
Cuaca malam ini lebih buruk dari kemarin. Hujan angin disertai petir, bahkan satu pohon kelapa menyala–terbakar karena tersambar. Suaranya bagai bom yang diledakkan tepat beberapa ratus meter. Kilat membuat bumi terang hidup sepersekian detik, disusul guntur menggelegar.
Aku meringkuk–membola di atas sofa. Pakaian kerja enggan kutanggalkan, kemeja dan celana dasar yang kebesaran. Kendati, tidak terlalu sesak meski dasi masih melilit dibawah kerah. Kuharap, ia bisa menyesakkan hingga menutup jalan napas. Lalu aku mati tercekik atau karena rusukku remuk akibat membola terlalu lama–terlalu erat. Apapun, aku ingin pergi.
Badai diluar selalu saja membawaku pada ingatan di musim panas. Ingatan yang setengah mati berusaha kulepaskan dari kepala. Ingatan tentang kaki kami yang kotor terkubur pasir, atau saat sesekali ombak pasang menjilat telapak. Ada saat dimana suasana suram seperti ini membawa senyumnya yang menciptakan lubang di pipi, atau surai panjangnya yang bergerak ke kanan kiri. Aku juga mengingat rasa hangat tangannya yang sehalus bulu.
Guntur meledak lagi. Kaca besar di ruanganku tak bergetar–membuktikan betapa rumahku begitu kokoh dengan semua matrial terbaik dan pengerjaan yang epik. Hanya menyajikan pemandangan suram; rinai besar dan langit gelap. Padahal masih pukul lima sore. Terlalu dini untuk kepekatan, matahari bukannya tenggelam, melainkan kalah oleh awan tebal yang menggurita dari utara ke selatan.
Tanganku bergetar. Bibirku begitu dingin—selaras dengan telapak kaki. Aku tak ingat kapan terakhir–sesuatu masuk dalam perutku, kapan aku menghindrasi tubuhku atau kapan aku ingat–bahwa manusia harus makan untuk hidup.
Aku membenci isi kepalaku–membenci bagaimana uang tak mampu menggantikan rindu pada seseorang yang tidak seharusnya kurindukan. Aku benci gagasan bahwa—jika uangku banyak, maka aku bisa membeli rasa. Nyatanya, disinilah aku, di rumah besar–diatas sofa menggulung diri bagai trenggiling di depan kaca besar yang menyuguhkan pemandangan suram–sesuram hidupku.
Bunyi klik di susul gagang pintu terbuka.
Aku mendengar langkah setengah diseret. Kantong belanjaan saling bergesekan—dicangking kepayahan.
Mataku terbuka saat sosok itu melewatiku. Harum aroma floral menyesaki pernapasanku. Mataku menangkap daun bawang segar—mencuat dalam kantong belanjaan. Ia melenggang ke dapur yang berada persis di belakang sofa–dimana aku memeluk diriku sendiri sambil berharap kematian datang.
Roknya berayun. Atasannya sangat cantik selaras dengan parasnya. Ia bersenandung. Kudengar ia membongkar kantong, lalu menunduk saat ada yang jatuh–mungkin bawang bombai.
“Aku akan membuatkan pasta” suaranya nyaris tak terdengar, tapi aku mendengarnya.
“Aku tidak lapar” sementara suaraku berat, aku terduduk setelah kematian tidak datang hanya karena aku ingin. Mataku menatap lurus pada kaca besar. Hujan masih disana, suram dan dingin.
“Aku tau. Tapi, hanya dalam suasana suram kau mau menyantap makanan buatanku. Jadi, aku akan membuatkanmu pasta” kata wanita itu ringan. Seolah, ia terbiasa dan resisten terhadap kelakar busukku. Dia juga kesenangan saat aku memilihkan gaun yang tidak sesuai dengan postur tubuhnya. Kudengar beberapa temannya mencemooh pakaian yang ia kenakan—atas dasar pilihanku. Namun wanita itu tetap memakainya. Aku semakin membenci diriku sendiri.
Aku tidak menjawab lagi–demi kebusukan sikapku agar tidak terlalu busuk. Meski sudah. Lantas kupeluk dua lutut, telingaku menumpu padanya, mataku terpejam dan aku berusaha melupakannya lagi.
“Akmal” saat wanita itu memanggilku, aku mendongak. Kulihat dia sudah berada tepat di hadapanku. Lantas ia belai rambutku dengan tangannya yang begitu lembut. Matanya yang selalu bersemangat dengan binar indah, sore ini terlihat agak lelah “ayo makan”
Tunggu..
Aku tercenung. Mata sayuku bertabrakan dengan miliknya yang ‘hidup’ wanita cantik itu selalu tau cara membujuk pria dewasa yang tidak dewasa dan tidak waras. Baik, aku mengkategorikan diriku seperti itu hanya saat hujan turun setelah musim panas. Di dalam rumahku, di istanaku dimana aku tidak perlu berpura-pura baik-baik saja.
Mataku melirik sembarangan—ke belakang tepat di atas kompor. Tempat dimana aroma pasta menyeruak menggugah selera meski tetap gagal merayu nafsu makanku. Kenapa secepat itu? Maksudku, pasta. Aku baru saja beringsut dari rebah ogah-ogahan. Dalam kurun beberapa menit pasta sudah terhidang. Kerutan di dahiku memicu senyum paksa di wajah cantik itu “kamu melamun terlalu lama” katanya lembut. Wanita itu lantas melangkah lagi, sebelum kembali membawakan nampan berisi pasta panas dan segelas air mineral.

Bertemu dengannya bukanlah takdir. Bukan sesuatu yang akan terjadi seandainya aku tidak membuang-buang waktu berlagak seperti hero dan tetap pada pendirianku untuk mati.
Musim panas, teriknya membuat otakku seakan mendidih. Nyaris tiap malam aku tidak bisa tidur. Kipas angin aus tanpa penutup dan tiap berputar, akan menimbulkan suara gesrek bersama angin tak seberapa. Tapi lebih baik. Ketimbang terbaring di atas kasur kapuk yang tetap lembab dan lapuk di cuaca mengerikan, dengan sarung penuh jamur bekas liur dan lembab–hujan serta atap dari baja ringan yang rendah. Panasnya akan melelehkan tiap akal sehat. Lalu di perparah dengan pikiran tentang utang pinjaman online–offline yang membelit leher dan kini benar-benar akan membunuhku. Itu masalah utamanya.
Aku baru saja lulus kuliah dengan nilai tinggi. Seorang yatim piatu tanpa saudara dan hidup sebatang kara di pulau cantik. Aku lulus dengan nilai terbaik dan itu membanggakan—tentu saja. Namun jika merunut dari mana biaya yang kudapat untuk sampai titik ini, rasanya aku ingin kembali ke tahun-tahun sebelumnya lalu memutuskan untuk tidak pernah menginjakkan kakiku di halaman universitas.
Lulus SMA lalu menjadi driver terdengar lebih menyenangkan. Tanpa hutang, tanpa memikirkan bunga dari bank yang tidak di awasi OJK.
Kumatikan ponsel. Lantas mereka menelepon teman-teman kuliah, dosen, pemilik kos–yang nomornya menjadi alternatif saat milikku tidak aktif. Kepalaku seperti akan pecah tiap siapa saja datang dan mengetuk pintu kamar kos dengan lembut atau keras. Tiba-tiba aku phobia ketukan pintu dan salam.
Hingga malam ini. Aku bersumpah akan mengakhiri hidup. Tidak ada yang bisa diharapkan—aji mumpung tak ada yang mengtuk pintu.
Bukan, bukan bank online yang datang. Mereka tidak akan datang dan hanya mengancam dengan terror. Aku mengakalinya dengan gagal bayar meski BI checking milikku pasti akan menyedihkan. Namun persetan. Jika aku bisa lolos dari hutang pinjam setan ini, aku bersumpah tidak akan terjerumus lagi ke dalamnya, meski harus kelaparan berhari-hari. Aku bersumpah dengan nama tuhan. Tapi tidak seperti itu dunia berjalan—sebab, aku juga meminjam uang pada bank mekar. Mereka datang menagihh setiap hari.
Jika kutotal semuanya, aku mendapat kalkulasi sebesar tiga ratus juta rupiah. Dan aku tidak sanggup membayar. Itu alasanku malam ini–dimusim panas, pergi ke bawah kaki gunung dan berencana menggantung diri di pohon rindang dengan pemandangan pematang sawah.
Ya, aku akan bunuh diri. Di musim panas. Di kota yang cantik ini.
Yang pertama kulakukan adalah melihat tangkai batang yang kiranya paling kokoh. Tambang berada di tanganku, sudah dua minggu terakhir kubeli dan baru malam ini puncak depresiku–merealisasi rencana yang sebelumnya masih ragu-ragu.
Aku melakukanya.
Naik diantara tangkai kokoh, menyimpul tambang khas, lalu kujeratkan pada leher. Jika aku melompat ke bawah, aku akan tercekik dan masalah selesai.
Ya, seharusnya selesai sampai di sana.
Tapi malam itu, aku melihat sesuatu yang ganjil dari atas pohon. Semak-semak bergerak dan erangan tertahan–mirip suara merintih meminta tolong. Lalu ‘gedebuk’ pukulan kuat. Mataku mimicing untuk menajamkan pandangan.
Aku turun.
Jarak tempat itu hanya beberapa puluh meter dari lokasi dimana aku berencana mengakhir hidup. Semak-semak tinggi nan gelap. Kepalaku celingukan mencari apa saja; balok, batu dan aku mendapatkan keduanya meski kini yang kupegang adalah balok besar.
Tidak apa-apa seandainya apa yang kukerjakan sekarang akan membahayakan, justru itu yang kucari. Aku berbisik dalam hati bahwa, dibunuh lebih baik ketimbang bunuh diri. Jadi, katakan itu adalah alternatif lain.
Pelan-pelan. Langkahku tergerus suara angin yang bertiup—membuat rerumputan tinggi saling bergesek. Bunyi rintihan itu makin kecil–putus asa namun ada, masih.
Aku menodongkan balok ke depan dengan kewaspadaan penuh.
Satu, dua, tiga, langkahku takut-takut. Kusibak rumput tinggi, lagi, lagi. Hingga pemandangan yang sempat kulihat dari atas, kini berada tepat di depanku.
Seharusnya aku menyadari cahaya temaram dari semak-semak. Namun jika diingat, tidak akan terlihat jika aku tidak naik ke pohon.
Dua pria berbadan besar. Aku menyebutkan turis–atau orang-orang akrab menyapa mereka dengan sebutan bule? Ya, tubuhnya besar, kulit mereka putih. Aku melihat penis mereka baru saja di keluarkan dari resleting tanpa benar-benar membuka celana. Lalu satu wanita dengan pakaian terkoyak–payudaranya menyembul ditutupi oleh tangan yang penuh memar dan baret. Si wanita masih menggunakan celananya—hampir robek juga. Mungkin saja ini adalah waktu paling akurat. Eksistensiku.
Tanpa aba-aba, kuhantamkan balok secepat kilat–bergantian tepat ke kepala belakang. Aku bersumpah aku tidak memiliki riwayat kekerasan dan dosa ku paling besar adalah berhutang dan tidak sanggup membayar. Namun lihatlah malam ini, malam dimana aku hendak mencatat sejarah dosa terbesar sepanjang hidupku dengan membunuh diriku sendiri, tapi bukan diriku yang tergeletak malam ini, melainkan dua pria bule — tumbang.
Wanita itu cepat-cepat bangkit—mengambil ransel kelewat besar yang kini menempel di punggungnya. Lalu masih memeluk dadanya, berlari menghambur sebelum menangis ketakutan di belakangku. Aku masih ingat bagaimana suara putus asa itu.
≽^• ˕ • ྀི≼
Tentu saja masuk dalam kamar kosku yang menyedihkan. Wanita itu kukuh ingin ikut denganku dan aku batal mati malam ini. Akan memalukan jika aku bunuh diri dan si wanita itu menungguku tergantung di antara tali yang menjerat leher. Katakan ini adalah sisa harga diriku.
Aku memberikannya baju. Kaos milikku kebesaran di tubuhnya meski lebih baik ketimbang bertelanjang dada.
Dan tidak ada apapun. Aku tidak menghidangkan apapun karena aku tak memiliki apapun. Aku bahkan lupa kapan aku makan, yang kulakukan atau alasan aku masih hidup adalah minum air dalam kamar mandi, lalu mengorek sampah di luar—pada malam hari. Aku benar–benar pengangguran–lepas lulus kuliah yang tak berani keluar rumah karena malu dan penagih utang akan membunuhku jika polyvinyl chloride yang dibentuk menjadi pintu itu kubuka. Aku bersumpah, ini tidak mengada-ada.
Sesaat kecanggungan membuat atmosfer tidak normal.
Aku diam saja, tidak berencana bertanya apapun, aku tidak. Tapi tidak keberatan juga jika wanita ini mau menceritakannya. Kami hanya duduk di sisi kasur yang jadi satu dengan kamar mandi. Kutahu kasur dengan bekas liur dan jamur serta bau apek yang khas karena selimut dan sarungnya tidak pernah dicuci.
“Terima kasih”
Si wanita berkata-kata untuk pertama kalinya. Aku melirik ke samping, lalu kualihkan pandangan secepat kilat.
“Dimana rumahmu? Apa kamu seorang dari luar kota? Biar kuantar mencari taksi” kutawarkan seramah mungkin, namun wanita itu menggeleng. Perlahan, ia menunduk dan aku menyadari bahwa ia menangis.
Aku menunggunya menangis hampir dua puluh menit sebelum ia benar-benar selesai dengan menyeka wajahnya menggunakan lengan baju. Kulihat wajahnya putih ayu—tidak, seluruh kulitnya putih bersih, aromanya wangi memikat meski sudah bercampur dengan semak dan tanah. Lalu rambut berantakan—panjang sepunggung masih halus. Sangat cantik, aku memperhatikannya diam-diam, meski langsung mengalihkan tatapan saat ia melirik sekilas.
Kami bahkan tidak berkenalan, tapi dia lebih dulu memperkanalkan diri dan menceritakan apa yang terjadi hingga malam ini–kami bertemu dalam kondisi yang tidak bagus pula tidak terduga.
Namanya Disya Maharani.
Ternyata seorang gadis. Bercerita bahawa ia berkuliah di salah satu universitas ternama di ibu kota dengan mengandalkan beasiswa. Datang kemari karena ajakan teman-temannya untuk berlibur, namun naas, ia malah dijual dan diberikan pada laki-laki bule–dua orang yang kupukul beberapa waktu lalu. Gadis itu menceritakan sambil kembali menangis–terisak-isak penuh kepedihan. Aku menyimak sambil memikirkan harus berekasi seperti apa. Hidupku tidak lebih baik darinya, jadi aku menganggapnya kami senasib meski aku tidak akan menceritakan kisah hidupku.
Ralat.
Aku juga menceritakan kisah hidupku pada Disya setelah hampir dua jam gadis itu mengoceh sambil menangis, lalu berhenti dan bertanya balik tentang hidupku yang tak kalah miris ini. Sebenarnya, Disya hanya menceritakan tentang bule dan teman-temannya. Namun berputar-putar hingga aku hafal. Ia tidak membahas hal lain.
“Bolehku panggil kakak?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk sistematis. Panggilan kakak terdengar paling pas.
“Kak Akmal, bagaimana kalau kita kabur. Aku ada kenalan yang memberitahuku ada indekos di dekat pantai pinggiran agak murah. Memang agak kumuh, tapi setidaknya, kita bisa bersembunyi” kata ‘kita’ terdengar aneh saat dia mengucapkan, namun aku menyimak ajakan gadis itu tanpa berencana mengiyakan. Aku tidak punya uang sepeserpun.
“Aku tidak punya uang, lalu bagaimana kuliahmu?” tanyaku kemudian. Aku benar-benar terlihat menyedihkan–memang begitu.
“Aku akan berhenti kuliah. Aku menyerah, atau mungkin aku akan mencari peruntungan disini. Aku akan menelepon nenek nanti dan mengatakan hal-hal yang—” Disya terlihat mencari akal “yang bisa diterima jika aku tidak pulang untuk mencari uang. Kuliah memang penting dan aku termasuk anak yang pintar. Tapi lingkunganku benar-benar bobrok dan mengerikan. Sejujurnya, aku takut sekarang, aku bahkan bersama pria yang… tidak tahu, aku berusaha berpikir baik terhadapmu, Kak Akmal. Bagaimana jika kita berusaha mencari uang bersama? Namun yang perlu kita lakukan pertama kali adalah, kabur dari tempat ini dan menghindari penagih menyebalkan. Ayo pergi, aku punya uang yang kupikir cukup untuk sewa kos sambil mencari pekerjaan”
Aku melihat begitu banyak keraguan. Tentang caranya menatapku dan segala ocehan tidak masuk akal di tengah malam.
Benar, bagaimana mungkin seorang gadis mengajak pria pergi mencari indekos bersama setelah hampir diperkosa oleh dua pria? Tapi aku juga menangkap ketakutan. Disya bergetar sejak tadi. Kulihat getaran halus tak kunjung usai dari jemari dan geraknya resah. Lantas aku mengartikan bahwa perempuan itu melihatku sebagai tempat aman—atau yah, keputusasaan. Yang jelas aku tidak akan melakukan hal-hal buruk padanya. Aku tidak memiliki energi, bahkan untuk ereksi butuh tenaga dan aku kurang makan.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya aku membawa orang asing masuk–seorang gadis yang tidak risi melihat kondisi kamarku yang–entahlah, aku pribadi benar-benar malu. Dia juga merebah setelah percakapan kami yang seadanya–memakai selimut tanpa jijik dan memunggungiku dengan… tidak tahu, kupikir dia banyak pikiran dan pasti akan sulit tidur. Aku merebah di sampingnya tak kalah kikuk. Hanya begitu malam berlalu dan aku tidak lagi berpikir mati. Setidaknya malam ini.
Hening dan gerah. Kipas angin rusak itu menjadi latar dan berhasil menciptakan bunyi yang membuat kecanggungan tidak membuatku ingin mengelurkan suara beatbox saking canggungnya.
🐈
Kami benar-benar melakukannya.
Kami tidak pergi malam itu, melainkan pagi-pagi buta menaiki angkot yang sudah beroprasi ke pasar. Lalu menyambung pada bus dan terakhir ojek. Jika dihitung, kami pergi sejauh — hampir 5 jam naik turun dan di potong sarapan serta minum kopi saset di jalanan.
Namanya daerah Boleng. Masih di kepulauan Flores. Aku tidak pernah kemari, namun membaca pada plang-plang serta map pada ponsel. Pun Disya, gadis itu tidak ragu atau bingung, ia banyak melamun namun aku berpikir bahwa ia memikirkan tentang hari-hari kemarin ketimbang nasibnya hari ini. Berbeda denganku yang mesti berterima kasih karena mendapat sarapan gratis dan kopi. Aku bahkan tidak perlu ketakutan ketika mendengar suara ketukan pintu berulang. Anggap saja aku bebas, ya, kami berdua banyak berbincang dengan menyebut-nyebut membuka lembaran baru. Terdengar kekanakan, namun aku hidup sebagai pecundang selama ini, kekanakan terdengar tidak terlalu buruk.
Disya mendapat info — dia mengatakan tentang teman dan kenalan yang tidak kusimak dengan seksama tentang tempat ini. Maka, kami berdua melangkah.
Dan benar. Kawasan itu berada di pinggiran yang berjarak hampir setengah kilo dari rumah-rumah tetangga. Indekos yang agak terpencil tapi tidak terlalu buruk ketimbang isi kos—kamarku. Serius, aku malah menganggap ini jauh lebih layak ketimbang tempat tinggalku.
Karena aku tidak punya uang, maka, Disya yang mendatangai pemilik kos. Dan kabar bagusnya, kos ini diperuntukan campur–mengingat lokasinya yang tidak ramai serta pelanggan yang nyaris jarang. Melihat disana, kos dengan dua puluh pintu ini, hanya diisi oleh tiga pasangan. Entah sudah menikah atau belum. Tidak ada yang benar-benar memastikan status para penghuni kos.
Begitu juga dengan kami berdua.
Katanya, kami akan mendapat kasur single dengan fasilitas kipas angin dan toilet dalam kamar. Harga kos delapan ratus ribu perbulan. Berikut dengan kompor gas.
Disya memerkan kunci padaku. Aku mengangkat alis dan menarik napas.
Kami akan tinggal satu kamar, ya? Aku bertanya pada isi tempurungku sendiri. Saat Disya menatapku, aku nyengir. Aku tidak punya uang dan akan benar-benar tidak tahu diri jika bertanya–apakah gadis itu bisa membayar kamar yang lain untukku. Mustahil dan memalukan.
Dan tentang satu kamar single adalah benar. Disya meletakkan tasnya sembarangan sementara aku memutar otak–mencari cara bagaimana bisa tidur berdua di kasur sempit itu.

Baik, aku berpikir keliru. Sebenarnya kami bisa berbagi kasur meski entah bagaimana caranya. Dan soal kumuh, itu terjadi di luar. Tempat ini berjarak sepuluh menit dari pantai. Bukan jenis pantai wisata, melainkan pantai biasa dan tidak terlalu bagus. Pun aku sedang berusaha melupakan tentang tidak bagus dan kumuh atau memikirkan cara tidur. Disya menerima pesan — setelah kami hanya duduk kurang dari delapan menit setelah perjalanan lima jam, gadis itu menyeretku lagi, entah kemana.
≽^• ˕ • ྀི≼
Pertama, Disya memintaku membuat CV, foto, KTP, dan ijazah. Kami mampir ke tempat foto kopi sebelum kembali melanjutkan perjalanan menggunakan ojek.
“Aku punya teman online dari aplikasi telegram. Dia adalah seorang HRD dari PT Sumber Alfateria Trijaya Tbk di daerah sini. Aku mendaftarkan kak Akmal jadi kasir Alfamart” katanya, aku di beritahu saat kita hampir sampai. Gedung itu menjulang wajar di antara jajaran bangunan lainnya. Dengan langkah yakin, kami menuju kesana tanpa persiapan apapun. Bahkan tanpa mandi layak.
Disya mendorongku. Lalu melempar kata-kata tidak jelas yang kupikir adalah bentuk penyemangtan—aku mengartikannya begitu. Kendati, dia begitu baik, ini impresi awal meski disinilah aku duduk dengan tampilan–yang benar-benar menyedihkan.
≽^• ˕ • ྀི≼
Aku diterima.
Jika melihat ijazah terakhirku, harusnya mereka bisa menempatkanku menjadi staf penting di kantor alih-alih kasir biasa. Kendati, aku sangat bersyukur. Masa training tiga bulan mulai akan kujalani di toko terdekat yang berjarak lima ratus meter dari kos. Semuanya terjadi begitu saja, begitu cepat dan singkat. Semua berkat Disya–yang entah apa yang ia lakukan–hingga dengan mudah, aku diterima. Benar, aku mulai bekerja tanpa ada celah menganggur sejak kedatangan kami kemari.
Sementara Disya, ia–entah melakukan apa pada ponsel. Kegiatannya hanya terbaring seharian dalam kamar–atau mungkin pergi saat aku tidak di rumah. Sisanya hanya membeli makanan serta cemilan. Saat aku pulang, dia menungguku layaknya seorang istri bersama makanan yang ia masak sendiri.
Menyebutnya seperti istri membuat sudut bibirku terangkat naik. Kami baru bertemu dan waktu berjalan begitu cepat. Satu bulan atau yah, sekitar itu — kami tidak sempat berkenalan dengan layak dan benar, kecuali malam tangis lepas kejadian yang sama-sama membuat kami putus asa. Setelahnya, kami berdua hanya menjalani hidup layaknya teman di dalam kos itu. Kadang-kadang Disya berceloteh menceritakan tetangga sebelah atau panas terik yang berhasil membuat hidungnya berminyak.
Aku shift siang hari ini . Pukul empat sore, aku sudah berada dalam kos dan Disya seperti biasa–seperti kemarin dan kemarinnya. Menyambutku dengan senyum manis.
“Hari ini aku dapat uang” katanya, mulutnya menyuap mie goreng yang di campur kol dan cabai. Aku memperhatikannya dalam suapan. Meski aku penasaran setengah mati—seperti, darimana ia mendapatkan uang selama ini. Pasalnya, aku benar-benar hidup dari uangnya. Aku baru mendapat upah dari masa percobaan satu bulan diterima. Dan selama itu, penuh—Disya yang membiayai.
Dan aku tidak bertanya. Aku hanya mengangguk dengan senyum tidak sampai mata.
“Kak Akmal”
“Hm”
“Setelah ini, kita pergi beli baju, ya? Kita tidak punya pakaian layak”
Aku mengangguk.
“Nanti kita beli makanan enak sebagai reward. Kak Akmal kemarin gajian, kan? Di tabung aja uangnya, biar ini urusan aku”
Sebenarnya aku terusik dengan yang itu juga. Rasanya, ini terbalik dan tidak benar. Namun Disya serius dengan ungkapannya. Seluruh gajiku kutabung dan dengan tidak tahu malu, aku lagi-lagi hidup dari uangnya.
Sementara tentang tidur kami.
Normal.
Sudah satu bulan lebih. Kami tidak mengalami apapun. Maksudnya, kami hanya hidup berdua, titik. Jika merujuk pada drama atau picisan remaja tentang dua orang yang bertemu dan saling jatuh cinta dalam kurun tertentu saat tinggal bersama, mungkin aku akan percaya dan tidak percaya. Pasalnya, sejauh ini, aku dan Disya benar-benar baik-baik saja. Aku tidak ingin mengkategorikan apapun meski diam-diam, aku melihatnya. Aku mulai melihatnya.
Mungkin saja karena ini adalah pengalaman pertamaku berbaring dengan wanita—seorang gadis. Dan kemungkinan lainnya adalah bahwa aku sendirian yang melihatnya.
Disya tidur meski lebih sering larut dengan ponsel yang seperti akan merekat ke matanya. Sementara aku tidur lebih cepat. Kami tidak banyak mengobrol setelah membicarakan hal-hal penting tidak penting menyangkut pekerjaan atau yah, mungkin cuaca yang super panas, tetangga dan bau pantai yang pekat. Setelah itu, kami diam hingga tertidur. Tidak ada, tidak lebih.
Baik aku akan jujur. Sebenarnya, aku menyukai Disya.
Lagipula pria gila mana yang tidak menyukai gadis cantik luar biasa yang menanggung hidupnya? Aku bergantung padanya, memujanya diam-diam dan berusaha agar tidak terlihat mengaguminya seperti orang gila. Itu sulit. Kadang, ada waktu dimana mataku benar-benar terpaku ke arahnya, begitu indah. Sesekali ia akan menaikkan alis, lalu bertanya dengan nada candaan. Sementara aku malu setengah mati.
Aku benar-benar tidak bertanya meski jutaan pertanyaan menyesaki tempurung. Seperti; dari mana uang yang dia dapat, bagaimana dengan neneknya, bagaimana kuliahnya. Gadis itu tampak terlalu tenang dan damai.
Cerita tentang ia dijual oleh temannya. Itu juga terlupakan begitu saja, seolah bukan sesuatu yang besar—efeknya hanya hari pertama, saat malam itu. Sisanya sama sekali. Gadis itu hidup santai dan menikmati hidupnya.
Dan dari semua hal itu, yang paling membuatku penasaran adalah, Disya sangat mahir membaca map. Ia seperti tau dimana pun tempat, kemana harus pergi dan tidak kebingungan. Mirip orang dewasa yang tau kemana langkahnya.
Jika mengajakku ke suatu tempat, maka ia akan pergi dan membawaku tanpa ragu. Seolah, ia telah mendatangi semua tempat itu sebelum ini. Aku mirip bocah yang hanya membuntut langkahnya, tanpa salah.
Seperti sekarang.
Aku baru saja dibelikan pakaian dan bersumpah melihat Disya membayar dengan harga yang lebih besar dari gajiku pertama kali menjadi kasir. Ia tak perhitungan dan aku benar-benar tidak tahu berapa uangnya dan jika punya uang, kenapa ia tidak kembali ke Jakarta?
Aku berdiri—berjarak sepuluh meter dari tempatnya sekarang. Disya sedang bercengkrama dengan seorang gadis lain–lebih dewasa, mungkin tiga puluh tahun? Aku tidak yakin. Mereka berbicang akrab seperti teman yang lama yang baru bertemu lagi.
Hanya sekitar dua puluh menit, setelah itu Disya kembali padaku dan wanita itu pergi.
Kami melanjutkan perjalanan pulang setelah semua hal yang Disya inginkan ada di tanganku–dalam kantong-kantong yang jika kuprediksi seberat dua belas kilogram.
“Aku suka sekali denganmu” kata-kata itu melayang tepat saat kami masuk dalam kos. Aku meletakkan makanan di dekat kompor sementara pakaian masih ku jejer di bawah lemari plastik yang dibeli saat kami baru pindah dua hari.
Dan aku melirik sekilas. Disya bukan sekali ini saja mengatakan itu, jadi aku mendengarkan, namun tidak akan repot-repot menatap matanya agar dia merasa didengarkan.
“Kamu tidak pernah banyak tanya, tidak pernah cerewet dan selalu iya-iya saja. Aku suka sekali” itu juga. Aku mereaksinya dengan senyum, kali ini, kuperlihatkan deret gigi rapiku padanya.
Lantas, bagian mana aku akan bertanya macam-macam saat hidupku bahkan ditanggung olehnya? Meski sialan apapun yang ia lakukan, aku tidak akan pernah bertanya, tidak juga menduga-duga apalagi berspekulasi buruk. Aku hanya akan percaya dan diam dengan apa yang kulihat dan kujalani—mungkin hingga uangku cukup dan aku akan melamar di perusahaan besar. Saat aku punya uang, aku bersumpah akan bertanya apa yang dilakukan Disya dan memintanya berhenti, apapun itu. Aku bersumpah akan menebus kebaikannya dengan menghidupinya. Nanti, sekali lagi aku bersumpah atas nama tuhan. Meski tidak sekarang.
Aku mendengarnya bersenandung masuk dalam kamar mandi “nanti makan malam bareng, oke? Aku mandi dulu, Kak” setelah itu, bunyi air dari balik kamar mandi memutus senandung. Aku diam saja.

Aku bisa.
Aku bisa hanya duduk menontonnya diam saja sepanjang hari. Atau melihatnya makan dengan cara—normal dan wajar namun kuanggap lucu dan menggemaskan. Aku bisa seperti ini sepanjang waktu asal itu Disya. Di mataku, gadis kurus dan kecil itu lebih dari musim panas setelah hujan badai. Bagiku, dia lebih dari banyaknya hal–karena aku tidak memiliki sesuatu apapun yang berharga dan yah, aku memiliki Disya sekarang. Ini adalah klaim menyedihkan dan aku tidak masalah.
“Apa menyenangkan memperhatikanku seperti itu?” mulutnya penuh dan aku berdehem. Mataku kupalingkan sembarangan meski terlambat dan tentu saja membuatku seperti orang tolol. Aku tidak menjawab.
“Bagaimana menjadi kasir?” pertanyaan itu sebenarnya terlambat–atau tidak. Sudah berminggu-minggu berlalu dan ia baru bertanya.
“Biasa saja, tapi aku bersyukur memiliki pekerjaan dan berhasil kabur dari tanggung jawab yang..” aku menunduk, lalu tersenyum dengan tidak tahu malu “ini memalukan”
“Aku juga sering bertingkah—mengambil tindakan impulsif yang berujung memalukan. Tidak apa-apa. Itu manusiawi. Kamu berhutang untuk kuliah. Jadikan itu alasan untuk berhenti menyalahkan atau merasa bahwa kamu pecundang. Kamu tidak” jawabnya serius. Disya menatapku dari balik anak poni yang menutupi sedikit matanya. Aku gemas ingin menyingkirkan itu.
“Aku harap aku bisa atau tidak seperti itu, sejatinya, aku hanya ingin menjadi manusia normal dan hidup dengan baik. Beberapa hal benar-benar diluar kendali”
Disya mengangguk sistematis.
“Hey, nikmati saja hidup. Kenapa terlalu pusing? Mau kusuapi?”
Aku menggeleng. Dan Disya tertawa lagi untuk alasan yang tidak terlalu kumengerti.
“Kamu keren dan hebat, sungguh”
“Tidak ada konteks yang membahas itu, tapi aku berterima kasih atas pujiannya” kurasakan wajahku memanas sampai telinga. Jika dalam kondisi ini, entah kenapa tenggorokanku ikut aneh. Seperti ada dahak yang terus menyangkut–membuatku berdehem tidak perlu.
“Kuharap musim panas tidak segera berlalu karena aku benci hujan dan becek” ia bangkit membawa sisa makanan untuk masuk dalam pendingin. Aku memperhatikannya hingga kepalaku berputar.
“Kamu? Kamu suka musim apa di negara yang berada tepat di garis katulistiwa? Sungguh tidak seru” suara debam pelan pintu pendingin tertutup menysul, gadis itu melirik ke arahku sekilas.
“Aku tidak suka semuanya. Aku tidak tahu” jawabku skeptis. Kulihat ia mengangguk-angguk setuju dengan komentarku.
“Apa kamu punya teman di minimarket?”
“Hm, ya.. Mungkin karena pekerjaan. Ku kategorikan sebagai diplomatis”
“Oh hey” ia tertawa lagi “kamu sulit berteman, ya? Atau butuh waktu panjang untuk adaptasi? Kamu terlihat mudah tersenyum dan cemberut sekaligus” ia meletakkan meneguk air mineral dan setelah itu duduk di sebelahku lagi “ayo berteman, aku juga tidak pandai berteman”

Aku tidak benci situasinya. Namun tidak tepat juga jika mengatakan aku suka. Atau… ya, aku hanya mencari kata yang pas untuk menggambarkan suasana hatiku tiap Disya terlelap lebih dulu. Baik, kuakui tidur kami memang akur. Dia tidak bergerak dan aku juga seperti bangkai—ini setelah dia tak berkomentar apapun tentang pola tidurku.
Seperti malam ini.
Kipas bergerak konstan. Mulus, tidak berisik seperti dalam kosku. Anginnya yang bisa membuat kami terlelap di bawah musim panas yang tidak berubah. Baik siang atau malam, tetap gerah.
Malam ini wajahnya menghadap padaku. Bulu mata panjang-panjang, napas teratur, bibir merah alami dan aroma tubuhnya yang khas. Aku menyukainya, sungguh.
Dalam kepala seorang pria normal yang sehat. Aku berpikir tentang—bagaimana jika kutempelkan hidungku pada rambutnya? Menghirup aroma tubuh atau sekedar berkontak fisik. Aku menepisnya, memikirkannya lagi, lalu berusaha mendistraksinya dan berakhir terlelap.
Aku bersumpah, aku ingin memeluknya.
≽^• ˕ • ྀི≼
“Ini suamiku, kami baru menikah” tangannya membawa satu boks es krim besar, sementara tangan yang lain menggamit lenganku. Disya mengajakku duduk di depan kos. Bukan di teras, melainkan dibawah pohon beringin besar yang rindang. Ia membawa kursi entah di dapat darimana dan masih sempat menjawab pertanyaan dari tetangga tentang status kami.
Cuaca panas menyengat. Aku shift malam dan siang ini, Disya mengajakku makan es krim di luar. Sambil melihat pemandangan yang tidak bagus–tidak terlalu. Hanya ada pepohonan, gunungan sampah dan aspal panas yang seakan membara di bawah terik. Para pejalan kaki atau anak-anak yang kembali dari laut terlihat gosong. Beberapa membawa layangan, ada yang membawa pancing dan beraneka ragam. Tempat kos kami adalah jalan akses ke laut meski tidak ramai dan jika musim hujan datang, kawasan ini akan sangat lembab dengan bau sampah yang khas. Katanya.
“Komedoku keluar karena kepanasan” ia mengeluh sambil menjilat sendok es krim. Tadinya aku ingin protes karena dia menyuapiku es krim dengan sendok yang sama. Namun protes hanya bentuk–agar tidak kentara jika aku kesenangan.
“Aku benci musim panas. Tapi lebih benci musim hujan” aku ikut berkomentar. Disya mengangguk setuju dan menyerahkan boks es krim ke atas pangkuanku. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celana.
“Dengar..” Disya mengeluarkan kuteks berwarna biru elektrik “ini bisa membantu jarimu lebih segar” dan aku tidak tahu apa maksudnya “kuteks mengandng bahan pelarut dan alkohol, dia akan dingin jika di pakai” aku mengerti.
Sekarang gadis itu memakaikan kuteks pada jerijiku setelah alasan dingin dan semacamnya. Aku diam saja tatkala cairan itu meleleh di atas kukuku–memberi warna baru dipermukaan.
“Oh, tangamu cantik sekali. Aku iri” dia mengatakan itu hanya agar aku tidak protes dan percaya. Aku bersumpah tangannya lebih lentik dan cantik.
“Apa warna kesukaanmu?” ia mendongak, dan aku menaikkan alis. Sialnya aku kesulitan mengontrol senyumku.
“Apa saja, kecuali hitam” jawabku jujur.
“Biasanya pria suka warna hitam. Sudah kuduga kamu tidak biasa. Kamu adalah pria luar biasa”
“Berhenti memuji berlebihan. Aku tidak keberatan dengan cat kuku” kataku berusaha membuatnya berhenti memuji secara tidak natural. Disya tertawa dan tawa itu menulari “bayangkan jika ada petugas yang mempertanyakan surat nikah” ucapanku yang tiba-tiba berhasil membuat Disya berhenti menorehkan cairan dingin itu pada jempolku.
“Kita hanya perlu menikah” katanya enteng. Seperti bukan sesuatu yang besar. Aku batuk tersedak ludahku sendiri “menurutmu, apa yang harus kita makan malam ini?” dan secepat itu dia mengubah topik. Aku berhenti berpikir jauh tentang ucapan spontanitas tanpa diolah dan langsung mencari ide tentang makan malam yang setiap malam selalu kami pikirkan bersama.
“Pizza” ia mendapat jawabannya sendiri. Lalu matanya beradu denganku meminta pendapat. Aku hanya mengangguk seperti biasa karena aku adalah pemakan segalanya. Aku memakan sampah sebelum bertemu Disya dan akan memakan apapun yang bisa dimakan untuk bertahan hidup.
“Pizza dan beer terdengar sinkron. Kamu kuat minum?” itu pertanyaan untukku dan aku mengedikkan bahu tidak yakin.
“Sebenarnya, aku tidak pernah membeli beer” hanya sebatas itu. Aku tidak akan repot-repot mengatakan jika aku lebih memilih membeli sepuluh biji roti seharga seribu rupiah untuk menyambung hidup ketimbang membelanjakan beer. Disya tampaknya muak dengan cerita kemiskinan meski ia tidak mengaku kaya. Jika aku bercerita tentang kesengsaraan ekonomi, dia akan mengangguk setuju, seakan posisi kami sama dan dia pernah merasakkannya juga. Aku tidak percaya.
Dia mengangguk lagi. Selesai dengan kelingkingku yang terakhir, lalu mengambil ponsel untuk memotret hasil karyanya.
“Aku berpikir untuk menjadi nail art, tapi aku bukan orang yang bisa konsisten saat bekerja dan tidak suka jika mendapat pelanggan dengan kuku jorok atau kuning. Aku akan marah dan memintanya pergi merawat kuku” es krim kembali ke pangkuannya setelah semua yang di inginkan abadi dalam ponselnya.
“Tidak usah, carilah pekerjaan yang paling–tidak membuatmu emosi” aku berkomentar seadanya. Lalu di sela oborlan kami yang random, suara gedubrak sepeda jatuh di aspal. Anak kecil yang menggendong anjing jatuh. Sisa orang tak seberapa penghuni kos di samping tergopoh-gopoh menghampiri.
Namun anak itu tertawa terbahak-bahak saat ia berdiri dan wajahnya terkena tahi kerbau yang berceceran di jalan hampir kering. Tidak ada luka, anjingnya duduk di samping. Aku ikut terpingkal-pingkal dan Disya juga.
“Aku tidak tahu kapan kerbau melewati jalan ini, kenapa ada kotorannya di sana? Astaga perutku sakit”

Aspal di jalanan seperti baru saja membaik—sisa hangat setelah matahari menembus lapisan awan tipis. Kini mereka semua lenyap–tenggelam.
Ombak tetap berdebur berulang-ulang seperti kaset rusak. Udaranya tetap asin–agak menyenangkan jika malam karena tidak panas. Aku membayangkan seperti bernapas di dalam kantong plastik jika pergi ke tempat ini siang. Ya, kami tidak akan nekat meski sebosan apapun untuk pergi ke pantai siang hari.
Jika ada hal yang membedakan bagaimana kakiku akan tetap melangkah ditengah terik di siang bolong hingga sol sepatuku melepuh, itu adalah Disya. Bersamanya, tidak masalah jika harus bernapas di dalam kantong plastik, atau kakiku meleleh di atas aspal panas. Terik tidak akan membuatku berhenti mendamba pada seorang gadis yang terbalut dress dengan dada rendah–dipadu kemeja flanel tipis.
Tangannya menggenggam sepotong pizza yang ia beli sore tadi. Rambutnya dikepang dua sementara anak poni berantakan sesuai arah angin. Alih-alih ikut menyuap makanan yang katanya ‘reward’ aku lebih terpikat pada wajah yang kulihat setiap pagi dan malam — tiap bangun dan hendak tidur. Aku bersumpah tidak akan bosan seandainya tuhan mau memberikan ia kepadaku sebagai pasangan hingga mati.
Aku terlalu menyukainya dan Disya terlalu memikat.
“Kak”
Panggilan itu telak membuatku seperti orang sinting yang kedapatan menelisik wajah secara tidak sopan dari samping. Disya menatapku dengan senyum khasnya. Disya, kupikir dia terbiasa dengan tatapanku yang kerap terpaku tanpa sadar.
“Y-ya?” jawabku patah-patah, aku terpaksa mengambil potongan pizza meski perutku tidak lapar. Ya, aku makan dulu saat Disya mandi. Aku baru pulang hampir pukul sepuluh malam dari minimarket.
“Berapa lama lagi sampai musim hujan?” itu pertanyaan baru untukku. Dari seluruh banyaknya kemungkinan bertanya, aku tidak tahu apa ada alasan dibalik pertanyaan itu. Namun yang kulakukan adalah mengingat bulan dan menghitungnya cepat.
“1 bulan” jawabku, lalu aku memutar mata kembali mengingat—jika ada yang terlewat “musim panas di mulai April dan berakhir Okt0ber. Ini awal September” kataku, melihat kalender pada ponsel dan memastikan itu tidak keliru.
Disya mengangguk tidak mengatakan apa-apa lagi tentang musim panas atau seputar itu. Kami berdua duduk di atas batu, menatap ombak dan menghirup bau asin yang menyesaki pernapasan. Di temani sekotak pizza yang sudah berkurang dan kopi dalam tumbler.
“Kak Akmal”
“Ya?”
“Aku ingin mengatakan sesuatu”
“Aku dengarkan”
“Sebenarnya, kita seumuran. Aku bukan mahasiswi dari Jakarta, aku berasal daro sini, pulau Flores dan aku nyaris hafal semua tempat di pulau ini”
Pernyataan itu membuatku tercenung beberapa saat. Seperti biasa—seperti yang ia lakukan tidak normal, maksudnya, seluruh kegiatannya yang memang tidak sesuai dengan ceritanya saat pertama kali kubawa ke kamarku.
Dan aku tidak menjawab, aku tidak bertanya meski banyak sekali pertanyaan. Aku memilih diam dan tetap memandang ke depan.
Disya melirik ke samping. Lalu kuintip dari sudut mataku jika ia tersenyum.
“Kak Akmal, tidak ada pertanyaan?”
Aku menggeleng nyaris presisi. Lalu aku ikut menatapnya. Sejak awal, gadis itu tidak banyak menceritakan tentang dirinya. Entah apa sebabnya tiba-tiba saja ia membuka obrolan seputar itu.
“Tidak akan ada yang berubah siapapun kamu, aku berhutang banyak dan aku akan percaya apapun yang kamu bilang, yang kamu kerjakan. Aku akan selalu memihakmu, Disya” kataku pelan. Suaraku berat dan mungkin saja terdengar mirip ombak. Lalu tanpa aling-aling, gadis itu melendot pada lenganku, kepalanya menumpu pada lengan atas.
Kami memang selalu dekat. Tapi aku tidak pernah melewati garis, begitu juga dia. Kami tidur dengan akur dan tidak ada yang rusuh di antara kami. Kalau dipikir-pikir, semuanya terasa tidak mungkin. Namun kami melakukannya, kami adalah teman–mungkin. Atau mutualan, meski kupikir aku lebih sering menyusahkannya sejak awal ketimbang–dia yang memulai segalanya dan eksistensiku yang terkadang kuanggap sebagai pecundang dan benalu.

