STICK-STUCK

STICK-STUCK

Malam datang lagi.

Dingin, gelap, pengap, pula bau apek yang merangsek dalam pernafasan. Amber menggigil sembari memeluk diri, pakaian kurang bahan tentu saja gagal melindunginya dari paparan suhu rendah. 

Dadanya perih, keringat dingin bercucuran bersama rasa lapar yang merongrong. Matanya juga gagal menangkap cahaya, yang terekam hanya siluet pria bertubuh gemuk, hitam legam, dan bau keringat serta tetek bengek bercampur aduk – tak sedap menguar. Penisnya menggantung di antara selangkangan sembari merangkak ke atas kasur–mendekat–berliur dan menjijikan.

“Jangan mendekat! Jangan mendekat atau aku akan bunuh diri! Jangan mendekat…” Amber menangis. Namun bayangan itu malah semakin membesar terus menghampiri.

Hingga

ZRRASSHHH

Satu sayatan kembali menggores dada. Amber kembali menyakiti diri – sebagai bentuk pertahanan dan pemberontakan ekstrem. Rasanya perih. Darah segar mengalir meski semuanya gelap. Lalu cutter itu ia goreskan pada bayangan yang tidak padat. Amber menghalau udara berkali-kali, berharap sosok itu ikut tersayat dan sakit.

Tapi, bukannya berhasil menyayat bayangan besar, Amber malah di datangi wanita yang membawa balok besar, lalu tubuhnya dipukuli hingga lumpuh, hingga tak bisa bergerak. Seakan semua saraf sensorik dan motoriknya mati rasa. Pukulan demi pukulan, seperti membunuhnya.

Lagi

Tubuhnya lebam di sana sini.

Dadanya mengalir darah

Perutnya lapar

Keringat dingin bercucuran.

Hanya menangis menjerit-jerit memanggil nama kakaknya meminta pertolongan sembari memohon–pengampunan.

“Amber! Amber! Sayang, sayang” seseorang memeluknya, menciumi pucuk kepala–juga melayangkan kata-kata jika semua hal baik-baik saja. “Gua disini, gua disini, Lev di sini, oke… gua disini.. Sayang” deru nafas kencang, tangis besar dan jeritan keras. Amber tidak tahu itu mimpi atau nyata. Rasanya sama. Sakitnya sama dan ketakutannya persis, tidak ada yang berubah meski itu terjadi di hari kemarin. Sudah lewat.

────୨ৎ────

Tidak ada yang istimewa. Selesai acara ijab kabul, Lev hanya menyiapkan beberapa nasi kotak yang ia pesan dari–dapur langganan dekat toserba yang di bagikan pada ketua RT dan beberapa saksi. Sementara paman Amber langsung pamit pergi dengan pola resah yang tidak berubah sejak pertama kali datang. Pun kepergiannya tidak bisa di negosiasi. Lev tidak akan mencegah karena memang perannya sudah berakhir.

Tidak ada dekorasi, tidak ada riasan dan benar-benar seadanya. Pula, Amber yang hanya diam melamun meski tidak lagi menunjukkan gejala panik atau ketakutan. Terang saja, wanita itu hanya bersembunyi di kamar, menunggu acara selesai. Menunggu Lev selesai ijab kabul. Siang itu masih ramai orang-orang mengobrol. Gadis yang baru saja mengganti statusnya sebagai istri itu tidak banyak bicara. Hanya bangkit dan duduk di sofa sembari memperhatikan sekitar.

“Tidur siang aja, sayang. Nanti gua ke kamar, mau ngobrol dulu sama yang lain” Lev mendekat, mencium kepala istrinya sekilas–membuat Amber tersenyum. “Apa mau sesuatu?”

Menggeleng, Amber mendekap suaminya–membuat Lev jatuh ke sofa. “Bulan depan mau masuk kuliah. Tiba-tiba gua kepikiran mau kuliah” katanya lagi, Amber nyengir meski tidak benar-benar tersenyum.

“Eh, udah nggak papa banget ini? Masih ada yang mengganjal, nggak? Gua cuma khawatir” kemampuan sosial yang buruk. Terakhir, bahkan Amber masih jatuh dengan panik saat Selamet datang bertamu.

Amber menggeleng lagi “Mau kuliah, mau tidur sama Lev” Katanya lagi, wanita itu terlihat agak pucat sebab riasan yang sudah bercampur air mata bersama pewarna bibir yang diseka paksa–menghilangkan–perona, menyisakan alas bedak saja ketika ijab kabul. Amber merias wajahnya sendiri dan makin terlihat cantik meski tak mengubah aura anak baru gede.

Lev bersumpah akan mendaftarkan pernikahan mereka jika usia Amber sudah legal. Dan rencananya, pria itu juga akan menyewa penata rias dan fotografer untuk memotret pernikahan mereka nanti. Nanti, ketika Amber benar-benar sehat dan siap. Kali ini, biarkan istrinya merasa aman dulu, merasa nyaman dan tidak ketakutan akan hal-hal yang sudah lewat. Membiarkan Amber lelap tanpa ketakutan dalam peluknya. Seperti biasa.

Amber melangkah ke kamar, sekali lagi di palingkan wajah ke belakang, menengok suaminya yang masih mengobrol dengan tetangga dan ketua RT entah membicarakan apa.

Plafon putih usang dengan garis-garis abstrak penanda akan terjadi kebocoran–membentang vertikal dari ujung ke ujung. Amber menatapnya lagi. Tubuhnya lurus dengan tangan sejajar terasa kaku. Matanya ikut tegak searah penglihatan, hanya melamun untuk beberapa saat. Kepalanya kosong namun ada yang tidak nyaman dalam hati. Selalu begitu.

Sudah berapa lama sejak insiden mengerikan? Yang membuatnya harus sibuk bolak-balik ke terapis hanya untuk kegiatan normal seperti sebelumnya. Dadanya di ukir indah berpola mawar merah dan seekor naga yang melingkar. Sementara selangkangannya membentuk kucing tanpa mulut atau Lev mengatakan jika itu adalah tokoh kartun favoritnya meski hanya mirip sedikit saja.

Sembari bersugesti dalam hati jika semua baik-baik saja. Tantenya  dikabarkan tewas tersengat listrik meski penyebab pasti masih simpang siur, ada yang mengatakan wanita itu tidak sengaja tersetrum dalam penjara ketika akan menghidupkan kipas, namun ada yang mengatakan jika seseorang datang dan membunuh dengan metode setrum, Amber tak terlalu yakin. Namun, bagaimana pun akhir dari penjahat–nyatanya tidak langsung membuatnya hidup tenang seperti semula.

Mimpi buruk datang begitu rutin. Pola yang hampir sama dan benar-benar terasa nyata. Meski tentu saja tidak separah hari kemarin. Dokter bilang, kondisinya membaik,  tentu saja, sudah berapa lama? Hampir enam bulan, Amber hanya perlu aktivitas seperti biasa dan menjadi produktif.

Menjadi produktif

Menjadi produktif

Menjadi produktif

Seperti selama ini yang ia kerjakan bersama Lev, menjadi produktif.

Apa tidak apa-apa kembali membuka akun sosial media lalu membuat video cara memecahkan soal matematika? Seperti yang biasa dilakukan. Itu juga sudah sangat lama.

Apa orang-orang di luar sana masih ingat? Bahwa dirinya adalah korban penyekapan, pengancaman, serta penganiayaan karena menolak menjual diri kepala pria-pria mengerikan–berkulit legam dekil dan bau. Mereka juga bergigi kuning serta aroma keringat yang busuk menusuk penciuman.

Saat mengingatnya, dada Amber berdebar tidak nyaman. Meski tidak parah. Rasanya hanya tidak nyaman dengan perasaan yang lagi-lagi gagal ia gambarkan bersama nafas yang tak stabil.

Apa orang-orang tau? Apa wajahnya terpajang di seluruh berita di media sosial? Sudah berapa lama Amber tak membuka ponsel karena takut. Namun memutuskan untuk berkuliah karena ingin. Dan benar, berdiam diri di rumah hanya akan membuatnya makin stres.

Diliriknya sekali lagi. Lev membelikan ponsel baru. Ponsel keluaran terdepan dengan desain paling cantik. Jika dulu, pasti ia akan senang luar biasa. Dulu, Amber merindukan hal-hal kecil akan dirinya sendiri. Amber yang kejam, Lev kerap membuat lontaran semacam itu meski itu terdengar berlebihan.

Apa harus membukanya? Mendaftarkan diri dengan akun baru? Memulai semuanya dari nol? Atau tetap melanjutkan dengan yang sudah ada? Begitu banyak pertanyaan hingga Amber memutuskan menutup mata, alih-alih mencoba. Perasaannya masih takut. Padahal, dokter sudah mengatakan jika memang ada yang mendapat sanksi sosial, itu adalah pelaku. Namun Amber malu, rasanya malu dan aib.

“Hey, make up nya belum di hapus itu, nanti jerawatan” suara khas kakak–suaminya masuk begitu terang dalam pendengaran, Amber kontan membuka mata.

“Udah pada pulang?”

“Belum, tapi gua mau liat lu. Jangan tidur sebelum hapus riasan. Lu benci itu, nanti jerawatan, sayang” Lev hanya mengintip dari pintu tanpa memperlihatkan seluruh tubuhnya. Senyum itu naik membuat dada menghangat, Amber merasa hidup saat melihat wajah itu meski berkali-kali hasrat ingin mengakhiri ketakutan terasa makin kuat.

“Hp baru, kenapa nggak di buka. Bikin konten eh, nanti gua jadi muridnya, jadi murid Amber yang nggak ngerti matematika”

“Muridnya kayak bapak-bapak”

“Emang, udah menikah berarti kayak bapak-bapak, kalau lu akan selamanya kayak anak-anak. Selamanya, sampe umur 70 tahun”

“Cih, udah sana obrolin lagi, nanti temenin buka hp”

“Oke” pria itu menghilang lagi. Kembali membuat Amber menatap plafon. Namun kali ini pikiran buruk sedang menepi. Wanita itu memutuskan bangkit dan berencana menghapus riasan.

“Ah! Iya, makasih pak RT, pak ustadz, makasih, makasih, makasih” Lev menyalami orang-orang. Menunduk sesekali dan senyumnya naik tinggi mengiringi kepergian orang-orang yang menjadi saksi akan keabsahan statusnya kini yang menjadi suami. Meski siri, namun keduanya halal dimata agama–dengan wali sah dari –adik ayah Amber yang awalnya enggan.

Saat pintu tertutup, ada kelegaan. Seharusnya, sejak awal begini. Amber tidak pernah pergi dan mereka menikah. Seperti keinginan adiknya itu. Kenapa tertipu oleh iming-iming dusta dengan data palsu dan polisi gadungan yang di bawa-bawa? Lev banyak menyesal, namun menyalahkan diri sendiri sudah ia lakukan hingga hampir gila. Sekarang, yang terpenting adalah Amber sehat dan kembali seperti biasa, serta rencana menjalani masa kuliah meski ragu mengingat kemampuan bersosialisasi Amber masih benar-benar buruk. Istrinya belum bisa bertemu dengan orang asing yang membawa dejavu pada kejadian itu. Dan tiap sekelebat bayangan aneh terlintas, Amber akan mengalami serangan panik hingga sesak nafas. Atau pingsan. 

“Udah hapus make up, sayang?” Kembali masuk ke kamar kecil dengan nuansa gadis yang begitu kental, Lev tersenyum saat melihat Amber sibuk memasang banyak perlengkapan untuk membuat konten. Kegiatan yang banyak tertanggal karena warisan bodong dan pengobatan psikis. Melihat adiknya kembali sibuk setelah melewati masa sulit membuat Lev senang.

“Gua mau bikin konten” Amber memberi senyum sekilas “Lu kalau mau ke toko, gua nggak papa di rumah sendirian. Nanti gua telpon kalau menemukan perasaan gua nggak enak”

“Ini hari pernikahan, katakanlah ini hari pengantin. Jadi, gua mau temenin lu. Besok aja kerjanya”

“Sana ke toko, Lev”

“Bikin konten aja bikin konten”

“Ish” Amber mendengus. Lalu kembali sibuk, sementara Lev membuka ponsel baru “Mbak-mbak yang di toko itu namanya siapa? Gua cemburu, tapi baru sempat bilang” menatap suaminya lagi, Amber penasaran.

“Ah, itu namanya mbak Mina,  lu udah tanya hampir 10 kali. Dia umurnya 35 dan dia udah punya suami dan anak. Dia yang menghandle toko. Kakaknya temen gua”

“Lu suka?”

“Hah?” Lev lagi-lagi di buat nyengir terperangah. Amber sudah bertanya itu juga, namun tampaknya akan terus bertanya hingga telinganya meledak dengan jawaban.

“Lu suka, sama mbak  Mina?”

“Yang bener aja”

“Gua pikir lu lebih suka sama yang usianya di atas lu. Gua nggak peduli lu menikah sama gua karena kasihan atau karena lu cinta beneran. Yang penting, lu punya gua, gua istri lu, nggak mau ada orang lain” suaranya serius, khas abege, dan Lev tertawa.

“Kan gua udah punya istri. Sibuk gua. Satu aja kayaknya rewel dan cerewet. Nggak bisa bayangin kalau ngurus dua perempuan”

“Iya, lu kudu fokus di gua aja. Selain kerja, lu kudu perhatian sama gua, full banget, sampe gua muak”

“Lu ada rencana muak?”

“Nggak sih, gua cinta Lev, cinta sekali, cinta mati. Gua mending mati dari pada hidup tanpa Lev”

“Jangan membicarakan kematian. Gua benci dengernya”

Amber mengangguk. Semua alat terpasang sempurna. Hanya menunggu ponsel yang kini di tangan, mendaftarkannya pelan-pelan.

“Lev”

“Iya sayang”

“Kalau pengantin baru itu…” Amber menatap layar ponsel, lalu bergantian pada suaminya.

“Apa?”

“Bercinta, ya?”

“Bercinta apa?’

“Itu..”

“Apa?”

“Ish!”Amber memukul lengan besar. Wajah Lev jelas meledek. “Kiss, terus buka semua baju. Pokoknya menyatukan kelamin” Katanya lagi. Amber sangat transparan meski bahasa yang digunakan kelewat kaku.

“Iya, suami istri kayak gitu. Tapi gua nggak akan melakukannya sampai lu siap”

Amber menunduk. Pikirannya hanya bingung. Ia merasa Lev adalah tempat teraman, tempat nyaman dan tidak berbahaya. Mereka juga tidur bersama selama ini, dan Amber tidak takut. Justru sebaliknya. Rasanya ingin terus menempel dan tidak sudi berpisah – terus meminta pelukan dan takut di tinggalkan.

“Jangan memikirkan yang menyakitkan, gua ada disini, jangan takut dan sedih”

Amber mengangguk lagi. Meski tidak tahu apa yang di angguki. Ini hanya  hangat dan menyenangkan. Lev adalah dunianya, Lev terbaik dan Amber mencintainya sampai mau gila.

“Gua tau lu masih trauma” Kemudian mencium pucuk kepala istrinya”

“Gua trauma? Gua nggak tau, tapi nggak saat sama lu, Lev” Ambar meletakkan ponsel yang sedang berjalan, mencari dekapan yang paling bisa membuatnya merasa aman “Gua kayak mau sinting, gua ketakutan setengah mati, gua masih mimpi buruk. Tapi gua merasa aman sama lu” sekali lagi Amber menegaskan perasaannya. “Dari semua hal, asal sama Lev, nggak papa”

Pria itu tidak langsung menjawab. Hanya mengusap-usap kepala istrinya sayang. Rasa bersalah itu menyusup lagi tanpa permisi.

“Mau cemilan gak?”

“Ada cemilan apa?”

“Gua punya sesuatu”

“Apa?”

“Merem geh”

Amber duduk tegak, lalu mulai menutup mata. Sementara Lev menciumi wajahnya. Semuanya, tanpa terkecuali. Seperti kecupan-kecupan ringan namun berharga, sebelum memegang dua rahang istrinya, lalu mengecup bibir itu lembut. “Apa gua nakutin?” saat Lev bertanya, Amber menggeleng pelan. Ketika mendapat izin, pria itu kembali melanjutkan. Geraknya sangat lembut dan hati-hati. Pelan-pelan lidahnya menyelinap, lalu kembali menyecap bibir hingga basah. Hanya sekilas.

“I love you, Amber. Gua sayang banget, jangan takut dan jangan merasa sendirian. Gua ada di sini walau hujan petir badai halilintar. Nggak akan pergi, nggak akan kemana-mana. Jadi abang, suami dan temen lu. Jangan takut lagi, huh?”

Amber membuka mata, melihat manik tulus dari suaminya bersama berbibir basah. Lengkung bibir ke bawah membawa haru penanda wanita itu akan menangis.

“Loh, kok malah mau nangis lagi?” Lev kembali memeluknya “Kudu berapa maaf lagi, ya? Rasanya, tiap kesakitan yang lu rasain, itu adalah bagian dari ketidakbecusan gua sebagai abang”

Amber bangkit, lalu duduk dipangkuan suaminya, lagi-lagi memeluk Lev kelewat kencang. “Nggak ada, sekarang gua punya harta yang lebih berharga dari dunia dan seisinya dan dada yang lebar buat numpahin segala rasa takut. Gua baik-baik aja” ada kelegaan. Tubuh kurus itu terasa habis dalam pangkuan sementara dekapan tetap gagal membereskan sesuatu yang kacau di dalamnya.

“Mau bikin konten, apa gua gendong sambil makan cemilan?” Lev mencoba mengalihkan.

“Bikin konten, gua bilang, nggak papa kalau lu mau pergi, asal balik sebelum sore”

“Nggak mau, mau sama istri” 

Amber terkekeh. Rasanya menyenangkan sekaligus lega. Tidak apa-apa jika nanti malam atau beberapa saat kemudian mimpi itu datang dan membuatnya menangis lagi. Yang terpenting, saat ini perasaannya aman dan nyaman. LANJUTKAN MEMBACA

Write a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *