
Tags: NSFW, sex, harsh, power, crime, fantasy.
Cerita ini bersifat fiksi dan ditulis untuk keperluan naratif, pembaca disarankan membaca tags dengan kewaspadaan dan lebih bijak dalam menyikapi antara fiksi dan fakta. Adapun semua tindakan buruk dan perilaku negatif yang ada di dalamnya tidak bisa membenarkan tindakan dan perilaku serupa di kehidupan nyata. Semoga, pembaca bisa menikmatinya sebagai karya, bukan sebagai dasar atau contoh dalam perilaku di dunia nyata. Maafkan jika menemukan typo. Kepada Allah saya mohon ampun
Ini bukan Prancis era Feodal Klasik di abad ke sebelas atau dua belas. Bukan lagi masa runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat, lalu setelah itu keamanan tercerai-berai. Perampok, perang kecil antar bangsawan dan ancaman luar menjadikan perlindungan lebih berharga daripada kebebasan. Maka, lahirlah ikatan personal yang sakral; Tuan dan Vasal.
Bukan, ini bukan soal hierarki dimana seorang raja memiliki tahta tertinggi serta kuasa mutlak yang secara simbolik pemilik seluruh tanah lalu membagi wilayahnya kepada para bangsawan besar. Tanah yang di sebut Fief. Sebagai gantinya, bangsawan bersumpah setia dan berjanji menyediakan tentara bila raja memanggil.
Di bawah bangsawan, berdiri para kesatria. Mereka adalah lambang kehormatan dan kekerasan yang terdidik. Mereka menerima tanah kecil, cukup untuk membiayai zirah dan kuda perang. Sebagai balasan, mereka siap menumpahkan darah demi tuannya.
Lalu lapisan terbawah, hidup para petani terutama serf. Mereka terikat pada tanah. Mereka adalah manusia yang terikat tak boleh pergi tanpa izin. Mereka membajak, menanam, memanen. Sebagian hasilnya menjadi pajak bagi tuan tanah. Hidup mereka keras, juga seperti konstan yang sistematis yaitu; musim tanam, musim panen, lonceng gereja, dan ketakutan akan paceklik.
Gereja sendiri berdiri sejajar dengan kekuasaan duniawi. Biara dan uskup memiliki tanah luas. Dalam bayangannya, feodalisme memperoleh legitimasi spritual seolah hierarki itu ceminan tatanan ilahi.
Sekali lagi, ini bukan hierarki yang itu, ini adalah hierarki sosial yang membedakan kedudukan DNA–dimana tiap manusia tidak bisa memilih. Orang-orang melabeli hierarki itu dengan sebutan Secondary Gender. Atau Gender kedua yang dimiliki manusia.
Sebagaian dari mereka menganggap ini adalah anugrah dari sang ilahi. Dan sebagian yang lain menjalaninya sebagai kutukan serta kesialan yang dibawa dari lahir sampai mati.
Jika merunut pada sejarah, tidak ada satupun orang-orang terdahulu yang bisa meverifikasi secara pasti dan aktual, kapan gender kedua ini teridentifikasi dan di tetapkan sebagai suatu kebjikan yang mempengaruhi strata sosial kehidupan manusia.
Jika secara umum laki-laki seharusnya hanya menjadi laki-laki dan perempuan diidentifikasi sebagai perempuan saja atau ada beberapa kaum non-binary gender, maka, tidak disini. Tidak di dunia ini.
Di tempat ini, ada laki-laki alpha, laki-laki omega, atau laki-laki beta. Lalu ada perempuan alpha, perempuan omega dan perempuan yang tidak masuk pada keduanya atau di sebut beta.
Sekali lagi, entah sejak kapan sejarah ini dimulai. Yang jelas, sudah seperti itu sejak lama sekali.
Jika mengacu pada sejarahwan di kelas-kelas sejarah, mereka terus mengulang—mengatakan jika mereka yang terlahir sebagai alpha dan omega merupakan ketentuan ilahi–dimana siapapun tidak bisa memilih dan ditakdirkan hidup seperti itu hingga mati. Semua itu dilabeli sebagai takdir.
Seperti strata sosial pada kehidupan saat ini yang diatur oleh hierarki. Dan dalam tingkatan ini, alpha menempati puncak teratas.
Alpha adalah gen superior. Mereka mendominasi dalam semua aspek. Rupawan, kecerdasan jauh di atas rata-rata manusia umum. Sekalipun seorang alpha terlahir miskin, maka dengan mudah bisa mendapatkan hak istimewa di hidupnya. Semua orang akan menempatkan alpha dalam kelas atas, menjunjung tinggi, serta tidak bisa di abaikan dengan berbagai alasan yang sangat masuk akal seperti; wajah yang begitu indah, kemampuan diri di atas normal orang-orang pada umumnya. Yang jelas, alpha memiliki jiwa pemimpin yang memancar dan siapa saja langsung akan mengenali dan sulit menolak karisma indah yang dibawa melalui getaran.
Terlebih secara fisik. Para alpha jelas menonjol. Biasanya mereka memiliki warna rambut yang lebih cantik berkilau dan warna mata yang cemerlang. Semakin dewasa seorang alpha, maka, semakin banyak bakat yang akan menonjol juga. Kebanyakan alpha adalah mereka yang percaya diri, berjiwa kepemimpinan besar serta tidak akan malu-malu apalagi menutup diri dengan melabeli diri dengan kepribadian introvert. Tidak, alpha tidak. Mereka adalah paling bersinar dan pemeran utama.
Kontras dengan omega—yang merupakan kasta terendah dari hierarki itu. Omega merupakan gen yang paling lemah, menyedihkan dan lebih mengenaskan dari pada umum–beta. Omega biasanya lebih sensitif, lebih perasa. Meski secara fisik, omega akan sama dengan beta, sama dengan manusia umum. Namun omega memiliki masa yang dinamakan heat ketika sudah baligh. Masa dimana omega siap menjadi bahan pembuangan sperma bagi laki-laki alpha, dan pemuas alpha perempuan jika seorang omega adalah laki-laki.
Saat masa-masa itu datang, mata omega bisa berubah warna menjadi violet lembut persis dalam masa kawin–heat. Itu yang paling menonjol dan menjadi pembeda yang kentara antara beta dan omega.
Sekali lagi kontras. Jika alpha akan terang-terangan dan tidak malu-malu, tidak menyembunyikan diri, omega cenderung lebih tertutup. Sebagai besar justru tidak mengakui jika diri mereka adalah seorang omega—demi keselamatan dan mempertahankan harga diri. Karena omega dalam masa heat adalah paling buruk. Mereka bisa di manfaatkan oleh para alpha seperti di jadikan pelacur dan diperkosa secara tidak manusiawi.
Tubuh omega dianalogikan sebagai narkoba oleh para alpha. Sekali saja alpha menjamah omega, maka rasa kecanduan akan terus mengalir seperti sakau jika berhenti mendadak.
Namun mirisnya, dikatakan bahwa alpha dan omega adalah pasangan yang saling tarik-menarik—digariskan oleh sang ilahi sejak kelahirannya.
Feromon di tubuh alpha dan omega, biasanya merespon satu sama lain. Berbeda dengan beta yang tidak memiliki dan tidak dapat mencium feromon baik milik alpha atau omega.
Lemah secara fisik, perasaan, dan semua hal.
Heat terjadi ketika omega memasuki masa baligh. Saat masa itu datang, maka seorang omega akan merasa ‘panas’, napas terasa berat, lemas, tidak berdaya dan terangsang hebat hanya dengan pemicu sangat kecil. Benar, heat artinya seorang omega akan melepas aroma feromon yang berlebihan yaitu aroma yang hanya bisa di baui alpha. Aroma yang memberitakan jika seorang omega sedang ‘heat’. Persis seperti aroma yang menarik para alpha mendekat untuk menyetubuhi. Biasanya ditandai dengan tubuhnya lemas, gerah, dan terangsang hebat tanpa konteks. Di sanalah peran alpha jahat yang akan menjadikan momen itu sebagai pelepas birahi. Tidak sedikit para omega perempuan yang hamil entah anak siapa dan di kenai sanksi masyarakat. Dunia memang terlalu kejam bagi kasta terendah.
Mereka kadang dijadikan pelacur, dijadikan budak seks di jalan-jalan. Saat seorang omega tak memiliki uang untuk membeli obat pereda heat sekaligus menutup bau feromon—yang dengan itu bisa menekan gejala dan semua hal yang berhubungan dengan kesialan menjadi kasta terendah, maka, hal-hal mengerikan itu tadi yang akan mereka dapati. Di perkosa, di lecehkan dan hal-hal sial lainnya. Ya, harga obatnya sangat mahal dan tidak semua omega sanggup membeli. Mereka, omega kaya raya, masih bisa mengakali dengan obat, sementara yang miskin, kehidupan bagai neraka.
Obat menekan. Maka, para omega bisa hidup berdampingan dengan alpha dan beta tanpa merasa terancam.
Alpha pula memiliki aroma feromon. Aroma yang wangi meski tidak sesemerbak omega dan tidak sekuat itu.
Sama seperti ketika alpha membaui feromon omega yang sedang heat. Saat omega heat dan ada alpha di sekitarnya, omega juga akan mencium aroma itu, aroma alpha yang semakin membuat terangsang. Dua-duanya adalah takdir tuhan untuk saling mendekap dan saling cinta dalam kasih tuhan. Namun sayangnya, para alpha kebanyakan tidak berminat pada cinta. Sebagian besar mereka hanya akan berhubungan seksual tanpa perlu repot-repot membangun hubungan rumit. Toh, di mata mereka, omega adalah pelacur. Dan jika ingin memiliki pasangan, para alpha berkelas biasanya hanya akan menikah dengan sesama alpha, meski nafsu mereka jauh lebih tinggi terhadap omega.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Hukum itu yang membuat Rin terus menyembunyikan diri. Ia tidak tahu, tidak mengerti, dan sampai detik ini, tak berani bertanya pada siapapun dan memilih menyembunyikan identitasnya serapat mungkin–hingga tidak ada, tidak ada satupun manusia disekitarnya yang tahu. Mungkin saat ini, tidak tahu, Rin berusaha tidak memikirkan hal-hal tidak terduga kedepannya. Meski ia sudah memiliki rencana.
Ayah dan ibunya adalah dua alpha sangat kuat. Mereka juga orang penting di negeri ini. Orang tersohor yang dihormati dan disegani layaknya bangsawan kaya raya. Kekayaan orang tua Rin tidak akan habis meski ia menganut hidup hedonisme ekstrem apalagi hanya biaya remaja berusia dua puluh tiga tahun yang berfoya-foya dengan teman-teman atau wara-wiri ke luar negeri untuk hal-hal tidak perlu alias menghamburkan uang. Tidak, tidak akan habis. Demi obat heat yang di sembunyikan dibalik marmer tepat di bawah tempat tidurnya.
Kakaknya Jay, seorang alpha yang kini menjadi satu-satunya keluarganya yang tersisa. Ya, kedua orang tua Rin telah wafat beberapa tahun yang lalu. Dua alpha terkuat dalam negeri, yang mengayomi serta memberikannya kehidupan mewah dan sangat mencintainya—telah berpulang ke pangkuan ilahi lepas kejadian tidak terduga dan menjadi luka terdalam baik bagi Rin, maupun Jay.
Kejadiannya di Prancis. Kedua orang tua Rin tewas di tembak musuh bebuyutan yang telah lama melakukan gencatan senjata.
Tentu saja masalahnya tidak jauh — berkutat pada persaingan bisnis yang makin panas, bergesekkan hingga percikan api membuat semuanya meledak. Rin tidak terlalu paham, Jay yang tahu semuanya. Dan hingga saat ini, Jay yang meneruskan semuanya. Benar-benar semuanya. Kebencian, musuh, hingga seluruh aspek yang di wariskan.
Jay Alpha tertinggi. Kakaknya, alpha dewasa yang sangat menonjol dengan jiwa kepemimpinan begitu kuat. Dari perusahaan besar yang menggurita raksasa, hingga musuh yang di turunkan dari ayah dan ibunya. Semua jatuh begitu saja ke tangannya tanpa tendeng aling-aling.
Jay dan Rin. Keduanya hidup akur dan harmonis meski kedua orang tua mereka telah pergi. Jay adalah tempat pulang dan bersandar, tempat paling aman dari kenyataan tentang identitasnya yang sebisa mungkin ia tutupi. Benar, Jay merupakan benteng paling aman baginya, bagi Rin. sekaligus menjadi pria yang ia takuti dalam bayangan yang lain.
Jay menjadi malaikat sekaligus monster waktu. Ia tidak tahu bagaimana menggambarkan kakaknya yang begitu besar, kokoh, keras, pintar dan sangat tampan. Sosok alpha sempurna yang jelas mewarisi darah alpha yang kental.
Lalu, kenapa dua pasang alpha itu bisa melahirkan seorang omega cantik sekaligus lemah seperti dirinya?
Rin mencari jawaban dan hanya menemukan kemungkinan paling mengerikan seumur hidupnya. Maka, sejak dua tahun setelah baligh, Rin tidak lagi berusaha mencari tahu alasannya terlahir sebagai omega sementara dua orang tua dan kakaknya adalah alpha kuat yang begitu tangguh dan keren. Dan hingga keduanya tewas, mereka—orang tua Rin tidak tahu, tidak membahas atau bertingkah seakan ada hal-hal yang cenderung aneh pada anak bungsu mereka. Keduanya hanya hidup seperti biasa—dan seperti itu hidup terus berjalan hingga mereka tewas. Rin bersumpah mencintai orang tuanya, sebesar ia mencintai Jay.
Rin tidak pernah hea karena obat tidak pernah terlambat ia konsumsi, tidak pernah sekalipun ketika ia bahkan mencatat setiap dua bulan sekali—dimana tubuhnya akan lemas, gerah, terangsang hebat. Tidak, Rin tidak akan mengambil resiko dengan membiarkan gejala itu menyerang dulu. Maka, ia akan meneguk obat dua minggu sebelum gejala datang. Jika di biarkan terlambat sedikit saja, aroma feromon nya jelas akan terendus hingga seantero mansion. Itu mengerikan.
Jay alpha, itu mutlak. Sementara para pelayan, tukang kebun, pengawal dan semua manusia yang bertugas di mansion adalah beta. Mungkin ada satu dua alpha, namun Rin tidak perhatian.
Ia adalah gadis kemayu. Gadis pemalu yang memiliki wajah secantik boneka. Matanya bulat besar, kulitnya sangat putih mulus, tubuhnya kecil dengan bagian dada dan bokong yang membulat pas. Tidak terlalu besar atau kecil. Tubuh itu kelewat sempurna–didapat dari asupan gizi dan olahraga. Badan ranum khas gadis baru gede. Di perlakukan layaknya putri raja, Rin berhasil tumbuh seperti bidadari yang tak tersentuh. Tiap inci kulitnya seperti porselen berharga, begitu kecil dan rapuh. Jay sangat mencintai adiknya, begitu mencintai makhluk kecil itu. Pun, tidak ada yang tahu jika gadis cantik bagai dewi itu adalah seorang omega.
Rin terlalu cantik untuk menjadi omega. Sangat, kecantikannya khas para alpha. Rambutnya berkilau, matanya hitam cemerlang meski pernah satu kali dan itu dulu sekali saat awal-awal pubertas — ketika gejala heat datang dan ia terlambat meminum obat, Rin melihat matanya berwarna violet lemah. Pangkal dadanya membesar dan vaginanya basah tanpa alasan—selain alasan heat sialan itu tadi. Mungkin tidak akan ada yang menduga, wajah kelewat cantik itu bukanlah ras terkuat.
Tidak akan ada yang curiga meski ia cenderung pemalu, pendiam, begitu mungil dan seperti akan retak jika di genggam.

“Dimana Rin? Kenapa belum turun?” mata tajamnya menyorot pada tiap pasang mata yang tertunduk. Para pelayan yang berbaris di sepanjang meja makan saling pandang. Hingga salah satu dari mereka buka suara.
“Nona Rin sedang tidak enak badan. Dia bilang ingin makan malam dalam kamar” Jay mengerutkan dahi. Tubuh tinggi dan besar itu membuat kursi terlihat menciut. Di susul derit kaki kursi yang beradu dengan marmer, pria itu bangkit dan meninggalkan ruang makan begitu saja. Langkahnya sudah pasti. Ia pergi ke kamar adiknya.
Langkahnya menjauh–menderap meniti anak tangga pertama. Malam ini udara terlalu dingin. Akhir musim gugur membawa angin terasa lebih tajam dan kering. Pohon-pohon hias di luar sudah hampir seluruhnya gundul. Embun bisa membeku saat pagi. Namun salju belum turun. Suhu tidak cukup stabil.
Pertama, ia mengetuk dengan penuh kelembutan. Mengidentifikasi diri pada adik kecilnya di dalam–meski Rin bukan anak kecil lagi.
“Hm, masuklah” sahutan pelan dari dalam sana membuat Jay mendorong pintu tinggi yang menjulang. Kamar itu nyaris tak berubah sejak dulu. Kamar dengan nuansa merah muda yang berkombinasi dengan putih gading. Namun ketimbang meneliti ruang, mata itu langsung mendarat pada rebah nyaman–sang adik di atas sofa. Mok berisi coklat panas dan buku membentang sementara bantal menjadi alas samping rebah. Gadis itu terlihat baik-baik saja.

