
“Nggak! Mending Mama cekek si Edgar-Edgar itu, kurang ajar. Pikirin kondisi kamu, Kristal! Jangan mikirin laki-laki aja. Anak kok.. Bikin Mamanya ngomel terus”
Ibunya mendelik dengan bola mata yang seakan keluar dari tempatnya. Wanita itu selesai menyuapi si bungsu dan memberikan obat. Kristal sempat tidur setelah mandi dan kini, merasa segar sedikit, gadis itu merengek ingin pergi ke mansion dengan segala alasan. Terang saja ibunya kontan menyimpulkan jika anaknya ingin bertemu dengan pria itu.
“Edgar lagi kerja, Ma… aku bukan mau ketemu dia… dia chat aku mau rekaman dan sibuk mau keluarin single” si anak merengek. Kristal kukuh. Gadis itu ingin bertemu dua temannya meski yang menjadi alasan utama adalah rasa rindunya pada semua vampir. Belum lagi kabar Isabella yang lumayan menyita perhatian.
“Mama nggak suka sama Edgar”
“Mama baru kemarin bilang suka sama Edgar”
“Kapan? Itu gara-gara dia mukanya kasihan. Terus suaranya lumayan pas nyanyi gubuk derita, sisanya, BIG NO”
“Halah, gak jelas. Kok bisa Papa setia sama Mama, aneh. Selingkuh dong, biar rame.. Aku nggak masalah loh punya Mama tir—” Kristal diam saat sang Ibu menatapnya dengan mata makin tajam. Pandangan itu seakan bisa membunuh tujuh ribu pasukan gajah. Kristal berdehem. “Please.. Aku mau ke mansion.. Please… inget kata Dokter, Ma. Aku nggak boleh stress. Mama maunya aku tidur aja di rumah sampe meninggal? Please…” gadis itu menggulung diri dengan selimut, lalu kakinya naik ke dinding, berputar-putar tidak sesuai dengan kelakuan orang kurang sehat.
“Nggak”
Jeda beberapa saat. Gadis itu memutar otak. Lantas ia meraih ponsel—menelepon Ayahnya.
“Halo, Pa”
Suara ayahnya terdengar menyahut diseberang. Latar belakang bising, pria itu sedang di luar.
“Aku mau mati muda aja, mau minum obat sebotol, berendem di bathub sampe tenggelam, mau berakhir, aku capek banget.. Aku nggak mau makan lagi, aku kenapa…” Kristal mulai akting. Mamanya menatap dengan mata paling tidak percaya sedunia “kenapa aku dilahirkan dari keluarga ini? Memangnya salah mencintai seorang pria? Apa aku harus jadi LGBT? Apa aku—”
“Kasih hp nya ke Mama” kata Ayahnya memotong ocehan sang anak. Kristal menahan tawa sekuat tenaga.
Ia mendengar ayahnya marah-marah. Mengatakan ini dan itu. Ibunya masih menatapnya jelas seperti akan mencekik.
“Kasih aja dia biar nggak stress, nanti si Edgar itu kita kirim ke Bangladesh kalau ngawur. Gak usah ketat-ketat, Ma. Inget kata Dokter, nggak boleh stress”
Kristal bangkit dan melompat-lompat. Baru merasa lebih baik. Kepalanya baru tidak pening dua hari terakhir, bisa berjalan meski hanya di dalam rumah. Namun di hari ketiga, gadis itu sudah sikap lilin.
“Udah dibacain ayat kursi anak ini kerasukan setan dari Ternate” wanita itu menghela napas “terus mau pergi sama Pak sopir atau gimana?”
“Di jemput ayang.. Hehehe”
“Tukan, kek gitu bilangnya Edgar lagi rekaman, bikin single. Halah”
“Yakan emang lagi proses. Suruh jemput dulu, bentar” gadis itu mengambil ponselnya lagi, lalu menelepon Edgar. “Tapi Edgar nggak bisa bawa mobil sih.. Tapikan yang penting dia kesini, terus berangkatnya barengan” gadis itu terkekeh lagi.
“Halo cintaku..” sapaan baru itu akhir-akhir ini mengganggu Kristal “gimana? Mau apa nih, seisi dunia gua kas—”
“Gosah gitu-gitu, jijik. Datang ke rumah sini, jemput. Gua mau ke mansion”
“Otw. Gosah jijik-jijik. Lu nggak inget kah pas sakit? Lu konfes ke emak bapak lu kalau lu cinta mati ke gua. Lu sayang gua, pokoknya cinta lu yang penuh itu bakal dibagi ke gua yang kosong. Gila, gua makin edan cinta sama lu” tawa Edgar menggelegar, Kristal mendecih.
“Nggak ada begitu-begitu, najis”
“I love you. Mama lagi apa?”
“Ada ni di samping”
“Mama! I love you, mau request lagu apa Ma? Kicau mania mau?” Edgar berteriak, speaker pada ponsel sengaja dikeraskan.
“Awas kamu jadi bencong, saya robek anus kamu”
🐾🐾🐾🐾
Setelah melewati Ibu Kristal yang lumayan unik, berdua akhirnya bisa keluar—kini duduk di belakang sopir sambil menggenggam tangan satu sama lain.
“Masih pucet banget..” Edgar menciumi telapak tangan gadis itu berulang-ulang “gosah ngide mau mikirin jalan tengah perkara Dukun sama Isa. mereka itu dua orang dewasa yang bisa bertanggung jawab sama apa yang mereka kerjain. Cuma karena emang pertama kali aja makannya pada ribut. Jangan stress. Gua rusak bumi, gua hancurkan siapa aja yang bikin lu stress” kata-katanya ditekan-tekan seolah apa yang disampaikan memang bukan sekedar omong kosong. Melihat Kristal sekarat tidak akan pernah bisa membuatnya mentoleransi apapun.
“Cie.. cinta sama gua cie…” gadis itu membelakangi Edgar dan berencana menjilat kaca mobil.
“Terusin! Anak ini baru mending” Edgar membalik si gadis, lalu menyeka mulut Kristal.
“Gua bukan anak kecil! Paham gua” tidak terima, Kristal menoyor bisep kekasihnya.
“Sengaja kan, biar gua giniin?” pria itu lantas mencium bibirnya.
“Emang, emang sengaja. Kenapa? Nggak seneng?” namun ia menunduk saat bibir itu terus mematuk wajahnya seperti burung “hentikan! Geli”
“Pas masih tidur mulu, lu nangis-nangis pengen gua peluk” kata Edgar.
“Ngimpi badai” kepalanya menggeleng keras–tidak setuju.
“Ngeyel, tanya Mama lu, Papa sama abang lu juga ada. Lu cium gua di ranjang dan peluk gua sampe kepala gua di gebug tongkat bisbol”
“Nggak mungkin”
“Dih, bodo amat”
Lalu jeda. Kristal menggenggam tangan pria itu lembut. Di usap-usap dengan ibu jarinya.
“Gua mimpi, selama tidur gua mimpi. Mimpinya panjaaaaang.. Banget, panjang pokoknya, mau danger gak?”
“Mau, cerita, ceritain ke gua semuanya, gua akan dengerin walau sampe kuping gua keluar lahar”
Ada jeda setelah itu. Kening si gadis mengerut-ngerut. Ia menghela napas mencoba merunut yang paling membekas hingga beberapa hari—karena itu adalah mimpi paling aneh sepanjang hidupnya. Atau katakan bukan mimpi, melainkan masa koma dengan alam bawah sadar yang rumit. Ia tidak tahu, namun itu jelas mimpi meski kelewat nyata.
“Gua mimpi…” ada ujung panjang yang ditarik. Sudut bibir gadis itu berkedut “gua adalah Dewi.. gua Dewi di khayangan. Hidup gua di negeri dongeng yang jauh dari imajinasi yang disuguhkan tontonan selama ini. Jauh dari film. Khayangan itu cuma berupa bangunan tua di atas langit dan gua bisa melayang dengan ajaib” Edgar menyimaknya, serius.
“Di dunia mimpi gua, semuanya hidup rukun. Ada Vampir, ada manusia serigala, ada siluman. Pokoknya banyak entitas fantasi yang nggak masuk akal. Tapi kita semua hidup berdampingan dengan damai di bawah satu pimpinan seorang raja dari kalangan Dewa yang menikah sama Vampir wanita” Kristal menatap mata Edgar yang menyimak “di sana ada lu.. Lu bukan Dewa tapi, lu vampir, kayak lu sekarang gini, vampir aja. Gua juga liat Jake. Tapi ngga lihat yang lain.. Kita ketemu di jalanan setapak dan gua turun dari dahan pohon secara ajaib”
Kristal sebenarnya menunggu Edgar berekasi. Apa saja. Bahkan tidak apa-apa jika menertawakan mimpinya yang seperti mengada-ada. Namun gadis itu berani bersumpah demi nyawanya. Mimpi itu terus mengusik hingga menempel secara aneh. Mimpi sejatinya hanya akan bertahan paling lama barangkali itungan hari, itu pun kabur, tak jelas. Namun apa yang ia impikan tampak seperti memori yang memang sudah ada di hidupnya. Tanpa mengabur.
“Unik ya? Gua melayang, gua punya kekuatan ilahi. Abis itu gua merasa bisa liat hantu. Gua berburu para pengkhianat dari semua kalangan yang berencana mengadu domba satu entitas sama entitas yang lain. Gua disana, sendirian. Gua berdiri sendiri dalam kastil kuno, tanpa Mama, Papa, Abang, atau siapapun. Gua pegang pedang. Berat pedangnya hampir sama kayak berat badan gua. Tapi anehnya itu mudah bagi gua, gua lebih mahir dari siapapun yang pernah gua liat. Juga, pakaian gua nggak kayak Dewi dalam gambaran gua pas kecil. Gua pakai pakaian manusia untuk berburu. Gua adalah Dewi kedamaian”
Lagi, Kristal menunggu Edgar tertawa. Ia menunggu pria itu mengolok-olok mimpinya. Atau apapun tentang hal lucu itu.
“Yang… Dewi kedamaian itu ada, tapi udah jadi abu, dia yang kalah karena melawan semua pengkhianat. Tapi dari situ, semua entitas yang lu sebutin itu pelan-pelan punah karena eksistensi manusia yang mengeksploitasi hutan. Ini kata Samuel. Dia baca banyak buku sejarah kuno. Kalau mau lebih jelas, lu bisa tanya Sinu, gua yakin sebelum portal ketutup, Sinu tau lebih banyak tentang banyak entitas di hutan”
Kristal kembali mengerutkan dahi. Matanya ikut mengecil seolah dapat kembali ke mimpinya saat melakukan itu.
“Jadi, menurut lu, mimpi gua nggak aneh?”
“Nggak sama sekali. Mimpi lu bukan fantasi remaja. Gua hidup di dunia yang lu gambarkan”
Jeda lagi. Kristal melihat keluar. Bangunan dan rumah-rumah bergerak menjauh, kaca berembun kena napas, gadis itu sebenarnya tau—terkadang kesadarannya seakan mengambang. Rasanya seperti hidup di dua dunia—di mana ia sadar akan kedua situasi itu—meski menjadi Dewi seperti yang ia ceritakan pada Edgar benar-benar ia anggap bunga tidur saat ia sadar. Namun saat tidur, otaknya berpikir sebaliknya. Efek kecelakaan barangkali memang seperti itu.
🐾🐾🐾🐾
Sangat pas untuk brunch.
Pukul 10:30. Saat kakinya kembali menapaki mansion setelah satu bulan lebih tiga minggu ia menjalani perawatan serta masa pemulihan. Tidak ada yang berubah, hanya rasa rindunya saja yang membengkak. Sudah ia tanyakan pada kekasihnya—bagaimana mereka makan selama ia tidak ada. Dan jawaban Edgar membuatnya lega.
Lyn menyisir rambut Isabella. Gadis itu menyuap buah yang dipotong-potong dalam boks. Ternyata tidak menangis setelah mengirimkan pesan suara berisi isak sambil mengatakan banyak hal tentang penyesalan, takut hamil, sampai mati.
Berdua berbinar-binar saat melihat satu temannya berwajah pucat mendekat. Edgar berdiri di sampingnya bagai pengawal yang galak.
“Jangan dekat! Jangan dekat-dekat Kristal, kalian bawa penyakit” kelakar pria itu menirukan suara Mama si gadis, persis. Kristal sampai meliriknya dan tertawa.
“Cukup satu aja yang begitu di rumah, buset..” katanya sambil terkekeh. Namun Isa lebih dulu menabraknya dengan pelukan. “Ini cewek gua, kata Mama gua, gua ngelesby sama ni bocah. Tapi dia malah begituan sama Dukun duluan, terluka gua” tangannya mengelusi punggung Isa “gimana perasaan? Udah enakan?”
Isabella menggeleng.
“Halah gaya, nanti malem di terjang lagi sama Dukun, caya sama gua” Edgar menyahut. Kristal menyikutnya keras.
“Beli lateks! Beli kondom! Hey! Gua kudu beliin semua orang kondom dan lu bakal jadi contoh penggunaan!” Kristal mengatakannya serius, Edgar mendelik.
“Ya gua nggak masalah asal praktek juga. Praktek kek Dukun ke Isa” itu protes, sungguh.
“Sini gua jenggut jabang lu”
Satu temannya lagi mendekat. Lyn ikut memeluk Kristal “rasanya serba salah. Ketawa salah, makan enak salah, apalagi senang. Jangan sakit lagi.. Gua nggak sesabar lu ngadepin semua makhluk ini.. Dengar Isa begituan aja, gua pen neluh si Dukun” Lyn mengelusi rambut belakang Kristal.
“Gimana semuanya? Gua kudu periksa Daniel, Jake, Samuel, Johan.. Kalau Dukun dan Sinu, gua pikir mereka udah bisa mengatasi masalah sendiri” kata Kristal. Pelukan mereka mengurai saat Edgar memisahkan paksa.
“Mengatasi masalah sendiri kok pusing. Mana tembak dalem, goblok bener. Minimal tanya-tanya. Ada teknologi namanya HP. Emang jengkelin banget, serius. Gua sebal banget sama Dukun”
“Temen lu sama abang gua sama-sama goblok. Kenapa cuma nyalahin abang gua? Vampir loh, mana tau lateks, yang ngerti kan jelas manusia. Ada teknologi namanya kontrasepsi. Di pikir vampir bujangan yang terisolasi di kastil ngarti begituan? Gua aja tau karena Kristal yang ngedukasi. Abang gua mana paham. Kayak Isa juga. Dia kan bukan underage, harusnya ngerti kalau efek bercinta tanpa alat kontrasepsi itu adalah kehamilan. Nggak mungkin kawin terus keluar air zam-zam” Edgar mengomel karena tidak suka sejak tadi Kakaknya terus di salahkan. Kecuali dirinya dan sisa saudaranya yang lain, tidak boleh ada yang menghina Logan.
“Tapi keluar air kok” Isabella membela diri.
“Cengoh lu mah, tipe nya Dukun yang cengoh gini emang” Edgar masih menimpali sementara Kristal mulai membekap mulut pemuda itu.
“Berisik”
“Ya lu bayangin aja. Katanya sakit, tapi di genjot malah diem aja”
“Gua nangis hey!” Isabella mendelik menatap Edgar.
“Nangis tapi enak, lanjut part sekian” masih, pria itu masih. Kristal akhirnya menyepaknya keras meski tak terasa sama sekali.
“Berisik Jablay! Sana balik kerja, males gua. Ini obrolan gadis” kata Kristal jengkel.
“Males, gua udah kadung pamitan nenek gua di ICU” pria itu mendekat, lalu memeluk Kristal dari belakang “gua akan jadi bodyguard lu, yakin. Gua takut lu luka”
“Lu kudu cari uang karena gua butuh laki yang beruang” Kristal menyikut perutnya.
“Dahlah” kecupan terakhir berhasil membuat pria itu balik arah lalu pergi—meninggalkan tiga gadis yang akan memulai cerita entah dari mana.
🐾🐾🐾🐾
“Jadi gini teman-teman” Kristal kembali memulai kelas setelah sekian lama. Tanpa dihadiri Isabella dan Lyn karena permintaan pria yang bersedia dijadikan contoh, Edgar berdiri di depan enam pria tanpa busana sementara Kristal tanpa risi membuka lateks untuk kemudian ia pakaikan pada penis pria itu.
“Jadi caranya, ini kan ngaret nih, ujungnya ada sisa, nah, sisa ujungnya ini nanti bakalnya buat sperma. Buat yang durasi bercintanya agak panjang, lateks ini bisa aja dipake pas mau klimaks doang. Nanti kan terasa tuh, cepet-cepet cabut dan pake ini. Ya sebenarnya kalau lebih aman di pake dari awal” Kristal mendekat, lalu jongkok di bawah Edgar, ia memasangkan benda itu dengan kikuk dan bingung. Sebenarnya, ini juga pertama kali ia melihat isi kontrasepsi itu. Bermodal video tutorial menggunakan lateks di sosial media, gadis itu berhasil memakaikan dengan benar dan pas sesuai ukuran milik kekasihnya.
XL.
Semua yang ada di sana mengangguk-angguk.
“Ngerti sekarang? Ada yang perlu ditanyain? Segini gua kasih tutor ke tujuh laki yang umurnya sama kek Nabi Idris buset” gadis itu memijat dahi, kepalanya mulai pening.
“Itu terus di apain?” Daniel angkat tangan “itu si Jablay, kan ngaceng itu”
“Gua suruh nebang pohon rambutan abis ini, di halaman belakang” kata Kristal enteng. Gadis itu kemudian berjalan dengan kepala yang terasa sangat berat—seakan pucuk kepalanya diganduli sekarung pasir basah. Pun matanya berkunang-kunang—sambil terhuyung ia berjalan ke arah sofa—berusaha istirahat, namun belum sempat sampai, tubuhnya ambruk begitu saja. Benar-benar ambruk dan tertidur.
Semua orang bangkit—panik, dan buru-buru membantu gadis itu untuk merebah.
Wajahnya yang sudah pucat, kini berkali lipat lebih pucat lagi.
Buru-buru Samuel memeriksa. Namun tidak ada sakit atau penyakit yang terdeteksi.
“Dia masih sering begini kah?” Samuel mendongak pada Edgar yang baru akan duduk di lantai. Tangannya mulai mengelusi wajah sampai rambut Kristal. Pria itu mengangguk.
“Tadi pagi dia cerita.. Cerita tentang mimpi dia selama koma. Terus dia bilang, tiap sadar, mimpi itu.. Ya kayak mimpi, tapi pas tidur kayak gini, hidup nyata dia kayak mimpi..” lalu Edgar mengulang cerita Kristal saat mereka bersama dalam mobil.
Menceritakan tanpa ditambah tanpa di kurang. Dan yang mendelik adalah si tertua.
“Dewi kedamaian?” ulang Sinu, kembali memastikan.
“Hm.. kedamaian. Dia ceritanya sambil ketawa, tapi gua menganggap itu beneran, dan mungkin aja sekarang dia ada di sana. Gimana menurut lu, Pung?” Edgar menatap Kakaknya.
Sinu melamun lama.
Cukup lama hingga memorinya ribuan tahun seakan dipaksa diputar ulang, dirunut balik untuk menemukan bagian di mana para Dewa Dewi yang ia ketahui.
“Mereka memang bisa mati, dan mereka bereinkarnasi” jawaban Sinu cukup. Pria itu lantas menatap adik kedua yang terlihat paling bimbang meski ia tahu isi pikiran pria itu tidak di sini. Melainkan pada keluhan Isa yang terus membuatnya pusing. “Lu ada bisa liat sesuatu? Kali aja pas lu pegang tangannya ada sekelebat penglihatan atau ingatan” Sinu jelas bicara pada Logan. Pria itu mendongak.
Lalu menggeleng “gua lagi stress. Kekuatan gua gak maksimal”
Semua orang mencebik. Lalu, tanpa aba-aba, tanpa konteks, Samuel tiba-tiba mencium gadis itu tepat di bibir. Edgar—yang jelas duduk memandori sambil mengelus-elus kekasihnya sayang kontan kaget dengan mulut menganga.
“Luar biasa, Dewi kedamaian” kata Samuel. “Dia memang Dewi kedama—”
BLARRR!!!
Api meledak tepat di wajah, Samuel terbakar dengan intensitas panas yang nyari seribu derajat. Wajahnya meleleh ke marmer. Sisa orang menghela napas sementara Edgar kembali menyerang Kakaknya hingga Samuel gosong dan ambruk menjadi cairan.
“Anjing, babi, setan AAARRRRGRGGHHHHH” Edgar mengamuk.
Kasih tau aku kenapa si Samuel bisa merasakan kakau kristal dewi kedamaian 😭😭