PROLOG

Nic masih sempat melihat jajaran SUV hitam tanpa logo memadati lobi dan bagian samping gedung. Dan dengan keyakinan penuh atas dugaannya—jika mobil itu juga ada di pintu belakang dengan lampu strobo biru-merah yang masih menyala sementara isi kendaraan itu telah kosong. Artinya, agen yang menggunakan rompi antipeluru bertuliskan FBI yang membawa tameng balistik, pasti telah menyebar—menyisir seluruh bagian dalam gedung. Nic tau dari film yang ia tonton. 

Bukan. Ia tidak bisa menebak begitu saja jika SUV hitam yang terparkir itu sudah pasti agen FBI, pria itu tau tepat ketika ponselnya berdenting tanda pesan masuk dari dua anak buahnya—memberi tahu agar tidak datang karena laboratorium sedang di gerebek.

Seluruh peracik, mereka menyebut orang yang mengerjakan itu dengan julukan ‘Professor’ maka, Nic yang lulusan ahli kimia sintetis yang memiliki kemampuan luar biasa sejak kecil—meracik senyawa-senyawa kimia—karena hobi yang disokong oleh uang dan bimbingan—akhirnya menjadi begitu ahli dalam hal-hal sejenis. 

Kedua orang tuanya dokter. Ayahnya adalah kardiolog sementara Ibunya Pediatrician. Sementara Nic, pria yang memiliki nama asli Brian Pangestu  itu dibesarkan dengan harapan dapat kembali menjadi dokter juga—tentu saja. Maka, sejak kecil, saat Nic tertarik dengan hal-hal berbau kimia, kedua orang tuanya sangat mendukung.

Namanya makin melejit ketika Ayahnya terus pamer pada seluruh kerabat, rekan kerja, serta organisasi kedokteran dalam lingkup seputar itu. Hingga kabarnya makin mengudara dari mulut ke mulut tentang keahlian seorang mahasiswa yang mampu meneliti dan merancang obat-obatan baru. Bukan hanya sekedar kabar burung yang di sebarkan begitu saja. Pria itu memang jenius. Dan Nic tidak menjadi dokter, pria itu berkiprah di belakang layar menjadi ahli farmasi.

Kabar baik yang datang mengawali segalanya. Atau barangkali kesialan? Hal-hal tak terduga selalu datang tanpa undangan.

Malam itu, dua orang bertamu ke kediaman keluarga Nic—tepat saat ketiganya sedang makan malam layaknya keluarga bahagia yang sudah bersumpah untuk tidak membawa masalah pekerjaan ke meja makan. Jadi, Nic, Ayahnya, dan Ibunya, mereka sepakat membahas hal-hal yang menyenangkan saja. Lalu, jika mendapati suatu permasalahan, maka, akan dibawa ke ruang keluarga untuk dibahas dengan serius. Bukan saat makan.

Dan kedatangan dua tamu memecah obrolan seru mereka seputar penemuan virus baru yang bersumber dari pakaian thrift.

Dua orang berkewarganegaraan asing. Yang satu bermata sipit khas Asia Timur dengan kulit putih bersih. Sementara yang satu lagi jelas dari barat—tubuhnya tinggi besar, rambutnya pirang dan warna matanya coklat terang.

Mereka datang dengan maksud dan tujuan yang benar-benar tidak terduga; mengatakan bahwa perusahaan mereka yang berpusat di Chicago membutuhkan anak seperti Nic untuk kebutuhan pengembangan obat-obatan. Perusahaan itu merupakan bagian dari konsorsium farmasi internasional yang bermitra dengan WHO.

Tentu saja mereka membawa bukti ini dan itu, berbagai data yang disusun dalam satu file, lalu diputar di hadapan tiga orang. Keduanya juga sempat menemui menteri kesehatan dan benar-benar terhubung dengan berbagai orang-orang penting yang berkiprah di dunia farmasi. 

Kedua orang tua Nic tidak serta merta langsung melepaskan anak semata wayang mereka. Namun meminta untuk menunggu hingga Nic lulus kuliah dan setelah itu, baru Nic diizinkan untuk melanjutkan studi di Amerika Serikat. Karena begitulah yang mereka katakan—bahwa Nic akan melanjutkan S2 sambil bekerja di perusahaan. Seluruh biaya dan kebutuhan, jelas mereka yang tanggung.

Hingga saat itu tiba.

Nic benar-benar tidak pernah memprediksi serius apa yang ada di depan matanya, siapa yang membawanya dan apa yang akan terjadi kedepan—selain pikiran paling positif jika ia menerima beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat atas kepiawaiannya dalam meracik obat-obatan.

Saat sampai sana, ia diberi beri tempat tinggal layak. Sangat layak.

Satu unit apartemen yang bagus. Pemandangan kota Chicago terbentang megah dari kaca besar kamarnya. Seluruh fasilitas begitu lengkap, juga dibekali satu unit mobil.

Namun saat pertama kali tahu apa yang harus ia kerjakan untuk mendapatkan uang dan pendidikan, Nic sempat menangis meminta pulang.

Ya. Alih-alih meracik obat, membuat obat baru untuk virus seperti yang di gadang-gadang dua orang yang membawanya. Atau membuat obat anti kanker yang juga sempat disinggung dua orang asing berkewarganegaraan berbeda itu, Nic diminta untuk membuat narkoba.

Pria baru lulus kuliah berusia 22 tahun lebih dua bulan itu, dipaksa meracik obat-obatan terlarang yang akan dijual pada para elite kaya raya. Ia dipaksa merancang inovasi baru—bukan untuk virus atau yang berhubungan dengan penyembuhan, melainkan psikotripika.

Saat menolak, Nic dipukuli dan diancam dibunuh.

Namun ketimbang itu semua, yang paling menyiksanya adalah tahu, bahwa mereka juga mengancam akan membunuh kedua orang tuanya jika tidak menurut.

Penipuan. Ia masuk ke neraka mengerikan. Meski di gaji, namun itu jelas pekerjaan ilegal yang rentan—jelas akan mendapat masalah serius jika polisi tau.

Meski ia tidak sendirian. Ada ratusan ahli seperti dirinya dalam satu laboratorium. Dan tempat ini, lab bukan hanya satu. Namun  di pecah begitu banyak di kota-kota besar—alias menggurita. Pemiliknya jelas para orang kaya raya–yang skalanya, Nic sendiri bahkan enggan memikirkan. Yang perlu diingat bahwa, sekarang yang paling penting adalah bertahan hidup. Orang tuanya aman, dan ia tidak mati konyol.

Hal-hal yang tak pernah terduga. Pekerjaan yang mengerikan meski lama-kelamaan terasa menyenangkan. Nic hanya mencoba bertahan hidup. Ia melakukan apa yang diperintahkan, lalu membuat ide kreasi dari kepalanya sendiri saat di minta untuk membuat ini dan itu. Jika salah satu dari mereka bisa membuat penemuan jenis narkoba baru yang di racik begini dan begitu, maka, perusahaan akan memberikannya hadiah yang tidak main-main. Itu sungguhan, dan Nic berusaha keras untuk mendapat uang sambil memikirkan cara untuk kabur.

Dan baiknya, satu professor bisa mendapatkan dua pembantu. Maka, tiap satu ahli peracik, didatangkan masing-masing dua perawat dari negara masing-masing.

Nic yang memilih saat dihadapkan beberapa kandidat. Ia memilih satu gadis asli Jakarta, dan satu lelaki berperawakan besar—orang medan.

Tapi, betapapun ia menuruti seluruh peraturan gila dari perusahaan itu, pekerjaan ilegal tetaplah ilegal. Mereka menekan para karyawan, mencabut beberapa hak secara menyebalkan kadang cenderung mengerikan. Seperti pembatasan akses keluar dari kota. Kerja yang tidak pernah libur meski sehari hanya butuh tujuh jam kerja. Namun  Nic tetap tidak bisa keluar, tidak bisa pergi sembarangan. Hingga kabar bahwa kedua orang tuanya tewas akibat kecelakaan membuat pria itu benar-benar ingin mati.

Dari usia 22 tahun hingga 30 tahun. Kurang lebih delapan tahun Nic berada di sana. Gaji yang besar, tunjangan yang luar biasa, seluruh fasilitas yang bagus. Hanya itu saja kurangnya—tidak bisa pergi cuti kecuali melalui prosedur yang amat ketat dan rumit. Jadi, Nic dan para profesor yang lain hanya berganti shift saja. Tidak pernah benar-benar libur sehari. Ya, kecuali natal dan tahun baru.

Maka, setelah sekian lama dan kesempatan itu ada, Nic kabur.

Ia sudah memiliki paspor sejak empat tahun yang lalu, sejak Ayah dan Ibunya mati. Maka, dengan mudah ia pergi pulang ke tanah air—sementara dua rekannya akan menyusul setelah mereka berpencar agar tidak terdeteksi. 

Perusahaan telah memberi hak istimewa pada setiap profesor bahwa mereka akan diselamatkan jika tertangkap pihak berwenang. Namun Nic yakin, melebihi keyakinannya pada Tuhan jika perusahaan berdusta. Maka, yang sempat ia lakukan dengan dua pembantunya dari jauh-jauh hari adalah mengambil semua gaji dalam rekening menjadi uang tunai. Gaji yang mereka kumpulkan susah payah, Nic membawanya ke tanah air. 

Ia tidak tahu apakah ia akan tertangkap.

Maka, selama hampir satu bulan di Indonesia, Nic sengaja tidak membeli atau menyewa hunian yang berpotensi meminta data diri. Ia tidak memiliki ponsel, tidak juga dengan identitas. Pria itu hanya luntang lantung membawa tas besar yang kini telah ia letakkan di dalam gudang—tempat persembunyian rumah orang tuanya—meski Nic belum berencana menemui notaris untuk mengambil alih hak warisnya yang sah. Karena jelas akan mudah di temukan oleh orang-orang perusahaan jika mereka bangkit lagi setelah satu kali penggerebekan ini. Nic masih akan menunggu hingga yakin ia aman, dan rencananya akan menjual seluruh aset mendiang ayahnya lalu kabur ke pelosok negeri–dimana ia hanya bisa hidup dari menanam padi dan berkebun.

Nic menjadi gelandangan. Ia bahkan tidak menukarkan uang sepeserpun dalam rupiah. Maka, yang ia kerjakan adalah menjadi pemulung rongsokan untuk mengisi perut. Tidur ia di bawah terpal bekas pedagang kaki lima berjualan dan akan diusir tiap matahari datang.

Masih baik Nic tidak pernah di gelandangan SATPOL PP. Ia benar-benar seperti itu dengan sabar. Dibandingkan harus tertangkap siapapun, baik FBI atau perusahaan, Nic lebih baik menahan diri sedikit lagi.

Orang-orang di perusahaan bukanlah mereka yang bisa dilawan dengan adu jotos. Jika ingin keluar, maka satu-satunya cara adalah mati. Pun jika sakit, perusahaan lebih baik membunih pekerjanya ketimbang memulangkan mereka—yang akan berpotensi bocor atau kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya.

Kendati tau tak akan mempan kabur dengan ototnya meski cukup besar dan kemampuan bertarungnya yang tak di ragukan lagi, namun Nic tidak pernah berhenti berlatih. Delapan tahun di negara Paman Sam, Nic sangat gemar menghabiskan waktu melatih kemampuan bertarung, olahraga membentuk masa otot, dan berbagai bela diri yang ia pelajari hingga membuatnya merasa bisa mengalahkan lima badak dewasa. 

Hanya lima badak dewasa, tentu saja. Karena tahu tidak akan bisa melawan perusahaan untuk kabur. Namun pikiran-pikiran seperti itu tetap ada, meski belum sempat terealisasi karena FBI lebih dulu bergerak. 

Ya. Mereka—perusahaan itu menyerang karyawannya yang membangkang, yang berusaha kabur, atau sakit—menggunakan senjata api, atau paling banyak di bunuh dengan racun. Maka, aksi keos ini benar-benar sangat rentan. Juga pelarian diri. Baik di tangkap FBI maupun perusahaan, keduanya sama-sama mimpi buruk.

Dan dalam proses ini, dalam posisi buruk rupa, gelandangan, bau, dan sangat menyedihkan meski uangnya sangat banyak, Nic bertemu dua gadis  yang berkelahi di jalanan–gang malam.

Dua gadis yang saling pukul, saling hajar meski salah satu terlihat paling mengalah.

Itu adalah Luna dan Lucy.

Dan entah bagaimana caranya, Nic yang tidak pernah mau ikut campur urusan orang lain, melerai keduanya.

Dan sejak saat itulah, ia memperkenalkan diri dengan nama baru; 

“Aku Nicole” katanya, memperkenalkan diri pada gadis paling feminin di sana ketika ia ditanya nama. Sejak hari itu, namanya menjadi Nic, Nicole. Usianya dua puluh empat atau kurang lebih dari itu. Ia merupakan anak yang kabur dari panti asuhan. 

Tentu saja cerita karangan itu spontan diucapkan tanpa perencanaan. Namun berhasil mengubah seluruh hidup Nic yang kelabu.

EPISODE 25

Nic meraih tangan gadis yang membelai rahangnya. Lantas, ia kecup telapak itu berulang-ulang.

“Gimana kalau gua memilih pergi?” tanyanya. Tangan Luna masih dikecupi, matanya tak lepas dari milik si gadis yang menatapnya sayu dari bawah. Luna hanya memperhatikan wajah tampan di atasnya—dengan mata milik Nic yang penuh damba memandangi dirinya. Nic menyukainya. Luna tahu. Namun, ia tak bisa memberikan apapun karena ia tidak tahu harus apa. Yang Luna tahu, ia hanya tidak ingin Nic memiliki kekasih atau teman yang lebih dekat di banding dirinya.

“Nggak gua izinkan” kata gadis itu. 

“Gua nggak butuh izin, gua punya kaki buat jalan keluar”

“Lu nggak punya uang”

“Gimana kalau gua punya?” Nic memasukkan jari telunjuk gadis itu dalam mulut—mengulumnya pelan, lalu kembali di keluarkan.

“Lu mencuri uang gua?” tanya Luna selidik. Pria itu mengedikkan bahu.

“Lu liat aja sendiri, rekening lu ngurang berapa. Gua sekali-kali lah beli rokok. Itu pun bisa lu potong gaji pertama gua”

“Itu artinya, lu nggak bisa pergi”

“Gua pergi, gua butuh pasangan, gua harus cipokan”

“Kenapa cipokan sih? Sepenting itu?”

“Hm, penting banget”

Nic kembali memasukkan jari si gadis, kali ini yang tengah. Ia jilat-jilat lembut. “Gimana lidah gua?” 

“Hum?” Luna memiringkan kepala. Jarinya hangat masuk dalam mulut Nic. Lidah pria itu bermain di permukaan kulitnya. “Lembut..” jawabnya, pelan. Gadis yang berstatus sebagai ‘pria’ bagi pasangan sesama jenisnya, kini terlihat begitu keci di bawah kukungan besar Nic yang mendominasi. Di bawah Nic, gadis itu tampak seperti anak kucing yang rapuh. Begitu lucu hingga Nic ingin menelannya. 

“Ya, lembut. Makannya coba ciuman sama gua”

Nic masih merayu. Luna tak segera menjawab. Namun tidak menolak seperti sebelumnya. Gadis itu lebih mirip orang yang sedang berpikir—mempertimbangkan tawaran Nic karena pria itu terus merengek, bahkan mengoceh tentang pacar hingga membuat Luna emosi. Bedanya, Nic tidak balik marah atau merajuk saat ia naik pitam meski sampai memukul. Bayangkan jika ia cekcok dengan Lucy. maka, keduanya pasti sudah ribut besar dan jelas akan seperti saling bunuh.

“Oke, gua mau ciuman. Tapi sebagai gantinya, lu kudu menceritakan semua hal tentang lu. Semua hal. Tanpa kecuali, jujur, dan tanpa dipotong atau loncat-loncat. Ceritakan siapa lu sebenarnya, gua mau nggak ada rahasia di antara kita”

Mendengar syarat, dahi Nic mengerut banyak. Alisnya menukik ke bawah dan matanya disipitkan. Lantas, ia lepaskan tangan si gadis yang sebelumnya ia kecupi juga sesekali dikulum. Rasanya begitu berat.

Ia mempertimbangkan banyak hal.

Luna adalah jenis manusia yang mudah terikat. Begitu posesif dan cenderung sangat setia pada satu orang. Gadis yang akan menyerahkan apapun bahkan bertindak anarkis jika apa yang dirasa ‘miliknya’ pergi atau hilang, atau jika ia merasa diambil orang.

Gadis itu tidak memiliki siapapun untuk berbagi info mengenai dirinya. Dan terasa mustahil akan susah payah untuk membuatnya terancam. Gadis itu menyukainya juga. Nic yakin. Luna hanya belum menyadarinya dan memilih berkutat pada kecenderungan orientasi seksualnya yang menyimpang.

Juga, gadis itu bukan tipe yang akan bersusah payah balas dendam. Bahkan dengan Lucy, Luna lebih memilih legowo meski hari-harinya kelabu dan menyedihkan.

“Nggak sanggup kan lu? Segitu brengseknya kah? Atau apa? Kenapa gua mesti kasih semuanya buat lu?  Bahkan ciuman? Kerjaan lu nggak berat, lu cuma kudu nemenin gua kapanpun gua butuh. Tanpa kecuali, tanpa membantah. Lu cuma gelandangan yang gua pungut. Nggak bisakah inget di mana gua menemukan lu, huh? Kenapa jengkelin sih?”

Nic belum menjawab. Matanya beralih teduh menatap gadis yang jelas tidak baik-baik saja.

Lahir dari keluarga dengan orang tua disfungsi bahkan kriminal. Ia tahu kemana seorang anak akan membawa isi kepala, menggendong luka, serta pelampiasan rasa yang rumit. Luna menyimpang karena alasan itu. Gadis itu juga kasar karena itu. Luna bahkan menjadi posesif dan mudah melekat karena itu. Gadis yang sejatinya begitu lemah dan kosong. Yang hanya berharap ada seseorang yang mau menemaninya tanpa takut di tinggalkan. Tanpa resah. Luna hanya ingin di beri rasa aman, kepercayaan, serta hubungan yang sehat—berikut dengan bimbingan orang dewasa yang waras. 

Dan Nic telah memutuskan bahwa gadis itu bukanlah seseorang yang akan menjadi ancaman meski ia berbagi informasi yang sebenarnya mengenai diri.

Dan jika suatu saat—entah hari sial atau apapun terjadi. Setidaknya Luna akan tau, kemana ia pergi.

Meski tidak. Nic bersumpah tidak akan ada pengejaran lagi. Ia tidak akan dipaksa kembali ke perusahaan itu. Nic bersumpah. Jika dua temannya telah kembali dan mereka sudah pulang ke Indonesia, Nic akan mengajak Luna pindah. Mungkin saja menikah, jika gadis itu mau.

“Gua akan menceritakan apapun. Gua akan menjawab semua pertanyaan lu tentang diri gua tanpa kecuali. Tanpa di potong. Gua akan ceritain semuanya” kata Nic kemudian. Luna mencari kejujuran di antara matanya meski gagal karena Nic kontan memangkas jarak dengan menempelkan bibirnya.

“Gua nggak akan pergi, gua akan selalu di sini sama lu. Bukan karena uang atau karena gua gelandangan yang bergantung kehidupan ke lu. Tapi karena gua sayang, karena gua suka, karena gua tau kurang-kurang lu. Tapi anehnya, gua mau menetap di sini” Nic menggesek bibirnya pada bibir Luna “begitu banyak gadis di luar, begitu banyak perempuan. Tapi untuk dapat yang bisa masuk ke segala obrolan, gua yakin.. Itu seribu satu. Dan gua menemukan lu untuk pertama kalinya. Luna..” 

Melesak.

Kehangatan merayap ke hati dan menyebar jauh hingga tubuhnya menjadi rileks dan nyaman. Gadis itu tidak tegang, tidak menahan napas seperti yang ia lakukan sebelum kata-kata Nic yang terakhir. Ia menerima tubuh besar itu sambil mencoba menepis rasa jijik, rasa asing, rasa aneh dari seorang pria yang baru sekali ini saja mencoba.

Tidak, tidak seburuk bayangannya.

Tidak ada adegan kekerasan, tidak ada rasa takut, tidak ada prilaku kasar, lidah kasar, dan segala hal yang kasar—yang selama ini menjadi stigma buruknya dalam memandang hubungan normal dengan laki-laki.

Nic begitu lembut. Pria itu sangat perlahan. Tiap gerakkannya, seolah ia memperlakukan porselen yang berharga. Takut pecah, takut rusak dan takut tergores.

Pagutan itu kelewat pelan. 

Bibir Luna dikulum lembut. Bagai permen kapas yang meleleh dalam mulut—rasa liur Nic begitu manis meski Luna yakin itu adalah residu dari rokok. Begitu juga mulutnya.

Pria itu tak memejamkan mata, begitu juga Luna. Nic melihatnya dengan sorot sayu, penuh damba. 

Ia sesap milik gadis itu seperti menyesap teh hangat di pagi hari. Bertukar saliva dalam tempo yang lambat, penuh rasa, dan kenikmatan muncul dari sesuatu yang tak pernah terburu-buru. Nic kelewat telaten untuk memperkenalkan diri sebagai pria pertama yang menyambangi bibir gadis yang terbiasa melahap sesama.

Butuh waktu beberapa saat untuk membuat Luna memejamkan mata. Meyakinkan bahwa ciuman itu aman. Ciuman itu tidak akan membuatnya mengingat hal-hal yang sebetulnya hanya mengerikan di kepala saja. Bahwa, ia bukan lelaki yang akan melukai melalui kegiatan intim yang semestinya bisa memberikan rasa nyaman dan nikmat di waktu bersamaan.

Luna menerimanya.

Atau sebetulnya, gadis itu memang tidak benar-benar—tidak menyukai laki-laki? Hanya berlindung pada kata trauma—karena belum menemukan lelaki yang cocok, lelaki yang bisa menunjukkan bahwa tidak semua laki-laki seperti ayahnya.

Karena Nic tahu. Tidak mudah bagi pelaku penyimpangan seksual yang sejati untuk menerima lawan jenis. Kecuali melalui banyak hal. Namun untuk ukuran satu bulan kebersamaan mereka, Nic lebih yakin jika Luna adalah biseksul yang sejatinya bisa mencintai siapa saja. Gadis itu hanya takut di tinggalkan, takut kekerasan. Maka, ia memilih sesama wanita agar aman.

Lidahnya mengetuk-ngetuk. Merengek minta diizinkan masuk. Nic tidak akan memaksa, sungguh. Jika Luna tidak mau membuka mulutnya, ia hanya akan menciumnya seperti sebelumnya tanpa melibatkan lidah.

Dibuka sedikit.

Diberi celah sempit, pria itu dengan buru-buru menyelinapkan indra perasa. Membuat Luna yang telah menutup mata, kini kembali mendelik. Ia merasa-rasa milik Nic, meski yang di lakukan pria itu hanya membelit miliknya pelan-pelan.

Dua tangan Luna mencengkram erat pinggiran bantal. Sensasi gelenyar yang sangat ia hafal—yang timbul saat ia sering berciuman dengan Lucy, sejak beberapa saat lalu terus menghentak-hentak perutnya yang kini melilit. Nic berhasil. Luna mungkin akan mengakui jika tidak malu setelah ini. Bahwa ia memang menyukai Nic sebagai lelaki, bukan teman atau asisten.

Nic masih konsisten. Tak ada ciuman buru-buru. Tak ada tergesa. Ia tetap menjaga ritme tanpa berencana hilang kendali meski libidonya naik sampai ubun-ubun. Gadis galaknya yang berharga. Entah sejak kapan ia mulai menyukai perempuan dengan usia enam tahun lebih muda darinya, namun pas jika ia panggil Mami. 

Nic mencabut lidahnya, lalu memasukkan lagi, di cabut lagi, lagi di masukkan lagi. Pria itu jelas cabul, sangat cabul dan memang seperti itu. Sebelum kembali mengulum bibir Luna dengan gerakkan yang seolah terukur. Tangan Luna ia bawa untuk melingkar ke lehernya. Namun si gadis lebih memilih menjambak Nic. Jeriji kecilnya menyisir rambut pria itu, lalu meremasnya keras-keras saat gelenyar itu seakan menggelitik perut dan menyebar ke tempat paling sensitif miliknya.

Juga, sesuatu yang baru terasa di perutnya.

Satu-satunya hal yang keras dari semua hal milik Nic selain otot-ototnya. 

Penis.

Benda itu menekan perutnya tepat di bawah pusar.  Itu sangat baru, benar-benar sekali ini di rasakan. Luna tidak nyaman dan terus berusaha membuat Nic membuat celah agar bagian yang itu, tidak menempel di sana.

“Kenapa?” tanya Nic, ia melepas pagutan ketika Luna terus bergerak resah.

“Titit lu, nggak nyaman banget gua”

“Ah…” pria itu melihat ke bawah. Jeans kebesaran tetap gagal membuat batangnya tidak menyembul. Lantas, ia memberi jarak, juga memang tak pernah membebankan massa tubuh. “Udah?”

“Apanya?” tanya Luna. Ia tak sudi menatap Nic karena malu. Bibirnya yang basah dan jantungnya yang bertalu-talu aneh. Padahal, jika Nic mau menciumnya lagi, Luna tidak akan menolak.

“Gua cium lagi boleh gak?” Nic memperjelas.

Luna tidak menjawab, ia melihat ke samping, lalu menggeleng pelan. Penolakan adalah satu-satunya cara untuk mempertahankan harga diri, seingin apapun ia kembali mengulang ciuman dengan pengalaman pertama yang mendebarkan. Dengan menolak, ia tidak akan terlihat begitu mudah.

“Mau udahan? Ya kalau udahan, berarti nggak semua pertanyaan yang bakal lu ajuin bakal gua jawab. Orang ciuman baru tiga menit. Minimal 10 menit. Atau setidaknya sampe lu adaptasi sama lidah gua”

“Ciuman apa 10 menit? Orang edan”

“Ya nggak edan lah. Namanya cinta. Gua bahkan bisa seharian cium lu” Nic masih menatap bibir gadis itu penuh damba “gua memimpikan ini setiap malam” lantas ia usap bilah itu dengan ibu jarinya, Luna menepis kasar. Nic terkekeh.

“Ternyata emang seenak itu. Enak banget ciuman sama lu. Lain kali, ayo ciuman yang panas, yang buru-buru, yang nggak sabaran. Gua bersumpah, lu nggak akan mati hanya dengan ciuman”

“Lu pikir gua gadis gila yang mikir ciuman bakal mati?” kendati ocehan mereka panjang lebar. Namun Nic tidak mengubah posisi. Luna kembali memegang dua sisi bantal sementara Nic terus menatapnya dari atas.

“Lu trauma sama lelaki. Jadi akan gua pastikan, nggak akan ada yang begitu-begitu”

“Begitu apa?”

“Ketakutan lu, Mi.. ya Allah.. Beloon amat kali”

“Ngelunjak lu mah”

“Usia gua 32” kata Nic, tiba-tiba.

“Gak urus” jawab Luna singkat.

“Ya lu jadi tanya-tanya gua nggak? Tanya-tanya identitas gua. Gua bingung kalau mesti cerita kehidupan gua, gua nggak tau harus mulai dari mana. Jadi mending lu yang tanya-tanya. Akan gua jawab semuanya tanpa tedeng aling-aling. Sumpah. Tapi abis itu, kasih gua ciuman sekali lagi. Sekaliiiii aja… ya?”

Nic lalu bangkit. Ia merangkak duduk dengan menyandar pada kepala dipan setelah meletakkan bantal. Begitu juga Luna.

Gadis itu membenarkan rambut yang berantakan. Bibir yang basah di seka asal dengan punggung tangan. Lalu kakinya melipat dan selimut naik sampai lutut.

“Nama asli?”

“Brian Pangestu”

Mendengar nama itu, Luna langsung mendelik. Ia pandangi wajah pria di sampingnya. 

“Serius? Nicolas juga bukan nama asli?”

“Hm” Nic hanya mengangguk pelan.

“Tapi gua akan tetap panggil lu Nic. Peduli setan nama asli lu”

“Itu lebih bagus. Ayo selametan atas ganti nama gua. Toh, sekarang gua punya identitas dengan nama Nicolas. Jadi, sekarang nama gua adalah Nicolas”

Luna mengangguk-angguk.

“Pekerjaan dulu? Sebelum ketemu gua?”

“Profesor yang tugasnya bikin obat-obatan terlarang di Chicago. Bekerja di bawah perusahaan ilegal karena ditipu setelah diiming-imingi beasiswa S2 di Amerika Serikat”

Itu semakin membuat Luna menganga.

“Apa lu bilang? Profesor?” 

“Hm”

“Profesor?” si gadis berusaha meyakinkan kepalanya sendiri. “Seorang Nic, bayi lucu dan imut, gemes manja, profesor?”

Nic mendecih “udah gua bilang, gua bukan bayi. Asumsi soal bayi kan, cuma ada di kepala lu doang” pria itu menyeka hidungnya yang gatal.

“Nic, bikinin gua narkoba”

“Sini gua jepret pala lu”

Luna mendekat, ia terlihat mirip anak anjing yang penasaran pada hal baru dan unik.

“Berarti, lu bukan gelandangan? Uang lu banyak?”

“Ya”

“Wah..”

Lalu, Nic mulai menceritakan ini dan itu. Alasannya begini dan begitu. Lantas meminta Luna untuk bekerja sama atau ia akan kabur dan bersembunyi tanpa sipapaun tahu. Namun gadis itu terus penasaran. Semua hal di tanyakan.

“Jadi artinya, lu bukan gelandangan. Lu nggak bergantung hidup ke gua dan lu adalah seorang buronan FBI atas pekerjaan yang sebenarnya, lu sendiri tertekan dan tersiksa?”

Nic mengangguk. Namun ekspresi Luna mendadak jadi murung.

“Itu artinya, lu bisa pergi kapan aja tanpa ada hal yang bisa jadi alasan paling krusial buat bertahan” nadanya khas. Gadis itu lebih mudah mencari kemungkinan terburuk ketimbang sebaliknya. Seperti otaknya terus bermode siaga.

“Gua sayang sama lu” kata Nic  “jadi, ayo tetap gaji gua, gua akan lakukan apapun buat lu. Kiranya cerita ini memang bertujuan agar  lu percaya bahwa gua bukan seseorang yang menakutkan. Gua pengen jadi wadah aman buat lu berlindung. Gua bicara sejujur-jujurnya karena sama kayak lu, gua pun nggak punya siapapun di tanah air. Gua bahkan sulit ngambil alih harta warisan karena takut mereka ada di sekitar rumah gua”

Luna masih diam saja.

“Luna, anggap nggak pernah dengar apapun. Gua cuma mau jujur sama seseorang yang gua sayang. Tolong lihat sisi gua yang itu aja. Sisanya, gua adalah asisten lu. Gua adalah anak lu, mungkin aja bayi lu walau gua bukan bayi” Nic mengusap wajah sambil terkekeh “gua bukan bayi astaga”

“Lu bayi, tetap bayi gua” jawab Luna kemudian, setelah melamun beberapa saat.

“Oke, gua bayi” pria itu menyerah “sekarang, boleh ciuman lagi?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *