TEH, ADA POP ICE?

TEH, ADA POP ICE?
Sedan mewah membelah para pengantar. Pun bunga yang sesekali masih di taburkan. Bendera dengan tulisan ‘Just married’ berkibar kencang seiring angin yang menghantam dari arah berlawanan. Hanif duduk di kursi kemudi bersama istrinya yang masih mengenakan gaun kelewat cantik, tersenyum lebar diiring lambaian tangan dari keluarga dan kerabat dekat. Hiruk pikuk pelan-pelan mengecil sebelum menghilang sepenuhnya ketika kendaraan berlalu menjauh. Keduanya masih menaikkan pipi, hingga gigi terasa kering. Bahagia tidak bisa dielakkan, air muka terlihat bersinar—selain karena riasan. Roma bahagia gagal di sembunyikan dan keduanya tidak berencana menahan diri.
“Nyanyi neng” Hanif mencolek dagu istrinya jahil. Keduanya sepakat menuju hotel untuk acara bulan madu singkat, sisanya, Hanif mengajak Silly untuk tinggal di apartemen, meski sang ibu masih tidak rela dan memaksa keduanya tinggal di rumah.
“Menolak”
“Nyanyi sih, dikit aja. Selama ini gua nggak pernah denger lu nyanyi”
Lalu Silly menatapnya serius “Lu berekspektasi apa sama suara gua? Suara gua mengerikan”
“Coba”
“Malas, gua lagi banyak pikiran”
Hanif mengernyit, menatap sekilas sebelum kembali fokus pada jalanan. “Baru nikah ya Allah, padahal masih nyengir sampe gusi garing. Mikirin apa coba? Rumah gua sediain, kendaraan ada, uang banyak. Lu mikirin apa, sayang? Lu menikah sama pria mapan dan bertanggung jawab. Gua ngomong gini biar lu tenang, dan itu fakta”
“Gua takut malam pertama anjeeeng, sumpah. Padahal udah lupa tadi” Silly menangkup wajah dengan dua tangan. Sangat memalukan namun nekat ia ceritakan isi hatinya. Hanif bukan orang asing, sudah agak lama ia mempercayai pria itu tanpa menganggapnya ancaman atau seseorang yang berpotensi akan menyakiti, meski semua orang memiliki potensi semacam itu.
Kegundahan sang istri di reaksi kekehan kuat. Hanif terbahak-bahak hampir menangis. Padahal, Silly terlihat seperti seseorang yang siap setelah segala ocehan binal dan lagaknya yang–mengaku seorang pro palsu.
“Apa gua terlihat seperti akan menyakiti istri? Gua akan sabar dan kalau lu udah siap, gua akan melakukannya hati-hati, gua nggak kasar, gua nggak mukul, gua nggak jahat, neng. Gua sayang banget sama lu. Rasanya, dunia dan seisinya bakal gua kasih asal lu bahagia dan nyaman. Tolong percaya ocehan laki lu” Ada kesungguhan pada lontaran bekas tawa. Hanif serius. Pria itu tidak sedikit pun pernah kedapati bertingkah kasar kecuali saat terakhir kasus dengan mantan kekasihnya.
Hanya sesaat kenyamanan mendesir. Mirip ombak yang menyapu pantai, kehangatan merajai sepersekian detik sebelum kembali menggigit ujung kuku. Memikirkan bagaimana pria itu sangat mudah terangsang, ia khawatir ketika libido sudah naik hingga ubun-ubun, maka suaminya akan menjadi tidak sabaran lalu memukulnya. Padahal mustahil, ia tahu Hanif tidak seperti itu, ini adalah efek kelelahan dan lapar.
Silly lalu mematung menatap jalanan lengang. Tubuhnya memang lemas sejak beberapa jam lalu. Itu pula karna ia tidak mengisi perut. Pikirannya menjadi sinting.
“Neng”
“Hmm”
“Jangan tegang dong. Ini akan terdengar mesum, tapi dengerin aja biar jadi sugesti” Hanif berdehem “Mungkin awalnya nggak nyaman dan bikin khawatir, tapi hal-hal semacam itu bisa di asosiasi dengan segala kegiatan yang kita kerjain di kehidupan sehari-hari. Atau kasarnya ngomong butuh adaptasi. Misal kaya hari pertama kerja, semuanya nggak langsung nyaman. Kita akan menyesuaikan dengan tempat baru, kultur, perangai orang-orang sekitar, atau kadang dapet first impression yang kurang menyenangkan. Anggap aja hal itu sama kaya pertama kali kita berhubungan intim. Awalnya nggak nyaman atau bahkan cenderung sakit. Tapi percaya deh, setelah adaptasi, lu akan nyaman dan merasakan gimana cinta yang saling berkesinambungan dan tubuh kita jadi rileks. Itu cinta, gua suami lu. Bukan kurir atau laki yang maksa cipokan buat buka puasa”
Dan Silly menatapnya tajam. Ada keheningan beberapa saat diantara tatapan yang seakan menusuk. Hanif kebingungan sesaat. Padahal, pria itu merasa ocehannya keren. Namun alih-alih istrinya bisa ikut tersugesti atau minimal mengerti cara kerjanya, Silly malah memperlihatkan manik seperti akan membunuh. Mirip ketika ia melakukan dosa besar setara bersekutu pada Tuhan.
“Udah paling pro sih, salut. Jelasin lagi di telinga kiri gua coba. Telinga kanan rada budeg. Kek mana tadi sistem kerjanya? Hanif proplayer?”
Hanif mengusap wajahnya kasar. Silly jelas bukan sedang dalam kondisi ramah. Ini tidak bisa dijawab karena akan mendatangkan petaka. Pun jika berdusta, Silly jelas tak akan percaya. Jalan satu-satunya adalah membiarkan istrinya memberikan tatapan mematikan serta wajah paling tidak enak sedunia meski kecantikan tidak luntur dari sana.
“Eh, btw riasannya cantik banget, ya? Nggak sia-sia si mbaknya datang jauh-jauh dari Bugis”
“Orang Cilacap”
“Ah, iya. Cilacap”
“Jadi, berapa banyak gadis perawan yang lu tidurin?”
Lagi, Hanif menggaruk tengkuk dengan dahi mengkerut banyak. Tampaknya memang Silly dalam suasana hati yang buruk–ketika sejak tadi teorinya di salah pahami.
“Gua sumpah nggak pernah tidur sama perawan. Gua modal denger, menonton, jam terbang dan teman-teman tongkrongan di kebon sawit. Gua laki dewasa yang fasih teori begituan hanya lewat ceritaan orang. Bukannya lebih aneh lagi kalo gua nggak paham sama sekali sama perkara semacam itu? Sumpah neng, mantan gua nggak perawan semua”
Diam beberapa detik, Silly menghela napas gusar. Lama-kelamaan kepalanya benar-benar pusing. Gaun berat, riasan kepala yang seakan menekan membuat pening bersama perut keroncongan. Mengapa setelah semua hal, sinyal itu baru diberikan?
Hingga entah berapa lama. Perjalanan menuju hotel yang sudah direncanakan sekitar setengah jam lagi. lima belas menit setelah ocehan terakhir sang suami, akhirnya wanita itu menutup mata, tertidur. Hanif melihat roma kelelahan meski riasan tetap terpatri tak menggeser barang seinci atas kecantikan yang makin meluap-luap. Sangat menggemaskan. Tangannya sempat membenarkan posisi agar rebah sang istri lebih nyaman, sementara di luar langit mulai menggelap dengan semburat jingga yang bergaris banyak. Malam yang indah untuk pertama kalinya dengan status baru bersama istri tercinta meski harus berjuang melewati hari-hari berat tanpa bertemu dengan dalih ‘pingit’ yang ia sendiri tak mengerti budaya semacam itu berasal dari mana.
Tak pula banyak yang bisa dilakukan selain menggendong tubuh dengan bobot yang lumayan menyita tenaga. Beruntungnya pemesanan kamar sudah dilakukan kemarin, hanya perlu mengambil kunci dari resepsionis lalu mulai melangkah lagi dengan beban—lumayan namun tak membuatnya keberatan. Ia tahu Silly terjaga, wanita itu pura-pura tidur meski sadar mendapati suaminya terengah membawanya dalam gendongan depan, khas pengantin baru.
“Satu, dua, tiga” Menghitung langkah. Lift terbuka bersama desah napas terengah yang khas. Silly nyaris ingin tertawa meski ia tahan “Sampe ranjang, bakal gua telanjangin” Bisik pria itu pelan. Ditatap lagi wajah yang masih bertahan meski gurat pipi naik sedikit gagal di sembunyikan. Hingga tepat ketika lift terbuka dan kamarnya semakin mendekat. Hanya perlu beberapa langkah lagi dan Silly membuka mata.
“Mau turun” Cicitnya serak, sambil menenggelamkan wajah pada ketiak suaminya karena malu.
“Telat”
“Mau turun, gua mau mandi, koper masih di mobil, kan? Ambil sana. Gua mau makan juga, tapi mau makan di kamar”
“Bentar, gua mau rebahan sebentar aja. Pegel neng”
“Ya makannya turunin, tau pegel”
Terlambat. Pintu sudah terbuka lebar dan Hanif buru-buru menurunkan istrinya untuk merebah di ranjang. Sangat hati-hati, seolah tubuh itu adalah porselen berharga yang akan rusak jika terbanting sedikit saja.
Lalu keduanya merebah sejajar. Menatap plafon putih dengan chandelier yang menggantung cantik mirip susunan berlian—berkilauan begitu indah. Beberapa detik, tidak ada yang membuka percakapan dan keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sudut yang sangat sempurna dari atas, pasangan pengantin baru dengan gaunnya.
“Capek” Silly berbisik lirih. Tangannya naik menekan-nekan dahi berulang berharap dapat mengurai sakit kepala yang sejak beberapa saat lalu terasa. Ia terlambat makan. Di perparah kurang istirahat. Sejak siang tak berselera, nafsu makannya tergerus rasa bahagia—dan perasaan ambigu lainnya, hingga ketika ditawari menyantap, Silly terus-terusan menolak.
“Buka gaun, rambutnya di urai dulu itu yang kaku-kaku. Abis itu mandi air anget dan gua cari makan, oke?” Tawaran menggiurkan. Silly masih tak bergeming meski isi kepala–membayangkan sudah melakukannya meski yang dilakukan adalah menutup mata.
“Neng”
“Gendong a, kepala gua rasanya mau pecah. Ish gila, sakit kepala”
“Gua buka dulu gaunnya pelan-pelan, ya” Silly mengangguk. Semua hal terasa berat ketika kepalanya pusing. Gaun dengan bobot lumayan, riasan rambut yang membebani. Di perparah dengan perut lapar. Ini sempurna.
Hanif melepas gaun penuh kehati-hatian. Geraknya begitu lembut dan telaten. Meski hasil akhir harus menarik gaun dari bawah sekuat tenaga agar terlepas. Silly menatap sekilas pada erangan suaminya yang berusaha membuka gaun–kesulitan.
“Edan, ini gaun di paku kah, kenceng banget anjir” Hanif menarik napas dalam sebelum keduanya cekikikan. Silly bangkit sedikit melihat suaminya bersusah payah karna bagian dada yang ketat seperti tersangkut meski semuanya terlihat mudah.
“Tiduran aja, katanya pening. Gua bisa begini doang mah” Meyakinkan pada wanita yang kini ikut menurunkan gaun dengan dada terbuka tanpa kancing atau tali. Ocehan suaminya bertolak belakang dengan usahanya yang seperti akan mengeluarkan bayi. Pula entah bagaimana cara tata busana memakaikan gaun itu karna seingat Silly—mereka begitu mudah saat memasangnya.
“Kok bisa nggak ada kancing atau pengait coba? Ajaib sekali” Silly berkomentar ketika melihat bagian dadanya.
“Tiduran lagi neng, biar gua tarik sekuat tenaga. Kalo masih nggak bisa, biar gua gunting sekalian”
Silly terkekeh. Namun menuruti perintah suaminya. Lalu, dengan kekuatan maksimal yang dilayangkan dari bawah sambil berjongkok, urat-urat pada tangannya menonjol kentara, Hanif menghitungnya sampai tiga sebelum gaun itu merosot ikut terbawa tubuh yang nyaris terjengkang ke belakang. Pria itu tertawa sendirian.
“Edan, gaun macam apa ini. Cakep sih, tapi setengah mati anjir. Gua yakin dia ada cara buka yang baik dan benar. Tapi terlanjur nggak sabaran gua” Hanif menggulung gaun itu menjadi lebih kecil meski asal-asalan. Lalu meletakkannya di atas sofa. Kembali mendekat pada istrinya yang masih merebah tanpa membuka mata.
“Ya Allah.. Ya Allah..” Ungkapan untuk pemandangan yang tersaji. Pria itu mengendurkan dasi yang melekat di leher. Lalu membuka jasnya sebelum dilempar dekat gaun istrinya sembarangan.
Dada istrinya terekspos sempurna. Silly membiarkannya terpampang jelas begitu bulat dan kencang. Ujungnya tidak besar, bahkan kelewat kecil dengan warna merah tua kecoklatan. Sementara celana pendek menyelubungi diri. Hanif yang mendekat menelan ludahnya susah payah.
“Pengen ngenyot, ya Allah, neng, edan lu ya, cantik banget gila” Hanif duduk di sisi. Maju mundur ingin menjamah bagian yang baru ia lihat pertama kali. Meski saat istrinya memperbaiki riasan di rumah–Hanif sempat memegangnya, namun tidak sesempurna saat ini. Pemandangan yang benar-benar memanjakan mata.
“Duduk dulu coba, nanti gua kenyot paksa, marah. Sini gua urai rambutnya pakai minyak” Pelan-pelan membangunkan istrinya dengan mengangkat hati-hati. Masih dengan tatapan tak lengser sebelum istrinya bangkit membuka mata. Hanya begitu saja cukup membuat sesuatu di dalam sana membesar tidak sopan.
“Woylah! Nen gua nggak pake kutang. Ambil koper dulu sana, gua malu” Kesadarannya terlambat meski rasa malu tak begitu kentara. Pasalnya, ketika bangkit, Hanif tidak menatapnya cabul seperti beberapa detik lalu. Berlagak tidak peduli meski payudara besar terpampang jelas. Atau ia melewatkan? Tidak tahu, Silly menggulung selimut sebelum menyelubungkan kain besar dan tebal itu pada tubuhnya. Hanif kemudian turun mengambil seluruh barangnya.
Meninggalkan wanita dengan status baru itu melamun sebentar. Sakit kepalanya masih bertahan di sana. Memutuskan kembali merebah lalu menutup mata meski bulu mata lumayan mengganggu. Menunggu suaminya mengurusi, rasanya benar-benar pusing.
Sekitar lima belas menit, pria itu sudah kembali dengan koper—pun setelah memesan makanan. Dilihatnya sang istri yang sudah bergumul dengan selimut sementara riasan, rambut kaku dan dada telanjang yang kini sudah tertutup membuatnya risi sendiri. Silly pasti tidak nyaman merebah dalam kondisi seperti itu.
“Neng, rambutnya gua bersihin, ya? Sama make up juga. Lu merem aja” Mengacak-acak koper istrinya sebelum menemukan kotak perawatan wajah serta perlengkapan kewanitaan yang begitu banyak hingga membingungkan. Silly tak banyak membawa pakaian. Yang memenuhi isi kopernya adalah botol-botol serta tetek bengek berisi cairan perawatan wajah yang tak terlalu ia mengerti.
Baby oil dan make up remover masih mampu ia baca meski untuk menemukannya harus menyelam di antara sekian banyak cairan di sana. Kapas berada di tutup koper, pria itu langsung menghampiri istrinya.
“Gua akan menghapus make up dengan kekuatan 10 tangan” Lengang tak ada jawaban. Silly bahkan tak memiliki energi untuk mengomentari sang suami yang kelewat aktif. LANJUTKAN MEMBACA
