
Suara klakson bersahut-sahutan memekakkan telinga. Aroma debu jalan, asap kendaraan, bercampur aduk dengan segala bau tubuh manusia menyesaki pernapasan. Segala aroma yang tetap gagal membuat resisten itu–setidaknya berkurang saat kaki menapaki tanah untuk berganti transportasi. Meski jika ia menghirup napas dalam setelah di luar, tidak ada yang berubah, kecuali bau ketiak bertabrakan dengan parfum menyengat di hari penat dan panas.
Arloji menunjuk angka lima lewat seperempat. Namun tidak ada yang berubah. Maksudnya, cuaca masih saja gerah meski matahari tidak lagi menyengat.
Rambutnya lepek, matanya kuyu dengan kantong mata besar—disempurnakan lingkar hitam di bawa kelopak. Ia berjalan gontai menuju stasiun setelah turun dari angkutan umum lain. Kemejanya kusut, dasinya kendur lepas ditarik paksa sementara sol sepatunya tetap terlihat mengkilap. Tas jinjing di dekap erat–di depan pintu kereta. Tubuhnya memaku disana. Pandangannya kosong kontras dengan laju berkecepatan tinggi yang perlahan mengendur.
Saat pemberhentian, ia melangkah masuk–duduk di antara kerumunan yang kembali berdesakan. Semua berjalan wajar, normal dan seperti biasa.
Joni menunduk. Matanya lurus pada pantofel mengkilap—berjajar dengan sepatu-sepatu dari penumpang lain yang turut duduk di sebelahnya. Saat ia mendongak–mengangkat wajah, matanya menangkap satu penumpang wanita berusia sekitar 30 tahunan—yang berdiri sementara tangannya memegang hangrip. Sadar sedang di tatap, wanita itu ikut menurunkan pandangan.
Mata mereka terpaut agak lama. Setelah itu, Joni menunduk lagi.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Hm–hm
I used to float, now I just fall down
I used to know but I’m not sure now
What I was made for
What was I made for?
Takin’ a drive, I was an ideal
Looked so alive, turns out, I’m not real
Just something you paid for
What was I made for?
Hm–hm….
Suara merdu bersenandung lirih.
Ruang itu pengap tanpa sirkulasi udara yang layak. Berukuran empat meter persegi yang diisi brankar besi dan kasur keras. Di sebelah kanan ada nakas yang atasnya bejubal begitu banyak alat dan cairan. Tiang infus berdiri ramping tepat di muka nakas. Sisanya, masih diisi sofa dekil dan satu meja kecil.
Dinding-dinding berjamur. Tempat yang mestinya di bersihkan dan di cat ulang, lalu di letakkan lukisan atau sekedar foto. Namun mustahil terjadi pada ruang itu. Ruang sesak. Dinding dijadikan tempat penyimpanan segala jenis senjata tajam dari berbagai ukuran, jenis, dan bentuk. Begitu bervariasi. Di sudut yang lain, cipratan darah naik tinggi, mengotori tembok yang sudah kotor. Ada yang mengering—tetesannya berhenti tak sampai bawah, ada yang baru—segar. Khas, anyir.
Kadang terdengar suara pisau di asah, kadang suara pisau merencah. Sesekali gergaji memisahkan apa yang ingin dipisahkan.
Tapi malam ini tidak. Kecuali suara senandung merdu. Atau kipas yang begerak konstan. Kadang menimbulkan suara gresek–entah apa, entah bagian mana yang serat. Kendati, masih mampu memberikan kesejukan pada ruang itu.
Keringat menetes di seka. Sebentar-sebentar wajahnya ikut merah oleh darah yang menempel pada sarung tangan lateks. Mulutnya sibuk sesibuk tangan lihai.
Malam ini, tidak ada pisau besar, ia sibuk menguliti.
Bilahnya tidak pernah benar-benar menusuk—merusak daging. Ia meluncur di permukaan, mencari celah yang sebenarnya begitu rumit. Manusia tidak di desain seperti kambing yang memiliki celah untuk dikuliti.
Garis samar antara luar dan dalam. Setiap sentimeter dilewati dengan kehati-hatian, penuh ketelitian dan mata yang jeli. Sedikit saja melenceng, semuanya akan rusak. Kulit mulai mengalah oleh lihai tangan dan pisau.
Ada jeda di setiap tarikan. Ada senyum pada tiap pengelupasan sempurna. Gerakan berhenti sebelum menjadi kasar. Yang terlepas adalah lapisan utuh—terangkat perlahan, seperti orang melepas jaket.
Sudah tak ada lagi darah yang menjadi pusat perhatian. Hanya tersisa proses sunyi: pemisahan, pelepasan, dan keheningan setelahnya. Ketika selesai, yang didapat bukan hanya tubuh yang terbuka, tetapi rasa puas atas kemampuan–teliti serta tangan lihai, bahwa semua penutup, pada akhirnya, memang bisa dilepas—asal tahu di mana batasnya.
Pukul 3 pagi. Waktunya istirahat.
Terbujur tubuh tanpa kulit. Sempurna.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Ini adalah akhir pekan. Joni akan memasak sup lezat dan rencananya akan ia bagi-bagikan pada siapa saja nanti. Meski rencana seperti itu sudah dipikirkan seribu kali, namun saat sup matang, ia tidak pernah benar-benar membagikan. Itu hanya ada dalam kepalanya; bertetangga dan hidup bersosialisasi.

“Jon? Lagi ngapain?” wajah ayu itu menyembul dari balik pintu dapur yang tidak di kunci. Aroma sup daging menguar menyesaki paru-paru, masih kalah oleh pecahan cologne yang menyebar di kulit. Dia adalah Kaca. Ya, namanya Kaca. Seorang gadis penyandang tuna netra setelah kedua bola matanya meleleh akibat sundutan puntung rokok oleh ayah tirinya berulang-ulang saat ia sekolah dasar.
Usianya sama dengan Joni; 27. Mereka adalah teman sejak kecil, mungkin. Selama ini mereka selalu bersama-sama meski Joni adalah pendiam yang kelewatan.
Kaca hidup bersama bibinya 8 tahun terakhir setelah ayah tirinya menghilang dan hingga hari ini tidak pernah di temukan. Sementara ibunya pergi bersama pria antah berantah dan tidak pernah pulang.
Gadis jelita pemilik tubuh wangi dan suara indah itu bekerja sebagai pengisi suara. Uangnya lebih dari cukup untuk hidup berdua. Sementara Joni adalah karyawan kantoran biasa sebagai staff administrasi. Keduanya masih sering duduk bersama, sekedar makan bersama, menjilat es krim atau berceloteh menceritakan kegiatan. Mereka seperti itu sejak kecil. Tidak ada yang berubah. Meski Joni paling banyak hanya jadi pendengar, pria itu sangat pendiam dan biasa mereaksi ocehan Kaca dengan kalimat seadanya, namun pertemanan keduanya bertahan lama. Ya, asal jangan ungkapkan perasaan.
Benar, tidak ada yang berubah.
Sementara Joni sudah kehilangan dua orang tuanya sejak SMP. Ayahnya yang juga seorang karyawan kantoran — suatu hari tiba-tiba di tangkap polisi atas kasus pembunuhan berantai. Ibunya meninggal karena syok atas kenyataan itu. Pasalnya, sang ayah adalah figur ideal untuk keluarga. Mencintai ibunya, mencintainya. Namun sesuatu terjadi bagai bayangan di belakang. Pun tak diberi celah untuk sekedar mengira—mustahil. Pria itu sangat baik dan nyaris sempurna.
Orang-orang mengatakan, ayahnya adalah seorang pembunuh yang… tidak yakin, maksudnya, Joni tidak berani mengingat. Karena itu mengerikan. Ia membunuh banyak sekali orang-orang.. Mungkin random? Polisi tidak menemukan motif pembunuhan jelas — justru cenderung acak meski bukan impulsif juga. Saat ditanya penyidik, ayah Joni hanya mengatakan; “aku membunuh mereka yang ingin mati dan pantas mati. Hukum di negara ini tidak akan bisa melakukannya”
Mutilasi, menguliti, kanibalisme.
Tidak ada yang mengira. Berita itu sangat heboh pada masanya.
Joni tinggal sendirian sejak itu. Ya, sejak semuanya menghilang dan hingga hari ini, Joni tidak tau apakah ayahnya mati di lapas, atau keluar lalu pergi entah kemana.
Namun satu hal yang hingga hari ini, Joni tidak pernah serius mencari tahu meski hal ini amat krusial; kiriman uang yang dikirim orang antah berantah ke rumahnya secara tunai. Ya, sejak dulu, sejak semuanya pergi. Joni masih bisa bersekolah dan mendapat pendidikan hingga jenjang tinggi tanpa kekurangan suatu apapun tidak lain adalah kiriman uang yang terus-menerus. Tidak pernah absen justru semakin bertambah nominalnya.
Tidak ada yang spesial. Mungkin karena terbiasa.
Terkadang dari kurir misterius, terkadang hanya amplop tebal yang tiba-tiba ada dalam kamarnya. Namun hingga sebesar ini, Joni tidak pernah benar-benar tau siapa yang mengirimkan uang. Atau tidak peduli? Meski ia memiliki kandidat kuat dan satu-satunya namun ia memilih untuk tidak peduli, sama sekali. Kendati, ia memakai uang itu untuk keperluan hidup hingga bisa menghidupi diri sendiri dari hasil gaji.
Dan uang itu tetap dikirim.
Hanya orang gila yang protes saat dikirimi uang. Toh, selama ini tidak pernah ada apapun yang membuatnya harus mencari tahu atau mendapati keluhan dari siapapun atas uang itu. Joni memilih tidak peduli.
Tidak, pada siapapun. Hidupnya sudah sulit karena kasus ayah dan kematian ibunya. Hingga dewasa ini, Joni nyaris tak memiliki teman meski sudah tak lagi mendapat sanksi sosial atas hal-hal yang tidak pernah ia kerjakan.
“Aku memasak sup, Kaca. awas ada ember di depanmu” Joni memperingatkan.
“Ya, ya. Kenapa ada ember di jalan?”
“Aku berencana mencuci”
“Sepagi ini? Jam berapa sekarang?” tongkat putih mengarah ke sana ke mari sebelum akhirnya ia merebahkan bokong di kursi makan. Sudah hafal.
“Jam 8” lantas pria itu menyingkirkan ember ke sisi yang lain.
“Aku belum sarapan, Jon”
“Aku tau”
Kaca tertawa. Ia duduk tegak menumpuk tangan di atas meja. Aroma sup begitu menggugah selera. Perpaduan daun bawang dan kuah kaldu pecah sempurna, membuat lapar. Joni pintar sekali memasak.
“Joni”
“Hm”
“Hari ini hari valentine”
Jeda. lalu di susul hening sesaat, pria itu tak menjawab.
“Joni, kamu masih disana?”
“Ya”
“Kamu bahkan tidak menjawab” suara derit kursi, Kaca bangkit. Tongkatnya kembali di arahkan ke depan “aku ingin membantu”
“Sudah selesai. Kembalilah duduk, aku akan memberimu makan” Joni menolak. Pria itu memegang ujung tongkat saat benda itu menusuk betisnya pelan.
“Hari ini hari valentine” ulang Kaca. Senyumnya naik.
“Aku tidak peduli” Joni menjawab seadanya. Tangannya bergerak membuka kabinet untuk mengambil mangkuk.
“Tapi aku peduli” Kaca kembali mengarahkan tongkatnya. Ia berdiri persis di belakang Joni. Pria itu tak menggubris. Lantas, si gadis mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong dress. Sebuah kotak sederhana berbentuk mirip kotak harta karun mini “nah, ambilah. Ini hadiah dariku. Sebagai gantinya, tolong beri aku makan” Kaca menyodorkan sembarangan. Kotak itu berada di sisi kiri Joni. Si pria menahan senyum. Tersipu-sipu dengan pipi merah.
“Terima kasih” jawaban singkat untuk mereaksi kotak “sekarang kembalilah duduk. Aku akan memberimu makan”
“Ya ya ya” gadis itu kembali merambat–jalan dan bunyi derit kursi kembali terdengar. Joni masih mengisi mangkuk dengan sup. Matanya sesekali melirik pada kotan lucu berwarna emas. Tidak tahu apa isinya, namun melihatnya saja membuat gemas.
Bunyi kelotak mangkuk beradu dengan meja kayu. Joni memegangkan sendok pada si gadis, lalu memberitahu jika di sebelah kanan, ia melatakkan air mineral. Setelah itu, Joni mulai menyuap—meski matanya lurus pada sang jelita yang mulai meraba.
“Kamu belum membuka kotaknya?”
“Hm”
“Kenapa?”
“Aku aku sedang makan”
Kaca mendengus, ia menyendok, lalu meniup sup panas “kau terlihat datar bahkan saat menerima hadiah”
“Darimana kamu tau datar? Apa kamu mengintip?”
“Mengintip bokongmu” Kaca mengepalkan tinju yang di arahkan sembarangan sementara Joni menahan tawa “aku bahkan tidak lupa caramu tertawa, caramu merajuk pada ibumu dulu. Kau menggemaskan, Joni”
“Hm”
“Kau juga sangat gentleman. Ibumu adalah orang tua yang keren”
“Berhenti mengoceh dan makan. Kamu bercerita seakan lebih tua dariku” lalu Kaca tertawa.
“Aku menganggur hari ini. Rencananya, aku akan mengajakmu membuat audio stroytelling. Jika kamu tidak keberatan” suapan kelima, sup sangat lezat.
“Aku harus mencuci”
“Ya, mencuci. Itu krusial”
“Hm”
“Ya”
Joni menatapnya, wajah itu agak kecewa. Namun berdua dalam waktu lama bersama Kaca bukanlah hal baik. Joni tidak tahu sampai mana perasaannya bisa meledak–maksudnya, ia sungguh menyukai gadis itu. Dan menjaga jarak batasan adalah hal paling aman. Menurut Joni, interaksi hubungan ini harus dibatasi sehingga tidak terjadi kemelekatan atau kerenggangan.
“Seseorang akan datang ke rumahku. Tadinya, aku ingin mengajakmu sebagai alasan agar seseorang itu tidak datang. Dia sudah mengajakku ratusan kali dan aku selalu menolaknya”
“Siapa?”
“Namanya Felix. Dia begitu gigih ingin menjadi pengisi suara storytelling dalam chanel ku. Aku butuh suara laki-laki. Tapi aku menolak karena tidak nyaman. Sungguh, aku belum memiliki studio untuk pekerjaan yang ini. Jadi, semua kulakukan dalam kamar. Aku tidak bisa membayangkan memasukkan pria dalam kamar”
“Kamu akan memasukkanku. Aku juga laki-laki” Joni mendecih “kamu juga memberitahunya jika butuh pengisi suara laki-laki, kenapa menolak saat dia mendaftarkan diri?”
“Aku tidak memberitahu siapapun. Kecuali temanku yang juga temannya” Kaca menghela napas” aku mengajakmu karena kamu berbeda. Aku nyaman denganmu”
Joni menggaruk telinga yang tidak gatal. Lagi-lagi menahan malu dan salah tingkah.
“Tapi jika kamu tetap tidak bisa, kupikir aku akan mengangkut seluruh kebutuhan chanel ku ke ruang tamu dan aku akan menerima Felix”
“Ya, itu ide bagus”
Kaca menghela napas. Sup sudah habis “aku akan mencuci piring. Kali ini jangan melarangku”
“Aku tidak akan melarang, tapi jika mangkuk ku pecah, aku tidak akan memaafkanmu”
Kaca memasang wajah sebal.

Kaca benar-benar menerima Felix.
Mereka merealisasi rencana di ruang tamu dan Joni melihatnya sendiri saat lewat. Hanya sekilas. Pria itu mengabaikan.
Tidak ada cara tertawa. Mungkin. Kata-kata Kaca berputar sekilas tepat saat bus berhenti di depannya. Yang tersisa kini hanya mata kuyu, rambut yang jarang sekali diperhatikan cenderung panjang hingga sesekali menutupi mata dan telinga. Mungkin saja jika Kaca mampu melihat, ia akan cepat menerima Felix ketimbang lebih dulu menawarinya.
Pun, ia lupa bagaimana caranya tertawa di luar kecuali hanya salah tingkah yang menjijikan di depan Kaca. ia tidak ingat kapan dunia mampu membuatnya tersenyum atau apakah masih ada hari-hari terang di daratan ini?
Joni tidak mengerti dengan dirinya sendiri, tidak mengerti dengan sistem kehidupan, juga pada seluruh umat manusia.
Atau, kenapa ia masih berkutat pada kehampaan? Sementara satu gadis buta yang telah kehilangan dunia dari pandangannya, masih saja mampu berbicara dan berani hidup normal. Apakah hanya diri sendiri saja yang tidak normal? Terpaku pada masa lalu yang tidak pernah benar-benar bisa enyah dari kepalanya.
Ia duduk di kursi bus. Seorang ibu-ibu memangku balita berusia 2 tahun, terlihat kepayahan di sampingnya. Begitu banyak yang dibawa. Di perparah, si bocah yang terus menangis.
Joni tidak lagi memperhatikan.
Hingga agak lama ketika si anak mulai tenang. Mulutnya penuh tersumpal dot susu dan si ibu mulai membuka ponsel.
“Selamat pagi menjelang siang. Kita mulai berita hari ini dengan peristiwa kriminal yang kembali mengguncang kota” Joni turut mendengar saat si ibu membuka berita pada ponsel, menyimak dalam diam dengan mata lurus pada pemandangan kota yang itu-itu saja.
“Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan pada dini hari tadi. Jenazah korban ditemukan di dalam sebuah koper yang dibuang di area pinggir kota.”
“Pihak kepolisian menyatakan bahwa korban mengalami tindakan kekerasan ekstrem. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, tubuh korban ditemukan tanpa lapisan kulit, mengindikasikan adanya pola kejahatan yang terencana dan tidak dilakukan secara spontan.”
“Hingga saat ini, identitas korban masih dalam proses verifikasi. Polisi juga belum mengungkap motif pelaku, namun tidak menutup kemungkinan kasus ini berkaitan dengan rangkaian pembunuhan sebelumnya yang memiliki ciri serupa.”
“Warga diminta untuk tetap waspada, terutama perempuan yang bepergian sendiri. Kepolisian menyatakan penyelidikan tengah difokuskan pada kemungkinan adanya pelaku berantai.”
Belum berakhir. Namun si ibu sudah lebih dulu mematikan ponsel saat anaknya bergerak tidak nyaman. Susunya belum habis, namun sepertinya anak itu memang sedang dalam kondisi tidak bagus.
“Sudah tiga korban dengan yang terakhir. Sebenarnya, ini negara apa? Kenapa pembunuh keji seperti ini belum tertangkap?” si ibu berbicara sendiri. Kembali ia angkat anaknya, lalu bersuara—khas menenangkan bayi. Joni sempat melirik karena ia pikir, ibu itu berbicara padanya. Tapi tidak.
Bus berhenti di terminal, Joni turun dan tidak ada satupun penumpang yang turun di pemberhentian itu. Langkahnya cepat-cepat menuju satu toko langganannya.
Matahari mulai terik. Pria itu berlari kecil hingga jejaknya sampai pada toko besi tua,
Toko itu sudah ia temukan 3 tahun terakhir. Toko yang menjual berbagai senjata tradisional seperti parang, kapak berbagai ukuran, pedang, pisau-pisau dengan banyak varian serta keris. Segala rupa alat tajam ada dalam toko sepi ini. Berikut dengan pembersih pisau yang hanya bisa didapatkan dengan sistem impor. Pemiliknya adalah kakek-kakek tua berusia akhir 70. Jalannya sudah membungkuk, kantong matanya besar sekali dan seluruh rambutnya memutih. Namun daya ingatnya lumayan. Kakek itu mengenali Joni yang sudah bolak-balik ke sana.
“Joni” kata si kakek. Pria itu awalnya sibuk membaca buku. Kacamatanya melorot–sesuai dengan pola membacanya yang menunduk. Melihat Joni datang, reaksinya bagai melihat cucu dari jauh berkunjung “ini valentine, kupikir kamu akan berkencan dengan seorang gadis alih-alih mendatangi kakek tua” pria tua itu terbahak sekilas.
“Aku mencari kapak” Joni celingukan. Sebenarnya, yang di pajang di permukaan hanya yang normal-normal saja. Sementara alat-alat unik tersimpan di dalam. Hanya orang-orang yang ‘sesuai mood’ si kakek yang di perlihatkan bagian rahasia. Termasuk Joni. Ia mendapat hak istimewa setelah kunjungan berkali-kali hingga mereka akrab.
“Kapak? Ini semua kapak” si kakek menunjuk dinding. Ya, dinding itu dipadati kapak yang di tempel. Gergaji dan banyak lainnya.
“Aku ingin kapak jagal. Yang bilahnya sangat tebal dan berat, dibuat khusus untuk tulang besar. Sekali ayun, semua final” Joni mengatakannya dengan tangan mempergakan orang mengapak. Mulutnya bahkan ikut bersuara meniru cara kapak bekerja.
“Kali ini apa? Kemarin kamu mencari gergaji. Sekarang tulang jenis apa?”
“Sapi” Joni berdehem, lalu menarik napas “aku suka sekali sum-sum tulang. Dan kupikir, seseorang yang memberiku hadiah valentine juga menyukainya” ungkapan yang terkahir terdengar seperti bisikan. Hebatnya, si kakek mendengar. Pria tua itu lantas terkekeh campur batuk. Di seret kakinya dengan isyarat agar Joni mengikuti langkahnya ke dalam.

Lagi, Joni melewati begitu banyak senjata keren, unik dan gagah. Pedang-pedang bergelantung, pisau-pisau cantik. Jika tabungannya cukup, Joni berencana membeli semua itu. Ia begitu menyukai hal-hal yang berbau ‘tajam dan perang’ dan hanya-hanya hal sejenis itu yang membuat perasaannya menghangat–selain Kaca.
Senyumnya naik meski tetap gagal memperlihatkan deret gigi. Hingga sang kakek membuka lemari besar berisi koleksi kapak yang begitu memesona.
“Harganya 5 juta” si kakek mengacungkan kapak. Joni langsung terkesiap.
“Kenapa mahal sekali? Tidak bisa kurang?”
“10 juta”
“Ehey.. ayolah..”
Dan si kakek kembali memasukkan kapak dalam lemari setelah mendengar Joni menawar. Joni lantas memegang tangan si kakek “bercanda saja, hehe” ia tersenyum tak sampai mata. Si kakek kembali mengeluarkan kapak dan kesepakatan dimulai.

Hari sudah gelap saat Joni sampai dalam gang menuju rumah. Hari ini ia mampir di banyak tempat hanya untuk melepas penat, dan tangannya menyeret kapak yang di balut kresek hitam. Tubuhnya lelah, ia bersenandung sepanjang jalan.
Hm–hm
I used to float, now I just fall down
I used to know but I’m not sure now
What I was made for
What was I made for?
Takin’ a drive, I was an ideal
Looked so alive, turns out, I’m not real
Just something you paid for
What was I made for?
Hm–hm….
Lalu saat ia sampai di depan rumah Kaca, pintunya terkunci. Namun aktivitas bibinya terlihat dari jendela kaca dengan gorden yang belum tertutup. Joni berdiri agak lama disana. Hanya memperhatikan dengan wajah datar dan tatapan sayu.
Hm–hm
I used to float, now I just fall down
I used to know but I’m not sure now
What I was made for
What was I made for?
Lalu ia kembali melangkah. Kresek yang membalut kapak bergesekan dengan tanah, sesekali menyandung batu. Tidak meninggalkan jejak. Pria itu berlalu sambil bersenandung.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Televisi menyala di ruang makan sejak tadi. Suaranya bercampur dengan bunyi sendok yang menyentuh piring dan desis pemanggang roti. Joni berdiri setengah mengantuk, kemeja kerjanya belum dikancing penuh, matanya sesekali melirik layar sambil menyeruput kopi.
Seorang pembawa berita perempuan muncul di layar. Rambutnya rapi, senyumnya tipis dan Joni lumayan akrab dengan suara itu meski ia sendiri jarang mendengarkan berita. Karena sibuk dengan banyak hal lain yang lebih krusial atau mencari kesenangan tak seberapa. Tidak, ia tidak memperhatikan banyak hal. Pun, kotak yang diberikan Kaca belum dibuka. Joni hanya bingung harus bereaksi apa saat tau isinya.
“Selamat pagi. Kita mulai berita hari ini dengan perkembangan terbaru dari kasus pembunuhan yang menggegerkan warga.”
“Seorang ibu muda dilaporkan meninggal dunia dalam kondisi tidak utuh. Berdasarkan keterangan pihak kepolisian, korban diduga menjadi korban pembunuhan dengan metode mutilasi.”
“Bagian-bagian tubuh korban ditemukan di beberapa lokasi berbeda, baik di dalam kota maupun di area pinggiran. Aparat masih terus melakukan pencarian lanjutan serta mengamankan lokasi-lokasi terkait.”
Joni berhenti mengunyah sebentar. Tangannya yang memegang roti menggantung sebentar di udara. Mata sayunya memicing.
Layar televisi berganti, menampilkan gambar jalan sempit yang dipasangi garis polisi, lalu potongan visual beberapa titik penemuan yang disamarkan.
“Fakta lain yang membuat kasus ini semakin memilukan, korban diketahui meninggalkan seorang anak balita berusia dua tahun.”
“Anak tersebut ditemukan dalam keadaan hidup, seorang diri, di dalam kontrakan tempat mereka tinggal. Diduga, anak itu telah ditinggalkan tanpa pendampingan selama lebih 8 jam.”
“Saat ini, anak korban berada dalam perlindungan pihak berwenang dan akan mendapatkan penanganan khusus. Pihak kepolisian belum mengungkap identitas pelaku dan masih mendalami motif pembunuhan. Warga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di lingkungan tempat tinggal masing-masing.”
Berita berlanjut ke topik lain—lalu lintas pagi, cuaca, harga bahan pokok.
Joni mematikan televisi. Tatapannya datar pada layar gelap. Ruang makan kembali sunyi sebelum ia benar-benar kembali mengunyah.
-ˋˏ✄┈┈┈┈

Gerimis malam itu mengiring saat Joni memasuki gang. Tubuh lelah, mata mengantuk serta kepala yang pening sepulang kerja—gagal membuatnya menghindar dari cercaan air yang menghujam dari atas. Jaket kulitnya menahan air–jatuh bersama tetesan kecil. Hanya langkah di perbesar.
Saat ia mendongak tepat di depan teras rumah, matanya bertemu dengan tongkat putih, rok sebetis yang menggantung serta rebah bokong nyaman tepat di samping pintu–sofa lama yang nyaris tak pernah ia duduki.
Kaca duduk di sana. Tangannya memegang stik es krim, pandangannya lurus. Joni belum melangkah mendekat, namun gadis itu sudah celingukan–menyadari eksistensi lain.
“Joni?” kepalanya celingukan ke sana ke mari. Lantas gadis itu bangkit sambil memegang tongkat.
“Ya, aku pulang. Kenapa duduk sendirian di sini malam-malam?” Joni mendekat. Lantas memegang tangan si gadis. Kaca hanya tersenyum. “Mau minta makan lagi?” gadis itu tertawa.
“Aku mau ngobrol. Bibi lagi berantem sama pacarnya di rumah, kepala aku pusing kalau bertahan di kamar. Makannya aku ke sini” dan Joni membawanya masuk.
Benar, tidak pernah ada lagi yang masuk dalam rumahnya setelah bertahun-tahun kecuali Kaca. Pun gadis itu tak dapat melihat apapun yang ada dalam rumah itu.
Si gadis duduk di kursi makan seperti biasa sementara Joni meletakkan tas sembarangan lalu menyambar pendingin dan meneguk air rakus. Kaca dapat mendengar air melewati tenggorokan pria itu.
“Kamu dengar berita nggak? Pembunuh berantai?” setelah bertanya, Kaca berdehem “maaf, bukan bermaksud. Tapi aku khawatir sama kamu” Kaca menghela napas. Joni tidak menjawab, pria itu menyalakan kompor setelah mengambil ayam marinasi dalam pendingin.
“Khawatir apa? Kamu khawatir bagian yang mana?” suara minyak panas terdengar membesar ketika ayam masuk, melebihi suara gerimisi yang menghantam jendela dapur. Angin kencang membuat gorden tipis itu basah.
“Entah, aku cuma khawatir kamu terluka. Entah perasaan atau fisik. Tolong jangan terluka, Joni. Kamu temanku satu-satunya”
Joni tidak menjawab. Pria itu hanya menatap ayam dalam minyak panas.
“Joni”
“Hm”
“Marah?”
“Marah kenapa? Aku sedang menggoreng ayam, setelah ini kita makan malam dan kamu pulang”
“Boleh aku nginep?”
“Berhenti mengatakan omong kosong”
Kaca tertawa “aku serius. Kalau pacar bibi nginep dalam kondisi abis berantem, mereka biasanya akan bercinta dan suaranya berisik sekali. Aku tidak bisa tidur juga”
Joni diam lagi.
“Rumah kamu ada tiga kamar kan?” gadis itu serius dengan ucapannya “Joni sebenarnya” Kaca berdehem, Joni dapat mendengar gadis itu menarik napas kelewat dalam “sebenarnya, pacar bibi pernah masuk ke kamar aku. Kadang…” Kaca tidak melanjutkan kata-kata. Namun gadis itu meremang—resah dan tidak nyaman, lalu menunduk. Joni yang awalnya fokus pada ayam, langsung melirik. Ia melihat Kaca terisak pelan. Sapu tangan merah muda menutupi wajahnya.
Joni mengangkat ayam lalu meniriskan sebelum mendekat pada Kaca, lantas memeluk gadis itu dari belakang.
Tidak tahu, ini pertama kalinya seumur hidup.
Tubuh Kaca bergetar dan Joni tidak mengatakan apapun, hanya dekapan dari belakang, itu pun tangan yang melingkar pada leher si gadis—berharap dapat mengurai sedikit saja rasa sakit atau sialan apapun pada sang jelita.
Sebentar, lalu pria itu menyiapkan makan malam. Setelah tangis itu, tidak ada lagi obrolan. Keduanya makan dengan khidmat. Joni memperhatikan Kaca menyuap.
“Kamu boleh nginep” kata pertama kali setelah keheningan panjang yang membuat Kaca malu setengah mati. Ia tahu Joni memang pendiam, namun tidak mendapat respons apapun setelah menangis—membuatnya agak malu.
“Tidur di kamarku, biar aku tidur di sofa. Rumah ini hanya punya satu kamar. Kamar yang lain jadi gudang” Kaca tidak menjawab, namun mengangguk. Gadis itu mengangkat piring setelah makanannya kosong dan Joni melarang, pria itu malah meminta si gadis itu pergi ke kamar sementara ia akan mandi.

Tidak, Joni hanya sedang memikirkan bentuk mata Kaca setelah usianya 27 tahun sekarang. Setelah meleleh dan setelah matanya tak lagi mampu menangkap visual dunia. Bola matanya sedikit lebih kecil dari ukuran normal dan terlihat agak cekung di rongganya. Seperti kehilangan tekanan di dalamnya.
Permukaannya tidak lagi bening, melainkan tertutup lapisan keruh berwarna putih keabu-abuan seperti kaca susu yang buram. Tidak ada pantulan cahaya yang jernih di sorot lampu. Bagian iris dan pupil sulit dibedakan karena tertutup jaringan parut dan kekeruhan. Jika masih terlihat, warna samar dan tidak tegas. Seperti bercampur kabut putih di permukaan mata.
Pupilnya tidak menunjukkan reaksi terhadap cahaya. Tatapannya tidak memiliki fokus dan cenderung mengarah lurus tanpa benar-benar menangkap apapun.
Bola matanya mengecil dan mengabur–utuh. Kosong.
Tidak ada yang bagus dari bentuk mata. Tapi anehnya, Joni senang menatap ke sana, pada kekosongan.
Kaca tertidur saat ia masuk dalam kamar itu. Joni hanya mengenakan kolor tanpa atasan. Lalu, entah ide itu muncul dari mana, saat ia ikut naik ke ranjang, hanya merebah di samping Kaca dan sekeras mungkin agar tidak membuat suara.
“Hm, tidur di sini. Di sofa tidak nyaman” Joni terkejut saat Kaca bersuara, namun pria itu tidak kabur.
“Kamu harusnya mengusirku”
“Ini rumahmu, bagaimana caranya aku mengusir pemilik rumah?” kaca membuka kelopaknya meski sama, tak ada yang terlihat. Namun berhasil membuat Joni kembali memperhatikan bentuk kosong itu.
“Bagaimana hidup dengan kekosongan itu?” tiba-tiba tangannya membelai pipi Kaca, naik sedikit, Joni mengelus kelopak.
“Menakutkan” jawab si gadis praktis “tapi tidak menyedihkan, siapa saja tidak boleh mengasihani, Joni boleh”
“Kenapa? Aku tidak kasihan padamu”
Kaca tertawa “aku tau” itu paradoks, si gadis menarik hidungnya sendiri. “Joni, aku ingin mengatakan sesuatu, dan kata-kata ini sudah kupikirkan ribuan kali, berkali-kali bahkan setiap malam” ada jeda, si gadis menahan napas “mungkin saja aku akan menyesal, tapi ini membuatku seperti akan meledak jika kutahan lebih lama lagi” Kaca merasakan napas pria itu menyapu wajahnya. Ia tahu Joni mendekat lebih “aku menyukaimu”
Hening.
Hening lebih lama.
Lebih lama dari kecanggungan di meja makan, dari detik jam yang entah sudah berputar berapa kali. Dari degup jantung yang kelewat kencang hingga terasa memalukan.
Joni lagi-lagi hanya diam. Matanya menatap lurus pada kekosongan favoritnya. Pria itu meneguk ludah, tetap tak berencana menjawab. Ia malah mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir Kaca sekilas.
Cup!
Tetap tak ada jawaban dan Kaca bernapas setelah itu. Di susul senyum kecil dari bibirnya.
“Tolong katakan sesuatu karena aku tidak bisa melihat respons mu”
“Aku harus mengatakan apa?”
“Tidak tahu, katakan apa saja, yang penting mewakili isi hatimu”
“Aku sudah menciummu, apa itu tidak mewakili?”
“Ciumanmu bahkan tidak benar. Apa tidak ada sesuatu yang bisa kamu lakukan dengan maksimal selain keahlian diam?”
Joni diam.
“Diam lagi” Kaca mendengus, ia kemudian berbalik memunggungi pria itu “bertahanlah dengan diam, kamu hanya akan melihat gadis buta menyatakan cinta dan berharap takdir memberi welas asih”
“Aku mencintaimu, Kaca. Aku bukan hanya sekedar menyukaimu” jeda, Joni mengambil napas “apa itu cukup? Aku akan meledak jika kamu menuntut sesuatu yang lain, yang melibatkan suaraku”
Kaca tertawa, ia terkekeh dengan mulut yang di tutup punggung tangan, lalu kembali berbalik–meraba Joni dan memeluk pria itu.
“Terima kasih”
Malam itu agak panjang. Joni menatap wajah di depannya hingga Kaca benar-benar terlelap. Tangannya membelai rambut halus, turun ke pipi, lalu membelai rambut lagi. Begitu terus berulang-ulang hingga gadis itu meninggalkan kesadarannya.
Ia tersenyum tersipu-sipu. Ternyata, selama ini Kaca juga menyukainya.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Hm–hm
I used to float, now I just fall down
I used to know but I’m not sure now
What I was made for
What was I made for?
Takin’ a drive, I was an ideal
Looked so alive, turns out, I’m not real
Just something you paid for
What was I made for?
Hm–hm….
“DUK!!”
“THAK!!” hantaman keras yang agak dalam, lalu suara “KRAAK!” menyusul saat tulang mulai pecah. Tubuh itu telah terbagi menjadi empat bagian. Kapak memotong perut dan membelah menjadi empat. Masing-masing berhasil masuk dalam kantong kresek sampah berwarna hitam. Yang tersisa setelah sayatan dari pisau yang baru saja di bersihkan dalam mangkuk stenlis adalah penis dan testis.
Hujan datang setelah gerimis panjang, suaranya mengalahkan senandung merdu. Tapi hujan di waktu bersenang-senang adalah terbaik. Hujan bagai menghapus jejak, hujan bagai mendukung bahwa; membunuh mereka yang ingin mati dan pantas mati.
Menguliti, memutilasi dan kanibalisme.
Kantong sampah masuk dalam bagasi mobil. Di sebar, menyebar dan berita lagi.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Kaca menggeliat, namun geraknya tidak leluasa. Saat ia membuka mata, Joni mendekapnya dengan pelukan. Cahaya matahari menembus gorden, sinarnya keemasan hampir naik. Meski tak tau jam berapa, namun Kaca buru-buru membangunkan pria itu.
“Joni! Apa kamu tidak bekerja? Kupikir ini sudah pagi” ia mengguncang, yang di bangunkan bergerak–meregangkan tubuh. Saat matanya bertemu dengan matahari yang menerobos dari lubang angin dan gorden, pria itu bangkit–kaget dan buru-buru.
“Gawat, aku bisa ketinggalan bus” pria itu melompat ke kamar mandi meski kesadarannya seperti baru saja kembali.
“Joni, bagaimana dengan mobil? Aku punya tabungan, ayo satukan tabungan kita dan beli mobil untuk berdua” suara Kaca tak lagi terdengar, pria itu menghilang “aku tau kamu selalu kelelahan, kamu tidak banyak mengeluh tapi waktumu habis di jalan. Dalam kendaraan umum dan berdesak-desakan dengan penumpang yang bau badan”
Tentu saja gadis itu mengoceh sendiri. Sambil bangkit dan meraba-raba selimut, tangannya lincah melipat, membenarkan sprei. Sebelum ia melangkah ke dapur untuk—mungkin membuat apa saja yang bisa di makan. Tongkatnya menuntun langkah, gadis itu mencari pemanggang roti.
Tidak tahu bagaimana caranya.
Namun saat Joni keluar dengan pakaian kerja, ia di suguhkan roti panggang dan segelas susu. Kaca duduk di sana dengan senyum cerah. Bibirnya tersungging dengan pipi naik cerah.
“Sarapan dulu, apa sangat terlambat?” ia mencium aroma parfum Joni yang semakin mendekat. Pria itu tak menjawab namun meraih roti dan segelas susu.
“Joni”
“Hm”
“Aku mengatakan tentang mobil. Bagaimana jika kita membeli mobil?”
“Uangku belum cukup, aku tidak mau mencicil”
“Aku punya tabungan”
“Dan aku tidak butuh tabunganmu. Aku belum terlalu membutuhkan mobil”
Kaca mendengus “pembohong” katanya pelan.
“Pulanglah. Kalau kamu menginap terus, nanti kamu menyesal”
“Menyesal kenapa? Kita pasangan sekarang”
Joni tidak menjawab. Kaca mendengar pria itu meneguk susu hangat begitu keras.
“Ayo pulang, aku akan berangkat. Kita bertemu lagi nanti. Tapi malam ini, kamu tidak bisa menginap” Joni menarik tangan si gadis untuk keluar.
“Kenapa aku tidak bisa menginap?”
“Karena aku akan pulang sangat larut. Hari ini, tugasku mirip tumpukkan kertas setinggi gunung fuji. Aku akan lembur, jadi tidur lah di rumahmu, jangan pernah menungguku di depan rumah karena kamu akan lelah”
Kaca diam saja, namun patuh saat Joni membawa tangannya keluar. Jarak antara rumah Joni dan Kaca hanya tersekat sekitar lima rumah. Rumah bibi Kaca ada di depan sementara Joni ke belakang. Untuk sampai jalan raya, mereka harus melewati gang sepi, becek dan gelap jika malam. Hanya beberapa lampu yang masih berfungsi normal. Sisanya hanya mengandalkan insting jika pulang larut malam.
Dan juga, tidak bisa masuk kendaraan roda empat ke dalam gang itu. Gang hanya cukup oleh satu sepeda motor.
“Joni”
“Ya”
“Bisakah kamu menelepon saat sedang istirahat?”
Hening.
“Tolong katakan, iya. Aku juga akan bekerja hari ini, tapi aku akan merindukanmu” gadis itu mengulum senyum malu-malu.
“Aku akan meneleponmu, sekarang masuklah. Kamu harus bersiap-siap untuk bekerja”
Dan mereka berpisah di samping rumah Kaca. Pria itu setengah berlari mengejar keterlambatan sementara Kaca masuk dengan perasaan berbunga-bunga. Bahkan, semalaman tidak pulang, bibinya tidak menelepon. Jika sudah menyangkut kekasihnya, sang bibi akan menjadi begitu dramatis serta emosional. Kendati demikian, ia masih bersyukur karena setidaknya, sang bibi tidak segila ibunya.
Dugaannya salah, sang bibi menunggunya di depan pintu.
“Kaca..” suaranya rapuh “apa kamu melihat Anton? Maksudku, apa Anton menemuimu?”
Si gadis mengerutkan dahi. Hal pertama yang keluar dari mulut bibinya saat semalaman ia tidak pulang–bukanlah pertanyaan menyangkut eksistensinya, namun pria itu.
Lalu dari kata ‘melihat’ saja sudah aneh. Dan apa katanya? Menemui? Apa selama ini bibinya tau jika pria keparat itu kerap mengtuk pintu kamarnya secara tidak sopan dan akan menerobos masuk ketika ia lengah tak mengunci? Sialan.
“Tidak tahu” jawabnya ketus, si bibi mengikuti langkah pelan dengan tongkat itu dari belakang.
“Setelah pertengkaran kita, sejak semalam ia pergi dan nomornya tidak aktif” Kaca jelas menangkap kekahwatiran dari nada bicara bibinya.
“Dan aku tidak tau kemana pacarmu pergi” jawab Kaca praktis. Ia menutup pintu kamarnya keras.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
“Pemirsa, aparat kepolisian tengah menyelidiki rangkaian pembunuhan beruntun yang terjadi dalam kurun waktu satu minggu terakhir, dengan karakter korban dan metode kejahatan yang berbeda-beda.
Kasus pertama terungkap pada awal pekan. Seorang perempuan ditemukan meninggal dunia di lokasi terpisah dari dua kasus berikutnya. Polisi menyatakan korban ditemukan dalam kondisi dikuliti, tanpa tanda-tanda perlawanan yang mencolok. Lokasi penemuan tidak berada di area ramai, dan hingga kini masih dirahasiakan demi kepentingan penyelidikan.
Beberapa hari kemudian, kasus kedua kembali ditemukan. Kali ini, korban juga seorang perempuan, ditemukan dalam kondisi termutilasi dan disimpan di dalam sebuah koper. Koper tersebut ditemukan di pinggiran kota, jauh dari pusat aktivitas warga. Polisi memastikan metode pembunuhan menunjukkan tingkat perencanaan yang tinggi.
Kasus ketiga ditemukan pada akhir pekan lalu dan menjadi perhatian khusus penyidik. Berbeda dari dua korban sebelumnya, korban ketiga adalah seorang laki-laki. Tubuh korban ditemukan terpisah menjadi empat bagian, masing-masing dibungkus menggunakan kantong plastik hitam jenis sampah dan dibuang di beberapa titik berbeda. Polisi juga mengonfirmasi bahwa organ kelamin korban tidak ditemukan di lokasi mana pun.
Hingga kini, kepolisian menyatakan belum menemukan petunjuk kuat yang mengarah pada identitas pelaku. Tidak ada saksi mata, tidak ada rekaman kamera pengawas yang relevan, dan hampir seluruh lokasi penemuan minim jejak forensik.
Penyidik mengungkap bahwa rangkaian kejahatan ini menunjukkan eskalasi kekerasan serta perubahan pola korban. Meski demikian, terdapat kemiripan metode dengan kasus pembunuhan berantai yang terjadi belasan tahun lalu—kasus yang pelakunya saat ini masih menjalani hukuman penjara.
Polisi menegaskan belum ada indikasi keterlibatan langsung dari pelaku lama, namun tidak menutup kemungkinan adanya pihak lain yang memahami pola kejahatan tersebut secara mendalam.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan segera melapor jika menemukan barang mencurigakan atau aktivitas yang tidak biasa. Sementara itu, penyelidikan masih berlangsung dan polisi belum menetapkan tersangka”
Tiga korban.
Dua perempuan, satu laki-laki.
Tiga metode berbeda—dan satu pelaku yang hingga kini tidak meninggalkan jejak.
“Aku yakin, ini anaknya si pembunuh berantai itu” gadis yang memakai kacamata bulat berkata yakin. Duduknya sambil menyilangkan kaki di meja kerjanya. Jam makan siang akan datang sepuluh menit lagi. Satu gadis yang lain di sebelahnya mengedikkan bahu tak peduli.
“Dulu sangat viral. Aku selalu di takut-takuti ibuku jika pulang terlambat” yang lain menyahut dari balik mejanya. Laki-laki berusia 38 tahun menggunakan kawat gigi dan kacamata. Di sisi kanan tersekat dua meja, Joni duduk di sana, berkutat dengan komputer. Pria itu sibuk dengan pekerjaan, kendati, telinganya tetap menangkap apa yang sedang di bahas rekan-rekannya.
“Kenapa tidak di hukum mati saja? Aneh, kenapa membiarkan pembunuh berantai hidup? Walau dia di penjara, aku yakin dia bisa menyebarkan paham-paham sinting alias psikopat. Atau jangan-jangan, dia kongsi dengan anaknya yang masih berbaur dengan masyarakat? Orang-orang sakit yang dilepas hidup normal dalam masyarakat hanya akan menimbulkan kekacauan dan kerusakan. Kuharap mereka–orang gila itu bisa dihukum mati. Baik anaknya maupun ayahnya”
“Itu terlalu jahat. Bagaimana jika anaknya tidak seperti itu? Anaknya baik dan malah menjadi korban atas hal-hal yang tidak ia lakukan?” gadis yang tidak peduli itu angkat suara.
“Psikopat itu di turunkan. Tidak ada otak yang normal saat benihnya saja memiliki sakit mental”
“Aku tetap tidak setuju” kata si gadis kepada gadis yang lain.
“Terserah kamu saja. Semoga kelak kamu berjodoh dengan anak psikopat dan rasakan dampak lebih dahsyat setelah para korban”
“Kamu keterlaluan”
Mereka semua tertawa kecuali si gadis yang di sumpah serapah. Setelah itu, waktu makan siang datang. Tempaknya semua orang akan melanjutkan pambahasan tentang pembunuh berantai yang tengah marak di perbincangkan.
Joni hanya menarik napas. Mata sayunya menatap si gadis yang tidak ikut rombongan. Gadis itu bersenandung sembari merapikan map dan kertas-kertas. Saat ia bangkit, matanya berpapasan dengan milik Joni. Kontan pria itu mengalihkan pandangan.
“Joni, mau ke kantin bersama?” tawarnya ramah, yang ditawari menggeleng–seperti biasa. Joni memang tidak memiliki teman karena kemampuan sosialnya yang menyedihkan. Kecenderungan menghindari obrolan apapun di luar pekerjaan dan selalu menolak tiap ada ajakan membuat pria itu sempurna menjadi penyendiri—menarik diri dari masyarakat, meski di tempat kerja, tidak ada satupun yang tau jika ia adalah ‘anak itu’
Lantas si gadis pergi. Joni sendirian di ruang itu.
Ia menunduk, lalu mengusap wajah. Hatinya sakit dan tiba-tiba ia merindukan Kaca. namun tak mungkin menelepon di waktu ini. Matanya saja mulai merah dan tergenang. Seperti tingkat sensitivitasnya sedang tinggi. Mungkin saja karena kurang tidur, atau karena memang ia adalah pecundang sejak dulu.
Sial.
Tidak, Joni tidak menelepon Kaca. Tapi gadis itu yang meneleponnya lebih dulu.
Pada dering ketiga, saat ia mengatur napas dan suara, Joni mengangkat panggilan.
“Joni, Alisa mau membantuku meneleponmu” suara gadis itu terdengar ceria. Joni dapat membayangkan bagaimana ekspresi Kaca—kesenangan dengan senyum khas. Membayangkannya saja, Joni ikut tersenyum.
“Ya ya, kamu berhasil” Joni menarik napas. Mata merah ia seka, kini berganti menjadi senyum manis.
“Sudah makan siang?” suara kaca sangat lembut.
“Belum”
“Kenapa belum?”
“Akan, aku bangun”
“Ya, kamu harus makan siang. Atau lain kali, aku akan membawakan bekal untuk makan siang”
“Tidak perlu”
“Aku ingin membuatkannya, apa tidak boleh?”
“Tidak”
“Joni..” Kaca terdengar mengeluh “aku membicarakan soal mobil”
“Hentikan”
“Kita pasangan sekarang, aku akan melamarmu nanti, Joni. Sungguh” kata-kata Kaca serius dan gadis itu serius untuk semua hal.
“Apa kamu selalu seperti ini pada pria, Kaca?”
“Seperti apa?”
“Memberikan semua hal?”
“Tidak, aku tidak, aku bahkan baru pertama kali menjalin hubungan dan itu denganmu, Joni, sejak dulu. Memangnya, ada yang mau pada gadis buta? Aku begini karena takut—tidak maksudku, karena aku ingin mendukungmu”
“Aku tidak akan meninggalkanmu, aku tidak akan pergi kecuali kamu yang pergi. Aku juga tidak butuh tabunganmu dan aku benar-benar baik-baik saja dengan kendaraan umum dan berdesak-desakan. Aku suka”
“Kamu tidak berbakat bohong, Joni. Bahkan aku yang buta merasakan ketulusanmu. Semuanya. Kamu laki-laki baik meski stigma buruk masyarakat kembali timbul padamu. Aku akan selalu mendukungmu dan menjadi orang yang paling percaya jika kamu adalah laki-laki baik”
Jeda. Dan keheningan merambat seperti akar yang berjalan dalam bayangan.
“Aku benci keterikatan. Tapi aku lega karena setidaknya, ada satu manusia yang percaya padaku–bahwa, aku..” Joni menggigit bibir bawahnya “bahwa aku bahkan tidak mengenal ayahku dengan baik. Aku bahkan tidak tahu.. Aku tidak tahu apapun dan tiba-tiba seluruh tatapan mengarah padaku. Mereka menuduhku atas berita-berita mengerikan itu” Joni kembali emosional, ia menangis. Kaca dapat mendengar isaknya, jelas.
“Aku begitu menyukai koleksi kapak, pisau, pedang-pedang era perang. Aku menyukai senjata tajam. Dan jika polisi datang menggerebek rumahku atas tuduhan mengerikan yang sejatinya adalah buah dari ketidakkomptenan pihak berwajib, aku tidak tahu harus beralasan apa. Aku hanya memiliki alibi dan menjadi anak pembunuh benar-benar menyiksaku.. Kaca..” ia tergugu. Dan Kaca bersumpah baru sekali ini saja mendengar Joni berkata-kata panjang. Terisak, dan putus asa. Rupanya, berita tentang pembunuhan itu telah sampai pada telinganya. Bukan tentang kematian, namun tuduhan masyarakat yang kembali mengangkat kasus lama dengan pola yang mirip. Situasi itu pasti lagi-lagi membuat Joni tertekan. Meski diam, Kaca tau jika Joni sangat rapuh dan tingkat sensitvitasnya tinggi. Terbukti dengan pilihannya menarik diri dari masyarakat dan mungkin saja lingkungan kerja. Meski tidak semua orang mengenalnya. Beberapa lupa, kecuali warga lama yang tinggal dalam gang itu.
Ya, Joni tidak pernah sembuh. Pria itu hanya melanjutkan hidup dengan label anak pembunuh yang terus mengggantung di dahi. Ia terlalu banyak menunduk karena takut ada yang mengenali.
“Akan kututup. Ini memalukan, aku harus makan siang” Joni berdehem, sementara Kaca di seberang meminta sedikit lagi.
“Aku akan menunggumu meski sampai tengah malam. Aku akan menunggumu pulang, Joni”
Lalu panggilan berakhir.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Ya, karena sejak pagi, kantor terasa lebih ramai dari biasanya, sebab satu topik yang berputar-putar tanpa henti, seperti radio yang lupa dimatikan.
Kasus pembunuhan itu lagi.
Nama pelaku belum diumumkan, tapi spekulasi bergerak lebih cepat dari fakta. Di pantry, di dekat mesin kopi, di sela-sela rapat singkat—semuanya bermuara pada kesimpulan yang sama.
“Pasti anaknya,” kata seseorang sambil mengaduk gula.
“Ya logis aja,” sahut yang lain. “Darah itu nurun.”
“Mana mungkin kebetulan.”
Di dalam kepalanya, ada sesuatu yang menyempit perlahan.
Joni seperti biasa — tidak ikut bicara apapun yang dibahas dalam kantor kecuali masalah pekerjaan. Ia hanya mendengarkan, dan setiap kata seperti menambah berat di dadanya. Ini bukan lagi tentang tuduhan, tapi mendengar betapa mudahnya orang-orang sepakat tentang hal itu.
Seolah tak ada pilihan lain.
Menjelang sore, kepalanya mulai berdengung. Suara-suara jadi berlapis, tumpang tindih, dan ia merasa seperti berdiri terlalu lama di bawah cahaya yang terlalu terang. Joni sudah sampai rumah. Lembur hanyalah alasan agar Kaca tidak datang karena ia tidak bisa terus menerus bersama sang gadis. Joni hanya takut dengan keterikatan–meski mungkin saja sudah.
Ia bangkit dari sofa ruang tamu ke kamar mandi.
Begitu pintu tertutup, semua yang ia tahan seharian itu jatuh sekaligus.
Joni duduk di lantai kamar mandi, bersandar pada dinding dingin. Lututnya ditarik ke dada. Tangannya gemetar saat mencoba membuka kancing lengan baju, lalu berhenti, tak jadi apa-apa. Tangisnya keluar tanpa suara, seperti sesuatu yang bocor pelan-pelan dari celah yang sudah lama retak.
Ia menunduk, menatap ubin yang bersih, terlalu bersih. Ia menyikatnya sehari dua kali. Air matanya jatuh satu-satu, meninggalkan bercak kecil yang cepat menghilang. Napasnya tidak teratur, tapi ia berusaha mengecilkannya, seolah takut seseorang bisa mendengar dari balik pintu. Padahal rumahnya kosong.
Yang membuatnya paling sakit bukanlah tuduhan itu sendiri.
Melainkan kesepakatan. Bahwa semua orang begitu yakin. Bahwa tidak ada ruang untuk ragu. Di kepalanya terlintas wajah-wajah rekan kerjanya—biasa saja, ramah, orang-orang sama yang tertawa bersamanya kemarin. Ia membayangkan bagaimana suara mereka akan berubah jika tahu siapa dia. Bagaimana mata mereka akan menilai ulang setiap gestur kecilnya. Benar, bagaimana jika mereka tahu jika ia adalah anak pembunuh berantai itu?
Joni menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya bergetar sekali, lalu diam. Tubuhnya sendiri ragu apakah menangis ini diperbolehkan.
Dan sialnya, siapapun yang masuk. Joni merasa semakin buruk.
Pintu kamar mandi terbuka perlahan.
Joni tidak menoleh. Ia bahkan tidak terkejut. Langkah itu sudah ia kenal dan hanya satu-satunya kandidat yang berani dan biasa masuk dalam rumahnya.
Kaca masuk dan menutup pintu kembali. Ia sudah datang lima belas menit setelah Joni pulang, lantas mencari pria itu dimana-mana dan tidak menemukan kecuali suara isak di kamar mandi.
Kaca tidak menuntut penjelasan. Ia hanya duduk di lantai, di sampingnya, jaraknya cukup dekat untuk terasa, cukup jauh untuk tidak memaksa.
Beberapa detik berlalu sebelum Kaca mengulurkan tangan—menggagap ingin menyentuh lengan Joni dengan hati-hati. Saat melihat Kaca mencarinya, Joni memegang tangan si gadis duluan.
Joni menghela napas panjang, semua terasa memalukan. Ia begitu membenci situasi dimana kelemahannya naik. Dan Kaca melihat segalanya meski gadis itu diam saja.
Tidak.
Kaca merangkulnya. Joni bersandar. Kepalanya jatuh ke bahu Kaca, beratnya tidak ditahan sepenuhnya, tapi cukup.
“Aku nggak ngapa-ngapain,” katanya akhirnya. Suaranya serak dan lebih mirip pernyataan yang ia ulangi pada dirinya sendiri.
Kaca mengusap punggungnya, gerakan kecil yang berulang. Tidak berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak mengatakan dunia kejam. Gadis itu hanya ingin ‘ada’ dan membuat Joni merasa nyaman.
Tangis Joni mereda menjadi isakan pendek yang datang dan pergi. Di luar, hujan turun mengguyur. Dunia terus berjalan, tanpa peduli kamar mandi kecil itu menyimpan seseorang yang sedang mencoba tetap utuh.
Untuk sesaat, Joni menutup mata.
Di pelukan itu, ia terlihat seperti siapa saja.
Seorang laki-laki lelah.
Seseorang yang terlalu sensitif untuk dunia yang terlalu cepat menilai.
Dan tak ada satu pun yang tampak berbahaya. Hanya pria kecil yang tidak pernah sembuh sejak dulu—sejak kenyataan membawanya tetap pada ketidakmengertian tentang hidupnya sendiri. Tentang alasan kenapa hidupnya sebatang kara sejak dini, tentang kesepian dan rasa takut memulai hubungan dengan manusia.
“Kaca, kamu seharusnya takut, aku anak pembunuh” memalukan, beruntungnya, Kaca tidak akan bisa melihat bagian memalukan itu. Matanya bengkak. Kantung mata melingkar hitam.
“Jika ada yang harus kutakuti, itu adalah kehidupan ini. Kehidupan hampa dan gelap. Aku sudah melewati rasa takut hingga tidak ada lagi ketakutan yang lebih menakutkam dari berjalan pada kegelapan sampai mati. Maka, aku mengatakan dengan percaya diri, setelah kedua bola mataku rusak, aku tidak takut pada apapun lagi. Aku tidak takut pada kematian dan aku tidak takut pada sialan apapun”
Joni mendongak, ia memperhatikan wajah Kaca dengan sisa isaknya yang perlahan berhenti “kamu percaya aku?”
“Hm, sangat. Bahkan jika seluruh dunia berkata kau adalah ini dan itu. Aku akan ada di sisimu”
Joni makin tergugu, ia menangis lebih keras sambil memeluk Kaca. isaknya pecah “ini memalukan astaga.. Tapi aku merasa lega”
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Blok C sudah mengenalnya selama belasan tahun.
Nama aslinya jarang disebut. Di papan data ia hanya angka dan pasal. Namun di lorong itu, ia adalah pusat gravitasi yang tak terlihat. Para napi baru dipaksa belajar dengan cepat seperti; jangan terlalu keras berbicara di dekat sel nomor tujuh. Jangan menatap terlalu lama. Jangan bercanda tentang kasus lamanya.
Ia tidak berbahaya secara fisik. Tubuhnya sudah tak sekuat dulu. Rambutnya memutih rapi, dipotong pendek juga selalu mengenakan pakaian tahanan dengan bersih, terlipat, seperti rumah sendiri yang masih punya lemari kayu di rumah. Tangannya tidak pernah gemetar–cenderung sangat lihai saat membuat pahatan kayu sebagai aktivitas harian. Geraknya lincah dan terukur.
Ia jarang berdiri lebih lama dari yang perlu. Duduknya tenang, kaki menapak lantai semen, punggung lurus. Khas seseorang yang memimpin meja makan.
Di jari manisnya masih melingkar cincin perak tipis. Tidak pernah dilepas.
Yang membuat orang lain menjaga jarak bukanlah kekerasan. Ia tidak pernah memukul siapa pun. Tidak pernah terlihat terlibat perkelahian. Bahkan ketika dua napi bertengkar di depan selnya, ia hanya mengangkat kepala sedikit, menatap mereka tanpa emosi.
Perkelahian itu berhenti lebih cepat dari biasanya.
Sejak itu, tak ada yang berani ribut di depan selnya lagi.
Setiap bulan, pada tanggal yang sama, seorang sipir senior akan memanggil namanya dengan suara datar. Ia akan berdiri, melangkah keluar dengan tenang, dan menuju ruang administrasi.
Tidak pernah lama. Tidak lebih dari sepuluh menit.
Ketika kembali, ia tidak membawa apa-apa. Namun beberapa jam kemudian, di luar tembok penjara, sejumlah uang akan sampai kepada seorang anak yang hidup sendirian, rapuh dan takut pada dunia.
Tidak pernah terlambat. Tidak pernah kurang satu rupiah pun bahkan cenderung bertambah.
Ada yang mencoba menebak sumbernya. Sisa harta lama? Investasi? Seseorang di luar yang masih loyal? Tidak ada jawaban. Pihak penjara tak pernah menemukan transaksi ilegal. Semua terlihat sah. Terlalu sah.
Ia tidak pernah menyebut nama anaknya. Tidak pernah bertanya apakah seseorang datang menjenguk. Dan karena memang tidak pernah ada siapapun yang datang.
Namun suatu kali, ketika seorang napi baru mengejeknya dengan nada meremehkan—“Anak Bapak malu, ya?”—ia hanya menoleh perlahan.
“Anak saya tidak perlu datang untuk tetap berada di bawah perlindungan saya.” Tak ada nada ancaman. Hanya pernyataan. Napi itu dipindahkan ke blok lain dua minggu kemudian setelah terlibat pelanggaran kecil. Kebetulan, kata sipir.
Di blok C, kebetulan jarang dianggap benar-benar kebetulan.
Beberapa bulan terakhir, ia lebih sering membaca berita dari koran. Duduk di bawah lampu redup, halaman kriminal terbuka di pangkuannya. Berita tentang mayat yang ditemukan terpotong, disusun dengan presisi, dibungkus rapi seperti tangan dewa yang lihai.
Ia membaca tanpa ekspresi.
Jarinya berhenti tepat di bagian yang menjelaskan detail luka: potongan bersih, sudut sayatan konsisten, tidak terburu-buru. Ia menutup koran perlahan, menyandarkannya di samping kasur.
Malam itu ia tersenyum.
Tangannya masih lihai, tidak ada yang berubah. Semua orang terus mengakui–padahal ia tidak butuh validasi.
Pun tidak pernah menerima telepon ilegal. Tidak pernah kedapatan menyelundupkan ponsel. Tidak pernah menulis surat mencurigakan. Setiap interaksinya tercatat, diawasi dan bersih.
Namun ada hal-hal kecil yang tidak tercatat.
Seorang napi tua yang dulunya bekerja di pelabuhan sering duduk di dekat selnya, hanya untuk berbincang sebentar. Seorang tukang dapur penjara selalu memastikan jatah makanannya tidak pernah kurang. Sipir malam sesekali berdiri sedikit lebih lama di depan selnya, seolah menunggu sesuatu—lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Ia tidak pernah meminta. Tetapi hal-hal tetap bergerak.
Suatu malam, listrik di blok itu sempat padam beberapa menit. Dalam gelap, suara langkah dan bisikan terdengar samar. Ketika lampu menyala kembali, semuanya kembali pada tempatnya. Kecuali eksistensinya.
Seorang napi muda pernah memberanikan diri bertanya, setengah berbisik, “Pak… kalau orang punya pengaruh sebesar Bapak, masih bisa mengatur dari sini, ya?” Ia mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya tidak ramah, namun tidak marah juga. Biasa, datar tanpa emosi.
“Pengaruh,” katanya tenang, “tidak selalu butuh kehadiran.” Hening menyelimuti lorong itu. Tidak ada yang tahu apakah ia benar-benar memerintah seseorang di luar. Tidak ada bukti atau saksi. Tidak ada komunikasi yang bisa disita.
Namun dia raja di tempat itu. Apapun yang diminta, sipir akan menuruti; seperti keluar dari penjara beberapa saat dan kembali tanpa satu pun yang curiga.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Sejak awal, Kaca tidak pernah menyukai Anton.
Bukan karena ia tahu wajah lelaki itu seperti apa. Ia tidak pernah melihatnya, tentu saja. Tetapi suara langkahnya terlalu berat ketika melewati pintu kamar. Cara ia berdehem di depan pintu terlalu lama. Dan yang paling membuat Kaca mengeras adalah kebiasaan kecil yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Ketukan.
Pelan.
Dua kali.
Lalu hening.
Sering terjadi saat malam sudah larut, ketika bibi Kaca tertidur lebih dulu. Ketika rumah sunyi dan hanya ada suara kipas angin berputar lambat.
Pernah sekali Anton masuk ketika ia lengah tak mengunci pintu. Kaca langsung menjerit dan Anton mengatakan hal dengan gagap dan meminta si gadis berhenti menjerit sementara ia melangkah keluar.
Sejak itu, tiap ketukan selalu berhasil membuat tubuh Kaca menegang di atas kasur. Nafasnya tertahan, telinganya waspada. Ia tahu arah langkah orang dari bunyinya. Ia tahu siapa yang berdiri di luar sana.
“Sudah tidur, Ka?” suara Anton pernah terdengar pelan, nyaris seperti bisikan. Dan itu benar-benar menjijikan. Kaca tidak pernah menjawab.
Ia akan menarik selimut sampai ke dagu, memalingkan wajahnya ke dinding, dan menunggu sampai langkah itu menjauh. Tapi setelah itu, ia tidak pernah benar-benar bisa tidur lagi.
Pagi harinya, ia akan bersikap seperti biasa—atau justru lebih tajam dari biasanya.
Jika Anton tertawa terlalu keras di ruang tamu, Kaca akan menegur singkat. Jika Anton menawarkan bantuan, Kaca menjawab seperlunya. Saat bibinya memuji lelaki itu, Kaca hanya diam.
Anton selalu bersikap sopan di depan bibinya. Suaranya ramah. Tawanya hangat. Ia terdengar seperti lelaki baik yang hanya sedikit canggung. Tapi Kaca mengenali jeda dalam napasnya ketika berdiri di depan pintu kamar. Ia mengenali cara suara itu berubah ketika berbicara hanya padanya.
Hal-hal kecil yang sulit dibuktikan, tetapi cukup untuk membuatnya waspada.
Lalu, ketika berita kematian Anton terdengar di televisi, perasaan Kaca bukan hanya sedih. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat dadanya terasa lega—dan ia langsung membencinya karena itu. Ya, mayat yang ditemukan dalam kantong sampah plastik hitam, terbagi menjadi empat bagian sementara hingga kini, polisi tidak menemukan penis dan testis korban. Benar, itu adalah Anton.
Bibinya hancur. Itu nyata. Tangisnya tidak dibuat-buat. Cintanya pada Anton juga nyata. Kaca duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. Ia ikut melayat, berdiri di pemakaman sambil mendengar tanah jatuh satu per satu menutup liang kubur. Namun di dalam dirinya, ada hati yang tidak bisa ikut berkabung meski di paksa.
Dikepalanya, Kaca mengingat ketukan itu. Mengiringinya dengan suara tanah yang menghantam kayu. Dan ia merasa bersalah. Karena sebagian kecil dari dirinya berpikir bahwa sekarang tidak akan ada lagi yang berdiri di depan pintu saat malam.
Tidak akan ada lagi deheman menyebalkan. Namun ia kasihan pada bibinya.
Beberapa hari setelah pemakaman, ketika rumah kembali sunyi dan susana hati bibinya belum kembali utuh, Kaca memberanikan diri duduk di dekat bibinya yang termenung.
“Bi…” tangannya berusaha meraba milik sang bibi, namun bibinya lebih dulu memegang tangan Kaca.
“Hm?”
“Aku mau menikah.”
Bibinya terdiam lama. Jeda itu terasa begitu panjang hingga Kaca lebih menajamkan rungu. Sekedar ingin mendapat jawaban dari tiap hela napas, atau apapun yang dapat di tangkap rungu.
“Dengan Joni?” tanyanya kemudian.
“Iya.”
Suara Kaca stabil cenderung tenang. Tidak terburu-buru. Seperti keputusan itu sudah direncanakan sejak lama—sejak malam-malam ia merundingkan dengan Joni.
Bibinya menarik napas panjang. Dunia baru saja mengambil lelaki yang ia cintai. Dan kini keponakannya ingin memulai hidup baru.
“Kamu yakin?”
“Aku yakin.”
Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada alasan yang diurai satu per satu. Hanya keyakinan yang terasa tenang—berbeda dari kecemasan yang dulu sering membuatnya sensi dan ketus setiap kali Anton mendekat. Bibinya meraih wajah Kaca dengan kedua tangan. “Kalau kamu merasa aman dengan Joni… menikahlah.”
Aman.
Kata itu menggantung lama di antara mereka. Kabar tentang kasus pembunuh berantai dengan pola yang serupa dengan kejahatan yang dilakukan ayah Joni. Kaca tau kemana arah bibinya mengatakan ‘aman’ namun wanita itu tidak menasehati, tidak mengatakan apa-apa lagi—seperti indikasi khawatir. Nyatanya, sang bibi sudah tahu jika Kaca dan Joni telah lama berteman. Semua berjalan normal bagi keduanya. Dan mungkin saja hanya Joni yang bisa menerima Kaca dalam kondisi itu sebagai istri. Bukannya mereka saling menguatkan?
-ˋˏ✄┈┈┈┈
2 minggu kemudian.
Kasus pembunuhan seperti menjeda dengan napas. Benar, setelah 3 mayat di temukan beruntun dalam kurun satu minggu, kini dalam dua minggu semua menjadi tenang. Polisi masih terus dalam penyelidikan, menghimbau pada warga untuk memberikan keterangan apapun yang mencurigakan dan ikut mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bekerja sama.
Ya, seperti pernikahan Kaca dan Joni yang berjalan sederhana namun khidmat. Di saksikan bibi Kaca, penghulu, dan beberapa saksi tetua di gang itu, pernikahan berjalan lancar.
Tidak ada perayaan, tidak ada undangan. Pun teman-teman kerja Kaca hanya mengundang beberapa. Sementara Joni sendiri tidak mengundang siapapun. Kendati demikian, seseorang pasti datang.
Ya seseorang datang di kejauhan. Hanya berdiri dengan kaki kurus dan jas kebesaran di balik batang mangga. Rambut putihnya tersisir rapi dengan raut tak kalah datar. Dari jauh, namun lantunan ijab kabul itu terdengar jelas. Ia tidak tersenyum, mungkin itu adalah jeda yang di maksud. Atau katakan cara menjadi manusia seutuhnya dengan menggenggam cinta. Tidak masalah pada gadis buta. Tidak ada yang disayangkan.
Lalu sosok itu melangkah pergi.
Malam-malam menakutkan saat Anton masih hidup sudah pergi. Malam-malam hening dalam kesepian pun kini telah usai. Kaca berpamitan pada sang bibi setelah prosesi ijab kabul selesai. Keduanya mantap akan tinggal di rumah Joni.
Kendati diri yang pertama datang menawarkan cinta, mengajak menikah dan meluruhkan gengsinya untuk memeluk pria itu duluan, namun hasilnya terbayar dengan pernikahan. Joni juga mencintainya, mungkin saja jika ia utarakan isi hatinya lebih cepat, status ini akan lebih cepat pula terjadi. Sudah sangat lama Kaca menahan perasaan, ternyata Joni juga. Bedanya, pria itu hanya terlalu banyak diam.
Malam-malam itu terjadi.
Malam-malam yang kerap hinggap dipikiran gadis perawan. Malam panas setelah semua prosesi ijab. Ya, Joni melakukannya dengan baik. Pria lembut dan penuh kekhawatiran. Pria yang begitu rapuh namun kuat sekaligus. Pria itu menggagahinya di malam hujan, di bawa lampu temaram kamar. Keringatnya berkumpul di dahi. Suaranya kelewat seksi. Malam itu, malam terindah, malam yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidup.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Ruang rapat itu terasa lebih gerah dari seharusnya.
Pada dindingnya, foto-foto korban dipasang rapi. Anton di tengah—identitas sudah jelas, latar belakang sedang ditelusuri. Di sekelilingnya, beberapa foto lama dari belasan tahun silam: perempuan-perempuan yang pernah ditemukan dalam kondisi serupa. Tubuh terpotong. Disusun. Dibungkus. Dikuliti. Tidak ada sidik jari. Tidak ada DNA asing yang bisa dipakai menuntut. Hanya pola.
Komisaris Surya berdiri dengan tangan terlipat di depan papan investigasi. Usianya melewati lima puluh, rambutnya mulai memutih, dan ia sudah cukup lama berada di dunia pembunuhan untuk tahu bahwa kejahatan punya kebiasaan.
“Potongan bersih, presisi. Pelaku tahu anatomi. Atau setidaknya terlatih.”
“Tidak ada sidik jari di plastik. Tidak ada di lokasi pembuangan,” sahut seorang penyidik muda. “Kami periksa ulang. Semua bersih.”
“Bersih bukan berarti tidak ada,” jawab Surya. “Bersih berarti seseorang sengaja membersihkan.”
Ia menunjuk foto lama di sudut papan.
Kasus beberapa belas tahun lalu. Perempuan ditemukan di pinggiran kota. Tubuh dipisah menjadi beberapa bagian. Organ tertentu hilang. Pelaku akhirnya tertangkap—seorang pria yang bekerja sebagai karyawan biasa. Tenang. Pendiam. Mencintai keluarganya dan tidak pernah terlihat mencolok. Dan kejamnya, bukan hanya satu korban.
Nama itu kini ada di berkas berbeda. Ia tidak dihukum mati. Ia menjalani hukuman seumur hidup.
“Polanya sama,” gumam salah satu tim forensik. “Cara membungkus. Cara memotong. Bahkan lokasi pembuangan yang tersebar tapi tetap dalam radius tertentu.” “Bedanya? Korban laki-laki.”
Ruangan hening.
Surya menatap kembali papan itu. Ia tidak percaya pada kebetulan yang terlalu rapi.
“Tapi tidak ada jejak,” kata penyidik muda itu lagi. “Tidak ada komunikasi keluar dari lapas yang mencurigakan. Tidak ada transaksi. Tidak ada kunjungan aneh.”
“Pembunuh berantai tidak selalu membunuh dengan tangannya sendiri,” jawab Surya hampir seperti bisikan. Kalimat itu tidak ditujukan pada siapa pun, tapi menggantung cukup lama di udara. Mereka menyisir ulang arsip lama. Wawancara lama diputar kembali. Catatan psikolog forensik dibuka ulang. Di sana tertulis tentang kebutuhan akan kontrol. Tentang kecenderungan mengulang pola sebagai bentuk kepuasan. Tentang kemungkinan “penerus”—orang yang terpengaruh, sadar atau tidak. Nama anaknya muncul dalam berkas.
Joni.
Tidak ada catatan kriminal. Tidak ada pelanggaran. Riwayat hidupnya bersih. Terlalu bersih dan Surya tidak menyukai kata “terlalu”
“Kita tidak bisa menuduh orang hanya karena dia anaknya,” kata salah satu anggota tim.
“Benar,” jawab Surya. “Dan kita juga tidak bisa mengabaikan pola hanya karena tidak ada sidik jari.” Masalahnya sederhana sekaligus rumit: hukum butuh bukti. Pola bukan bukti. Intuisi bukan bukti. Kecurigaan bukan bukti. Dan pelaku, siapa pun dia, tahu itu.
Beberapa hari kemudian, tanpa mengumumkan pada timnya, Surya mengajukan izin kunjungan ke lembaga pemasyarakatan tempat ayah Joni menjalani hukuman.
Benar-benar dilakukan sendiri atas inisiatif sendiri. Mengingat betapa ia muak mirip di tertawakan pelaku dari kejauhan—ketika seluruh satuannya dibuat bingung.
Lapas selalu berdinding tinggi, catnya kusam, dan gerbang besinya mengeluarkan bunyi berat saat dibuka.
Surya duduk di ruang kunjungan terbatas.
Beberapa menit kemudian, seorang pria dibawa masuk. Rambutnya memutih—seperti biasa disisir rapi, tubuhnya lebih kurus dibanding foto lama di berkas. Namun matanya—matanya tetap sama.
Tenang.
“Sudah lama tidak ada yang datang khusus hanya untuk berbicara,” ujar pria itu sambil duduk. Suaranya datar, cenderung santai. Surya tidak langsung menjawab. Ia meletakkan map tipis di meja.
“Ada kasus baru,” katanya.
Pria itu tersenyum tipis. “Di luar?”
“Seorang laki-laki. Dimutilasi. Polanya… mengingatkan kami pada sesuatu.” Keheningan menyusul. Pria itu tidak terlihat terkejut. Ia juga tidak terlihat tertarik. Hanya memiringkan kepala sedikit, seperti mendengar cerita biasa.
“Dan Anda datang kemari karena?” tanyanya.
“Karena pola jarang berubah.”
“Orang bisa belajar,” jawabnya pelan. “Orang juga bisa meniru.”
Surya menatapnya tajam. “Anda merasa ada yang meniru Anda?”
Senyum itu muncul lagi. Lebih samar dan tipis. “Komisaris,” katanya, “Anda tahu saya di sini. Anda punya kunci. Anda punya penjaga. Kalau ada yang membunuh di luar, itu bukan tangan saya.”
“Tangan, mungkin tidak.”
Kalimat itu sengaja dibiarkan menggantung. Pria itu tertawa kecil. Mirip hembusan napas yang mengandung ejekan halus. “Anda datang tanpa bukti,” katanya. “Hanya cerita lama.”
Surya berdiri perlahan. “Cerita lama kadang belum selesai,” jawabnya. Saat ia meninggalkan ruang kunjungan, ia sadar satu hal yang membuat tengkuknya merinding bahwa pria itu tidak pernah bertanya bagaimana korban dibunuh. Ia hanya berkata: “di luar” seperti sudah tahu dan itulah masalahnya. Tidak ada sidik jari, DNA, apalagi saksi. Hanya pola yang terlalu sempurna untuk disebut kebetulan. Dan satu nama yang tidak bisa disentuh hukum—karena berada di balik jeruji besi.
Surya kembali ke kantor dan memeriksa ulang rekaman kunjungan di lapas. Ia menonton dengan volume pelan, mengamati setiap gerakan kecil seperti cara pria itu menyilangkan tangan, cara sudut bibirnya naik ketika mendengar kata “pola”. Tidak ada pengakuan juga celah hukum. Tapi ada sesuatu yang terlalu tenang dan ketenangan bagi Surya, sering kali lebih mencurigakan daripada panik. Ia mengajukan audit internal terhadap lapas.
Resminya: pemeriksaan prosedur keamanan rutin.
Tidak resminya: ia ingin melihat dengan mata sendiri.
Bangunan itu tampak tertib. Jadwal kunjungan dicatat. Jam makan teratur. Kamera terpasang di lorong-lorong utama. Sipir-sipir terlihat profesional—beberapa bahkan sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun.
“Tidak ada yang aneh,” kata kepala lapas dengan nada defensif. “Dia narapidana model. Tidak pernah membuat masalah.”
“Itu yang justru membuat saya khawatir,” jawab Surya. Ia meminta daftar petugas yang berjaga di blok sel tersebut dalam dua tahun terakhir. Ia mencatat siapa saja yang pernah menerima sanksi ringan. Siapa yang terlilit utang. Siapa yang baru membeli kendaraan baru di luar kemampuan gaji. Pola pembunuhan di luar lapas menunjukkan satu hal: pelaku merasa aman. Tidak terburu-buru cenderung tenang dan tidak ceroboh.
Artinya, ia tidak takut tertangkap. Surya mulai mempertimbangkan kemungkinan yang lebih gelap bahws bukan ia yang keluar—melainkan ada yang membawakan dunia luar kepadanya.
Hingga saat Malam datang. Surya duduk sendiri di ruang kerjanya. Foto Anton di meja. Foto-foto korban lama di layar komputer. Ia menarik garis imajiner. Potongan tubuh disusun dengan pola lama. Organ tertentu dihilangkan—seperti tanda tangan serta plastik hitam kualitas industri—jenis yang sama dengan kasus lima belas tahun lalu.
“Orang bisa meniru,” gumamnya, mengulang kata-kata narapidana itu.
Benar.
Tapi meniru hingga ke detail kebiasaan? Itu bukan sekadar penggemar. Itu keterlibatan. Dan di malam itu juga, ia kembali ke lapas tanpa pemberitahuan resmi.
Ia terburu-buru karena jika ditahan, hanya akan membuatnya gelisah dan berujung tak bisa tidur.
Kali ini bukan ke ruang kunjungan. Ia meminta akses ke area pengawasan, melihat titik buta kamera. Ada beberapa sudut lorong yang tidak sepenuhnya terpantau.
Ia berbicara satu per satu dengan sipir.
Nadanya berusaha terdengar tenang dan ramah. Pertanyaan biasa. Tentang jadwal. Tentang perilaku narapidana itu. “Dia sering menulis,” kata seorang sipir muda.
“Menulis apa?”
“Entah. Catatan. Kadang surat, tapi tidak pernah dikirim. Katanya untuk terapi.”
Surya meminta izin memeriksa isi sel.
Di dalam, semuanya rapi. Buku-buku tertata. Tempat tidur dilipat sempurna. Ada beberapa lembar kertas di laci kecil. Tulisan tangan yang teratur. Tidak ada ancaman. Tidak ada rencana. Hanya kalimat-kalimat reflektif tentang kesalahan masa lalu.
Tapi Surya menemukan sesuatu yang mengusiknya.
Sketsa.
Hanya potongan garis yang menyerupai diagram tubuh. Garis potong. Sudut.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
“Terapi,” kata narapidana itu ketika Surya memperlihatkan kertas tersebut pada kunjungan berikutnya. “Psikolog bilang saya harus menghadapi masa lalu.”
“Kebetulan sekali sudutnya sama dengan kasus terbaru,” jawab Surya pelan. Pria itu tersenyum tipis lagi.
“Komisaris,” katanya lembut, “Anda sedang mencari hantu di tempat yang salah.” Kecurigaan Surya berubah menjadi sesuatu yang lebih personal.
Ia mulai memantau rekening sipir-sipir tertentu melalui jalur intelijen internal. Ada satu nama yang membuatnya berhenti lebih lama yaitu seorang sipir senior dengan riwayat utang perjudian. Meski tidak ada transaksi mencurigakan secara langsung, namun ada setoran tunai berkala dalam jumlah kecil. Terlalu kecil untuk menarik perhatian besar tapi kelewat rutin untuk diabaikan. Dan Surya tidak bisa langsung menuduh. Ia kembali hanya bisa mengawasi.
Beberapa minggu kemudian, ia mendapat laporan tak resmi dari seorang informan bahwa ada narapidana tertentu yang “dihormati” lebih dari seharusnya. Tidak pernah digeledah mendadak. Tidak pernah dipindah blok.
“Seperti punya hak istimewa,” kata informan itu.
Hak istimewa.
Kata itu membuat dada Surya mengeras. Pada kunjungan ketiganya, Surya duduk lebih dekat dari biasanya.
“Anda tahu apa yang membuat saya yakin?” tanyanya pelan. Narapidana itu menatapnya tanpa berkedip. “Karena pola bukan sekadar cara memotong, itu tentang kebutuhan untuk dikenali tanpa tertangkap.”
Hening.
“Anda tidak menyentuh korban,” Surya melanjutkan. “Tapi seseorang melakukannya untuk Anda. Atau karena Anda.” Senyum pria itu tidak berubah.
“Kalau saya punya pengaruh sebesar itu,” katanya ringan, “mungkin saya memang pantas ditakuti.”
Semua hal menjadi semakin menjengkelkan.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Benar, rasa mirip di ejek dan di tertawakan pelan-pelan merambat pada personal. Surya membawa satu anak buahnya yang bertubuh besar untuk menyambangi kediaman Joni–anak terduga yang berhasil membuatnya jengkel.
Tanpa surat penangkapan, tanpa aba-aba.
Keduanya datang tepat setelah matahari tenggelam. Joni baru saja pulang bekerja, membawakan istrinya steik untuk makan malam bersama.
Belum diketuk, Surya mendengar suara kekehan dari depan. Saat ia mengintip, matanya menangkap dua pasang sedang bercumbu di ruang tamu. Ciuman hangat namun dalam, Surya menghela napas dan membuang pandangan.
Lalu, ia mengetuk.
Tidak lama, hanya butuh dua kali ketuk, langkah kaki mendekat dan grendel bergerak—pintu terbuka.

Joni kebingungan sebentar. Sang Komisaris mengenalkan diri sebagai anggota satuan kriminal dan beretorika ini dan itu—berusaha meyakinkan Joni akan tindakannya yang ilegal.
“Kami mendapat perintah untuk menggeledah rumah anda” katanya ramah. Kontradiksi dengan raut “anda anak dari pembunuh berantai belasan tahun silam, kan? Kami di minta melihat-lihat dan tidak akan membuat keributan jika anda bisa diajak bekerja sama.
Joni tidak menjawab, tidak melarang atau berekspresi signifikan. Namun tiap sorot mata dan gesturnya jelas diperhatikan oleh Surya. Sementara satu wanita yang mendekat dengan meraba-raba—Surya juga baru tau jika sang wanita buta.
Lalu ia mulai bergerak–menyisiri tiap sudut rumah yang tidak terlalu besar itu. Kamarnya ada tiga dan satunya di gunakan untuk ruang kerja, sementara satu lagi gudang.
Tapi belum sampai pada ranah-ranah privasi, Surya lebih dulu diperlihatkan koleksi-koleksi yang jelas berkorelasi dengan apa yang membuatnya mendatangi rumah ini.
Ya, kapak di gantung di dinding, pedang panjang, keris, pisau beraneka ragam, parang dan benda-benda tajam lainnya. Itu ada di ruang tengah. Surya memotretnya dengan ponsel.
“Untuk apa semua senjata tajam ini.. Pak.. siapa nama anda?”
“Joni” jawan Joni tenang
“Ya, untuk apa semua senjata tajam ini, Pak Joni? Anda adalah seorang anak kriminal kelas berat sementara berita tentang pembunuhan sedang marak di luar. Dan anda memiliki senjata-senjata ini di rumah”
“Apa memiliki koleksi senjata tajam untuk kesenangan pribadi artinya adalah seorang pembunuh?” Joni bertanya dan Surya menatap penuh ke wajahnya.
“Apa memiliki koleksi tupperware untuk kesenangan pribadi artinya seseorang tidak memakai tupperware? Apakah seseorang itu menggunakan piring keramik?”
“Analogi anda tidak tepat, Pak” Joni menghela napas “tupperware digunakan untuk kebutuhan krusial seperti makan dan minum, sementara saya hanya menggunakan kapak dan parang sederhana untuk merencah daging dan tulang sapi. Senjata unik dan beragam adalah hobi saya. Apa ada yang salah? Apa jika saya adalah anak pembunuh, lantas saya tertuduh sebagai pembunuh hanya karena anak seorang pembunuh memiliki koleksi senjata tajam–meski bapak tidak memiliki bukti?”
Hening menggantung. Surya lagi-lagi meneliti tiap perubahan ekspresi Joni, mengamati gestur. Matanya sesekali mengedar pada Kaca yang menyimak sambil menajamkan rungu.
“Apa anda punya koleksi yang lain?” tanya Surya setelah menghela napas.
“Anda bisa menggeledahnya sendiri, Pak. Lihat apa yang ingin anda lihat. Dan biarkan saya makan malam karena istri saya menunggu berjam-jam hanya untuk makan malam bersama saya”
Surya mendengus sambil melangkah–menggeledah apapun sementara Joni menggamit tangan Kaca. Berbisik pada istrinya untuk tidak khawatir dan melanjutkan makan malam yang tertunda.
“Aku tidak apa-apa, Ka. Jangan tegang” Joni menenangkan istrinya. Wajah Kaca jelas sedih.
“Kamu menangis kemarin di kamar mandi karena tuduhan-tudahan subjektif. Aku hanya takut kamu sedih lagi” Kaca mengusap wajahnya kasar. Joni menyuapkan makan malam sambil tertawa–agar Kaca mendengar bahwa ia baik-baik saja.
“Itu karena kemarin-kemarin aku sendirian. Aku merasa tidak memiliki siapapun di dunia ini dan seluruh isi bumi seperti menuduhku atas hal-hal yang tidak pernah aku lakukan. Sekarang, aku memilikimu, sayang. Aku tidak lagi peduli jika seluruh dunia berkata jika aku adalah kriminal mengerikan. Pun, aku tidak bisa mengontrol isi kepala orang. Sekarang, aku memilikimu, masalahku selesai”
Kaca terharu, ia mengusap air matanya disudut, mulutnya pengunyah makanan.
Rasanya lega sedikit.
Hingga Surya kembali keluar dari kamar—atau entah.
Joni bangkit. Ia tidak bertanya dan Surya hanya menatapnya tanpa berkedip. Agak lama, hingga menciptakan jeda yang aneh. Dua tangan Surya dalam saku.
“Mohon maaf sudah mengganggu waktu anda, Pak. Tapi, bolehkah kami kembali sewaktu-waktu jika diperlukan?” pertanyaan itu di jawab anggukan antusias.
“Tentu saja, datanglah kapanpun jika itu untuk kebutuhan investigasi”
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Hm–hm
I used to float, now I just fall down
I used to know but I’m not sure now
What I was made for
What was I made for?
Takin’ a drive, I was an ideal
Looked so alive, turns out, I’m not real
Just something you paid for
What was I made for?
Hm–hm….
2 minggu berlalu setelah kedatangan Surya ke rumah Joni.
Tidak tahu apa lagi kali ini. Namun Mobil-mobil itu datang menjelang magrib–lagi, ketika cahaya matahari sudah turun setengah dan bayangan pagar rumah memanjang seperti jeruji kedua di atas tanah. Datangnya tidak membawa sirine, hanya deru mesin yang dimatikan serentak. Benar, kali ini bukan hanya Surya dan satu rekannya. Tapi lebih.
Pintu rumah Joni terbuka sebelum mereka mengetuk untuk kedua kali. Ia berdiri tenang, wajahnya kosong, tangan kanannya masih memegang gagang pintu. Di belakangnya, dinding masih menyimpan deretan tempat pisau-pisau dan seluruh koleksinya beristirahat.
Kaca sedang di dapur menyiapkan makan malam. Komisaris Surya berdiri paling depan. Wajahnya lebih cerah meski tetap tidak ramah “Selamat sore, Pak Joni”
Joni mengangguk kecil. “Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?” Kata lagi itu menggantung tipis di udara. Surya tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan secarik map cokelat dari bawah lengannya “kami perlu Anda ikut ke kantor.”
Tatapan Joni tidak berubah. “Untuk apa?” Surya menatapnya beberapa detik—agak lama.
“Untuk menjelaskan sesuatu yang terlalu bersih untuk dianggap kebetulan.”
Dua anggota bergerak mendekat. Borgol terpasang tanpa perlawanan. Tidak ada drama hingga menciptakan keributan kecuali bunyi klik kecil yang terdengar lebih keras tiba-tiba memenuhi kepalanya.
Dan dari dalam rumah itu, bau logam yang sangat halus masih terasa—bau besi yang dirawat dengan sabar. Surya menciumnya, terlalu detail seperti penciuman anjing.
Beberapa Minggu Sebelumnya–tepat setelah kunjungan ke rumah itu. Surya masih mengingat bahkan detail bagian berjamur pada dinding rumah itu.
Penggeledahan yang tidak menghasilkan apa-apa selain koleksi senjata tajam yang tersusun rapi. Pisau dapur Jepang. Pisau berburu. Pisau lipat edisi terbatas. Keris unik, kapak dari pulau Sulawesi, pedang era penjajah. Semua bersih. Semua diasah. Semua hal seperti tidak pernah menyentuh daging manusia. Karena memang tidak ada darah. Apalagi jaringan. Tidak ada apapun yang bisa mengangkat kecurigaan menjadi tuduhan.
Hanya satu hal kecil yang membuatnya berhenti agak lama di meja kerja Joni: sebotol minyak kecil dengan label impor. Botol kaca gelap, pipet tipis, cairan bening keemasan di dalamnya. Surya mengantongi satu dan menyisakan satu. Ia tidak bertanya pada Joni. hanya mengantongi benda itu dalam saku, lalu bermpamitan pulang dengan perasaan kosong.
Kembali pada korban Pria Itu (ANTON)
Mayat laki-laki itu ditemukan terpotong rapi. Lebih rapi dari korban-korban perempuan sebelumnya. Forensik benar-benar tidak menemukan kecacatan dalam potongan. Seperti tangan ahli yang lihai dan sempurna. Dan ciri paling menonjol dari korban laki-laki ini adalah alat kelaminnya hilang.
Potongan pada bagian pangkal paha dilakukan dengan presisi seperti dilakukan oleh ahli medis. Jaringan terbelah bersih. Otot terpisah mengikuti garis anatomi. Tidak ada gerigi pada tepi luka. Tim forensik awalnya hanya mencatat: pisau sangat tajam. Namun pada pemeriksaan mikroskopik, ditemukan sesuatu yang lebih kecil dari debu.
Serat mikro.
Serat yang sangat halus, menempel di tepi luka, hampir menyatu dengan jaringan. Jika tidak diperiksa dengan pembesaran tinggi, ia akan dianggap kontaminasi biasa. Serat itu berbentuk bintang di bawah mikroskop. Bukan kapas, serat pakaian biasa, forensik mencatat itu adalah microfiber polishing cloth. Kain yang biasa digunakan untuk mengelap lensa kamera. Atau permukaan logam presisi. Semua tercatat begitu detail dalam kasus yang hampir di tutup.
Lebih jauh lagi, pada tepi luka ditemukan residu kimia yang nyaris tak terlihat. Adalah jejak silikon sintetis. Ester volatil. Microcrystalline wax. Campuran yang aneh. Surya masih mengingat momen ketika laporan laboratorium itu diletakkan di mejanya. Ia membaca ulang tiga kali.
Silikon sintetis.
Ester ringan.
Wax mikrokristalin.
Ia membuka laci dan mengeluarkan botol kecil yang ia kantongi dari rumah Joni lalu ia kirim ke laboratorium untuk diuji.
Dan ya, benar. Butuh waktu dua minggu. Dua minggu yang membuatnya hampir yakin bahwa teori tentang ayah Joni masih lebih masuk akal. Sampai hasil itu datang. Sidik Jari Kimia.
Komposisi minyak dalam botol Joni dianalisis dengan spektrometri dan kromatografi gas. Hasilnya bukan sekadar “mirip” rasio senyawa di dalamnya identik dengan residu yang ditemukan pada luka korban pria.
Persentase silikon terhadap ester, kadar wax mikrokristalin. Bahkan jejak aditif antioksidan yang sangat spesifik. Minyak itu bukan minyak umum. Itu produk kolektor. Edisi impor. Jarang dipakai orang biasa.
Tenunan mikro dengan pola radial. Serat sintetis berbentuk bintang lima sisi. Sama hingga tingkat mikron. Tentu saja bukan kebetulan apalagi kemungkinan. Itu jelas korelasi ilmiah serta perbedaan yang menghancurkan. Tim forensik mengatakan koban perempuan sebelumnya dipotong cepat. Ada amarah dan impulsif di sana. Namun korban pria berbeda. Presisi dan ketenangan berkombinasi, seolah, sang pelaku sedang menikmati prosesnya.
Bilah yang dilapisi minyak untuk meminimalkan gesekan. Seperti pelaku ingin membuktikan sesuatu.
Surya duduk lama di ruangannya malam itu.
Ayah Joni sudah lebih dari satu dekade di penjara. Tidak ada akses pada minyak kolektor modern. Produk itu baru masuk pasar dua tahun terakhir. Ayahnya mungkin seorang pembunuh. Tapi pembunuhan ini bukan miliknya. Dan hanya satu orang yang mengoleksi pisau atau senajata tajam dengan obsesif serta merawatnya dengan minyak presisi, mengelapnya dengan microfiber khusus. Dan memahami bagaimana membuat potongan sebersih itu.
Joni
Pria yang rutin mendatangi toko besi yang menyediakan berbagai senjata tajam langka berikut dengan pembersih modern yang hanya ada di luar negeri. Si penjual–menjual khusus. Tidak pada sembarang orang kecuali langganan.
Hampir terlalu sempurna. Bentuk kejahatan Joni nyaris saja tak bercelah. Tapi tidak ada kejahatan yang sempurna. Justru bentuk cinta yang terlalu teliti pada pisaunya sendiri.
Kembali ke Rumah Itu. Dimana Joni di ringkus dan istrinya menangis kebingungan. Makan malam yang terlewat, lagi. Padahal, Kaca sudah menunggunya sejak sore.
“Pak Joni” suara Surya pelan ketika mereka sudah berada di depan mobil. Joni menatapnya tanpa berkedip. “Anda tidak melakukan kesalahan besar, anda hanya terlalu percaya bahwa yang bersih tidak akan meninggalkan jejak” Joni mengulum senyum tipis. Ada ejekan pada cara pria itu berekspresi.
“Pisau yang Anda pakai pada korban baru saja dirawat. Dilap dengan microfiber. Dilumasi minyak. Anda ingin potongannya sempurna. Masalahnya, kain pembersih itu meninggalkan serat. Dan minyak itu meninggalkan sidik jari kimianya. Dan sidik jari itu, persis sama dengan yang ada di meja kerja Anda”
Tidak ada jawaban kecuali tawa tipis dari Joni. Lama kelamaan, tawanya berubah menjadi terbahak-bahak.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Rumah itu tetap berdiri seperti biasa. Rak-rak kayu tetap terpasang rapi. Pisau-pisau tetap tersusun dengan sudut presisi yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Hanya Kaca yang terisak-isak dalam kesunyian. Bahhkan ia menolak saat bibinya mengajak pulang dan terus mengoceh tentang ketidakadilan—bahwa Joni bukanlah pelakunya. Ada kesalahan di sana dan ia terus hidup dalam delusi itu.
Namun jauh sebelum borgol itu mengatup di pergelangan tangan Joni, Surya telah lebih dulu merobek keyakinannya sendiri, yaitu ayah Joni. hampir banyak orang percaya pada bayangan lama. Ayah Joni adalah pembunuh berantai yang pernah menggetarkan kota. Polanya sadis. Sistematis. Tubuh-tubuh perempuan ditemukan terpotong, dikuliti, serta mutilasi dan disebar seperti menagih perhatian.
Ketika kasus baru muncul dengan mutilasi yang serupa, pikiran publik bergerak otomatis bahwa, ia belum selesai. Surya pun sempat percaya itu. Terlebih ketika ia menerima laporan samar dari internal penjara jika ada sipir yang diduga memberi kelonggaran pada narapidana tertentu. Izin keluar tidak resmi. Pergeseran jadwal penjagaan yang ganjil.
Surya meminta rekaman CCTV penjara selama tiga bulan terakhir. Ia menontonnya sendiri. Frame demi frame. Malam demi malam yang ia lewati hanya untuk melihat kebenaran.
Pada pukul 02.17 dini hari di satu rekaman, terlihat pintu lorong blok tahanan terbuka sedikit lebih lama dari prosedur. Seorang sipir berdiri menutupi sudut kamera. Bayangan tubuh lain melintas cepat. Tentu saja tidak jelas. Surya tidak langsung menangkap siapa pun. Ia menunggu dan membuntuti.
Malam Itu
Dengan pakaian sipil dan mobil tanpa tanda, Surya mengikuti kendaraan kecil yang keluar dari area belakang penjara. Dan benar, di dalamnya adalah ayah Joni. Wajah yang pernah terpampang di semua surat kabar.
Mobil itu tidak menuju lokasi pembuangan mayat. Tidak berhenti di tempat gelap atau gudang kosong. Mobil itu berhenti tiga gang dari rumah Joni lalu turun. Ia berdiri lama di bawah pohon mangga yang menghadap ke rumah anaknya. Berjarak sekitar 100 meter. Tidak mendekat apalagi bertegur sapa. Hanya berdiri. Seperti sedang memastikan.
Surya menahan napas di balik kemudi.
Ayah itu tidak membawa tas. Tidak membawa apa pun selain tubuh yang mulai menua dan sepasang mata yang tak pernah kehilangan sesuatu. Hanya berdiri hampir satu jam lalu kembali ke mobil dan kembali ke penjara sebelum subuh.
Lagi. Pengulangan. Surya tidak langsung percaya satu malam. Ia mengikuti lagi. Dan lagi. Pola yang sama.
Ayah itu keluar diam-diam, berdiri jauh dari rumah Joni, memandang lampu yang menyala di ruang tamu, kadang hanya bayangan tirai yang bergerak. Tapi benar-benar tidak pernah mendekat.
Tidak juga pernah pergi ke lokasi korban atau membawa sesuatu yang bisa dikaitkan dengan pembunuhan. Hanya memantau. Perangainya seperti seorang arsitek yang memastikan bangunannya berdiri sesuai rancangan.
Dan Surya menemukan perbedaan pola lalu membandingkan pola lama dan pola baru. Pembunuhan ayahnya dahulu cenderung emosional disertai simbol-simbol personal. Sementara pembunuhan baru lebih tenang, presisis, terutama pada korban pria. Pada korban pria itu, alat kelamin diambil dengan teknik yang hampir steril. Tidak ada sobekan. Tidak ada jejak gerakan tergesa. Itu tanda pembunuh yang ingin membuktikan kendali. Dan pada luka itu ditemukan, residu minyak perawatan bilah, serat microfiber polishing cloth. Minyak itu produk baru, edisi impor dua tahun terakhir.
Ayah Joni sudah lebih dari satu dekade di balik jeruji. Ia tidak punya akses pada produk itu. Bahkan jika ia keluar sebentar, tidak ada pembelian atas namanya. Tidak ada transaksi yang bisa ditelusuri. Sebaliknya, Surya menemukan catatan pembelian atas nama Joni untuk minyak kolektor tersebut. Surya menyadari sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada kemungkinan ayahnya masih membunuh.
Dan benar. Ayah itu tidak melanjutkan pembunuhan, ia memantau. Ia ingin melihat apakah anaknya cukup kuat atau cukup berani atau setia pada warisan yang tidak pernah ia minta.
Di ruang introgasi, Joni mengaku telah membunuh lebih dari 30 orang dan kebanyakan korbannya adalah perempuan.
Wajahnya tenang, kadang-kadang tertawa. Hingga polisi mendatangkan psikolog khusus untuk menangani pria itu.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Sementara Kaca. ia pecah. Pecah-pecah Kaca yang remuk. Gadis itu terbaring di atas lantai kamar mandi yang basah–banjir. Mulutnya mengeluarkan busa setelah menelan racun—minyak pembersih pisau milik suaminya di ruang kerja Joni.
Kabar itu meluas hingga terdengar ke penjara saat bibi Kaca mengengok ke lapas.
Tidak berselang lama, Joni ikut mengakhiri hidup dengan membentur-benturkan kepala di ubin kamar mandi hingga tewas.
Kotak berwarna keemasan berbentuk peti harta karun terbuka, berisi surat pernyataan cinta yang indah.