Sinu membawa tubuh itu dalam gendongan depan. Tak henti-henti ia kecupi seluruh bagian yang terjangkau dari tubuh istrinya yang ia nikahi secara ilegal di dunia mimpi.
Melebur rindu, menyesaki kesakitan akibat pembunuhan yang kini menyisakan trauma. Berharap akan hilang saat ia telah memutuskan untuk menerima ‘Kristal’ sebagai istrinya dan akan memberikan pengertian pada Edgar tentang ini.
Untuk semuanya, kecuali yang kesakitan.
Sambil terus meyakinkan diri bahwa kematian Kristal bukan salahnya. Bukan sebabnya.
“S-sinu..” tubuh kecil itu menggeliat saat Sinu terus mencecap leher. Sudah berhasil merebah, kini tak ada jeda, pria itu menindih sang Dewi.
“Kau tidak memiliki kekuatan lagi” bisik pria itu di sela-sela ia mendusal “maka, aku akan menjagamu, melindungimu, mengayomi, serta menjadi suami yang bertanggung jawab sampai mati. Aku bersumpah, My Sin.. aku akan bersamamu sampai akhir” kata-kata itu membuat sang Dewi ingin menangis—pun ia tak tau kenapa mudah sekali menangis. Padahal ia tidak, menangis tidak terjadi setiap tahun, tidak juga dalam rentang ratusan atau seribu tahun sekali. Namun di tempat ini, sang Dewi menangis untuk alasan yang terlalu sepele.
“Kau kurang tidur” bisiknya. Kali ini Sinu tak mendengarkan. Ia memilih memagut perempuan itu untuk melebur rindu yang seperti akan mengoyak jantungnya.
⚘.⚘.⚘.⚘
Edgar duduk di sofa rumah orang tua Kristal. Pria itu hanya datang lalu melamun. Berbagai macam makanan tersaji di atas meja—para pelayan menyambutnya begitu antusias—meski kontras dengan suasana hati si pirang.
Belum menangis lagi. Edgar sudah pingsan berkali-kali saat ingat akan kenyataan yang hingga hari ini begitu sulit diterima nalar nya.
Dia bukan Kristal. Tapi dia Kristal.
Dia bukan.
Tubuh Kristal.
Dia begitu asing dan aneh.
Katanya, Kristal telah mati.
Edgar mengusap mata kasar. Ralat, ia menangis. Perutnya sempat sakit sungguhan dan Samuel menyembuhkan. Pun, ia memohon pada Kakaknya agar menyembuhkan sakit hati, namun Samuel berkata tidak bisa—malah memberinya seribu ekor cicak dalam toples sebagai cemilan.
Sudah berakhir.
Kini malam-malam nya makin menyedihkan dari apapun seumur hidup. Lebih menyakitkan dari ratusan tahun terkurung dalam kastil. Sungguh, Edgar hanya tidak tahu cara mati meski ingin.
“Widih, mantu udah duduk aja” itu Papa Kristal. Sepertinya hari libur karena mengenakan pakaian olahraga “ikut Papa main golf mau gak? Abang kamu lagi sibuk. Kristal boro-boro mau diajak. Anak itu sekarang jadi pendiem dan jarang bicara. Biasanya cerewet” ia mendekat, lantas mengencangkan tali sepatu di hadapan Edgar.
Edgar Menggeleng. Ia usap air matanya.
“Nangis? Lagi berantem kah? Apa Mama ngomong aneh?” wajahnya khawatir. Papa Kristal mendekat pada Edgar “berantem pas mau menikah itu biasa. Katanya itu ujian pra nikah. Masa nangis sih? Kristal memang kelewat galak. Udah dibilang suruh latihan tari dari bayi. Dia malah milih main pedang”
“Pa, Saya nggak jadi menikah sama Kristal. Untuk alasan yang melalui banyak perundingan dan pertimbangan, Kristal milih nikah sama abang sulung saya. Namanya Sinu” Edgar makin terisak-isak setelah berhasil mengatakannya. Sungguh, hatinya sakit sekali. Padahal, jika Kristal mati lalu di kubur, tidak hanya diri sendiri yang berduka seperti ini. Benar-benar merasa hancur sendirian.
Ayah Kristal kaget. Ia mendelik “Kristal belum ada bilang apa-apa, Mama udah tau belum? Kok dadakan sih?”
Edgar hanya menggeleng. Tidak tau ia bagaimana cara menerangkan lebih lanjut—pun datang kesini tanpa persiapan. Hanya tidak tahu harus pergi ke mana.
Ke mana pun, asal jangan mansion. Edgar juga sudah berjanji akan membeli apartemen untuk dirinya sendiri setelah Sinu menikah. Ia tidak bisa tinggal di rumah itu lagi.
Lalu ayah Kristal naik ke atas. Edgar hanya menatap punggung itu dengan hati pilu. “Ini gimana biar nggak sakit gini sih.. Hati gua sakit banget ya Allah..” pria itu terlentang di atas sofa, air matanya terus mengalir tanpa tau cara berhenti.
Lalu tak lama, Ibu Kristal turun. Perempuan itu sudah memasang wajah galak—seperti bola mata yang akan keluar, rahang yang mengeras serta pembawaan yang penuh amarah. Sungguh, Edgar rindu meledek lalu membawa anaknya kabur. Atau sengaja berciuman dengan Kristal di depan wajahnya meski akhir-akhir ini perempuan itu telah kebal.
“Apa? Siapa yang mau ganti pasangan di ujung dan dadakan? Sini Mama potong lehernya, enak aja..” mengomel padahal masih jauh. Edgar duduk tegak sambil menarik tisu—menyeka ingus. Matanya nyaris tak terlihat karena bengkak. Pria itu kacau. “Ya Allah.. Anakku, pantesan kata Papa kamu nangis..” lalu Ibu Kristal memeluk Edgar “ini serius gak? Kalu nge-prank kek biasa, Mama jedotin kamu ke tembok”
Namun melihat Edgar yang tersedu-sedu hingga tak mampu bicara, Ibu Kristal meminta suaminya untuk menjemput Kristal dan mereka harus menyelesaikan ini—jika serius.
“Suruh bawa siapa itu.. Siapa yang mau gantiin kamu?” Tanya Ibu Kristal.
“Sinu”
“Ya, suruh bawa Sinu juga. Serius nggak sih?”
Tidak ada jawaban, namun sopir dan beberapa pengawal pergi ke mansion Kristal untuk menjemput dua kandidat yang di mata dua orang tua itu telah melakukan perselingkuhan. Padahal bukan begitu maksud kedatangan Edgar. Namun ia gagal menjelaskan ketika yang bisa dilakukan hanya menangis dan terus menangis.
“Ma bentar, saya mau nelpon sodara saya dulu buat jelasin situasinya” Edgar buru-buru menelepon Jake. jika dibiarkan, maka orang tua Kristal akan salah paham dan cenderung membenci Sinu. Atau bisa saja si sulung tak direstui.
“Pokoknya Mama nggak bisa, nggak akan terima selingkuhan Kristal. Nggak-nggak, emangnya nggak mikir nikung adiknya sendiri? Atau Kristal nya yang kegatelan? Padahal… astaga.. Nggak kurang-kurang kasih cinta”
Seperti dugaan.
“Ma, Kristal nggak selingkuh” kata Edgar lagi, terbata ia bingung karena keburu sesak yang bejubel membuatnya batuk. Lantas tidak sampai dua menit setelah ditelepon, Jake datang. Lebih cepat dari pada sopir yang bahkan baru keluar dari halaman rumah.
“Assalamualaikum ya ahli kubur” kata Jake. Datang ia menyembulkan kepalanya—persis saat tidak ada penjagaan yang mengharuskannya memverifikasi diri, entahlah, Jake berpikir akan seperti itu di rumah-rumah mewah milik konglomerat. Lantas mendekat dan menyalami tangan dua orang tua Kristal secara bergantian.
“Ini sodara kamu lagi, Nak?” Ibu Kristal bertanya lagi pada pria yang sulit sekali berhenti menangis. Sementara Jake mengangguk.
“Gua juga baru berhenti nangis, Lay. Gua sayang Kristal banget” kata Jake, lalu ia menatap sang Ibu “Ma, Kristal udah meninggal, sekarang yang nyisa cuma Dewi Kwan-In yang berjodoh dengan Opung Ketipang-Tipung suara gendang bertalu-talu” lalu pria tampan itu menunduk mengusap matanya yang tidak berair, sungguh, Edgar menyesal mengapa tidak menelepon Samuel. Malah Jake.
“Mau dikubur, nggak ada jasad, mau di ratapi, tapi kelihatannya ada dan hidup, pusing saya juga. Mana Edgar nangis terus. Saya ngerti perasaan dia, Ma” lanjut Jake. Mirip orang mabuk.
“Anjing, jelasin Opung sama istrinya, beruk. Bangsat kau” Edgar menyepaknya keras. Di saksikan Ayah dan Ibu Kristal yang meringis.
“Oh.. iya, Kristal udah menikah ghaib sama Opung, Ma. Jadi ya, gitu deh” ralat Jake—yang sebetulnya tak memperbaiki apapun. Lantas Edgar putus asa dan menelepon Logan serta Samuel sekaligus. Berharap dua Kakaknya dapat membantu.
“Ini maksudnya gimana sih? Kalian pada plenger buset, kirain si penyanyi pirang aja” sahut Ibu Kristal. Jake kontan mendelik.
“Whoo… Mama gaul juga ya? Pantesan anaknya cantik, baik hati, berjiwa besar. Gadis kesayangan Saya, Ma. Semoga di terima amal ibadahnya sama Tuhan dan diberikan tempat yang layak disisi-Nya.”
“Omongan kamu kayak doa-in anak saya mati. Sini saya gebug pala kamu”
Tidak beres, namun Logan sudah datang–juga bersama Samuel. Dua makhluk yang baru bergabung terlihat lebih normal–meski Jake juga awalnya terlihat normal. Lebih cepat, lagi-lagi membandingkan sopir.
Mereka tidak memberi salam seperti Jake. Hanya tiba-tiba duduk dengan sopan. Matanya melirik satu sama lain.
“Siapa yang mau bicara? Kalau plenger lagi, saya pukulin kalian” kata Ibu Kristal, terlihat serius.
“Edgar jan pukul Ma. Inget, kita besti” kata Edgar, masih sambil terisak-isak.
Samuel angkat tangan. Semua atensi jelas bermuara padanya.
“Jadi, Kristal dan Opu–Eh, Sinu. Kristal dan Sinu memutuskan untuk bersama setelah mereka menemukan kecocokan. Ada beberapa hal yang bikin Kristal mundur dari Edgar, begitu juga Edgar. Ini sudah hasil keputusan bersama, tapi memang Edgar ini kecintaan sekali, Ma. Tolong berlemah lembut pada Edgar, siapapun. Dia yang paling hancur di sini” kata Samuel. Terdengar lebih bijak dari apapun.
“Nanti juga move on. Wajar patah hati” sambung Logan “kita semuanya ada buat lu. Lu nggak sendirian, lu nggak kesepian. Masih sakit banget normal itu mah. Gua tau rasa sakitnya. Nggak ada perpisahan yang nggak sakit. Jadi, buat pelajaran kita semua” Kakak kedua mengusap bahu Edgar yang masih terisak-isak.
Mereka mengobrol setelah itu—sembari menunggu kedatangan Kristal dan Sinu.
“Masih nggak mudeng kenapa tiba-tiba ganti gitu aja? Dipikir ini acara apa? Buset. Mama maunya Kristal sama Edgar”
Perkataan itu justru membuat Edgar makin sakit. Sakit sekali, sungguhan, dadanya panas dan sesak. Seandainya semua orang tau bagaimana rasanya ditinggal mati tanpa jasad, pastilah di ruangan ini, bukan hanya ia sendiri yang tergugu begitu menyedihkan.
Tak ada jawaban untuk lontaran dari Ibu Kristal. Hingga agak lama sopir kembali membawa dua makhluk yang sejak tadi dibicarakan.
Sinu kaget saat melihat hampir seluruh adiknya telah berkumpul tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Pria itu menggenggam tangan Kristal kebingungan.
“Nak, sini, bicara yang benar. Mama mau kamu meluruskan” Ibu Kristal menepuk sofa di sebelah—membuat sang Dewi menatap Sinu sebentar, lalu menuruti.
Diam, tak ada yang bicara.
“Kamu selingkuh sama Kakaknya Edgar?” lebih terdengar seperti menuduh, Ibu Kristal siap-siap akan meledak. Namun sang Dewi menggeleng lemah. “Terus, kenapa tiba-tiba menikah sama abangnya? Kamu loh sama Edgar udah gandeng jembut. Astaga” ia mengusap mulutnya sendiri karena jengkel. Keputusan dadakan yang tidak masuk akal bahkan datang dari Edgar sendiri. Anaknya begitu diam dan kemayu—akhir-akhir ini.
“Ma..” itu suara Sinu. Si Sulung begitu lembut “saya minta maaf karena ini terkesan mendadak lalu jelas memunculkan stigma negatif. Tapi kami sudah melalui perundingan panjang dan rumit. Ini bukan perselingkuhan seperti yang biasa terjadi secara menjijikan, tidak” ia menunduk. Wajahnya yang teduh dan paling tampan dari semua makhluk yang ada di ruangan itu—membuat Ibu Kristal berpikir bahawa anaknya mempertibangkan keputusan itu karena paras.
“Aku mau menikah dengan Sinu, bukan Edgar” kata Kristal, formal.
Ibu Kristal memijat dahi. Lalu di tatapnya pria pirang yang sudah berhenti menangis. Edgar berlindung di punggung Logan. Matanya benar-benar menghilang saking bengkaknya.
“Edgar” panggil Ibu Kristal, pria itu mengintip dari punggung Kakaknya “you okay?” tanya perempuan itu lagi. Ditanya bukannya menjawab, Edgar malah lari dan menabrak wanita itu. Menangis lagi ia tersedu-sedu sambil memeluk. Tangis yang sangat dahsyat hingga menulari semua orang. Jake ikut menangis, begitu juga Samuel. Logan hanya menunduk meski air matanya ikut turun. Sinu turut. Tiba-tiba pertemuan itu mirip acara pemakaman.
“Ma, janji sama Edgar walaupun Kristal udah nggak sama Edgar, Mama bakal sering chat, sering tanya kabar, ya? Kita jangan putus hubungan. Nanti kalau Edgar ngadain konser, Mama kudu duduk di barisan paling depan.. Please… Edgar janji nggak akan minta uang jajan lagi, nggak akan ngeledek ngelunjak lagi.. Edgar kangen Kristal Ma.. rasanya kayak mau ikut mati juga..” pria itu mengatakannya tersendat-sendat. Kadang tersedak ludah dan air mata. “Kangen Kristal, Ma.. kangen.. Ini gimana nyembuhinnya.. Gimana ya Allah.. Sakit banget..”
Lalu sisa Kakaknya memeluk Edgar beramai-ramai. Ibu Kristal jelas kebingungan. Sementara saat ia lihat anaknya, gadis itu hanya duduk menunduk tanpa mengatakan apapun.
“Kenapa kangen? Kamu bisa peluk, Kristal tuh, bisa cium kayak biasa. Kenapa gini sih? Gak usah main-main, kalian udah mau menikah” Ibu Kristal masih tidak mengerti. Sementara sang Ayah lebih tidak mengerti.
⚘.⚘.⚘.⚘
“Selamat” Lyn menjabat tangan Kristal. Berdua bertemu di kamar Sinu saat ia membereskan seluruh barang-barangnya di kamar si Sulung “gua baca semua isi chat di grup. Semua hal mustahil dan nggak nalar. Tapi walau pun susah dipercaya, nggak ada alasan untuk nggak percaya. Sejak awal semuanya memang nggak masuk logika.” lalu ia berusaha tersenyum pada entitas asing meski wajah itu adalah sahabat kesayangannya “Gua sedih atas kematian teman gua yang bahkan masih berdiri di depan gua” lanjut gadis itu. Lyn terlihat pucat dan berantakan. Sungguh, semua hal terjadi begitu mengerikan. Sejak awal, seharusnya ia dan dua temannya tidak pernah pergi ke Ternate. Ujung dari semua hal hanya kesakitan. Sungguh, semuanya menyakitkan.
“Setelah semua kesakitan dan pengorbanan. Ternyata jodohnya Sinu tetap bukan gua” lalu ia tertawa tidak natural “harusnya gua minta kompensasi dari semua kegilaan ini. Gua ditinggal Isabella, sekarang Kristal, siapapun, adakah yang bisa bertanggung jawab atas trauma yang bakal gua tanggung sampai mati? Ini mengerikan” gadis itu menangis. Namun yang diajak bicara hanya diam menyimak tanpa membalas barang sekecap.
“Makhluk-makhluk kayak kalian… gua menyesal pernah nggak percaya. Harusnya hari ini gua masih main sama temen-temen gua tanpa melewati hari mengerikan yang benar-benar mengerikan” Lyn masih menatap wajah temannya yang cenderung datar tanpa ekspresi “lu Dewi-Dewi itu? Aslinya pen banget gua pukul. Lu rebut Sinu dari gua ya anjeng. Tapi gua nggak se–nggilani itu. Jadi selamat aja deh, semoga kalian bahagia dan terus dibayang-bayang mimpi buruk sampe mati”
Lyn mengangkat tas besar. Ia bahkan tak sudi berpamitan dengan siapapun. Tak ada siapapun, ia juga tak berhubungan dengan siapapun lagi setelah Logan mengumumkan kematian Kristal.
Sinu berdiri di depan pintu. Lyn hanya melewatinya begitu saja.
Semua berakhir.
Selesai. Pilar rumah ini bahkan telah pergi ke pangkuan ilahi. Tak ada alasan untuk datang.