RED ANYELIR IS MINE!

RED ANYELIR IS MINE

PLEASE READ!

🍒OOC; All characters belong to KIM SEOKJIN BTS

🍒Tags and warnings : NSFW, blood, knif, manipulation, etc.

🍒Not for minor

🍒Plagiarism of any kind, including but not limited to copying, pasting, recycling the idea, or reposting the content to another platform without proper attribution and permission is strictly prohibited. Please respect my time and effort. If you wish to share this work, please provide a link to this page or properly cite the source.

🍒Maafkan jika menemukan typo, selamat membaca.

Mimpi buruk lagi?

Aku meraup oksigen mirip orang kelaparan. Seperti ikan yang kembali di lempar ke air setelah terpapar udara — terengah-engah, namun tetap hidup. Masih begitu segar, bagaimana dua tangan besar memblokir aliran udara ke paru-paru. Seseorang mencekikku, aku bersumpah dan itu satu-satunya alasan aku terjaga entah dari tidur sepanjang apa.

Aku tidak ingat berapa lama aku terbaring. Kepalaku sakit dan tiap kubuka kelopak mataku yang kelewat berat, kepalaku pusing.

Lagi-lagi hanya Lucas dengan senyum tulusnya. Kurasakan tangan lembut membelai kepalaku dan sesekali menyeka keringat pada pelipis yang berjatuhan. Rasanya gerah sekaligus dingin. Aku tahu tubuhku tidak baik-baik saja.

“Apa aku sakit lagi?” Suaraku parau, tenggorokanku benar-benar sakit dan setelah ini, aku akan memeriksa cermin untuk memastikan tidak ada tanda kekerasan–bekas cekikan dan meyakini bahwa aku mimpi. Benar, hanya mimpi.

Lucas mengangguk. Kulihat gurat khawatir pada wajah tampannya.

Sebenarnya, aku ini kenapa? Aku merasa bersalah pada suamiku ketika yang kulakukan akhir-akhir ini hanya terbaring. Dan ketika bangun, yang kuingat hanya ingatan jauh sebelum hari ini datang. Lalu kembali terbaring, dan kembali pada ingatan aneh. Aku merasa seperti orang gila–membutuhkan bantuan ahli jiwa. Aku mengalami halusinasi dan delusi secara bersamaan. Sementara Lucas hanya merawatku dengan telaten. Seharusnya dia membawaku ke psikolog atau sejenis. Ku pikir dia yang paling tahu.

Selang infus membebat tanganku hingga darah naik. Sudah berapa lama cairan itu masuk dalam tubuhku? Berapa lama aku tidur? Apa yang terjadi?

Lucas membantuku bangun. Pria itu membuat tumpukkan bantal pada kepala ranjang agar aku nyaman bersandar di sana. Lalu kembali mengusap rambutku.

“Makan? Aku sudah membuatkanmu makan malam” Bariton merdu mengalun dalam rungu. Aku menatapnya sekali lagi, mencari celah di antara wajah tampan tanpa sela. Apa kekurangannya? Kebaikan apa yang kulakukan hingga memiliki suami sebaik Lucas? Aku tersenyum diantara beratnya kepala, diantara pegal-pegal dan pinggang yang sakit.

Kamar pengantin sudah tak lagi sama.

Sprei yang kemarin berwarna merah menyala, kini berganti menjadi seputih salju. Kulihat potret pernikahan kami dalam bingkai usang sederhana, berdiri doyong di antara pigura–asing yang tak kutahu apa.

Kulihat dalam balutan gaun putih, rambut merahku menyala bersama senyum gembira. Aku tak akan berekspektasi macam-macam tentang bagaimana Lucas menginterpretasikan rasa bahagianya. Pria itu hanya memasang wajah datar dalam potret, di rumah dan di mana pun. Sejauh ingatanku tentangnya.

Lalu api berkobar dari pemanas alami ruangan. Membakar satu balok yang terlihat sedikit lagi tanpa sisa, sebelum penelitianku pada ruang buyar karena nampan berisi aneka ragam masakan terhidang. Lucas membawa meja kecil tepat di hadapanku.

“Makan, aku akan mengajakmu jalan-jalan jika tenagamu pulih. Kamu terlalu banyak berbaring karena sakit. Aku akan menggendongmu untuk melihat betapa indah bulan malam ini” Ada kesedihan tiap kata yang dilontarkan. Jujur saja, aku merasa bersalah dan ingin menangis.

“Mau di suapi?” Aku mendongak saat Lucas menawari. Kepalaku kontan menggeleng. Hati-hati, kumasukkan potongan daging bersama nasi hangat serta sup ikan dengan asap yang mengeluarkan aroma nikmat. Bahkan mulutku rasanya kaku saat mengunyah.

Ini makanan terenak. Aku lupa rasa masakan orang lain selain dari tangan tampan milik suamiku. Lucas mengerjakan segalanya sementara aku hanya merebah seperti orang lumpuh dengan isi kepala acak-acakan.

Dan memperhatikanku sambil tersenyum. Atau hanya perasaanku saja? Kudongakkan kepala untuk mendapatkan jawabannya.

Lucas benar tersenyum.

Rasanya, ketampanan itu seakan membuatku tersedak.

“Kamu cantik sekali” pria itu berbisik. “Aku selalu suka Anyelir merah yang kotor” Lontaran Lucas yang tiba-tiba membuatku tersenyum meski tak sepenuhnya menangkap arti dari Anyelir merah yang kotor. Atau memang tubuhku bau dan dekil? Aku tidak ingat kapan terakhir kali mandi dan kapan aku melihat matahari.

“Aku akan mandi setelah ini. Setelah makan, tubuhku membaik” Aku mencicit sembari memasukkan potongan daging lagi.

“Pelan-pelan saja”

“Hmm”

Aku fokus pada suapan demi suapan meski sesekali kulabuhkan pandangan pada pria tampan yang kini membuka bajunya. Lucas mengganti pakaian sementara aku menunduk karena malu.

Ini tidak wajar dan aneh. Aku bahkan tidak ingat sudah berapa lama kami menikah. Aku lupa kapan malam pertama kami–bahkan bagaimana kemanisan sebelum meresmikan hubungan ini. Aku hanya tahu Lucas suamiku dan kami saling mencintai.

Kami pasangan bahagia.

Dan Lucas mencintaiku.

Hanya itu saja

“Aku akan mandi juga”

Kusodorkan meja kecil padanya. Semua masakan yang tersaji habis ludes sementara Lucas tersenyum melihatnya.

“Aku akan memandikanmu”

“Aku tidak–maksudku, aku ingin mandi sendiri. Hanya tolong lepaskan infus? Aku merasa sehat dan baik-baik saja” Dan itu serius, aku tidak sakit kepala, tidak pegal-pegal dan pinggangku tak lagi sakit. Ini terlalu cepat untuk pereda nyeri yang bahkan belum kutelan.

Lucas menaikkan sebelah alisnya. Melihatku agak lama dengan tatapan seperti biasa. Lalu mulai membuka selang infus sebelum melangkah menjauh membawa bekas makanku.

Rasanya seperti terbebas setelah dibelenggu lama.

Selang infus. Aku tidak ingat, namun rasanya muak dengan benda itu. Tentu saja dengan alasan yang juga tak begitu ku mengerti.

Saat ku rentangkan tangan, kurasakan kehangatan terpancar dari perapian yang kontan merambat hingga dada. Oksigen di ruang sama–seperti ketika aku membuka mata, namun tak kutangkap untuk alasan–mengapa susunan proton, elektron dan neutron yang reaktif terhadap perasaanku yang menghangat. Itu mustahil dan tidak masuk akal.

Aku menyukai vibrasi ini.

Lalu kulangkahkan kaki menuju kamar mandi, meninggalkan Lucas yang secepat kilat sudah kembali ke ranjang sembari memperhatikanku seakan aku akan berlari darinya.

────୨ৎ────

Aku berusaha fokus pada perjalanan kami.

Bukan, bukan karena kepalaku sakit atau pegal-pegal. Namun kenyataan jika leherku memiliki tanda melingkar kemerahan bekas cekikan atau sesuatu sejenis. Awalnya ingin ku abaikan karena biasanya, setelah bangkit dari tidur panjang, aku akan memiliki bekas memar pada area-area tertentu. Seperti kepalaku yang memiliki bekas jahitan, punggungku yang bengkak, pergelangan tangan seperti bekas belenggu.

Namun, kali ini sesuatu mengusik pikiranku.

Saat kutanya pada Lucas, suamiku akan mengatakan jika aku mencekik diriku sendiri, atau jatuh dari ranjang dan melakukan hal-hal di luar nalar sembari menutup mata alias tanpa kesadaran.

Lontaran itu diperkuat dengan bukti video CCTV yang aku sendiri tidak begitu yakin karena resolusi menyedihkan di perparah mataku–seperti mengalami penurunan.

Aku tidak tahu.

Jujur saja aku tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhku. Selama aku sadar dan otakku bekerja, selama itu juga aku memikirkan apa yang terjadi.

Ada apa? Apa yang kulewatkan dan kenapa tubuhku mudah jatuh? Lalu ku kumpulkan kepingan-kepingan ingatan dan berharap dapat menyusunnya seperti puzzle yang rumit. Namun nihil.

“Kamu mikirin apa?” Suara Lucas membuyarkan keliaran isi kepalaku. Tanganku masih berada di antara leher–membuat gerakkan seperti orang mencekik karena sungguh, itu masih terasa menyakitkan, bekas kemerahan itu.

Aku menggeleng mereaksi pertanyaannya.

“Kita akan kemana, Lucas?”

Dan kulihat keningnya mengerut sedikit “Bagaimana dengan pantai? Pantai malam sangat indah dan menenangkan” Imbuhnya pelan. Di Musim panas, pantai bisa menjadi opsi romantis bagi pasangan suami istri–terlebih status pengantin baru seakan menciptakan momen dari riuh ombak yang membawa angin terdengar syahdu.

“Itu terdengar romantis”

“Romantis, benar” Lucas mengulas senyum.

Lalu kutatap lekat eksistensinya dari samping. Kuperhatikan bagaimana wajah itu terpahat maha sempurna sembari lantunan syukur. Aku beruntung.

Hanya itu. Malam ini, akan ku tepis ingatan tentang bagaimana kondisi ingatan yang berantakan atau bekas luka. Aku ingin tertawa atau setidaknya merasakan hangat dekap pria tampan yang menyandang status suamiku.

Meski dengan bekas cekikan aneh, kepala bekas jahitan atau memar.

Aku ingin tertawa malam ini.

Kami tidak banyak mengobrol layaknya suami istri yang saling mencintai. Yang kulihat hanya wajah Lucas yang datar–fokus pada jalanan tanpa berencana memecah keheningan bercampur canggung meski dengan suara musik atau paling tidak instrumental.

Deru mesin menjadi satu-satunya latar. Aku bahkan tidak tahu letak ponsel.

“Lucas”

“Yes, sweetheart”

“Ini tanggal berapa?”

Lalu Lucas menatap mataku beberapa detik sebelum kembali fokus pada jalanan. “Tanggal 8 Mei”

“Ah..” Aku menggigit ujung ibu jari. Sebenarnya, aku tidak tahu lagi interval antara sakitku minggu kemarin dan hari ini. Rasanya pusing.

“Lucas”

“Yes, baby”

“Apa kamu melihat ponselku?”

“Ponselmu ada dalam lemari, aku lupa memberikannya”

Aku mengangguk lagi untuk jawaban itu. Setelahnya, semua hal benar-benar lengang tanpa ada percakapan sama sekali. Aku mulai mengantuk dan tidak berencana bertanya berapa lama lagi perjalanan menuju pantai indah dan romantis. Pelan-pelan kutanggalkan kesadaran sembari menyandar pada belakang kursi.

Begini saja nyaman.

────୨ৎ────

Lucas menggoncang tubuhku lembut. Kadang aku merasakan lidahnya menyapu bibirku sembari menggelitik ketiak pelan. Aku benar-benar membuka mata dan melihat senyumnya cerah–yang bahkan tak ingat kapan terakhir aku melihat ulasan itu terpatri begitu tulus dan indah.

“Apa kamu tidak ingin bangun? Lihat! Pantai di luar benar-benar memukau” Suaranya semangat saat kaca jendela terbuka lebar. Angin menghantam bagian samping rambutnya yang meliuk seiring pawana menerpa.

“Benarkah?” Aku mengucek mata untuk mendapatkan kesadaran penuh. Kulabuhkan tatapan pada hamparan luas–pasir putih — terasa begitu hangat meski berkontra dengan ombak yang membawa angin besar.

Wajahku tersapu dan aku memejamkan mata sembari menghirup aroma garam yang kuat. Ini menyenangkan.

Benar-benar menyenangkan hingga ingin menangis — lagi-lagi tanpa alasan jelas.

“Alam menyajikan pemandangan seindah ini sementara aku hanya terbaring sakit di kamar. Oh! Itu menyedihkan” Kataku sambil terisak. Aku menatap Lucas yang mendengarkan ocehanku.

“Kamu sembuh, kamu baik-baik saja, sweetheart, dan akan selamanya begitu” Imbuhnya pelan. Lucas menggiringku pada dekap lembut. Lalu kurasakan aroma musk bercampur citrus dari tubuhnya. Ini juga menciptakan vibrasi aneh yang lagi-lagi gagal ku deskripsikan.

“Apa kamu akan menangis lebih lama? Alam mengetuk-ngetuk kaca meminta kita menjelajah lebih bebas. Ayo keluar” Tangan besarnya menyapu rambut merahku yang berkibar. Lalu kurasakan lagi kecupan sekilas di pucuk kepalaku.

Di detik ini, aku merasa jika kami adalah suami istri sungguhan–dengan perasaan dicintai. Itu membuatku nyaman.

“Aku membawa karpet, makanan, dan baju ganti. Ayo lakukan hal menyenangkan, Anyelir”

Aku mengerat, lalu mendongak–mengecup bibirnya sekilas sebelum mengusap air mataku kasar.

“Ayo keluar”

Pantai malam dengan pendar lampu di sepanjang garis pantai mendeskripsikan romantisme panorama yang berkolase dengan artian harfiah antara suami dan istri — bergandengan tangan–melawan arus angin.

Gaun malam yang kukenakan meliuk-liuk searah angin bersama rambut yang berkali-kali menghantam lengan atas suamiku. Lucas mengusapnya sesekali lalu menyerah pada angin dan tidak lagi terganggu ketika merah itu bahkan menutupi wajahnya.

“Dimana kita akan menggelar karpet?” Suaraku kalah oleh debur ombak dan angin yang menghantam bersamaan. Namun Lucas mendengarku dengan baik.

“Di dekat tempat pertama kali kita datang. Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar, sayang”

Aku mengangguk sebentar. Kurasakan tangan besar dan hangat mengerat pada jemari kecilku. Genggaman itu menulari sampai hati. Aku benar-benar bahagia–bahkan sulit mengatupkan rahang meski gigiku kering karena angin.

Langkahku terhenti ketika Lucas menahannya.

Diantara batang pohon kelapa sepanjang garis, di antara kelap-kelip bintang di langit, lalu pendar-pendar lampu nelayan sepanjang mata memandang dan aroma laut di musim panas. Aku bersumpah jika jantungku bertalu-talu dengan ritme aneh bersama perut yang tergelitik menyenangkan.

Dan dari semua hal, bagian dimana wajah Lucas terlihat jutaan kali lebih tampan di bawah sinar lampu terang mengalahkan segala hal yang terekam retina malam ini. Aku bersumpah tidak ada yang lebih indah dari wajah itu. Wajah Lucas, suamiku.

Dua tangannya menangkup rahangku. Mendongakkan wajah sebelum menyambut bibirku lembut. Ini mendebarkan lebih dari apa pun.

Saat lidah lembutnya menyapu rongga. Kurasakan benda itu menari-nari–menggelitik mulutku menyenangkan. Membelit lidahku, lidah kami dan kami beradu dalam saliva saling berseberangan nakal.

Lucas mengeratkan dekapan. Meremas bokongku pelan-pelan dengan ciuman yang makin melesak dalam. Aku melenguh di antara stimulasi yang diberikan. Bagaimana benda itu menekan tiap titik sensitif pada rongga mulutku, atau bagaimana Lucas bernafas diantara oksigen yang seakan menipis.

Aku mencari keseimbangan diantara limbung karena aktivitas itu tiba-tiba membuat kakiku seperti permen jeli.

Aku tidak yakin. Maksudku, kami sudah menikah. Kami mungkin saja pernah melakukan hal lebih intim dari ini. Benar, kan? Dan bagian menyedihkannya adalah aku tidak ingat.

Maka, perlakuan sederhana seperti berciuman di pinggir pantai membuatku seperti akan melayang saking senangnya. Lucas menahan tubuhku sepenuhnya dengan tangan besar yang melingkar di pinggangku.

Aku berdebar entah untuk keberapa kali. Ini memalukan sekaligus menyenangkan.

“Kamu nggak papa?” Tanyanya kemudian. Lucas melepas pagutan kami saat aku benar-benar seperti kehabisan nafas. Dan pria itu bertingkah sopan–seperti bukan penyebab dari aku meraup oksigen mirip orang lapar.

Aku menggeleng.

“Ayo makan sesuatu” Lucas mengangkat tubuhku dengan berat badan yang makin menghilang. Aku yakin, terakhir aku menimbang, berat badanku berkisar pada angka 45 atau sekitar itu. Namun saat ku injakkan kaki pada alat digital massa tubuh, aku menemukan angka 36 di sana. Itu benar-benar drastis meski aku juga tidak ingat kapan berat badanku 45. Seperti massa tubuh ideal–seperti biasa dan oh! Entah ingatan dari mana. Atau aku hanya tersugesti masa lalu, atau itu terjadi 10 tahun lalu. Aku tidak ingat.

“Aku merasa berat badanku makin menipis” Desisku lembut. Aku menyumpal diantara ketiak.

“Itu kabar baik bagi kebanyakan wanita” Lucas mencium pucuk kepalaku sekali lagi.

“Kamu benar, tapi aku merasa kehilangan berat badan hingga membuatku tidak cantik–kamu mengerti maksudku”

“Anyelir selalu cantik. Istriku selalu cantik dan akan terus begitu”

“Kadang aku tidak bisa membedakan antara pujian tulus atau hanya ingin menyenangkan hatiku saja”

“Aku bersumpah, sayang. Kamu sangat cantik asal rambutmu merah”

“Rambutku?”

“Hm.. aku mencintaimu”

Aku tidak menjawab lagi. Lucas mengatakannya dengan ekspresi yang–selalu gagal ku prediksi. Tepat saat langkahnya terhenti, lalu tubuhku di turunkan hati-hati.

“Tunggu sebentar, aku akan mengambil karpet dan yang lainnya”

Satu anggukan menjadi langkah besarnya. Ku pijakkan kaki pada pasir lembut yang terasa menyenangkan. Sesekali kubenamkan dua kaki dalam-dalam lalu pura-pura kabur ketika ombak datang.

Ombak merangkak berusaha menggapai meski tak sampai. Aku tertawa untuk alasan sederhana.

Atau ketika satu kerang terdampar bersama debur besar.

Kerang putih membentuk–mirip ombak pada bagian bibirnya.

Apa kerang hidup berkelompok? Atau mandiri? Kenapa sendirian malam-malam dan tersesat hingga pesisir?

Aku mengedar pada Lucas saat pria itu memanggil namaku berulang. Kutangkap karpet yang sudah terpasang sempurna–bersama makanan yang disusun begitu pas. Aku melengkungkan senyum sembari menggenggam satu kerang yang ikut terguncang dalam erat diantara jeriji.

“Duduk di sini, kita akan minum bersama”

Aku mengangguk menurutinya.

“Lucas”

“Yes, baby girl”

“Apa kerang hewan yang berkelompok?”

Lucas menatap ke arahku sebentar. Tangannya sibuk mengisi gelas tinggi dengan wine berwarna merah tua.

“Kerang hidup berkelompok dalam beberapa konteks, tapi secara umum, kerang adalah hewan laut yang hidup dalam koloni atau komunitas. Tapi perlu diingat bahwa kerang juga dapat hidup sendiri tergantung pada spesies dan lingkungan hidupnya”

Aku membuka genggaman tanganku. Menunjukkan pada Lucas satu kerang yang tersesat hingga berpisah dengan koloninya atau memang ia hidup secara mandiri, luntang-lantung mirip dalam gambaran romantisasi menyedihkan. Isi kepalaku agak sinting.

“Apa spesies ini hidup mandiri, atau berkelompok?”

Lagi, Lucas hanya melihat sekilas lalu tersenyum formal.

“Kerang berwarna putih atau memiliki berbagai warna dan bentuk tergantung pada spesiesnya. Tapi, warna kerang nggak menentukan apakah mereka berkelompok atau tidak. Yang penting adalah perilaku dan habitat kerang itu sendiri”

Aku mengernyit. Lucas memberikan jawaban yang kelewat baku hingga aku sulit mencerna.

“Lucas, tidak bisakah kamu menjelaskan secara sederhana? Menggunakan bahasa bayi”

Pria itu tertawa sekilas–yang dimataku tidak seperti orang yang menanggapi hal lucu.

“Dalam ekosistem laut, kerang berperan penting sebagai penyaring air dan sumber makanan bagi hewan lain. Mereka hidup berkelompok untuk meningkatkan peluang bertahan hidup dan reproduksi”

Aku menangguk pura-pura paham. Meski yang kutangkap adalah kerang yang harusnya bersama koloninya untuk menciptakan peluang hidup yang lebih tinggi. Aku kembali meratapi bongkahan keras berisi binatang lunak di dalamnya.

Oh, apa kamu juga hidup menyedihkan? Apa kamu dikucilkan lalu terdampar tak tentu arah? Apa ingatanmu juga berantakan? Apa kamu yatim piatu dan hidup sakit-sakitan?

Aku meringis.

Seperti aku sedang dalam sensitivitas yang tinggi.

“Anyelir, apa kamu menangis lagi?”

Aku kaget karena Lucas menyentuhku dengan gelas berisi minuman. Kusapu air mata di pelupuk hasil kerja keras otakku menginterpretasi hal-hal konyol. Sepertinya menyakiti diri sendiri menjadi bagian dari hal lumrah yang kulakukan selagi kesadaranku sepenuhnya ku kendalikan.

Ini menggelikan.

“Apa kamu menangisi kerang?” Lucas tertawa kecil. Ku raih gelas tinggi, lalu memicing ke arahnya tak terima.

“Ini menyedihkan”

“Apanya, sayang?”

“Kerang”

“Kenapa?”

“Kupikir peluang hidupnya rendah setelah berpisah dengan koloninya”

Lucas menggeleng. Lalu mengusap rambutku sayang sebelum mencium helaian yang menjuntai panjang.

“Dia bisa hidup secara mandiri. Justru saat kamu membawanya dalam genggaman, dalam erat tanganmu peluang hidupnya makin terkikis hilang”

“Benarkah?” Aku membulatkan pupil.

“Hmm”

“Aku harus melepaskannya ke air”

“Itu keputusan bijak, little baby”

Lalu ku letakkan gelas berisi wine sembarangan. Kulangkahkan kaki kembali pada ombak yang–awalnya membawa kerang itu padaku.

“Ah, aku memang bodoh. Aku tidak tahu sejak kapan aku sebodoh ini dan tidak mengerti tentang hal-hal di bumi. Aku bahkan tidak ingat hari. Aku tidak tahu mengapa aku sudah menikah, dan berapa usiaku sekarang. Aku tidak ingat, kerang. Jadi maafkan aku yang tidak tahu”

Kulepaskan pelan-pelan. Kerang yang bergeming.

Apa harus kulempar jauh?

Apa dia akan mati karena tekanan udara dan massa air?

Sepertinya aku hanya akan menghabiskan waktu menangisi kerang dengan mempertegas kebodohanku. Seharusnya aku bersama Lucas dan kembali menciptakan kupu-kupu di perut.

“Sudah selesai dengan kerang?”

Lucas tersenyum lagi. Aku mengangguk sembari menyapu sisa basah pada mataku.

“Kamu sangat perasa. Apa kamu selalu seperti ini sebelumnya?” Lucas melempar pertanyaan yang juga tak mampu ku jawab. Aku tidak tahu seperti apa perangaiku sebelum ini. Sebelum rebahku lama dan sakit-sakitan yang membuat ingatanku buyar dan cenderung hilang.

“Aku tidak tahu” Jawabku jujur.

“Ah, benar”

Dan senyum itu tak hengkang. Kadang, aku tak mampu mengartikan senyumnya yang berbeda pada tiap konteks atau situasi. Aku hanya melihat wajah tampan yang kupuja diam-diam seperti gadis bodoh yang jatuh cinta pada pemuda tampan.

Dia suamiku, meski aku merasa ada sekat tinggi yang tak mampu kulampaui meski ingin.

“Minum lah, kamu belum pernah meminumnya bahkan di usia legal” Lucas mengangkat gelasku yang sempat kuabaikan. Aku mengangguk–menerimanya ramah.

“Apa aku akan kehilangan kesadaran setelah minum ini? Seperti ingatan pada orang-orang yang meneguk alkohol lalu menjadi agresif”

Lucas menatapku lagi “Bisa iya bisa tidak, tergantung pada tiap manusia”

Aku kembali menyodorkan gelas itu “Aku tidak mau menjadi tidak sadar dan berperilaku di luar kendali. Aku ingin hidup. Kurasa, sakit-sakitan lalu terbaring di atas ranjang hingga berminggu-minggu sudah cukup membuatku menyedihkan. Mengapa aku harus meminum cairan yang membuat kesadaranku berantakan?”

Lucas tertawa. Kali ini dengan suara lebih keras hingga matanya menghilang. Kurasakan tawa sesungguhnya ketimbang beberapa waktu yang terasa seperti dipaksakan.

“Kamu gadis bodoh, Anyelir. Aku bersumpah akan mengganti isi kepalamu. Aku menyukaimu, tapi tidak suka isi kepalamu, kamu bodoh dan dungu. Isi kepalamu kosong dan benar-benar menyedihkan”

Lucas mengatakannya campur tertawa. Aku bingung harus mereaksinya dengan apa. Itu penghinaan, namun karena tertawa, aku menganggapnya bercanda. Namun terlalu pedih untuk bercanda meski aku mengakui jika itu fakta.

“Benarkah? Ah, aku terluka” Kupegang dadaku dan meringis.

“Eh, aku menyakitimu? Aku minta maaf”

“Tidak perlu, itu kenyataan”

“Tapi kamu menggemaskan, Anyelir. Terlepas dari kebodohan atau isi kepalamu yang dungu. Kamu lucu”

Aku mendengus “Kata lucu adalah pilihan yang tepat untuk menutupi bodoh. Kadang, orang cenderung dianggap lucu saat kebodohannya di level tertentu” Aku meraih apel yang tergeletak di samping Lucas. Menggigitnya kuat tanpa melihat ke arah pria yang sejak tadi tertawa.

“Anyelir, apa kamu marah?”

“Aku tidak”

“Kamu marah”

“Aku tidak, Lucas. Aku sudah dewasa dan paham. Aku bahkan tidak ingat nama lengkapku. Jangankan ilmu sains atau fisika kimia. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa”

Lucas diam. Pria itu menyesap wine dan menatap lurus pada hamparan lautan. Aku juga tidak berencana mendebatnya atau memaparkan alasan mengapa aku begini-begitu. Aku bahkan sakit kepala dalam waktu lama untuk mengingat-ingat kapan aku periode meski tetap gagal.

“Anyelir..”

“Hum?”

“Ingin melakukan hal menyenangkan?”

Aku tidak menjawab namun mengangguk yang jelas terlihat olehnya.

“Kemarilah, duduk di pangkuanku”

Aku diam sebentar, kuhabiskan apel dalam genggaman buru-buru. Entah kenapa, entah apa alasannya, tapi aku selalu menghabiskan makanan yang sudah kumulai. Aku selalu seperti itu meski tidak tahu sejak kapan.

Setelah apel habis. Kulangkahkan kaki dan berdiri di hadapannya.

Menghalangi pemandangannya pada hamparan pasir putih di laut.

Lucas menepuk pahanya berulang, memintaku duduk dipangkuannya.

“Kamu cantik”

Kata pertama yang terlontar setelah aku berada diantara dua pahanya. Mengalungkan tangan pada leher lalu kami bertatapan lama.

“Katakan apa yang kamu pikirkan, sweetheart” Lucas berbisik. Dua tangannya menyangga di belakang–menatapku dengan mata teduh. Meski jika ku selami–aku akan menemukan bagian lain pada pupil itu.

Aku tidak yakin. Seperti kehidupan gelap dan misterius. Aku selalu takut dan cinta pada Lucas secara bersamaan.

“Aku tidak memikirkan banyak hal. Aku hanya bingung dan kadang takut. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhku. Apa yang membuat leherku memiliki bekas cekikan, apa yang membuat kepalaku memiliki bekas jahitan. Atau memar yang nyaris memenuhi badan. Aku masih tidak yakin jika aku melakukannya sendiri. Maaf Lucas, maaf jika pikiranku seperti menyudutkanmu”

“Pikiran seperti itu wajar. Mungkin aku akan melakukan hal sama jika mengalaminya”

“Aku hanya ingin sehat dengan kehidupan normal. Aku selalu pingsan dan tidak mengingat apapun setelahnya. Aku melupakan banyak hal seperti memori dalam otakku diretas secara ilegal”

“Itu terdengar mengerikan” Lucas menanggapi.

“Apa aku membuatmu tersinggung?”

“Untuk apa? Apa aku tampak seperti seseorang yang melakukan hal itu pada istriku?”

Aku menggeleng sekaligus lega. Lucas memintaku memaparkan isi kepala–dan sudah seharusnya dia tidak berspekulasi aneh tentang isi kepalaku.

“Lalu, yang kamu pikirkan, Lucas?”

“Aku? Apa kamu ingin tahu?”

Aku mengangguk.

“Aku memikirkan cara agar Anyelir tidak sakit. Agar istriku menjadi wanita cantik dan pintar, lalu tiap komponen pada tubuhnya terjalin dari perpaduan tubuh-tubuh indah yang dirangkai sempurna. Aku ingin Anyelir yang sempurna”

Aku mengernyit. Kepalaku berpikir keras–memperoses maksud dari kata perpaduan dari tubuh-tubuh indah yang dirangkai.

Jujur saja, Lucas. Aku gagal mencerna”

Dan pria itu tertawa lagi. Tertawa lebih kencang dari sebelumnya hingga tubuhku ikut terguncang di atas dua pahanya. Kulihat air matanya jatuh karena tawa yang menggelegar. Di detik itu, aku merasakan vibrasi aneh dan tidak nyaman.

“Lucas, kamu membuatku takut”

────୨ৎ────

Kami tidak melakukan hal yang di lakukan suami istri. Maksudku, bercinta.

Lucas membawaku naik ke ranjang, menyelimuti tubuhku lalu melabuhkan ciuman sekilas pada kening–seperti aku adalah anak kecil alih-alih istrinya.

Kami baru saja kembali dan Lucas tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku tidak mengerti apa hanya aku yang berharap–ketika sepasang suami istri atau salah satunya jatuh sakit dalam kurun lama — kupikir mereka akan menghabiskan waktu dengan hal yang lebih intim. Namun Lucas tidak.

Apa hanya aku yang menginginkannya?

Kulihat punggungnya yang menjauh. Sudah pukul dua dini hari sementara Lucas mencangking ransel setelah berganti pakaian.

Pria itu bahkan tidak pamit.

Meninggalkanku yang mematung menatap langit-langit kamar. Plafon dengan spektrum yang tak yakin jika aku menyebut satu warna. Derap langkah yang makin menjauh dengan akhir pintu yang terkunci.

Aku merasa kosong untuk alasan yang sepele.

Kadang, aku merasa begitu dekat dengannya.

Lalu kami seperti orang asing.

Dan dalam interval pendek, Lucas bertingkah seperti seorang ayah. Beberapa saat kemudian bisa jadi perangainya mirip asing yang benar-benar tak berani kuraba.

Lucas..

Aku tidak tahu.

Aku mencintainya, namun selaras dengan–aku harus menghabiskan makananku.

Seperti tertanam dan sebuah dosa besar jika dilanggar.

Ketetapan dan hukuman. Aku merasa seperti akan sakit jika tidak menghabiskan makananku. Seperti aku adalah seorang pengkhianat keji saat tidak mencintainya.

Aku gusar.

Sepanjang perjalanan dari laut, yang kulakukan adalah tidur. Jadi tidak ada alasan lain mengapa saat ini, kedua bola mataku cerah — enggan meninggalkan kesadaran.

Perutku tidak lapar, aku juga sedang tidak ingin buang air. Lalu yang kuingat ketika Lucas mengatakan ponselku berada dalam lemari. Aku hanya ingin tahu kabar dunia–atau lebih sederhana seperti siapa nama lengkapku, kapan aku lahir dan kapan aku periode. Aku benar-benar lupa.

Ini menyedihkan.

Kuseret tungkai yang mulai kehilangan tenaga. Aku juga tidak tahu alasan mengapa kakiku kian lemas–seperti ketika aku memiliki tenaga mirip baterai dengan milliampere yang terbatas.

Tubuhku melemah untuk alasan tidak jelas.

Lagi dan lagi.

Namun kupaksa derap hingga beberapa meter sampai lemari. Tentu saja dengan pegangan kuat pada apa pun yang bisa membantu jejakku lebih tegak. Aku benci kondisi ini.

Lemari tidak di kunci. Itu adalah kebahagiaan kecil di tengah deru nafasku yang mulai sesak.

Aku melihat tumpukkan baju Lucas yang tersusun rapi. Sangat rapi hingga aku terkagum sebentar.

Semuanya tersusun berdasarkan warna dengan lipatan serupa. Benar-benar tanpa celah. Kupikir Lucas adalah pribadi luar biasa di samping ketampanannya yang tidak bercanda. Berapa kali aku mengagumi pria itu meski sesekali terbesit ketakutan tanpa alasan lagi.

Aku memiliki suami yang sempurna.

Berhenti pada kekaguman dan kembali pada rencana awal mencari ponsel. Namun, alih-alih benda pipih dengan warna yang aku sendiri lupa, perhatianku kembali teralih pada map besar berwarna hitam berkilau. Bentuknya kotak sempurna–dan setelah ditelaah lebih teliti, itu bukan map, melainkan kotak dengan sampul mirip map.

Seperti dokumen penting atau perkumpulan kertas seperti ijazah, akte kelahiran atau sejenis. Itu spekulasi. Aku belum membukanya.

Aku membawanya ke ranjang susah payah. Melupakan ponsel yang tak sempat kucari. Lebih penasaran pada isi kotak hitam dan berharap dapat menemukan biodata diri. Seperti nama lengkapku, siapa orang tuaku, atau kapan terakhir kali aku menempuh pendidikan dan apa yang kulakukan selama ini.

Meski dengan merangkak, aku berhasil mencapai ranjang dengan tidak sabar.

Pelan-pelan kubuka kotak hitam–cantik meski aneh untuk ujaran itu — aku mengklasifikasikannya sebagai kotak bergender pria karena warna gelap. mungkin karena warna hitam — glossy serta bersih. Kotak biasa yang dianggap mewah hanya karena bersih. Mengapa aku sangat naif?

Senyumku hilang saat kotak terbuka dan memperlihatkan biodata orang lain alih-alih diri sendiri.

Tunggu..

Ini bukan orang lain.

Kuamati gambar pria kecil dengan usia berkisar enam atau tujuh tahun menggunakan seragam sekolah dasar.

“Jaka Dirgantara, 14 April 1990, Jakarta”

Itu gambar Lucas. Aku bersumpah. Dari semua komponen wajah, bibirnya lah yang paling menyita perhatian karena bibir Lucas memiliki bentuk paling cantik diantara seluruh bagian wajahnya setelah hidung. Anak kecil berkacamata dengan sudut mata miring dan meringis.

Itu Lucas

Itu Lucas

Aku menahan nafas sambil membalik lembaran.

“Jaka Dirgantara SMPN 131 Jakarta 2002”

“Jaka Dirgantara; Lulus, SMPN 131 Jakarta 2005 Terbaik nomor satu dari 25 siswa”

“Jaka Dirgantara SMA Labschool Kebayoran 2005”

“Jaka Dirgantara; Lulus, SMA Labschool Kebayoran 2008 Terbaik nomor satu dari 28 siswa”

“Jaka Dirgantara Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Kuliah teori; Kampus UI Salemba (Jakarta Pusat) Praktik Klinik; Rumah sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM)”

“Jaka Dirgantara; Izin praktik internship 2016, membuka praktik di rumah selama 1,5 tahun”

“Jaka Dirgantara Mahasiswa Pendidikan Spesialis Ilmu kedokteran Jiwa (Sp.KJ) 2016–2020”

“Jaka Dirgantara Mahasiswa PPDS Bedah Saraf (Sp.Bs) 2021–2026”

Lalu, saat kubuka lembaran yang nyaris habis. Kutemukan satu keterangan medis lain yang membuatku kembali mengernyit–oh! Mataku berat, namun fakta ini begitu menyita perhatian. Aku mengantuk dan penasaran di waktu bersamaan.

“Jaka Dirgantara Dissociative Identity Disorder (DID); Positif. Gangguan Identitas Disosiatif adalah kondisi kejiwaan dimana seseorang memiliki dua atau lebih identitas atau kepribadian yang berada dalam tubuhnya”

Ku balik sekali lagi lembaran yang terasa makin berat.

“Jaka Dirgantara dan Lucas Grey”

Lalu aku melihat biodata Lucas. Pria yang menyandang status sebagai suamiku.

“Lucas Grey Psikiatri”

“Jaka Dirgantara Dokter Ahli Bedah Saraf”

Aku tidak mengerti dengan fakta yang baru saja kuterima. Otakku merespons lambat sementara kantuk tidak lagi dapat kucegah. Aku benar-benar terjatuh–kehilangan kesadaran menindih kumpulan kertas yang kini berserakan.

────୨ৎ────

Di kota yang katanya tidak pernah tidur. Pada sudut yang lebih gelap dari permukaan, rahasia kadang lebih jujur dari manusia.

Tidak ada suara latar signifikan selain kipas angin yang tetap gagal menyejukkan. Satu dua tetes keringat merembes membuat garis pada pelipis turun hingga menetes. Sementara tangan lincah terlihat lihai merobek jaringan kulit hingga tulang untuk tercapai–komponen yang dituju.

Empat wanita cantik terbaring di atas brankar, sementara alat bantu kehidupan terpasang pada tiap orang.

Pria tampan yang terlihat berkeringat banyak. Wajahnya semangat meski sudah hampir dua belas jam berdiri di sana dengan istirahat seadanya.

Jaka memisahkan dua tangan wanita cantik pada brankar nomor satu, setelah berhasil melepas bagian tubuh serupa pada istrinya.

Ya, Anyelir terbaring tanpa tangan. Dan suaminya berencana mengganti dua tangannya dengan tangan milik gadis lain. Bukan apa-apa, Jaka hanya merasa tangan Anyelir kurang cantik.

Wanita di brankar satu. Tangannya sangat cantik dengan kuku kecil-kecil yang indah. Tiap permukaan telapak–terasa begitu halus saat di genggam, Jaka menemukannya saat sedang minum kopi di salah satu kafe saat ia pulang bekerja. Wanita itu mengajaknya berkenalan dengan sopan. Sejak saat itu Jaka jatuh cinta pada tangannya.

Dan rencananya baru bisa di realisasi saat wanita itu mengajaknya berkencan. Lalu membawanya pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ia hanya ingin istrinya memiliki tangan indah seperti milik wanita pada brankar satu.

Dan wanita pada brankar dua.

Wanita anggun yang memiliki mata biru yang anggun. Skleranya putih bersih dengan manik sebiru lautan. Tiap memandang, Jaka akan jatuh cinta–seperti ikut terseret dalam derasnya ombak di laut lepas. Pria itu hanya ingin istrinya memiliki mata biru yang cantik.

Dan wanita di brankar tiga.

Wanita yang tidak terlalu cantik namun memiliki otak dan pemahaman yang fantastis. Jaka menyukai pola pikir serta sudut pandangnya terhadap dunia. Wanita itu memiliki kemampuan berpikir di atas rata-rata gadis-gadis yang biasa ditemui. Tiap mereka mengobrol, wanita itu bisa membawa pembahasan mendalam yang sangat jarang ditemui pada orang-orang. Jaka jatuh cinta pada otaknya. Dan ingin Anyelir memiliki isi kepala seperti wanita brankar tiga.

Ini akan menjadi perpaduan sempurna.

Hanya perlu memodifikasi Anyelir untuk menjadi sempurna seperti harapannya.

Rambut merah dengan mata sebiru lautan. Lalu isi kepala cemerlang dan lebih waras menatap kehidupan seperti perspektifnya.

Seperti sudut pandangnya

Seperti keinginan.

Maka, berdiri selama kurang lebih 12 jam bukanlah sesuatu yang sulit untuk mencapai harapan serta memiliki istri yang sempurna. Jaka mencintainya. Baik Lucas maupun Jaka, dua pribadi itu mencintai Anyelir dan ingin wanita itu menjadi sempurna atas kesepakatan dua jiwa pada satu raga.

Lucas dan Jaka.

Pria itu terkekeh kadang-kadang, bermonolog dengan diri sendiri; jika dilihat dari mata umum. Meski sejatinya, ia bisa berkomunikasi dengan kepribadian yang lain.

Anyelir yang sempurna. Hasil perpaduan dari anggota tubuh dari wanita lain.

Menyambung tulang radius dan ulna dengan plat dan sekrup sebelum menyambung otot dan tendon yang berfungsi menggerakkan tangan. Jaka meletakkan mikroskop untuk melihat arteri–memastikan aliran darah bisa kembali lalu menyambung pada vena untuk aliran darah balik.

Hati-hati dan teliti membuatnya terkenal di kalangan para dokter-dokter senior. Image ramah dan cekatan, lalu mudah tersenyum dan yang terpenting adalah kelihaiannya memegang pisau bedah, Jaka berhasil membuat kehidupan kerjanya berjalan baik.

Lalu meneguk air mineral sebelum melanjutkan pada tahap berikutnya.

Pria itu menyeka keringat sebelum menyambung saraf sensorik dan motorik, ditutup dengan jahitan pada kulit dan menutup luka. Menyambung dua tangan biasanya membutuhkan waktu sekitar enam belas jam, Jaka tertawa saat berhasil menyelesaikan kurang dari itu.

Anyelir yang cantik.

Hanya perlu membedah kepala setelah kemarin berhasil memindahkan dua bola mata dan hari ini dua tangan rampung dalam kurun kurang dari prediksi.

────୨ৎ────

“Anyelir… sayang.. Kamu dengar aku?”

Tubuh terkulai di guncang lembut. Wanita ayu dengan tubuh penuh luka jahitan yang sudah mengering. Anyelir bernafas normal, detak jantung, fungsi organ, otak dan segala hal–semua berjalan sempurna sesuai harapannya. Sudah hampir satu bulan wanita itu terbaring tanpa kesadaran–menunggu pulih setelah melakukan operasi besar-besaran.

“Anyelir.. Sweetheart..”

Tidak ada tanda-tanda respons. Semua tes MRI, EEG, CT scan, normal. Reaksi tubuh stabil namun tidak ada aktivitas sadar dan Anyelir tidak merespons rangsangan kuat. Itu membuat Jaka frustasi.

“Jangan.. Jangan..” Lucas terisak sementara hatinya terluka.

Di kepalanya, pria itu sudah memiliki diagnosis akurat–jika melihat bagaimana Anyelir tidak sadar dalam kurun kelewat lama.

“Coma with no apparent cause”

Tubuh Anyelir terdiri dari potongan-potongan orang lain–tangan, mata, otak. Secara alami, tubuhnya mengalami ‘penolakan kesadaran’ seperti penolakan organ. Sistem saraf tidak bisa sinkron secara utuh karena konflik antara memori bawah sadar, DNA, dan identitas. Hasilnya, tubuh hidup. Sistem berjalan, namun tidak ada ‘pengemudi’ alias Anyelir sudah tidak ada.

Sudah berapa kali Jaka menstimulasinya dengan rangsangan kuat. Dari guncangan sederhana, hingga pengejut listrik-setrum ringan. Namun Anyelir tetap tidak ada.

Padahal semua hal sudah di perhitungkan. Pria itu melakukan yang terbaik hingga tingkat keberhasilan mencapai sembilan puluh persen. Namun sial–entah Anyelir pelacur kecil itu tak berminat hidup lama. Rasanya menjengkelkan.

Rasanya jengkel.

Sakit hati.

Ia mencintai Anyelir, mungkin?

Sepuluh tahun kebersamaan tiba-tiba terputar mirip CD bajakan yang acak. Meski air mata berasal dari jiwa entah yang mana. Bukan, Lucas atau Jaka bukan hanya sedang menangisi Anyelir. Setelah memvalidasi kesakitan pada dada, pria itu menyimpulkan–air matanya bukan untuk Anyelir, bukan sepenuhnya. Namun menangisi kemampuannya yang tak kunjung meningkat. Sudah mengikuti berbagai operasi kepala, lalu mencari tahu tentang operasi mata dan bermodal melihat tutorial dari teman sejawatnya di rumah sakit, pria itu tetap gagal.

Semua percobaannya gagal dan itu adalah keputusasaan–kesedihan yang paling menyakitkan.

Tidak ada satu pun hasil dari eksperimennya yang bisa bertahan hidup normal. Jaka hanya menemukan satu atau dua orang yang bertahan– hingga dua–tiga bulan sebelum mati setelah tubuh dan otaknya dimodifikasi.

Padahal, dari semua percobaan, Anyelir adalah bahan yang paling ia sayang. Anak yang ia besarkan selama sepuluh tahun. Kini menjadi wanita cantik yang lucu dan lugu. Anyelir bodoh dan menggemaskan dalam satu waktu. Gadis yang awalnya penurut dan menyenangkan.

Lucas baru-baru ini jengkel setelah Anyelir mengadu–memiliki seorang kekasih bernama Antonio. Sejak itu kehidupan Anyelir seperti di neraka.

Dikurung selama tiga hari tiga malam di atas brankar dengan tangan dan leher dibelenggu. Lalu Lucas terus melakukan hipnoterapi agar gadis itu berpikir seperti–keinginannya. Anyelir mengalami hilang ingatan, tubuhnya banyak memar karena kekerasan tanpa perencanaan ketika bercinta.

Dan jahitan di kepala Anyelir adalah tanda cinta. Lucas ingin membuat nama di kepala Anyelir dengan pisau bedah.

Nama Lucas.

Anyelir milik Lucas.

Dan menikahi Anyelir adalah bagian dari menjadi manusia. Lucas mencintai Anyelir meski rasa cintanya pada diri sendiri tidak bisa di sandingkan dengan apa pun.

Kini, wanita itu gagal.

Anyelir tidak hidup dan kekecewaannya mendalam. Anyelir tidak mencintainya dan pergi tanpa membalas kebaikannya selama ini. Menjadi sempurna adalah harga yang harus di bayar untuk sepuluh tahun. Untuk sepuluh tahun cuma-cuma memberikan kehidupan pada gadis yatim piatu yang nyaris di perkosa ayah tirinya.

Lucas kecewa.

Begitu juga dengan Jaka.

20 jam yang lalu

Tidak sulit memasukkan gadis pada brankar tiga di kamar rahasia. Lucas berhasil mengumpulkan tiga orang yang akan menjadi pelengkap komponen kesempurnaan istrinya. Rencana yang sudah ia susun sebulan terakhir. Eksperimen yang sudah dipersiapkan matang dengan pertimbangan serius.

Memasang selang infus–memastikan semua bahannya sehat meski dalam kondisi tidak sadarkan diri. Lucas tersenyum cerah dan tidak sabar ingin mencumbui Anyelir meski istrinya dalam kondisi tidak sadar. Justru itu bagian–kepuasan diri. Menggagahi Anyelir saat wanita itu tidak sadar dapat meningkatkan libido. Lucas akan memukul, menjambak lalu mencekik. Memperlakukannya sesuka hati tanpa berisik. Ia benci suara merengek menjengkelkan.

Ini untuk pernikahan harmonis, untuk cintanya pada Anyelir dan hubungan jangka panjang.

Namun kehidupan selalu saja memiliki kejutan tak terduga. Seperti dua pupilnya yang melebar meski tak ada reaksi berlebihan. Lucas mengerat saat biodata dirinya berserakan. Sebagian tertindih tubuh istrinya yang tertidur pulas dan sebagian lagi berhamburan hingga jatuh ke lantai.

Anyelir memiliki seribu cara untuk menyakiti diri sendiri. Menyimpan banyak hal pemicu emosi. Wajah cantik–mengundang birahi ketika tidur tak lagi mampu di tukar dengan rasa jengkel yang menyelubung.

Sepertinya memang tak perlu mengulur, menunggu–menimbang terlalu lama. Malam ini, akan ia realisasi rencana sebulan penuh ketika komponen akhir telah tersedia.

Anyelir akan menjadi sempurna.

Sempurna dengan ingatan baru, isi kepala lebih segar dan fisik yang luar biasa.

Anyelir harus membayar jasanya selama sepuluh tahun dengan mengabdikan diri menjadi sempurna. Untuk pernikahan dan hubungan yang lebih langgeng serta bahagia.

────୨ৎ────

Jika dikulik dari sejarah. Atau katakan latar belakang tiap apa-apa yang singgah di jiwa gelap manusia, Jaka atau Lucas hanyalah anak-anak biasa yang hidup penuh keberlimpahan kaya raya.

Tidak ada kekurangan pada kebutuhan. Tumbuh kembangnya baik dengan fasilitas mumpuni lalu makanan bergizi yang menjadi asupan harian hingga berhasil menciptakan manusia cerdas dan penuh ambisi. Ayah Jaka adalah salah seorang cucu konglomerat perusahaan konstruksi.

Jika dilihat sekilas, semua tampak normal dan baik-baik saja. Tidak ada yang aneh dan hampir banyak orang menginginkan kehidupan–mereka atau merasakan bagaimana menjadi keluarga cemara yang hidup kaya raya tanpa harus bekerja keras–tersengat matahari atau tertekan di bawah invasi atasan yang menguras mental.

Namun, bayangan selalu saja indah. Selalu saja terbentuk dari harapan dalam gambaran paling menyenangkan.

Satu anak laki-laki yang tumbuh cerdas hidup dalam ketegangan antar orang tua. Bagaimana sang ayah menekannya untuk menjadi si nomor satu dari semua saudara–kerabat atau sialan apa pun yang berkemungkinan mewarisi harta lebih banyak dari kakek buyut yang berusia lebih dari satu abad.

Kekerasan tidak lagi terelakkan.

Pengabaian, pukulan, tekanan, serta ancaman-ancaman menakutkan untuk hal sepele membuatnya tumbuh menjadi pribadi tertutup.

Hampir tidak pernah mengobrol akur dengan orang tua, terutama ibunya. Yang di ingat bocah berusia delapan tahun pada wanita cantik dengan kerutan sedikit pada sudut mata adalah senyum bangga saat ia berhasil mengeja di usia 3 tahun, saat berhasil menghafal tabel periodik unsur kimia, saat ia menguasai teorema trigonometri pada usia enam tahun.

Mereka akan mengusirnya kembali ke kamar dan mengatakan tentang belajar dan bodoh. Kata-kata bodoh menjadi hidangan penutup hari, tiap tubuh mendamba belaian dari dekap hangat orang tua.

Hal-hal besar yang dianggap kecil.

Seperti pukulan pada punggung ketika nilainya turun meski hanya satu angka di belakang.

Hardikan dan kata-kata tentang warisan, kekayaan, kakek, dan sialan lain yang benar-benar memuakkan.

Jaka mencari perhatian pada hal lain.

Pada akhir pendidikan sekolah dasar, bocah itu berhasil mengurung dua temannya di gudang kosong sekolah tanpa sepengetahuan siapa pun. Pria kecil itu mulai melakukan eksperimen loyalitas yang bertujuan agar dirinya dibutuhkan serta membuat dua temannya tidak bisa hidup tanpanya.

Eksperimen dimulai dengan tidak memberi makan dua temannya selama berhari-hari. Tidak peduli berita ramai di luar tentang dua bocah yang menghilang. Surat kabar, berita di televisi serta seluruh media tahun itu sibuk meliput kehilangan. Jaka justru menganggapnya sesuatu yang menyenangkan. Bayangan bagaimana polisi sibuk di kulabui seorang anak. Itu kebanggaan bagi Jaka.

Kembali pada dua bocah yang berhari-hari terkapar lemas — dehidrasi.

Pria itu datang di hari ke tiga.

Kedatangannya tidak lagi di sambut permohonan, melainkan dua tubuh tergeletak nyaris tak sadarkan diri. Lalu Jaka membawakan kotak makanan dan air mineral besar yang kontan membuat keduanya bertenaga untuk merangkak–menghampiri sumber energi.

“Iris satu jari, maka aku akan memberikan kalian makanan”

Syarat yang sederhana. Jaka melihat reaksi dua orang kebingungan saling tatap dengan wajah sepucat mayat. Lalu satu pisau tajam di lemparkan pada keduanya.

Tidak sampai lima belas menit satu anak memotong jari kelingkingnya meski sambil menangis. Lalu Jaka mulai memberinya makan. Begitu juga dengan bocah satu lagi.

Kejadian itu membuat Jaka merasa dibutuhkan. Berapa banyak yang akan mereka lakukan untuk eksistensinya? Atau katakanlah makanan.

Kejadian itu terus berlangsung hingga dua bocah rela menusuk mata mereka, memotong alat kelamin lalu mati karena infeksi dan pendarahan.

Kejadian itu sempat menghebohkan tanah air hingga beritanya naik ke layar televisi nasional. Namun hingga kini, polisi hanya menyimpulkan jika dua anak itu mati karena bunuh diri sementara sebagian orang beranggapan bahwa dua siswa itu kerasukan setan.

Itu menyenangkan.

Itu adalah pelarian.

Tidak apa-apa saat kembali ke rumah, ia kembali dikurung dalam kamar untuk belajar lalu kemudian di pukuli untuk nilai yang sama. Atau lontaran tentang anak tidak berguna yang menyusahkan–lalu tuntutan agar bisa merebut posisi saudaranya yang ia bahkan tidak ingat namanya.

Tidak apa-apa.

Jaka memiliki kesenangan tersendiri.

Dan saat sekolah menengah pertama di mulai, barulah Lucas menampakkan diri sedikit-sedikit.

Saat tekanan kehidupan makin parah. Saat dua orang tuanya makin gila-gilaan menggemblengnya belajar hingga 18 jam dalam sehari. Saat itu Lucas muncul menjadi temannya.

Menjadikannya lebih berani dan kuat.

Kepribadian yang mirip dengan keahlian yang jauh berbeda. Lucas sangat menyukai eksperimen tentang psikologis sementara Jaka tentang saraf.

Tingkah mengerikan itu terus di pupuk. Meski hidup dalam tekanan, Jaka diberi fasilitas dan uang saku yang cukup untuk merealisasi hal-hal kecil yang membahagiakan.

Untuk melepas penat dari beratnya hidup menjadi andalan keluarga agar mewarisi harta kakek buyutnya.

Kehidupan berjalan begitu saja. Selalu ada hal terduga yang membuatnya tertawa, dan sesekali menangis. Namun ia tidak sendirian. Hidupnya penuh negosiasi dan pertimbangan. Sejak Lucas ada, ia tidak lagi kesepian.

Bukan seperti penderita gangguan identitas lainnya, Jaka sadar betul dengan apa yang dilakukan ketika Lucas menguasai tubuhnya, meski ini tidak benar-benar di dalam kendali. kadang satu sama lain akan meninggalkan saat salah seorang di antara mereka tertidur.

Mereka bisa berbincang melalui cermin–mirip pada adegan film horor yang ia tonton.

Banyak eksperimen-eksperimen kecil yang dilakukan. Hingga puncak ketika ia sekolah menengah atas, Jaka berhasil membedah kepala tikus lalu melakukan transplantasi otak dari satu tikus ke tikus lainnya dan sukses. Namanya melambung tinggi dan masuk dalam surat kabar. Semua orang mulai membicarakan anak jenius dan tentu saja kabar ini terdengar hingga telinga kakek buyut.

dengan akhir bahagia. Jaka di wariskan harta paling banyak berupa properti berupa rumah mewah di kawasan Jakarta selatan serta tanah dan lahan luas di kota yang sama. Berikut dengan emas batangan bernilai fantastis.

Itu keberhasilan.

Dan dua orang tuanya bertepuk tangan sekali. Sisanya kembali seperti semula.

Tidak ada yang spesial.

Dan Jaka tidak berencana membuat keributan namun tetap menyimpan keinginan terpendam pada dua orang tuanya.

Hingga pada akhir semester menjelang kelulusannya kuliah fakultas kedokteran, Jaka meracun kedua orang tuanya dengan arsenik.

Dan kebebasannya dimulai.

Sejak hari itu, semua hal berjalan lebih mudah.

────୨ৎ────

Dua bulan berlalu saat Anyelir memutuskan untuk tetap hidup–meski tidak hidup. dibantu Extracorporeal Membrane Oxygenation (EMCO) wanita itu hidup meski mati. Jaka tidak akan membiarkannya mati karena Anyelir adalah istrinya. Wanita itu menjadi penyalur seksual.

Tepat ketika tugasnya di rumah sakit sebagai dokter bedah baru saja selesai. Pria itu memutuskan untuk pulang lalu pergi ke rumah–tempat dimana istrinya bernafas dengan alat bantu. Disamping hunian mewah, harta berlimpah, siapa yang akan menyangka jika dokter tampan–ramah, serta senang bercanda itu memiliki sisi gelap yang nyaris tidak akan disangka siapa pun.

Dan hal itu memicu keterkejutannya sesaat. Tepat saat satu anak muda berusia–kurang lebih lima tahun di bawahnya datang dengan lagak petantang-petenteng bersama permen sunduk di antara celah pengecapnya.

Memperkenalkan diri sebagai Zain Emmanuel, pria itu mengajak Jaka untuk ikut bergabung pada aliansi aneh yang dipimpin salah satu anak sembilan naga.

Sembilan naga.

Nama itu masih terdengar menyeramkan meski eksistensinya mulai diragukan. Bukan karena kerja mereka yang rapi hingga nyaris tak pernah tercium hukum, namun karena pemimpin mereka yang dikabarkan mati. Jaka tahu sedikit dan tidak berencana membuat hidupnya dalam kesulitan.

Maka, menolak adalah pilihan tepat.

Dan bagian ajaibnya, ternyata, menolak bukanlah pilihan. Zain yang awalnya menawarkan pilihan ganda, kini menunjukkan ujung telapak kaki tepat di hadapan — menantang, mengajaknya berduel. Pilihan ganda hanya basa-basi alias kebohongan belaka.

Entah dari mana ia mendapat informasi mengenai diri. Jaka akan bertanya nanti.

Nanti, setelah menumbangkan satu bocah angkuh.

Meski bukan ia yang pandai berkelahi.

Lucas disana sebagai dominan–untuk urusan fisik–bela diri. Meski Jaka ingat-ingat lupa kapan ia pernah ikut latihan bela diri mengasah kemampuan otot yang kian hari kian membesar.

Tidak tahu.

Tubuhnya terasa enteng saat melayangkan tinju sementara Zain terpental dengan sudut bibir terluka. bagian ini adalah kombinasi sempurna dan Jaka tertawa untuk kebahagiaan yang ini.

Karna ini kali pertama

Menggunakan kekuatan fisiknya yang entah sejak kapan dikuasai. Meski itu milik Lucas.

Tidak butuh waktu lama untuk menumbangkan satu pemuda arogan. Zain luka-luka tanpa bisa melawan banyak hingga ujung babak belur yang membuatnya kesulitan bernafas. Lucas menekan sesuatu pada tulang rusuk, lalu pemuda itu melolong sembari meminta ampun.

Di tengah nafas yang tersengal, Zain masih saja menyeringai.

“Jaka, mau jadi si nomor dua?”

Write a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *