Jangan tanyakan perbedaan cuaca September antara Bandung dan Jakarta. Sebab Ibrahim yakin, September atau diurut dari Januari hingga Desember, tidak akan ada perbedaan yang berarti. Terutama di kampung halamannya.
Bandung tempatnya tinggal, sebagian besar waktunya terasa dingin. Dimulai dari sore sampai pagi, suhu akan turun rendah, air pun seolah mengikuti dinginnya udara. Sementara di Jakarta, Ibrahim merasa suhu di luar kelewat panas. Bahkan pukul enam pagi.
Butuh beberapa hari untuk beradaptasi di luar ruangan saat di Jakarta. Panas campur debu jalanan, kepadatan yang tidak pernah libur. Tidak ada tegur sapa di tiap-tiap rumah. Tidak ada bertetangga yang akrab. Semuanya begitu sibuk hingga tidak ada yang perhatian satu sama lain. Kecuali keluarga dalam rumah itu sendiri.
Sebenarnya, rumah Cindy berada di dalam perumahan elite. Bangunannya begitu megah mirip rumah-rumah yang dulu sering ia lihat di tivi. Jaraknya dari gapura utama yang menandai kawasan tersebut sekitar satu kilometer. Dan setelah keluar dari perumahan, jalan raya yang padat dan panas akan menyambut tidak ramah. Tidak ada lagi tanaman tinggi, rumput hijau asri, jalanan bersih terawat. Yah, paling jelas adalah suara klakson, debu jalanan, asap kendaraan serta cuaca gerah.
Sebenarnya karena Ibrahim rutin lari pagi. Kondisi itu tidak akan terlalu terasa ketika ia ikut keluar dengan Cindy menggunakan mercedes-benz.
Dan pagi ini setelah lari pagi, Ibrahim ikut Cindy. Gadis itu mengajaknya pergi ke pabrik pembuatan skincare. Si gadis banyak bercerita tentang mimpinya menjadi pemilik brand perawatan wajah yang keren. Lalu tentang toko di Bandung, serta rencananya untuk tidak menikah dan menghabiskan waktu keliling dunia.
Dan semalam, sebelum segala rencana dipaparkan, Ibrahim lebih dulu ikut menyaksikan drama keluarga. Tentu saja seperti ujaran Cindy mengenai Juan—bahwa ibunya belum tahu mereka putus, alasan putus, serta keterlibatan Ibrahim di sana. Walau Cindy jelas tidak akan mengakui bahwa mereka menjadi pacar pura-pura. Akan tetapi yang paling membuat Ibrahim lega adalah, Cindy memperkenalkan dirinya pada sang Ibu sebagai dirinya sendiri. Ibrahim si staf rendahan di kantor DPR, Ibrahim si kuli sawit. Tentu Cindy memperhalus dua pekerjaan itu dengan istilah yang lebih enak didengar. Dan respon ibunya hanya mengangguk. Senyumnya menyejukkan mata. Tidak ada komentar lain. Tidak tahu jika dirinya tidak ada dan hanya mengata-ngatainya di belakang. Meski Ibrahim yakin Ibu Cindy tidak seperti itu.
Tampaknya ayahnya adalah orang yang benar-benar sibuk luar biasa. Meski bukan tipe yang disfungsi juga. Akan tetapi, keluarga ini benar-benar mendekati sempurna, setidaknya di mata Ibrahim.
Bagaimana tidak. Ayah Cindy tidak terlalu pusing dengan pasangan pilihan anaknya. Seperti kasus anak pertama, kakak Cindy. Lelaki itu katanya menikah dengan resepsionis hotel. Mereka hanya berpacaran dua tahun sebelum akhirnya memutuskan menikah. Tidak ada hierarki. Jujur saja, ini membuatnya seperti punya harapan.
“Sebenarnya saya agak skeptis semalem” Ibrahim mengalihkan pembicaraan dari topik mengenai harga saham ke perasaan pribadinya. Cindy melirik padanya sekilas. Mematikan layar ponsel dan berusaha fokus pada obrolan mereka.
“Kamu kenalin saya sebagai pacar dan beneran bilang saya staf di kantor DPR dan kerja di sawitan” Ibrahim tertawa “saya udah siap didepak loh, diusir dan dibilang gak level atau.. Yah.. yang mirip-mirip di sinetron itu. Tapi gak ada adegan Mama kamu siram muka saya pake air, terus nyodorin uang sekian-sekian dan bilang saya kudu ninggalin anaknya”
Cindy ikut tertawa. Tubuhnya bergetar sesekali menepuk lengan atas Ibrahim.
“Mama dan Papa gak gitu. Makannya aku pede aja bawa Kak Ibrahim ke rumah. Mungkin juga Kak Ibrahim kaget karena perbedaan kultur. Sebenarnya aku sama Juan itu udah beneran tinggal sebar undangan aja. Kami sering tidur bareng di rumah, kadang di hotel, kadang di.. Yah.. dimana-mana. Mama dan Papa tau. Dan mereka kayak.. Ya udah gitu aja. Katanya aku udah gede, Juan udah dewasa, pasti bisa tanggung jawab sama apa yang kita kerjain. Sebagian orang yang punya budaya timur kental, bakal anggap keluarga aku gak bagus atau bahkan bobrok. Tapi jujur aja, aku bahagia dilahirkan dari Mama dan Papa”
“Ah.. gitu” Ibrahim tidak tahu sebab ada yang mencelos saat Cindy dengan gamblang mengatakan tentang ‘tidur bersama’ dengan Juan. agak linu. Akan tetapi tidak berencana memikirkan juga. Sejak Cindy menangis malam itu di hotel, gadis itu jadi semakin transparan menceritakan apapun. Apapun, sungguh apapun. Perasaannya, rasa rindunya, juga hal-hal yang sebetulnya cukup disimpan saja. Seperti ‘tidur bersama’ tadi.
Tentu pada bagian dimana ia tidak mau berhubungan seksual. Bagian itu juga yang membuat Ibrahim agak rancu; tidak mau berhubungan seksual dengan Juan. Akan tetapi mereka tidur bersama. Ini tidak masuk akal. Dan Ibrahim tidak akan bertanya meski penasaran.
“Jangan khawatir soal penerimaan. Nanti kalau Juan udah beneran gak tertarik lagi sama aku, kita bisa pisah. Dan kalau selesainya lumayan lama, aku akan tambah uangnya. Walau sebenarnya, tujuan aku melibatkan Kak Ibrahim disini bukan cuma buat jauhin Juan. aku malah ngarep bisa move on dari dia pas sama Kak Ibrahim”
Ibrahim mengangguk-angguk.
Cindy melihat ke arahnya. “Ada lagi, aku punya rahasia yang lain” gadis itu menggigit ujung ibu jarinya, menimbang, akan tetapi sudah terlanjur bicara “ rahasia yang bahkan Mama sama Papa aja nggak tau” Ibrahim selalu suka yang rahasia-rahasia. Dulu, Valery sering bicara sejenis ini. Bisik-bisik, rahasia, membuatnya penasaran.
“Sebenarnya, ini karena aku cinta banget sama Juan. Walau yakin orang tua bakal terima-terima aja, tapi entah kenapa masih belum aku ceritain sampe akhirnya putus duluan”
Ibrahim menajamkan pendengaran. Dan menjadi pendengar adalah bagian paling besar dari seluruh tugasnya disini. Ya, setidaknya sejauh ini.
“Juan itu duda anak dua”
Ibrahim batuk. Lalu berdehem.
“Aku gak cerita ke orang tua. Padahal Juan bilang harus cerita. Tapi aku bilang, gak usah, nanti aja. Nanti terus, dan terus, terus, terus, sampe akhirnya putus” entah kenapa Cindy tertawa “anaknya yang pertama, umurnya tiga tahun pas pertama dikenalin ke aku, yang kedua delapan bulan. Juan bilang istrinya minggat kabur sama lelaki lain. Dulu aku percaya aja. Nggak tanya alasan, gak tanya detail cerita. Dia juga gak jelekin mantan istrinya. Selayaknya sikap lelaki dewasa aja. Dia menikah usia dua lima atau sekitar itu” Cindy menjeda. Gadis itu membuka bungkus permen. Juga menawarkan pada Ibrahim yang diterima dengan senyum. Ibrahim menyetir dengan keren. Tidak sia-sia setahun penuh belajar membawa mobil pick up untuk mengangkut sawit. Kini, ia mengendarai Mercedes-Benz yang dibawanya terasa seperti terbang. Tanpa dengung mesin berat, semuanya ringan dan gagah.
“Aku suka anak kecil walau nggak terlalu. Aku main sama anaknya. Tapi sesuka apapun, main sama bocil yang paling enak itu cuma say hello lima sampai sepuluh menit. Abis itu aku malas. Nanny mereka juga ada enam. Jadi beneran yang cuma menyapa dan gendong ala kadarnya. Gak berusaha mengakrabkan diri. Tapi kan lama-kelamaan sering ketemu, mereka jadi suka sama aku. Kadang panggil aku Mami. aku senang-senang aja. Tapi jujur, aku nggak mau punya anak. Takut”
“Padahal itu paling krusial buat ngaku ke orang tua kamu saat kamu serius. Apalagi kamu bilang tinggal sebar undangan aja”
“Waktu itu umur aku 21. Aku merasa kayak masih bayi dan punya pacar, pacar aku punya bayi. Jadi langsung mikir, ew… aneh aja. Gak taunya kebablasan sampe enam tahun” Cindy mengedikkan bahu “aku merasa gitu” jawab Cindy. “Dia baik banget. Dia dewasa banget, aku diperlakukan kayak ratu. Dari dikasih uang, support kuliah aku, hampir selalu ada di banyak kondisi, pokoknya tipe yang bakal bikin siapa aja jatuh cinta. Dan pastinya minta HS dong” Cindy menelan liur “aku nolak karena takut hamil. Aku takut punya anak dan aku jadi Ibu anak tiga. Maksudnya, ya… kalau menikah udah pasti aku jadi Ibu mereka, tapi gak tau kenapa aku takut dihamilin, terus jadi jelek, terus Juan selingkuh. Juan itu gak suka perempuan yang perutnya bergelambir, gak suka saat aku gendutan. Selalu ngomel tiap aku gak terawat. Aku takut. Gimana kalau jangan-jangan bukan istrinya yang kabur? Gimana kalau kenyataannya….?”
Cindy membuat efek dramatis pada suaranya, membuat Ibrahim ikut menebak-nebak.
“Juan yang selingkuh?” Ibrahim memberi jawaban.
“Nah, itu. Aku memikirkan itu saat dia ajak aku HS, saat dia komentar tentang perut aku yang agak gendutan tiap datang bulan walau cuma seminggu. BB aku harus beneran stuck di 45 atau yah… di bawah itu”
“Waw” Ibrahim mereaksi.
“Pasca melahirkan pasti ada momen jelek kan, ya? Mau perawatan macam apapun. Apalagi kalau susunya ASI. Ya kita bisa dandan, tapi gak se-on-poin saat kita gak punya anak. Walau ada nanny. Nggak akan sesempurna saat belum punya anak. Apalagi anak Juan jaraknya terbilang singkat. Tiga tahun sama delapan bulan. Kayak.. Baru aja melahirkan, terus hamil lagi”
“Ya itu artinya Juan mau menggauli istrinya saat anaknya baru aja di sapih. Atau bahkan belum”
“Terus dia selingkuh” sela Cindy.
“Ya, kemungkinan. Atau ini cuma dugaan liar”
“Buktinya di selingkuhin aku”
“Ya karena kamu nolak diajak berhubungan seksual”
“Tapi ceweknya underage”
“Kalau itu memang pedo”
“Tapi aku kangen..” tiba-tiba saja suaranya berubah. Ibrahim meringis. “Pacaran sama Juan jadi bikin aku takut jelek, takut kurang sempurna, karena memang dia ganteng banget, kaya raya. Dia maunya aku selalu langsing dan cantik. Juga gak boleh berteman sama siapapun, katanya semua orang bawa pengaruh buruk. Tapi di samping itu, dia juga baik banget, selalu princess treatment, selalu dukung kegiatan aku asal nggak melibatkan pihak lain yang gak ada sangkutan sama keluarga”
Tiba-tiba saja mengusap air mata. Cindy menangis lagi. Padahal semalam sudah meraung-raung dengan Ibunya. Kemarin malamnya lagi, sudah menangis dipelukannya. Dan sekarang menangis lagi. Ibrahim mulai terbiasa.
Mobil berbelok saat sampai di depan gerbang besar yang menutupi fasad bangunan. Tempat itu terlihat bersih dengan dua satpam penjaga. Catnya putih tisu, ada tulisan PT Nose Herbalindo di atasnya.
Cindy berhenti menangis. Dan mereka bersiap turun.
“Kurang kerjaan banget nangisin orang tukang selingkuh” Cindy bergumam sendiri, gadis itu setidaknya mengecek wajahnya dua kali di kaca tengah. Ibrahim diam saja, memperhatikan bagai orang dewasa yang mencoba memahami seorang bocah yang menangis sebab satu dua perkara yang remeh temeh. “Ayo ikut turun”
“Aku tunggu di mobil aja ya?”
“Yakin? Aku agak lama loh. Sambil liat-liat”
Ibrahim memikirkan. Tentu saja akan punya pengalaman ketimbang terus bertahan di mobil mewah yang seumur hidup tidak pernah ia impikan untuk ditunggangi.
“Oke, keluar” akhirnya berdua keluar setelah wajah Cindy yang cantik dan baik-baik saja itu—diusap tisu berulang-ulang.
Tentu ini pengalaman. Akan ia ceritakan pada teman-temannya yang kamseupay di kampung halaman. Ibrahim janji akan pamer pada Lukman dengan wajah yang angkuh dan menyebalkan bahwa ia baru saja mengendarai mobil mewah—yang dimana mobil Lukman tidak ada apa-apanya. Atau pamer pada Valery tentang tempat-tempat yang dikunjungi. Tujuannya hanya untuk bahan bercanda.
Cindy menggenggam erat tangannya. Melangkah bersama.
Makasiiii author kesayangan, selalu manjain readersnya, ngempanin dan ngasih asupan asupan yg berbobot dan bergizi