EPISODE 85. PLEASE BE MINE

Nomor antrian 10. Karena jarak ke rumah sakit memerlukan waktu 1,5 jam, Mona memutuskan pergi ke klinik besar yang berseberangan langsung dengan puskesmas — hanya berjarak 7 km dari rumah.
Tidak kalah jauh dari rumah sakit umum. Fasilitas dan dokter yang hampir lengkap, serta tempat yang bersih, gadis itu memutuskan membawa Yoon ke klinik alih-alih puskesmas karena khawatir mendapat pelayanan buruk—meski ia tidak pernah. Rumor: Menakutkan.
“Masih sakit nggak? Terlambat penanganan, tapi tetap kudu ditangani, minimal dikasih obat, khawatir bernanah” Mona melirik ke pinggang si pria. Belum apa-apa, Yoon sudah mengeratkan pegangan pada baju—khawatir gadis itu membuka paksa seperti yang sudah-sudah.
“Perih aja, neng. Apalagi kalau kena sabun”
“Tapi lukanya masih menganga”
Yoon tidak menjawab.
“Ada indikasi kena hepatitis a, atau kanker ovarium” Mona menatapnya serius. Gadis dengan mata bengkak itu, baru menangis satu kali pagi ini.
“Ngomong sama selang infus”
“Ye, di bilangin ngeyel”
Nomor antrian 6, keduanya duduk di ruang tunggu dengan—tidak damai. Sejak tadi Mona terus memancing emosi dan mengatakan hal-hal menjengkelkan. Yoon menanggapi sedikit, sisanya pura-pura tak mendengar.
Sebelum ponsel gadis itu bergetar dalam tas—sibuk mengoceh entah membahas apa—karena gadis itu terus menerus membahas penyakit mematikan yang akan menyerang ketika luka tak segera mendapat penanganan. Tidak sesuai dengan parut di punggung yang tak meninggalkan penyakit parah selain bekas mengerikan.
Ibunya menelepon, pukul 11 siang.
“Tumben” gadis itu berbisik
“Siapa yang nelpon?” Yoon melirik
“Mamah” Mona mengapit ponsel ke telinga “assalamualaikum ukhti.. Jam 11 siang nelpon, hamba sedang sibuk. Ada apa gerangan?” suaranya lembut namun unsur meledek sangat kental. Yoon pelan-pelan paham perangai gadis yang sedang disukainya ini; akan menyebalkan.
“Dimana lu?”
“Pertanyaan macam apa itu? Kerja mah, kerja, ya Allah”
“Kerja dimana?”
“Makeup artist, udah 1000 kali mulut berbusa ngomong kerja, kita video call 5 kali di tempat kerja. Mamah liat tempat kerja Mona. masih ditanya aja. Jangan-jangan mamah… kena demensia? Serius? Kasih hp nya ke bapak atau ade, kirim ke poli jiwa”
“Durhaka lu, anak macam apa lu, mau jadi apa? Lailahailallah Mon Mon..”
Gadis itu menggaruk pelipis. Meski tidak dikeraskan, Yoon sepenuhnya mendengar ocehan ibu Mona di seberang sana.
“Apa si mah, apalagi kali ini? Ada laporan anehkah? Apa sih? Sumpah, kali ini Mona nggak tau salah apa, maaf deh.. Maaf mah” gadis itu menggigit ujung ibu jari. Tanpa konteks, ibunya tidak pernah seperti itu kecuali ia meledek terlebih dulu hingga memancing emosi. Bukan, rasanya memang tidak biasa menelepon jam 11 siang dan mempertanyakan pekerjaan yang sudah diberitahu berulang-ulang.
“Laki lu datang nih, sama si Tae. Tanya posisi lu dimana, tanya lu tinggal dimana” lalu terdengar helaan napas lelah “lu kenapa si neng, ya Allah.. Jadi yang lu omong ke mamah bener? Lu selingkuh sama koko-koko Cina kaya raya dan ninggalin Jimin karena bentukan dia yang gemuk kek sekarang? Kebangetan.. Lu kebangetan… nggak kasihan sekali lu, nggak ada pikiran emang goblok” ibunya terdengar putus asa.
Jimin ke Bali mencarinya.
Mona diam sebentar.
“Udah nggak suka mah, ilfil banget sama dia tuh, nanti Mona kenalin cowok yang lebih ganteng dan keren. Jimin udah.. Ah, jelek. Bukan selera Mona lagi. Kita udah putus, udah berapa kali bilang. Nggak percayaan sih”
“LU MAU CARI MODELAN APA LAGI? ORANG KURANG BAIK APA NENG, YA ALLAH.. SAKING NURUTNYA JADI LAKI, SAKING PERHATIAN, SAKING SABAR NGADEPIN TINGKAH LU YANG KAYAK SETAN, NGGAK AKAN ADA YANG BISA NGADEPIN SIKAP LU YANG KASAR ITU, LAKI DI SIA-SIA. NGGAK USAH KEBANYAKAN CING-CONG, GUA TU NAJIS SAMA ORANG TUKANG SELINGKUH, SEKARANG ANAK GUA YANG SELINGKUH. PULANG! PULANG SEKARANG, GUA BANTAI LU! LU UDAH TUNANGAN! BUKAN BOCAH SMA LAGI YANG HAHA HIHI, malu Mon.. ya Allah.. Udah disaksikan banyak orang, malah lu selingkuh, mau jadi apa.. Lailahailallah..”
Hatinya sakit.
Mona belum menjawab, tapi hatinya sakit sekali.
Apa katanya?
Tidak ada yang bisa menghadapi tingkahnya yang mirip setan selain Jimin?
Tidak ada yang sebaik Jimin?
Goblok?
Betapa ia ingin mengungkapkan semua fakta, betapa ia ingin mengadu pada ibunya bahwa pria itu menghancurkan hatinya lebih dari apapun. Tapi apa yang akan di dapat? Apa akan merasa lebih baik? Itu akan bertambah runyam, lantas semua orang tahu jika ia ditinggal menikah dan Jimin memiliki anak. Itu lebih melukai harga dirinya, harga diri keluarganya. Mengaku berselingkuh dan putus terdengar lebih terhormat.
Mona menunduk. Ingin menangis, tapi malu. Ini tempat ramai.
Tapi hatinya sakit sekali.
Tidak ada yang bisa menghadapi sikap kasarnya.
Seburuk itukah?
Memang buruk? Dirinya memang sangat buruk dan menyedihkan, tidak pantas dengan siapapun kecuali pria yang memperkosa dan menikah serta mempunyai anak dengan gadis lain saat masih bersamanya.
Ibunya menangis di ujung telepon, sangat jelas. Meski Mona tak lagi menempelkan benda itu ke telinga karena sangat menyakitkan.
“Mah.. Mona anak mamah loh..” gadis itu akhirnya mendongak, air matanya menetes satu dua di usap kasar.
“Malu Mon! Ya Allah.. Kenapa jadi perempuan kayak Jule? Kurangnya apa laki lu, lailahailallah…”
Mona menangis tanpa suara, membekap mulut agar tak jadi perhatian orang. Yoon merebut ponsel tiba-tiba, membuat Mona kaget, namun tak berbuat apa-apa, gadis itu kembali menunduk sambil menangkup wajah dengan dua tangan.
“Halo, mah” suara Yoon ramah.
“Siapa? Ini siapa? Selingkuhannya, hah? Kurang ajar, anak saya udah tunangan, sebentar lagi menikah, kamu jangan macem-macem, saya laporin polisi kamu ya!” ibu Mona masih ngotot.
Yoon memandang Mona.
Rupanya benar, tidak jujur mengenai keadaan sebenarnya. Mona masih saja menutupi.
“Mah..” lalu panggilan mati. Yoon mengerutkan dahi. Seperti ibu Mona benar-benar murka. Pria itu lantas menekan voice note; “mah, si neng nggak kasar” berdehem “sedikit” mengusap punggung tangan Mona “si neng itu gadis lucu dan menyenangkan, saya yang bakal handle tingkahnya, saya yang akan handle sikapnya yang kayak setan. Dia anak manis, dia sok dewasa, nangisan juga. Tapi bukan berarti nggak bisa di bimbing. Coba tanya ke Jimin, kenapa si neng selingkuh. Lagian masih kecil mah, belum mudeng, masih suka labil dan nggak konsisten. Jangan marahin Jimin juga, oke? Mamah cantik, nanti saya ke rumah” pria itu terkekeh entah bicara apa, ia tak yakin.
“Ade saya selamat nggak, kalau tau faktanya?” Yoon menyerahkan ponsel, Mona menerimanya masih menunduk, menghapus air mata.
“Paling di kejar pakai parang”
Pria itu tertawa “bagus, Jimin pintar lari. Dia akan kabur” lalu menghela napas “kalian ini masih dalam pikiran yang terombang-ambing. Jimin mengambil keputusan impulsif saat usia 22 tahun dengan menerima Irish sebagai sumber uang. Kamu nggak dituntut untuk mengerti dan terima akan keputusan dia, sama kayak pikiran kamu yang bertahan di rumah Marcel walau badan hancur. Itu sama. Itu bikin pelajaran hidup, Jimin jadi makin berpikir sebelum bertindak, jadi lebih berhati-hati” memperhatikan, Mona masih menunduk “kenapa sedih, sih? Kenyataan memang sikap kamu urakan dan mirip setan. Doyan miras”
Mona mendongak “fuck you, fuck, fuck, i’ll kill you in the worst way possible.”
“Saya menunggu hari itu”
Mona bersumpah ingin meninggalkan pria itu.
