
Duduk ia di pojokkan sembari memperhatikan pelanggan yang datang, lalu para karyawan berlalu lalang membawakan pesanan. Logan sudah memikirkan tentang toko emas Kakaknya. Rencananya, akan ia buka toko itu sementara kafe biarkan sisa karyawannya yang mengelola.
Masih tidak tahu kapan Sinu kembali. Atau kapan Kristal bisa membuka jalan dengan darah.
Pikirannya penuh. Entah kabar bagus atau tidak, namun ia tak lagi memikirkan Isabella. Gadis itu lenyap begitu saja dari ingatan saat seluruh fokus tersorot pada Kakaknya. Lalu sisa adiknya, serta terlalu banyak rencana hingga bejubel, menggedor-gedor pikiran.
Logan sudah bulat akan kembali ke hutan jika Sinu pulang. Mengakhiri segala keingintahuan, rasa cinta, serta hal-hal menyakitkan tentang perpisahan. Biar ia habiskan sisa hidupnya bersama tumbuhan dan hewan yang akan dijadikan mangsa. Jika nanti ada kesempatan bertemu jodoh, maka Logan akan membawanya ke kastil. Jika tidak, tidak apa-apa. Sendirian juga dunia tetap berjalan.
“Auuuuuuu… auuuuuu…. Guuuug guuggg auuuuu” lamunannya buyar tepat saat adik bungsunya datang. Ia bersama Jake entah dari mana. Mengeluarkan suara gonggongan dan auman serigala.
Langit memang mulai gelap. Hampir maghrib.
Dan sekarang, setidaknya ada tiga alasan mengapa Logan memijat dahi dengan kepala pening dadakan:
Yang pertama, Daniel salto hingga mengagetkan pelanggan. Yang kedua, pria itu meminum es kopi milik pelanggan di sebelah lalu muntah darah karena perutnya tidak tawar. Yang ketiga, Jake tertawa terbahak-bahak hingga moncongnya berubah jadi moncong anjing tanpa sengaja. Kondisi kafe jadi keos seketika. Sungguh, hanya butuh waktu kurang dari dua menit, kedatangan dua bungsu itu membuat suasana yang tadinya hangat, ceria, kini jadi ricuh.
Karena sebagian besar ketakutan pada Jake yang seperti siluman, para pelanggan kabur.
Hanya beberapa orang. Sisanya menonton dengan tenang.
Keduanya mendekat pada Logan.
“Buah sukun dimakan Isa. Hai Dukun, lagi apa?” Daniel ikut duduk di pojokan dengan kakaknya. Darah bekas muntah masih terlihat di ujung bibir.
“Buah Sukun dimakan Isa. Dukun keliatannya lagi bahagia” Jake ikut berpantun, duduk ia di pangkuan Daniel sambil mengusap wajah yang beberapa menit lalu memanjang.
“Pada ngapain sih? Bukan pulang sana” Logan mendengus. Jengkel sekali rasanya. Jika tidak mengingat tempat ramai yang berisi manusia seluruhnya, ia bersumpah akan mencekik dua pemuda yang cengengesan tanpa konteks jelas itu.
“Gak tau, gua juga gak tau kenapa gua kesini. Rasanya kayak pulang sekarang adalah ke tempat lu” jawab si bungsu “Opung nggak ada, Kristal tidur. Kita harus kemana?” sambungnya. Di angguki Jake.
Lalu Logan tak berkomentar lagi. Ia pandangi dua adiknya lekat-lekat.
“Apa sih? Liat apa? Suka-suka gua lah mau ke mana. Kaki-kaki gua” Daniel masih defensif.
“Kalau Sinu bangun, ayo pulang ke kastil” kata si kakak kemudian. Kata-kata itu membuat Daniel diam. Jake menghela napas. Keduanya lesu. “Tempat kita bukan di sini. Kalau kalian sesekali datang, main ke pemukiman manusia, itu nggak papa. Asal jangan jadi tempat tinggal. Cari perempuan, cari istri. Ayo kita panjangin garis keturunan. Kita lanjutin peradaban yang udah hampir punah”
“Gua mau sekolah…” si bungsu memilin-milin ujung bajunya sendiri. Sambil menunduk ia lesu sementara Jake menatap ke sembarangan dengan wajah tak kalah menyedihkan.
“Sekolah apa? Apa yang mau lu kejar? Kita keluar dari kastil aja cukup, bebas dari portal. Lu bisa main di hutan sama monyet. Eksplor banyak hal. Mainan sama landak atau pukang. Mereka juga seru” kata Logan lagi.
“Walau Nining mirip trenggiling, tapi gua lebih senang ejek dia ketimbang monyet atau hewan apapun. Gua terlanjur suka disini” Daniel mendongak—menatap Kakaknya “nggak bisa lu aja yang balik sama sisa orang yang mau? Gua bisa pulang saat mau, saat bosan atau gua rindu kampung halaman. Tapi untuk balik total, gua nggak bisa” Daniel menggeleng sedih.
“Gua juga” Jake ikut. Logan menghela napas.
Logan Mengangguk. Sebanarnya ia paham. Namun kekhawatirannya jauh lebih besar. Isi kepalanya lebih condong pada kemungkinan terburuk ketimbang baik. Memikirkan bagaimana seandainya Sinu tidak pernah kembali? Kristal Mati? Lalu apa? Ia tak bisa menjaga semua adiknya yang berpencar. Mengurusi mereka satu persatu agar tidak membuat keributan atau paling parah adalah di tangkap petugas karena diketahui memiliki kekuatan abnormal. Pikiran semacam itu begitu kuat hingga membuatnya sulit tidur.
Ia keleteki kulit jeriji dengan mata turun menatap.
“Opung bakal bangun” kata-kata Jake membuatnya kembali mendongak. Hanya melihat mata adiknya yang selalu saja memiliki energi lebih untuk hidup. Sementara ia, bernapas pun malas. Rasanya semua memuakkan. Ia hanya ingin tidur dalam pikiran tenang tanpa rasa tidak nyaman di hati.
Tanpa memikirkan Sinu, memikirkan kekasihnya yang lama tak berkabar sejak pergi. Sedih sekali. Hatinya sedih. Sebenarnya sejak awal kelahirannya, Logan memang merasa tak lagi memiliki sparkel. Tak ada cahaya. Kecuali saat bertemu dengan tiga gadis yang datang ke kastilnya lalu jatuh cinta dengan salah satunya. Itu satu-satunya hal terindah dalam hidup selama hampir seribu tahun ia hidup.
“Sinu bakal balik” pria itu mengulang kata-kata adiknya—meski lebih pada meyakinkan diri sendiri.
“Ehey… ayolah.. Gua cuma takut lu akan balik kayak dulu. Ngurung diri di kastil, di kamar lu. Keluar cuma tiap sepuluh tahun sekali. Makan ngundang hewan ke kamar. Nggak bicara sama siapapun kayak Sinu juga. Ayo kita lebih bahagia walau sama hal-hal kecil. Walau nggak ada Isa. Coba belajar bahagia atas hidup sendiri. Lakukan hal-hal kecil yang menyenangkan. Yang bikin lu semangat. Hidup nggak akan berhenti di satu titik saat lu terluka atau jatuh” itu Jake. pria itu tiba-tiba merangkul Logan dari samping “gua juga suka banget sama Kristal sampe sedih, sampe mohon ke dia. Gua duluan yang suka, sejak mereka datang, cahaya dia udah adem di hati gua. Tapi apa gua stress saat dia milih sama si Jablay pecandu? Nggak, gua yakin kebahagiaan nggak cuma di dia. Gua yakin masih ada hal besar. Kalau usia gua masih panjang, gua akan lebih banyak menemukan hal-hal indah ketimbang cuma Kristal. Gua bisa ketemu Kristal-Kristal yang lain. Gua akan happy. Gua akan merayakan setiap detik hidup gua dengan kelap-kelip di kepala. Gua adalah pemeran utama di hidup gua. Vampir semantep gua kudu bahagia”
Jake mengoceh pada Logan dengan semangat mirip Prabowo pidato. Suaranya berapi-api membara.
“Setuju, gua juga bahagia walau tiap hari misuh-misuh gara-gara jilbab Nining bau pesing” Daniel ikut merangkul Logan. Mereka mengapit pria putih itu berbarengan.
Logan menahan senyum, ia menunduk gengsi untuk mengakui bahwa dua adiknya jauh lebih keren darinya. Pemikiran Jake yang begitu lapang membuatnya malu. Kendati tak mengubah rasa sedih yang memang valid di hati.
“Lu liat, betapa banyak gadis-gadis. Gua bukannya sombong, tiap hari ada aja yang nge-chat ngajak kencan. Ngajak kenalan. Apalagi pas gua aktif di sosial media. Beuh.. jan di tanya. Nanti, gua bakal kencan sama salah satu. Abis itu kita pacaran, abis pacaran ribut, putus, sakit hati. Terus pacaran lagi sama yang lain. Gitu terus mirip siklus. Ini namanya hidup. Sakit, terluka, nangis, ketawa. Ini loh..” Jake menepuk dadanya hingga berbunyi nyaring “ini adalah kehidupan sesungguhnya. Bukan ngurung diri di kamar karena takut luka. Uget dikit kepikiran, ngomong dikit takut gini takut gitu. Kita hidup untuk bahagia dan terluka. Semua makhluk pasti punya trauma. Gimana cara menjalani hidup, kita yang tentukan. Kalau lu pilih diem sambil nangis berkepanjangan, itu kan pilihan lu. Padahal ada opsi ngenyot darah sapi sambil cengengesan tanpa konteks” lalu ia melakukan tos dengan Daniel.
“Padahal gua nggak ngapa-ngapain. Emang gua kudu apa?” tanya Logan.
“Senyum! Jan prengat-prengut aja mulut lu. Udah bibir secuil, mata minimalis. Kulit kek dinding. Apa kek.. Jelek banget lu mah” Daniel yang berkomentar “coba aktif kek si Racun, kek Tabib. Ekspresikan diri”
Lalu ia mendongak. Melihat Daniel dan Jake dengan senyum segaris yang sebenarnya tak layak di sebut senyuman.
“Ikut gua ke klinik Tabib mau gak lu?” tanya si bungsu lagi, meski ia meringis melihat senyum Logan yang mengerikan.
“Ngapain?”
“Bantu angkat Kakek-Kakek, Nenek-Nenek. Apa aja. Di sana bisa ngesot, ubinnya alus bener kek di mansion Kristal. Cuma bedanya tempat Tabib lebih seru karena ada satpam yang megang pentungan. Berisik dikit di pendelikin sampe matanya mau keluar” Daniel mengatakannya serius, lalu menatap Jake. “iya Rose, sumpah. Gua kan teriak-teriak tuh, mata si satpam segede jengkol. Itu yang bikin seru dan menjadi pembeda antara ubin rumah Kristal dan Klinik. Tempat Kristal nggak seru karena nggak ada yang marah”
“Kesenangan kalian adalah liat orang emosi” utas Logan.
“Sepakat” kata keduanya hampir berbarengan.
“Kayak idiot”
“Ye.. inilah.. Ciri-ciri vampir yang matinya di kamar karena kepikiran sendalnya kotor abis nginjek tai”
🐾🐾🐾🐾
“Kau tidur lebih lama dari biasanya”
Suara itu lagi. Si perempuan melihat dengan sudut matanya. Sinu berdiri mengintip seperti biasa.
“Tolong singkirka sulur-sulur ini Yang Maha Agung” katanya, terdengar agak memohon.
“Untuk apa?” suara si perempuan tak kalah serak.
“Untuk apa lagi? Beri aku pelukan”
Terdengar suara ‘cih’ dari sang Dewi. Namun Sinu sibuk melihat sulur-sulur yang perlahan memudar sebelum benar-benar raib. Setelah hilang sepenuhnya, baru pria itu mendekat.
Tidak, pria itu naik ke ranjang, lalu merangkul tubuh indah dengan berani.
Mirip anak tikus yang mencari perlindungan dari kejaran kucing, Sinu menyelindung di bawah ketiak.
“Apa yang kau lakukan, pria kecil?”
“Aku bukan pria kecil”
“Enyahkan tubuhmu dariku atau aku akan membuatmu terlempar jatuh ke luar jendela”
“Lempar saja. Aku tidak apa-apa. Yang terpenting, beri aku izin memelukmu sebentar lagi” terdengar hela napas pasrah. Sinu tersenyum senang. Ia lantas mendongak, tatapan mereka beradu.
Mata sang Dewi yang cerah, sangat putih bersih dengan manik hitam legam yang terkadang bergejolak tidak wajar. Saat tangan Sinu menyentuh kulitnya, ia seakan menyentuh awan. Begitu lembut dan kenyal. Sungguh, tak pernah ia dapati sesuatu seindah itu.
Lengan. Hanya lengan
Pria itu menciumnya. Menghirup aroma bumi dari kulit sang Dewi. menghirup dalam-dalam. Aroma itu begitu menenangkan, juga membawa kilas kenangan yang selalu gagal ia terjemahkan.
“Apa yang kau lakukan?” suara berat dan kaku, Sinu mendongak lagi.
“Aku menyukaimu.. Boleh aku mencium ini? Ini seperti psikotropika. Sungguh.. Aku tidak seperti apa yang kau pikirkan” jawab pria itu defensif. Namun tak lekas melepaskan tangan sang Dewi. ia malah merapatkan diri, lalu kembali menghirupnya mirip pecandu gila.
“Memangnya, kau tau apa yang ku pikirkan? Menyingkir atau aku benar-benar tidak akan mentoleransi lagi”
Pria itu bergeming. Malah, ia julurkan lidah untuk merasa-rasa.
“Ini gila” katanya, setengah berbisik. “Kenapa kau manis sekali? Maksudku, kulitmu. Rasanya manis di ujung lidahku. Apa aku boleh menci—”
BRUK! AAAAAAAA!!!!!
Pria itu jatuh keluar dari jendela.
DEBAM!!
Kepalanya pecah. Namun ia tidak mati. Juga tidak sakit.
Kesadarannya hilang.
Hanya sebentar.
Sungguh, seperti hanya berkedip sekali.
Pria itu kembali membuka mata dan bukan pemandangan luar, melainkan kamarnya sendiri.
Dunia mimpi yang begitu indah. Ia bahkan tak merasa sakit saat jatuh. Namun merasa bahagia dengan degup jantung yang berpacu menyenangkan—mendebarkan. Ia jatuh cinta.
“Sudah bangun?”
Suara itu membuatnya celingukan. Sang Dewi berdiri di depan jendela dengan jubah putih. Aromanya jauh lebih pekat dan wangi.
“Rupanya aku tidak mati. Rasanya seperti mimpi di dalam mimpi” pria itu tertawa “apa aku seperti orang gila?”
“Hm, kau pria gila”
“Sudah kuduga” lalu ia beringsut duduk “omong-omong… em…” Sinu menggaruk tengkuknya, lalu naik ke pelipis. Sebenarnya ia baru saja memikirkan tentang ‘tidak sakit’ saat jatuh meski tahu kepalanya pecah. Tubuhnya seperti mengapung. Seluruh bagian memang aneh, semua hal terasa kelewat ringan.
Pria itu menyimpulkan terlalu cepat dengan resiko yang tak di perhitungkan.
Sinu turun, lalu memeluk sang Dewi dari belakang.
Biar jika ia harus kembali jatuh, kepalanya pecah, atau dibunuh. Memangnya Dewi itu benar-benar bisa membunuhnya?
Ia peluk, sungguhan.
“Sinu.. kau melewati batas”
“Apa kau akan membunuhku?”
Nyaris tak ada jawaban. Sungguh, Sinu bersumpah sangat menyukai perempuan ini. Ia peluk erat-erat tubuh yang jauh lebih kecil darinya, namun aura kuat begitu terasa.
“Terima kasih karena sudah ada. Aku mendapatkan semua hal yang aku impikan dalam hidup, disini, bersamamu. Tinggal dalam kastil bersama seorang wanita keren. Juga dengan perasaan senang dan bahagia. Tanpa mimpi buruk, tanpa beban, tanpa ketakutan dan kekhawatiran. Kau adalah bentuk dari seluruh keinginanku. Aku mencintaimu” katanya, tanda tedeng aling-aling. Semuanya keluar begitu saja dari dalam hati tanpa ada yang tertutup.
Ada jeda. Sang Dewi tak menjawab, namun tidak menepis juga.
“Jadi, apa kau sudah memutuskan akan pulang. Atau tetap bersamaku disini?” perempuan itu masih bergeming. Matanya lurus pada jendela—halaman luas.
“Biarkan aku disini, sedikit lagi”
Lalu ia mencium punggung yang terbebat pakaian mewah. Wangi kulitnya memabukkan.
“Aku harus pergi, sebentar lagi” jawab si perempuan.
“Bisakah kau, memelukku sekali? Dalam perasaan sadar dan mengasihi aku dalam Rahmat keilahian”
Jeda lagi. Seakan tiap detik yang terlewat dalam hening, merupakan jendela untuk meloncat dari satu ruang ke ruang yang lain. Jantung Sinu berdebar tak karu-karuan. Barangkali sang Dewi juga merasakan seperti apa pacu jantungnya yang memalukan.
“Terlalu cepat..” bisik sang Dewi. Sinu meneleng. “Pacu jantungmu.. Tidak normal”
“Kata seseorang dengan wajah yang sama persis denganmu, ini adalah pertanda jatuh cinta. Aku jatuh cinta, dan aku bahagia dengan perasaan ini. Denganmu” katanya, tanpa basa-basi. Jujur, dan polos.
Sang Dewi terkekeh pelan. Suaranya sangat lembut masuk ke rungu.
“Aku akan memulangkanmu, pergilah.. Jika yang kau inginkan awalnya adalah kematianku. Maka aku akan mati karena waktunya. Jika apa yang kau bicarakan tentang berbgai jiwa, maka biarlah aku berbagi jiwa dengan seseorang di alam lain. Jika aku kalah, aku akan kalah. Jika aku mendominasi, itu suratan takdir. Berjalanlah di garis lurus tanpa keegoisan. Tanpa melukai siapapun yang tidak bersalah hanya agar keinginanmu terpenuhi. Hidup dalam hati yang lapang serta berbahagialah. Sinu.. aku tidak bisa memberkatimu, tapi, aku bisa membuatmu kembali pada keluargamu dengan utuh”
Pria itu menggeleng di belakang.
“Tolong biarkan aku sebentar lagi… ku mohon.. Aku masih ingin di sini. Menjadi seseorang yang apa adanya dan polos. Menjadi makhluk yang tak memiliki beban. Sebentar lagi, ku mohon..”
Lalu sang Dewi berbalik. Ia peluk pria itu.
Sinu harus menunduk banyak agar tubuh mereka selaras. Dekapan hangat itu kembali membawa ingatan pada hari-hari menyakitkan. Benar, Sinu merasa terluka. Tiba-tiba kata-kata ayahnya, perlakuan Jonathan, serta Logan yang mendiamkannya tanpa alasan menyerbu begitu saja. Hatinya sakit sekali, seolah itu baru saja terjadi dan ia tengah menikmati luka.
Pria itu menangis. Tergugu ia di pelukan.
“Ya, menangislah, dan sembuhlah.. Aku akan menyembuhkan lukamu, dalam hatimu. Hiduplah dengan hati yang bersih. Tanpa dendam, tanpa kesakitan.
Tangannya mengelusi punggung naik turun. Dan saat tangan lembut itu menyentuh punggungnya, rasa sakit hati, rasa sedih, dan seluruh hal-hal yang merangsek masuk menusuk-nusuk hatinya, perlahan menghilang.
“Pria kecil… kau harus berbahagia.. Jalani sisa hidup dengan yang bahagia-bahagia saja. Lalu kembalilah pada keluargamu”
“Ku mohon jangan minta aku kembali. Aku masih ingin di sini sedikit lagi. Sebentar lagi…”
Itu tidak mendapat jawaban.
Pelukannya mengendur.
“Tidak… tidak… jangan lepaskan pelukannya.. Sebentar lagi.. Ku mohon sebentar lagi..”
“Aku harus pergi” lalu sang Dewi pergi membawa eksistensinya menghilang dalam pelukan. Sinu melihat kilasan itu melewati lubang angin jendela—seprti bulatan cahaya yang menjauh membentuk bola tak sempurna.
“Aku akan menunggumu kembali, tolong beri aku pelukan sedikit lagi.” Sinu berbicara pada udara.
Apa ayahnya dulu seperti ini? Terlena oleh sang Dewi karena daya pikat itu? Karena pikirannya menjadi polos? Tidak, pria itu menggeleng. Ayahnya hidup. Jiwa dan raga menyatu. Pria itu melakukannya tanpa ada ruang yang terdistorsi serta lapisan dimensi lain yang menyebrang. Jonathan melakukan perselingkuhan dalam kondisi sadar. Hanya karena ingin dan nafsunya yang meluap-luap. Sementara Sinu menyeberang.