“Mau bermain pasir?” tawarnya kemudian. Ia kembali duduk tegak dan menawariku melakukan hal-hal yang tidak pernah kami lakukan. Aku mengangguk pelan dan dia langsung mengambil tanganku dan kami menuruni bebatuan hati-hati.
Tidak banyak yang kulakukan.
Maksudnya, kami berlari. Dia memberikan tawaran hadiah permintaan jika aku berhasil menangkapnya.
Entah sejauh apa aku berlari. Pertama aku mengejarnya, lalu kemudian entah kenapa aku berlari saat dia balik mengejar. Padahal, jika tertangkap, aku akan menang, namun aku reflesk berlari saat Disya mengejarku, pun napasku tidak sanggup mengimbanginya, aku pengap dan berakhir kembali ke sisi batu dimana pizza terakhir kami tinggalkan.
Aku duduk di atas pasir dengan kaki lurus ke depan, tanganku bertumpu ke belakang. Dadaku kembang kempis setelah Disya mengajak bermain kejar-kejaran. Sungguh payah, aku mulai memikirkan gym dan lari pagi setelah kalah mengejar gadis yang jauh lebih kecil dariku.
Lihatlah, sekarang Disya masih aktif berlari ke sana ke mari pura-pura di kejar ombak, sementara aku mulai mengatur napas karena lelah dan pengap.
Angin laut terasa lebih dingin menerjang kaus ku yang tipis. Dadaku sesak oleh udara yang masuk. Namun rasanya seperti tidak pernah cukup.
Di tempat ini kami duduk, dunia seolah terputus dengan sempurna. Di luar garis cahaya yang di cipatakan lampu jalanan, aku dan Disya menciptakan dunia baru—dimana alunan ombak mendayu-dayu dan gugus bintang berkelip hanya untuk dua pasang mata. Dunia hanya berisi aku dan Disya. Gadis itu ikut duduk di sampingku—sejajar. Kakiku di kubur pasir dan kakinya juga.
Dunia yang sempurna.
Malu-malu, tanganku bergeser ke samping, menyentuh jemarinya yang tersimpan rapi di sisi paha. Disya melirikku sekilas, melempar senyum cantik seperti biasa, lalu memberi akses jariku mengisi sela jarinya. Ia mengapitku, begitu erat, begitu hangat.
“Mau hadiah apa?”
Alisku menaut atas pertanyaannya. Aku bahkan tidak menang dan tidak ada yang menang di antara kita. Namun Disya menawarkan. Aku memejamkan mata sembari menahan senyum. Sayang deret gigi rapiku lolos pada akhirnya. Aku tidak bisa menahan tawa.
“Kupikir tidak ada yang serius dengan itu” ucapku kemudian. Aku menarik napas dalam, menyudahi senyumku “tapi kalau ditawari, aku tidak akan menolak.
“Tentu saja” Disya menggeser tubuhnya semakin memepet, kepalanya di istriahatkan lagi pada pundakku “Kamu hampir kehabisan napas tadi, aku ini atlet lari tau, Kamu tidak akan bisa ngimbangi”
“Kalau begitu, aku ingin tau tentangmu” pundak Disya yang bersentuhan dengan lenganku menegang “itu permintaanku”
Untuk sesaat, keheningan mengisi—Disya membiarkan debur ombak, gemerisik pepohonan dari bukit seberang jalanan aspal menguasi. Aku harap, Disya tidak akan sadar betapa basahnya telapak tanganku sekarang. Tadi, aku mengatakan bahwa tidak akan ada yang berubah—siapapun Disya. Namun sekarang, aku secara spontan–akibat hadiah permintaan itu–rasanya seperti refleks. Jika Disya tidak mau memberitahuku tentang dirinya, aku juga tidak apa-apa.
“Harus di mulai dari mana ya…” Disya bergumam pada dirinya sendiri “kisahku cukup klise dan tidak bagus. Aku tidak tau apakah ini bisa menghiburmu atau tidak”
“Aku bertanya bukan untuk mencari hiburan karena hiburan ada di depan mataku” suaraku lembut–lirih “aku hanya ingin tahu tentang orang yang kusuka. Tapi jika kamu keberatan, tidak masalah untuk tidak menjawab” aku mengatakan itu dalam keadaan sadar. Disya yang baru mendengar ungkapan ‘suka’ kontan menoleh padaku. Kurasakan matanya seperti akan melubangi pipi kiriku—aku tidak bernyali untuk menatapnya balik.
“Aku benar-benar tidak tahu harus memulai darimana” ia menegakkan tubuhnya. Ada sedikit rasa kecewa ketika kepalanya tidak lagi bersandar pada bahuku. Gadis itu tampak berpikir sejenak sebelum bangkit — mengambil tas selempang dekat pizza yang kami tinggalkan di atas batu.
Saat kembali, ia menyodorkan sekaleng bir “bagaimana kalau kamu bertanya padaku?”
Aku menerima kaleng bir, mendongak melihatnya yang kembali duduk di sampingku “berapa banyak yang bisa kuajukan?”
Disya menjilat bibir bawahnya “sebanyak yang kamu mau”
Bunyi keletak disusul desisan soda, kaleng bir terbuka. Tapi alih-alih langsung meminumnya, aku hanya menatap cairan kuning transparan yang memenuhi pinggiran kaleng.
“Apa kamu asli Flores?” padahal Disya sudah mengatakannya. Aku memastikan sekali lagi mirip orang memastikan sudah mematikan kompor sebelum pergi.
“Ya.” Disya mengangguk “aku dari Labuan Bajo” sama denganku, namun aku berpikir mengapa kami tidak bertemu sebagai orang ‘normal’ tanpa insiden apapun. Maksduku, bertemu dalam konteks lebih layak.
“Berapa usiamu? Dengan siapa kamu hidup?”
“Aku 25, kita seumuran, aku hidup sendirian. Kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan dan aku tidak memiliki siapapun” gadis itu menyesap bir, matanya lurus pada debur ombak. Sesekali kakinya memainkan pasir. Lalu melihat ke arahku “sekarang aku tinggal dengan seorang pria tampan” katanya sambil terkekeh.
Aku menarik napas—seperti aku tidak akan bertanya lebih lanjut atau–aku khawatir jika Disya akan merasa tidak nyaman.
“Disya, apa kamu menyukaiku?” aku lebih memilih pertanyaan itu ketimbang kehidupan lalu gadis itu. Memberanikan diri dengan gaya pas-pasan dan… tampan? Disya mengatakan tampan dan aku cukup tersipu pada bagian itu.
“Ah, sepertinya, aku tau darimana harus memulai” alih-alih menjawab pertanyaanku, gadis itu justru tersenyum. Dua tangan menangkup kaleng bir di atas pangkuan. Lagi, matanya nyalang menatap ombak yang begitu-begitu saja.
“Sebulan.. Em.. 1,5 bulan yang lalu. Sesuatu terjadi dan aku dihadapkan situasi sulit dimana aku berakhir dengan dua pria besar, bule dan benar-benar akan mati jika seseorang tidak datang. Aku sudah menulis surat wasiat entah untuk siapa dalam tasku di semak-semak. Tapi seseorang datang dan memukul dua pria itu dengan keren. Pria tampan. Bagaimana caranya aku tidak suka? Dia terus mengatakan hutang budi dan seolah aku ini adalah penyelamat. Padahal, kata-kata itu lebih pas untuk dirinya” Disya tersenyum. Satu tangan mengangkat kaleng bir dan ia menyesapnya lagi hingga mendongak tinggi dan kaleng itu nyaris tegak lurus. Kulihat tenggorokannya menelan dengan rakus. Setelah itu, wajahnya memerah, kupikir dia mulai mabuk.
Lalu melirik ke arahku “aku menyukaimu juga” kata-kata itu membuat jantungku seperti akan melompat keluar “kamu tidak pernah bertanya apa, bagaimana, dan yah..” Disya menunduk lalu tertawa “kamu menyukaiku meski itu karena ketergantungan atas kondisi ekonomimu yang menyedihkan aku tidak kebera–”
“Tidak, aku tidak menyukaimu karena itu saja. Terlalu dangkal. Kamu terlalu kompleks untuk dikerucutkan menjadi sesuatu yang kelewat kerdil. Kamu lebih dari itu” aku mengoreksinya cepat-cepat sebelum ia menyelesaikan kalimat yang hanya akan membuatku terlihat tidak tahu diri–meski Disya tidak akan menyinggung itu.
“Apa?” ia memicingkan mata. Tidak, matanya mengecil, melihatku seperti penderita hipermetropi.
“Aku menyukaimu lebih dari apapun. Aku bahkan memikirkan banyak hal terlalu jauh. Aku berjanji akan mengumpulkan uang dan memasukkan lamaran ke perusahaan besar. Aku akan mendapatkan banyak uang dan menghidupimu. Aku akan, itu tujuanku sekarang” sudut bibirnya berkedut. Angin membawa rambutnya meliuk menutupi mata sebagain.
“Aku tidak tahu harus mereaksi apa. Kamu bahkan bisa tidur dengan gadis tanpa menyentuhnya. Kadang ada malam dimana aku benar-benar ingin kamu menyentuhku, melewati garis lalu memelukku. Kamu tidak, tidak pernah. Aku mulai bertanya-tanya, apakah kamu pria normal? Apakah kamu sehat?” lalu kudengar ia terkekeh, Disya jelas mabuk “aku muak sekali dengan pria, tapi kamu tidak. Kamu pengecualian, dan semakin kupikirkan, aku semakin merasa menyedihkan” kata-kata terakhir gagal kucerna. Aku tidak tahu Disya mengatakannya atas dasar apa.
Yang ku lakukan adalah meneguk ludahku. Jakunku bergerak naik turun dan kulihat Disya mengamati bagian itu.
“Dan apa aku harus mengaku seberapa keras aku menahan diri?” pertanyaanku telak membuat Disya memberengut, mata kami bertemu dan aku tidak tahu apa arti tatapan itu. Kadang, aku merasa gadis itu sangat misterius dan cerewet sekaligus.
“Aku dengan kesadaran penuh tahu diri jika posisiku benar-benar menyedihkan. Kecuali aku gila, mungkin aku akan melewati garis. Hanya ini satu-satunya yang kupunya. Tapi mendengar kata-katamu barusan, kupikir aku bisa melakukan hal-hal yang melewati garis dengan dalih tidak sadar”
Ia mengacungkan jari tengah sambil tertawa. Lesung pipinya tercetak. Dan itu tidak lucu, sungguh. Gadis itu tidak lucu sekarang, sekarang, benar. Kemarin lucu, kemarinnya lagi dan kemarin. Gadis itu imut dan menggemaskan. Namun malam ini tidak. Disya sangat panas, yah.. Kurasa ombak berisik, pasir kasar, angin yang semakin membesar—akan setuju tentang apa yang kupikirkan.
Aku hanya menatapnya tanpa mengubah posisi apapun. Bahkan cara ku menatapnya penuh damba. Sebelum kurasakan ia semakin mendekat–memepet padaku. Aroma bir menguar dari mulutnya, kurasakan menyuruak masuk ke penciumanku.
Semakin dekat. Disya mabuk. Kepalanya meneleng ke kanan dan matanya tertutup sempurna. Aku diam seperti pria perjaka yang hampir mati karena kesenangan namun tetap berhasil mengatupkan rahang. Aku hebat, aku akan mengakuinya malam ini.
Bibirnya menabrak milikku.
Kurasakan miliknya dingin, kenyal dan lembut. Napasnya memukul atas bibirku hangat di susul pagutan lembut darinya. Disya meremas kain dress di atas pahanya sendiri sementara aku pelan-pelan mengambil alih.
Aku menyukainya, sungguh.
Aku menyukai sisa bir dalam mulutnya, menyukai cara gadis itu melenguh pelan di dalam rongga mulutku. Atau ketika ia mengulum lidahku lembut—terkadang lidah kami membelit seperti ular musim kawin.
Suara ombak terasa makin besar. Airnya pasang—kini berhasil menjilat dua pasang kaki kami. Dan kami merebah–bukan, maksudnya, aku menindihnya dari atas. Ciuman kami tidak terputus entah sudah berapa lama. Pelan-pelan kutarik dress dengan dada rendah meski tak sampai membuat dua alat vital itu menyembul. Saat kulepaskan pagutan, kepalaku turun menjilati seluruh permukaan kulitnya yang halus dan wangi.
Gadis itu melenguh pasrah. Dua tangannya menjambak rambutku.
“Disya.. Ayo pulang” kataku kemudian. Aku tahu ini akan berakhir kemana.
≽^• ˕ • ྀི≼
“Tunggu seben—Akh!”
Satu kecupan mendarat telak pada pucuk kepalanya. Lalu Disya memukul tanganku yang menumpu di antara tubuhnya. Sudah kuduga bahwa gerak-gerik Disya mirip kucing pemarah. 1,5 bulan tinggal bersamanya membuatku paham meski gadis itu tidak pernah marah–marah secara transparan padaku.
Tapi tolong katakan padaku bagaimana aku bisa berhenti ketika dada gadis itu tengah naik turun dengan cepat, kedua putingnya memerah dan bengkak, juga basah oleh air liurku.
Sisa-sisa akal sehatku digunakan untuk hal yang tidak terlalu sehat; menahan kedua tangan Disya ke atas kepalanya. Sisanya hanya ada insting. Kepalanya dimiringkan ke samping hingga melesak ke dalam bantal, enggan membalas tatapanku. Pipinya bersemu merah.
Jika Disya tidak mau, tidak seharusnya dia memeluk leherku hingga kami berdua terjatuh ke kasur dan dia membimbing kepalaku untuk mencium dadanya. Seharusnya—meskipun mabuk, dia akan masuk ke kamar mandi untuk sikat gigi, lalu mencuci wajah dan tidur meski posisinya malang melintang.
Atau bisa saja dia diam tidak mengatakan apa-apa dan bicara seperlunya seperti kita biasanya. Aku tidak akan kehilangan akal sehat seperti sekarang.
Akan tetapi, Disya yang membuatku merayap menyusup lalu menyentuh seluruh tubuhnya–yang ia buka sendiri hingga bertelanjang.
Begitu sampai di tempat yang didamba-damba, Disya mengeluarkan erangan tertahan bak suara kesetanan. Aku ingin mendengarnya lagi, lagi dan lagi. Tidak sepanjang hari, aku perlu mendengarnya seumur hidup. Jemariku bergerak naik turun, dalam tempo yang menyiksanya–lambat, dan penuh tekanan.
Oh tuhan, bagaimana aku mengabadikannya? Akan kuhujani Disya dengan kasih sayang yang pantas didapatkan, dan Disya akan menghujaniku dengan desahannya yang manis. Pagi, siang, dan malam.
“Akh..” panggilannya tersendat dengan napas berat sukses membuyarkan lamunanku “tatapanmu menyeramkan sekali”
Aku menundukkan kepala, mencium keringat pada dahinya “takut?”
“Sedikit”
“Jangan” fokusku tetap terpaku pada gadis bersurai panjang yang kini berantakan campur keringat, aku menikmati mulutnya yang basah “aku hanya akan menyakitimu di atas ranjang, Disya”
Nanti, setelah ini, setelah semua ini. Disya adalah kemewahan yang akan terus kujaga dengan perhatian ekstra. Eksistensinya akan terus kulindungi meski aku harus memotong dua kaki dan tanganku sendiri. Aku menyerahkan dunia, kepercayaanku, apapun yang tersisa dariku demi melihatnya tersenyum dengan tulus di bawah sinar matahari–tempat yang cocok untuknya.
“Akh…” matanya berkaca-kaca begitu jari tengahku masuk ke dalam liangnya yang sudah basah. Akan tetapi, ketika Disya sedang seperti itu—meronta dan menggeliat di bawah kurungan badanku—itu adalah kode darinya untuk segera diperlakukan seperti pelacur murahan. Seonggok lubang menganga yang hanya cocok dijadikan tempat benihku bersemayam. Seakan-akan, sisi kemanusiaannya lenyap oleh sapuan jemariku di atas kulitnya yang panas.
Disya merentangkan kedua tangannya ke depan, mengalung pada leherku dengan sempurna. Kedua kakinya melingkar pada pinggulku—tampak seperti koala yang menggemaskan jika saja ia tidak mengangkat satu sudut bibirnya.
Mirip iblis penggoda, pikirku.
“Tidak usah terburu-buru, malam masih panjang. Kita punya banyak waktu. Malam ini, besok, besok lagi dan lagi” kataku lembut. Tubuhku bergerak maju dan mundur.
≽^• ˕ • ྀི≼
Cinta musim panas banyak diperdebatkan merupakan cinta yang membara secara singkat. Aku tidak percaya, kendati lagu-lagu yang sedang populer memutar lirik-lirik memvalidasi. Penyair menyedihkan dengan kisah cinta musim panas yang ikut berakhir tatkala penghujan datang seperti menghapus jejak panas pada aspal.
Aku berdiri dibalik meja kasir sambil membuka email dari perusahaan–yang aku sendiri tidak tahu. Belum sempat aku selesai membaca, pesan dari Disya muncul di bar atas. Aku membukanya lebih dulu.
Aku membuka email, lalu kembali membaca pesan Disya bergantian. Yang tertera dalam email adalah aku diterima kerja dengan posisi yang aku sendiri tidak terlalu paham. Namun perusahaan itu memintaku datang esok. Saat kutanya Disya dimana lokasinya, gadis itu mengatakan jika besok ia akan turut serta mengantarku.
Ini ketidakmasukakalan yang lain. Yang pertama pendapatan, yang kedua bagaimana dengan mudah ia memasukkanku menjadi kasir dalam toserba, lalu saat aku mengatakan ingin bekerja di persahaan besar. Tanpa menunggu babibu, aku langsung diterima tanpa pernah menulis CV, tanpa interview dan dalam pesan, secara tidak masuk akal aku benar-benar diminta datang untuk bekerja, sekali lagi, BEKERJA.
Saat jam pulang datang, aku menghambur—berlari sekuat tenaga untuk cepat sampai rumah. Begitu banyak yang ingin kutanyakan, begitu ini membuatku bingung.
Sebenarnya, siapa gadis itu? Kenapa bisa semudah ini? Aku tidak fokus bekerja hari ini. Bahkan, masa training ku di tempat ini belum selesai dan aku harus pergi ke perusahaan—tempat baru tanpa tahu apapun.
Dikota kecil ini, udaranya selalu membakar paru-paru. Musim panas akan berakhir kurang dari sebulan, tapi seperti hari ini adalah puncaknya. Anak-anak kecil yang berjarak lima ratus meter dari indekos hilir mudik dengan jaring penangkap serangga mereka sambil menikmati es. Para tetangga kos sebelah sibuk bercengkerama dengan yang lain di depan rumah sambil menikmati potongan semangka dan kipas tangan. Di malam hari, bau bubuk mesiu dari kembang api dan bau asin tercium pekat.
Diysa melambaikan tangan dengan cup kopi di tangan yang lain. Tubuh kecilnya terbalut tanktop dan celana pendek menyambutku dengan senyuman.
Saat aku sampai, ia menyodorkan es kopi lalu menyeka keringatku yang bercucuran. Bahkan seragam training ku basah oleh keringat. Ya, aku berlari sejauh hampir 2 kilomter di bawa terik tidak masuk akal. Tubuh kurusku gosong dan bau matahari khas menyengat. Sambil tertawa, Disya mendorongku untuk segera mandi setelah mengambil kembali es kopi yang baru kesedot setengah. Dia bahkan tak memberiku waktu untuk bertanya tentang email.
“Pakai bajumu astaga” Disya keberatan saat aku memeluknya dari belakang hanya memakai handuk–meski dadaku tertutup–bukan jenis handuk yang hanya membelit bawahan.
“Aku rindu” kataku, seolah melupakan alasanku berlari sejauh itu di bawah terik–demi membahas email. Namun yang kulakukan setelah mandi adalah memeluk Disya yang sibuk membuat sesuatu di depan meja kompor dengan pakaian menyedihkan seperti saat menyambutku datang.
Tangaku melingkar penuh pada perutnya. Saat Disya melirik ke belakang, kujatuhi bibirnya dengan kecupan berulang-ulang, dia tertawa dengan lesung pipi yang memikat.
“Aku ingin membahas email” dan aku membahasnya. Diysa menjejaliku dengan irisan ayam katsu. Tubuhnya bergerak mengambil piring dan nasi, aku mengikutinya sambil mengunyah–sambil tanpa melepas pelukan sedikit pun.
“Itu perusahaan kenalanku. Kamu bisa bekerja mulai besok, aku akan mengantarmu” katanya praktis.
“Dimana tempatnya?”
“Jakarta, kita akan pergi setelah makan”
“Tiba-tiba?”
“Hm” katanya “tapi setelah ini, aku ingin menemui teman lama, kamu tolong berkemas”
“Aku tidak mau” sergahku membuat Disya berhenti
“Tidak mau? Apa kamu mau mati?” matanya melotot galak, baru sekali itu Disya mendelik marah.
“Aku tidak bisa pergi atau berjarak denganmu, Disya..” aku memelankan suara, lalu helaan napasku membuat rambutnya di belakang telinga bergerak.
“Aku akan ikut ke Jakarta, kenapa kita harus berpisah?” baru setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, aku tersenyum. Deret gigi rapiku terpantul dari kaca kabinet dapur minimalis itu. “Duduklah, aku akan membawakan makanan”
Aku duduk patuh seperti anak anjing. Makan sore kami di lantai yang di alasi permadani murahan—sudah usang dan tipis.
“Disana, ada temanku bernama Adew. Dia adalah seorang staf administrasi. Tanya-tanya saja, tanyakan apapun, dia tahu semua hal, mirip google” kata gadis itu sambil menyuap makanan. Aku mengangguk–melakukan hal serupa.
“Hm, aku akan bertanya, tapi izinkan aku untuk.. Yah, itu.” aku menggaruk tengkuk “Disya, bisakah sebelum makan kita.. Itu, maksudku…” aku tidak mengatakannya, namun tubuhku bangkit–lantas membawanya ke atas kasur dan gadis itu menjerit sambil tertawa. Kami mengulanginya lagi, lagi, lagi. Seperti harapanku, keinginanku. Aku ingin Disya, aku menginginkan gadis itu lebih dari apapun.
≽^• ˕ • ྀི≼
Ya, ada seseorang bernama Adew. Dia adalah pria kemayu yang datang dengan pakaian formal sebagai staf administrasi. Rambutnya mullet dan kukunya panjang-panjang berwarna marun. Jika berjalan, maka bokongnya akan bergerak memantul, begitu montok.
Aku pergi ke Jakarta sendiri saat Disya terus meyakinkanku bahwa dia akan menyusul setelah urusannya dengan seorang teman bisnis selesai. Disya juga yang meminta Adew menyerahkan kunci kos di Jakarta sebagai tempat tinggalku yang baru.
Aku mulai bekerja di hari pertama. Kebingungan khas dan untungnya, ada seseorang yang dengan sabar mengajari–mengarahkan dan memberi komando. Aku diterima sebagai Data Analyst.
Semua terasa baru. Aku besar di Labuan Bajo mungkin sejak lahir. Udara Jakarta jauh lebih panas, lebih membakar paru berkali-kali lipat dari tanah kelahiranku. Musim panas masih merajai diluar dan sekarang, aku duduk di balik meja dengan jas formal dan pendingin yang tidak akan membuatku mengipasi leher dengan tangan.
Aku mengirimi Disya pesan sangat banyak. Bertanya kapan dia akan datang atau kapan urusannya selesai. Aku akan menjemputnya di bandara. Namun tidak ada satu pesan pun yang sampai. Nomornya tidak aktif dan benar-benar sulit di hubungi.
Aku bersabar hingga jam pulang kerja.
Dan bukan.
Bukan sampai jam pulang kerja, melainkan dua hari, tiga, seminggu, dua minggu, sebulan.
Aku meminta cuti dan ditolak karena posisiku adalah anak baru. Sementara rasa rinduku pada Disya berhasil membuatku seperti orang gila. Nomornya tidak pernah aktif lagi setelah itu, ia seperti menghilang begitu saja tanpa kabar, sama sekali.
Aku frustasi, namun tetap tak kutinggalkan pekerjaan. Akhir pekan ini, aku bersumpah akan kembali mendatangi pulau Flores dan mencari Disya.
≽^• ˕ • ྀི≼
Musim hujan datang.
Gerimis kecil, di susul riuh pertama kali mengawali awal penghujan datang.
Sudah dua minggu. Aku mendatangi pulau Flores. Aku mendatangi kos kami dan bertanya pada si pemilik dan ia mengatakan jika Disya pergi di hari kepergianku membawa seluruh barang. Sang pemilik kos tidak tahu menahu tujuan Disya sementara aku makin frustasi. Ku bawa lagi sopir grab untuk menyisiri semua tempat yang—menurutku berkemungkinan Disya ada, namun libur akhir pekan yang hanya dua hari benar-benar tidak cukup untuk mencari Disya. Aku kembali ke Jakarta dengan hasil nihil, perasaan yang makin semerawut dan rindu yang semakin menjadi-jadi.
Ingatan tentang kebersamaan kami menghujam tanpa tendeng aling-aling. Kasur. Pantai, pasir. Semuanya berputar mundur hingga ke adegan pada hari pertama kami berjumpa, aku nyaris ingin kembali pada momen itu meski menyedihkan—keji.
Dan aku kembali.
Hujan di kota Jakarta seperti sialan aneh yang terasa begitu asing sampai ke dada. Aku seperti kehilangan pegangan, hilang arah. Tidak tahu harus apa dan bagaimana, apa harus melapor pada polisi. Atau masih ada tempat yang ku lewatkan?
Langit masih gelap. Guntur masih bersahut-sahutan entah kapan akan berhenti. Sebagian hidupku setelah meninggalkan Labuan Bajo dihabiskan untuk berharap bahwa suatu hari nanti kami akan bertemu kembali. Mungkin besok atau lusa. Mungkin minggu depan, bulan depan, tahun depan. Begitu terus—menumpuk hingga menjadi sepuluh tahun.
Satu dekade aku memikirkan Disya muncul di hadapanku dengan segala kemurahan hatinya. Membebaskanku dari belenggu kutukan rindu yang tidak berujung. Lesung pipinya, kulit putih dan elok. Melalui bibir indahnya akan kucumbui sambil mendengarkan ia mengatakan hal-hal tentang kefanaan.
Aroma pasta memenuhi ruang.
Wanita itu duduk di sampingku. Dalam sepuluh tahun aku hidup di dua dunia. Yang pertama aku hidup dalam kemewahan. Tidak ada lagi hutang, kasur lembab di musim panas, aroma apek selimut dan seprei yang tidak pernah dicuci atau jamur yang dapat menyebabkan penyakit buruk.
Yang kedua aku hidup dalam imajinasiku sendiri. Tempat dimana Disya ada di sana. Kadang di layar saat aku presentasi, kadang di langit-langit lift.
Akan tetapi yang paling menyiksa adalah ketika aku tidur dan kehilangan kesadaran. Kami kembali ke Pulau itu, ke pantai itu, ke rumah petak itu. Aku dan Disya berjalan beriringan di atas pasir atau saling kejar. Kaki kami di jilat ombak atau tertutup pasir. Bersama-sama kami menembus jalanan panas dan mendarat di laut kumuh yang panasnya seperti akan membakar tengkorak.
Aku menatap keju dan daging sapi cincang di atas pasta. Begitu sulit aku kembali dari dunia imajinasi, dunia yang ada Disya disana. Satu-satunya hal nyata adalah dunia normal ini, di mana aku makan di meja marmer mewah dengan seorang wanita yang menyematkan cincin di jari manisya. Cincin berdesain serupa dengan yang ada di jari manisku.
Ini adalah kehidupan yang nyata, ini yang benar dan ini yang tepat.
Tepat, dan normal.
Aku adalah manusia yang berfungsi dengan baik, senormalnya manusia seharusnya. Jabatan yang tinggi di persahaan bergengsi. Istri yang baik hati dan patut di banggakan. Harta yang tak akan habis. Normal, tapi bukan standar, ini adalah kualitas terbaik dari kata ‘normal’
Sudah seharsunya aku bersyukur. Ini adalah kehidupan yang aku dambakan dulu, sejak aku kecil. Aku harusnya bangga dan selesai dengan semuanya. Hanya perlu menikmati hidup lalu mati dan dikubur sambil di tangisi kolega-kolega penting. Aku orang penting yang hidup keren.
“Sudah minum obat? Kamu terlihat pucat” wanita itu memegang leherku dengan tidak sopan. Aku akan mengoreksi kata ‘tidak sopan’ mengingat dia adalah istriku. Tapi aku risi. “Aku tau kamu selalu mengalami gejala cemas dan.. Mmm… kamu harus minum obat” katanya lagi, ia bahkan terlihat baik-baik saja saat aku menepis tangannya kasar dari leherku.
“Aku tidak suka” jawabku ketus.
“Pastanya?”
Aku menghela napas dan kembali berputar dari meja makan menatap jendela lagi “aku tidak suka saat kamu menyentuhku tanpa izin, tidak sopan” nadaku begitu ketus. Pernikahan yang sudah berlangsung 1,5 tahun dan aku hanya menyentuhnya saat mabuk atau gila. Itu pun sambil melihat wajah Disya, bukan wanita ini. Wanita baik hati yang terus bersabar atas tingkahku yang bobrok.
Kurasa dia menunduk “maaf” katanya.
“Aku tidak pernah menyukai ini. Pasta, hujan, kamu dan pernikahan kita” aku masih terus mengoceh sesuai dengan apa yang kupikirkan dan kurasakan.
“Dengar, Akmal, aku tau hujan membawamu pada sensitivitas yang tinggi. Diperparah obat yang mungkin belum kamu minum, tapi—”
“Tapi, apakah kamu tau apa yang menyebabkan itu?!!” aku jelas membentaknya, suaraku besar, nyaring dan membuatnya kaget. Wanita itu kaget hingga tersentak. Ia terdiam dengan rahang terkatup.
Lalu sesaat, ditengah kegilaan yang mengacau di kepalaku, aku menyesal telah membentaknya sekeras itu.
“Maaf, aku–”
“Kamu benar” wanita itu melipat tangan di dada, bahunya bersandar pada belakang sofa, nadanya jengah dan muak “aku tidak tahu penyebabya–tidak sesungguhanya, aku bahkan tidak tahu apapun tentangmu”
Suara hujan masih setia menjadi latar utama, terlebih saat kami diam satu sama lain. Aku akhirnya kembali menatap meja—pada sepiring pasta yang masih hangat.
“Ketika orang tuaku memperkenalkan kita, kupikir kamu adalah pria yang tidak seperti itu. Kamu selalu tenang dan tidak pernah goyah. Tatapanmu lurus tapi kosong. Kupikir kamu adalah pria dengan kepribadian misterius yang akan melunak saat hanya ada kita berdua. Aku tertipu imajinasi bodohku tentang pria pendiam dengan karisma yang memukau. Aku terpaku pada spekulasi gila” wanita itu mengangkat bahunya sambil tertawa sengau “maksudku, kamu memperlakukanku dengan baik hingga aku merasa jahat karena sudah meragukanmu. Aku tidak perlu bekerja, perhatian yang kamu berikan cukup untuk kujadikan bahan pamer di depan teman-temanku dan aku berakhir dengan meletakkan ekspektasi begitu besar padamu, pada pernikahan 1,5 tahun yang manis ini”
Senormalnya pria yang menyadari istrinya menangis. Seharusnya aku mendekat untuk merengkuhnya—menenangkan atau mengatakan maaf karena telah menyakiti perasaannya. Tapi aku mematung dengan mata yang seperti akan menghancurkan pasta di depanku.
“Aku bertahan, Akmal” suaranya bergetar, aku menyimaknya dengan seksama, masih menunduk tanpa berani menatap manik yang berlinang air mata karena prilaku ku yang mirip setan. “Aku bertahan karena terus meyakinkan diri bahwa kamu memang orang yang seperti itu, orang yang pendiam dan formal bahkan pada istrimu, kamu terus menyebut nama orang lain saat mabuk dan bercinta. Aku berusaha mencari tahu dan aku seperti orang gila”
Aku menahan napas dan menghembuskannya pelan-pelan, seolah dengan napasku saja, wanita itu bisa semakin terluka.
“Aku punya kapasitas. Sesabar aku menghadapi tingkahmu yang semakin tidak masuk akal, aku tetap punya kapastias. Aku tidak tahu apa yang salah pada diriku, apa yang kurang, apa yang perlu kuperbaiki. Kamu selalu marah untuk hal yang tidak pernah kamu jelaskan alasannya, tidak juga kumengerti. Wanita itu mulai emosional, bahunya terguncang karena tangis “seandainya kamu memberitahu apa yang terjadi, apa yang salah. Aku.. aku mungkin saja bisa melakukannya, bahkan jika kamu memintaku mundur dan..” ia membiarkan kata-katanya menggantung di udara. Sementara dadaku ikut sesak.
Kenapa aku tidak pernah bisa melupakan Disya? Wanita–istriku di depan mata sangat baik dan cantik. Namun tidak sedikit pun mampu membuat hatiku terbuka. Aku masih berdiri dalam indekos dekat pantai di musim panas, bersama Disya yang sibuk memasak. Aku masih disana. Jiwaku terpasung hingga hari ini. Dan wanita ini datang menawarkan cinta. Aku mencoba keluar dari kukungan–belenggu menyakitkan. Namun saat kucoba, aku malah semakin sakit.
“Aku menyukai wanita lain” kataku akhirnya. Itu juga yang membuat tangis istriku berhenti seketika. Dia mendongak dan mata kami bertemu. Setelah mengatakan itu, ada sedikit kelegaan meski yang mendominasi adalah rasa bersalah. Kendati rasa cintaku sebesar gunung, aku tetap pria normal yang mengerti jika tingkahku menyakiti istriku. Namun tidak bisa benar-benar kukendalikan. Sepuluh tahun terakhir setelah kehilangan Disya, aku didiagnosa mengidap gangguan kecemasan apalagi di musim hujan. Aku benci musim hujan dan terus berharap summer tidak akan pernah berlalu.
“Wanita yang sama sepuluh tahun lalu” aku menunduk, kurasakan segelenyar rasa aneh menangkup dada. Aku selalu menempatkan Disya dalam imajiner dan setelah sekian lama, aku baru membahasnya lagi hari ini. Rasanya aneh saat sesuatu yang biasanya hanya ada dalam tempurung, kini di utarakan keluar.
Istriku tidak menjawab, dia menatapku dengan mata menuntut penjelasan meski rahangnya terkatup rapat.
Lantas aku menceritakan padanya dari hari pertama aku dan Disya bertemu. Semua, detail, lengkap dan untuk pertama kalinya juga aku mengungkapkan perasaanku. Rasa rinduku yang membelenggu, rasa frustasi dan hilang arah hingga hari ini. Aku seperti terkukung–terjebak dalam dunia yang seakan menghalangiku untuk melanjutkan hidup. Disya menghilang begitu saja, sebesar apapun aku mencarinya selama ini. Begitu juga Adew, dia hanya mengatakan tidak tahu dan tidak tahu. Aku gila, kupikir aku gila. Dan aku menangis saat menceritakannya pada istriku. Memperlihatkan betapa menyedihkannya aku. Betapa aku begitu jahat padanya yang setia meski tidak pernah kusentuh kecuali sambil mengingat orang lain. Betapa dia begitu sabar dan telaten atas tingkahku.
Aku menunduk–menangkup wajahku dengan dua tangan. Tubuhku tergugu–terguncang. Kurasakan istriku mendekat. Tangannya naik hendak mengelus punggungku namun tertahan diudara. Mungkin dia ingat akan kata-kataku tentang—aku yang tidak suka dia menyentuhku tanpa izin. Lalu hanya helaan napas lembut setelah tangannya turun.
“Kenapa baru mengatakannya sekarang?” itu pertanyaan tidak terduga. Sebagai istri yang sudah kelewat sabar dan baik, dia seharusnya mengguyurku dengan sepiring pasta atau berlari keluar membanting pintu meski tahu aku tidak akan mengejar. Wanita ini sangat anggun dan elegan, namun benar apa yang dia katakan. Dia punya kapastias dan aku keterlaluan.
“Cari yang benar, kejar cintamu. Jika belum terkubur, kamu harus lebih gigih, bukan meringkuk di atas sofa sambil membola. Menyedihkan menatap hujan, kamu ini memang pecundang. Seperti ceritamu” istriku mengomel, dia benar-benar berhenti menangis. Aku mendongak menatapnya. Wanita itu benar-benar sudah berhenti menangis. Kulihat mata sembabnya kembali tegar. Pandangan kami bertemu.
“Sisir seluruh Jakarta, pulau Flores, kamu harus menemukan cintamu” ulangnya lagi. Lebih mantap.
“Kenapa?” aku melontarkan pertanyaan menyedihkan. Seperti hidupku ini memang menyedihkan.
“Kenapa apanya? Jika kamu memang menyukai dia, pergi dan kejar cintamu. Jangan membuatku seperti orang bodoh yang mencintaimu sendirian”
Aku semakin tidak percaya.
“Kubilang kejar, jangan sampai pengorbananku ini sia-sia. Aku akan mendukungmu” lalu dua sudut bibirnya terangkat, wanita itu tersenyum lalu kembali akan mengangkat tangan untuk mengelus punggungku. Lagi-lagi tidak jadi.
“Di dunia yang hanya sekali, sangat menyedihkan tidak bersama orang yang kita cintai. Maka, tunggu apalagi, apa kamu takut pada hujan alih-alih cintamu tenggelam?” wanita itu menyulutkan api yang sudah lama padam di gerus keputusasaan. Aku menyeka mataku, menatapnya lebih dalam sekali lagi.
“Lekas pergi, temukan Disya, temukan gadismu. Aku juga harus pergi” lalu ia bangkit. Kaki jenjang itu melangkah—menjauh sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.
≽^• ˕ • ྀི≼
Dan tuhan mempertamukanku kembali dengan Adew yang mau membuka mulut setelah sepuluh tahun terakhir bungkam. Dulu, aku mengintrogasinya dengan sopan, kasar, lembut, hingga pernah kupukul dengan keras dan pria itu tetap mengatakan tidak tahu tentang Disya.
Dalam kamar kos kecil. Tubuhnya kurus kering karena penyakit HIV/AIDS. Bola matanya besar seperti itu adalah satu-satunya yang tersisa selain perut yang membusung aneh. Ia menutupi dirinya dengan selimut tipis saat aku duduk di dekat kasur yang mirip dengan kos ku sepuluh tahun yang lalu.
Dia memintaku menutup mulut saat dia batuk. Dia juga mengatakan tidak akan menghidangkan apapun guna mengantisipasi penyakit menyebar atau sialan apapun yang sebenarnya aku tidak peduli. Aku hanya ingin informasi tentang Disya, dengan cepat, dan sekarang.
Lalu ia mulai bercerita. Benar, dia bercerita. Alih-alih memberitahu alamat, keparat itu malah bercerita. Aku bersabar menunggunya berlontar dengan suara lemah itu.
“Disya adalah seorang gundik, kemudian jadi pelacur, gundik lagi. Lalu merambat menjadi penipu. Dia tidur dengan kepala menteri keuangan dan lama menjadi gundik tua bangka itu. Koneksinya luas, dia juga tidur bersama beberapa pria dan begitu terus. Dia sangat laris, semua laki-laki menyukainya. Dari HRD terkenal di perusahaan ritel di pulau Flores. Beritanya sangat heboh karena pria itu memiliki dua istri siri dan satu istri sah, di tambah Disya. Lalu dia juga menggoda komisaris perusahaan I-Tech dan berhasil masuk ke istana megah sebelum kemudian di depak secara tidak terhormat” aku mendengar suaranya sengau, tapi Adew tidak menangis.
“Tiga tahun yang lalu, dia tiba-tiba sakit keras. Aku tidak tahu jenis penyakitnya, kupikir dia terserang virus yang sama denganku sekarang. Tapi setelah aku mencari tahu dengan bertanya pada dokter yang menanganinya, ternyata dia mengidap sakit jantung kronis dan meninggal secara mendadak di rumahnya seorang diri. Dia berada di Jakarta, di dalam apartemen mewah sambil mengintai seseorang”
Ada jeda, kupikir Adew menangis seperti aku. Aku tergugu tak sanggup. Sungguh, hatiku sakit sekali.
“Aku menemukan ratusan fotomu dalam apartemen, dia memotretmu, mengikutimu. Kameranya ada, sebentar” tubuh ringkih itu bangkit susah payah untuk mengambil sebuah kamera dengan lensa besar. Lalu papper bag berisi fotoku tiap tahun. Ya, ada keterangan tahun dan tanggal di tiap lembar
Aku tidak tahu harus mereaksi dengan apa segala informasi dan kamera serta foto, satu hal yang pasti, aku benar-benar ingin mati.
Sepuluh tahun kutanggung kerinduan. Keputusasaan atas pencarian yang tak berujung. Kenapa dia melakukan itu? Kenapa tidak mendatangiku alih-alih mengambil foto. Untuk apa? Sudah kubilang, apapun yang dia lakukan untuk mendapatkan uang. Apapun pekerjaannya, aku mencintainya melintas dari siapa dirinya. Aku bersumpah akan menanggung hidupnya yang berarti dia akan berhenti hidup dalam lembah mengerikan itu.
Aku Lantas sambil tersedu-sedu, aku bertanya letak pemakamannya, Adew memberitahu dan aku lekas pergi mendatanginya.

Bukankah ini lelucon? 10 tahun yang berakhir di pemakaman. Bukannya ini adalah bagian paling epik dalam hidupku? Satu dekade kuhabiskan seperti cangkang kosong—menanti, mencari, berharap. Semua melebur bersama tanah kering dengan nisan seadanya. Kubelai kepalanya dalam hening pada nisan. Masih kuingat tawa lepas dan caranya tersenyum, lesung pipinya yang menggemaskan dan cara matanya terpejam. Aku merekamnya di kepalaku masih sangat jelas.
Aku membaca suratnya yang ditulis tangan dengan pena hitam di atas kertas polio bersama fotoku yang berserakan. Dadaku seperti diremas-remas. Kesakitanku tak berarti dan aku merasa gagal.
Untuk kamu, penyelamatku si pria tampan.
Untukmu,
Aku tidak tahu apakah namaku masih hidup di ingatanmu,
atau telah kau kuburkan seperti musim panas yang lewat tanpa bekas.
Aku tahu kau pernah menoleh ke belakang,
Sekaligus berjalan lurus tanpa sisa.
Yang kurasa
aku tidak pernah benar-benar pergi.
Tujuh tahun adalah jarak yang panjang
untuk menyimpan satu nama
tanpa berani mengucapkannya keras-keras.
Aku mencintaimu.
Kalimat itu sederhana,
namun di tubuhku ia menjelma beban yang tak sanggup kupanggul di hadapanmu.
Kau pernah memandangku seolah aku utuh—
seolah aku perempuan yang layak digenggam di siang hari, di musim panas
bukan hanya disembunyikan oleh malam.
Dan justru karena itulah aku mundur.
Ada jejak pada tubuhku
yang tak sanggup berdiri di samping lelaki sepertimu.
Ada bekas-bekas yang tak bisa kucuci dengan doa mana pun.
Aku terbiasa menjadi ruang yang disinggahi,
bukan rumah yang dibanggakan.
Kau adalah cahaya yang lurus.
Aku terlalu lama hidup sebagai redup.
Selama tujuh tahun ini
aku belajar mencintaimu tanpa menyentuh hidupmu.
Belajar menyebut namamu dalam hati
lalu menelannya kembali sebelum menjadi harapan.
Tidak, perasaanku tidak ia, itu karena ia tumbuh terlalu besar
dan aku takut kau melihatnya.
Jika semesta memberi kita kesempatan lain,
mungkin aku akan tetap melakukan hal yang sama:
mencintaimu dari jarak yang aman,
menjagamu dari kemungkinan bernama diriku sendiri.
Jangan cari aku.
Karena aku tak pernah merasa pantas untuk kembali.
Namun satu hal yang harus kau tahu—
meski dunia tak pernah menyaksikannya,
meski kau tak pernah menyadarinya,
ada seorang perempuan
yang selama tujuh tahun
membawa namamu seperti doa yang tak berani ia aminkan.
— Aku.
Tidak, Disya. Bukan seperti ini akhir yang kuinginkan. Bukan, bukan kematian.. Kumohon bangunlah dan peluk erat tubuh lelahku. Lepas belenggu yang menyesaki dadaku, aku begitu putus asa hingga tidak tahu harus kemana. Bahkan setelah sepuluh tahun lamanya, kenapa tuhan malam membawaku ke pusara alih-alih wajah cerahmu yang penuh semangat dan gairah? Lantas, harus kuapakan lagi rasa dalam dadaku? Kemana lagi harapan kutumpu? Aku tidak hilang akal, tapi aku mati. Lebih mati dari hari kemarin, lebih parah. Mungkin setelah ini, aku baru akan mati sungguhan.
Aku mulai membenci semua hal. Tidak, sebenarnya aku sudah membenci semua hal sejak Disya pergi. Namun hari ini, rasa benciku pada semesta bertambah berkali-kali lipat.
MUSIM PANAS

Cuaca malam ini lebih buruk dari kemarin. Hujan angin disertai petir, bahkan satu pohon kelapa menyala–terbakar karena tersambar. Suaranya bagai bom yang diledakkan tepat beberapa ratus meter. Kilat membuat bumi terang hidup sepersekian detik, disusul guntur menggelegar.
Aku meringkuk–membola di atas sofa. Pakaian kerja enggan kutanggalkan, kemeja dan celana dasar yang kebesaran. Kendati, tidak terlalu sesak meski dasi masih melilit dibawah kerah. Kuharap, ia bisa menyesakkan hingga menutup jalan napas. Lalu aku mati tercekik atau karena rusukku remuk akibat membola terlalu lama–terlalu erat. Apapun, aku ingin pergi.
Badai diluar selalu saja membawaku pada ingatan di musim panas. Ingatan yang setengah mati berusaha kulepaskan dari kepala. Ingatan tentang kaki kami yang kotor terkubur pasir, atau saat sesekali ombak pasang menjilat telapak. Ada saat dimana suasana suram seperti ini membawa senyumnya yang menciptakan lubang di pipi, atau surai panjangnya yang bergerak ke kanan kiri. Aku juga mengingat rasa hangat tangannya yang sehalus bulu.
Guntur meledak lagi. Kaca besar di ruanganku tak bergetar–membuktikan betapa rumahku begitu kokoh dengan semua matrial terbaik dan pengerjaan yang epik. Hanya menyajikan pemandangan suram; rinai besar dan langit gelap. Padahal masih pukul lima sore. Terlalu dini untuk kepekatan, matahari bukannya tenggelam, melainkan kalah oleh awan tebal yang menggurita dari utara ke selatan.
Tanganku bergetar. Bibirku begitu dingin—selaras dengan telapak kaki. Aku tak ingat kapan terakhir–sesuatu masuk dalam perutku, kapan aku menghindrasi tubuhku atau kapan aku ingat–bahwa manusia harus makan untuk hidup.
Aku membenci isi kepalaku–membenci bagaimana uang tak mampu menggantikan rindu pada seseorang yang tidak seharusnya kurindukan. Aku benci gagasan bahwa—jika uangku banyak, maka aku bisa membeli rasa. Nyatanya, disinilah aku, di rumah besar–diatas sofa menggulung diri bagai trenggiling di depan kaca besar yang menyuguhkan pemandangan suram–sesuram hidupku.
Bunyi klik di susul gagang pintu terbuka.
Aku mendengar langkah setengah diseret. Kantong belanjaan saling bergesekan—dicangking kepayahan.
Mataku terbuka saat sosok itu melewatiku. Harum aroma floral menyesaki pernapasanku. Mataku menangkap daun bawang segar—mencuat dalam kantong belanjaan. Ia melenggang ke dapur yang berada persis di belakang sofa–dimana aku memeluk diriku sendiri sambil berharap kematian datang.
Roknya berayun. Atasannya sangat cantik selaras dengan parasnya. Ia bersenandung. Kudengar ia membongkar kantong, lalu menunduk saat ada yang jatuh–mungkin bawang bombai.
“Aku akan membuatkan pasta” suaranya nyaris tak terdengar, tapi aku mendengarnya.
“Aku tidak lapar” sementara suaraku berat, aku terduduk setelah kematian tidak datang hanya karena aku ingin. Mataku menatap lurus pada kaca besar. Hujan masih disana, suram dan dingin.
“Aku tau. Tapi, hanya dalam suasana suram kau mau menyantap makanan buatanku. Jadi, aku akan membuatkanmu pasta” kata wanita itu ringan. Seolah, ia terbiasa dan resisten terhadap kelakar busukku. Dia juga kesenangan saat aku memilihkan gaun yang tidak sesuai dengan postur tubuhnya. Kudengar beberapa temannya mencemooh pakaian yang ia kenakan—atas dasar pilihanku. Namun wanita itu tetap memakainya. Aku semakin membenci diriku sendiri.
Aku tidak menjawab lagi–demi kebusukan sikapku agar tidak terlalu busuk. Meski sudah. Lantas kupeluk dua lutut, telingaku menumpu padanya, mataku terpejam dan aku berusaha melupakannya lagi.
“Akmal” saat wanita itu memanggilku, aku mendongak. Kulihat dia sudah berada tepat di hadapanku. Lantas ia belai rambutku dengan tangannya yang begitu lembut. Matanya yang selalu bersemangat dengan binar indah, sore ini terlihat agak lelah “ayo makan”
Tunggu..
Aku tercenung. Mata sayuku bertabrakan dengan miliknya yang ‘hidup’ wanita cantik itu selalu tau cara membujuk pria dewasa yang tidak dewasa dan tidak waras. Baik, aku mengkategorikan diriku seperti itu hanya saat hujan turun setelah musim panas. Di dalam rumahku, di istanaku dimana aku tidak perlu berpura-pura baik-baik saja.
Mataku melirik sembarangan—ke belakang tepat di atas kompor. Tempat dimana aroma pasta menyeruak menggugah selera meski tetap gagal merayu nafsu makanku. Kenapa secepat itu? Maksudku, pasta. Aku baru saja beringsut dari rebah ogah-ogahan. Dalam kurun beberapa menit pasta sudah terhidang. Kerutan di dahiku memicu senyum paksa di wajah cantik itu “kamu melamun terlalu lama” katanya lembut. Wanita itu lantas melangkah lagi, sebelum kembali membawakan nampan berisi pasta panas dan segelas air mineral.

Bertemu dengannya bukanlah takdir. Bukan sesuatu yang akan terjadi seandainya aku tidak membuang-buang waktu berlagak seperti hero dan tetap pada pendirianku untuk mati.
Musim panas, teriknya membuat otakku seakan mendidih. Nyaris tiap malam aku tidak bisa tidur. Kipas angin aus tanpa penutup dan tiap berputar, akan menimbulkan suara gesrek bersama angin tak seberapa. Tapi lebih baik. Ketimbang terbaring di atas kasur kapuk yang tetap lembab dan lapuk di cuaca mengerikan, dengan sarung penuh jamur bekas liur dan lembab–hujan serta atap dari baja ringan yang rendah. Panasnya akan melelehkan tiap akal sehat. Lalu di perparah dengan pikiran tentang utang pinjaman online–offline yang membelit leher dan kini benar-benar akan membunuhku. Itu masalah utamanya.
Aku baru saja lulus kuliah dengan nilai tinggi. Seorang yatim piatu tanpa saudara dan hidup sebatang kara di pulau cantik. Aku lulus dengan nilai terbaik dan itu membanggakan—tentu saja. Namun jika merunut dari mana biaya yang kudapat untuk sampai titik ini, rasanya aku ingin kembali ke tahun-tahun sebelumnya lalu memutuskan untuk tidak pernah menginjakkan kakiku di halaman universitas.
Lulus SMA lalu menjadi driver terdengar lebih menyenangkan. Tanpa hutang, tanpa memikirkan bunga dari bank yang tidak di awasi OJK.
Kumatikan ponsel. Lantas mereka menelepon teman-teman kuliah, dosen, pemilik kos–yang nomornya menjadi alternatif saat milikku tidak aktif. Kepalaku seperti akan pecah tiap siapa saja datang dan mengetuk pintu kamar kos dengan lembut atau keras. Tiba-tiba aku phobia ketukan pintu dan salam.
Hingga malam ini. Aku bersumpah akan mengakhiri hidup. Tidak ada yang bisa diharapkan—aji mumpung tak ada yang mengtuk pintu.
Bukan, bukan bank online yang datang. Mereka tidak akan datang dan hanya mengancam dengan terror. Aku mengakalinya dengan gagal bayar meski BI checking milikku pasti akan menyedihkan. Namun persetan. Jika aku bisa lolos dari hutang pinjam setan ini, aku bersumpah tidak akan terjerumus lagi ke dalamnya, meski harus kelaparan berhari-hari. Aku bersumpah dengan nama tuhan. Tapi tidak seperti itu dunia berjalan—sebab, aku juga meminjam uang pada bank mekar. Mereka datang menagihh setiap hari.
Jika kutotal semuanya, aku mendapat kalkulasi sebesar tiga ratus juta rupiah. Dan aku tidak sanggup membayar. Itu alasanku malam ini–dimusim panas, pergi ke bawah kaki gunung dan berencana menggantung diri di pohon rindang dengan pemandangan pematang sawah.
Ya, aku akan bunuh diri. Di musim panas. Di kota yang cantik ini.
Yang pertama kulakukan adalah melihat tangkai batang yang kiranya paling kokoh. Tambang berada di tanganku, sudah dua minggu terakhir kubeli dan baru malam ini puncak depresiku–merealisasi rencana yang sebelumnya masih ragu-ragu.
Aku melakukanya.
Naik diantara tangkai kokoh, menyimpul tambang khas, lalu kujeratkan pada leher. Jika aku melompat ke bawah, aku akan tercekik dan masalah selesai.
Ya, seharusnya selesai sampai di sana.
Tapi malam itu, aku melihat sesuatu yang ganjil dari atas pohon. Semak-semak bergerak dan erangan tertahan–mirip suara merintih meminta tolong. Lalu ‘gedebuk’ pukulan kuat. Mataku mimicing untuk menajamkan pandangan.
Aku turun.
Jarak tempat itu hanya beberapa puluh meter dari lokasi dimana aku berencana mengakhir hidup. Semak-semak tinggi nan gelap. Kepalaku celingukan mencari apa saja; balok, batu dan aku mendapatkan keduanya meski kini yang kupegang adalah balok besar.
Tidak apa-apa seandainya apa yang kukerjakan sekarang akan membahayakan, justru itu yang kucari. Aku berbisik dalam hati bahwa, dibunuh lebih baik ketimbang bunuh diri. Jadi, katakan itu adalah alternatif lain.
Pelan-pelan. Langkahku tergerus suara angin yang bertiup—membuat rerumputan tinggi saling bergesek. Bunyi rintihan itu makin kecil–putus asa namun ada, masih.
Aku menodongkan balok ke depan dengan kewaspadaan penuh.
Satu, dua, tiga, langkahku takut-takut. Kusibak rumput tinggi, lagi, lagi. Hingga pemandangan yang sempat kulihat dari atas, kini berada tepat di depanku.
Seharusnya aku menyadari cahaya temaram dari semak-semak. Namun jika diingat, tidak akan terlihat jika aku tidak naik ke pohon.
Dua pria berbadan besar. Aku menyebutkan turis–atau orang-orang akrab menyapa mereka dengan sebutan bule? Ya, tubuhnya besar, kulit mereka putih. Aku melihat penis mereka baru saja di keluarkan dari resleting tanpa benar-benar membuka celana. Lalu satu wanita dengan pakaian terkoyak–payudaranya menyembul ditutupi oleh tangan yang penuh memar dan baret. Si wanita masih menggunakan celananya—hampir robek juga. Mungkin saja ini adalah waktu paling akurat. Eksistensiku.
Tanpa aba-aba, kuhantamkan balok secepat kilat–bergantian tepat ke kepala belakang. Aku bersumpah aku tidak memiliki riwayat kekerasan dan dosa ku paling besar adalah berhutang dan tidak sanggup membayar. Namun lihatlah malam ini, malam dimana aku hendak mencatat sejarah dosa terbesar sepanjang hidupku dengan membunuh diriku sendiri, tapi bukan diriku yang tergeletak malam ini, melainkan dua pria bule — tumbang.
Wanita itu cepat-cepat bangkit—mengambil ransel kelewat besar yang kini menempel di punggungnya. Lalu masih memeluk dadanya, berlari menghambur sebelum menangis ketakutan di belakangku. Aku masih ingat bagaimana suara putus asa itu.
≽^• ˕ • ྀི≼
Tentu saja masuk dalam kamar kosku yang menyedihkan. Wanita itu kukuh ingin ikut denganku dan aku batal mati malam ini. Akan memalukan jika aku bunuh diri dan si wanita itu menungguku tergantung di antara tali yang menjerat leher. Katakan ini adalah sisa harga diriku.
Aku memberikannya baju. Kaos milikku kebesaran di tubuhnya meski lebih baik ketimbang bertelanjang dada.
Dan tidak ada apapun. Aku tidak menghidangkan apapun karena aku tak memiliki apapun. Aku bahkan lupa kapan aku makan, yang kulakukan atau alasan aku masih hidup adalah minum air dalam kamar mandi, lalu mengorek sampah di luar—pada malam hari. Aku benar–benar pengangguran–lepas lulus kuliah yang tak berani keluar rumah karena malu dan penagih utang akan membunuhku jika polyvinyl chloride yang dibentuk menjadi pintu itu kubuka. Aku bersumpah, ini tidak mengada-ada.
Sesaat kecanggungan membuat atmosfer tidak normal.
Aku diam saja, tidak berencana bertanya apapun, aku tidak. Tapi tidak keberatan juga jika wanita ini mau menceritakannya. Kami hanya duduk di sisi kasur yang jadi satu dengan kamar mandi. Kutahu kasur dengan bekas liur dan jamur serta bau apek yang khas karena selimut dan sarungnya tidak pernah dicuci.
“Terima kasih”
Si wanita berkata-kata untuk pertama kalinya. Aku melirik ke samping, lalu kualihkan pandangan secepat kilat.
“Dimana rumahmu? Apa kamu seorang dari luar kota? Biar kuantar mencari taksi” kutawarkan seramah mungkin, namun wanita itu menggeleng. Perlahan, ia menunduk dan aku menyadari bahwa ia menangis.
Aku menunggunya menangis hampir dua puluh menit sebelum ia benar-benar selesai dengan menyeka wajahnya menggunakan lengan baju. Kulihat wajahnya putih ayu—tidak, seluruh kulitnya putih bersih, aromanya wangi memikat meski sudah bercampur dengan semak dan tanah. Lalu rambut berantakan—panjang sepunggung masih halus. Sangat cantik, aku memperhatikannya diam-diam, meski langsung mengalihkan tatapan saat ia melirik sekilas.
Kami bahkan tidak berkenalan, tapi dia lebih dulu memperkanalkan diri dan menceritakan apa yang terjadi hingga malam ini–kami bertemu dalam kondisi yang tidak bagus pula tidak terduga.
Namanya Disya Maharani.
Ternyata seorang gadis. Bercerita bahawa ia berkuliah di salah satu universitas ternama di ibu kota dengan mengandalkan beasiswa. Datang kemari karena ajakan teman-temannya untuk berlibur, namun naas, ia malah dijual dan diberikan pada laki-laki bule–dua orang yang kupukul beberapa waktu lalu. Gadis itu menceritakan sambil kembali menangis–terisak-isak penuh kepedihan. Aku menyimak sambil memikirkan harus berekasi seperti apa. Hidupku tidak lebih baik darinya, jadi aku menganggapnya kami senasib meski aku tidak akan menceritakan kisah hidupku.
Ralat.
Aku juga menceritakan kisah hidupku pada Disya setelah hampir dua jam gadis itu mengoceh sambil menangis, lalu berhenti dan bertanya balik tentang hidupku yang tak kalah miris ini. Sebenarnya, Disya hanya menceritakan tentang bule dan teman-temannya. Namun berputar-putar hingga aku hafal. Ia tidak membahas hal lain.
“Bolehku panggil kakak?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk sistematis. Panggilan kakak terdengar paling pas.
“Kak Akmal, bagaimana kalau kita kabur. Aku ada kenalan yang memberitahuku ada indekos di dekat pantai pinggiran agak murah. Memang agak kumuh, tapi setidaknya, kita bisa bersembunyi” kata ‘kita’ terdengar aneh saat dia mengucapkan, namun aku menyimak ajakan gadis itu tanpa berencana mengiyakan. Aku tidak punya uang sepeserpun.
“Aku tidak punya uang, lalu bagaimana kuliahmu?” tanyaku kemudian. Aku benar-benar terlihat menyedihkan–memang begitu.
“Aku akan berhenti kuliah. Aku menyerah, atau mungkin aku akan mencari peruntungan disini. Aku akan menelepon nenek nanti dan mengatakan hal-hal yang—” Disya terlihat mencari akal “yang bisa diterima jika aku tidak pulang untuk mencari uang. Kuliah memang penting dan aku termasuk anak yang pintar. Tapi lingkunganku benar-benar bobrok dan mengerikan. Sejujurnya, aku takut sekarang, aku bahkan bersama pria yang… tidak tahu, aku berusaha berpikir baik terhadapmu, Kak Akmal. Bagaimana jika kita berusaha mencari uang bersama? Namun yang perlu kita lakukan pertama kali adalah, kabur dari tempat ini dan menghindari penagih menyebalkan. Ayo pergi, aku punya uang yang kupikir cukup untuk sewa kos sambil mencari pekerjaan”
Aku melihat begitu banyak keraguan. Tentang caranya menatapku dan segala ocehan tidak masuk akal di tengah malam.
Benar, bagaimana mungkin seorang gadis mengajak pria pergi mencari indekos bersama setelah hampir diperkosa oleh dua pria? Tapi aku juga menangkap ketakutan. Disya bergetar sejak tadi. Kulihat getaran halus tak kunjung usai dari jemari dan geraknya resah. Lantas aku mengartikan bahwa perempuan itu melihatku sebagai tempat aman—atau yah, keputusasaan. Yang jelas aku tidak akan melakukan hal-hal buruk padanya. Aku tidak memiliki energi, bahkan untuk ereksi butuh tenaga dan aku kurang makan.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya aku membawa orang asing masuk–seorang gadis yang tidak risi melihat kondisi kamarku yang–entahlah, aku pribadi benar-benar malu. Dia juga merebah setelah percakapan kami yang seadanya–memakai selimut tanpa jijik dan memunggungiku dengan… tidak tahu, kupikir dia banyak pikiran dan pasti akan sulit tidur. Aku merebah di sampingnya tak kalah kikuk. Hanya begitu malam berlalu dan aku tidak lagi berpikir mati. Setidaknya malam ini.
Hening dan gerah. Kipas angin rusak itu menjadi latar dan berhasil menciptakan bunyi yang membuat kecanggungan tidak membuatku ingin mengelurkan suara beatbox saking canggungnya.
🐈
Kami benar-benar melakukannya.
Kami tidak pergi malam itu, melainkan pagi-pagi buta menaiki angkot yang sudah beroprasi ke pasar. Lalu menyambung pada bus dan terakhir ojek. Jika dihitung, kami pergi sejauh — hampir 5 jam naik turun dan di potong sarapan serta minum kopi saset di jalanan.
Namanya daerah Boleng. Masih di kepulauan Flores. Aku tidak pernah kemari, namun membaca pada plang-plang serta map pada ponsel. Pun Disya, gadis itu tidak ragu atau bingung, ia banyak melamun namun aku berpikir bahwa ia memikirkan tentang hari-hari kemarin ketimbang nasibnya hari ini. Berbeda denganku yang mesti berterima kasih karena mendapat sarapan gratis dan kopi. Aku bahkan tidak perlu ketakutan ketika mendengar suara ketukan pintu berulang. Anggap saja aku bebas, ya, kami berdua banyak berbincang dengan menyebut-nyebut membuka lembaran baru. Terdengar kekanakan, namun aku hidup sebagai pecundang selama ini, kekanakan terdengar tidak terlalu buruk.
Disya mendapat info — dia mengatakan tentang teman dan kenalan yang tidak kusimak dengan seksama tentang tempat ini. Maka, kami berdua melangkah.
Dan benar. Kawasan itu berada di pinggiran yang berjarak hampir setengah kilo dari rumah-rumah tetangga. Indekos yang agak terpencil tapi tidak terlalu buruk ketimbang isi kos—kamarku. Serius, aku malah menganggap ini jauh lebih layak ketimbang tempat tinggalku.
Karena aku tidak punya uang, maka, Disya yang mendatangai pemilik kos. Dan kabar bagusnya, kos ini diperuntukan campur–mengingat lokasinya yang tidak ramai serta pelanggan yang nyaris jarang. Melihat disana, kos dengan dua puluh pintu ini, hanya diisi oleh tiga pasangan. Entah sudah menikah atau belum. Tidak ada yang benar-benar memastikan status para penghuni kos.
Begitu juga dengan kami berdua.
Katanya, kami akan mendapat kasur single dengan fasilitas kipas angin dan toilet dalam kamar. Harga kos delapan ratus ribu perbulan. Berikut dengan kompor gas.
Disya memerkan kunci padaku. Aku mengangkat alis dan menarik napas.
Kami akan tinggal satu kamar, ya? Aku bertanya pada isi tempurungku sendiri. Saat Disya menatapku, aku nyengir. Aku tidak punya uang dan akan benar-benar tidak tahu diri jika bertanya–apakah gadis itu bisa membayar kamar yang lain untukku. Mustahil dan memalukan.
Dan tentang satu kamar single adalah benar. Disya meletakkan tasnya sembarangan sementara aku memutar otak–mencari cara bagaimana bisa tidur berdua di kasur sempit itu.

Baik, aku berpikir keliru. Sebenarnya kami bisa berbagi kasur meski entah bagaimana caranya. Dan soal kumuh, itu terjadi di luar. Tempat ini berjarak sepuluh menit dari pantai. Bukan jenis pantai wisata, melainkan pantai biasa dan tidak terlalu bagus. Pun aku sedang berusaha melupakan tentang tidak bagus dan kumuh atau memikirkan cara tidur. Disya menerima pesan — setelah kami hanya duduk kurang dari delapan menit setelah perjalanan lima jam, gadis itu menyeretku lagi, entah kemana.
≽^• ˕ • ྀི≼
Pertama, Disya memintaku membuat CV, foto, KTP, dan ijazah. Kami mampir ke tempat foto kopi sebelum kembali melanjutkan perjalanan menggunakan ojek.
“Aku punya teman online dari aplikasi telegram. Dia adalah seorang HRD dari PT Sumber Alfateria Trijaya Tbk di daerah sini. Aku mendaftarkan kak Akmal jadi kasir Alfamart” katanya, aku di beritahu saat kita hampir sampai. Gedung itu menjulang wajar di antara jajaran bangunan lainnya. Dengan langkah yakin, kami menuju kesana tanpa persiapan apapun. Bahkan tanpa mandi layak.
Disya mendorongku. Lalu melempar kata-kata tidak jelas yang kupikir adalah bentuk penyemangtan—aku mengartikannya begitu. Kendati, dia begitu baik, ini impresi awal meski disinilah aku duduk dengan tampilan–yang benar-benar menyedihkan.
≽^• ˕ • ྀི≼
Aku diterima.
Jika melihat ijazah terakhirku, harusnya mereka bisa menempatkanku menjadi staf penting di kantor alih-alih kasir biasa. Kendati, aku sangat bersyukur. Masa training tiga bulan mulai akan kujalani di toko terdekat yang berjarak lima ratus meter dari kos. Semuanya terjadi begitu saja, begitu cepat dan singkat. Semua berkat Disya–yang entah apa yang ia lakukan–hingga dengan mudah, aku diterima. Benar, aku mulai bekerja tanpa ada celah menganggur sejak kedatangan kami kemari.
Sementara Disya, ia–entah melakukan apa pada ponsel. Kegiatannya hanya terbaring seharian dalam kamar–atau mungkin pergi saat aku tidak di rumah. Sisanya hanya membeli makanan serta cemilan. Saat aku pulang, dia menungguku layaknya seorang istri bersama makanan yang ia masak sendiri.
Menyebutnya seperti istri membuat sudut bibirku terangkat naik. Kami baru bertemu dan waktu berjalan begitu cepat. Satu bulan atau yah, sekitar itu — kami tidak sempat berkenalan dengan layak dan benar, kecuali malam tangis lepas kejadian yang sama-sama membuat kami putus asa. Setelahnya, kami berdua hanya menjalani hidup layaknya teman di dalam kos itu. Kadang-kadang Disya berceloteh menceritakan tetangga sebelah atau panas terik yang berhasil membuat hidungnya berminyak.
Aku shift siang hari ini . Pukul empat sore, aku sudah berada dalam kos dan Disya seperti biasa–seperti kemarin dan kemarinnya. Menyambutku dengan senyum manis.
“Hari ini aku dapat uang” katanya, mulutnya menyuap mie goreng yang di campur kol dan cabai. Aku memperhatikannya dalam suapan. Meski aku penasaran setengah mati—seperti, darimana ia mendapatkan uang selama ini. Pasalnya, aku benar-benar hidup dari uangnya. Aku baru mendapat upah dari masa percobaan satu bulan diterima. Dan selama itu, penuh—Disya yang membiayai.
Dan aku tidak bertanya. Aku hanya mengangguk dengan senyum tidak sampai mata.
“Kak Akmal”
“Hm”
“Setelah ini, kita pergi beli baju, ya? Kita tidak punya pakaian layak”
Aku mengangguk.
“Nanti kita beli makanan enak sebagai reward. Kak Akmal kemarin gajian, kan? Di tabung aja uangnya, biar ini urusan aku”
Sebenarnya aku terusik dengan yang itu juga. Rasanya, ini terbalik dan tidak benar. Namun Disya serius dengan ungkapannya. Seluruh gajiku kutabung dan dengan tidak tahu malu, aku lagi-lagi hidup dari uangnya.
Sementara tentang tidur kami.
Normal.
Sudah satu bulan lebih. Kami tidak mengalami apapun. Maksudnya, kami hanya hidup berdua, titik. Jika merujuk pada drama atau picisan remaja tentang dua orang yang bertemu dan saling jatuh cinta dalam kurun tertentu saat tinggal bersama, mungkin aku akan percaya dan tidak percaya. Pasalnya, sejauh ini, aku dan Disya benar-benar baik-baik saja. Aku tidak ingin mengkategorikan apapun meski diam-diam, aku melihatnya. Aku mulai melihatnya.
Mungkin saja karena ini adalah pengalaman pertamaku berbaring dengan wanita—seorang gadis. Dan kemungkinan lainnya adalah bahwa aku sendirian yang melihatnya.
Disya tidur meski lebih sering larut dengan ponsel yang seperti akan merekat ke matanya. Sementara aku tidur lebih cepat. Kami tidak banyak mengobrol setelah membicarakan hal-hal penting tidak penting menyangkut pekerjaan atau yah, mungkin cuaca yang super panas, tetangga dan bau pantai yang pekat. Setelah itu, kami diam hingga tertidur. Tidak ada, tidak lebih.
Baik aku akan jujur. Sebenarnya, aku menyukai Disya.
Lagipula pria gila mana yang tidak menyukai gadis cantik luar biasa yang menanggung hidupnya? Aku bergantung padanya, memujanya diam-diam dan berusaha agar tidak terlihat mengaguminya seperti orang gila. Itu sulit. Kadang, ada waktu dimana mataku benar-benar terpaku ke arahnya, begitu indah. Sesekali ia akan menaikkan alis, lalu bertanya dengan nada candaan. Sementara aku malu setengah mati.
Aku benar-benar tidak bertanya meski jutaan pertanyaan menyesaki tempurung. Seperti; dari mana uang yang dia dapat, bagaimana dengan neneknya, bagaimana kuliahnya. Gadis itu tampak terlalu tenang dan damai.
Cerita tentang ia dijual oleh temannya. Itu juga terlupakan begitu saja, seolah bukan sesuatu yang besar—efeknya hanya hari pertama, saat malam itu. Sisanya sama sekali. Gadis itu hidup santai dan menikmati hidupnya.
Dan dari semua hal itu, yang paling membuatku penasaran adalah, Disya sangat mahir membaca map. Ia seperti tau dimana pun tempat, kemana harus pergi dan tidak kebingungan. Mirip orang dewasa yang tau kemana langkahnya.
Jika mengajakku ke suatu tempat, maka ia akan pergi dan membawaku tanpa ragu. Seolah, ia telah mendatangi semua tempat itu sebelum ini. Aku mirip bocah yang hanya membuntut langkahnya, tanpa salah.
Seperti sekarang.
Aku baru saja dibelikan pakaian dan bersumpah melihat Disya membayar dengan harga yang lebih besar dari gajiku pertama kali menjadi kasir. Ia tak perhitungan dan aku benar-benar tidak tahu berapa uangnya dan jika punya uang, kenapa ia tidak kembali ke Jakarta?
Aku berdiri—berjarak sepuluh meter dari tempatnya sekarang. Disya sedang bercengkrama dengan seorang gadis lain–lebih dewasa, mungkin tiga puluh tahun? Aku tidak yakin. Mereka berbicang akrab seperti teman yang lama yang baru bertemu lagi.
Hanya sekitar dua puluh menit, setelah itu Disya kembali padaku dan wanita itu pergi.
Kami melanjutkan perjalanan pulang setelah semua hal yang Disya inginkan ada di tanganku–dalam kantong-kantong yang jika kuprediksi seberat dua belas kilogram.
“Aku suka sekali denganmu” kata-kata itu melayang tepat saat kami masuk dalam kos. Aku meletakkan makanan di dekat kompor sementara pakaian masih ku jejer di bawah lemari plastik yang dibeli saat kami baru pindah dua hari.
Dan aku melirik sekilas. Disya bukan sekali ini saja mengatakan itu, jadi aku mendengarkan, namun tidak akan repot-repot menatap matanya agar dia merasa didengarkan.
“Kamu tidak pernah banyak tanya, tidak pernah cerewet dan selalu iya-iya saja. Aku suka sekali” itu juga. Aku mereaksinya dengan senyum, kali ini, kuperlihatkan deret gigi rapiku padanya.
Lantas, bagian mana aku akan bertanya macam-macam saat hidupku bahkan ditanggung olehnya? Meski sialan apapun yang ia lakukan, aku tidak akan pernah bertanya, tidak juga menduga-duga apalagi berspekulasi buruk. Aku hanya akan percaya dan diam dengan apa yang kulihat dan kujalani—mungkin hingga uangku cukup dan aku akan melamar di perusahaan besar. Saat aku punya uang, aku bersumpah akan bertanya apa yang dilakukan Disya dan memintanya berhenti, apapun itu. Aku bersumpah akan menebus kebaikannya dengan menghidupinya. Nanti, sekali lagi aku bersumpah atas nama tuhan. Meski tidak sekarang.
Aku mendengarnya bersenandung masuk dalam kamar mandi “nanti makan malam bareng, oke? Aku mandi dulu, Kak” setelah itu, bunyi air dari balik kamar mandi memutus senandung. Aku diam saja.

Aku bisa.
Aku bisa hanya duduk menontonnya diam saja sepanjang hari. Atau melihatnya makan dengan cara—normal dan wajar namun kuanggap lucu dan menggemaskan. Aku bisa seperti ini sepanjang waktu asal itu Disya. Di mataku, gadis kurus dan kecil itu lebih dari musim panas setelah hujan badai. Bagiku, dia lebih dari banyaknya hal–karena aku tidak memiliki sesuatu apapun yang berharga dan yah, aku memiliki Disya sekarang. Ini adalah klaim menyedihkan dan aku tidak masalah.
“Apa menyenangkan memperhatikanku seperti itu?” mulutnya penuh dan aku berdehem. Mataku kupalingkan sembarangan meski terlambat dan tentu saja membuatku seperti orang tolol. Aku tidak menjawab.
“Bagaimana menjadi kasir?” pertanyaan itu sebenarnya terlambat–atau tidak. Sudah berminggu-minggu berlalu dan ia baru bertanya.
“Biasa saja, tapi aku bersyukur memiliki pekerjaan dan berhasil kabur dari tanggung jawab yang..” aku menunduk, lalu tersenyum dengan tidak tahu malu “ini memalukan”
“Aku juga sering bertingkah—mengambil tindakan impulsif yang berujung memalukan. Tidak apa-apa. Itu manusiawi. Kamu berhutang untuk kuliah. Jadikan itu alasan untuk berhenti menyalahkan atau merasa bahwa kamu pecundang. Kamu tidak” jawabnya serius. Disya menatapku dari balik anak poni yang menutupi sedikit matanya. Aku gemas ingin menyingkirkan itu.
“Aku harap aku bisa atau tidak seperti itu, sejatinya, aku hanya ingin menjadi manusia normal dan hidup dengan baik. Beberapa hal benar-benar diluar kendali”
Disya mengangguk sistematis.
“Hey, nikmati saja hidup. Kenapa terlalu pusing? Mau kusuapi?”
Aku menggeleng. Dan Disya tertawa lagi untuk alasan yang tidak terlalu kumengerti.
“Kamu keren dan hebat, sungguh”
“Tidak ada konteks yang membahas itu, tapi aku berterima kasih atas pujiannya” kurasakan wajahku memanas sampai telinga. Jika dalam kondisi ini, entah kenapa tenggorokanku ikut aneh. Seperti ada dahak yang terus menyangkut–membuatku berdehem tidak perlu.
“Kuharap musim panas tidak segera berlalu karena aku benci hujan dan becek” ia bangkit membawa sisa makanan untuk masuk dalam pendingin. Aku memperhatikannya hingga kepalaku berputar.
“Kamu? Kamu suka musim apa di negara yang berada tepat di garis katulistiwa? Sungguh tidak seru” suara debam pelan pintu pendingin tertutup menysul, gadis itu melirik ke arahku sekilas.
“Aku tidak suka semuanya. Aku tidak tahu” jawabku skeptis. Kulihat ia mengangguk-angguk setuju dengan komentarku.
“Apa kamu punya teman di minimarket?”
“Hm, ya.. Mungkin karena pekerjaan. Ku kategorikan sebagai diplomatis”
“Oh hey” ia tertawa lagi “kamu sulit berteman, ya? Atau butuh waktu panjang untuk adaptasi? Kamu terlihat mudah tersenyum dan cemberut sekaligus” ia meletakkan meneguk air mineral dan setelah itu duduk di sebelahku lagi “ayo berteman, aku juga tidak pandai berteman”

Aku tidak benci situasinya. Namun tidak tepat juga jika mengatakan aku suka. Atau… ya, aku hanya mencari kata yang pas untuk menggambarkan suasana hatiku tiap Disya terlelap lebih dulu. Baik, kuakui tidur kami memang akur. Dia tidak bergerak dan aku juga seperti bangkai—ini setelah dia tak berkomentar apapun tentang pola tidurku.
Seperti malam ini.
Kipas bergerak konstan. Mulus, tidak berisik seperti dalam kosku. Anginnya yang bisa membuat kami terlelap di bawah musim panas yang tidak berubah. Baik siang atau malam, tetap gerah.
Malam ini wajahnya menghadap padaku. Bulu mata panjang-panjang, napas teratur, bibir merah alami dan aroma tubuhnya yang khas. Aku menyukainya, sungguh.
Dalam kepala seorang pria normal yang sehat. Aku berpikir tentang—bagaimana jika kutempelkan hidungku pada rambutnya? Menghirup aroma tubuh atau sekedar berkontak fisik. Aku menepisnya, memikirkannya lagi, lalu berusaha mendistraksinya dan berakhir terlelap.
Aku bersumpah, aku ingin memeluknya.
≽^• ˕ • ྀི≼
“Ini suamiku, kami baru menikah” tangannya membawa satu boks es krim besar, sementara tangan yang lain menggamit lenganku. Disya mengajakku duduk di depan kos. Bukan di teras, melainkan dibawah pohon beringin besar yang rindang. Ia membawa kursi entah di dapat darimana dan masih sempat menjawab pertanyaan dari tetangga tentang status kami.
Cuaca panas menyengat. Aku shift malam dan siang ini, Disya mengajakku makan es krim di luar. Sambil melihat pemandangan yang tidak bagus–tidak terlalu. Hanya ada pepohonan, gunungan sampah dan aspal panas yang seakan membara di bawah terik. Para pejalan kaki atau anak-anak yang kembali dari laut terlihat gosong. Beberapa membawa layangan, ada yang membawa pancing dan beraneka ragam. Tempat kos kami adalah jalan akses ke laut meski tidak ramai dan jika musim hujan datang, kawasan ini akan sangat lembab dengan bau sampah yang khas. Katanya.
“Komedoku keluar karena kepanasan” ia mengeluh sambil menjilat sendok es krim. Tadinya aku ingin protes karena dia menyuapiku es krim dengan sendok yang sama. Namun protes hanya bentuk–agar tidak kentara jika aku kesenangan.
“Aku benci musim panas. Tapi lebih benci musim hujan” aku ikut berkomentar. Disya mengangguk setuju dan menyerahkan boks es krim ke atas pangkuanku. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celana.
“Dengar..” Disya mengeluarkan kuteks berwarna biru elektrik “ini bisa membantu jarimu lebih segar” dan aku tidak tahu apa maksudnya “kuteks mengandng bahan pelarut dan alkohol, dia akan dingin jika di pakai” aku mengerti.
Sekarang gadis itu memakaikan kuteks pada jerijiku setelah alasan dingin dan semacamnya. Aku diam saja tatkala cairan itu meleleh di atas kukuku–memberi warna baru dipermukaan.
“Oh, tangamu cantik sekali. Aku iri” dia mengatakan itu hanya agar aku tidak protes dan percaya. Aku bersumpah tangannya lebih lentik dan cantik.
“Apa warna kesukaanmu?” ia mendongak, dan aku menaikkan alis. Sialnya aku kesulitan mengontrol senyumku.
“Apa saja, kecuali hitam” jawabku jujur.
“Biasanya pria suka warna hitam. Sudah kuduga kamu tidak biasa. Kamu adalah pria luar biasa”
“Berhenti memuji berlebihan. Aku tidak keberatan dengan cat kuku” kataku berusaha membuatnya berhenti memuji secara tidak natural. Disya tertawa dan tawa itu menulari “bayangkan jika ada petugas yang mempertanyakan surat nikah” ucapanku yang tiba-tiba berhasil membuat Disya berhenti menorehkan cairan dingin itu pada jempolku.
“Kita hanya perlu menikah” katanya enteng. Seperti bukan sesuatu yang besar. Aku batuk tersedak ludahku sendiri “menurutmu, apa yang harus kita makan malam ini?” dan secepat itu dia mengubah topik. Aku berhenti berpikir jauh tentang ucapan spontanitas tanpa diolah dan langsung mencari ide tentang makan malam yang setiap malam selalu kami pikirkan bersama.
“Pizza” ia mendapat jawabannya sendiri. Lalu matanya beradu denganku meminta pendapat. Aku hanya mengangguk seperti biasa karena aku adalah pemakan segalanya. Aku memakan sampah sebelum bertemu Disya dan akan memakan apapun yang bisa dimakan untuk bertahan hidup.
“Pizza dan beer terdengar sinkron. Kamu kuat minum?” itu pertanyaan untukku dan aku mengedikkan bahu tidak yakin.
“Sebenarnya, aku tidak pernah membeli beer” hanya sebatas itu. Aku tidak akan repot-repot mengatakan jika aku lebih memilih membeli sepuluh biji roti seharga seribu rupiah untuk menyambung hidup ketimbang membelanjakan beer. Disya tampaknya muak dengan cerita kemiskinan meski ia tidak mengaku kaya. Jika aku bercerita tentang kesengsaraan ekonomi, dia akan mengangguk setuju, seakan posisi kami sama dan dia pernah merasakkannya juga. Aku tidak percaya.
Dia mengangguk lagi. Selesai dengan kelingkingku yang terakhir, lalu mengambil ponsel untuk memotret hasil karyanya.
“Aku berpikir untuk menjadi nail art, tapi aku bukan orang yang bisa konsisten saat bekerja dan tidak suka jika mendapat pelanggan dengan kuku jorok atau kuning. Aku akan marah dan memintanya pergi merawat kuku” es krim kembali ke pangkuannya setelah semua yang di inginkan abadi dalam ponselnya.
“Tidak usah, carilah pekerjaan yang paling–tidak membuatmu emosi” aku berkomentar seadanya. Lalu di sela oborlan kami yang random, suara gedubrak sepeda jatuh di aspal. Anak kecil yang menggendong anjing jatuh. Sisa orang tak seberapa penghuni kos di samping tergopoh-gopoh menghampiri.
Namun anak itu tertawa terbahak-bahak saat ia berdiri dan wajahnya terkena tahi kerbau yang berceceran di jalan hampir kering. Tidak ada luka, anjingnya duduk di samping. Aku ikut terpingkal-pingkal dan Disya juga.
“Aku tidak tahu kapan kerbau melewati jalan ini, kenapa ada kotorannya di sana? Astaga perutku sakit”

Aspal di jalanan seperti baru saja membaik—sisa hangat setelah matahari menembus lapisan awan tipis. Kini mereka semua lenyap–tenggelam.
Ombak tetap berdebur berulang-ulang seperti kaset rusak. Udaranya tetap asin–agak menyenangkan jika malam karena tidak panas. Aku membayangkan seperti bernapas di dalam kantong plastik jika pergi ke tempat ini siang. Ya, kami tidak akan nekat meski sebosan apapun untuk pergi ke pantai siang hari.
Jika ada hal yang membedakan bagaimana kakiku akan tetap melangkah ditengah terik di siang bolong hingga sol sepatuku melepuh, itu adalah Disya. Bersamanya, tidak masalah jika harus bernapas di dalam kantong plastik, atau kakiku meleleh di atas aspal panas. Terik tidak akan membuatku berhenti mendamba pada seorang gadis yang terbalut dress dengan dada rendah–dipadu kemeja flanel tipis.
Tangannya menggenggam sepotong pizza yang ia beli sore tadi. Rambutnya dikepang dua sementara anak poni berantakan sesuai arah angin. Alih-alih ikut menyuap makanan yang katanya ‘reward’ aku lebih terpikat pada wajah yang kulihat setiap pagi dan malam — tiap bangun dan hendak tidur. Aku bersumpah tidak akan bosan seandainya tuhan mau memberikan ia kepadaku sebagai pasangan hingga mati.
Aku terlalu menyukainya dan Disya terlalu memikat.
“Kak”
Panggilan itu telak membuatku seperti orang sinting yang kedapatan menelisik wajah secara tidak sopan dari samping. Disya menatapku dengan senyum khasnya. Disya, kupikir dia terbiasa dengan tatapanku yang kerap terpaku tanpa sadar.
“Y-ya?” jawabku patah-patah, aku terpaksa mengambil potongan pizza meski perutku tidak lapar. Ya, aku makan dulu saat Disya mandi. Aku baru pulang hampir pukul sepuluh malam dari minimarket.
“Berapa lama lagi sampai musim hujan?” itu pertanyaan baru untukku. Dari seluruh banyaknya kemungkinan bertanya, aku tidak tahu apa ada alasan dibalik pertanyaan itu. Namun yang kulakukan adalah mengingat bulan dan menghitungnya cepat.
“1 bulan” jawabku, lalu aku memutar mata kembali mengingat—jika ada yang terlewat “musim panas di mulai April dan berakhir Okt0ber. Ini awal September” kataku, melihat kalender pada ponsel dan memastikan itu tidak keliru.
Disya mengangguk tidak mengatakan apa-apa lagi tentang musim panas atau seputar itu. Kami berdua duduk di atas batu, menatap ombak dan menghirup bau asin yang menyesaki pernapasan. Di temani sekotak pizza yang sudah berkurang dan kopi dalam tumbler.
“Kak Akmal”
“Ya?”
“Aku ingin mengatakan sesuatu”
“Aku dengarkan”
“Sebenarnya, kita seumuran. Aku bukan mahasiswi dari Jakarta, aku berasal daro sini, pulau Flores dan aku nyaris hafal semua tempat di pulau ini”
Pernyataan itu membuatku tercenung beberapa saat. Seperti biasa—seperti yang ia lakukan tidak normal, maksudnya, seluruh kegiatannya yang memang tidak sesuai dengan ceritanya saat pertama kali kubawa ke kamarku.
Dan aku tidak menjawab, aku tidak bertanya meski banyak sekali pertanyaan. Aku memilih diam dan tetap memandang ke depan.
Disya melirik ke samping. Lalu kuintip dari sudut mataku jika ia tersenyum.
“Kak Akmal, tidak ada pertanyaan?”
Aku menggeleng nyaris presisi. Lalu aku ikut menatapnya. Sejak awal, gadis itu tidak banyak menceritakan tentang dirinya. Entah apa sebabnya tiba-tiba saja ia membuka obrolan seputar itu.
“Tidak akan ada yang berubah siapapun kamu, aku berhutang banyak dan aku akan percaya apapun yang kamu bilang, yang kamu kerjakan. Aku akan selalu memihakmu, Disya” kataku pelan. Suaraku berat dan mungkin saja terdengar mirip ombak. Lalu tanpa aling-aling, gadis itu melendot pada lenganku, kepalanya menumpu pada lengan atas.
Kami memang selalu dekat. Tapi aku tidak pernah melewati garis, begitu juga dia. Kami tidur dengan akur dan tidak ada yang rusuh di antara kami. Kalau dipikir-pikir, semuanya terasa tidak mungkin. Namun kami melakukannya, kami adalah teman–mungkin. Atau mutualan, meski kupikir aku lebih sering menyusahkannya sejak awal ketimbang–dia yang memulai segalanya dan eksistensiku yang terkadang kuanggap sebagai pecundang dan benalu.

“Mau bermain pasir?” tawarnya kemudian. Ia kembali duduk tegak dan menawariku melakukan hal-hal yang tidak pernah kami lakukan. Aku mengangguk pelan dan dia langsung mengambil tanganku dan kami menuruni bebatuan hati-hati.
Tidak banyak yang kulakukan.
Maksudnya, kami berlari. Dia memberikan tawaran hadiah permintaan jika aku berhasil menangkapnya.
Entah sejauh apa aku berlari. Pertama aku mengejarnya, lalu kemudian entah kenapa aku berlari saat dia balik mengejar. Padahal, jika tertangkap, aku akan menang, namun aku reflesk berlari saat Disya mengejarku, pun napasku tidak sanggup mengimbanginya, aku pengap dan berakhir kembali ke sisi batu dimana pizza terakhir kami tinggalkan.
Aku duduk di atas pasir dengan kaki lurus ke depan, tanganku bertumpu ke belakang. Dadaku kembang kempis setelah Disya mengajak bermain kejar-kejaran. Sungguh payah, aku mulai memikirkan gym dan lari pagi setelah kalah mengejar gadis yang jauh lebih kecil dariku.
Lihatlah, sekarang Disya masih aktif berlari ke sana ke mari pura-pura di kejar ombak, sementara aku mulai mengatur napas karena lelah dan pengap.
Angin laut terasa lebih dingin menerjang kaus ku yang tipis. Dadaku sesak oleh udara yang masuk. Namun rasanya seperti tidak pernah cukup.
Di tempat ini kami duduk, dunia seolah terputus dengan sempurna. Di luar garis cahaya yang di cipatakan lampu jalanan, aku dan Disya menciptakan dunia baru—dimana alunan ombak mendayu-dayu dan gugus bintang berkelip hanya untuk dua pasang mata. Dunia hanya berisi aku dan Disya. Gadis itu ikut duduk di sampingku—sejajar. Kakiku di kubur pasir dan kakinya juga.
Dunia yang sempurna.
Malu-malu, tanganku bergeser ke samping, menyentuh jemarinya yang tersimpan rapi di sisi paha. Disya melirikku sekilas, melempar senyum cantik seperti biasa, lalu memberi akses jariku mengisi sela jarinya. Ia mengapitku, begitu erat, begitu hangat.
“Mau hadiah apa?”
Alisku menaut atas pertanyaannya. Aku bahkan tidak menang dan tidak ada yang menang di antara kita. Namun Disya menawarkan. Aku memejamkan mata sembari menahan senyum. Sayang deret gigi rapiku lolos pada akhirnya. Aku tidak bisa menahan tawa.
“Kupikir tidak ada yang serius dengan itu” ucapku kemudian. Aku menarik napas dalam, menyudahi senyumku “tapi kalau ditawari, aku tidak akan menolak.
“Tentu saja” Disya menggeser tubuhnya semakin memepet, kepalanya di istriahatkan lagi pada pundakku “Kamu hampir kehabisan napas tadi, aku ini atlet lari tau, Kamu tidak akan bisa ngimbangi”
“Kalau begitu, aku ingin tau tentangmu” pundak Disya yang bersentuhan dengan lenganku menegang “itu permintaanku”
Untuk sesaat, keheningan mengisi—Disya membiarkan debur ombak, gemerisik pepohonan dari bukit seberang jalanan aspal menguasi. Aku harap, Disya tidak akan sadar betapa basahnya telapak tanganku sekarang. Tadi, aku mengatakan bahwa tidak akan ada yang berubah—siapapun Disya. Namun sekarang, aku secara spontan–akibat hadiah permintaan itu–rasanya seperti refleks. Jika Disya tidak mau memberitahuku tentang dirinya, aku juga tidak apa-apa.
“Harus di mulai dari mana ya…” Disya bergumam pada dirinya sendiri “kisahku cukup klise dan tidak bagus. Aku tidak tau apakah ini bisa menghiburmu atau tidak”
“Aku bertanya bukan untuk mencari hiburan karena hiburan ada di depan mataku” suaraku lembut–lirih “aku hanya ingin tahu tentang orang yang kusuka. Tapi jika kamu keberatan, tidak masalah untuk tidak menjawab” aku mengatakan itu dalam keadaan sadar. Disya yang baru mendengar ungkapan ‘suka’ kontan menoleh padaku. Kurasakan matanya seperti akan melubangi pipi kiriku—aku tidak bernyali untuk menatapnya balik.
“Aku benar-benar tidak tahu harus memulai darimana” ia menegakkan tubuhnya. Ada sedikit rasa kecewa ketika kepalanya tidak lagi bersandar pada bahuku. Gadis itu tampak berpikir sejenak sebelum bangkit — mengambil tas selempang dekat pizza yang kami tinggalkan di atas batu.
Saat kembali, ia menyodorkan sekaleng bir “bagaimana kalau kamu bertanya padaku?”
Aku menerima kaleng bir, mendongak melihatnya yang kembali duduk di sampingku “berapa banyak yang bisa kuajukan?”
Disya menjilat bibir bawahnya “sebanyak yang kamu mau”
Bunyi keletak disusul desisan soda, kaleng bir terbuka. Tapi alih-alih langsung meminumnya, aku hanya menatap cairan kuning transparan yang memenuhi pinggiran kaleng.
“Apa kamu asli Flores?” padahal Disya sudah mengatakannya. Aku memastikan sekali lagi mirip orang memastikan sudah mematikan kompor sebelum pergi.
“Ya.” Disya mengangguk “aku dari Labuan Bajo” sama denganku, namun aku berpikir mengapa kami tidak bertemu sebagai orang ‘normal’ tanpa insiden apapun. Maksduku, bertemu dalam konteks lebih layak.
“Berapa usiamu? Dengan siapa kamu hidup?”
“Aku 25, kita seumuran, aku hidup sendirian. Kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan dan aku tidak memiliki siapapun” gadis itu menyesap bir, matanya lurus pada debur ombak. Sesekali kakinya memainkan pasir. Lalu melihat ke arahku “sekarang aku tinggal dengan seorang pria tampan” katanya sambil terkekeh.
Aku menarik napas—seperti aku tidak akan bertanya lebih lanjut atau–aku khawatir jika Disya akan merasa tidak nyaman.
“Disya, apa kamu menyukaiku?” aku lebih memilih pertanyaan itu ketimbang kehidupan lalu gadis itu. Memberanikan diri dengan gaya pas-pasan dan… tampan? Disya mengatakan tampan dan aku cukup tersipu pada bagian itu.
“Ah, sepertinya, aku tau darimana harus memulai” alih-alih menjawab pertanyaanku, gadis itu justru tersenyum. Dua tangan menangkup kaleng bir di atas pangkuan. Lagi, matanya nyalang menatap ombak yang begitu-begitu saja.
“Sebulan.. Em.. 1,5 bulan yang lalu. Sesuatu terjadi dan aku dihadapkan situasi sulit dimana aku berakhir dengan dua pria besar, bule dan benar-benar akan mati jika seseorang tidak datang. Aku sudah menulis surat wasiat entah untuk siapa dalam tasku di semak-semak. Tapi seseorang datang dan memukul dua pria itu dengan keren. Pria tampan. Bagaimana caranya aku tidak suka? Dia terus mengatakan hutang budi dan seolah aku ini adalah penyelamat. Padahal, kata-kata itu lebih pas untuk dirinya” Disya tersenyum. Satu tangan mengangkat kaleng bir dan ia menyesapnya lagi hingga mendongak tinggi dan kaleng itu nyaris tegak lurus. Kulihat tenggorokannya menelan dengan rakus. Setelah itu, wajahnya memerah, kupikir dia mulai mabuk.
Lalu melirik ke arahku “aku menyukaimu juga” kata-kata itu membuat jantungku seperti akan melompat keluar “kamu tidak pernah bertanya apa, bagaimana, dan yah..” Disya menunduk lalu tertawa “kamu menyukaiku meski itu karena ketergantungan atas kondisi ekonomimu yang menyedihkan aku tidak kebera–”
“Tidak, aku tidak menyukaimu karena itu saja. Terlalu dangkal. Kamu terlalu kompleks untuk dikerucutkan menjadi sesuatu yang kelewat kerdil. Kamu lebih dari itu” aku mengoreksinya cepat-cepat sebelum ia menyelesaikan kalimat yang hanya akan membuatku terlihat tidak tahu diri–meski Disya tidak akan menyinggung itu.
“Apa?” ia memicingkan mata. Tidak, matanya mengecil, melihatku seperti penderita hipermetropi.
“Aku menyukaimu lebih dari apapun. Aku bahkan memikirkan banyak hal terlalu jauh. Aku berjanji akan mengumpulkan uang dan memasukkan lamaran ke perusahaan besar. Aku akan mendapatkan banyak uang dan menghidupimu. Aku akan, itu tujuanku sekarang” sudut bibirnya berkedut. Angin membawa rambutnya meliuk menutupi mata sebagain.
“Aku tidak tahu harus mereaksi apa. Kamu bahkan bisa tidur dengan gadis tanpa menyentuhnya. Kadang ada malam dimana aku benar-benar ingin kamu menyentuhku, melewati garis lalu memelukku. Kamu tidak, tidak pernah. Aku mulai bertanya-tanya, apakah kamu pria normal? Apakah kamu sehat?” lalu kudengar ia terkekeh, Disya jelas mabuk “aku muak sekali dengan pria, tapi kamu tidak. Kamu pengecualian, dan semakin kupikirkan, aku semakin merasa menyedihkan” kata-kata terakhir gagal kucerna. Aku tidak tahu Disya mengatakannya atas dasar apa.
Yang ku lakukan adalah meneguk ludahku. Jakunku bergerak naik turun dan kulihat Disya mengamati bagian itu.
“Dan apa aku harus mengaku seberapa keras aku menahan diri?” pertanyaanku telak membuat Disya memberengut, mata kami bertemu dan aku tidak tahu apa arti tatapan itu. Kadang, aku merasa gadis itu sangat misterius dan cerewet sekaligus.
“Aku dengan kesadaran penuh tahu diri jika posisiku benar-benar menyedihkan. Kecuali aku gila, mungkin aku akan melewati garis. Hanya ini satu-satunya yang kupunya. Tapi mendengar kata-katamu barusan, kupikir aku bisa melakukan hal-hal yang melewati garis dengan dalih tidak sadar”
Ia mengacungkan jari tengah sambil tertawa. Lesung pipinya tercetak. Dan itu tidak lucu, sungguh. Gadis itu tidak lucu sekarang, sekarang, benar. Kemarin lucu, kemarinnya lagi dan kemarin. Gadis itu imut dan menggemaskan. Namun malam ini tidak. Disya sangat panas, yah.. Kurasa ombak berisik, pasir kasar, angin yang semakin membesar—akan setuju tentang apa yang kupikirkan.
Aku hanya menatapnya tanpa mengubah posisi apapun. Bahkan cara ku menatapnya penuh damba. Sebelum kurasakan ia semakin mendekat–memepet padaku. Aroma bir menguar dari mulutnya, kurasakan menyuruak masuk ke penciumanku.
Semakin dekat. Disya mabuk. Kepalanya meneleng ke kanan dan matanya tertutup sempurna. Aku diam seperti pria perjaka yang hampir mati karena kesenangan namun tetap berhasil mengatupkan rahang. Aku hebat, aku akan mengakuinya malam ini.
Bibirnya menabrak milikku.
Kurasakan miliknya dingin, kenyal dan lembut. Napasnya memukul atas bibirku hangat di susul pagutan lembut darinya. Disya meremas kain dress di atas pahanya sendiri sementara aku pelan-pelan mengambil alih.
Aku menyukainya, sungguh.
Aku menyukai sisa bir dalam mulutnya, menyukai cara gadis itu melenguh pelan di dalam rongga mulutku. Atau ketika ia mengulum lidahku lembut—terkadang lidah kami membelit seperti ular musim kawin.
Suara ombak terasa makin besar. Airnya pasang—kini berhasil menjilat dua pasang kaki kami. Dan kami merebah–bukan, maksudnya, aku menindihnya dari atas. Ciuman kami tidak terputus entah sudah berapa lama. Pelan-pelan kutarik dress dengan dada rendah meski tak sampai membuat dua alat vital itu menyembul. Saat kulepaskan pagutan, kepalaku turun menjilati seluruh permukaan kulitnya yang halus dan wangi.
Gadis itu melenguh pasrah. Dua tangannya menjambak rambutku.
“Disya.. Ayo pulang” kataku kemudian. Aku tahu ini akan berakhir kemana.
≽^• ˕ • ྀི≼
“Tunggu seben—Akh!”
Satu kecupan mendarat telak pada pucuk kepalanya. Lalu Disya memukul tanganku yang menumpu di antara tubuhnya. Sudah kuduga bahwa gerak-gerik Disya mirip kucing pemarah. 1,5 bulan tinggal bersamanya membuatku paham meski gadis itu tidak pernah marah–marah secara transparan padaku.
Tapi tolong katakan padaku bagaimana aku bisa berhenti ketika dada gadis itu tengah naik turun dengan cepat, kedua putingnya memerah dan bengkak, juga basah oleh air liurku.
Sisa-sisa akal sehatku digunakan untuk hal yang tidak terlalu sehat; menahan kedua tangan Disya ke atas kepalanya. Sisanya hanya ada insting. Kepalanya dimiringkan ke samping hingga melesak ke dalam bantal, enggan membalas tatapanku. Pipinya bersemu merah.
Jika Disya tidak mau, tidak seharusnya dia memeluk leherku hingga kami berdua terjatuh ke kasur dan dia membimbing kepalaku untuk mencium dadanya. Seharusnya—meskipun mabuk, dia akan masuk ke kamar mandi untuk sikat gigi, lalu mencuci wajah dan tidur meski posisinya malang melintang.
Atau bisa saja dia diam tidak mengatakan apa-apa dan bicara seperlunya seperti kita biasanya. Aku tidak akan kehilangan akal sehat seperti sekarang.
Akan tetapi, Disya yang membuatku merayap menyusup lalu menyentuh seluruh tubuhnya–yang ia buka sendiri hingga bertelanjang.
Begitu sampai di tempat yang didamba-damba, Disya mengeluarkan erangan tertahan bak suara kesetanan. Aku ingin mendengarnya lagi, lagi dan lagi. Tidak sepanjang hari, aku perlu mendengarnya seumur hidup. Jemariku bergerak naik turun, dalam tempo yang menyiksanya–lambat, dan penuh tekanan.
Oh tuhan, bagaimana aku mengabadikannya? Akan kuhujani Disya dengan kasih sayang yang pantas didapatkan, dan Disya akan menghujaniku dengan desahannya yang manis. Pagi, siang, dan malam.
“Akh..” panggilannya tersendat dengan napas berat sukses membuyarkan lamunanku “tatapanmu menyeramkan sekali”
Aku menundukkan kepala, mencium keringat pada dahinya “takut?”
“Sedikit”
“Jangan” fokusku tetap terpaku pada gadis bersurai panjang yang kini berantakan campur keringat, aku menikmati mulutnya yang basah “aku hanya akan menyakitimu di atas ranjang, Disya”
Nanti, setelah ini, setelah semua ini. Disya adalah kemewahan yang akan terus kujaga dengan perhatian ekstra. Eksistensinya akan terus kulindungi meski aku harus memotong dua kaki dan tanganku sendiri. Aku menyerahkan dunia, kepercayaanku, apapun yang tersisa dariku demi melihatnya tersenyum dengan tulus di bawah sinar matahari–tempat yang cocok untuknya.
“Akh…” matanya berkaca-kaca begitu jari tengahku masuk ke dalam liangnya yang sudah basah. Akan tetapi, ketika Disya sedang seperti itu—meronta dan menggeliat di bawah kurungan badanku—itu adalah kode darinya untuk segera diperlakukan seperti pelacur murahan. Seonggok lubang menganga yang hanya cocok dijadikan tempat benihku bersemayam. Seakan-akan, sisi kemanusiaannya lenyap oleh sapuan jemariku di atas kulitnya yang panas.
Disya merentangkan kedua tangannya ke depan, mengalung pada leherku dengan sempurna. Kedua kakinya melingkar pada pinggulku—tampak seperti koala yang menggemaskan jika saja ia tidak mengangkat satu sudut bibirnya.
Mirip iblis penggoda, pikirku.
“Tidak usah terburu-buru, malam masih panjang. Kita punya banyak waktu. Malam ini, besok, besok lagi dan lagi” kataku lembut. Tubuhku bergerak maju dan mundur.
≽^• ˕ • ྀི≼
Cinta musim panas banyak diperdebatkan merupakan cinta yang membara secara singkat. Aku tidak percaya, kendati lagu-lagu yang sedang populer memutar lirik-lirik memvalidasi. Penyair menyedihkan dengan kisah cinta musim panas yang ikut berakhir tatkala penghujan datang seperti menghapus jejak panas pada aspal.
Aku berdiri dibalik meja kasir sambil membuka email dari perusahaan–yang aku sendiri tidak tahu. Belum sempat aku selesai membaca, pesan dari Disya muncul di bar atas. Aku membukanya lebih dulu.

Aku membuka email, lalu kembali membaca pesan Disya bergantian. Yang tertera dalam email adalah aku diterima kerja dengan posisi yang aku sendiri tidak terlalu paham. Namun perusahaan itu memintaku datang esok. Saat kutanya Disya dimana lokasinya, gadis itu mengatakan jika besok ia akan turut serta mengantarku.
Ini ketidakmasukakalan yang lain. Yang pertama pendapatan, yang kedua bagaimana dengan mudah ia memasukkanku menjadi kasir dalam toserba, lalu saat aku mengatakan ingin bekerja di persahaan besar. Tanpa menunggu babibu, aku langsung diterima tanpa pernah menulis CV, tanpa interview dan dalam pesan, secara tidak masuk akal aku benar-benar diminta datang untuk bekerja, sekali lagi, BEKERJA.
Saat jam pulang datang, aku menghambur—berlari sekuat tenaga untuk cepat sampai rumah. Begitu banyak yang ingin kutanyakan, begitu ini membuatku bingung.
Sebenarnya, siapa gadis itu? Kenapa bisa semudah ini? Aku tidak fokus bekerja hari ini. Bahkan, masa training ku di tempat ini belum selesai dan aku harus pergi ke perusahaan—tempat baru tanpa tahu apapun.
Dikota kecil ini, udaranya selalu membakar paru-paru. Musim panas akan berakhir kurang dari sebulan, tapi seperti hari ini adalah puncaknya. Anak-anak kecil yang berjarak lima ratus meter dari indekos hilir mudik dengan jaring penangkap serangga mereka sambil menikmati es. Para tetangga kos sebelah sibuk bercengkerama dengan yang lain di depan rumah sambil menikmati potongan semangka dan kipas tangan. Di malam hari, bau bubuk mesiu dari kembang api dan bau asin tercium pekat.
Diysa melambaikan tangan dengan cup kopi di tangan yang lain. Tubuh kecilnya terbalut tanktop dan celana pendek menyambutku dengan senyuman.
Saat aku sampai, ia menyodorkan es kopi lalu menyeka keringatku yang bercucuran. Bahkan seragam training ku basah oleh keringat. Ya, aku berlari sejauh hampir 2 kilomter di bawa terik tidak masuk akal. Tubuh kurusku gosong dan bau matahari khas menyengat. Sambil tertawa, Disya mendorongku untuk segera mandi setelah mengambil kembali es kopi yang baru kesedot setengah. Dia bahkan tak memberiku waktu untuk bertanya tentang email.

“Pakai bajumu astaga” Disya keberatan saat aku memeluknya dari belakang hanya memakai handuk–meski dadaku tertutup–bukan jenis handuk yang hanya membelit bawahan.
“Aku rindu” kataku, seolah melupakan alasanku berlari sejauh itu di bawah terik–demi membahas email. Namun yang kulakukan setelah mandi adalah memeluk Disya yang sibuk membuat sesuatu di depan meja kompor dengan pakaian menyedihkan seperti saat menyambutku datang.
Tangaku melingkar penuh pada perutnya. Saat Disya melirik ke belakang, kujatuhi bibirnya dengan kecupan berulang-ulang, dia tertawa dengan lesung pipi yang memikat.
“Aku ingin membahas email” dan aku membahasnya. Diysa menjejaliku dengan irisan ayam katsu. Tubuhnya bergerak mengambil piring dan nasi, aku mengikutinya sambil mengunyah–sambil tanpa melepas pelukan sedikit pun.
“Itu perusahaan kenalanku. Kamu bisa bekerja mulai besok, aku akan mengantarmu” katanya praktis.
“Dimana tempatnya?”
“Jakarta, kita akan pergi setelah makan”
“Tiba-tiba?”
“Hm” katanya “tapi setelah ini, aku ingin menemui teman lama, kamu tolong berkemas”
“Aku tidak mau” sergahku membuat Disya berhenti
“Tidak mau? Apa kamu mau mati?” matanya melotot galak, baru sekali itu Disya mendelik marah.
“Aku tidak bisa pergi atau berjarak denganmu, Disya..” aku memelankan suara, lalu helaan napasku membuat rambutnya di belakang telinga bergerak.
“Aku akan ikut ke Jakarta, kenapa kita harus berpisah?” baru setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, aku tersenyum. Deret gigi rapiku terpantul dari kaca kabinet dapur minimalis itu. “Duduklah, aku akan membawakan makanan”
Aku duduk patuh seperti anak anjing. Makan sore kami di lantai yang di alasi permadani murahan—sudah usang dan tipis.
“Disana, ada temanku bernama Adew. Dia adalah seorang staf administrasi. Tanya-tanya saja, tanyakan apapun, dia tahu semua hal, mirip google” kata gadis itu sambil menyuap makanan. Aku mengangguk–melakukan hal serupa.
“Hm, aku akan bertanya, tapi izinkan aku untuk.. Yah, itu.” aku menggaruk tengkuk “Disya, bisakah sebelum makan kita.. Itu, maksudku…” aku tidak mengatakannya, namun tubuhku bangkit–lantas membawanya ke atas kasur dan gadis itu menjerit sambil tertawa. Kami mengulanginya lagi, lagi, lagi. Seperti harapanku, keinginanku. Aku ingin Disya, aku menginginkan gadis itu lebih dari apapun.
≽^• ˕ • ྀི≼
Ya, ada seseorang bernama Adew. Dia adalah pria kemayu yang datang dengan pakaian formal sebagai staf administrasi. Rambutnya mullet dan kukunya panjang-panjang berwarna marun. Jika berjalan, maka bokongnya akan bergerak memantul, begitu montok.
Aku pergi ke Jakarta sendiri saat Disya terus meyakinkanku bahwa dia akan menyusul setelah urusannya dengan seorang teman bisnis selesai. Disya juga yang meminta Adew menyerahkan kunci kos di Jakarta sebagai tempat tinggalku yang baru.
Aku mulai bekerja di hari pertama. Kebingungan khas dan untungnya, ada seseorang yang dengan sabar mengajari–mengarahkan dan memberi komando. Aku diterima sebagai Data Analyst.
Semua terasa baru. Aku besar di Labuan Bajo mungkin sejak lahir. Udara Jakarta jauh lebih panas, lebih membakar paru berkali-kali lipat dari tanah kelahiranku. Musim panas masih merajai diluar dan sekarang, aku duduk di balik meja dengan jas formal dan pendingin yang tidak akan membuatku mengipasi leher dengan tangan.
Aku mengirimi Disya pesan sangat banyak. Bertanya kapan dia akan datang atau kapan urusannya selesai. Aku akan menjemputnya di bandara. Namun tidak ada satu pesan pun yang sampai. Nomornya tidak aktif dan benar-benar sulit di hubungi.
Aku bersabar hingga jam pulang kerja.
Dan bukan.
Bukan sampai jam pulang kerja, melainkan dua hari, tiga, seminggu, dua minggu, sebulan.
Aku meminta cuti dan ditolak karena posisiku adalah anak baru. Sementara rasa rinduku pada Disya berhasil membuatku seperti orang gila. Nomornya tidak pernah aktif lagi setelah itu, ia seperti menghilang begitu saja tanpa kabar, sama sekali.
Aku frustasi, namun tetap tak kutinggalkan pekerjaan. Akhir pekan ini, aku bersumpah akan kembali mendatangi pulau Flores dan mencari Disya.
≽^• ˕ • ྀི≼
Musim hujan datang.
Gerimis kecil, di susul riuh pertama kali mengawali awal penghujan datang.
Sudah dua minggu. Aku mendatangi pulau Flores. Aku mendatangi kos kami dan bertanya pada si pemilik dan ia mengatakan jika Disya pergi di hari kepergianku membawa seluruh barang. Sang pemilik kos tidak tahu menahu tujuan Disya sementara aku makin frustasi. Ku bawa lagi sopir grab untuk menyisiri semua tempat yang—menurutku berkemungkinan Disya ada, namun libur akhir pekan yang hanya dua hari benar-benar tidak cukup untuk mencari Disya. Aku kembali ke Jakarta dengan hasil nihil, perasaan yang makin semerawut dan rindu yang semakin menjadi-jadi.
Ingatan tentang kebersamaan kami menghujam tanpa tendeng aling-aling. Kasur. Pantai, pasir. Semuanya berputar mundur hingga ke adegan pada hari pertama kami berjumpa, aku nyaris ingin kembali pada momen itu meski menyedihkan—keji.
Dan aku kembali.
Hujan di kota Jakarta seperti sialan aneh yang terasa begitu asing sampai ke dada. Aku seperti kehilangan pegangan, hilang arah. Tidak tahu harus apa dan bagaimana, apa harus melapor pada polisi. Atau masih ada tempat yang ku lewatkan?

Langit masih gelap. Guntur masih bersahut-sahutan entah kapan akan berhenti. Sebagian hidupku setelah meninggalkan Labuan Bajo dihabiskan untuk berharap bahwa suatu hari nanti kami akan bertemu kembali. Mungkin besok atau lusa. Mungkin minggu depan, bulan depan, tahun depan. Begitu terus—menumpuk hingga menjadi sepuluh tahun.
Satu dekade aku memikirkan Disya muncul di hadapanku dengan segala kemurahan hatinya. Membebaskanku dari belenggu kutukan rindu yang tidak berujung. Lesung pipinya, kulit putih dan elok. Melalui bibir indahnya akan kucumbui sambil mendengarkan ia mengatakan hal-hal tentang kefanaan.
Aroma pasta memenuhi ruang.
Wanita itu duduk di sampingku. Dalam sepuluh tahun aku hidup di dua dunia. Yang pertama aku hidup dalam kemewahan. Tidak ada lagi hutang, kasur lembab di musim panas, aroma apek selimut dan seprei yang tidak pernah dicuci atau jamur yang dapat menyebabkan penyakit buruk.
Yang kedua aku hidup dalam imajinasiku sendiri. Tempat dimana Disya ada di sana. Kadang di layar saat aku presentasi, kadang di langit-langit lift.
Akan tetapi yang paling menyiksa adalah ketika aku tidur dan kehilangan kesadaran. Kami kembali ke Pulau itu, ke pantai itu, ke rumah petak itu. Aku dan Disya berjalan beriringan di atas pasir atau saling kejar. Kaki kami di jilat ombak atau tertutup pasir. Bersama-sama kami menembus jalanan panas dan mendarat di laut kumuh yang panasnya seperti akan membakar tengkorak.
Aku menatap keju dan daging sapi cincang di atas pasta. Begitu sulit aku kembali dari dunia imajinasi, dunia yang ada Disya disana. Satu-satunya hal nyata adalah dunia normal ini, di mana aku makan di meja marmer mewah dengan seorang wanita yang menyematkan cincin di jari manisya. Cincin berdesain serupa dengan yang ada di jari manisku.
Ini adalah kehidupan yang nyata, ini yang benar dan ini yang tepat.
Tepat, dan normal.
Aku adalah manusia yang berfungsi dengan baik, senormalnya manusia seharusnya. Jabatan yang tinggi di persahaan bergengsi. Istri yang baik hati dan patut di banggakan. Harta yang tak akan habis. Normal, tapi bukan standar, ini adalah kualitas terbaik dari kata ‘normal’
Sudah seharsunya aku bersyukur. Ini adalah kehidupan yang aku dambakan dulu, sejak aku kecil. Aku harusnya bangga dan selesai dengan semuanya. Hanya perlu menikmati hidup lalu mati dan dikubur sambil di tangisi kolega-kolega penting. Aku orang penting yang hidup keren.
“Sudah minum obat? Kamu terlihat pucat” wanita itu memegang leherku dengan tidak sopan. Aku akan mengoreksi kata ‘tidak sopan’ mengingat dia adalah istriku. Tapi aku risi. “Aku tau kamu selalu mengalami gejala cemas dan.. Mmm… kamu harus minum obat” katanya lagi, ia bahkan terlihat baik-baik saja saat aku menepis tangannya kasar dari leherku.
“Aku tidak suka” jawabku ketus.
“Pastanya?”
Aku menghela napas dan kembali berputar dari meja makan menatap jendela lagi “aku tidak suka saat kamu menyentuhku tanpa izin, tidak sopan” nadaku begitu ketus. Pernikahan yang sudah berlangsung 1,5 tahun dan aku hanya menyentuhnya saat mabuk atau gila. Itu pun sambil melihat wajah Disya, bukan wanita ini. Wanita baik hati yang terus bersabar atas tingkahku yang bobrok.
Kurasa dia menunduk “maaf” katanya.
“Aku tidak pernah menyukai ini. Pasta, hujan, kamu dan pernikahan kita” aku masih terus mengoceh sesuai dengan apa yang kupikirkan dan kurasakan.
“Dengar, Akmal, aku tau hujan membawamu pada sensitivitas yang tinggi. Diperparah obat yang mungkin belum kamu minum, tapi—”
“Tapi, apakah kamu tau apa yang menyebabkan itu?!!” aku jelas membentaknya, suaraku besar, nyaring dan membuatnya kaget. Wanita itu kaget hingga tersentak. Ia terdiam dengan rahang terkatup.
Lalu sesaat, ditengah kegilaan yang mengacau di kepalaku, aku menyesal telah membentaknya sekeras itu.
“Maaf, aku–”
“Kamu benar” wanita itu melipat tangan di dada, bahunya bersandar pada belakang sofa, nadanya jengah dan muak “aku tidak tahu penyebabya–tidak sesungguhanya, aku bahkan tidak tahu apapun tentangmu”
Suara hujan masih setia menjadi latar utama, terlebih saat kami diam satu sama lain. Aku akhirnya kembali menatap meja—pada sepiring pasta yang masih hangat.
“Ketika orang tuaku memperkenalkan kita, kupikir kamu adalah pria yang tidak seperti itu. Kamu selalu tenang dan tidak pernah goyah. Tatapanmu lurus tapi kosong. Kupikir kamu adalah pria dengan kepribadian misterius yang akan melunak saat hanya ada kita berdua. Aku tertipu imajinasi bodohku tentang pria pendiam dengan karisma yang memukau. Aku terpaku pada spekulasi gila” wanita itu mengangkat bahunya sambil tertawa sengau “maksudku, kamu memperlakukanku dengan baik hingga aku merasa jahat karena sudah meragukanmu. Aku tidak perlu bekerja, perhatian yang kamu berikan cukup untuk kujadikan bahan pamer di depan teman-temanku dan aku berakhir dengan meletakkan ekspektasi begitu besar padamu, pada pernikahan 1,5 tahun yang manis ini”
Senormalnya pria yang menyadari istrinya menangis. Seharusnya aku mendekat untuk merengkuhnya—menenangkan atau mengatakan maaf karena telah menyakiti perasaannya. Tapi aku mematung dengan mata yang seperti akan menghancurkan pasta di depanku.
“Aku bertahan, Akmal” suaranya bergetar, aku menyimaknya dengan seksama, masih menunduk tanpa berani menatap manik yang berlinang air mata karena prilaku ku yang mirip setan. “Aku bertahan karena terus meyakinkan diri bahwa kamu memang orang yang seperti itu, orang yang pendiam dan formal bahkan pada istrimu, kamu terus menyebut nama orang lain saat mabuk dan bercinta. Aku berusaha mencari tahu dan aku seperti orang gila”
Aku menahan napas dan menghembuskannya pelan-pelan, seolah dengan napasku saja, wanita itu bisa semakin terluka.
“Aku punya kapasitas. Sesabar aku menghadapi tingkahmu yang semakin tidak masuk akal, aku tetap punya kapastias. Aku tidak tahu apa yang salah pada diriku, apa yang kurang, apa yang perlu kuperbaiki. Kamu selalu marah untuk hal yang tidak pernah kamu jelaskan alasannya, tidak juga kumengerti. Wanita itu mulai emosional, bahunya terguncang karena tangis “seandainya kamu memberitahu apa yang terjadi, apa yang salah. Aku.. aku mungkin saja bisa melakukannya, bahkan jika kamu memintaku mundur dan..” ia membiarkan kata-katanya menggantung di udara. Sementara dadaku ikut sesak.
Kenapa aku tidak pernah bisa melupakan Disya? Wanita–istriku di depan mata sangat baik dan cantik. Namun tidak sedikit pun mampu membuat hatiku terbuka. Aku masih berdiri dalam indekos dekat pantai di musim panas, bersama Disya yang sibuk memasak. Aku masih disana. Jiwaku terpasung hingga hari ini. Dan wanita ini datang menawarkan cinta. Aku mencoba keluar dari kukungan–belenggu menyakitkan. Namun saat kucoba, aku malah semakin sakit.
“Aku menyukai wanita lain” kataku akhirnya. Itu juga yang membuat tangis istriku berhenti seketika. Dia mendongak dan mata kami bertemu. Setelah mengatakan itu, ada sedikit kelegaan meski yang mendominasi adalah rasa bersalah. Kendati rasa cintaku sebesar gunung, aku tetap pria normal yang mengerti jika tingkahku menyakiti istriku. Namun tidak bisa benar-benar kukendalikan. Sepuluh tahun terakhir setelah kehilangan Disya, aku didiagnosa mengidap gangguan kecemasan apalagi di musim hujan. Aku benci musim hujan dan terus berharap summer tidak akan pernah berlalu.
“Wanita yang sama sepuluh tahun lalu” aku menunduk, kurasakan segelenyar rasa aneh menangkup dada. Aku selalu menempatkan Disya dalam imajiner dan setelah sekian lama, aku baru membahasnya lagi hari ini. Rasanya aneh saat sesuatu yang biasanya hanya ada dalam tempurung, kini di utarakan keluar.
Istriku tidak menjawab, dia menatapku dengan mata menuntut penjelasan meski rahangnya terkatup rapat.
Lantas aku menceritakan padanya dari hari pertama aku dan Disya bertemu. Semua, detail, lengkap dan untuk pertama kalinya juga aku mengungkapkan perasaanku. Rasa rinduku yang membelenggu, rasa frustasi dan hilang arah hingga hari ini. Aku seperti terkukung–terjebak dalam dunia yang seakan menghalangiku untuk melanjutkan hidup. Disya menghilang begitu saja, sebesar apapun aku mencarinya selama ini. Begitu juga Adew, dia hanya mengatakan tidak tahu dan tidak tahu. Aku gila, kupikir aku gila. Dan aku menangis saat menceritakannya pada istriku. Memperlihatkan betapa menyedihkannya aku. Betapa aku begitu jahat padanya yang setia meski tidak pernah kusentuh kecuali sambil mengingat orang lain. Betapa dia begitu sabar dan telaten atas tingkahku.
Aku menunduk–menangkup wajahku dengan dua tangan. Tubuhku tergugu–terguncang. Kurasakan istriku mendekat. Tangannya naik hendak mengelus punggungku namun tertahan diudara. Mungkin dia ingat akan kata-kataku tentang—aku yang tidak suka dia menyentuhku tanpa izin. Lalu hanya helaan napas lembut setelah tangannya turun.
“Kenapa baru mengatakannya sekarang?” itu pertanyaan tidak terduga. Sebagai istri yang sudah kelewat sabar dan baik, dia seharusnya mengguyurku dengan sepiring pasta atau berlari keluar membanting pintu meski tahu aku tidak akan mengejar. Wanita ini sangat anggun dan elegan, namun benar apa yang dia katakan. Dia punya kapastias dan aku keterlaluan.
“Cari yang benar, kejar cintamu. Jika belum terkubur, kamu harus lebih gigih, bukan meringkuk di atas sofa sambil membola. Menyedihkan menatap hujan, kamu ini memang pecundang. Seperti ceritamu” istriku mengomel, dia benar-benar berhenti menangis. Aku mendongak menatapnya. Wanita itu benar-benar sudah berhenti menangis. Kulihat mata sembabnya kembali tegar. Pandangan kami bertemu.
“Sisir seluruh Jakarta, pulau Flores, kamu harus menemukan cintamu” ulangnya lagi. Lebih mantap.
“Kenapa?” aku melontarkan pertanyaan menyedihkan. Seperti hidupku ini memang menyedihkan.
“Kenapa apanya? Jika kamu memang menyukai dia, pergi dan kejar cintamu. Jangan membuatku seperti orang bodoh yang mencintaimu sendirian”
Aku semakin tidak percaya.
“Kubilang kejar, jangan sampai pengorbananku ini sia-sia. Aku akan mendukungmu” lalu dua sudut bibirnya terangkat, wanita itu tersenyum lalu kembali akan mengangkat tangan untuk mengelus punggungku. Lagi-lagi tidak jadi.
“Di dunia yang hanya sekali, sangat menyedihkan tidak bersama orang yang kita cintai. Maka, tunggu apalagi, apa kamu takut pada hujan alih-alih cintamu tenggelam?” wanita itu menyulutkan api yang sudah lama padam di gerus keputusasaan. Aku menyeka mataku, menatapnya lebih dalam sekali lagi.
“Lekas pergi, temukan Disya, temukan gadismu. Aku juga harus pergi” lalu ia bangkit. Kaki jenjang itu melangkah—menjauh sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.
≽^• ˕ • ྀི≼
Dan tuhan mempertamukanku kembali dengan Adew yang mau membuka mulut setelah sepuluh tahun terakhir bungkam. Dulu, aku mengintrogasinya dengan sopan, kasar, lembut, hingga pernah kupukul dengan keras dan pria itu tetap mengatakan tidak tahu tentang Disya.
Dalam kamar kos kecil. Tubuhnya kurus kering karena penyakit HIV/AIDS. Bola matanya besar seperti itu adalah satu-satunya yang tersisa selain perut yang membusung aneh. Ia menutupi dirinya dengan selimut tipis saat aku duduk di dekat kasur yang mirip dengan kos ku sepuluh tahun yang lalu.
Dia memintaku menutup mulut saat dia batuk. Dia juga mengatakan tidak akan menghidangkan apapun guna mengantisipasi penyakit menyebar atau sialan apapun yang sebenarnya aku tidak peduli. Aku hanya ingin informasi tentang Disya, dengan cepat, dan sekarang.
Lalu ia mulai bercerita. Benar, dia bercerita. Alih-alih memberitahu alamat, keparat itu malah bercerita. Aku bersabar menunggunya berlontar dengan suara lemah itu.
“Disya adalah seorang gundik, kemudian jadi pelacur, gundik lagi. Lalu merambat menjadi penipu. Dia tidur dengan kepala menteri keuangan dan lama menjadi gundik tua bangka itu. Koneksinya luas, dia juga tidur bersama beberapa pria dan begitu terus. Dia sangat laris, semua laki-laki menyukainya. Dari HRD terkenal di perusahaan ritel di pulau Flores. Beritanya sangat heboh karena pria itu memiliki dua istri siri dan satu istri sah, di tambah Disya. Lalu dia juga menggoda komisaris perusahaan I-Tech dan berhasil masuk ke istana megah sebelum kemudian di depak secara tidak terhormat” aku mendengar suaranya sengau, tapi Adew tidak menangis.
“Tiga tahun yang lalu, dia tiba-tiba sakit keras. Aku tidak tahu jenis penyakitnya, kupikir dia terserang virus yang sama denganku sekarang. Tapi setelah aku mencari tahu dengan bertanya pada dokter yang menanganinya, ternyata dia mengidap sakit jantung kronis dan meninggal secara mendadak di rumahnya seorang diri. Dia berada di Jakarta, di dalam apartemen mewah sambil mengintai seseorang”
Ada jeda, kupikir Adew menangis seperti aku. Aku tergugu tak sanggup. Sungguh, hatiku sakit sekali.
“Aku menemukan ratusan fotomu dalam apartemen, dia memotretmu, mengikutimu. Kameranya ada, sebentar” tubuh ringkih itu bangkit susah payah untuk mengambil sebuah kamera dengan lensa besar. Lalu papper bag berisi fotoku tiap tahun. Ya, ada keterangan tahun dan tanggal di tiap lembar
Aku tidak tahu harus mereaksi dengan apa segala informasi dan kamera serta foto, satu hal yang pasti, aku benar-benar ingin mati.
Sepuluh tahun kutanggung kerinduan. Keputusasaan atas pencarian yang tak berujung. Kenapa dia melakukan itu? Kenapa tidak mendatangiku alih-alih mengambil foto. Untuk apa? Sudah kubilang, apapun yang dia lakukan untuk mendapatkan uang. Apapun pekerjaannya, aku mencintainya melintas dari siapa dirinya. Aku bersumpah akan menanggung hidupnya yang berarti dia akan berhenti hidup dalam lembah mengerikan itu.
Aku Lantas sambil tersedu-sedu, aku bertanya letak pemakamannya, Adew memberitahu dan aku lekas pergi mendatanginya.

Bukankah ini lelucon? 10 tahun yang berakhir di pemakaman. Bukannya ini adalah bagian paling epik dalam hidupku? Satu dekade kuhabiskan seperti cangkang kosong—menanti, mencari, berharap. Semua melebur bersama tanah kering dengan nisan seadanya. Kubelai kepalanya dalam hening pada nisan. Masih kuingat tawa lepas dan caranya tersenyum, lesung pipinya yang menggemaskan dan cara matanya terpejam. Aku merekamnya di kepalaku masih sangat jelas.
Aku membaca suratnya yang ditulis tangan dengan pena hitam di atas kertas polio bersama fotoku yang berserakan. Dadaku seperti diremas-remas. Kesakitanku tak berarti dan aku merasa gagal.
Untuk kamu, penyelamatku si pria tampan.
Untukmu,
Aku tidak tahu apakah namaku masih hidup di ingatanmu,
atau telah kau kuburkan seperti musim panas yang lewat tanpa bekas.
Aku tahu kau pernah menoleh ke belakang,
Sekaligus berjalan lurus tanpa sisa.
Yang kurasa
aku tidak pernah benar-benar pergi.
Tujuh tahun adalah jarak yang panjang
untuk menyimpan satu nama
tanpa berani mengucapkannya keras-keras.
Aku mencintaimu.
Kalimat itu sederhana,
namun di tubuhku ia menjelma beban yang tak sanggup kupanggul di hadapanmu.
Kau pernah memandangku seolah aku utuh—
seolah aku perempuan yang layak digenggam di siang hari, di musim panas
bukan hanya disembunyikan oleh malam.
Dan justru karena itulah aku mundur.
Ada jejak pada tubuhku
yang tak sanggup berdiri di samping lelaki sepertimu.
Ada bekas-bekas yang tak bisa kucuci dengan doa mana pun.
Aku terbiasa menjadi ruang yang disinggahi,
bukan rumah yang dibanggakan.
Kau adalah cahaya yang lurus.
Aku terlalu lama hidup sebagai redup.
Selama tujuh tahun ini
aku belajar mencintaimu tanpa menyentuh hidupmu.
Belajar menyebut namamu dalam hati
lalu menelannya kembali sebelum menjadi harapan.
Tidak, perasaanku tidak ia, itu karena ia tumbuh terlalu besar
dan aku takut kau melihatnya.
Jika semesta memberi kita kesempatan lain,
mungkin aku akan tetap melakukan hal yang sama:
mencintaimu dari jarak yang aman,
menjagamu dari kemungkinan bernama diriku sendiri.
Jangan cari aku.
Karena aku tak pernah merasa pantas untuk kembali.
Namun satu hal yang harus kau tahu—
meski dunia tak pernah menyaksikannya,
meski kau tak pernah menyadarinya,
ada seorang perempuan
yang selama tujuh tahun
membawa namamu seperti doa yang tak berani ia aminkan.
— Aku.
Tidak, Disya. Bukan seperti ini akhir yang kuinginkan. Bukan, bukan kematian.. Kumohon bangunlah dan peluk erat tubuh lelahku. Lepas belenggu yang menyesaki dadaku, aku begitu putus asa hingga tidak tahu harus kemana. Bahkan setelah sepuluh tahun lamanya, kenapa tuhan malah membawaku ke pusara alih-alih wajah cerahmu yang penuh semangat dan gairah? Lantas, harus kuapakan lagi rasa dalam dadaku? Kemana lagi harapan kutumpu? Aku tidak hilang akal, tapi aku mati. Lebih mati dari hari kemarin, lebih parah. Mungkin setelah ini, aku baru akan mati sungguhan.
Aku mulai membenci semua hal. Tidak, sebenarnya aku sudah membenci semua hal sejak Disya pergi. Namun hari ini, rasa benciku pada semesta bertambah berkali-kali lipat.