
Gadis itu tidur mendusal seperti kucing dipelukannya. Berunding tentang hal yang sebenarnya Logan sadar jika gadis itu memang di usia labil. Keputusannya berubah-ubah, moodnya naik turun dan polanya masih tidak konsisten. Barangkali mirip-mirip dengan Daniel. Pun, ia sudah menyiapkan hati untuk tidak terlalu yakin akan keputusan dadakan.
Bagian menyebalkan adalah ingatan kemarin malam berputar-putar. Bukan, pria itu serius tidak ingin memikirkan, namun pikiran itu menyelusup tanpa tedeng aling-aling. Juga, makin di tolak, makin merangsek semuanya.
Tubuhnya masih sama. Hangatnya terasa seolah mengaliri sengatan listrik yang menyenangkan. Pria itu ereksi lagi oleh pikiran yang ia sendiri membencinya.
Isabella tidak bergerak dipeluknya. Napas gadis itu lembut menyapu lehernya. Kelelahan setelah pikiran panjang yang sebenarnya masih bisa dipersempit.
Dari posisinya, Logan tau jika di balik pintu ada yang sedang mengintip—tidak, bahkan pintu terbuka sedikit. Suara bisik-bisik bagai kawanan lebah yang gagal mencapai mufakat. Saling sikut, saling berebut. Suara Daniel dan Jake, jelas.
“Nggak, nggak bercinta, mereka tidur biasa kek Opung ke Lyn” Daniel memberi informasi setelah satu matanya menangkap apa yang dicari. Tentu saja posisi Logan yang merebah sambil memeluk Isa.
“Jangan liat kepalanya oon, liat titit sama lubang, nyatu nggak” Jake memukul kepala adiknya. Daniel mengaduh namun kembali memasang mata.
“Ketutup selimut lah, nggak keliatan” si bungsu memastikan lagi. Namun keduanya berpakaian lengkap. Serius tak seperti dugaannya. “Mereka tidur doang, kapan nyatuin kelaminnya. Gak asik”
“Tunggu bentar lagi” Jake meyakinkan.
“Mereka udahan kali. Tapi siapa yang tau kalau titit Dukun di cepit ke dipan” Daniel masih terus memperhatikan dengan pandangan terbatas.
“Apa kau pindah ke kamar Opung?”
“Nggak ada, mereka pasti lagi ngomongin emas dan belajar. Opung itu yang dibicarain perekonomian dunia walau Lyn males jawab” akhirnya si bungsu bangkit. Saat hendak berbalik, ia bertemu Edgar yang jalan mondar-mandir “ngapain Lay?”
“Gua mau ke rumah Kristal tapi emaknya lagi ngembek ke gua” sudah hampir tiga jam Edgar seperti itu–mirip setrika. Kejadian memalukan beberapa jam lalu saat ia tak sempat memakai baju tatkala si gadis pingsan—lalu ia berjongkok mengelusi, sementara lateks masih terpasang pada penisnya yang menggantung. Ibu Kristal datang dan menjerit keras. Tentu saja adegan selanjutnya adalah yang paling mengerikan saat ia di kejar dengan sandal dalam kondisi begitu.
“Kata Tabib, Kristal bukan kena penyakit, tapi emang mimpi dia aneh dan dia hidup di dua dunia” Jake berusaha menenangkan.
“Itu kata gua, kata Tabib dari Hongkong” Edgar mendecih “gua mau masuk ke dunia mimpi”
“Minta tolong Dukun lah, dia yang pakar begituan” Si bungsu menjawab, namun kembali berjongkok membuka pintu kamar sedikit. Logan sudah menutup mata dan adegan tak senonoh yang mereka harapkan tampaknya tidak akan terjadi.
“Dukun sibuk ngurusin itil. Bucin sama gadis cengoh. Dikit-dikit nangis, di kawinin nangis, inget hamil nangis, inget mati nangis. Nanti nggak lama..” Edgar menirukan Isa dengan menaikkan kelingking lalu menyibak rambut panjang yang tidak ada ‘Kak Logaaaan…’ terus mereka pelukan, terus pas pegang susu ditanya sama Dukun, ‘boleh pegang ini nggak?’ Isa jawab ‘boleh’ terus pas di pegang nangis ‘aw! Aku nggak suci lagi. Nenenku isinya urang aring gara-gara dikenyot paksa.. Aw.. aku harus apa? Chat Kristal bikin dia stress’” Edgar mengakhiri cerita sambil memicingkan mata. “Gua gak suka siapapun yang bikin pacar gua stress”
“Emaknya, yakin gua. Kristal stress gara-gara punya emak modelan Yuyun Sarah” Jake menambahkan.
“Yuli” Daniel mengoreksi.
“Yohan” Edgar lalu merangkul pundak dua saudaranya “main aja kita”
“Ke mana?” Jake dan Daniel menjawab serentak.
“Ke rumah Kristal. Si bangsat ini kan bisa berubah jadi apa aja” tangan Edgar mengelusi rambut Jake “akalain lah biar kita naik lewat jendela. Lu bikin es balok biar kita bisa naik” lalu mengelusi Daniel.
“Terus benefit yang gua dapet apa main ke rumah Kristal? Kalau lu bersedia bercinta dan gua tonton berdua sama si Rose, nggak masalah, ya kan, Rozie?”
Jake menggeleng “gua nggak setuju, biar gimana pun, gua masih cinta sama Krstal. Hanya dia.. Hanya dia dia dia dia dia… nggak sanggup liat dia nangis di rudapaksa, najis.. Nggak nggak, gua berharap ada waktu di mana si jablay ini selingkuh dan mereka pegat. Terus gua maju, Kristal mau sama gua… oh.. Dewa.. semoga datang hari itu”
“Ehey… ayolah..” Edgar tersenyum seperti bapak-bapak, sambil mengelusi kepala belakang Jake “sebaik-baiknya keluarga. Itu adalah mereka yang nggak merebut pasangan satu sama lain”
“Gua nggak merebut, gua berharap lu pindah lain hati” Jake menepis tangan saudaranya.
“Mending sama Nining” Daniel memberi ide “gimana kalau kita main ke rumah Nining?”
Ketiganya lalu menjauh. Suara mereka semakin mengecil dari kamar Logan. Pria itu lantas mendekat pada pintu, lalu menguncinya—juga mematikan lampu.
Saat ia kembali merebah, matanya bertemu dengan milik Isabella yang kembali terbuka.
“Kebangun?” pria itu kembali merebah, lalu memeluk si gadis pada posisi semula. Isabella hanya mengangguk, kembali mendusal.
“Berisik banget orang-orang” katanya, suaranya serak. Ia mendekap sang kekasih lebih erat “kayaknya aku kecanduan”
“Kencanduan apa? Segala apa diomong” Logan ikut mengeratkan dekapan. Mereka bisa mendengar detak jantung satu sama lain.
“Kecanduan Kak Logan. Aku suka banget.. Suka aroma Kak Logan, suka tekstur kulit yang halus. Pokoknya suka semuanya” tangan kecilnya kembali bergerak di dada pria itu. Naik sedikit, Isa memegangi jakun yang bergerak saat ia sentuh “ini paling lucu” ia tertawa kecil. Kamar temaram gagal membuat Logan dapat menangkap wajah kekasihnya. Namun ia sangat hafal. Begitu hafal hingga apapun yang dikatakan Isabella, Logan dapat membayangkan seperti apa ekspresinya.
Cup!
Kembali, gadis itu menciumnya lagi.
“Isa.. hentikan..” kepalanya agak mundur. Padahal sudah menduga jika gadis itu memang tidak terduga. Bahkan, Logan tidak akan kaget jika tiba-tiba Isabella membatalkan rencana mereka untuk menikah. Ia mempelajari gadis itu, sedikit demi sedikit.
“Kak Logan…” gadis itu malah menciumi leher, pipi, telinga. Kontan saja Logan menghindar lebih jauh.
“Isa… kamu ngerti nggak…”
“Ngerti.. Kan Kristal udah kasih lateks, ayo pakai. Katanya, yang selanjutnya nggak sakit”
“Tau dari mana yang selanjutnya nggak sakit? Aku nggak mau. Tidur.. Tidur” kata pria itu. Namun Isabella jelas tak mendengarkannya.
“Ayo ulangi… please… ayo ulangi ulangi ulangi…”
Jeda. Logan diam seribu bahasa sementara gadis itu kembali naik ke atas perutnya. Isabella mulai menciumi leher dari posisinya yang baru. Namun kali ini, ia duduk tepat di atas penis.
Terang saja gumpalan daging itu mengeras dengan sistematis—meski sejak tadi Logan berusaha keras untuk menghindari pikiran kotor tentang kegiatan mereka kemarin. Ini bukan pikirannya, namun aksi nyata. Isabella bergerak resah di atas tubuhnya hingga menggesek bagian bawah. Benar-benar menyenangkan. Gadis nakal itu jelas tidak akan berhenti dalam waktu dekat meski ia memintanya.
“Kristal bilang, hubungan seksual yang selanjutnya nggak akan sakit. Dia bilang gitu ke aku sambil nenangin.. Ayo buktikan..” Isabella berbisik seiring miliknya yang mulai becek. Sementara Logan malah memikirkan Kristal.
Gadis itu seakan mengetahui semua hal. Apa teknologi semengerikan itu—sehingga seorang gadis yang berperawakan nyaris sama dengan kekasihnya hampir tahu banyak hal tentang hidup? Kristal terlalu buram, terlalu kabur. Meski dua gadis yang lain serupa, namun Kristal pekat beraroma kastil dan… Logan tak mampu menggambarkan.
Fokusnya kembali saat Isabella mencium bibirnya. Gadis itu memagutnya lembut. Lidah halusnya menyapu bibirnya berulang-ulang.
“Isa… kamu…” pria itu tak melanjutkan kalimatnya saat Isabella memasukkan lidahnya ke dalam rongga. Bergerak ia seperti Logan menciumnya. Bawahnya masih bergerak tak teratur dan pria itu tak akan menahan diri meski Isabella akan kembali menangis.
“Aku ambil lateks sebentar, sebentar aja” pria itu melerai ciuman saat Isabella memberi jeda. Si gadis mengangguk lantas turun. Ia memperhatikan punggung yang mendekat pada nakas, lalu membuka seluruh pakaiannya.
“Pakainya pas mau klimaks atau dari awal?” tanya pria itu. Yang ditanya berpikir sebentar.
“Pake pas mau klimaks aja. Atau di awal? Yang mana aja”
🐾🐾🐾🐾
Ketiga berhasil masuk ke dalam kamar Kristal saat Jake yang pertama kali sukses dan langsung memberi akses meski lewat jendela.
Daniel juga berperan besar dalam membuat pijakan hingga mencapai tujuan. Pukul satu dini hari, ketiga pemuda itu menyusup ke kamar seorang gadis yang sedang terlelap. Untungnya, tidak ada Ibu Kristal, tidak ada penjaga atau suster seperti ketika gadis itu baru kembali dari rumah sakit.
Kamarnya bersih, terlalu bersih.
Lampu yang sudah di matikan. Langkah yang mengendap-endap. Daniel duduk di sofa sambil menggaruk tumitnya yang gatal. Jake melihat-lihat meski penglihatannya terbatas karena redup sementara Edgar merangkak ke atas tempat tidur, lalu memeluk gadis itu dari samping.
“Lu tidur dari pingsan itu kah? Belum bangun kah? Lu dalam mimpi itu? Lu jadi Dewi? Please ajakin gua.. Ajakin gua ke mimpi lu” Edgar berbisik tepat di telinga.
PLAK!
“Ludah lu muncrat kampret!” Kristal memukul lengan Edgar, juga menyepak kekasihnya. Gadis itu lantas beringsut duduk sambil mengucek mata. Satu tangannya merayap ke atas nakas untuk mengambil ponsel. Hanya satu kali menekan pengaturan, lampu kamar menyala terang benderang.
“Ngapain coba bertiga?” matanya memindai Jake yang tersenyum padanya, lalu Daniel yang hanya duduk sambil mengunyah entah apa. Lalu Edgar yang kembali naik ke ranjang. Kristal menggaruk kepala “ah.. Gua emang sibuk pulihin diri sampe nggak perhatian ke kalian. Terus mau pada apa nih? Mau cerita? Mau tanya-tanya, atau mau apa nih. Dari pagi gua ke mansion sibuk juga nenangin Isa”
“Ganti karyawan” Daniel angkat tangan. Kristal menggeleng cepat “ish.. Gua kayaknya bakal mati muda terus-terusan sanding sama Nining”
“Gua mau pacaran sama lu” Jake ikut angkat tangan. Itu juga di reaksi gelengan oleh si gadis. “Padahal gak papa punya cowok dua. Yakan Lay? Berbagi kita ya? Gua janji bakal jadi pacar yang baik” Kristal tetap menggeleng.
“Gua mau ciuman dahsyat sampe di pisahin pemda… ya Allah.. Pengen cipokan.. Pengen cipokan.. Pengen cipokan..” Edgar berguling-guling di atas ranjang seperti anak kecil dan Kristal mengabaikan pria itu.
“Mau jalan-jalan malem sama gua? Ayo jalan kaki di luar” gadis itu memberi ide. Tiga pemuda itu mengangguk setuju meski mereka tentu saja keluar lewat jendela seperti tiga pria itu melakukannya.

“Jawab pertanyaan gua kayak tes kita biasanya. Yang bisa jawab, gua kabulin satu permintaan masing-masing tapi yang masuk akal” Kristal berjalan mundur sambil menatap satu persatu tiga pemuda itu. “Cerdas cermat dan siapa yang paling cepat, oke?” tiga pria itu mengangguk. Sambil memikirkan apa yang diinginkan.
“Kasih gua lima contoh cara bersosialisasi yang benar. Yang bagus, nggak jawab asal dan tepat” gadis itu mengangkat tangan sambil menunggu tiga pemuda itu ikut mengangkat tangan. Daniel menatap dua Kakaknya bingung, sementara Edgar dan Jake bersitatap. Akhirnya Jake mengangkat tangan.
“Em….. satu,” pria itu menggaruk pelipis dengan dahi mengerut “nggak menyerang… dua, nggak bertingkah aneh. Tiga, nggak makan darah di depan orang. Empat jangan berubah bentuk. Lima, nggak ngamuk”
Kristal menggeleng “itu peraturan dari gua buat kalian sebagai vampir yang hidup di dunia manusia, gua minta contoh cara bersosialisasi”
Edgar angkat tangan.
“Ya, silahkan jawab Picollo” kata si gadis.
“Picollo siapa anjir”
“Musuh Goku”
Edgar tidak akan membahas panggilan barunya dulu dari sang kekasih. “Contoh bersosialisasi dengan benar yang pertama, dengerin saat orang lain ngomong. Dua, mengucapkan kata tolong, maaf, dan terima kasih. Tiga, bercinta sama pacar. Empat, cipokan sama Kristal. Lima, merebut hati Yuni Sarah” pria itu salto di depan kekasihnya sambil berbangga diri.
“Udah bener yang awal, lu mah edan jing” Kristal menggeleng. Lalu matanya berlabuh pada satu-satunya kandidat yang tersisa.
Daniel berdehem “yang pertama, menjaga sikap dan perkataan biar nggak menyakiti perasaan orang lain.. Wah, gua banget nih..” pria itu nyengir “kedua, nggak mengejek, membuli, menghina. Ketiga, menjaga kebersihan, ketertiban lingkungan biar nyaman buat semua orang. Keempat, mau bekerja sama dalam kelompok atau kegiatan bersama. Kelima, membantu yang membutuhkan”
Jawaban Daniel mendapat tepuk tangan meriah dari Kristal. Si bungsu membusungkan dada dengan jumawa. Ia mendecih pada dua Kakaknya seolah lepas mendapatkan medali emas.
“Apa kabar Nining yang sesehari berasa uji mental” Jake menggeleng “munafik banget lu, dasar perundung”
“Hati-hati moncongmu, Rose. Nining itu kudu bersyukur karena mungkin aja dalam hidup dia, cuma gua yang bisa nasehatin penampilan dan cara dia mandi. Lu kudu nyoba seharian duduk berdua sama Nining. Keringetaaaaaan terus.. Abis itu mukanya luntur putih kayak berudul gitu. Komedonya segede-gede kebo. Tiap panas pada keluar. Abis itu jilbabnya ya Allah… kadang itu lecek banget, kadang bau pesing. Kadang bau keringet aneh. Sesekali bau baju yang dijemur nggak garing”
“Terdengar mengerikan” Edgar menatapnya iba.
“Oke, kesampingkan Nining” Kristal kembali ke barisan “jadi spill, lu pengen apa?”
“Pengen sekolah… gua pengen jadi anak SMA.. bisa nggak? Gua senang liat anak sekolah pas pada balik gerombolan dan nyerbu dimsum. Gua pengen punya banyak teman kayak gitu..” permintaan Daniel membuat gadis itu menjeda. Kristal terlihat berpikir.
“Jangan mikir keras, please jangan pusing… no no.. nggak boleh pusing..” Edgar langsung memeluknya. Jika sudah melihat dahi Kristal mengerut, apalagi memijat dahi, tandanya gadis itu akan kembali tidur. Pun yang paling berpengaruh adalah stress.
“Akan gua pikirkan. Tapi mungkin masuk ajaran baru tahun ini sekitar dua atau tiga bulan lagi. Lu akan gua masukin sekolah negeri yang peraturannya gak ketat asal bisa gua sogok uang tanpa banyak komen tentang data palsu yang akan gua bikin” Kristal akhirnya mengangguk–ia setuju dengan idenya sendiri “lagi pula buat jadi ajang lu belajar dan berteman sama manusia. Cuma ingat pesan gua, apalagi lu berteman sama bocah. Kudu hati-hati banget. Lu paham lah, gua nggak akan ceramah berulang-ulang. Gua percaya sama lu” gadis itu melepas rangkulan Edgar lalu menepuk pundak si bungsu “akan gua usahakan, gua janji”
Daniel lompat kegirangan. Ia memukul-mukul udara ke atas sambil bersuara keras saking senangnya. Kebahagiaannya menulari.

Kemudian mereka berlari. Daniel menggendong Jake di depan. Edgar dan Kristal menggunakan traffic cone seperti dua orang buta yang saling menguatkan.
“Yang kalah harus nyium jilbab Nining besok!!”
Kata-katanya sendiri membuat langkahnya makin lebar. Jake terkekeh di gendongan sementara Edgar berjongkok dan meminta gadis itu untuk naik ke punggungnya.
“Naik yang, buru!!! Buruan si itil kelamaan! Kita nggak boleh cium jilbab Nining, cepetan!!!!”
Kristal terbahak-bahak dalam gendongan. Di depan, Daniel menyandung batu dan keduanya terpental sampai masuk got. Edgar tidak kuat karena tertawa. Pria itu akhirnya menurunkan Kristal untuk terbahak-bahak memegangi perut. Pun, Kristal sampai mengeluarkan air mata karena tawa.
Jake bangun duluan. Dari kepala sampai kakinya hitam. Aromanya sangat bau menyengat. Saat nyengir, hanya giginya saja yang terlihat. Lalu Daniel menyusul di belakang. Mereka berdua sama-sama nyengir. Kristal dan Edgar tertawa hingga hampir meninggal.
Tidak terima ditertawakan, dua pemuda itu berlari akan mengejar Edgar dan Kristal.

Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang…
Di hutan nggak senang, di Jakarta senang, di mansion Kristal aku paling senang..
Lalalalalallalal lalalallalalal lalalalalalalal
Ke empatnya bernyanyi sambil berdansa menuju jalan pulang dalam kondisi bau, kotor dan menjijikan.