlalu jahat. Bagaimana jika anaknya tidak seperti itu? Anaknya baik dan malah menjadi korban atas hal-hal yang tidak ia lakukan?” gadis yang tidak peduli itu angkat suara.
“Psikopat itu di turunkan. Tidak ada otak yang normal saat benihnya saja memiliki sakit mental”
“Aku tetap tidak setuju” kata si gadis kepada gadis yang lain.
“Terserah kamu saja. Semoga kelak kamu berjodoh dengan anak psikopat dan rasakan dampak lebih dahsyat setelah para korban”
“Kamu keterlaluan”
Mereka semua tertawa kecuali si gadis yang di sumpah serapah. Setelah itu, waktu makan siang datang. Tempaknya semua orang akan melanjutkan pambahasan tentang pembunuh berantai yang tengah marak di perbincangkan.
Joni hanya menarik napas. Mata sayunya menatap si gadis yang tidak ikut rombongan. Gadis itu bersenandung sembari merapikan map dan kertas-kertas. Saat ia bangkit, matanya berpapasan dengan milik Joni. Kontan pria itu mengalihkan pandangan.
“Joni, mau ke kantin bersama?” tawarnya ramah, yang ditawari menggeleng–seperti biasa. Joni memang tidak memiliki teman karena kemampuan sosialnya yang menyedihkan. Kecenderungan menghindari obrolan apapun di luar pekerjaan dan selalu menolak tiap ada ajakan membuat pria itu sempurna menjadi penyendiri—menarik diri dari masyarakat, meski di tempat kerja, tidak ada satupun yang tau jika ia adalah ‘anak itu’
Lantas si gadis pergi. Joni sendirian di ruang itu.
Ia menunduk, lalu mengusap wajah. Hatinya sakit dan tiba-tiba ia merindukan Kaca. namun tak mungkin menelepon di waktu ini. Matanya saja mulai merah dan tergenang. Seperti tingkat sensitivitasnya sedang tinggi. Mungkin saja karena kurang tidur, atau karena memang ia adalah pecundang sejak dulu.
Sial.
Tidak, Joni tidak menelepon Kaca. Tapi gadis itu yang meneleponnya lebih dulu.
Pada dering ketiga, saat ia mengatur napas dan suara, Joni mengangkat panggilan.
“Joni, Alisa mau membantuku meneleponmu” suara gadis itu terdengar ceria. Joni dapat membayangkan bagaimana ekspresi Kaca—kesenangan dengan senyum khas. Membayangkannya saja, Joni ikut tersenyum.
“Ya ya, kamu berhasil” Joni menarik napas. Mata merah ia seka, kini berganti menjadi senyum manis.
“Sudah makan siang?” suara kaca sangat lembut.
“Belum”
“Kenapa belum?”
“Akan, aku bangun”
“Ya, kamu harus makan siang. Atau lain kali, aku akan membawakan bekal untuk makan siang”
“Kita pasangan sekarang, aku akan melamarmu nanti, Joni. Sungguh” kata-kata Kaca serius dan gadis itu serius untuk semua hal.
“Apa kamu selalu seperti ini pada pria, Kaca?”
“Seperti apa?”
“Memberikan semua hal?”
“Tidak, aku tidak, aku bahkan baru pertama kali menjalin hubungan dan itu denganmu, Joni, sejak dulu. Memangnya, ada yang mau pada gadis buta? Aku begini karena takut—tidak maksudku, karena aku ingin mendukungmu”
“Aku tidak akan meninggalkanmu, aku tidak akan pergi kecuali kamu yang pergi. Aku juga tidak butuh tabunganmu dan aku benar-benar baik-baik saja dengan kendaraan umum dan berdesak-desakan. Aku suka”
“Kamu tidak berbakat bohong, Joni. Bahkan aku yang buta merasakan ketulusanmu. Semuanya. Kamu laki-laki baik meski stigma buruk masyarakat kembali timbul padamu. Aku akan selalu mendukungmu dan menjadi orang yang paling percaya jika kamu adalah laki-laki baik”
Jeda. Dan keheningan merambat seperti akar yang berjalan dalam bayangan.
“Aku benci keterikatan. Tapi aku lega karena setidaknya, ada satu manusia yang percaya padaku–bahwa, aku..” Joni menggigit bibir bawahnya “bahwa aku bahkan tidak mengenal ayahku dengan baik. Aku bahkan tidak tahu.. Aku tidak tahu apapun dan tiba-tiba seluruh tatapan mengarah padaku. Mereka menuduhku atas berita-berita mengerikan itu” Joni kembali emosional, ia menangis. Kaca dapat mendengar isaknya, jelas.
“Aku begitu menyukai koleksi kapak, pisau, pedang-pedang era perang. Aku menyukai senjata tajam. Dan jika polisi datang menggerebek rumahku atas tuduhan mengerikan yang sejatinya adalah buah dari ketidakkomptenan pihak berwajib, aku tidak tahu harus beralasan apa. Aku hanya memiliki alibi dan menjadi anak pembunuh benar-benar menyiksaku.. Kaca..” ia tergugu. Dan Kaca bersumpah baru sekali ini saja mendengar Joni berkata-kata panjang. Terisak, dan putus asa. Rupanya, berita tentang pembunuhan itu telah sampai pada telinganya. Bukan tentang kematian, namun tuduhan masyarakat yang kembali mengangkat kasus lama dengan pola yang mirip. Situasi itu pasti lagi-lagi membuat Joni tertekan. Meski diam, Kaca tau jika Joni sangat rapuh dan tingkat sensitvitasnya tinggi. Terbukti dengan pilihannya menarik diri dari masyarakat dan mungkin saja lingkungan kerja. Meski tidak semua orang mengenalnya. Beberapa lupa, kecuali warga lama yang tinggal dalam gang itu.
Ya, Joni tidak pernah sembuh. Pria itu hanya melanjutkan hidup dengan label anak pembunuh yang terus mengggantung di dahi. Ia terlalu banyak menunduk karena takut ada yang mengenali.
“Akan kututup. Ini memalukan, aku harus makan siang” Joni berdehem, sementara Kaca di seberang meminta sedikit lagi.
“Aku akan menunggumu meski sampai tengah malam. Aku akan menunggumu pulang, Joni”
Lalu panggilan berakhir.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Ya, karena sejak pagi, kantor terasa lebih ramai dari biasanya, sebab satu topik yang berputar-putar tanpa henti, seperti radio yang lupa dimatikan.
Kasus pembunuhan itu lagi.
Nama pelaku belum diumumkan, tapi spekulasi bergerak lebih cepat dari fakta. Di pantry, di dekat mesin kopi, di sela-sela rapat singkat—semuanya bermuara pada kesimpulan yang sama.
“Pasti anaknya,” kata seseorang sambil mengaduk gula.
“Ya logis aja,” sahut yang lain. “Darah itu nurun.”
“Mana mungkin kebetulan.”
Di dalam kepalanya, ada sesuatu yang menyempit perlahan.
Joni seperti biasa — tidak ikut bicara apapun yang dibahas dalam kantor kecuali masalah pekerjaan. Ia hanya mendengarkan, dan setiap kata seperti menambah berat di dadanya. Ini bukan lagi tentang tuduhan, tapi mendengar betapa mudahnya orang-orang sepakat tentang hal itu.
Seolah tak ada pilihan lain.
Menjelang sore, kepalanya mulai berdengung. Suara-suara jadi berlapis, tumpang tindih, dan ia merasa seperti berdiri terlalu lama di bawah cahaya yang terlalu terang. Joni sudah sampai rumah. Lembur hanyalah alasan agar Kaca tidak datang karena ia tidak bisa terus menerus bersama sang gadis. Joni hanya takut dengan keterikatan–meski mungkin saja sudah.
Ia bangkit dari sofa ruang tamu ke kamar mandi.
Begitu pintu tertutup, semua yang ia tahan seharian itu jatuh sekaligus.
Joni duduk di lantai kamar mandi, bersandar pada dinding dingin. Lututnya ditarik ke dada. Tangannya gemetar saat mencoba membuka kancing lengan baju, lalu berhenti, tak jadi apa-apa. Tangisnya keluar tanpa suara, seperti sesuatu yang bocor pelan-pelan dari celah yang sudah lama retak.
Ia menunduk, menatap ubin yang bersih, terlalu bersih. Ia menyikatnya sehari dua kali. Air matanya jatuh satu-satu, meninggalkan bercak kecil yang cepat menghilang. Napasnya tidak teratur, tapi ia berusaha mengecilkannya, seolah takut seseorang bisa mendengar dari balik pintu. Padahal rumahnya kosong.
Yang membuatnya paling sakit bukanlah tuduhan itu sendiri.
Melainkan kesepakatan. Bahwa semua orang begitu yakin. Bahwa tidak ada ruang untuk ragu. Di kepalanya terlintas wajah-wajah rekan kerjanya—biasa saja, ramah, orang-orang sama yang tertawa bersamanya kemarin. Ia membayangkan bagaimana suara mereka akan berubah jika tahu siapa dia. Bagaimana mata mereka akan menilai ulang setiap gestur kecilnya. Benar, bagaimana jika mereka tahu jika ia adalah anak pembunuh berantai itu?
Joni menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya bergetar sekali, lalu diam. Tubuhnya sendiri ragu apakah menangis ini diperbolehkan.
Dan sialnya, siapapun yang masuk. Joni merasa semakin buruk.
Pintu kamar mandi terbuka perlahan.
Joni tidak menoleh. Ia bahkan tidak terkejut. Langkah itu sudah ia kenal dan hanya satu-satunya kandidat yang berani dan biasa masuk dalam rumahnya.
Kaca masuk dan menutup pintu kembali. Ia sudah datang lima belas menit setelah Joni pulang, lantas mencari pria itu dimana-mana dan tidak menemukan kecuali suara isak di kamar mandi.
Kaca tidak menuntut penjelasan. Ia hanya duduk di lantai, di sampingnya, jaraknya cukup dekat untuk terasa, cukup jauh untuk tidak memaksa.
Beberapa detik berlalu sebelum Kaca mengulurkan tangan—menggagap ingin menyentuh lengan Joni dengan hati-hati. Saat melihat Kaca mencarinya, Joni memegang tangan si gadis duluan.
Joni menghela napas panjang, semua terasa memalukan. Ia begitu membenci situasi dimana kelemahannya naik. Dan Kaca melihat segalanya meski gadis itu diam saja.
Tidak.
Kaca merangkulnya. Joni bersandar. Kepalanya jatuh ke bahu Kaca, beratnya tidak ditahan sepenuhnya, tapi cukup.
“Aku nggak ngapa-ngapain,” katanya akhirnya. Suaranya serak dan lebih mirip pernyataan yang ia ulangi pada dirinya sendiri.
Kaca mengusap punggungnya, gerakan kecil yang berulang. Tidak berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak mengatakan dunia kejam. Gadis itu hanya ingin ‘ada’ dan membuat Joni merasa nyaman.
Tangis Joni mereda menjadi isakan pendek yang datang dan pergi. Di luar, hujan turun mengguyur. Dunia terus berjalan, tanpa peduli kamar mandi kecil itu menyimpan seseorang yang sedang mencoba tetap utuh.
Untuk sesaat, Joni menutup mata.
Di pelukan itu, ia terlihat seperti siapa saja.
Seorang laki-laki lelah.
Seseorang yang terlalu sensitif untuk dunia yang terlalu cepat menilai.
Dan tak ada satu pun yang tampak berbahaya. Hanya pria kecil yang tidak pernah sembuh sejak dulu—sejak kenyataan membawanya tetap pada ketidakmengertian tentang hidupnya sendiri. Tentang alasan kenapa hidupnya sebatang kara sejak dini, tentang kesepian dan rasa takut memulai hubungan dengan manusia.
“Kaca, kamu seharusnya takut, aku anak pembunuh” memalukan, beruntungnya, Kaca tidak akan bisa melihat bagian memalukan itu. Matanya bengkak. Kantung mata melingkar hitam.
“Jika ada yang harus kutakuti, itu adalah kehidupan ini. Kehidupan hampa dan gelap. Aku sudah melewati rasa takut hingga tidak ada lagi ketakutan yang lebih menakutkam dari berjalan pada kegelapan sampai mati. Maka, aku mengatakan dengan percaya diri, setelah kedua bola mataku rusak, aku tidak takut pada apapun lagi. Aku tidak takut pada kematian dan aku tidak takut pada sialan apapun”
Joni mendongak, ia memperhatikan wajah Kaca dengan sisa isaknya yang perlahan berhenti “kamu percaya aku?”
“Hm, sangat. Bahkan jika seluruh dunia berkata kau adalah ini dan itu. Aku akan ada di sisimu”
Joni makin tergugu, ia menangis lebih keras sambil memeluk Kaca. isaknya pecah “ini memalukan astaga.. Tapi aku merasa lega”
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Blok C sudah mengenalnya selama belasan tahun.
Nama aslinya jarang disebut. Di papan data ia hanya angka dan pasal. Namun di lorong itu, ia adalah pusat gravitasi yang tak terlihat. Para napi baru dipaksa belajar dengan cepat seperti; jangan terlalu keras berbicara di dekat sel nomor tujuh. Jangan menatap terlalu lama. Jangan bercanda tentang kasus lamanya.
Ia tidak berbahaya secara fisik. Tubuhnya sudah tak sekuat dulu. Rambutnya memutih rapi, dipotong pendek juga selalu mengenakan pakaian tahanan dengan bersih, terlipat, seperti rumah sendiri yang masih punya lemari kayu di rumah. Tangannya tidak pernah gemetar–cenderung sangat lihai saat membuat pahatan kayu sebagai aktivitas harian. Geraknya lincah dan terukur.
Ia jarang berdiri lebih lama dari yang perlu. Duduknya tenang, kaki menapak lantai semen, punggung lurus. Khas seseorang yang memimpin meja makan.
Di jari manisnya masih melingkar cincin perak tipis. Tidak pernah dilepas.
Yang membuat orang lain menjaga jarak bukanlah kekerasan. Ia tidak pernah memukul siapa pun. Tidak pernah terlihat terlibat perkelahian. Bahkan ketika dua napi bertengkar di depan selnya, ia hanya mengangkat kepala sedikit, menatap mereka tanpa emosi.
Perkelahian itu berhenti lebih cepat dari biasanya.
Sejak itu, tak ada yang berani ribut di depan selnya lagi.
Setiap bulan, pada tanggal yang sama, seorang sipir senior akan memanggil namanya dengan suara datar. Ia akan berdiri, melangkah keluar dengan tenang, dan menuju ruang administrasi.
Tidak pernah lama. Tidak lebih dari sepuluh menit.
Ketika kembali, ia tidak membawa apa-apa. Namun beberapa jam kemudian, di luar tembok penjara, sejumlah uang akan sampai kepada seorang anak yang hidup sendirian, rapuh dan takut pada dunia.
Tidak pernah terlambat. Tidak pernah kurang satu rupiah pun bahkan cenderung bertambah.
Ada yang mencoba menebak sumbernya. Sisa harta lama? Investasi? Seseorang di luar yang masih loyal? Tidak ada jawaban. Pihak penjara tak pernah menemukan transaksi ilegal. Semua terlihat sah. Terlalu sah.
Ia tidak pernah menyebut nama anaknya. Tidak pernah bertanya apakah seseorang datang menjenguk. Dan karena memang tidak pernah ada siapapun yang datang.
Namun suatu kali, ketika seorang napi baru mengejeknya dengan nada meremehkan—“Anak Bapak malu, ya?”—ia hanya menoleh perlahan.
“Anak saya tidak perlu datang untuk tetap berada di bawah perlindungan saya.” Tak ada nada ancaman. Hanya pernyataan. Napi itu dipindahkan ke blok lain dua minggu kemudian setelah terlibat pelanggaran kecil. Kebetulan, kata sipir.
Di blok C, kebetulan jarang dianggap benar-benar kebetulan.
Beberapa bulan terakhir, ia lebih sering membaca berita dari koran. Duduk di bawah lampu redup, halaman kriminal terbuka di pangkuannya. Berita tentang mayat yang ditemukan terpotong, disusun dengan presisi, dibungkus rapi seperti tangan dewa yang lihai.
Ia membaca tanpa ekspresi.
Jarinya berhenti tepat di bagian yang menjelaskan detail luka: potongan bersih, sudut sayatan konsisten, tidak terburu-buru. Ia menutup koran perlahan, menyandarkannya di samping kasur.
Malam itu ia tersenyum.
Tangannya masih lihai, tidak ada yang berubah. Semua orang terus mengakui–padahal ia tidak butuh validasi.
Pun tidak pernah menerima telepon ilegal. Tidak pernah kedapatan menyelundupkan ponsel. Tidak pernah menulis surat mencurigakan. Setiap interaksinya tercatat, diawasi dan bersih.
Namun ada hal-hal kecil yang tidak tercatat.
Seorang napi tua yang dulunya bekerja di pelabuhan sering duduk di dekat selnya, hanya untuk berbincang sebentar. Seorang tukang dapur penjara selalu memastikan jatah makanannya tidak pernah kurang. Sipir malam sesekali berdiri sedikit lebih lama di depan selnya, seolah menunggu sesuatu—lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Ia tidak pernah meminta. Tetapi hal-hal tetap bergerak.
Suatu malam, listrik di blok itu sempat padam beberapa menit. Dalam gelap, suara langkah dan bisikan terdengar samar. Ketika lampu menyala kembali, semuanya kembali pada tempatnya. Kecuali eksistensinya.
Seorang napi muda pernah memberanikan diri bertanya, setengah berbisik, “Pak… kalau orang punya pengaruh sebesar Bapak, masih bisa mengatur dari sini, ya?” Ia mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya tidak ramah, namun tidak marah juga. Biasa, datar tanpa emosi.
“Pengaruh,” katanya tenang, “tidak selalu butuh kehadiran.” Hening menyelimuti lorong itu. Tidak ada yang tahu apakah ia benar-benar memerintah seseorang di luar. Tidak ada bukti atau saksi. Tidak ada komunikasi yang bisa disita.
Namun dia raja di tempat itu. Apapun yang diminta, sipir akan menuruti; seperti keluar dari penjara beberapa saat dan kembali tanpa satu pun yang curiga.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Sejak awal, Kaca tidak pernah menyukai Anton.
Bukan karena ia tahu wajah lelaki itu seperti apa. Ia tidak pernah melihatnya, tentu saja. Tetapi suara langkahnya terlalu berat ketika melewati pintu kamar. Cara ia berdehem di depan pintu terlalu lama. Dan yang paling membuat Kaca mengeras adalah kebiasaan kecil yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Ketukan.
Pelan.
Dua kali.
Lalu hening.
Sering terjadi saat malam sudah larut, ketika bibi Kaca tertidur lebih dulu. Ketika rumah sunyi dan hanya ada suara kipas angin berputar lambat.
Pernah sekali Anton masuk ketika ia lengah tak mengunci pintu. Kaca langsung menjerit dan Anton mengatakan hal dengan gagap dan meminta si gadis berhenti menjerit sementara ia melangkah keluar.
Sejak itu, tiap ketukan selalu berhasil membuat tubuh Kaca menegang di atas kasur. Nafasnya tertahan, telinganya waspada. Ia tahu arah langkah orang dari bunyinya. Ia tahu siapa yang berdiri di luar sana.
“Sudah tidur, Ka?” suara Anton pernah terdengar pelan, nyaris seperti bisikan. Dan itu benar-benar menjijikan. Kaca tidak pernah menjawab.
Ia akan menarik selimut sampai ke dagu, memalingkan wajahnya ke dinding, dan menunggu sampai langkah itu menjauh. Tapi setelah itu, ia tidak pernah benar-benar bisa tidur lagi.
Pagi harinya, ia akan bersikap seperti biasa—atau justru lebih tajam dari biasanya.
Jika Anton tertawa terlalu keras di ruang tamu, Kaca akan menegur singkat. Jika Anton menawarkan bantuan, Kaca menjawab seperlunya. Saat bibinya memuji lelaki itu, Kaca hanya diam.
Anton selalu bersikap sopan di depan bibinya. Suaranya ramah. Tawanya hangat. Ia terdengar seperti lelaki baik yang hanya sedikit canggung. Tapi Kaca mengenali jeda dalam napasnya ketika berdiri di depan pintu kamar. Ia mengenali cara suara itu berubah ketika berbicara hanya padanya.
Hal-hal kecil yang sulit dibuktikan, tetapi cukup untuk membuatnya waspada.
Lalu, ketika berita kematian Anton terdengar di televisi, perasaan Kaca bukan hanya sedih. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat dadanya terasa lega—dan ia langsung membencinya karena itu. Ya, mayat yang ditemukan dalam kantong sampah plastik hitam, terbagi menjadi empat bagian sementara hingga kini, polisi tidak menemukan penis dan testis korban. Benar, itu adalah Anton.
Bibinya hancur. Itu nyata. Tangisnya tidak dibuat-buat. Cintanya pada Anton juga nyata. Kaca duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. Ia ikut melayat, berdiri di pemakaman sambil mendengar tanah jatuh satu per satu menutup liang kubur. Namun di dalam dirinya, ada hati yang tidak bisa ikut berkabung meski di paksa.
Dikepalanya, Kaca mengingat ketukan itu. Mengiringinya dengan suara tanah yang menghantam kayu. Dan ia merasa bersalah. Karena sebagian kecil dari dirinya berpikir bahwa sekarang tidak akan ada lagi yang berdiri di depan pintu saat malam.
Tidak akan ada lagi deheman menyebalkan. Namun ia kasihan pada bibinya.
Beberapa hari setelah pemakaman, ketika rumah kembali sunyi dan susana hati bibinya belum kembali utuh, Kaca memberanikan diri duduk di dekat bibinya yang termenung.
“Bi…” tangannya berusaha meraba milik sang bibi, namun bibinya lebih dulu memegang tangan Kaca.
“Hm?”
“Aku mau menikah.”
Bibinya terdiam lama. Jeda itu terasa begitu panjang hingga Kaca lebih menajamkan rungu. Sekedar ingin mendapat jawaban dari tiap hela napas, atau apapun yang dapat di tangkap rungu.
“Dengan Joni?” tanyanya kemudian.
“Iya.”
Suara Kaca stabil cenderung tenang. Tidak terburu-buru. Seperti keputusan itu sudah direncanakan sejak lama—sejak malam-malam ia merundingkan dengan Joni.
Bibinya menarik napas panjang. Dunia baru saja mengambil lelaki yang ia cintai. Dan kini keponakannya ingin memulai hidup baru.
“Kamu yakin?”
“Aku yakin.”
Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada alasan yang diurai satu per satu. Hanya keyakinan yang terasa tenang—berbeda dari kecemasan yang dulu sering membuatnya sensi dan ketus setiap kali Anton mendekat. Bibinya meraih wajah Kaca dengan kedua tangan. “Kalau kamu merasa aman dengan Joni… menikahlah.”
Aman.
Kata itu menggantung lama di antara mereka. Kabar tentang kasus pembunuh berantai dengan pola yang serupa dengan kejahatan yang dilakukan ayah Joni. Kaca tau kemana arah bibinya mengatakan ‘aman’ namun wanita itu tidak menasehati, tidak mengatakan apa-apa lagi—seperti indikasi khawatir. Nyatanya, sang bibi sudah tahu jika Kaca dan Joni telah lama berteman. Semua berjalan normal bagi keduanya. Dan mungkin saja hanya Joni yang bisa menerima Kaca dalam kondisi itu sebagai istri. Bukannya mereka saling menguatkan?
-ˋˏ✄┈┈┈┈
2 minggu kemudian.
Kasus pembunuhan seperti menjeda dengan napas. Benar, setelah 3 mayat di temukan beruntun dalam kurun satu minggu, kini dalam dua minggu semua menjadi tenang. Polisi masih terus dalam penyelidikan, menghimbau pada warga untuk memberikan keterangan apapun yang mencurigakan dan ikut mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bekerja sama.
Ya, seperti pernikahan Kaca dan Joni yang berjalan sederhana namun khidmat. Di saksikan bibi Kaca, penghulu, dan beberapa saksi tetua di gang itu, pernikahan berjalan lancar.
Tidak ada perayaan, tidak ada undangan. Pun teman-teman kerja Kaca hanya mengundang beberapa. Sementara Joni sendiri tidak mengundang siapapun. Kendati demikian, seseorang pasti datang.
Ya seseorang datang di kejauhan. Hanya berdiri dengan kaki kurus dan jas kebesaran di balik batang mangga. Rambut putihnya tersisir rapi dengan raut tak kalah datar. Dari jauh, namun lantunan ijab kabul itu terdengar jelas. Ia tidak tersenyum, mungkin itu adalah jeda yang di maksud. Atau katakan cara menjadi manusia seutuhnya dengan menggenggam cinta. Tidak masalah pada gadis buta. Tidak ada yang disayangkan.
Lalu sosok itu melangkah pergi.
Malam-malam menakutkan saat Anton masih hidup sudah pergi. Malam-malam hening dalam kesepian pun kini telah usai. Kaca berpamitan pada sang bibi setelah prosesi ijab kabul selesai. Keduanya mantap akan tinggal di rumah Joni.
Kendati diri yang pertama datang menawarkan cinta, mengajak menikah dan meluruhkan gengsinya untuk memeluk pria itu duluan, namun hasilnya terbayar dengan pernikahan. Joni juga mencintainya, mungkin saja jika ia utarakan isi hatinya lebih cepat, status ini akan lebih cepat pula terjadi. Sudah sangat lama Kaca menahan perasaan, ternyata Joni juga. Bedanya, pria itu hanya terlalu banyak diam.
Malam-malam itu terjadi.
Malam-malam yang kerap hinggap dipikiran gadis perawan. Malam panas setelah semua prosesi ijab. Ya, Joni melakukannya dengan baik. Pria lembut dan penuh kekhawatiran. Pria yang begitu rapuh namun kuat sekaligus. Pria itu menggagahinya di malam hujan, di bawa lampu temaram kamar. Keringatnya berkumpul di dahi. Suaranya kelewat seksi. Malam itu, malam terindah, malam yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidup.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Ruang rapat itu terasa lebih gerah dari seharusnya.
Pada dindingnya, foto-foto korban dipasang rapi. Anton di tengah—identitas sudah jelas, latar belakang sedang ditelusuri. Di sekelilingnya, beberapa foto lama dari belasan tahun silam: perempuan-perempuan yang pernah ditemukan dalam kondisi serupa. Tubuh terpotong. Disusun. Dibungkus. Dikuliti. Tidak ada sidik jari. Tidak ada DNA asing yang bisa dipakai menuntut. Hanya pola.
Komisaris Surya berdiri dengan tangan terlipat di depan papan investigasi. Usianya melewati lima puluh, rambutnya mulai memutih, dan ia sudah cukup lama berada di dunia pembunuhan untuk tahu bahwa kejahatan punya kebiasaan.
“Potongan bersih, presisi. Pelaku tahu anatomi. Atau setidaknya terlatih.”
“Tidak ada sidik jari di plastik. Tidak ada di lokasi pembuangan,” sahut seorang penyidik muda. “Kami periksa ulang. Semua bersih.”
“Bersih bukan berarti tidak ada,” jawab Surya. “Bersih berarti seseorang sengaja membersihkan.”
Ia menunjuk foto lama di sudut papan.
Kasus beberapa belas tahun lalu. Perempuan ditemukan di pinggiran kota. Tubuh dipisah menjadi beberapa bagian. Organ tertentu hilang. Pelaku akhirnya tertangkap—seorang pria yang bekerja sebagai karyawan biasa. Tenang. Pendiam. Mencintai keluarganya dan tidak pernah terlihat mencolok. Dan kejamnya, bukan hanya satu korban.
Nama itu kini ada di berkas berbeda. Ia tidak dihukum mati. Ia menjalani hukuman seumur hidup.
“Polanya sama,” gumam salah satu tim forensik. “Cara membungkus. Cara memotong. Bahkan lokasi pembuangan yang tersebar tapi tetap dalam radius tertentu.” “Bedanya? Korban laki-laki.”
Ruangan hening.
Surya menatap kembali papan itu. Ia tidak percaya pada kebetulan yang terlalu rapi.
“Tapi tidak ada jejak,” kata penyidik muda itu lagi. “Tidak ada komunikasi keluar dari lapas yang mencurigakan. Tidak ada transaksi. Tidak ada kunjungan aneh.”
“Pembunuh berantai tidak selalu membunuh dengan tangannya sendiri,” jawab Surya hampir seperti bisikan. Kalimat itu tidak ditujukan pada siapa pun, tapi menggantung cukup lama di udara. Mereka menyisir ulang arsip lama. Wawancara lama diputar kembali. Catatan psikolog forensik dibuka ulang. Di sana tertulis tentang kebutuhan akan kontrol. Tentang kecenderungan mengulang pola sebagai bentuk kepuasan. Tentang kemungkinan “penerus”—orang yang terpengaruh, sadar atau tidak. Nama anaknya muncul dalam berkas.
Joni.
Tidak ada catatan kriminal. Tidak ada pelanggaran. Riwayat hidupnya bersih. Terlalu bersih dan Surya tidak menyukai kata “terlalu”
“Kita tidak bisa menuduh orang hanya karena dia anaknya,” kata salah satu anggota tim.
“Benar,” jawab Surya. “Dan kita juga tidak bisa mengabaikan pola hanya karena tidak ada sidik jari.” Masalahnya sederhana sekaligus rumit: hukum butuh bukti. Pola bukan bukti. Intuisi bukan bukti. Kecurigaan bukan bukti. Dan pelaku, siapa pun dia, tahu itu.
Beberapa hari kemudian, tanpa mengumumkan pada timnya, Surya mengajukan izin kunjungan ke lembaga pemasyarakatan tempat ayah Joni menjalani hukuman.
Benar-benar dilakukan sendiri atas inisiatif sendiri. Mengingat betapa ia muak mirip di tertawakan pelaku dari kejauhan—ketika seluruh satuannya dibuat bingung.
Lapas selalu berdinding tinggi, catnya kusam, dan gerbang besinya mengeluarkan bunyi berat saat dibuka.
Surya duduk di ruang kunjungan terbatas.
Beberapa menit kemudian, seorang pria dibawa masuk. Rambutnya memutih—seperti biasa disisir rapi, tubuhnya lebih kurus dibanding foto lama di berkas. Namun matanya—matanya tetap sama.
Tenang.
“Sudah lama tidak ada yang datang khusus hanya untuk berbicara,” ujar pria itu sambil duduk. Suaranya datar, cenderung santai. Surya tidak langsung menjawab. Ia meletakkan map tipis di meja.
“Ada kasus baru,” katanya.
Pria itu tersenyum tipis. “Di luar?”
“Seorang laki-laki. Dimutilasi. Polanya… mengingatkan kami pada sesuatu.” Keheningan menyusul. Pria itu tidak terlihat terkejut. Ia juga tidak terlihat tertarik. Hanya memiringkan kepala sedikit, seperti mendengar cerita biasa.
“Dan Anda datang kemari karena?” tanyanya.
“Karena pola jarang berubah.”
“Orang bisa belajar,” jawabnya pelan. “Orang juga bisa meniru.”
Surya menatapnya tajam. “Anda merasa ada yang meniru Anda?”
Senyum itu muncul lagi. Lebih samar dan tipis. “Komisaris,” katanya, “Anda tahu saya di sini. Anda punya kunci. Anda punya penjaga. Kalau ada yang membunuh di luar, itu bukan tangan saya.”
“Tangan, mungkin tidak.”
Kalimat itu sengaja dibiarkan menggantung. Pria itu tertawa kecil. Mirip hembusan napas yang mengandung ejekan halus. “Anda datang tanpa bukti,” katanya. “Hanya cerita lama.”
Surya berdiri perlahan. “Cerita lama kadang belum selesai,” jawabnya. Saat ia meninggalkan ruang kunjungan, ia sadar satu hal yang membuat tengkuknya merinding bahwa pria itu tidak pernah bertanya bagaimana korban dibunuh. Ia hanya berkata: “di luar” seperti sudah tahu dan itulah masalahnya. Tidak ada sidik jari, DNA, apalagi saksi. Hanya pola yang terlalu sempurna untuk disebut kebetulan. Dan satu nama yang tidak bisa disentuh hukum—karena berada di balik jeruji besi.
Surya kembali ke kantor dan memeriksa ulang rekaman kunjungan di lapas. Ia menonton dengan volume pelan, mengamati setiap gerakan kecil seperti cara pria itu menyilangkan tangan, cara sudut bibirnya naik ketika mendengar kata “pola”. Tidak ada pengakuan juga celah hukum. Tapi ada sesuatu yang terlalu tenang dan ketenangan bagi Surya, sering kali lebih mencurigakan daripada panik. Ia mengajukan audit internal terhadap lapas.
Resminya: pemeriksaan prosedur keamanan rutin.
Tidak resminya: ia ingin melihat dengan mata sendiri.
Bangunan itu tampak tertib. Jadwal kunjungan dicatat. Jam makan teratur. Kamera terpasang di lorong-lorong utama. Sipir-sipir terlihat profesional—beberapa bahkan sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun.
“Tidak ada yang aneh,” kata kepala lapas dengan nada defensif. “Dia narapidana model. Tidak pernah membuat masalah.”
“Itu yang justru membuat saya khawatir,” jawab Surya. Ia meminta daftar petugas yang berjaga di blok sel tersebut dalam dua tahun terakhir. Ia mencatat siapa saja yang pernah menerima sanksi ringan. Siapa yang terlilit utang. Siapa yang baru membeli kendaraan baru di luar kemampuan gaji. Pola pembunuhan di luar lapas menunjukkan satu hal: pelaku merasa aman. Tidak terburu-buru cenderung tenang dan tidak ceroboh.
Artinya, ia tidak takut tertangkap. Surya mulai mempertimbangkan kemungkinan yang lebih gelap bahws bukan ia yang keluar—melainkan ada yang membawakan dunia luar kepadanya.
Hingga saat Malam datang. Surya duduk sendiri di ruang kerjanya. Foto Anton di meja. Foto-foto korban lama di layar komputer. Ia menarik garis imajiner. Potongan tubuh disusun dengan pola lama. Organ tertentu dihilangkan—seperti tanda tangan serta plastik hitam kualitas industri—jenis yang sama dengan kasus lima belas tahun lalu.
“Orang bisa meniru,” gumamnya, mengulang kata-kata narapidana itu.
Benar.
Tapi meniru hingga ke detail kebiasaan? Itu bukan sekadar penggemar. Itu keterlibatan. Dan di malam itu juga, ia kembali ke lapas tanpa pemberitahuan resmi.
Ia terburu-buru karena jika ditahan, hanya akan membuatnya gelisah dan berujung tak bisa tidur.
Kali ini bukan ke ruang kunjungan. Ia meminta akses ke area pengawasan, melihat titik buta kamera. Ada beberapa sudut lorong yang tidak sepenuhnya terpantau.
Ia berbicara satu per satu dengan sipir.
Nadanya berusaha terdengar tenang dan ramah. Pertanyaan biasa. Tentang jadwal. Tentang perilaku narapidana itu. “Dia sering menulis,” kata seorang sipir muda.
“Menulis apa?”
“Entah. Catatan. Kadang surat, tapi tidak pernah dikirim. Katanya untuk terapi.”
Surya meminta izin memeriksa isi sel.
Di dalam, semuanya rapi. Buku-buku tertata. Tempat tidur dilipat sempurna. Ada beberapa lembar kertas di laci kecil. Tulisan tangan yang teratur. Tidak ada ancaman. Tidak ada rencana. Hanya kalimat-kalimat reflektif tentang kesalahan masa lalu.
Tapi Surya menemukan sesuatu yang mengusiknya.
Sketsa.
Hanya potongan garis yang menyerupai diagram tubuh. Garis potong. Sudut.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
“Terapi,” kata narapidana itu ketika Surya memperlihatkan kertas tersebut pada kunjungan berikutnya. “Psikolog bilang saya harus menghadapi masa lalu.”
“Kebetulan sekali sudutnya sama dengan kasus terbaru,” jawab Surya pelan. Pria itu tersenyum tipis lagi.
“Komisaris,” katanya lembut, “Anda sedang mencari hantu di tempat yang salah.” Kecurigaan Surya berubah menjadi sesuatu yang lebih personal.
Ia mulai memantau rekening sipir-sipir tertentu melalui jalur intelijen internal. Ada satu nama yang membuatnya berhenti lebih lama yaitu seorang sipir senior dengan riwayat utang perjudian. Meski tidak ada transaksi mencurigakan secara langsung, namun ada setoran tunai berkala dalam jumlah kecil. Terlalu kecil untuk menarik perhatian besar tapi kelewat rutin untuk diabaikan. Dan Surya tidak bisa langsung menuduh. Ia kembali hanya bisa mengawasi.
Beberapa minggu kemudian, ia mendapat laporan tak resmi dari seorang informan bahwa ada narapidana tertentu yang “dihormati” lebih dari seharusnya. Tidak pernah digeledah mendadak. Tidak pernah dipindah blok.
“Seperti punya hak istimewa,” kata informan itu.
Hak istimewa.
Kata itu membuat dada Surya mengeras. Pada kunjungan ketiganya, Surya duduk lebih dekat dari biasanya.
“Anda tahu apa yang membuat saya yakin?” tanyanya pelan. Narapidana itu menatapnya tanpa berkedip. “Karena pola bukan sekadar cara memotong, itu tentang kebutuhan untuk dikenali tanpa tertangkap.”
Hening.
“Anda tidak menyentuh korban,” Surya melanjutkan. “Tapi seseorang melakukannya untuk Anda. Atau karena Anda.” Senyum pria itu tidak berubah.
“Kalau saya punya pengaruh sebesar itu,” katanya ringan, “mungkin saya memang pantas ditakuti.”
Semua hal menjadi semakin menjengkelkan.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Benar, rasa mirip di ejek dan di tertawakan pelan-pelan merambat pada personal. Surya membawa satu anak buahnya yang bertubuh besar untuk menyambangi kediaman Joni–anak terduga yang berhasil membuatnya jengkel.
Tanpa surat penangkapan, tanpa aba-aba.
Keduanya datang tepat setelah matahari tenggelam. Joni baru saja pulang bekerja, membawakan istrinya steik untuk makan malam bersama.
Belum diketuk, Surya mendengar suara kekehan dari depan. Saat ia mengintip, matanya menangkap dua pasang sedang bercumbu di ruang tamu. Ciuman hangat namun dalam, Surya menghela napas dan membuang pandangan.
Lalu, ia mengetuk.
Tidak lama, hanya butuh dua kali ketuk, langkah kaki mendekat dan grendel bergerak—pintu terbuka.
Joni kebingungan sebentar. Sang Komisaris mengenalkan diri sebagai anggota satuan kriminal dan beretorika ini dan itu—berusaha meyakinkan Joni akan tindakannya yang ilegal.
“Kami mendapat perintah untuk menggeledah rumah anda” katanya ramah. Kontradiksi dengan raut “anda anak dari pembunuh berantai belasan tahun silam, kan? Kami di minta melihat-lihat dan tidak akan membuat keributan jika anda bisa diajak bekerja sama.
Joni tidak menjawab, tidak melarang atau berekspresi signifikan. Namun tiap sorot mata dan gesturnya jelas diperhatikan oleh Surya. Sementara satu wanita yang mendekat dengan meraba-raba—Surya juga baru tau jika sang wanita buta.
Lalu ia mulai bergerak–menyisiri tiap sudut rumah yang tidak terlalu besar itu. Kamarnya ada tiga dan satunya di gunakan untuk ruang kerja, sementara satu lagi gudang.
Tapi belum sampai pada ranah-ranah privasi, Surya lebih dulu diperlihatkan koleksi-koleksi yang jelas berkorelasi dengan apa yang membuatnya mendatangi rumah ini.
Ya, kapak di gantung di dinding, pedang panjang, keris, pisau beraneka ragam, parang dan benda-benda tajam lainnya. Itu ada di ruang tengah. Surya memotretnya dengan ponsel.
“Untuk apa semua senjata tajam ini.. Pak.. siapa nama anda?”
“Joni” jawan Joni tenang
“Ya, untuk apa semua senjata tajam ini, Pak Joni? Anda adalah seorang anak kriminal kelas berat sementara berita tentang pembunuhan sedang marak di luar. Dan anda memiliki senjata-senjata ini di rumah”
“Apa memiliki koleksi senjata tajam untuk kesenangan pribadi artinya adalah seorang pembunuh?” Joni bertanya dan Surya menatap penuh ke wajahnya.
“Apa memiliki koleksi tupperware untuk kesenangan pribadi artinya seseorang tidak memakai tupperware? Apakah seseorang itu menggunakan piring keramik?”
“Analogi anda tidak tepat, Pak” Joni menghela napas “tupperware digunakan untuk kebutuhan krusial seperti makan dan minum, sementara saya hanya menggunakan kapak dan parang sederhana untuk merencah daging dan tulang sapi. Senjata unik dan beragam adalah hobi saya. Apa ada yang salah? Apa jika saya adalah anak pembunuh, lantas saya tertuduh sebagai pembunuh hanya karena anak seorang pembunuh memiliki koleksi senjata tajam–meski bapak tidak memiliki bukti?”
Hening menggantung. Surya lagi-lagi meneliti tiap perubahan ekspresi Joni, mengamati gestur. Matanya sesekali mengedar pada Kaca yang menyimak sambil menajamkan rungu.
“Apa anda punya koleksi yang lain?” tanya Surya setelah menghela napas.
“Anda bisa menggeledahnya sendiri, Pak. Lihat apa yang ingin anda lihat. Dan biarkan saya makan malam karena istri saya menunggu berjam-jam hanya untuk makan malam bersama saya”
Surya mendengus sambil melangkah–menggeledah apapun sementara Joni menggamit tangan Kaca. Berbisik pada istrinya untuk tidak khawatir dan melanjutkan makan malam yang tertunda.
“Aku tidak apa-apa, Ka. Jangan tegang” Joni menenangkan istrinya. Wajah Kaca jelas sedih.
“Kamu menangis kemarin di kamar mandi karena tuduhan-tudahan subjektif. Aku hanya takut kamu sedih lagi” Kaca mengusap wajahnya kasar. Joni menyuapkan makan malam sambil tertawa–agar Kaca mendengar bahwa ia baik-baik saja.
“Itu karena kemarin-kemarin aku sendirian. Aku merasa tidak memiliki siapapun di dunia ini dan seluruh isi bumi seperti menuduhku atas hal-hal yang tidak pernah aku lakukan. Sekarang, aku memilikimu, sayang. Aku tidak lagi peduli jika seluruh dunia berkata jika aku adalah kriminal mengerikan. Pun, aku tidak bisa mengontrol isi kepala orang. Sekarang, aku memilikimu, masalahku selesai”
Kaca terharu, ia mengusap air matanya disudut, mulutnya pengunyah makanan.
Rasanya lega sedikit.
Hingga Surya kembali keluar dari kamar—atau entah.
Joni bangkit. Ia tidak bertanya dan Surya hanya menatapnya tanpa berkedip. Agak lama, hingga menciptakan jeda yang aneh. Dua tangan Surya dalam saku.
“Mohon maaf sudah mengganggu waktu anda, Pak. Tapi, bolehkah kami kembali sewaktu-waktu jika diperlukan?” pertanyaan itu di jawab anggukan antusias.
“Tentu saja, datanglah kapanpun jika itu untuk kebutuhan investigasi”
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Hm–hm
I used to float, now I just fall down
I used to know but I’m not sure now
What I was made for
What was I made for?
Takin’ a drive, I was an ideal
Looked so alive, turns out, I’m not real
Just something you paid for
What was I made for?
Hm–hm….
2 minggu berlalu setelah kedatangan Surya ke rumah Joni.
Tidak tahu apa lagi kali ini. Namun Mobil-mobil itu datang menjelang magrib–lagi, ketika cahaya matahari sudah turun setengah dan bayangan pagar rumah memanjang seperti jeruji kedua di atas tanah. Datangnya tidak membawa sirine, hanya deru mesin yang dimatikan serentak. Benar, kali ini bukan hanya Surya dan satu rekannya. Tapi lebih.
Pintu rumah Joni terbuka sebelum mereka mengetuk untuk kedua kali. Ia berdiri tenang, wajahnya kosong, tangan kanannya masih memegang gagang pintu. Di belakangnya, dinding masih menyimpan deretan tempat pisau-pisau dan seluruh koleksinya beristirahat.
Kaca sedang di dapur menyiapkan makan malam. Komisaris Surya berdiri paling depan. Wajahnya lebih cerah meski tetap tidak ramah “Selamat sore, Pak Joni”
Joni mengangguk kecil. “Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?” Kata lagi itu menggantung tipis di udara. Surya tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan secarik map cokelat dari bawah lengannya “kami perlu Anda ikut ke kantor.”
Tatapan Joni tidak berubah. “Untuk apa?” Surya menatapnya beberapa detik—agak lama.
“Untuk menjelaskan sesuatu yang terlalu bersih untuk dianggap kebetulan.”
Dua anggota bergerak mendekat. Borgol terpasang tanpa perlawanan. Tidak ada drama hingga menciptakan keributan kecuali bunyi klik kecil yang terdengar lebih keras tiba-tiba memenuhi kepalanya.
Dan dari dalam rumah itu, bau logam yang sangat halus masih terasa—bau besi yang dirawat dengan sabar. Surya menciumnya, terlalu detail seperti penciuman anjing.
Beberapa Minggu Sebelumnya–tepat setelah kunjungan ke rumah itu. Surya masih mengingat bahkan detail bagian berjamur pada dinding rumah itu.
Penggeledahan yang tidak menghasilkan apa-apa selain koleksi senjata tajam yang tersusun rapi. Pisau dapur Jepang. Pisau berburu. Pisau lipat edisi terbatas. Keris unik, kapak dari pulau Sulawesi, pedang era penjajah. Semua bersih. Semua diasah. Semua hal seperti tidak pernah menyentuh daging manusia. Karena memang tidak ada darah. Apalagi jaringan. Tidak ada apapun yang bisa mengangkat kecurigaan menjadi tuduhan.
Hanya satu hal kecil yang membuatnya berhenti agak lama di meja kerja Joni: sebotol minyak kecil dengan label impor. Botol kaca gelap, pipet tipis, cairan bening keemasan di dalamnya. Surya mengantongi satu dan menyisakan satu. Ia tidak bertanya pada Joni. hanya mengantongi benda itu dalam saku, lalu bermpamitan pulang dengan perasaan kosong.
Kembali pada korban Pria Itu (ANTON)
Mayat laki-laki itu ditemukan terpotong rapi. Lebih rapi dari korban-korban perempuan sebelumnya. Forensik benar-benar tidak menemukan kecacatan dalam potongan. Seperti tangan ahli yang lihai dan sempurna. Dan ciri paling menonjol dari korban laki-laki ini adalah alat kelaminnya hilang.
Potongan pada bagian pangkal paha dilakukan dengan presisi seperti dilakukan oleh ahli medis. Jaringan terbelah bersih. Otot terpisah mengikuti garis anatomi. Tidak ada gerigi pada tepi luka. Tim forensik awalnya hanya mencatat: pisau sangat tajam. Namun pada pemeriksaan mikroskopik, ditemukan sesuatu yang lebih kecil dari debu.
Serat mikro.
Serat yang sangat halus, menempel di tepi luka, hampir menyatu dengan jaringan. Jika tidak diperiksa dengan pembesaran tinggi, ia akan dianggap kontaminasi biasa. Serat itu berbentuk bintang di bawah mikroskop. Bukan kapas, serat pakaian biasa, forensik mencatat itu adalah microfiber polishing cloth. Kain yang biasa digunakan untuk mengelap lensa kamera. Atau permukaan logam presisi. Semua tercatat begitu detail dalam kasus yang hampir di tutup.
Lebih jauh lagi, pada tepi luka ditemukan residu kimia yang nyaris tak terlihat. Adalah jejak silikon sintetis. Ester volatil. Microcrystalline wax. Campuran yang aneh. Surya masih mengingat momen ketika laporan laboratorium itu diletakkan di mejanya. Ia membaca ulang tiga kali.
Silikon sintetis.
Ester ringan.
Wax mikrokristalin.
Ia membuka laci dan mengeluarkan botol kecil yang ia kantongi dari rumah Joni lalu ia kirim ke laboratorium untuk diuji.
Dan ya, benar. Butuh waktu dua minggu. Dua minggu yang membuatnya hampir yakin bahwa teori tentang ayah Joni masih lebih masuk akal. Sampai hasil itu datang. Sidik Jari Kimia.
Komposisi minyak dalam botol Joni dianalisis dengan spektrometri dan kromatografi gas. Hasilnya bukan sekadar “mirip” rasio senyawa di dalamnya identik dengan residu yang ditemukan pada luka korban pria.
Persentase silikon terhadap ester, kadar wax mikrokristalin. Bahkan jejak aditif antioksidan yang sangat spesifik. Minyak itu bukan minyak umum. Itu produk kolektor. Edisi impor. Jarang dipakai orang biasa.
Tenunan mikro dengan pola radial. Serat sintetis berbentuk bintang lima sisi. Sama hingga tingkat mikron. Tentu saja bukan kebetulan apalagi kemungkinan. Itu jelas korelasi ilmiah serta perbedaan yang menghancurkan. Tim forensik mengatakan koban perempuan sebelumnya dipotong cepat. Ada amarah dan impulsif di sana. Namun korban pria berbeda. Presisi dan ketenangan berkombinasi, seolah, sang pelaku sedang menikmati prosesnya.
Bilah yang dilapisi minyak untuk meminimalkan gesekan. Seperti pelaku ingin membuktikan sesuatu.
Surya duduk lama di ruangannya malam itu.
Ayah Joni sudah lebih dari satu dekade di penjara. Tidak ada akses pada minyak kolektor modern. Produk itu baru masuk pasar dua tahun terakhir. Ayahnya mungkin seorang pembunuh. Tapi pembunuhan ini bukan miliknya. Dan hanya satu orang yang mengoleksi pisau atau senajata tajam dengan obsesif serta merawatnya dengan minyak presisi, mengelapnya dengan microfiber khusus. Dan memahami bagaimana membuat potongan sebersih itu.
Joni
Pria yang rutin mendatangi toko besi yang menyediakan berbagai senjata tajam langka berikut dengan pembersih modern yang hanya ada di luar negeri. Si penjual–menjual khusus. Tidak pada sembarang orang kecuali langganan.
Hampir terlalu sempurna. Bentuk kejahatan Joni nyaris saja tak bercelah. Tapi tidak ada kejahatan yang sempurna. Justru bentuk cinta yang terlalu teliti pada pisaunya sendiri.
Kembali ke Rumah Itu. Dimana Joni di ringkus dan istrinya menangis kebingungan. Makan malam yang terlewat, lagi. Padahal, Kaca sudah menunggunya sejak sore.
“Pak Joni” suara Surya pelan ketika mereka sudah berada di depan mobil. Joni menatapnya tanpa berkedip. “Anda tidak melakukan kesalahan besar, anda hanya terlalu percaya bahwa yang bersih tidak akan meninggalkan jejak” Joni mengulum senyum tipis. Ada ejekan pada cara pria itu berekspresi.
“Pisau yang Anda pakai pada korban baru saja dirawat. Dilap dengan microfiber. Dilumasi minyak. Anda ingin potongannya sempurna. Masalahnya, kain pembersih itu meninggalkan serat. Dan minyak itu meninggalkan sidik jari kimianya. Dan sidik jari itu, persis sama dengan yang ada di meja kerja Anda”
Tidak ada jawaban kecuali tawa tipis dari Joni. Lama kelamaan, tawanya berubah menjadi terbahak-bahak.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Rumah itu tetap berdiri seperti biasa. Rak-rak kayu tetap terpasang rapi. Pisau-pisau tetap tersusun dengan sudut presisi yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Hanya Kaca yang terisak-isak dalam kesunyian. Bahhkan ia menolak saat bibinya mengajak pulang dan terus mengoceh tentang ketidakadilan—bahwa Joni bukanlah pelakunya. Ada kesalahan di sana dan ia terus hidup dalam delusi itu.
Namun jauh sebelum borgol itu mengatup di pergelangan tangan Joni, Surya telah lebih dulu merobek keyakinannya sendiri, yaitu ayah Joni. hampir banyak orang percaya pada bayangan lama. Ayah Joni adalah pembunuh berantai yang pernah menggetarkan kota. Polanya sadis. Sistematis. Tubuh-tubuh perempuan ditemukan terpotong, dikuliti, serta mutilasi dan disebar seperti menagih perhatian.
Ketika kasus baru muncul dengan mutilasi yang serupa, pikiran publik bergerak otomatis bahwa, ia belum selesai. Surya pun sempat percaya itu. Terlebih ketika ia menerima laporan samar dari internal penjara jika ada sipir yang diduga memberi kelonggaran pada narapidana tertentu. Izin keluar tidak resmi. Pergeseran jadwal penjagaan yang ganjil.
Surya meminta rekaman CCTV penjara selama tiga bulan terakhir. Ia menontonnya sendiri. Frame demi frame. Malam demi malam yang ia lewati hanya untuk melihat kebenaran.
Pada pukul 02.17 dini hari di satu rekaman, terlihat pintu lorong blok tahanan terbuka sedikit lebih lama dari prosedur. Seorang sipir berdiri menutupi sudut kamera. Bayangan tubuh lain melintas cepat. Tentu saja tidak jelas. Surya tidak langsung menangkap siapa pun. Ia menunggu dan membuntuti.
Malam Itu
Dengan pakaian sipil dan mobil tanpa tanda, Surya mengikuti kendaraan kecil yang keluar dari area belakang penjara. Dan benar, di dalamnya adalah ayah Joni. Wajah yang pernah terpampang di semua surat kabar.
Mobil itu tidak menuju lokasi pembuangan mayat. Tidak berhenti di tempat gelap atau gudang kosong. Mobil itu berhenti tiga gang dari rumah Joni lalu turun. Ia berdiri lama di bawah pohon mangga yang menghadap ke rumah anaknya. Berjarak sekitar 100 meter. Tidak mendekat apalagi bertegur sapa. Hanya berdiri. Seperti sedang memastikan.
Surya menahan napas di balik kemudi.
Ayah itu tidak membawa tas. Tidak membawa apa pun selain tubuh yang mulai menua dan sepasang mata yang tak pernah kehilangan sesuatu. Hanya berdiri hampir satu jam lalu kembali ke mobil dan kembali ke penjara sebelum subuh.
Lagi. Pengulangan. Surya tidak langsung percaya satu malam. Ia mengikuti lagi. Dan lagi. Pola yang sama.
Ayah itu keluar diam-diam, berdiri jauh dari rumah Joni, memandang lampu yang menyala di ruang tamu, kadang hanya bayangan tirai yang bergerak. Tapi benar-benar tidak pernah mendekat.
Tidak juga pernah pergi ke lokasi korban atau membawa sesuatu yang bisa dikaitkan dengan pembunuhan. Hanya memantau. Perangainya seperti seorang arsitek yang memastikan bangunannya berdiri sesuai rancangan.
Dan Surya menemukan perbedaan pola lalu membandingkan pola lama dan pola baru. Pembunuhan ayahnya dahulu cenderung emosional disertai simbol-simbol personal. Sementara pembunuhan baru lebih tenang, presisis, terutama pada korban pria. Pada korban pria itu, alat kelamin diambil dengan teknik yang hampir steril. Tidak ada sobekan. Tidak ada jejak gerakan tergesa. Itu tanda pembunuh yang ingin membuktikan kendali. Dan pada luka itu ditemukan, residu minyak perawatan bilah, serat microfiber polishing cloth. Minyak itu produk baru, edisi impor dua tahun terakhir.
Ayah Joni sudah lebih dari satu dekade di balik jeruji. Ia tidak punya akses pada produk itu. Bahkan jika ia keluar sebentar, tidak ada pembelian atas namanya. Tidak ada transaksi yang bisa ditelusuri. Sebaliknya, Surya menemukan catatan pembelian atas nama Joni untuk minyak kolektor tersebut. Surya menyadari sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada kemungkinan ayahnya masih membunuh.
Dan benar. Ayah itu tidak melanjutkan pembunuhan, ia memantau. Ia ingin melihat apakah anaknya cukup kuat atau cukup berani atau setia pada warisan yang tidak pernah ia minta.
Di ruang introgasi, Joni mengaku telah membunuh lebih dari 30 orang dan kebanyakan korbannya adalah perempuan.
Wajahnya tenang, kadang-kadang tertawa. Hingga polisi mendatangkan psikolog khusus untuk menangani pria itu.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Sementara Kaca. ia pecah. Pecah-pecah Kaca yang remuk. Gadis itu terbaring di atas lantai kamar mandi yang basah–banjir. Mulutnya mengeluarkan busa setelah menelan racun—minyak pembersih pisau milik suaminya di ruang kerja Joni.
Kabar itu meluas hingga terdengar ke penjara saat bibi Kaca mengengok ke lapas.
Tidak berselang lama, Joni ikut mengakhiri hidup dengan membentur-benturkan kepala di ubin kamar mandi hingga tewas.
Kotak berwarna keemasan berbentuk peti harta karun terbuka, berisi surat pernyataan cinta yang indah.
Pernikahan berlangsung di vihara tua yang berdiri sedikit menjauh dari hiruk-pikuk kota, tersembunyi di balik deretan pohon bodhi yang daunnya bergetar pelan diterpa angin sore. Bangunannya sederhana, tidak megah, namun terawat dengan ketenangan yang nyaris sakral—dinding berwarna gading, lantai batu yang dingin di telapak kaki, dan aroma dupa cendana yang menggantung lembut di udara. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, jatuh sebagai garis-garis keemasan di lantai.
Dua pasangan itu berdiri berdampingan di hadapan altar Buddha, mengenakan busana yang bersahaja. Tidak ada iring-iringan keluarga, tidak ada kursi khusus bagi orang tua, tidak ada suara isak yang biasanya mengiringi pelepasan seorang anak.
Dalam tradisi Buddha, pernikahan bukan sakramen suci yang mengikat manusia pada kehendak ilahi, inilah bentuk kesepakatan sadar antara dua individu untuk menjalani hidup dengan sila, dengan cinta kasih, dan dengan tanggung jawab. Seorang bhikkhu senior duduk tenang di sisi altar, suaranya begitu tenang ketika membacakan paritta. Itu adalah doa agar kedua insan mendapat kejernihan batin dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Pria itu menatap sang gadis sebagai sesama peziarah. Dalam tatapannya ada pengakuan yang kelam–tak bisa di ungkapkan pada siapapun, bahwa mereka berdua datang dengan masa lalu yang retak, dengan luka yang selalu gagal dijelaskan, dan dengan kesadaran bahwa tidak ada yang kekal—bahkan cinta. Justru dari ketidakkekalan itulah mereka memilih untuk saling menjaga, hari ini dan entah berapa lama waktu mengizinkan.
Sang gadis menangkupkan tangan di dada, suaranya tenang ketika mengucapkan niatnya. Ia tidak bersumpah setia selamanya, tidak berjanji akan selalu bahagia. Hanya ikrar untuk berusaha tidak melukai, untuk berbicara dengan kejujuran, dan untuk kembali pada welas asih ketika amarah atau lelah menyelinap ke dalam batin. Aaron menyusul dengan niat yang serupa—tentang kesabaran, tentang tanggung jawab, tentang keberanian untuk tetap tinggal meski hidup kembali memperlihatkan sisi kejamnya.
Di luar vihara, lonceng angin berbunyi pelan. Daun-daun bodhi bergesek satu sama lain—menjadi saksi bisu bagi dua anak yatim piatu yang akhirnya menemukan bentuk keluarga mereka sendiri. Pernikahan itu tidak dirayakan dengan gemerlap, tetapi dengan kesunyian yang penuh makna. Tidak ada yang mengantar mereka pulang—karena sejak awal, Aaron dan Juwita adalah rumah bagi satu sama lain.
≽^• ˕ • ྀི≼
3 TAHUN YANG LALU
Seseorang tidak akan datang. Ia meyakini itu dengan hati penuh. Hidupnya tidak buruk, finansialnya bagus cenderung stabil bahkan di atas rata-rata. Namun kesepian benar-benar mencekik setelah kedua orang tuanya meninggal secara bersamaan dua tahun yang lalu dalam kecelakaan yang tidak bisa dikatakan tragis namun tragis, Aaron ingin sekali mengkategorikannya sebagai kecelakaan terbodoh sepanjang masa, sehingga menciptakan satu status baru; yatim piatu. Ia berusia 22 tahun saat peristiwa naas itu terjadi. Kata orang, usia itu cukup tua untuk di sebut yatim piatu, namun baginya status baru itu membawa begitu banyak kehancuran, frustrasi, dan kesepian. Kesepian akut. Jelas kondisi itu bisa membunuh orang.
Mulanya seorang sopir truk membawa muatan besar berisi kelapa yang memadati boks belakang—mengantuk. Sambil tersentak-sentak saat sedetik kesadarannya datang dan sedetik kemudian pergi, lajunya menjadi oleng dan tentu saja bukan sesuatu yang bagus yang terjadi ke depannya.
Truk itu berakhir membawa sedan mini di depannya yang melaju normal—layaknya kendaran patuh terhadap segala peraturan lalu lintas—terseret sejauh 200 meter sebelum masuk ke jurang. Persitiwa terjadi di jalan raya sepi dimana pegunungan mengapit aspal sepanjang 3 kilometer dan jurang menjulang jauh tak terlihat dasarnya.
Baik. Aaron akan menepis kenangan yang itu karena sudah tidak lagi relevan dan ia harus bertahan hidup.
Kedua orang tuanya meninggalkan sisa uang yang cukup untuk hidup sampai mati–setidaknya ini adalah hasil kalkulasi jika ia menghabiskan 5 juta sehari. Itu angka yang bagus—membuat Aaron tidak ketakutan mati karena kelaparan meski semangat hidupnya nyaris di zona merah. Itu dua tahun yang lalu. Semua membaik pelan-pelan kecuali kesepian yang berusaha diobati dengan segala hal dan tetap berujung menyedihkan.
Dua tahun yang lalu selang beberapa bulan setelah kehilangan orang tua, Aaron yang bahkan belum lulus kuliah memutuskan untuk berkecimpung di sosial media. Membuat video pendek — mereview pakaian, sepatu, tas, memberi contoh stylelish rambut, mengajak audiens pergi perawatan dan membuat vlog jalan-jalan ke luar negeri. Dengan wajah tampan dan postur tubuh keren, tidak butuh lama untuk meledakkan namanya. Dalam kurun 2 tahun, pengikutnya nyaris mencapai 3 juta. Ajakan bekerja sama datang dari mana-mana. Namanya kian melambung dan kerap mendapat undangan award untuk kategori kreator paling menginspirasi.
Uangnya banyak. Aaron berencana membeli teman, gadis, atau siapa saja untuk mengisi kekosongan diri.
Ia membawa gadis, menjalin hubungan, bercinta, tinggal bersama dalam waktu-waktu tertentu, membiayai, memberikan semua hal hanya agar tidak di tinggalkan.
Tapi tidak pernah lama. Utas beberapa gadis yang sempat berpacaran dengannya, karakternya clingy dan aneh. Menempel dan sangat terikat–membuat risi.
Lalu tahun berikutnya, Aaron memutuskan untuk mengubah karakter menjadi bajingan yang ‘tidak clingy’ pembawaannya tenang, tertata, dewasa dan dingin. Kekasihnya berganti tiap dua hari. Hari-harinya adalah pesta, bar, minuman keras dan narkoba. Orang-orang mengaku teman lantas mendekat, hidupnya penuh–bebas dan berwarna untuk beberapa saat meski mirip fatamorgana.
Hal-hal penuh perayaan. Setiap hari adalah pesta.
Minuman keras adalah lumrah dan wajib. Aaron kecanduan. Dunia terasa tidak stabil, sebentar-sebentar berputar dan melayang. Para gadis menghisap penisnya dalam-dalam, memutarinya dalam gerak konstan.
Pecah.
Hidupnya adalah pesta bermandikan sperma dan alkohol. Suntik hirup asap, narkoba. Bersenang-senang.
Hingga enam bulan kemudian, usianya tepat 25 tahun. Aaron pergi ke dokter setelah mengalami keluhan ekstrem seperti mudah sekali lelah, mual, kulit dan mata menguning, nyeri perut kanan atas, nafsu makan menghilang total dan tubuhnya kurus terlihat layu. Saat bercermin, ia seperti melihat zombie–mengerikan.
Hasil darah memberi diagnosa; Hepatitis Alkoholic. Penyebabanya konsumsi alkohol berat dan lama. Organ; hati.
Dokter juga mengatakan hal-hal menakutkan seperti; “Kalau kamu minum alkohol lagi, habis sudah” Katanya organ penyaring racun ikut rusak karena hidupnya penuh racun.
Aaron bertaubat–mungkin. Ia menjalani pengobatan serius selama berhari-hari di rumah sakit lalu pemulihan menyusul dalam apartemennya sambil menyewa perawat dan ART. Saat sakit, setan pun tak ada yang mendekat. Tidak ada teman bar, teman minum, gadis-gadis. Bahkan sekedar mengirim pesan menanyakan kabar, tidak ada. Padahal saat bersama, mereka merangkul seperti sahabat sejati, terlebih pada bagian bills.
Karakter yang awalnya ia ciptakan untuk menarik teman dan gadis. Uang yang di hamburkan untuk mengisi kekosongan hati, kini tidak lagi relevan. Aaron sadar meski agak terlambat hingga membuat nyawanya nyaris melayang.
Kini ia menjadi pendiam, bukan karena keren, tapi sakit. Ia terlalu banyak meringis.
Dan sejatinya memang ia pendiam–pemalu dan mudah merasa tidak enak. Dulu, sebelum ini, saat kedua orang tuanya masih ada dan pergaulan bebas tak menyentuh.
Meski begitu, hidupnya tetap kesepian, kabar bagusnya, ia tidak lagi berpikir untuk membeli teman atau gadis.
Masa pemulihan berjalan lebih lama dari yang terduga. Di sela-sela kerapuhan, Aaron masih berusaha bertahan hidup–mencari uang dengan menyunting video lama untuk kembali ia monetisasi. Baginya, mencari uang tidaklah sulit, yang sulit adalah mendapat teman.
Beberapa bulan berlalu, dokter menyatakan bahwa ia sembuh total, meski sesekali masih mendatangi dokter untuk memerikskan diri. Tubuhnya pulih dengan baik. Menjaga pola makan pun tak seketat kemarin. Aaron tidak yakin, namun segala hal yang dilewati sesingkat itu mampu mengubah karakternya menjadi lebih bijak dalam berteman, bergaul dan kemana ia menghamburkan uang. Pembawaannya lebih tenang dan tertata bukan untuk tujuan menyedihkan seperti yang sudah-sudah, melainkan terbentuk dari kerasnya kesepian dan pelajaran hidup yang ia lewati.
Bulan-bulan berlalu lagi. Kesepian ia alihkan pada kesibukan bekerja atau bermain game. Pergi keluar negeri, gym, menyantap hidangan lezat, dan mulai menyukuri tiap hal-hal kecil dalam hidup. Ia tidak menjalin hubungan dengan siapapun, tidak memiliki sahabat dekat meski bohong jika sama sekali tidak memiliki teman. Aaron kini fokus pada hidupnya sendiri, fokus pada hal sederhana yang ia rayakan untuk diri sendiri.
Atau seperti itulah hidupnya berjalan setelah semua hal. Katanya, tidak ada yang terlambat sebelum kematian meski pria itu bukan penganut agama yang taat.
Pelan-pelan semua kembali.
Namanya melejit lagi, tawaran ini itu hingga ia menjadi model untuk merek-merek lokal yang sedang ramai di berbagai platform sosial media. Tiap apa yang di pakai akan menjadi trendsetter para pria-pria di luar sana. Kesibukannya makin bertambah dan kesepiannya tergerus rasa lelah.
Tapi malam ini berbeda.
Pukul 2 dinihari, Aaron terbangun dengan kemih penuh. Langkanya buru-buru hingga air seni mencuat tak tepat pada lubang kloset saking tidak tahan. Setelah itu, ia menyiram seluruh sudut kamar mandi dengan pembersih sebelum membilasnya dengan air. Saat hendak berbalik dengan mata terkantuk-kantuk, kakinya menginjak sisa pembersih yang tak larut. Dalam hitungan detik, tubuhnya terjengkang dan jatuh menghantam ubin basah yang dingin. Beruntung bokong yang menjadi tumpuan—bukan kepala atau apapun yang berpotensi kematian.
Ia meringis—mengaduh, bokongnya panas, matanya yang mengantuk kembali segar. Dalam kesialan itu ia masih bersyukur tidak mati. Membayangkan mati sendirian dalam kamar mandi benar-benar membuatnya merinding.
Diseret kakinya kembali ke kamar. Baju tidurnya basah. Sambil menggerutu ia membuka lemari dan mengganti semuanya.
Tidak jadi mengantuk meski tubuhnya lelah lepas bekerja seharian–ke sana ke mari memenuhi panggilan kontrak. Maka, disanalah bokongnya merbah.
Tangannya menekan keyboard. Awalnya, ia hanya ingin mencari game baru–menelusuri web-web yang menyediakan game unik atau yang belum pernah ia mainkan karena jujur bosan. Seperti semua game, hasil rekomendasi, serta game-game yang sedang ramai, semuanya hampir mencapai level akhir dan tidak ada lagi yang membuatnya bersemangat.
“Game indie” ia bergumam–mengetik di papan pencarian, lalu dihapus, ganti.
“Game aneh” lalu di hapus lagi.
Ia mengucek mata, menekan keyboard dengan kunci unik. Meminta bantuan AI atau iseng membuka semua situs yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Entah apa, ia tidak serius. Jarinya mengetik kata bahkan tidak ia rencanakan, hanya asal ketik saja pada keyboard. Bukan nama game, benar-benar acak dan asal yang jelas terdengar salah—dan ia menekan enter.
Dan hasil pencariannya tak kalah aneh.
Bukan halaman–halaman biasa dengan tampilan umum dan iklan dimana-mana. Di antara deretan link yang terasa normal, ada satu yang tampilannya kosong. Judulnya “menjual yang tidak ada” itu saja, tak menjelaskan apa pun. Tidak ada deskripsi.
Aaron ragu, kursor berhenti tepat di atas link itu. Lalu ia mengedikkan bahu tak peduli.
Klik
Layarnya putih agak lama. Lebih lama dari situs mana pun yang pernah ia buka. Lalu pelan-pelan, sebuah halaman muncul—gelap, minimalis, latar hitam, tulisan pucat, tidak ada logo, tidak ada menu jelas. Seperti tampilan pada komputer tempo dulu.
Satu kalimat muncul di tengah layar
You’re not to supposed to be here
Aaron tertawa pelan sambil bergumam “cringe” tapi ia tidak menutupnya. Saat ia mencoba menggeser layar, halam itu berubah disusul sebuah kolom yang muncul, lalu menghilang, di gantikan simbol-simbol aneh. Ia diminta mengisi sesuatu.
Aaron diminta mengisi captcha. Tapi menjengkelkan ketika huruf-hurufnya terdistorsi. Pola yang harus diulang. Pertanyaan yang jawabannya ambigu. Salah sedikit, halaman memuat ulang dan ia kembali ke awal.
Aaron melihat jam di pojok layar. Sudah lewat 20 menit. Tapi ia masih penasaran. Dan semakin lama, situs itu semakin terasa menguji kesabarannya. Ketika ia hampir menyerah, halaman tiba-tiba memuat lebih cepat–lalu berhenti dan halaman menampilkan pengisian data diri secara akurat. Dari data yang harus sesuai dengan kartu penduduk, nama ibu kandung hingga nomor rekening serta catatan kriminal.
Aaron mengisinya cepat—diluar kepala. Namun saat selesai dengan data diri, ia kembali di alihkan pada halaman dimana harus “pilih gambar lampu lalu lintas”
Kembali mengisi captcha sebelum akhirnya diminta memasukkan OTP yang di kirim lewat email. Dan benar, ada email masuk. Aaron buru-buru memasukkan.
Hampir 60 menit. Jam di sudut layar menunjukkan 02.57 ketika halaman itu akhirnya berhenti berkedip.
Tidak ada bunyi. Tidak ada notifikasi. Hanya hening dan suara PC khas mesin berjalan.
Aaron menahan napas.
Layar di depannya berubah pelan, atau ia berasumsi bahwa situs itu sedang mempertimbangkan apakah ia layak diterima. Hitamnya bukan hitam biasa, janis hitam yang menyerap cahaya. Abu-abu tipis mengambang seperti kabut. Font-nya sederhana.
Tidak ada logo atau sambutan.
Hanya satu kalimat di tengah layar:
SESSION ACCEPTED
Hurufnya muncul satu per satu, bukan diketik—lebih seperti diingat.
Aaron menelan ludah. Tidak tahu kenapa ia menjadi gugup. Tiba-tiba perasaan aneh muncul seperti — berharap halaman itu gagal dimuat. Tapi halaman itu justru terbuka sepenuhnya. Rasanya seperti ia sedang membobol situs militer Rusia. Semuanya terasa mendebarkan.
Bagaimana jika setelah ini ia di cari intel dan masuk penjara? Atau di buru tentara asing? Atau penipuan? Pikiran-pikiran dengan spekulasi mengerikan berputar-putar.
Tampilan berikutnya mirip berkas usang yang disusun oleh orang yang hidup dengan komputer pentium pertama. Baik, Aaron tau ia berlebihan.
Kolom-kolom sempit berjajar rapi. Tidak berwarna, pun gambar mencolok. Setiap baris berisi kode, status, dan catatan singkat. Tidak ada kata “game”, tidak ada kata “jual”. Tidak ada kata “beli”. Semuanya seperti laporan cuaca.
ITEM 12-A
Status: Aktif
Ketersediaan: Terbatas
Catatan: Tidak menerima penundaan
Di bawahnya, baris lain.
ASSET – ORGANIC
Kondisi: Stabil
Riwayat: Lengkap
Waktu tunggu: Ditentukan sistem
Aaron memicingkan mata kabingungan. Tidak ada penjelasan. Tidak ada apapun yang bisa menjadi kunci, hal seperti game, barang atau sialan jenis apapun yang dijual pada web itu. Seolah siapa pun yang berada di sini sudah sepakat untuk tidak bertanya.
Di sisi kanan layar, angka-angka bergerak perlahan. Bukan mata uang, bukan penghitung waktu, Aaron juga tidak mengerti yang itu. Tidak ada simbol apalagi emoji. Lagi pula apa yang diharapkan dari tempilan layar monokrom? Hanya unit-unit sunyi yang naik dan turun, tidak ia mengerti.
Aaron menggeser kursor—tidak ada bunyi klik. Tidak ada efek. Tapi sebuah jendela kecil muncul sendiri, transparan dan terasa sopan.
INTEREST CAN BE RECORDED.
DOUBT IS NOT STORED.
EXITING NOW MEANS YOU WERE NEVER LOGGED IN.
Kalimat terakhir membuat punggung Aaron terasa dingin. Ia sadar, selama satu jam tadi, ia mengira sedang mengakali sistem. Padahal kini terasa jelas, justru sistem itu yang terasa mengamati. Mengukur berapa lama seseorang bertahan. Berapa kali mencoba. Berapa kali memilih lanjut meski bisa berhenti. Dan Aaron adalah orang yang gigih–mungkin. Ia menguasai banyak hal kecuali berteman dan menjalin hubungan.
Di bagian bawah halaman, ada arsip-arsip lama. Tanggalnya tidak berurutan. Beberapa bahkan tampak mundur. Aaron merasa ada kesalahan waktu parallel disini. Tunggu, apa ini web dunia parallel?
Aaron mematikan monitor sebentar, menempelkan dahi ke meja. Jam dua pagi selalu terasa seperti celah—waktu ketika dunia lengah dan batas-batas menjadi kabur. Ketika hal-hal yang seharusnya tidak ada, menemukan jalan.
Atau ini web hantu?
Saat ia membuka kembali layar, halaman itu masih ada. Tidak logout. Tidak berubah.
Layar itu bergeser sendiri.
Aaron tidak mengklik apa pun—ia yakin tangannya bahkan tidak menyentuh trackpad. Tapi baris-baris di halaman itu tersusun ulang.
Satu entri berhenti tepat di tengah layar.
Tidak ada judul.
Tidak ada kategori.
Hanya kode.
PACKAGE : L–16 / UNIT A
Status: Tersedia
Kondisi: Reset
Respons verbal: Aktif
Memori: Tidak relevan
Disarankan untuk penggunaan jangka panjang.
Aaron mengerutkan dahi. Kata reset itu mengganggunya. Terlalu ringan untuk sesuatu yang terasa… salah. Ia men-scroll sedikit ke bawah.
Sebuah kotak pratinjau muncul. Isinya hanya siluet buram, seperti pantulan di kaca berembun. Sosok kecil duduk diam. Kepalanya miring, matanya terbuka tapi kosong, senyumnya muncul tanpa alasan yang bisa ditebak.
Tidak ada keterangan jenis kelamin.
Tidak ada nama.
Tidak ada usia.
Hanya unit.
Di bawahnya, subbagian lain terbuka otomatis.
COMPONENTS – INTERNAL
ITEM: CORE–H
ITEM: FLOW–V
ITEM: RESP–L
Ketersediaan: Terpisah
Tidak termasuk dalam paket utama.
Aaron menelan ludah. Jarinya terasa mati rasa. Ia tidak sepenuhnya paham apa yang ia baca—dan justru itu yang membuat dadanya resah. Situs ini tidak menjelaskan, karena menganggap penjelasan tidak diperlukan.
Ia scroll lagi.
Daftar terakhir muncul paling bawah, dengan latar yang sedikit lebih gelap.
TOOLS – CLOSE RANGE
Tipe: Manual
Kondisi: Baru
Jejak: Bersih
Pengiriman: Langsung
Tidak ada foto. Hanya garis-garis tipis yang membentuk bayangan benda tajam. Cukup jelas untuk dikenali, cukup samar untuk tidak perlu dipertanyakan.
Aaron memijat pelipisnya. Otaknya seperti tertinggal beberapa detik di belakang mata. Semua ini terlalu ambigu, aneh, dan… tidak tahu, ia tidak mengerti.
Hanya daftar.
Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tidak tahu apa yang boleh, atau tidak boleh disentuh. Tangannya bergerak sendiri—asal, tanpa tujuan. Kursor melayang, lalu berhenti di area kosong di antara paket dan komponen.
Satu klik.
Layar berkedip singkat.
Muncul sebuah notifikasi kecil.
INTEREST RECORDED
CHANGES ARE NOT RECOMMENDED
REMAIN THE SESSION
Jantung Aaron berdegup keras. Ia buru-buru menggerakkan kursor, ingin mundur, ingin keluar—tapi tidak ada tombol kembali. Tidak ada tanda silang. Tidak ada “cancel”.
Hanya halaman yang tetap terbuka. Tidak mengerti. Segalanya dianggap keputusan.
Layar tidak berubah.
Itu yang paling membuat Aaron panik.
Tidak ada ledakan warna. Tidak ada peringatan merah. Tidak ada kalimat ancaman. Situs itu tidak bereaksi seperti sistem yang tersentuh secara tidak sengaja. Ia bereaksi seperti seseorang yang sudah memperhitungkan pilihan itu sejak awal. Kepalanya lagi-lagi berputar tentang situs rahasia senjata militer milik negara besar dan kuat. Aaron merasa akan mati setelah ini.
Di pojok bawah layar, sebuah indikator tipis menyala. Garisnya bergerak lambat, seperti jam pasir digital.
PROCESSING INTEREST
Aaron berdiri begitu cepat sampai kursinya terjungkal ke belakang. Detaknya terasa di tenggorokan. Ia menekan tombol escape. Tidak terjadi apa-apa. Ia menutup tab. Tab itu tetap ada. Ia menekan tombol daya monitor—layar meredup sepersekian detik, lalu kembali menyala, persis di halaman yang sama.
Tiba-tiba komputernya seperti berhantu dan berseru memintanya duduk.
Notifikasi lain muncul. Lebih kecil. Lebih personal.
NO ERRORS DETECTED.
THE INTERACTION IS CONSIDERED VALID.
CONFIRMATION IS CARRIED OUT THROUGH SESSION CONTINUITY.
Aaron membaca ulang kalimat itu berkali-kali, berharap maknanya berubah. Tapi setiap kata terasa seperti paku yang dihujamkan bersama spekulasi liar yang membayangi kepala. Konfirmasi terjadi secara otomatis. Konfirmasi adalah tetap berada di sana.
Ia menutup matanya.
Di balik kelopak mata, bayangan siluet tadi muncul lagi—tidak jelas, tapi cukup untuk membuat perutnya melilit. Ia mrinding mengingat cara situs itu menampilkannya: tenang, misterius.
Saat ia membuka mata, halaman itu bertambah satu bagian baru.
Hanya satu baris.
STATUS : LOCKED
Di bawahnya, catatan kecil:
ALTERING THE PATH IMPACTS THE ENTIRE SESSION
Aaron tertawa pendek—kering, hampir tidak terdengar. Tawa orang yang putus asa dan kebingunan. Campur aduk antara khawatir dan takut.
Tangannya resah saat ia menggeser kursor ke area kosong, berharap ada celah. Tidak ada. Semua ruang di layar terasa aktif, seperti setiap piksel memperhatikannya.
Tiba-tiba angka muncul tanpa suara atau notifikasi. Hanya ada, di sisi kanan layar, seperti sudah berada lama di sana dan baru sekarang Aaron menyadarinya.
Bukan rupiah.
Bukan dolar.
Bahkan bukan mata uang.
Aaron mengerutkan dahi ketika melihat deretan simbol dan unit pendek—rapi, sama sekali tidak menjelaskan apa pun.
Di bawahnya, keterangan kecil tertulis:
TOTAL UNIT : 43.700
Status: Cukup
Sumber: Terverifikasi
Nilai tidak dapat dikembalikan.
Aaron mencondongkan tubuh. “Cukup?” gumamnya pelan. Ia tidak ingat pernah mengisi apa pun. Tidak ingat pernah menyetujui angka sebesar itu—atau angka apa pun. Tapi kata cukup itu terasa mengusik.
Ia men-scroll ke bawah.
Bagian pembayaran tidak menyerupai transaksi. Tidak ada kolom nomor. Tidak ada perintah transfer. Tidak ada pilihan metode. Yang ada hanya satu paragraf pendek, ditulis dengan format–administratif.
Unit akan dipotong saat minat dikunci.
Proses bersifat satu arah.
Keraguan setelah ini tidak dicatat sebagai keberatan.
Aaron mengernyit. Detak jantungnya terasa makin tak karu-karuan.
Di pojok layar, indikator tipis bergerak lagi.
LOCK IN PROGRESS
Ia menunggu sesuatu terjadi—entah notifikasi, entah permintaan konfirmasi terakhir. Tapi tidak ada. Situs itu tidak meminta persetujuan eksplisit. Ia hanya menghitung diam sebagai setuju.
Beberapa detik kemudian, angka unit itu berubah. Seperti cahaya yang dipadamkan sekaligus.
Status di bawahnya ikut berubah.
PAYMENT : COMPLETED
Waktu proses: Tidak relevan
Jejak: Dihapus
Pengiriman akan dilakukan sesuai jadwal.
Aaron menatap kalimat terakhir itu lama sekali.
Pengiriman.
Kata itu terasa paling nyata dari semuanya. Lebih nyata daripada angka. Lebih nyata daripada kode. Lebih nyata daripada layar hitam di depannya. Ia tiba-tiba sadar—apa pun yang barusan terjadi, tidak berhenti di sini.
Situs itu menutup sendiri.
Bukan logout. Bukan error. Hanya kembali ke halaman kosong, seakan tidak pernah ada apa pun sebelumnya. Tapi sistem itu tahu ke mana harus mengirimkannya.
Dan jam di sudut layar masih menunjukkan 02.57.
Tidak maju.
Tidak mundur.
Aaron mulai ketakutan. Maka, ia mematikan komputer dengan mencabut kontak hingga semuanya gelap. PC mati, total.
Pria itu melompat ke atas ranjang lantas menutup diri dengan selimut. Entah bisa tidur atau tidak, esok akan ia datangkan teknisi ahli untuk memeriksa komputernya.
Suhu pendingin ruang kelewat rendah, Aaron menggigil tak berani mencari remot kontrol untuk menaikkan suhu. Maka, ia mengerat selimut sampai pagi.
≽^• ˕ • ྀི≼
Ternyata pagi datang.
Dan rumahnya aman. Maksudnya, tidak ada hantu, TNI, INTEL, tentara Rusia atau apapun yang dispekulasikan—membobol masuk, lalu membunuhnya dengan meledakkan granat atau melubangi dahi dengan peluru. Paling tidak hantu yang mencekik.
Aaron mengucek mata.
Cahaya matahari tembus dari gorden tinggi dan tebal. Jam dinding memutar detik dengan bunyi konstan yang utuh. Saat ia lihat, jarum pendek ada di antara sebelas dan dua belas, hampir tengah hari.
Matanya mengedar pada perangkat komputer. Benda itu masih di tempatnya, masih sama dan masih utuh. Hanya kabel yang dicabut–menandakan bahwa ia benar-benar panik semalam. Bukan hanya mimpi kosong pria pada pukul 2 pagi.
Sial.
Aaron mengusap wajah sekali lagi. Ia meraih ponselnya di atas nakas dan menemukan satu notifikasi paling menonjol diantara nomor-nomor siapapun–client yang meminta kerja sama, mengingat ia tak memiliki manajer. Notifikasi dari bank.
Aaron berdehem. Tenggorokannya kering. Jarinya terasa berat saat membuka layar.
Transaksi berhasil
Jumlah: 8.000.000.000
Keterangan: Authorized debit
Saldo akhir: 40. 200.000.000
Ia membaca ulang. Lalu sekali lagi. Nominalnya bukan angka kecil. Bukan sesuatu yang bisa salah pencet. Jumlahnya tepat—terlalu tepat hingga aneh jika ia gila mentransfer secara tidak sengaja.
Ingatan malam itu menyusup pelan.
Formulir panjang.
Kolom demi kolom.
Nama lengkap.
Tanggal lahir.
Alamat.
Pekerjaan.
Riwayat kriminal.
Nama ibu kandung.
Captcha menyebalkan.
Dan satu bagian yang waktu itu terasa sepele karena ia sudah terlalu lelah untuk curiga:
Data keuangan untuk validasi sesi; OTP, sialan.
Tidak ada paksaan.
Hanya satu kalimat pendek di bawah kolom itu: Diperlukan untuk memastikan kontinuitas.
Aaron menekan layar ponsel sampai sidik jarinya memutih. Ia ingat bagaimana sistem itu tidak pernah berkata “kami akan mengambil”. Sistem itu hanya berkata “kami perlu tahu.”
Dan ia memberi.
Di riwayat transaksi, tidak ada nama perusahaan. Tidak ada alamat. Tidak ada nomor referensi yang bisa ditelusuri. Hanya satu baris keterangan yang terasa seperti ejekan menyebalkan.
Sesuai persetujuan.
“Persetujuan apa… buset” pria itu nyaris mengerang. Tiba-tiba kehilangan uang 8 miliar bukanlah hiburan di siang bolong. Seharusnya sejak awal bukan hantu yang mesti ia takutkan. Bukan spekulasi bodoh tentang tentara militer Rusia yang akan membobol rumahnya atau intel, namun penipuan. Situs itu jelas menipunya.
Pria itu bangkit buru-buru ke kamar mandi. Ia bersumpah akan pergi melaporkan kasus ini ke polisi.
Aaron duduk di kursi plastik yang dingin, menjelaskan semuanya dengan suara tenang—sedikit resah. Tentang malam itu. Tentang situs gelap. Tentang delapan miliar yang hilang begitu saja.
Petugas mencatat. Penyidik datang. Mereka mendengarkan, tapi wajah-wajah itu tidak menunjukkan keterkejutan—lebih ke arah kebingungan yang kaku.
“Bukti transaksinya ada?” tanya penyidik.
Aaron menyerahkan ponselnya.
Mereka melihat layar. Mengernyit. Menyipitkan mata. Riwayat transaksi kosong. Terlalu kosong.
“Chat?”
“Tidak ada.”
“Email?”
“Tidak.”
“Alamat situs?”
Aaron membuka browser. Riwayat bersih. Seakan-akan malam itu tak pernah terjadi. Bukan, ia bahkan sudah mengecek komputernya dan membuka riwayat web, semuanya kosong. Benar-benar bersih.
Folder kosong. Tidak ada cache. Tidak ada unduhan. Tidak ada tangkapan layar. Bahkan jam akses pun tak menunjukkan apa pun yang ganjil.
Salah satu polisi tertawa kecil, gugup.
“Ini… aneh.”
Penyidik menutup map yang sejak tadi hanya berisi catatan tulisan tangan.
“Secara prosedur, kami perlu bukti. Jejak digital. Apa pun. Tanpa itu, laporan ini tidak bisa naik.”
“Tapi uang saya hilang,” suara Aaron nyaris pecah. Ketenangannya jelas kabur. Delapan miliar bukan uang kecil.
“Kami tidak menyangkal itu,” jawab penyidik, berusaha terdengar ramah agar tidak menambah kesedihan pria di depannya “Tapi hukum tidak bekerja dengan perasaan. Kami tidak bisa menyelidiki sesuatu yang tidak meninggalkan bekas.”
Kata-kata itu memperburuk perasaannya.
Akhirnya, ponsel yang terhubung dengan komputer di rumah kembali di serahkan. Saran diberikan dengan nada paling formal meminta Aaron ke bank, buat laporan administratif, tunggu.
Aaron berdiri. Ruangan itu terasa lebih terang dari sebelumnya, tapi entah kenapa ia justru merasa masuk ke dalam bayangan. Delapan miliar berpuatar-putar bagai puting beliung di atas kepalanya. Aaron sakit kepala.
Saat melangkah keluar, satu pikiran terpaku di kepalanya bahwa bukan hanya uangnya yang hilang, tapi juga kejadian itu sendiri. Seolah-olah malam tadi hanyalah mimpi buruk. Dan Aaron masih akan mendatangkan teknisi untuk kembali memeriksa komputer dan webnya sementara ia kembali dan di minta pergi ke bank. Dan tidak, Aaron tahu uangnya tidak akan kembali.
≽^• ˕ • ྀི≼
Sebenarnya uang itu besar, tapi mengingat ia diharamkan untuk stress atau lambungnya akan iritasi akibat pikiran-pikiran semerawut maka, Aaron lebih memilih legowo.
Atau tidak juga
Tiga kali teknisi datang. Tiga orang berbeda dan tiga-tiganya mengatakan hal yang sama; penipuan berjaringan international yang tidak meninggalkan jejak alias tidak bisa di selidiki karena mereka memang menghapus semua riwayat. Bahkan keyword asal yang awalnya diketik Aaron di papan pencarian malam itu, tidak lagi bisa diakses. Saat mencoba, web hanya akan memunculkan tampilan “404 ERROR”
Pria itu menyerah tepat di hari ke tiga.
Sambil bersugesti dan menanamkan afirmasi positif ke dalam kepalanya yang semerawut setelah kehilangan uang besar, untuk pertama kalinya Aaron ingin pergi ke Vihara–mendekatkan diri pada Buddha.
Pakaiannya rapi.
Bukan ke kuil, tapi liburan ke Lombok. Kuil selalu ada dalam hatinya, jadi ia merasa tidak perlu datang. Buddha ada, itu saja cukup membuatnya merasa seperti penganut yang taat dan religius. Obat stress setelah kehilangan uang adalah liburan. Menghamburkan sisa uangnya yang lain sebelum–siapa yang tau akan kembali dicuri oknum sinting.
Koper di seret. Aaron baru saja membuka pintu apartemen sebelum pegangannya pada koper lepas. Matanya membulat besar.
Paket di depan pintu.
Besar, sangat besar.
Ia ingat pernah mendapat paket sebesar ini saat membeli kulkas. Sama. Namun pria itu gagal mengingat pesanan apa yang datang. Lantas satu tangan bertolak pinggang, tangan yang lain membuka ponsel, mencari pesanan karena ia lupa pernah memesan sesuatu.
Nihil. Tiga marketplace online yang biasa menjadi tempatnya memesan apapun, tidak ada riwayat ia memesan dan dalam proses pengantaran. Tidak, paket ini bukan miliknya.
Lantas ia cari keterangan. Apa saja, alamat atau nama penerima — untuk memastikan apakah itu miliknya atau salah alamat.
Saat ia ia mengitari kardus besar itu, matanya baru menemukan keterangan resi, alamat, jenis barang dan namanya.
Benar, semuanya benar.
Itu di tujukan ke apartemennya, namanya. Kecuali nama barang yang ditulis dengan kode yang tidak ia mengerti namun tidak asing juga.
PACKAGE : L–16 / UNIT A
Status: Tersedia
Kondisi: Reset
Respons verbal: Aktif
Memori: Tidak relevan
Disarankan untuk penggunaan jangka panjang.
Aaron melamun sesaat. Berusaha mengingat dimana ia pernah melihat kode ini.
Hanya butuh waktu 30 detik sebelum pupilnya membesar dan jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba.
Benar, website misterius itu. Pesanan dan uangnya. Tidak, uangnya tidak hilang, ini bukan penipuan–atau mungkin memang peniupan namun jika dirunut dari bagaimana cara ia mengklik semua hal di halaman yang aneh tempo malam, semuanya jadi terarah dan masuk akal. Penipuan atau sialan apapun itu, Aaron sadar jika kebodohannya adalah bagian dari ini semua.
Maka, sebagai delapan miliar yang berubah bentuk menjadi kardus besar dengan lakban hitam yang nyaris penuh mengelilingi permukaan, Aaron dengan legowo mengangkatnya ke dalam meski hatinya tidak nyaman.
Siapa yang tau jika di dalam adalah senjata militer rusia? Granat? Meriam? Atau alat-alat sejenis yang berbahaya dan ilegal?
Maka, Aaron berinisiatif menelepon damkar. Ya, damkar, damkar lebih cepat bergerak dibanding polisi.
Satu jam kemudian.
Damkar tak kunjung datang.
Arron kembali mengelilingi paket itu. Ia juga melepas topi dan masker setelah sekian lama dipakai hanya untuk memandangi kardus besar yang membuatnya penasaran.
Dari khawatir, takut, resah, bingung dan berakhir penasaran. Satu jam cukup membuat rasa takutnya menyusut dan berubah bentuk menjadi penasaran luar biasa.
Damkar tak kunjung datang.
Aaron mulai berpikir untuk nekat membukanya sendiri.
Namun bagaimana jika isinya berbahaya dan ia meninggal?
Tidak apa-apa, jika ia mati, maka, mayatnya pasti akan ditemukan damkar. Lagipula, jika jatah hidupnya memang hanya sampai hari ini, ia akan mati meski bukan dari membuka paket.
Tekad pria itu bulat, lebih bulat dari lampu gantung yang bergerak pelan tanpa angin di plafon.
Dan kini tangannya memegang cutter. Bilah tajam itu membuat garis vertikal memanjang dari atas. Robekan bahkan tidak terlihat. Kardus itu harus di koyak dengan brutal–sepertinya. Namun Aaron sangat telaten dan tidak tergesa-gesa.
Ia tidak menghitung waktu seperti menunggu damkar datang. Namun 10 menit berlalu sementara usahanya baru hanya menyingkirkan kresek hitam besar dengan bubble wrap kelewat tebal. Sampahnya berserakan di mana–mana. Keringatnya keluar deras karena lupa telah mematikan pendingin saat rencananya pergi malah tidak jadi. Jam terbang pesawat hanya tinggal 20 menit lagi. Aaron tau ia tidak akan pergi.
Tersisa bagian terakhir.
Begitu segel terakhir terlepas, bau aneh langsung menyembur keluar. Bukan bau busuk. Bukan juga wangi. Jika di rasa-rasa, aroma itu mirip ruangan tertutup yang lama tak dihuni–namun bukan apek juga, bercampur sesuatu yang steril dan dingin.
Saat Aaron memeriksa, matanya menangkap sesuatu yang benar-benar diluar dugaan. Tidak, pupilnya melebar. Bukan granat menakutkan, senjata ilegal, bom atau apapun seperti spekulasi liarnya selama ini. Melainkan manusia, seorang gadis.
Tubuhnya meringkuk, lutut ditarik ke dada, membuat kardus itu seperti tempat nyaman untuk bersemayam. Rambutnya berantakan, kulitnya pucat, dan napasnya nyaris tak terdengar. Ia tertidur. Atau tidak sadar. Sulit dibedakan.
Di pergelangan tangannya terikat gelang plastik putih, seperti gelang rumah sakit. Di sana tertempel label kecil.
Bukan nama, lebih mirip kode.
Huruf dan angka disusun rapi. Membuat gadis itu terasa seperti bukan manusia, namun barang inventaris. Di sudut kardus, Aaron melihat beberapa benda lain: tabung botol-botol kecil tanpa merek, suntikan yang masih tersegel, dan satu map tipis berwarna abu-abu. Ada panduan instruksi dalam map.
Ia membuka map itu.
Isinya satu lembar kertas.
Tulisan di sana sangat singkat, seperti instruksi mesin:
Subjek telah melalui proses reset kognitif.
Kemampuan dasar: membaca, menulis, memahami bahasa—utuh.
Memori personal: nihil.
Identitas lama: tidak tersedia.
Di bagian bawah, ada bagian lain—lebih dingin lagi: ikuti prosedur aktivasi sesuai urutan. Kesalahan akan mengakibatkan kegagalan permanen.
Namun, tidak ada penjelasan apa itu “aktivasi”.
Tidak ada penjelasan apa yang dimaksud dengan “kegagalan”.
Aaron menoleh kembali ke gadis itu.
Wajahnya polos. Terlalu putih untuk dunia yang telah memperlakukannya semengerikan itu.
Dan setelah sejauh ini, ia menyadari bahwa ini bukan sekadar paket, juga bukan penipuan biasa.
Ini adalah pengiriman.
Dan entah mau atau tidak, Aaron sekarang adalah penerimanya. Tiba-tiba ia merasa ini lebih menakutkan dari senjata militer atau apapun. Gadis pucat dan tidak sadarkan diri.
Aaron mengangkat tubuh gadis itu dengan hati-hati, meski pikirannya kacau.
Ringan.
Terlalu ringan untuk seseorang yang seharusnya memiliki kehidupan atau identitas.
Ia membaringkannya di atas ranjang kamarnya. Sprei rapi sebelum rencana akan ia tingglakan dan gagal.
Semuanya terasa salah untuk tubuh itu. Gadis itu tetap tak bergerak, dada naik turun pelan, seperti mesin yang masih menyala tapi ditinggal pemiliknya.
Aaron mundur selangkah.
Baru saat itulah ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk.
Nomor tidak dikenal.
Tidak ada foto profil.
Nama pengirim hanya deretan karakter:
[K-17/OBL-Δ]
Pesan pertama muncul.
FASE 1 — PENEMPATAN
Subjek harus berada di ruang personal penerima.
Isolasi dari pihak ketiga: mutlak.
Aaron menelan ludah.
Ruang personal.
Kamar ini.
Pesan kedua menyusul, tanpa jeda.
FASE 2 — STABILISASI
Pastikan subjek berbaring terlentang.
Cahaya ruangan diredupkan.
Tidak boleh ada suara eksternal.
Ia menutup pintu kamar.
Menarik gorden.
Lampu meja menyala samar.
Layar ponselnya kembali hidup.
FASE 3 — AKTIVASI DASAR
Paket pendukung tersedia di dalam kardus.
Gunakan sesuai penanda warna dan urutan kode.
Jangan improvisasi.
Aaron teringat botol-botol kecil dan alat-alat itu. Bukan obat—setidaknya tidak diberi nama. Hanya simbol, garis dan huruf Yunani.
Pesan berikutnya terasa lebih… tidak manusiawi.
PROTOKOL KESADARAN
Subjek akan membuka mata dalam rentang waktu yang ditentukan.
Jangan berbicara sebelum respons pupil stabil.
Jangan menyebut nama apa pun.
Aaron mengerutkan kening.
Jangan menyebut nama apa pun.
Seolah gadis itu adalah halaman kosong—
dan satu kata salah bisa merusaknya selamanya.
Pesan terus mengalir.
FASE 4 — PEMROGRAMAN SOSIAL
Subjek dapat membaca dan menulis.
Memori personal: kosong permanen.
Identitas baru sepenuhnya bergantung pada penerima.
Instruksi obat akan menyusul satu jam dari sekarang.
Aaron berdehem resah. Degup jantungnya berpacu lebih tidak normal. Tidak tahu, ia bingung harus mereaksi bagaimana. Semuanya terasa tidak nyata dan terlalu aneh.
Bahwa ia adalah penerima. Bukan penyelamat. Bukan wali. Bukan penolong.
Penerima.
Pesan terakhir masuk, paling pendek—dan menurut Aaron adalah paling kejam.
CATATAN AKHIR
Pengembalian: tidak tersedia.
Pelaporan pihak berwenang: tidak direkomendasikan.
Kepatuhan memastikan keberlangsungan subjek.
Aaron menurunkan ponselnya perlahan. Benar kan? Ini adalah delapan miliarnya. Meski Aaron tidak ingat bahwa ia pernah memesan hal aneh di sana, namun saat datang, mau tidak mau harus ia terima. Membuang si gadis, menyerahkan pada pihak berwenang atau sejenis, hanya akan membuatnya sakit kepala.
Ia menatap gadis itu lagi.
Wajahnya tenang, seolah tak tahu bahwa hidupnya kini bergantung pada seseorang yang bahkan tidak tidak tahu alasan eksistensinya. Pun jika menolak, mengembalikan ke mana? Ke siapa? Website itu sudah menghilang. Nomor itu anonim. Dan delapan miliar itu… sudah menjadi masa lalu.
Aaron menghela napas panjang. Benar, tidak ada pilihan lain. Akhirnya ia mendekat ke ranjang.
“Kalau kamu bangun nanti,” gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri, “aku juga enggak tahu harus apa” Dan di saat itulah, jari gadis itu bergerak sedikit.
Kelopak matanya mengendap-endap. Cahaya terasa terlalu terang, suara terlalu jauh. Dadanya naik turun tidak teratur. Mirip bayi baru belajar bernapas.
Lalu matanya bergerak cepat sekarang—mengedar pada langit-langit, dinding. Bayangan asing—lalu Aarron. Tatapannya berhenti disana, wajahnya berubah. Alisnya berkerut, bibirnya bergetar. Sementara Aaron tetap diam, mengamati dengan bingung yang berusaha ia tekan. Ia masih ingat instruksi itu; jangan berbicara, jangan menyebut nama apapun.
Gadis itu mengeluarkan suara kecil, pendek dan patah. Mirip refleks
“Mmh…” diam sebentar, lalu bersuara lagi “Ma.. ma?”
Aaron mengerutkan alis. Ia bingung, semakin bingung dan tidak tahu harus apa. Dalam instruksi, ia hanya diminta untuk jangan menyebut apapun atau akan rusak. Bagaimana maksudnya? Sementara tubuh ringkih dan pucat itu bergerak—merangkak mendekat padanya yang berdiri disisi ranjang. Aaron mematung–belum sempat berpikir harus melakukan apa.
Kepalanya menyentuh sisi tubuh Aaron, lalu sedikit bergeser, mendusal pelan, persis anak kucing yang mencari posisi paling nyaman. Tidak ada kesadaran akan batas, hanya rasa aman yang sederhana.
Gadis itu diam dalam posisi itu. Paha Aaron di dusal dan tangannya melingkar disana sembar menggenggam kain baju Aaron tanpa sadar. Jari-jarinya mengencang sebentar, lalu rileks.
Seolah, baginya itu sudah cukup. Wajah pertama, kehadiran pertama; Aaron. Pemiliknya.
Aaron menunduk, menatap rambut gadis itu yang menyentuh pahanya.
Lalu ponsel di tangan Aaron bergetar pelan.
Satu pesan masuk. Layar menyala.
KETERIKATAN TERDETEKSI.
Subjek telah memilih titik referensi utama.
Status: berhasil.
Aaron mengerutkan dahi.
Di sisi tubuhnya, gadis itu tetap diam. Nafasnya tenang. Kepalanya masih bersandar ringan, seakan menandai posisi itu memang tempatnya sejak awal.
Pesan berikutnya muncul beruntun.
Respons subjek konsisten.
Pola ketergantungan awal terbentuk.
Kontak visual dan kedekatan fisik sesuai parameter.
Aaron membaca ulang kalimat itu.
Parameter.
Ia mengepalkan tangan perlahan.
Peran penerima dikonfirmasi.
Intervensi verbal diperbolehkan dalam batas dasar.
Jangan koreksi asumsi identitas subjek.
Matanya terangkat dari layar.
Jangan koreksi.
Benar, sistem itu tahu—bahwa satu kata bukan saja cukup untuk merusak semuanya.
Pesan terakhir masuk
Proses adaptasi akan berlangsung alami.
Subjek akan meniru, mengikuti, dan melekat.
Kegagalan penerima akan berdampak permanen.
Layar kembali gelap.
Lantas Aaron menatap si gadis. Maju mundur tangannya ingin bergerak–sekedar menyentuh atau membelai. Namun diurungkan. Ia tidak tahu, bagi sistem, ini hanya status. Pun website itu, ini hanya hasil yang sesuai.
Tapi bagi Aaron, ini bukan hal kecil. Bukan hewan peliharaan, ini manusia, ia tidak hanya menerima sebuah paket, tapi kehidupan lain. Ia menerima sebuah keterikatan yang tidak bisa dikembalikan.
Agak lama.
Kakinya mulai pegal.
Aaron berdiri nyaris 20 menit tanpa gerak saat gadis itu memegangi kakinya. Dan berakhir ketika bel pintunya menyala. Aaron tidak mengatakan apa-apa, hanya melepas pegangan tangan si gadis, lantas melangkah ke depan.
Ia melupakan bagian yang ini. Pun pemadam baru datang hampir dua jam berlalu. Tidak kecewa, hanya bingung saja. Saat mereka berhadapan di depan pintu, Aaron membungkuk meminta maaf dan mengaku jika tadi kakinya tersangkut di tralis balkon hingga kesulitan ditarik keluar—sementara petugas terlihat bingung, pasalnya, laporan yang dipaparkan saat menelepon dan kejadian yang berlalu saat datang sangat kontras.
Aaron meminta maaf sekali lagi karena merepotkan. Masalahnya bisa ia atasi sendiri. Berkali-kali ia nyengir tidak enak—sebelum akhirnya pemadam pamit undur diri.
Bunyi klik pada pintu mengakhiri, saat berbalik, Aaron nyaris terlonjak kaget luar biasa–si gadis berdiri di depannya. Wajahnya pucat seperti tadi, bajunya hanya terusan dress tipis putih tanpa lengan selaras dengan kulitnya yang seperti mayat.
Aaron masih mengusap dada–berusaha tidak bersuara, sementara gadis itu meraih ujung baju Aaron sambil mendongak “Mama” katanya, lagi, seperti tadi.
Aaron masih khawatir bersuara, takut melakukan kesalahan. Maka, diajak si gadis dengan merangkul bahu yang dingin itu untuk kembali ke kamar. Aaron masih berdiri di sisi ranjang dan gadis itu tetap berada di sampingnya dengan tangan masih mencengkram ujung baju Aaron.
“Mama” katanya lagi, menatap Aaron dengan mata bening dan polos.
Aaron menggeleng.
“Mama” lagi.
Aaron menggeleng lagi.
“Mama”
“Aku bukan mama kamu. Aku Aaron” nekat. Setelahnya, Aaron gelisah. Ia menunggu ada notifikasi pesan masuk ke ponselnya–menunggu instruski apa saja dari sistem sialan. Sementara si gadis menatapnya sama seperti tadi, seakan, wajah itu hanya di desain untuk satu ekspresi.
Hening agak lama.
Tidak ada pesan masuk, tidak ada tanda-tanda si gadis akan meledak, mengamuk, keluar asap, konslet, bau gas, atau indikasi apapun yang menjurus pada kerusakan. Gadis itu masih sama; diam, menggenggam bajunya, menatap polos dengan mata seperti bayi.
Aaron menunggu hingga 10 menit.
“Aku Aaron” ulangnya, berharap setelah itu, ia menemukan instruksi atau apa saja.
“Aaron?” dan saat si gadis menjawab, Aaron berdebar, takut meledak. Siapa yang tau jika gadis itu bukan manusia, melainkan robot dengan silikon buatan China dan akan di ledakkan di perang genosida. Aaron agak sawan, namun si gadis tak ubah. Tidak ada apapun.
“Ya, nama kamu siapa? Aku Aaron”
Si gadis menggeleng “Aaron”
“Aaron namaku, namamu?”
Lalu si gadis mengedarkan pandangan. Matanya menyapu apa saja di kamar itu–lalu berlabuh pada merek LED yang menempel pada dinding tepat di depan ranjang “Samsung” katanya polos. Tatapan Aaron jelas mengikuti arah mata si gadis. Pria itu terkekeh pelan.
“Nama kamu Samsung?”
Si gadis mengangguk. Aaron menggelengkan kepala “kalau kamu belum punya nama, mau aku kasih?” si gadis hanya menatap Aaron lagi dan lagi, berkedip-kedip “mau?” lalu mengangguk.
“Siapa, ya… em..” tangannya mengelus dagu sambil berpikir. Hanya butuh setengah menit hingga seperti spontan yang terlintas sekilas “Bunga Juwita, Bunga Juwita cantik sekali” kata-katanya terdengar semangat–yang tiba-tiba membuat si gadis meniru. Gadis itu ikut tersenyum menirukan Aaron.
“Bunga Juwita” gadis itu mengulang.
“Iya, Bunga Juwita. Halo Bunga Juwita, aku Aaron. Aku bukan Mama kamu, aku teman. Atau, panggil aja aku Kak Aaron”
“Kak Aaron?”
Aaron mengangguk “gadis pintar” ia mengusap kepala si gadis “aku panggil kamu Juwita, ya?”
Lantas ia kembali memeriksa ponsel. Benar-benar tidak ada pesan masuk. Bahkan instruksi yang sebelumnya dikirimkan, kini menghilang dari daftar pesan. Tidak ada, benar-benar kosong.
“Juwita mau apa, eh enggak, Juwita makannya apa?” benar, tidak ada instruski untuk yang ini “apa Juwita nggak makan? Juwita di charger ya? Tapi dalam kotak nggak ada charger, adanya cairan-cairan aneh dalam tabung. Juga nggak banyak. Katanya Juwita untuk pemakaian jangka panjang, kalau cairan itu daya untuk Juwita, berarti nggak umur panjang dong” Aaron lantas melangkah lagi ke depan untuk mengambil map yang belum ia baca sepenuhnya. Masih ada instruksi obat atau cairan yang belum dibaca.
Dibukanya lagi, diperiksa ulang. Tidak ada kabel, tidak ada pengisi daya. Benar-benar tidak ada sesuatu apapun yang mengingatkannya pada mesin. Yang ada hanya deretan tabung kecil. Lantas Aaron mengeluarkan tabung kecil-kecil itu satu per satu. Warnanya terlalu aneh untuk kebetulan. Cairan warna-warni—merah tua, biru pucat, hijau bening, kuning keemasan—tersusun rapi seperti sampel laboratorium. Masing-masing tertutup rapat disertai pipet kecil. Tidak ada tanggal apalagi komposisi. Dan tidak ada satupun kata makanan.
Hanya simbol
Aaron menatapnya lama. Cairan itu terlalu sedikit untuk disebut asupan, terlalu steril untuk disebut minuman dan terlalu disengaja untuk sekedar cadangan.
Ponselnya baru bergetar lagi setelah sejak tadi Aaron menunggu–bahkan riwayat terakhir menghilang, layar menyala tanpa ia sentuh.
UNIT CAIRAN BERSIFAT KONTINGENSI.
DIGUNAKAN JIKA SUBJEK MENGALAMI DISKONTINUITAS.
Diskontinuitas.
Kata yang terdengar lebih seperti kesalahan sistem daripada masalah manusia.
Pesan berikutnya menjelaskan—tanpa menjelaskan.
MERAH
— pemulihan jika memori aktif terputus secara mendadak.
Digunakan ketika subjek kembali kosong.
Aaron menghelana napas. Kelakarnya mirip orang membeli robot mainan terbaru dengan sistem yang rumit dan tidak dimengerti.
Lagi. Jadi, jika suatu saat Juwita kehilangan ingatan bukan sesuatu yang mustahil. Itu sudah diperkirakan.
BIRU
— stabilisasi jika subjek berhenti merespons.
Digunakan ketika kesadaran tidak kembali dengan sendirinya.
Ini berarti di gunakan saat tiba-tiba saja Juwita terdiam.
Bukan pingsan.
Bukan tidur.
Sesuatu di antaranya—seperti mesin yang macet di tengah jalan.
HIJAU
— koreksi jika subjek mengalami konflik internal.
Digunakan saat perilaku tidak sinkron dengan lingkungan.
Aaron membayangkan Juwita menatap kosong, bingung pada dunia yang terlalu cepat. Hatinya mengencang.
KUNING
— reset ringan pada fase transisi.
Digunakan jika perubahan lingkungan memicu gangguan.
Setiap warna adalah jawaban atas kemungkinan gagal. Lalu pesan terakhir muncul:
CAIRAN BUKAN UNTUK PENGGUNAAN HARIAN.
HANYA JIKA SUBJEK MENGALAMI “ERROR”.
ASUPAN DAN HIDUP: NORMAL.
Dan ia mengerti. Lebih mengerti daripada memelihara kucing yang harus disteril atau membawanya sesering mungkin ke dokter. Bukan juga anjing yang ia sendiri tidak terlalu suka. Ini adalah manusia. Pesan terakhir itu membuat Aaron tahu bahwa Juwita makan normal seperti manusia. Itu sudah cukup. Lantas saat ia berbalik, si gadis kembali berdiri di depannya, lagi. Lagi, wajah polos, mata bening, bulu mata panjang-panjang, bibir merah muda yang pucat serta tatapan kosong.
“Aaron, Juwita lapar”
≽^• ˕ • ྀི≼
Sejak hari itu, hidupnya berubah total.
Aaron persis seperti memiliki bayi. Juwita selalu menempel padanya, terlalu menempel secara harfiah hingga tidak memungkinkan untuk ditinggalkan bekerja di luar. Maka, Aaron kini hanya berfokus menerima endors dan membuat konten-konten sederhana di rumah tentang produk iklan dan hal-hal sejenis.
Lagipula uangnya masih banyak.
Dan yang paling penting, hidupnya tidak lagi kesepian. Juwita tidur seranjang dengannya. Aaron mengajari banyak hal persis mengajari balita cara hidup. Bedanya, Juwita pandai membaca dan menulis, gadis itu juga fasih berbahasa asing–selain bahasa inggris yang Aaron sendiri tidak paham.
Sudah setahun berlalu. Sejauh itu juga tidak pernah ada ‘error’ atau prilaku sejenis yang membuat tabung-tabung kecil berisi cairan itu keluar. Juwita aktif, pintar–kelewat pintar malah. Aaron telaten dan begitu sabar. Dari makan sendiri, buang air, menerima paket, berinteraksi dengan bibi tukang bersih-bersih. Intinya semua hal dasar menjadi manusia, Aaron mengajari. Bahkan pria itu membawakan guru etiket wanita datang ke rumah untuk mengajari si gadis. Namun baru dua bulan terakhir hal—yang benar-benar tidak bisa ia tangani.
Juwita menstruasi.
Untuk pertama kalinya setelah mereka tinggal hampir setahun. Aaron bingung, maka, ia meminta bibi tukang bersih-bersih untuk mengedukasi Juwita tentang hal itu. Hanya butuh satu kali pengertian, Juwita memahami apa yang terjadi dengan tubuhnya. Sementara payudaranya sendiri, pun baru tumbuh segenggaman kecil.
Tidak ada keterangan usia, meski dari postur tubuh, Aaron memprediksi jika Juwita berusia 17 tahun. Begitu juga saat ia bertanya iseng pada guru etiket dan bibi tukang bersih-bersih untuk menebak usia sang gadis. Hanya untuk mencari asumsi yang sama—dan nyatanya semua sepakat jika Juwita memang tampak seperti gadis 17 tahun yang terlambat pubertas.
Pun saat Aaron mengetes tentang pelajaran akademik, gadis itu sangat mudah mengerti dan tanggap.
Hanya satu hal yang masih sulit; berpisah kamar. Juwita akan menangis dan mengurung diri dalam kamar mandi saat Aaron merayunya untuk memiliki ruang sendiri. Ruang privasi. Sudah s]tiga bulan terakhir gadis itu menyukai melukis, kamar Aaron berantakan dan benar-benar kacau.
Bukan, maksud Aaron adalah Juwita bukan lagi anak-anak. Gadis itu sudah pubertas dan seluruh tanda-tanda beranjak dewasa sudah tampak. Berbulan-bulan bersama, Aaron benar-benar memperlakukan gadis itu seperti adik–bayi yang lucu dan polos. Namun ketika tubuhnya berubah—membesar di bagian-bagian tertentu, menstruasi dan semakin ‘hidup’ di iringi kecantikan yang semakin menjadi-jadi. Aaron bertekad ingin berpisah kamar. Sesayang apapun dan sebagai apapun ia menganggap si gadis, Aaron serius tak lagi bisa terus bersama-sama seranjang berdua.
Meski jika diungkit si gadis akan marah dengan menangis dan merasa tidak dicintai.
Dan Aaron benar-benar tidak pernah marah. Seumur kehadiran Juwita, Aaron tidak pernah membentak, tidak pernah melotot dan tidak pernah berkata kasar. Karena seluruh hal yang ia kerjakan–sepele—seperti mengecap saat makan serta buang angin sembarangan, maka Juwita akan menirunya, persis. Maka Aaron benar-benar menjaga sikap dan sejauh ini, ia berhasil mendidik Juwita menjadi manusia utuh yang baik dan beradab–setidaknya menurutnya.
DUA TAHUN BERLALU
Juwita sudah seperti gadis pada umumnya–ya, setidaknya benar–benar gadis manis yang cerewet dan selalu banyak bertanya. Gadis, Aaron memberinya kamar dan Juwita tentu saja sudah pindah setelah persuasi panjang, permohonan lembut, halus, kasih sayang serta perilaku Aaron yang menunjukkan cinta lebih besar. Pria itu memuji Juwita secara berlebihan hingga tidak natural, namun si gadis senang saja. Dan akhirnya berhasil membuat Juwita mau berpisah, mau memindahkan seluruh peralatan melukisnya ke ruangan khusus–ruangan yang awalnya gudang, kini disulap menjadi studio lukisan sementara kamar Juwita berada persis di samping.
Tidak ada error.
Lagi-lagi Aaron selalu perhatian pada tiap tindak-tanduk, gerak-gerik dan seluruh ocehan. Bagi Juwita Aaron adalah hidupnya. Gadis itu mencintai Aaron hingga bisa menyandingkan pria itu setara dengan tuhan. Sementara Aaron, ia tidak tahu bagaimana mengkategorikan rasa sayangnya pada seorang gadis yang ia asuh. Sungguh abu-abu jika hanya menyebut satu warna. Dan Aaron tak berencana memastikan apapun. Biarlah abu-abu. Yang ia tahu, ia mencintai Juwita dan sangat menyayangi gadis itu, sangat. Juwita adalah keajaiban yang diberikan tuhan padanya. Pada pria kesepian yang seumur hidup haus akan teman, cinta, dan eksistensi lain sebagai partner hidup hingga pernah membuat hidupnya terjun dalam lembah malam yang rusak.
Juwita datang menuntaskan segalanya. Menyuapi jiwa lelaki, jiwa pemimpin, nurani serta kesabaran. Juwita adalah gadis manja yang mudah merengek dan merajuk dengan cara paling lucu. Siapa saja tidak akan mampu menolak rengekan menggemaskan dari si mata jernih dengan bulu mata panjang yang natural. Selalu saja menyenangkan. Wajahnya enak di pandang, bibirnya cantik berkilau, senyumnya merekah. Gadis penurut yang menyekok maskulinitasnya.
Juwita tumbuh. Ikut mengajarinya tentang sabar dan terus menjadi manusia baik hanya agar tidak ditiru karena Juwita adalah peniru ulung. Gadis itu menirukan apapun–bahkan bagaimana cara Aaron beriklan di depan kamera–bagaimana Aaron bersin, bagaimana pria itu batuk dalam kamar mandi berisik sampai cara Aaron membuang kotoran mata. Meski semakin kemari, gadis itu semakin pintar membedakan mana yang bisa ia terapkan untuknya dan mana yang hanya digunakan untuk meledek pria itu.
Bersama sang gadis, ia tidak lagi sendirian. Mereka berlibur ke luar negeri bersama, dan kemana-mana selalu berdua. Benar-benar teman hidup yang menyenangkan dan fleksibel. Juwita tidak pernah menyebalkan kecuali jika sedang menyebalkan.
“Kak Aaron, aku janji akan buang sampah selama dua hari, asal Kak Aaron mau aku lukis. Punggung” datang tiba-tiba dari dapur membawa kuas kotor, bajunya kotor dan wajahnya penuh cat, si gadis berdiri di belakang Aaron yang sedang sibuk mengeluarkan makanan dari kantong—lepas pesanan datang. Mereka akan makan malam.
“No” Aaron menggeleng sistematis, bahkan tidak melirik ke belakang. Tangannya sibuk dengan pasta, pizza dan makanan tidak sehat lainnya.
“Aku nggak akan cerita kalau Kak Aaron sering makan ikan mentah”
“Aku nggak makan ikan mentah, itu fitnah, fitnah dilarang. Ngadu keguru etiket deh” Aaron pura-pura mengeluarkan ponsel. Juwita cepat-cepat memeluknya dari belakang.
“Nggak-nggak, oke, bercanda. Aku nggak pernah ngadu apa-apa ke guru, serius. Aku sayang Kak Aaron. Guru etiket baik, tapi dia kadang suka tanya-tanya tentang Kak Aaron. Tentang kegiatan kakak, tentang… pokoknya kepo sekali. Dia kayaknya suka sama Kak Aaron. Aku nggak suka dia suka sama Kak Aaron. Usia dia 28 tahun. Kak Aaron 25”
“Emang kenapa kalau dia 28 dan aku 25? Usia hanya angka. Kalau dua manusia saling mencintai, usia benar-benar nggak terlihat” ungkapan itu di lontarkan enteng. Aaron masih terus melanjutkan aktivitasnya—perutnya di peluk penuh oleh tangan kecil yang dekil oleh cat. Gadis yang—diperkirakan berusia 19 tahun, kelewat manja dan cerewet.
Juwita menangis.
“Tukan, kenapa lagi coba?” Aaron tertawa. Juwita mendusal–menggesek wajahnya pada punggung. Tangisnya pecah.
“Kak Aaron nggak boleh mencintai siapapun kecuali aku. Kita adalah dua orang yang mencintai, nggak boleh guru etiket, nggak boleh bibi bersih-bersih atau tukang anter makanan. Nggak boleh siapapun. Aku, pokoknya aku sama Kak Aaron. Dua orang aja, nggak mau berbagi” dikatakan campur ingus dan air mata. Bajunya basah di belakang sementara tawanya malah makin besar. Karena jengkel hanya ditertawakan, gadis itu menggigit kecil punggung Aaron.
“Akkhh!! Sakit, astaga” ia membalik tubuh, lalu memeluk Juwita sambil mengacak pucuk rambut “kesayangan siapa ini, huh? Aleman banget” pelukan mengendur dan Aaron menggelitik. Juwita tertawa paksa sambil menangis “aku akan sama Juwita aja. Berdua, berdua selamanya. Nggak ada guru etiket, bibi bersih-bersih atau tukang antar makanan. Cuma kita berdua. Mereka ada untuk membantu kita hidup. Sisanya, hanya Aaron dan Juwita cantik” ia menunduk–beradu mata dengan jernih milik gadis yang kini berubah merah tergenang air.
Hidungnya merah, pipinya merah, matanya apalagi. Sampai ke telinga. Gadis itu benar-benar begitu polos mirip bayi. Jari-jarinya lentik kecil-kecil, tumitnya merah lucu dan semuanya nyaris sangat menggemaskan. Aaron tahu hampir banyak bagian tubuh kecuali bagian-bagian yang tidak.
Sekali lagi. Ia tidak tahu sebatas apa ia mencintai Juwita.
Juwita bukan bayi meski bayi. Tubuhnya membesar, dadanya besar, lekuk tubuhnya adalah khas remaja dewasa. Ada saat-saat dimana penisnya ereksi ketika Juwita menggunakan pakaian kurang bahan, atau ketika si gadis bersuara pelan–berbisik dan embusan napasnya menghantam diri, atau erangan lembut keluar tatkala salah warna saat melukis. Aaron sering. Sejak Juwita tumbuh dan menjadi ‘wanita’
Benar, sejak tingginya sudah nyaris seleher, sejak berat badannya naik ideal mengikuti tinggi, saat suaranya lebih lembut sekaligus cempreng dan sejak gadis itu bukan anak-anak.
Aaron awalnya berpikir bahwa ia adalah pedofil gila yang menyukai bocah. Namun ia bersumpah pada diri sendiri, 1 tahun tidur bersama Juwita, tidak sekali pun pikiran kotor menyusup, tidak sekali pun penisnya ereksi. Saat itu, di matanya Juwita adalah mesin, gadis itu akan mati cepat atau lambat jika terjadi error. Benar, semua berubah ketika sang gadis mengalami fase seperti manusia, seperti gadis pada umumnya. Dan dia manusia, dia hidup, bukan mesin.
“Pelan-pelan, makannya pelan-pelan. Nggak akan ada yang minta, nggak akan ada yang ambil punya kamu, jadi santai, ya?” tangannya membelai kepala belakang si gadis. Juwita mengangguk patuh–mengurangi ukuran gigitan dan mengunyahnya perlahan. “Anak pintar” pujian itu membuat si gadis tersenyum.
“Kak Aaron abis ini mau bikin konten ya?”
“Nggak sih, nggak kayaknya, aku mau rebahan. Kenapa? Mau ajak main?” yang ditanya menggeleng.
“Aku mau lukis kak Aaron, punggung”
“Malas, aku malas bersihinnya”
“Nanti aku yang bersihin”
“Mau lukis apa sih? Harus di punggung banget? Kamu aja, sini aku lukis monyet ngikutin bentuk muka”
“Ish, Kak Aaron kaya monyet”
“Kamu”
“Kamu”
“Lah iya kamu”
“Aku cantik, kakak bilang aku cantik. Aku nggak kayak monyet, kak Aaron kaya monyet”
Aaron tak menjawab, jika diteruskan, ujungnya adalah tangisan. Maka, ia kembali menyuap makanan “oke, abis ini aku mau di lukis, tapi abis itu pijetin, gimana?”
Juwita mengangkat sebelah alis “pijat? Kak Aaron nggak pernah minta pijat. Tumben”
“Pinggang sama betis pegal banget. Kayaknya gara-gara lari kejauhan. Pagi ini aku rekor 10 kilo, biasanya cuma di antara 5-6” si gadis kembali mengangguk-angguk
Selesai membereskan sisa makanan, Aaron benar-benar datang dalam ruangan itu. Ruang yang bagi Juwita adalah surganya.
Sebenarnya, jika saja Juwita tidak mudah menangis, Aaron ingin sekali mengatakan jika gambar-gambar si gadis tidak terlalu bagus–bukan, ia hanya ingin mengatakan itu untuk meledek. Namun tidak pernah diutarakan. Juwita baru hidup bersamanya selama dua tahun. Ia tidak tahu, kehidupan jenis apa yang dilalui si gadis sebelum ini hingga bisa menjadi bahan jual beli.
Sungguh, makin di pikirkan, Aaron semakin ingin mendekap si gadis. Jika ia merasa hidupnya tidak adil, kesepian, menyedihkan dan putus asa, maka, ia akan malu ketika melihat Juwita.
Bagaimana jika yang mendapatkan Juwita bukan dirinya melainkan predator anak yang gila? Lalu Juwita dijual, diperbudak, disiksa dan dieksploitasi tanpa rasa kemanusiaan karena Aaron sendiri yang tahu, yang paham, jika Juwita bisa dibentuk menjadi apa saja. Si gadis bisa tumbuh menjadi penjahat, pembunuh, pekerja seks komersial, atau kemungkinan-kemungkinan mengerikan lainnya. Tergantung siapa yang mengajari, siapa yang menorehkan goresan tinta pada kembar kertas kosong itu.
Aaron bersumpah, bersamanya, Juwita akan hidup, memiliki kehidupan, di cintai dan memiliki hak asasi.
“Itu hiunya keluar dari api?” suara lembut itu kontan membuat Juwita berbalik. Senyumnya naik tinggi saat Aaron benar-benar datang ke ruangannya.
“Beneran datang, terima kasih” katanya lembut, lantas tatapannya tertuju pada lukisan yang baru ia rampungkan pagi tadi “iya, ini hiunya keluar dari api”
“Apa maksud itu?”
“Mau aku jelasin secara filosofi?”
Aaron mengedikkan bahu “aku selalu suka atas hal-hal sederhana yang sebenarnya nggak sederhana. Kamu itu pintar banget”
Juwita tersenyum lagi ”sebenarnya, lukisan itu nggak sedang menggambarkan seekor hiu, tapi sebuah pergeseran makna tentang ancaman dan kendali. Hiu yang muncul di langit, alih-alih di laut, menandakan kekuatan naluriah yang udah keluar dari tempat asalnya, bergerak ke ruang yang seharusnya steril dari kekerasan. Dia adalah simbol dari insting, trauma, atau hasrat dominan yang nggak lagi bisa dikurung di kedalaman”
Juwita menatap lurus pada manik gelap pria kesayangannya “bagi aku, awan bukan cuma latar, lebih ke representasi kesadaran. Di sanalah manusia menyimpan keyakinan, ilusi akan ketenangan, juga harapan akan kendali diri. Ketika hiu berenang di ruang itu, coretan warna yang membentuk lukisan ini, lagi berbicara tentang kegagalan batas, tentang sesuatu yang gelap dan liar yang berhasil menembus wilayah batin, tanpa perlu meledak atau merusak secara kasat mata” ada jeda saat Juwita tiba-tiba diam, matanya lurus pada hasil karyanya sendiri.
“Aku menafsirkan ketenangan hiu sebagai pernyataan paling mengerikan, bahwa ancaman nggak melulu terlihat besar, memangsa cepat, tajam. Bisa jadi dalam keyakinan dingin bahwa ancaman akan tetap ada, bergerak perlahan, dan menunggu. Kontras antara langit yang indah, api dan sosok hiu mencerminkan paradoks manusia, bagaimana keindahan sering dijadikan selubung bagi kekerasan yang nggak diakui. Jadi kesimpulannya, bahwa lukisan ini adalah refleksi tentang ketidaksiapan manusia menghadapi bahaya yang lahir dari dalam dirinya sendiri. Sebuah pengingat bahwa nggak semua yang tampak tenang benar-benar aman, dan nggak semua ancaman datang dari kedalaman yang gelap, yang kebanyakan nggak disadari justru melayang tepat di atas kesadaran, menunggu saat untuk disadari”
Aaron melongo.
Gambar sesederhana—meski ia tidak bisa, mengapa memiliki arti yang begitu dalam? Bukankah seorang seniman hanya mencurahkan apa yang ada di dadanya sendiri? Tidak, ini hanya menurut Aaron. Baginya, entah pelukis, penulis, atau apapun pekerjaan sejenis. Bukankah mereka hanya akan menorehkan sesuatu atas campur luka dan trauma personal? Disanalah luka di romantisasi, dimodifikasi dan improvisasi–menjadi suatu karya seni yang penuh akan paradoks. Indah, bermakna.
Aaron memeluknya dari belakang, pelukan hangat yang—formal dan tidak terlalu menempel, meski Juwita selalu melendotinya lebih dari itu. Sebenarnya Aaron berusaha keras membuat jarak dan batasan. Namun Juwita bukan seseorang yang dengan senang hati menerima batasan. Gadis pintar itu, dia melihat Aaron sebagai cinta, perlindungan, rasa aman dan tempat nyaman. Berbeda.
“Gadis siapa ini, pintar sekali” lagi, mengacak pucuk rambut.
“Kak Aaron ayo kita menikah, aku nggak akan nyusahin” ia mendongak—matanya melihat jakun dan bawah dagu milik Aaron. Yang di lamar kontan melongo. Dari seluruh celoteh panjang, cerewet, penuh rasa penasaran dan keinginan sepele yang kadang dijadikan bahan menangis, baru sekali ini saja Juwita mengajaknya untuk hal-hal—yang sebenarnya ia sendiri tidak tahu, tidak yakin dan tidak mengerti. Menikah itu…. Apa? Sementara perasaannya pada Juwita, apa?
“Emang kamu paham menikah itu apa?” tangannya mengelus pipi Juwita, sangat halus dan lembut. Si gadis mengangguk.
“Menikah adalah puncak dari cinta. Menikah nggak menjamin kebahagiaan dalam sebuah hubungan, tapi mengikat dengan peraturan. Aku tau, aku cari tahu, aku pelajari. Dan aku memutuskan mau menikah sama Kak Aaron”
Aaron berdehem, alisnya bertaut jadi satu sementara jakunnya bergerak resah. Juwita melihat raut bingung, serta semu merah pada pipi Aaron. Tapi masih gagal menyebutnya dalam satu jawaban. Juwita menunggu pria itu mengatakan apapun. Lagi.
“Kamu masih kecil, belum di usai legal. Kamu harus pelajari dulu apa itu menikah, liat contoh-contoh kehidupan nyata dan renungkan lagi” jawaban Aaron bukan seperti jawaban.
“Kak Arron cinta sama aku, nggak?”
“Pertanyaan macam apa itu?”
Juwita mengedikkan bahu “ayo tengkurap, aku mau melukis” dan sekonyong-konyong mengubah topik berat begitu saja. Aaron mengusap wajah, namun menuruti keinginan Juwita. Ia melepas atasannya, lalu tengkurap di atas alas busa.
Juwita duduk tepat di bokong Aaron. Bergerak dengan kuas.
Dan Aaron sakit kepala.
Bukan, ya, siapa saja tau. Gadis yang hanya mengenakan dress mini—mengangkangi pinggangnya dari sana. Aaron seperti itu—diam menahan–entah, hampir setengah jam.
“Masih lama?” pertanyaan itu keluar 10 kali sejak menit ke sepuluh dan makin sering saat Juwita bergerak pelan–halus, namun tetap saja, bergerak. Dan lagi-lagi gelengan kepala tanpa jawaban suara membuat Aaron menghela napas frustrasi.
“Tebak aku gambar apa”
“Paus”
“Aku nggak gambar paus lagi. Tapi.. nyaris”
“Laut?”
“Hampir”
“Ikan?”
“Yap”
“Kenapa kamu sering banget gambar ikan?”
“Apa harus ada alasan untuk itu?”
“Kupikir semua hal punya alasan” Aaron memiringkan kepalanya sebelah kanan ketika pegal.
“Aku suka ikan karena mereka berbeda. Mereka bukan di darat, mereka ada di air dan mereka punya ingsang. Ikan itu bebas. Di mataku, ikan dan burung hampir mirip. Tapi spektrumnya jauh lebih luas ikan di laut. Aku memikirkan seandainya aku jadi ikan. Berenang bebas sama teman-teman. Main ke rumah kerang dan dikasih mutiara. Terus kita bertemu banyak jenis binatang lain yang ramah dan menyenangkan”
“Seandainya dunia hanya seperti yang ada di kepala kamu” Aaron berbisik lirih “dunia nggak ramah, laut, darat, di manapun. Kamu harus jadi rantai puncak tertinggi untuk setidaknya merasa aman. Karena biantang-binatang laut yang kamu bungkus jadi ramah itu, mustahil. Ada predator ada mangsa. Dan seandainya ada satu tempat yang beneran kaya yang ada di kepala kamu, aku akan gadaikan bahkan hidupku biar kamu bisa tinggal disana dengan nyaman dan aman”
Kemudian hening. Kuas dengan cat dingin berhenti menyentuh kulitnya. Juwita tak lagi bergerak dan Aaron berusaha melihat ke belakang untuk menatap wajah si gadis.
Dan melamun.
“Kak Aaron”
“Ya?”
“Aku mencintai Kak Aaron lebih dari hidupku sendiri”
≽^• ˕ • ྀི≼
Aaron mengajaknya keluar setelah seminggu terakhir hanya berkutat dalam rumah, kamera, minimarket dan membuang sampah. Meski Juwita akhir-akhir ini sibuk mengikuti banyak les. Tidak hanya mendatangkan guru etiket, gadis itu juga belajar bermain piano, mendalami melukis bersama guru seni dan memiliki beberapa teman dari tempat les. Juwita menolak saat Aaron menawarinya kuliah dan janji akan menguruskan semua hal, termasuk memintanya ikut dalam paket sekolah yang tidak pernah diikuti. Si gadis lebih menyukai les ketimbang belajar di kampus. Atau belum, Aaron yakin Juwita akan berubah pikiran saat pergaulannya makin luas dan terbuka.
Hanya berjalan-jalan santai di taman wisata. Itu pun ide dadakan sepulang dari minimarket membeli kebutuhan rumah.
Aaron mengambil gambar, meminta si gadis berbalik lalu berpose menggemaskan. Melempar sepotong roti dalam kolam yang langsung di sambar angsa, Juwita tertawa kesenangan hanya dengan hal-hal sederhana.
“Kak Aaron, ambi foto sama aku dan angsa. Kita harus mencetaknya”
“Aku mirip monyet hari ini”
“Kamu enggak”
“Aku nggak keramas, aku juga berlum bercukur”
Juwita berbalik lalu bangkit. Ia mendekat pada Aaron. Hanya tiba-tiba berdiri di hadapan pria itu dengan mengikis jarak signifikan hingga baju mereka saling bersentuhan.
“Aku nggak melihat kera. Kenapa kak Aaron selalu memilih binatang sebagaia perumpamana untuk wajah indah ini?” tangan kecil si gadis meraba pipi dan rahang Aaron “aku bahkan nggak melihat bulu wajah tumbuh. Kak Aaron tampan dalam kondisi apapun”
“Hentikan, kamu akan sadar. Sekarang karena masih kecil”
“Apanya yang kecil? Mau sebesar apalagi?” si gadis melotot “aku cuma liat Kak Aaron tampan rupawan titik. Monyet juga nggak buruk rupa. Meraka senormalnya binatang mamalia aja. Jadi jelek karena di sama-samakan dengan manusia. Aneh. Suka heran sama orang yang gemar menyamakan diri sama binatang” Aaron mengalihkan pandangan. Pria itu menetap ke sembarangan. Pipinya panas.
“Kak Aaron”
“Ya?” baru matanya menyapu manik si gadis.
“Boleh aku cium bibir kakak?”
Kelopak minimalis tak seberapa milik Aaron dipaksa meregang sebagai interpretasi atas keterkejutan ajakan Juwita barusan. Pria itu spontan mundur, lalu berdehem. Ekspresinya salah tingkah dan resah.
“Juwit, hm hm, no, no” kepalanya menggeleng ke kiri ke kanan. Persis melarang anak kecil memakan tanah. Yang ditolak mengerucutkan bibir. Dua tangan melipat di dada. Aaron tahu Juwita kesal.
“Aku gadis dewasa. Aku mau cium Kak Aaron, terus berpelukan, terus.. Em..” mata jernihnya selalu saja menggemaskan “berciuman sambil tiduran? Begitu sampai pagi dan aku hamil”
“Kamu dapet ide kayak gitu dari siapa coba?”
“Youtube”
“Berhenti nonton youtube, aku akan ngadu ke guru etiket. Itu termasuk pelecehan. Kamu melecehkan. Mengajak laki-laki melakukan hal-hal tidak senonoh. Perempuan itu harus punya harga diri yang tinggi” setelah sempat mundur, Aaron kembali mendekat, ia mencubit pipi Juwita “kamu bahkan nggak boleh mengajak siapapun berciuman, jangan boleh ada yang pegang kamu. Nggak boleh, oke? Kamu mahal dan berharga. Siapapun, termasuk aku”
“Tapi berpelukan sangat menyenangkan. Karena Kak Aaron selalu menolak tiap aku peluk, maka, aku berpikir kalau aku udah bisa cari uang sendiri, aku mau bayar orang buat peluk aku” sungut Juwita seerius. Wajahnya memerah saat Aaron menolaknya. Gadis itu jelas seperti akan menangis.
“Astaga gadis ini” si lelaki menggelengkan kepala. Lantas ia mendekat. Pelukan datang pada tubuh kecil Juwita. “Sedingin apa di dalam sana.. Huh? Jangan katakan hal konyol dan oh… Juwita… aku sayang sekali sama kamu. Aku akan peluk kamu aku janji. Tapi aku nggak siap untuk hal-hal yang kamu katakan secara serampangan. Ini nggak segampang itu..” Aaron resah sementara Juwita tersenyum saat dipeluk.
“Aku nggak tau kenapa Kak Aaron selalu susah di ajak berpelukan. Tapi aku berterima kasih tiap kak Aaron mau peluk aku. Seandainya aku bisa melakukan apapun biar Kak Aaron peluk aku terus menerus sampe aku sendiri yang minta berhenti, pasti bakal aku lakuin”
Desah napas pria itu menyapu pucuk kepala. Juwita mendongak. Tangannya naik. Ia menggesek bibir Aaron dengan ibu jari “ini lembut. Aku nonton film berciuman dan aku mau ciuman sama Kak Aaron”
“Aku akan cabut wifi”
“Aku akan beli paket data”
“Aku sita tablet”
“Aku akan nonton pakai laptop”
“Juwita…” Aaron mengerang keras sementara gadis itu terkekeh kecil “tolong berhenti menonton hal-hal tidak senonoh. Itu merusak pikiran”
“Tapi aku suka. Penat setelah melukis, bosan setelah bermain piano dan muak setelah dengerin guru etiket. Aku suka film ciuman” Aaron menepis pandangan dengan membawa wajah gadis itu ke dadanya. Juwita tenggelam dalam pelukan.
“Tunggu disini, aku cari makanan dulu, oke?” lalu kembali mengurai pelukan “kamu mau apa?”
“Aku mau matcha. Makanannya terserah kakak aja”
“Baik-baik, oke” lalu pelukan benar-benar terurai “janji jangan bikin aku cari kamu sampe pusing, ya? Aku sebentar aja. Hp jangan mode hening, aku akan tawarin pilihan makanan” Juwita mengangguk cepat. Anak poninya bergerak pelan. Aaron meninggalkannya dengan lambaian tangan.
Si gadis kembali ke pinggir kolam sementara Aaron berdebar sepanjang jalan pergi mencari makanan.
Juwita sangat berbahaya. Dalam kurun dua tahun, perasaan sayang yang serius dianggap sebagai rasa terhadap kakak pada adik, pelan-pelan bergeser. Abu-abu terlalu ambigu, Aaron semakin sakit kepala. Ia bukan manusia baik, bukan seseorang yang kuat terhadap hal-hal—yang sejujurnya juga diinginkan. Jujur saja, Aaron juga ingin memeluk Juwita sepanjang malam setelah lelah bekerja. Ingin mencium ranum bibir itu, ingin mengulumnya keras-keras hingga gadis itu menangis sambil menyebut namanya.
Sial, otaknya kotor dan Aaron memukul penisnya yang menegang dibalik jeans. Ini adalah pikiran paling tolol. Ia merasa berdosa setelahnya.
Langkahnya sampai pada jajaran makanan. Matanya menyapu seluruh pedangan kaki lima yang menjajakan menu mereka—tertutup boks transparan.
Pria itu tersenyum sepanjang jalan. Tangannya penuh mencangking makanan. Pikirannya hanya satu; ingin menggigit pipi Juwita hingga gadis itu menangis. Sebenarnya, Aaron sangat ingin menjahili si gadis. Namun khawatir. Ia khawatir akan terjadi eror meski sejauh ini tidak pernah.
Saat sampai, Juwita berdiri memepet pada dinding menghindari hujan. Aaron beruntung karena curah turun tepat saat ia sampai. Riuh orang berlarian mencari tempat berteduh. Dari banyaknya tempat, orang-orang tentu saja memilih bangunan bulat–aula untuk pengunjung duduk santai. Tidak ada kursi, hanya lantai berlapis karpet tipis. Sementara Juwita dan Aaron berada jauh dari keramaian. Hanya berdua. Undakan tangga yang sawer. Keduanya bertahan di sana. Aaron mengajak Juwita duduk. Jaketnya di lepas untuk melindungi kepala sampai pundak sang gadis.
“Matcha dan jajan. Abis ini kita lari ke mobil. Atau mau sekarang?” Aaron membenarkan anak poni Juwita yang baik-baik saja “siapa yang iket rambut ini? Tadi nggak diiket”
Juwita menyedot matcha “tadi anak kecil lagi diiket rambutnya sama ibu-ibu, terus aku ikutan” sergahnya enteng. Aaron hanya menggelengkan kepala sambil mengelus kepala itu berulang-ulang.
“Kak Aaron”
“Ya?”
“Kita cuma berdua disini, hujan. Orang-orang gak akan lihat kita karena kita duduk mepet undakan di pojokkan. Gimana kalau kita ciuman?” bertanya santai sambil menyedot minuman. Matanya berkedip-kedip. Bulu mata itu terlihat makin lebat dan panjang-panjang secara natural.
“No no no”
“Ah.. oke”
Si gadis mengangguk-angguk “kabarin kalau berubah pikiran”
“Aku nggak akan berubah pikiran, Juwita” Aaron menelan ludah, jakunnya bergerak resah. Matanya sejak tadi curi-curi pandang pada bibir si gadis yang sedang menyedot matcha. Lantas saat wajahnya panas, ia alihkan lagi pandangan itu. Tidak, itu tidak pantas. Aaron akan menggila dan menjadi pedofil jika merealisasi keinginan Juwita—keinginannya.
Tidak boleh.
≽^• ˕ • ྀི≼
Malam itu hujan deras tidak normal.
Kaca besar mengembun, riuhnya terlihat dahsyat. Pukul 12 malam kurang sedikit. Aaron bangkit, beringsut-ingsut dari ranjang. Matanya setengah terpejam sementara tenggorokannya kering. Ia menyempatkan diri menutup gorden, lupa. Ia terlelap pukul 7, setelah seharian menyunting video lepas mendapatkan tawaran iklan. Ia bahkan tak tau Juwita sudah tidur atau belum. Yang pertama — paling penting adalah minum dulu, ia terbatuk saking keringnya tenggorokan.
Suara air mengalir dari dispenser, diiringi petir serta kilat yang entah menyambar apa. Mematikan air, ia melangkah membawa gelas untuk menutup gorden yang lain. Tenggorokannya basah, terhidrasi. Setelah itu, barulah ia pergi ke kamar Juwita untuk mengecek.
Kamarnya masih terang. Saat ia melongok, kosong.
Aaron menyipitkan mata. Mulutnya terbuka lebar — menguap sambil mengusap perut. Di ayun lagi langkahnya menuju ruang studio melukis. Meski Juwita tidak pernah disana hingga larut, namun Aaron berencana akan mengomel jika mendapati gadis itu masih saja berkutat dengan kuas atau apapun. Dan spekulasi lain menyusul seperti; Juwita menonton video porno disana, lantas kembali mengoceh tentang hal-hal yang lebih mengerikan—yang akan membuatnya makin sakit kepala.
Dan benar.
Juwita duduk menghadap kanvas kosong. Hanya duduk.
Aaron masuk, berdiri di belakang si gadis dan sengaja tidak bersuara.
Lima detik
Sepuluh detik
Lima belas detik
Setengah menit.
Aaron masih berdiri dan Juwita masih duduk diam memunggugi–menghadap kanvas kosong. Tangannya dipangku tanpa memegang kuas sementara cat air masih utuh, mungkin hampir kering dalam pallet.
Pelan-pelan, ia mendekat. Dua tangannya menyentuh bahu si gadis.
Respons yang lambat dari sentuhan awal. Juwita baru melirik ke belakang setelah Aaron memegang bahunya hampir setengah menit.
Mata mereka bertemu, namun Aaron hanya melihat kekosongan dalam manik itu. Juwita tidak berkedip, mulutnya terkatup dan pandangannya datar.
“Mama?” itu kata pertama dan berhasil membuat Aaron mendelik. Dalam sepersekian detik, Aaron panik. Ia berjongkok di bawah, tubuhnya sejajar dengan gadis itu—memastikan.
“Juwita? Ini Aaron.. Hey.. hey.. Sayang… ini Aaron..” dua tangannya menggenggam milik Juwita. Dan gadis itu dingin. Bukan, tapi seluruh tubuhnya dingin. Benar, bibirnya begitu pucat pasi, keringat dingin sebesar biji jagung memadati dahi dan hidung. Gadis itu konsisten menatap Aaron—respons nya lambat.
“Mama?” lagi. Pria itu buru-buru keluar. Ia mencari ponselnya. Sial, sudah dua tahun berlalu dan Juwita nyaris tidak pernah eror. Namun malam ini, gejala itu muncul dan bajingan apapun, ia harus mengambil cairan dalam tabung—serta kembali membaca panduan sambil berharap pesan itu tidak hilang atau terhapus begitu saja oleh sistem dari sana.
Panik.
Ia membuka lemari tengah, tempat terakhir tabung-tabung itu di letakkan. Setelah benda dalam boks di pelukan, Aaron berusaha mengatur napas.
Berusaha tenang.
Tangannya gemetar membuka ponsel. Bergulir jauh mencari pesan lama — dua tahun yang lalu. Ia mengetikan keyword pada pesan dan baru menghela napas lega ketika ternyata pesan panduan cairan dalam tabung masih ada di sana.
MERAH
— pemulihan jika memori aktif terputus secara mendadak.
Digunakan ketika subjek kembali kosong.
BIRU
— stabilisasi jika subjek berhenti merespons.
Digunakan ketika kesadaran tidak kembali dengan sendirinya.
HIJAU
— koreksi jika subjek mengalami konflik internal.
Digunakan saat perilaku tidak sinkron dengan lingkungan.
KUNING
— reset ringan pada fase transisi.
Digunakan jika perubahan lingkungan memicu gangguan.
Matanya bergulir pada tiap abjad lalu menimbang. Jika melihat dari pola Juwita barusan, Aaron yakin, cairan merah yang paling pas. Namun ia tidak tahu berapa takarannya? Dalam pesan itu juga di katakan jika cairan itu bukan untuk penggunaan harian dan hanya di pakai jika subjek mengalami eror. Berarti, satu tabung tidak di pakai semua, kan? Sial, ia menjadi jengkel karena tidak bisa ada yang dimintai penjelasan. Bahkan tidak ada nomor dalam pengirim dan tidak ada apa-apa lagi. Maka, Aaron hanya akan mencoba memberikan satu tetes dari pipet pada Juwita sambil melihat reaksi.
Ya, tidak ada jalan. Ketimbang menunggu instruksi yang sudah dua tahun tidak di terima, atau Juwita yang makin parah.
Tidak boleh.
Aaron kembali ke studio melukis minimalis. Gadis itu sudah kembali ke posisi semula—memandang kosong pada kanvas bersih dengan mata datar dan respons lambat—mungkin saja ingatannya berantakan dan memorinya terputus secara mendadak.
Ia memeluk si gadis dari belakang. Memeluk sayang sambil menciumi pucuk kepala. Dan lagi, Juwita terlambat merespons dan kembali memanggilnya Mama.
“Minum obat dulu, hm? Buka mulutnya, oke?” dengan doa-doa penuh harap pada tuhan untuk takaran serta pengembalian ingatan, pria itu hampir menangis saat meneteskan cairan dalam mulut si gadis. Aaron takut Juwita pergi, Juwita hilang dan Juwita kosong. Ketakutannya begitu nyata hingga membuat dadanya sesak. Ia tersungkur ke bawah, memeluk lututnya sambil menangis setelah berhasil memasukkan satu tetes cairan merah ke dalam mulut Juwita, dan kembali membereskan cairan steril itu dengan penuh kehati-hatian.
Memeluk lutut. Wajahnya tenggelam disana. Ia tergugu tanpa suara. Ia tidak berani mendongak–melihat reaksi Juwita setelah minum obat. Tidak, ia takut, ketakutannya lebih besar daripada pikiran positif. Hal-hal buruk terus saja berputar di kepalanya.
Bagaimana ia hidup jika Juwita kembali kosong, pergi atau bahkan mati? Kesepian lagi, menyedihkan. Setelah kedatangan paket itu, Aaron merasa hidupnya sangat berharga, berguna, serta eksistensinya saja terasa begitu dibutuhkan. Juwita membuatnya hidup, hidup yang berwarna dan bermakna.
Tidak tahu berapa lama ia menangis.
Posisinya masih sama, punggungnya pegal, tapi air matanya belum mau surut. Pikirannya berkecamuk menyedihkan. Hingga sentuhan seseorang pada lengannya membuat Aaron mengangkat kepala. Air matanya berantakan bercampur ingus.
“Kak Aaron kenapa nangis?” si gadis. Mata itu, mata berbinar. Bulu mata panjang-panjang, bibir yang kembali merah muda, serta pipi lucu yang terus merona. Juwita kembali dan Aaron tiba-tiba menyesal tidak melihat bagaimana perubahan itu terjadi. Namun persetan dengan apapun, ia langsung memeluk Juwita erat. Tangisnya pecah dalam dekap kecil si gadis yang kebingungan. Aaron tidak menahan air mata, isak besar, serta tubuh yang terguncang. Ia senang bukan kepalang. Sementara si gadis yang tidak mengerti hanya kebingungan. Ia menepuk-nepuk punggung Aaron sambil menenangkan meski tidak tahu apa sebab pria itu menangis.
“Juwita jangan tinggalin aku…” hanya itu yang dimengerti oleh si gadis. Dahinya mengerut.
“Gimana caranya aku tinggalin Kak Aaron, huh? Aku belum bisa cari uang sendiri, aku nggak tau caranya hidup di luar tanpa kakak, kenapa mengatakan hal-hal aneh?”
Baik, Aaron harus segera menghentikan drama ini sebelum Juwita semakin bingung atau lama-kelamaan ikut menangis. Namun jujur saja, Aaron sangat penasaran, apa yang membuat si gadis eror? Adakah pemicu? Atau memang hanya datang saja tanpa sebab? Seperti mesin yang jika dipakai terus-menerus dalam waktu lama akan mengalami aus dan rusak?
Tidak. Aaron sudah bersumpah untuk tidak menyamakan Juwita dengan mesin. Juwita adalah manusia meski ia tidak pernah sakit. Juwita tidak flu, tidak batuk, tidak pernah sakit perut dan tidak pening. Gadis itu normal untuk yang lain kecuali merasakan sakit yang umumnya di rasakan orang lain.
Karena penasaran, Aaron berpikir Juwita tidak bisa merasakan sakit, namun saat pipinya ia gigit, gadis itu menjerit kesakitan. Juwita bisa merasakan sakit, namun tidak pernah sakit. Mungkin sebagai gantinya adalah eror. Aaron menyimpulkan; eror=sakit. Juwita adalah manusia.
Pun manusia umumnya memiliki tenggang usia, punya waktu expired. Tidak hanya mesin, tubuh manusia pun akan rusak oleh racun, makanan tidak sehat, radiasi dan banyak pemicu lainnya. Maka, Aaron bersumpah tidak akan menghabiskan air matanya untuk menangisi jika kenyataannya Juwita berbeda.
“Kalau Kak Aaron nangis terus, mau aku temenin tidur? Aku bisa.. Emm..” tangannya di remas-remas sendiri. Aaron sudah mengurai pelukan mereka “aku bisa menenangkan orang menangis” katanya patah-patah “tapi nanti aku cium sedikit” sambungnya lagi. Yang terakhir suaranya mirip cicitan. Gadis itu lagi-lagi menggodanya.
Aaron menatapnya agak lama, sebelum mengalihkan pandangan lalu terkekeh.
“Idih.. abis nangis ketawa..”
“Kamu mau tidur sama aku?” pertanyaan Aaron langsung di angguki antusias. Matanya kelewat berbinar saking senangnya.
“Aku pengen tidur sama kak Aaron lagi. Aku mikirin ini sampe sakit kepala, terus.. Em.. semuanya kosong.. Aku pengen pelukan sama Kak Aaron..” di katakan sambil menunduk. Gadis itu malu, namun selalu jujur.
“Kenapa kamu berpikir sampe sakit kepala? Emang kamu bisa sakit kepala?” Aaron membawa si gadis ke kamarnya lalu merealisasi keinginan gadis itu. Memeluk. Juwita langsung memeluknya erat, kelewat erat saking senangnya.
“Aku nggak sakit kepala. Itu cuma kiasan. Biar kaya orang-orang. Teman-teman aku di tempat les menggambarkan sesuatu yang sulit dengan mengatakan sakit kepala. Jadi aku ikutan”
Aaron belum menjawab.
Apa eror itu ada korelasinya dengan keinginan yang tidak kunjung terpenuhi?
“Kak Aaron”
“Ya?”
“Aku tidur di sini selamanya boleh?”
“Tukan..”
“Hehe, bercanda” Juwita memberi jarak pada pelukan, lantas melihat jakun pria itu tepat di depan mata. Tangannya naik–menekan-nekan pelan, dan jakun itu seperti bererak–berajalan.
“Eh? Kok gerak? Kok gak ikut ini benjolannya?” lantas ia memegang lehernya sendiri yang tidak berjakun “cuma laki-laki aja ya?” lalu kembali memegang milik Aaron.
Si pria terkekeh pelan “hm. Cuma laki-laki aja”
“Lucu”
“Apanya?”
“Jakun”
“Apaan, nggak lucu kok, lucuan mata kamu. Aku selalu pengen liat mata kamu yang jernih. Kayak gak pernah terpapar debu. Aku bahkan bisa ngaca dari sana. Kamu jernih, murni, dan berkeinginan kuat. Aku suka sekali sama Juwita”
Si gadis mendongak lebih tinggi. Ia memamerkan matanya. Di buka kelopak itu lebar-lebar tepat di depan mata Aaron “lucu kan? Cium dong” lalu berkedip-kedip menggemaskan. Aaron menarik napas, lantas memudurkan kepala. Ia menggeleng sistematis.
“Geleng terus, geleng yang keras sampe pala nya jadi gasing”
Aaron makin mundur, ia mendongak keras sementara Juwita ikut mundur. Lantas berbalik memunggungi.
Selimut di tarik tinggi, Juwita terkubur di dalamnya.
“Loh? Udah ngantuk ya?”
“Belum, tapi aku sedih di tolak terus” jeda, ada hening sepersekian detik “tapi aku juga belum bisa tidur”
Hening lagi.
Aaron berpikir keras.
“Juwita sayang, jangan pening, ya?”
“Nggak, nggak tau, jangan ajak bicara deh, aku mau coba tidur”
Aaron tahu Juwita belum tidur, gadis itu bergerak resah di balik selimut. Sejak tadi ada saja bagian yang di garuk.
Lalu hening.
Dua puluh menit
Setengah jam.
Aaron tidak tahan. Pria itu akhirnya menghempaskan selimut keras—memperlihatkan Juwita yang menangis. Gadis itu menangis tergugu tanpa suara. Air matanya membasahi bantal–jernih itu berubah menjadi merah sampai hidung ke telinga. Hanya meringkuk seperti anak kucing yang kehilangan ibunya.
Aaron cepat-cepat menindihnya tanpa membebankan berat badan. Dua tangannya mengambil rahang Juwita, lantas menurunkan kepala. Bibirnya mendarat pada milik si gadis tepat.
Hangat, kenyal dan manis.
Juwita melotot. Jantungnya berdegup keras, lebih keras dari detik jam yang bergerak monoton.
Aaron di atasnya, tidak. Tidak hanya itu.
Bibir pria itu memagut miliknya. Sangat lembut, saking lembutnya seperti Juwita akan meledak jika terburu-buru. Tiap sentuhan sangat berharga. Tiap inci di sesap sempurna. Aaron memperlakukannya kelewat sayang, kelewat lembut dan berharga.
Juwita menutup mata entah sejak kapan. Tubunya rileks dan sepenuhnya memusatkan diri pada ciuman perdananya, oleh Aaron, pria pujaannya.
Hati-hati lidah pria itu menari di permukaan. Pelan-pelan meminta izin agar boleh menerobos masuk. Juwita membuka mulutnya sedikit, dan ciuman mereka makin dalam, makin menggairahkan. Si gadis bersumpah sangat menyukainya. Berharap ini tidak akan pernah berlalu, perutnya melilit merasakan sengatan aneh namun yang paling jelas adalah menyenangkan. Sangat senang dan bahagia.
Tangan kecilnya meremas dua ujung bantal. Desah lembut keluar natural dari mulut yang sibuk. Sementara Aaron seperti orang gila yang melangkahi sumpahnya. Kini akalnya tak lagi bekerja, sibuknya malah lupa diri cenderung tak akan berhenti dalam waktu dekat. Aaron bersumpah menyukai kondisi ini setengah mati.
Saat ia mendengar desah Juwita semakin jelas—mengerang pelan membuat penisnya kelewat sesak, pria itu akhirnya berhenti.
Namun saat hendak mengangkat kepala, Juwita menariknya keras, meminta untuk tidak mengakhiri.
“Udahan dulu, udah malem, besok lagi, hm?” matanya berkila-kilat. Sekuat tenaga ia menahan hasrat–melihat gadis cantik yang merona terkulai begitu tak berdaya di bawahnya–meminta lebih.
Sial, malaikat mana yang menolak? Apa ia malaikat? Kenapa harus menolak sang gadis? Apa yang membuatnya menahan diri? Di bawah umur? Anak-anak? Atau apa? Sementara ia mengingkan lebih dari apapun—mungkin saja lebih dari Juwita menginginkannya, bedanya, Aaron hanya tidak mengatakannya. Tidak terang-terangan. Kini, jelas sudah keabu-abuan.
Mata mereka bertaut. Agak lama Aaron menatap wajah itu—meneliti pada tiap sudut hingga terakhir berlabuh pada mata sejernih air tak terjamah.
“Juwita.. Kalau aku nggak berhenti, mungkin aja aku akan menyakiti kamu” Aaron mengatakannya seperti berbisik tanpa mengubah posisi. Yang di ajak bicara hanya menatap mata kanan dan kiri Aaron secara bergantian.
“Sakit jenis apa yang akan aku dapat?”
Pertanyaan itu kelewat berani. Juwita tak sedikit pun gentar. Buku-buku tangannya mengerat ujung bantal makin kencang, ia seperti cacing yang menggeliat di bawah tubuh Aaron “Kak Aaron…” lalu ia merengek “aku cuma dingin.. Hidupku selalu dingin. Aku nggak tau kenapa aku begitu mendambakan pelukan. Aku juga nggak tau kenapa aku sangat ingin bersentuhan sama kakak, sangat ingin berkutat dalam keintiman. Aku nggak mengerti. Apa semua gadis kaya gini? Atau aku aja? Kenapa aku murahan? Kenapa aku begitu dingin dan kesepian? Kenapa aku haus kasih sayang… sebenarnya.. Aku ini siapa? Dimana orang tua aku? Kenapa aku menjijikan? Kenapa mengemis kasih sayang secara berlebihan? Seandainya aku tau alasannya, seandainya ada penawarnya atau paling tidak, aku seperti gadis umum yang bisa menjaga jarak dari laki-laki yang membuatnya aman, hangat dan merasa nyaman. Aku ingin. Tapi kenapa begitu sulit? Aku ingin pelukan, sentuhan dan cinta. Sama seperti aku ingin makan dan minum. Lapar dan haus” si gadis menangis saat mengatakannya. Air matanya tumpah lagi, matanya merah lagi.
Hening setelah itu. Juwita menangis, ia tidak menahan air mata, tidak mengusapnya juga sementara Aaron masih menyangga dua tangan di antara tubuh–tepat di atas si gadis.
“Juwita… aku sayang kamu.. Aku akan peluk kamu. Sentuh kamu dan kita akan berkutat intim sampai kamu merasa penuh dan hangat” kepalanya turun lagi. Aaron mencium bibir merah menangis, memagutnya rakus. Tidak, tidak ada lagi kelembutan, tidak ada lagi hati-hati. Seperti apa yang dikatakan Juwita bahwa sentuhan itu seperti kebutuhan pokok makan dan minum. Maka, Aaron memakan Juwita seperti kelaparan bercampur dahaga nyaris dehidrasi.
Juwita menyambutnya, meski yang di lakukan hanya diam menikmati bagaimana rongga mulutnya penuh di acak-acak.
≽^• ˕ • ྀི≼
Vagina merekah begitu bersih dan cantik. Permukaannya basah sementara labia terlihat tipis hanya segaris–khas mirip bayi, tanpa sehelai bulu apapun. Aaron menelan saliva resah. Pertimbangan antara bersikap bijak dengan kembali menutup pemandangan itu atau meneruskan napasnya yang terlanjur memburu seperti binatang buas lapar yang menemukan mangsa”
Kepalanya turun. Aaron menciumnya pelan-pelan, lalu menjilatnya lembut membuat Juwita bergidik geli. Permukaan itu makin basah.
Tidak. Sudah terlanjur, lagi pula Aaron akan bertanggung jawab atas hidup si gadis. Sejak awal, pun Juwita yang juga begitu menginginkan.
Aaron meraupnya, menggerakkan lidah ke atas ke bawah–konstan dan konsisten, mengetuk-ngetuk klitoris lalu membelah lubang vagina dengan lidahnya. Juwita praktis mendesah keras. Kepalanya mendongak dengan dua tangan yang masih mengerat pada ujung bantal.
Itu sentuhan paling gila setelah puting payudaranya. Rasanya jutaan kali lebih menyenangkan dari ciuman pertama di hari yang sama. Juwita lagi-lagi mengerang dengan suara melengking. Sesekali meraup rambut Aaron kuat-kuta — ketika vaginanya di acak dengan lidah.
Mendongak sedikit. Hanya ingin melihat wajah terangsang dengan suara paling keras dari sebelumnya. Juwita hanya menggigit bibir bawah sebelum pria itu kembali turun dan menginvasi.
“K-kak.. Akh! Ah! Hhmmhh!! Ah!!”
Tatapannya turun. Entah inisiatif dari mana, namun gadis itu memberanikan diri melihat ke bawah. Melihat bagaimana Aaron–seperti memakan vaginanya habis. Bergerak liar, mendorong lidah dalam lubang, menggesek kelentit lalu menjilat. Pria itu menikmati–mirip memakan potongan pir segar di siang hari.
Pelan-pelan tubuhnya menegang. Stimulasi terus-menerus bersama kenikmatan yang tak ada matinya. Aaron tidak memberi jeda, tidak membiarkan Juwita setidaknya memproses apa yang terjadi di bawah sana. Mungkin saja rasa nyaman saling berkombinasi menjadi satu kesatuan aneh. Rasa yang tak pernah ia temui sebelumnya. Seumur hidup.
Begitu indah.
Juwita menggelinjang dengan suara melengking ketika sensasi aneh itu datang. Ia merasakan darah mengalir cepat bertumpu di kepala. Dua pahanya merapat, mengapit kepala Aaron kuat-kuat. Urutannya adalah; tubuhnya melayang begitu ringan, lalu kejang kecil di susul cairan bening yang meleleh banyak. Lagi, tubuhnya mengejang–kecil-kecil lagi—seiring air yang menyembur ke wajah pria di bawahnya. Juwita mendengar bagaimana Aaron meneguk cairan yang kelaur seperti menelan soda. Masih banyak hal yang tidak di mengerti, namun Juwita tidak akan bertanya sekarang. Yang pasti, Aaron tidak akan menyakitinya dan ini justru indah. kontradiksi dengan apa yang di ocehkan pria itu sebelum memulai.
Keringatnya banyak, terengah-engah bersama vagina yang masih di jilati hingga bersih.
“Kak?”
“Hm?”
“A-aku.. Aku pipis” katanya ragu dan patah-patah “itu menjijikan”
“Apanya yang menjijikan?”
“Itu–”
“Ini manis” Aaron tertawa. Gelagatnya seperti pria edan dan ia sadar. Tapi tidak mau berhenti. Setidaknya hingga tuntas.
Juwita tidak bersuara lagi. Aaron menutup kegiatannya dengan mengulum kelentit itu sebentar, lalu bergerak naik ke atas ranjang untuk berbagi saliva bercampur cairan vagina dengan sang dara.
Mereka berciuman lagi. Lagi, panas dan basah. Berbagi cairan indah sebelum pria itu bangkit. Meninggalkan tubuh polos yang terkulai lemah—menatapnya sayu sembari melucuti satu-satunya penutup diri.
Dari jarak itu, Juwita meneleng, memperhatikan Aaron yang datang mendekat sembari memegangi batangan panjang dan besar. Jika tidak salah, dan Juwita adalah si ratu perhatian pada satu-satunya makhuk yang ia cintai. Bukan, maksudnya, ia melihat panjang itu di hiasi urat-urat kebiruan. Ujungnya memerah dan bagian yang membuatnya mengerutkan dahi adalah ukuran. Aaron memperhatikan si gadis, sebelum ikut menatapnya batangnya sendiri.
“Aku udah bilang, mungkin ini akan nyakitin kamu” ocehan itu bukan lagi peringatan. Namun nasihat penyesalan.
Aaron kembali naik ke ranjang, mendekat pada wajah sang gadis sebelum menggesek ujungnya pada bibir cantik itu.
“Apa? Masuk? Kayanya nggak bisa, Kak, dari ukuran aja mustahil bisa masuk mulut” si gadis menimbang, lalu menggerakkan rahanya terbuka–memaksimalkan.
“Bisa” Pria itu percaya diri, lalu mencari alternatif dengan menjepit dua pipi lalu kemudian memasukkan ujung batangnya sedikit-sedikit.
“Coba dulu ya?”
Si gadis mengangguk. Lantas menjilat ujungnya sedikit-sedikit.
Hanya gerakan sederhana. Lidah itu seperti kuas lukis yang bergerak kecil di atas kanvas. Tapi berhasil membuat Aaron mendongak, mendesah pelan sementara sisa batang yang tidak tandas dalam mulut si gadis, ia kocok sendiri. Apa karena sudah sangat lama? Kenapa enak sekali?
Namun tidak bertahan lama. Juwita kembali mendongak. Hanya sebentar.
“Kak, rahang aku pegal” si gadis tersenyum canggung . Air liurnya ikut keluar seiring penis keluar sedikit dari mulut kecilnya.
Aaron ikut nyengir. Lalu menunduk–menciumnya sekilas. Sebelum meratakan bekas saliva gadisnya pada permukaan batang ― menjadi pelumas alami. Mungkin.
Turun. Pria itu memisahkan dua kaki lalu menekuk betis itu hingga mengangkang. Sesaat tangannya sibuk menempelkan ― menggesek ujung pada permukaan vagina untuk mencari pelumas yang lebih banyak.
Di rasa kurang, Aaron meludahi ujung batangnya sendiri.
“Sayang”
“Hum?
Menatap mata jernih kesayangannya yang kini hanya memandang langit-langit lalu bergantian pada matanya, meneliti chendelier dengan dua tangan mengerat pada bantal. Gadis itu tegang.
“Jangan tegang, oke?” perintah itu membuat Juwita kembali memiringkan kepala, menatapnya yang tersenyum teduh—menambah kapasitas ketampanan. Aaron lalu menekan-nekan vagina itu dengan jari, kembali memberi stimulasi dengan memasukkan jari tengah pelan-pelan.
“Nggak sakit, kan?” Bunyi kecipak jari yang beradu dengan paha, gadis itu menggeleng sambil menggigit bibirmya pelan.
Agak lama Aaron memainkan jari-jarinya. Masih basah dan… ya.. Wajah gadis polos dengan mata sejernih air tak terjamah. Aaron seperti akan gila meski sudah gila dan sadar akan kegilaannya. Ia bersumpah mati sangat menginginkan Juwita.
Lalu menarik tangannya perlahan. Menjilati jarinya sesaat sebelum mengarahkan batangnya pada liang yang.. Ia tidak tahu apa sempit itu akan baik-baik saja setelah ini.
Ujung batang menggesek lembut. Mata mereka bertatapan meski Aaron sesekali melihat ke bawah.
Panjang itu menabrak-nabrak liang pelan.. Mencoba, gagal, pelan, lembut, hati-hati, sambil memohon agar di izinkan masuk. Aaron masih menggesek, sesekali mendorong keras meski gagal berkali-kali.
“Sayang”
“Hm?”
“Tahan sedikit, ya? Ini mungkin akan sakit”
Hanya sepersekian detik setelah ocehan terakhir terlontar, Aaron membenarkan posisinya lagi, menembak tepat sasaran sebelum menggerakkan pinggulnya keras. Keras, sangat kuat hingga berhasil masuk menyeruak membelah lubang sempit sesak.
Masuk.
Aaron memperhatikan Juwita yang meringis. Air matanya turun di tiap sudut. Wajahnya merah padam namun ia tidak mengeluh–bersuara atau meminta berhenti. Darah keluar merembes, tidak banyak, namun cukup membuktikan bahwa Juwita adalah hadiah terbaik sepanjang hidupnya.
Aaron menyisir rambutnya ke belakang dengan dua tangan, lalu mengusap wajahnya pelan dengan senyum puas yang sejak tadi bertengger tak pudar. Urat-urat kebiruan tercetak jelas pada pelipis dan leher.
“Juwita?”
“Hm?”
“Mau berhenti?” sang gadis menggeleng keras. Ia menyeka air matanya buru-buru.
“Aku suka, ayo teruskan” katanya skeptis.
“I love you, ini akan nggak nyaman.. Oh.. sayang” Aaron menurunkan tubuhnya, menciumi wajah itu lembut dan menyeluruh, sementara kemaluan mereka masih menyatu hingga tandas.
Vagina itu jelas tegang atas benda asing yang tiba-tiba merangsek membelahnya seakan merobek dinding-dinding sempit di dalam sana.
Sambil menahan perih, Juwita memberanikan diri menatap mata itu. Legam di atasnya memantulkan gambar diri yang terlihat berantakan dan lemah. Yang tersisa hanya semburat merah dengan rambut berantakan.
Juwita teringat atas ungkapan “jangan tegang” maka, dengan pintar ia bernapas pelan-pelan. Kaki yang menegang terurai pelan-pelan. Napas yang ditahan berhembus sedikit-sedikit.
“Oh.. gadis pintar ini” seperti membanggakan anak yang mendapat juara kelas, Aaron mengapresiasinya penuh.
Lalu bergerak sedikit ketika bagian bawah itu tak lagi tegang. Penisnya begitu sesak tak dapat bernapas di dalam sana, bahkan untuk keluar sangat sempit. Butuh tenaga lebih agar lancar.
“Sakit?”
Juwita mengangguk. Kini dua tangannya mengalung pada leher Aaron, memberanikan diri menatap mata indah yang terlihat liar ketika menggagahinya. Aaron terlihat berbeda, wajah tampan yang dikombinasikan dengan mimik terangsang, benar-benar mencuri perhatian. Pria itu mendesah kuat merasakan batangnya di remas kuat di sana. Otot-otot vagina seperti mencengkram keras lalu meremasnya berulang-ulang tiap ujungnya keluar masuk meski tak lancar.
Bagian paling indah di tengah rasa sakit adalah suara Aaron yang memenuhi seluruh ruang. Desahan pria itu memantul membawa kembali rangsangan yang sempat hilang. Juwita menatapnya polos dengan mata jernih itu, dan segelenyar rasa menyenangkan kembali datang, membuat vaginanya sedikit-sedikit beradaptasi.
“Juwita – Fuck! Fuck! ah!” Aaron meracau di tengah terjangan gilanya di dalam sana. Penisnya begitu hangat menghajar langsung dinding vagina. Ia bersumpah jika penisnya akan menjadi pecundang di tengah otot kuat yang meremasnya di dalam.
Juwita tidak menjawab. Hanya menggigit bibir bawah sambil merasa-rasa apa yang paling mendominasi. Sakit? Atau sesuatu lain–yang mungkin saja pelan-pelan memudar meski nikmat tak sepenuhnya ia rasakan. Setidaknya, rasa perih itu benar-benar berkurang. Vaginanya beradaptasi patah-patah.
“Kak–”
“Hum?’
Juwita hanya ingin memanggil. Suaranya putus-putus. Kini tubuhnya terguncang naik turun. Si gadis bersumpah dapat melihat penis besar itu tercetak besar pada permukaan perut menusuk tubuhnya.
Seolah, gerakkan kecil dan pelan yang dilayangkan pria itu, seperti mampu membuatnya terpental ke sana ke mari. Anggap saja tidak ingin melihat bagaimana batangan besar tertanam dalam lubang sempit. Juwita hanya mendongak dengan tubuh berantakan dan sesekali meraba perut bawahnya yang terus menonjolkan benda asing.
“Sayang.. Oh… kamu hangat” racauan sinting. Aaron menancapkan penisnya lebih dalam, menusuknya jauh hingga mengetuk pintu rahim–pula mendapatkan bagian paling indah di dalam sana. Dan Juwita ikut mendesah setelah meringis panjang, merasakannya di sana. Satu titik yang membuat tubuhnya panas dan perut bagian bawahnya seperti digelitik.
Agak lama dengan posisi sama, di barengi sentuhan yang lagi-lagi konsisten, berulang. Dan entah di menit ke berapa, tubuhnya mengejang lagi.
Aaron bangkit dan tersenyum mirip setan.
Vagina di bawah berkedut keras makin meremas ujungnya di sana. Sementart tempo di percepat—sambil memegangi dua betis sang gadis kuat. Geraknya begitu brutal hingga Juwita yang sejak awal menahan rasa perih, kini menjerit-jerit kuat bersamaan dengan cairan yang kembali meleleh meski gagal keluar karna tersumbat batang panjang yang sesak. Tubuh lemah itu kembali terkapar dengan wajah yang benar-benar seksi — di mata Aaron.
Di detik itu, Arron mencabut penisnya paksa. Membuat Juwita bernapas dan meninggalkan lubang menganga meski langsung tertutup keelastisan.
Jejaknya bangkit. Mengambil kantong berisi lateks dan merobeknya kasar dengan gigi. Tidak, Aaron memeriksa tanggal kadaluwarsa. Saat melihat sudah sangat lama, pria itu tidak jadi menggunakan pengaman. Sudah berapa lama tidak berhubungan seksual? Astaga. Seluruh lateksnya expired.
Juwita yang masih meraup oksigen dengan sisa-sisa tenaga, masih mampu menatap pria yang tiba-tiba bangkit tidak tahu untuk apa. Aaron kembali memegangi penisnya–naik ke ranjang.
“I LOVE YOU” Ungkapan cinta dan permohonan maaf yang terus di agungkan. Juwita tidak pernah bosan mendengarnya, bahkan jika Aaron mengatakannya sejuta kali. Kini, ia balik memeluk leher itu sayang sambil menciumi pipi Aaron berulang.
“Nyaman nggak? Mau lanjut apa udah?” pertanyaan itu membuat Juwita bingung. Lalu ia menimbang dengan menggigit ujung ibu jarinya “kalau aku maunya gak udah-udah sampai mati, gimana?”
Aaron terbahak-bahak. Namun tidak menanggapi ocehan si gadis yang terakhir, malah meninggalkan kecupan sekilas pada bibir cantik sebelum kembali fokus pada batangnya yang kini menghadap sempurna pada liang sempit.
Aaron mendengar hela napas lembut khas penenangan dari sang gadis sebelum pinggulnya kembali menghantam kuat–mengetuk liang memaksa masuk. Penis itu melesat sempura setelah dua kali gagal masuk. Juwita kembali meringis bersama kuku yang menancap pada pundak Aaron. Tidak perih, namun mengagetkan.
Gerakan lambat dan hati-hati. Mereka berciuman di antara batang panjang yang keluar masuk lumayan mudah dari sebelumnya. Aaron sudah mendengar desah pendek-pendek. Lembut, perlahan. Kadang hanya mulut menganga dengan bibir bergetar tiap batangnya di hentak kuat. Aaron menurunkan kepala dan mengulum bibir itu sekilas, agar basah dan merekah.
Rambut berantakan, payudara yang naik turun sesuai hentakkan, bibir sensual serta desah tertahan ketika ia jejal mulut cantik itu dengan lidahnya, Aaron seperti akan gila karna terus mengagumi sang gadis yang tak pernah meninggalkan kecantikan dalam segala kondisi. Cantik yang murni, benar-benar alami.
Semuanya tampak selaras. Tepat ketika puncaknya nyaris menyentuh langit. Gerak yang awalnya lambat penuh kelembutan lama-kelamaan menjadi lebih agresif. Aaron bergerak maju mundur setelah melepas pagutan mereka. Masih di posisi sama meski kini penisnya terlihat lebih mudah di dalam.
Juwita meraih apa pun untuk berpegangan–mencari keseimbangan ketika gerak liar membuat tubuhnya seperti akan terpental–kelimpungan. Selimut yang di remas kuat-kuat menjadi saksi bagaimana pria gagah itu mengerang keras mengguncang tubuhnya seperti singa jantan perkasa.
Bunyi kecipak dua paha yang beradu serta penis yang menabrak-nabrak mulut rahim adalah alasan desah panjang menggema beradu menciptakan harmoni indah atas tindak cabul kedua pasangan itu.
Hingga puncaknya ketika kedut itu membuat penis terasa lebih besar dengan gerakkan yang makin dipercepat, Juwita menyadari jika orgasme ketiganya akan datang seiring milik Aaron yang berkedut keras, berkali-kali sebelum—entah mengapa Aaron menarik paksa penisnya buru-buru.
Pria itu mengerang–cairan tumpah bagai di semprotkan jatuh menghujani perut sampai payudaranya. Tidak lama, setelah itu Aaron ambruk dan memeluk Juwita. Bekas cairan mirip perekat yang menyatukan mereka.
Keduanya diam kecuali desah napas yang semakin stabil. Aaron masih berada di antara ceruk—memeluk. Juwita merangkulnya sayang.
“Kak Aaron”
“Ya?”
“Terima kasih”
“Hm hm, no no. Aku yang terima kasih. Besok, kita menikah”
Juwita terlonjak “menikah?”
“Hm, menikah. Aku akan bertanggung jawab penuh atas apapun. Kamu akan jadi istriku”
Aaron dapat merasakan tubuh si gadis bergerak tidak karu-karuan karena kesenangan.
Aaron ikut terkekeh.
“Juwita.. Berjanjilah untuk jangan tinggalin aku.. Jangan eror, jangan sakit…”
Summer bergerak resah. Dua tangannya memeluk leher Yohan dan mereka masih berciuman–entah sejak kapan. Sudah lama, ciuman tergesa-gesa, pelan, lembut, dan kadang hanya menempelkan bibir. Pria itu fokus pada titik yang lebih jauh–demi mengais suara indah yang akan memenuhi rungunya.
“Ya, bersuara yang keras” Yohan berbisik setelah melepas pagutan. Kini bibirnya menelusuri daun telinga—naik ke rahang dan melumat apa saja yang dilalui.