EPISODE 88 (SINU HILANG)

Tidak ada yang bekerja hari ini. Tepatnya tak ada yang pergi. Johan izin–mengatakan keluarganya sakit dan ia tak enak badan. Maka, semua orang berkumpul berikut Lyn yang terlihat paling cemas di sana.

Kamar Logan.

Sinu terbaring dengan tangan bekas darah kering milik Logan yang tergeletak di atas perut Kristal. Keduanya sangat pulas hingga nyaris seperti dua orang mati. Bedanya masih bernapas. Tak ada gerakan sama sekali. Napas mereka kecil, darah keduanya dingin seakan membeku.

Sudah sejak kemarin tertidur. Dan hari ini, pukul sebelas siang, baik Sinu maupun Kristal, tak ada tanda-tanda akan bangkit.

Kamar itu penuh. Edgar duduk di sisi si gadis sambil merebahkan kepala di tangan Kristal yang ia pegangi. Sesekali mengecupi, beberapa kali mengocehkan banyak hal dan tertawa sendiri. Barangkali pria itu sudah mulai terbiasa dengan kondisi itu sehingga tak ada tangis. Namun siapa saja yang melihatnya akan prihatin.

“Yang, biasanya 12 jam, makin lama aja buset” pria itu melihatnya dari samping. Mengelusi pipi perempuan yang khidmat di alam bawah sadar.

Daniel di pojokkan tak berani mendekat. Tak ada rasa bersalah karena memang ia tak bersalah. Namun juga tak berani mendekat—takut di bakar.

“Ini terus gimana?” Lyn memecah sunyi. Suara adu napas para vampir seakan mencekiknya. Padahal, gadis itu paling merasa bersalah dan panik. Namun ia tekan. Jika salah satu dari mereka tau, maka, habislah. Melarikan diri pun, pikirannya tak tenang. Ia khawatir pada Sinu.

Pertanyaannya tak mendapat jawaban. Semua orang masih diam. Kecuali suara kecil Jimin yang berusaha mengajak kekasihnya bicara.

Dan saat gerak kecil terasa, barulah pria itu bangkit dan duduk tegap. Rambut pirangnya yang mulai memanjang ikut meliuk searah kepala bangkit.

Kristal Bergerak.

Lalu perlahan membuka mata.

Berat. Pencahayaan yang remang lumayan membantu matanya cepat beradaptasi. Semua orang yang sejak tadi memperhatikan, kontan mendekat. Ia dikerubungi dengan mata–mata penuh kekhawatiran.

“Yang” lalu suara kekasihnya. Kristal tersenyum saat pandangannya berlabuh pada Edgar.

Logan memberi isyarat pada semua orang untuk tidak langsung mengajukan pertanyaan. Agar si gadis mengembalikan seluruh kesadaran dan utuh.

Lalu ia menguap. Matanya melihat tangan Sinu yang tergeletak di atas tubuhnya. Lantas ia langsung menghadap ke sisi yang lain.

Ia melihat Sinu terbaring dengan damai. 

“Loh?” Kristal Duduk. Beringsut ia kembali mengucek mata sementara tangan Sinu terjatuh begitu saja. “Opung kenapa?” ia bertanya pada siapa saja di sana. Namun pertanyaan itu seakan mengapung di udara tanpa siapapun menangkap.

“Dia ke mimpi lu, mau bunuh Dewi, tapi seseorang yang gila, edan, alias nggak waras, lepasin jabat tangan. Terus gua di tuduh.” si bungsu yang menjawab. Pria itu jelas masih kesal. Lalu semua orang melirik menatap Daniel yang duduk di pojokkan seperti adik tiri.

Lalu kembali pada Kristal.

Mata-mata itu jelas penasaran. Namun tak ada pertanyaan yang lolos karena titah Logan sesaat sebelum gadis itu benar-benar sadar.

“Sinu di dunia mimpi sekarang? Gua sejak Logan pertama kali masuk itu, udah nggak mimpi sama sekali. Gua tidur gitu aja, kosong dan ya… tidur aja” si gadis berusaha menjelaskan karena memang itu yang dirasakan. Juga menyumpali wajah-wajah dengan sejuta penasaran.

Helaan napas berat terdengar dari semua orang. Tangannya masih dipegang Edgar dan pria itu kembali mengecupi. Ada lega yang belum selesai.

“Keputus, bahkan tubuh kamu nggak bisa berdarah” itu Logan, ia  bertolak pinggang dengan mata yang menatap mata Kristal.

“Ha?” ia menarik tangan yang dipegang Edgar “nggak bisa berdarah? Coba gigit” ia menyodorkan lagi pada kekasihnya “masa nggak bisa, coba gigit yang keras sampe luka”

Edgar melakukan apa yang diminta. Namun sekuat ia menggigit seperti anjing, tubuh gadis itu mirip karet. Lalu ia menyalakan api. Matanya kembali pada si gadis—meminta izin.

“Bakar coba, masa gak bisa”

Lalu api menyambar tangan Kristal, api kembali berbalik tak sudi menjilat barang sedikit.

“Lah?” Edgar Mendelik.

“Coba dibikin muntah paku dulu” itu suara Johan, lalu semua mata meminta persetujuan dari empunya. Kristal lagi-lagi mengangguk.

Maka, setelah itu, semua vampir menyerang Kristal dengan kekuatan mereka. Namun tidak ada satupun yang berhasil menyakitinya. Tidak dengan kekuatan dalam Logan, tidak juga dengan racun, api, es, dipukul King-kong raksasa atau ditanami tumbuhan beracun dalam tubuh. Semuanya berbalik.

“Gua kenapa, guys?” Kristal memegangi seluruh tubuhnya yang kencang dan keras, khas seperti atlet yang aktif. Tubuhnya benar lebih bugar, seperti stamina yang melonjak tanpa tahu darimana. Padahal perutnya lapar.

“Kalau prediksiku benar, kamu akan jadi setengah Dewi dan kelamaan akan ketarik ke sana tanpa bisa balik”

Kata-kata itu mendapat reaksi keras dari Edgar. Pria itu mendelik dengan mata tak seberapa. Namun mengeluarkan percikan api yang mengenai rambut Logan. Semua orang juga bergumam keberatan dengan ocehan yang terdengar asal, namun sebenarnya Logan serius. Hanya penyampaiannya saja yang asal.

“Udah berapa lama Sinu tidur?” Kristal yang bertanya. Namun matanya menatap lurus pada satu gadis yang berdiri dengan wajah pucat dan takut. Lyn di sana, di belakang semua orang yang masih mengerubutinya.

“Dari jam 9 malem kemaren” Logan lagi yang menjawab. 

Terdengar hela napas lagi. Seperti semua orang kelelahan dan bingung.

“Oke, jadi gini aja..” Kristal memindai mata semua orang “gua akan infus Sinu pakai darah biar dia tetap sehat sembari kita pikirin caranya bisa bawa dia balik. Kalian jangan terlalu panik. Panik nggak mengubah apapun. Tenang, oke? Yakin bahwa Opung bakal balik. Gua yakin kita bisa. Sekarang gua akan panggil tenaga medis sambil tanyain tentang badan gua yang nggak bisa luka. Please… jangan gelisah, oke? Kalian udah makan? Makan dulu, abis itu rehat”

Selalu seperti itu. Siapa yang tak suka pada gadis itu. Logan paham barangkali dunia mimpi si gadis adalah masalalu—bahwa Krisal adalah Dewi kedamaian yang berinkarnasi menjadi gadis biasa dari kalangan kaya raya dan orang tua yang keren. Gadis itu selalu diliputi kebijaksanaan kecuali saat bersama Edgar.

“Gua suapin” kata Edgar, semua orang perlahan membubarkan diri “gua gendong ke kamar gua. Biar Logan yang ngangkat Opung buat pindah”

Nyaris semua keluar, kecuali Lyn yang terus mematung hingga tubuh Sinu di gendong Logan pergi ke kamarnya sendiri.

🐾🐾🐾🐾

Sang Dewi tertidur di kamar khusus. Kamar indah dengan portal berisi mantra dan sulur yang menyelubung. Tidak ada siapapun dapat masuk–melewati garis. Sebelumnya, perempuan itu berkata pada Sinu yang sudah tenang bersama seekor domba yang akan dijadikan makan malam–bahwa ia mengantuk meski hanya gumaman. 

Sinu selesai dengan makan. Tangisnya telah reda. Perasaannya membaik dan melihat sang Dewi membuatnya merasa jauh lebih baik. Kini, pria itu hanya berdiri di depan pintu yang tak terkunci. Sementara Kristal–Dewi merebah di atas ranjang dengan cahaya keperakan yang menyelubung.

Tidak tahu. Rasanya lega, aman, nyaman. Ia lagi-lagi tak mampu menemukan kata yang pas untuk menggambarkan suasana hatinya sejak ia membuka mata pertama kali. Rasanya, semua hal yang ada disini merupakan tempat paling aman dari ngerinya seluruh ketakutan, trauma, serta tanggung jawab yang tak ada habisnya.

Di tempat besar yang mengukungnya kini, Sinu merasa bebas.

Sungguh. Bebannya lepas seperti tertinggal jauh bersama urin yang hanyut di kloset cantik di pojok ruang. Persis seperti tata letak di kastilnya.

Pundaknya ringan dan kini, ia tersenyum meski hanya menatap gadis ayu dengan seluruh keagungan serta keindahan yang mengerubuti.

Rasanya tak mau kembali. Ia tak ingin kembali kemana pun.

Entah bagaimana, perasaannya jauh lebih baik disini ketimbang di manapun seumur hidupnya. Baik di kastilnya, di rumah Kristal, atau di masa lalu. Semuanya bagai terkubur hilang. 

Dan… bagaimana jika ia tak kembali? Bagaimana adiknya? Namun sungguh, Sinu tidak khawatir. Ia tidak lagi pusing memikirkan adiknya, tidak lagi ingin tahu bagaimana kabar mereka. Yang ia rasakan hanya nyaman. Kenyamanan yang didapat tanpa perlu bekerja keras mencari emas, mencari uang, atau harus bersikap begini dan begitu agar diterima. Tidak tahu, Sinu merasa ini adalah tempatnya. Tempat ia ingin menghabiskan waktu sampai mati.

Barangkali terlalu cepat. 

Tempat, lalu Sang Dewi. semuanya terasa seperti hipnotis yang mereset pikirannya menjadi nol dan murni. Meninggalkan jejak luka yang ditorehkan ayahnya, ekspektasi, serta tanggung jawab yang tak berkesudahan.

Ia menjadi lebih ekspresif.

Kendati kekuatannya hilang tersegel. Namun setelah menangis lama hingga memalukan, Sinu tak lagi pusing. Perutnya kenyang dan ia melihat Sang Dewi, itu cukup. Sungguh. Seolah hidupnya cukup dengan itu. Untuk sekarang dan sampai mati.

“Kalau dia tidur.. Artinya Kristal bangun..”

Pria itu bergumam di ambang pintu. Bahkan jika kakinya melangkah sedikit, maka ia akan terpental jauh dan terluka. Maka pria itu memutuskan keluar. 

Tidak keluar. Ia tidak bisa keluar jika bukan Sang Dewi yang mengajaknya keluar, ia hanya berdiri di jendela besar—melihat pemandangan indah. Lebih indah dari jendela di langit Jakarta, juga dari kastil nya. 

Dari tempatnya berdiri, Sinu dapat melihat berbagai entitas berlalu lalang riang gembira. Mereka membawa peralatan berburu, membawa dagangan, serta anak-anak bermain dengan suka cita.

Ini adalah hidup.

Hidup dimana tidak ada rasa takut, tanpa rasa bersalah, tanpa rasa kalah dan takut ditelantarkan. Hatinya lapang dan penuh, untuk alasan yang tidak ia mengerti. Padahal, ia tak melakukan apa-apa. Pun sang Dewi, mereka belum banyak interaksi–kecuali menangis,  namun ia merasa memiliki kemelekatan dengan kastil, juga pada seluruh dunia yang ia pijaki saat ini.

Jika aku terus berada disini karena ingin, karena hatiku menginginkannya, karena aku merasa lega sekaligus merasa ‘hidup’ setelah ribuan tahun terkukung dalam rasa takut, was-was, dan buruk, apakah aku egois?

Atau haruskah kembali dan membimbing serta bertanggung jawab terhadap adik-adikku seperti sebelumnya hingga mereka semua menemukan kebahagiaannya?

Tapi sampai kapan? Apa definisi bahagia itu sendiri? Bagiku? Bagi mereka?

Atau seperti apa kehidupan yang ideal itu? Kehidupan yang seharusnya seorang kakak lakukan terhadap adik-adiknya. 

Dan, sampai batas mana harus ditunaikan? Sungguh, aku sungguh sangat lelah. Bahkan tidur pun sulit, rasanya semua begitu menyakitkan. Ketakutan itu tidak hilang, aku hanya menekannya. Berusaha berhenti memikirkan kemungkinan terburuk. Lalu mimpi buruk tentang masa kecil yang seakan tak ada habisnya.

Tapi di tempat ini. Semuanya berhenti.

Seolah kepalaku kembali murni. Seluruh beban hilang.

Rasa nyaman dan aman ini… apakah sebuah keegoisan? Apakah aku egois? Tidak bertanggung jawab?

Atau katakan aku akan kembali nanti, meski entah bagaimana caranya. Tapi tolong biarkan aku bertahan sedikit lagi di tempat ini. Ketenangan ini adalah ujung dari empat ribu tahun yang kulalui dengan luka yang tak pernah benar-benar kering. Yang kugendong sambil mengangkat sisa adikku yang sangat aktif dan menggemaskan.

Sebentar saja… ku mohon, biarkan aku disini sebentar saja dengan perasaan tenang ini..

Pria itu memejamkan mata. Angin yang berhembus dari jendela besar membawa aroma alam yang menyejukkan. Gesek dedaunan, suara burung bersahut-sahutan lalu gelak tawa anak-anak. 

Ini adalah dunianya.

Bukan bising jalanan macet ibu kota. Bukan juga darah hewan yang dimasukkan dalam botol setelah masuk alat aneh. Atau seorang gadis yang….

Sinu tiba-tiba teringat pada Lyn.

Dan perasaannya saat ini seperti bulu. Sangat ringan. Tanpa rindu, tanpa cinta yang menggebu, tanpa hasrat apapun. Maka, saat gadis itu terlintas di kepalanya, Sinu hanya mengingat sebagai gadis lucu yang berani. Pun, Lyn tak cukup menjadi alasannya untuk meninggalkan tempat ini. Jangankan hanya seorang gadis, keenam adiknya pun ingin ia tinggalkan demi kehidupan yang seperti bayangan.

Sinu sadar tempatnya sekarang hanya mimpi. Hanya fatamorgana. Dan kenyataan pahitnya adalah, hatinya baru benar-benar merasa tenang di dunia yang seperti ini. Sungguh ironis.

Pria itu lalu berbalik, rencananya akan kembali tidur. Tidur dengan tenang, bersama perasaan nyaman.

Namun kaget saat melihat Kristal, maksudnya Sang Dewi yang telah menggunakan gaun hitam dengan pedang yang menyelip di belakang tubuh. Gadis itu sudah bersiap-siap. Mata mereka bertabrakan sebelum Sinu menunduk.

“Aku harus pergi” katanya. Hanya itu. Lalu sosoknya menghilang begitu saja dari pandangan. Pria itu bahkan kembali melihat keluar jendela—berharap masih melihat bayangannya. Namun nihil.

🐾🐾🐾🐾

Kristal kembali tidur.

Padahal Edgar bersumpah baru selesai menyuapi. Piring  baru saja ia letakkan di atas nakas dan akan mengambil minum. Namun gadis itu sudah kembali terbaring dengan lelap.

“YA ALLAH YANG!! YA ALLAHU RABBI YA KARIM!!!” pria itu bangkit lalu berteriak sekuat tenaga. Rasa jengkelnya naik sampai ubun-ubun. Amarah seolah langsung membumbung tinggi—terbakar membara.

Lyn datang—lari tergopoh mendengar Edgar meraung seperti binatang.

Gadis itu hanya berdiri di ambang pintu. Ia menggigit ujung ibu jari dengan perasaan bersalah, lalu menyesal. Namun tak berani diutarakan.

Isabella pergi. Kini Kristal ikut sulit. Eksistensinya makin jarang. Juga Sinu. pria itu sudah tidur 24 jam. Kristal sudah memasang infus pada tangan si sulung. Kehidupan pria itu tidak akan berakhir, kecuali jika mati di dunia mimpi. Maka, Sinu akan mati juga.

Kondisi sisa orang sangat sulit. Melanjutkan hidup sulit. Rasanya seperti kehilangan orang tua dan dipaksa melanjutkan hidup tanpa pegangan, tanpa arah dan tanpa komando.

“Gua kata, kita balik aja ke hutan. Nanti pas Kristal bangun, kita minta dia buat suruh orang lain antar kita sampe Ternate” itu putusan Logan. Ia berbicara pada Johan dan Samuel “kita nggak punya tempat di sini. Salah dikit, atau aneh dikit, kita bakal ditangkap dan…” Logan menghela napas “ini bukan dunia kita, sejak awal kita salah karena nekat ikut. Padahal, kita baru aja bebas, kita bisa eksplor hutan. Kita bisa sesekali ke dunia manusia kalau bosan. Kita bisa, tapi nggak buat tinggal”

Johan menggeleng, begitu juga Samuel. Keduanya serempak menggeleng.

“Sinu akan balik, Kristal akan baik-baik aja. Kita akan melanjutkan hidup dengan modern. Gua nggak bisa balik” Johan meyakinkan. Begitu juga Samuel.

“Kalian pikir, sampai kapan kita akan minum darah lewat tumbler? Sampai kapan orang-orang nggak curiga sama pola kita yang nggak pernah makan? Nggak pernah minum?” Kakak kedua masih kukuh.

“Gua akan bertahan sampai batas maksimal” jawab Johan lagi “kalau ada yang sampe liat gua minum darah, gua hanya perlu menghilang selama beberapa saat dan minta Kristal buat identitas baru. Gua akan jadi orang baru” ia yakin dengan rencana yang telah ia pikirkan sejak lama juga. Johan mantap dengan itu. Samuel sejak tadi hanya mengangguk-angguk saja sementara Logan memijat pangkal hidung.

“Kristal nggak akan selamat, percaya sama gua” kata-kata itu sungguh menyakitkan saat diucapkan. Logan bisa mengatakannya karena ia tahu bahwa—dengan kekuatan normal saja, Sinu akan kesulitan mengalahkan Sang Dewi agung yang diciptakan Tuhan memang untuk memerangi kejahatan. Bayangkan sekuat apa makhluk itu. Seluruh elemen dikuasai. Meski sempat sekarat, Sinu tidak akan bisa mengimbangi. Logan terlalu gegabah–berpikir bahwa Kakaknya serba bisa. Padahal, jika ia biarkan saja Kristal mati, Sinu tidak akan terjebak di sana. Ia hanya memikirkan kakaknya. Jika saja bisa diubah. Biar ia yang pergi. Sudah cukup pria tertua itu mengakali semua hal, mengorbankan ini dan itu. Sekarang, harus kembali terjebak di masa lalu tanpa tahu cara keluar.

“Abang gua..” katanya patah-patah.. Logan tidak tahu mengapa ia menjadi emosional. Padahal, ia tak seakrab itu dengan kakaknya.

“Emang, kalau kita pindah ke hutan, bakal bikin Sinu balik, gua tanya?” Johan masih ngotot. Logan Menggeleng.

“Gua cuma takut kehilangan. Gua nggak mau kehilangan kalian” suara itu terdengar mencicit–bisikkan yang hanya bagai desau angin. Namun dua adiknya mendengar, jelas. “Ini bukan dunia yang gua kuasain, kalau salah satu dari kalian hilang, kena masalah serius? Gua nggak sekeren Sinu” katanya lagi. Bahkan di hari pertama tanpa kakaknya, pria itu sadar jika selama ini ia bergantung pada Sinu. Pria tertua itu yang menghadapi semuanya. Menjadi garda terdepan.

Sejak dulu, sejak baru mereka berdua. Sejak kecil.

Tanpa ada sehari pun ia menegur Sinu saat pria itu dipukuli ayahnya. Perasaan itu menyeruak membuatnya ingin menangis. Kerenggangan yang tercipta akibat rasa bersalah. Rasanya begitu menyesakkan.

Lalu, bagaimana jika Sinu tidak ada? Bagaimana ini? Logan benar-benar mengusap matanya. Bulir air mata jatuh tanpa ia tahu bagaimana menjelaskannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *