EPISODE 98 (confuse)

Mungkin di kehidupan yang lain..

Aku akan membuatmu tinggal.

Daniel menangis saat putusan bulat Sinu untuk kembali ke kastil sungguh tak dapat di bantah. Menyusul Kakak pertama, Logan ikut-ikutan menyeret koper—membereskan seluruh barang-barangnya tanpa terkecuali. Toko kopi tutup permanen. Para karyawannya menolak saat diberi—bahkan sampai ke modal.

Katanya, ia akan datang berkunjung sesekali—menenangkan Daniel yang terus merengek dengan air mata tumpah ruah. Kondisi mansion telah jauh berbeda. Telah berubah. Meski Kristal masih di sana, kendati, berbeda.

Gadis itu terlalu banyak melamun. Kadang hanya memandangi tangannya sendiri. Kadang memegang pedang, lalu menangis untuk alasan yang tidak dimengerti.

Edgar masih setia di sampingnya. Terus bersama tanpa meninggalkan barang sedikit pun. Juga, kedua orang tua Kristal telah memeriksakan anaknya. Kristal sehat, kelewat sehat dan terlalu sehat. Gadis itu tidak pernah tidur—tidak wajar lagi.

Tidak juga memiliki kekuatan layaknya ia pernah menjadi Dewi. 

Saat melihat Sinu dan Logan kepayahan mengangkat koper, gadis itu diam. Tatapannya keras dan tajam sementara Sinu—sejak awal mereka membuka mata, pria itu bersumpah untuk tidak akan melihatnya lagi—sebisa mungkin karena mustahil untuk ukuran ‘sama sekali’. Tidak ingin. Hatinya sakit sekali dan ia memutuskan untuk menyembuhkan diri tanpa kehadiran wajah atau sosok itu lagi.

Dan kali ini agak berbeda.

Maksudnya, setelah tatapan tajam pada dua Tertua—yang telah berusaha meyakinkan sisa adiknya bahwa mereka masih dapat bersua jika rindu, Kristal berdiri menghalangi langkah keduanya. Sopir telah menunggu di luar.

“Jangan pergi” kata Kristal. Bergantian menatap Logan dan Sinu.

“Aku harus pergi, nanti aku datang lagi untuk mengunjungi adik-adikku” kata Sinu, berusaha seramah mungkin meski ia enggan menatap wajah itu. Rasanya jika ia tatap si gadis ayu, ia ingin terus menangis—untuk alasan yang sungguh tidak dimengerti.

“Kalau kau pergi. Bawa aku” kata Kristal lagi.

“Hentikan.. Kau disini, rumahmu di sini. Kita sudah berunding semalam dan kau setuju untuk merawat adikku sementara aku akan kembali sesekali” jawab Sinu lembut.

Kristal menggeleng “bawa aku dan semua adikmu. Atau aku akan membunuh diriku sendiri” dilontarkan kelewat yakin. Tak ada keraguan. Tidak pernah. “Kau tau, Sinu.. kendati Kristal mencintai kekasihnya, namun aku tidak. Kami berada di tengah, di batas antara aku dan dia. Maka, apa yang kau pikirkan saat aku ada di tempat asing untuk melayani semua adikmu, lalu menjadi anak dari dua orang tua yang sama sekali tak ku kenal? Juga menjadi kekasih dari pria yang sama sekali tak kupahami pola nya? Aku masih ada di tubuh ini karena kau. Maka, bawalah aku atau musnahkan aku”

Sudah berkali-kali dibahas.

Meski Sinu terus menghindari Kristal.

Terlalu menakutkan, semuanya terlalu asing dan aneh. Tidak sinkron, tidak lagi sesuai. Tidak semestinya dan tidak sesuai dengan tempatnya.

Semuanya tampak berbeda. Meski jika ditarik menjadi satu kesimpulan; Kristal telah pergi.

Kini hanya menyisakan cangkang yang diisi entitas yang mirip memiliki kepribadian ganda. Sebentar-sebentar ia menjadi Kristal, lalu beberapa saat kemudian menjadi orang lain. Sebentar ia mencintai Edgar, berganti waktu, Kristal mencuri-curi pandang pada Sinu.

Pun, gadis itu sudah tidak kuat. Ini bukan dunianya meski seluruh pengetahuan Kristal ada di kepalanya. Semua asing dan ia lebih memilih mati ketimbang bertahan. Apalagi saat Sinu memutuskan pergi.

Tak akan sama. Pria itu tidak menginginkannya lagi meski mereka ‘sudah menikah’ kecuali Edgar yang terus meringis saat menemukan ketidakselarasan antara tubuh dan isi kekasihnya.

Itu rumit dan menyesakkan.

Gadis itu.. Sungguh, ia tak memiliki alasan untuk hidup.

Tidak menumpas kejahatan, tidak memiliki kekuatan, tidak juga mendapatkan cinta. Hidupnya telah berlangsung kelewat lama dan semuanya menjadi semakin menyedihkan setelah jiwanya masuk ke dalam tubuh Kristal. Sinu yang memutuskan menolak.

Pria itu melewatinya begitu saja.

Lalu, apa yang tersisa?

Kristal membuka pedangnya, lantas tanpa tedeng aling-aling, ia menusukkan benda itu ke jantungnya sendiri dengan cara yang tak dramatis.

Semua terjadi tiba-tiba saja.

Sisa  lima vampir menjerit keras-keras, tepat saat tubuh itu jatuh dengan pedang yang tembus ke punggung saat si gadis jatuh tengkurap.

Semuanya tampak melambat.

Dengung keras-keras ditelinga.

Panggilan dari jauh yang sungguh tak terlihat di mana sumbernya.

Semuanya mengerdil.

Seharusnya tidak begini.

Sinu membuka mata. Keringat menetes dari pelipis ke sisi. Dahinya tak kalah basah hingga leher. Padahal pendingin dalam ruangannya bersuhu minus. Pria itu panik. Mimpi mengerikan yang baru terjadi—bukan untuk pertama kalinya.

Saat ia beringsut duduk, barulah sadar jika ia tidak sendirian dalam kamarnya. Kristal duduk di sisi ranjang.

Wajahnya tenang, tatapannya begitu polos dan lembut.

Gadis itu tidak mengatakan apapun. Sudah dua hari sejak Sinu sadar juga tubuh Kristal kembali normal meski ia tak banyak bicara–hanya saat pertama kali membuka mata dan meminta siapa saja membunuhnya jika memang eksistensinya tidak lagi dibutuhkan.

Gadis itu menatapnya.

Bulu mata yang panjang terasa lambat saat berkedip—khas, itu istrinya, itu sang Dewi. Dua tangannya saling memilin.

Sejak kemarin Sinu menolaknya. Pria itu enggan—bahkan untuk melihat. Dan setelah mimpi barusan, demi Tuhan, Sinu ingin sekali menabrak gadis itu dan memeluknya erat-erat. Menyaksikan kematian berkali-kali benar-benar akan membuatnya gila.

Benar, tiap tidur, Sinu akan bermimpi Kristal mati bunuh diri. Atau memutar kejadian saat ia membunuh sang Dewi di alam mimpi. Tak ubah seperti mimpi buruknya tentang perilaku sang ayah, hanya menyeberang berganti topik. Bedanya, ini lebih menyakitkan dari apapun. Bahkan dari kematian ibunya yang sebetulnya sudah buram diingatan.

Masih, Kristal masih diam. Ia menunduk saat Sinu balik menatapnya. Melihat jalinan jemari yang saling memilin.

“Pergilah.. Temui Edgar..” kata Sinu, nyaris serak. Pria itu mengusap wajahnya kasar. 

Ia menggeleng. Lalu mendongak.

“Aku minta maaf jika aku membuatmu tidak nyaman” kata gadis itu kemudian “cinta gadis ini pada Edgar memang begitu besar” ada hela napas putus asa. Ada kelelahan di antara kata “namun jalinan benang yang terpaut antara aku dan kau..” gadis itu menunduk lagi. Diam agak lama menggantung kalimatnya. Sebelum memberanikan diri kembali mendongak. Ia tidak tahu, atau karena kekuatannya yang turut hilang, maka ia merasa kecil—bahkan di hadapan vampir yang kemarin ia anggap lemah “namun.. Jalinan benang..” ulangnya, patah-patah “bisakah kau memutusnya? Atau ku mohon bunuh aku.. Aku tau dosa besar jika mengakhiri hidup tanpa perantara. Biarkan aku mati dengan tenang jika kau memang tidak lagi menginginkan aku… aku merasa begitu menyedihkan berada di sini” matanya berkaca-kaca. Mata sang Dewi yang ia lihat terakhir kali saat ia membunuhnya. Mata itu lagi. Sinu tidak tahan. Hatinya sakit sekali.

Sebab Kristal beberapa kali memintanya untuk membunuhnya kembali. Sinu memimpikan gadis itu bunuh diri berkali-kali. 

Atau memang mimpi itu datang karena bentuk trauma? Seandainya saja ada yang bisa di salahkan. Seandainya ada yang bisa mengurai. Ia merindukan gadis di hadapannya. Ia merindukan istrinya.

“Kau pasti berharap bukan aku yang akan bangun bersama tubuh ini.. Apa aku harus minta maaf lagi?” air matanya menetes satu dua dari sudut kelopak, ia seka lembut. Matanya masih menabrak milik Sinu yang tak kalah merah. “Aku tau apa yang sedang gadis ini kerjakan. Apa rencana hidupnya, apa yang membuatnya bahagia dan seperti apa perangainya. Dia gadis yang baik, sangat baik hingga aku tidak tahu mengapa gadis sebaik ini harus mati lebih cepat. Namun..” ia akhirnya menunduk lagi–tidak tahan “namun.. Apakah kau dan seluruh adik-adiknya tidak bisa menerimanya? Mati bagi manusia itu sangat lumrah. Usia mereka bahkan sangat rendah. Lalu kenapa harus melibatkan aku dalam ini semua? Tidak bisakah… tidak bisakah kalian menerima jika Kristal.. Jika Kristal sudah mati? Kendati dirinya masih ada, masih ada setitik sisa-sisa dalam tubuh ini, percayalah, itu adalah aku yang terdistraksi atas ingatannya yang kadang dominan. Semuanya akan menghilang perlahan-lahan di gantikan olehku. Tidak bisakah kalian menerima yang itu? Atau paling tidak, biarkan aku mati”

Masih hening. Isak gadis itu pun kecil, seolah takut melukai siapapun jika ia tersedu-sedu.

Dari luar, suara Edgar pecah dan keras memanggil namanya sambil tertawa. Pria itu begitu bahagia. Ia bahkan tak melepaskan Kristal kecuali saat kembali bekerja. Dan rupanya si pirang itu telah kembali.

“Yang!!!! Gua abis ke rumah Mama!!! Gua dikasih uang jajan” katanya, datang sambil cengengesan. Sinu langsung mengusap air matanya sementara Kristal tidak, ia biarkan semuanya “yang? Lu nangis?” Edgar mendongak kan wajah ayu, lalu mengusapnya pelan “kenapa? Opung nyakiti lu kah?” lantas ia menatap Kakaknya meneliti.

“Bawa keluar sana, gua mau istirahat” kata Sinu. ia lantas mengubur dirinya dengan selimut. Pun Edgar belum sempat pergi, tubuh si sulung bergetar karena tangis. 

Kristal memperhatikannya.

Lalu menatap Edgar.

“Edgar.. Bisakah kau membunuhku?”

⚘⚘⚘⚘

Kristal ramah pada semua vampir.  Memerankan apa yang menjadi perannya—bagiannya dalam dunia ini, meski bagian yang paling sulit adalah menghadapi Edgar yang selalu penuh kejutan. Pria itu tidak tertebak. Gayanya yang nyentrik, cara bicaranya yang kotor, kasar, dan urakan, masih dalam proses adaptasi bagi perempuan itu. Kadang Kristal tertawa keras. Tawa yang tidak pernah ia dapatkan di mana pun. Tertawa hingga keluar air mata, tatkala pria pirang itu bertingkah konyol serta berdebat dengan Ibunya di rumah. Edgar juga sering menyanyikan lagu cinta untuknya. Meski untuk berciuman, perempuan itu tidak bisa.

“Kalau lu minta kematian sekali lagi, gua juga akan mati sama lu, hum? Jadi jangan katakan hal mengerikan, oke?” Edgar menyuapinya semangka.

“Aku mencintai Sinu” kata Kristal.

Edgar Menggeleng “hm hm, no, no.. Opung sama Lyn. Lu sama gua. Titik, harga mati”

“Edgar..” Kristal menatapnya lembut.

“Ya, sayang?”

“Kau pria yang lucu dan unik”

“Gosah kau-kau, gak enak”

“Dan gadis bernama Kristal sungguh hebat bisa mencintaimu sebesar itu”

Edgar menggeleng, ia kembali menyuapkan semangka saat—sejak sadar hingga hari ini, Kristal hanya mau makan buah. 

“Makan yang banyak, jangan katakan hal-hal aneh. Gua sayang lu, kita akan menikah bulan depan, oke?” pria itu juga mengelusi rambut si gadis. Benar-benar sayang hingga ingin menangis. Seluruh hal tentang gadis itu.. Edgar sungguh ingin menangis.

“Edgar.. Kristal sudah mati..” di katakan kelewat pelan. Sang Dewi takut itu akan melukai–meski jelas melukai “tidak bisakah semuanya sadar akan itu?”

“Hentikan.. Makan aja makan. Abis ini main, oke?”

Kristal diam, ia kembali menerima suapan.

Sungguh. Tak ada yang mau mendengarkan jika Kristal sudah pergi. Dirinya yang bisa merasakan eksistensi gadis itu yang perlahan benar-benar lepas dari tubuh. Kristal telah hilang, jiwanya pergi ke tempat di mana akhirat yang di gadang-gadang. Dan Edgar jelas tak akan menerima fakta itu. Namun Sinu.. pria itu seharusnya paham, juga Logan. Namun semua orang memilih menutup mata dan pura-pura semuanya baik-baik saja.

“Nanti, kita bulan madu ke hotel yang hadapan langsung sama laut, ya? Gua udah cari-cari” kata Edgar, seolah apa yang baru dipaparkan gadis di depannya adalah angin lalu.”abang lu kasih gua mobil baru, kayaknya malam ini datang”

Tidak ada jawaban. Kristal hanya menatap wajah itu prihatin. Ternyata, kepergian gadis itu benar-benar mimpi buruk seluruh vampir dalam mansion ini. Bagaimana mungkin ia menggantikan peran manusia itu? Hidupnya bukan di desain untuk menjadi pengayom dan berhati lembut seperti Kristal.

Lagi, dari luar, Daniel datang.

Pria itu lebih terlihat menggebu-gebu dari siapapun. Bahkan dari Edgar beberapa saat lalu.

“Ma! Besok orang-orang udah pada libur semester, ya? Artinya dua minggu lagi gua sekolah” katanya, ia memeluk Kristal meski Edgar langsung menyepaknya keras. “Gua sekolah! Yes! Gua udah balik ke dimsum dan ledekin Nining lagi” si bungsu tertawa.

“Kek mana caranya yang anter sekolah lebih muda dari yang sekolah? Lu mending jadi satpam” Edgar meledek. Sungguh tidak pantas tubuh sebesar itu masuk sekolah. Sementara Kristal meringis. Meski apa yang ada di kepalanya tersusun—rencana si gadis sebelum pergi, namun sungguh, ia tidak mengerti. Terlalu rumit dan ia tidak siap dihadapkan berbagai hal diluar kemampuannya.

“Lu, lu kek jembut, anjing si pirang” Daniel menjenggut Kakaknya keras hingga Edgar terjerembab. Kristal tertawa lagi.

“Jangan bertengkar, hey!” namun disisi ini, Sang Dewi merasa terhibur.

“Kata Opung, setelah kalian menikah, dia dan Dukun bakal balik ke kastil. Nanti sesekali nyambangin ke sini. Gua bakal rayu lagi biar mereka nggak pergi” ocehan Daniel membuat Kristal mendelik.

“Mereka mau ke mana?”

“Ke kastil, sayang. Ke hutan. Mau balik jadi beruk”

“Aku ikut”

“Ikut ke mana? Ini laki lu” Daniel kembali menjenggut Edgar.

“Aku tidak akan menikah karena aku sudah menikah. Kenapa aku menikah? Aku sudah punya suami”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *