
Pria itu mengingat malam apakah ini, atau diluar apakah sedang turun hujan—mungkin juga bulan masuk ke dalam bayangan bumi sehingga cahaya matahari yang bisanya menerangi bulan terhalang. Bisa juga karena gugus bintang yang sengaja berkumpul bukan karena terikat gravitasi—melainkan turut bahagia atas apa yang ia rasakan sekarang.
Tidak, sebenarnya Logan tidak benar-benar memikirkan semua itu. Hanya tiba-tiba terlintas saat ia kelewat senang–pun dalam kondisi dimana kekuatannya benar-benar tumpul selaras dengan isi kepala. Sejujurnya, waktu jatuh cinta adalah momen paling bodoh seumur hidupnya. Masih dengan satu gadis yang itu-itu saja. Padahal Logan sudah bersumpah untuk tidak impulsif, apapun kondisinya.
Isabella menggigit-gigit ibu jari. Ibu jari Logan.
Mereka merebah bersama, lengan atas pria itu menjadi tumpuan si gadis sementara tangan yang satu lagi ditarik paksa oleh Isa untuk ia genggam dan… ya, di gigit, kadang di kulum ujungnya. Sambil menonton, gadis itu seperti kebiasaan. Pada orang-orang terdekat termasuk Lyn, juga Kristal.
Namun bedanya, Logan merasakan hal aneh. Bukan hanya senang yang berlegayut. Namun rongga hangat milik si gadis, sentuhan lidah lembut di ujung ibu jarinya tentu saja memantik hal lain—hal yang sebenarnya ada sejak Edgar memutar video porno. Tidak, bahkan belum sempat benar-benar padam sementara stimulasi seakan bertambah-tambah.
“Menurut Kak Logan, lebih serem hantu yang cewek apa yang anak kecil?” Isabella mendongak sedikit, persis saat Logan tentu saja menatapnya–sejak tadi.
Pria itu tidak menonton, tidak menyimak layar. Sibuknya menatap Isabella dari posisinya tanpa bosan. Maka, saat ditanya, Logan langsung menatap lurus ke layar.
“Anak kecil” jawabnya asal. Bahkan ia tidak tahu mana yang hantu. Semuanya terlihat sama kecuali musik dan latar belakang yang di gelapkan tiap ada sosok muncul. Hal-hal sejenis itu tetap tidak membuat vampir itu mengerti—di mana bagian seram atau kenapa orang-orang tertarik melihat hal-hal sejenis. Baginya, yang menakutkan adalah berpisah dengan orang terkasih atau di telantarkan. Tentu saja pikiran primitif itu tidak akan ia utarakan pada siapapun. Daniel bilang, tidak suka pada hal yang kebanyakan orang suka artinya primitif. Sungguh sulit menjadi manusia. Apalagi manusia yang modern dan kontemporer.
“Kata aku nggak serem semua. Aku sampe bosan banget, aku pengen berburu hantu lagi kayak dulu. Kangen Kristal, kangen Lyn. Kangen pas kita petualangan ke sana ke mari cuma buat nyari hantu dan terus haus sama hal-hal mistis. Kata Kristal, sekarang dia udah dapetin semua itu, jadi dia kayaknya bakal pensiun. Sama kayak Lyn. Sementara aku… aku masih suka..”
Logan menyimak kelewat baik ujaran yang lebih terdengar seperti keluhan manja anak-anak. Lalu berusaha mencari kata-kata yang pas untuk menanggapi tanpa membuat gadis itu merasa keinginannya memang sudah tidak relevan—juga yang paling penting, Logan ingin menarik tangannya—agar gadis itu berhenti memasukkan jeriji miliknya ke dalam mulut. Sungguh akibatnya adalah menggagalkan fokus kronis.
“Kamu mau lihat hantu? Aku bisa minta Jake berubah jadi hantu paling serem” mungkin saja berhasil, meski melihat dari rekasi si gadis saat Logan memberi ide, Isa terlihat tidak setuju.
“Nggak kayak gitu konsepnya, masa gitu aja nggak paham. Males ih”
Isa mencebik, lantas memunggugi pria itu.
Logan bernapas lega. Rasanya seperti baru saja dilepaskan dari belenggu tak kasat mata yang terus mencekik diri sampai buah zakar. Sialan. Kendati, tak lantas segera menysutkan ereksi. Pria itu ingin memukul penisnya sendiri.
“Tapi Kak Logan janji bakal main ke rumah hantu sama aku, ya? Ke bangunan yang aku kirim gambarnya itu, ya?” si gadis kembali berbalik. Bukan menatap wajah, perhatian Logan jelas langsung turun ke belahan payudara yang terlihat sekal dan padat. Tidak besar, tapi tidak kecil juga. Semua yanga ada pada gadis itu ideal di mata Logan.
“Ya” jawabnya singkat, pria itu lantas kembali melihat ke layar.
“Kak”
“Hm”
“Lihat aku”
“Apa?” pria itu melihat si gadis lagi. Namun kali ini, Isabella melayangkan ciuman sekilas pada bibir pria itu. Hanya sekilas, pun benar-benar singkat.
“Aku suka banget sama Kak Logan. Sukaaaa banget… kenapa dulu aku takut banget ya? Padahal gemes, imut, dewasa, tipe aku banget. Dulu liat Daniel, Edgar, dan Jake sering muntah paku, rasanya mengerikan. Sekarang malah games”
Logan tak segera menjawab kecuali mengulum senyum. Jika saja suasana tidak temaram dan hanya mengandalkan cahaya dari layar, tentulah Isabella dapat melihat rona pria itu.
“Kamu mau menikah sama aku, Isa?”
Pertanyaan itu sungguh terlalu jauh. Terlalu aneh untuk konteks ini. Namun Isabella paham jika pria dewasa tidak akan jauh-jauh dari ajakan sejenis ini. Beberapa kali dekat dengan pria meski tidak benar-benar pacaran, Isa akan kabur dan sawan saat pria mengajaknya menikah. Tentu saja karena ia masih kecil. Sebenarnya hanya persaannya saja. Katanya, usia 23 tahun sudah cukup dewasa untuk berpacaran serius. Padahal Isa tidak pernah serius–maksudnya, ia tetap merasa seperti anak kecil. Mana bisa anak kecil menikah.
“Kak Logan agamanya apa? Kalau menikah gimana?” lagi, pertanyaan itu membuat Logan berpikir lagi.
“Nggak yakin, tapi dari dulu banget, aku cuma tau yang menikahkan itu pastor walau aku bukan pemeluk katolik. Aku nggak punya agama dan merasa netral alias bisa menyesuaikan dengan pasangan aku”
Isabella mengangguk.
“Jangan menikah dulu gaksih? Masih lama, masih panjang, kita bisa terus pacaran dan melakukan kegiatan menyenangkan bareng-bareng. Nggak jauh beda juga kan?”
Hanya helaan napas Logan, pria itu tidak menjawab lagi. Paham akan reaksi Logan, Isabella kembali memeluknya.
“Aku kira vampir nggak akan sibuk ngajak nikah, ternyata sama aja. Nggak tau, tapi pernikahan terlalu jauh dan aku beneran nggak pernah memikirkan apapun tentang itu.. Aku cuma.. Mau main dan belajar cari uang dulu.. Maksud aku, kita jalanin aja dulu, masih terlalu dini, kan?”
Pria itu akhirnya mengangguk. Lalu diam-diam memikirkan apa yang dikatakan Isabella bahwa pernikahan barangkali memang tidak lagi bergitu kerusial.
Seperti malam ini. Ia bisa memeluk gadis itu bebas, tanpa perlu ikatan rumit yang mungkin saja telah lama di tinggalkan semua kalangan.
Isabella merangkak naik ke atas tubuh Logan.
Membuat pria itu kaget sambil menahan napas. Lalu si gadis mendaratkan bokong di perut bawah pria itu.
“Dua mata saya, hidung saya satu, dua kuping saya yang kiri dan kanan” Isabella memegang dua tangan Logan lalu mempraktikan gerakkan—memegang bagian tubuh yang dinyanyikan seperti anak kecil. Gadis itu tergelak kemudian. Tubuhnya terguncang di atas Logan.
“Kak Logan mukanya lucu banget kayak bayi” lantas dua tangannya mencubit pipi pria itu.
“Isa… kamu sadar nggak.. Ah.. sialan..” pria itu melepaskan tangannya lalu mengusap wajahnya kasar. Seluruh tubuhnya memanas. Celana pendek dan tanktop gadis itu seakan terbakar dan kulit mereka saling bersentuhan dengan cara paling erotis. Tentu saja hanya isi kepala Logan, pria itu kepayahan mengatur diri.
“Aku bukan makhluk beragama, aku bukan makhluk baik yang punya peraturan, aku juga hidup sesuai insting” pria itu bergumam, lalu matanya menatap eksistensi di atasnya yang masih nyengir seolah aksinya tidak berbahaya.
“Aku juga.. Aku suka Kak Logan, aku dewasa unuk berpacaran”
“Ya, ya, benar, kan? Sekarang, maukah kamu membuka atasan untukku? Biarkan aku meraba tubuhmu, biarkan tanganku merasakan hangatnya kulitmu” pria itu meremas tangannya sendiri. Lalu mulai begerak menyentuh paha Isabella dengan ragu-ragu.
“Mau, tapi.. Aku mau Kak Logan yang bukain”
Itu juga baru. Bukan, maksudnya, setidaknya ada tiga hal yang terjadi sekarang—membuat Logan seperti mengambang.
Yang pertama karena ia masih ereksi lepas menonton video porno. Yang kedua karena Isabella tiba-tiba menduduki tubuhnya. Yang ketiga karena gadis itu meminta ia membukakkan atasan. Jika siapa saja bersedia menjelaskan situasinya secara jelas, barangkali ia tidak akan beringsut duduk, lantas membelai wajah gadis itu sembari menurunkan tali tanktop yang menyelubungi bagian atas tubuh indah itu.

Tali merosot satu, pria itu kembali membuka tali yang satu lagi.
Dan kini, dua gundukkan yang sebelumnya hanya ia lihat dari video, terpampang jelas di depan mata. Matanya terlalu fokus hingga baru seperti ditarik sadar saat Isa mengusap rambutnya lembut.
GUYS INI ADA LANJUTANNYA DI VIP.
Halo guys… jadi aku buka vip untuk kelanjutkan vampir sampe ending. kalian bisa join untuk ikut terus on going karena aku akan up tiap hari (kecuali hari libur) narasi dan memuat tulisan porno serta nganu…
Sekali bayar aja guys sampe ending. Nanti aku kasih link telegram dan cerita akan di muat dalam web kayak biasa. Gak perlu pakai email ya, karena aku up nya di telegram
Aku nggak nulis gratis lagi hehew, ayo ikut ke room vip buat dapet semua benefitnya.
CARA JOIN
UNTUK BERGABUNG VIP, KAMU HARUS BAYAR 50RIBU. SEKALI BAYAR AJA GUYS,
Shopee pay : 089528855607
Rekening Seabank an Nopi Yanti : 901956159510
BCA DIGITAL BLU : 0074 3470 7318