SURTI TEJO

SURTI TEJO

Pintu rapat terketuk berulang. Kabar nyalang dengan segala gosip brutal seperti debu yang di tiupkan, membuat keluarga besar bapak Basuki membatasi banyak kegiatan dengan dalih malu dan aib. Padahal bukan salah sang anak. Gadis itu mana tahu pria yang baru dua kali menamu ke rumah dan terus mengajaknya menikah ternyata sudah beristri. Canda bahkan tidak menanggapi. Tentu saja, bagaimana mungkin menanggapi ketika diri memiliki kekasih. Ini gila. Bahkan jika pun tak ada Fahmi di sampingnya, gadis itu masih harus berpikir ribuan kali untuk menanggapi manusia antah berantah yang tiba-tiba datang melamar.

Pria bernama David bahkan sempat menunjukkan kartu identitas diri dan jelas berstatus sebagai bujangan meski tak di minta. Mengiming-imingi keseriusan meski benar-benar tak di tanggapi oleh kembang desa di sana. Canda menolaknya secara terang-terangan, namun pria itu gigih menjengkelkan hingga menciptakan aib yang memalukan, padahal tidak ada yang di lakukan gadis itu. Sementara tuduhan mengerikan terus berseliweran.

Namun kesialan memang tak memiliki tanggal. Gadis itu mangkir dari mengajar. Mengurung diri dalam kamar sudah tiga hari lamanya meski tak tahu letak kesalahan. Hanya Mega yang sesekali datang untuk melerai kegundahan. Hanya khawatir gadis itu depresi atau sejenisnya, meski mustahil Canda akan seperti

Pak Basuki membuka pintu hati-hati. Pria bersetelan oblong dengan kolor hitam itu agak tertegun melihat siapa yang datang. Bukan, mereka bukannya sedang mengisolasi diri, hanya saja benar-benar mengurangi intensitas sosialisasi mengingat nama putrinya tengah hangat menjadi perbincangan publik perkara merebut suami orang.

“Ah, pak Imron. Silakan masuk”

Tersenyum canggung. Keduanya terduduk ketika si empunya menyambut dengan ramah. Kedua anak dan bapak itu berpakaian rapi, menggunakan batik dengan celana dasar, mirip orang akan menghadiri acara formal.

Meminta istrinya membawakan air dan beberapa makanan ringan, setelahnya ikut nimbrung saat berhasil membawa apa yang di minta tersajikan. Hanya heran karna bertamu malam-malam dengan pakaian itu. Barangkali keduanya lepas kembali dari acara tertentu yang tidak mereka ketahui.

Berdehem sebentar. Pak Imron menarik napas panjang ketika kedua orang tua Canda terlihat kebingungan menunggu maksud kedatangan, sangat tegang. Sialnya pak Basuki sendiri baru-baru ini mengalami trauma setelah di datangi orang yang mengaku di rugikan dan menuduh putrinya telah melakukan hal nista dengan segala ujaran mengerikan. Membuatnya memiliki ketakutan pada kedatangan orang secara tiba-tiba.

Sangat sadar dan waras, semua orang tahu seperti apa perangai kembang desa di desa itu. Hanya masyarakat pengangguran yang di beri bahan lalu menggorengnya dengan semangat. Mirip orang memakan bangkai saudaranya sendiri. Menjengkelkan.

Masih dalam keheningan beberapa saat sebelum pak Imron kembali berdehem.

“Jadi, maksud kedatangan kami berdua kemari adalah, melamar Canda”

Seperti menggantung kalimat, pak Imron meneliti ekspresi dari kedua wajah calon besannya sebelum kembali melanjutkan.

“Saya minta kiranya pak Basuki dan Buk Inah untuk merestui Fahmi menjadi suami Canda. Kami datang dengan niat baik untuk melamar”

Memutar. Pak Basuki masih memandang kebingungan. Tampaknya kabar di luar sana tidak memengaruhi kedua manusia yang kini duduk berjejer dengan senyum tulus. Entah mengapa pak Basuki seperti akan menangis. Kedua orang tua Canda bahkan pak Imron sendiri tidak tahu jika putra-putri mereka kembali menjalin hubungan, sejak dulu pun hanya di anggap main-main meski Canda dengan lantang menangis ingin menyusuli pria itu di ibu kota.

“Pak.. Anak saya sedang ramai di perbincangkan, tertuduh merebut suami orang. Padahal si neng nanggapin aja enggak, keluar pun enggak pas si lelaki itu main ke rumah. Saya nggak tahu apa berita itu sampai di telinga bapak atau enggak, yang pasti saya hanya memastikan kalo kedatangan berdua sudah paham dengan situasi yang terjadi saat ini.”

Menyeka air mata sebentar, tangisnya benar-benar pecah. Tanpa di minta dan tentu saja keluar dari konteks pertanyaan. Tampaknya pria tua itu menahan diri terlalu banyak untuk mengklarifikasi jika anaknya tak bersalah meski pak Imron yang datang untuk melamar malah menjadi wadah untuk kegundahan atas tuduhan keji.

“Selama bertahun-tahun nggak pernah melenceng. Sama lelaki kaya orang takut, boro-boro mau rebut suami orang. Nggak nyangka aja, tiba-tiba. Nggak ada angin nggak ada ujan anak saya di tuduh macem-macem. Dia ini kerjaannya rebahan, gayaan sedikit paling dandan-dandan di kamar sambil mengunci diri karna malu. Boro-boro mau ladenin orang asing. Nggak pararuguh aja pokoknya jadi perebut suami orang.”

Mendengar ocehan suaminya, ibu Canda ikut menyeka air mata. Sejak kecil, sadar bahwa dalam mendidik anak perempuannya diri sangat ketat. Anak gadis itu beberapa kali meminta berkuliah di Jakarta, bukan tanpa alasan, dengan sadar tahu bahwa Canda ingin mengejar cinta monyet alih-alih belajar. Tentu saja di larang sangat telak ketika pertama kali di ajukan. Canda juga mengajukan diri untuk mencari pekerjaan luar kota, namun karna ketakutan yang tak berdasar, Bu Inah terus saja membatasi anaknya dengan hasil akhir hanya menjadi guru honorer sementara gaji benar-benar tak layak untuk kehidupan anak muda jaman sekarang. Paham bahwa kebutuhan anaknya tidak akan terpenuhi hanya mengandalkan uang dari mengajar, ibu Canda tentu saja memberinya pekerjaan sampingan di rumah. Demi kebaikan anak, dalihnya. Toh, gadis itu tidak banyak membantah dan hanya iya-iya saja. Tidak tahu isi hatinya seperti apa karna Canda jarang mengeluh di depannya.

Pelan-pelan dua suami istri itu menangis sesenggukan. Memelasi nasib putri mereka satu-satunya dengan isak yang memilukan. Seolah kecelakaan besar telah terjadi menimpa anak gadis mereka. Padahal bocah itu hanya diam saja mirip anak-anak yang kerap bertingkah semaunya. Canda selalu seperti itu, kecuali pada laki-laki, anaknya sangat menjaga jarak. Itu pula yang menjadi kesedihan tersendiri. Fitnah itu rasanya sangat mustahil namun tetap menyakiti hati.

Bukan salah siapa-siapa ingin anaknya untuk tidak terjerumus dalam kelamnya pergaulan bebas. Itu bagus untuk beberapa alasan namun pelan-pelan menciptakan karakter penakut terhadap laki-laki dan terkesan sangat pemilih. Hingga di usia itu, Canda tak kunjung membawa laki-laki yang di minati. Kedekatannya dengan Fahmi dan kawan-kawan selama ini hanya di anggap teman biasa.

Anak gadisnya tidak pernah terbuka perkara cinta. Akan sangat malu dan mengalihkan pembicaraan tiap ayah dan ibunya menyinggung masalah pernikahan.

Kembali pada kenyataan bahwa kini di depan mata, ada dua manusia yang mengajukan diri untuk meminang putri kesayangan mereka. Pasangan suami istri itu saling tatap ketika air matanya menyurut. Merunding dalam isyarat ketika permintaan kelewat tiba-tiba di hari berat yang menerpa.

“Saya terima lamarannya pak.”

Tidak berpikir lama apa lagi meminta persetujuan sang anak. Lagi pula, Fahmi adalah satu-satunya pria yang paling dekat selain Aceng dan Paul dengan latar belakang paling jelas. Pun datang melamar baik-baik membawa orang tua, rasanya tak memiliki alasan untuk menolak. Di tambah usia putrinya yang sudah terbilang cukup matang untuk ukuran di kampung itu.

Pak Imron tersenyum kelewat senang. Lamaran yang berjalan lancar dan tidak bertele-tele. Sudah paham dan seperti rahasia umum percintaan monyet mereka sejak dulu, tidak akan ada yang membantah dan semua keburukan akan mengurai pelan-pelan ketika mengetahui Canda akan menikah dengan Fahmi. Lagi pula entah dari mana asal muasalnya, sangat kurang ajar tiba-tiba sang anak tertuduh menjadi wanita menjijikan.

“Boleh Fahmi ketemu Canda mak? Mau liat, udah tiga hari nggak ketemu”

Meminta izin, sudah tiga hari tak bertemu. Padahal lebih dari itu, sejak merajuk pertama kali. Jika di kalkulasi, rindunya seperti bilangan dalam matematika. Alias tak terhingga.

Dua hari yang lalu pria itu pamit akan pergi ke Cimahi, tanpa tahu jika ada orang gila yang mendekati kekasihnya sementara sisa temannya baru mengabarkan kemarin, tepat ketika ia kembali dari pekerjaan. Canda tak memberi kabar dan malah menutup akses. Tidak mengerti apa yang terjadi ketika hanya di tinggal selama dua hari, laju kabar aneh menyergap sang kekasih. Meski masih berstatus merajuk, namun gadis itu adalah kekasihnya. Siapa bajingan yang mengaku dan membuat gadisnya tiba-tiba menyandang gelar merebut suami orang? Idiot.

Sementara Bu Inah mengangguk pelan. Hati-hati Fahmi melangkah ke kamar, meninggalkan orang tua yang masih akan mengobrol banyak.

“Ssshhhuuttt…. ppsssssttt…. wikwiw… prikitiw….”

Mengetuk sekali lalu mengeluarkan suara aneh, Fahmi nyengir menatap wajah calon istrinya yang terlihat serius menggulirkan sentuhan pada ponsel. Duduk di bawah ranjang bersama adiknya, dua manusia itu bermain video game dengan khidmat. Canda bahkan tidak terlihat berantakan apalagi galau seperti dugaannya selama ini.

Gadis itu memang selalu seperti itu.

Kapan akan mengekspresikan apa yang di rasa? Canda mirip patung cantik tanpa ekspresi. Membuat khawatir saja. Fahmi paham, kepiawaian menyembunyikan perasaan seperti bodoh dan sok keren. Padahal jika di rengkuh sedikit saja, gadis itu akan menangis, sangat yakin.

Mereka saling tatap. Belum apa-apa wajah gadisnya sudah memerah dengan mendung gelap pada mata. Sudah jelas Canda akan menangis.

“…Sayang.. lu pegang hp ternyata, padahal gua ngechat, nelponin dan hampir sinting nahan kangen, edan memang”

“…….”

“Gua abis lamar pacar gua”

Masih berdiri di depan pintu dengan ocehan aneh yang tiba-tiba. Gadis itu menyeka air mata kasar lalu bangkit berencana menutup pintu.

“Keluar sana, gua malu”

Masih sibuk menghalau air mata sialan, padahal sangat memalukan. Entahlah, tiba-tiba kabar mengerikan tentang perkara yang tak pernah terduga tiba-tiba membuatnya malu pada sang kekasih. Rasanya mirip orang melakukan dosa besar meski dengan waras tak tahu apa yang terjadi. Gadis itu hanya malu dan takut.

“Lu malu kenapa neng? Lu nggak kangen sama gua kah? Edan lu ya”

Bersitegang dengan saling dorong pintu sebelum Fahmi tentu saja menang telak. Pria itu dengan paksa mengangkat tubuh kekasihnya dari depan lalu merebahkan hati-hati ke ranjang. Gerakkan sangat cepat dan tiba-tiba sebelum Canda sempat memberikan perlawanan.

Sang adik yang melihat adegan tidak pantas kontan berdehem lalu berlalu sambil memanggil ibunya berencana mengadu.

“Lepasih gua”

Pria itu memerangkap dari atas. Mengapit dua tangan hingga membuatnya tidak dapat bergerak. Sangat rindu. Rasanya hingga ingin menangis meski masih tak mengerti mengapa Canda terus saja menolaknya.

“Lu seharusnya nggak gini, neng. Kenapa menghindari gua? Masih ngambek perkara Nina kah?”

“Enggak, gua enggak gitu..?” LANJUTKAN MEMBACA

Write a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *