
Malam datang membawa hawa dingin yang merangsek ke dalam sumsum tulang. Kastil besar tanpa selimut membuat tubuh tanpa kekuatan itu gagal tawar pada cuaca dibawah rata-rata.
Ia menggulung diri mirip trenggiling. Berharap suhu tubuhnya yang saling menyatu dapat memberikan suhu lebih tinggi—agar lelapnya utuh. Kendati, tak berhasil. Sinu kembali bangkit dengan rambut tubuh yang berdiri. Tiap membuka mulut, uap dingin keluar—seakan membekukan.
Bibirnya bergetar membiru. Tidak, tubuhnya juga. Ia sudah mengecek isi lemari dan di dalamnya hanya deret buku-buku kuno yang ia sendiri gagal menerjemahkan.
Tidak ada kain. Ia berusaha menarik gorden besar, namun justru tangannya yang terluka. Di tempat ini, tak ada sesuatu apapun yang bisa digunakan untuk menyelimuti tubuh. Pria itu berakhir—berdiri di depan pintu kamar sang Dewi sembari mengetuknya dengan gemetar.
“Kau menggangguku, Sinu” suara berat itu terdengar. Namun Sinu tahu perempuan itu belum tidur. Lampu dalam kamar sang Dewi masih menyala. Pun, jika sudah tidur, akan terlihat sulur-sulur yang membumbung hingga langit-langit dan lantai—keluar dari bawah pintu sebagai penjaga—Maha Agung terlelap.
“Boleh aku meminta selimut?” tanyanya, suaranya tak bisa stabil.
“Tentu saja” jawaban itu membuat Sinu lega. Ia berdiri dengan memeluk diri sendiri, menunggu derap mendekat setelah decit kursi terseret pada ubin.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Sosok itu berdiri dengan aura gelap. Seluruh pakaiannya hitam. Rambutnya lurus panjang tergerai di atas dada dengan pewarna bibir berwarna merah darah yang seakan menyala. Sinu menunduk sedikit, lalu celingukan—mencari apapun tentang ‘tentu saja’ yang ia harapkan.
Lalu tangannya keluar, menyodorkan kain tenun.
Sinu diam sebentar.
“Kain tenun milik bocah itu?” tanyanya, setelah jeda beberapa saat. Sang Dewi mengangguk pelan.
“Tidurlah, istirahat, kau akan kelelahan jika tidak cukup tidur. Besok, kau harus membersihkan seluruh ruangan ini” ada senyum di antara kata-kata.
“Terima kasih” jawab Sinu. Ia mengambil kain itu, lalu menunduk dan akan kembali ke kamarnya. Namun hanya beberapa langkah, pria itu kembali berbalik.
“Ya?” Tanya sang Dewi.
“Kenapa kau memakai pakaian seperti itu?” tanya pria itu polos.
“Kenapa?” perempuan itu bertanya balik “kenapa harus ada alasan tentang pakaianku?”
Sinu menggaruk tengkuk, lalu menatap mata itu sebentar sebelum dialihkan ke sembarangan.
“Kau lebih cantik menggunakan gaun putih. Yang sekarang… kau terlihat seperti penyihir”
“Terima kasih atas pendapatmu, Sinu” nadanya ramah. Selalu “omong-omong, berapa usiamu?”
“Aku… 4025 tahun”
Ia melihat perempuan itu mengangguk-angguk “harusnya kekuatanmu memang sudah level lanjutan meski tak akan bisa membunuhku. Kau cukup lama hidup. Untuk ukuran persilangan, kau keren. Tapi tidak lagi, sekarang, kau hanya vampir tanpa kekuatan”
“Terima kasih karena sudah membiarkan aku hidup.” kata-kata Sinu seharusnya memutus pertemuan mereka malam itu. Bukan malah semakin mendekat dengan berani. “Tapi.. bolehkah aku tidur denganmu malam ini? Kau bisa mengikatku dengan sulur, membebatku dengan apapun. Asal.. biarkan aku di dekatmu.. Aku merasa seakan kedamaian dan tenang bermuara pada tubuhmu”
“Kau terlalu berani. Apa aku terlihat begitu mudah bagimu?” matanya menyala. Bibir merahnya seolah berapi-api.
“Tidak, kau tidak. Kau sangat tinggi sementara aku hanya anak ayam yang tersesat. Aku hanya kedinginan dan kain tenun ini… tidak akan hangat sama sekali. Kau boleh memarahiku. Aku akan menangis sambil tertidur di sampingmu”
Jeda.
Agak lama..
“Kemarilah” ajakan itu membuat Sinu tersenyum cerah. Pria itu mendekat buru-buru. Lalu begitu berhadapan, Sang Dewi menyapukan tangannya ke udara tepat di hadapan Sinu, lalu tanpa tedeng aling-aling, pria itu terlelap—jatuh bagai orang mati.
“Aku tidak tahu, sungguh. Aku bahkan gagal menerjemahkanmu. Kau tidak nyata, tapi ada. Dan seluruh cerita yang kau paparkan, tidak lebih dari dongeng nenek moyang. Aku seperti ini karena memang sakit, aku sekarat. Tidak ada jiwa yang terbagi, tidak ada reinkarnasi selama aku masih hidup. Maka, satu-satunya alasan aku masih mempertahankanmu adalah rasa penasaran yang menggelegak. Kau satu-satunya makhluk yang bahkan tau bahwa aku dalam level terendahku. Maka, kau hanya akan seperti itu. Tanpa kekuatan, tanpa bisa berdusta. Semua yang keluar dari mulutmu adalah murni dari hatimu. Aku menghendaki”
Tangannya menaburi sparkle kelap-kelip berwarna emas dan perak. Lalu kain tenun itu menyelimuti tubuh Sinu. Setelah itu, sang Dewi kembali masuk.
🐾🐾🐾🐾
Bunyi renyah suara apel di kunyah. Satu keranjang terlihat menumpuk isinya dengan berbagai jenis buah. Warna-warna mereka begitu memikat—menggiurkan. Kendati tak membuat satu-satunya makhluk lain di sana ingin.
Sang Dewi terduduk di sisi jendela. Rambut panjangnya menjuntai indah berkilau. Hari ini ia mengenakan gaun putih tanpa lengan. Tangannya memegang satu buah apel yang sudah habis sebagian. Matanya menyorot keluar—memperhatikan lingkungan di luar kastil yang ramai—warga yang berlalu lalang.
Begitu indah seandainya saja dunia berjalan tanpa kejahatan. Semua orang mati hanya karena tua, hanya karena usia yang sampai batasnya. Tak ada pembunuhan, tak ada peremapasan hak orang lain, juga tak ada penindasan. Semua berjalan di garis lurus tanpa menyalahi aturan.
Kelebat pikiran semacam itu tak bosan-bosan hinggap di kepala selama ribuan tahun. Kendati, selepas khayalan itu, ia harus kembali mengacungkan pedangnya untuk membunuh sang angkara murka.
Isi pikirannya buyar, ia ditarik pada kenyataan bahwa dunia yang imbang tidak akan pernah ada. Lalu eksistensi seseorang memenuhi isi sofa di seberang.
Sinu duduk dengan senyum. Rambutnya basah bekas disugar ke belakang—memperlihatkan dahi dan garis alis yang rapi.
“Tugasku sudah selesai” katanya, berbangga diri. Ia juga memperlihatkan telapak tangan yang merah bekas menggosok semua hal dengan keras.
Sang Dewi hanya melihatnya sekilas, lalu mengabaikan. Matanya kembali memindai lingkungan favoritnya.
“Kau cantik sekali” kata Sinu lagi. Namun kali ini, Sang Dewi tak menanggapi. Tak melirik sama sekali “aku suka sekali melihatmu. Bahkan jika seumur hidupku hanya kuhabiskan untuk memandangimu sampai mati, aku tidak keberatan” sambungnya. Senyum itu masih terulas disana.
“Merayu seorang Dewi, dosanya setara dengan membunuh orang tuamu sendiri” kata-kata itu telak—mengagetkan. Sinu mendelik.
“Aku baru mendengar yang seperti itu, benarkah?”
Tentu saja bohong.
“Ya”
“Wah.. kebetulan dua orang tuaku sudah mati. Jadi tidak masalah, bukan? Sejak awal aku bukan vampir yang suci. Jika memuji kecantikan seorang Dewi menjadikanku seorang kriminal, maka aku tidak masalah dengan itu”
“Kau sungguh luar biasa. Kau pasti begitu gemar menggunakan kekuatanmu untuk merayu gadis yang lebih lemah darimu”
“Itu fitnah keji. Seorang Dewi apa boleh mengatakan hal buruk tanpa data seperti itu?”
“Boleh, aku bahkan ada untuk menjadi pembunuh. Jika hanya mengucapkan kata-kata buruk, hanya seperti bulu anak angsa bagiku”
Sinu mengangguk-angguk.
“Kau, dari keluarga siapa? Maksudku, apa aku mengenal kakekmu? Kakek dari kakekmu?” tanya sang Dewi lagi.
“Jonathan, aku keluarga Jonathan”
Kening Sang Dewi mengernyit. Ada jeda dalam mengingat.
“Si ahli regenerasi itu, ya? Aku mencium bau pengkhianat darinya, namun belum akurat”
“Kau tau ayahku?”
“Apa ayahmu? Namanya Mike Jonathan”
Sinu menggeleng. “Ayahku sangat mirip” pria itu memegang wajahnya sendiri “denganku” ada nada tidak rela disana.
“Berarti bukan ayahmu. Jika ada kesempatan akan aku tunjukkan”
Lalu ia kembali mengunyah apel–melempar tatapan ke jendela lagi.
“Yang Mulia Agung, berapa usiamu?” Tanya Sinu.
“Sembilan ribu” jawabnya lembut, tanpa menoleh.
“Waw..”
“Apa arti ‘waw’ dalam ucapanmu?”
“Entah.. Kau cantik, lalu sangat berpengalaman hidup. Itu keren”
“Ya, karena aku seorang Dewi, meski tak sesempurna Tuhan, namun aku memiliki keilahian”
“Aku dengar, seorang Dewi juga bisa menikah” kata-kata itu diucapkan mirip bisikan. Namun mampu membuat sang Dewi kembali melihatnya.
“Menikah dengan sesama Dewa-Dewi itu lumrah meski kami tidak akan memiliki keturunan. Kami bukan Tuhan”
Sinu Mengangguk. Sebenarnya, sejak tadi ia memikirkan bagaimana ayahnya jatuh cinta pada sosok Dewi dan mencampakkan ibunya begitu saja. Lalu melihat bagaimana keilahian begitu indah, kecantikan memancar tanpa celah, dengan sifat seperti ayahnya pasti sudah jelas tergoda.
Sepertinya sekarang.
Saat ini.
Wajah Kristal begitu agung. Tiap menatap, seluruh ketenangan bermuara di sana. Seolah seluruh dunia akan baik-baik saja meski Sinu hanya melihatnya pada wajah ini, bukan pada Dewi yang pernah ia kalahkan dengan kebencian yang bejubel.
“Menikah dengan entitas lain” pria itu menambahkan setelah pikirannya yang jauh.
“Itu mengerikan. Kau menggodaku lagi, pria kecil?”
“Aku bukan pria kecil”
Sang Dewi terkekeh.
Apel habis dalam genggaman. Ia kembali melirik keranjang lalu memindai–memilah.
“Aku akan menguapskan mangga untukmu” kata Sinu cepat.
“Aku tidak sedang ingin memakan mangga”
“Sepertinya stroberi enak”
“Terlalu asam” sang Dewi menggeleng.
“Ceri?”
Menggeleng
“Alpukat?”
Menggeleng
Sinu menyerah. Lalu sang Dewi mengambil stroberi.
“Aku mau yang ini” katanya enteng. Sinu hanya menatapnya lama tanpa berkedip.
Cukup lama.
Mata pria pria itu terkadang berkedip sebelah tanpa disengaja “Hey vampir! Kenapa menatapku seperti itu, heh? Kau mau dilempar jadi pakan serigala?” sang Dewi menatap galak. Sinu kontan berdehem dan mengalihkan pandangan. Perempuan itu tertawa pelan “lucu sekali, aku punya teman sekarang” ucapnya sambil menggigit stroberi.
“Apa aku dianggap teman sekarang?”
“Ya, kau temanku, vampir”
Sinu melakukan gerakan ‘yes’ dengan memukul tangan ke udara.
“Apa itu? Apa maksud dari gerakkan itu?”
“Aku senang. Aku memiliki teman Dewi yang agung”
Perempuan itu tak menjawab, ia menatap ke jendela lagi.
🐾🐾🐾🐾
Suara langkah besar menggema di ruangan. Tangannya mencangking tas besar.
Ibu Kristal.
Sudah berapa hari anaknya tak pulang. Ponselnya mati, dan tidak ada kabar.
Ia memindai mansion dan tak menemukan siapapun karena semua orang berada di kamar masing-masing. Lepas kepergian Sinu dan Kristal yang semakin mengkhawatirkan, kondisi para vampir seolah seperti ditelan bumi. Mereka tidak banyak keluar kecuali makan.
Lalu ibu Kristal menuju kamar Edgar. Ruang yang sudah ia paham serta bersumpah jika menemukan anaknya di sana, akan ia pukuli pria brengsek itu dengan tasnya yang berisi batu.
BRAK!! Pintu terbuka lebar.
Matanya menangkap sang anak yang sedang bercumbu. Gadis itu sudah bangun satu jam yang lalu, kini ia duduk di pangkuan Edgar yang sedang menyusu pada payudaranya.
Jangan tanya bagaimana keduanya seperti orang gila yang gelagapan. Ibu Kristal melongo dengan wajah paling kaget sedunia.
“Ma.. aku bisa jelasin..” kata si anak, ia membenarkan bajunya yang menyingkap. “Ma… Edgar.. Itu… Edgar butuh susu” katanya kehabisan ide untuk jadi alasan.
Lalu sang ibu menghajar Edgar dengan tas setelah lebih dulu mengunci pintu. Kondisinya keos dan runyam.