Jay menyingkirkan bantal di belakang si gadis. Ia merebahkan bokongnya di sana sementara Rin tidak mengubah posisi.
“Pelayan bilang kau sakit” matanya fokus pada dress tule berlapis dengan inner satin berwarna krem lembut. Jenis-jenis pakaian favorit adiknya dan memang sangat sempurna saat di kenakan.
“Aku tidak sakit, Jay. Tapi aku sedang diet” baru setelah itu, Rin menutup bukunya, membenarkan duduknya dan meraih mok lalu menggenggamnya dengan dua tangan. Ia melirik sang kakak dari samping. Hidung tinggi, rahang tegas begitu simetris dengan helaian rambut halus yang ditata sangat pas. Tubuh pria itu menyesaki sofa minimalis. Sangat besar.
Mata Jay turun pada cairan yang mirip genangan lumpur lalu bergantian pada mata si gadis.
“Kau mengatakan diet sembari menggenggam segelas coklat?”
“Ini bukan coklat, ini ramuan”
“Itu coklat dan kau tidak perlu berdiet. Kenapa sibuk menguruskan tubuh? Apa yang paling mengganggu dari lemak yang begitu lucu dari tubuhmu?” kata-kata itu membuat Rin menatap tajam. Matanya memicing beradu dengan legam Jay yang seteduh pepohonan rindang di musim panas.
“Apa yang lucu dari lemak? Apa kau sedang mengolok-olok?” masih, mata mereka masih beradu. Rin mengerutkan dahi.
“Aku tidak, kenapa aku harus mengolok-olok? Kau cantik dan tubuhmu ideal. Berhenti melakukan hal-hal yang menyakiti diri dan sekarang makan malam denganku”
“Tidak mau, aku berdiet dan ini bukan coklat”
Terdengar helaan napas berat dari Jay. Aroma musk berkombinasi entah dengan apa—yang jelas, Jay memiliki wangi khas yang begitu memikat. Rin memperhatikan kakaknya beberapa saat. Wajah tampan itu selalu membuat siapa saja betah berlama-lama memandang.
“Kalau begitu. Aku akan membawa makanan, lalu mengunyah makanan dan memasukkan makanan hasil kunyahanku dalam mulutmu. Rin, aku serius. Bayangkan aku mengunyah telur setengah matang”
“Hentikan. Berhenti mengatakan hal-hal menjijikan”
“Aku serius”
“Aku sudah dewasa, kenapa kamu terus memperlakukanku seperti anak kecil, huh? Aku W-A-N-I-T-A D-E-W-A-S-A. Aku tau kapan aku lapar, kapan aku harus makan karena sensor motorikku masih bekerja sangat bagus. Sinyal otakku sangat fresh. Aku tidak akan mati hanya karena melewatkan makan malam” pupilnya melebar. Manik itu seperti akan mencuat keluar lalu menyadarkan alpha dewasa di depannya—yang ditakuti para pelayan, rivalnya, dan para pesaing kecil-kecil di luar sana jika ia adalah gadis dewasa.
“Apa kau baru saja mengatakan DEWASA?” pertanyaan itu membuat Rin meninju bisep kakaknya keras. Sekeras kepalan tangannya yang mirip tangan kucing. Jay melihat pada kepalan, lalu saat kecil itu menabrak otot bisepnya yang sekeras dinding. Tentu saja meremehkan “lihat, kepalan tanganmu bahkan sangat rapuh. Kau kurang makan, sayang. Ayo makan, setelah ini, aku akan mengajakmu jalan-jalan ke luar. Langit di penghujung musim gugur sangat bagus. Tapi harus hati-hati dengan cuacanya”
“Aku tidak suka langit musim gugur kecuali ada mie instan dalam cup”
“Kau baru saja mengatakan tentang diet. Lalu cup mie? Itu penghinatan, Rin”
“Baik, aku mengantuk”
“Satu cup mie, tidak lebih” keputusan Jay membuat Rin tersenyum lebar, ia meletakkan mok lalu memeluk kakaknya dari samping. Rambut dengan aroma stroberi memenuhi pernapasan. Pita kecil pada dua sisi rambut terlihat turun sedikit. Sangat halus, sangat wangi dan sangat bersih. Rin adalah gadis paling cantik yang pernah ia lihat seumur hidupnya.
Jam terbangnya tinggi. Begitu banyak orang yang ia temui, banyaknya wajah-wajahnya yang singgah. Namun hingga detik ini, Jay tidak pernah benar-benar menemukan jenis kecantikan yang mengalahkan adiknya. Kadang, ada malam-malam dimana kepalanya seperti penderita gila. Ia kerap memikirkan seperti apa nantinya–pria yang akan datang lalu meminta adiknya untuk di peristri. Memikirkannya saja, Jay berhasil membanting vas bunga seharga gaji setahun satu pelayannya di rumah.
Sialan siapa saja yang akan menjadi kekasih adiknya.
“Kau tau, Jay. Aku melakukannya untuk ini. Pelayan terus melarangku makan mie dalam cup. Mereka berkata seolah mereka adalah dokter, bahwa, aku akan mati hanya dengan menikmati satu cup mie dengan rasa mirip surga dunia, memuakkan” keduanya turun setelah Rin sepakat menggunakan baju hangat.
“Aku tau” jawab Jay ringan. Mereka sampai di meja makan dan pria itu mengambil coat lalu mengabarkan bahwa makan malam di tunda. Dan meminta mie cup. Ia juga akan keluar hanya berdua dengan adiknya. Tanpa mobil, tanpa pengawal, tanpa drone. Hanya berjalan-jalan di sepanjang pinggir sungai sembari menikmati malam musim gugur.
“Tapi jika kau menggunakan alasan diet, tidak enak badan, atau sialan apapun lagi untuk mie cup dan melewatkan makan malam, aku bersumpah akan mengunyahkan telur mentah ke mulutmu”
Mereka sampai halaman depan. Udara dingin langsung merangsek. Suhunya ada di sekitar dua belas derajat dengan angin besar yang menerbangkan helaian rambut ke sana sini. Mie cup sudah berada di tangan si gadis. Satu pelayan yang memberikan setelah Jay meminta. Rin memberikan senyum penuh kemenangan pada pelayan tersebut.
“Aku punya banyak ide untuk—tidak menelan menjijikan telur mentah dari mulutmu. Hentikan, Jay, aku sedang makan” keduanya jalan beriiringan. Cup berisi mie dengan aroma memikat membuat Jay menarik napas dalam untuk membaui.
“Apa seenak itu?” pria besar di samping melongok pada isi mie yang terlihat penuh. Uapnya menari-nari begitu menggoda.
“Kau akan kecanduan saat satu suap saja meleleh dalam mulutmu” gadis itu menarik mie panjang yang kontan hilang dalam mulutnya. Suara nikmat itu membuat Jay menelan ludah.
“Apa aku boleh minta?” itu adalah permintaan paling menyedihkan sepanjang hidupnya.
“Ya, tentu saja. Tapi cup nya saja” Rin terbahak-bahak hingga batuk dan nyaris tersedak. Jay yang–entah sejak kapan di tugaskan membawa air mineral dalam botol, kontan membuka dan di sodorkan pada adiknya.
“A-aku uhuk.. A-aku.. Uhuk-uhuk” gadis itu berjongkok, tak sanggup melanjutkan ocehannya sementara Jay memijat tengkuk sang adik pelan.
“Itu karma” kata Jay meledek.
“Dengar, uhuk” Rin berdehem “dengar, Jay. Aku akan mengabarkan pada orang-orang, pada kolegamu, pada pesaingmu, pada orang-orang penting dalam rapat serta gadis-gadis penggemarmu bahwa kau makan mie cup instan. Hey, itu akan jadi berita besar. Nanti akan ada artikel di internet yang menyebutkan ‘Jay, alpha dari perusahaan bla bla bla memakan mie cup dengan merek bla bla bla. Lalu dalam satu malam, penjualan mie membludak dan mengakibatkan perusahaan mie cup sukses besar’ lalu penggemarmu akan memosting foto mie cup yang sama dengan yang kau makan di akun instagram mereka” Rin tertawa.
“Aku tidak tahu jika aku seterkenal itu. Aku memiliki impact begitu besar” pria itu mendengus. Ia kembali mengantongi air mineral dalam coatnya. Turut pula memasukkan dua tangannya ke sana.
“Tentu saja, kau ini bodoh atau bagaimana? Kau adalah pria paling terkenal nomor satu di Madrid, aku tidak akan membahas Felilape VI atau Pedro Sanchez. Dan seharusnya, di malam musim gugur yang indah ini, kau sedang bersama kekasihmu. Minum wine sambil menatap langit hingga buta” Rin berhenti tertawa dan kembali fokus pada perjalanan dan mie. Gadis itu menyeka hidungnya yang tiba-tiba mampet. Namun tubuhnya hangat karena kuah yang hangat.
Jay tidak menjawab kata-kata adiknya. Namun matanya lurus ke samping–tempat dimana hidung tinggi, bulu mata lentik yang terlihat begitu menawan dari samping, tubuh kecil, serta bibir tipis yang selalu basah. Pria itu menelan liur. Entah untuk mie dalam cup, atau hal lain. Ia tidak ingin memperjelas yang abu-abu.
“Jay, astaga. Tiba-tiba aku berpikir bahwa kau…” gadis itu menggantung kalimatnya. Ia berhenti sementara Jay harus berbalik untuk mendengar ocehan adiknya yang tertunda.
“Kau pria berusia 32 tahun yang single. Itu mustahil terjadi pada pria normal. Aku mengatakan ini setelah patah hati karena idola ku–seorang boy band dari Korea ternyata berkencan. Padahal itu normal. Usianya 29 tahun ini. Tapi kau…” matanya penuh selidik “apa kau seorang alpha yang sedang jatuh cinta pada omega? Atau pada omega laki-laki? Sial, itu terburuk. Atau jangan-jangan sesama alpha laki-laki?” ocehan Rin kelewat cepat hingga mirip suara musik yang di cepatkan dua kali. Jay meringis dengan ekspresi paling khas saat mereaksi tiap perkata adiknya yang selalu saja membuatnya berpikir bahwa dunia ini tidak melulu berkutat pada kerja. Bahwa, ada gadis secantik bidadari dengan ocehan yang selalu saja berhasil membuat keningnya mengerut.
“Dengar, Jay. Aku..” Rin menunjuk dirinya sendiri “aku selaku satu-satunya keluargamu, dengan lantang dan dengan kesadaran penuh akan mengizinkanmu berkencan dengan siapapun. Dengan laki-laki, dengan omega atau siapapun asal jangan nenek-nenek, istri orang atau paling buruk anak-anak. Aku satu-satunya keluargamu dengan pikiran terbuka dan modern, akan sangat menerima pasanganmu. Aku ini tipe ipar yang tidak akan menyulitkan. Aku baik hati, percayalah. Jadi, seandainya alasanmu masih melajang di usia ini adalah pasanganmu–berbeda dari standar tinggi yang di tetapkan dalam keluarga kita, maka, aku orang pertama yang akan memutus standar itu”
Jay masih mematung. Memperhatikan bagaimana dua bibir cantik itu berceloteh kelewat enteng. Saat Rin kembali menyesap kuah mie, Jay baru berdehem.
“Aku bangga memiliki adik–yang bisa memutus standar tinggi di keluarga kita. Tapi aku” Jay gantian menunjuk diri sendiri “aku tidak akan sudi memiliki adik ipar seorang omega laki-laki yang lemah. Seorang alpha pengecut kelas rendahan, seorang pria miskin dan tidak berkelas. Aku ingin ipar alpha dari keluarga kaya raya juga. Yang setara denganku. Yang bisa membahagiakan adikku karena adikku memiliki gaya hidup hedonisme ekstrem kecuali mie cup instan”
Kata-kata itu membuat Rin berhenti mengunyah.
Si gadis kontan diam dengan ekspresi yang gagal diterjemahkan. Lalu dengan susah payah, Jay melihat tenggorokan kecil itu menelan. Rin menarik hidung sebelum menunduk. Tiba-tiba saja mimiknya berubah dan Jay tidak tahu apa yang salah.
“Rin, jangan bilang kau sedang menjalin hubungan diam-diam di belakangku dengan kandidat mengerikan yang baru saja kusebutkan” terkaan Jay sangat masuk akal. Namun Rin tidak punya pacar, tidak pernah dan tidak akan. Gadis itu sudah bersumpah tidak ingin menikah dan akan melajang sampai mati. Kabar itu di gembor-gemborkan sejak si gadis menginjak remaja. Tepatnya saat transisi masa pubertas. Entah apa yang menjadi pemicu pernyataan itu dulu keluar dari mulut bocah berusia lima belas tahun.
Jika merunut pada pernikahan kedua orang tua mereka. Ayah dan ibunya sangat harmonis. Tidak ada satu hal pun dari dalam rumah yang bisa menjadi pemicu trauma untuk menjalin hubungan. Namun Rin–entah mendapat ilham darimana langsung dengan tegas menyatakan tidak akan punya pacar, tidak menikah, dan tidak akan menjalani hubungan asmara dengan siapapun pada kedua orang tuanya dan pada Jay.
Gadis itu sibuk jatuh cinta pada laki-laki yang menari dalam layar sambil bernyanyi dan menggunakan riasan. Namun jika di tawarkan untuk di datangkan sang idola oleh Jay, Rin juga akan menolak. Katanya, ia hanya ingin mengagumi dari jauh. Atau entah, kadang, ia tidak mengerti dengan pola adiknya.
Malam di Madrid pada akhir musim gugur. Udara agak lembab–dingin. Di sepanjang Madrid Rio, lampu-lampu taman berpendar kekuningan, memantul di permukaan sungai Manzanares yang tenang. Airnya mengalir perlahan dengan suara gemericik rendah yang hampir menyatu dengan desau angin. Suara gemericik yang berhasil menjadi latar ketika Rin, si gadis cantik jelita dan cerewet itu mendadak diam. Benar-benar diam. Jay sudah bertanya, sudah meminta maaf jika kata-katanya ada yang tidak cocok dan terus mendesak agar si gadis memberitahu alasan kenapa ia menjadi pendiam. Namun Rin hanya menggeleng. Cup mie sudah mendarat sempurna dalam tong sampah. Kini, keduanya hanya berdiri di sisi sungai yang indah tanpa suara, tanpa obrolan. Hening.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Sadar bahwa diri adalah seorang omega–yang mungkin saja akan dibenci jika identitasnya terbongkar. Atau diusir secara menyedihkan dan berakhir di jalananan, Rin sudah mempersiapkan kemungkinan itu–finansial. Ia menabung di berbagai instrumen. Sambil menyisihkan sisa foya-foya untuk kemungkinan paling buruk itu. Meski ia sadar, jika hal itu sampai terungkap, Jay—yang merupakan alpha dewasa paling ganas yang pernah ia kenal seumur hidupnnya—pasti akan mencabik-cabiknya dengan cara lebih brutal daripada predator pada mangsanya. Ia tidak tahu, namun Jay adalah tipe alpha yang benar-benar membenci kaum rendahan.
Jay adalah pria yang berambisi. Bersaing dengannya begitu berat. Kakinya sangat kokoh dan ia akan menggigit lawan tanpa di lepaskan sebelum lawannya mati. Seperti itu orang-orang menggambarkan Jay—yang mau tidak mau, Rin juga harus menerima kenyataan bahwa satu-satunya keluarganya itu—mungkin saja nanti akan berbalik membencinya dengan mata yang sama—ketika Jay melihat musuh atau omega-omega rendahan.
Membayangkannya saja membuat sedih. Maka, itu alasan mengapa Rin kontan menjadi pendiam saat Jay membahas omega lemah, omega rendahan yang menyedihkan. Karena memang begitu menakutkan ketika dua orang tua dan satu saudaranya adalah alpha. Sementara ia, tidak tahu darimana asal muasalnya—menjadi omega. Itu alasan pokok Rin sayang sekaligus takut pada kakaknya. Di perparah oleh kematian pengasuhnya–yang berstatus sebagai omega dan berhasil masuk ke rumah ini setelah rutin mengonsumsi pil heat. Jika mendengar cerita dari para pelayan. Pengasuhnya tewas ketika Jay tau bahwa sang pengasuh adalah omega dari kasta terendah. Tentu saja cerita dari mulut ke mulut yang ia telan mentah-mentah. Rin sendiri tidak berani bertanya pada Jay. Lagi pula bahasan itu kelewat berat, ia takut untuk banyak alasan jika menyangkut tentang hierarki gender.
Mereka dekat, hangat. Justru disana bagian mengerikannya. Rin takut, ketakutan yang tidak akan pernah biasa ia bagi dengan siapapun. Jay merangkulnya, kelewat menyayanginya hingga menganggapnya anak-anak. Padahal sudah tidak relevan. Membayangkan Jay membuangnya dengan cara hina membuat Rin ketakutan.
Dan hari ini setelah malam itu, Rin pergi ke tempat dimana ia biasa mendistraksi diri. Melupakan bagian menyedihkan menjadi seorang omega. Yaitu tempat dimana ia akan merasa beruntung dilahirkan dari keluarga kaya raya–dimana ia bisa dengan mudah membeli obat heat. Dan di tempat ini–tempat penampuangan para omega dari korban kejahatan seksual maupun kejahatan tidak adil lainnya, Rin hadir di tengah mereka meski menggunakan pakaian mirip nenek-nenek dengan masker dan topi. Wajahnya sama sekali tidak terlihat, bahkan kulitnya yang seputih mutiara.
Ruangan itu berada di bawah tanah. Entah siapa yang menemukan pertama kali dan menjadikan tempat itu sebagai penampungan. Eksistensinya nyaris di tengah hutan yang berjarak sekitar 30 kilometer dari mansion mewah orang tuanya.
Rin ada di sana. Membagikan makanan, stok obat heat serta kebutuhan-kebutuhan lainnya. Disana, para omega memanggilnya dengan sebutan Dewi Aphrodite. Meski wajahnya tertutup, namun aura bangsawan serta kecantikan itu tetap memancar. Rin tidak tahu apakah yang mereka bicarakan tentang ‘aura bangsawan’ itu relevan mengingat ia adalah omega. Sama seperti semua penghuni di dalam sini. Rin juga membayangkan jika suatu hari nanti Jay tau jika ia adalah omega, maka, ia akan terbaring di sini. Di alas-alas kasur lembab mencari perlindungan.
Setelah keluar dari sana. Perasaanya agak membaik.
Tidak ada yang mengikuti, tidak ada pengawal, Rin berhasil meyakinkan semua orang jika ia sedang ingin sendiri bersama buku dan cemilan.
Namun saat berhasil keluar, ponselnya berbunyi. Lantas rentetan pesan, panggilan tak terjawab, serta telpon dari kakaknya membuat ponsel itu begitu ramai. Jelas, di bawah sana tidak ada sinyal, tidak terdeteksi map–atau belum. Yang pasti, tempat itu aman untuk beberapa waktu bagi para korban yang sedang dalam masa pemulihan pasca kejadian-kejadian mengerikan.
“Halo” suara Jay terdengar rendah, pelan dan lembut “Rin, kau dimana? Apa masih marah?”
Sesaat Rin tidak langsung menjawab. Ia menaiki taksi. Dan setelah di dalam mobil, gadis itu baru berdehem “aku tidak marah” katanya ringkas.
“Kau tidak marah, tapi aku memikirkanmu sampai tidak bisa tidur. Apa yang harus kulakukan?”
“Apanya? Aku sedang piknik dan menikmati akhir pekan. Kamu berpikir apa? Sudah kubilang aku gadis dewasa. Aku tidak mudah merajuk”
Kata-kata terakhir berhasil membuat Jay tersenyum. Jika sudah mengoceh agak panjang, artinya gadis itu sudah kembali pada setelan awal.
“Mau pergi denganku? Ayo main” tawar sang kakak.
“Kau ini kurang kerjaan kah? Carilah wanita dan pergi kencan. Pria penting di Madrid terus mengajak adiknya bermain. Seperti pria kesepian yang menyedihkan”
“Aku tidak menyedihkan. Aku hanya…” hening sesaat. Jay sedang menyusun kata “aku hanya ingin bermain dengan adikku, apa itu masalah?”
“Tidak, itu tidak masalah. Tapi aku tidak sudi”
Jay tertawa lagi “ehey.. Ayolah.. Begitu banyak penggemarku yang rela antre berminggu-minggu hanya untuk bisa melihatku di bandara. Seperti.. Siapa itu, boyband favoritmu yang menggunakan riasan”
“Kau tidak seterkenal mereka meski kau terkenal. Jadi berhenti maskulinitas hegemonik. Kau ketinggalan zaman sekali. Rasanya seperti aku hidup dengan manusia purba yang gila kerja tanpa tahu perubahan zaman” gelak Jay terdengar lagi. Pria itu sangat mudah tertawa saat bersama Rin. Hanya saat bersama Rin.
“Ya, aku manusia kolot yang gila kerja dan gila pada adikku. Maka, pulanglah dan main bersamaku”
Terdengar erangan kesal dari Rin sementara Jay lagi-lagi hanya terbahak-bahak “bawa wanita atau pria, berkencanlah, dasar Jay sinting!” lantas ia mematikan sambungan di tengah gelak kakaknya yang menggelegar.
Di momen-momen itu, terkadang Rin lupa bahwa Jay memiliki sisi seorang alpha dengan penuh kuasa yang membenci hierarki terendah. Jay seperti–tidak seperti itu. Namun ketakutan, kekhawatiran tetap membelenggu–membuatnya bisa kerap menjadi pendiam, sesekali menjaga jarak. Meski paling banyak adalah berpelukan manja dengan kakaknya sambil bercanda.

Satu jam kemudian, ia masuk ke dalam ruang kerja sang kakak dengan tangan memegang tembakan air. Jay tidak menyadari eksistensi yang mengendap-endap tanpa alas kaki.
Tubuh besar pria itu duduk dan bersandar pada belakang kursi. Dua kakinya naik–menyilang di atas meja sementara tangannya melipat di dada. Matanya tertutup. Pria itu menunggu adiknya pulang di ruang kerja hingga tertidur.
Rin, hanya mengenakan dress krem tipis. Tanpa bra, hanya celana dalam. Kakinya juga bertelanjang, rambutnya panjang menjuntai begitu lembut dan wangi. Tangan kecilnya menggenggam senapan air yang siap di tembakkan.
Dan di tembakkan.
Tepat ke mulut Jay yang setengah terbuka.
Pria itu kaget setengah mati dan bersiap akan mengambil pistol sungguhan dalam laci. Beruntung, matanya langsung menangkap sang adik yang tertawa terbahak-bahak. Rin tampaknya baru selesai mandi. Kaget namun langsung lega.
“Aku sudah memotret caramu tidur. Akan kuunggah di akun instagram dan memberitahu para penggemarmu bahwa pria tampan kaya raya idaman mereka ini tertidur seperti monyet” Rin masih tertawa.
“Asal kau tau, para penggemarku makin mencintai sisiku yang itu”
“Tidak mungkin”
“Coba saja”
Jengkel karena gagal mendapat kartu as yang bisa di gunakan untuk mengancam kakaknya jika ia sedang menginginkan sesuatu, Rin kembali menembakkan air. Kali ini pada dada kakaknya, pada wajah, dahi, lengan dan dimana saja. Dalam waktu singkat, pria itu basah kuyup. Kaos biasa yang basah membuat lekuk tubuhnya tercetak.
Dada bidang dengan perut sempurna hasil pahatan olahraga. Tubuhnya menjulang besar hingga Rin harus mendongak saat melihat kakaknya. Gadis itu akan kabur setelah stok air dalam tembakan sudah habis. Rencananya akan diisi ulang.
Gadis itu berlari mengelilingi meja ruang kerja demi menghindari tangkapan kakaknya. Keduanya tertawa seperti anak kecil—seperti mereka dulu ketika berebut sesuatu. Rin terengah-engah. Ia berdiri berseberangan dengan kakaknya dengan sekat meja kerja yang berantakan. Laptop menyala terguyur air dan semuanya acak-acakan. Tidak, Jay mustahil akan memarahi bocah itu. Ia malah ikut kesenangan dan terus akan mengejar.
“Tunggu!! Tunggu sebentar!” Rin terengah-engah. Napasnya memburu dan keringat membasahi dahi hingga menetes ke leher. Sementara kakaknya terlihat baik-baik saja. Jay lebih mirip pemanasan.
“Bagaimana jika kita berdamai?” tawaran itu di ajukan setelah wilayah lawan porak-poranda. Tentu saja Jay tidak terima. Ia menggeleng–tanda penolakan. “Oh ayolah.. Aku harus mengisi ulang peluru air. Kekuatanku hanya bergantung pada senjata ini” ia mengangkat senjatanya “sekarang kosong. Mustahil aku melawanmu dengan tangan kosong. Aku ini seorang musafir jauh yang hanya butuh perlindungan” kalimatnya menjadi patetik. Gadis itu meringis. Dadanya naik turun. Ujung puting tercetak jelas membuat kakaknya tidak fokus sejak tadi.
Jay berusaha keras untuk tidak melihat ke sana.
“Maka, menyerahlah wahai musafir. Kau harus dihukum karena melukaiku dengan senjata itu dan mengacak-acak wilayah kekuasaanku. Apa adil berdamai denganmu? Apa yang akan kau lakukan setelah kekacauan ini? Harus ada yang bertanggung jawab” Jay bertolak pinggang. Bernegosiasi dengan si gadis, ia tidak memasang wajah pongah seperti Jay biasanya. Jay biasa yang keras, tidak bisa tertolak serta sangat kuat. Tatapannya selalu lembut dan teduh pada gadis ini.
“Aku akan memelukmu. Bagaimana?”
Bibir pria itu terangkat sebelah. Jurus andalan adiknya sejak dulu adalah cium pipi dan pelukan. Hanya seperti itu, Jay akan luluh. Rin tidak perlu usaha terlalu keras untuk membuatnya memberikan apapun. Bahkan dunia.
“Itu sudah tidak lagi relevan. Beri aku upeti” Jay menggeleng.
“Upeti apa? Aku musafir miskin”
“Baik jika masih tidak mampu. Maka, aku akan mengejarmu, menggelitik ketiak dan telapak kakimu hingga kau menangis”
“Kau tidak akan melakukannya”
“Aku akan” Jay serius.
“Kumohon…”
“Jangan memohon, itu tidak mempan” Jay memperhatikan wajah cantik yang memerah, gadis itu menggigit bibir bawahnya khas seperti akan menangis. Begitu menggemaskan dan cantik. Ia selalu saja gagal menerjemahkan kecantikan adiknya. Jenis kecantikan yang tenang sekaligus membakar dari dalam–perlahan, dan yang melihat yang terbakar. Benar, makin dilihat, Rin semakin cantik. Rin memiliki kecantikan semacam itu. Wajah menggemaskan sekaligus ‘panas’ yang tidak bisa ia gambarkan menjadi satu kata–bahkan kalimat. Rin terlalu indah, terlalu bagus. Seluruh tubuhnya memukau indah hingga ia harus menghela napas dan memalingkan mata. Rin dengan cara hidupnya yang umum, namun memang kecantikan di anugrahkan tanpa cacat. Pria itu kadang ingin membenturkan kepalanya sendiri kemanapun. Asal ia tidak melihat adiknya sebagai sosok lain. Sosok yang bisa ia cintai bukan sebagai adik. Seseorang yang bisa ia peluk sepanjang hidupnya tanpa ketakutan akan di ambil orang.
Jay melihat bibir merah, mata besar yang menjadi sayu karena permohonan, pipi yang ikut bersemu, leher cantik begitu putih dan mulus. Lalu turun ke dada. Dua puting itu tercetak sementara celana dalam terlihat menggemaskan dari balik dress tipis. Kaki jenjangnya yang begitu bersih, bening, sementara tumitnya merah. Begitu banyak di luar sana gadis cantik, gadis imut, gadis manis, putih dan segala hal yang mencakup kata ‘cantik’. Namun Jay selalu gagal menemukan yang serupa dengan adiknya. Sekali lagi, kecantikan Rin benar-benar murni mirip Dewi Aphrodite.
Lalu dengan tampilan seperti itu. Sempurna sudah kebuskan pikirannnya selama ini — untuk melihat adiknya sebagai gadis kecil yang menangis saat mainannya ia sembunyikan. Rin menyebarkan vibrasi bertolak belakang dengan status kakak adik yang keluar dari rahim yang sama—mendorong Jay untuk terus menatapnya. Menatap dengan tatapan yang bukan seharusnya di layangkan seorang kakak pada adiknya.
Terkadang, ada malam-malam dimana Jay ingin pergi. Ingin kabur dan meninggalkan Rin sendirian. Bukan karena ia tidak menyayangi gadis itu. Namun perasaan mengerikan yang sudah tumbuh sejak mereka kanak-kanak menjadikan Jay seperti pria gila alias tidak waras. Hubungan sedarah itu adalah hina, paling menjijikan dan tentu saja akan membuat namanya begitu buruk di mata dunia. Namun sesuatu yang tumbuh kelewat subur begitu sulit di cegah. Jika ia nekat pergi, maka, yang tersisa hanya kekhawatiran, ketakutan serta gagal fokus terhhadap semua hal. Rin seperti candu, Jay kecanduan. Ia hanya ingin melihat adiknya, bermain seperti hari ini dan apapun. Apapun hal-hal yang melibatkan Rin. Segalanya.
Itu juga alasannya kesulitan mendapat pasangan. Pria itu bahkan tidak berminat pada siapapun karena sudah memiliki standar dan sejauh ini, belum ada yang bisa melangkahi kecantikan serta keseluruhan apapun yang dimiliki adiknya. Jika di rangkum padat; Jay hanya menginginkan Rin. Selesai. Dan itu mustahil.
Pun ada beberapa hal yang sulit sekali di abaikan. Seperti aroma begitu memikat yang memancar dari tubuh gadis itu. Ia tidak tahu jenis parfum apa, namun aroma itu keluar dari kulitnya, dari por-pori. Jay tahu ketika gadis itu memeluknya. Bau itu tertinggal berhari-hari di bajunya. Dan saat ia bertanya pada semua orang tentang jenis parfum yang tertinggal, tidak ada satu pun yang tahu. Bahkan para ahli parfum yang di datangkan dari banyak penjuru negeri. Itu artinya, Rin pemilik aroma itu, aroma yang keluar dari tubuh secara alami. Begitu memikat.
Kadang, ia berpikir bahwa Rin adalah bidadari yang di turunkan tuhan ke rahim ibunya. Merunut pada kelahiran Rin yang dikabarkan secara mendadak di Rusia. Entah benar dugaannya jika gadis itu adalah roh yang ditiupkan tuhan secara langsung karena memang benar-benar mendadak. Ibunya bilang, ia tidak sadar saat mengandung Rin. Sang ibu terlambat datang bulan selama berbulan-bulan karena saking sibuknya hingga tidak perhatian. Rin akhirnya lahir saat kedua orang tuanya sedang melakukan perjalanan kerja ke Rusia. Begitu pulang, mereka membawa bayi yang begitu cantik. Bayi yang hingga detik ini terlalu cantik untuk ukuran manusia.
Dan seperti itu eksistensi Rin. Yang setengah mati ia pikirkan tentang; bagiamana jika gadis itu berubah pikiran lalu menjalin hubungan dengan pria pada umumnya — seumumnya seorang bujang dan gadis? Jay tidak rela, tidak sudi. Rasanya, sang adik harus berjodoh dengan dewa.
Saat gadis itu tiba-tiba menyemprotkan sisa air dari senjata, Jay seperti kembali ditarik pada kenyataan. Rin tertawa.
“Kau kalah!” wajah yang awalnya hendak menangis itu kembali sumringah. Di detik itu, Jay si alpha–penguasa dengan ribuan pengawal serta ditakuti para musuh dan pesaing—pura-pura tumbang sambil memegang dadanya yang tersemprot air. Rin makin terbahak-bahak.
“Kau melukaiku lagi, musafir” kata Jay. Masih memerankan sandiwara mereka.
“Aku sebenarnya adalah avatar air” ujar Rin enteng. Seenteng ia mengubah tema sandiwara mereka.
“Kau tidak konsisten” sang kakak kembali bangkit “kalau begitu, aku akan mengejarmu”
“Hey…” Rin menghela napas “bagaimana kalau kita sudahan? Aku lapar”
“Setelah kekalahanku? Kau tau, aku tidak suka kalah”
“Aku meminta maaf. Anggap aku yang kalah” ujar Rin meyakinkan sementara Jay menggeleng.
“Tidak seperti itu. Pria tidak suka jenis kemenangan menyedihkan sejenis itu”
“Lalu, mau apa?”
Hening beberapa saat. Rin menggaruk kepala sementara senapan air di cangking asal. Lalu beberapa detik kemudian, tanpa aba-aba, tanpa peringatan, Jay berlari menangkapnya. Rin yang kaget dan tidak sempat lari–gagal memloloskan diri dan akhirnya tertangkap. Gadis itu di angkat paksa dan di dudukkan di atas meja kerja yang sudah basah.
“Serahkan senjatamu” pinta sang kakak. Rin kontan menggeleng.
“Tidak akan”
“Serahkan, aku harus mengisinya dan balik membasahimu”
Rin menggeleng.
“Serahkan”
“Tidak, Jay, tidak”
“Aku akan mengambilnya”
“Ya, ambilah sampai dapat” ia menyembunyikan senapan air ke belakang dengan dua tangan sementara Jay mengukungnya dengan dua tangan yang bertumpu di sisi kanan kiri si gadis.
Dua tangan ke belakang, semakin membuat dada yang tercetak itu makin jelas. Jay bahkan bisa melihat—puting berwarna merah terang menyembul terhalang kain tipis. Ia meneguk liur dan cepat-cepat mengalihkan pandangan ke wajah ayu.
Di sana juga bukan ide bagus. Bibir Rin terbuka basah. Deret gigi bawahnya sangat rapi dan cantik. Mereka berhadapan dengan posisi itu.
“Aku lapar.. Oh.. ayolah, sudahi permainan ini. Setelah makan, ayo kita cari gadis cantik”
“Gadis cantik?” Jay mengangkat sebelah alis.
“Ya, gadis cantik untukmu. Kau harus kencan di akhir pekan supaya berhenti menganggu akhir pekanku yang berharga. Aku akan berkencan dengan buku dan cemilanku. Tapi sepanjang hidup, kau adalah satu-satunya pengganggu tidak dewasa yang terus mengajakku main. Kau sudah tua, Jay. Harusnya kau memiliki anak yang bisa di ajak main seperti ini” napas gadis itu menyapu wajah Jay. sesekali, aroma nikmat–dari tubuh cantik itu menguar dari mulut, leher atau bagian kulit manapun milik si gadis. Jay menghirup napas dalam-dalam supaya aroma itu merangsek sepenuhnya ke dalam paru. Meski tidak, aroma itu seperti datang dan pergi. Ada dan tiada. Namun yang paling jelas, itu membuatnya seperti pecandu yang kembali menemukan kokain setelah tidak pernah benar-benar sembuh dari sakau.
“Aku tidak akan berkencan dengan siapapun. Rencana hidupku baru saja kuubah hari ini. Aku berencana menganggu akhir pekanmu seumur hidupku, seumur hidupmu. Atau katakan sampai mati. Aku akan. Sekarang itu tujuan hidupku” kata sang kakak yakin. Jarak mereka sangat dekat dan Rin juga dapat mengendus aroma maskulin yang begitu pekat. Aroma alpha, khas.
“Itu bagian paling buruk. Sangat mengerikan” Rin tertawa. Lalu dengan jarak itu, ia mencium pipi kakakanya.
Cup!
“Aku sudah memberikan upeti. Sekarang, kumohon bebaskan aku Tuan. Aku berjanji tidak akan nakal atau mengacak-acak wilayahmu lagi”
Jay mematung dengan wajah kaget. Kecupan di pipi, jejak hangat dan basah bibir si gadis masih tertinggal di permukaan kulitnya. Ia menelan liur susah payah sebelum Rin mendorongnya keras. Gadis itu berhasil kabur. Berlari seperti anak kecil sambil terbahak-bahak.

“Kau yakin tidak akan membaginya denganku?”
“Hm”
“Dua cup, dan akan kau habiskan sendiri?” si gadis masih mengangguk.
“Kau ini pemimpin besar. Pria keren, pria kuat dan tangguh. Kau bahkan bisa menumbangkan lima badak dewasa, kenapa makan es krim? Kau lebih pantas mengunyah batu bara” sungut si gadis ringan. Seringan suapan besar yang merangsek ke mulut kecilnya.
Lalu Jay menatapnya memicing. Berdua berada dalam mobil menuju hotel. Jay mengajaknya untuk pertemuan dengan client dari Abu Dhabi. Meski gadis itu biasanya hanya menunggu dalam kamar, lalu mereka akan berjalan-jalan. Seperti itu saja kegiatan akhir pekan yang selama ini, seumur hidup di habiskan berdua.
Jay bukannya tidak pernah memiliki kekasih.
Pernah, namun kurang pas jika menyebutnya kekasih karena biasanya, ia hanya akan dekat dengan sesama alpha yang setara. Tidak banyak yang terjadi. Mereka dekat, sering bertukar pesan, sesekali bercinta lalu setelah itu Jay mengakhirinya begitu saja. Hanya berlalu begitu saja. Tidak pernah ada keseriusan apalagi perasaan yang lebih dari apapun. Ia tahu alasannya dan masih sulit lepas dari itu.
‘Itu’ hal ‘itu’ ada di sampingnya. Menyuap es krim sambil mengoceh ngalor ngidul.
“Apa kemudian seorang pria besar, pemimpin, keren, harus makan batu bara?”
“Hm”
“Alasannya?”
“Karena kau kuat. Gigimu kuat, tulangmu kuat. Jika kau makan es krim, nanti kau loyo”
“Rin…” Jay tergelak “tidak ada korelasinya. Kau ini bodoh atau apa?”
“Dan hanya seorang bodoh sejati yang mengartikan candaan sebagai acuan nyata”
“Benar. Kau selalu saja benar”
“Hm, aku benar dan kau salah. Sudah seperti itu dan semestinya begitu” lalu dengan sisa belas asih yang sebenarnya tidak perlu, Rin menawarkan es krim dalam sendok. Ia menydorkan pada kakaknya di samping “kau sugguh mau? Aku akan membaginya meski berat”
Jay menatap es krim yang disodorkan, lalu bergantian pada mata tidak rela. Pria itu nyengir.
“Jika diberikan dalam kondisi ini, pasti rasanya sangat enak. Aku khawatir tidak akan menemukan lagi es krim dengan rasa ‘tidak rela’ seumur hidupku” Jay terkekeh. Aksi mereka hanya di simak bisu oleh sopir di depan. Lantas, Rin menyodorkan lebih tinggi dan Jay menerima suapan dengan senang hati. Sayangnya, beberapa jatuh mengenai jari-jari panjang pria itu. Rin melotot dan dengan gerakkan spontan, gadis itu meraih tangan Jay, lalu mengulum telunjuk panjang hingga tandas—karena es krim berada di pangkal.
Ia mengulumnya pelan. Matanya mendongak menatap Jay yang kaget. Saat jarinya masuk hingga tandas dalam mulut hangat dan lembut, Rin mual. Jeriji itu menyentuh tenggorokannya.
HOEK!
“Kenapa jarimu panjang sekali?” Rin mual lagi. Sementara Jay mematung dengan tubuh panas. Benar, tubuhnya bereaksi lebih dulu ketimbang apapun. Sesuatu terjadi di bawah sana, sesak dan begitu gerah. Wajahnya merah padam dan napasnya berat. Pria itu tersulut sesuatu yang tidak seharusnya. Sementara si pelaku biasa saja, tidak merasa apapun, tidak. Sama sekali. Semuanya hanya seperti hal normal dan wajar. Meski, ya.. Seharusnya memang normal dan wajar. Jay benar-benar membenci bagian dirinya yang tidak bermoral.
Si gadis dengan mulutnya yang penuh dan mobil mereka terparkir di lobi hotel mewah. Semuanya terlupakan begitu saja–setidaknya bagi si gadis. Lain dengan Jay yang seperti pria gila.
Akhirnya ia berdehem meski tidak tahu apa yang salah dengan tenggorokannya “Nanti, aku akan menyusul ke kamar. Jangan pergi, jangan kemanapun. Aku akan memberi dua pengawal di depan kamarmu” ucapan itu di angguki pelan oleh si gadis. Satu cup es krim habis dan Jay membawakan sisanya untuk mengantar Rin ke kamar. Pertemuannya ada di ruang khusus bagian hotel VIP.

Awan putih membentuk gelombang di atas langit cerah pada akhir musim gugur di kota Madrid. Cahaya bulan masih menyorot meski tertutup gumpalan putih yang membentuk acak. Pendar-pendar lampu kota menjadikan satu alasan besar kota itu terlihat begitu cantik.
Rin berdiri di sisi tralis balkon kamar hotelnya. Jay bilang, pertemuan hanya akan memakan waktu dua jam. Maka, di dalam kamar itu, Rin sudah melakukan hal-hal yang ia list sebagai isi akhir pekan meski tetap gagal menamatkan satu buku dengan lima ratus halaman. Matanya mengantuk dan ia memutuskan mandi.
Setelah mandi. Barulah ia berdiri di sana dengan segelas susu hangat dan cemilan.
Hanya melihat-lihat saja.
Tiap akhir pekan, tepatnya setelah kembali dari rumah penampungan para omega akibat korban pelecehan atau sejenis, Rin selalu berjanji pada diri sendiri untuk tidak berlarut memikirkan nasibnya di masa depan. Ia sudah memiliki jadwal untuk berpikir berlebihan dan jadwal itu bukan berada di akhir pekan.
Maka, ia akan membiarkan angin membelai wajahnya. Menerbangkan helaian rambut indah dan menggesek kulit halusnya. Matanya tertutup merasakan semilir yang begitu sejuk–melepaskan pikiran buruk–melepaskan wajah menyeramkan Jay–juga melepaskan sanksi sosial dan lain-lain. Tidak, tidak hari ini.
Tapi terlalu bohong jika pikiran itu tidak menyusup.
Jay yang begitu hangat dan mencintainya. Sehancur apa dirinya nanti jika pria itu tahu bahwa adiknya adalah seorang omega? Lalu, apakah pria itu akan membunuhnya juga? Seperti saat bibi pengasuh—seorang omega tersingkap? Bulu mata panjang-panjang sangat lentik menyatu tatkala kelopak itu tertutup.
Dan, jangan dipikirkan.
Rin meremas mok berisi susu, tampaknya, ia hanya butuh istirahat. Maka, gadis itu memutuskan untuk tertidur sembari menunggu kakaknya.

Satu jam berikutnya ketika Jay baru saja bisa menjemput adiknya setelah tamu lain datang di luar rencana. Pembahasan tentang pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya meski setidaknya, malam ini hingga fajar nanti, ia bebas untuk Rin, ya, untuk Rin.
Dan helaan napas menyambut ruangan putih dengan interior eropa kontemporer. Pria itu mencangking coat di tangan kanan sementara dua kancing teratas pada kemejanya terbuka. Dasinya tidak tahu dimana.
Jay mendekat. Rin benar-benar tertidur.
Wajah si gadis begitu lelah. Lantas ia melirik susu dalam mok yang masih hangat kuku. Artinya, Rin belum lama terlelap. Saat melirik arloji dan menemukan jam menunjuk pukul sembil malam, pria itu menimbang–untuk membangunkan atau membiarkan.
Benar, tidak ada rencana. Tidak ada kegiatan meski ada. Maksudnya pekerjaan. Tentu saja mencari uang adalah krusial, namun jika bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Rin, maka, ia akan mengesampingkan hal-hal yang masih bisa di handle karyawan atau asistennya.
Dan yang dilakukan setelah berdiri hampir tiga menit menatap adiknya yang terlelap adalah, merangkak naik ke ranjang.
Sepatunya di lepas. Hanya menyisakan kaos kaki. Jay memeluk Rin dari belakang dan berusaha ikut terlelap. Tubuhnya pun lelah.
Dan dalam keheningan panjang sebelum hilang kesadaran menjemput. Suara detak jantung, detik arloji yang lupa di lepas, desah napas lembut serta isi kepala yang riuh, pria itu bersumpah tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika ia kehilangan moral dan melakukan tindakan yang berpotensi menyakiti adiknya. Apapun, seperti menghirup aroma nikmat dari tengkuk atau helaian rambut. Bukan, itu bukan perbuatan yang lumrah dilakukan kakak terhadap adiknya.
Namun apa yang dilakukan Rin selanjutnya benar-benar membuat Jay seperti ingin menggadaikan jiwanya pada iblis, lalu meretas moral serta tak peduli apapun tentang aturan tuhan maupun aturan manusia.
Rin berbalik.
Memeluknya. Mendusal pada ketiak begitu erat dan menganggap tubuh kelewat besar itu adalah guling. Lingerie lucu itu tidak lagi lucu. Bagian dada atas terlalu rendah hingga Jay dapat melihat nyaris hingga ke puting.
Demi tuhan. Demi apapun.
Pria itu mencari akal demi mempertahankan sisi manusia. Benar, hanya binatang yang bernafsu pada adiknya. Dan ia merasa bukan binatang. Maka, yang ia lakukan setelah pertimbangan panjang adalah membebat Rin dengan selimut mirip membedong bayi. Setelah itu, menggeser tubuh sang gadis hingga berjarak beberapa senti.
Baru napasnya teratur.
Kendati, Jay tidak berencana memesan kamar yang lain. Ia tetap ingin tidur dengan adiknya. Seperti dulu, seperti ketika mereka kecil tanpa perasaan aneh. Hanya murni menyayangi sebagai saudara.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Rin bukan orang kurang kerjaan meski uangnya cukup untuk membuatnya menjadi kurang kerjaan.
Yang dilakukan pada hari-hari biasa adalah menjadi pemilik studio desain fashion. Tidak besar, namun lumayan membuat beberapa orang yang bekerja menjadi timnya tidak menjadi pengangguran.
Jay mengatakan jika gadis itu bebas ingin melakukan apa untuk mengisi waktu luang. Bahkan hanya dengan menghambur-hambur uang—Jay bilang dia bersedia mendanai. Sang kakak tentu saja terlalu angkuh. Maksudnya, Jay terus saja menganggap Rin sebagai anak-anak yang tidak bisa bekerja. Seolah, kegiatannya hanya mengoleksi pakaian merah muda serta makan es krim dan menangis jika di jahili. Padahal tidak seperti itu, usianya sudah legal dan ia sudah lulus kuliah. Rin memutuskan sendiri kemana langkahnya dan Jay tidak pernah protes. Hanya menyokong, lalu meledek.
Seperti Senin pagi yang selalu diawali dengan aroma kopi robusta dan suara mesin jahit yang nyaring di seberang. Gadis itu duduk di balik meja memegang tablet. Ia memeriksa hasil kerja timnya. Mengoreksi gambar atau menambah dan mengurang pada sesuatu yang dirasa kurang pas. Baru setelah itu, hasil gambarnya akan di serahkan pada tim pengerjaan.
Menjadi anak konglomerat benar-benar mempermudah hidup. Karyanya banyak dipesan oleh orang-orang yang juga dari kalangan atas. Jay ikut berpartisipasi atas pengiklanan dan lama-kelamaan—meski baru berjalan dua tahun, Rin menjadi dikenal untuk membuat desain pakaian para anak-anak sultan atau artis-artis tersohor di negri itu.
Kesitimewaan yang selalu saja berpihak pada kaya raya dan Alpha. terkadang, ada beberapa momen dimana ia merasa menjadi bagian dari mereka–dari alpha yang keren dan pemberani. Mirip dulusi yang ditanamkan sejak lahir. Kadang, keyakinan itu malah yang paling berhasil membuatnya bersemangat dan meninggalkan rasa takut di belakang. Asal jangan Heat. Benar, asal jangan Heat. Heat sendiri adalah simbol mengerikan di negeri ini. Tentu saja baginya. Mungkin hanya karena ia belum menemukan seorang omega yang bahagia dengan takdirnya, hanya belum. Dan ia harus menemukan seorang omega yang mencintai takdirnya.
Lalu beberapa orang masuk, mengatakan tentang benang yang habis, tinta yang sudah menipis dan keluhan lainnya setelah sepekan terakhir sementara laporan baru di ajukan. Maka, pergilah gadis itu untuk mencari bahan-bahan yang diperlukan tim nya.

Mobil mewah membelah jalanan padat kota. Roda itu melenggang menuju kediaman Pearl, tempat dimana segala kebutuhan kerja ada di sana.
Pearl adalah gadis seusianya. Ayahnya konglomerat kaya raya yang terkenal menjadi rival Jay meski tidak sampai bergesekan. Hanya pesaing yang masih dalam tahap normal dan sehat. Sementara Pearl sendiri adalah si bungsu yang memiliki usaha industri tekstil. Gadis itu memiliki pabrik kecil-kecilan dan semua barangnya dalam kualitas tinggi, pun sangat terkenal. Sangat bagus. Dan dari sana Rin mengambil mentahan.
Tidak lama. Membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai ke pabrik milik Pearl jika jalanan berpihak padanya. Tidak macet, tidak ada insiden apapun.
Ya insiden apapun.
Contohnya seorang nenek-nenek yang awalnya diam di pinggir jalan, lalu entah apa motivasinya tiba-tiba saja menyeberang tatkala mobil Rin akan melintas. Gadis itu sepontan menginjak rem dan tubuhnya terhempas ke depan keras. Beruntung ia tidak terbentur atau luka. Pun sang nenek yang hanya meringis. Ujung bajunya menyentuh bagian depan mobil Rin. Sekali lagi, beruntung tidak ada insiden serius. Tidak ada luka.
Maka, gadis itu keluar untuk memeriksa keadaan.
“Apa kau baik-baik saja?” Rin mendekat dengan mimik jelas khawatir. Sang nenek yang diperkirakan berusia pertengahan delapan puluh itu menatap Rin naik turun. Lalu batuk dengan cara paling aneh.
“Aku baik-baik saja” jawab si nenek bergetar “tapi akan jauh lebih baik, jika kau mau mengantarku pulang. Aku tidak punya ongkos dan ponselku hilang” katanya patetik. Nenek itu celingukan resah.
“Dimana rumahmu?” Rin ikut celingukan meski tidak tahu apa yang sedang dicari. Lalu tangan renta itu menunjuk arah jalan raya di seberang—pertigaan.
“Hanya butuh 15 menit” suara itu kelewat yakin “kakiku sudah tidak kuat dan kadang, pandangan serta pendengaranku tidak normal” tidak perlu percakapan lebih panjang untuk membuat Rin mendudukkan sang nenek di sebelahnya.
Mobil kembali berjalan dan percakapan tersambung.
Ini juga tidak terduga. Rin senang saja mendengar nenek itu berceloteh menceritakan cucu-cucunya yang lucu. Lalu anak laki-lakinya yang sudah lima tahu tidak pulang di Texas, menantunya yang cerewet dan kucingnya yang gendut dan pemalas. Rin menyimak sepanjang perjalanan, hingga rumah yang di maksud sudah terlihat.
Tidak jauh ternyata. Namun tempat itu lumayan sepi. Hanya beberapa rumah berjejer–bergaya retro yang terlihat sangat sepi. Mungkin pengaruh awal minggu yang hectic.
“Rumahku yang nomor dua dari kanan. Sebenarnya, tetangga kanan dan kiri sudah pindah dan hanya rumahku satu-satunya yang berdiri dan berpenghuni” nenek itu kembali memberi informasi tidak perlu. Rin hanya mengangguk dengan senyum seramah mungkin “tolong mampir sebentar, akan kubuatkan kudapan lezat”
“Tidak perlu, nek, aku benar-benar sedang terburu-buru” jawab Rin praktis, gadis itu bahkan tidak turun dari mobil. Si nenek sudah berdiri, namun pintu mobil belum di tutup. Ia menatap Rin dengan cara paling tidak biasa. Kebanyakan orang yang baru bertamu akan mengagumi kecantikannya atau bertanya tentang merek produk kecantikan yang di pakai. Seputar itu. Meski jelas mustahil di tanyakan oleh seorang nenek-nenek. Namun nenek itu membuat Rin tidak nyaman.
“Baumu unik sekali, sangat wangi” itu juga aneh. Rin mengernyit. Tidak tahu apa maksudnya “kau omega, ya?”
BOM!!
Pertanyaan itu membuat pupil si gadis melebar maksimal. Lidahnya kelu serta seluruh tubuhnya menegang. Seumur hidup, setelah mati-matian ia menjaga rahasia paling sakral dalam hidupnya, hanya tiba-tiba saja seorang nenek antah berantah dengan mudah menebak gender secondary miliknya yang telah ia tutupi dengan segenap jiwa dan raga. Itu benar-benar menakutkan dan Rin gagap. Ia tidak menjawab. Mulutnya menganga.
“Kau cantik sekali. Kau omega paling cantik yang pernah kutemui. Kau bukan omega biasa. Aku merasakan keistimewaa. Kau sangat istimewa” Rin juga menyimak yang itu “apa kau mau kubuatkan kudapan supaya aromamu tersamarkan? Aku memiliki yang seperti itu. Aku ini dukun”
Dukun
Bisa menyamarkan aroma omega.
Rin menelan liurnya susah payah sebelum nenek itu kembali bersuara “ikutlah denganku, nak. Aku bisa melindungimu dari para alpha jahat yang hanya menginginkan tubuh. Kau sangat cantik, kau pasti seperti daging segara di antara predator lapar jika baumu terendus mereka” ungkap si nenek penuh keyakinan. Ragu-ragu Rin dengan ucapan itu. Namun, dari semua orang yang pernah ia temui di dunia ini, baru sekali ini saja bisa menebaknya seorang omega dari aroma—yang bahkan ia sendiri tidak tau, tidak menyadari aromanya sendiri.
Nenek itu seorang alpha.
“Anggap saja ungkapan terima kasih. Jika kau menolak, ya sudah. Aku harus memberi makan kucing” lantas pintu di banting keras. Rin kaget sebentar namun masih mematung di tempat bokongnya memaku.
Agak lama ia berpikir. Kepalanya riuh.
Namun akhirnya, ia memutuskan untuk masuk setelah mengetuk. Wajah nenek itu sumringah. Kucing besar yang mendusal di kakinya ikut memperhatikan Rin.
“Aku tau kau akan masuk” ujarnya ramah. Rin di persilakan duduk di meja makan dapur sementara si nenek membuat kudapan. Rin tersenyum canggung.
“Darimana kau tau aku seorang omega? Apa hanya dari aroma? Memangnya, seperti apa aromaku?” pertanyaan itu sejak tadi mengganjal, Rin cepat-cepat menuntaskannya.
“Omega memiliki aura, begitu juga dengan alpha. Kau terlihat sangat kuat untuk ukuran omega. Namun hierarki ada karena perbedaan. Kau pasti mengerti. Kecantikan dan kekayaanmu tidak akan pernah bisa menutupi apa gender keduamu”
Kata-kata itu berhasil membuat Rin tertegun. Meski sudah berusaha terlihat seperti alpha, namun kenyataan tidak akan pernah bisa diubah. Hatinya nyeri.
“Tapi tenang” si nenek membawa nampan. Isinya adalah puding dan roti asin yang ditaburi coklat parut “aku sudah mencampurkan ramuan ke makanan ini. Saat kau memakannya, aroma omega dan hal-hal yang membuatmu terlihat lemah akan tersamarkan. Aku ini mantan dukun paling di cari. Aku bersembuyi karena pelanggan semakin membeludak sementara tubuhku tak lagi kuat melayani”
Rin yang begitu murni dan mudah tersentuh serta naif, mengambil satu potong roti asin. Mata cemerlangnya menatap si nenek ketika makanan itu mendarat di ujung lidah, lalu meleleh terkena liur dan dikunyah lembut.
“Enak?” tanya si nenek. Senyumnya begitu jenaka. Rin mengangguk, ikut tersenyum canggung “ternyata adik Jay adalah seorang omega” si nenek berbisik–berbicara pada diri sendiri.
Namun hanya sayup-sayup. Tatkala makanan masuk ke kerongkongan dan tertelan, dalam waktu yang amat singkat, Rin merasakan pening dahsyat. Kepalanya sakit–sangat berat, seperti di bebankan batu besar. Lalu bunyi dengung menyakitkan menyusul, sesaat kemudian, kepala Rin jatuh ke atas meja, gadis itu tidak sadarkan diri.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Senin malam sepulang bekerja ketika ia sudah mendapat laporan jika Rin tidak kembali ke rumah, pria itu marah-marah.
Seluruh orang dalam mansion tidak ada yang berani mengangkat kepala. Para pengawal yang tertunduk dalam, pelayan yang khidmat menatap lantai, semuanya menunduk serempak.
Suara Jay menggelegar seperti auman singa jantan di tengah hutan. Rahangnya mengeras, urat-urat leher tercetak jelas. Dalam satu titah, seluruh pengawalnya menyebar mencari eksistensi Rin.
Bukan tanpa alasan pria itu mengamuk. Laporan mengatakan jika Rin pergi dari studio sekitar pukul sebelas siang, lantas tidak pernah kembali dan saat dilacak, semuanya tidak terdeteksi. Para karyawan dalam studio hanya mengatakan jika Rin pergi memberi bahan mentah, namun hingga tengah malam–hingga semua orang pulang, gadis itu tidak pernah kambeli. Mereka pikir, Rin kembali ke rumah.
Maka, pria itu panik–nyaris seperti orang kesetanan. Seluruh teman-teman adiknya sudah di datangi, telah di interogasi dan jawaban mereka berbeda-beda. Ada yang mengatakan tidak tahu, ada yang menjelaskan jika Rin sempat mengirimkan pesan tentang model pakaian yang sedang dibuat milik temannya itu. Namun tidak satupun merujuk pada keberadaannya.
Belum genap sehari.
Tapi, Jay sudah menelepon seluruh polisi dalam negeri, menyewa detektif swasta serta mengarahkan apapun yang bisa ia lakukan. Yang penting, adiknya pulang.
Rin tidak pernah seperti ini. Dia selalu mengabari jika pulang terlambat. Memberi tahu lokasi serta tidak keberatan saat Jay mengirimkan pengawal.
Pergi secara mendadak disertai ponsel yang ikut senyap benar-benar baru terjadi sekali ini saja. Itu yang membuat Jay kalap.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Sementara di tempat lain.
Tempat asing dengan aroma aneh menyengat.
Rin batuk. Seperti asap kotor yang menyesaki para-parunya. Belum sempat matanya terbuka lebar, batuk lebih dulu menyerang hingga perutnya tertekan.
Saat suaranya nyaring, langkah seseorang terasa mendekat. Rin membuka kelopaknya sempurna dan melihat ruangan itu lebih mirip laboratorium di sekolah menengah. Tabung-tabung kecil berisi cairan berbagai warna berjajar, tabel periodik, alat pengukur ini dan itu. Rin tidak lagi memperhatikan saat eksistensi lain semakin mendekat dan berdiri tepat di sampingnya. Dan ternyata, ia merebah di brankar.
Apa ini? Apa semacam ruang percobaan?
Seseorang dengan baju serba hitam. Tidak ada jas putih atau stetoskop menggantung yang harusnya selaras dengan apa yang ada di sana. Manusia itu hanya mengenakan baju serba panjang, topi, lalu masker. Semuanya hitam dan Rin bahkan tidak tahu dia laki-laki atau perempuan. Perawakannya tidak terlalu besar, namun tidak kecil juga.
Saat berdiri di sisi kiri Rin–yang masih merebah. Tiba-tiba saja, tanpa aling-aling, tanap aba-aba, orang itu memukul kepala Rin dengan–entah, Rin tidak perhatian. Karena setelah itu, semuanya kembali gelap. Benar-benar gelap, ia tidak sadarkan diri.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
“Kata bos, jangan dibunuh, kita hanya perlu menjadikannya sandra”
“Lalu kenapa kau pukul?”
“Kita harus membuatnya tidak sadarkan diri sampai bos datang. Dia tidak boleh terjaga”
“Kenapa?”
“Mana kutau. Itu kata bos. Jadi, jika nanti dia siuman, aku akan memukul kepalanya lagi”
Suara itu terdengar kelewat jelas meski yang berbicara tidak satu ruangan dengan yang dibicarakan. Rin meringis saat kesadarannya kembali, namun kepalanya pusing luar biasa. Saat tangannya memegang kepala, ia merasakan darah kering di sana–ditempat benda tumpul menghantam tengkoraknya.
“Akh..” gadis itu memekik. Suara bisikan kontan senyap. Gadis itu menyesal. Namun baik kulit kepala, maupun kepalanya, benar-benar sakit luar biasa. Rin lantas menangis.
Namun sesuatu terjadi lebih buruk saat ia menangis. Satu orang kembali masuk. Seseorang yang baru beberapa saat datang dan memukul kepalanya. Orang itu kembali dan kini, Rin bisa melihat jika yang menghantam kepalanya—sebelumnya adalah balok sedang dengan sudut lancip. Pantas kepalanya berdarah.
Orang itu mendekat lagi. Mata Rin mengikuti gerakan orang itu dan lagi-lagi tanpa peringatan, satu pukulan melayang lagi. Gadis itu pingsan lagi.
Hening panjang sebelum yang lain menyusul.
“Dia sangat cantik, astaga. Kupikir kita bisa memotretnya setelah kita telanjangi. Atau mencoba… kau tau.. Gadis cantik kaya raya. Aku selalu penasaran seperti apa rasa vaginanya”
“Dan kau akan dibunuh oleh bos. Dia bilang, gadis ini hanya sandra hingga pihak lawan mau menandatangani surat kerjasama. Aku tidak yakin. Itu itu yang kutangkap dari percakapan bos”
“Lalu kenapa kau pukul? Bagaimana kalau dia mati? Sayang sekali, dia seperti artis. Aku bersumpah dia sangat cantik”
“Bos bilang harus membuatnya terus pingsan”
“Tapi kalau dipukul terus-terusan, dia akan mati”
“Tidak”
“Terserah. Omong-omong, berapa kau beri upah si nenek gila yang membawanya kemari?”
“Aku memberinya bibit kacang polong. Nenek sinting itu sangat terobsesi dengan kacang-kacangan”
Temannya tertawa “orang gila”
“Ya, dia gila”
Mereka berbicang-bincang. Lalu memesan makanan. Tertidur, lantas bergantian berjaga. Jika Rin bangun, gadis itu akan di pukul lagi di kepala. Begitu terus berulang-ulang. Hingga Rin tidak sadarkan diri cukup lama. Atau memang tidak lagi sadar.
Lama. benar, cukup lama dan kelewat lama. Hingga bos mereka datang lantas melihat kondisi Rin yang seperti sekarat. Si bos cepat-cepat menelepon dokter.
“Penjaga tolol! Kubilang hanya awasi. Jika gadis ini mati, maka, Fatah akan membunuhku. Jangankan menandatangi kontrak kerjasama, dia bahkan akan menghancurkan semuanya” si bos berteriak seperti kesetanan. Hal yang dilakukan tanpa perencanaan matang ini terasa makin gegabah. Diperparah, orang yang diculik bukanlah gadis biasa.
Sebenarnya, awalnya tidak serius. Seorang perintis kecil yang terus memohon pada seseorang yang membenci Jay untuk bekerja sama. Namun Fatah, musuh Jay malah memintanya untuk menculik Rin untuk dijadikan sandara. Belum ada instruksi lagi, namun sudah bergerak. Rencananya tidak lama, hingga Jay menyerah. Entah genjatan semacam apa yang terjadi antara Jay dan Fatah. Yang pasti, kini ia terlibat dan sialan, penjaga rendahan itu malah membuat si gadis koma dengan luka dikepala yang serius.
Masalahnya jelas akan semakin rumit dan panjang.
Si pengusaha kecil itu menelepon Fatah dan menceritakan kronologi kejadian. Lalu pria di seberang meminta agar Rin cepat-cepat mendapat perawatan dokter. Tidak boleh mati. Jika mati, mungkin Jay akan menggila. Siapa saja tahu Jay sangat menyayangi adiknya. Keluarga satu-satunya.
Setengah jam kemudian, dokter datang.
Saat memeriksa kondiri Rin, dokter mengatakan jika gadis itu harus mendapatkan perawatan intensif karena kepalanya yang memar parah. Obat biasa dan infus tidak akan bekerja dan kemungkinan gadis itu untuk sadar sangat kecil jika tidak di tangani dengan benar. Maka, dengan cepat, mereka membawa Rin ke rumah sakit.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Dua hari setelah kehilangan Rin.
Jangan tanya bagaimana kondisi Jay. Pria itu seperti orang gila. Kini intensitas marahnya semakin menjadi-jadi. Sudah mengerahkan seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi, menyebarkan pengumuman baik di seluruh stasiun televisi maupun sosial media. Poster-poster berjajar mengumumkan hadiah bagi siapa saja yang bisa menemukan Rin dan membawanya pulang dalam kondisi selamat.
Pun berita itu menyebar kelewat cepat. Pengaruh Jay begitu besar di negeri. Maka, hanya orang sinting yang berani-beraninya menculik sang adik. Jay bersumpah akan membinasakannya.
Di tengah kekalutan, ponselnya bergetar. Nama asistennya terpampang jelas. Dengan gesit pria itu mengangkat panggilan.
“Pak, anda harus mengadakan pertemuan dengan George, dia sudah mendesak untuk bertemu dan membicarakan tentang proyek baru—” tidak sempat asistennya menyelesaikan kalimat. Jay lebih dulu mematikan sambungan. Ia melempar benda pipih itu sembarangan. Menyandarkan punggung pada belakang kursi, lalu memijat dahi. Kepalanya sakit. Ia merindukan Rin seperti orang sinting.
Di tengah kekalutan yang mendera. Jejaknya bangkit. Kaki menuntun pria itu untuk masuk ke kamar orang tua mereka. Maksud Jay hanya ingin mencari berkas-berkas kelahiran Rin di Prancis.
Rumah sakit, bobot gadis itu saat baru lahir, atau apa saja yang bisa ia temukan. Ia hanya kelewat rindu. Sudah dua malam ia terbaring di kamar Rin tanpa benar–benar bisa tidur. Kegiatannya adalah melihat album lama, barang-barang lucu serta aroma Rin yang masih tertinggal di bantal. Maka, ia butuh sesuatu yang lain untuk mencekoki rindunya.
Benar, Jay seperti pecandu gila yang dipaksa berhenti kontan dari narkoba. Tentu saja efek sakau benar-benar menyiksa.
Kamar itu tidak berubah sejak beberapa tahun setelah di tinggal pergi selamanya. Pembersihan dilakukan setiap hari, seperti pada ruangan lain. Tidak ada setitik debu, yang tersisa hanya aroma antiseptik dan pengharum ruangan.
Jay menggeledah lemari utama. Tempat dimana orang tuanya meletakkan seluruh berkas yang sebagian besar telah berpindah ke ruang kerjanya. Berkas-berkas penting perusahaan, harta benda, serta hal-hal sejenis. Semua tak tersisa. Yang ada di sana adalah data dirinya sendiri saat masih kecil. Atau kenang-kenangan ayah dan ibunya ketika masih muda hingga meninggal dunia. Dan disanalah Jay mengorek.
Tumpukan kertas, dokumen, map dan segala macam.
Semua tersusun rapi.
Matanya memindai, berusaha mencari nama Rin di antara seluruh hal yang ada disana.
Namun tidak satu pun kertas berisi nama Rin. Jay menutup lemari utama dan membuka laci paling bawah. Saat kunci itu terbuka, barulah ia tersenyum. Nama Rin terpampang besar di atas map merah muda “Rin Clarion”
Lembar yang pertama adalah akta asli milik Rin.
Jay membacanya hati-hati. Padahal sudah tau tanggal lahir adiknya. Namun disana, ia mengusap kertas itu, seolah Rin ada di sana.
Lalu lembar kedua berisi foto-foto bayi Rin. Itu juga sering ia temui. Bahkan, foto pada akun instagram gadis itu menggunakan foto bayi.
Lembar-lembar itu berisi tumbuh kembang yang dipantau. Tiap tahun, tiap gadis itu baru mulai mengatakan “ma” atau “pa” atau kosa kata lain. Orang tuanya dengan rajin mencatat hingga ke tanggal dan jam. Semuanya begitu rapi. Kapan gadis itu melangkah pertama kali, kapan bisa berlari, hingga Rin besar. Jay membacanya sambil tersenyum membayangkan Rin kecil yang cantik baru belajar jalan.
Ia meletakkan map itu lalu berpindah pada benda yang lain—asing. Mirip peti harta karun dengan gembok dan kunci. Ya, kotak itu di kunci. Jay lantas celingukan mencari gembok.
Ia bengkit. Menggeledah laci, seluruh lemari di sisi kanan kiri.
Di bawah tempat tidur, di segala sudut, namun kunci itu tidak pernah ada. Ia juga sempat menelepon asisten pribadi mendiang ibunya dulu dan sang asisten mengaku tidak tahu menahu soal peti dalam lemar berikut kunci antah berantah.
Seluruh pelayan mansion juga tidak tahu. Sopir-sopir yang bekerja sejak ia kecil.
Tidak ada yang tau.
Maka, Jay meminta orang untuk membukakan kotak itu meski harus menghancurkannya dengan benda tajam atau sejenis.

Tidak jadi.
Ia memukul gembok itu dengan linggis kecil dan dalam lima kali percobaan, gembok hancur.
Jay masih berpikir tentang berkas rahasia atau aset yang belum sempat orang tuanya bagi tahu. Atau isinya adalah tumpukan logam mulia. Mungkin berisi rahasia-rahasia pesaing atau paling sederhana lagi adalah aib keluarga ini. Seperti data korupsi ayahnya, atau bagaimana ibunya mengeksploitasi sumber daya alam. Itu tidak begitu mengejutkan.
Isinya berkas tebal.
Jay membukanya hati-hati. Dan diluar dugaan, bukan semua hal yang ia duga sebelumnya, bukan sesuatu yang bisa menambah kekayaannya, bukan juga hal-hal yang bisa melemahkan saingannya. Melainkan Rin Clarion. Benar, berkas itu berada di antara tumpukkan data milik Rin. Jadi masuk akal jika isinya memang seputar Rin. Namun yang membuat Jay mengernyit adalah keterangan yang ada di dalamnya.
Nama : Rin Clarion
Tanggal lahir : 11 April 2003
Gender : ( Omega ) persilangan Alpha dan non binary–Alpha.
Nama orang tua : Jack Clarion dan Anna Watt.
Catatan: “dia adalah anak pembawa keberuntungan.persilangan antara alpha dan alpha non binary akan melahirkan dewi fortuna. Saat dia masih bersamamu, maka, kekayaan, kekuasaan serta kejayaan akan senantiasa menyertai keluargamu, keturunanmu dan hartamu”
Jay mengulang membaca hingga delapan kali. Benar, delapan kali.
Jack Clarion Anna Watt
Jack Clarion Anna Watt
Jack Clarion Anna Watt
Jack Clarion Anna Watt
Jack Clarion Anna Watt
Jack Clarion Anna Watt
Jack Clarion Anna Watt
Jack Clarion Anna Watt
Gender : ( Omega ) persilangan Alpha dan non binary–Alpha.
Gender : ( Omega ) persilangan Alpha dan non binary–Alpha.
Gender : ( Omega ) persilangan Alpha dan non binary–Alpha.
Gender : ( Omega ) persilangan Alpha dan non binary–Alpha.
Gender : ( Omega ) persilangan Alpha dan non binary–Alpha.
Gender : ( Omega ) persilangan Alpha dan non binary–Alpha.
Gender : ( Omega ) persilangan Alpha dan non binary–Alpha.
Gender : ( Omega ) persilangan Alpha dan non binary–Alpha.
Di bawah berkas—masih di dalam kotak. Jay juga menemukan kantong plastik steril dengan isi hasil tes darah, DNA dan hal-hal medis yang tidak terlalu ia mengerti.
Namun satu hal yang pasti dan jelas.
Gadis itu bukan adik kandungnya. Ayah dan ibu Rin berbeda, bukan ayah dan ibunya. Sejak awal, gadis itu tidak memakai nama belakang ayah Jay dan ia juga tidak perhatian untuk nama.
Jay memutar ingatan kejadian puluhan tahun yang lalu saat ibunya pulang dan membawa bayi secara mengejutkan. Banyak para petinggi–rekan dan orang-orang dekat mengatakan jika Rin adalah anak haram dari ayahnya bersama omega rendahan. Rin terlihat sangat lemah dan rapuh meski fisiknya begitu kental seorang Alpha yang cantik jelita.
Sekali lagi, aura tidak bisa diabaikan.
Dan yang dilakukan orang tua Jay saat itu adalah tidak menggubris. Mereka tetap mencintai Rin. Memperlakukan anak itu seperti anak kandung sendiri tanpa membeda-bedakan. Pun tidak pernah mengklarifikasi pada siapapun. Ia hanya mengatakan pada seluruh penghuni rumah jika Rin adalah gadis alpha–anaknya. Selesai. Dan tidak pernah ada yang berani mendebat. Kecuali mereka yang kurang kerjaan dan mencari masalah.
Jay mematung beberapa saat. Kepalanya mencerna lambat. Benar, ia tercenung sangat lama hingga matanya perih karena kering.
Mengabaikan kotak dan segala hal yang baru saja ia dapatkan, pria itu beringsut–bergegas menuju kamar Rin.
Mencari apa saja. Apapun.
Seluruh dunia tau jika seorang omega akan mengalami masa heat. Maka, Rin sudah pasti mengalami fase itu juga. Namun gadis itu tidak pernah—maksudnya, Jay tidak tahu. Menurut berita yang tidak pernah ia simak dengan serius, saat Heat, omega akan mengeluarkan feromon yang begitu pekat—mengundang para alpha untuk mendekat karena aromanya. Lalu, mereka–para omega akan terangsang hebat.
Rin tidak, Jay bersumpah Rin tidak mengalami itu. Atau ada yang terlewatkan? Hari-hari Rin sibuk di studio. Jika akhir pekan, ia akan mengajak gadis itu ke sana sini agar tidak bosan. Sepanjang hidupnya, Jay tidak pernah menemukan hal-hal yang—tidak tahu. Terlalu banyak kejutan, belum lagi eksistensi gadis itu yang masih dalam pencarian.
Jay terduduk di lantai kamar adiknya. Ia bingung dan segala rasa bercampur aduk tidak karu-karuan.
Seluruh sudut kamar ini telah ia lihat, telah ia periksa. Untuk menyuapi kerinduan pada Rin. Tidak pernah ada apa-apa disini kecuali wangi tubuh Rin yang masih tertinggal.
Tunggu… apa wangi tubuh itu adalah omega? Apa omega selalu beraroma memikat seperti itu?
Tidak.
Ia pernah mendengar dari temannya yang sering menggunakan omega sebagai objek seks—mengatakan jika omega kebanyakan beraroma cairan vagina yang memabukkan. Aroma basah yang sensual.
Namun tidak dengan Rin. Aromanya tidak seperti itu. Ia yakin.
Dan satu-satunya titik yang belum ia geledah adalah bawah ranjang.
Maka, dengan tubuh sebesar itu, ia mengangkat kasur dan dipan yang ternyata kelewat ringan. Dipan yang Rin pun bisa membaliknya.
Maka, matanya nyalang menatap satu marmer yang tidak rekat. Natnya tidak tersambung dan khas tempel. Maka, ia membuka marmer itu hati-hati.
Dan disanalah seluruh jawaban.
Obat heat.
Pria itu terlonjak. Bukan karena obat heat yang ditemukan, melainkan salah satu pelayan yang masuk terburu-buru.
“Maaf mengagetkan, Pak. Tapi, Nona Rin sudah di temukan”
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Seorang perawat yang menangani Rin. Ia melihat pagi dan sore poster sepanjang jalan pergi dan pulang—tentang uang besar yang dijanjikan seorang bangsawan kaya raya jika menemukan adiknya, Rin. Poster itu juga memajang foto–yang membuat sang perawat begitu mengenali tatkala gadis cantik jelita itu di bawa ke rumah sakit.
Ia langsung menelepon nomor yang tertera pada poster. Pasalnya, berita itu memang sedang hangat di perbicangkan dengan hadiah nominal uang yang tidak sedikit. Maka, meski tidak terang-terangan, banyak orang yang diam-diam mencari Rin.
Jay tidak langsung datang. Sang alpha memilih memburu pelaku yang langsung tertangkap saat pengawalnya berhasil membuat dua orang yang mengantar Rin mengaku. Yang datang ke rumah sakit adalah asisten Jay. seorang wanita paruh baya yang memiliki wajah seperti Maria.
Rin baru saja sadar. Dari hasil pemeriksaan fisik dan CT scan yang telah dilakukan sebelumnya, Dokter mengatakan bahawa Rin mengalami trauma tumpul pada kepala akibat benturan keras berulang. Memar luas menyebar di bagian kepala, terutama di area pelipis dan belakang tengkorak, menunjukkan bahwa pukulan yang diterimanya tidak hanya sekali, namun berkali-kali dengan kekuatan yang cukup besar.
Benturan itu menyebabkan gegar otak yang cukup berat, disertai gangguan sementara pada fungsi memori. Berdasarkan respons Rin saat sadar—ketidakmampuannya mengenali dirinya sendiri, lingkungannya, serta hilangnya orientasi terhadap identitas pribadi—dokter menyimpulkan bahwa ia mengalami amnesia pascatrauma, sebuah kondisi yang sering muncul setelah cedera kepala yang kuat.
Dalam kondisi ini, bagian otak yang berperan dalam penyimpanan dan pengambilan memori mengalami gangguan sementara akibat trauma. Ingatan tidak benar-benar hilang, melainkan seperti terkunci atau terputus dari akses kesadaran. Hal itu membuat Rin untuk sementara waktu tidak mampu mengingat identitas dirinya, pengalaman hidupnya, maupun orang-orang yang pernah ia kenal.
Namun dari tanda-tanda neurologis lain, tidak ditemukan kerusakan permanen yang mengkhawatirkan. Refleks dasar, respons pupil, serta aktivitas otak masih berada dalam batas yang stabil. Karena itu dokter memperkirakan bahwa hilangnya ingatan tersebut bersifat sementara.
Dalam banyak kasus seperti ini, memori dapat kembali secara bertahap. Potongan-potongan ingatan sering muncul perlahan, dipicu oleh rangsangan sederhana seperti wajah yang familiar, tempat yang pernah dikenal, suara tertentu, atau pengalaman kecil yang mampu membangkitkan kembali jalur memori di otak.
Proses pemulihan itu tidak selalu terjadi sekaligus. Ingatan biasanya datang dalam fragmen-fragmen kecil terlebih dahulu—perasaan samar, bayangan tempat, atau potongan kejadian—sebelum akhirnya membentuk kembali kesadaran yang lebih utuh tentang masa lalu.
Untuk sementara waktu, Rin kemungkinan akan tetap berada dalam kondisi kebingungan identitas. Ia mungkin tidak mengetahui siapa dirinya, dari mana asalnya, atau apa yang pernah ia alami. Namun selama tidak ada komplikasi lanjutan pada otak, dokter menilai bahwa peluang pemulihan ingatannya masih cukup besar, selama tubuh dan sistem sarafnya diberi waktu untuk pulih dari trauma yang telah dialaminya.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Kabar penculikan Rin, lalu ditemukan—belum benar-benar reda ketika dunia bisnis kembali diguncang oleh berita lain yang jauh lebih mengejutkan.
Pagi itu, layar-layar berita menampilkan satu nama yang selama bertahun-tahun berdiri di puncak dunia industri: Fatah. Pria yang dikenal sebagai pengusaha besar dengan jaringan luas itu dikabarkan meninggal dunia secara mendadak pada malam sebelumnya. Berita itu menyebar seperti api yang menyambar ladang kering, merambat dari satu portal berita ke portal lainnya, dari ruang rapat para investor hingga bisikan para jurnalis yang sibuk menelusuri potongan-potongan kebenaran di baliknya.
Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi. Laporan yang beredar menyebutkan kematian yang misterius, tanpa penjelasan yang gamblang, tanpa saksi yang cukup untuk menjelaskan bagaimana seorang pria sekuat dan seberpengaruh itu dapat berakhir begitu saja dalam satu malam yang sunyi. Hanya sepotong kabar dingin yang tersaji di halaman depan media: seorang raksasa dunia bisnis telah tumbang.
Di tengah kehebohan itu, nama lain ikut beredar di setiap percakapan yang penuh tanda tanya—Jay.
Jay, pengusaha muda yang selama ini dikenal hampir seperti figur publik; wajahnya kerap menghiasi sampul majalah bisnis, wawancaranya ditunggu banyak orang, dan setiap langkahnya di dunia industri selalu menjadi bahan pembicaraan. Kekayaannya menjulang seperti menara kaca yang memantulkan cahaya kekuasaan, terlalu tinggi untuk dijangkau oleh kebanyakan orang.
Beberapa jam sebelumnya, publik masih membicarakan kabar ditemukannya Rin setelah penculikan yang menghebohkan. Peristiwa itu saja sudah cukup membuat dunia gempar. Namun sebelum debu dari berita itu benar-benar turun, kematian Fatah muncul seperti petir yang menyambar langit yang belum sempat tenang.
Kebetulan yang aneh untuk tidak diperhatikan.
Bisik-bisik mulai tumbuh di antara para pengamat bisnis dan orang-orang yang memahami betapa kerasnya dunia kekuasaan. Mereka berbicara dengan suara rendah, seolah-olah dinding pun bisa mendengar. Tidak ada bukti yang dapat menunjuk siapa pun. Tidak ada jejak yang tertinggal di permukaan.
Dan di tengah semua kegaduhan itu, Jay tetap berdiri di tempatnya seperti biasa—tenang, tertata, dan tak tersentuh oleh badai spekulasi yang berputar di sekeliling namanya. Wajahnya muncul di beberapa liputan berita hari itu, dingin dan terkontrol, seperti patung yang diukir dari batu mahal.
Tidak ada yang dapat menuduhnya. Tidak ada tangan yang bisa menunjuknya.
Namun bagi mereka yang cukup jeli membaca alur kekuasaan, ada sesuatu yang terasa seperti bayangan gelap yang melintas di balik semua kejadian itu—sebuah kekuatan sunyi yang bergerak tanpa suara, yang tidak meninggalkan jejak selain hasil akhirnya.
Satu orang telah kembali dari jurang kematian. Dan satu orang lain… tidak pernah melihat matahari pagi lagi.
Seperti itu dunia berjalan di atas sana. Di mana para alpha berkuasa dan saling serang apalagi jika di gigit duluan. Jay, begitu banyak spekulasi yang jelas menyeret namanya. Kendati benar, ia tidak akan pernah tersentuh, tidak akan. Pria itu menduduki puncak hierarki teratas. Bahkan bayangannya tidak akan tersentuh. Dan sial bagi siapa saja yang berani menggigitnya duluan.
Sejak kecil, ia terlatih bukan hanya untuk uang dan bisnis. Namun ia juga dilatih untuk menghadapi pesaing alias lawan.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Hampir satu minggu setelah di rawat di rumah sakit, Rin akhirnya di perbolehkan pulang.
Selama itu juga, Jay adalah orang yang merawat. Jika sedang terpojok pekerjaan, maka, ia akan meminta asistennya untuk mengurus Rin. Gadis itu bagai dokumen negara yang paling berharga sedunia. Jay memperlakukannya lebih dari itu, lebih dari apapun. Bayangannya tentang kebenaran siapa sebenarnya sang adik, bukan membuat Jay benci atau pikiran jauh tentang membuang, mengabaikan apalagi menghinakan meski tau adiknya adalah seorang omega. Jay justru kesenangan karena apa yang ia dambakan, yang ia mohonkan, terkabul dalam bentuk yang paling tidak pernah ia bayangkan.
Rin bukan adiknya, bukan.
Rencananya, jika gadis itu sudah sehat—meski memorinya belum kembali, Jay akan mengumumkan pada dunia, jika Rin memang bukan adiknya. Ia adalah anak adopsi yang di bawa sang ibu dari Rusia atau Prancis? Apapun, ia tidak peduli, yang paling penting, mereka tidak berdosa untuk bersama, tidak mendapat sanksi sosial dan melangkahi kultur normal. Itu adalah poin pentingnya sekarang.

Perban-perban dikepalanya telah di lepas. Masa pemulihan berjalan tenang dan perlahan. Kendati, Rin masih banyak melamun dan masih kesulitan mengenali sekitar, namun kehangatan serta kelembutan Jay membuatnya merasa aman.
Gadis itu bingung, diam, cenderung patuh karena memang tidak ada yang diingat dikepalanya. Dokter mengatakan banyak hal tentang jangan khawatir. Maka, Jay mempercayai itu dan berusaha membawa gadis kesayangannya untuk mengingat sedikit-sedikit.
Kamarnya, studio, candaan mereka, serta barang-barang yang memang milik si gadis. Jay sangat sabar dan penuh pengertian. Kasih sayangnya membuat Rin bergantung dan menjadikan pria itu tempat bersandar. Rin seperti anak kucing yang terus membuntut Jay, menempel, serta tidak bisa ditinggalkan lama.
Ada malam-malam dimana gadis itu menangis berteriak ketakutan, lalu Jay akan datang dan menemaninya tidur. Seperti itu pemulihan berjalan. Tidak ada keterpaksaan, yang ada justru rasa cinta yang semakin besar. Rasa yang menggebu-gebu yang berusaha diredam sekuat tenaga.
Lusa, Jay akan membuat pengumuman tentang adiknya pada dunia. Lantas sesuai tanggal yang sudah ia siapkan, Jay akan menikahi Rin. Tekadnya sudah bulat.
“Mau es krim?” mendengar suara Jay, Rin kontan membalik tubuh. Matanya berbinar saat beradu dengan milik pria yang datang membawa satu cup es krim besar. Ia mengangguk. Jay ikut duduk di samping “ini es krim favoritmu. Kau bisa menghabiskan dua cup besar sekaligus tanpa naik massa. Itu berkah” es krim berpindah. Jay menyibak rambut gadis itu ke belakang lembut.
“Terima kasih, Jay” senyumnya naik. Ia lantas melahap. Matanya menatap si pria dan es krim secara bergantian “aku percaya ini es krim favoritku, ini sangat enak meski aku belum ingat” katanya riang. Hanya butuh waktu hingga ia bisa bicara, gadis itu memang banyak melamun, namun jika bersama Jay dan merasa nyaman, ia akan ceria.
“Rin..” tangannya mengusap kepala si gadis sayang. Rin mendongak.
“Ya?”
“Maukah kau menikah denganku?” pertanyaan itu kelewat ringan di ajukan. Mirip pertanyaan untuk pilihan menu makan siang hari ini. Mata cemerlang itu membulat, dahinya berlipat dan ia melanjutkan menyuap es krim.
“Kau bilang, kita dua orang yang saling menyayangi sebelum ini. Kau juga sangat baik dan mengurusku dengan sabar. Aku tidak ingat, tapi kau sangat telaten” ia menelan es krim dalam mulut sebelum melanjutkan kalimatnya “tentu saja aku mau. Kita pasti sepasang kekasih yang saling mencintai. Aku mencintaimu, dan kamu juga. Kamu sangat baik dan aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpamu. Aku mau, Jay. Ayo kita menikah. Mungkin, aku akan menyusahkanmu hingga ingatanku kembali”
Jay tercenung lama. Matanya terpaku pada manik hitam tak terlalu pekat. Sebenarnya, ia tidak pernah memperkenalkan diri pada Rin sebagai kekasih. Tapi tidak juga sebagai kakak atau keluarga. Saat baru siuman, Jay hanya mengatakan jika ia adalah orang yang mencintai Rin. Orang yang akan selalu ada dan menjaganya seperti hidupnya sendiri. Maka, kepala gadis itu yang menyimpulkan jika hubungan mereka adalah pasangan—kekasih.
Jay tidak akan repot-repot mengatakan apapun tentang status mereka. Karena kenyataannya memang tidak keduanya. Tidak kekasih, tidak keluarga. Yang paling benar adalah orang yang mencintai Rin sejak kecil. Saudara angkat yang tak ada hubungan darah, sama sekali.
“Aku melamarmu, apa kau menginginkan sesuatu sebagai mahar?” pertanyaan itu yang keluar. Jay hanya akan berpikir belakangan jika ingatan Rin kembali. Yang terpenting menikah dulu. Jika gadis itu sudah menjadi miliknya, maka, Rin akan sulit untuk pergi. Pun, jika pergi, gadis itu akan kesulitan lagi. Hidup omega sangat sulit di luar, sangat. Itu mengerikan. Apalagi dengan wajah secantik itu.
“Aku ingin boneka yang sangat besar” lalu gadis itu diam sebentar “ah tidak, maksudku, boneka yang sebesar tubuhku, yang bisa menjadi teman tidurku dan aku tidak akan menangis tengah malam dan merepotkanmu, Jay. Kau pasti sibuk”
“Aku tidak akan sibuk. Jika sudah menikah, aku akan ada di dekatmu, di sampingmu. Boneka hanya akan menjadi musuhku. Aku tidak akan membiarkan apapun memelukmu selain aku” ia mengatakan dengan percaya diri meski jika Rin dalam kondisi normal, ia belum tentu berani. Bukan tidak berani, namun canggung.
Sementara gadis itu mengulum senyum yang di tahan. Es krim meleleh ke bibir bawahnya–jatuh. Jay menyekanya lembut.
“Kau merona” Jay ikut tersenyum.
“Benarkah? Aku tidak tahu, tapi jantung berdegup seperti ini” Rin memegang dadanya lalu memaju-mundurkan kepalan tangan dipermukaan dada “deg deg deg. Aku merasakan ritme yang menyenangkan di perutku. Aku senang” katanya polos. Di gambarkan setransparan mungkin bagaimana suasana hatinya. Jay mengalihkan tatapan karena tidak tahan. Pria itu sangat gemas dan ingin mencium Rin. Sungguh, namun tidak pernah ia lakukan. Ia khawatir Rin takut.
“Mau kuberi tahu apa artinya?” mata pria itu teduh begitu menenangkan. Rin mengangguk antusias “artinya, kau jatuh cinta padaku”
“Aku jatuh cinta padamu? Tentu saja, apa hal-hal seperti itu kurang jelas? Apa sebelum aku lupa semua hal, aku tidak mencintaimu?”
Jay mengedikkan bahu “tidak yakin. Tapi kau… mungkin saja tidak mencintaiku”
“Mustahil”
“Apanya yang mustahil?”
“Mustahil aku tidak mencintaimu. Kau—” Rin menunjuk Jay “kau tampan dan baik, kau sangat.. Uh.. aku bosan mengatakan ini berulang-ulang. Tapi yang pasti, aku jelas bukan orang normal jika tidak menyukaimu”
“Benarkan? Aku tampan dan keren” Jay terbahak-bahak. Seandainya ia bisa merekam kejadian hari ini, lalu di tunjukkan pada Rin di kemudian hari dengan ingatan yang telah kembali. Membayangkannya saja pria itu ingin tertawa hingga jatuh ke lantai.
“Sebentar, aku ingin merekam ini” Jay benar–benar mengeluarkan ponsel, lalu kamera menyorot wajahnya dan wajah cantik si gadis “halo” katanya, lantas Rin ikut mengatakan halo sambil menyendok es krim.
“Aku ingin mengatakan jika siang ini, aku melamar Rin. lihatlah, dia sedang makan es krim. Dan Rin..” Jay menyorot gadis itu secara utuh “Rin, aku melamarmu, maukah kau menjadi istriku? Aku bertanya tanpa paksaan, tanpa tekanan. Aku bahkan tidak masalah jika tertolak meski aku tidak bisa ditolak. Namun aku tidak mungkin memarahimu karena kau menolak lamaranku. Aku sungguh tidak memaksa. Apakah kau mau menikah denganku?”
“Mau, aku mau. Ya, momen ini harus di abadikan. Dengar, aku mau menikah dengan Jay” kamera menyorot hidung gadis itu, lalu ke bibir. Jay tergelak.
“Aku tidak memaksamu, kan? Apa kau sedang dalam kondisi sakit kepala?”
“Tidak” jawab Rin.
“Aku diterima, kan?”
“Tentu saja” kata si gadis lagi. Lantas, Jay mematikan ponsel.
“Aku sudah mendapat bukti. Kita akan menikah dan kau akan jadi istriku selamanya. Aku akan membahagiakanmu, Rin. Aku bersumpah demi hidupku”
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Pengumuman di lakukan tengah malam melalui konfersi pers yang diwakilkan oleh asisten. Pengumuman tiba-tiba itu berhasil menyita perhatian publik. Tentu saja. Belum reda kasus Fatah yang masih dalam penyelidikan, kini, Jay mengumumkan pada dunia bahwa adiknya yang kemarin sempat diculik oleh antah berantah—yang juga sampai hari ini tidak di temukan–tidak juga diperpanjang, ternyata bukan adik kandungnya. Bukan pula anak dari gundik ayahnya.
Sang asisten di atas podium juga memaparkan siapa Rin. Gadis keturunan Rusia—Spanyol dari dua alpha. Berkas-berkas usang di potret sebagai bukti meski tidak sepenuhnya. Lantas, sumber-seumber terpercaya di datangkan dari Rusia, yaitu orang yang ada kaitannya dengan adopsi Rin dan orang tua Jay.
Ya, Jay tentu saja tidak akan jujur untuk bagian gender second milik sang gadis. Dan melalui asistennya juga, Jay mengumumkan pada dunia bahwa ia akan menikahi adiknya. Rin tidak memiliki hak waris, tidak ada apapun atas harta ayah dan ibunya. Maka, publik menyimpulkan jika Jay memang tidak akan membuang sang adik karena khawatir menjadi gila karena tiba-tiba ‘bukan siapa-siapa’ di keluarga bangsawan itu.
Segala spekulasi bermunculan. Banyak akun-akun yang mencari keuntungan dari berita besar–mulai menyebarkan hoax, membuat narasi fiktif dan segala hal yang dilebih-lebihkan. Bahkan beberapa membuat teori konspirasi tentang keluarga Jay. Dan Jay lagi-lagi tidak peduli.
Beberapa petinggi yang dulu meragukan jika anak itu memang bukan anak kandung ayah dan ibu Jay—kini hanya mendecih angkuh karena dulu, tidak ada yang percaya dengan tebakannya.
Sementara Rin, ia tidak membuka berita. Jay belum memberikan ponsel karena menurut anjuran dokter, Rin harus terus melatih memorinya dengan aktif secara nyata. Rin sibuk dengan anjing peliharaan. Terkadang di ajak memetik buah, merangkai bunga, atau menggambar desain pakaian pada kertas menggunakan pensil pewarna. Gadis itu sibuk dengan para pelayan dan tidak ada waktu menyimak kondisi dunia. Bahkan saat namanya ramai di perbincangkan di seluruh negri.
Seluruh penghuni rumah sudah di beri tahu lebih dulu sebelum berita bahwa Jay akan menikah dengan adiknya yang bukan adiknya. Para pelayan sibuk bergunjing ini dan itu. Kondisinya lumayan ramai dan panas. Kendati, Rin hanya hidup dan menikmati masa pemulihannya.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟

Pernikahan di gelar secara privat. Hanya kolega dan kerabat dekat serta rekan bisnis–baru-baru ini yang diundang. Kegiatan itu dilakukan di gereja megah di kota Madrid.
Pesta yang tidak terlalu besar, namun khidmat. Rin di gandeng oleh salah satu rekan bisnis Jay. Seorang pria berusia akhir lima puluh menggunakan tuxedo hitam dengan bulu wajah yang nyaris menutup hampir seluruh dagunya. Ia mengantar mempelai wanita untuk bertemu dengan calon suaminya. Kondisinya agak mengharukan meski tidak ada yang menangis kecuali para pelayan yang sudah bekerja sejak Rin bayi. Rasanya, sedih dan bahagia sekaligus. Beruntung Jay tidak membuang adiknya atau sejenis meski tidak mungkin. Dan menikahi Rin memang jalan paling tepat.
Suasana menjadi semakin hening tatkala pendeta mulai berusara dengan mikrofon.
Suaranya tenang, ia menatap Jay dan tersenyum ramah “apakah engkau, Jay Adam, bersedia mengambil Rin Clarion menjadi istrimu yang sah, mengasihi dan setia padannya dalam segala keadaan, sampai maut memisahkan?”
“Ya, aku bersedia”
Pertanyaan serupa diajukan pada Rin. Jay melirik ke samping, tempat istrinya berdiri dengan senyum memikat. Gadis itu terlihat berbinar-binar dengan riasan seperti bidadari. Sungguh, kecantikannya seperti akan menghancurkan dunia. Jay bersumpah akan melakukan apapun demi mendapatkan gadis itu meski kini ia sudah mendapatkannya.
Lantas mereka saling tukar cincin.
Tangan cantik itu berada di atas besar miliknya. Jay menyematkan cincin dengan hati yang benar-benar bahagia. Begitu juga dengan Rin. ia mendongak melihat suaminya, lalu tersenyum kecil sangat menggemaskan sebelum memasukkan cincin pada jari manis besar pria itu.
Pandangan mereka terputus saat suara pendeta kembali terdengar–menyatakan bahwa keduanya telah resmi menjadi suami istri.
“Kau boleh mencium pengantinmu”
Kalimat itu menyusul setelah pernyataan sah. Sebenarnya, Jay lupa bagian yang ini. Namun saat pendeta mengatakan, ia menjadi berdebar sendiri.
Mereka selalu dekat selama ini, selalu menempel, akur dan saling menyayangi. Baik saat ingatan gadis itu utuh, atau saat hilang seperti sekarang. Jay tidak pernah melewati batas, tidak pernah. Rin sangat berharga dan ia begitu mencintai gadis itu dengan rasa hormat. Dan ciuman pertama mereka yang akan disaksikan tamu, pelayan dan persis di depan pendeta, Jay menjadi gugup.
Dua tangannya memegang rahang istrinya, Jay memiringkan kepala sedikit lalu benar-benar turun—mendaratkan ciuman.
Bibir yang halus dan kenyal. Permukaannya sangat lembut. Jay tidak berencana membuat ciuman berlebihan. Maka, ia hanya menempelkan bibir mereka sekilas, lalu memilih mencium kening istrinya agak lama “aku mencintaimu, Rin. Sungguh” bisiknya pelan. Rin mendunduk malu. Meski dengan riasan, namun rona itu tetap gagal ditutupi.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
“Apa kau bilang, Nona Rin sedang datang bulan?”
“Ya, semalam aku megantarkan pembalut ke kamarnya”
“Poor Tuan Jay..”
Lalu di susul gelak tawa. Para pelayan sedang mencuci pakaian sambil berbincang santai–membicarakan bahwa Rin memang baru mengalami menstruasi tepat malam sebelum pernikahan.
“Lagi pula, mereka lama hidup sebagai adik kakak. Aku berpikir Tuan Jay menikahinya hanya karena kasihan. Mereka mustahil bercinta. Kau tidak lihat di altar? Tuan Jay bahkan hanya menempelkan bibirnya sekilas dan memilih mencium kening. Cium kening itu bukan jenis ciuman yang normal dalam pernikahan. Aku bisa membayangkan jika Tuan Jay memang hanya menikah karena kasihan”
“Anak adopsi hilang ingatan, betapa malangnya gadis cantik itu..”
“Dia tidak malang, kau yang malang. Pelayan mencuci” temannya yang lain menyahut dan kembali tertawa.
“Kadang, aku masih berkhayal jika seorang alpha kaya raya serta tampan rupawan seperti Tuan Jay akan terpikat pada seorang pelayan biasa sepertiku. Seperti dalam film dan novel. Dia menyukaiku dan aku diperlakukan spesial sebelum dia melamarku” seorang gadis berusia 24 tahun yang sibuk memisahkan jenis kain memaparkan khayalannya. Ia tersenyum membayangkan ketampanan Jay akan ia lihat siang dan malam. Lalu berciuman serta pikiran-pikiran kotor lainnya.
“Hentikan hey! Gadis perawan gila! Kau harus berhenti menonton film dan membaca roman picisan. Tidak akan pernah ada Tuan besar menyukai pelayan rendahan kecuali hanya untuk ditiduri dan di tinggalkan dengan hina”
“Aku bahkan mau ditiduri” sisa orang disana menyoraki dan mereka semua tertawa. Mereka tidak sadar jika seseorang berdiri di pintu.
Rin berdiri di sana.
“Oh? Nona, sejak kapan anda berdiri di sana?” semua pelayan mendekat lalu menunduk serempak. Rin hanya menaikkan sebelah alis.
“Sejak seseorang mengatakan ingin ditiduri suamiku” kata Rin enteng. Lalu para pelayan saling senggol menyalahkan satu sama lain dalam bisik yang tidak dimengerti.
“Aku ingin makan sup. Tapi tidak ada satupun koki dan pelayan di dapur. Suamiku langsung pergi bekerja. Aku lapar” ia merengek.
“Aku akan membuatkannya untukmu” satu orang memberanikan diri mendongak, lantas Rin tersenyum cerah padanya.
“Terima kasih. Aku akan menunggumu sambil merajut” Rin kembali ke dapur. Sisa orang seperti baru bisa bernapas.
“Untung dia sangat baik. Bayangkan jika dia adalah nenek sihir. Habislah kita”
“Lagi pula, kenapa mereka tidak berbulan madu? Pasangan normal mana yang langsung bekerja setelah menikah? Sudah kubilang, Tuan Jay menikahinya karena kasihan”
“Tutup mulutmu, jika Nona Rin mendengar lagi, mungkin saja dia tidak sebaik yang tadi”
“Dan kita harus berhenti memanggilnya Nona, dia istri Tuan besar”
Rin membawa alat merajut. Pelayan sedang memasak sup. Ia bersenandung sibuk berkutat dengan benang wol. Baru ketika seseorang tergopoh-gopoh mendekat padanya, Rin mengalihkan pandangan.
“Nona, Tuan menelpon” itu adalah sopir pribadi Jay. Ia menyerahkan ponsel pada Rin.
Saat ia menempelkan benda itu ketelinga, suara Jay memenuhi rungu“Halo”
“Hm, Jay. Aku sedang merajut dan pelayan membuatkanku sup” ia mengapit ponsel di antara telinga dan pundak.
“Rin, maafkan aku, aku akan pulang terlambat dan menyusulmu tidur agak larut. Jangan tunggu aku, ya? Aku berjanji akan mengajakmu bulan madu nanti” suara Jay jelas terdengar menyesal. Urusan pekerjaan yang begitu mendadak hingga ia meninggalkan istrinya yang baru dinikahi tadi pagi. Jay ingin menangis. Rasanya sangat jengkel.
“Ya ya, aku sedang datang bulan. Aku lupa mengabarkan padamu” lontaran itu membuat telepon hening agak lama. Rin sempat berpikir jika Jay mematikan sambungan. Namun ketika ia melihat layar, panggilan itu masih berlangsung.
“Jay? Kau masih disana?”
Suara istrinya seperti baru kembali membawanya sadar. Pria itu berdehem salah tingkah. Sebenarnya, Jay tidak–atau belum ada rencana ke sana. Maka, ia pun menunda bulan madu. Namun secara ajaib tanpa aling-aling, Rin mengatakan tentang kondisinya yang jelas tidak bisa ‘bulan madu’ secara harfiah.
Rin benar-benar berbeda–maksudnya berbeda dengan Rin sebelum hilang ingatan. Rin yang ini berpikir bahwa mereka saling mencintai sejak lama dan tidak beprikir banyak tentang kalimat-kalimat—yang jika itu adalah Rin asli, maka gadis itu akan malu sampai mati.
“Aku mengerti, Rin.. t-tidak apa-apa” kata Jay gugup”
“Aku hanya memberitahu. Jangan khawatir, aku tidak akan menunggu dengan terjaga, aku mencintaimu, Jay” lalu Rin yang mengakhiri panggilan. Pelayan yang sedang memasak sup hanya menyimak. Tidak lama, sup terhidang.
Ia berterima kasih sesaat dan pelayan pergi.
Matanya menatap sup, lalu pada dinding berwarna sky blue yang dikolase dengan lukisan abad Renaisance. Menyendok, menyuap. Saat sedang mengunyah, tiba-tiba saja ingatan aneh muncul.
Rin meremas kepalanya pelan.
Ingatan pendek.
Jay berlari mengejarnya, tembakan air, lalu cup mie. Kepalanya sakit. Rin meringis. Tidak lama, ia melihat dirinya terbaring di tempat tidur lalu meminum obat. Rin hanya berpikir bahwa ia sedang sakit. Ingatan acak itu datang tanpa bisa di kendalikan. Benar-benar random tanpa runut yang bisa di susun.
Ia menyandarkan kepala di belakang kursi. Kuah sup tercium begitu lezat. Maka, ia berencana melanjutkan makan, sebelum potongan itu kembali datang.
“Kau ini kurang kerjaan kah? Carilah wanita dan pergi kencan. Pria penting di Madrid terus mengajak adiknya bermain. Seperti pria kesepian yang menyedihkan”
“Aku tidak menyedihkan. Aku hanya…” hening sesaat. Jay sedang menyusun kata “aku hanya ingin bermain dengan adikku, apa itu masalah?”
Itu adalah percakapannya dengan Jay. Rin melihatnya, mendengar. Sangat jelas. Kepalanya makin pening. Hingga ia benar-benar tidak tahan.
Maka, Rin memutuskan pergi ke kamarnya untuk minum obat dan tidur. Ia meminta pelayan menuntunya, langkahnya bahkan oleng. Kepalanya sakit.
Sebenarnya ingatan itu merangsek kelewat banyak. Seperti tempurung kecil yang di sesaki ingatan banyak sekaligus membuatnya panas. Gadis itu sudah minum obat, namun potongan-potongan itu tetap datang.
Semuanya seperti menyerbu sekaligus. Padahal ia tidak berbuat apa-apa. Maksudnya pemicu. Ia tidak terbentur, tidak melihat hal-hal yang membawa dejavu. Hanya tiba-tiba datang saja.
Ingatan itu merunut sepanjang ingatannya sejak di rumah ini. Datang secara acak dan Rin mencoba menyusunnya menjadi kepingan utuh meski sangat berat. Ia bahkan mual namun tak berencana memanggil pelayan atau menelepon Jay.
Yang paling membuatnya terkejut dari kepingan itu adalah kenyataan bahwa dirinya adalah adik Jay dan seorang omega.
Hanya dua hal itu yang berhasil membuat Rin berlari ke kamar mandi dan muntah. Ia tidak tahu, perutnya kontraksi dan tubuhnya lemas. Setelah itu, ia meringkuk di ranjang sambil menangis hingga lelah.
Ya, sangat lelah hingga terlelap. Tidak juga menghitung berapa interval antara kegilaan antara ingatan dan realita yang tengah dihadapi. Namun tubuhnya sudah tidak tahan dan memilih kehilangan kesadaran.

Jay kembali ke rumah tepat pukul dua dini hari. Ia tidak melihat Rin dalam kamarnya yang artinya gadis itu masih di kamarnya sendiri. Tidak masalah, bahkan sebelum pergi, mereka tidak merundingkan ini. Jay bergegas mandi dan akan menyusul istrinya.
Dan benar, Rin terlelap.
Jay melihat obat dan air di atas nakas. Mengenakan lingerie tidur berbahan satin yang membuat gadis itu terlihat ‘agak’ dewasa, Jay lantas menaikkan selimut dan terbaring di samping.
Tidak, ia tidak akan menciumi wajah itu meski ingin. Ia tidak akan mengganggu. Hanya menatapnya sambil merebah dan berada di ranjang yang sama cukup membuat pria itu bahagia. Meski bergairah, meski ingin, ia tidak. Hingga Rin yang memintanya sendiri, hingga gadis itu yang ingin di sentuh. Jay hanya ingin cinta, memberikan cinta dan mendapatkan cinta. Ingin melakukannya karena cinta dan dalam kesadaran penuh.
Tangannya meraih kepala, lantas mengusapnya pelan.
“Aku mencintaimu, Rin. Sungguh, demi hidupku”
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟

Begitu membuka mata dan melihat Jay tidur di sampingnya sambil memeluk perutnya erat. Rin menjerit. Gadis itu menjerit keras—meski tidur dengan Jay bukan hal pertama seumur hidupnya. Mereka sering melakukannya dan memang hanya tidur dalam artian harfiah. Tidur. Tidak ada yang lain. Lagipula orang gila mana yang akan ‘aneh’ saat tidur dengan kakaknya?
Jay ikut kaget dan beringsut duduk mengucek matanya. Sementara Rin duduk memojok sambil memegang selimut dan menangis—seolah Jay telah melakukan hal buruk.
“Ada apa? Astaga, jantungku hampir keluar” pria itu menghela napas, ia menguap sambil menggaruk dada.
“Kau? Kenapa dikamarku? Kenapa tidur disini? Kenapa?” tangisnya pecah, bukan karena kaget akan eksistensi Jay di kamarnya, melainkan ingatan yang datang keseluruhan–membawanya ingat akan hari pernikahannya kemarin, statusnya sebagai adik–karena Rin benar-benar tidak melihat berita bahwa dirinya bukan adik kandung Jay. Juga memang tidak ada satu pun yang memberi tahu. Ingatannya hanya; ia menikah dengan Jay, kakaknya. Selesai.
Jay tidak tahu harus bereaksi apa. Ia bingung mesti memulai darimana. Maka, pria itu mendekat pada Rin. Berencana ingin memeluknya dan menerangkan sedikit-sedikit dalam kondisi tenang. Namun gadis itu menolak. Ia menggeleng keras dan makin tenggelam dalam air mata dan isak yang kuat.
“Bagaimana kau menikahiku, sialan? Aku adikmu. Kau gila? Apa otakmu rusak! Jay sialan! Aku tidak mau menikah, dan kenapa aku mau menikah denganmu? Aku adikmu..” ia tergugu, dua tangan menangkup wajah, air matanya sangat banyak dan perutnya mual, ingusnya berantakan.
“Aku tidak pernah manaruh curiga saat kau memang tidak pernah berkencan dengan siapapun, tidak pergi dengan teman atau gadis-gadis cantik penggemarmu di akhir pekan. Kau selalu menggangguku, tapi sialan aku tidak berekspektasi jika kau menyukaiku! Kau ini sungguh bukan manusia! Kau binatang, hanya binatang yang menikahi saudaranya, Jay keparat kau”
“Rin, dengarkan aku dulu” Jay kembali akan mendekat, namun tiap pria itu bergeser, Rin akan menjerit.
“Aku akan mangadukan tingkahmu pada mama, pada papa di pemakaman. Kau mengerikan, Jay. Aku takut padamu, aku bersumpah aku membencimu! Tolong keluar dari kamarku atau aku akan bunuh diri” ancaman itu disertai aksi. Rin memecahkan gelas di atas nakas lalu mengarahkan pecahan tajam itu ke lehernya “kubilang keluar!!!! Aku benci melihatmu!! Aku akan bunuh diri jika kau masih disini”
Jay mengusap wajahnya kasar. Dengan helaan napas berat, pria itu turun dari ranjang.
“Rin.. “ Jay benar-benar tidak tahu harus memulai darimana. Maka, pria itu keluar dari sana. Ia mendengar Rin makin tergugu, sesekali muntah.
Pria itu menelepon asistennya. Lantas memintanya untuk berbicara baik-baik pada Rin apa yang terjadi. Kondisi ini membuatnya sakit kepala.

Gadis itu sudah tenang setelah dokter datang. Entah apa yang dikatakan dokter. Disusul para pelayan yang membawakan aneka makanan favoritnya.
Setelah dimandikan, perutnya kenyang dan perasaannya mulai stabil, asisten Jay baru benar-benar masuk. Tangannya sibuk mencangking map tebal dan tablet di tangan yang lain. Ia berdehem–membuat gadis yang melamun didepan jendela besar kontan menoleh.
“Sudah merasa lebih baik, young lady?” wanita itu selalu saja berhasil membawa getaran positif dengan senyumnya yang ramah dan gesturnya yang tenang. Wajah teduh khas seorang ibu, Rin tiba-tiba rindu ibunya.
Ia tidak menjawab, hanya tersenyum kecil tak sampai mata. Matanya kembali menatap hamparan pemandangan yang itu-itu saja.
Asisten Jay meletakkan map di meja sofa, tangannya bergerak lincah bergulir pada tablet. Kacamatanya terlihat lebih tebal dari biasanya–membingkai pada mata sipit. Rahangnya tidak simetris dan ia memiliki tahi lalat dekat bibir. Konon, tahi lalat disana artinya cerewet. Padahal menurut Rin tidak.
“Ingatanmu sudah kembali utuh, Nona?”
Pertanyaan yang siapa saja tahu jawabannya. Maksudnya, Rin sudah menjelaskan itu pada dokter berulang-ulang. Seharusnya siapa saja tahu. Namun Rin akan menjawabnya meski hanya dengan anggukan.
“Bagus. Kau mengingat dengan baik siapa dirimu. Tapi kau tidak membuka berita dan Tuan,” asisten itu menghela napas “Tuan tidak memberimu ponsel dan tivi. Sebenarnya, bagus jika kegiatanmu tidak melibatkan layar dan produktif. Tapi asal kau tau, Nona. Sesuatu yang besar telah terungkap. Dan itu melibatkan namamu, masa depan, masa lalu dan siapa dirimu”
Kata-kata asisten Jay baru benar-benar membuat Rin tertarik. Ia membalik tubuhnya sepenuhnya hingga menghadap wanita itu.
“Apa maksudmu?” Rin menyiptkan mata penuh selidik.
“Maksudku? Kau ingin tau apa maksudku? Kemarilah, Nona muda. Duduk didekatku. Kita berbincang dengan tenang dan hati lapang. Kau tidak bisa terus menerus memandang jendela sambil membenci pria yang menyelamatkan hidupmu”
“Menyelamatkan hidupku? Tolong bicara yang benar” Rin akhirnya duduk di samping asisten itu.
“Karena kau benar-benar tidak tahu. Maka, yang perlu kau lakukan adalah mendengarkan. Dengarkan dan perhatikan apa yang kuucapkan” lantas sang asisten memutar video dalam tablet—dimana dirinya berada di atas podium sembari memberi pengumuman. Rin menyimaknya hati-hati. Menajamkan rungu dan setiap kata yang keluar dari sana, ia cerna dengan baik.
Durasinya hanya lima menit tiga puluh tujuh detik. Tapi isinya berhasil membuat Rin mengatupkan rahang begitu rapat. Jantungnya berdegup kelewat cepat dan perasaan aneh merambat mirip sel yang bermutasi lantas menciptakan hal-hal mengerikan yang menggerogoti jantung sampai ke hati. Benar, perasaannya mencelos. Berita itu kelewat besar hingga Rin mematung cukup lama.
Agak lama. Asisten Jay memberi waktu untuk gadis itu merenungkan berita besar yang berhasil mengubah tatanan sejarah hidupnya.
“Kau tau…” sang asisten mengeluarkan map. Membuatnya berceceran di atas meja. Itu adalah data diri Lin. Bagaimana ia diadopsi dan siapa orang tua kandungnya. Semuanya lengkap dan valid setelah diverifikasi oleh saksi di Rusia.
“Ini akan membuatmu sulit tidur, mungkin. Tapi sesuatu terjadi dengan alasan. Seperti Tuan yang menikahimu. Dia hanya ingin melindungimu. Dia begitu menyayangimu. Rasanya aku terlalu membias. Namun setelah semua hal yang kau dengar barusan, kuharap kau bisa lebih dewasa dalam menyikapi keputusannya. Kau bahkan tidak punya hal—barang sepeserpun dari kekayaan mendiang Tuan dan Nyonya besar. Dan Tuan Jay hanya ingin kau terus ada disini, menikmati apa yang sebenarnya bukan milikmu. Kau mengerti sistem pembagian warisan di negeri ini. Anak angkat benar-benar tidak memiliki hak. Jika Tuan jahat, dia sudah mengusirmu”
Baik kata-kata sang asisten. Kata-kata dalam video yang rasanya masih berputar-putar di kepala, semua begitu berat. Rin sakit kepala.
“Apa Jay juga tahu jika aku…” Rin menggigit bibir bawahnya. Dan ia tidak melanjutkan kalimatnya. Begitu banyak ketakutan dan bagian paling nyata yang harus ia hadapi saat ini—tidak jauh mengerikan dari Jay membencinya karena alasan bahwa ia bukan anak kandung dari orang tuanya. Juga karena ia adalah seorang omega.
Benar, ia bukan anak dari para alpha keren. Lagipula memang sejak awal tidak masuk akal—pasangan alpha normal memiliki anak omega. Itu kemustahilan. Rin tidak akan repot untuk bertanya ‘kenapa, bagaimana’ atau apapun yang menyangkut tentang ibu dan ayah angkatnya—bukan orang tuanya. Namun kenyataan bahwa Jay, satu-satunya orang yang kini menjadi sandarannya, satu-satunya ahli waris sah sekaligus pemilik semua hal, pria tampan dengan kekuasaan itu sekarang adalah suaminya. Pria yang membenci omega hina, omega pecundang.
Sama saja. Setelah Jay tahu jika ia omega, maka, kenyataannya tidak jauh dari kemungkinan jika Jay jahat saat tahu bahwa ia bukan adik kandungnya.
Rin menangis.
Ia menangis untuk alasan yang itu. Dan sang asisten memeluknya.
“Aku tau ini berat. Tapi, belajarlah menerima kenyataan dan lihat dunia dari sudut pandang lebih luas. Lihat hal-hal yang ada di sekitarmu. Lihat Jay. Lapangkan dadamu dan mulai terima semua hal. Kau tidak bisa mengelak. Hanya, berbahagialah gadis kecil..” usapan di kepala semakin membuat Rin tergugu. Kata-kata sang asisten sangat manis. Namun, tidak ada yang benar-benar mengerti situasinya.
“Hm? Berlemah lembut pada suamimu. Dia sedang melamun di ruang kerjanya seperti pujangga putus cinta. Dia bingung harus menjelaskan mulai dari mana. Dia hanya pintar beretorika pada kolega kerja, saat presentase di kantor menjelaskan pada bawahannya dan pada hal-hal yang melibatkan uang dan perusahaan. Namun jika menyangkut wanita, dia benar-benar payah” sang asisten menangkup wajah Rin dan mendongakkan “kau bisa, kau gadis beruntung. Aku harus pergi”
Sang asisten merasa perusasinya berhasil. Lantas ia keluar dan pergi ke ruang kerja bosnya. Menerangkan ini dan itu meski membuat Jay skeptis.
“Initnya, apa dia bersedia bertemu denganku tanpa ketakutan apalagi mengatakan bahwa dia membenciku?” Jay menikkan satu alis. Wajahnya lesu.
“Aku yakin. Dan jika tidak, berarti Rin cukup bodoh untuk ukuran wajah secantik itu”
Sang asisten berpamitan dan Jay lagi-lagi bingung.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Sudah dua hari mereka tak berusa.
Jay tidak mendatangi kamar Rin dan mustahil gadis itu mendatanginya. Rin lebih banyak menghabiskan waktu dalam kamar. Seorang pelayan meminta ponsel pada Jay atas titah Rin dan pria itu memberikan. Namun keduanya belum ada yang benar-benar bertemu. Alasannya juga tidak bisa dikatakan berat. Hanya bingung. Keduanya tidak tahu harus berkata apa–satu sama lain sementara Rin sudah pusing dengan ketakutannya yang seakan mencekik. Maka, ia memutuskan untuk menyerah dan pasrah dengan apa yang akan terjadi ke depannya. Bahkan jika Jay membuangnya. Ia akan pergi ke tempat penampuangan para omega. Seperti rencananya sejak dulu.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya, pintu kamarnya terketuk dan pelayan mengabarkan bahwa Jay ada di depan pintu lalu pelayan itu meminta izin apakah Tuan mereka boleh masuk.
Sungguh lucu. Rin ingin tertawa beberapa saat. Jay sungguh aneh. Padahal, semua adalah miliknya. Bahkan dirinya, seluruhnya. Meski Rin masih belum terbiasa, tentu saja. Mereka adalah suami istri di mata tuhan, di mata hukum. Namun kehidupan berjalan seperti semua hal tidak pernah terjadi.
Jay masuk setelah Rin memberi izin.

Gesturnya kikuk. Pria itu hanya berdiri di depan pintu kamar setelah daun itu tertutup. Ia menautkan dua tangannya ke belakang. Lalu menggaruk kepala yang tidak gatal. Senyumnya pun sangat canggung. Ia tidak tahu harus memulai dari mana.
“H-hai..” sapa Jay gugup. Kakinya tidak bisa diam. Alpha keren dan perkasa itu mendadak berubah aneh di depan gadis–istrinya. Rin balik menatapnya datar.
“Hai” Rin tersenyum tak sampai mata.
“Apa kabar? Apa masih marah?”
“Aku baik-baik saja dan aku tidak marah” jawab si gadis praktis. Rin sedang membaca buku. Selimut naik sampai lutut saat ia melipat kakinya. Rin lantas menurunkan buku dan matanya fokus.
“Ah.. begitu..” Jay bingung harus apa lagi “apa kau sudah maka—”
“Aku sudah makan” Rin menjawab tanpa menunggu pertanyaan selesai. Pria itu mengangguk-angguk.
“Baik, kalau begitu selamat istirahat” pria itu tersenyum canggung lagi, lalu keluar dari kamar Rin dengan gerakan benar-benar kikuk.
Setelah itu semua berjalan lagi seperti sebelumnya. Tanpa bertemu meski mereka berada dalam mansion yang sama. Rin hanya berpamitan pada pelayan untuk pergi ke studio dan pelayan menelpon Jay. Rin baru pergi setelah Jay mengizinkan.
Begitu terus, berulang-ulang.
Hari berganti hari, minggu berganti dan bulan-bulan berlalu.
Hubungan mereka tidak mengalami perkembangan. Jay masih kikuk dan ia hanya—seperti kemarin-kemarin. Masuk ke kamar Rin dan bertanya sangat klise tentang–sudah makan–sudah ini dan itu. Setelah itu pergi. Begitu terus. Pun, Rin yang tidak memiliki keberanian untuk mengakrabkan diri. Rasanya sangat aneh dan canggung meski ia sudah menerima sepenuhnya jika—tidak ada yang bisa dilakukan selain menerima takdir. Namun jika untuk mendatangi Jay dan bercengkrama seperti dulu lagi, jujur saja, itu sangat sulit. Ia merasa ada sekat yang tidak dimengerti. Padahal, pria itu jelas ingin mengajaknya bermain, ingin kembali seperti dulu.
Namun, status mereka telah berubah. Total. Meski Rin dalam keadaan sadar bahwa ia bukan istri yang benar.
Sampai detik ini, meski dikatakan sudah menerima takdir, namun Rin tidak merasa ada yang harus diperbaiki dari tingkahnya.
Dan ia merasa tidak tahu diri untuk beberapa saat.
Seperti sore ini. Rin sedang sibuk menyirami pohon storberi di halaman belakang bersama beberapa pelayan. Ia tidak menyadari bahwa para pelayan telah mundur dan eskistensi lain yang mendekat.
Saat suara deheman paling familiar berada persis di belakangnya, Rin baru menoleh.
Jay menyodorkan es krim.
“Aku membeli es krim karena ingat kau” kata pria itu ramah. Rin mencuci tangan sebentar sebelum menerima cup.
“Terima kasih” kata gadis itu lembut. Jay tidak langsung pergi. Ia masih berdiri canggung–menggaruk tengkuk “ada sesuatu?” Rin mendongak menatap mata suaminya yang kebingungan.
“T-tidak, tidak ada apapun. Aku hanya memberimu es krim”
“Ah..” Rin mengangguk. Lalu ia berjalan ke sisi, tempat ia melatakkan ponsel, dan minuman serta cemilan. Jay ikut bergabung duduk meski belum berkata apapun.
“Kau pintar merawat stroberi” kata pria itu basa-basi.
“Bukan aku, tapi pelayan. Aku hanya ikut-ikutan” jawab Rin tak kalah basa-basi.
“Tapi kau–” Jay tidak melanjutkan kalimatnya.
“Apa?”
“Tidak. Kau sangat produktif. Jangan terlalu lelah. Aku akan memperketat penjagaanmu di studio. Pergilah bersama pengawal kemanapun. Aku khawatir” kata-kata Jay membuat Rin tersenyum.
“Aku baik-baik saja. Aku sungguh baik-baik saja. Aku hanya canggung dan malu mengobrol denganmu. Aku sungguh tidak dewasa, ya? Aku bahkan tidak meminta maaf atas aksiku terakhir sebelum kita menjadi secanggung ini. Aku tidak tahu harus memulai darimana. Aku sendiri malu dan–tidak tau” Rin menghela napas, ia mengalihkan pandangan pada hamparan pohon storberi sambil menyuap es krim.
“Jay, aku minta maaf” lalu menatap pria itu “tapi aku masih tidak tahu harus apa. Aku bukan adikmu lagi. Aku istrimu” kata-kata terakhir di lontarkan sangat pelan. Hampir mirip bisikan “ada malam dimana aku takut pada semua hal, aku bingung dan hilang arah. Tapi jangan salah paham, ini bukan karena kau menikahiku. Tapi karena aku belum bisa menerima diriku dan kemungkinan-kemungkinan yang–hanya aku dan isi kepalaku yang rumit. Aku tidak tahu. Sungguh, rasanya semua seperti menusuk-nusuk kepalaku”
“Aku mengerti” ucap Jay kemudian “pelan-pelan saja. Kau bisa menganggapku kakakmu seperti biasa. Aku tidak akan membebanimu dengan tugas istri jika kau belum siap. Lagipula, aku tidak tahu tugas istri itu apa. Aku menyayangimu selama ini. Aku juga tidak tahu”Jay menunduk, meremas jari-jarinya.
Rin masih menatapnya dari samping. Jay ikut menatap.
“Terima kasih, Jay. Aku lega”
“Untuk apa?”
“Untuk hari ini. Aku sungguh tidak dewasa. Bahkan setelah percakapan ini, aku tidak tahu harus apa. Aku tidak siap jika harus… kau tau, suami istri”
“Ah… itu.. Tidak tidak, kau tidak perlu memikirkannya. Sudah kubilang aku tidak masalah, bahkan jika kau mau menganggapku kakakmu seperti kita biasanya. Itu terdengar lebih baik”
“Bisakah?”
“Apa?”
“Aku menjadi adikmu seperti biasa?”
“Bisa. Merengek padaku seperti biasa, adukan apapun keluhan tentang hari-harimu, menangis dan minta aku memberimu cup mie dan pura-pura sakit tiap kuajak pergi saat akhir pekan. Atau bermain dalam ruang kerjaku dengan pistol air. Kita bisa melakukannya lagi”
Rin tertawa. Ia terbahak-bahak dan menulari Jay.
“Sungguh, aku muak pura-pura kuat. Aku ingin menangis di pelukan kakakku yang kini menjadi suamiku” Rin meninju bisep Jay “lalu memohon padanya untuk memberiku mie cup”
“Aku akan berterima kasih pada tuhan seandainya Dia mau mengembalikan Rin-ku” Jay ikut tertawa sebelum kembali berdeham. “Dengar, Rin.. aku yang harusnya minta maaf. Aku menikahimu dalam kondisimu yang kurang stabil. Aku mengambil keputusan impulsif setelah semua kebenaran terungkap. Seharusnya aku menunggumu pulih dulu. Seharusnya…” Jay menunduk. Padahal tidak seperti itu. Jay sudah siap dengan konsekuensi–seperti kecanggungan panjang ini. Kecanggungan yang merupakan buah dari keputusannya. Ia sudah memikirkan yang ini juga meski tetap bingung saat dihadapkan pada perubahan sikap Rin yang signifikan. Pada apa yang dinamakan efek samping. Namun persetan, yang terpenting, Rin terikat padanya. Mutlak.
Rin tidak menjawab. Ia hanya memakan es krim. Seperti Rin biasanya—seperti Rin bocah yang gemar merengek dan marah-marah saat di ganggu. Jay melihatnya seperti itu. Rin-nya telah kembali.
“Pergilah bermain denganku akhir pekan ini. Jika kau mau. Kali ini, aku tidak akan memaksa” pria itu mengembalikan fokus pada jari-jarinya yang terpaut.
“Kemana? Sudah ada tujuan?”
“Masih kupikirkan. Tapi tiba-tiba aku ingin memanen stroberi”
“Hentikan!” Rin melotot “stroberi ini baru saja berbuah! Jika kau nekat memanen sebelum waktunya, aku akan menangis sepanjang waktu hingga kepalamu pecah” ancam gadis itu serius.
Jay mendelik. Perasaannya begitu senang saat suara cempreng, ancaman dan mata bulat yang lucu itu kembali. Mulut Rin penuh dengan es krim sambil mengomel.
“Aku ingin mendengar Rin menangis sepanjang waktu, lalu aku akan membuatkan pie stroberi yang lezat. Kau akan berhenti menangis. Aku jamin”
“Tidak akan. Aku akan membunuhmu”
“Terdengar ngeri”
“Ya, aku membesarkan stroberi ini dengan sepenuh hati”
“Kau bilang, pelayan yang mengerjakannya”
“Aku juga ikut andil. Aku orang tua semua stroberi ini. Jadi hentikan rencana busukmu atau aku akan membunuhmu dengan cangkul dan es krim”
“Jika kau orang tua stroberi, maka aku Papa stroberi” Jay pura-pura berpikir “baiklah, aku tidak mungkin menyakiti anakku”
“Itu terdengar bijak”
“Ya, aku bijak” Jay bangkit. Lalu melakukan peregangan.
“Apa kau mau pergi?”
“Hm” pria itu melangkah menuju pohon stroberi. Buahnya kecil-kecil khas baru berbuah. Beberapa ada yang sebesar bola ping-pong meski warnanya masih merah muda keputihan.
Jay bersenandung melewati semua buah. Rin memperhatikan dari sana. Lantas saat gadis itu menyendok es krim, Jay mengambil buah itu cepat-cepat, memetiknya buru-buru dan langsung ia masukkan dalam saku celana. Saat Rin mendongak, ia memergoki aksi kriminal suaminya. Gadis itu naik pitam.
“JAY!!!! KAU MAU MATI YA!!!!” Pria itu berlari sambil menarik stroberi hingga tangkainya patah, kebun itu di acak-acak secara tidak dewasa oleh seorang pria—pemilik seluruh komponen dalam mansion sekaligus alpha keren yang kuat dan gagah.
Namun lihatlah tindakannya sore ini. Pria itu terbahak-bahak melihat Rin berlari mengejarnya dengan langkah kecil. Gadis itu akan menyerangnya dengan kepalan tinju yang hanya mampu melukai semut.
Jay kesenangan. Sudah sangat lama. Ia benar-benar merindukan momen ini.
Lantas ia memelankan langkah hingga Rin berhasil mengejarnya. Pria itu jatuh ke rumput—telentang dan Rin memukulinya—ikut jatuh dan duduk di perut suaminya.
Pukulan itu mendarat berulang-ulang pada dada, perut, lengan atas dan pundak Jay. Pria itu pura-pura memekik kesakitan dan menutup mata berlagak pingsan. Padahal, pukulan gadis itu seperti jentikan anak kucing.
“Kau ayah yang buruk. Kau harus di penjara seumur hidup karena membunuh anakmu sendiri. Kau harus merenungkan kejahatanmu sembari membusuk di penjara” Rin lelah, ia mendongak sambil terengah, namun tidak pindah dari posisi—menduduki perut suaminya.
“Aku sangat menyesal.. Oh.. anak-anakku.. Papa Khilaf.. Oh.. aku menyesal..” Jay mengatakannya sambil meringis dan menutup mata “kuharap, Mama akan melahirkan saudara-saudara yang lain. Yang bisa bicara” ia tertawa. Lalu membuka mata. Saat maniknya beradu dengan milik si gadis. Rin sedang melamun.
“Kau melamun” Jay bersingsut duduk. Ia memeluk Rin sebentar untuk membernarkan posisinya, gadis itu tadinya ingin turun, namun Jay mencegah. Mereka duduk seperti itu di pojok kebun stroberi, di sore yang nyaris bertransisi.
“Aku minta maaf. Setelah ini, aku akan memanggil tukang kebun dan membenarkannya”
“Tidak perlu”
“Kau merajuk”
“Aku tidak”
“Kau iya”
“Ish..”
Jay tertawa, pria itu terbahak-bahak, lalu memeluk Rin “maaf karena aku keterlaluan. Aku hanya sangat rindu hingga tidak berpikir jauh. Aku sungguh menyesal”
“Kau tidak menyesal. Aku lelah sekali.. Rasanya aku ingin menangis..” tanpa menunggu jawaban. Rin menangis. Awalnya hanya isak kecil. Lantas lama-kelamaan menjadi besar dan makin keras. Jay meringis dan salah tingkah. Ia memeluk istrinya, mengusap punggung dan mencium pucuk kepala–khas menenangkan anak kecil.
“Aku menyesal, sungguh.. Aku keterlaluan..”
Rin menangis di pelukan. Jay makin mengeratkan dekapan. “Maaf ya? Maafkan aku..”
Lantas pria itu mendongakkan si gadis, mengusap air mata Rin telaten “aku akan bertanggung jawab. Aku bersumpah, besok saat kau membuka mata. Kau akan melihat kebunmu indah tanpa cela, tanpa rusak”
“Kau yakin bisa?”
“Apa yang tidak aku bisa? Aku bisa melakukan apapun” ucap pria itu percaya diri.
“Apa kau bisa terbang?”
“Tentu saja, aku terbang seminggu kadang dua sampai tiga kali”
“Bukan pesawat, tapi terbang sungguhan”
“Aku bisa”
“Kau berdusta”
Jay tertawa “apa kau ingin aku terbang? Aku akan melakukannya untukmu”
“Tidak, terdengar bodoh”
Pria itu terkekeh lagi. Ia mengusap wajah istrinya secara menyeluruh dengan dua tangan “sungguh buruk pria yang membuatmu menangis..”
“Pria itu tidak buruk. Dia hanya pria dewasa yang tidak dewasa”
“Benarkah? Sungguh tidak dewasa”
“Hm, tidak dewasa”
Wajahnya merah, matanya merah, pipi bersemu dan bibirnya merah merekah tanpa pewarna. Gadis itu masih mendongak saat wajahnya tepat di arahkan ke hadapan. Cukup lama mereka dalam posisi itu. Jay menelan salivanya susah payah. Jakunnya bergerak resah. Pria itu berdehem beberapa kali untuk mengenyahkan hasrat–naluri alami seorang laki-laki.
Cup!
Rin mencium pipi Jay lalu tertawa setelah menangis. Air matanya bahkan baru surut, ingus di seka asal “ayo masuk, aku akan mandi dan bersiap makan malam, perutku lapar” ia lagi-lagi mencoba bangkit dan Jay masih terus menahan. Perilaku Rin membuat Jay berpikir yang lain. Ciuman sekilas pada pipinya, bukan lagi bentuk rayuan seorang adik pada kakaknya. Bukan, Jay tidak mengartikan itu menjadi sederhana seperti sebelumnya. Siapa saja tahu, Rin tahu. Ia sudah dewasa untuk mengerti apalagi status mereka.
Lantas pria itu menundukkan kepalanya cepat. Menempelkan bibirnya pada bibir si gadis. Dua tangannya setia pada rahang–mendongakkan.
Jay menciumnya. Kali ini sungguh.
Ciuman pertama mereka dengan cara paling benar. Bukan seperti di altar.
Ia meyelami bibir, mengulum lembut itu hati-hati, sangat pelan dan terukur. Jakunnya bergerak lagi, ia menelan saliva sebelum seperti orang tidak sabaran.
Sedetik kemudian, bibir Rin habis di lahap. Pria itu mengulumnya lembut–tergesa, lembut lagi. Ia menghisapnya, bermain lidahnya di sana–menari-nari di permukaan bibir.
Sebelum pelan-pelan ia menyelipkan lidahnya di antara celah bibir. Mendobrak ke dalam seperti tamu tak diundang. Di dalam sana, lidahnya menginvasi, menekan, membelit, menyesap dan mengacak isi mulut. Sesaat, Rin mendesah halus, pelan dan nyaris mirip erangan pendek.
Jantung keduanya berdegup kencang, rasanya seperti di gelitik bulu di sepanjang perut. Baik Rin maupun Jay.
Ciuman mereka semakin dalam. Rin menerima pria itu, menerima tiap aksi lidah yang bergerilya dalam mulutnya. Dua tangan Jay tidak lagi di rahang, melainkan menyangga punggung istrinya agar tidak doyong–sambil meremas kulit halus–dengan memasukkan tangan ke dalam blouse.
Gadis itu merintih dalam hisapan, mengerang tertahan di langit-langit mulut. Jay bersumpah seperti akan melompat ke langit.
Gadis cantik kesayangannya mendesah, menahan suara dalam mulutnya, oh sial.. Pria itu semakin bersemangat dan makin gencar. Satu tangan yang awalnya mengelusi punggung, kini berpindah pada belakang kepala. Lidahnya seperti akan masuk ke dalam tenggorokan–menusuk istrinya dengan cinta dan saliva.
Rin kesulitan bernapas, lalu pria itu menarik indra perasanya, memasukkannya lagi, menarik lagi. Lalu mengulum bibir lagi. Gadis itu mendesah agak panjang, Jay bersumpah ingin memasukkan seluruh tubuh istrinya dalam mulut. Mengulumnya dengan cara paling menjijikan, impiannya.
Namun beberapa saat, Rin memundurkan kepalanya. Membuat ludah mereka berdua membentuk benang dari mulut satu sama lain. Jay mengusap bibir basah istrinya lembut. Matanya sayu menatap ayu yang terengah. Begitu seksi sekaligus imut, sial. Jay mengutuk dirinya sendiri jika gadis ini gagal menjadi miliknya.
“Ayo masuk” suara Rin tercekat, gadis itu membenarkan tenggorokan dan mengalihkan pandangan dari mata yang melihatnya jelas seperti singa lapar. Pandangannya kembali turun ke leher–pada jakun yang sejak beberapa saat selalu bergerak. Maka, Rin memegangnya.
“Ini lucu, kenapa bergerak terus?” ia mengusap benda itu “wow, bisa berjalan” katanya enteng. Ia cekikikan.
“Itu bukan mainan”
“Benarkah? Bagus, ini bukan mainan” Rin makin menjadi-jadi saat Jay memperingatkan. Telunjuk kecil itu menekan-nekan jakun yang seakan berjalan. Gadis itu kesenangan.
“Apa menyenangkan?”
“Tidak, hal-hal semacam ini bukan mainanku. Tapi aku akan senang jika membuatmu kesal”
“Oh, oke. Bagus. Kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan karena aku tidak akan kesal. Kau bisa memainkan itu seumur hidupmu”
“Benarkah? Terdengar bagus” Rin terus memecet jakun. Naik–turun, ke kanan-ke kiri. Ia terkekeh sendiri.
“Ayo makan, aku juga lapar. Rasanya, aku akan memakan istriku sendiri” Jay membenarkan rambut Rin, lalu mencium pipi gadis itu sekilas.
“Aku bukan makanan”
“Ya, kau lebih dari itu”
“Hm”
“Ya, bisa kita ulangi?”
“Apa?”
“Ciuman, aku kecanduan, Rin”
Gadis itu bangkit—berlari kabur dengan buru-buru. Langkah kecilnya menjauh membuat Jay tak bisa menahan gelak “aku akan menangkapmu” ancamnya serius. Namun Rin mustahil mendengar.

Foto pernikahan mereka di pajang di ruang tamu dengan ukuran luar biasa tidak normal. Gambar itu setinggi dinding sekitar lima meter persegi.
Rin baru menyadari ketika turun untuk makan malam dan Jay sedang sibuk mengatur itu dengan orang-orang yang juga sibuk menunggu instruksi. Pria itu berdiri sambil bertolak pinggang.
“Rasanya terlalu ke kanan. Bagaimana jika geser sedikit?” Katanya. Lantas sisa orang di sana kembali bergerak memindahkan untuk menyempurnakan spot yang diinginkan.
Lalu Jay melihat istrinya turun. Matanya langsung berbinar. Senyumnya secerah musim panas.
“Aku membuatkan nasi goreng” katanya Jay basa-basi.
“Kau tidak bisa masak”
“Ya, maksudku, aku meminta pelayan membuatkanmu daging cincang” ralat pria itu, masih dengan senyum konsisten.
“Aku akan berterima kasih pada pelayan” Rin berjalan begitu saja. Ia bahkan tidak berkomentar pada foto di dinding. Jay mengikuti istrinya di belakang.
“Rin, menurutmu, apa fotonya bagus?”
“Kurang besar. Aku memimpikan foto sebesar gunung fuji”
“Benarkah?” Jay berpikir banyak.
“Aku bercanda. Tapi aku tidak suka fotoku yang itu, terlihat mirip orang hamil. Aku gendut. Kau pasti sengaja memajang itu untuk mengolok-olokku” sambil mengoceh, tangannya sibuk mengambil makan.
“Aku dalam angel pas dan tampan. Jadi terserah padaku” pria itu terkekeh.
“Kau memang seperti itu. Lebih bagus jika aku bersanding dengan monyet”
“Kau menghinaku”
“Bagian mana?”
“Monyet”
Rin menghela napas “Jay, bolehkan aku makan mie cup setelah ini?”
“Setelah kau mengatakan gendut difoto? Kau menyalahkanku, tapi siapa yang terus merengek minta mie cup?” gadis itu mengedikkan bahu menahan senyum. Sesekali kilasan tentang ciuman pertama mereka berputar. Itu pertama bagi Rin meski bukan bagi Jay. Namun keduanya sama-sama merasakan sensasi menyenangkan.
Wajah gadis itu merona hanya dengan mengingatnya. Sambil mengunyah, Rin mengalihkan pandangan sembarangan. Sesaat, ia merasa seperti orang bodoh yang konyol.
“Mau jalan-jalan setelah ini?” tawaran itu mengembalikan Rin pada kenyataan. Sungguh, ia merasakan duduk di pangkuan suaminya, melihat jakun pria itu dari dekat lantas Jay menginvasi bibir dan rongga mulutnya lagi dengan mulut itu. Mulut dengan rahang tegas dan gagah, tengah mengunyah. Tiap komponen seperti memang diciptakan untuk sempurna.
“Aku akan tidur cepat. Hari ini sangat lelah”
“Kau sudah janji”
“Janji? Aku menjanjikan pergi akhir pekan”
“Benarkah? Apa aku salah dengar?” ia mengangguk-angguk “aku juga punya beberapa pekerjaan” lalu menatap istrinya “kau boleh meneleponku langsung jika butuh apapun. Tidak melalui pelayan atau siapapun. Akan sangat bagus lagi jika kau pergi menemuiku langsung” Rin juga mereaskinya dengan anggukan pelan.
“Aku sungguh senang” Jay terdengar tulus.
“Tentang apa?” Rin mendongak.
“Kau, kau mau akur denganku”
“Kita akur selama ini”
“Ya, maksudku, beberapa hal terjadi dan membuat kita saling menjauh satu sama lain. Kau tau.. Kadang aku menyesal dan sedih”
“Jay..” Rin memangkas omongan pria itu “aku berterima kasih karena kau tidak membenciku, aku bukan adikmu. Aku menumpang hidup mewah di rumah ini dengan tidak tahu diri” gadis itu meremas tangannya sendiri. Setelah sejak tadi bayangan indah tentang ciuman mereka berhasil membuatnya merona dan berbunga-bunga, kini ingatan tentang—kenyataan bahwa ia adalah sorang omega dan Jay membenci omega lemah dan pecundang–kembali merangsek dalam kepala. Gadis itu mengaduk daging dan saos mustard. Perubahan suasana hati semacam itu bukan hal baru bagi Jay. namun tetap membuat pria itu kebingungan tanpa jawaban. Rin selalu seperti itu, sejak dulu.
“Kau melamun lagi” Rin menatapnya sekilas dan kembali mengabaikan “seandainya aku tau apa yang paling mengusikmu”
“Tidak ada. Aku mengantuk”
“Habiskan dulu makananmu”
Rin menyuapnya pelan-pelan. Mereka tidak berbincang lagi setelah itu–setelah Rin diam tanpa mengatakan apa-apa lagi. Bahkan saat Jay bertanya, gadis itu hanya mereaksi dengan angguk atau geleng.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Jay baru saja pulang bekerja pukul delapan malam. Sudah dua hari sejak percakapan pertamanya dengan sang istri lepas kecanggungan panjang mereka selama hampir dua bulan. Hari-harinya kembali ceria, Rin kembali cerewet dan seperti biasa—seperti mereka dulu, meski keduanya sudah berciuman meski hanya sekali di pojok rumah kaca kebun stroberi.
Namun berbeda dengan malam ini. Jay mendapat laporan bahwa hari ini, Rin tidak pergi ke studio, tidak turun untuk makan dan hanya meminta pelayan mengantarkan makanan sampai depan pintu. Nyatanya, sejak pagi hingga malam, makanan itu utuh di depan pintu. Para pelayan sudah berusaha membujuk. Namun Rin hanya menyahut lemah dan mengatakan jika ia baik-baik saja dan akan makan. Bahkan sempat mengaku diet–atauu entah, suaranya mirip gumaman tidak jelas. Yang pasti, gadis itu tidak baik-baik saja.
Jay langsung membuka pintu dengan kunci cadangan buru-buru. Awalnya ia sudah mengetuk, memanggil istrinya lembut, berulang-ulang. Namun tidak ada jawaban yang semakin membuat pria itu panik.
Saat berhasil membuka pintu, Jay mengernyit. Aroma kamar Rin pekat oleh aroma feronom–tercium sangat manis di hidung pria itu. Pekat, sangat pekat, serta membakar gairah. Aromanya jauh lebih indah dari aroma Rin yang samar-samar biasanya. Jay bersumpah, ia akan mabuk hanya dengan membaui aroma itu.
Lantas matanya menangkap sang istri yang bergelung dalam selimut. Mirip kepompong dengan mata terpejam. Wajahnya merah dan tubuhnya bergerak gelisah.
“Rin? Apa kau baik-baik saja?” Jay dua kali lebih lembut dari biasanya. Ia mendekat ke sisi ranjang, tangan besarnya menyibak rambut. Lantas gadis itu membuka mata ketika merasakan sentuhan itu.
“Jay….” matanya sayu berwarna—violet muda. Gadis itu menangis tiba-tiba. Jay yang melihat warna mata Rin, terkesiap. Warna violet lembut seakan membiusnya. Ia ingat tentang teori seorang omega yang akan berubah warna mata jika sedang heat.
Dan ya, istrinya sedang heat. Gadis itu menangis sesenggukan.
“Jay.. aku..” tangisnya makin besar “aku.. Obatku hilang.. Aku..” ia terbata-bata. Rin panik luar biasa saat mengetahui obatnya di kolong ranjang tepat di bawah marmer–hilang. Seseorang mengetahui identitasnya dan diperparah gejala itu muncul. Gadis itu ketakutan, dan Jay kini di depannya, melihat bagaimana gejala itu datang secara menjijikan.
Aroma feronom makin pekat. Jay semakin pusing oleh sensasi ini. Sensasi yang seakan mendorongnya untuk menabrak tubuh terbebat itu.
“Jay… aku, aku omega… kau pasti jijik”
“Kau bicara apa? Kenapa aku harus jijik?” lantas ia memanggil pelayan dan meminta pelayan itu mengambilkan obat dalam ruang kerjanya. Jay membuka selimut yang membebat istrinya hingga gadis itu berkeringat banyak. Pendingin tak di hidupkan. Dan setelah tubuh gadis yang hanya mengenakan lingerie satin tipis itu terbuka dari bebatan, aroma feronom hampir seperti akan meledakkan kewarasannya. Rin sangat wangi, begitu indah dan memikat. Tubuhnya menggeliat di atas ranjang dengan cara paling seksi sedunia.
Pelayan datang dan obat di genggaman.
Rin memohon agar Jay memberikan obat itu. Namun Jay masih diam. Matanya terpaku pada dada busung dengan puting mencuat besar di balik lingerie satin. Benar, gadis itu terangsang luar biasa. Heat artinya, Rin sedang dalam musim kawin. Bahkan, vaginanya basah tanpa pemicu, seluruh tubuhnya menegang, sangat sensual.
Pria itu menarik napas panjang. Namun sial aroma feronom makin menyesaki membuat sesuatu di antara selangkangannya mengeras tidak karu-karuan. Pria itu ikut terangsang oleh aroma dan tampilan Rin yang luar biasa.
Gadis itu merintih dengan suara putus asa. Lalu, ia mengusap air mata dipipinya sendiri, Rin mendesah. Mendesah nikmat atas sentuhannya sendiri. Bahkan hanya menyentuh pipinya sendiri, gadis itu merasakan kenikmatan aneh yang tidak pernah ia rasakan. Ini lebih indah dari ciuman pertamanya dengan sang suami.
Tak kunjung diberi obat dan Jay malah seperti menonotnnya dengan mata memuja, Rin mendongak. Tubuhnya menggeliat, dadanya membusung ia remas sendiri. Ya, Rin meremas dadanya sendiri, lalu mengerang pelan. Rintihannya begitu lembut dan cantik, kakinya rapat di gesek berulang-ulang.
“Jay… kumohon berikan obatnya… kau akan melihatku..” gadis itu menangis sambil memilin putingnya sendiri “kau akan jijik.. Aku ini menjijikan.. Aku omega heat yang menjijikan” ia terisak-isak. Logikanya paham bahwa itu menjijikan—bahwa tiap sentuhan bahkan dari diri sendiri, akan membawanya pada rangsangan luar biasa. Seluruh tubuhnya sensitif.
Air matanya sangat banyak. Ia mengemis obat pada suaminya, namun Jay terus tertegun atas pemandangan maha indah seperti pria bodoh.
Lantas setelah beberapa saat, Jay makin mendekat. Obat telah ia letakkan di atas nakas. Pria itu mengusap air mata istrinya.
“Kau tidak menjijikan, Rin, kau sangat indah” tangan besar itu menyentuh permukaan kulit pipi, Rin mendesah. Tubuhnya menggeliat. Napasnya memburu. Sentuhan pria itu benar-benar membawanya seperti akan melayang.
“Kau membunuh bibi pengasuh karena dia seorang omega.. kau akan membunuhku juga?”
“Bibi pengasuh? Apa yang kau maksud adalah si pengkhianat Rosa? Dia memang omega, namun dia juga yang membocorkan seluruh rahasia perusahaan dengan mencuri berkas penting di kamar Papa. Dia berada di pihak lawan, Rin. Dan aku tidak pernah membunuhnya, dia bunuh diri setelah tertangkap basah dan di sidang”
Pernyataan itu membuat Rin tercenung agak lama.
Cukup lama hingga hening itu membuat atmosfer tidak biasa.
Jay akhirnya ikut merebah di samping, ia lantas membelai pipi istrinya, memeluk gadis itu dan menghirup aroma feromon paling manis seumur hidupnya. Rin seperti cacing gila dalam dekap besar dan keras penuh otot milik suaminya. Sedikit saja kulit mereka bersentuhan, Rin akan mengerang–meminta sentuhan lebih dan berharap pria itu terus menyentuhnya.
“Jay.. kumohon berikan aku obatnya” kendati perkataannya kontras dengan tubuhnya, Rin masih berusaha mempertahankan kewarasannya. Meski tampaknya, Jay tidak.
“Aku suamimu, aku alpha suamimu. Kenapa kau butuh obat jika aku bisa menyentuhmu sebanyak yang kau mau? Aku tau kau omega, aku sudah tau. Lalu apa yang kau kahwatirkan, sayang?” Jay mencium rahang istrinya, gadis itu semakin menjadi-jadi. Rangsangan datang bagai badai hebat. Kepalanya mendongak sementara Jay mulai menginvasi leher dengan aroma feronom paling memikat.
“Kau membenci omega lemah dan pecundang, Jay. Apa setelah ini, aku akan dibuang, di usir?” tangisnya makin pecah. Isak itu bercampur desah. Begitu indah.
“Apa aku pernah mengatakan aku membenci omega? Aku tidak, Rin. Aku hanya mengatakan saat kau masih jadi adikku dan aku tidak sudi jika kau bersanding dengan omega bodoh dan pecundang. Itu karena aku.. Aku menyukaimu. Bahkan alpha keren dan gagah–jika itu bukan aku, maka aku membencinya. Membenci siapapun yang menjadi jodohmu selain aku”
Rin mencerna kata-kata itu dengan sangat baik. Sebaik Jay yang meninggalkan tanda jejak cinta hampir memenuhi seluruh lehernya.
“Kau bersungguh-sungguh? Aku tidak akan dibuang?”
“Kecuali aku gila. Aku mencintaimu, Rin.. demi hidupku. Kenapa aku harus membuang wanita yang paling kucintai seumur hidupku?” Jay mendongak, ia menatap bibir terbuka dan basah milik Rin. Mata si gadis yang masih dalam posisi semula, wajah merah, puting mencuat dan tiap lekuk tubuh mengeluarkan aroma sensual yang sangat memikat.
“Rin”
“Hm?”
“Apa aku boleh menyentuhmu sebagai suami?”
Hening sesaat. Rin mengeratkan cengkeraman tangannya pada bantal, ia mengangguk putus asa.
“Tolong sentuh aku sebanyak-banyaknya.. Please…” ia memohon, Rin tidak lagi menangis dan berhenti berharap jika Jay akan bangkit dan menyodorkan obat heat. Tidak, pria itu tidak akan. Jika memang akan, sudah sejak tadi. Namun pria itu memilih mendaratkan ciuman lembutnya.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Tangannya mengusap rahang berulang. Menenggelamkan lidah dan membelah bibir istrinya pelan-pelan. Gerakkannya sangat lembut penuh kehati-hatian menyisakan kelopak rapat. Rin merasakan hangat sentuhan bagian sensitif pada mulutnya. Jay sangat terukur. Kendati libidio nya setinggi angkasa, namun pria itu penuh perhitungan.
Rin panas. Mulutnya panas–hangat. Tubuhnya lemas dan nyaris tak melawan–juga tak pasif. Sejak tadi, yang mendominasi latar adalah lenguhan paling indah dari omega dengan feronom semanis madu. Jay akan menyesapnya sampai dahaganya tuntas.
Tangan besar itu terus bergerilya–mengeksplorasi tiap inci kulit yang hangat. Tiap sentuah adalah yang paling didambakan cantik di bawah kukungan. Rin sepenuhnya hilang akal sehat. Ia tak lagi ingat ada media bernama obat yang bisa meredakan gejala sinting yang kini menyelubungi otak dan tubuhnya. Hingga telapak besar itu sampai pada satu gundukan sekal.
Rin tidak mengenakan bra.
Payudara itu habis dalam telapak. Meremas pelan–leluasa ketika pagutan pada bibirnya di lepas paksa. Gadis itu terengah sedikit dengan bibir basah dan terbuka, sementara sang suami turun menciumi lehernya. Rin mendongak masih dengan napas memburu—berantakan ketika leher ke rahang di jilati pelan-pelan.
“May I take off all of your clothes?” matanya beradu lagi, sayu itu begitu memikat. Rin mendongak tanpa langsung menjawab. Tubuhnya bergerak sensual saat tangan Jay menggesek putingnya pelan.
“Don’t ask me anything else. Just do whatever you want. I’m yours” suaranya sensual. Rin heat adalah hal paling indah yang pernah Jay temukan. Dan hal terindah itu adalah miliknya.
Lingerie itu terlepas saat Jay mengguntingnya. Ya, pria itu merusak gaun malam karena tidak akan repot meminta istrinya bangkit ketika gadis itu tak berdaya. Dan yang ia dapatkan setelah merusak pakaian adalah dua payudara sekal kencang terpampang nyata. Putingnya berwarna merah tua, kecil menegang sempurna. Pria itu membuang baju tidur entah ke mana sebelum bergerak kembali menyecap telinga istrinya.
Rintihan demi rintihan kembali terlontar. Ketika lidah itu menyapu permukaan telinga, harum manis feromon semakin tebal dan pekat—membawa rangsangan makin membuncah tak karu-karuan. Pelan-pelan kepala itu turun ke rahang sampai leher, membuat tanda cinta sebanyak mungkin sebagai cara klise atas kepemilikan.
Pria itu mendongak. Menatap istrinya sebentar
“You ‘re fucking stunning. Driving me crazy to fuck”
Pria itu menabrak bibir itu lagi karna gemas, karena suka, karena jatuh cinta. Wajah cantik yang membuatnya jatuh cinta setiap hari sejak dulu. Rin tidak terlalu menyimak racauan suaminya. Yang ia tahu hanya tubuhnya di sentuh dengan cara paling indah, paling ia suka.
Kini, ibu jari dan telunjuk memilin puting. Rin menggeliat.
“J…ay…” hanya panggilan lembut, gadis itu tak lagi meremas bantal melainkan menjambak rambut suaminya.
“Kau nakal sekali astaga”
“Aku tidak nakal, hnngghh.. Aku tidak nakal Jay.. aku tidak..” rintihan favoritnya, Jay hanya asal bicara—menggambarkan tubuh dan wajah Rin yang sejak tadi menggodanya meski gadis itu tidak seperti itu saat normal. Dan pria itu akan memberitahu apa yang terjadi jika omega heat jika bergerak resah di depan alpha.
Jay bersumpah akan menyetubuhi istrinya sampai spermanya menetes-netes di lubang senggama.
Pria itu lantas bangkit. Ia beralih membuka satu persatu kancing kemejanya tanpa mengalihkan pandangan laparnya dari tubuh Rin. melihat Jay melepas bajunya satu persatu terasa begitu lama. Vagina gadis itu berdenyut-denyut dan makin basah.
Rin dapat merasakan napasnya makin berat ketika kain terakhir pada tubuh suaminya diturunkan dari pinggangnya. Kepalanya miring sedikit memperhatikan, disanalah matanya terbelalak.
Penis gemuk milik Jay langsung mengacung, bergoyang pelan di udara seolah melambai untuk mengajak Rin berkenalan.
Penis itu cukup panjang dengan diamter yang ia terka lebih dari 2 cm. Urat-urat menyembul karena ereksi. Ujungnya berwarna merah padam dan semakin mendekati pangkal warnanya semakin pudar dengan bulu-bulu pubis yang nampak tercukur rapi. Buah zakarnya bergoyang tiap kali pria itu berjalan mendekat pada lunglai sang istri.
Awalnya, Rin berpikir akan ketakutan melihat penis laki-laki. Karena sebenarnya, Rin tidak pernah, tidak tertarik dan tidak ingin mendekat pada hal-hal yang berbau seksual. Ia sendiri begitu membenci heat. Maka, ini adalah pertama kalinya. Gadis itu murni, bahkan foto atau video pun, ia tidak pernah melihat.
Namun sialan heat yang memang dibencinya seumur hidup dan entah pikiran rusak dari mana, Rin ingin sekali merasakan penis itu. Meski tidak tahu caranya.
Jay kembali naik ke ranjang. Mengambil posisi menunduk di dada sang istri dengan mulut yang mulai mengulum salah satu puting yang masih begitu keras.
Dihisap, diputari oleh lidah pada bagian paling puncak, Jay menggelitik pada ujungnya dengan satu tangan juga mencabuli puting yang lain. Rin lagi-lagi menggeliat. Vaginanya semakin basah dan Jay dapat mencium aroma feromon dari setiap jengkal bagian tubuh cantik itu.
Lagi, ia meninggalkan tanda cinta didada.
Rin terbakar sejak awal. Kini, ia mengerti aroma menenangkan apa yang sering ia temui dari tubuh Jay. Itu bukan parfum, melainkan feromon alpha.
Ciuman Jay mulai turun dari dada ke perut. Tiap yang dilalui, Jay akan meninggalkan tanda. Terus turun, jejak liur pria itu terlihat mengkilap oleh lampu kamar dikulit istrinya.
Hingga akhirnya sampai pada bagain paling inti.
Vagina itu sudah basah oleh cairan itu sendiri. Lembut. Rin malu saat merasakan bahwa Jay seakan mencabuli bagian bawahnya dengan mata. Jari panjang itu perlahan membelah daging labia kemerahan milik Rin. Jay kembali menunduk. Ia menggesekkan hidung mancung dan ujung bibirnya pada klitoris sang istri. Pria itu menghirup aroma feromon yang paling pekat dari vagina tepat di depan wajahnya.
“Eungh! Hmmhh… Jay, ah!” Rin sensitif, jelas sekali. Ini pertama kalinya bagi si gadis—seorang pria melumat bagian klitoris sembari lidahnya menggesek pintu masuk–liang di bawahnya.
Kakinya hampir merapat. Namun Jay dengan cekatan menahannya. Ia terus menghisap bagian yang itu, rasanya candu. Daging basah, lembut, dan berdenyut tiap kali lidahnya menggelitik bagian sempit yang nanti akan dimasuki penisnya. Jay bagai merasakan narkotika jenis baru yang memang khusus di racik untuknya. Ia jelas kecanduan hingga rela diperbudak erotisme akan tubuh Rin.
Rin menangis. Ia tidak tahu kenapa ia menangis. Ia tidak bisa menahan air matanya—mungkin karena rasa nikmat terus menghujamnya tanpa ampun setiap kali Jay mencabuli vaginanya. Membuat cairan di bawah sana terasa deras.
Rematan tangan Jay yang menahan paha Rin untuk tetap terbuka semakin kuat. Lidahnya terus naik turun bergerak liar di tiap kuluman nikmatnya. Sesekali ia mencoba menjilat bagian dalam lubang kemaluan, membuat perut Rin terasa mengencang.
“Jay… Jay!! There is something about to come out! Ahh—” Rin menggelinjang, rasa nikmat yang membuat lututnya melemah seakan menjalar sampai ke seluruh tubuh. Gadis itu akan mencapai orgasme pertama kali karena mulut suaminya.
Tangannya menahan kepala Jay untuk berhenti. Tapi alpha itu bersikeras dan meremas paha istrinya lebih kuat.
“Jay… aku.. Aku tidak ta–ah!!! HAN!!! Oh—” gadis itu memejamkan mata sambil mendongak. Dadanya membusung tinggi. Perut dan kakinya mengejang hingga pinggulnya terangkat naik turun perlahan. Disusul cairan bening yang akhirnya keluar deras. Muncrat membasahi wajah suaminya.
Jay, pria itu menyeringai puas sambil mengusap dan menjilat wajahnya yang basah oleh cairan cinta. Matanya lurus menatap bagaimana Rin berantakan yang mambuat gadis itu terlihat semakin menakjubkan.
Gadis itu masih mengangkang–memperlihatkan vagina merah dan banjir. Tubuhnya masih patah-patah dan napasnya sama berantakan.
Dan Jay kembali merangkak ke atas tubuh istrinya yang masih kembang kempis. Ia mencium leher yang terbuka, menjilatnya lagi dan lagi.
“Rin.. aku kecanduan.. Kau begitu candu.. Ini membuatku gila” pria itu berbisik tepat di telinga, membuat Rin kembali meremang.
Namun kini, bagian bawah pria itu ikut bertindak juga. Penisnya menggesek-gesek belahan labia. Ia menatap istrinya dengan sorot seperti sebelumnya; penuh damba, nafsu liar berkecamuk serta keinginan menguasai si gadis khas seorang alpha kuat pada tingkat piramid teratas. Jay.
“Aku tidak akan berhenti, Rin..” gadis itu diam saja. Artinya, Jay mendapat izin bebas. Kemudian ia bangkit dari atas tubuh istrinya. Kedua kaki Rin di angkat untuk duduk dipangkuannya.
Rin melihat jelas bagaimana Jay mengocok penisnya sendiri yang sudah ereksi maksimal. Tiba-tiba saja Rin bergidik.
“Jay.. aku takut” suaranya mencicit. Jay menangkap kegelisahan akhirnya mengulurkan tangan “lebih dekat sebentar” Jay mengubah posisi dengan membawa Rin merebah–bersandar pada kepala ranjang sementara ia membuka dua paha istrinya lebar dan memeluk Rin dalam posisi itu. Namun bagian lain yang tidak terlihat saat kini hanya wajah Jay yang ada di depannya, Rin merasakan penis mulai mendorong masuk ke dalam miliknya.
Hal pertama yang dirasakan adalah panas dan perih. Tepat saat Rin merasakan Jay terus mendorong penisnya untuk memasuki lubang perawan. Ujung jari kaki si gadis menekuk menahan sensasi itu. Ia juga menggigit bibir bawahnya dengan kelopak rapat. Namun Jay langsung mengusap pipi Rin dengan sayang.
“Rin.. jangan tutup matamu, kumohon.. Aku ingin melihatnya. Aku ingin kau melihatku, please..” pria itu memohon. Dan Rin lekas membuka matanya lagi. Jay meremas payudara cantik itu lagi. Rin bersemu, masih menahan perih sambil meringis.
Melihat bagaimana wajah Jay yang terangsang hebat. Rin mulai menyadari meski entah sejak kapan. Ia jatuh cinta pada Jay.
Dan saat pria itu melihat istrinya lebih rileks, sangat tepat akhirnya Jay mengambil kesempatan itu untuk menghentakkan penisnya langsung ke dalam lubang vagina ketat itu.
Pria itu melenguh, merasakan otot vagina yang tidak main-main kencangnya. Meremas batang penis perkasa itu tanpa ampun.
Rin sempat memekik, tapi Jay dengan cepat meredam tangisan istrinya dengan melumat bibir itu lagi.
Jay bisa merasakan setelah menembus selaput dara. Aroma feromon yang keluar dari tubuh istrinya pun semakin kuat. Membakar libido yang makin membaraa. Namun pria itu tak ingin menyakiti istrinya. Pelan-pelan dalam kondisi tubuh yang sudah menyatu dan kemudian bibir yang kembali bertaut, Jay mulai memosisikan Rin untuk merebah yang benar. Bibirnya beralih mengecup ringan wajah itu berulang-ulang.
Dan Rin mengatur napas. Berusaha setenang mungkin karena penis Jay benar-benar membuatmu sesak. Rin meraba perut bagian bawahnya dan ia merasakan sesuatu menyembul disana. Lantas gadis itu menekannya. Kegiatan itu sontak membuat Jay mengerang.
“Nakal sekali astaga..” Jay menaikkan sebelah alis sementara Rin mengalihkan tatapan malu.
Jay mulai menegakkan tubuhnya. Membuat penis itu lagi-lagi menekan bagian dalam vagina yang masih terasa nyeri. Kapala pria itu menunduk, matanya melihat setetes darah yang mengalir ketika ia menarik penisnya mundur. Jay bersemu; Rin adalah satu-satunya yang benar-benar menjadi miliknya. Dan sekarang, gadis itu secara resmi telah diklaim olehnya.
Awalnya pelan, sesekali Jay memperhatikan reaksi istrinya setelah beberapa kali menghentakkan pinggul maju dan mundur. Tangan pria itu mengusap-usap paha Rin, tujuannya untuk menenangkan tiap ringisan yang masih tampak di wajah istrinya itu.
Hingga pada hujaman berikutnya, ketika remasan vagina Rin mengencang dan kepala penis menyundul satu titik dan lenguhan nikmat keluar dari bibir Rin, di sana Jay menyeringai senang. Rin telah mendapatkan titik nikmatnya setelah sejak tadi hanya menahan perih.
Urat-urat pada batang itu menggesek rahim terasa begitu nyata. Kejantanan itu seakan menggaruk bagian dalam ketika akhirnya lubang perawan di bawah sana menerima sang tuan seutuhnya.
Jay mempercepat tempo.
Pria itu mengerang penuh kenikmatan dengan kepala mendongak dan urat leher yang ikut menyembul kekar.
“Mmmhh—eungghh! Mm… ha—ahhh” Rin menggigit bibir bawahnya saat mendengar Jay mendesah. Lantas, tangan pria itu mencubit klitoris dan berhasil membuat sang istri menjerit. Tubuh Rin terguncang di bawah kendalinya. Payudara bergoyang.
Jay bersuara lebih besar, pinggulnya masih menghentak di bawah sana. Ia menyodokkan peninya lebih kuat sembari mengangkat pinggul istrinya. Tiap kali remasan vagina bertambah kuat, saat itu juga hujaman pada vagina semakin dalam. Rin kembang kempis, kewalahan. Desah tak tertahan kembali menyahuti milik Jay.
“Jay… J-j—ay!! Ah!! AHHH—OUHH—” erangan dari bibir Rin mengeras. Jay hilang akal karena mendengar namanya di sebut penuh damba. Pinggul gadis itu di angkat leih tinggi. Bokong dan payudaranya terpantul-pantul dengan brutal di depan mata. Membuat gemas.
Dan pria itu menggeram seperti singa birahi. Yang jelas, Rin kewalahan dengan stamina suaminya. Rin dapat merasakan kepala batang itu seakan membengkak di dalam. Ia menatap suaminya ragu-ragu. Kejantanan pria itu berdenyut-denyut menggaruk dinding vagina.
Ranjang kokoh itu seakan tidak kuat menahan hentak dan goyang pinggul pria itu di atas tubuhnya. Desah serta erangan penuh gairah bersahut-sahutan. Selangkangan yang basah menciptakan suara cabul antar kulit. Pun aroma feromon keduanya bercampur aduk.
Dalam sodokan yang begitu tajam setelahnya, Jay menggeram, dan Rin memekik keras. Tubuh Jay bergetar di atas tubuhnya
“SAYANG, NGGMMHH!!”
Dalam beberapa detik berikutnya, sperma Jay benar membanjiri lubang vagina yang berkedut-kedut pasca orgasme kedua. Sperma panas terasa begitu pekat dan kental. Membuat Rin seakan tiba-tiba merasa kembung oleh sensasi luar biasa.
Pria itu masih menyodok pelan. Sperma makin tumpah keluar masuk.
“Aku akan menjadi Papa, bukan Papa stroberi” pria itu memeluk Rin dengan penis yang masih tertanam.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Rin belum pernah merasakan tubuhnya selumpuh itu seumur hidupnya. Untuk membuka mata saja rasanya begitu berat.
Namun saat kesadaran kembali, matanya pelan-pelan terbuka, ingatan tentang tadi malam kembali berputar begitu saja tanpa aling-aling.
Tubuhnya masih terbebat selimut seperti saat semalam ia mirip kepompong. Matanya melihat obat heat di atas nakas. Tapi yang ia rasakan adalah tubuhnya tidak lagi panas seperti kemarin. Berhubungan seks dengan Jay ternyata meredakan heat dengan sangat baik.
Namun satu hal yang jelas; Jay tidak ada di kamar. Pria itu sudah keluar lebih dulu. Jay biasanya selalu bangun siang jika tidur dengannya.
Lantas matanya mencari ponsel saat ketukan sekilas pada pintu menyusul eksistensi lain setelahnya. Satu pelayan datang dengan senyum ramah dan begitu sumeh.
“Tadinya kukira Nona belum bangun. Aku datang tiga kali. Tuan memintaku memandikan Nona” pelayan bersiap akan membuka selimutnya.
“Tidak perlu, aku bisa sendiri” kata Rin yakin. Padahal, vaginanya perih, kakinya lemas dan ia–mungkin saja tidak bisa berjalan.
“Tapi ini titah”
“Katakan pada Jay, aku tidak akan mandi jika bukan dia yang memandikannya” penuturan Rin membuat pelayan itu kebingungan. Lantas melangkah mundur dan keluar.
Di luar, ia meminta kepala pelayan untuk menelepon Jay. Pria itu sedang di kantor ketika urusan mendadak membuat esksitensinya sangat dibutuhkan meski lepas pergelutan panjang yang menyenangkan membuatnya ingin mengulang dua tiga kali. Namun tidak bisa. Ia harus bekerja.
Bukan pelayan lagi yang datang, namun ponselnya yang berdering kencang. Nama Jay terpampang disana.
“Ya” Rin bersuara serak.
“Aku akan pulang dan memandikanmu. Pastikan jangan menangis lagi, oke? Aku pulang” kata-kata itu bukan kabar bagus dan Rin menyesal telah mengatakan omong kosong tidak berguna pada pelayan. Jika Jay menyerangnya lagi seperti semalam, Rin yakin kakinya akan disfungsi beberapa hari.