VAMPIR MENGERTI

Jauh ribuan tahun lalu. Sebelumnya semuanya terbentuk dan menjadi belenggu. Sebelum pantheon berpencar lantas bersumbunyi masing-masing dalam singgasananya. 

Jauh..

Jauh ketika vampir dan seluruh makhluk saling berdampingan. Hidup dalam toleransi bahkan berbisnis lewat jalur perdagangan. Ketika dunia di pimpin oleh raja bijaksana. Sebelum kerusakan dan peperangan datang dan sebelum pengkhianatan serta kesakitan. Semuanya berjalan begitu damai dan indah.

Para dewa, dewi, Vampir, manusia, anthropomorphic, serta komponen-komponen hidup meski tidak bisa bergerak seperti pohon dan tumbuhan lainnya. Semuanya berdampingan, bahagia serta damai.

Siapa saja dapat melihat kawanan burung yang terbang berkelompok, menikmati indahnya pagi dengan secangkir darah segar atau kopi tubruk yang di tumbuk penuh cinta. Bisa saja anggur lezat dalam goblet yang biasa di konsumsi para dewa dan dewi di khayangan. 

Hutan rindang serta pemukiman yang berdampingan. Semuanya damai dan sejahtera. Dipimpin oleh satu raja dari kalangan pantheon dan permaisurinya dari Vampir bangsawan. Dunia terasa begitu hijau dan dingin.

Juga tak kalah damai bagi sepasang suami istri yang bertemu dan menikah karena cinta. Tinggal mereka dalam rumah mewah dengan cerobong asap tinggi. Rumah megah dan besar yang memiliki tujuh kamar, satu kamar mandi dan bagian paling lebar adalah ruang bersantai keluarga.

Pasangan yang mendapat nobel karena berhasil menghancurkan peraturan dan membentuk peraturan baru–juga yang di gadang-gadang mempererat ikatan serta hubungan antar manusia dan vampir.

Pada masanya, mereka begitu di tentang karena Joy, merupakan gadis cantik dari kalangan manusia yang di pinang oleh Jonathan, Vampir dari kalangan bangsawan yang juga memiliki paras rupawan serta kekuatan yang di gadang-gadang terkuat di klan nya.

Pertemuan karena cinta.

Bertemu tak sengaja di pesta selendang yang di adakan di istana raja. Pertemuan pertama yang saling tarik menarik. Mirip sulur yang terhubung–keduanya seolah telah di takdirkan dewa untuk bersama.

Pernikahan mereka di karunia satu anak laki-laki. Sangat tampan bahkan kelewat tampan. Ketampanannya mewarisi sang ayah hingga beberapa tetangga dan kerabat menyebutnya duplikat.

Mereka memberi nama Sinu Han. 

Anak pertama yang perkasa dan rupawan. Sejak bayi, Sinu nyaris tidak pernah menangis. Bayi itu sudah menunjukkan kekuatannya di usia 3 tahun–bagaimana air dan segala komponen cair dapat di kendalikan. 

Awalnya tidak begitu ada yang perhatian. Jonathan hanya tahu jika putranya memiliki kekuatan mengendalikan air—mirip adik sepupunya jauh di sana. Ia tidak perhatian untuk bagian-bagian yang lain. Sibuknya pergi bekerja mencari nafkah–pergi pagi pulang petang. Sementara Joy seorang cantik jelita yang akan membuat para Dewi iri—yang paling paham bagaimana putranya tumbuh dengan segala kemampuan yang ia yakin dapat mengalahkan seluruh vampir terkuat. Bahkan kekuatannya menyetarai Dewa.

Keyakinan tanpa dasar itu ia sampaikan pada suaminya. Jonathan hanya tersenyum lalu menimang Sinu sayang.

“Dia mampu menekan kelembapan. Bisa menciptakan tekanan air setajam parang. Bisa mengendalikan darah dalam tubuh lawan. Membekukan, mengeringkan, menyerap habis darah dan menguasai segala komponen cair. Bahkan bisa mengubah gas, oksigen, dan suhu ruang menjadi cair. Dia bahkan tidak perlu sumber air untuk memaksimalkan kekuatan. Dia mampu memanipulasi air. Itu bukan kekuatan yang dimiliki vampir pada umumnya” Joy bercerita semangat sementara Jonathan lagi-lagi tersenyum “Jon, dia bahkan bisa meningkatkan tekanan di sekitar tubuh lawan mirip di timpa laut dalam dan menghancurkan organ lawan, tulang, dan semuanya tanpa menyentuh”

“Tapi dia tidak bisa berregenerasi, sayang. Vampir terkuat adalah mereka yang mampu menyembuhkan tiap luka pada diri mereka sendiri. Percuma memiliki kekuatan besar jika mendapat luka kecil saja, akan memakan waktu untuk sembuh. Dia akan mati jika bertemu vampir yang bisa beregenerasi cepat meski kekuatannya hanya mampu bicara dengan hewan” ungkapan Jonathan tak  menyurutkan antusias Joy pada putra sulungnya.

“Sinu tidak pernah sakit. Dan regenerasi tidak lagi berharga bagi anak sulung kita. Sinu bisa mengganggu distribusi cairan yang membuat regenerasi lawannya gagal untuk mengeringkan luka. Dia bisa bikin lawan sulit meregenerasi karena dia yang mengontrol darah. Sel lawan tidak bisa di perbaiki jika berhadapan dengan Sinu. Artinya, regenerasi tidak berharga bagi putra kita” Joy tetap Joy. Anak sulungya yang masih berusia tiga tahun itu telah menunjukkan segala kekuatan yang membuat ibunya–seorang manusia biasa begitu takjub.

Joy tahu. Ia juga tahu bagaimana dahsyatnya kekuatan para Dewa serta para vampir terkuat. Namun kekuatan bayi Sinu melampaui hal-hal lumrah anak vampir pada umumnya. Apalagi Sinu bukan vampir murni melainkan persilangan antara manusia dan vampir.

Sinu tiga tahun melawan kawanan harimau dengan cara membekukan darah serta menghancurkan organ serta tulang para binatang itu tanpa menyentuh. Lalu anak vampir tetangga yang seusianya datang bermain bersama. Mereka berebut maianan—sang anak tetangga yang memiliki kemampuan beregenerasi, saat di pukul Sinu dan terluka, maka akan cepat pulih dari luka. Namun lama-kelamaan ketika sering bersama, Joy dapat merasakan bahwa regenerasi anak tetangga menjadi begitu lambat dan nyaris seperti vampir yang tak memiliki kemampuan pemulihan cepat, tatkala dihadapkan Sinu. Bayi Sinu menekan darah dan pergantian sel gagal: regenerasi gagal dan Sinu mampu menggagalkan.

Jadi tidak ada yang spesial tentang regenerasi cepat. Karena itu tidak berarti bagi anak sulung Joy.

Namun Jonathan tetap kukuh bahwa kekuatan anak sulungnya lemah dan payah di bandingkan anak-anak vampir lain yang memiliki kekuatan beregenerasi. Sama sepertinya. Jonthan mampu pulih cepat dari luka.

Hingga sekian lama. 

Joy yang sudah menjalin ikatan dengan vampir dengan cara pertukaran darah di hadapan dewa, memiliki umur panjang layaknya vampir meski ia tetap manusia. Empat ribu tahun.

Empat ribu tahun saat rata-rata usia vampir sampai sepuluh ribu.. Mereka tak menua, meksi tetap terlihat sebagai vampir dewasa. Kecuali  Joy, Joy mulai terlihat tak segar. Ia memang berumur panjang, namun kecantikan manusia-nya, perlahan memudar. Kulitnya memang masih kencang, namun auranya redup, ia kusam tak secantik dulu.

Kendati demikian, Jonathan tetap mencintainya. Mungkin.  

Empat ribu tahun interval antara kelahiran Sinu dan kelahiran putra kedua mereka. Sinu sudah besar, tubuhnya jauh melampaui ayahnya. Kekuatannya makin dahsyat dan gila. Sinu di takuti seantreo negeri dan beberapa kali di panggil ke istana untuk  memenuhi titah raja: menjadi panglima perang melawan para pemberontak.

Namun Joy menolak putranya untuk pergi. Ia tidak sudi melepaskan anak kesayangannya. Tidak untuk melewan pemberontak dan menghacuran negeri. Joy masih yakin jika Sinu mencakup hal-hal yang ia khawatirkan.

Dan saat Logan lahir, perhatian itu jelas pecah. Perhatian yang awalnya hanya tercurah dan fokus padanya, kini terbagi.

Logan, kini berusia 100 tahun. Logan anak-anak dengan kemampuan regenerasi dan keahliannya menghancurkan dari dalam tanpa menyentuh—dimana kekuatan itu lebih dulu dimiliki Sinu bahkan jauh di bawah Sinu. Logan hanya mampu menghancurkan, membuat lawan memuntahkan apa saja yang ada di sekitar—masuk secara tidak masuk akal ke perut lawan. Dan yang paling menonjol selain kekuatan menghancurkan dari dalam serta memasukkan apa saja ke dalam perut lawan adalah Logan merupakan peramal akurat. Sejak bayi, anak itu telah di karuniai kemampuan membaca hidup orang melalui sentuhan tangan dan garis telapak. Matanya akan berubah warna sebelah. Namanya begitu terkenal sejak tahu jika ia merupakan seorang peramal karena ayahnya yang terus membanggakan dan menceritakan ke sana ke mari. Berbeda dengan Sinu yang tak sekali pun mendapat pujian ayahnya, tidak juga apresiasi. Sama sekali. Sementara  Logan adalah kesayangan Jonathan.

Semua makhluk berbondong-bondong pergi ke kastil—kediaman Jonathan untuk meminta di ramal. Jonathan tidak perlu bekerja lagi. Emas, berlian, dan segala logam mulia terkumpul dari siapa saja yang datang saat meminta di ramal. Pria itu menimbunnya di ruang bawah tanah dan menjadikan Logan sebagai sumber pendapatan yang fantastis. Tidak seharipun libur, putra keduanya itu bekerja keras meski anak pertamanya— Sinu tetap pergi berdagang hasil tenunan Joy dan beberapa perhiasan hasil pahatan ayahnya ke pasar besar di pusat kota dekat istana.

Namun perlakuan jelas berbeda. Sinu benar-benar transparan.

Ayahnya selalu mengajak Logan bicara, mengobrol selayaknya anak dan ayah. Meski ia tahu adiknya juga pendiam. Namun perilaku itu benar-benar menciptakan kesenjangan. Sinu dianggap tidak berguna dan terus mendapat sindirian keras karena tidak menghasilkan uang sebanyak Logan.

Begitu terus hidupnya berjalan. Yang membentuk Sinu menjadi lebih pendiam. Ia bahkan nyaris tidak pernah menggunakan kekuatannya, tidak sekalipun. Karena apapun yang ia keluarkan dari tangannya, pasti akan terlihat tak berguna di hadapan ayahnya.

Bahkan hal remeh seperti Logan yang dapat membuat binatang lumpuh, di apresiasi begitu besarnya. Padahal, hal-hal semacam itu sangat kecil bagi Sinu.

Hingga ratusan tahun berlalu bagai kedipan mata.

Joy kembali melahirkan putra-putra tampan. 

Dalam waktu kurang dari seribu tahun, Johan, Samuel, Edgar, Jake dan Daniel lahir. Wanita hebat itu melahirkan tujuh pria perkasa. Anak sulungnya Sinu yang memiliki rentang sangat jauh dari sisa saudaranya yang lain.

Dan setelah kelahiran Daniel lah seluruh malapetaka terjadi. 

Joy tidak lagi cantik. Wanita itu mulai keriput. Rasanya perjanjian darah memang memiliki rentang dan Joy mungkin sudah sampai batasnya. Namun ia masih menyusui Daniel. Tujuh putra yang memiliki masing-masing kekuatan keren.

Namun siapa yang menyangka jika suaminya—Jonathan malah berselingkuh dengan sorang Dewi.

Ya, Dewi.

Jonathan tidak berubah–maksudnya, parasnya. Pria itu tetap tegap dan gagah, wajahnya nyaris masih sama seperti pertama kali ia bertemu dengan Joy di pesta selendang. Wajahnya adalah gambaran Sinu—persis, meski rambutnya mulai memutih satu dua. Namun kegagahannya tidak hilang.

Dewi Holly.

Perselingkuhan mereka terbongkar saat Sinu tidak sengaja memergoki ayahnya keluar dari khayangan para Dewi dengan pakaian berantakan, sementara sang Dewi menggelayut tanpa busana. Kediaman mereka—para Pantheon ada di awan–antara langit-langit meski tak terlalu tinggi. Sinu ada di sana, di atas pohon untuk mengajak tiga bungsu bermain.

Jangan ditanya bagaimana si sulung mengamuk.

Jonthan benar-benar mati jika saja Dewi Holly tidak ikut menyerangnya. Kekuatan yang tak pernah di asah milik Sinu kalah telak oleh kesucian dan keilahian milik sang Dewi. Pertarungan sengit itu di saksikan dua  bungsu yang masih baru belajar mengenal warna sementara Daniel baru belajar jalan.

Sambil menggendong Daniel, Sinu di babat habis oleh wanita itu. Ia terdesak hingga pulang dengan menggendong tiga adiknya untuk meminta bantuan Logan, Samuel serta Johan.

Namun apa yang di lakukan sang Dewi dan ayahnya malah lebih gila dari dugaan.

Dewi itu membunuh Joy. Membunuh ibu mereka. 

Kondisi makin keos saat Edgar, Jake dan Daniel menangis sementara Samuel dan Johan mengamankan mereka. Pertumpahan yang memilukan.  Sinu menangis seperti gila saat menyaksikan bagaimana ibunya meregang nyawa dengan cara paling mengenaskan. Seluruh tubuhnya koyak dengan jeroan yang hancur keluar dari mulut, berceceran.

Tersisalah Logan dan Sinu yang menghadapi ayah dan Dewi Holly.

Mungkin jika ia mengasah kemampuannya, mungkin saja jika ia belajar bagaimana mengendalikan darah dan oksigen lalu mengubahnya menjadi penghancur, Sinu tidak akan terdesak seperti itu.

Logan sendiri langsung tumbang oleh ayahnya sendiri.

Yang tersisa hanya diri sendiri dengan darah putih yang keluar begitu deras dari mulut, hidung, telinga dan pori-pori. Sinu akan mati sebentar lagi jika Dewi itu mengucap mantra penghancur.

Benar, ia tidak sekuat para Dewa atau Dewi. Jika saja ia tak mendengarkan Joy, maka, Sinu sudah pergi ke medan perang dan mengasah seluruh kekuatannya di alam liar. Agar bisa melindungi semua orang. Melindungi ibunya, melindungi adik-adiknya dan melindungi harga dirinya.

Namun tidak. Ia kalah.

“Aku tidak akan membunuh kalian” sang Dewi berseru, “maka, sebagai gantinya, terkurunglah kalian dalam kastil ini selamanya. Tidak bisa mati, juga tak bisa keluar. Kecuali oleh tiga kunci yang akan menghancurkan segel ini” ucapan itu di ikuti selubung ilahi yang menyebar ke sekeliling kastil. Portal berwarna transparan nyaris tak terlihat menyelimuti dengan jarak dua puluh meter dari kastil. 

Ayah dan Dewi itu ada di luar sana, tidak lagi terlihat.

Dan sejak hari itu, mereka terkurung di sana. Hingga hari ini.

Mayat Joy di kuburkan di halaman belakang yang dipenuhi tanaman anggrek. Sejak saat itu, Sinu menjadi lebih pendiam–lebih dari sebelumnya. Tidak ada yang bisa keluar, tidak ada yang bisa menghancurkan portal meski mereka menyatukan kekuatan. Sinu bahkan pernah memaksimalkan kemampuannya untuk menebus portal, namun yang terjdi malah pantulan yang akan menghancurkan kastil.

Sejak saat itu, semuanya semakin jelas. 

Ia membesakan tiga adiknya tanpa banyak bicara. Mereka semua benar-benar tidak banyak bicara dan berkata seperlunya. Hingga tiga bungu membesar dan menjadi vampir-vampir paling aktif. Tiga bungsu itu yang membuat suasana kastil setidaknya tidak seperti hunian mati. Mereka bertigalah yang mewarnai.

Dan tidak satu pun dari mereka bisa keluar kecuali Jake dengan batas waktu yang teramat singkat. Jake lebih sering bercerita bagaimana kondisi di luar yang akan di simak semua orang. Sinu sesekali bertanya kondisi di luar–seperti tetangga, raja yang sekarang dan kehidupan para vampir. Namun Jake mengedikkan bahu tidak tahu karena saat ia keluar, yang terlihat hanyalah hutan belantara tanpa ada kehidupan lain. Tidak ada lagi peradaban seperti yang Sinu tanyakan. 

Jake tidak menemukan makhluk apapun selain binatang yang menjadi konsumsi mereka sehari-hari.

Dunia luar sudah hancur. Peperangan telah pecah dan semuanya musnah. Kini, hutan bahkan di pegang pemerintah. Tak ada lagi makhluk lain. Manusia mendominasi. Manusia mengalahkan seluruh entitas–kini memegang alih seluruhnya. Yang tersisa hanya kastil tak kasat mata akibat kutukan Dewi Holly. Sinu menceritakan sang Dewi dengan ujaran penyihir. Maka, tiga adiknya percaya bahwa mereka di kurung dan di kutuk oleh penyihir dan ayah mereka juga menjadi penyihir jahat.

Ia bahkan tidak tahu apakah ayahnya dan sang Dewi masih hidup.

Tidak ada yang tahu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *