HARI TERAKHIR DI BALI

YATIM HARMONIS ; HARI TERAKHIR DI BALI
AKHIR DI BALI

YATIM HARMONIS— SELAMAT TINGGAL BALI.
AWAL DARI AKHIR.
Malam itu, semua orang berkumpul di ruang tamu setelah Jin mengatakan ingin mengumumkan sesuatu. Entah apa, ketika biasanya apa pun bisa dituangkan dalam grup chat. Namun si tertua begitu serius hingga menunggu semua adiknya dalam formasi sempurna.
Antara pukul sebelas yang tak akurat. Di luar gerimis baru saja datang sekitar delapan belas menit yang lalu, bersamaan dengan kepulangan kembaran Joon yang berlari setelah turun dari sepeda motor — ojek. Kini semua orang berada di antara ruang sempit yang tak kurang dari tujuh meter persegi. Wajah-wajah mengantuk, ada yang cekikikan, ada yang sibuk dengan ponsel, ada yang menggelantung dan merayap di dinding sambil menangis meski hanya satu orang yang dapat mendengar.
Lampu yang selalu saja temaram. Semua orang tidak akan bertanya alasan si sulung tak kunjung membeli penerangan layak di ruang utama rumah kecil itu. Begitu banyak alasan meski semuanya hanya berpusat pada ibu mereka yang sudah lama pergi.
“Jadi gini..” Jin membuka pertemuan mereka yang sama sekali tak terlihat serius “Minggu depan, kita udah beneran pindah ke Bandung. Rumah udah jadi di sana, kamar kalian masing-masing, rumahnya gede, tiap kamar ada kamar mandi. Ada AC, ada furnitur keren, dapurnya cakep, sofanya mewah, lantainya marmer dan plafon nya tinggi. Nggak panas kalau musim panas, nggak dingin kalau musim hujan. Ada garasi juga, lebar banget. Halaman belakang, pendopo nya cantik. Nanti Yoon sama Hobi gua beliin mobil juga. Jin mengamati tiap wajah “Jadi bisa siap-siap dari sekarang. Yang punya temen bisa perpisahan sama temen, yang punya pacar bisa salam perpisahan sama pacar, yang punya piaraan setan bisa dilepas. Apa pun lah, gua bilang dari berulang-ulang biar nggak dadakan dan kaget”
Tidak ada yang menyahut sesaat. Suara cekikikan berganti menjadi wajah serius dan bibir melengkung pelan-pelan turun. Apalagi Jimin, pria itu berubah secara konstan tiap Jin atau siapa pun membahas hal ini. Tapi tampaknya tidak akan ada yang berubah dan berkurang, hal ini sudah di gembor-gemborkan sejak setahun yang lalu.
“Nanti, kalau emak pulang gimana? Dia sendirian?” Jung yang menyahut pertama kali, menyusul air muka kakaknya, bungsu terlihat menyedihkan. Sebenarnya tidak terlalu sedih juga, namun pertanyaan itu terlintas meski tahu jika kakaknya pasti mengantisipasi untuk hal-hal sejenis.
“Emak nanti di urus sama panti khusus buat pengidap skizofrenia, ada tempatnya sendiri karena butuh perhatian ekstra. Orang sakit mental kayak gitu kudu terus berdampingan sama dokter”
Tidak ada yang menjawab lagi sesaat. Jin masih saja mengedarkan matanya dengan seksama — meneliti wajah adiknya satu persatu. Namun dari semua orang, Jimin yang menangis. Tidak heran, bocah itu satu-satunya yang memiliki kekasih dan sangat dekat hingga Mona sungguhan seperti keluarga juga.
Tidak ada lagi yang menenangkan, mengusap punggung atau mengatakan omong kosong tentang jodoh tak ke mana. Sudah muak dan bosan.
Hubungan mereka baik-baik saja. Jimin makin cinta setiap harinya. Tidak ada waktu yang dilewatkan kecuali malam hari dan mereka selalu bersama. Tampaknya, Jimin akan benar-benar frustrasi.
“Gua kuliah di sini aja nggak sih? Gua nggak ikut” mengusap wajah dengan lengan baju, pria itu sesenggukan.
“Nanti di Bandung akan lebih banyak cewek yang lebih cakep, lebih keren dan lebih bening dari Mona, tenang aja” kali ini Joon yang bersuara.
“Tanpa lu ocehin, gua tau. Yang lebih cantik banyak, lebih segala-galanya banyak banget, tapi Mona cuma satu, ya Allah, sesak dada gua”
Dan sembari menangis, sisa kakaknya tidak ada yang begitu perhatian karena sejak sebulan yang lalu, Jimin sering begitu. Barangkali seharusnya mereka melakukan perayaan perpisahan dengan sesuatu yang makin mendramatisi keadaan dan menangis berdua.
Pertemuan serius yang lagi-lagi tidak serius karena semua orang tidak begitu kaget. Perkara itu tidak baru dan harusnya bisa dikatakan lewat grup obrolan. Kini semua orang membubarkan diri ke bilik mereka kecuali Jimin yang tergugu sembari menutupi wajah dengan bantal sofa.
Tidak sendirian, pria itu di temani Siri yang juga menangis meski tak dapat di dengar. Setan yang setahun lebih bersama, tubuhnya sudah hampir bisa memadat sempurna — lumayan lama karena interval waktu ia melayang-layang di bumi — di tempat yang bukan seharusnya. Kata Jung dan pria itu kata kakaknya, Siri bisa saja menjadi roh jahat yang mencelakai semua orang. Namun nyatanya tidak, hantu itu hanya melayang-layang dan terus berbuat cabul dengan mengintip semua orang mandi dan berinteraksi dengan si bungsu sebagai teman. Tidak lebih.
Sama seperti Jimin, tangisnya besar. Bedanya, Siri akan kehilangan semua orang di sini. Entah ia akan terus melayang-layang di rumah ini sendirian dalam kesepian hingga — ia sendiri tidak tahu sampai kapan.
Beberapa saat dalam keputusasaan. Matanya merah sembab. Jimin bahkan tak mampu bicara pada kekasihnya. Hingga detik ini, Mona tidak tahu ia akan pergi. Jika membahas tentang kampus, Jimin hanya mengatakan tidak tahu lalu bergumam tak jelas, sementara gadisnya ingin berkuliah di kampus yang sama.
“Omongin Jum, jangan di tinggal gitu aja, kasian si teteh, apa gua yang bilang?” Jung kembali. Pria itu pusing saat mendengar Siri terus menangis siang malam. Keluar masuk kamarnya sambil berlinang air mata meski tak nyata. Jimin juga menangis, namun kakaknya tak bersuara. Sebenarnya, sejak awal kedatangan, Siri selalu menangis, namun tidak seintens saat ini.
“Kek mana gua bilangnya? Coba kasih tau gua cara jelasin ke Mona, dia pasti cuma akan bilang ‘oh, yaudah’ terus pura-pura kuat dan berlagak kayak nggak terjadi apa-apa. Aslinya hancur banget, hafal gua, justru di sana bagian sesaknya”
“Ya tapi emang ada pilihan selain itu? Akan lebih parah kalau lu pergi tanpa pamit, hilang gitu aja” Jung lalu memeluk kakaknya “tapi terserah sih, lu pasti udah membandingkan semua cara dan nentuin jalan yang paling tengah. Nggak terlalu nyakitin, nggak menyedihkan. Percaya sama kata-kata ini sekali lagi walau lu muak. Jodoh nggak akan ke mana”
kata-kata itu begitu mulus di ucapkan oleh pria berusia kurang dari 14 tahun. Jimin tidak menjawab selain mendorong adiknya, ia sedang ingin sendirian.
Lalu si bungsu menatap Siri yang juga menangis. Hantu itu matanya copot, darah keluar merembes. “Udah mati lama, masa masih darahan aja, heran. Makin nggak masuk akal aja ni setan” Jung mengeluarkan gas dengan bokong yang diarahkan langsung pada hantu yang sedang tergugu. Suara kentut yang keras dan beraroma busuk tak membuat Siri berhenti menangis, justru Jimin yang menyepaknya kuat lalu pergi ke kamar.
“Jung.. peluk gua please.. Gua mau di peluk..” Siri makin membesarkan suara, tangisnya mirip kuntilanak di film-film — melengking dan kadang-kadang tertawa. Sama sekali tidak elegan, namun si bungsu kebal dan terbiasa.
“Males amat, selama ini kerjaan lu cuma liatin titit abang gua” pria itu mengusap dagu sebentar “tapi gua menganggap lu teman kok, gua mungkin akan kesepian di Bandung pas di rumah sendirian kalau nggak ada lu” Jung menghela nafas dalam “kita beda, gua harap lu segera pergi ke akhirat, di apain kek sama malaikat, bangor banget lu mah. Gua yakin lu bakal di siksa di kubur, di pecut lu”
“Bacot”
“Lu bacot, jangan nangis, berisik gua mau tidur, gua masih di sini sampe minggu depan anjir, nangisnya besok-besok lagi”
Siri termenung sesaat. Sudah mati, tapi hatinya masih saja sakit dan sedih.
“Jung”
“Hm”
“Main ke kebon, ya? Ke tempat pertama kali kita ketemu, gua mau nostalgia dan sesekali lu kudu mau main ke rumah gua” Siri menghela nafas meski tidak bernafas. Tidak yakin menyebut kebun itu sebagai rumahnya, namun di sana terasa hangat meski sepi. Benar-benar gambaran pulang walau tidak berbentuk hunian. Meski ia mengategorikan kumpulan pepohonan tanpa penerangan itu rumah, nyatanya, rumah Jung dan isinya adalah paling nyaman.
“Terakhir kali, ini terakhir sebelum lu semua ninggalin gua. Lu nggak pernah lagi jamah kebon itu sejak kita pertama ketemu dan malah terkesan menghindar, kenapa coba?”
“Sebenarnya, sejak awal gua memang nggak pernah main ke sana. Lagi pula, gua takut tiba-tiba di kebon itu, badan lu memadat sempurna dan lama teruslu membunuh gua. Alasannya simpel, karena lu mau kita sama-sama terus. Rasanya orang gila mana pun berpikiran hal yang sama kek gua”
“Masuk akal” Siri lalu duduk di pangkuan. Hanya asap dingin seperti uap es yang menempel pada paha “tapi sumpah, ayo ajak Jumaw, Jumah juga biar rame. Gua cuma berpikir kalau di sana ada mayat gua. Kalau lu semua pergi, gua juga mau pergi, gua juga mau tenang tanpa terombang-ambing nggak jelas entah dalam waktu berapa lama. Gua sedih, gua takut..”
Rupanya kata-kata itu berhasil menggoyahkan empati dari si bungsu yang memang mudah tersentuh. Pria itu mengetuk-ngetuk meja dengan ujung telunjuk–berpikir dalam, menyusun cara atau entah apa yang jelas, wajahnya serius.
“Oke, jadi gini aja. Gua mau nolongin lu, main ke kebon sambil sekalian nyari-nyari kali aja ada bengke — ”
“Ujaran bangke terlalu kasar, please.. Gua pernah jadi manusia”
“Oke, kita main ke kebon sambil sekalian nyari-nyari kali aja ada mayat lu. Dengan catatan, malam ini jangan nangis deket gua, jangan ganggu gua tidur, jangan nindih, jangan mengeluarkan suara atau gerakan apapun, bikin gua tidur pules dan besok minggu pagi gua dan kembar mata item bersumpah akan datang ke kebon”
Mendengar penuturan Jung, Siri begitu semringah. Hantu itu lalu mengusap air mata, wajahnya berhadapan langsung dalam jarak begitu menyedihkan. Si bungsu sudah terbiasa dalam kondisi ini dan tidak begitu aneh meski belatung dan lubang pada mata — dengan bola yang keluar terlihat mengerikan.
Malam yang dingin dan terasa panjang bagi sebagian orang dan terasa biasa saja untuk yang lain. Jimin masih konsisten menangis, tangannya memegang ponsel menatap gambar diri dengan kekasihnya, ada video, ada banyak hal. Rasanya, ia akan menangis lama dan entah kapan akan sembuh dari luka yang terbentuk oleh keadaan.
semua orang mengatakan tentang jarak Bandung-bali tidak terlalu jauh. Fakta tentang teknologi canggih dan transportasi secepat kilat rupanya tak mengubah kesedihan akan perpisahan yang di sekat lebih dari seribu kilometer yang bisa di tempuh dalam kurun kurang dari 6 jam.
────୨ৎ────
Minggu pagi yang tidak cerah. Matahari menyusup dari lubang angin dan celah gorden meski hanya menyorot sayu. Sang surya barangkali naik, namun di selimuti awan kelabu yang tidak terlalu pekat juga. Tidak mendung, namun tidak terang.
hari ini semua orang berkumpul. Bukan, mungkin tepatnya ada di rumah. Masing-masing sibuk dengan kegiatannya. Kakak pertama membuat sarapan, suara wajan yang entah di apakan terasa lebih mirip alarm di kamp militer. Namun, aroma lezat yang menyebar hingga ke seluruh ruang membuat suara genderang itu termaafkan. Sisanya ada yang membatu menyapu, masih merebah di kasur, mandi, atau berbicara sendiri. Semuanya normal kecuali Jimin yang terus memasang wajah menyedihkan. Tindakan Jung yang berbicara sendiri terasa lebih normal ketimbang Jimin yang melamun pucat karena menolak mandi.
“Mandi, mandi! Gantian pada mandi” si tertua berseru lagi. Sejak antrean pertama satu jam lalu, baru dua orang yang berhasil membersihkan diri. Sisanya terus menerus dalam kubangan tidak jelas. Jin lalu menatap Tae, kembaran Jimin itu duduk di tepi kolam belakang rumah yang sudah terbengkalai — mengobrol entah dengan siapa. Namun, ia sempat mendengar adiknya menjanjikan akan memberikan kehidupan yang layak untuk bayi kataknya, bertanggung jawab serta mengayomi. Pula berjanji akan menjadi ayah yang baik. Si sulung mendecih dan tidak sudi lagi melanjutkan — menyimak ocehan adiknya yang itu.
Menengok pada si bungsu, Jung. Pria termuda, cekikikan di depan cermin sembari mengibas udara, mengatakan tentang bersumpah akan menemukan mayat dan berpisah secara dewasa dengan hantu yang hingga hari ini masih gagal menampakkan visual secara padat di hadapan. Hantu yang sudah setahun ini turut menjadi penghuni rumah.
Melirik lagi pada adiknya yang lain, Jimin. Satu-satunya yang memiliki kekasih — namun akan segera di tinggalkan itu menolak mandi, wajahnya terlihat kacau dan kadang-kadang pura-pura mabuk sembari menelan bodrexin.
Jin memijat dahi “Ini serius nggak ada yang mau mandi duluan? Nasi goreng mateng nih. Pada nyarap aja sini kalau nggak mau mandi” lalu bertolak pinggang. Sejak usaha pecel lele di depan perempatan berjalan lancar bersama tabungan yang bertumpah-ruah, si sulung sudah lama meninggalkan pekerjaannya menjadi manajer di restoran mewah. Berbekal bakat yang di asah, pria itu memberanikan diri membuka usaha makanan — yang dalam interval singkat, sudah memiliki banyak pelanggan.
Tidak ada yang menjawab hingga Joon keluar dari kamar. Pria yang memiliki badan sebesar tokoh hijau dalam film super hero itu membawa bass drum yang di kalungkan pada leher sementara tubuhnya tak berbaju. Hanya bokser kekecilan dengan bagian belakang yang sobek memanjang dari bagian penis ke dubur, bahkan tanpa celana dalam. Belahan bokongnya mengintip malu-malu.
“Haaaaaaaa~ haaaaaa~ haaaaa~ tere mere sanem… khabi khusi khabi ghum…. najoodaa hongge heum… khabi khusi… khabi geum~”
Sambil memukul bass yang berbunyi mirip bedug masjid, matanya menatap lurus pada kakak pertama seolah itu adalah bentuk penolakan terhadap titah mandi.
“Berisik bangsat!” Yoon menggeplak kepalanya dari belakang membuat adiknya mendengus meski tak melawan. Tertua nomor dua duduk di meja makan, mengambil nasi goreng di susul Hobi yang sudah selesai mengganti baju.
Semua orang menjadi pengangguran pada detik-detik terakhir mereka di Bali kecuali si sulung, tentu saja. Joon akan melanjutkan S2 di Bandung sembari mendaftar menjadi dosen honorer dengan pengalaman dan kemampuannya. Hobi yang lulus Arsitek akan mengepakkan sayapnya di kota kembang itu sementara Yoon akan melakukan hal sejenis — mendaftar di perusahaan. Jin dengan rencana awal kembali membuka warung pecel lele sementara Jimin dan Tae baru akan masuk kuliah. Si bungsu baru akan masuk SMA setahun lagi.
“Menolak mandi! Gulingkan Kelabang! Bakar! Bakar!” Jung baru masuk sembari berteriak lantang, tangannya masuk dalam saku melangkah ke dapur mencari piring.
“Buang aja si bungsu ke laut” ujar pria yang di teriaki.
“Kalau di antara kita bertujuh ada yang harus di buang, itu adalah elu, Kelabang! Muka lu nggak memenuhi standar untuk berbaur sama sosial. Liat si Jumah, dia memutuskan jadi ayah dari semua binatang setelah mengaku menatap mata lu lebih dari dua detik”
“Mata kelabang mengandung candu, kayak… ada cubung-cubungnya gitu” Joon masih mengusap kepala bekas di pukul.
“Berisik, pandiin piaraan lu, Siri kalau gangguin gua, gua rukiah”
“Lu mau ngerukiah dari 11 bulan yang lalu” masih menyahuti pria yang memukulnya, Joon ikut duduk “pantat gua adem kena kursi”
“Jangan ada yang duduk di kursi bekas Dosen, bau cepirit”
“Ganti celana si, ya Allah.. udah gak layak pakai itu” Jin menghela nafas lagi. Kakak tertua tidak terlalu pusing pagi ini meski tingkah semua orang selalu saja gagal memanusiakannya, kecuali celana Joon yang menyedihkan, rasanya seperti gagal menjadi manusia.
Tidak ada yang berencana mendengarkan ocehan kakak sulung mereka, tidak juga dengan larangan ini dan itu. Semua orang hanya hidup sehidup-hidupnya selagi tidak menimbulkan keributan seperti mencuri atau menghantam orang. Sudah agak lama mereka tidak begitu. Bukan karena menjadi anak baik, melainkan tidak ketahuan.
“Abis ini ikut gua Jum” yang termuda menatap dua kembar kakaknya dengan mulut penuh.
“Kemana? Gua lagi bad mood, kayaknya gua bakal main ke rumah Mona sampe benar-benar mabur” yang sejak tadi sedih angkat suara. Matanya nyaris menghilang karena bengkak bekas menangis, pria itu benar-benar kembali berkaca-kaca.
“Sebentar aja, gua juga mau perpisahan sama Siri. Bedanya, gua nggak alay kaya lu. Lemah, laki nangis mulu”
“Gua sumpahin lu bakal merasakan hal yang sama di masa depan. Ini sakit banget woy! Rasanya kayak nyawa gua di bawa pergi. Ada yang kosong di sini” Jimin memukul dadanya berulang “kaya lubang menganga yang menyakitkan, ya Allah sesak banget”
“Ajak aja ke Bandung, gua kuliahin di sana. Suruh ikut Jim. Apa perlu gua yang pamit ke emaknya?” Jin menawarkan serius yang di reaksi semringah dari kekasih Mona, Jimin baru akan menanggapi sebelum kakak kedua menyahut
“Ajak aja, ajak ke Bandung biar rumah baru di pakai ajang zina, bawain perempuan ke rumah, zina masal aja, pesta seks di rumah, bagus itu. Emang paling paten” Jin berdehem dan mengusap hidung saat adiknya menembak — membuatnya tidak jadi merealisasi harapan Jimin.
“Kelabang babi” kali ini si bungsu yang jengkel. Namun setelah itu tidak ada lagi percakapan yang di tutup helaan nafas berat dari Jimin. Suara sendok yang beradu dengan piring mendominasi, tanpa suara lain dan mereka tidak bicara.
Hingga sarapan berakhir, menyisakan orang-orang yang mengantre mencuci piring. Jimin masih duduk sembari melamun — menatap lurus pada pantulan dari pendingin dimana tubuh Siri merumbai-rumbai mirip akar beringin yang membentuk satu kesatuan secara abstrak, namun siluetnya jelas. Hantu itu bahkan meledek dengan mencopot bola mata, mengeluarkan lidah sepanjang mungkin hingga terinjak dan muntah belatung. Tapi hanya di reaksi tatapan datar dari mata yang benar-benar akan tenggelam. Saat ini, yang menakutkan bukanlah setan, melainkan kepergiannya yang akan meninggalkan gadis cantik kesayangan.
Jung mengambil piringnya, mencucikan sebelum menyeret kakaknya itu keluar, tentu saja di buntut Tae yang sibuk mencangking karung dan golok. Rencana pergi ke kebun akan di realisasi meski Jimin sedang dalam masa berkabung.

Merunut pada ingatan yang putus-putus mirip rentetan keping memori secara acak antara mimpi dan kenyataan akan kondisi kebun yang lebih pas di juluki hutan. Jung tidak yakin bagaimana malam itu ia bisa kemari hanya bermodal penerangan dari baterai ponsel — sementara saat ini, di minggu pagi yang tak cerah ini, berjalan pun agak sulit karena becek dan tanah yang licin.
Bukan ladang gandum, jagung, apalagi stroberi. Ini mirip gunung sementara tumbuhan yang mendominasi adalah pohon medang dengan batang yang berlumut tebal, akar gantung dan epifit. Sangat khas milik hutan hujan tropis dataran tinggi.
Jarak dari hutan ini ke rumah sekitar 1 kilometer, berjalan kaki sambil menyibak semak belukar. Meski masih menemukan satu orang pemilik salah satu kawasan yang di tandai dengan patok tanah, namun tetap saja membuat si bungsu merinding mengingatnya. Ini bahkan lebih merinding ketimbang melihat Siri dalam bentuk paling mengerikan.
Bayangkan saja, ingatan tentang Joon yang baru saja pulang dari kampus dan mengirimi gambar hantu yang bermain ayunan. Lokasi yang di berikan kakaknya ada di ladang jagung sementara saat ia mencari, entah dari mana tuntunannya, Jung di arahkan kemari — berjalan dengan enteng tanpa beban, tanpa kesulitan apalagi licin. Rasanya hanya seperti berjalan dari rumah ke depan warung. Alasan tidak sepele mengapa ia dengan mudah masuk ke dalam jejak curam bersama medan yang sulit di jangkau pada siang namun begitu mudah ia tapaki pada malamnya. Atau barangkali Siri memang menghipnotisnya untuk masuk tanpa kesadaran penuh.
Dan bagian menjengkelkan saat ini adalah Siri tidak ada. Padahal, saat pertama kali melangkah hingga beberapa ratus meter, Siri masih mengikuti dalam bayangan halus mirip angin yang membawa siluet tak terlalu jelas. Namun saat ini makhluk itu benar-benar tidak ada.
Jimin berhenti. Pria yang dengan semangat hidup yang semakin terkikis itu memutuskan duduk di atas akar pohon rendah.
“Kita cari apa sih? Bajingan, malas banget” kembali mengucek mata yang mulai pegal, pria itu rindu kekasihnya.
“Gua lagi nyari lokasi terakhir ketemu Siri, lupa-lupa ingat” si bungsu celingukan. Ia bahkan tak menemukan eksistensi makhluk yang sedang di usahakan “lagi gini, makhluknya nggak ada, si goblok. Kalau misal dalam kurun 1 jam lagi kita nggak nemu apa pun, ayo pulang” Jung menatap dua kakaknya meski Tae tidak terlalu menyimak, kembaran Jimin sibuk memangkas belukar mirip orang ngarit.
Jimin tidak protes, tidak menyela dan tidak menjawab juga. Pria itu hanya mendengus tapi mengikuti adiknya saat Jung kembali berjalan.

Masuk lebih dalam, ketiganya menemukan suasana yang berbeda. Suhu berbeda, kelembapan yang tinggi serta matahari yang seakan makin menghilang. Tidak pekat seperti malam, tapi gelap dan berkabut. Aroma jamur dan tanah basah begitu khas. Sandal jepit yang di pakai sesekali menginjak genangan tak terlalu dalam membuat kaki mereka basah dan menghitam — terkena lumut tebal yang menempel pada kayu.
“Ini rada aneh, perasaan gua nggak enak” lagi-lagi Jimin berkomentar, pria itu meneliti pepohonan tinggi seakan menutupi jalan matahari — membuatnya gagal menyorot hingga tanah “makin masuk, makin gelep, gua nggak mau mati dimakan setan atau binatang buas. Lagian, ini tempat apa sih? 17 tahun gua hidup di sini, tapi baru sekali ini tau ada tempat kek gini” Jimin menahan bahu kembarannya “tahan Jum, ini nggak beres”
Melihat dua kakaknya berhenti, Jung ikut berhenti. Tatapannya baru mengedar. “Kalian tunggu sini bentar, gua masuk beberapa meter lagi, perasaan gua paten kali ini” Jung meyakinkan kakaknya sementara Jimin sedang tak ingin berdebat. Lantas, ia biarkan saja si bungsu. Ketiganya membawa ponsel meski tak ada satu pun sinyal yang tertangkap.
“Nggak ada tempat yang bisa di dudukin, Jum” Tae menggesek mata parang yang tajam pada kulit pohon yang berjamur. Hampir semuanya menghitam dan akan mengotori celana jika memaksa duduk. Alhasil, keduanya menongkrong sementara Jimin melendot.
“Ade kalau kelamaan gua tinggal, gua takut” kakaknya kembali berseru meski tak ada jawaban, Jung seperti hilang di telan kabut.
“Gua dengar-dengar ya, ini cuma kabar burung” Tae mendorong kembarannya yang lemas agar berhenti melendot “gadis Bandung pada cakep-cakep, putih-putih dan mantap lah. Gua bukan lagi nyuruh lu jangan sedih karena itu fase, lu lagi dalam masa sedih. Tapi percaya sama gua sekali — “
“Hentikan, gua benar-benar muak dan najis” belum apa-apa Jimin menyela. “Ini bukan masalah muka cakep atau enggak. Kalau ngarah ke cakep, yang mau sama gua, yang cakepnya kek Olivia Rodrigo banyak Jum, ini soal hati dan kenyamanan. Jomblo ngarat kek lu mending ngokop lumut”
“Ah.. oke” Tae tidak lagi berencana menasihati, tapi pria itu bangkit “bentar, gua kayak melihat ayam”
“Nggak ada ayam di hutan. Please jangan aneh”
“Ada, bentar” Tae meninggalkannya — berjalan sekitar tiga puluh meter ke belakang sementara Jimin ikut melihat kembarannya — hanya takut jika ia di tinggal sendiri dan mati di mangsa roh jahat berwajah mengerikan.
Berjalan hati-hati, pria itu benar tidak menemukan apa pun — ayam atau binatang lainnya. Hanya ilusi optik di tengah kabut dan temaram pula dingin. Padahal, saat mereka keluar rumah, jam menunjuk setengah sepuluh pagi meski matahari menyorot malas-malasan.
Namun matanya menangkap hal lain.
Ada serok besi berwarna silver yang tetap mengkilap tanpa cahaya signifikan yang menstimulasi — terang saja menciptakan ilusi masing-masing tentang hal-hal yang sedang di pikirkan. Tae mengernyit sebentar sebelum memanggil Jimin untuk mendekat.
“Jum! Sini bentar” tangannya di kibas-kibaskan ke depan agar saudaranya itu mendekat, meski malas, Jimin tetap bangkit dan berjalan gontai bersama langkah paling enggan.
“Please.. kenapa gua ada di gunung pas lagi galau sih? Harusnya gua ada di rumah Mona sambil nyuap uduk walau campur ingus” Jimin ikut melihat pada apa-apa yang di tunjuk saudaranya. Pria itu ikut mengernyit saat matanya menangkap besi silver yang hanya terlihat setengah, setengahnya terkubur.
Tanah lempung basah dan rata, namun memperlihatkan sekop besi yang timbul ke permukaan meski tak banyak. Barangkali hujan mengikis sesuatu yang sengaja di kubur atau hilang. Barangkali tempat ini pernah terjadi longsor atau pemilik gunung meninggalkan sekopnya dan terkubur begitu saja. Keduanya diam — sibuk dengan pikiran dan spekulasinya masing-masing, bertepatan dengan si bungsu yang kembali dengan tangan kosong sambil menggeleng, pria termuda itu akhirnya mendekat pada dua kakaknya.

Ketiganya menggali tanpa alat hingga tangan mereka kotor. Tiap tanah yang di angkat, cacing akan menggeliat di telapak mereka sambil menggeliat — berlendir. Sekop itu tergeletak lurus. Kepala sekop terbuat dari baja, warnanya kusam dipenuhi karat kecokelatan yang menebal di tepiannya. Beberapa bagian logamnya tampak berkerikil tergerus lembap tanah. Menandakan jika benda itu bukan terkubur seminggu dua minggu atau sebulan dua bulan, tapi lebih dari itu.
Jung mengangkat gagang yang berwarna cokelat tua tapilebih kusam. Serat-seratnya terkelupas namun masih utuh dan kokoh.
Hanya sekop.
“Ini sekop doang? Gua kira sesuatu yang lain” Tae yang menyahut “pulang ajalah, makin dingin perasaan gua mah” lalu memegang tangan Jimin yang juga kotor, keduanya sepakat ingin pulang dan berencana pergi bermain di detik-detik akhir mereka di kota ini, meski Jimin jelas menolak dan memilih bertemu dengan kekasihnya.
“Bentar, tunggu bentar” Jung lalu mendongak, kepalanya celingukan — masih berharap Siri menampakkan diri atau apa pun yang bisa menjelaskan sesuatu, meski hanya mengatakan jika itu adalah sekop milik pemilik gunung sambil cekikikan dan mengeluarkan bola mata yang terlihat kuning.
Namun tidak ada. Tatapannya hanya di sambut dedaunan yang jarang-jarang — bergerak pelan-pelan meski tidak ada angin.
“Bentar Jum” Jung mengatakannya sekali lagi. Pria termuda itu lalu kembali menggali tanah yang sudah cekung bekas mereka mengambil sekop yang terkubur.
Tenaganya besar. Lubang yang sudah terbentuk itu pelan-pelan terbuka mirip orang menggali kubur. Bukan Jung pernah atau berencana membuat kotak persegi berbentuk peti mati apalagi memiliki pengalaman karena biasanya, jika menggali tanpa arah, siapa pun itu akan cenderung membuat lingkaran untuk lubang, namun si bungsu menggalinya persis seperti lubang kuburan.
Terus menggali..
Keringatnya mulai menetes. Untuk pertama kali ia merasa gerah pada tempat yang sejak tadi dingin dan gelap. Dua kakaknya lantas ikut turun membantu saat melihat adiknya kesusahan meski keduanya hanya mengenakan tangan secara manual. Lubang itu seperti memiliki bekas — itu juga yang membuat Jung tak berhenti meski sekujur tubuhnya merinding karena terus mendapat retakkan di tempat yang sebenarnya tidak ingin ia gali.
Terus menggali..
Lebih dalam
Hingga mata ketiganya menemukan hal yang sejak awal mereka cari. Mungkin terlalu cepat menyimpulkan, namun siapa saja akan takut, merinding sekaligus puas — saat usaha mereka membuahkan hasil.

Kerangka itu tergeletak di tanah yang gelap dan lembap, sebagian tulangnya telah tertutup lapisan tanah tipis, sementara yang lain tampak jelas di permukaan. Tengkoraknya miring sedikit ke kanan, rahangnya terbuka seakan membeku dalam senyum tanpa nyawa. Rangka rusuknya masih tersusun meski beberapa patah di bagian ujung, di antara sela-selanya tumbuh akar-akar tipis dan daun hijau muda yang menjalar bebas. Tulang lengan kanan terentang ke samping, sedangkan lengan kiri patah di dekat sendi. Di sekitar panggul, tanah retak menampakkan sendi yang masih utuh, meski rapuh dimakan waktu. Bunga-bunga liar dengan kelopak pucat dan warna yang mulai pudar tumbuh acak di sekelilingnya, sebagian bahkan menyentuh permukaan tulang, seolah alam telah menutupinya dengan selimut terakhir.
Ketiga saudara itu saling tatap dengan mata membulat. Ada ketakutan, jelas. Mereka bertiga bahkan bergetar kecuali si bungsu.
“Ini berapa meter ini? Kenapa di dalam kubur bisa tumbuh tanaman?” Tae berkata serak, seakan ada ribuan akar yang membelenggu tenggorokannya. Sebenarnya karena ia takut.
“Nggak sampe semeter ini” Jimin memeriksa tinggi lubang. Meski merinding, ketiganya belum enyah dari sana. Ketiganya lagi-lagi meneliti. Meski tidak yakin, mereka terlihat penasaran.
Sejak awal, tanah di atasnya longgar dan tidak rata, seperti digali terburu-buru. Lapisan tipis itu tak mampu melindungi sepenuhnya sisa tubuh yang dibuang di dalamnya. Jelas, kerangka ini tidak di kuburkan selayaknya jenazah di kebumikan. Sangat mungkin hujan dan waktu mengikis sebagian tanah, menyingkap tulang-tulang pucat yang tersusun rapuh. Di antara celah rusuk dan sendi, akar-akar liar merambat, menjalin dengan sisa tubuh yang membusuk. Rumput liar dan bunga-bunga kecil tumbuh dari biji yang terbawa air, menembus tanah gembur hingga mencapai dasar liang. Mereka menjajah ruang yang dulunya hanya milik keheningan, menutup tulang-tulang itu dengan selimut hijau yang tipis dan acuh.
“Udah kata gua, udah.. gua nggak sanggup. Ini bukan lagi hal yang bisa di handle anak usia 18 tahun. Walau usia gua udah adaan, tapi gua nggak bisa” Jimin meremas tangan adik dan kembarannya — berharap mereka mau berhenti dan menyerahkan ini pada orang dewasa.
Dua saudaranya mengangguk.
────୨ৎ────
Semuanya masih dalam penyelidikan.
Matanya sayu menatap genggaman tangannya sendiri yang bergetar — selaras dengan pundaknya naik turun karena air mata yang tumpah. Jung di sana, duduk sendirian pada kursi panjang dekat lorong ruang forensik.
Para petugas masih melakukan pemeriksaan antropologi dengan mengukur tulang untuk perkiraan usia, tinggi badan, jenis kelamin serta ciri-ciri ras. Masih mendengar jika ada bagian jaringan yang menempel, kemungkinan diambil sampel DNA untuk dibandingkan dengan data keluarga yang hilang.
Tapi bukan itu yang membuatnya menangis, melainkan Siri yang tak kunjung menampakkan diri. Sudah di cari di seluruh penjuru ruang dalam rumah, kembali ke kebun, pekarangan tetangga, sebelum akhirnya polisi datang dan memintanya memberikan keterangan bersama dua kakaknya yang lain di dampingi si sulung. Semua berjalan lancar saat ia menceritakan apa yang terjadi secara detail dan lugas. Namun eksistensi teman tak kasat mata yang tak kunjung menampakkan diri — tiba-tiba membuatnya takut.
Entah, Jung tidak yakin dengan perasaannya. Atau jika ia interpretasikan, Siri adalah makhluk yang sudah menjadi bagian dari dirinya, seperti kakak-kakaknya yang lain meski perilakunya aneh dan sesuai dengan jenis makhluk itu sendiri. Ketiadaannya membawa kalut meski ia tidak yakin juga jika kerangka yang ditemukan adalah milik Siri. Kerangka itu terlalu besar alias milik orang dewasa. Dimatanya, Siri adalah anak seusianya yang mengalami puber dini.
Masih menunduk sebelum pundaknya di sentuh oleh sesuatu yang dingin dan kaku. Jung mendongak.
Matanya menangkap sosok wanita cantik. Rambutnya panjang sebahu, matanya kelabu kosong menggunakan dress cantik sebetis berwarna marun. Mata bulat si bungsu naik turun memperhatikan sebelum kembali menyadari bahwa itu juga bukan manusia. Sejauh ini, ia hanya bisa melihat Siri, hanya satu-satunya. Ia tidak tahu alasannya. Namun, melihat eksistensi makhluk lain yang bahkan bisa menyentuhnya, Jung agak tertegun.
“Hai” katanya, suaranya ramah dan lembut. Jung masih tidak menjawab, matanya terus berkedip-kedip menagih realitas.
“Aku Siri” katanya lagi. Tiba-tiba wanita itu tertawa, tertawa dengan cara yang paling familiar dan akrab “Lucu banget kalau aku kamu” dan tertawa lagi “Udah paling enak pake lu gua, kan?”
Jung masih diam saja, pria kecil itu tidak menjawab dan terus meneliti.
“Haahh.. akhirnya sampai di ujung walau butuh waktu satu tahun” Seperti helaan nafas berat meski kosong, wanita itu lantas menggenggam tangan Jung. Rasanya padat dan ada, bukan hanya asap, namun orang lain tidak bisa melihatnya.
“Sumpah ya, gua nggak bisa inget apa pun. Pas pertama lu datang ke hutan, gua yang bawa lu dalam sugesti bisikan hati, lu nggak akan ngerti walau gua jelasin. Sejak itu, gua mulai menyesuaikan bentuk visual gua sama lu walau lebih nyaman pakai tubuh gua yang asli. Ganti-ganti rupa pula” dan tertawa lagi, seperti ada hal lucu yang kelewat menyenangkan.
“Gua Maria, gua nggak akan memperkenalkan diri secara detail karena pasti bentar lagi polisi bakal kasih tau siapa gua dan penyebab kematian gua” Wanita itu melendot pada Jung “dan kedatangan gua di sini bukan buat jelasin kenapa gua mati atau hal-hal yang barangkali bikin lu penasaran selama ini. Sumpah, polisi bakal ungkap abis ini, udah kesingkap kok, keluarga gua lagi nangis walau telat, penjahatnya udah mati bunuh diri setelah melakukan hal keji ke gua. Gua duduk di sini buat Jung, buat teman gua.”
Wanita itu memeluk dari samping, lelaki yang berusia jauh di bawahnya namun memiliki tubuh lebih besar darinya “Makasih, ya? Udah mau temenin gua selama ini, mau nampung gua di rumah lu dan si kelabang yang nggak jadi-jadi mau rukiah. Gua merasa hangat walau dingin, setidaknya, gua nggak kesepian di hutan yang mengerikan sambil kesakitan dan stres karena nggak ingat apa pun. Ini bentukan asli gua, gua perempuan 27 tahun, ah nanti polisi kasih tau”
Jung lalu mengendurkan pelukan pada lengannya, menatap iris kelabu milik Siri — hantu yang paling ia kenal.
“Nggak, Siri itu anak-anak” Jung menunduk, hatinya terluka mirip lubang mengaga “Gua bercanda aja mau tinggalin dia, walau nggak mungkin, tapi diem-diem gua mikirin cara biar bisa bawa dia ke Bandung. Jadi, lu nggak mungkin Siri gua” di susul isak pelan seperti sebelum wanita itu datang, Jung tergugu sambil menunduk.
“Wah.. gua terharu.. seandainya kita bisa lebih lama” terdengar helaan nafas lagi, membuat Jung skeptis jika wanita itu adalah hantu “Sebenarnya, gua tersiksa saat jadi hantu. Badan gua sakit, tiap luka, darah, mata yang copot, itu sakit, Jung.. saat gua maksa memadat, badan gua seakan di tarik paksa ke lubang aneh dan bikin tubuh gua rasanya kayak keputus-putus. Setiap hari sakit, sedih, takut, sesak. Pikiran buruk kayak akhirat, kesepian. Gua pikir gua akan bertahan lama jadi hantu dan kuat sampe mayat gua di temukan, tapi makin lama, semuanya terasa makin berat”
“Tapi lu baik-baik aja selama ini. Lu iseng dan jahil, lu terbang bebas, lu nakutin orang dan bercanda. Sakit apanya? Lu cabul” Jung mengusap matanya kasar sementara wanita itu tertawa.
“Itu alasan hantu sering nangis. Bahkan saking bingungnya mau pakai nada apalagi buat nangis, gua ketawa. Maksud gua gini, kenapa gua nelangsa banget gitu.. hidup aja di bunuh, setelah mati, gua masih harus merasakan sakit sehari-hari, ada saat-saat nggak sakit, itu mending gua pakai buat duduk diem. Nggak sakit itu sangat berharga. Dan kalau gua terus menerus nangis di depan lu, lu nggak akan mengadopsi gua jadi teman, lu bakal risi dan terganggu. Gua serius, gua mau makasi sama Jumah juga yang nemuin sekop dan berakhir kerangka gua” pandangannya lurus pada pintu ruang forensik “Ah… gua harus kembali, semoga nggak langsung di pecut malaikat”
“Mau pergi?” Jung menyorot dengan iris yang lagi-lagi tergenang air mata.
“Ya terus? Gua mau pulang, gua akan melakukan prosedur alam, di kubur, di tanya malaikat dan lain sebagainya. Nggak tau sih, ini pengalaman pertama soalnya, minta doanya aja kalau lagi solat, oke? Nama gua Maria, takut doanya salah kalau lu minta dengan nama Siri”
“Bukan, Maira”
“Gua Maria”
“Oke Maria, lu mau pergi gitu aja?”
“Iya? Apa harus ada sesuatu?”
“Ah.. orang dewasa emang nggak paham perasaan gua, gua kangen Siri yang plin-plan dan nggak konsisten, Siri yang cabul gampang nangis dan baperan”
wanita itu tertawa lagi, tawanya lebih besar. Saat berdiri, bahunya terguncang bersama rambut yang bergerak ke sana ke mari meski kakinya tak menapak.
“Mau pelukan? Hey! I could be your mother, please jangan jatuh cinta sama gua, selama ini gua bercanda aja tentang semua ocehan cabul. Gua tante-tante buat anak 14 tahun”
“Dih, pede najis, siapa yang jatuh cinta. Gua anggap lu bocil juga dan teman” Jung terisak lagi “dan gua rindu pelukan emak” menangis lebih besar. Kali ini lebih sesak dan sakit. Siri pergi — bukan, maksudnya sudah kembali ke tempat semestinya. Seharunya ia lega dan tenang karena bertepatan dengan kepergiannya ke kota baru. Namun yang terasa saat ini adalah hati mencelos dan kosong, persis lubang yang membentuk luka menganga. Setahun mereka bersama, rasanya seperti sudah menjadi bagian tubuh meski di detik-detik ini, Siri bukanlah Siri yang ia kenal. Tapi tak ingin sinting dan berkubang pada penolakan realita, Jung mengatur nafas demi mengurai sesak.
Dan Siri memeluknya. Jenis pelukan aneh yang baru sekali ini di rasakan. Pelukan dingin namun hangat di saat bersamaan. “Ah bocil kesayangan gua, teman gua, bentar lagi bukan jadi warga Bali, jadi aa-aa sunda ya? Pasti banyak neng-neng yang naksir. Lu keren, percaya sama gua, walau masih keren kelabang”
“Bacot, lu sehari-hari baper sama omongan kelabang, tapi konsisten mau menikah sama dia” Jung mendusal pada tubuh aneh dengan suhu yang juga tak normal.
“Dari pada gua diem nganggur sambil nangis, mending berantem sama kelabang”
“Gua, dan enam abang gua akan rindu”
“Rindu dari Hongkong” Siri tertawa “Udah ah, kalau gini, gua berat juga” lalu menatap pintu ruang forensik yang terbuka, di detik itu, eksistensi Siri lenyap begitu saja mirip adegan video yang tiba-tiba di potong paksa — menghilang. Dan itu adalah perpisahan mereka, hari terakhir Jung melihat Siri.
Dua petugas kembali keluar membawa brankar sementara bunyi roda yang menggesek ubin menciptakan suara khas. Kerangka yang tergeletak di atasnya sudah di bersihkan dan entah akan di bawa ke mana.
────୨ৎ────
Kasus Pembunuhan Maria Agustina Terungkap Setahun Setelah Hilang, CCTV dan Saksi Kunci Bongkar Pelaku
Buleleng — Setahun setelah dilaporkan hilang, misteri kematian Maria Agustina (27), warga Kabupaten Buleleng, akhirnya terungkap. Kerangka Maria ditemukan di area hutan Kabupaten Tabanan, Bali, oleh tiga pemuda yang bermain di area hutan — yang berbatasan langsung dengan Buleleng.
Tim forensik memastikan identitas korban melalui pemeriksaan DNA. Dari kerangka tersebut, juga ditemukan bekas material biologis yang mengandung DNA kekasihnya sendiri.
Penyelidikan mengarah pada kekasih korban setelah polisi mendapatkan dua bukti penting. Pertama, rekaman CCTV di sekitar rumah korban menunjukkan Maria terakhir kali terlihat berboncengan dengan pelaku menuju arah Tabanan pada malam sebelum ia menghilang. Kedua, keterangan dari teman-teman dekat Maria mengungkapkan bahwa sebelum kejadian, korban sering mengeluh soal utang yang tak kunjung dibayar oleh pelaku, bahkan sempat bercerita bahwa uang tersebut digunakan untuk bermain judi online.
Polisi menduga pertengkaran terkait utang itu menjadi pemicu pembunuhan. Usai menghabisi nyawa korban, pelaku membawa jenazah ke hutan dan menguburkannya secara terburu-buru.
Namun, pelaku tidak menjalani proses hukum. Beberapa hari setelah pembunuhan, ia dilaporkan mengakhiri hidupnya sendiri. Meski begitu, rangkaian bukti yang ditemukan membuat penyidik menutup kasus ini dengan kesimpulan pembunuhan berencana yang dilakukan oleh pelaku terhadap korban.
Jung mematikan televisi.
Pria termuda itu menangis lagi, enam kakaknya duduk mendampingi dan benar-benar penasaran. Hampir semua orang tidak pernah melihat Siri, kecuali Jimin dan Tae dari cermin, itu pun tidak jelas dan hanya siluet atau eksistensi ambigu. Meski begitu, mereka semua ikut merasa kehilangan, atau hanya tertular dari si bungsu. Hal yang tak pernah terlihat kecuali di rasakan dalam konotasi menyebalkan, tentu saja dusta untuk merasa kehilangan.
“Gua kira selama ini bocah” Jin berkomentar, tangannya mengusap kepala si bungsu yang memeluknya dengan ingus berantakan.
“Gua berpikir hal yang sama. Tiba — tiba kepikiran dia sering ngintipin kita mandi dan cabul lainnya” Joon mengangguk setuju. Rasanya, sampai seminggu yang akan datang, mereka akan berkumpul setiap hari dalam formasi utuh jika tidak ada yang bermain.
“Jimin masih mau gitu aja?” Yoon menatap kembaran Tae yang meringkuk di ubin, pria itu tidak menggunakan baju dan sengaja.
“Bentuk protes kalau gua nggak mau pindah”
“Yaudah tinggal di sini sendirian” pria berkulit paling cerah itu memasukkan kakinya ke dalam bokong sang adik, membuat Jimin menepisnya kasar. “Masih kecil, udah kecintaan, pikirin kuliah, kerja, baru perempuan. Gua yang dewasa aja belum pernah pacaran”
“Nggak akan ada yang mau ama lu, orang modelan lu gini mending nikah sama tumbuhan, kawinin gedebog pisang noh” Jimin lalu menyikut kaki yang kini masuk dari depan, menginjak-injak penisnya.
“Tae gimana Tae? Katanya sekolah udah daftarin ke sistem SNBP, gimana?” Jin melirik adiknya yang sejak tadi membaca komik, Tae menengok.
“Udah masuk daftar eligible, udah isi biodata dan persyaratan tinggal tunggu pengumuman. Kalau nggak lulus, gua ikut SNBT di sana ya? Boleh kan?”
“Boleh, Jimin mau dimana?” Jin melirik adiknya yang masih merebah.
“AL-ZAITUN”
“Serius dulu”
“Nggak usah di kuliahin si bangsat ini, biar suruh nikah muda dan mulung rongsokan sama pacarnya itu” Yoon lagi-lagi menyepak bokong adiknya.
“Gua mau ke Jakarta tau, gua ada kenalan di sana dan dia bilang ada proyek kecil bikin-bikin ruko dan villa kecil, mau gua sambangin sambil ngekos, nanti sesekali balik kalau libur” belum apa-apa Hobi sudah akan pergi, bahkan sebelum pergi, pria itu sibuk dengan tablet membuat kerangka bangunan yang rumit.
“Nah, dari rumah kita nanti jauh nggak sama Depok? Kalau lebih jauh, mending gua ngekos di Jakarta” kembaran Jimin lagi-lagi meminta pendapat sementara kakak pertama menimbang banyak.
“Lu nggak bisa makan sendiri, lu bahkan nggak bisa ngupas timun, nggak bisa gua lepas, sementara pulang pergi dulu, ntar gua ajarin bawa mobil sebelum masuk kuliah”
“Buset! Jumah mau di beliin mobil, timbang gua yang nggak ngarah gini? Gua mau juga” Jimin lalu berbalik menatap kakak pertama “Gua mau punya mobil juga, nanti gua pulang pergi Bandung-Bali”
“Mata lu Bandung-Bali, aneh-aneh”
“Dahlah, gua mau ke rumah Mona” pria itu bangkit menuju kamar akan menggunakan baju, pukul tujuh malam dan Jimin sedang tidak ingin menangis semalaman. Rencananya, ia akan bermain siang dan malam lalu berpisah dengan stok air mata yang tersisa.
────୨ৎ────
Suasana warung terlihat lebih ramai dari hari kemarin. Dua karyawannya begitu sibuk hingga keteteran. Beruntung si sulung datang sejak pagi mengingat sebentar lagi akan pergi, Jin lebih rajin lagi.
Warung pecel lele yang sudah berjalan satu tahun lebih membawa pundi-pundi rupiah meski tak banyak. Cukup untuk menggaji dua karyawan, membeli makan walau tak kebagian untuk menabung. Pria itu bahkan sudah menelepon kerabat dekat ayahnya untuk mencarikan lokasi yang bagus di tiga tempat sekaligus sebagai cikal bakal warung pecel lele.

Kedatangannya di sambut minyak yang mencuat ketika lele yang baru di bersihkan bersama bumbu marinasi yang melekat — dicelupkan langsung. Dua karyawannya sibuk bahkan tak sempat menyambutnya dengan ulas senyum formal seperti biasa. Jin kontan memegang spatula.
“Pesenan minta lelenya aja lima belas porsi buat jam sembilan. Kayaknya mereka pada mau hiking ke gunung” satu karyawannya mendekat lalu memberi tahu dengan tangan sibuk menggiling sambal. Jin mengangguk-angguk. Pekerjaan menyenangkan dimana kompor dan wajan menjadi media menghasilkan uang.
Pekerjaan yang mirip hobi memang selalu menjadi anugrah. Jadi, sesibuk dan selelah apapun, pria itu mensyukuri setiap kegiatannya yang menguras keringat dan di paksa ramah pada konsumen.
Hingga semua pesanan di bungkus rapi dalam kotak. Jam menunjukkan angka sembilan bersamaan dengan kedatangan empatbocah yang kini duduk di meja.
“BELI.. BELI..BELI” suara familiar. Satu karyawan mendekat dan menyodorkan buku menu.
“Mau pecel lele empat, es teler empat, kentang goreng empat porsi, sosis bakar empat, sop buah empat” lalu menyodorkan kembali buku menu “Bosnya mana?”
“Ada, ada perlu apa, ya?”
“Saya mau komplain, kok gubuk pecel lele mirip kafe, aneh. Aturan pake tenda biru atau terpal yang ada lelenya. Menyalahi aturan dan ketentuan perpecelelean ini” bocah itu lalu cekikikan di susul empat temannya. Sang karyawan hanya mendengus lalu pergi.
“Gua baru dua kali ke sini tau, padahal udah mau dua tahun” Tae melihat di sekeliling. Jarak warung dengan rumah memang jauh hingga nyaris 3 km. Uang jajan yang cukup dan hampir setiap hari si sulung menggoreng lele membuat mereka enggan datang. Untuk apa juga.
“Dosen minta titip sop buah, tapikan kita jalan, keburu busuk di jalan alias masuk ke perut gua, jadi gua akan tetap beli, tapi gua minum di jalan” Jung memperhatikan Mona yang sibuk dengan ponsel. Gadis cantik itu bahkan tidak tahu akan di tinggalkan ketika Jimin terus memaksa semua orang bersumpah agar tak ada yang membuka suara.
Sibuk berbincang, seorang gadis berpakaian sopan — tertutup meski tak menggunakan jilbab datang dari depan. Langkahnya kecil menapak lurus hingga ke dapur. Karena di warung itu hanya ada mereka berempat, perhatian semua orang tertuju padanya.
Hingga berlabuh di depan kompor atau tepatnya di belakang bahu lebar yang sibuk dengan penggorengan. Dari meja tempat Jung duduk, meski tak terlihat begitu sempurna, namun tetap tertangkap mata jika gadis itu memeluk kakak sulung mereka.
Jimin melotot, Tae mendelik sementara Jung mendengus, ketiganya lalu mendekat ke arah meja di balik etalase besar berisi buah dan segala hal, meninggalkan Mona yang menyimak.
“Aku akan datang setiap hari sebelum kamu pergi, aku merasa sedih” gadis itu berbisik tepat di telinga, tidak peduli kegiatannya di saksikan dua karyawan yang memang kebal.
“Nanti malam ketemu, jangan ke sini, aku sibuk, mana bau keringet” Jin tidak menoleh, sesekali gadis itu tersikut saat si sulung membalik lele.
“Ayo kita menikah”
“Ye… gimana sih” terkekeh pelan.
“Tiba-tiba aku jatuh cinta sama kamu, aku mau hubungan kita serius, kamu udah mapan juga. Aku nggak masalah sama adik ipar 6 biji” lalu mendusal pada punggung, Jin menepisnya pelan agar tak terlalu terkesan kasar.
“Kita berhenti sekarang aja” berbalik, Jin menatapnya teduh “pergi sana, hubungan kita selesai, lagi pula aku mau pergi, nanti ganti perempuan lagi, inget perjanjiannya apa? Aku kasih uang kamu kasih layanan, masa minta nikah buset”
Tiga adiknya serius menyimak sementara gadis itu menangis.
“Kata gua apa, sepuh itu kejam” Tae berbisik.
“Sepuh kull”
“Sepuh itu bajingan anjir, parah” Jimin berkomentar “Kalau udah dewasa, gua nggak mau jadi bajingan kek sepuh”
“Tapi lu udah jadi bajingan”
Sang gadis masih tak enyah, malah menangis tersedu-sedu sembari mengelap ingus pada kaus Jin dari belakang. Melihat itu, Jung mendekat — masuk ke dapur lalu memisahkan pelukan mereka secara paksa.
“Ini abang gua, ngapain lu nangis di punggung dia, dih. Lu yatim piatu ya? Kasian banget” lalu si bungsu yang memeluk punggung kakaknya.
“Kamu adiknya, ya? Kenalin, aku — “
“Nggak usah kenalan, gua nggak mau punya istri kek lu, istri sepuh artinya istri gua dan lu bukan tipe istri idaman gua, pergi sono”
“Shhhhs jangan berantem. Lusi, kamu pulang sana, emang nggak kerja? Aku sibuk banget” lalu melepas pelukan si bungsu “ini juga, ngapain? Jalan ke sininya?” Jung mengangguk. “Tambah item aja”
Gadis itu menangis sambil berjalan keluar, wajahnya di tutupi lengan baju terisak-isak melewati Jimin dan Tae yang memperhatikan.
“Padahal sering di sindir sama kelabang buat berhenti zina, tapi kayaknya sepuh nggak akan tobat sebelum kena azab” Tae menggeleng-geleng
“Bercinta itu kebutuhan, apalagi buat laki-laki dewasa. Tapi nggak tau sih, gua kata konten di tiktok aja. Kalau kelabang kan emang di setting jadi makhluk tuhan yang paling sensi” pria itu kembali berjalan pada kekasihnya yang masih terus sibuk dengan ponsel setelah melihat gadis bernama Lusi pergi menjauh.
“Hp mulu, ntar kumisan lu” mengambil ponsel yang sedang dimainkan, Jimin melihat gadis itu sedang mengedit foto mereka berdua yang akan di jadikan wallpaper. “Kenapa mesti di kolase, sih?” lalu menyerahkan ponsel pada kembarannya “Fotoin gua Jum” memaksa Mona berdiri sebelum memangku gadis itu. Jimin melingkarkan tangan di perut dari belakang lalu mencium pipi sementara Tae memotret.
Mencium pipi, bibir, memeluk mesra, menggigit telinga, mencium punggung tangan, leher, mendusal dan banyak. Seperti tiap bergerak, Tae berhasil mengabadikan gambar mereka.
“Pake salah satu jadi layar depan, jangan kolase, kasih bacaan Jimin pacarku paling ganteng”
“Alay amat”
“Lu alay, kolase alay, mana banyak banget emotnya, kek orang baru pegang hp”
“Kalian ngewe dong depan gua” Tae terkekeh menyerahkan ponsel “masa belum pernah bercinta, gua penasaran, tapi nggak berani”
“Jumah kalau ngomong aneh gua jambak ya” Mona melotot “nggak usah memprovokasi, kita ini masih kecil guys. Kita ini kudunya cuma main dan bersenang-senang tanpa melakukan adegan dewasa kaya bayar listrik apalagi ngewe, tolol”
“Iya, bener Mon. Gua juga pengen cari temen cewek yang bisa diajak kelon aja. Sumpah kelon aja, kalau ngaceng ya di tanggung pemerintah” pria itu membalik tubuh mencari eksistensi adik bungsunya “semua orang di rumah itu suka sama perempuan. Suka disini maksudnya butuh, pengen di sayang. Gua paham kok, gua nggak akan menjustifikasi sepuh walau tindakan dia bajingan banget. Gua juga nggak akan mencontoh, gua cuma suka caper tapi bingung kudu ngapain” menatap kekasih Jimin “Mona baik-baik, ya? Gua kira Jumaw akan balik buat lu, atau kalian akan menemukan pasangan masing-masing”
Ucapan pria itu mendapat respons melotot dari kembarannya. Jimin mengepal tinju khawatir Tae salah bicara atau membocorkan rencana kepergian mereka besok lusa.
Tidak banyak menangis bukan berarti tidak sedih. Hari ini, biar ia simpan air matanya untuk stok.
“Ngoceh apa si bangsat ini? Mona akan sama gua, nggak boleh sama yang lain, kalau gua nggak bisa milikin, orang lain juga. Dia tu nggak akan bisa jadi diri sendiri dan melakukan hal menyenangkan kalau nggak sama gua. Cuma gua yang paham perangai asli lu, Mon. Jadi kalau lu pacaran sama orang lain, gua pastikan lu bakal jaim dan banyak tertutup sama kepribadian lu yang najis” memeluk dari samping — membuat Mona mencerna agak lama.
“Lu ada rencana ninggalin gua kah?” matanya berkedip-kedip, wajahnya kecil dan lucu, gadis itu selalu saja cantik. “belum sukses, yang, setidaknya, gua harus jadi bagian dari kesuksesan lu. Uang lu uang gua, kenapa buru-buru amat mau ninggalin gua. Kita masih bisa jalan gandengan tangan sampe 70 tahun yang akan datang, pergi ke tempat bagus selain Bali dan turisnya. Gua pengen ke tempat yang vibrasinya mirip-mirip sama Skotlandia, sama lu”
Dikatakan sambil tertawa, Mona menjambak rambut kekasihnya. Jimin masih konsisten menatap dua saudaranya yang duduk tersekat meja — berhadapan — agar mereka benar-benar tidak keceplosan.
“Gua mana bisa ninggalin lu, ah, gila gua”
Hening sesaat. Jimin menutup wajahnya dengan tangan — mengalihkan pandangan sementara matanya berkaca-kaca. Namun terselamatkan saat si bungsu datang membawa pesanan mereka.
“Sepuh punya uang berapa sih? Kok dia bisa punya karyawan” duduk meletakkan nampan berisi sop buah dan kentang goreng, makanan utama mereka belum siap.
“Percaya sama gua, karyawan sepuh di bayar pake pahala” Tae menyahut sembari mengambil sop buah.
“Pahala sepuh dikit, banyakan dosanya”
“Om Jin itu.. tipe yang bakal merendahkan perempuan nggak sih? Ini opini gua” Mona ikut mengambil “belum kaya banget, tapi karismanya gak bisa di bantah, eh nggak tau sih, dimata gua, dari semua abang lu, yang paling ‘merah’ om Jin, yang galak kelabang, yang gemes dosen, yang ganteng tapi jarang liat ya lurah”
“Lu kudu beli media yang namanya kacamata teh, di rumah itu, yang paling ganteng adalah Jung, yang paling keren, yang paling hot. Yang lain figuran doang” menatap Mona penuh percaya diri, pria termuda itu terlihat keren saat diam.
“Iyain aja, kalau marah hantamannya bikin demam”
Setelah itu makanan datang. Jin mengantarkan bersama dua karyawannya sebelum ikut duduk di kursi samping. Kakak tertua sibuk memeriksa ponsel sembari menyimak ocehan 3 bayi yang terus mengatakan tentang hal dewasa dan kotor. Jung sesekali bertanya pada Mona bagaimana cara perempuan menggunakan pembalut, apa yang dirasakan saat menstruasi dan apa yang terjadi jika gadis itu tengkurap, apa payudaranya akan menekan atau meleber dan ungkapan aneh lainnya.
“Kalian jalan kaki beneran?” memasukkan ponsel dalam saku, Jin menatap adiknya satu persatu. Semua orang mengangguk. “Disini aja sampai sore, nanti pulangnya bareng gua, syaratnya bantuin gua, jam makan siang pasti rame banget ini, ntar masing-masing gua upahin 50 ribu”
“50 ribu cukup apa sepuh, parah lu, edan. Hampir sehari bantuin, masa di upah 50 ribu” Tae bersingut, mulutnya penuh nasi dan lele.
“50 ribu sama makan”
Jung menatap Jimin meminta persetujuan. Si bungsu selalu saja takut di tinggal oleh dua kakaknya, terlebih Jimin yang memimpin di antara mereka.
“Gua ada kencan sama Mona hari ini, kalian berdua aja disini, ntar pulang ke rumah bareng”
────୨ৎ────

Jimin membawa Mona ke motel, pria itu mengatakan ingin istirahat dengan kasur empuk selama dua jam dan memohon pada gadisnya untuk ikut.
Bukan hal mudah membujuk gadis itu untuk turut serta. Mereka sempat bertengkar di jalan sementara Mona terus mengatakan tidak sudi jika kekasihnya itu mengajak bercinta. Namun Jimin kukuh mengatakan jika mereka tidak akan melakukan hal itu, ia hanya mengatakan tentang — ingin tidur di kasur empuk karena di rumah menggunakan kapuk keras. Mona tidak percaya dan mereka berpisah di jalan. Jimin mengejarnya, memohon untuk dikabulkan sekali ini saja sembari berlutut di aspal. Pukul tujuh malam, akhirnya Mona menyerah setelah menelepon ibunya dan kembali berbohong tentang ia yang bertemu teman yang juga mendaftar di kampus yang sama.
“Rebahan lu, sumpah, kalau lu aneh, gua bunuh lu” Mona duduk di sofa ketika mereka baru sampai di dalam. Jimin duduk di sisi ranjang, memperhatikannya tanpa berkedip, tatapan cinta dan penuh pemujaan.
“Apa liat-liat? Udah mau rebahan mah, tinggal rebahan. Sinting, ngapain keluar uang 300 ribu cuma buat rebahan, udah kayak yang iya-iyanya aja lu” gadis itu terus mengomel. Wajahnya merah menahan jengkel.
“Maaf si.. jangan ngomel terus, peluk gua sini” membuka tangan lebar, Jimin meringis dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. Hatinya sakit sekali mengingat mereka tidak akan bertemu dalam waktu — entah sampai kapan. Malam-malam kebersamaan seperti ini hanya mirip kilat. Begitu cepat dan tidak terasa.
“Lu bilang nggak akan aneh, gua mau pulang aja, gua nggak mau” menghela nafas dalam “Lu bahkan nggak bilang daftar di kampus mana, mau ambil jurusan apa, lu nggak kuliah, huh? Uang yang lagi lu dapet model itu gua beliin emas, gua tabung, ayo daftar di kampus yang sama pakai uang itu. Please jangan lulusan SMA doang, lu mau jadi apa nggak lanjut kuliah, huh? Lagian om Jin pasti mampu kuliahin lu, tapi lu terus geleng tiap gua tanya tentang kuliah. Gua nggak suka surprize yang kayak gini, gua mau terbuka”
Air matanya turun meski langsung di seka lengan baju. Jimin menangis. Sementara Mona kontan mendelik kaget “Lu nangis kenapa?” lalu menghampiri, gadis itu berdiri dan memeluk pria yang tiba-tiba tergugu sambil menutup wajah.
Dipeluk, air matanya bertambah deras, Jimin tersedu-sedu serius dengan suara besar. Mona kebingungan, tangannya naik turun mengelus kepala — memerangkapnya dalam dekap — menenangkannya lewat sentuhan.
“Kenapa deh? Gua ada salah kah? Lu mau apa sih?” jelas kebingungan, Mona mendongakkan kepala kekasihnya, lalu menyeka air mata dan menciumi kelopak itu bergantian “Oke.. nangis nggak papa, tapi nanti cerita, ya? Gua ada disini, seberat apa masalah lu sampe kek gini? Nggak pernah-pernahnya keluar suara bandot nangis” Di tenangkan, bukannya membaik pria itu justru makin histeris.
“Mon.. Mona.. gua sayang lu banget, cinta gua, cinta mati, cinta mati banget pokoknya, gua sayang lu banget” Dikatakan tergagap, matanya penuh hingga sulit melihat wajah cantik kekasihnya “Menurut lu, menurut lu aja ini mah, gua cuma pengen tau” menelan ludah dan mengusap wajah sebelum melanjutkan, Jimin tersedak ludahnya sendiri karena tangis “Menurut lu, apa yang bikin lu cepet lupain seseorang? Kayak misal ke mantan, apa yang bikin lu cepet lupa ke mantan ketika kalian pisah atau putus?”
Pertanyaan aneh dan tiba-tiba. Namun Mona sedang enggan menginterogasi sebab tangis atau menelisik lebih jauh maksud dari pertanyaan dadakan. Sambil menciumi kepala, Mona mengambil nafas dalam.
“Gua akan cepet lupa sama seseorang kalo orang itu nyakitin gua. Maksud lupain disini move on, ya kan? Biar cepet move on dan mati rasa atau bisa jadi benci. Seseorang yang menyakiti gua terlalu dalam sampe bikin gua mikir kayak… ih sinting. Gua ini berharga, kenapa orang menyakiti gua? Singkatnya, gua punya alasan untuk membenci dan move on. Tapi kalau sama mantan pisahnya karena gua yang salah atau keadaan tertentu yang di luar kontrol, itu yang bikin gua gamon”
Mata mereka bertemu. Jimin mendongak, terlalu sakit menatap wajah itu, wajah kesayangannya yang menemani dan mengisi hari-harinya semasa SMA. Cinta pertama.
Dan mengangguk.
“Mon..”
“Ya?”
“Ayo bercinta”
“Tukan, lu janjinya apa? Jangan bikin gua takut”
“Apa gua terlihat menakutkan?”
“Gua nggak berani, gua masih kecil, please.. apa pun, apa pun gua kasih ke lu asal jangan bercinta, please..” suara gadis itu serak sementara Jimin makin menangis.
“Gua mau kita sama-sama pertama kali, please… usia kita udah hampir legal, lu punya gua Mon.. please.. sekali ini aja”
“Bohong, kalau udah sekali mustahil nggak di ulang”
“Kalau gua minta ulang, lu bisa putusin gua”
Mona mendecih “Putus dari Hongkong, orang macem lu bakal nongkrong di warung gua sampe subuh ngemis cinta, gaya banget si bangsat ini”
Jimin terkekeh sambil menangis. Dua tangannya memeluk pinggang — melingkar sebelum mengajak gadis itu merebah paksa. Mona jatuh di atas tubuhnya.
“Sekali aja… please..”
“Nggak mau”
“Ya Allah… sekali aja.. sekali aja sumpah neng sekali aja..” Mona tetap menggeleng.
Menghela nafas dalam. Pautan mata mereka belum terlaps dan Jimin sudah mulai membuka kancing baju Mona pelan-pelan.
“No! Nggak mau!” Gadis itu menggeliat ketika satu tangan merengkuh paksa dan satu tangan lagi melucuti kancing. Tenaga yang timpang membuat gerak penolakan terasa sia-sia. “Jim.. please.. please.. gua nggak mau.. please..”
Suaranya jelas tak di dengar. Jimin balik membantingnya di ranjang, membawa kukungan kokoh yang mustahil di lampaui meski gadis itu meludahi, menendang, menggeliat dan mengumpat kasar. Matanya menggelap dengan tangis yang berhenti entah sejak kapan.
Ketika Mona terus membuat gerak penolakan, Jimin mencekiknya dengan satu tangan hingga gadis itu sulit bernafas. Kemeja hitam sudah melayang — menyisakan bra berwarna senada. Tangannya berusaha melepaskan cekik yang menutup jalan nafas, pria itu seperti kesetanan.
“Ji..Jii — Akkhh — Gu — a Nggak bisa.. nafas..” suaranya putus-putus, gadis itu mengeluarkan air mata karena seperti akan mati. Lalu Jimin mengendurkan tangannya.
Baru saja Mona meraup oksigen karena kehabisan nafas, pria itu mengangkat tangan — akan memukul wajahnya, nafasnya belum normal, Mona kembali di hadapkan pada sisi-sisi baru dari kekasihnya yang sudah 3 tahun ia pacari. Karakter lain atau bagain yang memang selama ini di sembunyikan. Jimin memang agresif jika matanya menghitam. Putingnya sering di gigiti hingga lecet atau cara ia meremas payudara yang membuatnya seperti terjepit pintu.
“It’s okay.. oke.. nggak papa, nggak papa, oke… Jim.. nggak papa, ayo lakukan, ayo bercinta.. huh? Mau gua buka sendiri atau lu yang buka?” Mona mengusap wajah pria itu dari bawah. Meraba kening, turun ke pipi lalu rahang. Suara gadis itu melembut sambil mengusap-usap apa saja dari bagian tubuh pria di atasnya.
Jimin pelan-pelan menurunkan tangan, rahangnya yang mengeras perlahan rileks. Nafasnya normal, matanya segelap malam menatap Mona tanpa berkedip.
“Gua mati kalau di pukul, sini, peluk aja, ayo lakukan pelan-pelan kaya lu adalah laki-laki keren yang bisa memperawani gua dengan gentle”
Pria itu melunak. Kepalanya turun menyambut bibir Mona — bagian favoritnya.
Malam yang panjang meski tak sepanjang durasi perjaka yang susah payah memasukkan diri — menyatukan bagian yang tak pernah terjamah sebelumnya.
Ada setitik darah yang jatuh pada seprei putih bersih malam itu, ada jerit kesakitan sang gadis sambil meminta ampun memanggil nama sang pria berulang-ulang. Meski Jimin melakukannya dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian, rasa sakit dan perih benar-benar tidak terelakkan. Mona tidak menangis — tergugu, gadis itu hanya takut dan sedih. Itu juga yang membuatnya terus tegang hingga proses penetrasi benar-benar sulit. Meski begitu, Jimin berhasil membobolnya.
Hanya sebentar, dalam kurun tiga menit, pria itu mendapatkan pelepasan pertama dengan menghamburkan sperma pada perut gadisnya. Sambil bernafas tersengal-sengal, lalu ambruk di sisi, memeluk dari samping.
Keheningan merajai lepas aktivitas panas mereka. Baik Jimin maupun Mona, tidak ada yang membuka suara selain deru nafas keduanya yang mirip pacuan kuda dan terus di stabilkan.
Hingga suara isak tangis kembali terdengar. Mona kontan menatap ke samping, tubuh telanjangnya tak di tutupi selimut atau apa pun, hanya memeluk pria yang juga tak berbusana. Pria yang bersikap aneh seminggu terakhir.
“Harusnya gua nggak sih, yang nangis? Parah banget si bangsat ini, setan, bajingan, anjing, babi kau. Gua yang di cekek, mau di pukul, di robek itil gua, kenapa lu yang nangis? Mau play victim, gua aduin bapak gua lu ya” Mona menjitaki kepala, mencubit perut, menyepak betis dan memukuli tengkuk, Jimin mengaduh sambil meminta maaf. Matanya terang dan ia merengkuh paksa gadis itu, lagi-lagi sambil menangis.
“Kayaknya jalan gua bakal goblok setelah ini, sakit banget memek gua, ya Allah..” Mona meringis di tengah wajahnya yang di ciumi berulang mirip orang mengabsen. “Kalau gua hamil, gua bakal bunuh lu sama semua keluarga lu”
Mendengar kata hamil, Jimin langsung mendongak. Kepalanya serius berpikir jika ia menghamili Mona, maka mereka akan di nikahkan dan Jin tentu saja akan turut serta membawa Mona ke Bandung.
“Neng, gua hamilin aja, mau?”
“BABI KAU”
────୨ৎ────

Semua barang sudah kembali di cek dengan benar dan masuk dalam mobil. Kunci rumah akan di titipkan pada orang terpercaya entah siapa oleh Jin. Anggota lengkap duduk rapi dalam Van, meski wajah-wajah murung menghiasi tiap garis mimik.
Hari ini langit cerah. Matahari sudah menyorot panas meski masih pukul tujuh pagi kurang sepuluh menit. Mereka semua sudah sarapan, sudah memastikan tidak ada yang tertinggal, namun semua wajah tak benar-benar ada yang cerah. Jin sudah mengakali dengan mengatakan rumah mereka yang jauh lebih bagus, kamar yang mirip hotel serta fasilitas yang lengkap, tampaknya tak mempan.
Joon menatap rumah mereka dari kaca mobil yang tak terlalu bersih. Rumah bergaya retro tempo dulu, tempat dimana lebih banyak kenangan pahit ketimbang manis. Namun tak ada perpisahan yang benar-benar melegakan tanpa menyisakan rasa kehilangan. Seburuk apa pun kenangan di dalamnya, tetap saja, ini adalah rumah mereka, bersama ibu, bapak dan semua kakak adik. Semua terangkum dalam sorotan kilas balik yang terputar acak tanpa rencana di kepala.
Kecuali Jimin yang menangis. Matanya menghilang karena bengkak. Pria itu menangis semalaman dan sempat bertengkar dengan kakak kedua karena terus ngotot ingin mengajak Mona turut serta. Berakhir mengalah meski penampilannya saat ini mirip orang depresi. Pria itu akan mengamuk saat ada yang bertanya, semua orang konsisten untuk mendiamkan hingga ia sendiri yang berbicara.
Sepi.
Saat mobil bergerak menjauh, Jung menangis. Ada yang mencelos dalam hatinya, seperti sesuatu yang melekat dan ditarik paksa lalu menghilang.
────୨ৎ────
Sudah dua hari mereka tidak bertemu. Sejak terakhir melewatkan malam yang tak benar-benar bisa di katakan panas, Mona tak benar-benar menghubungi kekasihnya. Tubuhnya tiba-tiba saja lemas dan keesokannya, gadis itu terserang flu. Sudah mengabarkan pada Jimin namun pesannya tak di balas meski sudah di baca. Juga pria yang tak pernah absen menyambangi warungnya itu, benar-benar seperti di telan bumi selama dua hari.

Mona mendesah kesal. Kemudian berusaha menelepon namun terus di tolak. Sesaat, tiba-tiba kontaknya di blokir dengan pesan yang sama sekali tak lagi bisa di kirim.
Gadis itu kebingungan. Ia mencoba menelepon secara manual namun sama saja, nomornya tidak aktif. Tidak menyerah sampai disana, ia juga menghubungi Jin dan semua orang yang bisa di hubungi, hasilnya tetap nihil, nomor mereka semua benar-benar tak aktif. Bahkan Jung memblokirnya juga.
Ada yang salah. Mona bangkit dari kursi warung. Sore itu tepat pukul lima, ia memesan ojek online dan akan menyambangi rumah pria berengsek yang mencoba bermain-main.

Mona berdiri di depan pagar. Kepalanya celingukan bingung. Semua orang di rumah ini, hampir tak pernah menutup pagar kecuali malam hari meski pada siang, orang-orang sibuk dengan aktivitas. Namun bagian yang mengusiknya adalah saat melihat gorden rapat, jendela yang tak dibuka serta lampu depan menyala, itu janggal.
Ia berencana benar-benar akan melompati pagar sebelum suara keras mengagetkan. Mona buru-buru berbalik dan di sambut pria tua. Matanya melotot sementara tangannya memegang cangkul, tampaknya baru pulang dari ladang.
“Ngapain? Cari apa?” Suarnya besar — berteriak. Mona nyengir tidak enak, namun mendekat.
“Itu.. cari om Jin, adenya om Jin temen saya, tapi rumahnya kayak gembokan”
“Jin udah pinda ke Bandung sekeluarga kemarin, kuncinya di titipin entah dimana, kenapa? Dia punya hutang sama bapak kamu? Tagih aja, anak itu sekarang udah kaya raya”
“Eh? Pindah? Pindah apa pelesiran?”
“Pindah, pindah semuanya, bawa koper besar dan akan di Bandung selamanya, tapi rumah ini nggak boleh di jual takut emaknya yang di RSJ balik”
Tidak mendapat respons lagi dari sang gadis, pria tua itu lantas kembali melanjutkan perjalanan — meninggalkan Mona yang mematung.
Hanya mematung, kepalanya sibuk memproses situasi.
Rumah yang ditinggalkan.
Halaman yang tidak di sapu dua hari.
Lampu depan yang di biarkan menyala.
Teras yang biasa menjadi tempat si bungsu dan yang lain bercengkerama. Jemuran baju dengan tali tambang yang kosong. Mona masih diam di tempat. Sesaat, ia kembali memeriksa ponsel, menatap benda pipih itu tepat pada halaman dimana gambar diri dan kekasihnya memenuhi layar.
Matanya bergantian menatap rumah kosong, layar ponsel dan tali jemuran. Namun dari banyak hal, hatinya lah yang tiba-tiba kosong, seperti balon besar yang di tusuk secara menyakitkan lalu kempes dan menggelepar di tanah, lemas, menyedihkan.
Lalu terkekeh.
“Si bangsat ini…” menatap lagi rumah tua itu “gua di campakkan, ya? Gua di tinggalin? Setelah gua kasih satu-satunya hal yang paling sakral? Buset” Mona berjongkok hingga bokongnya terduduk di tanah, kepalanya denial sementara yang keluar dari mulutnya adalah tawa.. semua terasa begitu tiba-tiba, tanpa aba-aba.
Membuat kepalanya jadi sibuk mencerna perilaku Jimin akhir-akhir ini. Pria itu menyatakan cinta sehari 30 kali baik secara langsung maupun pesan chat. Juga ocehan tentang menikahinya suatu saat nanti.
Menangis tiba-tiba sambil menyatakan cinta.
Pria itu jelas berengsek.
Mona masih bertahan di sana. Duduk sembari memeluk lututnya sendiri — menatap rumah kosong.
Senja yang pelan-pelan datang tak mengusiknya, tak juga membuat posisinya ubah. Beberapa orang yang lewat sesekali bertanya meski ia abaikan. Pandangannya berubah kosong dan hampa, latar kosong, tali jemuran kosong, dan segala hal yang kosong.
“Gua kudu apa abis ini, Jim? Gua .. gua gimana?” mulai, setelah ia bermonolog di depan pagar dengan langit yang mulai gelap, tangisnya mulai tumpah.
“Bercanda aja kan? Nanti pulang kan? Nggak papa pelesiran, lu butuh hiburan juga, nggak melulu kudu sama gua, tapi, nanti pulang kan? Gua tungguin di sini, ayo ajak gua main sama Jung dan Jumah juga, please.. jangan kucilkan gua.. jangan campakkan gua, gua janji gak akan mata duitan lagi..” Dua tangan yang awalnya memeluk lutut, kini menggenggam besi pagar erat. Tubuhnya gemetar bersama tangis yang baru keluar setelah hampir dua jam ia duduk di sana.
“Jim.. gua ikut..”
IKUTI TERUS KESERUAN MEREKA DALAM NARASI HINGGA ENDING DENGAN BERGABUNG VIP. 7 MEMBER AKAN DI NARASIKAN SECARA EKSPLISIT TANPA METAFORA DI BAGIAN SPICY, HEHE, SALAM HANGAT DARI LEMON, BYE DAN SELAMAT DATANG DI RUMAHKU.
JOIN VIP ╰┈➤CITRUSLEMONVIP

Nunna jimin
Mau dibikin season brppun series yatim ini sllu diluar ekspektasi plot cerita utamanya sama tp tiap seoson beda vibes jd klo cm ngikutin yg di tiktok aja sih ngga bakal cukup y jd kalian kudu ikut vip nya jg disini kalian jg bakal liat sisi lain dr othornya dlm menulis cerita